Anda di halaman 1dari 10

URINALISIS By : dr. Lisyani B.

Suromo, SpPK(K) Pendahuluan Urinalisis ialah suatu analisis untuk mendapatkan keterangan mengenai ada tidaknya kelainan hasil pemeriksaan laboratorium urin seorang penderita yang dapat dipakai untuk menunjang diagnosis suatu penyakit. Urin merupakan suatu larutan kompleks yang terdiri dari air ( 96 %) dan bahanbahan organic dan anorganik ( 4 %) yang dikeluarkan oleh ginjal, berasal dari pembuangan hasil metabolism tubuh dan makanan. Kandungan bahan organic yang penting antara lain urea, asam urat, kreatinin dan bahan anorganik yang penting antara lain NaCl, Sulfat, fosfat, ammonia. Thomas Addis (1948), mengemukakan pendapatnya bahwa pemeriksaan urin merupakan suatu bagian yang sangat penting dari pemeriksaan fisik seorang enderita. Dari hasil pemeriksaan urin dapat diperkirakan kemungkinan adanya kelainan baik yang mengenai ginjal saluran kemih sendiri maupn di luar ginjal saluran kemih, sebagai berikut : - kelainan di dalam ginjal-saluran kemih antara lain # peradangan : ditemukan sel darah putih dalam jumlah melebihi batas nilai rujukan # perdarahan : ditemukan sel darah merah dalam jumlah melebihi batas nilai rujukan (gross ataupun mikroskopik). Batu dapat menyebabkan iritasi sehingga menimbulkan keadaan hematuria mikroskopik (dengan ataupun tanpa disertai penemuan Kristal), dapat pula menimbulkan inflamasi / infeksi sehingga menimbulkan keadaan leukosituria / piuria. Keganasan juga dapat menimbulkan hematuria. # Penyakit ginjal dapat pula ditandai dengan penemuan-penemuan seperti proteinuria persisten, silinderuria patologis, berat jenis urin puasa yang selalu rendah. - Kelainan sistemik / di luar ginjal-saluran kemih antara lain: # Diabetes mellitus : glukosuria, volume urin bertambah dengan berat jenis tinggi, benda keton positif # Diabetes insipidus : colume urin bertambah dengan berat jenis urin rendah # Penyakit perdarahan : hematuria atau hemoglobinnuria # Penyakit perdarahan : hematuria atau hemoglobinuria # Kehamilan : proteinuria, reaksi reduksi positif, hormone human chorionic gonadotropin (HCG) positif. # Payah jantung : proteinuria, volume urin berkurang pada fase udem dan bertambah pada pengeluaran cairan udem. # Hepatitis : bilirubinuria urobilinogenuria / urobilinuria. # Multipel myeloma ; protein Bence Jones positif.

# Panas / febris : proteinuria hematuria mikroskopik. Macam pemeriksaan urin : 1. Pemeriksaan rutin Merupakan pemeriksaan yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar untuk pemeriksaan lebih lanug. Pemeriksaan ini dikerjakan pada setiap penderita tanpa indikasi. 2. Pemeriksaan penyaring Merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan dengan tujuan untuk memperkirakan suatu penyakit / menyingkirkan kemungkinan terhadap suatu penyakit tertentu. 3. Pemeriksaan khusus Berdasarkan indikasi untuk menunjang diagnosis suatu penyakit tertentu. Macam sampel urin : 1. Urin sewaktu : urin yang dikemihkan sewaktu-waktu. Sampel ini hanya baik untuk pemeksaan yang bersifat kualitatif. 2. Urin pagi Urin paling pagi yang dikemihkan pertama kali setelah bangun tidur pagi (puasa 8-10 jam, sebelum makan minum). Sampel ini paling pekat, mengandung unsure-unsur paling banyak, pH paling rendah, dapat dipakai untuk pemeriksaan rutin dan kehamilan. 3. Urin pagi II Beberapa peneliti menganjurkan pemeriksaan urin yang dikemihkan beberapa waktu berikutnya setelah urin terpagi dikemihkan sehabis-habisnya (selang waktu kira-kira 45 menit sampai 1 jam) dengan tujuan khusus untuk mencari unsure-unsur yang berasal dari ginjal. 4. Urin 2 jam setelah makan (2 jam post prandial) : untuk pemeriksaan glukosa 5. Urin tampung : 24 jam, 12 jam (siang/malam). Digunakan untuk pemeriksaan yang bersifat kuantitatif. 6. Urin 2 gelas/ gelas : sampel ini untuk mengetahui lokasi kelainan pada bagianbagian saluran kemih kelamin. Urin 2 gelas : gelas I : 50 75 ml, gelas II sisanya Urin 3 gelas : gelas I : 20 30 ml, gelas II : semua urin berikutnya kecuali bebrapa ml terakhir, gelas 3 beberapa ml terakhir. Keterangan : Gelas I berisi bahan-bahan dari saluran kemih bagian bawah (uretra) Gelas II berisi bahan-bahan dari kandung kemih Gelas III berisi bahan-bahan dari kandung kemih dan getah prostat yang terperas pada akhir kencing. 7. Residual urine : sisa urin dalam kandung kemih yang dikeluarkan setelah penderita berkemih sehabis-habisnya. Residual urine diambil dengan kateter. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada hambatan dalam mengeluarkan urine.

