Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN PENYAKIT BERDASARKAN KEWENANGAN TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

I. PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menetapkan Pembangunan Kesehatan dalam Program Pembangunan Nasional. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan tingkat dasar sampai dengan rujukan yang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Meskipun pendekatan pelayanan kesehatan sama tetapi fokus penekanan pelayanan berbeda sesuai dengan kemampuan yang ada pada tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Agar kesinambungan pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terwujud, diperlukan sistem rujukan yang berjenjang dan terstruktur, dimana ada kejelasan peran dan fungsinya sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan medis di pemberi pelayanan kesehatan harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan agar tercapai pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Demi Tercapainya penyelenggaraan pelayanan medis yang memenuhi standar tersebut perlu pedoman pengelolaan berdasarkan kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama FK UNPAD, RSUP Hasan Sadikin Bandung dan Organisasi Profesi telah menyusun Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan Tingkat Pelayanan Kesehatan. Buku ini menginformasikan bagaimana pengelolaan penyakit mulai dari pelayanan dasar sampai pelayanan rujukan, perlu tidaknya kasus tersebut dirujuk berdasarkan kewenangan tingkat pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di pemberi pelayanan kesehatan.

1

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

II.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. 3. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

III. TUJUAN
Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang optimal berdasarkan kewenangan dan kompetensi di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Khusus : - Tersusunnya pedoman pengelolaan penyakit berdasarkan kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan - Dasar pengkajian untuk rencana pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

IV. PENYAKIT DAN PENGELOLAANNYA
Pengelompokan penyakit dan bagaimana pengelolaannya berdasarkan kewenangan di setiap tingkat pelayanan kesehatan terdiri dari : - Penyakit Anak - Penyakit Dalam - Penyakit Kebidanan dan Kandungan - Penyakit Bedah - Penyakit THT-KL - Penyakit Neurologi (Syaraf) - Penyakit Kulit Kelamin - Penyakit Mata - Penyakit Jiwa (Psikiatri) - Penyakit Gigi dan Mulut

2

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT ANAK
No 1 DIAGNOSIS TB Paru PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik PPK 2 Penilaian klinis diagnostik PPD, rontgen thorax) PPK 3

2

Bronko Pneumonia

Penilaian klinis, diagnostik dan terapi (BP ringan) sesuai MTBS

3

Diare

Diagnosis : Diare akut dengan /tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang  Tatalaksana sesuai protocol

 Dehidrasi berat bisa ditangani di Puskesmas DTP 4 Penyakit jantung bawaan (PJB)

dan Diagnostik dan (Tes penanganan TB paru disertai komplikasi (empyema, atelektasis, destroyed lung, hemoptysis, TB milier, Multi Drug Resistance TB (MDR-TB) Rujuk balik untuk th/ OAT  rujuk balik untuk terapi OAT) Penilaian klinis, diagnostik Penegakan diagnostik dan dgn pemeriksaan penunjang terapi BP berat dengan (lab dan rontgen) ancaman gagal nafas sehingga membutuhkan ventilator, empysema dan sepsis. Penatalaksanaan  rujuk balik Bronkhopneumoni Penatalaksanaan diare Diagnosis etiologi dan ringan- sedang yang tidak talaksana diare persisten / dapat direhidrasi per oral, kronis, diare dengan diare berat, diare akut penyakit penyerta seperti dengan dehidrasi berat, HIV, diare yang diare disertai komplikasi membutuhkan seperti sepsis, gangguan pemeriksaan penunjang elektrolit, (membutuhkan kultur feses, dan kultur feses) endoskopi  rujuk balik dan penyuluhan

Deteksi dini PJB, Diagnosis PJB melalui tatalaksana penyakit pemeriksaan penunjang penyerta pada PJB. (EKG, rontgen thorax), penatalaksanaan penyakit penyerta PJB

Diagnosis dan tatalaksana PJB dengan pemeriksaan echocardiography dan kateterisasi jantung Tatalaksana PJB Operatif  TIDAK RUJUK BALIK  Bila tidak dilakukan operatif rujuk balik

5

Cerebal Palsy (CP)

Deteksi dini tumbuh Diagnostik kelaianan kembang (DDTK) perkembangan (Denver, Cat/Clam),

Diagnostik dan skrining CP dgn comorbid (gangguan pendengaran, pengelihatan, RM, 3

 Rujuk balik untuk transfusi berkala Penegakkan diagnosis. terapi bicara. DHF yang memerlukan perawatan intensif  Rujuk balik paska perawatan 8 Thalassemia Deteksi dini suspek Pemeriksaan penunjang thalassemia (darah rutin) dan pemberian (skrining tanda serta transfusi. IgM.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 epilepsi) Tatalaksana spastisitas. hepatosplenomegali) kontrol rutin penderita 9 DF/DHF Skrining tanda serta Penanganan DHF Grade II gejala klinik sampai dengan DSS (DHF Grade III dan IV) Pemeriksaan penunjang Ig M dan Ig G Tatalaksana DF/DHF bila memerlukan perawatan dengan pemeriksaan intensif Rujuk ke PPK 3 darah rutin (Puskesmas DTP) 4 . penilaian IQ (URM : fisioterapi. dengan pemeriksaan penunjang (IgG . kelainan Kongenital ) → Rujuk Rujuk balik ke PKM untuk pemantauan dan PMT 7 ISPA Diagnosis dan tatalaksana ISPA Tidak perlu dirujuk  TIDAK PERLU DIRUJUK  Penegakan diagnosis melalui Hb elektroforesa. kelainan congenital. terapi okupasi)  Rujuk balik untuk pemantauan tumbuh kembang dan stimulasi di rumah Tatalaksana kegawatan dan tatalaksana kelainan khusus Diagnosis etiologi (HIV/AIDS. pencegahan dan penanganan komplikasi : hemosiderosis (chelating agent). sindroma malabsorbsi) → Rujuk balik Bila memerlukan pemeriksaan khusus untuk etiologi (HIV/AIDS. gejala klinik: anemia. splenektomi. NS1). fisioterapi (klinik tumbuh kembang) 6 Gizi buruk Deteksi Diagnosis dini PMT Rujuk Tatalaksana gizi buruk Penatalaksanaan komplikasi Tatalaksana dan fisioterapi.

fenitoin) (pemberian diazepam). CT Scan. perforasi usus) → Rujuk balik 13 Masalah neonates 14 Demam Tifoid Tidak perlu di rujuk di PPK 3 15 Morbili Penegakan diagnosis Tatalaksana komplikasi Tidak perlu di rujuk di PPK 3 5 . Rujuk untuk diagnosis Rawat inap SN serangan pasti pertama (jika dibutuhkan) rujuk balik untuk melanjutkan pengobatan Jika terjadi SN resisten steroid harus dirujuk Diagnosis lengkap dan tatalaksana SN resisten steroid dengan khemoterapi : siklofosfamid  Rujuk balik untuk penanganan lanjutan. MRI. Diagnosis etiologi asfiksia) → Rujuk Perawatan Bayi baru lahir level 2 Bila perlu perawatan intensif (Level III) → rujuk PPK 3 Skrining tanda serta gejala klinik Tatalaksana Demam Tifoid Pemeriksaan darah rutin (Puskesmas DTP) Diagnosis Tatalaksana simptopmatis Penatalaksanaan sampai dengan komplikasi ( Tifoid ensefalopati. kegawatdaruratan Ikterus neonatorum. kejang neonatus. Pengobatan dengan status epileptikus refrakter yang memerlukan PICU  Rujuk balik untuk pengobatan jangka panjang Tatalaksana status konsulsivus refrakter/rawat intensif. perdarahan. fenobarbital. pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnostik→ rujuk balik Tatalaksana kegawatdaruratan Diagnosis Etiologi Diagnosis etiologi Perawatan Bayi baru lahir level III perawatan intensif → stabil → rujuk balik 12 Kejang demam Tatalaksana kejang Kejang demam kompleks demam (sederhana) dan kejang demam status konvulsivus. Infeksi/sepsis. tatalaksana epileptikus (pemberian serangan kejang akut. Bila perlu perawatan intensif/ status epileptikus refrakter→Rujuk Deteksi kegawatan Tatalaksana (BBLR. follow up remisi atau relaps 11 Epilepsi Diagnosis berdasarkan Penanganan status gejala klinis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 10 Sindroma Nefrotik Diagnosis berdasarkan Penegakan diagnostis pasti gejala klinis dan pemeriksaan urin dipstik. kontrol rutin penderita Rujuk jika terjadi status epileptikus refrakter/ memerlukan perawatan intensif ( PICU) Pusat diagnositk epilepsi melalui EEG.

MRI.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 16 Meningitis Deteksi komplikasi Bila ada komplikasi → Rujuk Deteksi dan tatalaksana Penatalaksanaan kegawatan (Kejang) → kegawatan Rujuk Diagnostic etiologi (Lumbal pungsi ) dan perawatan non intensif Bila perlu perawatan intensif → Rujuk ke PPK 3 Penatalaksanaan komplikasi dan perawatan intensif Penegakan diagnosis etiologi dan komplikasi (CT scan. EEG) 6 .

RUJUK SEGERA Terkendali  rujuk balik ke PPK 2 HIPOGLIKEMI (3B) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 7 . TERAPI PENDAHULUAN 3. TERKENDALI dengan 2 OHO  rujuk balik DM Tipe 2 DM Tipe 2 Tanpa komplikasi. NIDDM (4) TERKENDALI dengan Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 1 obat hipoglikemik oral (OHO) Tanpa komplikasi. TIDAK Terkendali TIDAK TERKENDALI TERKENDALI dengan 1 dengan 1 OHO OHO → pengelolaan  rujuk BERKOMPLIKASI TERKENDALI dg 2 OHO &  rujuk balik TANPA KOMPLIKASI & TERKENDALI dengan Insulin BERKOMPLIKASI & TERKENDALI dg Insulin → dikelola 1 bulan Bila tidak terkendali  rujuk ke PPK 3 DM tipe 2 Hipoglikemi 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT DALAM No 1 DIAGNOSIS DM Tipe 2 PPK 1 PPK 2 PPK 3 Tanpa komplikasi. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO → pengelolaan Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO  rujuk Tanpa komplikasi. Tanpa komplikasi.

TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK   8 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 DM tipe 2 KOMPLIKASI (KAD) AKUT Terkendali → pengelolaan  rujuk balik KOMPLIKASI AKUT (KAD) rujuk (TIDAK TERKENDALI DALAM 48 JAM Terkendali  rujuk balik 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK DM tipe 2 KOMPLIKASI KRONIS 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 3 ASHD (Peny PJK Kronik Stabil Jantung Koroner 1. RUJUK  Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali  rujuk balik Tidak terkendali dalam 2 bulan  rujuk Essential Hypertension (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 2 Hipertensi Esensial Hipertensi esensial Hipertensi Esensial Pengelolaan Hipertensi krisis  rujuk Terkendali → Pengelolaan  rujuk balik Terkendali →Pengelolaan  rujuk balik Tidak terkendali → pengelolaan dan evaluasi Terkendali → Rujuk balik  PJK Kronik Stabil Terkendali → pengelolaan RUJUK BALIK RUJUK KEMBALI SETIAP 3 BULAN Hipertensi Sekunder 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Kronik Stabil) DIAGNOSIS KLINIS 2.

RUJUK jika tidak dengan / tanpa ada fasilitas DTP komplikasi 9 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 ASHD (Sindroma Sindroma Koroner Akut) Akut (SKA) Koroner Terkendali → pengelolaan Stabil/terkendali (evaluasi tiap 3 bulan)  rujuk balik 1. RUJUK Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Diare dengan 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK ASHD (Gagal 1. RUJUK SEGERA TB Paru (pengobatan ulang /berkomplikasi) TB Paru (MDR/XDR) 5 1. TEGAKKAN Terkendali → pengelolaan dehidrasi ringan DIAGNOSA KLINIS  rujuk balik sedang / berat 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 4 TBP tidak TBP kasus baru berkomplikasi tidak berkomplikasi  rujuk Terkendali → pengelolaan  rujuk balik  rujuk setiap 3 bulan Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 TB Paru (pneumotoraks) TB paru pneumotoraks dg Terkendali → pengelolaan  rujuk balik 1. TEGAKKAN Jantung) DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3.

Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK. Tegakkan diagnosis komplikasi 2.Rujuk DSS 1.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk 13 Gagal ginjal akut 1. Tegakkan diagnosis Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan 8 2.2 dg Jika PPK. Rujuk Pengelolaan di PPK.2 Fisioterapi Pengelolaan di PPK. Tegakkan diagnosis Dirujuk bila ada komplikasi komplikasi 2.2 dgn fasilitas HD stabil.Tegakkan diagnosis 2.1 tdk tersedia.Tegakkan diagnosis 2. Pengelolaan di PPK atau memerlukan 1 fisioterapi Arthritis dengan 1. Pengelolaan di PPK  rujuk balik 1 N 9 Arthritis tanpa 1.Tegakkan diagnosis dg komplikasi 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 Goiter 1. Tegakkan diagnosis Dirujuk dengan catatan bila 2.2 10 SLE 1.Rujuk GGK terminal 1.Rujuk Pneumonia tanpa komplikasi 1. 2 tidak ada fasilitas HD fasilitas HD 10 .2 dgn fasilitas ICU 14 Pengelolaan di PPK.Pengelolaan di PPK 1 dgn DTP 12 Demam Dengue Demam Dengue 1.2 Pengelolaan di PPK. rujuk balik Pengelolaan di PPK. Pengelolaan di PPK obat di PPK. 1 1.Rujuk 11 Gastritis 1.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis bronkiale 2.2 7 COPD / Asma 1.Rujuk Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.

