Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada tahun 1901 seorang dokter gigi amerika, Dr. F.

McKay, yang baru saja pindah dari Pensylvania ke Colorado Spring, menemukan apa yang dinamakan email yang berbintik (motlled enamel) pada gigi kebanyakan pasien. Ia menggambarkannya sebagai email yang d i tandai bintik kecil putih, atau bintik/daerah kuning/coklat, yang tersebar tidak beraturan di seluruh permukaan gigi. Atau seluruh gigi terlihat bagai kertas yang berwarna putih mati seperti warna piring porselen. Baru pada tahun 30an diketahui penyebab timbulnya bintik tersebut adalah kadar fluor air minum yang berlebihan atau lebih dari 2,0 bagian atau 2mg fluor per liter. Keadaan ini juga dihubungkan dengan rendahnya prevalensi karies di daerah itu. Penelitian mengenai hal tersebut dilakukan di Amerika dan Inggris. Istilah fluorosis gigi lalu dipakai dan penelitianpun segera diadakan untuk mengetahui manfaat fluor terhadap gigi. Pada tahun 1942 Dean dkk menerbitkan hasil penelitian epidemologi klasik yang dibuat oleh US Public Health Service. Penelitian dilakukan terhadap anak-anak umur antara 12-14 tahun tinggal di 20 kota dan dicari hubungan antara karies yang terjadi dengan kandungan fluor pada air minum yang digunakan. Hasilnya menunjukan bahwa jika kadar fluor dalam air minum kira-kira satu bagian atau 106F (bagian per sejuta =1bps) maka ggi penduduk yang berumur panjang di daerah tersebut mempunyai prevlensi yang terendah tapi tanda-tanda fluorosis. Kesimpulan hasil penelitian tersebut adalah bahwa menurunkan karies dengan menambah fluor dengan kadar optimal merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan. Berbagai macam konsep tentang mekanisme kerja fluor yang berkaitan dengan pengaruhnya pada gigi sebelum dan sesudah gigi erupsi. Pemberian fluor yang teratur baik secara sistemik maupun lokal merupakan hal yang penting diperhatikan dalam mengurangi terjadinya

karies oleh karena dapat meningkatkan remineralisasi. Namun demikian, jumlah kandungan fluor dalam air minum dan makanan harus diperhitungkan pada waktu memperkirakan kebutuhan tambahan fluor, karena pemasukan fluor yang berlebihan dapat menyebabkan fluorosis. Pada tahun 1938, Dr. Trendly Dean melaporkan bahwa ada hubungan timbal balik antara konsentrasi fluor dalam air minum dengan prevalensi karies. Penelitian epidemiologis Dean ditandai dengan perlindungan terhadap karies secara optimum dan terjadinya mottled enamel yang minimal apabila konsentrasifluor kurang dari 1 ppm. Meskipun selalu dilakukan pengembangan metode untuk menurunkan jumlah bakteri pada gigi dengan cara mekanis atau mengurangi aktivitas kariogenik dengan bahan kimia, tetapi penggunaan fluor yang tepat masih merupakan cara yang terbaik dalam menanggulangi karies gigi. Hampir semua ahli dalam ilmu kedokteran gigi percaya bahwa prinsip kerja fluor adalah meningkatkan resistensi email terhadap asam pada plak gigi yang dihasilkan oleh bakteri plak. Fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksi apatit pada enamel menjadi fluor apatit. Reaksi kimia : Ca10(PO4)6.(OH)2 + F Ca10(PO4)6.(OHF) menghasilkan enamel yang lebih tahan terhadap asam sehingga dapat menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi yang merangsang perbaikan dan penyembuhan lesi karies.

B. Tujuan Penulisan makalah ini bertujuan : a. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah obat kedokteran gigi. b. Sebagai media pembelajaran menyusun makalah. c. Menambah pengetahuan tentang fluor. C. Rumusan Masalah a. Bagaimana reaksi fluor terhadap email? b. Bagaimana mekanisme dasar fluor? c. Apa saja macam-macam obat-obatan / larutan fluor yang dapat dipergunakan? d. Bagaimana dosis yang diberikan dalam penggunaan fluor? e. Apa yang dimaksud sistemik dan lokal?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pelekatan fluor terhadap email Penyerapan fluor dipengaruhi oleh keadaan email misalnya apakah email tersebut sehat atau tidak atu apakah proses etsa atau karies telah menyababkan lebih porus karena larutnya substansi interprismata. Meningkatnya keporusan email akan memudahkan difusi dan penyerapan fluor. Pada gigi yang baru erupsi emailnya juga akan menyerap fluor lebih banyak dari pada email yang telah matang.