Cara pengambilan bahan a. Tanpa kateter : penderita berkemih sendiri, diambil pancaran tengah (mid stream) b. Dengan kateter: untuk pemeriksaan kuman ,pemeriksaan residual urine bila perlu. Syarat-syarat untuk urin yang akan diperiksa : bar / segar (sebaiknya 3-6 jam) alasannya : - Warna belum berubah - pH belum berubah (lama-lama menjadi alkalis dan unsure-unsur mikroskopik tertentu akan menjadi rusak) - zat zat tertentu belum berubah atau menguap (urobilnogen menjadi urobilin, keton menguap) - bakteri belum berkembang biak, Bila pemeriksaan ditunda perlu diawetkan Cara mengawetkan a. dismpan dalam lemari es suhu 4oC. b. diberi bahan bahan kimia antara lain : - toluene : dapat dipakai untuk pemeriksaan rutin dan aseton - timol : kejelekannya menimbulkan positif palsu terhadap protein - larutan formaldehid 40% : dapat dipakai untuk pemeriksaan sedimen. Kejelekannya menganggu pemeriksaan urobilin, bilirubin, protein glukosa dan indikan - asam sulfat pekat ; dapat dipakai untuk pemeriksaan Ca (menghindari pengendapan garam calcium), nitrogen (menghindari keluarnya N dari ammonia), dan zat-zat anorganik lainnya. - Asam chloride pekat Dapat dipakai untuk pemeriksaan ammonia, urea nitrogen. Kejelekannya akan mengendapkan asam urat - Natrium karbonat : untuk pemeriksaan urobilinogen dengan menjaga urin dalam keadaan alkalis. - Chloroform ; menghambat pertumbuhan bakteri dalam urin dan membuat urin jenuh. Kejelekannya ;m empengaruh pemeriksaan glukosa. - Natirum fluoride atau asam benzoate : dapat dipakai untuk pemeriksaan glukosa dengan menghambat glikolisis. PEMERIKSAAN URIN RUTIN Secara garis besar dengan metode konvensional dibedakan menjadi : A. Pemeriksaan makroskopik / fisik : 1. Warna 2. Kejernihan 3. Buih 4. bau B. Pemeriksan kimia 1. Keasaman

2. Protein 3. Reduksi C. Pemeriksaan mikroskopik A. Pemeriksaan makroskopik / fisik : Ad. 1 warna Normal : berwarna kuning muda sampai kuning tua, urin encer warnanya lebih muda daripaa urin pekat dan urin asam biasanya berwarna lebih tua dari urin alkalis. Kelainan : dapat bersifat patologis / tidak patologis a. Tidak patologis : karena makanan, obat-obatan. Makanan : wortel (kuning tua0, makanan yang mengandung fosfat / urat (seperti susu), kue-kue yang diberi zat pewarna. Obat-obatan : antipirin (merah), fenil salisilat (hijau), metilen blue (biru kehijauan), fenol (coklat hitam). b. Patologis : bilirubin (seperti teh), darah(merah), melanin (hitam), biliverdin (hijau), kiius (seperti susu), nanah (putih keruh). Ad. 2 : kejernihan Normal : biasanya jernih Keruh : dibedakan : a. Keruh sejak dikemihkan Contoh : fosfat (amorf) dalam jumlah banyak, makin lama makin banyak karena urin makin menjadi alkalis. Tidak mempunyai arti klinis : - Nanah, disebabkan karena peradangan, mikroskopik dijumpai sel-sel darah putih. Dan epitel dalam jumlah melebihi normal, sisa-sisa jaringan dan bakteri. - Kilus seringkali disebabkan karena filariasis (bendungan aliran limfe) - Darah (gross hematuria) menyebabkan urin berwarna merah coklat, keruh dan berkabut. b. Keruh setelah didiamkan beberapa waktu : - Fosfat amorf - Perkembang biakan bakteri. Ad.3 : buih Normal : bila urin dikocok akan berbuih putih dan cepat hilang. Kelainan : bilirubin menyebabkan buih berwarna kuning. Protein menimbulkan buih putih yang bertahan lama. Ad.4 : bau Normal: biasanya tidak berbau keras, disebabkan karena adanya asam-asam dalam urin yang mudah menguap. Kelainan : dapat bersifat tidak patologik / patologik. Contoh : - Tidak patologik : karena makanan (durian, petai, jengkol), obat-obatan (toluene, mentol). - Patologik : benda-benda keton (bau buah buahan), perombakan ureum (bau amoiak), perombakan albumin (bau asam sulfide), perforeasi usus ke dalam

