Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan hidayahNya, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah Etika Di Indonesia dan ajaran Islam sebagai tugas penyajian makalah untuk mata kuliah Etika Profesi. Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Ilmi A. Stialani, S.Psi selaku dosen Etika Profesi, yang telah banyak memberikan bimbingan kepada kami dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa terima kasih juga kami ucapkan kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. Sebagai penulis kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembimbing dan pembaca yang sifatnya membangun. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

Mataram, 01 April 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................................... 1 Daftar Isi ................................................................................................................................... 2 Bab I. Pendahuluan ................................................................................................................... 3 A. Latar Belakang............................................................................................................... 3 B. Tujuan ............................................................................................................................ 3 C. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 3 Bab II. Pembahasan .................................................................................................................. 4 A. Pengertian Etika Dan Etika Islam .................................................................................. 4 B. Konsep Etika Menurut Para Filosof Muslim ................................................................. 6 C. Analisis Tentang Konsep Etika Para Filosof Muslim ................................................. 15 D. Komparasi , Moral Dan Akhlak .................................................................................. 16 Bab III. Penutup ...................................................................................................................... 18 A. Kesimpulan .................................................................................................................. 18 B. Saran ............................................................................................................................ 18 Daftar Pustaka ........................................................................................................................ 19

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang kata-kata seperti etika, etis,dan moral tidak terdengar dalam ruang kuliah saja dan tidak menjadi monopoli kaum cendekiawan. Diluar kalangan intelektual pun sering disinggung hal-hal seperti itu. Memang benar, dalam obrolan dipasar atau ditengah penumpang-penumpang opelet kata-kata itu jarang sekali muncul. Tapi jika membuka surat kabar atau majalah, hampir setiap hari kita menemui kata-kata tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan penegasan Rasulullah SAW; bahwa kehadirannya dimuka bumi ini missi utamanya adalah menyempurnakan akhlak yang mulia. Perkembangan pemikiran manusia selalu menarik untuk dikaji. Manusia yang berfikir adalah manusia yang dinamis. Karena determinasi naturalistic yang membawa manusia kepada puncak posisi sebagai makhluk Tuhan adalah kemampuannya untuk berfikir itu. Berfikir adalah sebuah aktivitas awal yang menggerakkan seluruh aktivitas kemanusiaan. Para filosof adalah manusia-manusia pilihan yang mengabdikan dirinya pada pergulatan keilmuan dan pemikiran yang tiada henti. Walaupun pandangan sinis sering diarahkan kepada kaum filosof sebagai kelompok yang hanya duduk dikursi dan menteorikan dunia khayalan, tetapi kehadiran para filosof telah memberikan warna tersendiri bagi kehidupan didunia ini. Setidaknya mereka mampu mengabstraksikan realitas yang dia lihat utamanya dalam konsep-konsepnya tentang etika. B. Tujuan Makalah Adapun tujuan dari penyusunan Makalah ini ialah sebagai berikut : 1. Memahami arti dari etika dan etika Islami. 2. Mengetahui berbagai konsep-konsep etika menurut para filosof muslim. 3. Memahami komparasi dari etika, moral dan akhlak 4. Menarik Kesimpulan dari berbagai konsep yang disajikan C. Rumusan Masalah 1. Apa itu Etika dan Etika Islam? 2. Bagaimana Konsep Etika menurut para filosof muslim? 3. Apa komparasi antara etika, moral dan akhlak?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika Dan Etika Islam Etika adalah suatu cabang filsafat yang membicarakan tentang perilaku manusia. Atau dengan kata lain, cabang filsafat yang mempelajari tentang baik dan buruk. Untuk menyebut etika, biasanya ditemukan banyak istilah identik : moral, norma dan etiket. Seperti halnya dengan banyak istilah yang menyangkut konteks ilmiah, istilah etika pun bersal dari Yunani kuno. Kata Yunani ethos merupakan bentuk tunggal yang bisa memiliki banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap dan cara berpikir. Bentuk jamaknya adalah ta etha yang berarti: adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah etika dalam filsafat. Dalam sejarahnya, Aristoteles (384-322 SM) sudah menggunakan istilah ini yang dirujuk kepada filsafat moral. Istilah lainya yang memiliki konotasi makna dengan etika adalah moral. Kata moral dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim; mos, moris, manner mores, atau