Reaksi fluor dengan email Agar fluor bisa diikat oleh email, maka fluor tersebut harus diletakan dalam bentuk fluor apatit, dimana ion hidroksil diganti oleh ion fluor. Fluor yang diperoleh dari cairan jaringan selama periode pembentukan gigi dan dari saliva serta air minum pada periode paska erupsi diikat email dalam bentuk ini. Akan tetapi karena rendahnya konserntarasi fluor dalam media ini maka dibutuhkan waktu lama untuk memperoleh akumulasi fluor apatit yang cukup pada email. Oleh karena itu tujuan topikal aplikasi fluor adalah untuk membentuk fluor apatit dalam jumlah yang cukup dalam waktu yang tidak lama. Hal ini akan sukar dicapai karena ada dua reaksi berbeda yang diperkirakan akan terjadi antara email dan fluor dalam larutan dan terkandung dalam kadar fluornya. Setelah berkonyak dengan konsentrasi fluor yang relative rendah, misalnya dibawah 75bps hidroksi apatit akan berubah menjadi fluor apatit C10(PO4)6(OH)2 + 2F C10(PO4)6F2+2OH

Dari larutan yang mengandung kosentrasi fluor yang lebih tinggi akan diserap F yang lebih banyak pula. Tetapi tidak seluruhnya dari fluor ini dibentuk menjadi fluor apatit. Sebagian ion fluor akan diserap kedalam permukaan kristal tapi sisinya akan bergabung dengan ion kalsium dari

kisi-kisi untuk membentuk kalsiym fluoride (CaF2), membebaskan ion phosfate dan sebagian menguraikan kisi-kisi dalam proses : C10(PO4)6(OH)2 + 20F 10CaF2+2OH

Karena CaF2 dapat larut sedikit dalam air, kebanyakan zat ini akan larut dan hilang dalm beberapa jam setelah terapi, tetapi sejumlah tertentu memang dapat diikat oleh email. Disamping itu tidak mustahil fluor apatit mengedap kembali. Apabila setelah terapi fluor email ditutup dengan ulasan pernis fluor yang akan diikat oleh email lebih banyak.

B. Mekanisme Aksi Dasar Fluor Fluor mempunyai tiga mekanisme aksi dasar, yaitu: 1. Menghambat metabolisme bakteri Fluor yang terionisasi (F-) tidak dapat menembus dinding dan membran bakteri , tetapi dapat masuk ke sel bakteri kariogenik dalam bentuk HF. Ketika pH plak turun akibat bakteri yang menghasilkan asam, ion hydrogen akan berikatan dengan fluor dalam plak membentuk HF yang dapat berdifusi secara cepat ke dalam sel bakteri. Di dalam sel bakteri, HF akan terurai menjadi H+ dan F-. H+ akan membuat sel menjadi asam dan F- akan mengganggu aktivitas enzim bakteri. Contohnya fluor menghambat enolase (enzim yang dibutuhkan bakteri untuk metabolisme karbohidrat). Terperangkapnya fluor di dalam sel merupakan proses yang kumulatif. 2. Menghambat demineralisasi Mineral di dalam gigi (email, sementum, dentin) dan tulang adalah karbonat hidroksiapatit, dengan formula Ca10-x(Na)x(PO4)6y(CO3)z(OH)2-u(F)u.

Pada saat perkembangan gigi, mineral pertama yang hilang adalah karbonat (CO3) yang menyebabkan terbentuknya ruangan di dalam kristal.

Saat demineralisasi, mineral yang hilang adalah karbonat, tetapi selama remineralisasi karbonat tidak akan terbentuk kembali melainkan digantikan oleh mineral yang baru.

Pada kristal yang mengalami defisiensi kalsium tetapi kaya karbonat, akan lebih rentan terhadap asam selama demineralisasi. Karbonat hidroksiapatit (CAP) lebih larut dalam asam daripada hidroksiapatit (HAP= Ca10(PO4)6(OH)2) dan fluorapatit (FAP= Ca10(PO4)6F2) dimana ion OH- pada hidroksiapatit digantikan oleh F- menghasilkan FAP yang sangat resisten terhadap disolusi asam.