kandung kemih (bau tinja), karsinoma saluran kemih-kelamin (bau busuk). Ad. 5 : berat jenis (BJ) Rujukan : - Urin pagi : 1,015 1,025 - Urin sewaktu : 1,003- 1,030 Tidak normal : rendah (diabetes insipidus, kegagalan ginjal), tinggi (dehidrasi, diabetes mellitus). Guna pemeriksaaan BJ : sebagai prasyarat untuk pemeriksaan sedimen, protein dan untuk menilai kemungkinan gangguan daya pemekatan ginjal. B. Pemeriksaan Kimia Ad.1 : keasaman Rujukan : 4,6 8 (urin 24 jam 6,2) Kelainan : dapat bersifat tidak patologik / patologik Contoh - Tidak patologik : karena makanan (buah buahan, sayur sayuran), obatobatan (bikarbonas natrikus, kalsium asetat) - Patologik asam : diabetes mellitus, diare/ keadaan metabolic asidosis, alkalis : muntah, infeksi / keadaan alkalosis Guna pemeriksaan keasaman : 1. Mempermudah interpretasi terhadap unsure-unsur sedimen urin 2. Membantu pemeriksaan protein yang harus dilakukan dalam suasana asam. 3. Membantu menguatkan diagnosis / terapi (keadaan asidosis / alkalosis). Ad.2 : protein Pemeriksaan protein dapat dikerjakan dengan menggunakan reagen asam asetat 6 % asam sulfosalisilat 20 % atauppun dengan bermacam-macam sticks / stix. Secara rutin pemeriksaan protein tersebut umunya ditekankan pada kemungkinan adanya protein (proteinuria) khususnya fraksi albumin (ingat syarat pemeriksaan protein). Proteinuria Menurut sebabnya dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Fungionil / fisiologis 2. Organis 1. Fungsionil / Fisiologis - Plasma albumin dan sedikit globulin - Bersifat ringan - Tidak disertai gejala-gejala penyakit ginjal / kelainan-kelainan ginjal yang berarti. - Dijumpai secara intermiten Penyebab: 1. Aktivitas fisik / psikis yang berat / stress 2. Udara dingin 3. Premenstruasi

4. Kehamilan (bebrerapa minggu terakhir, beberapa hari setelah partus). 5. Postural albuminuria : albuminuria yang timbul disebabkan karena kelainan bentuk tubuh (postur), disebut juga dengan nama-nama lain seperti proteinuria ortostatik (proteinuira timbul bila berdiri dan menghilang bila tiduran)/ siklik / adolescence (pada dewasa/muda) benigna. 2. Proteinuria Organis Dibedakan : a. Sebelum ginjal Plasma albumin dan globulin - Penyakit primer bukan pada ginjla - Hilang setelah penyakit primer sembuh Contoh : gangguan sirkulasi ginjal karena keadaan dehidrasi, bendungan ginjal pasif, kenaikan tekanan intra abdominal. Efek toksik penyakit difteri, tifoid, radang akut streptokolus, keracunan, kehamilan. b. Ginjal - Plasma albumin dan globulin - Proteinuria hamper selalu disertai penemuan torak / slinder, kecuali pada stadium lebih lanjug. Contoh : radang tuberkulosa lues, nefritis akut/ kronik, sindrom nefrotik infark, karsinoma, ginjal polikistik, pielonefritis, nefrosklerosis. c. Sesudah ginjal - Bukan plasma protein - Proteinuria seringkali hanya sangat ringan, dapat disebabkan karena perdarahan / peradangan setelah ginjal. Catatan : perlu diperhatikan kemungkinan pencemaran yang berasal dari vagina atau semen, efek toksik obat seperti salsilat, kina, sulfa dapat mempengaruhi keadaan baik pad ginjal maupun di bawah ginjal. Ad. 3 Reduksi Emeriksaan reduksi dapat dikerjakan dengan cara Fehling, Benedict atau dengan bermacam macam sticks. Secara rutin pemeriksaan reduksi ditekankan terhadap kemungkinan adanya glukosa dalam urin (glukouria). Ingat reaksi positif terhadap jenis gula lain. Glukosuria Terjadi apabila nilai ambang ginjal terhadap glukosa (140 160 mg %) dilampaui. Nilai ambang ginjal ini berbeda-beda untuk setiap individu. Macam-macam glukosuria : 1. Tanpa hiperglikemia Contoh : a. Renal glukosaria = renal diabetes glukosuria benigna Sebab-sebabnya : nilai ambang ginjal dan daya reabsorbsi ginjal menurun. Ciri cirinya