manners, morals. Kata moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hatinurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika. Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang baik buruk, yang diterima umum tentang sikap, perbuatan, kewajiban dan sebagainya. Pada hakikatnya moral menunjuk pada ukuran-ukuran yang telah diterima oleh suatu komunitas, sementara etika umumnya lebih dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan di pelbagai wacana etika. Akhir-akhir ini istilah etika mulai digunakan secara bergantian dengan filsafat moral sebab dalam banyak hal, filsafat moral juga mengkaji secara cermat prinsip-prinsip etika. Ketika dihubungkan dengan Islam, selalu muncul pertanyaan mendasar, adakah sesungguhnya yang disebut sebagai etika Islam itu?. Menurut abdul Haq Anshari dalam Islamic Ethics: Concepts and Prospects meyakini bahwa sesungguhnya Etika Islam sebagai sebuah disiplin ilmu atau subyek keilmuan yang mandiri tidak pernah ada pada hari ini. Menurutnya kita tidak pernah menjumpai karya-karya yang mendefinisikan konsepnya, menggambarkan isu-isunya dan mendiskusikan pemasalahannya. Apa yang kita temukan justru diskusi yang dilakukan oleh berbagai kalangan penulis, dari 4

kelompok filosof, teolog, ahli hukum Islam, sufi dan teoretis ekonomi dan politik dibidang mereka masing-masing tentang berbagai isu, baik yang merupakan bagian dari keilmuan mereka atau relevan dengan etika Islam.

Sebagai cabang pemikiran filsafat, etika dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Aliran Obyektivisme Berpandangan bahwa nilai kebaikan suatu tindakan bersifat obyektif, terletak pada subtansi tindakan itu sendiri. Paham ini melahirkan apa yang

disebut paham rasionalisme dalam etika. Suatu tindakan disebut baik, menurut paham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau karena sejalan dengan kehendak masyarakat, melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Tokoh utama pendukung aliran ini ialah Immanuel Kant, sedangkan dalam Islam pada batas tertentu- ialah aliran Mutazilah. 2. Aliran subyektivisme Berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Subyek disini bias saja berupa subyektifisme kolektif, yaitu masyarakat, atau bias saja subyek Tuhan. Paham subyektifisme etika ini terbagi kedalam beberapa aliran sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes sampai ke paham tradisionalismenya Asyariyah. Menurut paham Asyariyah, nilai kebaikan suatu tindakan bukannya terletak pada obyektifitas nilainya, melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asariyah berpandangan bahwa manusia itu bagai anak kecil yang harus senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu manusia tidak mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk.

Kalau kita sepakati bahwa etika adalah suatu kajian kritis rasional mengenai yang baik dan yang buruk, bagaimana halnya dengan teori etika dalam Islam. Sedangkan telah disebutkan dimuka, bahwa terdapat dua paham, yaitu paham rasionalisme yang diwakili Mutazilah dan paham tradisionalisme yang diwakili oleh Asyariyah. Munculnya perbedaan itu memang sulit diingkari baik karena

pengaruh Filsafat Yunani ke dalam dunia Islam maupun karena narasi ayat-ayat alQuran sendiri yang mendorong lahirnya perbedaan penafsiran. Di dalam Al-Quran

pesan etis biasanya diselubungi oleh isyarat-isyarat yang menuntut perenungan oleh manusia.

penafsiran dan

Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua utama. Kedua, Pertama, etika Islam etika amat Islam tidak menentang diskusi fithrah tentang

cirri

manusia. hubungan

rasionalistik. Dalam

antara etika dan moral, problem yang seringkali muncul ialah bagaimana melihat peristiwa perspektif Islam yang moral teori yang etika mempunyai bersifat yang klaim partikular bersifat universal dan rasional ketika individual dan dalam universal. dan

dihayati

direalisasikan cenderung menjadi peristiwa partikular dan individual. Pendeknya, tindakan moral adalah tindakan konkrit yang bersifat pribadi dan subyektif. Tindakan moral ini akan menjadi pelik ketika dalam waktu dan subyek yang sama terjadi konflik nilai. Misalnya saja, nilai solidaritas kadangkala berbenturan dengan nilai keadilan dan kejujuran. Di sinilah letaknya kebebasan, kesadaran moral serta rasionalitas menjadi amat penting. Yakni bagaimana mempertanggungjawabkan suatu tindakan subyektif dalam kerangka nilai-nilai etika obyektif, tindakan mikro dalam kerangka etika makro, tindakan lahiriah dalam acuan sikap batin. Dalam perspektif Psikologi, manusia terdiri dari tiga unsur penting yaitu, Id, Ego, dan SuperEgo, sedangkan dalam pandangan Islam ketiganya sering dipadankan dengan nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu mutmaninah. Ketiganya merupakan unsur hidup yang ada dalam manusia yang akan tumbuh berkembang seiring perjalanan dan pengalaman hidup manusia.

