Anda di halaman 1dari 18

KARAKTERISASI GUGUS FUNGSI DENGAN

3080.32 3059.10 3022.45 2922.16 2951.09 2856.58 2929.87 2924.09 2916.37 2854.65 2848.86

1658.78 1610.56
1600.92

1440.83 1492.90 1452.40 1296.16 1246.02

SPEKTROMETER INFRA MERAH

4035.08

3101.54

3236.55 3059.10 3007.02 2999.31 2920.23 2858.51 2719.63 2594.26 2534.46

3232.70 3192.19 3169.04

1662.64 1610.56 1575.84

2723.49 2723.49 2717.70 2677.20 2686.84 2592.33 2671.41 2380.16 2534.46 2630.91 2601.97 2171.85 2580.76 2088.91 2544.11 2513.25 2337.72 2308.79 1942.32 1869.02 1801.51 1712.79 1772.58 1745.58 1664.57
1577.77

1581.63

1500 1500 1500 1500 1500 1250 1250 1250 1250 1250 1000 1000 1000 1000 1000 7 7 7 7

1479.40 1462.04 1458.18 1448.54

1541.12

1207.44 1151.50

1028.06

1382.96 1379.10 1375.25 1325.10 1371.39 1305.81 1294.24 1327.03 1246.02 1311.59 1209.37 1246.02 1161.15 1190.08 1224.80 1153.43 1180.44 1089.78 1087.85 1153.43 1028.06 1029.99 999.13 1111.00 999.13 1068.56 964.41 966.34 891.11 891.11 1002.98 860.25 854.47 783.10 979.84 964.41 781.17

NIM Nama
105 105 160 45 80 67.5 45 45
3379.29 3159.40

KI-2122 KIMIA ANALITIK

LAPORAN PRAKTIKUM

SEMESTER I 2009/2010

: 13008104 : Primandaru Widjaya


30 30 15 15 20 45 0 0
40 52.5 15

E 97.5 %T 90 %T %T 140 90 %T 90 90 75 120 75 75 82.5

60 100 60 75 60

30 60 60

0 37.5 0 -15 4500 4000 3500 4500 4000 3500 4500 4000 3500 Nujol mull asam slt 4500 4000 3500 GC1 (2) PS 4500Kbr 4000 3500 asam slt Parafin
3000 3000 3000 3000 3000 2500 2500 2500 2500 2500 2000 2000 2000 2000 2000 1750 1750 1750 1750 1750

4249.18 4206.75

Kelompok Tanggal Praktikum Tanggal Pengumpulan Nama Asisten

: E / Shift Siang : 4 November 2009 : 11 November 2009

: Samsiar / 10506002 Mela / 10506086

LABORATORIUM KIMIA PROGRAM STUDI FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2009

ANALITIK KIMIA DAN ALAM BANDUNG

KARAKTERISASI GUGUS FUNGSI DENGAN SPEKTROMETER INFRA MERAH


1 Tujuan Percobaan
salisilat. Menentukan apakah spektrometer infra merah yang dipakai Menentukan gugus fungsi yang terdapat di dalam senyawa asam

masih layak dipergunakan atau tidak. Membandingkan hasil spektrometri infra merah dengan teknik

nujol mull dan teknik pellet KBr.

Teori Dasar
Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75 1.000 m atau pada Bilangan Gelombang 13.000 10 cm-1. Radiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai vektor listrik dan vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan. Saat ini telah dikenal berbagai macam gelombang elektromagnetik dengan rentang panjang gelombang tertentu. Spektrum elektromagnetik merupakan kumpulan spektrum dari berbagai panjang gelombang. Berdasarkan pembagian daerah panjang gelombang, sinar infra merah dibagi atas tiga daerah, yaitu daerah infra merah dekat, daerah infra merah pertengahan, dan daerah infra merah jauh.

