Anda di halaman 1dari 4

Penanganan preeklampsia berat pada primigravida hamil preterm dengan intrauterine fetal death (IUFD) Dibuat oleh: Anindian

Setyo Rahmawati,Modifikasi terakhir pada Tue 31 of May, 2011 [08:08 UTC] Abstrak Preeklampsia merupakan sindrom spesifik-kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria yang terjadi setelah umur kehamilan 20 minggu sampai segera setelah persalinan. Patofisiologi yang terpenting pada perkembangan preeklampsia dan merupakan faktor yang menentukan hasil akhir kehamilan adalah adanya perubahan arus darah di uterus, koriodesidua dan plasenta. Hipoperfusi plasenta dapat menimbulkan iskemik uteroplasenta yang dapat menurunkan suplai oksigen dan nutrisi ke janin yang dapat mengganggu pertumbuhan janin hingga kematian janin dalam kandungan.

Keywords: Preeklampsia berat, primigravida, preterm, intrauterine fetal death

Kasus Seorang wanita G1P0A0 hamil 33minggu 4 hari, 20 tahun, datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan pasien tidak merasakan gerak janin sejak kemarin pagi. Pasien pernah mondok di RS 3 minggu yang lalu karena preeklampsia berat (PEB). Riwayat haid : HPHT: 03/09/2010. HPL: 10/06/2011. Riwayat pernikahan: 1 x lama pernikahan 1 tahun. Riwayat ANC: Pasien memeriksa kehamilan ke bidan sebanyak 6 kali : TT : (-) . Riwayat KB : Tidak memakai. Dari pemeriksaan fisik tampak keadaan umum baik, tanda vital TD 160/110 mmHg, HR 84x/menit, RR = 20x/menit, dan suhu = 36,30C. Pada ekstremitas tampak edema pada kedua kaki. Palpasi obstetri janin tunggal, letak memanjang, presentasi kepala, kepala teraba 5/5 bagian, His (-), DJJ (-), TFU 23 cm, TBJ 1705 gram. Pemeriksaan dalam v/u tenang, dinding vagina licin, porsio tebal, lunak, pembukaan 1 jari sempit, STLD (-), AK (-). Pemeriksaan laboratorium protein urine (+4). Kesan hasi USG adalah IUFD

Diagnosis Primigravida preterm belum inpartu dengan preeklampsia berat disertai dengan intrauterine fetal death (IUFD).

Terapi Pasien ini dirawat selama 3 hari dengan diberikan terapi untuk mengatasi preeklampsia beratnya dan untuk mengeluarkan janin yang sudah meniggal dalam kandungan. 1) 2) Penatalaksanaan PEB Infus RL 20 tpm MgSO4 10 cc diencerkan dengan RL 10 cc disuntikkan pelan IV dengan infus digrojog MgSO4 15 cc di drip dengan RL 500 cc 20 tpm Nifedipin 3x10 mg Penatalaksanaan IUFD

Rencana persalinan pervaginam dengan induksi misoprostol 50g tiap 4 jam, dilanjutkan dengan Infus RL + oksitosin 5 unit drip 20tetes/menit. Evaluasi tiap 15 menit, jika his tidak ada perbaikan tetesan dinaikkan 5 tetes/15 menit

Diskusi Menurut gejala dan hasil pemeriksaan fisik maupun penunjang, pasien dikategorikan termasuk mengalami Preeklampsia Berat, dimana didapatkan hipertensi (TD 160/110mmHg) dan adanya proteinuri +4. Pada pemeriksaan ginekologis tidak di dapatkan adanya denyut jantung janin dan gerakan janin sudah tidak sirasakan sejak kemarin pagi . Selain itu tidak didapatkan tanda-tanda persalinan. Hal ini semua mendukung diagnosa yang telah ditepatkan Primigravida preterm belum inpartu dengan preeklamsia berat disertai dengan intrauterine fetal death (IUFD).. Pre-eklampsia adalah penyakit yang ditandai dengan timbulnya hipertensi, diikuti dengan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Preeklampsia terjadi pada umur kehamilan diatas 20 minggu, paling banyak terlihat pada umur kehamilan 37 minggu, tetapi dapat juga timbul kapan saja pada pertengahan kehamilan. Penatalaksanaan pada kasus ini sudah sesuai dengan teori yaitu menangani PEB dan mengeluarkan janin yang sudah mati. Prinsip penanganan PEB adalah: MgSO4 : MgSO4 40% 10 cc diencerkan dalam 10 cc aquabides bolus iv, dilanjutkan Mg SO4 40% 15 cc dalam 500cc RL 20 tpm Istirahat, pemantauan tekanan darah secara teratur

Anti hipertensi: jika TD sistolik 160mmHg atau diastolik 110mmHg (nifedipin 10mg) dengan target 20%-30% MAP Diuretik jika edem paru, edem anasarka atau decompensatio cordis Roboransia-antioksidan Steroid jika umur kehamilan 24-34 minggu

Menurut International Journal of Gynecology and Obstetrics (2007), regimen yang digunakan untuk penatalaksanaan IUFD adalah: IUFD pada usia kehamilan 13-17 minggu

Misoprostol vagina 200g tiap 6-12 jam dengan total 4 dosis. Dosis harian maksimal tidak boleh melebihi 1600g. IUFD pada usia kehamilan 18-26 minggu

Misoprostol vagina 100g tiap 6-12 jam dengan total 4 dosis. Dosis harian maksimal tidak boleh melebihi 800g. IUFD pada usia kehamilan > 26 minggu

Apabila serviks belum matang (skor bishop <6) maka diberikan misoprostol vagina 25-50g yang diberikan tiap 4 jam (sampai 6 dosis). Jika serviks sudah matang (skor bishop 6) maka dapat dipertimbangkan antara misoprostol atau oksitosin. Tapi gold standard pada usia kehamilan >26 minggu menggunakan oksitosin.

Kesimpulan Penanganan preeklampsia berat disertai dengan IUFD pada pasien ini sudah sesuai dengan kaidah yang sudah ada yaitu mengatasi PEB dan mengeluarkan bayi yang sudah mati dalam kandungan dengan cara induksi misoprostol dengan dosis 50g tiap 4 jam yang dan dilanjutkan dengan oksitosin yang sudah sesuai dengan gold standard menurut International Journal of Gynecology and Obstetrics (2007).

Referensi 1. Budiono Wibowo, Trijatmo Rachimhadhi .1997. Pre-eklamsia dan Eklamsia. Ilmu Kebidanan, edisi ke-3. Pp 281-301. YPB Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

2. Cunningham, F.G., MacDonald PC, Gant, F.N etc, editor. William Obstetrics. 18 edition. Connecticut. Appleton & Lange, 2001 3. Jahanfar et al, Risk factor related into intra uterine fetal death in Iran, Shiraz E-Medical Journal, 2005 4. Ponce, Gomez. Misoprostol for intrauterine fetal death. 2007.International Journal of Gynecology and Obstetrics. 5. Winkjosastro, H., Saifuddin, A.B., Rachimdani, T. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Penulis Anindian Setyo Rahmawati, S.Ked. Program Profesi Pendidikan Dokter. Bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan. RSUD Temanggung.