Rujuk 17 18 19 Leukemia Perdarahan saluran cerna HIV 1.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.2 Stabil  rujuk balik 2.Pengelolaan di PPK komplikasi 1 dgn DTP Demam tifoid 1.Rujuk 16 Anemia berat 1. Stabil  rujuk balik tdk lengkap 1.2 Hepatitis kronis 21 Demam tifoid 1.2.Rujuk Pengelolaan di PPK.2 dg 15 Sindroma Nefrotik 1.VCT 3. Diagnosis tegak.2 ( Rujuk balik untuk Tapering off.Tegakkan diagnosis dgn komplikasi 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.Rujuk 1.2 utk Jika ada komplikasi. 2. Stabil  rujuk balik 11 .2 Jika PPK.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 2.Tegakkan diagnosis 2. bisa dilakukan di PPK I) Pengelolaan di PPK.2. terapi ARV (ada tim konseling) 20 Hepatitis akut 1.2 tidak ada dengan fasilitas endoskopi fasilitas endoskopi Pengelolaan di PPK.Rujuk atau sesama fasilitas sama PPK.Tegakkan diagnosis tanpa 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 Pengelolaan di PPK.Rujuk 1.Rujuk Pengelolaan di PPK.Rujuk jika fasilitas Diagnosis tegak.

1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Hipertensi Dalam Kehamilan : Hipertensi Gestasional Skrining : Test protein urine Therapi oral anti hipertensi dapat diberikan Skrining: Test Protein urine Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Tidak ada tanda-tanda preeklamsi →rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Ringan Penilaian klinis dan diagnosis : Tidak ada tanda-tanda preeklamsi berat rujuk balik ke PPK I untuk oral antihipertensi Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi kehamilan Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Berat Skrining: Test Protein urine Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang Memerlukan perawatan ICU NICU atau dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Eklamsi Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Tindakan terminasi kehamilan dan rawat bersama dengan bagian lain 2 Perdarahan Trimester 1: Abortus Imminens Skrining Sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian Klinis dan Diagnosis USG baik →kembalikan ke PPK I USG tidak baik → terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Abortus Insipiens Skrining: sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis : USG baik → Rujuk balik Tidak usah dirujuk ke PPK III 12 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN No.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 USG tidak baik → terminasi Abortus Inkomplitus Skrining : Pemeriksaan awal KU baik → rujuk ke PPK II KU tidak baik →Perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II (boleh dilakukan kuret tumpul di PONED) Abortus Komplitus Skrining: Rujuk ke PPK II untuk pemeriksaan lanjut Mola Hidatidosa Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti tirotoksikosis Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain atau dengan riwayat infertilitas yang memerlukan keahlian subspesialis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Skrining : KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → Perbaiki KU → Rujuk PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Laparatomi Operatif Trimester 2: Perdarahan Midtrimester Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan atau tindakan → setelah baik Rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain (seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya) Trimester 3: Perdarahan Antepartum Plasenta previa Skrining : KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Skrining : Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi setelah baik → rujuk balik ke PPK I Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya ) Solusio Plasenta 13 .

pemberian O2 → Rujuk ke PPK II sambil lakukan dekompresi manual Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Penilaian klinis dan diagnosis : Retensio plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Sisa plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Perdarahan post partum lambat: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 14 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II Post Partum: Perdarahan Post Partum Dini: Atonia Uteri Tindakan terminasi Luka jalan lahir Skrining: Resusitasi cairan.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 3 Kelainan Letak Skrining: Rujuk ke PPK II (PONED apabila letak sungsang dan pembukaan lengkap) Penilaian klinis dan diagnosis: Dalam kehamilan : Versi luar apabila berhasil menjadi letak kepala → Rujuk balik ke PPK I Persalinan : terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 4 Kehamilan Multiple Skrining: Rujuk ke PPK II untuk persalinan (pemeriksaan USG) Penilaian klinis dan diagnosis: Persalinan: terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 5 Ketuban Pecah Dini Skrining: Rujuk ke PPK II (skrening : sediakan lakmus test) Penilaian klinis dan diagnosis: konservatif atau terminasi 6 Kelainan Janin: IUGR Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Rujuk ke PPK II IUFD Skrining: Rujuk ke PPK II Prematur Skrining: Rujuk ke PPK II Perawatan konservatif atau terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Gawat Janin Skrining: Rujuk ke PPK II 7 Persalinan tidak maju/Distosia Skrining: Rujuk ke PPK II (dilakukan vakum di PONED) Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi 15 .

Perlu pemeriksaan lanjutan ECHO Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU Spesialis lain yang tidak ada di PPK II 11 Penyakit Jantung: Decompensatio Cordis FC I – II Decompensatio Cordis FC III-IV Skrining: Rujuk ke PPK II Skrining: Rujuk ke PPK II 12 Kehamilan dengan Komplikasi lain Skrining: Rujuk ke PPK II 13 Infeksi Skrining: Tanda-tanda infeksi Penilaian klinis dan diagnosis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 8 Panggul Sempit Skrining: Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Laparotomi eksploratif Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan konservatif atau terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan (dokter IPD harus ada di PPK II bila ingin di rawat) Penilaian klinis dan diagnosis 9 Bekas Seksio sesarea Skrining: Rujuk ke PPK II 10 Ruptura Uteri Skrining: Perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU. Diagnosis dan penanganan sepsis dan memerlukan tindakan diagnosis lanjut atau perawatan ICU 16 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH No 1 DIAGNOSIS Appendicitis Acute PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik Edukasi Rujuk ke PPK 2 Jika yakin pasien akan ke RS. beri therapi pendahuluan (Antibiotik dan analgetik) Penilaian klinis. Diagnostik dan terapi (Haemmorrhoid Gr I dan II) Rujuk ke PPK 2 (Haemorrhoid Gr III dan IV) 3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Therapi pendahuluan Rujuk ke PPK 2 4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi Pendahuluan Rujuk ke PPK 2 Deteksi gejala klinik Therapi Simptomatis Therapi dan tindak lanjutan Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Penegakkan Diagnosis melalui Pemeriksaan Penunjang Therapi Pendahuluan Tindakan operasi Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 Hernioraphy Penanganan oleh Subspesialis Bila telah stabi → rujuk kembali ke PPK 2 PPK 2 Appendectomy PPK 3 Appendectomy laparoskopiDiver Kontrol Luka setelah stabil→ Rujuk balik 2 Hemorhoid interna Haemorroidectomy Kontrol luka Setelah stabil rujuk balik Fistulectomy Setelah stabil rujuk ke PPK 1 5 Cholelithiasis Rujuk ke PPK 2 6 Hernia inguinalis lateralis reponibilis Edukasi 17 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Simptomatis Rujuk ke PPK 2 Deteksi dini Simptomatis Rujuk Ke PPK 2 Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Multiple Lipoma. Tanda2 keganasan Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Giant Ateroma 10 Struma Nodosa Deteksi gejala dan Pemeriksaan Fisik Edukasi Simptomatik Rujuk Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Ekstirpasi dan PA Jaringan 7 8 Fibro Adenoma Mammae (FAM) Lipoma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka 9 Ateroma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka Penanganan lebih lanjut (eksisi) Penanganan Subspesialistik Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspelialistik Jika terkontrol. rujuk kembali ke PPK 2 18 .

Foto Rontgen schuller dan Stenver . Komplikasi intrakranial 2.Skrining tanda dan gejala klinis .Menerima rujukan balik dari PPK 3 untuk perbaikan Keadaan Umum .Radiotherapi .FNAB .CT Scan telinga .Pemeriksaan OtoMikroskopi . Otorea menetap setelah terapi Maksimal . FNAB .Skrining tanda dan gejala klinis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL NO 1 DIAGNOSIS Otitis Media Supuratif Kronik dengan penyulit PPK 1 skrining tanda dan gejala klinik Rujuk ke PPK 2 PPK 2 .Nasoendoskopi .Penilaian Klinis .Penilaian klinis PPK 3 .Skrining tanda dan gejala klinis .Kontrol setelah tindakan 6 bulan Pertama .Terapi sesuai .Pemeriksaan THT-KL .Biopsi.Operasi kasus dengan penyulit .Operasi . Karsinoma Nasofaring b.Kultur resistensi .Nasofaringoskopi .Skrining tanda dan gejala klinik .Tindakan : bedah mikro telinga 2 Tumor Kepala Leher a. Karsinoma Laring d. Tumor di leher Skrining tanda dan gejala klinis .Biopsi dengan endoskopi (lokal anestesi) .Operasi dengan endoskopi .Rujuk balik ke PPK 2 untuk perbaikan Keadaan umum 3 Rinosinusitis dengan/tanpa polip disertai .Kultur resistensi .Kemoiradiasi .Rujuk ke PPK 3 bila : 1. Komplikasi intratemporal 3. Karsinoma Sinonasal c.Nasofaringoskopi .Foto Rontgen ( Schuller dan Stenver ) .Kultur resistensi 19 .

Nasoendoskopi .Pemeriksaan Emisi Otoakustik Ekstraksi benda asing dengan bronkoskopi kaku dan atau bronkoskopi lentur dalam narkose umum .Skrining tanda dan gejala klinis .Tampon hidung anterior dan posterior .Foto Thoraks 8 Speech delayed (Terlambat bicara) Skrining tanda dan gejala klinis .Bila perdarahan tetap tidak dapat teratasi → Rujuk ke PPK III .Kultur resistensi .Pemeriksaan Brain Evoked Respon Audiometri ( BERA ) .Tindakan bedah hidung sinus konvensional Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Tampon hidung anterior .Tindakan bedah sinus endoskopi tingkat lanjut 4 Rhinitis Alergi Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Auditory Steady State Respon .Ligasi Ekstraksi benda asing dengan esofagoskopi kaku dalan narkose umum 5 Epistaksis Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft Tissues leher AP dan lateral .Pemeriksaan tes alergi (Skin Prick Test) .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft tissue leher AP dan Lateral .Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto thoraks 6 Benda Asing di esophagus 7 Benda asing di Bronkus .Terapi Wicara 20 .Rontgen sinus ( waters. Caldwelluck) .Immunoterapi .Nasoendoskopi → mencari sumber Perdarahan .Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi .CT Scan Sinus Paranasal .Skrining tanda dan gejala klinis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penyulit Pedoman Tatalaksana lengkap .

faktor resiko (gula darah. profil lipid. rehabilitasi (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. pemeriksaan darah perifer lengkap.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI) NO 1 DIAGNOSIS PPK 1 (RAWAT INAP) STROKE Skrining tanda serta Perdarahan gejala klinik Intra Serebral PPK 2 Diagnostik dan penanganan stroke PIS PPK 3 Diagnostik dan penanganan stroke PIS disertai komplikasi inrakranial (TTIK) dan ekstrakanial (emboli paru.CT-scan kepala atas indikasi. antiplatelet agregasi. respiratory failure) Penanganan sesuai guideline stroke → Rujuk ke PPK 1 Manitol 20% (antiedema). operatif atas indikasi. pemeriksaan darah perifer lengkap) Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila disertai tanda-tanda TTIK→ rujuk PPK 3 CT Scan kepala Terapi : antiedem.Transcranial Doppler.Echocardiografi) 21 . Foto Thorax. penanganan faktor resiko (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. rehabilitasi  Setelah lewat fase akut → rujuk balik 2 STROKE INFARK Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi Pemeriksaan penunjang : EKG. antikoagulan atas indikasi. anti platelet agregasi. profil lipid. . penanganan factor resiko dan komplikasi Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi neuroprotektan. USG karotis. Ro-Thorax. penanganan factor resiko.asam urat) Terapi: manitol 20%.

obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. antikoagula atas indikasi. elektrolit. fraktur kompresi) 22 . kardiomipati. disotonomi. respiratory failure hebat. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila ada komplikasi (sesuai guideline stroke) akut (intra dan ekstrakranial) atau ada tanda-tanda TTIK → Rujuk ke PPK 2 FISIOTERAPI Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila komplikasi berat dan tidak tertangani → rujuk ke PPK 3 Terapi : manitol 20%. fisioterapi (sesuai guideline stroke) Perbaikan→ rujuk balik 3 Meningitis serosa Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. kimia. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 4 Tetanus Skrining tanda serta gejala klinik Therapi dan tindak lanjutan Tetanus grade II : Tindakan lanjutan : tracheostomi Penanganan komplikasi tetanus (kejang tidak teratasi. pneumonia aspirasi . sputum BTA. foto thorax Terapi (kortikosteroid. pemeriksaan darah rutin. anti agregasi platelet. dexamethason.

diazepam injeksi) Setelah perbaikan rujuk kembali ke PPK 1 Tetanus grade III-V → rujuk ke PPK 3 5 ENSEFALITIS Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis : LP Penanganan komplikasi pada ensefalitis (status epileptikus). EKG. CT Scan. TT (bila belum diberikan di PPK 1). ATS 10.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Terapi Pendahuluan : debridement luka. Foto thorax Perbaikan → rujuk balik Terapi : metronidazole 3x500mg (14 hari). diazepam injeksi. perlu perawatan ruang intensif Pemeriksaan penunjang : LP. tetrasiklin 4x500 mg (10 hari). EEG. Therapi Simptomatis : untuk demam (parasetamol) Kejang berulang sampai status → rujuk ke PPK 3 Rujuk ke PPK 2 23 . Oksigen. EEG. pemeriksaan antigen antibodi spesifik untuk virus Perbaikan→rujuk balik Penanganan kejang : diazepam injeksi Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. metronidazole 3x500mg antibiotic (tetrasiklin 4x500mg)→ Tetanus grade I Tetanus grade II -V → Rujuk ke PPK 2 ATS/HTIG injeksi.000 u. antiviral. Antiviral (acyclovir) Therapi pemberian obat anti kejang. antipiretik. foto thorax.5 cc. debidrement. TT 0.

EMG Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 MYELORADIKU LOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra (bila belum dilakukan). MRI (atas indikasi). foto thorax. myelografi Rujuk ke PPK 2 Terapi : anti nyeri (Na diklofenak) Rujuk ke PPK 3 Rujuk balik bila tidak mau operasi atau penanganan khusus 7 MYELOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. myelografi Bila terdapat progresivitas → Rujuk Ke PPK 3 Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra. EMG.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) Terapi : operatif sesuai indikasi 24 . foto vertebra. analgetik. MRI Rujuk Ke PPK 2 Terapi : operatif (sesuai indikasi) 8 RADIKULOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. pemeriksaan darah. bone scanning (bila ada kecurigaan Ca metastasis) Terapi : operatif. pemeriksaan darah. fisioterapi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) dan tirah baring Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah.

