Anda di halaman 1dari 21

Badan POM RI

NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN PREKURSOR


INTERNASIONAL Single Convention on Narcotic Drugs, 1961 yang diamandemen oleh Protokol 1972 Convention of Psychotropic Subtances, 1971 United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances, 1988 Yellow List Green List Red List NASIONAL UU No. 8 Thn 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tunggal Narkotika, 1961 beserta Protokol yang mengubahnya UU No.8 Thn 1996 tentang Pengesahan Konvensi Psikotropika, 1971 UU No.7 Thn 1997 tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988

DASAR HUKUM (Cont..)


1. 2. 3. 4. 5.

6. 7.

UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Ordonansi tentang obat keras (St. No. 419) Th 1942 PP No 1 Tahun 1980 tentang Ketentuan Penanaman Papaver, koka, dan Ganja (Lembaran Negara RI Tahun 1980 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3155) PP No. 72 Tahun 1988 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. PP 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian

8. 9.

10.

11.
12.

13.

14.

Peraturan Pemerintah RI No.44 Tahun 2010 tentang Prekursor Kep Pres No 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Non Departemen sebagaimana telah diubah beberapa kali dan yang terakhir dengan Kep Pres No 9 Tahun 2004 Per Men Kes No. 28/Menkes/ Per/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Per Men Kes No. 918/Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi. Kep Men Kes No. 1191/Menkes/Sk/Ix/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 918/Menkes/Per/X/1993 Tentang Pedagang Besar Farmasi Per Men Kes No. 688/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Peredaran Psikotropika Per Men Kes No. 690/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Label dan Iklan Psikotropika3

DASAR HUKUM (Cont..)


15.
16. 17. 18. 19. 20.

21. 22. 23.

24.
25.

Per Men Kes No. 785/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Ekspor dan Impor Psikotropika Per Men Kes No. 912/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Kebutuhan Tahunan dan Pelaporan Psikotropika Per Men Kes No.168/Menkes/Per/II/2005 tentang Prekursor Farmasi Kep Men Kes No. 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan Kep Men Kes No. 1191/MENKES/SK/IX/2002 tentang Perubahan atas Per Men Kes No. 918/MENKES/PER/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi Kep Men Kes No. 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Per Men Kes No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik Kep Men Kes No. 305/MENKES/SK/III/2008 tentang Penetapan RS Pengampu dan Satelit PTRM Kep Ka Badan POM Nomor: HK.00.05.3.02152 tahun 2002 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik . Kep Ka Badan POM Nomor: HK.00.05.35.02771 tahun 2002 tentang Pemantauan dan Pengawasan Prekursor Kep Ka Badan POM Nomor: PO.01.01.31.03660 tahun 2002 tentang Pengaturan Khusus Penyaluran dan Penyerahan Buprenorfin Kep Ka Badan POM Nomor: HK.00.05.3.2522 tahun 2003 tentang Pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)
4

DEFINISI NARKOTIKA

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU No.35/2009) Menteri menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No.35/2009, Pasal 9 (1)

DEFINISI PSIKOTROPIKA
Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. (UU No.5/1997) Pemerintah menjamin ketersediaan Psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan (UU No.5/1997, Pasal5 3

DEFINISI PREKURSOR NARKOTIKA


Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika yang dibedakan dalam tabel sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini UU No 35 tahun 2009

STRUKTUR ORGANISASI
Direktur Pengawasan NAPZA Subdit Pengawasan Narkotika Subdit Pengawasan Psikotropika Subdit Pengawasan Prekursor Subdit pengawasan Rokok

Seksi Pengaturan & Sertifikasi Narkotika

Seksi Pengaturan & Sertifikasi Psikotropika

Seksi Pengaturan & Sertifikasi Prekursor

Seksi Pengawasan Iklan & Promosi Rokok

Seksi Inspeksi Narkotika

Seksi Inspeksi Psikotropika

Seksi Inspeksi Prekursor

Seksi Pengawasan Produk Rokok

Tata Operasional
7

Tupoksi Ditwas Napza


Tugas Pokok Penyiapan perumusan kebijakan teknis, dan penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengawasan narkotika, psikotropika, prekursor dan zat adiktif Fungsi Penyusunan rencana dan program pengawasan narkotika, psikotropika, prekursor dan zat adiktif Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis di bidang pengawasan narkotika, psikotropika,prekursor dan zat adiktif Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, dan penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan di bidang pengawasan narkotika, psikotropika, prekursor dan zat adiktif Evaluasi dan penyusunan laporan di bidang pengawasan narkotika, psikotropika,prekursor dan zat adiktif

