Anda di halaman 1dari 1090

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik

2011-2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

iii

iv

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

vi

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

KATA PENGANTAR Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2011-2020 ini disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006, yang menyebutkan bahwa badan usaha yang memiliki wilayah usaha wajib membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). RUPTL ini memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682.K/21/MEM/2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2008 2027 dan draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2010 2029 yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) di seluruh Indonesia untuk kurun waktu 2011 2020 yang akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan rencana perusahaan jangka panjang dan sebagai pedoman dalam penyusunan program kerja tahunan. Sejalan dengan perkembangan dan perubahan kondisi industri kelistrikan di Indonesia, RUPTL ini akan diperbaharui secara berkala agar rencana pengembangan sistem kelistrikan menjadi lebih relevan. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kontribusi semua pihak sehingga RUPTL ini dapat diselesaikan. Jakarta, Desember 2011 DIREKTUR UTAMA

NUR PAMUDJI

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

vii

Daftar Isi
KATA PENGANTAR vii DAFTAR ISI viii SINGKATAN DAN KOSAKATA xxi BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 2 1.2 Landasan Hukum 3 1.3 Visi dan Misi Perusahaan 3 1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL 4 1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya 5 1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha 7 1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat 7 1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur 8 1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali 8 1.7 Sistematika Dokumen RUPTL 9 BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA 11 2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan Kebutuhan Tenaga Listrik 12 2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit 13 2.3 Kebijakan Pengembangan Transmisi 16 2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi 17 2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan 18 2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan 18 BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI 21 3.1 Penjualan Tenaga Listrik 22 3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan 25 3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur 3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali 25 26

viii

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

3.3 Kondisi Sistem Transmisi 27 3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur 3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali 3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali 3.4.1 Susut Jaringan Distribusi 3.4.2 Keandalan Pasokan 3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek 3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur 3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali 27 29 29 30 30 31 32 35

3.4 Kondisi Sistem Distribusi 30

3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak 31

BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER 37 4.1 Batubara 38 4.2 Gas Alam 39 4.2.1 LNG dan Mini-LNG 4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas) 43 44

4.3 Panas Bumi 44 4.4 Tenaga Air 45 4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya 47 4.6 Nuklir 47

BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 2020 49 5.1 Kriteria Perencanaan 50 5.1.1 Perencanaan Pembangkit 50 5.1.2 Perencanaan Transmisi 51 5.1.3 Perencanaan Distribusi 52 5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 54 5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi 5.2.2 Pertumbuhan Penduduk 55 56

5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020 57 5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit 60 5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit 5.4.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan bakar Batubara (Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009) 61 62 5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 60

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

ix

5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. 64 64 64 66 69 76 81 83 85 87 5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang 5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) Timur 5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali 5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta 5.5.1 Sasaran Fuel Mix 5.5.2 Sistem Jawa-Bali 5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat 5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur

5.4.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia

5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar 81

5.6 Analisis Sensitivitas 88 5.7 Proyeksi Emisi CO2 90 5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) 90 5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism) 5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat 5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur 5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali 5.10 Pengembangan Sistem Distribusi 5.10.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur 5.10.2 Sistem Jawa-Bali 5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan 93 96 99 100 102 103 103 105 106

5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk 97

5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan 105 5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar 108 BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI 111 6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia 112 6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali 113 6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur 114 6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP 116 6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN 117 6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan 117

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan 6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan 6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL

117 118 120

BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 121 7.1 Identifikasi Risiko 122 7.2 Pemetaan Risiko 123 7.3 Program Mitigasi Risiko 124 BAB VIII KESIMPULAN 125 DAFTAR PUSTAKA 127

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xi

Daftar Gambar
GAMBAR BAB I Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL 6 Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) 9 GAMBAR BAB V Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 58 Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020 59 Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN 59 Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 83 Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 84 Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 86 Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 87 Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Jawa Bali Skenario Baseline 91 Gambar 5. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali Skenario Baseline 92 Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline 92 Gambar 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera Skenario Baseline 93 Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) 94 Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali 95 Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat 95 Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur 96 GAMBAR BAB VI Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) 113 Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa Bali 114 Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat 115 Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur 116 Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP 117

xii

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Daftar Tabel
TABEL BAB I Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL 6 TABEL BAB III Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) 22 Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit] 23 Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) 23 Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 2010 24 Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 25 Indonesia Timur (MW) tahun 2010 26 Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 27 Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MVA) 28 Indonesia Timur (kms) 28 Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000) 29 Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali 29 Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT) 29 Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%) 30 Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN 31 Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012 32 Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun 2015 33 TABEL BAB IV Tabel 4. 1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali 40 Tabel 4. 2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali 41 Tabel 4. 3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan of Hydro Power Development 45 Tabel 4. 4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan 47

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xiii

TABEL BAB V Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 55 Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 56 Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) 56 Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan 57 Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan 57 Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi 58 Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar 60 Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW 61 Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 63 Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 64 Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) 65 Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) 67 Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) 68 Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) 70 Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 72 Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 75 Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur 76 Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali 80 Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 81 Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis Bahan Bakar (%) 81 Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 82 Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia 83 Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 84 Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali 85 Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 85 Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat 86 Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 87 Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur 88 Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas 89 Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar 89 Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) 91 Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) 93 Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM dan VCM 97 Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia 98 Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia 98

xiv

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat 100 Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat 100 Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur 101 Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur 101 Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali 102 Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali 102 Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia 103 Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 104 Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur 104 Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali 105 Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 106 Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 (Juta Rp) 106 Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil 108 Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil 108 Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur 109 Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan Indonesia Timur 110 TABEL BAB VI Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) 112 Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa Bali 113 Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat 115 Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur 115 Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP 116 Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2010-2015 118 Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Milyar Rp) 120

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xv

Daftar Lampiran
LAMPIRAN A. WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT A1. A1.1. A1.2. A1.3. A1.4. A1.5. A1.6. A1.7. A1.8. A1.9. A1.10. A1.11. SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Program Listrik Perdesaan Proyeksi Kebutuhan Investasi 131 133 135 137 143 145 149 173 195 205 217 229 241 243 255 257 259 263 265 267 271 275 277 281 283 285 287

PENJELASAN LAMPIRAN A1 A2. A2.1. A2.2. A2.3. A2.4. A2.5. A2.6. A2.7. A2.8. A2.9. A2.10. A2.11. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Program Listrik Perdesaan Proyeksi Kebutuhan Investasi

PENJELASAN LAMPIRAN A2

xvi

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT A3. A4. A5. A6. A7. A8. A9. A10. A11. A12. A13. A14. A14.1. A14.2. A14.3. A14.4. A14.5. A14.6. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Provinsi Sumatera Utara Provinsi Riau Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Jambi Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Bengkulu Provinsi Lampung Provinsi Kalimantan Barat Neraca Daya Sistem-Sistem Isolated 381 383 393 395 403 413 417 427 Sistem Isolated Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara Sistem Isolated Provinsi Riau Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat 295 297 207 318 327 340 348 354 362 367 374

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 334

Wilayah Operasi Indonesia Barat

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR B1. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH DAN TIMUR (KALSELTENGTIM) Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Program Listrik Perdesaan

429 431 433 437 439 443 451 459 463 471 477

B1.1. B1.2. B1.3. B1.4. B1.5. B1.6. B1.7. B1.8. B1.9. B1.10.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xvii

B1.12.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

483 485

PENJELASAN LAMPIRAN B1 B2. SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA, SULAWESI TENGAH DAN GORONTALO (SULUTTENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI BARAT (SULSELRABAR) B2.1. B2.2. B2.3. B2.4. B2.5. B2.6. B2.7. B2.8. B2.9. B2.10. B2.11. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Program Listrik Perdesaan Proyeksi Kebutuhan Investasi

495 497 501 507 509 513 523 539 547 555 557 559 563

PENJELASAN LAMPIRAN B2 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR B3. B4. B5. B6. B7. B8. B9. B10. B11. B12. B13. B14. B15. B16. Provinsi Kalimantan Selatan Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Sulawesi Utara Provinsi Sulawesi Tengah Provinsi Gorontalo Provinsi Sulawesi Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Provinsi Sulawesi Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Utara Provinsi Papua Provinsi Papua Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat (Ntb)

575 577 587 597 607 617 625 633 643 651 657 665 673 683 689 699

B17. Provinsi Nusa Tenggara Timur (Ntt)

xviii

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

B18. Neraca Daya Sistem-Sistem Isolated Wilayah Operasi Indonesia Timur B18.1. B18.2. B18.3. B18.4. B18.5. B18.6. B18.7. B18.8. B18.9. B18.10. B18.11. B18.12. B18.13. Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara Sistem Isolated Provinsi Maluku Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara Sistem Isolated Provinsi Papua Sistem Isolated Provinsi Papua Barat Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT

709 711 715 723 739 745 759 761 767 775 781 789 793 801 813 816 841 849 861 863 865 893 925 937 965 967 975 977

LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI PENJELASAN LAMPIRAN C1 SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI C1.1. C1.2. C1.3. C1.4. C1.5. C1.6. C1.7. C1.8. C1.9. C1.10. C1.11. C1.12. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Program Listrik Pedesaan Program Energi Baru dan Terbarukan Proyeksi Kebutuhan Investasi

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xix

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI JAWA BALI C2. C3. C4. C5. C6. C7. C8. PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA PROVINSI BANTEN PROVINSI JAWA BARAT PROVINSI JAWA TENGAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PROVINSI JAWA TIMUR PROVINSI BALI 985 987 999 1007 1021 1031 1037 1047 1055

LAMPIRAN D. ANALISIS RISIKO

xx

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

SINGKATAN DAN KOSAKATA ADB ASEAN Power Grid Aturan Distribusi : : : Air Dried Basis, merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan inherent moisture saja Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan dan persyaratan untuk menjamin keamanan, keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan, persyaratan dan standar untuk menjamin keamanan, keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Sering disebut sebagai demand, merupakan besaran kebutuhan tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh, MW atau MVA tergantung kepada konteksnya Atau peak load / peak demand, adalah nilai tertinggi dari langgam beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW Biaya Pokok Penyediaan British Thermal Unit Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh gardu induk tersebut, dinyatakan dalam MVA Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan, umumnya pelanggan industri dan komersial Carbon Capture and Storage Clean Coal Technology Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme Pembangunan Bersih Commercial Operating Date Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate Daerah Aliran Sungai Domestic Market Obligation Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization Emission Reduction Purchase Agreement

Aturan Jaringan

Beban

Beban puncak

BPP BTU Capacity balance

: : :

Captive power CCS CCT CDM COD Daya mampu Daya terpasang DAS DMO EBITDA ERPA

: : : : : : : : : : :

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xxi

Excess power FSRU GAR GRK HSD HVDC IBT

: : : : : : :

Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli oleh PLN Floating Storage and Regasification Unit Gross As Received, merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan total moisture Gas Rumah Kaca High Speed Diesel Oil High Voltage Direct Current Interbus Transformer, yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi yang berbeda tegangan, seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV Integrated Gasification Combined Cycle Independent Power Producer Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik bertegangan 20 kV Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik bertengangan 220 V kilometer-route, transmisi menyatakan panjang jalur saluran

IGCC IPP JTM JTR kmr kms Life Extension LNG LOLP

: : : : : : : : :

kilometer-sirkuit, menyatakan panjang konduktor saluran transmisi Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya mendekati akhir Liquified Natural Gas Loss of Load Probability, suatu indeks keandalan sistem pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas pembangkit Faktor beban, merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW puncak Marine Fuel Oil Million Metric BTU, satuan yang biasa digunakan untuk mengukur kalori gas Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Million Metric Standard Cubic Foot, satuan yang biasa digunakan untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu Million Metric Standard Cubic Foot per Day

Loadfactor MFO MMBTU Mothballed MP3EI MMSCF

: : : : : :

MMSCFD

xxii

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Neraca daya Non Coincident Peak Load Peaking Prakiraan beban Reserve margin Rasio elektrifikasi SFC Tingkat cadangan

: : : : : : : :

Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban puncak dan kapasitas pembangkit Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa melihat waktu terjadinya beban puncak Pembangkit pemikul beban puncak Demand forecast, prakiraan pemakaian energi listrik di masa depan Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak, dinyatakan dalam % Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan jumlah keseluruhan rumah tangga Specific Fuel Consumption Reserve margin) adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak. Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan diatas titik kritis air Wilayah Kerja Pertambangan

Ultra super critical WKP

: :

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

xxiii

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

1.1 Latar Belakang


PT PLN (Persero) selanjutnya disebut PLN sebagai sebuah perusahaan listrik merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang leadtime-nya relatif panjang, sehingga PLN secara alamiah perlu mempunyai sebuah rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang. Sebagai contoh, diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara kelas 1.000 MW1 mulai dari rencana awal hingga beroperasi. Dengan demikian rencana pengembangan sistem yang diperlukan PLN harus berjangka cukup panjang, yaitu 10 tahun, agar dapat mengakomodasi leadtime yang panjang dari proyek-proyek kelistrikan. Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang juga didorong oleh keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi yang efisien, dalam arti PLN tidak sembarang melakukan proyek kelistrikan tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik. Hal ini penting dilakukan karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya dalam jangka panjang. Untuk mencapai hal tersebut PLN telah menyusun sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang disebut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, atau RUPTL. RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi PLN sepuluh tahun mendatang yang optimal, disusun untuk mencapai tujuan tertentu serta berdasarkan pada kriteria perencanaan dan kebijakan tertentu. Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang dapat menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan. Didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL, dokumen perencanaan ini juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan. Penyusunan RUPTL tahun 2011-2020 ini sebagai amanat Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 dan didorong oleh timbulnya kebutuhan untuk memperbaharui RUPTL 2010-2019 setelah memperhatikan adanya keterlambatan banyak proyek pembangkit tenaga listrik terutama pembangkit listrik tenaga panas bumi, beberapa pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara, baik proyek PLN maupun proyek listrik swasta atau independent power producer (IPP). Hal lain yang mendorong disusunnya RUPTL 2011-2020 ini adalah semakin menguatnya keinginan PLN untuk melayani kebutuhan tenaga listrik pada banyak daerah di Indonesia yang telah lama menderita kekurangan pasokan, dan mengalihkan sebanyak mungkin pembangkit berbahan bakar minyak ke pembangkit berbahan bakar non-minyak. Hal-hal tersebut telah membuat PLN merasa perlu untuk memutakhirkan RUPTL yang ada.

Misalnya PLTU Indramayu unit 4 dengan ukuran unit 1.000 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Selanjutnya sejalan dengan UU No.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan juga pemerintah kabupaten/ kota) wajib membuat Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD, maka RUPTL 2011-2020 ini juga membuat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi. Namun demikian proses optimisasi perencanaan tetap dilakukan per sistem tenaga listrik apabila telah ada jaringan interkoneksi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat bagi setiap provinsi untuk melihat apa yang telah direncanakan oleh PLN pada daerahnya. Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan sistem kelistrikan yang akan dilakukan oleh PLN sendiri dan proyek-proyek pembangkit yang akan ditawarkan kepada sektor swasta sebagai IPP. Pada dasarnya semua proyek transmisi dan distribusi akan dilaksanakan oleh PLN, sedangkan proyek pembangkit akan terbagi menjadi proyek milik PLN dan proyek milik swasta yang akan menjual listriknya ke PLN. Beberapa ruas transmisi yang dedicated dengan suatu pembangkit IPP dapat dibangun oleh pengembang listrik swasta. RUPTL akan selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perubahan beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan sistem kelistrikan, utamanya prakiraan kebutuhan tenaga listrik dan progres pembangunan proyek kelistrikan, sehingga selalu dapat memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan pegangan dalam implementasinya. RUPTL ini disusun melalui optimasi pengembangan sistem pembangkit dan transmisi, dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber energi setempat dan sumber energi terbarukan.

1.2 Landasan Hukum


1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006, khususnya Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2): (1) RUPTL disusun berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. (2) RUPTL digunakan se bagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga listrik bagi Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum. (3) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682 K/21/MEM/2008 tanggal 13 November 2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

1.3 Visi dan Misi Perusahaan


Pada Anggaran Dasar PLN tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan lapangan usaha PLN adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip perseroan terbatas.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas, maka visi PLN adalah sebagai berikut: Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh-kembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani. Selain visi tersebut, saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi perusahaan kelas dunia, bebas subsidi, menguntungkan, ramah lingkungan dan dicintai pelanggan. Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan mengacu kepada visi tersebut, maka PLN akan: Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan

1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL


Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan acuan pengembangan sarana kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan lebih baik, sehingga dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan. Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik, peningkatan efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap perencanaan yang meliputi: Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa daerah. Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap tahun dengan tingkat keandalan2 yang diinginkan secara least-cost. Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP), dicerminkan oleh pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 1% persen terhadap total produksi energi listrik pada tahun 2020.
2

Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan utamanya panas bumi sesuai dengan program pemerintah, dan juga energi terbarukan lain seperti tenaga air. Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN, dan mencapai rasio elektrifikasi minimum 60% pada setiap provinsi di akhir tahun 2011. Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin membaik. Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi sebesar 8-9%.
Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya


Penyusunan RUPTL 2011-2020 ini dibuat dengan proses sebagai berikut: RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2010-2029 digunakan sebagai pedoman dan rujukan, khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang perencanaan ketenagalistrikan, kebijakan pemanfaatan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik, kebijakan perlindungan lingkungan, kebijakan tingkat cadangan (reserve margin), asumsi pertumbuhan ekonomi dan prakiraan kebutuhan tenaga listrik. PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai penjabaran dari RUKN dan kebijakan Pemerintah lainnya, seperti pengembangan panas bumi yang semakin besar. Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam RUPTL perioda sebelumnya dalam Forum Perencanaan, yaitu sebuah forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat untuk membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun prakiraan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik. Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar utamanya pertumbuhan ekonomi, selanjutnya disusun prakiraan beban (demand forecast), rencana pembangkitan, rencana transmisi dan gardu induk (GI), rencana distribusi dan rencana kelistrikan yang isolated. Penyusunan ini dilakukan oleh Unit-unit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing dengan memperhatikan kondisi kelistrikan yang ada. Demand forecast, perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/ Wilayah. Perencanaan transmisi dibuat oleh PLNPenyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh PLN Wilayah yang mengelola transmisi. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan metoda regresi - ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi listrik, daya tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan populasi untuk membentuk model yang fit. Untuk mempertegas akuntabilitas, demand forecast pada semua wilayah kerja PLN telah disahkan oleh General Manager Unit Bisnis Distribusi/Wilayah. Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun, dimaksudkan untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast, capacity balance dan rencana gardu induk, rencana transmisi dan rencana pembangkit sistem isolated yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. Pada workshop perencanaan juga dilakukan verifikasi jadwal COD3 proyek-proyek pembangkit PLN dan IPP, estimasi pasokan gas alam dan LNG, serta kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan tenaga listrik jangka pendek. Konsolidasi produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis PLN dan pengurusan untuk memperoleh pengesahan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sehingga draft RUPTL menjadi
3

COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan secara komersial.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

RUPTL resmi dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi referensi untuk pembuatan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) lima tahunan, serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1.1.
GAMBAR 1. 1 PROSES PENYUSUNAN RUPTL

RUKN

RUPTL

Konsolidasi dan check konsistensi rencana pengembangan sistem.

Asumsi dasar dan kebijakan, proyeksi kebutuhan tenaga listrik

Workshop Perencanaan

Rencana pengembangan pembangkit (neraca daya, neraca energi dan kebutuhan bahan bakar). Rencana pengembangan transmisi dan distribusi. Demand forecast per Wilayah dan per Provinsi

Workshop Demand Forecast

Pada workshop demand forecast, PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/ Wilayah membahas dan menyepakati asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan demand forecast di setiap wilayah, dilanjutkan dengan menyusun demand forecast secara agregat, namun belum dibuat secara spasial4. Berbekal hasil kerja pada workshop demand forecast tersebut, setiap unit PLN Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan membuat capacity balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau gardu induk baru, yang harus diselesaikan dalam waktu dua bulan. Pada saat yang sama, PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan pembangkit pada sistem interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah. Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel1.1.
TABEL 1. 1 PEMBAGIAN TANGGUNG JAWAB PENYUSUNAN RUPTL
Kegiatan Pokok Kebijakan umum dan asumsi Demand forecasting Perencanaan Pembangkitan Perencanaan Transmisi Perencanaan Distribusi Perencanaan GI Perencanaan Pembangkitan Isolated Konsolidasi Keterangan: E: Pelaksana (Executor); P: Pembinaan (Parenting); U: Pengguna (User); S: Pendukung (Supporting),*) untuk Sistem Besar
4

P3B U S E E

Kitlur U S E E

Wilayah U E S E E E E

Kit U S

Distr U E

Pusat E P P, E*) P

E E E

P P P E

Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan terdistribusi pada daerah-daerah/locality.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha


Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai Surat Keputusan No. 634-12/20/600.3/2011 tanggal 30 September 2011. Surat keputusan tersebut menetapkan Wilayah Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik Negara lainnya, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Swasta atau Koperasi. Ruang Lingkup RUPTL 2011-2020 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri ESDM tersebut, yaitu tidak termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional Batam dan PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan walaupun keduanya merupakan anak perusahaan PLN. Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga wilayah operasi, yaitu Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Jawa-Bali, maka RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan sistem pada tiga wilayah operasi tersebut. Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana pengembangan sistem per provinsi. Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini:

1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat


Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan provinsi Kalimantan Barat. Sumatera Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau, Bangka, Belitung, Nias, dilayani oleh PLN Wilayah Aceh, PLN Wilayah Sumatera Utara, PLN Wilayah Sumatera Barat, PLN Wilayah Riau dan Kepri, PLN Wilayah Sumatera Selatan Jambi Bengkulu, PLN Wilayah Lampung, PLN Wilayah Bangka Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera. Pembangkit tenaga listrik di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan, kecuali beberapa pembangkit skala kecil di sistem-sistem kecil isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. Pulau Batam sendiri merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Batam, sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero). Kalimantan Barat Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur


Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali provinsi Kalimantan Barat, Sulawesi, kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Papua, dan Nusa Tenggara. Khusus untuk pulau Tarakan merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan, sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero). Kalimantan Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia Timur dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah Kalimantan Timur. Sulawesi Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi Utara-Tengah-Gorontalo dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat. Nusa Tenggara Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur. Maluku dan Maluku Utara serta Papua Wilayah usaha PLN di provinsi Maluku dan provinsi Maluku Utara dilayani oleh PLN Wilayah Maluku & Maluku Utara, dan provinsi Papua dan provinsi Papua Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua. Wilayah Operasi Jawa-Bali Wilayah usaha PLN di Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat & Banten, PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang, PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta, PLN Distribusi Jawa Timur dan PLN Distribusi Bali. Di wilayah ini tedapat juga unit operasi pembangkitan, yaitu PLN Pembangkitan Tanjung Jati, PLN Pembangkitan Muara Tawar, PLN Pembangkitan Cilegon, PLN Pembangkitan Lontar, PLN Pembangkitan Indramayu dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali. Selain itu terdapat anak perusahaan PLN di bidang pembangkitan, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali, serta beberapa listrik swasta.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1.2.


GAMBAR 1. 2 PETA WILAYAH USAHA PT PLN (PERSERO)

1.7 Sistematika Dokumen RUPTL


Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bab I menjelaskan latar belakang, landasan hukum, visi dan misi perusahaan, tujuan dan sasaran, dan sistematika dokumen. Bab II menjelaskan kebijakan umum pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan sistem. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini, Bab IV menjelaskan ketersediaan energi primer. Bab V menjelaskan rencana penyediaan tenaga listrik, meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan, asumsi dasar, prakiraan kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi, serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar. BabVImenjelaskan kebutuhan investasi. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah mitigasinya. Bab VIII memberikan kesimpulan. Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam lampiran lampiran yang menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem kelistrikan dan setiap provinsi.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

11

Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2011 - 2020 ini dibuat dengan memperhatikan kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan penjualan, pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi. Bab II ini menjelaskan kebijakan dimaksud.

2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan Kebutuhan Tenaga Listrik
Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan PLN yang juga dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram pada tanggal 27 Juli 2010, PLN diminta mempertahankan bebas pemadaman listrik. Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh Indonesia secara terus menerus, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani kebutuhan tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas karena proyek-proyek pembangkit belum sepenuhnya selesai, PLN telah dan akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan menyewa pembangkit. Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas pembangkit dan transmisi diharapkan telah selesai1 dan reserve margin telah mencukupi, maka penjualan akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit yang ada, sekaligus untuk memperoleh revenue yang diperlukan untuk debt repayment dan pembayaran kepada listrik swasta. RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik dalam RUKN 2008-2027 yang diperbaharui dengan draft RUKN 2010-2029 yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2010. RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi secara signifikan dengan menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup tinggi setiap tahun, termasuk membuat rasio elektrifikasi semua provinsi minimal 60% pada akhir tahun 2011 dan melayani semua daftar tunggu pada akhir tahun 2011. Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah belum diperhitungkannya dampak program demand side management (DSM) dan program energy efficiency dalam membuat prakiraan demand. Kebijakan ini diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman, disamping karena implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi efektif.

Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2, proyek pembangkit PLN dan IPP lainnya

12

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan cukup tinggi sehingga diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan ekonomi sebagaimana direncanakan dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit


Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan, dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, terutama energi terbarukan. Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost), dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang wajar dalam industri tenaga listrik. Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan, dan biaya energy not served2. Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve margin)3. Pembangkit sewa dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana pengembangan kapasitas jangka panjang, namun dalam jangka pendek diperhitungkan untuk mengatasi kondisi krisis. Namun demikian, sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan, pengembangan panas bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria least cost sehingga mereka diperlakukan sebagai fixed plant4. Namun demikian perencanaan pembangkit panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan supply demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan, serta status kesiapan pengembangannya. Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional namun telah lama menderita kekurangan pasokan tenaga listrik, yaitu Sumatra dan Kalimantan, PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana reserve margin yang sangat besar, yaitu hingga 80%. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan dan Sumatera, terutama proyek IPP, seringkali mengalami keterlambatan, pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh lebih cepat5.

Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati konsumen akibat padam listrik 3 LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV. 4 Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa menjalani proses optimisasi keekonomian. 5 PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya dengan metoda regresi berdasar data historis.
2

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

13

Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi, PLN akan memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari tahun ke tahun. Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik, maka PLN akan mengimbanginya dengan mitigasi tertentu. Mitigasi tersebut misalnya pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan, memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat dilakukan power exchange, dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan berikutnya. Pemilihan lokasi kandidat pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi primer setempat atau kemudahan pasokan energi primer, kedekatan dengan pusat beban, prinsip regional balance topologi jaringan transmisi yang dikehendaki, kendala pada sistem transmisi6, dan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosial7. Pembangkit berbahan bakar minyak hanya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak. Namun pembangkit beban puncak tetap mengutamakan pembangkit non-BBM, seperti pumped storage, PLTA peaking dengan reservoir atau pembangkit berbahan bakar compressed natual gas (CNG), mini LNG, atau LNG. Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan apabila terdapat kepastian pasokan gas. Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan, maka PLTGU sebagai pembangkit medium (pemikul beban menengah) menjadi tidak dapat direncanakan. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar, yaitu PLTU batubara, dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan capacity factor yang relatif rendah, walaupun untuk fungsi tersebut PLTU batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang mempunyai ramping rate8 tinggi seperti PLTG. Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik tenaga gasifikasi batubara) skala kecil merupakan program untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem isolated skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup dekat. PLTU atau PLTGB dapat dikembangkan oleh PLN atau swasta. Untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali, PLN telah merencanakan PLTU batubara kelas 1.000 MW dengan teknologi ultrasupercritical9 untuk memperoleh efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah. Penggunaan ukuran unit sebesar ini juga dimaksudkan untuk memperoleh manfaat dari economies of scale dan didorong oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk membangun pusat pembangkit skala besar di
8 9
6 7

Pembebanan lebih, tegangan rendah, arus hubung singkat terlalu tinggi, stabilitas tidak baik. Antara lain kondisi tanah, bathymetry, hutan lindung, pemukiman. Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah outputnya, dinyatakan dalam % per menit, atau MW per menit. PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang secara komersial. Jenis CCT lainnya, yaitu Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC) diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024.

14

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

pulau Jawa. Pertimbangan lainnya adalah ukuran sistem Jawa Bali telah cukup besar untuk mengakomodasi unit pembangkit kelas 1.000 MW. Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan memenuhi prinsip regional balance. Regional balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang berada di region tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain melalui saluran transmisi interkoneksi. Dengan prinsip ini, kebutuhan transmisi interkoneksi antar region akan minimal. Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam mengembangkan pembangkit di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat beban melalui transmisi, sepanjang hal tersebut layak secara teknis dan ekonomis. Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU mulut tambang skala besar di Sumatra Selatan dan menyalurkan sebagian besar energi listriknya ke pulau Jawa melalui transmisi arus searah tegangan tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)10. Situasi yang sama juga terjadi di sistem Sumatera, dimana sumber daya energi (batubara, panas bumi dan gas) lebih banyak tersedia di Sumbagsel, sehingga di wilayah ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP yang sebagian energinya akan ditransfer ke Sumbagut. Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL disesuaikan dengan kemampuan pendanaan PLN. Mengingat kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar, PLN tidak dapat secara sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. Dengan demikian sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai independent power producer (IPP). Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan: PLTU batubara: Direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah mendapat indikasi pendanaan dari lender, atau ditugaskan oleh pemerintah sebagai proyek PLN. Untuk proyek-proyek yang jadwalnya masih cukup lama dan belum ditetapkan kepemilikannya, untuk sementara dimasukkan dalam kelompok proyek PLN. PLTA dan pumped storage diupayakan menjadi proyek PLN. PLTG direncanakan sebagai proyek PLN. PLTGU gas direncanakan sebagai proyek PLN apabila telah ada indikasi pendanaan (dan ada kepastian pasokan gas). PLTGU gas juga direncanakan sebagai proyek PLN jika proyek tersebut merupakan pengembangan dari PLTG milik PLN (proyek add-on). PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi, pengembangan PLTP pada umumnya didorong untuk dikembangkan oleh swasta dengan proses pemenangan WKP dilakukan melalui tender oleh Pemda sebagai total project11. Sedangkan potensi panas bumi yang WKP-nya dimiliki oleh Pertamina berdasar regulasi terdahulu, Pertamina dan PLN dapat bekerja sama mengembangkan
10

11

Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera Jawa ini adalah kebutuhan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah terpenuhi dengan cukup. Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik) dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya membeli listrik dengan PPA.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

15

PLTP12. Beberapa WKP PLTP di Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya sebagai proyek PLN.

2.3 Kebijakan Pengembangan Transmisi


Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandalan tertentu. Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Pengembangan transmisi pada dasarnya dikembangkan oleh PLN, kecuali beberapa transmisi terkait dengan IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan oleh pengembang IPP. Namun demikian, terbuka opsi proyek transmisi untuk dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu misalnya build lease transfer (BLT)13. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan keterbatasan kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam hal mengurus perizinan dan pembebasan lahan. Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer energi listrik dari wilayah yang mempunyai sumber energi primer tinggi ke wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas, maka sistem Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan interkoneksi utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang sangat luas. Sebagai dampak dari kebijakan tersebut dalam RUPTL ini direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC pada tahap awal di koridor Barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat diperlukan di koridor Timur Sumatera, yaitu mulai tahun 2018. Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh, melalui laut dan berkapasitas besar memerlukan teknologi transmisi daya arus searah (HVDC). Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC adalah mengadopsi tegangan yang banyak digunakan di negara lain, yaitu 500 kV DC dan 250 kV DC14. Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan dengan mempertimbangkan pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan. Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar sub-sistem dengan pola operasi terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan.
Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant, atau Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total project dan PLN membeli listriknya. 13 Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta, termasuk pembebasan lahan dan perizinan ROW, dan PLN mengoperasikan serta membayar sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan ditransfer menjadi milik PLN. 14 Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan nasional, teknologi HVDC tidak mempunyai standar tegangan. Pemilihan tegangan HVDC disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut) yang banyak digunakan di dunia, misalnya 500 kV DC (India, Kanada), 250 kV DC (Jepang, Swedia).
12

16

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N 1 akan dilaksanakan reconductoring dan uprating. Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem isolated yang masih dilayani PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis. Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya pembangunan fasilitas sistem transmisi tegangan tinggi, biaya pembebasan tanah, biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah dan harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit pengelola sistem transmisi. Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi, penggunaan tiang, jenis saluran (saluran udara, kabel bawah tanah, kabel laut) dan perlengkapannya (pemutus, pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan aspek keekonomian jangka panjang, dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik, dengan memenuhi standar SNI, SPLN atau standar internasional yang berlaku. Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai berikut: a. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. b. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah. c. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas sampai dengan 60 MVA, namun dalam situasi khusus seperti pasokan untuk konsumen besar dan daerah padat beban dapat digunakan unit size hingga 100 MVA. d. Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit per GITET dengan pola operasi terpisah dengan 2 unit per sub-sistem. e. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS, dan 1 fasa per tipe per provinsi untuk GITET jenis konvensional.

2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi


Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan pada 4 hal, yaitu: perbaikan tegangan pelayanan, perbaikan SAIDI dan SAIFI, penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Kegiatan berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan dan perbaikan sarana pelayanan.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

17

Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton, besi atau kayu), jenis saluran (saluran udara, kabel bawah tanah), sistem jaringan (radial, loop atau spindle), perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak), termasuk penggunaan tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar, ditentukan oleh manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik, dengan tetap memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku.

2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan


Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melistriki masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari APBN, dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat Jendral Ketenagalistrikan (DJK) dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi 80% dan desa berlistrik 98,9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen ESDM 2010-2014 adalah: Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek GI Baru atau Extension Trafo GI yang pendanaannya diperoleh dari APBN. Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar dan pembangkit mikro / mini tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari APBN. Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar yang pendanaannya dari APLN, dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi tersebut belum disediakan dari APLN. Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut belum berlistrik, daerah terpencil dan daerah perbatasan. Dimungkinkan pemasangan Load Break Switch pengembangan sistem. Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTSurya & hybrid PLTBayu yang sistemnya terhubung dengan grid PLN. Melaksanakan program listrik murah dengan target masyarakat nelayan, daerah tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi di provinsi Papua, Papua Barat, NTB, dan NTT. untuk menunjang perbaikan keandalan jaringan tegangan menengah dan tiang 14 meter serta konduktor 240 mm2 untuk mengantisipasi kebutuhan

2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan


Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional, PLN mempunyai kebijakan untuk memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air. Kedua jenis energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap, walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain.

18

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Namun kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek PLTA tanpa menganut prinsip demand driven15 demi mencapai suatu tujuan khusus tertentu, walaupun hal ini hanya dilakukan secara sangat terbatas dan selektif. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem berkapasitas 50 MW16 untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi Pegunungan Tengah yang sama sekali belum memiliki listrik. Proyek ini diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut untuk pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua Maluku. Dari kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan panas bumi yang sangat besar, pembangkit tenaga air skala besar, menengah dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa PLTS (tenaga surya), PLTB (tenaga angin), biomassa, biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). PLN juga mendorong penelitian dan pengembangan EBT lain seperti thermal solar power, arus laut, OTEC (ocean thermal energy conversion), dan fuel cell. Khusus mengenai PLTS, PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan centralized PV secara besarbesaran untuk melistriki banyak komunitas terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal, pulau-pulau terdepan yang berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya, terutama di wilayah Indonesia Timur. Pemanfaatan EBT seperti ini tidak selalu berbasis keekonomian, namun lebih didorong oleh semangat PLN untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terpencil untuk memperoleh akses ke tenaga listrik lebih cepat.

15

16

Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit. Dapat dikembangkan menjadi 100 MW.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

19

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

21

3.1 Penjualan Tenaga Listrik


Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6,8% per tahun sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.1.
TABEL 3. 1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK PLN (TWH)
Wilayah Indonesia Growth (%) Jawa - Bali Growth (%) Sumatera Growth (%) Kalimantan Growth (%) Sulawesi Growth (%) Indonesia Bagian Timur Growth (%) 2006 111,48 5,08 89,04 4,28 13,61 9,33 3,64 4,59 3,57 7,64 1,61 10,81 2007 119,97 7,62 95,62 7,39 14,69 7,92 3,92 7,63 3,93 10,21 1,81 12,27 2008 127,63 6,38 100,77 5,39 16,44 11,87 4,24 8,15 4,22 7,30 1,96 8,33 2009 133,11 9,42 104,11 3,31 17,62 7,22 4,65 9,56 4,59 8,77 2,15 9,91 2010 145,66 10,66 113,40 8,92 19,67 11,63 5,13 10,32 5,08 10,68 2,38 10,7 10,47 8,7 8,0 9,59 5,9 6,6 Rata-rata

Pada Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan penjualan di Jawa Bali relatif lebih rendah daripada pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia bagian Timur. Pertumbuhan penjualan yang rendah di Jawa Bali pada tahun 2006 disebabkan oleh adanya pengendalian penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit pada tahun tersebut1. Selanjutnya pada tahun 2008 mulai terjadi krisis finansial global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik tahun 2009 hanya tumbuh 3,31%. Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi, yaitu rata-rata 9,59% per tahun. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5,2% per tahun, sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi dengan sewa pembangkit sepanjang tahun 2010. Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 8,0% per tahun, sedangkan penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun, sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan dibatasi. Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 8,7% per tahun, sementara penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 2,7% per tahun. Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik yang cukup parah hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan, dan pada tahun 2010 diatasi dengan sewa pembangkit.
1

Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2005.

22

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya, yaitu Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur diperkirakan masih berpotensi untuk meningkat lebih tinggi karena daftar tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang masih rendah. Sedangkan pertumbuhan di Jawa pulih kembali dari dampak krisis keuangan global mulai tahun 2010.

3.1.1 Jumlah Pelanggan


Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2006 2010 mengalami peningkatan dari 35,6 juta menjadi 42,2 juta atau bertambah rata-rata 1,65 juta tiap tahunnya. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor rumah tangga, yaitu rata-rata 1,5 juta per tahun, diikuti sektor bisnis dengan rata-rata 61 ribu pelanggan per tahun, sektor publik rata-rata 55 ribu pelanggan per tahun, dan terakhir sektor industri rata-rata 550 pelanggan per tahun. Tabel 3.2 menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan dalam lima tahun terakhir.
TABEL 3. 2 PERKEMBANGAN JUMLAH PELANGGAN [RIBU UNIT]
Jenis Pelanggan Rumah Tangga Komersial Publik Industri Total 2006 32.954,5 1.633,1 928,4 46,2 35.562,2 2007 34.508,1 1.585,1 988,8 46,6 37.128,6 2008 35.835,1 1.687,3 1.052,2 46,3 38.621,3 2009 36.897,0 1.770,4 1.164,7 47,6 39.879,7 2010 39.108,5 1.877,6 1.147,8 48,4 42.182,4

3.1.2 Rasio Elektrifikasi


Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dibagi dengan jumlah rumah tangga yang ada. Perkembangan rasio elektrifikasi secara nasional dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, yaitu dari 59,0% pada tahun 2006 menjadi 66,51% pada tahun 2010. Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.3.
TABEL 3.3 PERKEMBANGAN RASIO ELEKTRIFIKASI (%)
Wilayah Indonesia Jawa-Bali Sumatra Kalimantan Sulawesi Indonesia Bag Timur 2006 59,0 63,9 57,2 54,7 53,2 30,6 2007 60,8 66,3 56,8 54,5 53,6 30,6 2008 62,3 68,0 60,2 53,9 54,1 30,6 2009 65,0 69,8 60,9 55,1 54,4 31,8 2010*) 67,5 71,4 67,1 62,3 62,7 35,7

*)Termasuk pelanggan non PLN

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

23

Pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak merata pada masingmasing daerah, dengan rincian sebagai berikut: Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan paling tinggi, yaitu sekitar 2,3% per tahun. Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya tertinggi setelah Sumatera, yaitu sekitar 1,9% per tahun. Rasio elektrifikasi naik cukup tajam pada tahun 2010 karena adanya pembangkit sewa dan berjalannya program GRASSS2 yang diadakan dalam beberapa tahap. Jawa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1,7% per tahun. Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun 2009 karena teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa pembangkit sewa, dan program GRASSS pada tahun 2010. Indonesia bagian Timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan yang paling rendah, yaitu hanya 1,1% per tahun. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.

3.1.3 Pertumbuhan Beban Puncak


Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.4. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak tumbuh relatif rendah, yaitu rata-rata 4,12%, dengan loadfactor cenderung meningkat, hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi, yaitu rata-rata 6,8% (lihat tabel 3.1). Perbaikan loadfactor terjadi karena adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan pelanggan baru3.

TABEL 3. 4 PERTUMBUHAN BEBAN PUNCAK SISTEM JAWA BALI 2006 2010


Deskripsi Kapasitas Pembangkit Daya Mampu Beban Puncak Bruto Beban Puncak Netto Pertumbuhan Faktor Beban Satuan MW MW MW MW % % 2006 22.126 17.960 15.954 15.396 3,9 75 2007 22.236 20.309 16.840 16.251 5,6 76 2008 22.296 20.369 16.892 16.301 0,3 78,7 2009 22.906 21.784 17.835 17.211 5,6 77,7 2010 23.206 21.596 18.756 18.100 5,2 79,5

Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem kelistrikan di luar Jawa Bali tidak dapat disajikan seperti diatas karena sistem kelistrikan di luar Jawa Bali masih terdiri dari beberapa subsistem yang beban puncaknya noncoincident.

2 3

GRASSS: Gerakan sehari sejuta sambungan Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010

24

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan


Pada tahun 2010 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia adalah 30.908 MW yang terdiri dari 23.206 MW di sistem Jawa-Bali dan 7.702MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur


Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistem- sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada saat ini adalah 7.702 MW dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.5. Kapasitas pembangkit tersebut sudah termasuk IPP dengan kapasitas 792MW. Walaupun kapasitas terpasang pembangkit adalah 7.702 MW, kemampuan netto dari pembangkit tersebut lebih rendah dari angka tersebut karena banyak PLTD (1600 MW) yang telah berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating4.
TABEL 3.5 KAPASITAS TERPASANG PEMBANGKIT WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR (MW) TAHUN 2010
PLN PROVINSI PLTD MW NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Riau Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Bangka Belitung Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Total
4

PLTG MW 411 43 230 62 21 34 21 40 123 985

PLTGU MW 818 60 878

PLTU MW 490 200 285 200 130 25 1.330

PLTA/M MW 2 140 254 144 236 122 0 30 54 1 6 149 1 2 2 1 1 1.114

PLTP MW 60 60

Kapasitas Total PLN MW 207 1.912 492 247 124 253 558 105 89 439 251 315 78 347 228 59 119 400 8 76 105 76 121 44 140 118 6.910

Kapasitas Total IPP MW 190 268 45 3 31 255 792

Kapasitas Total PLN+IPP MW 207 2.102 492 247 124 253 825 105 89 439 251 315 78 392 231 59 150 655 8 76 105 76 121 44 140 18 7.702

205 53 38 90 124 17 43 43 89 96 217 134 78 247 114 58 113 103 8 75 105 76 119 42 139 117 2.543

Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

25

Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur mencapai 6.800 MW pada tahun 2010. Jika beban puncak dibandingkan dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila menerapkan kriteria cadangan 35%, maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 1.000 MW. Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut, hampir seluruh unit usaha PLN telah melakukan sewa pembangkit. Kapasitas pembangkit sewa yang ada di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun 2010 mencapai 1.833 MW.
TABEL 3. 6 DAFTAR SEWA PEMBANGKIT WILAYAH OPERASI I NDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR (MW) TAHUN 2010
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Babel Kalbar Kalselteng Kaltim Kit Sumbagsel Kit Sumbagut Maluku NAD NTB NTT Papua Riau dan Kepri S2JB Sulselrabar Suluttenggo Sumbar Jumlah PLN Wilayah Kapasitas (MW) 43 112,5 85 138,35 250 108 78 122 147 58,85 90,3 158,5 34 289 107 11,9 1.833,4

3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali


Kapasitas pembangkit baru yang masuk ke sistem Jawa-Bali pada tahun 2010 adalah PLTU Labuan unit 2 (300 MW). Dengan terus meningkatnya beban puncak sistem Jawa Bali dan tambahan pembangkit baru yang hanya 300 MW karena terlambatnya proyek FTP-1, reserve margin pada akhir tahun 2010 menipis menjadi hanya 24%. Reserve margin yang rendah tersebut berlanjut ke awal tahun 2011 dan dan pada saat yang sama terjadi kondisi luar biasa pada pengoperasian PLTA di Jawa Barat5, sehingga telah terjadi beberapa kali defisit pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di Jawa Bali.

Seluruh PLTA besar di DAS Citarum, yaitu Saguling (700 MW), Cirata (1000 MW) dan Jatiluhur (150MW) mempunyai DMA (Duga Muka Air) yang jauh lebih rendah dari perkiraan tahun paling kering.

26

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Rincian kapasitas pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit dan pengelolaannya dapat dilihat pada Tabel 3.7.

TABEL 3. 7 KAPASITAS TERPASANG PEMBANGKIT SISTEM JAWA-BALI TAHUN 2010


No Jenis Pembangkit IP PJB PLN IPP Sistem %

1 2

PLTA PLTU Batubara BBG/BBM BBM

1.103 3.400

1.283 800 1.000 1.920

150 3.050

2.536 9.170 1.000 500

10,9 39,5 4,3 2,2 19,4 9,2 1,1 8,5 0,3 4,5 100

500 1.180 1.496 40 806 76 360 8.961 6.692 3.518 685 4.035 2.587 640 62 320 858 150 740

PLTGU

BBG/BBM BBM

4.507 2.136 252 1.948 76 1.045 23.206

PLTG

BBG/BBM BBM

5 6

PLTD PLTP Jumlah

3.3 Kondisi Sistem Transmisi


3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur
Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun waktu 5tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi. Sedangkan pulau lainnya, yaitu Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi. Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 9,7% per tahun dalam periode 2006 2010, dimana kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2006 sekitar 7.645 MVA meningkat menjadi 11.065 MVA pada tahun 2010.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

27

Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk di sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
TABEL 3. 8 PERKEMBANGAN KAPASITAS TRAFO GI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR (MVA)
Region Sumatera 275/150 kV 150/20 kV 70/20 kV Kalimantan 150/20 kV 70/20 kV Sulawesi 150/20 kV 70/20 kV Sub-Total 275/150 kV 150/20 kV 70/20 kV 160 6.436 1.049 160 6.693 1.063 160 7.052 1.018 160 7.597 1.138 160 9.823 1.082 923 532 1.045 546 1.074 606 1.064 546 1.064 560 1.094 157 1.174 157 1.174 157 1.383 153 1.453 187 160 4.419 360 160 4.474 360 160 4.804 360 160 5,17 350 160 5,92 335 2006 2007 2008 2009 2010

TABEL 3. 9 PERKEMBANGAN SALURAN TRANSMISI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR (KMS)
Region Sumatera 275 kV 150 kV 70 kV Kalimantan 150 kV 70/20 kV Sulawesi 150 kV 70 kV Sub-Total 275 kV 150 kV 70 kV 11.554 12.492 781 10.884 12.627 781 11.509 13.252 1.011 11.657 13.594 1.011 12.253 14.551 1.769 505 1.839 505 1.957 505 1.957 519 2.304 832 1.264 123 1.305 123 1.429 123 1.429 123 1.567 123 8.521 781 7.739 781 8.423 1.011 8.221 1.011 8.224 2006 2007 2008 2009 2010

Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat rata-rata 3,9% per tahun dalam kurun waktu 2006-2010, dimana panjang saluran transmisi pada tahun 2006 sekitar 12.492 kms meningkat menjadi 14.551 kms pada tahun 2010.

28

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali


Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem Jawa Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
TABEL 3. 10 PERKEMBANGAN KAPASITAS TRAFO GI SISTEM JAWA-BALI (X1.000)
Level Tegangan 150/20 kV 70/20 kV Jumlah B.Puncak Unit MVA MVA MVA MW 2006 25,30 2,88 28,18 15,95 2007 26,07 2,80 28,87 16,26 2008 26,15 2,75 28,90 16,31 2009 27,08 2,74 29,82 17,21 2010 28,44 2,75 31,19 18,10

TABEL 3. 11 PERKEMBANGAN SALURAN TRANSMISI SISTEM JAWA BALI


Level Tegangan 500 kV 150 kV 70 kV Unit (x1.000) kms kms kms 2006 5,05 11,27 3,66 2007 5,05 11,61 3,58 2008 5,09 11,85 3,61 2009 5,11 11,97 3,61 2010 5,05 12,37 3,61

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak bertambah, bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi 150kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen. Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan trafo GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu 5tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.
TABEL 3.12 KAPASITAS PEMBANGKIT DAN INTERBUS TRANSFORMER (IBT)
Level Tegangan Kit.Sistem 500 kV Trf. 500/150 kV Kit. Sistem 150 kV Trf. 150/70 kV Kit. Sistem 70 kV Trf. 150/20 kV Trf. 70/20 kV Satuan (x1.000) MW MVA MW MVA MW MVA MVA 2006 12,97 17,00 8,89 3,58 0,27 25,30 2,88 2007 12,97 17,00 8,99 3,58 0,27 26,07 2,80 2008 12,97 17,00 9,01 3,58 0,27 26,15 2,75 2009 12,97 17,50 10,11 3,82 0,27 26,33 2,74 2010 12,97 19,5 10,41 3,82 0,27 28,44 2,75

3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali


Pada beberapa tahun terakhir terdapat bottleneck sistem transmisi yang memasok sistem Jakarta dan pulau Bali yang berdampak pada kenaikan biaya operasi dari pembangkit BBM. Beban listrik sistem Jakarta pada tahun 2010 adalah 7.250 MW dan dilayani oleh pembangkit di Muara Karang dan Tanjung Priok yang terhubung ke sistem jaringan tegangan tinggi 150 kV. Sistem 150 kV Jakarta ini juga

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

29

dipasok oleh sistem transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV melalui interbus transformer (IBT) 500/150kV di GITET Bekasi, Cawang, Gandul, Depok dan Kembangan. Pembebanan trafo IBT di GITET-GITET tersebut telah melebihi 80%. Untuk mengatasi pembebanan IBT yang tinggi telah dilakukan penambahan IBT di GITET Bekasi-3 (November 2010) dan Gandul-3, Cibatu-4, dan tambahan spare IBT 500/150 kV 166 MVA untuk GITET, Cibatu, Kembangan, Depok, Balaraja dan Cawang. Penambahan IBT di Bekasi dan Gandul dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian BBM di Muarakarang dan Priok. Pulau Bali pada beberapa tahun terakhir mengalami defisit daya. Beban puncak tahun 2010 adalah 549 MW, dilayani oleh pembangkit BBM dengan daya mampu 380 MW dan kabel laut Jawa Bali yang menyalurkan daya 180 MW. Untuk mengatasi kekurangan daya jangka pendek, telah dilakukan sewa pembangkit pada tahun 2010 sebesar 126 MW sehingga kondisi kelistrikan pulau Bali mulai membaik, namun masih belum memenuhi keandalan yang seharusnya. Untuk mengurangi konsumsi BBM di pulau Bali, saat ini sedang dibangun kabel laut sirkit 3,4 Jawa Bali yang akan beroperasi pada bulan Mei 2012.

3.4 Kondisi Sistem Distribusi


Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi pada lima tahun terakhir.

3.4.1 Susut Jaringan Distribusi


Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2006 cenderung menurun ke tingkat 7,64% pada tahun 2010 sejalan dengan usaha-usaha menekan susut jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
TABEL 3. 13 RUGI JARINGAN DISTRIBUSI (%)
2006 Susut Distribusi 9,18 2007 8,84 2008 8,29 2009 7,93 2010 7,09

3.4.2 Keandalan Pasokan


Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan indikator SAIDI dan SAIFI6 jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.14.

SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average Interruption Frequency Index

30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL 3. 14 SAIDI DAN SAIFI PLN


2006 SAIDI (jam/pelanggan/tahun) SAIFI (kali/pelanggan/tahun) 27,01 13,85 2007 28,94 12,77 2008 80,90 13,33 2009 16,70 10,78 2010 7,00 6,85

Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat pada Lampiran A, B dan C yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak


Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi daerah-daerah yang kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta melistriki daerah yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan dan terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek


3.5.1.1 Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi Indonesia Barat dan Timur pada dasarnya disebabkan olehh keterlambatan penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP. Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan pasokan dan menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien serta menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal. Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut meliputi sewa pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU batubara PerPres71/2006, membangun saluran transmisi, mengamankan kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS centralized dan solar home system secara terbatas. Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli semua potensi excess power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu menambahnya dengan menyewa pembangkit. Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut: (i)memenuhi kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan bersifat sementara sebelum pembangkit utama non-BBM beroperasi; (ii) menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien dengan PLTD yang mempunyai sfc (specific

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

31

fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak tersedia sumber daya EBT lainnya. Sewa pembangkit tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG (gas engine), PLTGB dan PLTU yang dapat tersedia dalam waktu relatif singkat. Tambahan sewa PLTD dan PLTGB/PLTMG yang dilakukan PLN pada tahun 2010 berjumlah 1.396 MW yang terdiri atas 837 MW di Indonesia Barat dan 559MW di Indonesia Timur. Selanjutnya pada tahun 2011 akan dilakukan tambahan sewa PLTD/PLTGB/PLTMG sebesar 932 MW. Pada tahun 2012 di Indonesia Barat akan dilakukan penambahan sewa sebesar 578MW, sedangkan di Indonesia Timur akan ada pengurangan sewa sebesar 211 MW dengan rincian diberikan pada tabel 3.15.
TABEL 3. 15 RENCANA SEWA PLTD/PLTGB/PLTMG TAHUN 2011 DAN 2012
No 1 2 Lokasi Sewa PLTD Indonesia Barat Indonesia Timur Kapasitas (MW) 2011 688 264 2012 578 - 211

3.5.1.2 Wilayah Operasi Jawa Bali Upaya yang dilakukan PLN di Jawa Bali meliputi memenuhi pertumbuhan demand, mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan keandalan.

3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Hal hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur meliputi antara lain: 3.5.2.1 Pembangkitan Mempercepat pembangunan proyek percepatan PLTU batubara 10.000MW tahap 1, termasuk tambahan proyek PLTU Riau 2x110 MW7 dan PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan di Kaltim 2x110 MW. Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti PLTA Asahan 3 174 MW, PLTA Peusangan 86 MW, PLTU Sumut Baru 2x200 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG Bangkanai 4x70 MW (tahun pertama baseload dan tahun berikutnya berubah menjadi peaking), PLTU Takalar 2x100 MW, PLTG Sulsel Baru 2x50MW, Makassar (peaking) 1x50 MW dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW, PLTU Lombok APBN 1x25 MW dan PLTU Atambua 4x6 MW serta banyak PLTU batubara skala kecil dan PLTGB tersebar di luar Jawa Bali. Melaksanakan program sewa PLTU di Indonesia Barat dan Indonesia Timur dengan kapasitas total antara 1.750 MW dan 2.160 MW sebagai upaya mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek7

Terjadi perbedaan antara kapasitas pembangkit terkontrak dan kapasitas sesuai PerPres No. 71/2006 jo PerPres 59/2009, yaitu PLTU Riau/Tenayan, PLTU Maluku dan PLTU Kaltim /Muara Jawa/Teluk Balikpapan. Perbedaan kapasitas tersebut memerlukan endorsement dari Kementerian ESDM.

32

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

proyek IPP dan proyek-proyek PLTP baik yang dibangun oleh PLN maupun oleh IPP. Proyek PLTU sewa ini diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013. Mempercepat pengadaan gas untuk memasok PLTGU Belawan 2x400 MW dan tambahan PLTG task force 100MW tahun 20128. Mempercepat penyelesaian kontrak gas PLTGU Sengkang 180 MW. Mempercapat pengadaan gas untuk kawasan Indonesia Timur, antara lain untuk PLTG Semberah 2x20 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50MW, PLTG Kaltim sewa 100 MW, PLTG Sulsel 2x50 MW, PLTG Makassar (peaking) 1x50 MW, dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW. Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik IPP, antara lain PLTA Poso 195 MW, PLTU Jeneponto 2x100 MW, PLTU Takalar 2x100 MW, PLTU Kalbar 2x25 MW, PLTU Kaltim 2x100 MW, PLTU Kalsel 2x100MW, PLTG Senipah 80 MW, PLTU Sulut 2x25 MW, PLTU Sumbawa 2x10 MW, PLTU Sumsel-5 2x150 MW, PLTU Sumsel-6 2x300 MW, dan PLTU Sumsel7 2x150 MW. Mempercepat pembangunan beberapa proyek PLTP dengan total kapasitas minimal 1.025 MW untuk dapat beroperasi sampai dengan tahun 2015. Proyek-proyek PLTP tersebut diberikan pada tabel 3.16.
TABEL 3. 16 DAFTAR PLTP YANG DIUPAYAKAN BEROPERASI SAMPAI DENGAN TAHUN 2015
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 NAMA PEMBANGKIT Ulumbu #1, 2, 3 & 4 Tulehu #1 & 2 Ulumbu #5 & 6 Lahendong 4 Ulubelu #1 & 2 Hululais #1 & 2 Sungai Penuh #1 & 2 Lumut Balai #1 & 2 Ulubelu #3 Lahendon #5 & 6 Karaha Bodas #1 Kamojang #5 Sarulla #1 Dieng #2 Patuha #1 Wayang Windu #3 Tangkuban Perahu 2 #1 Jumlah LOKASI NTT Maluku NTT Sulut Lampung Sumsel Jambi Sumsel Lampung Slut Jabar Jabar Sumut Jateng Jabar Jabar Jabar KAP. (MW) 4 x 2,5 2 x 10 2 x 2,5 1 x 20 2 x 55 2 x 55 2 x 55 2 x 55 1 x 55 2 x 20 1 x 30 1 x 60 1 x 110 1 x 55 1 x 60 1 x 120 1 x 30 1.025 DEVELOPER PLN - TOTAL PROJECT PLN - TOTAL PROJECT PLN - TOTAL PROJECT PLN (HULU) - PHE (HILIR) PLN (HULU) - PHE (HILIR) PLN (HULU) - PHE (HILIR) PLN (HULU) - PHE (HILIR) PGE PGE PGE PGE PGE KONS. MEDCO GEODIPA EN, GEODIPA EN. STAR ENERGY WSS

Mempercepat pengadaan pembangkit untuk dapat menyerap gas Jambi Merang sebesar 65 bbtud. Proyek pembangkit tersebut adalah: 1) PLTG Payo Selincah 2x50 MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 25 bbtud. 2) PLTG sewa di Rengat 20 MW yang akan masuk ke sistem 20 kV akan menyerap gas sebesar 4 bbtud. 3) PLTG Duri 100 MW dengan rencana COD tahun

Opsi pasokan gas ke Belawan adalah regasifikasi di Arun berikut pipa gas ke Belawan, atau FSRU di Belawan dengan sumber LNG dari BP Tangguh.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

33

2012 akan menyerap gas sebesar 24 bbtud. 4) Relokasi PLTG ex Jawa 3x20MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 12 bbtud. Merencanakan beberapa kebutuhan pembangkit peaker untuk dapat menyerap potensi gas yang ada, yaitu: 1) PLTG Belawan 400 MW untuk dapat menyerap gas yang berasal dari FSRU LNG Belawan atau regasifikasi LNG di Arun. 2) PLTMG Sei Gelam 90 MW untuk menyerap CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. 3) PLTG/PLTMG Sangeti 80-100MW untuk menyerap gas Sangeti sebesar 6 bbtud, perlu dibangun fasilitas CNG. 4) PLTG/PLTMG Jaka Baring 50-60 MW untuk menyerap CNG Jaka Baring sebesar 3 bbtud. 5) Untuk dapat menyerap gas Jabung sebesar 20-30 bbtud PLN akan membangun PLTG dengan total kapasitas 500MW yang berdasarkan kebutuhan sistem akan ditempatkan di Riau 200 MW, Jambi 100 MW dan Lampung 200 MW. Untuk itu diperlukan fasilitas mini LNG. 6) PLTG Bangkanai 280 MW untuk menyerap gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas CNG di dekat lokasi PLTG, PLTMG Bintuni untuk menyerap gas Tangguh 2 bbtud. 3.5.2.2 Transmisi dan Gardu Induk Mempercepat pembangunan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275 kV di jalur Barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau Bangko - Muara Bungo Kiliranjao). Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao Payakumbuh Padang Sidempuan dan Payakumbuh - Garuda Sakti. Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok Galang dan IBT 275/150 kV di Galang. Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu Binjai dan IBT 275/150 kV di Binjai yang harus dapat beroperasi seiring dengan beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada pertengahan tahun 2012. Melaksanakan pembangunan transmisi 275 kV jalur Timur Sumatera dari Betung Aur Duri Rengat Garuda Sakti. Mempercepat interkoneksi Kalbar-Serawak melalui transmisi 275 kV yang diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2014, untuk memenuhi kebutuhan sistem Kalbar dan menurunkan BPP. Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut. Tujuan interkoneksi ini disamping untuk memenuhi kebutuhan sistem Bintan juga sekaligus akan menurunkan BPP di sistem Bintan. Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng - Kaltim dan sistem interkoneksi 150 kV Sulut Gorontalo termasuk pemasangan reaktor di Gorontalo. Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso Palu, transmisi 70 kV sistem Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem Jayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel bawah tanah 150 kV Tanjung Bunga Bontoala. Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Tanjung Buntok Muarateweh dan Muarateweh Bangkanai.

34

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali


Hal hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi antara lain: Penguatan pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program: - - - - - Mempercepat penyelesaian penambahan IBT 500/150kV 500 MVA di 2 lokasi, yaitu IBT-4 Bekasi 1x500MVA, IBT-2 Depok 1x500MVA. Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu: Durikosambi 2x500MVA (2013) dan Muaratawar 2x500MVA (2013). Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung Jati - Tx Ungaran, SUTET Suralaya Baru Balaraja, SUTET Balaraja Kembangan (2013), dan Kembangan Durikosambi (2013). Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar Cibinong Bekasi Cawang. Menyediakan cadangan IBT 500/150kV 166 MVA di 3 lokasi GITET yaitu Durikosambi, Bekasi, Muaratawar dan Gandul. Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu: - Penambahan IBT 500/150kV di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon 1x500MVA, IBT-3 Pedan 1x500 MVA, IBT-3 Krian 1x500MVA, IBT-3 Ungaran 1x500MVA, IBT-3 Mandirancan 1x500MVA, IBT-2 Ngimbang 1x500MVA, IBT-2 Tasikmalaya 1x500MVA dan IBT-2 Grati 1x500MVA. - Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung 1x500 MVA (2012), Tanjung Jati 2x500 MVA (2012), Rawalo/Kesugihan 1x500MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya Selatan 2x500 MVA (2012). - - - Pengadaan spare IBT 166 MVA di 4 lokasi GITET, yaitu Mandirancan, Pedan, Krian, Kediri dan Grati. Mempercepat penyelesaian SUTET Grati Surabaya Selatan (2012). SUTT terkait dengan pembangkit PLTU IPP Cirebon 1x660 MW9, yaitu SUTT Sunyaragi - PLTU Cirebon - Brebes Kebasen. Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu: - - - Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3&4 (Mei 2012). Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal (2015). Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130MW + 2x125MW (2014).

COD PLTU Cirebon adalah November 2011 berdasar laporan progres konstruksi.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

35

Ketersediaan Energi Primer

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

37

4.1 Batubara
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya batubara Indonesia adalah 104,8 milyar ton yang tersebar terutama di Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton), namun cadangan batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton, Sumatera 11,2 milyar ton). Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan kandungan panas kurang dari 5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit (12%) yang berkualitas tinggi (61007100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)1. Walaupun cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat produksi batubara sangat tinggi, yaitu mencapai 320 juta ton pada tahun 2010. Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke China, India, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan (265 juta ton) dan ke beberapa negara lain, dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan domestik (60 juta ton). Produksi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya pasar batubara internasional. Jika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton, maka seluruh cadangan batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton akan habis dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak dilakukan eksplorasi baru. Untuk menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan produsen batubara untuk menjual sebagian produksinya ke pemakai dalam negeri. Persoalan yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah aspek security of supply dan aspek kualitas. Keamanan pasokan batubara sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah mengenai DMO dan batasan harga dalam negeri, khususnya untuk kelistrikan, disamping kesiapan infrastruktur seperti pengembangan tambang batubara itu sendiri, jalan, jembatan, dermaga dan sarana transportasi yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan harga batubara di pasar dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Pada saat yang sama harga batubara Indonesia telah menembus angka US$ 100 per ton (6322 kcal/kg GAR), dan harga tinggi ini telah mendorong produsen batubara untuk lebih banyak mengekspor batubaranya ke pasar dunia, terutama ke China dan India. Masalah kesiapan infrastruktur memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara yang tersedia di tambang dapat sampai ke pusat-pusat pembangkit yang tersebar di Indonesia. Dalam RUPTL tahun 2011-2020 ini terdapat rencana pengembangan beberapa PLTU mulut tambang di Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang yang digunakan di sini adalah PLTU batubara yang berada di dekat tambang batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi skala besar yang memungkinkan batubara diangkut ke pasar secara besar-besaran, sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada
1

Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah menggunakan standar GAR (gross as received). Perbedaan antara adb dan GAR dapat dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.

38

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

dasarnya menjadi tidak tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan berdasar HBA, melainkan berdasar formula cost plus margin yang di lock-in sepanjang umur pembangkit dengan eskalasi tertentu. PLN juga menghadapi persoalan dalam memperoleh pasokan batubara yang sesuai dengan spesifikasi boiler PLTU. PLN tengah mengevaluasi beberapa pilihan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara. Saat ini teknologi yang dipilih adalah dengan coal dryer dan coal blending. PLN akan segera mengadopsi teknologi coal dryer. Selain itu PLN mempunyai program untuk membangun sebuah coal blending facility. PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga batubara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya. Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi karbon dioksida yang menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel dan bahan kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa. Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC (integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage) belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang secara teknis dan komersial.

4.2 Gas Alam


Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang terbesar dalam skala dunia, namun cadangan gas alam di Indonesia cukup besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di kepulauan Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur (21,49 Tscf) serta Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan cadangan di Natuna. Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga listrik di Indonesia tidak tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan pasokan gas di hampir seluruh pembangkit berbahan bakar gas di Indonesia. Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN terus mengalami penurunan dan ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir ini2. Disamping cadangan gas lapangan terus mengalami depletion, PLN juga menghadapi kesulitan dalam memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar. Sumber-sumber gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka panjang dengan pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dari sumber-sumber tersebut.

Misalnya Belawan, Teluk Lembu, Muara Karang, Priok, Muara Tawar, Tambak Lorok, Pesanggaran/ Gilimanuk di Bali dan pembangkit lainnya.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

39

TABEL 4.1 PERKIRAAN PASOKAN GAS UNTUK PEMBANGKIT PLN DI JAWA BALI
No. 1 Pembangkit Muara Karang dan Priok Pemasok PHE ONWJ (GSA) PHE ONWJ (Excess capacity) PGN - Priok (GSA-IP) FSRU PT NR (proses GSA) Jumlah 2 Muara Tawar PERTAMINA-P Tengah (GSA) PGN (GSA) MEDCO Lapangan Singa MEDCO SCS Ex Kontrak PLN Jambi Merang*) PGN-Tambahan, Firm (GSA) Tambahan dari Conoco Philip Tambahan dari Ptrochina Jumlah 3 Cilegon CNOOC (GSA) PGN (GSA) Jumlah 4 Tambaklorok Petronas (Approval GSA) SPP (GSA-IP) Jumlah 5 Gresik Kodeco (GSA)* Hess (GSA) KEI (GSA) MKS (GSA) WNE (GSA) Petronas-Bukit Tua (potensi-PJB) AEI Jumlah 6 Grati Santos Oyong (GSA-IP) Santos Wortel (GSA-IP) Parna Raya (Potensi-IP) Jumlah 65,0 80,0 70,0 8,0 192,0 57,5 7,5 352,0 50,0 30,0 344,0 40,0 30,0 225,0 40,0 30,0 40,0 110,0 181,0 40,0 30,0 40,0 110,0 30,0 40,0 70,0 30,0 40,0 70,0 20,0 40,0 60,0 20,0 40,0 60,0 20,0 40,0 60,0 184,0 169,0 122,0 122,0 122,0 11,0 123,0 50,0 123,0 68,0 130,0 11,0 20,0 50,0 50,0 123,0 50,0 130,0 11,0 20,0 20,0 25,0 17,0 54,0 12,0 62,0 12,0 47,0 12,0 12,0 12,0 50,0 130,0 50,0 60,0 50,0 60,0 50,0 60,0 50,0 60,0 50,0 60,0 50,0 60,0 50,0 50,0 158,8 80,0 30,0 110,0 20,0 20,0 30,0 185,1 80,0 30,0 110,0 139,0 80,0 30,0 110,0 99,0 80,0 30,0 110,0 99,0 80,0 30,0 110,0 106,0 50,0 156,0 15,0 80,0 30,0 110,0 116,0 50,0 166,0 15,0 80,0 30,0 110,0 116,0 50,0 166,0 15,0 80,0 30,0 110,0 116,0 50,0 166,0 80,0 30,0 110,0 116,0 50,0 166,0 80,0 30,0 110,0 116,0 50,0 166,0 20,0 34,8 20,0 31,1 15,0 15,0 15,0 15,0 15,0 15,0 2011 100,0 20,0 30,0 150,0 25,0 59,0 2012 100,0 20,0 30,0 260,0 410,0 25,0 59,0 175,0 295,0 25,0 59,0 175,0 295,0 25,0 59,0 175,0 295,0 25,0 59,0 140,0 240,0 140,0 140,0 140,0 140,0 140,0 140,0 140,0 140,0 2013 100,0 20,0 2014 100,0 20,0 2015 100,0 2016 100,0 2017 2018 2019 2020

40

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL 4.2 PERKIRAAN PASOKAN GAS UNTUK PEMBANGKIT PLN DI LUAR JAWA BALI
No. 1 2 Pembangkit Aceh Timur Belawan Kambuna FSRU LNG Tangguh Anggor (Potensi) 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Teluk Lembu PLTG sewa Bentu PLTG sewa Melibur PLTG sewa Jabung Sungai Gelam Sengeti (CNG) Simpang Tuan Payo Selincah Jakabirin (CNG) Indralaya Talang Duku Borang Keramasan Duri Rengat Tanjung Batu Semberah Tarakan Nunukan CBM Sangata PLTG Kolonedale Sengkang ANTAM+Indonesia Luwuk Indonesia Tersebar KTI Tersebar Kalila Kalila Bentu (Potensi) Kondur (Potensi) Petro China (Potensi) EMP Sungai Gelam PEP-TAC Sungai Gelam PT Arthindo Utama Perusda Jambi Enargasindo Jambi Merang PDPDE Sumsel Medco E&P Indonesia PGN Medco E&P Indonesia Medco E&P Indonesia Pertamina EP Jambi Merang Jambi Merang TAC Semco TAC Semco Lap Bangkudulis (Potensi) Medco (Potensi) VICO Job PTM-Medco Tiaka (Potensi) EEES EEES Kera (Potensi LNG) Job PTM-Medco Senoro (Potensi) Pertamina EP Matindok (Potensi) Bontang (Potensi) Jumlah 139,1 257,7 41,5 306,2 41,5 488,8 41,5 488,2 15,0 0,5 18,0 4,0 19,3 8,0 15,0 22,0 15,0 7,0 18,0 25,0 3,0 24,0 8,0 15,0 22,0 15,0 10,0 4,0 7,0 5,0 18,0 2,5 0,5 5,0 9,0 3,0 0,6 30,0 2,0 2,5 5,6 30,0 3,0 0,6 30,0 2,0 2,5 5,6 3,0 18,0 25,0 3,0 8,0 15,0 22,0 15,0 10,0 4,0 7,0 5,0 18,0 2,5 0,5 2,0 15,0 Pemasok Medco Blok A 2011 25,3 2012 13,0 2013 13,0 5,0 2014 13,0 105,0 40,0 30,0 3,0 0,6 30,0 2,0 2,5 5,6 3,0 18,0 25,0 3,0 8,0 15,0 14,0 4,0 7,0 5,0 18.0 2,5 0,5 2,0 15,0 70,0 5,0 2015 13,0 105,0 40,0 30,0 3,0 0,6 30,0 2,0 2,5 5,6 3,0 18,0 25,0 3,0 8,0 15,0 14,0 4,0 7,0 5,0 18,0 2,5 0,5 2,0 15,0 70,0 5,0 2,0 15,0 70,0 5,0 20,0 41,5 480,1 2,0 15,0 70,0 5,0 20,0 41,5 480,1 5,0 20,0 41,5 401,0 5,0 20,0 41,5 370,0 20,0 41,5 316,5 2,0 15,0 2,0 15,0 2,0 15,0 30,0 2,0 2,5 5,6 3,0 18,0 25,0 3,0 8,0 14,0 4,0 18,0 2,5 30,0 2,0 2,5 5,6 3,0 18,0 25,0 3,0 8,0 14,0 4,0 18,0 2,5 3,0 18,0 25,0 3,0 8,0 14,0 4,0 18,0 2,5 2,5 25,0 3,0 14,0 4,0 2,0 2016 13,0 105,0 40,0 30,0 3,0 2017 13,0 105,0 40,0 30,0 3,0 2018 13,0 155,0 40,0 30,0 2019 13,0 155,0 40,0 30,0 2020 13,0 155,0 40,0 30,0

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

41

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk pembangkit PLN di Jawa Bali dan di luar Jawa Bali. Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, pasokan gas ke pembangkit PLN pada umumnya akan menurun atau berkurang. Selain itu pengembangan infrastruktur penyaluran gas dari sumur-sumur baru ke pembangkit PLN sangat terbatas. Di lain pihak pembangkit PLN, khususnya PLTGU yang berada di pusat beban, harus tetap dijalankan (must-run) karena peranannya tidak dapat digantikan oleh pembangkit di tempat lain. Selama ini pembangkit must run tersebut terpaksa dioperasikan dengan BBM karena kekurangan pasokan gas. Situasi tersebut mengharuskan PLN untuk memperoleh pasokan gas dalam bentuk LNG walaupun pada harga yang relatif tinggi untuk digunakan pada pembangkit tersebut. Pada saat ini telah direncanakan LNG floating storage & regasification unit (FSRU) di 3 lokasi, yaitu Belawan untuk memasok PLTGU Belawan3, Jakarta untuk memasok PLTGU Muara Karang dan Priok, serta Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk memasok kebutuhan gas di pulau Jawa secara umum4. Pasokan LNG ke FSRU tersebut akan berasal dari Bontang, Tangguh atau impor. PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dimanapun tersedia, karena tersedianya gas dapat dengan cepat dan mudah diubah menjadi listrik5 untuk memenuhi kebutuhan listrik setempat, terutama di daerah yang telah lama menderita kekurangan listrik. PLN akan membeli gas pada semua volume, termasuk gas dari sumber-sumber yang sangat kecil, gas flare dan gas marginal. Selain itu apabila dalam suatu sistem kelistrikan telah tersedia pembangkit baseload yang cukup, PLN bermaksud untuk sedapat mungkin menyimpan gas lapangan (gas pipa) dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan memakainya untuk pembangkit peaking. Dengan cara ini PLN dapat meningkatkan nilai dari gas karena menggantikan BBM pada pembangkit peaking. Dalam hal PLN memperoleh alokasi gas dalam bentuk LNG, seperti dari Bontang, Donggi-Senoro, Tangguh atau Sengkang, PLN bermaksud akan mendistribusikannya ke sejumlah pembangkit peaking tersebar dengan teknologi mini-LNG. Hal ini telah diprogramkan oleh PLN untuk wilayah operasi Indonesia Timur. Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah tidak tersedianya pipa transmisi gas alam ataupun fasilitas pendukung dari sumber-sumbernya ke pusat pembangkit. PLN menyambut baik rencana pembangunan pipa gas Trans-Jawa oleh Pertagas karena hal itu akan mengintegrasikan sumbersumber gas di Jawa dan sangat membantu fleksibilitas operasi pasokan gas ke pusat-pusat pembangkit PLN di pulau Jawa.
3 4 5

Pemerintah telah mengkaji opsi FSRU Belawan digantikan dengan memanfaatkan fasilitas LNG plant di Arun. Dikaitkan dengan rencana pembangunan pipa gas Trans Jawa di sepanjang pulau Jawa. Membangun pembangkit berbahan bakar gas dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

42

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan untuk memikul beban medium (mid-merit). Namun pada beberapa kontrak pasokan gas terdapat ketentuan pemakaian gas yang membuat pembangkit gas dioperasikan untuk mengisi beban dasar. Kesulitan dalam memperoleh pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan batubara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga beberapa PLTU batubara di masa depan juga berperan sebagai pemikul beban menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-60%). PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit beban puncak dengan beralih ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1 LNG dan Mini-LNG


PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan pembangkit yang bersifat mustrun di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan Sumatera. Sedangkan di Indonesia Timur dan Barat PLN merencanakan pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak. Mengingat harga gas dari mini-LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya dipakai untuk pembangkit peaking, bukan untuk pembangkit beban dasar. Beberapa daerah di Indonesia Barat yang direncanakan memanfaatkan LNG: Belawan: PLN mengambil LNG sebanyak yang diperlukan untuk pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run, dan PLN tidak memakai LNG untuk pembangkit baseload karena pertimbangan keekonoman. LNG dari BP Tangguh akan dipakai sebagai berikut: PLTGU Belawan dgn CF <50% memerlukan LNG 60 bbtud dan PLTG peaker (400+50+90 MW) memerlukan LNG 25 bbtud. Apabila terdapat keterlambatan proyek PLTU batubara seperti PLTU Pangkalan Susu, maka Belawan dapat memakai LNG lebih banyak, yaitu hingga total 140 mmscfd. Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari lapangan Jabung dengan jangka waktu sampai dengan 7 tahun. PLN menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel sebesar 500 MW pada tahun 2014. Sementara fasilitas LNG belum terbangun, gas akan dialirkan ke PLTGU Muara Tawar dengan metode swap. Pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah: Senoro, Bontang, Sengkang, Salawati, Simenggaris: PLN akan mengambil gas dari sumber tersebut dalam bentuk LNG untuk digunakan di pembangkit peaking 100 MW di Bontang, 50 MW di Balikpapan, 100 MW di Samarinda, 150 MW di Sulawesi Selatan, 25 MW di Minahasa dan 60 MW di Lombok, sepanjang layak secara keekonomian. Pemanfaatan LNG untuk sistem Jawa Bali mempertimbangkan harga LNG yang relatif tinggi, sehingga LNG hanya dipakai untuk pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run. Pembangkit must-run dimaksud

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

43

adalah PLTGU/PLTG Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang peranannya belum dapat digantikan oleh pembangkit yang lain. PLTGU Muara Karang dan Priok dijalankan untuk menghabiskan pasokan gas pipa yang ada, dan kekurangannya dipenuhi dengan LNG. Sedangkan kebutuhan gas/LNG untuk Muara Tawar dihitung berdasar peran pembangkit ini di sistem, yaitu dioperasikan sebagai peaker untuk mendukung tegangan sistem 500 kV di subsistem Jakarta. Namun karena perioda beban puncak Jakarta sangat panjang, yaitu dari jam 9 pagi sampai dengan jam 10 malam, maka kebutuhan gasnya cukup besar dan diharapkan dapat dipenuhi dengan LNG.

4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)


Teknologi CNG untuk memenuhi kebutuhan gas suatu pembangkit merupakan teknologi yang relatif baru dan untuk itu perlu dikaji kelayakan baik teknis dan ekonomis terlebih dahulu. Namun PLN telah memetakan potensi pemanfaatan CNG untuk Indonesia Barat dan Timur. CNG akan diarahkan untuk memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif kecil maupun sumur gas marginal. Saat ini sudah disepakati pembangunan CNG storage oleh pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan dimanfaatkan untuk PLTG Peaking Jaka Baring (40 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2012. Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Barat adalah: CNG Sungai Gelam dengan kapasitas sebesar 4,5 bbtud akan digunakan untuk pembangkit peaking. Gas Jambi Merang sebesar 85 bbtud akan dialokasikan untuk pembangkit PLTGU Duri (IPP) 2x45 MW, PLTG Payoselincah 100 MW, PLTG sewa 20 MW di Rengat dan pembangkit di Duri dengan kapasitas sekitar 160 MW. Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah PLTG Bangkanai, Kalimantan Tengah.

4.2.3 Coal Bed Methane (CBM)


PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional, yaitu CBM (coal bed methane). Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas konvensional, terutama di South Sumatera Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin. PLN pada saat ini tengah melakukan studi bersama Exxon-Mobil mengenai pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia. Disamping itu, saat ini sedang dilakukan proses negosiasi dengan VICO untuk rencana pasokan gas dari lapangan CBM di Kalimantan Timur.

4.3 Panas Bumi


Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas bumi di Indonesia yang menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya adalah laporan studi oleh WestJEC pada tahun 2007 Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah 9.000MW, tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal 12.000MW.

44

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek PLTP, terutama di Sumatera, Jawa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah kepada PLN untuk mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi terbarukan sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM No. 15/20106 saja terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP untuk beroperasi pada tahun 2014. Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan karena berbagai masalah. PLN berharap masalah-masalah yang menghambat pengembangan panas bumi tersebut dapat segera diatasi.

4.4 Tenaga Air


Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS) pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro power inventory study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun 2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut7 adalah 26.321MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru (16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak begitu sulit hingga sangat sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada Tabel 4.3.
TABEL 4.3 KANDIDAT PROYEK PLTA BERDASARKAN MASTER PLAN OF HYDRO POWER DEVELOPMENT
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 NAMA Peusangan 1-2 Jambo Papeun Kluet-1 Meulaboh-5 Peusangan-4 Kluet-3 Sibubung-1 Seunangan-3 Teunom-1 Woyla-2 Ramasan-1 Teripa-4 Teunom-3 Tampur-1 Teunom-2 Padang Guci-2 Warsamso Jatigede Upper Cisokan-PS Matenggeng Merangin-2 Merangin-5 TIPE ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RES RES RES RES RES RES RES ROR RES RES PST PST ROR RES PROVINSI Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Aceh Bengkulu Irian Jaya Jabar Jabar Jabar Jambi Jambi KAP. (MW) 86 25 41 43 31 24 32 31 24 242 119 185 102 330 230 21 49 175 1000 887 350 24 COD 2012 2019 2019 2019 2019 2021 2021 2021 2023 2024 2024 2024 2024 2025 2026 2020 2019 2014 2015 2020 2016 2024 PLN/IPP PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN

6 Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track program phase 2 (FTP2). 7 Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), s osial (resettlement), luas reservoir.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

45

No. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Maung

NAMA Kalikonto-2 Karangkates Ext. Grindulu-PS-3 K. Konto-PS Pinoh Kelai-2 Besai-2 Semung-3 Isal-2 Tina Tala Wai Rantjang Bakaru (2nd) Poko Masuni Mong Batu Poso-2 Poso-1 Lariang-6 Konaweha-3 Lasolo-4 Watunohu-1 Tamboli Sawangan Poigar-3 Masang-2 Sinamar-2 Sinamar-1 Anai-1 Batang Hari-4 Kuantan-2 Endikat-2 Asahan 3 Asahan 4-5 Simanggo-2 Kumbih-3 Sibundong-4 Bila-2 Raisan-1 Toru-2 (Tapanuli Utara) Ordi-5 Ordi-3 Siria

TIPE RES RES PST PST RES RES ROR ROR RES ROR RES ROR ROR RES RES RES RES ROR ROR RES RES RES ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RES RES ROR ROR RES ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR

PROVINSI Jateng Jatim Jatim Jatim Jatim Kalbar Kaltim Lampung Lampung Maluku Maluku Maluku NTT Sulsel Sulsel Sulsel Sulsel Sulsel Sulteng Sulteng Sulteng Sultra Sulteng Sultra Sultra Sulut Sulut Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumsel Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut

KAP. (MW) 360 62 100 1000 1000 198 168 44 21 60 12 54 11 126 233 400 256 271 133 204 209 24 100 57 26 16 14 40 26 37 19 216 272 22 174 60 59 42 32 42 26 34 27 18 17

COD 2028 2016 2018 2021 2027 2020 2020 2020 2020 2019 2020 2021 2020 2016 2020 2023 2024 2027 2021 2011 2024 2026 2026 2020 2020 2014 2018 2020 2020 2020 2027 2028 2019 2015 2017 2018 2019 2019 2019 2020 2020 2020 2020 2020

PLN/IPP PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN IPP PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN

46

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

No. 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79

NAMA Lake Toba Toru-3 (Tapanuli Utara) Lawe Mamas Simpang Aur Rajamandala Cibareno-1 Mala-2 Malea Bontu Batu Karama-1 Gumanti-1 Wampu

TIPE PST RES ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RES ROR ROR

PROVINSI Sumut Sumut Aceh Bengkulu Jabar Jabar Maluku Sulsel Sulsel Sulsel Sumbar Sumut

KAP. (MW) 400 228 50 29 58 18 30 182 100 800 16 84

COD 2020 2026 2016 2014 2014 2020 2020 2017 2017 2022 2020 2016

PLN/IPP PLN PLN IPP IPP IPP IPP IPP IPP IPP IPP IPP IPP

COD yang dimaksud pada tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan namun dapat diubah sesuai kebutuhan. PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air tersebut sebagai proyek PLN.

4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya


Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi matahari dan energi kelautan. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
TABEL 4.4 POTENSI DAN PEMANFAATAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
No 1 2 3 4 5 Energi Baru dan Terbarukan 1 Mini/Mikrohidro Biomass Tenaga Surya Tenaga Angin Kelautan Sumber Daya 2 500 MWe 49.810 Mwe 4,80 kWh/m2/hari 9.290 MWe 240 GWe Kapasitas Terpasang 3 86,1 MWe 445,0 MWe 12,1 MWe 1,1 MWe 1,1 MWe Rasio (%) 4 = 3/2 17,22 0,89 0,01 0,01

Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6 Nuklir
Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini terjadi karena dalam proses optimisasi pemilihan kandidat pembangkit, ternyata pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersaing dengan jenis pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra supercritical. Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya kapital dan biaya O&M yang terkait dengan spent fuel disposal, dan biaya decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

47

bersama antara PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya pembangunan PLTN sebesar $1.700/kW (EPC saja) atau $2.300/kW (setelah memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2009), biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 3.500 hingga US$ 5.500 /kW. Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan program tenaga nuklir pada banyak negara di dunia. Harga uranium yang pada tahun 2006 adalah sekitar US$ 30/lb, saat ini telah mencapai US$130/lb. Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi keekonomian PLTN mengingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan uranium dalam jumlah sedikit, namun tetap saja kenaikan harga uranium dunia ini perlu terus dipantau. Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga energi primer lainnya seperti batubara dan gas alam, dan semakin nyatanya ancaman emisi karbon terhadap perubahan iklim global, telah membuat PLTN menjadi salah satu opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC, biaya pengelolaan spent fuel dan biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas. Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan keekonomian dan keenergian, namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik, keselamatan, penerimaan sosial, budaya dan lingkungan. Apalagi dengan terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 yang sangat buruk dimana ribuan penduduk yang semula bermukim di dekat PLTN tersebut harus diungsikan ke daerah yang aman, telah menyebabkan eskalasi penentangan terhadap pengembangan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. Dengan adanya berbagai aspek yang multi dimensional tersebut, program pembangunan PLTN hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah.

48

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Rencana Penyediaan Tenaga Listrik

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

49

5.1 Kriteria Perencanaan


5.1.1 Perencanaan Pembangkit
5.1.1.1 Sistem Interkoneksi Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode perencanaan, dan memenuhi kriteria keandalan tertentu. Konfigurasi termurah diperoleh melalui proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya kapital, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya energy not served. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. Simulasi dan optimisasi dilakukan dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning). Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP) lebih kecil dari 0.274%. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih kecil dari 0.274%. Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve margin tertentu yang nilainya tergantung pada tingkat ketersediaan (availability) setiap unit pembangkit, jumlah unit, ukuran unit, dan jenis unit1. Pada sistem Jawa Bali, kriteria LOLP<0.274% adalah setara dengan reserve margin > 25-30% dengan basis daya mampu netto. Apabila dinyatakan dengan daya terpasang, maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%2. Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat ditetapkan sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih sedikit, derating yang prosentasenya lebih besar, dan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding Jawa Bali. Pembangkit energi terbarukan, khususnya panasbumi dan tenaga air, dalam proses optimisasi diperlakukan sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan proyek tersebut. Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan memperhitungkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan yang telah committed3, baik proyek PLN maupun IPP, dan tidak memperhitungkan semua
Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF (equivalent availability factor) yang berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi. 2 Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%. 3 Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi pendanaannya, dan proyek IPP yang telah mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA).
1

50

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

pembangkit sewa serta excess power. Selain itu beberapa pembangkit berbahan bakar minyak yang sudah tua, tidak efisien dan dapat digantikan perannya dengan PLTU batubara, direncanakan akan dihapuskan (retired) atau dibuat sebagai pembangkit stand by yang tidak dioperasikan tetapi tetap dipelihara (mothballed). Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar diutamakan berupa pembangkit berbahan bakar batubara, dan pembangkit sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air nonreservoir). Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang, simulasi produksi dilakukan dengan menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasinya diperkirakan tidak pasti. 5.1.1.2 Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum interkoneksi (isolated) tidak menggunakan metoda probabilistik maupun optimisasi keekonomian, namun menggunakan metoda determinisitik. Pada metoda ini, perencanaan dibuat dengan kriteria N-2, yaitu cadangan minimum harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua. Definisi cadangan disini adalah selisih antara daya mampu total pembangkit yang ada dan beban puncak. 5.1.1.3 Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Existing Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis selama umur tekno-ekonomisnya (life-time). Sebuah unit pembangkit dapat menjalani mid-life refurbishment untuk mempertahankan kapasitas, efisiensi, menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus dipelihara dan dilakukan penggantian parts yang aus. Kemudian, pada akhir umurnya sebuah pembangkit masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan melakukan rehabilitasi/refurbishment pada komponen-komponen tertentu. RUPTL ini mencantumkan biaya investasi (capex) yang diperlukan untuk itu. Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu pembangkit memerlukan kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life extension dan membangun pembangkit baru.

5.1.2 Perencanaan Transmisi


Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1, baik statis maupun dinamis. Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit transmisi padam, baik karena mengalami gangguan maupun dalam pemeliharaan, maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu menyalurkan keseluruhan arus beban, sehingga kontinuitas penyaluran tenaga listrik terjaga. Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan apabila terjadi gangguan hubung singkat 3fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka tidak menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator dan kelompok generator lainnya.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

51

Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas pembangkitan dan kebutuhan beban, disamping untuk mengatasi bottleneck, meningkatkan keandalan sistem, dan memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu. Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan trafo mencapai 70%-80%. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah. Pada RUPTL 2011-2020 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis, yaitu sebuah GI dengan spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau bahkan tanpa busbar; peralatan proteksi & kontrol, supply AC/DC & battery dikemas dalam kontainer; tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi atau T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang lengkap/sempurna. Penerapan GI minimalis hanya dilakukan pada daerah yang sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting. Tujuan pembangunan GI minimalis ini adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat dari timing normal kebutuhan GI, pada sistem yang selama ini masih dioperasikan dengan PLTD. GI minimalis juga dapat diterapkan untuk memasok lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang dan mengalami drop tegangan yang besar.

5.1.3 Perencanaan Distribusi


Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk menjaga agar tegangan pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987. Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang lebih andal seperti spindle, sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2 sumber. Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal. Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem kelistrikan secara menyeluruh dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan biaya pokok penyediaan.

52

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan kontinuitas pasokan kepada pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan upaya: Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota provinsi dan kota-kota lain yang minimal dipasok oleh 2 Gardu Induk dan 15 feeder, Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM, dikoordinasikan dengan reclosing relay penyulang di GI. Memonitor pengoperasian recloser atau AVS, dan menyempurnakan metode pemeliharaan-periodiknya. Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada daerah yang sangat padat beban dan potensi pendapatan tinggi. Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana pendistribusian tenaga listrik yang cukup, andal, berkualitas, efisien, dan susut teknis wajar. Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua kegiatan, yaitu penyambungan pelanggan dan perkuatan distribusi dengan perincian sebagai berikut: Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability) dan kualitas pelayanan tenaga listrik pada pelanggan (power quality). Menurunkan susut teknis jaringan Rehabilitasi jaringan tua. Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan

Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu antara lain: Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR), Luas area yang dilayani, Distribusi beban (tersebar merata, terkonsentrasi, dsb), Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan, Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan, Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM, gardu distribusi/GD, jaringan tegangan rendah/JTR, automatic voltage regulator/AVR dsb). Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti dimaksud dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009, maka pembangkit energi terbarukan sampai dengan 10 MW dapat tersambung langsung ke jaringan distribusi. Penyambungan pembangkit tersebut harus memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code).

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

53

5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik


Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Umum wajib menyediakan tenaga listrik secara terus-menerus, dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang baik. Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik saat ini maupun di masa yang akan datang agar PLN dapat memenuhi kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut. Sebagai langkah awal PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga 10 tahun ke depan. Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama, yaitu pertumbuhan ekonomi, program elektrifikasi dan pengalihan captive power ke jaringan PLN. Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses meningkatkan output barang dan jasa. Proses tersebut memerlukan tenaga listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya, disamping input-input barang dan jasa lainnya. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan barang-barang / peralatan listrik seperti radio, TV, AC, lemari es dan lainnya. Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat. Faktor kedua adalah program elektrifikasi. Sebagai upaya PLN untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam wilayah usahanya. Hal ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, khususnya pada daerah-daerah yang telah menjadi wilayah usaha PLN. PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang besar, yaitu rata-rata 2,6 juta per tahun, sehingga rasio elektrifikasi akan mencapai 94% pada tahun 2020. Penambahan pelanggan baru tersebut tidak hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga mencakup mereka yang berada di luar wilayah usaha. Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik PLN adalah pengalihan dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN. Captive power ini timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan di suatu daerah, terutama pelanggan industri dan bisnis. Bilamana kemampuan PLN untuk melayani di daerah tersebut telah meningkat, maka captive power ini dengan berbagai pertimbangannya akan beralih menjadi pelanggan PLN. Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / bisnis, sementara harga jual listrik PLN relatif lebih murah. Faktor ketiga ini sangat bergantung kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem kelistrikan dan skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power, jadi tidak berlaku umum.

54

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Faktor lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka melayani kebutuhan pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang cukup dan andal. Penyambungan pelanggan baru tergantung dari ketersediaan pendanaan. Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah model prakiraan beban yang disebut Simple-E. Model ini merupakan metode regresi yang menggunakan data historis dari penjualan energi listrik, daya tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan populasi untuk membentuk persamaan yang fit. Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan listrik ke depan dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar (korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik, yaitu pertumbuhan ekonomi dan populasi. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar, maka digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. Aplikasi ini dilengkapi juga dengan fasilitas melihat tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti parameter tingkat korelasi, dan uji statistik.

5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang dinyatakan dalam produk domestik bruto (PDB) dengan harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata 5,18% per tahun, atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 5,5% 6,32% seperti diperlihatkan pada Tabel 5.1.
TABEL 5. 1 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
PDB PDB (Triliun Rp) Growth PDB (%) 2000 1.39 4,90 2001 1.44 3,83 2002 1.50 4,31 2003 1.57 4,78 2004 1.66 5,05 2005 1.75 5,67 2006 1.85 5,50 2007 1.96 6,32 2008 2.08 6,06 2009 2.17 4,50 2010 2.22 6,08

Sumber: Statistik Indonesia, BPS

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4,5%) sebagaimana terlihat pada tabel 5.1 disebabkan oleh imbas krisis financial global yang terjadi pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009. Perekonomian Indonesia kembali pulih pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6,1%. Pemerintah memandang pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2011-2014.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

55

Memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi tersebut diatas, maka RUPTL ini mengadopsi asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang digunakan dalam RPJMN 2011-2014 dan Draft RUKN 2010 2029 untuk periode diatas 2014 sebesar 6,9% per tahun, selanjutnya oleh PLN angka tersebut dijabarkan menjadi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.2.
TABEL 5. 2 ASUMSI PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Wilayah Indonesia Jawa Bali Luar Jawa Bali 2011 6,2 6,1 7,3 2012 6,5 6,3 7,7 2013 7,2 7,0 8,5 2014 7,4 7,2 8,8 2015 6,9 6,7 8,2 2016 6,9 6,7 8,2 2017 6,9 6,7 8,2 2018 6,9 6,7 8,2 2019 6,9 6,7 8,2 2020 6,9 6,7 8,2

5.2.2 Pertumbuhan Penduduk


Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237,6 juta orang dan jumlah rumah tangga 61,4 juta KK berdasar sensus penduduk tahun 2010. Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga tahun 2020 PLN menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh Bappenas dan Badan Pusat Statistik dalam buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025 [1] edisi tahun 2008. Pada Tabel 5.3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali, luar Jawa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.
TABEL 5. 3 PERTUMBUHAN PENDUDUK (%)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Indonesia 1,18 1,15 1,12 1,09 1,06 1,03 1,00 0,96 0,92 0,88 Jawa - Bali 0,92 0,90 0,87 0,84 0,81 0,78 0,75 0,71 0,67 0,63 Luar Jawa Bali 1,56 1,53 1,49 1,46 1,42 1,39 1,35 1,31 1,26 1,22

Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 2025 [1]

56

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020


Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5.2, kebutuhan tenaga listrik selanjutnya diproyeksikan dan hasilnya diberikan pada Tabel 5.5. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun 2020 akan menjadi 328,3TWh, atau tumbuh rata-rata 8,5% per tahun. Sedangkan beban puncak non coincident pada tahun 2020 akan menjadi 55.053 MW atau tumbuh rata-rata sebesar 8,14% per tahun.
TABEL 5. 4 PERTUMBUHAN EKONOMI, PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DAN BEBAN PUNCAK PERIODE 2010 2020 Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuhan Ekonomi % 6,1 6,2 6,5 7,2 7,4 6,9 6,9 6,9 6,9 6,9 6,9 Sales TWh 145,7 162,4 177,8 193,4 210,1 227,6 246,2 264,6 284,4 305,7 328,3 Jumlah Beban Puncak (non-coincident) MW 25.177 27.792 30.345 32.856 35.456 38.361 41.444 44.496 47.768 51.301 55.053

Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2011 adalah sebesar 45,8 juta dan akan bertambah menjadi 69,0 juta pada tahun 2020 atau bertambah rata-rata 2,7 juta per tahun. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi dari 71,9% pada tahun 2011 menjadi 94,4% pada tahun 2020. Proyeksi jumlah penduduk, pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi diperlihatkan pada Tabel 5.5.
TABEL 5. 5 PROYEKSI JUMLAH PENDUDUK, PERTUMBUHAN PELANGGAN DAN RASIO ELEKTRIFIKASI PERIODE 2011 2020 Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Penduduk Juta 241.0 243.9 246.9 249.7 252.5 255.3 258.0 260.7 262.6 264.9 Pelanggan Juta 45.8 48.2 50.8 53.4 56.1 58.8 61.4 64.1 66.7 69.0 Rasio Elek. % 71.9 74.4 77.1 79.9 82.7 85.5 87.9 90.3 92.7 94.4 Rasio Elek RUKN %

83.2

92.2

Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam RUKN tahun 2008-2027, rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015 diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN (0,3%) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.5.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

57

TABEL 5. 6 PRAKIRAAN KEBUTUHAN LISTRIK, ANGKA PERTUMBUHAN DAN RASIO ELEKTRIFIKASI


Unit 1.Energy Demand - Indonesia - Jawa-Bali - Indonesia Timur - Indonesia Barat 2.Pertumbuhan - Indonesia - Jawa-Bali - Indonesia Timur - Indonesia Barat 3.Rasio Elektrifikasi - Indonesia - Jawa-Bali - Indonesia Timur - Indonesia Barat TWh 2011 162,4 125,2 13,1 24,0 11,5 10,4 16,4 14,5 71,9 72,8 65,5 74,3 2012 177,8 135,8 15,1 26,9 9,5 8,4 15,1 12,0 74,4 75,4 67,6 76,7 2014 210,1 158,5 18,7 32,9 8,6 8,0 10,6 10,4 79,9 81,5 72,1 81,5 2016 246,2 184,5 22,4 39,3 8,2 7,9 9,2 9,1 85,5 88,1 76,7 85,0 2018 284,4 211,1 26,6 46,6 7,5 7,0 9,2 8,8 90,3 93,7 81,3 88,2 2020 328,3 241,2 31,7 55,3 7,4 6,8 9,1 9,0 94,4 97,8 86,4 91,6

Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 20112020 ditunjukkan pada Tabel 5.6 dan Gambar5.1. Pada periode 2011-2020 kebutuhan listrik sistem Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 125,2 TWh pada tahun 2011 menjadi 241,2 TWh pada tahun 2020, atau tumbuh rata-rata 7,8% per tahun. Untuk Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari 13,1 TWh menjadi 31,7 TWh atau tumbuh rata-rata 10,8% per tahun. Wilayah Indonesia Barat tumbuh dari 24,0 TWh pada tahun 2011 menjadi 55,3 TWh pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 10,2% per tahun.
24 TWh 55 TWh 2011 2020

IB : 10,2%

31 13 TWh TWh

IT : 10,8%
125 TWh 241 TWh

JB : 7,8%
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020

Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada Gambar 5.2. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem Jawa Bali kelompok pelanggan industri mempunyai porsi yang sangat besar, yaitu 40% dari total penjualan. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi pelanggan industri adalah cukup kecil, yaitu masing-masing hanya 10% dan 17%. Pelanggan residensial masih mendominasi penjualan hingga tahun 2020, yaitu 59% untuk Indonesia Timur dan 60% untuk Indonesia Barat.

58

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

300,000

Indonesia
Industri Publik Bisnis Residensial

250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Jawa-Bali
Industri Publik Bisnis Residensial

60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

35,000 30,000

Indonesia Barat
Industri Publik Bisnis Residensial

25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0

Indonesia Timur
Industri Publik Bisnis

Residensial

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020

Proyeksi penjualan pada RUPTL 2011-2020 sedikit lebih tinggi daripada draft RUKN 2010-2029, namun lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.3.

