Anda di halaman 1dari 2

Pendahuluan Berkurangnya biodiversitas dan meningkatnya penyakit menular merupakan 2 hal yang menjadi perhatian pada lingkungan, dan

akibat yang disebabkan sangat kompleks dan membingungkan. Banyak hewan amfibi menghilang dari muka bumi. Selain itu terdapat 60 jenis mahluk amfibi yang mengalami abnormalitas yang telah diamati di amerika serikat dan beberapa Negara di dunia. Amfibi menurut banyak ahli biologi merupakan bioindikator yang sangat baik atas kesehatan lingkungan. Banyak senyawa kimia yang saat ini digunakan pada agrikultur dan regulator pertumbuhan tanaman merupakan salah satu penyebabnya. Senyawa kimia tersebut termasuk gibberellins (Gas), menunjukkan perubahan diversitas structural. GAs merupakan golongan senyawa tetracyclic diterpenoid, yang berguna sebagai factor pertumbuhan tanaman. Gibberellin ditemukan 1926 oleh ilmuan jepang Eiichi Kurosawa yang meneliti tentang bakanae, penyakit bibit bodoh pada padi. Pertama kali diisolasi 1935 oleh Teijiro Yabuta dari jamur (Gibberella fujikuroi) yang disediakan oleh Kurosawa. Yabuta menamakan isolatnya sebagai gibberellin. Gibberellin (Gas) merupakan hormone tumbuhan yang meregulasi pertumbuhan dan mempengaruhi berbagai prosese pertumbuhan seperti pemanjangan batang, germinasi, dormansi, perkembangan bunga, pertumbuhan organ reproduksi, induksi enzim, dan penuaan daun dan buah. Asam gibberilat (GA3) merupakan gibberellin pertama yang dikarakterisasi secara struktural. Saat ini terdapat 136 GAs yang telah diidentifikasi dari tumbuhan, fungi, dan bakteri. Dampak ekologi utama dari GAs tidak sepenuhnya diketahui pada awal penelitian. Data yang didapat dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa GAs tidak menimbulkan efek samping pada non-unggas, mahluk air, dan serangga serta tidak menunjukkan tidak adanya resiko potensial pada petani terkait mata, kulit atau pernapasan. Penelitian ini menyarankan bahwa mengingat kurangnya toksisitas akut GAs, maka harus dikategorikan sebagai toksisitas kategori III (kurang toksik) dan IV (nontoksik) dan tidak perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap petani yang menggunakan. Walau demikian banyak penilitian lain yang menunjukkan hasil yang berkontradiksi. The Pesticide Action Network North America (PANNA) menyarankan bahwa toksisitas akut, karsinogenik, dan kontaminasi air tanah dari GA3 harus dievaluasi ulang. Karena sifat toksisitasnya, pestisida sangat potensial berbahaya bagi berbagai organisme dan lingkungan. Menurut penelitian terdapat 4 rute yang mungkin menyebabkan keracunan yatu dermal (kulit), inhalasi (paru paru), oral (mulut), dan ocular (mata). Walaupun regulator tanaman digunakan sebagai perangsang germinasi, pertumbuhan bunga, proliferasi dan fertilisasi berbagai tanaman, namun teratogenisitas dari GA3 dalam dosis tinggi masih sedikit diketahui pada mamalia. Faktanya hanya terdapat 2 penelitian mengenai teratogenisitas pada tikus yang telah dipublikasi. Selain itu, Ukan et al. (2008) Melaporkan bahwa paparan GA3 mempengaruhi durasi pematangan telur, umur, kematangan seksual serta rasio sex pada larva endoparasitoid pada Apanteles galleriae . banyak tipe senyawa di lingkungan air mengikat sedimen yang merupakan

jalur paparan utama bagi hewan katak. Sebagai tambahan manusia mungkin terpapar GA3 melalui makan yang dimakan. Karena bahaya dari senyawa GA3 pada hewan air, maka perlu dilakukan evaluasi toksisitas GA3 untuk mengurangi potensi berbahaya pada hewan air. Saat beberapa senyawa lingkungan diketahui memberikan efek berbahaya bagi manusia (contohnya tembaga, radiasi ionisasi), banyak senyawa lain yang diduga berpotensi sebagai senyawa yang bersifat toksik kepada lingkungan dimana hal ini didukung oleh berbagai data yang dilakukan ada penelitian menggunakan hewan (contohnya pada pestisida). Peneliti menyarankan bahwa penggunaan pestisida berkorelasi dengan perubahan struktur dari hewan yang ada di St. Lawrence River Valley in Quebec . berbagai pengujian laboratorium menunjukkan bahwa berbagai kontaminan dapat membunuh atau mengubah struktur dari beberapa jenis amfibi. Katak yang mengalami perubahan bentuk telah diamati didekat sumber mata air manusia, serta banyak hewan amfibi yang bentuknya tidak sempurna telah diamati di area agrikultur yang menggunakan insektisida dan pupuk secara berlebih.