Anda di halaman 1dari 124

IMAM SYAFI`I

Mukhtashar

KITAB AL UMM Fi al-fiqh 1


1

Imam Syafii (Abu Abdillah Muhammad bin Idris)

MUKHTASHAR

AL UMM Fii al-fiqh


Kitab Induk Madzhab Syafii

Imam Syafi`i Abu Abdillah Muhammad bin Idris


Ringkasan al- Umm / Imam Syafi`i Abu Abdillah Muhammad bin Idris; Penerjemah : Abu Vida` Anshari, dkk. Judul Asli : Mukhtashar Kitab al- Umm fi al-Fiqhi

Judul buku : Mukhtashar Kitab al-Umm fi al-Fiqhi Pengarang : Imam Syafi`i Abu Abdillah Muhammad bin Idris Peringkas dan Peneliti : Husain Abdul Hamid Abu Nasir Nail Penerbit : Darul Arqam bin Abil Arqam, Beirut Libanon. Edisi Terjemah : MUKHTASHAR KITAB AL- UMM

Allah swt. berfirman : Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. ( Surat Faathir (35) : 28 )

Pengantar Penterjemah

Bismillahirrahmaanirrahiim Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Salawat dan salam tersanjung kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw, berikut keluarga, para sahabat dan terlimpah kepada seluruh pengikutnya. Berkat inayah Allah, kami dapat menyelesaikan penterjemahan kitab Al-Umm, sebuah kitab induk madzham SyafiI yang paling utama. Al-Umm adalah sebuah kitab kelasik karya terbesar imam Syafi. Beliau bernama Abu Abdillah Muhammad bin Idris. Panggilan Syafi diperoleh dari datuknya, Syafi bin al-Saib. Nasab beliau tercatat dalam sejarah sampai pada Abdi Manaf, datuk Rasulullah Saw. Imam Syafi dikenal sebagai peletak dasar metodologi pemahaman hukum dalam Islam. Kitab Al Umm adalah buah karya terbesar beliau yang berisi fatwafatwa fikih hasil pengembangan motode qiyas yang berfungsi untuk memperjelas suatu posisi hukum. Kitab ini menjadi kitab induk bagi penganut faham sunni yang bermadzhab syafi. Banyak ulama fikih yang lahir sesudah beliau menempatkan Al Umm menjadi rujukan utama dalam mengembangkan fatwafatwa fikih kontemporer. Masyarakat muslim di Indonesaia adalah pengikut madzhab Syafi yang paling besar di dunia. Imam Syafi adalah ulama yang paling terkenal kehati-hatiannya (ikhtiyath) dalam memutuskan persoalan hukum. Namun begitu dibanding tiga madzhab yang lain (Maliki, Hambali dan Hanafi), keputusan-keputusan hukum yang dibuat imam Syafi cenderung moderat; sekalipun tidak dipungkiri terdapat juga sebagian fatwa beliau yang tegas dan berat. Kitab Al Umm berisi persoalan-persoalan fiqhiyah keseharian yang

berkaitan dengan ibadah, muamalah dan siyasah. Topik pembahasannya terasa masih relevan dengan kondisi terkini. Inilah salah satu bagian dari kehebatan kitab Al Umm.

Hadirnya kitab terjemahan ini di tangan pembaca diharap mempermudah penyerapan pengetahuan fikih imam Syafii. Adalah sangat ironis jika banyak orang mengakui mengikuti madzhab Syafii, tetapi nyatanya belumpernah melihat apalagi membaca karya besar ulama ini. Itu sebabnya muncul kecenderungan yang membedakan antara pengikut Syafi dan Syafiiyah. Pengikut yang pertama berarti dalam memahami fikih berpegangan langsung pada pandangan-pandangan imam Syafii. Sedangkan yang kedua cenderung mengambil ringannya cukup berpegang pada pandangan-pandangan ulama pengikut madzhab Syafii dalam berfikih. Apapun adanya perbedaan itu memang seharusnya pengikut madzhab Syafii mengetahui langsung pandangan-pandangan beliau dalam berfikih. Semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi kita semua. Kudus, 9 Juli 2006 Abu Vida Anshari

Mukaddimah

Segala puji hanya bagi Allah swt. penguasa semesta alam. Shalawat dan salam seenantiasa terlimpah kepada mahluk Allah yang paling mulia, baginda Nabi Muhammad saw. Segala puji hanya bagi Allah swt. yang telah melebihkan dan mengangkat derajat para ulama dengan al-Qur`an dan Sunnah Rasul-Nya, serta dengan ilmu yang telah mengantarkan Islam beserta pengikutnya menuju kejayaan dan kemuliaan. Allah swt. berfirman : Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. ( Surat Faathir (35) : 28 ) Pada saat kami mendatangi perpustakaan Islam untuk menyerahkan kitab yang berjudul Mukhtashar al-Umm karya seorang ulama besar, Imam Syafi`i untuk diterbitkan, terbersit dalam pikiran kami semoga kitab ini dapat memberikan kontribusi yang sangat berharga kepada umat manusia terutama bagi semua pelajar dan pembaca. Kami sangat berterima kasih dan bersyukur karena telah berhasil menyelesaikan ringkasan, mentahqiq dan sekaligua memberikan komentar terhadap kitab ini. Karya ini adalah merupakan permintaan Ustadz Akram Thiba`, seorang direktur penerbit Dar al-Qalam yang berpusat di Beirut, Lebanon. Oleh sebab itu, sekali lagi kami berterima kasih atas perhatian yang besar dari beliau terhadap penyebaran warisan Islam yang berupa buku induk dalam bidang kajian fiqih dalam kemasan baru yang lebih menarik. Semoga Allah swt. menjadikan karya ini sebagai amal baik yang mulia, yang dapat menambah beratnya timbangan kebaikan kita semua. Amiin. Husain Abdul Hamid Nashir Nail

BIOGRAFI IMAM SYAFI`I. Nasab dari pihak ayah. Ayahnya bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi` bin Sa`ib bin Abid bin Abu Yazid bin Hisyam bin Muthalib bin Abdu Manaf bin Qusayyi bin Kilab bin Murrah, nasab beliau bertemu dengan Rasulullah saw. pada Abdu Manaf bin Qusayyi. Nasab dari pihak Ibu. Ibnunya bernama Fatimah binti Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Orang-orang mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui Hasyimiyah melahirkan keturunan kecuali Imam Ali bin Abi Thalib dan Imam Syafi`i. Kelahiran Imam Syafi`i. Dia dilahirkan pada tahun 150 H. bertepatan dengan dimana Imam Abu Hanifah meninggal dunia. Dia dilahirkan di desa Ghazzah, Asqalan. Ketika usianya mencapai dua tahun, ibunya mengajak pindah ke Hijaz dimana sebagian besar penduduknya berasal dari Yaman, ibunya sendiri berasal dari Azdiyah. Lalu keduanya menetap di sana. Akan tetapi saat usianya telah mencapai sepuluh tahun, ibunua mengajak pindah ke Makkah lantaran khawatir akan melupakan nasabnya. Jenjang Pendidikan Imam Syafi`i. Imam Syafi`i sejak kecil hidup dalam kemiskinan, pada waktu dia diserahkan ke bangku pendidikan, para pendidik tidak memperoleh upah dan mereka hanya terbatas pada pengajaran. Akan tetapi setiap kali seorang guru mengajarkan sesuatu pada murid-murid, terlihat Syafi`i kecil denga ketajaman akal pikiran yang dimilikinya mampu menangkap semua perkataan serta penjelasan gurunya. Setiap kali gurunya berdiri untuk meninggalkan tempatnya, Syafi`I kecil mengajarkan kembali apa yang dia dengar dan dia pahami kepada

anak-anak yang lain, sehingga dai apa yang dilakukan Syafi`i kecil ini mendapatkan upah. Sesudah usianya menginjak ke tujuh, Syafi`i telah berhasil menghafal al-Qur`an dengan baik. Imam Syafi`i bercerita: Saat kami menghatamkan al-Qur`an dan memasuki masjid, kami duduk di majlis para ulama. Kami berhasil menghafal beberapa hadits dan beberapa masalah Fiqih. Pada waktu itu, rumah kami berada di Makkah. Kondisi kehidupan kami sangat miskin, dimana kami tidak memiliki uang untuk membeli kertas, akan tetapi kami mengambil tulang-tulang sehingga dapat kami gunakan untuk menulis. Pada saat menginjak usia tiga belas tahun, dia juga memperdengarkan bacaan al-Qur`an kepada orang-orang yang berada di Masjid al-Haram, dia memiliki suara yang sangat merdu. Suatu ketika Imam Hakim menceritakan hadits yang berasal dari riwayat Bahr bin Nashr, bahwa dia berkata: Jika kami ingin menangis, kami mengatakan kepada sesama teman Pergilah kepada Syafi`i ! jika kami telah sampai dihadapannya, dia memulai membuka dan membaca al-Qur`an sehingga manusia yang ada di sekitarnya banyak yang berjatuhan di hadapannya lantaran kerasnya menangis. Kami terkagum-kagum dengan keindahan dan kemerduan suaranya, sedemikian tinggi dia memahami al-Qur`an sehingga sangat berkesan bagi para pendengarnya. Guru-guru Imam Syafi`i. 1. Muslim bin Khalid al-Zanji, seorang Mufti Makkah pada tahun 180 H. yang bertepatan dengan tahun 796 M. dia adalah maula Mkhzum. 2. Sufyan bin Uyainah al-Hilali yang berada di Makkah, dia adalah salah seorang yang terkenal kejujuran dan keadilannya. 3. Ibrahim bin Yahya, salah satu ulama di Madinah. 4. Malik bin Anas, Imam Syafi`i pernah membaca kitab al-Muwatha` kepada Imam Malik sesudah dia menghafalnya diluar kepala, kemudian dia menetap di Madinah sampai Imam Malik wafat pada Bani

tahun 179 H. bertepatan dengan tahun 795 M. 5. Waki` bin Jarrah bin Malih al-Kufi. 6. Hammad bin Usamah al-Hasyimi al-Kufi 7. Abdul Wahab bin Abdul Majid al-Bashri. Isteri Imam Syafi`i. Dia menikah dengan seorang perempuan yang bernama Hamidah binti Nafi` bin Unaisah bin Amru bin Utsman bin Affan. Keistimewaan Imam Syafi`i. 1. Keluasan ilmu pengetahuan dalam bidang sastera serta nasab, yang sejajar dengan al-Hakam bin Abdul Muthalib, dimana Rasulullah saw. pernah bersabda:

" ' ,
Sesungguhnya Keturunan (Bani) Hasyim dan keturunan (Bani) Muthalib itu hakekatnya adalah satu. 1 2. Kekuatan menghafal al-Qur`an dan kedalaman pemahaman antara yang wajib dan yang sunnah, serta kecerdasan terhadap semua disiplin ilmu yang dia miliki, yang tidak semua manusia dapat melakukannya. 3. Kedalaman ilmu tentang Sunnah, dia dapat membedakan antara Sunnah yang shahih dan yang dha`if. Serta ketinggian ilmunya dalam bidang ushul fiqih, mursal, maushul, serta perbedaan antara lafadl yang umum dan yang khusus. 4. Imam Ahmad bin Hambal berkata: Para ahli hadits yang dipakai oleh Imam Abu Hanifah tidak diperdebatkan sehingga kami bertemu dengan Imam Syafi`i. Dia adalah manusia yang paling memahami kitab Allah swt. dan Sunnah Rasulullah saw. serta sangat peduli terhadap hadits beliau. 5. Karabisy
2

berkata: Imam Syafi`i adalah rahmat bagi umat

Nabi

Muhammad saw.
1 . H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang Wasiat, bab Qismah al-Khumus, hadits no. 2329. 2 . Karabisy dinisbatkan pada profesi penjual pakaian, namanya adalah Husain bin Ali bin Yazid.

10

6. Dubaisan

berkata: Kami pernah bersama Ahmad bin Hambal di

Masjid Jami` yang berada di kota Baghdad, yang dibangun oleh alManshur, lalu kami datang menemui Karabisy, lalu kami bertanya: Bagaimana menurutmu tentang Syafi`i ? kemudian dia menjawab: Sebagaimana apa yang kami katakan bahwa dia memulai dengan Kitab (al-Qur`an), Sunnah, serta ijma` para ulama`. Kami orang-orang terdahulu sebelum dia tidak mengetahui apa itu al-Qur`an dan Sunnah, sehingga kami mendengar dari Imam Syafii tentang apa itu al-Qur`an Sunnah dan ijma`. Humaidi berkata: Suatu ketika kami ingin mengadakan perdebatan dengan kelompok rasionalis kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkannya. Kemudian Imam Syafi`i datang kepada kami, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan itu. Imam Ahmad bin Hambal berkata: Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandapai dalam bidang fiqih (faqih) terhadap alQur`an daripada pemuda quraisy ini, dia adalah Muhammad bin Idris al-Syafi`i. 7. Ibnu Rahawaih pernah ditanya: Menurut pendapatmu, bagaimanakah Imam Syafii dapat menguasai al-Qur`an dalam usia yang masih relatif muda ? lalu dia menjawab: Allah swt. mempercepat akal pikirannya lantaran usianya yang pendek. 8. Rabi` berkata: Kami pernah duduk bersama di Majelisnya Imam Syafi`i setelah beliau meninggal dunia di Basir, tiba-tiba datang kepada kami orang A`rabi (badui). Dia mengucapkan salam, lalu bertanya: Dimanakah bulan dan matahri majleis ini ? lalu kami mejawab: Dia telah wafat. Kemudian dia menangis lalu berkata: Semoga Allah swt. memncurahkan rahmat dan mengampuni semua dosanya. Sungguh beliau telah membuka hujjah yang selama ini tertutup, telah merubah wajah orang-orang yang ingkar dan juga telah membuka kedok mereka, dan juga telah membuka pintu kebodohan 3 . Namanya adalah Abu Dubais bin Ali al-Qashbani.

11

disertai penjelasannya, lalu tidak beberapa lama orang badui itu pergi. Sikap Rendah Hati yang dimiliki Imam Syafi`i. Hasan bin Abdul Aziz al-Jarwi al-Mishri mengatakan, bahwa Imam Syafii pernah berkata: Kami tidak menginginkan kesalahan terjadi pada seseorang, kami sangat ingin agar ilmu yang kami miliki itu ada pada setiap orang dan tidak disandarkan pada kami. Imam Syafi`i berkata: Demi Allah kami tidak menyaksikan seseorang lalu kami menginginkan kesalahan padanya. Tidaklah bertemu dengan seseorang melainkan kami berdo`a Ya Allah, jadikanlah kebenaran ada pada hati dan lisannya ! jika kebenaran berpihak kepada kami, semoga dia mengikuti kami, dan jika kebenaran berpihak kepadanya semoga kami mampu mengikutinya. Imam Syafii adalah Pakar Ilmu Pengetahuan dari Quraisy. Imam Ahmad bin Hambal berkata: Jika kami ditanya tentang satu masalah dan kami tidak mengetahuinya, maka kami menjawab dengan menukil perkataan syafi`i, lantaran dia seorang imam besar yang ahli dalam ilmu pengetahuan yang berasal dari kaum Quraisy. Dalam suatu hadits diriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

/ 3 ,7 7
Orang alim dari Quraisy ilmunya akan memenuhi bumi. 4 Ar-Razi berkata: Kriteria orang orang yang disebutkan di atas ini akan terpenuhi apabila seseorang memiliki kriteria sebagai berikut : Pertama; berasal dari suku Quraisy. Kedua; memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dari kalangan ulama. Ketiga; memiliki ilmu pengetahuan yang luas, dan dikenal oleh penduduk Timur dan Barat. Benar kriteria di atas hanya terdapat pada diri Imam Syafi`i, dia adalah seorang ahli ilmu pengetahuan yang berasal dari suku Quraisy. Berikut beberapa hadits yang berkaitan dengan hal di atas. 4 . Manaqib karya Imam Baihaqi, juz 1, hlm. 45.

12

1. Riwayat dari Ibnu Mas`ud bahwa dia bersabda:

berkata bahwa Rasulullah saw.

: /' / 3' /7 G
Janganlah kalian mencaci maki suku Quraisy, karena sesungguhnya ahli ilmu di antara mereka akan memenuhi dunia. Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau telah menimpakan azab yang terdahulu dari mereka, anugerahkan nikmat-Mu yang terakhir dari mereka. 5 2. Riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda : maka

: /' / 3' /7 '


Ya Allah tunjukkanlah orang-orang Quraisy, karena

sesungguhnya orang alim di antara mereka akan memenuhi dunia. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan azab kepada mereka, maka berikanlah
6

.juga Ni`mat-Mu atas mereka. Beliau mengulanginya sampai tiga kali

3. Dia adalah orang Quraisy dari Bani al-Muthalibi, Rasulullah saw. bersabda:

' 3 ' 7 7 " ' ,


Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani Muthalib adalah adalah satu. Lalu Rasulullah saw. merapatkan jari tangannya. 7 Selanjutnya Rasulullah saw. kembali bersabda :

X ,\ 7 7 7 '
sesungguhnya Allah swt. mengutus untuk umat ini pada setiap setiap seratus tahun seseorang yang memperbaharui agama-Nya. 8

5 . H.R. Abu Daud Thabalasi dalam kitab Musnad-nya, hlm. 39-40.


6 . Khatib, dalam Tarikh, juz 2, hlm. 61. 7 . H.R. Sunan Kubra, juz 6, hlm. 340. 8 . Al-Mustadrak, juz 4, hlm. 522, dan Khatib dalam Tarikh, juz 2, hlm. 61.

13

Anak-anak Imam Syafi`i. 1. Abu Usman Muhammad, dia seorang hakim di kota Halib, Syam (Syiria). 2. Fatimah. 3. Zainab. Imam Syafi`i ke Mesir. Imam Syafi`i datang ke Mesir pada tahun 199 H. atau 814/815 M. pada masa awal khalifah al-Ma`mun, lalu dia kembali ke Baghdad dan bermukim di sana selama satu bulan, kemudian dia kembali lagi ke Mesir. Dia tinggal di sana sampai akhir hayatnya pada tahun 204 H. atau 819/820 M. Kitab-kitab Karya Imam Syafi`i. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Al-Risalah al-Qadimah (kitab al-Hujjah) Al-Risalah al-Jadidah. Ikhtilaf al-Hadits. Ibthal al-Istihsan. Ahkam al-Qur`an. Bayadh al-Fardh. Sifat al-Amr wa al-Nahyi. Ikhtilaf al-Malik wa al-Syafi`i. Ikhtilaf al- Iraqiyin.

10. Ikhtilaf Muhammad bin Husain. 11. Fadha`il al-Quraisy 12. Kitab al-Umm 13. Kitab al-Sunan Wafatnya Imam Syafi`i. Beliau menderita penyakit ambeien pada akhir hidupnya, sehingga mengakibatkan beliau wafat di Mesir pada malam Jum`at sesudah shalat Maghrib, yaitu pada hari terakhir di bulan Rajab. Beliau di makamkan pada Hari Jum`at pada tahun 204 H. bertepatan tahun 819/820 M. makamnya berada di kota

14

Kairo, di dekat masjid Yazar, yang berada dalam lingkungan perumahan yang bernama Imam Syafi`i.

KITAB TATA CARA BERSUCI (THAHARAH ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :

15


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. Dialah yang Suci dan Maha Tinggi, Dialah yang menciptakan air bagi mahluk-Nya, manusia tidak memiliki kemampuan sedikitpun dalam penciptaannya. Dia telah menyebutkan air secara umum, maka di dalamnya termasuk juga air hujan, air sungai, air sumur, air yang keluar dari celah-celah bukit, air laut, baik yang asin maupun yang tawar. Semua jenis air itu dapat dipergunakan untuk bersuci bagi yang hendak berwudlu atau mandi. Makna secara lahir dari ayat di atas mengisyaratkan bahwa semua jenis air adalah suci, baik air laut maupun air yang lain. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. Wahai Rasulullah, kami pernah berlayar, sedangkan kami hanya memiliki sedikit persediaan air. Jika kami berwudlu dengannya, maka kami akan kehausan, maka apakah kami boleh berwudlu dengan air laut ? kemudian Rasulullah saw. bersabda :

16

p '
Laut itu airnya suci dan bangkainya halal. 9 Imam Syafii berkata: Hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda :

3
Barang siapa tidak dapat disucikan dengan air laut, maka Allah swt. tidak mensucikannya. 10 Imam Syafi`i berkata: Setiap air tetap suci selama belum bercampur dengan najis. Tidak ada yang membersihkan dan menyucikan kecuali air atau tanah, baik air embun, salju yang mencair, air yang dipanaskan atau tidak dipanaskan, lantaran air memiliki sifat untuk menyucikan dan api tidak merubahnya menjadi najis. Kami tidak memandang makruh menggunakan air yang dipanaskan dengan sinar matahari untuk bersuci, hanya saja tidak baik dari sisi kesehatan, lantaran hal itu dapat menyebabkan penyakit kusta. Air Yang Dapat Berubah Menjadi Najis. Imam Syafi`i berkata: mengalir dan tergenang. a. Air Mengalir. Jika di dalam air yang mengalir itu terdapat sesuatu yang diharamkan; sebagaimana bangkai, darah atau sejenisnya dan berhenti pada suatu muara, maka air yang tergenang itu menjadi najis jika kadar air lebih sedikit dari jumlah bangkai, yakni kurang lebih lima bejana. 11 Namun jika airnya lebih dari lima bejana, maka dia tidak dikategorikan najis, melainkan jika rasa, warna dan baunya telah berubah lantaran najis, karena air yang mengalir akan menghanyutkan semua kotoran. Jika bangkai atau kotoran hanyut dalam aliran air, maka bagi seseorang boleh bersuci pada bagian air yang datang setelahnya, karena air yang mengikuti 9 . H.R. Nasa`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang air, bab Wudlu dengan air laut. Juz 1,
hlm. 176. 10 . H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci, bab Wudlu dengan air laut. Hadits no. 309. 11 . Lima geriba sama dengan seperempat hasta orang dewasa; baik panjang, dalam dan luasnya.

Air dibagi menjadi dua macam: yaitu yang

17

bangkai tersebut tidak dianggap air yang ditempati bangkai itu disebabkan tidak dicampuri oleh najis. Jika kadar air yang mengalir itu sedikit dan di dalamnya terdapat bangkai, kemudian seseorang berwudlu dengan air yang ada disekitarnya, maka hal itu tidak diperbolehkan apabila air yang berada di sekitar bangkai itu kurang dari lima geriba. Akan tetapi baginya boleh bersuci dengan air yang berikutnya. Imam Syafi`i berkata: Jika air yang mengalir baik jumlahnya seikit atau banyak- itu bercampur dengan najis sehingga bau, rasa dan warnanya berubah, maka air itu menjadi najis. Jika aliran air melewati sesuatu yang haram dan dapat merubah keadaan air dimana keduanya bercampur, kemudian aliran air itu melewati sesuatu yang haram dan dapat merubah keadaan air dimana keduanya bercampur, lalu aliran itu melewati saluran lain yang tidak berubah, maka air yang tidak berubah itu suci sedangkan air yang berubah itu menjadi najis. b. Air Tergenang. Air tergenang terdiri dari dua macam : Pertama, air yang tidak najis jika bercampur dengan sesuatu yang haram, kecuali jika warna, bau dan rasanya telah berubah. Jika sesuatu yang haram terdapat dalam air itu dan merubah salah satu sifat yang disebutkan, baik warna, bau dan rasanya, maka air itu menjadi najis baik seikit maupun banyak. Kedua, air yang najis jika bercampur dengan sesuatu yang haram, sekalipun yang haram itu tidak terdapat padanya. Jika seseorang bertanya: Apakah alasan dalam membedakan antara air yang najis dan air yang tidak najis, padahal tidak ada perubahan apapun pada salah satunya ? maka sebagai jawabannya adalah hujjah yang berasal dari al-Sunnah. Yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda :

/' 7 3
Jika air ada dua kolam, maka dia tidak membawa najis. 12 Imam Syafi`i berkata: Jika kadar air berukuran lima bejana, maka air yang mengalir itu tidak mengandung najis. Akan tetapi jika air kurang dari lima
12 . H.R. Tirmidzi, bab wudlu, hadits no. 67, jilid 1, hlm. 97.

18

bejana dan bercampur dengan bangkai, maka air itu dikategorikan sebagai air najis. Bejananyapun najis sekalipun isinya sudah dibuang, akan tetapi dapat suci kembali jika disucikan. Akan tetapi jika air yang kurang dari lima geriba itu bercampur dengan najis dan keadaan air itu menjadi berubah, maka hukumnya adalah najis. Namun apabila dituangkan air lain sampai menjadi lima geriba atau lebih, maka air tersebut dianggap sebagai air yang suci. Demikian juga jika air yang bercampur najis itu dituangkan ke air yang lain yang lebih sedikit darinya atau lebih banyak, dan sesudah dicampur keduanya mencapai kadar lima bejana atau lebih, maka salah satu dari keduanya tidak merubah yang lainnya menjadi najis. Jika keduanya telah mencapai lima bejana, maka keduanya adalah suci. Kemudian jika dipisahkan kembali keduanya tidak dihukumi najis setelah keduanya dalam kondisi suci, melainkan jika ada najis yang mencampurinya. Imam Syafi`i berkata: Kotoran burung baik yang dagingnya boleh dimakan atau tidak- jika berbaur dengan air, maka air itu menjadi najis, lantaran kotoran itu menjadi basah sebab berbaur dengan air. Sedangkan keringat orang Nasrani, orang Majusi, orang yang sedang Junud serta wanita yang sedang haidl tidak najis. Demikian juga keringat setiap binatang ternak dan binatang buas tidak najis, kecuali anjing dan babi. Imam Syafi`i berkata: Demikian juga dengan keringat manusia jika bercampur dengan air, maka ia tidak najis, lantaran keringat seluruh manusia dan binatang ternak tidak najis dari tempat manapun keringat itu keluar, baik dari arah ketiak manusia atau lainnya. Imam Syafi`i berkata: Jika bejana tanah atau sumur yang dibangun (diberi dinding) terkena najis yang di dalamnya terdapat sedikit air, padahal dapat menampung banyak air, kemudian ada juga benda haram yang bercampur dengan air itu, kemudian dituangkan ke dalamnya air lain sehingga benda haram iu menjadi tidak ada, akan tetapi kadar air masih sedikit, maka air itu dianggap najis. Kemudian jika dituangkan lagi pada air itu air lain yang sebanding dengan air tadi, sehingga tidak ada lagi benda haram, maka air itu menjadi suci. Bejana tanah dan sumur yang berisi air itu menjadi suci, keduanya dihukumi najis karena

19

airnya. Jika air telah menjadi suci, maka sesuatu yang disentuh oleh air itu juga dihukumi suci. Bejana itu tidak merubah hukum air. Sebagaimana air tidak merubah hukum bejana, hanya saja bejana mengikuti hukum air, ia suci dengan sucinya air dan dianggap najis lantaran airnya najis. Jika air sedikit yang berada dalam satu bejana bercampur dengan najis, maka cukup dengan membuang airnya dan mencucinya. Kecuali jika anjing dan babi meminum air bejana tersebut, maka cara mensucikannya dengan mencuci bejana tersebut sampai tujuh kali dimana pada cucian pertama atau terakhir menggunakan tanah, karena ia tidak suci selain dengan cara semacam itu. Jika seseorang berada di laut dan tidak mendapatkan tanah, kemudian orang tersebut mencucinya dengan sesuatu yang dapat menggantikan tanah, sebagaimana abu gosok, sikat atau yang lain, maka dalam permasalahan ini ada dua pandangan: Pertama; bejana itu tetap tidaksuci, lantaran cara mensucikannya tidak boleh dengan sesuatu yang lain kecuali tanah. Kedua; bejana itu dapat disucikan dengan sesuatu yang menggantikan tanah atau yang dapat lebih membersihkan daripada tanah. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang bertanya: Apakah alasan kamu mengatakan bahwa jika seekor anjing atau babi meminum air dari suatu bejana maka bejana itu tidak akan dapat disucikan melainkan dengan tujuh kali basuhan, dimana salah satunya dicampur dengan debu, sedangkan bangkai atau darah yang jatuh ke dalam bejana itu cukup dengan sekali cuci saja, sekalipun semuanya tidak memberi perubahan apapun pada air itu ? Maka sebagai jawaban yang disampaikan kepada orang tersebut adalah bahwa yang demikian itu mengikuti Rasulullah saw. Imam Syafi`i berkata: Hadits telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa dia berkata: bahwa Rasulullah saw. bersabda :

, 7
Jika seekor anjing menjilat suatu bejana salah satu diantara kalian,

20

maka hendaklah dia membasuhnya sampai tujuh kali. 13 Imam Syafi`i berkata: Kita mengatakan bahwa hukum anjing adalah najis, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. sedangkan babi tidak lebih buruk keadaannya daripada anjing, maka kami mengatakan hukumnay juga sama, lantaran disamakan dengan hukum anjing. Sedangkan pendapat kami bahwa selain keduanya (anjing dan babi) adalah najis, lantaran berdasarkan cerita yang disampaikan kepada kami oleh Ibnu Uyainah dari Hisyam bin Urwah. Dia mendengar dari isterinya Fatimah binti al-Mundzir- dari Asma, bahwa dia berkata: Suatu ketika seorang wanita bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut pendapatmu apabila salah seorang diantara kami pakaiannya terkena darah haidl ? kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadanya:

\ 7 7
Jika baju salah satu diantara kalian terkena darah haidl, hendaklah dia mengeriknya dengan kuku kemudian dipercikkan air, lalu dia shalat dengannya. 14 Imam Syafi`i berkata: Tidaklah najis hukumnay jika binatang yang masih hidup menyentuh air yang kadarnya sedikit, baik dengan cara meminumnya atau masuk kedalam air itu, atau memasukkan salah satu anggota tubuhnya (kecuali anjing dan babi); hanya saja binatang yang telah mati adalah najis. Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa jika seseorang mengendarai seekor keledai, keledai itu sampai mengeluarkan keringat, sedangkan orang itu tetap berada di atasnya dan dia halal menyentuhnya ? Jika seseorang bertanya: Apakah dalil yang menunjukkan halalnya ini ? maka sebagai jawabannya adalah hadits Rasulullah saw. yang berasal dari Ibrahim bin Muhammad, dari Daud bin Husain, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya oleh seseorang: Apakah seseorang boleh berwudlu dengan air sisa dari keledai ? kemudian Rasulullah saw. bersabda :
13 . H.R. Muslim, hadits no. 91 dalam kitab Thaharah. 14 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Membasuh Darah Haidl, juz 1, hlm. 84.