450.0 400.0 350.0 300.0 250.0 200.0 150.0 100.0 50.0 2010 2011 2012 2013 RUPTL 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 RUKN 08-27 RUKN 10-29

Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

59

5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit


5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit
5.4.1.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit di Indonesia Barat dan Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas sistem. Untuk sistem Sumatera misalnya, kandidat PLTU batubara adalah 100MW, 200 MW, 300 MW dan 400 MW. PLTG pemikul beban puncak 100 MW. Untuk sistem Kalimantan dan Sulawesi, kandidat PLTU batubara adalah 25 MW, 50 MW dan 100MW dengan PLTG pemikul beban puncak 25-30 MW dan 50 MW. Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih kecil. 5.4.1.2 Sistem Jawa-Bali Pada sistem Jawa-Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah PLTU batubara ultra supercritical kelas 1.000 MW dan supercritical 600 MW, PLTGU LNG/gas alam 750 MW, PLTG BBM pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW4. Selain itu terdapat beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110MW, serta PLTA. PLTN jenis pressurised water reactor kelas 1.000 MW juga disertakan sebagai kandidat dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan. Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali sebesar 1.000MW per unit didasarkan pada pertimbangan efisiensi5 dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban puncaknya sudah akan melampaui 25.000 MW. Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5.7.
TABEL 5. 7 ASUMSI HARGA BAHAN BAKAR
Jenis Energi Primer Batubara Sub Bituminous Batubara Lignite Batubara Lignite di Mulut Tambang Gas alam LNG HSD *) MFO *) Uap Panas Bumi Uranium Harga USD 80/Ton USD 50/Ton USD 35/Ton USD 6/MMBTU USD 10/MMBTU USD 0,78/Liter USD 0,62/Liter Nilai Kalor 5.100 kcal/kg 4.200 kcal/kg 4.200 kcal/kg 252.000 kcal/Mscf 252.000 kcal/Mscf 9.070 kcal/l 9.370 kcal/l

(tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan karena diperlakukan sebagai fixed plant) USD 120/lb

*) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel

4 5

Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai efisiensi jauh lebih tinggi

daripada teknologi subcritical.

60

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.4.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan Bakar Batubara (Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009)
Dengan Peraturan Presiden No.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan Presiden No. 59 tahun 2009, Pemerintah telah menugaskan PTPLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak kurang lebih 10.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Program ini dikenal sebagai Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW. Berdasar penugasan tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5.8.

TABEL 5. 8 DAFTAR PROYEK PERCEPATAN PEMBANGKIT 10.000 MW (PERATURAN PRESIDEN NO.71/2006 JO PERPRES NO.59/2009)
Nama Pembangkit PLTU 2 di Banten (Labuan) PLTU di Jabar Utara (Indramayu) PLTU 1 di Banten (Suralaya Unit 8) PLTU 3 di Banten (Lontar) PLTU di Jabar Selatan (Pelabuhan Ratu) PLTU 1 di Jateng (Rembang) PLTU 2 di Jateng (PLTU Adipala) PLTU 1 di Jatim (Pacitan) PLTU 2 di Jatim (Paiton Unit 9) PLTU 3 di Jatim (Tanjung Awar-awar) PLTU di NAD (Meulaboh) PLTU 2 di Sumut (Pangkalan Susu) PLTU 1 di Riau (Bengkalis) PLTU Tenayan di Riau PLTU di Kepri (Tanjung Balai) PLTU 4 di Babel (Belitung) PLTU 3 di Babel (Air Anyer) PLTU 2 di Riau (Selat Panjang) PLTU 2 di Kalbar (Pantai Kura-Kura) PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) PLTU di Lampung (Tarahan Baru) PLTU 1 di Kalbar (Parit Baru) PLTU di Kaltim (Kariangau) PLTU 1 di Kalteng (Pulang Pisau) PLTU di Kalsel (Asam-Asam) PLTU 2 di Sulut (Amurang) PLTU di Gorontalo PLTU di Maluku Utara (Tidore) PLTU 2 di Papua (Jayapura) PLTU 1 di Papua (Timika) Kapasitas (MW) 2x315 3x330 1x625 3x315 3x350 2x315 1x600 2x315 1x660 2x300 2x110 2x220 2x10 2x110 2x7 2x16.5 2x30 2x5 2x27,5 2x112 2x112 2x100 2x50 2x100 2x60 2x65 2x25 2x25 2x7 2x10 2x7 Tahun Operasi 2009-2010 2011 2011 2011-2012 2012-2013 2011 2014 2012 2012 2013 2012 2012 2012 2014 2011 2012 2010-2011 Batal 2012-2013 2012-2013 2012-2013 2012 2012 2013-2014 2012-2013 2011 2011 2012-2013 2012 2012 Batal

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

61

Nama Pembangkit PLTU di Maluku (Ambon) PLTU di Sultra (Kendari) PLTU di Sulsel (Barru) PLTU 2 di NTB (Lombok) PLTU 1 di NTT (Ende) PLTU 2 NTT (Kupang) PLTU 1 di NTB (Bima) PLTU 1 Sulut PLTU 2 Kalteng

Kapasitas (MW) 2x15 2x10 2x50 2x25 2x7 2x15 2x10 2x25 2x7

Tahun Operasi 2012-2013 2011-2012 2012 2012 2012 2012 2012 2014 Batal

Sampai dengan Desember 2010 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah selesai dan beroperasi komersial adalah hanya PLTU Labuan Unit 1 dan unit 2 (2x300 MW), sedangkan pembangkit lain yang semula dijadwalkan selesai dalam tahun 2010 ternyata mundur ke tahun 2011 sebesar 4.165 MW, yaitu Suralaya Unit 8 (625 MW), Indramayu Unit 1-2-3 (3x330 MW), Lontar 1-2 (2x315 MW) dan Rembang unit 1-2 (2x315 MW). Pada tahun 2012 dijadwalkan proyek-proyek sebanyak 1.365 MW berikut akan beroperasi: Pacitan 1-2 (2x315MW), Paiton baru (660MW), Lontar Unit 3 (315 MW), Pelabuhan Ratu 1-2 (2x350 MW), dan Tanjung Awar-awar 1 (350MW). Sedangkan pada tahun 2013 akan beroperasi PLTU Pelabuhan Ratu 3 (350 MW) dan Tanjung Awar-awar 2 (350 MW), dan selanjutnya pada 2014 akan beroperasi PLTU Adipala (660 MW). Proyek-proyek pembangkit PerPres 71 di Jawa Bali mengalami keterlambatan rata-rata 1 tahun, sedangkan proyek-proyek di luar Jawa Bali akan mengalami keterlambatan lebih dari itu. Keterlambatan tersebut terutama disebabkan oleh financing yang terlambat dan permasalahan konstruksi. Untuk Indonesia Barat dan Timur proyek pembangkit yang akan mulai beroperasi 2011 adalah PLTU Tanjung Balai Karimun, PLTU Tarahan, PLTU Bangka, PLTU Asam-Asam, PLTU 2 Sulut, dan PLTU Kendari, sedangkan sebagian besar akan beroperasi tahun 2012-2013.

5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2


Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 02/2010 jo No. 15/2010 mencakup PLTU batubara 3.391 MW, PLTP 3.967 MW, PLTGU 860 MW, PLTG 100 MW dan PLTA 1.204 MW, dengan kapasitas total 9.522 MW. Dalam perjalanannya proyek-proyek yang termasuk dalam program tersebut banyak mengalami keterlambatan dan beberapa telah diusulkan kepada Kementerian ESDM untuk dibatalkan karena masalah-masalah seperti kekurangan pasokan gas dan ketidaksiapan pengembangan panas bumi. Proyek-proyek yang diusulkan untuk dibatalkan adalah PLTGU Muara Tawar add-on Blok 3-4, PLTU Bali Timur, PLTP Darajat, PLTP Salak, PLTGU Senoro, PLTU Masohi, PLTU Waingapu, PLTU Moutong. Selain itu juga terdapat proyek yang diusulkan untuk

62

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

dikeluarkan dari FTP2 karena akan didanai dengan APBN yaitu PLTU Sampit, PLTU Kotabaru, PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking). Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang berubah status dan jadwal yaitu PLTGU Bangkanai (IPP) menjadi PLTG Bangkanai (PLN), beberapa PLTU kecil menjadi PLTGB dan hampir semua PLTP terlambat. Selain mengusulkan pembatalan beberapa proyek, PLN juga mengusulkan tambahan beberapa proyek pembangkit EBT seperti PLTA dan PLTP yang baru saja memperoleh penetapan WKP oleh Kementerian ESDM berikut transmisi terkaitnya. Proyek PLTA yang diusulkan sebesar 516 MW antara lain PLTA Rajamandala, PLTA Bonto Batu, PLTA Malea, PLTA Wampu, PLTA Semangka, PLTA Hasang dan PLTA Peusangan-4. Sedangkan proyek PLTP yang diusulkan sebesar 885 MW antara lain PLTP Gunung Endut, PLTP Gunung Ciremai, PLTP Suoh Sekincau, PLTP Wai Ratai, PLTP Danau Ranau, PLTP Simbolon Samosir, PLTP Sipoholon Ria-Ria, PLTP Bonjol dan PLTP Mataloko. Usulan perubahan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 yang telah disampaikan PLN diberikan pada Tabel 5.9 dengan komposisi PLTU batubara 3.025 MW, PLTP 4.870 MW, PLTG 280 MW, PLTGB 64 MW dan PLTA 1.753 MW dengan kapasitas total 9.992 MW untuk jangka waktu sampai dengan tahun 2019.
TABEL 5. 9 REKAP PROYEK PERCEPATAN PEMBANGKIT TAHAP 2
Pemilik PLN IPP Jumlah Satuan MW MW MW PLTA 1,269 484 1,753 PLTG 280 0 280 PLTGB 64 0 64 PLTP 340 4,530 4,870 PLTU 1,804 1,221 3,025 Jumlah 3,757 6,235 9,992

Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5.9 akan menjadi 66%. Pengembangan panas bumi sebanyakitu selama 10 tahun ke depan merupakan suatu rencana pengembangan yang relatif sangat besar untuk PLTP dengan jumlah investasi yang sangat tinggi6. Pengembangan ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL 2011-2020 ini yang mencapai 6.247 MW hingga tahun 2020. Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 9.992 MW tersebut terdiri atas 3.757 MW sebagai proyek PLN dan 6.235 MW sebagai proyek IPP. Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN dalam membuat pinjaman baru.

Kebutuhan investasi sekitar US$ 9 milyar jika biaya pengembangan US$ 2.500/kW.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

63

5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010.
Pada saat ini terdapat 7 proyek yang terdapat dalam buku KPS 2011 seperti dalam tabel 5.10.
TABEL 5. 10 PROYEK YANG TERDAPAT DALAM BUKU KPS 2011
No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Proyek PLTU Jateng PLTU Jambi PLTU Sumsel-9 PLTU Sumsel-10 PLTU Kaltim PLTU Sulut PLTA Karama Kapasitas 2x1000 MW 2x400 MW 2x600 MW 600 MW 2x100 MW 2x55 MW 450 MW Provinsi Jateng Jambi Sumsel Sumsel Kaltim Sulut Sulbar Status Sudah Tender Prioritas Potensial Potensial Potensial Potensial Prioritas Keterangan Sudah PPA Solicited karena ada dalam RUPTL 2010-2019 Solicited Solicited Solicited Solicited Unsolicited Usulan Pemprov Sulbar

PLN mengusulkan proyek nomor 1 s.d. 6 sebagai proyek KPS.

5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang


Dalam RUPTL 2011-2020 terdapat rencana pembangunan 7.310 MW PLTU batubara mulut tambang di Sumatera sampai dengan tahun 2020, yang terdiri dari 6.510 MW akan dikembangkan oleh IPP dan 800 MW oleh PLN. Memperhatikan lokasi PLTU mulut tambang yang berada di dekat sumber batubara yang tidak mempunyai akses untuk mentransportasi batubara keluar dari sumber batubara tersebut dalam volume yang besar, PLN telah mengusulkan agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan berdasarkan harga pasar, melainkan berdasarkan biaya produksi batubara plus margin, dan harga tersebut berlaku sepanjang umur PPA (locked-in).

5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia)


Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia ditunjukkan pada Tabel5.11. Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (interkoneksi), dan sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2. Tabel 5.11 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode 2011 2020) untuk seluruh Indonesia adalah 55,8 GW atau pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 5,6 GW per tahun. Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 31,4 GW atau 56,1% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 24,5 GW atau 43,9%. PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun, yaitu mencapai 35,6 GW atau 63,7%, sementara PLTGU gas dengan kapasitas 3,3 GW atau 5,8%. Untuk energi terbarukan, yang terbesar adalah panas bumi sebesar 6,2 GW atau 11,2% dari kapasitas total, disusul oleh PLTA sebesar 6,1 GW atau 11,1%.

64

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL 5. 11 KEBUTUHAN TAMBAHAN PEMBANGKIT TOTAL INDONESIA (MW)


Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTD PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 4.383 24 594 222 20 18 6 1 5.268 5.456 63 873 509 1 38 220 32 0 7.192 3.073 115 296 1.132 33 234 8 81 4.971 2.947 258 790 41 139 49 43 1 5 2 4.274 4.289 1.090 140 41 51 312 22 5.944 4.832 426 30 22 4 804 1.040 7 7.164 4.785 957 85 6 581 22 1 6.436 2.008 1.290 480 22 5 362 14 4.181 1.829 1.610 750 75 17 2 294 450 6 1 5.034 1.972 415 750 630 18 2 135 950 10 4.882 35.573 5.247 3.263 4.093 194 501 2.782 2.440 243 1 6 3 55.346 924 150 16 10 6 1.106 1.029 130 104 22 200 20 1.606 102 60 180 102 204 8 32 688 1.521 245 90 45 16 1.917 2.719 855 44 70 2 3.690 4.582 343 1 246 5.172 3.675 937 1 40 3 4.565 1.110 1.270 83 2.463 425 1.590 2.016 450 195 135 780 16.537 5.495 460 206 378 837 79 23.992 3.459 24 444 222 4 8 1 4.162 4.427 63 743 405 1 17 20 12 0 5.687 2.971 55 116 1.030 33 30 49 4.283 1.426 13 790 41 49 4 27 1 5 2 2.357 1.570 235 140 41 7 242 20 2.254 250 83 30 22 3 558 1.040 7 1.992 1.110 20 85 5 541 19 1 1.780 898 20 480 22 5 279 14 1.718 1.404 20 750 75 17 2 294 450 6 1 3.019 1.522 220 750 630 18 2 950 10 4.102 19.036 752 2.803 3.887 194 123 1.945 2.440 164 1 6 3 31.363 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

65

5.4.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari 5 sistem interkoneksi, yaitu: (1) Sistem Sumatra, (2) Sistem Kalimantan Barat, (3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur, (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5) Sistem Sulawesi Selatan. Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated yang cukup besar dengan beban puncak di atas 50 MW, yaitu Bangka, Lombok, Tanjung Pinang dan Palu, dan terdapat beberapa sistem isolated dengan beban puncak di atas 10 MW, yaitu Jayapura, Sorong, Ambon, Ternate, Kupang, Sumbawa, Bima, Luwuk, Gorontalo, Kendari, Kolaka, Bau-Bau, Bontang, Sampit, Pangkalan Bun, Sintang, Ketapang, Belitung, Rengat, Tanjung Balai Karimun, Sungai Penuh, Takengon, Meulaboh. 5.4.7.1 Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15.916 MW di Indonesia Barat dan 7.781 MW di Indonesia Timur, termasuk committed dan ongoing projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5.12 dan Tabel 5.13. Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Barat yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8,3 GW (52,4%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 7,6 GW (47,6%). Sedangkan pada tabel 5.13 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 4,6 GW (58,6%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 3,2 GW (41,4%), lebih kecil dibandingkan pembangkit yang dibangun oleh PLN. Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil khususnya Indonesia bagian Timur yang besar bebannya belum cukup tinggi untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil. Pengembangan pembangkit di Indonesia Barat dan Timur untuk PLTP diproyeksikan cukup besar, yaitu 3.372 MW dan juga PLTA sebesar 2.908 MW. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan. Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam skala relatif kecil.

66

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS). Apabila proyek tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.
TABEL 5. 12 KEBUTUHAN PEMBANGKIT WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT (MW)
Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total 313 222 0 535 818 55 130 424 28 1.455 1.619 55 116 602 95 39 2.525 748 220 570 32 45 8 1.623 1.330 660 20 39 23 12 2.084 1.180 493 1.673 650 612 10 405 6 1.683 430 405 30 132 3 1.000 947 690 6 1.643 772 220 200 3 1.195 8.806 2.917 246 2.078 166 1.099 105 15.416 239 239 14 130 44 16 204 42 22 95 5 164 543 220 32 45 840 642 440 39 23 1.144 930 56 986 600 612 40 1.252 400 405 83 888 425 690 1.115 250 250 4.085 2.367 130 66 166 247 21 7.082 74 222 0 296 804 55 380 12 1.251 1.577 55 116 580 34 2.362 205 570 8 783 688 220 20 12 940 250 437 687 50 10 365 6 431 30 30 49 3 112 522 6 528 522 220 200 3 945 4.721 55 116 2.012 851 84 8.334 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

67

TABEL 5. 13 KEBUTUHAN PEMBANGKIT WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR (MW)


Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 190 24 11 18 6 1 250 543 8 85 1 34 220 4 0 895 404 180 530 33 71 8 42 1.267 1.159 38 70 41 89 4 32 1 5 2 1.440 639 45 120 41 12 32 7 895 132 101 30 22 4 249 7 544 275 75 75 6 139 16 1 586 378 70 50 22 5 230 11 766 282 65 75 17 2 294 1 736 200 30 30 18 2 117 7 404 4.202 455 180 1.065 194 235 1.309 132 1 6 3 7.781 25 7 10 6 48 481 200 60 17 200 4 396 60 180 80 41 8 27 598 25 40 16 679 417 30 5 2 454 132 18 1 190 341 215 55 1 3 274 110 50 160 45 45 200 30 117 347 1.957 253 180 140 112 525 58 3.225 1 202 0 413 871 4 8 165 24 343 8 25 1 17 20 344 450 33 30 15 561 13 70 41 49 4 16 1 5 2 761 222 15 120 41 7 32 5 441 83 30 22 3 59 7 203 60 20 75 5 139 13 1 312 268 20 50 22 5 230 11 606 282 20 75 17 2 294 1 691 30 18 2 7 57 2.245 202 925 194 123 785 74 1 6 3 4.556 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total

68

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.4.7.2 Neraca Daya Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat pada Lampiran A dan Lampiran B. 5.4.7.3 Proyek Proyek Strategis Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat meliputi antara lain: Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang mengalami kekurangan pasokan tenaga listrik dan untuk mengurangi pemakaian BBM. Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi. Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua yang menjadi andalan pasokan listrik setempat. PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat dioperasikan sebagai pembangkit peaking, pembangunan PLTG peaking di Kaltim dan Sulsel. PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan tujuh Kabupaten Baru di Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum dilayani listrik PLN. Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan pembangkit kecil tersebar di wilayah operasi Indonesia Timur. PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2016, sangat strategis untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara. PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC. Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada.

5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali


5.4.8.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit Pada Tabel 5.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang dibutuhkan dalam kurun waktu 2011-2020 di sistem Jawa-Bali. Tabel 5.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan (periode 2011-2020) untuk Jawa-Bali adalah 32,2 GW atau pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 3,2 GW per tahun, termasuk PLTM skala kecil tersebar sebesar 118 MW dan PLTGB 6 MW. Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 18,5 GW atau 57,4% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 13,7 GW atau 42,6%.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

69

PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun, yaitu mencapai 22,6 GW atau 70,1%, sementara PLTGU gas menempati urutan kedua dengan kapasitas 2,8 GW atau 8,8%. Untuk energi terbarukan seperti panas bumi sebesar 2,9 GW atau 8,9% dan PLTA/PLTM/PS sebesar 2.9 GW atau 9,1%, disusul oleh PLTG 1 GW atau 3.0%.

TABEL 5. 14 KEBUTUHAN PEMBANGKIT SISTEM JAWA-BALI (MW)


Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total 3.880 594 9 4.798 4.095 743 4 4.527 1.050 60 68 1.178 1.040 150 18 3 1.211 2.320 385 257 3 2.965 3.520 325 62 1.010 4.947 3.860 270 37 4.167 1.200 815 400 2.415 600 855 750 450 2.655 1.000 165 750 400 18 950 3.283 22.565 2.875 2.837 950 100 374 2.440 6 32.147 660 150 9 819 815 4 819 60 68 128 380 18 398 1.660 385 47 2.092 3.520 325 3.845 2.860 270 3.130 600 815 1.415 855 855 165 18 183 10.495 2.875 150 100 65 13.685 3.220 444 3.664 3.280 743 4.024 1.050 1.050 660 150 3 813 660 210 3 873 62 1.040 1.102 1.000 37 1.037 600 400 1.000 600 750 450 1.800 1.000 750 400 950 3.100 12.070 2.687 950 309 2.440 6 18.462 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total

5.4.8.2 Neraca Daya Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa Bali sampai dengan tahun 2020 berjumlah 32.023 MW (tidak termasuk PLTM tersebar 118 MW dan PLTGB 6 MW), atau rata-rata sekitar 3.200 MW per tahun. Jumlah tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN berjumlah 18.456MW (57,6%) dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13.567 MW (42,4%). Jadwal dan kebutuhan masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada 5.16.

70

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2013), tambahan pembangkit dari proyek-proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan (proyek on-going) berjumlah 10.352 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN berjumlah 8.737MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No.71/2006 dan sisanya sebesar 1.625 MW adalah proyek IPP. Selain itu masih ada rencana Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 yang beroperasi pada 2013 yaitu PLTP Patuha 60 MW (IPP). Dalam jangka menengah (2014 2016) tambahan pembangkit yang berupa proyek PLN berjumlah 2.782 MW, dimana tambahan sebesar 1.040MW adalah Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2, sedangkan proyek IPP berjumlah 6.317 MW, dimana 1.100MW merupakan Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2. Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 25% karena mundurnya Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 antara lain PLTU Indramayu 1x1000 MW, Upper Cisokan Pumped Storage 4x250 MW, PLTU Madura 2x200 MW dan proyek-proyek panas bumi. Untuk meningkatkan reserve margin mendekati kriteria keandalan yang dikehendaki, diperlukan tambahan pembangkit sebesar 3x600 MW pada tahun 2015. Kapasitas tersebut akan dipenuhi oleh 2 unit PLTU IPP kelas 600 MW dan ekspansi PLTU Lontar 1x660 MW. Untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek transmisi HVDC Sumatera-Jawa yang sangat panjang (700 km) dan pembangkitnya di Sumatera Selatan, dalam RUPTL ini direncanakan tambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa-Bali pada tahun 2016-2017 sebesar 2x660 MW. Tambahan kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk PLTU Tanjung Jati A yang akan dikembangkan oleh PT TJPC atau ekspansi pembangkit eksisting PLN atau ekspansi IPP atau pembangunan PLTU baru.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

71

TABEL 5. 15 NERACA DAYA SISTEM JAWA-BALI 2011-2020


Proyek Kebutuhan Pertumbuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Kapasitas Kapasitas Terpasang PLN Retires/Mothballed IPP PROYEK-PROYEK PLN On-going dan Committed Project Muara Karang Rep Blok 2 Muara Tawar Blok 5 Priok Extension (Blok 3) Suralaya #8 Labuan Teluk Naga/Lontar Pelabuhan Ratu Indramayu Rembang Pacitan Paiton Baru Tj. Awar-awar Cilacap Baru/Adipala Tanjung Jati B #3-4 Sub Total On-going & Committed Rencana PLTGU Tuban/Cepu Indramayu #4 (FTP2) & #5 Lontar Exp #4 PLTU Bekasi PLTG Peaker Semarang PLTG LNG Karangkates 34-5 Kesamben (Jatim) Kalikonto-2 (Jatim) Jatigede (Jabar) Upper Cisokan PS Matenggeng PS Grindulu PS Sub Total Rencana Total PLN IPP 3,664 4,023 1,050 PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTG PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA 150 810 870 870 1,102 1,102 1,037 1,037 1,000 1,000 1,800 1,800 110 1,040 450 450 500 3,100 3,100 62 100 37 150 400 400 660 600 600 1,000 750 750 1,000 PLTGU PLTGU PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU 660 3,664 660 4,023 1,050 660 990 630 630 660 700 660 315 630 700 350 625 210 234 743 MW MW MW 21,407 17,482 -589 3,925 21,007 17,082 -400 3,925 20,531 16,606 -476 20,531 16,606 0 20,531 16,606 0 20,531 16,606 0 20,531 16,606 0 20,531 16,606 0 20,531 16,606 0 20,531 16,606 0 GWh % GWh % MW 2011 125,217 10.4 142,065 78.5 20,672 2012 135,769 8.4 153,721 78.8 22,283 2013 146,787 8.1 165,697 79.1 23,928 2014 158,531 8.0 178,774 79.6 25,635 2015 171,089 7.9 192,747 79.6 27,625 2016 184,550 7.9 207,770 79.7 29,763 2017 197,407 7.0 222,106 79.7 31,801 2018 211,134 7.0 237,404 79.8 33,974 2019 225,848 7.0 253,822 79.8 36,305 2020 241,240 6.8 270,994 79.9 38,742

72

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyek On going dan Committed Project Cikarang Listrindo Cirebon Paiton #3 Celukan Bawang Sub Total On-going & Committed Rencana Banten Madura (2x200 MW) FTP2 Sumsel-8 MT Sumsel-9 MT (PPP) Sumsel-10 MT (PPP) PLTU Jawa Tengah (PPP) PLTU Jawa-1 PLTU Jawa-2 PLTU Jawa-3 PLTP FTP2 PLTP Non FTP2 Rajamandala (FTP2) Sub Total Rencana Total IPP Total Tambahan TOTAL KAPASITAS SISTEM RESERVEMARGIN MW % PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PTLU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA PLTGU PLTU PLTU PLTU

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

150 660 815 380 810 815 380

660 400 1,200 1,200 600 1,000 660 600 660 60 375 10 47 60 810 4,474 27,091 31 815 4,838 31,529 41 60 1,110 32,163 34 380 1,190 33,353 30 2,092 2,092 2,962 36,315 31 3,845 3,845 4,947 41,262 39 3,130 3,130 4,167 45,429 43 1,145 1,145 2,145 47,844 41 855 855 2,655 50,499 39 165 165 3,265 53,764 39 325 660 160 110 595 220 440 415 165 1,000

Catatan: - Tanda panah mengindikasikan pergeseran jadwal operasi dari rencana semula (RUPTL 2010-2019) ke jadwal baru (RUPTL 20112020).

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

73

Dalam jangka panjang (20172020) jumlah penambahan kapasitas pembangkit adalah 12.502 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 6.937 MW dan IPP sebesar 5.565 MW. Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di Jawa-Bali terlihat dengan jelas pada tabel 4.14 dimana PLN tidak lagi merencanakan pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak, kecuali beberapa pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan menggunakan bahan bakar minyak atau LNG jika tersedia. Disamping PLTG peaker tersebut direncanakan tiga buah PLTA Pump Storage sebagai pemikul beban puncak, yaitu Upper Cisokan di Jawa Barat dengan kapasitas 1.040MW, Matenggeng di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah sebesar 900 MW dan Grindulu di Jawa Timur sebesar 1.000 MW. Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering Muara Karang dan Priok dan Muara Tawar Blok 5) direncanakan PLTGU dengan kapasitas 1.500 MW yang akan menggunakan bahan bakar gas alam yaitu PLTGU Tuban/Cepu 1.500 MW. Mengingat pasokan gas ke Muara Tawar yang semakin menurun dan ketidakpastian pasokan LNG, maka telah dikaji kembali kelayakan dari proyek PLTGU Muara Tawar Add-on Blok 2-3-4. Berdasarkan hasil kajian peran pembangkit Muaratawar di sistem Jawa Bali tahun 2012 - 2020, proyek PLTGU Muara Tawar Add-on 2-3-4 sudah tidak diperlukan lagi. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan pembangkit Muara Tawar eksisting (total 1.700 MW) dan PLTGU Blok-5 (234 MW) cukup untuk tetap menjaga tegangan di subsistem Jakarta. Memperhatikan peran pembangkit Muara Tawar yang penting untuk menjaga tegangan sistem 500 kV di Jakarta dan memperhatikan pula ketidakpastian pasoka gas ke Muara Tawar, maka direncanakan PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) yang lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan akan terhubung ke GITET Muara Tawar. Neraca daya sistem Jawa-Bali pada tabel 5.14 mencantumkan PLTU Sumsel-8, Sumsel-9 dan Sumsel-10 yang merupakan PLTU Mulut Tambang di Sumatera Selatan. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Mulut Tambang tersebut PLN sedang membangun transmisi 500kV HVDC interkoneksi Sumatera Jawa. 5.4.8.3 Proyek-proyek Strategis Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut: PLTU IPP Jawa Tengah (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2016 dan 2017, serta merupakan proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama PemerintahdanSwasta (KPS) dengan PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. PLTU Indramayu (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2017, dan berlokasi relatif dekat dengan pusat beban industri di sebelah Timur Jakarta.

74

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PLTA Pompa Upper Cisokan (1.040 MW). Proyek ini sangat strategis karena dapat meminimalkan biaya operasi sistem serta memberikan banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik, antara lain berfungsi sebagai pembangkit beban puncak, pengatur frekuensi, sebagai spinning reserve (cadangan putar), memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban dasar dan memperbaiki load factor sistem.

PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC Sumatera Jawa dengan kapasitas 3.000 MW. Proyek ini sangat strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Jawa dengan memanfaatkan cadangan low rank coal di Sumatra Selatan. Proyek ini hanya dilaksanakan setelah kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan cadangan yang cukup banyak. Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala besar di pulau Jawa.

PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan berfungsi untuk menjaga tegangan di Jakarta serta mengurangi pemakaian BBM/LNG di Muara Karang, Priok dan Muara Tawar.

5.4.8.4 Regional Balance Sistem Jawa Bali Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa Bagian Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5.16, maka pengembangan proyek pembangkit baru sebaiknya berlokasi di Jawa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance.
TABEL 5. 16 REGIONAL BALANCE SISTEM JAWA BALI TAHUN 2010
Regional Balance Kapasitas Terpasang (MW) Tambahan Kapasitas (MW) Total (MW) Beban Puncak (MW) Reserve (%) Jawa Bagian Barat 12.129 300 12.429 11.611 7,0 Jawa Tengah 3.675 3.675 2.890 27.1 Jawa Timur dan Bali 7.102 7.102 4.318 64.5

Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di Jawa bagian Barat sebelah Timur (seputar Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon) atau Jawa Tengah sebelah Barat (seputar Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang). Pada saat ini region Jawa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum mengalami kendala penyaluran listrik ke arah Barat karena adanya transmisi 500kV jalur selatan. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit baru tidak mempertimbangkan regional balance, maka pada masa yang akan datang diperkirakan akan muncul kendala penyaluran. Penerapan regional balance dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari keperluan untuk membangun transmisi 500kV pada jalur baru dari Timur ke arah Barat pulau Jawa. Lokasi PLTU batubara skala besar di pantai selatan pulau Jawa belum merupakan pilihan prioritas, karena pertimbangan kesulitan transportasi batubara pada musim-musim gelombang tinggi, diperlukan konstruksi breakwater yang relatif mahal, risiko tsunami dan gempa bumi yang lebih tinggi.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

75

Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali dapat dilihat pada Lampiran C1.2.

5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta


Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10 tahun mendatang sangat besar, yaitu mencapai sekitar 33% dari total kapasitas terpasang. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 5.17 dan Tabel 5.18. Pada kedua tabel tersebut, yang dimaksud dengan proyek on going adalah proyek IPP yang telah memiliki PPA dan secara resmi telah mendapat pendanaan (financial closure). Sedangkan proyek IPP dalam kategori rencana meliputi mereka yang telah mempunyai PPA namun belum financial closure. Ada juga proyek yang baru mendapat HOA sudah dimasukkan dalam kategori rencana. Di dalam kategori rencana juga terdapat proyek IPP yang belum ada pemiliknya namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini sebagai kebutuhan sistem. Proyek IPP yang statusnya belum mempunyai PPA ini akan diadakan oleh PLN melalui proses tender kompetitif.
TABEL 5. 17 DAFTAR PROYEK IPP DI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR
Nama Pembangkit Proyek On Going PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTA PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA Pangkalan Bun Simpang Belimbing #1,2 Ketapang Jeneponto Bosowa #1,2 Molotabu Banjarsari Sumsel-2 (Keban Agung) Poso Energy Hek Praikala I Umbuwangu I Wae Roa - Ngada Lewa Lokomboro III Goal Kokok Putih Wawopada Praikalala II Wampu Simpang Aur (FTP2) Semangka Hasang Peusangan-4 2x6 2 x 114 2x7 2 x 100 2 x 10 2 x 114 2 x 113 3 x 65 1 x 2,5 1x1 1x1 1 x 0,4 2 x 0,8 2 x 1 & 1 x 0,5 2x1 1 x 3,8 1x4 3x1 45 23 56 40 83 2011 2011 2012 2013 2013 2014 2015 2012 2011 2011 2011 2011 2011-2012 2011-2012 2012 2012 2013 2011-2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kapasitas (MW) Tahun Operasi

Proyek Rencana

76

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PLTA PLTA PLTB PLTG PLTG PLTG

Bontobatu (Buttu Batu 1) #1,2 Malea #1,2 Waingpau Aceh Sengkang, Op. Cycle-Unit 2 Senipah

2 x 50 2 x 45 1x1 3 x 22 1 x 60 2 x 41 2x4 2x4 1x5 1x6 1x3 8 8 8 8 6 1 x 90 1 x 30 1 x 120 154 1 x 0,2 1 x 5,8 1x1 2 x 0,3 3x1 1 x 1,5 1 x 1,3 1 x 1,2 1x1 1 x 0,8 1x2 2 x 0,6 1 x 5,7 1 x 1,8 1 x 0,8 1x2 4 x 1,3 1 x 2,5 2x4 2 x 1,25 2 x 1,6 1x6 1 x 4,3 6x1 2 x 4,8 2x4

2016 2016 2013 2012-2013 2012 2013 2012 2012 2013 2011 2013 2012-2013 2013 2014 2013 2013-2015 2012 2012 2013 2013-2015 2012 2012 2012 2012-2013 2012-2014 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013-2017 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2013 2014-2015

PLTGB Putusibau (FTP2) PLTGB Tanjung Batu (FTP2) PLTGB Belitung-2 PLTGB Melak (Sewa) PLTGB Kotabangun PLTGB Selayar (FTP2) PLTGB Tual PLTGB Tobelo (FTP2) PLTGB Larantuka PLTGB Tana Tidung PLTGU Duri PLTGU Gunung Megang, ST Cycle PLTGU Sengkang-ST-cc-Unit 3 PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM Tersebar Sumut Kukusan Segara Anak Umbuwangu II Waekelosawa Maidang Biak I Biak II Biak III Ibu Kotaraya Mampueno/Sakita Pakasalo Rea Wae Lega-Manggarai Wolodaesa Ngaoli Wai Nibe Batubota Bintang Bano Bunta Lambangan Mala-2 Rhee Walesi Blok II Tamboli #1,2 Waetina

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

77

PLTM PLTM PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU

Milangodaa Sita-Borong Borapulu Masaingi (FTP2) Bora (FTP2) Lumut Balai (FTP2) Sarulla I (FTP2) Ulubelu #3,4 (FTP2) Lho Pria Laot Muara Laboh (FTP2) Rajabasa (FTP2) Sarulla (FTP2) Seulawah (FTP2) Sorik Marapi (FTP2) Rantau Dedap (FTP2) Suoh Sekincau G. Talang Bonjol Danau Ranau Jaboi (FTP2) Simbolon Samosir Sipoholon Ria-ria Wai Ratai Jailolo - 2 Lahendong V - VI (FTP-2) Atadei (FTP2) Jailolo (FTP2) Sokoria Huu (FTP2) Lainea Songa Wayaua (FTP2) Huu - 2 Waingapu Sokoria - 2 Ulumbu Oka Larantuka Mataloko Sarolangun IPP Kemitraan Muko MUko Nias Nias (FTP2) Selat Panjang Baru #1,2 Simpang Belimbing #3,4 Gorontalo Energi Tanjung Pinang 1 (TLB)

1 x 0,7 2x1 2 x 20 1 x 20 1x5 4 x 55 3 x 110 2 x 55 1x7 2 x 10 2 x 110 1 x 110 1 x 55 240 2 x 110 2 x 55 1 x 20 165 110 2x5 110 1 x 55 1 x 55 1x5 2 x 20 2 x 2,5 2x5 3x5 1 x 20 2 x 10 1x5 2 x 20 1x1 1x5 1x5 2 x 2,5 3x5 2x6 2x7 2x4 1x7 2x7 2x7 2 x 114 2x6 2 x 15

2013 2014-2015 2019-2020 2018 2018 2014-2015 2014-2015 2015 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018-2019 2018-2019 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2020 2014-2015 2016 2016-2017 2015-2017 2015-2017 2017 2017 2018-2019 2017 2020 2014 2016-2017 2015-2018-2019 2017 2017 2018-2019 2012 2011 2013 2013 2013 2014

78

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU

Tanah Grogot (Terkendala) TB. Karimun Lombok (FTP2) Andai - Maruni Nabire-Kalibobo Nunukan (FTP2) Kalsel-1 (FTP2) Kaltim-2 (FTP2) Klalin (FTP2) Merauke-Gudang Arang (FTP2) Sulut I-Kema Sumbawa (FTP2) Mamuju (FTP2) Sulsel-3 (Takalar Punaga) Luwuk (FTP2) Merauke - 2 Embalut (Ekspansi) Kaltim (PPP) Sulut (PPP) Kalteng-1 Tobali Pontianak-3 Tanjung Pinang 2 (FTP2) Tembilahan Bangka (FTP2) Sumsel-5 Sumsel-7 Riau Mulut Tambang Sumsel-6, Mulut Tambang Jambi (KPS) Pontianak-2 Bau-Bau Biak (FTP2) Jayapura-Skouw Kaltim (MT) Kendari (FTP2) Kolaka (FTP2) Kupang Tawaeli (Ekspansi) Lati (Ekspansi)

2x7 2x7 2 x 25 2x7 2x7 2x7 2 x 100 2 x 100 2 x 15 2x7 2 x 25 2 x 10 2 x 25 2 x 100 2 x 10 1x7 1 x 50 2 x 100 2 x 55 2 x 100 2x7 2 x 25 2 x 15 2x7 2 x 30 2 x 150 2 x 150 2 x 300 2 x 300 2 x 400 2 x 25 2x7 2x7 2 x 15 2 x 28 2 x 25 2 x 10 2 x 15 2 x 15 1x5

2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015-2016 2015-2016 2014-2015 2014-2015 2014-2015 2014-2015 2015 2014-2015 2015-2016 2016 2014 2017 2018 2020 2014 2015 2015 2015 2015-2016 2015-2016 2015-2016 2016-2017 2017-2017 2018-2019 2019-2020 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2016-2017 2014 2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

79

TABEL 5. 18 DAFTAR PROYEK IPP DI JAWA BALI


Nama Pembangkit Proyek On Going PLTG Cikarang Listrindo PLTU Cirebon PLTU Celukan Bawang PLTU Paiton 3 Proyek Dalam Rencana PLTP Tangkuban Perahu 2 PLTP Patuha 2017 PLTP Bedugul PLTP Kamojang PLTP Candi Umbul - Telomoyo PLTP Wayang Windu PLTU Madura PLTU Jawa-1 PLTU Jawa-2 PLTU Jawa-3 PLTU Jawa Tengah PLTU Banten PLTU Sumatera Mulut Tambang 7 PLTA Rajamandala PLTP Cibuni PLTP Dieng 2 x 30 1 x 60 2 x 60 1 x 10 1 x 30 1 x 60 1 x 55 1 x 110 1 x 110 2 x 200 1 x 660 1 x 600 2 x 660 2 x 1000 1 x 660 5 x 600 1 x 47 10 1 x 55 1 x 60 2 x 55 1 x 55 1 x 30 2 x 55 1 x 110 2 x 55 2 x 55 1 x 30 2 x 55 1 x 55 1 x 55 2 x 55 2 x 55 1 x 55 2 x 55 1 x 552016 1 x 110 2 x 110 2 x 55 1 x 55 2 x 110 1 x 45 1 x 50 2 x 55 2015-2016 2013 2015 2015 2015 2016 2019 2015 2017 2015 2015 2015 2016-2017 2016-2017 2016 2016-2018 2014 2016 2015 2016 2018-2019 2018 2019 2019-2020 2018 2018 2019-2020 2015 2016 2018 2019 2019 2018 2019 2019-2020 2019 2018 2018-2019 2019-2020 2016 2017-2018 2018 2017 2018-2019 1 x 150 1 x 660 1 x 130 + 2 x 125 1 x 815 2011 2011 2014 2012 Kapasitas (MW) Tahun Operasi

PLTP Ungaran

PLTP Rawa Dano PLTP Tangkuban Perahu 1 PLTP Gn Lawu PLTP Karaha Bodas PLTP Guci PLTP Ijen PLTP Wilis/ Ngebel PLTP Gn Ceremai PLTP Gn Endut PLTP Rawa Dano2017-2018 PLTP Baturaden PLTP Arjuno Welirang PLTP Iyang Argopuro PLTP Tampomas PLTP Cisolok-Sukarame

Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun masih tetap tinggi sampai sekarang.

80

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar


5.5.1 Sasaran Fuel Mix
5.5.1.1 Fuel Mix 1999-2008 Tabel 5.19 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN (Persero) dalam sepuluh tahun terakhir. Konsumsi batubara terus meningkat, namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan gas yang depleted dari sumbernya, dan karena infrastrukturnya belum tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.
TABEL 5. 19 PEMAKAIAN ENERGI PRIMER PLN BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR
Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 BBM juta kl 4,70 5,02 5,40 7,00 7,61 8,51 9,91 9,98 10,69 11,32 9,41 9,32 GAS bcf 237 229 222 193 184 176 143 158 171 182 266 283 Batubara juta ton 11,41 13,14 14,03 14,06 15,26 15,41 16,90 19,09 21,47 21,00 21,92 23,96

Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terakhir ini adalah fuel-mix yang terjebak pada pemakaian minyak yang terlalu banyak8, namun produksi listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik termasuk pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN. Dalam tahun 2008 komposisi produksi kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM 36%, batubara 35%, gas alam 17%, panas bumi 3% dan tenaga air 9%. Dalam RUPTL ini komposisi fuel mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada Tabel 5.20.
TABEL 5. 20 SASARAN KOMPOSISI PRODUKSI LISTRIK TAHUN 2020 BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR (%)
Tahun 2011 2020 BBM 21,6 0,8 Batubara 50,2 64,2 Gas 17,3 16,8 Tenaga air 6,0 5,8 Panas Bumi 4,9 12,4

Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada Tabel 5.19, RUPTL 2011-2020 merencanakan proyek pembangkit seperti dijelaskan pada Bab 5. Target fuel mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara, panas bumi dan PLTGU gas.
8

Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun masih tetap tinggi sampai sekarang.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

81

Pembangkit yang akan dibangun antara lain adalah proyek percepatan 10.000MW yang akan menurunkan konsumsi BBM secara signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik. Disamping itu konversi pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN terus mengupayakan tambahan kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa kendala. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak dikembangkan di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Pembangunan dan sewa PLTD berbahan bakar BBM sangat dibatasi hanya untuk mengatasi krisis penyediaan tenaga listrik jangka pendek, dan akan diganti dengan PLTU batubara skala kecil, kecuali pada sistem kelistrikan yang terlalu kecil dan terpencil. Opsi LNG juga akan dikembangkan untuk PLTGU yang berada di Belawan, Jakarta dan Grati. Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4.3 dan konfigurasi pembangkit pada butir 4.4, selanjutnya dilakukan simulasi produksi energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP, dan hasilnya diperlihatkan pada Tabel 5.21 dan Gambar 5.3.
TABEL 5. 21 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR TOTAL INDONESIA (GWh)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/ Hybrid Biomas Impor Geothermal TOTAL 2011 29.846 10.037 32.017 93.049 11.149 2 63 9.033 185.197 2012 17.346 4.807 42.691 7.578 110.043 11.204 4 63 8.650 202.387 2013 8.658 2.385 46.158 6.113 134.578 12.363 4 63 9.828 220.150 2014 4.331 556 46.002 10.970 151.524 12.791 5 63 709 11.939 238.891 2015 2.549 44 43.441 14.817 163.311 13.841 6 63 721 19.814 258.606 2016 2.465 56 43.118 15.068 178.749 16.292 6 63 733 23.078 279.628 2017 2.316 51 35.657 20.874 193.084 17.704 6 63 737 29.405 299.897 2018 2.261 65 25.992 29.394 207.868 19.349 6 63 738 36.302 322.038 2019 2.428 85 28.331 30.088 221.392 20.429 7 63 314 42.828 348.964 2020 2.635 65 30.879 31,541 238.432 21.429 7 63 317 46.005 371.374

Pada Tabel 5.21 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang punggung sistem pembangkitan Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun mendatang, disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit energi terbarukan, sementara pembangkit berbahan bakar minyak direncanakan semakin jauh berkurang. Hal ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi konsumsi BBM. Pada tahun 2011 konsumsi BBM masih sebesar 21%, dan direncanakan menurun menjadi 5% pada 2013 dan <1% pada 2020. Sementara itu kontribusi batubara akan meningkat dari 50% pada tahun 2011 menjadi 64% pada tahun 2020. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun 2011 adalah 17%, akan menurun menjadi 8% pada tahun 2020, sedangkan LNG mulai tahun 2012 sebesar 4% dan meningkat menjadi 9% pada 2020%.

82

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GAMBAR 5. 4 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR TOTAL INDONESIA (GWH)
400,000 350,000 300,000 250,000
GWh

200,000 150,000 100,000 50,000 2011


Impor

2012

2013

2014
HSD

2015
MFO LNG

2016
Gas

2017
Batubara

2018

2019

2020
Hydro

Biomass

Surya/Hybrid

Geothermal

Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi dalam penyediaan listrik yang semakin besar secara signifikan, dimana kontribusinya sebesar 5% pada 2011 dan akan meningkat menjadi 12% pada 2020. Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 5.21 diperlukan bahan bakar dengan volume yang diperlihatkan pada Tabel 5.22.
TABEL 5. 22 KEBUTUHAN BAHAN BAKAR INDONESIA
No. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10 3 kl)
^

2011 7.464,3 1.604,7 329,8 47.794,7 49

2012 4.610,8 1.190,3 337,8 59,6 59.3254,3 49

2013 2.274,6 577,3 358,4 47,9 73.788,3 49

2014 1.31,8 159,7 365,3 90,8 82.954,0 49

2015 633,5 34,1 344,3 120,4 88.754,9 49

2016 595,2 37,3 341,4 122,1 96.002,2 49

2017 545,7 35,9 277,1 170,7 101.442,6 49

2018 550,8 39,5 197,7 240,7 109.263,6 49

2019 589,3 44,8 211,1 248,2 116.691,0 49

2020 633,0 39,8 227,2 263,7 125.737,7 49

MFO ( x 10^3 kl) Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara (10^3 ton) Biomas (10^3 ton)

5.5.2 Sistem Jawa-Bali


Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun 2011-2020 berdasarkan jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.23 dan Gambar 5.5. Dalam kurun waktu 2011-2020, kebutuhan batubara meningkat 2,4 kali dan kebutuhan gas alam meningkat 2 kali lipat, sedangkan kebutuhan BBM menurun drastis karena digantikan oleh LNG/CNG.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

83

Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai diversifikasi energi, yaitu mengurangi pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan gas.
TABEL 5. 23 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR SISTEM JAWA-BALI (GWh)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTAL 2011 13.218 4.615 25.085 84.107 6.509 8.532 14.065 2012 4.856 16 33.292 7.422 94.724 5.271 8.140 153.721 2013 1.981 35.092 5.418 109.365 5.273 8.568 165.697 2014 1.823 34.028 5.926 122.695 2.273 9.029 178.774 2015 216 31.582 9.746 133.097 6.128 11.978 192.747 2016 232 31.742 9.904 144.080 7.400 14.412 207.770 2017 114 25.143 15.655 157.303 7.416 16.474 222.106 2018 120 16.684 24.117 166.606 7.322 22.554 237.404 2019 139 19.470 24.522 173.466 7.722 28.504 253.822 2020 140 22.188 25.163 184.786 8.549 30.169 270.995

GAMBAR 5. 5 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR SISTEM JAWA-BALI (GWH)
300,000

250,000

200,000

GWh

150,000

100,000

50,000

2011
HSD

2012
MFO

2013
LNG

2014
Gas

2015

2016
Batubara

2017
Geothermal

2018

2019
Hydro

2020

Pada Tabel 5.23 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya, yaitu 68% dari seluruh produksi pada tahun 2020. Panas bumi mengalami peningkatan secara signifikan dari 8.532 GWh pada tahun 2011 menjadi 30.169 GWh pada tahun 2020, atau meningkat hampir 4 kali lipat. Sedangkan pangsa tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem Jawa Bali sudah sulit untuk dikembangkan. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG) mengalami peningkatan sejak tahun 2011 menjadi hampir 2 kali lipat

84

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

pada tahun 2020. Namun demikian porsi gas alam menurun dari 18% pada 2011 menjadi hanya 8% pada 2020, sedangkan LNG meningkat dari 5% pada 2012 menjadi 9% pada 2020). Hal ini terjadi karena pasokan gas pipa untuk pembangkit semakin menurun sehingga LNG menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pembangkit walaupun harganya mencapai lebih dari 2 kali lipat dari gas pipa. Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat dilihat pada Tabel 5.24. Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai tahun 2020. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana pengembangan pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.
TABEL 5. 24 KEBUTUHAN BAHAN BAKAR SISTEM JAWA-BALI
No. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10^3 kl) MFO ( x 10 3 kl)
^

2011 3.055,4 307,1 263,8 -

2012 1.376,7 3,8 247,4 59,6

2013 561,5 262,2 44,5

2014 516,8 260,1 49,6

2015 61,3 240,6 80,2

2016 65,8 241,8 81,5

2017 32,3 187,3 129,1

2018 34,0 123,0 199,4

2019 39,4 141,1 204,1

2020 39,8 159,1 212,1

Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara (10 3 ton)


^

36.224,5 49.410,2 57.494,3 64.563,8 69.896,8 74.827,0 79.701,8 84.161,2 87.712,1 93.595,0 -

Biomas (10^3 ton)

5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat


Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik, maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 51% batubara, 15% gas alam, 12% tenaga air, 2% minyak dan 21% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.25 dan Gambar 5.5. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatra, dan Kalimantan Barat diperlihatkan pada Lampiran B.

TABEL 5. 25 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT (GWh)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Biomas Impor Geothermal TOTAL 2011 10.713 2.499 2.114 6.533 3.407 63 63 28.392 2012 7.458 2.441 7.415 10.531 3.717 63 64 31.689 2013 3.713 1.148 7.389 17.394 4.745 63 801 35.254 2014 940 177 7.932 4.324 17.346 5.049 63 709 2.281 38.821 2015 913 3 7.788 4.232 16.854 5.107 63 721 6.765 42.445 2016 834 16 7.502 4.273 20.350 5.569 63 733 6.865 46.205 2017 822 21 6.586 4.317 20.033 6.459 63 737 10.773 49.811 2018 898 35 5.293 4.269 24.096 7.368 63 738 11.353 54.112 2019 982 55 4.820 4.476 29.095 7.362 63 314 11.691 58.859 2020 996 35 4.575 5.030 32.493 7.377 63 317 13.200 64.087

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

85

GAMBAR 5. 6 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT (GWH)
70,000

60,000

50,000

40,000

GWh
30,000 20,000 10,000 2011
Impor

2012

2013
HSD

2014
MFO

2015
LNG

2016
Gas

2017
Batubara

2018
Geothermal

2019
Hydro

2020

Biomass

Kebutuhan bahan bakar di Luar Jawa dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.26.
TABEL 5. 26 KEBUTUHAN BAHAN BAKAR WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
No. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10 3 kl)
^

2011 2.869.6 685,0 52,7 ^

2012 1.923.5 335,4 77,1 6.854,6 49,1

2013 924.7 304,3 76,8 11.333,0 49,1

2014 258.9 46,3 84,1 37,9 11.226,7 49,1

2015 248.8 0,8 82,5 37,1 10.819,7 49,1

2016 227.6 4,0 78,4 37,5 12.876,8 49,1

2017 225.2 5,2 67,9 37,8 12.635,2 49,1

2018 247.6 8,8 51,5 37,4 15.307,6 49,1

2019 273.1 14,1 46,6 39,4 18.144,8 49,1

2020 274.9 9,1 43,8 44,8 19.977,4 49,1

MFO ( x 10^3 kl) Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara ( x 10 3 ton) Biomas ( x 10 3 ton)
^

4.255,1 49,1

Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 5.26 yang terus menurun sesungguhnya masih jauh di bawah kebutuhan, hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN. Sebagai contoh, pasokan gas untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena depletion. Idealnya gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat pembangkit. Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 4,2 juta ton akan meningkat tajam menjadi 20 juta ton pada tahun 2020, atau sekitar 5 kali lipat untuk 10 tahun mendatang.

86

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur


Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik, maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 58% batubara, 15% gas alam, 15% tenaga air, 4% minyak dan 7% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.27 dan Gambar 5.7. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku & Papua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran A.
TABEL 5. 27 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR INDONESIA TIMUR (GWh)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTAL 2011 5.916 2.923 1.818 2.409 1.234 2 438 14.740 2012 5.033 2.351 1.984 156 4.788 2.216 4 446 16.977 2013 2.964 1.236 3.676 694 7.820 2.345 4 458 19.199 2014 1.569 378 4.042 721 11.483 2.469 5 629 21.295 2015 1.421 41 4.071 839 13.630 2.606 6 1.071 23.414 2016 1.399 41 3.874 891 14.319 3.323 6 1.801 26.653 2017 1.380 30 3.928 902 15.748 3.829 6 2.158 27.980 2018 1.242 30 4.016 1.007 17.166 4.659 6 2.395 30.522 2019 1.307 30 4.041 1.090 18.831 5.345 7 2.633 33.283 2020 1.498 30 4.116 1.349 21.153 5.503 7 2.636 36.292

GAMBAR 5. 7 KOMPOSISI PRODUKSI ENERGI LISTRIK BERDASARKAN JENIS BAHAN BAKAR WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR (GWH)
40,000

35,000

30,000

25,000

GWh

20,000

15,000

10,000

5,000

2011 2012
Surya/Hybrid

2013
HSD

2014
MFO

2015
LNG

2016
Gas

2017
Batubara

2018
Geothermal

2019
Hydro

2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

87

Kebutuhan bahan bakar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.28
TABEL 5. 28 KEBUTUHAN BAHAN BAKAR WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR
No. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10^3 kl) MFO ( x 10^3 kl) Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara (10^3 ton) Biomas (10^3 ton) 2011 1.539,2 612,7 13,2 1.345,1 2012 1.310,6 521,0 13,2 2.989,5 2013 788,5 273,0 19,3 3,4 4.961,0 2014 356,2 113,5 21,1 3,2 7.163,5 2015 323,5 33,3 21,1 3,1 8.038,3 2016 301,8 33,3 21,3 3,2 8.298,4 2017 288,1 30,7 22,0 3,8 9.105,6 2018 269,1 30,7 23,2 3,9 9.794,8 2019 269,2 30,7 23,5 4,6 10.834,0 2020 318,3 30,7 24,4 6,8 12.165,3 -

Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 1,3 juta ton akan meningkat tajam menjadi 12,2 juta ton pada tahun 2020, atau sekitar tujuh kali lipat untuk 10 tahun mendatang.

5.6 Analisis Sensitivitas


RUPTL 20112020 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem kelistrikan dengan skenario tunggal, karena diperlukan adanya rencana program pengembangan kapasitas pembangkit, transmisi dan distribusi yang pasti. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi di sektor ketenagalistrikan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan kapasitas. Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa variabel ketidakpastian yang di luar kendali PLN, misalnya harga bahan bakar, harga EPC proyek, proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik, dan lain-lain. Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana pengembangan sistem kelistrikan, maka dalam RUPTL ini telah dilakukan analisis sensitivitas. Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada, analisis sensitivitas dalam RUPTL ini hanya dibuat untuk perubahan harga bahan bakar. Hal ini dilakukan karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling volatile dan dapat berubah secara cepat dan lebar, sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih terbatas. Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis risiko pada Bab 7. Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 cases di luar base case9 untuk sistem Jawa Bali, karena sistem ini merupakan sistem terbesar di Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di wilayah-wilayah lainnya. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas diberikan pada Tabel 5.30.

Base case adalah case yang diadopsi dalam RUPTL 2011 2020 ini.

88

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL 5. 29 VARIASI HARGA BAHAN BAKAR DALAM ANALISIS SENSITIVITAS


Harga Case Base Case Case 1 Case 2 Case 3 Case 4 Crude Oil US$/barel 95 130 95 95 95 Coal US$/ton 80 80 80 100 80 Gas US$/mmbtu 6 6 6 6 7 LNG US$/mmbtu 10 10 10 10 10

TABEL 5. 30 HASIL ANALISIS SENSITIVITAS TERHADAP PERUBAHAN HARGA BAHAN BAKAR


No 1 Case Study Harga bahan bakar Crude Oil Batubara Gas LNG 2 3 Objective Function Penambahan Kapasitas PLTU PLTGU PLTG Jumlah MW MW MW MW 24.800 6.750 1.800 33.350 24.800 6.750 1.800 33.350 28.800 3.000 1.600 33.400 16.800 15.000 1.600 33.400 29.800 3.000 600 33.400 USD/barrel USD/ton USD/mmbtu USD/mmbtu Juta USD % 95 80 6 10 58.063 100 130 80 6 10 58.090 100 95 50 6 10 55.542 96 95 100 6 10 65.338 113 95 80 7 10 59.550 103 Satuan Base Case Case 1 Case 2 Case 3 Case 4

Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap rencana pengembangan sistem, Case 2 untuk melihat dampak penurunan harga batubara, Case 3 untuk melihat pengaruh kenaikan harga batubara, dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas. Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak menjadi US$130 tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis, kapasitas dan jadwal), dan hanya sedikit menaikkan nilai objective function biaya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.30. Hal ini dapat dimengerti karena porsi pemakaian BBM memang sangat kecil, yaitu hanya 1% dari fuel mix pada tahun 2020, dengan demikian RUPTL ini tidak sensitif terhadap perubahan harga minyak. Sementara penurunan harga batubara dari $80 menjadi $50 pada Case 2 akan menambah kapasitas PLTU batubara dari 24.800 MW (base case) menjadi 28.800 MW (Case 2), dengan mengambil alih pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU). Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif terhadap penurunan harga batubara. Namun banyaknya PLTU batubara akan menyebabkan pembangkit yang seharusnya memikul beban dasar menjadi beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian daripadanya akan mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

89

Sebaliknya jika harga batubara naik dari $80 menjadi $100 (Case3), maka kapasitas PLTU batubara hanya akan menurun dari 24.800 MW (base case) menjadi 16.800 MW dan peranannya digantikan dengan pembangkit berbahan bakar gas. Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4), maka kapasitas pembangkit batubara akan naik tajam dari 24.800 MW (base case) menjadi 29.800 MW. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensitif terhadap kenaikan harga gas. Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana combined cycle plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit lainnya. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6, maka combined cycle tidak dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $80, dan peranan pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara.

5.7 Proyeksi Emisi CO2


Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2011-2020, sebagaimana dapat dilihat pada butir 2.2 mengenai kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit dan butir 5.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit, belum memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai salah satu variabel biaya. Namun demikian, RUPTL ini tidak mengabaikan aspek emisi CO2. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah. Penggunaan teknologi boiler supercritical di pulau Jawa juga membuktikan bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi emisi CO2 dari pembangkitan tenaga listrik. Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan dikonversi menjadi emisi CO2 (dalam ton CO2) dengan menggunakan faktor pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC10.

5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost)


Pengembangan pembangkitan yang semata-mata berdasarkan prinsip least-cost tanpa mempertimbangkan intervensi kebijakan pemerintah seperti pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sangat didominasi oleh PLTU batubara. Rencana pengembangan ini selanjutnya disebut sebagai baseline.

10

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories.

90

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.7.1.1 Sistem Jawa Bali Gambar 5.8 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan oleh skenario baseline untuk sistem Jawa Bali.
GAMBAR 5. 8 PROYEKSI KOMPOSISI PEMBANGKIT DAN JUMLAH EMISI CO2 SISTEM JAWA BALI SKENARIO BASELINE
MW 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 2010
COAL OIL

million tCO2 250.0 225.0 200.0 175.0 150.0 125.0 100.0 75.0 50.0 25.0 2012
GAS

2014
GEOTHERMAL

2016

2018
HYDRO

2020
NUCLEAR EMISI

Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Jawa Bali akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 27.000MW dengan produksi mencapai 72,8% dari total produksi pada tahun 2020. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 236juta ton CO2. Tabel 5.31 menunjukkan komposisi bauran energi (energy mix) pada tahun 2010, 2016 dan tahun 2020. Dapat dilihat pada tabel tersebut bahwa energi terbarukan khususnya panas bumi tidak kompetitif melawan pembangkit fosil, sehingga tidak terjadi penambahan kapasitas PLTP secara signifikan (hanya PLTP existing dan committed projects).
TABEL 5. 31 BAURAN ENERGI SISTEM JAWA BALI PADA SKENARIO BASELINE (GWH)
Unit Coal Oil Gas Geothermal Hydro Nuclear Total Production Objective Function GWh GWh GWh GWh GWh GWh GWh Mill. USD 2010 84.728 206 30.087 6.641 7.813 0 129.475 14.616 2016 151.929 4 59.029 8.110 8.893 0 227.965 46.430 2020 235.452 20 67.023 8.110 12.262 0 322.867 62.575 Portion (%) 72.8 0.1 20.8 2.5 3.8 0 100

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

91

GAMBAR 5. 9 EMISI CO2 PER JENIS BAHAN BAKAR PADA SISTEM JAWA BALI SKENARIO BASELINE
Juta tCO2
220.0 200.0 180.0 160.0 140.0 120.0 100.0 80.0 60.0 40.0 20.0 2009 2010 2011 2012
Batubara

2013
Gas

2014
LNG

2015
HSD

2016
MFO

2017

2018

2019

5.7.2.1 Sistem Sumatera Gambar 5.10 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan dalam skenario baseline untuk sistem Sumatera. Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Sumatera akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 2.000MW, PLTGU gas alam sebesar 800 MW, PLTGU LNG 400 MW dan IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) sebesar 400 MW pada tahun 2020. PLTP tidak kompetitif secara ekonomis, sehingga dalam baseline ini hanya tercantum proyek-proyek PLTP yang telah committed. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28,8 juta ton CO2.
GAMBAR 5. 10 PROYEKSI KOMPOSISI PEMBANGKIT DAN JUMLAH EMISI CO2 SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA SKENARIO BASELINE
Capacity of Facilities, MWe 12,000 Million tCO2 35.0 30.0 25.0 20.0 6,000 15.0 4,000 10.0 5.0 0.0 2010
COAL GEO

10,000

8,000

2,000

2012
GAS IGPP

2014
LNG HYD

2016

2018
MFO PUMP

2020
HSD Emission

92

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Produksi listrik tahun 2020 berdasarkan energi primer dalam skenario baseline sistem Sumatera adalah 60,2% untuk batubara, 13,6% untuk tenaga air, 10,1% untuk panas bumi, 9,8% untuk gas, 6,0% untuk gasifikasi batubara dan hanya 0,2% untuk bahan bakar minyak.
TABEL 5. 32 BAURAN ENERGI SISTEM SUMATERA PADA SKENARIO BASELINE (GWH)
Unit Coal Oil Gas Coal Gasification Geothermal Hydro Total Production Construction Cost GWh GWh GWh GWh GWh GWh GWh Mill. USD 2010 5.731 3.642 5.382 3.608 18.363 513 2016 19.026 15 3.729 4.588 4.925 32.283 713 2020 27.207 103 4.437 2.735 4.588 6.161 45.231 1.031 Portion (%) 60.2 0.2 9.8 6.0 10.1 13.6 100.0 -

GAMBAR 5. 11 EMISI CO2 PER JENIS BAHAN BAKAR PADA SISTEM SUMATERA SKENARIO BASELINE
Juta tCO2
40 35 30 25 20 15 10 5 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Batubara

Gas

LNG

MFO

HSD

5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020


Pemerintah telah menetapkan Perpres No. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No. 15 tahun 2010 mengenai Program Percepatan Pembangkit Tahap 2. Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan menggunakan energi terbarukan, khususnya panas bumi. Dengan adanya intervensi kebijakan pemerintah mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sedikit berbeda dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO2.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

93

5.7.2.1 Emisi CO2 Indonesia Gambar 5.12 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi listrik Indonesia dilakukan dengan fuel mix seperti pada Gambar 5.4. Dari Gambar 5.12 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia akan meningkat dari 141 juta ton pada 2011 menjadi 276 juta ton pada tahun 2020. Dari 276 juta ton emisi tersebut, 245 juta ton (89%) berasal dari pembakaran batubara.
GAMBAR 5. 12 EMISI CO2 PER JENIS BAHAN BAKAR (GABUNGAN INDONESIA)
Juta tCO2
300 275
250 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Biomass

HSD

MFO

LNG

Gas

Batubara

Average grid emission factor11 untuk Indonesia pada tahun 2011 adalah 0,763kgCO2/kWh, akan meningkat menjadi 0,8kgCO2/kWh pada 2013-2014 dan selanjutnya akan menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan PLTA sehingga average grid emission factor pada tahun 2020 menjadi 0,745 kgCO2/kWh. 5.7.2.2 Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.13. Emisi naik dari 110 juta ton pada 2011 menjadi 205 juta ton pada 2020, atau naik hampir 2 kali lipat. Grid emission factor membaik dari 0,778 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0,756 kgCO2/kWh pada 2020. Perbaikan faktor emisi ini dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam, panas bumi dan penggunaan teknologi supercritical.

11 Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh]

94

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GAMBAR 5. 13 EMISI CO2 PER JENIS BAHAN BAKAR PADA SISTEM JAWA BALI
Juta tCO2
225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Biomass

HSD

MFO

LNG

Gas

Batubara

5.7.2.3 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan pada gambar 5.14. Emisi naik dari 21 juta ton menjadi 45 juta ton, atau naik sekitar 2 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0,749 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0,856kgCO2/kWh pada 2013 dan berangsur-angsur menurun menjadi 0,704 kgCO2/kWh pada 2020. Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
GAMBAR 5. 14 EMISI CO2 PER JENIS BAHAN BAKAR PADA WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
Juta tCO2
50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Biomass

HSD

MFO

LNG

Gas

Batubara

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

95

5.7.2.4 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan pada Gambar 5.15. Emisi naik dari 9,4 juta ton pada 2011 menjadi 26,5 juta ton pada 2020, atau naik 2,8 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0,641 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0,784kgCO2/kWh pada 2014 dengan masuknya PLTU skala kecil di 70 lokasi, dan berangsur-angsur menurun menjadi 0,731 kgCO2/kWh pada 2020. Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
GAMBAR 5. 15 EMISI CO2 PER JENIS BAHAN BAKAR WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR
Juta tCO2
30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Biomass

HSD

MFO

LNG

Gas

Batubara

5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism)


Sesuai Misi PLN menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan, dan dengan komitmen nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), PLN akan melakukan upaya pengurangan emisi GRK dari semua kegiatan ketenagalistrikan (pembangkit, transmisi, gardu induk dan distribusi). PLN akan menggunakan peluang yang diberikan oleh Protokol Kyoto (PK), yaitu peluang bagi Negara Non Annex I untuk mendapatkan kredit dari upaya pengurangan emisi GRK melalui mekanisme CDM (Clean Development Mechanism) yang akan berlaku dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sesuai dengan masa berlakunya Protokol Kyoto dan kesepakatan yang akan dicapai oleh para pihak untuk pasca tahun 2012. Implementasi CDM akan diterapkan untuk semua kegiatan di lingkungan PLN yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi proyek CDM di sisi pembangkitan, transmisi/gardu induk dan distribusi.

96

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kebijakan pengembangan proyek CDM di unit-unit PLN termasuk penjualan CER-nya dilakukan secara terpusat, sedangkan Anak Perusahaan dapat mengelola dan mengembangkan proyek CDM sendiri dengan melakukan koordinasi dengan PLN Pusat. Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan pentingnya CDM dan melakukan assessment beberapa potensi proyek CDM, dan hasilnya hingga saat ini PLN telah menandatangani 5 ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements). Selain itu PLN juga mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM (Voluntary Carbon Mechanism), dimana saat ini sudah ada 3 proyek yang telah selesai proses validasinya sesuai VCS (Voluntary Carbon Standard). Daftar proyek PLN yang dikembangkan melalui mekanisme CDM dan VCM dapat dilihat pada Tabel 5.33.
TABEL 5.33 DAFTAR PROYEK PLN YANG DIKEMBANGKAN MELALUI MEKANISME CDM DAN VCM
No Nama Proyek Lokasi Emission Reduction Mechanism CDM CDM CDM CDM CDM CDM VCS VCS VCS Status Saat Ini Registered Registered PDD Development PDD Development PDD Development Under validation Validation completed Validation completed Validation completed Annual Project Emission Reduction (tCO2e/year) 402.780 66.713 50.663 50.000 8.749 21.282 159.596 229.048 847.020

1 2 3 4 5 6 7 8 9

PLTP Kamojang IV (60 MW) PLTP Lahendong II (20 MW) PLTP Lahendong III (20 MW) PLTA Genyem (20 MW) PLTM Lobong (1,6 MW), Mongango (1,2 MW), Merasap (1,5 MW) PLTMG Bontang (14 MW) PLTA Sipansihaporas (50 MW) PLTA Lau Renun (82 MW) PLTA Musi (210 MW)

Jawa Barat Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara Papua Kalimantan Barat, Gorontalo, dan Sulawesi Utara Kalimantan Timur Sumatra Utara Sumatra Utara Bengkulu

5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk


Pada periode 2011-2020 pengembangan sistem penyaluran masih berupa pengembangan sistem dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali serta tegangan 500 kV, 275kV, 150kV dan 70kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Disamping itu juga sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

97

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun expansion, menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik. Khusus untuk pasokan ke sistem Jakarta, pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan menggunakan jalur transmisi 150kV atau 70 kV. Sedangkan pengembangan transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan sebagai transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru. Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk mentransfer tenaga listrik dari pembangkit mulut tambang di Sumbagsel dan Riau ke Sumbagut. Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di sekitar konverter transmisi HVDC di Sumatera sebagai feeder pemasok listrik dari pembangkit mulut tambang. Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 114.554 MVA untuk pengembangan gardu induk serta 49.192 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.34 dan Tabel 5.35.
TABEL 5.34 KEBUTUHAN FASILITAS TRANSMISI INDONESIA
TRANSMISI 500 kV AC 500 kV AC 275 kV 250 kv DC 150 kV 70 kV TOTAL 2011 82 3.717 168 3.967 2012 172 642 5.754 1.254 7.882 2013 374 2.172 7.812 370 10.729 2014 12 774 6.813 1.206 8.805 2015 459 1.532 3.573 1 5.565 2016 738 1.100 110 462 2.541 4.951 Satuan kms 2017 538 2.211 334 3.083 2018 170 130 1.873 2.173 2019 40 972 1.012 2020 40 1.016 1.056 Total 2.625 1.100 5.360 462 36.282 3.333 49.162

TABEL 5.35 KEBUTUHAN FASILITAS TRAFO DAN GARDU INDUK INDONESIA


TRANSMISI 500/275 kV 500/150 kV 500 kV DC 275/150 kv DC 250 kV DC 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL 2011 8.660 1.000 60 9.746 715 20.181 2012 1.830 270 60 11.220 640 14.020 2013 5.000 5.090 123 4.670 410 15.293 2014 2.000 2.000 6.200 260 10.460 2015 4.000 1.250 60 4.140 270 9.720 2016 1.000 5.000 3.000 600 60 5.340 180 15.680

Satuan MVA 2017 3.500 500 4.470 150 8.620 2018 2.000 500 500 4.920 210 8.130 2019 1.500 4.600 290 6.390 2020 1.000 250 4.580 230 6.060 Total 3.000 33.490 3.000 10.860 600 363 59.886 3.355 114.554

98

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat


Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2020 akan banyak mengubah topologi jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi 275 kV dan 500 kV di Sumatera. Pengembangan juga banyak dilakukan untuk memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo. Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga terdapat di beberapa sistem, antara lain rencana pembangunan sirkit kedua dan reconductoring beberapa ruas transmisi di sistem Sumbagut dan Sumbagsel. Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan terlaksana pada tahun 2012. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu induk dan transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel ke sistem interkoneksi (dedieselisasi), yaitu di sistem Sumbar-Riau, Sumbagsel dan Kalbar. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 29.450 MVA untuk pengembangan gardu induk (500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 21.150 kms pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.36 dan Tabel 5.37. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain: Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur Barat dan jalur Timur. Proyek transmisi 500 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur Timur. Interkoneksi Batam Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga listrik dari Batam12 dengan mempertimbangkan rencana pengembangan pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian Bintan13. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya dengan perluasan wilayah usaha PLN Batam. Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga, meliputi interkoneksi Sumatera-Malaysia (HVDC 250 kV)14 dan Kalimantan BaratSarawak (275 kV HVAC). Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan ASEAN Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN Power Grid yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Perpres No. 77/2008.
12 13 14

Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih banyak menggunakan pembangkit BBM. Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN Batam. Pemilihan level tegangan 250 kV HVDC bipolar ini masih terbuka kemungkinan untuk diubah ke 500 kV HVDC monopolar.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

99

Interkoneksi Sumatera Malaysia direncanakan beroperasi 2017 dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari tukar menukar tenaga listrik antara Sumatera dan Malaysia pada jam-jam tertentu. Pada saat peak load di Sumatera (malam hari) PLN menerima tenaga listrik dari Malaysia yang pada saat yang sama sedang dalam kondisi off peak. Pada saat off peak di Sumatera (siang hari) PLN mengirim tenaga listrik ke Malaysia yang pada saat yang sama sedang meningkatkan keandalan sistem Sumatera.

Interkoneksi Kalbar Serawak direncanakan beroperasi 2014 dimaksudkan untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN khususnya pada waktu beban puncak sampai dengan tahun 2019 untuk menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak. Selain itu terbuka kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat terlambat. Setelah tahun 2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli tenaga listrik selama waktu beban puncak karena semua pembangunan pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai.

TABEL 5.36 KEBUTUHAN FASILITAS TRANSMISI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT


TRANSMISI 500 kV AC 500 kV AC 275 kV 250 kv DC 150 kV 70 kV TOTAL 2011 694 694 2012 160 1.643 310 2.113 2013 2.172 4.318 6.490 2014 774 2.499 240 3.513 2015 1.532 1.486 3.018 2016 800 110 462 1.371 2.743 2017 790 790 2018 150 130 387 667 2019 382 382 2020 740 740

Satuan kms Total 150 800 4.878 462 14.310 550 21.150

TABEL 5.37 KEBUTUHAN FASILITAS TRAFO DAN GARDU INDUK WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
TRANSMISI 500/275 kV 500/150 kV 500 kV DC 275/150 kv DC 250 kV DC 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL Satuan MVA 2011 1.000 960 30 1.990 2012 2.750 260 3.010 2013 5.000 2.170 30 7.200 2014 2.000 1.350 60 3.410 2015 1.250 840 2.090 2016 1.000 3.000 600 810 30 5.440 2017 500 870 1.370 2018 2.000 500 810 30 3.340 2019 570 30 600 1.000 2020 250 750 Total 3.000 3.000 10.500 600 11.880 470 29.450

100

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur


Pengembangan sistem transmisi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur meliputi pembangunan transmisi dan gardu induk 275 kV, 150 kV dan 70 kV. Di wilayah Maluku, Papua dan Nusa Tenggara sedang dilaksanakan pembangunan transmisi 70 kV dan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU batubara di wilayah tersebut, sementara di wilayah Sulselrabar sedang dibangun transmisi 275 kV dari PLTA Poso ke Palopo. Pada tahun 2013 sistem Sulawesi Tengah, sistem Sulawesi Tenggara dan sistem Sulawesi Selatan akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 275 kV dan 150 kV. Evakuasi daya dari rencana PLTU sewa di Balikpapan dan Asam-Asam akan menyebabkan kondisi bottleneck di beberapa ruas transmisi di sistem Kalsel dan Kaltim. Untuk mengatasi kondisi tersebut direncanakan reconductoring pada ruas-ruas tersebut. Rencana pengembangan interkoneksi tegangan tinggi antar pulau di area Indonesia Timur meliputi interkoneksi pulau Laut Kalsel ,interkoneksi pulau Seram Ambon dan interkoneksi Sultra pulau Muna pulau Buton, namun implementasi rencana interkoneksi tersebut tergantung pada kelayakan dari hasil studi dasar laut. Wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 150 kV pada tahun 2012. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 9.188 MVA untuk pengembangan gardu induk (275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 16.434 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.38 dan Tabel 5.39. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Timur antara lain: Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Kalselteng Kaltim Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Sulut Gorontalo.

TABEL 5.38 KEBUTUHAN FASILITAS PENYALURAN WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR


TRANSMISI 275 kV 150 kV 70 kV TOTAL 2011 1.515 168 1.683 2012 482 2.161 834 3.477 2013 2.837 370 3.207 2014 2.752 866 3.618 2015 494 1 495 2016 680 680 2017 1.247 334 1.581 2018 1.144 1.144 2019 380 380 2020 170 170

Satuan kms Total 482 13.379 2.573 16.434

TABEL 5.39 KEBUTUHAN FASILITAS PENYALURAN WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR


TRANSMISI 275/150 kv DC 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL 2011 60 870 245 1.175 2012 270 60 760 260 1.350 2013 90 123 940 300 1.453 2014 950 140 1.090 2015 60 450 270 780 2016 60 540 120 720 2017 630 120 750 2018 480 90 570 2019 730 80 810 2020 320 170 490

Satuan MVA Total 430 363 6.670 1.795 9.188

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

101

5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali


Pada Tabel 5.40 dan Tabel 5.41 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di sistem Jawa-Bali.
TABEL 5.40 KEBUTUHAN FASILITAS PENYALURAN SISTEM JAWA-BALI
TRANSMISI 500 kV AC 500 kV DC 150 kV 70 kV TOTAL 2011 82 1.509 1.591 2012 172 1.950 110 2.232 2013 374 657 1.031 2014 12 1.562 100 1.674 2015 459 1.593 2.052 2016 738 300 490 1.528 2017 538 174 712 2018 20 342 362 Satuan kms 2019 40 210 250 2020 40 106 146 Total 2.475 300 8.593 210 11.578

TABEL 5.41 KEBUTUHAN FASILITAS PENYALURAN SISTEM JAWA-BALI


TRANSMISI 500/150 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL 2011 8.660 7.916 440 17.016 2012 1.830 7.710 120 9.660 2013 5.000 1.560 80 6.640 2014 2.000 3.900 60 5.960 2015 4.000 2.850 6.850 2016 5.500 3.990 30 9.520 2017 3.500 2.970 30 6.500 2018 500 3.630 90 4.220

Satuan MVA 2019 1.500 3.300 180 4.980 2020 1.000 3.510 60 4.570 Total 33.490 41.336 1.090 75.916

Dari Tabel 5.40 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2020 akan dibangun transmisi 500 kV AC sepanjang 2.475 kms. Transmisi tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Suralaya Baru dan PLTU Adipala (tahun 2011, 2014), PLTU Paiton Expansion dan PLTU IPP Tanjung Jati Expansion (2011,2012), PLTU Jawa Tengah Infrastruktur dan PLTU Indramayu (2016/2017, 2017), Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke pusat beban di Bali (2015), PLTGU baru (2019/2020) dan pumped storage Upper Cisokan (2016), Matenggeng dan Grindulu (2019/2020, 2020). Selain itu dibangun juga transmisi 500kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan Jakarta seperti Balaraja-Kembangan dan KembanganDurikosambi-Muara Karang. Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 5.41 merupakan perkuatan grid yang tersebar di Jawa, utamanya seputar Jabotabek. Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5.40 adalah transmisi HVDC interkonesi Sumatra Jawa, di sini hanya diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead line yang berada di pulau Jawa, selebihnya diperhitungkan sebagai pengembangan sistem transmisi Sumatra.

102

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi, bahkan di sistem 70kV di Jawa Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait dengan proyek percepatan pembangkit 10.000 MW. Rencana pada Tabel 5.40 hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok konsumen besar dan saluran distribusi khusus. Program pemasangan trafo-trafo 150/70 kV dan 70/20kV pada tabel tersebut juga hanya merupakan relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur. Beberapa proyek transmisi strategis di Jawa-Bali antara lain: Kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 tahun 2012. Pembangunan kabel laut Jawa-Bali sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat menekan pemakaian BBM di Bali dalam jangka pendek. Dengan adanya transfer energi dari sistem Jawa melalui kabel laut Jawa-Bali #1-4 sebesar 300 MW (mempertimbangkan N-1), akan diperoleh penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp 2,23 triliun selama 20 bulan operasi (Mei 2012-Desember 2013) hingga beroperasinya Jawa-Bali Crossing 150 kV. Apabila dibandingkan dengan biaya investasi (EPC cost) sebesar Rp 410 miliar, maka penghematan biaya bahan bakar yang diperoleh masih jauh lebih besar. SUTET Durikosambi Muara Karang. GITET Cawang Baru dan GITET Muara Karang. Pembangunan SUTET 500 kV Paiton New Kapal termasuk overhead line 500kV / submarine cable 500 kV menyeberangi selat Bali (Jawa Bali Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali. Tahap pertama pada tahun 2013 beroperasi 150 kV dan tahap kedua pada tahun 2015 beroperasi 500 kV. Pembangunan JBC ini berpotensi menghasilkan saving sebesar USD 617 juta (NPV) selama 20 tahun bila dibandingkan dengan membangun pembangkit di Bali. Proyek transmisi SUTET 500 kV tx Ungaran-Pemalang-Mandirancan-Indramayu tahun 2014. Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3,000 MW Sumatra - Jawa berikut GITET Xbogor - Incomer (Tasik - Depok dan Cilegon Cibinong) untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di Sumatra Selatan ke sistem Jawa Bali tahun 2016.

5.10 Pengembangan Sistem Distribusi


TABEL 5.42 KEBUTUHAN FASILITAS DISTRIBUSI DI INDONESIA
2011sistem 2012 2013di Indonesia 2014 2015 dilihat 2016pada 2017 2018 Kebutuhan 2019 2020 Jumlah Rencana pengembangan distribusi dapat Tabel 5.42. fisik sistem

distribusi Indonesia hingga tahun 2020 adalah sebesar 208.607,4 kms jaringan tegangan menengah, 225.404,4
Jaringan TM Jaringan TR kms 18.425,4 18.573,2 18.066,9 19.716,4 18.435,1

Indonesia

kms jaringan tegangan rendah, 37.431,2 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 27,3 juta pelanggan.
Trafo Distribusi MVA Tambahan Pelanggan ribu plgn 3.227,4 3.813,4 3.721,1 2.460,4 3.841,1 2.622,6 4.038,6 2.739,8 3.267,0 2.739,9 3.590,3 2.749,6 3.707,9 2.626,2 3.965,9 2.655,4 4.066,2 2.638,7 4.005,7 2.250,7

2.332,9 21.750,3 23.088,1 24.497.2 25.721,9 208.607,4

kms 17.666,4 21.080,5 21.666,1 23.554,7 20.683,5 21.688,2 22.759,8 24.172,2 25.488,9 26.644,4 225.404,4 37.431,2 27.296,6

5.10.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur


Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat dapat dilihat pada Tabel 5.43. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia Barat hingga tahun 2020 adalah sebesar 62.980,0 kms

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

103

jaringan tegangan menengah, 69.454,7 kms jaringan tegangan rendah, 14.593,8 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 6,5 juta pelanggan.
TABEL 5.43 KEBUTUHAN FASILITAS DISTRIBUSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
2011 Indonesia Barat Jaringan TM Jaringan TR Trafo Distribusi Tambahan Pelanggan kms kms MVA ribu plgn 5.642,8 6.398,7 1.414,4 1.135,4 5.592,1 6.128,0 1.389,8 651,7 6.429,6 7.152,3 1.865,1 661,0 6.982,3 7.780,3 2.077,8 669,7 5.563,1 6.159,0 1.232,3 572,1 5.956,7 6.543,5 1.298,4 542,6 6.334,3 6.896,5 1.364,8 539,9 6.708,2 7.332,6 1.418,0 555,6 6.920,2 7.539,2 1.368,5 573,0 6.850,5 7.524,5 1.164,9 593,0 62.980,0 69.454,7 14.593,8 6.494,1 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah

Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur dapat dilihat pada Tabel 5.44. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 adalah sebesar 74.784,0 kms jaringan tegangan menengah, 65.099,5 kms jaringan tegangan rendah, 8.216,7 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 5,3 juta pelanggan.
TABEL 5.44 KEBUTUHAN FASILITAS DISTRIBUSI WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR
2011 Indonesia Timur Jaringan TM Jaringan TR Trafo Distribusi Tambahan Pelanggan kms kms MVA ribu plgn 5.047,6 5.790,7 6.161,3 7.012,3 6.671,8 7.072,7 7.851,1 8.667,8 9.668,5 10.840,2 4.045,9 6.189,7 6.761,2 7.744,5 5.943,1 5.922,7 6.343,1 6.803,2 7.371,9 693,4 1.406,2 885,5 375,9 787,4 384,4 757,9 396,7 748,4 415,8 763,1 409,8 814,9 441,9 859,0 463,7 917,2 481,9 7.974,2 989,7 519,8 74.784,0 65.099,5 8.216,7 5.296,1 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah

Interkoneksi Antarpulau Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan daratan pulau besar dan sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM, direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut 20 kV atau 70 kV, yaitu: Pulau Laut (Kotabaru) - Batulicin dengan kabel laut 70 kV Kaltim - Pulau Nunukan Sebatik dengan kabel laut 20 kV Kendari - Pulau Muna - Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150 kV. Bitung Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV Ambon Haruku - Seram dengan kabel laut 70 kV, Haruku-Saparua KL 20 kV Pulau Ternate Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV Lombok - Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV Bali Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV

104

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan meliputi keekonomian, enjiniring dan studi dasar laut (seabed study) meliputi: route, peletakan kabel, lingkungan, struktur dasar laut, dan lain sebagainya.

5.10.2 Sistem Jawa-Bali


Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik dapat diproyeksikan seperti pada Tabel 5.45.
TABEL 5.45 KEBUTUHAN FASILITAS DISTRIBUSI SISTEM JAWA-BALI
2011 Jawa-Bali Jaringan TM Jaringan TR Trafo Distribusi Tambahan Pelanggan kms kms MVA ribu plgn 7.735,0 7.221,5 1.119,5 1.271,7 7.190,4 8.762,7 1.445,8 1.432,7 5.475,9 7.752,6 1.188,6 1.577,2 5.721,8 8.029,8 1.202,9 1.673,4 6.200,2 8.581,4 1.286,4 1.752,0 7.303,5 9.222,0 1.528,7 1.797.2 7.564,9 7.712,1 7.908,4 8.031,2 70.843,4 11.145,7 90.850,3 1.851,0 14.620,7 1.137,8 15.506,4 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah

9.520,2 10.036,4 10.577,8 1.528,2 1.644,4 1.688,8 1.636,1 1.780,5 1.583,8

Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2011 sampai dengan 2020 untuk sistem Jawa Bali diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah sebanyak 70.843,4 kms, jaringan tegangan rendah 90.850,3 kms, kapasitas trafo distribusi 14.620 MVA dan jumlah pelanggan 15,5 juta.

5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan


Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh 28 Satuan Kerja Listrik Desa / Satker Lisdes, dimana untuk 24 Satker Lisdes tersebut berada pada masing-masing provinsi, kecuali untuk 4 Satker Lisdes merupakan gabungan dua provinsi seperti: Satker Lisdes Riau & Riau Kepulauan, Jawa Tengah & Yogyakarta, Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat, serta Papua & Papua Barat. Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik, dengan mengacu pada sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah/RPJM tahun 20102014, yaitu untuk rasio elektrifikasi dari 67,2% tahun 2010 menjadi sebesar 80% di tahun 2014, dan untuk rasio desa berlistrik 94,6% tahun 2010 menjadi sebesar 98,9% di tahun 2014. Rekap program listrik perdesaan 2011-2014 dan investasinya dapat dilihat pada Tabel 5.46 dan Tabel 5.47.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

105

Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas, juga bertujuan untuk: Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan. Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan. Mendorong produktivitas ekonomi, sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya. Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
TABEL 5. 46 REKAP PROGRAM LISTRIK PERDESAAN INDONESIA 2011-2014
Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM Kms 8.198,0 4.495,6 7.585,9 7.403,4 27.682,8 JTR kms 7.615,1 4.881,1 7.507,4 7.326,7 27.330,3 Trafo MVA 373,3 233,0 386,4 377,1 1.369,9 Unit 5.847 3.466 5.623 5.488 20.424 Jml Pelanggan 382.864 248.833 438.466 427.915 1.498.078 Listrik Murah dan Hemat (RTS) 83.092 83.092

Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sebanyak 83.092 RTS (rumah tangga sasaran).
TABEL 5.47 REKAP KEBUTUHAN INVESTASI PROGRAM LISTRIK PERDESAAN INDONESIA 2011-2014 (JUTA Rp)
Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 1.762.282,6 1.205.603,0 2.105.722,4 2.055.053,2 7.128.661,3 JTR 905.657,2 668.894,7 1.082.279,4 1.056.236,9 3.713.068,2 Trafo 444.332,0 385.697,0 651.229,8 635.559,5 2.116.818,4 Pembangkit 22.500,0 22.500,0 Total 3.223.783,8 2.260.194,7 3.839.231,7 3.746.849,7 13.070.059,9 Listrik murah dan Hemat (RTS) 286.799,6 286.799,6

5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan


Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA telah dibahas dalam pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.4. Butir ini hanya membahas pengembangan EBT skala kecil. PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau masyarakat untuk melistriki kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke grid atau sistem kelistrikan PLN. PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas, maka pengembangannya akan terbatas di daerah yang memiliki potensi.

106

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Biomassa: PLN tidak bermaksud untuk membangun sendiri pembangkit listrik tenaga biomassa karena PLN tidak mempunyai kendali atas pasokan biomassanya. Karena itu PLN mendorong swasta untuk mengembangkannya dan PLN akan membeli listriknya. Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar, namun mengingat teknologi dan keekonomiannya masih belum diketahui, PLN baru akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek penelitian dan pengembangan. Biofuel: tergantung kepada kesiapan pasar biofuel, PLN siap untuk memanfaatkan biofuel apabila tersedia. Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi baru yang dapat diterapkan pada sistem kelistrikan isolated skala kecil. Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya ditunjukkan pada Tabel 5.48 dan Tabel 5.49. Pembangunan PLTS Terpusat (Komunal), Solar Home System (SHS) dan Lentera Super Hemat Energi (SEHEN) Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan sulitnya menjangkau daerah terpencil, PLN merencanakan untuk membangun PLTS sebagai berikut: PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan kapasitas diberikan pada tabel 5.48. SHS (panel surya + lampu LED denga batere di dalamnya) skala kecil tersebar, namun terbatas di provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum akan mendapatkan listrik konvensional. Jumlah SHS yang akan dipasang adalah sekitar 377.000 set. Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil secepatnya, mencegah penambahan penggunaan BBM kalau seandainya dilayani dengan diesel, dan menurunkan BPP pada daerah tertentu yang ongkos angkut BBM sangat mahal, seperti daerah sekitar puncak pegunungan Jayawijaya Papua. Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera super hemat energi (SEHEN) bukan merupakan program pengembangan kapasitas sistem kelistrikan. Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih bersifat sementara dan hanya diterapkan secara terbatas di provinsi-provinsi yang rasio elektrifikasinya masih rendah, yaitu NTB, NTT dan Papua dengan terlebih daulu dibuat kajian kelayakannya. Program SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS terpusat/komunal (centralized PV). Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan proyek.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

107

TABEL 5. 48 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT EBT SKALA KECIL


No 1 2 3 4 5 6 7 PembangkitEBT PLTMH PLT Surya PLT Bayu PLT Biomass PLT Kelautan PLT Bio-Fuel PLT GasBatubara TOTAL Satuan MW MWp*) MW MW MW MW**) MW MW 23 2 0 16 0 6 47 37 30 0 33 0 10 32 142 198 50 10 35 2 15 81 391 126 60 10 35 0 15 43 289 46 70 15 35 0 14 22 202 TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 TOTAL 193 70 15 40 5 8 7 338 203 75 20 40 5 7 22 372 214 75 20 45 5 7 14 380 225 80 25 45 5 8 6 394 235 80 25 50 5 9 10 414 1500 592 140 374 27 93 243 2.969

*) Rencana PLTS sd 2014 adalah program 1.000 pulau, sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi **) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel

TABEL 5. 49 BIAYA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT EBT SKALA KECIL


No 1 2 3 4 5 6 7 PembangkitEBT PLTMH PLT Surya PLT Bayu PLT Biomass PLT Kelautan PLT Bio-Fuel PLT GasBatubara TAHUN 2011 55 10 40 12 TOTAL 117 2012 89 150 83 25 64 410 2013 475 250 30 88 12 38 162 1,054 2014 302 300 30 88 38 86 843 2015 110 350 45 88 35 44 672 2016 463 350 45 100 30 20 14 1,022 2017 487 375 60 100 30 18 44 1,114 2018 514 375 60 113 30 18 28 1,137 2019 540 400 75 113 30 20 12 1,190 2020 564 400 75 125 30 23 20 1,237 TOTAL 3,600 2,960 420 935 162 233 486 8,796

5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar


Program PLTU batubara skala kecil tersebar semula direncanakan oleh PLN di 71 lokasi untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik yang terjadi di wilayah tersebut dan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dengan menggantikan pembangkit BBM terdiri dari Indonesia Barat 16 lokasi dan Indonesia Timur 35 lokasi.

108

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL 5. 50 PROYEK PEMBANGKIT PLTU SKALA KECIL DI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR
No Nama Proyek Kapasitas (MW) COD Estimasi b. Reguler - PLN 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 - IPP 39 40 41 42 43 44 45 46 47 PLTU Andai Papua PLTU Sorong Papua PLTU Sumbawa NTB PLTU Tawaeli Ekspansi Sulteng PLTU Biak Papua PLTU Kolaka Sulsel PLTU Luwuk Sulteng PLTU Bau Bau Sultra PLTU Jayapura 2x7 2 x 15 2 x 10 2 x 15 2x7 2x7 2x7 2 x 10 2 x 15 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 PLTU Alor NTT PLTU Ampana Sulut PLTU Berau Kaltim PLTU Buntok Kaltim PLTU Kendari Sulsel PLTU Kuala Kurun Kalsel PLTU Kuala Pambuang Kalsel PLTU Malinau Kaltim PLTU Raha Sulsel PLTU Rote NTT PLTU Sofifi Maluku PLTU Talaud Sulut PLTU Tj Selor Kaltim PLTU Toli-Toli Sulteng PLTU Wangi-Wangi Sultra 2x3 2x3 2x7 2x7 1 x 10 2x3 2x3 2x3 2x3 2x3 2x3 2x3 2x7 3 x 15 2x3 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2013 2012 2013 2012 2013 2013 2012 2014 2013

I. Indonesia Barat a. FTP-2 - IPP 1 2 3 PLTU Ketapang Kalbar PLTU Nias Sumut PLTU Tanjung Pinang 2 x 10 3x7 2 x 15 2013 2014 2014

b. Reguler - PLN 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 - IPP 14 15 16 PLTU Baturaja Jambi PLTU Muko Muko Jambi PLTU Toboali Babel 2 x 10 2x4 2x7 2013 2014 2014 PLTU Ipuh Bengkulu PLTU Mentok Babel PLTU Natuna Riau PLTU Sanggau Kalbar PLTU Sintang Kalbar PLTU Tanjung Uban Riau PLTU Tapak Tuan NAD PLTU Tebo Jambi PLTU Tembilahan Riau PLTU Tj Jabung Jambi 2x3 2x7 2x7 2x7 3x7 2x7 2x7 2x7 2x7 2x7 2014 2014 2013 2012 2012 2013 2012 2013 2013 2013

II. Indonesia Timur a. FTP-2 - PLN 17 18 19 20 21 22 23 PLTU Kotabaru Kalsel PLTU Sumbawa Barat NTB PLTU Melak Kaltim PLTU Merauke Papua PLTU Nabire Papua PLTU Nunukan Kaltim PLTU Kendari Sultra 2 x 10 2x7 2x7 2x7 2 x 10 2 x 10 2 x 25 2014 2013 2013 2014 2014 2015 2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

109

Jika ada penyewaan di masa mendatang, diutamakan sewa pembangkit dengan bahan bakar yang murah. Dalam perkembangannya, beberapa lokasi dibatalkan atau diubah ke PLTGB. Tabel 5.50 dan 5.51 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana pengembangan pembangkit PLTU batubara skala kecil dan PLTGB lokasi di Indonesia Barat dan Indonesia Timur.
TABEL 5. 51 PROYEK PEMBANGKIT PLTGB TERSEBAR DI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR
No I. Indonesia Barat a. FTP-2 - IPP 1 2 3 - PLN 4 5 6 7 8 9 10 11 12 - FTP-2 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 PLTGB Larantuka NTT PLTGB Selayar Sulteng PLTGB Tahuna Sulut PLTGB Tobelo Maluku PLTGB Tual Maluku PLTGB Timika PLTGB Bunyu Kaltim PLTGB Buru Maluku PLTGB Kota Bangun Kaltim PLTGB Langgur Maluku PLTGB Muara Wahau Kaltim PLTGB Tana Tidung Kaltim TOTAL KAPASITAS 8 8 8 8 8 8 2 6 2,5 6 2 2 IPP IPP IPP IPP IPP IPP PLN PLN PLN PLN PLN PLN 2014 2013 2013 2014 2014 2015 2012 2013 2012 2013 2013 2013 PLTGB Bengkalis Riau PLTGB Dabo Singkep Riau PLTGB Mentawai Sumbar PLTGB Nanga Pingoh Kalbar PLTGB Selat Panjang Riau PLTGB Sinabang NAD PLTGB Singkil NAD PLTGB Tanjung Batu Sumsel PLTGB Tnjung Pandan Babel 6 2x3 2x3 2x3 6 2x3 2x3 2x4 5 PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN IPP IPP 2015 2013 2013 2013 2012 2013 2013 2013 2014 PLTGB Putusibau PLTGB Rokan Hilir Riau PLTGB Sabang NAD 2x4 2x4 2x4 IPP IPP PLN 2012 2012 2013 Nama Proyek Kapasitas (MW) Pemilik COD Estimasi

b. Reguler

II. Indonesia Timur

- Reguler

110

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kebutuhan Dana Investasi

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

111

6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia


Untuk membangun sarana pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana diuraikan pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar US$ 60,5 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.1 dan Gambar 6.1. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik swasta/IPP.
TABEL 6. 1 KEBUTUHAN DANA INVESTASI PLN INDONESIA (TIDAK TERMASUK IPP)
Juta US$
Item FC Pembangkit LC Total FC Penyaluran LC Total FC Distribusi LC Total FC Total LC Total 2011 2.235,3 1.028,8 3.264,1 2.725,8 688,4 3.414,2 1.261,5 1.261,5 4.961,1 2.978,6 7.939,7 2012 2.576 1.117,6 3.693,9 2.062,2 505,2 2.531,4 1.269,5 1.269,5 4.602,5 2.892,2 7.494,7 2013 2.854,5 1.181,3 4.035,8 1.313,3 387,3 1.701,2 1.172,1 1.172,1 4.168,3 2.740,7 6.909,1 2014 2.683,9 1.186,5 3.870,3 1.535,5 372,3 1.907,8 1.253,3 1.253,3 4.219,3 2.812,1 7.031,4 2015 2.055,7 1.017,7 3.073,4 2.160,3 282,3 2.389,3 1.166,8 1.166,8 4.162,0 2.467,5 6.629,5 2016 1.552,9 814,7 2.337,6 1.199,7 175,4 1.375,4 1.320,5 1.320,5 2.722,6 2.310,6 5.033,2 2017 1.781,1 959,9 2.741,1 604,4 113,2 717,6 1.395,0 1.395,0 2.385,5 2.468,2 4.853,7 2018 2.072,7 1.003,3 3.076,0 405,0 75,7 480,7 1.477,4 1.477,4 2.477,7 2.556,5 5.034,1 2019 2.063,8 920,6 2.984,4 288,7 42,3 331,0 1.539,3 1.539,3 2.352,5 2.502,3 4.854,8 2020 2.114,3 884,2 2.998,5 72,7 7,1 79,8 1.605,5 1.605,5 2.187,0 2.496,9 4.683,9 Total 21.960,5 10.114,6 32.075,1 12.278,0 2.650,0 14.928,0 13.461,0 13.461,0 34.238,6 26.225,6 60.464,1

Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, maka disadari adanya tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana tersebut. Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan), namun setelah tahun 2006 peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan sebaliknya pendanaan dengan obligasi terus meningkat, baik obligasi lokal maupun global. Proyek percepatan pembangkit 10.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah. Akhir-akhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan multilateral (IBRD, ADB) dan bilaterial (JICA, AFD) untuk mendanai proyek-proyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatra Jawa dengan skema two step loan.

112

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GAMBAR 6.1 PROYEKSI KEBUTUHAN DANA INVESTASI PLN INDONESIA (TIDAK TERMASUK IPP)
Juta USD
8,000.0

7,000.0 6,000.0

Total Investasi
5,000.0 4,000.0 3,000.0 2,000.0 1,000.0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pembangkit Transmisi Distribusi

6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali


Pengembangan pembangkitan, transmisi dan distribusi oleh PLN sampai dengan tahun 2020 di sistem Jawa Bali membutuhkan dana investasi sebesar US$ 33,6 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.2 dan Gambar 6.2. Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 18,3 miliar atau sekitar US$ 1,8 miliar per tahun. Porsi investasi pembangkit PLN setelah 2016 meningkat karena proyek pembangkit di atas tahun 2018 masih diasumsikan sebagai proyek PLN serta memperhitungkan disbursement investasi pembangkit yang beroperasi setelah tahun 2020. Kebutuhan investasi tersebut juga telah memperhitungkan biaya rehabilitasi/life extention pembangkit.
TABEL 6. 2 KEBUTUHAN DANA INVESTASI UNTUK SISTEM JAWA BALI
Juta US$
Item FC Pembangkit LC Total FC Penyaluran LC Total FC Distribusi LC Total FC Total LC Total 2011 1.252,6 574,0 1.826,5 1.993,8 370,3 2.364,1 738,5 738,5 3.246,4 1.682,7 4.929,1 2012 1.093,5 511,7 1,605,2 964,3 145,0 1,109,3 683,3 683,3 2,057,8 1,340,1 3,397,9 2013 1.128,1 551,2 1.679,3 466,0 108,1 574,2 532,1 532,1 1.594,1 1.191,4 2.785,5 2014 1.360.1 645.0 2.005.1 804.1 154.8 958.8 549.7 549.7 2.164.2 1.349.4 3.513.6 2015 1.115,1 556,0 1.671,1 1.381,4 148,4 1.529,8 600,9 600,9 2.496,5 1.305,4 3.801,8 2016 912,2 452,1 1,364,3 796,6 84,5 881,1 710,5 70,5 1.708,8 1.247,1 2.955,9 2017 1.138,7 600,7 1,739,4 329,3 47,8 377,2 739,9 739,9 1.468,0 1.388,5 2.856,5 2018 1.274.0 635.9 1.909,9 254,7 42,2 296,9 768,8 768,8 1.528,8 1.446,8 2.975,6 2019 1.319,5 622,8 1,942,4 202,4 25,7 228,1 796,6 796,6 1.521,9 1.445,1 2.967,0 2020 1.744,7 772,3 2,517,0 50,7 4,3 55,0 812,2 812,2 1.795,4 1.588,8 3.384,2 Total 12.338,5 5.921,7 18.260,1 7.243,3 1.131,1 8.374,4 6.932,5 6.932,5 19.581,8 13.985,3 33.567,0

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

113

GAMBAR 6. 2 KEBUTUHAN DANA INVESTASI PLN UNTUK SISTEM JAWA BALI


5000

4500

4000 3500

Juta USD

3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2011 2012 2013 2014 2015

Total Investasi

Pembangkit Penyaluran

Distribusi

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun

Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. Proyek percepatan pembangkit Perpres No.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah. Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan pendanaannya ke lender multilateral, sedangkan PLTU Indramayu 2x1.000 MW senilai US$ 3.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. Namun proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi sumber pendanaan yang pasti, dan PLN pada saat ini tengah mengkaji kemampuannya dalam membuat pinjaman baru, dan hal ini akan dijelaskan pada butir 5.5. Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 8,4 miliar dan US$ 6,9 miliar. Proyek penyaluran pada tahun 2011-2012 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan pembangkit. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN, obligasi, APBN, pinjaman luar negeri (two step loan), kredit ekspor dan sumber lainnya. Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN.

