Anda di halaman 1dari 15

Antidepresan Depresi berat memerlukan terapi dan pada sebagian besar kasus, manfaat terapi melebihi risikonya.

Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin, doksepin, imipramin, dan nortriptilin sering digunakan untuk gangguan-gangguan depresi. Efek samping pada ibu adalah hipotensi ortostatik dan konstipasi. Sedasi juga sering terjadi, sehingga obat golongan ini sangat bermanfaat bagi masalah tidur yang berkaitan dengan depresi. Inhibitor monoamin oksidase (MAOI) adalah antidepresan yang sangat efektif yang semakin jarang digunakan karena menyebabkan hipotensi ortostatik. Pengalaman dengan inibitor selektif ambilan ulang serotonin (selective serotonin reuptake inhibitors, SSRI), termasuk fluoksetin dan sertralin, menyebabkan obat golongan ini menjadi terapi primer bagi sebagian besar penyakit depresi. Obat-obat ini tidak menimbulkan hipotensi ortostatik atau sedasi sehingga lebih disukai daripada antidepresan lain.

Antipsikotik Wanita dengan sindrom-sindrom kejiwaan yang berat seperti skizofrenia, gangguan skizoafektif, atau gangguan bipolar sangat mungkin memerlukan terapi antipsikotik selama kehamilan. Antipsikotik tipikal adalah golongan antagonis dopamine. Klozapin adalah satusatunya antipsikotik atipikal yang tersedia, dan obat ini memiliki kerja yang berbeda tetapi tidak diketahui. Potensi dan efek samping berbagai antipsikotik berbeda-beda. Obat-obat yang berpotensi lebih rendah, klorpromazin dan tioridazin, memiliki efek antikolinergik yang lebih besar serta bersifat sedatif.

Litium Keamanan litium selama kehamilan masih diperbebatkan. Selain kekhawatiran tentang teratogenesitas, juga perlu dipertimbangkan indeks terapetiknya yang sempit. Pernah dilaporkan toksisitas litium pada neonatus yang mendapat ASI. Benzidiazepin Obat golongan ini mungkin diperlukan selama kehamilan bagi wanita dengan gangguan cemas yang parah atau untuk pasien psikotik yang agitatif atau mengamuk. Diazepam mungkin

menyebabkan depresi neurologis berkepanjangan pada neonatus apabila pemberian dilakukan dekat dengan kelahiran. Terapi Kejut Listrik (Elektroconvulsive Therapy, ECT) Terapi dengan kejutan listrik untuk depresi selama kehamilan kadang-kadang diperlukan pada pasien dengan gangguan mood mayor yang parah dan tidak berespon terhadap terapi farmakologis. Hasil diperoleh dengan menjalani 11 kali terapi dari umur kehamilan 23-31 minggu. Mereka menggunakan tiamilal dan suksinilkolin, intubasi, dan ventilasi bantuan setiap kali terapi. Mereka mendapatkan bahwa kadar epinefrin, norepinefrin, dan dopamine plasma meningkat 2-3 kali lipat dalam beberapa menit kejutan listrik. Walaupun demikian, rekaman frekuensi denyut jantung janin serta frekuensi jantung, tekanan darah, dan saturasi oksigen ibu tetap normal. Miller (1994) mengkaji 300 laporan kasus terapi kejut listrik selama kehamilan mendapatkan bahwa penyulit terjadi pada 10%. Penyulit-penyulit tersebut antara lain adalah aritmia transien jinak pada bayi, perdarahan pervaginam ringan, nyeri abdomen, dan kontraksi uterus yang swasirna. Wanita yang kurang dipersiapkan juga berisiko lebih besar mengalami aspirasi, kompresi aortokava, dan alkalosis respiratorik. Langkah-langkah pengkajian penting adalah pengkajian servik, penghentian obat antikolinergik yang tidak esensial, pemantauan frekuensi denyut jantung janin dan uterus, hidrasi intravena, pemberian antasida cair, dan pasien dobaringkan miring kiri. Selama prosedur, hindari hiperventilasi berlebihan dan jalan napas harus dilindungi.

2.12 Penatalaksanaan Psikosa 1. Pengobatan etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap. 2. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia. 3. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong, tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi bertambah gelisah.

