Anda di halaman 1dari 2

Temuan Laboratorium 1.

fisiologi sejumlah temuan psikofisiologi, karakteristik reaktivitas otonom, membatu membedakan individu-individu dengan PTSD saat ini dengan individu yang dahulu didiagnosis PTSD ataupun yang tidak ada riwayat PTSD. Peningkatan reaktifitas denyut jantung terhadap suatu rengasanga yang berhubungan dengan trauma (missal., gambar, cerita) dapat ditemuka pada individu-individu dengan PTSD. Tampilan reaktifitas jantung tampaknya cukup spesifik menandakan PTSD, karena pada suatu studi yang melibatkan veteran dengan gangguan anxietas selain PTSD tidak ditemukan peningkatan denyut jantung. Selain itu, reaktifitas dari jantung pada PTSD tidak menunjukkan suatu respon otonom yang umum dari berbagai stressor, melainkan lebih berhubungan dengan isyarat yang spesifik terhadap trauma (Orr, Metzger, dan Pittman, 2002). PTSD juga diidentifikasikan dengan respon terkejut yang berlebihan, yang diukur dengan EMG eyeblink (kedipan mata), peningkatan besanya skin conductance (SC) misalnya galvanic skin response dan melambatnya habituasi dari SC, dan peningkatan kemampuan untuk melawan rangsangan (laboratory shock). 2. kognitif ketimpangan memproses informasi pada PTSD telah diteliti dengan menggunakan paradigm kognitif yang bervariasi. Walaupun sejumlah kecenderungan dari ketimpangan proses pengolahan informasi telah muncul, kesimpulan pada PTSD sulit dipahami. Misalnya, individuindividu dengan PTSD menunjukkan adanya ketimpangan dari perhatian pada suatu ancaman yang berupa kata saat mengerjakan Stroop task . yaitu dibandingkan dengan sampel control, individual menunjukkan melambannya proses menyebutkan trauma ataupun kata-kata emosi. Walaupun temuaan ini cukup kuat, belum jelas bagaimana menginterpretasikan hasil temuan ini. Masih belum jelas apakah melambatnya penamaan dari kata kata trauma disebabkan oleh lebih cepatnya proses encoding dari individu dengan PTSD. Kemungkinan, individu dengan PTSD mungkin berusaha untuk mengambat (menghindari) pemerosesan emosi terhadap suatu rangsangan. Adanya dukungan dari judgemnt yang bias menunjukkan individu dengan PTSD menginterpretasikan kata atau kalimat ambigu sebagai sebuah ancaman (missal homograf). Memory yang bias pada PTSD tidak terlalu konsisten. Lebih lagi, ada sejumlah bukti efek mood congruent memory pada PTSD, yakni, individu dengan PTSD menunjukkan memori dari informasi yang berhubungan dengan traumanya. Disamping itu, masih belum jelas apakah bias memori yang explisit merupakan hasil panggilan dari memori dari informasi yang menonjol pada seseorang. Atau keuntungan dikarenakan mood congruent antara keadaan afektif internal dan valensi emosi terhadap hal yang diingat. Dukungan pada bias memori yang impisit, ambang persepsi kewaspadaan juga terbatas. Bias pada hal melupakan, terutama supresi dari pikiran dan penghindaran kognitif, telah di ekspolasi untuk mejelaskan ketidakkonsistensian meori pada PTSD. Sudah dihipotesiskan bahwa individu dengan PTSD akan berusaha untuk mencoba menekan dan menghindari memory terkait trauma. Faktanya, beberapa studi mengindikasikan adanya bias dari informasi yang memicu anxietas membuat kita menduga danya implicit atau strategi untuk menhindari pikiran dan memori yang agresif. Walaupun demikian, individu dengan PTSD mempunyai strategi ataupun penekanan pikiran saat adanya usaha pemanggilan kembali ingatan hal yang berhubungan dengan trauma. 3. neuropsikologi individu dengan PTSD akan menunjukan sebuah rantang ketidaknormalan kognitif, terutama pada hal perhatian, konsentrasi, pembelajaran, dan pengingata, (pasterling dan Brewing, 2005). Kemudian, PTSD dihubungan dengan IQ yang lebih rendah. Individu dengan PTSD

memiliki kekurangan dalam memeri bekerja ataupun kekuatan perhatian, bamun tidak terjadi pada tugas eksekutif.penelitian juga menunjukkan adanya penurunan dari pemeblajaran terhadap informasi baru pada orang-orang PTSD. Deficit terjadi pada pemanggilan kemabli informasi yang baru dipelajari tapi tidak dalam hal recognition, menandakan ganngguan tidak pada proses encoding melainkan pada konsolidasi informasi yang baru untuk pengingatan jangka panjang. Ranah neuropsikoligi yang masih intak misalnya fungsi visuospaial, bahasa, dan psikomotor. 4. psikobiologi sejumlah gangguan neurobilogi dan abnormalitas telah dikaitkan dengan PTSD. Gangguan yang utama diteliti melibatkan HPA Axis dan sitem saraf simpatis. Gangguan HPA Axis pada PTSD meliputi (i) peningkatan jumlah CSF, (ii) gangguan ekresi cortiso pada urin 24 jam, kadar kortisol plasma 24 jam, julah reseptor glukokotikoid limfosit, respon kortisol pada dexametason, respon ACTH dengan CSF, respon b-endorpine dan ACTH terhadap metryaone, dan (iii) abnoramlitas adrenal androgen. Gagguan pada system saraf simpatis meliputi peningkatan denyut jantung, tekanan darah, norepinefrin, dan efinefrin sebagai respon terhadap ingatan tentang trauma tekah didapat pada pemeriksaan, peningkatan jumlah norepinefrin plasma 24 jam, peningkatan jumlah ekskresi norepinefrin dan epinefrin pada urin 24 jam, penurunan reseptor platelet adrenergic, peningkatan respon secara subjektif, tingkah laku, psikologis, dan biokimia (peningkatan methoxyhydroxyphenylglycol plasma) terhadap yohimbine intravena (antagonis a2 adrenoreseptor); respon yang menumpul terhadap clonidin, gangguan aliran darah yang diinduksi oleh yohimbine. Gangguan pada system saraf simpati dapat menunjukkan gejala reexperiencing dan hyoerarousal. Neurokognitif dan pemeriksaan pencitraan otak yang membandingakan individu dengan PTSD dan individu tanpa gangguan psikiatrik telah laporkan bahwa orang dengan PTSD menunjukkan bias pada perhatian pada informasi yang negative dan yang berpotensi membahayakan, penurunan volume dan fungsi hipokampus, peningkatan respon amigdala pada stressor, stress yang diinduksi penurunan metabolisme PFC. C. Neuroimaging Positron Emission Tomography (PET) pada insividu dengan PTSDtelah menunjukkan peningkatan aktivitas kompleks amigdala hemisfer kanan. Penelitian lain menunjukkan penurunan volume hipokampus, hipotesis pada gangguan efek glukokortikoid pada sel pyramidal region CA1 dan CA2. Lebih dari itu, fungsional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) menunjukkan korelasi positif antara keparahan gejala ddan penurunan aktivitas hipokampus selama tes learning and memory.