6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit, sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 2011-2020 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah sebesar US$16,9 miliar atau rata-rata US$ 1,7 miliar per tahun dan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 10 miliar atau rata-rata US$ 1 miliar, tidak termasuk proyek IPP, dengan disbursement tahunan seperti pada Tabel 6.3 dan Tabel 6.4.

114

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL 6. 3 TOTAL KEBUTUHAN DANA INVESTASI UNTUK WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
Juta US$
Item FC Pembangkit LC Total FC Penyaluran LC Total FC Distribusi LC Total FC Total LC Total 2011 610,1 262,0 872,1 397,2 205,2 602,4 306,4 306,4 1.007,4 773,6 1.780,9 2012 908,1 366,8 1.274,9 717,8 258,1 975,8 334,5 334,5 1.625,9 959,3 2.585,2 2013 1.102,8 387,5 1.490,3 578,9 213,2 792,1 395,4 395,4 1.625,9 996,0 2.677,8 2014 843,3 376,1 1.219,1 611,8 190,1 801,9 436,4 436,4 1.455,1 1.002,6 2.457,7 2015 674,6 332,2 1.006,8 634,8 102,9 737,7 323,1 323,1 1.309,5 758,2 2.067,6 2016 257,0 152,4 409,4 263,9 48,3 312,2 359,3 359,3 520,9 560,0 1.080,8 2017 186,2 116,2 302,4 153,5 34,7 188,2 385,4 385,4 339,7 536,3 876,0 2018 405,7 191,1 596,8 85,2 19,6 104,8 418,4 418,4 490,9 629,1 1.120,0 2019 573,7 232,4 806,1 57,9 11,7 69,6 427,2 427,2 631,6 671,3 1.302,0 2020 364,5 111,3 475,8 16,3 2,1 18,4 447,0 447,0 380,8 560,4 941,2 Total 5.926,1 2.525,0 8.454,1 3.517,2 1.086,0 4.603,2 3.833,0 3.833,0 9.443,3 7.446,9 16.890,2

GAMBAR 6. 3 KEBUTUHAN DANA INVESTASI PLN UNTUK WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT
Juta USD
3,000.0 2,750.0 2,500.0 2,250.0 2,000.0 1,750.0 1,500.0 1,250.0 1,000.0 750.0 500.0 250.0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Total Investasi Pembangkit

Transmisi Distribusi

TABEL 6. 4 TOTAL KEBUTUHAN DANA INVESTASI UNTUK WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR
Juta US$
Item FC Pembangkit LC Total FC Penyaluran LC Total FC Distribusi LC Total FC Total LC Total 2011 372,6 192,8 565,4 334,8 113,0 447,7 216,6 216,6 707,4 522,3 1.229,8 2012 574,7 239,0 931,8 344,1 102,1 446,2 251,7 251,7 918,8 592,8 1.511,7 2013 623,6 242,6 866,2 268,8 66,0 334,8 244,7 244,7 892,5 553,3 1.445,7 2014 480,5 165,3 645,9 119,6 27,4 147,0 267,3 267,3 600,1 460,0 1.060,2 2015 674,6 332,2 1.006,8 634,8 102,9 737,7 323,1 323,1 1.309,5 758,2 2.067,6 2016 353,7 210,3 563,9 139,3 42,5 181,8 250,7 250,7 493,0 503,5 996,5 2017 456,2 243,0 699,2 121,6 30,7 152,3 269,7 269,7 577,8 543,4 1.121,2 2018 392,9 176,4 569,3 65,1 13,9 79,0 290,2 290,2 458,0 480,5 938,6 2019 170,5 65,4 235,9 28,4 4,9 33,3 315,6 31,6 198,9 385,9 584,8 2020 5,1 0,6 5,7 5,7 0,7 6,4 346,3 346,3 10,8 347,6 358,4 Total 3.696,0 1.665,0 5.360,9 1.517,5 432,9 1.950,4 2.695,5 2.695,5 5.213,4 4.793,4 10.006,8

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

115

GAMBAR 6. 4 TOTAL KEBUTUHAN DANA INVESTASI PLN UNTUK WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

Juta USD
1,800.0 1,500.0 1,200.0 900.0 600.0 300.0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Total Investasi Pembangkit

Transmisi Distribusi

Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 8,5 miliar, sedangkan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 5,9 miliar. Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 2012-2013 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No.71/2006. Sedangkan disbursement proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi sistem-sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat, terutama di sistem Sumatra. Proyek transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh pengembangan transmisi 275kV untuk interkoneksi seluruh Sumatra, di samping pengembangan transmisi 150kV di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.

6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP


Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan Indonesia secara keseluruhan, termasuk listrik swasta/IPP, adalah US$ 96,2 miliar selama tahun 2011-2020. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada Tabel 6.5.
TABEL 6.5 TOTAL KEBUTUHAN DANA INVESTASI, PLN + IPP
Juta US$
Item FC Pembangkit LC Total FC Penyaluran LC Total FC Distribusi LC Total FC Total LC Total 2011 3,088.0 1,397.5 4,485.5 2,725.8 688.4 3,414.2 1,261.5 1,261.5 5,813.8 3,347.3 9,161.2 2012 4,135.8 1,951.9 6,087.7 2,026.2 505.2 2,531.4 1,269.5 1,269.5 6,161.9 3,726.6 9,888.6 2013 6,036.2 2,748.2 1,313.8 387.3 1,701.2 1,172.1 1,172.1 7,350.0 4,307.7 2014 7,098.0 3,048.7 1,535.5 372.3 1,907.8 1,253.3 1,253.3 8,633.5 4,674.3 2015 6,369.7 2,720.3 9,083.9 2,106.3 282.9 2,389.3 1,166.8 1,166.8 8,476.0 4,170.0 2016 5,077.6 2,261.3 7,338.9 1,199.7 175.4 1,375.1 1,320.5 1,320.5 6,277.3 3,757.1 2017 4,918.9 2,275.2 7,194.1 604.4 113.2 717.6 1,395.0 1,395.0 5,523.3 3,783.5 9,306.8 2018 4,384.6 2,089.8 6,474.4 405.0 75.7 480.7 1,539.3 1,539.3 3,655.8 3,057.2 6,713.1 2019 3,367.2 1,475.6 4,842.7 288.7 42.3 331.0 1,539.3 1,539.3 3,655.8 3,057.2 6,713.1 2020 Total 2,384.8 46,860.7 986.5 20,955.0 3,371.3 67,815.7 72.7 12,278.0 7.1 2,650.0 79.8 14,928.0 1,605.5 13,461.0 1,605.5 13,461.0 2,457.5 59,138.7 2,599.2 37,066.0 5,056.7 96,204.7

8,784.4 10,146.7

11,657.7 13,307.8 12,646.1 10,034.4

116

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GAMBAR 6. 5 TOTAL KEBUTUHAN DANA INVESTASI INDONESIA, PLN + IPP

Juta USD
14,000.0
12,000.0 10,000.0 8,000.0 6,000.0 4,000.0

Total Investasi

Pembangkit

Transmisi
2,000.0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Distribusi

2019

2020

6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN


Butir 6.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan dalam RUPTL ini akan dipenuhi, dan juga menjelaskan dampak dari rencana investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).

6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan


Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 60,5 miliar1 sampai dengan tahun 2020 akan dipenuhi dari berbagai sumber pendanaan, yaitu APBN sebagai penyertaan modal pemerintah (ekuiti), pinjaman baru, dan dana internal. Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap, sedangkan dana pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA, sub-loan agreement), pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi, obligasi nasional maupun internasional, pinjaman komersial perbankan lainnya serta hibah luar negeri.

6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan


Kemampuan PLN untuk melakukan pinjaman sangat ditentukan oleh indikator - indikator keuangan perusahaan, misalnya rasio hutang2, proyeksi EBITDA dan EBITDA margin, dan debt-equity ratio (rasio hutang terhadap aset). Rasio tersebut digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman PLN dengan para lender dan bond holder. Selanjutnya pada bagian ini akan diberikan gambaran mengenai biaya pokok penyediaan listrik. Asumsi dasar makro ekonomi dan asumsi korporasi yang digunakan dalam membuat proyeksi keuangan ini adalah sebagai berikut: (i) Tingkat bunga pinjaman baru 3-6% untuk pinjaman dalam nominasi valuta asing
1 2

Hanya mencakup base cost, tidak termasuk financing cost. Yang diukur dari pendapatan operasi terhadap kewajiban hutang yang jatuh tempo dan pembayaran bunga

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

117

(US$) dan 9-12% untuk pinjaman dalam mata uang Rupiah, (ii) Terjadi kenaikan tarif listrik sebesar 10% pada tahun 2012 dan 10% lagi pada tahun 2013, (iii) Kurs Rp 8.800/US$ tahun 2011, Rp 8.850/US$ tahun 2012, Rp 8.900/US$ tahun 2013, Rp 8.950/US$ tahun 2014 dan Rp 9.000/US$ sampai dengan 2015, (iv) Marjin PSO3 8% pada tahun 2011-2015.

6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan


a. Harga Listrik dan Subsidi (PSO, public service obligation) Harga rata-rata listrik pada tahun 2011 adalah Rp729/kWh, meningkat menjadi rata-rata Rp802/ kWh pada tahun 2012, Rp 881/kWh pada tahun 2013, dan Rp 880/kWh pada tahun 2014-2015. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah subsidi pemerintah dan meningkatkan laba bersih perusahaan. Peningkatan laba tahun 2011 akan digunakan oleh PLN untuk membayar deviden kepada pemerintah dan memperkuat pendanaan internal (anggaran PLN atau APLN) untuk pembiayaan proyek-proyek kelistrikan seperti proyek pembangkit, proyek transmisi dan fasilitas trafo distribusi untuk melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dan peningkatan keandalan pasokan listrik. Pada tahun-tahun selanjutnya kenaikan tarif dilakukan untuk dapat mengurangi subsidi pemerintah4 seperti diperlihatkan pada tabel 6.6. Selain itu laba bersih juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan internal perusahaan untuk berinvestasi sehingga dapat mengurangi kebutuhan dana eksternal (pinjaman).
TABEL 6. 6 PROYEKSI KEBUTUHAN SUBSIDI DAN LABA/RUGI PLN 2011-2015
Tahun Subsidi T Rp Tarif Rata-rata (Rp/KWh) BPP (Rp/KWh) Laba/Rugi Bersih Rp. T 2011 87,64 729 1.187 14,97 2012 54,98 802 1.061 7,86 2013 36,97 881 994 12,80 2014*) 40,07 880 990 14,23 2015*) 47,43 880 1.014 14,10

*) TIdak ada kenaikan tarif hanya adjustment sebesar setengah dari inflasi dalam negeri

Kenaikan TDL ini akan menghasilkan pendanaan internal yang sangat dibutuhkan untuk pembiayaan investasi. Pendanaan APBN diperkirakan akan mencapai sekitar Rp 10 trilyun/tahun, maka PLN harus mencari pinjaman komersial dan concessional untuk menutupi kekurangan kebutuhan investasi. b. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN) Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah karena sebelum tahun 2009 PLN tidak memperoleh marjin PSO, sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal (seluruh investasi didanai dengan hutang). Rasio hutang terhadap aset PLN sebelum program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 (fast track 1) adalah sekitar 30%, namun kemudian meningkat menjadi

3 4

Marjin terhadap biaya pokok penyediaan Untuk menutupi selisih antara tarif dan Biaya Pokok Penyediaan (BPP)

118

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

53% pada tahun 2010 akibat seluruh pendaanaan proyek fast track 1 berasal dari pinjaman komersial dan obligasi. Peningkatan tarif PLN dan marjin PSO akan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik. Dana internal untuk investasi diperkirakan akan meningkat dari 32% dari kebutuhan total investasi pada tahun 2011 menjadi sekitar 36% pada tahun 2015. c. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi dan (iii) pinjaman. APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba operasi yang sangat terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata. APLN hanya didapat dari selisih antara marjin PSO + depresiasi aset dan pembayaran cicilan pokok. PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena dibatasi oleh covenant pinjaman yang disyaratkan oleh lender dan bond holder. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat ditingkatkan jika revenue PLN meningkat, baik dari tarif maupun marjin PSO. Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas, maka peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. Hal ini menjadi semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat. Tabel 6.7 menunjukkan komposisi sumber dana investasi untuk mencukupi kebutuhan rencana investasi 5 tahun ke depan. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah, maka harus dilakukan perbaikan sebagai berikut: Peningkatan pendapatan PLN baik dari peningkatan tarif maupun peningkatan marjin PSO. Peningkatan dana dari APBN. Peningkatan pinjaman murah (SLA) dimana pemerintah sebagai penjamin pinjaman.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

119

TABEL 6. 7 SUMBER DANA INVESTASI (TRILYUN Rp)


Tahun APBN Internal Fund Pinjaman (committed) Pinjaman baru Total Kebutuhan Dana 2011 9,0 20,5 28,9 3,6 62,1 2012 9 ,0 28,4 38,8 0,4 76,6 2013 9 ,0 29,8 10,6 12,1 61,5 2014 9,0 26,7 3,4 27,2 66,3 2015 9 ,0 28,7 2,6 23,1 63,5

6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL


Seperti ditunjukkan pada butir 6.1, pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang akan dilaksanakan oleh PLN sesuai RUPTL 2011-2020 mencapai US$ 61 miliar atau rata-rata US$60,5 miliar per tahun. Penyediaan dana investasi sebesar US$ 60,5 miliar per tahun adalah diluar kemampuan PLN apabila model ekonomi kelistrikan tetap seperti yang terjadi pada saat ini, yaitu subsidi hanya diberikan untuk menutup biaya operasi, dan tanpa diberikan margin yang cukup5 untuk membuat PLN mampu menggalang dana investasi yang lebih besar. Namun demikian RUPTL 2011-2020 tetap disusun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan melayani pertumbuhan demand listrik yang diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup, terusmenerus dan memenuhi syarat mutu dan keandalan. Jika nilai kebutuhan investasi dalam RUPTL adalah diluar kemampuan PLN selaku korporasi, maka PLN akan melakukan investasi sesuai batas kemampuannya, dan kekurangan pendanaan (funding gap) ini akan dilaporkan ke Pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang diperlukan untuk melaksanakan seluruh proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL yang akan dilaksanakan oleh PLN. Jika pendanaan yang diperoleh ternyata masih tidak mencukupi untuk melaksanakan program-program RUPTL secara penuh, maka PLN akan tidak melaksanakan beberapa proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL dan melaporkan situasi ini kepada Pemerintah. Analisis risiko RUPTL 2011-2020 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi kerawanan atau kelemahan yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang yang dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL. Analisis risiko mencakup identifikasi risiko, pemetaan risiko, dan rekomendasi program mitigasi untuk risikorisiko tersebut. Bab ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemetaan risiko dominan yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. Bagian kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. Bagian ketiga menjelaskan berbagai program mitigasi risiko yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko tersebut.

Marjin PSO 8% akan menghasilkan ROA sebesar 1-3%, sedangkan benchmarking dengan utility yang regulated di negara lain pada umumnya ROA berkisar 8%.

120

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Analisis Risiko RUPTL 2011-2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

121

7.1 Identifikasi Risiko


Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi aspek sebagai berikut: A. Risiko Pengembangan Ketenagalistrikan 1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan, pendanaan, pembangunan, keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek, cost over-run, kesalahan desain, keselamatan ketenagalistrikan, performance instalasi, dampak lingkungan dan sosial. 2. 3. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP, termasuk PLTP Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN. Risiko permintaan listrik ekonomi). B. Risiko Keuangan 1. Risiko likuiditas, meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran penerimaan subsidi, risiko pencairan dana pinjaman untuk investasi dan risiko likuiditas aset. C. Risiko Operasional 1. Risiko produksi/operasi, seperti kekurangan/kelangkaan energi primer, kerusakan peralatan/ fasilitas operasi, kehilangan peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia perusahaan, risiko akibat kesalahan manusia 2. Risiko bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat manusia (a.l. sabotase) kesehatan, juga limbah, polusi dan kebisingan 4. Risiko regulasi, meliputi risiko tarif listrik, risiko kepastian subsidi dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan D. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi 1. Risiko ketersediaan dan harga energi primer Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan batubara, gas) dan risiko harga energi primer. 2. Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi. Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D 3. Risiko lingkungan, berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi karena pengaruhnya pada

Kesalahan dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di dalamnya risiko pertumbuhan

122

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

7.2 Pemetaan Risiko


Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi, kesembilan risiko tersebut memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta berikut. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan metoda kualitatif berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa lalu, dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu. Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan dan dampak pada kelancaran operasional perusahaan.
GAMBAR 7. 1 PEMETAAN RISIKO IMPLEMENTASI RUPTL
Dampak 5 4 3 2 1 1 2
10 8 5 3 1 4 6 9 7 2

3 Probabilitas

Keterangan: 1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN 2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP, termasuk PLTP 3. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik 4. Risiko ketersediaan dan harga energi primer

5. 6. 7. 8. 9.

Risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi Risiko likuiditas Risiko produksi/operasi Risiko bencana Risiko lingkungan dan sosial

10. Risiko regulasi Berdasarkan pemetaan risiko di atas, risiko dapat dikelompokkan dalam empat area berdasarkan tingkat probabilitas dan dampaknya, yaitu: Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko, yaitu risiko dengan tingkat probabilitas kejadian tinggi dan dampaknya juga tinggi. Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan proyek-proyek PLN, keterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas. Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko, yaitu risiko dengan probabilitas kejadian rendah tetapi bila terjadi menimbulkan dampak yang tinggi. Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah ketersediaan dan harga energi primer, risiko permintaan tenaga listrik serta risiko bencana. Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko, yaitu risiko dengan probabilitas kejadian yang tinggi tetapi dampak yang ditimbulkannya rendah. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah risiko produksi/operasi.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

123

Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko, yaitu daerah dengan probabilitas rendah dan dampak yang ditimbulkannya juga rendah. Termasuk ke dalam area ini adalah risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi, risiko regulasi dan risiko lingkungan.

7.3 Program Mitigasi Risiko


Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena metoda dan sarana mitigasi terus berkembang. Namun demikian, pokok-pokok program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi risiko diuraikan sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mitigasi risiko pembangunan PLN Mitigasi risiko pembangunan IPP Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik Mitigasi risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer Mitigasi risiko likuiditas Mitigasi risiko produksi/operasi

8. Mitigasi risiko bencana 9. Mitigasi risiko lingkungan 10. Mitigasi risiko regulasi Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

124

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

BAB VIII KESIMPULAN

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

125

Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun mendatang rata-rata 6,9% per tahun dan bergerak dari realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun 2010, proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 328,3 TWh, atau mengalami pertumbuhan rata-rata 8,47% selama 10tahun mendatang. Beban puncak pada tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai 55.053MW. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk periode 2011 2020 sebesar 54.647MW, diantaranya yang akan dibangun oleh PLN sebesar 31.180 MW dan IPP sebesar 23.467 MW. Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini, diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 49.263 kms, yang terdiri atas 2.675 kms SUTET 500 kV AC, 1.100 kms transmisi 500 kV HVDC, 462 kms transmisi 250 kV HVDC, 5.360 kms transmisi 275kV AC, 36.176 kms SUTT 150 kV, 3.490 kms SUTT 70 kV. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar 114.194 MVA yang terdiri atas 59.736 MVA trafo 150/20 kV, 3.355 MVA 70/20 kV dan 33.490 MVA trafo interbus IBT 500/150 kV, 10.680 MVA IBT 275/150 kV, IBT 333 MVA IBT 150/70 kV, 3.000 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC. Untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik untuk periode 2011-2020 diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah 208.607 kms, tegangan rendah 225.404 kms dan kapasitas trafo distribusi 37.431 MVA. Kebutuhan investasi pembangkit, penyaluran dan distribusi selama periode 2011 2020 untuk memenuhi kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara keseluruhan adalah sebesar US$ 96,6 milyar yang terdiri dari investasi pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 68,2 milyar, investasi penyaluran sebesar US$ 14,9 milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13,5 milyar. Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN dapat mempunyai kemampuan untuk membiayai proyek-proyek kelistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL, dengan pembiayaan yang bersumber dari dana internal dan eksternal, apabila asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan dipenuhi, antara lain kenaikan tarif listrik, peningkatan ekuitas dari pemerintah (APBN) dan PLN mendapat marjin PSO

126

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

127

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. Undang-undang No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara 5. Peraturan Presiden No. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of Understanding on the ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN) 6. Peraturan Presiden No. 4/2010 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas 7. Peraturan Menteri ESDM No. 2/2010 jo No. 15/2010 tentang Daftar Proyek-proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait 8. Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-46951.AH.01.02.Tahun 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan 9. Keputusan Menteri ESDM No. 634-12/20/600.3/2011 tentang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 10. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 2027, Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2008 11. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2010 2029, Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2011 12. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir, Mataram, 27 Juli 2011 13. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 2025, Bappenas, BPS, UN Population Fund, 2005 14. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 2005, BPS, 2008 dan update dari website BPS 15. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 2018, PT PLN (Persero), 2009 16. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 2019, PT PLN (Persero), 2010 17. Draft Energy Outlook 2008, Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2008 18. Statistik 2007, PT PLN (Persero), 2008 19. Statistik 2008, PT PLN (Persero), 2009 20. Statistik 2009, PT PLN (Persero), 2010 21. Statistik 2010, PT PLN (Persero), 2011 22. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006, Pengkajian Energi UI, 2006 23. Berita Resmi Statistik, BPS, Februari 2008

4. Peraturan Presiden No. 71/2006 jo No. 59/2009 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk

128

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

24. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero), Direktorat Perencanaan dan Teknologi, 2008 25. Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2011 2015, PT PLN (Persero), 2011 26. Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010 mengenai Sumber Daya dan Cadangan Batubara. 27. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam Mendukung Ketahanan Energi, 2010 28. Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia, WestJec, 2007 29. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia, Nippon Koei, 2011 30. Draft Kebijakan Energi Nasional, DEN, 2010 31. Website Kementerian ESDM, Pemerintah Daerah

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

129

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

131

A1
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA
A1.1. A1.2. A1.3. A1.4. A1.5. A1.6. A1.7. A1.8. A1.9. A1.10. A1.11. A1.12. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK NERACA DAYA PROYEK-PROYEK IPP TERKENDALA NERACA ENERGI CAPACITY BALANCE GARDU INDUK RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN ANALISIS ALIRAN DAYA KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI PROGRAM LISTRIK PERDESAAN PROGRAM ENERGI BARU DAN TERBARUKAN PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI

PENJELASAN LAMPIRAN A1

Lampiran A1.1
Sistem Interkoneksi Sumatera

136

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi Sumatera

KETERANGAN

SATUAN

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Energi Jual

GWh

20.248

22.953

25.559

28.190

31.043

33.814

36.794

39.990

43.509

47.377

Susut T & D

9,91

9,80

9,70

9,64

9,59

9,54

9,50

9,46

9,42

9,35

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 GWh 22.475 25.446 28.304 31.197 34.336 37.380 40.656 44.169 48.034 52.264 % 5,00 5,00 6,00 6,00 6,00 6,00 5,00 5,00 5,00 5,00 GWh 22.475 25.446 28.304 31.197 34.336 37.380 40.656 44.169 48.034 52.264 % 65,4 65,4 65,3 65,4 65,7 66,0 66,3 66,6 66,9 67,0 MW 4.269 4.821 5.415 5.952 6.516 7.065 7.579 8.193 48.034 9.641

Energi Siap Salur TT

PS Pembangkit

Energi Dibangkitkan

Load Factor

Beban Puncak Sistem

Lampiran A1.2
Neraca Daya Sistem Interkoneksi Sumatera

Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera

MW

138

Reserve Margin

18.000

PLTG PLN

PLTA IPP

75% 78% 74% 79% 73% 64% 56% 50%

PLTA PLN

16.000

PLTGU IPP

PLTGU PLN

PLTP IPP

14.000

PLTP PLN

PLTU IPP

PLTU FTP2

12.000

PLTU PLN

PLTU & PLTG Sewa

Pembangkit IPP & Sewa

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

10.000

Pembangkit Terpasang PLN

Beban Puncak

8.000

37%

6.000

27%

4.000

2.000

2013 2014

2011

2012

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun

Neraca Daya Sistem Sumatera [1/3]


Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

NO

Pasokan dan Kebutuhan

1 GWh % MW 4.269 4.821 5.415 5.952 6.516 7.065 7.579 8.193 65 65 65 65 66 66 66 67 23.414 26.059 29.113 32.219 35.696 39.396 42.983 47.245 51.776 67 8.874

Kebutuhan 56.806 67 9.641

Produksi

Faktor Beban

Beban Puncak Broto

2 MW MW MW MW MW MW MW MW 249 109 109 60 60 942 942 942 942 942 942 662 662 620 263 263 263 1.175 1.175 915 890 890 890 8 8 8 8 8 8 8 760 263 942 847 847 847 847 847 847 847 3.883 3.742 3.441 3.009 3.009 2.949 2.819 4.862 4.822 4.520 3.551 3.456 3.396 3.266 3.266 2.819 847 8 760 263 942 -

Pasokan 3.266 2.819 847 8 760 263 942 3.266 2.819 847 8 760 263 942 -

Kapasitas Terpasang

PLN

PLTA

PLTMH

PLTU

PLTG

PLTGU

PLTD

Swasta MW MW MW MW MW MW MW MW MW MW 117 300 10 10 10 12 12 12 150 150 150 80 80 80 80 150 12 10 586 16 16 16 16 180 180 180 180 180 16 80 150 12 10 447 447 447 447 447 533 633 633 95 447 180 16 80 150 12 10 60 447 180 16 80 150 12 10 130 447 180 16 80 150 12 10 447 180 16 80 150 12 10 447 180 16 80 150 12 10 -

Sewa

IPP

PLTA

PLTMH

PLTU

PLTG

PLTGU

PLTMG

PLTP

Retired & Mothballed (PLN)

Tambahan Kapasitas

PLN

On-going Project PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTG PLTGU 40 100 100 220 220 112 55 20 86 220 112 55

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tarahan (FTP1)

Meulaboh #1,2 (FTP1)

Pangkalan Susu #1,2 (FTP1)

Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1)

139

Ulubelu #1,2

Duri 1 (Ex Relokasi Jawa)

Keramasan

Neraca Daya Sistem Sumatera [2/3]

140
Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 PLTG/MG PLTG/MG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTA 174 PLTA PLTA PLTA PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP 110 110 200 400 200 400 400 110 110 175 175 86 55 88 30 500 70 200 120 400 20 60 100 50 90 PLTMG PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTU PLTU 50 50 240 240 360 60 30 30 30 12 -12 -30 -30 -30 PLTU 227 PLTGU 30

NO

Pasokan dan Kebutuhan

Rencana

Sungai Gelam (CNG/Peaker)

Jaka Baring (CNG/Peaker)

Duri

Sengeti (CNG/Peaker)

Belawan

Lhokseumawe

Aceh Timur

Pembangkit Peaker*)

Batang Hari

Peusangan 1-2

Ashahan III (FTP 1)

Merangin

Simonggo-2

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Masang-2

Riau (Amandemen FTP1)

Pangkalan Susu #3, 4 (FTP 2)

Meulaboh #3,4

Sumsel-1, Mulut Tambang

Hululais

Sungai Penuh (FTP2)

SEWA

Sungai Gelam

Borang

Borang

Talang Duku (sewa beli)

Payo Selincah (sewa beli)

Tarahan #5,6

Dumai

Sumbagut

IPP

On-going Project

Simpang Belimbing #1,2

Ekspansi

Gunung Megang, ST Cycle

Neraca Daya Sistem Sumatera [3/3]


Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

NO

Pasokan dan Kebutuhan

Rencana PLTGU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTM MW % 24 5,311 37 6,612 56 83 8,448 50 32 8,913 39 10,665 64 12,198 73 13,557 79 14,470 75 16,005 79 17,050 75 45 23 56 40 83 220 110 55 110 220 220 240*) 110 110 110 110 55 110 55 20 110 165 110 220 110 110 300 300 400 400 225 300 300 150 150 150 150 225 230 227 44 22 100

Duri

Aceh

Sumsel-11, Mulut Tambang

Banjarsari

Sumsel-2 (Keban Agung)

Sumsel-5

Sumsel-7

Sumsel-6, Mulut Tambang

Riau Mulut Tambang

Jambi KPS

Sumut-2

Lumut Balai (FTP2)

Sarulla I (FTP2)

Ulubelu #3,4 (FTP2)

Seulawah (FTP2)

Sarulla II (FTP2)

Rajabasa (FTP2)

Muara Laboh (FTP2)

Sorik Marapi (FTP2)*)

Suoh Sekincau

Wai Ratai

Simbolon Samosir

Sipoholon Ria-Ria

G. Talang

Danau Ranau

Bonjol

Kepahiyang

Wampu

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Simpang Alur (FTP2)

Semangka

Hasang

Peusangan-4

141

PLTM Tersebar Sumut

Jumlah Pasokan

Reserve Margin

Ket: *) Mengingat pengembang belum melakukan eksplorasi sehingga tingkat ketidak pastian besarnya kapasitas masih cukup tinggi, maka perhitungan reserve margin didasarkan pada kapasitas PLTP Sorik Marapi sebesar 2x55 MW.

Lampiran A1.3
PROYEK-PROYEK IPP TERKENDALA SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

A1.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala


Dalam program IPP terdapat beberapa proyek yang pelaksanaan kontrak PPTL/PPA-nya mengalami kendala, dan mereka dimasukkan dalam 3 kategori PPTL terkendala sebagai berkut: Kategori 1: tahap operasi, yaitu proyek IPP sudah mencapai COD namun bermasalah; Kategori 2: tahap konstruksi, yaitu proyek IPP sudah mencapai Financial Closing (FC) tapi konstruksinya bemasalah sehingga tidak kunjung mencapai COD; Kategori 3: tahap pendanaan, yaitu proyek IPP sudah memiliki PPTL tetapi tiak kunjung mencapai Financial Closing (FC). Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Sumatera adalah, PLTP Sibayak 2x5,5 MW masuk dalam kategori 1 PLTU MT Banjarsari 2x100 MW masuk dalam kategori 3 PLTU Kuala Tanjung 2x100 MW masuk dalam kategori 3 PLTU MT Keban Agung 2x112,5 MW masuk dalam kategori 3 PLTP Sarulla 330 MW masuk dalam kategori 3. PLTU Rengat 2x5,5 MW masuk dalam kategori 3. PLTU Tembilahan 2x5,5 masuk dalam kategori 3. Saat ini penyelesaian IPP terkendala tersebut sedang diproses oleh Komite Direktur untuk IPP dan Kerjasama Kemitraan.

144

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A1.4
Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sumatera

Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sumatera (Gwh)


2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

146
9.671 15.414 14.276 13.417 16.424 15.809 19.850 23.967 26.714 7.415 7.389 7.932 7.788 7.502 6.586 5.293 4.820 4.575 4.324 4.232 4.273 4.317 4.269 4.476 5.030 5.707 2.314 100 100 100 1.076 321 64 801 2.466 6.765 6.865 10.773 11.353 11.691 13.200 3.690 4.718 5.022 5.216 5.679 6.519 7.040 7.035 7.050 27.622 30.957 34.120 37.517 40.843 44.003 47.805 51.989 56.567

Jenis

2011

Batubara

6.270

Gas

5.114

LNG

HSD

8.303

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

MFO

1.295

Geothermal

63

Hydro

3.398

Total

24.444

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Interkoneksi Sumatera

FUEL TYPE

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

HSD ( X 1000 kL)

2.241

1.484

556

27

27

27

MFO ( x 1000 kL)

379

317

94

GAS (GBTU)

53

77

77

84

83

78

68

51

47

44

LNG (GBTU)

34

34

34

34

34

36

41

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 6.152 9.746 9.006 8.363 10.139

Batubara (kTON)

4.007

9.761

12.255

14.795

16.425

147

Lampiran A1.5
Capacity Balance Gardu Induk Sistem Interkoneksi Sumatera

Capacity Balance GI Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)


2011 Peak Load (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo (MVA) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

150
MVA 30 30 42 % 30 30 20 62% 68% 75% 57% 30 30 65% 30 30 60 30 30 30 60 31% 10 20 30 29% 60 60 120 38% 50 43% 50 78,1 60 88,0 106,6 70% 78,2 51% 31,0 30% 120 87,9 49% 45 44%
Up60-10

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

TEG

JML

Sistem Aceh

GI ALUE/LANGSA

150/20 15,0 10 51% 10 72% 39% 43% 47% 50% 36% 18,2 18,5 19,9 30 21,9 23,7 25,6 27,4 30 30,1 39%

1x30

Total

32,1 42%

PLTD SEWA

2 19,4 65% 74% 55% 22,2 25,2 27,8


Up30-10

GI TULANG CUT 31,4 34,8 38,3 42,0 62%

150/20

3x10

Total

Up30-10

20

47,0 69%

51,0 60%

Up30-10

20

3 16,6 65% 62% 62% 38% 42% 46% 16,5 15,0 17,4 19,5 30 21,5 23,5

GI ALUE BATEE/IDI

150/20

1 x 30

Total

25,7 50%

28,7 56%

31,0 61%

GI LHOKSEUMAWE

150/20

2X30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


40,8 45% 40 47% 40 46% 51% 46% 51% 42,8 47,1 60 51,8 46,9 51,6 56,4 55% 61,4 60% 68,4 67% 73,8 72% 33,1 30 36% 30 57% 55% 38,0 44,0 41,7 47,5 62% 53,0 52% 30 58,8 58% 64,9 64% 73,1 72% 79,9 63% 23,4 20 35% 20 57% 30 28,2 34,0 38,0 64% 43,5 43%
Up60-10

150/20

Total

PLTD SEWA

GI BIREUN

150/20

2x30

150/20

Total

Up 60-30

30

PLTD SEWA

GI SIGU

150/20

1x10

150/20

1x20

Total

50

48,6 48%

54,1 53%

59,8 59%

67,6 66%

73,9 72%

PLTD SEWA

GI BANDA ACEH I/LAMBAROE

150/20

2x30

1x60

Total

30

102,2 57% 50 47%

117,8 66% 55 54%

103,8 58% 61 60% 30 29% 120

122,3 68% 65 64% 35 34%

124,8 70% 70 69% 50 49%

PLTD SEWA

ULEE KARENG

150/20

2X60

Total

LAM PISANG

150x20

2x60

Total

Capacity Balance GI Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) (lanjutan 1)

2011 Peak Load (MW) 19,8 39% 41% 42% 44% 46% 48% 60 20,7 21,7 22,6 23,5 24,4 25,3 50% (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo (MVA)

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020 Peak Load (MW) 26,2 51% Add Trafo (MVA)

No. MVA

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

TEG

JML

10

GI TAKENGON

150/20

2x30

Total

11 13,6 53% 26,8 53% 11,4 45% 47% 49% 51% 54% 30 12,0 12,6 13,1 13,7 63% 66% 69% 71% 49% 60 32,2 33,6 34,9 36,3 37,7 30 57% 60% 63% 67% 70% 39,1 51% 14,3 56% 30 14,4 15,3 16,1 17,0 17,8

GI SUBULUSSALAM

150/20 18,6 73% 40,4 53% 14,8 58% 19,5 76% 41,8 55% 15,4 60% 30

150/20

1x30

Total

12

GI MEULABOH

150/20

2x30

Total

13

GI KUTA CANE

150/20

1x30

Total

14 9,5 37% 54% 62% 73% 42% 30 13,7 15,8 18,5 21,2 30

GI JANTHO

15/20 24,1 47% 27,1 53% 32,0 63% 35,0 69%

Total

1x30

15 8,1 32% 14,3 28% 9,4 37% 6,4 25% 30 6,6 26% 38% 30 9,8 60 16,8 33% 10,1 40% 6,9 27% 13,4 53% 30 43% 47% 53% 30 10,9 12,0 13,4

GI PANTONLABU

150/20 14,7 58% 19,3 38% 10,5 41% 7,1 28% 14,7 58% 16,1 63% 21,9 43% 10,9 43% 7,4 28% 16,1 63% 17,5 69% 24,7 48% 11,2 44% 7,6 30% 17,5 69% 19,5 38% 29,0 57% 11,6 45% 7,8 31% 19,5 38% 30 30 21,1 41% 35,0 69% 12,0 47% 8,1 32% 21,1 41%

Total

1x30

16

GI KREUENG RAYA

150/20

2x30

Total

17

GI BLANG PIDIE

150/20

1x30

Total

18

GI TAPAK TUAN

150/20

1x30

Total

19

GI COT TRUENG

150/20

2x30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

151

Capacity Balance GI NAD (lanjutan 2)

152
2011 Peak Load (MW) 4,6 18% 11,8 46% 227 212 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07 1,06 1,04 278 381 431 489 549 612 681 1,03 298 429 461 526 581 640 701 53% 59% 65% 72% 30 13,4 15,0 16,6 18,3 20,6 40% 782 755 1,04 19% 20% 21% 22% 23% 30 30 4,9 5,1 5,4 5,6 5,8 (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load (MW) 6,1 24% 22,5 44% 850 833 1,02 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Add Trafo (MVA) MVA

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

TEG

JML

20

GI BLANG KJEREN

150/20

1x30

Total

21

GI SAMALANGA

150/20

1x30

Total

TOTAL PEAK GI

TOTAL PEAK SISTEM

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

DIVERSITY FACTOR

Capacity Balance GI Sumut


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

Sistem Sumut

1 ADD 97,77 64% ADD 64,72 63% 65% 60% 69% 74% 53% 61,67 65,99 70,61 75,55 80,84 60 86,49 57% 62% 66% 70% 74% 79% 83% 60 95,43 101,15 107,22 113,65 120,47 127,70

GLUGUR

60

60 135,36 88% 143,48 94%

Total

120,0

92,24

90%

GIS LISTRIK

150/20

60 92,55 60% 99,03 65%

150/20

60

Total

120

60,49

59%

TITI KUNING

150/20

60 GI 114,48 75% ADD 38,25 75% 40% 43% 46% 40,93 60 43,80 46,86 50,14 49% 53,65 53% 57,41 56% 61,43 60% 65,73 64% 65% 69% 73% 78% 99,86 105,86 112,21 118,94 126,08 62% 60 133,64 66% 141,66 69% 150,16 74%

150/20

60

150/20

60

Total

180

108,00

71%

PAYA PASIR

150/20

60

Total

60

35,75

70%

MABAR

150/20

87,5* GI BARU 42,43 83% 66% 70% 74% 33,68 35,71 37,85 40,12 79% 42,53 83% 45,08 88% 47,78 94% 50,65 99%

150/20

60*

150/20

60

Total

60,0

40,03

78%

KIM

150/20

60

150/20 81,05 53% 49% 52% 75,62 80,16

60 84,97 56% 90,06 59% 95,47 62% 101,19 66% 107,27 70% 113,70 74%

150/20

60

Total

180

76,47

50%

7 UP 19,33 19% UP & ADD 14,68 29% UAI 60 45,85 45% 39,13 38% 40 21,22 42% UAI 20% 30 20,73

LABUHAN

150/20

31,5

150/20

60 21,56 21% 22,42 22% 23,32 23% 24,25 23% 25,22 24% 26,23 25% 27,28 26%

Total

91,5

19,17

25%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


16,50 32% 17,49 34% 18,53 36% 41,87 41% 44,80 44% 47,93 47%

LAMHOTMA

150/20

20 19,65 39% 20,83 41% 22,07 43% 23,40 46%

Total

20

13,82

81%

153

DENAI

150/20

60 51,29 50% 54,88 54% 58,72 58% 62,83 62%

Total

60

42,85

42%

Capacity Balance GI Sumut (lanjutan 1)

154
2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA) ADD UAI 48,53 48% 37% 39% 41% 48% 47% 49% 60 37,85 39,91 42,30 44,84 47,53 50,38 53,40 52% 58,81 55% UAI 81,98 48% 60,00 GI 92,26 64% 64% 68% 73% 78% 97,86 104,71 112,04 119,88 128.28 84% 137.26 67% 60 146,86 72% 157,14 77% 42% 45% 48% 51% 54% 60 54,88 57,97 81,44 85,13 89,04 73,18 57% 77,57 60% 82,22 64% UAI 60 89,51 59% 55% 58% 61% 65% 83,42 88,38 93,38 98,80 104,53 68% 110,59 72% 117,00 76% 123,79 81% 25,14 49% 41% 44% 46% 20,98 22,24 23,57 24,98 49% 26,48 52% 28,07 55% 29,76 58% 31,54 62% ADD 32,37 31% UAI 60 40,11 39% 13% 13,12 35,08 34% 37,18 36% 39,42 39% 41,78 41% 44,29 43% 46,94 46% 49,76 49% 33% 35% 60 34,09 35,90 37,80 37% 39,80 39% 41,91 41% 44,13 43% 48,47 45% 48,93 47% UAI 55,31 36% 37% 60 57,18 61,18 40% 65,46 43% 70,05 46% 74,95 49% 80,20 52% 85,81 56% 91,82 60% 44,82 44% 47,06 46% 43,06 42% 45,21 44% 47,47 47% 49,84 49% 52,34 51% 54,95 54% 57,70 57%

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

Sistem Sumut

10

Namurambe

150/20

60

Total

60

45,78

90%

11

SEI ROTAN

150/20

60

150/20

31,5

Total

91,5

58,47

75%

12

PAYA GELI

120/20

60

150/20

60

150/20

60

Total

180

91,83

60%

13

BINJAI

150/20

60

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

150/20

60

Total

120

84,60

55%

14

P. BRANDAN

150/20

30

150/20

30

Total

60

29,37

58%

15

PERBAUNGAN

150/20

31,5

150/20

30

Total

61,5

30,74

59%

16

T. MORAWA

150/20

60

Total

60

37,84

37%

17

TEBING TINGGI

150/20

60

150/20

60

TOTAL

120

51,69

51%

18

KUALA TANJUNG

150/20

60

150/20

60

Total

120

50,30

49%

Capacity Balance GI Sumut (lanjutan 2)


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

Sistem Sumut

19 UAI 74,47 58% UP 20 11,98 47% 49% 52% 54% 57% 60% 12,58 13,21 13,87 14,56 15,29 16,05 63% 61% 52% 55% 57% 60% 63% 60 77,82 66,93 69,94 73,09 76,37 79,81

PEMATANG SIANTAR

150/20

30

150/20

60 83,40 65% 87,16 68%

Total

90

71,26

93%

20

GUNUNG PARA

150/20

10 16,85 66% 17,70 69%

Total

10

11,41

45%

21 UP 62,56 49% ADD 12,74 30% 31% 32% 33% 30 13,12 13,51 13,92 14,34 34% 14,77 35% 51% 54% 56% 59% 30 65,69 68,98 72,43 76,05 79,85 62%

KISARAN

150/20

60

150/20

31,5 83,84 65% 88,03 68% 92,44 72%

150/20

30,0

Total

122

59,58

58%

22

AEK KANOPAN

150/20

20 15,21 36% 15,67 37% 16,14 38%

Total

20

16,78

99%

23 UP 30 45,63 45% ADD 20,02 79% 83% 44% 21,22 22,50 30 23,85 47% UAI 47% 50% 53% 48,36 51,26 54,34 UAI 28,5 UP

R. PRAPAT

150/20

30

150/20

0 57,60 56% 61,06 60% 64,72 63% 68,60 67% 72,72 71%

150/20

31,5

Total

61,5

51,32

66%

24

KOTA PINANG

150/20

30 25,28 50% 26,79 53% 28,40 56% 30,10 59% 31,91 63%

Total

30

18,89

74%

25 UP 37,28 49% UAI 17,65 42% UP 20 2,32 9% 2,41 9% 2,51 10% 37% 30 15,53 16,31 38% 52% 40 39,52 41,89 55%

BRASTAGI

150/20

30

150/20

20 44,40 58% 47,06 62% 49,89 65% 52,88 69% 56,05 73% 59,42 78%

Total

50

35,17

83%

26

SIDIKALANG

150/20

20 17,12 40% 17,98 42% 18,88 44% 19,82 47% 20,81 49% 21,85 51%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


2,61 10% 2,71 11%

Total

20

16,81

99%

27

TELE

150/20

10 2,82 11% 2,94 12% 3,05 12% 3,18 12%

155

Total

10

3,67

14%

Capacity Balance GI Sumut (lanjutan 3)


2012 Add Trafo (MVA) 14,48 43% 44% 45% 47% 48% 49% 51% 52% 20 14,91 15,36 15,82 16,30 16,79 17,29 17,81 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 18,34 54% 2020 Add Trafo (MVA)

156
14,91 35% 36% 37% 38% 39% 41% 42% 30 15,36 15,82 16,29 16,78 17,28 17,80 18,34 43% 18,89 44% 28,51 34% 35% 37% 39% 41% 43% 60 29,93 31,43 33,00 34,65 36,38 38,20 45% 40,11 47% 42,12 50% 30 48% UP 20 8,85 26% 27% 29% 30% 32% 9,29 9,76 10,25 10,76 10 ADD 11,30 33% 11,86 35% 12,46 37% 13,08 38% 30% 31% 32% 33% 34% 37,69 23,71 24,42 25,15 25,91 26,86 27,49 35% 28,31 36% 29,16 37 17,0 67% 71% 76% 18,19 19,46 20,83 82% 22,28 44% 30 23,84 47% 25,51 50% 27,30 54% 15,10 30% 1,50 18% 18% 18% 1,53 1,56 1,59 19% 31% 33% 16,01 16,97 17,98 35% 1,62 19% 19,06 37% 1,66 19% 20,21 40% 1,69 20% 21,42 42% 1,72 20% 22,70 45% 1,76 20% 3,00 6% 6% 3,12 3,24 6% 3,37 7% 3,51 7% 3,65 7% 3,80 7% 3,95 8%

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

28

PORSEA

150/20

20

Total

20

14,06

82%

29

TARUTUNG

150/20

10

150/20

10

Total

20

14,47

85%

30

SIBOLGA

150/20

30

150/20

10

Total

40

27,15

80%

31

P. SIDIMPUN

150/20

30

150/20

31,5

Total

62

36,59

47%

32

GUNUNG TUA

150/20

10

Total

10

8,43

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

33%

33

TANJUNG PURA

150/20

30

150/20

Total

30

34

PANYAMBUNGAN

150/20

30

150/20

30

Total

60

35

PARLILITAN

150/20

10

Total

10

36

SALAK

150/20

60

(Untuk menyerap enegri PLTM)

Total

60

Capacity Balance GI Sumut (lanjutan 4)


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo (MVA) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

37

NEGERI DOLOK

150/20

60

(Untuk menyerap energi PLTM) 2,00 4% 4% 4% 4% 4% 5% 2,06 2,12 2,19 2,25 2,32 2,39 5% 2,46 5%

Total

60

38

KUALA NAMU

150/20

30

150/20 55,31 108% 112% 116% 121% 125% 57,25 59,30 61,48 63,79

30 66,24 130% 68,83 135% 71,58 140%

Total

60

39 1,50 6% 8% 8% 8% 9% 2,00 2,08 2,16 2,25 2,34 9%

PANGURUNAN

150/20

30 2,43 10% 2,53 10% 2,63 10%

Total

30

40

LABUHAN BILIK

150/20

60

COD 2012 8,8 17% 1,217 78 44,0 34,0 1.139,1 1.200 1.014 1.001 1.012 1.271 1.317 1.194,0 1.255,1 1.325,7 1.386 1.012 34,0 34,0 34,0 44,0 44,0 44,0 78 78 78 1,272 1,333 1,404 18% 19% 21% 22% 1,478 78 44,0 34,0 1.400,4 1.463 1.011 9,33 9,89 10,48 11,11 11,78 23% 1,558 78 44,0 34,0 1.479,6 1.540 1.012 12,48 24% 1,642 78 44,0 34,0 1.563,5 1.624 1.011 13,23 26% 1,730 78 44,0 34,0 1.652,4 1.711 1.011 14,03 28% 1,825 78 44,0 34,0 1.746,5 1.795 1.017

Total

60

TOTAL PEAK GI

2,399

1,217

Peak Load Big Customer (4)

78

- PT Grouth Sumatera

15/20

44,0

- PT Gunung Gahapi

150/20

34,0

TOTAL PEAK GI umum

1.094,3

TOTAL PEAK SISTEM INT

1.159

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

DIVERSITY FACTOR

1.012

157

Capacity Baalance GI Sumbar


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

158
29,7 44% 48% 53% 59% 51% 56% 62% 30 32,8 36,4 40,2 34,8 38,3 42,1 46,2 68% 50,5 42% 60 UP 30-60 52,8 52% 57% 63% 70% 51% 56% 30 58,3 64,5 71,1 52,5 5,74 62,9 62% 68,8 67% 75,1 74% 40,7 57% 63% 69% 76% 51% 44,8 49,3 54,3 36,3 40,1 56% 43,8 61% 47,8 67% 52,0 73% 82,0 64% 64% 64% 64% 64% 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0 64% 82,0 64% 82,0 64% 82,0 64% 19,3 45% 11,1 44% 9,3 36% 12,2 48% 53% 13,5 15,1 59% 40% 45% 10,3 11,4 49% 55% 12,5 14,0 15,7 62% 12,7 50% 16,7 66% 50% 55% 61% 21,3 23,6 26,1 29,2 69% 17,9 70% 14,3 56% 18,8 74% 32,2 76% 20,0 39% 15,8 62% 20,9 41% 30 30 35,3 52% 22,3 44% 17,5 69% 23,0 45% 30 38,7 57% 24,8 49% 19,3 38% 25,4 50% 30 42,4 62% 27,6 54% 21,2 42% 27,9 55%

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

CABANG PADANG

PIP

150/20

20

150/20

30

Total

50

28,3

67%

PAUH LIMO

150/20

60

150/20

30

Total

90

50,5

66%

SIMPANG HARU

150/20

42

150/20

42

Total

84

39,0

55%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

INDARUNG

Total

150

82,0

64%

LUBUK ALUNG

150/20

20

150/20

30

Total

50

18,4

43%

BUNGUS(NEW)

150/20

30

10,5

41%

PARIAMAN(NEW)

150/20

30

8,8

34%

KAMBANG(NEW)

150/20

30

11,6

45%

Capacity Balance GI Sumbar (lanjutan 1)


2012 Add Trafo (MVA) 52,9 52% 16,9 66% 73% 40% 44% 49% 54% 59% 18,6 20,5 30 22,6 25,2 27,6 30,3 57% 62% 58,0 63,5 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) 69,3 68% 33,0 65% Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 75,4 49% 36,0 71% 2020 Add Trafo (MVA) 60

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

GI/GIS KOTA PADANG(NEW)

150/20

120

10

GI SUNGAI PENUH(NEW)

150/20

30

CABANG BUKIT TINGGI 10,7 63% 70% 31% 35% 39% 43% 11,9 13,2 30 14,7 16,5 18,3 20,2 48% 22,3 52% 24,5 58%

11

MANINJAU

150/20

20

10,2

60%

12 UP 20 -60 25,3 33% NEW 24,0 47% 52% 58% 64% 30 26,5 29,4 32,5 36,3 71% 40,1 39% 37% 41% 45% 51% 40 28,1 31,3 34,7 39,1 43,3 57%

PADANG LUAR

150/20

20

150/20

30

Total

50

27,8

47,8 62%

52,6 69%

57,8 57%

30

65%

13

SIMPANG EMPAT

150/20

30

22,9

60

44,0 43%

48,2 47%

52,7 52%

90%

14 9,9 29% 32% 36% 40% 30 11,0 12,2 13,6

BATANG ASAM

0,4/20

20 15,3 45% 16,9 50% 18,7 55% 20,6 61% 22,6 66%

15

GI PADANG PANJANG(NEW)

150/20

10

5,6

65%

CABANG SOLOK

16 UP 20-60 32,2 47% 13,8 81% 36% 15,4 30 17,1 40% 52% 57% 40 35,4 39,0

SOLOK

150/20

20

150/20

20

Total

40

30,8

42,9 63% 19,0 45%

47,8 70% 21,4 50%

52,4 56% 23,7 56%

30

57,3 61% 26,1 61%

62,5 67 28,8 67%

68,0 73% 31,6 73%

91%

17

SALAK

150/20

20

13,1

77%

18

KILIRANJAO

150/20

20

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


23,1 91% 13,6 53% 15,4 61% 17,5 69% 20,1 39%

150/20

10 30 22,7 44% 25,5 50% 28,7 56% 32,1 63%

Total

30

21,5

84%

159

Capacity Balance GI Sumbar (lanjutan 2)


2012 Add Trafo (MVA) 12,6 50% 55% 61% 68% 75% 41% 45% 14,0 15,5 17,3 19,1 21,0 30 23,0 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 25,1 49% 2020 Add Trafo (MVA)

160
25,5 50% 9,4 37% 447,8 434,8 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 472,7 515,4 561,5 611,5 666,0 486,9 530,8 578,4 629,8 686,0 41% 45% 50% 55% 61% 66% 746,1 724,4 1,03 10,4 11,5 12,6 14,1 15,5 16,9 55% 61% 67% 50% 55% 60% 30 28,1 31,0 34,1 38,1 30 41,8 45,7 49,9 65% 18,5 72% 810,4 786,8 1,03 54,3 71% 20,1 39% 870,9 853,3 1,03 30

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

19

GI S.RUMBAI/GNG. MEDAN(NEW)

150/20

30

CABANG PAYAKUMBUH

20

PAYAKUMBUH

150/20

30

20,0

79%

21

BATU SANGKAR

150/20

30

13,4

53%

TOTAL PEAK GI

414,3

TOTAL PEAK SISTEM

402,3

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

DIVERSITY FACTOR

1,03

Capacity Balance GI RIAU


2012 Add Trafo (MVA) 15,58 46% 30 32,13 63% 66% 64% 68% 38% Trf Baru 42% 47% 33,54 32,47 34,64 39,04 43,30 47,93 Trf Baru 60 Trf Baru 46% 43% 44% 48% 51% 55% 20 15,68 14,64 15,06 16,37 17,51 18,69 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) 19,99 59% 63,18 70% Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 21,61 64% 59,61 78% 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

KOTA PANJANG

150/20

20

Total

20

14,55

86%

BANGKINANG

150/20

30

38,92

76%

GARUDA SAKTI

150/20

50

150/20 126,51 Alih bbn Bangkinang 78% Up Rating 56% 52% 46% 34% 31% Alih bbn Pasir Putih Alih bbn Perawang 30 90,17 83,55 73,77 54,30 50,48

50 52,48 32% 54,62 34% 57,36 36%

150/20

60

Total

160

109,21

80%

4 112,71 74% Trf Baru 74% Alih bbn Kit Tenayan 45% 45% 55% Alih bbn GIS KOTA 60 113,53 80,63 80,19 84,58

TELUK LAMBU

150/20

60 86,95 57% 88,34 58% 92,06 60% 97,09 63%

150/20

60

Total

120

74,57

73%

PLTD SEWA

40,00

5 61,81 81% Trf Baru 75% 71% 60% Alih bbn Kandis 60 52,72 54,38 45,90

DURI

150/20

30 50,55 66% 54,79 54% 60 Up Rating 59,26 58% 64,24 63% 70,35 69%

150/20

30

Total

60

28,04

55%

PLTD SEWA

30,00

6 44,90 59% Up Rating 47% 45% 14,46 57% 13,63 53% Alih bbn KID 30 36,30 34,07

DUMAI

150/19

30 35,25 46% 38,51 50% 41,42 54% 44,44 58% 47,80 62% 51,94 68%

30

Total

60

41,16

81%

7 20 14,23 56% Up Rating

BANGAN BATU

150/20

10 14,15 55% 15,52 61% 16,75 66% 18,04 71% 19,48 76% 21,25 42% 30 Trf Baru

Total

10

13,7

52%

8 24,87 59% 61% 36,00 71% 60 GI Baru 25,97

TELUK KUANTAN

150/20

10 25,14 59% 34,23 67% 44,82 44% 14,01 55% 30 GI Baru 12,96 51% 120 GI Baru 26,82 63% 35,87 70% 46,55 46% 13,21 52% 30,22 71% 64,97 42% 51,06 50% 14,22 56% 120 Trf Baru 33,52 56% 77,21 50% 55,13 54% 15,07 59% 20 Up Rating 37,11 62% 83,93 55% 59,40 58% 15,93 62% 41,17 69% 91,45 60% 64,17 63% 16,89 66% 46,15 78% 100,69 66% 70,04 69% 18,08 71%

150/20

30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

40

22,39

53%

PASIR PUTIH

150/20

161

10

NEW GARUDA SAKTI

150/20

11

PASIR PANGARAYAN

150/20

Capacity Balance GI RIAU (lanjutan)


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

162
24,39 48% GI Baru 45% 47% 51% 54% 58% 60 22,96 23,74 25,84 27,66 29,50 31,59 62% 34,13 67% 30 14,83 58% 9,98 39% 9,59 38% 30,00 10,36 41% 15,63 61% 30 11,53 45% 14,35 56% 10,57 41% 8,46 33% 22,2 44% 50 431,00 1,00 1,00 485,57 530,82 1,00 432,75 200 486,16 270 532,23 GI Baru 210 60 22,8 45% 573,26 576,12 1,00 30 30 GI Baru 30 GI Baru 15,88 62% 11,38 45% 9,08 36% 24,81 49% 627,26 623,68 1,00 180 49% 12,42 GI Baru 77% 19,53 45% 49% 24,41 48% 13,16 52% 17,30 68% 12,06 47% 9,59 38% 26,53 52% 67,58 672,29 1,00 110 30,00 GI Baru 11,52 12,61 GI Baru 10,00 39% 11,32 44% 14,40 56% GI Baru 54% 30 13,69 GI Baru 49% 30 12,50 40% 43% 10,31 10,90 43% 46% 10,92 11,73 12,58 49% 11,51 45% 13,77 54% 30,52 60% 13,92 55% 18,81 74% 12,76 50% 10,11 40% 28,32 56% 726,16 723,22 1,00 0 64% 69% 74% 16,25 17,50 18,81 GI Baru 30 9,61 38% 9,43 37% GI Baru 30 GI Baru 20,25 40% 13,52 53% 12,18 48% 15,07 59% 35,10 69% 14,76 58% 20,49 40% 13,51 53% 10,69 42% 30,30 59% 782,50 779,98 1,00 60 30 GI Baru 30 GI Baru 22,03 43% 14,67 58% 13,02 51% 16,65 65% 40,35 79% 15,80 62% 22,56 44% 14,47 57% 11,42 45% 32,75 64% 852,01 849,95 1,00 30

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

12

RENGAT

160/20

Total

13

TEMBILAHAN

150/20

Total

14

BANGAN SIAPI-API

150/20

15

PANGKALAN KERINCI

150/20

16

GI SIAK SRI INDARA PURA

150/20

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

17

KIT TENAYAN

150/20

18

PERAWANG

150/20

19

KID DUMAI

150/20

20

GI KANDIS

150/20

21

GI LIPAT KAIN

150/20

22

GI/GIS KOTA PEKANBARU

150/20

TOTAL PEAK GI

382,01

TOTAL PEAK SISTEM

381,49

DIVERSITY FACTOR

1,00

Capacity Balance GI S2JB


2012 Add Trafo (MVA) Uprate 16-30 MVA 70/20 SKI P3B 15 49% 47% 53% 60% 64% 49% 53% 31,53 30 36,18 15 40,74 45,86 49,12 34,72 37,57 Tambah 30 MVA 70/20 40,86 53% 44,22 58% Uprate trafo 16-30 MVA (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

Bukit SiGUNTANG

70/12

15

PTM 2012

70/20

15

Total

30

28,28

74%

TALANG RATU

70/12

10

PTM di 2013/2014

70/12

70/20 18,88 74% Uprate 16-30 36,66 96% 85% 52% 59% 63% 32,38 19,75 22,38 24,13 11,32 30% 87% 100% 65% 70% 42% 22,26 25,58 16,54 17,88 10,66

10 11,75 46% 13,06 51% 14,38 56%

70/20

10

Total

30

21,59

85%

SEDUDUK PUTIH

70/12

15

70/20

30 12,32 32% 13,49 35% 14,69 38%

Total

45

32,67

85%

4 29,30 98% 46% 49% 53% 54% 13,58 14,64 15,75 16,10

SUNGAI JUARO

70/12

15 16,68 56% 17,15 58% 17,69 59% 18,11 61%

70/20

20

Total

35

26,64

90%

5 33,90 89% 65% 54% 65% 24,84 20,65 24,78

BOOM BARU 70 kV

70/12

15 27,53 108% 7,39 29% 8,97 35% 10,80 42% 12,69 33%

70/20

30

Relokasi Trafo

Total

45

30,21

79%

6 Uprate trafo III 15-30 Uprate trafo IV 10-30 28,76 48% 36% 42% 35 21,55 25,27 29,11 49%

BUNGARAN

70/12

PTM 2012/2013

70/12

70/20

15

70/20

10

Total

35

33,44

31,15 52%

34,10 57%

37,05 62%

40,56 68%

44,07 74

112%

7 15,06 44% 49% 16,53 17,81 52%

SUNGAI KEDUKAN

70/12

10 19,20 56% 20,06 59% 21,16 62% 22,24 65% 23,44 69% 24,63 72%

- Trafo II 16 MVA

70/20

15

(Step up : Pertamina)

20,22

59%

KERAMASAN

70/12

15

70/12 45,16 89% 51,58 51%

10 60 57,87 57% 64,94 64% 69,50 68% 75,47 49% 60 81,56 53% 88,57 58% 95,73 63%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

150/20

60

Total

25

53,76

84%

163

Capacity Balance GI S2JB (lanjutan 1)


2012 Add Trafo (MVA) UAI P3BS 40,73 40% 36% 43% 59% 64% 70% 54% 60% 60 45,64 54,64 75,33 81,24 89,15 97,27 60 106,74 116,46 65% (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load (MW) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Add Trafo (MVA)

164
13,22 35% 39,05 20,34 76% 83% 91% 51% 54% 57% 60% 22,61 24,72 27,05 30 28,27 29,97 31,63 46,10 61,10 67,90 30 62,41 68,31 74,39 39% 43% 47% 49% 53% 56% 14,86 16,37 18,04 18,92 20,14 2134 22,72 59% 81,42 33,55 64% 24,07 63% 88,67 35,43 67% 53,96 53% 59% 43% 49% 52% 57% 60 60,46 44,09 50,13 53,47 58,15 62,96 62% 68,60 67% 74,27 49% 28,87 32% 37% 41% 45% 48% 60 32,73 36,41 40,51 42,87 46,07 52% 49,26 55% 52,93 59% 56,60 63% 69,99 69% Uprate 30-60 30 76% Uprate 10->30 MVA 20,63 49% Uprate 10-30 20,85 55% 61% 56% 20 23,31 21,34 23,56 62% 24,52 64% 25,98 68% 38% 28% 20 16,07 12,10 14,36 34% 15,35 36% 16,87 40% 18,35 43% Uprate 15-30 27,36 54% 15 28,99 57% 30,54 60% 20,04 47% 21,68 51% 47% 60% 51% 77,74 30 72,05 60 92,39 90,87 85,13 48% 89,87 59% 94,43 62% 99,76 65% 104,88 60% 51% 56% 62% 64% 78,27 60 85,85 94,18 98,29 104,16 68% 109,82 54% 60 116,37 57% 122,70 60%

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

TALANG KELAPA

150/20

60

49,06

60

96%

10

BORANG

150/20

15

SKI P3BS

(Beban di tarik ke PLTMG Sako)

150/20

30

Total

45

12,12

32%

11

MARIANA

150/20

2x16

34,80

150/20

32

16,86

62%

12

SIMPANG TIGA

150/20 60

150/20

60

Total

62

49,43

97%

13

PRABUMULIH

150/20

15

150/20

30

Total

30

26,20

69%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

14

BUKIT ASAM

150/20

60

150/20

60

Total

120

64,43

63%

15

BATU RAJA

150/20

30

Uprate 30 - >60

150/20

30

Total

60

60,23

79%

16

LAHAT

150/20

10

150/20

20

Total

30

18,88

74%

17

PAGAR ALAM

150/20

10

150/20

15

Total

25

19,19

90%

Capacity Balance GI S2JB (lanjutan 2)


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo (MVA) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

18

LUBUK LINGGAU

150/20

30

Uprate 20->60 40 54,85 72% 74% 48% 55% 58% 53% 57% 56,37 61,55 60 69,59 74,35 67,72 73,26 79,74 63% 86,19 68

20

49,60

50

65%

19 27,63 54% 43% 40% 47% 50% 55% 21,91 20,22 23,72 25,54 28,19

BETUNG

150/20

2x30 30,84 60% 34,01 44% 30 37,19 49%

150/20

60

24,79

49%

20 30,90 61% Relokasi 30 MVA ex Baturaja 30,90 40% 45% 50% 55% 45% 60 34,72 38,72 42,17 34,22 33,04 43% 68% 50% 55% 52% 55% 34,72 38,27 30 42,17 39,80 42,37

GUMAWANG

150/20

2x30 44,89 59% 47,79 62% 50,62 66%

150/20

60

28,32

56%

21

GUNUNG MEGANG

150/20

30

28,32

33,95 44%

35,56 46%

37,11 49%

111%

22

GI KENTEN

150/20

60

150/20 46,27 45% 12,59 25% 12,69 50% 13,81 54% 27% 30% 13,85 15,23 51% 58% 52,42 59,39

60 64,02 63% 16,75 33% 15,01 59% 70,07 69% 18,43 36% 16,32 64% 76,31 50% 20,27 40% 17,63 69% 60 83,52 55% 22,30 44% 19,04 37% 30 90,96 59% 24,53 48% 20,56 40%

120

23

JAKABARING/KEDUKAN EXT

150/20

60

24

KAYU AGUNG

150/20

30

25

TANJUNG API-API

150/20

30

150/20 16,05 31% 34% 36% 15,00 59% 17,17 18,38

30 19,66 39% 15,75 62% dari GI Baturaja 9,83 39% 10,52 41% 11,26 44% 13,05 51% 12,04 47% 13,97 55% 12,89 51% 14,94 59% 13,79 54% 15,99 63% 21,04 41% 16,54 65% 22,51 44% 17,36 34% 30 24,09 47% 18,23 36% 25,77 51% 19,14 38% 27,58 54% 20,10 39%

Total

60

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

26

SUNGAI LILIN

150/20

30

27

MUARA DUA

150/20

30

28

MUARA RUPIT

150/20

30

165

Capacity Balance GI S2JB (lanjutan 3)


2012 Add Trafo (MVA) 9,8 38% 12,7 50% 55,9 54,8% masuk di 2016 13,8 46% 10,0 39% 85 745,91 57,28 697,15 1,07 1,07 1,07 1,08 1,07 767,43 843,40 930,54 998 50,49 50,96 55,27 57,12 818,47 904,08 1.008,61 1.071,46 1.144,86 55 1.070 1,07 1.632 460 1.907 375 2.087 180 2.147 60 2.207 60 2.447 55% 240 14,0 49% 14,7 15,6 52% 15,9 62% 2.642 1.228,64 55 1.147 1,07 195 16,6 55% 17,5 69% 2.702 1.325,28 58 1.238 1,07 60 17,6 59% 19,1 38% 2.942 1.422,62 57 1.335 1,07 240 30 59,6% 60,8 53% 56% 59% 63% 13,5 14.3 15.1 16.1 17.0 67% 66,5 65,2% 41% 44% 47% 50% 54% 58% 10,5 11,2 12,0 12,8 13,7 14,7 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load (MW) 15,7 31% 18.0 35% 72,4 47,3% 60 30 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Add Trafo (MVA) 30

166

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

29

SEKAYU

150/20

30

30

TEBING TINGGI

150/20

30

31

GIS KOTA I

150/20

60

60

120

32

MARTAPURA

150/20

30

33

PENDOPO

150/20

30

Total Kap. Terpasang GI

MVA

1.082

TOTAL PEAK GI

MW

694,23

Persentase Pembebanan

75,48

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PEAK SISTEM INT. SUMSEL

MW

627,00

Diversity Factor

1,11

Capacity Balance GI S2JB (lanjutan 4)


2012 Add Trafo (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo (MVA) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

SUKAMERINDU

70/20

15

70/2

30

70/20 74,87 98% 38% 44% 32% 34% 39% 41% 28,81 33,39 24,65 26,09 29,69 31,42

30 33,82 44% 36,40 48%

Total

75

71,10

93%

PEKALONGAN

70/20

70/20 23,27 91% 48% 4,33 34% 36% 37% 39% 4,54 4,77 5,01 5,26 41% 55% 56% 57% 64% 32% mundur ke 2012 18,90 74% 12,10 0% 0% 0% 47% 40% 42% 45% 48% 12,71 50% 20,17 30 21,52 22,97 24,52 17,56 34% 13,35 52% 4,12 24,40 30 27,93 28,69 29,17 32,45

10 32,99 65% 5,52 43% 34,24 67% 5,80 45% 35,54 70% 6,09 48%

150/20

30

Total

15

19,95

78%

TES

70/2

3,92

15

31%

USULAN GI BARU 150/20 kV

MANNA/MASSAT

150/20

30

18,67 37% 14,01 55%

19,85 39% 14,71 58%

21,12 41% 15,45 61%

0%

Muko-Muko

150/20

30

Ditarik dari argamakmur

0%

3 54,24 53% 60% 61,66 65,51 64% 10,92 0% 0% 0% 43%

Sukamerindu 2 / Pulau Baai

150/20

60 69,20 68% 11,53 45% 77,26 50% 12,88 50% GI Bin Tuhan Masuk 8,62 34% 150 121,16 95,03 108,67 1,11 131,94 47,04 117,18 1,13 30 330 330 149,04 53,14 132,61 1,12 360 169,63 55,43 152,87 1,11 30 360 178,22 58,24 161,16 1,11 450 188,45 49,27 170,91 1,10 90 9,29 36% 450 197,83 51,72 180,04 1,10 10,00 39% 450 210,32 54,99 191,35 1,10 10,77 42% 450 223,67 58,48 203,05 1,10 60 81,61 53% 13,60 53% 87,34 57% 14,56 57% 93,49 61% 15,58 61%

150/2

60

Total

120

GI Aerga Makmur

150/20

30

GI Bin Tuihan

150/20

30

Total Kap. Terpasang GI

MVA

120

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total Kap. Terpasang Pembangkit

MW

TOTAL PEAK GI

MW

94,97

Prosentase Pembebanan

93,11

PEAK SISTEM BENGKULU

MW

85,92

167

Diversity Factor

1,11

Capacity Balance GI S2JB (lanjutan 5)

168
2012 Peak Load (MW)
UAI P3BS 51,74 51% UAI P3BS 86,57 57% 51,22 100% 49,25 48% 62,04 61% 30,95 40% 30,76 40% 12,04 47% 32,68 43% 32,22 42% 12,38 49% 65,12 64% UAI P3BS 60 33,29 44% 27,56 36% 27,88 36% dimundur ke 2013 10,28 40% 0% 13,63 53% 0 90 295,1 52,61 269,67 1,09 660 30 0 660 295,1 55,72 285,45 1,10 59,4 304 1,10 57,65 322,34 1,09 53,18 359,50 1,09 53,24 383,51 1,10 52,14 413,90 1,09 0 660 0 720 15,31 60,30 870 15,90 62,36 930 16,52 64,78 1.020 30 dimundur ke 2014 11,33 44% 11,65 46% 12,86 50% 13,36 26% 30 13,74 27% 29,21 38% 29,10 38% UAI P3BS 60 24,82 32% 60 55,96 55% 58,75 58% 30,48 40% 22,87 30% 0% 60 95,78% 63% 104,66 68% 111,85 73% 120,17 79% 128,42 63% 60 138,70 68% 69,15 45% 34,99 46% 34,10 45% 60 149,80 73% 73,42 48% 37,46 37% 36,10 47% 30 166,50 65% 77,04 50% 39,55 39% 37,81 49% 60 60 46,92 46% 54,10 53% 58,17 57% 62,84 62% 67,51 66% 73,27 48% 60 79,48 52% 85,33 56%

No Add Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak

Gardu Induk

Kapasitas

2011

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019 Add Trafo (MVA)

2020 Peak Load (MW) Add Trafo (MVA)

Trafo

MVA

Peak

Add

MVA

Load (MW)

Trafo (MVA)

Jambi (AUR DURI)

150/20

Total

30 30 60

45,67 90%

Payo Selincah

150/20 150/20 Total

60 60 120

76,54 75%

Muara Bungo

150/20

30 30 60

45,75% 90%

Bangko

150/20

30

27,22 107%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


0% 0% 540 242,9 52,91 220,76 1,10 48,62 236,58 1,10 260,3 630 0% 2.222 1.109,9 1.026,6 1,08 2.867 1.210,7 1.121,2 1,08 3.077 1.348,2 1.245,7 1,08 3.167 1.490,8 1.368,9 1,09 3.227 1.582,7 1.462,6 1,08 3.617 1.686,1 1.563,3 1,08 3.962 1.820 1.687 1,08 4.082 1.956 1.813 1,08

GI. Muara Bulian

150/20

30

19,41 76%

Usulan GI Baru 160/20 KV GI Sabak

150/20

30

0%

GI Sarolangun

150/20

30

0%

GI Kuala Tungkal

150/20

30

0%

Total Kap Terpasang GI

MVA

300

Total Peak GI

MW

214,6

Persentase Pembebanan Peak Sistem Jambi D iversity Factor

84,15 194,29 1,10

PLN WS2JB 4.412 2.098,4 1.952 1,07

Kapasitas terpasang GI Peak GI WS2JB Peak Sistem S2JB Diversity Factor

MVA MW MW

1.502 1.003,8 907,2 1,11

Capacity Balance GI Lampung


2012 Add Trafo (MVA) 60 51,0 41,88 82,1% 120 102,0 86,18 84,5% 120 102,0 49,06 48,1% 60 51,0 34,06 66,8% 60 51,0 26,67 52,3% 70 59,5 54,79 92,1% 60 51,0 34,37 67,4% 50 42,5 28,49 67,0% 50 42,5 41,30 97,2% 90 76,5 40,65 53,1% 90 76,5 48,86 63,9% 58,9% 45,07 *2) 76,5 90 74,1% 31,50 34,66 81,5% 90 76,5 49,00 64,1% 90 76,5 40,98 53,6% 42,5 42,5 50 50 73,0% 78,8% 37,23 40,21 51,0 51,0 60 60 90 76,5 42,98 56,2% 50 42,5 37,58 88,4% 90 76,5 49,66 64,9% 90 76,5 43,99 57,5% 96,3% 68,0% *2) 72,4% 59,08 63,56 67,71 59,5 93,5 93,5 70 110 110 56,3% 60,6% 43,4% 28,73 30,89 22,15 23,38 45,8% 110 93,5 71,49 76,5% 90 76,5 45,50 59,5% 90 76,5 39,88 52,1% 90 76,5 52,80 69,0% 90 76,5 46,26 60,5% *2) 51,0 51,0 51,0 51,0 60 60 60 60 71,6% 76,7% 81,4% 57,1% 36,53 39,10 41,49 43,66 51,0 51,0 51,0 76,5 60 60 60 90 90 76,5 45,86 59,9% 60 51,0 29,09 57,0% 110 93,5 75,31 80,6% 90 76,5 48,05 62,8% 90 76,5 42,54 55,6% 90 76,5 55,96 73,2% 90 76,5 49,00 54,1% 51,8% 55,7% 48,8% 39,1% 39,0% 52,87 56,86 49,79 39,91 39,74 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 120 120 120 120 120 84,7% 87,6% 75,9% 79,8% 65,8% 86,40 89,32 77,38 81,37 67,07 70,26 68,9% 120 102,0 40,87 40,1% 90 76,5 48,08 62,8% 60 51,0 30,57 59,9% 150 127,5 79,16 62,1% 90 76,5 50,62 66,2% 90 76,5 45,23 59,1% 90 76,5 59,15 77,3% 90 76,5 51,76 67,7% *2) 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 120 120 120 120 120 120 84,91% 80,5% 81,1% 80,6% 79,2% 77,0% 43,30 41,04 41,37 41,09 40,41 39,27 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 60 60 60 60 60 60 60 51,0 37,65 73,8% 120 102,0 73,56 72,1% 120 102,0 42,26 41,4% 90 76,5 50,36 65,8% 60 51,0 32,09 62,9% 150 127,5 83,13 65,2% 90 76,5 53,27 69,6% 90 76,5 48,00 62,7% 90 76,5 62,45 81,6% 90 76,5 54,62 71,4% (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo (MVA) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 60 51,0 35,43 69,5% 120 102,0 76,86 75,4% 120 102,0 43,74 42,9% 90 76,5 52,65 68,8% 60 51,0 33,61 65,9% 150 127,5 87,12 68,3% 90 76,5 55,92 73,1% 90 76,5 50,78 66,4% 120 102,0 65,75 64,5% 90 76,5 57,48 75,1% *3) 2020 Add Trafo (MVA)

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

TARAHAN

150/20

60

60

Terpasang

MW

(2x30)

51,0

Beban Puncak

MW

35,51

Pembebanan Trafo

69,6%

TELUK BETUNG

150/20

120

120

Terpasang

MW

(1x60)

102,0

Beban Puncak

MW

(1x60)

72,91

Pembebanan Trafo

71,5%

NATAR

150/20

60

60

Terpasang

MW

(2x30)

51,0

Beban Puncak

MW

40,78

Pembebanan Trafo

80,0%

SUTAMI

150/20

60

60

Terpasang

MW

(2x30)

51,0

Beban Puncak

MW

28,71

Pembebanan Trafo

56,3%

KALIANDA

150/20

30

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

Beban Puncak

MW

22,19

Pembebanan Trafo

87,0%

GI TENGINENENG

Total

70

70

Terpasang

MW

(2x20)

59,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

45,49

Pembebanan Trafo

76,5%

GI ADIJAYA

Total

30

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

Beban Puncak

MW

28,16

Pembebanan Trafo

110,4%

GI MENGGALA

Total

50

50

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

37,89

Pembebanan Trafo

89,2%

GI SRIBAWONO

Total

50

50

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

33,13

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pembebanan Trafo

77,9%

10

BUKIT KEMUNING

Total

30

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

Beban Puncak

MW

32,73

169

Pembebanan Trafo

128,3%

Capacity Balance GI Lampung (Lanjutan 1)


2012 Add Trafo (MVA) 80 68,0 68,20 *2) 90 76,5 44,95 58,8% 90 42,5 32,07 75,4% 60 51,0 23,39 45,9% 30 25,5 25,14 98,6% 30 25,5 8,37 32,8% 30 25,5 23,47 92,0% 25,5 10,69 41,9% 25,5 17,03 66,8% 20 17,0 8,49 49,9% 9,11 53,6% 17,0 20 17,0 9,76 57,4% 99,8% 54,0% 25,46 27,53 29,45 57,7% 30 25,5 11,36 44,5% 30 25,5 18,29 71,7% 20 17,0 10,36 61,0% 25,5 51,0 51,0 30 60 60 35,8% 38,9% 41,7% 9,12 9,91 10,63 25,5 25,5 25,5 30 30 30 30 25,5 11,30 44,3% 60 51,0 31,20 61,2% 30 25,5 11,96 46,9% 30 25,5 19,43 76,2% 20 17,0 10,91 64,2% 66,3% 79,2% 86,6% 86,4% 33,82 40,39 44,16 43,53 51,0 51,0 51,0 51,0 60 60 60 60 50,2% 71,9% 41,7% 46,8% 25,63 36,67 42,49 47,70 53,07 52,0% 60 51,0 34,51 67,7% 30 25,5 11,97 46,9% 60 51,0 32,96 64,6% 30 25,5 12,57 49,3% 30 25,5 20,58 80,7% 20 17,0 11,47 67,5% 51,0 51,0 102,0 102,0 102,2 60 60 120 120 120 43,9% *2) 45,9% 47,8% 49,5% 51,3% 33,56 35,13 36,58 37,90 39,23 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 90 90 90 90 90 90 76,5 40,58 53,0% 120 102,0 58,59 57,4% 60 51,0 38,20 74,9% 30 25,5 12,64 49,6% 60 51,0 34,74 68,1% 30 25,5 13,18 51,7% 30 25,5 21,74 86,2% 20 17,0 12,03 70,8% *2) 63,1% 53,6% 50,6% 53,2% 55,9% 58,7% 48,25 41,01 38,87 40,72 42,79 44,88 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 90 90 90 90 90 90 100,3 104,6 72,2% *2) 78,6% 67,7% 72,5% 77,3% 71,13 73,61 80,14 69,09 73,93 78,81 83,85 82,2% 90 76,5 47,04 61,5% 90 76,5 41,97 54,9% 120 102,0 64,37 63,1% 120 102,0 42,36 41,5% 30 25,5 13,34 52,3% 60 51,0 36,58 71,7% 30 25,5 13,81 54,2% 30 25,5 11,82 46,4% 20 17,0 12,61 74,2% 68,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 80 120 120 120 120 120 120 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo Peak Load Add Trafo 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 180 153,0 88,90 58,1% 90 76,5 49,20 64,3% 90 76,5 43,36 56,7% 120 102,0 70,29 68,9% 120 102,0 46,89 46,1% 30 25,5 14,04 55,0% 60 51,0 38,43 75,3% 30 25,5 14,45 56,7% 30 25,5 12,44 48,8% 20 17,0 13,19 77,6% 2020 Add Trafo (MVA)

170

No.

Gardu Induk

Kapasitas Trafo MVA

2011

Peak Load

MVA

(MW)

11

KOTABUMI

Total

40

80

Terpasang

MW

(2X20)

68,0

Beban Puncak

MW

51,95

Pembebanan Trafo

76,4

12

PAGELARAN

Total

50

50

Terpasang

MW

(1X20)

42,5

Beban Puncak

MW

(1X30)

44,92

Pembebanan Trafo

106,7%

13

GI METRO

Total

50

50

Terpasang

MW

(1X30)

42,5

Beban Puncak

MW

(1X20)

28,1

Pembebanan Trafo

67,8%

14

GI NEW TARAHAN

150/20

30

30

Terpasang

MW

(1X30)

25,5

Beban Puncak

MW

19,73

Pembebanan Trafo

77,4%

15

GI SUKARAME

150/20

30

30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Terpasang

MW

(1X30)

25,5

Beban Puncak

MW

21,19

Pembebanan Trafo

83,1%

16

GI BALAMBANGAN UMPU

150/20

30

30

Terpasang

MW

(1X30)

25,5

Beban Puncak

MW

6,74

Pembebanan Trafo

26,4%

17

GI SEPUTIH BANYAK

150/20

30

Terpasang

MW

25,5

Beban Puncak

MW

19,17

Pembebanan Trafo

75,2%

18

GI KOTA AGUNG

150/20

30

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

Pembebanan Trafo

19

GI LIWA

150/20

30

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

Pembebanan Trafo

20

GI ULU BELU

150/20

20

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

Pembebanan Trafo

Capacity Balance GI Lampung (Lanjutan 2)


2012 Add Trafo (MVA)
51,0 23,30 45,7% 25,5 12,91 50,6% 25,5 13,72 53,8% 25,5 16,84 66,1% 25,5 17,11 67,1% 30 25,5 18,04 70,7% 30 25,5 19,24 75,5% 30 25,5 18,80 73,7% 51,0 35,69 70,0% 25,5 17,82 69,9% 30 25,5 19,03 74,6% 30 25,5 15,95 62,5% 30 25,5 18,04 70,8% 30 25,5 13,58 53,2% 30 25,5 20,11 78,9% 30 25,5 20,46 80,2% 30 25,5 20,63 80,9% 60 51,0 37,44 73,4% 30 25,5 20,26 79,4% 30 25,5 14,25 55,9% 30 25,5 14,94 58,6% 2x30 60 51,0 24,55 48,1% 60 51,0 25,82 50,6% 60 51,0 27,09 53,1%

No Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW)
60 51,0 28,41 55,7% 30 25,5 15,64 61,3% 60 51,0 21,98 43,1% 60 51,0 21,71 42,6% 60 51,0 22,31 43,7% 60 51,0 21,52 42,2% 25,5 11,12 43,6% 25,5 11,12 43,6% 76,5 55,95 73,1% 3x30 90 76,5 56,79 74,2% 90 76,5 58,48 75,4% 90 76,5 52,00 76,4% 90 76,5 52,00 68,0% 51,0 7,22 14,2% 727 693 1,05 782 749 1,04 845 809 1,04 921 864 1,07 975 914 1,07 1x60 90 76,5 52,00 68,0% 60 51,0 7,97 15,6% 1.037 965 1,07 90 76,5 52,00 68,0% 60 51,0 9,51 18,6% 1.092 1.016 1,08 90 76,5 52,00 68,0% 60 51.0 9,51 18,6% 1.149 1.068 1,07

Gardu Induk Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak

Kapasitas

2011

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019 Add Trafo (MVA)

2020 Peak Load (MW)


60 51,0 29,73 58,3% 30 25,5 16,35 64,1% 60 51,0 23,05 45,2% 60 51,0 22,97 45,0% 60 51,0 23,90 46,9% 60 51,0 41,06 80,5% 60 51,0 22,79 44,7% 30 25,5 11,70 45,9% 90 76,5 52,00 68,0% 60 51,0 10,29 20,2% 1.204 1.121 1.07

Trafo

MVA

Peak

Add Trafo (MVA)

MVA

Load (MW)

21

GI Gedong Tataan Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

60

22

GI Teluk Ratai

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

30

23

GI Ketapang

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

30

24

GI Mesuji

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

30

25

GI Jati Agung

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

30

26

GI Langkapura Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

60

27

GI Pakuan Ratu Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

60

28

GI Bengkunat

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

30

GI Dipasena

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

90

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GI Dipasena

Terpasang Beban Puncak Pembebanan Trafo

150/20 MW MW %

60

PEAK GI

MW

570

PEAK SYSTEM

MW

569

171

DIVERSITY FACTOR

1,00

Lampiran A1.6
Rencana Pengembangan Penyaluran Sistem Interkoneksi Sumatera

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Sumatera

174
2011 582 582 1.925 5.776 3.053 3.018 1.903 590 667 382 440 160 1.455 310 1.992 3.784 774 2.039 240 1.532 1.486 800 110 462 531 590 150 130 387 382 440 150 800 4.698 462 11.676 550 18.336 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 2011 1.000 900 30 1.930 2.860 6.510 3.200 2.060 5.290 1.280 2.600 260 4.500 1.980 30 2.000 1.140 60 1.250 810 1.000 3.000 600 660 30 500 780 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2.000 500 780 30 3.310 2019 510 30 540 2020 250 690 940 Total 3.000 3.000 10.000 600 10.850 470 27.920

(kms)

Tegangan

500 kV AC 500 kV DC 275 kV 250 kV DC 150 kV 70 kV

Total

(MVA)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tegangan

500/275 kV 500 kV DC 275/150 kV 250 kV DC 150/20 kV 70/20 kV

Total

Pengembangan Penyaluran Sumatera


Ke Incomer (sigli-Banda Aceh) PLTU Meulaboh PLTU Meulaboh Incomer (Idi-Lhoksmawe) Takengan Sabulussalam Kutucane Blang Pidie Tapak Tuan Banda Aceh Incomer (Bireun-Sigli) Ulee Kareng Blang Kjeren Incomer (Bireun-Lhoksmawe) Takengon PLTA Peusangan-2 2 Pi Incomer (Sigli-Banda Aceh) PLTA Peusangan-4 Lam Pisang Pangkal Pinang Sungai Liat Dukong Manggar Kelapa Koba Mentok Toboali PLTU Bangka Baru III Manna Pulo Baai 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 Hawk 4 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 2 Hawk 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 2 Zebra 40 4 60 174 6 22 14 32 20 30 44 112 50 140 120 120 140 120 100 96 90 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 150 kV 2 cct, 1 Hawk 190 150 kV 2 cct, 1 Hawk 290 150 kV 2 cct, 1 Hawk 111.2 150 kV 2 cct, 2 Hawk 126 9.62 6.16 16.07 10.53 7.20 9.00 0.22 4.58 9.64 0.33 1.68 1.07 3.55 1.11 2.29 2.44 6.20 2.77 7.76 6.65 6.65 7.76 6.65 5.54 5.32 6.87 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 0.11 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 150 kV 2 cct, 2 Zebra 333 74.95 150 kV 2 cct, 1 Hawk 1 0.06 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2016 2016 2017 2018 2018 2011 2011 2012 2012 2014 2014 2016 2016 2018 2012 2013 Tegangan Conductor kms Biaya (M USD)

No

Propinsi

Dari

NAD

Jantho

NAD

Sigli

NAD

Meulaboh

NAD

Panton Labu

NAD

Bireun

NAD

Sidikalang

NAD

Brastagi/Berastagi

NAD

PLTU Meulaboh

NAD

Blang Pidie

10

NAD

Ulee Kareng

11

NAD

Samalanga

12

NAD

Krueng Raya

13

NAD

Takengon

14

NAD

Cot Trueng

15

NAD

PLTA Peusangan-2

16

NAD

PLTA Peusangan-1

17

NAD

PLTP Seulawah

18

NAD

Takengon

19

NAD

Banda Aceh

20

Babel

Air Anyir

21

Babel

Air Anyir

22

Babel

Suge

23

Babel

Dukong

24

Babel

Pangkal Pinang

25

Babel

Pangkal Pinang

26

Babel

Kelapa

27

Babel

Koba

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

28

Babel

Air Anyar/Sungai Liat

29

Bengkulu

Pagar Alam

30

Bengkulu

Pekalongan

175

Pengembangan Penyaluran Sumatera (Lanjutan 1)

176
Ke Incomer 1 Phi (Pekalongan-Pulau Baii PLTA Simpang Aur 2 PLTP Hululais Arga Makmur Muko-muko/Bantal/Ipoh Bintuhan Arga Makmur Incomer 2 Phi (Pekalongan-Pulau Baii) PLTA Merangin Sungai Penuh Aur Duri Inc 1 Phi (Payo Selincah-Aur Duri) Aur Duri Sarolangun Sungai Penuh Kuala Tangkal Tanjung Sauh Pulau Ngenang Tanjung Taluk Tanjung Uban Sri Bintan Air Raja Kijang Kotabumi (uprate) Incomer 2 Phi (New Tarahan-Kalianda) Dipasena Incomer 1 Phi (Batutegi-Pagelaran) Seputih Banyak Natar (uprate) Bukit Kemuning (uprate) 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 3 x 300 mm2 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, ACC 310 mm 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 Zebra 2 cct, ACC 310 mm2 2 cct, ACC 310 mm2
2

No 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct, 3 x 300 mm2 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 x 340 mm2 121.6 26 130 84 108.8 6 10 12 60 60 70 40 67.6 1 120 40 120 60.4 96 2 cct, 1 Hawk 60 2 cct, 2 Zebra 110 2 cct, 2 Zebra 136 4 cct, 2 Hawk 80 2 cct, 2 Hawk 360 27.48 6.11 30.61 24.76 3.32 3.64 1.44 7.20 4.65 6.03 2.42 1.11 4.84 3.32 3.32 3.88 2.22 9.04 0.23 9.16 3.05 27.01 8.08 12.84 2 cct, 1 Hawk 140 7.76 2 cct, 2 Hawk 220 16.79 2 cct, 2 Hawk 180 13.74 2 cct, 2 Hawk 120 9.16 2015 2015 2015 2017 2020 2020 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2015 2018 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2011 2011 2012 2012 2013 2013 2013 2 cct, 1 Hawk 12 0.66 2015 2 cct, 2 Hawk 20 1.53 2015

Propinsi

Dari

Tegangan

Conductor

kms

Biaya (M USD) COD

31

Bengkulu

PLTA Simpang Aur 1

32

Bengkulu

PLTA Simpang Aur 1

33

Bengkulu

Pekalongan

34

Bengkulu

Pulau Baai

35

Bengkulu

Kambang

36

Bengkulu

Manna

37

Bengkulu

Muko-muko/Bantal/Ipoh

38

Bengkulu

PLTP Kepahiyang

39

Jambi

Bangko

40

Jambi

PLTA Merangin

41

Jambi

PLTG CNG Sei Gelam

42

Jambi

Sabak

43

Jambi

PLTG CNG Sengeti

44

Jambi

Muara Bulian

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

45

Jambi

PLTP Sungai Penuh

46

Jambi

Sabak

47

Kep. Riau

Tanjung Kasam

48

Kep. Riau

Tanjung Sauh

49

Kep. Riau

Pulau Ngenang

50

Kep. Riau

Tanjung Taluk

51

Kep. Riau

Tanjung Uban

52

Kep. Riau

Sri Bintan

53

Kep. Riau

Air Raja

54

Lampung

Bukit Kemunung (uprate)

55

Lampung

PLTU Tarahan (FTP1)

56

Lampung

Seputih Banyak

57

Lampung

Ulubelu

58

Lampung

Menggala

59

Lampung

Sutami (uprate)

60

Lampung

Baturaja (uprate)

Pengembangan Penyaluran Sumatera (Lanjutan 2)


Ke Kota Agung Liwa Ulubelu Gedong Tataan Teluk Ratai Ketapang Mesuji Dipasena Kota Agung Jatiagung Inc 1 Phi (Menggala-Gumawang) Inc 2 Phi (Natar-Teluk Betung) PLTP Rajabasa PLTP Suoh Sekincau Bengkunat PLTP Wai Ratai Incomer 2 Phi (G. Sakti-Duri) Rengat Pasir Pagarayan Garuda Sakti Pasir Putih KID Dumai Bagan Siapi Api Pangkalan Kerinci Dumai Dumai (up rate) Duri (up rate) Pangkalan Kerinci Incomer (G. Sakti-Duri) Perawang 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, ACC 310 mm2 2 cct, ACC 310 mm2 2 cct, 2 Hawk 2 cct, ACC 310 mm2 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 2 Hawk 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 2 Zebra 150 kV 2 cct, CU 1.000 mm2 16 1 2 40 38 120 40 22 194 220 55 35 56 228 134 14 118 230 220 12 50 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 150 kV 2 cct, 2 Hawk 152 150 kV 2 cct, 2 Hawk 160 150 kV 2 cct, 2 Zebra 90 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 20.26 12.21 11.60 3.32 35.52 0.23 0.11 3.05 2.11 6.65 2.22 1.68 14.81 12.19 12.38 7.88 3.10 12.63 10.23 1.07 15.79 30.77 16.79 1.61 2.77 150 kV 2 cct, 2 Hawk 60 4.58 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.11 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.43 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.43 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2017 2017 2018 2019 2019 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 Tegangan Conductor kms Biaya (M USD) COD

No

Propinsi

Dari

61

Lampung

Pagelaran

62

Lampung

Bukit Kemuning

63

Lampung

PLTP Ulubelu #3,4

64

Lampung

Pagelaran

65

Lampung

Gedon Tataan

66

Lampung

Kalianda

67

Lampung

Gumawang

68

Lampung

Mesuji

69

Lampung

PLTA Semangka

70

Lampung

Natar

71

Lampung

Pakuan Ratu

72

Lampung

Langkapura

73

Lampung

Kalianda

74

Lampung

Besai

75

Lampung

Liwa

76

Lampung

Teluk Ratai

77

Riau

PLTG Duri

78

Riau

Teluk Kuantan

79

Riau

Bangkinang

80

Riau

Pasir Putih

81

Riau

Tenayan/PLTU Riau

82

Riau

Dumai

83

Riau

Dumai

84

Riau

Pasir Putih

85

Riau

PLTU Sewa Dumai

86

Riau

Duri (up rate)

87

Riau

Garuda Sakti (uprate)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

89

Riau

Rengat

89

Riau

New Garuda Sakti

90

Riau

Tenayan/PLTU Riau

177

Pengembangan Penyaluran Sumatera (Lanjutan 3)

178
Ke GIS Kota Pekanbaru Siak Sri Indra Pura Tembilahan Teluk Lembu Incomer (New G. Sakti-Duri) Lipat Kain Bungus Kambang Teluk Kuantan Padang Luar Payakumbuh Batusangkar 2 Pi Incomer (Bungus-Kambang) Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang PLTP Muara Labuh Masang-2 PLTP Gunung Talang PLTP Bonjol Incomer 1 Phi (Prabumulih-Bukit Asam) Pgar Alam Lahat Incomer 1 Pi (T. Kelapa-Borang)/Kenten Inc 2 Phi (Talang Kelapa-Borang) Sekayu Baturaja (up rate) Inc 2 Phi (Keramasan-Mariana) Inc 2 Phi (Keramasan-Talang Kelapa) Kayu Agung Gumawang 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 x 330 mm2 2 2nd cct, 1 Hawk 2 cct, 2 x 330 mm2 2 cct, 2 x 330 mm2 2 cct, 2 x 330 mm 2 cct, 1 Hawk 2 cct, ACC 310 mm2 2 cct, 2 x 330 mm2 2 cct, CU 1.000 mm2 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Zebra
2

No 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 2 Hawk 4 cct, 2 Hawk 1 2nd cct, 1 Hawk 25 20 70 16 160 30 20 104 120 94.6 120 40 1 70 78 1 20 60 90 1 2nd cct, 1 Hawk 32 1 2nd cct, 1 Hawk 42 1 2nd cct, 1 Hawk 52 2 cct, 2 Hawk 180 2 cct, 2 Hawk 35 2.67 13.74 1.69 1.36 1.04 0.81 0.76 5.34 0.89 12.21 1.66 1.11 7.94 10.86 5.24 10.86 3.62 0.09 3.88 10.44 0.09 44.40 13.50 20.26 2 cct, 1 Hawk 70 3.88 2 cct, ACC 310 mm2 10 2.68 2 cct, 2 Hawk 40 3.05 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2014 2015 2015 2015 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2016 2017 2017 2019 2019 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2 cct, 1 Hawk 100 5.54 2014 2 cct, CU 1.000 mm2 14 31.08 2014

Propinsi

Dari

Tegangan

Conductor

kms

Biaya (M USD) COD

91

Riau

Teluk Lumbu

92

Riau

Tenayan/PLTU Riau

93

Riau

Rengat

94

Riau

Pasir Putih

95

Riau

Kandis

96

Riau

Bangkinang

97

Sumbar

Indarung

98

Sumbar

Bungus

99

Sumbar

Kiliranjao

100

Sumbar

Maninjau

101

Sumbar

Padang Luar

102

Sumbar

Singkarak

103

Sumbar

PLTU Sumbar Pessel

104

Sumbar

Kiliranjao

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

105

Sumbar

PIP/S Haru/Pauh Limo

106

Sumbar

Sungai Rumbai

107

Sumbar

Simpang Empat

108

Sumbar

Solok

109

Sumbar

Payakumbuh

110

Sumsel

PLTU Simpang Belimbing

111

Sumsel

Lahat

112

Sumsel

PLTU Simpang Belimbing

113

Sumsel

Tanjung Api-Api

114

Sumsel

Kenten

115

Sumsel

Betung

116

Sumsel

Bukit Asam (uprate)

117

Sumsel

Jakabaring

118

Sumsel

Gandus

119

Sumsel

Mariana

120

Sumsel

Kayu Agung

Pengembangan Penyaluran Sumatera (Lanjutan 4)

No Betung Talang Kelapa Tebing Tinggi Incomer 1 Phi (Prabumulih-Bukit Asam) PLTU Banjar Sari Baturaja PLTU Kebun Agung Martapura Muara Rupit PLTP Lumut Balai PLTP Danau Ranau Namurambe Tanjung Morawa Labuhan Bilik Belawan Incomer 1 Phi (Tele-Tarutung) Kuala Namu Panyabungan Tebing Tinggi (uprate) Negeri Dolok Salak Panguran Pangkalan Brandan Tebing Tinggi Incomer (P. Brandan-Binjai) Brastagi Gunung Sitoli Gunung Sitoli Glugur KIM 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 1 2nd cct, 2 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, ACC 310 mm2 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, 1 Hawk 2 cct, CU 1.000 mm2 2 cct, CU 1.000 mm2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 kV 2 cct, 2 Zebra 150 kV 2 cct, 2 Zebra 150 kV 2 cct, 2 Hawk 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 90 80 20 130 6.2 76 34 140 108 66 60 26 22 30 30 80 220 20 10 10 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 150 kV 2 cct, 2 Zebra 70 150 kV 2 cct, 2 Hawk 92 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 40 3.62 7.02 15.76 6.65 4.43 3.05 6.87 18.01 4.50 7.20 0.28 4.21 2.60 7.76 14.45 3.66 3.32 1.44 4.95 2.29 1.66 4.43 12.19 1.11 22.20 22.20 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.86 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 8.31 150 kV 1 2nd cct, 2 Hawk 55.2 8.34 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2018 2019 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015

Propinsi

Dari

Ke

Tegangan

Conductor

kms

Biaya (M USD) COD

121

Sumsel

Sungai Lilin

122

Sumsel

Betung

123

Sumsel

Lubuk Linggau

124

Sumsel

Sumsel-11, MT

125

Sumsel

Lahat

126

Sumsel

Muara Dua

127

Sumsel

Lahat

128

Sumsel

Gumawang

129

Sumsel

Sarolangun

130

Sumsel

PLTP Rantau Dedap

131

Sumsel

Muara Dua

132

Sumut

Galang

133

Sumut

Galang

134

Sumut

Rantau Prapat

135

Sumut

Lamhotma

136

Sumut

Dolok Sanggul/Parlilitan

137

Sumut

Tanjung Morawa

138

Sumut

Padang Sidempun

139

Sumut

Sei Rotan (uprate)

140

Sumut

Galang

141

Sumut

Sidikalang

142

Sumut

Tele

143

Sumut

Pangkalan Susu 3&4 (FTP2)

144

Sumut

PLTU Sewa Sumbangut

145

Sumut

Tanjung Pura

146

Sumut

PLTA Wampu

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

147

Sumut

Teluk Dalam

148

Sumut

PLTU Nias

149

Sumut

Mabar

150

Sumut

GIS Listrik

179

Pengembangan Penyaluran Sumatera (Lanjutan 5)

