Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN PENYAKIT BERDASARKAN KEWENANGAN TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

I. PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menetapkan Pembangunan Kesehatan dalam Program Pembangunan Nasional. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan tingkat dasar sampai dengan rujukan yang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Meskipun pendekatan pelayanan kesehatan sama tetapi fokus penekanan pelayanan berbeda sesuai dengan kemampuan yang ada pada tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Agar kesinambungan pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terwujud, diperlukan sistem rujukan yang berjenjang dan terstruktur, dimana ada kejelasan peran dan fungsinya sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan medis di pemberi pelayanan kesehatan harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan agar tercapai pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Demi Tercapainya penyelenggaraan pelayanan medis yang memenuhi standar tersebut perlu pedoman pengelolaan berdasarkan kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama FK UNPAD, RSUP Hasan Sadikin Bandung dan Organisasi Profesi telah menyusun Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan Tingkat Pelayanan Kesehatan. Buku ini menginformasikan bagaimana pengelolaan penyakit mulai dari pelayanan dasar sampai pelayanan rujukan, perlu tidaknya kasus tersebut dirujuk berdasarkan kewenangan tingkat pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di pemberi pelayanan kesehatan.

1

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

II.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. 3. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

III. TUJUAN
Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang optimal berdasarkan kewenangan dan kompetensi di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Khusus : - Tersusunnya pedoman pengelolaan penyakit berdasarkan kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan - Dasar pengkajian untuk rencana pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

IV. PENYAKIT DAN PENGELOLAANNYA
Pengelompokan penyakit dan bagaimana pengelolaannya berdasarkan kewenangan di setiap tingkat pelayanan kesehatan terdiri dari : - Penyakit Anak - Penyakit Dalam - Penyakit Kebidanan dan Kandungan - Penyakit Bedah - Penyakit THT-KL - Penyakit Neurologi (Syaraf) - Penyakit Kulit Kelamin - Penyakit Mata - Penyakit Jiwa (Psikiatri) - Penyakit Gigi dan Mulut

2

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT ANAK
No 1 DIAGNOSIS TB Paru PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik PPK 2 Penilaian klinis diagnostik PPD, rontgen thorax) PPK 3

2

Bronko Pneumonia

Penilaian klinis, diagnostik dan terapi (BP ringan) sesuai MTBS

3

Diare

Diagnosis : Diare akut dengan /tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang  Tatalaksana sesuai protocol

 Dehidrasi berat bisa ditangani di Puskesmas DTP 4 Penyakit jantung bawaan (PJB)

dan Diagnostik dan (Tes penanganan TB paru disertai komplikasi (empyema, atelektasis, destroyed lung, hemoptysis, TB milier, Multi Drug Resistance TB (MDR-TB) Rujuk balik untuk th/ OAT  rujuk balik untuk terapi OAT) Penilaian klinis, diagnostik Penegakan diagnostik dan dgn pemeriksaan penunjang terapi BP berat dengan (lab dan rontgen) ancaman gagal nafas sehingga membutuhkan ventilator, empysema dan sepsis. Penatalaksanaan  rujuk balik Bronkhopneumoni Penatalaksanaan diare Diagnosis etiologi dan ringan- sedang yang tidak talaksana diare persisten / dapat direhidrasi per oral, kronis, diare dengan diare berat, diare akut penyakit penyerta seperti dengan dehidrasi berat, HIV, diare yang diare disertai komplikasi membutuhkan seperti sepsis, gangguan pemeriksaan penunjang elektrolit, (membutuhkan kultur feses, dan kultur feses) endoskopi  rujuk balik dan penyuluhan

Deteksi dini PJB, Diagnosis PJB melalui tatalaksana penyakit pemeriksaan penunjang penyerta pada PJB. (EKG, rontgen thorax), penatalaksanaan penyakit penyerta PJB

Diagnosis dan tatalaksana PJB dengan pemeriksaan echocardiography dan kateterisasi jantung Tatalaksana PJB Operatif  TIDAK RUJUK BALIK  Bila tidak dilakukan operatif rujuk balik

5

Cerebal Palsy (CP)

Deteksi dini tumbuh Diagnostik kelaianan kembang (DDTK) perkembangan (Denver, Cat/Clam),

Diagnostik dan skrining CP dgn comorbid (gangguan pendengaran, pengelihatan, RM, 3

DHF yang memerlukan perawatan intensif  Rujuk balik paska perawatan 8 Thalassemia Deteksi dini suspek Pemeriksaan penunjang thalassemia (darah rutin) dan pemberian (skrining tanda serta transfusi. terapi okupasi)  Rujuk balik untuk pemantauan tumbuh kembang dan stimulasi di rumah Tatalaksana kegawatan dan tatalaksana kelainan khusus Diagnosis etiologi (HIV/AIDS. IgM. fisioterapi (klinik tumbuh kembang) 6 Gizi buruk Deteksi Diagnosis dini PMT Rujuk Tatalaksana gizi buruk Penatalaksanaan komplikasi Tatalaksana dan fisioterapi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 epilepsi) Tatalaksana spastisitas. terapi bicara. splenektomi. kelainan congenital. hepatosplenomegali) kontrol rutin penderita 9 DF/DHF Skrining tanda serta Penanganan DHF Grade II gejala klinik sampai dengan DSS (DHF Grade III dan IV) Pemeriksaan penunjang Ig M dan Ig G Tatalaksana DF/DHF bila memerlukan perawatan dengan pemeriksaan intensif Rujuk ke PPK 3 darah rutin (Puskesmas DTP) 4 . NS1). pencegahan dan penanganan komplikasi : hemosiderosis (chelating agent). sindroma malabsorbsi) → Rujuk balik Bila memerlukan pemeriksaan khusus untuk etiologi (HIV/AIDS. kelainan Kongenital ) → Rujuk Rujuk balik ke PKM untuk pemantauan dan PMT 7 ISPA Diagnosis dan tatalaksana ISPA Tidak perlu dirujuk  TIDAK PERLU DIRUJUK  Penegakan diagnosis melalui Hb elektroforesa.  Rujuk balik untuk transfusi berkala Penegakkan diagnosis. penilaian IQ (URM : fisioterapi. gejala klinik: anemia. dengan pemeriksaan penunjang (IgG .

perdarahan. fenitoin) (pemberian diazepam).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 10 Sindroma Nefrotik Diagnosis berdasarkan Penegakan diagnostis pasti gejala klinis dan pemeriksaan urin dipstik. Infeksi/sepsis. Pengobatan dengan status epileptikus refrakter yang memerlukan PICU  Rujuk balik untuk pengobatan jangka panjang Tatalaksana status konsulsivus refrakter/rawat intensif. fenobarbital. kontrol rutin penderita Rujuk jika terjadi status epileptikus refrakter/ memerlukan perawatan intensif ( PICU) Pusat diagnositk epilepsi melalui EEG. Rujuk untuk diagnosis Rawat inap SN serangan pasti pertama (jika dibutuhkan) rujuk balik untuk melanjutkan pengobatan Jika terjadi SN resisten steroid harus dirujuk Diagnosis lengkap dan tatalaksana SN resisten steroid dengan khemoterapi : siklofosfamid  Rujuk balik untuk penanganan lanjutan. MRI. pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnostik→ rujuk balik Tatalaksana kegawatdaruratan Diagnosis Etiologi Diagnosis etiologi Perawatan Bayi baru lahir level III perawatan intensif → stabil → rujuk balik 12 Kejang demam Tatalaksana kejang Kejang demam kompleks demam (sederhana) dan kejang demam status konvulsivus. Bila perlu perawatan intensif/ status epileptikus refrakter→Rujuk Deteksi kegawatan Tatalaksana (BBLR. follow up remisi atau relaps 11 Epilepsi Diagnosis berdasarkan Penanganan status gejala klinis. Diagnosis etiologi asfiksia) → Rujuk Perawatan Bayi baru lahir level 2 Bila perlu perawatan intensif (Level III) → rujuk PPK 3 Skrining tanda serta gejala klinik Tatalaksana Demam Tifoid Pemeriksaan darah rutin (Puskesmas DTP) Diagnosis Tatalaksana simptopmatis Penatalaksanaan sampai dengan komplikasi ( Tifoid ensefalopati. kejang neonatus. CT Scan. kegawatdaruratan Ikterus neonatorum. tatalaksana epileptikus (pemberian serangan kejang akut. perforasi usus) → Rujuk balik 13 Masalah neonates 14 Demam Tifoid Tidak perlu di rujuk di PPK 3 15 Morbili Penegakan diagnosis Tatalaksana komplikasi Tidak perlu di rujuk di PPK 3 5 .

MRI.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 16 Meningitis Deteksi komplikasi Bila ada komplikasi → Rujuk Deteksi dan tatalaksana Penatalaksanaan kegawatan (Kejang) → kegawatan Rujuk Diagnostic etiologi (Lumbal pungsi ) dan perawatan non intensif Bila perlu perawatan intensif → Rujuk ke PPK 3 Penatalaksanaan komplikasi dan perawatan intensif Penegakan diagnosis etiologi dan komplikasi (CT scan. EEG) 6 .

NIDDM (4) TERKENDALI dengan Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 1 obat hipoglikemik oral (OHO) Tanpa komplikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT DALAM No 1 DIAGNOSIS DM Tipe 2 PPK 1 PPK 2 PPK 3 Tanpa komplikasi. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TIDAK Terkendali TIDAK TERKENDALI TERKENDALI dengan 1 dengan 1 OHO OHO → pengelolaan  rujuk BERKOMPLIKASI TERKENDALI dg 2 OHO &  rujuk balik TANPA KOMPLIKASI & TERKENDALI dengan Insulin BERKOMPLIKASI & TERKENDALI dg Insulin → dikelola 1 bulan Bila tidak terkendali  rujuk ke PPK 3 DM tipe 2 Hipoglikemi 1. Tanpa komplikasi. TERKENDALI dengan 2 OHO  rujuk balik DM Tipe 2 DM Tipe 2 Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO  rujuk Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO → pengelolaan Tanpa komplikasi. RUJUK SEGERA Terkendali  rujuk balik ke PPK 2 HIPOGLIKEMI (3B) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 7 . TERAPI PENDAHULUAN 3.

TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK 3 ASHD (Peny PJK Kronik Stabil Jantung Koroner 1. RUJUK  Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali  rujuk balik Tidak terkendali dalam 2 bulan  rujuk Essential Hypertension (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 2 Hipertensi Esensial Hipertensi esensial Hipertensi Esensial Pengelolaan Hipertensi krisis  rujuk Terkendali → Pengelolaan  rujuk balik Terkendali →Pengelolaan  rujuk balik Tidak terkendali → pengelolaan dan evaluasi Terkendali → Rujuk balik  PJK Kronik Stabil Terkendali → pengelolaan RUJUK BALIK RUJUK KEMBALI SETIAP 3 BULAN Hipertensi Sekunder 1. RUJUK   8 . TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Kronik Stabil) DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK DM tipe 2 KOMPLIKASI KRONIS 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 DM tipe 2 KOMPLIKASI (KAD) AKUT Terkendali → pengelolaan  rujuk balik KOMPLIKASI AKUT (KAD) rujuk (TIDAK TERKENDALI DALAM 48 JAM Terkendali  rujuk balik 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3.

TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Terkendali → pengelolaan dehidrasi ringan DIAGNOSA KLINIS  rujuk balik sedang / berat 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 ASHD (Sindroma Sindroma Koroner Akut) Akut (SKA) Koroner Terkendali → pengelolaan Stabil/terkendali (evaluasi tiap 3 bulan)  rujuk balik 1. RUJUK ASHD (Gagal 1. RUJUK 4 TBP tidak TBP kasus baru berkomplikasi tidak berkomplikasi  rujuk Terkendali → pengelolaan  rujuk balik  rujuk setiap 3 bulan Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 TB Paru (pneumotoraks) TB paru pneumotoraks dg Terkendali → pengelolaan  rujuk balik 1. RUJUK jika tidak dengan / tanpa ada fasilitas DTP komplikasi 9 . RUJUK Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Diare dengan 1. RUJUK 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN Jantung) DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK SEGERA TB Paru (pengobatan ulang /berkomplikasi) TB Paru (MDR/XDR) 5 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2.

Rujuk DSS 1.Pengelolaan di PPK 1 dgn DTP 12 Demam Dengue Demam Dengue 1.2 dg Jika PPK. Pengelolaan di PPK  rujuk balik 1 N 9 Arthritis tanpa 1.Rujuk 13 Gagal ginjal akut 1.Tegakkan diagnosis 2.2 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK. Tegakkan diagnosis Dirujuk dengan catatan bila 2.1 tdk tersedia.Rujuk Pengelolaan di PPK. Rujuk Pengelolaan di PPK. rujuk balik Pengelolaan di PPK. Tegakkan diagnosis Dirujuk bila ada komplikasi komplikasi 2.Rujuk GGK terminal 1.Rujuk Pneumonia tanpa komplikasi 1. Tegakkan diagnosis Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan 8 2.Rujuk 11 Gastritis 1.2 dgn fasilitas HD stabil.2 dgn fasilitas ICU 14 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 Goiter 1.2 Fisioterapi Pengelolaan di PPK. Tegakkan diagnosis komplikasi 2.Tegakkan diagnosis dg komplikasi 2. Pengelolaan di PPK atau memerlukan 1 fisioterapi Arthritis dengan 1.Tegakkan diagnosis 2. 2 tidak ada fasilitas HD fasilitas HD 10 .Tegakkan diagnosis bronkiale 2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.2 10 SLE 1. Pengelolaan di PPK obat di PPK.2 7 COPD / Asma 1. 1 1.

bisa dilakukan di PPK I) Pengelolaan di PPK. terapi ARV (ada tim konseling) 20 Hepatitis akut 1.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.Rujuk atau sesama fasilitas sama PPK.Rujuk Pengelolaan di PPK.VCT 3.Pengelolaan di PPK komplikasi 1 dgn DTP Demam tifoid 1.Rujuk 1.2 utk Jika ada komplikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 2.2 tidak ada dengan fasilitas endoskopi fasilitas endoskopi Pengelolaan di PPK.Rujuk 1. Diagnosis tegak.Tegakkan diagnosis 2.2 Stabil  rujuk balik 2.2.2 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis dgn komplikasi 2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.Rujuk 17 18 19 Leukemia Perdarahan saluran cerna HIV 1.2 dg 15 Sindroma Nefrotik 1.Tegakkan diagnosis tanpa 2.Tegakkan diagnosis 2. Stabil  rujuk balik 11 .2 Jika PPK.Rujuk Pengelolaan di PPK. 2.Rujuk 16 Anemia berat 1.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 ( Rujuk balik untuk Tapering off.Rujuk jika fasilitas Diagnosis tegak.2. Stabil  rujuk balik tdk lengkap 1.Tegakkan diagnosis 2.2 Hepatitis kronis 21 Demam tifoid 1.

