Anda di halaman 1dari 13

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Menurut Yura (1983) proses keperawatan adalah tindakan yang berurutan dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah pasien, membuat perencanaan untuk mengatasi, melaksanakan dan mengevaluasi keberhasilan efektif akan masalah yang akan diatasinya. Proses keperawatan terdiri dari tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 1 .Pengkajian Pengkajian sistem gastrointestinal meliputi riwayat kesehatan serta pemeriksaan fisik komprehensif dimulai dari rongga mulut, abdomen, rektum dan anus pasien. Tujuan tindakan ini untuk mengumpulkan riwayat, pengkajian fisik dan tes diagnostik untuk mengidentifikasi dan mengatasi diagnosa keperawatan dan medis klien. (Monica Ester, 2001). Pada pengkajian penderita dengan kasus typhus abdominalis yang perlu dikaji : a.Riwayat keperawatan b.Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam , nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epistaksis, penurunan kesadaran (Suriadi, dkk 2001). 2. Diagnosa Keperawatan a.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual dan kembung. b.Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh. c.Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran. d.Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat total. e.Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi (Suriadi, dkk, 2001). Perencanaan Keperawatan Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan klien.

a.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada mual dan kembung. Tujuan : Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan. Intervensi :

nafsu makan,

5)Nilai status nutrisi anak. 6)Izinkan anak untuk makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat. 7)Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi. 8)Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering. 9)Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama. 10)Pertahankan kebersihan mulut anak. 11)Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit. 12)Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral. Jika pemberian makann melalui

oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak b.Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh. Tujuan : Mencegah kurangnya volume cairan. Intervensi : 1)Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh ) paling sedikit setiap empat jam. 2)Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun-ubun cekung, produksi urine menurun, membran mukosa kering, bibir pecah-pecah. 3)Observasi dan catat intake dan output dan mempertahankan intake dan output yang adekuat. 4)Monitor dan catat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama. 5)Monitor pemberian cairan intravena melalui intravena setiap jam. 6)Kurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (insensible water loss/IWL) dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge. 7)Berikan antibiotik sesuai program. c.Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran. Tujuan : Mempertahankan fungsi persepsi sensori. Intervensi : 1)Kaji status neurologis 2)Istirahkan anak hingga suhu dan tanda-tanda vital stabil. 3)Hindari aktivitas yang berlebihan. 4)Pantau tanda-tanda vital. d.Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat total. Tujuan : Kebutuhan perawatan diri terpenuhi. Intervensi : 1)Kaji aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan tugas perkembangan anak. 2)Jelaskan kepada anak dan keluarga aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan hingga demam berangsur-angsur turun . 3)Bantu memenuhi kebutuhan dasar anak. 4)Libatkan peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. e.Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi. Tujuan : Mempertahankan suhu dalam batas normal. Intervensi : 1)Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia. 2)Observasi suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan. (Suriadi dkk, 2001). Pelaksanaan / Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut : a.Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. b.Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. c.Keamanan fisik dan psikologis dilindungi. d.Dokumentasi intervensi dan respons klien. (Keliat, Anna Budi, 1999). Evaluasi Keperawatan. Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan

(diagnosa, tujuan, intervensi ) harus dievaluasi. Hasil yang diharapkan pada tahap evaluasi adalah : a.Anak menunjukkan tanda tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi. b.Anak menunjukkan tanda tanda terpenuhinya kebutuhan cairan. c.Anak tidak menunjukkan tanda tanda penurunan kesadaran yang lebih lanjut. d.Anak dapat melakukan aktifitas sesuai dengan kondisi fisik dan tingkat perkembangan anak. e.Anak akan menunjukkan tanda tanda vital dalam batas normal. (Suriadi, dkk 1999). Sumber: 1.Engel, Joyce, 1999, Pengkajian Pediatrik, Edisi 2, EGC, Jakarta. 2.Ester, Monica, 2002, Keperawatan Medikal Bedah ; Pendekatan Sistem Gastrointestinal, EGC, Jakarta. 3.Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta. 4.Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 5.Prabu, B. D. R, 1996, Penyakit Penyakit Infeksi Umum, Jilid I, Widya Medika, Jakarta. 6.Rosa, M. Sacharin, 1993, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 EGC, Jakarta. 7.Soedarto, 1996, Penyakit Penyakit Infeksi di Indonesia, Widya Medika, Jakarta. 8.Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985, Ilmu Kesehatan Anak, Infomedika, Jakarta. 9.Suriadi, dkk, 2001, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I, CV. Sagung, Jakarta. 10.Tambayong, Jan, 2000, Patofisiologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta. 11.Tambunan, Gani W, 1994, Patologi Gastroenterologi, EGC, Jakarta.

ASKEP KELUARGA (contoh format)


BY : WS

A. Pengkajian
I. Data Umum
1.Nama kk : Bapak KR (70 Th) 2.Alamat : Rowoasri , RT 2 , RW 7 , Rowokangkung , Lumajang 3.Pekerjaan kk : Tani 4.Pendidikan kk : SD 5.KOMPOSISI KELUARGA

No 1 2 3 4

Nama Ny. Ab Ac Har Za

Jk P L P L

Hub dg KK Istri ke 3 Anak Anak Anak

Umur 36 17 11 4

Pendidikan Smp Smp

Pekerjaan Ibu RT Masih sekolah Sd Masih sekolah Belum sekolah -

Status kes Sehat Sehat Sehat Sehat Immunisasi Lengkap +

Genogram (lihat cara membuat genogram ) Aturan : lebih tua sebelah kiri , umur anggota klg ditulis pada simbol laki-laki atau perempuan,tahun dan penyebab kematian ditulis disebelah simbol laki-laki atau perempuan 35 25

LAKI PEREMPUAN SERUMAH MENIKAH CERAI ANAK KANDUNG PISAH KLIEN ANAK KEMBAR

KLIEN ANAK ANGKAT MENINGGAL ABORSI 6. type keluarga : keluarga inti 7.suku : jawa 8. Agama : islam 9.status social : Rp. 500.000,- per bulan . menurut keluaarga tidak cukup 10. rekreasi : menonton televisi, silaturohmi keluarga, kadang rekreasi di tempat terbuka

II. Riwayat Tahap Perkembangan


1. tahap perkemb.klg : keluarga dg anak usia remaja 2. tahap klg yang belum terpenuhi : tidak ada ug belum terpenuhi, namun tugas klg yg belum dapat dicapai saat ini adalah memberi figur yg baik bagi anakl remaja. 3. riwayat kesehatan keluarga : tdk ada peny keturunan, P. KR terkena bronkhitis kronik, Sering kumat berobat ke dr swasta, bu KR sehat , pak

KR perokok, 1-2 batang perhari, anak tertua perokok Juga , 4. Riwayat kesehatan klg sebelumnya : 2 tahun sudah didiagnosis Bronkhitis kronik

III. Keadaan Lingkungan


1. Karakterisitik rumah : luas rumah lebar 4 M , panjang 12 M , terdiri 2 kamar tidur, 1 musholla 1 km mandi dan wc ( tidak adaSeptik Thank) , ruang tamu, dan dapurnya memanfaatkan pojok Dari lorong, - type bangunan : lantai dari plester - ventilasi : sinar matahari kurang masuk, jendela hanya 1 (0,75 x 1,2 M) Jendela kamar tak ada karena mepet dg tetangga - kebersihan ruang : banyak barang numpuk tak teratur , masak dg kayu bakar - sumber air : dari PAM - denah rumah Dapur Ruang tamu

2. Karakteristik komunitas Tetangga membantu berobat ke dokter praktik Tengga dan sekitarnya peduli pada kesehatan pak KR 3. Interaksi dengan komunitas ] Pengajian aktif, aktif kuimpul di masyarakat 4. Sistem pendukung keluarga

Yg merawat pak KR hanya istrinya saja, biaya minim, jarak rumah dengan puskesmas 500 meter, oleh karena sekarang lebih banyak berobat ke tabib

IV. Struktur Keluarga


1. Pola Komunikasi Keluarga Musyawaroh, tapi kadang pak KR suka marah pada anaknya jika tidak patuh 2. Struktur Peran Pak KR merasa tetap sebagai kepala keluarga dan ber TJ, meskipun sekarang sakit , bu KR menjual kerupuk untuk menopang kekurangan kebutuhan 15 .000/ perhari 3. Norma Keluarga Menyesuaikan dengan nilai agama yg dianut dan norma yg ada, percaya penyakitnya bisa di obati, dan penyakitnya tidak ada hubunganny dengan guna-guna.

V. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afektif Pak Kr sering menegur anaknya jika diperingatklan ibunya tidak mau, saling menghormati antar anggota keluarga, 2. Fungsi Sosial Keluarga mengajarkan agar berperilaku yang baik dengan tetannggga dan lingk. Sekitar , hidu berdampingna dan merasa tentram. 3. Fungsi Keperawatan Kesehatan Jika sakit mencari bantuan ke pelayanan kesehatan terdekat, yang merawat pak KR saat ini bu KR, pemanfaatan yankes masih kurang karena pak KR tidak emmeiliki penghasilan tetap. 4. Fungsi reproduksi Tidak ingin punya anak lagi, tidak ikut KB, hubungan suami istri masih, tetapi jarang sekali. 5. Fungsi Ekonomi Penghasilannya tak menentu apalagi pak KR yang sakit, saat ini keluarga dicukupi dari penghasilan yang lain.

VI. Stress Dan Koping Keluarga


1. Stressor yang dimiliki Sejak 6bulan yg lalu, sakit bronkhitisnya kumat, dan tidak dapat bekerja lagi, anak-anaknya butuh biaya u/ sekolah 2. Kemampuan keluarga Berespon thd stressor Pasrah padak ondisiny sekarang, dianggap sebagai cobaaan dan berharap anak tertuanya bekerja lebih giat u/kebut. Keluarga 3. Strategi Koping yang dilakukan Keluarga menerima ini apa adanya dan selalu melibatkan anak teruanya u/ pengambilan kepeutusan 4. Strategi adaptasi yang disfungsi Sering marah pada anak tertuanya jika merokok terus dan dianjurkan mencari alternatif pengobatan lain.

VII. Pemeriksaan fisik


Sasaran terutama pada yang mempunyai maslah kesehatan (sakit) dengan metode Head to toe

VIII. Harapan Keluarga


Berharapmendapat bantuan seperti yang dikatakan oleh tetangganya , yaitu kartu sehat sehingga dapat berobat secara rutin di Puskesmas.

B. Diagnosis Keperawatan Keluarga


1. Analisa Data
Data (sign- symptom) Data subyek - pak KR terkena Bronkhitis kronik sejak 2 tahun - sejak 6 bulan kumat shg di rumah saja Data obyektif Masalah (P) Penyebab (E)

Resiko serangan Lingk. Yg tidak adekuat berulang pada P. KR

5 tugas

- lingkungan rumah kurang sehat : barang bertumpuk-tumpuk ,kotor , ventilasi kurang dll - Hasilpmx fisik : ..

2. Rumusan Diagnosis Keperawatan


Resiko tinggi serangan berulang yang dialami oleh pak KR b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan atau (eteologi yang lain) ketidakmampuan keluarga merawat pakKR yang sedang saklit.

