Anda di halaman 1dari 5

Judul Penulis Jurnal Reviewer

: Mengangkat "Sing Liyan" Untuk Formulasi Nilai Tambah Syari'ah : Iwan triyuwono : Simposium Nasional Akuntansi X AS 01 : Winarno / 10800110085 / Ak.4
REVIEW ARTIKEL

Wacana akuntansi syariah sampai saat ini terus berkembang ke arah pengkayaan teori. Dua arus utama pemikiran dalam akuntansi syariah telah sampai pada pemikiran diametris antara Shariah Enterprise Theory (SET) (Triyuwono 2006a, 345-56; cf. Baydoun & Willett 1994; 2000) dan Entity Theory (ET) (Widodo dkk. 1999; AAOIFI 1998; Asudi & Triyuwono 2001; IAI 2002). SET, yang dibangun berdasarkan metafora amanah dan metafora zakat, lebih menghendaki kesimbangan antara sifat egoistik dan altruistik dibanding dengan ET. Sementara ET lebih mengedepankan sifat egoistiknya daripada sifat altruistik. Sifat yang melekat pada ET akan sulit mendukung akuntansi syariah yang bertujuan membangkitkan kesadaran keTuhanan 1 para penggunanya. Kesulitan tersebut terutama terletak pada tiadanya keseimbangan antara sifat egoistik dan altruistik. Dengan menggunakan Epistemologi Berpasangan (Triyuwono 2006a) dan metafora zakat, SET berusaha menangkap sunnatuLlah dan menggunakannya sebagai nilai untuk membentuk dirinya. SET memiliki cakupan akuntabilitas yang lebih luas dibandingkan dengan ET. Akuntabilitas yang dimaksud adalah akuntabilitas kepada Tuhan, manusia, dan alam (Triyuwono 2006a). Bentuk akuntabilitas semacam ini berfungsi sebagai tali pengikat agar akuntansi syariah selalu terhubung dengan nilai-nilai yang dapat membangkitkan kesadaran keTuhanan. Syariah enterprise theory (SET) : tuhan sebagai pusat SET memiliki kepedulian yang besar kepada pada stakeholders yang luas dibandingkan ET yang hanya tertuju kepada manusia saja. Menurut SET, stakeholders meliputi tuhan,manusia,dan alam. Tuhan meruapakan pihak yang tertinggi dan merupakan satu-satunya tujuan hidup manusia. Menempatkan tuhan sebagai stakeholder

tertinggi, maka tali penghubung agar akuntansi syariah tetap bertujuan pada membangkitkan kesadaran keTuhanan para penggunanya tetap terjamin. Stakeholders kedua adalah manusia, disini manusia dibagi atas dua kelompok yaitu direct-stakeholders dan indirect-stakeholders. Direct-stakeholders merupakan pihak-pihak yang secara langsung memberikan kontribusi kepada perusahaan baik itu dalam bentuk kontribusi keuangan maupun non-keuangan. Maka mere3ka berhak mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan. Sementara inderictstakeholders adalah pihak-pihak yang tidak meberikan kontribusi kepada perusahaan baik dalam bentuk kontribusi keuanangan maupun non-keuangan, tapi menurut sayariah mereka berhak mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan. Dan stakeholder yang terakhir adalah alam. Alam merupakan tempat berpijaknya perusahaan. Perusahaan eksis secara pisik karena karena didirikan dialam, menggunakan energi dari alam, berproduksi dengan bahan baku dari alam, dan lain-lainya. Alam tidak membutuhkan kesejahteraaan dalam bentuk uang melainkan dengan kepedulian perusahaan terhadap kelestarian alam dan lain-lainnya. Nilai-tambah Syariah (Shariah Value-added) Sebagai konsekuensi menerima SET, maka akuntansi syariah tidak lagi menggunakan konsep income dalam pengertian laba, tetapi menggunakan nilai-tambah. Mulawarwan (2006) menyumbangkan pemikirannya dengan menempatkan zakat sebagai nilai tambah syariah yang harus bernilai keseimbangan dan keadilan. Tetapi secara konkrit konsep nilai tambah syariah belum ada. Filsafat Sufistik Manunggaling Kawulo-Gusti sebagai Alat Analisa?

