Anda di halaman 1dari 10

DIABETES MILITUS DALAM KEHAMILAN DAN PERSALINAN

A. Pengertian Diabetes Militus merupakan penyakit karena kekurangan hormon Insulin sehingga glukosa tidak dapat di olah oleh badan dan kadar glukosa dalam darah meningkat, lalu dikeluarkan dalam kemih yang menjadi berasa manis. Akibatnya pembentukan gula dalam darah akan tinggi dan dapat mempengaruhi metabolisme tubuh secara menyeluruh dan mempengaruhi pola pertumbuhan dan perkembangan janin. (Corwin, elizabeth)

B. Klasifikasi 1. DM yang tergantung pada Insulin (Id DM atau Tipe I) Biasanya terdapat pada orang yang masih muda Gejala-gejalanya terjadi dengan tiba-tiba. Kadar Glukosa (Gula) Darah yang tinggi. 2. DM yang tidak tergantung pada Insulin (NID DM atau Tipe II) Biasanya terdapat pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun. Terjadi secara perlahan-lahan. Kemungkinan tiada tanda / gejala. Biasanya terdapat pada orang gemuk, usia lanjut, dan tidak aktif. 3. Tipe Spesifik diabetes lainnya Disebabkan oleh kelainan genetik, penyakit pankreas, obat-obatan, infeksi, antibodi, sindroma penyakit lain. 4. Diabetes Militus Gestasional Pada DM dengan kehamilan, ada 2 kemungkinan yang dialami oleh si Ibu, yaitu: a. Ibu hamil dengan diabetes yang sudah sudah diketahui sejak sebelum ibu tersebut hamil (pregestasional) b. Ibu hamil dengan diabetes yang baru diketahui setelah ibu tersebut hamil (diabetes militus gestasional) 90% dari wanita hamil yang menderita Diabetes, termasuk ke dalam kategori DM Gestasional (Tipe II) dan DM yang tergantung pada insulin (Insulin Dependent Diabetes Mellitus = IDDM, tipe I).

C. Gejala Umum Sering kencing pada malam hari (poliuria) Haus dan banyak minum (polidipsia), lapar (polifagia) Letih, lesu dan mudah lelah Infeksi di kulit Penglihatan menjadi kabur Peningkatan abnormal kandungan gula dalam darah (hiperglaisimia) Glukosa dalam urine / air kencing (glaikosuria) Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya Lemah badan, kesemutan, gatal, disfungsi ereksi pada pria, dan pruritis vulvae pada wanita.

D. Diagnosis DM dalam Kehamilan Skrining awal diabetes militus gestasional adalah dengan cara melakukan pemeriksaan beban 50 g glukosa pada kehamilan 24-28 minggu. Untuk tes ini pasien tidak perlu puasa. Kadar glukosa serum atau plasma yang normal harus kurang dari 130 mg/dl (7,2 mmol/l) atau kurang dari 140 mg/dl (7,8 mmol/l). dengan memakai nilai 130 mg/dl atau lebih akan meningkatkan seneitivitas tes sekitar 80-90%, tetapi menurunkan spesifitasnyadibanding bila dipakai nilai 140 mg/dl atau lebih. Apabila yang dipakai hanya nilai 130 mg/dl, hal ini akan meningkatkan terdeteksinya kasus diabetes militus gestasional yang berarti akan meningkatkan hasil positif palsu. Oleh karena itu, untuk mendeteksi adanya DMG sebaiknya tidak dipakai hanya satu nilai, tetapi keduanya yaitu 130 mg/dl dan 140 mg/dl.

Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994) Ket: TTGO = Tes Toleransi Glukosa Oral TTGO dilakukan dengan Standard WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan dalam air.

1. Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa. 2. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.

3. Diperiksa kadar glukosa darah puasa. 4. Diberikan glukosa 75 g (orang dewasa), atau 1,75 g/Kg BB (anak-anak), dilarutkan dalam 250 ml air dan diminum dalam waktu 5 menit. 5. Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai. 6. Diperiksa kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa. 7. Selama proses pemeriksaan, subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

Diagnosis yang praktis adalah menggunakan beban 75 g glukosa dan apabila ditemukan nilai 140 mg/dl dianggap DMG dan nilai > 200 mg/dl merupakan DM yang jelas (berat).

