Anda di halaman 1dari 3

Pengkajian dan Treatment Hyponatremia Pengkajian pasien dengan hyponatremia meliputi riwayat, pemeiksaan yang berhubungan dengan tanda

dan gejala neurologis, tes laboratorium, pengkajian status volume extracellular fluid (ECF), memeriksa cairan IV yang sedang dan telah diberikan, dan memeriksa semua medikasi (Freda et al, 2004). Sebagai tambahan, sebuah ketentuan bahwa presentasi pasien dengan kondisi akut (durasi <48 jam) atau kronik (durasi > 48 jam) harus diperhatikan (Freda et al, 2003). Pengkajian dari volume ECF (euvolemia, hypervolemia, atau hypovolemia) terutama pada riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, meliputi evaluasi riwayat pasien diare, muntah, rasa haus yang berlebihan, dan/atau polyuria; catatan perawat untuk berat badan harian dan intake dan output cairan secara kumulatif; dan pemeriksaan fisik untuk orthostasis, distensi vena leher, pitting edema atau edema peripheral, dan/atau ascites (Freda et al). Dalam sebuah studi evaluasi volume ECF pada 58 pasien nonedematous dengan serum sodium <130 mEq/L, pengkajian klinis diidentifikasi hanya 47% pasien hypovolemic dan 48% pasien normovolemic (Chung,Kluge, Schrier, & Anderson, 1987). Ukuran total body resistance menggunakan prosedur noninvasive yang disebut bioelectrical impedance Analysis memberikan estimasi dari status hidrasi pasien dan dapat juga menyediakan sebuah panduan definitive untuk manajemen keseimbangan cairan yang adekuat (Allison,Ray Lewis, Liedtke, Buchmeyer,& Frank, 2005). Jikoa tersedia, pemeriksaan dengan ultrasound untuk mengkaji hidrasi jaringan dapat juga efektif dalam monitoring total body hidration (Sarvazyan, Tatarinov, & Sarvazyan, 2005), dan sebuah noda pada urine determination dapat dengan jelas memisahkan pasien dengan hypovolemic dari normovolemic. Treatment Hyponatremia Akut dan Kronik Terapi konvensional untuk penanganan hyponatremia meliputi pembatasan cairan dan pemberian hypertonic saline dan pharmacological agents seperti demeclocycline, lithium carbonate, and urea (Adrogue, 2005; Goh, 2004; Miller, Linas, & Schrier, 1980; Nguyen & Kurtz, 2005; Schrier, Berl, & Anderson, 1979; Verbalis, 2003). Kebanyakan dari penanganan ini bukan menurut Food and Drug Administration (FDA) untuk penanganan dari hyponatremia dan mungkin dibatasi oleh variabel efficacy, serangan yang lambat, issue pemenuhan pasien, dan toxisitas (Goldsmith & Gheorghiade, 2005; Wong & Verbalis, 2002). Pembatasan cairan kurang dari 800 mL/hari meningkatkan serum sodium hanya 1-2 mEq/L per hari, dan pemenuhan kebutuhan pasien dengan penanganan ini sulit untuk dipertahankan. Sebagai perhatian, pasien dengan pemasukan IV tratment (spt..antibiotik, chemotherapy, atau pemberian makanan parenteral) untuk kondisi lain mungkin tidak dapat diikuti dengan

pembatasan cairan. Penggunaan hypertonic saline memerlukan perhitungan yang complex dari kebutuhan sodium dan rentang penggantian. Pengobatan konvensional agents membutuhkan beberapa hari untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan kadang-kadang menghasilkan signifikan toxisitas. Demeclocycline, sebuah tetracycline derivative yang digunakan oleh beberapa clinicians untuk menangani hyponatremia, menghalangi efek antidiuretic dari VP pada tubulus ginjal dan meningkatkan ekskresi dari urine solute-free tetapi dihubungkan dengan serangan yang lambat dan signifikan resiko untuk nephrotoxicity (Miller et al., 1980). Lithium carbonate juga tidak tepat untuk masalah akut dan berhubungan dengan efek samping neurological, cardiotoxicity, and gangguan gastrointestinal. Meskipun efektif, urea memiliki kecocokan yang rendah dan dikontraindikasikan pada kasus kerusakan fungsi ginjal, perdarahan intracranial, atau kegagalan hati (Goldsmith, 2005; Wong & Verbalis, 2002). Untuk pasien dengan acute symptomatic hyponatremia berat, hypertonic saline (3% NaCl) digunakan untuk koreksi kekurangan sodium dan dapat dikombinasikan dengan diuretic furosemide (Adrogue & Madias, 2000; Goh, 2004; Verbalis, 2003). Furosemide menghambat reabsorpsi sodium dan klorida di dalam tubulus proximal ginjal pada lengkung Henle dan kemudian meningkatkan volume cairan tubular, berperan meningkatkan ekskresi dari solutefree water pada tubulus distal. Untuk pasien dengan kronik asymptomatic hyponatremia (and with asymptomatic hyponatremia of indeterminate origin), pembatasan cairan adalah penanganan pertama. Bagaimanapun, pasien dengan pemabatasan cairan sulit untuk bersabar, dan ini dapat mempengaruhi poor patient compliance (Adrogue, 2005; Goh, 2004). Hypertonic saline dapat digunakan sebagai penanganan initial dari symptomatic chronic hyponatremia. Selanjutnya, jika salah satu gejala dapat dipecahkan atau terdapat 10% peningkatan level serum sodium, pembatasan cairan direkomendasikan (Thurman, Halterman, & Berl, 2003). Correction formulae The following formulae dapat membantu NPs dalam menangani pasien dengan normal atau hypertonic saline (Decaux, Musch,& Sterns, 2000; Verbalis, 2003). Estimasi merubah dalam level serum sodium menggunakan 0.9% or 3% sodium chloride (NaCl) IV infussion dapat dihitung sebagai follows: 1. Pertama, hitung estmasi TBW-laki-laki: TBW = 0.6 L/kg _ body weight (kg); women: TBW = 0.5 L/kg _ body weight (kg). 2. Selanjutnya, hitung perubahan dalam konsentrasi serum sodium.

Change in serum sodium concentration = Na infusate Na patient TBW + 1 Na infusate= 513 mEq/L (sodium concentration after 1 L of 3% NaCl IV infusion) or 154 mEq/L (sodium concentration after 1 L 0.9% NaCl IV infusion); Na patient = patients serum sodium concentration (mEq/L). Alasaan parameter koreksi terdiri dari rentang maksimal koreksi dari serum sodium dalam rentang 1-2 mEq/L per jam selama total magnitude of correction tidak melebihi 25 mEq/L over the first 48 jam.

Anda mungkin juga menyukai