Anda di halaman 1dari 187

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN HIPERTENSI PADA KELOMPOK LANJUT USIA DI KELURAHAN SAWAH BARU KECAMATAN CIPUTAT, KOTA

TANGERANG SELATAN TAHUN 2011

SKRIPSI

OLEH : RINAWANG FRILYAN SARASATY NIM : 106101003354

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H/ 2011 M

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, 19 Oktober 2011 Rinawang Frilyan Sarasaty, NIM 106101003354 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi pada Kelompok Lanjut Usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 xvi + 143 halaman, 24 tabel, 3 bagan, 5 lampiran ABSTRAK Meningkatnya umur harapan hidup (UHH), menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk lansia yang berdampak pada pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif seperti hipertensi. Hipertensi perlu diwaspadai karena sudah menjadi masalah global bagi kesehatan masyarakat. Survey riskesdas tahun 2007 menyebutkan bahwa penyakit ini pada usia 55 sampai diatas 75 tahun mencapai 62,8%. Hasil studi pendahuluan terhadap lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2009 didapatkan bahwa prevalensi hipertensi sebesar 32,4%. Angka ini jauh lebih besar dari prevalensi hipertensi yang ditetapkan Depkes RI (20-30%) untuk lansia di tahun 2000. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 105 orang lansia usia 55 tahun keatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah lansia masih tinggi yaitu TDS sebesar 148,67 mmHg dan TDD sebesar 91,28 mmHg. Terdapat 65,7% lansia menderita hipertensi. Berdasarkan analisis bivariat diketahui bahwa konsumsi natrium serta konsumsi buah dan sayur memiliki hubungan yang bermakna dengan hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Dari hasil penelitian saran yang dapat diberikan bagi puskesmas kampung sawah yaitu mengaktifkan posbindu, membuat program dengan pendekatan kepada tokoh masyarakat sebagai wadah penyampaian informasi kepada warga melalui media informasi untuk demo melakukan diet rendah garam, peningkatan konsumsi buah dan sayur. Bagi masyarakat, melalui perubahan gaya hidup sehat untuk mengurangi konsumsi natrium seperti mengurangi penggunaanya dalam pengolahan makanan, tidak meletakkan garam di meja, patuh terhadap saran tenaga kesehatan, mengecek kadarnya dalam makanan kemasan, menggantinya dengan bumbu dapur alami. Selain itu, peningkatan konsumsi buah dan sayur dengan menanam bibit sayur dan buah, menyediakan dan mengkonsumsinya setiap hari sejak dini, serta memperhatikan proses pengolahannya. Bagi peneliti lain, menambah variabel penelitian serta penggunaan rancangan sampel yang lebih baik. Daftar bacaan: 73 (1980-2011) ii

STATE ISLAMIC UNIVERSITY OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FACULTY OF MEDICINE AND SCIENCE OF HEALTH PUBLIC HEALTH PROGRAM Skripsi, 19 Oktober 2011 Rinawang Frilyan Sarasaty, NIM 106101003354 Factors Associated with Hypertension in the Elderly Group in Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, South Tangerang City Year 2011 xvi + 143 pages, 24 tables, 3 schemes, 5attachments ABSTRAC Increasing of life expectation, causing will add elderly population total that will affect the changes of disease from infection to degenerative disease, such as hypertension. Hypertension needs to be bewared since have become global problem for public health. Riskesdas survey is year 2007 mentions that the disease on age 55 until above 75 year up to 62,8%. The results of a preliminary study to the elderly people in Kelurahan Sawah Baru 2009 is gotten that hypertension prevalence as big as 32,4%. This number much greater than prevalence of hypertension defined of Depkes RI (20 30%) for the elderly people in year 2000. This research is aimed to know factors associated with hypertension on the elderly people in Kelurahan Sawah Baru in year 2011. This research is a quantitative research using of cross sectional design studi. The research sample total 105 elderly people age 55 years or older. The result of this research showed that elderly people blood pressure average stills hight which is TDS as big as 148,67 mmHg and TDD as big as 91,28 mmHg. There are 65,7% the elderly people suffers hypertension. Based on bivariate analysis is known that sodium consumption and fruit and vegetable consumption had significant associate with hypertension on the elderly people in Kelurahan Sawah Baru year 2011. From the research result that can be given suggestion for puskesmas kampung sawah isactivating posbindu, making program with approaching to society figure as a forum deliver information to society via media information for demo low salt diet, increased consumption fruit and vegetable. For the society, through healthy life style changes to reduce sodium consumption as reducing its using in food processing, do not put salt on the table, obedient to the advice of health personel, check the levels in food packaging, replacing it with natural herbs. In addition, the increased consumption of fruits and vegetables by planting the seeds of vegetables and fruits, provide and consume them every day early, and pay attention to the processing process. For other researchers, adding research variable, and use a better design of the sample. Reading list: 73 (1980-2011)

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

PERSONAL DATA Nama Jenis Kelamin Tempat Tanggal Lahir Agama Alamat : : : : : Rinawang Frilyan Sarasaty Perempuan Surabaya, 11 April 1988 Islam Komp. Depag Blok 12/E.8 Rt 02/07 Bambu ApusPamulang 15415, Tangsel Nomor Telepon/HP Email : : (021) 91503777 rinz11_amai@yahoo.com

RIWAYAT PENDIDIKAN 1994-2000 2000-2003 2003-2006 2006-2010 : : : : MI Pembangunan IAIN Jakarta SLTP Negeri 87 Jakarta SMU Negeri 29 Jakarta Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PENGALAMAN ORGANISASI 2008-2010 : Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PENGALAMAN KERJA PBL I di Puskesmas Serpong Kota Tangerang Selatan PBL II di Puskesmas Serpong Kota Tangerang Selatan Magang di RSIA Citra Insani, Parung-Bogor, Februari 2010 Enumerator Survey Kesehatan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Tahun 2009

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobilalamin adalah untaian kata terindah sebagai ungkapan puji syukur kehadirat Allah SWT yang patut penulis ucapkan atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari segi isi, bahasa, maupun pengetikannya. Namun berkat bimbingan Ibu Catur Rosidati, MKM dan Ibu Raihana Nadra Al Kaff, MMA yang telah sabar dalam membimbing dan memberikan banyak masukan. Dalam penyusunan laporan ini, penulis telah mendapat banyak dukungan dan arahan dari berbagai pihak, untuk itu perkenankan saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada : 1. Prof. DR (hc). Dr. M.K. Tadjudin, Sp.And selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. dr. Yuli Prapanca Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta staf yang telah membantu dan segenap dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi peneliti. 3. Catur Rosidati, SKM, MKM selaku Dosen Pembimbing 1 4. Raihana Nadra Alkaff, SKM, MMA selaku Dosen Pembimbing 2

vii

5. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan kasih sayang, dorongan moril maupun materil yang tak terhingga sehingga penulis mampu dalam menyelesaikan skripsi ini.. 6. Adikku M. Zachfier. Mezhar yang telah memberikan bantuan dalam proses penyelesaian skripsi ini. 7. Segenap staff Kelurahan Sawah Baru yang telah memberikan kesempatan dan membantu saya dalam penelitiaan ini. 8. Kepala Puskesmas Kampung Sawah yang telah mengizinkan peneliti untuk proses pengumpulan data-data yang diperlukan. 9. Teman-teman 3G angkatan 2006 atas ikatan persahabatan, persaudaraan, perhatian, dukungan, masukan, arahan serta bantuan yang telah diberikan. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuannya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya. Sehingga, saran dan kritik yang membangun sangatlah penulis harapkan demi kesempurnaannya. Jakarta, 19 Oktober 2011

Penulis

viii

DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................... i ABSTRAK ............................................................................................................... ii PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PENGUJI ..........................................................v RIWAYAT HIDUP .................................................................................................. vi KATA PENGANTAR .............................................................................................. vii DAFTAR ISI ........................................................................................................... ix DAFTAR TABEL .................................................................................................... xiii DAFTAR BAGAN .................................................................................................. xv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 11 1.3 Pertanyaan Penelitian .............................................................................. 10 1.4 Tujuan ..................................................................................................... 13 1.4.1 Tujuan Umum ............................................................................... 13 1.4.2 Tujuan Khusus .............................................................................. 13 1.5 Manfaat Penelitian ................................................................................... 15 1.5.1 Bagi Peneliti .................................................................................. 15 1.5.2 Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan .............................. 15 1.5.3 Bagi Masyarakat ............................................................................ 15 1.5.4 Bagi Instasi yang Terkait ............................................................... 15 1.6 Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................... 16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 17 2.1 Hipertensi ............................................................................................... 17 2.1.1 Definisi hipertensi ......................................................................... 17 2.1.2 Klasifikasi Hipertensi .................................................................... 18 2.1.3 Cara Pengukuran Tekanan Darah ................................................... 19

ix

2.1.4 Diagnosis Hipertensi ..................................................................... 20 2.1.5 Gejala Klinis Hipertensi ................................................................ 22 2.1.6 Patofisiologis Hipertensi ................................................................ 22 2.1.7 Komplikasi Hipertensi ................................................................... 24 2.1.8 Penatalaksanaan Hipertensi ........................................................... 26 2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Hipertensi ................ 27 2.2.1 Umur ............................................................................................. 28 2.2.2 Jenis Kelamin ............................................................................... 29 2.2.3 Riwayat Keluarga .......................................................................... 31 2.2.4 Etnis .............................................................................................. 32 2.2.5 Obesitas ........................................................................................ 32 2.2.6 Konsumsi Natrium ........................................................................ 35 2.2.7 Konsumsi Lemak .......................................................................... 40 2.2.8 Konsumsi Alkohol ........................................................................ 42 2.2.9 Konsumsi Buah dan Sayur ............................................................. 43 2.2.10 Konsumsi Air .............................................................................. 48 2.2.11 Merokok ...................................................................................... 50 2.2.12 Olahraga atau Aktifitas Fisik ....................................................... 54 2.2.13 Stres ............................................................................................ 57 2.3 Metode Food Frequency Questioner ....................................................... 61 2.4 Lansia .................................................................................................... 62 2.4.1 Hipertensi Pada Usia Lanjut .......................................................... 63 2.5 Kerangka teori ........................................................................................ 65 BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN HIPOTESIS ..................................................................................... 66 3.1 Kerangka Konsep ................................................................................... 66 3.2 Definisi Operasional ............................................................................... 68 3.3 Hipotesis ................................................................................................ 71 BAB IV METODE PENELITIAN ........................................................................ 73 4.1 Desain Penelitian .................................................................................... 73

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................. 73 4.2.1 Lokasi Penelitian ........................................................................... 73 4.2.2 Waktu Penelitian ........................................................................... 73 4.3 Populasi dan Sampel .............................................................................. 74 4.3.1 Populasi ........................................................................................ 74 4.3.2 Sampel .......................................................................................... 74 4.4 Instrumen Penelitian ............................................................................... 76 4.5 Pengumpulan Data ................................................................................. 77 4.5.1 Data Primer ................................................................................... 77 4.5.2 Data Sekunder ............................................................................... 80 4.6 Pengolahan Data ..................................................................................... 80 4.7 Analisis Data .......................................................................................... 83 4.7.1 Analisis Univariat........................................................................... 83 4.7.2 Analisis Bivariat ............................................................................ 83 BAB V HASIL PENELITIAN ............................................................................... 85 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ....................................................... 85 5.1.1 Keadaan Geografi .......................................................................... 85 5.1.2 Keadaan Demografi ....................................................................... 85 5.2 Gambaran Hasil Analisis Univariat ......................................................... 87 5.2.1 Gambaran Kejadian Hipertensi pada Lansia .................................. 87 5.2.2 Gambaran Jenis Kelamin pada Lansia ........................................... 88 5.2.3 Gambaran Konsumsi Natrium pada Lansia ..................................... 89 5.2.4 Gambaran Konsumsi Lemak pada Lansia ...................................... 90 5.2.5 Gambaran Konsumsi Buah dan Sayur pada Lansia ........................ 91 5.2.6 Gambaran Konsumsi Air pada Lansia ............................................ 92 5.2.7 Gambaran Kegiatan Olah Raga pada Lansia .................................. 93 5.2.8 Gambaran Merokok pada Lansia ................................................... 93 5.2.9 Gambaran Kejadian Stres pada Lansia ........................................... 94 5.2.10 Gambaran Obesitas pada Lansia .................................................. 94 5.3 Gambaran Hasil Analisis Bivariat ........................................................... 95

xi

5.3.1 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Hipertensi ....................... 96 5.3.2 Hubungan antara Konsumsi Natrium dengan Hipertensi ................ 96 5.3.3 Hubungan antara Konsumsi Lemak dengan Hipertensi .................. 97 5.3.4 Hubungan antara Konsumsi Buah dan Sayur dengan Hipertensi .... 98 5.3.5 Hubungan antara Konsumsi Air dengan Hipertensi ........................ 99 5.3.6 Hubungan antara Olah Raga dengan Hipertensi ............................100 5.3.7 Hubungan antara Merokok dengan Hipertensi ..............................101 5.3.8 Hubungan antara Stres dengan Hipertensi .....................................102 5.3.9 Hubungan antara Obesitas dengan Hipertensi ...............................103 BAB VI PEMBAHASAN ......................................................................................105 6.1 Keterbatas Penelitian ..............................................................................105 6.2 Gambaran Kejadian Hipertensi pada lansia ............................................106 6.3 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Hipertensi ...............................109 6.4 Hubungan antara Konsumsi Natrium dengan Hipertensi ........................111 6.5 Hubungan antara Konsumsi Lemak dengan Hipertensi ..........................114 6.6 Hubungan antara Konsumsi Buah dan Sayur dengan Hipertensi ............117 6.7 Hubungan antara Konsumsi Air dengan Hipertensi ................................119 6.8 Hubungan antara Olah Raga dengan Hipertensi .....................................121 6.9 Hubungan antara Merokok dengan Hipertensi .......................................124 6.10 Hubungan antara Stres dengan Hipertensi ............................................126 6.11 Hubungan antara Obesitas dengan Hipertensi ......................................129 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................131 7.1 Kesimpulan ...........................................................................................131 7.2 Saran .....................................................................................................133 DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................138 LAMPIRAN ..........................................................................................................144

xii

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel 2.1 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC-7 ................................... Rekomendasi Tindak Lanjut Tekanan Darah Pengukuran Pertama ....................................................................... 2.3 Klasifikasi IMT (Indeks Masa Tubuh) Orang Indonesia......................................................................................... 2.4 3.1 Kandungan Natrium Beberapa Bahan Makanan (mg/100gr) ........ Definisi Operasional Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi ....................................................................................... 5.1 Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .............................................. 5.2 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 ................................................................ 5.3 Distribusi Frekuensi Konsumsi Natrium pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .............................................. 5.4 Distribusi Frekuensi Konsumsi Lemak pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 ................................................................ 5.5 Distribusi Frekuensi Konsumsi Buah dan Sayur pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .............................................. 5.6 Distribusi Frekuensi Konsumsi Air pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 ................................................................ 5.7 Distribusi Frekuensi Kegiatan Olah Raga pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .............................................. 5.8 Distribusi Frekuensi Merokok pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 ........................................................................... 5.9 Distribusi Frekuensi Kejadian Stres pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 ................................................................

Halaman 19

19

34 39

68

88

88

89

90

91

92

93

93

94

xiii

5.10

Distribusi Frekuensi Kejadian Obesitas pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .............................................. 95

5.11

Hubungan Jenis Kelamin dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 96

5.12

Hubungan Konsumsi Natrium dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 97

5.13

Hubungan Konsumsi Lemak dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 98

5.14

Hubungan Konsumsi Buah dan Sayur dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .............................. 99

5.15

Hubungan Konsumsi Air dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 100

5.16

Hubungan Olah Raga dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 101

5.17

Hubungan Merokok dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 102

5.18

Hubungan Stres dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 103

5.19

Hubungan Obesitas dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 .......................................... 104

xiv

DAFTAR BAGAN

Nomor Bagan 2.1 2.2 Patofisiologis Hipertensi ........................................................... Kerangka Teori Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi .................................................................................. 3.1 Kerangka Konsep Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi ..................................................................................

Halaman 25

65

67

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian Kepada Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian Kepada Kepala Kelurahan Sawah Baru Lampiran 3. Kuesioner Penelitian Lampiran 4. Form Food Frequency Questioner (FFQ) Lampiran 5. Hasil Output SPSS

xvi

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar BeLakang Menurut Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 3, pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, ditetapkan bahwa sasaran pembangunan kesehatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pencapaian tersebut tercermin dari indikator dampak pembangunan kesehatan, yaitu: menurunnya angka kematian bayi dari 34 menjadi 24/1000 kelahiran hidup, menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjadi 118/100.000 kelahiran hidup, menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 18,4 % menjadi kurang dari 15,0% dan meningkatnya umur harapan hidup (UHH) dari 70,6 tahun menjadi 72,0 tahun (Sarjuni, 2009). Semakin meningkatnya UHH penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia (Lansia), lansia adalah penduduk yang telah

mencapai usia 60 tahun ke atas. Namun, hal ini disesuaikan dengan kondisi Indonesia, dimana masa pensiun yang tergolong pada tahap dewasa akhir adalah 55 tahun, kecuali untuk orang dengan fungsi tertentu seperti professor, ahli hukum, dokter atau profesi lain (Depkes RI, 1998). Proses penuaan penduduk tentunya berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan, karena dengan semakin bertambahnya usia, fungsi organ tubuh akan semakin menurun baik karena faktor alamiah maupun karena penyakit (Badan Pusat Statistik, 2006). Menurut U.S. Census Bureau, International Data Base (2009), tahun 2007 jumlah penduduk lansia sebesar 18,96 juta jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 jiwa pada tahun 2009. Badan Pusat Statistik (1992), memprediksi bahwa penduduk lansia di Indonesia tahun 2020 mencapai angka 11,34% atau 28,8 juta jiwa. Di wilayah Kota Tangerang Selatan menurut Dinas Kesehatan Tangerang Selatan (2009), jumlah lansia mencapai 222.093 jiwa, sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Kampung Sawah mencapai 1.562 jiwa. Perubahan struktur umur penduduk menjadi struktur penduduk umur tua (UHH) meningkat akan mengakibatkan terjadinya pergeseran pola penyakit

serta tingkat kesehatan di masyarakat. Terjadinya pergeseran pola penyakit menunjukan terjadinya perubahan status kesehatan masyarakat. Keadaan tersebut dikatakan sebagai transisi epidemiologi yakni lebih memfokuskan aspek pergeseran pola penyakit yang diawali wabah dan berbagai penyakit infeksi (Penyakit Menular/PM) bergeser ke penyakit degeneratif (Penyakit Tidak Menular/PTM) (Khomsan, 2001).

Hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001, menurut penyebab kematian tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti transisi demografi. Proses ini diprediksi akan berjalan terus seiring dengan perubahan status sosial ekonomi dan gaya hidup. Proporsi penyebab kematian oleh PM di Indonesia telah menurun sepertiganya dari 44% menjadi 28%, sedangkan akibat PTM mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari 42% menjadi 60% (Depkes, 2008). Berdasarkan data WHO, tahun 2000 PTM diperkirakan mencapai 60% kematian di dunia dan diprediksikan pada tahun 2020 PTM mencapai 73% kematian di dunia (Soemantri, dkk, 2005). Penyakit PTM atau degeneratif telah banyak muncul di Indonesia, yang penyebabnya tidak terlepas dengan pola makan, diantara penyakit degeneratif yakni hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, kanker dan obesitas. Penyakit degeneratif adalah penyakit yang sulit untuk diperbaiki yang ditandai dengan degenerasi organ tubuh yang dipengaruhi gaya hidup (Walqvist (1997) dalam Modul Gizi Kesmas (2008)). Gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003). Salah satu penyakit degeneratif yang perlu diwaspadai adalah hipertensi. Hipertensi adalah penyebab kematian utama ketiga di Indonesia untuk semua umur (6,8%), setelah stroke (15,4%) dan tuberculosis (7,5%) (Depkes, 2008). Menurut JNC 7 (2003), hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg pada seseorang yang tidak sedang makan obat antihipertensi (Yogiontoro, 2006). Hipertensi sering disebut the silent killer

karena penderita hipertensi mengalami kejadian tanpa gejala (Asymtomatic) selama beberapa tahun dan kemudian mengalami stroke, gagal jantung yang fatal atau penyakit degeneratif lainnya (Krummel, 2004). Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup, terutama dalam pola makan. Pola makan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat kasar, dan rendah lemak bergeser ke pola makan baru yang rendah karbohidrat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menggeser mutu makanan ke arah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh makin kuatnya arus budaya makanan asing yang disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi. Disamping itu, perbaikan ekonomi menyebabkan

berkurangnya aktifitas fisik masyarakat tertentu. Perubahan pola makan dan aktifitas fisik ini berakibat semakin banyaknya penduduk golongan tertentu mengalami masalah gizi lebih berupa kegemukan dan obesitas yang berdampak pada timbulnya penyakit degeneratif (Almatsier, 2001). Berikut ini merupakan beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap kenaikan tekanan darah pada seseorang antara lain: faktor yang tidak dapat diubah (umur, riwayat keluarga) dan faktor yang dapat diubah (obesitas, perokok, konsumsi alkohol, dan konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak atau garam) (Cahyono, 2008). Menurut Depkes (2006), pada golongan umur 55-64 tahun, penderita hipertensi pada pria dan wanita sama banyak. Dari beberapa penelitian, tingginya prevalensi hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur. Berdasarkan Penelitian

yang dilakukan di 6 kota besar seperti Jakarta, Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Makasar terhadap usia lanjut (55-85 tahun), didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 52,5%. Dalam Cahyono (2008), seseorang yang beresiko terkena hipertensi adalah orang yang berusia diatas 55 tahun. Bila ditinjau perbandingan prevalensi hipertensi antara perempuan dan laki-laki, ternyata menunjukkan angka yang bervariasi. Hasil penelitian Irza (2009) di Sumatera Barat, hipertensi lebih banyak dialami oleh wanita (66,67%) dibandingkan pria (33,33%). Sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% perempuan (Sugihartono, 2007) Hasil penelitian Hasirungun (2002) terhadap lansia di Kota Depok menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga dengan hipertensi. Lansia yang hipertensi lebih banyak didapatkan dengan riwayat keluarga hipertensi yaitu sebesar 69,2% dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga sebesar 52,3%. Dalam Cahyono (2008), faktor genetik berperan besar dan diperburuk dengan asupan garam yang banyak atau suka makan-makanan yang asin. Penelitian DASH-Natrium yang dilakukan National Heart, Lung and Blood Institute menunjukkan hasil yang bermakna. Dengan membatasi asupan natrium, yaitu melalui pengurangan konsumsi garam hanya sebanyak 1.500 mg per hari (2/3 sendok teh sehari), maka terjadi penurunan tekanan darah. Sumber utama natrium atau sodium di Negara Barat adalah garam dapur. Tetapi di Indonesia, disamping garam dapur dan ikan asin, sumber lain yang lebih potensial adalah monosodium glutamate (MSG/Vetcin). Menurut

Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Ina SH) mencatat, konsumsi garam rata-rata orang Indonesia tiga kali lebih besar dari anjuran badan kesehatan dunia (WHO) yang maksimal 6 gram atau satu sendok teh sehari. Menurut Prof Dr Jose Roesma, Konsumsi garam rata-rata masyarakat Indonesia sebesar 15 gram/hari. Hal ini akan menyebabkan prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %. Itulah salah satu sebab angka penderita hipertensi di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Selain itu, Budaya penggunaan MSG (bumbu masak) sudah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Hampir semua ibu rumah tangga, penjual makanan, dan jasa katering selalu menggunakannya (Suara karya, 2009). Faktor berikutnya adalah kegemukan, yang terjadi karena masukan kalori yang melebihi pemakaiannya untuk memelihara dan pemulihan kesehatan yang berlangsung cukup lama. Akibat kelebihan kalori tersebut akan disimpan dalam jaringan lemak, yang lama kelamaan akan mengakibatkan kegemukan (Waspadji, 2003). Kegemukan atau obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dan penyakit jantung, karena dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung dan meningkatnya tekanan darah (Cahyono, 2008). Hasil penelitian Widiastuti (2006) pada usia lanjut di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak II Kabupaten Sleman, terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian hipertensi. Selain itu, menurut Depkes (2006), risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Melakukan olahraga merupakan salah satu penanggulangan masalah gizi lebih. Efektivitas pemompaan jantung pada setiap denyut 40-50% lebih besar

pada atlet terlatih dibandingkan dengan orang yang tidak terlatih. Melalui olahraga, frekuensi denyut nadi berkurang dan tekanan darah menurun. Dalam penelitian di Amerika Serikat hanya 20% penduduknya yang mempunyai kebiasaan berolahraga aktif. Sebagian besar, yaitu sebanyak 60% tidak memiliki kebiasaan berolahraga (Cahyono, 2008). Hasil penelitian Sanusi (2002) di poliklinik geriatri menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan olahraga dengan hipertensi dengan P value sebesar 0,004 dan odds ratio sebesar 3,98. Dalam Cahyono (2008), merokok dapat merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat proses pengerasan pembuluh darah arteri. Penelitian oleh Sanusi (2002) terhadap lansia di poliklinik geriatri RSCM menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara merokok dengan hipertensi yang P valuenya sebesar 0,03 dan odds rasio sebesar 3,47. Lansia yang hipertensi lebih banyak didapatkan dengan kebiasaan merokok yakni sebesar 84,4% dibandingkan dengan yang tidak merokok yakni sebesar 60,9%. Sedangkan minuman berakohol dapat meningkatkan tekanan darah. Alkohol mengandung kalori sehingga dapat mengganggu program diet yang telah diatur jumlah kalorinya perhari. Selain itu, faktor stres juga berpengaruh pada kenaikan tekanan darah secara bertahap karena dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatis (Depkes, 2006). Hasil penelitian Hasirungun (2002) terhadap lansia di Kota Depok didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara stres dan hipertensi. Lansia yang mengalami stres tinggi sebesar 70,9%, stres sedang sebesar 65,2% dan stres

rendah sebesar 38,5% terhadap hipertensi. Stres tinggi berpeluang 3,89 kali dan stres sedang berpeluang 2,99 kali terhadap hipertensi dibandingkan dengan stres rendah. Menurut Dr. Siti Fadilah, di negara maju, pengendalian hipertensi belum memuaskan, bahkan di banyak negara pengendalian tekanan darah hanya 8% karena menyangkut banyak faktor baik dari penderita, tenaga kesehatan, obatobatan maupun pelayanan kesehatan. Hipertensi sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah bila faktor risiko dapat dikendalikan. Upaya tersebut meliputi monitoring tekanan darah secara teratur, program hidup sehat tanpa asap rokok, peningkatan aktivitas fisik atau gerak badan, diet yang sehat dengan kalori seimbang melalui konsumsi tinggi serat, rendah lemak dan rendah garam. Hal tersebut merupakan kombinasi upaya mandiri oleh individu atau masyarakat dan didukung oleh program pelayanan kesehatan yang ada serta harus dilakukan sedini mungkin (Madina, 2010). Data WHO tahun 2000 menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4% penghuni bumi menderita hipertensi, dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025 (Farmacia, 2007). Prevalensi hipertensi di seluruh dunia diperkirakan antara 15-20% (Depkes, 2006). Sedangkan angka Proporsional Mortality Rate di dunia akibat hipertensi adalah 13% atau sekitar 7,1 juta kematian (Yahya, 2005). Hasil Riskesdas (2007), prevalensi hipertensi di Indonesia pada penduduk berumur 18 tahun sebesar 7,2% yang didiagnosa oleh tenaga kesehatan, 7,6% pada kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan, dan 31,7 berdasarkan hasil pengukuran

tekanan darah dan di DKI Jakarta, kasus hipertensi mencapai 9,5%. Didapatkan juga kasus pada wanita lebih tinggi (8,6%) dibandingkan pada laki-laki (5,8%). Sedangkan, prevalensi hipertensi yang tergolong lansia (55 sampai 75+ tahun) di Indonesia mencapai 62,8%. Menurut data Dinas Kesehatan Tangerang Selatan (2009), di Wilayah Kota Tangerang Selatan prevalensi hipertensi pada lansia (45 sampai >60 tahun) mencapai 3,9%. Namun, angka kasus di Wilayah Kota Tangerang selatan ini masih jauh dari yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan usia diatas 50 tahun yakni sebesar 20-30%. Dari 10 Puskesmas yang berada di wilayah kerja Dinas kesehatan Tangerang selatan prevalensi terendah berada di wilayah kerja Puskesmas Pamulang (0,6%) dan tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Kampung Sawah (33,94%). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan oktober 2010, dari dua wilayah kerja Puskesmas Kampung sawah lansia yang mempunyai tekanan darah 140/90 mmHg yakni sebagai berikut: pada Kelurahan Sawah terhadap 55 lansia prevalensi hipertensi sebesar 29%, sedangkan pada Kelurahan Sawah Baru terhadap 37 lansia prevalensi hipertensi sebesar 32,4%. Data ini didapat berdasarkan hasil rekam medis para lansia yang datang dan diperiksa tekanan darahnya di puskesmas dan posbindu tahun 2009. Sebelum dibuat diagnosa hipertensi, diperlukan pengukuran secara berulang pada tiga kesempatan disertai dengan konsultasi tentang perubahan gaya hidup kepada dokter. Jika hasil pengukuran tekanan darah pada tiga kesempatan masih tinggi atau 140/90 mmHg, maka pasien didiagnosa menderita hipertensi oleh dokter. Terlihat bahwa

10

angka kasus di Kelurahan Sawah Baru lebih tingi jika dibandingkan dengan batas yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI yakni sebesar 20-30%. Keadaan tersebut jika tidak segera dilakukan upaya-upaya preventif dan promotif secara dini akan mengganggu penderitanya, yang menyebabkan penderitanya tidak bisa menjalankan peran normalnya secara wajar dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data-data tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011.

