P. 1
Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan

|Views: 320|Likes:
Dipublikasikan oleh Yenni Andriana

More info:

Published by: Yenni Andriana on Apr 04, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2015

pdf

text

original

Sections

  • PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
  • PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH
  • PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL
  • PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI)
  • PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN
  • PENGELOLAAN PENYAKIT MATA
  • NO DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3
  • 8 TUMOR
  • PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI)
  • PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT
  • No TINDAKAN PPK 1 PPK 2 PPK 3

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN PENYAKIT BERDASARKAN KEWENANGAN TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

I. PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menetapkan Pembangunan Kesehatan dalam Program Pembangunan Nasional. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan tingkat dasar sampai dengan rujukan yang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Meskipun pendekatan pelayanan kesehatan sama tetapi fokus penekanan pelayanan berbeda sesuai dengan kemampuan yang ada pada tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Agar kesinambungan pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terwujud, diperlukan sistem rujukan yang berjenjang dan terstruktur, dimana ada kejelasan peran dan fungsinya sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan medis di pemberi pelayanan kesehatan harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan agar tercapai pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Demi Tercapainya penyelenggaraan pelayanan medis yang memenuhi standar tersebut perlu pedoman pengelolaan berdasarkan kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama FK UNPAD, RSUP Hasan Sadikin Bandung dan Organisasi Profesi telah menyusun Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan Tingkat Pelayanan Kesehatan. Buku ini menginformasikan bagaimana pengelolaan penyakit mulai dari pelayanan dasar sampai pelayanan rujukan, perlu tidaknya kasus tersebut dirujuk berdasarkan kewenangan tingkat pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di pemberi pelayanan kesehatan.

1

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

II.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. 3. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

III. TUJUAN
Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang optimal berdasarkan kewenangan dan kompetensi di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Khusus : - Tersusunnya pedoman pengelolaan penyakit berdasarkan kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan - Dasar pengkajian untuk rencana pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

IV. PENYAKIT DAN PENGELOLAANNYA
Pengelompokan penyakit dan bagaimana pengelolaannya berdasarkan kewenangan di setiap tingkat pelayanan kesehatan terdiri dari : - Penyakit Anak - Penyakit Dalam - Penyakit Kebidanan dan Kandungan - Penyakit Bedah - Penyakit THT-KL - Penyakit Neurologi (Syaraf) - Penyakit Kulit Kelamin - Penyakit Mata - Penyakit Jiwa (Psikiatri) - Penyakit Gigi dan Mulut

2

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT ANAK
No 1 DIAGNOSIS TB Paru PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik PPK 2 Penilaian klinis diagnostik PPD, rontgen thorax) PPK 3

2

Bronko Pneumonia

Penilaian klinis, diagnostik dan terapi (BP ringan) sesuai MTBS

3

Diare

Diagnosis : Diare akut dengan /tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang  Tatalaksana sesuai protocol

 Dehidrasi berat bisa ditangani di Puskesmas DTP 4 Penyakit jantung bawaan (PJB)

dan Diagnostik dan (Tes penanganan TB paru disertai komplikasi (empyema, atelektasis, destroyed lung, hemoptysis, TB milier, Multi Drug Resistance TB (MDR-TB) Rujuk balik untuk th/ OAT  rujuk balik untuk terapi OAT) Penilaian klinis, diagnostik Penegakan diagnostik dan dgn pemeriksaan penunjang terapi BP berat dengan (lab dan rontgen) ancaman gagal nafas sehingga membutuhkan ventilator, empysema dan sepsis. Penatalaksanaan  rujuk balik Bronkhopneumoni Penatalaksanaan diare Diagnosis etiologi dan ringan- sedang yang tidak talaksana diare persisten / dapat direhidrasi per oral, kronis, diare dengan diare berat, diare akut penyakit penyerta seperti dengan dehidrasi berat, HIV, diare yang diare disertai komplikasi membutuhkan seperti sepsis, gangguan pemeriksaan penunjang elektrolit, (membutuhkan kultur feses, dan kultur feses) endoskopi  rujuk balik dan penyuluhan

Deteksi dini PJB, Diagnosis PJB melalui tatalaksana penyakit pemeriksaan penunjang penyerta pada PJB. (EKG, rontgen thorax), penatalaksanaan penyakit penyerta PJB

Diagnosis dan tatalaksana PJB dengan pemeriksaan echocardiography dan kateterisasi jantung Tatalaksana PJB Operatif  TIDAK RUJUK BALIK  Bila tidak dilakukan operatif rujuk balik

5

Cerebal Palsy (CP)

Deteksi dini tumbuh Diagnostik kelaianan kembang (DDTK) perkembangan (Denver, Cat/Clam),

Diagnostik dan skrining CP dgn comorbid (gangguan pendengaran, pengelihatan, RM, 3

IgM. kelainan Kongenital ) → Rujuk Rujuk balik ke PKM untuk pemantauan dan PMT 7 ISPA Diagnosis dan tatalaksana ISPA Tidak perlu dirujuk  TIDAK PERLU DIRUJUK  Penegakan diagnosis melalui Hb elektroforesa. DHF yang memerlukan perawatan intensif  Rujuk balik paska perawatan 8 Thalassemia Deteksi dini suspek Pemeriksaan penunjang thalassemia (darah rutin) dan pemberian (skrining tanda serta transfusi. pencegahan dan penanganan komplikasi : hemosiderosis (chelating agent). penilaian IQ (URM : fisioterapi.  Rujuk balik untuk transfusi berkala Penegakkan diagnosis. kelainan congenital. dengan pemeriksaan penunjang (IgG . terapi okupasi)  Rujuk balik untuk pemantauan tumbuh kembang dan stimulasi di rumah Tatalaksana kegawatan dan tatalaksana kelainan khusus Diagnosis etiologi (HIV/AIDS. fisioterapi (klinik tumbuh kembang) 6 Gizi buruk Deteksi Diagnosis dini PMT Rujuk Tatalaksana gizi buruk Penatalaksanaan komplikasi Tatalaksana dan fisioterapi. splenektomi. sindroma malabsorbsi) → Rujuk balik Bila memerlukan pemeriksaan khusus untuk etiologi (HIV/AIDS. NS1). gejala klinik: anemia. hepatosplenomegali) kontrol rutin penderita 9 DF/DHF Skrining tanda serta Penanganan DHF Grade II gejala klinik sampai dengan DSS (DHF Grade III dan IV) Pemeriksaan penunjang Ig M dan Ig G Tatalaksana DF/DHF bila memerlukan perawatan dengan pemeriksaan intensif Rujuk ke PPK 3 darah rutin (Puskesmas DTP) 4 . terapi bicara.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 epilepsi) Tatalaksana spastisitas.

kontrol rutin penderita Rujuk jika terjadi status epileptikus refrakter/ memerlukan perawatan intensif ( PICU) Pusat diagnositk epilepsi melalui EEG. follow up remisi atau relaps 11 Epilepsi Diagnosis berdasarkan Penanganan status gejala klinis. fenobarbital.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 10 Sindroma Nefrotik Diagnosis berdasarkan Penegakan diagnostis pasti gejala klinis dan pemeriksaan urin dipstik. kejang neonatus. perforasi usus) → Rujuk balik 13 Masalah neonates 14 Demam Tifoid Tidak perlu di rujuk di PPK 3 15 Morbili Penegakan diagnosis Tatalaksana komplikasi Tidak perlu di rujuk di PPK 3 5 . tatalaksana epileptikus (pemberian serangan kejang akut. kegawatdaruratan Ikterus neonatorum. MRI. Infeksi/sepsis. CT Scan. pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnostik→ rujuk balik Tatalaksana kegawatdaruratan Diagnosis Etiologi Diagnosis etiologi Perawatan Bayi baru lahir level III perawatan intensif → stabil → rujuk balik 12 Kejang demam Tatalaksana kejang Kejang demam kompleks demam (sederhana) dan kejang demam status konvulsivus. Pengobatan dengan status epileptikus refrakter yang memerlukan PICU  Rujuk balik untuk pengobatan jangka panjang Tatalaksana status konsulsivus refrakter/rawat intensif. Diagnosis etiologi asfiksia) → Rujuk Perawatan Bayi baru lahir level 2 Bila perlu perawatan intensif (Level III) → rujuk PPK 3 Skrining tanda serta gejala klinik Tatalaksana Demam Tifoid Pemeriksaan darah rutin (Puskesmas DTP) Diagnosis Tatalaksana simptopmatis Penatalaksanaan sampai dengan komplikasi ( Tifoid ensefalopati. Bila perlu perawatan intensif/ status epileptikus refrakter→Rujuk Deteksi kegawatan Tatalaksana (BBLR. fenitoin) (pemberian diazepam). perdarahan. Rujuk untuk diagnosis Rawat inap SN serangan pasti pertama (jika dibutuhkan) rujuk balik untuk melanjutkan pengobatan Jika terjadi SN resisten steroid harus dirujuk Diagnosis lengkap dan tatalaksana SN resisten steroid dengan khemoterapi : siklofosfamid  Rujuk balik untuk penanganan lanjutan.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 16 Meningitis Deteksi komplikasi Bila ada komplikasi → Rujuk Deteksi dan tatalaksana Penatalaksanaan kegawatan (Kejang) → kegawatan Rujuk Diagnostic etiologi (Lumbal pungsi ) dan perawatan non intensif Bila perlu perawatan intensif → Rujuk ke PPK 3 Penatalaksanaan komplikasi dan perawatan intensif Penegakan diagnosis etiologi dan komplikasi (CT scan. MRI. EEG) 6 .

RUJUK SEGERA Terkendali  rujuk balik ke PPK 2 HIPOGLIKEMI (3B) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 7 . TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TIDAK Terkendali TIDAK TERKENDALI TERKENDALI dengan 1 dengan 1 OHO OHO → pengelolaan  rujuk BERKOMPLIKASI TERKENDALI dg 2 OHO &  rujuk balik TANPA KOMPLIKASI & TERKENDALI dengan Insulin BERKOMPLIKASI & TERKENDALI dg Insulin → dikelola 1 bulan Bila tidak terkendali  rujuk ke PPK 3 DM tipe 2 Hipoglikemi 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT DALAM No 1 DIAGNOSIS DM Tipe 2 PPK 1 PPK 2 PPK 3 Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO → pengelolaan Tanpa komplikasi. TERKENDALI dengan 2 OHO  rujuk balik DM Tipe 2 DM Tipe 2 Tanpa komplikasi. NIDDM (4) TERKENDALI dengan Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 1 obat hipoglikemik oral (OHO) Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO  rujuk Tanpa komplikasi. TERAPI PENDAHULUAN 3. Tanpa komplikasi.

RUJUK 3 ASHD (Peny PJK Kronik Stabil Jantung Koroner 1. RUJUK  Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali  rujuk balik Tidak terkendali dalam 2 bulan  rujuk Essential Hypertension (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 2 Hipertensi Esensial Hipertensi esensial Hipertensi Esensial Pengelolaan Hipertensi krisis  rujuk Terkendali → Pengelolaan  rujuk balik Terkendali →Pengelolaan  rujuk balik Tidak terkendali → pengelolaan dan evaluasi Terkendali → Rujuk balik  PJK Kronik Stabil Terkendali → pengelolaan RUJUK BALIK RUJUK KEMBALI SETIAP 3 BULAN Hipertensi Sekunder 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Kronik Stabil) DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK   8 . TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK DM tipe 2 KOMPLIKASI KRONIS 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 DM tipe 2 KOMPLIKASI (KAD) AKUT Terkendali → pengelolaan  rujuk balik KOMPLIKASI AKUT (KAD) rujuk (TIDAK TERKENDALI DALAM 48 JAM Terkendali  rujuk balik 1.

RUJUK SEGERA TB Paru (pengobatan ulang /berkomplikasi) TB Paru (MDR/XDR) 5 1. RUJUK 4 TBP tidak TBP kasus baru berkomplikasi tidak berkomplikasi  rujuk Terkendali → pengelolaan  rujuk balik  rujuk setiap 3 bulan Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 TB Paru (pneumotoraks) TB paru pneumotoraks dg Terkendali → pengelolaan  rujuk balik 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 1. TERAPI PENDAHULUAN 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 ASHD (Sindroma Sindroma Koroner Akut) Akut (SKA) Koroner Terkendali → pengelolaan Stabil/terkendali (evaluasi tiap 3 bulan)  rujuk balik 1. RUJUK ASHD (Gagal 1. TEGAKKAN Jantung) DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK jika tidak dengan / tanpa ada fasilitas DTP komplikasi 9 . TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN Terkendali → pengelolaan dehidrasi ringan DIAGNOSA KLINIS  rujuk balik sedang / berat 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Diare dengan 1.

2 Fisioterapi Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk 13 Gagal ginjal akut 1. Pengelolaan di PPK  rujuk balik 1 N 9 Arthritis tanpa 1. 1 1.2 10 SLE 1.Rujuk DSS 1.Rujuk GGK terminal 1. Pengelolaan di PPK obat di PPK.Rujuk Pengelolaan di PPK.Pengelolaan di PPK 1 dgn DTP 12 Demam Dengue Demam Dengue 1. 2 tidak ada fasilitas HD fasilitas HD 10 .Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pneumonia tanpa komplikasi 1.2 Pengelolaan di PPK. rujuk balik Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis dg komplikasi 2.Tegakkan diagnosis 2.2 dgn fasilitas HD stabil. Pengelolaan di PPK atau memerlukan 1 fisioterapi Arthritis dengan 1.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 7 COPD / Asma 1.Tegakkan diagnosis 2.2 dg Jika PPK. Tegakkan diagnosis Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan 8 2. Tegakkan diagnosis komplikasi 2. Tegakkan diagnosis Dirujuk bila ada komplikasi komplikasi 2. Rujuk Pengelolaan di PPK.Rujuk 11 Gastritis 1.1 tdk tersedia. Tegakkan diagnosis Dirujuk dengan catatan bila 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 Goiter 1.Tegakkan diagnosis bronkiale 2.2 dgn fasilitas ICU 14 Pengelolaan di PPK.

Rujuk 1.2 tidak ada dengan fasilitas endoskopi fasilitas endoskopi Pengelolaan di PPK.VCT 3.2 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.2 utk Jika ada komplikasi.2 Hepatitis kronis 21 Demam tifoid 1. Stabil  rujuk balik tdk lengkap 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 2. terapi ARV (ada tim konseling) 20 Hepatitis akut 1.Rujuk Pengelolaan di PPK.2 dg 15 Sindroma Nefrotik 1.Rujuk 17 18 19 Leukemia Perdarahan saluran cerna HIV 1.Tegakkan diagnosis tanpa 2.Rujuk jika fasilitas Diagnosis tegak.2 ( Rujuk balik untuk Tapering off.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2. 2.Rujuk atau sesama fasilitas sama PPK. Stabil  rujuk balik 11 .Tegakkan diagnosis 2. bisa dilakukan di PPK I) Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Pengelolaan di PPK komplikasi 1 dgn DTP Demam tifoid 1.Rujuk 16 Anemia berat 1. Diagnosis tegak.Rujuk Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis dgn komplikasi 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 Jika PPK.Rujuk 1.2 Stabil  rujuk balik 2.2.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN No. 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Hipertensi Dalam Kehamilan : Hipertensi Gestasional Skrining : Test protein urine Therapi oral anti hipertensi dapat diberikan Skrining: Test Protein urine Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Tidak ada tanda-tanda preeklamsi →rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Ringan Penilaian klinis dan diagnosis : Tidak ada tanda-tanda preeklamsi berat rujuk balik ke PPK I untuk oral antihipertensi Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi kehamilan Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Berat Skrining: Test Protein urine Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang Memerlukan perawatan ICU NICU atau dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Eklamsi Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Tindakan terminasi kehamilan dan rawat bersama dengan bagian lain 2 Perdarahan Trimester 1: Abortus Imminens Skrining Sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian Klinis dan Diagnosis USG baik →kembalikan ke PPK I USG tidak baik → terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Abortus Insipiens Skrining: sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis : USG baik → Rujuk balik Tidak usah dirujuk ke PPK III 12 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 USG tidak baik → terminasi Abortus Inkomplitus Skrining : Pemeriksaan awal KU baik → rujuk ke PPK II KU tidak baik →Perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II (boleh dilakukan kuret tumpul di PONED) Abortus Komplitus Skrining: Rujuk ke PPK II untuk pemeriksaan lanjut Mola Hidatidosa Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti tirotoksikosis Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain atau dengan riwayat infertilitas yang memerlukan keahlian subspesialis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Skrining : KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → Perbaiki KU → Rujuk PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Laparatomi Operatif Trimester 2: Perdarahan Midtrimester Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan atau tindakan → setelah baik Rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain (seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya) Trimester 3: Perdarahan Antepartum Plasenta previa Skrining : KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Skrining : Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi setelah baik → rujuk balik ke PPK I Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya ) Solusio Plasenta 13 .

pemberian O2 → Rujuk ke PPK II sambil lakukan dekompresi manual Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Penilaian klinis dan diagnosis : Retensio plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Sisa plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Perdarahan post partum lambat: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 14 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II Post Partum: Perdarahan Post Partum Dini: Atonia Uteri Tindakan terminasi Luka jalan lahir Skrining: Resusitasi cairan.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 3 Kelainan Letak Skrining: Rujuk ke PPK II (PONED apabila letak sungsang dan pembukaan lengkap) Penilaian klinis dan diagnosis: Dalam kehamilan : Versi luar apabila berhasil menjadi letak kepala → Rujuk balik ke PPK I Persalinan : terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 4 Kehamilan Multiple Skrining: Rujuk ke PPK II untuk persalinan (pemeriksaan USG) Penilaian klinis dan diagnosis: Persalinan: terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 5 Ketuban Pecah Dini Skrining: Rujuk ke PPK II (skrening : sediakan lakmus test) Penilaian klinis dan diagnosis: konservatif atau terminasi 6 Kelainan Janin: IUGR Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Rujuk ke PPK II IUFD Skrining: Rujuk ke PPK II Prematur Skrining: Rujuk ke PPK II Perawatan konservatif atau terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Gawat Janin Skrining: Rujuk ke PPK II 7 Persalinan tidak maju/Distosia Skrining: Rujuk ke PPK II (dilakukan vakum di PONED) Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi 15 .

Perlu pemeriksaan lanjutan ECHO Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU Spesialis lain yang tidak ada di PPK II 11 Penyakit Jantung: Decompensatio Cordis FC I – II Decompensatio Cordis FC III-IV Skrining: Rujuk ke PPK II Skrining: Rujuk ke PPK II 12 Kehamilan dengan Komplikasi lain Skrining: Rujuk ke PPK II 13 Infeksi Skrining: Tanda-tanda infeksi Penilaian klinis dan diagnosis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 8 Panggul Sempit Skrining: Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Laparotomi eksploratif Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan konservatif atau terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan (dokter IPD harus ada di PPK II bila ingin di rawat) Penilaian klinis dan diagnosis 9 Bekas Seksio sesarea Skrining: Rujuk ke PPK II 10 Ruptura Uteri Skrining: Perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU. Diagnosis dan penanganan sepsis dan memerlukan tindakan diagnosis lanjut atau perawatan ICU 16 .

beri therapi pendahuluan (Antibiotik dan analgetik) Penilaian klinis. Diagnostik dan terapi (Haemmorrhoid Gr I dan II) Rujuk ke PPK 2 (Haemorrhoid Gr III dan IV) 3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Therapi pendahuluan Rujuk ke PPK 2 4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi Pendahuluan Rujuk ke PPK 2 Deteksi gejala klinik Therapi Simptomatis Therapi dan tindak lanjutan Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Penegakkan Diagnosis melalui Pemeriksaan Penunjang Therapi Pendahuluan Tindakan operasi Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 Hernioraphy Penanganan oleh Subspesialis Bila telah stabi → rujuk kembali ke PPK 2 PPK 2 Appendectomy PPK 3 Appendectomy laparoskopiDiver Kontrol Luka setelah stabil→ Rujuk balik 2 Hemorhoid interna Haemorroidectomy Kontrol luka Setelah stabil rujuk balik Fistulectomy Setelah stabil rujuk ke PPK 1 5 Cholelithiasis Rujuk ke PPK 2 6 Hernia inguinalis lateralis reponibilis Edukasi 17 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH No 1 DIAGNOSIS Appendicitis Acute PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik Edukasi Rujuk ke PPK 2 Jika yakin pasien akan ke RS.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Simptomatis Rujuk ke PPK 2 Deteksi dini Simptomatis Rujuk Ke PPK 2 Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Multiple Lipoma. Tanda2 keganasan Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Giant Ateroma 10 Struma Nodosa Deteksi gejala dan Pemeriksaan Fisik Edukasi Simptomatik Rujuk Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Ekstirpasi dan PA Jaringan 7 8 Fibro Adenoma Mammae (FAM) Lipoma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka 9 Ateroma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka Penanganan lebih lanjut (eksisi) Penanganan Subspesialistik Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspelialistik Jika terkontrol. rujuk kembali ke PPK 2 18 .

Komplikasi intrakranial 2.Kontrol setelah tindakan 6 bulan Pertama .Tindakan : bedah mikro telinga 2 Tumor Kepala Leher a.Penilaian Klinis .Biopsi.Operasi dengan endoskopi . Tumor di leher Skrining tanda dan gejala klinis . Karsinoma Sinonasal c. Karsinoma Laring d.Kultur resistensi .Skrining tanda dan gejala klinis .Rujuk balik ke PPK 2 untuk perbaikan Keadaan umum 3 Rinosinusitis dengan/tanpa polip disertai .Pemeriksaan THT-KL .Foto Rontgen ( Schuller dan Stenver ) .Terapi sesuai .Skrining tanda dan gejala klinik .Pemeriksaan OtoMikroskopi .Kemoiradiasi . Komplikasi intratemporal 3. Karsinoma Nasofaring b.Radiotherapi .Nasofaringoskopi .Operasi .Nasofaringoskopi .Kultur resistensi 19 .Foto Rontgen schuller dan Stenver .Operasi kasus dengan penyulit .Kultur resistensi .Nasoendoskopi .Skrining tanda dan gejala klinis . FNAB .Skrining tanda dan gejala klinis . Otorea menetap setelah terapi Maksimal .Rujuk ke PPK 3 bila : 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL NO 1 DIAGNOSIS Otitis Media Supuratif Kronik dengan penyulit PPK 1 skrining tanda dan gejala klinik Rujuk ke PPK 2 PPK 2 .FNAB .CT Scan telinga .Menerima rujukan balik dari PPK 3 untuk perbaikan Keadaan Umum .Biopsi dengan endoskopi (lokal anestesi) .Penilaian klinis PPK 3 .

Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi .CT Scan Sinus Paranasal .Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Ligasi Ekstraksi benda asing dengan esofagoskopi kaku dalan narkose umum 5 Epistaksis Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Immunoterapi .Tampon hidung anterior .Foto thoraks 6 Benda Asing di esophagus 7 Benda asing di Bronkus .Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Brain Evoked Respon Audiometri ( BERA ) .Kultur resistensi .Pemeriksaan tes alergi (Skin Prick Test) .Tindakan bedah hidung sinus konvensional Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Emisi Otoakustik Ekstraksi benda asing dengan bronkoskopi kaku dan atau bronkoskopi lentur dalam narkose umum .Nasoendoskopi .Terapi Wicara 20 .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft Tissues leher AP dan lateral .Nasoendoskopi → mencari sumber Perdarahan . Caldwelluck) .Bila perdarahan tetap tidak dapat teratasi → Rujuk ke PPK III .Foto Thoraks 8 Speech delayed (Terlambat bicara) Skrining tanda dan gejala klinis .Tampon hidung anterior dan posterior .Rontgen sinus ( waters.Pemeriksaan Auditory Steady State Respon .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft tissue leher AP dan Lateral .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penyulit Pedoman Tatalaksana lengkap .Tindakan bedah sinus endoskopi tingkat lanjut 4 Rhinitis Alergi Skrining tanda dan gejala klinis .

asam urat) Terapi: manitol 20%. rehabilitasi (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. faktor resiko (gula darah. USG karotis. . profil lipid. antikoagulan atas indikasi. antiplatelet agregasi. anti platelet agregasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI) NO 1 DIAGNOSIS PPK 1 (RAWAT INAP) STROKE Skrining tanda serta Perdarahan gejala klinik Intra Serebral PPK 2 Diagnostik dan penanganan stroke PIS PPK 3 Diagnostik dan penanganan stroke PIS disertai komplikasi inrakranial (TTIK) dan ekstrakanial (emboli paru. profil lipid. operatif atas indikasi. pemeriksaan darah perifer lengkap) Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila disertai tanda-tanda TTIK→ rujuk PPK 3 CT Scan kepala Terapi : antiedem. penanganan faktor resiko (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. respiratory failure) Penanganan sesuai guideline stroke → Rujuk ke PPK 1 Manitol 20% (antiedema). Ro-Thorax.CT-scan kepala atas indikasi.Transcranial Doppler. penanganan factor resiko dan komplikasi Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi neuroprotektan. penanganan factor resiko. Foto Thorax. rehabilitasi  Setelah lewat fase akut → rujuk balik 2 STROKE INFARK Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi Pemeriksaan penunjang : EKG. pemeriksaan darah perifer lengkap.Echocardiografi) 21 .

sputum BTA. respiratory failure hebat. dexamethason. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 4 Tetanus Skrining tanda serta gejala klinik Therapi dan tindak lanjutan Tetanus grade II : Tindakan lanjutan : tracheostomi Penanganan komplikasi tetanus (kejang tidak teratasi. kardiomipati. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. disotonomi. elektrolit. kimia. foto thorax Terapi (kortikosteroid. fraktur kompresi) 22 . pneumonia aspirasi . pemeriksaan darah rutin. antikoagula atas indikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila ada komplikasi (sesuai guideline stroke) akut (intra dan ekstrakranial) atau ada tanda-tanda TTIK → Rujuk ke PPK 2 FISIOTERAPI Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila komplikasi berat dan tidak tertangani → rujuk ke PPK 3 Terapi : manitol 20%. anti agregasi platelet. fisioterapi (sesuai guideline stroke) Perbaikan→ rujuk balik 3 Meningitis serosa Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP.

TT 0. metronidazole 3x500mg antibiotic (tetrasiklin 4x500mg)→ Tetanus grade I Tetanus grade II -V → Rujuk ke PPK 2 ATS/HTIG injeksi.000 u. Oksigen. EEG. diazepam injeksi) Setelah perbaikan rujuk kembali ke PPK 1 Tetanus grade III-V → rujuk ke PPK 3 5 ENSEFALITIS Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis : LP Penanganan komplikasi pada ensefalitis (status epileptikus). Antiviral (acyclovir) Therapi pemberian obat anti kejang. antipiretik. antiviral. tetrasiklin 4x500 mg (10 hari).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Terapi Pendahuluan : debridement luka. EKG. diazepam injeksi. foto thorax. perlu perawatan ruang intensif Pemeriksaan penunjang : LP. CT Scan. pemeriksaan antigen antibodi spesifik untuk virus Perbaikan→rujuk balik Penanganan kejang : diazepam injeksi Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. Foto thorax Perbaikan → rujuk balik Terapi : metronidazole 3x500mg (14 hari). TT (bila belum diberikan di PPK 1). EEG. debidrement. Therapi Simptomatis : untuk demam (parasetamol) Kejang berulang sampai status → rujuk ke PPK 3 Rujuk ke PPK 2 23 .5 cc. ATS 10.

pemeriksaan darah. fisioterapi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) dan tirah baring Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. EMG. bone scanning (bila ada kecurigaan Ca metastasis) Terapi : operatif. myelografi Bila terdapat progresivitas → Rujuk Ke PPK 3 Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra. EMG Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) Terapi : operatif sesuai indikasi 24 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 MYELORADIKU LOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra (bila belum dilakukan). analgetik. MRI (atas indikasi). foto thorax. pemeriksaan darah. MRI Rujuk Ke PPK 2 Terapi : operatif (sesuai indikasi) 8 RADIKULOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. foto vertebra. myelografi Rujuk ke PPK 2 Terapi : anti nyeri (Na diklofenak) Rujuk ke PPK 3 Rujuk balik bila tidak mau operasi atau penanganan khusus 7 MYELOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra.

radioterapi) Penatalaksanaan : dexamethason dan ranitidine injeksi → Rujuk PPK 2 Pemeriksaan penunjang : PA Jika perbaikan. muntah. rujuk kembali ke PPK 2 Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspesialistik 25 . mencari etiologi. Diagnostik status epileptikus (EEG.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila tidak ada perbaikan Rujuk ke PPK 1 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Penanganan status epileptikus. CT Scan kepala dengan kontras Penanganan Subspesialistik (operatif. CT scan. kemoterapi. tatalaksana serangan kejang akut (pemberian diazepam dan loading dose OAE) segera rujuk PPK 1 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi status epileptikus refrakter/yang memerlukan perawatan intensif (ICU). MRI) Penanganan di ruang intensif Bila perbaikan dan kejang terkontrol → Rujuk balik PPK 2 9 STATUS EPILEPTIKUS Diagnosa berdasarkan gejala klinis. pemberian OAE 10 SOL ( Tumor Intrakranial dan infeksi intrakranial ) Diagnosa berdasarkan gejala klinis Diagnostik dan penanganan lebih lanjut TTIK (gejala berupa penurunan kesadaran. papiledema) Pemeriksaan penunjang : foto polos tengkorak. nyeri kepala.

CT myelo sesuai indikasi. EMG. dan posisioning Diagnosa dan penanganan Penanganan dan diagnostic EMG bila alat tersedia.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 NO 1 DIAGNOSIS (RAWAT JALAN) Sequele Stroke PPK 1 Skrining tanda dan gejala klinis dan faktor resiko PPK 2 Penanganan faktor resiko dan kecacatan (rehabilitasi) - PPK 3 Penanganan preventif Bila ada perbaikan fungsi stroke sekunder. mencari factor resiko EMG 26 . operatif sesuai indikasi 3 CTS Skrining tanda dan gejala klinis Penanganan simptomatik analgetik.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak).EMG bila alat tersedia. bila tdk ada perubahan rujuk ke PPK 2 Bila ada red flag  rujuk ke PPK 2 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Bila ada gejala dan tanda red flag  rujuk ke PPRK 3 Terapi : simptomatis dan causal. fisioterapi Sesuai guideline stroke Bila deficit neurologis berat → rujuk ke PPK 2 2 Radikulopati Skrining tanda dan gejala klinis Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. USG carpal tunnel. pemeriksaan darah Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. → rujuk balik PPK 1 faktor resiko.

penegakkan diagnose berdasarkan guideline nyeri kepala perdossi Diagnosa dan penanganan nyeri kepala primer Diagnosa dan penanganan nyeri kepala Bila nyeri kepala teratasi → rujuk balik PPK 1 Pemeriksaan CT Scan. MRI sesuai indikasi 27 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 bila ada deficit neurologi → rujuk ke PPK 2 penanganan analgetik deksamethason injeksi fisioterapi terapi medikamentosa operatif bila ada indikasi bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 1 bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 2 bila deficit neurologi berat (atrofi) → rujuk ke PPK 3 4 Parkinson Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. mencari factor resiko Diagnosa dan penanganan Parkinson Rujuk ke PPK 2 Obat antiparkinson Pemeriksaan darah untuk mencari faktor resiko Pemeriksaan CT Scan Bila gejala terkontrol → rujuk balik ke PPK 2 Bila gejala tidak teratasi atau efek samping obat → rujuk ke PPK 3 Parkinson sekunder → rujuk ke PPK 3 Bila ada perbaikan rujuk ke PPK 1 5 Nyeri kepala Skrining tanda dan gejala klinis.

SGOT. kejang pada epilepsi dan penegakkan diagnosa mencari etiologi berdasarkan bangkitan terapi sesuai guideline epilepsy perdossi Pemeriksaan penunjang : EEG. SGPT Terapi sesuai guideline epilepsy dengan kombinasi obat Diagnosa dan penanganan kejang EEG. pemeriksaan darah rutin. elektrolit. MRI Bila kejang tidak terkontrol dengan 2 jenis obat antiepilepsi lini pertama → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan darah rutin. THT. ada nyeri kepala sekunder dan terdapat tanda-tanda bahaya nyeri kepala (red flag) → rujuk ke PPK 2 Nyeri kepala dengan red flag → rujuk ke PPK 3 Penanganan nyeri kepala sekunder. mencari etiologi Diagnosa dan penanganan 28 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila nyeri kepala tidak terkontrol. elektrolit. SGPT Setelah kejang terkontrol → rujuk balik ke PPK 1 Terapi kombinasi obat lini pertama dan lini kedua sesuai guideline epilepsy Bila kejang tidak terkontrol → rujuk ke 3 Bila kejang terkontrol → rujuk balik Ke PPK 2 7 Vertigo Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. SGOT. operatif bila ada indikasi Nyeri kepala sekunder periksa → konsul mata. gigi dll sesuai kausal Bila sudah tertangani → rujuk balik ke PPK 2 Bila teratasi → rujuk balik PPK 1 6 Epilepsi Skrining tanda dan Diagnosa dan penanganan gejala klinis.

MRI sesuai indikasi Bila ada deficit neurologi dan progresif → Rujuk PPK 2 untuk mencari etiologi dan penanganan konsul THT Terapi simptomatik. serta mencari etiologi Bila nyeri teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Penanganan dan diagnostic terapi siimptomatik. CT Scan kepala bila alat tersedia. fisioterapi Bila nyeri progresif dan belum teratasi dan terdapat tanda red flag → Rujuk ke PPK 3 9 Neuropati/ Polineuropati Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. fisioterapi EMG.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 terapi simptomatik pemeriksaan factor resiko. EMG sesuai indikasi dan bila tersedia alatnya Tindakan operatif sesuai indikasi Analgetik. fisioterapi bila gejala teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Diagnosa dan penanganan 8 Nyeri (termasuk nyeri punggung bawah) Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan serta mencari etiologi terapi simptomatik Penanganan nyeri : analgetik. MRI sesuai indikasi Bila ada tanda-tanda red flag LBP dan tanda radikuler → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan foto polos vertebra. mencari factor resiko EMG bila alat tersedia EMG terapi simptomatik dan penanganan factor resiko terapi medikamentosa dan penanganan factor resiko 29 . fisioterapi Bila gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 Tindakan operatif sesuai indikasi Terapi simptomatik.

dexamethason.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila gejala tidak teratasi. foto thorax Terapi (kortikosteroid. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. sputum BTA. pemeriksaan darah rutin. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 30 . kimia. progresif → Rujuk ke PPK 2 Bila terdapat deficit neurologi atau gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 bila gejala teratasi → rujuk balik PPK 2 10 Meningitis (post perawatan) Skrining tanda dan gejala klinis Lanjutkan terapi OAT Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Bila gejala klinis memburuk → Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. elektrolit.

Psoriasis vulgaris Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal bila luas lesi < 5% Bila tidak responsif atau luas lesi > 5%  rujuk PPK 2 Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal Terapi sistemik Konsul ke bagian Gigi dan Mulut. Dermatitis Numularis Terapi topical Terapi sistemik Sama dengan PPK 1 Konsul ke bagian Gimul. THT-KL untuk penatalaksanaan infeksi fokal Sama dengan PPK 2 6. biologic agents 3. Tinea Kruris Terapi topikal Sama dengan PPK 2 31 . Skabies Penyuluhan Terapi topikal Terapi sistemik Menghilangkan faktor Sama dengan PPK 1 Sama dengan PPK 1 7. Dermatitis Seboroik Terapi topical Terapi sistemik Bila terdapat komplikasi eritroderma  Rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 2 ditambah penanganan komplikasi 5. psoriasis pustulosa rujuk PPK 3 Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 4.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN No 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Vitiligo Terapi topikal untuk tipe lokalisata Bila tidak responsif atau generalisata  rujuk PPK 1 Terapi topical Terapi topikal Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topical Fototerapi 2 Liken Simpleks Kronikus Sama dengan PPK 1 Konsul ke psikiater apabila faktor psikis dinyatakan sebagai penyebab Sama dengan PPK 2 ditambah fototerapi. THT-KL untuk penatalaksanaan faktor pencetus Bila terdapat komplikasi artritis  konsul IPD Bila terdapat komplikasi eritroderma.

Xerosis Cutis Menghindari faktorfaktor yang menambah kekeringan kulit Terapi topikal: pelembab Menyarankan kepada penderita untuk menghindari bahan penyebab Menyarankan penderita untuk menggunakan pelindung seperti sarung tangan jika terpaksa harus kontak dengan bahan penyebab Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 1 10. Dermatitis Kontak Iritan Sama dengan PPK 1 Bila tidak resposif  rujuk PPK 3 Sama dengan PPK 1 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bahan penyebab 32 . Terapi sistemik untuk lesi yang luas Keloid Terapi topical Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Terapi topikal Tindakan: injeksi kortikosteroid inralesi Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topikal Tindakan injeksi kortikosteroid inralesi dapat dikombinasikan dengan bedah beku Eksisi dengan radioterapi Sama dengan PPK 1 9.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 predisposisi Terapi topikal Terapi sistemik Bila luas  rujuk PPK 2 8.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT MATA

NO
1.

DIAGNOSIS
KONJUNGTIVITIS

PPK 1
EVALUASI  Riwayat trauma/kelilipan, kontak dengan penderita mata merah, riwayat iritasi dan alergi/hipersensitiv itas (udara, debu, obat, makanan dll)  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat, konjungtivabulbi dan tarsal, dan memastikan pada kornea tidak ditemukan kelainan akibat perdagangan konjungtiva.  Konjungtivitas bakteri bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret mukopurulen atau purulen, dapat disertai membrane atau pseudomembran pada konjungtiva tarsalis.  Konjungtivitis virus bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret

PPK 2

PPK 3

 Sama dengan fasilitas  Pemeriksaan kultur primer swab secret konjungtiva  Pemeriksaan komposisi pada agar darah domba, air mata dengan agar tioglikolat, dan uji melakukan pemeriksaan resistensi anti mikroba. Schirmer, BUT dan Ferning, uji anel melalui pungtum lakrimalis untuk menilai ada atau tidaknya sumbatan.  Pemeriksaan dengan slitlamp untuk menilai keadaan konjungtiva bulbi, tarsal, forniks dan kornea.  Melihat gambaran secret (mukoserosa, mukopurulen, purulen).  Melihat gambaran folikel, papil, membrane pada konjungtivitis tarsal superior dan inferior dan konjungtiva forniks  Melihat gambaran injeksi dan nodul pada konjungtivitis bulbi.  Memastikan tidak ditemukan kelainan pada kornea.  Melihat kelainan pada komposisi air mata, obstruksi kelenjar meibom.  Pemeriksaan swab secret dengan penawaran gram bila dicurangi infeksi bakteri, Giemsa bila dicurigai virus 33

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

umumnya mukoserosa dan pembesaran kelenjar limfe preaurikuler.  Konjungtivitis alergi bila mempunyai riwayat alergi atau atopi dan ditemukan keluhan gatal, dan hiperemis konjungtiva.  Curigai Steven Johnson syndrome jika terjadi konjungtivitis pada kedua mata yang timbul seteleh minum atau mendapatkan terapi obatobatan.  Curigai kojungtivitis gonore, terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitas pada dua mata dengan secret purulen yang sangat banyak. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes mata kloramfenikol  Berikan obat tetes (0,5% -1 %)6 kali mata antibiotik sehari atau salep sprektum luas 6 kali mata 3x sehari sehari dan/atau salep selama minimal 3 mata 3 kali setiap bila hari bila dicurigai dicurigai infeksi bakteri infeksi bakteri.  Berikan salep mata  Berikan salep anti antivirus asiklovir 5 kali virus jka sicurigai sehari bila dicurigai infeksi virus infeksi virus.  Berikan tetes mata  Berikan tetes mata anti buatan 6 kali alergi (kromolin glikat)  Berikan tetes antibiotika sesuai hasil gram atau kultur, 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari bila infeksi bakteri  Berikan tetes antivirus sdoksuridin atau asiklovir bila infeksi virus.  Berikan tetes/salep mata antihistamin atau kortikosteroid bila 34

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

sehari bila dan/atau anti inflamasi dicurigai iritasi. bila dicurigai reaksi  Pada steven alergi/hipersensitivitas Jhonson  Berikan tetes /gel syndrome, lubrikan atau air mata diberikan tetes buatan bila ditemukan mata antiinlamasi iritasi (sterioid) dan air  Dicari factor mata predisposisi penyakit buatan/lubrikan yaitu sistemik (diabetes kemudian rujuk ke mellitus, TBC, kondisi fasilitas sekunder imunitas yang rendah, untuk cacingan, kondisi mendapatkan immunocompromised). penanganan lanjut  Keadaan konjungtiva dari bagian diperiksa 3 hari hingga spesialis kulit. sidapatkan perbaikan  Pada Konjungtivitis klinis, Bila tidak ada gonoro, pada bayi perbaikan, memburuk diberikan injeksi atau terjasi kompliksi penilisin procain dalam 1 bulan, dirujuk 50.000 IU/Kg ke dokter mata bb/hari dan konsultan Infeksi dan kloramfenikol Imunologi atau fasilitas tetes mata (0,5% mata tersier. 1,0%) tiap jam.Bila tidak tidak ada perbaikan dan atau terjadi komplikasi pada kornea, segera rujuk ke fasilitas sekunder dan tersier.  Bila tidak ada perbaikan dengan terapi dalam 1 minggu pada konjungtivitis bakteri, 2 minggu pada konjungtivitis virus dan alergi, segera rujuk ke fasilitas sekundrt atau tersier.

ditemukan reaksi alergi atau hipersesitivitas. Bila ditemukan kompliksi pada kornea, penatalaksanaan sesuai dengan penatalaksanaan keratitis/ulkus kornea Pada Steven Jhonson syndrome, berikan terapi anti inflamasi (steroid) tropical dan lubrikan/air mata buatan, disertai terapi dari bagian spesialis kulit. Pada konjungtivitis gonore, diberikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata, injeksi ceftriaxon 1 gr single dose intravena, jika ada ulkus berikan ceftriaxon 1 gr intravena tiap 12 jam selama 3 hari.Bila alergi diberikan ciprofloxacin 500 mg oral 2 kali selama 5 hari. Pada bayi berikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata injeksi ceftriaxon 25-50 mg/kg bb atau cefotaxim 100mg/kg bb interavena atau intramuskular. Berikan tetes/ gel mata lubrikan dan air mata buatan bila ditemukan iritasi Pemeriksaan klinis factor predisposisi local (dry eye, obstruksi duktus nasolakrimalis dll), dilanjutkan pentalaksanaan terhadap kelainan tersebut pemeriksaan laboraturium lengkap darah, urin, feses bila dicurigai predisposisi 35

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

penyakit sistemik.  Berikan terapi oral/parenteral sistemik bila ditemukan factor predisposisi sistemik sesuai hasil konsultsi bagian yang bersangkutan.  Keadaan konjungtiva di periksa tiap 3 hari hingga didapatkan perbaikan klinis dan evaluasi pengobatan terhadap factor predisposisi sistemik dan local  2
EVALUASI KERATITIS DAN ULKUS  Riwayat KORNEA  Riwayat trauma (kelilipan,  Riwayat trauma (kelilipan, benda asing di kornea, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma khusus riwayat trauma tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan atau pengunaan obat tetes pengunaan obat tetes mata tradisional yang mata tradisional yang berasal dari tumbuhberasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai tumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa penggunaan lensa kontak), pemakaian kontak), pemakaian kortikosteroid topical. kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinterbaik menggunakan pinhole. hole.  Tekanan intraocular (TIO)  Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan cara palpasi diukur dengan cara palpasi  Pemeriksaan dengan slit  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk menilai lamp untuk menilai keadaan kornea dan keadaan kornea dan segmen anterior lainnya : segmenn anterior lainnya :  Melihat gambaran  Melihat gambaran secret (serosa, secret (serosa, mukopurulen, mukopurulen, purulen). purulen).  Bentuk ulkus  Bentuk ulkus (pungtata, filament, (pungtata, filament, dendritik, geografik, dendritik, geografik, oval, intersisial,dll) oval, intersisial,dll)  Kedalaman ulkus  Kedalaman ulkus (superficial, dalam, (superficial, dalam, apakah ada apakah ada kecenderuangan untuk kecenderuangan untuk

trauma (kelilipan, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma tumbuhtumbuhan atau pengunaan obat tetes mata tradisional yang berasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa kontak), pemakaian kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat keadaan kornea

36

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

perforasi (impending perforasi (impending perforation) dan perforation) dan perforasi. perforasi.  Pemeriksaan kerokan  Hipopion dapat ada korea dengan penawaran atau tidak ada. Gram dan pemeriksaan  Lakukan foto keadan langsung dengan KOH 10% kornea dan segmen anterior lainnya.  Pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan Gram, Giemsa dan pemeriksaan langsung dengan KOH 10%  Pemeriksaan kultur kerokan kornea dengan agar darah domba, tioglikolat dan agar sabouraud dekstrosa.  Bila segmen posterior sulit dinilai, lakukan pemeriksaan ultrasonografi. Bila didapatkan adanya kekeruhan vitreus dan tanda-tanda endoftalmitis, lakukan prosedur endoftalmitis. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes. Salep mata kloramfenikol (0,5-1%) enam kali sehari, atau salep mata tetrasiklin 3 kali sehari sekurangkurangnya untuk 3 hari.  Jangan diberikan kombinasi antibiotika dengan obat yang mengandung kortikosteroid  Jang menggunakan obat-obat tradisional.  Segera rujuk ke spesialis mata apabila :  Tajam penglihatan awal buruk atau menurun setelah 3 hari pengobatan  Tampak lesi  Pasien sebaiknya dirawat  Pasien sebaiknya dirawat apabila : apabila:  Lesi ulkus kornea  Lesi ulkus kornea mengancam mengancam penglihatan, penglihatan, mengancam mengancam perforasi. perforasi.  Pasien dianggap  Pasien dianggap kurang patuh utnuk kurang patuh utnuk pemberian obat tiap pemberian obat tiap jam jam  Diperlukan follow up  Diperlukan follow up untuk menilai untuk menilai kebersihan terapi. kebersihan terapi.  Apabila ditemukan  Apabila ditemukan gambaran ulkus kornea gambaran ulkus kornea dendritik, geogradik atau dendritik, geogradik atau stroma, dapat diberikan stroma, dapat diberikan salep mata asiklovir 5 kali salep mata asiklovir 5 kali sehari atau tetes mata sehari atau tetes mata idoksuridin tiap jam. idoksuridin tiap jam.  Bila pada pemeriksaan  Bila pada pemeriksaan kerokan kornea kerokan kornea didapatkan hasil gram didapatkan hasil gram positif atau negative positif atau negative diberikan antibiotika tetes diberikan antibiotika tetes mata golongan mata golongan

37

yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Tidakan Bedah:  Keratektomi superfinansial tanpa membuat perlukaan 38 . ofloksasin.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat putih di kornea  Tetap berikan kloramfenikol tetes mata saat merujuk ke spesialis mata di fasilitasi sekunder dan tertier. Keadaan Korea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan yang kemusian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. Pemberian analgetik apabila diperlukan. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. yang kemudian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. aminoglikosida (gentamisin . Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Bila kerokan kornea didapatkan hifa jamur. berikan tetes mata Natamisin 5 % tiap jam tiga kali sekali.dibekasin. Bila kerokan kornea didapatka hifa jamur (KOH positif). Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Pemberian analgetik apabila diperlukan. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. berikan tetes mata amfoterisin B 0. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu.dibekasin. diberikan tetes mata Natamisin 5% tiap jam dan salep mata Natamisin 5 % tiga kali sehari atau bila pasien mampu. Rujuk ke spesialis mata konsultan infeksi dan imunologi mata atau klinik mata tersier apabila didapatkan :  Ulkus kornea yang terjadi pada pasien yang hanya mempunyai satu mata  Ulkus kornea pada anak-anak  Adanya 2012         aminoglikosida (gentamisin .15% dapat dibuat dengan modifikasi sediaan bubuk untuk pemberian intravena). levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. ofloksasin.15% tiap jam (tetes mata amfoterisin B 0.

dengan indikasi :  Untuk menegakkan diagnosis. dengan indikasi : Ulkus korena dengan tissue loss berukuran kecil Perforasi kornea perifer berukuran kecil Flap konjungtiva. dengan indikasi : Mempertahankan 39 . Kedurigaan ulkus kornea jamur.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kecenderungan untuk perforasi atau perforasi. dengan indikasi :  Keratitis terpapar  Keratitis neuroparalitik Tissue adhesive atau graft amnion multilayer. terutama pada ulkus kornea jamur. Tidak didapatnya kemajuan terapi setelah 3 hari pengobatan (ulkus kornea bakteri) atau 7 pengobatan (ulkus kornea jamur).  Menghilangkan materi infeksi. 2012        -  pada membrane Bowman dengan indikasi :  Keratitis virus epitelial  Erosi kornea rekuren Keratektomi superfinansial hingga membran Bowman atau stroma anterior. terutama jamur Tarsorafi lateral atau medial . dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descemato cele Perforasi kornea di perifer Keratoplasi tembus. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descem atocele Perforasi kornea di perifer Patch graft dengan flap konjungtiva. tetapi tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan langsung KOH 10% atau pewarnaan jamur lainnya.

Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. sedangkan glaucoma sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai penyulit penyakit mata lain baik yang sedang maupun yang pernah diderita serta penyakit sistemik.  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi dan pin-hole.  Fascia lata graft.5) atau lebih. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.Mengganti jaringan kornea yang terinfeksi dengan donor kornea. Glaucoma primer adalah glaucoma yang timbul dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaucoma. Berdasarkan etiologinya dibagi kedalam glaucoma sekunder.Pada stadium lanjut didapatkan koreksi tajam penglihtan tidak penuh dengan pupil melebar dan berwarna hitam. dengan indikasi : . atrifi dan ekskavasi papil N. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata dengan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.  Klafisikasi glaucoma berdasarkan pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi) dibagi ke dalam glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut. yang bersifat progessif lambat. Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer.5/7.  Pemeriksaan funduskopi – rasio CD (Perbandingan antara lebar cekungan papil terhadap lebar papil N. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.Mempertahankan integritas bola mata.6 atau lebih.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 integritas bola mata .II) sebesar 0.  Pemeriksaan funduskopi : Gambar dan uruaikan papil 40 .  Pemeriksaan dengan biomikroskopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan dengan gonioskopi. terutama TIO yang terlalu tinggi untuk kelangsungan  Klasifikasi glaucoma mirip dengan klasifikasi pada fasilitas sekunder. disebabkan oleh berbagai factor risiko.II serta lapang pandang karakteristik.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO 28 mm Hg (4.  Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma kronis)  Glaukoma sudut terbuka primer adalah glaucoma primer yang ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka. dimana sulit untuk mendapatkan donor kornea 3 GLAUKOMA KRONIS EVALUASI  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik dan pin-hole: biasanya tajam penglihatan masih baik.  Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi : menyempit.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup: gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.

subakut atau merambat (creeping).  Gambaran klinis yang tonometri aplanasi. tonomirip dengan pen dan bila ada dengan glaucoma sudut tonometer non kontak.  Glaukoma sudut terbuka  Pemeriksaan tekanan sekunder intraocular dengan tonometer Schiotz. terbuka primer antara lapang lain adalah glaucoma  Pemeriksaan pandang dengan alat pigmenter. static baik manual maupun glaucoma computer:bila pseudoeksfoliasi. glaucoma perimeter kinetic dan kortikosteroid. saraf optik. Glaukoma jenis ini juga merupakan kelanjutan glaucoma akut sudut tertutup primer yang tidak mendapat pengobatan atau setelah mendapat pengobatan yang tidak sempurna atau setelah terapi iridektomi perifer/trabekulektomi (glaucoma residual). memungkinkan dengan glaucoma angle recess Octopus atau Humphrey.  Selain sudut bilik mata depan yang tertutup. 41 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kesehatan mata. gambaran klinisnya asimptomatis mirip glaucoma sudut terbuka primer. perifer secara perlahan. Glaukoma tersebut dapat pula berkembang dari bentuk intermiten. setelah trauma tumpul  Bila memungkinkan dan lain-lain.Bentuk primer berkembang pada mereka yang memiliki factor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata depan tergolong sempit. evaluasi papil saraf optic  Glaukoma kronis sudut dan serabut saraf retina tertutup primer dengan alat diagnostic  Glaukoma jenis ini imaging seperti OCT adalah glaucoma (optical coherence primer yang ditandai tomography)dan HRT dengan tertutupnya (Heidelberg retinal trabekulum oleh iris topography).

Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 1.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO umumnya lebih dari 21 mm Hg. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 42 . Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. 2012 PENATALAKSANAAN  Tekanan intra ocular diturunkan dengan 1.  Pemeriksaan dengan biomiksokopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata depan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen dengan koreksi dan pin-hole.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan menggunakan teknik Van Herrick dan sebaliknya menggunakan gonioskopi. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.  Pemeriksaan funduskopi : terlihat atrofi papil glaukomatosa.  Pemeriksaan lapang pandang dengan alat perimeter sederhana atau perimeter Goldmann : cacat lapang pandang galukomatosa.

baik untuk  Tujuan pengobatan pada penderita yang terbukti menderita glaucoma sudut terbuka primer adalah mencegah berlanjutnya kerusakan papil saraf optic. penderita tidak patuh. Azopt).5% 2x 1 tetes/hari (bila tidak ada kontra indikasi) .Prinsip terapi mirip dengan penanganan pada fasilitas sekunder. tetapi dapat dikombinasikan tergantung dari sasaran TIO. a. Xalatan. Penerita dirujuk ke dokter spesialis mata. Azopt)  Alpha 2 agonist adrenergic  Terapi laser beurpa trabekuloplasti argon laser.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat obat-obatan secara bertahap berupa : .5 gr/hari  Obat-obatan prinsipnya dibeirkan secara sendirisendiri. 2012  Medika mentosa .KCI 2-3 x 0. pelayanan tingkat sekunder atau tersier bila TIO tetap diatas 21mmHg. Sangat penting diperhatikan kepatuhan penderita dalam melaksanakan pengobatannya. dalam stadium lanjut glaucoma dan/atau utnuk menilai progresifitas penyakitnya. Glauplus.Asetazolamind 3-4 x 125 – 250 mg/hari . trabekuloplasti laser selektif  Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/atau dengan Mitomisin C/5Fluorourasil. Glauplus. Travatan) Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. namun dapat pula menggunakan obatobatan jenis terbaru.  Upaya pencegahan kebutaan akibat glaucoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaucoma secara aktif di masyarakat.0. operasi drainase implant. Adapula yang menetapkan target pressure dengan perhitungan khusus yang bersifat individual/mata.Pilokarpin 2% 4 x 1 tetes/hari . 2. Travatan)  Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. Medikamentosa . non penetrating filtering surgery. Ada yang menurukan 30% lebih rendah dari TIO awal.25% 0.25 – 0. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. Xalatan. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER  Cari faktor penyebab  Medikamentosa Prostaglandin analog (Glaupen.  Oleh karena obatobatan dibeirkan untuk jangka lama dan terus menerus. 43 .Pemilihan obat untuk pengobatan awal didasarkan pada penilaian mata penderita dan status kesehatan umum. tidak tahan terhadap obat-obatan. Sampai saat ini belum ada criteria yang memuaskan untuk menetapkan tingkat TIO yang dapat diterapkan aman untuk mempertahankan keadaan lapang pandang bagi semua penderita. seperti :  Prostaglandin analog (Glaupen. Umumnya TIO diharapkan lebih rendah dari 21 mm Hg.Timolol 0.25% .Timol) 0. . Bila cacat lapang pandang belum lanjut atau TIO tidak terlalu tinggi maka terapi dapat dicoba pada satu mata lebih dahulu untuk menilai manfaat dan efek samping.5% satu sampai 2x sehari bila tidak ada kontraindikasi atau obat-obat baru yang lain (seperti glaupen.Terapi medikamentosa bersifat monoterapi dimulai dengan timolol maleat (C.

tetapi bila bila dianggap tidak efektif maka obat pertama diganti dengan obat lain. Obat ini biasanya dimulai dengan dosis 125 mg. lalu penilaian diulang lagi. Bila dengan monoterapi atau kombinasi ternyata belum mencapai sasaran beurpa penurunan TIO yang tidak memuaskan atau tetap berlanjutnya kerusakan atau sejak awal tekanan lebih dari 30 mmHg maka dapat diberikan terapi sistematik dengan penghambat karbonik anhidrase. dorzol. 1 minggu selanjutnya 4-8 minggu minggu setelah tindakan IP/trabekuloplasti laser. 3 – 4 kali per hari. azopt). Bila efektivitas yang diharapkan belum tercapai. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Terapi medikamentosa diberikan baik sebelum terapi definitive iridektomi perifer maupun setelahnya. xalatan. travatan. non penetrating filtering surgery. Pada setiap pemberian obat asetazolamide harus disertakan pemberian obat preparat kalium - 2012 Alpha 2 agonist adrenergic Terapi laser berupa trabekuloplasti argon laser.  Bila TIO naik pertimbangan pemberian medikamentosa atau tindakan trabekulektomi. Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/ atau dengan mitomisin C/5Fluorourasil. maka dosis ditingkatkan menjadi 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam. Bila dengan obat pertama keadaan TIO yang diharapkan belum tercapai tetapi obat tersebut dianggap berespon baik (mencapai nilai efektif farmakologis) dapat ditambahkan obat tetes lainnya. operasi drainase impant.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penemuan kasus maupun deteksi dini.   3.  Minggu ke 8 lakukan 44 . trabekuloplasti laser selektif. Tindakan iridektomi perifer laser atau trabekuloplasti  Pra dan setelah tindakan diberikan alpha 2 agonis  Pemberian anti inflamaasi topical setelah tindakan selama 2-3 hari  Follow up tindakan laser setelah 1 hari. glauplus. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma.  Tindakan bedah trabekulektomi bila TIO diatas 21 mmHg setelah tindakan iridektomi perifer dan medikamentosa  Tindakan bedah kombinasi trabekulektomi dan katarak bila ada indikasi keduanya.

alasan dan tujuan pengobatan. b.5 gr) 2 -3 x.Bila dengan pengobatan medikamentosa diatas belum memuaskan sebaiknya penerita dipertimbangkan untk dilakukan terapi bedah (trabekulektomi atau non penetrating filtering surgery) atau dikonfirmasikan untuk kemungkinan tindakan lain ke pelayanan tingkat tersier.HRT : Evaluasi setiap 6.5 gr per hari.OCT. Hal ini perlu dalam upaya menjaga kepatuhan penderita dalam berobat.  Pasien harus diyakinkan perlunya pemeriksaan kontrol berkala seumur hidup mengenai TIO.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat (KCL 0.  Perhatikan ada tidaknya pertambahan skotoma/kelainan lapang pandang dengan automatic perimeter setiap 6-12 bulan: Octopus.12 bulan. 2012 gonioskopi dan cek TIO. Instruksi bagi penderita :  Dalam pengobatan glaukoma penting sekali untuk memberikan instruksi pada penderita mengenai waktu dan pemakaian obat termasuk cara menekan daerah kantus internus untuk mencegah absorpsi sistemik obat tetes. cara berbagai obat bekerja dan efek samping yang mungkin terjadi.25 – 0. Perawatan setelah tindakan trabekulektomi  Berikan kombinasi antibiotic dan anti inflamasi topical serta antibiotic sistemik  Kontrol 1 hari pasca bedah  Kontrol 7-10 hari pasca bedah  Kontrol setiap minggu sampai 1 bulan  Kontrol tiap 4-6 bulan bila keadaan baik Evaluasi dan follow up pasien glaukoma kronis  Perhatikan ada tidaknya progresfitas papil atrofi glaukomatosa  Fundudkopo.Humphrey  Lakukan Gonioskopi minimal setiap 3 bulan 45 .Dokter harus merencanakan dan membicarakan saat dan jenis pengobatan dan meyakini bahwa nama obat dan jam pemberiannya ada tertulis di label botol. 0.  Tambahan pula pasien harus diberitahu dengan kata-kata yang sederhana mengenai mekanisme terjasinya glaukoma. Tindakan bedah : .

Iridektomi perifer .  Penderita sebaiknya mengetahui nama dan konsentrasi obat yang sedang digunakan.Bedah katarak/ekstraksi lensa.Asetazolamid 2-3 x 2012 46 . GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Tindakan bedah iridektomi perifer pada kedua mata  Medikamentosa obatobat glaucoma untuk menurunkan tekanan intraokular . GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER Cari factor penyebab seperti yang tertulis di atas. kemudian tentukan :  Medikamentosa  Tindakan bedah : .Kartu pengenal tanda penderita glaukoma yang harus dibawa penderita mungkin ada manfaatnya. . . serta penggunaan obat tetes yang benar/patuh seperti yang diinstruksikan kepadanya.5 % 2 x sehari.Timolol 0.II dan lapang pandang.Trabekulektomi .  Bila dengan penatalaksanaan diatas masih juga menunjukkan kemunduran maka dirujuk ke tingkat tersier untuk dipelajari lebih lanjut.Penting pula pasien dan dokter lain yang merawatnya mengetahui efek samping. alergi dan kemungkinan keracunan obat glaukoma.Pilokarpin 2% 4 x perhari.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penilaian papil N. 3.  Keluarga langsung perlu diikutsertakan dalam penatalaksanaan penderita 2.

 Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. Glauplus.Obat-obat baru seperti : Glaupen.  Tindakan bedah trabekulektomi.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. bila dengan tindakan iridektomi perifer dan obat-obatan tekanan intraocular masih diatas 21 mmHg.  Dilakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat adanya kekeruhan lensa. Azopt.  Derajat katarak ditentukan sebagai berikut : a.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz. tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.5%. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien. biasanya visus masih lebih baik dari 6/12. Xalatan.5%.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non-contact. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia pendirita juga biasanya kurang dari 50 tahun. Dorzol. 4 KATARAK PADA PENDERITA DEWASA EVALUASI  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole  Pemeriksaandengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior dimana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak refleks pupil yang masih baik.  Jika TIO dalalm batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. Travatan. Derajat 1 : Nukleus lunak.  Pemeriksaan funduskopi dengan oftalmoskop langsung untuk melihat segmen posterior jika katarak masih tidak terlalu  Pemeriksaan visus dengan kartu snellen dengan koreksi terbaik serta mengunakan pin-hole. aplanasi atau Schiotz  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. 47 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 250 mg sehari disertai dengan KCI 2-3 x 500mg .5%. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien. 2012  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pin-hole.

dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. dimana refleks fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai. d. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior. visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah diatas 65 tahun.  Dilakukan pemeriksaan 48 . Katarak ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract. 2012 Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan. Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30. Derajat 4 : Nukleus keras. c. tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan. Derajat 3 : Nukleus dengan kekerasan medium. dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60. Derajat 5 : Nukleus sangat keras. e.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keruh b.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 fundus dengan oftalmoskopi langsung ataupun tidak langsung.  Setiap kali melakukan pemeriksaan pre –operasi mencakup hal-hal berikut : Anamnesis riwayat penyakit mata.risiko operasi. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. jika visus sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi.  Penatalaksanaan bersifat non bedah. pasien dipersiapkan untuk implantsi lensa tanam (I)L: intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.Misalnya jika pasien menggunakan kacamata S-6.00  Perhatikan juga rekomendasi tindakan bedah katarak. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah. penyakit lain ataupun alergi. dimana pasien dipersiapkan untuk implantasi lensa tanam (IOL : Intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersai. dapat dilakukan operasi ECCE (Extra capsular cataract extraction)  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro. serta perawatan pasca operasi. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. 49 .  Pasien mengisi surat izin tindakan medis (informed consent).  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersi. tetapi bisa juga berdasarkan anamnesis menggunakan IOL standar (power +20.00) dikurangi ukuran kacamta yang selama ini digunakan pasien.  Penatalaksanaan bersifat bedah.00 dapat diberikan IOL power +14.  Teknik bedah katarak menggunakan teknik manual ECCE atau pun fakoemulsifikasi dengan mempertimbangkan derajat katarak serta tingkat kemampuan ahli bedah  Operasi katarak hanya dilakukan jika visus sudah mengganggu kegiatan sehari-hari pasien dimana pasien berkesempatan melakukann diskusi dengan dokter mengenai alternative lain selain operasi. pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier.

Pengukuran tekanan intraocular Penilaian fungsi pupil (reflex pupil). Memberikan infomasi kepada pasien mengenai resiko. jika pasien tersebut direncanakan implantasi lensa tanam. penempatan sayatan dan konstruksi luka. 50 . Pemeriksaan mata luar (external examination) dengan senter dan lup atau slit lamp bergantung fasilitas. keuntungan dan kerugian operasi serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat - 2012 Visus tanpa koreksi dengan Snellen serta refraksi terbaik. Membuat rencana pembedahan (jenis anesthesia. Menentukan kekuatan lensa tanam yang sesuai. Memperoleh surat izin tindakan medis (informed consent) Memastikan bahwa hasil keratometri dan biometri A Scan sesuai dengan mata yang akan dioperasi. jika pasien tersebut direncanakan untuk implantasi lensa tanam. Pemeriksaan fundus dengan dilatasi pupil - -  Dokter spesialis mata yang akan melalukan operasi katarak sebaiknya memperhatikan persiapan preoperasi sebagai berikut : Memeriksa pasien sebelum operasi.

 Operasi katarak bilateral ( operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara beruntun) sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak kebutaan.Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 refraksi pasca operasi yang direncanakan serta jadwal pemeriksaan pasca bedah). Kualitas hidup pasien belum terganggu dengan gangguan penglihatan yang dialaminya. Pasien tidak dapat menjalani operasi 51 .  Operasi tidak boleh dilakukan pada keadaan sebagai berikut : Pasien menolak tindakan operasi Pemberian kacamata ataupun alat bantu penglihatan lainnya masih cukup memuaskan bagi pasien. Ada dugaan bahwa operasi tidak dapat meningkatkan penglihatan pasien pasca operasi. Melakukan evalusi pre operasi diatas termsuk pemeriksaan laboraturium serta berdiskusi dengan pasien ataupun keluarga pasien yang dianggap lebih mengerti dan dapat bertindak atas nama pasien.

berkewajiban mendidik.  Pemriksaan lanjutan pasca operasi (follow up) : Frekuensi pemerksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat pencapaian visus 52 . Pasien tidak dapat memberikan surat izin tindakan medis yang sah secara hukum karena kurang pengertian ataupun kurang informasi. adanya pembatas kegiatan. Pasien tidak dapat mengikuti petunjuk pengobatan pasca operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 katarak berkaitan dengan penyakit mata lain ataupun keadaan kesehatan akibat penyakit lainnya. Dokter spesialis mata/staf juga menerangkan mengenai tanggung jwab pasien untuk mengikuti petunjuk yang harus dilakukan selama perawatan pasca operasi dan pasien harus segera menghubungi dokter tersebut jika mengalami masalah. pengobatan. penggunaan proteksi mata. jadwal kunjungan lanjutan (follow up) dan petunjuk dimana harus mendapatkan perawatan darurat jika diperlukan. menjelaskan dan member instruksi kepada pasien mengenai gejala ataupun tandatanda mengenai kemungkinan terjadinya komplikasi pasca operasi. - -  Dokter spesialis mata yang melakukan operasi ataupun staf dokter tersebut.

 Kunjungan kedua : dijadwalwak - - 53 . maka pemeriksaan harus dilakukan harus satu hari setelah operasi. edema kornea ataupun tandatanda peradangan. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre-operasi maupun intra operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:  Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam waktu 48 jam setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang menyebabkan bilik mata dangkal. peningkatan tekanan intraocular.hipotonu s. glaukoma dan lain-lain. seperti pada pasien dengan satu mata. mengalami komplikasi intra – operasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis. Pada pasien dengan risiko tinggi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 optimal yang diharapkan.

Obat-obat yang digunakan pasien pasca operasi bergantng dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien (misalnya analgetika.  Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien dimana bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang diharapkan. antibiotika oral. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 2 minggu pasca operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan pertama. yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu pertama pasca operasi. dan lain-lain). - 54 . anti glaukoma atau edema kornea.

 Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid seperti CXitrol 3 kali sehari selama 5-7 hari. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah.  Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. 2012  Pemeriksaan dengan slit lamp. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium. dilakukan tindakan bedah berupa avulsi (pengangkatan)  Penatalaksanaan pada fasilitas tersier bersifat bedah dengan memperhatikan tujuan utama dari pengangkatan dari pterygium.  Sebagai perbandingan angka kekambuhan pasca pengangkatan pterygium dapat dilihat dari berbagai 55 . Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi  Penatalaksanaan bersifatnon bedah pada pterygium derajat 1 dan 2.  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. mengingat komplikasi dari mitomycin C yang cukup berat. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi ataupun mengalami kelainan kornea.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 5 PTERYGIUM EVALUASI  Pemeriksaan cukup dengan lup dan lampu senter. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid sepertiCXitrol 3 kali selama 5-7 hari.  Pemeriksaan dengan slit lamp. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. yaitu:  Teknik operasi yang dianjurkan adalah dengan avulse pterygium disertai cangkok konjungtiva (conjunctival limbal graft) Penggunaan Mitomycin C sebaiknya hanya pada untuk penanganan kasus pterygium yang rekuren. penderita diberi penyuluhan untuk mengurahi iritasi maupun paparan terhadap ultra – violet.  Pada pterygium derajat 3 dan 4.  Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual maupun menggunakan alat autorefrakto-keratometer  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan cara aplanasi ataupun menggunakan tonometer non kontak. yaitu edukasi terhadap pasien untuk mengurangi iritasi dan paparan ultra – violet. Jika pterygium mengalami inflamasi. diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan Snellen  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya (glaukoma). perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz.

senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen 56 . dan usia sekolah.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.  Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur (kelompok non verbal dengan pemeriksaan fiksasi.6% (Mutlu et al) Graft Graft Sclera Intra-Operative Mitomycin C 5.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. E Chart dan kelompok verbal dengan Snellen chart)  Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. dan usia sekolah.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup.9% (Mabar et al) Conjuctival Limbal 14.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat ataupun mengalami kelainan kornea. simbol chart. 2012 laporan sebagai berikut.8% (Helal et al) Amniotic Membrane 10. dan usia sekolah.9%(Prabhasawat et al) Transplantation 3% (Solomon et al) 6 KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK EVALUASI  Mengenali gejala dan tanda pada masing-masing kelainan refraksi sesuai usia. TECHNIQUE RECURENCE RATE Bare 61 % (Tan et al) 40% (Figuiredo et al) Conjunctival 18% (Wong et al) 25. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn. usia prasekolah (2-5 thn). Sedapat mungkin setelah avulse pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterygiumtersebut ditutupi dengan cangkok kongjungtiva yang diambil dari bagian kanjungtiva superior untuk menurunkan angka kekambuhan.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. pterygium. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.

2012 PENATALAKSANAAN  Koreksi kelainan refraksi pada kelompok usia sekolah bila pada pemeriksaan subjektif virus mencapai 6/6. Kebutuhan tajam penlihatan sesuai umur.  Koreksi kelainan refraksi pada semua kelompok umur harus berdasarkan pertimbangan :  Apakah besarnya kelainan refraksi cukup mengganggu aktifitas  Kemampuan akomodasi pasien. resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi.5% posterior dengan oftalmoskop direk.  Mendeteksi adanya faktor-faktor ambliopia. dengan sebelumnya dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0. posterior dengan oftalmoskop direk.  Pemeriksaan kemungkinan ambliopia dan atau mata juling.  Rujuk ke TEC bila dijumpai ambliopia dan/ atau mata juling.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan funduskopi kedua mata dengan oftalmoskopi direk.  Rujuk ke fasilitas sekunder bila: Pada kelompok usia sekolah visus dengan koreksi tidak mencapai 6/6 Pada kelompok usia <2tahun dan kelompok usia prasekolah didapatkan tanda dan gejala kelainan refraksi dan kemampuan penglihatan tidak sesuai dengan umur Dijumpai kelainan posisi bola mata (kelainan refraksi + mata juling)  Koresi kelainan refraksi pada semua kelompok harus berdasarkan pertimbangan : besarnya kelainan rekraksi cukup mengganggu aktivitas: kemampuan akomodasi pasien :.  Kebutuhan tajam penglihatan sesuai umur  Resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi  Penatalaksanaan amblipio dan akomodatif esotropia  Koreksi (tindakan)sisa esotropia pada kasus akomodatif esotropia setelah koreksi kaca mata diberikan 7 STRABISMUS EVALUASI  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai 57 .

Bila penderita adalah bayi. Penilaian status sensoris 58 . demikian pula yang dewasa. bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan dengan terlebih dahulu koreksi   keadaan. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masing-maisng anak. demikian pula yang dewasa. dinilai keadaan kornea. Bila penderita adalah bayi. Dilakukan penilaian pergerakan bola mata untuk melihat ada tidaknya hambatan pergerakan bola mata. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Demikian pula harus dilakukan pemeriksaan deviasi dengan dan tanpa koreksi kaca mata kalau terdapat kelainan refraksi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keadaan. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. Steady. Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior. Alternate Cover Test (ACT) / Prism Cover Test (PCT) Ukur deviasi jauh dan dekat serta dinilai ada tidaknya A&V pattern. iris pupil termasuk reflek pupil dan lensa. dinilai keadaan kornea. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. keadaan. coveruncover test dan Alternate Cover Test (ACT) 2012                PENATALAKSANAAN  Rujuk ke sekunder fasilitas  Bila terdapat kelainan rekraksi. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Funduskopi dengan oftalmoskop direk. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. demikian pula yang dewasa. Maintain (CSM). koreksi dengan kaca mata yang sesuai Bila terdapat ambliopia. dinilai bagaimana keadaan kornea. Bila penderita adalah bayi. pemeriksaan visus secara subyektif dengan cara Central. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. Bila dicurigai ada simulated divergence excees perlu dilakukan pemeriksaan sudut deviasi setelah oklusi paling sedikit 1 jam pada salah satu mata. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Krimsky. iris/pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. iris pupil dan lensa.

dan tua)  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata dan putih mata.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kelainan refraksi. Bila tipe Divergence Excess dapat dilakukan reses rektus lateral pada kedua mata. Jenis operasi yang dilakukan disesuaikan dengan diagnosis dan pola deviasi yang ada dan keadaan visus masing-masing mata. Terlihat adanya sama dengan pelayanan benjolan/ulkus di kesehatan sekunder atau palpebrapun primer. tidak dengan alat Hertel.  Pemeriksaan mata  Pemeriksaan mata dengan/ tanpa slitlamp : dengan/ tanpa slitlamp. dan penurunan visus). lama gejala. tetap ekstropia. 8 TUMOR ORBITA EVALUASI  Identitas : umur (anak. 2012         Bila terdapat kelainan refraksi. dewasa muda. rasa nyeri. dan tua)  Anamnesis (mata  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata ulkus dikelopak mata dan putih mata. dan tua) dewasa muda. rasa nyeri.  Pemeriksaan mata tanpa slitlamp : Terlihat adanya benjolan/ulkus di palpebrakonjungtiva dengan  Identitas : umur (anak. rasa nyeri. penurunan visus). Bila ambliopia. penglihatan ganda. lama dan putih mata. penglihatan gejala. konjungtiva dengan  Pemeriksaan orbita : permukaan Pengukuran berbenjol-benjol besarnya proptosis pada usia tua. dapat dilakukan reses –resek pada mata yang tidakk dominan atau yang visusnya lebih buruk Bila tipe convergence insufficiency dapat dilakukan resek rektus medieus. Bila dengan pemberian kaca mata tidak ada perbaikan pada deviasinya maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tertier untuk dilakukan penatalaksanaan selanjutnya. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan. lakukan operasi. penglihatan ganda. 59 . lama gejala. dan ganda.  Identitas : umur (anak. Bila tipe Basik dan bila visus salah satu mata tidak baik. berikan koreksi terbaik. dan penurunan visus). Bila dengan koreksi kelainan refraksi. dewasa muda.

atau pembesaran rongga - 2012 Arah terdorongnya bola mata : bola mata ke nasal bawah: Massa temporal atas (kelenjar lakrimal) usia muda. dapat mukokel atau keganasan dari epitel sinus (karsinoma sel skuamosa) bola mata terdorong aksial : massa berada di konus – umumnya tumor dari saraf optik terutama pada penderita berusia muda. dengan lama gejala yang khronis-diagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma.  Pemeriksaan orbita : Pengukuran adanya proptosis dengan menggunakan alat Hertel atau penggaris di kantus lateral ke ujung kornea. meningioma. gejala dirasakan lebih dari 1 tahun. menunjukkan lebar fisura yang melebar. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak.pertumb uhan cepat : adenoid kistik karsinoma atau keganasan lain bola mata ke inferior: massa berada di superior – umumnya neurilemmoma atau kista dermoid bola mata terdorong inferotemporal : massa berada di nasal tumor berasal sinus frontal. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan suatu proses inflamasi. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. adenokarsinoma kelenjar Meibom. tidak menyembuh dengan pengobatan antibiotika. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan menyembuh dengan pengobatan antibiotika. dengan lama gejala lebih dari 1 tahun. adenokarsinom a kelenjar Meibom. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas.karsino ma sel skuamosa.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat permukaan berbenjolbenjol pada usia tua. atau melanoma maligna). dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. dengan lama gejala yang khronisdiagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. Kuadran lokasi - - - 60 . dan dapat hemangioma kavernosa bola mata terdorong ke superior : massa berasal dari inferior kebanyakan tumor ganas berasal dari sinus maksila atau jaringan penunjang. atau melanoma maligna). Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. pertumbuhan lambat :benign mixed tumor usia muda/tua. antara lain glioma. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas.kar sinoma sel skuamosa. menunjukkan lebar fisura yang melebar.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Foto orbita baku – pada tumor primer orbita jinak diharapkan gambaran perselubungan. phlebolith.

orbita. CT-scan : pemeriksaan ini cukup untuk mendiagnosis tumor orbita serta membantu untuk 61 . penilaian lebih dititik beratkan pada ada tidaknya tumor dan refleks tumor.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Ultrasonografi : pemeriksaan tidak invasif.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakonjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi/insisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. dinilai kekenyalannya.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat suatu proses inflamasi. Pemeriksaan USG sukar untuk mendiferensiasika n jenis tumor. Jika teraba lunak dapat diduga tumor bersifat jinak. Jika tumor dapat diraba. 2012 massa berada berlawanan dengan arah terdorongnya bola mata tumor sesuai dengan jaringan/organ yang berada di kuadran tersebut Gangguan gerak bola partial. tempat hambatan menunjukkan lokasi tumor (kuadran lokasi) Pemeriksaan pulsasi : bila posifit tumor dapat berupa neurofibroma atau jika diketahui didahului trauma/hipertensi pada orang tua dapat diferensiasi dengan arteri-vena fistula. pada tumor primer orbita ganas dan metastasis/invasi diharapkan gambaran destruksi tulang. tetapi jika keras kenyal dapat dicurigai tumor bersifat ganas. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi.

Pemeriksaan MRI dan arteriografi pada kasus khusus yang mencurigai fistula atau ingin mengetahui tumor berasal dari saraf optik. Untuk membedakan sifat tumor. Pemeriksaan dilanjutkan  Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan ini sangat membantu dalam membedakan sifat ganas tumor.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penentuan penatalaksanaan selanjutnya.Pada tumor epitel yang  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. seperti prednisone dosis tinggi 12-16 tablet (2mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. berukuran kecil dan diduga jinak.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. berukuran kecil dan diduga jinak.  Pada tumor epitel adneksa. tetapi dengan penanda ganas asam sialat menunjukkan nilai kadar yang berbeda bermakna. - PENATALAKSANAAN  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. Jika tidak berhasil sebaiknya dirujuk untuk ekspolari lanjut.  Pada tumor epitel adneksa.  Pemeriksaan fisik : untuk mencari adanya keganasan atau metastasis. Akan tetapi pemeriksaan penanda ganas tidak ada yang spesifik untuk tumor orbita.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakomjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Jika tidak berhasil sebaiknya penderita dirujuk. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi 62 . kemudian diturunkan secara bertahap. kemudian diturunkan secara bertahap. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. jinak atau ganas dengan menilai batas tumor. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.

 Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. sebaiknya dirujuk. baik jinak. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. eksisi dengan rekonstruksi. kemudian diturunkan secara bertahap. terutama pada tumor orbita. dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. Jika diagnosis meragukan.Pemerik saan dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. Jika tidak berhasil dapat diberikan sitostatika single agent seperti chlorambucil dengan pengawasan ahli hematologi. kecuali bila lokasi di daerah kelenjar lakrimal.  Jika meragukan melakukan tindakan.  Jika meragukan melakukan tindakan. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. radiasi. sebaiknya dirujuk. terutama pada tumor orbita. Jika memungkinkan dapat dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. Pada tumor konjungtiva. ataupun sitostatika.  Penatalaksanaan selanjutnya dapat dirujuk untuk tindakan pembedahan.  Pada tumor epitel adneksa. karsinoma sel skuamosa stadium 1 setelah ektirpasi tumor dapat dilanjutkan dengan pemberian sitostatika local seperti tetes mata mitomycin. berukuran kecil dan diduga jinak.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. Pada tumor yang lebih luas.Jika diagnosis meragukan. Pengobatan tambahan radiasi atau sitostatika dapat diberikan. Pemeriksaan patologi jaringan tumor 63 . Pada tumor yang lanjut dan telah berinvasi ke orbita dilakukan tindakan pembedahan radikal eksenterasi orbita. 2012 insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. baik jinak.

pelebaran  Fundus Fluorocence Angiography (FFA). Pemeriksaan visus dengan Snelen chart Pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer Schiozt Pemeriksaan refleks cahaya pada pupil baik langsung maupun tak langsung Pemeriksaan funduskopi dengan menggunakan ophhalmoscope direk. dengan kerjasama antar disiplin. pergerakan bola mata. neovaskularisasi iris. kekeruhan vitreus. untuk melihat kekeruhan vitreus karena perdarahan atau adanya jaringan fibro-vaskular. kedudukan bola mata. 9 DIABETIK RETINOPATI EVALUASI  Anamnesia semua penderita diabetes mengenai keluhan penglihatan. bila terdapat kekeruhan media dan fundus tidak tembus. jenis pembedahan sesuai dengan lokasi dan jenis tumor. eksudat. Pemberian terapi tambahan radiasi dan sitostatika dapat diberikan sesuai kebutuhan dan sesuai dengan patogenesa jenis tumor. apakah ada perdarahan.  Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan. tekanan bola mata. terutama CTscan untuk mengetahui dengan tepat lokasi tumor. eksudat atau kekeruhan  Pemeriksaan mata dasar yang meliputi visus. ganas. perdarahan retina. Pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan oftalmoskop indirek. flare dan sel di BMD. ERG         64 . baik jinak. RAPD.  Pada tumor orbita. USG. Pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan slit lamp untuk melihat apakah ada epiteliopati kornea. ataupun metastasis/invasi sebaiknya dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. dilakukan apabila ada indikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 harus dilakukan. tingkat kekeruhan lensa. segmen anterior dan segmen posterior. Penatalaksanaan sebelumnya dengan melakukan pemeriksaan penunjang.

 Seperti tindakan pada PEC. penderita dirujuk ke pelayanan kesehatan mata sekunder (SEC) untuk evaluasi lebih lanjut. dengan penjelasan akan prognosis penglihatan dan kemungkinan retinopati bertambah berat setelah operasi. pasien dikonsulkan ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol gula darahnya dan apabila dari anamnesis penyakit diabetes diderita sudah lebih dari 2 tahun. dapat dilakukan operasi. dievaluasi setiap 3 bulan Kontrol gula darah dilakukan oleh dokter penyakit dalam.  Pasien dengan NPDR berat dengan/tanpa CSME. adanya retinopati merupakan indikasi untuk rujukan ke tingkat yang lebih tinggi. pasien dapat dikonsul bilamana keadan keadaan memungkinkan. Bila ditemukan adanya diabetes mellitus. vena. 10 RETINA LEPAS (RETINAL DETACHMENT) EVALUASI  Anamnesia  Melakukan evaluasi  Melakukan tindakan 65 .  Pasien dengan diabetic retinopati stadium non proliferative (NPDR) ringan dan sedang. pasien dapat dirujuk langsung untuk evaluasi segmen posterior.  Apabila funduskopi tersedia dan gambaran fundus dapat dinilai. intra-retinal microvascular anomaly (IRMA) dan neovaskularisasi. dilakukan terapi fotokoagulasi laser.  Pasien dengan NPDR berat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat vitreus. ada diabetes mellitus atau tidak. yaitu dengan adanya pendarahan vitreus dan pertumbuhan jaringan fibrovaskular di vitreus. yaitu apabila ditemukan salah satu dibawah ini:  Pendarahan intra retina 4 kwadran  Pelebaran vena 2 kwadran  Intra retina mikrovaskular abnormalism 1 kwadran  Pasien dengan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR).  Operasi vitrektomi dilakukan apabila terdapat pendarahan vitreus. persistent mascular edema dan ablasio retina traksi. Apabila diabetes diderita kurang dari 2 tahun. 2012 PENATALAKSANAAN  Seleksi pasien.  Apabila dari anamnesis tidak diketahui lamanya diabetes diderita.  Apabila ditemukan katarak yang mempersulit evalusi segmen poeterior. dirujuk ke pelayanan kesehatan mata tersier. pertumbuhan jaringan fibrovaskular di retina.  Seperti tindakan pada SEC.

PENATALAKSANAAN  Rujuk ke PPK 2  Apabila tidak ada kecurigaan tetapi ada keluhan. Tipe exudative memerlukan pengobatan sesuai dengan penyakit yang mendasari. dan faktor resiko seperti disebutkan diatas.  Melakukan tindakan sesuai dengan jenis retina lepas. Jenis operasi (sclera buckling atau vitektomi) tergantung kondisi yang dirtemukan. Super Pupil Volk atau Goldmann 3mirror. Semua jenis rhegmatogen yang tidak mengancam macula atau jenis traksional yang melibatkan macula harus dirujuk seceoatnya. hingga tindakan dilakukan. fibrosis vitreus dengan perlekatan retina dan tanda lain seperti disebutkan sebelumnya. seperti pelayanan di PEC. umumnya dalam beberapa hari. Super Field Volk. Pemeriksaan dengan funduskopi langsung – apabila tersedia – memberi gambaran retina lepas atau perdarahan retina. operasi dilakukan secepatnya. Pada rhegmatogen akut dan traksional yang tidak mengancam macula. kondisi mata sebelahnya dan mobilitas penderita. Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan sebagai penunjang. 66 . Penderita dirujuk TEC untuk penanganan lebih lanjut dengan penjelasan akan faktor dan keberhasilan. kampimetri. Pemeriksaan fundus sebaiknya dilakukan dengan funduskopi tidak langsung atau dengan condensed wide angle lens (Mainster Ocular.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat mengenai lama kejadian. dan jenis viteus tamponade ditentukan oleh keadaan yang ditemukan pre-operative dan durante operasi. penderita harus diistirahatkan apabila mengancam macula. elektrofisiologi atau ultrasonografi dilakukan bila diperlukan untuk menunjang diagnosis. 2012 seperti di SEC dan memutuskan jenis retina lepas. sedangkan yang kronik dapat dioperasi dalam waktu 1 minggu. Pemeriksaan. Pemeriksaan di SEC sudah dapat menentukan apakah penderita perlu di rujuk atau tidak ke TEC. ditambah dengan pemeriksaan fundus untuk evaluasi retina. Kecurigaan akan retinal detachment memerlukan uji konfrontasi. Keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari akan memperbaiki retina yang lepas. Seluruh retina lepas harus dianggap sebagai rhegmatogen.

Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK III .Psikoedukasi keluarga .252mg/hari (po) .Diagnosis Terapi sesuai penyebab Kondisi agitasi/psikotik : Antipsikotik inj . A DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 SpKJ (-) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Diagnosis Penatalaksanaan Kondisi agresif : Pilihan antipsikotik .Skrining .Terapi perilaku .Diagnosis .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .252mg/hari (po) .Skrining .Skrining .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK 3 .Skrining .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi stimulasi/aktivitas .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Diagnosis .Fluoksetin 10mg/hari (po) Anti demensia : .Terapi pemeliharaan PPK 3 GANGGUAN MENTAL ORGANIK Demensia .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Risperidon 0.Haloperidol (im) 25mg.Sertralin 25mg/hari (po) .Skrining . 1.Skrining .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Aripiprazol 515mg/hari (po) Gejala depresi : (pilihan) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI) No. bila perlu diulang tiap 1 jam 67 B Delirium .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 SpKJ (+) .Haloperidol 0.Donepezil .Rivastigmin Non farmakologik .

51mg/hari .Diagnosis Perilaku rujuk ke rujuk ke .Penanganan kondisi akut .Lorazepam (im.Skrining .Skrining .Diagnosis .52mg/hari Non farmakologik .Olanzapin 510mg/hari .Skrining . A B Gangguan Mental dan Perilaku akibat . jika tidak n rujuk ke ada respon naikkan PPK 3 dosis menjadi 1.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Kondisi akut : .6mg sampai 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 atau Olanzapin (im) 5mg .Skrining .Diagnosis Penatalaksanaan 68 2.Risperidon 0.Psikoterapi suportif .Diagnosis .Jika tidak dg 0.Lorazepam 0.Skrining .Kondisi akut : .Skrining Mental dan .Haloperidol 2x0.Edukasi keluarga GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Gangguan .Skrining .51mg/hari .Quetiapin 25150mg/hari Terapi tambahan .4mg/jam (iv) Evaluasi tanda vital Atasi penyulit Intoksikasi berat rawat ICU .Kondisi akut : rujuk ke PPK II dg .Reorientasi lingkungan .Penanganan akibat PPK 2/PPK 3 PPK 2 dg kondisi akut Penatalaksanaan : Penyalahgun SpKJ/PPK 3 jika Antidotum Naloxon aan Opioid memungkinka HCl (intoksikasi) n Naloxone (iv) mulai .2mg Bila ada respon teruskan pemberian 0.8mg evaluasi memungkinka tiap 15’. iv) 1-2mg Antipsikotik oral (pilihan) .

Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Klorpromazin 1mg/kgBB Antihipertensi : Jika TD > 140/100mmHg Gejala ansietas : .Klordiazepoksid 3x25mg Bila kejang : Diazepam 10-30mg 69 C Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (intoksikasi) .Kodein Subtitusi non opioid : .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana Simtomatik sesuai gejala Subtitusi opioid : .Edukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Metadon .Rehabilitasi .Diazepam 3x5mg .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana jika memungkinka n .Bufrenorfin + Nalokson .Skrining .Diagnosis .Haloperidol 25mg/kali .Skrining .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Penyalahgun aan Opioid (putus zat) .Klonidin Pemberian sedatifhipnotik dan antipsikotik diberikan sesuai indikasi Non farmakologik .Terapi subtitusi di PPK 1 yg telah mampu laksana SpKJ/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Diagnosis .

Skrining .Klobazam 2x10mg Gejala depresi : .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal 70 D Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (putus zat) .Diagnosis Penatalaksanaan Observasi di IGD Rawat inap jika disertai tanda2 psikotik.Risperidon 2x1.Skrining .Haloperidol 3x1.25-0.Diagnosis .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Skrining .Psikoterapi suportif .Skrining .Edukasi keluarga . depresi berat atau ide bunuh diri Antipsikotik : .Amitriptilin 2550mg Non farmakologik .Setralin 25-50mg .Skrining .Diagnosis .Diagnosis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 (parenteral) Cardiac monitoring Propanolol 2080mg/hari .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 E Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Dekstrometo rfan (intoksikasi) .53mg Gejala ansietas : .5mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diazepam 3x510mg .Alprazolam 2x0.Jika tidak memungkinka n rujuk ke .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Fluoksetin 1020mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .55mg .Skrining .Rehabilitasi .

Skrining Gangguan .Skrining .Golongan Benzodiazepin SKIZOFRENIA. GANGGUAN SKIZOTIPAL.Diagnosis .Restrain (fiksasi) .Haloperidol 5mg bulan untuk bulan untuk 25-50mg (im) (im) 71 2.Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Antidepresan .Skrining .Kondisi .Terapi .Hospitalisasi .6.Diagnosis .Restrain Pilihan antipsikotik /lanjutan setelah /lanjutan setelah injeksi : penanganan dan penanganan dan Pilihan .Skrining . GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Skizofrenia.Seklusi pemeliharaan pemeliharaan .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 3.Haloperidol 25mg/kali .Diagnosis Skizotipal.Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PPK 3 Antipsikotik : .Seklusi (isolasi) dg SpKJ/PPK 3 dg SpKJ/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2 farmakologik . Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Alkohol (intoksikasi) .SpKJ selama 3 .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Kondisi .Klorpromazin 25atas petunjuk atas petunjuk antipsikotik inj : 50mg (im) dr.Klorpromazin .Golongan Benzodiazepin .Hospitalisasi .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : . A .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . .Skrining .Terapi .Haloperidol 25mg/kali .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Antidepresan .Skrining .Skrining .SpKJ selama 3 dr.Rujuk ke PPK 2 . emergensi : emergensi : Gangguan Klorpromazin Klorpromazin Penatalaksanaa Penatalaksanaan Waham 25-50mg (im) 25-50mg (im) n bila tidak ada bila tidak ada Fase akut hipotensi hipotensi Fase akut atau Lorazepam atau Lorazepam Non farmakologik (im) 1-2mg (im) 1-2mg Non .

Klozapin 150600mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas 72 .Haloperidol 5mg (im) .75mg (im) .Paliperidon 39mg/hari .Trifluoperazin 1550mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Perfenazin 1624mg/hari .Aripiprazol 9.Risperidon 28mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Klozapin 150600mg/hari .Quetiapin 300800mg/hari .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Olanzapin 10mg (im) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Quetiapin 300800mg/hari .Psikoterapi suportif .75mg (im) .Haloperidol 5-20mg/hari .Intervensi .Aripiprazol 9.Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Aripiprazol 1030mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Trifluoperazin 15-50mg/hari .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Intervensi perilaku .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Aripiprazol 10-30mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Perfenazin 16-24mg/hari .Olanzapin 1030mg/hari .Paliperidon 39mg/hari .Olanzapin 1030mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Haloperidol 520mg/hari .

Risperidon long acting inj Penatalaksanaa n efek samping neurologis (akatisia. parkinsonism) : . parkinsonism) : .Psikoterapi suportif .Lorazepam 16mg/hari Sindroma Neuroleptik Malignansi (SNM) : .Pelatihan ketrampilan social .Hentikan obat 73 .Flufenazin dekanoat inj .Turunkan/he ntikan obat Fase stabilisasi: Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Intervensi perilaku .Propanolol 1030mg/hari . distonia.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 perilaku .Turunkan/hentika n obat .Intervensi psikososial .Pelatihan ketrampilan social .Flufenazin dekanoat inj .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Psikoterapi suportif .Risperidon oral solution .Haloperidol dekanoat inj .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas Fase stabilisasi: Non farmakologik .Intervensi psikososial .Psikoedukasi keluarga .Haloperidol dekanoat inj .Terapi okupasi/voka sional .Risperidon long acting inj Penatalaksanaan efek samping neurologis (akatisia.Difenhidramin inj 1-2cc (im) . distonia.Intervensi perilaku .Triheksifenidil 112mg/hari .Terapi okupasi/vokasiona l .Risperidon oral solution .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .

Difenhidrami n inj 1-2cc (im) .Diagnosis Penatalaksanaan Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Klozapin 300750mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Dantrolen 1mg/kgBB/hari.Lorazepam 3x1-2mg .Lorazepam 3x12mg Pasien refrakter : .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Diagnosis Indikasi rawat jalan : .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .5mg.Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Benzodiazepin 12mg (im) B Gangguan Skizoafektif .Lorazepam 16mg/hr .Propanolol 10-30mg/hr .Divalproat 23x250mg . maksimal 30mg/hari .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Fungsi diri baik Indikasi rawat inap : 74 4.Skrining .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Skrining .Diagnosis . A GANGGUAN SUASANA PERASAAN Episode .Skrining depresif .Skrining .Diagnosis Penatalaksanaa n Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Triheksifenidil 1-12mg/hr .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr. selama 8 hari .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomnia : .Rawat di ICU .Skrining .Skrining .Divalproat 23x250mg . diberikan 2-3kali/hari.Bromokriptin 2.Terapi kejang listrik (ECT) 3x/minggu .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Terapi suportif .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Rujuk ke PPK 3 .Gejala depresi ringan .Perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tandatanda vital .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomni a: .

Venlafaksin 75150mg/hari .Psikoterapi suportif .Risiko/usaha bunuh diri .Terapi keluarga 75 .Hospitalisasi .Terapi interpersonal .Restrain (fiksasi) Farmakologik : Pilihan Antidepresan Fase Akut : .Seklusi (isolasi) .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Agomelatin 2550mg/hari Fase Lanjutan : Terapi dilanjutkan hingga 6-12 bln Dosis diturunkan perlahan 4-12 mg Non farmakologik : .Dukungan keluarga buruk Tindakan .Fungsi diri buruk .Sertralin 2550/hari .Gejala depresi berat .Escitalopram 1020mg/hari .Duloksetin 4060mg/hari .Imipramin 2575mg/hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Amitriptilin 2575mg/hari .Fluoksetin 1040mg/hari .Terapi perilaku kognitif .Maproptilin 25100mg/hari .

Skrining .Karbamazepin .Klozapin 150600mg/hari Pilihan Lini 2 : 76 .Okskarbamazepin .Aripiprazol 1030mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Diagnosis Fase akut : Tindakan .Skrining .Diazepam 12x10mg (im) Antipsikotik oral : Pilihan Lini 1 : .Skrining . maksimal 3 hari .Seklusi (isolasi) .Quetiapin 300800mg/hari .Hospitalisasi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Aripiprazol 13x9.Diagnosis .Psikoedukasi keluarga .Haloperidol 12x5mg (im) .Skrining .Restrain (fiksasi) Agitasi akut Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .75mg/hr (im).Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 B Episode manik .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Natrium divalproat .Olanzapin 1030mg/hari .Lithium .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Asam valproat .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .

Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Terapi interpersonal .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Haloperidol 12x5mg (im) .Quetiapin .Olanzapin .Skrining .Terapi keluarga .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Haloperidol 520mg/hari .Restrain (fiksasi) Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ . maksimal 3 hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Hospitalisasi .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Aripiprazol .Aripiprazol 13x9.Skrining .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Psikoterapi suportif .Risperidon .Diazepam 12x10mg (im) Episode Mania Akut Pilihan Lini 1 : .Diagnosis .75mg/hr (im).Lithium .Psikoedukasi keluarga .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Divalproat .Seklusi (isolasi) .Skrining . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Terapi perilaku kognitif .Lithium / Divalproat + 77 C Gangguan afektif bipolar .Klorpromazin 100300mg/hari Non farmakologik : .Olanzapin 12x10mg/hr (im).

Lithium / Divalproat + Olanzapin .Gabapentin .Klozapin Tidak direkomendasikan : .Olanzapin + Karbamazepin Episode Depresi Akut Pilihan Lini 1 : .Olanzapin + SSRI .Lithium + Divalproat .Topiramat .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Risperidon .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Quetiapin + SSRI .Lithium / Divalproat + SSRI .Lamotrigin .Lithium / Divalproat + Lamotrigin 78 .Lamotrigin .Paliperidon Pilihan Lini 3 : .Lithium +Divalproat Pilihan Lini 2 : .Risperidon + Karbamazepin .Divalproat .Haloperidol .Terapi Kejang listrik (ECT) .Lithium .Quetiapin .Klorpromazin .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Lithium / Divalproat + Haloperidol .

Lithium / Divalproat + Olanzapin 79 .Karbamazepin .Quetiapin .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Olanzapin .Lithium / Divalproat + Venlafaksin .Intervensi perilaku .Intervensi psikososial Gangguan Bipolar I Pilihan Lini 1 : .Psikoedukasi keluarga .Risperidon depo .Lithium / Divalproat + TCA .Psikoterapi suportif .Karbamazepin .Olanzapin .Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Terapi kejang listrik .Lithium + MAOI .Lamotrigin .Lithium / Divalproat / Karbamazepin + SSRI + Lamotrigin Fase Stabilisasi : Non farmakologik .Lithium + Divalproat .Divalproat .Terapi okupasi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Pilihan Lini 3 : .Lithium + Karbamazepin .Lithium .Lithium + Karbamazepin .

Asam lemak omega 3 .Gangguan penanganan penanganan .Lithium + Lamotrigin .Skrining .Skrining Panik .Penanganan 80 .Antidepresan monoterapi Non farmakologik .Lithium .Olanzapin + Fluoksetin Pilihan Lini 3 : Penambahan .Lithium + Risperidon . GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES Gangguan .Skrining .Intervensi psikososial 5. A GANGGUAN NEUROTIK.Fenitoin .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Psikoedukasi keluarga .Kondisi akut : .Lithium + Divalproat .Divalproat .Olanzapin .Intervensi perilaku .Lamotrigin .Quetiapin Pilihan Lini 2 : .Penanganan .Skrining .Kondisi akut : .Lithium + Divalproat + antidepresan .Diagnosis .Diagnosis .Terapi okupasi .Antipsikotik atipikal + antidepresan Pilihan Lini 3 : .Okskarbazepin Gangguan Bipolar II Episode Depresi Akut : Pilihan Lini 1 : .Psikoterapi suportif .Topiramat .Terapi kejang listrik .

Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Pilihan lain : .Kondisi .52 mg/hari .Agorafobia atas petunjuk tanpa SpKJ riwayat gangguan panik emergensi .Skrining .Skrining .52 mg/hari .52mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Alprazolam 3x0.Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ kondisi akut .Manajemen ansietas B Gangguan Ansietas Menyeluruh .Psikoedukasi .Penanganan kondisi akut Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Terapi perilaku kognitif .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Non farmakologik .Terapi lanjutan .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kondisi akut panik emergensi tanpa .52mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Terapi lanjutan Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Diagnosis .Buspiron 81 .Kondisi akut : penanganan emergensi .Lorazepam 2x 0.Rujuk ke PPK 2 .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Diagnosis .Penanganan kondisi akut .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi akut : penanganan emergensi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Lorazepam 2x 0.Gangguan tenang/kronis panik terapi lanjutan dengan setelah agorafobia penanganan dan .Alprazolam 3x0.Rujuk ke PPK 2 agorafobia .

Diagnosis .Fluoksetin 2060mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Terapi perilaku kognitif Farmakologik Sesuai dengan gejala klinis yang menonjol Gejala cemas : .550mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Rujuk ke PPK 2 .Klobazam 2x510mg .Sertralin 12.Terapi suportif individu .Skrining .Penanganan kondisi akut .Terapi lanjutan Non farmakologik .Skrining .Fluvoksamin 25100mg/hari 82 D Gangguan Stres Pasca Trauma .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Fluoksetin 540mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Psikoedukasi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Penanganan kondisi akut .Psikoedukasi Farmakologik (pilihan) : .Psikoedukasi .Terapi lanjutan .Fluvoksamin 100200 mg/hari Non farmakologik .Psikoterapi berorientasi tilikan .Kondisi akut : penanganan emergensi .Diagnosis .5-1mg Gejala depresi : .Skrining .Venlafaxine C Gangguan Obsesif Kompulsif .Manajemen ansietas Non farmakologik .Terapi perilaku kognitif .Kondisi akut : penanganan emergensi .Latihan relaksasi .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Rujuk ke PPK 2 .Klomipramin 25100mg/hari .Terapi perilaku kognitif .Kondisi akut : penanganan emergensi .Lorazepam 12x0.Sertralin 50150mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi akut : penanganan emergensi .

Penanganan kondisi akut .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Klobazam Antidepresan .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Diagnosis .Skrining .Diazepam .Kondisi .Diagnosis .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi Non farmakologik . .Fluoksetin .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Lorazepam .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Klomipramin . GANGGUAN KEPRIBADIA N DAN PERILAKU MASA DEWASA RETARDASI MENTAL .Amitriptilin .Risperidon 2x12mg .Maproptilin HCl .Penanganan kondisi akut .Terapi lanjutan 7.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Penanganan kondisi akut .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 . SINDROM PERILAKU YANG BERHUBUNG AN DENGAN GANGGUAN FISIOLOGIK DAN FAKTOR FISIK .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi kognitif perilaku Farmakologik Anticemas .Imipramin 1-2x1025mg Gejala psikotik : .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Terapi lanjutan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Alprazolam .Amitriptilin 2x1025mg .Imipramin .Skrining .Haloperidol 2x15mg .Terapi lanjutan 8.Olanzapin 1-2x2.Skrining .Quetiapin 50100mg Non farmakologik .Sertraline Psikoterapi 6.Psikoterapi suportif .Pendidikan tingkah laku intensif 83 .Diagnosis .Terapi perilaku .510mg .Diagnosis .

Rujuk ke PPK 2/PPK 3 2/PPK 3 . A Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Konseling orang tua .Terapi perilaku .Konseling .Skrining .Skrining .Anti cemas .Psikoedukasi keluarga Non farmakologik .Skrining Non farmakologik pemusatan .2 mg/kg/hari (2 kali pemberian po) Aripiprazole 0.Anjuran ke Sekolah berkebutuhan khusus .Intervensi .Anti depresan .10.Diagnosis .Rujuk ke PPK .Skrining .Skrining .Pelatihan ketrampilan Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Psikoedukasi .Intervensi keluarga psikososial .Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua .Intervensi orang tua keluarga .Terapi perilaku keluarga .Intervensi Farmakologik 84 .Rujuk ke PPK . A GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK Gangguan .Anti psikotik : Risperidon 0.2 mg/kg/hari (1 kali pemberian po) GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA Gangguan .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang perhatian dan 2/PPK 3 2/PPK 3 tua hiperaktivitas Non .Rujuk ke PPK .Anti psikotik 9.Terapi wicara 10.Skrining autistik .Anti depresan .Terapi okupasi .1-0.Pelatihan kemandirian .Psikoedukasi farmakologik keluarga .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .

Skrining .Skrining .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Metilfenidat Dosis 0.Psikoedukasi keluarga .Anti depresan (SSRI) .Konseling orang tua .Skrining .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Anti depresan (SSRI) Fluoksetin 1x5 mg/hari Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti insomnia (Difenhidramin) Non farmakologik .3-1mg/kg BB dalam dosis terbagi .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Terapi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Skrining .Psikoterapi suportif .Hospitalisasi .Skrining .Skrining .Hospitalisasi Farmakologik .Terapi keluarga Farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling perkawinan 85 D Gangguan cemas .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Parenting’s skills training C Gangguan depresi .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 psikososial B Gangguan tempertantr um .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Anti depresan (SSRI) Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Skrining .Psikoterapi suportif E Gangguan akibat persaingan antar saudara .

Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Psikoterapi suportif .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Terapi keluarga .Skrining .Membatasi minum di malam hari .Psikoedukasi keluarga F Gangguan kelekatan reaktif .Skrining .Skrining .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Anti depresan (Imipramin) Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga 86 H Gangguan enkoperesis .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 J Gangguan gagap .Skrining .Toilet training .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Parenting’s skills training Non farmakologik .Skrining .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua Konsultasi ke Bagian IK.Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .s skills training Non farmakologik .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua .Parenting.Toilet training .Skrining .Psikoterapi suportif .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining . Anak Non farmakologik .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Konseling perkawinan .Toilet training .Konseling orang tua Farmakologik .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Psikoterapi suportif G Gangguan enuresis .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 I Gangguan makan .Diagnosis Non farmakologik .Terapi perilaku Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Toilet training .Membatasi minum di malam hari .Diagnosis Non farmakologik .

Konseling orang tua .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga K Gangguan tidur .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti cemas Non farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Terapi wicara Farmakologik (jika perlu) .Skrining .Psikoedukasi keluarga 87 .Konseling orang tua .

Kelainan congenital . media.Kontusio jaringan Orofasial lunak fasial . Kista Radikuler b.Kelainan kelenjar ludah (Xerostomia) - Penatalaksanaan infeksi Fulnus Fasial Fraktur Mandibula Fraktur maksila Kista rongga mulut Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis. Sialorrhoea. Sarkoidosis) . . Sjorgen Sindroma .Karies dini.Neoplasma .karies besar yang tidak dapat dirawat secara konservasi Alvelektomi Apikoektomi a. Sjorgen Sindroma . Sealodenitis Bakterial Akut.arrested caries 88 .penyebab fokal infeksi .Fraktur Maksila kompleks . Abses Dentoalveolar 2 Bedah Dento alveolar 3 4 Infeksi Daerah Diagnosis Oromaksilofas Rujuk ke PPK 2 ial Trauma .Fraktur Mandibula . Sealodenitis Bakterial Akut. parotitis epidemica.Bedah Orthognati . Makulicz Sindroma.Kelainan sendi temporomandibular .kelainan pertumbuhan (supernumerary) .infeksi : -abses jaringan lunak . Sialorrhoea.Luka abrasi fasial .Cedera dentoalveolar . Kista Periodontal c. parotitis epidemica. Sarkoidosis) 5 Konservasi .Kista rongga mulut .Kelainan syaraf kranialis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT No 1 TINDAKAN Eksodontia PPK 1 PPK 2 PPK 3 Pencabutan gigi dengan : Pencabutan gigi dengan .Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.Kelainan dan jaringan keras pertumbuhan -untuk keperluan (Impaksi dan perawatan malposisi) orthodontia dan prostodontia . Makulicz Sindroma.

Herpes Labialis Resesi Gusi Periodontitis Liken Planus Leukoplakia Karsinoma Sel Skuamosa 89 .Amelogenesis dan dentinogenesis imperfect 7 Pedodontia 8 Periodontia 9 Penyakit Gigi dan Mulut Gingivitis Hiperplasik gingiva Resesi Gusi Periodontitis . lepasan .Karies mencapai pulpa non vital .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 - profunda .Obturator untuk imediet.Pembuatan feeding . periodontal . lengkap akrilik) celah langit dewasa .Gigi tiruan Intermediat. telinga.Kista radikuler 6 Prostodontia . plate pada celah intermediet.Abses periapikal Dentin hipersensitif akut/kronis Pulpitis reversible . lengkap langit pada bayi imediet. mata.Ulkus Traumatikus .Implan dental Oral hygiene buruk Caries Ginggivitis Persistensi gigi sulung Akar gigi tertinggal Hiperemi pulpa Pulpitis akut/kronis Persistensi gigi sulung .Stomatitis Aptosa .Atrisi.Denture Sore mouth (Chronic Athropic Candidiasis) .Ulkus Dekubitalis .Abses akut/kronis dento alveolar . muka.Lingua Geografika / Benign Migratory Glossitis .Overdenture .Chemical Burn .Kelainan jaringan Nekrosis pulpa periodontal .Protesa hidung. abrasi dan Perubahan warna erosi eksternal/internal .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 90 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->