- Kadar gula darah puasa maupun 2 jam setelah makan normal - Kurva glucose tolerance test (GTT) normal - Glukosuria ditemukan pada semua porsi urin baik pada keadaan puasa maupun setelah makan. - Tidak ada gangguan metabolism lemak - Penggunaan karbohidrat normal b. Alimentary glucosuria : tejadi karena makan karbohidrat terlalu banyak c. Hamil : pada akhir kehamilah d. Sindrom Fanconi : disini terjadi gangguan pertumbuhan tubulus ginjal sehingga rabsorbsi terhadap glukosa berkurang. Sindrom falconi ini terdiri dari : glukosuria, rakitis, pertumbuhan badan tidak sempurna, ekskresi zatzat antara lain calcium, fosfat, ammonia, asam-asam organic (meninggi). 2. Dengan hiperglikemia Contoh : - Diabetes mellitus - Hipertiroid - Hiperpuitarisme - Hiperadrenalisme - Penyakit hepar - Kelaparan yang lama - Ketakutan / kecemasan / marah C. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK Syarat : - urin segar - berat jenis > 1,018 Unsur unsure dalam sedimen dibedakan menjadi : 1. yang perlu dilaporkan jumlahnya dalam lapang pandang kecil (LPK) 2. yang perlu dilaporkan jumlahnya dalam lapang pandang besar (LPB) 3. yang dilaporkan bila ada (tak perlu dihitung jumlahnya) 1. yang perlu dilaporkan jumlahnya dalam LPK a. sel epitel macam macam sel epitel : 1. gepeng / squamous ; berasal dari pencemaran vagina, uretra 2. transisional kolumnar / silindris ; berasal dari kandung kemih, ureter, pelvis renis. 3. Kuboid / polygonal : berasal dari tubulus ginjal Normal : sel epitel hamper selalu dijumpai dalam jumlah sedikit dan terutama terdiri dari sel epitel gepeng / squamous. Perhatkan kemungkinan adanya oval fat bodies yaitu sel epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak. Di jumpai antara lain pada sindrora nefrotik, diabetes mellitus. b. torak / silinder/ cast proses terbentuknya :

Tamm- horsfall protein (THP) yaitu suatu mukoprotein yang disintesis oleh tubulus ginjal atau kadang-kadang bahan protein antara lain eksudasi dari darah, produk degenerasi sel epitel yang memasuki lumen tubulus dan keasaman memungkinkan untuk terjadinya presipitasi, akan tercetak dalam lumen tubulus dan keluar dalam bentuk cetakan tersebut. - Sempit : terbentuk dalam tubulus sempit - Sedang terbentuk dalam tubulus distal - Lebar terbentuk dalam tubulus pengumpul. Torak yang lebar ini disebut juga sebagai renal failure cast. Contoh sel epitel gepeng : 2-5 / LPK, silinder hialin : 0-1 / LPK. Macam-macam torak/silinder a. Hialin : kurang mempunyai arti klinik hang penting dibandingkan dengan torak yang lain sejumlah sedikit torak ini dijumpai pada keadaan : panas 9febris), aktvitas fisik berlebihan. b. Hyaline cellular cast ; torak hialin yang berisi sel-sel, dapat berisi satu macam atau bermacam / campuran (mixed cellular cast) sel. Bila jumlah sel-selnya banyak maka disebut dengan nama tersendiri sesuai dengan jenis selnya seperti torak epitel, torak sel darah putih (leukosit), torak epitel, torak sel darah merah (eritrosit). c. Hyaline granular cast / torak berbutir Butir-butir ini dapat berasal dari degenerasi sel ataupun dari agretasi protein. Dibedakan : - Berbutir halus : kurang mempunyai arti klinik penting kecuaili bila dijumpai bersama sama dengan torak lain (butir dalam silinder berbutri halus saja, kemungkinan butiran tersebut berasal dari agregasi protein). - Berbutis kasar : dijumpai antara lain pada, glumerulonefritis akut, keadaan febrile albuminuria dengan bendungan pasif. d. Hyaline fatty cast / torak lemak Yorak ini berisi butir-butir lemak yang berasal dari sel epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak. Dijumpai antara lain pada stadium akhir dari glomerulonefritis akut/sub akut/ kronik, nefrosis. e. waxy cast / torak lilin terjadi karena degenerasi berat pada ginjal yang berlangsung dalam waktu lama. Torak/ silinder harus dibedakan dengan : benang-benang mukosa, pseudocast, hifa jamur. 2. Yang perlu dilaporkan jumlahnya dalam LPB a. Sel darah merah : rujukan dapat dijumpai sampai 3 / LPB. Hematuria mikroskopik dapat terjadi karena : kerja fisik yg berat, febris, iritasi/ perdarahan lain sepanjang traktus urogenital. b. Sel darah putih Rujukan laki-laki sampak 5 / LPB, wanita 15 / LPB. Piuria dapat terjadi karena adanya peradangan. Perhatikan kemungkinan adanya sel Glitter.