21

' 7 X
Ya, dia juga berwudlu dari air sisa seluruh binatang buas. 15 Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Kabsyah binti Ka`ab bin Malik, dari Ibnu Abi Qatadah bahwa suatu ketika Abu Qatadah menuangkan air untuk berwudlu, kemudian tiba-tiba seekor kucing datang dan meminum dari bejana itu. Abu Qatadah melihatku sedang memandanginya, maka dia bertanya: Apakah engkau heran, wahai puteri saudaraku ? Rasulullah saw. bersabda :

,' 7 ' ,
Sesungguhnya kucing itu tidak najis dan sesungguhnya ia adalah binantang yang suka mengelilingi kamu. 16 Imam syafii berkata: Jika air yang sedikit atau banyak telah berubah sehingga membusuk atau berubah warnanya disebabkan bercampur dengan sesuatu yang tidak haram, maka air itu dikategorikan sebagai air yang suci. Demikian halnya juga jika seseorang yang kencing dalam air dan tidak diketahui apakah air itu bercampur najis atau tidak, sedangkan warna, bau dan rasanya telah berubah, maka air itu tetap suci sehingga diketahui dengan jelas penyebab najisnya. Lantaran ketika air itu dibiarkan dan tidak ambil sebagai air minum, maka barangkali saja dia berubah disebabkan bercampur dengan daun kayu dan lain sebagainya. Imam Syafi`i berkata: Jika sesuatu yang halal terjatuh pada air dan merubah bau dan rasanya, namun air tidak menjadi rusak olehnya, maka seseorang bisa menggunakannya untuk berwudlu, seperti jika yang jatuh ke dalam air itu adalah kayu sehingga menimbulkan bau tersendiri. Sedangkan apabila air bercampur dengan susu, madu, tepung atau yang lainnya, lalu air itu didominasi oleh benda-benda tadi, maka air itu tidak dapat digunakan untuk berwudlu disebabkan air itu didominasi oleh benda-benda itu
15 . Musnad Imam Syafii, Syarh al-Sunnah, karya al-Baghawi, juz 2, hlm. 71. 16 . H.R. Abu Daud, dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci, bab Air Liur Kucing, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, juz 5, hlm. 33. Tirmidzi, bab Wudlu, hadits no. 92; dan Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci dan sunnah hukumnya.

22

dinisbatkan kepada apa yang mendominasinya, sebagaimana dikatakan; air tepung, air susu, atau air madu. Lalu jika sesuatu yang memiliki kadar rendah dimasukkan kedalam air tersebut, baik berupa tepung, susu atau madu, kemudian benda-benda ini tampak pada air tersebut, maka air yang suci dan tidak berubah rasanya ini boleh digunakan untuk berwudlu, karena air itu tidak berubah (sebagaimana mestinya). Imam Syafii berkata: Demikian halnya apabila dituangkan minyak kayu cendana di atas air sehingga air tersebut menimbulkan aroma minyak kayu cendana, maka seseorang tidak boleh berwudlu dengannya. Namun apabila tidak menimbulkan bau, maka diperbolehkan untuk menggunakannya, lantaran jika minyak kayu cendana atau air mawar dicampur dengan air, maka keduanya tidak dapat dibedakan. Apabila minyak wangi, minyak ambar, kayu cendana atau sesuatu yang memiliki aroma dituangkan kedalam air, akan tetapi tidak dapat melebur di dalamnya melainkan hanya menimbulkan bau, maka diperbolehkan berwudlu dengan air itu, lantaran tidak ada sesuatupun dari benda-benda tersebut yang bercampur dengannya. Apabila dituangkan minyak kasturi atau dzarirah (sejenis wangi-wangian) atau sesuatu yang larut dalam air sehingga air itu melebur dan tidak dapat dibedakan, kemudian timbul bau padanya, maka tidak boleh berwudlu dengan air itu, lantaran dia bukan air lagi, akan tetapi air yang bercampur dengan benda. Air Sisa yang dipakai oleh Orang yang Junub. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa dia berkata:

7 7 7 ' 3' ' ,


Bahwa Rasulullah saw. mandi dari al-Qadah (maksudnya al-
18

.Faraq) 17 Kami dan beliau pernah mandi dari satu bejana

17 . Maksdunya bejana yang berukuran sekitar tiga sha`. Akan tetapi sebagian ulama Syafi`iyah mengatakan bahwa satu sha` air untuk mandi sama dengan delapan liter air. 18 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Mandi dengan air sisa orang

23

Imam Syafii berkata: Maimunah.19

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari

, ,' 3 ' G 7
Bahwa dia dan Nabi saw. mandi dari satu bejana. 20 Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Qasim, dari Aisyah ra. bahwa dia berkata: , ,' 3' 7 Kami dan Rasulullah saw. mandi dari satu bejana lantaran janabah. 21 Imam Syafii berkata: Demikian yang menjadi pegangan kami, bahwa seseorang diperbolehkan mandi dengan menggunakan air sisa yang dipakai oleh seseorang yang mandi lantaran junub atau haidl, karena Rasulullah saw. dan Aisyah ra. pernah mandi dari satu bejana dimana keduanya dalam kondisi junub, masing-masing dari keduanya mandi dengan menggunakan sisa air mereka. Haidl tidak terletak pada tangan, dan orang mukmin bukanlah orang yang najis. Mandi hanya bersifat ta`abbudi (ibadah), dimana pada sebagian keadaan seseorang diharuskan menyentuh air (mandi) akan tetapi tidak pada kesempatan yang lain. Air Orang Nasrani dan Berwudlu Dengan air itu. Imam Syafi`i berkata: Sesungguhnya Umar bin Khatab pernah berwudlu menggunakan air milik wanita Nasrani yang ada dalam sebuah kendi. Imam syafi`i berkata: Seseorang diperbolehkan berwudlu dengan menggunakan air orang musyrik dan sisa air wudlunya sendiri, selama tidak diketahui adanya najis padanya, lantaran air memiliki kesucian bagi siapa saja dan dimana saja sampai diketahui najis yang bercampur dengannya. BAB : BEJANA YANG BOLEH DIGUNAKAN SEBAGAI TEMPAT
lain. Hadits no. 41. 19 . Dia adalah isteri Rasulullah saw., nama lengkapnya adalah Barrah binti Maimunah al-Harits al-Hilaliyah al-Mu`ziyah, Rasulullah saw. memanggilnya dengan nama Maimunah lantaran beliau menikah dengannya pada saat penaklukan kota Makkah. 20 . H.R. Muslim, jilid 1, hlm. 621, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Laki-laki dan perempuan boleh Mandi dalam satu tempat air. 21 . H.R. Muslim, jilid 1, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Perempuan boleh mandi dalam satu tempat air, hlm. 620.

24

UNTUK BERWUDLU. Imam Syafii berkata: Riwayat dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya berkata: dia

' X ,' 3' G 7 X { 7 7 ' '

Suatu ketika Nabi saw. melewati bangkai seekor kambing yang telah diberikannya kepada seorang bekas budak Maimunah, isteri Nabi saw. beliau bertanya: Apakah kamu tidak memanfaatkan kulitnya ? kemudian para sahabat menjawab: Itu kan bangkai, kemudian Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya yang diharamkan hanyalah memakannya. 22 Imam Syafii berkata: Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. bersabda :


Apabila kulit telah disamak, maka dia telah suci. 23 Imam Syafii berkata: Jika

kulit bangkai dari binatang apapun sudah

disamak, maka seseorang diperbolehkan berwudlu dengan menggunakannya. Demikian halnya dengan kulit binatang-binatang buas yang tidak boleh dimakan dagingnya, lantaran dianalogikan dengan kulit binatang yang sudah menjadi bangkai. Kecuali kulit anjing dan babi, keduanya tidak bisa disucikan sekalipun telah disamak, lantaran najis yang ada pada pada keduanya sudah ada sejak keduanya masih hidup. Sedangkan kulit binatang yang dapat disucikan dengan disamak hanyalah binatang yang tidak najis saat masih hidup. Sedangkan proses penyamakannya dengan menggunakan alat samak yang sudah dipakai oleh orang Arab; sebagaimana daun salam atau benda lain yang dapat menggantikan fungsinya,
22 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Mensucikan kulit dari binatang yang sudah mati dengan cara menyamak, hadits no. 102, jilid 1, hlm. 659. 23 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Mensucikan kulit dari binatang yang sudah mati dengan cara menyamak, hadits no. 106, jilid 1, hlm. 660.

25

sehingga dapat mengeringkan lendirnya, membaguskan dan mencegahnya dari kerusakan jika terkena air. Kulit bangkai tidak akan suci dengan disamak, melainkan setelah melewati proses yang sudah kami jelaskan. Apabila kulit itu berbulu, maka bulunya hukumnya najis. Jika disamak dan bulunya dibiarkan lalu menyentuh air, maka airnya hukumnya najis. Akan tetapi apabila air itu ada di bagian dalam kulit, sedangkan bulunya di sisi luarnya, maka air tersebut tidak dihukumi najis, sebab tidak bersentuhan dengan bulunya. Sedangkan kulit setiap binatang yang disembelih dan diperbolehkan untuk memakan dagingnya, maka tidak mengapa minum dan berwudlu darinya sekalipun tidak disamak, lantaran pensuciannya cukup dengan disembelih. Imam Syafi`i berkata: Tidak diperbolehkan berwudlu dan minum dengan menggunakan tulang bangkai yang disembelih dimana binatang tersebut tidak boleh dimakan dagingnya; sebagaimana tulang gajah, tulang singa, dan tulangtulang lain yang sejenisnya, lantaran proses penyamakan dan pensuciannya tidak dapat mensucikan tulang tersebut. Imam Syafi`i berkata: Barangsiapa berwudlu darinya, maka hendaklah dia mengulangi wudlunya dan membasuh apa yang disentuh oleh air yang ada dalam tulang itu. BAB : BEJANA YANG TIDAK TERBUAT DARI KULIT. Imam Syafi`i berkata: terbuat dari Kami tidak memandang makruh bejana yang yang batu, besi, tembaga dan segala sesuatu yang tidak bernyawa.

Sedangkan emas dan perak, kami memandang makruh bagi seseorang berwudlu dengan memakainya.

Imam Syafi`i berkata: Hadits telah diriwayatkan dari Ummi Salamah, bahwa Rasulullah saw. bersabda :

'
Orang yang minum dengan menggunakan bejana yang terbuat dari perak, sesungguhnya dia menuangkan api Jahanam ke dalam perutnya. 24
24 . H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang minuman, bab Minum dengan

26

Imam

Syafi`i berkata:

Kami memandang makruh berwudlu dan

meminum dari bejana perak, akan tetapi kami tidak memerintahkannya untuk mengulangi wudlu. Kami tidak berpendapat bahwa air yang diminum dan makanan yang dimakannya menjadi haram, hanya saja perbuatan itu dianggap sebagai maksiat. Jika ditanyakan: Bagaimana kamu melarang yang demikian itu, sedangkan air yang ada yang padanya tidak diharamkan ? Maka katakanlah pada orang itu: Sesungguhnya Rasulullah saw. hanya melarang perbuatan berwudlu dan minumserta tidak melarang kepingan bejana perak itu, lantaran sesungguhnya zakat telah diwajibkan pada bejak perak itu, dan kaum muslimin menjadikannya sebagai harta. Seandainya bejana perak itu najis, niscaya tidak ada seorangpun yang mau mengambilnya sebagai harta dan pasti tidak halal diperjual-belikan. BAB : AIR YANG DI RAGUKAN. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang melakukan perjalanan jauh dengan membawa air, kemudian dia menduga bahwa air itu telah bercampur dengan benda najis, akan tetapi dia tidak begitu yakin, maka air itu tetap dihukumi suci, dia boleh meminum dan berwudlu darinya sampai dia benar-benar yakin bahwa air itu telah bercampur dengan najis. Jika dia telah yakin bahwa air tersebut bercampur dengan najis, kemudian dia bermaksud menumpahkan dan menggantinya dengan air yang lain, akan tetapi dia menjadi ragu apakah telah melakukannya atau belum, maka air itu tetap dianggap najis sampai diyakini bahwa dia telah menumpahkan dan menggantinya dengan air yang lain. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang melakukan perjalanan dengan membawa dua air, sedangkan dia meyakini bahwa salah satu dari air itu najis dan yang lainnya suci, kemudian dia menumpahkan air yang diyakini kesuciannya, akan tetapi dia merasa hawatir merasa haus, maka baginya boleh untuk tidak membuang air yang diyakini bercampur dengan najis itu kemudian berwudlu dengan air yang diyakini suci. Apabila ada yang bertanya: Dia telah meyakini
menggunakan tempat dari emas, hadits no. 2755, jilid 2, hlm. 248. Dan Tartib Musnad Imam Stafi`i, alam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Tempat dan Tata cara menyamak, hadits no. 62, hlm. 27.

27

bahwa salah satu dari kedua air itu ada yang najis, maka bagaimanakah dia berwudlu, sedangkan dia tidak yakin kesucian air tersebut ? Sebagai jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah, jika dia yakin adanya najis pada salah satunya dan dia juga meyakini adanya kesucian pada yang lain, maka hal itu tidak meruak wudlunya, kecuali apabila dia benar-benar yakin bahwa air yang digunakannya adalah bernajis. Imam Syafii berkata: Jika seseorang mendapati air yang sedikit dipermukaan tanah, di dalam sumur, di dalam lubang batu atau di tempat yang lain, dan air itu sudah sangat berubah, akan tetapi dia tidak mengetahui apakah air itu bercampur dengan air kencing binatang atau selainnya, maka dia boleh berwudlu dengan air itu, lantaran air itu terkadang berubah dengan sesuatu yang tidak haram. Apabila yakin bahwa tidak ada masalah dalam air ini, maka air tersebut tetap suci, sampai dia meyakini adanya najis yang bercampur dengan air itu. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang melihat air lebih dari lima bejana, kemudian meyakini bahwa seekor kijang telah kencing di dalamnya dan menemui rasa, warna, dan baunya telah berubah, maka air itu telah najis, sekalipun dia menduga bahwa mungkin perubahannya itu bukan akibat kencing, karena pada awalnya dia telah meyakini adanya najis yang telah mencampurinya dan mendapati air tersebut benar-benar telah mengalami perubahan. Sedangkan perubahan yang disebabkan oleh air kencing dan yang lainnya berbeda. Hal-hal Yang Mewajibkan Wudlu. Imam Syafii berkata: Allah swt. berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda :

28

: 7
Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia membenamkan tangannya ke dalam bejana sebelum dia mencucinya tiga kali, karena dia tidak mengetahui di manakah tangannya bermalam.
25

Imam Syafi`i berkata: Barang siapa tidur dengan terlentang, maka baginya wajib berwudlu kembali, lantaran dia berarti bangun dari tidur. Tidur dapat menghilangkan fungsi akal. Barang siapa akalnya tidak berfungsi akibat gila atau sakit, baik dia dalam kondisi terlentang atau tidak, maka baginya wajib berwudlu, lantaran kondisinya lebih banyak menyerupai orang tidur. Bahkan, orang yang tidur bisa sadar dengan sebab tergeraknya sesuatu atau tanpa sebab sesuatu. Sedangkan orang yang akal pikirannya tidak berfungsi akibat gila atau sebab lainnya, dia tidak akan bergerak sekalipun ada sesuatu yang menggerakkannya. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang tidur dalam kondisi duduk, maka kami lebih suka apabila orang tersebut berwudlu kembali. Imam Syafii berkata: Jika dia tidur pada posisi duduk tegak, maka kami memandang bahwa dia tidak wajib berwudlu kembali, karena orang yang tidur dengan posisi terlentang tidak sama dengan orang yang tidur dalam keadaan duduk, hal ini disebabkan tidur dengan posisi terlentang akan terasa lebih nyenyak, sehingga akal fikirannya akan terasa lebih tidak berfungsi dibanding orang yang tidur dalam kondisi duduk. Imam Syafi`i berkata: Jika dia telah bergeser dari posisi duduk tegak saat tidur, maka dia wajib mengulang wudlunya, lantaran orang yang tidur dalam kondisi duduk itu menekan dirinya pada lantai dan hampir tidak keluar sesuatu melainkan dia akan menyadarinya. Jika dia telah bergeser dari duduknya yang tegak, maka dia berada dalam batasan tidur dengan terlentang yang sangat memungkinkan terjadinya hadats. Jika seseorang tidur dengan posisi ruku` atau
25 . H.R. Abu Daud, dalam kitab yang menjelaskan tentang wajibnya wudlu, bab Seorang lakilaki yang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum mencucinya, hadits no. 203, Aun alMa`bud Syarh Sunan Abu Daud, jilid 1, hlm. 177.

29

sujud, maka kami dia kami wajibkan untuk berwudlu, karena posisi ini lebih rawan terjadinya hadats, lantaran posisi seperti ini lebih rawan dimana hadats keluar dengan tanpa disadarinya dibandingkan orang yang tidur dengan posisi terlentang. Imam Syafi`i berkata: Yang mewajibkan seseorang untuk berwudlu kembali karena tidur ialah hilangnya fungsi akal pikiran, baik tidur ringan atau tidur nyenyak. Sedangkan orang yang fungsi akalnya tidak hilang, baik tidur dengan posisi terlentang, menganggukkan kepala karena mengantuk atau karena adanya bisikan hati, maka hal itu tidak mewajibkan untuk berwudlu kembali, sehingga dia yakin bahwa dia telah berhadats. Imam Syafi`i berkata: Sama halnya apakah seseorang berada di atas bahtera, menunggang kuda ataupun binatang lainnya, atau orang yang duduk tegak di lantai pada saat telah melewati kriteria tegak pada saat duduk, atau tidur dalam posisi berdiri, ruku`, sujud, atau terlentang, maka wajib atas orang tersebut mengulangi wudlunya. Jika orang tersebut ragu tentang kondisi tidurnya dan terbersit dalam fikirannya sesuatu yang tidak diketahuinya, apakah dia bermimpi atau hanya bisikan hati, maka orang tersebut tidak termasuk orang yang tidur. Jika dia yakin bermimpi dan ragu apakah dia tidur atau tidak, maka yang dia anggap telah tidur dan harus mengulangi wudlunya. Sedangkan untuk mengambil sikap hati-hati pada masalah yang pertama bisa dilakukan dengan cara berwudlu kembali. Dia wajib berwudlu lantaran bermimpi dan ketika dia yakin bahwa dia telah tidur, sekalipun tidak lama. Berwudlu Karena Menyentuh Wanita dan Buang Air Besar. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Dalam ayat ini Allah swt. menyebutkan wudlu bagi orang yang berdiri hendak mengerjakan shalat. Maksud yang lebih dominan adalah orang yang bangun dari tidur terlentang. Allah swt. juga menyebutkan bersuci dari janabah.

30

Lalu sesudah menyebutkan bersuci dari janabah, Allah swt. berfirman :

dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Telah sampai kepadaku riwayat dari Ibnu Mas`ud yang mendekati makna perkataan Ibnu Umar: Jika seorang laki-laki menyentuhkan tangannya kepada isterinya, atau bersentuhan sebagian tubuhnya pada sebagian tubuh isterinya dimana tidak ada pembatas antara dia dan isterinya, baik dengan disertai nafsu birahi atau tidak, maka keduanya wajib berwudlu. Demikian juga apabila sentuhan itu dari pihak isteri, maka keduanya pun wajib berwudlu. Dengan kata lain, mana saja dari badan keduanya yang tersentuh pada yang lain, baik dari pihak laki-laki yang menyentuh kulit wanita atau wanita yang menyentuh kulit laki-laki, maka keduanya wajib berwudlu. Jika laki-laki menyentuhkan tangannya pada rambut wanita, namun tidak sampai menyentuh kulitnya, maka orang itu tidak wajib berwudlu, baik terdorong oleh nafsu birahi atau tidak. Demikian juga halnya jika dia bernafsu kepada isterinya, akan tetapi dia tidak menyentuhnya, maka baginya tidak wajib berwudlu kembali. Nafsu tidak dapat dijadikan ukuran dalam menetapkan hukum, sebab ia hanya ada dalam hati. Bahkan yang harus dijadikan ukuran adalah perbuatan seseorang, sedangkan rambut berbeda dengan kulit. Imam Syafi`i berkata: Kalau seseorang ingin bersikap hati-hati, misalnya ketika dia menyentuh rambut wanita kemudian dia berwudlu, maka hal itu lebih kami sukai. Apabila seseorang menyentuh dengan tangannya apa yang dikehendaki dari badan wanita; baik dilapisi kain tipis maupun yang tebal, atau dilapisi dengan benda lain, disertai rasa nikmat atau tidak, dan hal itu dilakukan juga oleh wanita,

31

maka bagi mereka tidak wajib berwudlu, lantaran masing-masing dari keduanya tidak saling bersentuhan. Hanya saja, setiap salah seorang dari keduanya menempel pada lawan jenisnya. Berwudlu Karena Buang Air Besar, Air Kecil dan Kentut. Imam Syafii berkata: Hadits diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, bahwa suatu ketika seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang sesuatu yang mengganggunya dalam shalat, kemudian Rasulullah saw. bersabda :

/ /
Janganlah dia beranjak sehingga dia mendengar suara atau mendapati angin. 26 Imam Syafi`i berkata: Ketika sunnah menunjukkan bahwa orang tersebut itu meninggalkan shalat dikarenakan kentut dari tempat keluarnya kotoran (dubur), maka buang air adalah lebih jelas daripada sekedar buang angin, dengan kata lain batalnya wudlu lantaran buang air kecil lebih jelas daripada disebabkan keluar angin. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Ibnu Shammah :

' 3 ' '


Bahwa Rasulullah saw. membuang air kecil (kencing) lalu bertayammum. 27 Imam Syafii berkata : Hadits diriwayatkan dari Miqdad bin Aswad bahwa Ali bin Thalib ra. menyuruhnya untuk bertanya kepada Rasulullah saw. tentang seorang laki-laki yang mengeluarkan madzi apabila mendekati isterinya, maka apakah yang harus dia lakukan ? Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata: Aku selalu bersama puteri Rasulullah saw. oleh sebab itu aku malu menanyakan kepada Rasulullah saw. Kemudian Miqdad melanjutkan, maka aku menanyakan hal tersebut
26 . H.R. Nasa`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Wudlu yang disebabkan keluarnya angin, dan H.R. Bukhari, juz 1, dalam kitab yang menjelaskan tentang Wudlu, bab Tidak harus berwudlu bagi yang Ragu. 27 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci, bab Tayammum, hadits no. 132, jilid 1, hlm. 44.

32

kepada Rasulullah saw., lalu beliau bersabda :

7
Jika salah satu di antara kalian menemukan hal demikian, maka hendaklah dia memercikkan air pada alat kelaminnya lalu dia berwudlu untuk menjalankan shalat. 28 Sunnah telah menjelaskan wajibnya seseorang untuk berwudlu lantaran disebabkan keluarnya air madzi dan kencing. Penjelasan lain yang mewajibkan untuk berwudlu adalah lantaran keluarnya angin. Dengan kata lain tidak ada maksud lain melainkan segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur baik lakilaki maupun, yang merupakan jalur hadats itu mewajibkan adanya wudlu. Demikian juga halnya cacing, batu serta semua yang keluar dari salah satu di antara kedua jalan tersebut, demikian juga angin yang keluar dari kemaluan lakilaki atau wanita, wajib adanya wudlu. Imam Syafi`i berkata: Seseorang tidak diwajibkan berwudlu kembali hanya karena muntah, keluar darah dari hidung, bekam atau sesuatu yang keluar dari tubuh selain yang dikeluarkan oleh kemaluan yang tiga; yaitu dzakar, vagina dan anus. Berwudlu Karena Menyentuh Kemaluan. Imam Syafi`i berkata: Marwan bin al-Hakam berkata: Telah menceritakan kepadaku Basrah binti Shafwan, bahwa dia mendengar Rasulullah saw. bersabda:

7
Jika salah satu dari kalian menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia berwudlu. 29 Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya beliau bersabda:
28 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Air Madhi dan hukumnya, hadits no. 19, jilid 1, hlm. 599; dalam kitab al-Kuwaththa` karya Imam Malik, dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci, bab Wudlu karena keluar air Madhi, hadits no.53,jilid 1, hlm. 40. 29 . H.R. Ibnu Majah dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci, bab Berwudlu Lantaran Memegang Kemaluan, hadits no. 388, dan H.R. an-Nasa`i dalam kitab yang menjelaskan tentang berwudlu lantaran memegang kemaluan, jilid 1, hlm. 100.

dari Rasulullah saw.

33

" 7
Jika salah satu dari kalian menyentuh kemaluannya yang tidak ada pembatas, maka hendaklah dia berwudlu. 30 Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang menyentuh kemaluannya dengan telapak tangannya, dimana tidak ada pembatas antara tangan dan kemaluannya, maka dia wajib berwudlu kembali. Imam Syafi`i berkata: Hukumnya sama saja apakah seseorang sengaja atau tidak sengaja, lantaran setiap yang mewajibkan untuk mengulangi wudlu adalah sikap sengaja. Maka demikian juga ketika dalam kondisi tidak sengaja, keduanya sama saja, baik sedikit atau banyak dia menyentuh kemaluannya. Demikian juga jika dia menyentuh dubur atau qubul-nya wudlu. Apabila dia menyentuh dua pelirnya atau pantatnya, atau dua lututnya dan tidak menyentuh kemaluannya, maka baginya tidak wajib berwudlu, baik hal tersebut dilakukan kepada orang yang sudah mati atau yang masih hidup. Akan tetapi jika dia menyentuh bagian tubuh binatang, maka baginya tidak sedangkan binatang tidak beribadah sebagaimana hal anak Adam. Jika kemaluannya tersentuh oleh punggung telapak tangannya, dengan lengannya atau sesuatu yang bukan telapak tangan, maka dia tidak wajib mengulangi wudlu. Imam Syafi`i berkata: Pada saat Rasulullah saw. memerintahkan untuk mencuci tangan dari darah haidl dan tidak memerintahkan mengulangi wudlu, maka hal tersebut menunjukkan bahwa darah lebih najis daripada kemaluan. Imam Syafi`i berkata: Semua yang sudah kami katakan tentang wajibnya berwudlu terhadap laki-laki yang menyentuh kemaluannya; atau seorang wanita yang menyentuh kemaluan suaminya atau suami yang menyentuh vagina
30 . H.R. Abu Daud, bab Wudlu disebabkan menyentuh kemaluan, hlm. 308, dan dalam kitab Aun al-Ma`bud Syarh Sunan Abu Daud.

menyentuh

dubur isterinya atau menyentuh dubur anak kecil, maka wajib atasnya mengambil

wajib

mengulagi wudlu, lantaran anak Adam memiliki kemuliaan dan kehormatan,

34

isterinya, keduanya tidak ada perbedaan. BAB : TIDAK BERWUDLU KARENA SESUATU YANG DIMAKAN OLEH SESEORANG. Imam Syafii berkata:

' 7 ,' 3 ' '


Sesungguhnya Rasulullah saw. makan tulang rusuk kambing, kemudian beliau mengerjakan shalat dengan tanpa berwudlu kembali. 31 Imam syafii berkata : Berdasarkan hadits ini kami mengambil kesimpulan bahwa barangsiapa makan sesuatu yang tersentuh api atau tidak tersentuh api, maka dia tidak wajib berwudlu kembali. Demikian juga halnya apabila dia benar-benar terpaksa memakan bangkai, maka dia tidak wajib mengulangi wudlunya, baik yang dimakannya itu masih mentah atau telah dimasak. Dalam hal seperti ini, dia hanya diharuskan untuk mencuci tangan, mulut serta bagian badan yang tersentuh bangkai. Akan tetapi jika dia tidak mencucinya atau membasuhnya, maka dia harus mengulangi setiap shalat yang dikerjakannya setelah makan bangkai itu. Demikian juga jika dia memakan setiap sesuatu yang diharamkan, maka dia tidak boleh menjalankan shalat sebelum dia mencuci bagian tubuh yang tersentuh, yakni dua tangan, mulut atau bagian lainnya. Jika dia makan makanan yang halal, maka dia tidak harus berwudlu lagi. Berbicara dan Memotong Kumis. Imam syafi`i berkata: Seseorang tidak mengulangi karena berbicara, sekalipun suara terdengar keras, dan tidak wajib mengulangi wudlu lantaran tertawa di dalam shalat dan diluar shalat. Hadits cerita dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda :

' 3 7 '
Barang siapa bersumpah dengan al-Laata, maka hendaklah dia
31 . H.R. Bukhari dalam kitab yang menjelaskan tentang wudlu, bab Tidak berwudlu karena makan daging dan tepung. Jilid 1, hlm. 63.