B. Konsep Etika Menurut Para Filosof Muslim 1. Al-Kindi Dalam hal ini etika Al-Kindi berhubungan erat dengan definisi mengenai filsafat atau cita filsafat. Filsafat adalah upaya meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan manusia. Yang dimaksud dengan definisi ini ialah agar manusia memiliki keutamaan yang sempurna, juga diberi definisi yaitu sebagai latihan untuk mati. Yang dimaksud ialah mematikan hawa nafsu, dengan jalan mematikan hawa nafsu itu untuk memperoleh keutamaan. Kenikmatan hidup lahiriah adalah keburukan. Bekerja untuk memperoleh kenikmatan lahiriah berarti meningggalkan penggunaan akal. Pertanyaan yang dapat diajukan ialah bagaimana cara untuk menjadi manusia yang memiliki keutamaan yang sempurna itu. Bagaimana cara untuk mematikan 6

hawa nafsu agar dapat mencapai keutamaan itu. Jawaban pertanyaan ini ialah : keahuilah keutamaan itu dan bertingkah lakulah sesuai tuntutan keutamaan itu. Al-Kindi berpendapat bahwa keutamaan manusia tidak lain adalah budi pekerti manusiawi yang terpuji. Keutamaan ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Pertama merupakan asas dalam jiwa, tetapai bukan asas yang negatif, yaitu pengetahuan dan perbuatan (ilmu dan amal). Hal ini dibagi lagi menjadi tiga : a. Kebijaksanaan (hikmah) yaitu keutamaan daya fikir; bersifat teoritik yaitu mengetahu segala sesuatu yang bersifat universal secara hakiki; bersifat praktis yaitu menggunakan kenyataan yang wajib dipergunakan. b. Keberanian (nadjah) ialah keutamaan daya gairah (ghadabiyah; passiote), yang merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang memandang ringan kepada kematian untuk mencapai sesuatu yang harus dicapai dan menolak yang harus ditolak. c. Kesucian (iffah) adalah memperoleh sesuatu yang memang harus diperoleh guna mendidik dan memelihara badan serta menahan diri yang tidak diperlukan untuk itu. Kedua keutamaan-keutamaan manusia tidak terdapat dalam jiwa, tetapai merupakan hasil dan buah dari tiga macam keutamaan tersebut. Dan ketiga hasil keadaan lurus tiga macam keutamaan itu tercermin dalam keadilan. Penistaan yang merupakan padanannya adalah penganiayaan.

2. Al-Farabi Konsep etika yang ditawarkan Al-Farabi dan menjadi salah satu hal penting dalam karya-karyanya, berkaitan erat dengan pembicaraan tentang jiwa dan politik. Begitu juga erat kaitanya dengan persoalan etika ini adalah persoalan kebahagiaan. Didalam kitab At-tanbih fi sabili al-Saadah dan Tanshil al-Saadah, Al-Farabi menyebutkan bahwa kebahagiaan adalah pencapaian kesempurnaan akhir bagi manusia, al-Farabi juga menekankan empat jenis sifat utama yang harus menjadi perhatian untuk mencapai kebahagiaan didunia dan diahirat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga negara, yakni : a. Keutamaan teoritis, yaitu prinsip-prinsip pengetahuan yang diperoleh sejak awal tanpa diketahui cara dan asalnya, juga yang diperleh dengan kontemplasi, penelitian dan melalui belajar.

b. Keutamaan pemikiran, adalah yang memungkinkan orang mengetahui hal-hal yang bermanfaat dalam tujuan. Termasuk dalm hal ini, kemampuan membuat aturan-aturan, karena itu disebut keutamaan pemikiran budaya (fadhail fikriyah madaniyyah). c. Keutamaan akhlak, bertujuan mencari kebaikan. Jenis keutamaan ini berada dibawah dan menjadi syarat keutamaan pemikiran, kedua jenis keutamaan tersebut, terjadi dengan tabiatnya dan bisa juga terjadi dengan kehendak sebagai penyemprna tabiat atau watak manusia. d. Keutamaan amalia, diperoleh dengan dua cara yaitu pernyataan-pernyataan yang memuaskan dan merangsang.

3. Ikhwan al-Safa` Adapun tentang moral etika, ikhwan al-Safa bersifat rasionalistis. Untuk itu suatu tindakan harus berlangsung bebas merdeka. Dalam mencapai tingkat moral dimaksud, seseorang harus melepaskan diri dari ketergantungan kepada materi. Harus memupuk rasa cinta untuk bisa sampai pada eksatase. Percaya tanpa usaha, mengetahui tanpa berbuat adalah sia-sia. Kesabaran dan ketabahan, kelembutan, kasih saying dan keadilan. Rasa syukur, mengutamakan kebajikan, gemar berkorban untuk orang lain kesemuanya harus menjadi karakteristik pribadi. Sebaliknya, bahasa kasar, kemunafikan, penipuan, kezaliman dan kepalsuan harus dikikis habis sehingga timbul kesucian perasaan, kecintaan yangmembara sesama manusia, dan keramahan terhadap alam dan binatang liar sekalipun. Jiwa yang telah dibersihkan akan mampu menerima bentuk-bentuk cahaya spiritual dan entitas-entitas yang bercahaya. Semakin suci jiwa dan tidak terbelenggu oleh ikatan jasmani, semakin dapat memahami makna dasar yang tersembunyi dalam kitab suci dan kessuainya dengan data pengetahuan rasional dalm filsafat. Sebaliknya, selama jiwa terperosok dalam daya pikat tubuh dan oleh keinginankeinginan dan kesenangan-kesenanganya, ia tidak dapt mengetahui makna kitab suci dan ia tidak akan dapat beranjak kepad bola-bola langit dan secara langsung merenungkan apa yang ada disana.