1.2 Rumusan Masalah Penuaan tidak dapat dicegah dan sering disertai dengan adanya peningkatan gangguan organ dan fungsi tubuh serta perubahan komposisi, namun masalah kesehatan yang berhubungan dengan penuaan dapat dicegah. Deteksi awal dan manajemen kesehatan yang efektif dapat menurunkan konsekuensi timbulnya penyakit degeneratif seperti hipertensi. Lansia sangat mudah terkena penyakit degeneratif seperti hipertensi, apabila kualitas dan kuantitas dari pola makan sehari-hari tidak terpantau dengan baik. Maka dari itu, diperlukan perubahan gaya hidup sehat sedini mungkin. Hal ini akan fatal jika penanganan kurang cepat dan tepat, karena berdampak pada status gizi/kesehatannya, menurunnya aktivitas atau kegiatan para lansia, serta dapat meningkatkan risiko kematian bagi lansia.

11

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan oktober 2010, dari dua wilayah kerja Puskesmas Kampung sawah lansia yang mempunyai tekanan darah 140/90 mmHg yakni sebagai berikut: pada Kelurahan Sawah terhadap 55 lansia prevalensi hipertensi sebesar 29%, sedangkan pada Kelurahan Sawah Baru terhadap 37 lansia prevalensi hipertensi sebesar 32,4%. Data ini didapat berdasarkan hasil rekam medis para lansia yang datang dan diperiksa tekanan darahnya di Puskesmas dan Posbindu Kampung Sawah tahun 2009. Sebelum dibuat diagnosa hipertensi diperlukan pengukuran secara berulang pada tiga kesempatan disertai dengan konsultasi tentang perubahan gaya hidup kepada dokter. Jika hasil pengukuran tekanan darah pada tiga kesempatan masih tinggi atau 140/90 mmHg, maka pasien didiagnosa menderita hipertensi oleh dokter. Terlihat bahwa angka kasus di Kelurahan Sawah Baru lebih tingi jika dibandingkan dengan batas yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI yakni sebesar 20-30%. Oleh sebab itu, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011.

1.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana gambaran kejadian hipertensi, jenis kelamin, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi air, kegiatan olahraga,

12

merokok, kejadian stres, dan obesitas pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 2. Apakah ada hubungan antara jenis kelamin dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 3. Apakah ada hubungan antara konsumsi natrium dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 4. Apakah ada hubungan antara konsumsi lemak dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 5. Apakah ada hubungan antara konsumsi buah dan sayur dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 6. Apakah ada hubungan antara konsumsi air dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 7. Apakah ada hubungan antara olahraga dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 8. Apakah ada hubungan antara merokok dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011?

13

9. Apakah ada hubungan antara stres dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011? 10. Apakah ada hubungan antara obesitas dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011?

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 1.4.2 Tujuan Khusus 1. Diketahuinya gambaran kejadian hipertensi, jenis kelamin, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi air, kegiatan olah raga, merokok, kejadian stres, dan obesitas pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 2. Diketahuinya hubungan antara jenis kelamin dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011.

14

3. Diketahuinya hubungan antara konsumsi natrium dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 4. Diketahuinya hubungan antara konsumsi lemak dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 5. Diketahuinya hubungan antara konsumsi buah dan sayur dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 6. Diketahuinya hubungan antara konsumsi air dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 7. Diketahuinya hubungan antara olahraga dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 8. Diketahuinya hubungan antara merokok dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011. 9. Diketahuinya hubungan antara stres dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011.

15

10. Diketahuinya hubungan antara obesitas dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang selatan tahun 2011.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti Sebagai pembelajaran dan pengalaman dalam melakukan penelitian yang terkait dengan gizi masyarakat serta media pengembangan kompetensi diri sesuai dengan keilmuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam meneliti masalah yang berkaitan dengan gizi masyarakat. 1.5.2 Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Salah satu wujud Tridharma Perguruan Tinggi (akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat) dalam bidang gizi masyarakat dan menjadi bahan masukan untuk penelitian selanjutnya. 1.5.3 Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi bagi masyarakat dalam menjaga kesehatannya dan dapat meningkatkan kesadaran terhadap penyakit hipertensi sehingga dapat dilakukan pencegahan dini. 1.5.4 Bagi Puskesmas Kampung Sawah Sebagai bahan informasi untuk mengambil langkah-langkah kebijakan dimasa depan, seperti memberikan penyuluhan/informasi yang terkait dengan hipertensi dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat, dan

16

perhatian dalam upaya pencegahan penyakit degeneratif, sehingga dapat menurunkan prevalensi hipertensi dikawasan tersebut.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang

berhubungan dengan hipertensi pada kelompok lansia. Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa peminatan gizi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN pada bulan Februari 2011 di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan dan yang diteliti adalah para lansia di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan disain crosssectional. Alasan penelitian ini dilakukan karena berdasarkan studi pendahuluan diketahui proporsi lansia yang menderita hipertensi dari hasil rekam medis di Puskesmas dan Posbindu Kampung Sawah sebesar 32,4 %. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan RI untuk usia diatas 50 tahun yakni 20-30%.

17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi 2.1.1 Definisi Hipertensi Tekanan darah berubah-ubah sepanjang hari sesuai dengan situasi. Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira, cemas atau sewaktu melakukan aktivitas fisik dan turun selama tidur. Setelah itu berlalu, tekanan darah akan kembali menjadi normal. Apabila tekanan darah tetap tinggi maka disebut sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi (Hull, 1996). Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberikan gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah), dan left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan target di otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi (Bustan, 2000). Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang menetap. Pada waktu anda membaca tekanan darah bagian atas adalah tekanan darah sistolik, sedangkan bagian bawah adalah tekanan diastolik. Tekanan sistolik (bagian atas) adalah tekanan puncak yang tercapai pada waktu jantung berkontraksi dan memompakan darah melalui arteri. Sedangkan tekanan diastolik (angka bawah) adalah tekanan pada

18

waktu jatuh ke titik terendah dalam arteri. Secara sederhana seseorang disebut hipertensi apabila tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg. Tekanan darah yang ideal adalah 120/80 mmHg (Sunardi, 2000). 2.1.2 Klasifikasi Hipertensi 1. Klasifikasi Berdasarkan Etiologi a. Hipertensi esensial/primer. Tidak jelas penyebabnya dan merupakan sebagian besar 90% dari seluruh kejadian hipertensi. Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktoral yang timbul terutama karena interaksi antara faktor-faktor risiko tertentu (Yogiantoro, 2006). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006). Menurut Gunawan (2004), penyebab utama hipertensi yaitu gaya hidup modern, sebab dalam gaya hidup modern situasi penuh tekanan dan stres. Dalam kondisi tertekan, adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah. Gaya hidup yang penuh kesibukan juga membuat orang kurang berolah raga dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok, minum alkohol atau kopi sehingga risiko terkena hipertensi. Kedua yaitu pola makan yang salah dan yang ketiga adalah berat badan berlebih. b. Hipertensi sekunder

19

Hipertensi

yang

penyebabnya

dapat

diketahui,

sering

berhubungan dengan beberapa penyakit misalnya ginjal, jantung koroner, diabetes, kelainan sistem syaraf pusat. Jumlah kejadiannya mencapai 10% (Sunardi, 2000). 2. Klasifikasi Berdasarkan Derajat Hiptertensi Berikut ini adalah klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa berdasarkan JNC-VII (The Joint National Committee On Prevention, Detection Evaluation, and Treatment Of High Blood Pressure (JNC 7). Table 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg) Normal < 120 < 80 Prahipertensi 120-139 80-89 Hipertensi derajat 1 140-159 90-99 Hipertensi derajat 2 160 100 Sumber : Yogiantoro, 2006 2.1.3 Cara Pengukuran Tekanan Darah Tabel 2.2 Rekomendasi untuk Tindak Lanjut Tekanan Darah Pengukuran Pertama Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik Pemeriksaan Lanjutan (mmHg) (mmHg) < 130 < 85 Periksa ulang dalam 2 tahun 130-139 85-89 Periksa ulang dalam 1 tahun 140-159 90-99 Pastikan dalam 2 bulan 160-179 100-109 Pastikan dan obati dalam 1 bulan 180-209 110-119 Pastikan dan obati dalam 1 bulan Sumber : JNC VI (1998) dan WHO-ISH (1999) Pasien dibiarkan istirahat dengan tenang, lima sampai 10 menit. Pasien tidak boleh merokok dan minum zat perangsang (stimulant) seperti teh, kopi, dan minuman ringan yang mengandung kafein 30 menit sebelum pengukuran. Ukuran manset harus sesuai dengan lengan penderita yaitu

20

paling sedikit 80% lebar manset harus dapat menutupi lingkar lengan. Pasien di ukur dalam posisi duduk atau berbaring dengan lengan sejajar jantung. Rabalah denyut nadi radialis pada sisi ipsilateral dan kembangkan karet sfigmomanometer secara bertahap sampai tekanan sistolik 20 mmHg diatas titik dimana denyut nadi radialis menghilang. Auskultasi pada arteri brakialis dan kempiskan karet kurang lebih dua mmHg per detik, catat titik pertama pulsasi yang terdengar (korotkoff 1) yang merupakan tekanan darah sistolik dan titik di mana bunyi pulsasi menghilang (korotkoff 5) yaitu tekanan diastolik. Ukurlah tekanan darah minimal dua kali dengan jarak dua menit dan pastikan tidak ada perbedaan antara kedua lengan. Jika terdapat perbedaan, lengan yang mempunyai angka yang lebih tinggi digunakan sebagai patokan. Semua orang dewasa harus mengukur tekanan darahnya secara teratur setidaknya setiap lima tahun sampai umur 80 tahun. Jika hasilnya berada pada nilai batas, pengukuran perlu dilakukan setiap tiga sampai12 bulan (Gray, 2005). 2.1.4 Diagnosis Hipertensi Sebelum dibuat diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran berulang paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda selama empat sampai enam minggu. Pengukuran dirumah dapat menggunakan sfigmomanometer yang tepat sehingga menambah jumlah pengukuran untuk analisis (Gray, 2005). Sebuah komite yang dibentuk oleh Experimental Medical Care Review Organisation (EMCRO) di Amerika menambahkan bahwa untuk

21

menentukan kriteria hipertensi yang menetap adalah apabila tekanan darah tetap tinggi setelah diperiksa tiga kali berturut-turut dengan interval tidak kurang dari satu minggu (Soelaeman, 1980). Sedangkan menurut Depkes (2006), upaya deteksi faktor risiko penyakit hipertensi dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Wawancara dengan menggunakan kuesioner yang meliputi identitas diri, riwayat penyakit, riwayat anggota keluarga, perubahan aktifitas atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat dan faktor psikososial lingkungan keluarga, dan lain-lain) 2. Pengukuran tekanan darah. 3. Pengukuran indeks antropometri, seperti pengukuran berat badan dan tinggi badan. 4. Pemeriksaan penunjang. Menurut Mansjoer, dkk (2001) dalam Sugihartono (2007), pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor risiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL). Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain, seperti klirens kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH, dan ekokardiografi.

22

2.1.5 Gejala Klinis Hipertensi Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit kepala, pusing, gelisah, jantung berdebar, perdarahan hidung, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tekuk terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam hari. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai meliputi gangguan;

penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal dan gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang dan perdarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, ganguan kesadaran hingga koma (Cahyono, 2008). 2.1.6 Patofisiologis Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi karena adanya gangguan dalam sistem peredaran darah. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan sirkulasi darah, gangguan keseimbangan cairan dalam pembuluh darah atau komponen dalam darah yang tidak normal. Gangguan tersebut menyebabkan darah tidak dapat disalurkan ke seluruh tubuh dengan lancar. Untuk itu, diperlukan pemompaan yang lebih keras dari jantung. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah atau disebut hipertensi (Price dan Wilson, 2002). Tekanan darah adalah fungsi berulang-ulang dari cardiac output karena adanya resistensi periferal (resistensi dalam pembuluh darah untuk mengalirkan darah). Diameter pembuluh darah ini sangat mempengaruhi

23

aliran darah. Jika diameter menurun misalnya pada aterosklerosis, resistensi dan tekanan darah meningkat. Jika diameter meningkat misalnya dengan adanya terapi obat vasodilator, resistensi dan tekanan darah menurun. Ada dua mekanisme yang mengontrol homeostatik dari tekanan darah, yaitu: 1. Short term control (sistem saraf simpatik). Mekanisme ini sebagai respon terhadap penurunan tekanan, system saraf simpatetik

mensekresikan norepinephrine yang merupakan suatu vasoconstrictor yang akan bekerja pada arteri kecil dan arteriola untuk meningkatkan resistensi peripheral sehingga tekanan darah meningkat. 2. Long term control (ginjal). Ginjal mengatur tekanan darah dengan cara mengontrol volume cairan ekstraseluler dan mensekresikan renin yang akan mengaktivasi system renin dan angiotensin (Price dan Wilson, 2002). Bagan dibawah ini adalah patologi dari hipertensi, yakni: Bagan 2.1 Patofisiologis Hipertensi

Sumber: Price dan Wilson ( 2002)

24

Berdasarkan bagan di atas, proses terjadinya hipertensi melalui tiga mekanisme, yaitu: gangguan keseimbangan natrium, kelenturan atau elastisitas pembuluh darah berkurang (menjadi kaku), dan penyempitan pembuluh darah. 2.1.7 Komplikasi Hipertensi Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan mempercepat atherosklerosis. Bila penderita memiliki faktor-faktor risiko kardiovaskular lain, maka akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskularnya tersebut. Menurut Studi Farmingham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan risiko yang bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal jantung (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006). Dalam Gray (2005) dan Suhardjono (2006), hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya akan memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Selain itu penurunan tekanan darah dapat mencegah demensia dan penurunan kognitif pada usia lanjut. Kemunduran kognitif ditandai dengan lupa pada hal-hal yang baru, akan tetapi masih dapat melakukan aktifitas sehari-hari. Kerusakan organ yang terjadi berkaitan dengan derajat keparahan hipertensi. Perubahanperubahan utama organ yang terjadi akibat hipertensi dapat dilihat dibawah ini:

25

1. Jantung. Komplikasi berupa infark miokard, angina pectoris, gagal jantung. 2. Ginjal. Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler-kapiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya glomerolus, darah akan mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerous, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik. 3. Otak. Komplikasinya berupa stroke dan serangan iskemik. Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat embulus yang terlepas dari pembuluh non-otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya anurisma. 4. Mata. Komplikasi berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. 5. Pembuluh perifer Penelitian meta-analisis yang melibatkan lebih dari 420.000 pasien telah menunjukkan hubungan yang kontinyu dan independen antara

26

tekanan darah dengan stroke dan penyakit jantung koroner. Peningkatan tekanan diatolik >10 mmHg dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko stroke sebesar 56% dan penyakit jantung koroner sebesar 37% (Gray, 2005). 2.1.8 Penatalaksanaan Hipertensi Diketahui bahwa tingginya pendidikan dan pendapat pada masyarakat memiliki kemampuan yang lebih dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk melakukan pengobatan sedangkan dengan pendapatan yang rendah kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada, mungkin oleh karena tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli obat atau keperluan yang lain, hal itu dapat mengakibatkan penyakit yang diderita bertambah parah (Baliwati, 2004). 1. Penatalaksanaan Non Farmakologis atau Perubahan Gaya Hidup Terapi nonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan

mengendalikan faktor-faktor resiko serta penyakit lain. Terapi nonfarmakologis meliputi : menghentikan merokok, menurunkan berat badan berlebih, menurunkan konsumsi alkohol berlebih, latihan fisik serta menurunkan asupan garam (Yogiantoro, 2006). Meningkatkan konsumsi asupan buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak. Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang penting

27

dalam penanganan hipertensi (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006). 2. Penatalaksanaan Farmakologis Terapi farmakologis adalah dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi. Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan keamanan dalam pengobatan hipertensi. Berdasarkan uji klinis, hampir seluruh pedoman penanganan hipertensi menyatakan bahwa : a. Keuntungan pengobatan antihipertensi adalah penurunan tekanan darah. b. Pengelompokan pasien berdasarkan keperluan pertimbangan khusus yaitu kelompok indikasi yang memaksa dan keadaan khusus lain. c. Terapi dimulai secara bertahap dan target tekanan darah dicapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dengan dosis rendah lalu perlahan ditingkatkan dosisnya. d. Menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari. e. Pilihan memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau dengan kombinasi tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi (Yogiantoro, 2006). 2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Hipertensi Dari beberapa sumber kepustakaan yang diperoleh penulis, maka faktorfaktor yang berhubungan dengan penyakit hipertensi adalah sebagai berikut :

28

2.2.1 Umur Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar diatas usia 65 tahun (Depkes, 2006). Hipertensi berdasarkan gender ini dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Wanita seringkali mengadopsi perilaku tidak sehat seperti merokok dan pola makan yang tidak seimbang sehingga menyebabkan kelebihan berat badan, depresi dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan kaum pria lebih berkaitan erat dengan pekerjaan seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran (Sutanto, 2010). Sedangkan Yogiantoro (2006) menyebutkan bahwa individu berumur 55 tahun memiliki 90% risiko untuk mengalami hipertensi. Menurut Krummel (2004) memaparkan bahwa tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Penyakit hipertensi umumnya berkembang pada saat umur seseorang mencapai paruh baya yakni cenderung meningkat khususnya yang berusia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60 tahun keatas. Setelah usia 45 tahun terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsurangsur menyempit dan menjadi kaku. Disamping itu, pada usia lanjut

29

sensitivitas pengaturan tekanan darah yaitu refleks baroreseptor mulai berkurang, demikian juga halnya dengan peran ginjal, dimana aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus menurun (Kumar, et all, 2005 ). Dalam penelitian Dian, dkk (2008) diketahui tidak terdapatnya hubungan yang bermakna antara usia dengan penderita hipertensi. Namun, penelitian Aisyiyah (2009) diketahui bahwa ada hubungan nyata positif antara umur dan hipertensi. Dan penelitian Irza (2009) menyatakan bahwa resiko hipertensi 17 kali lebih tinggi pada subjek >40 tahun dibandingkan dengan yang berusia 40 tahun. Berarti diketahui bahwa meningkatnya umur seseorang akan diikuti dengan meningkatnya kejadian hipertensi. 2.2.2 Jenis Kelamin Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih banyak dibandingkan wanita. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibanding wanita. Namun setelah memasuki menepouse, prevalensi hipertensi pada wanita

meningkat (Depkes, 2006). Hal tersebut dikarenakan adanya pengaruh hormon estrogen yang dapat melindungi wanita dari penyakit

kardiovaskuler. Kadar hormon ini akan menurun setelah menepouse (Gray, 2005). Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek

30

perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun (Kumar, et all, 2005) Data Riskesdas menyebutkan bahwa prevalensi penderita hipertensi di Indonesia lebih besar pada perempuan (8,6%) dibandingkan laki-laki (5,8%). Sedangkan menurut Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2006), sampai umur 55 tahun, laki-laki lebih banyak menderita hipertensi dibanding perempuan. Dari umur 55 sampai 74 tahun, sedikit lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita hipertensi. Hasil penelitian Sulistiani (2005) diketahui bahwa faktor jenis kelamin tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Demikian juga Herke (1995) tidak dapat membuktikan bahwa perempuan mempunyai risiko hipertensi yang lebih besar daripada laki-laki, walaupun secara presentase diperoleh hipertensi lebih tinggi pada perempuan. Namun penelitian Yuliarti (2007), diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kejadian hipertensi pada perempuan dipengaruhi oleh kadara hormon estrogen. Hormon estrogen tersebut akan

31

menurun kadarnya ketika perempuan memasuki usia tua (menepouse) sehingga perempuan menjadi lebih rentan terhadap hipertensi. 2.2.3 Riwayat Keluarga Riwayat keluarga mempertinggi risiko terkena penyakit hipertensi, terutama pada hipertensi primer (esensial). Tentunya faktor genetik ini juga diperngaruhi faktor-faktor lingkungan lain. Faktor genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel (Depkes, 2006). Hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita mempunyai hipertensi maka sepanjang hidup kita mempunyai 25% kemungkinan mendapatkannya pula. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi, kemungkinan kita mendapatkan penyakit tersebut 60% (Sheps, 2005). Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala (Sutanto, 2010). Pada kenyataannya, 70-80 % kasus hipertensi, ternyata pada keluarga yang mempunyai riwayat hipertensi (Sunardi, 2000). Hasil penelitian Hasirungan (2002) pada lansia dikota Depok usia 55 sampai 70 tahun

32

diketahui terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga sakit dengan hipertensi. 2.2.4 Etnis Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang berkulit putih, serta lebih besar tingkat morbiditas maupun mortalitasnya. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa terdapat kelainan pada gen angiotensinogen tetapi mekanismenya mungkin bersifak poligenik (Gray, 2005). Berbagai golongan etnik dapat berbeda dalam kebiasaan makan, susunan genetika, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan angka kesakitan dan kematian. Salah satu contoh dari pengaruh pola makan yaitu angka tertinggi hipertensi di Indonesia tahun 2000 adalah suku Minang. Hal ini dikarenakan suku Minang atau orang yang tinggal di pantai, biasanya mengkonsumsi garam lebih banyak dan menyukai makanan asin (Cahyono, 2008). 2.2.5 Obesitas Menurut Hull (1996), penelitian menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dan hipertensi. Bila berat badan meningkat diatas berat badan ideal maka risiko hipertensi juga meningkat. Penurunan berat badan dan pengobatan berat badan merupakan pengobatan yang efektif untuk hipertensi.

33

Obesitas juga erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri, yang akan meimbulkan terjadinya kenaikan tekanan darah Selain itu, kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung (Sheps, 2005). Sedangkan hipertensi pada seseorang yang kurus atau normal bisa juga disebabkan oleh sistem simpatis dan sistem renin angiotensin (Suhardjono, 2006). Aktivitas dari saraf simpatis adalah mengatur fungsi saraf dan hormon, sehingga dapat meningkatkan denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah, dan meningkatkan retensi air dan garam (Syaifudin, 2006). Dan pada sistem renin-angiotensin, renin memicu produksi aldosteron yang akan mempengaruhi ginjal untuk menahan air dan natrium sedangkan angiotensin akan mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga tekanan darah akan naik (Gray (2005) dan Almatsier (2001)). Kegemukan atau obesitas adalah persentase abnormalitas lemak yang dinyatakan dalam Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) (Depkes, 2006). IMT merupakan indikator yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obes pada orang dewasa.