4. Klien harus dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang lain. 5. Dicoba menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi. 6. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu. 2.13 Penularan Sampai saat ini tidak diketahui penularan dari gangguan jiwa psikosa 2.14 Pencegahan Psikosa Dalam Kehamilan Informasi ANC rutin Nutrisi Penampilan Aktivitas Relaksasi Senam hamil Latihan pernafasan C.Psikoneurosa 2.15 Pengertain Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978 : 143), Neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit. Dali Gulo (1982 : 179), berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental, hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian, lebih ringan dari psikosis, dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis, gangguan-gangguan pada indera dan motorik, hambatan emosi, kurang perhatian terhadap lingkungan, dan kurang memiliki energi fisik, dst. Neurosis, menurut W.F. Maramis (1980 : 97), adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar.

Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokokPokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut. 1. Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan. 2. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian. 3. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas kecemasan. 4. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari. 2.16 Penyebab Psikoneurosa adalah gangguan yang terjadi hanya karena gangguan pada sebagian kepribadian, maka yang bersangkutan masih bisa melakukan pekerjaan/aktivitas sehari-hari. Sebenarnya psikoneurosis bukanlah suatu penyakit, yang bersangkutan masih dapat kita sebut normal. Yang diderita (bersangkutan) adalah ketegangan pribadi yang terus terjadi sebagai akibat konflik yang berkepanjangan. Orang tersebut tidak dapat mengatasi konflik yang tidak kunjung reda yang pada taraf terakhir menjadi neurosis (suatu kelainan mental dengan kepribadian terganggu yang ringan seperti cemas yang kronis, hambatan emosi, sukar tidur, kurang perhatian terhadap lingkungan dan kurang memiliki energi). Ada kalanya penyakit ini baru timbul setelah lama penyebabnya terjadi atau sama sekali tidak ingat lagi, atau telah diendapkan dalam alam ketidaksadaran. Untuk menyembuhkan penyakit digunakan tehnik wawancara yang lazim disebut psikoterapi.

2.17 Tanda & Gejala,Penanganan serta jenis dari neurosis Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam tanda &gejala. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol, sebutan atau nama untuk jenis neurosis diberikan. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain, bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak tanda & gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W.F. Maramis, 1980 : 258). Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol atau paling kuat. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai

berikut (W.F. Maramis, 1980 : 257-258).

1. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state) a. Gejala-gejala neurosis cemas Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan, tetapi bersifat mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan. Gejala-gejala neurosis cemas : 1) Secara somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingin. 2) Secara psikologis berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, perasaan tidak mampu untuk menyelesaikan masalah.

b. Faktor penyebab neurosis cemas Menurut Maramis (1980 : 261), faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.

Sebab-sebab neurosis cemas secara umum : 1) Ketakutan dan kecemasan yang terus menerus, disebabkan oleh kesusahan-kesusahan dan Depressi terhadap macam macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung

kegagalan yang bertubu-tubi 2)

secara sempurna 3) 4) Kecenderungan harga diri yang terhalang. Dorongan-dorongan seksual tidak mendapat kepuasan yang terhambat, sehingga

menimbulkan banyak konflik batin.

Penanganannya c. Terapi untuk penderita neurosis cemas Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap permasalahan. Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian penderita. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas, yaitu :

psikoterapi individual psikoterapi kelompok psikoterapi analitik sosioterapi terapi seni kreatif terapi kerja terapi perilaku farmakoterapi

2. Histeria a. Tanda & gejala histeria Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Tanda & gejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, terutama bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat.

b. Jenis-jenis histeria Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor. 1) Histeria minor atau reaksi konversi Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi)

menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik, dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, mati raba, buta, tuli. 2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul gejala-gejala : amnesia, somnabulisme, fugue, dan kepribadian ganda.

c. Faktor penyebab histeria Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gangguan jiwa.

Sebab-sebab hysteria: 1) 2) Ada prediposisi pembawaan berupa system syaraf yang lemah. Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecawaan,shocks, dan

pengalaman-pengalamn taraumatis/luka jiwa.nya sugesti diri yag buruk dan melemahkan mental. 3) Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha menguasai keadaan, lalu mentiranisasi

lingkungan dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat. 4) Kebiasaan hidup dan disiplin-disiplin yang keliru, sehingga mengakibatkan control pribadi

yang lemah dan integrasi kepribadian yang miskin, sangat kekanak-kanakan. 5) Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism, sehingga

mengakibatkan malajustment, dan semakin banyak timbul kesulitan. 6) Kondidi fisik yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organic yang

lemah, gangguan pikiran, dan badaniah. Penanganan

d. Terapi terhadap penderita histeria Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan hysteria yaitu :

Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Joseph Breuer); Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud); Psikoterapi suportif. Farmakoterapi.