4. Ibnu Maskawaih Ibnu maskawai adalah seorang moralis yang terkenal. Sehingga dia mendapat julukan sebagai bapak etika Islam, Maskawaih dikenakl juga sebagai guru ketiga (Al-

Mutaalim al-Tsalis), setelah al-Farabi yang digelari guru kedua. Sedangkan yang dipandang sebagai guru pertama adalah aristoteles. Teorinya tentang etika secara rinci ditulis dalam kitab Tahdzb al-Akhlaq wa al-Araq (pendidikan budi dan pembersihan watak). Maskawaih membagi kitabnya itu menjadi tujuh bagian. Bagian pertama membicaraka perihal jiwa yang merupakan dasar pembahasan akhlaq. Bagian kedua membicarakan manusia dalam hubunganya dengan akhlak. Bagian ketiga membicarakan perihal kebajikan dan kebahagiaan yang merupakan inti pembahasan tentang akhlak. Bagian keempat membicarakan perihal keadilan. Bagian kelima membicarakan perihal cinta dan persahabatan. Bagian keenam dan ketujuh membicarakan perihal pengobatan penyakit-penyakit jiwa. Teori etika Maskawaih bersumber pada filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran syariat Islam, dan pengalaman pribadi. Filsafat etika Maskawaih ini selalu mendapat perhatian utama. Keistimewaan yang menarik dalam tulisanya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran Islam (Al-Quran dan Hadits) dan dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap, seperti filsafat Yunani Kuno dan pemikiran Persia. Dimaksud dengan pelengkap ialah sumber lain baru diambilnya apabila sejalan dengan ajaran Islam dan sebaliknya ia tolak, jika tidak demikian. Akhlak, menurut Maskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan. Berdasarkan ide diatas, secara tidak langsung Ibnu Maskawaih menolak pandangan orang-orang Yunani yang mengatakan bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah. Bagi Ibnu Maskawaih akhlak yang tercela bisa berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan (Tarbiyah al-Akhlak) dan latihan-latihan. Pemikiran seperti ini jelas sejalan dengan ajaran Islam karena kandungan ajaran Islam secara eksplisit telah mengisyaratkan kearah ini dan pada hakikatnya syariat agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia. Kebenaran ini jelas tidak dapat dibantah, sedangkan akhlak atau sifat binatang saja bisa berubah dari liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia. Masalah pokok yang dibicarakan dalam kajian tentang akhlak adalah kebaikan (al-khair), kebahagiaan (al-saadah) dan keutamaan (al-fadhilah). Menurut Ibnu Maskawaih, kebaikan adalah suatu keadaan dimana kita sampai kepada batas

akhir dan kesempurnaan wujud. Kebaikan adakalanya umum dan adakalanya khusus. Diatas semua kebaikan itu terdapat kebaikan mutlak yang identik dengan wujud tertinggi. Mengenai pengertian kebahagiaan telah dibicarakan oleh pemikir-pemikir Yunani yang pokoknya terdapat dua versi, pandangan pertama dari Plato dan yang kedua oleh Aristoteles. Ibnu Maskawaih tampil diantaara dua pendapat tersebut. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan itu meliputi keduanya. Kebahagiaan itu ada dua tingkat. Pertama ada manusia yang terikat dengan hal-hal yang bersifat benda dan mendapat kebahagiaan dengannya, namun ia tetap rindu akan kebahagiaan jiwa, lalu berusaha memperolehnya. Kedua, manusia yang melepaskan diri dari keterikatanya kepada benda dan memperoleh kebahagiaannya lewat jiwa. Tentang keutamaan, Ibnu Maskawaih berpendapat bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada semua manusia. Tanpa cinta yang demikian, suatu masyarakat tidak mungkin ditegakkan.