1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Hipertensi Dalam Kehamilan : Hipertensi Gestasional Skrining : Test protein urine Therapi oral anti hipertensi dapat diberikan Skrining: Test Protein urine Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Tidak ada tanda-tanda preeklamsi →rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Ringan Penilaian klinis dan diagnosis : Tidak ada tanda-tanda preeklamsi berat rujuk balik ke PPK I untuk oral antihipertensi Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi kehamilan Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Berat Skrining: Test Protein urine Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang Memerlukan perawatan ICU NICU atau dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Eklamsi Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Tindakan terminasi kehamilan dan rawat bersama dengan bagian lain 2 Perdarahan Trimester 1: Abortus Imminens Skrining Sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian Klinis dan Diagnosis USG baik →kembalikan ke PPK I USG tidak baik → terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Abortus Insipiens Skrining: sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis : USG baik → Rujuk balik Tidak usah dirujuk ke PPK III 12 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN No.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 USG tidak baik → terminasi Abortus Inkomplitus Skrining : Pemeriksaan awal KU baik → rujuk ke PPK II KU tidak baik →Perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II (boleh dilakukan kuret tumpul di PONED) Abortus Komplitus Skrining: Rujuk ke PPK II untuk pemeriksaan lanjut Mola Hidatidosa Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti tirotoksikosis Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain atau dengan riwayat infertilitas yang memerlukan keahlian subspesialis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Skrining : KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → Perbaiki KU → Rujuk PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Laparatomi Operatif Trimester 2: Perdarahan Midtrimester Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan atau tindakan → setelah baik Rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain (seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya) Trimester 3: Perdarahan Antepartum Plasenta previa Skrining : KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Skrining : Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi setelah baik → rujuk balik ke PPK I Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya ) Solusio Plasenta 13 .

pemberian O2 → Rujuk ke PPK II sambil lakukan dekompresi manual Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Penilaian klinis dan diagnosis : Retensio plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Sisa plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Perdarahan post partum lambat: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 14 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II Post Partum: Perdarahan Post Partum Dini: Atonia Uteri Tindakan terminasi Luka jalan lahir Skrining: Resusitasi cairan.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 3 Kelainan Letak Skrining: Rujuk ke PPK II (PONED apabila letak sungsang dan pembukaan lengkap) Penilaian klinis dan diagnosis: Dalam kehamilan : Versi luar apabila berhasil menjadi letak kepala → Rujuk balik ke PPK I Persalinan : terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 4 Kehamilan Multiple Skrining: Rujuk ke PPK II untuk persalinan (pemeriksaan USG) Penilaian klinis dan diagnosis: Persalinan: terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 5 Ketuban Pecah Dini Skrining: Rujuk ke PPK II (skrening : sediakan lakmus test) Penilaian klinis dan diagnosis: konservatif atau terminasi 6 Kelainan Janin: IUGR Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Rujuk ke PPK II IUFD Skrining: Rujuk ke PPK II Prematur Skrining: Rujuk ke PPK II Perawatan konservatif atau terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Gawat Janin Skrining: Rujuk ke PPK II 7 Persalinan tidak maju/Distosia Skrining: Rujuk ke PPK II (dilakukan vakum di PONED) Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi 15 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 8 Panggul Sempit Skrining: Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Laparotomi eksploratif Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan konservatif atau terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan (dokter IPD harus ada di PPK II bila ingin di rawat) Penilaian klinis dan diagnosis 9 Bekas Seksio sesarea Skrining: Rujuk ke PPK II 10 Ruptura Uteri Skrining: Perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU. Perlu pemeriksaan lanjutan ECHO Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU Spesialis lain yang tidak ada di PPK II 11 Penyakit Jantung: Decompensatio Cordis FC I – II Decompensatio Cordis FC III-IV Skrining: Rujuk ke PPK II Skrining: Rujuk ke PPK II 12 Kehamilan dengan Komplikasi lain Skrining: Rujuk ke PPK II 13 Infeksi Skrining: Tanda-tanda infeksi Penilaian klinis dan diagnosis. Diagnosis dan penanganan sepsis dan memerlukan tindakan diagnosis lanjut atau perawatan ICU 16 .

beri therapi pendahuluan (Antibiotik dan analgetik) Penilaian klinis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH No 1 DIAGNOSIS Appendicitis Acute PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik Edukasi Rujuk ke PPK 2 Jika yakin pasien akan ke RS. Diagnostik dan terapi (Haemmorrhoid Gr I dan II) Rujuk ke PPK 2 (Haemorrhoid Gr III dan IV) 3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Therapi pendahuluan Rujuk ke PPK 2 4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi Pendahuluan Rujuk ke PPK 2 Deteksi gejala klinik Therapi Simptomatis Therapi dan tindak lanjutan Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Penegakkan Diagnosis melalui Pemeriksaan Penunjang Therapi Pendahuluan Tindakan operasi Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 Hernioraphy Penanganan oleh Subspesialis Bila telah stabi → rujuk kembali ke PPK 2 PPK 2 Appendectomy PPK 3 Appendectomy laparoskopiDiver Kontrol Luka setelah stabil→ Rujuk balik 2 Hemorhoid interna Haemorroidectomy Kontrol luka Setelah stabil rujuk balik Fistulectomy Setelah stabil rujuk ke PPK 1 5 Cholelithiasis Rujuk ke PPK 2 6 Hernia inguinalis lateralis reponibilis Edukasi 17 .

rujuk kembali ke PPK 2 18 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Simptomatis Rujuk ke PPK 2 Deteksi dini Simptomatis Rujuk Ke PPK 2 Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Multiple Lipoma. Tanda2 keganasan Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Giant Ateroma 10 Struma Nodosa Deteksi gejala dan Pemeriksaan Fisik Edukasi Simptomatik Rujuk Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Ekstirpasi dan PA Jaringan 7 8 Fibro Adenoma Mammae (FAM) Lipoma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka 9 Ateroma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka Penanganan lebih lanjut (eksisi) Penanganan Subspesialistik Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspelialistik Jika terkontrol.

Foto Rontgen schuller dan Stenver .Biopsi.Pemeriksaan OtoMikroskopi .CT Scan telinga . Karsinoma Sinonasal c.Foto Rontgen ( Schuller dan Stenver ) .Operasi kasus dengan penyulit .Biopsi dengan endoskopi (lokal anestesi) . Komplikasi intratemporal 3.Kultur resistensi .Penilaian klinis PPK 3 . Karsinoma Nasofaring b.Skrining tanda dan gejala klinik .Operasi dengan endoskopi .Kultur resistensi .Nasoendoskopi .Rujuk ke PPK 3 bila : 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL NO 1 DIAGNOSIS Otitis Media Supuratif Kronik dengan penyulit PPK 1 skrining tanda dan gejala klinik Rujuk ke PPK 2 PPK 2 . Tumor di leher Skrining tanda dan gejala klinis .Kemoiradiasi .Operasi .Skrining tanda dan gejala klinis .Tindakan : bedah mikro telinga 2 Tumor Kepala Leher a.Skrining tanda dan gejala klinis .Terapi sesuai .Menerima rujukan balik dari PPK 3 untuk perbaikan Keadaan Umum .Radiotherapi .Nasofaringoskopi .Pemeriksaan THT-KL .Kontrol setelah tindakan 6 bulan Pertama . FNAB .Skrining tanda dan gejala klinis .Penilaian Klinis .FNAB .Nasofaringoskopi .Kultur resistensi 19 .Rujuk balik ke PPK 2 untuk perbaikan Keadaan umum 3 Rinosinusitis dengan/tanpa polip disertai . Otorea menetap setelah terapi Maksimal . Karsinoma Laring d. Komplikasi intrakranial 2.

Caldwelluck) .Foto rontgen soft Tissues leher AP dan lateral .Tampon hidung anterior dan posterior .Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Ligasi Ekstraksi benda asing dengan esofagoskopi kaku dalan narkose umum 5 Epistaksis Skrining tanda dan gejala klinis .Tindakan bedah sinus endoskopi tingkat lanjut 4 Rhinitis Alergi Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Auditory Steady State Respon .Foto Thoraks 8 Speech delayed (Terlambat bicara) Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan tes alergi (Skin Prick Test) .Rontgen sinus ( waters.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penyulit Pedoman Tatalaksana lengkap .Tindakan bedah hidung sinus konvensional Skrining tanda dan gejala klinis .Terapi Wicara 20 .Skrining tanda dan gejala klinis .Bila perdarahan tetap tidak dapat teratasi → Rujuk ke PPK III .Tampon hidung anterior .Foto rontgen soft tissue leher AP dan Lateral .Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi .Kultur resistensi .Skrining tanda dan gejala klinis .Immunoterapi .Foto thoraks 6 Benda Asing di esophagus 7 Benda asing di Bronkus .Pemeriksaan Brain Evoked Respon Audiometri ( BERA ) .Pemeriksaan Emisi Otoakustik Ekstraksi benda asing dengan bronkoskopi kaku dan atau bronkoskopi lentur dalam narkose umum .Nasoendoskopi .Nasoendoskopi → mencari sumber Perdarahan .Skrining tanda dan gejala klinis .CT Scan Sinus Paranasal .

penanganan faktor resiko (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. profil lipid.asam urat) Terapi: manitol 20%. faktor resiko (gula darah. rehabilitasi  Setelah lewat fase akut → rujuk balik 2 STROKE INFARK Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi Pemeriksaan penunjang : EKG. antikoagulan atas indikasi. respiratory failure) Penanganan sesuai guideline stroke → Rujuk ke PPK 1 Manitol 20% (antiedema). . penanganan factor resiko. Ro-Thorax.Echocardiografi) 21 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI) NO 1 DIAGNOSIS PPK 1 (RAWAT INAP) STROKE Skrining tanda serta Perdarahan gejala klinik Intra Serebral PPK 2 Diagnostik dan penanganan stroke PIS PPK 3 Diagnostik dan penanganan stroke PIS disertai komplikasi inrakranial (TTIK) dan ekstrakanial (emboli paru. penanganan factor resiko dan komplikasi Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi neuroprotektan. pemeriksaan darah perifer lengkap) Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila disertai tanda-tanda TTIK→ rujuk PPK 3 CT Scan kepala Terapi : antiedem. rehabilitasi (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. profil lipid. antiplatelet agregasi. Foto Thorax.CT-scan kepala atas indikasi. pemeriksaan darah perifer lengkap. anti platelet agregasi. USG karotis.Transcranial Doppler. operatif atas indikasi.

fisioterapi (sesuai guideline stroke) Perbaikan→ rujuk balik 3 Meningitis serosa Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. disotonomi. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 4 Tetanus Skrining tanda serta gejala klinik Therapi dan tindak lanjutan Tetanus grade II : Tindakan lanjutan : tracheostomi Penanganan komplikasi tetanus (kejang tidak teratasi. anti agregasi platelet. dexamethason. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. antikoagula atas indikasi. foto thorax Terapi (kortikosteroid. fraktur kompresi) 22 . sputum BTA. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. elektrolit. pneumonia aspirasi . kimia. pemeriksaan darah rutin.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila ada komplikasi (sesuai guideline stroke) akut (intra dan ekstrakranial) atau ada tanda-tanda TTIK → Rujuk ke PPK 2 FISIOTERAPI Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila komplikasi berat dan tidak tertangani → rujuk ke PPK 3 Terapi : manitol 20%. kardiomipati. respiratory failure hebat.