Reduksi Urine Pemeriksaan reduksi urine merupakan bagian dari pemeriksaan urine rutin yang selalu dilakukan di klinik. Hasil yang (+) menunjukkan adanya glukosuria. Beberapa hal yang perlu diingat dari hasil pemeriksaan reduksi urine adalah: 1. Digunakan pada pemeriksaan pertama sekali untuk tes skrining, bukan untuk menegakkan diagnosis. 2. Nilai (+) sampai (++++). 3. Jika reduksi (+) masih mungkin oleh sebab lain, seperti: renal glukosuria, obatobatan, dan lainnya. 4. Reduksi (++) kemungkinan Kadar Glukosa Darah (KGD) = 200 300 mg%. 5. Reduksi (+++) kemungkinan KGD = 300 400 mg%. 6. Reduksi (++++) kemungkinan KGD = 400 mg% 7. Dapat digunakan untuk kontrol hasil pengobatan. 8. Bila ada gangguan fungsi ginjal, tidak bisa dijadikan pedoman.

E. Patofisiologi Sebagian kehamilan ditandai dengan adanya resistensi dan hiperinsulinemia, yang pada beberapa perempuan akan menjadi faktor predisposisi untuk terjadinya DM selama kehamilan. Resistensi ini berasal dari hormon diabetogenik hasil sekresi plasenta yang terdiri atas hormon pertumbuhan (grouth hormon), contricotopin releasing hormon, placental lactogen, dan progesteron. Hormon ini dan perubahan endokrinologik serta metabolik akan menyebabkan perubahan dan menjamin pasokan bahan bakar dan nutrisi

ke janin sepanjang waktu. Akan terjadi diabetes militus gestasional apabila fungsi pankreas tidak cukup untuk mengatasi keadaan resistensi insulin yang diakibatkan oleh perubahan hormon diabetogenik selama kehamilan. Kadar glukosa yang meningkat pada ibu hamil sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap bayi yang dikandungnya. Bayi yang lahir dari ibu dengan DM biasanya lebih besar, dan bisa terjadi juga pembesaran dari organ-organnya (hepar, kelenjar adrenal, jantung). Segera setelah lahir, bayi dapat mengalami hipoglikemia karena produksi insulin janin yang meningkat, sebagai reaksi terhadap kadar glukosa ibu yang tinggi. Oleh karena itu, setelah bayi dilahirkan, kadar glukosanya perlu dipantau dengan ketat. Ibu hamil penderita diabetes militus yang tidak terkontrol dengan baik akan meningkatkan risiko terjadinya keguguran atau bayi lahir mati. Bila diagnosis diabetes militus sudah dapat ditegakkan sebelum kehamilan, tetapi tidak terkontrol dengan baik, maka janin berisiko mempunyai kelainan kongenital

F. Resiko Tinggi DMG 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Umur lebih dari 30 tahun Obesitas dengan indeks massa tubuh 30 kg/m2 Riwayat DM pada keluarga (ibu atau ayah) Pernah menderita DM gestasional sebelumnya Pernah melahirkan anak besar > 4.000 gram Adanya glukosuria Riwayat bayi cacat bawaan Riwayat bayi lahir mati Riwayat keguguran

10. Riwayat infertilitas 11. Hipertensi

G. Komplikasi Komplikasi pada Ibu 1. Hipoglikemia, terjadi pada enam bulan pertama kehamilan 2. Hiperglikemia, terjadi pada kehamilan 20-30 minggu akibat resistensi insulin 3. Infeksi saluran kemih 4. Preeklampsi

5. Hidramnion 6. Retinopati 7. Trauma persalinan akibat bayi besar Komplikasi pada Anak 1. Abortus 2. Kelainan kongenital spt sacral agenesis, neural tube defek 3. Respiratory distress 4. Neonatal hiperglikemia 5. Makrosomia 6. Hipocalcemia 7. Kematian perinatal akibat diabetik ketoasidosis 8. Hiperbilirubinemia H. Pencegahan Penyakit ini dapat dicegah dengan merubah pola makan yang seimbang (hindari makanan yang banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam), melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari (berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat), serta rajin memeriksakan kadar gula urine setiap tahun.

I.

Pengelolaan Penanganan yang paling umum dan sering digunakan secara klinis adalah: Pemeriksaan konsentrasi gula darah ibu agar konsentrasi gula darah dapat dipertahankan seperti kehamilan normal. Pengaturan pola makan bertujuan menurunkan konsentrasi glukosa serum maternal, dengan cara membatasi asupan karbohidrat hingga 40-50 % dari keseluruhan kalori, protein 20%, lemak 30-40% dan makan tinggi serat Pemberian Insulin Penatalaksaan Antepartum Tujuan: 1. Melakukan penatalaksaan kehamilan trimester ketiga dalam upaya mencegah bayi lahir mati atau asfiksia, serta menekan sekecil mungkin kejadian morbiditas ibu dan janin akibat persalinan.

2.

Mamantau pertumbuhan janin secara berkala dan terus-menerus (misalnya dengan USG) untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan ukuran janin sehingga dapat ditentukan saat dan cara persalinan yang tepat.

3.

