Anda di halaman 1dari 20

Tugas Ginekologi

DISMENORE

OLEH : KELOMPOK II ANGGI ANGRAINI (70400009002) NUR QADARIYAH (70400009019)

JURUSAN KEBIDANAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja atau pubertas adalah usia antara 10-19 tahun, dan merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa (Dawkins, 2006). Masa remaja atau puber adalah suatu tahap dalam perkembangan saat kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi (Mighwar, 2006) Salah satu tanda seorang perempuan memasuki masa remaja adalah terjadinya menstruasi (Ramaiah,2006). Selama periode menstruasi , kaum wanita sering mengalami masalah, karena proses dan siklus menstruasi dapat mengalami pasang surut serta berubah-ubah setiap bulannya. Masalah yang sering timbul dan yang paling banyak dialami wanita adalah gannguan nyeri menstruasi (Baziad,1992). Nyeri pada saat menstruasi tersebut dinamakan dismenore (Smeltzer, 2002). Dismenore merupakan kejadian yang paling banyak terjadi dalam tiga tahun pertama setelah menarche (Dawkins,2006). Dismenore biasanya terasa di perut bagian bawah, kadang-kadang meluas ke pinggul, punggung bagian bawah dan paha, bahkan ada yang merasa mual, muntah,diare atau sakit yang dirasakan sebelum, selama dan sesudah haid (Varney, 2006). Angka kejadian dismenore di Indonesia adalah sekitar 54,89% sedangkan sisanya 45,11% adalah penderita dengan tipe sekunder, yaitu yang disebabkan oleh penyakit tertentu (Qittun,2008)

Dismenore

dengan tingkatan nyerinya sering menimbulkan rasa cemas

(Rasmun,2001). Dan sebaliknya faktor-faktor psikologis seperti keceemasan dan ketegangan dapat meningkatkan dismenore (Smeltzer, 2002; Karya, 1985; Surjana, 1989). Lanoil (1984, yang dikutip Santoso, 2008), menyatakan bahwa stress dapat menurunkan daya tahan terhadap kelelahan, nyeri, sakit, hingga gangguan pada saat menstruasi. B. Rumusan Masalah 1) Apa pengertian dismenore ? 2) Bagaimana klasifikasi dismenore ? 3) Bagaimana menifestasi klinik dari dismenore ? 4) Jelaskan patofisiologis terjadinya dismenore ? 5) Bagaimana diagnosis dismenore ? 6) Jelaskan penanganan dari dismenore ? C. Tujuan Penulisan 1) Untuk mengetahui apa pengertian dismenore serta menganalisa bagaimana patomekanisme terjadinya dismenore 2) Melatih penulis untuk berfikir secara rasional dan sistematis dalam memecahkan suatu masalah 3) Menambah pengalaman dalam hal membuat suatu karya tulis 4) Menambah pengetahuan karena dalam pengumpulan data, penulis banyak membaca buku-buku atau sumber bacaan yang berhubungan dengan masalah ini. 3

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Dismenore Dismenore adalah nyeri haid yang sedemikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidup sehari-hari untuk beberapa jam atau beberapa hari (Junizar, 2001). B. Klasifikasi Dismenore Dismenore dibagi menjadi dua berdasarkan ada-tidaknya kelainan ginekologis, yaitu: 1. Dismenore primer (esensial, intrinsik, idiopatik), yaitu dismenore yang terjadi tanpa disertai adanya kelainan ginekologis. 2. Dismenore sekunder (ekstrinsik, aquaired), yaitu dismenore yang berkaitan dengan kelainan ginekologis, baik kelainan anatomi maupun proses patologis pada pelvis. Pembagian ini tidak seberapa tajam batasannya karena dismenore yang pada mulanya didiagnosa sebagai dismenore primer, kadang-kadang memperlihatkan kelainan ginekologis setelah diteliti lebih lanjut sehingga menjadi dismenore sekunder. Dismenore primer timbul sejak menarche, biasanya pada tahun pertama atau kedua haid. Biasanya terjadi pada usia antara 15-25 tahun dan kemudian hilang pada usia akhir 20-an atau awal 30-an. Nyeri biasanya terjadi beberapa jam sebelum atau setelah periode menstruasi dan dapat berlanjut hingga 48-72 jam. Nyeri diuraikan 4