TT 0. debidrement. TT (bila belum diberikan di PPK 1). perlu perawatan ruang intensif Pemeriksaan penunjang : LP. antiviral. CT Scan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Terapi Pendahuluan : debridement luka. ATS 10. EEG. diazepam injeksi) Setelah perbaikan rujuk kembali ke PPK 1 Tetanus grade III-V → rujuk ke PPK 3 5 ENSEFALITIS Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis : LP Penanganan komplikasi pada ensefalitis (status epileptikus). Foto thorax Perbaikan → rujuk balik Terapi : metronidazole 3x500mg (14 hari). tetrasiklin 4x500 mg (10 hari). foto thorax. EKG. Antiviral (acyclovir) Therapi pemberian obat anti kejang. diazepam injeksi. Oksigen. Therapi Simptomatis : untuk demam (parasetamol) Kejang berulang sampai status → rujuk ke PPK 3 Rujuk ke PPK 2 23 . pemeriksaan antigen antibodi spesifik untuk virus Perbaikan→rujuk balik Penanganan kejang : diazepam injeksi Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. EEG. antipiretik. metronidazole 3x500mg antibiotic (tetrasiklin 4x500mg)→ Tetanus grade I Tetanus grade II -V → Rujuk ke PPK 2 ATS/HTIG injeksi.5 cc.000 u.

foto vertebra. EMG Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. pemeriksaan darah. pemeriksaan darah. MRI (atas indikasi). myelografi Bila terdapat progresivitas → Rujuk Ke PPK 3 Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra. bone scanning (bila ada kecurigaan Ca metastasis) Terapi : operatif. analgetik. foto thorax. fisioterapi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) dan tirah baring Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. EMG.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) Terapi : operatif sesuai indikasi 24 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 MYELORADIKU LOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra (bila belum dilakukan). myelografi Rujuk ke PPK 2 Terapi : anti nyeri (Na diklofenak) Rujuk ke PPK 3 Rujuk balik bila tidak mau operasi atau penanganan khusus 7 MYELOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. MRI Rujuk Ke PPK 2 Terapi : operatif (sesuai indikasi) 8 RADIKULOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra.

muntah. rujuk kembali ke PPK 2 Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspesialistik 25 . nyeri kepala. CT Scan kepala dengan kontras Penanganan Subspesialistik (operatif. MRI) Penanganan di ruang intensif Bila perbaikan dan kejang terkontrol → Rujuk balik PPK 2 9 STATUS EPILEPTIKUS Diagnosa berdasarkan gejala klinis. mencari etiologi. kemoterapi. CT scan. radioterapi) Penatalaksanaan : dexamethason dan ranitidine injeksi → Rujuk PPK 2 Pemeriksaan penunjang : PA Jika perbaikan. Diagnostik status epileptikus (EEG. tatalaksana serangan kejang akut (pemberian diazepam dan loading dose OAE) segera rujuk PPK 1 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi status epileptikus refrakter/yang memerlukan perawatan intensif (ICU). pemberian OAE 10 SOL ( Tumor Intrakranial dan infeksi intrakranial ) Diagnosa berdasarkan gejala klinis Diagnostik dan penanganan lebih lanjut TTIK (gejala berupa penurunan kesadaran.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila tidak ada perbaikan Rujuk ke PPK 1 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Penanganan status epileptikus. papiledema) Pemeriksaan penunjang : foto polos tengkorak.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 NO 1 DIAGNOSIS (RAWAT JALAN) Sequele Stroke PPK 1 Skrining tanda dan gejala klinis dan faktor resiko PPK 2 Penanganan faktor resiko dan kecacatan (rehabilitasi) - PPK 3 Penanganan preventif Bila ada perbaikan fungsi stroke sekunder. mencari factor resiko EMG 26 .EMG bila alat tersedia. fisioterapi Sesuai guideline stroke Bila deficit neurologis berat → rujuk ke PPK 2 2 Radikulopati Skrining tanda dan gejala klinis Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. CT myelo sesuai indikasi. bila tdk ada perubahan rujuk ke PPK 2 Bila ada red flag  rujuk ke PPK 2 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Bila ada gejala dan tanda red flag  rujuk ke PPRK 3 Terapi : simptomatis dan causal. dan posisioning Diagnosa dan penanganan Penanganan dan diagnostic EMG bila alat tersedia. operatif sesuai indikasi 3 CTS Skrining tanda dan gejala klinis Penanganan simptomatik analgetik. → rujuk balik PPK 1 faktor resiko. pemeriksaan darah Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. EMG.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak). USG carpal tunnel.

mencari factor resiko Diagnosa dan penanganan Parkinson Rujuk ke PPK 2 Obat antiparkinson Pemeriksaan darah untuk mencari faktor resiko Pemeriksaan CT Scan Bila gejala terkontrol → rujuk balik ke PPK 2 Bila gejala tidak teratasi atau efek samping obat → rujuk ke PPK 3 Parkinson sekunder → rujuk ke PPK 3 Bila ada perbaikan rujuk ke PPK 1 5 Nyeri kepala Skrining tanda dan gejala klinis. penegakkan diagnose berdasarkan guideline nyeri kepala perdossi Diagnosa dan penanganan nyeri kepala primer Diagnosa dan penanganan nyeri kepala Bila nyeri kepala teratasi → rujuk balik PPK 1 Pemeriksaan CT Scan. MRI sesuai indikasi 27 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 bila ada deficit neurologi → rujuk ke PPK 2 penanganan analgetik deksamethason injeksi fisioterapi terapi medikamentosa operatif bila ada indikasi bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 1 bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 2 bila deficit neurologi berat (atrofi) → rujuk ke PPK 3 4 Parkinson Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan.

elektrolit. gigi dll sesuai kausal Bila sudah tertangani → rujuk balik ke PPK 2 Bila teratasi → rujuk balik PPK 1 6 Epilepsi Skrining tanda dan Diagnosa dan penanganan gejala klinis. kejang pada epilepsi dan penegakkan diagnosa mencari etiologi berdasarkan bangkitan terapi sesuai guideline epilepsy perdossi Pemeriksaan penunjang : EEG. THT.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila nyeri kepala tidak terkontrol. elektrolit. SGOT. MRI Bila kejang tidak terkontrol dengan 2 jenis obat antiepilepsi lini pertama → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan darah rutin. mencari etiologi Diagnosa dan penanganan 28 . ada nyeri kepala sekunder dan terdapat tanda-tanda bahaya nyeri kepala (red flag) → rujuk ke PPK 2 Nyeri kepala dengan red flag → rujuk ke PPK 3 Penanganan nyeri kepala sekunder. pemeriksaan darah rutin. SGPT Terapi sesuai guideline epilepsy dengan kombinasi obat Diagnosa dan penanganan kejang EEG. SGOT. SGPT Setelah kejang terkontrol → rujuk balik ke PPK 1 Terapi kombinasi obat lini pertama dan lini kedua sesuai guideline epilepsy Bila kejang tidak terkontrol → rujuk ke 3 Bila kejang terkontrol → rujuk balik Ke PPK 2 7 Vertigo Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. operatif bila ada indikasi Nyeri kepala sekunder periksa → konsul mata.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 terapi simptomatik pemeriksaan factor resiko. MRI sesuai indikasi Bila ada deficit neurologi dan progresif → Rujuk PPK 2 untuk mencari etiologi dan penanganan konsul THT Terapi simptomatik. CT Scan kepala bila alat tersedia. fisioterapi Bila gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 Tindakan operatif sesuai indikasi Terapi simptomatik. serta mencari etiologi Bila nyeri teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Penanganan dan diagnostic terapi siimptomatik. fisioterapi bila gejala teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Diagnosa dan penanganan 8 Nyeri (termasuk nyeri punggung bawah) Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan serta mencari etiologi terapi simptomatik Penanganan nyeri : analgetik. EMG sesuai indikasi dan bila tersedia alatnya Tindakan operatif sesuai indikasi Analgetik. fisioterapi Bila nyeri progresif dan belum teratasi dan terdapat tanda red flag → Rujuk ke PPK 3 9 Neuropati/ Polineuropati Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. mencari factor resiko EMG bila alat tersedia EMG terapi simptomatik dan penanganan factor resiko terapi medikamentosa dan penanganan factor resiko 29 . MRI sesuai indikasi Bila ada tanda-tanda red flag LBP dan tanda radikuler → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan foto polos vertebra. fisioterapi EMG.

elektrolit. dexamethason. foto thorax Terapi (kortikosteroid. progresif → Rujuk ke PPK 2 Bila terdapat deficit neurologi atau gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 bila gejala teratasi → rujuk balik PPK 2 10 Meningitis (post perawatan) Skrining tanda dan gejala klinis Lanjutkan terapi OAT Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. kimia. sputum BTA.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila gejala tidak teratasi. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Bila gejala klinis memburuk → Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. pemeriksaan darah rutin. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 30 .

Tinea Kruris Terapi topikal Sama dengan PPK 2 31 . Dermatitis Seboroik Terapi topical Terapi sistemik Bila terdapat komplikasi eritroderma  Rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 2 ditambah penanganan komplikasi 5. Psoriasis vulgaris Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal bila luas lesi < 5% Bila tidak responsif atau luas lesi > 5%  rujuk PPK 2 Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal Terapi sistemik Konsul ke bagian Gigi dan Mulut. THT-KL untuk penatalaksanaan infeksi fokal Sama dengan PPK 2 6. THT-KL untuk penatalaksanaan faktor pencetus Bila terdapat komplikasi artritis  konsul IPD Bila terdapat komplikasi eritroderma. Skabies Penyuluhan Terapi topikal Terapi sistemik Menghilangkan faktor Sama dengan PPK 1 Sama dengan PPK 1 7. Dermatitis Numularis Terapi topical Terapi sistemik Sama dengan PPK 1 Konsul ke bagian Gimul. biologic agents 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN No 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Vitiligo Terapi topikal untuk tipe lokalisata Bila tidak responsif atau generalisata  rujuk PPK 1 Terapi topical Terapi topikal Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topical Fototerapi 2 Liken Simpleks Kronikus Sama dengan PPK 1 Konsul ke psikiater apabila faktor psikis dinyatakan sebagai penyebab Sama dengan PPK 2 ditambah fototerapi. psoriasis pustulosa rujuk PPK 3 Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 4.

Terapi sistemik untuk lesi yang luas Keloid Terapi topical Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Terapi topikal Tindakan: injeksi kortikosteroid inralesi Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topikal Tindakan injeksi kortikosteroid inralesi dapat dikombinasikan dengan bedah beku Eksisi dengan radioterapi Sama dengan PPK 1 9. Xerosis Cutis Menghindari faktorfaktor yang menambah kekeringan kulit Terapi topikal: pelembab Menyarankan kepada penderita untuk menghindari bahan penyebab Menyarankan penderita untuk menggunakan pelindung seperti sarung tangan jika terpaksa harus kontak dengan bahan penyebab Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 1 10. Dermatitis Kontak Iritan Sama dengan PPK 1 Bila tidak resposif  rujuk PPK 3 Sama dengan PPK 1 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bahan penyebab 32 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 predisposisi Terapi topikal Terapi sistemik Bila luas  rujuk PPK 2 8.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT MATA

NO
1.

DIAGNOSIS
KONJUNGTIVITIS

PPK 1
EVALUASI  Riwayat trauma/kelilipan, kontak dengan penderita mata merah, riwayat iritasi dan alergi/hipersensitiv itas (udara, debu, obat, makanan dll)  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat, konjungtivabulbi dan tarsal, dan memastikan pada kornea tidak ditemukan kelainan akibat perdagangan konjungtiva.  Konjungtivitas bakteri bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret mukopurulen atau purulen, dapat disertai membrane atau pseudomembran pada konjungtiva tarsalis.  Konjungtivitis virus bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret

PPK 2

PPK 3

 Sama dengan fasilitas  Pemeriksaan kultur primer swab secret konjungtiva  Pemeriksaan komposisi pada agar darah domba, air mata dengan agar tioglikolat, dan uji melakukan pemeriksaan resistensi anti mikroba. Schirmer, BUT dan Ferning, uji anel melalui pungtum lakrimalis untuk menilai ada atau tidaknya sumbatan.  Pemeriksaan dengan slitlamp untuk menilai keadaan konjungtiva bulbi, tarsal, forniks dan kornea.  Melihat gambaran secret (mukoserosa, mukopurulen, purulen).  Melihat gambaran folikel, papil, membrane pada konjungtivitis tarsal superior dan inferior dan konjungtiva forniks  Melihat gambaran injeksi dan nodul pada konjungtivitis bulbi.  Memastikan tidak ditemukan kelainan pada kornea.  Melihat kelainan pada komposisi air mata, obstruksi kelenjar meibom.  Pemeriksaan swab secret dengan penawaran gram bila dicurangi infeksi bakteri, Giemsa bila dicurigai virus 33

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

umumnya mukoserosa dan pembesaran kelenjar limfe preaurikuler.  Konjungtivitis alergi bila mempunyai riwayat alergi atau atopi dan ditemukan keluhan gatal, dan hiperemis konjungtiva.  Curigai Steven Johnson syndrome jika terjadi konjungtivitis pada kedua mata yang timbul seteleh minum atau mendapatkan terapi obatobatan.  Curigai kojungtivitis gonore, terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitas pada dua mata dengan secret purulen yang sangat banyak. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes mata kloramfenikol  Berikan obat tetes (0,5% -1 %)6 kali mata antibiotik sehari atau salep sprektum luas 6 kali mata 3x sehari sehari dan/atau salep selama minimal 3 mata 3 kali setiap bila hari bila dicurigai dicurigai infeksi bakteri infeksi bakteri.  Berikan salep mata  Berikan salep anti antivirus asiklovir 5 kali virus jka sicurigai sehari bila dicurigai infeksi virus infeksi virus.  Berikan tetes mata  Berikan tetes mata anti buatan 6 kali alergi (kromolin glikat)  Berikan tetes antibiotika sesuai hasil gram atau kultur, 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari bila infeksi bakteri  Berikan tetes antivirus sdoksuridin atau asiklovir bila infeksi virus.  Berikan tetes/salep mata antihistamin atau kortikosteroid bila 34

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

sehari bila dan/atau anti inflamasi dicurigai iritasi. bila dicurigai reaksi  Pada steven alergi/hipersensitivitas Jhonson  Berikan tetes /gel syndrome, lubrikan atau air mata diberikan tetes buatan bila ditemukan mata antiinlamasi iritasi (sterioid) dan air  Dicari factor mata predisposisi penyakit buatan/lubrikan yaitu sistemik (diabetes kemudian rujuk ke mellitus, TBC, kondisi fasilitas sekunder imunitas yang rendah, untuk cacingan, kondisi mendapatkan immunocompromised). penanganan lanjut  Keadaan konjungtiva dari bagian diperiksa 3 hari hingga spesialis kulit. sidapatkan perbaikan  Pada Konjungtivitis klinis, Bila tidak ada gonoro, pada bayi perbaikan, memburuk diberikan injeksi atau terjasi kompliksi penilisin procain dalam 1 bulan, dirujuk 50.000 IU/Kg ke dokter mata bb/hari dan konsultan Infeksi dan kloramfenikol Imunologi atau fasilitas tetes mata (0,5% mata tersier. 1,0%) tiap jam.Bila tidak tidak ada perbaikan dan atau terjadi komplikasi pada kornea, segera rujuk ke fasilitas sekunder dan tersier.  Bila tidak ada perbaikan dengan terapi dalam 1 minggu pada konjungtivitis bakteri, 2 minggu pada konjungtivitis virus dan alergi, segera rujuk ke fasilitas sekundrt atau tersier.

ditemukan reaksi alergi atau hipersesitivitas. Bila ditemukan kompliksi pada kornea, penatalaksanaan sesuai dengan penatalaksanaan keratitis/ulkus kornea Pada Steven Jhonson syndrome, berikan terapi anti inflamasi (steroid) tropical dan lubrikan/air mata buatan, disertai terapi dari bagian spesialis kulit. Pada konjungtivitis gonore, diberikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata, injeksi ceftriaxon 1 gr single dose intravena, jika ada ulkus berikan ceftriaxon 1 gr intravena tiap 12 jam selama 3 hari.Bila alergi diberikan ciprofloxacin 500 mg oral 2 kali selama 5 hari. Pada bayi berikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata injeksi ceftriaxon 25-50 mg/kg bb atau cefotaxim 100mg/kg bb interavena atau intramuskular. Berikan tetes/ gel mata lubrikan dan air mata buatan bila ditemukan iritasi Pemeriksaan klinis factor predisposisi local (dry eye, obstruksi duktus nasolakrimalis dll), dilanjutkan pentalaksanaan terhadap kelainan tersebut pemeriksaan laboraturium lengkap darah, urin, feses bila dicurigai predisposisi 35

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

penyakit sistemik.  Berikan terapi oral/parenteral sistemik bila ditemukan factor predisposisi sistemik sesuai hasil konsultsi bagian yang bersangkutan.  Keadaan konjungtiva di periksa tiap 3 hari hingga didapatkan perbaikan klinis dan evaluasi pengobatan terhadap factor predisposisi sistemik dan local  2
EVALUASI KERATITIS DAN ULKUS  Riwayat KORNEA  Riwayat trauma (kelilipan,  Riwayat trauma (kelilipan, benda asing di kornea, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma khusus riwayat trauma tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan atau pengunaan obat tetes pengunaan obat tetes mata tradisional yang mata tradisional yang berasal dari tumbuhberasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai tumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa penggunaan lensa kontak), pemakaian kontak), pemakaian kortikosteroid topical. kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinterbaik menggunakan pinhole. hole.  Tekanan intraocular (TIO)  Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan cara palpasi diukur dengan cara palpasi  Pemeriksaan dengan slit  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk menilai lamp untuk menilai keadaan kornea dan keadaan kornea dan segmen anterior lainnya : segmenn anterior lainnya :  Melihat gambaran  Melihat gambaran secret (serosa, secret (serosa, mukopurulen, mukopurulen, purulen). purulen).  Bentuk ulkus  Bentuk ulkus (pungtata, filament, (pungtata, filament, dendritik, geografik, dendritik, geografik, oval, intersisial,dll) oval, intersisial,dll)  Kedalaman ulkus  Kedalaman ulkus (superficial, dalam, (superficial, dalam, apakah ada apakah ada kecenderuangan untuk kecenderuangan untuk

trauma (kelilipan, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma tumbuhtumbuhan atau pengunaan obat tetes mata tradisional yang berasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa kontak), pemakaian kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat keadaan kornea

36

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

perforasi (impending perforasi (impending perforation) dan perforation) dan perforasi. perforasi.  Pemeriksaan kerokan  Hipopion dapat ada korea dengan penawaran atau tidak ada. Gram dan pemeriksaan  Lakukan foto keadan langsung dengan KOH 10% kornea dan segmen anterior lainnya.  Pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan Gram, Giemsa dan pemeriksaan langsung dengan KOH 10%  Pemeriksaan kultur kerokan kornea dengan agar darah domba, tioglikolat dan agar sabouraud dekstrosa.  Bila segmen posterior sulit dinilai, lakukan pemeriksaan ultrasonografi. Bila didapatkan adanya kekeruhan vitreus dan tanda-tanda endoftalmitis, lakukan prosedur endoftalmitis. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes. Salep mata kloramfenikol (0,5-1%) enam kali sehari, atau salep mata tetrasiklin 3 kali sehari sekurangkurangnya untuk 3 hari.  Jangan diberikan kombinasi antibiotika dengan obat yang mengandung kortikosteroid  Jang menggunakan obat-obat tradisional.  Segera rujuk ke spesialis mata apabila :  Tajam penglihatan awal buruk atau menurun setelah 3 hari pengobatan  Tampak lesi  Pasien sebaiknya dirawat  Pasien sebaiknya dirawat apabila : apabila:  Lesi ulkus kornea  Lesi ulkus kornea mengancam mengancam penglihatan, penglihatan, mengancam mengancam perforasi. perforasi.  Pasien dianggap  Pasien dianggap kurang patuh utnuk kurang patuh utnuk pemberian obat tiap pemberian obat tiap jam jam  Diperlukan follow up  Diperlukan follow up untuk menilai untuk menilai kebersihan terapi. kebersihan terapi.  Apabila ditemukan  Apabila ditemukan gambaran ulkus kornea gambaran ulkus kornea dendritik, geogradik atau dendritik, geogradik atau stroma, dapat diberikan stroma, dapat diberikan salep mata asiklovir 5 kali salep mata asiklovir 5 kali sehari atau tetes mata sehari atau tetes mata idoksuridin tiap jam. idoksuridin tiap jam.  Bila pada pemeriksaan  Bila pada pemeriksaan kerokan kornea kerokan kornea didapatkan hasil gram didapatkan hasil gram positif atau negative positif atau negative diberikan antibiotika tetes diberikan antibiotika tetes mata golongan mata golongan

37

ofloksasin. Bila kerokan kornea didapatka hifa jamur (KOH positif). Bila kerokan kornea didapatkan hifa jamur. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. berikan tetes mata amfoterisin B 0. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan yang kemusian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. Pemberian analgetik apabila diperlukan. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Rujuk ke spesialis mata konsultan infeksi dan imunologi mata atau klinik mata tersier apabila didapatkan :  Ulkus kornea yang terjadi pada pasien yang hanya mempunyai satu mata  Ulkus kornea pada anak-anak  Adanya 2012         aminoglikosida (gentamisin . yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Pemberian analgetik apabila diperlukan. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam.15% tiap jam (tetes mata amfoterisin B 0. yang kemudian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu.15% dapat dibuat dengan modifikasi sediaan bubuk untuk pemberian intravena).dibekasin. ofloksasin. berikan tetes mata Natamisin 5 % tiap jam tiga kali sekali.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat putih di kornea  Tetap berikan kloramfenikol tetes mata saat merujuk ke spesialis mata di fasilitasi sekunder dan tertier. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. Tidakan Bedah:  Keratektomi superfinansial tanpa membuat perlukaan 38 .dibekasin. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. aminoglikosida (gentamisin . Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Keadaan Korea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. diberikan tetes mata Natamisin 5% tiap jam dan salep mata Natamisin 5 % tiga kali sehari atau bila pasien mampu.

dengan indikasi :  Keratitis terpapar  Keratitis neuroparalitik Tissue adhesive atau graft amnion multilayer. dengan indikasi : Mempertahankan 39 .  Menghilangkan materi infeksi. dengan indikasi : Ulkus korena dengan tissue loss berukuran kecil Perforasi kornea perifer berukuran kecil Flap konjungtiva. terutama jamur Tarsorafi lateral atau medial . dengan indikasi :  Untuk menegakkan diagnosis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kecenderungan untuk perforasi atau perforasi. Tidak didapatnya kemajuan terapi setelah 3 hari pengobatan (ulkus kornea bakteri) atau 7 pengobatan (ulkus kornea jamur). terutama pada ulkus kornea jamur. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descem atocele Perforasi kornea di perifer Patch graft dengan flap konjungtiva. Kedurigaan ulkus kornea jamur. 2012        -  pada membrane Bowman dengan indikasi :  Keratitis virus epitelial  Erosi kornea rekuren Keratektomi superfinansial hingga membran Bowman atau stroma anterior. tetapi tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan langsung KOH 10% atau pewarnaan jamur lainnya. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descemato cele Perforasi kornea di perifer Keratoplasi tembus.

Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata. dimana sulit untuk mendapatkan donor kornea 3 GLAUKOMA KRONIS EVALUASI  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik dan pin-hole: biasanya tajam penglihatan masih baik.  Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma kronis)  Glaukoma sudut terbuka primer adalah glaucoma primer yang ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka.  Pemeriksaan dengan biomikroskopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO 28 mm Hg (4.5) atau lebih.  Fascia lata graft.  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi dan pin-hole.  Pemeriksaan funduskopi : Gambar dan uruaikan papil 40 .  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup: gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.Pada stadium lanjut didapatkan koreksi tajam penglihtan tidak penuh dengan pupil melebar dan berwarna hitam. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 integritas bola mata .  Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi : menyempit. dengan indikasi : . sedangkan glaucoma sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai penyulit penyakit mata lain baik yang sedang maupun yang pernah diderita serta penyakit sistemik. Berdasarkan etiologinya dibagi kedalam glaucoma sekunder. atrifi dan ekskavasi papil N. disebabkan oleh berbagai factor risiko. Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata dengan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan dengan gonioskopi.Mempertahankan integritas bola mata. terutama TIO yang terlalu tinggi untuk kelangsungan  Klasifikasi glaucoma mirip dengan klasifikasi pada fasilitas sekunder.6 atau lebih. Glaucoma primer adalah glaucoma yang timbul dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaucoma.5/7.II serta lapang pandang karakteristik.  Pemeriksaan funduskopi – rasio CD (Perbandingan antara lebar cekungan papil terhadap lebar papil N. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.II) sebesar 0. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.Mengganti jaringan kornea yang terinfeksi dengan donor kornea.  Klafisikasi glaucoma berdasarkan pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi) dibagi ke dalam glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup. yang bersifat progessif lambat.

glaucoma perimeter kinetic dan kortikosteroid. perifer secara perlahan.  Glaukoma sudut terbuka  Pemeriksaan tekanan sekunder intraocular dengan tonometer Schiotz.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kesehatan mata. terbuka primer antara lapang lain adalah glaucoma  Pemeriksaan pandang dengan alat pigmenter. 41 . evaluasi papil saraf optic  Glaukoma kronis sudut dan serabut saraf retina tertutup primer dengan alat diagnostic  Glaukoma jenis ini imaging seperti OCT adalah glaucoma (optical coherence primer yang ditandai tomography)dan HRT dengan tertutupnya (Heidelberg retinal trabekulum oleh iris topography).subakut atau merambat (creeping). memungkinkan dengan glaucoma angle recess Octopus atau Humphrey.Bentuk primer berkembang pada mereka yang memiliki factor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata depan tergolong sempit. Glaukoma jenis ini juga merupakan kelanjutan glaucoma akut sudut tertutup primer yang tidak mendapat pengobatan atau setelah mendapat pengobatan yang tidak sempurna atau setelah terapi iridektomi perifer/trabekulektomi (glaucoma residual). tonomirip dengan pen dan bila ada dengan glaucoma sudut tonometer non kontak. Glaukoma tersebut dapat pula berkembang dari bentuk intermiten. static baik manual maupun glaucoma computer:bila pseudoeksfoliasi. gambaran klinisnya asimptomatis mirip glaucoma sudut terbuka primer.  Selain sudut bilik mata depan yang tertutup. saraf optik. setelah trauma tumpul  Bila memungkinkan dan lain-lain.  Gambaran klinis yang tonometri aplanasi.

 Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO umumnya lebih dari 21 mm Hg. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.  Pemeriksaan funduskopi : terlihat atrofi papil glaukomatosa. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. 2012 PENATALAKSANAAN  Tekanan intra ocular diturunkan dengan 1.  Pemeriksaan dengan biomiksokopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen dengan koreksi dan pin-hole. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 42 . Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata depan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan menggunakan teknik Van Herrick dan sebaliknya menggunakan gonioskopi.Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer.  Pemeriksaan lapang pandang dengan alat perimeter sederhana atau perimeter Goldmann : cacat lapang pandang galukomatosa. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 1.

GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER  Cari faktor penyebab  Medikamentosa Prostaglandin analog (Glaupen.  Upaya pencegahan kebutaan akibat glaucoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaucoma secara aktif di masyarakat. non penetrating filtering surgery.Pemilihan obat untuk pengobatan awal didasarkan pada penilaian mata penderita dan status kesehatan umum. tidak tahan terhadap obat-obatan.KCI 2-3 x 0. Glauplus. Umumnya TIO diharapkan lebih rendah dari 21 mm Hg. baik untuk  Tujuan pengobatan pada penderita yang terbukti menderita glaucoma sudut terbuka primer adalah mencegah berlanjutnya kerusakan papil saraf optic. Sampai saat ini belum ada criteria yang memuaskan untuk menetapkan tingkat TIO yang dapat diterapkan aman untuk mempertahankan keadaan lapang pandang bagi semua penderita. Ada yang menurukan 30% lebih rendah dari TIO awal.25% . Glauplus. trabekuloplasti laser selektif  Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/atau dengan Mitomisin C/5Fluorourasil. Azopt)  Alpha 2 agonist adrenergic  Terapi laser beurpa trabekuloplasti argon laser. Adapula yang menetapkan target pressure dengan perhitungan khusus yang bersifat individual/mata.25 – 0.5% 2x 1 tetes/hari (bila tidak ada kontra indikasi) . namun dapat pula menggunakan obatobatan jenis terbaru.Pilokarpin 2% 4 x 1 tetes/hari . Sangat penting diperhatikan kepatuhan penderita dalam melaksanakan pengobatannya. Travatan) Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. Penerita dirujuk ke dokter spesialis mata.Asetazolamind 3-4 x 125 – 250 mg/hari . pelayanan tingkat sekunder atau tersier bila TIO tetap diatas 21mmHg. a.5 gr/hari  Obat-obatan prinsipnya dibeirkan secara sendirisendiri. Azopt).Prinsip terapi mirip dengan penanganan pada fasilitas sekunder. tetapi dapat dikombinasikan tergantung dari sasaran TIO. Medikamentosa .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat obat-obatan secara bertahap berupa : . dalam stadium lanjut glaucoma dan/atau utnuk menilai progresifitas penyakitnya.5% satu sampai 2x sehari bila tidak ada kontraindikasi atau obat-obat baru yang lain (seperti glaupen. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. 2. .0. 43 . Xalatan. penderita tidak patuh. Xalatan.25% 0.  Oleh karena obatobatan dibeirkan untuk jangka lama dan terus menerus. Bila cacat lapang pandang belum lanjut atau TIO tidak terlalu tinggi maka terapi dapat dicoba pada satu mata lebih dahulu untuk menilai manfaat dan efek samping. Travatan)  Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol.Timolol 0.Terapi medikamentosa bersifat monoterapi dimulai dengan timolol maleat (C. operasi drainase implant.Timol) 0. 2012  Medika mentosa . seperti :  Prostaglandin analog (Glaupen.

azopt).   3. Pada setiap pemberian obat asetazolamide harus disertakan pemberian obat preparat kalium - 2012 Alpha 2 agonist adrenergic Terapi laser berupa trabekuloplasti argon laser. maka dosis ditingkatkan menjadi 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam. Obat ini biasanya dimulai dengan dosis 125 mg. Bila efektivitas yang diharapkan belum tercapai. 1 minggu selanjutnya 4-8 minggu minggu setelah tindakan IP/trabekuloplasti laser. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/ atau dengan mitomisin C/5Fluorourasil. Bila dengan monoterapi atau kombinasi ternyata belum mencapai sasaran beurpa penurunan TIO yang tidak memuaskan atau tetap berlanjutnya kerusakan atau sejak awal tekanan lebih dari 30 mmHg maka dapat diberikan terapi sistematik dengan penghambat karbonik anhidrase.  Tindakan bedah trabekulektomi bila TIO diatas 21 mmHg setelah tindakan iridektomi perifer dan medikamentosa  Tindakan bedah kombinasi trabekulektomi dan katarak bila ada indikasi keduanya. lalu penilaian diulang lagi. non penetrating filtering surgery. xalatan.  Minggu ke 8 lakukan 44 . GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Terapi medikamentosa diberikan baik sebelum terapi definitive iridektomi perifer maupun setelahnya. dorzol. trabekuloplasti laser selektif. travatan. 3 – 4 kali per hari. Bila dengan obat pertama keadaan TIO yang diharapkan belum tercapai tetapi obat tersebut dianggap berespon baik (mencapai nilai efektif farmakologis) dapat ditambahkan obat tetes lainnya. tetapi bila bila dianggap tidak efektif maka obat pertama diganti dengan obat lain. operasi drainase impant.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penemuan kasus maupun deteksi dini.  Bila TIO naik pertimbangan pemberian medikamentosa atau tindakan trabekulektomi. glauplus. Tindakan iridektomi perifer laser atau trabekuloplasti  Pra dan setelah tindakan diberikan alpha 2 agonis  Pemberian anti inflamaasi topical setelah tindakan selama 2-3 hari  Follow up tindakan laser setelah 1 hari.

Perawatan setelah tindakan trabekulektomi  Berikan kombinasi antibiotic dan anti inflamasi topical serta antibiotic sistemik  Kontrol 1 hari pasca bedah  Kontrol 7-10 hari pasca bedah  Kontrol setiap minggu sampai 1 bulan  Kontrol tiap 4-6 bulan bila keadaan baik Evaluasi dan follow up pasien glaukoma kronis  Perhatikan ada tidaknya progresfitas papil atrofi glaukomatosa  Fundudkopo. 2012 gonioskopi dan cek TIO.5 gr) 2 -3 x.25 – 0. alasan dan tujuan pengobatan.  Tambahan pula pasien harus diberitahu dengan kata-kata yang sederhana mengenai mekanisme terjasinya glaukoma.Dokter harus merencanakan dan membicarakan saat dan jenis pengobatan dan meyakini bahwa nama obat dan jam pemberiannya ada tertulis di label botol.Bila dengan pengobatan medikamentosa diatas belum memuaskan sebaiknya penerita dipertimbangkan untk dilakukan terapi bedah (trabekulektomi atau non penetrating filtering surgery) atau dikonfirmasikan untuk kemungkinan tindakan lain ke pelayanan tingkat tersier. b. cara berbagai obat bekerja dan efek samping yang mungkin terjadi.OCT.HRT : Evaluasi setiap 6.  Pasien harus diyakinkan perlunya pemeriksaan kontrol berkala seumur hidup mengenai TIO. Hal ini perlu dalam upaya menjaga kepatuhan penderita dalam berobat. Tindakan bedah : . Instruksi bagi penderita :  Dalam pengobatan glaukoma penting sekali untuk memberikan instruksi pada penderita mengenai waktu dan pemakaian obat termasuk cara menekan daerah kantus internus untuk mencegah absorpsi sistemik obat tetes.Humphrey  Lakukan Gonioskopi minimal setiap 3 bulan 45 .  Perhatikan ada tidaknya pertambahan skotoma/kelainan lapang pandang dengan automatic perimeter setiap 6-12 bulan: Octopus.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat (KCL 0.12 bulan. 0.5 gr per hari.

Iridektomi perifer .  Penderita sebaiknya mengetahui nama dan konsentrasi obat yang sedang digunakan. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER Cari factor penyebab seperti yang tertulis di atas. .II dan lapang pandang.Trabekulektomi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penilaian papil N. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Tindakan bedah iridektomi perifer pada kedua mata  Medikamentosa obatobat glaucoma untuk menurunkan tekanan intraokular . .  Bila dengan penatalaksanaan diatas masih juga menunjukkan kemunduran maka dirujuk ke tingkat tersier untuk dipelajari lebih lanjut. 3.Asetazolamid 2-3 x 2012 46 .Kartu pengenal tanda penderita glaukoma yang harus dibawa penderita mungkin ada manfaatnya.Penting pula pasien dan dokter lain yang merawatnya mengetahui efek samping. serta penggunaan obat tetes yang benar/patuh seperti yang diinstruksikan kepadanya.5 % 2 x sehari.Timolol 0.  Keluarga langsung perlu diikutsertakan dalam penatalaksanaan penderita 2. alergi dan kemungkinan keracunan obat glaukoma.Bedah katarak/ekstraksi lensa. kemudian tentukan :  Medikamentosa  Tindakan bedah : .Pilokarpin 2% 4 x perhari.

Dorzol. 2012  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pin-hole.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. Glauplus.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.Obat-obat baru seperti : Glaupen.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 250 mg sehari disertai dengan KCI 2-3 x 500mg .  Pemeriksaan funduskopi dengan oftalmoskop langsung untuk melihat segmen posterior jika katarak masih tidak terlalu  Pemeriksaan visus dengan kartu snellen dengan koreksi terbaik serta mengunakan pin-hole.5%. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien. Xalatan. Derajat 1 : Nukleus lunak. biasanya visus masih lebih baik dari 6/12.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.  Tindakan bedah trabekulektomi. aplanasi atau Schiotz  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. bila dengan tindakan iridektomi perifer dan obat-obatan tekanan intraocular masih diatas 21 mmHg. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia pendirita juga biasanya kurang dari 50 tahun. Azopt.  Jika TIO dalalm batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.5%.  Dilakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung. 4 KATARAK PADA PENDERITA DEWASA EVALUASI  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole  Pemeriksaandengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior dimana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak refleks pupil yang masih baik. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat adanya kekeruhan lensa.5%.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non-contact. tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan. 47 . setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien. Travatan.  Derajat katarak ditentukan sebagai berikut : a.

Derajat 5 : Nukleus sangat keras. visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. d. dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Derajat 4 : Nukleus keras. dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60. e. dimana refleks fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai. tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan. c.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keruh b. Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30. 2012 Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan. Katarak ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract. nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah diatas 65 tahun. Derajat 3 : Nukleus dengan kekerasan medium. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.  Dilakukan pemeriksaan 48 .

00) dikurangi ukuran kacamta yang selama ini digunakan pasien.  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.  Pasien mengisi surat izin tindakan medis (informed consent). dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik.risiko operasi.00 dapat diberikan IOL power +14.  Penatalaksanaan bersifat non bedah. jika visus sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi. serta perawatan pasca operasi. tetapi bisa juga berdasarkan anamnesis menggunakan IOL standar (power +20. dapat dilakukan operasi ECCE (Extra capsular cataract extraction)  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro. penyakit lain ataupun alergi. dimana pasien dipersiapkan untuk implantasi lensa tanam (IOL : Intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan. 49 . dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik.  Setiap kali melakukan pemeriksaan pre –operasi mencakup hal-hal berikut : Anamnesis riwayat penyakit mata.Misalnya jika pasien menggunakan kacamata S-6.00  Perhatikan juga rekomendasi tindakan bedah katarak. pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersi.  Teknik bedah katarak menggunakan teknik manual ECCE atau pun fakoemulsifikasi dengan mempertimbangkan derajat katarak serta tingkat kemampuan ahli bedah  Operasi katarak hanya dilakukan jika visus sudah mengganggu kegiatan sehari-hari pasien dimana pasien berkesempatan melakukann diskusi dengan dokter mengenai alternative lain selain operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 fundus dengan oftalmoskopi langsung ataupun tidak langsung. pasien dipersiapkan untuk implantsi lensa tanam (I)L: intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersai.  Penatalaksanaan bersifat bedah. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah.

penempatan sayatan dan konstruksi luka. Menentukan kekuatan lensa tanam yang sesuai. Pengukuran tekanan intraocular Penilaian fungsi pupil (reflex pupil). Pemeriksaan mata luar (external examination) dengan senter dan lup atau slit lamp bergantung fasilitas. Membuat rencana pembedahan (jenis anesthesia. keuntungan dan kerugian operasi serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat - 2012 Visus tanpa koreksi dengan Snellen serta refraksi terbaik. jika pasien tersebut direncanakan untuk implantasi lensa tanam. Memperoleh surat izin tindakan medis (informed consent) Memastikan bahwa hasil keratometri dan biometri A Scan sesuai dengan mata yang akan dioperasi. jika pasien tersebut direncanakan implantasi lensa tanam. Pemeriksaan fundus dengan dilatasi pupil - -  Dokter spesialis mata yang akan melalukan operasi katarak sebaiknya memperhatikan persiapan preoperasi sebagai berikut : Memeriksa pasien sebelum operasi. 50 . Memberikan infomasi kepada pasien mengenai resiko.

Pasien tidak dapat menjalani operasi 51 . Ada dugaan bahwa operasi tidak dapat meningkatkan penglihatan pasien pasca operasi. Kualitas hidup pasien belum terganggu dengan gangguan penglihatan yang dialaminya.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 refraksi pasca operasi yang direncanakan serta jadwal pemeriksaan pasca bedah). Melakukan evalusi pre operasi diatas termsuk pemeriksaan laboraturium serta berdiskusi dengan pasien ataupun keluarga pasien yang dianggap lebih mengerti dan dapat bertindak atas nama pasien.  Operasi tidak boleh dilakukan pada keadaan sebagai berikut : Pasien menolak tindakan operasi Pemberian kacamata ataupun alat bantu penglihatan lainnya masih cukup memuaskan bagi pasien.Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya.  Operasi katarak bilateral ( operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara beruntun) sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak kebutaan.

Pasien tidak dapat memberikan surat izin tindakan medis yang sah secara hukum karena kurang pengertian ataupun kurang informasi. Dokter spesialis mata/staf juga menerangkan mengenai tanggung jwab pasien untuk mengikuti petunjuk yang harus dilakukan selama perawatan pasca operasi dan pasien harus segera menghubungi dokter tersebut jika mengalami masalah. berkewajiban mendidik.  Pemriksaan lanjutan pasca operasi (follow up) : Frekuensi pemerksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat pencapaian visus 52 . menjelaskan dan member instruksi kepada pasien mengenai gejala ataupun tandatanda mengenai kemungkinan terjadinya komplikasi pasca operasi. penggunaan proteksi mata. pengobatan. Pasien tidak dapat mengikuti petunjuk pengobatan pasca operasi. jadwal kunjungan lanjutan (follow up) dan petunjuk dimana harus mendapatkan perawatan darurat jika diperlukan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 katarak berkaitan dengan penyakit mata lain ataupun keadaan kesehatan akibat penyakit lainnya. - -  Dokter spesialis mata yang melakukan operasi ataupun staf dokter tersebut. adanya pembatas kegiatan.

Pada pasien dengan risiko tinggi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 optimal yang diharapkan. peningkatan tekanan intraocular. seperti pada pasien dengan satu mata. edema kornea ataupun tandatanda peradangan. glaukoma dan lain-lain.  Kunjungan kedua : dijadwalwak - - 53 . maka pemeriksaan harus dilakukan harus satu hari setelah operasi.hipotonu s. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre-operasi maupun intra operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:  Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam waktu 48 jam setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang menyebabkan bilik mata dangkal. mengalami komplikasi intra – operasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis.

antibiotika oral. anti glaukoma atau edema kornea. dan lain-lain).  Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien dimana bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang diharapkan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan pertama. - 54 . Obat-obat yang digunakan pasien pasca operasi bergantng dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien (misalnya analgetika. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 2 minggu pasca operasi. yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu pertama pasca operasi.

diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium. penderita diberi penyuluhan untuk mengurahi iritasi maupun paparan terhadap ultra – violet.  Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid seperti CXitrol 3 kali sehari selama 5-7 hari. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 5 PTERYGIUM EVALUASI  Pemeriksaan cukup dengan lup dan lampu senter. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. yaitu:  Teknik operasi yang dianjurkan adalah dengan avulse pterygium disertai cangkok konjungtiva (conjunctival limbal graft) Penggunaan Mitomycin C sebaiknya hanya pada untuk penanganan kasus pterygium yang rekuren.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz.  Pada pterygium derajat 3 dan 4. 2012  Pemeriksaan dengan slit lamp. diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan Snellen  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya (glaukoma). perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi ataupun mengalami kelainan kornea.  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid sepertiCXitrol 3 kali selama 5-7 hari. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah.  Pemeriksaan dengan slit lamp. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). mengingat komplikasi dari mitomycin C yang cukup berat. Jika pterygium mengalami inflamasi. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi  Penatalaksanaan bersifatnon bedah pada pterygium derajat 1 dan 2. yaitu edukasi terhadap pasien untuk mengurangi iritasi dan paparan ultra – violet. dilakukan tindakan bedah berupa avulsi (pengangkatan)  Penatalaksanaan pada fasilitas tersier bersifat bedah dengan memperhatikan tujuan utama dari pengangkatan dari pterygium.  Sebagai perbandingan angka kekambuhan pasca pengangkatan pterygium dapat dilihat dari berbagai 55 . lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame.  Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual maupun menggunakan alat autorefrakto-keratometer  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan cara aplanasi ataupun menggunakan tonometer non kontak.

pterygium.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.6% (Mutlu et al) Graft Graft Sclera Intra-Operative Mitomycin C 5. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.9%(Prabhasawat et al) Transplantation 3% (Solomon et al) 6 KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK EVALUASI  Mengenali gejala dan tanda pada masing-masing kelainan refraksi sesuai usia.9% (Mabar et al) Conjuctival Limbal 14. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat ataupun mengalami kelainan kornea. dan usia sekolah.  Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur (kelompok non verbal dengan pemeriksaan fiksasi.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup.8% (Helal et al) Amniotic Membrane 10.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen 56 . dan usia sekolah.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah. dan usia sekolah.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. usia prasekolah (2-5 thn). Sedapat mungkin setelah avulse pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterygiumtersebut ditutupi dengan cangkok kongjungtiva yang diambil dari bagian kanjungtiva superior untuk menurunkan angka kekambuhan. simbol chart. E Chart dan kelompok verbal dengan Snellen chart)  Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia. TECHNIQUE RECURENCE RATE Bare 61 % (Tan et al) 40% (Figuiredo et al) Conjunctival 18% (Wong et al) 25.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. 2012 laporan sebagai berikut.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah.

2012 PENATALAKSANAAN  Koreksi kelainan refraksi pada kelompok usia sekolah bila pada pemeriksaan subjektif virus mencapai 6/6.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan funduskopi kedua mata dengan oftalmoskopi direk.5% posterior dengan oftalmoskop direk.  Kebutuhan tajam penglihatan sesuai umur  Resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi  Penatalaksanaan amblipio dan akomodatif esotropia  Koreksi (tindakan)sisa esotropia pada kasus akomodatif esotropia setelah koreksi kaca mata diberikan 7 STRABISMUS EVALUASI  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai 57 .  Rujuk ke TEC bila dijumpai ambliopia dan/ atau mata juling. posterior dengan oftalmoskop direk.  Pemeriksaan kemungkinan ambliopia dan atau mata juling. Kebutuhan tajam penlihatan sesuai umur. dengan sebelumnya dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0.  Koreksi kelainan refraksi pada semua kelompok umur harus berdasarkan pertimbangan :  Apakah besarnya kelainan refraksi cukup mengganggu aktifitas  Kemampuan akomodasi pasien.  Rujuk ke fasilitas sekunder bila: Pada kelompok usia sekolah visus dengan koreksi tidak mencapai 6/6 Pada kelompok usia <2tahun dan kelompok usia prasekolah didapatkan tanda dan gejala kelainan refraksi dan kemampuan penglihatan tidak sesuai dengan umur Dijumpai kelainan posisi bola mata (kelainan refraksi + mata juling)  Koresi kelainan refraksi pada semua kelompok harus berdasarkan pertimbangan : besarnya kelainan rekraksi cukup mengganggu aktivitas: kemampuan akomodasi pasien :. resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi.  Mendeteksi adanya faktor-faktor ambliopia.

Dilakukan penilaian pergerakan bola mata untuk melihat ada tidaknya hambatan pergerakan bola mata. Bila dicurigai ada simulated divergence excees perlu dilakukan pemeriksaan sudut deviasi setelah oklusi paling sedikit 1 jam pada salah satu mata. Funduskopi dengan oftalmoskop direk. demikian pula yang dewasa. Bila penderita adalah bayi. dinilai keadaan kornea. iris pupil dan lensa. koreksi dengan kaca mata yang sesuai Bila terdapat ambliopia. Demikian pula harus dilakukan pemeriksaan deviasi dengan dan tanpa koreksi kaca mata kalau terdapat kelainan refraksi. Bila penderita adalah bayi. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. iris/pupil termasuk reflek pupil dan lensa.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keadaan. Maintain (CSM). demikian pula yang dewasa. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. keadaan. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masing-maisng anak. pemeriksaan visus secara subyektif dengan cara Central. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. coveruncover test dan Alternate Cover Test (ACT) 2012                PENATALAKSANAAN  Rujuk ke sekunder fasilitas  Bila terdapat kelainan rekraksi. Steady. iris pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. dinilai bagaimana keadaan kornea. Bila penderita adalah bayi. demikian pula yang dewasa. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan dengan terlebih dahulu koreksi   keadaan. Penilaian status sensoris 58 . dinilai keadaan kornea. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Alternate Cover Test (ACT) / Prism Cover Test (PCT) Ukur deviasi jauh dan dekat serta dinilai ada tidaknya A&V pattern. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior. Krimsky. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak.

Jenis operasi yang dilakukan disesuaikan dengan diagnosis dan pola deviasi yang ada dan keadaan visus masing-masing mata. konjungtiva dengan  Pemeriksaan orbita : permukaan Pengukuran berbenjol-benjol besarnya proptosis pada usia tua. dan penurunan visus). dan tua)  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata dan putih mata. Terlihat adanya sama dengan pelayanan benjolan/ulkus di kesehatan sekunder atau palpebrapun primer. rasa nyeri. dan tua)  Anamnesis (mata  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata ulkus dikelopak mata dan putih mata. dan ganda. dan penurunan visus). lama gejala. 59 . dewasa muda. dan tua) dewasa muda.  Pemeriksaan mata  Pemeriksaan mata dengan/ tanpa slitlamp : dengan/ tanpa slitlamp. penglihatan ganda. Bila tipe Basik dan bila visus salah satu mata tidak baik. lama gejala. tidak dengan alat Hertel. rasa nyeri. berikan koreksi terbaik. tetap ekstropia. lama dan putih mata. penurunan visus). dapat dilakukan reses –resek pada mata yang tidakk dominan atau yang visusnya lebih buruk Bila tipe convergence insufficiency dapat dilakukan resek rektus medieus.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kelainan refraksi. Bila tipe Divergence Excess dapat dilakukan reses rektus lateral pada kedua mata. Bila dengan koreksi kelainan refraksi. rasa nyeri.  Pemeriksaan mata tanpa slitlamp : Terlihat adanya benjolan/ulkus di palpebrakonjungtiva dengan  Identitas : umur (anak. Bila ambliopia. 8 TUMOR ORBITA EVALUASI  Identitas : umur (anak. dewasa muda.  Identitas : umur (anak. penglihatan ganda. Bila dengan pemberian kaca mata tidak ada perbaikan pada deviasinya maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tertier untuk dilakukan penatalaksanaan selanjutnya. 2012         Bila terdapat kelainan refraksi. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan. penglihatan gejala. lakukan operasi.

Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. adenokarsinom a kelenjar Meibom. dengan lama gejala yang khronisdiagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. pertumbuhan lambat :benign mixed tumor usia muda/tua. phlebolith. atau pembesaran rongga - 2012 Arah terdorongnya bola mata : bola mata ke nasal bawah: Massa temporal atas (kelenjar lakrimal) usia muda. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). atau melanoma maligna). dengan lama gejala yang khronis-diagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. meningioma. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan menyembuh dengan pengobatan antibiotika. Kuadran lokasi - - - 60 . tidak menyembuh dengan pengobatan antibiotika. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. dan dapat hemangioma kavernosa bola mata terdorong ke superior : massa berasal dari inferior kebanyakan tumor ganas berasal dari sinus maksila atau jaringan penunjang. gejala dirasakan lebih dari 1 tahun. menunjukkan lebar fisura yang melebar.  Pemeriksaan orbita : Pengukuran adanya proptosis dengan menggunakan alat Hertel atau penggaris di kantus lateral ke ujung kornea. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan suatu proses inflamasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat permukaan berbenjolbenjol pada usia tua. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. menunjukkan lebar fisura yang melebar. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. dapat mukokel atau keganasan dari epitel sinus (karsinoma sel skuamosa) bola mata terdorong aksial : massa berada di konus – umumnya tumor dari saraf optik terutama pada penderita berusia muda. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor.pertumb uhan cepat : adenoid kistik karsinoma atau keganasan lain bola mata ke inferior: massa berada di superior – umumnya neurilemmoma atau kista dermoid bola mata terdorong inferotemporal : massa berada di nasal tumor berasal sinus frontal.karsino ma sel skuamosa. adenokarsinoma kelenjar Meibom. antara lain glioma.kar sinoma sel skuamosa. dengan lama gejala lebih dari 1 tahun. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Foto orbita baku – pada tumor primer orbita jinak diharapkan gambaran perselubungan. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). atau melanoma maligna).

orbita. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Jika tumor dapat diraba. dinilai kekenyalannya.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat suatu proses inflamasi. penilaian lebih dititik beratkan pada ada tidaknya tumor dan refleks tumor. Jika teraba lunak dapat diduga tumor bersifat jinak. pada tumor primer orbita ganas dan metastasis/invasi diharapkan gambaran destruksi tulang. tetapi jika keras kenyal dapat dicurigai tumor bersifat ganas.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Ultrasonografi : pemeriksaan tidak invasif. Pemeriksaan USG sukar untuk mendiferensiasika n jenis tumor. tempat hambatan menunjukkan lokasi tumor (kuadran lokasi) Pemeriksaan pulsasi : bila posifit tumor dapat berupa neurofibroma atau jika diketahui didahului trauma/hipertensi pada orang tua dapat diferensiasi dengan arteri-vena fistula.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakonjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi/insisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. CT-scan : pemeriksaan ini cukup untuk mendiagnosis tumor orbita serta membantu untuk 61 . 2012 massa berada berlawanan dengan arah terdorongnya bola mata tumor sesuai dengan jaringan/organ yang berada di kuadran tersebut Gangguan gerak bola partial.

berukuran kecil dan diduga jinak. Untuk membedakan sifat tumor.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakomjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi.  Pada tumor epitel adneksa. Pemeriksaan dilanjutkan  Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan ini sangat membantu dalam membedakan sifat ganas tumor.Pada tumor epitel yang  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi 62 .Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penentuan penatalaksanaan selanjutnya. kemudian diturunkan secara bertahap. kemudian diturunkan secara bertahap. seperti prednisone dosis tinggi 12-16 tablet (2mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Jika tidak berhasil sebaiknya dirujuk untuk ekspolari lanjut. tetapi dengan penanda ganas asam sialat menunjukkan nilai kadar yang berbeda bermakna. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.  Pada tumor epitel adneksa. jinak atau ganas dengan menilai batas tumor. Jika tidak berhasil sebaiknya penderita dirujuk. - PENATALAKSANAAN  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral.  Pemeriksaan fisik : untuk mencari adanya keganasan atau metastasis. berukuran kecil dan diduga jinak. Pemeriksaan MRI dan arteriografi pada kasus khusus yang mencurigai fistula atau ingin mengetahui tumor berasal dari saraf optik. Akan tetapi pemeriksaan penanda ganas tidak ada yang spesifik untuk tumor orbita. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.

terutama pada tumor orbita. karsinoma sel skuamosa stadium 1 setelah ektirpasi tumor dapat dilanjutkan dengan pemberian sitostatika local seperti tetes mata mitomycin. kecuali bila lokasi di daerah kelenjar lakrimal. Pada tumor konjungtiva. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk.  Jika meragukan melakukan tindakan.  Jika meragukan melakukan tindakan. Pada tumor yang lebih luas. baik jinak.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan.Jika diagnosis meragukan. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.  Pada tumor epitel adneksa. 2012 insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. Jika memungkinkan dapat dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. eksisi dengan rekonstruksi.Pemerik saan dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. baik jinak. Pemeriksaan patologi jaringan tumor 63 . terutama pada tumor orbita. Jika diagnosis meragukan. Pada tumor yang lanjut dan telah berinvasi ke orbita dilakukan tindakan pembedahan radikal eksenterasi orbita.  Penatalaksanaan selanjutnya dapat dirujuk untuk tindakan pembedahan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan.  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. ataupun sitostatika. Jika tidak berhasil dapat diberikan sitostatika single agent seperti chlorambucil dengan pengawasan ahli hematologi. Pengobatan tambahan radiasi atau sitostatika dapat diberikan. sebaiknya dirujuk. sebaiknya dirujuk. berukuran kecil dan diduga jinak. kemudian diturunkan secara bertahap. radiasi. dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.

ataupun metastasis/invasi sebaiknya dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. untuk melihat kekeruhan vitreus karena perdarahan atau adanya jaringan fibro-vaskular. dengan kerjasama antar disiplin. tingkat kekeruhan lensa. perdarahan retina. segmen anterior dan segmen posterior. Pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan oftalmoskop indirek. kekeruhan vitreus. terutama CTscan untuk mengetahui dengan tepat lokasi tumor. dilakukan apabila ada indikasi. ERG         64 . ganas. eksudat. apakah ada perdarahan. pelebaran  Fundus Fluorocence Angiography (FFA). 9 DIABETIK RETINOPATI EVALUASI  Anamnesia semua penderita diabetes mengenai keluhan penglihatan. flare dan sel di BMD. eksudat atau kekeruhan  Pemeriksaan mata dasar yang meliputi visus. Pemberian terapi tambahan radiasi dan sitostatika dapat diberikan sesuai kebutuhan dan sesuai dengan patogenesa jenis tumor. Penatalaksanaan sebelumnya dengan melakukan pemeriksaan penunjang. kedudukan bola mata. tekanan bola mata. baik jinak. neovaskularisasi iris. Pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan slit lamp untuk melihat apakah ada epiteliopati kornea. pergerakan bola mata. RAPD.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 harus dilakukan.  Pada tumor orbita. jenis pembedahan sesuai dengan lokasi dan jenis tumor.  Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan. USG. bila terdapat kekeruhan media dan fundus tidak tembus. Pemeriksaan visus dengan Snelen chart Pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer Schiozt Pemeriksaan refleks cahaya pada pupil baik langsung maupun tak langsung Pemeriksaan funduskopi dengan menggunakan ophhalmoscope direk.

pertumbuhan jaringan fibrovaskular di retina. pasien dikonsulkan ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol gula darahnya dan apabila dari anamnesis penyakit diabetes diderita sudah lebih dari 2 tahun.  Pasien dengan NPDR berat.  Operasi vitrektomi dilakukan apabila terdapat pendarahan vitreus. dirujuk ke pelayanan kesehatan mata tersier.  Apabila ditemukan katarak yang mempersulit evalusi segmen poeterior. persistent mascular edema dan ablasio retina traksi. dievaluasi setiap 3 bulan Kontrol gula darah dilakukan oleh dokter penyakit dalam.  Pasien dengan diabetic retinopati stadium non proliferative (NPDR) ringan dan sedang. intra-retinal microvascular anomaly (IRMA) dan neovaskularisasi. adanya retinopati merupakan indikasi untuk rujukan ke tingkat yang lebih tinggi.  Pasien dengan NPDR berat dengan/tanpa CSME.  Seperti tindakan pada SEC. 10 RETINA LEPAS (RETINAL DETACHMENT) EVALUASI  Anamnesia  Melakukan evaluasi  Melakukan tindakan 65 . dapat dilakukan operasi. ada diabetes mellitus atau tidak. Bila ditemukan adanya diabetes mellitus.  Apabila funduskopi tersedia dan gambaran fundus dapat dinilai. dilakukan terapi fotokoagulasi laser. vena. yaitu dengan adanya pendarahan vitreus dan pertumbuhan jaringan fibrovaskular di vitreus.  Seperti tindakan pada PEC. Apabila diabetes diderita kurang dari 2 tahun. penderita dirujuk ke pelayanan kesehatan mata sekunder (SEC) untuk evaluasi lebih lanjut. pasien dapat dikonsul bilamana keadan keadaan memungkinkan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat vitreus. yaitu apabila ditemukan salah satu dibawah ini:  Pendarahan intra retina 4 kwadran  Pelebaran vena 2 kwadran  Intra retina mikrovaskular abnormalism 1 kwadran  Pasien dengan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR). dengan penjelasan akan prognosis penglihatan dan kemungkinan retinopati bertambah berat setelah operasi. pasien dapat dirujuk langsung untuk evaluasi segmen posterior. 2012 PENATALAKSANAAN  Seleksi pasien.  Apabila dari anamnesis tidak diketahui lamanya diabetes diderita.

66 . 2012 seperti di SEC dan memutuskan jenis retina lepas. PENATALAKSANAAN  Rujuk ke PPK 2  Apabila tidak ada kecurigaan tetapi ada keluhan. Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan sebagai penunjang. Pemeriksaan dengan funduskopi langsung – apabila tersedia – memberi gambaran retina lepas atau perdarahan retina. Pada rhegmatogen akut dan traksional yang tidak mengancam macula. Pemeriksaan di SEC sudah dapat menentukan apakah penderita perlu di rujuk atau tidak ke TEC. fibrosis vitreus dengan perlekatan retina dan tanda lain seperti disebutkan sebelumnya. umumnya dalam beberapa hari. Keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari akan memperbaiki retina yang lepas. Seluruh retina lepas harus dianggap sebagai rhegmatogen. ditambah dengan pemeriksaan fundus untuk evaluasi retina. seperti pelayanan di PEC. dan jenis viteus tamponade ditentukan oleh keadaan yang ditemukan pre-operative dan durante operasi. sedangkan yang kronik dapat dioperasi dalam waktu 1 minggu. dan faktor resiko seperti disebutkan diatas.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat mengenai lama kejadian. Kecurigaan akan retinal detachment memerlukan uji konfrontasi. Pemeriksaan fundus sebaiknya dilakukan dengan funduskopi tidak langsung atau dengan condensed wide angle lens (Mainster Ocular. Semua jenis rhegmatogen yang tidak mengancam macula atau jenis traksional yang melibatkan macula harus dirujuk seceoatnya. elektrofisiologi atau ultrasonografi dilakukan bila diperlukan untuk menunjang diagnosis. kampimetri. kondisi mata sebelahnya dan mobilitas penderita. Jenis operasi (sclera buckling atau vitektomi) tergantung kondisi yang dirtemukan.  Melakukan tindakan sesuai dengan jenis retina lepas. hingga tindakan dilakukan. Penderita dirujuk TEC untuk penanganan lebih lanjut dengan penjelasan akan faktor dan keberhasilan. Tipe exudative memerlukan pengobatan sesuai dengan penyakit yang mendasari. penderita harus diistirahatkan apabila mengancam macula. Super Field Volk. Super Pupil Volk atau Goldmann 3mirror. Pemeriksaan. operasi dilakukan secepatnya.

Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Terapi stimulasi/aktivitas .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 . 1.Haloperidol 0.Risperidon 0.Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK 3 .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Skrining .Donepezil .252mg/hari (po) .Diagnosis Penatalaksanaan Kondisi agresif : Pilihan antipsikotik . A DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 SpKJ (-) .Skrining .252mg/hari (po) .Diagnosis .Aripiprazol 515mg/hari (po) Gejala depresi : (pilihan) .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Terapi perilaku .Haloperidol (im) 25mg.Terapi pemeliharaan PPK 3 GANGGUAN MENTAL ORGANIK Demensia .Rivastigmin Non farmakologik . bila perlu diulang tiap 1 jam 67 B Delirium .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Diagnosis Terapi sesuai penyebab Kondisi agitasi/psikotik : Antipsikotik inj .Sertralin 25mg/hari (po) .Skrining .Skrining .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 SpKJ (+) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI) No.Skrining .Psikoedukasi keluarga .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK III .Fluoksetin 10mg/hari (po) Anti demensia : .Diagnosis .

6mg sampai 3.Lorazepam 0.51mg/hari .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .4mg/jam (iv) Evaluasi tanda vital Atasi penyulit Intoksikasi berat rawat ICU .Reorientasi lingkungan .Penanganan akibat PPK 2/PPK 3 PPK 2 dg kondisi akut Penatalaksanaan : Penyalahgun SpKJ/PPK 3 jika Antidotum Naloxon aan Opioid memungkinka HCl (intoksikasi) n Naloxone (iv) mulai .Skrining .Skrining .Skrining .Haloperidol 2x0. jika tidak n rujuk ke ada respon naikkan PPK 3 dosis menjadi 1.8mg evaluasi memungkinka tiap 15’.Diagnosis . A B Gangguan Mental dan Perilaku akibat .Risperidon 0.Skrining .Edukasi keluarga GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Gangguan .Kondisi akut : rujuk ke PPK II dg .Skrining .Diagnosis Perilaku rujuk ke rujuk ke .Jika tidak dg 0.Psikoterapi suportif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 atau Olanzapin (im) 5mg .Kondisi akut : .51mg/hari .52mg/hari Non farmakologik .Olanzapin 510mg/hari .Skrining .Skrining .Skrining Mental dan .Lorazepam (im.2mg Bila ada respon teruskan pemberian 0.Diagnosis .Kondisi akut : .Penanganan kondisi akut . iv) 1-2mg Antipsikotik oral (pilihan) .Quetiapin 25150mg/hari Terapi tambahan .Diagnosis Penatalaksanaan 68 2.

Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Bufrenorfin + Nalokson .Diagnosis .Edukasi keluarga .Metadon .Skrining .Klorpromazin 1mg/kgBB Antihipertensi : Jika TD > 140/100mmHg Gejala ansietas : .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana jika memungkinka n .Klonidin Pemberian sedatifhipnotik dan antipsikotik diberikan sesuai indikasi Non farmakologik .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rehabilitasi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Penyalahgun aan Opioid (putus zat) .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana Simtomatik sesuai gejala Subtitusi opioid : .Kodein Subtitusi non opioid : .Terapi subtitusi di PPK 1 yg telah mampu laksana SpKJ/PPK 3 .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Haloperidol 25mg/kali .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Diagnosis .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Diazepam 3x5mg .Klordiazepoksid 3x25mg Bila kejang : Diazepam 10-30mg 69 C Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (intoksikasi) .Skrining .Skrining .Psikoterapi suportif .

Psikoterapi suportif .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rehabilitasi .Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 E Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Dekstrometo rfan (intoksikasi) .Skrining .Alprazolam 2x0.Setralin 25-50mg .Amitriptilin 2550mg Non farmakologik .Edukasi keluarga .Skrining .Skrining .55mg .25-0.Haloperidol 3x1.Diagnosis .Jika tidak memungkinka n rujuk ke .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Klobazam 2x10mg Gejala depresi : .5mg .Diazepam 3x510mg .Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .53mg Gejala ansietas : .Fluoksetin 1020mg .Risperidon 2x1.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis Penatalaksanaan Observasi di IGD Rawat inap jika disertai tanda2 psikotik.Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal 70 D Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (putus zat) .Diagnosis .Skrining .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 (parenteral) Cardiac monitoring Propanolol 2080mg/hari . depresi berat atau ide bunuh diri Antipsikotik : .Skrining .Diagnosis .

Haloperidol 5mg bulan untuk bulan untuk 25-50mg (im) (im) 71 2.6.Golongan Benzodiazepin .Rujuk ke PPK 2 farmakologik . .Skrining .Seklusi pemeliharaan pemeliharaan .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PPK 3 Antipsikotik : . A .Antidepresan . emergensi : emergensi : Gangguan Klorpromazin Klorpromazin Penatalaksanaa Penatalaksanaan Waham 25-50mg (im) 25-50mg (im) n bila tidak ada bila tidak ada Fase akut hipotensi hipotensi Fase akut atau Lorazepam atau Lorazepam Non farmakologik (im) 1-2mg (im) 1-2mg Non .Golongan Benzodiazepin SKIZOFRENIA.Skrining .Skrining .Restrain (fiksasi) .Diagnosis .Diagnosis .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : . Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Alkohol (intoksikasi) .Skrining Gangguan .Hospitalisasi .Restrain Pilihan antipsikotik /lanjutan setelah /lanjutan setelah injeksi : penanganan dan penanganan dan Pilihan .Terapi .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 3.Kondisi .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi .SpKJ selama 3 .Antidepresan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Klorpromazin .Haloperidol 25mg/kali .Skrining .Haloperidol 25mg/kali .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Skrining .Diagnosis Skizotipal. GANGGUAN SKIZOTIPAL. GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Skizofrenia.Klorpromazin 25atas petunjuk atas petunjuk antipsikotik inj : 50mg (im) dr.SpKJ selama 3 dr.Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Skrining .Diagnosis .Hospitalisasi .Seklusi (isolasi) dg SpKJ/PPK 3 dg SpKJ/PPK 3 .Skrining .

Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas 72 .Aripiprazol 1030mg/hari .Olanzapin 1030mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Paliperidon 39mg/hari .Aripiprazol 9.Klozapin 150600mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Perfenazin 16-24mg/hari .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Aripiprazol 9.Psikoedukasi keluarga .Trifluoperazin 15-50mg/hari .Haloperidol 5-20mg/hari .Aripiprazol 10-30mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .Flufenazin 520mg/hari .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Haloperidol 520mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Quetiapin 300800mg/hari .Psikoterapi suportif .Klozapin 150600mg/hari .Perfenazin 1624mg/hari .Psikoterapi suportif .Trifluoperazin 1550mg/hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Haloperidol 5mg (im) .Intervensi .Olanzapin 1030mg/hari .Intervensi perilaku .Paliperidon 39mg/hari .Risperidon 28mg/hari .75mg (im) .Risperidon 28mg/hari .Psikoedukasi keluarga .75mg (im) .Quetiapin 300800mg/hari .

Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas Fase stabilisasi: Non farmakologik .Terapi okupasi/vokasiona l .Psikoedukasi keluarga .Hentikan obat 73 .Psikoedukasi keluarga . parkinsonism) : .Intervensi psikososial .Pelatihan ketrampilan social .Intervensi psikososial .Intervensi perilaku .Psikoterapi suportif .Difenhidramin inj 1-2cc (im) .Risperidon oral solution .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 perilaku .Pelatihan ketrampilan social .Terapi okupasi/voka sional . distonia.Lorazepam 16mg/hari Sindroma Neuroleptik Malignansi (SNM) : .Risperidon oral solution .Risperidon long acting inj Penatalaksanaa n efek samping neurologis (akatisia.Propanolol 1030mg/hari .Psikoterapi suportif .Haloperidol dekanoat inj .Intervensi perilaku . parkinsonism) : .Risperidon long acting inj Penatalaksanaan efek samping neurologis (akatisia.Turunkan/he ntikan obat Fase stabilisasi: Non farmakologik .Flufenazin dekanoat inj .Turunkan/hentika n obat .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Haloperidol dekanoat inj .Triheksifenidil 112mg/hari .Flufenazin dekanoat inj . distonia.

Klozapin 300750mg/hari .Diagnosis Penatalaksanaa n Sama dengan di atas Mood stabilizer : . maksimal 30mg/hari .Skrining .Terapi suportif .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Difenhidrami n inj 1-2cc (im) .Skrining .Dantrolen 1mg/kgBB/hari.Fungsi diri baik Indikasi rawat inap : 74 4.Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Skrining depresif .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Divalproat 23x250mg . selama 8 hari .Triheksifenidil 1-12mg/hr .Rawat di ICU .Lorazepam 3x12mg Pasien refrakter : .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 . A GANGGUAN SUASANA PERASAAN Episode .Perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tandatanda vital .Skrining .Diagnosis Indikasi rawat jalan : .Diagnosis .Skrining .Lorazepam 3x1-2mg .Propanolol 10-30mg/hr .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomni a: .Skrining .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan . diberikan 2-3kali/hari.Skrining .Rujuk ke PPK 3 .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Bromokriptin 2.Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomnia : .Gejala depresi ringan .Diagnosis Penatalaksanaan Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Benzodiazepin 12mg (im) B Gangguan Skizoafektif .Lorazepam 16mg/hr .Terapi kejang listrik (ECT) 3x/minggu .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .5mg.Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Divalproat 23x250mg .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.

Amitriptilin 2575mg/hari .Restrain (fiksasi) Farmakologik : Pilihan Antidepresan Fase Akut : .Fluoksetin 1040mg/hari .Maproptilin 25100mg/hari .Psikoterapi suportif .Venlafaksin 75150mg/hari .Agomelatin 2550mg/hari Fase Lanjutan : Terapi dilanjutkan hingga 6-12 bln Dosis diturunkan perlahan 4-12 mg Non farmakologik : .Hospitalisasi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Risiko/usaha bunuh diri .Dukungan keluarga buruk Tindakan .Seklusi (isolasi) .Sertralin 2550/hari .Duloksetin 4060mg/hari .Imipramin 2575mg/hari .Terapi keluarga 75 .Fungsi diri buruk .Terapi interpersonal .Escitalopram 1020mg/hari .Terapi perilaku kognitif .Gejala depresi berat .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .

Asam valproat .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diazepam 12x10mg (im) Antipsikotik oral : Pilihan Lini 1 : .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Restrain (fiksasi) Agitasi akut Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Aripiprazol 1030mg/hari .75mg/hr (im).Skrining .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Okskarbamazepin .Haloperidol 12x5mg (im) .Psikoedukasi keluarga .Seklusi (isolasi) .Karbamazepin .Skrining .Risperidon 28mg/hari .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Diagnosis Fase akut : Tindakan . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 B Episode manik .Hospitalisasi .Natrium divalproat .Klozapin 150600mg/hari Pilihan Lini 2 : 76 .Quetiapin 300800mg/hari .Lithium .Diagnosis .Olanzapin 1030mg/hari .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Olanzapin 12x10mg/hr (im). maksimal 3 hari .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Aripiprazol 13x9.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .

Lithium / Divalproat + 77 C Gangguan afektif bipolar .Terapi keluarga .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Aripiprazol 13x9.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Terapi perilaku kognitif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Psikoterapi suportif .Quetiapin .Klorpromazin 100300mg/hari Non farmakologik : .Skrining .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Haloperidol 520mg/hari .Olanzapin .Restrain (fiksasi) Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Haloperidol 12x5mg (im) .Diazepam 12x10mg (im) Episode Mania Akut Pilihan Lini 1 : .Terapi interpersonal .Lithium .Divalproat .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Risperidon .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Skrining .Skrining . maksimal 3 hari .75mg/hr (im).Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Hospitalisasi .Aripiprazol .Seklusi (isolasi) .

Terapi Kejang listrik (ECT) .Lithium / Divalproat + Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Risperidon .Lithium .Lamotrigin .Risperidon + Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Quetiapin .Lithium / Divalproat + Lamotrigin 78 .Olanzapin + Karbamazepin Episode Depresi Akut Pilihan Lini 1 : .Karbamazepin .Lithium + Divalproat .Divalproat .Olanzapin + SSRI .Paliperidon Pilihan Lini 3 : .Lithium / Divalproat + SSRI .Lithium / Divalproat + Olanzapin .Gabapentin .Lithium / Divalproat + Haloperidol .Lithium +Divalproat Pilihan Lini 2 : .Quetiapin + SSRI .Topiramat .Haloperidol .Klozapin Tidak direkomendasikan : .Lamotrigin .Klorpromazin .

Psikoterapi suportif .Lithium + MAOI .Lithium + Karbamazepin .Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Quetiapin .Divalproat .Terapi okupasi .Lithium + Divalproat .Lithium / Divalproat + Olanzapin 79 .Karbamazepin .Olanzapin .Lamotrigin .Lithium / Divalproat + Venlafaksin .Psikoedukasi keluarga .Lithium .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Karbamazepin .Terapi kejang listrik .Lithium / Divalproat + TCA .Intervensi psikososial Gangguan Bipolar I Pilihan Lini 1 : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Pilihan Lini 3 : .Intervensi perilaku .Olanzapin .Lithium + Karbamazepin .Risperidon depo .Lithium / Divalproat / Karbamazepin + SSRI + Lamotrigin Fase Stabilisasi : Non farmakologik .

Intervensi perilaku .Intervensi psikososial 5.Terapi okupasi .Lithium + Divalproat .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining . GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES Gangguan .Terapi kejang listrik .Antipsikotik atipikal + antidepresan Pilihan Lini 3 : .Asam lemak omega 3 .Lithium + Divalproat + antidepresan .Kondisi akut : . A GANGGUAN NEUROTIK.Fenitoin .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Gangguan penanganan penanganan .Lamotrigin .Olanzapin .Diagnosis .Topiramat .Quetiapin Pilihan Lini 2 : .Skrining .Antidepresan monoterapi Non farmakologik .Penanganan 80 .Skrining Panik .Okskarbazepin Gangguan Bipolar II Episode Depresi Akut : Pilihan Lini 1 : .Lithium + Risperidon .Psikoterapi suportif .Penanganan .Olanzapin + Fluoksetin Pilihan Lini 3 : Penambahan .Diagnosis .Lithium + Lamotrigin .Divalproat .Kondisi akut : .Lithium .

52mg/hari .Terapi lanjutan Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Rujuk ke PPK 2 .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Pilihan lain : .Skrining .Skrining .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Alprazolam 3x0.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Terapi lanjutan .Skrining .Kondisi .52 mg/hari .Diagnosis .Psikoedukasi .Terapi perilaku kognitif .Rujuk ke PPK 2 .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Non farmakologik .Buspiron 81 .Manajemen ansietas B Gangguan Ansietas Menyeluruh .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Lorazepam 2x 0.Diagnosis .Gangguan tenang/kronis panik terapi lanjutan dengan setelah agorafobia penanganan dan .Alprazolam 3x0.Rujuk ke PPK 2 agorafobia .52 mg/hari .Lorazepam 2x 0.Penanganan kondisi akut .Agorafobia atas petunjuk tanpa SpKJ riwayat gangguan panik emergensi .Kondisi akut : penanganan emergensi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ kondisi akut .52mg/hari .Skrining .Rujuk ke PPK 2 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kondisi akut panik emergensi tanpa .Penanganan kondisi akut Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Kondisi akut : penanganan emergensi .

Terapi suportif individu .Fluoksetin 2060mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Latihan relaksasi .Skrining .Fluoksetin 540mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Psikoedukasi .Venlafaxine C Gangguan Obsesif Kompulsif .Skrining .Sertralin 12.Rujuk ke PPK 2 .Terapi perilaku kognitif .Diagnosis .Terapi perilaku kognitif .Psikoedukasi Farmakologik (pilihan) : .Psikoterapi berorientasi tilikan .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi akut : penanganan emergensi .Kondisi akut : penanganan emergensi .Sertralin 50150mg/hari .Penanganan kondisi akut .Rujuk ke PPK 2 .Klobazam 2x510mg .Fluvoksamin 100200 mg/hari Non farmakologik .550mg/hari .Kondisi akut : penanganan emergensi .Skrining .Skrining .Skrining .Kondisi akut : penanganan emergensi .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Terapi lanjutan .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Fluvoksamin 25100mg/hari 82 D Gangguan Stres Pasca Trauma .5-1mg Gejala depresi : .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Lorazepam 12x0.Terapi lanjutan Non farmakologik .Manajemen ansietas Non farmakologik .Psikoedukasi .Diagnosis .Klomipramin 25100mg/hari .Skrining .Terapi perilaku kognitif Farmakologik Sesuai dengan gejala klinis yang menonjol Gejala cemas : .Penanganan kondisi akut .

Skrining .Fluoksetin .Skrining .Penanganan kondisi akut .Diagnosis .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis .Terapi lanjutan 8.Psikoedukasi keluarga .Amitriptilin 2x1025mg . SINDROM PERILAKU YANG BERHUBUNG AN DENGAN GANGGUAN FISIOLOGIK DAN FAKTOR FISIK .Haloperidol 2x15mg .Pendidikan tingkah laku intensif 83 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Klomipramin .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Penanganan kondisi akut .Diazepam .Olanzapin 1-2x2.Terapi lanjutan 7.Klobazam Antidepresan .Risperidon 2x12mg .Diagnosis .Sertraline Psikoterapi 6.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Skrining .Imipramin 1-2x1025mg Gejala psikotik : .Psikoterapi suportif .Imipramin .Quetiapin 50100mg Non farmakologik .Alprazolam .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga . GANGGUAN KEPRIBADIA N DAN PERILAKU MASA DEWASA RETARDASI MENTAL .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Kondisi Non farmakologik .Terapi lanjutan .Skrining .510mg . .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Lorazepam .Skrining .Terapi perilaku .Maproptilin HCl .Terapi kognitif perilaku Farmakologik Anticemas .Penanganan kondisi akut .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Kondisi .Skrining .Amitriptilin .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .

Skrining .Intervensi .Anti depresan .2 mg/kg/hari (2 kali pemberian po) Aripiprazole 0.Konseling .Diagnosis .Intervensi keluarga psikososial .Rujuk ke PPK .Psikoedukasi farmakologik keluarga .Anjuran ke Sekolah berkebutuhan khusus .Rujuk ke PPK .Terapi perilaku .Psikoedukasi .2 mg/kg/hari (1 kali pemberian po) GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA Gangguan .Anti cemas .Anti psikotik 9.Skrining Non farmakologik pemusatan . A Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Intervensi Farmakologik 84 .Terapi perilaku keluarga .Rujuk ke PPK .Intervensi orang tua keluarga .10.Konseling orang perhatian dan 2/PPK 3 2/PPK 3 tua hiperaktivitas Non .Terapi wicara 10.Terapi okupasi .Konseling orang tua .Pelatihan kemandirian . A GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK Gangguan .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Skrining .1-0.Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Anti depresan .Anti psikotik : Risperidon 0.Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 2/PPK 3 .Skrining autistik .Psikoedukasi keluarga Non farmakologik .Pelatihan ketrampilan Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Skrining .

Psikoedukasi keluarga .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif E Gangguan akibat persaingan antar saudara .Terapi keluarga Farmakologik .Konseling orang tua .Skrining .Skrining .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Konseling orang tua .Parenting’s skills training C Gangguan depresi .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti depresan (SSRI) .Anti insomnia (Difenhidramin) Non farmakologik .Konseling perkawinan 85 D Gangguan cemas .Metilfenidat Dosis 0.Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Skrining .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Non farmakologik .Konseling orang tua .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 psikososial B Gangguan tempertantr um .Hospitalisasi .Terapi keluarga .Anti depresan (SSRI) Non farmakologik .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Hospitalisasi Farmakologik .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Anti depresan (SSRI) Fluoksetin 1x5 mg/hari Non farmakologik .3-1mg/kg BB dalam dosis terbagi .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Skrining .Konseling orang tua .

Konseling orang tua .Skrining .Toilet training .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 J Gangguan gagap .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Konseling orang tua .Terapi perilaku Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Anti depresan (Imipramin) Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif G Gangguan enuresis .Membatasi minum di malam hari .s skills training Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Psikoedukasi keluarga 86 H Gangguan enkoperesis .Toilet training .Terapi keluarga .Psikoedukasi keluarga F Gangguan kelekatan reaktif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 I Gangguan makan .Psikoterapi suportif .Psikoterapi suportif .Parenting’s skills training Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua Konsultasi ke Bagian IK.Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Skrining .Konseling orang tua .Skrining .Membatasi minum di malam hari .Toilet training .Skrining .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua Farmakologik .Konseling perkawinan .Psikoedukasi keluarga .Toilet training .Psikoterapi suportif . Anak Non farmakologik .Skrining .Skrining .Parenting.Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Psikoedukasi keluarga .

Konseling orang tua .Konseling orang tua .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti cemas Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga K Gangguan tidur .Terapi wicara Farmakologik (jika perlu) .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga 87 .Skrining .Konseling orang tua .

karies besar yang tidak dapat dirawat secara konservasi Alvelektomi Apikoektomi a.Kista rongga mulut .Kelainan dan jaringan keras pertumbuhan -untuk keperluan (Impaksi dan perawatan malposisi) orthodontia dan prostodontia .Fraktur Mandibula . Sialorrhoea.Kelainan kelenjar ludah (Xerostomia) - Penatalaksanaan infeksi Fulnus Fasial Fraktur Mandibula Fraktur maksila Kista rongga mulut Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.Neoplasma . Sealodenitis Bakterial Akut. Sialorrhoea. parotitis epidemica. Makulicz Sindroma. media. Abses Dentoalveolar 2 Bedah Dento alveolar 3 4 Infeksi Daerah Diagnosis Oromaksilofas Rujuk ke PPK 2 ial Trauma .penyebab fokal infeksi .Kelainan sendi temporomandibular . Kista Radikuler b.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT No 1 TINDAKAN Eksodontia PPK 1 PPK 2 PPK 3 Pencabutan gigi dengan : Pencabutan gigi dengan . Sarkoidosis) 5 Konservasi . Kista Periodontal c.Fraktur Maksila kompleks . parotitis epidemica.Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.arrested caries 88 .Bedah Orthognati .Karies dini. Sjorgen Sindroma . . Sjorgen Sindroma . Sealodenitis Bakterial Akut.Kelainan syaraf kranialis .Cedera dentoalveolar .Kelainan congenital .Luka abrasi fasial .Kontusio jaringan Orofasial lunak fasial .infeksi : -abses jaringan lunak .kelainan pertumbuhan (supernumerary) . Makulicz Sindroma. Sarkoidosis) .

muka. lengkap akrilik) celah langit dewasa . lepasan .Stomatitis Aptosa .Kelainan jaringan Nekrosis pulpa periodontal .Abses periapikal Dentin hipersensitif akut/kronis Pulpitis reversible .Pembuatan feeding . plate pada celah intermediet.Protesa hidung.Kista radikuler 6 Prostodontia .Obturator untuk imediet. lengkap langit pada bayi imediet.Chemical Burn .Denture Sore mouth (Chronic Athropic Candidiasis) .Overdenture .Lingua Geografika / Benign Migratory Glossitis .Ulkus Traumatikus .Herpes Labialis Resesi Gusi Periodontitis Liken Planus Leukoplakia Karsinoma Sel Skuamosa 89 .Karies mencapai pulpa non vital .Ulkus Dekubitalis .Abses akut/kronis dento alveolar . mata. abrasi dan Perubahan warna erosi eksternal/internal . telinga. periodontal .Atrisi.Implan dental Oral hygiene buruk Caries Ginggivitis Persistensi gigi sulung Akar gigi tertinggal Hiperemi pulpa Pulpitis akut/kronis Persistensi gigi sulung .Amelogenesis dan dentinogenesis imperfect 7 Pedodontia 8 Periodontia 9 Penyakit Gigi dan Mulut Gingivitis Hiperplasik gingiva Resesi Gusi Periodontitis .Gigi tiruan Intermediat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 - profunda .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 90 .