34

(Sidartawan, 2006). Menurut Supariasa (2002), penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun. Pengukuran berdasarkan IMT dianjurkan oleh FAO/WHO/UNU tahun 1985. Nilai IMT dihitung menurut rumus : Berat badan (kg) Indeks Massa Tubuh = Tinggi badan (m) 2 Sumber : Depkes (2006) Berikut ini adalah klasifikasi status gizi menggunakan IMT dapat dilihat dalam tabel 2.3, yakni: Tabel 2.3 Kalsifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) Orang Indonesia Klasifikasi IMT (kg/m2) Keadaan Berat badan kurang tingkat berat < 17,0 Kurus Berat badan kurang tingkat ringan 17,0 18,5 Normal 18,5 25,0 Normal Berat badan lebih tingkat ringan >25,0 27,0 Obesitas Berat badan lebih tingkat berat >27 Sumber : Depkes RI, 2006 Hasil pengukuran tinggi badan (TB) lansia sebagian besar tidak akurat karena komponen penelitian TB lansia sebenarnya telah berubah. Dengan demikian, hasil pengukuran TB pada lansia tidak akan sama dengan pengukuran ketika yang bersangkutan masih balita. Pada keadaan ini, TB selain diukur langsung dengan mikrotoa, dapat pula dihitung dengan menggunakan ukuran rentang tangan (PRT). Pengukuran PRT dilakukan dengan posisi responden sama seperti ketika ditimbang dan diukur tinggi, kecuali kedua lengan direntangkan ke samping badan

35

sehingga terbentuk sudut (lengan/ketiak) 900. kemudian diukur jarak antara 2 ujung jari tangan kiri dan kanan terpanjang melalui tulang dada. Penentuan TB menggunakan data PRT dihitung dengan rumus (Reeves SL et all, 1996), dibawah ini: a. TB laki-laki b. TB perempuan = 53,4 + (0,67 x PRT) = 81,0 + (0,48 x PRT) (Arisman, 2010)

Kelebihan berat badan dapat juga menggunakan ukuran komposisi lemak tubuh. Lemak tubuh dapat diukur dengan menggunakan skin fold atau body fat analyzer. Wanita dikatakan obesitas bila komposisi lemak tubuhnya >25% berat badan, sedangkan laki-laki dikatakan obesitas bila komposisi lemak tubuhnya >20% berat badan (Cahyono, 2008). Dengan demikian, hasil pengukuran Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang badannya normal. Ditemukan 20-33% penderita hipertensi memiliki berat badan lebih (overweight) (Depkes, 2006). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian hasirungan (2002) bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT atau obesitas pada lansia. Namun, dalam penelitian Yuliarti (2007) bahwa terdapat hubungan pada usia lanjut di Posbindu Kota Bogor. 2.2.6 Konsumsi Natrium (Na) Almatsier (2001) dan (2006), natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler. Pengaturan keseimbangan natrium dalam darah diatur

36

oleh ginjal. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl, selain itu garam lainnya bisa dalam bentuk soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoat, dan vetsin (monosodium glutamat). Kelebihan natrium akan menyebabkan keracunan yang dalam keadaan akut menyebabkan edema dan hipertensi. WHO menganjurkan bahwa konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 mg/hari. Berikut ini merupakan fungsi dari natrium, yaitu sebagai berikut: 1. Sebagai kation utama dalam cairan ekstraseluler, natrium menjaga keseimbangan cairan dalam kompartemen tersebut. 2. Mengatur osmolaritas cairan, pH, dan volume darah 3. Membantu transmisi rangsangan saraf dan kontraksi otot. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsumsi natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya kembali, cairan intraseluler harus ditarik keluar sehingga volume cairan

ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatanya volume darah, sehingga berdampak pada timbulnya hipertensi (Sutanto, 2010). Disamping itu, diet tinggi garam dapat mengecilkan diameter dari arteri. Sehingga jantung harus memompa lebih keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang makin sempit. Maka terjadilah penyakit hipertensi. Diet yang mengandung 500 mg Na dapat mempertahankan kadar Na yang normal dalam badan. Asupan yang

37

melebihi jumlah ini didasarkan atas rasa bukan kebutuhan. Makanan yang sudah diproses biasanya mengandung Na yang tinggi. Pada umumnya, makin diproses suatu makanan maka makin tinggi kandungan garamnya (Hull, 1996). Williams (1991) dalam Aisyiyah (2009), menjelaskan bahwa mekanisme yang mendasari sensitivitas garam pada beberapa pasien mungkin disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: ketidakmampuan ginjal mengeskresikan natrium, pengaturan sirkulasi ginjal yang tidak normal dan sekresi aldosteron. Reaksi atau sensitivitas seseorang terhadap jumlah natrium didalam tubuh berbeda-beda. Cahyono (2008) memaparkan bahwa Dash-eating Plan (Dietary Approaches to stop Hypertension Eating Plan) atau pengaturan pola makan yang bertujuan untuk mengendalikan hipertensi. Diet ini pada intinya mengatur pola makan dengan mengurangi asupan natrium dan banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, serelia, biji-bijian, makanan rendah lemak, dan produk susu rendah lemak. DASHNATRIUM yang dilakukan National Heart, Lung and Blood Institute menunjukkan hasil yang bermakna. Dengan membatasi asupan natrium, yaitu melalui pengurangan konsumsi garam hanya sebanyak 1.500 mg/hr (2/3 sendok teh sehari), maka terjadi penurunan tekanan darah. Contoh bahan-bahan makanan yang tidak dianjurkan karena mengandung natrium yang kadarnya cukup tinggi antara lain sebagai berikut:

38

1. Sumber karbohidrat, yakni roti, biskuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur dan atau baking powder dan soda. 2. Sumber protein hewani, yakni otak, ginjal, lidah, sardin, daging, ikan, susu, dan telur yang diawetkan dengan garam dapur seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, dan telur asin. Dianjurkan daging dan ikan

maksimal 100 gram sehari; telur maksimal 1 butir sehari. 3. Sumber protein nabati, yakni keju, kacang tanah dan semua kacangkacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur atau ikatan natrium lain. 4. Sayuran dan buah-buahan yang diawetkan dengan menggunakan natrium benzoat ataupun garam dapur. Seperti yang dikemas dalam kaleng. 5. Lemak, yakni margarin dan mentega biasa.

6. Minuman bersoda (soft drink). 7. Bumbu, yakni garam dapur, kecap, tomato ketchup, vetsin (Almatsier, 2006). Nilai zat gizi Na dalam bahan makanan disajikan dalam tabel dibawah ini:

39

Tabel 2. 4 Kandungan Natrium Beberapa Bahan Makanan (mg/100 gram) Bahan Makanan Mg Bahan Makanan Mg Roti putih 530 Telur bebek 191 Biskuit 500 Telur ayam 158 Kue-kue 250 Sosis 1000 Daging bebek 200 Keju 1250 Daging sapi 93 Margarin 950 Ikan sardin 131 Mentega 987 Udang segar 185 Tomato ketchup 2100 Teri kering 885 Garam 38758 Corned Beef 1250 Kecap 4000 Ham 1250 Roti coklat 500 Sumber: Almatsier (2006) Makanan asin dan awetan biasanya memiliki rasa gurih (umami), sehingga dapat meningkatkan nafsu makan (Cahyono, 2008). Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer (esensial) terjadi respon penurunan tekanan darah dengan mengurangi asupan garam. Pada masyarakat yang mengkonsumsi tiga gram atau kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan mengkonsumsi sekitar tujuh sampai delapan gram tekanan darah rata-rata lebih tinggi (Depkes, 2006). Hasil penelitian Hasirungan (2002), diketahui tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi natrium dengan kejadian hipertensi. Suhardjo (2006) menyatakan bahwa kesukaan terhadap makanan mempunyai pengaruh terhadap pemilihan makanan. Sehingga jika seseorang tidak suka terhadap makanan sumber natrium maka akan cenderung tidak memilih makanan tersebut untuk dikonsumsi oleh dirinya. Namun, hasil penelitian Widiastuti (2006) di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak II diketahui ada hubungan yang bermakna antara

40

asupan natrium dengan hipertensi. Dari penelitian Sugihartono (2007) didapatkan bahwa kebiasaan mengkonsumsi asin berisiko menderita hipertensi sebesar 3,95 kali dibandingkan orang yang tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi asin. 2.2.7 Konsumsi Lemak Diet tinggi lemak berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh polivalen secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian, dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah (Hull, 1996). Komponen lemak polivalen tidak jenuh, yang disebut asam lemak esensial, merupakan rintangan untuk zat-zat yang mirip hormon didalam darah yang disebut prostaglandin. Beberapa jenis prostaglandin membantu mengatur tekanan darah dengan melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan diameter dari arteri dan mengurangi jumlah darah yang harus dipompa oleh jantung. Tekanan darah berkurang bila asupan asam lemak esensisal dalam diet ditingkatkan. Lemak merupakan 42% dari kalori total yang dikonsumsi dalam diet rata-rata orang Amerika. Tekanan darah menurun bila lemak dikurangi sampai 25% dari total kalori (Hull, 1996). Bila mengkonsumsi makanan berlemak, maka didalam usus makanan tersebut akan diubah menjadi kolesterol. Kolesterol yang tinggi dapat

41

menyebabkan terjadinya ateroklerosis yaitu suatu kondisi dimana kolesterol menumpuk di dinding pembuluh darah arteri. Pembentukan ateroklerosis diawali dengan rusaknya pembuluh darah. Setelah pembuluh darah rusak, maka kolesterol yang dibawa LDL terperangkap pada dinding pembuluh darah tersebut dalam waktu bertahun-tahun Maka terjadilah pembentukan plak sehingga pembuluh darah makin sempit dan elastisitasnya berkurang (Cahyono, 2008). Kandungan lemak yang dapat mengganggu kesehatan jika jumlahnya berlebih lainnya adalah: kolesterol, trigliserida, low density lipoprotein (LDL) (Almatsier 2001). Secara umum, asam lemak jenuh cenderung meningkatkan kolesterol darah, 25-60% lemak yang berasal dari hewani dan produknya merupakan asam lemak jenuh. Setiap peningkatan 1% energi dari asam lemak jenuh, diperkirakan akan meningkatkan 2.7 mg/dL kolesterol darah, akan tetapi hal ini tidak terjadi pada semua orang. Lemak jenuh terutama berasal dari minyak kelapa, santan dan semua minyak lain seperti minyak jagung, minyak kedelai yang mendapat pemanasan tinggi atau dipanaskan berulang-ulang. Kelebihan lemak jenuh akan menyebabkan peningkatan kadar LDL kolesterol. Sedangkan lemak tidak jenuh, meskipun mengkonsumsinya kadar kolesterol tidak meningkat dan tetap stabil (Almatsier, 2001). Berikut ini merupakan contoh bahan-bahan makanan yang

mengandung lemak sedang sampai lemak yang cukup tinggi antara lain meliputi: ayam dengan kulit, bebek, corned beef, daging babi, kuning telur

42

ayam, sosis, bakso, daging kambing, daging sapi, hati ayam, hati sapi, otak, telur ayam, telur bebek, usus sapi, susu kerbau, susu kental manis, sarden dalam kaleng, kelapa, lemak babi/sapi, mentega, minyak kelapa, santan dan lain-lain (Almatsier, 2006). Penelitian Hasirungan (2001) didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara konsumsi lemak dengan hipertensi. Namun, hasil penelitian Sugihartono (2007) diketahui sering mengkonsumsi lemak jenuh mempunyai risiko untuk terserang hipertensi sebasar 7,72 kali

dibandingkan orang yang tidak biasa mengkonsumsi lemak jenuh. Preuss (1996) juga menyatakan pada penelitian ditujuh negara, rata-rata tekanan darah populasi berkorelasi signifikan dengan rata-rata konsumsi lemak jenuh, tetapi tidak dengan diet lemak total. 2.2.8 Konsumsi Alkohol Alkohol dapat menaikkan tekanan darah, memperlemah jantung, mengentalkan darah dan menyebabkan kejang arteri (Sutanto, 2010). Beberapa studi menunjukkan hubungan langsung antara tekanan darah dan asupan alkohol, diantaranya melaporkan bahwa efek terhadap tekanan darah baru nampak apabila mengkonsumsi alkohol sekitar dua sampai tiga gelas ukuran standar setiap harinya. Di negara barat seperti Amerika, konsumsi alkohol yang berlebihan berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10% hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan alkohol yang berlebihan dikalangan pria usia 40 tahun keatas (Depkes, 2006).

43

Konsumsi alkohol seharusnya kurang dari dua kali per hari pada lakilaki untuk pencegahan peningkatan tekanan darah. Bagi perempuan dan orang yang memiliki berat badan berlebih, direkomendasikan tidak lebih dari 1 kali minum per hari (Krummel, 2004). 2.2.9 Konsumsi Buah dan Sayur Mengkonsumsi buah dan sayur satiap hari sangat penting, karena mengandung vitamin dan mineral, yang mengatur pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta mengandung serat yang tinggi (Depkes, 2008). Asupan serat yang cukup dapat menetralisir kenaikan kadar lemak darah (kolesterol, trigliserid, LDL, HDL), dapat mengangkut asam empedu, selain itu, serat juga dapat mengatur kadar gula darah dan menurunkan tekanan darah (Sutanto (2010) dan Iqbal (2008)). Menurut Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad

Dimyati, tingkat konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia saat ini masih rendah. Bahkan masih jauh dari standar konsumsi yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) (Pikiran Rakyat, 2010). Selain faktor budaya, rendahnya konsumsi sayuran dikarenakan belum munculnya kesadaran yang masif di masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran agar menyehatkan tubuh. Menu utama masih didominasi nasi (Kompas, 2011). Sesuai dengan Suhardjo (2006) bahwa sistem sosial, ekonomi, potitik dalam suatu negara merupakan salah satu penyebab mendasar yang mempengaruhi perilaku konsumsi di masyarakat.

44

Individu yang menjalani diet vegetarian, mengkonsumsi diet rendah lemak yang mengandung terutama lemak polivalen tidak jenuh. Vegetarian juga memiliki insiden hipertensi yang rendah. Bila individu yang mengkonsumsi daging beralih ke diet vegetarian maka tekanan darahnya akan menurun. Efek penurunan tekanan darah dari diet vegetarian juga mungkin disebabkan oleh asupan tinggi serat dan tinggi kalium, atau asupan garam yang berkurang. Diet tinggi kalium yang berasal dari buahbuahan dan sayur-sayuran mungkin dapat melindungi individu dari hipertensi. Asupan kalium yang meningkat akan menurunkan tekanan sistolik dan diastolik pada beberapa kasus (Hull, 1996). Bersama natrium, kalium juga memiliki peranan penting dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein. Kalium berperan dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan masa otot dan simpanan glikogen, oleh karena itu bila otot berada dalam pembentukan, dibutuhkan kalium dalam jumlah cukup. Tekanan darah normal memerlukan perbandingan antara natrium dan kalium yang sesuai didalam tubuh (Almatsier, 2001). Kalium merupakan bagian esensial semua sel hidup dan banyak terdapat dalam bahan makanan. Kekurangan kalium menyebabkan lemah, lesu, kehilangan nafsu makan, kelumpuhan, mengigau, dan konstipasi.

45

Jantung akan berdebar detaknya, dan menurunkan kemampuannya untuk memompa darah. Sumber utama kalium adalah makanan mentah atau segar, terutama buah, sayuran dan kacang-kacangan, seperti pepaya, bayam, wortel tomat, dan lain-lain (Almatsier, 2001). Selain itu, penderita hipertensi mengkonsumsi lebih sedikit kalsium dan makanan yang kaya kalsium seperti susu tanpa lemak dan rendah lemak serta yogurt daripada individu yang bebas hipertensi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengaruh hipertensi dari asupan garam yang berlebihan mungkin merupakan akibat dari pengaruh natrium terhadap metabolisme kalsium (Hull, 1996). Di usia 40 tahun keatas, seseorang perlu memperhatikan kebutuhan kalsium tambahan. Kalsium dan mineral dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko diabetes atau kencing manis. Dalam hal ini, penderita hipertensi mempunyai ambang kemampuan manyalurkan natrium dari dalam tubuh, lalu kalsium itulah yang akan mendorong pengeluaran sodium lewat air seni (Candraningrum, 2010). Bahan

makanan yang mengandung kalsium nabati bisa diperoleh dari sayuran daun hijau seperti sawi, bayam, brokoli, daun pepaya, daun singkong, dan lain-lain (Almatsier, 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Dauchet et al. (2007) dalam Aisyiyah (2009), menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi sayur dan buah, penurunan konsumsi lemak pangan, disertai dengan penurunan konsumsi lemak total dan lemak jenuh, dapat menurunkan tekanan darah. Konsumsi

46

buah dan sayur >400 gr/hari dapat menurunkan risiko hipertensi dengan bertambahnya umur. Hal ini tidak saja disebabkan oleh aktivitas antioksidan dalam buah dan sayur, tetapi juga karena adanya komponen lain seperti serat, mineral kalium, dan magnesium. Magnesium merupakan mineral makro yang diperlukan tubuh untuk menormalkan tekanan darah dan mempengaruhi kinerja hormon insulin, sehingga penyakit hipertensi dan diabetes dapat dikendalikan. Magnesium di alam merupakan bagian dari klorofil daun. Contoh buah-buahan yang mengandung sumber magnesium seperti alpukat dan pisang. Sedangkan contoh sayurannya seperti labu, buncis dan bayam (Astawan, 2010). Defisiensi magnesium dapat menyebabkan kekejangan arteri koronaria sehingga menimbulkan serangan jantung (Hull, 1996). Dengan bertambahnya magnesium dapat secara cepat terlihat adanya perbaikan yang nyata dalam hipertensi, arrhytmias dan jantung berdebar. Hal ini dikarenakan magnesium dapat melebarkan dan merilekskan pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar. Mineral ini juga membantu mengencerkan darah, serta mencegah pembentukan platelet (Subecha, 2011). Diet yang memberikan banyak buah-buahan dan sayuran, merupakan sumber yang baik dari kalium dan magnesium, secara konsisten dikaitkan dengan tekanan darah rendah (Appel LJ, et al,1997). Penelitian DASH (Dietary Approaches to Stop Hipertensi), percobaan klinis pada manusia, menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi dapat secara signifikan

47

diturunkan dengan diet yang menekankan buah-buahan, sayuran, dan makanan susu rendah lemak. Seperti diet akan tinggi magnesium, kalium, dan kalsium, dan rendah sodium dan lemak (Sacks FM, et al. 1999) Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh darah bisa dicegah dengan mengkonsumsi antioksidan sejak dini. Radikal bebas adalah suatu molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. Karena kehilangan pasangannya itu, molekul lalu menjadi tidak stabil, liar, dan radikal. Dalam hal ini, antioksidan mampu menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektronnya dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat menimbulkan stress oksidatif (Almatsier, 2003). Antioksidan yang memiliki peran khusus adalah golongan flavonoid. Flavonoid yang terdapat dalam buah anggur dan apel dapat mengurangi bahaya kolesterol dan mencegah penggumpalan darah. Beberapa penelitian yang menunjang pendapat ini antara lain, pada 36 manusia tidak merokok yang sehat terlihat bahwa peningkatan konsumsi buah dan sayur dari lima porsi/hari menjadi 10 porsi/hari menghasilkan peningkatan kapasitas antioksidan plasma secara nyata (Sutanto, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Ledikwe et al. (2007) pada 810 orang penderita prehipertensi dan hipertensi ringan, menemukan hubungan nyata antara konsumsi pangan yang memiliki densitas energi rendah dengan penurunan berat badan.

48

Menurut

Krisnatuti

(2005),

serat

pangan

dapat

membantu

meningkatkan pengeluaran kolesterol melalui feces dengan jalan meningkatkan waktu transit bahan makanan melalui usus kecil. Konsumsi serat sayuran dan buah akan mempercepat rasa kenyang. Keadaan ini dapat mengurangi pemasukan energi dan obesitas, dan akhirnya akan menurunkan risiko hipertensi. 2.2.10 Konsumsi Air Dalam Almatsier (2001) diketahui bahwa air atau cairan tubuh merupakan bagian utama tubuh, yaitu 55-60 % dari berat badan orang dewasa atau 70 % dari bagian tubuh tanpa lemak (lean body mass). Pada proses menua manusia kehilangan air. Kandungan air bayi pada waktu lahir adalah 75 % berat badan, sedangkan pada usia tua menjadi 50 %. Kandungan air tubuh relatif berbeda antarmanusia, tergantung pada proporsi jaringan otot dan jaringan lemak. Tubuh yang mengandung relatif lebih banyak otot mengandung lebih banyak air. Air mempunyai beberapa fungsi dalam proses vital tubuh , yaitu: 1. Pelarut dan alat angkut zat-zat gizi dan hormon-hormon, kemudian dibawa ke seluruh sel yang membutuhkan. Disamping itu, air sebagai pelarut mengangkut sisa metabolisme, termasuk karbon dioksida dan ureum untuk dikeluarkan dari tubuh melalui paru-paru, kulit dan ginjal. Selain itu juga untuk menjaga agar darah dan getah bening dalam tubuh mempunyai volume dan kekentalan yang cukup. Bila tubuh kurang cairan, darah dan getah bening akan menjadi kental karena cairan

49

dalam darah dan getah bening disedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Hal ini berakibat pada aliran darah yang tidak lancar karena sudah mengental 2. Katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel, termasuk di dalam saluran cerna. 3. Pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh. 4. Fasilisator pertumbuhan. Disini, air berperan sebagai zat pembangun. 5. Pengatur suhu. Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas didalam tubuh.. 6. Peredam benturan. Menurut Yahya (2003), ketersediaan jumlah air harus dipertahankan untuk mendapatkan metabolisme tubuh yang stabil. Kehilangan air karena berkeringat, buang air, dan lain-lain, harus segera digantikan. Untuk itu disarankan agar mengkonsumsi air minimal setara dengan delapan gelas atau dua liter sehari. Pada saat seseorang beraktivitas dengan banyak mengeluarkan keringat, misalnya berolahraga, berendam air panas atau masuk sauna, biasanya akan mengalami keadaan kepala yang terasa berkunang-kunang. Hal ini dikarenakan kandungan air dalam darah berkurang yang menyebabkan darah menjadi kental dan kurang lancar mengalir terutama dalam pembuluh-pembuluh kapiler yang sangat kecil. Keadaan ini sangat membahayakan karena dapat mengakibatkan kerusakan pada saraf- saraf otak sebab kekurangan oksigen. Hal diatas menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memasok darah keseluruh tubuh.

50

Hasil penelitian Suryanto (2002) menunjukkan total konsumsi air putih lansia per hari rata-rata minum enam sampai tujuh gelas 51,43% dan kurang dari lima gelas 21,43%. Lansia dianjurkan minum lebih dari delapan gelas per hari. Lansia dianjurkan Banyak minum dan kurangi garam, dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi (Depkes RI, 2003) Dalam memenuhi kebutuhan cairan lansia, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu: pertama, Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, sedangkan sel-sel lemak

mengandung sedikit air, sehingga komposisi air dalam tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau anak-anak dan bayi. Kedua, Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Terjadi penurunan kemampuan untuk memekatkan urin, mengakibatkan kehilangan air yang lebih tinggi (Depkes, 2003). 2.2.11 Merokok Winniford (1990) memaparkan bahwa rokok mengandung nikotin yang dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah sistolik dan diastolik. Peningkatan denyut jantung pada perokok terjadi pada menit pertama merokok dan sesudah 10 menit peningkatan mencapai 30%. Sedangkan tekanan sistolik meningkat mancapai 10%. Diketahui pula bahwa merokok dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung melalui mekanisme sebagai berikut: pertama, merangsang saraf simpatis

51

untuk melepaskan nonepinefrin melalui saraf adrenergi dan meningkatkan catecolamin yang dikeluarkan melalui medula adrenal. Kedua, merangsang chemoreseptor di arteri karotis dan aorta bodies dalam meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Ketiga, secara langsung terhadap otot jantung. Menurut Depkes RI Pusat Promkes (2008), telah dibuktikan dalam penelitian bahwa dalam satu batang rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya termasuk 43 senyawa. Bahan utama rokok terdiri dari 3 zat, yaitu 1) Nikotin, merupakan salah satu jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah dengan adanya penyempitan pembuluh darah, peningkatan denyut jantung, pengerasan pembuluh darah dan pengumpalan darah. 2) Tar, dapat mengakibatkan kerusakan sel paruparu dan menyebabkan kanker. 3) Karbon Monoksida (CO), merupakan gas beracun yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen. Gas CO yang dihisap menurunkan kapasitas sel darah merah untuk mengangkut oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati. Di tubuh perokok, tempat untuk O2 ditempati oleh CO, karena kemampuan darah 200 kali lebih besar untuk mengikat CO ketimbang O2. Akibatnya otak, jantung dan organ vital tubuh lainnya akan kekurangan oksigen. Jika jaringan yang kekurangan oksigen adalah otak, maka akan terjadi stroke (kelumpuhan). Bila yang kekurangan oksigen adalah jantung, maka akan terjadi serangan

52

jantung. Zat kimia dalam tembakau dapat merusak lapisan dalam dinding arteri sehingga arteri rentan terhadap penumpukan plak (Depkes, 2008). 2.2.11.1 Jumlah rokok yang dihisap Jumlah rokok yang dihisap dapat dalam satuan batang, bungkus, pak per hari, terbagi atas 3 kelompok yaitu : 1. Perokok Ringan, apabila seseorang menghisap kurang dari 10 batang rokok per hari. 2. Perokok Sedang, apabila seseorang menghisap 10 20 batang rokok per hari. 3. Perokok Berat, apabila seseorang menghisap lebih dari 20 batang rokok per hari (Bustan, 1997). 2.2.11.2 Lama menghisap rokok Menurut Bustan (2000), merokok dimulai sejak umur < 10 tahun atau lebih dari 10 tahun. Semakin awal seseorang merokok makin sulit untuk berhenti merokok. Rokok juga punya doseresponse effect, artinya semakin muda usia merokok, akan semakin besar pengaruhnya. Selain itu, menurut Smet (1994), apabila perilaku merokok dimulai sejak usia remaja, merokok sigaret dapat berhubungan dengan tingkat arterosclerosis. Risiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih dini. Mangku Sitepoe (1997) dalam Suheni (2007), merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 1025

53

mmHg dan menambah detak jantung lima sampai 20 kali per menit. Berdasarkan hasil penelitian eksperimen yang dilakukan oleh petugas U.S Army Medical Corp terhadap enam pria yang merokok (perokok berat) menunjukkan bahwa penyempitan sementara pada arteri setelah merokok. Kecepatan denyut nadi kembali normal lima sampai 15 menit setelah merokok, tetapi pembatasan arteri vaskular bertahan selama setengah sampai satu jam, dalam sejumlah kasus lebih lama lagi (Marvyn, 1987). Asap rokok bukan saja memberikan dampak buruk bagi perokok, melainkan juga bagi orang lain yang menghisap asap rokok tersebut tanpa dirinya sendriri merokok (disebut perokok pasif). Para ilmuwan membuktikan bahwa zat-zat kimia yang dikandung asap rokok dapat mempengaruhi kesehatan orang-orang disekitar perokok yang tidak merokok. Dampak bahaya merokok tidak langsung bisa dirasakan dalam jangka pendek tetapi terakumulasi beberapa tahun kemudian, terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan. Dengan demikian secara nyata dampak rokok berupa kejadian hipertensi akan muncul kurang lebih setelah berusia lebih dari 40 tahun, sebab dipastikan setiap perokok yang menginjak usia 40 tahun ke atas telah menghisap rokok lebih dari 20 tahun. Jika merokok dimulai usia muda, berisiko mendapat serangan jantung menjadi dua kali lebih sering dibanding tidak merokok. Serangan sering terjadi sebelum usia 50 tahun (Depkes, 2008).