35

mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. 32 Imam Syafii berkata : Hadits cerita dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

7 7 \ 7
Biarkanlah janggut itu lebat dan panjang, dan potonglah kumis serta ubahlah uban, dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi. 33 Imam Syafi`i berkata: Barang siapa telah berwudlu kemudian memotong kuku, rambut, janggut, dan kumisnya, maka dia tidak harus mengulangi wudlunya, bahkan hal itu dinilai sebagai tambahan kebersihan dan kesucian. BAB : ISTINJA` Imam Syafi`i berkata : Allah swt. berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafii berkata : Tidak ada keharusan beristinja` ( membersihkan kotoran setelah buang air kecil atau air besar dengan menggunakan biji batu atas seseorang yang dharuskan untuk berwudlu, melainkan jika dia membuang air besar atau air kecil, maka dia harus beristinja` dengan batu atau air. Riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

7 7 7 7 X , ,
Sesungguhnya aku bagi kalian bagaikan seorang ayah. Apabila seseorang dari kalian hendak membuang hajat, maka janganlah
32 . H.R. Muslim dalam kitab yang menjelaskan tentang iman, bab Barangsiapa bersumpah dengan al-Laata, maka hendaklah dia mengucapkan Laa Ilaaha illallah, hadits no. 5. 33 . H.R. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, juz 2, hlm. 356.

36

menghadap ke kiblat dan tidak juga membelakanginya ketika sedang membuang air besar atau kecil. Hendaklah dia beristinja dengan tiga batu, dan dilarang beristinja dengan kotoran binatang atau rimmah (tulang yang telah membusuk), serta dilarang beristinja dengan tangan kanannya. 34 Imam Syafi`i berkata: Barangsiapa buang air besar atau air kecil, maka baginya cukup menyapu dengan tiga batu; batu bata, kayu bakar atau barang yang suci dan bersih dan dapat membersihkan, sebagaimana: debu rumput, tembikar dan lain sebagainya. Imam Syafi`i berkata: Jika dia menemukan batu, batu bata atau batu api yang memiliki tiga sisi, kemudian seseorang menyapu dengan masing-masing sisi itu, maka hal itu sama dengan tiga batu. Jika dia menyapu dengan tiga batu kemudian dia mengetahui bahwa masih ada bekasnya, maka hal itu tidak cukup baginya melainkan jika dia menyapu kembali sehingga dia melihat bahwa bekasnya tidak ada lagi. Imam Syafi`i berkata: Beristinja` dari buang air kecil adalah seperti beristinja` dari kotoran (tahi), keduanya tidak memiliki perbedaan. Jika air seni berhamburan kepinggir lubang (tempat keluarnya kotoran), maka baginya cukup dengan beristinja`. Akan tetapi jika berhamburan dan melewati pinggir lubang, maka baginya tidak cukup melainkan disucikan dengan air. Orang yang buang air kecil hendaknya menuntaskan keluarnya air seni supaya tidak menetes. Kami lebih suka jika seseorang menuntaskan keluarnya air seni dan berdiam sesaat sebelum beristinja` kemudian sesudah itu dia berwudlu. Apabila seseorang terkena penyakit ambeien dan luka di dekat pantat atau pada bagian dalamnya, kemudian mengalir darah atau nanah yang bercampur darah, maka hendaklah dia beristinja` dengan air dan tidak cukup dengan batu, karena air dapat mensucikan seluruh najis. Keringanan beristinja` menggunakan batu tidak dapat diperluas cakupannya dari apa yang sudah ditentukan. Demikian juga buang air besar dan air kecil jika melampui tempatnya dan mengenai salah satu anggota badan, maka tidak ada yang dapat mensucikannya
34 . H.R. Ibnu Majah dalam kitab yang menjelaskan tentang bersuci, bab Istinja` dengan batubatu dan larangan menggunakan kotoran dan tulang belulang, hadits no. 252, jilid 1, hlm. 57.

37

melainkan dengan menggunakan air. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang wajib mandi, maka baginya tidak boleh membersihkan bagian keluarnya najis melainkan mencucinya dengan air. BAB : BERSIWAK. Imam Syafii berkata: Hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

,\ 7 X 7
Seandainya aku tidak takut memberatkan umatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka bersiwak setiap kali hendak berwudlu dan mengakhirkan shalat Isya`. ( H.R. Baihaqi, juz 1, hlm. 35 ) Dari Aisyah ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda :

X { { X
Bersiwak itu dapat mensucikan mulut dan membuat Tuhan ridha. 35 Imam Syafi`i berkata: Dari hadits ini dapat diketahui bahwa bersiwak tidak wajib dan hanya berbentuk anjuran (sunah). Lantaran apabila bersiwak itu wajib, maka Rasulullah saw. akan menyuruh umatnya untuk bersiwak, baik dalam kondisi sulit maupun lapang. Imam Syafi`i berkata: Kami menyukai supaya seseorang bersiwak pada setiap kondisi, baik ketika bau mulut berubah atau ketika bangun dari tidur, diam yang lama, dan setiap kali makan makanan atau meminum-minuman yang dapat mengubah bau mulut, atau setiap kali hendak shalat. Namun barang siapa tidak bersiwak, lalu mengerjakan shalat, maka dia tidak perlu mengulangi shalatnya dan baginya tidak wajib berwudlu. BAB : MEMBASUH KEDUA TANGAN SEBELUM WUDLU Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda :

7 ' 7
35 . H.R. Nasa`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Targhib fi Siwak.

38


Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah dia membasuh kedua tangannya sebelum memasukkannya ke dalam air wudlu, karena sesungguhnya seseorang diantara kalian tidak mengetahui dimana tangannnya bermalam. dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:
36

Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa

7 ' : 7
Apabila salah seorang diantara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sehingga dia membasuhnya sampai tiga kali, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui dimana tangannya bermalam. 37 Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum mensucikannya dan tidak meyakini bahwa ada najis yang menyentuh tangannya, maka wudlunya tidak batal. Demikian juga halnya apabila dia ragu bahwa dia menyentuh najis. Apabila tangannya telah menyentuh najis lalu dimasukkan ke dalam air wudlunya, dan apabila air wudlu itu kadarnya kurang dari dua kolam, maka air itu dikategorikan sebagai air yang rusak, sehingga dia harus menuang air itu dan mencuci bejananya. Berkumur-kumur dan Memasukkan Air ke dalam Hidung. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku. ( Surat al-Maaidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Kami lebih menyukai orang berwudlu yang
36 . H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci dan sunnahnya, bab Seseorang yang Bangun dari Tidurnya, hadits no. 314. 37 . H.R. An-Nasa`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang Bersuci, jilid 1, juz 1., hlm. 6.

39

memulainya dengan berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya tiga kali setelah membasuh kedua tangannya, yaitu dengan cara mengambil air dengan telapak tangannya untuk mulut dan hidungnya, kemudian memasukkan air itu ke dalam hidungnya sampai batas yang terlihat bahwa air itu masuk ke bagian dalam hidungnya. Namun apabila dia berpuasa, hendaknya memasukkan air ke dalam hidungnya dengan lembut, agar air itu tidak masuk ke bagian kepalanya. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung adalah sunah, karena dengannya bau mulut dan hidung akan hilang. BAB : MEMBASUH MUKA. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:


maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku. ( Surat al-Maaidah (5): 6 ) Adalah satu hal yang logis bahwa muka itu menjadi tempat tumbuhnya rambut kepala sampai kepada dua telinga, tulang rahang dan dagu. Bukanlah dinamakan muka jika melewati tempat tumbuhnya rambut kepala, dan dua tepi dahi itu termasuk bagian dari kepala. Demikian halnya bagian yang botak yang ada di kepala, botak itu bukanlah bagian dari kepala. Kami lebih menyukai jika dua tepi dahi itu dibasuh beramaan dengan muka. Akan tetapi jika hal itu ditinggalkan, maka tidak ada hukum untuknya, artinya tidak menjadi masalah, jika janggut yang tumbuh pada diri seseorang tidak lebat dan menutup sebagian muka, maka dia harus membasuh mukanya, sebagaimana ketika janggut itu belum tumbuh. Akan tetapi jika janggut itu lebat sehingga menutupi sebagian wajahnya, maka tindakan yang lebih berhati-hati (ihtiyath) adalah dengan membasuh semuanya. Kami tidak mengetahui tentang dalil yang menunjukkan kewajiban membasuhnya, lantaran hal itu hanya pendapat mayoritas ulama dari para ulama yang kami jumpai. Imam Syafi`i berkata: Kami tidak memandang wajib membasuh bagian bawah tempat tumbuhnya jenngot. Jika tidak wajib membasuhnya, maka menyela-

40

nyelanya dengan jari jemaripun tidak termasuk hal yang diwajibkan. Hendaknya melewatkan air pada permukaan bulu jenggotnya, sebagaimana halnya melewatkan air pada wajahnya; dan menyapukan air pada permukaan rambut kepala adalah benar. Apabila bulu jenggot atau bulu kening yang tipis, atau antara tempat tumbuhnya jenggot terputus, yang membasuhnya. Demikian juga apabila bulu jenggot tidak banyak seperti bulu-bulu halus yang berada di antara bibir bawah dan dagu, bulu kumis dan bulu jenggot, maka diwajibkan membasuhnya. Demikian juga jika seluruh jenggot yang menempel hanya sedikit, maka diwajibkan untuk membasuhnya. Akan tetapi jika jenggotnya permukaan kulit. BAB : MEMBASUH KEDUA TANGAN. Imam Syafii berkata: Allah swt. berfirman : lebat, maka diwajibkan membasuhnya karena akan menghalangi air untuk bisa sampai pada kelihatan dari muka, maka hendaklah dia


maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku. ( Surat al-Maaidah (5): 6 ) Kami tidak mengetahui bahwa ada perbedaan pendapat tentang membasuh siku, seakan-akan mereka memahami bahwa arti ayat ini adalah Maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai ke siku. Dengan demikian, tidak cukup sekedar membasuh kedua tangan dengan tanpa membasuh di antara tepi jari-jemari sampai ke siku-pun ikut bersih, dan hendaknya dimulai dari sebelah kanan kemudian pindah ke sebelah kiri. Menurut pendapat kami makruh jika memulai membasuh anggota wudlu yang sebelah kiri, akan tetapi dia tidak harus mengulanginya jika telah melakukannya. Jika orang yang berwudlu itu terpotong tangannya, maka dia cukup membasuh tangan yang masih ada sehingga dapat membasuh kedua sikunya.akan tetapi jika kedua sikunya terpotong juga, maka terangkat jarinya kewajiban

41

membasuh kedua tangan. BAB : MENGUSAP KEPALA. Imam Syafii berkata: Allah swt. berfirman :


dan sapulah kepalamu. ( Surat al-Maidah (5) : 6 ) Logis sekali bahwa pada ayat ini dijelaskan tentang barangsiapa telah mengusap sebagian dari rambut kepalanya, maka sesungguhnya dia dianggap telah mengusap kepala. Ayat ini juga tidak memiliki kemungkinan makna lain selain yang sudah disebutkan, dimana hal itu merupakan makna yang lebih kuat. Makna yang dianggap lebih kuat adalah mengusap seluruh rambut kepalanya. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Mughirah bin Syu`bah;

' ' 3 ' '


Bahwa Rasulullah saw. berwudlu dan menyapu ubun-ubunnya dan juga di atas surbannya serta di atas sepatunya (muzah). 38 Imam Syafii berkata: Hadits diriwayatkan dari Atha` :

( ' ) 3' '


Bahwa Rasulullah saw. berwudlu kemudian membuka surban dari kepalanya dan mengusap bagian depan kepalanya, atau Atha` berkata: mengusap ubun-ubunnya dengan air. 39 Imam Syafi`i berkata: Telah menceritakan kepada kami Malik dari Amr bin Yahya al-Mazini, dari ayahnya, bahwa dia berkata: Aku pernah berkata kepada Abdullah bin Zaid al-Anshari: Dapatkah kamu memperlihatkan kepadaku ketika Rasulullah saw. berwudlu ? Kemudian Abdullah bin Zaid menjawab : Ya. 7 : 7: : ,

7 7

38 . H.R. Muslim dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Bolehnya mengusap semua atau sebagian rambut kepala, hadits no. 83. 39 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang Thaharah, bab ke-5, sifat Wudlu, hadits no. 87, hlm. 32.

42

7 ' 7
Kemudian dia meminta air untuk berwudlu, lalu dituangkan di atas kedua tangannya, dia membasuh tangannya dua kali-dua kali, lalu berkumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya tiga kali, lalu dia membasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua tangannya dua kali-dua kali sampai ke siku, lalu membasuh kepalanya dengan kedua tangannya. Dia menggeser kedua tangannya ke depan lalu ke belakang. Dia memulai dengan bagian depan kepalanya, lalu menggeser kedua tangannya ke bagian tengkuknya, kemudian mengembalikan keduanya pada posisinya semula. Dan kemudian dia membasuh kedua kakinya. 40 Imam Syafi`i berkata: Kami lebih menyukai mengusap kepala tiga kali, namun sekali saja sudah cukup. Kami juga lebih menyukai menyapu bagian luar kedua telinga dan juga bagian dalamnya dengan air, selain dengan air yang digunakan untuk membasuh kepala, yaitu mengambil air untuk kedua telinga kemudian dimasukkan dua jari pada bagian yang tampak dari lubang telinga yang bersambung ke bagian kepala. Jika seseorang meninggalkan, yakni tidak mengusap dua telinga, maka dia tidak perlu mengulangi. Lantaran seandainya kedua telinga itu bagian dari wajah, niscaya ia dibasuh bersamaan dengan membasuh wajah, atau seandainya ia bagian dari kepala, niscaya ia akan diusap bersamaan dengan mengusap kepala. BAB : MEMBASUH KEDUA KAKI. Imam Syafi`i berkata : Sesungguhnya Allah swt. berfirman :


dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Kami membaca ayat tersebut Wa-arjulakum dengan arti basuhlah wajah, tangan kaki dan usaplah kepalamu. Imam Syafi`i berkata: Kami tidak mendengar adanya perbedaan pendapat tentang kedua mata kaki yang disebutkan oleh Allah swt. pada wudlu, yaitu
40 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang Wudlu, bab Membasuh kepala secara keseluruhan, juz 1, hlm. 58.

43

bahwa kedua mata kaki yang dimaksud adalah yang menonjol, dan keduanya merupakan tempat bertemunya pergelangan betis dan kaki. Keduanya harus disapu, seakan-akan maknanya menjadi Basuhlah kakimu sehingga membasuh kedua mata kakimu, tidak cukup bagi seseorang jika dia tidak membasuh kedua telapak kakinya, baik bagian atas maupun bagian bawah, pinggir dan kedua mata kakinya, melainkan sampai merata pada setiap bagian yang berdekatan dengan mata kaki dan berhubungan dengan pangkal betis. Kemudian dia memulai dengan menegakkan kedua telapak kakinya, lalu menumpahkan air kepada keduanya dengan tangan kanannya, atau ditumpahkan oleh orang lain, lalu dia menyelanyela jari jemari kakinya. Dia tidak boleh meninggalkan hal ini melainkan jika dia telah mengetahui benar bahwa air itu sudah sampai pada semua sela-sela jari jemari kaki. Imam Syafi`i berkata: Apabila terdapat pada seseorang dua jari atau lebih yang saling melekat, maka dia harus membasuh dengan air bagian yang tampak dari kulitnya, baginya tidak cukup melainkan dengan cara demikian. Dan baginya tidak boleh memisahkan jari jemarinya yang saling melekat itu. BAB : TEMPAT BERDIRINYA ORANG LAIN BERWUDLU. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang berdiri untuk membantu wudlu orang lain, maka hendaknya dia berdiri pada sisi kiri orang yang hendak diwudlukan, lantaran yang demikian lebih memungkinkan baginya menuangkan air serta lebih sopan. Akan tetapi jika dia berdiri pada sisi kanan atau berdiri pada sisi mana saja, kemudian menuangkan air kepada orang yang berwudlu, maka hal itu cukup baginya, lantaran yang wajib hanyalah wudlu bukan posisi wudlu. BAB : BATASAN AIR UNTUK BERWUDLU. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa dia berkata: Kami pernah melihat Rasulullah saw. saat waktu shalat Ashar telah tiba, lalu kebanyakan manusia mencari air untuk berwudlu namun mereka tidak memperolehnya. Kemudian Rasulullah saw. datang dengan membawa air untuk berwudlu, lalu meletakkan tangannya pada bejana itu dan memerintahkan orang ORANG YANG MEMBANTU

44

banyak untuk berwudlu dengan air tersebut. Kami menyaksikan air itu muncul di antara jari-jemari Rasulullah saw. sehingga banyak orang berwudlu sampai kepada orang yang paling terakhir. ( HR. Nasai, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Mengambil air wudlu dari bejana, , juz 1, jilid 1hal 60 ). Imam Syafi`i berkata: Senada dengan hal ini, hadits yang telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. dan isterinya mandi dari satu bejana. Apabila orang-orang berwudlu secara bersama-sama, maka hal ini menunjukkan tidak adanya batasan tertentu bagi air yang boleh digunakan untuk berwudlu selain mengerjakan apa yang diperintahkan Allah swt. yang berupa basuhan dan sapuan, demikian juga apabila dua orang mandi bersama. Apabila seseorang mengerjakan apa yang diperintahkan Allah swt. (membasuh dan mengusap), maka dia berarti telah melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, baik air itu sedikit atau banyak, sebab terkadang dia bertujuan menghemat air yang sedikit agar mencukupi. Sebaliknya apabila boros, maka air itu tidak dapat mencukupinya. Batasan minimal dianggap mencukupi anggota wudlu yang harus dibasuh adalah; seseorang mengambil air untuk anggota wudlu tersebut kemudian mengalirkannya di atas muka, kedua tangan, dan dua kaki. Seandainya air itu mengalir sendiri hingga merata pada anggota tubuh tersebut, maka hal itu cukup baginya. Akan tetapi apabila dia mengalirkan air di atas anggota wudlu tersebut dengan tangannya seraya menggerak-gerakkannya, niscaya hal itu lebih bersih dan lebih kami sukai. Apabila ada sedikit tanah merah atau selainnya yang mengotori anggota badannya, lalu dia mengalirkan air padanya namun tidak juga hilang, maka tidak wajib baginya mengulang membasuh anggota tubuh itu, karena dalam hal ini dia telah mengerjakan batas minimal yang diwajibkan kepadanya. Akan tetapi kami lebih menyukai apabila dia membasuhnya hingga tanah tersebut hilang seluruhnya. Apabila ada getah atau sesuatu yang tebal dibadannya sehingga dapat mencegah sampainya air ke kulit, maka dia tidak boleh berwudlu dalam keadaan

45

seperti itu, sehingga dia menghilangkannya terlebih dahulu, atau hilang darinya apa yang diketahui. Tidak ada wudlu tanpa disertai dengan niat; yakni bahwa dia berwudlu dengan niat bersuci dari hadats, bersuci untuk shalat fardlu atau shalat sunah, untuk membaca al-Qur`an, untuk shalat janazah, atau yang serupa dengannya di antara hal-hal yang tidak dapat dikerjakan selain oleh orang yang berada dalam kondisi suci. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang sudah membasuh sebagian anggota wudlu dengan tidak disertai niat, kemudian dia berniat pada saat membasuh anggota wudlu yang lain, maka hal itu tidak mencukupi kecuali apabila dia mengulangi wudlu terhadap anggota wudlu, yang tidak disertai dengan niat itu, lalu dia berniat yang karenanya wudlunya menjadi sah. Imam Syafi`i berkata: Apabila dia mendahulukan niat bersamaan dengan memulai wudlu, maka wudlu itu cukup baginya. Namun apabila dia mendahulukan niat sebelum memulai wudlu kemudian niat hilang darinya, maka wudlunya tidak tidak sah. Apabila dia berwudlu dengan niat bersuci, kemudian niat itu hilang darinya, maka hal itu boleh baginya selama tidak terbetik niat lain; seperti untuk mendinginkan badan atau membersihkan diri dengan air. Apabila dia membasuh mukanya dengan disertai niat hendak bersuci, kemudian dia niat membasuh kedua tangannya dan anggota wudlu yang lain untuk membersihkan atau mendinginkan badan dan bukan untuk bersuci, maka wudlunya tidak sah, melainkan dengan mengulangi membasuh anggota wudlu yang telah dia kerjakan dengan tanpa niat bersuci. Jika dia mengusap kepalanya dengan sisa air wudlu kedua tangannya, atau mengusap kepalanya dengan sisa air wudlu jenggotnyam, maka hal tersebut tidak cukup melainkan jika dia menggunakan air yang baru. Jika seseorang berwudlu dengan menggunakan air sisa dari orang lain (tidak bekas wudlu), maka hal tersebut cukup baginya. Jika dia berwudlu dengan air yang sudah dipakai orang lain untuk berwudlu dan tidak ada najis pada anggota badannya, maka wudlunya itu tidak sah disebabkan air itu adalah air yang

46

telah dipakai untuk berwudlu. Demikian juga jika dia berwudlu dengan air yang sudah dipakai orang lain untuk mandi junub (mandi wajib), dan air itu kurang dari dua kolam, maka wudlunya tidak sah. Jika air itu sebanyak lima bejana atau lebih, kemudian seseorang yang tidak bernajis menyelam di dalamnya sambil berwudlu dengan air itu, maka wudlunya dianggap sah disebabkan hal itu tidak merusak kesucian air. Imam Syafi`i berkata: Kami mengatakan: Seseorang tidak boleh berwudlu dengan air yang sudah dipakai oleh orang lain untuk berwudlu, karena Allah swt. telah berfirman:


maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Adalah sesuatu yang logis bahwa wajah itu tidak dikatakan terbasuh melainkan jika dibasuh dengan air yang belum digunakan sebelumnya. Menurut pendapat kami, membasuh kedua tangan haruslah sebagaimana membasuh muka dari segi pengambilan air dan pembasuhannya. Jika menggunakan air kembali yang sudah dibasuhkan pada wajahnya, maka tidak akan sama antara membasuh kedua tangan dan wajah. Tidaklah keduanya menjadi sama sehingga kedua tangan dibasuh dengan air yang baru, sebagaimana dia membasuh wajahnya dengan air yang baru, lantaran Rasulullah saw. mengambil air baru untuk setiap anggota wudlunya. BAB : MENDAHULUKAN WUDLU SERTA TATA TERTIBNYA. Imam Syafii berkata: Allah swt. berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Rasulullah saw. berwudlu sesuai dengan yang diperintahkan Allah swt.

47

kepadanya, dan memulai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. dengan demikian orang yang berwudlu hendaknya memperhatikan dua hal; yaitu memulai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt., dan hendaknya menyempurnakan apa yang diperintahkan kepadanya. Barang siapa yang memulai dengan kedua tangannya sebelum wajah, atau kepalanya sebelum kedua tangannya, atau kedua kakinya sebelum kepalanya, maka menurut kami hendaknya dia mengulang wudlunya sampai dia membasuh sesuai dengan urutan. Wudlunya tidak sah melainkan jika dilakukan sesuai dengan urutannya. Kemudian jika dia telah melaksanakan shalat, maka hendaklah dia mengulangi shalatnya sesudah berwudlu terlebih dahulu sesuai dengan urutan. Jika dia lupa mengusap kepalanya dan dia telah sampai kepada membasuh kedua kakinya, maka hendaklah dia mengulanginya lagi. Hanya saja kami berpendapat bahwa dia hendaknya mengulangi sebagaimana yang sudah kami katakan, sama seperti pandangan sebagian ulama tentang firman Allah swt. :

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. ( Surat al-Baqarah (2) : 158 ) Maka Rasulullah saw. memulai dari Shafa dan beliau bersabda :

3 7
Kami memulai dengan apa yang dimulai Allah swt. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. menyebutkan kedua tangan dan kaki secara bersamaan, maka kami lebih menyukai seseorang memulai dari sebelah kanan sebelum yang sebelah kiri. Akan tetapi jika dia memulai dari sebelah kiri sebelum yang sebelah kanan, maka dia telah berbuat sesuatu yang tidak baik, akan tetapi dia tidak harus mengulanginya. Kami juga menyukai wudlu yang dilakukan secara tartib, atau tidak mengacaknya, hal ini mengingat Rasulullah

48

saw. melakukan wudlu secara tartib. Imam Syafi`i berkata: Jika dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dimana dia telah melakukan wudlu dengan sebagian anggota badannya dikarenakan tempat tersebut lebih bersih dan lebih luas, maka tidak menjadi masalah dia melanjutkan wudlunya dengan anggota wudlu yang belum selesai. Demikian halnya jika dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena pilihannya sendiri dan bukan sesuatu yang mendesak. Jika dia memutuskan wudlu dalam waktu yang lama lantaran satu hajat atau melakukan pekerjaan di luar wudlu, baik air wudlunya menjadi kering atau tidak, maka kami lebih suka agar dia mengulangi wudlunya. Tidak jelas bagi kami bagi kami dalil yang menunjukkan terhadap keharusan untuk mengulangi wudlu dari awal, sekalipun diputuskan dalam waktu yang lama, selama tidak terjadi hadats padanya. Sedangkan jika terjadi hadats, maka wudlu yang sudah dia lakukan terdahlu yakni membasuh sebagian anggota wudlunya dianggap batal. Sesungguhnya kami tidak menjumpai dalil yang mengharuskan dalil wudlu harus berkesinambungan, seperti dalil yang kami temui dalam hal mendahulukan sebagian anggota wudlu dan mengakhirkan anggota lainnya. Imam Syafi`i berkata: Hadits telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya dia berwudlu di pasar, kemudian dia membasuh muka, kedua tangan serta mengusap kepalanya. Lalu dia diseru untuk melakukan shalat jenazah, maka dia masuk ke masjid untuk menjalankan shalat jenazah tersebut. 41 Imam Syafi`i berkata: Dari yang dikerjakan oleh Ibnu Umar ini menunjukkan tidak adanya keharusan untuk berkesinambungan dalam berwudlu, dan mungkin saja air wudlunya sudah kering. Bahkan, air wudlu itu bisa saja kering pada jarak yang dekat daripada jarak antara masjid dan pasar itu. Kami dapati bahwa pada saat dia meninggalkan tempat wudlunya untuk menuju masjid, dia sudah melakukan perbuatan selain wudlu dan memutuskan kesinambungan wudlu itu sendiri. BAB : MEMBACA BASMALAH SAAT WUDLU.
41 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Mengusap Dua Muzah hadits no. 118, hlm. 41.

49

Imam Syafi`i berkata: Kami menyukai seseorang yang memulai wudlunya dengan membaca basmalah. Namun apabila lupa, dia bisa membacanya kapan saja ketika mengingatnya sekalipun wudlu itu akan selesai. Apabila dia meninggalkan membaca basmalah, baik lupa atau sengaja, maka wudlunya tidak batal. BAB : BILANGAN WUDLU DAN BATASANNYA Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa dia berkata :

7 : :' 3' 7

: 7 7 : : :
Rasulullah saw. berwudlu lalu memasukkan tangannya ke dalam bejana, kemudian beliau memasukkan air ke dalam hidung dan berkumur-kumur sebanyak satu kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu menuangkan untuk kedua tangannya sebanyak satu kali, lalu membasuh kepala dan kedua telinganya sebanyak satu kali. 42 Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Humran, bekas budak

Utsman bin Affan, dari Utsman bin Affan bahwasanya dia berwudlu sebanyak tiga kali-tiga kali, kemudian beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah saw. bersabda :


Barang siapa berwudlu seperti wudluku ini, maka seluruh kesalahannya akan keluar dari wajahnya, kedua tangan dan kedua kakinya. Imam Syafi`i berkata: Ini bukanlah perbedaan riwayat, akan tetapi menunjukkan bahwa Rasulullah saw. ketika mengambil air wudlu jumlah bilangannya ada yang tiga kali dan ada juga yang sekali saja. Yang sempurna dari semua adalah tiga kali. Akan tetapi apabila sekali saja, maka itu dianggap telah
42 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Sifat Wudlu, hadits no. 76, jilid 1, hlm. 31. H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Wudlu dengan sekali basuhan, hadits no. 331, jilid 1, dan dalam kitab Sunan al-Darimi, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara wudlu.