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

Atom-atom di dalam molekul tidak dalam keadaan diam, tetapi biasanya terjadi peristiwa vibrasi. Hal ini bergantung pada atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya. Vibrasi molekul sangat khas untuk suatu molekul tertentu dan biasanya disebut vibrasi finger print. Vibrasi molekul dapat digolongkan atas dua golongan besar, yaitu vibrasi regangan (stretching) dan vibrasi bengkokan (bending). Dalam vibrasi regangan, atom bergerak terus sepanjang ikatan yang menghubungkannya sehingga akan terjadi perubahan jarak antara keduanya, walaupun sudut ikatan tidak berubah. Vibrasi regangan ada dua macam, yaitu Regangan Simetri (unit struktur bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang datar) dan Regangan Asimetri (unit struktur bergerak bersamaan dan tidak searah tetapi masih dalam satu bidang datar). Jika sistem tiga atom merupakan bagian dari sebuah molekul yang lebih besar, maka dapat menimbulkan vibrasi bengkokan atau vibrasi deformasi yang mempengaruhi osilasi atom atau molekul secara keseluruhan. Vibrasi bengkokan ini terbagi menjadi empat jenis, yaitu Vibrasi Goyangan (Rocking - unit struktur bergerak mengayun asimetri tetapi masih dalam bidang datar), Vibrasi Guntingan (Scissoring - unit struktur bergerak mengayun simetri dan masih dalam bidang datar), Vibrasi Kibasan (Wagging - unit struktur bergerak mengibas keluar dari bidang datar), dan Vibrasi Pelintiran (Twisting unit struktur ikatan berputar yang mengelilingi

menghubungkan dengan molekul induk dan berada di dalam bidang datar).

Cara Kerja
Pertama, spektra IR untuk blangko (udara kosong) dibuat sebagai referensi munculnya puncak puncak yang tidak diharapkan di spektra IR yang dianalisis.

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

Spektra IR polistirene standar dibuat, kemudian nilai-nilai bilangan gelombang yang menimbulkan puncak dicatat. Nilai-nilai bilangan gelombang yang menimbulkan puncak tersebut dibandingkan dengan bilangan gelombang dari data literatur. Persen penyimpangan nilai bilangan gelombang dihitung dan dirata-rata. Kelayakan spektrometer IR ditentukan dari persen penyimpangan rata-rata tersebut. Spekta IR dari nujol mull dibuat dengan cara nujol mull diteteskan dan dioleskan pada suatu plat. Plat itu dimasukkan ke spektrometer dan dibuat spektranya. Selanjutnya, spektra IR asam salisilat dalam nujol mull dibuat. Asam salisilat digerus bersama beberapa tetes nujol mull sampai terbentuk seperti suatu pasta. Perbandingan antara asam salisilat dan nujol mull adalah setiap 5 mg asam salisilat, diperlukan minyak nujol mull sebanyak dua tetes. Setelah terbentuk suatu bahan seperti pasta yang homogen, campuran tersebut dioleskan pada suatu plat (sel windows) dan kemudian dibuat spektranya dengan menggunakan spektrometer infra merah. Setelah itu, spektra asam salisilat dalam pellet KBr dibuat. Asam salisilat digerus dengan KBr sampai homogen dan merupakan serbuk halus. Asam salisilat dan KBr yang digunakan adalah sekitar tiga milligram untuk asam salisilat dan tiga puluh milligram untuk KBr. Setelah homogen, diambil sejumlah serbuk tersebut yang kemudian dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi untuk membuat pellet. Di dalam alat tersebut, serbuk asam salisilat-KBr diberi tekanan dengan gaya sekitar seratus ribu kiloNewton. Pellet yang terbentuk kemudian dimasukkan ke dalam spektrometer infra merah dan dibuat spektranya. Setelah semua spektra terbentuk, spektra tersebut dianalisis dan dicocokkan dengan data dari literatur. Setiap gugus fungsi (ikatan) di dalam suatu molekul mempunyai tingkatan energi vibrasi dan rotasi yang berbeda, oleh karena itu, gugus fungsi ditentukan dari nilai bilangan gelombang yang terserap oleh ikatan tersebut. Nilai bilangan gelombang yang terserap ditentukan dari puncak yang mengidentifikasikan adanya % Transmittan yang bernilai kecil (Absorbansi bernilai cukup besar). Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

Data Pengamatan
Blangko

160 E 140

120

100

80

60

40

20

0 4500 4000 GC1 (2) 3500 3000 2500 2000 1750 1500 1250 1000 750 500 1/cm

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

%T

-15 15 30 45 60 75 90 0
4249.18 4206.75 4035.08 3159.40 3101.54 3080.32 3059.10 3022.45 2999.31 2929.87 2916.37 2848.86

4500 PS

4000
2717.70 2686.84 2671.41 2630.91 2601.97 2580.76 2544.11 2513.25 2337.72 2308.79 1942.32 1869.02 1801.51 1772.58 1745.58 1664.57 1600.92 1581.63 1541.12 1492.90 1452.40 1371.39 1327.03 1311.59 1246.02 1224.80 1180.44 1153.43 1111.00 1068.56 1028.06 1002.98 979.84 964.41 943.19 906.54 840.96 756.10 704.02 694.37 667.37 621.08 540.07