180
Ke PLTA Asahan III (FTP2) PLTP Sorik Marapi (FTP2) PLTA Hasang PLTP Simbolon Samosir 2 Pi Incomer (Tarutung-Porsea) Binjai Payakumbuh Galang Binjai Simangkok PLTP Sarulla (FTP) New Garuda Sakti Payakumbuh Lumut Balai Aur Duri Muara Enim Gumawang Sungai Lilin/PLTU Sumsel-7 Sungai Lilin/PLTU Sumsel-7 Lhokseumawe New Garuda Sakti Rengat Betung Cirenti (PLTU Riau MT) Ulee Kareng Pulau Rupat Pulau Rupat Selatan Sumatra Landing Point New Garuda Sakti Aur Duri PLTU MT HVDC A PLTU MT HVDC B Perbatasan Sumsel/Lampung Perbatasan Sumsel/Lampung 275 kV 275 kV 275 kV 250 kV DC 250 kV DC 250 kV DC 250 kV DC 500 kV 500 kV 500 kV 500 kV DC 500 kV DC 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 4 Zebra 2 cct, 4 Zebra 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Zebra 2 cct, 2 Zebra 2 Cable MI with IRC 2 cct, 2 x Cardinal 548 r 2 Cable MI with IRC 2 cct, 2 x Cardinal 548 r 2 cct, 4 Zebra 2 cct, 4 Zebra 2 cct, 4 Zebra 2 cct, 4 Falcon 2 cct, 4 Falcon 275 kV 2 cct, 2 Zebra 275 kV 2 cct, 2 Zebra 275 kV 2 cct, 2 Zebra 275 kV 2 cct, 2 Zebra 275 kV 2 cct, 2 Zebra 275 kV 2 cct, 2 Zebra 300 600 50 120 70 290 124 120 322 440 420 350 110 130 52 60 10 340 150 400 100 200 600 275 kV 2 cct, 2 Zebra 138 275 kV 2 cct, 2 Zebra 194 275 kV 2 cct, 2 Zebra 160 275 kV 2 cct, 2 Zebra 318 275 kV 2 cct, 2 Zebra 282 63.47 71.57 36.01 43.67 31.06 67.52 135.05 11.25 27.01 15.76 65.27 27.91 27.01 72.47 143.61 137.08 78.78 24.76 29.26 51.00 2.60 9.80 14.90 48.96 133.37 33.35 67.20 201.60 275 kV 2 cct, 2 Zebra 160 36.01 150 kV 4 cct, 1 Hawk 8 0.44 275 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2.77 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2017 2018 2019 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2018 2016 2016 2016 2016 2018 2016 2016 2016 2016 150 kV 2 cct, 1 Hawk 46 2.55 2017 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.68 2016 Tegangan Conductor kms Biaya (M USD) COD

No

Propinsi

Dari

151

Sumut

Simangkok

152

Sumut

Panyambungan

153

Sumut

Porsea

154

Sumut

Tarutung

155

Sumut

PLTP Sipoholon Ria-Ria

156

Sumut

Pangkalan Susu

157

Sumbar

Kiliranjao

158

Sumut

Simangkok

159

Sumut

Galang

160

Sumut

PLTP Sarulla (FTP2)

161

Sumut

Padang Sidempuan

162

Riau

Payakumbuh

163

Sumbar

Padang Sidempuan

164

Sumsel

Lahat

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

165

Jambi

Bayung Lincir/PLTU Sumsel-5

166

Sumsel

Lahat

167

Sumsel

Muara Enim

168

Sumsel

Bayung Lincir/PLTU Sumsel-5

169

Sumsel

Betung

170

NAD

Sigli

171

Riau

Rengat

172

Jambi

Aur Duri

173

Sumsel

Muara Enim

174

Riau

Rengat

175

NAD

Sigli

176

Riau

Border

177

Riau

Pulau Rupat Utara

178

Riau

Pulau Rupat Selatan

179

Riau

Sumatra Landing Point

180

Jambi

PLTU Jambi

181

Sumsel

Muara Enim

182

Sumsel

Muara Enim

183

Sumsel

Muara Enim

184

Lampung

Ketapang

Pengembangan Gardu Induk Sumatera


Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension 60 30 30 30 30 Extension 30 Extension 2 LB Baru 30 Extension 60 Extension 30 1.40 2.12 2.64 1.24 1.40 2.12 1.40 1.40 1.40 1.40 Baru 30 2.64 Extension 30 1.40 Extension 2 LB 1.24 Baru 60 4.03 Baru 30 2.64 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2018 Uprating 30 MVA Uprating 10 MVA 1 x 30 MVA ke Bang Kjeren 1 x 30 MVA Baru 120 4.03 2014 Extension 60 2.12 2013 2 x 60 + 2LB 1 x 30 MVA 2 x 30 MVA ke Ulee Kareng Baru 30 2.64 2013 Extension 2 LB 1.24 2013 Baru 30 3.38 2013 Baru 30 2.64 2013 1 x 30 MVA 4 L/B (2T?L ke Meulaboh dan 2 T/L ke T. Tuan) T/L ke Blang Pidie 1 x 30 MVA Baru 30 2.64 2013 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2013 ke Takengon Baru 60 3.36 2013 2 x 30 MVA Baru 30 2.64 2012 1 x 30 MVA Baru 30 2.64 2012 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2012 T/L ke Meulaboh Baru 2 x 30 4.03 2012 1 x 30 MVA di danai APBN, 1 x 30 MVA di danai PLN Extension 60 2.12 2011 Uprating 30 MVA Extension 30 1.40 2011 Uprating 10 MVA Ex Banda Aceh Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

NAD

Sigli

NAD

Banda Aceh

NAD

Meulaboh

NAD

PLTU Meulaboh Ext LB

NAD

Jantho

NAD

Panton Labu

NAD

Takengon

NAD

Bireun Ext LB

NAD

Sabulussalam

10

NAD

Kutacene/Kotacane

11

NAD

Blang Pidie

12

NAD

PLTU Meulaboh Ext LB

13

NAD

Tapak Tuan

14

NAD

Lhokseumawe

15

NAD

Ulee Kareng

16

NAD

Samalanga

17

NAD

Kreung Raya

18

NAD

Banda Aceh Ext LB

19

NAD

Tualang Out

20

NAD

Blang Kjeren

21

NAD

Langsa

22

NAD

Sigli

23

NAD

Cot Trueng

24

NAD

Takengon

25

NAD

Idi

26

NAD

Banda Aceh

27

NAD

Bireun

28

NAD

Jantho

29

NAD

Meulaboh

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

30

NAD

Tualang Out

181

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan2)

182
Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Baru Baru Extension 30 30 120 2 LB 30 30 Extension 30 Extension 30 Extension 30 Extension 30 1.39 1.39 1.26 1.39 1.26 2.64 4.03 1.24 1.40 1.40 Extension 30 1.26 Baru 30 2.62 Baru 30 2.62 Extension 30 1.39 Baru 30 2.62 2014 2015 2016 2016 2016 2018 2018 2018 2019 2019 2012 2013 2013 2013 2013 1 x 30 MVA 2 x 60 MVA T/L Pulo Baai Baru 30 2.62 2014 Baru 30 2.20 2012 Baru 20 2.38 2012 Baru 30 2.20 2012 Baru 30 2.62 2011 Baru 30 2.62 2011 Baru 60 4.00 2011 Extension 30 1.40 2020 Extension 30 1.40 2020 Extension 30 1.40 2020 Extension 30 1.40 2019 Extension 30 1.40 2019 Extension 30 1.40 2019 Extension 2 LB 1.24 2018 Baru 120 4.95 2018 2 x 60 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

31

NAD

Lam Pisang

32

NAD

Krueng Raya Ext LB

33

NAD

Panton Labu

34

NAD

Cot Trueng

35

NAD

Samalanga

36

NAD

Tualang Out

37

NAD

Bireun

38

NAD

Subussalam

39

Babel

Pangkal Pinang

40

Babel

Sungai Liat

41

Babel

Air Anyir

42

Babel

Dukong

43

Babel

Manggar

44

Babel

Suge

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

45

Babel

Kelapa

46

Babel

Koba

47

Babel

Sungai Liat

48

Babel

Mentok

49

Babel

Toboali

50

Babel

Dukong

51

Babel

Pangkal Pinang

52

Babel

Koba

53

Babel

Manggar

54

Babel

Air Anyar

55

Babel

Dukong

56

Bengkulu

Manna

57

Bengkulu

Pulau Baai

58

Bengkulu

Pekalongan Ext LB

59

Bengkulu

Pekalongan

60

Bengkulu

Manna

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 3)


Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Baru Extension Extension Extension 4 LB 2 LB 60 30 2LB 60 Extension 2 LB Extension 2 LB Extension 30 Extension 2 LB Baru 30 2.64 1.24 1.40 1.24 1.24 1.83 1.24 2.12 2.64 1.24 2.12 Extension 60 2.12 Baru 30 2.64 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 2012 2012 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2017 2018 2018 2018 1 x 30 MVA T/L Kuala Tungkal Untuk PLTP Sungai Penuh T/L ke PLTP Sungai Penuh Untuk PLTP Merangin 2 Pi T/L Muara Rupit 1 x 30 MVA T/L ke GI PLTG Sei Gelam CNG, bay eks IBT 275/150 kV 1 x 30 MVA T/L ke Sarolangun Extension 60 2.12 2012 Extension 60 2.12 2012 Extension 2 LB 1.24 2012 Baru 30 2.64 2012 1 x 30 MVA T/L ke Sungai Penuh Extension 4 LB 2.49 2011 Extension 2 LB 1.24 2020 T/L ke Argamakmur untuk PLTG Payo Selincah & PLTG Sungai Gelam 12 MW Extension 2 LB 1.24 2017 T/L ke Bin Tuhan Baru 30 2.64 2017 1 x 30 MVA Extension 60 2.12 2017 Extension 2 LB 1.24 2015 T/L ke Argamakmur Baru 30 3.88 2015 1 x 30 MVA Baru 30 2.64 2015 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2014 T/L Hululais Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

61

Bengkulu

Pekalongan Ext LB

62

Bengkulu

Muko-Muko

63

Bengkulu

Argamakmur

64

Bengkulu

Pulau Baai Ext LB

65

Bengkulu

Pulau Baai

66

Bengkulu

Bintuhan

67

Bengkulu

Manna Ext LB

68

Bengkulu

Muko-Muko Ext LB

69

Jambi

Payoselincah Ext LB

70

Jambi

Sungai Penuh

71

Jambi

Bangko Ext LB

72

Jambi

Aur Duri

73

Jambi

Payoselincah

74

Jambi

Bangko

75

Jambi

Muara Bulian

76

Jambi

Muara Sabak

77

Jambi

Muara Bungo

78

Jambi

Sarolangun

79

Jambi

Muara Bulian Ext LB

80

Jambi

Sungai Penuh

81

Jambi

PLTP Sungai Penuh Ext LB

82

Jambi

Sungai Penuh Ext LB

83

Jambi

PLTA Merangin Ext LB

84

Jambi

Sarolangun Ext LB

85

Jambi

Payoselincah

86

Jambi

Kuala Tungkal

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

87

Jambi

Muara Sabak Ext LB

88

Jambi

Aurduri

183

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 4)

184
Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension 60 60 30 2 LB 30 2 LB 60 30 Extension 30 Baru 90 Extension 30 Extension 60 2.12 1.40 4.72 1.40 2.12 2.12 2.64 1.24 2.64 1.24 2.12 1.40 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 Extension 30 1.40 Extension 30 1.40 Baru 30 3.88 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 Uprating 20 MVA Uprating 20 MVA 1 x 30 MVA T/L Kota Agung 1 x 30 MVA T/L Liwa Uprating 20 MVA Uprating 20 MVA Extension 60 2.12 2011 Extension 2 LB 1.24 2011 Extension 2 LB 1.24 2011 Baru 30 3.88 2011 Extension 60 2.12 2015 1 x 30 MVA T/L Seputih Banyak T/L Seputih Banyak Uprating 20 MVA Baru 10 1.90 2013 Baru 2 x 30 3.34 2013 Baru 60 3.34 2013 1 x 30 MVA di danai APBN, 1 x 30 MVA di danai APLN Baru 30 2.62 2013 Baru 60 3.34 2013 2 x 30 MVA Extension 60 2.12 2020 Extension 30 1.40 2020 Extension 30 1.40 2019 Uprate 30 kr 60 Extension 30 1.40 2019 Extension 60 2.12 2018 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

89

Jambi

Muara Bango

90

Jambi

Bangko

91

Jambi

Muara Sabak

92

Jambi

Sarolangon

93

Jambi

Payoselincah

94

Kep. Riau

Air Raja

95

Kep. Riau

Sri Bintan

96

Kep. Riau

Kijang

97

Kep. Riau

Tanjung Uban

98

Kep. Riau

Pulau Ngenang

99

Kep. Riau

Tabnjung Uban

100

Lampung

Seputih Banyak

101

Lampung

Sribawono Ext LB

102

Lampung

Menggala Ext LB

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

103

Lampung

Kotabumi

104

Lampung

Ulubelu

105

Lampung

Kalianda

106

Lampung

Adijaya

107

Lampung

Bukit Kemuning

108

Lampung

Natar

109

Lampung

Pagelaran

110

Lampung

New Tarahan

111

Lampung

Dipasena

112

Lampung

Sukarame

113

Lampung

Metro

114

Lampung

Sribawono

115

Lampung

Kota Agung

116

Lampung

Pegelaran Ext LB

117

Lampung

Liwa

118

Lampung

Bukit Kemuning Ext LB

119

Lampung

Tegineneng

120

Lampung

Seputih Banyak

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 5)


Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 30 60 30 2 LB 60 60 Extension 2 LB Baru 30 Extension 30 Extension 60 2.12 1.40 2.64 1.24 1.40 1.40 2.12 1.40 1.24 2.12 2.12 Extension 2 LB 1.24 Baru 60 4.03 Extension 2 LB 1.24 Extension 2 LB 3.11 Baru 30 2.64 2016 2016 2017 2017 2018 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2020 2020 Uprating 30 MVA T/L ke PLTP Wai Ratai 1 x 30 MVA T/L ke Bengkunat Extension 60 2.12 2016 Baru 30 2.64 2016 Extension 30 1.40 2016 1 x 30 MVA Uprating 20 MVA 1 x 30 MVA T/L ke Jati Agung T/L PLTP Rajabasa 1 x 60 MVA T/L PLTP Suoh Sekincau Uprating 20 MVA Extension 2 LB 1.24 2015 Baru 120 5.28 2015 1 x 30 MVA T/L Dipasena Extension 30 1.40 2015 Extension 60 2.12 2015 Baru 30 2.64 2015 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2015 T/L Mesuji Baru 30 2.64 2015 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2015 T/L Gedong Tataan Baru 60 5.28 2015 2 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2015 T/L Ketapang Baru 30 2.64 2015 1 x 30 MVA Extension 60 2.12 2014 Uprating 20 MVA Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

121

Lampung

Kotabumi

122

Lampung

Ketapang

123

Lampung

Kalianda Ext LB

124

Lampung

Gedong Tataan

125

Lampung

Pagelaran Ext LB

126

Lampung

Mesuji

127

Lampung

Gumawang Ext LB

128

Lampung

Teluk Ratai

129

Lampung

New Tarahan

130

Lampung

Adijaya

131

Lampung

Dipasena

132

Lampung

Mesuji Ext LB

133

Lampung

Sutami

134

Lampung

Pakuan Ratu

135

Lampung

Menggala

136

Lampung

Jati Agung

137

Lampung

Natar Ext LB

138

Lampung

Kalianda Ext LB

139

Lampung

Langkapura

140

Lampung

Besai Ext LB

141

Lampung

Tegineneng

142

Lampung

Mesuji

143

Lampung

Bengkunat

144

Lampung

Liwa Ext LB

145

Lampung

Pakuan Ratu

146

Lampung

Jati Agung

147

Lampung

Sukarame

148

Lampung

Ketapang

149

Lampung

Teluk Ratai Ext LB

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

150

Lampung

Kotabumi

151

Lampung

Sribawono

185

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 6)

186
Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kv 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Baru Extension Baru Extension Baru Extension 2 LB 30 2 LB 30 2 LB 30 2 LB Extension 2 LB Extension 2 LB Baru 60 Baru 2 x 60 6.73 5.28 3.11 1.24 1.24 2.64 1.24 2.64 1.24 2.64 1.24 Baru 30 3.88 Extension 2 LB 1.24 Baru 30 2.64 Extension 2 LB 1.24 Baru 30 2.64 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 Baru 30 2.64 2013 Extension 2 LB 1.24 2013 Baru 2 x 30 5.28 2013 Extension 2 LB 1.24 2013 Baru 30 2.64 2013 1 x 30 MVA T/L ke Pasir Pangaraian 1 x 30 MVA di danai APBN, 1 x 30 MVA di danai APLN T/L ke Rengat GI Pembangkit 1 x 30 MVA 1 x 30 MVA T/L ke KID Dumai 1 x 30 MVA T/L ke Bagan Siapi-api 1 x 30 MVA 1 x 60 MVA di danai APBN, 1 x 60 MVA di danai APLN 1 x 60 MVA T/L ke GI/GIS Kota Pekanbaru T/L ke Pasir Putih T/L ke Teluk Lembu 1 x 30 MVA T/L ke Perawang 1 x 30 MVA T/L ke Tembilahan 1 x 30 MVA T/L ke Siak Sri Indra Pura Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Pasir Putih Baru 60 6.25 2013 2 x 30 MVA + 4 LB Extension 60 2.12 2012 Uprating 30 MVA Extension 60 2.12 2012 Extension 1 LB 0.62 2012 T/L ke Kiliranjao Extension 80 3.27 2012 Extension 20 2.12 2012 Extension 60 2.12 2012 Extension 30 1.40 2011 Extension 30 1.40 2011 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

152

Riau

Bangkinang

153

Riau

Bagan Batu

154

Riau

Duri

155

Riau

Kota Panjang

156

Riau

Garuda Sakti

157

Riau

Teluk Kuantan Ext LB

158

Riau

Teluk Lembu

159

Riau

Dumai

160

Riau

Pasir Putih

161

Riau

Garuda Sakti Ext LB

162

Riau

Pasir Pangaraian

163

Riau

Bangkinang Ext LB

164

Riau

Rengat

165

Riau

Teluk Kuantan Ext LB

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

166

Riau

KIT Tenayan

167

Riau

KID Dumai

168

Riau

Dumai Ext LB

169

Riau

Bagan Siapi-api

170

Riau

Dumai Ext LB

171

Riau

Pangkalan Kerinci

172

Riau

New Garuda Sakti

173

Riau

GI/GIS Kota Pekanbaru

174

Riau

Teluk Lembu Ext LB

175

Riau

Teluk Lembu Ext LB

176

Riau

Pasir Putih Ext LB

177

Riau

Perawang

178

Riau

Tenayan Ext LB

179

Riau

Tembilahan

180

Riau

Rengat Ext LB

181

Riau

Siak Sri Indra Pura

182

Riau

Tenayan Ext LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 7)


Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 1 LB 1 LB 1 LB 30 2 LB 30 30 Extension 2 LB Extension 1 LB Extension 1 LB Extension 30 1.40 0.62 0.62 1.24 0.62 0.62 0.62 1.40 1.24 2.64 1.40 Extension 60 2.12 Extension 30 1.40 Baru 30 1.40 Extension 60 2.12 Extension 30 1.39 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 T/L ke Sungai Rumbai 1 x 30 MVA 2nd sirkit ke Teluk Kuantan 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Maninjau & Payakumbuh 2nd sirkit ke Padang Luar T/L ke arah Singkarak T/L ke arah Batusangkar Uprating 20 mva Extension 60 2.12 2012 Baru 30 2.64 2011 Extension 2 LB 1.24 2011 Baru 30 3.88 2011 On Going ke Bungus 1 x 30 MVA Uprating 20 MVA Menggati trafo rusak Uprating 30 MVA Extension 30 1.40 2020 Extension 30 1.40 2019 Extension 30 1.40 2019 Extension 30 1.40 2017 Extension 60 2.12 2017 Extension 30 1.40 2017 Extension 60 2.12 2016 Extension 120 4.24 2016 2 x 60 MVA Extension 2 LB 1.24 2015 T/L ke Lipat Kain Baru 30 2.64 2015 1 x 30 MVA Baru 30 2.64 2015 1 x 30 MVA Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

183

Riau

Kandis

184

Riau

Lipat Kain

185

Riau

Bangkinang Ext LB

186

Riau

Pasir Putih

187

Riau

Bengkinang

188

Riau

Teluk Kuantan

189

Riau

Duri

190

Riau

KIT Tenayan

191

Riau

Tembilahan

192

Riau

KID Dumai

193

Riau

Bagan Batu

194

Sumbar

Bungus

195

Sumbar

Indarung Ext LB

196

Sumbar

Kambang

197

Sumbar

Padang Luar

198

Sumbar

PIP

199

Sumbar

Pauh Limo

200

Sumbar

Simpang Empat

201

Sumbar

Padang Panjang

202

Sumbar

Solok

203

Sumbar

Payakumbuh

204

Sumbar

Kiliranjao Ext LB

205

Sumbar

Maninjau Ext LB

206

Sumbar

Padang Luar Ext LB

207

Sumbar

Payakumbuh Ext LB

208

Sumbar

Batusangkar Ext LB

209

Sumbar

Singkarak Ext LB

210

Sumbar

Salak

211

Sumbar

Kiliranjao Ext LB

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

212

Sumbar

Sungai Rumbai

213

Sumbar

Maninjau

187

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 8)

188
Tegangan 150/20 kV 150/20 kv 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension 60 60 60 Extension 30 Extension 30 Baru 60 Extension 30 1.27 5.28 1.40 1.40 2.12 2.12 2.12 Extension 1 LB 0.62 Extension 1 LB 0.62 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 Extension 30 1.40 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA T/L 2nd Sirkit Pagar Alam T/L 2nd Sirkit Lahat Uprating 15 MVA 2 x 30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Extension 30 1.40 2020 Extension 60 2.12 2020 Extension 60 2.12 2020 Extension 30 1.40 2019 Extension 30 1.40 2018 Extension 30 1.40 2018 Extension 2 LB 1.24 2018 Extension 30 1.40 2017 T/L ke GI/GIS Kota Padang Extension 60 2.12 2017 Extension 30 140 2017 Extension 30 140 2017 Extension 2 LB 1.24 2017 T/L ke PLTP Muara Labuh Baru 120 10.09 2016 2 x 60 MVA Extension 30 1.40 2016 Extension 30 1.40 2016 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

214

Sumbar

Kiliranjao

215

Sumbar

Payakumbuh

216

Sumbar

GI/GIS Kota Padang

217

Sumbar

Sungai Rymbai Ext LB

218

Sumbar

Bungus

219

Sumbar

Kambang

220

Sumbar

Simpang Empat

221

Sumbar

Solok

222

Sumbar

PIP Ext LB

223

Sumbar

Lubuk Alung

224

Sumbar

Sungai Rumbai

225

Sumbar

Pariaman

226

Sumbar

PIP

227

Sumbar

GIS Kota Padang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

228

Sumbar

Padang Luar

229

Sumbar

Batusangkar

230

Sumsel

Baturaja

231

Sumsel

Lubuk Linggau

232

Sumsel

Lahat Ext LB

233

Sumsel

Pagar Alam Ext LB

234

Sumsel

Bukit Siguntang

235

Sumsel

Tanjung Api-Api

236

Sumsel

Lahat

237

Sumsel

Pagar Alam

238

Sumsel

Gunung Megang

239

Sumsel

Simpang Tiga

240

Sumsel

Prabumulih

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 9)


Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kv 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru Extension Extension Extension Extension Baru Extension 2 LB 30 2 LB 60 30 2 LB 4 LB Extension 2 LB Extension 2 LB Baru 30 Extension 30 1.40 2.64 1.24 1.24 1.24 2.64 1.24 2.12 2.64 1.24 2.49 Baru 30 2.64 Extension 30 1.27 Extension 2 LB 1.24 Extension 60 2.12 Extension 2 LB 1.24 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 1 x 30 MVA T/L ke Muara Dua Untuk PLTU Banjar Sari & Untuk PLTU Keban Agung 1 x 30 MVA T/L Arah Tebing Tinggi Untuk PLTGU Keramasan Untuk PLTP Lumut Balai 1 x 30 MVA T/L ke Sungai Lilin T/L ke Kayu Agung Uprating 15 MVA 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2013 Extension 60 2.12 2013 T/L Gumawang T/L Kayu Agung Extension 60 2.12 2013 Baru 60 4.03 2013 Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Sekayu 1 x 60 MVA Baru 30 2.64 2013 1 x 30 MVA Baru 120 4.03 2013 2 x 60 MVA Baru 120 4.03 2013 2 x 60 MVA Extension 30 1.27 2012 Uprating 10 MVA Extension 30 1.27 2012 Uprating 15 MVA Extension 30 1.27 2012 Extension 60 2.12 2012 Extension 1 LB 0.62 2012 Untuk ST Gunung Megang Extension 2 LB 1.24 2012 T/L ke Manna Extension 60 2.12 2012 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

241

Sumsel

Baturaja

242

Sumsel

Pagar Alam Ext LB

243

Sumsel

Gunung Megang Ext LB

244

Sumsel

Talang Kelapa

245

Sumsel

Bukit Siguntang

246

Sumsel

Bungaran

247

Sumsel

Bungaran

248

Sumsel

Kenten

249

Sumsel

Gandus

250

Sumsel

Sekayu

251

Sumsel

Betung Ext LB

252

Sumsel

Jakabaring

253

Sumsel

Baturaja

254

Sumsel

Keramasan

255

Sumsel

Kayu Agung Ext LB

256

Sumsel

Gumawang Ext LB

257

Sumsel

Bukit Asam

258

Sumsel

Mariana Ext LB

259

Sumsel

Bukit Siguntang

260

Sumsel

Kayu Agung

261

Sumsel

Gumawang

262

Sumsel

Tebing Tinggi

263

Sumsel

Lubuk Linggau Ext LB

264

Sumsel

Keramasan Ext LB

265

Sumsel

Lahat Ext LB

266

Sumsel

Sungai Lilin

267

Sumsel

Betung Ext LB

268

Sumsel

Lubuk Linggau

269

Sumsel

Muara Dua

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

270

Sumsel

Baturaja Ext LB

271

Sumsel

Lahat Ext LB

189

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 10)

190
Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kv 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension 60 60 60 10 60 60 Extension 30 Extension 30 Extension 60 Extension 30 Extension 30 1.40 1.40 2.12 2.12 2.12 2.12 2.12 2.12 0.66 2.12 2.12 Extension 60 2.12 Extension 30 1.40 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Uprating 30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 30 MVA Uprating 10 MVA Extension 30 1.40 2020 Extension 30 1.40 2020 Extension 2 LB 1.24 2020 Extension 30 1.40 2019 Untuk Double Pi dan T/L PLTP D. Ranau Extension 30 1.40 2019 Extension 30 1.40 2018 Uprating 15 MVA Extension 60 2.12 2018 Extension 60 2.12 2018 Extension 60 4.03 2018 Extension 30 1.40 2017 Extension 60 2.12 2017 Baru 30 2.64 2017 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2016 T/L ke Martapura Baru 30 2.64 2016 1 x 30 MVA Extension 30 1.40 2015 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

272

Sumsel

Mariana

273

Sumsel

Martapura

274

Sumsel

Gumawang Ext LB

275

Sumsel

Muara Rupit

276

Sumsel

Keramasan

277

Sumsel

Sungai Lilin

278

Sumsel

Kenten

279

Sumsel

Talang Kelapa

280

Sumsel

Bukit Asam

281

Sumsel

Pagar Alam

282

Sumsel

Betung

283

Sumsel

Kayu Agung

284

Sumsel

Muara Dua Ext LB

285

Sumsel

Sekayu

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

286

Sumsel

Tebing Tinggi

287

Sumsel

Gandus

288

Sumsel

Simpang Tiga

289

Sumut

Rantau Prapat

290

Sumut

Gunung Para

291

Sumut

Tanjung Morawa

292

Sumut

Tele

293

Sumut

Gunung Tua

294

Sumut

Binjai

295

Sumut

Padang Sidempuan

296

Sumut

Denai

297

Sumut

Tebing Tinggi

298

Sumut

Kisaran

299

Sumut

Pematang Siantar

300

Sumut

Gunung Tua

301

Sumut

Sei Rotan

302

Sumut

Glugur

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 11)


Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru Extension Baru Extension Baru Extension Extension 2 LB 60 60 2 LB 60 2 LB 30 Extension 2 LB Extension 2 LB Baru 60 Extension 2 LB 1.24 4.03 1.24 1.24 1.24 2.12 2.12 1.24 2.12 1.24 2.64 Baru 60 4.03 Baru 10 1.90 Extension 30 1.40 Extension 2 LB 1.24 Extension 2 LB 1.24 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2 x 30 MVA Ke Salak 2 x 30 MVA Ke arah Negeri Dolok 1 x 30 MVA 1 x 10 MVA 2 x 30 MVA T/L ke Kuala Namu 2 x 30 MVA T/L ke Panyabungan Ke Sabulussalam Ke Kutacane Extension 1 LB 0.62 2012 Extension 1 LB 0.62 2012 Extension 30 1.40 2012 Extension 30 1.40 2012 Baru 60 3.36 2012 1 x 60 MVA Uprating 20 MVA ke 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Ke arah Belawan Ke arah Lamhotma Ke arah Galang Ke arah Galang Baru 0 2.49 2012 Extension 30 1.40 2012 2 LB arah Namurambe dan 2 LB arah T. Marowa Extension 60 2.12 2012 Extension 60 2.12 2012 Extension 60 2.12 2012 Extension 30 1.40 2012 Extension 20 1.15 2012 Extension 30 1.40 2012 Extension 60 2.12 2012 Uprating 20 MVA Extension 60 2.12 2012 Uprating 30 MVA Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

303

Sumut

Rantau Prapat

304

Sumut

Brastagi

305

Sumut

Sidikalang

306

Sumut

Porsea

307

Sumut

Tarutung

308

Sumut

Sibolga

309

Sumut

Perbaungan

310

Sumut

Namurambe

311

Sumut

Aek Kanopan

312

Sumut

Galang

313

Sumut

Labuhan Bilik

314

Sumut

Lamhotma

315

Sumut

Lamhotma

316

Sumut

Lamhotma Ext LB

317

Sumut

Belawan Ext LB

318

Sumut

Namurambe Ext LB

319

Sumut

Denai Ext LB

320

Sumut

Labuhan

321

Sumut

Parlilitan/Dolok Sanggul

322

Sumut

Kuala Namu

323

Sumut

Tanjung Marowa Ext LB

324

Sumut

Panyabungan

325

Sumut

Padang Sidempun Ext LB

326

Sumut

Sidakalang Ext LB

327

Sumut

Brastagi/Berastagi Ext LB

328

Sumut

Paya Pasir

329

Sumut

Salak

330

Sumut

Sidikalang Ext LB

331

Sumut

Negeri Dolok

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

332

Sumut

Galang Ext LB

333

Sumut

Pangururan

191

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 12)

192
Tegangan 150/20 kV 150/20 kv 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru 1.000 0 250 250 500 250 250 1.000 Extension 2 LB Extension 2 LB Extension 2 LB Extension 2 LB 1.24 1.24 1.24 1.24 31.83 9.11 21.08 20.08 24.28 19.66 20.17 35.50 Extension 2 LB 1.24 Extension 2 LB 1.24 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 Extension 60 2.12 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 1 x 500 MVA 2 x 250 MVA 2 x 500 MVA Ke PLTP Sorik Marapi Ke PLTP Pusuk Bukit 1 x 60 MVA Extension 30 1.40 2017 Extension 2 LB 1.24 2015 Extension 2 LB 1.24 2014 Extension 1 LB 1.55 2014 Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah Glugur Ke arah Mabar T/L ke PLTA Wampu Ke arah PLTA Asahan III Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah KIM Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah GIS Listrik Extension 30 1.40 2014 Baru 30 2.20 2014 1 x 30 MVA Baru 30 2.20 2014 1 x 30 MVA Baru 30 2.64 2013 1 x 30 MVA Extension 2 LB 1.24 2013 Ke arah Pangkalan Brandan Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke PLTU Pangkalan Susu Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Labuhan Bilik Extension 2 LB 1.24 2013 Ke Pangururan Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

334

Sumut

Tele Ext LB

335

Sumut

Rantau Prapat Ext LB

336

Sumut

Pangkalan Brandan Ext LB

337

Sumut

Pangkalan Susu Ext LB

338

Sumut

Tanjung Pura

339

Sumut

Gunung Sitoli

340

Sumut

Teluk Dalam

341

Sumut

Kota Pinang

342

Sumut

KIM Ext LB

343

Sumut

GIS Listrik Ext LB

344

Sumut

Mabar Ext LB

345

Sumut

Glugur Ext LB

346

Sumut

Brastagi Ext LB

347

Sumut

Simangkok Ext LB

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

348

Sumut

Tanjung Pura

349

Sumut

Titi Kuning

350

Sumut

GIS Listrik

351

Sumut

Paya Geli

352

Sumut

Panyabungan Ext LB

353

Sumut

Tarutung Ext LB

354

Sumut

Rantauprapat Ext LB

355

Sumut

Tebing Tinggi Ext LB

356

Sumut

Tebing Tinggi Ext LB

357

Sumut

Belawan Ext LB

358

Sumut

Binjai

359

Sumut

Pangkalan Susu

360

Jambi

Bangko

361

Jambi

Muara Bungo

362

Riau

New Garuda Sakti

363

Sumbar

Kiliranjao

364

Sumbar

Payakumbuh

365

Sumsel

Lahat

Pengembangan Gardu Induk Sumatera (Lanjutan 13)


Tegangan 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 250 kV DC 250 kV DC 500 kV 500 kV DC 500 kV DC 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru 0 0 3.000 1.000 500 1.000 500 Baru 0 Extension 600 Extension 250 Extension 0 2.81 7.45 19.95 16.68 9.82 1.47 324.00 54.31 25.77 36.22 25.77 Baru 500 21.03 Extension 500 17.92 Extension 250 21.03 Baru 0 12.08 Baru 0 12.08 2015 2015 2015 2017 2018 2018 2020 2016 2016 2018 2016 2016 2016 2018 2018 2018 2 x 500 MVA 2 x 500 MVA 2 x 250 MVA Baru 0 12.21 2015 Baru 8 2015 Baru 250 20.08 2015 Baru 250 20.08 2015 Baru 250 20.08 2015 Baru 250 25.98 2015 Baru 500 21.03 2014 2 x 250 MVA Baru 500 24.00 2014 2 x 250 MVA Baru 500 24.28 2014 2 x 250 MVA Extension 0 2.97 2014 Baru 500 25.98 2014 2 x 250 MVA Baru 500 21.88 2013 2 x 250 MVA Baru 500 24.00 2013 2 x 250 MVA Baru 1.000 35.13 2013 2 x 500 MVA Baru 250 20.32 2013 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

No

Propinsi

Nama Gardu Induk

366

Sumsel

Lubuk Linggau

367

Sumut

Galang

368

Sumut

Sarulla

369

Sumut

Padang Sidempuan

370

Jambi

Aur Duri

371

Sumsel

Lahat

372

Sumsel

Lumut Balai

373

Sumsel

Betung

374

Sumsel

Gumawang

375

NAD

Sigli

376

NAD

PLTU Meulaboh

377

NAD

Lhokseumawe

378

Riau

Rengat

379

Riau

Riau Mulut Tambang

380

Sumsel

Muara Enim

381

Sumsel

Bayung Lincir/PLTU Sumsel-5

382

Sumsel

Sungai Lilin/PLTU Sumsel-7

383

Sumut

Pangkalan Susu

384

Jambi

Bangko

385

NAD

Ulee Kareng

386

Jambi

Aurduri

387

Sumsel

Lubuk Linggau

388

Riau

New Garuda Sakti HVDC Station Converter

389

Riau

HVDC Switching Station

390

Jambi

PLTU Jambi 500 kV

391

Lampung

Ketapang Switching Station

392

Sumsel

Muara Enim 500 kV

393

Sumsel

Muara Enim 500 kV

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

394

Jambi

Aurduri 500 kV

395

Riau

New Garuda Sakti 500 kV

396

Riau

Rengat 500 kV

193

Lampiran A1.7
Peta Pengembangan Penyaluran Sistem Interkoneksi Sumatera

Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera

196
Sigli
Sa ma la nga P. La bu Idie Ta k e ngon Tua la ng Cut La ngs a P. Bra nda n P. Sus u
T. Pura

D
Bire un C. True ng Lhok s e uma w e

Ule e Ka re ng

Banda Aceh
P

J a ntho

Se ula w a h

PLTU

M e ula boh

U
Peusangan 1-2 H EPP

Bla ngk je re n Binja i


Law e Mamas H EPP Mabar P. G eli Wampu N amorambe H EPP P. B atu Titi K uning Sei. R otan D enai K. N amu Pe rba unga n K IM G lugur Labuhan Lamhotma P. Pasir B elaw an

PLTU M e ula boh PLTU/ G U Bla ng Pidie Kuta Ca ne T. Tinggi Kis a ra n TNB M a la y s ia Ae k Ka nopa n K. Ta njung PLTU Sumut -2

Bra s ta gi Ta pa k Tua n Re nun HEPP Sidik a la ng Sa bulus a la m Te le M a la ka


D . Sanggul PLTP P. B ukit

G a la ng G .Pa ra P. Sia nta r Pors e a As a ha n I HEPP R. Pra pa t Sima ngk ok


PLTP Sarulla & Sipaholon

T . Moraw a

Ba ga n Sia pi - a pi

Ta rutung
A sahan III H EPP A sahan IV& V H EPP

K. Pina ng Duma i KID

PLTU L. Angin Sibolga Sipa n HEPP Pd . Side mpua n


Minas Pasir Putih Tenayan K andis Peraw ang Siak Sri Indra Pura

G .Tua Ba ga n Ba tu

Duri Ne w G . Sa k ti

P. Pa nga ra y a n
PLTP S. Merapi

G a ruda Sa k ti Ba ngk ina ng Te luk Le mbu Kulim P. Ke rinc i Te mbila ha n

Pa ny a bunga n

Simpa ng4 Pa y a k umbuh Pd. Lua r


B atusangkar

Kt. Pa nja ng HEPP

M a ninja u HEPP
Pariaman

Singk a ra k HEPP T. Kua nta n O mbilin Sa la k Kilira nja o PLTU Cire nti K. Tungk a l Aur Duri Re nga t
Pd. Panjang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Lubuk Alung PIP Pa uh Limo Inda rung Solok Bungus Sumba r Pe s s e l Ka mba ng S. Pe nuh Ba ngk o M ua ra Rupit M e ra ngin HEPP PLTU Sumba-r1
G IS K ota

S.Ha ru

Pa y o Se linc a h

PLTP G . Ta la ng PLTP M . La boh M ua ra Bulia n M ua ra Bungo Sa rola ngun

PLTU J a mbi

B. Linc ir S. Lilin . Be tung Se k a y u 1 . PLTG Apung T.Api -a pi Tl. Ke la pa 3


G IS K ota I

2 . PLTG Ex Pulo G a dung 3 . IPP Pa le mba ng Timur Bora ng 4 PLTP Hulu La is PLTG Ka ji
PLTU S. B elimbing

M uk omuk o

5 1 Ke ra ma s a n Te s HEPP Pe k a longa n Lubuk Lingga u


PLTU K . A gung

7 Buk it As a m Simpa ng 3 Pra bumulih Arga ma k mur T. Tinggi Suk a me rindu P.Ba a i Pa ga r Ala m M us i HEPP
PLTU B anjarsari

M a ria na

M . ENIM La ha t PLTP L. Ba la i PLTP R. De da p M ua ra Dua M a nna

(Operasi 150 kV)

PLTG G . M e ga ng G uma w a ng

Ka y u Agung

M e s uji Dipa s e na Ba tura ja P. Ra tu M e ngga la B . Umpu Sp.Ba ny a k Buk it Ke muning PLTP D. Ra na u Kota bumi

Be s a i HEPP
PLTP S . Sekincau

Eksisting 70 kV Eksisting 150 kV Eksisting 275 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 250 kV Rencana 500 kV Rencana 500 kV AC DC AC DC

Liw a

M e tro Sriba w ono Adija y a Te gine ne ng Na ta r B. Te gi G d. Tataan HEPP Suta mi Pa ge la ra n Langkapura


PLTP U luB elu

Be ngk una t

K. Agung
PLTP Wai R atai

Suk a Tlk . ra me Be tung Tlk . Ra ta i Ta ra ha n


PLTP R ajabasa

Ne w Ta ra ha n Ka lia nda

Sis te m J AWA

Sistem Nangroe Aceh Darussalam (NAD)

PLTD Lueng Bata 60,17 MW


ACSR 2 x 430 mm 2 20 km - 2014 ACSR 2 x 240 mm 30 km - 2014

Krueng Raya

Banda Aceh
ACS R 2 x 430 mm 2 65 km - 2018

ACSR 2 x 430 mm 2 20 km - 2014

Ulee Kareng Sigli Cot Trueng


G GLhokseumawe
A CS R 1 x 240 mm 3 km 2015
2

Lam Pisang
A CS R 1 x 240 mm2 91,9 km ACSR 2 x 240 mm 2 15 km - 2018 ACSR 1 x 240 mm 2 0.5 km - 2012

PLTG Aceh 2x22 MW 2012 1x22 MW 2013 PLTG Lhokseumawe 6x20 MW 2013

Jantho
P

Seulawah
2

Sam alan g a

A CS R 1 x 240 mm 2 km 2014

Bireun Panton Labu D


A CS R 1 x 240 mm 1 km 2012 G
2

ACSR 1 x 240 mm 8 km - 2017

PLTP Seulawah 55 MW - 2017


ACS R 2 x 430 mm 2 161 km - 2015
2

PLTG Aceh Timur 70 MW 2014

A CS R 2 x 240 mm 2 63 km 2013

ACS R 2 x 435 mm 166, 5 km 2012 (Konstruksi 275 kV ) Operasi 275 kV - 2015

PLTA Peusangan 4 83 MW 2018


A CS R 1 x 240 mm 2 10 km 2018

PLTD Cot Trueng 9,4 MW

Idie

A
A CS R 2 x 240 mm 7 km 2016
2

Takengon Langsa

A
A CS R 2 x 240 mm 11 km 2016 A CS R 1 x 240 mm 87 km 2014
2 2

A CS R 1 x 240 mm2 30 km 2012

A CS R 1 x 240 mm 24,1 km

Meulaboh

PLTA Peusangan 1-2 (2x22.1 MW) dan (2x21.1 MW) 2016

Tualang Cut

U
A CS R 1 x 240 mm 95 km - 2013

Blang Kejeren Blangpidie

PLTU Meulaboh #1,2 (FTP1) 2 x 110 MW 2012 PLTU Meulaboh #3,4 2 x 200 MW 2015/2016
A CS R 1 x 240 mm 2 65 km 2013

ke GI Pangkalan Brandan (Sumatera Utara)

Kutacane
A CS R 1 x 240 mm 2 178 km 2013

Tapaktuan

ke GI Brastagi (Sumatera Utara)


Brastagi

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG PLTGU P PLTP
A D

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA

A CS R 1 x 240 mm 55, 6 km 2013

Sidikalang

PETA JARINGAN PROPINSI NAD PLTD PLTA

Sabulussalam

ke GI Sidikalang (Sumatera Utara)

Rencana275 kV HVDC U Rencana500 kV HVDC G


GU

Kit Eksisting

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV

197

Kit Rencana

GI Rencana GI Eksisting GI 275 /150 kV Renc

Sistem Sumatera Utara

198
U

Belawan G
GU U

ACSR 2 x 430 mm 11 km - 2013

ke GI Langsa (NAD)
P . Brandan
ACSR 1 x 240 mm 15 km - 2013 Pa ya Pa sir
2

PLTU P.Susu #1,2 (FTP1) 2 x 220 MW 2012/2013 PLTU P. Susu #3,4 ACSR 2 x 430 mm2 2 x 200 MW 2015 80 km - 2011 PLTGU Belawan 395,3 MW & 422,5 MW PLTG Paya Pasir 90 MW (Total)
Labuhan G Lamhotma
ACSR 2 x 240 mm2 6,2km - 2012

PLTG BELAWAN 400 MW 2013

PLTA Wampu 45 MW 2014

T. Pura
11 PLTG Glugur 19,85 MW & 12,85 MW
CU 1000 KIM 10 km - 2015

PLTU Belawan 4 x 65 MW

Mabar G

Binjai 13 Perbaungan
U
P LTU S ewa Kuala Tanjung 3x120 MW 2013 2 GIS Listrik

to GI Kutacane (NAD)
ACSR 2 x 430 mm 80 km - 2013 Paya Geli
T i Kuning

2 Kuala Namu
Denai
2

7 3 Binjai Sei Rotan


ACSR 2 x 240 mm 17 km 2013
2

Glug ur

Perbaungan

A
ACSR 1 x 240 mm 40km - 2014
2

15
P

Galang Brastagi
A CS R 1 x 240 mm 33 km - 2013
2

ACSR 1 x 240 mm 2 178 km - 2013


A

Tebing Tinggi Negeri Dolok


PLTD Ti Kuning 6 x 4,14 MW PLTM Tersebar Karai-1(2x5) Karai -7(2x3,2) Karai-12(2x3,7) Karai-13(2x4,2)

A CS R 2 x 240 mm 15 km - 2013

Namurambe
D ACSR 2 x 430 mm 40 km - 2012 ACSR 2 x 430 mm2 Galang10 km -2012

Kualatanjung

T.Morawa

PLTA Renun 2 x 41 MW
A D

G.Para Kisaran
2

Renun
ACSR 2 x 430 mm 2 159 km - 2013 Simangkok
A
A CS R 2 x 240 mm 11 km - 2016 Asahan III
2

PLTP Sibayak 10 MW

Pematang Siantar
ACS R 4 x 282 m m 200 km - 2020

to ACSR 1 x 240 mm2 GI Sabussalam 55,6 km - 2013 (NAD) A CS R 1 x 240 mm


2

Sidikalang Pangururan
Asahan I PLTA Asahan I 180 MW - 2010

30 km - 2013

Labuhan Bilik

PLTMH tersebar Lae-Ordi-1( 2x2,5),Lae-Ordi2(2x5),Lae-Kombih 2(2x4) 2

Salak
A PLTA Hasang 40 MW - 2017 A A
A CS R 1 x 240 mm 65 km 2012
2

Tele
A CS R 1 x 240 mm 13 km - 2013 A CS R 1 x 240 mm 2 30 km - 2017
2

Porsea Aek Kanopan

Dolok Sanggul/ Parlilitan


ACSR1 x 240 mm 7 km - 2013
2

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


PLTMH tersebar Parlilitan (3x2,5), Hutaraja(2x2,5), Pakkat(2x5), TaraBintang(2x5), Simonggo(3x3), Rahu-1(2x4), Rahu-2(2x2,5)
A

PLTA Asahan III(FTP2) 174 MW - 2016

A P
ACSR 1x 240 mm 2 km - 2019
2

PLTA Simonggo 2 86 MW 2017 PLTP Simbolon Samosir 2 x 55 MW 2019 P


A CS R 1 x 240 mm 2 25 km - 2018

ACSR 2 x 430 mm2 97 km - 2013

Rantau Prapat

Tarutung

Kota Pinang

Labuhan Angin U
A

Sibolga

PLTU Labuhan Angin 2 x 115 MW PLTA Sipan 17 MW & 33 MW

PLTP Sipoholon Ria-Ria Sarulla 55 MW 2019 ACSR 2 x 430 mm2 69 km - 2013 PLTP Sarulla 1 (FTP2) 330 MW 2014/2015 PLTP Sarulla 2 (FTP2) 110 MW 2017

ke GI Bagan Batu (Riau)

Gunung Tua

Padang Sidempuan
ACSR 1 x 240 mm2 70 km 2013

Panyabungan
Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG PLTGU P PLTP
A D

ACSR 2 x 430 mm 300 km - 2014


2

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA

PLTP Sorik Merapi (FTP2) 240 MW 2018

PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA UTARA PLTD PLTA

m m 0 24 17 x 0 1 -2 R km CS 3 A 2

ke GI Payakumbuh (Sumatera Barat)

Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G


GU

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc

Kit Eksisting Kit Rencana

Sistem Riau

Bagan Siapi - Api


PLTU Sewa Dumai 2x120 MW 2013

ke GI Kota Pinang (Sumatera Utara)

MALAYSIA

Bagan 114 km - 2013 Batu


PLTGU Duri 100 MW 2012

ACSR 1 x 240 mm

Dumai KID
ACSR 1 x 240 mm2 28 km - 2013

ACSR2 x 240 mm 2 7 km - 2013 U

GU

PLTG Duri 100 MW 2012

SUMATERA UTARA
Duri
G ACSR2 x 240 mm 2 5 km - 2015

SINGAPURA

PLTG Duri (Relokasi ) 60 MW 2011 /2012

Pasir Pangaraian Perawang Siak Sri Indra Pura


2

Kandis
ACSR 1 x 240 mm 2 25 km - 2014

ACSR2 x 240 mm 2 11 km - 2011

A CS R 1 x 240 mm 110 km - 2013 2

New Garuda Sakti


ACSR 2 x 430 mm 150 km - 2013

Garuda Sakti
ACSR 2 x 430 mm 2 27.5 km 2013 CU 1000 7 km - 2014

ACSR 2 x 430 mm 2 25 km - 2014 U

ACSR 1 x 240 mm 2 Pasir ACSR2 x 430 mm 50 km - 2014 Putih 17.5 km - 2013 Tenayan

GIS
ACSR2 x 240 mm 67 km 2013
2

PLTU Riau (Amandement FTP1) 2x110 MW 2013/2014 2

Bangkinang Koto Panjang


A
A CS R 1 x 240 mm 2 35 km - 2015

Teluk Lembu
G
ACSR 2 x 240 mm 20 km 2015

Pangkalan Kerinci

SUMATERA BARAT
Lipat Kain
ACSR 4 x 430 mm 220 km 2015 (Konstruksi 500 kV)
ACSR2 x 240 mm 2 97 km - 2013
2

PLTG Teluk Lembu 2 x 21,6 MW PLTG Riau Power 20 MW

ACSR 2 x240 mm 2 110 km - 2014

PLTA Koto Panjang 3 x 38 MW

ke GI Payakumbuh (Sumatera Barat)


Teluk Kuantan

Rengat

ACSR1 x 240 mm 2 60 km -2014

Tembilahan
ACSR 2 x 430 mm 55 km - 2016
2

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG PLTGU PLTP
P A D

A CS R 1 x 240 mm 2 nd 52 km 2 cct - 2012

ACSR 4 x 282 mm2 210 km 2015 (Konstruksi 500 kV)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


U

PETA JARINGAN PROPINSI RIAU PLTD PLTA GI Rencana

Rencana275 kV HVDC U Rencana500 kV HVDC G


GU

Kit Eksisting

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV GI Eksisting GI 275 /150 kV Renc

ke GI Kiliranjao (Sumatera Barat)

PLTU Riau MT 2x300 MW 2016/2017

ke GI Aur Duri (Jambi)

199

Kit Rencana

JAMBI

Sistem Sumatera Barat

200
SUMATERA UTARA
ke GI Padang Sidempuan (Sumatera Utara) Ke GI New Garuda Sakti (Riau)
2

New Garuda Sakti

PLTA Masang 2 55 MW 2017 A A PLTP Bonjol 165 MW 2019


2

ACSR 2 x 430 mm 300 km - 2013 PLTA Batang Agam 3 x 3,5 MW

ACSR 2 x 430 mm 150 km - 2013

Koto Panjang

Simpang Empat
A CS R 1 x 240 mm 15 km 2017

P
A CS R 1 x 240 mm 52 km 2020
2

ke GI Koto Panjang (Riau)

RIAU

A CS R 1 x 240 mm 2 nd 32 km, 2 cct 2012 A CS R 1 x 240 mm2 nd 42 km, 2 cct 2012

Payakumbuh
A

Maninjau
A
A CS R 1 x 240 mm 25 km, 2 nd cct 2012
2

PLTA Maninjau 4 x 17 MW

Padang Luar Batusangkar


ACSR 2 x 430 mm2 141 km - 2013

Pariaman Lubuk Alung


PLTA Singkarak 4 x 43,75 MW
A
2

Padang Singkarak Panjang Ombilin Salak Solok


PLTU Ombilin 2 x 100 MW
A CS R 1 x 240 mm 2 35 km 2013

ke GI Teluk Kuantan (Riau)


ACSR 1 x 240 mm nd 52 km, 2 cct - 2012

PIP GI/GIS Kota Simpang Haru Indarung


P
2

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


A CS R 2 x 240 mm 2 8 km 2016

Pauh Limo Kiliranjao


A CS R 1 x 240 mm 2 10 km 2019

PLTG Pauh Limo 3 x 21,35 MW


A CS R 2 x 240 mm 17,5 km 2011

Sungai Rumbai
ACSR 2 x 430 mm 117 km (Operasi 150 kV)
A CS R 2 x 240 mm 2 80 km - 2017 2

Bungus
A CS R 2 x 240 mm 2 5 km - 2012

PLTP G.Talang 20 MW 2019

U
A CS R 2 x 240 mm 2 90 km - 2011

ke GI Muara Bungo (Jambi)


P PLTP Muara Labuh 2 x 110 MW 2017

PLTU Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1) 2 x 112 MW 2012 /2013

Kambang

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG PLTGU P PLTP
A D

ACSR 2 x 240 mm 110 km - 2015

JAMBI
Sungai Penuh

PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA BARAT PLTD PLTA

ke GI Bangko (JAMBI)

Rencana 275 kV HVDC U G


GU

Rencana 500 kV HVDC

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc

Kit Eksisting Kit Rencana

ke GI Muko-muko (Bengkulu )

BENGKULU

Sistem Jambi

RIAU
ke GI Rengat (Riau)
Kuala Tungkal
ACSR 1 x 240 mm2 54,4 km - 2018

Ke GI Kiliran Jao (Sumatera Barat)

Muara Sabak
PLTG Sengeti (CNG/Peaker ) 80 MW 2012 /2013 ACSR 2 x 340 mm 60,8 km - 2013
2

SUMATERA BARAT
Muarabungo
ACSR 2 x 330 mm 2 195 km
G
2 A CS R 1 x 240 mm 2 13 km - 2013

ACSR 2 x 430 mm2 117 km (Operasi 150 kV) ACSR 4 x 430 mm2 210 km 2015 (Konstruksi 500 kV)

ACSR 2 x 340 mm 1 km

Aur Duri
2

Payo Selincah

A CS R 2 x 340 mm 2 20,5 km

PLTD Py .Selincah : 6 x 5,2 MW PLTG Batang Hari : 2 x 30 MW PLTG Jambi : 18 MW

Muara Bulian
2
2

ACS R 1 x 240 mm 30 km - 2013

Sewa PLTMG Sungai Gelam 12 MW 2011 Sewa PLTG Payo Selincah 100 MW 2011 /2012 ST Cycle Batanghari 30 MW - 2012

ACSR 2 x 430 mm 73 km (Operasi 150 kV) ACSR 2 x 430 mm2 68 km - 2012 ACSR 1 x 240 mm2 65 km - 2014
U

ACSR 2 x 430 mm 2 55 km - 2012

m m 2 8 28 1 x 20 4 R m S k C 5 A 7

A G C S 6 R2 0 km x 4 G - 30 20 m 14 m 2

Sungai Penuh Bangko

PLTG/MG Sungai Gelam (CNG/Peaker ) 90 MW 2012

ke GI Bayung Lincir (Sumatera Selatan)

A CS R 1 x 240 mm 42 km - 2015

PLTA Merangin 2 x 175 MW 201 6/2017

PLTU Jambi KPS 2 x 400 MW 201 8/2019

PLTP Sungai Penuh (FTP2) 2 x 55 MW 2015 ACSR 2 x 430 mm2 195 km (Operasi 150 kV) ACSR 1 x 240 mm2 40 km - 2017

Sarolangun

ke GI Muara Enim (Sumatera Selatan)

SUMATERA SELATAN

Muara Rupit

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA PETA JARINGAN PROPINSI JAMBI

Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU Kit Eksisting PLTG Kit Rencana
GU

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


ke GI Lubuk Linggau (Sumatera Selatan)
Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV

BENGKULU

D Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G A

PLTD PLTA PLTGU P PLTP

GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc

201

Sistem Bengkulu

202
JAMBI
ke GI Bangko (Jambi)
ACSR 2 x 240 mm2 180 km - 2020

SUMATERA ke GI Kambang BARAT (Sumatera Barat)

ACSR 2 x 240 mm2 110 km - 2015

Muko- muko

ACSR 2 x 430 mm2 195 km (Operasi 150 kV) PLTA Tes 4 x 4,41 MW & 2 x 0,66 MW

PLTA Tes
A ACSR 1 x 185 mm2 A CS R 2 x 40 km
240 mm 2 60 km - 2015

ke PLTP Hulu Lais (Sumsel)


Lubuk Linggau

SUMATERA SELATAN

Pekalongan Argamakmur
A CS R 2 x 240 mm 2 10 km - 2015
2

ACSR 2 x 340 mm2 15 km


A
A CS R 2 x 240 mm 2 P 20 km - 2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


ACSR 2 x 340 mm2 70 km ACSR 2 x 430 mm2 117 ,2 km (Operasi 150 kV)
Uprating to TA CS R 1 x 185 mm2 2011

ACSR 2 x 240 mm 90 km - 2015 ACSR 1 x 185 mm2 61 km

PLTA Musi
PLTA Musi 3 x 70 MW

Sukamerindu
D ACSR 2 x 240 mm 45 km - 2013

Pulau Baai
2

PLTP Kepahiyang 220 MW 2020 PLTA Simpang Aur #1,2 23 MW 2015

Lahat

ke GI Bukit Asam (Sumatera Selatan)

PLTD Sukamerindu 3 x 5,22 MW PLTD Baai 21,58 MW (Total )

ACSR 1 x 240 mm2 47,3 km, 2 nd cct - 2011

Pagar Alam

ACSR 1 x 240 mm 48 km - 2012

Manna
Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU GI Rencana PLTG
A P D

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA

ACSR 1 x 240 mm 2 70 km - 2017

PETA JARINGAN PROPINSI BENGKULU PLTD PLTA PLTP

Rencana275 kV HVDC U Rencana500 kV HVDC G


GU

Bintuhan

LAMPUNG

Kit Eksisting PLTGU

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV GI Eksisting GI 275 /150 kV Renc

Kit Rencana

Sistem Sumatera Selatan

JAMBI
ACSR 2 x 430 mm2 60 km - 2014
U

ke GI Aur Duri (Jambi)


PLTU Sumsel - 5 2 x 150 MW 2015 /2016

ke GI Bangko (Jambi) ke GI Aurduri (Jambi)


PLTG Borang TM #1 & #2 : 2 x 18 MW PLTG Borang : 33 MW IPP Borang : 150 MW PLTG Sewa 60&30 MW 2011 /2012
2

Bayung Lincir
PLTU Sumsel - 7 2 x 150 MW 2015 /2016

BANGKA BELITUNG

ACSR 2 x 430 mm2 62 km - 2014 PLTG T. Duku (Sewa ) 60 MW 2011


G
G GU A CS R 1 x 240 mm 60 km - 2014

Sungai Lilin 1. Keramasan 70 kV 2. Bukit Siguntang 3. Talang Ratu 4. Seduduk Putih 5. Borang 70 kV 6. Sungai Juaro 7. Sungai Kedukan
PLTG Boom Baru 12,8 MW
GU

ACSR 2 x 430 mm 195 km (Operasi 150 kV)

Talang Duku
G

ACSR 2 x 430 mm2 60 km - 2014


A CS R 2 x 330 mm 2 20 km - 2012

Tanjung Api-Api Kenten Borang 5


D

PLTD Sungai Juaro 2 x 12,6 MW

PLTU Sumsel 11, MT 2x113,5 MW 2014

Sekayu Betung
2 cct 2014 CU 1000 mm 10 km - 2013
2 nd

Talang Kelapa
Gandus

4 3 2
G U
A CS R 2 x 330 mm 2 0,5 km - 2013

PLTU Bukit Asam : 4 x 65 MW PLTD Bukit Asam : 2 x 6,3 MW


A CS R 1 x 240 mm2 35 km - 2013

9 6 7

PLTP Hulu Lais (FTP2) 2 x 55 MW 2015


P U G
G U

PLTU Sumsel 6 2x300 MW 2016 /201 7 PLTG Simpang Tiga 40 MW & 50 MW

Keramasan
G GU

1 8

8. Bungaran 9. Boom Baru

Lubuk Linggau
U

Simpang Tiga
Jaka Baring
A CS R 2 x 430 mm 2 30 km - 2014

PLTU Keramasan : 2 x 12,5 MW Mariana PLTG Keramasan : 2 x 11,75 MW & 21,35 MW

BENGKULU
2

A CS R 1 x 240 mm 60 km - 2015

AC S R 175 2 x km 430 - 2 mm 2 015

ACSR 2 x 430 mm2 U 117,2 km (Operasi 150 kV)

Prabumulih
PLTG Sewa Keramasan 2 x 50 MW
A CS R 2 x 430 mm 2 45 km - 2014

Kayu Agung

PLTG Jaka Baring (CNG/Peaker ) 50 MW 2012

4 5 : ACSR 2 x 330 mm2 ; 10,1 km ; 2012 9 4 : ACSR 2 x 330 mm2 ; 3,5 km ; 2012 Talang Kelapa GIS Kota I : ACSR 2 x 330 mm2 ; 45 km

A CS R 1 x 240 mm 75 km - 2014

2
2

A CS R2 60 kmx 3 30 mm 2 - 2012

U U U G
G

ke GI Pekalongan (Bengkulu)
Tebing Tinggi
ACSR2 x 3 30 mm 2 20 km - 2015
40 mm 5 2x2 A C SR km 201 35

Muara Enim Gunung Megang Bukit Asam


ACSR 2 x 430 mm 2 145 km - 2014 PLTGU Keramasan 86 MW 2013

PLTGU Indralaya 40 MW

PLTU Sumsel 2 (Keban Agung) 2 x 112,5 MW 2015

Lahat
2

PLTU S.Belimbing #1,2 2 x 113 ,5 MW 2011

Gumawang

Pagar Alam
2
nd

t, cc

ACS R 2 x 430 m m 50 km - 2014 2 12 20 A CS R 2 x 240 mm 20 km - 2018

ACSR 2 x 430 mm2 35 km - 2014


IPP PLTG Gunung Megang 2 x 40 MW ST Cycle 30 MW - 2012

A CS R 1 x 240 mm 2 60 km - 2012

Lumut Balai
P

PLTU Banjarsari 2 x 115 MW 2014

Baturaja
P

PLTP Lumut Balai (FTP2) 2 x 110 MW 2014 /2015 ACSR 4 x 282 mm2 300 km - 2016 PLTP Danau Ranau 2x55 MW 2019
ACSR 2 x 240 mm2 46 km -2015

A CS R 1 x 240 mm 60 km - 2016

ke GI Mesuji (Lampung)

Martapura

ke GI Manna (Bengkulu )
PLTP Rantau Dedap (FTP2) 2x110 MW 2018/2019

ke GI Menggala (Lampung)
Muara Dua
2

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG
A D P

ACSR 2 x 240 mm 45 km - 2019

PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA SELATAN PLTD PLTA PLTP

ke GI Bukit Kemuning (Lampung)

Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G


GU

Kit Eksisting PLTGU P

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV

Kit Rencana

LAMPUNG

203

204

Sistem Lampung

ke GI Bukit Asam (Sumatera Selatan)


ACSR 2 x 240 mm 2 80 km 2015

ke GI Gumawang (Sumatera Selatan)


Mesuji
ACSR 2 x 240 mm2 76 km 2015
A CS R 2 x 430 mm 0.5 km - 2016
2

SUMATERA Baturaja SELATAN


Pakuan Ratu Dipasena

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


ke GI Muara Enim (Sumatera Selatan)
Menggala 60 km - 2013
PLTD Tegineneng 3 x 9,4 MW

BENGKULU
Bukit Kemuning Kotabumi
A CS R 1 x 240 mm 2 40 km - 2014 2

Blambangan Umpu

ACSR 2 x 430 mm 2

ACSR 1 x 240 mm2 60 km 2012

Seputih Banyak

Besai Liwa
A CS R 2 x 240 mm 2 19 km - 2020 A CS R 1 x 240 mm 60 km - 2019
2

ACSR 4 x 282 mm 300 km - 2016

PLTD Metro 3,75 MW (Total )

ACSR 2 x 430 mm 70 km - 2011

Adijaya
PLTA Besai 2 x 45 MW
D

Metro

PLTP Suoh Sekincau 4 x 55 MW 2018 /2019

Batutegi
A
A CS R 2 x 240 mm 2 20 km - 2012

PLTA Batutegi 2 x 14,8 MW

Tegineneng

Sribawono

Ulubelu
P A

CU 1000 mm 2

Natar Langkapura
A CS R 1 x 240 mm 2 1 km - 2017
2

PLTU Tarahan #5,6 (Sewa) 2 x 120 MW 2013


8 km - 2016 Gedong Tataan A CS R 2 x 240 mm Jatiagung

PLTP Ulubelu #1,2 (FTP1) 2x55 MW 2012 /2013 PLTP Ulubelu #3,4 (FTP2) 2x55 MW - 2015 PLTA Semangka 56 MW 2016

Sutami
D
30 km - 2015 2 A CS R 1 x 240 mm 30 km - 2015

A CS R 1 x 240 mm 2 2 40 km - 2014 A CS R 1 x 240 mm 30 km - 2016

PLTP Wai Ratai 55 MW 2019

Teluk Sukarame BetungD G Kota Agung


P

PLTU Tarahan #3 & #4 2 x 100 MW

Tarahan
PLTD Talang Padang 12,5 MW
A CS R 1 x 240 mm 2 20 km - 2020

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Edit September 2011 PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG
A D

Bengkunat

Teluk Ratai
PLTD Teluk Betung 18,18 MW (Total )

New Tarahan
U

A CS R 2 x 430 mm 0,5 km - 2011

PLTU Tarahan (FTP1) 200 MW 2012

Kalianda
A CS R 2 x 240 mm 20 km - 2017
2

A CS R 2 x430 mm 45 km - 2015

PETA JARINGAN PROPINSI LAMPUNG PLTD PLTA PLTP

Ketapang
PLTG Tarahan : 21,35 MW PLTD Tarahan : 48,54 MW (Total ) PLTP Rajabasa (FTP2) 2 x 110 MW 2017
P

Rencana275 kV HVDC U Rencana500 kV HVDC G


GU

Kit Eksisting PLTGU P

Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV GI Rencana GI Eksisting GI 275 /150 kV Renc

Kit Rencana

Lampiran A1.8
Analisis Aliran Daya Sistem Interkoneksi Sumatera

Prakiraan Aliran Daya Sistem Interkoneksi Sumatera Tahun 2011


1

1.209,78 MW

1.158,78 MW

BBATU

KTPJG

SUB SISTEM RIAU


172.2 MW

PYBUH

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

SUB SISTEM JAMBI


BNGKO

LLGAU

206
85.9 MW 211 MW

240.12 MW

83 MW

SUB SISTEM NAD SUB SISTEM BENGKULU


PKLNG

LANGSA

172.4 MW 121 MW

PBDAN

194.3 MW 177 MW

0 MW 168.4 MW

LLGAU 599.7 MW

INALUM

SUB SISTEM SUMUT


MBNGO

SUB SISTEM SUMSEL


BTRJA

875 MW

SMKOK

160 MW 148.8 MW PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

222.4 MW

160 MW

KTPNG

BKMNG & BUMPU

KLJAO

SUB SISTEM LAMPUNG SUB SISTEM SUMBAR


397 MW 568.68 MW 458.77 402.28 MW MW

275 kV 196 MW 359 MW

150 kV

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2012


PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

LAHAT L LA HAT A 8.6 MW 38.5 MW 67.5MW

56 MW

LLGAU

BNGKO

MBNGO

KLJAO

160 MW

SMKOK

SUB SISTEM BENGKULU


PYBUH

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL

SUB SISTEM SUMUT

SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL


- MW 47.1 MW 164.9 MW 188.9 MW 626 MW 464 MW KTPNG
80.2 MW

177 .8 MW 97.88 MW

1049 MW 1273 MW PBDAN

160 MW

56 MW 47.2 MW 67.5 MW 28.8 MW

64.8 MW

BTRJA

199 MW

BNJAI

82.4 MW

858 MW

723 MW

151 MW

KTPJG

PSUSU

BBATU

BKMNG & BUMPU

SUB SISTEM LAMPUNG


360 MW 460 MW

LNGSA

SUB SISTEM NAD

PLTU Pangkalan Susu 1 X 220 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


SUB SISTEM RIAU
705 MW

525 MW

275 kV

273 MW

373 MW

150 kV

200 MW

207

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2013


PLTP SARULLA PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

36 MW

156.8 MW

25.4 MW

53.5 MW

SUB SISTEM BENGKULU


PYBUH

SUB SISTEM BANGKO

15.3 MW

SUB SISTEM JAMBI

SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL

138.6 MW W

SUB SISTEM SUMUT


18.2 MW

SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL


- MW 53.4 MW 277.9 MW 261.6 MW 552 MW 522 MW KTPNG
160.6 MW

160 MW

129.6 MW

966 MW 1400 MW PBDAN


286 MW

KTPJG

199.2 MW

95.6 MW

BBATU

BKMNG

SUB SISTEM LAMPUNG


697 MW 537 MW

LNGSA

SUB SISTEM NAD

717.3 MW 792 MW

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW

275 kV

259 MW

451 MW

150 kV

304 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


160 MW 134 .8 MW 134.8 MW 134 MW
152 MW W 25.3 MW

208
BNGKO 174.6 MW MBNGO KLJAO O 138 .6 MW PYBUH SMKOK OK K GLANG GLA L NG BNJAI I 304 MW PSUSU

LAHAT

156.9 MW

LLGAU

BTRJA & MRDUA

705 MW

792 MW

SUB SISTEM RIAU

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2014


PLT P SARULLA 330 MW PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

PLTP LUMUT BALAI 2 x 55 MW

100 MW

LAHAT 260.2 MW SRULA L


21.8 MW W 46.6 MW 17.2 MW

330.8 MW
44.1 MW

LLGAU 215 MW 102.4 MW 113 .2 MW 13.4 MW

304.3 MW

BNGKO

MBNGO

KLJAO

234.6 MW PYBUH

PSDEM

100 MW

160 MW

SMKOK

124.7 MW

34.3 MW

430.6 MW

100.4 MW

10 MW

SUB SISTEM BENGKULU & T.TINGGI SUB SISTEM BANGKO


PYBUH

SUB SISTEM JAMBI

SUB SISTEM SUMBAR DAN RIAU SEL

SUB SISTEM SUMUT

136.6 MW
GLANG

SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SELATAN


233.4 233 4 MW

191 MW KTPNG

152.73 MW

100 MW 54.9 MW 349 MW 273.8 MW 520 MW 628 MW

1523 MW

1674 MW
11.8 MW

PBDAN
93 MW 267.9 MW 293.5 MW

954 MW

1012 MW

GWANG NEW GSKTI

BTRJA & MRDUA

BNJAI

104.9 MW

232.8 MW

69.4 MW

229 MW

KTPJG

PSUSU

BBATU

SUB SISTEM RIAU

BKMNG

MNGLA

SUB SISTEM LAMPUNG

880 MW

647 MW

LNGSA

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

SUB SISTEM NAD

PLTU Pangkalan Susu 2 X 220 MW 2 X 200 MW

275 kV
266 MW 530 MW

150 kV

669.8 MW 946 MW

400 MW

PSUSU

209

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2015


PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

159.4 MW

LAHAT 1.2 MW SRULA 266 MW

25.6 MW

LLGAU

18.8 MW

BNGKO

MBNGO

84.8 MW KLJAO PYBUH PSDEM 34 MW

134 MW

216.4 MW

300 MW

156 MW

6 MW

18.6 MW

47.9 MW

14.6 MW

83.7 MW

48.9 MW

199.2 MW

6 MW

SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL


20 209 09 .3 MW 296.5 MW 0 542.3 MW KLJAO PYBUH 702.6 MW
39.2 MW

SUB SISTEM BENGKULU SUB SISTEM SUMBAR

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

118.9 MW

SUB SISTEM SUMUT & NAD SEL


GLANG

2.1 MW

176.8 MW 196.4 MW
202.2 MW

BTRJA
S LILIN 18.2 MW

GWANG

361 MW

MENIM
67.2 MW

182.7 MW

439 MW

RNGAT A

12.6 MW W

NEW GSKTI
51.8 MW

280 MW

300 MW

266 MW

BKMNG B K MNGLA

PLTU Sumsel6 MT 1 x 300 MW

SUB SISTEM LAMPUNG

PLTU CIRENTI I 1 x 300 MW PENINSULAR INTERCONNECTION (HVDC) 576.2 MW 681.5 MW

LNGSA

GWANG

SUB SISTEM NAD

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 2 x 200 MW

305 2 MW 305.2 600 MW 517 MW 671 MW

275 kV

150 kV

720 MW 1047 MW

720 MW

SUB SISTEM RIAU

BBATU

206

BTUNG 195 MW

SLILIN

BLINCIR

BNJAI

190.6 MW TLKTN

PSUSU 281 MW KTPJG

PSUSU

73.8 MW

210
PLT P SARULLA 1 330 MW SMKOK 192 MW 264 .6 MW 1120 .3 MW KTPNG 1763 .13 MW PBDAN 80 MW ADURI 60.68 MW

PLTP LUMUT BALAI 4 x 55 MW

200 .7 MW 191 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

815 MW 1145 .3 MW

365.2 MW 3

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2016


PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

PLTP LUMUT BALAI 4 x 55 MW PLTP SARULLA 1 330 MW

160 MW

300 MW

LAHAT SRULA

241 MW

LLGAU

175.5 MW

BNGKO

189.2 MW

MBNGO

147.8 MW

KLJAO

19.1 MW

PYBUH

17.4 MW

PSDEM

143.5 MW

156 MW

160 MW

SMKOK

274 .5 MW

62.1 MW

6.8 MW

136.6 MW

128.7 MW

40.1 MW

146.3 MW

160.9 MW

38.9 MW

SUB SISTEM BENGKULU SUB SISTEM SUMBAR

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

55.1 MW

SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SELATAN


191.4 MW

SUB SISTEM SUMUT

269 .9 MW
GLANG

178.3 MW 238 MW
144.7 MW

75.8 MW ADURI KLJAO PYBUH

67 MW

84.1 MW 311.6 MW 526 MW 762 MW KTPNG

1267.3 MW 1835 MW
4.9 MW

1026 MW 1243 MW SLILIN 39.6 MW BLINCIR 199 MW

425 MW

PBDAN

259 MW

240 MW

8.1 MW

139. 2 MW

S LILIN 19. 2 MW

240 MW

BTRJA

GWANG

284.6 MW

BTUNG

BNJAI

PLTU SLILIN 2 x 150 MW RNGAT 211 MW


194.6 MW

PLTU BLINCIR 2 x 150 MW

NEW GSKTI
65.8 MW

PENINSULAR INTERCONNECTION

MENIM

317.3 MW

279.7 MW PSUSU

167.8 MW TLKTN

KTPJG

317.3 MW
600 MW

540 MW

402 MW

SUB SISTEM RIAU

228.6 MW KRUENG RAYA RAY AYA PLTU Meulaboh 2 x 200 MW 240 MW 228 .7 M MW W 357 MW SIGLI 88.8 MW

PSUSU

BKMNG MNGLA

PLTU CIRENTI 2 x 300 MW 532.2 MW 777 MW

PLTU Sumsel 6 MT 2 x 300 MW

SUB SISTEM LAMPUNG

SUB SISTEM NAD

GWANG

SIST MEULABOH Load : 65 MW

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 2 x 200 MW 40.8 MW


190 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


125 MW 1105 MW PLTU Meulaboh 2 x 110 MW

420 MW

40.7 MW LSMWE

212.7 MW 710 MW

275 kV

150 kV

723 MW

211

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2017

170 MW

LAHAT 146.5 MW 336 .9 MW


45.2 MW 127.7 MW

82.3 MW

LLGAU 192 MW 225.3 MW

BNGKO

MBNGO

152.4 MW

KLJAO 125.4 MW 46.9 MW SRULA

PYBUH PSDEM

290 MW

160 MW

64.5 MW

38.3 MW

29 MW

178.3 MW

222.2 MW

SUB SISTEM SUMSEL

SUB SISTEM BENGKULU SUB SISTEM SUMBAR

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

178.4 MW

SUB SISTEM SUMUT


GLANG

30.2 MW

90.6 MW

156 .4 MW ADURI KLJAO SLILIN 41.6 MW 198 .4 MW B.LINCIR PYBUH

217.4 MW

119 .2 MW

73.9 MW

228.6 MW

240 MW

147.6 MW

PLTU S.Lilin 2 x 150 MW PLTU B.Lincir 2 x 150 MW 226 MW

NEW GSKTI
1.6 MW

PENINSULAR INTERCONNECTION

178.3 MW

RNGAT

111.4 MW

SLILIN 20.6 MW

240 MW

30.8 MW

BTRJA

GWANG

445.4 MW

BTUNG

260 MW

BNJAI

417.4 MW PSUSU

MENIM

500 MW

198.4 MW

TLKTN

KTPJG

174 MW
600 MW

458.9 MW

SUB SISTEM RIAU


PLTU Meulaboh 360 MW 2 x 200 MW 638 .6 MW 821 MW 468.1 MW SIST MEULABOH Load : 69.1 MW 120.6 MW
190 MW

KRUENG RAYA 175.2 MW SIGLI 130.4 MW

PSUSU

BKMNG MNGLA

PLTU MTSumsel 6 2 x 300 MW

SUB SISTEM LAMPUNG

PLTU CIRENTI 2 x 300 MW

162.5 MW

SUB SISTEM NAD

GWANG

129.8 MW LSMWE PLTU Meulaboh 2 x 110 MW 257 MW 835 MW

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 2 x 200 MW

261 .6 MW

275 kV

150 kV

929.3 MW 1169 MW

28 MW

212
PLT P SARULLA 1 330 MW PLTP SARULLA 2 110 PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW SMKOK 464.4 MW 430.1 MW 73.2 MW 336 .1 MW 707.9 MW 847 MW 1005 .9 MW 2044 MW PBDAN

PLTP LUMUT BALAI 4 x 55 MW

798 MW 1336 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

406.6 MW

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2018

PLTP LUMUT BALAI 4 x 55 MW PLT P SARULLA 1 330 MW PLTP SARULLA 2 110


180 MW 140 MW

160 MW

240 MW BNGKO 325.9 MW


200 MW

80 MW

PLTP RANTAU DADAP 4 x 55 MW PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW

LAHAT 86.6 MW 307.2 MW 167 .6 MW 536 .6 MW 296 MW 474 MW

69.8 MW

LLGAU

MBNGO

KLJAO SRULA

PYBUH PSDEM

SMKOK

546 MW

10 MW

294 MW

239 MW

13.6 MW

240 MW

SUB SISTEM SUMSEL


393.4 MW

SUB SISTEM BENGKULU SUB SISTEM SUMBAR


443 MW 36 MW
P LTU MT M 1x400 MW

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

138.7 MW

SUB SISTEM SUMUT

53 MW

486 .2 MW
GLANG

125.3 MW

400 MW

619 MW
397.8 MW

1336 MW KLJAO NEW GSKTI GSKT K I 500 kV PYBUH

238 MW

221 .7 MW 330 MW 81.5 MW

570 MW

892 MW

585.2 MW

ADURI

890 MW

2088 MW PBDAN

BTUNG 438 .4 MW SLILIN ADURI 500 kV


275.9 MW 654 MW MW

263 .4 MW B.LINCIR 4.8 8 MW 654.1 MW

RNGAT A 500 kV

200 MW

260 MW

BTRJA SLILIN
21. 0 MW

GWANG 17.8 MW RNGAT

445 MW

BNJAI
211 MW 330 MW

1.3 MW

PLTU B.Lincir 2 x 150 MW


P LTU JA MB I ME RA NG 1x400 MW

MENIM

380 M MW

PLTU S.Lilin 2 x 150 MW

NEW GSKTI

PENINSULAR INTERCONNECTION

385 MW PSUSU KTPJG

260.6 MW

55.1 MW

TLKTN

540 MW

540 MW

SUB SISTEM RIAU


PLTU Meulaboh 2 x 200 MW 592 MW 890 MW SIST MEULABOH Load : 69.5 MW
160 MW

249 .5 MW KRUENG RAYA 360 MW 439 MW SIGLI 119 .3 MW

BKMNG MNGLA

PLTU MTSumsel 6 2 x 300 MW

SUB SISTEM LAMPUNG


PLTU CIRENTI 2 x 300 MW

GWANG

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


90.1 MW 1193 MW PLTU Meulaboh 2 x 110 MW

67.8 MW LSMWE

406 MW

205 MW

855 MW

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 2 x 200 MW

275 kV

150 kV

810 MW

720 MW

SUB SISTEM NAD

60.3 MW

439 .7 MW

213

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2019

80 MW

150 MW

160 MW

LAHAT 227 .9 MW 421.8 MW 427 MW 261 .7 MW 361 .7 MW 165 MW 314 MW

272.7 MW

LLGAU

BNGKO

MBNGO

KLJAO SRULA

PYBUH PSDEM

160 MW

194 MW

39.9 MW

11.8 MW

14.5 MW

209 MW

267.3 MW

196.6 MW

453.9 MW

GLANG

17.4 MW 456.3 MW ADURI 454 MW KLJAO NEW GSKTI 500 kV PYBUH 917 MW
P LTU MT 2x400 MW

420 MW

SUB SISTEM SUMSEL

SUB SISTEM BENGKULU SUB SISTEM SUMBAR

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

SUB SISTEM SUMUT

26.1 MW

22.3 MW

443 MW

BTUNG ADURI 500 kV


240 MW 145 MW 1126 MW

SLILIN 1126 MW

B.LINCIR

RNGAT 500 kV

BTRJA
240 MW

GWANG 274 .7 MW RNGAT

BNJAI
231 MW 344 MW

35 MW

600 MW NEW GSKTI PENINSULAR INTERCONNECTION

SLILIN 22.2 MW PLTU S.Lilin 2 x 150 MW PLTU B.Lincir 2 x 150 MW


361.5 MW
P LTU JA MB I ME RA NG 2x400 MW

MENIM

718 MW

451 MW
105 MW

299.6 MW

PSUSU KTPJG 600 MW KRUENG RAYA - MW 280 MW

500 MW

TLKTN

511.4 MW

BKMNG MNGLA

PLTU MTSumsel 6 2 x 300 MW

SUB SISTEM LAMPUNG


PLTU CIRENTI 2 x 300 MW

PLTU Meulaboh 2 x 200 MW 517.3 MW 968.8 MW SIST MEULABOH Load : 69.8 MW


200 MW

380 MW 496 MW SIGLI

134 MW

SUB SISTEM NAD

GWANG

442.6 MW

130 MW LSMWE

78.3 MW

229 MW

949 MW

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 2 x 200 MW

275 kV

150 kV

875 MW 1293 MW

PLTU Meulaboh 2 x 110 MW

800 MW

SUB SISTEM RIAU

1.6 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


SMKOK 440 MW 441 .7 MW 1408 .8 MW 2218 .8 MW PBDAN 292 MW 89.6 MW
718 MW

214
PLT P SARULLA 1 330 MW PLTP SARULLA 2 110 PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 228 MW 10.8 MW

PLTP LUMUT BALAI 4 x 55 MW

PLTP RANTAU DADAP 4 x 55 MW

203 .7 MW

237 .7 MW

1072 MW 1507 MW

477 .8 MW

442.9 MW

Prakiraan Aliran Daya Sistem 275 kV Sumatera Tahun 2020

PLTP LUMUT BALAI 4 x 55 MW

160 MW

PLTP RANTAU DADAP 4 x 55 MW PLT P SARULLA 1 330 MW PLTP SARULLA 2 110 PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW
200 MW 160 MW

160 MW

320 MW 223 .7 MW 265 .8 MW 489 .6 MW 223.3 MW 422 MW


214.5 MW

LAHAT 484.8 MW 483 MW

293.2 MW

LLGAU

BNGKO

MBNGO

KLJAO SRULA

PYBUH PSDEM

SMKOK

528.2 MW

64.3 MW

261 MW

186.7 MW

66.6 MW

266.3 MW

470.7 MW

SUB SISTEM SUMSEL


19.3 MW 478 MW ADURI 568 MW 953 MW PYBUH NEW GSKTI 500 kV KLJAO
P LTU MT 1x400 MW

SUB SISTEM BENGKULU SUB SISTEM SUMBAR

SUB SISTEM BANGKO

SUB SISTEM JAMBI

10.7 MW

SUB SISTEM SUMUT


GLANG

40.6 MW

468 .4 MW 963.7 MW 2228 MW PBDAN


758 MW

42.7 MW

179 MW 238.7 MW

370 MW 98.6 MW

976.8 MW 1531 MW
424.6 MW 445.4 MW

BTUNG 1151 MW

SLILIN

B.LINCIR

RNGAT 500 kV

BTRJA 311.4 MW
270 MW

135 MW

1151 MW

GWANG SLILIN 22.3 MW PLTU B.Lincir 2 x 150 MW


375 MW
P LTU JA MB I ME RA NG 1x400 MW

ADURI 500 kV

BNJAI 600 MW NEW GSKTI PENINSULAR INTERCONNECTION

270 MW

29.3 MW

299 MW

PLTU S.Lilin 2 x 150 MW

MENIM

758 MW

RNGAT

390 MW PSUSU

126.4 MW

520 MW

TLKTN

KTPJG

600 MW

- MW 282 MW

515 MW

BKMNG MNGLA

PLTU MTSumsel 6 2 x 300 MW

SUB SISTEM LAMPUNG


PLTU CIRENTI 2 x 300 MW

PLTU Meulaboh 2 x 200 MW 514 MW 1000 .8 MW SIST MEULABOH Load : 70 MW


170 MW

360 MW 459.9 MW SIGLI

123 MW

SUB SISTEM NAD

GWANG

100 MW LSMWE PLTU Meulaboh 2 x 110 MW

39.2 MW

216 MW 952.7 MW

PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 2 x 200 MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


242.9 MW 25 MW

448 MW

275 kV

150 kV

875 MW 1298 MW

760 MW

SUB SISTEM RIAU

KRUENG RAYA

366 MW

450 MW

59.7 MW

516 MW

486.9 MW

215

Lampiran A1.9
Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Sistem Interkoneksi Sumatera

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Regional Sumatera


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 6,569 4,562 4,661 5,011 5,031 5,403 5,548 5,951 6,291 6,590 55,618 JTR kms 6,711 4,285 4,509 4,869 4,982 5,271 5,273 5,608 5,788 5,955 53,251 Trafo MVA 1,470 766 819 836 872 900 941 978 1,041 1,072 9,694 Pelanggan 1,091,206 594,512 605,242 619,356 537,293 498,951 493,516 506,895 522,635 540,399 6,010,005

Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 148.8 106.0 111.4 123.4 126.0 140.8 145.3 161.7 174.5 188.3 1,426.3 JTR 100.1 64.0 69.1 76.8 79.8 88.4 87.1 98.3 104.2 108.5 876.4 Trafo 50.9 36.2 37.0 38.4 37.1 34.2 35.8 38.0 41.1 43.9 392.7 Pelanggan 39.0 42.3 54.8 63.1 32.7 34.6 36.3 38.2 39.1 39.0 419.1 Total 338.9 248.6 272.3 301.8 275.5 298.0 304.5 336.2 359.0 379.7 3,114.5

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Regional Sumatera

218

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Aceh


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1.000 1.068 1.140 1.216 1.298 1.385 1.478 1.578 11.979 JTR kms 994 1.061 1.132 1.208 1.290 1.377 1.469 1.568 1.673 1.786 13.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.227 39.193 40.171 41.179 34.291 30.598 31.418 33.447 34.369 35.332 362.225

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 21,9 23,4 24,9 26,6 28,4 30,3 32,4 34,5 36,9 39,3 298,6 JTR 13,3 14,2 15,2 16,2 17,3 18,4 19,7 21,0 22,4 23,9 181,5 Trafo 4,5 4,8 5,2 5,5 5,9 6,3 6,7 7,1 7,6 8,1 61,7

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Aceh


Pelanggan 3,0 2,7 2,8 2,9 2,4 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 25,3

Juta USD Total 42,7 45,1 48,1 51,2 53,9 57,2 60,9 65,0 69,3 73,8 567,2

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

219

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Sumatera Utara


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.376 1.461 1.438 1.538 1.538 1.718 1.903 2.076 2.291 2.467 17.805 JTR kms 1.092 918 996 1.078 1.158 1.218 1.260 1.339 1.378 1.414 11.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.160 Pelanggan 125.011 120.266 118.720 116.353 102.587 113.957 118.215 122.640 127.238 132.016 1.197.004

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 26,5 28,1 27,7 29,6 29,6 33,1 36,6 40,0 44,1 47,5 342,7 JTR 12,9 10,9 11,8 12,7 13,7 14,4 14,9 15,8 16,3 16,7 140,2 Trafo 1,2 1,3 1,4 1,5 1,6 1,8 2,0 2,2 2,4 2,6 18,1

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Sumatera Utara


Pelanggan 8,7 8,4 8,3 8,1 7,2 8,0 8,3 8,6 8,9 9,2 83,7

Juta USD Total 49,4 48,7 49,1 52,0 52,1 57,3 61,8 66,6 71,7 76,1 584,6

220

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Sumatera Barat


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32.205 34.715 35.286 35.420 36.075 37.323 38.203 38.633 39.670 42.004 369.534

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7,4 8,3 8,9 9,0 9,2 9,5 9,7 9,9 10,2 10,6 92,7 JTR 6,5 7,3 7,8 7,9 8,1 8,3 8,6 8,8 9,1 9,4 81,9 Trafo 5,4 6,0 6,4 6,5 6,7 6,9 7,0 7,2 7,4 7,7 67,2

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Sumatera Barat


Pelanggan 2,5 2,8 3,0 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 3,6 31,3

Juta USD Total 21,8 24,4 26,0 26,5 27,1 27,8 28,6 29,3 30,2 31,4 273,1

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

221

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Riau


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.595 JTR kms 1.546 616 625 624 673 692 694 703 725 682 7.610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.454 Pelanggan 21.003 57.399 60.743 58.151 62.700 64.408 64.649 65.476 67.548 63.549 780.626

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 31,5 12,6 13,3 12,7 13,7 14,1 14,2 14,3 14,8 13,9 155,2 JTR 26,4 10,5 11,2 10,7 11,5 11,8 11,9 12,0 12,4 11,7 130,1 Trafo 7,1 2,5 2,6 2,5 2,7 2,8 2,8 2,8 2,9 2,7 31,2

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Riau


Pelanggan 6,2 6,7 10,2 11,5 4,6 4,8 4,9 5,1 4,3 2,3 60,5

Juta USD Total 71,3 32,2 37,2 37,4 32,6 33,5 33,7 34,3 34,4 30,6 377,0

222

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kepulauan Riau


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2.164 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.272 13.335 13.837 14.842 15.700 16.566 16.964 17.487 18.287 19.113 169.404

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 6,9 2,5 3,1 4,3 4,8 5,1 4,9 4,7 4,1 3,8 44,1 JTR 5,8 2,1 2,6 3,6 4,0 4,3 4,1 3,9 3,4 3,2 37,0 Trafo 1,0 0,6 0,7 0,7 0,8 0,8 0,8 0,9 0,9 1,0 8,1

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Kepulauan Riau


Pelanggan 1,4 0,5 0,6 0,8 0,9 1,0 1,0 0,9 0,8 0,8 8,7

Juta USD Total 15,0 5,6 6,9 9,5 10,5 11,2 10,8 10,4 9,2 8,7 97,9

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

223

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Jambi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.765 33.693 36.589 37.591 29.433 30.565 31.424 33.657 34.516 37.725 389.868

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 13,1 5,7 6,4 7,2 8,1 9,1 10,3 11,8 13,4 15,4 100,5 JTR 9,8 3,8 4,4 5,0 5,7 6,5 5,0 7,7 8,7 7,4 64,1 Trafo 0,5 0,2 0,2 0,2 0,3 0,3 0,4 0,3 0,4 0,6 3,4

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Jambi


Pelanggan 4,3 1,1 3,9 5,6 1,7 1,8 2,0 2,1 2,3 2,5 27,3

Juta USD Total 27,7 10,9 14,9 18,0 15,8 17,8 17,7 21,9 24,8 25,9 195,4

224

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Sumatera Selatan


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.306 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.427 102.644 116.372 116.204 88.735 83.599 73.059 69.997 70.865 76.896 1.031799

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 18,3 11,0 12,8 14,8 17,3 20,0 23,3 27,0 31,4 36,4 212,3 JTR 11,0 6,7 7,8 9,1 10,6 12,4 14,5 16,9 19,7 23,0 131,9 Trafo 1,2 0,6 0,8 0,8 1,1 1,1 1,0 1,2 2,1 2,5 12,3

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Sumatera Selatan


Pelanggan 6,2 6,4 12,5 16,9 4,7 5,1 5,4 5,8 6,2 6,7 76,0

Juta USD Total 36,7 24,7 33,9 41,7 33,7 38,7 44,2 50,9 59,5 68,6 432,6

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

225

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Bengkulu


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.301 Trafo MVA 30 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40.147 26.366 24.262 34.442 11.963 19.182 14.146 16.836 17.100 16.816 221.260

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7,4 5,3 5,4 9,2 4,9 12,6 6,4 11,3 10,6 11,3 84,3 JTR 4,8 3,5 3,5 6,0 3,2 8,2 4,2 7,4 6,9 7,4 55,1 Trafo 0,2 0,2 0,2 0,3 0,1 0,3 0,3 0,4 0,3 0,4 2,6

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Bengkulu


Pelanggan 0,2 0,1 0,1 0,2 0,2 0,2 0,2 0,3 0,3 0,3 2,1

Juta USD Total 12,6 9,1 9,3 15,6 8,5 21,3 11,0 19,3 18,1 19,3 144,2

226

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Lampung


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.225 155.182 148.793 153.230 143.322 93.527 96.093 98.721 101.417 104.182 1.330.692

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10,3 7,1 7,2 7,8 7,6 5,2 5,6 6,1 6,5 7,1 70,5 JTR 5,4 3,7 3,8 4,1 4,0 2,7 3,0 3,2 3,4 3,7 37,0 Trafo 28,6 19,7 19,2 20,2 17,5 13,6 14,6 15,7 16,9 18,2 184,1

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Lampung


Pelanggan 4,6 13,0 12,7 13,5 7,1 7,7 8,3 9,0 9,7 10,4 96,0

Juta USD Total 49,0 43,6 42,9 45,3 36,3 29,3 31,5 33,9 36,5 39,3 387,6

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

227

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Bangka Belitung


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.924 11.719 10.468 11.944 12.486 9.226 9.345 10.091 11.624 12.766 157.594

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 5,6 1,9 1,8 2,2 2,4 1,8 1,9 2,2 2,6 3,0 25,3 JTR 4,1 1,3 1,2 1,5 1,6 1,2 1,3 1,5 1,8 2,1 17,7 Trafo 1,1 0,4 0,3 0,4 0,4 0,3 0,2 0,2 0,2 0,2 3,7

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Bangka Belitung


Pelanggan 2,0 0,6 0,6 0,6 0,7 0,7 0,7 0,7 0,8 0,8 8,1

Juta USD Total 12,8 4,3 4,0 4,6 5,0 4,0 4,2 4,6 5,4 6,0 54,8

228

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A1.10
PROGRAM LISTRIK PERDESAAN SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

230

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera


Trafo MVA 3.280,9 1.531,0 3.260,8 3.207,4 11.280,1 363,1 5.887,9 337.132,4 89,1 1.440 125.131 89,8 1.426 122.274 44,4 758 89.727 139,9 2.263 8.515 Unit Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) JTM kms 3.344,0 1.810,2 3.657,2 3.539,5 12.351,0 JTR kms

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 JTM 602.819,7 309.601,9 893.240,2 953.237,8 2.758.899,7 1.223.079,7 406.867,9 3738.369,5 218.991,7 231.746,3 677.962,7 146.424,5 69.034,1 291.317,9 158.190,5 JTR Trafo Pembangkit 2.601,8 2.601,8 Pelanggan 29.401,0 32.186,6 61.587,7 Total 1.148.370,6 590.994,6 1.520.102,5 1.624.038,6 4.883.506,3

Total

Perkiraan biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Nad


JTM kms MVA 669,9 151,5 209,0 221,0 1.251,4 30,6 559,0 6,5 108 7,7 114 5.227 5.518 20.763,0 4,4 71 10.018 12,0 266 1.620 Unit Jml Pelanggan 411,0 58,0 164,1 162,0 795,1 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi NAD (Juta Rp)


JTM 30.254,5 11.553,6 50.575,4 57.039,7 149.423,2 42.330,8 128.086,7 36.497,2 16.933,5 32.325,1 JTR Trafo 9.827,5 6.625,1 16.376,6 17.476,7 50.305,8 103.449,2 116.847,2 362.003,4 Pembangkit Pelanggan Total 141.707,0

Tahun

2011

2012

2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2014

Total

231

232

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Sumatera Utara


JTM kms MVA 201,0 86,1 200,3 210,1 697,5 17,3 573,9 25.246,0 6,0 201 10.590 4,6 155 11.042 2,0 60 3.614 2.530 4,7 157 Unit Jml Pelanggan 350,0 110,0 440,0 422,0 1.322,0 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 JTM 37.343,4 23.938,0 103.883,2 109.661,8 274.826,4 76.364,4 25.317,3 18.360,6 48.978,8 22.297,1 18.055,1 10.003,8 4.472,9 18.746,3 8.090,2 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 94.179,9 38.414,7 144.235,4 153.339,6 430.169,7

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Sumatera Utara (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Sumatera Barat


JTM kms MVA 255,0 145,0 307,1 295,1 1.002,2 24,2 367,0 7,5 80 7,5 80 9.480 12.000 32.899,0 2,0 41 11.419 7,3 166 1.620 Unit Jml Pelanggan 315,0 132,0 301,0 273,0 1.021,0 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Sumatera Barat (Juta Rp)


JTM 61.027,1 30.518,5 93.044,3 97.560,9 282.150,8 120.798,0 41.415,9 38.420,5 17.332,1 23.629,5 JTR Trafo 10.297,1 4.472,8 13.778,1 16.348,2 44.896,3 Pembangkit Pelanggan Total 94.953,8 52.323,4 145.243,0 155.325,0 447.845,2

Tahun

2011

2012

2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2014

Total

233

234
JTM kms MVA 389,0 213,9 190,0 180,0 972,9 49,6 6677,0 36.815 7,9 100 14.205 7,7 97 13.755 6,0 90 8.855 28,0 380 Unit Jml Pelanggan 310,0 198,0 170,0 170,0 848,0 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS) JTM 59.940,8 41.747,8 47.998,8 51.653,8 201.341,1 111.460,1 24.460,3 20.062,5 85.177,8 24.352,8 18.183,0 22.265,4 11.020,3 40.381,7 35.912,0 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 136.234,5 75.033,5 90.534,5 96.176,5 397.979,0

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Riau

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Riau (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Riau Kepulauan


JTM kms MVA Unit Jml Pelanggan JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011 280,0 239,3 6,0 90 13.125 425

2012

2013

2014 280,0 239,3 6,0 90,0 13.125,0

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Riau Kepulauan (Juta Rp)


JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 63.439,5 26.442,1 11.164,7 101.046,3 63.439,5 26.442,1 11.164,7 101.046,3

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

235

236
JTM kms MVA 319,0 127,2 535,0 572,1 1.553,3 79,7 1.175,0 43.250 25,0 360 16.400 26,0 379 18.400 5,3 76 8.450 80 23,5 360 Unit Jml Pelanggan 366,0 121,4 471,0 436,1 1.394,5 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS) JTM 75.023,2 24.595,7 109.329,6 114.396,1 323.344,7 150.452,8 57.148,8 64.089,1 162.200,7 49.157,8 60.990,9 11.181,1 8.721,9 10.686,7 10.477,6 21.164,4 32.965,2 28.398,8 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 136.387,3 44.498,7 230.165,0 246.111,6 657.162,6

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Jambi

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Jambi (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Sumatera Selatan


JTM kms MVA 323,0 148,0 611,0 560,0 1.642,0 59,5 1.059,0 11,3 225 12,0 240 39.000 42.000 97.236,0 6,8 135 16.236 29,5 459 625 Unit Jml Pelanggan 480,0 238,0 750,0 750,0 2.218,0 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Sumatera Selatan (Juta Rp)


JTM 86.311,9 49.581,8 133.530,0 146.890,0 416.313,7 74.960,0 202.554,9 74.410,0 18.747,3 34.437,6 JTR Trafo 32.265,5 11.641,5 28.740,0 29.640,0 102.287,1 Pembangkit Pelanggan Total 153.015,0 79.970,6 236.680,0 251.490,0 721.155,7

Tahun

2011

2012

2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2014

Total

237

238

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Bengkulu


JTM kms MVA 344,0 150,0 668,0 674,0 1.836,0 33,3 584,0 4.500,0 9,2 184 9,1 180 4,1 71 4.500 470 11,0 149 Unit Jml Pelanggan 450,0 340,9 769,0 776,0 2.335,9 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 JTM 102.399,7 47.072,3 188.731,8 199.972,1 538.175,9 180.718,4 67.117,3 63.360,6 25.586,2 27.310,9 75.268,3 15.717,4 8.523,5 34.523,0 13.847,7 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 150.724,9 71.313,3 277.678,7 294.400,4 794.117,2

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Bengkulu (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Lampung


JTM kms MVA 633,0 215,0 310,5 280,0 1.438,5 31,7 420,0 4,1 52 6,4 76 20.000 20.000 50.580.0 4,2 62 10.580 17,0 230 1.040 Unit Jml Pelanggan 370,0 150,0 227,1 205,4 952,5 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Lampung (Juta Rp)


JTM 99.150.2 34.655.4 80.342.6 87.039.7 301.187.9 166.405.3 48.258.6 44.592.9 28.288.2 45.265.7 JTR Trafo 13.283.5 8.110.8 22.138.0 17.907.8 61.440.1 16.163.7 19.396.5 35.560.2 Pembangkit Pelanggan Total 157.699.4 71.054.4 163.237.2 172.602.5 564.593.5

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

239

240

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Banka Belitung


JTM kms MVA 147,0 55,0 230,0 215,0 647,0 31,4 393,0 12.718,0 11,6 130 4.418 9,1 105 5.370 3,8 62 2.930 105 7,0 96 Unit Jml Pelanggan 292,0 182,0 365,0 345,0 1.184,0 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 JTM 51.368.9 45.938.8 85.804.5 89.023.8 272.136.0 86.239.1 25.859.0 25.380.7 15.143.8 20.550.5 47.407.6 2.601.8 5.955.7 5.445.2 2.550.6 2.312.5 4.863.1 29.043.7 6.268.2 JTR Trafo Pembangkit 2.601.8 Pelanggan Total 83.468.7 57.339.7 128.879.5 137.745.8 407.433.7

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Bangka Belitung (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Lampiran A1.11
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi & Distribusi (Fixed Asset Addition) Sumatra
(Juta US$)

Investasi Tahun Pembangkit 480 1.515 1.691 2.025 3.210 2.252 2.687 1.332 2.792 1.445 19.428 T/L dan GI 135 411 1.205 582 826 900 97 264 54 76 4.549 Distribusi 281 299 359 398 297 321 344 374 395 402 3.469 Total

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total

895 2.225 3.254 3.004 4.333 3.473 3.128 1.969 3.241 1.923 27.446

242

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Penjelasan Lampiran A
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

PENJELASAN LAMPIRAN A1 SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

A1.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 10,4% per tahun antara tahun 2011 dan 2020. yaitu meningkat dari 23.414 GWh pada tahun 2011 menjadi 56.806 GWh pada tahun 2020. Sekitar 43% dari produksi tersebut adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut) dan selebihnya untuk Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel). Faktor beban diperkirakan antara 65,4% sampai 67,0%. Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2011 adalah 4.269 MW dan akan tumbuh rata-rata 10,2% per tahun, sehingga menjadi 9.641 MW pada tahun 2020. Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 20112020 ditunjukkan pada Lampiran A1.1.