50

mencukupi. Kami lebih menyukai apabila seseorang membasuh wajah, kedua tangan, kedua kaki dan mengusap kepalanya sebanyak tiga kali-tiga kali. Ketika mengusap kepala, hendaknya dia meratakannya. Apabila dia menyingkat mengusap kepala dengan sekali usapan saja, maka hal itu dianggap telah mencukupi, namun itulah yang paling sedikit dari yang seharusnya. Apabila dia membasuh sebagian anggota tubuhnya dengan sekali basuhan, sebagian yang lain sebanyak dua kali, dan sebagian yang lain dengan tiga kali, maka hal itu telah dianggap mencukupi; karena satu kali apabila telah mencukupi pada seluruh anggota wudlu, maka sudah tentu mencukupi sebagiannya. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bahwa Rasulullah saw. berwudlu dengan membasuh mukanya sebanyak tiga kali, kedua tangannya sebanyak dua kali-dua kali, serta mengusap kepalanya dengan kedua tangannya. Lalu beliau menggeser kedua tangan itu ke depan dan ke belakang. Beliau memulai dari bagian depan kepalanya, kemudian menjalankan kedua tangannya ke tengkuknya (belakang kepala). Kemudian dikembaikan lagi ke tempatnya semula, lalu beliau membasuh kedua kakinya. Imam Syafi`i berkata: Kami tidak menyukai seseorang berwudlu lebih dari tiga kali usapan, walaupun kami tidak memandangnya sebagai perkara yang makruh. Apabila seseorang membasuh mukanya dan kedua tangannya lalu dia berhadats, maka dia harus mengulangi wudlunya itu. BAB : MENYAPU KEDUA SEPATU. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. ( Surat al-Maidah (5): 6 )

51

Imam Syafi`i berkata: Ada kemungkinan perintah Allah swt. tentang membasuh kedua telapak kaki berlaku kepada seluruh orang yang berwudlu, dan ada kemungkinan juga hanya berlaku kepada sebagiannya saja. Hal ini diindikasikan oleh apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. yang menyapu di atas kedua sepatunya. Dengan demikian, apa yang tersebut di atas ditujukan kepada orang yang tidak memakai sepatu (dan tidak berlaku bagi mereka yang memakai sepatu) apabila dia mengenakannya dalam keadaan suci secara sempurna. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Atha` bin Yasar, dari Usamah bin Zaid, dia berkata bahwa Rasulullah saw. masuk bersama Bilal, lalu beliau pergi untuk buang air besar. Kemudian berwudlu lalu membasuh wajahnya dengan kedua tangannya, dan menyapu kepalanya serta kedua sepatunya. Imam Syafi`i berkata: Sesungguhnya Mughirah bin Syu`bah pernah berperang bersama Rasulullah saw. pada perang Tabuk Mughirah berkata: Lalu Rasulullah saw. buang air besar sebelum terbitnya fajar, kemudian aku membawa satu bejana kecil berisi air kepada beliau. Tatkala Rasulullah saw. kembali, aku menuangkan air yang ada dalam bejana itu ke atas dua tangannya. Lalu beliau membasuh kedua tangannnya sampai tiga kali, kemudian beliau membasuh wajahnya. Kemudian beliau menyingsingkan jubahnya dari dua lengannya. Ternyata kedua lengan jubahnya sempit, maka beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam jubah, sehingga beliau mengeluarkan kedua lengannya dari bawah jubah. Lalu beliau membasuh kedua lengannya sampai ke siku, kemudian beliau berwudlu dan menyapu kedua sepatunya. Sesudah itu, beliau pergi untuk melaksanakan shalat. Mughirah meneruskan, maka aku pergi bersama beliau. Kami mendapatkan orang banyak telah mengangkat Abdurrahman bin `Auf sebagai imam, dia mengimami mereka. Rasulullah saw. mendapati satu dari dua rakaat, sehingga beliau shalat dengan orang banyak pada rekaat yang terakhir. Tatkala Abdurrahman bin `Auf telah membaca salam, Rasulullah saw. berdiri untuk menyempurnakan rekaat yang tertinggal. Hal itu membuat kaum muslimin terkejut, mereka banyak membaca subhanallah.

52

Tatkala Rasulullah saw. telah selesai dari shalatnya, beliau memandang kepada mereka, kemudian bersabda :

) (
Kalian telah berbuat baik. Atau beliau mengatakan Kalian benar. Beliau merasa bahagia, karena mereka mengerjakan shalat tepat pada waktunya. 43 BAB : ORANG YANG BOLEH MENYAPU SEPATU. Imam Syafi`i berkata: Hadits dari Urwah bin Mughirah bin Syu`bah, dari ayahnya, bahwa dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, adakah engkau menyapu kedua sepatu ? Rasulullah saw. menjawab :

X
Ya, aku memasukkan kedua kaki dan keduanya itu dalam kondisi suci.44 Imam Syafi`i berkata: Barang siapa tidak memasukkan salah satu dari kedua kakinya kedalam kedua sepatu, maka shalatnya tetap sah dan kesuciannya tetap sempurna, dan baginya boleh mengusap di atas dua sepatu. Sedangkan caranya; dia berwudlu dengan sempurna. Jika sudah menyempurnakan wudlunya, maka dia memasukkan kakinya kedalam sepatu. Jika sesudah itu dia berhadats, maka baginya boleh mengusap kedua sepatunya. Akan tetapi jika dia sudah memasukkan kedua kakinya atau salah satunya kedalam kedua sepatunya sebelum dia boleh melakukan shalat, maka baginya tidak diperbolehkan mengusap kedua sepatu tersebut. Sedangkan deskripsinya adalah; seseorang membasuh wajah dan kedua tangannya, mengusap kepala dan membasuh salah satu kakinya, kemudian memasukkannya ke dalam sepatu, kemudian dia membasuh kaki yang satunya dan dimasukkannya kedalam sepatu, kemudian dia membasuh kaki yang satunya dan dimasukkannya kedalam sepatu. Jika dia berhadats, maka baginya tidak boleh
43 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Mengusap Kepala dan Dua Sepatu, hadits no. 81, jilid 1, hlm. 563. Dan Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Mengusap Dua Sepatu juz 1, hlm. 42. 44 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tata cara bersuci, bab Mengusap kepala dan Dua Sepatu hadits no. 80, jilid 1, hlm. 562.

53

mengusap kedua sepatu, lantaran dia telah memasukkan salah satu dari kedua kakinya ke dalam sepatu pada saat kesuciannya belum sempurna dan dia belum diperbolehkan shalat. Apabila seseorang telah wudlu dengan sempurna, kemudian dia memakai sepatu pada salah satu kakinya, lalu memasukkan kaki yang satunya lagi ke dalam sepatu akan tetapi terus ditariknya sampai ke betis dengan tanpa menyisakan sepatu ditelapak kakinya sampai kahirnya dia berhadats, maka baginya tidak boleh menyapu sepatunya, karena dia tidak disebut sebagai pemakai sepatu sebelum telapak kakinya berada dalam sepatu. Dalam hal seperti ini dia harus melepas sepatu itu dan mengulang wudlunya kembali. Jika pada dua sepatu itu ada yang terkoyak atau sobek sehingga tampak angota wudlunya; baik telapak kaki, permukaannya, bagian tepinya atau bagian atasnya sampai pada kedua mata kaki, maka dia tidak boleh mengusapnya, lantaran mengusap sepatu itu adalah suatu keringanan (rukhshah) bagi orang yang tertutup kedua kakinya dengan dua sepatu. Jika sepatu itu sobek dan tampak kaus kaki yang menutupi telapak kakinya, maka menurut pandangan kami baginya tidak boleh mengusap sepatu, lantaran sepatu itu bukanlah kaus kaki. Jika dia hanya memakai kaus kaki dengan tanpa sepatu, maka akan tampak sebagian dari kedua kakinya. Imam Syafi`i berkata: Jika bagian luar sepatu rusak atau sobek sedangkan bagian dalamnya masih tetap utuh, dimana telapak kaki tidak nampak, maka dia boleh mengusapnya, lantaran semua itu adalah sepatu, sedangkan kaus kaki itu bukanlah sepatu. Imam Syafi`i berkata: Semua pembahasan terdahulu itu berkaitan dengan khuf (muzah), yakni sepatu yang terbuat dari kulit binatang, baik onta, lembu atau kayu, dan yang paling banyak adalah terbuat dari kulit kambing. Jika kedua sepatu itu terbuat dari bulu, anyaman kain atau kurma, maka itu tidak termasuk kategori khuf sebab tidak terbuat dari kulit atau kayu yang dapat bertahan lama jika sering dipakai berjalan kaki. Dan hendaknya bagian-bagian tempat wudlu dibuat agak tebal serta tidak tembus pandang. Jika sepatu itu seperti yang kita sifatkan, maka baginya boleh mengusap sepatunya. Sedangkan jika

54

tidak demikian, maka baginya tidak boleh mengusap sepatu. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang memakai terumpah, dan bagian terumpah yang menutup anggota wudlu itu tebal, akan tetapi bagian atas anggota wudlu tipis (transparan), maka boleh diusap; sebab jika bagian atas anggota wudlu itu tidak ditutupi oleh sesuatu, tetap tidak mengapa mengusap sepatu yang menutupi bagian anggota wudlu saja. Akan tetapi jika terdapat bagian anggota wudlu yang tidak tertutupi, maka tidak boleh diusap. Jika seseorang memakai sepasang kaus kaki yang menggantikan fungsi sepatu dan dia menyapunya, kemudian dia melapisi kaus kaki itu dengan sepasang sepatu, atau dia melapisi lagi sepatu itu dengan sepasang sepatu yang lain, atau dia memakai sepasang jurmuq (sepatu pendek yang terkadang dipakai untuk melapisi khauf) di atas sepatu tadi, maka baginya boleh mengusap sepatu yang paling dekat dengan kedua kakinya, dan usapan tidak boleh dilakukan pada sepatu yang kedua atau pada jurmuq. Jika dia berwudlu kemudian menyempurnakan sampai selesai, lalu dia memakai kedua sepatu atau sesuatu yang dapat menggantikannya lalu melapisinya dengan sepasang jurmuq, lalu dia berhadats dan bermaksud mengusap kedua jurmuq tersebut, maka hal itu tidak boleh baginya. Bahkan dia harus membuka sepasang jurmuq itu, lalu mengusap sepatu yang paling dekat dengan kakinya kemudian memakai jurmuq kembali apabila dia menghendaki. Sedangkan jika dia menyapu jurmuq sedangkan sesudah jurmuq terdapat sepatu, maka hal itu tidak boleh baginya dan shalatnya tidak sah. Imam Syafi`i berkata : Apabila dia memakai kaus kaki, hal itu tidak dapat menggantikan kedudukan dua sepatu (khuf). Kemudian jika dia memakai dua sepatu di atas dua kaus kaki, maka hendaknya dia mengusap bagian atas terdiri dari dua sepatu itu, lantaran tidak ada sesudah telapak kaki itu sesuatu yang menggantikan kedudukan kedua sepatu. Sangat jarang seseorang memakai sepatu kecuali sebelumnya dia memakai pelapis kaki, baik berupa kaus kaki atau yang dapat menggantikan kedudukannya, untuk menjaga dan memelihara kaki dari gesekan jahitan sepatu ataupun sobekan yang ada padanya. Imam Syafi`i berkata: Jika kedua sepatu itu najis, maka dia tidak boleh

55

melaksanakan shalat. Jika sepatu itu terbuat dari kulit bangkai yang bukan binatang anjing dan babi, atau terbuat dari kulit binatang buas yang sudah disamak, maka dia boleh melaksanakan shalat dengan memakai kulit tersebut selama kulit itu tidak berbulu, lantaran menyamak kulit tidak dapat mensucikan bulu, sehingga sepatu yang terbuat dari kulit berbulu tidak dapat dipakai saat shalat. Jika sepatu itu terbuat dari kulit bangkai atau kulit binatang buas yang belum disamak, maka tidak boleh dipakai untuk shalat. Sedangkan jika terbuat dari kulit binatang yang boleh dimakan dagingnya dan mati karena disembelih, maka boleh digunakan untuk shalat sekalipun belum disamak. BAB : WAKTU MENGUSAP KEDUA SEPATU. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya dari Rasulullah saw. :

: / ,'
Bahwasanya beliau memberikan keringanan terhadap orang yang melakukan perjalanan untuk mengusap kedua sepatu selama tiga hari tiga malam dan untuk orang yang mukim selama sehari semalam. 45 Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang memakai dua sepatu, sedangkan dia dalam kondisi suci (suci yang membolehkan shalat), maka dia boleh melakukan shalat dengan memakai dua sepatu tersebut. Kemudian dia dia berhadats, maka hendaknya dia mengetahui waktu dia berhadats. Jika dia bermukim (tidak musafir) maka boleh baginya mengusap sepatu sampai kepada waktu dimana dia berhadats dari keesokan harinya,46 dan itu artinya sehari semalam, tidak boleh lebih dari itu. Akan tetapi jika dia mengadakan perjalanan jauh, maka dia boleh mengusap kedua sepatunya untuk tiga hari tiga malam, sampai batas pengusapan pada waktu dimana dia memulai untuk mengusapnya pada hari yang ketiga, dan tidak boleh lebih dari itu.
45 . H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci dan sunahsunahnya, bab ke-86 Waktu Mengusap dua sepatu- untuk orang yang mukim dan musafir, hadits no. 451, jilid 1, hlm. 91; dan dalam kitab Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tata cara bersuci, bab ke-8, Mengusap Dua Sepatu hadits no. 123, juz 1, hlm. 42. 46 . Contohnya jika seseorang berhadats pada hari ini jam 10 pagi, maka waktu bolehnya dia mengusap sepatu adalah sampai pada jam 10 pagi di keesikan harinya.

56

Imam Syafi`i berkata:

Jika seseorang berwudlu dan memakai kedua

sepatunya, kemudian dia berhadats sebelum tergelincirnya matahari kemudian mengusap kedua sepatunya untu melaksanakan shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isyak dan Subuh, maka dia dapat mengerjakan shalat dengan pengusapan yang pertama selama wudlunya belum batal. Akan tetapi jika sudah batal, maka dia boleh mengusapnya sampai waktu dia berhadats dari keesokan harinya. Yang demikian itu terbatas hanya satu hari satu malam. Jika batas waktu tersebut telah tiba, maka wudlunya menjadi batal, sekalipun dia belum berhadats dan dia harus membuka kedua sepatunya. Jika dia membuka kedua sepatu dan berwudlu, maka dia tetap dalam kondisi suci. Kemudian jika dia memakai sepatunya lalu berhadats, maka baginya boleh tetap mengusap sepatu seperti pada saat dia pernah berhadats, lalu wudlunya dianggap batal pada waktu dia berhadats sekalipun dia tidak berhadats. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang mengusap sepatu sedang dia dalam kondisi bermukim pada saat matahari tergelincir, kemudian dia melaksanakan shalat Dhuhur lalu keluar untuk bepergian, maka dia boleh melaksanakan shalat dengan pengusapan itu sampai mencapai satu hari satu malam, tidak boleh lebih dari waktu itu, lantaran masa tenggang kesucian pengusapannya adalah bahwa dia hanya menggunakan pengusapan yang mempunyai masa tenggang selama satu hari satu malam. Demikian juga halnya jika dia mengusap kedua sepatunya dan dia dalam kondisi mukim, lalu dia tidak menjalankan shalat sehingga keluar untuk bepergian, maka baginya tidak boleh menjalankan shalat dengan mengusap sepatu yang dia lakukan ketika dia bermukim, selain satu hari satu malam, sama seperti keadaannya ketika dia bepergian. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang berhadats sedangkan dia dalam kondisi mukim, kemudian dia tidak mengusap kedua sepatunya melainkan sesudah keluar untuk perjalanan jauh, maka baginya boleh shalat dengan usapan itu saat dalam perjalanannya untuk tiga hari tiga malam. Imam Syafi`i berkata: Jika dia mengusap dalam kondisi bermukim, kemudian dia bepergian dengan tanpa mengalami hadats sebelumnya, kemudian

57

dia berwudlu dan mengusap dalam perjalanannya, maka baginya tidak boleh shalat dengan usapan itu kecuali selama sehari semalam, lantaran mengusap sepatu yang dilakukan saat bepergian tersebut tidak memiliki makna. Karena hal ini dia lakukan saat masih dalam kondisi suci sebagai akibat perbuatannya mengusap sepatunya sebelum bepergian. Maka mengusap sepatu yang dia lakukan saat bepergian itu dianggap tidak pernah ada, lantaran tidak ada yang menjadikannya suci melainkan penyucian dirinya yang pertama yakni sebelum bepergian. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang mengusap kedua sepatunya saat bepergian kemudian menjalankan satu shalat atau lebih, kemudian datang ke suatu negeri untuk bermukim di sana selama empat hari, maka baginya tidak ada kesempatan untuk melaksanakan shalat dengan usapan saat bepergian tersebut sesudah bermukim melainkan untuk menyempurnakan satu hari satu malam, tidak boleh lebih dari itu, lantaran sesungguhnya baginya boleh menajalankan shalat dengan mengusap sepatu selama tiga hari jika dia dalam kondisi bepergian. Ketika perjalanannya sudah selesai; maka hukum mengusap sepatu baginya sama seperti ketentuan mengusap sepatu bagi mereka yang tidak melakukan bepergian. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang bepergian kemudian lupa apakah dia sudah mengusap sepatu sebagai orang yang mukim atau sebagai orang yang bepergian, maka dia tidak boleh menjalankan shalat ketika timbul keraguan itu melainkan hanya satu hari satu malam. Akan tetapi jika dia telah menjalankan shalat dengan pengusapan itu satu hari satu malam, kemudian ingat bahwa dia telah mengusap karena alasan bepergian, maka dia shalat berdasarkan usapan itu untuk waktu tiga hari tiga malam. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang ragu pada permulaannya apakah sudah mengusap sepatu untuk satu hari satu malam ataukah belum, maka dalam kondisi seperti ini dia harus melepaskan kedua sepatunya dan berwudlu kembali. Jika seseorang yakin bahwa dia sudah mengusap sepatu lalu melaksanakan tiga shalat, akan tetapi dia ragu apakah telah melaksanakan shalat yang keempat atau belum, maka tidak ada yang harus dia lakukan melainkan menjadikan dirinya telah mengerjakan shalat dengan usapan yang keempat, supaya dia tidak

58

melaksanakan shalat dengan usapan sepatu yang dia ragukan apakah telah dilakukan atau belum, dan dia tidak meninggalkan shalat yang keempat sampai dia yakin bahwa dia telah melaksanakannya. BAB : HAL-HAL YANG MEMBATALKAN USAPAN SEPATU YANG KEDUA Imam Syafi`i berkata: Seseorang boleh mengusap kedua sepatunya pada waktunya, selama kedua sepatunya itu berada pada kedua kakinya. Jika dia mengusap sesudah mengeluarkan salah satu dari kedua kakinya atau keduanya, maka pengusapan itu batal dan alangkah baiknya dia berwudlu, jika dia memakai sepatunya lalu berhadats, maka dia boleh mengusapnya. Imam Syafi`i berkata: Demikian juga jika salah satu dari kedua telapak kakinya atau sebagiannya tidak berada dalam sepatunya, sehingga tampaklah sebagian kakinya yang termasuk anggota wudlu, maka pengusapannya dianggap batal. Lalu jika seseorang menghilangkan kakinya dari dasar sepatu, akan tetapi tidak tampak dua mata kakinya serta bagian yang harus terkena air wudlu, maka kami menyukai supaya memulai wudlunya kembali, akan tetapi tidak jelas bagi kami dalil yang mengharuskannya. Demikian juga jika sepatu sobek sementara orang yang memakainya mengenakan kaus kaki yang menutup kakinya, kemudian kaus kakinya tampak dari luar sepatu, dimana jika tidak mengenakan Hal-hal yang Mewajibkan Mandi. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman : kaus kaki tersebut niscaya kakinya akan terlihat, maka hal ini juga membatalkan mengusap sepatu.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,

59

(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. ( Surat an-Nisa` (4): 43 ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. mewajibkan mandi yang disebabkan oleh janabah. Sudah populer pada lisan orang Arab bahwa janabah sperma. Syekh Rabii berkata: Yang dimaksudkan adalah tidak inzal (tidak mengeluarkan sperma). Sunnah menunjukkan bahwa janabah adalah bersetubuh antara laki-laki dan perempuan, sehingga dzakar (penis) laki-laki masuk (tidak tampak) dalam kemaluan perempuan, atau terlihat air yang memancar sekalipun tidak bersetubuh. Imam Syafi`i berkata: Sesungguhnya Abu Musa al-Asy`ari bertanya kepada Aisyah tentang bertemunya kemaluan laki-laki dan perempuan, lalu Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda : artinya bersetubuh (jima`) sekalipun dalam bersetubuh itu tidak disertai keluarnya air

7 7
Apabila telah bertemu atau bersentuhan antara kemaluan laki-laki dan perempuan, maka wajib mandi atasnya. 47 Imam Syafii berkata: Hadits diriwayatkan dari Ummi Salamah bahwa dia berkata: Bahwa Ummu Sulaim isteri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw. seraya bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam kebenaran, apakah wanita itu (wajib) mandi apabila dia bermimpi ? Rasulullah saw. menjawab :


47 . H.R. Imam Malik dalam kitab al-Muwatha`, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Wajib Mandi Jika dua khitan bertemu, hadits no. 72, jilid 1, hlm. 46.

60

Ya, apabila dia melihat air. 48 Imam Syafi`i berkata: Barang siapa melihat air yang memancar, baik terasa nikmat atau tidak, maka dia wajib mandi. Demikian juga halnya apabila dia bersetubuh lalu dia mengeluarkan sperma, maka dia wajib mandi. Apabila keluar lagi air yang memancar setelah mandi, maka dia harus mengulangi mandinya, dan sama saja apakah sebelum membuang air kecil atau sesudahnya. Jadi, keluarnya air yang terpancar dari seseorang merupakan tanda bahwa dia wajib mandi, baik sebelum membuang air kecil ataupun sesudahnya. Imam Syafi`i berkata: Air yang terpancar adalah yang hangat dan darinya terlahir seorang anak, serta baunya menyerupai serbuk kurma. Imam Syafi`i berkata: Apabila penis seorang laki-laki telah tenggelam dalam kemaluan wanita, baik adanya rasa nikmat atau tidak, digerak-gerakkan atau tidak; atau seorang wanita memasukkan kemaluan suaminya ke dalam kemaluannya, baik laki-laki itu sadar atau dalam keadaan tertidur sehingga dia tidak mengetahuinya, maka keduanya wajib mandi. Demikian juga halnya apabila seseorang memasukkan kepala penisnya ke dalam vagina dan dubur wanita lain atau binatang, maka dia wajib mandi dan dianggap telah berbuat dosa karena melakukan hal itu kepada selain isterinya. Madzhab kami memandang haram apabila seorang suami menyetubuhi isterinya dari duburnya. Demikian juga apabila dia menenggelamkan penisnya ke dalam kemaluan isterinya yang telah meninggal dunia, maka dia wajib mandi pula. Apabila penisnya dimasukkan ke dalam darah, khamer atau sesuatu yang tidak bernyawa, baik yang diharamkan atau tidak, maka dia tidak wajib mandi sebelum mengeluarkan air mani. Imam Syafi`i berkata: Demikian juga apabila dia melakukan masturbasi (onani) dan tidak mengeluarkan sperma, maka tidak ada kewajiban mandi atasnya, karena telapak tangan bukanlah farji (kemaluan wanita). Imam Syafi`i berkata: Apabila dia menemukan air sperma di dalam kainnya dan dia lupa bahwa air sperma itu berasal dari mimpi atau dari selainnya,
48 . H.R. Bukhari, bab Mandi apabila wanita bermimpi mengeluarkan sperma, dan juga diriwayatkan oleh Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Wajib Mandi Bagi Perempuan Karena Keluar air Sperma.

61

maka kami lebih menyukai apabila dia mandi dan mengulangi shalatnya. Hendaknya seseorang bersikap teliti dengan mengulangi semua shalat yang diduga dilakukan setelah air sperma itu keluar, atau dia mengulangi shalat yang dilakukannya setelah bangun tidur, dimana dia melihat sesuatu yang di duga telah menyebabkan air spermanya keluar. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang melihat sesuatu dalam mimpinya dan dia tidak mengetahui air spermanya keluar (ejakulasi) kecuali jika tidak ada yang memakai pakaiannya selain dia, maka diketahui bahwa air sperma itu berasal darinya dalam kondisi seperti ini maka dia wajib mandi, yaitu pada waktu dia tidak ragu bahwa mimpi telah ada sebelumnya. Demikian juga halnya apabila dia teringat pada tidur yang telah dilakukannya. Apabila dia telah melaksanakan satu shalat sesudahnya, maka dia harus mengulanginya. Namun apabila dia belum melaksanakan shalat apapun, maka dia harus mandi untuk melaksanakan shalat berikutnya. Imam Syafi`i berkata: Mandi yang lebih utama menurutku (untuk dikategorikan sebagai mandi wajib setelah mandi janabah ) adalah mandi setelah memandikan mayit. Kami tidak suka meninggalkannya, bagaimanapun keadaannya. Orang yang menyentuh mayit hendaknya berwudlu, kemudian mandi untuk shalat jum`at. Ini merupakan perintah atas dasar pilihan artinya hanya merupakan anjuran. Imam Syafi`i berkata: Adapun mandi Jum`at, dalil-dalil yang ada pada kami menunjukkan bahwa dia diperintahkan atas dasar pilihan yakni hanya anjuran. Imam Syafi`i berkata: Seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah saw. memasuki masjid pada hari Jum`at dan Umar bin Khatab sedang membaca khutbah, lalu Umar bertanya kepadanya: Waktu apakah ini ? Laki-laki itu menjawab: Wahai Amirul Mukminin, kami pulang dari pasar lalu mendengar seruan adzan, maka kami tidak menambah lagi kecuali berwudlu. Umar bin Khatab lalu berkata: Wudlu juga sementara engkau telah mengetahui bahwa Rasulullah saw. memerintahkan mandi. Imam Syafi`i berkata: Apabila seorang musyrik masuk Islam, maka kami lebih menyukai dia mandi serta mencukur rambutnya. Akan tetapi jika dia tidak

62

melakukannya dan tidak berjunub, maka baginya cukup berwudlu dan melaksanakan shalat. Imam Syafi`i berkata: Disebutkan, jarang sekali manusia yang gila kecuali sperma telah keluar darinya. Jika kondisinya demikian, maka orang yang sembuh dari gila tersebut harus mandi lantaran keluarnya sperma tersebut. Akan tetapi apabila dia ragu apakah telah mengeluarkan sperma atau tidak, maka menurut pendapat yang lebih kami sukai adalah orang tersebut lebih baik mandi untuk lebih bersikap hati-hati, akan tetapi kami tidak menganggap wajib, melainkan apabila dia yakin telah mengeluarkan sperma (ejakulasi). BAB : KELUAR MADZI. Imam Syafi`i berkata: Jika seorang laki-laki mendekati isterinya kemudian dia mengeluarkan madzi, maka dia wajib berwudlu, lantaran madzi itu adalah suatu hadats yang keluar dari dzakar. Jika dia menyentuh tubuh isterinya dengan tangannya, maka dia juga wajib berwudlu ditinjau dari dua sisi, yaitu mengeluarkan madzi serta menyentuh isteri, namun baginya cukup berwudlu satu kali untuk keduanya. Demikian juga orang yang wajib berwudlu karena semua sebab yang mewajibkan wudlu, kemudian sesudah itu dia berwudlu dengan satu wudlu, maka hal itu cukup baginya dan dia tidak wajib mandi dengan sebab mengeluarkan madzi. BAB : TATA CARA MANDI. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :


(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. ( Surat an-Nisa` (4): 43 ) Allah swt. mewajibkan mandi secara mutlak dan Dia tidak menyebutkan apa yang harus didahulukan saat mandi sebelum yang lainnya, dengan kata lain Allah swt. tidak menyebutkan urutan-urutan yang harus didahulukan pada saat mandi. Jika seseorang mandi, niscaya hal itu sudah cukup baginya dan Allah swt.

63

lebih mengetahui bagaimana cara seseorang mandi, serta tidak ada waktu husus untuk mandi. Imam Syafi`i berkata: Hadits telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Abu Dzar: Apabila engkau memperoleh air, maka basuhkanlah air itu ke kulitmu. Abu Dzar tidak menceritakan bahwa Rasulullah saw. menyifatkan kadar air itu kepadanya selain dengan mengusap atau membasuh kulit, namun cara terbaik untuk mandi janabah adalah sebagaimana apa yang telah dikisahkan oleh Aisyah ra. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah ra. :

7 G 7 7 7' 7 7 \ 7 7
Bahwasanya Rasulullah saw. apabila mandi karena janabah, maka beliau membasuh kedua tangannya lalu berwudlu seperti berwudlu untuk melaksanakan shalat. Kemudian beliau memasukkan jari-jemari tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambutnya dengan jari-jemari itu. Kemudian beliau menuangkan ke atas kepalanya tiga timba air dengan kedua tangannya, lalu beliau meratakan air ke seluruh kulitnya. 49 Imam Syafi`i berkata: Apabila seorang wanita mempunyai rambut yang terikat (disanggul), maka dia tidak harus membuka sanggulnya itu ketika mandi karena janabah atau haidl tanpa ada perbedaan antara keduanya. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Ummu Salamah, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw. dan mengatakan bahwa aku adalah wanita yang memiliki sanggul rambut yang sangat besar, apakah aku harus membukanya ketika mandi janabah ? Maka Rasulullah saw. menjawab :

7 7 ' 3' '

49 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang mandi, bab Wudlu sebelum mandi H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Sifat Mandi Jinabah hadits no. 34, jilid 1, cet. al-Sya`bi, Kairo, hlm. 613.

