Anda di halaman 1dari 15

DENYUT NADI, DENYUT JANTUNG DAN TEKANAN DARAH A.

TUJUAN - Mengetahui tempat pengukuran denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah. - Mengetahui karakteristik denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah. - Mengetahui cara mengukur denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah terhadap manusia. - Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi dalam kerja denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah. - Mengetahui alat yang digunakan dalam mengukur denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah. - Melakukan pengukuran terhadap denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah. B. Kajian Teori Darah adalah keandaraan atau medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri.(Sherwood, 1996) Transportasi ini penting untuk menjaga homeostatis. Sehingga diperlukanlah suatu sistem yang disebut sistem sirkulasi yang berperan dalam homeostatis yang berfungsi sebagai sistem sirkulasi tubuh. 1. Pembuluh dan Aliran Arteri Darah yang terdorong ke dalam aorta selama sistol tidak saja mendorong darah di dalam pembuluh ke depan tetapi juga menimbulkan gelombang tekanan yang menjalar di sepanjang arteri (Ganong,2008). Gelombang tekanan mengembangkan arteri saat gelombang tersebut menjalar, dan pengembangan ini teraba sebagai pulsasi (ganong, 2008). Terbukanya katup aorta dan arteri pulmonalis pada fase ejeksi sistolik mengakibatkan darah terdorong dari rongga ventricle jantung secara berdenyut (pulsatif) sesuai dengan denyut kontraksi jantung (Murtiati, 2005), semakin jauh dari

jantung, semakin kecil pulsasi alirannya, bahkan pada ujung distal arteriol dan kapiler alirannya berubah menjadi kontinyu. Kecepatan penjalaran gelombang, yang tidak bergantung pada dan jauh lebih besar daripada kecepatan aliran darah adalah sekitar 4 m/detik di aorta, 8 m/detik di arteri besar dan 16 m/detik di arteri kecil pada dewasa muda (Ganong, 2008). Akibatnya, pulsasi teraba di arteri radialis pada pergelangan tangan sekitar 0,1 detik setelah puncak ejeksi sistolik ke dalam aorta. Seiring dengan pertambahan usia, arteri menjadi kaku, dan gelombang pulsasi bergerak lebih cepat (Ganong, 2008) Kekuatan pulsasi ditentukan oleh tekanan pulsasi dan hanya sedikit dipengaruhi oleh tekanan rata-rata, pada syok, pulsasi melemah (Ganong, 2008). Pulsasi akan kuat bila isi sekuncup besar, misalnya selama olahraga atau setelah pemberian histamine (Ganong, 2008). Penjalaran gelombang nadi terjadi karena sifat windkessel function dari aorta dan pembuluh nadi yang memiliki lapisan elastin. Kecepatan gelombang nadi lebih tinggi dibandingkan kecepatan aliran darah. Kecepatan gelombang nadi tergantung pada distensibilitas pembuluh darah serat ratio ketebalan pembuluh dan radius. Semakin tebal dan kaku, atau semakin kecil radius, akan semakin tinggi kecepatan gelombang nadi (Murtiati, 2005). Dengan palpasi pada arteri sedang di perifer (arteri radialis atau brachialis) dapat dinilai gelombang nadi untuk menilai fungsi system kardiovaskular. Kualitas gelombang nadi yang dapat dinilai antara lain : (Murtiati, 2005) a. Frekuensi : frekuensi gelombang nadi (denyut nadi) dalam keadaan normal sama dengan frekuensi denyut jantung. Pada keadaan tertentu (penyakit) dapat terjadi pulsus deficit, yaitu adanya selisih antara frekuensi denyut jantung dan denyut nadi. b. Irama (rhythm) : irama denyut nadi dapat dinilai misalnya teratur atau tidak teratur. Irama tidak teratur terjadi pada keadaan normal misalnya keadaan respiratory rhytmia dan dalam keadaan abnormal dapat terjadi suatu sinus arrithmia karena extrasystole.