A1.2 Neraca Daya


Sistem interkoneksi masih lemah Walaupun telah dibangun transmisi 150 kV Baganbatu Rantauprapat yang menghubungkan sistem Sumbagut dan Sumbagselteng, namun kedua sistem tersebut pada dasarnya secara elektris masih terpisah. Kedua sistem ini belum dapat dioperasikan sebagai satu sistem interkoneksi karena terkendala oleh masalah stabilitas. yaitu adanya osilasi inter-area pada frekuensi rendah dengan damping sangat rendah antara kelompok generator di Sumbagut dan kelompok generator di Sumbagselteng. Interkoneksi kedua sistem melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padangsidempuan pada tahun 2014 diharapkan akan dapat mewujudkan sistem interkoneksi Sumatera1. Dengan beroperasinya interkoneksi Suma tera. maka sistem Sumbagsel yang memiliki sumber energi primer yang banyak dan murah akan dapat memasok sebagian kebutuhan sistem Sumbagut, walaupun besarnya daya yang dapat ditransfer akan dibatasi oleh limit stabilitas sistem interkoneksi. Rencana reserve margin tinggi Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin yang tinggi, yaitu mencapai 78% pada tahun 2017 apabila semua proyek pembangkit berjalan dan selesai tepat waktu. Apabila keadaan tersebut benar-benar terjadi maka sistem Sumatera akan mengalami over supply. Namun melihat pengalam
1

Untuk memastikan hal tersebut diperlukan studi small signal stability

244

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

an PLN selama ini, tingkat keberhasilan proyek IPP sangat rendah, yaitu hanya sekitar 16%. Bahkan proyek pembangkit PLN juga mengalami keterlambatan. termasuk proyek PLN dalam program percepatan tahap 1. Lebih dari itu. dalam RUPTL 2011-2020 ini direncanakan banyak sekali pembangkit panas bumi (PLTP) yang mencapai 2.495 MW. termasuk PLTP yang masih green field bahkan WKP-nya belum ditender. Proyek PLTP yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2014 adalah PLTP yang WKP-nya telah dimiliki oleh Pertamina. Dari perjelasan diatas dapat dimengerti bahwa perencanaan reserve margin yang tinggi hingga 78% dimaksudkan semata-mata untuk memberikan kepastian yang lebih tinggi kepada masyarakat Sumatera (yang telah lama menderita kekurangan listrik) bahwa listrik akan tersedia cukup di Sumatera. Penamaan Proyek PLTU IPP Proyek-proyek IPP yang belum financial closing, kecuali PLTP, tidak disebut nama lokasinya secara spesifik, namun hanya disebutkan kawasan daerah dimana proyek tersebut berada. Hal ini dimaksudkan agar PLN dapat menawarkan proyek IPP kepada pengembang melalui tender kompetitif. Status beberapa IPP saat ini dalam RUPTL 20112020 adalah sebagai berikut: PLTU Sumbar 1 adalah PLTU Kambang; PLTU Sumsel 2 adalah PLTU Keban Agung; PLTU Sumsel 5 adalah PLTU Bayung Lencir; PLTU Sumsel 6 adalah PLTU Mulut Tambang Pendopo; PLTU Sumsel 7 adalah PLTU Sungai Lilin; PLTU Riau Mulut Tambang adalah PLTU Cirenti. Proyek-Proyek Strategis 1. Proyek PLTU Percepatan Tahap I ( PLTU Meulaboh, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Sumbar Pesisir, PLTU Tarahan) dan PLTA Asahan III, merupakan proyek yang sangat strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini terjadi juga sekaligus akan mengurangi pemakai an BBM dari pembangkit-pembangkit yang eksisting. 2. PLTU Mulut Tambang (IPP) skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Suma tera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC harus dapat diselesaikan selaras de ngan penyelesaian proyek interkoneksi Jawa-Sumatera 500 kV HVDC. 3. PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. 4. Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada. Pengembangan PLTP Terkait dengan kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal. PLN akan membangun sisi hilir pada lokasilokasi sebagai berikut: PLTP Ulubelu #1,2 (2 x 55 MW), PLTP HuluLais #1,2 (2 x 55 MW), PLTP Sungai Penuh #1,2 (2 x 55 MW). Khusus untuk PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sumber dana sudah tersedia dari JBIC dimana Loan Agreement sudah ditandatangani pada tahun 2005. Proyek-proyek PLTP lainnya akan dikembangkan oleh IPP dengan total kapasitas 2.165 MW sampai dengan tahun 2020. namun sampai dengan saat ini eksplorasi yang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

245

dilakukan pihak swasta terhadap proyek-proyek PLTP tersebut belum tuntas, sehingga hal ini menjadi sangat rawan terhadap ketersediaan reserve margin di sistem Sumatera seperti telah dijelaskan sebelumnya. Pembangkit Baru dalam Program Percepatan Tahap II PLTU Pangkalan Susu #3,4 2 x 200 MW PLTA Asahan III 174 MW PLTP Hulu Lais #1,2 2 x 55 MW dan PLTP Sungai Penuh 2 x 55 MW PLTP-PLTP yang akan dikembangkan oleh swasta/IPP yaitu PLTP Ulubelu 3,4 (2 x 55 MW), PLTP Seulawah 55 MW, PLTP Lumut Balai 4 x 55 MW, PLTP Sarulla I 6 x 55 MW, PLTP Sarulla II 2 x 55 MW, PLTP Rajabasa 4 x 55 MW, PLTP Muara Laboh 4 x 55 MW, PLTP Rantau Dedap 4 x 55 MW dan PLTP Sorik Marapi 240 MW. Potensi Pembangkit Hidro Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayak an (Pre-FS). Apabila proyek tersebut layak secara teknis. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut. Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.2

A1.3 Proyek-proyek IPP yang terkendala


Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A1.3

A1.4 Neraca Energi


Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi. maka produksi energi per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.4. Produksi energi pada Lampiran B1.4 dialokasikan per unit pembangkit berdasarkan merit order dengan menggunakan model simulasi produksi dengan asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut: Harga bahan bakar HSD = USD 0,78 /liter. MFO=USD 0,62 /liter. gas alam = USD 6 /mmbtu. dan batubara = USD 80/ton. Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada. Ketersediaan batubara tidak terbatas. Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya.

246

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran B1.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut adalah sebagai berikut: a. Peranan Minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2010 masih tinggi, yaitu sekitar 6.525 GWh, akan sangat berkurang menjadi sekitar nol pada tahun 2014. Hal ini terjadi karena PLTU Belawan 1 4 tidak dioperasikan lagi dan PLTGU Belawan. PLTG Task Force, PLTG Paya Pasir di Sumatera Utara dioperasikan dengan LNG. b. Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014, yaitu sekitar 4.324 GWh dan cenderung konstan berdasarkan sumber pasokan LNG yang telah teridentifikasi. c. Peranan pembangkit gas yang semula 4.946 GWh pada tahun 2010 akan naik menjadi 7.932 GWh pada tahun 2014, dan secara bertahap akan menurun kembali menjadi 4.575 GWh pada tahun 2020. Hal ini karena pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari kontrak yang ada. d. Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. Pada tahun 2010 hanya 4.346 GWh akan naik 6 kali lipat menjadi 26.714 GWh pada tahun 2020. e. Peranan pembangkit hidro pada tahun 2010 semula 4.538 GWh dan akan semakin besar dengan masuknya PLTA semakin besar dengan masuknya PLTA Asahan 3. PLTA Peusangan 1-2 pada tahun dan PLTA Merangin pada tahun 2016 serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017. Peranan hydro pada tahun 2020 akan mencapai 7.050 GWh. f. Kontribusi pembangkit geothermal akan meningkat luar biasa besar pada tahun 2020 dengan produksi 13.200 GWh, atau 23% dari produksi total. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP. yang pada tahun 2009 hanya 10 MW akan menjadi 2.495 MW pada tahun 2020. Banyaknya kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor pembangkit beban dasar lainnya, yaitu PLTU batubara, menjadi rendah jika semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai jadwal. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian implementasinya masih rendah2 akan membuat situasi yang cukup rawan bagi Sumatera apabila pengembangan PLTP yang direncanakan tidak terlaksana sesuai jadwal mengingat ketidakpastian pelaksanaan beberapa pembangkit IPP juga tinggi. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A1.4. Kebutuhan bahan bakar HSD pada tahun 2011 sebesar 2,2 juta liter dan semakin turun menjadi 27 ribu liter pada tahun 2014. Sedangkan MFO sudah tidak diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya ope rasi PLTU Belawan 1-4 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara. Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami depletion, namun sejalan dengan rencana akan dibangunnya LNG floating terminal maka PLTGU akan dijalankan dengan LNG. Volume pemakaian batubara meningkat dari tahun ke tahun. yaitu naik dari 4,0 juta ton pada tahun 2011 menjadi 16,4 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 6 kali lipat.
2

Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan drilling.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

247

A1.5 Capacity Balance Gardu Induk


Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan memasukkan GI existing dan GI ongoing project. Selanjutnya dari Capacity Balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing masing GI. GI yang telah berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan trafo. Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan dan de-dieselisasi serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru. Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan, selanjutnya disusun kembali capacity balance yang baru setelah mempertimbangkan penambahan GI baru tersebut. Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI, dimana hasil pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan sistem penyaluran. Dengan kriteria keandalan dan asumsi di atas, kebutuhan pembangunan Gardu Induk Baru dan pengembangan trafo GI eksisting sampai tahun 2020 sebesar 28.400 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1.5.

A1.6 Rencana Pengembangan Penyaluran


Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi proyek berikut: Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan. PLTA. PLTU IPP dan PLTP IPP. Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan dan PLTA IPP Asahan 1. Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber energi primer ke demand di Sumatera bagian utara. Pembangunan transmisi dan kabel laut 250 kV HVDC Sumatera Peninsular Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem tersebut. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.6.

248

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A1.7 Peta Pengembangan Penyaluran


Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran A1.7.

A1.8 Analisis Aliran Daya


Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya, meliputi sistem 275 kV, 150 kV dan 70 kV. Namun pada RUPTL 2011-2020 ini hanya ditunjukkan hasil analisa aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja. Prakiraan aliran daya di sistem 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai tahun 2011 sampai dengan 2020, dengan penjelasan sebagai berikut : 1. Analisa Aliran Daya Tahun 2011 Aliran Daya tahun 2011, transfer daya terlihat menuju Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng). baik dari Sumatera Bagian Utara maupun Sumatera Bagian Selatan, hal ini disebabkan tidak adanya pembangkit baru di sistem Sumbagteng. Transfer Daya dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terbatas pada kisaran transfer 224 MW dikarenakan masalah limit stabilitas transfer daya menggunakan sistem 150 kV di titik interkoneksi Sumbagselteng (Lubuk Linggau Bangko). Dari simulasi aliran daya terlihat. kekurangan pembangkitan pada tahun 2010 ini berada di sub sistem Riau. dimana sub sistem ini menerima daya dari sub sistem Sumatera Barat sebesar 172 MW. Profil tegangan sistem masih berada dalam kriteria operasi yang bervariasi antara 90%-105%. Tambah an pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Tarahan #1 (100 MW). PLTG Duri (40 MW). PLTU Simpang Belimbing #1,2 (227 MW) dan PLTG/PLTMG sewa total 182 MW. 2. Analisa Aliran Daya Tahun 2012 Pada tahun ini akan dioperasikan sistem tegangan 275 kV pada transmisi 275 kV Lahat Lubuk Linggau Bangko Muara Bungo Kiliranjao. yang sebelumnya dioperasikan pada tegangan 150 kV. Tambahan transmisi 275 kV baru adalah Pangkalan Susu Binjai. Transfer dari sub sistem Sumatera Barat ke sub Sistem Riau berkurang hingga menjadi 80 MW seiring dengan beroperasinya beberapa pembangkit di Riau. Tegangan sistem 275 kV cukup baik, yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (285 kV) dan terendah di GI Binjai (278 kV). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Meulaboh FTP 1 (2 x 110 MW), PLTU Pangkalan Susu #1 (220 MW), PLTU Sumbar Pesisir #1 (112 MW), PLTU Tarahan #2 (100

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

249

MW), PLTP Ulubelu #2 (1 x 55 MW), PLTG Peaker total 160 MW, PLTG Gunung Megang ST (30 MW) dll. 3. Analisa Aliran Daya Tahun 2013 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh Kiliranjao dan Binjai Galang Simangkok. Transfer ke sub sistem Riau menjadi 160 MW, dan PLTU Riau FTP1 #1 telah beroperasi 100 MW. Tegangan sistem 275 kV cukup baik, yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (282 kV) dan terendah di GI Binjai (275 kV). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTGU Keramasan (86 MW). PLTU Pangkalan Susu FTP1 #2 (1 x 220 MW), PLTU Sumbar Pesisir FTP1 #2 (112 MW), PLTP Ulubelu-FTP2 #1 (1 x 55 MW), PLTU Riau FTP1 #1 (100 MW), PLTG Belawan (400 MW), PLTG Se ngeti (60 MW) dan PLTU Sewa (840 MW). 4. Analisa Aliran Daya Tahun 2014 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh New Garuda Sakti. Payakumbuh Padang Sidempuan Sarulla Simangkok dan Lahat Gumawang. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng, melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 110 MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Riau menjadi 230 MW dan transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 230 MW. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Riau FTP1 #2 (100 MW), PLTU Simpang Belimbing Ekspansi (227 MW), PLTU Banjarsari (230 MW), PLTP Lumut Balai-FTP2 #3,4 (2 x 55 MW), PLTP Sarulla-FTP2 (110 MW), PLTA Lawe Mamas (45 MW) dan PLTG peaking total 500 MW. 5. Analisa Aliran Daya Tahun 2015 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi 275 kV Muara Enim Betung Sungai Lilin (Sumsel-7) - Bayung Lincir (Sumsel-5) Aur Duri Rengat New Garuda Sakti seiring dengan tambahan pembangkit PLTU mulut tambang Sumsel-5 150 MW, Sumsel-7 150 MW. Keban Agung 225 MW. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng ke, melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 216 MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 305 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV sub Sistem Jambi (Aur Duri) ke sub sistem Riau (Rengat) sebesar 202 MW.

250

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pada tahap awal pembangunan segmen transmisi 275 kV Aur Duri Rengat ini dibangun dengan konstruksi 500 kV, yang kemudian mulai akan dioperasikan dengan sistem 500 kV setelah beroperasinya PLTU di Jambi sampai dengan 800 MW mulai tahun 2018.

Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Pangkalan Susu FTP2 #3,4 (2 x 200 MW), PLTU Meulaboh #3 (200 MW), PLTP Hululais FTP2 (110 MW), PLTP Sungai Penuh FTP2 (110 MW), PLTU Keban Agung (2 x 112,5 MW), PLTU Sumsel-5 #1 (150 MW), PLTU Sumsel-7 #1 (150 MW), PLTP Ulubelu #3,4 (110 MW), PLTP Lumut Balai (110 MW) dan PLTP Sarulla (220 MW).

6.

Analisa Aliran Daya Tahun 2016 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli Lhokseumawe dan pengoperasian transmisi 275 kV Meulaboh Sigli yang sebelumnya dioperasikan dengan tegangan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU Meulaboh #3,4 (400 MW). Selain itu juga diperlukan pembangunan transmisi 275 kV PLTU Cirenti Rengat untuk mengevakuasi daya PLTU Cirenti. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut, melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan seiring dengan mulai beroperasinya pembangkit mulut tambang dan panas bumi di sistem Sumbagselteng. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 420 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 211 MW. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Peusangan (88 MW), PLTA Asahan III (174 MW), PLTA Merangin (175 MW), PLTU Sumsel-6 #1 (300 MW), PLTU Riau MT #1 (300 MW), PLTU Sumsel-5 #2 (150 MW), PLTU Sumsel-7 #2 (150 MW).

7.

Analisa Aliran Daya Tahun 2017 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli Ulee Kareng untuk memasok kota Banda Aceh dan sekitarnya. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut, melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 225 MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 261 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 226 MW. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Merangin #2 (175 MW), PLTA Simong go-2 (86 MW), PLTA Masang-2 (55 MW), PLTU Sumsel-6 #2 (300 MW), PLTU Riau MT #2 (300 MW). PLTP Rajabasa FTP2 (220 MW), PLTP Muara Laboh FTP2 (220 MW) dan PLTP Sarulla II FTP2 (110 MW).

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

251

8.

Analisa Aliran Daya Tahun 2018 Pada tahun ini transmisi 500 kV dari PLTU Jambi Aur Duri New Garuda Sakti sudah beroperasi. seiring dengan beroperasinya PLTU Jambi unit #1 (1 x 400 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut, melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 540 MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 400 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 660 MW. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS Jambi #1 (1 x 400 MW). PLTU Sumsel-1 #1 (400 MW), PLTP Rantau Dedap FTP2 (110 MW), PLTP Sorik Marapi FTP2 (240 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).

9.

Analisa Aliran Daya Tahun 2019 Arah aliran daya masih dari selatan ke utara, dengan transfer daya sebesar 360 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan, transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat New Garuda Sakti sebesar 1100 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim Gumawang sebesar 440 MW. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS #2 (1 x 400 MW). PLTU Sumsel-1 #2 (400 MW) dan PLTP Rantau Dedap FTP2 #2 (110 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).

10.

Analisa Aliran Daya Tahun 2020 Arah aliran daya dari selatan ke utara, dengan transfer daya sebesar 490 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan, transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat New Garuda Sakti sebesar 1150 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim Gumawang sebesar 450 MW.

Tambahan pembangkit baru antara lain PLTG Peaker (200 MW) dan PLTP tersebar (695 MW).

A1.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan. Perbaikan SAIDI dan SAIFI. Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan. Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1.9.

252

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

proyeksi kebutuhan fisik distribusi provinsi regional sumatera


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total JTM kms 6.569 4.562 4.661 5.011 5.031 5.403 5.548 5.951 6.291 6.590 55.618 JTR kms 6.711 4.285 4.509 4.869 4.982 5.271 5.273 5.608 5.788 5.955 53.251 Trafo MVA 1.470 766 819 836 872 900 941 978 1.041 1.072 9.694 Pelanggan 1.091.206 594.512 605.242 619.356 537.293 498.951 493.516 506.895 522.635 540.399 6.010.005

proyeksi kebutuhan investasi distribusi provinsi regional sumatera Juta USSD


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total JTM kms 148,8 106,0 111,4 123,4 126,0 140,8 145,3 161,7 174,5 188,3 1.426,3 JTR kms 100,1 64,0 69,1 76,8 79,8 88,4 87,1 98,3 104,2 188,5 876,4 Trafo MVA 50,9 36,2 37,0 38,4 37,1 34,2 35,8 38,0 41,1 43,9 392,7 Pelanggan 39,0 42,3 54,8 63,1 32,7 34,6 36,3 38,2 39,1 39,0 419,1 Total 338,9 248,6 272,3 301,8 275,5 298,0 304,5 336,2 359,0 379,7 3.114,5

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 61.600 kms, JTR 65.510 kms. Kapasitas gardu distribusi 14.054 MVA untuk menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 6,0 juta. Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 3.469 juta USD (JTM USD 1.564 juta, JTR USD 1.076 juta, gardu USD 410 juta, dan sambungan pelanggan 419 juta USD) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 350 juta.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

253

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 67,1 % tahun 2010, menjadi 73,3 % di tahun 2014 untuk regional Sumatera.

A1.10 Program Listrik Perdesaan


perkiran kebutuhan fisik jaringan listrik perdesaan regional sumatera
JTM kms 3.344,0 1.810,2 3.657,2 3.539,5 12.351,0 JTR kms 3.280,9 1.531,0 3.260,8 3.207,4 11.280,1 Trafo Trafo MVA 139,9 44,4 89,8 89,1 63,1 Unit 2.263 758 1.426 1.440 5.887.9 Jumlah Pelanggan 89.727 122.274 125.131 337.132.4 8.515 Listrik Murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011 2012 2013 2014 Total

perkiraan biaya listrik perdesaan regional sumatera (Juta Rp)


Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 602.819,7 309.601,9 893.240,2 953.237,8 2.758.899,7 JTR 291.317,9 146.424,4 378.469,5 406.867,9 1.223.079,7 Trafo 158.190,5 69.034,1 218.991,7 231.746,3 677.962,7 Pembangkit 2.601.8 2.601.8 Pelanggan 29.401,0 32.186,6 61.587,7 Total 1.148.370,6 590.994,6 1.520.102,5 1.624.038,6 4.883.506,3

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Sumatera tahun 2011-2014 dapat dijelaskan sebagai berikut : Selama kurun waktu tahun 2010-2014 direncanakan membangun JTM 12.351 kms. JTR 11.280 kms. Kapasitas gardu distribusi 363 MVA. Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 4,88 triliun (JTM Rp 2,8 triliun, JTR Rp 1.22 triliun, gardu Rp 0,7 triliun, pembangkit dan pelanggan Rp 2,6 triliun

A1.11 Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 4.11. halaman 96.

A1.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi


Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit. transmisi dan gardu induk sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.12.

254

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A2
SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT

Lampiran A2.1
PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK SISTEM KALIMANTAN BARAT

258
Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 186 211 259 339 362 394 69 74 77 68 69 74 1.121 1.379 1.749 2.021 2.201 2.544 2.707 68 457 2.879 68 486 3.060 68 516 3.304 69 548

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Kalimantan Barat

Sitem

Wil Kalbar

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sistem Khatulistiwa

Produksi

Faktor Beban

Beban Puncak

Lampiran A2.2
NERACA DAYA SISTEM KALIMANTAN BARAT

260

Grafik Naraca Daya Sistem Kalimantan Barat

PLTG PLN PLTA PLN

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Power Purchase (Sesco)


PLTU IPP

PLTU (FTP2) PLTU (FTP2)

Kapasitas Terpasang

Neraca Daya Sistem Kalbar


Satuan GWh % MW 270 MW MW MW MW MW 6 153 117 137 88 70 12 47 42 50 75 19 19 19 100 100 100 34 34 34 61 290 253 117 42 50 75 61 61 61 186 211 259 339 362 394 457 486 516 69 74 77 68 69 74 68 68 68 69 548 69 69 1.121 1.379 1.749 2.021 2.201 2.544 2.707 2.879 3.060 3.304 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Kebutuhan dan Pasokan

Kebutuhan

Produksi

Faktor Beban

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Daya Terpasang

PLN

PLTG-HSD PLN (Siantan)

PLTD-MFO PLN (Sei Raya & Sinatan)

PLTD-MFO PLN (Sei Wie & Sudirman)

Interkoneksi sistem-sistem isolated

Sewa

Retired & Moultbolled (PLN)

Tambahan Kapasitas

PLN PLTU PLTU PLTU PLTA PLTU PLTU 50 50 100 50 49 50 50 50 49 55

On-going dan Committed Project

Pantai Kura-Kura (FTP1)

Pantai Baru (FTP1)

Rencana

Parit Baru-Loan China (FTP2)

Nanga Pinoh

Kalbar-1

Kalbar-2

IPP PLTU PLTU 275 KV 275 KV MW % 270 45 290 37 408 57 120 50 492 45 517 43 575 46 699 53 734 51 50 759 47 842 54 50 25 25

Rencana

Pontianak-2

Pontianak-3

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Power Purchase dengan SESCo (Peaking)

Power Purchase dengan SESCo (Baseload)

Jumlah Pasokan

261

Reserve Margin

Lampiran A2.3
PROYEK-PROYEK IPP TERKENDALA SISTEM KALIMANTAN BARAT

A2.3. Proyek-proyek IPP yang Terkendala Dalam perencanaan pembangkit IPP, ada beberapa proyek pembangkit IPP yang Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPTL) nya mengalami kendala, Kategori PPTL terkendala adalah: Kategori 1. Tahap opersi adalah tahap dimana IPP sudah mencapai COD. Kategori 2. Tahap pembangunan/konstruksi dimana IPP sudah mencapai Financial Closing (FC) tapi belum mencapai COD. Kategori 3. Tahap pendanaan IPP yang sudah memiliki PPTL, tetapi belum mencapai Financial Closing (FC). Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Kalimantan Barat adalah: - PLTU Ketapang 2 x 7 MW masuk dalam kategori 2. - PLTU Pontianak 2 x 25 MW masuk dalam kategori 2.

Saat ini penyelesaian IPP terkendala tersebut sedang diproses oleh Komite Direktur untuk IPP dan Kerjasama Kemitraan.

264

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A2.4
NERACA ENERGI SISTEM KALIMANTAN BARAT

266

Proyeksi Neraca Energi Sistem Kalimantan Barat


(GWh)
2019 2.377 2020 2.641 2013 824 1.228 1.471 1.788 1.793 1.797 2014 2015 2016 2017 2018

Jenis

2011

2012

Batubara

Gas 171 753 1.749 2.021 2.201 2.544 2.707 150 300 2.879 709 721 733 737 738 72 3 16 21 35 12 6 7 7 10 14 55 314 300 3.060 10 35 317 300 3.304

LNG

HSD

117

257

MFO -

1.004

1.121

SESCO

Hydro

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 2013 89 279 171 18 1 114 4 0 2014 2015 2016 1 4 2017 1 5 2018 3 9 2019 7 14 2020 3 9 565 701 868 1.102 1.137 1.178 1.610 1.832

Total

1.121

1.379

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Kalimantan Barat

Jenis

2011

2012

HSD (x 1000 kL)

42

MFO (x 1000 kL)

254

LGAS (GBTU)

LNG (GBTU)

Batubara (kTON)

Lampiran A2.5
CAPACITY BALANCE GARDU INDUK SISTEM KALIMANTAN BARAT

268

Capacity Balance Sistem Kalimantan Barat


2011 Add trf MVA 29,33 57,50% 35,75 23,37% 15,60 61,17% 17,55 68,84% 15,30 60,01% 16,93 66,39% 12,14 47,60% 12,02 47,13% 17,04 66,82% 6,54 25,66% 6,48 25,41% 9,07 35,57% 7,29 28,57% 7,15 28,03% 10,01 39,24% 50,33% 62,81% 12,83 16,02 15,18 59,53% 16,63 61,31% 8,04 31,55% 7,82 30,65% 10,94 40,33% 50,33% 54,44% 58,37% 12,83 13,88 14,88 61,91% 66,96% 52,19% 15,79 17,07 13,31 13,87 54,40% 15,34 60,17% 15,80 61,96% 19,59 38,41% 8,54 33,48% 8,21 32,22% 11,50 45,10% 30 64,09% 62,16% 37,90% 39,45% 16,34 15,85 19,33 30 20,12 58,48% 42,84% 46,40% 60,06% 15,00 21,85 30 23,66 30,63 33,75 66,17% 21,85 42,85% 15,29 59,97% 16,50 64,70% 17,16 67,29% 21,48 42,12% 9,45 37,08% 9,01 35,33% 12,61 49,46% 67,98% 62,19% 67,98% 61,40% 44,22% 17,34 15,86 17,33 15,66 22,55 30 25,49% 26,73% 30,07% 32,75% 34,39% 120 39,00 40,90 46,01 50,10 52,62 52,69 34,44% 32,68 64,08% 29,04 56,94% 28,72 56,32% 15,81 62,01% 17,73 69,54% 23,63 46,33% 23,55 46,17% 10,46 41,04% 9,88 38,73% 13,83 54,22% 30 66,75% 39,34% 47,10% 50,81% 52,59% 55,05% 34,04 40,13 60 48,04 51,82 53,64 56,15 Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW 61,82 60,61% 69,12 45,17% 33,06 64,83% 31,51 61,79% 33,74 66,17% 17,44 68,40% 14,06 55,13% 17,22 33,76% 25,80 50,60% 11,58 45,41% 10,82 42,44% 15,15 59,42% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trf MVA 30 2020 Add Trf MVA 67,13 65,82% 69,40 45,36% 35,31 69,24% 33,89 66,45% 32,69 64,09% 24,96 48,95% 15,29 59,98% 21,74 42,63% 28,02 54,95% 12,70 49,79% 11,75 46,09% 16,445 64,53% 30 Peak MW

No.

NAMA GI

TEG

CAPACITY

(KV)

MVA

Peak MW

GI SIANTAN

150/20

30

60

25,67

50,34%

GI SEI RAYA

150/20

30

60

38,01

74,54%

GI. PARIT BARU

150/20

30

30

15,18

59,54%

GI. MEMPAWAH

150/20

30

30

16,78

65,79%

GI. SINGKAWANG

150/20

30

30

14,62

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

57,35%

GI. KOTA BARU

150/20

30

30

14,41

56,50%

GI PLTU KURA-KURA

150/20

30

30

11,71

45,94%

GI SAMBAS

150/20

30

30

GI SANGGAU

150/20

30

30

10

GI TAYAN

150/20

30

30

11

GI BENGKAYANG

15020

30

30

12

GI NGABANG

150/20

30

30

Lanjutan - Capacity Balance Sistem Kalimantan Barat


2012 Peak MW 6,66 26,12% 18,36 35,99% 9,43 55,48% 28,53 55,95% 3,36 13,17% 8,76 34,35% 8,76 34,35% 3,68 14,44% 9,42 36,93% 9,70 38,03% 60,84% 10,34 39,74% 42,18% 46,70% 20,27 21,51 23,82 26,36 51,69% 11,34 66,70% 30,98 60,74% 4,04 15,83% 10,12 39,70% 10,73 42,10% 40,33% 30,03% 32,93% 36,09% 10,28 7,66 8,40 9,20 Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW Add Trf MVA Peak MW 10,09 39,56% 32,17 63,08% 9,43 55,45% 33,62 65,92% 4,42 17,35% 10,88 42,67% 11,88 46,58% 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trf MVA 2020 Add Trf MVA 10,95 42,96% 31,99 62,72% 13,49 79,38% 33,15 65,01% 7,60 30,60% 11,59 45,43% 13,02 51,08% 14,77 57,92% 154,61 20,00 20,00 194,61 192,33 1,01 224,27 1,00 225,27 20,00 20,00 20,00 20,00 288,05 287,01 1,00 185,27 248,05 120 90 270,73 20,00 20,00 310,73 309,73 1,00 311,91 20,00 20,00 351,91 378,08 0,93 30 370,39 20,00 20,00 410,39 410,28 1,00 30 406,81 20,00 20,00 446,81 445,11 1,00 30 442,94 20,00 20,00 482,94 482,82 1,00 30 494,54 20,00 20,00 534,54 533,53 1,00 30 Peak MW

No. Add trf MVA

NAMA GI

TEG

CAPACITY

2011

(KV)

MVA

Peak MW

13

GI SEKADAU

150/20

30

30

14

GI SINTANG

150/20

30

60

15

GI NANGA PINOH

150/20

20

20

16

GI KETAPANG

150/20

30

60

17

GI SANDI

150/20

1 30

30

18

GI KOTA BARU 2

150/20

1 30

30

19

GI SUKADANA

150/20

1 30

30

20

GI PUTUSIBAU

150/20

1 30

30

Penambahan Trafo (MVA)

710

Total Beban Gardu Induk

136,39

Beban Pembangkit Siantan

20,00

Beban Pembangkit Sei Raya

20,00

Total Beban Gardu Induk & PLTD

176,39

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total beban Sistem

173,34

Diveristy Factor

1,02

269

Lampiran A2.6
RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN SISTEM KALIMANTAN BARAT

272
(KMS)
2013 310 310 776 280 180 860 596 280 180 860 300 300 180 180 2.638 2.818 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Kalimantan Barat

Tegangan

2011

2012

275 kV

150 kV

112

TOTAL

112

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

(MVA)
2013 150 150 340 210 30 150 90 210 30 150 250 90 90 2014 2015 2016 2017 2018 30 30 2019 60 60 2020 60 60 Total 250 930 1.180

Tegangan

2011

2012

275/150 kV

150/20 kV

60

TOTAL

60

Rencana Pengembangan Transmisi Kalimantan Barat


Ke Kota Baru Kota Baru Incomer 2 pi (Singkawang-Mempawah) Sambas Tayan Bengkayang Ngabang Tayan Parit Baru Sanggau Sekadau Sekadau Nanga Pinoh Sandai Tayan Kota Baru 2 Sukadana Putusibau Perbatasan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 275 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Zebra 150 kV 2 cct. 2 Hawk 150 kV 2 cct. 1 Hawk 126 184 120 180 110 6 180 100 180 180 180 300 180 200 300 180 150 kV 2 cct. 1 Hawk 40 150 kV 2 cct. 1 Hawk 32 150 kV 2 cct. 1 Hawk 40 2,22 1,77 2,22 6,98 10,19 6,65 9,97 6,09 0,33 9,97 5,54 9,97 9,97 13,74 22,90 9,97 15,27 22,90 28,36 Tegangan Conductor kms Biaya (M USD) COD 2011 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013

No

Provinsi

Dari

Kalbar

Parit Baru

Kalbar

Sei Raya

Kalbar

PLTU Singkawang (Perpress)/Kura2

Kalbar

Singkawang

Kalbar

Siantan

Kalbar

Singkawang

Kalbar

Bengkayang

Kalbar

Ngabang

Kalbar

PLTU Parit Baru (IPP)

10

Kalbar

Tayan

11

Kalbar

Sanggau

12

Kalbar

Sintang

13

Kalbar

Sintang

14

Kalbar

Sukadana

15

Kalbar

Sandai

16

Kalbar

Nanga Pinoh

17

Kalbar

Ketapang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

18

Kalbar

Sintang

19

Kalbar

Bengkayang

273

274
Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV Baru Baru Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Baru Baru Extension 1 LB 30 30 30 30 60 30 30 60 30 30 250 Baru 30 Extension 30 Extension 30 Extension 60 1,39 1,39 1,39 2,62 0,62 2,62 2,62 1,39 2,62 4,00 1,39 1,39 1,39 2,62 1,39 25,98 Baru 60 4,00 Baru 30 2,62 Baru 30 2,62 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2016 2016 2016 2016 2016 2016 2017 2017 2018 2019 `2020 2020 2013 Baru 30 2,62 2013 Baru 30 2,62 2013 Extension 2 LB 1,24 2013 Extension 2 LB 1,24 2013 Baru 30 2,42 2013 Extension 2 LB 1,24 2012 Baru 30 2,42 2012 Extension 120 3,81 2012 baru 30 1,37 2011 Extension 2 LB 1,24 2011 Extension 2 LB 1,24 2011 Baru 30 2,62 2011 Baru/ Extension Kap Jumlah COD Keterangan

Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Barat

No

Provinsi

Dari

Kalbar

Kota Baru

Kalbar

Parit Baru Ext LB

Kalbar

Sei Raya Ext LB

Kalbar

PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2

Kalbar

Sei Raya

Kalbar

Sambas

Kalbar

Singkawang Ext LB

Kalbar

Tayan

Kalbar

Tayan Ext LB

10

Kalbar

Sei Raya Ext LB

11

Kalbar

Bengkayang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

12

Kalbar

Ngabang

13

Kalbar

Sanggau

14

Kalbar

Sekadau

15

Kalbar

Sintang

16

Kalbar

Siantan

17

Kalbar

Mempawah

18

Kalbar

Singkawang

19

Kalbar

Naga Pinoh

20

Kalbar

Sintang Ext LB

21

Kalbar

Sukadana

22

Kalbar

Sandai

23

Kalbar

Sanggau

24

Kalbar

Kota Baru 2

25

Kalbar

Ketapang

26

Kalbar

Parit Baru

27

Kalbar

Sambas

28

Kalbar

Sinatan

29

Kalbar

Putusibau

30

Kalbar

Kota Baru

31

Kalbar

Bengkayang

Lampiran A2.7
PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN SISTEM KALIMANTAN BARAT

276
The image cannot be displayed. Your computer may not have enough RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart your computer, and then open theBARAT file again. If the red x still appears, you KALIMANTAN 2011 - 2020

PLTM PANCAREK-SAJINGAN (IPP); 2 x 400 KW (2012) ARUK BIAWAK SERIKIN JAGOI BABANG TEBEDU ENTIKONG GI & GITET. BENGKAYANG Thn 2013 GI. NGABANG Thn2013 55 km GI. SIANTAN GI. SEKADAU Thn 2014 PLTU SANGGAU (PLN); 2 X 7 MW (2012) GI. NANGA PINOH Thn 2016 GI. SINTANG Thn 2014 PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013) PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017-18 GI SANGGAU Thn 2014 PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW ( 2 012) BADAU GI. PUTUSIBAU Thn 2020 BATU KAYA PLTGB (IPP) 8 MW (2012) GI MAMBONG (MATANG) PLTM MERASAP-BENGKAYANG (PLN); 2 x 750 KW (2010)

PLTU 2 KALBAR TJ. GUNDUL (PLN); 2 x 27,5 MW (2013) PLTU PERPRES TAHAP II 2 X 50 MW (2014) LOAN CHINA

GI. SAMBAS Thn2013

KUCHING

GI. SINGKAWANG Thn 2009

GI. PLTU KURA-KURA Thn 2011 GI. MEMPAWAH

GI. PARIT BARU

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


PLTU TAYAN (IPP); 2 X 25 MW (2015) GI. K0TA BARU22017 GI. SUKADANA Thn 2017 GI. SANDAI Thn 2017 GI. KETAPANG Thn 2017 GI. KUALA KURUN GI Kuala Kurun PLTU Rencana PLTMH Rencana Listrik Perbatasan Eksisting Listrik Perbatasan Rencana

GI. TAYAN GI. SEI RAYA Thn2013 GI. KOTA BARU Thn 2011

PLTU 1 KALBAR -PARIT BARU (PLN); 2 x 50 MW (2013) PLTU PARIT BERKAT (IPP); 2 x 25 MW (2014);

PLTU KETAPANG (PLN) ; 2 X 10 MW (2013)

PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X7 MW (2012)

KETERANGAN :

Gardu Induk 275 kV Rencana Transmisi 275 kV Rencana

Transmisi 150 kV Eksisting Transmisi 150 kV Rencana Gardu Induk 150 kV Eksisting Gardu Induk 150 kV Rencana

Lampiran A2.8
ANALISIS ALIRAN DAYA SISTEM KALIMANTAN BARAT

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012


278
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

279

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018


280
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A2.9
KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI SISTEM KALIMANTAN BARAT

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalimantan Barat


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.189 40.543 36.973 38.980 41.105 46.655 49.419 52.353 55.467 58.773 464.457

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Kalimantan Barat


Juta USD
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10,2 17,2 18,4 18,2 10,3 17,8 19,2 19,1 11,3 18,7 160,7 JTR 7,5 10,9 11,8 13,7 7,6 11,7 12,9 15,0 9,1 13,2 113,4 Trafo 4,9 4,5 4,2 4,3 5,5 5,3 5,8 6,6 7,6 7,6 56,3 Pelanggan 2,6 2,4 2,3 2,5 2,8 3,4 3,7 4,1 4,6 5,1 33,6 Total 25,2 35,0 36,7 38,8 ,26,3 38,1 41,7 44,9 32,7 44,6 364,0

282

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A2.10
PROGRAM LISTRIK PERDESAAN SISTEM KALIMANTAN BARAT

284

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Barat


JTM kms MVA 221,0 167,6 590,3 645,0 1.623,9 17,0 353 14.375 2,4 47 4.525 2,3 47 4.125 2,3 62 5.725 875 10,0 197 Unit Jml Pelanggan 348,0 182,5 511,0 468,0 1.509,5 JTR kms Trafo Listrik murah dan Hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 JTM 82.108,8 46.875,5 159.909,4 156.909,5 445.802,9 277.996,0 108.375,4 91.808,3 23.395,8 6.120,8 7.099,4 8.796,1 29.983,1 22.500,0 54.416,8 7.966,8 JTR Trafo Pembangkit 22.500,0 Pelanggan Total 166.992,4 76.391,5 258.817,0 274.081,0 776.281.9

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Barat (Juta Rp)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Penjelasan A2.11
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI SISTEM KALIMANTAN BARAT

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi, dan Distribusi (Fixed Asset Addition) Kalimanan Barat
(Juta US$)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit 0 82 322 75 163 75 149 74 119 119 1.178 T/L dan GI 13 14 98 37 1 69 21 1 1 27 283 Ditribusi 25 35 37 39 26 .38 42 45 33 45 364 Total 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1.825

286

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PENJELASAN LAMPIRAN A2. SISTEM KALIMANTAN BARAT

A2.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Sistem Kalimantan Barat (Khatulistiwa) merupakan salah satu sistem besar di pulau Kalimantan selain Sistem Kaltim (Mahakam) dan Sistem Kalimantan Selatan & Tengah (Barito). Saat ini sistem Kalimantan Barat belum terinterkoneksi dengan sistem Kalimantan Selatan dan Tengah. Untuk memenuhi kebutuhan listrik tahun 2011-2020. diperkirakan produksi energi listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 12,7% per tahun. yaitu meningkat dari 1.121 GWh pada tahun 2011 menjadi 3.304 GWh pada tahun 2020. Faktor beban diperkirakan antara 67,6% sampai 76,9% Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2011 sebesar 186 MW akan meingkat menjadi 548 MW pada tahun 2020 dengan tersambungnya beberapa sistem isolated yaitu sistem Singkawang, Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Ngabang dan Ketapang. Sistem-sistem kecil lainnya masih beroperasi isolated. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 20112020 diberikan pada Lampiran A2.1.

A2.2 Neraca Daya


Sistem Interkoneksi Sistem interkoneksi Kalimantan Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, yaitu tumbuh rata-rata 12,6% per tahun sampai dengan tahun 2020. Saat ini, di Kalimantan Barat terdapat sewa PLTD lebih dari 100 MW. Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 270 MW (termasuk sewa). dimana semua pembangkit di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga biaya operasi sangat tinggi. Tambahan pembangkit pada sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap rencana, kecuali PLTU Percepatan Tahap 1, yaitu PLTU Parit Baru (2 x 50 MW) dan PLTU Kura-kura (2 x 25 MW) yang direncanakan beroperasi tahun 2013. Penandatangan kontrak untuk kedua PLTU ini sudah dilaksanakan pada tahun 2009. Pada tahun 2014 dan 2015 sistem Kalimantan Barat akan melakukan pembelian listrik dari Serawak sebesar 50 MW pada LWBP dan 120 MW pada WBP untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. Dalam jangka panjang (setelah tahun ke-5) dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari Serawak adalah hanya selama WBP, hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang berbahan bakar mahal.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

287

Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan mencapai 57% pada tahun 2013. Namun hal ini masih dapat diterima dengan pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbaga sebab. interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasi power pada WBP. PLTU Batubara Dengan adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang. maka direncanakan PLTU batubara 3 x 7 MW di Sintang untuk beroperasi pada tahun 2012. Selain itu PLTU IPP juga akan dilaksanakan di Ketapang sebesar 2 x 10 MW. PLTU Pantai Kura-kura FTP1 (2 x 27,5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2 x 50) diharapkan beroperasi pada tahun 2013. PLTU batubara (ex Loan China 2 x 50 MW) di Parit Baru juga diharapkan beroperasi pada tahun 2014. Untuk memenuhi kebutuhan demand jangka panjang di Kalbar, maka direncanakan pembangunan PLTU Kalbar-1 sebesar 2 x 50 MW dan PLTU Kalbar-2 (2 x 50 MW), PLTU IPP Pontianak-2 diperkirakan akan mundur dalam waktu yang lama, sedangkan PLTU IPP Pontianak 3 diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2015. Interkoneksi Kalimantan Barat - Sarawak Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan BPP dengan menggantikan pembangkit BBM. meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan mengantisipasi keterlambatan pembangunan proyek PLTU. Proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2014. Pola operasi 5 tahun pertama adalah impor 50 MW flat pada LWBP dan maksimum 180 MW (on top dari beban dasar) pada WBP. Tidak ada ketentuan take or pay yang berbasis daya. Setelah 5 tahun akan berubah menjadi power exchange. Proyek-Proyek Strategis: Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai Kura-Kura) merupakan proyek stra tegis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini sudah terjadi. juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. PLTU Parit Baru Loan China (FTP2) 2 x 50 MW dan PLTU Pontianak-3 diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem Kalbar. Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.2.

A2.3 Proyek-proyek IPP yang Terkendala


Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A2.3.

288

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A2.4 Neraca Energi


Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan pengembangan pembangkit, produksi energi per jenis energi primer di sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.4. Rencana pembangunan beberapa PLTU di Kalbar merupakan salah satu usaha mengurangi biaya operasi pembangkitan mengingat pembangkit di Kalbar 100% berbahan bakar minyak, HSD dan MFO. Adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang juga membuka peluang pembangunan PLTU batubara di daerah tersebut. Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Peranan MFO yang pada tahun 2010 masih cukup tinggi di Kalbar, Produksi dengan menggunakan BBM adalah sebesar 650 GWh dan produksi dengan BBM dari pembangkit sewa sebesar 718 GWh (termasuk sistem isolated). Pada tahun 2011 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru berbahan bakar selain BBM, maka produksi dengan BBM untuk sistem interkoneksi akan mencapa 1.121 GWh. b. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU, maka diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar dapat dikurangi. c. Peranan sumber energi lain selain BBM dan batubara juga direncanakan. Sumber energi tersebut adalah Air. Potensi air di daerah Nanga Pinoh memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik. PLTA Nanga Pinoh direncanakan dapat beroperasi sebesar 98 MW pada tahun 2017/2018. d. Peranan HSD hingga tahun 2020 tetap penting. mengingat beberapa sistem kecil terisolasi dan tidak terhubung ke Grid sistem khatulistiwa masih menggunakan PLTD sebagai pembangkit. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem interkoneksi sebesar 296 juta liter dan pada tahun 2020 sebesar 12 juta liter. Volume pemakaian batubara meningkat dari 0,57 juta ton pada tahun 2013 menjadi 1,83 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 4 kali lipat. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A2.4.

A2.5 Capacity Balance Gardu Induk


Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

289

pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan Barat sampai dengan tahun 2020 sebesar 1.240 MVA. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada Lampiran A2.5.

A2.6 Rencana Pengembangan Penyaluran


Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar sampai dengan tahun 2020 adalah sepanjang 2.818 kms, meliputi: Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan, PLTU IPP dan PLTA. Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar-Sarawak untuk mendapatkan benefit ekonomi dari energy exchange pada saat terjadi perbedaan marginal cost antara kedua sistem. Interkoneksi ini juga bermanfaat sebagai contingency apabila konstruksi pembangkit baru terlambat. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.6.

A2.7 Peta Pengembangan Penyaluran


Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2.7.

A2.8 Analisis Aliran Daya


Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Pada RUPTL 2011-2020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012, 2015 dan 2019. Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Tahun 2012 Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru. Tegangan sistem tertinggi di GI Singkawang (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (148.5 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 s.d 2012 adalah transmisi 150 kV SambasSingkawang, transmisi 150 kV SingkawangBengkayang dan transmisi 150 kV SiantanTayan.

290

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2. Tahun 2015 PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 2 x 27,5 MW, PLTU Parit Baru (FTP1) 2x50 MW, PLTU Parit BaruLoan China (FTP2) . PLTU Pontianak-3 50 MW sudah beroperasi pada tahun 2013 s.d 2015. Sistem Kalbar juga telah terinterkoneksi dengan sitem Sarawak. Tegangan sistem tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (142 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Tambahan transmisi baru dari tahun 2013 s.d 2015 adalah transmisi 275 kV BengkayangBorder (Sarawak). transmisi 150 kV BengkayangNabangTayanSanggauSintang. 3. Tahun 2018 PLTU Kalbar-1 2x50 MW, PLTA Nanga Pinoh 89 MW beroperasi pada tahun 2016-2018. Pola operasi interkoneksi dengan Sarawak masing tetap sama, yaitu 50 MW di LWBP dan 120 MW di WBP. Tegangan sistem tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (153 kV) dan tegangan terendah di GI Nanga Pinoh (143 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Tambahan transmisi baru dari tahun 2016 s.d 2019 ada tiga ruas transmisi yaitu SUTT 150 kV Tayan Sandai, SUTT 150 kV SandaiSukadana, SUTT 150 kV SukadanaKetapang.

A2.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk: Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan. Perbaikan SAIDI dan SAIFI. Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan. Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran A2.9.
proyeksi kebutuhan fisik distribusi provinsi kalimantan barat
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.189 40.543 36.973 38.980 41.105 46.655 49.419 52.353 55.467 58.773 464.457

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

291

proyeksi kebutuhan investasi distribusi provinsi kalimantan barat


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 10.2 17.2 18.4 18.2 10.3 17.8 19.2 19.1 11.3 18.7 160.7 JTR kms 7.5 10.9 11.8 13.7 7.6 11.7 12.9 15.0 9.1 13.2 113.4 Trafo MVA 4.9 4.5 4.2 4.3 5.5 5.3 5.8 6.6 7.6 7.6 56.3 Pelanggan 2.6 2.4 2.3 2.5 2.8 3.4 3.7 4.1 4.6 5.1 33.6

Juta USD
Total 25.2 35.0 36.7 38.8 26.3 38.1 41.7 44.9 32.7 44.6 364.0

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 1.381 kms. JTR 3.944 kms, kapasitas gardu distribusi 540 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 464 ribu pelanggan. Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 364 juta (JTM USD 161 juta, JTR USD 113 juta, gardu distribusi USD 56 juta dan sambungan pelanggan USD 34 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 36 juta. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 58.3 % tahun 2010. menjadi 66.5 % di tahun 2014 untuk regional Kalimantan Barat.

A2.10 Program Listrik Perdesaan


Perkiraan kebutuhan fisik jaringan listrik perdesaan provinsi kalimantan barat
Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348,0 182,5 511,0 468,0 1.509,5 JTR kms 221,0 167,6 590,3 645,0 1.623,9 Trafo MVA 10,0 2,3 2,3 2,4 17,0 Unit 197 62 47 47 353 5.725 4.125 4.525 14.375 875 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS)

292

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

perkiraan biaya listrik perdesaan provinsi kalimantan barat (Juta Rp)


Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 82.108,8 46.875,3 159.909,4 156.909,5 445.802,9 JTR 54.416,8 23.395,5 91.808,3 108.375,4 277.996,0 Trafo 7.966,8 6.120,8 7.099,4 8.796,1 29.983,1 22.500,0 Pembangkit 22.500,0 Pelanggan Total 166.992,4 76.391,5 258.817,0 274.081,0 776.281,9

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Barat tahun 2011-2014 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut : Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 1.510 kms, JTR 1.624 kms, Kapasitas gardu distribusi 17 MVA. Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 776,3 milyar (dengan rincian JTM Rp 445,8 milyar. JTR Rp 278,0 milyar, gardu distribusi Rp 30,0 milyar. pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 22,5 milyar).

A2.11 Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 4.11. halaman 96.

A2.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi


Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.12.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

293

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN per provinsi WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

A3. A4. A5. A6. A7. A8. A9. A10. A11. A12. A13.

PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM PROVINSI SUMATERA UTARA PROVINSI RIAU PROVINSI KEPULAUAN RIAU PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PROVINSI SUMATERA BARAT PROVINSI JAMBI PROVINSI SUMATERA SELATAN PROVINSI BENGKULU PROVINSI LAMPUNG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

LAMPIRAN A.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

A3.1. Kondisi Kelistrikan Saat Ini


Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. Sekitar 71% dari sistem kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sisanya 29% dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar. Saat ini daerah yang sudah dipasok sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui 7 gardu induk yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Lhokseumawe, Bireuen, Pidie dan Pidie Jaya, Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan posisi pembangkit semua berada di Sumut. Peta sistem kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ditunjukkan pada Gambar A3.1. Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok oleh PLTD berbahan bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV.
Gambar A3.1 Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

297

Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan pemadaman karena jumlah kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai cadangan daya yang cukup. Pemadaman dalam skala besar bisa terjadi apabila ada gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit pembangkit berkapasitas besar. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa genset sebesar 150 MW di 4 lokasi. Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya. Aceh Selatan, Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Aceh Tenggara. Gayo Lues, Kota Sabang dan Simeulu terdapat genset sewa dengan kapasitas total 53 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut. Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah 390 MVA. Rincian kapasitas GI dan pembangkit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3.1 dan Tabel A3.2.
Tabel A3.1 Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2010
No. 1. Nama Gardu Induk Banda Aceh a. Lambaro 2. Sigli a. Tijue 3. Lhokseumawe a. Bayu b. Juli Bireun 4. Langsa a. Alur Dua b. Tualang Cut c. Alur Bate. Idi Growth 30 10 30 390 239,7 10 10 30 30 30 30 44,2 KIT-PLTD // 20 KV= 15 MW 30 10 20 81,2 KIT-PLTD // 20 KV= 70 MW 30 30 60 28,4 KIT-PLTD // 20 KV= 20 MW Kapasitas Trafo (MVA) #1 #2 #3 Peak Load (MW) 85,9 Keterangan KIT-PLTD // 20 KV= 57,9 MW

Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang telah mencapai sekitar 325 MW sebagian besar dipasok dari pembangkit-pembangkit yang berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan BrandanLangsaIdiehingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 230 MW dan sistem isolated tersebar rata-rata 85 MW. Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih tinggi. yaitu Rp 2.238/kWh ka rena masih dioperasikannya banyak PLTD. baik di sistem interkoneksi maupun sistem isolated.

298

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A3.2. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2010


No. A 1. Nama Pembangkit Sistem Interkoneksi 150 Kv Banda Aceh Genset Sewa 2. Lhokseumawe Genset Sewa 3. Sigli Genset Sewa 4. Langsa Genset Sewa Total A B 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Sistem Isolated Takengon Sabang Kutacane Blangkejeren Meulaboh Calang Sinabang Blang Pidie Tapaktuan Subulussalam Isolated Kepulauan Total B PLTD PLTD PLTD. PLTM PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD. Air HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN 13 7 14 5 46 6 7 16 7 19 2 282 13 4 9 3 23 5 4 9 4 12 1 172 PLTD HSD PLTD HSD PLTD HSD PLTD HSD PLN Swasta PLN Swasta PLN Swasta PLN Swasta 22 45 14 70 8 20 0 15 194 240 44 28 81 86 Jenis Bahan Bakar Pemilik Daya Mampu (MW) Beban Puncak (MW)

A3.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam


Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Hal tersebut sa ngat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi Aceh-Nias pada tahun 2006 s/d 2010. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal penting dalam pemulihan ekonomi Aceh. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik. Penjualan pada tahun 2010 tumbuh hinggga 16,9% dan tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh sekitar 13,8%. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari 272 MW pada tahun 2009 menjadi 299 MW pada tahun 2010.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

299

Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 16,4% per tahun, dimana penjualan pada tahun 2006 sebesar 839 GWh telah meningkat menjadi 1.492 GWh pada tahun 2010. Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 961 GWh (64%), kemudian sektor bisnis sebesar 268 GWh (18%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.3.
Tabel A3.3. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2010
No. 1. 2. 3. 4. Kelompok Tarif Rumah Tangga Komersil Publik Industri Jumlah Energi Jual (GWh) 960.7 267.6 219.5 44.1 1.491.9 Porsi (%) 64.4 17.9 14.7 3.0 100.0

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuh an listrik 20112020 diberikan pada Tabel A3.4.
Tabel A3.4. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.698 1.936 2.206 2.508 2.842 3.208 3.609 4.044 4.515 5.024 12.9% Produksi (Gwh) 1.855 2.111 2.402 2.727 3.084 3.476 3.904 4.368 4.869 5.409 11.7% Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 11.0% Pelanggan 1.029.254 1.068.448 1.108.619 1.149.798 1.184.089 1.214.687 1.246.105 1.279.552 1.313.920 1.349.252 3.2%

A3.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan pembangunan sarana pembangkit. transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.

300

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersedia cukup besar, yaitu panas bumi 589 MW, tenaga air 1.482 MW dan cadangan batubara 1,7 miliar ton, Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.2. Disamping itu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga terdapat cadangan gas, namun sudah dieksploitasi dan saat ini sudah jauh berkurang.
Gambar A3.2. Peta Sumber Energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Pengembangan Pembangkit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2020 diperlukan pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya sebesar 1.102 MW dan pada sistem isolated dengan daya sebesar 65 MW dengan rincian diberikan pada Tabel A3.5. Pembangunan PLTP Seulawah 55 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan WKP PLTP Jaboi di Sabang 10 MW sudah dilelang oleh Pemko Sabang.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

301

Tabel A3.5. Rencana Pengembangan Pembangkit


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Proyek Meulaboh #1. 2 (FTP1) Tapaktuan Aceh Air Terjun/Sinabung Lhokseumawe Sabang (FTP2) Singkil Meulaboh Takenngon Aceh Timur Meulaboh #3. 4 Peusangan 1-2 Lho Pria Laot Seulawah (FTP2) Peusangan-4 Jaboi (FTP2) Jumlah Jenis PLTU PLTU PLTG PLTGB PLTG PLTGB PLTGB PLTM PLTM PLTG PLTU PLTA PLTP PLTP PLTA PLTP Pemilik PLN PLN Swasta PLN PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 220 14 66 6 120 8 8 10 1.5 70 400 88 7 55 83 10 1.167 COD 2012 2012 2012-13 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2015-16 2016 2017 2017 2018 2019

Mengingat daya pembangkit pada sistem interkoneksi Sumut Aceh belum seimbang dengan demand yang ada, maka beroperasinya PLTA Peusangan 88 MW, PLTG Lhokseumawe 120 MW, PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW, dan PLTP Seulawah Agam 55 MW sangat penting untuk memperbaiki sistem kelistrikan Aceh. Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini, sampai dengan beroperasinya PLTU Nagan 2 x 100 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV, sebagai berikut: Banda Aceh 45 MW, Sigli 20 MW, Lhokseumawe 70 MW, Langsa 15 MW, Calang 4 MW, Sabang 2 MW, Meulaboh 15 MW, Kuta Fajar 2.5 MW, Kutacane 6 MW, Blang Keujeuren 2 MW, Takengon 4 MW, Rimo 7 MW, Blang Pidie 4 MW dan Sinabang 3 MW. Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok penyediaan listrik di sistem kecil isolated akan dibangun PLTU skala kecil di Tapak Tuan 2 x 7 MW, PLTGB di Sinabang 6 MW, Singkil 8 MW, dan Sabang 8 MW.

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk Pembangunan GI baru untuk mengevakuasi energi listrik dari pembangkit skala besar dan dari hasil perkiraan pertumbuhan dan capacity balance per gardu induk, maka kebutuhan penambahan kapasitas trafo GI di PLN

302

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Wilayah Aceh tahun 2011 s/d 2020 untuk pembangunan GI baru adalah sebesar 690 MVA dan extension GI sebesar 660 MVA. Disamping itu juga akan dibangun GI 275 kV di Aceh dengan total kapasitas 1.250 MVA sampai dengan tahun 2020.
Tabel A3.6. Pengembangan GI Baru
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Jantho Meulaboh Panton Labu Blang Pidie Kutacane Sabulussalam Takengon Tapak Tuan Blang Kjeren Krueng Raya Samalanga Ulee Kareng Cot Trueng Lam Pisang Jumlah Nama Gardu Induk Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 30 30 60 30 30 60 30 120 30 120 690 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2018

Tabel A3.7. Pengembangan Extension GI Baru


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18 Nama Gardu Induk Banda Aceh Sigli Lhokseumawe Langsa Tualang Cut Banda Aceh Idi Sigli Bireun Jantho Meulaboh Tualang Cut Cot Trueng Panton Labu Samalanga Bireun Subulussalam Tualang Cut Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 60 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 660 COD 2011 2011 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2018 2019 2019 2019 2020 2020 2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

303

Tabel A3.8. Pengembangan GI 275 kV


No. 1. 2. 3. 4. Nama Gardu Induk Lhokseumawe PLTU Meulaboh Sigli Ulee Kareng Tegangan 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV Jumlah Baru/ Extension Baru Baru Baru Baru Kapasitas (MVA) 250 250 250 500 1.250 Biaya (juta US$) 20,08 20,08 25,98 21,03 87,2 COD 2015 2015 2015 2018

Pengembangan Transmisi Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2020 adalah 1.645 kms (150 kV) dan 452 kms (275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 263.2 juta seperti yang ditampilkan dalam Tabel A3.9 dan Tabel A3.10.
Tabel A3.9. Pembangunan Transmisi 150 kV
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Jantho Meulaboh Panton Labu Sigli Bireun Blang Pidie Brastagi/Berastagi PLTU Meulaboh Sidikalang Krueng Raya Samalanga Takengon Ulee Kareng Cot Trueng PLTA Peusangan-1 PLTA Peusangan-2 PLTP Seulawah Banda Aceh Takengon Dari Ke Inc. (Sigli-Banda Aceh) PLTU Meulaboh Inc. (Idi-Lhokseumawe) PLTU Meulaboh Takengon Tapak Tuan Kutacane Biang Pidie Sabulus salam Ulee Kareng Inc. (Bireun-Sigli) Blang Kjeren Banda Aceh Inc. (Bireun-Lhokseumawe) PLTA Peusangan-2 Takengon 2 Pi Inc. (Sigli-Banda Aceh) Lam Pisang PLTA Peusangan-4 Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 4 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk Panjang (kms) 1 60 2 333 126 130 290 190 111.2 60 4 174 40 6 14 22 32 30 20 1.645 Biaya (juta US$) 0,1 3,3 0,1 75,0 9,6 7,2 16,1 10,5 6,2 4,6 0,2 9,6 9,0 0,3 1,1 1,7 3,5 2,3 1,1 161,5 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2016 2016 2017 2018 2018

Tabel A3.10. Pembangunan Transmisi 275 kV


No. 1. 2. Sigli Sigli Dari Ke Lhokseumawe Ulee Kareng Jumlah Tegangan 275 kV 275 kV Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra Panjang (kms) 322 130 1.645 Biaya (juta US$) 72,5 29,3 161,5 COD 2015 2018

304

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tersebut di point 2.2 di atas, diperlukan tambahan pelanggan baru 362 ribu pelanggan atau rata-rata 36.200 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan, diperlukan pembangunan JTM 11.979 kms, JTR sekitar 13.558 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 720.3 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A3.11.
Tabel A3.11. Rincian Pengembangan Distribusi
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total JTM kms 878 937 1.000 1.068 1.140 1.216 1.298 1.385 1.478 1.578 11.979 JTR kms 994 1.061 1.132 1.208 1.290 1.377 1.469 1.568 1.673 1.786 13.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.227 39.193 40.171 41.179 34.291 30.598 31.418 33.447 34.369 35.332 362.225

A3.4. Pengembangan Pulau WehSabang


Sabang merupakan merupakan kawasan istimewa karena berada pada jalur lalu lintas pelayaran dan penerbangan internasional, sehingga menjadi salah satu pintu gerbang kegiatan ekonomi Indonesia. Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam telah menetapkannya sebagai kawasan industri yang akan menjadi pusat kemajuan ekonomi Aceh. Untuk memajukan Sabang, telah dibentuk BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang) dengan harapan dapat menjadi fasilitator dalam pengembangan ekonomi baik skala provinsi, nasional, regional dan international. Disamping itu pulau yang eksotis ini juga akan dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk mempercepat pengembangan Sabang, penyediaan tenaga yang memadai dan handal sangatlah diperlukan. Sistem kelistrikan saat ini dipasok dari PLTD dan genset sewa dengan daya mampu 4.2 MW dan beban puncak 2,8 MW. Potensi energi panas bumi di Sabang diperkirakan sebesar 70 MW. namun yang akan dikembangkan oleh Pemko Sabang saat ini sebesar 2 x 5 MW yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013 dan 2017. Dalam rangka mendukung pengembangan kawasan Sabang oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

305

PLN mendorong pembangunan PLTP Jaboi 7 MW oleh IPP dan siap untuk membeli dengan harga yang wajar. Disamping itu untuk menjaga kemungkinan kemunduran beroperasinya PLTP Jaboi, PLN juga akan PLTGB 8 MW pada tahun 2013.

A3.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A3.12.
Tabel A3.12. rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Energy Sales (Gwh) 1.698 1.936 2.206 2.508 2.842 3.208 3.609 4.044 4.515 5.024 31.591 Produksi Energi (Gwh) 1.855 2.111 2.402 2.727 3.084 3.476 3.904 4.368 4.869 5.409 34.205 Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 5.478 Pembangkit (MW) 0 278 176 70 200 288 62 83 10 0 1.167 GI (MVA) 90 120 240 300 930 60 30 650 90 90 2.600 Transmisi (kms) 0 396 847 278 328 36 32 180 0 0 2.097 Investasi (juta US$) 46 494 240 127 462 455 217 251 101 78 2.472

306

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

LAMPIRAN A.4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA UTARA
A4.1. Kondisi Saat Ini
Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem transmisi 150 kV (tidak termasuk Pulau Nias/Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Pulau Tello dan Pulau Sembilan yang beroperasi secara isolated). Saat ini beban puncak sekitar 1.339 MW dan dipasok oleh Sektor Pembangkitan Belawan, Sektor Pembangkitan Medan, Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan Labuhan Angin, Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan beban puncak. Disamping pusat-pusat pembangkit di atas. ada beberapa PLTMH yang memasok listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW. Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban, maka pada saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir. Untuk menanggulangi pemadaman yang berkepanjangan. PLN Wilayah Sumatera Utara melakukan demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban, yaitu membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru. Jumlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2.146 MVA. Peta kelistrikan sistem Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4.1.
Gambar A4.1. Peta Kelistrikan Sumatera Utara
U

ke GI Langsa (NAD)
PLTA Wampu 45 MW 2014

ACSR 2 x 430 mm 11 km - 2013

P . Brandan

PLTU P.Susu #1,2 (FTP1) 2 x 220 MW 2012/2013 PLTU P. Susu #3,4 ACSR 2 x 430 mm2 2 x 200 MW 2015 80 km - 2011

PLTGU Belawan 395,3 MW & 422,5 MW PLTG Paya Pasir 90 MW (Total) PLTG Glugur 19,85 MW & 12,85 MW
U
P LTU S ewa Kuala Tanjung 3x120 MW 2013
2

Belawan G
GU U

PLTG BELAWAN 400 MW 2013

ACSR 1 x 240 mm2 15 km - 2013

T. Pura

11 4 5

Labuhan G Mabar G

ACSR 2 x 240 mm 6,2km - 2012

Pa ya Pa sir

Lamhotma

PLTU Belawan 4 x 65 MW

to GI Kutacane (NAD)

Binjai 13
ACSR 2 x 430 mm 80 km - 2013
A
2

CU 1000 KIM 10 km - 2015

8 2 11 11

Perbaungan
6

Binjai Paya Geli

Glug ur GIS Listrik T i Kuning

Sei Rotan
Denai

Perbaungan

ACSR 1 x 240 mm 178 km - 2013 PLTA Renun 2 x 41 MW

ACSR 1 x 240 mm 40km - 2014

15
P

Galang Brastagi
A CS R 1 x 240 mm 33 k m - 2013
2

Tebing Tinggi Negeri A Dolok G.Para

A CS R 2 x 240 mm 15 k m - 2013

Namurambe

Kuala Namu
ACSR 2 x 430 mm2

Kualatanjung
PLTM Tersebar Karai-1(2x5) Karai -7(2x3,2) Karai-12(2x3,7) Karai-13(2x4,2)

ACSR 2 x 430 mm 40 km - 2012

T.Morawa

ACSR 2 x 240 mm 17 km 2013

Galang10 km -2012

PLTD Ti Kuning 6 x 4,14 MW

Renun

PLTP Sibayak 10 MW ACSR 2 x 430 mm 2 159 km - 2013

to ACSR 1 x 240 mm2 GI Sabussalam 55,6 km - 2013 (NAD) A CS R 1 x 240 mm


PLTMH tersebar Lae-Ordi-1( 2x2,5),Lae-Ordi2(2x5),Lae-Kombih 2(2x4) 2
30 k m - 2013

Pematang Siantar

Kisaran
2

ACS R 4 x 282 m m 200 km - 2020

Sidikalang Pangururan Tele


2

Salak
A

A CS R 1 x 240 mm 13 k m - 2013 A CS R 1 x 240 mm 2 30 k m - 2017

Porsea

Simangkok

Asahan I A
A CS R 2 x 240 mm 11 k m - 2016 Asahan III
2

PLTA Asahan I 180 MW - 2010

Labuhan Bilik

PLTMH tersebar Parlilitan (3x2,5), Hutaraja(2x2,5), Pakkat(2x5), TaraBintang(2x5), Simonggo(3x3), Rahu-1(2x4), Rahu-2(2x2,5) PLTA Simonggo 2 86 MW 2017

PLTA Hasang 40 MW - 2017


2

Dolok Sanggul/ Parlilitan A

A A P
ACSR 1x 240 mm 2 km - 2019
2

Aek Kanopan
A CS R 1 x 240 mm 65 k m 2012
2

ACSR 1 x 240 mm 7 km - 2013

PLTA Asahan III(FTP2) 174 MW - 2016


2

P PLTP Simbolon Samosir 2 x 55 MW 2019


A CS R 1 x 240 mm 2 25 k m - 2018

ACSR 2 x 430 mm 97 km - 2013


P

Rantau Prapat

Labuhan Angin U
PLTU Labuhan Angin 2 x 115 MW PLTA Sipan 17 MW & 33 MW

Tarutung

Kota Pinang

Sibolga
A

PLTP Sipoholon Ria-Ria Sarulla 55 MW 2019 ACSR 2 x 430 mm2 69 km - 2013 PLTP Sarulla 1 (FTP2) 330 MW 2014/2015 PLTP Sarulla 2 (FTP2) 110 MW 2017

ke GI Bagan Batu (Riau)

Gunung Tua

Padang Sidempuan
ACSR 1 x 240 mm 70 km 2013
2

PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA UTARA Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV
Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G

PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PLTU PLTG PLTGU


D A P

PLTD PLTA PLTP

Kit Eksisting Kit Rencana

GU

GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

CS 23 R 1 km x 2 - 2 40 01 m 7 m2

PT PLN (Persero ) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA

Panyabungan
Edit September 2011 PLTP Sorik Merapi (FTP2) 240 MW 2018

ACSR 2 x 430 mm2 300 km - 2014

ke GI Payakumbuh (Sumatera Barat)

307

Penjualan tenaga listrik PLN di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonominya. Namun pasokan tenaga listrik (pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu (derating capacity) karena umur pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit baru yang relatif kecil. Secara lebih rinci, kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4.1.
Tabel A4.1. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2010
No. A 1. Pembangkit Sektor Pembangkiitan Belawan PLTU Belawan PLTU Belawan 2. PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan 3. B 1. PLTG Belawan TTF Sektor Pembangkitan Medan PLTG Glugur PLTG Glugur PLTG Glugur TTF 2. PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir TTF PLTG Paya Pasir TTF 3. 4. 5. C 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. D 1. E 1. 2. 3. 4. F 1. 2. 3. PLTG Titi Kuning PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta) PLTD Sewa Belawan (AKE) Sektor Pembangkitan Pandan PLTMH Batang Gadis PLTMH Tonduhan PLTMH Kombih I PLTMH Kombih II PLTMH Boho PLTMH Aek Raisan PLTMH Aek Silang PLTMH Aek Sibundong PLTA Sipansihaporas PLTA Lau Renun Sektor Pembangkitan Labuhan Angin PLTU Labuhan Angin IPP PLTP Sibayak PLTA Asahan I PLTMH Parlilitan PLTMH Silau II Excess Power PT Growt Sum. #1 PT Growt Sum. #2 PT Growt Asia TOTAL 2009 2010 2011 1,2 2008 2010 2010 2010 1,2 2008 1,2 1,2 1,2 1,2 1 1,2 1 1 1,2 1,2 1994 1987/88 1987/88 1987/88 1989 1987/89 1988 1987 2003/04 2005/06 1 2 3 1,2 3,4 5 6 7 1-6 1975 1967 2008 1976 1978 1983 2008 1976 2008 2008 1,2 3,4 GT 1,1 GT 1,2 GT 1,0 GT 2,1 GT 2,2 ST 2,0 1984 1989 1993 1988 1995 1995 1994 1994 Unit Tahun Operasi Kapasitas Terpasang (MW) 1.183 130 130 118 129 149 130 130 163 105 300 20 13 12 29 40 21 22 34 25 20 65 139,5 0,9 0,4 1,5 1,5 0,2 1,5 0,8 0,8 50,0 82,0 230 230 206 11 180 8 8 25 6 9 10 2.084 Daya Mampu (MW) 1.033 90 105 105 115 120 130 130 133 105 213 0 0 11 0 33 17 18 34 18 18 65 136.3 0.8 0.4 1.2 1.1 0.2 1.3 0.7 0.7 50.0 80.0 210 210 205 10 180 8 8 25 6 9 10 1.822

308

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sedangkan kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung Sitoli.Teluk Dalam (Pulau Nias). Pulau Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4.2.
Tabel A4.2. Pembangkit Sistem Isolated per 2010
Daya No. 1. Lokasi PLTD Gunung Sitoli - PLTD PLN - PLTD Sewa - PLTD Sewa Total PLTD Gunung Sitoli 2. Teluk Dalam - PLTD PLN - PLTD Sewa Total PLTD Teluk Dalam 3. Pulau Tello - PLTD PLN Total PLTD Pulau Tello Total PLTD Cabang Nias 700 700 33.903 400 400 20.320 3.380 5.225 8.605 1.850 4.070 5.920 12.178 5.920 6.500 24.598 4.650 4.700 4.650 14.000 Terpasang (kW) Mampu (kW)

Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari seluruh demand di provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi. Dengan adanya pembangunan KIM 3 (Kawasan Industri Medan tahap tiga) diperlukan penambahan GI baru untuk mengurangi beban lebih pada beberapa GI, misalnya GI Titi Kuning, GIS Listrik dan GI KIM. Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang tegangannya terlalu rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang (sampai 200 km dari gardu induk). Situasi ini telah diketahui oleh PLN dan direncanakan penanggulangannya dalam RUPTL ini.

A4.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 diberikan pada Tabel A4.3.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

309

Tabel A4.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Sales (Gwh) 7.257 7.921 8.642 9.421 10.258 11.210 12.210 13.388 14.631 15.991 9.2% Produksi (Gwh) 7.998 8.721 9.487 10.320 11.212 12.226 13.331 14.537 15.853 17.289 8.8% Beban Puncak (MW) 1.363 1.484 1.612 1.750 1.899 2.068 2.251 2.451 2.669 2.907 8.9% Pelanggan 2.676.942 2.797.208 2.915.928 3.032.281 3.134.869 3.248.825 3.367.041 3.489.681 3.616.919 3.748.935 3.9%

A4.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi, GI dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik cukup besar dalam bentuk tenaga air dan panas bumi. Namun provinsi ini tidak mempunyai potensi batubara sedangkan sumber gas alam telah mengalami penurunan. Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.4 dan Tabel A4.5.
Tabel A4.4. Daftar Potensi PLTA > 10 MW
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Asahan 3 Wampu Asahan 4-5 Simanggo-2 Bila-2 Kumbih-3 Sibundong-4 Lake Toba Ordi-3 Ordi-5 Raisan-1 Siria Toru-2 (Tapanuli Utara) Toru-3 (Tapanuli Utara) Nama Perkiraan COD 2015 2016 2017 2018 2019 2019 2019 2020 2020 2020 2020 2020 2020 2026 Pengembang PLN IPP PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Kapasitas (MW) 174 84 60 59 42 42 32 400 18 27 26 17 34 228

310

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayak an (Pre-FS). Apabila proyek tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.
Tabel A4.5. Daftar Potensi PLTM < 10 MW
No. I. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. II. 1. 2. 3. 4. 5. IPP Parluasan Huta Raja Pakkat 1 Lau gunung Lae Ordi Lae Kombih 3 Batang Toru Karai 1 Karai 7 Karai 12 Karai 13 Lae Ordi 2 Tara Bintang Raisan Huta Dolok Raisan Naga Timbul Sei Wampu 1 Rahu 1 Rahu 2 Sidikalang 1 Sidikalang 1 Sidikalang 2 Simbelin 1 Simonggo Sei Wampu 2 Lae Kombih 4 Aek Sisiran Aek Rambe Batang Toru 3 Batang Toru 4 Total IPP EXCESS POWER PT. Evergreen Paper Int PTPN iii Sei Mangkei PT Nubika Jaya PT Victorindo Alam Lestari PLTU Nias Total Excess Power Total 2,0 3,5 15,0 8,0 31,0 59,5 137,5 Deli Serdang Simalungun Labuhan Batu Padang Lawas Gunung Sitoli 2012 2012 2012 2012 2014 4,2 5,0 10,0 10,0 10,0 8,0 7,5 10,0 6,7 6,0 8,3 10,0 10,0 7,0 7,0 9,0 9,2 5,0 8,6 8,6 7,4 6,0 7,0 9,0 10,0 7,0 3,0 10,0 10,0 78,0 Tobasa Humbahas Humbahas Dairi Pakpak Barat Pakpak Barat Taput Simalungun Simalungun Simalungun Simalungun Pakpak Barat Humbahas Tapteng Tapteng Langkat Humbahas Humbahas Dairi Dairi Dairi Dairi Humbahas Langkat Pakpak Barat Humbahas Humbahas Taput Taput 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 Nama Pembangkit Daya (MW) Lokasi COD

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

311

Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia oleh WestJEC/Direktorat Jendral Minerbapabum tahun 2007, potensi panas bumi yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.6.
Tabel A4.6 Daftar Potensi Panas Bumi
Potensi (MW) 660 160 500 50 Dibatasi Oleh Taman Naasional (MW) 630 40 100 50 Demand (MW) 630 40 100 50 -

Lokasi Panas Bumi Sarulla & Sibual Buali Sibayak/Lau Debuk-Debuk Sorik Merapi Sipaholon G. Sinabung Pusuk Bukit Simbolon

Keterangan Existing/Expansion Existing/Expansion High Possibility Low Possibility Tidak cukup data Tidak cukup data Tidak cukup data

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2020 diperlukan pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4.7.
Tabel A4.7. Pengembangan Pembangkit
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Proyek Pangkalan Susu #1.2 (FTP1) Belawan Sumbagut PLTM Tersebar Sumut Wampu Nias Sarulla I (FTP2) Nias (FTP2) Pangkalan Susu #3.4 (FTP2) Asahan III (FTP2) Hasang Sarulla II (FTP2) Simonggo-2 Sorik Marapi (FTP2) Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria Pambangkit Peaker Sumut-2 Jumlah Jenis PLTU PLTG PLTU PLTM PLTA PLTGB PLTP PLTU PLTU PLTA PLTA PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLTG PLTU Pemilik PLN PLN Sewa Swasta Swasta PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN Swasta Swasta Swasta PLN Sewa Kapasitas (MW) 440 400 360 154 45 8 330 21 400 174 38 110 86 240 110 55 200 225 3.396 COD 2012-13 2013 2013 2013-15 2014 2014 2014-15 2014-15 2015 2016 2017 2017 2017 2018 2019 2019 2020 2020

312

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pengembangan Transmisi Di Sumatera dalam waktu dekat akan terwujud transmisi 275 kV sebagai tulang punggung sistem interkoneksi Sumatera1, Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan energi listrik antar provinsi di Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit utama seperti PLTU batubara, PLTP dan PLTA skala besar, untuk ditransmisikan ke pusat-pusat beban. Selain itu direncanakan pula pengembangan transmisi 150 kV yang merupakan jaring an regional untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan yang lebih terbatas. Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 2.262 kms guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan, yaitu untuk mengatasi bottleneck penyaluran daya. mengevakuasi daya dari pusat pembangkit, mendapatkan tegangan pelayanan yang baik dengan membatasi panjang JTM, menurunkan losses transmisi dan distribusi, serta meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik. Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4.8 dan Tabel A4.9.
Tabel A4.8. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Galang Galang Lamhotma Dolok Snggul/Parlilitan Rantau prapat Galang Padang Sidempuan Pangkalan Susu 3&4 (FTP2) PLTU Sewa Sumbagut Sei Roatan (uprate) Sidikalang Tanjung Morawa Tanjung Pura Tele PLTA Wampu PLTU Nias Teluk Dalam GIS Listrik Mabar Simangkok Panyabungan Porse Tarutung PLTP Sipoholon Ria-Ria Jumlah Dari Namurambe Tanjung Morawa Belawan Incomer 1 Pi (Tele-Tarutung) Labbuahn Bilik Negeri Dolok Panyabungan Pangkalan Brandan Tebing Tinggi Tebing Tinggi (uprate) Salak Kuala Namu Inc. (P. Randan-Binjai) Panguruan Brastagi Gunung Sitoli Gunung Sitoli KIM Glugur PLTA Asahan III (FTP 2) PLTP Sorik Marapi (FTP 2) PLTA Hasang PLTP Simbolon Samosir 2 Pi Inc. (Tarutung-Porsea) Ke Tegang an 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 1 2nd cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Hawk 2 cct. AC3 310 mm 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. CU3 1000 mm2 2 cct. CU3 1000 mm 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 4 cct. 1 Hawk
2 2

Panjang (kms) 80 20 6.2 76 130 66 140 22 30 108 60 34 30 26 80 20 220 10 10 22 46 60 50 8 1.354

Biaya (juta US$) 18,0 4,5 0,3 4,2 7,2 3,7 7,8 5,0 2,3 14,4 3,3 2,6 1,7 1,4 4,4 1,1 12,2 22,2 22,2 1,7 2,5 3,3 2,8 0,4 149,2

COD 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2017 2018 2019

Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sumatera pada koridor timur. Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera Utara setelah tahun 2020.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

313

Tabel A4.9. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV


No. 1. 2. 3. 4. 5. Dari Pangkalan Susu Galang Padang Sidempuan PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Binjai Binjai PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Galang Jumlah Ke Tegangan 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra Panjang (kms) 160 160 138 194 318 970 Biaya (juta US$) 36,0 36,0 31,1 43,7 71,6 218,3 COD 2012 2013 2013 2013 2013

Pembangunan Gardu Induk Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani pertumbuhan beban, meningkatkan keandalan pasokan, memperbaiki mutu tegangan, mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu jauh dari konsumen. Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.10 berikut.
Tabel A4.10. Rencana Pembangunan GI Baru s/d Tahun 2020
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Gardu Induk Galang Labuhan Bilik Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Negeri Dolok Pangururan Panyabungan Salak Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 0 60 10 60 60 30 60 60 30 30 30 430 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014

Selain itu diperlukan juga extension banyak GI existing dengan menambah unit trafo hingga tambahan kapasitas seluruhnya mencapai 1.470 MVA seperti terlihat pada Tabel A4.11.
Tabel A4.11. Rencana Extension GI s/d Tahun 2020
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Binjai Denai Gunung Para Gunung Tua Padang Sidempuan Rantau Prapat Tanjung Morawa Tele Aek Kanopan Brastagi Glugur Nama Gardu Induk Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 30 30 60 60 30 30 60 60 COD 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012

314

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lanjutan Tabel A4.11.


No. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. Nama Gardu Induk Gunung Tua Kisaran Labuhan Lamhotma Namurambe Pematang Siantar Perbaungan Porsea Rantau Prapat Sei Rotan Sibolga Sidikalang Tarutung Tebing Tinggi Paya Pasir Kota Pinang GIS Listrik Tanjung Pura Titi Kuning Paya Geli Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 10 60 30 60 60 60 60 20 60 60 60 30 30 60 60 30 60 30 60 60 1.470 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2017 2017 2018

Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan pada Tabel A4.12.
Tabel A4.12. Rencana Pembangunan GI 275 kV s/d Tahun 2020
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Gardu Induk Binjai Pangkalan Susu Galang Padang Sidempuan Sarulla Pangkalan Susu Tegangan 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV Jumlah Baru/ Extension Baru Baru Baru Baru Baru Extension Kapasitas (MVA) 1.000 0 1.000 500 500 250 3.250 Biaya (juta US$) 31,83 9,11 35,13 21,88 24,00 21,03 143,0 COD 2011 2012 2013 2013 2013 2015

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

315

Pengembangan Distribusi Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2020 adalah sekitar 1.2 juta pelanggan atau rata-rata 120.000 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut. diperlukan pembangunan JTM 17.800 kms. JTR sekitar 11.850 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.160 MVA. seperti di tampilkan dalam Tabel A4.13.
Tabel A4.13. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total JTM kms 1.376 1.461 1.438 1.538 1.538 1.718 1.903 2.076 2.291 2.467 17.805 JTR kms 1.092 918 996 1.078 1.158 1.218 1.260 1.339 1.378 1.414 11.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.160 Pelanggan 125.011 120.266 118.720 116.353 102.587 113.957 118.215 122.640 127.238 132.016 1.197.004

A4.4. Sistem Isolated Nias dan Teluk Dalam


Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai kondisi sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera, (ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, (iii) Rawan gempa dan rawan longsor, (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit dijangkau, (v) Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan. Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias, terdiri dari Ranting Gunung Sitoli dan Ranting Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello. Pasokan listrik untuk sistem kelistrikan dipasok dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk Dalam. Jumlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu, daya tersambung 35 MVA dengan penjualan mencapai 52 GWh. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya terpasang 28.904 kW. daya mampu 12.960 kW, beban puncak 9.858 kW, dan mengingat kondisi pembangkitan sudah tua, maka telah diambil langkah-langkah sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan pembangunan PLTU 3x7 MW (IPP) dan PLTGB 8 MW (PLN).

316

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A4.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan tahun 2020 adalah seperti Tabel A4.14 berikut:
Tabel A4.14. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 7.257 7.921 8.642 9.421 10.258 11.210 12.250 13.388 14.631 15.991 110.968 Produksi Energi (Gwh) 7.998 8.721 9.487 10.320 11.212 12.226 13.331 14.537 15.853 17.289 120.974 Beban Puncak (MW) 1.363 1.484 1.612 1.750 1.899 2.068 2.251 2.451 1.669 2.907 20.453 Pembangkit (MW) 0 220 1.063 209 666 174 236 240 165 425 3.398 GI (MVA) 1.360 880 2.360 90 250 0 150 60 0 0 5.150 Transmisi (kms) 0 472 1.326 320 20 22 106 50 8 0 2.324 Investasi (juta US$) 96 457 1.072 507 1.231 320 504 315 469 496 5.468

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

317

LAMPIRAN A.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI RIAU
A5.1. KONDISI SAAT INI
Sistem Interkoneksi Pada sistem kelistrikan di Provinsi Riau terdapat 8 gardu induk (GI) 150 kV, yaitu Koto Panjang, Bangkinang. Garuda Sakti. Teluk Lembu, Duri, Dumai, Bagan Batu dan Taluk Kuantan. Sebagian GI tersebut sudah meng alami overload dan perlu segera dimitigasi. Sistem kelistrikan Riau dipasok dari grid Sumatera sebesar 379 MW. Kapasitas pembangkit PLN di Riau yang tersambung ke grid sebesar 267 MW, dimana 43% dari kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang, dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan Riau masih diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara. Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit. dimana 30% (711 MW) berupa PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan kapasitas. Dengan demikian sistem Riau ikut me ngalami defisit daya. Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5.1.
Gambar A5.1. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau

318

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV ditunjukkan pada Tabel A5.1.
Tabel A5.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Pembangkit PLTA Koto Panjang PLTG Teluk Lembu PLTD Teluk Lembu PLTD Dumai/Bg Besar PLTG Riau Power PLTD Sewa Teluk Lembu PLTD Sewa Dumai Jenis PLTA PLTG PLTD PLTD PLTG PLTD PLTD Jumlah B. Bakar Air Gas/HSD HSD HSD Gas HSD HSD Pemilik PLN PLN PLN PLN PT Riau- Power Sewa Sewa Kapasitas Terpasang (MW) 114 43 8 12 20 40 30 267

Sistem Isolated Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kabupaten Bengkalis dan Meranti. Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan daya mampu 44 MW. Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan. sehingga PLN menyewa pembangkit diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek. Daftar pembangkit pada sistem isolated diberikan pada Tabel A5.2.
Tabel A5.2. Pembangkit Isolated per 2010
Jumlah (unit) Daya Terpasang (MW) 7,6 37,0 38,6 83,2 2,5 32,0 7,3 41,8 1,2 2,4 2,0 5,6 Mampu (MW) 4,6 21,6 18,1 44,3 1,5 13,0 4,2 18,7 1,1 2,0 0 3,1 Beban Puncak (MW)

UNIT MESIN PLN 1. Cab. Pekanbaru 2. Cab. Dumai 3. Cab. Rengat JUMLAH MESIN PEMDA 1. Cab. Pekanbaru 2. Cab. Dumai 3. Cab. Rengat JUMLAH MESIN SEWA 1. Cab. Pekanbaru 2. Cab. Dumai 3. Cab. Rengat JUMLAH

42 80 115 237 7 23 13 33 3 2 2 10

4,6 16,1 17,0 37,7 1,8 12,5 4,6 18,9 1,2 2,1 2,0 5,3

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

319

Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh menurunnya daya mampu pembangkit, meningkatnya konsusmsi listrik oleh pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan baru) dan kebutuhan sistem isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual beli (kontrak).

A5.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6.6-8.7% pada tahun 2006-2010 (tidak termasuk migas) dan kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Riau. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila ada dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau. Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat. ditandai oleh adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten yang telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), seperti Kawasan Industri Khusus Dumai, Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura. Kawasan Kuala Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru. Dari realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. maka proyeksi kebutuh an listrik 20112020 dapat dilihat pada Tabel A5.3.
Tabel A5.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Sales (Gwh) 2.663 3.013 3.401 3.722 4.046 4.386 4.726 5.082 5.479 5.968 11.4% Produksi (Gwh) 2.900 3.274 3.687 4.028 4.368 4.726 5.090 5.472 5.897 6.422 10.7% Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.024 10.3% Pelanggan 801.630 859.028 919.772 977.923 1.040.623 1.105.031 1.169.680 1.235.156 1.302.704 1.366.253 9.2%

Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi. pertumbuhan listrik di Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi. karena seiring dengan perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai. Buton. Kuala Enok dan TenayanPekanbaru.

320

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A5.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit pada sistem isolated dan sistem interkoneksi 150 kV serta pengembangan jaringan transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan, antara lain Seng, Segat di kabupaten Pelalawan, Bento dan Baru di Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk Lembu. Disamping itu terdapat potensi batubarayang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi de ngan cadangan 1.55 juta metrik ton.1 Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi. Menurut pra studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air yang cukup besar, yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170 MW. Namun perlu dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan dapat mempenga ruhi potensi debit air. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV yang memasok sistem Riau. Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas sekitar 1.732 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5.4.
Tabel A5.4. Pengembangan Pembangkit
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Proyek Duri 1 (Relokasi) Duri Duri Rengat Selat Panjang Bengkalis (FTP1) Dumaii IPP Kemitraan Tembilahan Riau (Amandemen FTP1) Pembangkit Peaker Selat Panjang Baru #1.2 Bengkalis PLTGB Riau Mulut Tambang Jumlah
1

Jenis PLTG PLTG PLTGU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTGB PLTU

Pemilik PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Sewa Swasta PLN PLN PLN Swasta PLN Swasta

Kapasitas (MW) 60 100 100 20 6 20 240 14 14 220 220 14 24 600 1.632

COD 2011-12 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013-14 2014 2014 2015/17/19 2016-17

Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

321

PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan salah satu proyek percepat an pembangkit 10.000 MW tahap 1 yang saat ini sedang tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. PLTG Duri dengan kapasitas total 160 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya mengurangi kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan Jambi Merang. Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG). PLTU Riau Mulut Tambang 2x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun 2016 2017. Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik, termasuk gas skala kecil, seperti di Melibur Kabupaten Meranti, Selat Kabupaten Inhil, Bentu Kabupaten Kampar. Tembilahan Kabupaten Inhil. Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa Minyak Kabupaten Siak Sri Indrapura. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem interkoneksi 150 kV. hingga tahun 2020 diperlukan pengembangan 14 GI 150 kV baru dengan kapasitas total 600 MVA dan extension GI dengan tambahan kapasitas 730 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5.5 dan Tabel A5.6.
Tabel A5.5. Pembangunan GI 150 kV Baru
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Nama Gardu Induk Bagan Siapiapi KID Dumai KIT Tenayan Pangkalan Kerinci Pasir Pangaraian Pasir Putih Rengat GI/GIS Kota Pekanbaru New Garuda Sakti Perawang Siak Sri Indra Pura Tembilan Kandis Lipat Kain Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 60 60 60 120 30 30 30 30 30 600 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015

Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi 275 kV dan 500 kV2, serta konverter transmisi HVDC 250 kVDC yang merupakan bagian dari link interkoneksi SumateraMalaysia seperti pada Tabel A5.7.
2

GITET 500 kV di New Garuda Sakti dan Rengat merupakan bagian dari transmisi interkoneksi 500 kV yang merupakan tulang punggung kelistrikan Pulau Sumatera koridor timur.

322

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A5.6. Extension GI 150 kV


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Nama Gardu Induk Bagan Batu Bangkinang Dumai Duri Garuda Sakti Koto Panjang Teluk Lembu Bangkinang Pasir Putih Duri KIT Tenayan Teluk Kuantan KID Dumai Tembilahan Bagan Batu Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 60 60 80 20 60 60 120 60 30 30 30 30 30 730 COD 2011 2011 2012 2012 2013 2012 2012 2016 2016 2017 2017 2017 2019 2019 2020

Tabel A5.7. Pembangunan GI 275 kV. 500 kV dan HVDC 250 kV


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Gardu Induk New Garuda Sakti Rengat Riau Mulut Tambang HVDC Switching Station New G. Sakti HVDC St. Converter Mew Garuda Sakti 500 kV Rengat 500 kV Jumlah Tegangan 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 250 kV DC 250 kV DC 500/275 kV 500 kV Baru/ Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Kapasitas (MVA) 500 250 0 0 600 1.000 500 2.850 Biaya (juta US$) 24.28 20.08 8.14 16.68 19.95 36.22 25.77 151.1 COD 2013 2015 2015 2016 2016 2018 2018

Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2020 adalah sepanjang 1.942 kms (150 kV) dan 1.312 kms (275 kV. 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana UD$ 510.8 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A5.8 dan Tabel A5.9.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

323

Tabel A5.8. Pembangunan SUTT 150 kV


No 1 2 3 4 5 6 7 8 8 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dari PLTG Duri Bangkinang Dumai Dumai Duri (up rate) Garuda sakti (up rate) Pasir Putih Pasir Putih PLTU Sewa Dumai Teluk Kuantan Tenayan/PLTU Riau New Garuda Sakti Rengat Rengat Teluk Lembu Tenayan/PLTU Riau Tenayan/PLTU Riau Bangkinang Kandis Pasir Putih Ke Inc. 2 Pi (G. Sakti-Duri) Pasir Pangaraian Bagan siapi api KID Dumai Dumai (up rate) Duri (up rate) Garuda Sakti Pangkalan Kerinci Dumai Rengat Pasir Putih Inc. (G. Sakti-Duri) Pangkalan Kerinci Tembilahan GIS Kota Pekan Baru Perawang Siak Sri Indra Pura Lipat Kain Inc. (New G. Sakti-Duri) Teluk Lembu Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. AC3 310 mm
2

Panjang 22 220 228 56 118 230 55 134 14 194 35


2

Biaya (juta US$) 1,7 12,2 12,6 3,1 15,8 30,8 12,4 10,2 1,1 14,8 7,9 1,6 16,8 6,6 31,1 2,8 5,5 3,9 2,7 3,1 196,6

COD 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015

2 cct. AC3 310 mm2 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. AC3 310 mm 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. CU 1000 mm 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. AC3 310 mm 2 cct. 2 Hawk
2 2

12 220 120 14 50 100 70 10 40 1.942

Tabel A5.9. Pembanguan Transmisi 275 kV. 500 kV dan HVDC 250 kV
No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Payakumbuh Rengat Border P. Rupat Selatan Pulau Rupat Utara Rengat Sumatera Landing Point Ke New Garuda Sakti New Garuda Sakti Pulau Rupat Sumatra Landing Point Pulau Rupat Selatan Cirenti (PLTU Riau MT) New Garuda Sakti Jumlah Tegangan 275 kV 275 kV 250 kV DC 250 kV DC 250 kV DC 275 kV 250 kV DC Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 4 Zebra 2 Cable MI with IRC 2 Cable MI with IRC 2 cct. 2 Cardinal 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Cardinal Panjang 300 440 52 10 60 110 340 1.312 Biaya (juta US$) 67,5 143,6 51,0 9,8 2,6 24,8 14,9 314,2 COD 2013 2015 2016 2016 2016 2016 2016

324

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Transmisi Aur DuriRengatNew Garuda Sakti akan dibangun dengan desain tegangan 500 kV karena pada jangka panjang akan merupakan bagian dari sistem transmisi 500 kV, namun dalam jangka menengah akan dioperasikan sementara dengan tegangan 275 kV. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 780 ribu pelanggan sampai dengan 2020. PLN berencana untuk menyambung hingga 216.000 sambungan pada tahun 2011 untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%, dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 64 ribu pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 6.595 kms, JTR sekitar 7.610 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 3.454 MVA. seperti ditampilkan dalam Tabel A5.10.
Tabel A5.10. Pengembangan distribusi
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Sales (Gwh) 1.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.595 Produksi (Gwh) 1.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.610 Beban Puncak (MW) 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.454 Pelanggan 216.003 57.399 60.743 58.151 62.700 64.408 64.649 65.476 67.548 63.549 780.626

A5.4. Sistem Kelistrikan Pulau Rupat


Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang istimewa karena kedekat annya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia. Pulau ini sangat indah dan berpotensi menjadi tujuan wisata yang akan sangat diminati. Pulau ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai yang telah dirancang sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau Sumatera. Jalur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. Peta Pulau Rupat ditampilkan pada Gambar A5.2. Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 3.600 kW namun daya mampunya hanya 1.195 kW dengan beban puncak 841 kW. Sistem distribusi listrik berupa JTM sepanjang 69 kms. JTR 92 kms, gardu distribusi 36 unit,878 kVA. Rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Rupat adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

325

Gambar A5.2. Peta Pulau Rupat

Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera dan Malaysia.

A5.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi hingga tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5.11.
Tabel A4.11. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.663 3.013 3.401 3.722 4.046 4.386 4.726 5.082 5.479 5.968 42.486 Produksi Energi (Gwh) 2.900 3.274 3.687 4.028 4.368 4.726 5.090 5.472 5.897 6.422 45.864 Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.024 7.363 Pembangkit (MW) 40 246 398 324 12 300 306 0 6 0 1.632 GI (MVA) 60 280 770 270 310 780 120 1.500 60 30 4.180 Transmisi (kms) 22 0 1.584 516 560 572 0 0 0 0 3.254 Investasi (juta US$) 76 211 535 414 234 570 435 96 44 32 2.646

326

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

LAMPIRAN A.6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (Tanpa BATAM)

A6.1. Kondisi Saat Ini


Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah timur dan juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah Asia Tenggara. Provinsi Kepulauan Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi Republik Indonesia dimasa depan. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di Kepulauan Riau (Batam, Bintan, dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot project pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan Pemerintah Singapura. Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang, Batam. Kabupaten Bintan. Kabupaten Karimun. Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari 2.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk, dengan 95% dari wilayahnya merupakan lautan.
Gambar A6.1. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

327

Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama yang erat antara Peme rintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia usaha. KEK ini nantinya merupakan simpulsimpul dari pusat kegiatan ekonomi unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang berdaya saing internasional. Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup dan andal terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang yang melayani 3 daerah administrasi, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Kotamadya Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan. Sistem Tanjung Pinang dipasok dari PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang 43 MW dan untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan 20 kV. Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit kecil tersebar dengan kapasitas total 90,7 MW dan daya mampu 65,9 MW seperti terlihat pada Tabel A6.1.
Tabel A6.1. Pembangkit Isolated per 2010
Pemilik PLN Pemda Sewa Total Jumlah (Unit) 136 5 3 144 Daya Terpasang (MW) 80,9 0,8 9,0 90,7 Daya Mampu (MW) 55,3 0,6 10,0 65,9 Beban Puncak (MW) 53,4 0,7 11,4 65,5

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah berlangsung beberapa tahun terakhir. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya mampu mesin pembangkit, baik karena gangguan mesin pembangkit maupun usia, meningkatnya pertumbuhan pemakaian tenaga listrik alami. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem isolated dilakukan dengan sewa pembangkit.

A6.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7,53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas) dan diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Kepulauan Riau. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat, ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.

328

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2011-2020 Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 seperti pada Tabel A6.2.
Tabel A6.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.049 1.119 1.185 1.249 11,0% Produksi (Gwh) 582 642 715 816 925 1.034 1.111 1.185 1.255 1.323 10,6% Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 10,0% Pelanggan 139.930 153.266 167.103 181.945 197.645 214.211 231.175 248.663 266.950 286.062 9,4%

A6.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM, di West Natuna Basin terdapat potensi gas alam sebesar 51,46 TCF. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat cadangan gas yang sangat besar, yaitu 222 TCF dan 500 juta barel minyak. Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem isolated. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.3.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

329

Tabel A6.3. Pengembangan Pembangkit


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Proyek TB. Karimun #1.2 (FTP1) Tanjung Batu (FTP2) Dabo Singkep Natuna Tanjung Uban Tanjung Pinang 1 (TLB) TB. Karimun (Terkendala) TB. Karimun #3.4 Tanjung Batu Baru Tanjung Pinang 2 (FTP2) Tanjung Pinang 3 TB. Karimun-2 Jumlah Jenis PLTU PLTGB PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU Pemilik PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta PLN PLN Kapasitas (MW) 14 8 9 14 14 30 14 14 14 30 30 20 211 COD 2011 2012 2012/18 2013 2013-14 2014 2014 2014-15 2015 2015 2019-20 2019-20

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi di Pulau Ngenang seperti diperlihatkan pada Tabel A6.4.
Tabel A6.4. Pengembangan GI 150 kV Baru
No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Gardu Induk Air Raja Kijang Sri Bintan Tanjung Uban Pulau Ngenang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 60 10 220 COD 2013 2013 2013 2013 2013

Selain itu diperlukan juga extension GI dengan menambah unit trafo 150/20 kV kapasitas 60 MVA pada tahun 2015 di GI Tanjung Uban. Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV, diperlukan pengembangan transmisi 150 kV sepanjang 258 kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21,1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A6.5.

330

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A6.5. Pembangunan SUTT 150 kV


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Dari Air Raja Pulau Ngenang Sri Bintan Tanjung Kasam Tanjung Sauh Tanjung Taluk Tanjung Uban Kijang Tanjung Taluk Air Raja Tanjung Sauh Pulau Ngenang Tanjung Uban Sri Bintan Jumlah Ke Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 3 x 300 mm2 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 3 x 300 mm2 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk Panjang (kms) 40 12 70 6 10 60 60 258 Biaya (juta US$) 2.2 4.8 3.9 2.4 1.1 3.3 3.3 21.1 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013

Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup banyak seperti pada tabel A6.3. sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan sistem Batam melalui kabel laut 150 kV. Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk menggantikan peran PLTD di sistem Bintan, baik peak maupun baseload. dengan transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah. Interkoneksi ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan yang jauh lebih besar. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 169 ribu pelanggan sampai dengan 2020 atau rata-rata 16.940 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 1.875 kms, JTR sekitar 2.164 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 900 MVA. seperti ditampilkan dalam Tabel A6.6 berikut.
Tabel A6.6. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2.164 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.272 13.335 13.837 14.842 15.700 16.566 16.964 17.487 18.487 19.113 169.404

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

331

A6.4. Sistem Kelistrikan Natuna


Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan Laut Cina Selatan seperti terlihat pada Gambar A6.2.
Gambar A6.2. Peta Pulau Natuna

Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea dan Taiwan, Kabupaten ini terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir A6.3. Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3.080 kW, daya mampu 2.845 kW dan beban puncak 2.355 kW. Sistem distribusi berupa SUTM sepanjang 57,4 kms dengan jumlah gardu 29 unit dan kapasitas terpasang 2.450 kVA. Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna berupa penambahan PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013.

A6.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A6.7.

332

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A6.7. Rangkuman


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.049 1.119 1.185 1.249 9.028 Produksi Energi (Gwh) 582 642 715 816 925 1.034 1.111 1.185 1.255 1.323 9.588 Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 1.676 Pembangkit (MW) 14 14 21 58 51 0 0 3 25 25 211 GI (MVA) 0 0 220 0 60 0 0 0 0 0 280 Transmisi (kms) 0 0 258 0 0 0 0 0 0 0 258 Investasi (juta US$) 44 21 87 126 114 11 11 14 58 57 544

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

333

LAMPIRAN A.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

A7.1. Kondisi Saat Ini


Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan menjadi dua sistem kelistrik an yang terpisah yaitu: 1. Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP, yaitu: PLTD Merawang. PLTD Mentok. PLTD Koba. PLTD Toboali. dan PLTU Listrindo (Biomassa). Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV. 2. Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa, yaitu: PLTD Pilang. PLTD Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP). Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaring an distribusi 20 kV. Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan pada Gambar A7.1.
Gambar A7.1. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. Babel Saat Ini

Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh dari pembangkit dengan bahan bakar HSD. Total kapasitas terpasang adalah 144.6 MW dengan daya mampu sebesar 99.8 MW, termasuk pembangkit rental dan IPP dengan daya mampu sebesar 46.25 MW. Tabel A7.1 memperlihatkan komposisi sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung.

334

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A7.1. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2010
No. 1 Nama Sistem 2 Interkoneksi Merawang Toboali Mentok Tanjung Labu Unit 3 PLTD Merawang PLTD Koba PLTU Listrindo Kencana PLTD Toboli PLTD Mentok PLTD Tanjung Labu PLTD Pilang PLTD Padang PLTU Belitung Energi PLTD Selat Nasik PLTD Pulau Seliu 400 120 28.560 89.398 16.000 55.250 3.971 7.683 520 60.838 21.440 6.600 7.000 400 120 44.560 144.648 300 120 18.620 53.570 11.000 46.250 39.250 9.000 44.040 Daya Terpasang Sendiri 4 44.833 3.831 Sewa/Beli 5 25.250 5.000 5.000 2.000 2.000 5.971 9.683 520 100.088 3.050 3.510 340 34.950 14.000 4.200 2.000 300 120 29.620 99.820 100 40 35.250 9.000 29.200 4.500 83.914 Total 6 Sendiri 7 24.250 2.050 Daya Mampu Sewa/Beli 8 24.250 5.000 2.000 2.000 2.000 5.050 5.510 340 70.200 850 850 80 59.300 4.500 Total 9-7+8 Daya Mampu 10

1 2 3 4

BANGKA 1 2 3 Interkoneksi Belitung Selat Nasik Pulau Seliu

TANJUNG PANDAN GABUNGAN BABEL

A7.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Provinsi Kep. Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan, antara lain pada tahun 2010 adalah Visit Archi Babel dan Babel Benderang. Salah satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik, sehingga sangat diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban, menggantikan mesin-mesin yang sudah tua, meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga listrik. Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuh an listrik Bangka Belitung pada tahun 20112020 dapat dilihat pada Tabel A7.2.
Tabel A7.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1.086 1.086 1.210 1.367 1.566 15,7% Produksi (Gwh) 747 839 953 1,071 1,163 1,277 1,421 1,605 1,839 2,137 16,2% Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 16,2% Pelanggan 208.736 237.149 266.399 289.726 295.881 302.124 308.458 314.888 321.417 328.051 8,6%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

335

A7.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Pengembangan sarana di Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik. diperlukan pengembangan sarana pembangkit, transmisi, gardu induk dan distribusi. Potensi Sumber Energi Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat terbatas. Oleh sebab itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di Babel harus didatangkan dari luar wilayah berupa batubara. gas dan BBM. Pengembangan Pembangkit Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Bangka Belitung sampai dengan tahun 2020 adalah seperti ditampilkan pada Tabel A7.3. berikut.
Tabel A7.3. Pengembangan Pembangkit
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Proyek Air Anyer (FTP1) Belitung Baru (FTP1) Belitung-2/Tanjung Pandan Belitung-3 Mentok Toboali Bangka (FTP2) Bangka IV (Peaker) Belitung-4 Belitung (Peaker) Bangka-3 Bangka-5 Belitung-5 Jumlah Jenis PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU Pemilik PLN PLN Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN Kapasitas (MW) 60 33 5 17 14 14 60 40 34 20 60 30 17 404 COD 2011 2012-13 2013 2014 2014 2014 2015-16 2015/18 2015/19 2017-18 2018-19 2020 2020

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV di 10 lokasi seperti diperlihatkan pada Tabel A7.4.

336

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A7.4. Pembangunan GI 150 kV


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 Nama Gardu Induk Air Anyir Pangkal Pinang Sungai Liat Dukong Manggar Suge Kelapa Koba Mentok Toboali Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 20 30 30 30 30 30 320 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2014 2014 2016 2016

Selain itu diperlukan juga extension GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dan 70/20 kV hingga total tambahan kapasitas mencapai 210 MVA tersebar dibeberapa GI.
Tabel A7.5. Pembangunan Extension GI 150 kV
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Gardu Induk Sungai Liat Dukong Koba Manggar Pangkal Pinang Air Anyir Dukong Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 210 COD 2015 2016 2018 2018 2018 2019 2019

Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV, diperlukan pengembangan transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 946 kms dengan kebutuhan dana sekitar 52,4 M USD seperti ditampilkan pada Tabel A7.6.
Tabel A7.6. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dari Air Anyir Air Anyir Dukong Suge Pangkal Pinang Pangkal Pinang Kelapa Koba Air Anyir/Sungai Liat Ke Pangkal Pinang Sungai Liat Manggar Dukong Kelapa Koba Mentok Toboali PLTU Bangka Baru III Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk Panjang (kms) 44 112 140 50 120 120 140 120 100 946 Biaya (juta US$) 2,4 6,2 7,8 2,8 6,6 6,6 7,8 6,6 5,5 52,4 COD 2011 2011 2012 2012 2014 2014 2016 2016 2018

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

337

Peta jaringan 150 kV di Bangka dan jaringan 70 kV di Belitung diperlihatkan pada Gambar A7.2 dan Gambar A7.3.
Gambar A7.2. Peta Jaringan Sistem Bangka

Gambar A7.3. Peta Jaringan Sistem Belitung

338

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 158 ribu pelanggan sampai dengan 2020, dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% pada tahun 2011 akan di sambung 58.000 pelanggan. Selanjutnya akan disambung rata-rata 13.000 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 1.645 kms, JTR sepanjang 1.744 kms, Gardu Distribus 151 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A7.7 berikut.
Tabel A7.7. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.924 11.719 10.468 11.944 12.486 9.226 9.345 10.091 11.624 12.766 157.594

A7.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7.8.
Tabel A7.8. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1.086 1.210 1.367 1.566 1.820 11.080 Produksi Energi (Gwh) 747 839 953 1.071 1.163 1.277 1.421 1.605 1.839 2.137 13.051 Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 2.258 Pembangkit (MW) 60 17 22 45 67 30 10 60 47 47 404 GI (MVA) 120 80 0 60 30 90 0 90 60 0 530 Transmisi (kms) 156 190 0 240 0 260 0 100 0 0 946 Investasi (juta US$) 136 74 62 135 79 78 9 82 114 112 881

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

339

LAMPIRAN A.8 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA BARAT

A8.1. Kondisi Saat Ini


Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (diluar kepulauan Mentawai) berasal dari sistem interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (Jambi-Sumbar-Riau) melalui 14 gardu induk dengan kapasitas total 565 MVA dan beban puncak sebesar 348 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.1.
Gambar A8.1. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat

Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8.1.
Tabel A8.1. kapasitas di sistem interkoneksi per 2010
No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Pembangkit Ombilin Pauh Limo Maninjau Singkarak Batang Agam Jumlah Jenis PLTU PLTG PLTA PLTA PLTA Bahan Bakar Batubara HSD Air Air Air Pemilik PLN PLN PLN PLN PLN Kapasitas Terpasang (MW) 200 64 68 131 11 474

340

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 348 MW. maka Provinsi Sumbar pada saat musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi Riau sebesar 150 MW. Namun pada musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan kapasitas. Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar 100 MW. Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang. sebagian Balai Selasa. sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk sistem-sistem isolated sendiri dengan beban puncak total sebesar 4.2 MW. Hal tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat rendah akibat jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir Selatan (260 km). Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai, saat ini mempunyai beban puncak 2,1 MW yang dipasok dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2,9 MW. Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut mengingat jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah tersebut. Pembangkit isolated di Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8.2.
Tabel A8.2. Pembangkit di Sistem Isolated per 2010
No. Nama Pembangkit Jenis Bahan Bakar Pemilik Kapasitas Terpasang (MW) 2,8 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTMH PLTM Total Isolated HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD Air Air PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta PLN 0,1 0,4 0,1 0,1 0,2 0,0 0,2 1,6 7,3 1,9 0,6 1,3 0,9 2,2 0,3 0,4 0,4 10,5

Kepulauan Mentawai 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 1 Sikabaluan Sikakap Sipora Seay Baru Saumangayak Simalakopa Simalepet Tua Pejat Lakuak Balai Selasa Indra Pura Tapan Lunang Salido Kecil Pinang Awan

Pesisir Selatan

Solok Selatan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

341

A8.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 5 tahun terakhir adalah 6,8% per tahun. Indikator penjualan energi listrik yang merefleksikan permintaan tenaga listrik masyarakat meningkat dari 1.741 GWh pada tahun 2006 menjadi 2.187 GWh di tahun 2010. Konsumsi tenaga listrik diserap oleh sektor rumah tangga (45%), sektor industri (34%), sektor komersil (13%) dan sektor publik (8%). Dari realisasi penjualan tenaga listrik pada enam tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 seperti pada Tabel A8.3.
Tabel A8.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.253 2.470 2.725 3.014 3.330 3.678 4.057 4.468 4.913 5.387 9.7% Produksi (Gwh) 2.418 2.647 2.915 3.219 3.551 3.916 4.318 4.754 5.226 5.728 9.6% Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 9.4% Pelanggan 876.242 910.957 946.243 981.663 1.017.739 1.055.062 1.093.265 1.131.897 1.171.568 1.213.571 3.7%

A8.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara, panas bumi dan tenaga air, Menurut informasi dari Bapeda Sumatera Barat, potensi batubara tersebar di Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan. Menurut informasi dari Kementerian ESDM. potensi panas bumi di Sumatera Barat adalah sekitar 908 MW dan berada di Muaralabuh Kabupaten Solok Selatan dan di Talang - Kabupaten Solok. Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti terlihat pada Tabel A8.4.

342

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A8.4. Potensi Tenaga Air


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Lokasi Pasaman Sangir-2 Sangir-3 Sinamar-2 Masang-2 Tuik Lanajan-2 Lubuk-2 Asik Lubuk-4U Sumpur-1U Kampar KN-1 Kampar KN-2 Kapur-1 Mahat-10 Mahat-2U Sumpur-K1 Palangki-1 Palangki-2 Sibakur Sibayang Sukam Kuantan-1 Batanghari-2 Batanghari-3 Batanghari-5 Batanghari-6 Batanghari-7 Fatimah Sikarbau Balangir Landai-1 Sumani Guntung Sungai Putih Kerambil Muaro Sako Induring Palangai-3 Kambang-1 Kapas-1 Landai-2 Sumpur-K2 Lawas-1D Gumanti-1 Sikiah-1 Sikiah-2 DAS Bt. Pasaman Bt. Sangir Bt. Sangir Bt. Sinamar Bt. Masang Bt. Tuik Bt. Lengayang Bt. Rokan Bt. Asik Bt. Lubuk Bt. Sumpur Bt. Kampar Kanan Bt. Kampar Kanan Bt. Kapur Bt. Mahat Bt. Mahat Bt. Sumpur Bt. Palangki Bt. Palangki Bt. Sibakur Bt. Sibayang Bt. Sukam Bt. Kuantan Batanghari Batanghari Batanghari Batanghari Batanghari Fatimah Sikarbau Balangir Bt. Langir Bt. Sumani Bt. Guntung Bt. Lumpo Bt. Bayang Janiah Bt. Muaro Sako Bt. Jalamu Bt. Palangai Bt. Kambang Bt. Tumpatih Bt. Air Haji Bt. Sumpur Bt. Lawas Bt. Gumanti Bt. Gumanti Bt. Sikiah Type ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV ROR RSV RSV ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV 0Kapasitas (MW) 21,2 2,2 7,8 13,1 14,5 3,9 3,1 4,6 1,7 4,8 2,7 29,4 8,6 10,6 12,6 2,2 8,1 11,8 17,9 5,5 15,0 19,4 3,4 22,2 34,8 6,7 10,1 6,9 0,8 0,7 0,4 6,8 0,6 0,6 1,7 1,6 2,4 2,2 4,1 5,5 8,1 7,1 4,2 11,2 5,9 30,4 18,0 Kabupaten/ Kecamatan Pasaman Solok Solok Tanah Datar Agam Pessel Pessel Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota S. Sijunjung S. Sijunjung S. Sijunjung S. Sijunjung Agam S. Sijunjung S. Sijunjung Slk Selatan Slk Selatan Slk Selatan Dhamasraya Pasbar Pasbar Slk Selatan Pessel Solok Agam Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Tanah Datar S. Sijunjung Solok Solok Solok

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

343

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2020 direncanakan pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan transfer energi dengan sistem interkoneksi Sumatera. Untuk Kepulauan Mentawai direncanakan pembangkit 9.2 MW, yaitu PLTS 0.2 MW (2011). PLTGB 6 MW (2013) dan PLTGB 3 MW (2020). Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel A8.5 dan Tabel A8.6.
Tabel A8.5. Pengembangan Pembangkit di Sistem Interkoneksi
No. 1. 2. 3. 4. 5. Proyek Sumbar Pesisir #1.2 (FTP1) Masang-2 Muara Laboh (FTP2) Bonjol G. Talang Jumlah Jenis PLTU PLTA PLTP PLTP PLTP Pemilik PLN PLN Swasta Swasta Swasta Kapasitas Terpasang (MW) 224 55 220 165 20 684 COD 2012-13 2017 2017 2019 2019

Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada Tabel A8.6.
Tabel A8.6. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Manggani Gumanti Gumanti Sinamar Sinamar Lubuk Gadang Gunung Tujuh Gunung Tujuh Tarusan Bayang Bayang Muara Sako Sumpur Kambahan Fatimah Sikarban Guntung Jumlah Proyek Jenis PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM Pemilik Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas Terpasang (MW) 1,1 5,0 5,0 5,0 5,0 4,0 4,0 4,0 3,0 3,0 3,0 2,5 2,0 1,5 1,4 1,4 0,6 51,6 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2020 berupa 2 buah GI 275 kV dan 4 buah GI 150 kV yang diperlihatkan pada Tabel A8.7 dan Tabel A8.8.

344

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A8.7. Pengembangan GI 275 kV Baru


No. 1. 2. Nama Gardu Induk Kiliranjao Payakumbuh Tegangan 275/150 kV 275/150 kV Jumlah Baru/ Extension Baru Baru Kapasitas (MVA) 250 250 500 Biaya (juta US$) 19,66 20,17 39,8 COD 2013 2013

Tabel A8.8. Pengembangan GI 150 kV Baru


No. 1. 2. 3 4 Nama Gardu Induk Bungus Kambang Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 120 210 COD 2011 2011 2013 2016

Selain itu juga direncanakan pengembangan GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dengan tambahan kapasitas total 840 MVA sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A8.9.
Tabel A8.9. Pengembangan Extension GI 150 kV
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Gardu Induk Padang Luar Padang Panjang Pauh Limo Payakumbuh PIP Simpang Empat Solok Salak Maninjau Kiliranjo Payakumbuh Bungus Kambang Simpang Empat Solok Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman Batusangkar GIS Kota Padang Padang Luar PIP Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 30 60 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 60 840 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

345

Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV, diperlukan juga pengembangan transmisi 275 kV sepanjang 882 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 786 kms dengan kebutuhan dana investasi USD 249.7 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A8.10 dan Tabel A8.11.
Tabel A8.10. Pembangunan Transmisi 275 kV Baru
No. 1. 2. Dari Kiliranjao Padang Sidempuan Ke Payakumbuh Payakumbuh Jumlah Tegangan 275 kV 275 kV Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra Panjang (kms) 282 600 882 Biaya (juta US$) 63,5 135,0 198,5 COD 2013 2013

Tabel A8.11. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Bungus Indarung lo;oramkap Maninjau Padang Luar PLTU Sumbar Pessel Singkarak Kiliranjao PIP/S Haru/Pauh Limo Simpang Empat Sungai Rumbai Payakumbuh Solok Dari Ke Kambang Bungus Teluk Kuantan Padang Luar Payakumbuh 2 pi Inc. (BungusKambang) Batusangkar Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Masang-2 PLTP Muara Labuh PLTP Bonjol PLTP Gunung Talang Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 1 2nd cct. 1 Hawk 1 2nd cct. 1 Hawk 1 2nd cct. 1 Hawk 4 cct. 2 Hawk 1 2nd cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk Panjang (kms) 180 35 52 42 32 20 25 70 16 30 160 104 20 786 Biaya (juta US$) 13,7 2,7 1,7 1,4 1,0 0,8 0,8 5,3 0,9 1,7 12,2 7,9 1,1 51,2 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2016 2017 2017 2020 2020

Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diproyeksikan akan terjadi penambahan pelanggan baru sekitar 369 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2020, atau rata-rata 36.900 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 3.242 kms. JTR sekitar 3.823 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 471 MVA. seperti ditampilkan dalam Tabel A8.12.

346

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A8.12. Pengembangan Sistem Distribusi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32.205 34.715 35.286 35.420 36.075 37.323 38.203 38.633 39.670 42.004 369.534

A8.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A8.13.
Tabel A8.13. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.253 2.470 2.725 3.014 3.330 3.678 4.057 4.468 4.913 5.387 36.295 Produksi Energi (Gwh) 2.418 2.647 2.915 3.219 3.551 3.916 4.318 4.754 5.226 5.728 38.692 Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 6.176 Pembangkit (MW) 0 112 118 0 0 0 275 0 185 3 693 GI (MVA) 60 300 560 30 0 180 150 60 30 180 1.550 Transmisi (kms) 215 171 952 0 0 16 190 0 124 0 1.668 Investasi (juta US$) 47 203 438 28 27 42 617 33 460 42 1.936

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

347

LAMPIRAN A.9 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI JAMBI

A9.1. Kondisi Saat Ini


Jumlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi Jambi (interkoneksi dan isolated) saat ini sebesar 207 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui saluran transmisi 150 KV de ngan 5 GI, yaitu GI Aur Duri (2 x 30 MVA), GI Payo Selincah (2x60MVA), GI Muara Bulian (30 MVA), GI Muara Bungo (2 x 30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA). Peta jaringan distribusi Provinsi Jambi seperti ditunjukkan pada Gambar A9.1.
Gambar A9.1. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi

Kapasitas pembangkit di Provinsi Jambi adalah sekitar 222.9 MW seperti ditunjukkan pada Tabel A9.1.
Tabel A9.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No. 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit PLTA Payo Selincah PLTG Payo Selincah PLTD Batang Hari PLTD Eks Sunyarangi PLTG Lokasi Tersebar Jumlah Jenis PLTD PLTG PLTG PLTG PLTD Bahan Bakar Gas Alam + HSD Gas Alam Gas Alam Gas Alam HSD Pemilik PLN Sewa PLN Sewa PLN Kapasitas (MW) 31 100 62 18 12 223

348

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A9.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Kebutuhan listrik diserap oleh konsumen rumah tangga (62%), konsumen komersil (24%), konsumen publik (7%) dan konsumen industri (7%). Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 dapat dilihat pada Tabel A9.2.
Tabel A9.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.159 1.316 1.453 1.640 1.749 1.873 2.000 2.144 2.303 2.482 9.3% Produksi (Gwh) 1.277 1.444 1.588 1.783 1.891 2.016 2.143 2.289 2.448 2.629 8.8% Beban Puncak (MW) 203 227 256 282 315 334 355 377 402 426 8.8% Pelanggan 522.280 555.972 592.561 630.152 659.586 690.151 721.574 755.141 789.658 827.382 6.7%

A9.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit. transmisi dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Provinsi Jambi terdiri dari batubara. gas dan tenaga air. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi Jambi, potensi batubara yang layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5.715 kkal/kg yang tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten Kerinci. Potensi gas terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung dan Kabupaten Muaro Jambi dan potensi tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air Batu). Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 di Jambi direncanakan akan dipenuhi dengan mengembangkan pembangkit di Jambi dan di daerah lain pada sistem interkoneksi Sumatera. Adapun pembangkit yang direncanakan berada di Provinsi Jambi mempunyai kapasitas total 1.712 MW seperti ditampilkan pada Tabel A9.3

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

349

Tabel A9.3. Pengembangan Pembangkit


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6 7 8 9 10 11 12 Sarolangun Sungai Gelam Payo Selincah Sungai Gelam (CNG/Peaker) Sengeti (CNG/Peaker) Batanghari Kuala Tungkal Tebo Pembangkit Peaker Sungai Penuh (FTP2) Merangin Jambi (KPS) Jumlah Proyek Jenis PLTU PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTU PLTU PLTG PLTP PLTA PLTU Pemilik Swasta Sewa Sewa Beli PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 12 12 100 90 80 30 14 14 100 110 350 800 1.712 COD 2011 2011 2011-12 2013 2012-13 2013 2013 2013 2014 2015 2016-17 2018-19

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension GI existing seperti pada Tabel A9.4 dan Tabel A9.5.
Tabel A9.4. Pengembangan GI 150 kV
No. 1. 2. 3 4 Nama Gardu Induk Sungai Penuh Muara Sabak Sarolangun Kuala Tungkal Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 120 COD 2012 2013 2014 2018

Tabel A9.5. Pengembangan Extension GI 150/20 kV


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Aurduri Bangko Muaro Bulian Payoselincah Muaro Bungo Sungai Penuh Payoselincah Aurduri Muaro Bungo Bangko Muara Sabak Payoselincah Sarolangun Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 60 60 60 30 60 60 60 30 30 60 30 660 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2018 2018 2019 2019 2020 2020

350

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Berkaitan dengan pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV Sumatera, akan dibangun 3 buah GI 275 kV yaitu GI Bangko, GI Muara Bungo dan GI Aur Duri, seperti pada Tabel A9.6.
Tabel A9.6. Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Gardu Induk Bangko Muara Bungo Aur Duri Bango Aurduri Aurduri 500 kV PLTU Jambi 500 kV Tegangan 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 500/275 kV 500 kV Jumlah Baru/ Extension Baru Baru Baru Extension Extension Baru Baru Kapasitas (MVA) 250 250 500 500 0 500 0 2.000 Biaya (juta US$) 21,08 20,08 25,98 17,92 2,81 25,77 9,82 123,5 COD 2013 2013 2014 2017 2018 2018 2018

Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera, diperlukan pengembangan transmisi 150 KV. 275 KV dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.7 dan Tabel A9.8.
Tabel A9.7. Pembanguan Transmisi 150 kV
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Bangko PLTA Merangin PLTG CNG Sei Gelam PLTG CNG Sengeti Muara Sabak Muara Bulian PLTP Sungai Penuh Muara Sabak Dari Ke PLTA Merangin Sungai Penuh Aur Duri Aur Duri Inc. 1 Pi (Payo Selincah-Aur Duri) Sarolangun Sungai Penuh Kuala Tungkal Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 x 340 mm2 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk Panjang (kms) 136 110 60 26 121,6 130 84 108,8 776 Biaya (juta US$) 30,6 24,8 3,3 1,4 3,6 7,2 4,7 6,0 81,7 COD 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2015 2018

Tabel A9.8. Pembangunan Transmisi 275 dan 500 kV


No. 1. 2. 3. Dari Bayung Lincir Aur Duri PLTU Jambi Aur Duri Rengat Aur Duri Jumlah Ke Tegangan 275 kV 275 kV 500 kV Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 4 Zebra 2 cct. 4 Zebra Panjang (kms) 120 420 150 690 Biaya (juta US$) 27,0 137,1 49,0 213,1 COD 2014 2015 2018

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

351

Peta sistem kelistrikan Provinsi Jambi diperlihatkan pada Gambar A9.2.


Gambar A9.2. Peta Jaringan Provinsi Jambi

Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan pelanggan baru sebanyak 390 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020. Khusus untuk tahun 2011 akan disambung sekitar 85 ribu pelanggan untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 38.900 pelanggan per tahun, Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 2.800 kms, JTR sekitar 2.626 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 257 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A9.9.
Tabel A9.9. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.765 33.693 36.589 37.591 29.433 30.565 31.424 33.567 34.516 37.725 389.868

352

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A9.4. Sistem Isolated


Provinsi Jambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak, yaitu PLTD Pelabuhan Dagang, PLTD Sungai Lokan, PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala Tungkal, PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun dengan total kapasitas terpasang 12,85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi di Kabupaten Tanjung Jabung kapasitas terpasang 7,2 MW.
Tabel A9.10. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2010
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Proyek Pelabuhan Dagang Sungai Lokan Mendahara Tengah Kuala Tungkal Batang Asai Sarolangun Tanjung Jabung Power Jumlah Jenis PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTMG Kapasitas (MW) 3,15 0,82 0,43 4,91 0,55 3,00 7,20 20,05 Pemilik PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta

A9.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9.11.
Tabel A9.11. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.159 1.316 1.453 1.640 1.749 1.873 2.000 2.144 2.303 2.482 18.118 Produksi Energi (Gwh) 1.277 1.444 1.588 1.783 1.891 2.016 2.143 2.289 2.448 2.629 19.507 Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 3.178 Pembangkit (MW) 74 160 118 100 110 175 175 400 400 0 1.712 GI (MVA) 0 270 590 560 0 0 560 650 60 90 2.780 Transmisi (kms) 0 246 208 250 504 0 0 259 0 0 1.466 Investasi (juta US$) 55 134 188 133 336 282 302 643 548 29 2.651

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

353

LAMPIRAN A.10 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA SELATAN

A10.1. Kondisi Kelistrikan Saat Ini


Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dan dipasok dari pembangkit yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV. Untuk sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD.
Gambar A10.1. Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan

Pembangkit yang memasok Provinsi Sumsel diberikan pada Tabel A10.1.


Tabel A10.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010
No. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama PLN (Interkoneksi) PLTU Keramasan #1.2 PLTG Keramasan #1.2.3.4 PLTG Indralaya GT #1.1 PLTG Indralaya GT #1.2 PLTGU Indralaya ST #1.0 PLTG Truck Mounted #1.2 PLTD Sungai Juaro #1.2 PLTG Borang PLTG Talang Duku PLTG Sewa Beli Tl. Duku PLTG Sewa Beli Borang PLTG Keramasan AKE #1.2 Kapasitas (MW) 829,1 25,0 64,9 50,0 40,0 40,0 40,0 25,2 14,0 20,0 60,0 60,0 100,0 No. 13 14 B 15 16 17 18 19 C 20 21 22 Nama PLTMG Rental Borang PLTU Bukit Asam #1,2,3,4 PLN (Isolated) PLTD Makarti Jaya PLTD Sungsang PLTD Air Saleh PLTD Simpang Sender PLTD Teluk Agung IPP PLTMG Sako Kenten PLTMG Musi II PLTMG Prabumulih Jumlah Kapasitas (MW) 30,0 260,0 6,6 1,4 1,7 1,1 1,9 0,5 43,8 12,0 19,8 12,0 879,4

354

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV. dengan 4 trafo IBT 150/70 kV yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas 400 MVA. Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI dengan total kapasitas trafo 932 MVA, terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV dan 13 GI 150/20 kV.

A10.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Sumatera Selatan


Konsumsi energi listrik di Sumsel diserap oleh konsumen rumah tangga (60%), komersil (18%), industri (14%) dan publik (8%). Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 seperti pada Tabel A10.2.
Tabel A10.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Sales (Gwh) 3.089 3.460 3.845 4.273 4.758 5.157 5.589 6.054 6.599 7.188 10,1% Produksi (Gwh) 3.383 3.781 4.196 4.648 5.160 5.576 6.027 6.513 7.081 7.696 9,8% Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1.070 1.147 1.238 1.335 9,3% Pelanggan 1.176.885 1.279.529 1.395.900 1.610.969 1.676.664 1.743.913 1.813.797 1.884.344 1.954.822 2.027.626 8,1%

A10.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara, gas bumi. minyak bumi, panas bumi dan gas metan batubara (CBM), sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A10.3.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

355

Tabel A10.3. Pengembangan Sistem Distribusi


Sumber Daya Minyak Bumi (Oil) Gas Bumi Batubara Coal Bed Methane Panas Bumi (Geothermal) Gambut Potensi Air (Mini/Mikro Hidro) Energi Surya Biomassa Biogas Potensi 757.6 MMSTB 24.179.5 BSCF 47.1 Milyar Ton 183.00 TCF 1.911 MW 64.200 Ha 9.385.728 kW 53.85 x 10 MW 16.034.24 GWh 235.01 kWh Produksi 27.933.07 ribu BBL 434.108.64 ribu MMBTU 9.276.361 ton Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Telah dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Belum dimanfaatkan

Sumber : Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov. Sumatera Selatan 2008

Gambar A10.2. Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 3.795 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A10.4.

356

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A10.4. Pengembangan Pembangkit


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Borang Simpang Belimbing #1.2 Talang Duku Borang Gunung Megang. ST Cycle Jaka Baring (CNG/Peaker) Baturaja Keramasan Banjarsari Sumsel-11. MT Lumut Balai (FTP2) Sumsel-2 (Keban Agung) Sumsel-5 Sumsel-7 Sumsel-6. Mulut Tambang Sumsel-8. Mulut Tambang Sumsel-9. Mulut Tambang Sumsel-10. Mulut Tambang Rantau Dedap (FTP2) Danau Ranau Sumsel-1. Mulut Tambang Jumlah Proyek Jenis PLTMG PLTU PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTG PLGU PLTU PLTU PLTP PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTU Pemilik Sewa Swasta Sewa Beli Sewa Swasta PLN Swasta PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLN Kapasitas Terpasang (MW) 30 227 60 60 30 50 20 86 230 227 220 225 300 300 600 1.200 1.200 600 220 110 800 6.795 COD 2011 2011 2011 2011-12 2012 2012 2013 2013 2014 2014 2014-15 2015 2015-16 2015-16 2015-17 2016 2017 2018 2018-19 2019 2019-20

Pengembangan PLTU Sumsel-8, PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan kapasitas total 3.000 MW merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low rank di Sumatera Selatan. Listrik dari ketiga PLTU tersebut dimaksudkan akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui transmisi HVDC 500 kV Jawa-Sumatera. Rencana ini dilakukan dengan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan Sumatera pada umumnya melalui pengembangan banyak pembangkit batubara, panas bumi dan gas. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Provinsi Sumsel memerlukan pembangunan GI 150 kV baru di 11 lokasi dengan kapasitas sebesar 570 MVA seperti pada Tabel A10.5.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

357

Tabel A10.5. Pengembangan GI 150 kV Baru


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Gardu Induk Tanjung Api-api Gandus Jakabaring Kenten Sekayu Kayu Agung Sungai Lilin Tebing Tinggi Muara Dua Martapura Muara Rupit Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 120 60 120 30 30 30 30 30 30 30 570 COD 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2016 2017

Selain itu juga diperlukan pengembangan GI existing kapasitas total trafo 1.470 MVA sampai tahun 2020 seperti pada Tabel A10.6.
Tabel A10.6. Pengembangan Extension GI 70 kV dan 150 kV
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Baturaja Bukit Siguntang Lubuk Linggau Baturaja Bukit Siguntang Bungaran Gunung Megang Lahat Pagar Alam Prabumulih Simpang Tiga Talang Kelapa Baturaja Bukit Asam Bukit Siguntang Keramasan Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 60 30 60 60 30 30 60 60 60 60 60 30 60 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 No 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Gumawang Lubuk Linggau Mariana Keramasan Sungai Lilin Bukit Asam Kenten Pagar Alam Talang Kelapa Betung Kayu Agung Gandung Sekayu Simpang Tiga Tebing Tinggi Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 60 30 60 60 30 60 30 30 60 30 60 30 1.470 COD 2014 2014 2015 2017 2017 2018 2018 2018 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020

Sebagai bagian dari rencana pengembangan kelistrikan Sumatera dan nasional, di Provinsi Sumatera Selatan terdapat proyek-proyek pengembangan GI 275 kV, GI 500 kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10.7.

358

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A10.7. Pengembangan GI 275 kV. 500 kV dan 500 kV HVDC


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Gardu Induk Lahat Lubuk Linggau Betung Gumawang Lahat Lumut Blai Bayung Lincir/PLTU Sumsel-5 Muara Enim Sungai Lilin/PLTU Sumsel - 7 Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Lubuk Linggau Jumlah Tegangan 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 500 kV DC 500/275 kV 275/150 kV Baru/ Extension Baru Baru Baru Baru Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Kapasitas (MVA) 1000 250 500 500 0 500 0 0 0 3.000 1.000 250 7.000 Biaya (juta US$) 35,50 20,32 24,00 21,03 2,97 24,28 12,08 12,21 12,08 324,00 54,31 7,45 550,2 COD 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2020

Pengembangan Transmisi Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV, 275 kV, 500 kV dan 500 kV DC sepanjang 2.876 kms sampai dengan tahun 2020 dengan kebutuhan dana sekitar USD 498.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A10.8. dan Tabel A10.9.

Tabel A10.8. Pembanguan Transmisi 150 kV


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari PLTU Simpang Belimbing Kenten Lahat PLTU Simpang Belimbing Tanjung Api-api Betung Bukit Asam (uprate) Gandus Jakabaring Betung Kayu Agung Lahat Ke Inc. 1 Pi (PrabumulihBk. Asam) Inc. 2 pi (T. KelapaBorang) Pagar Alam Lahat Inc. 1 Pi (T. KelapaBorang)/Kenten Sekayu Baturaja (uprate) Inc. 2 Pi (Keramasan-T. kelapa) Inc. 2 Pi (KeramasanMariana) Talang Kelapa Gumawang PLTU Banjar sari Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 2 x 330 mm2 2 cct. 2 x 330 mm2 2 2nd cct. 1 Hawk 2 cct. 2 x 330 mm2 2 cct. 2 x 330 mm2 2 cct. 1 Hawk 2 cct. AC3 310 mm2 2 cct. CU 1000 mm2 2 cct. 2 x 330 mm2 1 2nd cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 x 330 mm2 Panjang (kms) 120 1 94.6 120 40 70 78 20 1 55.2 90 40 Biaya (juta US$) 10,9 0,1 5,2 10,9 3,6 3,9 10,4 44,4 0,1 8,4 20,3 3,6 COD 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

359

Lanjutan Tabel A10.8.


No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Dari Lubuk Linggau Mariana Sumsel-11. MT Sungai Lilin Lahat Muara Dua Gumawang Sarolangun PLTP Rantau Dedap Muara Dua Jumlah Ke Tebing Tinggi Kayu Agung Inc. 1 Pi (Prabumulih - Bk. Asam) Betung PLTU Keban Agung Baturaja Martapura Muara Rupit PLTP Lumut Balai PLTP Danau Ranau Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 x 330 mm2 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk Panjang (kms) 150 60 120 120 70 92 120 80 40 90 1672 Biaya (juta US$) 8.3 13.5 10.9 6.6 15.8 7.0 6.6 4.4 3.1 6.9 204.9 COD 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2018 2019

Tabel A10.9. Pembanguan Transmisi 275 kV. 500 kV dan 500 kV DC


No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Betung Lahat Lahat Muara Enim Bayung Lincir Muara Enim Muara Enim Ke Sungai lilin Lumut Balai Muar Enim Gumawang Sungai lilin Betung Perbatasan Sumsel/ Lampung Tegangan 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 500 kV DC Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 4 Falcon Panjang (kms) 120 50 70 290 124 350 200 1.204 Biaya (juta US$) 27.0 11.3 15.8 65..3 27.9 78.8 67.2 2.93.2 COD 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2016

Jumlah

Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10.8 dan tabel A10.9 terdapat pula ruas transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang Sumsel-8. Sumsel 9 dan Sumsel-10 ke GI 500 kV Muara Enim. Panjang dan rute transmisi 500 kV tersebut akan ditentukan kemudian sesuai hasil lelang ketiga PLTU mulut tambang tersebut. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. diperlukan tambahan sebesar 1.03 juta pelanggan. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 233.400 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 88.700 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan. diperlukan pembangunan JTM 5.152kms. JTR sekitar 5.306 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 675 MVA. seperti ditampilkan dalam Tabel A10.10.

360

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A10.10. Rincian Pengembangan Distribusi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.306 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.427 102.644 116.372 116.204 88.735 83.599 73.059 69.997 70.865 76.896 1.031.799

A10.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A10.11.
Tabel A10.11. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (GWh) 3.089 3.460 3.845 4.273 4.758 5.157 5.589 6.054 6.599 7.188 50.012 Produksi Energi (GWh) 3.383 3.781 4.196 4.648 5.160 5.576 6.027 6.513 7.081 7.696 54.063 Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1.070 1.147 1.238 1.335 9.661 Pembangkit (MW) 347 110 106 567 635 600 300 110 620 400 3.795 GI (MVA) 150 510 1.790 1.680 60 4.030 120 210 60 430 9.040 Transmisi (kms) 120 256 169 1.289 512 320 80 40 90 0 2.876 Investasi (juta US$) 372 124 301 1.253 1.178 1.305 445 306 1.073 604 6.961

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

361

LAMPIRAN A.11 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI BENGKULU

A11.1. Kondisi Kelistrikan Saat Ini


Sistem kelistrikan di Provinsi Bengkulu saat ini mempunyai beban puncak sekitar 113 MW, terdiri dari 92 MW beban puncak interkoneksi dan 21 MW beban puncak sistem isolated. Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui transmisi 150 kV dan 70 kV. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan PLTMH. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11.1.
Gambar A11.1. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu

Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11.1.


Tabel A11.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010
No. 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit PLTA Musi PLTA Tes PLTD Isolated PLTD Isolated PLTM Isolated Jumlah Bahan Bakar Air Air HSD HSD Air Pemilik PLN PLN PLN Sewa PLN Kapasitas Terpasang (MW) 210,0 17,6 17,6 8,8 1,6 255,6

362

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

A11.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Bengkulu


Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 dapat dilihat pada Tabel A11.2.
Tabel A11.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (GWh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.001 1.072 9.2% Produksi (GWh) 564 638 716 796 849 908 978 1.034 1.106 1.180 8.9% Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 7.8% Pelanggan 284.722 311.088 335.351 369.793 381.756 400.938 415.084 431.919 449.019 465.835 6.7%

A11.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik. diperlukan pembangunan sarana pembangkit. transmisi dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM, sumber energi yang tersedia di Bengkulu untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi dengan perkiraan potensi mencapai 400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP. Selain itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton. Gambar A11.2 memperlihatkan sebaran dan jumlah potensi energi tersebut. Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 367 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A11.3.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

363

Gambar A11.2. Peta Potensi Energi Primer

Tabel A11.3. Pengembangan Pembangkit


No 1 2 3 4 5 Ipuh Muko Muko Hululais (FTP2) Simpang Aur (FTP2) Kepahiyang Jumlah Proyek Jenis PLTU PLTU PLTP PLTA PLTP Pemilik PLN Swata PLN Swasta PLN Kapasitas (MW) 6 8 110 23 220 367 COD 2013 2013 2015 2015 2020

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2020 yaitu 5 penambahan GI baru dan 3 pengembangan GI existing. Total penambahan kapasitas trafo GI mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti pada Tabel A11.4 dan Tabel A11.5.
Tabel A11.4. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV
No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Manna Pulau Baai Argamakmur MukoMuko Bintuhan Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 120 30 30 30 240 COD 2012 2013 2015 2015 2017

364

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A11.5. Pengembangan GI Existing 150 kV dan 70 kV


No 1 2 3 Nama Gardu Induk Manna Pekalongan Pulau Baai Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 60 120 COD 2013 2013 2017

Pengembangan Transmisi Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit, dibutuhkan juga pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1.318 kms dengan biaya sebesar US$ 95.4 juta. Rincian kegiatan terdapat pada Tabel A11.6.
Tabel A11.6. Pembangunan Transmisi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dari Pagar Alam Pekalongan Kambang Pekalongan PLTA Simpang Aur 1 PLTA Simpang Aur 1 Pulau Baai Manna Muko-Muko/Bantal/ Ipoh PLTP Kepahiyang Jumlah Manna Pulo Baai Muko-Muko/Batal/ Ipoh PLTP Hululais Inc 1 Pi (Pekalongan-P. Baai) PLTA Simpang Aur 2 Arga Makmur Bintuhan Arga Makmur Inc.2 Pi (Pekalong an-P. Baai) Ke Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 4 cct. 2 Hawk Panjang (kms) 96 90 220 120 20 12 180 140 360 80 1.318 Biaya (juta US$) 5,3 6,9 16,8 9,2 1,5 0,7 13,7 7,8 27,5 6,1 95,4 COD 2012 2013 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2020 2020

Pengembangan Distribusi Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 221 ribu sambungan untuk kurun waktu 2011-2020, dimana untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% di tahun 2011 akan disambung 40.147 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 20.100 pelanggan per tahun. dengan kebutuhan pertambahan JTM sebanyak 2.115 kms. JTR sepanjang 2.301 kms dan penambahan kapasitas gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada Tabel A11.7.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

365

Tabel A11.7. Rincian Pengembangan Distribusi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.115 JTR kmr 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40.147 26.366 24.262 34.442 11.963 19.182 14.146 16.836 17.100 16.816 221.260

A11.4. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A11.8.

Tabel A11.8. Rangkuman


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (GWh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.001 1.072 7.867 Produksi Energi (GWh) 564 638 716 796 849 908 978 1.034 1.106 1.180 8.768 Beban Puincak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 1.571 Pembangkit (MW) 0 0 14 0 133 0 0 0 0 220 367 GI (MVA) 0 30 180 0 60 0 90 0 0 0 360 Transmisi (kms) 0 96 90 0 552 0 140 0 0 440 1.318 Investasi (juta US$) 13 17 56 17 269 21 25 19 18 406 862

366

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

LAMPIRAN A.12 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI LAMPUNG

A12.1. Kondisi Saat Ini


Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi Sumatera seperti ditunjukkan pada Gambar A12.1.
Gambar A12.1. Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated

Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi. meliputi sistem tersebar yang kecil (< 0.5 MW) yang pada umumnya merupakan PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan. Pugung Tampak dan Bengkunat di Lampung Barat. Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah sebagai berikut : Kota Agung di Kabupaten Tanggamus, Liwa dan Ulubelu di Kabupaten Lampung Barat, Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji. Peta kelistrikan Provinsi Lampung diperlihatkan pada Gambar A12.2.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

367

Gambar A12.2 .Peta Kelistrikan Provinsi Lampung

Beban puncak Lampung pada tahun 2010 adalah 482 MW dengan produksi energi 2.607 GWh. Pembangkit yang berada di Provinsi Lampung ditunjukkan pada Tabel A12.1.
Tabel A12.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No 1 2 3 4 5 6 Pembangkit PLTA Besai #1.2 PLTA Batutegi #1.2 PLTU Tarahan #3.4 PLTD Tarahan #2.4 PLTD Teluk Betung #7.8.10 PLTD Tegineneng #1.2.3 Jumlah Daya Terpasang (MW) 90 30 200 15 14 28 377 Daya Mampu (MW) 89 28 200 12 11 20 361

A12.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya provinsi Lampung dalam lima tahun terakhir sangat tinggi. yaitu mencapai 11,1%. Pertumbuhan ini masih berpotensi untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi, karena pada tahun 2010 baru mencapai 60%. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 dapat dilihat pada Tabel A12.2.

368

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A12.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (GWh) 2.811 3.325 3.679 4.052 4.428 4.747 5.075 5.411 5.754 6.102 10,6% Produksi (GWh) 3.106 3.637 3.989 4.361 4.746 5.077 5.416 5.762 6.124 6.491 9,6% Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.041 1.094 8,2% Pelanggan 1.274.206 1.429.388 1.578.181 1.731.411 1.874.733 1.968.260 2.064.353 2.163.074 2.264.491 2.368.673 8,7%

A12.3. Pengembangan Ketenagalistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut. Potensi Sumber Energi Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung. potensi sumber energi utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel A12.3 dan Tabel A12.4. Selain itu juga terdapat potensi biomassa dan batubara.
Tabel A12.3. Potensi Panas Bumi
Potency (Mwe) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Area Way Umpu Danau Ranau Purunan Gn. Sekincau Bacingot Suoh Antata Pajar Bulan Natar Ulu Belu Lempasing Way Rantai Kalianda Pmt. Belirang Regency Way Kanan Lampung Barat Lampung Barat Lampung Barat Lampung Barat Lampung Barat Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Lampung Selatan Lampung Selatan Lampung Selatan Lampung Selatan Speculative 100 25 225 100 25 225 225 925 Hipothetic 185 100 163 156 194 40 838 Reserve (Mwe) Possible 222 130 300 380 40 1.072 Probable 37 37 Proven 110 110

Total Potency = 2.855 Mwe

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

369

Tabel A12.4. Potensi Tenaga Air


No I 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Mesuji Tulang Bawang Besai/Umpu Giham Pukau Giham Aringik Tangkas Campang Limau Sinar Mulia Way Abung Way Umpu 7,50 16,00 80,00 1,60 1,00 978,00 600,00 600,00 Kapasitas (MW) No III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II 1 Seputih/Sekampung Bumiayu 39,20 12 13 Lokasi Semangka Semangka Atas I Semangka Atas II Smeangka Atas III Semangka Bawah I Semangka Bawah II Semung I Semung II Semung III Manula I Manula II Simpang Lunik I Simpang Lunik II Simpang Lunik III 26,8 23,2 28,2 35,5 40,4 23,8 38,7 11,6 5,7 8,4 6,1 3,8 3,9 Kapasitas (MW)

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 1.301 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A12.5.

Tabel A12.5. Pengembangan Pembangkit


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Proyek Tarahan (FTP1) Ulubelu #1.2 Tarahan #5.6 Pembangkit Peaker Ulubelu #3.4 (FTP 2) Semangka Rajabasa (FTP2) Suoh Sekincau Waui Rantai Jumlah Jenis PLTU PLTP PLTU PLTG PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP Pemilik PLN PLN Sewa PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 200 110 240 200 110 56 220 110 55 1.301 COD 2012 201-13 2013 2014 2015 2016 2017 2018-19 2019

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan GI Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan 14 buah gardu induk baru dan pengembangan GI existing sampai dengan tahun 2020 seperti diperlihatkan pada Tabel A12.6 dan Tabel A12.7.

370

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A12.6. Rencana GI Baru 150 kV


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Seputih Banyak Dipasena Ulubelu Kota Agung Liwa Dipasena Gedong Tataan Ketapang Mesuji Teluk Ratai Jati Agung Pakuan ratu Lengkapura Bengkunat Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 90 30 30 30 120 60 30 30 30 30 30 60 30 630 COD 2011 2012 2012 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2019

Tabel A12.7. Rencana Pengembangan GI Existing


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Kotabumi Adijaya Bukit Kemuning Kalianda Natar New Tarahan Pagelaran Metro Sribawono Sukarame Kotabumi Seputih Banyak Teginereng Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 60 30 60 60 60 30 60 30 60 COD 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 No 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Gardu Induk Adijaya New Tarahan Menggala Sutami Mesuji Tegineneng Jati Agung Ketapang Pakuan Ratu Sukarame Kotabumi Sribawono Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 60 30 30 60 30 30 30 60 60 60 1170 COD 2015 2015 2016 2016 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2020 2020

Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2020 sepanjang 2.124 kms diperlihatkan pada Tabel A12.8. Di provinsi ini melintas transmisi 500 kV HVDC Sumatera-Jawa dengan switching station dan landing point kabel laut 500 kV HVDC akan berada di Ketapang.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

371

Tabel A12.8 Pengembangan Transmisi 150 kV


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Bukit Kemuning (uprate) PLTU Tarahan (FTP1) Seputih Banyak Ulubelu Baturaja (uprate) Menggala Sutami (uprate) Pagelaran (uprate) Bukit Kemuning Pagelaran Gedon Tataan Gumawang Kalianda Mesuji Pagelaran PLTP Ulubelu #3.4 Natar Pakuan Ratu PLTA Semangka Kalianda Langkapura Besai Liwa Teluk Ratai Ke Kotabumi (uprate) Inc. 2 Pi (New TarahanKalianda) Dipasena Inc. 1 Pi (BatutegiPagelaran) Bukit Kemuning (uprate) Seputih Banyak Natar (uparte) Teginereng (uprate) Liwa Kota Agung Teluk Ratai Mesuji Ketapang Dipasena Gedong Tataan Ulubelu Jatiagung Inc.1 Pi (MenggalaGumawang) Kota Agung PLTP Rajabasa Inc. 2 Pi (Natar-Teluk Betung) PLTP Suoh Sekincau Bengkunat PLTP Wai Ratai Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct. AC3 310 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. AC3 310 2 cct. 2 Zebra 2 cct. AC3 310 2 cct. AC3 310 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. CU 1.000 mm2 2 cct. 2 Zebra 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk Panjang (kms) 68 1 120 40 96 120 30 30 80 80 60 160 90 152 60 20 16 1 60 40 2 38 120 40 1.524 Biaya (juta US$) 9.0 0.2 9.2 3.1 12.8 27.0 4.0 4.0 4.4 4.4 3.3 12.2 20.3 11.6 4.6 1.1 35.5 0.2 3.3 3.1 0.1 2.1 6.6 2.2 184.6 COD 2011 2011 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2017 2017 2018 2019 2019

Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, penambahan pelanggan baru sampai dengan 2020 adalah 1.331 ribu pelanggan, dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 236.225 pelanggan dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 121.600 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 2.409 kms. JTR sekitar 2.268 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 766 MVA. seperti ditampilkan dalam Tabel A12.9.

372

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tabel A12.9. Pengembangan Distribusi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.225 155.182 148.793 153.230 143.322 93.527 96.093 98.721 101.417 104.182 1.330.692

A12.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A12.10.
Tabel A12.10. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.811 3.325 3.679 4.052 4.428 4.747 5.075 5.411 5.754 6.102 45.384 Produksi Energi (Gwh) 3.106 3.637 3.989 4.361 4.746 5.077 5.416 5.762 6.124 6.491 48.709 Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.041 1.094 8.507 Pembangkit (MW) 0 255 295 200 110 56 220 55 110 0 1.301 GI (MVA) 90 390 150 210 360 150 60 90 180 120 1.800 Transmisi (kms) 69 160 276 160 542 677 42 38 160 0 2.124 Investasi (juta US$) 67 443 184 168 380 367 524 173 321 44 2.671

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

373

LAMPIRAN A.13 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO) DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

A13.1. Kondisi Saat Ini


Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV dan beberapa sistem isolated. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga Singkawang. Sistem isolated terdiri atas sistem Sambas, Bengkayang, Ngabang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Putussibau, Ketapang, Sukadana dan sistem tersebar. Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 283 MW dengan produksi 1.478 GWh. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini. Tabel A13.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat.
Tabel A13.1. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat
Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Jumlah Produksi GWh 1.003 21 61 19 55 15 63 22 22 109 88 1.478 % 67,9 1,4 4,1 1,3 3,7 1,0 4,3 1,5 1,5 7,4 5,9 100,0 Beban Puncak (MW) 175 4 13 4 12 3 13 4 4 19 32 283 Faktor Beban (%) 65,4 53,3 54,4 51,3 51,9 52,3 57,8 58,9 63,4 66,0 31,5 59,6

Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi. yaitu rata-rata 9,1% per tahun. Penjualan tenaga listrik diserap oleh konsumen rumah tangga & sosial (61%), konsumen komersil (28%), konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%). Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit berbahan bakar minyak. Kecukupan dan keandalan pasokan masih relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan pembangkitan tidak memadai.

374

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kapasitas pembangkit adalah 385 MW dengan daya mampu 339 MW seperti diperlihatkan pada Tabel A13.2.
Tabel A13.2. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2010
Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Jumlah Daya Terpasang (MW) 236 6 15 7 14 5 16 6 6 24 50 385 Daya Mampu (MW) 212 5 15 5 14 4 14 5 5 22 37 339

A13.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata 9,1% per tahun, dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi selama 2006-2010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5,2% per tahun. Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58,3%. Untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 20112020 dapat dilihat pada Tabel A13.3.
Tabel A13.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Sales (Gwh) 1.406 1.559 1.713 1.869 2.030 2.205 2.394 2.599 2.820 3.060 9,0% Produksi (Gwh) 1.594 1.779 1.954 2.130 2.313 2.510 2.723 2.954 3.204 3.476 8,9% Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 8,9% Pelanggan 622.019 662.562 699.536 738.516 779.621 826.276 875.695 928.047 983.514 1.042.287 6,1%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

375

Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 186 MW, dan sejalan dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada sistem-sistem isolated (Sistem Sambas. Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada tahun 2020 menjadi 548 MW atau tumbuh rata-rata 12,7% per tahun. Sedangkan sistem-sistem isolated kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.

A13.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air, gambut dan batubara. Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului dengan survey dan studi yang mendalam. Pada saat ini potensi yang dapat dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW. Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten Mempawah. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek lingkungan. Potensi batubara terdapat di daerah Sintang, berupa batubara dengan kandungan kalori yang tinggi, namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala infrastruktur transportasi. Sumber batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU/PLTGB di Sanggau, Sintang, Nanga Pinoh dan Putusibau. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13.4.
Tabel A13.4. Pengembangan Pembangkit
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Proyek Riam Badau Ketapang (IPP) Putussibau (FTP2) Sanggau Sntang Ketapang (FTP2) Naga Pinoh Pantai Kura-Kura (FTP1) Parit Baru (FTP1) Parit Baru-Loan China (FTP2) Pontianak-3 Kalbar-1 Naga Pinoh Kalbar-2 Pontianak-2 Jumlah Jenis PLTM PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTA PLTU PLTU Pemilik PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 0,2 14 8 14 21 20 21 6 55 100 100 50 100 98 100 736 COD 2011 2012 2012 2012-13 2012-13 2013 2013 2013 2013 2014-15 2015 2016--17 2017-18 2019-20 2019-20

376

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat. PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi 275 kV antar negara yang berkapasitas lebih dari 200 MW. PLN bermaksud mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga 180 MW. Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM untuk pembangkit beban puncak. Adanya rencana impor baseload sebesar 50 MW adalah untuk mengurangi ketidakpastian penyediaan pembangkit baseload di sistem Kalimantan Barat. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Di Provinsi Kalimantan Barat akan dibangun 15 buah GI 150 kV baru dan pengembangan trafo GI existing sebesar 930 MVA. Selain itu akan dibangun pula GI 275 kV sebagai simpul interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Serawak. Rencana pembangunan GI diberikan pada Tabel A13.5 dan Tabel A13.6.
Tabel A13.5. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Kota Baru PLTU Kura-Kura Sambas Bengkayang Ngabang Tayan Sanggau Sekadau Sintang Kota Baru 2 Nanga Pinoh Sandai Sukadana Ketapang Putusibau Bengkayang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 60 30 250 760 COD 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013

Tabel A13.5. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Gardu Induk Sei Raya Mempawah Siantan Singkawang Sanggau Parit Baru Sambas Siantan Kota Baru Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 120 30 60 30 30 30 30 60 30 420 COD 2012 2014 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

377

Pengembangan Transmisi Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat adalah seperti terlihat pada Tabel A13.7.
Tabel A13.7. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 275 kV
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Parit Baru PLTU Kura-Kura Sei Raya Singkawang Bengkayang Ngabang PLTU Parit Baru (IPP) Siantan Singkawang Sanggau Sintang Tayan Nanga Pinoh Sandal Sintang Sukadana Ketapang Sintang Bengkayang Ke Kota Baru Inc. 2 pi (Singkawang-Mempawah) Kota Baru Sambas Ngabang Tayan Parit Baru Tayan Bangkayang Sekadau Sekadau Sanggau Kota Baru 2 Tayan Nanga Pinoh Sandai Sukadana Putusibau Perbatasan Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 275 kV Konduktor 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 1 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Hawk 2 cct. 2 Zebra Panjang (kms) 40 40 32 126 180 110 6 184 120 100 180 180 180 300 180 180 200 300 180 2.818 Biaya (juta US$) 2,2 2,2 1,8 7,0 10,0 6,1 0,3 10,2 6,6 5,5 10,0 10,0 10,0 22,9 10,0 13,7 15,3 22,9 28,4 195,0 COD 2011 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013

Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut. PLN berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke perbatasan negara dan trafo IBT berkapasitas 250 MVA. Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13.1. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. diperlukan tambahan pelanggan sebanyak 46.400 sambung an per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut diperlukan pembangunan JTM 1.380 kms. JTR sekitar 3.944 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi 540 MVA sampai dengan tahun 2020 seperti ditampilkan dalam Tabel A13.8.

378

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Gambar A13.1. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat

Tabel A13.8. Pengembangan Distribusi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 640 Pelanggan 44.189 40.543 36.973 38.980 41.105 46.655 49.419 52.353 55.467 58.773 464.457

A13.4. Elektrifikasi Daerah Perbatasan Antar Negara


Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak masih belum tercukupi, sementara kondisi kelistrikan di wilayah Sarawak lebih baik. Hal ini menimbulkan terjadinya ke senjangan pada daerah perbatasan. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem isolated di daerah perbatasan, yaitu di Sajingan dan Badau. Berikutnya akan dilakukan pembelian listrik dari

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

379

Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya, yaitu Entikong sebesar 150 kVA dan Seluas sebesar 100 kVA. Peta kelistrikan di daerah perbatasan diberikan pada Gambar A13.2.
Gambar A13.2. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan

A13.5. Ringkasan
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A13.9.
Tabel A13.9. Rangkuman
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.406 1.559 1.713 1.869 2.030 2.205 2.394 2.599 2.820 3.060 21.656 Produksi Energi (Gwh) 1.594 1.779 1.964 1.964 2.130 2.313 2.510 2.723 3.204 3.470 24.635 Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 4.424 Pembangkit (MW) 0 43 195 60 100 50 99 49 75 75 736 GI (MVA) 60 150 340 210 30 150 90 30 60 60 1.180 Transmisi (kms) 112 126 780 460 0 840 200 0 0 300 2.818 Investasi (juta US$) 38 132 475 151 191 182 211 120 153 191 1.825

380

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran A14
NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

Lampiran A14.1
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED PROVINSI ACEH

384

Neraca Daya Sistem Sabang


Unit GWh MW % MW 0,7 6,68 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 1,3 1,3 2,0 2,0 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 1,4 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,7 0,9 0,9 1,4 6,68 3,71 3,71 3,71 3,71 3,71 0,7 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 7,4 7,4 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1 0,4 3,71 0,2 0,7 0,9 0,9 1,4 64,9 65,2 65,5 65,7 66,0 66,2 66,4 66,6 3,7 3,8 4,0 4,2 4,4 4,5 4,7 4,9 5,1 66,8 4,1 0,4 3,71 0,2 0,7 0,9 0,9 1,1 20,8 21,9 23,0 24,1 25,2 26,3 27,4 28,5 29,6 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 30,7 5,2 67,0 4,1 0,4 3,71 0,2 0,7 0,9 0,9 1,4

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

PLTD ANDUK Loat

Marcedes MTU

Marcedes MTU

Caterpillar

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTGB PLTD PLTP MW MW 1,4 1,0 MW 0,6 1,4 1,0 0,4 2,4 2,4 6,7 6,7 11,7 5,4 4,0 1,4 2,3 11,7 5,4 4,0 1,4 2,1 11,7 5,4 4,0 1,4 1,9 11,7 5,4 4,0 1,4 1,7 18,7 7,5 4,0 3,5 6,5 18,7 7,5 4,0 3,5 6,3 8 7 10 28,7 7,5 4,0 3,5 16,2 28,7 7,5 4,0 3,5 16,0

Caterpillar

Cartepillar

PLTD Sewa

Sewa Diesel

Genset BPKS

Tambahan Pembangkit

PLN

Sabang (FTP2)

IPP

Lho Pria Laot

Jaboi (FTP2)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Blangpidie


Unit GWh MW % MW 1,2 22,1 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD MW MW 4,5 2,4 MW 6,5 2,4 6,2 4,5 6,9 6,9 Rencana masuk grid 150 kV tahun 2013 22,1 22,1 2,0 2,0 9,0 9,0 0,2 0,2 0,5 0,5 0,9 0,9 0,7 0,7 3,0 3,0 4,8 4,8 1,0 1,0 1,3 1,3 22,1 1,2 23,3 23,3 56,2 56,7 8,7 9,1 Rencana masuk grid 150 kV tahun 2013 42,8 45,0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

PLTD Suak

SWD 6 FG

0,67

Merrless

0,95

MAK

2,39

MTU

0,22

Cummins

0,72

Caterpillar

0,93

Caterpillar

0,45

Caterpillar

0,23

Relokasi dari Lampung

4,5

Sewa

Sewa Diesel

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

385

386

Neraca Daya Sistem Tapaktuan


Satuan GWh MW % MW 0,6 9,73 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 4,0 1,5 1,5 2,2 2,2 0,7 0,7 2,0 2,0 5,73 0,6 10,4 6,4 59,8 60,2 5,9 6,2 Rencana masuk grid 150 kV tahun 2013 31,1 32,5 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Kebutuhan dan Pasokan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

PLTD Tapaktuan

MTU 12V 4000

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTU MW MW 1,1 1,0 MW 1,7 5,5 1,1 7,0 2,1 8,1 9,7 19,7 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 14,0

SWD 6FG

SWD 9F

MTU 12V 2000

Sewa

Sewa Diesel

Tambahan Kapasitas

PLN

Tapaktuan

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Subulussalam


Satuan GWh MW % MW 2,2 12,5 PLTD PLTD PLTD PLTD 9,0 1,2 0,0 4,5 12,8 1,9 14,7 14,7 53,3 53,8 11,9 12,8 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV 55,8 60,2 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Kebutuhan dan Pasokan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD Rimo

PLTD Singkil

PLTD Kuta Fajar

PLTD Sewa

Tambahan Pembangkit PLTGB PLTU PLTB MW MW 1,0 0,9 MW 0,6 0,9 9,1 1,0 1,9 1,9 14,5 23,8 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 1,0 9,0 1,0 6,0

PLN

Singkil

3.0

Beli Energi / IPP

PLTU PT. GSS

1.4

PLT Bayu PT GLA

10

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

387

388

Neraca Daya Sistem Kutacane


Satuan GWh MW % MW 0,7 13,62 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 1,0 1,5 5,0 5,0 1,5 1,5 1,7 1,7 0,6 0,6 2,0 2,0 2,6 2,6 14,10 0,7 14,3 14,8 54,6 55,4 10,3 10,8 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV 49,2 52,6 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Kebutuhan dan Pasokan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD Kuning

MTU

SWD 6TM

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTA MW MW 2,0 0,9 MW 0,5 2,8 2,8 2,0 0,9 0,4 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 13,6 14,1 50

SWD 8FG

Cummins

PLTM Sepakat

Turbin WKC

PLTD Sewa

Rental Genset HSD

Suplai dari 20 kV Sistem Sumut

Tambahan Pembangkit

IPP

Lawe Mamas

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Blangkejeran


Unit GWh MW % MW MW MW MW PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0 3,6 3,6 3,6 3,6 5,1 5,1 5,1 5,1 0,6 0,6 0,6 0,6 5,6 5,6 5,6 5,6 43,3 43,3 43,4 43,4 3,9 4,2 4,4 4,6 Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV 14,9 15,8 16,7 17,6 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD Rema

Sewa

Rental genset HSD

Tambahan Pembangkit PLTD PLTM PLTM MW MW 1,0 0,8 MW 0,9 0,8 1,0 1,0 1,8 1,8 6,7 7,0 7,0 1,8 1,0 0,8 0,8 0,3 7,0 1,8 1,0 0,8 0,5 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 0,2 1,4

PLN

Rel dari PLTD L. Bata

Beli Energi

Rerebe

Putri Betung

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

389

390

Neraca Daya Sistem Takengon


Unit GWh MW % MW MW 21,6 PLTD PLTD PLTD PLTMH PLTD 7,5 7,5 6,0 6,0 0,6 0,6 0,4 0,4 0,3 0,3 9,1 9,1 21,6 2,4 2,4 24,0 24,0 36,3 36,5 18,0 18,9 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV 57,3 60,4 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD Ayangan

PLTD Janarata

PLTD Jagong Jeget

PLTMH Angkup

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTA PLTMH MW MW 2,8 1,4 MW 0,9 0,0 1,4 2,8 4,2 4,2 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 23,1 23,1 1,5 88,0

PLTD Sewa

Suplai dari 20 kV GI Bireun

Tambahan Pembangkit

PLN

Peusangan

IPP/Beli Energi

KERPAP

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Sinabang


Unit GWh MW % MW 0,7 6,33 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 2,0 2,0 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,87 2,16 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,5 0,6 0,6 0,87 2,16 0,4 0,5 0,6 0,6 0,87 2,16 0,4 0,5 0,6 0,6 0,87 2,16 0,4 0,5 0,6 0,6 0,87 2,16 6,33 4,53 4,53 4,53 4,53 4,53 0,7 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 7,0 7,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 0,5 4,53 63,9 63,8 63,8 63,8 63,8 63,7 63,7 63,7 63,7 5,0 0,5 4,53 3,3 3,5 3,7 3,9 4,1 4,3 4,5 4,8 5,0 18,4 19,5 20,7 21,9 23,0 24,2 25,4 26,5 27,7 28,9 5,2 63,7 5,0 0,5 4,53 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD Lasikin

MTU

0,35

MTU

0,48

MTU

0,58

Caterpillar

0,58

Caterpillar

0,87

Wartsilla

1,08

PLTD Sewa

Rental genset HSD

Tambahan Pembangkit PLTGB MW MW 1,1 0,9 MW 1,1 1,1 1,1 0,7 1,9 2,2 6,3 6,3 6,0 10,5 4,1 3,0 1,1 2,7 10,5 4,1 3,0 1,1 2,5 10,5 4,1 3,0 1,1 2,3 10,5 4,1 3,0 1,1 2,1 10,5 4,1 3,0 1,1 1,9 10,5 4,1 3,0 1,1 1,7 10,5 4,1 3,0 1,1 1,5 10,5 4,1 3,0 1,1 1,3

PLN

Aie Tajun

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

391

392

Neraca Daya Sistem Meulaboh


Unit GWh MW % MW MW 45,1 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTU 8,0 16,0 1,8 1,5 2,3 1,2 19,2 5,0 50,1 47,9 29,4 Rencana tahun 2012 masuk Grid 150 kV 124 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating

Pembangkit PLN

Seunebok

Calang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTU MW MW 3,6 3,1 MW 9,0 6,7 Masuk Interkoeksi 150 kV Sumatera 45,1 220

Lamno

Teunom

Alue Bilie

Jeuram

Sewa

Media Group

Tambahan Pembangkit

PLN

Nagan

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Lampiran A14.2
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED PROVINSI SUMATERA UTARA

394

Neraca Daya Sistem Nias


2010 54,5 44,3 14,0 23,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 23,6 23,6 23,6 15,6 15,6 15,6 15,6 15,6 15,2 16,3 17,3 18,4 19,3 20,4 21,5 22,8 24,0 15,6 7,6 43,6 43,0 42,8 42,7 42,9 43,2 43,3 43,5 43,7 58,0 61,5 65,1 68,8 72,7 77,1 81,8 86,8 92,0 97,6 43,9 25,4 15,6 7,6 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Unit

Kebutuhan

Produksi Energi

GWh

Load Faktor

Beban Puncak

MW

Pasokan

Kapasitas Terpasang

MW

Derating Kapasitas

MW

Pembangkit PLN 1,1 2,4 4,0 4,6 1,0 1,1 0,8 0,5 5,0 3,0 3,0 3,0 3,0 5,0 5,0 5,0 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,1 0,8 0,5 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 4,0 4,6 1,0 1,1 0,8 0,5 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 2,4 4,0 4,6 1,0 1,1 0,8 0,5 1,1 2,4 4,0 4,6 1,0 1,1 0,8 0,5 1,1 2,4 4,0 4,6 1,0 1,1 0,8 0,5

PLTD Gunung Sitoli

Deutz

PLTD

Deutz KHD

PLTD

Cummins

PLTD

Deutz MWM

PLTD

PLTD Teluk Dalam

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


8,0 14,0 24,0 2,6 1,5 1,1 7,4 6,2 1,1 1,5 1,5 1,1 5,1 2,6 2,6 24,0 24,0 24,0 2,6 1,5 1,1 4,1 30,0 8,5 7,0 1,5 3,1 7,0 37,0 8,5 7,0 1,5 9,2 37,0 8,5 7,0 1,5 8,1 37,0 11,0 7,0 4,0 4,5 37,0 11,0 7,0 4,0 3,2 37,0 11,0 7,0 4,0 2,0 37,0 11,0 7,0 4,0 0,6

Cummins

PLTD

MTU

PLTD

Daihatsu

PLTD

Daihatsu

PLTD

PLTD Sewa

Gunung Sitoli

PLTD

Teluk Dalam

PLTD

Tambahan Pembangkit

PLN

Nias

PLTGB

IPP

Nias (FTP2)

PLTU

Jumlah Kapasitas

MW

Cadangan

MW

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit (N-1)

MW

Lampiran A14.3
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED PROVINSI RIAU

396

Neraca Daya Sistem Siak


Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan GWh % MW 3,8 4,2 4,8 5,2 77,7 77,9 78,1 78,2 25,5 28,9 32,6 35,8

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan MW MW 0,17 0,18 0,20 0,79 0,79 0,79

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN PLTD 0,62 0,60 0,59

MTU M.D

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTD PLTU PLTD 3,0 3,0 6,0 6,0 4,0 PLTD 0,6 Disupplai dari Grid 150 kV SIS, Tahun 2014,30 MVA MW MW 0,8 0,5 MW 0,1 3,0 0,8 2,1 1,3 3,8 5,2 10,2 10,2 3,8 3,0 0,8 1,6

Sewa

Sewa Diesel

Sewa PLTU (Pemda)

Sewa MFO

Tambahan Pembangkit

MTU (Pemda)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Bengkalis


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD 8,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 1,03 1,01 0,98 0,96 0,20 0,19 0,19 0,18 1,51 1,47 1,44 1,40 1,98 2,05 2,12 2,18 18,72 16,72 10,72 10,72 11,7 13,3 15,1 16,6 18,0 19,6 21,1 22,8 70,5 70,2 70,1 70,0 69,9 69,9 69,9 69,9 69,9 24,6 72,4 82,0 92,6 101,5 110,4 119,8 129,4 139,5 150,8 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 164,7 70,0 26,9

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

Deutz

1,20

Deutz

0,56

Yamar

0,80

Sewa Pembangkit

Sewa Genset MFO

6,0

Sewa mesin 1 (HSD)

1,0

Sewa Mesin 2 (HSD)

1,0

Tambahan Pembangkit PLTU PLTGB MW MW 1,2 0,6 MW 3,2 0,6 -0,5 1,2 1,8 1,8 16,7 14,7 28,6 11,2 10,0 1,2 2,3 28,5 11,2 10,0 1,2 0,8 20,0 12,0 32,0 11,5 10,0 1,5 2,5 32,0 11,5 10,0 1,5 0,9 6,0 38,0 11,5 10,0 1,5 5,4 38,0 11,5 10,0 1,5 3,7 6,0 44,0 11,5 10,0 1,5 7,9 44,0 11,5 10,0 1,5 5,6

PLN

Bengkalis (FTP1)

10

Bengkalis PLTGB

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

397

398

Neraca Daya Sistem Selat Panjang


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD 6 6 6 6 6 6 1,6 1,6 1,5 1,5 1,4 1,4 1,3 1,2 1,2 1,2 1,1 1,1 1,1 1,4 1,5 1,6 1,7 1,7 1,9 1,9 1,9 2,0 1,1 1,3 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 8,1 9,2 10,3 11,3 12,2 13,3 14,3 15,4 16,6 4,4 2,1 1,0 1,3 66,5 66,6 66,8 66,9 67,1 67,2 67,4 67,5 67,7 47,2 53,5 60,4 66,1 71,9 78,1 84,3 90,9 98,3 107,3 67,8 18,1 4,4 2,1 1,0 1,3 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

BWSC

Deutz

Sewa Pembangkit

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTGB PLTG PLTU MW MW 1,2 1,0 MW 4,6 1,2 10,4 10,0 2,2 11,2 14,9 30,8 30,7 11,2 10,0 1,2 9,2 10 14 32,7 17,0 10,0 7,0 4,4 32,6 17,0 10,0 7,0 3,4 32,5 17,0 10,0 7,0 2,3 32,5 17,0 10,0 7,0 1,2 35,4 17,0 10,0 7,0 3,0 35,3 17,0 10,0 7,0 1,8 35,3 17,0 10,0 7,0 0,2 6 3

Sewa Genset MFO

Sewa Mesin (HSD)

Tambahan Pembangkit

PLN

Selat Panjang

Sewa

PLTG

Project IPP

Selat Panjang Baru #1.2

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Bagan SiapiApi


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTGB MW MW MW MW MW 2,8 0,6 0,6 1,9 1,2 1,2 1,8 1,8 11,1 11,0 11,0 1,8 1,2 0,6 1,0 5,0 5,0 5,0 Disuplai dari grid 150 kV SIS. Tahun 2014. 30 MVA 2,4 2,4 2,4 2,0 2,0 2,0 0,40 0,39 0,38 0,83 0,81 0,79 0,43 0,42 0,41 1,2 1,2 1,3 2,8 2,8 2,8 6,4 7,3 8,2 55,3 55,5 55,6 31,2 35,3 39,9 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

Deutz BA 12M 816

0,5

Deutz KHD BV 8M

1,2

Mitsubishi

0,6

Pembangkit Sewa

Sewa HSD

2,0

Sewa Mesin Pemda

0,8

PLTGB

2,5

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

399

400

Neraca Daya Sistem Rengat


Unit GWh MW % MW MW 3,4 2,2 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 5,0 5,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,6 1,3 3,4 8,9 15,3 17,3 63,0 63,1 84,3 95,5 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

PLTD Air Molek

PLTD Danau Raja

Pembangkit Pemda

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTG PLTU MW MW 1,2 1,0 MW 0,9 2,2 18,3 29,0 11,2 10,0 1,2 0,5 14,0 Disupplai dari Grid 150 kV SIS - Tahun 2013 20,0

MTU 12V 2000G 62

MTU 16V 2000G 62

Project Sewa

Sewa Diesel 1

1,00

Sewa Diesel 2

1,00

Sewa Diesel 3

1,00

Tambahan Pembangkit

PLN

Rengat

IPP

IPP Kemitran

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Tembilahan


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 6,0 6,0 6,0 6,0 0,8 0,8 3,0 3,0 0,5 0,5 0,5 0,5 1,6 1,6 1,6 1,6 1,58 1,54 1,50 1,46 0,19 0,18 0,18 0,17 1,80 1,76 1,71 1,67 0,51 0,50 0,49 0,48 1,59 1,69 1,79 1,89 7,79 7,79 7,79 7,79 11,8 13,3 15,0 16,4 59,5 59,6 59,8 59,9 61,4 69,6 78,6 86,1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

CadanganPasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

SWD

0,34

Deutz KHD BV 8M

1,20

Yanmar

0,77

Yanmar

0,80

Pembangkit Pemda

Komatsu

0,40

Relokasi Ex Tlk Kuantan

PLTD

0,26

Pembangkit Sewa

Sewa Mesin 2 (HSD)

3,00

Sewa Mesin 3 (HSD)

0,80

Sewa Genset (MFO)

Tambahan Pembangkit PLTU MW MW 1,2 0,5 MW 2,5 1,2 0,5 0,9 1,7 1,7 16,0 15,9 14,00 Di pasok dari grid 150 kV. Tehun 2015 26,0 8,2 7,0 1,2 2,8 25,9 8,2 7,0 1,2 1,3

PLN

Tembilahan

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

401

402

Neraca Daya Sistem Kuala Enok


Unit GWh MW % MW MW PLTD PLTD PLTD 2,0 3,0 0,2 0,83 0,81 0,79 0,79 0,79 0,79 0,79 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 0,77 0,79 1,2 1,3 1,5 1,6 1,8 1,9 2,1 2,2 50,2 50,4 50,5 50,6 50,7 50,8 50,9 51,0 51,2 2,4 1,6 0,77 0,79 5,1 5,8 6,6 7,2 7,8 8,5 9,2 9,9 10,7 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 11,6 51,3 2,6 1,6 0,77 0,79

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

Mitsubishi S6U

Catterpilar

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 Di pasok dari grid 150 kV, Tahun 2013 MW MW 0,6 0,0 MW 1,0 0,9 0,6 1,0 0,6 1,6 2,8 3,8

Sewa

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

PLN

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Lampiran A14.4
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED PROVINSI KEPULAUAN RIAU

404

Neraca Daya Sistem Bintan


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD 8,0 8,0 8,0 1,2 1,2 1,2 27,9 27,9 27,9 10,6 10,6 10,7 40,9 40,9 40,9 47,2 52,7 85,7 91,9 114,4 121,7 129,5 137,9 69,3 69,0 69,8 72,4 74,8 76,9 78,1 78,6 78,6 146,8 286,6 318,3 524,1 582,9 749,4 819,8 886,1 948,8 1.010,3 1.077,2 78,6 156,4 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

PLTD Tanjung Pinang

PLTD Tanjung Uban

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU MW MW MW % 45 30 68 68 10 40 125 46 134 46 174 52 174 43 10 30 30 10 10 184 42 10 194 41 209 42 234 50 10 7 7 15 15 30

Pembangkit Sewa Tanjung Uban

Tambahan Pembangkit

SEWA

Sewa PLTU PT Cap.Tur

PLN

Tanjung Uban

Tanjung Pinang 3

IPP

Tanjung Pinang 1 (TLB)

Tanjung Pinang 2 (FTP2)

Supplai dari Batam (Peaking)

Supplai dari batam (Base)

Jumlah Kapasitas

Reserve Margin

Neraca Daya Tanjung Pinang


Unit GWh % MW MW MW 11,2 11,9 11,9 38,9 38,9 38,9 42,4 47,2 52,2 57,5 63,4 69,6 76,2 83,2 90,6 69,2 68,9 69,6 72,2 74,6 76,7 77,9 78,4 78,5 257,1 248,6 318,3 363,8 413,8 467,4 520,0 571,3 623,2 680,2 78,8 98,5 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN PLTD PLTD PLTD PLTD 9,8 9,5 8,0 7,8 1,8 1,7 8,2 8,0

Manufacture

MAK 8M

MAK 6M

Allen

Mitsubishi

Tambahan Pembangkit PLTU 30,0 30,0

SEWA

Sewa PLTU PT CTI

PLN PLTU 30,0

PLTU Tanjung Pinang III

IPP PLTU PLTU MW MW MW MW MW 3,3 1,0 1,0 2,2 15,0 15,0 16,0 16,0 61,7 61,0 30,0 30 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam

Tanjung Pinang I (TLB)

Tanjung Pinang II (FTP2)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

405

406

Neraca Daya Tanjung Uban


Unit GWh % MW MW 0,92 PLTD 0,12 0,11 0,88 0,86 0,11 0,11 0,94 2,02 2,02 4,8 5,5 6,2 7,0 8,0 9,1 10,3 11,6 70,2 70,4 71,5 74,4 76,8 78,9 79,9 80,1 79,1 13,1 29,5 33,7 38,8 45,8 53,8 62,7 71,9 81,6 91,1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 100,8 77,5 14,9

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

Manufacture

Size

Jlh unit

MWM

0,2

Perkins

0,3

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTU MW MW 1,2 0,3 MW 2,8 1,2 0,3 2,1 1,5 1,5 9,1 9,1 14,0 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0

Deutz

1,2

Volvo

0,3

Pembangkit Sewa

Sewa Genset

1,0

BI Energi PT BIIE MFO

2,0

Sewa Mesin (HSD)

1,0

Sewa mesin (HSD)

2,0

Project PLN

PLTU Tanjung Uban

7,0

Kapasitas Efektif

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Tanjung Balai Karimun


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 4,2 7,2 1,5 19,2 20,9 22,7 24,6 26,8 29,1 31,6 34,2 69,9 70,4 71,8 75,0 77,9 80,3 81,7 82,3 81,5 37,0 13,2 4,2 7,2 1,8 117,4 128,9 142,8 161,9 182,7 204,7 226,0 246,4 264,4 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 281,4 80,2 40,0 13,2 4,2 7,2 1,8

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

MAK 8M 453B

Allen

Pembangkit Sewa PLTD PLTD PLTD 3 5 5 4 4 4 2 2 2

Sewa Mesin (HSD)

Sewa Mesin (HSD)

Sewa Mesin (HSD)

Tambahan Pembangkit PLTU PLTU PLTU PLTU MW MW 7,0 3,0 MW 2,8 7,0 3,0 3,1 10,0 10,0 32,0 34,0 34,0 10,0 7,0 3,0 1,3 14 44,0 10,0 7,0 3,0 9,4 51,0 10,0 7,0 3,0 14,2 51,0 10,0 7,0 3,0 11,9 51,0 10,0 7,0 3,0 9,4 51,0 10,0 7,0 3,0 6,8 61,0 17,0 10,0 7,0 7,0 71,0 17,0 10,0 7,0 14,0 7 14 7 10 10

PLN

TB. Karimun #1.2 (FTP1)

TB. Karimun #3.4

TB. Karimun - 2

IPP

TB. Karimun (Terkendala)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

407

408

Neraca Daya Sistem Tanjung Batu


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD 2,0 2,0 2,0 5,0 5,0 0,80 0,80 0,80 0,80 0,80 0,28 0,28 0,28 0,28 0,28 0,57 0,57 0,57 0,57 0,57 1,65 1,65 1,65 1,65 1,65 6,3 6,9 7,4 8,0 8,6 9,3 10,1 10,8 55,1 55,7 57,0 59,7 62,1 64,2 65,5 66,1 65,8 11,7 30,5 33,4 36,9 41,8 47,0 52,5 57,8 62,8 67,2 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 71,4 64,9 12,6

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

Komatsu

Deutz BA 12M

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 14,0 PLTU PLTGB MW MW 1,1 0,3 MW 0,4 0,3 7,8 1,1 1,4 1,4 8,1 16,1 11,1 1,4 1,1 0,3 2,3 8,0 23,1 11,1 1,4 1,1 0,3 23,1 8,1 7,0 1,1 6,3 22,0 8,1 7,0 1,1 4,6 22,0 8,1 7,0 1,1 3,8 22,0 8,1 7,0 1,1 3,1 22,0 8,1 7,0 1,1 2,2 22,0 8,1 7,0 1,1 1,3

Sewa

Sewa Diesel

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

PLN

Tanjung Batu Baru

IPP

Tanjung Batu (FTP2)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Dabo Singkep


Unit GWh % MW MW 0,74 PLTD PLTD PLTD PLTD 3,0 3,0 3,0 2,0 2,0 0,78 0,76 0,76 0,76 0,76 0,76 0,93 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,90 0,76 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 4,1 4,4 4,7 5,0 5,4 5,8 6,1 6,6 2,4 0,78 0,90 0,76 55,4 56,1 57,5 60,3 62,9 65,2 66,7 67,4 19,9 21,6 23,7 26,6 29,7 32,9 35,9 38,7 41,1 67,2 7,0 2,4 0,78 0,90 0,76 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 43,2 66,4 7,4 2,4 0,78 0,90 0,76

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Kapasitas

Pembangkit PLN

MAK

MTU

Pembangkit Sewa

Sewa Genset

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit PLTGB MW MW 1,2 0,6 MW 0,8 0,6 7,1 1,2 1,8 1,8 6,7 12,7 10,7 1,8 1,2 0,6 4,8 6,0 7,7 1,8 1,2 0,6 1,4 7,7 1,8 1,2 0,6 0,7 7,7 1,8 1,2 0,6 0,3 7,7 1,8 1,2 0,6 0,3 3,0 10,7 1,8 1,2 0,6 2,9 10,7 1,8 1,2 0,6 2,5 10,7 1,8 1,2 0,6 2,0

PLN

Dabo Singkep

Kapasitas Efektif

Cadangan

Pemelihraan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

409

410

Neraca Daya Sistem Ranai


Unit GWh % MW MW MW 1,00 0,14 PLTD PLTD 6,0 6,0 6,0 1,8 1,8 1,8 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0,14 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 0,06 1,00 0,14 3,1 3,4 3,7 4,0 4,3 4,6 5,0 5,3 64,6 65,0 66,4 69,3 71,9 74,2 75,5 76,0 75,3 5,7 1,20 0,06 1,00 0,14 17,8 19,4 21,3 24,0 26,9 29,9 32,7 35,4 37,7 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 39,9 74,1 6,1 1,20 0,06 1,00 0,14

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

Daihatsu

Komatshu

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTU MW MW MW MW MW 5,1 4,8 0,1 0,1 0,6 0,6 0,7 0,7 7,6 7,0 0,6 11,7 8,9 8,9 22,9 14,0 15,1 7,6 7,0 0,6 3,6 15,1 7,6 7,0 0,6 3,3 15,1 7,6 7,0 0,6 2,9 15,1 7,6 7,0 0,6 2,6 15,1 7,6 7,0 0,6 2,2 15,1 7,6 7,0 0,6 1,8 15,1 7,6 7,0 0,6 1,4

Project Sewa

SEWA Perusda

SEWA MFO

Tambahan Pembangkit

PLN

Natuna

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Belakang Padang


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD 0,98 0,15 0,08 0,32 1,52 1,20 1,20 1,20 1,20 1,52 1,52 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,9 2,1 2,2 2,4 2,5 2,7 2,9 55,3 56,5 58,4 61,8 65,0 68,0 70,1 9,3 10,2 11,3 12,7 14,3 16,0 17,7 19,3 71,5 3,1 1,20 1,20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 20,6 71,8 3,3 1,20 1,20 2020 21,9 71,6 3,5 1,20 1,20

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

Deutz

0,10

MWM

0,22

Yanmar

0,80

Tambahan Pembangkit PLTD MW MW MW MW MW 0,5 0,2 0,6 0,8 3,2 2,0 Disuplai dari Grid 20 kV kabel Laut Batam

PLN

Relokasi

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

411

Lampiran A14.5
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED PROVINSI BANGKA BELITUNG

414

Neraca Daya Sistem Bangka


Unit
GWh MW % MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD MW PLTD PLTD PLTD PLTU 30 60 60 12 12 13 60 60 60 60 60 16 16 16 17 17 17 45 45,7 75 60 60 60 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 0,3 0,4 0,5 0,7 0,7 0,8 3,7 3,7 4,3 4,3 3,1 3,1 3,1 1,0 5,0 60 2,9 2,9 2,9 2,9 0,0 0,0 0,0 4,0 4,0 2,1 2,1 2,1 2,1 2,1 24,0 24,0 24,0 24,0 17,0 17,0 17,0 39,9 40,0 38,8 39,0 26,2 26,2 26,2 26,2 17,0 2,1 0,0 3,1 1,1 5,0 60 85,2 85,0 113,8 99,0 86,2 86,2 86,2 86,2 65,8 65,8 65,8 65,9 65,9 66,0 66,0 66,0 66,1 86,2 26,2 17,0 2,1 0,0 3,1 1,1 5,0 60 97,2 109,2 123,9 139,2 151,0 165,8 184,3 208,1 238,3 560,0 629,3 714,7 803,4 871,9 957,8 1.065,6 1.203,8 1.379,2 1.602,7 276,7 66,1 86,2 26,2 17,0 2,1 0,0 3,1 1,1 5,0 60

Pasokan/Kebutuhan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan

Kapasitas Terpasang

PLN

Merawang

Mentok

Koba*)

Toboali

Dari Sistem Isolated

Mirrless (Relokasi dan Sukamerindu)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


PLTD PLTD PLTD PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU MW % 153 57 153 40 181 46 14 195 40 239 58 269 46 269 46 319 53 349 47 399 44 30 30 60 14 30 30 30 2,5 5 2,5 20 20 20

Sewa PLTD

Sewa PLTD HSD terbesar 1

Sewa PLTD HSD terbesar 2

Sewa PLTD HSD terbesar 3

Bangka (Sewa)

Tambahan Pembangkit

PLN

Relokasi Mesin Miirless dari Pulau Baai

Relokasi Mesin Batam ke Toboali

Relokasi mesin Batam ke Mentok

Bangka IV (Peaker)

Air Anyer (FTP 1)

Mentok

Bangka - 3

Bangka - 5

IPP

Bangka (FTP 2)

Toboali

Jumlah Kapasitas

Reserve Margin

Neraca Daya Sistem Belitung


Unit GWh MW % 65,8 65,8 65,8 65,9 65,9 66,0 66,0 66,0 32,4 36,4 41,3 46,4 50,3 55,3 61,4 69,4 79,4 66,1 186,7 209,8 238,2 267,8 290,6 319,3 355,2 401,3 459,7 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 534,2 92,2 66,1

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Beban Puncak

Load Faktor

Pasokan MW 43,5 16,5 13,5 3,0 7 20 20 11 7 7 7 7 7 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 6,0 3,0 7 36,0 27,0 16,0 16,0 16,0 16,0 MW PLTD PLTD PLTU PLTD 16,0 9,0 6,0 3,0 7 16,0 9,0 6,0 3,0 7 16,0 9,0 6,0 3,0 7

Kapasitas Terpasang

PLN

Pilang

Manggar

IPP

Biomass

Sewa

Tambahan Kapasitas PLTU PLTU PLTU PLTG PLTGB MW % 34 44 53 44 5 65 57 71 53 88 75 88 59 98 59 108 56 125 57 142 54 10 10 17 17 17 17 17 17

PLN

Belitung Baru (FTP1)

Belirung - 3

Belitung -4

Belitung Peaker

IPP

Belitung - 2

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Jumlah Kapasitas

Reserve Margin

415

Lampiran A14.6
NERACA DAYA SISTEM ISOLATED PROVINSI KALIMANTAN BARAT

418

Neraca Daya Sistem Ketapang


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 3,0 3,0 3,0 3,0 7,0 7,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 5,6 5,6 5,6 5,6 5,6 5,6 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 0 0 0 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,0 24,1 24,1 17,1 17,1 14,1 14,1 0,0 0,0 0,0 0 0 0 21,1 24,0 27,0 31,2 33,4 35,6 37,8 40,2 64,1 64,2 64,2 64,2 64,2 64,2 64,2 64,3 64,3 42,8 0,0 0,0 0 0 0 118,6 134,7 151,9 175,7 187,8 200,1 212,9 226,5 240,8 256,0 64,3 45,5 0,0 0,0 0 0 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

DEUTZ

WARTSILA 1

RUSTON 1

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTU PLTU PLTD PLTGB MW MW 3,0 2,8 MW 1,2 5,8 10,0 7,0 3,0 11,1 28,1 45,1 3,0 58,1 17,0 10,0 7,0 14,0 58,1 17,0 10,0 7,0 9,8 55,1 17,0 10,0 7,0 4,7 55,1 17,0 10,0 7,0 2,5 4,0 -3,0 14,0 20,0 Interkoneksi dengan Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa

Sewa

Sewa Diesel

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

PLN

Ketapang (FTP2)

Sewa/IPP

Ketapang (IPP)

Relokasi Sewa Diesel

Sewa Sukadana

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Sambas


Unit
GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0 5,0 5,0 0,7 0,7 0,7 0,7 1,0 1,0 1,5 1,5 1,5 1,5 0,6 0,6 0,5 0,5 0,5 0,5 0,4 0,4 0,3 0,3 0,3 0,3 0,40 0,40 0,00 0,00 15,10 15,10 2,00 2,00 12,4 14,0 15,8 18,3 19,6 20,9 22,2 23,6 25,1 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 71,6 81,4 91,8 106,2 113,5 120,9 128,8 137,0 145,6 154,9 66,2 26,7

Pasokan/Kebutuhan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

SWD 1

0,34

SWD II

0,34

SWD III

0,40

DEUTZ II

0,52

DEUTZ MWM

0,50

MTU (TRAILER)

0,60

DEUTZ MWM KHD

1,50

DEUTZ MWM KHD

1,50

MISTUBISHI

1,00

MTU II

0,70

MTU III

0,70

PLTD Sewa

Sewa Diesel

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

PLN PLTD MW MW 1,5 1,0 MW 1,8 2,5 16,7 18,7 2,5 1,5 1,0 2,2 2,0 2,0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 6,0 6,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0

Relokasi Sewa Diesel

Jumlah Kapasitas

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

419

420

Neraca Daya Sistem Ngabang


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD 3,0 3,0 1,1 1,1 1,6 1,6 0,9 0,9 0,2 0,2 6,6 6,6 4,4 5,0 5,6 6,5 6,9 7,4 7,9 8,3 53,8 53,9 53,9 54,0 54,0 54,1 54,2 54,2 54,3 8,9 20,8 23,6 26,6 30,7 32,9 35,0 37,3 39,6 42,1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 44,8 54,4 9,4

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

MERCEDES (MTU)

MITSUBISHI

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTGB MW MW 1,6 1,1 MW 5,5 4,9 1,1 1,6 2,7 2,7 12,6 12,6 6,0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa -6

MERCEDES (MTU)

Sewa

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

PLN

Sewa PLTGB

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Sanggau


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0 6,0 6,0 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 0,3 0,3 0,3 14,1 14,4 8,4 2,0 0,0 0,0 0,0 0,0 12,6 14,4 16,2 18,7 20,0 21,4 22,7 24,2 25,7 0,0 67,5 67,5 67,5 67,5 67,5 67,5 67,4 67,4 67,4 74,7 84,9 95,8 110,8 118,5 126,2 134,4 143,0 152,1 161,7 67,4 27,4 0,0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

SWD BBI

1,2

SWD BBI

1,2

DEUTZ MWM

0,8

MTU

0,8

MITSUBISHI

1,2

MITSUBISHI

1,2

PLTD Sewa

Sewa Diesel

Sewa Diesel

Temabahan Pembangkit PLTU PLTD MW MW 1,2 1,0 MW 1,5 1,2 0,8 7,0 2,2 8,2 16,4 23,4 24,4 8,2 7,0 1,2 0,0 2,0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 18,0 16,0 1,60 16,0 16,0 16,0 16,0 7,0 7,0

PLN

Sanggau

Sewa

Relokasi Sewa Diesel

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

421

422

Neraca Daya Sistem Sintang


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 6,0 6,0 1,3 1,3 1,3 1,3 1,3 1,3 1,1 1,1 1,1 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,2 1,2 1,2 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 15,9 15,9 9,9 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 12,7 14,4 16,3 18,8 20,1 21,4 22,8 24,2 25,8 0,0 0,0 64,2 64,3 64,3 64,3 64,3 64,4 64,4 64,4 64,5 71,4 81,1 91,5 105,9 113,3 120,8 128,6 136,9 145,6 154,9 64,5 27,4 0,0 0,0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

SWD BBI

SWD BBI

DEUTZ

DEUTZ

DEUTZ

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 PLTU PLTGB MW MW 1,5 1,3 MW 3,4 7,0 1,5 10,0 2,8 8,5 18,9 32,9 3,0 33,9 8,5 7,0 1,5 9,2 14,0 7,0 -3,0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa

MTU

MITSUBISHI

MITSUBISHI

PLTD Sewa

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

PLN

Sintang

Sewa

PLTGB Sewa

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemelihraan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Nanga Pinoh


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 1,0 1,0 1,0 1,0 3,0 3,0 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 6,3 6,3 3,3 3,3 2,3 0,0 0,0 0,0 5,3 6,1 6,8 7,9 8,5 9,0 9,6 10,2 53,6 53,7 53,8 53,8 53,9 54,0 54,1 54,2 25,1 28,6 32,3 37,4 40,0 42,7 45,5 48,5 51,6 54,3 10,8 0,0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 54,9 54,4 11,5 0,0

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

DEUTZ MWM

0,5

DEUTZ MWM

0,5

DEUTZ MWM

0,5

MITSUBISHI

0,8

PLTD Sewa

Sewa Diesel

1,0

Sewa Diesel

1,0

Tambahan Pembangkit PLTGB PLTD MW MW 0,8 0,5 MW 1,7 0,8 0,5 1,0 1,3 1,3 8,3 8,3 11,3 1,3 0,8 0,5 3,2 2,0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 11,3 1,3 0,8 0,5 2,1 10,3 1,3 0,8 0,5 0,6 8,0 8,0 2,0 2,0 2,0 6,0 -6

PLN

Nanga Pinoh

Sewa

Relokasi Sewa Diesel

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

423

424

Neraca Daya Sistem Sekadau


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD 3,0 3,0 3,0 3,0 0,7 0,7 0,7 0,4 0,4 0,4 0,5 0,5 0,5 0,1 0,1 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 4,6 4,6 4,6 3,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 1,5 1,7 1,9 2,1 2,2 2,4 2,5 2,7 44,9 45,0 45,1 45,1 45,2 45,3 45,4 45,5 45,6 2,8 0,0 0,0 5,8 6,6 7,6 8,2 8,7 9,3 9,9 10,6 11,3 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 12,3 45,6 3,1 0,0 0,0

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

DEUTZ MWM

MTU

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa MW MW 1,0 0,7 MW 1,2 1,0 0,7 0,7 0,7 1,0 1,0 1,7 1,7 1,7 4,4 4,4 4,4

MTU

PLTD Sewa

Sewa Diesel

Tambahan Pembangkit

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Operasi

Surplus/Defisit

Neraca Daya Sistem Putussibau


Unit GWh % MW MW MW PLTD PLTD PLTD PLTD 4,0 4,0 4,0 4,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,9 1,0 1,0 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 6,4 6,4 6,4 6,4 3,4 3,4 3,4 3,4 0,1 0,5 0,9 1,0 1,0 4,6 5,2 5,8 6,8 7,2 7,7 8,2 8,7 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 9,3 3,4 0,1 0,5 0,9 1,0 1,0 23,6 26,8 30,3 35,0 37,5 39,9 42,5 45,2 48,1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 51,1 59,2 9,9 0,0 0,0

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan

Produksi Energi

Load Faktor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

Derating Capacity

Pembangkit PLN

DEUTZ MWM

0.50

MTU

0.90

MTU

1.00

Sewa

Putussibau

Tambahan Pembangkit PLTMH PLTGB MW MW 1,0 0,9 MW 0,1 7,5 0,9 1,0 1,9 1,9 1,9 1,0 0,9 6,9 6,6 14,6 14,6 8,0 14,6 1,9 1,0 0,9 5,9 11,6 1,9 1,0 0,9 2,5 11,6 1,9 1,0 0,9 2,0 11,6 1,9 1,0 0,9 1,5 11,6 1,9 1,0 0,9 1,0 11,6 1,9 1,0 0,9 0,4 0,2

PLN

Interkoneksi Grid 150 kV dengan sistem khatulistiwa

Riam Badau

IPP 8,2

Putussibau (FTP2)

Jumlah Kapasitas

Cadangan

Pemeliharaan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Operasi

Surplus/Defisit

425

B1
Sistem interkoneksi kalimantan seltan, tengah dan timur (kalseltengtim)

B1.1. B1.2. B1.3. B1.4. B1.5. B1.6. B1.7. B1.8. B1.9.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

B1.10. Program Listrik Perdesaan B1.11. Program Energi Baru dan Terbarukan B1.12. Proyeksi Kebutuhan Investasi PENJELASAN LAMPIRAN B1

Lampiran B1.1
PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

432
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2.122 67 362 424 504 575 623 680 737 799 67 67 68 69 69 70 70 2.475 2.980 3.434 3.746 4.118 4.499 4.919 5.381 71 868 5.892 71 942 1.757 70 288 371 460 544 610 666 69 69 69 69 69 2.246 2.787 3.282 3.686 4.021 4.371 69 723 4.744 69 785 5.148 69 852 5.571 69 922 3.879 68 650 795 964 1.119 68 68 69 4.720 5.767 6.715 7.432 69 1.233 8.139 69 1.346 8.870 69 1.460 9.663 70 1.584 10.530 70 1.719 11.463 70 1.864

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Kalseltengtim

SISTEM

Wil KALSELTENG

Sistem Barito

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

Wil KALTIM

Sistem Mahakam

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

INTERKONEKSI

KALSELTENG & KALTIM

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

Lampiran B1.2
NERACA DAYA SISTEM INTERKONEKSI KALISELTENGTIM

434

Grafik Neraca Daya Sistem Kalseltengtim

3,500
PLTG IPP

3,000

PLTG PLN PLTA PLN PLTGU IPP

2,500

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2,000

1,500

PLTU PLN PLTU IPP

1,000

500

Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN

PLTU Sewa

439

Neraca Daya Sistem Kalseltengtim


Unit GWh % MW MW 479 259 MW MW MW MW 82 30 90 20 102 30 90 174 174 146 85 85 85 85 85 85 85 85 85 259 231 85 85 85 85 85 85 493 390 360 270 270 270 270 27 738 752 621 445 355 355 355 355 355 355 270 85 85 650 795 964 1.119 1.233 1.346 1.460 1.584 1.719 1.864 68,1 67,8 68,3 68,5 68,8 69,0 69,4 69,6 69,9 70,2 3.879 4.720 5.767 6.715 7.432 8.139 8.870 9.663 10.530 11.463 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

NO

Kebutuhan dan Pasokan

Kebutuhan

Produksi

Faktor Beban

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

PLN

SWASTA

IPP

Sewa & Excess Power

Retired & Mothballed

PLTG

PLTD

Tambahan Kapasitas

SEWA PLTG PLTU PLTU 240 150 100

Rencana

PLTG Bontang (Gas Storage)

PLTU Sewa Asam Asam (3 x 50 MW)

PLTU Sewa Kariangau (2 x 120 MW)

PLN PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU PLTG PLTG PLTG PLTA PLTA 65 140 70 70 75 75 50 50 50 220 100 130 60 60

On Going Project

Pulang Pisau (FTP1)

Asam Asam (FTP1)

Kaltim Peaking (APBN)

Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1)

Sampit (APBN)

Rencana

Kaltim (Peaking)

Kalsel (Peaking)

Bangkanai (FTP2)

Kelai (Kaltim)

Kusan

IPP PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU MW % 882 36 1.056 33 1.697 76 1.911 71 2.091 70 2.291 70 200 2.556 75 2.681 69 2.806 63 3.006 61 55 *) 200 50 100 100 14 100 100 82

On Going

Mahakam (Senipah)

Pangkalan Bun

Rencana

Kalsel -1 (FTP2)

Embalut (Ekspansi)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kaltim - 2 (FTP2)

Kalting (MT)

Kalteng - 1

Kaltim (PPP)

435

Jumlah Pasokan (Terpasang)

Reserve Margin (Terpasang)

*) Kemungkinan bisa masuk lebih awal 1 unit tahun 2013 **) Kemungkinan tidak jalan. tidak diperhitungkan dalam reserve margin

Lampiran B1.3
PROYEK-PROYEK IPP TERKENDALA SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

B1.3 Proyek-proyek IPP Yang Terkendala


Dalam pengelolaan proyek IPP terdapat beberapa proyek pembangkit IPP yang Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPTL) nya mengalami kendala. IPP dengan PPTL terkendala dikategorikan dalam 3 kategori. yaitu: Kategori 1: tahap operasi yaitu tahap dimana IPP sudah beroperasi namun bermasalah. Kategori 2: tahap konstruksi dimana IPP sudah mencapai financial closing tapi tidak kunjung konstruksi. Kategori 3: tahap pendanaan dimana IPP sudah memiliki PPTL namun tidak kunjung mencapai financial closing (FC). Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Kalseltengtim adalah. PLTU Embalut 2x22.5 MW masuk dalam kategori 1 PLTU Tanah Grogot 2x7 MW masuk dalam kategori 2 PLTU Pangkalan Bun 2x5.5 MW masuk dalam kategori 2 PLTA MT Kaltim 2x27.5 MW masuk dalam kategori 3 Saat ini penyelesaian IPP terkendala tersebut sedang diproses oleh Komite Direktur untuk IPP dan Kerjasama Kemitraan dan sebagian diantaranya sudah dalam tahap penyelesaian akhir.