64

7 , ,
Tidak, sesungguhnya telah mencukupi bagimu dengan menyiram ke atas sanggul itu tiga timba air, kemudian engkau ratakan air itu pada tubuhmu sehingga engkau suci. Dalam hadits lain beliau bersabda: Jika demikian, engkau telah suci. Apabila dia tidak memiliki rambut (gundul), maka cara mandinya sama sebagaimana cara mandi di atas. Demikian juga halnya apabila ada seorang laki-laki yang mengikat sanggul rambut kepalanya atau mengepangnya, maka dia tidak perlu membukanya, namun dia harus mengalirkan air ke pangkal rambutnya. Imam Syafi`i berkata: Apabila rambutnya lebat lalu dia menyiram air sebanyak tiga timba, namun dia mengetahui bahwa air itu belum merata ke seluruh pangkal rambutnya walaupun seluruh rambutnya telah basah, maka hendaklah dia menyiram rambutnya kembali dan memasukkan air ke pangkal rambutnya sampai dia yakin bahwa air itu telah sampai ke rambut dan kulit kepalanya. Apabila dia telah mencukur rambutnya (sampai botak) dan dia mengetahui bahwa air itu telah sampai ke rambut dan kulit kepalanya dengan satu timba saja, niscaya hal itu telah memadai. Akan tetapi kami lebih menyukai dengan tiga timba. Hanya saja Rasulullah saw. memerintahkan kepada Ummu Salamah untuk menyiram dengan tiga timba karena sanggul rambutnya. Adapun kami berpendapat bahwa hal itu adalah batas minimal untuk mengalirkan air ke kulit rambut. Rasulullah saw. memiliki rambut yang melewati daun telinga, beliau membasuh kepalanya dengan tiga basuhan. Begitu juga dalam hal berwudlu, beliau saw. lebih sering melakukannya tiga kali dalam hidup beliau. Akan tetapi menyiram satu kali bila telah merata dianggap telah mencukupi, baik ketika mandi atau wudlu, sebab dengan menyiram satu kali telah bisa dinamakan mandi atau wudlu, selama diketahui bahwa air telah mengenai rambut dan kulit. Orang yang lupa berkumur-kumur dan memasukkan Air ke dalam Hidung Pada Mandi Janabah. Imam Syafi`i berkata: Kami tidak menyukai seseorang yang meninggalkan

65

berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung pada saat mandi janabah. Namun apabila dia terlanjur meninggalkannya, maka kami lebih menyukai agar dia berkumur-kumur saja. Apabila dia tidak mengerjakan hal itu juga, maka dia tidak harus mengulangi shalatnya. Demikian juga dia tidak harus memercikkan air atau membasuh kedua matanya, karena kedua mata bukanlah bagian luar dari badannya dimana letak keduanya di bawah pelupuk mata. Imam Syafi`i berkata: Berdasarkan hal itu, maka seseorang harus membasuh bagian luar dan bagian dalam dari telinganya, karena kedua telinga itu termasuk anggota badan bagian luar sehingga harus memasukkan air pada bagian yang tampak dari daun telinga, dan dia tidak harus memasukkan air pada bagian telinga yang tidak nampak. Imam Syafi`i berkata: Kami lebih menyukai seseorang menggosok tubuhnya sesuai dengan kemampuannya ketika mandi. Namun apabila dia tidak mengerjakan hal itu dan air telah merata pada kulitnya, maka hal itu sudah cukup baginya. Demikian halnya apabila dia membenamkan diri pada sebuah sungai atau sumur sehingga air dapat merata ke seluruh rambut dan kulitnya, maka hal itu telah cukup baginya; atau dia berdiri di bawah pancuran air atau membasahi dirinya dengan hujan sehingga air dapat sampai kepada rambut dan kulitnya, maka hal itu sudah cukup baginya. Imam Syafi`i berkata: Mandi yang telah kami terangkan di atas tidak dianggap suci apabila tidak disertai niat mandi janabah. Demikian halnya dengan wudlu, tidak dianggap sebagai wudlu apabila tidak disertai dengan niat wudlu. Apabila dia berniat mandi untuk bersuci dari janabah dan berniat wudlu untuk bersuci dari hal-hal yang mewajibkan wudlu; atau dia berniat wudlu untuk melaksanakan shalat, baik fardlu maupun nafilah seperti shalat jenazah atau membaca al-Qur`an, maka semua itu boleh baginya dikarenakan dia telah meniatkan semuanya untuk bersuci. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang mandi dan memulai dari kedua kakinya sebelum kepalanya, atau dia memisah-misahkannya dimana pada saat

66

tertentu membasuh sebagian anggota badannya dan pada setelah satu jam berikutnya dia baru memulai membasuh bagian tubuhnya yang lain, maka hal itu telah mencukupinya. Namun lain halnya dengan wudlu, dia harus mengurutkannya sesuai dengan apa yang telah disebutkan Allah swt. di dalam kitab-Nya. Orang yang mandi janabah dan orang yang berwudlu hendaknya menyelanyela jari-jemari kakinya sehingga dia yakin air itu telah sampai di antara jarijemari kakinya. Apabila dia tidak yakin akan sampainya air, maka hal itu tidak cukup baginya. Apabila air itu telah mengenainya, maka hal itu sudah mencukupi walaupun dia tidak menyela-nyelainya. Alasan Orang yang Mewajibkan Mandi dan Wudlu. Imam Syafi`I berkata: Allah swt. berfirman :


dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus). ( Surat al-Maaidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. tidak memberikan keringanan (rukhshah) dalam bertayamum kecuali pada beberapa keadaan, yaitu dalam perjalanan atau dalam kesulitan air atau saat sakit. Apabila seseorang sakit, maka dia boleh bertayamum baik dia mukim atau sedang dalam perjalanan, atau saat dia memperoleh air atau tidak. Imam Syafi`i berkata: Sakit adalah suatu kata yang mengumpulkan semua jenis penyakit. Adapun yang kami dengar tentang sakit yang dengannya boleh bertayamum adalah luka. Imam Syafi`i berkata: Bengkak yang tidak parah itu juga masuk dalam katagori luka, karena yang ditakutkan adalah bagian tersebut terkena air yang kemudian akan bernanah sehingga menyebabkan kematian atau menimbulkan penyakit yang mengkhawatirkan. Inilah ketakutan minimal yang ada dalam masalah ini. Apabila luka itu berlubang dimana dikhawatirkan tersentuh air sehingga

67

akan menambah parah sakitnya, maka boleh baginya bertayamum. Namun apabila luka itu ringan dan tidak berlubang, serta tidak dikhawatirkan bernanah apabila dibasuh dengan air, maka dia tidak boleh bertayamum dikarenakan alasan Allah swt. memberikan keringanan kepada seseorang untuk bertayamum telah hilang darinya. Tidak boleh bagi seseorang bertayamum kecuali ada luka, baik pada musim dingin atau panas. Apabila dia melakukannya, maka hendaklah dia mengulangi shalat yang dikerjakannya dengan tayamum itu. Begitu juga seseorang tidak boleh bertayamum ketika berada di musim dingin. Apabila dia terkena luka pada kepalanya atau pada bagian lain dari tubuhnya, maka dia harus membasuh bagian lain dari badannya yang terkena najis; dan tidak ada yang mencukupi kecuali hal itu, sebab bertayamum itu untuk janabah. Begitu juga terhadap setiap najis yang mengenai anggota badannya, maka tidak cukup bagiya kecuali membasuhnya. Seseorang mempunyai banyak luka, dan salah satunya ada lubang luka yang terkena najis, sementara dia takut jika lubang itu terkena air. Jika dia tidak membasuhnya, maka dia harus mengulangi setiap shalat yang dikerjakannya itu. Apabila luka itu terdapat pada telapak tangannya (bukan pada tubuh), maka dia harus membasuh seluruh tubuh kecuali telapak tangan. Namun dengan melakukan hal seperti itu, dia belum dianggap suci apabila belum bertayamum, karena dia tidak mandi sebagaimana yang diwajibkan Allah swt kepadanya. Jika dia bertayamum dan sanggup membasuh sebagian dari tubuhnya tanpa adanya bahaya yang ditimbulkan (mudharat), maka dia tidak boleh melakukan tayamum dan harus membasuh seluruh tubuh yang dia mampu menjangkaunya, sebab bertayamum tidak boleh dengan mengusap sebagian dan meninggalkan bagian yang lain. Jika luka itu terdapat pada bagian depan (bukan pada bagian belakang kepalanya), maka dia harus membasuh kepala bagian belakangnya. Demikian juga dengan sebagian kepala bagian depan (tidak pada bagian yang lain), maka dia harus membasuh bagian yang tidak ada lukanya dan meninggalkannya bagian

68

yang terkena luka, jika luka terdapat pada muka dan tidak pada bagian kepala. Akan tetapi jika dibasuh, maka air akan menetes ke bagian muka (tentu akan mengenai luka yang ada di mukanya), sementara dia tidak boleh meninggalkan basuhan kepalanya. Bahkan hendaknya dia mengambil posisi terlentang atau menutupi wajahnya, kemudian dia menyiramkan air ke tempat lain agar tidak mengenai mukanya. Demikian pula apabila luka terdapat pada badannya, lalu dia khawatir jika menyiram air pada bagian yang tidak sakit akan mengenai bagian yang sakit, maka dia harus mengusapkan air pada bagian yang tidak sakit dan tidak boleh menyiramnya, cukup baginya dengan membasahi rambut dan kulit. Adapun bila dia mampu mengambil siasat untuk menyiramkan ke badannya tanpa harus mengenai bagian yang sakit, maka dia harus menyiramnya. Imam Syafi`i berkata: Cara bersuci bagi wanita yang sedang haidl sama seperti orang yang berjunub, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Demikian juga apabila seorang laki-laki atau seorang wanita akan mandi junub, maka cara mandinya adalah seperti itu. Imam Syafi`i berkata: Apabila pada wanita haidl ada bekas darah dan pada orang junub terdapat najis, yang mana keduanya sanggup menahan apabila terkena air, maka keduanya harus mandi. Namun apabila tidak sanggup, maka keduanya boleh bertayamum lalu mengerjakan shalat. Keduanya tidak perlu mengulangi shalat, baik masih di dalam waktu shalat maupun di luar waktu shalat. Imam Syafi`i berkata: Demikian juga setiap najis yang mengenainya, baik dia mandi maupun berwudlu, maka tidak ada yang dapat menyucikan najis itu kecuali air. Apabila orang yang terkena najis itu sedang haidl atau junub dan orang yang berwudlu tidak memperoleh air, maka dia boleh bertayamum kemudian mengerjakan shalat. Akan tetapi jika dia memperoleh air, maka hendaknya dia membasuh bagian yang terkena najis itu dan mandi apabila ada kewajiban wudlu atasnya, serta mengulangi seluruh shalat yang telah dikerjakan saat najis menempel padanya, karena najis tida dapat disucikan selain dengan air. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang memperoleh air yang dapat

69

menyucikan najis yang ada padanya dimana dia dalam keadaan safar, sementara dia tidak mendapatkan air untuk mandi (apabila ia wajib mandi) atau untuk berwudlu, maka dia harus membasuh bekas najis itu kemudian bertayamum dan mengerjakan shalat. Dia tidak perlu mengulangi shalatnya, karena dia shalat dalam keadaan suci dari najis, yang mana sucinya itu dengan bertayamum setelah mandi dan wudlu yang wajib atasnya. Imam Syafi`i berkata: Apabila orang yang junub telah menemukan air untuk bersuci, sementara dia khawatir akan kehausan, maka dia dihukumi seperti orang yang tidak memperoleh air, dia harus membasuh najis yang telah mengenainya kemudian bertayamum. Keterangan ini cukup memadai dalam menjelaskan masalah membersihkan najis. Jika dia takut kehausan apabila (air digunakan untuk) mencuci najis sebelum memperoleh air yang lain, maka dia harus mengusap najis dan bertayamum, kemudian mengerjakan shalat. Lalu mengulangi shalat itu apabila telah mencuci najis dengan air (memperoleh air). Apabila tidak takut kehausan jika air yang tidak memadai itu digunakan untuk membasuh najis, dan jika digunakan pun tidak bisa menghilangkan najis yang ada di badannya, maka hendaknya dia terlebih dahulu membasuh bagian yang terkena najis lalu membasuh anggota badan yang dikehendaki dengan sisa air itu, karena dia telah beribadah dengan membasuh seluruh badannya bukan hanya sebagiannya. Oleh sebab itu, dia harus memcuci seluruh badan apabila menghendaki dan anggota wudlu atau anggota tubuh yang lain. Anggota wudlu tidak lebih wajib di basuh saat mandi janabah bila dibandingkan dengan anggota badan lainnya. Setelah itu, dia bertayamum dan shalat. Dia pun tidak perlu mengulangi shalatnya apabila mendapatkan air, karena dia shalat dalam keadaan suci. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang bertanya: Mengapa menghilangkan najis yang mengenainya tidak cukup kecuali dengan dibasuh air, namun janabah dan wudlu cukup dengan bertayamum ? Maka dikatakan, bahwa inti kesucian adalah dengan air, hanya saja Allah swt. menjadikan tanah itu suci untuk digunakan oleh mereka yang dalam perjalanan atau bagi mereka yang kesulitan memperoleh air, baik saat mukim atau

70

dalam perjalanan, atau dalam kondisi sakit. Tidak ada yang dapat membersihkan najis yang mengenai kulit atau yang lainnya melainkan dengan air, melainkan apabila Allah swt. menjadikan tanah pengganti air untuk mensucikan najis. Namun Allah swt. hanya menjadikan tanah sebagai pengganti air dalam rangka beribadah kepada-Nya melalui wudlu dan mandi. Beribadah dengan melaksanakan wudlu maupun mandi adalah suatu kewajiban ibadah bukan untuk menghilangkan najis yang nampak. Najis apabila melekat pada tubuh atau pakaian seseorang, maka cara menghilangkannya dengan air dianggap suatu ibadah sampai najis itu tidak lagi melekat pada tubuh dan pakaiannya. Inilah peribadatan yang memiliki alasan yang dapat diterima oleh akal fikiran. Imam Syafi`i berkata: Wanita yang sedang haidl dalam hal bersuci sama sebagaimana orang yang sedang junub, tidak ada perbedaan di antara keduanya, hanya saja kami lebih menyukai wanita haidl yang mandi dari janabah dengan mengoleskan minyak wangi pada bekas darahnya. Akan tetapi jika tidak ada minyak wangi, maka boleh menggunakan benda apa saja yang berbau wangi, karena hal itu merupakan Sunnah Rasulullah saw. namun jika tidak melakukannya juga, maka cukuplah air sebagai pencucinya. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa dia berkata: Suatu ketika seorang wanita datang menghadap Rasulullah saw. kemudian bertanya tentang tata cara mandi dari haidl. Lalu Rasulullah saw. bersabda :

: ' 3' 7 '


Ambillah sedikit minyak kasturi lalu bersucilah dengannya lalu wanita tersebut bertanya lagi; Bagaimana aku bersuci dengan minyak kasturi itu ? Kemudian Rasulullah saw. menjawab; Bersucilah dengannya ! lalu wanita tersebut bertanya lagi; Bagaimana aku bersuci dengannya ? kemudian Rasulullah saw. bersabda; Maha Suci

' : : ' , :7

71

Allah

Rasulullah

menutup

dirinya

dengan

kain;

Bersucilah

dengannya. Kemudian aku (Aisyah) menarik wanita itu dan mengajarkan kepada wanita itu tentang sesuatu yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. aku katakan kepada wanita itu; Sertakanlah minyak kasturi itu pada bekas darah 50 maksudnya kemaluan. Imam Syafi`i berkata: Orang yang sedang bepergian yang tidak menemukan air dan orang yang menyendiri di tempat penggembalaan onta, maka bagi mereka boleh bersetubuh dengan isterinya. Bagi mereka cukup bertayammum, dengan catatan keduanya harus mandi. Masalah yang Berkaitan dengan Tayamum bagi Muqim dan Musafir. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman : sudah membasuh apa yang mengenai

kemaluannya sampai dia menemukan air. Jika dia sudah menemukan air, maka


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. telah menunjukkan hukum
50 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Haidl Perempuan jilid 1, juz 1, Dar al-Jabal, Beirut, hlm. 85. H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab ke-61, jilid 1, Dar al-Sya`b, Kairo, hlm. 627.

72

diperbolehkannya tayammum pada dua kondisi: Pertama, dalam perjalanan dan sulit mendapatkan air, Kedua, bagi orang yang sakit baik di tempat pemukiman atau dalam perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bepergian wajib berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan air, hal ini berdasarkan firman Allah swt.:


Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah. ( Surat al-Maidah (5): 6 ) Imam Syafii berkata: Setiap orang yang keluar meninggalkan suatu negeri ke negeri yang lain, maka hal itu dapat dikatakan perjalanan baik jarak perjalanan itu ataupun panjang. Kami tidak mengetahui dalil hadits yang menunjukkan bahwa sebagian musafir boleh bertayamum dan sebagiannya lagi tidak, akan tetapi yang nampak dari kitab suci al-Qur`an adalah semua musafir boleh bertayammum, baik jarak perjalanan itu jauh atau dekat. Imam Syafi`i berkata: Dari Nafi`, dari Ibnu Umar, bahwa dia datang dari al-Jarf. Jika berada di al-Marbad (daerah satu mil dari Madinah) maka dia bertayamum. Dia mengusap wajah dan kedua tangannya, kemudian melaksanakan shalat Ashar lalau memasuki Madinah, sedangkan sinar matahari masih meninggi, namun dia tidak mengulangi shalatnya. 51 Imam Syafii berkata: Al-Jarf adalah suatu tempat di dekat kota Madinah. BAB : WAKTU DIPERBOLEHKANNYA TAYAMUM UNTUK SHALAT. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. telah menetapkan waktu-waktu bagi setiap shalat yang akan dilaksanakan. Seseorang tidak dikatakan melaksanakan shalat sebelum tiba waktunya, sebagaimana kita diperintahkan untuk melaksanakan shalat jika waktunya telah masuk. Demikian juga Allah swt. memerintahkan tayamum pada saat seseorang hendak melaksanakan shalat dan butuh air, akan tetapi dia tidak menemukannya.
51 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke9 Tayamum hadits no. 136, jilid 1, hlm. 45.

73

Barangsiapa bertayamum sebelum tiba waktu shalat, maka shalatnya dianggap tidak sah. Oleh karenanya, hendaklah dia melaksanakan shalat dengan bertayamum sesudah tiba waktu shalat dan tidak menemukan air. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang bertayamum ketika tidak tidak menemukan air, akan tetapi dia belum berusaha mencarinya, maka dia harus mengulangi tayamum itu sesudah berusaha mencari air akan tetapi menemukannya. Jika seseorang mengetahui bahwa dia tidak memiliki sedikitpun air, maka hendaknya dia mencari pada orang lain. Jika seseorang diberi air secara cumacuma atau dengan harga yang wajar dan orang yang memiliki air tidak hawatir akan kehausan atau kelaparan jika air itu dibeli darinya, maka baginya tidak boleh bertayamum. Jika pemilik air tidak memberikan secara cuma-cuma dengan suka rela dan seseorang harus membelinya dengan harga yang tinggi dari yang seharusnya, maka dia tidak perlu membeli air itu sekalipun dia mampu atau sekalipun tambahan harga air itu tidak terlalu tinggi. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang menemukan sebuah sumur akan tetapi dia tidak memiliki tali, namun dia sanggup untuk menggapai air dengan tali itu atau dengan kain, maka baginya tidak boleh bertayamum sampai dia berusaha mencari bejana atau timba. Jika tidak mampu menemukannya, maka dia dapat menjatuhkan ujung kain ke dalam air tersebut kemudian memerasnya sampai mengeluarkan air. Ini dilakukan secara terus menerus sampai mendapatkan air yang cukup untuk berwudlu. Apabila demikian, dia tidak boleh untuk bertayamum selama dia masih mampu melakukan hal ini atau ada orang lain yang mau melakukan untuknya. Apabila dia tidak sanggup melakukannya akan tetapi mampu turun ke sumur dengan tanpa rasa takut, maka dia boleh melakukan hal itu. Akan tetapi jika merasa takut untuk turun ke sumur, maka dia tidak perlu untuk turun ke dalam sumur itu. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang bertayamum kemudian menjalankan shalat, akan tetapi sesudah itu dia teringat bahwa dalam barang bawaannya ada

74

air, maka hendaknya dia mengulangi shalatnya. Jika dia teringat atau mengetahui bahwa ada sumur di dekatnya dimana dia sanggup untuk memperoleh air, maka dia tidak perlu mengulangi shalatnya. Akan tetapi jika dia mengulanginya, maka hal itu boleh saja dilakukan lantaran lebih menunjukkan sikap hati-hati. Imam Syafi`i berkata: Perbedaan antara apa yang berada dalam barangbarang bawaannya dengan sumur adalah, bahwa dia lebih mengetahui kondisi barang-barang bawaannya sebagaimana dia mengetahui urusan pribadinya, dan dia mendapat beban untuk mengetahui segala urusan dirinya. Sedangkan yang bukan menjadi miliknya, maka dia hanya dibebani untuk mengetahui yang nampak saja dengan tanpa perlu mengetahui yang lebih terperinci. BAB : NIAT TAYAMUM. Imam Syafi`i berkata: Tayamum tidak cukup melainkan sesudah berusaha mencari air akan tetapi tidak menemukannya, dan seseorang harus mengerjakan tayamum disertai niat. Jika dia bertayamum sebelum mencari air, maka tayamumnya tidak sah. Dia harus berhasil. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang niat untuk melakukan tayamum dalam rangka bersuci untuk melaksanakan shalat fardlu, kemudian dia melaksanakan ibadah lainnya sebagaimana; shalat sunah, membaca kitab suci alQur`an, melakukan shalat janazah, sujud tilawah serta sujud syukur, sesudah itu tiba waktu shalat fardlu yang lain dan dia belum berhadats, maka dia tidak boleh melaksanakan shalat fardlu itu, namun hendaknya dia mencari air kembali. Jika dia tidak menemukannya, maka dia boleh memulai niat untuk bertayamum guna melaksanakan shalat. Imam Syafi`i berkata: Apabila telah lepas beberapa shalat fardlu, maka seseorang harus mengulangi tayamum untuk setiap shalat fardlu itu, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Apabila dia mengerjakan dua shalat fardlu dengan sekali tayamum, maka mengulangi tayamumnya sesudah mencari air akan tetapi tidak

75

dia harus mengulangi shalat yang kedua lantaran tayamumnya hanya untuk shalat yang pertama. Jika dia bertayamum untuk shalat sunah, maka dia tidak boleh melaksanakan shalat fardlu dengan tayamum itu sehingga dia berniat tayamum untuk shalat fardlu. Imam syafi`i berkata: Jika seseorang bertayamum dengan niat shalat fardlu, maka baginya tidak mengapa melakukan shalat sunah, shalat jenazah, dan membaca al-Qur`an sebelum melakukan shalat fardlu. Imam Syafi`i berkata: Tayamum itu tidaklah dianggap sah melainkan telah memenuhi syarat. Sebagaimana kamu ketahui bahwa jika bertayamum lalu menemukan air, maka hendaklah dia berwudlu. Demikian halnya dengan wanita haidl dan wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadlah jika mendapatkan air, maka tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bertayamum dimana mereka berwudlu setiap kali hendak melaksanakan shalat fardlu, lantaran tayamum adalah bersuci yang sifatnya darurat dan bukan kesucian yang sempurna. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang bertayamum kemudian memulai melaksanakan shalat sunah atau shalat janazah kemudian tidak beberapa lama dia melihat air, maka teruskan saja shalatnya itu. Jika dia sudah selesai dari shalatnya, apabila dia sanggup, maka dia boleh berwudlu untuk melaksanakan shalat fardlu. Akan tetapi jika tidak sanggup, maka dia cukup menghadirkan niat shalat fardlu kemudian bertayamum untuk shalat fardlu itu. Begitu juga apabila dia memulai dengan shalat sunah, lalu mulai bertakbir kemudian melihat air, maka teruskan saja shalat itu sampai dua reka`at dan tidak boleh melebihkannya, lalu mengucapkan salam. Kemudian, setelah itu barulah mengambil air. Apabila seseorang bertayamum dan memulai dengan shalat fardlu kemudian dia melihat air, maka dia tidak perlu memutuskan shalatnya, bahkan hendaknya dia menyempurnakan. Apabila telah selesai, maka dia boleh berwudlu untuk shalat yang lain. Tidak boleh baginya mengerjakan shalat sunah dengan niat tayamum untuk shalat fardlu, apabila dia memperoleh air setelah selesai dari seseorang

76

shalat fardlu tersebut. Apabila seseorang bertayamum dan memulai shalat fardlu kemudian dia mimisan (keluar darah dari hidungnya) lalu memutuskan shalat karena hendak membasuh darahnya, kemudian dia memperoleh air, maka tidak boleh baginya menyambung shalat fardlu yang terputus tadi kecuali dia berwudlu terlebih dahulu. Hal itu diarenakan dia berada dalam kondisi yang tidak boleh dilaksanakannya shalat, sebab telah mendapatkan air untuk berwudlu. BAB : BAGAIMANA BERTAYAMUM Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:


Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih) sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. ( Surat al-Maa`idah (5): 6 ) Hadits riwayat Ibnu Shammah :

' 3 ' '


Sesungguhnya Rasulullah saw. bertayamum lalu menyapu mukanya dan kedua lengannya. 52 Imam Syafi`i berkata: Seseorang tidak dinamakan bertayamum kecuali apabila dia telah menyapu muka dan kedua lengan sampai kepada dua siku, dan kedua siku termasuk bagian yang disapu. Apabila dia meninggalkan salah satunya lalu mengerjaan shalat, maka dia harus mengulangi shalatnya, baik yang ditinggalkan itu lebih besar atau lebih kecil bahkan sama besar dengan uang satu dirham selama masih dapat dilihat oleh pandangan matanya atau dia yakin telah meninggalkan bagian itu. Apabila dia tidak melihat bagian yang tidak di sapu, namun dia yakin telah meninggalkan sesuatu, maka wajib baginya mengulangi shalat yang telah dilakukan sebelum dia mengulangi tayamum. Imam Syafi`i berkata: Tayamum tidak dianggap memadai kecuali dengan meletakkan telapak tangan pada tanah, lalu menyentuhkannya sekali ke wajahnya. Kami lebih menyukai apabila dia menyentuhnya dengan kedua tangannya secara
52 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Tayamum, hadits no. 113, jilid 1, hlm. 670.

77

bersama-sama. Namun apabila dia hanya membatasi dengan satu telapak tangannya untuk menyapunya ke seluruh wajahnya, maka hal itu telah cukup baginya. Apabila debu itu dihembuskan angin sehingga merata pada wajahnya lalu dia menyapu dengan kedua tangannya, maka hal itu dianggap tidak memadai karena dia tidak mengambil debu itu dengan tangannya melainkan oleh sebab angin. Apabila dia mengambil debu dari atas kepalanya lalu mengusapkan pada wajahnya, maka hal itu telah memadai. Demikian juga telah memadai apabila dia mengambil debu itu dari anggota tubuhnya yang lain selain muka dan telapak tangannya. Imam Syafi`i berkata: Hendaknya seseorang yang akan bertayamum menyapu kedua lengannya dengan kedua tangannya, tidaklah cukup apabila dia tidak melakukan hal itu. Karena dia tidak sanggup menyapu tangan selain dengan tangan yang berbeda, maka dia menyapu lengan kanan dengan tangan kiri dan menyapu lengan kiri dengan tangan kanan, dan dia menyela-nyela jemari tangannya dengan debu dan mengikuti anggota-anggota wudlu, sebagaimana apabila dia melakukannya dengan air. Imam Syafi`i berkata: Jika dia memulai tayamum dengan kedua tangan sebelum muka, hendaklah dia mengulanginya dengan mengusap muka kemudian kedua lengannya. Apabila dia memulai dari bagian kiri lengannya sebelum bagian kanan, maka dia tidak harus mengulanginya, namun hal itu kami pandang sebagai hal yang makruh. Imam Syafi`i berkata: Apabila satu tangan atau kedua tangannya terputus, maka dia hanya mengusap anggota tayamum yang masih tersisa dari tangannya. Sementara apabila yang terputus itu dari sikunya, maka dia mengusap tayamum pada anggota yang tersisa dari sikunya. Imam Syafi`i berkata: Apabila orang yang sedang bepergian memperoleh air, namun tidak dapat mensucikan seluruh anggota badannya, maka dia tidak perlu membasuh sesuatu darinya.