Spektra IR Polistirene

3500

3000

2500

2000

1750

1500

1250

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

1000

750

500 1/cm

Spektra IR Nujol Mull / Parafin

105 %T 90
3379.29 727.16

2723.49

60
401.19

45
1375.25

30
1458.18

15
2922.16 2856.58

4500 4000 Parafin

3500

3000

2500

2000

1750

1500

1305.81

75

1712.79

1250

1161.15

1000

750

500 1/cm

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

Spektra IR Asam Salisilat di dalam Nujol Mull

97.5 %T 90

1087.85 1029.99 999.13 966.34 891.11 854.47 781.17

82.5
3232.70 3192.19 3169.04 2723.49 2677.20 2592.33 2534.46

75

1577.77

1325.10 1294.24 1246.02 1209.37 1190.08 1153.43

52.5
2951.09 2924.09 2854.65

1462.04 1448.54

1379.10

60

1662.64 1610.56

67.5

759.95 696.30 657.73

532.35

462.92 401.19

45

37.5 4500 4000 3500 Nujol mull asam slt 3000 2500 2000 1750 1500 1250 1000 750 500 1/cm

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

Spektra IR Asam Salisilat dengan Pellet KBr

105 %T 90
2171.85 2088.91

75

999.13 964.41

60

2380.16

1089.78 1028.06

569.00 860.25 783.10 530.42 758.02 696.30 657.73

1382.96

45
3059.10 3007.02 2920.23 2858.51 2719.63 2594.26 2534.46 1575.84

3236.55

30

15

1440.83

4500 4000 Kbr asam slt

3500

3000

2500

2000

1750

1658.78

1500

1296.16 1246.02

1250

1207.44 1151.50

1610.56

1479.40

1000

891.11

750

500 1/cm

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

10

460.99

401.19

Pengolahan Data
%Penyimpangan No Bil. Gelombang Standar 1/0 Bil. Gelombang terukur 1/
1 1 0 100% 1 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

3061 2850.7 1601.4 1583.1 1601.4 1583.1 1181.4 1154.3 1069.1 1028 906.7

3059.1 2848.86 1600.92 1581.63 1600.92 1581.63 1180.44 1153.43 1068.56 1028.06 906.54

0.062071 0.064546 0.029974 0.092856 0.029974 0.092856 0.08126 0.07537 0.05051 0.005837 0.017646 0.054809

%Penyimpangan rata-rata Spektra Infra Merah Polistirene

Daerah serapan (cm-1)

Gugus Fungsi

Nama Gugus Fungsi

Nujol Mull

As-Salisilat Nujol Mull 2951,09

As-Salisilat KBr

2922,16 2850-2960 1350-1470 C-H alkana 2856,58 1458,18 1375,25

2924,09 2854,65 1462,04 1448,54 1379,10

2920,23 2858,51 1440,83 1382,96

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

11

854,47 3020-3080 675-870 C-H alkena 727,16 781,17 759,95 696,30

3059,10 860,25 783,10 758,02 696,30 3059,10

854,47 3000-3100 675-870 C-H aromatik 727,16 781,17 759,95 696,30

3007,02 860,25 783,10 758,02 696,30

3300 1640-1680 1500-1600

C-H C=C C=C

alkuna alkena aromatik (cincin) Alkohol Eter

1662,64 1577,77 1294,24 1246,02

1658,78 1575,84 1296,16 1246,02 1207,44 1151,50 1089,78

1080-1300

C-O

asam karboksilat ester Aldehida Keton

1209,37 1190,08 1153,43 1087,85

1690-1760

C=O

asam karboksilat ester alkohol

1712,79

3610-3640

O-H

fenol (monomer)

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

12

3232,70 3192,19 3169,04 2922,16 Alkohol 2000-3600 O-H fenol (ikatan Hidrogen) 2856,58 3379,29 2723,49 2951,09 2924,09 2854,65 2723,49 2677,20 2592,33 2534,46 3232,70 3000-3600 O-H asam karboksilat amina 3379,29 3192,19 3169,04 3310-3500 N-H 3379,29 1325,10 1294,24 1180-1360 C-N amina 1305,81 1246,02 1209,37 1190,08 1515-1560 1345-1385 -NO2 nitro 1375,25 1379,10

3236,55 3059,10 3007,02 2920,23 2858,51 2719,63 2594,26 2534,46 2380,16 2171,85 2088,91 3236,55 3059,10 3007,02 1296,16 1246,02 1207,44 1151,50