Untuk merumuskan nilai-tambah syariah, studi ini menggunakan nilai filsafat sufistik Manunggaling Kawulo-Gusti dari Syeikh Siti Jenar. Ada beberapa alasan mengapa alat ini digunakan. Pertama, Manunggaling Kawulo-Gusti pada dasarnya tidak berbeda dengan pandangan epistemologis yang digunakan oleh akuntansi syariah, yaitu Epistemologi Berpasangan. Epistemologi ini pada dasarnya memadukan dua hal yang berbeda dalam kesatuan. Manunggaling Kawulo-Gusti juga demikian, yaitu menyatukan kawulo dengan Gusti. Kedua, konsep Manunggaling Kawulo-Gusti adalah sunnatuLlah. Konsep tersebut adalah refleksi dari ayat kauniyyah, yaitu hukum yang tersebar di alam semesta ini. Ia juga merupakan ayat qauliyyah yang secara verbal difirmankan oleh Allah SWT dalam kitab suci al-Quran (QS. Yasin: 36). Ayat-ayat qauliyyah pada dasarnya merupakan penegasan Tuhan atas hukum yang telah Ia tebarkan di alam semesta ini. Ketiga, Manunggaling Kawulo-Gusti berkonotasi spiritual. Ia merupakan jalan spiritual (sufistik) bagi seorang hamba ( kawulo) untuk kembali kepada Tuannya (Gusti). Ia tidak lain adalah perjalanan ke dalam (a journey within) yang sangat akuntansi syariah sebagai tepat digunakan alat untuk untuk konstruksi menstimulasi

bangkitnya kesadaran keTuhanan manusia. Secara umum, pengertian Manunggaling Kawulo-Gusti tersebut di atas yang digunakan oleh triyuwono sebagai alat analisa. Lebih konkritnya, Manunggaling Kawulo-Gusti di sini dapat diartikan mengangkat dan menyatukan sing liyan (the others) dengan yang di pusat (sesuatu yang dianggap penting dan dominan). Data yang di guanakan adalah diangkat dari kasus pinggiran, yang empiris hasil pengamatan masa lalu yang diingat kembali (retrieved) secara intuitif dan dimaknai secara rasional.

Inikah Nilai-tambah Syariah? Peradaban dunia modern selalu mengakui materi sebagai yang pusat (atau menganggapnya sebagai Gusti), dan sebaliknya memandang remeh, memarjinalkan, dan bahkan meniadakan sesuatu yang di pinggiran (kawulo), yaitu sing liyan (the others). Sing liyan dalam konteks ini adalah dunia psikis (mental) dan spiritual. Pada kasus pinggiran yang digunakan sebagai data, orientasi Yang tampakkan adalah posisi sing liyan yang sejajar dengan yang di pusat. Posisi yang demikian menunjukkan adanya kesatuan (manunggaling) antara sing liyan dengan yang di pusat. Dengan kata lain, kawulo telah manunggal dengan Sang Gusti. Materi (uang) sebagai pusat kedudukannya sama dengan rasa altruistik, rasa senang, rasa persaudaraan, rasa ikhlas, dan rasa kehadiran Tuhan sebagai sesuatu yang dianggap sing liyan. Sing liyan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang sifatnya mental dan spiritual. Dengan kata lain, berdasarkan pada kasus di atas dapat kita ketahui bahwa nilaitambah mental (mental value-added) berupa rasa altruistik, rasa senang, dan rasa persaudaraan. Sementara nilai-tambah spiritual (spiritual value-added) berupa rasa ikhlas dan rasa kehadiran Tuhan. Komentar Dalam jurnal ini mencoba untuk merumuskan konstruksi akuntansi syariah tidak berdasarkan Syariah lagi istiah Enterprise Theory (SET) yang menempatkan stakeholders pada Tuhan,manusia,dan alam. Dalam SET menggunakan income dalam artian laba tapi menggunakan istilah nilai tambah. Triyuwono dalam menjabarkan nilai tambah menggunakan nilai filsafat sufistik syeikh siti jenar yaitu ''manunggaling kawulo gusti" yang menganggap tuhan dan

manusia,alam "manuggaling" (menyatu) dalam artian manusia merasa selalu dalam pengawasan "sang Gusti" sehingga manusia tetap konsisten menjalankan konsep akuntansi syariah. Jurnal ini begitu menarik untuk dibaca,dan bahasa yang digunakan begitu lugas. Semoga jurnal ini dapat menjadi bahan referensi untuk pengembangan penelitian akuntansi syariah kedepannya.