c. Amplitudo : kuat atau lemahnya denyut nadi tergantung pada besar isi sekucup, jumlah darah yang mengalir selama diastolic dan elastisitas dising pembuluh nadi besar. d. Ketajaman gelombang : pendek atau panjangnya gelombang biasanya berhubungan dengan kekuatan denyut nadi. Pada denyut nadi yang kuat biasanya diikuti perubahan tekanan yang tajam, sedangkan denyut nadi yang lemah diikuti dengan perubahan tekanan yang kecil dan lebar. 2. Denyut Jantung Bagian jantung yang berdenyut secara normal dengan urutan teratur ; kontaksi atrium (sistol atrium) diikuti oleh kontraksi ventrikel (sistol ventrikel), dan selama diastole keempat ruang jantung berada dalam keadaan relaksasi (Ganong, 2008). Denyut jantung berasal dari system penghantar jantung yang khusus dan menyebar melalui system ini ke semua bagian miokardium. Struktur yang membentuk system penghantar adalah nodus sinoatrium (SA), lintasan antar nodus diatrium, nodus arterioventrikular (AV), berkas His beserta cabangnya, dan system purkinje (Ganong, 2008). Potensial aksi di nodus SA dan AV sebagian besar ditimbulkan oleh Ca2+, dengan sedikit peran influx Na+. akibatnya, tidak terdapat spike depolarisasi yang tajam dan cepat sebelum plateau, seperti yang tampak pada bagian lain system konduksi serta serabut otot atrium dan ventrikel (Ganong, 2008). AMP siklik meningkatkan transport aktif Ca2+ ke dalam reticulum sarkoplasma, yang akan mempercepat relaksasi, dan dengan demikian mempersingkat waktu sistolik. Hal ini penting bila frekuensi denyut jantung meningkat, karena keadaan ini akan memberi kesempatan untuk proses pengisian diastolic yang cukup (Ganong, 2008). Pada jantung orang normal, setiap denyut berasal dari nodus SA (irama sinus normal). Jantung berdenyut sekitar 70 kali dalam satu menit pada keadaan istirahat. Frekuensi melambat (bradikardia) selama tidur, dan dipercepat (takikardia) oleh emosi, olahraga, demam, dan rangsangan lain (Ganong, 2008).

Pada orang muda sehat yang bernapas dengan frekuensi normal, frekuensi jantung bervariasi sesuai fase`pernapasan : meningkat selama inspirasi dan menurun selama ekspirasi, terutama bila kedalaman pernapasan meningkat (Ganong, 2008). Aritmia sinus adalah fenomena normal dan terutama disebabkan oleh fluktuasi persarafan parasimpatis di jantung (Ganong, 2008). Pada keadaan normal, terdengar dua bunyi jantung melalui sebuah stetoskop di setiap siklus jantung. Bunyi pertama berbunyi lub yang bernada rendah dan sedikit memanjang dan disebabkan oleh getaran yang ditimbulkan oleh penutupan mendadak katup mitral dan tricuspid pada permulaan sistol ventrikel. Bunyi kedua adalah dub yang lebih singkat dan bernada tinggi, yang disebabkan oleh getaran pada penutupan katup aorta dan pulmonal tepat setelah akhir sistol ventrikel (Ganong, 2008). Jumlah darah yang dipompa keluar dari tiap-tiap ventrikel per-denyut, yaitu isi sekuncup adalah sekitar 70 ml pada keadaan istirahat pada pria dengan ukuran tubuh rata-rata dalam posisi telentang (Ganong, 2008). Darah yang keluar dari jantung per satuan waktu adalah curah jantung. Curah jantung dapat bervariasi akibat perubahan pada kecepatan denyut jantung. Frekuensi denyut jantung terutama diatur oleh persarafan jantung, yaitu stimulasi simpatis meningkatkan frekuensi dan stimulasi parasimpatis menurunkannya (Ganong, 2008) Table 1. Efek Berbagai keadaan pada curah jantung (Ganong, 2008) Keadaan atau factor Tidak ada perubahan Meningkat Tidur Rasa cemas atau gembira (50 100%) Makan (30%) Olahraga (sampai 700%) Suhu lingkungan tinggi Kehamilan Epinefrin