Fluor menghambat demineralisasi. Fluor yang menyelubungi kristal CAP lebih efektif menghambat demineralisasi daripada fluor yang tergabung di dalam kristal pada email.

Fluor yang tergabung dalam kristal pada dosis 20-100 ppm, tidak memberikan pengaruh pada solubilitas terhadap asam. Namun, Fluor yang terkonsentrasi pada permukaan kristal yang baru selama remineralisasi dapat mengubah solubilitas terhadap asam.

Pada saat bakteri menghasilkan asam, fluor dalam cairan plak akan masuk bersama asam ke bawah permukaan gigi yang kemudian diadsorpsi lebih kuat ke permukaan Kristal CAP (mineral email) dan menyebabkan mekanisme proteksi yang poten melawan disolusi asam pada permukaan kristal pada gigi.

Fluor yang menyelubungi kristal berasal dari cairan plak melalui aplikasi topikal, seperti air minum atau produk fluor. Fluor yang tergabung dalam kristal tidak berperan signifikan dalam proteksi terhadap karies sehingga perlu diberikan fluor terusmenerus sepanjang hidup.

3. Meningkatkan remineralisasi Ketika saliva mengenai plak dan komponen-komponennya, saliva dapat menetralisasi asam sehingga menaikkan pH yang akan menghentikan demineralisasi. Saliva bersama kalsium dan fosfat akan menarik komponen yang hilang ketika demineralisasi kembali menyusun gigi. Permukaan kristal yang terdemineralisasi yang terletak antara lesi akan bertindak sebagai nukleatordan permukaan baru akan terbentuk. Proses tersebut disebut remineralisasi, yaitu penggantian mineral pada daerah-daerah yang terdemineralisasi sebagian akibat lesi karies pada email atau dentin (termasuk bagian akar). Fluor akan meningkatkan remineralisasi dengan mengadsorpsi pada permukaan kristal menarik ion kalsium diikuti dengan ion fosfat untuk pembentukan mineral baru. Mineral yang baru terbentuk disebut veneer yang tidak mengandung karbonat dan komposisinya memiliki kemiripan antara HAP dan FAP. FAP mengandung sekitar 30.000 ppm fluor dan memiliki kelarutan terhadap asam yang rendah. Mineral yang baru terbentuk memiliki sifat seperti FAP yang kelarutan dalam asam lebih rendah daripada CAP.

Ada 3 mekanisme aksi mendasar untuk mencegah dan menghambat terjadinya karies, yaitu: 1. Menghambat metabolisme bakteri; dalam bentuk HF, fluor dapat menembus dinding sel bakteri dan mengubahnya menjadi asam sehingga metabolisme bakteri terhambat. 2. Menghambat demineralisasi; Fluor yang diadsorpsi ke permukaan kristal CAP (mineral email) dan menyebabkan mekanisme proteksi yang poten melawan disolusi asam pada permukaan kristal pada gigi, sehingga demineralisasi dapat dihambat. 3. Meningkatkan remineralisasi; Fluor akan meningkatkan remineralisasi dengan mengadsorpsi pada permukaan kristal menarik ion kalsium diikuti dengan ion fosfat untuk pembentukan mineral baru.

C. Macam-macam Obat-obatan / Larutan Fluor yang dapat Dipergunakan Larutan atau obat-obatan fluor yang dipakai di bidang kedokteran gigi untuk mencegah karies adalah : (1) Sodium Fluoride/NaF, (2) Acidulated-phospat-fluoride/Fl3 (APF) dan (3) Stanous Fluoride / SnF2 Sodium Fluoride / NaF Menurut Knutson, dalam penyelidikannya dengan topical aplikasi mempergunakan larutan fluor dalam bebtuk sodium fluoride / NaF. Dimana sodium fluoride ini digunakan dalam bentuk larutan dengan air dengan konsentrasi 2% : 2 mg NaF dalam 100 mg larutan. Topikal aplikasi dengan NaF 2% mempunyai satu seri perawatan yang terdiri dari 4 kali kunjungan topical aplikasi dengan fluor dimana interval/jangka waktunya dari kunjungan 1,2,3 dan 4 adalah 2-7 hari. Topikal aplikasi pada jenis perawatan ini dianjurkan diberikan pada anak anak umur 3 tahun, 7 tahun, 10tahun dan 13 tahun. Mengapa pada umur