CT Scan kepala dengan kontras Penanganan Subspesialistik (operatif. Diagnostik status epileptikus (EEG. pemberian OAE 10 SOL ( Tumor Intrakranial dan infeksi intrakranial ) Diagnosa berdasarkan gejala klinis Diagnostik dan penanganan lebih lanjut TTIK (gejala berupa penurunan kesadaran. rujuk kembali ke PPK 2 Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspesialistik 25 . nyeri kepala. muntah. MRI) Penanganan di ruang intensif Bila perbaikan dan kejang terkontrol → Rujuk balik PPK 2 9 STATUS EPILEPTIKUS Diagnosa berdasarkan gejala klinis. CT scan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila tidak ada perbaikan Rujuk ke PPK 1 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Penanganan status epileptikus. tatalaksana serangan kejang akut (pemberian diazepam dan loading dose OAE) segera rujuk PPK 1 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi status epileptikus refrakter/yang memerlukan perawatan intensif (ICU). mencari etiologi. kemoterapi. papiledema) Pemeriksaan penunjang : foto polos tengkorak. radioterapi) Penatalaksanaan : dexamethason dan ranitidine injeksi → Rujuk PPK 2 Pemeriksaan penunjang : PA Jika perbaikan.

dan posisioning Diagnosa dan penanganan Penanganan dan diagnostic EMG bila alat tersedia. EMG. fisioterapi Sesuai guideline stroke Bila deficit neurologis berat → rujuk ke PPK 2 2 Radikulopati Skrining tanda dan gejala klinis Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. pemeriksaan darah Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. bila tdk ada perubahan rujuk ke PPK 2 Bila ada red flag  rujuk ke PPK 2 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Bila ada gejala dan tanda red flag  rujuk ke PPRK 3 Terapi : simptomatis dan causal.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 NO 1 DIAGNOSIS (RAWAT JALAN) Sequele Stroke PPK 1 Skrining tanda dan gejala klinis dan faktor resiko PPK 2 Penanganan faktor resiko dan kecacatan (rehabilitasi) - PPK 3 Penanganan preventif Bila ada perbaikan fungsi stroke sekunder. operatif sesuai indikasi 3 CTS Skrining tanda dan gejala klinis Penanganan simptomatik analgetik.EMG bila alat tersedia. mencari factor resiko EMG 26 .MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak). → rujuk balik PPK 1 faktor resiko. USG carpal tunnel. CT myelo sesuai indikasi.

mencari factor resiko Diagnosa dan penanganan Parkinson Rujuk ke PPK 2 Obat antiparkinson Pemeriksaan darah untuk mencari faktor resiko Pemeriksaan CT Scan Bila gejala terkontrol → rujuk balik ke PPK 2 Bila gejala tidak teratasi atau efek samping obat → rujuk ke PPK 3 Parkinson sekunder → rujuk ke PPK 3 Bila ada perbaikan rujuk ke PPK 1 5 Nyeri kepala Skrining tanda dan gejala klinis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 bila ada deficit neurologi → rujuk ke PPK 2 penanganan analgetik deksamethason injeksi fisioterapi terapi medikamentosa operatif bila ada indikasi bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 1 bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 2 bila deficit neurologi berat (atrofi) → rujuk ke PPK 3 4 Parkinson Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. MRI sesuai indikasi 27 . penegakkan diagnose berdasarkan guideline nyeri kepala perdossi Diagnosa dan penanganan nyeri kepala primer Diagnosa dan penanganan nyeri kepala Bila nyeri kepala teratasi → rujuk balik PPK 1 Pemeriksaan CT Scan.

kejang pada epilepsi dan penegakkan diagnosa mencari etiologi berdasarkan bangkitan terapi sesuai guideline epilepsy perdossi Pemeriksaan penunjang : EEG. SGPT Terapi sesuai guideline epilepsy dengan kombinasi obat Diagnosa dan penanganan kejang EEG. pemeriksaan darah rutin. mencari etiologi Diagnosa dan penanganan 28 . operatif bila ada indikasi Nyeri kepala sekunder periksa → konsul mata. SGOT. elektrolit. THT. SGOT.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila nyeri kepala tidak terkontrol. elektrolit. ada nyeri kepala sekunder dan terdapat tanda-tanda bahaya nyeri kepala (red flag) → rujuk ke PPK 2 Nyeri kepala dengan red flag → rujuk ke PPK 3 Penanganan nyeri kepala sekunder. gigi dll sesuai kausal Bila sudah tertangani → rujuk balik ke PPK 2 Bila teratasi → rujuk balik PPK 1 6 Epilepsi Skrining tanda dan Diagnosa dan penanganan gejala klinis. MRI Bila kejang tidak terkontrol dengan 2 jenis obat antiepilepsi lini pertama → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan darah rutin. SGPT Setelah kejang terkontrol → rujuk balik ke PPK 1 Terapi kombinasi obat lini pertama dan lini kedua sesuai guideline epilepsy Bila kejang tidak terkontrol → rujuk ke 3 Bila kejang terkontrol → rujuk balik Ke PPK 2 7 Vertigo Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan.

MRI sesuai indikasi Bila ada tanda-tanda red flag LBP dan tanda radikuler → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan foto polos vertebra. fisioterapi bila gejala teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Diagnosa dan penanganan 8 Nyeri (termasuk nyeri punggung bawah) Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan serta mencari etiologi terapi simptomatik Penanganan nyeri : analgetik. EMG sesuai indikasi dan bila tersedia alatnya Tindakan operatif sesuai indikasi Analgetik. mencari factor resiko EMG bila alat tersedia EMG terapi simptomatik dan penanganan factor resiko terapi medikamentosa dan penanganan factor resiko 29 . MRI sesuai indikasi Bila ada deficit neurologi dan progresif → Rujuk PPK 2 untuk mencari etiologi dan penanganan konsul THT Terapi simptomatik. fisioterapi Bila gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 Tindakan operatif sesuai indikasi Terapi simptomatik. fisioterapi EMG. fisioterapi Bila nyeri progresif dan belum teratasi dan terdapat tanda red flag → Rujuk ke PPK 3 9 Neuropati/ Polineuropati Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. serta mencari etiologi Bila nyeri teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Penanganan dan diagnostic terapi siimptomatik. CT Scan kepala bila alat tersedia.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 terapi simptomatik pemeriksaan factor resiko.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila gejala tidak teratasi. pemeriksaan darah rutin. sputum BTA. progresif → Rujuk ke PPK 2 Bila terdapat deficit neurologi atau gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 bila gejala teratasi → rujuk balik PPK 2 10 Meningitis (post perawatan) Skrining tanda dan gejala klinis Lanjutkan terapi OAT Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. kimia. dexamethason. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Bila gejala klinis memburuk → Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. foto thorax Terapi (kortikosteroid. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 30 . elektrolit. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik.

Skabies Penyuluhan Terapi topikal Terapi sistemik Menghilangkan faktor Sama dengan PPK 1 Sama dengan PPK 1 7.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN No 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Vitiligo Terapi topikal untuk tipe lokalisata Bila tidak responsif atau generalisata  rujuk PPK 1 Terapi topical Terapi topikal Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topical Fototerapi 2 Liken Simpleks Kronikus Sama dengan PPK 1 Konsul ke psikiater apabila faktor psikis dinyatakan sebagai penyebab Sama dengan PPK 2 ditambah fototerapi. psoriasis pustulosa rujuk PPK 3 Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 4. THT-KL untuk penatalaksanaan faktor pencetus Bila terdapat komplikasi artritis  konsul IPD Bila terdapat komplikasi eritroderma. Dermatitis Numularis Terapi topical Terapi sistemik Sama dengan PPK 1 Konsul ke bagian Gimul. Psoriasis vulgaris Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal bila luas lesi < 5% Bila tidak responsif atau luas lesi > 5%  rujuk PPK 2 Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal Terapi sistemik Konsul ke bagian Gigi dan Mulut. Dermatitis Seboroik Terapi topical Terapi sistemik Bila terdapat komplikasi eritroderma  Rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 2 ditambah penanganan komplikasi 5. THT-KL untuk penatalaksanaan infeksi fokal Sama dengan PPK 2 6. Tinea Kruris Terapi topikal Sama dengan PPK 2 31 . biologic agents 3.

Terapi sistemik untuk lesi yang luas Keloid Terapi topical Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Terapi topikal Tindakan: injeksi kortikosteroid inralesi Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topikal Tindakan injeksi kortikosteroid inralesi dapat dikombinasikan dengan bedah beku Eksisi dengan radioterapi Sama dengan PPK 1 9. Dermatitis Kontak Iritan Sama dengan PPK 1 Bila tidak resposif  rujuk PPK 3 Sama dengan PPK 1 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bahan penyebab 32 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 predisposisi Terapi topikal Terapi sistemik Bila luas  rujuk PPK 2 8. Xerosis Cutis Menghindari faktorfaktor yang menambah kekeringan kulit Terapi topikal: pelembab Menyarankan kepada penderita untuk menghindari bahan penyebab Menyarankan penderita untuk menggunakan pelindung seperti sarung tangan jika terpaksa harus kontak dengan bahan penyebab Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 1 10.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT MATA

NO
1.

DIAGNOSIS
KONJUNGTIVITIS

PPK 1
EVALUASI  Riwayat trauma/kelilipan, kontak dengan penderita mata merah, riwayat iritasi dan alergi/hipersensitiv itas (udara, debu, obat, makanan dll)  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat, konjungtivabulbi dan tarsal, dan memastikan pada kornea tidak ditemukan kelainan akibat perdagangan konjungtiva.  Konjungtivitas bakteri bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret mukopurulen atau purulen, dapat disertai membrane atau pseudomembran pada konjungtiva tarsalis.  Konjungtivitis virus bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret

PPK 2

PPK 3

 Sama dengan fasilitas  Pemeriksaan kultur primer swab secret konjungtiva  Pemeriksaan komposisi pada agar darah domba, air mata dengan agar tioglikolat, dan uji melakukan pemeriksaan resistensi anti mikroba. Schirmer, BUT dan Ferning, uji anel melalui pungtum lakrimalis untuk menilai ada atau tidaknya sumbatan.  Pemeriksaan dengan slitlamp untuk menilai keadaan konjungtiva bulbi, tarsal, forniks dan kornea.  Melihat gambaran secret (mukoserosa, mukopurulen, purulen).  Melihat gambaran folikel, papil, membrane pada konjungtivitis tarsal superior dan inferior dan konjungtiva forniks  Melihat gambaran injeksi dan nodul pada konjungtivitis bulbi.  Memastikan tidak ditemukan kelainan pada kornea.  Melihat kelainan pada komposisi air mata, obstruksi kelenjar meibom.  Pemeriksaan swab secret dengan penawaran gram bila dicurangi infeksi bakteri, Giemsa bila dicurigai virus 33

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

umumnya mukoserosa dan pembesaran kelenjar limfe preaurikuler.  Konjungtivitis alergi bila mempunyai riwayat alergi atau atopi dan ditemukan keluhan gatal, dan hiperemis konjungtiva.  Curigai Steven Johnson syndrome jika terjadi konjungtivitis pada kedua mata yang timbul seteleh minum atau mendapatkan terapi obatobatan.  Curigai kojungtivitis gonore, terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitas pada dua mata dengan secret purulen yang sangat banyak. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes mata kloramfenikol  Berikan obat tetes (0,5% -1 %)6 kali mata antibiotik sehari atau salep sprektum luas 6 kali mata 3x sehari sehari dan/atau salep selama minimal 3 mata 3 kali setiap bila hari bila dicurigai dicurigai infeksi bakteri infeksi bakteri.  Berikan salep mata  Berikan salep anti antivirus asiklovir 5 kali virus jka sicurigai sehari bila dicurigai infeksi virus infeksi virus.  Berikan tetes mata  Berikan tetes mata anti buatan 6 kali alergi (kromolin glikat)  Berikan tetes antibiotika sesuai hasil gram atau kultur, 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari bila infeksi bakteri  Berikan tetes antivirus sdoksuridin atau asiklovir bila infeksi virus.  Berikan tetes/salep mata antihistamin atau kortikosteroid bila 34

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

sehari bila dan/atau anti inflamasi dicurigai iritasi. bila dicurigai reaksi  Pada steven alergi/hipersensitivitas Jhonson  Berikan tetes /gel syndrome, lubrikan atau air mata diberikan tetes buatan bila ditemukan mata antiinlamasi iritasi (sterioid) dan air  Dicari factor mata predisposisi penyakit buatan/lubrikan yaitu sistemik (diabetes kemudian rujuk ke mellitus, TBC, kondisi fasilitas sekunder imunitas yang rendah, untuk cacingan, kondisi mendapatkan immunocompromised). penanganan lanjut  Keadaan konjungtiva dari bagian diperiksa 3 hari hingga spesialis kulit. sidapatkan perbaikan  Pada Konjungtivitis klinis, Bila tidak ada gonoro, pada bayi perbaikan, memburuk diberikan injeksi atau terjasi kompliksi penilisin procain dalam 1 bulan, dirujuk 50.000 IU/Kg ke dokter mata bb/hari dan konsultan Infeksi dan kloramfenikol Imunologi atau fasilitas tetes mata (0,5% mata tersier. 1,0%) tiap jam.Bila tidak tidak ada perbaikan dan atau terjadi komplikasi pada kornea, segera rujuk ke fasilitas sekunder dan tersier.  Bila tidak ada perbaikan dengan terapi dalam 1 minggu pada konjungtivitis bakteri, 2 minggu pada konjungtivitis virus dan alergi, segera rujuk ke fasilitas sekundrt atau tersier.