1382,96

Analisis dan Pembahasan


Pada percobaan ini, polistirene digunakan untuk menentukan kelayakan spektrometer Infra Merah. Polistirene mempunyai kestabilan yang cukup tinggi. Bentuk molekulnya tidak mudah berubah apabila terjadi perubahan lingkungan di

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

13

sekitarnya, misalnya adanya peningkatan suhu yang tidak ekstrim tidak mengubah bentuk molekul dan ikatan-ikatan yang ada di dalam polistirene. Berdasarkan hasil perhitungan, penyimpangan rata-rata spektra infra merah polistirene adalah sebesar 0,054%. Suatu spektrometer infra merah dikatakan layak digunakan jika penyimpangan rata-ratanya kurang dari 1%. Karena penyimpangan spektra infra merah yang dihasilkan oleh spektrometer infra merah di Gedung Kimia Institut Teknologi Bandung adalah 0,054%, kurang dari 1% , maka dapat disimpulkan bahwa spektrometer tersebut masih layak untuk dipergunakan. Pada percobaan ini, blangko (udara kosong) juga ikut diukur, tujuannya adalah sebagai referensi analisis. Misalnya pada percobaan yang dilakukan ditemukan puncak yang tidak diinginkan ada dan ketika dibandingkan dengan spektra blangko, ternyata puncak tersebut ada pada blangko, maka dapat disimpulkan bahwa puncak yang muncul tersebut bukanlah berasal dari senyawa yang dianalisis, melainkan berasal dari udara/blangko. Dengan kata lain, fungsi blangko adalah untuk menghilangkan pengaruh serapan yang ditemukan dari spektra sampel yang dianalisis dari serapan-serapan yang ada di udara. Tingkatan energi ikatan pada KBr tidak masuk ke dalam daerah infra merah, sehingga ketika spektrofotometri infra merah dilakukan, gugus fungsi atau ikatan ikatan yang ada di dalam KBr tidak terdeteksi sebagai suatu puncak. Beda halnya dengan spektrofotometri dengan menggunakan nujol mull. Jika kita melihat spektra yang dihasilkan, maka kita bisa melihat bahwa nujol mull ikut menyumbangkan suatu puncak puncak. Itulah sebabnya, kita juga perlu menganalisis spektra nujol mull tanpa asam salisilat. Inilah yang menyebabkan teknik pellet KBr lebih baik dari teknik nujol mull. Dengan spektra nujol mull tanpa asam salisilat, kita bisa menganalisis puncak puncak yang muncul di spektra asam salisilat dengan teknik nujol mull. Di dalam spektra asam salisilat dengan teknik nujol mull, kita bisa melihat bahwa ada beberapa kesamaan puncak dengan spektra nujol mull tanpa asam salisilat. Akhirnya, puncak itu diidentifikasi sebagai puncak yang merupakan sumbangan dari ikatan-ikatan atau gugus fungsi yang ada di dalam nujol mull dan tidak dianalisis sebagai ikatan-ikatan atau gugus fungsi dari asam salisilat.

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

14

Dengan teknik nujol mull, setelah dikurangi dengan nilai-nilai bilangan gelombang dari nujol mull itu sendiri, kita bisa mendapatkan bahwa di dalam asam salisilat, terdapat beberapa gugus fungsi, yaitu alkana (ikatan tunggal antara atom C dan C), alkena (ikatan rangkap dua antara atom C dan C), benzene, ikatan antara C dan H, asam karboksilat, dan alkohol. Dengan menggunakan teknik pellet KBr, kita bisa mendapatkan bahwa gugus fungsi atau ikatan yang ada di dalam asam salisilat adalah benzene, alkena, alkana, alcohol, dan asam karboksilat. Jika dilihat lebih lanjut, terdapat juga gugus nitro yang muncul di ketiga spektra, ini berarti bahwa gugus nitro yang teranalisis merupakan hasil dari puncak yang disebabkan oleh udara. Menurut literature, gugus fungsi yang ada di dalam asam salisilat adalah alcohol, asam karboksilat, cincin benzene, alkena, dan alkuna. Ini berarti bahwa pengukuran yang dilakukan dengan metode spektrometri infra merah ini cukup akurat. Adapun bentuk molekul dari asam salisilat adalah sebagai berikut:

. Penggerusan dilakukan untuk memperkecil ukuran molekul-molekul sehingga ketika ditembak dengan menggunakan sindar infra merah, energi dari sinar infra merah dapat diserap langsung oleh gugus fungsi dan ikatan-ikatan yang ada di dalamnya dengan mudah. Jika suatu molekul yang ukurannya besar ditembak dengan menggunakan sinar infra merah, sinar itu juga akan terhambur dan penyerapan yang terjadi tidak maksimal. Hasilnya, puncak-puncak yang dihasilkan oleh spektra infra merah juga tidak akurat. Selain itu, penggerusan juga dilakukan agar kedua zat yang digerus dapat tercampur secara merata atau homogen. Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