5. Al-Ghozali Filsafat etika al-Ghozali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam bukunya Ihya Ulumuddin. Dengan kata lain, filsafat etika alGhazali adalah teori tasawufnya. Mengenai tujuan pokok dari etika al-Ghazali kita temukan pada semboyan tasawuf yang terkenal : al-Takhalluq bi-Akhlaqillah ala taqothil Basyathiyyah, atau pada semboyannya yang lain, al-Shifatir-Rahman ala Taqhathil Basyathiyah. Maksud semboyan itu adalah agar manusia sejauh kesanggupannya meniruniru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pengampun dan sifat-sifat yang disukai Tuhan,sabar jujur, takwa, zuhud, ihlas beragama dan sebagainya. Dalam Ihya Ulmuddin itu, al-Ghazali mengupas rahasia-rahasia ibadat dari tasawuf dengan mendalam sekali. Misalnyadalam mengupas soal at-thaharah ia tidak hanya mengupas soal kebersihan badan lahir saja, tetapi juga kebersihan rohani. Al-Ghazali melihat sumber kebaikan manusia itu terletak pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya terhadap Tuhan. Sesuai dengan prinsip Islam, alGhazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat (kebaikan) bagi sekalian alam. Al-ghazali juga

10

mengakui bahwa kebaikan tersebur dimana-mana, juga dalam materi. Hanya pemakaiannya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan. Bagaimana cara bertaqarrub kepada Allh itu, al-Ghazali memberikan beberapa cara latihan yang langsung mempengaruhi rohani. Diantaranya yang terpenting ialah muraqabah, yakni merasa diawasi terus oleh Tuhan, dan almahasabah, yakni senantiasa mengoreksi diri sendiri. Menurut al-Ghazali, kesenangan itu ada dua tingkatan, yaitu kepuasan dan kebahagiaan. Kepuasan adalah apabila kita mengetahui kebenaran sesuatu. Bertambah banyak mengetahui kebenaran itu, bertambah banyak orang merasakan kebahagiaan. Akhirnya, kebahagiaan yang tertinggi itu ialah bila mengetahui

kebenaran dari sumber segala kebahagiaan itu sendiri. Itulah yang dinamakan marifatullah, yaitu mengenal adanya Allah tanpa syak sedikit juga dan dengan penyaksian hati yang sangat yakin.

6. Ibnu Bajjah Ibnu Bajjah membagi perbuatan manusia menjadi perbuatan hewani dan manusiawi. perbuatan hewani didasarkan atas dorongan naluri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan hawa nafsu. Sementara itu, perbuatan manusiawi adalah perbuatan yang didasrkan atas petimbangan rasio dan kemauan yang bersih lagi luhur. Sebagi contoh, perbuatan makan bisa dikategorikan perbuatan hewani dan bisa pula menjadi perbuatan manusiawi. Apabila perbuatan makan tersebut dilakukan untuk memenuhhi keinginan hawa nafsu, perbuatan ini jatuh pada perbuatan hewani. Namun, apabila perbuatan makan dilakukan bertujuan untuk memelihara kehidupan dalam dalam mencapai keutamaan hidup, perbuatan tersebut jatuh pada perbuatan manusiawi. Perbedaan antara kedua perbuatan ini tergantung pada motivasi pelakunya, bukan pada perbuatannya. Perbuatan yang bermotifkan hawa nafsu tergolong pada jenis perbuatan hewani dan perbuatan bermotifkan rasio maka dinamakan perbuatan manusiawi. Pandangan Ibnu Bajjah diatas sejalan dengan ajaran Islam. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa manusia yang mendasarkan perbuatanya atas iradah yang merdeka dan akal budi akan dapat mencapai kebahagiaan. Menurut Ibnu Bajjah, 11

apabila perbuatan dilakukan demi memuaskan akal semata, perbuatan ini mirip dengan perbuatan ilahy dari pada perbuatan manusiawi. Secara ringkas Ibbnu Bajjah membagi tujuan perbuatan manusia menjadi tiga tingkat sebagai berikut : a. Tujuan jasmaniah, dilakukan atas dasar kepuasan rohaniah. Pada tujuan ini manusia sama derajatnya dengan hewan. b. Tujuanrohaniah husus, dilakukan atas dasar kepuasan rohaniah. Tujuan ini akan melahirkan keutamaan akhlaqiyyah dan aqliyyah. c. Tujuan rohaniah umum (rasio), dilakukan atas dasar kepuasan pemikiran untuk dapat berhubungan dengan Allah. Inilah tingkat manusia yang sempurnadan taraf inilah yang ingin dicapai manusia penyendiri Ibnu Bajjah.

7. Ibnu Thufail Menurutnya, manusia merupkan suatu perpaduan tubuh, jiwa hewani dan esesnsi non-bendawi, dan dengan demikian menggambarkan binatang, benda angkasa dan Tuhan. Karena itu pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek sifatnya, dengan cara meniru tindakan-tindakan hewan, benda-benda angkasa dan Tuhan. Mengenai peniruanya, pertamaterikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya akan kebutuhan-kebutuhan pokok serta menjaganya dari cuaca burukdan binatang buas, dengan satu tujuan yaitu mempertahankan jiwa hewani. Peniruan yang kedua menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap obyek-obyek hidup dan tak hidup, pereungan atas esensi Tuhan dan perputaran atas esesnsi Tuhan dan perputaran esensi orang dalam ekstase. Ibnu Thufail tampaknya percaya bahwa benda-benda angkasa memiliki jiwa hewani dan tenggelam dalam perenungan yang tak habis-habisnya tentang Tuhan. Terahir dia harus melengkapi dirinya dengan sifat-sifat Tuhan, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah dan sebagainya. Melaksanakan kewajiban demi diri sendiri, demi yang lain-lain dan demi Tuhan, secara ringkas merupakan salah satu disiplin jiwa yang esensial. Kewajiban yang terahir adalah suatu ahir diri, dua yang disebut sebelumnya membawa kepada perwujudanya dalam visi akan rahmat Tuhan. Dan visi sekaligus menjadi identik dengan esensi Tuhan.