78

Sehubungan dengan persoalan ini Imam Syafi`i memiliki pendapat lain, yaitu, hendaklah dia membasuh sebagian anggota badan wudlunya dengan kadar air yang dia miliki, kemudian dia bertayamum setelah itu. BAB : TANAH YANG DIPAKAI UNTUK BERTAYAMUM. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :


Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih) sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. ( Surat al-Maa`idah (5): 6 ) Imam Syafi`i berkata: Setiap sesuatu yang dinamakan sha`id (tanah) yang tidak bercampur dengan najis, maka dia adalah tanah yang baik (sha`id thayyib) yang boleh dipakai untuk bertayammum. Sebaliknya setiap sesuatu yang terhalang untuk dinamakan tanah, maka dia tidak boleh dipakai untuk bertayammum, dan kata sha`id tidaklah digunakan melainkan untuk tanah yang berdebu. Imam Syafi`i berkata: Adapun tempat yang dilalui air hingga meninggalkan batu-batu kerikil, baik batu-batu tersebut tebal atau tipis atau batu pipih yang tebal, tidak dapat dinamakan sha`id (debu). Apabila bercampur dengan debu atau lumpur kering, maka yang bercampur itu dinamakan sha`id. Apabila orang yang bertayamum menyentuhkan kedua tangannya ke tanah (shaid) tadi lalu terdapat debu yang melekat padanya, maka dia boleh bertayamum dengannya. Namun apabila dia menyentuhkan kedua tangannya ke tanah tersebut atau ke tempat lain, namun debu tidak melekat, maka dia tidak boleh bertayamum dengannya. Demikian juga seluruh permukaan bumi, baik berupa tanah yang gembur, lumpur yang kering, batu-batu yang terdapat pada jalur air dan selainnya yang dapat melekatkan debu apabila disentuhkan tangan kepadanya, maka cukup memadai untuk digunakan tayamum. Apabila tanah itu kering dan orang yang hendak bertayamum menyentuhkan tangannya, lalu tanah itupun melekat padanya dalam jumlah yang banyak, maka tidak mengapa jika dia mengibaskannya sedikit saja hingga yang

79

tersisa hanya debunya. Setelah itu, dia boleh mengusapkan ke seluruh mukanya. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang mengambil debu dari dinding, maka dia boleh bertayamum dengannya. Apabila dia meletakkan tangannya pada dinding dan debu itu melekat pada tangannya, lalu diapun bertayamum, maka tayamumnya dianggap sah. Apabila debu itu bercampur dengan kapur, jerami halus, tepung gandum atau yang lainnya, maka dia tidak boleh bertayamum dengannya sampai debu itu benar-benar tidak tercampur dengan sesuatu apapun. Imam Syafi`i berkata: Apabila batu, tembikar, atau marmer yang hancur ditumbuk halus hingga menjadi seperti debu, maka tidak boleh bertayamum dengan benda-benda ini. Imam Syafi`i berkata: Tidak boleh bertayamum dengan tawas, dzarirah (sejenis harum-haruman), kemenyan, serbuk kayu, serbuk perak atau sejenisnya. Tidak boleh juga bertayamum apabila telah diketahui bahwa tanah itu mengandung najis sehingga dia yakin bahwa air itu telah mensucikannya, seperti yang telah kami jelaskan terdahulu tentang tanah yang bercampur dengan sesuatu yang tidak berbentuk seperti air kencing, arak serta yang menyerupainya, yaitu dengan menyiramkan air kepadanya hingga menggenanginya. Sedangkan untuk tanah yang bercampur dengan najis yang mempunyai bentuk, maka najis tersebut harus dihilangkan darinya dan tempatnya disiram dengan air, atau tempatnya digali hingga diketahui tidak tersisa sedikitpun dari najis itu. Tidak boleh bertayamum dengan tanah kuburan yang bercampur dengan nanah orang meninggal, daging serta tulang-belulang mereka. Apabila makam itu terkena air hujan, maka tidak boleh bertayamum dengan debu kuburan itu, karena mayit tetap ada dan tidak dapat dihilangkan oleh air, sebagaimana air menghilangkan debu. BAB : BERDZIKIR KEPADA ALLAH TANPA WUDLU. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa seorang laki-laki melewati Rasulullah saw. dimana beliau sedang membuang air kecil. Lalu dia memberi salam kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw.

80

membalas salamnya. Ketika orang itu telah lewat, lalu dia dipanggil oleh Rasulullah saw. dan beliau pun bersabda :

' 3' X ' X 7 7 : X G \

Sesungguhnya yang membuatku menjawab salam engkau adalah karena takut ketika engkau pergi, engkau akan mengatakan,Aku telah memberi salam kepada Rasulullah saw. namun beliau tidak menjawab salamku. Apabila engkau melihatku dalam keadaan seperti ini, maka janganlah engkau memberi salam kepadaku. Apabila engkau melakukannya juga, maka aku tidak akan menjawab salammu. 53 Hadits cerita Ibnu Shammah, bahwa dia berkata: Suatu ketika aku melewati Rasulullah saw. dimana beliau sedang membuang air kecil, maka aku memberi salam kepadanya. Akan tetapi beliau tidak membalas salamku sampai beliau berdiri dekat dinding, lalu beliau menggosok dinding itu dengan tongkat yang ada bersama beliau. Kemudian beliau mengusap dinding itu dengan kedua tangannya, lalu beliau menyapu muka dan kedua lengannya. Kemudian, barulah beliau menjawab salamku. 54 Hadits cerita dari Sulaiman bin Yasar : ' 7 ,' 3' ' 7 Bahwa Rasulullah saw. pergi ke sumur Jamal untuk suatu keperluan (buang hajat), kemudian beliau kembali. Lalu Sulaiman bin Yasar memberi salam kepada Rasulullah menjawab salam Sulaiman bin Yasar itu. 55 Imam Syafi`i berkata: Ini merupakan dalil bahwa seyogyanya siapa saja
53 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke-9 Tayammum, hadits no. 133, juz 1, hlm. 44. 54 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke9 Tayammum, hadits no. 132, juz 1, hlm. 44. 55 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke9 Tayammum, hadits no. 134, juz 1, hlm. 45.

saw., namun beliau tidak

menjawabnya sampai beliau mengusap dinding, kemudian beliau

81

yang melewati seseorang yang sedang membuang air kecil atau air besar supaya menahan dirinya dari memberi salam kepadanya. Ini juga merupakan dalil bahwa bolehnya (mubah) menjawab salam pada kondisi demikian, karena Rasulullah saw. menjawab salam dalam keadaan seperti itu. Juga sebagai dalil bolehnya tidak menjawab salam hingga keluar dari kondisi seperti itu, lalu bertayamum kemudian menjawab salam. Meninggalkan untuk menjawab salam (pada kondisi tersebut) tidak termasuk mengabaikan syariat menjawab salam, akan tetapi menangguhkannya hingga selesai tayamum. BAB: HAL-HAL YANG DAPAT MENSUCIKAN TANAH DAN YANG TIDAK. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa seorang Arab Badui masuk ke masjid lalu berdoa: Ya Allah, anugerahkanlah rahmat kepadaku dan kepada Muhammad Rasulullah, dan jangan engkau rahmati salah seorang pun selain kami. Lalu Rasul saw. bersabda :

/
Sungguh engkau telah membatasi tempat yang luas. 56 Abu Hurairah ra. meneruskan: Lalu orang Arab badui itu membuang air kecil di sudut masjid. Para sahabat seakan-akan ingin bertindak terhadap orang arab badui itu, namun mereka dilarang oleh Rasulullah saw. kemudian beliau memerintahkan agar didatangkan beberapa ember atau timba besar yang penuh dengan air untuk dituangkan ke atas tempat kencing itu, kemudian Rasulullah saw. bersabda :

X X \
Ajarkanlah dan mudahkan, jangan kalian mempersulit. 57 Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa dia berkata: Pada suatu ketika seorang Arab Badui membuang air kecil di dalam
56 . Yakni engkau telah menyempitkan apa yang dilapangkan oleh Allah swt. dan engkau hanya menghususkan untuk dirimu tanpa orang lain. 57 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke-2 Najis-najis dan cara mensucikannya, hadits no. 52, jilid 1, hlm. 25. H.R. Tirmidzi, bab ke-20, dalam kitab yang menjelaskan tentang wudlu, bab ke-112 Air kencing yang mengenai tanah, hadits no. 143.

82

masjid. Seketika itu juga banyak orang hendak bertindak terhadap orang Arab badui itu, akan tetapi Rasulullah saw. melarang mereka dan bersabda:

, / G
Tuangkanlah setimba air. 58 Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang buang air kecil di atas tanah yang basah atau kering dan air kencing itu diserap oleh tanah, kemudian dituangkan air di atasnya hingga menggenanginya, lalu air kencing itu ikut terserap ke dalam tanah sementara air mengalir di atasnya sehingga wujud, warna dan baunya hilang, maka tanah tersebut dianggap telah suci. Sekurang-kurangnya kadar air yang dituangkan itu adalah yang dapat dimakumi, yaitu satu ember besar untuk ukuran kencing seorang laki-laki. Namun apabila lebih dari itu, maka air itu akan berlipat ganda banyaknya dari kencing tersebut. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang membuang air kecil di atas air kencing orang lain, maka tempat itu tidak dapat disucikan kecuali dengan air sebanyak dua timba. Apabila dua orang kencing pada tempat kencing orang yang pertama, maka tempat itu tidak dapat disucikan selain dengan tiga ember air. Namun apabila jumlah mereka lebih banyak, maka tempat tersebut tidak dapat disucikan selain dengan menuangkan air pada setiap tempat kencing, untuk satu orang dengan satu ember besar. Apabila terdapat khamer (minuman keras) pada posisi air kencing, maka cara mensucikannya dapat dilakukan dengan dituangkan air padanya sebagaimana halnya menuangkan air pada tempat air kencing dengan tidak ada perbedaan kadar air di antara keduanya. Sehingga apabila telah hilang warna dan baunya dari debu, maka debu yang mencampurinya dianggap suci. Akan tetapi apabila warnanya hilang sementara baunya tidak, maka dalam hal ini ada dua pendapat :
58 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke-2 Najis-najis dan cara mensucikannya, hadits no. 51, jilid 1, hlm. 25.

83

Pertama, tanah itu tidak suci sampai baunya ikut hilang. Kedua, apabila telah dituangkan air padanya dengan kadar yang dianggap telah dapat menyucikannya sehingga warnanya hilang, maka tanah itu dianggap telah suci. Apabila kadar khamer (minuman keras) yang dituang di atas tanah itu banyak, maka kadar air yang dituangkan padanya seperti ketika menuangkan air di atas kencing, sebagaimana yang telah kami uraikan. Apabila ada bangkai di atas permukaan tanah, lalu mengalir sesuatu darinya, maka cara mensucikannya adalah dengan menghilangkan jasadnya dan menuangkan air pada tempat mengalirnya sesuatu dari bangkai itu, sebagaimana ketika menuangkan air pada air kencing dan arak. Hendaknya pula dituangkan air padanya sehingga warna, wujud dan baunya hilang. Imam Syafi`i berkata: Apabila dituangkan benda cair di atas tanah seperti air kencing, khamer, nanah dan sejenisnya, kemudian bekas warna dan baunya hilang baik terkena sinar matahari atau tidak, maka dia sama saja yaitu tidak dianggap suci selain dengan menuangkan air kepadanya. Apabila hujan turun dan diketahui bahwa air hujan yang mengenai tempat kencing tersebut lebih banyak dari yang kami terangkan terdahulu, maka air hujan itulah yang mensucikannya. Apabila dituangkan najis ke atas tanah seperti air kencing lalu tempat itu segera digali sehingga tidak tertinggal lagi sedikitpun tanah yang basah, maka seluruh najis itu dianggap hilang dan dia telah suci tanpa disiram dengan air. Imam Syafi`i berkata: Adapun semua najis yang berwujud seperti bangkai, tahi, darah serta yang menyerupainya, maka cara mensucikannya yaitu dengan menghilangkan benda-benda najis itu dari tempatnya, kemudian menuangkan air pada tempat yang basah jika ada, seperti halnya menuangkan pada air kencing dan khamer. Apabila jasad berbaur dengan tanah sehingga tidak dapat dibedakan antara keduanya, seperti kuburan, maka tidak dikerjakan shalat padanya dan tidak pula dianggap suci, karena tanah itu tidak dapat dibedakan lagi; mana yang bercampur dengan hal-hal haram dan mana yang tidak.

84

Apabila bangkai menghilang dari tanah dan debu menutupinya, namun debu yang menutupinya itu tidak dibasahi (dalam keadaan kering), maka jika tanahnya menjadi basah akibat bangkai tersebut kami memandang makruh shalat ditempat itu. Namun apabila seseorang terlanjur shalat ditempat itu, maka kami tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalat. Tempat Lewatnya Orang Berjunub dan Orang Musyrik. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. ( Surat an-Nisa` (4) :43 ) Imam Syafi`i berkata: Sebagian ulama mengatakan tentang firman Allah swt. :


(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. bahwa maknanya adalah, Janganlah kamu hampiri tempat shalat. Karena tidak ada dalam shalat melewati jalan, yang ada hanyalah melewati tempat shalat, yaitu masjid. Maka, tidak mengapa seorang yang berjunub melewati mesjid dengan tidak berhenti padanya. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Utsman bin Abi Sulaiman bahwa kaum musyrik Quraisy ketika datang ke Madinah pada saat penebusan orang-orang musyrik yang tertawan dalam peperangan, mereka itu bermalam di dalam masjid. Imam Syafi`i berkata: Tidak mengapa orang musyrik bermalam di seluruh masjid kecuali masjidil haram, karena Allah swt. berfirman:

85


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. ( Surat at-Taubah (9): 28 ) Apa yang Boleh Digunakan Menyambung (Bagian Tubuh) Pria dan Wanita. Imam Syafi`i berkata: Apabila tulang seorang wanita patah dan hancur, maka dia tidak boleh menempelnya dengan tulang lain selain tulang binatang yang disembelih dan dimakan dagingnya. Demikian juga apabila giginya tanggal, maka gigi itu menjadi bangkai dan tidak boleh disambungkan kembali kecuali dengan gigi binatang sembelihan yang dagingnya dimakan. Apabila tulang seseorang ditempelkan dengan tulang bangkai, tulang binatang sembelihan yang tidak dimakan dagingnya, atau tulang manusia, maka itu dianggap seperti bangkai sehingga ia harus mencabutnya dan mengulang setiap shalat yang telah dikerjakan. Jika dia tidak mencabutnya, maka penguasa (pemerintah) boleh memaksanya untuk mencabut. Jika tidak tercabut juga sampai dia mati, maka tidak perlu dicabut lagi setelah kematiannya, karena dia telah menjadi mayat seluruhnya dan Allah-lah yang akan meng-hisab-nya. Pria dan wanita dianggap tidak mengerjakan shalat apabila keduanya menyambung rambutnya dengan rambut manusia, dengan bulu binatang yang tidak dimakan dagingnya, atau bulu binatang yang dimakan dagingnya, kecuali apabila binatang itu masih hidup, maka hal itu maknanya seperti binatang yang disembelih, sebagaimana air susu semakna dengan yang disembelih. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Fatimah binti Mundzir, dari Asma` binti Abu Bakar, bahwa dia berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw., lalu mengatakan: Wahai Rasulullah, anak perempuanku terkena penyakit campak sehingga rambutnya rusak, maka apakah aku boleh menyambung rambutnya itu ? Rasulullah saw. menjawab :

7 7 7

86

Dikutuk yang menyambung dan yang disambung. 59 Imam Syafi`i berkata: Apabila srigala dan dhaba` (sejenis biawak) disembelih, maka boleh shalat di atas kulit kedua binatang itu karena daging keduanya boleh dimakan. Demikian juga apabila diambil bulunya, sedangkan dia masih hidup, maka boleh shalat di atasnya. Semua binatang yang dimakan dagingnya apabila disembelih, maka boleh shalat di atas kulitnya. Boleh juga shalat pada rambut dan bulunya, apabila diambil saat binatang tersebut masih hidup. Adapun binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya, apabila kulitnya diambil dalam keadaan hidup atau setelah disembelih, maka tetap tidak boleh shalat di atasnya. Apabila seseorang shalat di atasnya, maka dia harus mengulangi shalatnya, alasannya karena binatang jenis ini tidak dianggap suci saat hidup. BAB: KESUCIAN PAKAIAN. Imam Syafi`i berkata: Allah swt berfirman:


Dan pakaianmu bersihkanlah. ( Surat al-Mudatstsir (74): 4 ) Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah shalatlah dengan menggunakan pakaian yang suci (bersih), karena Rasulullah saw. memerintahkan agar membasuh darah haidl yang mengenai kain. Setiap kain yang tidak diketahui siapa penenunnya, maka kain itu dianggap suci kecuali apabila telah diketahui bahwa ada najis padanya. Demikian juga kain anak-anak kecil, karena Rasullah saw. mengerjakan shalat dan menggendong Umamah binti Abi Al `Ash, 60 dimana dia adalah bayi wanita yang mengenakan pakaian anak kecil. Apabila seseorang mengerjakan shalat dengan memakai pakaian orang musyrik atau orang muslim, kemudian dia tahu bahwa kain itu bernajis, maka dia harus mengulangi shalat yang telah dikerjakannya. Setiap yang mengenai pakaian; seperti air besar (berak) yang basah,
59 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang pakaian, bab Menyambung Rambut jilid 3, juz 7, hlm. 212. H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang pakaian dan perhiasan, bab Haram Menyambung Rambut, hadits no. 115. 60 . Tartib Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab ke-8 Segala sesuatu yang dilarang melakukannya dalam shalat dan yang diperbolehkannya di dalamnya, hadits no. 347, jilid 1, hlm. 117.

87

kencing, darah, khamer atau barang yang diharamkan apapun bentuknya, lalu pemilinya meyakini bahwa kain itu mengandung najis baik terlihat secara kasat mata atau tidak, maka dia harus membasuhnya. Apabila dia kesulitan mengetahui tempat yang pasti dari najis itu, maka dia harus mencuci seluruhnya. BAB : AIR SPERMA Imam Syafi`i berkata: Allah swt. memulai penciptaan Adam dari air dan tanah, Dia menjadikan keduanya digunakan untuk bersuci. Lalu Dia memulai penciptaan keturunan Adam dari air yang memancar (mani) maka Allah swt. pada awalnya menciptakan Adam dari dua unsur yang digunakan untuk bersuci. Imam Syafi`i berkata: Dari Aisyah ra. bahwa dia berkata : ' 3' 7 Aku pernah menggosok (mengerok) mani yang menempel di kain yang dipakai oleh Rasulullah saw.
61

Imam Syafi`i berkata: Air sperma itu tidak najis. Apabila ada yang bertanya: mengapa digosok atau disapu? Maka, katakan padanya bahwa hal itu seperti menggosok dahak atau air ludah. Apabila seseorang shalat dengan kain yang demikian sebelum digosok atau disapu, maka hal itu tidak mengapa karena itu tidak membuat sesuatu menjadi najis. Imam Syafi`i berkata: Setiap yang keluar dari kelamin laki-laki (dzakar); baik air kencing, madzi dan wadi yang dikenal maupun tidak, maka semua itu adalah najis kecuali air sperma. Air sperma adalah cairan hangat yang membuahkan janin, yang memiliki aroma seperti aroma serbuk kurma, tidak ada suatu cairan yang keluar dari kelamin laki-laki (dzakar) yang memiliki aroma yang baik kecuali mani. Imam Syafi`i berkata: Apabila ada yang berkata: Apakah logikanya sehingga air mani itu dikatakan tidak najis ? Maka jawabannya : Sesungguhnya Allah swt. memulai penciptaan Adam dari air dan tanah, dan keduanya Dia jadikan untuk digunakan bersuci. Tanah digunakan untuk bersuci saat kesulitan
61 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tata cara bersuci, bab Hukum Air Sperma, hadits ke-108, jilid 1, hlm. 584.

88

mendapatkan air. Inilah kondisi kebanyakan ciptaan-Nya, yaitu dalam keadaan suci dan tidak najis. Allah swt. telah menjadikan anak keturunan Adam dari air yang terpancar. Imam Syafi`i berkata: Apabila seseorang yakin bahwa najis telah mengenai kainnya yang dia pakai untuk shalat, namun dia tidak mengetahui kapan kain itu terkena najis, maka kewajiban atasnya adalah; apabila terdapat sedikit keyakinan kapan najis itu mengenai kainnya, maka dia boleh shalat atas dasar keyakinan itu.62 Namun apabila dia tidak yakin sedikitpun, maka dia harus meneliti dengan cermat sehingga dia merasa telah mengulangi kembali semua shalat yang dikerjakan dengan kain yang terkena najis, dan dia pun tidak perlu mengulangi shalat kecuali apa yang diyakininya. Fatwa dan pilihan yang mesti dilakukannya adalah seperti yang telah kami deskripsikan. Kain dan tubuh sama-sama tercemar oleh najis yang menyentuh keduanya. Demikian halnya sepatu dan sandal, termasuk pakaian. Apabila seseorang melaksanakan shalat dengan menggunakan keduanya, sedangkan keduanya telah terkena najis basah dan dia tidak membasuhnya, maka dia harus mengulangi shalatnya. Namun apabila terkena najis kering lalu dia mengikisnya atau menggosoknya sehingga sepatu dan sandal itu menjadi bersih, maka dia boleh melaksanakan shalat dengan menggunakannya. Apabila seseorang berada dalam perjalanan dimana dia hanya memperoleh air dengan jumlah yang sedikit, lalu kainnya terkena najis, maka dia harus membasuh najis itu lalu bertayamum. Apabila dia tidak mendapatkan air untuk mendapatkan air untuk membasuh najis itu, maka dia boleh langsung bertayamum lalu mengerjakan shalat. Dia menggunakan air. Apabila ada yang mengatakan: mengapa tanah dapat menyucikan janabah serta hadats, namun tidak dapat menyucikan najis yang menyentuh salah satu anggota wudlu atau bukan anggota wudlu ? Kami menjawab: Mandi dan wudlu karena hadats atau junub bukan harus mengulangi shalat itu (apabila tidak membasuh najis), alasannya karena najis tidak dapat disucikan kecuali dengan

62 . Maksudnya adalah jika terdapat sedikit keyakinan bahwa dia telah melakukan satu kali shalat sejak najis itu mengenai kainnya, maka dia harus mengulangi shalatnya itu.

89

menunjukkan seorang muslim itu adalah najis, akan tetapi yang diinginkan darinya adalah agar seorang muslim beribadah dengan mandi dan wudlu itu. Lalu tanah dijadikan sebagai pengganti air dalam bersuci yang bersifat ibadah mahdhah (ibadah yang manafaatnya hanya kepada Allah swt.) Akan tetapi tanah tidak dijadikan sebagai pengganti air dalam bersuci yang dilakukan karena makna tertentu, dan bukan sebagai makna ibadah. Bahkan bersuci karena terkena najis tujuannya adalah untuk menghilangkan najis tersebut dengan air, bukan berarti hal itu adalah ibadah mahdhah. Apabila pakaian seseorang terkena najis dan dia tidak memperoleh air untuk membasuhnya, maka dia boleh mengerjakan shalat dengan tidak berpakaian tanpa harus mengulangi shalatnya. Tidak boleh bagi seseorang untuk melaksanakan shalat dengan menggunakan kain yang terdapat najis dalam kondisi bagaimanapun, namun boleh baginya melaksanakan shalat dengan tidak berpakaian (telanjang) jika kesulitan mencari pakaian yang suci. Apabila orang itu memiliki air namun air itu telah terkena najis, maka dia tidak boleh berwudlu dengan air tersebut, karena berwudlu dengan air itu akan semakin menambah kenajisannya. Apabila seseorang memiliki dua air, yang satu najis dan yang satunya suci, namun dia tidak dapat membedakan mana air yang suci dan mana air yang terkena najis, maka dia harus memilih dengan cermat lalu berwudlu dari salah satunya serta mencegah diri dari berwudlu dan meminum dari yang satunya; kecuali apabila dia terpaksa meminumnya, maka boleh baginya meminumnya. Namun apabila dia terpaksa harus berwudlu, maka dia tidak boleh berwudlu dengan menggunakan air itu, karena tidak ada dosa baginya meninggalkan wudlu disebabkan dia boleh mengganti wudlu dengan tayamum. Namun kekhawatiran (rasa haus) akan membawa kepada kematian merupakan kondisi darurat yang membolehkannya meminum air yang terkena najis, jika dia tidak mendapatkan air yang lainnya. Apabila seseorang dalam perjalanan atau bermukim lalu berwudlu dengan air yang najis, atau dia dalam keadaan berwudlu namun menyentuh air yang terkena najis, maka dia tidak boleh mengerjakan shalat. Apabila dia shalat dalam

90

keadaan seperti itu, maka dia harus mengulangi shalatnya, namun terlebih dahulu membasuh apa yang telah disentuh oleh najis itu. KITAB YANG MENJELASKAN TENTANG HAIDL Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:


Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah, Haid itu adalah kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. ( Surat al-Baqarah (2): 222 ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. menjelaskan bahwa ketika seorang wanita mengalami haidl, maka dia tidak suci. Dia memerintahkan agar jangan mendekati wanita haidl sampai dia kembali suci (berhenti haidl), dan dia tidak dianggap suci kecuali setelah mensucikan dirinya dengan menggunakan air. Sesudah itu, dia baru termasuk golongan mereka yang boleh mengerjakan shalat. Tidak halal bagi seseorang untuk menyetubuhi isterinya yang sedang haidl sehingga dia kembali suci, karena sesungguhnya Allah swt. telah menjadikan tayamum sebagai cara untuk bersuci ketika seseorang tidak mendapatkan air atau dalam keadaan sakit. Wanita haid diperbolehkan melaksanakan shalat apabila telah mandi (setelah menemukan air) atau bertayamum (jika dia kesulitan menemukan air). Imam Syafi`i berkata: Sunah Rasulullah saw. telah mengisyaratkan bahwa wanita yang mengeluarkan darah istihadlah tetap melaksanakan shalat. Hal ini menunjukkan bolehnya bagi suami melakukan hubungan biologis dengan isterinya yang sedang mengeluarkan darah istihadlah. Karena, Allah swt hanya memerintahkan agar menghindari hubungan biologis dengan mereka saat tidak dalam keadaan suci, dan membolehkan hal itu apabila mereka telah suci. Hal-hal yang Diharamkan Untuk Dilakukan Terhadap Wanita Haidl. Imam Syafi`i berkata: Sebagian orang cerdik pandai menafsiri firman Allah swt di dalam kitab suci al-Qur`an:

91

Apabila mereka telah suci, maka datangilah mereka dari arah yang diperintahkan Allah kepadamu. ( Surat al-Baqarah (2): 222 ) Kalimat jauhi mereka berarti jauhilah tempat (keluarnya) haidl pada diri mereka. Imam Syafi`i berkata: Sunah Rasulullah saw. telah mengisyaratkan agar menjauhi bagian badan wanita yang berada di bawah kain atau kemaluan dan membolehkan selain yang itu. Meninggalkan Shalat Bagi Wanita Haidl. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:


Mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Katakanlah: Haidl itu adalah kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidl. ( Surat al-Baqarah (2): 222 ) Imam Syafi`i berkata: Allah swt. menetapkan hukum bagi seseorang yang sedang junub agar tidak melaksanakan shalat sampai dia mandi. Jelaslah bahwa tidak ada masa suci bagi orang junub kecuali setelah ia mandi, dan tidak ada masa bagi wanita haid kecuali haidnya telah berhenti kemudian di susul dengan mandi, berdasarkan firman Allah swt. Sampai mereka suci. Hal itu ditandai dengan berhentinya haid. Sedangkan firman-Nya, Apabila mereka telah suci, yaitu dengan mandi, sunah pun telah menjelaskan bahwa masa haidl diakhiri dengan mandi. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa dia berkata :

' X 7 ' 7 G 7' 3


Aku datang ke Makkah sedangkan aku sedang haidl, aku tidak thawaf di Baitullah dan tidak pula bersa`i di antara Shafa dan Marwah. Lalu aku menemui Rasulullah saw. untuk mengadukan permasalahanku, maka Rasulullah saw. bersabda: Lakukanlah semua apa yang dilakukan oleh seorang yang berhaji, melainkan thawaf di Baitullah sampai engkau

92

suci.

63

Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa dia berkata: Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. dalam menjalankan ibadah haji, kami tidak melihatnya kecuali haji. Maka tatkala kami tiba di Saraf atau sekitarnya, aku kedatangan haidl. Lalu Rasulullah saw. masuk ke tempatku, dan ketika itu aku sedang menangis, Rasulullah saw. bersabda :

3 : . : 7 7

7 ' 7
menjawab: Ya Beliau lalu bersabda:

Bagaimana kabarmu? Apakah engkau sedang nifas ? (maksudnya sedang haidl). Kami Sesungguhnya ini adalah ketetapan Allah swt. atas keturunan Adam, maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh seorang yang berhaji, hanya saja tidak thawaf di Baitullah sampai engkau suci dari haidlmu. 64 Waktu Haidl Tidak Mengqadla Shalat. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:


Peliharalah segala shalat(mu) dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusu`. ( Surat al-Baqarah (2): 238 ) Imam Syafi`i berkata: Barang siapa telah mencapai umur (akil baligh), maka dia akan berdosa apabila meninggalkan shalat, sebab telah tiba waktu shalat dan dia tidak lupa. Adapun wanita haidl walaupun dia telah mencapai akil baligh, sadar, mampu dan tidak lupa, hukum Allah swt. menetapkan bahwa dia tidak boleh di dekati oleh suaminya. Hukum Rasulullah saw. pun menunjukkan bahwa jika suami diharamkan untuk mendekatinya karena haidl, maka haram atasnya mengerjakan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban shalat tidak berlaku atas wanita yang sedang haidl. Kemudia apabila hukum shalat tidak berlaku atasnya sementara dia telah akil baligh, sadar dan mampu, maka tidak berlaku
63 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang haji, juz 2, jilid 1, hln. 195. 64 . H.R. Ibnu Majah, dalam kitab yang menjelaskan tentang manasik, bab Bolehnya orang haidl melakukan Manasik Haji melainkan Thawaf, hadits no. 2398, jilid 2, hlm. 163.

93

pula baginya qadla (mengganti) shalat. Bagaimana dia mengganti sesuatu yang tidak wajib baginya karena kewajiban shalat (saat haidl) telah dihilangkan darinya. ? Wanita Mustahadlah. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa dia berkata bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Rasulullah saw., Sesungguhnya kami tidak suci, maka apakah boleh meninggalkan shalat ? Rasulullah saw. menjawab :

7 \

Itu hanya penyakit dan bukan haidl. Apabila engkau kedatangan haidl, maka tinggalkanlah shalat. Apabila telah berlalu waktunya, bersihkanlah darah itu darimu lalu shalatlah.
65

Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Imran bin Thalhah, dari ibunya -Hamnah binti Jahsy- bahwa dia berkata: Kami pernah mengalami istihadlah dengan mengeluarkan darah yang banyak dan deras. Kami pun mendatangi Rasulullah saw. untuk meminta fatwa darinya. Kami mendapati Rasulullah saw. di rumah saudara perempuanku, Zainab. Kami berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, kami memiliki keperluan yang mendesak namun kami malu untuk mengungkapkannya. Kemudian Rasulullah saw . bersabda : Apakah urusanmu itu, wahai Hinthah ? Dia (Hamnah) berkata: Kami mengalami istihadlah dengan mengeluarkan darah yang banyak dan deras, bagaimanakah pendapatmu tentang hal itu? Beliau telah menghalangiku untuk mengerjakan shalat dan puasa. Rasulullah saw. menjawab: Sesungguhnya aku menjelaskan kepadamu tentang kapas bahwa dia dapat menyerap darah. Hamnah berkata: Darah yang dikeluarkan kadarnya lebih banyak dari kapas itu. Rasulullah saw. bersabda: Sumbatkanlah dengan kapas itu. Hamnah kembali bersabda: Darah yang dikeluarkan lebih banyak dari kapas itu. Rasulullah saw.: Ambillah sehelai
65 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang Haidl, bab Istihadlah, hlm. 84, bagian 1, jilid 1, dan H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang Haidl, hadits no. 64, jilid 64.