Menurun

Duduk atau berdiri dari posisi berbaring (20-30%)

3. Tekanan Darah

Aritmia cepat Penyakit jantung

Tekanan di aorta dan di arteri brakhialis serta arteri besar lain pada orang dewasa muda meningkat ke nilai puncak (tekanan sistolik) sekitar 120 mmHg selama tiap siklus jantung dan turun ke nilai minimal (tekanan diastolik) sekitar 70 mmHg (Ganong, 2008). Tekanan arteri secara konvensional ditulis sebagai tekanan sistolik di atas tekanan diastolic, misalnya 120/70 mmHg. Satu mmHg setara dengan 0,133 kPa sehingga dalam satuan SI nilai ini adalah 16,0/9,3 kPa (Ganong, 2008). Tekanan nadi, yakni perbedaan antara tekanan sistolik dan tekanan diastolic, normalnya sekitar 50 mmHg (Ganong, 2008). Tekanan rata-rata adalah tekanan ratarata di sepanjang siklus jantung. Tekanan rata-rata di ujung arteriol adalah 30-38 mmHg. Tekanan nadi juga menurun secara cepat menjadi sekitar 5 mmHg di ujung arteriol, besarnya penurunan tekanan di sepanjang arteriol bervariasi secara bermakna bergantung pada apakah pembuluh tersebut berkontriksi atau berdilatasi (Ganong, 2008). Tekanan darah di arteri brakhialis pada orang muda dewasa yang beristirahat pada posisi duduk atau berbaring sekitar 120/70 mmHg (Ganong, 2008). Karena tekanan darah merupakan produk curah jantung dan tahanan perifer, tekanan darah dipengaruhi oleh kondisi yang mempengaruhi salah satu atau kedua factor tersebut (Ganong, 2008). Emosi meningkatkan curah jantung, dan sekitar 20% pasien hipertensi memiliki tekanan darah yang lebih tinggi di kamar praktek dokter daripada di rumah saat melakukan aktivitas harian. Tekanan darah normalnya turun sebanyak 20 mmHg atau kurang saat tidur (Ganong, 2008).

Tekanan darah meningkat seiring dengan pertambahan usia, namun besar peningkatan ini tidak jelas. Tekanan darah sistolik dan diastolic lebih rendah pada wanita muda daripada pria muda sampai usia 55-65 tahun, namun setelah usia tersebut tekanan darah wanita menjadi setara dengan tekanan darah pria (Ganong, 2008). C. Alat dan Bahan - Jam - Spigmomanometer - Stetoskop D. Cara Kerja 1. Denyut Nadi Praktikum mengenai denyut nadi dilakukan pada hari selasa, 09 Oktober 2012 di Laboratorium Fisiologi, UNJ Cara kerja :
Meminta OP berbaring/duduk dengan tenang Pegang pergelangan tangan OP, tentukan letak arteri radialis dengan tepat Gunakan 2 atau 3 jari tangan selain jempol dan kelingking untuk meraba arteri

Ulangi latihan sampai memperoleh hasil yang sama. Catat hasil pengukuran

Perhatikan karakteristik denyut nadi seperti kecepatan denyut per menit, keteraturan irama denyut & kekuatan denyut

Tekan dengan lembut hingga jari kits dapat merasakan denyut nadi tersebut

Minta OP berolahraga selama 10 menit dan lakukan pengukuran denyut nadi

2. Denyut Jantung Praktikum mengenai denyut jantung dilakukan pada hari selasa, 09 Oktober 2012 di Laboratorium Fisiologi, UNJ.

Cara Kerja :
Meminta OP untuk berbaring/ duduk dengan tenang. Meminta OP melepaskan pakaian sehingga dada bagian kiri dapat terlihat, kemudian berikan sinar pada dada bagian kiri di daerah interkostal kelima sebelah dalam garis midklavikula agar denyut jantung terlihat lebih jelas.