12

8. Nashiruddin At-Thusi Nasir al-Din Abd al-Rahman, gubernur Ismailiyah dan Quhistan,

memerintahkan al-Thusi menerjemahkan kitab al-Thaharah (Tahdzib al-Ahlaq) dari bahasa Arab kedalam bahasa Persia. Namun al-Thusi melihat karya Maskawaih tersebut terbatas pada penggambaran disiplin moral, hal yang berhubungan dengan rumah tangga dan politik tidak disinggung dalam buku tersebut. Padahal, keduanya merupakan aspek yang sangat penting dari Filsafat Praktis, dan karena itu tidak boleh diabaikan. Atas dasar itulah al-Thusi memasukkan persoalan rumah tangga dan politik dalam karyanya, Akhlaq-I Nasiri, dengan menyetir pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina. Jadi karya tersebut tidak semata-mata terjemahan dari Tahdzib al-Ahlaq sebagaimana diutarakan dalam encyclopedia of Islam, tetapi lebih bersifat ringkasan dari buku Tahdzib al-Akkhlaq dengan format dan klasifikasi masalah sepenuhnya merupakan karya al-Thusi. Bukunya Akhlaq-I Nashiri mengklasifikasikan pengetahuan kedalam

spekulasi dan praktek. Pengetahuan speklatif dibaginya dalam (a) metafisika dan theology, (b) matematika, (c) ilmu-lmu alam, termasuk elemen, ilmu-ilmu transportasi, meteorology, minerologi, botani, zoology, psikogi, pengobatan, astrologi dan agrikultur. Pengetahuan praktis termasuk (a) etika, (b) ekonomi domestik dan (c) politik. Baik dan buruk tidak luput dari perhatian Thusi. Kebaikan datang dari Tuhan, sedangkan yang buruk lahir secara kebetulan dalam perjalanan yang baik. Menurut al-Thusi bahwa kebahagiaan utama adalah tujuan moral utama, yang ditentukan oleh tempat dan kedudukan manusia didalam evolusi kosmik dan diwuudkan lewat kesediannya untuk berdisiplin dan patuh. Al-Thusi juga menempatkan kebajikan (tafadhol) diatas keadilan dan cinta (mahabbah) sebagai sumber alami kesatuan, diatas kebajikan. Bagi al-Thusi, penyakit moral bisa disebabkan oleh salah satu dari tiga sebab, yaitu (1) keberlebihan, (2) keberkurangan dan (3) ketakwajaran akal, kemarahan atau hasrat. Bagi al-Thusi masyarakat berperan. Bagi al-Thusi, masyarakat juga berperan menentukan kehidupan moral, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk social, bahkan kesmpurnaannya terletak pada tindakannya yang bersifat social kepad sesamanya. Dengan kata lain, ia mendukung konsep cinta dan persahabatan. Lebih luas permasalahan moral, Thusi memasukkan urusan rumah tangga kedalamnya. Thusi mendefinisikan rumah (manzil) sebagai hubungan istimewa

13

antara suami dan istri, orang tua dan anak, tuan dan hamba serta kekayaan dan pemiliknya. Tujuan ilmu rumah tangga adalah mengembangkan system disiplin yang mendorong terciptanya kesejahteraan fisik,social dan mental kelompok. Mengenai disiplin anak-anak, Thusi mengikuti pendapat Maskawaih memulai dengan penanaman moral yang baik lewat pujian, hadiah dan celaan yang halus.

9. Mulla Shadra Agama Islam diturunkan oleh Allah kepada manusia dengan tujuan untuk membimbing mereka memperoleh kebahagiaan tertinggi dengan jalan menciptakan keseimbangan, baik pada tingkat individu maupun social. Hal ini mengandung arti bahwa substansi manusia yan diciptakan oleh dzat Yang Maha Sempurna, harus mengetahuui cara mengaktualisasikan seluruh kemampuannya. Berkaitan dengan kebahagiaan ini, Mulla Shadra menyatakan sangat bergantung kepada kesempurnaan jiwa dalam proses inteleksi (taaqqul). Lebih lanjut Shadra mengatakan bahwa pengetahuan dapat mengalih bentuk orang yang tahu dalam proses trans-subtansi (harka jauhariya)nya menuju kesempurnaan. Menurut prinsip harka jauhariya, substansi wujud didunia ini mengalami transformasi terus menerus dengan menempatkan manusia sebagai pusat domain dunia yang menghubungkan seluruh skala wujud. Berkaitan dengan keadilan (adalah), tidak dapat dipisahkan dengan konsep keseimbangan (Itidal) yang memiliki akar kata yang sama. Bagi Mulla Shadra, kedua konsep itu dikaitkan dengan pucuk kesempurnaan jiwa manusia dan persoalan-persoalan etika didalam filsafat, tasawuf dan syariah.