sebagai mirip-kejang, spasmodik, terlokalisasi pada perut bagian bawah (area suprapubik) dan dapat menjalar ke paha dan pinggang bawah. Dapat disertai dengan mual, muntah, diare, nyeri kepala, nyeri pinggang bawah, iritabilitas, rasa lelah dan sebagainya. Dismenore sekunder biasanya terjadi beberapa tahun setelah menarche, dapat juga dimulai setelah usia 25 tahun. Nyeri dimulai sejak 1-2 minggu sebelum menstruasi dan terus berlangsung hingga beberapa hari setelah menstruasi. Pada dismenore sekunder dijumpai kelainan ginekologis seperti endometriosis,

adenomiosis, kista ovarium, mioma uteri, radang pelvis dan lain-lain. Dapat pula disertai dengan dispareuni, kemandulan, dan perdarahan yang abnormal. Ditinjau dari berat-ringannya rasa nyeri, dismenore dibagi menjadi: 1. Dismenore ringan, yaitu dismenore dengan rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat sehingga perlu istirahat sejenak untuk menghilangkan nyeri, tanpa disertai pemakaian obat. 2. Dismenore sedang, yaitu dismenore yang memerlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri, tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari. 3. Dismenore berat, yaitu dismenore yang memerlukan istirahat sedemikian lama dengan akibat meninggalkan aktivitas sehari-hari selama 1 hari atau lebih. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit. Adapun Faktor risiko dismenore lain, diantaranya : 5

1.

Dismenore primer
a. b. c. d. e. f.

Awal usia saat menarche (<12 y) Siklus menstruasi panjang Nullipara Merokok Positif sejarah keluarga Kegemukan

2.

Dismenore sekunder
a. b. c. d. e. f. g. h.

Leiomyomata (fibroid) Penyakit Radang Panggul Tubo-ovarium abses Torsi Ovarium Kista Ovarium Emdometriosis Adenomyosis AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer.Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan. Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore. Dismenore sangat 6

mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan. C. Manifestasi Klinis Dismenore Ditandai oleh nyeri di abdomen bagian bawah. Hal tersebut biasanya dimulai beberapa jam sebelum atau tepat setelah onset menstruasi dan dapat berlangsung hingga 48-72 jam. Nyeri dimulai dari area suprapubic dan dapat menjalar ke area lumbosacral di punggung dan ke anterior paha. Nyeri bersifat kolik tidak seperti nyeri yang terjadi karena infeksi ataupun iritasi zat kimia. Nyeri biasanya membaik dengan masasse abdomen, counter pressure, dan pergerakan tubuh. Gejala-gejala yang timbul seperti sakit kepala, nausea, muntah, sakit pinggang, dan diare dapat dijelaskan karena masuknya prostaglandin dan metabolit prostaglandin ke sirkulasi sistemik. Pada pemeriksaan fisik, tanda vital normal. Daerah suprapubic mungkin bengkak pada palpasi. Tidak ada bengkak pada abdomen bagian atas. Pada pemeriksaan bimanual saat dismenore sering ditemukan pembengkakan uterin. Namun tidak ditemukan nyeri yang berat karena pergerakan serviks atau palpasi struktur adnexa.

Sumber: http://www.acog.org

D. Patofisiologi Dismenore Dismenore primer biasanya dimulai dalam 6 bulan pertama setelah menarche sekali siklus ovulasi teratur telah ditetapkan. Selama menstruasi, peluruhan sel endometrium melepaskan prostaglandin, yang menyebabkan iskemia uterus melalui kontraksi miometrium dan vasokonstriksi. Peningkatan kadar prostaglandin telah diukur dalam cairan menstruasi dari wanita dengan dismenore parah. Tingkat ini sangat tinggi selama 2 hari pertama menstruasi. Vasopressin juga mungkin memainkan peran yang serupa.

Patofisiologi terjadinya dismenore hingga kini masih belum jelas. Beberapa faktor diduga berperan dalam timbulnya dismenore primer yaitu: 1. Faktor psikis dan konstitusi Pada wanita yang secara emosional tidak stabil, dismenore primer mudah terjadi. Faktor konstitusi erat kaitannya dengan faktor psikis, faktor ini dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Seringkali segera setelah perkawinan dismenore hilang, dan jarang sekali dismenore menetap setelah melahirkan. Mungkin kedua keadaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa perubahan fisiologis pada genitalia maupun perubahan psikis. Disamping itu, psikoterapi terkadang mampu menghilangkan dismenore primer. 2. Faktor obstruksi canalis cervicalis Dismenore sering terjadi pada wanita yang memiliki uterus posisi hiperantefleksi dengan stenosis pada canalis servicalis. Namun, hal ini tidak dianggap sebagai faktor yang penting dalam terjadinya dismenore sebab banyak wanita yang mengalami dismenore tanpa adanya stenosis canalis cervicalis ataupun uterus hiperantefleksi. 3. Faktor alergi Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya hubungan antara dismenore dengan urtikaria, migrain atau asma bronkiale.