ditemukan reaksi alergi atau hipersesitivitas. Bila ditemukan kompliksi pada kornea, penatalaksanaan sesuai dengan penatalaksanaan keratitis/ulkus kornea Pada Steven Jhonson syndrome, berikan terapi anti inflamasi (steroid) tropical dan lubrikan/air mata buatan, disertai terapi dari bagian spesialis kulit. Pada konjungtivitis gonore, diberikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata, injeksi ceftriaxon 1 gr single dose intravena, jika ada ulkus berikan ceftriaxon 1 gr intravena tiap 12 jam selama 3 hari.Bila alergi diberikan ciprofloxacin 500 mg oral 2 kali selama 5 hari. Pada bayi berikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata injeksi ceftriaxon 25-50 mg/kg bb atau cefotaxim 100mg/kg bb interavena atau intramuskular. Berikan tetes/ gel mata lubrikan dan air mata buatan bila ditemukan iritasi Pemeriksaan klinis factor predisposisi local (dry eye, obstruksi duktus nasolakrimalis dll), dilanjutkan pentalaksanaan terhadap kelainan tersebut pemeriksaan laboraturium lengkap darah, urin, feses bila dicurigai predisposisi 35

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

penyakit sistemik.  Berikan terapi oral/parenteral sistemik bila ditemukan factor predisposisi sistemik sesuai hasil konsultsi bagian yang bersangkutan.  Keadaan konjungtiva di periksa tiap 3 hari hingga didapatkan perbaikan klinis dan evaluasi pengobatan terhadap factor predisposisi sistemik dan local  2
EVALUASI KERATITIS DAN ULKUS  Riwayat KORNEA  Riwayat trauma (kelilipan,  Riwayat trauma (kelilipan, benda asing di kornea, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma khusus riwayat trauma tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan atau pengunaan obat tetes pengunaan obat tetes mata tradisional yang mata tradisional yang berasal dari tumbuhberasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai tumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa penggunaan lensa kontak), pemakaian kontak), pemakaian kortikosteroid topical. kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinterbaik menggunakan pinhole. hole.  Tekanan intraocular (TIO)  Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan cara palpasi diukur dengan cara palpasi  Pemeriksaan dengan slit  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk menilai lamp untuk menilai keadaan kornea dan keadaan kornea dan segmen anterior lainnya : segmenn anterior lainnya :  Melihat gambaran  Melihat gambaran secret (serosa, secret (serosa, mukopurulen, mukopurulen, purulen). purulen).  Bentuk ulkus  Bentuk ulkus (pungtata, filament, (pungtata, filament, dendritik, geografik, dendritik, geografik, oval, intersisial,dll) oval, intersisial,dll)  Kedalaman ulkus  Kedalaman ulkus (superficial, dalam, (superficial, dalam, apakah ada apakah ada kecenderuangan untuk kecenderuangan untuk

trauma (kelilipan, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma tumbuhtumbuhan atau pengunaan obat tetes mata tradisional yang berasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa kontak), pemakaian kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat keadaan kornea

36

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

perforasi (impending perforasi (impending perforation) dan perforation) dan perforasi. perforasi.  Pemeriksaan kerokan  Hipopion dapat ada korea dengan penawaran atau tidak ada. Gram dan pemeriksaan  Lakukan foto keadan langsung dengan KOH 10% kornea dan segmen anterior lainnya.  Pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan Gram, Giemsa dan pemeriksaan langsung dengan KOH 10%  Pemeriksaan kultur kerokan kornea dengan agar darah domba, tioglikolat dan agar sabouraud dekstrosa.  Bila segmen posterior sulit dinilai, lakukan pemeriksaan ultrasonografi. Bila didapatkan adanya kekeruhan vitreus dan tanda-tanda endoftalmitis, lakukan prosedur endoftalmitis. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes. Salep mata kloramfenikol (0,5-1%) enam kali sehari, atau salep mata tetrasiklin 3 kali sehari sekurangkurangnya untuk 3 hari.  Jangan diberikan kombinasi antibiotika dengan obat yang mengandung kortikosteroid  Jang menggunakan obat-obat tradisional.  Segera rujuk ke spesialis mata apabila :  Tajam penglihatan awal buruk atau menurun setelah 3 hari pengobatan  Tampak lesi  Pasien sebaiknya dirawat  Pasien sebaiknya dirawat apabila : apabila:  Lesi ulkus kornea  Lesi ulkus kornea mengancam mengancam penglihatan, penglihatan, mengancam mengancam perforasi. perforasi.  Pasien dianggap  Pasien dianggap kurang patuh utnuk kurang patuh utnuk pemberian obat tiap pemberian obat tiap jam jam  Diperlukan follow up  Diperlukan follow up untuk menilai untuk menilai kebersihan terapi. kebersihan terapi.  Apabila ditemukan  Apabila ditemukan gambaran ulkus kornea gambaran ulkus kornea dendritik, geogradik atau dendritik, geogradik atau stroma, dapat diberikan stroma, dapat diberikan salep mata asiklovir 5 kali salep mata asiklovir 5 kali sehari atau tetes mata sehari atau tetes mata idoksuridin tiap jam. idoksuridin tiap jam.  Bila pada pemeriksaan  Bila pada pemeriksaan kerokan kornea kerokan kornea didapatkan hasil gram didapatkan hasil gram positif atau negative positif atau negative diberikan antibiotika tetes diberikan antibiotika tetes mata golongan mata golongan

37

berikan tetes mata amfoterisin B 0.dibekasin. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan yang kemusian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. diberikan tetes mata Natamisin 5% tiap jam dan salep mata Natamisin 5 % tiga kali sehari atau bila pasien mampu. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. aminoglikosida (gentamisin . levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. berikan tetes mata Natamisin 5 % tiap jam tiga kali sekali. ofloksasin. Tidakan Bedah:  Keratektomi superfinansial tanpa membuat perlukaan 38 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat putih di kornea  Tetap berikan kloramfenikol tetes mata saat merujuk ke spesialis mata di fasilitasi sekunder dan tertier.dibekasin. Keadaan Korea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Bila kerokan kornea didapatkan hifa jamur. yang kemudian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu.15% tiap jam (tetes mata amfoterisin B 0. Rujuk ke spesialis mata konsultan infeksi dan imunologi mata atau klinik mata tersier apabila didapatkan :  Ulkus kornea yang terjadi pada pasien yang hanya mempunyai satu mata  Ulkus kornea pada anak-anak  Adanya 2012         aminoglikosida (gentamisin . Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. ofloksasin. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. Bila kerokan kornea didapatka hifa jamur (KOH positif). Pemberian analgetik apabila diperlukan.15% dapat dibuat dengan modifikasi sediaan bubuk untuk pemberian intravena). Pemberian analgetik apabila diperlukan. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea.

dengan indikasi : Mempertahankan 39 . dengan indikasi :  Untuk menegakkan diagnosis. Kedurigaan ulkus kornea jamur. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descemato cele Perforasi kornea di perifer Keratoplasi tembus. Tidak didapatnya kemajuan terapi setelah 3 hari pengobatan (ulkus kornea bakteri) atau 7 pengobatan (ulkus kornea jamur). terutama pada ulkus kornea jamur. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descem atocele Perforasi kornea di perifer Patch graft dengan flap konjungtiva.  Menghilangkan materi infeksi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kecenderungan untuk perforasi atau perforasi. 2012        -  pada membrane Bowman dengan indikasi :  Keratitis virus epitelial  Erosi kornea rekuren Keratektomi superfinansial hingga membran Bowman atau stroma anterior. dengan indikasi :  Keratitis terpapar  Keratitis neuroparalitik Tissue adhesive atau graft amnion multilayer. tetapi tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan langsung KOH 10% atau pewarnaan jamur lainnya. dengan indikasi : Ulkus korena dengan tissue loss berukuran kecil Perforasi kornea perifer berukuran kecil Flap konjungtiva. terutama jamur Tarsorafi lateral atau medial .

5) atau lebih. disebabkan oleh berbagai factor risiko.II) sebesar 0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 integritas bola mata .  Klafisikasi glaucoma berdasarkan pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi) dibagi ke dalam glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup.II serta lapang pandang karakteristik.Pada stadium lanjut didapatkan koreksi tajam penglihtan tidak penuh dengan pupil melebar dan berwarna hitam. Glaucoma primer adalah glaucoma yang timbul dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaucoma.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup: gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. terutama TIO yang terlalu tinggi untuk kelangsungan  Klasifikasi glaucoma mirip dengan klasifikasi pada fasilitas sekunder. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.  Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi : menyempit. sedangkan glaucoma sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai penyulit penyakit mata lain baik yang sedang maupun yang pernah diderita serta penyakit sistemik.  Pemeriksaan funduskopi : Gambar dan uruaikan papil 40 .5/7.  Pemeriksaan funduskopi – rasio CD (Perbandingan antara lebar cekungan papil terhadap lebar papil N. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata dengan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO 28 mm Hg (4. dengan indikasi : .  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi dan pin-hole. yang bersifat progessif lambat.  Fascia lata graft.6 atau lebih. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan dengan gonioskopi.  Pemeriksaan dengan biomikroskopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. dimana sulit untuk mendapatkan donor kornea 3 GLAUKOMA KRONIS EVALUASI  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik dan pin-hole: biasanya tajam penglihatan masih baik. atrifi dan ekskavasi papil N.Mempertahankan integritas bola mata. Berdasarkan etiologinya dibagi kedalam glaucoma sekunder. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.Mengganti jaringan kornea yang terinfeksi dengan donor kornea. Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer.  Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma kronis)  Glaukoma sudut terbuka primer adalah glaucoma primer yang ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.

perifer secara perlahan. static baik manual maupun glaucoma computer:bila pseudoeksfoliasi. glaucoma perimeter kinetic dan kortikosteroid.  Glaukoma sudut terbuka  Pemeriksaan tekanan sekunder intraocular dengan tonometer Schiotz. tonomirip dengan pen dan bila ada dengan glaucoma sudut tonometer non kontak. Glaukoma jenis ini juga merupakan kelanjutan glaucoma akut sudut tertutup primer yang tidak mendapat pengobatan atau setelah mendapat pengobatan yang tidak sempurna atau setelah terapi iridektomi perifer/trabekulektomi (glaucoma residual). 41 .  Selain sudut bilik mata depan yang tertutup. evaluasi papil saraf optic  Glaukoma kronis sudut dan serabut saraf retina tertutup primer dengan alat diagnostic  Glaukoma jenis ini imaging seperti OCT adalah glaucoma (optical coherence primer yang ditandai tomography)dan HRT dengan tertutupnya (Heidelberg retinal trabekulum oleh iris topography). gambaran klinisnya asimptomatis mirip glaucoma sudut terbuka primer. memungkinkan dengan glaucoma angle recess Octopus atau Humphrey.Bentuk primer berkembang pada mereka yang memiliki factor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata depan tergolong sempit.subakut atau merambat (creeping).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kesehatan mata. terbuka primer antara lapang lain adalah glaucoma  Pemeriksaan pandang dengan alat pigmenter. setelah trauma tumpul  Bila memungkinkan dan lain-lain. Glaukoma tersebut dapat pula berkembang dari bentuk intermiten.  Gambaran klinis yang tonometri aplanasi. saraf optik.

Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 1.  Pemeriksaan lapang pandang dengan alat perimeter sederhana atau perimeter Goldmann : cacat lapang pandang galukomatosa.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen dengan koreksi dan pin-hole.  Pemeriksaan funduskopi : terlihat atrofi papil glaukomatosa.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan menggunakan teknik Van Herrick dan sebaliknya menggunakan gonioskopi. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata depan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO umumnya lebih dari 21 mm Hg.Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. 2012 PENATALAKSANAAN  Tekanan intra ocular diturunkan dengan 1.  Pemeriksaan dengan biomiksokopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 42 .

dalam stadium lanjut glaucoma dan/atau utnuk menilai progresifitas penyakitnya. tetapi dapat dikombinasikan tergantung dari sasaran TIO. trabekuloplasti laser selektif  Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/atau dengan Mitomisin C/5Fluorourasil.Pilokarpin 2% 4 x 1 tetes/hari .5 gr/hari  Obat-obatan prinsipnya dibeirkan secara sendirisendiri. Travatan)  Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. Adapula yang menetapkan target pressure dengan perhitungan khusus yang bersifat individual/mata. Medikamentosa . Azopt).  Upaya pencegahan kebutaan akibat glaucoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaucoma secara aktif di masyarakat. Azopt)  Alpha 2 agonist adrenergic  Terapi laser beurpa trabekuloplasti argon laser.Terapi medikamentosa bersifat monoterapi dimulai dengan timolol maleat (C. Glauplus. seperti :  Prostaglandin analog (Glaupen.0.Timol) 0.5% satu sampai 2x sehari bila tidak ada kontraindikasi atau obat-obat baru yang lain (seperti glaupen.  Oleh karena obatobatan dibeirkan untuk jangka lama dan terus menerus. Umumnya TIO diharapkan lebih rendah dari 21 mm Hg. Xalatan. 2012  Medika mentosa . 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat obat-obatan secara bertahap berupa : . operasi drainase implant. . non penetrating filtering surgery. Ada yang menurukan 30% lebih rendah dari TIO awal. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER  Cari faktor penyebab  Medikamentosa Prostaglandin analog (Glaupen.Pemilihan obat untuk pengobatan awal didasarkan pada penilaian mata penderita dan status kesehatan umum. Xalatan. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. tidak tahan terhadap obat-obatan. baik untuk  Tujuan pengobatan pada penderita yang terbukti menderita glaucoma sudut terbuka primer adalah mencegah berlanjutnya kerusakan papil saraf optic.KCI 2-3 x 0.Asetazolamind 3-4 x 125 – 250 mg/hari . Sangat penting diperhatikan kepatuhan penderita dalam melaksanakan pengobatannya. Glauplus. namun dapat pula menggunakan obatobatan jenis terbaru.Timolol 0. Bila cacat lapang pandang belum lanjut atau TIO tidak terlalu tinggi maka terapi dapat dicoba pada satu mata lebih dahulu untuk menilai manfaat dan efek samping.25% . pelayanan tingkat sekunder atau tersier bila TIO tetap diatas 21mmHg. Travatan) Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol.Prinsip terapi mirip dengan penanganan pada fasilitas sekunder.25% 0. Sampai saat ini belum ada criteria yang memuaskan untuk menetapkan tingkat TIO yang dapat diterapkan aman untuk mempertahankan keadaan lapang pandang bagi semua penderita. Penerita dirujuk ke dokter spesialis mata. 43 .5% 2x 1 tetes/hari (bila tidak ada kontra indikasi) .25 – 0. penderita tidak patuh. a.

GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Terapi medikamentosa diberikan baik sebelum terapi definitive iridektomi perifer maupun setelahnya.   3. Pada setiap pemberian obat asetazolamide harus disertakan pemberian obat preparat kalium - 2012 Alpha 2 agonist adrenergic Terapi laser berupa trabekuloplasti argon laser.  Minggu ke 8 lakukan 44 . Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/ atau dengan mitomisin C/5Fluorourasil. glauplus. Tindakan iridektomi perifer laser atau trabekuloplasti  Pra dan setelah tindakan diberikan alpha 2 agonis  Pemberian anti inflamaasi topical setelah tindakan selama 2-3 hari  Follow up tindakan laser setelah 1 hari. trabekuloplasti laser selektif. Bila efektivitas yang diharapkan belum tercapai. operasi drainase impant. tetapi bila bila dianggap tidak efektif maka obat pertama diganti dengan obat lain. Bila dengan monoterapi atau kombinasi ternyata belum mencapai sasaran beurpa penurunan TIO yang tidak memuaskan atau tetap berlanjutnya kerusakan atau sejak awal tekanan lebih dari 30 mmHg maka dapat diberikan terapi sistematik dengan penghambat karbonik anhidrase. xalatan. 3 – 4 kali per hari. azopt). non penetrating filtering surgery. maka dosis ditingkatkan menjadi 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam. 1 minggu selanjutnya 4-8 minggu minggu setelah tindakan IP/trabekuloplasti laser. Bila dengan obat pertama keadaan TIO yang diharapkan belum tercapai tetapi obat tersebut dianggap berespon baik (mencapai nilai efektif farmakologis) dapat ditambahkan obat tetes lainnya. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma.  Bila TIO naik pertimbangan pemberian medikamentosa atau tindakan trabekulektomi.  Tindakan bedah trabekulektomi bila TIO diatas 21 mmHg setelah tindakan iridektomi perifer dan medikamentosa  Tindakan bedah kombinasi trabekulektomi dan katarak bila ada indikasi keduanya.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penemuan kasus maupun deteksi dini. Obat ini biasanya dimulai dengan dosis 125 mg. dorzol. travatan. lalu penilaian diulang lagi.

Dokter harus merencanakan dan membicarakan saat dan jenis pengobatan dan meyakini bahwa nama obat dan jam pemberiannya ada tertulis di label botol. alasan dan tujuan pengobatan. Instruksi bagi penderita :  Dalam pengobatan glaukoma penting sekali untuk memberikan instruksi pada penderita mengenai waktu dan pemakaian obat termasuk cara menekan daerah kantus internus untuk mencegah absorpsi sistemik obat tetes. Tindakan bedah : . 2012 gonioskopi dan cek TIO. Hal ini perlu dalam upaya menjaga kepatuhan penderita dalam berobat.5 gr per hari.Bila dengan pengobatan medikamentosa diatas belum memuaskan sebaiknya penerita dipertimbangkan untk dilakukan terapi bedah (trabekulektomi atau non penetrating filtering surgery) atau dikonfirmasikan untuk kemungkinan tindakan lain ke pelayanan tingkat tersier. b.Humphrey  Lakukan Gonioskopi minimal setiap 3 bulan 45 .  Tambahan pula pasien harus diberitahu dengan kata-kata yang sederhana mengenai mekanisme terjasinya glaukoma.25 – 0. Perawatan setelah tindakan trabekulektomi  Berikan kombinasi antibiotic dan anti inflamasi topical serta antibiotic sistemik  Kontrol 1 hari pasca bedah  Kontrol 7-10 hari pasca bedah  Kontrol setiap minggu sampai 1 bulan  Kontrol tiap 4-6 bulan bila keadaan baik Evaluasi dan follow up pasien glaukoma kronis  Perhatikan ada tidaknya progresfitas papil atrofi glaukomatosa  Fundudkopo. cara berbagai obat bekerja dan efek samping yang mungkin terjadi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat (KCL 0. 0.5 gr) 2 -3 x.  Pasien harus diyakinkan perlunya pemeriksaan kontrol berkala seumur hidup mengenai TIO.  Perhatikan ada tidaknya pertambahan skotoma/kelainan lapang pandang dengan automatic perimeter setiap 6-12 bulan: Octopus.OCT.HRT : Evaluasi setiap 6.12 bulan.

serta penggunaan obat tetes yang benar/patuh seperti yang diinstruksikan kepadanya. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER Cari factor penyebab seperti yang tertulis di atas.Penting pula pasien dan dokter lain yang merawatnya mengetahui efek samping.II dan lapang pandang.  Bila dengan penatalaksanaan diatas masih juga menunjukkan kemunduran maka dirujuk ke tingkat tersier untuk dipelajari lebih lanjut. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Tindakan bedah iridektomi perifer pada kedua mata  Medikamentosa obatobat glaucoma untuk menurunkan tekanan intraokular .Kartu pengenal tanda penderita glaukoma yang harus dibawa penderita mungkin ada manfaatnya.5 % 2 x sehari. alergi dan kemungkinan keracunan obat glaukoma.Bedah katarak/ekstraksi lensa. . .Iridektomi perifer .  Keluarga langsung perlu diikutsertakan dalam penatalaksanaan penderita 2.Asetazolamid 2-3 x 2012 46 . kemudian tentukan :  Medikamentosa  Tindakan bedah : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penilaian papil N.Trabekulektomi .  Penderita sebaiknya mengetahui nama dan konsentrasi obat yang sedang digunakan.Timolol 0. 3.Pilokarpin 2% 4 x perhari.

setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 250 mg sehari disertai dengan KCI 2-3 x 500mg . Azopt.  Tindakan bedah trabekulektomi. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien. aplanasi atau Schiotz  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. 2012  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pin-hole. Dorzol.Obat-obat baru seperti : Glaupen.  Dilakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia pendirita juga biasanya kurang dari 50 tahun.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan. 47 .  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non-contact. Xalatan. 4 KATARAK PADA PENDERITA DEWASA EVALUASI  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole  Pemeriksaandengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior dimana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak refleks pupil yang masih baik.  Pemeriksaan funduskopi dengan oftalmoskop langsung untuk melihat segmen posterior jika katarak masih tidak terlalu  Pemeriksaan visus dengan kartu snellen dengan koreksi terbaik serta mengunakan pin-hole. Derajat 1 : Nukleus lunak.  Jika TIO dalalm batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.5%. bila dengan tindakan iridektomi perifer dan obat-obatan tekanan intraocular masih diatas 21 mmHg.5%.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.5%.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. Glauplus.  Derajat katarak ditentukan sebagai berikut : a. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat adanya kekeruhan lensa. biasanya visus masih lebih baik dari 6/12. Travatan.

Derajat 5 : Nukleus sangat keras. e. visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman. dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60. Derajat 3 : Nukleus dengan kekerasan medium. 2012 Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan. c.  Dilakukan pemeriksaan 48 . dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Katarak ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract. dimana refleks fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah diatas 65 tahun. Derajat 4 : Nukleus keras. d. Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior. tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keruh b.

dapat dilakukan operasi ECCE (Extra capsular cataract extraction)  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro. tetapi bisa juga berdasarkan anamnesis menggunakan IOL standar (power +20.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersai.Misalnya jika pasien menggunakan kacamata S-6.risiko operasi. dimana pasien dipersiapkan untuk implantasi lensa tanam (IOL : Intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah.  Penatalaksanaan bersifat bedah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 fundus dengan oftalmoskopi langsung ataupun tidak langsung. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik.  Penatalaksanaan bersifat non bedah.00) dikurangi ukuran kacamta yang selama ini digunakan pasien. jika visus sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi.  Teknik bedah katarak menggunakan teknik manual ECCE atau pun fakoemulsifikasi dengan mempertimbangkan derajat katarak serta tingkat kemampuan ahli bedah  Operasi katarak hanya dilakukan jika visus sudah mengganggu kegiatan sehari-hari pasien dimana pasien berkesempatan melakukann diskusi dengan dokter mengenai alternative lain selain operasi. penyakit lain ataupun alergi. 49 . dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier.  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro. pasien dipersiapkan untuk implantsi lensa tanam (I)L: intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.  Pasien mengisi surat izin tindakan medis (informed consent).00  Perhatikan juga rekomendasi tindakan bedah katarak.  Setiap kali melakukan pemeriksaan pre –operasi mencakup hal-hal berikut : Anamnesis riwayat penyakit mata. serta perawatan pasca operasi.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersi.00 dapat diberikan IOL power +14.

Membuat rencana pembedahan (jenis anesthesia. keuntungan dan kerugian operasi serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi. jika pasien tersebut direncanakan untuk implantasi lensa tanam. 50 . Memberikan infomasi kepada pasien mengenai resiko.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat - 2012 Visus tanpa koreksi dengan Snellen serta refraksi terbaik. penempatan sayatan dan konstruksi luka. jika pasien tersebut direncanakan implantasi lensa tanam. Pemeriksaan fundus dengan dilatasi pupil - -  Dokter spesialis mata yang akan melalukan operasi katarak sebaiknya memperhatikan persiapan preoperasi sebagai berikut : Memeriksa pasien sebelum operasi. Pengukuran tekanan intraocular Penilaian fungsi pupil (reflex pupil). Memperoleh surat izin tindakan medis (informed consent) Memastikan bahwa hasil keratometri dan biometri A Scan sesuai dengan mata yang akan dioperasi. Menentukan kekuatan lensa tanam yang sesuai. Pemeriksaan mata luar (external examination) dengan senter dan lup atau slit lamp bergantung fasilitas.

Ada dugaan bahwa operasi tidak dapat meningkatkan penglihatan pasien pasca operasi. Kualitas hidup pasien belum terganggu dengan gangguan penglihatan yang dialaminya.  Operasi katarak bilateral ( operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara beruntun) sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak kebutaan. Melakukan evalusi pre operasi diatas termsuk pemeriksaan laboraturium serta berdiskusi dengan pasien ataupun keluarga pasien yang dianggap lebih mengerti dan dapat bertindak atas nama pasien.  Operasi tidak boleh dilakukan pada keadaan sebagai berikut : Pasien menolak tindakan operasi Pemberian kacamata ataupun alat bantu penglihatan lainnya masih cukup memuaskan bagi pasien.Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 refraksi pasca operasi yang direncanakan serta jadwal pemeriksaan pasca bedah). Pasien tidak dapat menjalani operasi 51 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 katarak berkaitan dengan penyakit mata lain ataupun keadaan kesehatan akibat penyakit lainnya. Dokter spesialis mata/staf juga menerangkan mengenai tanggung jwab pasien untuk mengikuti petunjuk yang harus dilakukan selama perawatan pasca operasi dan pasien harus segera menghubungi dokter tersebut jika mengalami masalah. berkewajiban mendidik. pengobatan. jadwal kunjungan lanjutan (follow up) dan petunjuk dimana harus mendapatkan perawatan darurat jika diperlukan. adanya pembatas kegiatan. menjelaskan dan member instruksi kepada pasien mengenai gejala ataupun tandatanda mengenai kemungkinan terjadinya komplikasi pasca operasi.  Pemriksaan lanjutan pasca operasi (follow up) : Frekuensi pemerksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat pencapaian visus 52 . Pasien tidak dapat memberikan surat izin tindakan medis yang sah secara hukum karena kurang pengertian ataupun kurang informasi. - -  Dokter spesialis mata yang melakukan operasi ataupun staf dokter tersebut. Pasien tidak dapat mengikuti petunjuk pengobatan pasca operasi. penggunaan proteksi mata.

 Kunjungan kedua : dijadwalwak - - 53 . glaukoma dan lain-lain. Pada pasien dengan risiko tinggi. edema kornea ataupun tandatanda peradangan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 optimal yang diharapkan. seperti pada pasien dengan satu mata. peningkatan tekanan intraocular. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre-operasi maupun intra operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:  Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam waktu 48 jam setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang menyebabkan bilik mata dangkal. mengalami komplikasi intra – operasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis.hipotonu s. maka pemeriksaan harus dilakukan harus satu hari setelah operasi.

anti glaukoma atau edema kornea. - 54 . dan lain-lain). yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu pertama pasca operasi. Obat-obat yang digunakan pasien pasca operasi bergantng dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien (misalnya analgetika. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 2 minggu pasca operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan pertama. antibiotika oral.  Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien dimana bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang diharapkan.

Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame.  Sebagai perbandingan angka kekambuhan pasca pengangkatan pterygium dapat dilihat dari berbagai 55 . diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi ataupun mengalami kelainan kornea.  Pada pterygium derajat 3 dan 4.  Pemeriksaan dengan slit lamp. penderita diberi penyuluhan untuk mengurahi iritasi maupun paparan terhadap ultra – violet. diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan Snellen  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya (glaukoma). Jika pterygium mengalami inflamasi.  Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi.  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid sepertiCXitrol 3 kali selama 5-7 hari. 2012  Pemeriksaan dengan slit lamp. yaitu:  Teknik operasi yang dianjurkan adalah dengan avulse pterygium disertai cangkok konjungtiva (conjunctival limbal graft) Penggunaan Mitomycin C sebaiknya hanya pada untuk penanganan kasus pterygium yang rekuren. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid seperti CXitrol 3 kali sehari selama 5-7 hari.  Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual maupun menggunakan alat autorefrakto-keratometer  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan cara aplanasi ataupun menggunakan tonometer non kontak. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. yaitu edukasi terhadap pasien untuk mengurangi iritasi dan paparan ultra – violet. dilakukan tindakan bedah berupa avulsi (pengangkatan)  Penatalaksanaan pada fasilitas tersier bersifat bedah dengan memperhatikan tujuan utama dari pengangkatan dari pterygium. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 5 PTERYGIUM EVALUASI  Pemeriksaan cukup dengan lup dan lampu senter. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan).  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi  Penatalaksanaan bersifatnon bedah pada pterygium derajat 1 dan 2. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah. mengingat komplikasi dari mitomycin C yang cukup berat. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan).

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat ataupun mengalami kelainan kornea. usia prasekolah (2-5 thn). usia prasekolah (2-5 thn). dan usia sekolah.9% (Mabar et al) Conjuctival Limbal 14.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. E Chart dan kelompok verbal dengan Snellen chart)  Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen 56 .  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. Sedapat mungkin setelah avulse pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterygiumtersebut ditutupi dengan cangkok kongjungtiva yang diambil dari bagian kanjungtiva superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.8% (Helal et al) Amniotic Membrane 10.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.9%(Prabhasawat et al) Transplantation 3% (Solomon et al) 6 KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK EVALUASI  Mengenali gejala dan tanda pada masing-masing kelainan refraksi sesuai usia.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn. simbol chart.  Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur (kelompok non verbal dengan pemeriksaan fiksasi. dan usia sekolah.6% (Mutlu et al) Graft Graft Sclera Intra-Operative Mitomycin C 5. 2012 laporan sebagai berikut.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia. pterygium.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. TECHNIQUE RECURENCE RATE Bare 61 % (Tan et al) 40% (Figuiredo et al) Conjunctival 18% (Wong et al) 25. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. dan usia sekolah. usia prasekolah (2-5 thn).

 Rujuk ke TEC bila dijumpai ambliopia dan/ atau mata juling.  Pemeriksaan kemungkinan ambliopia dan atau mata juling.5% posterior dengan oftalmoskop direk.  Kebutuhan tajam penglihatan sesuai umur  Resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi  Penatalaksanaan amblipio dan akomodatif esotropia  Koreksi (tindakan)sisa esotropia pada kasus akomodatif esotropia setelah koreksi kaca mata diberikan 7 STRABISMUS EVALUASI  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai 57 .  Koreksi kelainan refraksi pada semua kelompok umur harus berdasarkan pertimbangan :  Apakah besarnya kelainan refraksi cukup mengganggu aktifitas  Kemampuan akomodasi pasien. dengan sebelumnya dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0. Kebutuhan tajam penlihatan sesuai umur. resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi. posterior dengan oftalmoskop direk. 2012 PENATALAKSANAAN  Koreksi kelainan refraksi pada kelompok usia sekolah bila pada pemeriksaan subjektif virus mencapai 6/6.  Rujuk ke fasilitas sekunder bila: Pada kelompok usia sekolah visus dengan koreksi tidak mencapai 6/6 Pada kelompok usia <2tahun dan kelompok usia prasekolah didapatkan tanda dan gejala kelainan refraksi dan kemampuan penglihatan tidak sesuai dengan umur Dijumpai kelainan posisi bola mata (kelainan refraksi + mata juling)  Koresi kelainan refraksi pada semua kelompok harus berdasarkan pertimbangan : besarnya kelainan rekraksi cukup mengganggu aktivitas: kemampuan akomodasi pasien :.  Mendeteksi adanya faktor-faktor ambliopia.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan funduskopi kedua mata dengan oftalmoskopi direk.

dinilai keadaan kornea. Bila penderita adalah bayi. demikian pula yang dewasa. pemeriksaan visus secara subyektif dengan cara Central. iris pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Alternate Cover Test (ACT) / Prism Cover Test (PCT) Ukur deviasi jauh dan dekat serta dinilai ada tidaknya A&V pattern. koreksi dengan kaca mata yang sesuai Bila terdapat ambliopia. Bila penderita adalah bayi. Dilakukan penilaian pergerakan bola mata untuk melihat ada tidaknya hambatan pergerakan bola mata.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keadaan. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Demikian pula harus dilakukan pemeriksaan deviasi dengan dan tanpa koreksi kaca mata kalau terdapat kelainan refraksi. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. demikian pula yang dewasa. dinilai bagaimana keadaan kornea. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan dengan terlebih dahulu koreksi   keadaan. Maintain (CSM). Funduskopi dengan oftalmoskop direk. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. Krimsky. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. dinilai keadaan kornea. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. Bila penderita adalah bayi. demikian pula yang dewasa. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. iris/pupil termasuk reflek pupil dan lensa. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. Penilaian status sensoris 58 . hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masing-maisng anak. Steady. coveruncover test dan Alternate Cover Test (ACT) 2012                PENATALAKSANAAN  Rujuk ke sekunder fasilitas  Bila terdapat kelainan rekraksi. Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. iris pupil dan lensa. Bila dicurigai ada simulated divergence excees perlu dilakukan pemeriksaan sudut deviasi setelah oklusi paling sedikit 1 jam pada salah satu mata. keadaan.

lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan. Bila tipe Divergence Excess dapat dilakukan reses rektus lateral pada kedua mata. dan tua)  Anamnesis (mata  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata ulkus dikelopak mata dan putih mata. dan tua)  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata dan putih mata. konjungtiva dengan  Pemeriksaan orbita : permukaan Pengukuran berbenjol-benjol besarnya proptosis pada usia tua. dewasa muda. penurunan visus). Bila ambliopia. Bila dengan pemberian kaca mata tidak ada perbaikan pada deviasinya maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tertier untuk dilakukan penatalaksanaan selanjutnya. dapat dilakukan reses –resek pada mata yang tidakk dominan atau yang visusnya lebih buruk Bila tipe convergence insufficiency dapat dilakukan resek rektus medieus. 8 TUMOR ORBITA EVALUASI  Identitas : umur (anak. rasa nyeri.  Identitas : umur (anak. dan tua) dewasa muda. lama gejala. dewasa muda. lama dan putih mata. penglihatan ganda. dan penurunan visus). 59 . Jenis operasi yang dilakukan disesuaikan dengan diagnosis dan pola deviasi yang ada dan keadaan visus masing-masing mata. dan ganda. lakukan operasi. tetap ekstropia. lama gejala. dan penurunan visus).  Pemeriksaan mata  Pemeriksaan mata dengan/ tanpa slitlamp : dengan/ tanpa slitlamp. tidak dengan alat Hertel.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kelainan refraksi. rasa nyeri.  Pemeriksaan mata tanpa slitlamp : Terlihat adanya benjolan/ulkus di palpebrakonjungtiva dengan  Identitas : umur (anak. penglihatan ganda. Terlihat adanya sama dengan pelayanan benjolan/ulkus di kesehatan sekunder atau palpebrapun primer. rasa nyeri. 2012         Bila terdapat kelainan refraksi. Bila dengan koreksi kelainan refraksi. Bila tipe Basik dan bila visus salah satu mata tidak baik. berikan koreksi terbaik. penglihatan gejala.

Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. dapat mukokel atau keganasan dari epitel sinus (karsinoma sel skuamosa) bola mata terdorong aksial : massa berada di konus – umumnya tumor dari saraf optik terutama pada penderita berusia muda. adenokarsinoma kelenjar Meibom. phlebolith. atau melanoma maligna). Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. Kuadran lokasi - - - 60 . dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. pertumbuhan lambat :benign mixed tumor usia muda/tua. gejala dirasakan lebih dari 1 tahun. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan menyembuh dengan pengobatan antibiotika.  Pemeriksaan orbita : Pengukuran adanya proptosis dengan menggunakan alat Hertel atau penggaris di kantus lateral ke ujung kornea. dengan lama gejala yang khronis-diagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Foto orbita baku – pada tumor primer orbita jinak diharapkan gambaran perselubungan. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. tidak menyembuh dengan pengobatan antibiotika.karsino ma sel skuamosa.pertumb uhan cepat : adenoid kistik karsinoma atau keganasan lain bola mata ke inferior: massa berada di superior – umumnya neurilemmoma atau kista dermoid bola mata terdorong inferotemporal : massa berada di nasal tumor berasal sinus frontal. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. dengan lama gejala lebih dari 1 tahun. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). atau pembesaran rongga - 2012 Arah terdorongnya bola mata : bola mata ke nasal bawah: Massa temporal atas (kelenjar lakrimal) usia muda. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan suatu proses inflamasi. meningioma. atau melanoma maligna). menunjukkan lebar fisura yang melebar. dengan lama gejala yang khronisdiagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat permukaan berbenjolbenjol pada usia tua. menunjukkan lebar fisura yang melebar.kar sinoma sel skuamosa. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. adenokarsinom a kelenjar Meibom. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). dan dapat hemangioma kavernosa bola mata terdorong ke superior : massa berasal dari inferior kebanyakan tumor ganas berasal dari sinus maksila atau jaringan penunjang. antara lain glioma.

tempat hambatan menunjukkan lokasi tumor (kuadran lokasi) Pemeriksaan pulsasi : bila posifit tumor dapat berupa neurofibroma atau jika diketahui didahului trauma/hipertensi pada orang tua dapat diferensiasi dengan arteri-vena fistula.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Ultrasonografi : pemeriksaan tidak invasif. tetapi jika keras kenyal dapat dicurigai tumor bersifat ganas. Jika tumor dapat diraba.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakonjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi/insisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat suatu proses inflamasi. 2012 massa berada berlawanan dengan arah terdorongnya bola mata tumor sesuai dengan jaringan/organ yang berada di kuadran tersebut Gangguan gerak bola partial. dinilai kekenyalannya. penilaian lebih dititik beratkan pada ada tidaknya tumor dan refleks tumor. orbita. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. pada tumor primer orbita ganas dan metastasis/invasi diharapkan gambaran destruksi tulang. Jika teraba lunak dapat diduga tumor bersifat jinak. Pemeriksaan USG sukar untuk mendiferensiasika n jenis tumor. CT-scan : pemeriksaan ini cukup untuk mendiagnosis tumor orbita serta membantu untuk 61 .

 Pemeriksaan fisik : untuk mencari adanya keganasan atau metastasis. Jika tidak berhasil sebaiknya dirujuk untuk ekspolari lanjut. berukuran kecil dan diduga jinak. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi 62 . kemudian diturunkan secara bertahap. Akan tetapi pemeriksaan penanda ganas tidak ada yang spesifik untuk tumor orbita.Pada tumor epitel yang  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. jinak atau ganas dengan menilai batas tumor.  Pada tumor epitel adneksa. Pemeriksaan dilanjutkan  Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan ini sangat membantu dalam membedakan sifat ganas tumor.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. berukuran kecil dan diduga jinak. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakomjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Untuk membedakan sifat tumor. tetapi dengan penanda ganas asam sialat menunjukkan nilai kadar yang berbeda bermakna. - PENATALAKSANAAN  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. kemudian diturunkan secara bertahap. seperti prednisone dosis tinggi 12-16 tablet (2mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Jika tidak berhasil sebaiknya penderita dirujuk. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penentuan penatalaksanaan selanjutnya. Pemeriksaan MRI dan arteriografi pada kasus khusus yang mencurigai fistula atau ingin mengetahui tumor berasal dari saraf optik.  Pada tumor epitel adneksa. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.

Pada tumor yang lanjut dan telah berinvasi ke orbita dilakukan tindakan pembedahan radikal eksenterasi orbita. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. eksisi dengan rekonstruksi. Pada tumor yang lebih luas. Jika diagnosis meragukan.  Jika meragukan melakukan tindakan. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. baik jinak. berukuran kecil dan diduga jinak. Pengobatan tambahan radiasi atau sitostatika dapat diberikan. sebaiknya dirujuk. sebaiknya dirujuk. ataupun sitostatika.  Pada tumor epitel adneksa. terutama pada tumor orbita. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.  Jika meragukan melakukan tindakan.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. Jika memungkinkan dapat dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. radiasi. Pemeriksaan patologi jaringan tumor 63 . kemudian diturunkan secara bertahap. kecuali bila lokasi di daerah kelenjar lakrimal.Pemerik saan dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. 2012 insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Pada tumor konjungtiva. baik jinak. karsinoma sel skuamosa stadium 1 setelah ektirpasi tumor dapat dilanjutkan dengan pemberian sitostatika local seperti tetes mata mitomycin.  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. terutama pada tumor orbita. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.Jika diagnosis meragukan.  Penatalaksanaan selanjutnya dapat dirujuk untuk tindakan pembedahan. dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. Jika tidak berhasil dapat diberikan sitostatika single agent seperti chlorambucil dengan pengawasan ahli hematologi.

eksudat. neovaskularisasi iris. untuk melihat kekeruhan vitreus karena perdarahan atau adanya jaringan fibro-vaskular. Pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan slit lamp untuk melihat apakah ada epiteliopati kornea. tingkat kekeruhan lensa. kedudukan bola mata. USG. segmen anterior dan segmen posterior. tekanan bola mata. pelebaran  Fundus Fluorocence Angiography (FFA).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 harus dilakukan. pergerakan bola mata. baik jinak. jenis pembedahan sesuai dengan lokasi dan jenis tumor. bila terdapat kekeruhan media dan fundus tidak tembus. apakah ada perdarahan. Pemeriksaan visus dengan Snelen chart Pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer Schiozt Pemeriksaan refleks cahaya pada pupil baik langsung maupun tak langsung Pemeriksaan funduskopi dengan menggunakan ophhalmoscope direk. Pemberian terapi tambahan radiasi dan sitostatika dapat diberikan sesuai kebutuhan dan sesuai dengan patogenesa jenis tumor. ataupun metastasis/invasi sebaiknya dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. 9 DIABETIK RETINOPATI EVALUASI  Anamnesia semua penderita diabetes mengenai keluhan penglihatan. eksudat atau kekeruhan  Pemeriksaan mata dasar yang meliputi visus.  Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan.  Pada tumor orbita. flare dan sel di BMD. terutama CTscan untuk mengetahui dengan tepat lokasi tumor. Penatalaksanaan sebelumnya dengan melakukan pemeriksaan penunjang. dilakukan apabila ada indikasi. kekeruhan vitreus. perdarahan retina. RAPD. ERG         64 . Pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan oftalmoskop indirek. ganas. dengan kerjasama antar disiplin.