14

C. Analisis Tentang Konsep Etika Para Filosof Muslim Dari sini kami dapat menganalisis bahwa, beberapa konsep-konsep etika filosofis muslim mencerminkan pengaruh aliran-aliran filsafat Yunani. Karya-karya tentang

moral yang mula-mula ditulis oleh al-Kindi sebagai filosof Muslim pertama, juga dipengaruhi oleh Socrates. Pengaruh klasik lainnya bisa juga dilihat dalam karya-karya filosof beraliran Platonis seperti Abu Bakar al-Razi, yang mengikuti pembagian Plato tentang pembagianpembagian jiwa, dan kalangan Neoplatonis seperti al-Farabi. Sementara pengaruh Aristotelian bisa juga dilihat dari al-Farabi, yang mendiskusikan tentang kejahatan. Didalam karya etika Maskawaih pengaruh Platonis menerima konfirmasi dan dimensi politiknya lebih jauh dimana sebelumnya tak ada, maka pada saat ini mulai tampak. Didalam karya etika Maskawaih, ia mencabangkan tiga bagian kebajikan menjadi kebijaksanaan keberanian, keberanian dan kesederhanaan. Dimensi politik muncul secara penuh dalam tulisan-tulisan Nasir al-Din al-Tusi yang menggambarkan jauh lebih baik mengenai kesatuan organis antara politik dan etila dari pada pendahulunya. Al-ghazali, yang sistem etikanya mencangkup moralitas filosofis, teologis dan sufi, adalah contoh yang paling representatif dari tipe etika religius. Terahir Mulla Shadra, yang pemikirannya dipenuhi oleh elemen-elemen Ibnu Sina dan al-Ghazali,dapat dianggap sebagai wakil penting pada periode klasik dalam tulisan tentang etika, filsafat dan teologi. Dalam beberapa konsep etika ini banyak para filosof yang menghubungkan etika ini dengan tujuan pencapaian kebahagiaan manusia didunia dan diakhirat diantaranya adalah, ada juga yang menghubungkan etika dengan jiwa, baik itu merupakan jiwa hewani, esensi non-bendawi, diantaranya maupun manusiawi. Selain itu masih ada juga yang menghubungkan moral atau etika dengan politik, rumah tangga dan menghubungkannya dengan keutamaan-keutamaan dengan mengerjakan perbuatan yang baik dan terpuji.

15

D. Komparasi Etika, Moral dan Akhlak Etika merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti: adat istiadat. Sebagai cabang dari filsafat, maka etika berangkat dari kesimpulan logis dan rasio guna untuk menetapkan ukuran yang sama dan disepakati mengenai sesuatu perbuatan, apakah perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah dan pantas atau tidak pantas untuk dikerjakan. Di dalam New Masters Pictorial encyclopaedia dikatakan: ethichs is science of moral philosophy concerned not with fact, but with values; not with caracter of, but the ideal of human conduct.[6] (Etika adalah ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia, tetapi tentang idenya). Sebagian orang berpendapat bahwa etika sama dengan akhlak. Persamaan itu memang ada, karena keduanya membahas masalah baik buruknya tingkah laku manusia. Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat dengan ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal fikiran. Akan tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan di dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai ukuran atau kriteria yang berlainan. Setiap golongan mempunyai konsepsi sendiri-sendiri. Adapun perkataan akhlak, berasal dari bahasa Arab jama dari khuluqun yang menurut lughat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi keterkaitan dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta, dan makhluq yang berarti diciptakan. Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khalik dengan makhluk dan makhluk dengan makhluk. Sementara perkataan moral berasal dari bahasa Latin mores kata jamak dari mos yang berarti adat istiadat. Dalam bahasa Indonesia, moral diterjemahkan dengan arti susila. Yang dimaksud dengan moral ialah sesuai dengan ide-ide umum yang diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan wajar. Jadi sesuai dengan ukuran-ukuran tindakan yang oleh umum diterima dalam lingkungan tertentu dan sudah terlembagakan dalam suatu masyarakat. Ketiga istilah di atas merupakan istilah-istilah yang banyak dipakai untuk mengungkapkan makna yang serupa atau hampir sama. Para peneliti etika secara sadar banyak menyebutkan etika sebagai moral atau juga akhlak. Filsafat moral disebut juga filsafat akhlak dan sebagainya. Istilah-istilah di atas yang maknanya disamaratakan pada 16