3. Neurosis fobik a. Tanda & gejala neurosis fobik Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik, berkeringat. Ada bermacammacam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut, misalnya :

Hematophobia : takut melihat darah Hydrophobia : takut pada air Pyrophibia : takut pada api Acrophobia : takut berada di tempat yang tinggi

b. Faktor penyebab neurosis fobik Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidaksadarannya). Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa.

Penanganan c. Terapi untuk penderita neurosis fobik Menurut Maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut

telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah:

Psikoterapi suportif, upaya untuk mengajar penderita memahami apa yang sebenarnya dia alami beserta psikodinamikanya.

Terapi perilaku dengan deconditioning, yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsangan yang tidak menyenangkan.

Terapi kelompok. Manipulasi lingkungan.

4. Neurosis obsesif-kompulsif a. Tanda & gejala neurosis obsesif-kompulsif Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan. Contoh obsesif-kompulsif antara lain ;

Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi.

Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu. Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian. Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.

b. Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D., 2000 : 116-117).

Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan. Trauma mental emosional, yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).

Penanganan c. Terapi untuk penderita neurosis obsesif-kompulsif

psikoterapi suportif; penjelasan dan pendidikan; terapi perilaku.

5. Neurosis depresif a. Tanda & gejala neurosis depresif Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan tandatanda : kurang atau tidak bersemangat, rasa harga diri rendah, dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah :

gejala jasmaniah : selalu lelah. gejala psikologis : sedih, putus asa, cepat lupa, insomnia, anoreksia, ingin mengakhiri hidupnya.

b.Faktor penyebab neurosis depresif Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D. Burns (1988 : 6), bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan, tetapi merupakan produk keterpelesetan mental, bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali, melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif, yang kemudian menciptakan suasana jiwa, terutama perasaan yang negatif pula. Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut, melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan bertentangan dengan realitas sebenarnya. Konsepsi tersebut kemudian oleh Burns dijelaskan dengan visualisasi sebagai berikut (1988 : 21). Penanganan c. Terapi untuk penderita neurosis depresif Untuk menyembuhkan depresi, Burns (1988 : 5) telah mengembangkan teknik terapi dengan prinsip yang disebut terapi kognitif, yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut. Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran yang bersangkutan.

Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam. Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional. Terapi kognitif dilakukan dengan cara membetulkan pikiran yang salah, yang telah menyebabkan terjadinya kekacauan emosional.

6. Neurasthenia a. Tanda & gejala neurasthenia Neurasthenia disebut juga penyakit payah. Tanda& gejala utama : Tidak bersemangat, cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit, emosi labil, dan kemampuan berpikir menurun, insomnia, kepala pusing, sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit.

b. Faktor penyebab neurasthenia Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Daradjat, 1983 : 34), yaitu sebagai berikut.

Terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan. Terhalanginya keinginan-keinginan. Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan

Penanganan

c. Terapi untuk penderita neurasthenia Upaya membantu penyembuahn penderita neurasthenia dapat dilakukan dengan teknik terapi sebagai berikut.

Psikoterapi supportif; Terapi olah raga; Farmakoterapi.

7. Psikotenis Tanda & Gejala penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia, takut berdiri di tempat yang tinggi, takut akan tempat yang sempit, takut mati. Selain phobia timbul obsesi (meningkatnya suatu ide yang sulit dilupakan) yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatau tanpa dapat dicegah). Seseorang yang mempunyai obsesi selalu mencuci tangannya karena selalu merasa penuh kuman. Dengan mencuci tangan dia merasa puas, sedang bila dia tidak mencuci tangan dia akan penuh kegelisahan. Salah satu jenis compulsion ialah cleptomani ( kecenderungan mencuri) Sebab-sebab psikotenis : 1. Depresi terhadap pengalaman-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam. 2. Disertai rasa malu atau berdosa, yang kemudian ditekan kuat-kuat dalam ketidaksadaran, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut, sehingga muncul gejala phobia, obsesi, dan kompulsif. 3. Ada konflik untuk berani melawan rasa takut yang mengerut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.

8. Neurastania Tanda & gejala penyakit ini yaitu ;kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan berkurang, sulit tidur (insomania). 1. Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/kesibukan. Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem disebabkan oleh kebanyakan kerja. 2. Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan, dan frustasi-frustasi. 3. Disebabkan oleh perasaan interior, akibat dari kegagalan-kegagalan di masa lampau dan disusuli dengan tingkah laku yang agresif. 4. Factor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akn tetapi tidak teramat penting artinya.