4. Faktor neurologist Uterus dipersyarafi oleh sistem syaraf otonom yang terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate mengemukakan bahwa dismenore ditimbulkan oleh ketidakseimbangan pengendalian sistem syaraf otonom terhadap miometrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebihan oleh syaraf simpatis sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus dan ostium uteri internum menjadi hipertonik. 5. Vasopresin Kadar vasopresin pada wanita dengan dismenore primer sangat tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa dismenore. Pemberian vasopresin pada saat menstruasi menyebabkan meningkatnya kontraksi uterus, menurunnya aliran darah pada uterus, dan menimbulkan nyeri. Namun, hingga kini peranan pasti vasopresin dalam mekanisme terjadinya dismenore masih belum jelas. 6. Prostaglandin Penelitian pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa prostaglandin memegang peranan penting dalam terjadinya dismenore. Prostaglandin yang berperan di sini yaitu prostaglandin E2 (PGE2) dan F2 (PGF2). Pelepasan prostaglandin di induksi oleh adanya lisis endometrium dan rusaknya membran sel akibat pelepasan lisosim. Prostaglandin menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabutserabut syaraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan 10

intrauterus hingga 400 mmHg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Selanjutnya, kontraksi miometrium yang disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika prostaglandin dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain dismenore timbul pula diare, mual, dan muntah. 7. Faktor hormonal Umumnya kejang yang terjadi pada dismenore primer dianggap terjadi akibat kontraksi uterus yang berlebihan. Dalam penelitian Novak dan Reynolds terhadap uterus kelinci didapatkan kesimpulan bahwa hormon estrogen merangsang kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambatnya. Tetapi teori ini tidak menerangkan mengapa dismenore tidak terjadi pada perdarahan disfungsi anovulatoar, yang biasanya disertai tingginya kadar estrogen tanpa adanya progesteron. Kadar progesteron yang rendah menyebabkan terbentuknya PGF2 dalam jumlah banyak. Kadar progesteron yang rendah akibat regresi korpus luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membran lisosom dan juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis prostaglandin melalui perubahan fosfolipid menjadi asam archidonat. Peningkatan prostaglandin pada endometrium yang mengikuti turunnya kadar progesteron pada fase luteal akhir menyebabkan peningkatan tonus miometrium dan kontraksi uterus. 11

8. Leukotren Helsa (1992), mengemukakan bahwa leukotren meningkatkan sensitivitas serabut nyeri pada uterus. Leukotren dalam jumlah besar ditemukan dalam uterus wanita dengan dismenore primer yang tidak memberi respon terhadap pemberian antagonis prostaglandin. Sedang Dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi iatrogenik dan patologis yang beraksi di uterus, tuba falopi, ovarium, atau pelvis peritoneum. Secara umum, nyeri datang ketika terjadi proses yang mengubah tekanan di dalam atau di sekitar pelvis, perubahan atau terbatasnya aliran darah, atau karena iritasi peritoneum pelvis. Proses ini berkombinasi dengan fisiologi normal dari menstruasi sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Ketika gejala ini terjadi pada saat menstruasi, proses ini menjadi sumber rasa nyeri. Penyebab dismenore sekunder dapat diklasifikasikan dalam 2 golongan, yaitu penyebab intrauterin dan penyebab ekstrauterin (Smith, 2003). Beberapa penyebab dismenore sekunder yang besifat intrauterin adalah : a. Adenomyosis Adenomyosis merupakan suatu kondisi yang dikarakterisasi oleh adanya invasi benih dari endometrium ke perototan uterus, hal tersebut sering berhubungan dengan pertumbuhan abnormal yang menyebar dari perototan. Kondisi ini dilaporkan terjadi pada 25-40% spesimen histerektomi. Nyeri akibat adenomyosis seringkali berhubungan dengan rektum atau sakrum. Endometriosis diketahui dapat terjadi

12

bersamaan pada 15% kasus. Diagnosis akhir adenomyosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikroskopik. b. Myomas Myomas atau uterine fibroids merupakan kejadian yang paling sering terjadi dan dilaporkan sebanyak 20% wanita berusia lebih dari 30 tahun, dan 30% wanita usia di atas 40 tahun. Ada beberapa ukuran tumor, dari yang paling kecil hingga yang memiliki berat lebih dari 100 pon. Walaupun tumor ini dapat terjadi pada beberapa bagian dari uterus, serviks, atau ligamen, dan hal tersebut yang lebih sering menyebabkan dismenore sekunder. Hal tersebut pula yang menyebabkan distorsi pada uterus dan cavum uterus. Nyeri dirasa meningkat karena disrupsi aktivitas normal otot uterus atau diperngaruhi oleh tekanan intrauterus.