94

kain. Hamnah berkata lagi: Darahnya lebih banyak dari kain itu, ia adalah darah yang terpancar. Rasulullah saw. bersabda: Aku akan memerintahkan kepadamu dua perkara, mana saja yang engkau kerjakan, maka sudah cukup bagimu. Namun apabila engkau dapat melakukan keduanya, maka engkau yang lebih mengetahui. Rasulullah saw. bersabda lagi: Itu hanyalah bisikan syetan. Engkau haidl selama enam atau tujuh hari atas sepengetahuan Allah swt., kemudian mandilah. Apabila engkau merasa telah suci dan bersih. Shalatlah dua puluh empat hari dengan malamnya, atau dua puluh tiga hari dengan malamnya, dan puasalah. Karena itu sudah cukup bagimu. Lakukanlah hal itu setiap bulan, sebagaimana halnya wanita haid. Dalam kitab yang lain ditambahkan: Apabila engkau mampu mengakhirkan waktu dluhur dan menyegerakan waktu ashar, maka mandilah sehingga kamu suci. Kemudian engkau mengerjakan shalat dluhur dan Ashar secara bersamaan, lalu engkau mengakhirkan shalat Maghrib dan menyegerakan Isya. Kemudian engkau mandi lalu menggabung shalat maghrib dan Isya`, maka lakukanlah dan mandilah ketika fajar. Kemudian engkau mengerjakan shalat Subuh. Demikianlah yang engkau lakukan, dan berpuasalah jika engkau mampu. Disebutkan, Ini yang paling kami sukai dari dua perkara itu. 66 Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Ummu Salamah, isteri Rasulullah saw. :

' 7' 3' 7 ' 3' ' ' \ 7

G7 ' 3' X :'

Sesungguhnya ada seorang wanita pada masa Rasulullah saw. yang banyak mengeluarkan darah, lalu Ummu Salamah meminta fatwa kepada Rasulullah saw. bagi wanita itu. Maka Rasulullah saw. memerintahkan agar memperhatikan bilangan malam dan hari dimana dia terkena haidl pada bulan itu, sebelum dia mendapat musibah yang telah menimpa 66 . H.R. Tirmidzi, bab Ghusli, hadits no. 128, , jilid 1, hal 2211.

95

dirinya. Maka, hendaklah dia meninggalkan shalat pada masa itu. Apabila dia telah berbuat demikian, maka hendaklah dia mandi dan mengikat tempat keluarnya darah, kemudian dia mengerjakan shalat. 67 Imam Syafi`i berkata: Apabila darah itu dapat dipisahkan, maka pada beberapa hari darah akan berwarna merah pekat, tebal, hangat dan agak beku; dan pada beberapa hari yang lain tampak tipis, kekuning-kuningan atau kadarnya sedikit. Pada hari-hari dimana darah itu merah, pekat, deras, hangat dan agak beku, maka itu adalah hari-hari haidl. Sedangkan pada hari-hari dimana darah nampak tipis, maka itu adalah hari-hari istihadlah. Imam Syafi`i berkata: Dalam hadits Aisyah tidak disebutkan mandi ketika haidl berhenti, akan tetapi disebutkan membasuh atau mencuci darah. Maka kami memahami adanya mandi pada firman Allah swt.:


Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, haid itu adalah kotoran. ( Surat al-Baqarah (2): 222 ) Imam Syafi`i berkata: Jawaban Rasulullah saw. kepada Ummu Salamah tentang wanita yang istihadlah itu menunjukkan bahwa wanita yang ditanyakan Ummu Salamah itu tidak terpisah darahnya, maka Rasulullah pada bulan dimana dia terkena haidl. Imam Syafi`i berkata: Ini menunjukkan bahwa tidak ada masa tertentu bagi haidl apabila seorang wanita melihat haidl (benar-benar darah haidl) dan mengetahui waktu suci dengan benar. Apabila wanita itu haidl satu hari atau lebih, maka itu adalah haidl. Demikian juga apabila melampaui sepuluh hari, maka itu adalah darah haidl, karena Rasulullah saw. memerintahkan meninggalkan shalat menurut bilangan malam dan siang hari dimana dia haidl. Rasulullah saw. tidak bersabda: Kecuali ada sekian dan sekian. Artinya, kecuali setelah melampaui batas masa sekian hari. Imam Syafi`i berkata: Apabila seorang wanita mulai haidl dan dia belum
67 . H.R. Abu Daud, dalam kitab yang menjelaskan tentang tata cara bersuci, bab Wanita Haidl, hadits no. 271.

saw.

memerintahkan agar dia meninggalkan shalat menurut bilangan malam dan hari

96

pernah mengalami haidl sebelumnya, sementara itu darah terus keluar; jika penggolongan darah dapat dipisahkan, niscaya hari haidlnya adalah hari-hari yang darahnya hangat, merah pekat dan agak beku. Sementara masa istihadlah adalah hari-hari dengan darah yang tipis. Seandainya darahnya tidak dapat dipisahkan, maka dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama, dia meninggalkan shalat selama enam atau tujuh hari kemudian mandi dan mengerjakan shalat, sebagaimana yang biasa terjadi pada wanita haidl. Kedua, dia meninggalkan shalat lebih sedikit dari yang diketahui dari haidl mereka, yaitu selama sehari semalam, kemudian dia mandi dan mengerjakan shalat. Pada saat itu suaminya boleh mendatanginya. Akan tetapi apabila suaminya lebih berhati-hati dimana tidak berhubungan badan dengan isterinya sampai pertengahan haidl pada umumnya atau lebih lama, maka yang demikian itu lebih kami sukai. Yang berpendapat seperti ini niscaya akan mengatakan bahwa Hamnah sekalipun tidak tertulis dalam haditsnya yang menegaskan bahwa haidlnya enam atau tujuh hari namun kemungkinan haditsnya mengandung makna yang terdapat pada hadits Ummu Salamah, dimana pada hadits ini terdapat keterangan yang menunjukkan haidlnya selama enam atau tujuh hari, karena pada hadits Ummu Salamah itu Rasul saw. bersabda :

\ 7 /
Engkau haidl selama enam atau tujuh hari kemudian mandilah. Apabila engkau merasa telah suci, maka laksanakan shalat. Bab : Perbedaan Pendapat Tentang Wanita Mustahadlah. Imam Syafi`i berkata: Ada yang mengatakan kepada kami: Wanita mustahadlah itu boleh mengerjakan shalat namun tidak boleh di datangi oleh suaminya. Orang itu mengaku bahwa madzhab yang berpendapat seperti dia berargumen dengan firman Allah swt.


Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, haid itu adalah

97

kotoran. ( Surat al-Baqarah (2): 222 ) Dia mengatakan: Saat wanita dalam waktu-waktu kotor (adza), maka Allah swt. memerintahkan menjauhinya. Tidak halal bagi suaminya untuk berhubungan badan dengannya. Imam Syafi`i berkata: Maka dikatakan bahwa hukum Allah swt. mengenai haidl adalah menjauhi wanita tersebut, dan Sunah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa hukum Allah swt. mengenai wanita haidl adalah tidak mengerjakan shalat. Maka, hukum Allah swt. dan hukum Rasul-Nya menunjukkan bahwa batas waktu supaya suami menjauhi isterinya karena haidl ialah waktu dimana wanita tersebut diperintahkan untuk shalat setelah haidlnya berakhir. Orang itu menjawab: Ya Maka dikatakan padanya: Bahwa wanita haidl itu tidak suci walaupun dia mandi, tidak halal baginya mengerjakan shalat dan menyentuh mushaf alQur`an. Orang itu menjawab: Ya Lalu dikatakan kepadamya: Hukum Rasulullah saw. menunjukkan bahwa hukum hari-hari istihadlah adalah suci, sementara Allah swt. membolehkan bagi suaminya mendatangi isterinya apabila telah bersuci dari haidl. Kami tidak mengetahui kecuali kamu telah menyalahi kitab Allah swt., sebab kamu telah mengharamkan apa yang di halalkan Allah swt. untuk dilakukan terhadap wanita yang telah bersuci, dan anda juga menyalahi Sunah Rasulullah yang menetapkan bahwa mandinya wanita setelah masa haidl berakhir dapat menghalalkan untuk shalat pada hari-hari istihadlah. Rasulullah-pun membedakan antara dua darah itu dengan hukumnya dan sabdanya tentang istihadlah, bahwa itu adalah penyakit dan bukan haidl. Dapat kami katakan di sini, jelaslah bahwa Rasulullah saw. telah membedakan hukumnya; dijadikannya wanita dalam kategori haidl pada salah satu dari dua kotoran dan diharamkan baginya shalat, lalu dijadikannya wanita dalam kategori suci pada salah satu dari dua kotoran itu dan diharamkan baginya meninggalkan shalat. Maka, bagaimana anda mengumpulkan apa yang dipisahkan Rasulullah saw.

98

Imam Syafi`i berkata: Ditanyakan kepada orang yang berkata demikian: Apakah engkau menganggap haram jika pada diri wanita itu ada perubahan; seperti keluar cairan atau perubahan bau yang tidak sedap selain darah? Orang itu menjawab: Tidak, itu bukanlah kotoran haidl. Kami mengatakan: kotoran istihadlah bukanlah kotoran haidl. Bantahan Terhadap Orang yang Mengatakan Bahwa Tidak Dikatakan Haidl Jika Kurang dari Tiga Hari. Imam Syafi`i berkata: Sebagian orang berselisih pendapat dengan kami tentang haidl dan istihadlah. Ada yang mengatakan: Tidak ada haidl yang kurang dari tiga hari. Wanita yang melihat darahnya sehari, dua hari, atau sebagian hari yang ketiga, maka hal ini tidaklah dikategorikan sebagai darah haidl. Wanita itu dalam keadaan suci, dia boleh mengganti ( qadla) shalat. Bukanlah haidl apabila lebih dari sepuluh hari, sedangkan yang melampaui sepuluh hari dengan tambahan sehari atau kurang dari sehari bahkan lebih, maka itu adalah istihadlah. Tidaklah tenggang waktu antara dua masa haid itu kurang dari lima belas hari. Imam Syafi`i berkata: Maka dikatakan kepada orang yang mengatakan seperti itu: Bagaimana menurut pendapatmu jika mengatakan: Tidak ada sesuatu, padahal diketahui bahwa sesuatu itu ada. Apakah kamu tidak merasa bahwa kamu telah membuat kesalahan yang disengaja? Dengan demikian, kamu wajib memikul dosa perkataan dan kebodohan yang kamu lakukan, karena kamu telah mengatakan sesuatu tanpa di dasari ilmu pengetahuan. Orag itu menjawab: Tidak boleh selain apa yang kami katakan, baik ada argumen maupun tidak. Kami menjawab: Kami telah menjumpai seorang wanita yang mengatakan kepada kami bahwa dia senantiasa terkena haidl satu hari dan tidak lebih dari masa itu. Sebagian wanita juga mengaku kepada kami bahwa mereka senantiasa terkena haidl kurang dari tiga hari. Sementara sebagian wanita yang lain mengaku bahwa mereka senantiasa terkena haidl selama lima belas hari, dan sebagian yang lain terkena selama tiga belas hari. Dengan demikian, bagaimana kamu telah mengklaim hal yang seperti itu?

99

Imam Syafi`i berkata: Orang itu menjawab: Kami mengatakan sesuatu yang telah kami riwayatkan dari Anas bin Malik. Maka kami balik bertanya kepadanya: Bukankah yang anda maksud adalah hadits Al-Jalad bin Ayyub? Dia menjawab: Ada. Lalu kami berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyah dari alJalad bin Ayyub, dari Muawiyah bin Qurrah, dari Anas bin Malik, bahwasanya dia berkata: Haidnya wanita atau darah haidl wanita itu tiga atau empat hari sampai sepuluh hari. Ibnu Aliyah berkata kepada kami bahwa al-Jalad bin ayyub itu seorang berkebangsaan Arab yang hidup di desa, dia tidak mengetahui seluk beluk hadits. Dia berkata kepada kami bahwa ada seorang wanita dari keluarga Anas ada yang mengalami istihadlah, lalu Ibnu Abbas ditanya tentang permasalahan wanita itu. Kemudian Ibnu Abbas mengeluarkan fatwa tentang wanita itu, sementara pada masa itu Anas masih hidup. Maka, bagaimanakah anda berkata sementara dia ada pada saat itu ? Mereka pun ingin bertanya kepada yang lain tentang apa yang ada padanya dan juga tentang ilmu pengetahuan yang dimiliki. Sesungguhnya kami dan juga anda tidak dapat menetapkan adanya hadits yang diriwayatkan dari al-Jalad, dan berdalil atas kekeliruan seseorang yang hafalannya lebih kuat sedikit daripada alJalad. Anda juga telah meninggalkan riwayat dari Anas bin Malik, yang berbunyi: Apabila seorang laki-laki kawin dengan seorang wanita sedangkan dia mempunyai isteri yang lain, maka bagi perawan yang dikawini itu tujuh hari dan bagi janda tiga hari. Inilah yang sesuai dengan Sunah Rasulullah saw. anda telah meninggalkan Sunah dan perkataan Anas itu, serta mengklaim bahwa anda menerima perkataan itu dari Ibnu Abbas yang jelas diketahui telah menyalahi Sunah. Orang itu menjawab: Menurut pendapatmu, apakah hadits Anas (yang diriwayatkan oleh Al Jallad) adalah hadits yang benar? Kami menjawab: Tidak, dan tidak juga menurut ahli hadits, akan tetapi kami senang apabila kamu mengetahui bahwa kamu menyembunyikan sesuatu

100

yang tidak memiliki hujjah. Orang itu menjawab: Bagaimana apabila terbukti bahwa hadits itu benar dari Anas bin Malik ? Kami berkata: Itu tidak terbukti, kamu boleh bertanya mengenai hal ini. Orang itu menjawab, Berikan jawaban dengan berdasar kepada hadits yang benar. Kami menjawab: Seandainya benar ada, niscaya apa yang kamu katakan pasti mempunyai ta`wil (interpretasi) yang lain. Orang itu bertanya: Bagaimana ? Kami menjawab: Kalaupun benar ada, maka sesungguhnya Anas hanya menceritakan bahwa dia melihat ada wanita yang pernah mengalami masa haidl selama tiga hari, dan juga wanita yang mengalami haidl antara tiga sampai sepuluh hari. Sesungguhnya maksudnya hanya ingin mengatakan bahwa haidl wanita itu berlaku sebagaimana kebiasaannya, wanita yang mengalami masa haidl tiga hari tidak akan pindah kepada sepuluh hari, demikian juga tidaklah berpindah wanita yang haidl sepuluh hari kepada tiga hari. Sesungguhnya haidl itu adalah manakala wanita itu telah melihat darah. Anas tidak mengatakan: Tidaklah haidl itu kurang dari tiga hari dan tidak lebih banyak dari sepuluh hari, dan dia lebih tahu dari orang yang mengatakan: Tidak seorang pun dari makhluk Allah swt. yang tidak tahu, barang kali hal itu telah ada atau akan ada. Imam Syafi`i berkata: Lalu salah seorang dari mereka mengatakan: Apabila seorang wanita biasa mengalami haidl selama sepuluh hari lalu mengalami perubahan, dimana dia melihat darah sehari kemudian tidak keluar pada hari berikutnya, lalu dia melihat darah itu pada hari ke sepuluh dari permulaan haidlnya, niscaya wanita itu terkena haidl pada hari pertama dan delapan hari yang dia tidak melihat darah padanya, serta pada hari ke sepuluh yang dia melihat darah padanya. Imam Syafi`i berkata: Orang itu kemudian menambahkan seraya berkata: Apabila masalahnya demikian, namun wanita itu melihat darah sesudah hari ke sepuluh sebanyak lima atau sepuluh hari, niscaya pada hari yang pertama dan delapan hari sesudahnya adalah haidl. Kami tidak tahu persis apakah orang itu

101

mengatakan bahwa hari ke sepuluh dan hari-hari sesudahnya tergolong istihadlah yang nota bene adalah suci, atau dia mengatakan, bahwa sesudah hari ke sepuluh itu dia tergolong istihadlah yang nota bene adalah suci. Dengan perkataan seperti ini, temannya mencela. Kami mendengar dia mengatakan: Subhanallah! Tidak halal selamanya bagi seseorang melakukan kesalahan seperti itu dalam berfatwa, dia menjadikan wanita pada hari-hari melihat darah digolongkan suci dan hari-hari tidak melihat darah dikategorikan haidl. Dia menyalahi dua permasalahan. dia mengklaim pada masalah yang pertama bahwa wanita itu suci pada hari pertama dan hari ke delapan serta hari ke sepuluh. Dia juga mengklaim pada masalah yang kedua bahwa wanita itu suci pada hari yang pertama dan delapan hari sesudahnya, dan mengalami haidl pada hari ke sepuluh dan yang sesudahnya sampai cukup sepuluh hari. Kemudian dia mengklaim bahwa jika wanita itu haidl pertama-tama tiga hari dan dia suci pada empat atau lima hari, kemudian dia haidl lagi tiga atau dua hari, maka wanita itu dikategorikan haidl pada hari-hari dimana dia melihat darahnya dan hari-hari dimana dia merasa suci. Orang itu mengatakan: Seorang wanita dianggap suci apabila dia berada di antara dua masa haidl, dan berada dalam masa haidl apabila dua masa haidl itu lebih banyak dari hari-hari tidak melihat darah (suci) lebih banyak daripada masa melihat darah, maka hari-hari tidak melihat darah itu tidak dianggap masa haidl. Imam Syafi`i berkata: Kami katakan padanya: Kamu telah mencela orang. Kami melihat bahwa kamu telah mendekat kepada apa yang kamu cela, oleh karena kamu tidak boleh mencela sesuatu kemudian mengucapkannya. Orang itu menjawab: Kami hanya mengatakan, yaitu apabila dua masa melihat darah yang ada di antara keduanya itu terdapat masa tidak melihat darah (suci) lebih banyak daripada masa tidak melihat darah atau sama sepertinya. Imam Syafi`i berkata: Kami bertanya kepadanya: Siapakah yang mengatakan hal itu kepadamu ? Orang itu bertanya kembali: Apa? Kami katakan kepadanya: Masa tidak melihat darah tidak dapat dikatakan sebagai haidl. Apabila kamu mengatakan bahwa kami yang mengatakannya,

102

niscaya kami mengatakan; itu adalah hal yang mustahil yang tidak dipersoalkan lagi. Apakah perkataan anda itu dikuatkan dengan sebuah hadits ? Dia menjawab: Tidak. Kami bertanya kembali: Apakah dengan analogi ? Dia menjawab: juga tidak. Kami berkata lagi: Dengan akal pikiran ? Dia menjawab: Ya, bahwa wanita tidaklah melihat darah terus menerus, akan tetapi dia melihatnya sekali dan darah itu terputus pada kali yang lain. Kami berkata: Wanita yang kamu gambarkan terputus putus darahnya, niscaya masa haidl dan suci telah masuk satu sama lain (tidak dapat dibedakan). Lalu kami melanjutkan: Apabila dia mengikatkan sesuatu pada pantatnya lalu mendapatkan darah, walaupun tidak mengalir atau lebih sedikit dari itu, baik darah itu merah atau keruh, maka apabila dia tidak lagi mendapati hal-hal tersebut berarti tidak ada yang dapat mengeluarkannya dari persoalan di atas (yakni membedakan masa haidl dan suci) kecuali dengan keluarnya cairan berwarna putih. Orang itu bertanya: Bagaimana apabila wanita itu melihat apa yang kamu katakan, yaitu berupa cairan putih satu hari atau dua hari, kemudian dia melihat kembali darah pada hari-hari dimana dia biasa haidl ? Kami menjawab: Wanita itu suci ketika dia melihat cairan putih hingga dia melihat darah, sekalipun sesaat. Orang itu bertanya: Siapa yang mengatakan hal itu ? Kami menjawab: Ibnu Abbas. Dia bertanya lagi: Apakah itu benar diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ? Kami menjawab: Ya, benar hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dan hal itu juga sejalan dengan makna al-Qur`an dan dapat diterima oleh akal pikiran. Dia bertanya: Dimana? Kami menjawab: Apakah kamu melihat ketika Allah swt. menyuruh menjauhkan wanita saat sedang dalam kondisi haidl, dan mengizinkan menyetubuhinya apabila dia telah bersuci ? Niscaya kamu mengetahui bahwa haidl adalah dengan darah dan suci itu dengan hilangnya darah, yaitu dengan

103

melihat cairan putih. Orang itu menjawab: Tidak. Lalu kami bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang wanita yang haidlnya sepuluh hari setiap bulan ? kemudian berpindah menjadi setiap dua bulan, setiap tahun, sesudah sepuluh tahun, atau menjadi tiga hari setelah sepuluh tahun ? Kemudian wanita itu mengatakan: Aku meninggalkan shalat pada masa aku biasa mengalami haidl, dan yang demikian itu terjadi sepuluh hari pada setiap bulan. Orang itu menjawab: Wanita itu tidak boleh berbuat demikian. Kami menjawab: al-Qur`an telah menunjukkan bahwa wanita dianggap haidl apabila dia melihat darah, dan dia tidak dianggap haidl sepanjang dia belum melihat darah. Orang itu menjawab: Ya. Kami lalu berkata: Begitu juga menurut akal pikiran. Dia menjawab: Ya. Kemudian kami bertanya: Qur`an dan akal pikiran. Dia berkata: Masih tersisa satu permasalahan yang akan menjadi polemik bagi pandanganmu. Kami menjawab: Apakah itu ? Dia menjawab: Bagaimanakah menurut pendapatmu apabila wanita itu melihat tanda suci satu hari dan melihat darah di hari berikutnya hingga berlangsung selama sepuluh hari, apakah kamu menganggap ini sebagai satu kali haidl; atau dia dianggap haidl apabila melihat darah, dan suci apabila dia melihat tanda suci ? Kami menjawab: Bahkan dia dianggap haidl apabila melihat darah dan dianggap suci apabila melihat tanda suci. Orang itu berkata: Kalau wanita itu adalah wanita yang diceraikan Kami tidak tahu suaminya, niscaya masa iddahnya akan selesai hanya dalam waktu enam hari. Imam Syafi`i berkata: Kami berkata kepadanya: manakah diantara dua perkataanmu yang paling lemah argumennya, apakah Maka, mengapa kamu tidak mengatakan sebagaimana yang kami katakakan, sehingga perkataanmu akan sesuai dengan al-

104

perkataan yang pertama atau yang kedua ini ? Lalu dia bertanya: Apakah kelemahan terhadap argumentasi ini? Kami menjawab: Kamu menjadikan keadaan wanita itu yang mengerjakan shalat satu hari dan meninggalkan satu hari sebagai alasan berakhirnya masa iddah, padahal kedua persoalan ini memiliki perbedaan. Dia berkata: Lalu apakah yang kamu katakan ? Kami menjawab: Tidak ada celah-celah untuk menganalogikan shalat dan iddah. Dia bertanya: Lalu bagaimana bisa demikian ? Kami menjawab: Adakah kamu melihat wanita yang sudah putus dari haidl (menopause) dan belum mengalami haidl, dan juga wanita hamil ? Bukankah mereka itu juga mengalami masa iddah dan harus mengerjakan shalat sehingga berlalu masa iddahnya? Atau pada masa iddah tersebut mereka tetap meninggalkan shalat pada sebagian hari, sebagaimana yang ditinggalkan oleh wanita yang sedang haidl ? Orang itu berkata: Bahkan tetap mengalami masa iddah dan tidak boleh meninggalkan shalat. Kami bertanya: Apabila seorang wanita diceraikan lalu dia pingsan, gila, atau hilang kesadarannya, bukankah masa iddahnya tetap berlaku, dan dia tidak mengerjakan satu shalat pun ? Orang itu menjawab: Ya, iddahnya berlaku. Kami lalu bertanya: Mengapa kamu mengklaim bahwa iddahnya berlaku dan dia tidak mengerjakan shalat berhari-hari? Orang itu menjawab: Karena faktor akal fikirannya yang tidak berfungsi dan iddah bukanlah terkait dengan shalat. Kami bertanya: Bagaimana menurut pendapat kamu tentang wanita yang haidl sebagaimana haidlnya kaum wanita dan suci sebagaimana sucinya kaum wanita, apabila dia iddah tiga kali haidl kemudian ragu terhadap dirinya ? Orang itu menjawab: Wanita itu tidak boleh menikah sehingga dia memastikan kesucian rahimnya dari janin (istibra`). Kami berkata: Wanita itu beriddah tidak dengan haidl dan tidak dengan

105

bulan, akan tetapi beriddah dengan memastikan kesucian rahimnya dari janin. Dia berkata: hamil. Kami berkata: Demikian juga wanita yang beriddah dengan bulan. Apabila dia ragu, niscaya dia harus menahan diri untuk menikah. Dia menjawab: Benar. Kami berkata: Jika demikian, wanita yang telah suci rahimnya dari janin berlainan dengan wanita yang rahimnya belum dipastikan suci dari janin. Dia menjawab: Ya, dan wanita yang mengalami haidl sehari dan suci sehari itu lebih ragu dan tidak terlepas dari kehamilan dibandingkan wanita yang anda sebutkan. Kita telah dianugerahi akal pikiran oleh Allah swt. bahwa pada kata iddah itu dua makna, yaitu mengosongkan rahim dari janin dan tambahan peribadatan. Allah swt. menjadikan iddah thalak itu tiga bulan atau tiga kali suci. Dia menjadikan iddah hamil dengan melahirkan kandungan, dan yang demikian itu benar-benar puncak dari kepastian kosongnya rahim daripada janin. Tiga kali suci merupakan masa kepastian sucinya rahim daripada janin, sekaligus sebagai peribadatan, sebab dua kali haid saja telah dapat memastikan bahwa rahim kosong dari janin. Kita memahami bahwa tidak ada iddah melainkan terkandung padanya dua hal; kesucian rahim dari janin serta unsur yang bernilai ibadah. Karena, iddah tidak kurang dari tiga bulan atau tiga kali suci, empat bulan sepuluh hari, atau melahirkan. Wanita yang mengalami haidl satu hari dan suci satu hari tidak dapat dipastikan rahimnya suci dari janin. Sementara kamu telah membatalkan iddah dengan perhitungan haidl dan bulan, seraya mengembalikannya kepada persoalan kosongnya rahim dari janin apabila wanita itu mengalami keraguan, sebagaimana kamu mengklaim bahwa menjadi keharusan bagi kami untuk mengatakan bahwa wanita yang mengalami haidl satu hari dan melihat tanda suci satu hari, niscaya masa iddahnya akan selesai dalam masa enam hari. BAB: DARAH HAIDL Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Fatimah binti Mundzir, Ya, apabila dia merasakan sesuatu dan khawatir akan

106

bahwa dia berkata: Kami telah mendengar Asma mengatakan: Kami bertanya kepada Rasulullah saw. tentang darah haidl yang mengenai kain. Beliau menjawab:

\ 7 \
Keriklah darah itu kemudian gosoklah dengan air lalu basuhlah, dan shalatlah dengan menggunakannya. 68 Imam Syafi`i berkata: Term qarashahu bermakna farakahu yang berarti menggosok. Sedangkan perkataannya Bil-maa`i, yaitu membasuh dengan air. Imam Syafi`i berkata: Sekurang-kurangnya masa haidl ialah sehari semalam dan maksimalnya adalah lima belas hari (berikut malamnya), dan sekurang-kurangnya masa suci itu juga lima belas hari (berikut malamnya). Apabila seorang wanita pada permulaan haidlnya mengeluarkan darah yang terus menerus keluar, maka dia diperintahkan agar meninggalkan shalat sampai lima belas hari. Jika darah itu berhenti pada hari yang ke lima belas, maka masa itu adalah masa haidl. Namun jika lebih dari lima belas hari, maka wanita itu tengah mengalami istihadlah. Imam Syafi`i berkata: Adapun wanita yang mengetahui hari-hari haidl ditandai dengan darah yang terus keluar, maka hendaknya dia memperhatikan bilangan malam dan hari dimana dia biasa mengalami haidl pada hari-hari itu setiap bulannya, dan dia harus meninggalkan shalat pada hari-hari dan malammalam itu. Namun apabila telah lewat waktunya maka dia harus mandi kemudian mengerjakan shalat dan berwudlu setiap kali hendak shalat. Jika dia mengetahui hari-hari haidlnya, lalu dia lupa atau tidak mengetahui apakah awal bulan atau sesudahnya itu kurang dua hari atau lebih, maka dia harus mandi setiap kali hendak melaksanakan shalat, sebab tidak sah baginya shalat tanpa mandi terlebih dahulu dikarenakan mungkin saja ketika dia hendak melaksanakan shalat Shubuh itu adalah waktu sucinya, maka dia harus mandi; atau bila tiba waktu dhuhur, mungkin saja itu adalah waktu sucinya. Oleh karena
68 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan tentang haidl, bab Membasuh Darah Haidl, juz 1, hlm. 83.