Menentukan letak apeks jantung dengan palpasi. Meletakkan stetoskop pada apeks dan auskultasi bunyi jantung S1 dan S2 . bila irama S1 dan S2 terdengar teratur, hitung kecepatannya selama 30 detik. Ulangi latihan ini sampai memperoleh hasil yang sama

Meminta OP untuk melakukan olahraga selama 10 menit. Melakukan pengukuran denyut jantung dengan cara yang sama seperti diatas dan mencatat hasil pengukuran.

3. Tekanan Darah Praktikum mengenai tekanan darah dilakukan pada hari Selasa, 09 Oktober 2012, di Laboratorium Fisiologi, UNJ Cara kerja :
Meminta OP untuk berbaring dengan tenang dlam keadaan istirahat Meletakkan manset dibagian lengan OP dan menyiapkan stetoskop Menentukan letak arteri brakhialis pada fossa cubiti dan meletakkan stetoskop diatasnya. Memperhatikan bunyi yang terdengar melalui stetoskop. Tentukan tekanan bunyi pertama yang terdengar dan terakhir sesuai dengan face korotkoff. Meraba arteri radialis sambil memompa manset sampai arteri radialis tidak teraba lagi. Pompa kembali sampai sebesar 30 mmHg

Mengulangi latihan hingga memperoleh hasil yang serupa

Mencatat hasil pengukuran

Sambil memegang stetoskop, melepaskan pompa dengan kecepatan 23 mmHg per detik.

Meminta OP melakukan aktivitas selama 10 menit

Melakukan pengukuran tekanan darah dengan menggunakan cara yang sama seperti diatas.

D. Data Praktikum Anfisman Tabel 1. Denyut Nadi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Op Zir Lailatul Rifka Priska Rina Aulia Mutia Andi Fatan Usia 19 20 20 20 19 20 20 19 20 Istirahat Kec. 85 72 74 102 72 72 80 70 60 Irama Aktivitas Kekuatan Kec. 109 101 110 110 75 97 91 86 104 Irama Kuat

Reguler Lemah Reguler Lemah Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat reguler reguler kuat kuat

Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Regular Kuat Regular Kuat

Tabel 2. Denyut Jantung No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 sNama Op Riko Lailatul Ellys Fadilla Yuli Evy Budiarto Andi Fatan Usia 20 20 20 19 20 21 20 19 20 Istirahat Kec. 83 100 82 76 43 90 78 68 40 Irama Aktivitas Kekuatan Kec. 97 105 120 119 92 115 112 93 101 Irama Kuat

Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat reguler kuat

Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Reguler Kuat Regular kuat Reguler Kuat Reguler Kuat reguler Kuat

Reguler Kuat Reguler Kuat Regular kuat reguler kuat

ireguler kuat

Tabel 3. Tekanan Darah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama OP Luluk Jani Humamah Fadilla Dina Aulia Nindy Andi Fatan Istirahat 100/90 90/70 90/70 100/70 110/75 110/80 90/75 128/80 130/80 Aktivitas 110/78 96/68 90/80 110/78 110/80 110/70 100/60 105/72 180/73

E. Pembahasan Pada praktikum pada hari Selasa, 09 Oktober 2012 lalu dilakukan 3 percobaan sekaligus yaitu mengenai denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah. Ketida percobaan tersebut dilakukan kepada 9 OP sebagai sample dari kelas PBB 2010. Berikut ini adalah analisa bedasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan : I. Denyut Nadi

Pengukuran denyut nadi dilakukan di lKUKn di radialis (pergelangan tangan) dengan menggunakan 2 jari atau 3 jari, yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis untuk menemukan denyut nadi. Tetapi tidak menggunakan ibu jari karena ibu jari memiliki denyut sendiri. Pengukuran dilakukan selama satu menit. Pada keadaan normal dan istirahat, jantung orang dewasa akan berdenyut secara teratur antara 60100 detak/menit. Kecepatan dari denyut jantung ditentukan oleh kecepatan dari signal listrik yang berasal dari pemacu jantung, SA node. Signal listrik dari SA node mengalir melalui kedua serambi, menyebabkan kedua serambi berkontraksi mengalirkan darah ke kedua bilik. Kemudian signal listrik ini mengalir melalui AV node mencapai kedua bilik. Ini menyebabkan kedua bilik berkontraksi memompa darah keseluruh tubuh dan menghasilkan denyutan (pulse). Pengaliran listrik yang teratur ini dari SA node ke AV node menyebabkan kontraksi teratur dari otot jantung yang dikenal dengan sebutan denyut sinus (sinus beat) (Sheerwood, 1995) Berdasarkan hasil pengukuran denyut jantung dari masing-masing OP (istirahat) diperoleh data antara lain: zir (85), lailatul (72), rifka(74), priska ( 102), rina (72), aulia(72), mutia (80), Andi (70) dan Fathan (60). Data tersebut sudah sesuai dengan teori, bahwa denyut nadi normal orang dewasa saat istirahat adalah 60-100 detak/menit, tetapi untuk OP Priska memiliki data yang berbeda dari yang lainnya. Dia memiliki denyut nadi yang lebih tinggi, yaitu 102 detak/menit. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan karena kurang cermat dalam melakukan perhitungan denyut nadi, atau OP selumnya sudah melakukan kegiatan terlebih dahulu, sehingga denyut nadi yang didapat adalah melebihi batas normal. Tachycardi adalah keceptan denyut nadi yang lebih besar dari 100 kali/menit. Tetapi, untuk OP Priska memiliki

selisih yang sangat kecil dari denyut nadi orang normal. Jadi, menurut kelompok kami itu hanya kesalahan dalam membaca denyut jantung saja. Aktivitas tubuh juga dapat berpengaruh besar terhadap denyut nadi . Pengaruh aktivitas tubuh terhadap denyut nadi dapat ditunjukkan m e l a l u i h a s i l p r a k t i k u m ya n g t e l a h k a m i l a k u k a n y a i t u p a d a s a a t p r a l a t i h a n didapatkan denyut nadi 76,3 detak/ menit. Pada saat setelah aktivitas naik menjadi 98,11 detak/menit. Perbedaan yang terjadi disebabkan karena OP melakukan aktivitas kerja, sehingga merangsang jantung untuk berkontraksi lebih cepat dan akhirnya menimbulkan denyut nadi yang cepat.Arteri merpakan pembuluh darah yang kuat yang membawa darah beroksigen dari jantung menuju ke jaringanjaringan tubuh. Bahan elastis dari dinding arteri memungkinkan arteri untuk berdilatasi selam sistol dan berkonstriksi selama diastole. Hasilnya adalah denyut arteri yang dapat diraba. Denyut arteri tidak hanya merefleksikan Vaskularitas arteri tetapi juga memberikan indeks fungsi jantung . Saat tanda-tanda vital yang diperiksa, denyut nadi terutama di evaluasi untuk menentukan kecepatan dan irama jantung. Akan tetapi, denyut nadi juga diperiksa untuk menentukan kepatenan pembuluh darah, keadaan dinding arteri. II. Denyut Jantung Berdasarkan dari data yang telah kami dapatkan, terdapat fase istirahat dan fase aktivitas. Karena denyut jantung yang optimal untuk setiap individu berbeda-beda tergantung pada kapan waktu mengukur detak jantung tersebut (saat istirahat atau setelah berolahraga). Dari kesembilan OP tersebut, memiliki rentang usia 19 20 tahun. Rentang umur pada 19-20 tahun sudah dianggap sebagai individu yang dewasa. Maka menurut teori yang ada pada orang dewasa yang sehat, seharusnya saat sedang istirahat denyut jantung individu normal adalah sekitar 60-100 denyut per menit (bpm). Dari data diatas, menunjukan bahwa ketujuh OP tersebut mempunyai rentang 70 100, dan dinyatakan denyut jantung mereka itu termaksud kedalam denyut jantung yang normal. Tetapi jika terdapat denyut jantung yang terlalu tinggi atau rendah dapat menunjukkan adanya masalah yang mendasar {di atas 100 bpm (tachycardia) atau di bawah 60 bpm (Bradycardia)}, Sehingga Yuli (43bpm) dan

Fathan (60bpm)

dapat dikatakan memiliki maslah Bradycardia. Kesembilan OP

setelah melakukan aktifitas denyut jantungnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak beraktivitas namun jika didapatkan denyut jantung yang lebih rendah saat sedang istirahat, menunjukkan fungsi jantung yang lebih efisien dan lebih baik kebugaran kardiovaskularnya. Lalu cara untuk mengetahui bagaimana mengetahui kapasitas normal denyut jantung pada saat latihan seperti olahraga adalah dengan mengetahuinya lewat Denyut jantung maksimal, adalah maksimal denyut jantung yang dapat dilakukan pada saat melakukan aktivitas maksimal. untuk menentukan denyut jantung latihan digunakan rumus 220-umur. Lalu dikalikan dengan 70% 85% dari denyut jantung maksimal. III. Tekanan darah Pada percobaan ini, kesembilan praktikan baik dalam keadaan istirahat berada pada tingkatan normal, yaitu dengan tekanan sistolik berkisar antara 90-130 mmHg dan tekanan diastoliknya berkisar anatara 60-90 mmHg. Namun saat beraktifitas ada satu yang menarik yaitu pada Fathan yang memiliki tekanan sistole sebesar

180mmHg. Sehingga ia dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat istirahat tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Dikatakan hipertensi jika didapatkan ukuran yang tinggi (misalnya 160/90 mmHg) sebanyak dua kali dalam tiga kali pengukuran, selama paling sedikit dua bulan.Selain tekanan darah, praktikan juga mendapatkan hasil pengukuran untuk tekanan nadi. Tekanan nadi adalah perbedaan antara tekanan sistolik dengan tekanan diastolik. Untuk mencari ukuran tekanan nadi saat istirahat dan aktivitas yaitu dengan cara mengurangi tekanan sistolik istirahat dengan diastolic istirahat; dan sistolik aktivitas dengan diastolik aktivitas
Tekanan nadi = Tekanan sistolik Tekanan diastolik

Dari hasil tersebut terlihat bahwa rata-rata OP mengalami peningkatan tekanan darah setelah aktivitas yaitu lulu, Jani , Fadilla, Fathan dan Nindy. Hal ini disebabkan kerja jantung yang menjadi lebih cepat dan meningkat setelah melakukan aktivitas yang kemudian menyebabkan tekanan maksimum pada aorta meningkat. Tekanan darah manusia senantiasa berayun-ayun antara tinggi dan rendah sesuai dengan detak

jantung. Beberapa hal yang mempengaruhi dalam pemeriksaan tekanan darah, yaitu posisi dan kondisi. Pengukuran tekanan darah dalam keadaan duduk, akan memberikan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi berbaring, meskipun selisihnya relatif kecil. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh kondisi pada saat pengukuran, pada orang yang baru bangun tidur akan didapatkan tekanan darah paling rendah, yang dinamakan tekanan darah basal. Tekanan darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktivitas fisik lain akan memberi angka yang lebih tinggi dan disebut tekanan darah kasual Pada saat frekuensi denyut jantung cepat , tekanan arteri turun secara tajam selama fase ejeksi sistolik ventrikel karena katup atrioventrikulat tertarik kebawah meningkatkan kapasitas atrium. Kerja ini menyedot darah ke atrium dari vena besar. Sedotan darah ke atrium selama sistolik turut membantu secara nyata pada arus balik vena (Ganong, 2002). Sedangkan pada Cumam dan Dina terjadi peningkatan tekanan diastol tapi tidak mengalami peningkatan tekanan sistol, yang paling berbeda adalah praktikan Aulia yang tidak mengalami peningkatan baik tekanan sistol maupun diastole yaitu tetap 110/80 mmHg sebelum dan setelah melakukan aktivitas. Begitu juga dengan Andi yang mengalami penurunan tekanan darah sebelum dan sesudah beraktivitas. Hal ini tidak sesuai dengan literature yang menyebutkan bahwa adanya peningkatan aktivitas akan meningkatkan tekanan darah seesorang. Adanya penyimpangan hasil pengukuran dapat disebabkan oleh kesalahan teknis dalam pengukuran, yang disebabkan praktikan yang belum terbiasa melakukan pengukuran. Praktikan masih mengira-ngira atau menebak dalam mengikuti fase-fase korotkof sehingga data yang didapatkan kurang akurat. Atau dapat juga disebabkan aktivtas yang dilakukan oleh OP adalah aktivitas ringan yang tidak banyak membutuhkan tenaga sehingga tidak terlihat adanya perbedaan. Faktor jenis kelamin juga mempengaruhi tekanan darah seseorang, OP yang berjenis kelamin laki-laki seharusnya memiliki tekanan darah yang lebih besar dibandingkan OP yang berjenis kelamin perempuan. Pada percobaan kali ini terlihat Andi dan Fathan memiliki tekanan sistole dan diastole yang lebih besar dibanding OP perempuan.