(contoh : s d m 2-3 LPB, s d p 5-10/LPB). 3. Yang dilaporkan bila ada a. Sperma b. Bakteri Normal : urin yang berasal dari kandung kemih bebas bakteri, tetapi sering terjadi cemaran sewaktu melewati uretra. Secara kasar masih dalam batas normal bila dijumpai 10 bakter / LPB. Patologis : bakteri patologis yang sering dijumpai antara lain : - Starilokokus - Salmonella typhi, dapat ditemukan pad a30 % kasus tifoid. - Mikobakterium tuberkulosa - Streptokokus - Escherichia colli c. Parasit - Trichomonas vaginalis - Larva cacing : filarial, menyebabkan hematuria berat atau kiluria - Ascari lumbiricoides, enterobius vermicularis, Strongyloides dan lain-lain. d. Kristal-kristal a. Kristal yang sering (normal ditemukan dalam urin antara lain : - Amorf urat, asam urat, calcium oxalate, calcium sulfat, ditemukan dalam suasana asam - Amorf fosfat, triple fosfat, calcium carbonate, calcium fosfat, ditemukan dalam suasana alkalis. b. Kristal yang mempunyai arti patologis / berasal dari katabolisme dalam tubuh : - Cystine berarti adanya defek dari tubulus (inborn metabolic defect) sehingga reabsorbsi cystine, arginin, lisin, ornitin terganggu. - Kolesterol : dijumpai pada nefritis, pielitis, radang kandung kemih, kiluria. - Leucine dan tirosin : dijumpai pada penderita dengan penyakit yang berat. - Bilirubin dijumpai pada kasus penyakit hati dengan bilirubinuria - Kristal yang berasal dari makanan / obat-obatan dan seringkali menimbulkan keluhan antara lain jengkol, sulfa. URIN KHUSUS By : dr. Banundari Rachmawati, SpPK PENDAHULUAN Urinalisis atau penmeriksaan urin merupakan salah satu indicator yang penting untuk melakukan deteksi kelainan renal atau metabolic. Dapat juga digunakan untuk menegakkan diagnosis dan memonitor hasil pengobatan penakit ginjal, traktus urinarius atau kelainan metabolic yang lain. Pemeriksaan urin terdiri dari urin rutin dan urin khusus. Pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan penyaring yang dilakukan tanpa indikasi khusus. Pemeriksaan urin khusus adalah pemeriksaan urin atas darar indikasi, dengan kata lain permeriksaan urin khusus diminta atau dilakukan sesudah dilakukan pemeriksaan

urin rutin atau pemeriksaan laboratorium lain. Sebagai contoh setelah diperiksa Dakar glukosa darah penderita hasilnya tinggi, curiga terjadi ketoasidosis maka dapat diperiksa kadar keton dalam urinnya. Pemeriksaan urin khusus ada bermacam-macam, seperti cara konvensional, menggunakan tablet, tetapi yang paling sederhana, urah, mudah, dapat dilakukan penderita sendiri adalah dengan dipstick/ tes strip atau carik celup. Dengan carik celup dapat diperiksa pH, protein, berat jenis, glukosa (termasuk pemeriksaan urin rutin) maupun keton, bilirubink urobilinogen, nitrit, eritrosit, lekosit dan lain-lain (urin khusus). Dasar pemeriksaan carik celup adalah reaksi kimia pereaksi pada carik celup dengan urin. Caranya dengan mencelupkan carik celup ke dalam urin yang akan memberikan perubahan warna tertentu pada carik celup, ditunggu beberapa saat, sesuai petunjuk pada leaflet, kemudian dicocokkan dengan standar warna. Kekuatan reaksi