438

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran B1.4
NERACA ENERGI SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

440

Proyeksi Neraca Energi Sistem Kalseltengtim


(GWh)
2012 2.365 333 156 705 734 106 106 106 106 300 456 5 247 238 234 230 155 156 155 156 156 235 300 1.309 1.628 1.658 1.444 1.445 3.172 4.314 5.065 5.884 6.599 2013 2014 2015 2016 2017 2018 7.219 1.442 234 227 540 2019 7.770 1.442 310 229 780 2020 8.686 1.448 311 238 780

Jenis

2011

Batubara

1.547

Gas -

185

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 -

LNG

HSD

778

MFO

998

Geot.

Hydro

106

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Kalseltengtim


2012 1.594 5 2 233 198 124 10 7 4 52 19 19 15 2 1 1 1 1 18 6 12 13 13 14 13 2.259 3.171 3.648 4.012 4.546 2013 2014 2015 2016 2017 2018 4.928 13 1 14 3 2019 5.319 13 2 15 3 2020 5.872 13 3 18 6 -

Jenis

Satuan

2011

Batubara 3 -

10^3 ton

1.054

Gas

bcf

LNG

HSD

10^3 kl

271

MFO -

10^3 kl

242

Geot.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Hydro

441

Lampiran B1.5
CAPACITY BALANCE GARDU INDUK SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

444
2011 Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) 2020 Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) 60 31,4 58% 10 12.00 22 6 10 20 30 66 12 15 20 47 60 28,1 52% 60 26,2 49% 40 14,3 40% 20 10,4 23% 24% 11,0 12,5 28% 14,4 32% 15,5 34% 17,1 38% 18,7 42% 20,5 46% 22,5 50% 24,7 55% 39% 14,2 15,0 42% 16,3 45% 16,6 46% 17,3 48% 17,9 50% 18,5 51% 19,1 53% 19,8 55% 51% 36% 27,6 19,5 22,4 42% 24,1 45% 26,6 49% 29,1 54% 31,9 59% 35,0 65% 38,4 36% 60,0 54% 61% 70% 29,3 33,0 37,7 40,2 37% 60,0 43,9 41% 58,6 54% 63,6 59% 69,1 64% 75,0 69% 50% 51% 50% 65% 68% 21,0 21,6 21,2 27,4 28,9 31,3 45% uprating beban pindah ke GI Trisakti 150 30,0 22,6 33% 24,3 35% 26,2 38% 28,2 41% 59% 61% 49% 55% 58% 62% 35,3 36,1 40,0 30,0 44,8 46,8 50,3 uprating dari 6 MVA 5,5 66% 57,0 52% 30,0 uprating 10 MVA 60,8 55% 64,7 65% 45% 42% 45% 50% 51% 54% 56% 8,2 8,3 9,0 9,9 10,1 10,7 11,1 11,6 59% 12,2 61% 12,7 64% 61% 64% 74% 70% 77% 42% 33,1 34,6 39,9 37,7 41,6 45,5 60,0 49,8 46% 54,7 51% 59,9 55%

Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah

CAPACITY

NO

NAMA (perGI.xls)GI

TEG (kV)

Jml

Kap (MVA)

Total Kap (MVA)

(perGI.xls) GI CEMPAKA

150/20

60

- Beban Puncak (MW)

GI CEMPAKA

70/20

10

- Beban Puncak (MW)

2.0

6.0

GI BANJARMASIN

70/20

- Beban Puncak (MW)

1.0

10.0

20

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

30

GI TRISAKTI

70/20

- Beban Puncak (MW)

1.0

15.0

10

GI TRISAKTI

150/20

60

- Beban Puncak (MW)

GI MANTUIL

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

GI SEBERANG BARITO

150/20

20

- Beban Puncak (MW)

GI SELAT

150/20

20

- Beban Puncak (MW)

Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah


2011 Peak Load (MW) 15,3 28% 60 29,3 54% 30 17,6 65% 30 15,3 57% 20 12,7 35% 30 11,1 41% 30 12,3 46% 10 3,6 40% 41% 45% 3,7 4,0 4,5 50% 4,7 52% 5,0 56% 5,3 59% 5,6 62% 6,0 66% 6,3 23% 47% 53% 12,7 14,2 16,1 59% 16,9 63% 18,4 68% 19,7 37% 30,0 21,2 39% 22,8 42% 24,6 45% uprating dari 30,00 43% 48% 55% 11,6 13,0 14,9 15,9 59% 17,4 64% 18,8 35% 30,0 20,4 38% 22,2 41% 24,1 45% 37% 41% 46% 49% 13,2 14,7 16,6 17,6 19,0 53% 20,4 57% 22,0 61% 23,7 66% 25,5 40% 30,0 47% 53% 60% 64% 12,7 14,3 16,3 17,4 19,0 35% 30,0 20,6 38% 22,4 41% 24,3 45% 26,4 49% 68% 38% 44% 47% 51% 18,4 20,7 30,0 23,7 25,2 27,6 koordinasi dg pikitring change amuntai 29,9 55% 32,5 60% 35,3 65% 38,6 35% 60,0 56% 47% 53% 56% 60% 65% 30,3 25,2 28,5 30,1 32,6 35,0 37,6 46% 68% 0,77 56% 60% 66% 52% 36,7 41,8 30,2 32,4 35,8 28,8 30,9 57% Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) 33,9 63% uprating dari 30 MVA 60,00 40,5 50% 43,6 54% Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 37,2 69% 2020 Add Trafo (MVA)

CAPACITY

No.

NAMA (perGI.xls)GI

TEG (kV) 60

Jml

Kap (MVA)

Total Kap (MVA)

GI PALANGKARAYA

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

10

GI BARIKIN

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

11

GI TANJUNG

150/20

30

-Beban Puncak (MW)

12

GI AMUNTAI

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

13

GI ASAM ASAM

150/20

10

- Beban Puncak (MW)

14

GI PELAIHARI

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

15

GI RANTAU/BINUANG

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

16

GI TAPPING PULANG PISAU

150/20

10

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

- Beban Pucnak (MW)

445

446
2011 Total Kap (MVA) 30 0,0 0% 30 10,3 38% 30 0,0 0% 30 0,00 0% 30 0,0 0% 30 0,0 0% 30 0,0 0% 60 0,0 0% 0% 0% 0,0 0,0 18,1 33% 19,4 36% 21,4 40% 34,4 64% 37,7 70% 41,4 38% 60,0 45,4 42% 0% 0% 0,0 0,0 9,1 34% 9,8 36% 10,8 40% 11,8 44% 12,9 48% 14,2 53% 15,6 58% 0% 0% 45% 0,0 0,0 12,1 13,1 49% 14,6 54% 16,1 60% 17,8 66% 19,7 37% 30,0 21,8 40% 61% 70% 37% 16,4 18,8 20,2 30,0 22,2 41% 24,1 45% 26,3 49% 28,7 53% 31,4 58% 38% 44% 51% 54% 10,4 11,8 13,6 14,7 16,2 60% 17,7 66% 19,4 36% 30,0 21,3 39% 23,3 43% 70% 40% 46% 49% 54% 18,8 21,4 30,0 24,7 26,5 29,3 32,1 59% 35,1 43% 40% 46% 53% 57% 63% 34% 10,8 12,3 147,2 15,3 16,9 18,5 30,0 20,2 37% 22,2 41% uprating dari 30 MVA 60,0 38,5 48% 42,2 52% 24,3 45% 53% 60% 68% 36% 40% 43% 14,3 16,1 18,4 19,6 30,0 21,4 23,3 25,2 47% 27,4 51% 29,8 55% Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) 2020 Peak Load (MW) Add Trafo (MVA)

Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah

CAPACITY

NO

NAMA (perGI.xls)GI

TEG (kV)

Jml

Kap (MVA)

17

GI BATULICIN

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

18

GI KAYU TANGI

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

19

GI SAMPIT

150/20

30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

- Beban Puncak (MW)

20

GI KASONGAN

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

21

GI PANGKALAN BUN

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

22

GI BUNTOK/AMPAH

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

23

GI MUARA TEWEH

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

24

GI PALANGKARAYA II (New)

150/20

60

- Beban Puncak (MW)

Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah


2011 Peak Load (MW) 0,0 0% 30 8,6 0% 60 14,9 0% 30 14,6 0% 302,6 0,0 302,6 327,6 0,92 1,01 1,01 1,06 371,6 443,6 507,8 374,6 448,9 537,5 0,0 0,0 0,0 0,0 374,6 0,0 448,9 90,0 537,5 30,0 578,6 0,0 578,6 556,6 1,04 0% 54% 33% 36% 120,0 17,7 30,0 19,7 20,6 38% 630,6 0,0 630,6 608,3 1,04 60,0 21,4 40% 682,5 0,0 682,5 660,3 1,03 150,0 22,3 41% 739,0 0,0 739,0 716,9 1,03 180,0 23,2 43% 801,7 0,0 801,7 779,8 1,03 90,0 24,1 45% 869,0 0,0 869,0 847,4 1,03 180 0% 28% 32% 44% 48% 17,1 23,5 25,8 28,0 52% 30,5 56% 33,2 61% 36,1 67% 0% 32% 37% 40% 44% 10,0 10,7 11,8 12,9 48% 14,2 53% 15,6 58% 17,0 63% 0% 0% 0% 22% 23% 25% 0,0 0,0 0,0 6,0 6,3 6,8 7,4 27% Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) Add Trafo (MVA) Peak Load (MW) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Add Trafo (MVA) 2019 Peak Load (MW) 8,0 30% Add Trafo (MVA) 2020 Peak Load (MW) 8,7 32% Add Trafo (MVA)

CAPACITY

NO

NAMA (perGI.xls)GI

TEG (kV) 30

Jml

Kap (MVA)

Total Kap (MVA)

25

GI KUALA KURUN

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

26

GI KANDANGAN

150/20

30

- Beban Puncak (MW)

27

GI BANDARA

150/20

60

- Beban Pucnak (MW)

28

GI KOTABARU

70/20

30

- Beban Puncak (MW)

TOTAL BEBAN GI

GI KONSUMEN BESAR

GI UMUM

Beban Puncak GI

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

DIVERSITY FACTOR

447

448

Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur


2011 Peak (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) Peak Peak Peak Peak Peak Peak Peak Peak 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak (MW) 2020

Capacity

NO Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA)

Substation

No

Unit Size (MVA)

Total

(MVA)

Add Transf (MVA)

Add Transf (MVA)

SISTEM MAHAKAM uprating 30 MVA 57,4 71% 60% 61% 72% 72% 72% 72% 64,9 60 66,0 77,5 77,5 77,5 77,5 77,5 72% 77,5 72% 77,5 72%

GI Gn Malang/Industri

60

110

1992

150/20

20

30

BEBAN LEWAT PLTD 36,2 31% 41% 35% 42% 48% 52% 57% 40,9 41,4 48,6 55,7 60,7 66,6 72,9 62% 79,1 68% 86,4 74%

GI Batakan/Manggar Sari

20

130

1992

150/20

30

60

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


24,3 45% 35,5 66% 84,6 52% 51% 60% 70% 60 83,0 97,0 112,6 126,0 78% 127,9 79% 121,5 75% 117,3 72% 104,8 65% 75% 44% 52% 59% 40,3 47,4 60 55,7 63,7 51% 53% 63% 72% 78% 69,5 64% 27,5 28,8 33,8 38,7 42,2 26,2 49% 76,2 71% 30,6 57% 83,5 77% 35,0 65% 90,6 56% 9,7 18% 20% 24% 11,0 12,9 15,2 28% 17,4 32% 19,0 35% 20,8 39% 22,8 42% 24,7 46% 12,1 27% 31% 36% 20 13,7 16,2 19,0 42% 21,8 53% 23,7 58% 26,0 63% 28,5 69% 30,9 75%

BEBAN LEWAT PLTD 40,0 74% 60 98,9 61%

GI Karang Joang/Giri Rejo

30

60

1993

150/20

30

GI Sei Keledang/Harapan baru

30

60

1993

150/20

30

BEBAN LEWAT PLTD

GI Karang Asem/Tengkawang

30

120

84,7 52%

1996

150/20

30

60 27,0 50%

BEBAN LEWAT PLTD

GI Tanjung Batu/Embalut

30

60

1996

150/20

30

BEBAN LEWAT PLTD 33,8 75%

GI Palaran/Bukuan

30

30

1996

15020

Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur


2011 Peak (MW) 18,4 68% 40% 47% 54% 59% 64% 71% 21,7 30 25,4 29,1 31,8 34,8 38,1 (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) Peak Peak Peak Peak Peak Peak Peak (MW) 41,4 77% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Peak (MW) 45,2 84%

Capacity

NO Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA)

Substation

No

Unit Size (MVA)

Total

Peak

(MVA)

(MW)

Add Transf (MVA)

Add Transf (MVA) 30

GI Tenggarong/Bukit Biru

30

30

16,2

2007

150/20

60%

Rencana Tambahan GI

9 30 49% 32% 42% 55% 77% 50% 13,1 17,2 30 22,5 29,4 41,5 54,4

GI Sambutan

10,0

60

71,3 66%

93,4 58%

60

122,3 75%

37%

10 14,2 53% 19,7 73% 14,5 54% 10,7 40% 44% 48% 30 11,8 13,0 59% 67% 14,9 55% 11,2 42% 30 30 15,9 18,2 47% 60% 69% 30 25,4 30 32,6 37,1 57% 62% 71% 78% 40,7 75% 19,9 74% 16,3 60% 19,2 71% 30 15,4 16,8 19,2 21,1

GI Kuora/Tanah Grogot 23,2 43% 44,5 55% 21,8 40% 17,9 66% 48,6 60% 60 30 30 30 25,4 47% 48,5 60% 23,8 44% 19,5 72% 58,7 72% 27,8 51% 53,0 65% 26,0 48% 21,3 40% 68,6 51% 60 30 30,4 56% 57,7 71% 28,4 53% 23,3 43% 80,2 59%

2011

150/20

11

GI Bontang

2011

150/20

12

GI Sangatta

2012

150/20

13

Petung

2011

150/20

14

GI New Industri/Balikpapan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2013

150/20

449

450

Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur


2011 Peak (MW) 11,0 20% 20,9 78% 10,0 37% 30 46% 52% 57% 62% 30 24,6 30 28,1 30,7 33,6 38,8 68% 15,1 56% 22% 24% 26% 29% 31% 34% 60 12,0 13,1 14,2 15,5 16,9 18,4 (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) (MW) Peak Peak Peak Peak Peak Peak Peak Peak (MW) 20,1 37% 40,0 74% 22,8 42% 30 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak (MW) 21,9 41% 43,7 81% 34,4 64% 2020

Capacity

NO Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA) Add Transf (MVA)

Substation

No

Unit Size (MVA)

Total

(MVA)

Add Transf (MVA)

Add Transf (MVA)

15

GI PLTG Sembera

2012

150/20

16

GI Kariangau

2012

150/20

17

GI New Samarinda

2018

150/20

TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 286,1 275,1 354,2 430,1 508,6 578,3 634,4 368,6 448,5 526,4 602,1 657,1

720,6 693,3

788,9 756,3

857,0 825,4

935,8 897,9

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,01 1,04 20,7 77% 30 22,8 42% 30 24,9 46% 27,2 50% 29,7 55% 10,1 38% 30 11,1 41% 12,2 45% 13,3 49% 14,6 54% 30,9 30.9 1.00 33,9 33.9 1.00 37,1 37.1 1.00 40,5 40.5 1.00 44,3 44.3 1.00

TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN

DIVERSITY FACTOR

1,01

SISTEM BERAU

17

GI Bearu / Tj Redep 32,4 60%

2013

150/20

18

GI Bulungan / Tj Selor

15,9 59%

2011

150/20

TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM

48,3 48.3 1.00

TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN

DIVERSITY FACTOR

Lampiran B1.6
RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

452

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
2012 60 270 60 270 570 210 360 120 330 30 240 30 30 30 450 180 270 120 330 30 240 60 30 120 2.060 120 2.300 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah

Tegangan

2011

500/275 kV

275/150 kV

150/70 kV

150/20 kV

140

70/20 kV

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 1859 80 1.859 958 1.046 240 138 236,5 51,0 0 0 878 1.046 240 138 236,5 51,0 5.235,5 80 5.315,5

Jumlah

140

Tegangan

2011

T/L 500 kV

T/L 275 kV

T/L 150 kV

328

T/L 70 kV

Jumlah

328

Rencana Pengembangan Penyaluran Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur


Ke
Amuntai Kayutangi
2

Provinsi
150 kV 150 kV 150 kV 150 kV
2

Area
2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 2 cct. ACSR 1 x 240 mm 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 2 cct. ACSR 2 x 240 mm 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 4 cct. ACSR 2 x 240 mm
2

Dari
66 42 220 248 284 2 180 6 74 6 100 240 138
2 2

Tegangan
5,87 3,74 26,98 30,41 34,83 0,25 30,00 4,50 6,59 7,48 12,26 29,43 12,28 212.5 346 2
2

Conductor
2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2016 26,06 30,79 0,25 260 344 2 cct. 2 x DOVE 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 100 220 4 31,88 30,62 12,26 26,98 0,36 2017 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 Operasi Operasi Operasi on going on going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned on going on going Planned Planned Planned Planned on going

kms

Juta US$

COD

Status

Sumber
APLN APLN APLN APBN ADB Unall Unall Unall IPP APLN Unall Unall Unall Unall APBN APBN APBN APBN APLN APBN APLN

Kalsel

Kalselteng

Barikin

Kalsel Mantuil Batu Licin Perbatasan Incomer 2 phi (Barikin-Cempaka) Pelaihari-Cempaka-Mantuil Landing Point Batulicin
2

Kalselteng

Seberang Barito

Kalsel

Kalselteng

PLTU Asam-asam (Perpres)

Kalsel 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV


2

Kalselteng

Asam-asam

Kalsel

Kalselteng

Tanjung

Kalsel 2 cct. ACSR 460 mm2 2 cct. ACSR 460 mm 2 cct. ACSR 460 mm2 2 cct. Kabel Laut 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 2 cct. ACSR 2 x 240 mm 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 2 cct. ACSR 2 x 240 mm 2 cct. ACSR 2 x 240 mm

Kalselteng

Rantau

Kalsel

Kalselteng

UP rating Asam-Asam

Kalsel Kotabaru Landing point P. Laut Tanjung Kayutangi Single phi (Cempaka - Rantau) Barikin Sampit Incomer phi (Sampit-P Raya) Buntok Pangakalan Bun Muara Teweh Buntok Incomer 2 phi (P. Raya-Selat) Incomer phi (Selat-P. Raya) Puruk Cahu 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV

Kalselteng

Batu Licin

Kalsel

Kalselteng

Landing point P. Laut

Kalsel

Kalselteng

Landing point Batulicin

Kalsel

Kalselteng

PLTU Kalsel Baru-1 (FTP 2)

Kalsel

Kalselteng

Barikin

Kalsel

Kalselteng

PLTA Kusan

Kalsel

Kalselteng

Reconduktor Cempaka *)

Kalteng

Kalselteng

Palangkaraya

Kalteng

Kalselteng

Kasongan

2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 2 cct. ACSR 2 x 240 mm

Kalteng

Kalselteng

Tanjung

Kalteng

Kalselteng

Sampit

2 cct. ACSR 1 x 240 mm2

Kalteng

Kalselteng

PLTG Bangkanai

Kalteng

Kalselteng

Muara Teweh

Kalteng

Kalselteng

PLTU P. Pisau

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 2 cct. ACSR 2 x 240 mm
2

Kalteng

Kalselteng

Palangkaraya (New)

2 94

0,18 8,37

2014 2014

Planned Propose

Unall APBN

Kalteng

Kalselteng

Muara Teweh

453

454

Rencana Pengembangan Penyaluran Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur


Ke Kuala Kurun Sampit kasongan Kuala Kurun Kuaro
2

Provinsi 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV


2

Area 2cct. ACSR 12 x 240 mm2 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm3 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm
2 2

Dari 196 40 120 240 310 93 180 14 90 6 8 16 30


2

Tegangan 17,44 3,56 10,68 7,60 38,01 11,40 22,07 1,72 11,04 0,74 0,49 1,60 3,70 120 24 110 16 8 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2cct. ACSR 1 x 240 mm
2

Conductor 2014 2014 2014 2015 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 9,29 5,35 8,90 1,96 0,98 90 160 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 260 11,04 14,24 31,88 2014 2014 2014 2017 2017 2018 2018 2018 Planned Planned Planned Planned on going on going Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan

kms

Biaya MUSD COD Status

Sumber Unall APBN APBN Unall ADB ADB APBN APBN IPP APBN APLN APLN APLN IPP APLN Unall APBN Unall IPP Unall Unall

Kalteng

Kalselteng

Puruk Cahu

Kalteng

Kalselteng

PLTU Sampit

Kalteng

Kalselteng

PLTU Kalteng 1

Kalteng

Kalselteng

Kasongan

Kaltim Perbatasan Sambutan Incomer Sambutan - Bontang Incomer Manggar Sari-K. Joang Incomer 2 phi (Karjo-Kuaro) Incomer 2 phi (Karjo-Kuaro) K. Joang Bontang Bukuan/Palaran Bukuan Kota Bangun Sambutan Incomer 2 pi (Senipah-Palaran/Bukuan) Sangatta Tanjung Selor Sangatta 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm 150 kV 2cct. ACSR 2 x Zebra 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm 150 kV 150 kV

Kaltim

Karang Joang

Kaltim

Kaltim

Kuaro

Kaltim

Kaltim

Bontang

Kaltim

Kaltim

GI Sembera

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Up mrating menjadi Twin Hawk 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm2

Kaltim

Kaltim

PLTG Senipah

Kaltim

Kaltim

Petung

Kaltim

Kaltim

PLTU Teluk Balikpapan

Kaltim

Kaltim

Up rating Teluk Balikpapan

Kaltim

Kaltim

PLTU Kaltim 2 (FTP2)

Kaltim

Kaltim

PLTG Senipah

Kaltim

Kaltim

Harapan baru

Kaltim

Kaltim

Tenggarong

Kaltim

Kaltim

New Samarinda

Kaltim

Kaltim

PLTU Kaltim (PPP)

Kaltim

Kaltim

Bontang

Kaltim

Kaltim

Berau

Kaltim

Kaltim

PLTA Kelai

Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur


Tegangan
150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 15020 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 15020 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 60 30 2 LB 2 LB 2 LB 60 30 60 60 30 60 Extension 2 LB Extension 2 LB Extension 30 New 30 2,62 1,39 1,23 1,23 1,26 2,10 1,23 1,23 1,23 1,23 2,10 1,39 2,10 2,10 2,10 2,10 New 60 2,68 Extension 2 LB 1,23 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 Extension 2 LB 1,23 2012 New 30 2,62 2012 Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Planned Proposed Proposed Proposed Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi Extension 2 CB 1,35 2011 On Going Extension 3 CB 1,62 2011 On Going APLN APLN APLN APLN APBN APLN Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall IBRD Unall IBRD IBRD IBRD Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi APLN New 30 2,62 2011 Operasi APBN Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi APBN New 30 2,62 2011 Operasi APBN

Provinsi

Nama Gardu Induk

Baru/Extension

Kap

Biaya MUSD

COD

Status

Sumber

Kalsel

Amuntai (GI baru)

Kalsel

Barikin Ext LB

Kalsel

Kayu Tangi (GI Baru)

Kalsel

Seberang Barito Ext LB

Kalsel

Asam asam Diameter 3 CB

Kalsel

Asam asam Diameter 2 CB

Kalsel

Asam-asam Ext LB

Kalsel

Mantuil Ext LB

Kalsel

Batu Licin (GI Baru)

Kalsel

Asam-asam Ext LB

Kalsel

Tanjung Ext LB (Perbatasan)

Kalsel

Batulicin (IBT)

Kalsel

Kotabaru

Kalsel

Tanjung

Kalsel

Tanjung Ext LB

Kalsel

Tanjung Ext LB (PLTU IPP)

Kalsel

Banjarmasin

Kalsel

Cempaka

Kalsel

Kotabaru

Kalsel

Rantau (Rekonfigurasi)

Kalsel

Rantau (NEW LINE)

Kalsel

Kayutangi

Kalsel

Trisakti

Kalsel

Batulicin

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kalsel

Trisakti IBT

Kalsel

Mantuil

Kalsel

Trisakti (Uprating)

455

Kalsel

Barikin

456

Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur


Tegangan
150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension Extension Extension Extension New Ekst Relocating Extension Extension New Extension 30 60 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 2 LB 30 20 Extension 2 LB Extension 2 LB New 30 2,62 1,23 1,23 2,10 3,34 1,23 1,39 2,62 1,23 1,23 2,62 1,23 2,62 0,52 New 30 2,62 Extension 2 LB 1,23 New 30 2,62 Extension 2 LB 1,23 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2014 2015 2015 2011 2011 2011 New 30 2,62 2012 New 4 LB 5,24 2012 New 30 2,62 2011 On Going On Going On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Planned Planned Proposed Planned Operasi Plan Extension 30 1,39 2017 Proposed Extension 2 LB 1,23 2017 Planned Extension 30 1,39 2017 Planned Unall Unall IBRD APBN APBN APBN APBN APBN APLN APBN APBN APBN APLN Unall unall unall IBRD IBRD Unall APLN IBRD APLN APBN APLN Extension 30 1,39 2017 Planned Unall Extension 30 1,39 2017 Planned Unall Extension 30 1,39 2016 Proposed IBRD

Provinsi

Nama Gardu Induk

Baru/Extension

Kap

Biaya MUSD

COD

Status

Sumber

Kalsel

Amuntai

Kalsel

Rantau

Kalsel

Kayutangi

Kalsel

Asam asam

Kalsel

Rantau Ext LB (Kusan)

Kalsel

Pelaihari

Kalteng

Kasongan

Kalteng

Kasongan

Kalteng

Sampit (GI Baru)

Kalteng

Palangkaraya Ext LB

Kalteng

Palangkalan Bun (GI Baru)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kalteng

Sampit Ext LB

Kalteng

Buntok (GI Baru)

Kalteng

Muara Teweh (GI Baru)

Kalteng

Buntok Ext LB

Kalteng

Muara Teweh Ext LB (PLTGU)

Kalteng

Sampit

Kalteng

Palangkaraya (GI Baru)

Kalteng

Palangkaraya New Ext LB

Kalteng

Pangkalan Bun (GI Bun)

Kalteng

Kuala Kurun (GI Baru)

Kalteng

Muara Teweh Ext LB

Kalteng

Sampit Ext LB (PLTU)

Kalteng

Puruk Cahu

Kaltim

Bukuan/Palaran Ext LB

Kaltim

Sambutan

Kaltim

Bukuan/Palaran

Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur


Tegangan
150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension Extension Extension Extension New New New Extension 30 30 30 30 30 30 60 30 30 Extension 30 New 30 Extension 2 LB Extension 30 1,39 1,23 2,62 1,39 1,38 1,75 2,62 2,62 2,62 1,39 2,10 1,39 1,39 Extension 30 1,39 Extension 60 2,10 Extension 60 2,10 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 Uprating 60 2,10 2012 New (4 LB - 2x30) 60 4,57 2012 New 30 2,62 2012 Extension 2 LB 12,3 2012 On Going On Going Plan Plan Plan On Going Plan Plan Proposed On Going Plan Plan Plan Plan Plan Proposed Plan Plan Plan Plan New 30 1,75 2012 Plan New (4 LB) 30 3,85 2012 On Going APLN APBN APBN APBN APBN Unall Unall APBN Unall Unall Unall APLN Unall Unall APBN Unall Unall IBRD Unall Unall Unall Unall Extension 2 LB 1,23 2012 On Going APLN Ekst Relocating 20 0,52 2011 Plan APLN New 30 2,62 2011 Operasi APBN

Provinsi

Nama Gardu Induk

Baru/Extension

Kap

Biaya MUSD

CO

Status

Sumber

Kaltim

Sambutan

Kaltim

Bukuan/Palaran

Kaltim

Karang Joang/Giri Rejo Ext LB

Kaltim

Kuaro/Tanah Grogot

Kaltim

Petung

Kaltim

Sambutan Ext LB

Kaltim

Bontang

Kaltim

GI PLTG Sambera

Kaltim

Industri/Gunung Malang

Kaltim

Sei Kleidang/Harapan baru

Kaltim

Tengkawang/Karang Asem

Kaltim

Sambutan

Kaltim

Bontang

Kaltim

Bontang Ext LB

Kaltim

Kariangau/Tel. Balikpapan

Kaltim

Tenggarong/Bukit Biru

Kaltim

Kariangau/Teluk Balikpapan

Kaltim

Kota Bangun

Kaltim

Berau / Tj Redep

Kaltim

Bulungan/Tj Selor

Kaltim

New Indutri

Kaltim

Berau/Tj Redep

Kaltim

Sambutan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kaltim

Kuaro/Tanah Grogot

Kaltim

Bontang

457

458

Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur


Tegangan
150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 2 LB 30 30 60 60 60 30 New 30 New 30 Extension 60 Extension 30 1,39 2,10 2,62 2,62 1,23 1,39 1,39 21,0 2,10 21,0 1,39 Extension 30 1,39 Extension 60 2,10 Extension 30 1,39 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 New 30 2,62 2015 New 30 2,62 2015 New 30 2,62 2015 Plan Plan Proposed Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan New 30 1,75 2014 Plan Extension 30 1,38 2014 Plan Extension 30 1,39 2013 Plan Unall Unall APBN Unall Unall IBRD Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall New 30 2,62 2013 On Going APLN Extension 2 LB 1,23 2013 Proposed Unall

Provinsi

Nama Gardu Induk

Baru/Extension

Kap

Biaya MUSD

CO

Status

Sumber

Kaltim

Bontang Ext LB

Kaltim

Kariangau/Tel. Balikpapan

Kaltim

Tenggarong/Bukit Biru

Kaltim

Kariangau/Teluk Balikpapan

Kaltim

Kota Bangun

Kaltim

Berau/Tj Redep

Kaltim

Bulungan/Tj Selor

Kaltim

New Indutri

Kaltim

Berau/Tj Redep

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Kaltim

Sambutan

Kaltim

Kuaro/Tanah Grogot

Kaltim

Bontang

Kaltim

New Industri

Kaltim

New Samarinda

Kaltim

Sangatta

Kaltim

Sambutan Ext LB

Kaltim

Petung

Kaltim

New Samarinda

Kaltim

Sambuatan

Kaltim

New Industri

Kaltim

Sei Kleidaang/Harapan baru

Kaltim

Tenggarong/Bukit Biru

Lampiran B1.7
PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

460

Peta Kelistrikan Sistem Kalselteng


!"#$% ! "#$% !"#&% !"#&%
PLTG BANGKANAI 140 MW (2013) 70 MW (2014), 70 MW (2015) Puruk Cahu ACSR 1X240 mm2 G 47 km (2014) ACSR 2X429 mm2 40 km (2013)

D
Muara Teweh

!"#$% !"#$%

Kuala Kurun

U
D
ACSR 2X240 mm2 110 km (2013)

ACSR 1X240 mm2 98 km (2014)

PLTU KUALA KURUN 2X3 MW (2013)

!"#!% !"#!%

ke GI Kuaro ( KALTIM)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


PLTU KALTENG-1 2X100 MW (2020)

!"# ##% !"##%


Kasongan Palangkaraya ACSR 2X240 mm2 60 km (2015)

U U
D
ACSR 2X240 mm2 130 km (2012) Buntok

ACSR 2X240 mm2 172 km (2015)

PLTU BUNTOK 2X7 MW (2013)

!"#!% !"#!%

ACSR 2X240 mm2 142 km (2012)

!"#'% !"#'%
Sampit ACSR 2X240 mm2 174 km (2012)

!"# #!% !"#!%


D
Amuntai New Palangkaraya PLTU KALSEL [IPP] 2X100 MW (2015/16)

! "#"% % !"#"%

U #" % !"# !"#"%

Tanjung

PLTU CENKO 2X7 MW (2011)

ACSR 1X240 mm2 172 km (2013)

U
PLTU SAMPIT 2X25 MW (2014)

U
PLTU PULANG PISAU 2X60 MW (2012) Selat ACSR 2X240 mm2 120 km (2014)

ACSR 2X240 mm2 21 km (2011) Barikin

Pangkalan Bun

Ranatu PLTA KUSAN 2X32,5 MW (2017)

Kayutangi

D
Trisakti Ulin Mantuil Seberan g Barito

Kotabaru

A
Cempaka ACSR 2X240 mm2 Pelaihari 124 km (2012)

Batu Licin
PLTA RIAM KANAN 3X10 MW

D ! " ##% !"##%

ACSR 1X240 mm2 40 km (2013) PLTU ASAM ASAM 2X65 MW (2011)


PLTU ASAM ASAM #1 & 2 (2X65 MW)

PLTU Sewa 3X50 MW (2013)

Peta Kelistrikan Sistem Kaltim

!"#& &% !"#&%

% !"##% !"#"% !"#"%

!"#$% ! "#$%

!"#!% % !"#!%

!" "#!% !"#!% !"#! !% !"#!%

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

461

Lampiran B1.8
ANALISIS ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

464

Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2015

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

465

466

Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2011

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

467

Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2015


468
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2020

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

469

Lampiran B1.9
KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalsel, Kalteng & Kaltim


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 4.098 3.914 4.584 5.296 4.783 4.973 5.545 6.209 6.987 7.780 54.169 JTR kms 2.655 4.202 5.117 6.040 4.138 3.997 4.330 4.727 5.204 5.628 46.037 Trafo MVA 142 159 244 241 204 181 191 204 221 234 2.022 Pelanggan 109.239 81.400 111.623 121.788 130.679 109.389 113.650 120.054 129.114 134.229 1.161.166

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Kalsel, kalteng & Kaltim


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 34,0 43,5 55,0 65,5 53,4 52,8 58,2 64,6 72,2 79,4 578,5 JTR 63,2 67,5 77,0 88,4 71,7 74,1 82,0 91,1 101,7 112,5 829,1 Trafo 10,3 11,6 17,7 17,5 14,8 13,1 13,9 14,8 16,0 16,9 146,7 Pelanggan 3,3 4,0 5,5 6,0 6,4 5,4 5,6 5,9 6,3 6,6 55,0 Total 110,8 126,6 155,2 177,4 146,4 145,4 159,6 176,3 196,3 215,4 1,609,3

472

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Kalimantan Selatan


Juta USD
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 9,1 10,4 8,7 8,5 9,3 10,2 11,2 12,2 13,4 14,7 107,7 JTR 21,4 24,9 23,3 24,1 27,1 30,4 34,2 38,4 43,2 48,6 315,7 Trafo 3,2 3,6 3,7 3,2 3,4 3,7 4,0 4,3 4,6 5,0 38,6 Pelanggan 1,5 1,6 1,7 1,7 1,8 1,9 2,0 2,0 2,1 2,2 18,5 Total 35,3 40,5 37,4 37,5 41,6 46,2 51,3 57,0 63,3 70,4 480,5

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalimantan Selatan


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 1.254 1.465 1.369 1.417 1.591 1.787 2.008 2.256 2.536 2.850 18.533 JTR kms 865 982 828 804 880 964 1.057 1.159 1.272 1.395 10.206 Trafo MVA 45 50 51 44 47 51 55 59 63 68 533 Pelanggan 30.786 32.071 33.413 34.814 36.277 37.805 39.400 41.066 42.806 44.622 373.060

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

473

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalimantan Tengah


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 2.208 792 740 766 860 966 1.085 1.219 1.371 1.540 11.547 JTR kms 1.294 464 391 380 415 455 499 547 600 659 5.706 Trafo MVA 43 15 17 18 19 20 22 24 25 27 230 Pelanggan 59.813 15.010 15.782 16.595 17.450 18.348 19.293 20.287 21.332 22.431 226.341

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Kalimantan Tengah


Juta USD
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 14,0 4,9 4,1 4,0 4,4 4,8 5,3 5,8 6,3 7,0 68,5 JTR 36,6 13,5 12,6 13,0 14,6 16,5 18,5 20,8 23,3 26,2 209,3 Trafo 3,1 1,1 1,2 1,3 1,4 1,5 1,6 1,7 1,8 2,0 19,5 Pelanggan 0,7 0,7 0,7 0,8 0,8 0,8 0,9 0,9 1,0 1,0 10,7 Total 54,4 20,2 18,7 19,1 21,2 23,6 26,2 29,2 32,5 36,1 308,0

474

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Provinsi Kalimantan Timur


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 636 1.658 2.474 3.113 2.332 2.220 2.452 2.734 3.080 3.389 24.089 JTR kms 495 2.756 3.898 4.855 2.843 2.577 2.774 3.020 3.332 3.574 30.125 Trafo MVA 54 94 176 180 138 110 115 122 133 138 1.260 Pelanggan 18.641 34.319 62.429 70.379 76.953 53.236 54.957 58.701 64.976 67.176 561.765

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Provinsi Kalimantan Timur


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 10,8 28,2 42,1 53,0 39,7 37,8 41,8 46,6 52,5 57,7 418,3 JTR 5,2 29,1 41,1 51,2 30,0 27,2 29,3 31,9 35,1 37,7 331,5 Trafo 3,9 6,8 12,7 13,0 10,0 8,0 8,3 8,8 9,6 10,0 94,2 Pelanggan 1,1 1,7 3,1 3,5 3,8 2,7 2,7 2,9 3,2 3,4 30,7 Total 21,1 65,9 99,1 120,8 83,6 75,7 82,1 90,2 100,5 108,8 874,6

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

475

Lampiran B1.10
PROGRAM LISTRIK PERDESAAN SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

478

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel, Kalteng, Kaltim (Juta Rp)
Tahun 2011 2012 2013 2014 Total 782.824 233.451 159.706 1.179.148 2.590 234.145 67.688 48.990 350.822 239.918 69.357 50.198 359.472 133.142 36.353 26.961 196.456 2.590 175.620 60.053 33.557 272.398 JTM JTR Trafo Total Listrik Murah & Hemat (RTS)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 JTM kms MVA 313 190 360 351 1.214 17 30 29 99 24 655 424 774 755 2.609 JTR kms Trafo Unit 370 197 373 364 1.304 Jml Pelanggan 29.770 9.875 18.190 17.753 75.588 Listrik murah & hemat (RTS) 740 740

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel, Kalteng, Kaltim

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan


JTM kms MVA 7,3 3,0 4,8 4,7 19,8 286 33.824,0 58 7.075 150 60 7.249 37 4.500 150 131 15.000 Unit 186,0 117,2 188,7 184,2 676,1 394,0 94,3 96,7 60,0 143,0 JTR kms Trafo Jml Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan (Juta Rp)


JTM 47.693,6 38.169,4 61.489,4 60.009,8 207.362,2 72.752,7 17.038,8 17.459,0 10.837,6 5.029,8 8.102,8 7.907,9 32.601,9 27.417,3 11.561,4 JTR Trafo Pembangkit Total 86.672,3 54.036,8 87.051,2 84.956,5 312.716,8 525 525 Listrik murah dan hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2014

Total

479

480
JTM kms MVA 7,0 5,5 12,1 11,8 36,4 673 31.384 215 8.586 175 220 8.798 100 4.000 175,0 138 10.000 Unit Jml Pelanggan 272,0 167,0 367,3 358,5 1.164,8 618,9 203,9 209,0 95,0 111,0 JTR kms Trafo Listrik murah & hemat (RTS)

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah

Tahun

2011

2012

2013

2014

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah (Juta Rp)


JTM 72.867,3 47.439,5 104.344,1 101.833,3 326.484,1 126.807,6 40.623,1 41.624,7 18.924,4 12.346,6 27.156,7 26.503,2 79.559,2 25.635,5 10.802,6 JTR Trafo Pembangkit Total 109.305,4 78.710,5 173.125,4 168.959,6 530.100,9 612,5 Listrik murah dan hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur


JTM kms MVA 59,0 34,8 54,3 53,0 210,1 42,5 346 10,38 12,3 91 2,092 415 12,6 94 2,143 8,1 60 1,373 415 9,5 101 4,770 Unit Jml Pelanggan 197,0 139,9 218,0 212,8 767,7 JTR kms Trafo Listrik murah & hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

2014

Total

Perkiran Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur (Juta Rp)


JTM 55.059,0 47.532,6 74.532,6 72.301,5 248.977,2 33.890,4 10.025,7 10.272,9 6.591,1 7.000,7 11.192,6 9.584,7 14.938,6 14.579,2 50.295,0 JTR Trafo Pembangkit Total 76.420,1 63.708,4 99.295,6 96.906,3 336.330,4 1.452,5 1.452,5 Listrik murah dan hemat (RTS)

Tahun

2011

2012

2013

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2014

Total

481

Lampiran B1.12
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi & Distribusi (Juta USD)


(Juta US$) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit 244,1 72,6 484,6 788,3 356,0 150,0 150,4 399,1 140,9 284,0 3.068,8 TL dan GI 56,73 248,38 157,06 121,44 31,01 17,16 45,37 61,00 9,08 1,39 748,62 Distribusi 110,8 126,6 155,2 177,4 146,4 145,4 159,6 176,3 196,3 215,4 1.609,3 Total 411,6 447,5 796,9 1.087,1 533,4 312,9 604,0 386,3 346,3 500,8 5.426,7

*) Distribusi: Nilai investasi untuk total wilayah Kalselteng dan Kaltim

484

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PENJELASAN LAMPIRAN B1 SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM

B1.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Saat ini ada dua sistem besar kelistrikan di Kalimantan yang masuk wilayah operasi Indonesia Timur, yaitu sistem Mahakam di Kalimantan Timur dan sistem Barito di Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah. Sistem Barito dan Sistem Mahakam direncanakan akan terhubung menjadi satu sistem Kalseltengtim pada akhir tahun 2012 dengan selesainya pembangunan transmisi 150 kV Tanjung (Kalsel) Kuaro Karangjoang (Kaltim). Sistem interkoneksi Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode tahun 2011-2020. produksi listrik pada sistem Mahakam meningkat rata-rata 13,3% per tahun termasuk adanya pengalihan dari isolated masuk ke sistem, yaitu 1.757 GWh pada tahun 2011 menjadi 5.571 GWh pada tahun 2020, dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 69% sampai 69,7%. Beban puncak sistem interkoneksi Mahakam diperkirakan naik dari 288 MW pada tahun 2011 menjadi 922 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Bontang, Sangatta. Petung dan Tanah Grogot. Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah (Sistem Barito) Untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam tahun 2011-2020, produksi listrik pada sistem Barito meningkat ratarata 12,0% per tahun. yaitu dari 2.122 GWh pada tahun 2011 naik menjadi 5.892 GWh pada tahun 2020 dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 67% sampai 71%. Beban puncak sistem interkoneksi Barito naik dari 362 MW pada tahun 2011 menjadi 942 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Pangkalan Bun, Sampit, Buntok, Muara Teweh, Puruk Cahu dan Kuala Kurun. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 20112020 diberikan pada Lampiran B1.

B1.2 Neraca Daya


Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur (Kalseltengtim) termasuk wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan sangat tinggi, yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12,6% per

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

485

tahun sampai dengan tahun 2020. Pada saat ini kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP adalah 564 MW, serta sewa dan excess power 174 MW. Beberapa pembangkit di sistem ini masih menggunakan BBM sehingga biaya operasinya tinggi. Pada periode 2011 sampai dengan 2016. di sistem Kalseltengtim akan ada penambahan pembangkit baru baik milik PLN maupun IPP termasuk sewa PLTU dan PLTG sekitar 1.934 MW, dimana saat ini dalam tahap proses pengadaan dan sebagian sudah konstruksi. Mengingat Kalimantan mempunyai cadangan batubara yang melimpah. maka sebagian besar pembangkit yang akan dibangun berupa PLTU batubara dengan total kapasitas 1.374 MW, berikut PLTG 560 MW. Selanjutnya setelah tahun 2016, direncanakan akan ada penambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 715 MW yang terdiri dari PLTU batubara 400 MW, PLTG gas 100 MW dan PLTA 215 MW. Untuk mengurangi penggunaan BBM pada waktu beban puncak, direncanakan membangun PLTG peaking berbahan bakar gas alam lengkap dengan gas storage (CNG/LNG storage) yaitu PLTG Kaltim peaking 2 x 50 MW dan PLTG Bangkanai 4 x 70 MW. Pembangkit-pembangkit tersebut dijadwalkan beroperasi secara bertahap mulai tahun 2012 sampai 2015. Secara geografis, neraca daya masing-masing sistem Kalselteng dan sistem Kaltim telah memenuhi kriteria regional balance sehingga ketergantungan daya antar sub sistem relatif rendah. Sebagaimana diketahui bahwa tingkat keberhasilan proyek pembangkit di Kalimantan masih rendah dan sebagai antisipasi terhadap kondisi tersebut, maka dilakukan sewa PLTU batubara di Kalsel 3 x 50 MW dan di Kaltim 2 x 120 MW serta sewa PLTG peaking di Bontang Kaltim 100 MW dengan mengakomodir reserve margin sampai sekitar 76%. Rencana reserve margin yang sangat tinggi hingga 76% pada tahun 2013 didasarkan pada keinginan PLN yang sangat kuat untuk memastikan kebutuhan listrik di provinsi Kaltim, Kalsel, Kalteng akan tercukupi, bahkan mungkin berlebihan, mengingat ketiga Provinsi di Kalimantan ini merupakan sumber energi primer nasional yang sa ngat besar baik batubara maupun gas alam, namun sudah lama menderita kekurangan pasokan listrik. Selain itu, sewa PLTU batubara dan PLTG gas tersebut juga dimaksudkan untuk secepatnya dapat mengurangi penggunaan BBM di sistem Kalseltengtim. Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada tahun 2013 sampai 2017, PLN akan memonitor progres proyek dari tahun ke tahun. Apabila progres fisik proyek berjalan baik sesuai rencana, maka PLN akan mengimbanginya dengan pemasaran listrik yang agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan, dan menunda jadwal proyek pembangkit berikutnya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mendorong pertumbuhan industri padat energi di Kalimantan seperti industri baja. industri keramik, kaca dan sebagainya.

486

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Adapun proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan (Perpres 1) 2 x 100 MW, karena proyek ini dapat menurunkan biaya operasi dan mencukupi kebutuhan listrik di Sistem Mahakam Kalimantan Timur. PLTG Bangkanai 4 x 70 MW, untuk memenuhi kebutuhan beban pada tahun 2013 sebelum PLTU IPP beroperasi. kemudian pada tahun-tahun berikutnya digunakan sebagai pembangkit peaking untuk mengurangi penggunaan BBM. Tambahan pasokan gas ke PLTGU Tanjung Batu untuk menurunkan biaya operasi sistem Kalimantan Timur. Penyediaan gas untuk PLTG Sambera 2 x 20 MW dan untuk PLTD Cogindo 40 MW yang saat ini masih dioperasikan dengan bahan bakar MFO. PLTU Asam-Asam (Perpres 1) 2 x 65 MW. Sedangkan proyek-proyek yang diperkirakan mundur dari jadwal : PLTU Pulang Pisau 2 x 60 MW karena permasalahan kondisi tanah pondasi. PLTA Kusan, perlu penanganan khusus untuk aspek lingkungan sehubungan adanya satu jenis spesies langka (kera berhidung merah) yang diperkirakan hidup dikawasan hutan sekitar lokasi proyek. Neraca Daya Sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1.2.

B1.3 Proyek-proyek IPP Yang Terkendala


Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B1.3.

B1.4 Neraca Energi


Rencana pembangunan beberapa PLTU batubara dan PLTG peaking di sistem Kalseltengtim merupakan salah satu upaya menurunkan biaya operasi mengingat sebagian besar pembangkit di Kalseltengtim masih berbahan bakar minyak. Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Peranan MFO dan HSD pada tahun 2011 untuk sistem Kalseltengtim masih cukup tinggi dimana konsumsi MFO dan HSD adalah sebesar 1.776 GWh atau 49% dari produksi total sistem Kalseltengtim. b. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU batubara, diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan ini dapat dikurangi. c. Selain itu, rencana pengembangan PLTG Bangkanai 4 x 70 MW, PLTG Kaltim peaking 2 x 50 MW serta PLTA Kusan 65 MW dan PLTA Kelai 150 MW, diharapkan dapat menurunkan peran BBM khususnya pada waktu beban puncak. Demikian halnya dengan PLTG Sambera 40 MW dan PLTG Senipah 2 x 41 MW diharapkan akan semakin memperkecil penggunaan BBM.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

487

d. Dengan beroperasinya PLTU, PLTG gas dan PLTA, peranan pembangkit berbahan bakar HSD dan MFO akan menurun dimana hingga tahun 2020 produksi pembangkit berbahan bakar minyak sebesar 238 GWh atau 2% dari produksi total sistem Kalseltengtim. Kebutuhan energi primer di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1.4. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO sebesar 513 juta liter dan pada tahun 2020 menjadi 24 juta liter. Volume pemakaian batubara meningkat dari 1,05 juta ton pada tahun 2011 menjadi 5,87 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 5,6 kali lipat. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1.4.

B1.5 Capacity Balance Gardu Induk


Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 akan mencapai 2.330 MVA. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalseltengtim seperti pada Lampiran B1.5.

B1.6 Rencana Pengembangan Penyaluran


Rencana pengembangan penyaluran sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik dan sekaligus untuk mengurangi penggunaan BBM pada sistem kelistrikan yang sebelumnya masih isolated. meliputi : Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit percepatan tahap I dan tahap II, proyek pembangkit IPP, PLTG peaking dan PLTA serta untuk menggantikan PLTD. Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Sedangkan proyek transmisi 150 kV yang perlu segera beroperasi pada tahun 2012 adalah, transmisi 150

488

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

kV Tanjung Kuaro Karangjoang untuk menghubungkan sistem Kalselteng dan Kaltim serta transmisi 150 kV PLTGU Tanjung Buntok Muara Teweh Bangkanai. Kebutuhan pembangunan transmisi 150 kV dan 70 kV baru dan up rating untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 sekitar 5.315 kms. Untuk keperluan pengendalian operasional sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Kalseltengtim khususnya pada subsistem Kalselteng dalam rangka menjaga tingkat mutu dan keandalan sistem penyaluran, direncanakan pembangunan sistem SCADA (supervisory control and data acquisition) termasuk media komunikasi dan prasarananya di Kalimantan Selatan. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1.6.

B1.7 Peta Pengembangan Penyaluran


Cukup jelas.

B1.8 Analisis Aliran Daya


Sistem Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Analisa aliran daya pada sistem Mahakam dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Pada RUPTL 2011-2020 ini, hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012, 2015 dan 2017. Prakiraan aliran daya sistem Mahakam dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Tahun 2011 Tambahan transmisi baru dari tahun 2010 s.d 2011 adalah : Bukuan Sambutan. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar Tanjung Batu ke GI Tengkawang sebesar 77 MW. Pembebanan transmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Manggarsari (148 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139 kV). 2. Tahun 2015 Dari tahun 2011 hingga tahun 2015, ada beberapa tambahan pembangkit yaitu PLTG Kaltim 50 MW, PLTU Teluk Balikpapan 2 x 100 MW, PLTG Senipah 2 x 41 MW, PLTU Kaltim 2 (FTP-2) dan PLTU Embalut Ekspansi 50 MW. Sedangkan PLTU Kaltim MT 2 x 15 MW diperkirakan akan mundur.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

489

Tambahan ruas transmisi pada tahun 2011-2015 adalah : PLTG Senipah incomer single pi Manggarsari (2012) Karangjoang. PLTG Senipah PLTU MT Kaltim (2014). PLTU MT Kaltim-Bukuan (2014), Karang Joang - Kuaro (2012), Teluk Balikpapan Incomer 2 phi Karang Joang Kuaro (2012), Penajam Incomer 1 phi Karang Joang Kuaro, PLTG (FTP2) Sambutan (2012). Uprating Harapan Baru Bukuan (2013). dan Berau Tanjung Selor (2015).

Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Bontang ke GI Sambera sebesar 107 MW, dan sistem Mahakam Kalimantan Timur menerima transfer energi dari sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 33 MW. Pembebanan trasmisi masih di bawah 50% sehingga masih memenuhi keandalan N-1.

Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi terjadi di GI Bontang (153 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Manggarsari (147 kV)

3. Tahun 2020 Pada tahun 2020. PLTG Kaltim 50 MW peaking (2018). PLTU Kaltim Infrastruktur 200 MW (PPP book) dan PLTA Kelai 2 x 75 MW telah beroperasi. Tambahan ruas transmisi 150 kV pada tahun 2016-2020 adalah : New Samarinda - Sambutan(2017) dan PLTA Kelai Sangatta (2018) Bontang. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Kelai dan Bontang ke GI Sambera sebesar 202 MW. dan sistem Mahakam Kalimantan Timur mengirimkan transfer energi ke sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 65 MW. Pembebanan trasmisi masih dibawah 50% sehingga masih memenuhi keandalan N-1. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Kelai (156 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139,6 kV). Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah (Sistem Barito) Analisa aliran daya pada sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem Barito) dilakukan de ngan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Pada RUPTL 2011-2020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012, 2015 dan 2017. Prakiraan aliran daya sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem barito) dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Tahun 2013 Pada tahun 2013 sistem isolated Sampit, Kasongan, Batulicin dan Buntok telah terhubung dengan sistem Barito. dan adanya penambahan pembangkit baru di sistem Barito yaitu PLTU AsamAsam (FTP-1) 2 x 65 MW. PLTU Pulang Pisau 2 x 60 MW dan PLTG Bangkanai 140 MW. Pada tahun 2013 ini diperkirakan telah terjadi interkoneksi sistem Barito dengan sistem Mahakam (Kali mantan Timur).

490

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Total beban interkoneksi sistem Barito sebesar 504 MW. Profile tegangan pada sistem interkoneksi Kali mantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih memenuhi standar. Tegangan terendah terjadi pada GI Kayu Tangi sebesar 149,6 kV, sedangkan tegangan tertinggi terjadi pada GI Sampit dengan tegangan sebesar 155,6 kV.

Losses yang terjadi pada kondisi ini sebesar : 5.6 MW (1.2%).

2. Tahun 2015 Penambahan pembangkit baru masuk sistem Barito terdiri dari PLTG Bangkanai extension sebesar 2 x 70 MW. PLTU Sampit 2 x 25 MW, dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 1 100 MW. Sedangkan perluasan/penambah an jaringan transmisi untuk menghubungkan sistem isolated ke sistem interkoneksi meliputi sub sistem Puruk Cahu, Kuala Kurun dan Pangkalan Bun. Total beban sistem Barito sebesar 623 MW dengan Losses 10,3 MW (1,7 %). Aliran daya dari Kalteng ke Kalsel sebesar 0,4 MW, sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 24,4 MW dengan pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Kayutangi sebesar 145,1 dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 155,9 kV. 3. Tahun 2020 Hingga tahun ini terjadi penambahan pembangkit PLTA Kusan sebesar 65 MW. PLTU Kalteng-1 2 x 100 MW dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 2 (100 MW) ke sistem Barito, Perluasan transmisi meliputi segmen Kuala Kurun Kasongan dan PLTA Kusan Kadongan. Total beban sistem Barito sebesar 942 MW dan Losses 20 MW (2,1 %) Aliran daya dari Kalsel ke Kalteng sebesar 50,2 MW, sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 0,8 MW, pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance. Profil tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Trisakti sebesar 144,1 kV dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 154,8 kV.

B1.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan baru. Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan. Perbaikan SAIDI dan SAIFI. Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

491

Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur seperti pada Lampiran B1.9.

Proyeksi Kebutuhan fisik distribusi 2011-2020 Provinsi kalsel, kalteng dan kaltim
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 4.098 3.914 4.584 5.296 4.783 4.973 5.545 6.209 6.987 7.780 54.169 JTR kms 2.665 4.202 5.117 6.040 4.138 3.997 4.330 4.727 5.204 5.628 46.037 Trafo MVA 142 159 244 241 204 181 191 204 221 234 2.022 Pelanggan 109.239 81.400 111.623 121.788 130.679 109.389 113.650 120.054 129.114 134.229 1.161.166

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 Provinsi Kalsel. Kalteng dan Kaltim (Juta US$)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 34,0 43,5 55,0 65,5 53,4 52,8 58,2 64,6 72,2 79,4 578,5 JTR 63,2 67,5 77,0 88,4 71,7 74,1 82,0 91,1 101,7 112,5 829,1 Trafo 10,3 11,6 17,7 17,5 14,8 13,1 13,9 14,8 16,0 16,9 146,7 Pelanggan 3,3 4,0 5,5 6,0 6,4 5,4 5,6 5,9 6,3 6,6 55,0 Total 110,8 126,6 155,2 177,4 146,4 145,4 159,6 176,3 196,3 215,4 1,609,3

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : Pada tahun 2012 terjadi penurunan jumlah pelanggan yang akan disambung disebabkan sebagian besar daftar tunggu calon pelanggan di Kalselteng diselesaikan di tahun 2011 sehingga pada tahun 2012 calon

492

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

pelanggan sudah berkurang. Sebaliknya dengan di Kaltim, tahun 2011 tidak semua daftar tunggu bisa disambung karena keterbatasan kemampuan pasokan. Akibatnya tambahan pelanggan baru pada tahun 2012 tidak sebanyak yang akan disambung pada tahun 2011. Rencana JTM, JTR dan gardu distribusi yang akan dibangun. tidak selamanya mengalami peningkatan volume/kapasitas yang sama atau lebih tinggi, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dilapang an. Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 54.169 kms, JTR 46.037 kms. gardu distribusi dengan kapasitas 2.022 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1,16 juta pelanggan. Perkiraan biaya total untuk pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan sekitar US$ 1.609 juta dengan rincian JTM US$ 578 juta, JTR US$ 829 juta, gardu distribusi US$ 146 juta, dan sambungan pelanggan US$ 55 juta. Kebutuhan anggaran per tahun diperkirakan sebesar US$ 160 juta.

B1.10 Program Listrik Perdesaan


Prakiraan Kebutuhan fisik jaringan Listrik perdesaan regional kalsel, kalteng dan kaltim 2011-2014
Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 655 424 774 755 2.609 JTR kms 313 190 360 351 1.214 Trafo MVA 24 17 30 29 99 Unit 370 197 373 364 1.304 Jml Pelanggan 29.770 9.875 18.190 17.753 75.588 Listrik murah & hemat (RTS) 740 740

Prakiraan Jaringan listrik perdesaan (Rp. Juta) regional kalsel, kalteng dan kaltim 2011-2014
Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 175.620 133.142 239.918 234.145 782.824 JTR 60.053 36.353 69.357 67.688 233.451 Jml Pelanggan 33.557 26.961 50.198 48.990 159.706 Total 272.398 196.456 359.472 350.822 1.179.148 Listrik murah & hemat (RTS) 2.590 2.590

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Selatan, Kalimantan Te ngah dan Kalimantan Timur tahun 2011-2014 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut : Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 2.609 kms, JTR 1.214 kms, gardu distribusi dengan kapasitas 99 MVA.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

493

Perkiraan total biaya selama kurun waktu tersebut untuk kegiatan listrik perdesaan sebesar Rp 1,18 triliun dengan rincian JTM Rp 782 miliar, JTR Rp 233 milyar, gardu distribusi Rp 160 milyar, dan sambungan pelanggan Rp 2,59 milyar. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 64% tahun 2010, menjadi 75,7% di tahun 2014 dan 92,6% di tahun 2020 untuk regional Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

B1.11 Program Energi Baru dan Terbarukan


Cukup jelas sebagaimana diuraikan dalam sub Bab 4.3 s/d. 4.6.

B1.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi


Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1.12.

494

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

B2
Sistem interkoneksi suluttenggo dan sistem interkoneksi sulselrabar

B2.1. B2.2. B2.3. B2.4. B2.5. B2.6. B2.7. B2.8. B2.9.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Neraca Daya Proyek-Proyek IPP Terkendala Neraca Energi Capacity Balance Gardu Induk Rencana Pengembangan Penyaluran Peta Pengembangan Penyaluran Analisis Aliran Daya Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

B2.10. Program Listrik Perdesaan B2.11. Program Energi Baru dan Terbarukan B2.12. Proyeksi Kebutuhan Investasi PENJELASAN LAMPIRAN B2

Lampiran B2.1
PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

498
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 1.045,4 61,4 194,4 211,2 229,5 253,1 274,9 298,7 324,6 352,8 383,6 418,7 61,9 62,4 62,0 62,5 63,1 63,7 64,2 64,8 65,3 1.144,8 1.254,1 1.374,0 1.505.6 1.650.6 1.809,8 1.984,8 2.177,2 2.394,3 257,4 57,2 51,4 55,3 59,6 65,0 69,9 75,4 81,3 87,7 94,6 57,4 57,7 56,4 56,5 56,6 56,7 56,7 56,8 278,4 301,2 321,0 346,0 373,7 403,6 436,0 471,0 511,0 57,1 102,2 66,9 40,2 19,0 21,0 23,2 25,9 28,5 31,5 34,7 40,3 40,5 40,1 40,3 40,5 40,7 74,2 82,3 91,0 100,6 111,6 123,7 137,0 40,9 38,2 151,6 41,2 42,0 165,6 41,3 45,7 1.302,8 60,5 245,8 266,5 289,1 344,0 373,3 61,0 61,4 59,3 59,7 60,1 405,5 1.423,2 1.555,3 1.786,1 1.952,2 2.135,9 2.337,2 60,6 440,5 2.557,8 61,0 478,7 2.799,8 61,4 520,3 3.070,9 61,9 566,6 1.302,8 60,5 245,8 266,5 289,1 344,0 61,0 61,4 59,3 1.423,2 1.555,3 1.786,1 1.952,2 59,7 373,3 2.135,9 60,1 405,5 2.337,2 60,6 440,5 2.557,8 61,0 478,7 2.799,8 61,4 520,3 3.070,9 61,9 566,6

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Suluttenggo

NO

Sistem

Sistem Sulut

- Produksi ( GWh )

- Load Factor (%)

- Beban Puncak ( MW )

Sistem Gorontalo

- Produksi ( GWh )

- Load Factor (%)

- Beban Puncak ( MW )

Sistem Tolitoli-Moutong

- Produksi ( GWh )

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

- Load Factor (%)

- Beban Puncak ( MW )

Sistem Sulut-Gtalo-Tolitoli

- Produksi ( GWh )

- Load Factor (%)

- Beban Puncak ( MW )

Sistem Interkoneksi Sulteng

- Produksi ( GWh )

- Load Factor (%)

- Beban Puncak ( MW )

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Sulselbar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Sistem

Wil. SULSELRABAR

Sistem Sulsel (Prop Sulsel & Sulbar) 4.017,6 63,0 728 833 929 1.021 1.127 1.237 1.358 1.491 1.639 63,1 63,1 63,2 63,1 63,2 63,2 63,3 63,4 63,4 1.799 4.604,7 5.135,7 5.651,7 6.229,6 6.845,9 7.525,5 8.275,0 9.102,0 9.984,9

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

Sistem Sulsel (Prop Sulsel) 3.865,3 63,1 698,7 798,0 885,6 970,5 1.063,6 1.166,4 1.279,6 1.404,1 63,2 63,3 63,4 63,5 63,6 63,7 63,8 4.420,9 4.913,1 5.391,9 5.918,8 6.500,3 7.141,4 7.847,7 8.626,6 63,9 1.541,1 9.456,6 63,8 1.691,1

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

Sistem Sulsel (Prop Sulbar) 152,3 59,1 29,4 35,4 43,0 50,1 63,6 70,9 59,3 59,1 59,2 55,8 55,6 55,7 78,7 183,9 222,6 259,8 310,7 345,6 384,0 427,2 55,8 87,4 475,5 55,7 97,4 528,3 55,8 108,2

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

Sistem Sultra 300,0 53,2 64 75 86 93 100 53,9 54,6 55,3 56,0 355,4 4009,3 449,0 492,9 541,2 56,7 109 594,5 57,5 118 653,3 58,2 128 718,3 59,0 139 793,1 59,7 152

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Beban Puncak (MW)

Interkoneksi SULSELRABAR 4.015,6 63,1 726,6 967,3 1.092,3 61,5 61,5 62,6 1.113,3 5.212,5 5.885,7 6.100,7 6.722,4 62,5 1.227,7 7.387,1 62,6 1.346,2 8.119,9 62,8 1.476,4 8.928,3 62,9 1.619,6 9.820,3 63,1 1.777,6 10.778,0 63,1 1.950,8

Energi Produksi (GWh)

Load Factor (%)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Beban Puncak (MW)

499

Lampiran B2.2
NERACA DAYA SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Grafik Neraca Daya Sistem Sulut-Gorontalo

MW

502

900
68% 58% 64% 64% 57% 60% 47%

Reserve Margin

PLTG PLN

PLTA/MPLN

800

PLTP PLN

PLTP IPP

PLTG PLN

700

PLTU IPP

PLTU PLN

PLTU Sewa

600
69%

Pembangkit IPP &S ewa

Pembangkit Ter pasangPLN

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

500
PLTP IPP

Beban P uncak

PLTP PLN PLTU IPP

65%

400

57%

300

PLTD Sewa
PLTU Sewa

PLTU PLN

200

100

Pembangkit Terpasang
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

2011

2012

Neraca Daya Sistem Sulut-Gorontalo


Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Pasokan/Kebutuhan

Kebutuhan GWh % MW MW Mw MW MW 20 40 20 111 111 64 3 3 3 3 3 3 3 3 3 168 172 172 174 166 166 146 146 146 314 318 271 209 169 169 149 149 149 149 146 3 246 267 289 344 373 405 441 479 520 567 61 61 61 59 60 60 61 61 61 62 1.303 1.423 1.555 1.786 1.952 2.136 2.337 2.558 2.800 3.071

Produksi Energi

Load Factor

Beban Puncak

Pasokan

Kapasitas Terpasang

PLN

SWASTA

IPP

SEWA

Retired & Mothballed

PLTD

Tambahan Pasokan

SEWA PLTU PLTM PLTU PLTU PLTP PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA PLTG PLTG 25 16 25 25 25 45 40 40 50 20 25 25 50 1 50

Rencana

PLTU Sewa Amurang (2x25)

PLN On-Going Project

Mini Hydro 20 kV

Sulut II (FTP1)

Gorontalo (FTP2)

Lahendong IV

Rencana

Sulut I (FTP1)

Tolitoli (3x15 MW)

Kotamobagu I (FTP2)

Kotamobagu II (FTP2)

Sawangan

Minahasa GT (Peaking)

Gorontalo GT (Peaking)

IPP PLTU PLTU PLTP PLTP PLTU PLTU MW % 385 57 439 65 12*) 487 69 565 64 586 57 666 64 696 58 806 68 831 60 831 47 20 25 20 20 110 25

On-Going Project

Molotabu (2x10 MW)

Sulut I (Kema)

Rencana

Lahendong V (FTP2)

Lahendong VI (FTP2)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulut I (PPP)

Gorontalo 2x6 MW (Terkendala)

Jumlah Pasokan (Terpasang)

503

Reserve Margin (Terpasang)

MW

504

Grafik Neraca Daya Sistem Sulsel

3.000
61% 53%

Reserve Margin

PLTG PLN

PLTGU IPP

PLTM (PLN+IPP)

2.500
52% 63% 62% 49%

PLTA PLN

PLTA IPP

PLTU PLN

PLTU IPP

2.000
PLTG PLN PLTGU IPP
70% 61%

PLTU Sewa

PLTA PLN

Pembangkit IPP & Sewa

Pembangkit Terpasang PLN

Beban Puncak

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

1.500

56%

PLTA IPP PLTU PLN PLTU IPP PLTU Sewa

1.000

11%

500

Pembangkit IPP & Sewa

2013 2014

Pembangkit Terpasang
2015 2016 2017 2018 2019 2020

2011

2012

Neraca Daya Sistem Sulsel


Satuan GWh % MW MW MW MW MW 81 41 67 275 275 120 120 257 257 197 135 135 135 135 135 135 135 254 254 213 146 146 146 146 146 146 146 786 786 530 401 281 281 281 281 281 281 728 833 929 1.021 1.127 1.237 1.358 1.491 1.639 1.799 63,0 63,1 63,1 63,2 63,1 63,2 63,2 63,3 63,4 63,4 4.016 4.605 5.136 5.652 6.230 6.846 7.525 8.275 9.102 9.985 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

No

Kebutuhan dan Pasokan

Kebutuhan

Produksi

Faktor beban

Beban Puncak Bruto

Pasokan

Kapasitas Daya Terpasang

PLN

IPP

Sewa Mesin

Retired & Mothballed

Tambahan Kapasitas

SEWA PLTU PLTU PLTM PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU PLTA PLTA 100 100 100 150 100 150 126 117 50 50 100 8 100 240

Rencana

PLTU Sewa Barru 2x (120-150)

PLN-On-Going Project

Sulsel - Barru (FTP1)

Mini Hydro 20 kV

Rencana

Sulsel Baru

Makassar (Peaking)

Takalar (FTP2)

Sulsel-Baru (Ekspansi)

Sulsel-2

Bakaru II

PLTA Poko

IPP PLTG PLTGU PLTA PLTM PLTU PLTA PLTA PLTU PLTU PLTM MW % 806 11 3 1.304 56 11 1.577 70 1.648 61 1.828 62 2.018 63 2.018 49 2.268 52 2.644 61 2.761 53 100 50 100 200 100 90 10 5,0 7,5 130 180 60 (60)

On going Project

Sengkang

Sengkang

Poso (Transfer ke Selatan)

Mini hydro 20 kV

Sulsel-1/Jeneponto Bosowa

Rencana

Bonto Batu (Buttu Batu 1 )

Malea

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Mamuju (FTP2)

Sulsel-3 (Takalar)

Mini hydro 2o kV

Jumlah Pasokan

505

Reserve Margin

Lampiran B2.3
PROYEK-PROYEK IPP YANG TERKENDALA SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

B2.3 Proyek-Proyek IPP Yang Terkendala


Dalam perencanaan pembangkit IPP, ada beberapa proyek pembangkit IPP yang Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPTL) nya mengalami kendala. Kategori PPTL terkendala adalah, Kategori 1, tahap operasi adalah tahap dimana IPP sudah mencapai COD. Kategori 2, tahap pembangunan/konstruksi dimana IPP sudah mencapai Financial Closing (FC) tapi belum mencapai COD. Kategori 3, Tahap pendanaan IPP yang sudah memiliki PPTL, tetapi belum mencapai Financial Closing (FC). Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Sulawesi adalah, PLTU Tawaeli 2x13.5 MW masuk dalam kategori 1 PLTA Poso 3x65 MW masuk dalam kategori 2 PLTU Jeneponto 2x100 MW masuk dalam kategori 2 PLTA Manippi 1x10 MW masuk dalam kategori 2 PLTU Gorontalo 2x6 MW masuk dalam kategori 2 PLTU Molotabu 2x10 MW masuk dalam kategori 2 Saat ini penyelesaian IPP terkendala tersebut sedang diproses oleh Komite Direktur untuk IPP dan Kerjasama Kemitraan. Beberapa proyek kategori 2 sudah dalam tahap konstruksi dan diharapkan tahun 2012/2013 sudah beroperasi.

508

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran B2.4
NERACA ENERGI SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulut - Gorontalo


(GWh)
Jenis Batubara Gas LNG HSD MFO Geot. Hydro Jumlah 2011 99 295 157 430 322 1.303 2012 378 154 139 430 322 1.423 2013 578 39 84 103 430 322 1.555 2014 866 38 7 514 322 1.747 2015 823 39 0 644 385 1.891 2016 564 39 0 1.136 398 2.136 2017 695 78 1.157 408 2.337 2018 902 78 0 1.164 414 2.558 2019 1.106 116 0 1.164 414 2.800 2020 1.373 117 0 1.164 416 3.071

Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulut - Sulselbar


(GWh)
Jenis Batubara Gas LNG HSD MFO Geot. Hydro Jumlah 2011 133 1.514 259 1.521 591 4.018 2012 684 1.518 120 1.073 1.209 4.605 2013 1.068 2.194 238 29 401 1.205 5.136 2014 1.934 2.197 226 14 93 1.189 5.652 2015 2.628 2.187 213 1.201 6.230 2016 2.860 2.207 223 1.556 6.846 2017 3.528 2.200 235 1.886 8.275 2018 3.954 2.196 239 1.886 8.275 2019 4.393 2.198 239 2.272 9.102 2020 5.114 2.201 398 2.272 9.985

510

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sulut-Gorontalo dan Sistem Sulselrabar


(GWh)
Jenis Batubara Gas LNG HSD MFO Geot. Hydro Jumlah 2011 232 1.514 554 1.678 430 913 5.320 2012 1.063 1.518 274 1.212 430 1.531 6.028 2013 1.646 2.194 277 113 505 430 1.527 6.691 2014 2.801 2.197 264 20 93 514 1.511 7.399 2015 3.451 2.187 252 0 644 1.586 8.120 2016 3.424 2.207 262 0 1.136 1.953 8.982 2017 4.222 2.200 313 1.157 1.971 9.863 2018 4.856 2.196 317 0 1.164 2.300 10.833 2019 5.499 2.198 355 0 1.164 2.687 11.902 2020 6.487 2.201 515 0 1.164 2.688 13.056

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulut-Gorontalo


Jenis Batubara Gas LNG HSD MFO Geot. Hydro 10^3 kl 10^3 kl Satuan 10^3 ton bcf 2011 79 168 40 2012 303 88 35 2013 465 0 48 26 2014 700 0 4 2015 664 0 0 2016 456 0 0 2017 561 1 2018 714 1 0 2019 800 1 0 2020 999 1 0 -

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

511

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulselbar


Jenis Batubara Gas LNG HSD MFO Geot. Hydro 10^3 kl 10^3 kl Satuan 10^3 ton bcf 2011 88 13 72 387 2012 454 13 33 273 2013 698 17 3 10 104 2014 1.261 17 3 4 24 2015 1.713 17 3 2016 1.863 17 3 2017 2.297 17 3 2018 2.575 17 3 2019 2.861 17 3 2020 3.335 17 3 -

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulut-Gorontalo dan Sistem Sulselrabar


Jenis Batubara Gas LNG HSD MFO Geot. Hydro 10^3 kl 10^3 kl Satuan 10^3 ton bcf 2011 167 13 240 427 2012 756 13 121 308 2013 1.163 17 3 57 128 2014 1.960 17 3 8 24 2015 2.376 17 3 0 2016 2.319 17 3 0 2017 2.858 17 4 2018 3.289 17 4 0 2019 3.662 17 4 0 2020 4.334 17 6 0 -

512

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran B2.5
CAPACITY BALANCE GARDU INDUK SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

514
Add Trans (MVA) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Peak (MW) Add Trans (MVA (APLN 2011) 19.4 38% 30 21.5 42% 23.5 46% 25.8 51% 28.1 55% 30.4 60% 32.9 64% (APLN 2018) 35.5 35% 60 38.2 37% (2012 - 20 MVA - relok dr Bontoala) 27.2 53% (2013- beban GI Daya sebagian diambil GI Maros 2019-sebagian GI KIMA 21.3 36% 23.4 39% 21.3 36% 12.8 22% (2014- beban GI Daya sebagian diambil GI Daya Baru & GI Maros 14.3 15.9 17.6 19.4 24% 27% 30% 33% 20 30.0 59% 32.8 64% 33.1 65% 35.9 70% 35.9 70% 2015-beban GI Mandai sebagian diambil GI KIMA 35.9 70% 35.9 70% 35.9 70% (APLN 2012) 21.4 42% 60 23.8 47% 26.6 52% 29.3 58% 32.4 63% 35.5 70% (APLN 2018) 38.9 38% 60 46.9 46% (APLN 2012) 10.3 40% 20.6 27% 60 23.5 31% 27.0 35% 30.6 40% 34.7 45% 39.1 51% 44.1 58% 49.7 65% 30 -10 (APLN 2014) 7.7 16% 60 8.3 18% 12.0 24% 2015 - KIMA ambil sebagian beban Mandal & Tallo Lama (APLN 2016) 60 -30 49.0 48% 54.0 53% 58.9 58% 64.4 63% 69.8 68% 75.5 49% 60 81.3 53% 87.4 57% 2020-sebagian 86.3 56% 15.8 31% 19.7 39% 30.5 60% (2011-relok 30 MVA-ke Palopo)

Capacity Exist 2009

SUBSTATION

No

No

Makassar Branch

Unit Size (MVA)

Total (MVA)

Peak (MW)

Pangkep

70/20 150/20

1 1

20 30

st 30 30

16.7 66%

Mandai

70/20 70/20 1996 : ex Pnkng 2005 : ex Pnkng

1 1 1 1

5 2.5 20 20

20 20 40

23.5 69%

Daya

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2055 : ex Pnk 70/20

20

40 40

(2012 - 30 MVA - relok dr Bontoala) 32.3 38.2 30 95% 64% -20 20 MVA stand by dibatasi trafo bay

Daya Baru

2013

150/20

60

Maros

Jalur tengah

2011

70/20 150/20

1 1

10 30

10 10

8.3 33%

(2011-relok 10 MVA-ke Nii Tanasa)

KIMA Makassar

2015

150/20

60

Tello

1992 30/20 2004 150/20

1 1

20 30

30 30

42.4 42%

s.d 2010-20 kV disuplai PLTD Sewatama Tello

Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Capacity Exist 2009

SUBSTATION Add Trans (MVA) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) 2015-beban GI Tello lama sebagian diambil GI KIMA (APLN 2016) 57.2 56% (2017-relok 30 MVA-ke Majene) 62.6 61% 63.8 63% 69.3 68% 75.1 59% 60 -30 81.0 64% 87.2 68% Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA

No

No

Makassar Branch (APLN 2011) 51.9 51% 60

Unit Size (MVA)

Total (MVA)

Peak (MW)

Peak (MW)

Add Trans (MVA 2020 beban GI 87.2 68%

Tello Lama 1995 150/20

30

60 60

44.8 88%

9 61 (APLN 2014) 60 60.5 59% 60 67.5 66% 74.6 73% 82.8 54% 60 90.8 59% 99.5 66% 67 75 83 91 100

Bontoale 70/20 1995 70/20

2 1

20 30

(2012-relok 20 MVA ke Mandal) (2012-relok 30 MVA ke Daya) (2012-relok 20 MVA ke Borongloe) 118 118.2 58% 129 128.6 63%

40 30 70

52

2011

150/20

60

61.6 47%

109 GIS Bontoala II (APLN 2017) 60 108.6 53%

70 kV masih dipertahankan

10 (APLN 2012) 60 (2013-relok 30 MVA-ke Makale) 70.4 69% 78.5 62% 60 -30 86.8 68% 98.2 75% 105.7 69% 60 -30 (APLN 2015) 115.8 76%

Panakukang 70/20 1995 70/20 2005 150/20

2 1 2

20 20 30

60 60

2018-beban GI Panakukang sebagian diambil 115.8 76% 115.8 76% 115.8 76%

60.0 59%

(2018-relok 30 MVA-ke Sinjai) (APLN 2017) 10.6 21% 60 21.8 43% (APLN 2019) 56.4 55% Ambil sebagian beban Panakukang - Tello(APLN 2017) 60

11

Panakukang Baru/ Antang 2018 150/20

60

12 33.3 44% (2012-relok 20 MVA dari Bontoala) 37.4 49% 41.6 54% 46.4 61%

Tanjung Bunga 2006 150/20

30

30 30

28.2 37%

51.3 67% (APLN 2015)

56.6 74%

62.2 49%

60

68.2 53%

59.7 47% 2023 - Beban

13 18.3 54% 20 20.1 59% 21.8 64%

2006

Borongloe 70/20 70/20

1 1

10 20

st 20 20

15.9 94%

23.8 70%

25.7 43%

30

27.6 46%

29.6 50%

31.7 53% (APLN 2018)

33.9 57%

14 30 23.1 41% 25.5 45%

1996 2000

Tallasa 150/20 150/20

1 1

16 20

16 20 36

19.9 35%

28.0 50%

30.7 55%

33.4 60%

36.3 65%

39.2 70%

42.3 45%

60 -16 (2019-relok 16 MVA-

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


60 29.2 38% 32.2 42% 35.3 46% 38.8 51% 42.3 55%

45.6 49%

15

Sungguminasa 1998 150/20

30

30 30

(APLN 2019) 45.9 60% 49.7 65% 53.6 70% 57.8 45% 60

25.1 33%

515

Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

516
Add Trans (MVA) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) (APLN 2019) 13.2 34% 30 15.4 39% 17.0 43% 18.6 47% 20.4 52% 22.2 57% 24.0 61% 26.0 66% 28.0 72% 30.1 47% 30 Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA 6.7 79% 7.7 23% 30 8.5 25% 9.2 27% 10.0 29% 10.8 32% 11.6 34% 12.5 37% 13.3 39% 14.2 42% (APLN 2019) 5.7 34% diusulkan ke PIKITRING untuk ditambah (APBN 2012) 19.9 65% 23.0 75% 25.4 45% 30 27.8 50% 30.5 54% 33.2 59% 36.0 64% 38.9 69% 41.9 75% (APBN 2019) 45.1 66% 2019-relok 16 30 -16 6.6 39% 7.3 43% 8.0 47% 8.8 52% 9.6 56% 10.4 61% 11.2 66% 12.1 71% 13.0 31% 30 (APBN 2012) 12.0 71% 13.8 81% 15.2 36% 30 16.5 39% 17.9 42% 19.3 45% diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 20.8 49% 22.3 52% (2017 - 30MVA-relok dari Tello lama) 7.7 45% (APBN 2013) 8.6 51% 9.9 58% 10.8 64% 11.8 28% 30 12.8 30% 13.8 33% 14.9 35% 15.9 37% 17.0 40% 18.2 43% 8.9 52% 9.7 57% 10.6 62% 11.5 68% 12.4 73% 13.3 31% 30 14.3 34% 15.3 36% 16.3 38% 23.8 56% 25.4 60% diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan (APBN 2012) 11.6 68% 13.3 78% 14.5 34% 30 15.8 37% 17.2 40% 18.5 43% 19.9 47% 21.3 50% 22.7 53% 24.2 57% Sebagian beban GI Bone diam (APBN 2017) 23.4 39% 30 27.2 46% 30.1 51% 33.1 56% 36.4 61% 39.7 67% 43.2 73% 46.84 55% 30 -20 37.98 56% (2018-relok 20 MVA-ke..) 38.3 56%

Capacity Exist 2009

SUBSTATION

No

No

Pare - Pare Branch

Unit Size (MVA)

Total (MVA)

Peak (MW)

Pare -Pare 150/20

16

16 16

Barru 150/20

10 10

Pinrang Branch

Bakaru 150/20

20

20 20

Pinrang

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

150/20 150/20

1 1 1

5 16 20

st 16 20 36

Mamuju Branch

Polmas 2000 150/20

20

20 20

Majene 2000 150/20

20

20 20

Mamuju 2000 150/20

20

20 20

Watampone Branch

Soppeng 1995 150/20 2000 150/20 2008-1 unit ke 150/20

1 1 1

20 20 -20

20 20 -20 20

Bone / Watampone 1995 150/20 2000 150/20

1 1

20 20

20 20 40

Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Capacity Exist 2009

SUBSTATION Add Trans (MVA) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA

No

No

Unit Size (MVA)

Total (MVA)

Peak (MW)

Add Trans (MVA

Watampone Branch (APBN 2017) 17.4 41% 30 20.3 48% 22.4 53% 24.6 58% 27.0 64% 29.4 69% 31.9 76% 34.5 51% 30 37.3 55% (APBN 2018) 19.6 77% 30 40.2 59% (APBN 2019) 24.6 48% 30

1995

Sidrap 150/20

20

20 20

2019

Kajuara 150/20

30

Sengkang 1999 150/20 2002 (rusak th :150/20 2008 dari Sopeng 17.4 41% 30 19.1 46% 20.8 49% 22.6 53% 24.2 57% 20.1 47% (APBN 2012) 13.0 51% 30 14.2 56% 15.5 61% 16.8 66% 18.2 71% 17.6 41%

1 1 1

16 30 20

20 20

26.9 61% (APBN 2017) 19.6 30% 30

27.7 66%

29.7 70%

Siwa / Keera 2013 150/20

30

21.1 41%

22.6 44%

Bulukumba Branch (APBN 2017) 10.0 39% 30 19.2 45% 21.1 50% 22.9 54% 25.0 59% 27.1 64% 29.2 69% 31.4 46% 30 33.0 49% 2018-30 MVA-relok dr Panakukang 16.6 39% 30 19.3 45% 21.3 50% 23.2 55% 25.5 60% 27.6 65% 29.9 70% 32.2 47% 30 27.7 41% 2019-relok 30 MVA dr Tajur 15.9 37% 30 18.3 43% 20.2 47% 22.0 52% 24.0 56% 25.9 61% 28.0 66% 30.1 71% 32.3 47% 30 34.6 51% 29.1 43% 36.0 53%

Bulukumba 2000 150/20

20

20 20

2007

Sinjai 150/20

20

20 20

Jeneponto 2008 150/20

20

20 20

Palopo Branch (2011 relok 30 MVA dari Tello) 26.7 45% 30 31.0 52% 25.7 43% (2013 sebagian beban diambil GI Siwa) 28.1 47% 30.9 52% 33.6 56% 36.4 61% 39.3 66% 42.4 71% (APBN 2019) 45.7 60 49% -20 2020 relok 20 beban Makale sebagian diambil Enrekang 30 15.8 37% 17.3 41% 11.2 26% (APBN 2015) 7.5 29% 30 8.1 32% 8.7 34% 9.4 37% 10.0 39% 12.1 29% 13.1 31% 14.0 33% 15.1 35%

2006

Palopo 150/20

20

40 40

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


(2013-30 MVA - relok dr Panakukang) 11.4 67% 13.1 77% 14.5 34%

2006

Makale 150/20

20

20 20

Enrekang

(SY PLTA B. Batu)

517

2016

150/20

30

Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

518
Add Trans (MVA) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Add Trans (MVA Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA (APBN 2012) 9.3 36% (APBN 2012) 10.8 42% 30 11.9 47% 13.1 51% 14.2 56% 15.5 61% 16.8 66% 18.2 71% 30 10.2 40% 11.2 44% 12.2 48% 13.3 52% 14.4 56% 15.6 61% 16.8 66% (APBN 2019) 19.7 39% 30 (APBN 2012) 12.2 48% (APBN 2012) 5.21 20% 30 5.6 22% 6.0 24% 6.5 26% 7.1 28% 7.7 30% 8.3 33% 9.1 36% 30 13.0 51% 14.0 55% 15.2 60% 16.5 65% 17.9 70% (APBN 2018) 19.5 38% 30 21.2 42% 19.6 77% 2011 - 30 MVA - 70/20 - Mandonga 54.7 18% 50.0 (APBN 2012) 35.3 21% 30.0 2011 -10 MVA - baru (SY PLTU Nii Tanasa) 2011 -10 MVA - relok dari Maros 70 kV 9.7 57% (APBN 2012) 9.3 36% (APBN 2012) 17.3 41% 7.0 30 18.6 45% 7.0 20.0 51% 7.0 30 9.9 39% 10.7 42% 11.5 45% (APBN 2015) 21.6 42% 30 23.4 46% 25.4 50% 27.6 54% 30.0 59% 12.5 49% 13.5 53% 14.7 57% 15.9 62% 20 10.7 63% 11.8 69% 12.6 74% 30 37.9 31% 30.0 40.8 53% (APBN 2014) 60 44.2 58% 47.9 63% 52.1 66% 56.7 74% 30 60.6 42% 50.0 30 21.0 41% 30 22.7 44% 24.5 48% 26.6 52% 28.9 57% 31.5 62% (APBN 2018) 16.0 63% 17.4 68% 18.9 37% 30 20.6 40% 34.3 67% 2013 - operasi GI lain di Sistem kendari (Unaaha, Kendari 150) 11.8 12.6 13.6 14.7 46% 49% 53% 58% (APBN 2019) 61.8 48% 60 (APBN 2014) 13.6 40% 20 14.7 43% 16.0 47% 17.4 51% 18.9 56% 20.6 61%

Capacity Exist 2009

SUBSTATION

No

No

Unit Size (MVA)

Total (MVA)

Peak (MW)

2013

Wotu 150/20

30

2013

Malili 150/20

30

Kendari Branch

2013

Kolaka 150/20

30

2013

Lasusua 150/20

30

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

2013

Unaha 150/20

30

Kendari 2011 - Mandon 70/20

30

30

2011 - 20 kV disuplai PLTD (77 MW)

Kendari - 150 kV 2013 150/20

30

30

2013/14 - 20 kV disuplai PLTD (30 MW)

Nii Tanasa 2011-PLTU M 70/20 2011-relok dr M 70/20

1 1

10 10

10 10

2013

Raha 150/20

30

2013

Bau -bau 150/20

30

20 kV disuplai PLTD & PLTM (7 MW)

Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Capacity Exist 2009

SUBSTATION Add Trans (MVA) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Peak (MW) Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA Add Trans (MVA

No

No

Unit Size (MVA)

Total (MVA)

Peak (MW)

Peak (MW)

Add Trans (MVA

Big Consumer 39.0 39.0 39.0 5.3 5.3 32.0 32.0 90 30 30 150 1.380 1.352 1.02 76 733 405 166 120 30 150 120 80 200 1.275 1.249 1.02 76 671 375 153 32.0 76 797 437 180 1.490 1.460 1.02 180 150 330 5.3 5.3 32.0 30 30 60 1.177 1.153 1.02 76 614 345 141 39.0 39.0 39.0 5.3 5.3 32.0 32.0 180 210 180 570 1.078 1.056 1.02 76 555 315 131 250 250 992 970 1.02 76 504 289 122 5.3 32.0 330 210 50 590 846 831 1.02 76 454 244 71 39.0 39.0 5.3 32.0 76 389 211 64 740 727 1.02 39.0 5.3 32.0 76 865 470 196 1.607 1.574 1.02 180 60 60 300 39.0 5.3 32.0 76 938 505 214 1.733 1.697 1.02 150 180 60 390

Tonasa III & IV

150/20

32

95

Barawaja

150/30/20

20

10 20

Semen Bosowa

150/20

45

90

TOTAL PEAK KONSUMEN BESAR TOTAL PEAK LOAD 1 TOTAL PEAK LOAD 2 TOTAL PEAK LOAD 3

(MW) (MW) (MW) (MW)

TOTAL SYSTEM PEAK LOAD SCENAARIO NORMAL ANNUAL DIVERSITY FACTOR

(MW) (MW)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

849

519

Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo


2011 Peak (MW) Sebagian beban dialihkan ke GI Paniki (Relokasi dari GI Teling 10 MVA) 8.93 94% 16.78 88% 8.73 23% 20.00 9.61 25% 10.57 28% 11.62 31% 12.79 34% 14.07 37% 15.47 41% 9.27 49% 10.00 9.62 51% 9.98 53% 10.34 54% 1078 57% 11.24 58% 11.71 62% 12.20 64% 17.02 45% 12.73 67% 18.72 49% 44.64 78% 26.17 46% 28.79 51% 31.67 56% 34.83 61% 38.32 67% 42.15 74% 45.36 81% 45.35 81% Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Add Trafo (MVA) 45.36 81% Total (MVA) 60 60 10 10 20 20 Add Trafo (MVA)

520
Sebagian Beban dialihkan ke GI Paniki (Beban Ranomuut) Beban dialihkan ke GI Kema serta antisipasi GI Kema terlambat (Catatan : PLTU Amurang 2x25 MW dan PLTP Lahendong IV 20 MW dan 10 10 5.94 62% Mengantisipasi COD GIS Teling terlambat up grade trafo dari 10 MVA menjadi 20 MVA 45.33 95% 18.99 67% 12.58 66% 13.75 72% 13.23 35% 11.19 59% 10.65 56% 10.00 11.62 61% 10.00 12.68 67% 10.00 12.31 65% 13.54 71% 20.00 15.52 41% 17.10 45% 18.83 50% 14.89 78% 23.85 50% 30.00 15.22 80% 16.35 86% 17.56 37% 30.00 13.62 72% 14.74 78% 15.95 84% 17.25 36% 18.85 40% 20.72 55% 16.38 86% 26.23 55% 30.00 Beban dr GI Teling 70 kV 30.00 21.84 77% 24.97 88% 28.40 50% 30.00 32.14 56% 36.45 64% 18.76 39% 20.35 43% 22.93 60% 18.02 38% 28.86 61% 30.00 22.20 39% 10.00 22.87 40% 23.55 41% 24.24 43% 25.09 44% 25.96 46% 41.18 72% 20.39 43% 21.97 46% 25.37 67% 19.82 42% 31.74 67% 26.86 47% 46.38 81% 22.16 47% 23.70 50% 28.07 74% 21.81 46% 34.92 74% 27.79 49% 52.12 61% 24.09 51% 25.58 54% 31.05 82% 23.99 50% 38.41 51% 30.00 30.00 29.33 51% 57.90 68% 26.20 55% 27.62 58% 32.30 85% 28.46 60% 42.25 56% 7.18 76% 7.60 80% 8.04 85% 8.51 45% 10.00 9.05 48% 9.63 51% 10 20 20 50 0 0 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 10.24 54% 10.89 57% 11.58 61% 0 20 20 5.25 28% 5.78 30% 6.36 33% 6.99 37% 7.69 40% 8.46 45% 9.30 49% 10.24 54% 11.20 59% 12.38 65% 0 0.00 0 0 17.35 61% 30.00 19.51 68% 21.88 77% 24.47 86% 27.48 48% 30.00 30.79 54% 34.44 60% 38.47 45% 30.00 42.95 50%

Kapasitas Trafo

No

GARDU INDUK

Teg. Sistem

Jumlah

Unit Size (MVA)

GI Ranomut - Beban Puncak (MW)

70/20

20

GI Sawangan - Beban Puncak (MW)

70/20

10

GI Bitung - Beban Puncak (MW)

70/20

20

- Beban Sewa genset (MW)

GI Tonsealama - Beban Puncak (MW)

70/20

10

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GI Teling - Beban Puncak (MW)

70/20

1 1 1

10 20 20

GI Teling 150 kV (GIS) - Beban Puncak (MW)

70/20

GI Tomohon - Beban Puncak (MW)

70/20

10

GI Kawangkoan - Beban Puncak (MW)

150/20

20

GI Lopana - Beban Puncak (MW)

150/20

20

10

GI Tasik Ria - Beban Puncak (MW)

70/20

20

11

GI Otam - Beban Puncak (MW)

150/20

20

- Beban Pembangkit Kota (MW)

12

GI Likupang- Beban Puncak (MW)

70/20

20

13

GI Kema - Beban Puncak (MW)

150/20

Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo


2011 Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Add Trafo (MVA) 2020 Peak (MW) Add Trafo (MVA)

Kapasitas Trafo Total (MVA) Add Trafo (MVA)

No

GARDU INDUK

Teg. Sistem

Jumlah

Unit Size (MVA) 0 0 5.19 27% 0.00 3.00 32% 22.94 80% 0.00 0% 225.46 227.00 0.99 110.0 30.0 90.0 40.0 245.6 247.0 0.99 267.47 268.34 1.00 292.39 291.60 1.01 320.74 317.03 1.01 0.00 0% 4.50 24% 20.00 4.82 25% 5.15 29% 5.51 29% 351.71 344.76 1.02 60.00 30.00 25.57 45% 30.00 28.43 50% 31.51 55% 35.05 61% 38.90 68% 10.00 3.18 33% 3.37 35% 3.57 38% 3.79 40% 4.01 42% 4.26 45% 43.08 76% 5.90 31% 385.54 375.02 1.03 0.0 0.00 5.71 30% 6.28 33% 6.91 36% 7.60 40% 8.36 44% 9.19 48% 10.11 53% 0 0

14

GI Lolak - Beban Puncak (MW)

150/20

11.13 59% 4.51 47% 52.28 61% 6.31 33% 422.63 408.02 1.04 0.0 30.00

12.24 64% 4.78 50% 61.89 72% 6.75 36% 462.90 445.12 1.04 120.0

15

GI Bintauna- Beban Puncak (MW) 0 0 0.00 0 0 0.00 0% 222.48 209.44 1.06 70.0

150/20

16

Paniki - Beban Puncak (MW)

150/20

17

GI Molibagu - Beban Puncak (MW)

150/20

TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR TOTAL BEBAN GARDU INDUK TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 0.0

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

0.0

521

Capacity balance GI Sistem Sulutenggo


Kapasitas Trafo 2011 Peak (MW) (catatan : Sebagian Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Tiansmisi) 29.44 80% 29.44 80% 32.38 50% 30.00 35.62 55% 39.18 61% 43.18 61% 47.4 74% 52.15 57% 30.00 57.37 62% Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) Peak (MW) Add Trafo (MVA) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total (MVA)

522
30 10 25.60 70% 50.00 8.68 47% (catatan : Sebagian Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Tiansmisi I) 0.00 0.00 22.06 80% 30.00 15.00 54% 5.00 54% 0.00 0.00 0.00 0.00 5.32 29% 0.00 20.0 5.50% 60% 6.05 66% 6.66 72% 7.32 80% 8.05 22% 5.88 32% 0.00 16.50 60% 18.15 66% 19.97 72% 21.96 80% 24.2 44% 30.00 30.00 33.12 60% 30.00 36.43 66% 40.08 73% 44.08 80% 48.5 59% 30.00 53.34 64% 26.57 48% 30.00 8.86 24% 6.50 35% 5.46 30% 44.08 80% 6.05 30% 13.07 47% 8.36 30% 30.00 5.50 20% 15.00 54% 0.00 5.00 27% 103.2 155.5 0.66 0.0 70.0 180.6 171.8 1.05 30.0 30.00 16.50 60% 20.00 5.50 30% 198.6 189.6 1.05 90.0 9.20 33% 6.05 22% 18.15 56% 6.05 33% 218.5 210.0 1.04 0.0 6.66 33% 14.37 47% 10.12 37% 6.66 24% 19.97 72% 6.66 36% 245.7 232.3 1.06 0.0 30.00 48.49 59% 7.32 40% 15.81 57% 11.13 40% 7.32 27% 21.96 80% 7.32 40% 270.3 256.6 1.05 50.0 53.3 64% 8.05 44% 17.39 63% 12.24 44% 8.05 29% 24.16 44% 8.05 44% 302.8 283.5 1.07 120.0 30.0 20.0 58.67 71% 29.23 53% 9.74 26% 7.17 39% 6.03 33% 58.7 71% 8.86 48% 19.13 69% 13.46 49% 8.86 32% 26.57 48% 8.86 48% 333.1 308.1 1.08 50.0 Pembangkit Silae 9.55 52% 10.50 57% 11.55 63% 12.71 69% 13.98 76% 15.38 33% 30.00 16.9 37% 18.61 40% 20.47 44% 30 10 40 20 20 20 0 0 0 0 0.00 7.49 27% 2.23 24% 0.00 10.00 0 0 0.00 0 0 0.00 0 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0 0 0.00 17.82 65% 0.00 0.00 5.00 27% 10.80 39% 7.60 28% 5.00 18% 30.00 30.00 11.88 43% 20.00 5.50 30% 30.00 21.21 77% 33.12 60% 30.00 36.43 66% 40.08 80% 0 0 0.00 0 0 0.00 0.00 0.00 0 0 0.00 0.00 0.00 0 0 0.00 0.00 0.00 0 0 0.00 0.00 0.00 0 0 0.00 0.00 0 0 0 0 0 0 0 20 0 30 0 30 0 30 0 20 0 30 34.3 126.8 0.27 66.5 140.5 0.47 0.0

No

GARDU INDUK

Teg. Sistem

Jumlah Unit

Unit Size (MVA)

GI Talise

70/20

- Beban Puncak (MW)

1 1

PLTD Silae

GI Parigi - Beban Puncak (MW)

70/20

GI Parigi - Beban Puncak (MW)

70/20

GI Poso - Beban Puncak (MW)

150/20

GI Tentena - Beban Puncak (MW)

150/20

GI Ampana - Beban Puncak (MW)

150/20

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

GI Kolonedale - Beban Puncak (MW)

150/20

GI Palu Baru - Beban Puncak (MW)

150/20

GI Leok - Beban Puncak (MW)

150/20

10

GI Toli-toli - Beban Puncak (MW)

150/20

11

GI Moutong - Beban Puncak (MW)

150/20

12

GI Siboa - Beban Puncak (MW)

150/20

13

GI Luwuk - Beban Puncak (MW)

150/20

14

GI Moilong - Beban Puncak (MW)

150/20

TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR TOTAL BEBAN GARDU INDUK TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR

Lampiran B2.6
RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

524
(Kms)
Jumlah 482 1.417 14 1.431 1.451 255 112 308 524 380 170 6.693,8 1 101 1.451 254 112 308 524 380 170 6.110,8 2012 482 488 62 1.032 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 24

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Sulawesi

Tegangan

2011

T/L 500 kV

T/L 275 kV

T/L 150 kV

1.006,8

T/L 70 kV

Jumlah

1.030,8

(MVA)
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah

Tegangan

2011

500/275 kV 270 60 610 80 750 760 673 590 180 450 160 30 30 30 60 20 400 490 590 150 390 140 420 20 440 460 60 63 460 290 20 310 90 360 183 3.940 290 4.773