ini perlu diberikan topikal aplikasi?. Topikal aplikasi dengan cara ini mempunyai efek profilaksis (tindakan pencegahan). Pemakaian topikal aplikasi dengan larutan Naf ini mempunyai kekurangan maupun kebaikannya masing-masing. Kebaikannya yaitu : a. Rasanya cukup enak, tidak pahit, meskipun ada rasa asin, b. Tidak menimbulkan pewarnaan ekstrinsik, c. Tidak mengiritasi jaringan gingival dan d. Mendidik penderita untuk melaksanakan disiplin kunjungan kebalai pengobatan selama satu sri kunjungan. Kekurangan dari pemakian NaF yaitu: larutan ini tidak tahan lama, kecuali jika disimpan dalam botol polietilen dimana botol ini berwarna gelap sehingga tidak tembus cahaya matahari. Apabila larutan ini disimpan dalam botol tembus cahaya, maka sinar matahari akan mengadakan reaksi kimia dengan ion fluor yang bebas.

Acidulated-phosfat-fluoride/Fl3PO4(APF) Larutan fluor ini terdiri dari 1,2% larutan fluor didalam 0,1 mg asam fosfat. Pemakaian topikal aplikasi denagn larutan fluor yang telah diasamkan ini mempunyai satu seri perawatan yang terdiri dari 2 kali kunjungan untuk topikal aplikasi dalam satu tahun. Disini dikatakan bahwa lebih sering topikal aplikasi dilakukan, maka lebih efektif pula hasil timbulnya pencegahan karies gigi. Topikal aplikasi ini terutama diberikan pada kasus rampan karies. Kebaikan memakai larutan ini yaitu larutan stabil bila disimpan dalam botol polietilen, sedangkan keburukannya yaitu dapat menimbulkan pewarnaan ekstrinsik pada gigi-geligi.

Stanous fluoride/SnF2 Untuk topikal aplikasi yang menggunakan larutan SnF2 dipakai konsentrasi 8-10%. Jika digunakan dengan teknik topikal aplikasi, SnF2

dipakai setiap 4-6 bulan dimulai umur 3 tahun. Juga efektif untuk orang dewasa. Kebaikan pemakaian SnF2 yaitu : 1) Larutan ini sangat aktif sehingga akan cepat kehilangan kekuatannya. Oleh karena itu harus dibuat larutan baru untuk setiap kali pemakain. 2) Pemakaian pada orang dewasa lebih efektif dari pada pemakaian NaF. 3) Dapat memberi efek walaupun pada daerah dimana kadar fluoride dalam air minum cukup besar. 4) Penggunaan stanous fluoride 8% sekali per tahun sudah dapat melindungi gigi terhadap karies. Keburukannya yaitu: 1) Bau dan rasanya tidak enak. 2) Dapat menimbulkan pigmentasi pada gigi. 3) Dapat mengiritasi gingival. 4) Mudahnya teroksidasi sehingga tidak efektif lagi.

D. Dosis Yang Direkomendasikan Dosis fluor yang dibutuhkan untuk terjadinya remineralisasi jauh lebih sedikit daripada dosis untuk menghambat demineralisasi atau sebagai antibakteri. Saliva hanya mempunyai dosis fluor maksimal sebanyak 0.03 ppm dan dosis yang efektif untuk mencegah karies secara menyeluruh adalah sekitar 0.1 ppm. Walaupun pada tahap selanjutnya, dosis yang diperlukan disesuaikan dengan kekuatan asam yang terbentuk oleh proses fermentasi karbohidrat bakteri di mulut dan prevalensi karies individu tersebut. (Featherstone, 2006) Pemberian suplemen fluor tidak berpengaruh pada gigi desidui, tetapi pemberian suplemen fluor pada gigi permanen memberikan efek baik pada resistensi karies.

10

Aplikasi fluor masih mempunyai efek samping berupa fluorosis ringan sampai sedang. Jumlah optimal fluoride dalam air minum adalah 1,2 mg/l. Pada jumlah ini menunjukkan adanya reduksi karies namun tanpa gejala fluorosis.

Fluorosis adalah suatu kelainan email, bentuk ringan email menunjukkan bercak putih dan coklat muda yang kemudian menjadi lebih tua.