9. Hipokondria Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap kesehatan sendiri.individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Setiap kesakitan yang sekecil dirasakannya sebagai suatu bencana hebat dan merupakan tragedy hidup yang dianggap bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikis yang sudah lama dan amat parah. Kesehatan emosi berkaitan erat dengan kesehatan dan kondisi jiwa seseorang. Kesehatan emosi juga berkaitan dengan kondisi fisik seseorang apakah ia memiliki kondisi tubuh yang fit, bebas tekanan ( stres dan depresi ), mental yang kuat dan sebagainya. Keadaan tubuh atau fisik yang kuat saja tidak cukup untuk mencegah adanya gangguan emosi pada seseorang. Dalam hal ini asupan gizi turut mempengaruhi untuk tetap menjaga kebugaran sehingga tidak hanya kesehatan fisik yang didapat tetapi juga kesehatan jiwa. Sebaliknya kesehatan emosi juga dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Jika keadaan jiwanya tidak stabil, yang disebabkan stress atau depresi, maka fisiknya juga dapat menjadi lemah. Karena jiwa, perasaan, dan emosi seseorang sangat mempengaruhi keadaan fisik orang tersebut. Cara untuk mengatasi kelabilan dari kesehatan emosi ini dapat dilakukan dengan cara memakan makanan yang sehat yang disertai asupan gizi yang cukup bagi tubuh, melakukan olah raga

secara teratur, dan istirahat yang proporsional. Rekreasi atau liburan ke suatu tempat yang relatif menyenangkan dapat juga menjadi salah satu cara untuk mengembalikan kesehatan dan menekan stress. Freud berpendapat bahwa psikoneurosis pada dasarnya adalah psiogenik. Freud mengemukakan lima interpretasi yang berbeda mengenai penyebab tingkah laku neurotik: 1. psikoneurosis adalah akibat dari trauma-trauma yang pertama-tama bersifat seksual 2. psikoneurosis akibat komplek oedipus yang tidak terpecahkan 3. psikoneurosis sebagai akibat dari konflik antara dorongan id dan penyensoran moral dari superego 4. reaksi-reaksi emosional yang ditimbulkan oleh lingkungan yang sejak awal menolak individu sebagai faktor-faktor yang mempercepat psikoneurosis 5. penyebab psikoneurosis tidak hanya satu, melainkan banyak dan kemudian Freud memusatkan perhatiannya pada uraian mengenai reaksi-reaksi neurotik. 2.18 Penatalaksanaan psikoneurosa: Dalam psikoterapi, psikolog, konselor dan ahli terapis berusaha menyusun terapi psikologis yang beragam untuk pengobatan yang disesuaikan dengan kepribadian klien. Penerapan metode dapat secara personal maupun group (perkelompok). Psikiater berusaha mengkombinasi pengobatan medis dan psikoterapi secara bersamaan. Perlu untuk diketahui bahwa tidak ada pengobatan jenis gangguan kecemasan ini hanya menggunakan satu cara saja, dibutuhkan lebih kombinasi untuk menyembuhkan gangguan kompleks ini. Penatalaksanaan dan Sikap Bidan yang dilakukan 1. Melakukan pendekatan pada ibu, suami, dan keluarga untuk menggali permasalahan yang mungkin timbul dalam keluarga 2. Memberikan dukungan pada ibu agar siap dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi akibat proses kehamilan 3. Memberikan penyuluhan pada ibu dan keluarga tentang dampak buruk yang ditimbulkan akibat depresi baik pada ibu maupun pada janinnya, 4. Menganjurkan ibu untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan yang sehat selama kehamilan.

5. Melakukan rujukan pada psikiater apabila tingkat depresi sudah terlalu parah.

2.19 Penularan Sampai saat ini masih belum diketahui penularan dari Psikoneurosis. 2.20 Pencegahan
Tangani segera pada ibu hamil agar tidak berlarut-larut. Berpikirlah secara positif, menyenangkan dan tidak menganggap kehamilan adalah beban Karena akan mempengaruhi kondisi baik fisik maupun mental. Jangan pula mengkonsumsi obat-obatan antidepresi. Lebih baik berkonsultasi dengan dokter kandungan yang menangani. Jika perlu minta surat pengantar untuk menemui seorang terapis. Dengan demikian ibu hamil mendapatkan pendamping untuk menyalurkan kegelisahan, kecemasan dan ketakutan yang berkaitan dengan kehamilannya atau calon anak yang akan dilahirkannya.Usahakan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat selama kehamilan dan lakukan aktivitas seperti biasa ketika belum hamil. Dan dapat mencari dukungan dari siapa saja seperti pasangan, orangtua, keluarga dekat atau para sahabat. Tujuannya, supaya tidak merasa menanggung beban seorang diri dan agar merasa lebih bahagia.