54

Setiap tahun tidak kurang dari tiga koma lima sampai lima juta jiwa melayang akibat merokok (sekitar 10.000 orang/hari). Di Negara Cina dilaporkan dari 300 juta populasi laki-laki berusia 0-29 tahun, 200 juta di antaranya memiliki kebiasaan merokok (Cahyono, 2008). Dalam penelitian Sanusi (2002) diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan kejadian hipertensi. Namun, dalam penelitian Hasirungan (2002) didapatkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian hipertensi. 2.2.12 Olahraga atau Aktivitas Fisik Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot

membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh (Supariasa, 2001). Menurut Lee, et all (2002), olahraga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner melalui mekanisme; penurunan denyut jantung dan tekanan darah, penurunan tonus simpatik, meningkatkan diameter arteri koroner, dan sistem kolateralisasi pembuluh darah, meningkatkan HDL dan menurunkan LDL darah. Melalui kegiatan olahraga, jantung dapat bekerja secara lebih efisien. Frekuensi denyut nadi berkurang, namun kekuatan memompa jantung semakin kuat, penurunan kebutuhan oksigen

55

jantung pada intensitas tertentu, penurunan lemak badan dan berat badan serta menurunkan tekanan darah (Cahyono, 2008). Berbagai penelitian menyebutkan bahwa berolahraga secara teratur merupakan intervensi pertama untuk mengendalikan berbagai penyakit degeneratif (tidak menular). Hasilnya secara teratur terbukti bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko stroke, serangan jantung, dan lain-lain. Pengaruh olahraga dalam jangka panjang sekitar empat sampai enam bulan dapat menurunkan tekanan darah sebesar 7,4/5,8 mmHg tanpa bantuan obat hipertensi. Pengaruh penurunan tekanan darah ini dapat berlangsung sampai sekitar 20 jam setelah berolahraga (Sutanto, 2010). Olahraga memerlukan suatu ukuran tertentu agar dapat memberikan kebugaran jasmani. Olahraga yang tidak sesuai dengan patokan, maka yang didapatkan hanya kegembiraan saja, sementara kebugarannya tidak diperoleh. Akibatnya, walaupun seseorang sudah merasa olahraga, tubuhnya tidak sesehat yang diharapkan (Cahyono, 2008). Olahraga secara teratur idealnya dilakukan tiga hingga lima kali dalam seminggu dan minimal 30 menit setiap sesi (Sutanto, 2010). Semakin lama berada dalam zona tersebut akan memberikan efek yang lebih baik. Sebagai contoh, apabila melakukan olahraga yang lamanya mencapai 40 sampai 90 menit bahan bakar yang digunakan sebagai sumber tenaga berasal dari asam lemak. Dengan demikian kadar glukosa darah dan lemak darah (kolesterol) akan digunakan tubuh sehingga kedua kadar zat

56

tersebut akan menuju normal. Namun, olahraga yang berlebihan bisa berdampak tidak baik bagi kesehatan karena tubuh dapat menjadi lelah (Cahyono, 2008). Pemilihan jenis olahraga juga perlu diperhatikan, karena tidak semua jenis olahraga memberikan efek baik bagi tubuh. Terdapat dua jenis olah raga, yaitu: 1. Olahraga isotonik (sering disebut olah raga aerobik), contohnya jenis olahraganya adalah joging, berenang, naik sepeda, dansa dan maraton. Olahraga ini lebih memanfaatkan gerakan kaki daripada lengan. Olah raga aerobik memiliki efek terbesar pada kesegaran fisik dan kesehatan, karena meningkatkan ketahanan kardio-respirasi. 2. Olah aga yang bersifat isometrik (gerak badan statik), lebih banyak melibatkan lengan daripada kaki, misalnya angkat beban. Olahraga ini kurang menguntungkan pada sistem kardio-respirasi. Olahraga isometrik, lebih mengutamakan ketahanan dan kakuatan otot (Cahyono, 2008). Melalui olahraga yang isotonik dan teratur (aktifitas fisik aerobik 30 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Kurang olahraga dapat memperbesar risiko obesitas dan apabila asupan garam bertambah maka akan menambah risiko timbulnya hipertensi (Sutanto, 2010). Hasil penelitian Sanusi (2002) di poli klinik geriatri RSUPN Cipto Mangunkusumo diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara

57

aktifitas fisik dengan hipertensi. Sedangkan penelitian Sugihartono (2007), menyatakan bahwa tidak biasa melakukan olah0raga mempunyai risiko menderita hipertensi sebesar 4,73 kali dan olah raga tidak ideal mempunyai risiko sebesar 3,46 kali dibandingkan orang yang mempunyai kebiasaan olah raga ideal. 2.2.13 Stress Dalam Cahyono (2008), stres adalah respon fisiologik, psikologik, dan perilaku seseorang individu dalam menghadapi penyesuaian diri terhadap tekanan yang bersifat internal maupun eksternal. Sedangkan menurut Hawari (2001), stress adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (stresor psikososial) yang berdampak pada sistem kardiovaskuler. Stresor Psikososial itu sendiri terdiri dari: perkawinan, orangtua, antar pribadi, pekerjaan, lingkungan, keuangan, hukum, perkembangan, penyakit fisik, faktor keluarga, dan trauma. Menurut Depkes RI (2006) dan Sutanto (2010), stres atau ketegangan jiwa (rasa murung, tertekan, marah, dendam, takut dan bersalah). Ketika otak menerima sinyal bahwa seseorang sedang stres, perintah untuk meningkatkan sistem simpatetik berjalan dan mengakibatkan hormon stres dan adrenalin meningkat. Lever melepaskan gula dan lemak dalam darah untuk menambah bahan bakar. Nafas menjadi lebih cepat sehingga jumlah oksigen bertambah. Sehingga menyebabkan kerja jantung menjadi semakin cepat.

58

Sutanto (2010) menjelaskan bahwa pelepasan hormon adrenalin oleh anak ginjal sebagai akibat stres berat akan menyebabkan naikknya tekanan darah dan meningkatkan kekentalan darah yang membuat darah mudah membeku atau menggumpal. Adrenalin juga dapat mempercepat denyut jantung, menyebabkan gangguan irama jantung dan mempersempit pembuluh darah koroner. Dengan demikian aliran darah ke otot jantung akan berkurang atau terhambat sehingga dapat menyebabkan kematian. Seseorang dalam kondisi stres akan mengalami hal-hal seperti mudah jenuh, mudah marah, bertindak secara agresif dan defensif, sulit konsentrasi, pelupa serta selalu merasa tidak sehat. Syaifudin (2006) menambahkan bahwa hubungan stres dengan hipertensi juga dapat meningkatkan retensi air dan garam. Menurut Sarafindo (1990) dalam Smet (1994), stres adalah suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber daya sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Selain itu, stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Peristiwa mendadak menyebabkan stres dapat meningkatkan tekanan darah. Baliwati (2004) mengungkapkan bahwa pekerjaan juga berhubungan dengan tingkat penghasilan. Sementara itu, penghasilan berhubungan dengan gaya hidup seseorang. Berbagai jenis pekerjaan akan menimbulkan

59

respon stress atau tekanan psikis yang berbeda akibat pengahasilan yang dimiliki. Pegawai tetap cenderung lebih stabil daripada pegawai tidak tetap. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Penelitian Caval Cante (1995) dalam Hasirungan (2002), melihat dari 1766 responden, 76 diantaranya hipertensi. Dari observasi diketahui bahwa sebagian besar individu dengan hipertensi memiliki pendapatan keluarga yang rendah dan tingkat pendidikan yang rendah. Sutanto (2010), stres dianggap sebagai suatu yang buruk ketika seseorang tidak mampu menanggulangi stressor dengan baik. Stressor dapat menggangu kesehatan emosi maupun fisik. Berikut ini adalah beberapa cara untuk melepaskan diri dari stres, yaitu : Pertama, memperbaiki kondisi emosi, merelaksasikan tubuh dan otak serta pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Berbagai penelitian mengenai bio-feedback telah menunjukkan bahwa manusia sebenarnya memiliki kamampuan untuk mengendalikan respons relaksasinya dan sejumlah orang yang melakukan bio-feedback, kunci untuk memicu munculnya respons relaksasi ternyata sederhana, yaitu memikirkan hal-hal yang

menyenangkan dan bernapas dengan tenang secara teratur. Hal ini bermanfaat mengatasi stres dengan cepat dan mengurangi jumlah kejadian yang dipersepsikan sebagai stresor. Kedua, aromaterapi. Ketiga, keluar dari stresor atau pemicu stress serta putuskan lingkaran stres. Keempat, seimbangkan pola makan. Untk melakukan diet sehat konsumsilah makanan bergizi tinggi, rendah lemak dan kolesterol, banyak serat, tidak

60

mengandung pengawet, kurangi junkfood serta banyak minum air putih. Kelima, tidur yang berkualitas. Dan merokok.. Hasil penelitian Sigarlaki (2006) di Desa Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah didapatkan bahwa responden yang mengalami stres terhadap jenis hipertensi, didapatkan bahwa responden prehipertensi yang mengaku tidak mengalami stres (6,86%), sementara yang menderita hipertensi grade I (37,25%), dan yang menderita hipertensi grade II (22,57%). Dari hasil pengolahan penyebab stres terhadap hipertensi, didapatkan bahwa sebagian besar responden mengaku penyebab stres terbanyak yang dialami adalah karena ekonomi (47,05%). Hal ini disebabkan karena mereka berpenghasilan rendah. Tingkat pendidikan, status ekonomi dan lingkungan sosial kultural dari seseorang merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan program kesehatan masyarakat (Baliwati, 2004). Penelitian Yuliarti (2007) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi. Namun, penelitian Hasirungan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi. Keenam, hindari alkohol dan

61

2.3 Metode Food Frequency Questioner (FFQ) Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Selain itu dengan metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam daftar kuesioner tersebut adalah yang dikonsumsi dalam frekuensi yang cukup sering oleh responden. Metode frekuensi makanan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah Relative murah dan sederhana, dapat dilakukan sendiri oleh responden, tidak membutuhkan latihan khusus, dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan. Sedangkan kekurangannya adalah tidak dapat untuk menghitung intake zat gizi sehari, sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data, cukup menjemukan bagi pewawancara, diperlukan studi pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner, dan responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi (Supariasa, 2001).

62

2.4 Lansia Menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Sedangkan jika disesuaikan dengan masa pensiun di Indonesia, disebut lansia apabila telah mencapai usia 55 tahun keatas. Menjadi lansia secara alami akan dialami oleh setiap orang. Prosesnya tidak dapat dihindari. Kekuatan fisik dan daya tahan tubuh pada lansia telah menurun, serta mekanisme kerja organ tubuh mulai terganggu. Berikut ini merupakan kadaan fisiologis lansia, yaitu: 1. Proses menjadi tua merupakan proses alami secara fisiologis dan biologis yang terjadi pada seluruh organ dan sel tubuh. 2. Berkurangnya kemampuan sensitifitas indera penciuman dan perasa pada lansia mengakibatkan selera makan menurun. Hal itu sering menyebabkan kurangnya asupan atau penggunaan bumbu, seperti kecap atau garam. Sehingga lansia cenderung berlebih dalam penggunaannya dan hal ini akan berdampak pada menurunnya kesehatan lansia. 3. Kekuatan, ketahanan dan kelenturan otot rangka berkurang, mengakibatkan kepala dan leher terfleksi ke depan, ruas tulang belakang mengalami kifosis, panggul dan lutut juga terfleksi sedikit. Keadaan tersebut menyebabkan postur tubuh terganggu (Arisman (2004) dan Sari (2006)) Selain itu, lansia juga mengalami perubahan dalam lingkungan sosialnya. Menurut Darmojo (2006) dipaparkan bahwa kinerja (fungsi dalam masyarakat) seorang lanjut usia ditentukan oleh 3 faktor, yaitu: faktor fisis, faktor psikologis

63

atau mental, dan faktor sosio-ekonomi. Pensiunan, sebagai sistem pada industrialisasi, dapat merupakan kendala untuk orang-orang usia lanjut terhadap keadaan sosio ekonominya, finansial dan sebagainya. Maka dari itu harus dipersiapkan dengan persiapan pensiun (MPP) yang baik dan terencana. Selain faktor fisis harus juga diperhatikan faktor psikologis atau mental pada usia lanjut tadi, karena pada waktu pensiun akan terjadi kehilangan pada bidang finansial, statuts dan fasilitas, kenalan dan komunikasi. Pada perempuan, faktor psikologis akan banyak terjadi apalagi dengan datangnya klimakterium dan menepouse. 2.4.1 Hipertensi Pada Usia Lanjut Usia lanjut membawa konsekuensi meningkatnya berbagai penyakit kardiovaskular, infeksi dan gagal jantung. TDS (tekanan darah siastolik) meningkat sesuai dengan peningkatan usia, akan tetapi TDD (tekanan darah diastolik) meningkat seiring dengan TDS sampai sekitar usia 55 tahun, yang kemudian menurun oleh karena kekakuan arteri akibat ateroklerosis (Suhardjono, 2006). Di Negara maju saat ini tekanan darah yang terkontrol (TDS <140, TDD <90 mmHg) hanya terdapat 20% pasien hipertensi. Keberhasilan pengobatan yang rendah pada usia lanjut diakibatkan juga oleh karena banyak dokter tidak mengobati hipertensi usia lanjut sampai optimal (kurang dari 140/90). Pada usia lanjut, prevalensi gagal jantung dan stroke tinggi, yang keduanya merupakan akibat dari hipertensi. Oleh karena itu pengobatan hipertensi penting sekali dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular (Suhardjono, 2006).

64

Telah diperhitungkan bahwa seorang pria berusia 55 tahun dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg, mempunyai risiko masalah vascular dalam 10 tahun mendatang sekitar 14%. Baik pria maupun wanita hidup lebih lama dan 50% dari mereka yang berusia di atas 60 tahun akan menderita hipertensi sistolik terisolasi (TDS 160 mmHg dan diatolik 90 mmHg). Dengan menurunkan tekanan darah telah terbukti mengurangi insiden gagal jantung, mengurangi demensia, dan dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif (Gray, 2005). Hasil penelitian riskesdas (2007), menyebutkan bahwa prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia berdasarkan kasus minum obat atau terdiagnosis oleh tenaga kesehatan yakni sebesar 65,2% pada lansia (usia 55 tahun keatas) lebih besar dibandingkan pada usia orang dewasa (usia < 55 tahun) sebesar 22,7%. Menurut data Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (2009), angka prevalensi hipertensi pada lansia sebesar 33,94%. Sedangkan penelitian hasirungan (2002), didapatkan prevalensi pada lansia usia 55 tahun keatas di Kota Depok mencapai 57,5%. Menurut Depkes RI (2000), batas prevalensi kasus hipertensi usia 50 tahun keatas yang ditetapkan mencapai 20-30%. Jika angka prevalensi kasus disebuah wilatah melebihi angka tersebut, maka dapat dikatakan sebagai sebuah kasus yang cukup tinggi.

65

2.5 Kerangka Teori Kerangka teori dalam penelitian ini disusun berdasarkan kesimpulan dari beberapa tinjauan pustaka yang ada, bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi yaitu meliputi umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, etnis, pola konsumsi (konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi air), konsumsi alkohol, merokok, olah raga, stres, serta obesitas. Kerangka teori secara sistematik dapat dilihat sebagai berikut dalam bagan 2.2:

Bagan 2.2 Kerangka Teori Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi Umur

Riwayat keluarga Etnis

Jenis kelamin

HIPERTENSI

Obesitas

Konsumsi Alkohol Stres Merokok -

Pola konsumsi Konsumsi natrium Konsumsi lemak Konsumsi buah dan sayur Konsumsi air Olahraga

Sumber : Modifikasi Almatsier (2001), Gray (2005) dan Sutanto (2010)

66

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep merupakan penyederhanaan dari kerangka teori. Dalam pelaksanaan penelitian berdasarkan kerangka teori yang ada, peneliti memilih beberapa faktor risiko yang fisibel (dapat diukur) untuk diteliti sebagai variabel penelitian. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah hipertensi, sedangkan variabel independennya adalah jenis kelamin, riwayat keluarga, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi air, olah raga, merokok, stres, dan obesitas. Dalam penelitian ini terdapat variabel independen yang tidak akan diteliti berdasarkan suatu alasan, berikut ini adalah variabel yang tidak diteliti meliputi: 1. Variabel umur, tidak diikutsertakan karena semua sampel adalah usia 55 tahun keatas yang termasuk dalam kategori lanjut usia dan responden dengan usia tersebut memiliki risiko yang sama untuk terkena hipertensi. 2. Variabel etnis, merupakan faktor risiko yang kurang tepat diteliti karena lokasi penelitian mayoritas penduduknya mempunyai etnis atau ras yang sama atau homogen. 3. Variabel riwayat keluarga, tidak diikutsertakan dalam penelitian ini karena akan menimbulkan bias tinggi. Hal ini disebabkan lansia hampir seluruhnya tidak mengetahui penyakit apa yang pernah diderita oleh orang tuanya.

67

4. Variabel konsumsi alkohol, tidak diikutsertakan karena berdasarkan informasi dari petugas kesehatan di Puskesmas Kampung Sawah, para lansia tidak mengkonsumsi alkohol. Berikut ini merupakan bagan dari kerangka konsep penelitian, yakni: Bagan 3.1 Kerangka Konsep Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Hipertensi Variabel Independen Jenis kelamin Pola konsumsi - Konsumsi natrium - Konsumsi lemak - Konsumsi buah dan sayur - Konsumsi air Olahraga Merokok Stress Obesitas Variabel Dependen

Kejadian Hipertensi

68

3.2 Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Hipertensi No 1 Variabel Hipertensi Definisi Operasional Kondisi seseorang yang memiliki tekanan darah sistolik 140 mmHg dan diastolik 90mmHg atau keduanya. Dikatakan hipertensi apabila pernah melakukan pengukuran tekanan darah dan hasilnya tetap tinggi setelah diperiksa 3 kali dalam waktu yang berbeda. Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur 0. Hipertensi, jika TDS 140 & atau TDD 90 1. Tidak hipertensi, jika TDS <140 & atau TDD <90 mmHg (Kategori JNC-7, 2003) Skala Ukur Ordinal

Jenis kelamin

Tanda-tanda seks sekunder yang diperlihatkan seseorang Jumlah konsumsi bahan makanan yang mengandung

Spyghmom - Tekanan darah anometer diukur dalam posisi Air Rakasa beridiri/duduk, dan penurunan lengan Stetoskop dari posisi hampir mendatar/setinggi jantung ke posisi hampir vertikal, - Dilakukan setelah responden istirahat selama 5 menit, dilakukan 2 kali dengan jarak 5-10 menit. - Auskultasi dengan stetoskop (Gray, 2005) Kuesioner Pengamatan

Konsumsi natrium

FFQ semi kuantitatif

Wawancara mendalam

0. Perempuan 1. Laki-laki (Darmodjo, 1993 dalam Hasirungan, 2002) 0. Lebih, jika konsumsi natrium 876gram/tahun

Ordinal

Ordinal

69

No

Variabel

Definisi Operasional sumber natrium (makanan asin) oleh responden dan diakumulasikan dalam jangka waktu maksimal satu tahun Jumlah konsumsi bahan makanan yang mengandung sumber lemak oleh responden dan diakumulasikan dalam jangka waktu maksimal satu tahun

Alat Ukur

Cara Ukur

Hasil Ukur 1. Cukup, jika konsumsi natrium < 876gram/tahun (Almatsier, 2006)

Skala Ukur

Konsumsi lemak

FFQ semi kuantitatif

Wawancara mendalam

Konsumsi Buah Jumlah konsumsi buah dan dan Sayur sayur oleh responden yang diakumulasikan dalam jangka waktu satu hari Konsumsi air Jumlah konsumsi air putih oleh responden dalam yang diakumulasikan dalam jangka waktu satu hari Kegiatan latihan fisik sehari-hari yang dilakukan

FFQ semi kuantitatif

Wawancara mendalam

Kuesioner

Wawancara

Olah raga

Kuesioner

Wawancara

0. Lebih, jika konsumsi lemak pada laki-laki =>16.608 gram/tahun, perempuan = > 12.956 gram/tahun 1. Cukup, jika konsumsi lemak pada laki-laki = 16.608 gram/tahun, perempuan = 12.956 gram/tahun (Depkes (2003) & AKG (2004) 0. Kurang, jika konsumsi buah dan sayur < 400 gram/hari 1. Cukup, jika konsumsi buah dan sayur 400 gram/hari (Dauchet et al., 2007) 0. Kurang, jika konsumsi air putih < 8 Gelas/hari 1. Cukup, jika konsumsi air putih 8 gelas/hari (Depkes, 2003) 0. Tidak, jika tidak olahraga/olahraga tapi tidak rutin

Ordinal

Ordinal

Ordinal

Ordinal

70

No

Variabel

Definisi Operasional seseorang secara teratur agar dapat memberikan kebugaran jasmani dalam seminggu minimal 30 menit/3-4 kali seminggu Kebiasaan/perilaku menghisap rokok dan pernah merokok dalam kehidupan responden Suatu keadaan non spesifik yang dialami individu akibat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan yang melebihi daya dan kemampuan responden untuk mengatasinya dengan efektif Kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan yang dikategorikan dengan IMT (Waspadji, 2003)

Alat Ukur

Cara Ukur

Hasil Ukur 1. Ya, jika Olahraga 30-45 menit, 3-4 kali/minggu (Depkes, 2006)

Skala Ukur

Merokok

Kuesioner

Wawancara

0. Merokok/Pernah merokok 1. Tidak merokok (Depkes, 2008) Terdiri dari 20 butir pertanyaan 0. Stres, jika menjawab 6 pertanyaan jawaban ya 1. Tidak stres, jika menjawab < 6 pertanyaan jawaban ya (Depkes, 2008)

Ordinal

Stres

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

10

Obesitas

Timbangan digital dan Meteran

IMT = BB/TB2 0. Obesitas, jika IMT Lansia yang > 25 kg/m2 membungkuk ukuran 1. Tidak obesitas, jika IMT TB diganti dg rentang 25 kg/m2 s lengan, rumus: (Depkes, 2006) Lk =53,4+(0,67xPRT) PR=81,0+(0,48xPRT)

Ordinal

71

3.3 Hipotesis 1. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 2. Ada hubungan antara konsumsi natrium dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 3. Ada hubungan antara konsumsi lemak dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 4. Ada hubungan antara konsumsi buah dan sayur dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 5. Ada hubungan antara konsumsi air dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 6. Ada hubungan antara olah raga dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 7. Ada hubungan antara merokok dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011.

72

8. Ada hubungan antara stres dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011. 9. Ada hubungan antara obesitas dengan hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2011.

73

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional, yaitu mempelajari hubungan antara variabel dependen (hipertensi) dan variabel independen (jenis kelamin, riwayat keluarga, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, olahraga, merokok, stres, dan status gizi/IMT melalui pengukuran sesaat atau hanya satu kali saja serta dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Desain cross sectional digunakan berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan Tahun 2011.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan 4.2.2 Waktu Penelitian Dilaksanakan pada bulan Oktober 2011. 2010 sampai dengan Maret

74

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan dari unit didalam pengamatan yang akan dilakukan (Sabri, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lanjut usia 55 tahun (lansia) yang ada di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang nilai/karakteristiknya diukur dan yang nantinya dipakai untuk menduga karakteristik dari populasi (Sabri, 2008). Sampel dalam penelitian ini diperoleh dari perhitungan dengan rumus uji hipotesis beda dua proporsi (Ariawan, 1998), yaitu sebagai berikut: [Z1-/22P(1-P)+Z1- P1(1-P1)+P2(1-P2)]2 n= (P1-P2)2 Keterangan : n = Besar sampel

Z1-/2 = Nilai Z pada derajat kepercayaan 1-/2 atau derajat kepercayaan pada uji dua sisi (two tail), yaitu sebesar 5% = 1,96 Z 1- = Nilai Z pada kekuatan uji 1- , yaitu sebesar 80% = 0,84 P P1 = Proporsi rata-rata = (P1-P2)/2 = Proporsi lansia dengan status gizi (IMT) lebih (86,4%) yang menderita hipertensi (Yuliarti, 2007) P2 = Proporsi lansia dengan statuts gizi (IMT) tidak lebih (61,0%)

75

yang menderita hipertensi (Yuliarti, 2007) Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus tersebut, diperoleh jumlah sampel minimal sebanyak 48 orang yang kemudian dikalikan dua menjadi 96. Untuk mengantisipasi ketidaklengkapan data, maka besar sampel ditambahkan oleh peneliti sehingga total sampel dalam penelitian ini berjumlah 105 orang lansia. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode simple random sampling, dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Melakukan pendataan para lansia yang sedang berada dirumah dari para pengurus wilayah setempat seperti kader posbindu, kader posyandu, Ibu atau Bapak RT maupun RW. 2. Melakukan pengambilan secara acak terhadap beberapa lansia yang terdaftar dalam kerangka sampel sampai terambil 105 orang lansia. Sampel yang diikut sertakan pada penelitian ini memiliki kriteria tertentu yaitu sebagai berikut: 1. Kriteria inklusi, terdiri dari: a. Seluruh lansia berusia 55 tahun yang ada di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan dan bersedia menjadi responden b. Dapat berkomunikasi dengan baik. 2. Kriteria eksklusi, terdiri dari:

76

a. Lansia yang memiliki penyakit demensia (pikun atau pelupa), perubahan tingkah laku, atau penyakit lain (seperti stroke atau lumpuh) b. Lansia yang sedang menjalani terapi pengobatan anti hipertensi baik kimia atau tradisional dan diet penyakit hipertensi dengan teratur. Diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan responden maupun anggota keluarganya. c. Subyek meninggal dunia atau tidak ditemukan.

4.4 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo, 2005). Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut: 1. Alat Spyghmomanometer air raksa dan stetoskop, digunakan untuk pengukuran penyakit hipertensi atau penentuan nilai tekanan darah (sistole dan diastole). 2. Kuesioner, yang berisi sejumlah pertanyaan mengenai jenis kelamin, konsumsi air, olahraga, merokok, dan stres. 3. Formulir FFQ semi kuantitatif, yang digunakan untuk mengetahui tingkat konsumsi: natrium, lemak, serta buah dan sayur ukuran. 4. Timbangan digital dan meteran (mikrotoa). Timbangan digunakan untuk mengetahui berat badan (BB) responden, sedangkan meteran untuk mengetahui panjang rentang tangan (PRT) atau tinggi badan (TB).

77

Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui status gizi (obesitas) pada responden dengan metode IMT yang berasal dari data berat badan dan tinggi badan.

4.5 Pengumpulan Data Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara, pengisian kuesioner dan pengukuran variabel penelitian yang dilakukan langsung oleh peneliti. Sebelum dilakukan pengukuran data primer, peneliti melakukan uji coba kuesioner terlebih dahulu dan dilakukan terhadap lansia di wilayah lain yang bukan sampel. Uji coba ini dilakukan untuk mendapat kejelasan dari setiap pertanyaan yang dibuat. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. 4.5.1 Data Primer Data primer diperoleh diperoleh secara langsung dari responden. Yang terdiri dari : 1. Data tekanan darah atau hipertensi, diperoleh dengan menggunakan alat Spyghmomanometer air raksa dan stetoskop sesuai prosedur pengukuran tekanan darah yang benar. Dilakukan sebanyak 2 kali dengan posisi pengukuran yang sama dan hasilnya diambil dari ratarata 2 pengukuran terakhir. Selain itu, peneliti juga melakukan pengecekan terhadap data hasil diagnosis dan pemeriksaan

laboratorium yang ada sebagai data pendukung jika responden

78

memilikinya. Bagi responden yang telah terdianosis memiliki hipertensi oleh dokter atau tenaga kesehatan dan sering memeriksakan tekanan darahnya secara teratur, pengukuran tekanan darah hanya dilakukan 1 kali pengukuran. Tetapi, jika tidak atau belum pernah terdiagnosis hipertensi maka peneliti melakukan pengukuran tekanan darah sebanyak 3 kali dalam kurun waktu tidak lebih dari 1 minggu. Dalam penelitian dikatakan hipertensi jika tekanan sistolik 140 mmHg secara terus menerus, tekanan diastolik 90 mmHg secara terus menerus atau keduanya dan tidak hipertensi jika tekanan sistolik < 140 mmHg dan atau tekanan diatolik < 90 mmHg. Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam kondisi sebagai berikut: a. Dalam keadaan tenang, santai, tidak stress atau sedang mengalami suatu masalah berat. b. Beristirahat 5-10 menit terlebih dahulu, setelah responden sedang melakukan suatu pekerjaan yang berat. c. Tidak diperbolehkan merokok atau minum kopi 30 menit sebelum pengukuran tekanan darah. 2. Data konsumsi natrium, konsumsi lemak serta konsumsi buah dan sayur didapatkan dari pengukuran menggunakan form FFQ semi kuantitatif. Bahan makanan sudah terlebih dahulu disurvey. Form FFQ berisi: 1) daftar bahan makanan (sumber natrium, lemak dan buah dan sayur) dengan kadar zat gizi pada masing-masing makanan

79

dan kadar ukuran rumah tangga, 2) frekuensi konsumsi bahan makanan tersebut, 3) jumlah bahan makanan yang dikonsumsi (URT dan berat/gr) dalam sekali makan. Setelah form terkumpul dan diisi akan diolah. Pertama, mengkalikan antara frekuensi konsumsi dengan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi per sekali makan dalam ukuran gram. Lalu hasil yang didapat akan dikalikan dengan nilai zat gizi dari natrium dan lemak. Sedangkan konsumsi buah dan sayur tidak perlu dikalikan dengan nilai gizinya, cukup dengan mengkalikan gram yang dikonsumsi setiap harinya dengan frekuensi sekali makan. Nilai gizi dari setiap sumber bahan makanan dianalisis menggunakan software nutri survey dan DKBM (daftar konsumsi bahan makanan). 3. Data jenis kelamin, konsumsi air, olah raga, merokok, dan stres didapat dari wawancara terstruktur dengan bantuan kuesioner. Pengisian kuesioner dalam penelitian ini diisi langsung oleh peneliti. 4. Data obesitas, diperoleh dari pengukuran berat badan (BB) dengan menggunakan timbangan dan tinggi badan (TB) dengan menggunakan mikrotoa/meteran. Jika responden masih bisa berdiri tegak maka yang diukur adalah TB dengan melepas alas kaki, tetapi jika responden sudah membungkuk atau tidak dapat berdiri tegak maka yang diukur adalah PRT. Pengukuran PRT digunakan untuk mengganti data TB bagi lansia yang sudah membungku/tidak dapat berdiri tegak. Rumus dari ukuran rentang lengan (PRT), yaitu: TB laki-laki= 53,4 + (0,67 x PRT) dan TB perempuan= 81,0 + (0,48 x PRT) (Arisman, 2010).

80

Sedangkan pengukuran BB responden juga diminta untuk melepas alas kaki dan berdiri dengan tegak diatas timbangan. Kemudian untuk mendapatkan hasil status gizi (obesitas), maka digunakan rumus : BB (kg)/TB (m)2. 4.5.2 Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari : 1. Laporan LB-3 Dinas Kesehatan Tangerang Selatan tahun 2009 berupa data tingginya prevalensi lansia yang menderita hipertensi sewilayah Tangsel, yakni sebesar 33,94 %. 2. Arsip Puskesmas Kampung Sawah berupa data rekam medis mengenai tingginya prevalensi lansia yang menderita hipertensi di wilayah Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, yakni sebesar 32,4 %. 3. Arsip Kelurahan Sawah Baru berupa data profil Kelurahan Sawah baru dan data yang berhubungan dengan lansia di wilayah Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

4.6 Pengolahan Data Pengolahan data merupakan salah satu bagian rangkaian kegiatan penelitian setelah kegiatan pengumpulan data. Data mentah (raw data) yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah sehingga menjadi sumber yang dapat digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer.

81

Tahapan pengolahan data melalui beberapa proses yakni sebagai berikut : 1. Editing data Tahap ini merupakan kegiatan penyutingan data yang telah terkumpul dengan cara memeriksa kelengkapan data dan kesalahan pengisian kuesioner untuk memastikan data yang diperoleh telah lengkap dapat dibaca dengan baik, relevan, dan konsisten. 2. Coding data Setelah melakukan proses editing kemudian dilakukan pengkodean pada jawaban dari setiap pertanyaan terhadap setiap variabel sebelum diolah dengan komputer, dengan tujuan untuk memudahkan dalam melakukan analisa data. Adapun pengkodean untuk setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Hipertensi, diberi kode 0 = Hipertensi, jika TDS 140 & atau TDD 90, atau TDS 140 dan TDD <90/mengkonsumsi obat antihipertensi, dan kode 1 = Tidak hipertensi, jika TDS <140 & atau TDD <90 mmHg. b. Jenis kelamin, diberi kode 0 = Perempuan, dan kode 1 = Laki-laki c. Konsumsi natrium, diberi kode 0 = Lebih, jika konsumsi natrium 876 gram/tahun, dan kode 1 = Cukup, jika konsumsi natrium <876 gram/tahun. d. Konsumsi lemak, diberi kode 0 = Lebih, jika konsumsi lemak pada laki-laki: >16.608 gram/tahun, perempuan: >12.956 gram/tahun, dan

82

kode 1 = Cukup, jika konsumsi lemak pada laki-laki: 16.608 gram/tahun, perempuan: 12.956 gram/tahun. e. Konsumsi buah dan sayur, diberi kode 0 = Kurang, jika konsumsi buah dan sayur <400 gram/hari, dan kode 1 = Cukup, jika konsumsi buah dan sayur 400 gram/hari. f. Konsumsi air, diberi kode 0 = Kurang, jika konsumsi air putih <8 Gelas/hari, dan kode 1 = Cukup, jika konsumsi air putih 8 gelas/hari. g. Olahraga, diberi kode 0 = Tidak, jika Tidak Olahraga/Olahraga Tapi Tidak Rutin, dan kode 1 = Ya, jika Olahraga 30-45 menit, 3-4 kali/minggu. h. Merokok, diberi kode 0 = Merokok atau Pernah merokok, dan kode 1 = Tidak merokok. i. Stres, diberi kode 0 = Stres, jika menjawab 6 pertanyaan jawaban ya, dan kode 1 = Tidak stres, jika menjawab <6 pertanyaan jawaban ya. j. Obesitas, diberi kode 0 = Obesitas, jika IMT > 25 kg/m2, dan kode 1 = Tidak Obesitas, jika IMT 25 kg/m2. 3. Data structure dan Data file Membuat struktur data (data structure) dan file data (data file), yaitu membuat tamplate sesuai dengan format kuisioner yang digunakan 4. Entry data

83

Tahap ini merupakan proses memasukkan data dari kuesioner ke dalam komputer untuk kemudian diolah dengan bantuan perangkat lunak komputer. 5. Cleaning Pada tahap ini dilakukan proses pengecekan kembali dan pemeriksaan kesalahan pada data yang sudah dientry untuk diperbaiki dan disesuaikan dengan data yang telah dikumpulkan.

4.7 Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat. 4.7.1 Analisis Univariat Analisis univariat digunakan untuk melihat menyajikan dan mendeskripsikan karakteristik data variabel dependen yaitu hipertensi maupun independen yaitu yaitu jenis kelamin, riwayat keluarga, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi air, olahraga, merokok, stres, dan obesitas yang diteliti. Penyajian data yang diolah berupa tabel distribusi frekuensi. 4.7.2 Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat kemungkinan adanya hubungan yang bermakna antara variabel dependen, yaitu hipertensi dengan variabel independen yaitu jenis kelamin, riwayat keluarga, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi

84

air, olahraga, merokok, stres, dan obesitas. Analisa bivariat ini menggunakan uji chi square dengan rumus : (O-E)2 X = E DF = (k-1)(b-1) Keterangan : X2 = Chi square O = Nilai observasi E = Nilai Ekspektasi k = jumlah kolom b = jumlah baris Melalui uji statistik chi square akan diperoleh nilai p, dimana dalam penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Penelitian antar dua variabel dikatakan bermakna jika mempunyai nilai P 0,05 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara variabel dependen dan variabel independen. Namun sebaliknya, bila nilai P > 0,05 berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara variabel dependen dan variabel independen.
2

85

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 5.1.1 Keadaan Geografi Kelurahan Sawah Baru merupakan salah satu bagian dari wilayah kerja Puskesmas Kampung Sawah dengan luas wilayah 298,153 Ha/Km2, yang terletak di Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Sawah Baru adalah sebagai berikut: Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Pondok Pucung dan Kelurahan Pondok Aren. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Serua Indah. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Jombang. Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Sawah.

5.1.2 Keadaan Demografi Kelurahan Sawah Baru terdiri dari 9 RW, 51 RT dan 4.601 KK (kepala keluarga). Jumlah penduduk Kelurahan Sawah Baru berdasarkan data survei Kelurahan Sawah Baru tahun 2009 sebanyak 19.409 jiwa, terdiri dari 9.787 jiwa penduduk laki-laki dan 9.622 jiwa penduduk perempuan. Komposisi penduduk usia lanjut (55 tahun keatas) menurut kelompok umur sebesar 3,09% dari total penduduk. Laki-laki umur 55 tahun keatas sebesar 303 jiwa dan perempuan sebesar 298 jiwa.

86

Jumlah penduduk Kelurahan Sawah baru berdasarkan jenis pekerjaan, sebagian besar sebagai: pelajar atau mahasiswa sebesar 5103 jiwa (26%), belum atau tidak bekerja sebesar 4010 jiwa (20,6%), IRT (ibu rumah tangga) sebesar 3115 jiwa (16,3%), dan buruh 2470 jiwa (12,7%). Selebihnya berprofesi sebagai karyawan BUMN/BUMD/Swasta, pedagang, guru, PNS/TNI/POLRI, pensiunan, dan lain-lain. Penduduk Kelurahan Sawah Baru menurut tingkat pendidikan terdiri dari tidak atau belum sekolah 2.704 jiwa, belum tamat SD 2.8.47 jiwa, tamat SD 3.230 jiwa, SLTP 3.760 jiwa, SLTA 4.643 jiwa, Akademik atau Diploma III 876 jiwa dan Strata I, II, III 1.349 jiwa. Berdasarkan data profil Kota Tangerang Selatan pada tahun 2009 jumlah fasilitas kesehatan di Kelurahan Sawah Baru terdiri dari 1 Puskesmas Pembantu, 2 Klinik Umum/Gigi/Bersalin, 2 Rumah Bersalin, 5 Dokter Praktek, 8 Bidan Praktek, dan 20 Posyandu. Tenaga kesehatan terdiri dari dokter umum 5 orang, dokter anak 2 orang, dokter kandungan 2 orang, dokter gigi 2 orang, dokter spesialis lainnya 3 orang, bidan 7 orang, perawat 18 orang dan dukun bayi atau beranak 7 orang. Kelurahan Sawah Baru memiliki beberapa sarana pendukung lain, meliputi: 1) Sarana peribadatan (mesjid dan mushola), 2) Sarana pendidikan (kelompok bermain, TK, SD, SLTP, SLTA, dan PONPES), 3) Sarana olah raga (lapangan sepak bola, futsal, volley, badminton, basket, dan kolam renang umum), 4) Sarana perdagangan (pertokoan/ruko, pasar swalayan/toserba, restoran/rumah makan, dan warung), 5) Sarana Hiburan

87

(Bilyar), 6) Sarana perbankan dan koperasi (Bank Perkreditan Rakyat, koperasi non KUD dan koperasi jasa keuangan syariah), 7) Sarana jalan dan jembatan.

5.2 Gambaran Hasil Analisis Univariat Analisis univariat adalah distribusi frekuensi untuk mendapatkan gambaran dari variabel dependen dan variabel independen. 5.2.1 Gambaran Kejadian Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Keadaan hipertensi didapatkan dengan cara pengukuran tekanan darah menggunakan alat sphygmomanometer air raksa dan stetoskop. Hasil didapatkan dari rata-rata pengukuran yang dilakukan pada lengan kanan dan lengan kiri. Hasil pengukuran hipertensi yang didapat dalam penelitian ini akan dibandingkan berdasarkan The Joint National Committe on Prevention, Detection Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC-7) tahun 2003. Nilai batas dikatakan terdiagnosis hipertensi yaitu memiliki tekanan darah sistolik (TDS) 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik (TDD) 90 mmHg. Rata-rata tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD) lansia masih tergolong tinggi sesuai standar JNC, yaitu TDS sebesar 148,67 mmHg dan TDD sebesar 91,28 mmHg, dengan standar deviasi TDS 22,631 mmHg dan TDD 10,261 mmHg. Selain itu diketahui pula nilai tekanan darah terendah yaitu 110 mmHg untuk TDS serta 70 mmHg untuk

88

TDD dan pula nilai tekanan darah tertinggi yaitu 230 mmHg untuk TDS serta 125 mmHg untuk TDD. Adapun gambaran kejadian hipertensi pada kelompok lanjut usia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 5.1 Distibusi Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Kejadian Hipertensi Jumlah Persentase Hipertensi 69 65,7 Tidak hipertensi 36 34,9 Total 105 100 Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa sebanyak 69 lansia (65,7%) menderita hipertensi. Hasil tersebut menunjukkan proporsi lansia yang menderita hipertensi lebih banyak daripada proporsi lansia yang tidak menderita hipertensi. 5.2.2 Gambaran Jenis Kelamin pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Gambaran distribusi frekuensi jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.2 dibawah ini: Tabel 5.2 Distibusi Frekuensi Jenis Kelamin pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Jenis Kelamin Jumlah Persentase Perempuan 70 66,7 Laki-laki 35 33,3 Total 105 100

89

Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa sebanyak 70 lansia (66,7%) berjenis kelamin perempuan. Hasil tersebut menunjukkan proporsi lansia yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada proporsi lansia yang berjenis kelamin laki-laki. 5.2.3 Gambaran Konsumsi Natrium pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi natrium didapatkan dengan cara wawancara

menggunakan metode Food Frequency Questionare Semi Quantitative. Hasil wawancara tersebut dibandingkan dengan angka kebutuhan konsumsi natrium menurut WHO (1990), yaitu 2400 mg/hari atau setara akumulasi dalam waktu 1 tahun yaitu 876 gr. Rata-rata konsumsi natrium lansia masih lebih dari angka kebutuhan konsumsi yang dianjurkan, yaitu sebesar 920,04 gram/tahun, dengan standar deviasi 117,177 gram. Selain itu diketahui pula konsumsi natrium terendah yaitu 605 gram/tahun dan konsumsi natrium tertinggi yaitu 1.378 gram/tahun. Adapun gambaran distribusi frekuensi konsumsi natrium dapat dilihat pada tabel 5.3 dibawah ini: Tabel 5.3 Distibusi Frekuensi Konsumsi Natrium pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi Natrium Jumlah Persentase Lebih 66 62,9 Cukup 39 37,1 Total 105 100

90

Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa sebanyak 66 lansia (62,9%) mengkonsumsi natrium dalam jumlah berlebih. Hal tersebut menunjukkan bahwa proporsi lansia yang konsumsi natriumnya berlebih jumlahnya lebih banyak daripada proporsi lansia yang konsumsi natriumnya cukup. 5.2.4 Gambaran Konsumsi Lemak pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi lemak didapatkan dengan cara wawancara menggunakan metode Food Frequency Questionare Semi Quantitative. Hasil wawancara tersebut dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG) tahun 2004 yang diakumulasikan dalam setahun. Nilai konsumsi lemak dikatakan cukup, yaitu sebesar 16.608 gr/tahun bagi lansia laki-laki dan 12 956 gr/tahun bagi lansia perempuan. Nilai Rata-rata konsumsi lemak lansia masih dalam batas cukup dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan, yaitu sebesar 8.708,61 gram/tahun, dengan standar deviasi 2.111,36 gram/tahun. Selain itu diketahui pula konsumsi lemak terendah yaitu 1.844 gram/tahun dan konsumsi lemak tertinggi yaitu 15.284 gram/tahun. Adapun gambaran distribusi frekuensi konsumsi lemak dapat dilihat pada tabel 5.4 dibawah ini: Tabel 5.4 Distibusi Frekuensi Konsumsi Lemak pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi Lemak Jumlah Persentase Lebih 5 4,8 Cukup 100 95,2 Total 105 100

91

Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa sebanyak 100 lansia (95,2%) mengkonsumsi lemak dalam jumlah cukup. Hal tersebut menunjukkan bahwa proporsi lansia yang konsumsi lemaknya cukup lebih banyak daripada proporsi lansia yang konsumsi lemaknya lebih. 5.2.5 Gambaran Konsumsi Buah dan Sayur pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi buah dan sayur didapatkan dengan cara wawancara menggunakan metode Food Frequency Questionare Semi Quantitative. Hasil wawancara tersebut dibandingkan dengan angka kebutuhan konsumsi buah dan sayur dalam sehari menurut depkes, yaitu dikatakan cukup bila 400 gr/hari. Rata-rata konsumsi buah dan sayur lansia masih kurang dari angka kecukupan konsumsi yang dianjurkan, yaitu sebesar 205,75 gram/hari, dengan standar deviasi 101,26 gram/hari. Selain itu diketahui pula konsumsi buah dan sayur terendah yaitu 59 gram/hari dan konsumsi buah dan sayur tertinggi yaitu 561 gram/hari. Adapun gambaran distribusi frekuensi konsumsi buah dan sayur dapat dilihat pada tabel 5.5 dibawah ini: Tabel 5.5 Distibusi Frekuensi Konsumsi Buah dan Sayur pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi Buah dan Sayur Jumlah Persentase Kurang 97 92,4 Cukup 8 7,6 Total 105 100

92

Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa sebanyak 97 lansia (92,4%) mengkonsumsi buah dan sayur dalam jumlah kurang. Hal tersebut menunjukkan bahwa proporsi lansia yang konsumsi buah dan sayurnya kurang lebih banyak daripada proporsi lansia yang konsumsi buah dan sayurnya cukup. 5.2.6 Gambaran Konsumsi Air pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Gambaran distribusi frekuensi konsumsi air dapat dilihat pada tabel 5.6 dibawah ini: Tabel 5.6 Distibusi Frekuensi Konsumsi Air pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Konsumsi Air Jumlah Persentase Kurang 53 50,5 Cukup 52 49,5 Total 105 100 Berdasarkan tabel 5.6 diketahui bahwa sebanyak 53 lansia (50,5%) konsumsi airnya kurang. Hal tersebut menunjukkan proporsi lansia yang konsumsi airnya kurang lebih banyak daripada proporsi lansia yang konsumsi airnya cukup. Selain itu diketahui pula informasi tentang banyaknya konsumsi air dalam gelas yang dikatakan kurang. Lansia yang mengkonsumsi air lima gelas/hari sebanyak lima lansia (4,8%) dan enam sampai tujuh gelas/hari sebanyak 48 lansia (45,7%).

93

5.2.7 Gambaran Kegiatan Olah Raga pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Gambaran distribusi frekuensi kegiatan olah raga dapat dilihat pada tabel 5.7 dibawah ini: Tabel 5.7 Distibusi Frekuensi Kegiatan Olah Raga pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Kegiatan Olah Raga Jumlah Persentase Tidak Olah Raga 52 49,5 Olah Raga 53 50,5 Total 105 100 Berdasarkan tabel 5.7 diketahui bahwa sebanyak 53 lansia (50,5%) melakukan kegiatan olah raga. Hal ini menunjukkan bahwa proporsi lansia yang melakukan kegiatan olah raga lebih banyak daripada proporsi lansia yang tidak melakukan kegiatan olah raga. 5.2.8 Gambaran Merokok pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Gambaran distribusi frekuensi merokok dapat dilihat pada tabel 5.8 dibawah ini: Tabel 5.8 Distibusi Frekuensi Merokok pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Merokok Jumlah Persentase Merokok/Pernah merokok 41 39 Tidak merokok 64 61 Total 105 100 Berdasarkan tabel 5.8 diketahui bahwa sebanyak 64 lansia (61%) tidak merokok. Hal tersebut menunjukkan proporsi lansia yang tidak

94

merokok lebih banyak daripada proporsi lansia yang merokok/pernah merokok. Selain itu diketahui pula bahwa dari 41 lansia yang merokok 20 lansia diantaranya sudah berhenti merokok. 5.2.9 Gambaran Kejadian Stres pada Lansia Di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Gambaran distribusi frekuensi kejadian stres dapat dilihat pada tabel 5.9 dibawah ini: Tabel 5.9 Distibusi Frekuensi Kejadian Stress pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Kejadian Stres Jumlah Persentase Stres 65 61,9 Tidak stres 40 38,1 Total 105 100 Berdasarkan tabel 5.9 diketahui bahwa sebanyak 65 lansia (61,9%) mengalami kejadian stress. Hal tersebut menunjukkan proporsi lansia yang mengalami stress lebih banyak daripada proporsi lansia yang tidak mengalami stress. 5.2.10 Gambaran Kejadian Obesitas pada Lasia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Kejadian obesitas didapatkan dari hasil pengukuran tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) dengan menggunakan rumus IMT (kg/m2). Hasi pengukuran tersebut dibandingkan dengan klasifikasi IMT berdasarkan Depkes (2006). Nilai seseorang dikategorikan mengalami obesitas, yakni nilai IMT > 25 kg/m2. Rata-rata IMT lansia dalam masih dalam kategori

95

tidak obesitas atau normal (IMT 25 kg/m2), yaitu sebesar 23,41 kg/m2, dengan standar deviasi 3,86 kg/m2. Selain itu, diketahui pula nilai IMT terendah yaitu 14,8 kg/m2 dan nilai IMT tertinggi yaitu 33,7 kg/m2. Gambaran distribusi frekuensi kejadian obesitas dapat dilihat pada tabel 5.10 dibawah ini: Tabel 5.10 Distibusi Frekuensi Kejadian Obesitas pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Kejadian Obesitas Jumlah Persentase Obesitas 28 26,7 Tidak obesitas 77 73,3 Total 105 100 Berdasarkan tabel 5.10 diketahui bahwa sebanyak 77 lansia (73,3%) tidak mengalami obesitas. Hal tersebut menunjukkan proporsi lansia yang tidak mengalami obesitas lebih besar daripada proporsi lansia yang obesitas.

5.3 Gambaran Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat bertujuan mengetahui hubungan dan besar risiko dari masing-masing faktor risiko (variabel independen) dan kejadian hipertensi (variabel dependen) dengan menggunakan uji Chi Square. Dikatakan bermakna jika nilai p 0,05 dan tidak bermakna jika mempunyai nilai p > 0,05. Gambaran dari analisis bivariat akan disajikan dalam sub bab dibawah ini.

96

5.3.1 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat jenis kelamin dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.11 dibawah ini: Tabel 5.11 Hubungan Jenis Kelamin dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Jenis Hipertensi Tidak value Kelamin Hipertensi N % N % N % Perempuan 46 65,7 24 34,3 70 100 1,000 23 65,7 12 34,3 35 100 Laki-laki 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.11, hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 70 responden yang jenis kelaminnya perempuan, terdapat 46 responden (65,7%) yang menderita hipertensi. Sedangkan diantara 35 responden yang jenis kelaminnya lakilaki, terdapat 23 responden (65,75%) yang menderita hipertensi. Dari hasil uji statistic diperoleh nilai Pvalue sebesar 1,000. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.2 Hubungan antara Konsumsi Natrium dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara konsumsi natrium dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.12 dibawah ini:

97

Tabel 5.12 Hubungan Konsumsi Natrium dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Konsumsi Hipertensi Tidak value Natrium Hipertensi N % N % N % 65 98,5 1 1,5 66 100 Lebih 0.000 4 10,3 35 89,7 39 100 Cukup 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.12, hasil analisis hubungan antara konsumsi natrium dalam satu tahun terakhir dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 66 responden yang konsumsi natriumnya lebih, terdapat 65 responden (98,5%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 39 responden yang konsumsi natriumnya cukup, terdapat empat responden (10,3%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistic diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya ada hubungan yang bermakna antara konsumsi natrium dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.3 Hubungan antara Konsumsi Lemak dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara konsumsi lemak dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.13 dibawah ini:

98

Tabel 5.13 Hubungan Konsumsi Lemak dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Konsumsi Hipertensi Tidak value Lemak Hipertensi N % N % N % 4 80 1 20 5 100 Lebih 0,658 65 65 35 35 100 100 Cukup 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.13, hasil analisis hubungan antara konsumsi lemak dalam 1 tahun terakhir dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara lima responden yang konsumsi lemaknya lebih, terdapat empat responden (80%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 100 responden yang konsumsi lemaknya cukup, terdapat 65 responden (65%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistic diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,658. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.4 Hubungan antara Konsumsi Buah dan Sayur dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara konsumsi buah dan sayur dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.14 dibawah ini:

99

Tabel 5.14 Hubungan Konsumsi Buah dan Sayur dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PKonsumsi Total Valu Hipertensi Tidak Buah e Hipertensi dan Sayur N % N % N % 67 69,1 30 30,9 97 100 Kurang 0,019 2 25 6 75 8 100 Cukup 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.14, hasil analisis hubungan antara konsumsi buah dan sayur dalam satu hari dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 97 responden yang konsumsi buah dan sayurnya kurang, terdapat 67 responden (69,1%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara delapan responden yang konsumsi buah dan sayurnya cukup, terdapat dua responden (25%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,019. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya ada hubungan yang bermakna antara konsumsi buah dan sayur dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.5 Hubungan antara Konsumsi Air dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara konsumsi air dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.15 dibawah ini:

100

Tabel 5.15 Gambaran Konsumsi Air dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Konsumsi Hipertensi Tidak value Air Hipertensi N % N % N % 39 73,6 14 26,4 53 100 Kurang 0,131 30 57,7 22 42,3 52 100 Cukup 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.15, hasil analisis hubungan antara konsumsi air dalam satu hari dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 53 responden yang konsumsi airnya kurang, terdapat 39 responden (73,6%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 52 responden yang konsumsi airnya cukup, terdapat 30 responden (57,7%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,131. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi air dengan hipertensi kelompok lansia. Berdasarkan hasil analisis, diketahui pula dari 53 responden yang mengkonsumsi air kurang terdapat 4,8% lansia dengan konsumsi air lima gelas/hr dan 45,7% dengan konsumsi air enam sampai tujuh gelas/hr. 5.3.6 Hubungan antara Olah Raga dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara olah raga dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.16 dibawah ini:

101

Tabel 5.16 Gambaran Olah Raga dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Olah Hipertensi Tidak value Raga Hipertensi N % N % N % 39 75 13 25 52 100 Tidak 0,075 30 56,6 23 43,4 53 100 Ya 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.16, hasil analisis hubungan antara olah raga dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 52 responden yang tidak melakukan olah raga, terdapat 39 responden (75%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 53 responden yang melakukan olah raga, terdapat 30 responden (56,6%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,075. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara olah raga dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.7 Hubungan antara Merokok dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara merokok dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.17 dibawah ini:

102

Tabel 5.17 Gambaran Merokok dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Hipertensi Tidak value Merokok Hipertensi N % N % N % Merokok/pernah 28 68,3 13 31,7 41 100 0,656 41 64,1 23 35,9 64 100 Tidak merokok 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.17, hasil analisis hubungan antara merokok dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 41 responden yang merokok, terdapat 28 responden (68,3%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 64 responden yang tidak merokok, terdapat 41 responden (64,1%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,656. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara merokok dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.8 Hubungan antara Stres dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara stres dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.18 dibawah ini:

103

Tabel 5.18 Hubungan Stres dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Hipertensi Tidak value Stres Hipertensi N % N % N % 47 72,3 18 27,7 65 100 Stres 0,109 22 55 18 45 40 100 Tidak stres 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.18, hasil analisis hubungan antara stres dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 65 responden yang mengalami stres, terdapat 47 responden (72,3%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 40 responden yang tidak mengalami stres, terdapat 22 responden (55%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,109. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara stres dengan hipertensi kelompok lansia. 5.3.9 Hubungan antara Obesitas dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hasil analisis bivariat antara obesitas dengan hipertensi disajikan pada tabel 5.19 dibawah ini:

104

Tabel 5.19 Hubungan Obesitas dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hipertensi PTotal Hipertensi Tidak value Obesitas Hipertensi N % N % N % 22 78,6 6 21,4 28 100 Obesitas 0,150 61 30 39 77 100 Tidak obesitas 47 69 65,7 36 34,3 105 100 Total Berdasarkan table 5.19, hasil analisis hubungan antara obesitas dengan hipertensi diperoleh bahwa diantara 28 responden yang mengalami obesitas, terdapat 22 responden (78,6%) yang terdiagnosis hipertensi. Sedangkan diantara 77 responden yang tidak mengalami obesitas, terdapat 47 responden (61%) yang terdiagnosis hipertensi. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue sebesar 0,150. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat kemaknaan 5 %, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan hipertensi kelompok lansia.