P (NANDA) yang b/d E (ketidakmampuan keluarga sesuai 5 TUGAS KELUARGA) , sign /symptom takperlu ditulislagi
NO 1 2 3 4 KRITERIA SIFAT MASALAH SKALA : - TIDAK/KURANG SEHAT - ANCAMAN - KEADAAN SEJAHTERA KEMUNGK. MAS DAPAT DIUBAH : - MUDAH - SEBAGIAN - TIDAK DAPAT 3 2 1 2 1 0 3 2 1 SKOR BOBOT 1 2 1 1 ? ? ? ? JUML

POTENSI MAS. U/ DICEGAH - TINGGI - CUKUP - RENDAH MENONJOLNYA MASALAH - BERAT, SEGERA - ADA MASALAH TAPI TAK perlu SEGERA ditangani - MASALAH TAK DIRASAKAN

2 1 0

PENENTUAN PRIORITAS SESUAI DENGAN SKALA : 1. KRITERIA PERTAMA, PRIORITAS UTAMA PADA : TIDAK/ KURANG SEHAT KARENA PERLU TINDAKAN SEGERA 2. KRITERIA KEDUA, MENGACU PD : - PENGET DAN TEHNOLOGI U/ MENGATASI MAS KLG - SUMBER DAYA KLG FISIK , KEUANGAN, TENAGA - SUMEBR DAYA PERAWAT, : KAP (PENGET, AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR) - SUMBER DAYA LINGK. : FASILITAS, ORGANISASI, DAN DUKUNGAN 1. KRITERIA KETIGA - KEPELIKAN MASALAH - LAMANYA MASALAH - TINDAKAN YG SEDANG DIJALANKAN - KELOMPOK YG BERESIKO U/ DICEGAH AGAR TIDAK AKTUAL DAN PARAH 1. KRITERIA KEEMPAT, PERSEPSI KLG THD MASALAHNYA

3. skoring penentuan prioritas DX keperawatan keluarga

contoh : RESIKO JATUH LANSIA DI KLG BAPAK Rr BD. KETIDAKMAMP[UAN MENYEDIAKAN LINGK. AMAN No dx Kriteria Skor Pembenaran

4. prioritas dx keperawatan Prioritas 1 2 3 dst


<!--[if !supportLists]>C. Rencana

Dx kep
RESIKO JATUH LANSIA DI KLG BAPAK Rr BD. KETIDAKMAMP[UAN MENYEDIAKAN LINGK. AMAN

Skor 3 1/3 2 2 , DST

Asuhan Keperawatan Keluarga

Nama KK : KR Alamat : kd. Jajang


NO DX 1 TUJUAN KRITERIA Setelah dilakukan KAP tindkep. Tidak tjd resiko serangan berulang pada Pengetahuan pak KR selama di rumah Sikap (boleh jangka pendek dan jk panjang ) Psikomotor STANDAR Penget : keluarga dapat menyebutkan .. sikap : klg mampu memutuskan u/menyediakan sarana yg aman psikomotor : keluarga memodifikasi lingkungan sehat INTERVENSI

Rencana tindakan (intervensi): 1. mendiskusikan ..

2. menjelaskan 3. mengajarkan 4. bersama keluarga 5. dll

D. Implementasi dan evaluasi Implementasi


Tanggal dan waktu 1 januari 2006 No dx 1 Implementasi ..

Rencana kegiatan pada askep keluarga yang berhub dg penkes memerlukan SAP Format evaluasi formatif Tanggal dan waktu 1 januari 2006 No dx 1 Evaluasi
S. klg mengatakkan bahwa masihkurang mengerti tentang . O. klg dapat menjawab pertanyaan ,belum bisamenjawab pertanyaan tentang .. A. implementasi yg dilaks.dg metode cermah belum dimengertioleh klg , perlu metode lain. P. berikan pendidikan ulang , dg metode lain.

Format evaluasi sumatif


Tanggal dan waktu 1 januari 2006 No dx 1 Evaluasi
S. klg mengatakkan bahwa masihkurang mengerti tentang .

O. klg dapat menjawab pertanyaan ,belum bisamenjawab pertanyaan tentang .. A. masalah belum teratasi P. lanjutkan intervensi ,perlu bantuan LSM yang peduli akan kesehatan