Sumber: http://www.acog.org

13

c. Polip Meskipun polip bukan penyebab yang sering pada dismenore, massa di dalam rongga uterus dapat menyebabkan nyeri saat menstruasi. Ketika gejala cukup meluas, pertumbuhan massa ini umumnya dapat dideteksi menggunakan virtue of uterine enlargement atau hernia melalui serviks. d. Penggunaan Intrauterine Devices (IUD) Penyebab iatrogenik yang umum pada disemenore sekunder adalah penggunaan IUD. Adanya benda asing dapat meningkatkan aktivitas uterus yang dapat menimbulkan nyeri, terutama terjadi pada wanita yang belum memiliki anak. Riwayat dan adanya string IUD pada pemeriksaan fisik memberikan petunjuk yang cukup. e. Infeksi Dismenore sekunder merupakan konsekuensi dari adanya infeksi. Ketika infeksi aktif muncul, seringnya muncul secara akut, dan akan terdiagnosa lebih awal. Bekas luka dan adhesi dapat menyebabkan pergerakan serviks visera terbatas dan rasa nyeri. Nyeri ini hanya timbul selama menstruasi, intercourse, gerakan makanan, dan aktivitas fisik, serta akan menetap pada kondisi yang kronis. Riwayat infeksi pelvis, khususnya yang berulang, dengan pemeriksaan nyeri pelvis, penebalan adnexal, perpindahan yang terbatas, dapat menjadi dugaan.

14

Sedangkan beberapa penyebab yang bersifat ekstrauterin diantaranya adalah : a. Endometriosis Endometriosis merupakan kondisi adanya jaringan yang menyerupai membran mukosa uterus yang normal yang terdapat di luar uterus. Lokasi utamanya ditemukannya implan endometrium adalah di ovarium, ligamen uterus, rectovaginal septum, pelvis peritoneum, tuba falopi, rektum, sigmoid, dan kandung kemih, serta lokasi yang jauh dari uterus seperti plasenta dan vagina. Walaupun 8-10% pasien mengalami gejala akut, sebagian besar pasien mengeluhkan dismenore yang berat dengan gejala pada punggung dan rektum. Adanya nodul pada daerah uterosacral, pada pasien yang memiliki gejala menyerupai inflamasi kronis pada pelvis dapat ditentukan kemungkinan adanya endometriosis. b. Tumor Tumor yang jinak maupun ganas dapat menyebar pada uterus atau struktur adnexal, dan kemungkinan dapat menyebabkan dismenore atau nyeri pelvis. Walaupun tumor secara tunggal tidak menyebabkan nyeri, adanya massa pada pemeriksaan fisik menjadikan dokter mendiagnosa kemungkinan adanya massa, dan bukan hanya fibroid. c. Inflamasi Inflamasi kronis dapat menjadi sumber nyeri pelvis dan dismenore, hal ini dapat terjadi karena efek aktif dari inflamasi atau adanya bekas luka dan kerusakan yang disebabkan sebelumnya.

15

d. Adhesions Adhesi muncul dari proses inflamasi sebelumnya atau pembedahan yang dapat menjadi sumber nyeri pelvis kronis, namun jarang menyebabkan dismenore. Meskipun secara umum tidak tampak pada pemeriksaan fisik, riwayat pasien dapat membantu dalam evaluasi kemungkinan penyebabnya. e. Psikogenik Dismenore akibat faktor psikologis relatif umum terjadi. Karena seringnya dismenore terjadi dan tidak adanya penjelasan untuk keluhan yang dirasakan pasien, maka dengan mudah dapat dikatakan bahwa rasa nyeri yang ada merupakan salah satu perasaan yang berhubungan dengan kondisi psikologis. Telah banyak laporan mengenai berbagai tipe personal yang diyakini memiliki hubungan dengan dismenore dan nyeri pelvis kronis. Hanya sedikit pasien yang menganggap bahwa nyeri atau dismenore yang dialaminya merupakan nyeri karena pengaruh psikologis. f. Pelvic congestive syndrome Istilah dari pelvic congestive syndrome umumnya digunakan untuk pasien dengan keluhan nyeri pelvis yang bersifat kronis atau dismenore yang kambuh dan tidak ditemukan tanda-tanda klinik. Beberapa studi melaporkan bahwa pada pasien dengan gejala ini ditemukan adanya pelebaran pembuluh vena pada pelvis ketika dilakukan laparoskopi. Hal ini menjelaskan bahwa pelebaran vena ini menyebabkan keluhan nyeri dan penebalan pelvis.