105

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, antara lain: 1. Responden pada penelitian ini adalah usia lanjut, beberapa orang mungkin memiliki keterbatasan daya ingat atau cepat merasa jenuh dengan pertanyaan yang terlalu banyak sehingga pada saat menjawab responden terburu-buru atau semaunya. Maka dari itu, pewawancara harus memiliki kemampuan yang baik dalam mengatur jalannya wawancara sehingga responden tidak terlalu jenuh. 2. Pengumpulan data makanan untuk konsumsi natrium, lemak serta buah dan sayur dengan menggunakan Food Frequency Questionare Semi

Quantitative, yang tentunya memiliki kelemahan dalam tingkat ketelitiannya karena memerlukan daya ingat lansia ketika mengkonsumsinya dalam waktu setahun. Hal ini dimungkinkan lansia bisa saja lupa dengan makanan yang dikonsumsinya, sehingga hanya mengira-ngira ketika menjawab kuesioner tersebut. 3. Ketepatan diagnosis penyakit. Hal ini dapat menyebabkan bias, karena dalam penelitian ini untuk mendiagnosis seseorang terkena hipertensi hanya menggunakan pengukuran tekanan darah dan faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap tekanan darah tanpa adanya pemeriksaan laboratorium

106

atau pemeriksaan diagnosis lainnya. Untuk mengurangi terjadinya bias, maka pengukuran tekanan darah dilakukan sebanyak tiga kali dalam waktu yang berbeda selama satu minggu dan menanyakan kepada responden apakah pernah terdiagnosis hipertensi oleh dokter.

6.2 Gambaran Kejadian Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Di negara maju saat ini hanya sedikit pasien hipertensi dengan tekanan darah yang terkontrol (TDS <140, TDD <90 mmHg), hal ini disebabkan oleh pengobatan yang tidak maksimal pada lansia yaitu <140/90 (Suhardjono, 2006). Hasil penelitian riskesdas (2007) menyebutkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan kasus minum obat atau terdiagnosis oleh tenaga kesehatan yakni sebesar 65,2% pada lansia (usia 55 tahun keatas) lebih besar dibandingkan pada usia orang dewasa (usia <55 tahun) sebesar 22,7%. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang menetap. Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg (Sunardi, 2000). Saat ini Cut-off point yang biasa digunakan untuk menentukan seseorang menderita hipertensi adalah berdasarkan The Seventh Report of Joint National Committee (JNC-7) tahun 2003 adalah dikatakan hipertensi derajat 1, jika TDS 140-159 mmHg dan TDD 90-99, serta dikatakan hipertensi derajat 2, jika TDS 160 mmHg dan TDD 100 mmHg (Yogiantoro, 2006).

107

Pada penelitian ini, hipertensi dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu dikatakan hipertensi, jika TDS 140 mmHg dan atau TDD 90 mmHg dan tidak hipertensi, jika TDS <140 mmHg dan atau TDD <90 mmHg. Hasil penelitian di Kelurahan Sawah Baru didapatkan nilai rata-rata tekanan darah lansia masih dikatakan tinggi yaitu TDS sebesar 148,68 mmHg dan TDD sebesar 91,28 mmHg. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa proporsi lansia yang menderita hipertensi (65,7%) jumlahnya lebih banyak daripada lansia yang tidak menderita hipertensi (34,9%). Angka prevalensi hipertensi lansia tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi sewilayah kerja Puskesmas Kampung Sawah pada tahun 2009 yaitu sebesar 33,94%. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kejadian hipertensi pada kelompok lanjut usia (55 tahun keatas) di Kelurahan Sawah Baru lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Hasirungan (2002) pada lansia (55 tahun keatas) di Kota Depok, yaitu sebesar 57,4%. Selain itu, angka prevalensi hipertensi di Kelurahan Sawah Baru tersebut sudah termasuk dalam kategori tinggi menurut batas yang ditetapkan oleh Depkes RI (2000) untuk usia 50 tahun keatas yaitu melebihi 20-30%. Hal ini sudah termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat yang tinggi maka itu diperlukan adanya penanggulangan yang baik dalam mengurangi kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru. Pengendalian yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kejadian hipertensi adalah dengan melakukan program gaya hidup sehat seperti: tidak merokok, olah raga teratur, mengurangi asupan garam natrium, lemak, banyak konsumsi buah dan sayur, mengontrol berat badan, menciptakan suasana rileks

108

dan lain-lain. Selain itu, untuk mengendalikan agar seseorang yang terdiagnosis hipertensi diperlukan pengobatan hipertensi dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular akibat dampak kelanjutan dari tekanan darah tinggi. Perubahan gaya hidup juga diperlukan terutama diet rendah garam. Akibat yang ditimbulkan dari seseorang yang menderita hipertensi baik pada lansia maupun orang dewasa muda adalah sama. Namun, pada lansia risiko terjadinya komplikasi lebih besar (Yogiantoro, 2006). Dalam Gray (2005) dan Suhardjono (2006) diketahui bahwa hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Selain itu, efek dari penurunan tekanan darah dapat mencegah demensia dan penurunan kognitif serta terjadinya kerusakan organ yang berkaitan dengan derajat keparahan dari penyakit hipertensi tersebut, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, penyakit mata dan pembuluh darah Dari hasil kuesioner juga diketahui bahwa proporsi lansia yang memeriksakan tekanan darahnya dalam satu bulan terakhir sebelum

dilakukannya pemeriksaan tekanan darah oleh peneliti sebanyak 48 lansia (45,7%) dan proporsi lansia yang tidak memeriksakan tekanan darahnya sebanyak 57 lansia (54,3%). Diketahui pula dari 105 lansia sebanyak 50 lansia (47,6%) pernah terdiagnosa hipertensi sebelumnya oleh tenaga kesehatan. Selain itu, dari 50 lansia yang pernah terdiagnosis hipertensi 35 lansia (70%) diantaranya telah melakukan pemeriksaan atau pengontrolan terhadap tekanan darahnya dan dari 55 lansia yang belum pernah terdiagnosis hipertensi, 13 lansia

109

(23,6%) diantaranya telah melakukan telah melakukan pemeriksaan atau pengontrolan terhadap tekanan darahnya. Menurut teori-teori dan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi pada seseorang, terutama lansia. Diantaranya yaitu jenis kelamin, konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah dan sayur, konsumsi air, olah raga, merokok, stres serta obesitas. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan terdapat faktor diatas yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2010. Hubungan antara faktor independen dengan faktor dependen tersebut akan dijelaskan pada sub bab berikutnya.

6.3 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Dalam Depkes (2006), hipertensi lebih banyak didapatkan pada laki-laki dibandingkan perempuan, karena laki-laki memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah dibanding wanita, seperti merokok. Namun setelah memasuki masa menepouse, prevalensi hipertensi pada wanita meningkat. Menurut Kumar, et all, (2005), wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) sehingga mencegah terbentuknya aterosklerosis. Sebelum memasuki masa menepouse, wanita mulai kehilangan hormon estrogen

110

sedikit demi sediki dan sampai masanya hormon estrogen harus mengalami perubahan sesuai dengan umur wanita, yaitu dimulai sekitar umur 45-55 tahun. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa proporsi lansia berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan lansia berjenis kelamin laki-laki. Selain itu diketahui pula bahwa lansia yang jenis kelamin perempuan lebih banyak menderita hipertensi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Gray (2005) bahwa di usia 45 tahun keatas wanita dipengaruhi oleh hormon estrogen yang dapat melindungi tubuh dari penyakit kardiovaskuler. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh tidak terdapatnya hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi pada lansia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sulistiani (2005) diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Namun, hasil penelitian ini berlawanan dengan penelitian Yuliarti (2007). Dengan kata lain, hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang berlawanan dengan teori-teori yang disebutkan diatas. Demikian juga Herke (1995) tidak dapat membuktikan bahwa perempuan mempunyai risiko hipertensi yang lebih besar daripada laki-laki, walaupun diperoleh proporsi hipertensi lebih tinggi pada perempuan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh telah menebalnya dinding arteri akibat dari akumulasi menumpuknya zat kolagen pada lapisan otot selama bertahun-tahun, yang berdampak pada penyempitan dan pengerasan pembuluh darah. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh penurunan refleks baroreseptor dan

111

fungsi ginjal. Sehingga hal-hal tersebut dapat memicu timbulnya hipertensi tanpa memandang jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan (Kumar, et all, 2005). Price dan Wilson (2002) menambahkan bahwa penyebab hipertensi dapat disebabkan pula oleh penurunan elastisitas pembuluh darah sehingga pembuluh darah menjadi kaku. Pembuluh darah tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik untuk mengembang pada saat jantung memompa darah melalui pembuluh darah tersebut. Sehingga jantung harus meningkatkan denyutnya pada pembuluh darah yang menyempit agar aliran darah dapat didistribusikan keseluruh tubuh. Hal ini menyebabkan naiknya tekanan darah. Selain itu, adanya faktor lain yang mendukung adalah adanya faktor psikologis. Salah satu contohnya adalah baik perempuan maupun laki-laki pada ketika memasuki usia lansia kecenderungan mengalami depresi atau stres. Disebabkan oleh status pekerjaan ataupun sudah tidak bekerja lagi

(pengangguran). Selain itu, seseorang yang pendapatannya rendah kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada sehingga kurang mendapatkan pengobatan yang baik ketika seseorang menderita hipertensi (Sutanto, 2010 dan Baliwati, 2004).

6.4 Hubungan antara Konsumsi Natrium dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Menurut Almatsier (2001) dan (2006), natrium adalah suatu komponen dalam darah. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl. WHO menganjurkan untuk mengkonsumsi garam kurang dari enam gram/hari setara

112

dengan 2400 mg/hari. Salah satu dari fungsi natium dalam tubuh, yaitu mengatur osmolaritas volume darah yang menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel-sel serta membantu transmisi kontraksi otot. Dalam Hull (1996) diketahui bahwa meningkatnya asupan garam lamakelamaan dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, selain itu dapat mengecilkan diameter arteri. Sehingga berdampak pada peningkatan volume dan tekanan darah meningkatkan. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa proporsi lansia yang konsumsi natriumnya berlebih jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan lansia yang konsumsi natriumnya cukup. Akibat proses menua, seseorang mengalami penurunan sensitifitas indera pengecapan dan perasa yang mengakibatkan berkurangnya nafsu makan. Hal tersebut mengakibatkan penggunaan bumbu masak atau garam dalam jumlah yang lebih banyak (Arisman, 2004 dan Sari, 2006). Diketahui pula bahwa lansia yang konsumsi natriumnya berlebih cenderung menderita hipertensi. Almatsier (2006)

memaparkan bahwa kelebihan natrium yang berkepanjangan bisa mengakibatkan keracunan, edema serta hipertensi. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi natrium dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Widiastuti (2006) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan natrium dengan hipertensi pada usia lanjut. Namun, berlawanan dengan penelitian Hasirungan (2002) bahwa

113

tidak terdapatnya hubungan yang bermakna antara konsumsi natrium dengan kejadian hipertensi pada lansia. Menurut Williams (1991) dalam Aisyiyah (2009) dan Cahyono (2008), pada penderita hipertensi maupun non hipertensi, pengaturan, pencegahan maupun perbaikan pola makan, salah satunya dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi natrium sebanyak 1.500 mg/hr (2/3 sendok teh sehari). Karena setiap individu memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap jumlah natrium yang dikonsumsinya didalam tubuh. Berikut ini merupakan mekanisme terjadinya hipertensi akibat kadar natrium yang berlebih, yaitu pengaturan keseimbangan natrium dalam darah diatur oleh ginjal. Asupan natrium yang terlalu tinggi secara terus menerus atau adanya gangguan fungsi ginjal menyebabkan keseimbangan natrium terganggu. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Hal ini menyebabkan natrium tidak dapat atau sedikit dikeluarkan sehingga kadar natrium dalam darah tinggi. Penurunan pengeluaran natrium akan diikuti dengan penahanan air. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi menyebabkan peningkatan volume

darah dalam tubuh, sehingga tekanan darahpun meningkat (Price dan Wilson, 2002). Dari hasil food frekuency questioner diketahui bahwa rata-rata lansia baik yang menderita hipertensi maupun yang tidak hipertensi masih tinggi dalam mengkonsumsi garam, bumbu masak atau penyedap disetiap pengolahan bahan makanan disertai mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar natrium

114

tinggi, seperti konsumsi mie instan, ikan asin dan ikan teri kering dalam jangka waktu yang dekat. Hal ini sependapat dengan Suhardjo (2006), Cahyono (2008) dan Hull (1996) memaparkan bahwa kesukaan, rasa atau kenikmatan terhadap makanan berpengaruh terhadap pemilihan makanan. Makanan asin dan siap saji dapat meningkatkan nafsu makan seseorang karena rasanya yang gurih. Sehingga jika seseorang menyukai dan terbiasa mengkonsumsi makanan sumber natrium seperti ikan asin, maka akan cenderung mengkonsumsinya terus-menerus.

6.5 Hubungan antara Konsumsi Lemak dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Hull (1996) menjelaskan bahwa asupan lemak tinggi berhubungan dengan meningkatnya tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh dapat menurunkan tekanan darah. Cahyono (2008) menambahkan bahwa didalam usus makanan yang berlemak akan dirubah menjadi kolesterol. Kolesterol yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya ateroklerosis. Pembentukan ateroklerosis ini, lama-kelamaan

membentuk plak yang berdampak pada penyempitan dan berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengkonsumsi lemak dalam jumlah yang cukup. Almatsier (2001) mamaparkan bahwa konsumsi lemak berlebih yang berasal dari hewani cenderung meningkatkan kolesterol yang berisiko terhadap hipertensi. Dalam penelitian

115

diketahui bahwa lansia cenderung kurang dalam mengkonsumsi lemak yang berasal dari hewan. Diperoleh juga bahwa lansia yang menderita hipertensi lebih besar pada lansia yang mengkonsumsi lemak cukup. Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasirungan (2001) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak dengan kejadian hipertensi. Namun, hasil penelitian ini berlawanan dengan penelitian Abdullah (2005) yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak berlebih dengan kejadian hipertensi. Preuss (1996) juga menyatakan pada penelitian ditujuh negara, rata-rata tekanan darah populasi berkorelasi signifikan dengan rata-rata konsumsi lemak jenuh, tetapi tidak dengan diet lemak total. Tidak adanya hubungan pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan dalam analisis, dimana dalam penelitian ini yang dianalisis adalah total lemak, sedangkan hasil penelitian lain yang menunjukkan adanya hubungan adalah meneliti salah satu komponen dari lemak tersebut, seperti lemak jenuh atau kolesterol, trigliserida, dan LDL (low density lipoprotein). Menurut Cahyono (2008) diketahui bahwa arterioklerosis terjadi akibat konsumsi lemak berlebih sehingga menyebabkan penumpukan kolesterol (plak) pada dinding pembuluh darah dalam kurun waktu bertahun-tahun. Artinya dalam penelitian ini analisis konsumsi lemak hanya dalam waktu yang relatif singkat yaitu satu tahun. Sedangkan proses terjadinya arterioklerosis yang mencetuskan

116

penyakit hipertensi diperlukan dalam waktu bertahun-tahun bukan dengan waktu singkat yang ditetapkan dalam penelitian ini. Diasumsikan bahwa pada masa mudanya lansia kemungkinan mengkonsumsi lemak yang berlebih sehingga memiliki risisko hipertensi, tetapi ketika memasuki masa tua mereka melakukan pengurangan konsumsi makanan sumber lemak. Dalam penelitian ini tidak bisa memperlihatkan besarnya konsumsi lemak pada masa muda lansia. Diketahui pula dari hasil tabulasi silang antara konsumsi lemak dengan konsumsi natrium bahwa lansia yang mengkonsumsi lemak cukup ternyata memiliki kecenderung mengkonsumsi natrium lebih (93,9%). Artinya seseorang berisiko menderita hipertensi akibat konsumsi natrium yang berlebih walaupun konsumsi lemaknya dalam jumlah yang cukup. Lansia cenderung mengkonsumsi bahan makanan tinggi natrium daripada bahan makanan tinggi lemak. Dari hasil food frekuency questioner diketahui bahwa lansia cenderung sering

mengkonsumsi makanan ikan asin. Dalam ikan asin hanya mengandung lemak sebesar 0,3 gram. Selain itu, makanan sumber lemak yang paling banyak dikonsumsi lansia adalah daging ayam dan telur ayam sedangkan daging kambing atau sejenisnya yang mengandung kadar lemak yang tinggi pula jarang dikonsumsi lansia. Suhardjo (2006) menyatakan bahwa kesukaan terhadap makanan mempunyai pengaruh terhadap pemilihan makanan. Sehingga jika seseorang tidak suka terhadap makanan sumber lemak, maka akan cenderung tidak memilih makanan tersebut untuk dikonsumsi oleh dirinya. Tetapi jika seseorang menyukai ikan asin maka akan sering pula mengkonsumsinya. Hal ini diperkuat

117

oleh Depkes (2006) bahwa efek dari penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi didapat dengan mengurangi asupan garam.

6.6 Hubungan antara Konsumsi Buah dan Sayur dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Mengkonsumsi buah dan sayur sangatlah penting bagi kesehatan tubuh karena mengandung berbagai mineral, vitamin serta serat (Depkes, 2008). Asupan serat yang cukup dapat menetralisir kenaikan kadar lemak darah (Sutanto, 2010). Seseorang yang melakukan diet vegetarian, mengkonsumsi rendah lemak akan memiliki risiko hipertensi yang rendah. Selain itu, asupan tinggi serat dan tinggi kalium, atau asupan garam yang berkurang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah (Hull, 1996). Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa lansia yang kurang mengkonsumsi buah dan sayur jumlahnya lebih banyak. Kompas (2011) dan Suhardjo (2006) memaparkan kurangnya konsumsi buah dan sayur kemungkinan disebabkan oleh faktor budaya atau sosial ekonomi yang merupakan penyebab utama perilaku konsumsi masyarakat. Selain itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayur-sayuran dikarenakan sayur bukan merupakan menu utama, bagi penduduk Indonesia menu utama adalah nasi. Maka hal tersebut mempengaruhi seseorang dalam mengkonsumsi buah dan sayur. Diperoleh pula hasil bahwa lansia yang kurang dalam mengkonsumsi buah dan sayur memiliki kecenderungan untuk menderita hipertensi. Hal ini sependapat dengan Appel LJ, et al (1997) bahwa konsumsi buah dan sayur

118

berhubungan dengan penurunan tekanan darah, karena mengandung kalium dan magnesium. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian hipertensi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Dauchet et al. (2007) dalam Aisyiyah (2009), menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi sayur dan buah, penurunan konsumsi lemak pangan, disertai dengan penurunan konsumsi lemak total dan lemak jenuh, dapat menurunkan tekanan darah. Konsumsi buah dan sayur >400 gr/hari dapat menurunkan risiko hipertensi dengan bertambahnya umur. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu aktivitas antioksidan, pengaruh serat, mineral kalium, dan magnesium. Almatsier (2003) memaparkan bahwa mengkonsumsi antioksidan sejak dini dapat mencegah kerusakan pembuluh darah dan menangkap radikal bebas. Susanto (2010) mengungkapkan bahwa antioksidan yang berperan khusus adalah golongan flavonoid, yang dapat mengurangi dampak dari kolesterol dan mencegah terjadinya pengumpalan darah. Krisnatuti (2005) juga memaparkan bahwa serat pangan berguna untuk membantu pengeluaran kolesterol melalui feces. Selain itu konsumsi serat sayuran dan buah akan mempercepat rasa kenyang, sehingga dapat mengurangi penambahan energi dan obesitas, yang berefek pada menurunnya risiko hipertensi. Iqbal (2008) menambahkan bahwa serat berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol, mengatur kadar gula darah dan menurunkan tekanan darah. Penelitian Ledikwe et al. (2007) pada penderita prehipertensi dan hipertensi

119

ringan, menemukan hubungan nyata antara konsumsi pangan yang memiliki densitas energi rendah dengan penurunan berat badan. Selain itu efek penurunan tekanan darah disebabkan pula oleh adanya mineral kalium, kalsium dan magnesium. Almatsier (2001), Candraningrum (2010), Subecha (2011) dan Hull (1996) memaparkan bahwa kalium bersama natrium berperan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Kekurangan kalium dapat menyebabkan jantung berdebar dan menurunnya kemampuan dalam memompa darah. Selain itu, penambahan kalsium di masa tua penting dalam membantu menurunkan tekanan darah, karena kalsium berperan untuk mendorong keluarnya natrium lewat air seni akibat keterbatasan menyalurkan natrium dari tubuh. Ditambahkan dengan mengkonsumsi magnesium dalam jumlah yang cukup, berfungsi untuk melebarkan dan merilekskan pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar.

6.7 Hubungan antara Konsumsi Air dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Menurut Almatsier (2001), air atau cairan tubuh merupakan bagian utama tubuh. Pada proses menua manusia kehilangan air. Kandungan air tubuh setiap orang berbeda, tergantung pada proporsi jaringan otot dan jaringan lemak. Fungsinya sehubungan dengan pengaruh tekanan darah adalah sebagai Pelarut dan alat angkut zat-zat gizi serta hormon-hormon lain, kemudian dibawa ke seluruh sel yang membutuhkannya. Akibat tubuh kekurangan air, darah dan

120

getah bening akan menjadi kental karena cairan dalam darah dan getah bening disedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Hal ini berakibat pada aliran darah yang tidak lancar karena sudah mengental. Hasil penelitian didapatkan bahwa proporsi lansia yang mengkonsumsi airnya kurang lebih banyak daripada lansia yang mengkonsumsi air cukup. Lansia yang mengkonsumsi air kurang memiliki kecenderungan menderita hipertensi. Hal ini sejalan dengan pendapat Yahya (2003) memaparkan bahwa konsumsi cairan yang cukup akan membuat viskositas atau kekentalan darah menjadi rendah sehingga tekanan darah tidak tinggi. Sebaliknya jika konsumsi cairan kurang, maka akan terjadi kekentalan darah yang meningkat sehingga memperberat kerja jantung untuk memompa darah lebih keras dan menyebabkan tekanan darah menjadi meningkat. Selain itu diketahui pula, banyaknya konsumsi air lansia yang tergolong kurang adalah kurang dari sama dengan lima gelas/hari yaitu sebesar 4,8% dan enam sampai tujuh gelas/hari sebesar 45,7%. Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi air dengan kejadian hipertensi. Dalam penelitian Suryanto (2002) menunjukkan bahwa total konsumsi air putih lansia per hari rata-rata enam sampai tujuh gelas yakni sebesar 51,43% dan kurang dari lima gelas yakni sebesar 21,43%. Tidak terdapatnya hubungan kemungkinan disebabkan oleh adanya penurunan fungsi ginjal seiring dengan bertambahnya usia, sehingga berdampak pada kehilangan air yang lebih tinggi akibat proses pemekatan urin terganggu (Depkes, 2003). Jadi meskipun tingkat konsumsi air lansia sudah cukup, tetapi

121

jika tubuh atau ginjal lansia mengalami penurunan fungsi maka akan tetap berisiko untuk mengalami hipertensi. Selain itu, adanya faktor lain yang mendukung adalah konsumsi natrium. Berdasarkan hasil tabulasi silang diketahui bahwa lansia yang mengkonsumsi air kurang kecenderungan mengkonsumsi natrium lebih. Artinya bahwa dengan konsumsi air yang kurang dan konsumsi natrium yang lebih merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Sacks FM, et al (1999) memaparkan Penelitian DASH, menunjukkan tekanan darah tinggi dapat diturunkan dengan pengurangan natrium dalam makanan.