Pada kondisi yang lebih parah ditemukan adanya cekungan-cekungan pada email. Berdasarkan suatu penelitian, ditemukan bahwa flouridasi air pada level optimal dapat mencegah terjadinya karies dan meminimalisasi dental fluorosis.

Namun, penelitian lebih lanjut menujukkan bahwa aplikasi fluor untuk pencegahan karies lebih baik dilakukan secara topikal, terutama pada anak-anak.

Jadi Karies merupakan penyakit gigi yang sering dialami oleh setiap individu. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu senyawa yang dapat menghambat atau mencegah perkembangan karies. Berdasarkan suatu penelitian, flour yang terdapat pada permukaan gigi dapat mencegah demineralisasi dengan membentuk kalsium fluor dan fluoroapatit yang akan mempertinggi remineralisasi email sehingga menjadi lebih resisten terhadap kerusakan oleh asam.

Sehingga dalam mencegah terbentuknya karies pada gigi dibutuhkan asupan flour yang efisien dan efektif, yaitu sekitar 0.1 ppm.

E. Fluor Sistemik dan Fluor Lokal Dalam profesi kedokteran gigi pencegahan, fluor dapat digunakan dalam 2 macam cara yaitu penggunaan fluor secara sistemik dan secara lokal.

11

1. Penggunaan Fluor Secara Sistemik Fluor mecapai permukaan email gigi melalui proses pencernaan tubuh. Pada pemberian fluor sistemik, fluor masuk kedalam tubuh melalui mulut, sehingga pemberian fluor sistemik juga memiliki efek topikal pada gigi. Pemberian fluor sistemik mempunyai efek baik pada gigi yang belum erupsi maupun gigi yang sudah erupsi. Yang termasuk pemberian secara sistemik adalah: a. Melalui Air Minum (PAM) Memasukan fluor kedalam air minum adealah merupakan cara yang paling praktis, mudah dan ekonomis. Pasien tidak berbuat apa-apa dan secara otomatis akan mendapatkan air minum yang mengandung fluor. Harga fluor yang dimasukan kedalm air minumpun murah. Konsentrasi fluor yang dimasukan kedalam air minum harus dapat mencegah karies secara maksimal tanpa menimbulkan fluorosis yang menggangu. Untuk Indonesia konsentrasi fluor yang dimasukkan kedalam air minum sebaiknya 0,7 ppm (1 ppm = 1 mg fluor dalam 1 liter air). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian fluor melalui air minum dapat mengurangi prevalensi karies sampai 60%. Di Indonesia masih banyak kesulitan teknis yang harus diatasi utuk memasukan fluor kedalam air minum. Selain itu penduduk di Indonesia sebagian besar tidak mendapat air minum dari air PAM, melainkan dari mata air, kali,sumur dan lain-lain. Oleh karena itu pemberian fluor melalui PAM untuk indonesia kurang efektif.

Bahan yang dipakai adalah NaF, karena mempunyai sifat antara lain : 1) Mudah didapat dan murah harganya. 2) Mudah larut dalam air .

12

3) Mudah melepaskan ion fluor bebas. b. Mengkonsumsi Tablet Fluor Manfaat terbesar pemberian tablet fluor (NaF) dapat dicapai jika diberikan sebelum erupsi gigi yaitu 0-12 tahun. Tablet fluor dapat diberikan pada ibu hamil. Penggunaan tablet fluor dalam memenuhi kebutuhan fluor memerlukan kerjasama yang erat antara orang tua, anak, guru dan dokter giginya. Jumlah tablet fluor yang dimakan setiap pasien dapat dilihat pada aturan pemakaian setiap kemasan misalnya: Zyma fluor, diminum seperempat tablet perhari untuk anak dibawah 5 tahun. Untuk anak diatas lima tahun dan ibu hamil, dosisi menjadi 1 tablet /hari. Sumber air minum di Indonesia berbeda untuk setiap keluarga, maka jumlah fluor yang tertelan melalai air minum tidak dapat diketahui. Hal ini menyebabkan penggunaan tablet fluor di Indonesia sulit sulit dipastikan dosisnya. c. Obat Tetes Fluor Fluor dalam bentuk obat tetes biasanya dicampur dengan vitamin. Penggunaan fluor dalam obat tetes adalah utuk bayi dan balita. Obat tetes dapat diberikan bersamaan dengan minuman/makanan bayi seperti susu atau bubur bayi. Jumlah fluor yang dapat dimakan setiap pasien dapat dilihat sesuai aturan pemakaian. Misalnya : Vitafluor Drops, aturan pakai : 3 kali 4 tetes / hari utuk umur dibawah 3 tahun dan 3 kali 8 tetes / hari untuk anak umur diatas 3 tahun. 2. Penggunaan Fluor Secara Lokal Fluor yang diberikan secara lokal dapat mencapai permukaan email secara langsung tanpa melalui pencernaan. Pemberian fluor secara lokal hanya mempunyai efek pada gigi yang sudah erupsi. Contoh pemberian fluor secara lokal : a. Self Aplication / Brush In / Pada Sikat Gigi