16

g. Nongynecology Seperti pada kasus nyeri nyeri pelvis akut, dinding abdominal, kandung kemih, rektum, sigmoid, dan elemen skeletal dari pelvis dapat menjadi sumber penyebab nyeri pelvis kronis. Semua faktor penyebab itu harus didiagnosa melalui pemeriksaan fisik dan riwayat pasien dengan keluhan nyeri pelvis kronis (Smith, 2003). E. Diagnosis Dasar dari diagnosis dismenore primer adalah dengan mengeliminasi patologi pelvic dan meyakinkan sifat nyeri yang siklik. Harus dilakukan pemeriksaan fisik pada pelvic untuk menilai ukuran, bentuk, dan mobilitas uterus. F. Penanganan 1. Penerangan dan nasihat Perlu dijelaskan kepada penderita behwa dismenore adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu/takhyul perlu dibicarakan. Nasihatnasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga yang teratur mungkin dapat berguna. Kadang-kadang perlu juga psikoterapi. 2. Pemberian obat analgetik Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi rasa nyeri tersebut. Obat analgesic yang biasa diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin dan kafein. Obat-obat 17

paten yang beredar di pasaran antara lain novalgin, ponstan, achet-aminophen, dan sebagainya. 3. Perawatan Lain Pengobatan lain dapat membantu mengurangi rasa sakit, walaupun tidak dapat mencegah terjadinya dismenore, adapun alternative lain untuk mengatasi nyeri haid : a. Konsumsi vitamin B 1 atau suplemen magnesium, vitamin E, B6, atau minyak ikan. Di berbagai negara Eropa, telah dilakukan penelitian jika suplemen tersebut dapat mengurangi rasa sakit ketika menstruasi. b. Melakukan pemijatan c. Melakukan Akupunktur atau akupresur d. Kompres dengan botol air hangat pada bagian yang terasa kram. Bisa di perut atau pinggang bagian belakang. e. Mandi air hangat. Bisa juga ditambah aromaterapi untuk menenangkan diri. f. Minum minuman hangat. g. Ambil posisi menungging sehingga rahim tergantung ke bawah. Posisi ini dapat membantu relaksasi. h. Tarik nafas dalam perlahan-lahan untuk relaksasi. i. Minum obat penghilang rasa sakit. Yang harus diingat adalah obat ini sebaiknya digunakan berdasarkan pengawasan dokter.

18

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi. Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur. Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroxiprogesteron. Pemberian kedua obat tersebut

dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akanmengurangi beratnya dismenore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas. Sedang Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya. 4. Terapi hormonal Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan ini benar-benar dismenore primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai denganp pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi. Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin memegang peranan yang makin penting terhadap dismenore primer. Termasuk disini indometasin, ibuprofen, 19

dan naproksen; dalam kurang lebih 70% penderita dapat disembuhkan atau mengalami banyak perbaikan. Hendaknya perbaikan diberikan sebelum haid mulai; 1 sampai 3 hari sebelum haid, dan pada hari pertama haid. Dilatasi kanalis servikalis dapat member keringanan karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya. Neurektomi prasakral (pemotongan urat saraf sensorik antara uterus dan SSP) ditambah dengan neurektomi ovarial (pemotongan urat saraf sensorik yang ada di ligamentum infundibulum) merupakan tindakan terakhir, apabila usaha-usaha lain gagal. REFERENSI Hanifa,W.2007.Ilmu kandungan.Ed.2.Cetakan 5.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-jannahrahm-5192-2bab1.pdf http://emedicine.medscape.com/article/795677-overview http://morningcamp.com/?p=219 http://ivadillaazzahra.blogspot.com/2009/04/dismenore.html www.fkunsri.wordpress.com http://sehatnews.com/mobile/penyakit-a-z/d/3206.html http://www.acog.org/publications/patient_education/bp046.cfm http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiahkedokteran/kandungan-dan-kebidanan-obstetri-ginekologi/2010/10/30/dismenore/

20

Anda mungkin juga menyukai