15

Pemipihan juga dilakukan untuk suatu tujuan yang sama, yaitu agar sisi yang ditembak dengan sinar infra merah tidak terlalu tebal. Jika sisi yang ditembak dengan sinar infra merah terlalu tebal, maka sinar infra merah juga akan terhambur dengan tidak optimal. Ini menyebabkan puncak puncak yang terjadi pada spektra infra merah tidak akurat lagi. Dalam percobaan ini, oven berfungsi sebagai alat untuk menjaga kondisi KBr tetap dalam kondisi stabil. Karena KBr merupakan zat yang bersifat higroskopis (suka air), maka penyimpanan KBr harus dilakukan di tempat yang kering. Untuk itulah digunakan oven sehingga KBr tetap kering dan terjaga kestabilannya. Secara prinsip, tingkat energi cahaya di daerah sinar infra merah sesuai dengan energi vibrasi dan rotasi dari ikatan-ikatan yang ada di dalam molekul. Apabila sinar infra merah mengenai ikatan ikatan yang ada di dalam molekul yang tingkat energinya sesuai atau sama dengan tingkat energi tersebut, maka sinar infra merah akan diserap. Karena setiap jenis ikatan mempunyai tingkat energi yang berbeda, maka nilai bilangan gelombang sinar infra merah yang diserap juga akan berbeda. Inilah yang menyebabkan spektrofotometri infra merah dapat dipergunakan untuk menentukan gugus fungsi yang ada di dalam suatu molekul.

Kesimpulan
Gugus fungsi yang ada di dalam asam salisilat adalah alkana, alkena, alkohol, dan asam karboksilat. Karena persen penyimpangan rata rata dari spektrometer infra

merah yang ada di gedung Kimia Institut Teknologi Bandung adalah 0,054% < 1%, maka spektrometer infra merah tersebut masuk dalam kategori layak untuk digunakan. Jika spektrometri menggunakan teknik nujol mull, maka spektra

dari nujol mull itu sendiri akan terdeteksi pada saat asam salisilat dianalisis. Namun jika menggunakan teknik pellet KBr, puncak yang dihasilkan adalah puncak-puncak absorbansi asam salisilat itu sendiri dan pellet KBr tidak Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

16

memberikan adanya puncak tambahan seperti halnya dalam teknik nujol mull. Oleh karena itu, teknik pellet KBr lebih baik dari teknik nujol mull.

Daftar Pustaka
Christian, G.D. 1994. Analytical Chemistry 5th Edition. John Wiley and Sons, lnc. New York. Page 485-497. Fessenden & Fessenden. 1994. Kimia Organik Jilid 1. Jakarta : Erlangga. Page 152. Harvey, David. 2000. Chemistry: Modern Analitycal Chemistry First Edition. Page 388-409. Jeffery, G.H. 1989. Vogels Textbook of Quantitative Chemical Analysis 5 th Edition. Page 741-758. Skoog, Douglas A.et.al.1996. Fundamentals of Analytical Chemistry 7th Edition, Orlando : Saunders College Publishing Page 592-597.

http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/spektrofotometri_infra_ merah/comment-page-1/ (diakses tanggal 5 November 2009 pukul 22.42)

Lampiran
Tabel Daerah Serapan Nilai Gelombang, Gugus Fungsi, dan Namanya Daerah serapan (cm-1) 2850-2960 1350-1470 3020-3080 675-870 3000-3100 675-870 3300 Gugus Fungsi C-H Nama Gugus Fungsi alkana

C-H

alkena

C-H C-H

aromatik alkuna

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

17

1640-1680 1500-1600

C=C C=C

alkena aromatik (cincin) Alkohol

1080-1300

C-O

Eter asam karboksilat ester Aldehida

1690-1760

C=O

Keton asam karboksilat ester

3610-3640

O-H

alkohol fenol(monomer) Alkohol

2000-3600 3000-3600 3310-3500 1180-1360 1515-1560 1345-1385

O-H O-H N-H C-N -NO2

fenol (ikatan Hidrogen) asam karboksilat amina amina nitro

Primandaru Widjaya / 13008104 Laporan Praktikum V Kimia Analitik Modul IV Karakterisasi Gugus Fungsi Dengan Spektrometer Infra Merah

18