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

275/150 kV

150/70 kV

150/20 kV

70/20 kV

Jumlah

Pengembangan Transmisi Sulawesi


Ke Botupingge Marisa Buroko Botupingge Incomer double phl Buroko Isimu Botupingge Moutong Marisa Poso Palu Baru Silae Talise Wotu TIP 24 (TaliseParigi) 70 kV 275 kV 70 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 2 cct, Zebra, 430 mm 2 cct. ACSR 1x240 mm2 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 50 30 272 14 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 238 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 80 7.12 21.18 4.45 1.87 61.22 0.87 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 20 1.78 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 180 16.02 2014 2017 2012 2012 2012 2012 2012 2013 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 30 2.67 2014 150 kV 4 cct. ACSR 1x240 mm2 14 1.25 2013 On Going Planned Planned Planned Commited Commited Commited Planned On Going Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 16 1.42 2012 Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 76 6.76 2011 Selesai APBN IPP APBN IPP Unall Unall APLN APLN APBN APBN IPP Unall 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 220 19.58 2011 On Going APBN 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 90 8.01 2011 On Going IPP Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan

Provinsi

Dari

Gorontalo

Isimu

Gorontalo

Isimu

Gorontalo

Isimu

Gorontalo

PLTU Gorontalo Energi (IPP)

Gorontalo

PLTU Gorontalo (Perpres)

Gorontalo

PLTU TLG (Mololabu) (IPP)

Gorontalo

Marisa

Gorontalo

New PLTG (Marisa)

Sulteng

PLTA Poso (Tentena)

Sulteng

Poso

Sulteng

Palu Baru

Sulteng

Palu Baru

Sulteng

Tentena (PLTA Poso)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulteng

PLTU Tawaell Expansion

525

526

Pengembangan Transmisi Sulawesi


Ke Luwuk Leok Siboa Incomer Single phl (Toli2-Siboa) Ampana Luwuk Incomer Single phl Poso-Ampana Bunta Lopana Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki) Tanjung Merah (Kema) Tapping (LolakBuroko) Kawangkoan 150 kV 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 2 cct. ACSR 1x240 mm2 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 16 60 4 10 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 96 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 36 4.41 8.54 1.42 5.34 0.36 0.90 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 170 15.13 2020 2011 2011 2012 2012 2012 2013 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 164 14.60 2019 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 190 16.91 2019 Planned Planned Planned On Going On Going Commited Commited Planned Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 248 22.07 2017 Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 220 19.58 2015 Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 260 23.14 2014 Planned Unall Unall Unall Unall Unall Unall APLN APBN APBN APBN Unall Unall 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 216 19.22 2014 Planned Unall 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 180 16.02 2013 Planned Unall Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan

Provinsi

Dari

Sulteng

PLTMG Cendana Pura

Sulteng

Toli-Toli

Sulteng

Toli-Toli

Sulteng

Moutong

Sulteng

Poso

Sulteng

Bunta

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulteng

Kolonedale

Sulteng

Ampana

Sulut

PLTU Sulut II (Pepres)

Sulut

Lopana

Sulut

Teling (GIS)

Sulut

Ranomut Baru (Paniki)

Sulut

Bintauna

Sulut

PLTP Lahendong V & VI

Pengembangan Transmisi Sulawesi


Ke Bitung Molibagu Likupang Otam Sawangan Tanjung Merah (Kema) maros (New)-Ags 2011 operasi Sungguminasa-Ags 2011 operasi Sidrap-Ags 2011 operasi Incomer 2 phi (barru-pare) Tello (Uprating Cond) Palopo 275 kV 2 cct. Zebra, 430 mm 150 kV 2 cct, TACSR 150 kV 4 cct, Hawk, 240 mm 4,8 14 210 150 kV 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 130 12.81 150 kV 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 80 7.88 2011 150 kV 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 260 25.61 2011 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 20 1.78 2018 Planned Sdh operasi 70 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 1 0.06 2015 Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 32 2.85 2015 Planned 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 1 0.09 2014 Planned Unall Unall Unall IPP APBN 150 kV 2 cct. ACSR 1x240 mm2 132 11.75 2014 Planned Unall 70 kV 1 cct. ACSR 1x240 mm2 32 5.70 2013 Planned APLN Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan

Provinsi

Dari

Sulut

Likupang

Sulut

Otam

Sulut

PLTG Minahasa

Sulut

PLTP Kotamobagu

Sulut

PLTA Sawangan

Sulut

PLTU Sulut I (IPP)

Sulsel

Sidrap

Sulsel

Maros (New)

Sdh operasi

APBN

Sulsel

Sengkang

2011

Sdh operasi

APBN

Sulsel

PLTU Perpres=Barru

0.43 0.78 47.27

2011 2011 2012

On Going On Going On Going

APBN APBN IPP

Sulsel

Tallo Lama (Uprating Cond)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulsel

Wotu

527

528

Pengembangan Transmisi Sulawesi


Ke TIP. 57 150 kV 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 2 cct, 2xHawk, 240 mm 2 cct, 2xHawk, 240 mm 2 cct, UGC, XLPE, 400 mm 2 cct, 2xHawk, 240 mm 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 2 cct. 2xZebra, 2x430 mm 2 cct, UGC, XLPE, 400 mm 2 cct. Hawk, 240 mm 2 cct, Zebra, 439 mm 2 80 2 0.20 82 10.06 2013 9 2.75 2013 180 22.07 2013 Planned 140 17.17 2013 Planned 12 1.18 2012 On Going APBN 12 1.18 2012 On Going APBN Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan

Provinsi

Dari

Sulsel

PLTU Bosowa Jeneponto

Sulsel

PLTU Bosowa Jeneponto

TIP. 58

150 kV

Sulsel

Sengkang

Siwa/Keera (New)

150 kV

APBN

Sulsel

Siwa/Keera

Palopo

150 kV

APBN

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Bontoala (loop) 150 kV Planned APBN Malili (New) 150 kV Planned APBN Inc. 1 phi (MarosSungguminasa) Tanjung Bunga 150 kV 150 kV 2014 Planned APBN 7.88 2014 Planned IPP Inc. 1 phl (Pangkep-Tello) Inc. 2 phl (MakaleSidrap) Makate 150 kV 150 kV 150 kV 0.61 2015 Planned APBN 2 30 0.18 2.67 2016 2016 Planned Planned IPP IPP

Sulsel

Tallo Lama (loop)

Sulsel

Wotu

Sulsel

Daya Baru

Sulsel

PLTU Takalar Punaga

Sulsel

KIMA Makassar (New)

Sulsel

SY PLTA Batu/Enrekang

Sulsel

PLTA Malea

Pengembangan Transmisi Sulawesi


Ke Enrekang 150 kV 2 cct. 2xHawk, 240 mm 2 cct, 2xZebra, 2x430 mm 2 cct. Hawk, 240 mm 4 cct, 2xZebra 2x430 mm 2 cct, Ostrich (ex-P3B JB) 2 cct. 2xHawk, 240 mm 2 cct. 2xHawk, 240 mm 2 cct. 2xHawk, 240 mm 2 cct. Hawk, 240 mm 2 cct. 2xHawk, 240 mm 4 cct, ACSR 2x430 mm2 20 110 150 18.39 232 28.45 290 35.56 2013 24 1.89 2011 On Going Planned 20 1.78 2019 Planned 6 0.53 2019 Planned 24 2.36 2018 Planned Unall 40 4.91 2017 Planned Unall Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan

Provinsi

Dari

Sulsel

PLTA Bakaru II

Sulsel

Panakukang Baru/Antang

Inc. 1 phl (MarosSungguminasa) Inc. 1 phl (SinjaiBone) Inc. 1 phl (SidrapMaros) Mandonga/Kendari Lasusua (New) 150 kV 70 kV 150 kV 150 kV

150 kV

Sulsel

Kajuara-(New)

Unall Unall

Sulsel

PLTU Sewa Baru

Sultra

PLTU Perpres-Nii Tanasa

APBN APBN

Sultra

Mall (New)

Sultra

Lasusua (New)

Kolaka (New)

150 kV

2013

Planned

APBN

Sultra

Kolaka (New)

Unahaa (New)

150 kV

2013

Planned

APBN

Sultra Kendari (New) 150 kV

PLTU Kolaka (FTP2)

Kolaka

150 kV

1.78 13.49

2013 2013

Planned Planned

IPP APBN

Sultra

Unaha (New)

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Raha (New) 150 kV 220 19.58

Sultra

Kendari (New)

2014

Planned

APBN

529

530

Pengembangan Transmisi Sulawesi


Ke Raha (New)-Kabel Laut Inc. 2 phl (KendariRaha) Bau-bau (New) Unaha (New) 150 kV 4 cct, 2xACSR 2x430 mm2 4 cct, 2xACSR 2x430 mm2 4 cct, ACSR 2x430 mm2 2 cct. Hawk, 240 mm 4 cct, ACSR 2x430 mm2 2 cct. Hawk, 240 mm 40 3.60 400 49.05 50 4.45 2014 2018 2019 90 11.04 2014 80 9.81 2018 Planned 80 9.81 2016 Planned 150 kV 4 cct, ACSR 2x430 mm2 170 15.13 2014 Planned APBN Unall 150 kV 4 cct, ACSR 2x430 mm2 10 0.99 2014 Planned IPP 150 kV 2cct, Kabel Laut 10 10.68 2014 Planned APBN Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan

Provinsi

Dari

Sultra

Kendari (New)

Sultra

PLTU Kendari (FTP2)

Sultra

Raha (New)

Sultra

PLTA Konawe

Sultra

PLTA Watunohu 1

Lasusua (New)

150 kV

Unall

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Silae Mamuju Mamuju Bakaru 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Planned Planned Planned Planned APBN IPP Unall Unall

Sulbar

Pasangkayu

Sulbar

PLTU Mamuju (FTP2)

Sulbar

Pasangkayu

Sulbar

PLTA Poko

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 60 20 60 30 30 30 30 Extension 60 Extension 20 0.00 2.10 2.10 0.00 2.10 0.00 1.39 1.39 0.00 Extension 30 1.39 New 20 2.38 2014 2014 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 Extension 30 1.39 2011 Extension 30 1.39 2011 Extension 30 1.90 2013 Planned On Going On Going Operasi On Going Relok On Going On Going Relok On Going On Going On Going On Going Relok Extension 30 1.90 2013 Planned New 20 4.47 2011 On Going New 30 2.62 2011 On Going APBN APBN Unall Unall APLN APLN APBN APLN APBN APBN APBN Unall APBN APLN APLN/APBN APBN APLN New 30 2.62 2011 On Going APBN New 20 3.24 2011 On Going APBN New 30 2.62 2011 On Going APLN Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber

Provinsi

Wilayah

Gorontalo

Suluttenggo

Botupingge

Gorontalo

Suluttenggo

PLTU Gorontalo

Gorontalo

Suluttenggo

Isimu

Gorontalo

Suluttenggo

Marisa

Gorontalo

Suluttenggo

Buroko

Gorontalo

Suluttenggo

Botupingge

Gorontalo

Suluttenggo

Isimu

Sulbar

Sulselrabar

Polmas

Sulbar

Sulselrabar

Majene

Sulbar

Sulselrabar

Pasangkayu

Sulbar

Sulselrabar

Mamuju

Sulsel

Sulselrabar

Mandai

Sulsel

Sulselrabar

Tello Lama

Sulsel

Sulselrabar

Bontoala

Sulsel

Sulselrabar

Borongloe

Sulsel

Sulselrabar

Tallasa

Sulsel

Sulselrabar

Pare-pare

Sulsel

Sulselrabar

Bulukumba

Sulsel

Sulselrabar

Sanjai

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulsel

Sulselrabar

Daya

531

532

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Siwa/Keera-(GI Baru)+ 2 LB Sengkang, Ext LB Tello Lama (loop Btoala), Ext 2 LB Bontoala (loop T. Lama), Ext 2 LB Pangkep Bone Jeneponto Barru Makale Palopo IBT 275/150 kV New 180 150/20 kV Extension 30 1.39 14.45 150/20 kV Extension 30 1.39 150/20 kV Extension 30 1.39 150/20 kV Extension 30 1.39 2012 2012 2012 2012 2012 150/20 kV Extension 30 1.39 2012 150/20 kV Extension 2 LB 1.23 2012 On Going Planned On Going On Going Planned On Going Planned 150/20 kV Extension 2 LB 1.23 2012 On Going 150/20 kV Extension 2 LB 1.23 2012 On Going APBN APBN APBN Unall APBN APBN Unall APLN IPP 150/20 kV New 30 2.62 2012 On Going APBN Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber

Provinsi

Wilayah

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Palopo + Ext 2 LB Siwa, Ext 2 LB Pinrang Soppeng Maros Panakkukang Wotu IBT Wotu-(GI Baru)+2 LB Malili - (GI Baru) + 4 LB Tanjung Bunga, Ext 2 LB Daya Baru - (GI Baru) + 2 LB Tello Tello Lama KIMA Makassar - (GI Baru) + 2 LB Bontoala Sidrap Panakkukang Tanjung Bunga Borongloe Sungguminasa 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 60 60 60 60 60 30 60 60 30 150/20 kV New 2 LB 3.34 2.10 2.10 3.34 2.10 1.39 2.10 2.10 1.26 2.10 150/20 kV Extension 30 1.23 150/20 kV New 30 3.85 150/20 kV New 90 2.62 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2016 275/150 kV New 90 7.22 2013 150/20 kV Extension 60 2.10 2013 150/20 kV Extension 60 2.10 2013 Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Planned Proposed Proposed Proposed Planned 150/20 kV Extension 30 1.39 2013 Planned 150/20 kV Extension 30 1.39 2013 Planned Unall Unall APBN APBN Unall APBN APBN APBN Unall Unall Unall IBRD IBRD Unall IBRD IBRD IBRD Unall 150/20 kV Extension 2 LB 1.23 2012 On Going APBN 150/20 kV Extension 30 2.62 2012 On Going APBN Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber

Provinsi

Wilayah

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulsel

Sulselrabar

533

534

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Pinrang Bulukumba SY PLTA Bonto Batu/ Enrekang Makale, Ext 2 LB Sidrap, Ext 2 LB Bone Sinjai Bakaru, Ext 4 LB Pangkep Tello 150/20 kV Extension 60 2.10 150/20 kV Extension 60 2.10 150/20 kV Extension 4 LB 2.47 2018 2018 2018 150/20 kV Extension 30 1.39 2017 150/20 kV Extension 30 1.39 2017 150/20 kV Extension 30 1.23 2017 Proposed Planned Planned Proposed Planned Planned 150/20 kV Extension 60 1.23 2016 Proposed 150/20 kV New 30 2.62 2016 Proposed IBRD PLTA Malea PLTA Bakaru-II Unall Unall PLTA Poko Unall Unall 150/20 kV Extension 30 1.39 2016 Planned Unall 150/20 kV Extension 30 1.39 2016 Planned Unall Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber

Provinsi

Wilayah

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Tallo Lama Bontala - GIS II - (GI baru) Panakukang Baru/Antang (GI Baru) + 2 LB Pare-Pare Daya Baru Maros Tallasa Bone Sidrap Kajuara - GI New + 2 LB Kajuara Malili Panakukang Baru/Antang Tanjung Bunga Soppeng Siwa/Keera Jeneponto Wotu PLTA Poso Tentena IBT 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension New New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 60 60 30 30 20 30 10 90 150/20 kV Extension 20 150/20 kV Extension 30 1.39 0.00 2.10 2.10 1.39 1.39 0.00 1.39 2.98 4.86 150/20 kV New 30 2.62 150/20 kV Extension 30 1.39 150/20 kV Extension 30 1.39 2019 2019 2019 2019 2019 2020 2020 2020 2020 2020 2020 2012 2012 150/20 kV Extension 60 2.10 2019 150/20 kV Extension 60 2.10 2019 150/20 kV Extension 60 2.10 2019 Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Relok Planned Planned Planned Planned Relok Planned Commited Planned 150/20 kV Extension 30 1.39 2018 Relok 150/20 kV New 60 3.34 2018 Planned Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall APBN IPP 150/20 kV New 60 2.10 2018 Planned Unall 150/20 kV Extension 60 2.10 2018 Planned Unall Tegangan Baru/ Extension Kap COD Status Sumber Juta US$

Provinsi

Wilayah

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulsel

Sulselrabar

Sulteng

Suluttenggo

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulteng

Suluttenggo

535

536

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Poso Palu Baru Silae Silae Palu Baru Leok Toli-Toli Moutong Siboa (PLTU) Luwuk Moilong Talise Poso Ampana Palu Baru Luwuk Kolonedale Silae Tentena Parigi Kendari 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension New Extension Extension Extension Extension 150/20 kV New 150/20 kV Extension 30 20 30 30 20 30 30 20 30 70/20 kV Extension 30 150/20 kV New 20 150/20 kV New 30 2.62 3.24 1.38 1.86 2.38 1.90 1.90 3.24 1.90 1.90 1.51 1.26 150/20 kV New 30 2.62 150/20 kV New 30 2.62 2014 2014 2014 2014 2016 2016 2017 2018 2018 2019 2019 2020 2020 2011 150/20 kV New 30 2.62 2014 150/20 kV New 20 3.24 2014 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Proposed Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited APLN & APBN APLN & APBN APLN & APBN Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall APBN IBRD IBRD Unall Unall Unall Unall Unall Unall APBN Tegangan Baru/ Extension Kap COD Status Sumber Juta US$

Provinsi

Wilayah

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sulteng

Suluttenggo

Sultra

Sulselrabar

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Nii Tanasa Kolaka - (GI Baru) + 2 LB Kendari - (GI Baru 150 kV) + 2 LB Lasusua - (GI Baru) + 4 LB Kolaka, Ext 4 LB Unahaa - (GI Baru) + 4 LB Unaaha Kendari, Ext 4 LB Kendari - IBT 2x31,5 MVA Raha - (GI Baru) - 2 LB Bau-Bau Kolaka Raha Bau-Bau Kendari Unahaa Nii Tanasa Teling (GIS) Teling (GIS) Tomohon (IBT) 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension New New Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 30 30 60 60 20 30 30 60 150/20 kV Extension 30 150/20 kV New 30 2.62 1.39 1.39 1.39 2.10 2.10 0.00 4.00 2.62 2.62 150/20 kV New 30 2.62 150/70 kV New 63 0.00 150/20 kV Extension 4 LB 2.47 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2017 2018 2011 2011 2011 150/20 kV Extension 30 1.39 2013 150/20 kV New 30 3.85 2013 150/20 kV Extension 4 LB 2.47 2013 Planned Planned Planned Planned Relok Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Planned Relok On going On going Proposed 150/20 kV New 30 3.85 2013 Planned 150/20 kV New 30 2.62 2012 Proposed 150/20 kV New 30 2.62 2012 Proposed APBN APBN APBN APBN APBN APBN Unall APBN Unall Unall Unall Unall IBRD IBRD Unall Unall APLN APLN APBN/APLN 70/20 kV Extension 10 0.00 2011 Relok APLN Tegangan Baru/ Extension Kap COD Status Sumber Juta US$

Provinsi

Wilayah

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sultra

Sulselrabar

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulut

Suluttenggo

537

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi


Nama Gardu Induk Kema/Tanjung Merah Paniki Teling (IBT) Bintauna (Tap) Kawangkoan Paniki Tomohon Molibagu Otam Teling Kema/Tanjung Merah Sawangan Teling Otam Paniki Kema/Tanjung Merah Teling Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 30 30 30 150/20 kV Extension 30 150/20 kV Extension 30 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 70/20 kV Extension 20 1.38 70/20 kV Extension 30 1.63 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 2015 2017 2018 2019 2019 2019 2020 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned 150/20 kV New 20 2.38 2014 Planned 70/20 kV Extension 30 1.63 2015 On going 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall 150/20 kV New 10 2.27 2013 Planned Unall 150/70 kV Extension 60 2.62 2012 Proposed APLN & APBN 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited APBN 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited APBN Tegangan Baru/ Extension Kap COD Status Sumber Juta US$

538

Provinsi

Wilayah

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Sulut

Suluttenggo

Lampiran B2.7
PETA PENGEMBANGAN PENYALURAN SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Provinsi Sulawesi Utara Provinsi Sulawesi Utara


U G P A
GU GB M D

540
PLTG Minahasa 3x25 MW - 2012/2017/2019 Likupang
G
2

PT PLN (Persero) (P )

PERENCANAAN SISTEM

PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI UTARA

/ / / /

GU

GB

/ / / / / / / / / / / /

/ / / /

PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana PLTA Sawangan 2x8 MW 2015 Teling Tasik Ria Sawangan
U A

ACSR 1x240 mm 8 km - 2012 Paniki ACSR 1x240 mm2 Bitung D Ranomut 30 km - 2012 Kema
U

GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana

Edit Juli 2011

PLTU Sewa 2x25 MW - 2013 PLTU Sulut II (FTP1) 2x25 MW 2011


U U

ACSR 1x240 mm2 48 km - 2012 Tomohon


P P

PLTU Sulut I (Kema) 2x25 MW - 2014/2015 PLTU Sulut (PPP) 2x55 MW - 2017/2018

Tonsealama

Lopana

ACSR 2x240 mm2 18 km - 2011 Kawangkoan


P

PLTP Lahendong I,II&III 3x20 MW PLTP Lahendong IV 1x20 MW - 2011 PLTP Lahendong V & VI 2x20 MW 2014/2015

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


ACSR 1x240 mm2 10 km - 2013 Bintauna Otam
P

Buroko Lolak

PLTU Sulut I (FTP1) 2x25 MW - 2014

ke GI Isimu (Gorontalo)
ACSR 1x240 mm2 40 km - 2011 ACSR 1x240 mm2 16 km - 2015

ACSR 1x240 mm 40 km - 2011

PLTP Kotamobagu I&II 2x40 MW 2016

GORONTALO ACSR 1x240 mm2 64 km - 2014

Molibagu

Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo

PLTU Gorontalo (FTP1) 2x25 MW 2012/2013 ACSR 1x240 mm2 76 km - 2011


U

SULAWESI TENGAH
Buroko ACSR 1x240 mm2 8 km - 2013 Isimu ACSR 1x240 mm2 110 km - 2011 Marisa
G

ke GI Buroko (Sulut)
ACSR 1x240 mm2 27 km - 2012 Botupingge ACSR 1x240 mm2 15 km - 2014
U

ke GI Moutong (Sulteng)
PLTU GE 2x6 MW 2013

ACSR 1x240 mm2 105 km - 2014

ACSR 1x240 mm2 8 km - 2012 U

Moutong PLTG Gorontalo 1x25 MW 2017

SULAWESI UTARA
PLTU TLG 2x10 MW 2013

PT PLN (Persero)
U G P A
GU GB M D

PERENCANAAN SISTEM

PETA JARINGAN PROPINSI GORONTALO

/ / / /

GU

GB

/ / / / / / / / / / / /

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana

/ / / /

GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana

Edit Desember 2010

541

542
PLTU Tolitoli 3x15 MW - 2014
U

Provinsi Sulawesi Tengah Provinsi Sulawesi Tengah


Leok ACSR 1x240 mm2 108 km - 2014 Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km 2014

KALIMANTAN TIMUR
ACSR 1x240 mm2 70 km 2014 Moutong Siboa ACSR 1x240 mm2 110 km - 2015

ke GI Marisa (Gorontalo)

GORONTALO SULAWESI UTARA

PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW - 2013 PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW - 2018
U P

Silae PLTU Ampana 2x3 MW2013/14


U

Bunta Ampana Luwuk


2

ACSR 1x240 mm2 90 km 2019 PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW2015/16

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


ACSR 1x240 mm 85 km 2020 Poso ACSR 1x240 mm 124 km 2017
G
2

Talise ACSR 1x240 mm2 ACSR 1x240 mm2 15 km - 2012 25 km - 2014 Palu Baru
U

ke GI Pasangkayu g y (Sulbar)
ACSR CS 1x240 mm2 119 km - 2012 Toili

ACSR 1x240 mm2 90 km k - 2013

ACSR 1x240 mm2 80 km - 2012


A

ACSR 1x240 mm2 72 km - 2019 Tentena K l Kolonedale d l

PLTMG Luwuk 2x10 MW2012/13

PLTA Poso 65 MW 2011

PT PLN (Persero)

PERENCANAAN SISTEM
PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH
U G P A
GU GB M D

U G P A
GU GB M D

SULAWESI BARAT SULAWESI SELATAN

ke GI Wotu (Sulsel)

/ / / / / / / / / / / /

/ / / / / / / /

PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Ek i ti Kit Rencana

SULAWESI TENGGARA

GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana

Edit Juli 2011

Provinsi Sulawesi Selatan Provinsi Sulawesi Selatan


ke GI Tentena/ PLTA Poso (Sulteng)
ACSR 1x430 mm2 136 km - 2012

ke GI Barru Pangkep

ke GI Sidrap

Tonasa ACSR 2x430 mm2

130 km - 2011 PLTA Malea 2x45 MW 2016 PLTA Bonto B t Batu B t 2x50 MW 2016 PLTA Bakaru II 2x63 MW 2019 ACSR 1x240 mm2 145 km - 2013 ACSR 1x430 mm2 120 km - 2012 Wotu

SULAWESI BARAT SULAWESI TENGAH


ACSR 1x240 mm2 41 km - 2013 Malili

Maros

ke A PLTA Poso ACSR 1x430 mm2 15 km - 2016 (Sulbar)


Palopo Makale ACSR 1x430 mm2 90 km - 2013

ke GI Lasusua (Sultra)

Bosowa Mandai Kima ACSR 2x430 mm2 Tallo Daya Lama 40 km - 2011 Bontoala Daya Baru Tello G PLTG Sulsel Baru (Peaking) Panakukang 2x50 MW-2012 Tanjung Sungguminasa Bunga PLTG Makassar (Peaking) ke ke 1x50 MW-2013 PLTU GI Tallasa 1x50 MW-2015 Takalar

ke GI Polman (Sulbar)
A

BakaruA
A

Enrekang ACSR 2x430 mm2 150 km - 2016 ACSR 2x430 mm2 65 km - 2011 Sidrap
GU

Pinrang Pare
D G

Keera/ Siwa ACSR 1x430 mm2 70 km - 2013

SULAWESI TENGGARA
PLTG Sengkang 60 MW 2012 PLTGU Sengkang 180 MW 2013

Sengkang

PLTU Sulsel-Barru (FTP1) 2x50 MW - 2012 PLTU Sewa 2x100 MW-2013 Barru
U U

Soppeng

PLTM Tangka/Manipi 10 MW 2011 Bone Kajuara

Tallasa Pangkep Maros Bosowa


2

Jeneponto Tello D
G

Bulukumba

ACSR 2x430 mm2 130 km - 2010 Tonasa

PT PLN (Persero)

PERENCANAAN SISTEM

Sungguminasa PLTU Takalar Punaga IPP 2x100 MW 2014/2015


A U

ACSR 2x430 mm 40 km - 2010


M

PLTBG Selayar 2x4 MW 2012/2013 PLTU Bosowa 2x100 MW 2013 PLTU Jeneponto eks Spanyol (Takalar-FTP II) 2x100 MW 2014/2015 Tallasa
U

Sinjai

/ / / / / / / /

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


U

Jeneponto

Bulukumba

/ / / /

PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI SELATAN GI 500 kV Existing / Rencana U / U PLTU Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana G / G PLTG Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana P / P PLTP Existing / Rencana A / A PLTGU Existing / GI 70 kV Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GU GU Rencana / GI 500/275/150 kV Existing / RencanaGB / GB PLTGB Existing / M / M GI 275/150 kV Existing g / Rencana Rencana D / D GI 150/70 kV Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana Kit Eksisting T/L 70 kV Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana Kit Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana Edit Juli 2011 T/L 500 kV Existing / Rencana

543

Provinsi Sulawesi Barat Provinsi Sulawesi Barat


ke GI Silae (Sulteng)
ACSR 2x240 mm2 45 km - 2014

544
Pasangkayu

SULAWESI TENGAH

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


ACSR 2x240 mm2 200 km - 2018 PLTU Mamuju (FTP2) 2x25 MW - 2015 Mamuju
U

SULAWESI SELATAN

PT PLN (Persero)

PERENCANAAN SISTEM
PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI BARAT
U G U G

PLTA Poko 117 MW 2020


A

P A
GU GB M D

P A
GU GB M D

/ / / / / / / /

/ / / / / / / /

Polmas Majene

ke GI Pinrang (Sulsel)

/ / / /

PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing g / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana

GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing g / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana

Edit Mei 2011

Provinsi Sulawesi Tenggara Provinsi Sulawesi Tenggara

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

545

Lampiran B2.8
ANALISIS ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Sistem Interkoneksi Sulut - Gorontalo (2013)


SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA - GORONTALO 2013
O 314,1 MW 310,8 MW 3,3 MW 45 MW 1,1 % PANIKI 23,3 145,0 10,5 20 MW LIKUPANG 5,0 66,7 2,3

548
RANOMUUT 20,1 65,4 9,0 61 MW 7 MW 21 MW 27 MW 44,1 19,9 145,4 TELING 15 MW BINTAUNA 1,6 147,7 0,7 18 MW G U MW A 18 26 MW 44 MW 4 MW LOPANA 8,4 147,6 3,8 D MW TOMOHON 14,9 66,9 6,7 8 15 MW TNSEALMA 6,6 66,8 3,0 TASIKRIA 6,9 66,4 3,1 SAWANGAN 12,3 5,5 66,7 31 MW 15 MW BITUNG 8,2 3,7 67,1 D 24 MW LOLAK 4,2 147,2 1,9 31 8 MW 46 MW P 72 MW 31 MW MW 26 MW KAWANGKN 15,5 147,0 7,0 OTAM 27,6 146,8 12,4 A 5 MW A 7 MW KEMA 21,1 144,5 9,5

Capasitor :

Pembangkit Beban Susut

150 kV 70 kV 30 kV

44 U MW ANGGREK 7,8 150,0 3,5

1 MW

BUROKO 2,7 148,2 1,2

36

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

MW

12 MW

ISIMU 21,2 147,9 9,5

7 MW

LEOK 4,3 150,0 1,9

15

MW

7 MW

MARISA 6,6 147,5 3,0

BTPNGGE 22,7 147,3 10,2

8 MW

Sistem Interkoneksi Sulut - Gorontalo (2015)


SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA - GORONTALO 2015
Pembangkit Beban Susut 35 MW 1,0 % PANIKI 28,4 145,5 12,8 LIKUPANG 6,0 65,0 2,7 369,8 MW 366,0 MW 3,8 MW

Capasitor :

150 kV 70 kV 30 kV RANOMUUT 23,5 65,2 10,6

74 MW 11 MW 12 MW 53,2 23,9 145,8

TELING

6 MW 6 MW

35 MW 15 MW G U MW 23 36 MW

12 U MW ANGGREK 9,0 150,0 4,1 BINTAUNA 1,8 149,1 0,8 A TASIKRIA 8,4 66,3 3,8 34 MW

24 U MW BUROKO 3,1 149,0 1,4

SAWANGAN 14,6 6,6 66,2 16 MW

BITUNG 9,6 4,3 65,4

62 41 MW LOPANA 9,2 148,4 4,2 D MW 4 TOMOHON 17,9 66,9 8,1

MW

U LOLAK 5,0 149,2 2,2

12 MW

8 MW 9 MW TNSEALMA 7,4 66,5 3,3

SIBOA 9,9 149,0 4,4

D 0 MW

2 MW 46 MW 3 MW MW

12 MW

ISIMU 24,6 147,8 11,1 32

TOLI-TOLI 11,8 149,1 5,3 17 MW OTAM 31,7 149,4 14,3 P BTPNGGE 26,4 147,1 11,9 A 5 MW D 9 MW

LEOK 5,2 150,0 2,3

59 MW 13 MW P P 70 MW 72 MW 36 MW KAWANGKN 17,1 148,1 7,7

A 7 MW

KEMA 25,9 145,5 11,7

3 MW

19 MW

20

MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

MOUTONG 8,4 148,3 3,8

11 MW

MARISA 7,6 147,9 3,4

549

Sistem Interkoneksi Sulut - Gorontalo (2020)


SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA - GORONTALO 2020
PANIKI 46,8 144,2 21,1 LIKUPANG 9,5 61,9 4,3 Pembangkit Beban Susut 54 MW 2,3 % 568,7 MW 555,4 MW 13,3 MW

550
RANOMUUT 34,9 63,0 15,7 7 MW 85,2 38,4 9 MW 144,2 MW TELING 26 101 MW 9 MW 24 U MW BUROKO 4,4 145,3 2,0 BINTAUNA 2,4 146,1 1,1 47 MW G U MW 29 34 MW A 44 MW TASIKRIA 13,9 64,1 6,2 SAWANGAN 22,7 10,2 63,9 24 MW D MW 4 TOMOHON 28,4 65,2 12,8 24 MW TNSEALMA 9,9 64,4 4,4 22 MW BITUNG 14,5 6,5 62,7 D 0 MW 82 MW LOLAK 7,5 147,1 3,4 LOPANA 11,8 146,8 5,3 52 89 MW 38 MW MW 96 MW 67 MW P P P 74 MW 72 MW 36 MW U 144 MW KAWANGKN 21,8 145,2 9,8 OTAM 44,9 148,2 20,2 BTPNGGE 39,2 141,7 17,6 A 23 MW A 7 MW KEMA 43,3 146,0 19,5 39 MW

Capasitor : Teling - 150 kV Isimu - 150 kV

20 Mvar 20 Mvar

150 kV 70 kV 30 kV

24 MW ANGGREK 13,3 145,5 6,0

75 MW

105

MW

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

12 MW

SIBOA 14,7 144,3 6,6

3 MW

12 MW

ISIMU 36,5 143,1 16,4

TOLI-TOLI 17,0 144,1 7,7

LEOK 8,4 145,2 3,8

17 MW

29 MW

MOUTONG 13,3 143,6 6,0

31 MW

MARISA 11,1 144,3 5,0

15 MW

Eksisng 150 kV 2015 2015 PLTU BARRU 2 X 50 MW G PLTD SUPPA 2011 G 15.2 133.8 PANGKEP 21.5 8.8 BARRU 70 kV 3.5 10.5 146.2 BOSOWA MAROS5 - JT 20.4 2011 22.4 9.2 148.8 SIDRAP MAKALE 14.5 6.0 149.7 20.6 8.5 1 4 4 .8 32.0 13.2 1 4 4 .5 147.1 1 4 7 .9 8.5 25.4 PINRANG 7.3 3.0 145 3 145.3 7.0 148 5 148.5 BAKARU 1 5 0 .0 17.0 16.6 PARE2 6.2 149.0 POLMAS 4.0 90 149.0 4.5 148.7 8 -120 73 Reaktor : 43 Palopo - 275 kV -120 9.7 20 10 10.8 MAJENE MAMUJU

SISTEM SULSELBAR - LASUSUA - KOLAKA - KENDARI - RAHA - BAU-BAU - POSO - PALU - 2013
Capacitor :
50 Pangkep-70 kV 20 Daya - 70 kV 10 Tello - 70 kV

Sistem Interkoneksi Sulselrabar 2013

Rencana 150 kV

2009

Eksisng

PLTG TELLO

2011 (Uprang)

TL. LAMA

TELLO

57.2

23.6

144 0 144.0

54.0

22.2

144 4 144.4

New

70 kV

G PLTA BAKARU 2X63 MW

'2012

BONTOA LA

PANAKUKA NG

67.5

27.8

143.7

78.5

32.3

144.1

23.8

1.0 2011 DAYA BARU 2011 8.8 SENGKANG 17.6 17 4 17.4 7.8 2.0 G SOPPENG 14.5 6.0 148.9 PLTGU SENGKANG 135 MW G PLTGU SENGKANG 180 MW 2012 MALILI 10.8 PLTU NII TANASA 4 X 10 MW G SINJAI 21.3 8.8 145.5 BONE 30.1 12.4 147.1 2013 NII TANASA 11.8 4.8 6 9 .6 2013 KENDARI 47.0 19.4 149.1 2013 UNAAHA 19.6 8.1 G Sultra
P LTU Nii Tanasa

546
169.8 24.8 21.4 144.5 110 6 110.6 73 7.3 150.0

TN. BUNGA

SG.MINASA

PALOPO 25.7 2 0 13 KEERA/SIWA 13.0 53 5.3 150.3 2012 2013 WOTU 9.3 3.8 152.4 70.6 17.0 2013 LASUSUA 4.4 152.1 5.2 2.1 151.7 10.6 150.2 2 0 11 51.6 (275 kV) 16 1.6 PLTA POSO G ke Sistem Sul. Tengah

37.4

15.4

144.0

32.2

13.3

144.4

TALLASA

25.5

10.5

145.0

PLTU BOSOWA

14.6

2x100 MW

4.2

JENEPONTO

BULUKUMBA

20.2

8 .3

145.4

21.1

8.7

145.3

2013 KOLAKA 1 4 9 .3 12.2 5.0 PLTU KENDARI 2 X 25 MW Pe mba ngki t Distribusi 180 Sus ut Transmisi : : : BAU-BAU 9.3 37.2 MW 3.3% 3.8 148.4 17.3 7.1 147.5 1,116.2 MW 1,078.9 MW 2013 RAHA PLTU KOLAKA 2 X 10 MW Ke te ra nga n : NAMA GI 150.0 G

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


PL TU Kdri(2x25) PL TU Kolaka PL TU Bau Sulteng g: 32 PLTU Ta wa e l i 20.0 20 PLTU Tawaeli Ex 25.0 14 PLTA Pos o 12

KOMPOSISI PEMBANGKITAN ( MW )

PLTA Bakaru

60

PLTM Bili

120 PLTG Skg1 g 6 PLTG Skg2

180

PLTGU Skg

60 PLTU Bsowa 60 PLTG Te l l o1

33.3

551
-

PLTD Suppa

135 PLTU cc Skg - PLTM Tangka

3 3 .3

PLTG - GE Tello

- PLTM Rtballa PLTU Sulsel-1

10 PLTG Te l l o2 2 PLTG Te l l o3

33.3

Flow dalam MW/MVAR

MW G PLTU BAU-BAU 2X7 MW MVAR

80

KV

SISTEM SULSELBAR - LASUSUA - KOLAKA - KENDARI - RAHA - BAU-BAU - (+ POSO - PALU - LUWUK) - 2015
2010 MAJENE -51 5 PLTU BARRU 2 X 50 MW G 2011 G 17.9 119.4 KIMA MKS 77 7.7 3.2 8.4 BARRU PINRANG 30.5 148.0 12.6 2015 2010 27.0 11.1 148.3 SIDRAP MAKALE 17.3 7.1 149.1 16.4 BOSOWA MAROS5 - JT 27.0 11.1 144.8 32.0 13.2 144.5 146.7 8.8 3.6 70 kV 10.0 4.1 145.5 BAKARU 150.0 144.2 10.6 144.5 147.3 25 8 25.8 20 4 20.4 PANGKEP 22.0 PARE2 7.4 149.2 POLMAS 2X25 MW ke Ps. Kayu - Silae - Palu G PLTU MAMUJU 4.7 1 4 9 .9 5.3 1 5 1 .3 11.5 12.8 -51 MAMUJU Eksisng 20 10 50 Pangkep-70 kV 20 Daya - 70 kV 10 Tello - 70 kV 2015 2015 80 Reaktor : 50 Palopo - 275 kV

Sistem Interkoneksi Sulselrabar 2015

552
Capacitor :
G PLTA BAKARU 2X63 MW 2x120 MW 2010 DAYA BARU 177.8 42.8 SENGKANG 20.8 16.8 5.8 SOPPENG 17.2 7.1 148.6 7.0 G PLTGU SENGKANG 135 MW G PLTGU SENGKANG 180 MW 2013 MALILI 13.1 PLTU NII TANASA 4 X 10 MW G SINJAI 25.5 10.5 145.1 15.0 36.4 BONE 146.7 2013 NII TANASA 13.6 5.6 6 9 .6 2013 KENDARI 54.4 22.4 149.5 2013 UNAAHA 22.7 9.3 G 20 20 165 200.0 12 PLTA Pos o 22 PLTGU Senoro Pe mba ngki t Distribusi Sus ut Transmisi : : : 1,338.7 MW 1,303.3 MW 35.3 MW 2.6% 1 RAHA 10.7 4.4 149.4 PLTU KENDARI 2 X 25 MW 2013 BAU-BAU 20.0 8.2 149.0 1 4 9 .8 2013 KOLAKA 14.0 5.8 PLTU KOLAKA 2 X 10 MW Ke t e ra nga n : NAMA GI 150.8 G 54 5.4 154.3 122.2 8.6 150 0 150.0 2013 KEERA/SIWA 15.5 6.4 150 2 150.2 2010 10.9 144.6 26.6 PALOPO 30.9 12.7 150.0 PLTGU SENORO G ke Sistem Sul. Tengah (Luwuk) 2013 WOTU 11.2 4.6 154.7 62.4 11.8 2013 LASUSUA 6.0 25 2.5 153.3 G (2 7 5 kV) 177.4 ( ) (275 kV) 7.4 3x65 MW PLTA POSO ke Sistem Sul. Tengah (Poso) 145.7 - PL TU Mamuju 140 PLTU Jnponto 140.0 PLTU Kolaka P LTU Bau 23.9 PLTU PUNAGA 23.9 2 3 .9 Sultra : 34 PLTU Nii Tanasa 60.0 PLTU Kdri(2x25) Sulteng : 24 PLTU Ta wa e l i 36 PLTU Tawaeli Ex

Eksisng 150 kV Rencana 150 kV

PLTG PEAKING

TL. LAMA

TELLO

63 8 63.8

26.3

143.9

64 4 64.4

26.5

144.3

70 kV

BONTOA LA

PANAKUKA NG

82.8

34.1

143.7

96.2

39.6

143.9

65.7

4.6

547

TN. BUNGA

SG.MINASA

46.4

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


Flow dalam MW/MVAR
MW G PLTU BAU-BAU 2X7 MW & 2X10 MW MVAR KV

19.1

144.7

38.8

16.0

144.6

G PLTU PUNAGA TAKALAR

TALLASA

2 X 100 MW

30.7

12.6

145.8

PLTU BOSOWA 2X100 MW

5.4

PLTU JNPONTO 2X100 MW

10.8

JENEPONTO

BULUKUMBA

24.0

9.9

146.4

25.0

10.3

KOMPOSISI PEMBANGKITAN ( MW )

Sulselbar : PLTA Bakaru

50 PLTU Sulsel-1

PLTM Bili

110 PLTG Skg1 6 PLTG Skg2

PLTGU Skg

50 PLTU Bsowa 50 PLTG Tello1

PLTD Suppa

120 PLTU cc Skg - PLTM Tangka

PLTG - GE Te l l o

- PLTM Rtballa

6 PLTG Te l l o2 2 PLTG Tello3

SISTEM SULSELBAR - LASUSUA - KOLAKA - KENDARI - RAHA - BAU-BAU - (+ POSO - PALU - LUWUK) - 2020
2020 2020 -63 PLTU BARRU 2 X 50 MW G 2011 POLMAS 25.4 203.6 10.5 PARE2 30.1 12.4 BARRU 70 kV 14.2 5.9 66.6 BOSOWA 2015 2010 40.2 16.6 G 2010 DAYA BARU 46.9 19.3 SENGKANG 29 7 29.7 7.4 160.2 31.0 G SOPPENG 24.2 10.0 147.4 PLTGU SENGKANG 135 MW G PLTGU SENGKANG 180 MW 2013 MALILI 19.7 PLTU NII TANASA 4 X 10 MW G SINJA I 29.1 12.0 140.8 10.1 141.3 24.6 38.3 15.8 KAJUARA BONE 143.9 2013 NII TANASA 20.6 8.5 70.0 Sultra : 80 Sulteng : 20 20 165 12 PLTA Pos o 22 PLTGU Senoro 74 PLTG Palu 200.0 40 Pe mba ngki t Distribusi Sus ut Transmisi : : : 6 8 .6 2013 KENDARI 82.4 33.9 146.6 2013 UNAAHA 34.3 14.1 G RAHA 15.9 62.4 MW 3.1% 6.6 145.9 PLTU KENDARI 2 X 25 MW 24 PLTU Ta wa e l i 36 PLTU Tawaeli Ex 1,995.9 MW 1,933.5 MW 1 4 8 .7 G PLTA KONAWE PLTA LALINDU 2013 BAU-BAU 30.0 12.4 145.5 2013 KOLAKA 21.2 8.7 149.8 81 8.1 153.6 5.6 12.2 150.0 137.9 89.2 2013 KEERA/SIWA 22 6 22.6 9.3 149.9 150.0 146.9 4.1 149.1 10.0 SIDRAP ENREKANG MAKALE 15.1 6.2 150.2 G PLTA MALEA 2X45 MW 32.0 13.2 138.3 20.4 138.6 49.7 MAROS5 - JT 141.6 246.6 18.6 144.6 45.1 13.0 5.4 PINRANG 145.6 BAKARU 149.7 G
PLTA BAKARU BLOK I DAN II

Sistem Interkoneksi Sulselrabar 2020


MAMUJU 1 8 .2 7.5 G PLTU MAMUJU 2X25 MW ke Ps. Kayu - Silae - Palu 1 5 0 .0

Eksisng 150 kV Rencana 150 kV MAJENE 1 6 .3 6.7 1 4 8 .3 -63

2010

Eksisng 20 10 50 Pangkep-70 kV 20 Daya - 70 kV 10 Tello - 70 kV

Capacitor :
80 Reaktor : 50 Palopo - 275 kV

PLTG PEAKING

147.7

TL. LAMA 14.8 30.5 12.6 136.8 15.7 137.7 38.2

TELLO

KIMA MKS

PANGKEP

87.2

35.9

136.6

86.3

35.5

137.2

70 kV

PLTA POKO

BONTOALA

PANAKUKANG

128.6

53.0

136.3

115.8

47.7

136.7

71.7

22

PLTA B.BATU 2X50 MW PALOPO 45.7 18.8 149.9 (275 kV) 140 0 140.0 2013 WOTU 16.8 6.9 154.3 68.4 5.4 G (2 7 5 kV) 3.2 G

2 x1 2 0 MW PLTGU SENORO ke Sistem Sul. Tengah (Luwuk)

548

TN. BUNGA

SG.MINASA

PNK BARU

59.7

24.6

138.3

57.8

23.8

138.0

56.4

23.2

137.6

3x65 MW PLTA POSO ke Sistem Sul. Tengah (Poso) 2013 LASUSUA 9.1 37 3.7 152.3

G PLTU PUNAGA TAKALAR

TALLASA

2 X 100 MW

45.6

18.8

141.1

PLTU BOSOWA 2X100 MW

15.8

PLTU JNPONTO 2X100 MW

23.0

JENEPONTO

BULUKUMBA

34.6

14.2

143.0

36.0

14.8

141.6

KOMPOSISI PEMBANGKITAN ( MW )

Sulselbar :

G PLTU KOLAKA 2 X 10 MW Ke te ra nga n : NAMA GI

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020


34 PLTU Nii Tanasa 110.0 PLTU Kdri(2x25) 140.0 PLTU Kolaka - PLTU Bau 40.0 PLTA

PLTA Bakaru II

PLTA Bakaru

47.27 PLTA poko 50 PLTU Sulsel-1

PLTA Malea 195.0 PLTA B.Batu 80 PLTU Mamuju

PLTM Bili

45 PLTG Skg1 4 PLTG Skg2

PLTGU Skg

50 PLTU Bsowa 50 PLTG Tello1

140 PLTU Jnponto 40.0 PLTU PUNAGA

PLTD Suppa

120 PLTU cc Skg - PLTM Tangka

Flow dalam MW/MVAR

MW G PLTU BAU-BAU 2X7 MW & 2X10 MW MVAR

553

PLTG - GE Tello

- PLTM Rtballa

6 PLTG Tello2 2 PLTG Tello3

40.0 PLTG Tello4 40.0 PLTG Tello5

KV

Lampiran B2.9
KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Regional Sulawesi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 1,094 657 830 1,006 1,143 1,297 1,497 1,634 1,831 2,156 13,145 JTR kms 1,351 900 1,016 1,119 1,196 1,277 1,372 1,437 1,520 1,669 12,857 Trafo MVA 549 338 402 401 419 454 493 523 560 613 4,749 Pelanggan 228,717 126,778 144,805 152,880 162,940 173,498 185,989 194,034 204,542 222,095 1,796,276

Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Regional Sulawesi


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 13,2 8,4 10,0 11,6 12,8 14,2 16,0 17,3 19,1 22,2 144,9 JTR 9,4 6,3 6,9 7,5 8,0 8,5 9,0 9,4 9,9 10,9 85,8 Trafo 23,1 15,1 17,6 17,6 18,4 19,9 21,5 22,7 24,2 26,5 206,6 Pelanggan 7,7 5,7 6,4 7,0 7,5 8,0 8,6 9,1 9,6 10,5 80,2 Total 53,4 35,5 40,9 43,7 46,7 50,6 55,1 58,5 62,9 70,1 517,6

556

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran B2.10
PROGRAM LISTRIK PERDESAAN SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi


Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 1,325.0 772.5 1,107.0 1,080.4 4,284.9 JTR kms 1,292.0 931.8 1,081.8 1,055.7 4,361.3 Trafo MVA 89.8 69.8 106.6 104.0 370.2 Unit 1,287 1,021 1,346.5 1,314.1 4,969 Jml Pelanggan 50,322.0 53,797.0 85,741.8 83,678.6 273,539 3,423 3,423 Listrik Murah dan Hemat (RTS)

558

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Lampiran B2.12
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI SISTEM INTERKONEKSI SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERKONEKSI SULSELRABAR

Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulutenggo


(Juta US $) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit 79.92 393.00 179.54 372.11 205.50 131.75 41.90 327.50 166.00 56 1,953.22 TL dan GI 72.13 127.94 40.06 97.94 24.12 27.09 5.54 37.22 25.99 5.32 463.34 Distribusi 15.6 16.4 17.1 17.8 18.6 19.5 20.3 21.2 22.2 24.3 193.0 Total 167.61 537.31 236.71 487.88 248.22 178.31 67.75 385.94 214.17 85.63 2,609.52

560

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulselrabar


(Juta US $) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit 53.48 515.65 391.30 453.90 396.60 322.50 93.50 392.90 582.80 172.50 3,375.13 TL dan GI 62.51 86.42 187.04 87.78 7.44 30.35 11.01 76.83 19.00 8.36 576.74 Distribusi 28.0 29.4 26.4 26.7 29.1 32.1 35.8 37.5 41.0 46.0 332.14 Total 144.0 631.5 604.8 568.4 433.2 384.9 140.3 507.3 642.8 226.9 4,284.0

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

561

PENJELASAN LAMPIRAN B.2 SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARAGORONTALO, SULAWESI TENGAH DAN SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI BARAT (SULSELRABAR)

B2.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Sistem Sulawesi Utara Gorontalo Saat ini sistem Sulawesi Utara (Sulut) masih terpisah dengan sistem Gorontalo, namun pada tahun 2012 kedua sistem tersebut akan terinterkoneksi. Beban puncak sistem Sulut pada akhir tahun 2011 diperkirakan sekitar 194 MW dan sistem Gorontalo sebesar 51 MW. Dengan pertumbuhan rata-rata 11,4% per tahun sampai tahun 2020, maka beban puncak sistem Sulut Gorontalo diperkirakan akan meningkat dari 246 MW pada tahun 2011 menjadi 567 MW pada tahun 2020. Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulteng (selama ini disebut sistem Palu) melayani beban kota Palu dan kota Parigi dengan beban puncak pada akhir 2011 diperkirakan akan mencapai sekitar 75 MW. Pada tahun 2012 sistem Sulteng direncanakan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso melalui gardu induk Poso sehingga beban puncak sistem Sulteng pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 192 MW. Untuk melayani beban di Propinsi Sulawesi Barat yang berdekatan dengan Sulteng yaitu daerah Pasangkayu, pada tahun 2014 akan dibangun transmisi 150 kV Palu Pasangkayu dan selanjutnya interkoneksi sistem Sulteng dengan sistem Sulselrabar melalui Pasangkayu akan dibangun setelah memenuhi kelayakan. Sistem Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sulselrabar) Saat ini sistem Sulawesi Selatan yang juga memasok sebagian Sulawesi Barat (disebut sistem Sulselbar), direncanakan pada akhir tahun 2012 akan terhubung dan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso di Sulawesi Tengah melalui transmisi 275 kV Poso-Palopo milik IPP seiring dengan beroperasinya PLTA Poso. Selanjutnya pada tahun 2013 sistem Sulselbar direncanakan interkoneksi dengan sistem Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui GI Wotu 275/150 kV membentuk sistem Sulselrabar. Beban puncak pada akhir tahun 2011 untuk sistem Sulselbar diperkirakan 728MW dan sistem Sultra 64 MW. Dengan pertumbuhan rata-rata 11,9% per tahun sampai tahun 2020, maka beban puncak sistem Sulselrabar diperkirakan akan meningkat dari 728 MW ditahun 2011 menjadi 1.950 MW pada tahun 2020. Proyeksi kebutuhan beban sistem SulutGorontalo, sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar tahun 2011 2020 diberikan pada Lampiran B2.1.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

563

B2.2 Neraca Daya


Sistem Sulawesi Utara Gorontalo (Sulut-Gorontalo) Sistem Sulut-Gorontalo memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi, yaitu rata-rata 12,2% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated. Untuk mengimbangi pertumbuhan beban yang tinggi tersebut, banyak pembangkit baru yang akan dibangun selama kurun waktu 2011-2020 yaitu mencapai 681 MW, terdiri dari PLTU 425 MW (termasuk PLTU sewa 50 MW), PLTP 140 MW, PLTA 16MW dan PLTG peaking 100 MW. Banyaknya proyek pembangkit tersebut selain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban, juga sebagai antisipasi terhadap kemungkinan tertundanya penyelesaian beberapa proyek yang ada agar tidak terjadi krisis listrik dikemudian hari serta untuk menurunkan biaya operasi. Oleh karena itu, secara teoritis tersedia reserve margin yang cukup tinggi pada sistem Sulut - Gaorontalo yaitu mencapai 69% pada tahun 2013. Kondisi sistem Sulut pada tahun 2011 diperkirakan masih cukup rawan karena tanpa cadangan yang memadahi, walaupun proyek percepatan tahap I yaitu PLTU II Sulut 2x25 MW yang berlokasi di Amurang akan beroperasi. Proyek pembangkit berikutnya yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2011 adalah PLTP Lahendong IV 1x20MW yang dibangun oleh PLN dan uap panas bumi disediakan oleh Pertamina Geothermal Energy dengan pendanaan dari Loan ADB 1982 INO. Namun demikian, terdapat beberapa proyek pembangkit lain yang diperkirakan akan mundur dari jadwal semula yaitu : PLTU Gorontalo 2x25 MW di Gorontalo mengalami keterlambatan dan diperkirakan baru akan beroperasi pada tahun 2012/2013 PLTG Minahasa 1x25MW sebagai pembangkit peaking yang didanai APLN, akan mundur ke tahun 2013 dan untuk tahap awal diperkirakan masih akan menggunakan BBM sebelum gas LNG tersedia. PLTU IPP Sulut I di Kema (2x25 MW) mundur menjadi tahun 2014/2015. Proyek pembangkit program percepatan tahap II : - PLTP Kotamubagu I dan II masing-masing 40 MW mundur ke tahun 2016 sehubungan sumber panas bumi berada di daerah hutan cagar alam Gunung Ambang, menggunakan pendanaan dari pinjaman luar negeri. - PLTP Lahendong V dan VI (2x20 MW) IPP, rencana operasi diperkirakan mundur ke tahun 2014/15. Proyek baru yang akan dibangun dan dijadwalkan beroperasi mulai 2014 yaitu: PLTU I Sulut 2x25 MW (Proyek percepatan tahap I) dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2014 untuk memperkuat sistem Sulut-Gorontalo sehubungan proyek PLTU IPP Minahasa 2x55 MW tidak berlanjut. PLTU Tolitoli 3x15 MW untuk menggantikan PLTU skala kecil di Tolitoli, Buol dan Moutong, dijadwalkan beroperasi 2014 bersamaan interkoneksi sistem Tolitoli dengan sistem Sulut-Gorontalo melalui Moutong.

564

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

PLTA Sawangan 2x8 MW memanfaatkan DAS Tondano, akan dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi tahun 2015. PLTU Sulut (PPP) kapasitas 2x55 MW yang telah diusulkan masuk dalam PPP Book Bappenas 2011, direncanakan beroperasi tahun 2018. Sehubungan masih tingginya tingkat ketidakpastian penyelesaian proyek-proyek tersebut dan untuk mengatisipasi keterlambatan proyek agar tidak terjadi krisis daya dikemudian hari, maka saat ini tengah diproses sewa PLTU batubara 2x25 MW di Sulut dan dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2013. Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : - PLTU percepatan tahap I, yaitu PLTU Sulut II 2x25MW, merupakan proyek yang strategis karena selain proyek ini akan memasok permintaan tenaga listrik pada tahun 2011, juga sekaligus untuk mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. - Proyek PLTP Lahendong IV 1x20MW. - PLTU I Sulut (Perpres tahap I) 2x25 MW - PLTU IPP Sulut I (Kema) 2x25MW Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulawesi Tengah memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu diproyeksikan tumbuh ratarata 12,3% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated. Pada tahun 2011, sistem Sulteng dalam kondisi tanpa cadangan dan belum mampu melayani seluruh kebutuhan calon pelanggan baru dan penambahan daya pelanggan eksisting. Untuk mengimbangi kondisi tersebut, maka selama kurun waktu 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan total kapasitas mencapai 280 MW, terdiri dari PLTA 130 MW, PLTU 60 MW, PLTG peaking 50 MW dan PLTP 65 MW. Pasokan listrik di sistem Palu saat ini didominasi oleh PLTU IPP dan untuk beban puncak masih mengandalkan PLTD. Dalam waktu dekat, diharapkan PLTA Poso IPP akan beroperasi pada tahun 2012 bersamaan dengan selesainya transmisi 150 kV Poso-Palu sehingga kebutuhan beban di Sulteng akan dapat tercukupi. Beberapa pembangkit yang akan dibangun dalam waktu dekat antara lain: Ekspansi PLTU IPP Tawaeli dengan kapasitas 2x15 MW, dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2014. PLTU Palu 2x15 MW dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2015. Sistem Sulawesi Selatan - Barat - Tenggara (Sulselrabar) Sistem Sulsel-Barat (sistem Sulselbar) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi yaitu rata-rata tumbuh 11,2% per tahun sampai dengan tahun 2020. Sampai dengan tahun 2012, sistem Sulselbar masih dalam kondisi cukup rawan karena beroperasi tanpa cadangan yang memadahi dan sebagian besar dipasok dari pembangkit IPP dan sewa.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

565

Sebagaimana diketahui bahwa porsi pembangkit PLN hanya 262 MW, sedangkan pembangkit IPP dan sewa mencapai 544 MW. Masa kontrak sewa pembangkit akan diakhiri setelah proyek pembangkit baru selesai dan mampu menggantikan peran pembangkit sewa. Dalam rangka memenuhi kebutuhan beban yang cukup tinggi dan sekaligus sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya proyek tidak bisa selesai tepat waktu, akan dibangun pembangkit baru dalam jumlah cukup besar termasuk sewa PLTU dengan memberikan toleransi reserve margin yang cukup tinggi yaitu 70%. Reserve margin yang tinggi juga dimaksudkan untuk mengantisipasi penurunan kemampuan PLTA pada musim kering1. Selama periode 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan kapasitas total mencapai 2.480 MW terdiri dari PLTU 1.490 MW (termasuk PLTU sewa), PLTA/M 594 MW, PLTGU 180 MW dan PLTG peaking 200 MW. Tambahan pembangkit baru yang dapat terealisasi pada tahun 2011 diperkirakan hanya PLTMH PLN 8 MW dan PLTMH IPP 20 MW yang terhubung ke 20 kV. Proyek-proyek yang diperkirakan akan mengalami keterlambatan antara lain: Proyek percepatan tahapI yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50 MW, semula dijadwalkan beroperasi pada tahun 2010 namun mundur menjadi tahun 2012. Pembangkit program percepatan tahap II PLTU Takalar FTP-2 (2x100 MW), akan mundur dari tahun 2014 menjadi tahun 2014/2015. Tambahan pembangkit baru yang merupakan proyek IPP diperkirakan dapat selesai 2012-2013, yaitu sebagai berikut : - PLTG/U Sengkang IPP 2x60 MW: mundur dari tahun 2010 menjadi 2012. - PLTA Poso 3x65MW: progres pekerjaan proyek ini di lapangan sudah mencapai 80% dan diperkirakan dapat beroperasi tahun 2012. - PLTU Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: progress proyek mencapai 80%, diharapkan tahun 2012 sudah beroperasi. Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan proyek-proyek IPP dan PLN, dilakukan sewa PLTU 2x120 MW yang ditempatkan bersebelahan dengan PLTU Barru di Sulsel dan dijadwalkan dapat beroperasi pada 2013. Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : - PLTU percepatan tahap I, yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50MW, karena dapat mengatasi kekurangan pasokan daya dan sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. - PLTU IPP Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: proyek ini sangat penting untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik jangka pendek dan menengah khususnya pada periode 2012-2014. - PLTG/U Sengkang IPP extension 2x60MW, proyek ini akan dapat mengatasi kekurangan pasokan daya terutama untuk tahun 2012. - PLTA Poso IPP 2x65 MW untuk sistem Sulselbar. - PLTU Sulsel-3 (Takalar) IPP 2x100 MW, dijadwalkan beroperasi tahun 2014/2015.
1 Sistem Sulsel mempunyai cukup banyak PLTA dan kemampuan produksi PLTA sangat dipengaruhi oleh variasi kondisi musim.

566

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sebagaimana diketahui bahwa potensi tenaga air di Sulawesi terutama di Wilayah Sulselrabar sangat besar dan salah satu lokasi yang diindikasikan adalah di DAS sungai Karama. Saat ini tengah dilakukan studi kelayakan pada lokasi tersebut dan bila hasil studi menyatakan layak dibangun PLTA, maka rencana PLTA tersebut akan dimasukkan dalam neraca daya pada RUPTL periode berikutnya sesuai kebutuhan sistem untuk menggantikan rencana pembangkit berbahan bakar fosil yang mempunyai peran sejenis dan belum ada komitmen untuk pembangunannya. Neraca Daya sistem Sulut Gorontalo dan sistem Sulselrabar sebagaimana diperlihatkan pada lampiran B2.2

B2.3 Proyek-Proyek IPP yang Terkendala


Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B2.3.

B2.4 Neraca Energi


Produksi Energi Energi yang diproduksi pembangkit pada suatu sistem kelistrikan selaras dengan pertumbuhan demand dan keberagaman jenis pembangkit yang akan dibangun. Untuk menghitung alokasi produksi per unit pembangkit agar diperoleh nilai bauran energi yang paling ekonomis dan optimal, digunakan software ProSym yang pada prinsipnya menggunakan kaidah merit order. Hasil perhitungan simulasi produksi energi per jenis energi primer di sistem Sulawesi sebagaimana diberikan pada Lampiran B2.4, dengan asumsi : - Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada. - Ketersediaan batubara tidak terbatas. - Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya. Lampiran B2.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Peranan MFO dan HSD di sistem interkoneksi Sulut-Gorontalo pada tahun 2011 masih tinggi yaitu masingmasing 157 GWh dan 295 GWh. Mulai tahun 2014/2015 peran MFO dan HSD akan habis digantikan dengan gas LNG, sehubungan masuknya PLTG peaking dengan bahan bakar gas LNG dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. b. Hal yang sama juga terjadi pada sistem interkoneksi Sulselbar, yaitu peran MFO dan HSD pada tahun 2011 masih besar masing-masing 1.521 GWh dan 259 GWh. Mulai tahun 2015 peran keduanya akan habis dan digantikan dengan gas LNG sehubungan masuknya PLTG peaking dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. Penggunaan HSD untuk jangka panjang tidak menjadi nol karena HSD masih tetap dibutuhkan oleh pembangkit kecil pada sistem isolated.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

567

c. Peranan pembangkit gas meningkat pada sistem interkoneksi di Sulawesi dari 1.514 GWh pada tahun 2011 menjadi 2.716 GWh pada tahun 2020. Hal ini karena adanya penambahan kapasitas pembangkit pada PLTG Sengkang dan pembangkit peaking berbahan bakar LNG. d. Peranan pembangkit batubara akan menjadi dominan, yaitu dari rencana 272GWh pada tahun 2011 akan naik menjadi 6.487 GWh pada tahun 2020 untuk sistem interkoneksi besar di Sulawesi. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTU batubara yang pada tahun 2010 hanya 27 MW akan menjadi 1.955 MW pada tahun 2020. e. Peranan pembangkit hidro semakin meningkat khususnya di Sulawesi Selatan, yaitu dengan masuknya beberapa proyek PLTA berikut: Bakaru II, Bonto Batu, Poso, Malea, Konawe dan Watunohu. Bakaru II, Bonto Batu dan Poko merupakan pembangkit beban puncak, sedangkan PLTA lainnya merupakan pembangkit beban menengah/dasar. f. Peranan panas bumi akan meningkat khususnya di Sulawesi Utara dengan akan beroperasinya PLTP Lahendong IV dan V serta PLTP Kotamobagu dari 430 GWh tahun 2011 menjadi 1.164 GWh pada tahun 2020. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sulawesi dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B2.4. Kebutuhan HSD akan turun tajam dari 240 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015. Sama halnya dengan pemakaian MFO dari 427 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015. Pemakaian gas di Sulawesi oleh pembangkit IPP yaitu PLTGU Sengkang, dan diasumsikan pasokan gas tetap ada hingga tahun 2020. Pemakaian gas oleh PLN hanya untuk pembangkit peaking sehubungan pembatalan proyek PLTGU di Senoro akibat alokasi gas Senoro kepada PLN hanya 20 mmscfd. Pembangunan PLTGU Donggi-Senoro menjadi tidak optimal karena lokasinya sangat jauh dari pusat beban. Gas Senoro akan diambil PLN dalam bentuk LNG untuk bahan bakar pembangkit peaking di Sulsel dan Sulut. Pemakaian LNG di Sulawesi akan dimulai pada tahun 2013 sebesar 3,4 bcf dan akan menjadi 6 bcf pada tahun 2020. Sedangkan volume pemakaian batubara meningkat dari 0,17 juta ton pada tahun 2011 menjadi 4,33 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 26 kali lipat.

B2.5 Capacity Balance Gardu Induk


Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Sulawesi sampai dengan tahun 2020 sebesar 4.773 MVA. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.5.

568

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

B2.6 Rencana Pengembangan Penyaluran


Rencana pengembangan penyaluran sistem Sulut Gorontalo, system Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi, Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan, PLTU IPP, PLTA IPP dan PLTP IPP. Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem SulutGorontalo, sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.6.

B2.7 Peta Pengembangan Penyaluran


Cukup jelas seperti terlihat pada Lampiran B2.7.

B2.8 Analisis Aliran Daya


Analisa Aliran Daya Sistem Minahasa Gorontalo Analisa aliran daya pada sistem interkoneksi Minahasa-Gorontalo dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit, GI serta transmisi eksisting dan yang akan dibangun baru. Analisa load flow dilakukan beberapa tahun yaitu tahun 2013. 2015 dan tahun 2020 dengan hasil sebagai berikut : a. Tahun 2013 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo yaitu dari kelompok pembangkit (PLTP dan PLTU Sulut II) ke utara yaitu GI Teling, GI Paniki dan GI Ranomuut (87 MW) dan ke Gorontalo yaitu GI Isimu dan GI Botupingge (36 MW). Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150,0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (144,5 kV), sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Bitung (67,1 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65,4 kV). Total beban sistem sebesar 310.8 MW dengan jumlah pasokan sebesar 314,1 MW. Berdasarkan hasil simulasi aliran daya susut sistem sebesar 3,3 MW. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 hingga 2013 ada tujuh ruas transmisi, yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut II Lopana, SUTT 150 kV Lopana Teling, SUTT 150 kV Teling Paniki, SUTT 150 kV Paniki Kema, SUTT 150 kV Buroko Isimu (GI Anggrek incomer), SUTT 150 kV Isimu Botupingge dan SUTT 150 kV Isimu Marisa. Sedangkan pembangkit baru yang dijadwalkan akan beroperasi yaitu PLTU Sulut II #1 dan #2, PLTU Anggrek #2, dan PLTG Minahasa #1. b. Tahun 2015 Aliran daya mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masing-masing sebesar 133 MW ke Manado dan 62 MW ke Gorontalo. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150,0 kV) dan tegangan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

569

terendah di GI Kema (145,5 kV), sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (66,9 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65,2 kV). Total beban sistem sebesar 366 MW dengan jumlah pasokan sebesar 369,8 MW. Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 3,8 MW. Pada tahun ini sub sistem Tolitoli telah interkoneksi dengan sistem, dimana penambahan ruas transmisi ada beberapa ruas yaitu SUTT 150 kV Moutong Marisa, SUTT 150 kV GI Otam PLTP Kotamobagu, SUTT 150 kV PLTU Kema GI Kema dan GI Kawangkoan PLTP #5 dan #6. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTP Lahendong #5 dan #6, PLTU Sulut I (Kema) #1 dan PLTA Sawangan 2 unit, PLTU 1 Sulut di Buroko, PLTU Tolitoli. c. Tahun 2020 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masing-masing sebesar 150 MW ke Manado dan 105 MW ke Gorontalo. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Otam (148,2 kV) dan tegangan terendah di GI Botupingge (141,7 kV), sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (65,2 kV) dan terendah di GI Likupang (61,9 kV). Untuk mempertahankan level tegangan pada batas normal dibutuhkan tambahan kapasitor 20 MVar yang terpasang di GI Isimu sehingga total kapasitor sebesar 40 Mvar. Total beban sistem sebesar 555,4 MW dengan jumlah pasokan sebesar 568.7 MW. Berdasarkan hasil simulasi

load flow susut sistem sebesar 13,3 MW.


Pada tahun 2016 hingga 2020 ada penambahan transmisi baru, yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut (PPP) ke Kema/Tanjung Merah. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTG Gorontalo #1, PLTG Minahasa #2, #3 , PLTU Sulut I (kema) #2, dan PLTU Sulut (PPP) #1, #2. Analisa Aliran Daya Sistem Sulawesi Selatan Analisa aliran daya pada sistem Sulsel dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit eksisting dan penambahan pembangkit baru sesuai neraca daya 20112020, meliputi sistem 150 kV dan 70 kV. Analisa load flow dilakukan untuk tahun 2013, 2015 dan 2020. a. Tahun 2013 Sebagian besar kebutuhan energi listrik di pusat beban kota Makassar dan sekitarnya, masih dipasok dari pembangkit yang posisinya berada di bagian utara Propinsi Sulawesi Selatan yaitu dari PLTGU/G Sengkang, PLTA Bakaru dan PLTA Poso sehingga ada daya sekitar 370 MW yang mengalir dari utara ke selatan propinsi Sulawesi Selatan. Pada kondisi tersebut, tegangan sistem masih dalam batas normal. Tegangan tertinggi terjadi di GI Wotu 152,4 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143,7 kV. Total beban sistem sebesar 833 MW dan pembangkit beroperasi sebesar 870,2 MW, dengan susut transmisi sebesar 37,2 MW (3,3 %). Pembangkit yang beroperasi adalah PLTA Bakaru 2 x 63 MW, PLTGU Sengkang 135 MW, PLTGU Sengkang 3 x 60 MW, PLTD Suppa 60 MW dan PLTA Poso 3 x 65 MW. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2011 2013 adalah, PLTGU Sengkang 2 x 60 MW, ekspansi 2 dan 3 (2011/12), PLTA Poso 3 x 65 MW (145 MW Transfer ke Selatan 2012), PLTU Sulsel Perpres 1 di Barru 2x50MW (2012), PLTU Bosowa 2 x 100 MW (2012).

570

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Tambahan transmisi baru pada tahun 2011 2013 adalah, TL 150 kV jalur tengah Sidrap Maros (New S/S) Sungguminasa (2011), TL 150 kV Sengkang Sidrap (2011), TL 150 kV Sengkang Siwa/Keera (2011), Underground 150 kV Bontoala Tallo Lama, Uprating TL 150 kV Tello Tallo Lama, TL 150 kV PLTU Takalar Tanjung Bunga, TL 275 kV PLTA Poso Palopo. b. Tahun 2015 Pada tahun ini sistem Sulselbar sudah terinterkoneksi dengan sistem Sultra melalui transmisi 150 kV. Aliran daya sistem Sulselbar masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya, melalui transmisi 150 kV, dengan transfer daya sebesar 368 MW. Sedangkan sistem Sultra mendapat pasokan daya dari PLTA Poso, dengan transfer daya sebesar 62 MW. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal, tegangan tertinggi di GI Wotu 154,7 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143,7 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 149,4 kV (sistem Sultra). Total beban sistem sebesar 1.127 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1.162,3 MW dan susut transmisi sebesar 35,3 MW (2,6 %). Tambahan pembangkit baru pada tahun 2013 - 2015 adalah, PLTU Sulsel-3 (Takalar) 2x100 MW (2014/15), PLTU Takalar (eks loan Spanyol) FTP2 2x100 MW (2014/15) dan PLTU Mamuju FTP2 2x25 MW (2014). Tambahan transmisi baru pada tahun 2013 2015 adalah TL 150 kV Wotu Malili Kolaka Unaaha Kendari (2014). c. Tahun 2020 Aliran daya masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya sebesar 600 MW. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal, tegangan tertinggi di GI Wotu 154,3 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 136,3 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 145,9 kV (sistem Sultra). Total beban sistem sebesar 1.933,5 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1.995,9 MW, dengan susut transmisi sebesar 62,4 MW (3,1 %). Tambahan pembangkit baru pada tahun 2016 2020 adalah, PLTA Bontobatu 2 x 50 MW (2016), PLTA Malea 2 x 45 MW (2016), PLTA Konewa 2 x 25 MW (2016), PLTA Bakaru-II 2 x 63 MW (2019), PLTG Makassar 100 MW (2020), PLTP Lainea 20 MW (2017) ,PLTU Sulsel 3 2 x 150 MW (2018/19). Gambaran yang lebih rinci untuk kondisi pada tahun-tahun tertentu hasil simulasi aliran daya untuk sistem besar di Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.8.

B2.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk: Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan Perbaikan SAIDI dan SAIFI Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

571

Menurunkan suut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan distribusi yang sudah tua dan tidak layak dioperasikan Proyeksi kebutuhan distribusi diberikan pada Lampiran B2.9.
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI 2011-2020 SE-SULAWESI
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 1.094 657 830 1.006 1.143 1.297 1.497 1.634 1.831 2.156 13.145 JTR kms 1.351 900 1.016 1.119 1.196 1.277 1.372 1.437 1.520 1.669 12.857 Trafo MVA 549 338 402 401 419 454 493 523 560 613 4.749 Pelanggan 228.717 126.778 144.805 152.880 162.940 173.498 185.989 194.034 204.542 222.095 1.796.276

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI 2011-2020 SE-SULAWESI


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM 13,2 8,4 10,0 11,6 12,8 14,2 16,0 17,3 19,1 22,2 144,9 JTR 9,4 6,3 6,9 7,5 8,0 8,5 9,0 9,4 9,9 10,9 85,8 Trafo 23,1 15,1 17,6 17,6 18,4 19,9 21,5 22,7 24,2 26,5 206,6 Pelanggan 7,7 5,7 6,4 7,0 7,5 8,0 8,6 9,1 9,6 10,5 80,2 Total 53,4 35,5 40,9 43,7 46,7 50,6 55,1 58,5 62,9 70,1 517,6

572

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya distribusi regional Sulawesi tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 13.145 kms, JTR 12.857 kms, Kapasitas gardu distribusi 4749 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1,8 juta pelanggan. Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut untuk menunjang pengembangan sistem distribusi, membutuhkan biaya sebesar US$517.6 juta (JTM US$ 145 juta, JTR US$ 85.8 juta, gardu US$ 206.6 juta, dan sambungan pelanggan US$ 80,2 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar US$ 52 juta. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60,3 % tahun 2009, menjadi 69,8 % di tahun 2014 untuk regional Sulawesi.

B2.10 Program Listrik Pedesaan


Program listrik pedesaan pemerintah yang tertuang dalam RPJM 2010-2014 adalah meningkatkan ratio elektrifikasi Indonesia pada tahun 2014 menjadi 80%. Untuk menunjang program tersebut di pulau Sulawesi direncanakan membangun JTM 4.285 kms, JTR 4.361 kms, kapasitas gardu distribusi 370,2 MVA. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60,3% (tahun 2010) menjadi 69,8% di tahun 2014 untuk regional Sulawesi . Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi untuk listrik pedesaan diberikan pada Lampiran B2.10

B2.11 Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 4.3 s/d 4.6

B2.12. Proyeksi Kebutuhan Investasi


Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.12.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

573

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR
LAMPIRAN B3. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LAMPIRAN B4. PROVINSI KALIMANTAN TENGAH LAMPIRAN B5. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR LAMPIRAN B6. PROVINSI SULAWESI UTARA LAMPIRAN B7. PROVINSI SULAWESI TENGAH LAMPIRAN B8. PROVINSI GORONTALO LAMPIRAN B9. PROVINSI SULAWESI SELATAN LAMPIRAN B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA LAMPIRAN B11. PROVINSI SULAWESI BARAT LAMPIRAN B12. PROVINSI MALUKU LAMPIRAN B13. PROVINSI MALUKU UTARA LAMPIRAN B14. PROVINSI PAPUA LAMPIRAN B15. PROVINSI PAPUA BARAT LAMPIRAN B16. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) LAMPIRAN B17. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

LAMPIRAN B.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

B3.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini


Sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar dipasok dari sistem Barito, sedangkan sistem sistem isolated tersebar antara lain sistem Pagatan, Kotabaru serta Unit Listrik Desa (ULD)1 dipasok dari PLTD setempat. Total daya terpasang adalah sekitar 423 MW dengan daya mampu 311 MW dan beban puncak 292 MW pada kwartal ketiga tahun 2011. Jumlah pelanggan pada waktu yang sama adalah sekitar 757 ribu pelanggan, sehingga rasio elektrifikasi sekitar 73,4%. Situasi sistem kelistrikan di provinsi ini pada dasarnya masih terbatas dan tanpa cadangan. Konfigurasi saat ini dan rencana pengembangan sistem kelistrikan interkoneksi di Kalimantan Selatan dapat dilihat pada gambar B3.1.

GAMBAR B3.1 PETA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Sistem Interkoneksi Barito Sistem Barito merupakan sistem interkoneksi dengan jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV, dipasok dari beberapa jenis pembangkit meliputi PLTA, PLTU, PLTD minyak dan PLTG minyak. Sistem Barito merupakan pemasok utama kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pusat beban
1 ULD adalah unit satuan pelayanan PLN yang dikelola oleh badan usaha di daerah terpencil yang mengelola pembangkit, jaringan dan pelanggan PLN .

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

577

sistem Barito berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan porsi sekitar 80% dari seluruh beban sistem Barito. Kondisi sistem kelistrikan Barito saat ini masih belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, mengingat daya yang ada masih sangat terbatas. Sistem Barito akan dapat melayani kebutuhan masyarakat setelah PLTU Kalsel di Asam-Asam beroperasi. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kondisi kekurangan pasokan tersebut adalah menyewa PLTD minyak jangka pendek dengan total daya 128 MW, dan menambah daya melalui pembelian tenaga listrik

excess power dari industri yang mempunyai cadangan daya. Daya mampu sistem Barito saat ini sekitar 280
MW dengan beban puncak 265 MW. Akibat kondisi kelistrikan yang terbatas ini, untuk sementara penambahan pelanggan baru dilaksanakan dengan cara selektif. Sistem Isolated Pagatan Di Kalimantan Selatan masih banyak terdapat sistem-sistem kecil isolated tersebar, dan beberapa diantaranya yang relatif besar adalah: Sistem Pagatan/Batulicin, merupakan sistem yang terhubung dengan jaringan tegangan menengah 20kV, melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Tanah Bumbu dan sebagian kabupaten Pulau Laut. Kondisi kelistrikan di sistem Pagatan ini juga mengalami keterbatasan daya pembangkit dan untuk memenuhi kebutuhan dilakukan sewa PLTD minyak serta membeli excess power. Sistem Pagatan direncanakan akan diinterkoneksikan dengan sistem Barito menggunakan transmisi 150kV. Sistem Kotabaru juga merupakan sistem isolated dengan pasokan listrik dari PLTD, terhubung melalui jaringan 20 kV dan melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Pulau Laut. Sistem Kotabaru terletak di pulau Laut yang terpisah dari daratan pulau Kalimantan. ULD merupakan sistem kelistrikan yang tersebar di daerah terpencil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa setempat dan bebannya masih rendah. Jumlah ULD adalah sebanyak 20 unit dengan daya terpasang 6,7 MW. Daya terpasang dan beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat pada tabel B3.1.

578

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL B3.1 SISTEM KELISTRIKAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PER OKTOBER 2011
Sistem Kabupaten Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kab Banjar Kab Tapin Kab HSS 1. Sistem Barito Kab HST Kab HSU Kab Tabalong Kab Balangan Kab Barito Kuala Kab Tanah Laut 2. Sistem Batulicin 3. Sistem Kotabaru 4. ULD (20 Lokasi Tersebar) Total Kab Tanah Bumbu Kab Kotabaru Tersebar 17,1 11,4 6,7 422,7 15,6 10,3 4,7 311,3 14,3 8,1 4,3 292,2 Isolated Isolated Isolated 387,5 280,6 265,5 Daya Terpasang (MW) Daya mampu (MW) Beban Puncak (MW) Keterangan

B3.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Kalimantan Selatan memiliki sumber daya energi yang cukup banyak dengan tersedianya cadangan batubara dan gas methane yang cukup besar. Di beberapa kawasan, kondisi tanahnya juga cocok ditanami kelapa sawit. Eksploitasi sumber daya alam berupa batubara dan mulai berkembangnya perkebunan kelapa sawit telah membuat ekonomi Kalimantan Selatan tumbuh dinamis dan prospektif. Kondisi demikian akan berpengaruh kepada pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan. Berdasarkan realisasi pengusahaan lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang, proyeksi kebutuhan listrik 20112020 diberikan pada tabel B3.2.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

579

TABEL B3.2 PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 1.454,2 1.586,7 1.732,1 1.891,7 2.066,9 2.259,2 2.470,5 2.702,7 2.958,0 3.238,7 9,3% Produksi (GWh) 1.800,9 2.057,2 2.225,4 2.426,2 2.646,7 2.889,5 3.156,7 3.450,8 3.774,5 4.131,1 9,3% Beban Puncak (MW) 331 366 390 423 459 499 542 489 641 697 9,4% Jumlah Pelanggan 740.758 772.829 806.241 841.055 877.332 915.137 954.538 995.604 1.038.410 1.083.032 4,3%

B3.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan


Rencana pembangunan sarana kelistrikan yang meliputi pembangkit, transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat dan sebaran penduduknya sebagai berikut. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber energi primer yang banyak, meliputi batubara, gas methan batubara (coal bed methana /CBM) dan tenaga air. Potensi batubaranya sangat besar dengan berbagai tingkat kalori sebagaimana dapat dilihat pada tableB3.3. Deposit batubara diperkirakan lebih dari 1,8 miliar ton, sementara produksinya rata-rata mencapai 12 juta ton per tahun. Potensi energi primer yang potensial untuk dikembangkan khususnya bagi desa-desa tertinggal yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN adalah batubara, tenaga air dan energi surya. Sampai saat ini batubara Kalsel telah dipakai sebagai bahan bakar di berbagai PLTU di Indonesia termasuk di PLTU Asam-Asam.
TABEL B3.3 POTENSI BATUBARA KALIMANTAN SELATAN
No 1 2 3 4 Kualitas Kelas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Kriteria (Kal/gr, adb) <5100 5100 - 6100 6100-7100 >7100 Sumberdaya (Juta Ton) Tereka 370,87 4.793,13 336,19 17,62 5.517,81 Tertunjuk 0,00 301,36 33,12 0,00 334,48 Terukur 600,99 2.526,46 109,64 12,00 3,249,09 Jumlah 971,86 7.620,95 478,95 29,62 9.101,38 Cadangan (Juta Ton) 536,33 1.287,01 44,36 0,14 1.867,84

Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi KESDM, 2006

580

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Sumber Tenaga Air/Hidro Kalimantan Selatan merupakan daerah yang mempunyai sumber daya tenaga air, antara lain DAS Barito, Riam Kanan, Riam Kiwa, Balangan, Batang Alai, Amandit, Tapin, Kintap, Batulicin, dan Sampanahan. Umumnya DAS tersebut berhulu di pegunungan Meratus dan bermuara di laut Jawa dan selat Makassar. Keberadaan DAS tersebut kurang berpotensi untuk dijadikan PLTA run-off-river karena topografinya landai, sehingga headnya relatif kecil. Secara rinci potensi tenaga air dapat dilihat pada tabel B3.4.
TABEL B3.4 POTENSI ENERGI AIR DI KALIMANTAN SELATAN
No 1 2 3 4 5 6 Nama Bendungan PLTA Kusan PLTMH Riam Kiwa PLTMH Muara Kendihin PLTMH Kiram Atas PLTMH Sampanahan PLTMH Gendang Timburu Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi, Provinsi Kalimantan Selatan Kabupaten Tanah Bumbu Banjar Hulu Sungai Selatan Banjar Kotabaru Kotabaru Kapasitas 65 MW 10 MW 0.6 MW 0,86 MW 0,6 MW 0,6 MW 99,6 MW

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode 2011-2020 direncanakan tambahan 6 proyek pembangkit listrik berkapasitas 609 MW. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTU batubara, PLTA dan PLTG

peaking. Tabel B3.5 menampilkan perincian pengembangan pembangkit dimaksud.


TABEL B3.5 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT DI KALSEL
No 1 2 3 4 5 6 Proyek Asam Asam (FTP1) Kotabaru (APBN) Kusan Kalsel (Peaking) Asam Asam Kalsel-1 (FTP2) Pemilik PLN PLN PLN PLN Sewa Swasta Total Kapasitas Jenis PLTU PLTU PLTA PLTG XPLTU PLTU MW 2x65 2x7 65 50 3x50 2x100 609 COD 2011 2013 2017 2019 2013 2015/16 Status On Going On Going Rencana Rencana Rencana Rencana

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

581

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban kelistrikan di sistem interkoneksi Kalimantan Selatan relatif besar dan jaringan tegangan tinggi akan menjangkau beban yang secara geografis semakin jauh, sehingga pengembangan sistem dilakukan dengan menggunakan tegangan 150 kV. Selain itu pembangunan sistem transmisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan daya hantar listrik mengingat adanya rencana pembangunan PLTU dalam satu kawasan di Asam-Asam. Adanya potensi tenaga air di DAS Kusan yang lokasinya jauh dari pusat beban memerlukan transmisi 150 kV untuk menyalurkan energinya. Selama periode 2011-2020 direncanakan akan dibangun saluran transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 1.725 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 212 juta seperti ditampilkan dalam tabel B3.6. Rencana pengembangan sistem interkoneksi 70kV untuk menghubungkan grid Barito dengan sistem Kotabaru di pulau Laut, dimana saat ini dalam tahap studi kelayakan dan studi dasar laut.
TABEL B3.6 RENCANA PEMBANGUNAN TRANSMISI 150 KV
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 12 13 Dari Barikin Seberang barito PLTU AsamAsam (FTP1) Asam-asam Tanjung Rantau Up rating AsamAsam Batu Licin Landing Point P. Laut Landing Point Batu Licin PLTU Kalsel 1 (FTP 2) Barikin PLTA Kusan Reconduktor Cempaka*) Ke Amuntai Kayutangi Mantuil Batu licin Perbatasan Incomer 2 phi Barikin-Cempaka Pelaihari-Cempaka-mantuil Landing Point Batu Licin Kotabaru Landing Point P. Laut Tanjung Kayutangi Single phi Cempaka-Rantau Barikin Jumlah Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 2xHAWK 4 cct, 2xHAWK 2 cct, 1xZEBRA 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 1xHAWK 2 cct, Kabel Laut 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 2xHAWK Panjang (kms) 66 42 220 248 284 2 180 6 74 6 100 240 138 213 1,813 Anggaran (Juta USD) 5.9 3.7 27.0 30.4 34.8 0.2 30.0 4.5 6.6 7.48 12.3 29.4 12.3 26.1 223.2 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2016 2017

Catatan: Tingkat tegangan kabel laut yang menginterkoneksi Pulau Laut dan Kalimantan sedang dalam kajian.

582

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

Pengembangan Gardu Induk Jumlah GI yang direncanakan akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya, akan mencapai 24 buah dengan kapasitas total 750 MVA. Khusus di Pulau Laut, direncanakan pengembangan GI 70/20kV dan saat ini masih dalam tahap kajian. Biaya investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 55 juta dengan rincian terdapat pada tabel B3.7. Rencana pembangunan gardu induk baru pada tabel B3.7 tersebut dapat dibangun secara minimalis untuk mengakomodasi beban yang masih relatif kecil untuk mempercepat pembangunan dan menekan biaya investasi.
TABEL B3.7 PENGEMBANGAN GI
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Gardu Induk Amuntai (GI Baru) Barikin Ext LB Kayu Tangi ( GI Baru) Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Batylicin Kota Baru (GI Baru) Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (New Line) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Tegangan 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150/70 kV 70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru/Extension New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Daya (MVA) 30 2 LB 30 2 LB 3 LB 2 LB 2 LB 2 LB 30 2 LB 2 LB 30 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 60 2 LB 2 LB 2 LB 60 30 60 Anggaran (juta USD) 2,62 1,23 2,62 1,23 1,62 1,23 1,23 1,23 3,16 1,23 1,23 2,10 1,23 3,16 1,39 1,23 1,23 1,26 2,10 1,23 1,23 1,23 2,10 1,39 2,10 COD 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

583

No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Mantuil

Gardu Induk

Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Jumlah

Baru/Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension

Daya (MVA) 60 30 60 30 30 30 30 2 LB 30 750

Anggaran (juta USD) 2,10 2,10 2,10 1,39 1,39 1,39 1,39 1,23 1,39 55,42

COD 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017

Trisakti (Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari

Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas, direncanakan juga pembangunan jaringan distribusi 20kV. Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi sampai tahun 2020 termasuk untuk listrik pedesaan adalah 18.533kms JTM, 10.206 kms JTR dan 533 MVA trafo distribusi dengan rincian ditunjukkan dalam tabel B3.8. Proyeksi tersebut dimaksudkan untuk menambah rata-rata 37.000 pelanggan per tahun selama 10 tahun.
TABEL B3.8 RINCIAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM kms 1,254 1,465 1,369 1,417 1,591 1,787 2,008 2,256 2,536 2,850 18,533 JTR kms 865 982 828 804 880 964 1,057 1,159 1,272 1,395 10,206 Trafo MVA 45 50 51 44 47 51 55 59 63 68 533 Pelanggan 30,786 32,071 33,413 34,814 36,277 37,806 39,400 41,066 42,806 44,622 373,060

584

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

B3.4`Sistem Kelistrikan Isolated


Kalimantan Selatan dengan wilayah daratan yang sangat luas mempunyai banyak kelompok penduduk yang tersebar jauh dan terisolasi. Sistem kelistrikannya dipasok dengan PLTD dan dikelola oleh Unit Listrik Desa. Untuk melayani masyarakat sekaligus sebagai upaya meningkatkan ratio elektrifikasi di Kalimantan Selatan, beberapa sistem isolated diupayakan secara bertahap masuk ke dalam sistem interkoneksi Barito melalui grid extension. Untuk yang belum terjangkau grid, daerah isolated dibangun PLTU batubara skala kecil seperti Pulau Laut. PLN juga mendorong pengembangan PLTMH oleh swasta untuk memanfaatkan potensi tenaga air. Selain itu PLN secara sangat terbatas juga berencana memasang PLTS komunal.

B3.5 Rangkuman
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 di Provinsi Kalimantan Selatan diberikan pada tabel B3.9.
TABEL B3.9 RANGKUMAN
Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) 1,454 1,587 1,732 1,892 2,067 2,259 2,471 2,703 2,958 3,239 Produksi (GWh) 1,801 2,057 2,225 2,426 2,647 2,890 3,157 3,451 3,775 4,131 Beban Puncak (MW) 331 366 390 423 459 499 542 589 641 697 609 750 50 65 164 100 100 Pembangunan fasilitas Kelistrikan Pembangkitan (MW) 130 GI (MVA) 60 30 210 60 180 90 120 Transmisi (kms) 328 534 260 340 138 213 1.813 Anggaran (juta USD) 280,0 111,1 121,6 225,0 189,3 61,9 181,6 57,0 88,3 70,4 1.386,3

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

585

LAMPIRAN B.4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO) DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

B4.1 Kondisi Saat Ini


Sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Tengah dipasok dari sistem interkoneksi Barito dengan transmisi 150 kV dari Kalimantan Selatan melalui beberapa GI di Kalteng yaitu GI Selat, GI Pulang Pisau dan GI Palangkaraya. GI Selat memasok beban di kabupaten Kuala Kapuas dan sekitarnya, GI Pulang Pisau memasok beban di kabupaten Pulang Pisau dan GI Palangkaraya memasok beban kota Palangkaraya dan kabupaten Katingan. Sistem kelistrikan di daerah lainnya masih merupakan sistem isolated tersebar, dengan daya mampu pembangkitan rata-rata dalam kondisi pas-pasan. Beban puncak total non coincident se Kalimantan Tengah pada tahun 2011 adalah sekitar 140MW, dimana 66MW diantaranya masuk dalam sistem Barito. Sedangkan daya mampu pembangkit sekitar 147 MW dengan rincian 54,4 MW di sistem Barito dan 81,56MW di sistem isolated tersebar. Jumlah pelanggan Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2010 adalah sekitar 284 ribu pelanggan dengan rincian 249 ribu pelanggan rumah tangga, 23 ribu pelanggan bisnis, 11 ribu pelanggan publik dan 104 pelanggan industri. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dan rencana pengembangan sistemnya diperlihatkan pada gambar B4.1.
GAMBAR B4.1. PETA SISTEM KELISTRIKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

587

Sedangkan rincian data pembangkit dan beban puncak sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat pada tabel B4.1.
TABEL B4.1 SISTEM KELISTRIKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PER OKTOBER 2011
Daya Terpasang (MW) Daya mampu (MW) Beban Puncak (MW)

Sistem 1. Sistem Barito

Kalimantan Tengah Kota Palangka Raya Kab Kapuas Kab Pulau Pisau Kab Katingan/Kasongan Kab Barito Timur/Tamiyang Layang

Keterangan Daya mampu sistem barito adalah 335 MW dengan beban Puncak sebesar 331.5 MW

58,3

54,4

66,0

2. Sistem Sampit 3. Sistem Pangkalan bun 4. Sistem Buntok 5. Sistem Muara Teweh 6. Sistem Kuala Pambuang 7. Sistem Nanga Bulik 8. Sistem Kuala kurun 9. Sistem Puruk Cahu 10. Sistem Sukamara 11. UL D (57 Lokasi tersebar)

Kab Kotawaringin Timur Kab Kotawaringin Barat Kab Barito Selatan Kab Barito Utara Kab Seruyan Kab Lamandau Kab Gunung Mas Kab Murung Raya Kab Sukamara Tersebar Total

52,1 39,7 16,5 6,7 7,1 2,8 5,3 4,1 3,0

23,8 25,8 9,4 6,2 3,7 2,2 3,5 2,7 1,9 14,0

20,8 18,7 7,4 5,4 2,3 1,3 2,2 1,7 1,9 12,6 140,1

Isolated Isolated Isolated Isolated Isolated Isolated Isolated Isolated Isolated Isolated

195,6

147,6

B4.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Kalimantan Tengah memiliki sumber energi yang cukup banyak dengan tersimpannya cadangan batubara dan gas methan batubara (CBM) dalam jumlah yang cukup besar. Eksploitasi batubara telah membuat ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh dinamis dan prospektif, hal itu akan berpengaruh pada kebutuhan listrik di Kalimantan Tengah. Mengingat rasio elektrifikasi di Kalimantan Tengah masih cukup rendah (sekitar 55%) termasuk pelanggan listrik non PLN, maka pertumbuhan kebutuhan listrik di masa mendatang diperkirakan akan tinggi. Memperhatikan realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya termasuk dengan memperhitungkan daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional, pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang, proyeksi kebutuhan listrik Provinsi Kalimantan Tengah tahun 20112020 diberikan pada tabel B4.2.

588

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL B4.2 PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK PROV KALIMANTAN TENGAH


Penjualan (GWh) 741,8 817,1 888,1 966,5 1.052,9 1.148,1 1.253,1 1.369,0 1.196,8 1.637,8 11,0% Produksi (GWh) 843,5 924,1 1.043,9 1.135,2 1.236,0 1.346,7 1.468,7 1.603,1 1.751,3 1.914,8 11,2% Beban Puncak (MW) 127,0 152,3 173,8 187,0 201,4 216,8 234,0 252,3 272,3 294,1 9,8% Jumlah Pelanggan 343.361 358.371 374.152 390.152 408.197 426.545 445.839 466.126 487.458 509.889 6,0%

Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth

B4.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan


Rencana pembangunan sarana kelistrikan meliputi pembangkit, transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya energi yang besar, yaitu utamanya batubara, dan beberapa gas alam. Potensi energi yang potensial untuk dikembangkan di Kalimantan Tengah adalah batubara. Selain itu khusus untuk perdesaan yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN, selain pembangkit batubara juga dapat dikembangkan mikrohidro dan biomassa. Batubara Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai potensi batubara yang cukup banyak dan kabupaten Barito Utara merupakan kabupaten yang paling banyak memiliki cadangan batubara. Survey yang telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi, baik pemerintah maupun perusahaan asing seperti PT BHP - Biliton memperkirakan terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori di atas 7.000 kkal per kg dan juga ditemukan batubara dengan kandungan kalori di atas 8.000kkal per kg di kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara. Batubara ditemukan di daerah Muara Bakah, Bakanon, Sungai Montalat, Sungai Lahei, Sungai Maruwai dan sekitarnya. Potensi batubara di Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Table B4.3

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

589

TABEL B4.3 POTENSI BATUBARA KALIMANTAN TENGAH


Kriteria (kal/gr, adb) <5100 5100-6100 6100-7100 >7100 Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 122,7 122,7 Tereka 483,9 296,8 262,7 247,6 974,4 Tertunjuk 5,1 5,1 Terukur 44,4 72,6 77,0 194,0 Jumlah 483,9 354,8 449,5 324,6 1.613 Cadangan (Juta Ton) 4,1 44,5 48,6

No 1 2 3 4

Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Jumlah

Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi, 2006

Gas Alam Potensi gas alam di Kalimantan Tengah terdapat di Bangkanai di dekat Muara Teweh, dan berdasarkan hasil penelitian daerah ini memiliki potensi gas yang akan dieksploitasi sebesar 20 mmscfd selama 20 tahun, walaupun diperkirakan akan turun secara bertahap menjadi 16 mmscfd mulai tahun ke 16. Sumber Tenaga Air Kalimantan Tengah memiliki potensi tenaga air yang berkaitan dengan DAS Barito dan Katingan di daerah Puruk Cahu, Muara Teweh dan Kasongan. Status potensi tersebut dalam tahap identifikasi oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Tengah, dan memerlukan studi lebih lanjut untuk dapat dikembangkan. Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan beban sampai dengan tahun 2020 termasuk memenuhi daftar tunggu, direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 693 MW. Jenis pembangkit yang akan dibangun adalah PLTU batubara di beberapa lokasi dan PLTG gas di Bangkanai sebagai pembangkit peaking dengan menggunakan gas storage CNG (compress natural gas). Tabel B4.4 berikut menampilkan perincian pengembangan pembangkit di Kalimantan Tengah.

590

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL B4.4 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Proyek Pulau Pisau (FTP1) Bangkanai #1, #2 (FTP2) Buntok Kuala Pambuang Kuala Kurun Bangkanai #3 (FTP2) Sampit (FTP2) Bangkanai #4 (FTP2) Kuala Pambuang Ekspansi Pangkalan Bun (Cenko) Kalteng - 1 Total Kapasitas Pemilik PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Swasta Jenis PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU MW 2x60 2x70 2x7 2x3 2x3 1x70 2x25 1x70 3 2x7 2x100 693 COD 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2017 2011 2020 Status On Going Rencana On Going Rencana Rencana Rencana On Going Rencana Rencana On Going Rencana

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Seiring dengan rencana pembangunan PLTU batubara dan PLTG di Bangkanai serta untuk menyambung sistem isolated masuk ke grid Barito, direncanakan akan dibangun transmisi 150kV untuk menyalurkan energi listrik dari pembangkit tersebut ke pusat beban. Sebagaimana diketahui bahwa sebaran penduduk Kalimantan Tengah sangat berjauhan, sehingga transmisi 150 kV yang akan dibangun menjadi sangat panjang. Selain itu letak sumber gas alam Bangkanai juga berada di ujung sebelah timur laut Provinsi Kalimantan Tengah dan jauh dari pusat beban. Pembangunan transmisi juga dimaksudkan untuk dapat melistriki lebih banyak penduduk Kalimantan Tengah sekaligus untuk mengambil-alih PLTD minyak masuk ke grid Kalselteng 150kV dalam rangka menurunkan biaya pokok produksi. Selama tahun 2011-2020 transmisi 150 kV yang akan dibangun sekitar 1.968 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 202 juta seperti ditampilkan dalam tabel B4.5. Rencana pengembangan sistem transmisi di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sesuai dengan peta yang diperlihatkan pada gambar B4.1.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

591

TABEL B4.5 RENCANA PEMBANGUNAN TRANSMISI 150 KV


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dari Palangkaraya Kasongan Tanjung Sampit PLTG Bangkanai Muara Teweh PLTU P. Pisau Palangkaraya (New) Muara Teweh Puruk Cahu PLTU Sampit PLTU Kalteng-1 Kasongan Sampit Incomer phi (Sampit-P raya) Buntok Pangkalan Bun Muara Teweh Buntok Incomer 2 phi (P. Raya-Selat) Incomer phi (Selat-P raya) Puruk Cahu Kuala Kurun Sampit kasongan Kuala Kurun Jumlah Ke Tegangan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 2xDOVE 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 1xZEBRA 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 2xHAWK 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 1xHAWK 2 cct, 2xHAWK Panjang (kms) 346 2 260 344 100 220 4 2 94 196 40 120 240 1.968 Anggaran (Juta USD) 30,8 0,2 31,9 30,6 12,3 27,0 0,4 0,2 8,4 17,4 3,6 10,7 29,4 202,8 COD 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015

Pengembangan Gardu Induk Di luar sistem Barito terdapat banyak sistem isolated relatif kecil dan berlokasi saling berjauhan yang dipasok PLTD minyak. Pengembangan gardu induk ini dimaksudkan untuk mendukung interkoneksi sistem isolated tersebut dengan sistem Barito yang selanjutnya disebut sistem Kalselteng dengan transmisi 150 kV. Pengembangan grid tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan dan menurunkan biaya pokok produksi. Gardu induk yang akan dibangun pada tahun 2011-2020 tersebar di 8 lokasi dengan daya 330 MVA, termasuk trafo untuk perluasan, dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$39 juta seperti ditunjukkan pada tabel B4.6.

592

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020

TABEL B4.6 RENCANA PENGEMBANGAN GI


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTG) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Kuala Kurun (GI Baru) Puruk Cahu (GI Baru) Pangkalan Bun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU) Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru/Extension New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension New New Extension Extensi