13

Bahan yang dipakai adalah pasta fluor misalnya sodium fluoride/stannous fluoride. Ada 2 macam pasta fluor yaitu : 1) Pasta fluor dengan konsentrasi rendah (0,4%) dapat dipakai untuk setiap hari. 2) Pasta fluor dengan konsentrasi tinggi (10%) dapat dipakai 1 atau 2 atau 4 bulan sekali. Pasien menyikat gigi dengan pasta fluor (SnF2) maka self application disebut brush in. Keuntungan pemberian fluor melalui self application / brush in adalah anak belajar menggosok gigi dan dapat dilakukan sendiri di rumah. b. Mouth Rinsing (kumur-kumur) Bahan yang dipakai adalah tablet NaF dilarutkan dalam 10 cc air sehingga didapat fluor dengan konsentrasi 0,2%. Pasien berkumur-kumur dengan larutan NaF 0,2% selama kurang lebih 3 menit. Pemberian fluor dengan mouth rinsing mudah dilakukan, waktu singkat dan murah, tetapi anak tidak belajar menggosok gigi. c. Topikal Aplikasi Pemberian fluor melalui topikal aplikasi dapat memakai bermacam-macam bentuk fluor antara lain: 1) Pasta fluor konsentrasi tinggi (SnF2 10% dan larutan fluor SnF 10%). Alat yang dipakai contra angle dan rubber cup. Pasta fluor konsentrasi tinggi SnF2 10% dipoleskan memakai contra angle dan rubber cup, setelah selesai larutan fluor SnF2 10% diulas memakai cotto pellet. 2) Larutan fluor SnF2 20%. Sebelum dipakai larutan SnF2 20% biasanya dicampur dengan larutan pengencer / pemanis (sorbitol) dengan perbandingan 1:1 sehingga akan diperolehlarutan fluor dengan kosentrasi 10%. Kapas dicelupkan pada larutan fluor yang sudah siap dipakai, lalu

14

dioleskan pada seluruh permukaan gigi yang sudah dikeringkan. 3) Fluor dalam bentuk gel Fluor dalam bentuk gel diletakan pada mouth guard / sendok cetak, kemudian mouth guard / sendok cetak dipakai 2-3 menit. Pemberian fluor melalui teknik topikal aplikasi biasanya dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Minta anak menggosok giginya Awasi anak yang sedang menggosok gigi dan lanjutkan flossing jika jika memungkinkan menghilangkan sisa makanan harus dihilangkan sebelum aplikasi fluor. b. Isolasi gigi geligi Gunakan saliva ejector, gulungan tisu/kapas atau bantalan penyerap untuk isolasi gigi yang akan dirawat. Isolasi baik satu kuadran gigi atau setengah daerah mulut (gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah pada satu gigi) atau sepertiga mulut, molar tetap atau molar susu rahang atas atau bawah. Isolasi memungkinkan gigi dikeringkan dan mencegah pengenceran fluor oleh saliva. Jumlah gigi yang diisolasi dengan baik tergantung pada pasien. Umumnya isolasi perkuadran lebih tepat untuk anak kecil, stengah daerah mulut pada remaja dan sepertiga mulut anak pada tahap gigi geligi campuran. c. Keringkan gigi yang diisolasi Keringkan gigi yang diisolasi dengan tiupan udara. Saliva yang tertinggal pada gigi akan mengencerkan larutan atau gel. d. Ulaskan larutan, gel atau varnish