107

itu, dia harus mandi. Begitulah yang dikerjakan pada setiap waktu apabila dia hendak mengerjakan shalat, tidak sah baginya apabila dia tidak mandi. Jika shalat itu fardlu baginya, maka ada kemungkinan dia boleh melaksnakan shalat dengan berwudlu dan ada kemungkinan juga tidak boleh melaksanakan shalat melainkan dengan mandi. Oleh sebab itu, dia tidak boleh melaksanakan shalat melainkan dengan meyakini bahwa dia telah suci. Dalam kondisi seperti itu dia haruss mandi, lantaran keyakinan dan keraguan terdapat pada wudlu. Sementara itu tidaklah sah melaksanakan shalat jika ragu. Sedangkan apabila mandi dapat membuatnya yakin, maka hendaknya dia mandi setiap kali ingin menjalankan ibadah shalat. KITAB SHALAT Kewajiban Shalat. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :


Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ( Surat an-Nisa` (4): 103 ) Allah swt. kembali berfirman :


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan Lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. ( Surat al-Bayyinah (98): 5 ) Imam Syafi`i berkata: Suatu ketika Rasulullah saw. ditanya tentang Islam, kemudian beliau bersabda :

' : 7 ' ,
Lima kali shalat satu hari satu malam, kemudian orang itu bertanya kembali, Apa ada yang selainnya ? lalu beliau menjawab: Tidak ada,

108

melainkan apabila engkau melakukan yang sunnah. 69 BAB : AWAL KEWAJIBAN SHALAT. Imam Syafi`i berkata: Sesungguhnya Allah swt. menurunkan kewajiban shalat kemudian menghapusnya dengan kewajiban yang lain, lalu menghapusnya untu kedua kalinya dengan menurunkan kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Imam Syafi`i berkata: Seakan-akan maksud firman Allah swt. adalah :


Hai orang-orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. ( Surat alMuzammil (73) : 1-3 ) Dalam ayat ini Allah swt. menghapus kewajiban shalat satu malam, separuhnya, kurang atau lebih darinya dan diganti dengan yang lebih mudah. Dikatakan; telah dihapuskan sesuatu yang kami gambarkan pada surat alMuzammil dengan berdasarkan firman-Nya:


Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan oleh malaikat. ( Surat al-Isra` (17) 78 ) Makna dari tergelincirnya matahari adalah condongnya :


sampai gelap malam ( Surat al-Isra` (17) 78 ) Maksudnya adalah waktu shalat Isya` yang terakhir atau sepertiga malam.


69 . Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang Iman dan Islam, hadits no. 1, jilid 1, hlm. 12.

109

dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan oleh malaikat. ( Surat al-Isra` (17) 78 ) Maksudnya adalah shalat Subuh. Dan selanjutnya Allah swt. berfirman :


Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. ( Surat al-Isra` (17) 79 ) Allah swt. memberitahukan bahwa shalat malam itu hukumnya sunah. Sedangkan shalat yang wajib itu terdapat pada firman Allah swt. :


Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu Subuh. ( Surat ar-Ruum (30): 17 ) Maksudnya adalah shalat Maghrib dan Isyak dan shalat Subuh. Lalu Allah swt. berfirman : dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan diwaktu kamu berada di waktu dhuhur. ( Surat ar-Ruum (30): 18 ) Maksudnya adalah shalat Ashar. Imam Syafii berkata: Semua penjelasan yang kami terangkan tergambarkan pada sunnah Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidilah dia mengatakan; suatu ketika seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw.. kemudian dia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah saw. bersabda :

' : ' ,
Lima kali shalat dalam satu hari satu malam, lalu laki-laki itu kembali bertanya: Adakah yang selainnya ? Rasulullah saw. menjawab: Tidak ada, selain engau melakukan yang sunah. 70
70 . H.R. Abu Daud, dalam kitab yang menjelaskan tentang shalat, hadits no. 387, jilid 2, hlm. 53.

110

Imam Syafi`i berkata: Shalat fardhu itu ada lima waktu, selainnya adalah sunat. Shalat sunat itu ada dua cara; dengan berjama`ah dan munfarid (sendirian). Shalat sunat berjama`ah adalah sunah muakkad (sangat dianjurkan) dan menurut kami tidak boleh ditinggalkan bagi orang yang mampu dalam kondisi apapun, yaitu shalat sunat Idul Fitri dan Idul Adha, shalat sunat gerhana matahari dan gerhana rembulan serta shalat Istisqa` (meminta siraman hujan). Sedangkan mendirikan shalat pada bulan Ramadhan, kami lebih menyukai jika dikerjakan sendirian. Hal inilah yang kami anjurkan. Bilangan Shalat Lima Waktu. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. menetapkan bilangan shalat wajib dalam kitab-Nya dengan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad saw., dan sesuatu yang harus dilaksanakan dan yang harus dilarang oleh umat manusia. Telah dinukil bahwa shalat Dhuhur dilakukan empat rekaat dengan suara pelan (sirri) ketika membaca bacaan-bacaan shalat, demikian juga shalat Ashar. Sedangkan shalat Maghrib dilakukan sebanyak tiga reka`at dengan mengeraskan suaranya (jahr) dua reka`at pertama, dan pada reka`at ketiga dengan suara pelan. Dan shalat Isya` empat reka`at dengan mengeraskan suara pada sua reka`at yang pertama, sedangkan pada reka`at ketiga dan keempat dengan suara pelan. Shalat Subuh sebanyak dua reka`at dengan mengeraskan bacaan pada semua reka`at. Orang Yang Wajib Melaksanakan Shalat. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman :

Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( Surat an-Nur (24): 59 ) Allah swt. kembali berfirman :

111

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ( Surat an-Nisa` (4): 6 ) Allah swt. menyebutkan dewasa yang mengharuskan harta-harta mereka diserahkan, melainkan sesudah sampai waktu nikah. Jika anak laki-laki telah melewati masa mimpi dan anak perempuan telah haidl, dan keduanya tidak terganggu akal fikirannya, maka kepadanya diwajibkan melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah fardlu lainnya. Sekalipun usia mereka masih kurang dari lima belas tahun, mereka diwajibkan untuk melaksanakan shalat, hal itu apabila keduanya sudah mengerti. Akan tetapi jika belum mengerti, maka mereka tidaklah sebagaimana orang dewasa, dan hendaklah mereka dihukum dengan hukuman yang ringan lantaran meninggalkan shalat. Sedangkan bagi yang terganggu akal fikirannya lantaran penyakit, maka kewajiban shalat hilang darinya. Allah swt. berfirman :


dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. ( Surat al-Baqarah (2): 197 ) Shalat Orang Yang Mabuk. Imam Syafii berkata: Allah swt. berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. ( Surat an-Nisa` (4): 43 ) Imam Syafi`i berkata: Barang siapa yang melakukan shalat ketika sedang mabuk, maka shalatnya tidaklah sah lantaran adanya larangan Allah swt. kepadanya, sampai dia mengerti apa yang dia katakan. Akan tetapi jika dia shalat dalam kondisi mabuk, maka hendaklah dia mengulanginya ketika dia sudah sadar dari mabuknya. Jika dia minum minuman keras akan tetapi tidak sampai mabuk, maka dia

112

berarti telah berbuat maksiat lantaran minum minuman yang haram tersebut, akan tetapi dia tidak perlu mengulangi shalatnya, lantaran dia termasuk orang yang memahami apa yang dia katakan, sedangkan orang yang mabuk adalah orang yang tidak memahami apa yang dia katakan. Barangsiapa minum suatu minuman agar akalnya tidak berfungsi, maka dia telah berbuat maksiat dengan melakukan perbuatan itu, dan dia tidak boleh melaksanakan shalat dalam kondisi seperti itu. Maka orang yang seperti itu dan orang yang sedang mabuk meng-qadla shalat yang tidak dilaksanakan selama dia mabuk. Jika dia telah memulai shalatnya dalam keadaan berakal sehat, akan tetapi sebelum mengucapkan salam akalnya menjadi terganggu, maka dia harus mengulangi shalatnya, lantaran sekalipun dia tidak merusak awal shalatnya, namun dia telah merusak akhir shalatnya. Gangguan Pada Akal Fikiran disebabkan sesuatu yang Tidak Maksiat. Imam Syafi`i berkata: Jika seseorang terganggu akal fikirannya lantaran gangguan jin, lemah akalnya atau sakit, apapun bentuk sakitnya, maka terangkat darinya kewajiban shalat selama dia masih menderita penyakit itu. Dia tidak diperintahkan untuk melakukan shalat sehingga dia mengerti apa yang dia katakan. Dia juga termasuk orang yang tidak berakal sehat, karena orang yang tertutup akal pikirannya oleh sesuatu tidaklah berdosa, bahkan dia memperoleh pahala dan menjadi kafarat (tebusan) bagi dosa-dosanya. Demikian juga jika dia minum obat yang mengandung racun, padahal dia menduga bahwa obat itu dapat menyehatkannya, dia tidak berdosa karena meminumnya, sebab usaha meminumnya bukan untuk membahayakan diri atau menghilangkan fungsi akalnya. Jika seseorang makan atau minum sesuatu yang halal namun memiliki dampak terhadap gangguan akal fikiran, atau melakukan lompatan sehingga otaknya terbalik, atau menunggingkan badan ke bawah sampai otaknya tergerak dan akalnyapun terganggu, akan tetapi tidak bermaksud menghilangkan fungsi akalnya, maka baginya tidak wajib mengulangi shalat yang dia lakukan. Akan tetapi jika dia melompat-lompat yang tidak ada manfaatnya atau dia menungging

113

dengan menjadikan kepalanya berada di bawah supaya fungsi akalnya menjadi hilang, maka dia dianggap telah melakukan dosa. Apabila akalnya telah kembali normal, maka dia harus mengulangi seluruh shalat yang telah dikerjakan selama dia kehilangan akal ataupun shalat yang dia tinggalkan. Shalatnya Orang Murtad. Imam Syafi`i berkata: Apabila sesorang murtad (pindah agama) dari Islam, kemudian dia masuk Islam kembali, maka dia harus mengulangi (qadla) setiap shalat yang ditinggalkannya pada masa murtad-nya dan setiap zakat yang wajib atasnya. Apabila dia kehilangan fungsi akalnya pada saat murtad-nya, baik karena sakit atau sebab lain, maka dia harus mengulangi (qadla) shalat pada hari-hari dimana akalnya tidak berfungsi. Jika ditanyakan: Mengapa kamu tidak menganalogikan orang murtad itu dengan orang musyrik yang masuk Islam, sehingga kita tidak memerintahkan kepadanya untuk mengulangi shalatnya. Sebagai jawabannya adalah, bahwa Allah swt. membedakan antara keduanya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:


Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu. ( Surat al-anfal (8): 38 ) Allah swt. membatalkan amalnya dengan sebab murtad. Rasulullah saw. menerangkan bahwa hukum orang murtad adalah dibunuh apabila dia tidak bertaubat dan hartanya berstatus mauquf (dibiarkan), lalu menjadi harta rampasan jika dia telah meninggal dunia, atau dikembalikan kepadanya jika dia bertaubat. Permasalahan Yang Berhubungan dengan Waktu-waktu Shalat Imam Syafi`i berkata: Allah swt. meneguhkan hukum dalam kitab-Nya bahwa kewajiban shalat adalah dalam waktu-waktu yang telah ditentukan, dan Allah swt. lebih mengetahui waktu dan bilangan shalat itu. Allah swt. berfirman.

114


Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ( Surat an-Nisa` (4): 103 ) Hadits cerita dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

3 7 ' 7 7 ' \ , p 7 ' 7 X ' G' 7 ' ' 7 \ , p 7 p '

' 7 X ' 7 , p

7 ' 7 ' 7 7 7

Jibril mengimamiku di pintu ka`bah sebanyak dua kali, dia shalat Dhuhur ketika bayang-bayang itu seperti berjalannya sandal di belakang telapak kaki, kemudian dia mengerjakan shalat Ashar pada saat setiap sesuatu menurut kadar bayang-bayangnya. Dia shalat Maghrib ketika orang yang berpuasa berbuka puasa, dia shalat Isya` ketika hilangnya awan merah, kemudian dia mengerjakan shalat Shubuh ketika diharamkan makan dan minum bagi orang yang berpuasa. Kemudian dia mengerjakan shalat Dhuhur untuk yang kedua kalinya ketika setiap sesuatu sama dengan panjang bayang-bayangnya, seperti kadar waktu shalat Ashar yang kemarin. Kemudian dia mengerjakan shalat Ashar ketika bayangbayang segala sesuatu itu menjadi dua kali, lalu mengerjakan shalat Maghrib seperti waktu yang pertama dan dia tidak mengakhirkannya. Kemudian dia shalat Isya` untuk kedua kalinya setelah masuk sepertiga malam, lalu mengerjakan shalat Subuh ketika pagi telah nampak. Kemudian dia berpaling dan berkata Wahai Muhammad, ini adalah waktu nabi-nabi sebelum engkau, dan waktu shalat adalah yang berada di

115

antara dua waktu ini. 71 Waktu Dhuhur. Imam Syafi`i berkata: Awal waktu Dhuhur itu apabila seseorang yakin dengan tergelincirnya matahari dari pertengahan langit dan bayang-bayang matahari pada musim panas itu berbentuk kuncup, sehingga tidak ada bayangbayang yang tegak lurus di siang hari dalam kondisi apapun. Apabila ada yang demikian, maka matahari telah tergelincir dan itu tanda berakhirnya waktu Dhuhur, dimana bayang-bayang sesuatu berbanding lurus dengannya. Apabila bayang-bayang sesuatu telah melampauinya, maka waktu Dhuhur telah berakhir dan masuk kepada waktu Ashar, tidak ada pemisah di antara keduanya. Bayang-bayang pada musim dingin, musim semi dan musim rontok berbeda dengan musim panas. Cara mengetahui bahwa matahari telah tergelincir yaitu dengan memperhatikan bayang-bayang dan mengontrol kekurangannya. Apabila kekurangannya telah selesai, maka bayang-bayang itu akan bertambah; dan apabila bertambah setelah kekurangannya selesai, maka itulah yang disebut al-Zawal (waktu tergelincirnya matahari) dan itulah awal (permulaan) waktu Dhuhur. Imam Syafi`i berkata: Apabila terdapat kabut tebal, maka hendaklah dia memperhatikan matahari dan berhati-hati dari mengakhirkannya, sebab bisa jadi waktu shalat Ashar telah masuk. Apabila dia ragu, maka ikutilah kemana pikiran lebih condong. Dengan hal itu, maka shalatnya menjadi sah. Yang demikian itu karena watunya cukup panjang sehingga dia dapat mengetahui bahwa matahari itu tergelincir, baik mengetahuinya sendiri maupun diberitakan oleh orang yang dipercayai bahwa dia telah mengerjakan shalat sebelum tergelincir matahari. Apabila dia ragu dengan berita itu, maka dia harus mengulangi shalat. Apabila dia mendustakan orang yang memberitahukan kepadanya bahwa dia telah mengerjakan shalat sebelum tergelincir matahari, maka dia tidak wajib mengulanginya. Akan tetapi supaya lebih berhati-hati, hendaknya dia mengulangi
71 . H.R. Abu Daud, dalam kitab yang menjelaskan tentang shalat, bab Waktu Shalat hadits no. 389, jilid 2, hlm. 55. Aun al-Ma`bud Syarh Sunan Abi Daud, H.R. Tirmidzi, dalam kitab yang menjelaskan tentang shalat, bab Waktu-waktu shalat, hadits no. 139, juz 1, hlm. 278. Tartib Musnad Imam Syafi`i, dalam kitab yang menjelaskan tentang shalat, bab 1, hadits no. 145, juz 1, hlm. 50.

116

shalatnya. Apabila dia buta, maka boleh baginya mempercayai berita orang-orang yang dapat dipercaya kebenaran beritanya tentang waktu shalat, dan boleh mengikuti orang-orang yang melakukan adzan pada saat itu. Apabila dia berada di tempat yang gelap atau dengan kata lain dia adalah orang yang buta, yang tidak ada seorangpun yang berada di dekatnya, maka dia shalat sesuai dengan kehendaknya. Shalatnya dianggap mencukupi selama tidak ada keyakinan bahwa dia telah mengerjakan shalat sebelum waktunya. Menyegerakan Dhuhur dan Mengakhirkannya. Imam Syafi`i berkata: Orang yang sudah yakin (dengan waktu shalat) boleh menyegerakan shalat Dhuhur, baik dia dalam posisi sebagai imam maupun sendirian pada setiap waktu; kecuali apabila pada waktu dimana panas sangat menyengat, maka sang imam hendaknya mengakhirkan shalat Dhuhur sehingga orang-orang yang datang dari jauh bisa mendatangi shalat jama`ah. Hal bahwa Rasul saw. bersabda : ini berdasarkan hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu hurairah ra.

X X ' G

X , / ! X :

G X G
Apabila panas sangat menyengat, maka tangguhkanlah shalat hingga dingin kembali, karena sesungguhnya terik panas itu adalah sengatan api neraka. Nerakapun mengadu kepada Tuhannya seraya berkata: Sebagian aku melahap sebagian yang lain. Maka Tuhan mengizinkan kepadanya dua nafas, yaitu nafas pada musim dingin dan nafas pada musim panas. Maka, terik panas yang engkau dapatkan adalah hasil panas dari musim panas, dan dingin yang menyengat adalah dingin yang berasal dari musim dingin. 72 Hadits cerita Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
72 . H.R. Bukhari, bab Waktu-waktu shalat dan keistimewaannya, dan H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang masjid dan tempat-tempat shalat dan bab Sunah menunggu shalat ketika cuaca terik, hadits no. 174.

117

Apabila panas terik, maka tunggulah sampai dingin lalu kamu shalat, karena sesungguhnya panas terik matahari merupakan sengatan neraka jahanam. 73 Imam Syafi`i berkata: Mengakhirkan waktu shalat Dhuhur bukanlah sampai pada akhir waktunya, akan tetapi waktu dingin; dan yang dimaksudkan adalah (sebagaimana yang telah dipahami), yaitu memperlambat shalat Dhuhur. Ia selesai shalat sebelum waktunya berakhir, sehingga antara selesainya dia dan akhir waktu ada pembatas. Adapun orang yang mengerjakan shalat Dhuhur dirumahnya atau dengan berjama`ah di halaman rumahnya, maka hendaklah dia melaksanakan shalat Dhuhur itu di awal waktu, karena hal itu tidaklah terlalu membuat mereka merasa kepanasan. Adapun pada musim dingin, shalat Dhuhur tidak ditunda sebagaimana keadaannya. Waktu Shalat Ashar. Imam Syafi`i berkata: Waktu shalat Ashar pada musim panas yaitu apabila bayang-bayang sesuatu melewatinya, saat itu adalah berakhirnya waktu Dhuhur. Apabila bayangan sesuatu tidak nampak, maka diukur kekurangan bayangan itu. Apabila bayangan itu bertambah setelah terjadi kekurangan, maka itu adalah tanda tergelincirnya matahari (zawal), dan pada musim panas diukur apabila bayangan sesuatu berdiri tegak lurus. Apabila telah melewati batas kelurusannya, maka hal itu berarti telah masuk awal waktu Ashar. Shalat Ashar hendaknya dikerjakan pada awal waktu, dan kami tidak menyukai apabila ia ditangguhkan. Apabila terdapat kabut tebal atau seseorang tertahan dalam tempat yang gelap, atau dia buta pada suatu tempat dimana tidak ada seorang pun bersamanya, maka orang itu hendaknya melakukan seperti apa yang telah kami gambarkan pada shalat Dhuhur, tidak ada bedanya sedikitpun. Barang siapa menangguhkan shalat Ashar sehingga bayangan sesuatu melewatinya hingga dua kali lipat seperti pada musim panas, maka telah luput
73 . H.R. Bukhari, bab Waktu-waktu shalat dan keistimewaannya, dan bab Menunggu cuaca dingin saat cuaca panas, dan H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan tentang masjid dan tempat-tempat shalat, bab Sunah menunggu shalat ketika cuaca terik, hadits no. 169, jilid 2, hlm. 262.

118

baginya waktu pilihan, dan orang itu tidak dikatakan telah luput waktu Ashar secara mutlak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah bersabda: saw.

G 7 G :

Barang siapa mendapatkan satu reka`at sebelum terbitnya matahari, maka dia telah mendapati Subuh. Barang siapa mendapati satu reka`at shalat Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka dia telah mendapati shalat Ashar.
74

Imam Syafi`i berkata: Barang siapa tidak mendapatkan satu reka`at dari shalat Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka dia telah lepas dari shalat Ashar, dan reka`at itu adalah satu reka`at dengan dua sujud. Hadits cerita dari Naufal bin Muawiyah ad-Da`ili, bahwa dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda :


Barang siapa lepas dari shalat Ashar, maka seakan-akan dia membinasakan keluarga dan hartanya. Waktu Shalat Maghrib. Imam Syafi`i berkata: Waktu shalat Maghrib hanya satu, yaitu ketika terbenamnya matahari. Hal itu telah dijelaskan dalam hadits yang berkaitan dengan Malaikat jibril yang mengimami Rasulullah saw. Hadits diceritakan dari Abu Na`im, dari Jabir, bahwa dia berkata, Kami pernah shalat Maghrib bersama Rasulullah saw. kemudian kami keluar untuk berlomba memanah, sehingga kami tiba dirumah-rumah suku Bani Salmah, dan kami melihat tempat jatuhnya anak panah pada saat matahari terbenam. Imam Syafi`i berkata: Jika dikatakan, sesungguhnya waktu shalat Maghrib itu lepas apabila tidak dikerjakan shalat pada waktunya, maka Allah swt. yang
74 . H.R. Bukhari, bab Waktu-waktu shalat serta keistimewaannya, dan bab Orang yang menemukan satu reka`at dan Shalat Fajar, bagian 1,jilid 1, hlm. 151.

119

lebih tahu tentang perkataan itu. Orang-orang yang berada dalam kawasan berkabut tebal, atau tertahan dalam tempat yang gelap atau dia buta, mereka bisa melaksanakan shalat sesuai sesuai dengan kehendak mereka seperti yang telah kami gambarkan tentang waktu shalat Dhuhur. Mereka pun dapat mengakhirkannya hingga melihat (yakin) telah masuk waktu shalat, atau telah melampaui masa masuknya. Waktu Shalat Isya`. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda :

' 3 7 7
Kamu tidak dikalahkan oleh orang Arab (pedusunan) mengenai nama shalatmu, ia adalah shalat Isya`, selain bahwa mereka itu datang dengan terlambat bersama unta. melainkan
75

Imam Syafi`i berkata: Kami menyukai bahwa dia tidak dinamakan dengan nama Isya`, sebagaimana Rasulullah saw. telah menamakannya. Awal waktunya yaitu ketika hilangnya awan merah (syafaq). Syafaq adalah warna merah yang berada pada tempat terbenamnya matahari. Apabila warna merahnya telah lenyap dan tidak kelihatan sedikitpun, maka hal itu menandakan bahwa waktu shalat Isya` telah masuk. Seseorang yang telah memulai shalat Isya`, akan tetapi masih tertinggal sedikit warna merah itu, maka dia harus mengulangi shalatnya. Tidak seorang pun yang boleh mengerjakan suatu shalat kecuali apabila waktunya telah tiba. Akhir waktu shalat Isya` adalah berlalunya sepertiga malam. Apabila seseorang telah lepas dari sepertiga malam pertama, maka kami menganggapnya telah lepas dari waktu shalat Isya`, karena itu adalah akhir waktunya. Tidak ada penjelasan dari Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa dia tidak lepas selain sesudah waktu itu. Waktu Shalat Fajar. Imam Syafi`i berkata: Allah swt. berfirman:
75 . H.R. Muslim, dalam kitab yang menjelaskan masjid-masjid, bab Waktu shalat Isya`, hadits no. 215, jilid 2, hlm. 287.

120


Dirikanlah dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan oleh para Malaikat. ( Surat al-Isra` (17): 78 ) Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mendapati satu reka`at dari shalat Subuh (maka dia telah mendapati shalat Subuh). Shalat Subuh itu adalah shalat fajar, ia hanya memiliki dua nama yaitu subuh dan fajar. Kami tidak menyukai nama lain selain dua nama itu. Imam Syafi`i berkata: Hadits diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa dia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak melaksanakan shalat Subuh, para wanita pergi dengan menutup kepala mereka sehingga mereka hampir saja tidak dikenal lantaran gelap. 76 Seseorang tidak dikatakan lepas melaksanakan shalat Subuh sehingga matahari terbit, dan dia belum melaksanakan satu rekaatpun, yang dinamakan satu reka`at itu adalah satu reka`at beserta sujudnya. Barang siapa belum menyempurnakan satu reka`at itu terbitnya matahari, maka dia lepas dari shalat Subuh berdasarkan hadits Rasulullah saw. yang berbunyi:

G 7 G :
Barang siapa mendapati satu reka`at dari shalat Subuh sebelum terbitnya matahari, maka dia telah mendapati shalat Subuh. Perbedaan Waktu. Imam Syafi`i berkata: Suatu ketika malaikat Jibril mengimami Rasulullah saw. pada saat mukim (tidak dalam perjalanan) serta tidak ada hujan, dan dia berkata: Diantara dua hal ini adalah waktu dimana seseorang tidak boleh melakukan shalat dengan bersandar pada kondisi waktu shalat pada waktu mukim atau ketika tidak turun hujan, melainkan pada waktu seperti ini. Larangan ini supaya seseorang melaksanakan shalat satu persatu (tidak boleh di-jamak) Hal di atas seperti hadits yang mengisahkan tentang malaikat Jibril yang
76 . H.R. Bukhari, dalam kitab yang menjelaskan waktu-waktu shalat dan keistimewaannya, bab Waktu Shalat Fajar, bagian 1, jilid 1, hlm. 151.

121

pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah saw. dan beliau melaksanakan shalat sesudah itu dalam kondisi mukim sepanjang hidupnya. Ketika Rasulullah saw. melakukan jamak shalat di Madinah dalam kondisi aman dan mukim, maka hal itu tidak memiliki kemungkinan melainkan telah bertentangan dengan hadits ini, atau adanya kemungkinan bahwa kondisi dimana dia menjamak shalat tersebut saat mukim (tidak dalam perjalanan). Berbeda dengan kondisi dimana dia tidak melaksanakan shalat satu persatu pada saat mukim. Maka tidak boleh dikatakan bahwa perbuatan Rasulullah saw. yang melakukan jamak shalat waktu mukim menyalahi perbuatan beliau yang melaksanakan shalat satu persatu saat mukim pula. Hal ini berdasarkan dua hal; Pertama; lantaran masing-masing dari keduanya memiliki legitimasi tersendiri. Dan yang meriwayatkan dua hadits tersebut hanya satu perawi, yaitu Ibnu Abbas. Dengan demikian, kiat mengetahui bahwa perbuatan Rasulullah saw. yang melakukan jamak shalat ketika mukim memiliki alasan tersendiri yang membedakannya dengan perbuatan beliau yang melaksanakan shalat satu persatu waktu beliau mukim. Oleh sebab itu tidak ada sebab lain yang membedakannya melainkan hujan, karena tidak mungkin alasannya adalah perasaan takut. Kita dapati bahwa hujan dapat menimbulkan kesulitan, sebagaimana halnya alasan yang memperbolehkan seseorang melakukan jamak shalat pada waktu safar (bepergian) dan hal itu termasuk dalam kategori kesulitan secara umum. Kami mengatakan, apabila demikian hujan merupakan antara shalat Maghrib dan Isya` saat beliau mukim. Tidak boleh melakukan jamak shalat kecuali dengan alasan hujan pada waktu seseorang tidak dalam perjalanan. Jika dia melaksanakan salah satu dari dua shalat kemudian hujan berhenti, maka dia tidak boleh menjamak shalat yang lain dengan shalat tadi. Akan tetapi jika dia melaksanakan salah satu dari dua shalat kemudian hujan turun, lalu dia mulai melaksanakan shalat yang lainnya lalu turun hujan dan kemudian berhenti, maka dia boleh meneruskan shalatnya. Jika dia boleh masuk ke dalam shalat, maka boleh juga baginya untuk alasan yang menyebabkan beliau melakukan shalat jamak antara Dhuhur dan Ashar, serta

122

menyempurnakan. Imam Syafi`i berkata: Shalat dapat dijamak, baik hujannya deras atau tidak. Seseorang tidak boleh menjamak shalat ketika hujan kecuali bagi yang keluar dari rumah menuju masjid, dimana disana dikerjakan shalat jamak. Seseorang tidak boleh menjamak shalatnya ketika berada dirumah, karena Rasulullah saw. melakukan hal itu di masjid. Apabila seseorang shalat Dhuhur dalam kondisi tidak hujan, kemudian turun hujan, maka tidak boleh baginya mengerjakan shalat Ashar, karena dia telah selesai mengerjakan Dhuhur; dan dia tidak boleh menjamaknya dengan shalat Ashar. Demikian halnya apabila dia memulai shalat Dhuhur dalam keadaan tidak turun hujan, kemudian setelah itu turun hujan, maka dia tidak boleh menjamaknya dengan shalat Ashar. Seseorang tidak boleh menjamak shalatnya, kecuali apabila ketika dia masuk pada waktu shalat yang pertama, dia telah berniat untuk menjamak shalat. Jika keadaannya seperti ini, maka hal itu boleh baginya. Apabila dia menjamak dapat antara dua waktu shalat pada waktu hujan, maka dia mengerjakannya pada waktu shalat yang pertama dan tidak mengakhirkannya pada waktu shalat yang kedua. Dan, tidak boleh menjamak (menggabungkan) shalat pada saat mukim (tidak bepergian) ketika tidak ada hujan.

123

124