6.8 Hubungan antara Olahraga dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Aktifitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya. Selama beraktifitas, otot membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh (Supariasa, 2001). Berolahraga teratur baik untuk menambah kekuatan jantung dalam memompa darah yang berefek pada pengontrolan tekanan darah, dan cukup dilakukan dengan olahraga ringan atau sedang sehari tiga hinga lima kali dalam seminggu dan minimal 30 menit (Sutanto, 2010). Pada penelitian ini diketahui bahwa lansia cenderung melakukan aktifitas atau kegiatan olahraga. Diperoleh pula hasil bahwa lansia yang melakukan

122

kegiatan olah raga cenderung menderita hipertensi dibandingkan dengan yang tidak melakukan kegiatan olahraga. Tetapi, proporsi lansia yang tidak berolahraga dengan hipertensi (75%) proporsinya lebih besar daripada lansia yang berolahraga dengan hipertensi (56,6%). Artinya adalah risiko hipertensi akan lebih tinggi pada seseorang yang tidak olahraga daripada yang melakukan olahraga. Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa jenis-jenis olahraga yang biasa dilakukan lansia adalah 38 lansia (36,2%) berolah raga jalan kaki, dan 15 lansia (14,3%) berolahraga jenis lain meliputi bersepeda dan bertani atau memacul. Hal ini sependapat dengan Cahyono (2008) bahwa berolahraga memiliki beberapa keuntungan yaitu: dapat menurunkan frekuensi denyut nadi, kelebihan lemak dan berat badan, serta menormalkan tekanan darah. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara olahraga dengan kejadian hipertensi pada lansia. Hasil penelitian ini sejalan dengan Wijayanti (2010) bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktifitas fisik dengan kejadian hipertensi lansia. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan Sanusi (2002) diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara aktifitas fisik dengan hipertensi. Tidak terdapatnya hubungan dapat dimungkinkan karena olahraga yang dilakukan lansia masih belum sepenuhnya dengan mekanisme yang baik. Maksudnya adalah pada saat mereka melakukan olahraga, jenis, waktu, intensitas serta frekuensinya kurang tepat atau terlalu lama sehingga tidak sesuai dengan standar kesehatan. Salah satu contoh aktifitas atau kegiatan olahraga yang dikatakan kurang baik yaitu bertani atau memacul. Pertama, pada saat

123

seseorang menggemburkan tanah (bertani), biasanya hal pertama yang dilakukan adalah memacul. Proses memacul ini membutuhkan waktu cukup lama yang menyebabkan postur kerja dalam keadaan statis dan berulang sampai proses selesai. Kedua, proses menanam padi, ketika proses ini berlangsung akan sama risikonya dengan proses pertama. Jadi dapat disimpulkan bahwa aktifitas atau kegiatan bertani ini termasuk dalam jenis olahraga isometrik. Olahraga ini merupakan olahraga yang kurang baik untuk sistem pernafasan jantung, menyebabkan denyut jantung kurang stabil sehingga memicu meningkat tekanan darah. Selain itu, bagi lansia akan berdampak pada risiko penyakit lain di seperti osteoporosis. Ditambahkan pula bahwa waktu dan intensitas olahraga yang dilakukan oleh lansia mungkin terlalu lama dan berat sehingga menimbulkan risiko dalam membuat kerja jantung kurang baik. Maka hal-hal tersebut dapat mempengaruhi hasil analisis. Cahyono (2008) memaparkan bahwa olahraga yang tidak sesuai dengan standar kesehatan tidak akan memberikan efek kesehatan. Selain itu, olahraga isotonik yang memanfaatkan gerakan kaki seperti jalan lebih baik daripada olahraga isometrik yang memanfaatkan tangan seperti angkat beban. Karena efek dari olahraga isotonik adalah meningkatkan ketahanan pernafasan jantung atau menekan menyempitnya pembuluh darah. Sedangkan olahraga isometrik kurang menguntungkan pada sistem pernafasan jantung atau dapat meningkatkan tekanan darah.

124

Asumsi lainnya diketahui dari food frekuency questioner yaitu hasil tabulasi silang didapatkan bahwa lansia yang melakukan kegiatan olahraga cenderung mengkonsumsi natrium lebih. Hal ini menyebabkan tubuh tidak bisa mendapatkan kesehatan yang maksimal karena pengaruh konsumsi natrium tersebut. Hal ini diperkuat olaeh Sutanto (2010), kurang melakukan olahraga dapat berisiko terjadinya obesitas dan risiko untuk terjadinya hipertensi akan bertambah dengan berlebihnya asupan garam. Gray (2005) memaparkan bahwa dengan melakukan perubahan gaya hidup seperti diet garam akan menurunkan risiko menderita tekanan darah tinggi.

6.9 Hubungan antara Merokok dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Menurut Depkes RI Pusat Promkes (2008) dan Winniford (1990), telah dibuktikan dalam penelitian bahwa dalam 1 batang rokok mengandung berbagai zat kimia. Bahan utama rokok terdiri dari tiga zat, yaitu 1) Nikotin, berdampak pada jantung dan sirkulasi darah maupun pembuluh darah. 2) Tar, mengakibatkan kerusakan sel paru-paru dan menyebabkan kanker. 3) Karbon Monoksida (CO), yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen. Zat-zat kimia tersebut dapat merusak lapisan dalam dinding arteri sehingga menyebabkan penumpukan plak dan lama-kelamaan akan terjadi peningkatan tekanan darah atau munculnya penyakit hipertensi Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa proporsi lansia yang tidak merokok (64 orang) lebih besar daripada lansia yang merokok atau pernah

125

merokok. Akan tetapi, didapatkan bahwa lansia yang tidak merokok memiliki kecenderungan menderita hipertensi. Didapatkan pula informasi bahwa 19% lansia mulai merokok pada usia 20 tahun, 14,3% usia 16-19 tahun, dan 5,7% 15 tahun. Selain itu, lansia rata-rata menghabiskan satu sampai lima batang rokok setiap harinya. Bagi lansia yang dulunya pernah merokok, mulai berhenti merokok sejak usia 40 tahun (15,2%), 18,1% mengkonsumsi rokok setiap hari, dan 11,4% mengkonsumsi rokok 1-5 batang/hari. Mangku Sitepoe (1997) dalam Suheni (2007) memaparkan bahwa merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10 - 25 mmHg dan menambah detak jantung lima sampai 20 kali/menit Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasirungan (2002) didapatkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian hipertensi. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sanusi (2002) yaitu diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan kejadian hipertensi. Tidak terdapatnya hubungan antara merokok dengan kejadian hipertensi kemungkinan disebabkan oleh responden yang tidak pernah merokok dulunya memiliki riwayat terpapar rokok ataupun asapnya. Dari hasil analisis diketahui terdapat lansia yang merokok pada usia remaja. Smet (1994) menambahkan bahwa arterosclerosis dan risiko kematian akan meningkat sejalan dengan usia dini merokok dan jumlah rokok yang dikonsumsi. Winniford (1990) berpendapat bahwa peningkatan denyut jantung pada perokok terjadi pada menit pertama

126

merokok dan sesudah 10 menit peningkatan mencapai 30%. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan mengkonsumsi satu batang rokok saja seseorang memiliki risiko meningkatnya tekanan darah. Lansia yang dahulunya pernah merokok, tidak diketahui dalam penelitian ini berapa banyak rokok yang dikonsumsinya dimasa lampau. Selain itu bagi lansia perempuan yang tidak merokok kemungkinan besar terpapar oleh asap rokok yang dikonsumsi oleh sanak keluarganya. Sehingga berdampak pada kesehatannya dalam waktu beberapa tahun kemudian setelah memasuki usia tua. Depkes (2008) menambahkan bahwa asap dari rokok juga berdampak terhadap orang yang menghirupnya (disebut perokok pasif) untuk terjadinya penyakit. Para ilmuwan membuktikan bahwa zat-zat kimia didalam rokok juga mempengaruhi kesehatan seseorang yang tidak merokok disekitar perokok. Dampak yang akan ditimbulkan oleh rokok tersebut untuk menderita hipertensi akan terakumulasi dalam beberapa tahun kemudian yaitu sekitar usia 40 tahun ke atas.

6.10 Hubungan antara Stres dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Cahyono (2008) memaparkan bahwa stres adalah respon fisiologik, psikologik, dan perilaku seseorang untuk penyesuaian diri terhadap tekanan. Sedangkan menurut Hawari (2001), stress adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (stresor psikososial) yang berefek pada sistem kardiovaskuler. Sutanto (2010) dan Depkes RI (2006)

127

menambahkan bahwa stres dapat merangsang ginjal melepaskan hormon adrenalin, yang menyebabkan tekanan darah naik dan meningkatkan kekentalan darah. Selain itu, dapat mempercepat denyut jantung serta menyempitnya pembuluh darah. Jantungpun berdenyut lebih kuat sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Hasi analisis univariat diketahui bahwa proporsi lansia yang mengalami stress lebih banyak daripada lansia yang tidak mengalami stres. Didapatkan pula lansia yang mengalami stres kecenderungan menderita hipertensi. Hasil penelitian Sigalarki (2006) didapatkan bahwa responden yang mengalami stres pada penderita hipertensi disebabkan oleh salah satu faktor yaitu sosial ekonomi. Menurut Hawari (2001), salah satu dari stress psikososial disebabkan oleh keuangan (faktor ekonomi). Salah satu dari faktor ekonomi adalah pekerjaan atau penghasilan seseorang. Penelitian Caval Cante (1995) dalam Hasirungan (2002), melihat dari 1766 responden, 76 diantaranya hipertensi. Dari observasi diketahui bahwa sebagian besar individu dengan hipertensi memiliki pendapatan keluarga yang rendah dan tingkat pendidikan yang rendah. Baliwati (2004) mengungkapkan bahwa status ekonomi tingkat pendidikan dan lingkungan sossial budaya seseorang adalah faktor yang berhubungan dengan program kesehatan masyarakat, karena dapat menimbulkan tekanan psikis. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Syaifuddin (2006) dan Sutanto (2010) menambahkan hubungan antara stres dengan hipertensi diakibatkan melalui aktivitas saraf simpatis,

128

sehingga terjadi kenaikan denyut jantung, penyempitkan pembuluh darah, dan peningkatkan penahanan air dan garam. Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian stres dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasirungan (2002) bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi. Namun, penelitian ini berlawanan dengan penelitian Yuliarti (2007) yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya bias informasi, seperti responden merasa malu dan tidak jujur pada saat menjawab kuestioner, serta bias waktu karena ketika dilakukan pengumpulan data responden sedang tidak mengalami stres atau masalah tertentu yang dapat menimbulkan terjadimya stres berkepanjangan. Dimaksudkan pula bahwa kemungkinan stres yang dialami oleh lansia dapat segera diatasi sehingga tidak menimbulkan efek yang

berkepanjangan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Sarafindo (1990) dalam Smet (1994) bahwa stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu atau mendadak dan bila stresnya sudah hilang maka tekanan darah menjadi normal. Sutanto (2010) menambahkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan respon relaksasinya dengan memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan bernapas secara teratur. Hal ini menyebabkan stres dapat cepat teratasi.

129

6.11 Hubungan antara Obesitas dengan Hipertensi pada Lansia di Kelurahan Sawah Baru Tahun 2011 Obesitas berkaitan dengan kegemaran mengkonsumsi makanan tinggi lemak serta meningkatkan risiko terjadinya hipertensi akibat faktor lain. Makin besar massa tubuh, makin meningkat volume darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Lalu dinding arteri mendapatkan tekanan yang lebih besar. Sehinggga jantung akan bekerja ekstra keras pula. Kemudian tekanan darah terjadi peningkatan (Sheps, 2005). Hasil analisis univariat diketahui bahwa proporsi lansia yang tidak obesitas lebih banyak daripada lansia yang obesitas. Selain itu, lansia yang tidak obesitas memiliki kecenderungan menderita hipertensi. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian hasirungan (2002) bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT atau obesitas. Namun, penelitian ini berlawanan dengan penelitian Yuliarti (2007) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian hipertensi. Tidak terdapatnya hubungan tersebut kemungkinan disebabkan oleh peningkatan sistem simpatis dan sistem renin-angiotensin. Pertama, peningkatan sistem simpatif ini sejalan dengan hasil tabulasi silang antara obesitas dengan kejadian stres, yaitu diketahui bahwa kejadian stres lebih banyak didapatkan pada lansia yang tidak obesitas. Artinya aktifitas saraf simpatis yang mengatur fungsi saraf dan hormon dapat menyebabkan peningkatkan denyut jantung,

130

penyempitan arteri serta peningkatan penahanan air dan natrium (Syaifudin, 2006 dan Sutanto, 2010). Kedua, sistem renin-angiotensin, sistem ini sejalan dengan hasil tabulasi silang didapatkan bahwa lansia yang tidak obesitas cenderung mengkonsumsi natrium dalam jumlah lebih. Dalam darah renin mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin. Angiotensin ini dapat menyebabkan diameter pembuluh darah mengecil. Renin memicu produksi aldosteron. Aldosteron berfungsi untuk mengatur volume cairan ekstraseluler. Jika natrium meningkat maka aldosteron akan mengurangi pengeluaran natrium dengan cara meresbsorbsinya dari tubulus ginjal. Hal ini menyebabkan natrium dalam darah meningkat, Natrium mempunyai sifat menahan air sehingga menyebabkan volume darah menjadi naik dan hal itu secara otomatis menyebabkan tekanan darah menjadi naik (Price dan Wilson, 2002). Menurut Depkes (2006) diketahui rata-rata kasus hipertensi mengalami penurunan tekanan darah dengan mengurangi asupan garam. Jadi meskipun seseorang itu memiliki IMT yang kurus atau normal tetapi jika konsumsi natriumnya berlebih maka seseorang memiliki risiko hipertensi.

131

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada BAB sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang menderita hipertensi lebih banyak dibandingkan dengan lansia yang tidak mengalami hipertensi. Rata-rata tekanan darah lansia masih tinggi dari standar JNC 7 tahun 2003 yang dianjurkan yaitu tekanan darah sistolik (TDS) sebesar 148 mmHg dan tekanan darah diastolic (TDD) sebesar 91 mmHg. Angka prevalensi hipertensi di Kelurahan ini (66,7%) lebih tinggi dari standar angka kesakitan hipertensi pada usia diatas 50 tahun yaitu 20-30%. 2. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang berjenis kelamin perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. 3. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang mengkonsumsi natrium lebih jumlahnya lebih banyak daripada yang mengkonsumsi natrium cukup. 4. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang mengkonsumsi lemak cukup jumlahnya lebih banyak daripada yang mengkonsumsi lemak kurang. 5. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang mengkonsumsi buah dan sayur kurang jumlahnya lebih banyak daripada yang mengkonsumsi buah dan sayur cukup. 6. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang mengkonsumsi air kurang jumlahnya lebih banyak daripada yang mengkonsumsi air cukup.

132

7. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang melakukan kegiatan olah raga jumlahnya lebih banyak daripada yang tidak melakukan kegiatan olah raga. 8. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang tidak merokok jumlahnya lebih banyak daripada yang merokok. 9. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang mengalami stres jumlahnya lebih banyak daripada yang tidak mengalami stres. 10. Lansia di Kelurahan Sawah Baru yang tidak obesitas jumlahnya lebih banyak daripada yang obesitas. 11. Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada perempuan. 12. Terdapat hubungan yang bermakna antara natrium dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang konsumsi natriumnya lebih. 13. Tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi lemak dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang mengkonsumsi lemak cukup. 14. Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang mengkonsumsi buah dan sayur kurang.

133

15. Tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi air dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang mngkonsumsi air kurang. 16. Tidak ada hubungan yang bermakna antara olahraga dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang tidak melakukan kegiatan olahraga. 17. Tidak ada hubungan yang bermakna antara merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang tidak merokok. 18. Tidak ada hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang mengalami stress. 19. Tidak ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kelurahan Sawah Baru tahun 2011. Lansia yang menderita hipertensi jumlahnya lebih banyak pada lansia yang tidak obesitas.

7.2 Saran 1. Bagi Puskesmas Kampung Sawah a. Mengaktifkan kembali posbindu setempat yang sudah tidak aktif.

134

b. Membuat langkah kebijakan yang terprogram dalam mengurangi kasus hipertensi. Dengan berbagai cara yang dapat ditempuh setelah aktifnya posbindu adalah sebagai berikut: 1) Melakukan pendataan jumlah lansia yang ada diwilayah Kelurahan Sawah Baru. 2) Memantau jumlah kunjungan lansia yang datang untuk

memeriksakan kesehatannya di posbindu Kelurahan Sawah Baru. 3) Melakukan pendekatan terhadap kepala desa atau lurah dan tokohtokoh masyarakat untuk memperoleh dukungan dalam pembinaan pencegahan penyakit hipertensi pada lansia dalam rangka

penggalangan pengurangan konsumsi natrium serta peningkatan konsumsi buah dan sayur. 4) Memanfaatkan setiap kesempatan di kelurahan untuk memberikan penyuluhan kelompok di posbindu, arisan, pengajian, kunjungan ke rumah maupun penyuluhan massa (pengeras suara, poster, spanduk atau selebaran) tentang pentingnya mencegah hipertensi terutama demo pembatasan penggunaan garam dapur, MSG, makanan yang mengandung kadar natrium tinggi seperti ikan asin, makanan kalengan dan lain-lain. Dapat menggantinya dengan konsumsi ikan biasa atau ikan air tawar yang rendah garam (misalnya ikan lele), kacang-kacangan seperti tempe, tahu serta peningkatan konsumsi sayuran (contohnya, sayur bening, bayem, timun) dan buah (contohnya, pepaya, pisang).

135

5) Menganjurkan kepada lansia untuk mengontrol tekanan darahnya di posbindu minimal tiga sampai 12 bulan sekali bagi yang sudah berada pada ambang pre-hipertensi. Sekaligus untuk

mengkonsultasikan agar tetap melakukan diet garam rendah secara teratur serta konsumsi buah dan sayur setiap harinya. 6) Kader kesehatan melakukan kunjungan ke rumah terutama bagi lansia penderita hipertensi yang tidak datang untuk mengontrol tekanan darahnya di posbindu. Sekaligus untuk memantau diet garam rendah masih dilakukan atau tidak. 7) Pemberian bibit sayur dan buah sederhana kepada masyarakat untuk dibudidayakan dipekarangan rumahnya. Serta pengontrolan oleh tokoh yang ditunjuk untuk mengawasi tumbuh dengan baik atau tidak bibit tersebut. 2. Bagi masyarakat setempat Melakukan pencegahan terhadap kebiasaan mengkonsumsi makanan sumber natrium ataupun berbagai bumbu masak. a. Saran untuk mengurangi konsumsi natrium atau garam 1) Kurangi kadar garam yang terdapat pada resep-resep masakan. Misalnya resep menuliskan membubuhkan garam satu sendok teh, maka bisa dikurangi menjadi setengahnya atau seperempatnya. 2) Tidak meletakkan garam di meja makan 3) Mengikuti informasi yang telah diberikan ketika konsultasi gizi maupun penyuluhan oleh tenaga kesehatan tentang bahan makanan

136

yang dianjurkan ataupun dilarang, seperti mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan 4) Mengecek setiap makanan siap saji pada nilai zat gizi yang dikandungnya sehingga dapat mempertimbangkan untuk membeli produk makanan yang kadar natriumnya rendah. 5) Mengganti garam dengan bumbu alami seperti bawang, cabe, ataupun rempah-remaphan lainnya. 6) Mengurangi pembelian makanan sumber natrium. b. Saran untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur 1) Memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam sayur dan buah. 2) Menyediakan sayur dan buah setiap hari dirumah dengan harga terjangkau. 3) Memperkenalkan dan membiasakan makan sayur dan buah setiap hari sejak dini kepada anggota keluarga. 4) Memperhatikan proses pengolahan sayur dan buah agar tidak merusak kandungan gizinya adalah dengan memakannya dalam keadaan mentah atau dikukus. 5) Memanfaatkan setiap kesempatan berkumpul dengan anggota keluarga untuk saling mengingatkan tentang pentingnya konsumsi buah dan sayur. 3. Bagi peneliti lain Peneliti lain diharapkan menambah variable-variabel lain yang kemungkinan berhubungan dengan kejadian hipertensi yang tidak ada dalam

137

penelitian ini. Penggunaan rancangan penelitian yang lebih baik seperti studi kohort, atau dengan jumlah sampel yang lebih besar, kejadian stres kejiwaan diteliti dengan menggunakan cara yang lebih mendalam.

138

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Masqon. 2005. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipetensi pada Kelompok Usia Lanjut di Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal. Thesis, http://eprints.undip.ac.id. FKM UNDIP. Diakses tanggal 29 Oktober 2010, pukul 19.00 WIB. Admin. 2009. Hipertensi, Konsumsi Garam Masyarakat Indonesia Berlebihan. Jakarta: Suara Karya ______. 2010. Menkes: Prevalensi Hipertensi di Indonesia 17-21%. Dalam http://www.madina-sk.com, diakses tanggal 27 Juni 2010, pukul 16.00 WIB. ______. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Diakses tanggal 29 mei 2010, pukul 09.30 WIB. _____. 2010. Tingkat Konsumsi Sayur dan Buah Masyarakat Indonesia Rendah. Jakarta: Koran Pikiran Rakyat. Aisyiyah, Farida Nur. 2009. Faktor Risiko Hipertensi pada Empat Kabupaten/Kota dengan Prevalensi hipertensi Tertinggi Di Jawa dan Sumatera. Bogor: Departemen gizi masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB. Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama ______. 2001. PrinsipDasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Appel LJ, et al. 1997. A clinical trial of the effects of dietary patterns on blood pressure. N Engl J Med 336:1117-24. Ariawan, Iwan. 1998. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan. Depok: Jurusan Biostatistik dan Kependudukan FKM UI. Arisman. 2009. Gizi Dalam Daur Kehidupan Edisi II. Jakarta: EGC. Astawan, Made. 2010. Dahsyatnya Tangkal Hipertensi dan Diabetes. Jakarta: Majalah Senior. Badan Pusat Statistik. 2006. Penduduk Lanjut Usia. http://www.menegpp.go.id, diakses tanggal 21 oktober 2010, pukul 21.55 Bustan, M.N. 2000. Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta : Rineka Cipta. Cahyono, Suharjo. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Jakarta : Kanisius.

139

Candraningrum, Diah. 2010. Kalsium Bukan Susu. Jakarta: Majalah Tempo. Chalmers, et al. 1999. World Health Organization-International Society of Hypertension Guidelines for The Management of Hypertension. J Hypertension, vol 17, hal 151-185. Depkes RI 2003. Pedoman Tata Laksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Depkes RI Direktorat gizi masyarakat DJBKM. ______. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tata Laksana Penyakit Hipertensi. Jakarta: Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Depkes RI. ______. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia Tahun 2007. Jakarta: Balitbangkes Depkes RI ______. 2008. Panduan Promosi Perilaku Tidak Merokok. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI. ______. 2008. Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI. ______. 1998. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut bagi Petugas Kesehatan Materi Pembinaan II. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Dian, Ade, dkk. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang Periode Januari sampai Juni 2008. Penelitian. http://yayanakhyar.wordpress.com. FK UNRI. Diakses tanggal 31 Mei 2010, pukul 22.20 WIB. Dinkes Kota Tangerang Selatan. 2009. Laporan Bulanan SKDN di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2009. Banten: Tangsel Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2006. Pedoman Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta: Depkes RI Farmacia. 2007. Konas InaSH (Indonesian Society of Hypertension) I, Panduan dalam Upaya Pengendalian Hipertensi. Simposia, Vol. 6 No. 7, Februari 2007. http://www.majalah-farmacia.com, diakses tanggal 26 Juni 2010, pukul 13.00 WIB. Febrianti, dkk. 2008. Modul Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKIK. Gray, Huon. 2005. Kardiologi Edisi IV. Jakarta: Erlangga.

140

Gunawan, Sustari Lanny. 2005. Hipertensi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Hartono, A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Ed-2. Jakarta: EGC. Hasirungan, Jefri. 2002. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipetensi pada Lansia Di Kota Depok Tahun 2002. Depok: Program Pasca Sarjana FKM UI. Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Depok: Balai Penerbit FK UI Hull, Alison. 1996. Penyakit Jantung, Hipertensi, and Nutrisi. Jakarta: Bumi Aksara. Indriasari, Lusiana. 2008. Waspadai Darah kental pada Usia Muda. http://www.kompas.com, diakses tanggal 18 Maret 2011, pukul 23.30 WIB. Jakarta: Kompas. Irza, Syukraini. 2009. Analisis Faktor-Faktor Risiko Hipertensi pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung, Sumatera Barat. Skripsi. http://www.digilibusu.or.id. Fakultas Farmasi USU. Diakses tanggal 4 Juli 2010, pukul 15.00 WIB. Iqbal, Ali. 2008. Gizi untuk Penderita Hipertensi. Dalam http://iqbalali.com, diakses tanggal 4 Juli 2010, pukul 15.30 WIB. Khomsan, Ali. 2001. Transisi Demografis dan Epidemiologis. http://www.unisodem.org, diakses tanggal 30 Mei 2010, pukul 14.30 WIB. Krummel DA. 2004. Food, Nutrition and Diet Therapy. Medical Nutrition Therapy in Hypertension. Di dalam: Mahan LK dan Escott-Stump S, editor. 2004. USA: Saunders co. hlm. 900-918. Ledikwe et al. 2007. Reductions in dietary energy density are associated with weight loss in overweight and obesitas participants in the PREMIER trial. Am J Clin Nutr 85:121221 Liman, Yogi. 2011. Tingkat Konsumsi Sayuran Masih rendah. Jakarta: Koran Kompas. Maryam, R. Siti, dkk. 2008 Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika Muchtadi, Deddy. 1988. Kebutuhan Zat-Zat Gizi bagi Manula. http://web.ipb.ac.id, diakses pada tanggal 20 oktober 2009 pukul 21.00 WIB. Jakarta: Kompas. Marvyn, Leonard. 1987. Hipertensi : Pengendalian Lewat Vitamin, Gizi dan Diet. Jakarta : ARCAN.

141

Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Price, Wilson. 2006. Patofisiologi Volume 2. Jakarta: EGC Sabri, Luknis, dkk. 2005. Statistik Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Sacks FM, et al. 1999. A Dietary Approach to Prevent Hypertension: A review of the Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) Study. Clin Cardiol 22:6-10. Sharma S, dkk. 2008. Hypertension. http//:www.emedicine.com., diakses tanggal 2 Agustus 2010, pukul 13.00 WIB. Sanusi, Anita. 2002. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipetensi pada Pos Lansia Rawat Jalan Di Poli Klinik Geriatri RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun 2002 (Analisis Data Rekam medik Tahun 2002). Skripsi. Depok: FKM UI. Sari, Nina. 2006. Gangguan Nutrisi Pada Usia Lanjut dalam Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III Edisi IV. Depok: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Sarjunani, Nina. 2009. Rancangan RPJMN 2010-2014 Kesehatan, Proses Penyusunan & Materi Kebijakan. http://www.litbang.depkes.go.id, diakses tanggal 7 Januari 2011, pukul 00.00 WIB. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI. Sheps, Sheldon G. 2005. Mayo Clinic Hipertensi, Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: PT Intisari Mediatama. Sigarlaki, Herke J.O. 2006. Karakteristik dan Faktor Berhubungan dengan Hipertensi Di Desa Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Tahun 2006. Makara, kesehatan, vol. 10, no. 2: 78-88. Jakarta: Ilmu Kesehatan Masyarakat, FK UKI. Smet, Bart. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia. Soelaeman, Rachmat. 1980. Cermin Dunia Kedokteran, N: 19. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan P.T. Kalbe Farma. Soemantri, S, dkk. 2005. Transisi Epidemiologi Di Indonesia. Bandung: Litbangkes Subecha, Mochamad. 2011. Berbagai Mineral Penyelamat Jantung. http://azzam.mojokertocyber.com, diakses tanggal 25 Januari 2011, pukul 13.00 WIB. Jakarta: Tabloid Aura.