PENGAWASAN NAPZA
Produksi
Laporan penggunaan bahan baku Laporan hasil produksi Audit pabrik obat

Penyaluran/ distribusi
Laporan penerimaan dan penyaluran

Audit penyalur

Impor / ekspor
Was impor /ekspor bahan baku & obat jadi (terbitkan SPI/SPE) Evaluasi laporan realisasi impor

Penyerahan Tindak lanjut Sanksi admiistratif Sanksi pidana


Laporan penerimaan dan penyaluran Audit penyalur

PENCEGAHAN DIVERSI

Kerangka Pengawasan Prekursor


Permenkes RI No 168/Menkes/ Per/II/2005 tentang Prekursor Farmasi PP 44/2010 tentang Prekursor

was Perketatan Pengawasan Internasional Sumber prekursor dalam negeri


Kebocoran pada Industri, PBF, Apotek, TO, PKM, GFK,RS, tender, freelance

was

Diversi Bahan Baku atau tablet

Pemantauan
INCB Interpol, dsb transaksi Eph /Pse secara internasional

was Clandestine laboratory

UN Convention Against Illicit Traffic in Narcotics Drugs & Psychotropics Substances, 1988 Project PRISM: Precursor Required In Synthetic Manufacture (INCB)

KOORDINASI BADAN POM DENGAN INSTANSI TERKAIT DALAM UPAYA PENGAWASAN :

> Memberi dukungan bagi instansi terkait :


1. BNN -->Koordinasi penanggulangan penyalahgunaan NAPZA 2. Kepolisian RI --> Keterangan Saksi Ahli,uji laboratorium, joint-investigation 3. Bea dan Cukai --> Pengawasan lalu lintas impor/ekspor melalui pabean 4. Depdag --> Pengawasan prekursor untuk industri kimia

> KERJASAMA INTERNASIONAL:


Negara Eksportir dan negara importir --> Berkaitan dengan SPI/SPE, Pra Notifikasi Ekspor dan endorsemen.

PENYALURAN NARKOTIKA
Industri Farmasi
ULS (UNIT LOGISTIK SENTRAL) KIMIA FARMA

PBF Kimia Farma lain

Apotek Rumah Sakit Sarana Pelayanan Pemerintah

PENYALURAN PSIKOTROPIKA
Industri Farmasi

PBF

PBF lain

Apotek

Rumah Sakit
Sarana Pelayanan Pemerintah

LANJUTAN

PENYERAHAN (RESEP DOKTER)


Apotek lain Rumah Sakit Puskesmas Balai Pengobatan, dokterdokter, pasien pengguna

HANYA KE PASIEN PENGGUNA

DASAR HUKUM PENGAWASAN PRODUK DAN IKLAN ROKOK


1. UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan 2. UU No 8 tahun 1999, tentang Perlindungan Konsumen 3. UU No 40 tahun 1999, tentang Pers 4. UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran 5. PP No 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan

(6. RPP tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat adiktif bagi kesehatan )
15

DEFINISI ROKOK
Hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan
(PP 19 Tahun 2003)
16

UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


Pasal 113 (1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. (2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya.
17

PP NOMOR 19 TAHUN 2003 PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN

Pasal 36 ayat 1

Pengawasan terhadap produk rokok yg beredar dan iklan dilaksanakan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Pengawasan berkaitan dengan :
1. 2. 3.

kebenaran kandungan kadar Nikotin dan Tar, pencantuman peringatan kesehatan, kode produksi pada label, dan ketaatan dalam pelaksanaan iklan & promosi rokok

18

LABEL ROKOK
Setiap keterangan mengenai rokok yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada rokok, dimasukkan ke dalam, ditempatkan pada, atau merupakan bagian kemasan rokok.

19

IKLAN ROKOK
Kegiatan untuk memperkenalkan, memasyarakatkan

dan/atau mempromosikan rokok dengan atau tanpa imbalan kepada masyarakat dengan tujuan mempengaruhi konsumen agar menggunakan rokok yang ditawarkan.

20

21