Memperkirakan maturitas (kematangan) paru-paru janin (misalnya dengan USG) untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan janin sehingga dapat ditentukan saat dan cara persalinan yang tepat. Dilakukan tes gula darah pada kehamilan 24 28 minggu Memperkirakan maturitas (kematangan) paru-paru janin (misalnya dengan amniosintesis) apabila ada rencana terminasi (seksio cesaria) pada kehamilan 39 minggu.

4. 5.

6.

Pemeriksaan antenatal dianjurkan dilakukan sejak umur kehamilan 32 - 40 minggu. Pemeriksaan antenatal dilakukan terhadap ibu hamil yang kadar gula darahnya tidak terkontrol, yang mendapat pengobatan insulin, atau yang menderita hipertensi. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan nonstress test dan indeks cairan amnion.

Cara dan Waktu Persalinan Pengambilan keputusan untuk melakukan persalinan lebih awal (pada kehamilan 38 minggu) dengan cara induksi persalinan atau seksio cesaria dilakukan atas pertimbangan risiko terjadinya kematian perinatal atau morbiditas perinatal yang berhubungan dengan makrosomia, distosia bahu, gawat janin, dan terjadinya sindroma distress respirasi. Penatalaksaan ibu hamil dengan DMG pada kehamilan 38 minggu dengan cara induksi persalinan yang mendapat pengobatan insulin, dihubungkan dengan upaya menurunkan berat badan janin di atas 4000 g. ibu yang mendapat pengobatan insulin, tidak ada manfaatnya menunda persalinan sampai melampaui umur kehamilan 38-39 minggu, bisa menurunkan makrosomia. Bila berat janin diduga lebih dari 4500 g, persalinan dianjurkan dengan cara seksio cesaria.

ASMA DALAM KEHAMILAN DAN PERSALINAN

A. Pengertian Asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas (Ai Yeyeh Rukiyah S.Si.T dkk. )

B. Etiologi 1. Zat-zat alergi 2. Infeksi saluran nafas 3. Pengaruh udara 4. Faktor psikis

C. Patofisiologi Asma ialah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Peningkatan respon inflamasi menyebabkan obstruksi reversibel akibat kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mukus, dan edema mukosa pada saluran pernapasan. Adanya iritan, infeksi virus, aspirin, udara dingin, dan olahraga dapat menstimulasi respon inflamasi ini. Terjadi aktivasi sel mast oleh sitokin mediates bronkokonstriksi akibat pelepasan histamin, prostaglandin D, dan leukotriens. Prostaglandin F dan ergonovin harus dihindari karena dapat menyebabkan ekserbasi asma.

D. Gejala 1. Nafas pendek 2. Nafas terasa sesak, berbunyi whesing saat menghembuskan nafas 3. Batuk-batuk (sarwono prawirohardjo.2008)

E. Pengaruh asma dalam kehamilan 1. Pada ibu Keguguran Persalinan prematur Hipertensi pada kehamilan Seksio sesaria Preeklampsia Hiperemesis gravidarum

2. Pada bayi Kematian perinatal Gangguan pertumbuhan janin Korioamnionitis

F. Penanganan asma 1. Mencegah timbulnya stres 2. Menghindari faktor risiko (alergen, infeksi saluran nafas, faktor psikis) 3. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacam yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan 4. Menggunakan obat lokal yang berbentuk inhalasi atau peroral pada asma ringan 5. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat dan serangan dapat dihilangkan dengan satu atau lebih dari obat dibawah ini : a. Epinefrin yang telah dilarutkan 0,2-0,5 ml, disuntikkan subkutis b. Isoproterenol berupa inhalasi 3-7 hari c. Oksigen d. Amniofilin 250-500 mg dalam infus glukose 5% e. Hidrokortison 260-1000 mg iv pelan-pelan atau perinfus dalam dektrose 10% 6. Mengupayakan persalinan a. Persalinan spontan dilakukan saat penderita tidak berada dalam serangan b. Melalui ekstraksi vakum/forseps saat penderita berada dalam serangan c. Seksio sesaria atas indikasi asma jarang atau tidak pernah dilakukan (sarwono prawirohardjo.2008)

Penyakit Yang Mempengaruhi Kehamilan dan Persalinan (Diabetes Melitus dan Asma)
Ditujukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Asbid IV

DISUSUN OLEH KELOMPOK VII : Dwi Lis Stiani Feny Puji Astuti PO7124009046 PO7124009054

POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN JURUSAN KEBIDANAN 2010

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu kebidanan. jakarta: Yayasan bina pustaka Ai yeyeh rukiyah, dkk. 2008. Asuhan kebidanan IV (patologi kebidanan). Jakarta Corwin, elizabeth. 2009. Buku saku Patofisiologi. Jakarta : EGC Manuaba, I Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC