Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TERSTRUKTUR MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI TANAH

DESKRIPSI TANAH OXISOL

Oleh: Helena Rini Yuniar Adhani Ika Utami Yoga Aditya (A1L00 )

(A1L010236) (A1L010257) (A1L0102 )

Heni Fitriyaningsih (A1L010246)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

TANAH OXISOL

Tanah oxiso menduduki urutan kelima di bumi, tanah golongan ini berasal dari bahasa Prancis, oxisol yang berarti Oksida. Semua tanah yang memiliki horison oksida tergolong oxisol. Oxisol menurut sistem klasifikasi tanah 1949 meliputi tanah lateritik, lastosol, dan laterit air tanah. Golongan tanah oxisol tersebar di daerah tropika dan paling luas di Afrika dan di Amerika Selatan. Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning. Tanah oxisol termasuk kelompok tanah merah, bahan induknya bersifat masam hingga ultra basa. Ketersediaan unsur P dan K di tanah Oxisol sangat rendah, sebagai akibat dari pelapukan lanjut, dan terikat menjadi bentuk yang tidak tersedia untuk tanaman, yaitu Fe-P, Al-P, FeAl-P. Pembentukan Tanah Tanah oxsisol atau tanah latosol merah atau dapat juga dikenal dengan tanah Ferrasols. Tanah ini termask tanah tua yang telah mengalamu proses pelapukan lebih lanjut yaitu dicirikan dengan adanya horison oksik yang tebal. Pelapukan intensif dalam waktu yang sangat panjang mengakibatkan pelindian basa dan silica, pelonggokan nisbi sesquioksida (oksida besi dan aluminium) dan pembentukan lempung kaolinit (lempung berkisi 1:1) Proses pembentukan tanah yang utama pada oxisols adalah proses desilikasi dan konsentrasi besi bebas dan kadang-kadang gibsit yang kemudian mempengaruhi jenis mineral dominan pada tanah mineral mudah lapuk termasuk

adalah terjadinya dekomposisi hampir seluruh mineral mudah lapuk termasuk mineral liat 2:1, kecuali mineral liat peralihan 2:1 2:2. Sub order dari tanah oxisol adalah sebagai berikut: 1. Aquox, Aqua + ox isol, berasal dari bahasa latin Aqua, air. Khas en hubungannya dengan perairan. 2. Humox, Hum us + ox isol, dari kata Yunani, Humus bun yang artinya Oxisol yang mengandung bahan organik. 3. Orthox, Ortho os + ox isol, Orth dari bahasa Yunani; ortho benar. Artinya oxisol biasa. 4. Ustox, Ustus + ox isol, Ust dari bahasa Latin Ustus, terbakar. Oxisol yang terdapat pada region iklim kering. 5. Torrox, Torr idus + ox isol. Torr berasal dari bahasa Latin torrid us, yang artinya panas, kering. Ciri-ciri tanah oxisol sebagai berikut: 1. Warna tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. 2. Tanah Latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersingkap atau berada di udara di sebut tanah laterit. 3. Kejenuhan basa kurang dari 50%, umumnya mempunyai epipedon kambik dan horison kambik. 4. Tanah oxsisol mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horison baur, sehingga kandungan mineral primer dan unsur hara rendah. 5. Konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat. 6. Tanah dengan kadar liat lebih dari 60%, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm).

Gambar tanah Oxisol

Daerah Penyebaran Tanah Oxisol Daerah penyebaran tanah oxisol adalah daerah tropis dengan curah hujan tinggi (2000 - 7000 mm/tahun), terbentuk di daerah tuf, abu dan fan vulkanik yang telah mengalami pelapukan lanjut, dengan bentuk wilayah berombak, bergelombang, berbukit hingga bergunung serta pada ketinggian 10 1000 m dpl. Terdapatnya penyebaran tanah oxsisol ini pada ketinggian 10 -1000 m dpl, berarti tanah oxisol dapat ditemui di dataran rendah ( 0 600 m dpl) maupun di dataran tinggi (>600 m dpl), sehingga sangat besar kemungkinan sifat-sifat fisik tanah pada kedua macam daerah akan berbeda pula. Sebab perbedaan sifat fisik tanah sangat dipengaruhi oleh perbedaan faktor-faktor pembentuk tanah seperti iklim, bahan induk, topografi, organisme dalam tanah dan waktu. Potensi Tanah Oxisol Jika dilihat dari kesuburan alami, tanah Oxisol yang telah mengalami pelapukan lanjut di daerah kering, biasanya tidak digunakan dalam pengelolaan tanah untuk pertanian jika tanah-tanah dari ordo lain masih tersedia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Meskipun secara kesuburan alaminya rendah,

Oxisol merupakan cadangan tanah yang banyak jumlahnya dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Pemanfaatan Oxisol diantaranya untuk perladangan pertanian sub sistem, penggembalaan dengan intensitas rendah dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang, kopi serta beberapa Oxisol pada daerah basah. Upaya pemanfaatan tanah oxisol secara optimal, khususnya untuk pengembangan tanaman kelapa sawit memerlukan pemahaman yang tepat dan menyeluruh mengenai karakteristik tanah tersebut, serta perlu adanya upaya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Upaya tersebut diantaranya adalah penanaman tanaman kacangan penutup tanah, pemupukan, dan aplikasi bahan organik. Permasalahan Tanah jenis oxisols merupakan salah satu jenis tanah yang penting dalam bidang pertanian, tetapi keadaan kimiawinya sangat miskin, bukan saja karena kapasitas pertukaran kation yang rendah melainkan juga karena kahat basa Ca, Mg, K, kuat menyemat P dan persentase Al tertukarkan tinggi. Oleh karena itu, tanah ini memerlukan pemupukan dan sering pula membutuhkan gamping dan beberapa unsir lain seperti Zn dan S. Perbaikan Dalam pengelolaan tanah Oxisol adalah halus memperhatikan sejauh mana faktor-faktor tersebut mempengaruhi tanah tersebut. Untuk tanah Oxisol di lokasi proses pedogenesisnya adanya proses desilikasi sebagai akibat kondisi iklim Tuntang ini, seperti yang telah dipaparkan di atas terlihat bahwa dengan kemiringan 2 % dan tingkatan erosi ringan, namun proses desilikasi yang berpengaruh besar yng berakibat pencucian mineral-mineral khususnya silika dan pembentukan plinthite sehingga unsur hara alami yang ada secara berangsurangsur ikut tercuci. Untuk itu dalam pengelolaannya untuk perkebunan atau tegalan yaitu :

1. Agar erosi tetap dalam kategori ringan adalah permukaan tanah tertutup oleh penutup tanah, seperti apa yang ada di lokasi Tuntang vegetasi yang sudah ada seperti jati, mahoni, kelapa, dan durian sudah cukup baik untuk menjaga kondisi permukaan tanah. 2. Sedangkan untuk perkebunan dan tegalan, dikarenakan kandungan unsur hara alami pada umumnya tanah Oxisol adalah rendah maka perlu diperhatikan pemasukan unsur hara dari luar. Hal itu sangat penting untuk peningkatan unsur hara yang ada di dalam tanah. Secara umum pengelolaan tanah di Tuntang sudah cukup baik hanya perlu peningkatan vegetasi yang ada semisal jika untuk perkebunan yang intensif adalah dengan tanaman tebu, nenas, pisang dan kopi. Dan juga penanaman tanaman keras seperti jati dan mahoni bisa dikatakan tepat sebab tanaman seperti itu mempunyai sistem perakaran yang baik dalam serta mempunyai siklus BO yang baik.

Sumber: http://glekhoba.blogspot.com/2011/03/tanah-oxisol.html. Maret 2013. Diakses tanggal 27

http://www.scribd.com/doc/13977716/Alfisol-Dan-Oxisol. Diakses tanggal 27 Maret 2013. Maidhal, 1993. Skripsi Perbandingan sifat fisik tanah lapisan atas oxisol di dataran tinggi dan dataran rendah. Universitas Andalas Fakultas Pertanian. Padang. Syafii, Suryatama. 1990. Ilmu Tanah. Angkasa Bandung. Bandung. http://semangatgeos.blogspot.com/2011/11/tanah-oksisol.html. Diakses tanggal 27 Maret 2013.