F. Kesimpulan Tempat pengukuran denyut nadi berada di radialis, temporalis, karotid,

brachialis dll. Tempat pengukuran denyut jantung di intercostae ke-5 mid clavicula sinistra. Tempat pengukuran tekanan darah di lengan atas, lengan bawah, kaki dan paha. Detak jantung seseorang tergantung pada berbagai faktor, seperti udara

dingin, ketinggian, aktifitas, tingkat kebugaran, status hidrasi, posisi tubuh seperti duduk, berdiri atau berbaring, ataupun obat-obatan dapat mempengaruhi seberapa cepat jantung berdetak tiap menitnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut nadi, denyut jantung, dan

tekanan darah yaitu aktivitas, usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat kesehatan dan pola hidup. Faktor yang mempengaruhi tekanan darah antara lain aktivitas, jenis

kelamin, riwayat kesahatan dll. Rata-rata denyut nadi dari kesembilan OP sample kelas PBB 2010

adalah denyut nadi istirahat 76,3 detak/ menit sedangkan pada saat setelah aktivitas naik menjadi 98,11 detak/menit. Dari data diatas, menunjukan bahwa kesembilan OP tersebut mempunyai rentang 70 100, dan dinyatakan denyut jantung mereka itu termaksud kedalam denyut jantung yang normal. Irama detak jantung yang normal pada setiap orang adalah regular, dan

pada hasil praktikum kali ini semua OP memiliki irama denyut jantung yang normal pada saat fase istirahat maupun pada saat aktivitas yaitu Reguler. Berdasarkan hasil yang telah didapat, semua OP tersebut tidak ada

yang memiliki rentang denyut jantung aktivitas 140-170 bpm. Rentang OP pada saat aktivitas hanya 110, hal tersebut dikarenakan mereka tidak memaksimalkan aktivitas ssberupa olahraga yang sesungguhnya. Tekanan darah rata-rata saat istirahat adalah 105/76 mmHg, sedangkan

setelah melakukan aktivitas adalah 134/ 74 mmHg.

G. Daftar Pustaka Gunawan, Lany. 2007. Hipertensi, Penyakit Tekanan Darah Tinggi. Kanisius : Jakarta. Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta Guyton. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. EGC : Jakarta Murtiati, Tri. 2005. Anatomi dan Fisiologi Manusia. UNJ. Jakarta. Prof.D.G. Beevers. 2002. Seri Kesehatan Bimbungan Dokter pada Tekanan Darah. Dian Rakyat. Sherwood, Lauralee. 1996. Fisiologi Manusia dari sel ke sistem.EGC : Jakarta - . - http://www.iftfishing.com/lady-anglers/health/posisi-tubuh-pengaruhidetak-jantung diunduh pada 14 september 2012 pukul 19.20 WIB.

Anda mungkin juga menyukai