142

Sudijanto, Kamso. 2000. Nutritional Aspects of Hipertension In The Indonesia Elderly (A Community Study in 6 Big City). Disertasi. Depok: FKM UI Suegondo, Sidartawan. 2006. Obesitas dalam Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III Edisi IV. Depok: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Sugihartono, Aris. 2007. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II pada Masyarakat (Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar). Tesis. http://eprints.undip.ac.id. Program Studi Magister Epidemiologi Pasca Sarjana UNDIP, Semarang. Diakses tanggal 16 Agustus 2010, pukul 14.44 WIB. Suhardjono. 2006. Hipertensi pada Usia Lanjut dalam Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III Edisi IV. Depok: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Suheni, Yuliana. 2007. Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Usia 40 Tahun Ke Atas di Badan Rumah Sakit Daerah Cepu. Skripsi. http://digilib.unes.ac.id. Semarang: Universitas Negeri Semarang, Fakultas Ilmu Keolahragaan. Sulistiani, Widi. 2005. Analisis Faktor Risiko Yang Berkaitan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesms Kroya I Kabupaten Cilacap Tahun 2005. Tesis. http://eprints.undip.ac.id. FKM UNDIP. Diakses tanggal 8 Oktober 2010, pukul 13.00 WIB. Sunardi, Tuti. 2000. Hidangan Sehat untuk Penderita Hipertensi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC Suryanto, Ari. 2002. Perilaku Makan, Status Gizi dan Kesehatan Wanita Usia Lanjut Di Kelurahan Cakung Timur, Jakarta dan Kelurahan Baranangsiang. Skripsi. Bogor: Jurusan GMSK, Faperta, IPB Susanto. 2010. Cekal (Cegah dan Tangkal) Penyakit Modern. Yogyakarta : CV. Andi Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Ed-3. Monica Ester, editor. Jakarta: EGC Waspadji, Sarwono. 2003. Pengkajian Status Gizi Studi Epidemiologi. Jakarta: FKUI Widiastuti, Devi. 2006. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada Usia Lanjut di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak II Kabupaten Sleman. Tesis. http://eprints.undip.ac.id. FKM UNDIP. Diakses tanggal 26 juni 2010, pukul 13.00 WIB

143

Winniford, MD. 1990. Smoking and Cardiovaskuler Function. Jurnal of Hypertension, 9 (Suppl 5) : S17-S23. Yahya. 2005. Sebelum Jantung Anda Berhenti Berdetak. Bandung: Kaifa Yahya, Harun. 2003. Penciptaan Alam Raya. Bandung: Dzikra. Yogiantoro, Muhammad. 2006. Hipertensi Essensial dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Depok: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Yuliarti, Dwiretno. 2007. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipetensi Pada Usia Lanjut Di Posbindu Kota Bogor Tahun 2007. Tesis. Depok: Program Pasca Sarjana FKM UI.

144

KUESIONER PENELITIAN Assalamualaikum wr. wb Saya Rinawang F.S mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akan melakukan penelitian tentang Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi Pada Kelompok Lanjut Usia Di Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan Tahun 2010. Oleh karena itu, saya memohon kesediaan Bapak/Ibu mengisi kuesioner ini. Adapun data individu dalam penelitian ini tidak dipublikasikan. Nomor Responden : ............................ Tanggal Wawancara : ....................2010 A. KARAKTERISTIK INDIVIDU 1. Nama : .................................. 2. Jenis Kelamin : a. Perempuan b. Laki-laki 3. Alamat : .................................. B. KONSUMSI AIR 1 Berapa kali anda mengkonsumsi air setiap hari? a. < 8 gelas/hari, berapa banyak.....? b. 8 gelas/hari C. OLAH RAGA 1 Apakah anda berolahraga? a. Ya b. Tidak (lanjut ke pertanyaan D) 2 Olah raga apa yang anda lakukan? a. Jalan pagi b. Senam c. Lainnya...... 3 Berapa menit/hari? a. < 30 menit b. 30 menit 4 Berapa hari dalam seminggu? a. 1 hari b. 2 hari c. 3 hari/lebih D. MEROKOK 1 Apakah anda merokok? a. Ya (lanjut ke pertanyaan no.4) b. Tidak pernah (lanjut ke pertanyaan E) c. Dulu pernah 2 Bila pernah merokok, sudah berapa lama berhenti?

a. 1 tahun b. > 1 tahun Sejak usia berapa anda berhenti merokok? [ a. < 40 tahun b. 40 tahun Bila ya merokok, sejak usia berapa anda mulai merokok? [ a. < 15 tahun b. 15-19 tahun c. > 19 tahun Seberapa sering anda merokok? [ a. Kadang-kadang b. Setiap hari (lanjut pertanyaan no 6) Berapa banyak anda merokok dalam sehari? [ a. 1-5 batang b. 6-12 batang (1/2 1 bungkus) c. Lebih dari 1 bungkus Kuesioner riwayat keluarga, olahraga dan merokok modifikasi dari Yuliarti (2007) STRES Apakah anda sering menderita sakit kepala? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda tidak nafsu makan? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda sulit tidur? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda mudah takut? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda merasa tegang, cemas, atau kuatir? 1. Ya 2. Tidak Apakah tangan anda gemetar? 1. Ya 2. Tidak Apakah pencernaan anda terganggu/buruk? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda sulit untuk berfikir jernih? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda merasa tidak bahagia? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda sering menangis? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda sulit untuk mengambil keputusan? 1. Ya 2. Tidak Apakah pekerjaan sehari-hari terganggu? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda tidak mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat 1. Ya 2. Tidak dalam hidup? Apakah anda kehilangan minat dalam berbagai hal? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda merasa tidak berharga? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda merasa lelah sepanjang waktu? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda mengalami rasa tidak enak diperut? 1. Ya 2. Tidak Apakah anda mudah lelah? 1. Ya 2. Tidak Kuesioner stres dikutip dari Depkes (2008)

E. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

F. PEMERIKSAAN FISIK 1 IMT Berat badan : kg Tinggi badan : cm 2 Tekanan Darah Pengukuran 1 Sistolik : mmHg Diastolik : mmHg Pengukuran ke 2 Sistolik : mmHg Diastolik : mmHg Kesimpulan = a. Hipertensi b. Tidak hipertensi Apakah anda sudah pernah terdiagnosis atau memiliki penyakit hipertensi? a. Pernah b. Tidak pernah Apakah dalam satu bulan terakhir anda memeriksakan tekanan darahnya? a. Tidak b. Pernah

G. KONSUMSI MAKANAN FOOD FREQUENCY QUESTIONER 1. Konsumsi Sumber Natrium dan Lemak No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Bahan Makanan Yang Dikonsumsi Daging Ayam (50 gr) Daging sapi (50 gr) Daging kambing (40 gr) Telur bebek (60 gr) Telur ayam (60 gr) Udang (50 gr) Hati sapi (50 gr) Teri kering (15 gr) Ikan asin (15 gr) Sosis (25 gr) Mentega (10 gr) Tepung susu (20 gr) Susu kental manis (75 gr) Biskuit (30 gr) Keju (30 gr) Minyak goreng (10 gr) Corned beef (45 gr) Sardenes (30 gr) Bakso (40 gr) Roti putih (50 gr) Roti isi (50 gr) >1x/ hari 1x/ hari 4-6x/ Minggu 1-3x/ Minggu <3x/ bulan 1 tahun Tidak sekali Pernah Jumlah yang dikonsumsi URT Berat (g) 1 ptg sdg 1 ptg sdg 1 ptg sdg 1 btr 1 btr gls 1 ptg sdg 1 sdm 1 ptg kcl 1 bh 1 sdm 4 sdm gls 3 bh 1 ptg sdg 1 sdm 2 sdm 4 bj bsr 2 ptg sdg 1 bh sdg

No 22 23 23 24 25 26 27 28 29

Bahan Makanan Yang Dikonsumsi Kecap (10gr) Saos sambel (10gr) Saos tomat (10gr) Garam (3gr) MSG Mie Instan (75gr) Sirup (15gr) Minuman soda Lain-lain........

>1x/ hari

1x/ hari

4-6x/ Minggu

1-3x/ Minggu

<3x/ bulan

1 tahun Tidak sekali Pernah

Jumlah yang dikonsumsi URT Berat (g) 1 sdm 1 bks 1 bks 1/2 sdt 1 bks 2 sdm

2. Konsumsi Buah dan Sayur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bahan Makanan yang Dikonsumsi Bayam (100gr) Brokoli (100gr) Buncis (100gr) Daun katuk (100gr) Daun pepaya (100gr) Daun poh-pohan (100gr) Daun singkong (100gr) Jamur putih (100 gr) Kacang Panjang (100gr) Kangkung (100gr) >5x/ hari 4-2x/ hari 1x/ hari 4-6x/ minggu 1-3x/ minggu 1-3x/ bulan Tidak Pernah Jumlah yang dikonsumsi URT Berat (g) 1 prg kcl 1 gls 1 prg kcl 1 gls 5 sdm 5 sdm 5 sdm 5 sdm 5 sdm 5 sdm

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

Bahan Makanan yang Dikonsumsi Kembang kol (100gr) Labu siam (100gr) Pare (100gr) Sawi hijau(100 gr) Terong (100gr) Tauge (100gr) Tomat (75gr) Wortel (100gr) Pisang ambon (75gr) Mangga (50gr) Jeruk (100gr) Melon (100gr) Alpukat (50gr) Semangka (150gr) Pepaya (100gr) Salak (75gr) Belimbing (125gr) Lain-lain................. Lain-lain.................

>5x/ hari

4-2x/ hari

1x/ hari

4-6x/ minggu

1-3x/ minggu

1-3x/ bulan

Tidak Pernah

Jumlah yang dikonsumsi URT Berat (g) 1 prg kcl 5 sdm 5 sdm 5 sdm 5 sdm 5 sdm 1 bh sdg 5 sdm 1 bh sdg bh sdg 1 bh sdg 1 ptg sdg bh bsr 1 ptg sdg 1 ptg bsr 1 bh bsr 1 bh bsr

>>>>>Terima Kasih Atas Partisipasinya<<<<

Lampiran 4 HASIL OUT PUT SPSS

1. Tekanan Darah
Statistics tekanan darah tekanan darah diastole sistole N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Minimum Maximum Percentiles 25 50 75 a. Valid Missing 105 0 91.28 90.00 90 10.261 105.279 .247 .236 .787 .467 70 125 85.00 90.00 100.00 105 0 148.67 145.00 a 135 22.631 512.147 .732 .236 .840 .467 110 230 135.00 145.00 160.00

Multiple modes exist. The smallest value is shown tek darah Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 65.7 100.0

Valid

hipertensi tdk hipertensi Total

69 36 105

65.7 34.3 100.0

65.7 34.3 100.0

Riwayat diagnosis hipertensi sebelumnya dengan tekanan darahnya dalam satu bln terakhir.
riwayat didiagnosis HT * telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir Crosstabulation telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir tidak riwayat prnh trdiagnosis HT Count didiagnosis % within riwayat didiagnosis HT HT blm trdiagnosis HT Count % within riwayat didiagnosis HT Total Count % within riwayat didiagnosis HT 15 30.0% 42 76.4% 57 54.3% ya 35 70.0% 13 23.6% 48 45.7% Total 50 100.0% 55 100.0% 105 100.0%

Case Processing Summary Cases Valid N riwayat didiagnosis HT * telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir 105 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 105 Total Percent 100.0%

Memeriksakan tekanan darahnya dg HT


telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir Frequency Valid tidak ya Total 57 48 105 Percent 54.3 45.7 100.0 Valid Percent 54.3 45.7 100.0 Crosstab tek darah hipertensi telah memerksakan tekanan tidak drahnya dalam 1 buln terkhir Count % within telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir Count % within telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir Total Count % within telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir Case Processing Summary Cases Valid N riwayat didiagnosis HT * tek darah telah memerksakan tekanan drahnya dalam 1 buln terkhir * tek darah 105 105 Percent 100.0% 100.0% N 0 0 Missing Percent .0% .0% N 105 105 Total Percent 100.0% 100.0% 32 56.1% 37 77.1% 69 65.7% tdk hipertensi 25 43.9% 11 22.9% 36 34.3% Total 57 100.0% 48 100.0% 105 100.0% Cumulative Percent 54.3 100.0

ya

Pernah terdiagnosis HT sebelumnya dg HT


riwayat didiagnosis HT Frequency Percent Valid Percent Valid prnh trdiagnosis HT blm trdiagnosis HT Total 50 55 105 47.6 52.4 100.0 47.6 52.4 100.0 Crosstab tek darah hipertensi riwayat didiagnosis HT prnh trdiagnosis HT Count % within riwayat didiagnosis HT % within riwayat didiagnosis HT Total Count % within riwayat didiagnosis HT 50 100.0% 19 34.5% 69 65.7% tdk hipertensi 0 36 36 Total 50 55 105 Cumulative Percent 47.6 100.0

.0% 100.0% 65.5% 100.0% 34.3% 100.0%

blm trdiagnosis HT Count

2. Jenis Kelamin
jenis kelamin responden Cumulativ Frequency Percent Valid Percent e Percent Valid perempuan laki-laki Total Statistics jenis kelamin responden N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Minimum Maximum Percentiles 25 50 75 Valid Missing 105 0 .33 .00 0 .474 .224 .717 .236 -1.515 .467 0 1 .00 .00 1.00 70 35 105 66.7 33.3 100.0 66.7 33.3 100.0 66.7 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N jenis kelamin responden * tek darah Percent Missing N 0 Percent .0% N Total Percent

105 100.0%

105 100.0%

jenis kelamin responden * tek darah Crosstabulation tek darah tdk hipertensi hipertensi jenis kelamin responden perempuan Count % within jenis kelamin responden laki-laki Count % within jenis kelamin responden Total Count % within jenis kelamin responden Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2-sided) 1 1 1 1.000 1.000 1.000 1.000 .000 105 1 1.000 .589 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) 46 65.7% 23 65.7% 69 65.7% 24 Total 70

34.3% 100.0% 12 35

34.3% 100.0% 36 105

34.3% 100.0%

Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases
b

df
a

.000

.000 .000

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.00. Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for jenis kelamin responden (perempuan / laki-laki) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 1.000 1.000 1.000 105 Lower .425 .746 .570 Upper 2.351 1.341 1.754

3. Konsumsi Natrium
klasifikasi natrium Frequency Percent Valid lebih cukup Total 66 39 105 Statistics jenis kelamin responden N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Minimum Maximum Percentiles 25 50 75 Valid Missing 105 0 .33 .00 0 .474 .224 .717 .236 -1.515 .467 0 1 .00 .00 1.00 Case Processing Summary Cases Valid N klasifikasi natrium * tek darah Percent Missing N 0 Percent .0% N Total Percent 62.9 37.1 100.0 Valid Percent 62.9 37.1 100.0 Cumulative Percent 62.9 100.0

105 100.0%

105 100.0%

klasifikasi natrium * tek darah Crosstabulation tek darah hipertensi klasifikasi natrium lebih Count % within klasifikasi natrium cukup Total Count % within klasifikasi natrium Count % within klasifikasi natrium 65 98.5% 4 10.3% 69 65.7% tdk hipertensi 1 1.5% 35 89.7% 36 34.3% Total 66 100.0% 39 100.0% 105 100.0%

Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
b b

df
a

Asymp. Sig. (2sided) 1 1 1 .000 .000 .000

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

84.696

80.825 98.854

.000 83.889 105 1 .000

.000

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.37. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for klasifikasi natrium (lebih / cukup) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 568.750 9.602 .017 105 Lower 61.187 3.793 .002 Upper 5286.665 24.309 .118

4. Konsumsi Lemak
Statistics konsumsi lemak N Valid 105 0 8708.61 8719.00 a 7831 2.111E3 4.458E6 .554 .236 1.970 .467 1844 15284 7461.50 8719.00 9337.50 Missing Mean Median Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Minimum Maximum Percentiles 25 50 75

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) Frequency Valid lebih cukup Total 5 100 105 Percent 4.8 95.2 100.0 Valid Percent 4.8 95.2 100.0 Cumulative Percent 4.8 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) * tek darah Percent N 0 Missing Percent .0% N Total Percent

105 100.0%

105 100.0%

klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) * tek darah Crosstabulation tek darah hipertensi tdk hipertensi klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) lebih Count % within klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) cukup Count % within klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) Total Count % within klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases .471 105 1 .493
b

Total 5 100.0% 100 100.0% 105 100.0%

4 80.0% 65 65.0% 69 65.7%

1 20.0% 35 35.0% 36 34.3%

df
a

Asymp. Sig. (2-sided) 1 1 1 .490 .836 .472

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.476

.043 .518

.658

.439

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.71. b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for klasifikasi kons lemak dari 2050 kkl (20%) (lebih / cukup) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 2.154 1.231 .571 105 Lower .232 .776 .097 Upper 20.021 1.952 3.366

5. Konsumsi Buah Dan Sayur


Statistics konsumsi buah dan sayur N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Minimum Maximum Percentiles 25 50 75 Valid Missing 105 0 205.75 192.00 a 110 101.264 1.025E4 1.113 .236 1.393 .467 59 561 134.50 192.00 255.50

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown klasifikasi konsumsi buah Frequency Valid kurang cukup Total 97 8 105 Percent 92.4 7.6 100.0 Valid Percent 92.4 7.6 100.0 Cumulative Percent 92.4 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N Percent N Missing Percent N Total Percent

Case Processing Summary Cases Valid N klasifikasi konsumsi buah * tek darah 105 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 105 Total Percent 100.0%

klasifikasi konsumsi buah * tek darah Crosstabulation tek darah hipertensi tdk hipertensi klasifikasi konsumsi buah kurang Count % within klasifikasi konsumsi buah cukup Count % within klasifikasi konsumsi buah Total Count % within klasifikasi konsumsi buah Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases 6.311 105 1 .012
b

Total 97 100.0% 8 100.0% 105 100.0%

67 69.1% 2 25.0% 69 65.7%

30 30.9% 6 75.0% 36 34.3%

df
a

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2sided) sided) 1 1 1 .012 .033 .014 .019

Exact Sig. (1sided)

6.371

4.565 6.021

.019

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.74. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for klasifikasi konsumsi buah (kurang / cukup) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 6.700 2.763 .412 105 Lower 1.277 .826 .250 Upper 35.139 9.243 .679

6. Konsumsi Air
Statistics konsumsi air putih N Valid Missing 105 0 konsumsi air putih Frequency Valid kurang cukup Total 53 52 105 Percent 50.5 49.5 100.0 Valid Percent 50.5 49.5 100.0 Cumulative Percent 50.5 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N konsumsi air putih * tek darah 105 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 105 Total Percent 100.0%

konsumsi air putih * tek darah Crosstabulation tek darah hipertensi konsumsi air putih kurang cukup Total Count % within konsumsi air putih Count % within konsumsi air putih Count % within konsumsi air putih Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases 2.914 105 1 .088
b

tdk hipertensi 14 26.4% 22 42.3% 36 34.3%

Total 53 100.0% 52 100.0% 105 100.0%

39 73.6% 30 57.7% 69 65.7%

df
a

Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1(2-sided) sided) sided) 1 1 1 .086 .131 .085 .102 .065

2.942

2.279 2.960

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17.83. b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for konsumsi air putih (kurang / cukup) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 2.043 1.275 .624 105 Lower .898 .961 .360 Upper 4.647 1.693 1.082

banyaknya jumlah air puti yang dikonsumsi Frequency Percent Valid Percent Valid <= 5 gls 6-7 gls >= 8 gelas Total 5 48 52 105 4.8 45.7 49.5 100.0 4.8 45.7 49.5 100.0 Cumulative Percent 4.8 50.5 100.0

7. Kegiatan Olah Raga


Statistics kegiatan olahraga N Valid Missing 105 0 kegiatan olahraga Frequency Percent Valid tdk olahraga olahraga Total 52 53 105 49.5 50.5 100.0 Valid Percent 49.5 50.5 100.0 Cumulative Percent 49.5 100.0

jenis-jenis olah raga yang dilakukan responden Valid Percent 49.5 36.2 14.3 100.0 Cumulative Percent 49.5 85.7 100.0

Frequency Percent Valid tdk OR jalan kaki lainnya Total 52 38 15 105 49.5 36.2 14.3 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N kegiatan olahraga * tek darah Percent Missing N 0 Percent .0% N Total Percent

105 100.0%

105 100.0%

kegiatan olahraga * tek darah Crosstabulation tek darah tdk hipertensi hipertensi kegiatan olahraga Tdk olahraga Count % within kegiatan olahraga olahraga Count % within kegiatan olahraga Total Count % within kegiatan olahraga Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square 3.943a Continuity b Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases a. b. 3.905 105 1 .048 3.168 3.982 df 1 1 1 Asymp. Sig. (2-sided) .047 .075 .046 .064 .037 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) 39 75.0% 30 56.6% 69 65.7% 13 Total 52

25.0% 100.0% 23 53

43.4% 100.0% 36 105

34.3% 100.0%

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17.83. b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for kegiatan olahraga (tdk olahraga / olahraga) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 2.300 1.325 .576 105 Lower 1.003 .998 .328 Upper 5.275 1.759 1.011

8. Perilaku Merokok
Statistics perilaku merokok N Valid Missing 105 0 perilaku merokok Frequency Valid merokok/pernah tdk Total 41 64 105 Percent 39.0 61.0 100.0 Valid Percent 39.0 61.0 100.0 Cumulative Percent 39.0 100.0

usia berhenti merokok Frequency Valid tdk pernah merokok msh merokok <40 thn >= 40 thn Total 64 21 4 16 105 Percent 61.0 20.0 3.8 15.2 100.0 Valid Percent 61.0 20.0 3.8 15.2 100.0 Cumulative Percent 61.0 81.0 84.8 100.0

usia mulai merokok Frequenc y Percent Valid tdk pernah merokok <= 15 thn 16-19 thn > =20 thn Total 64 6 15 20 105 61.0 5.7 14.3 19.0 100.0 Valid Percent 61.0 5.7 14.3 19.0 100.0 Cumulative Percent 61.0 66.7 81.0 100.0

keseringan merokok Frequency Valid tdk/pernah merokok kdang setiap hari Total 84 2 19 105 Percent 80.0 1.9 18.1 100.0 Valid Percent 80.0 1.9 18.1 100.0 Cumulative Percent 80.0 81.9 100.0

jumlah rokok yang d konsumsi dalam sehari Frequency Valid tdk merokok kadang2 1-5 btg 6-12 btg (1/2-1 bgks) > 1 bgks Total 84 2 12 4 3 105 Case Processing Summary Cases Valid N perilaku merokok * tek darah Percent N 0 Missing Percent .0% N Total Percent Percent 80.0 1.9 11.4 3.8 2.9 100.0 Valid Percent 80.0 1.9 11.4 3.8 2.9 100.0 Cumulative Percent 80.0 81.9 93.3 97.1 100.0

105 100.0%

105 100.0%

perilaku merokok * tek darah Crosstabulation tek darah Hipertensi perilaku merokok merokok/pernah tdk Total Count % within perilaku merokok Count % within perilaku merokok Count % within perilaku merokok 28 68.3% 41 64.1% 69 65.7% tdk hipertensi 13 31.7% 23 35.9% 36 34.3% Total 41 100.0% 64 100.0% 105 100.0%

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
b b

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

df
a

sided) 1 1 1 .656 .814 .655

.198

.055 .199

.680 .197 105 1 .657

.409

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14.06. b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for perilaku merokok (merokok/pernah / tdk) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 1.208 1.066 .882 105 Lower .525 .807 .506 Upper 2.778 1.407 1.538

9. Stres
Statistics keadaan stres N Valid Missing 105 0 keadaan stres Frequency Valid stress tdk stress Total 65 40 105 Percent 61.9 38.1 100.0 Valid Percent 61.9 38.1 100.0 Cumulative Percent 61.9 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N keadaan stres * tek darah Percent N 0 Missing Percent .0% N Total Percent

105 100.0%

105 100.0%

keadaan stres * tek darah Crosstabulation tek darah hipertensi tdk hipertensi keadaan stres stress Count % within keadaan stres tdk stress Total Count % within keadaan stres Count % within keadaan stres 47 72.3% 22 55.0% 69 65.7% 18 27.7% 18 45.0% 36 34.3% Total 65 100.0% 40 100.0% 105 100.0%

Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases 3.261 105 1 .071
b

df
a

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2sided) sided) 1 1 1 .070 .109 .071 .091

Exact Sig. (1sided)

3.292

2.569 3.257

.055

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.71. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for keadaan stres (stress / tdk stress) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 2.136 1.315 .615 105 Lower .935 .956 .365 Upper 4.882 1.807 1.036

10. Obesitas
Statistics indeks masa tubuh N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Minimum Maximum Percentiles 25 50 75 Valid Missing 105 0 23.409 22.900 21.7 3.8576 14.881 .653 .236 .225 .467 14.8 33.7 20.800 22.900 25.400

klasifikasi IMT Frequency Valid obesitas tdk obesitas Total 28 77 105 Percent 26.7 73.3 100.0 Valid Percent 26.7 73.3 100.0 Cumulative Percent 26.7 100.0

Case Processing Summary Cases Valid N klasifikasi IMT * tek darah 105 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 105 Total Percent 100.0%

klasifikasi IMT * tek darah Crosstabulation tek darah hipertensi klasifikasi IMT obesitas Count % within klasifikasi IMT tdk obesitas Total Count % within klasifikasi IMT Count % within klasifikasi IMT Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association b N of Valid Cases 2.775 105 1 .096
b

tdk hipertensi 6 21.4% 30 39.0% 36 34.3%

Total 28 100.0% 77 100.0% 105 100.0%

22 78.6% 47 61.0% 69 65.7%

df
a

Asymp. Sig. (2-sided) 1 1 1 .094 .150 .086

Exact Sig. (2- Exact Sig. (1sided) sided)

2.801

2.077 2.955

.109

.072

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.60. b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for klasifikasi IMT (obesitas / tdk obesitas) For cohort tek darah = hipertensi For cohort tek darah = tdk hipertensi N of Valid Cases 2.340 1.287 .550 105 Lower .851 .989 .257 Upper 6.440 1.675 1.179