dasarnya tetap memiliki perbedaan, karena dalam segi semantik dapat diketahui bahwa setiap kata pada dasarnya memiliki karakteristik arti atau makna tersendiri yang membedakannya dengan kata lainnya. Karena apabila ada dua kata atau lebih, memiliki makna sama maka akan ada pemubaziran dalam berbahasa. Untuk dapat membedakannya maka dapat diketahui bahwa etika menetapkan ukuran sesuatu bertitik tolak dari akal fikiran, tidak dari agama. Di sini letak perbedaannya dengan akhlak dalam pandangan Islam. Dalam pandangan Islam, ilmu akhlak adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ajaran etika Islam sesuai dengan fitrah akal dan fikiran yang lurus. Sementara perbedaannya antara moral dan etika, yakni etika lebih banyak bersifat teori, sedangkan moral lebih banyak bersifat praktis. Jika kita boleh menarik garis batas antara moral dan etika, maka moral adalah aturan-aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu yang terbatas oleh ruang dan waktu. Penerapan tata moral dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat tertentu menjadi bidang kajian antropologi, sedang etika adalah bidang kajian filsafat. Realitas moral dalam kehidupan masyarakat yang terjernihkan lewat studi kritis (critical studies) adalah wilayah yang dibidangi oleh etika. Jadi studi kritis terhadap moralitas menjadi wilayah etika, sehingga moral tidak lain adalah objek material daripada etika. Berbeda dari etika (filsafat moral), maka akhlak lebih dimaksudkan sebagai suatu paket atau produk jadi yang bersifat normatif-mengikat, yang harus diterapkan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim, tanpa perlu

mempertanyakan dan menyelidiki secara kritis terlebih dahulu. Akhlak adalah merupakan seperangkat tata nilai yang sudah jadi dan siap pakai tanpa dibarengi studi kritis. Sedangkan etika justru sebaliknya, bertugas untuk mempertanyakan secara kritis rumusan-rumusan masa lalu yang sudah menggumpal dan mengkristal dalam lapisan masyarakat. Dalam bahasa Indonesia, selain menyerap istilah etika, moral dan akhlak, juga digunakan beberapa perkataan yang makna dan tujuannya sama atau hampir sama, yaitu tata susila, kesusilaan, budi pekerti, sopan santun, adab, perangai dan tingkah laku atau kelakuan.

17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari beberapa penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan : 1. Etika juga adalah gambaran rasional mengenai hakekat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa perbuatan dan keputusan tersebut secara moral diperintahkan atau dilarang. 2. Beberapa konsep-konsep etika filosofis muslim mencerminkan pengaruh aliran-

aliran filsafat Yunani, juga mempunyai perbedaan dalam menjelaskan konsep-konsep etika. 3. Etika Islam merupakan pembahasan yang dikembangkan sebagai perpaduan antara pengaruh filsafat Yunani dan etika yang ada dalam Islam yang berasal dari teks-teks suci. Perpaduan tersebut telah melahirkan sebuah bentuk baru dalam disiplin keilmuan yang disebut filsafat akhlak, di mana akhlak sebagai konsep-konsep praktis menjadi lebih tercerahkan dengan adanya kajian etika. 4. Para filosof muslim, hampir semua sepakat menyatakan bahwa dalam kajian etika, modal dasar yang harus diketahui terlebih dahulu adalah pengetahuan tentang jiwa. 5. Akhlak itu ialah kebiasaan jiwa yang tetap dan terdapat dalam diri manusia yang dengan mudah dan tidak perlu berfikir menumbuhkan perbuatan-perbuatan dan tingkah laku manusia.

B. Saran Sebagai seorang muslim yang taat terhadap ajaran Islam, yang sumber ajarannya berlandaskan pada Kitab Suci yang diturunkan oleh Allah SWT, maka hendaknyalah kita mengaplikasikan sifat Akhlakul Karimah dalam setiap aktifitas kehidupan kita. Hal tersebut sebagai cerminan bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil alamin ( Rahmat bagi seluruh alam ).

18

DAFTAR PUSTAKA

Bartens, K. Etika, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001 Boy ZTF, Pradana. Filsafat Islam : Sejarah Aliran dan Tokoh, Malang : UMM Press, 2003 Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1986 Fakhry, Majid. Sejarah Filsafat Islam : Sebuah Peta Kronologis, Bandung : Mizan, 2001 Mustofa, H.A. Filsafat Islam, Bandung : Pustaka Setia, 1997 Nasution, hasyimsyah. Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, 1999 Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta : Rineka Cipta, 1997 Syarif, M.M. Para Filosof Muslim, Jakarta : Mizan, 1993 Zar,Sirajudin.Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya,Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004

19