15

Dengan kapas kecil atau cotton pellet yang ditahan oleh pinset oleskan larutan, gel varnish pada semua permukaan interproksimal dari bukal dan lingual. Jaga agar kapas tidak mengenai gigi. Biarkan gigi tertutup larutan / gel selama beberapa menit. Larutan / gel akan diserap ke gulungan kapas. Aplikasi selama 4 menit merupakan tindakan standar. e. Setelah 4 menit,bersihkan larutan / gel dari permukaan gigi yang dapat dijangkau, jangan berusaha membersihkan gel dari permukaan aproksimal. Jumlah larutan / gel yang diulaskan pada gigi cukup kecil, tetapi jangan anak menelan fluor yang tidak perlu. Instruksikan pada anak untuk meludahkan semuanya tetapi jangan kumur. Yang diinginkan adalah meludahkan sisa-sisa fluor. f. Isolasi kuadran lain atau sepertiga atau setengah mulut dan ulangi perawatan. Pada akhir perawatan instruksikan agar pasien tidak makan atau minum selama 30 menit, untuk memperpanjang kontak fluor dengan permukaan aproksimal gigi. d. Spot Aplication Pemberian fluor melalui spot aplication merupakan perawatan karena di berikan langsung pada white spot atau daerah yang terkena karies. Bahan yang di pakai adalah larutan fluor SnF 20%. Pada teknik spot application , cotton pellet dicelupkan pada larutan SnF 20% lalu cotton pellet pada white spot selama 2-3 menit. Bermacam jenis paparan fluoride bisa berefek positif pada berbagai tingkatan. Hal ini dapat terlihat pada tabel dibawah. Yang penting bagi para praktisi klinis adalah untuk menentukan kombinasi yang paling efektif untuk tiap pasien. Pilihan ini

16

seharusnya didasarkan pada umur pasien, pengalaman karies, kesehatan umum dan kebersihan mulut.

Tabel Keuntungan Perawatan Dengan fluoride

Jalur Sitemik Topikal

Metoda Pemberian Air minum masyarakat Aplikasi sendiri Dosis rendah/frekuensi berkumur tinggi (NaF 0,05% per hari) Dosis tinggi/frekuensi berkumur rendah (0,2% NaF per minggu) Pasta gigi berfluoride (harian) Aplikasi oleh tenaga kesehatan Gel APF (1,23%) per tahun atau per semester Lar. NaF (2%) Lar. SnF (8%)

Konsentrasi 1 225

Pengurangan Karies (%) 50-60 30-40

900 1.000 12.300

30-40 20 40-50

20.000 80.000

40-50 40-50

17

BAB III KESIMPULAN

Meskipun selalu dilakukan pengembangan metode untuk menurunkan jumlah bakteri pada gigi dengan cara mekanis atau mengurangi aktivitas kariogenik dengan bahan kimia, tetapi penggunaan fluor yang tepat masih merupakan cara yang terbaik dalam menanggulangi karies gigi. Hampir semua ahli dalam ilmu kedokteran gigi percaya bahwa prinsip kerja fluor adalah meningkatkan resistensi email terhadap asam pada plak gigi yang dihasilkan oleh bakteri plak. Fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksi apatit pada enamel menjadi fluor apatit. Reaksi kimia : Ca10(PO4)6.(OH)2 + F Ca10(PO4)6.(OHF) menghasilkan enamel yang lebih tahan terhadap asam sehingga dapat menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi yang merangsang perbaikan dan penyembuhan lesi karies. Pengunaan fluor dapat dilakukan dengan 2 cara sistemik dan lokal, sistemik yaitu fluor mecapai permukaan email gigi melalui proses pencernaan tubuh, pada pemberian fluor sistemik, fluor masuk kedalam tubuh melalui mulut, sehingga pemberian fluor sistemik juga memiliki efek topikal pada gigi. Dan sedangkan secara lokal yaitu fluor yang diberikan dapat mencapai permukaan email secara langsung tanpa melalui pencernaan. Pemberian fluor secara lokal hanya mempunyai efek pada gigi yang sudah erupsi.

18

DAFTAR PUSTAKA

Tim penulis mata kuliah Prevdent se-Indonesia., 2010, Buku bahan ajar ilmu pencegahan penyakit jaringan keras dan jaringan pendukung gigi, Politeknik Kesehatan Tasikmalaya Jurusan Kesehatan Gigi.

http:////guna-fluor-untuk-gigi.html

19