Bila ditemukan adanya diabetes mellitus. vena.  Seperti tindakan pada PEC. dengan penjelasan akan prognosis penglihatan dan kemungkinan retinopati bertambah berat setelah operasi. persistent mascular edema dan ablasio retina traksi. dirujuk ke pelayanan kesehatan mata tersier.  Pasien dengan diabetic retinopati stadium non proliferative (NPDR) ringan dan sedang. yaitu dengan adanya pendarahan vitreus dan pertumbuhan jaringan fibrovaskular di vitreus. yaitu apabila ditemukan salah satu dibawah ini:  Pendarahan intra retina 4 kwadran  Pelebaran vena 2 kwadran  Intra retina mikrovaskular abnormalism 1 kwadran  Pasien dengan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR).  Operasi vitrektomi dilakukan apabila terdapat pendarahan vitreus.  Pasien dengan NPDR berat.  Seperti tindakan pada SEC.  Apabila ditemukan katarak yang mempersulit evalusi segmen poeterior. dapat dilakukan operasi. ada diabetes mellitus atau tidak. dilakukan terapi fotokoagulasi laser.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat vitreus. Apabila diabetes diderita kurang dari 2 tahun. 2012 PENATALAKSANAAN  Seleksi pasien. pasien dapat dirujuk langsung untuk evaluasi segmen posterior.  Apabila funduskopi tersedia dan gambaran fundus dapat dinilai. dievaluasi setiap 3 bulan Kontrol gula darah dilakukan oleh dokter penyakit dalam. penderita dirujuk ke pelayanan kesehatan mata sekunder (SEC) untuk evaluasi lebih lanjut. pertumbuhan jaringan fibrovaskular di retina. pasien dikonsulkan ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol gula darahnya dan apabila dari anamnesis penyakit diabetes diderita sudah lebih dari 2 tahun. intra-retinal microvascular anomaly (IRMA) dan neovaskularisasi. pasien dapat dikonsul bilamana keadan keadaan memungkinkan. 10 RETINA LEPAS (RETINAL DETACHMENT) EVALUASI  Anamnesia  Melakukan evaluasi  Melakukan tindakan 65 .  Apabila dari anamnesis tidak diketahui lamanya diabetes diderita. adanya retinopati merupakan indikasi untuk rujukan ke tingkat yang lebih tinggi.  Pasien dengan NPDR berat dengan/tanpa CSME.

66 . Tipe exudative memerlukan pengobatan sesuai dengan penyakit yang mendasari. Pemeriksaan di SEC sudah dapat menentukan apakah penderita perlu di rujuk atau tidak ke TEC. Pemeriksaan fundus sebaiknya dilakukan dengan funduskopi tidak langsung atau dengan condensed wide angle lens (Mainster Ocular.  Melakukan tindakan sesuai dengan jenis retina lepas. Pada rhegmatogen akut dan traksional yang tidak mengancam macula. sedangkan yang kronik dapat dioperasi dalam waktu 1 minggu. seperti pelayanan di PEC. Penderita dirujuk TEC untuk penanganan lebih lanjut dengan penjelasan akan faktor dan keberhasilan. kampimetri. operasi dilakukan secepatnya. Semua jenis rhegmatogen yang tidak mengancam macula atau jenis traksional yang melibatkan macula harus dirujuk seceoatnya. Kecurigaan akan retinal detachment memerlukan uji konfrontasi. Super Pupil Volk atau Goldmann 3mirror. penderita harus diistirahatkan apabila mengancam macula. hingga tindakan dilakukan. Super Field Volk. 2012 seperti di SEC dan memutuskan jenis retina lepas. elektrofisiologi atau ultrasonografi dilakukan bila diperlukan untuk menunjang diagnosis. fibrosis vitreus dengan perlekatan retina dan tanda lain seperti disebutkan sebelumnya. Pemeriksaan dengan funduskopi langsung – apabila tersedia – memberi gambaran retina lepas atau perdarahan retina. Pemeriksaan. umumnya dalam beberapa hari. Jenis operasi (sclera buckling atau vitektomi) tergantung kondisi yang dirtemukan. ditambah dengan pemeriksaan fundus untuk evaluasi retina. Keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari akan memperbaiki retina yang lepas.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat mengenai lama kejadian. Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan sebagai penunjang. PENATALAKSANAAN  Rujuk ke PPK 2  Apabila tidak ada kecurigaan tetapi ada keluhan. dan jenis viteus tamponade ditentukan oleh keadaan yang ditemukan pre-operative dan durante operasi. dan faktor resiko seperti disebutkan diatas. kondisi mata sebelahnya dan mobilitas penderita. Seluruh retina lepas harus dianggap sebagai rhegmatogen.

Kondisi akut : rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Terapi perilaku .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Skrining .Rivastigmin Non farmakologik .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi pemeliharaan PPK 3 GANGGUAN MENTAL ORGANIK Demensia .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Diagnosis .Diagnosis . bila perlu diulang tiap 1 jam 67 B Delirium .Skrining .Haloperidol 0.Skrining .Aripiprazol 515mg/hari (po) Gejala depresi : (pilihan) .Skrining .252mg/hari (po) .Skrining .Psikoedukasi keluarga .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 SpKJ (+) .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Diagnosis Penatalaksanaan Kondisi agresif : Pilihan antipsikotik .Terapi stimulasi/aktivitas .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI) No.Donepezil .Risperidon 0.Skrining .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK 3 .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK III .Sertralin 25mg/hari (po) .252mg/hari (po) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis Terapi sesuai penyebab Kondisi agitasi/psikotik : Antipsikotik inj . 1.SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Skrining .Haloperidol (im) 25mg. A DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 SpKJ (-) .Fluoksetin 10mg/hari (po) Anti demensia : .

Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Haloperidol 2x0.Diagnosis .Penanganan kondisi akut .4mg/jam (iv) Evaluasi tanda vital Atasi penyulit Intoksikasi berat rawat ICU .Penanganan akibat PPK 2/PPK 3 PPK 2 dg kondisi akut Penatalaksanaan : Penyalahgun SpKJ/PPK 3 jika Antidotum Naloxon aan Opioid memungkinka HCl (intoksikasi) n Naloxone (iv) mulai .Lorazepam 0.Quetiapin 25150mg/hari Terapi tambahan .6mg sampai 3.Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 atau Olanzapin (im) 5mg . A B Gangguan Mental dan Perilaku akibat .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK II dg .Skrining .Diagnosis Penatalaksanaan 68 2.Skrining .Reorientasi lingkungan .Skrining Mental dan .Skrining .Jika tidak dg 0. iv) 1-2mg Antipsikotik oral (pilihan) .Risperidon 0.Skrining .Olanzapin 510mg/hari .Lorazepam (im.2mg Bila ada respon teruskan pemberian 0.Edukasi keluarga GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Gangguan .Skrining .Diagnosis Perilaku rujuk ke rujuk ke .51mg/hari .Diagnosis .51mg/hari .52mg/hari Non farmakologik .Kondisi akut : .Psikoterapi suportif .Kondisi akut : . jika tidak n rujuk ke ada respon naikkan PPK 3 dosis menjadi 1.8mg evaluasi memungkinka tiap 15’.

Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis .Klorpromazin 1mg/kgBB Antihipertensi : Jika TD > 140/100mmHg Gejala ansietas : .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Edukasi keluarga .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana jika memungkinka n .Klordiazepoksid 3x25mg Bila kejang : Diazepam 10-30mg 69 C Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (intoksikasi) .Skrining .Diagnosis .Klonidin Pemberian sedatifhipnotik dan antipsikotik diberikan sesuai indikasi Non farmakologik .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Diazepam 3x5mg .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Penyalahgun aan Opioid (putus zat) .Rehabilitasi .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Skrining .Metadon .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana Simtomatik sesuai gejala Subtitusi opioid : .Skrining .Bufrenorfin + Nalokson .Psikoterapi suportif .Haloperidol 25mg/kali .Terapi subtitusi di PPK 1 yg telah mampu laksana SpKJ/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kodein Subtitusi non opioid : .Skrining .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .

depresi berat atau ide bunuh diri Antipsikotik : .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Amitriptilin 2550mg Non farmakologik .Edukasi keluarga .Haloperidol 3x1.Skrining .Setralin 25-50mg .Rehabilitasi .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .25-0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 (parenteral) Cardiac monitoring Propanolol 2080mg/hari .Skrining .Skrining .Skrining .55mg .Diagnosis .Alprazolam 2x0.Jika tidak memungkinka n rujuk ke .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 E Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Dekstrometo rfan (intoksikasi) .53mg Gejala ansietas : .5mg .Diagnosis .Klobazam 2x10mg Gejala depresi : .Diagnosis .Diagnosis Penatalaksanaan Observasi di IGD Rawat inap jika disertai tanda2 psikotik.Diazepam 3x510mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Risperidon 2x1.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal 70 D Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (putus zat) .Skrining .Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Fluoksetin 1020mg .

Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 3.Antidepresan .Rujuk ke PPK 2 .Golongan Benzodiazepin . Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Alkohol (intoksikasi) .Seklusi (isolasi) dg SpKJ/PPK 3 dg SpKJ/PPK 3 .Diagnosis . A .Haloperidol 25mg/kali .SpKJ selama 3 .6.Restrain (fiksasi) .Skrining .Klorpromazin .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Restrain Pilihan antipsikotik /lanjutan setelah /lanjutan setelah injeksi : penanganan dan penanganan dan Pilihan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Skrining .Skrining . GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Skizofrenia.Diagnosis .Skrining .Haloperidol 25mg/kali .Diagnosis Skizotipal. .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .SpKJ selama 3 dr.Diagnosis .Golongan Benzodiazepin SKIZOFRENIA.Skrining .Hospitalisasi . emergensi : emergensi : Gangguan Klorpromazin Klorpromazin Penatalaksanaa Penatalaksanaan Waham 25-50mg (im) 25-50mg (im) n bila tidak ada bila tidak ada Fase akut hipotensi hipotensi Fase akut atau Lorazepam atau Lorazepam Non farmakologik (im) 1-2mg (im) 1-2mg Non .Klorpromazin 25atas petunjuk atas petunjuk antipsikotik inj : 50mg (im) dr.Hospitalisasi . GANGGUAN SKIZOTIPAL.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PPK 3 Antipsikotik : .Terapi .Seklusi pemeliharaan pemeliharaan .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Antidepresan .Rujuk ke PPK 2 farmakologik .Kondisi .Haloperidol 5mg bulan untuk bulan untuk 25-50mg (im) (im) 71 2.Kondisi .Terapi .Skrining .Skrining Gangguan .Skrining .

Paliperidon 39mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Aripiprazol 9.Paliperidon 39mg/hari .Perfenazin 1624mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Quetiapin 300800mg/hari .Aripiprazol 10-30mg/hari .Haloperidol 5-20mg/hari .Perfenazin 16-24mg/hari .75mg (im) .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .75mg (im) .Trifluoperazin 1550mg/hari .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Intervensi perilaku .Haloperidol 520mg/hari .Intervensi .Haloperidol 5mg (im) .Risperidon 28mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Psikoedukasi keluarga .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Flufenazin 520mg/hari .Quetiapin 300800mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .Trifluoperazin 15-50mg/hari .Klozapin 150600mg/hari .Olanzapin 1030mg/hari .Psikoterapi suportif .Psikoterapi suportif .Olanzapin 10mg (im) .Klozapin 150600mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas 72 .Aripiprazol 9.Psikoedukasi keluarga .Aripiprazol 1030mg/hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Olanzapin 1030mg/hari .

Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Intervensi psikososial .Hentikan obat 73 .Psikoedukasi keluarga .Pelatihan ketrampilan social . distonia.Haloperidol dekanoat inj . parkinsonism) : .Intervensi perilaku .Terapi okupasi/vokasiona l .Lorazepam 16mg/hari Sindroma Neuroleptik Malignansi (SNM) : .Triheksifenidil 112mg/hari .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas Fase stabilisasi: Non farmakologik .Turunkan/hentika n obat .Risperidon long acting inj Penatalaksanaa n efek samping neurologis (akatisia.Risperidon oral solution .Psikoedukasi keluarga .Turunkan/he ntikan obat Fase stabilisasi: Non farmakologik .Propanolol 1030mg/hari .Psikoterapi suportif .Risperidon long acting inj Penatalaksanaan efek samping neurologis (akatisia.Risperidon oral solution .Pelatihan ketrampilan social .Haloperidol dekanoat inj .Difenhidramin inj 1-2cc (im) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 perilaku .Intervensi perilaku .Flufenazin dekanoat inj . parkinsonism) : .Psikoterapi suportif .Flufenazin dekanoat inj .Terapi okupasi/voka sional . distonia.Intervensi psikososial .

Skrining .Diagnosis Indikasi rawat jalan : .Klozapin 300750mg/hari .Bromokriptin 2.Lorazepam 3x12mg Pasien refrakter : .Benzodiazepin 12mg (im) B Gangguan Skizoafektif .Divalproat 23x250mg .Divalproat 23x250mg .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Lorazepam 16mg/hr .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Terapi suportif .Fungsi diri baik Indikasi rawat inap : 74 4.Triheksifenidil 1-12mg/hr .Perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tandatanda vital .Skrining .Gejala depresi ringan .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Skrining .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomnia : .Skrining .Propanolol 10-30mg/hr .Dantrolen 1mg/kgBB/hari.Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Skrining depresif .Rawat di ICU .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Terapi kejang listrik (ECT) 3x/minggu .Skrining . selama 8 hari .Diagnosis Penatalaksanaan Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Diagnosis . diberikan 2-3kali/hari. maksimal 30mg/hari . A GANGGUAN SUASANA PERASAAN Episode .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomni a: .5mg.Skrining .Rujuk ke PPK 3 .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Lorazepam 3x1-2mg .Difenhidrami n inj 1-2cc (im) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Diagnosis Penatalaksanaa n Sama dengan di atas Mood stabilizer : .

Gejala depresi berat .Sertralin 2550/hari .Escitalopram 1020mg/hari .Restrain (fiksasi) Farmakologik : Pilihan Antidepresan Fase Akut : .Amitriptilin 2575mg/hari .Hospitalisasi .Seklusi (isolasi) .Risiko/usaha bunuh diri .Maproptilin 25100mg/hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Fungsi diri buruk .Venlafaksin 75150mg/hari .Dukungan keluarga buruk Tindakan .Terapi perilaku kognitif .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Imipramin 2575mg/hari .Agomelatin 2550mg/hari Fase Lanjutan : Terapi dilanjutkan hingga 6-12 bln Dosis diturunkan perlahan 4-12 mg Non farmakologik : .Terapi keluarga 75 .Duloksetin 4060mg/hari .Fluoksetin 1040mg/hari .Terapi interpersonal .Psikoterapi suportif .

Okskarbamazepin .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Olanzapin 1030mg/hari .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Natrium divalproat .Diazepam 12x10mg (im) Antipsikotik oral : Pilihan Lini 1 : . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Aripiprazol 13x9.Quetiapin 300800mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Diagnosis .Asam valproat .Aripiprazol 1030mg/hari .Klozapin 150600mg/hari Pilihan Lini 2 : 76 .Skrining .Diagnosis Fase akut : Tindakan . maksimal 3 hari .Risperidon 28mg/hari .75mg/hr (im).Seklusi (isolasi) .Skrining .Lithium .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Karbamazepin .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Restrain (fiksasi) Agitasi akut Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Haloperidol 12x5mg (im) .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 B Episode manik .Psikoedukasi keluarga .Hospitalisasi .

Aripiprazol 13x9.Klorpromazin 100300mg/hari Non farmakologik : .Seklusi (isolasi) . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Terapi interpersonal .Olanzapin .Terapi keluarga . maksimal 3 hari .75mg/hr (im).Hospitalisasi .Skrining .Lithium / Divalproat + 77 C Gangguan afektif bipolar .Restrain (fiksasi) Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Lithium .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Aripiprazol .Haloperidol 12x5mg (im) .Divalproat .Psikoterapi suportif .Haloperidol 520mg/hari .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Diazepam 12x10mg (im) Episode Mania Akut Pilihan Lini 1 : .Terapi perilaku kognitif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Diagnosis .Risperidon .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Psikoedukasi keluarga .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Quetiapin .Skrining .

Lamotrigin .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Risperidon .Olanzapin + SSRI .Paliperidon Pilihan Lini 3 : .Lithium .Karbamazepin .Topiramat .Lithium / Divalproat + Lamotrigin 78 .Lithium / Divalproat + Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Klorpromazin .Quetiapin .Divalproat .Lithium / Divalproat + SSRI .Lithium + Divalproat .Olanzapin + Karbamazepin Episode Depresi Akut Pilihan Lini 1 : .Lithium / Divalproat + Olanzapin .Quetiapin + SSRI .Haloperidol .Lithium +Divalproat Pilihan Lini 2 : .Risperidon + Karbamazepin .Terapi Kejang listrik (ECT) .Lithium / Divalproat + Haloperidol .Klozapin Tidak direkomendasikan : .Gabapentin .Lamotrigin .

Lithium + Karbamazepin .Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Quetiapin .Karbamazepin .Intervensi psikososial Gangguan Bipolar I Pilihan Lini 1 : .Lithium / Divalproat + TCA .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Pilihan Lini 3 : .Lithium + MAOI .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Divalproat .Lithium .Lithium / Divalproat + Olanzapin 79 .Lamotrigin .Psikoterapi suportif .Terapi okupasi .Lithium + Karbamazepin .Lithium / Divalproat / Karbamazepin + SSRI + Lamotrigin Fase Stabilisasi : Non farmakologik .Olanzapin .Intervensi perilaku .Lithium + Divalproat .Olanzapin .Risperidon depo .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Venlafaksin .Psikoedukasi keluarga .Terapi kejang listrik .

Diagnosis .Kondisi akut : .Penanganan 80 .Skrining .Divalproat .Olanzapin + Fluoksetin Pilihan Lini 3 : Penambahan .Skrining .Antidepresan monoterapi Non farmakologik .Lithium .Fenitoin .Quetiapin Pilihan Lini 2 : .Terapi kejang listrik .Terapi okupasi .Skrining Panik .Lithium + Divalproat .Psikoedukasi keluarga .Asam lemak omega 3 .Topiramat .Diagnosis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 . GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES Gangguan .Intervensi psikososial 5.Intervensi perilaku .Psikoterapi suportif .Okskarbazepin Gangguan Bipolar II Episode Depresi Akut : Pilihan Lini 1 : .Lithium + Lamotrigin .Skrining .Lamotrigin .Olanzapin . A GANGGUAN NEUROTIK.Lithium + Divalproat + antidepresan .Lithium + Risperidon .Penanganan .Antipsikotik atipikal + antidepresan Pilihan Lini 3 : .Gangguan penanganan penanganan .Kondisi akut : .

Skrining .Penanganan kondisi akut .Psikoedukasi .52 mg/hari .Kondisi akut : penanganan emergensi .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ kondisi akut .Penanganan kondisi akut Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Rujuk ke PPK 2 .Manajemen ansietas B Gangguan Ansietas Menyeluruh .52mg/hari .Skrining .Gangguan tenang/kronis panik terapi lanjutan dengan setelah agorafobia penanganan dan .Terapi lanjutan Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Terapi lanjutan .Kondisi akut : penanganan emergensi .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Non farmakologik .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .52mg/hari .Lorazepam 2x 0.52 mg/hari .Alprazolam 3x0.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Diagnosis .Rujuk ke PPK 2 agorafobia .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Diagnosis .Lorazepam 2x 0.Rujuk ke PPK 2 .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kondisi akut panik emergensi tanpa .Alprazolam 3x0.Rujuk ke PPK 2 .Kondisi .Terapi perilaku kognitif .Agorafobia atas petunjuk tanpa SpKJ riwayat gangguan panik emergensi .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Pilihan lain : .Buspiron 81 .

Kondisi akut : penanganan emergensi .Terapi perilaku kognitif .Sertralin 50150mg/hari .Skrining .Fluvoksamin 25100mg/hari 82 D Gangguan Stres Pasca Trauma .Rujuk ke PPK 2 .Rujuk ke PPK 2 .Latihan relaksasi .Terapi suportif individu .Psikoedukasi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Fluoksetin 2060mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Rujuk ke PPK 2 .Penanganan kondisi akut .Venlafaxine C Gangguan Obsesif Kompulsif .Rujuk ke PPK 2 .Skrining .Klobazam 2x510mg .Skrining .5-1mg Gejala depresi : .Penanganan kondisi akut .Skrining .Fluoksetin 540mg/hari .Skrining .Diagnosis .Sertralin 12.Klomipramin 25100mg/hari .Diagnosis .Manajemen ansietas Non farmakologik .Terapi perilaku kognitif .Lorazepam 12x0.Psikoedukasi Farmakologik (pilihan) : .Kondisi akut : penanganan emergensi .Skrining .Terapi lanjutan Non farmakologik .Kondisi akut : penanganan emergensi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Psikoedukasi .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Kondisi akut : penanganan emergensi .550mg/hari .Terapi perilaku kognitif Farmakologik Sesuai dengan gejala klinis yang menonjol Gejala cemas : .Psikoterapi berorientasi tilikan .Terapi lanjutan .Fluvoksamin 100200 mg/hari Non farmakologik .

Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Quetiapin 50100mg Non farmakologik .Kondisi . SINDROM PERILAKU YANG BERHUBUNG AN DENGAN GANGGUAN FISIOLOGIK DAN FAKTOR FISIK .Klobazam Antidepresan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Imipramin .Amitriptilin 2x1025mg .Skrining .Terapi kognitif perilaku Farmakologik Anticemas .Olanzapin 1-2x2.Diagnosis . GANGGUAN KEPRIBADIA N DAN PERILAKU MASA DEWASA RETARDASI MENTAL .Diagnosis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Terapi perilaku .Kondisi Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Amitriptilin .Skrining .Diagnosis .Skrining .Diazepam .Penanganan kondisi akut .Alprazolam .Pendidikan tingkah laku intensif 83 .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Terapi lanjutan 7.Maproptilin HCl . .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Imipramin 1-2x1025mg Gejala psikotik : .Lorazepam .Klomipramin .Sertraline Psikoterapi 6.Skrining .Fluoksetin .Haloperidol 2x15mg .Terapi lanjutan 8.Psikoterapi suportif .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Diagnosis .Skrining .Skrining .Terapi lanjutan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Penanganan kondisi akut .Penanganan kondisi akut .510mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Risperidon 2x12mg .

Anti psikotik 9.Psikoedukasi keluarga Non farmakologik .Rujuk ke PPK .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 2/PPK 3 .Psikoedukasi farmakologik keluarga .Rujuk ke PPK .10.Konseling orang perhatian dan 2/PPK 3 2/PPK 3 tua hiperaktivitas Non .Anti cemas .2 mg/kg/hari (2 kali pemberian po) Aripiprazole 0.Intervensi keluarga psikososial .Intervensi .Terapi perilaku keluarga .Skrining Non farmakologik pemusatan .Konseling orang tua .2 mg/kg/hari (1 kali pemberian po) GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA Gangguan .Konseling .Intervensi orang tua keluarga . A Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Terapi wicara 10.Pelatihan ketrampilan Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Pelatihan kemandirian .Skrining autistik .Diagnosis .Terapi perilaku .Skrining .1-0.Anti depresan .Konseling orang tua .Intervensi Farmakologik 84 . A GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK Gangguan .Skrining .Anti psikotik : Risperidon 0.Rujuk ke PPK .Psikoedukasi .Terapi okupasi .Anti depresan .Anjuran ke Sekolah berkebutuhan khusus .Skrining .

Psikoedukasi keluarga .Anti depresan (SSRI) Non farmakologik .Konseling orang tua .Hospitalisasi Farmakologik .Konseling orang tua .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 psikososial B Gangguan tempertantr um .Terapi keluarga Farmakologik .Skrining .Metilfenidat Dosis 0.Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Anti depresan (SSRI) Fluoksetin 1x5 mg/hari Non farmakologik .Psikoterapi suportif E Gangguan akibat persaingan antar saudara .Skrining .Skrining .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Skrining .Konseling perkawinan 85 D Gangguan cemas .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Terapi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Parenting’s skills training C Gangguan depresi .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti depresan (SSRI) .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Non farmakologik .Anti insomnia (Difenhidramin) Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Hospitalisasi .3-1mg/kg BB dalam dosis terbagi .Skrining .Skrining .Psikoterapi suportif .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Skrining .

Membatasi minum di malam hari .Toilet training .Terapi perilaku Non farmakologik .Skrining .Skrining .Psikoedukasi keluarga 86 H Gangguan enkoperesis .Skrining .Skrining .Konseling orang tua .Toilet training . Anak Non farmakologik .Toilet training .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Konseling perkawinan .Psikoterapi suportif G Gangguan enuresis .Skrining .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua Konsultasi ke Bagian IK.Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Membatasi minum di malam hari .Psikoterapi suportif .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga F Gangguan kelekatan reaktif .Toilet training .Skrining .Parenting.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 J Gangguan gagap .s skills training Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Parenting’s skills training Non farmakologik .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 I Gangguan makan .Terapi keluarga .Anti depresan (Imipramin) Non farmakologik .Konseling orang tua Farmakologik .Psikoterapi suportif .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Skrining .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Skrining .Skrining .

Anti cemas Non farmakologik .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga 87 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Skrining .Skrining .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Terapi wicara Farmakologik (jika perlu) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga K Gangguan tidur .

Kelainan kelenjar ludah (Xerostomia) - Penatalaksanaan infeksi Fulnus Fasial Fraktur Mandibula Fraktur maksila Kista rongga mulut Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.Neoplasma .Luka abrasi fasial .arrested caries 88 .Kelainan syaraf kranialis . Sarkoidosis) 5 Konservasi . Kista Radikuler b. parotitis epidemica.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT No 1 TINDAKAN Eksodontia PPK 1 PPK 2 PPK 3 Pencabutan gigi dengan : Pencabutan gigi dengan . Sialorrhoea. Makulicz Sindroma. Sialorrhoea.Cedera dentoalveolar .Karies dini.Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis. parotitis epidemica.Kista rongga mulut . media. Sjorgen Sindroma . Sealodenitis Bakterial Akut. Kista Periodontal c. . Sjorgen Sindroma .Kelainan congenital . Makulicz Sindroma. Abses Dentoalveolar 2 Bedah Dento alveolar 3 4 Infeksi Daerah Diagnosis Oromaksilofas Rujuk ke PPK 2 ial Trauma .infeksi : -abses jaringan lunak .Fraktur Maksila kompleks .Fraktur Mandibula .Bedah Orthognati .kelainan pertumbuhan (supernumerary) .Kontusio jaringan Orofasial lunak fasial .Kelainan dan jaringan keras pertumbuhan -untuk keperluan (Impaksi dan perawatan malposisi) orthodontia dan prostodontia .penyebab fokal infeksi .karies besar yang tidak dapat dirawat secara konservasi Alvelektomi Apikoektomi a. Sarkoidosis) .Kelainan sendi temporomandibular . Sealodenitis Bakterial Akut.

Overdenture .Abses periapikal Dentin hipersensitif akut/kronis Pulpitis reversible .Gigi tiruan Intermediat.Atrisi.Abses akut/kronis dento alveolar . telinga. periodontal .Protesa hidung. lengkap akrilik) celah langit dewasa .Implan dental Oral hygiene buruk Caries Ginggivitis Persistensi gigi sulung Akar gigi tertinggal Hiperemi pulpa Pulpitis akut/kronis Persistensi gigi sulung .Herpes Labialis Resesi Gusi Periodontitis Liken Planus Leukoplakia Karsinoma Sel Skuamosa 89 .Amelogenesis dan dentinogenesis imperfect 7 Pedodontia 8 Periodontia 9 Penyakit Gigi dan Mulut Gingivitis Hiperplasik gingiva Resesi Gusi Periodontitis .Kelainan jaringan Nekrosis pulpa periodontal .Karies mencapai pulpa non vital .Denture Sore mouth (Chronic Athropic Candidiasis) . lepasan .Ulkus Dekubitalis . mata. lengkap langit pada bayi imediet.Chemical Burn . abrasi dan Perubahan warna erosi eksternal/internal . plate pada celah intermediet.Kista radikuler 6 Prostodontia .Stomatitis Aptosa .Ulkus Traumatikus . muka.Lingua Geografika / Benign Migratory Glossitis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 - profunda .Obturator untuk imediet.Pembuatan feeding .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 90 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful