Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN PENYAKIT BERDASARKAN KEWENANGAN TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

I. PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menetapkan Pembangunan Kesehatan dalam Program Pembangunan Nasional. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan tingkat dasar sampai dengan rujukan yang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Meskipun pendekatan pelayanan kesehatan sama tetapi fokus penekanan pelayanan berbeda sesuai dengan kemampuan yang ada pada tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Agar kesinambungan pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terwujud, diperlukan sistem rujukan yang berjenjang dan terstruktur, dimana ada kejelasan peran dan fungsinya sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan medis di pemberi pelayanan kesehatan harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan agar tercapai pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Demi Tercapainya penyelenggaraan pelayanan medis yang memenuhi standar tersebut perlu pedoman pengelolaan berdasarkan kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama FK UNPAD, RSUP Hasan Sadikin Bandung dan Organisasi Profesi telah menyusun Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan Tingkat Pelayanan Kesehatan. Buku ini menginformasikan bagaimana pengelolaan penyakit mulai dari pelayanan dasar sampai pelayanan rujukan, perlu tidaknya kasus tersebut dirujuk berdasarkan kewenangan tingkat pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di pemberi pelayanan kesehatan.

1

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

II.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. 3. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

III. TUJUAN
Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang optimal berdasarkan kewenangan dan kompetensi di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Khusus : - Tersusunnya pedoman pengelolaan penyakit berdasarkan kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan - Dasar pengkajian untuk rencana pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

IV. PENYAKIT DAN PENGELOLAANNYA
Pengelompokan penyakit dan bagaimana pengelolaannya berdasarkan kewenangan di setiap tingkat pelayanan kesehatan terdiri dari : - Penyakit Anak - Penyakit Dalam - Penyakit Kebidanan dan Kandungan - Penyakit Bedah - Penyakit THT-KL - Penyakit Neurologi (Syaraf) - Penyakit Kulit Kelamin - Penyakit Mata - Penyakit Jiwa (Psikiatri) - Penyakit Gigi dan Mulut

2

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT ANAK
No 1 DIAGNOSIS TB Paru PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik PPK 2 Penilaian klinis diagnostik PPD, rontgen thorax) PPK 3

2

Bronko Pneumonia

Penilaian klinis, diagnostik dan terapi (BP ringan) sesuai MTBS

3

Diare

Diagnosis : Diare akut dengan /tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang  Tatalaksana sesuai protocol

 Dehidrasi berat bisa ditangani di Puskesmas DTP 4 Penyakit jantung bawaan (PJB)

dan Diagnostik dan (Tes penanganan TB paru disertai komplikasi (empyema, atelektasis, destroyed lung, hemoptysis, TB milier, Multi Drug Resistance TB (MDR-TB) Rujuk balik untuk th/ OAT  rujuk balik untuk terapi OAT) Penilaian klinis, diagnostik Penegakan diagnostik dan dgn pemeriksaan penunjang terapi BP berat dengan (lab dan rontgen) ancaman gagal nafas sehingga membutuhkan ventilator, empysema dan sepsis. Penatalaksanaan  rujuk balik Bronkhopneumoni Penatalaksanaan diare Diagnosis etiologi dan ringan- sedang yang tidak talaksana diare persisten / dapat direhidrasi per oral, kronis, diare dengan diare berat, diare akut penyakit penyerta seperti dengan dehidrasi berat, HIV, diare yang diare disertai komplikasi membutuhkan seperti sepsis, gangguan pemeriksaan penunjang elektrolit, (membutuhkan kultur feses, dan kultur feses) endoskopi  rujuk balik dan penyuluhan

Deteksi dini PJB, Diagnosis PJB melalui tatalaksana penyakit pemeriksaan penunjang penyerta pada PJB. (EKG, rontgen thorax), penatalaksanaan penyakit penyerta PJB

Diagnosis dan tatalaksana PJB dengan pemeriksaan echocardiography dan kateterisasi jantung Tatalaksana PJB Operatif  TIDAK RUJUK BALIK  Bila tidak dilakukan operatif rujuk balik

5

Cerebal Palsy (CP)

Deteksi dini tumbuh Diagnostik kelaianan kembang (DDTK) perkembangan (Denver, Cat/Clam),

Diagnostik dan skrining CP dgn comorbid (gangguan pendengaran, pengelihatan, RM, 3

dengan pemeriksaan penunjang (IgG . fisioterapi (klinik tumbuh kembang) 6 Gizi buruk Deteksi Diagnosis dini PMT Rujuk Tatalaksana gizi buruk Penatalaksanaan komplikasi Tatalaksana dan fisioterapi. pencegahan dan penanganan komplikasi : hemosiderosis (chelating agent). gejala klinik: anemia. IgM. DHF yang memerlukan perawatan intensif  Rujuk balik paska perawatan 8 Thalassemia Deteksi dini suspek Pemeriksaan penunjang thalassemia (darah rutin) dan pemberian (skrining tanda serta transfusi. hepatosplenomegali) kontrol rutin penderita 9 DF/DHF Skrining tanda serta Penanganan DHF Grade II gejala klinik sampai dengan DSS (DHF Grade III dan IV) Pemeriksaan penunjang Ig M dan Ig G Tatalaksana DF/DHF bila memerlukan perawatan dengan pemeriksaan intensif Rujuk ke PPK 3 darah rutin (Puskesmas DTP) 4 . splenektomi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 epilepsi) Tatalaksana spastisitas. penilaian IQ (URM : fisioterapi. kelainan Kongenital ) → Rujuk Rujuk balik ke PKM untuk pemantauan dan PMT 7 ISPA Diagnosis dan tatalaksana ISPA Tidak perlu dirujuk  TIDAK PERLU DIRUJUK  Penegakan diagnosis melalui Hb elektroforesa. kelainan congenital. NS1). sindroma malabsorbsi) → Rujuk balik Bila memerlukan pemeriksaan khusus untuk etiologi (HIV/AIDS.  Rujuk balik untuk transfusi berkala Penegakkan diagnosis. terapi bicara. terapi okupasi)  Rujuk balik untuk pemantauan tumbuh kembang dan stimulasi di rumah Tatalaksana kegawatan dan tatalaksana kelainan khusus Diagnosis etiologi (HIV/AIDS.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 10 Sindroma Nefrotik Diagnosis berdasarkan Penegakan diagnostis pasti gejala klinis dan pemeriksaan urin dipstik. CT Scan. Bila perlu perawatan intensif/ status epileptikus refrakter→Rujuk Deteksi kegawatan Tatalaksana (BBLR. follow up remisi atau relaps 11 Epilepsi Diagnosis berdasarkan Penanganan status gejala klinis. perdarahan. fenobarbital. pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnostik→ rujuk balik Tatalaksana kegawatdaruratan Diagnosis Etiologi Diagnosis etiologi Perawatan Bayi baru lahir level III perawatan intensif → stabil → rujuk balik 12 Kejang demam Tatalaksana kejang Kejang demam kompleks demam (sederhana) dan kejang demam status konvulsivus. perforasi usus) → Rujuk balik 13 Masalah neonates 14 Demam Tifoid Tidak perlu di rujuk di PPK 3 15 Morbili Penegakan diagnosis Tatalaksana komplikasi Tidak perlu di rujuk di PPK 3 5 . Infeksi/sepsis. tatalaksana epileptikus (pemberian serangan kejang akut. Diagnosis etiologi asfiksia) → Rujuk Perawatan Bayi baru lahir level 2 Bila perlu perawatan intensif (Level III) → rujuk PPK 3 Skrining tanda serta gejala klinik Tatalaksana Demam Tifoid Pemeriksaan darah rutin (Puskesmas DTP) Diagnosis Tatalaksana simptopmatis Penatalaksanaan sampai dengan komplikasi ( Tifoid ensefalopati. kegawatdaruratan Ikterus neonatorum. Pengobatan dengan status epileptikus refrakter yang memerlukan PICU  Rujuk balik untuk pengobatan jangka panjang Tatalaksana status konsulsivus refrakter/rawat intensif. kontrol rutin penderita Rujuk jika terjadi status epileptikus refrakter/ memerlukan perawatan intensif ( PICU) Pusat diagnositk epilepsi melalui EEG. fenitoin) (pemberian diazepam). MRI. kejang neonatus. Rujuk untuk diagnosis Rawat inap SN serangan pasti pertama (jika dibutuhkan) rujuk balik untuk melanjutkan pengobatan Jika terjadi SN resisten steroid harus dirujuk Diagnosis lengkap dan tatalaksana SN resisten steroid dengan khemoterapi : siklofosfamid  Rujuk balik untuk penanganan lanjutan.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 16 Meningitis Deteksi komplikasi Bila ada komplikasi → Rujuk Deteksi dan tatalaksana Penatalaksanaan kegawatan (Kejang) → kegawatan Rujuk Diagnostic etiologi (Lumbal pungsi ) dan perawatan non intensif Bila perlu perawatan intensif → Rujuk ke PPK 3 Penatalaksanaan komplikasi dan perawatan intensif Penegakan diagnosis etiologi dan komplikasi (CT scan. EEG) 6 . MRI.

TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO → pengelolaan Tanpa komplikasi. TIDAK Terkendali TIDAK TERKENDALI TERKENDALI dengan 1 dengan 1 OHO OHO → pengelolaan  rujuk BERKOMPLIKASI TERKENDALI dg 2 OHO &  rujuk balik TANPA KOMPLIKASI & TERKENDALI dengan Insulin BERKOMPLIKASI & TERKENDALI dg Insulin → dikelola 1 bulan Bila tidak terkendali  rujuk ke PPK 3 DM tipe 2 Hipoglikemi 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO  rujuk Tanpa komplikasi. Tanpa komplikasi. TERKENDALI dengan 2 OHO  rujuk balik DM Tipe 2 DM Tipe 2 Tanpa komplikasi. TERAPI PENDAHULUAN 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT DALAM No 1 DIAGNOSIS DM Tipe 2 PPK 1 PPK 2 PPK 3 Tanpa komplikasi. RUJUK SEGERA Terkendali  rujuk balik ke PPK 2 HIPOGLIKEMI (3B) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 7 . NIDDM (4) TERKENDALI dengan Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 1 obat hipoglikemik oral (OHO) Tanpa komplikasi.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 DM tipe 2 KOMPLIKASI (KAD) AKUT Terkendali → pengelolaan  rujuk balik KOMPLIKASI AKUT (KAD) rujuk (TIDAK TERKENDALI DALAM 48 JAM Terkendali  rujuk balik 1. RUJUK   8 . TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN Kronik Stabil) DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK DM tipe 2 KOMPLIKASI KRONIS 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK 3 ASHD (Peny PJK Kronik Stabil Jantung Koroner 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK  Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali  rujuk balik Tidak terkendali dalam 2 bulan  rujuk Essential Hypertension (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 2 Hipertensi Esensial Hipertensi esensial Hipertensi Esensial Pengelolaan Hipertensi krisis  rujuk Terkendali → Pengelolaan  rujuk balik Terkendali →Pengelolaan  rujuk balik Tidak terkendali → pengelolaan dan evaluasi Terkendali → Rujuk balik  PJK Kronik Stabil Terkendali → pengelolaan RUJUK BALIK RUJUK KEMBALI SETIAP 3 BULAN Hipertensi Sekunder 1.

RUJUK ASHD (Gagal 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Terkendali → pengelolaan dehidrasi ringan DIAGNOSA KLINIS  rujuk balik sedang / berat 2. RUJUK jika tidak dengan / tanpa ada fasilitas DTP komplikasi 9 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 ASHD (Sindroma Sindroma Koroner Akut) Akut (SKA) Koroner Terkendali → pengelolaan Stabil/terkendali (evaluasi tiap 3 bulan)  rujuk balik 1. RUJUK 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Diare dengan 1. RUJUK SEGERA TB Paru (pengobatan ulang /berkomplikasi) TB Paru (MDR/XDR) 5 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Jantung) DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 4 TBP tidak TBP kasus baru berkomplikasi tidak berkomplikasi  rujuk Terkendali → pengelolaan  rujuk balik  rujuk setiap 3 bulan Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 TB Paru (pneumotoraks) TB paru pneumotoraks dg Terkendali → pengelolaan  rujuk balik 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2.

2 tidak ada fasilitas HD fasilitas HD 10 .Rujuk Pneumonia tanpa komplikasi 1. Tegakkan diagnosis Dirujuk bila ada komplikasi komplikasi 2.2 7 COPD / Asma 1.Tegakkan diagnosis 2.Pengelolaan di PPK 1 dgn DTP 12 Demam Dengue Demam Dengue 1.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK. Pengelolaan di PPK obat di PPK. Tegakkan diagnosis Dirujuk dengan catatan bila 2.2 dg Jika PPK. Rujuk Pengelolaan di PPK.Rujuk 13 Gagal ginjal akut 1.2 Pengelolaan di PPK.1 tdk tersedia.Rujuk 11 Gastritis 1.Rujuk DSS 1. Pengelolaan di PPK  rujuk balik 1 N 9 Arthritis tanpa 1.2 Fisioterapi Pengelolaan di PPK.2 dgn fasilitas HD stabil. Pengelolaan di PPK atau memerlukan 1 fisioterapi Arthritis dengan 1. Tegakkan diagnosis Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan 8 2.Rujuk GGK terminal 1.Tegakkan diagnosis dg komplikasi 2.Tegakkan diagnosis 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 Goiter 1.2 dgn fasilitas ICU 14 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2. rujuk balik Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK. 1 1.Tegakkan diagnosis bronkiale 2.Tegakkan diagnosis 2. Tegakkan diagnosis komplikasi 2.2 10 SLE 1.

bisa dilakukan di PPK I) Pengelolaan di PPK.2 Pengelolaan di PPK. 2.2 utk Jika ada komplikasi.2 Stabil  rujuk balik 2.2 dg 15 Sindroma Nefrotik 1.2 Jika PPK. Stabil  rujuk balik tdk lengkap 1.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis tanpa 2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.Rujuk 16 Anemia berat 1.2 ( Rujuk balik untuk Tapering off. Diagnosis tegak. Stabil  rujuk balik 11 .Rujuk jika fasilitas Diagnosis tegak.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk atau sesama fasilitas sama PPK.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.2.Rujuk 17 18 19 Leukemia Perdarahan saluran cerna HIV 1.VCT 3.2.Rujuk 1.Pengelolaan di PPK komplikasi 1 dgn DTP Demam tifoid 1.Tegakkan diagnosis dgn komplikasi 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.2 tidak ada dengan fasilitas endoskopi fasilitas endoskopi Pengelolaan di PPK. terapi ARV (ada tim konseling) 20 Hepatitis akut 1.Rujuk Pengelolaan di PPK.2 Hepatitis kronis 21 Demam tifoid 1.Rujuk 1.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN No. 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Hipertensi Dalam Kehamilan : Hipertensi Gestasional Skrining : Test protein urine Therapi oral anti hipertensi dapat diberikan Skrining: Test Protein urine Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Tidak ada tanda-tanda preeklamsi →rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Ringan Penilaian klinis dan diagnosis : Tidak ada tanda-tanda preeklamsi berat rujuk balik ke PPK I untuk oral antihipertensi Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi kehamilan Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Berat Skrining: Test Protein urine Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang Memerlukan perawatan ICU NICU atau dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Eklamsi Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Tindakan terminasi kehamilan dan rawat bersama dengan bagian lain 2 Perdarahan Trimester 1: Abortus Imminens Skrining Sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian Klinis dan Diagnosis USG baik →kembalikan ke PPK I USG tidak baik → terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Abortus Insipiens Skrining: sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis : USG baik → Rujuk balik Tidak usah dirujuk ke PPK III 12 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 USG tidak baik → terminasi Abortus Inkomplitus Skrining : Pemeriksaan awal KU baik → rujuk ke PPK II KU tidak baik →Perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II (boleh dilakukan kuret tumpul di PONED) Abortus Komplitus Skrining: Rujuk ke PPK II untuk pemeriksaan lanjut Mola Hidatidosa Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti tirotoksikosis Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain atau dengan riwayat infertilitas yang memerlukan keahlian subspesialis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Skrining : KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → Perbaiki KU → Rujuk PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Laparatomi Operatif Trimester 2: Perdarahan Midtrimester Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan atau tindakan → setelah baik Rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain (seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya) Trimester 3: Perdarahan Antepartum Plasenta previa Skrining : KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Skrining : Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi setelah baik → rujuk balik ke PPK I Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya ) Solusio Plasenta 13 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II Post Partum: Perdarahan Post Partum Dini: Atonia Uteri Tindakan terminasi Luka jalan lahir Skrining: Resusitasi cairan. pemberian O2 → Rujuk ke PPK II sambil lakukan dekompresi manual Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Penilaian klinis dan diagnosis : Retensio plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Sisa plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Perdarahan post partum lambat: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 14 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 3 Kelainan Letak Skrining: Rujuk ke PPK II (PONED apabila letak sungsang dan pembukaan lengkap) Penilaian klinis dan diagnosis: Dalam kehamilan : Versi luar apabila berhasil menjadi letak kepala → Rujuk balik ke PPK I Persalinan : terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 4 Kehamilan Multiple Skrining: Rujuk ke PPK II untuk persalinan (pemeriksaan USG) Penilaian klinis dan diagnosis: Persalinan: terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 5 Ketuban Pecah Dini Skrining: Rujuk ke PPK II (skrening : sediakan lakmus test) Penilaian klinis dan diagnosis: konservatif atau terminasi 6 Kelainan Janin: IUGR Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Rujuk ke PPK II IUFD Skrining: Rujuk ke PPK II Prematur Skrining: Rujuk ke PPK II Perawatan konservatif atau terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Gawat Janin Skrining: Rujuk ke PPK II 7 Persalinan tidak maju/Distosia Skrining: Rujuk ke PPK II (dilakukan vakum di PONED) Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi 15 .

Perlu pemeriksaan lanjutan ECHO Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU Spesialis lain yang tidak ada di PPK II 11 Penyakit Jantung: Decompensatio Cordis FC I – II Decompensatio Cordis FC III-IV Skrining: Rujuk ke PPK II Skrining: Rujuk ke PPK II 12 Kehamilan dengan Komplikasi lain Skrining: Rujuk ke PPK II 13 Infeksi Skrining: Tanda-tanda infeksi Penilaian klinis dan diagnosis. Diagnosis dan penanganan sepsis dan memerlukan tindakan diagnosis lanjut atau perawatan ICU 16 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 8 Panggul Sempit Skrining: Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Laparotomi eksploratif Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan konservatif atau terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan (dokter IPD harus ada di PPK II bila ingin di rawat) Penilaian klinis dan diagnosis 9 Bekas Seksio sesarea Skrining: Rujuk ke PPK II 10 Ruptura Uteri Skrining: Perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH No 1 DIAGNOSIS Appendicitis Acute PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik Edukasi Rujuk ke PPK 2 Jika yakin pasien akan ke RS. beri therapi pendahuluan (Antibiotik dan analgetik) Penilaian klinis. Diagnostik dan terapi (Haemmorrhoid Gr I dan II) Rujuk ke PPK 2 (Haemorrhoid Gr III dan IV) 3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Therapi pendahuluan Rujuk ke PPK 2 4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi Pendahuluan Rujuk ke PPK 2 Deteksi gejala klinik Therapi Simptomatis Therapi dan tindak lanjutan Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Penegakkan Diagnosis melalui Pemeriksaan Penunjang Therapi Pendahuluan Tindakan operasi Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 Hernioraphy Penanganan oleh Subspesialis Bila telah stabi → rujuk kembali ke PPK 2 PPK 2 Appendectomy PPK 3 Appendectomy laparoskopiDiver Kontrol Luka setelah stabil→ Rujuk balik 2 Hemorhoid interna Haemorroidectomy Kontrol luka Setelah stabil rujuk balik Fistulectomy Setelah stabil rujuk ke PPK 1 5 Cholelithiasis Rujuk ke PPK 2 6 Hernia inguinalis lateralis reponibilis Edukasi 17 .

Tanda2 keganasan Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Giant Ateroma 10 Struma Nodosa Deteksi gejala dan Pemeriksaan Fisik Edukasi Simptomatik Rujuk Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Ekstirpasi dan PA Jaringan 7 8 Fibro Adenoma Mammae (FAM) Lipoma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka 9 Ateroma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka Penanganan lebih lanjut (eksisi) Penanganan Subspesialistik Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspelialistik Jika terkontrol. rujuk kembali ke PPK 2 18 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Simptomatis Rujuk ke PPK 2 Deteksi dini Simptomatis Rujuk Ke PPK 2 Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Multiple Lipoma.

Pemeriksaan OtoMikroskopi .Skrining tanda dan gejala klinis . Otorea menetap setelah terapi Maksimal .Operasi kasus dengan penyulit . FNAB .Kemoiradiasi .Kultur resistensi .Foto Rontgen ( Schuller dan Stenver ) .Nasoendoskopi .Penilaian klinis PPK 3 .Kontrol setelah tindakan 6 bulan Pertama . Komplikasi intratemporal 3.Skrining tanda dan gejala klinis .CT Scan telinga .Biopsi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL NO 1 DIAGNOSIS Otitis Media Supuratif Kronik dengan penyulit PPK 1 skrining tanda dan gejala klinik Rujuk ke PPK 2 PPK 2 .FNAB .Foto Rontgen schuller dan Stenver .Skrining tanda dan gejala klinis . Karsinoma Laring d. Karsinoma Sinonasal c.Operasi dengan endoskopi .Kultur resistensi .Nasofaringoskopi .Terapi sesuai .Tindakan : bedah mikro telinga 2 Tumor Kepala Leher a.Kultur resistensi 19 .Operasi .Rujuk balik ke PPK 2 untuk perbaikan Keadaan umum 3 Rinosinusitis dengan/tanpa polip disertai .Pemeriksaan THT-KL .Biopsi dengan endoskopi (lokal anestesi) .Nasofaringoskopi .Rujuk ke PPK 3 bila : 1. Karsinoma Nasofaring b.Skrining tanda dan gejala klinik .Menerima rujukan balik dari PPK 3 untuk perbaikan Keadaan Umum .Penilaian Klinis . Komplikasi intrakranial 2.Radiotherapi . Tumor di leher Skrining tanda dan gejala klinis .

Foto Thoraks 8 Speech delayed (Terlambat bicara) Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Brain Evoked Respon Audiometri ( BERA ) .Pemeriksaan Auditory Steady State Respon .Nasoendoskopi .Skrining tanda dan gejala klinis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penyulit Pedoman Tatalaksana lengkap .Rontgen sinus ( waters.Tindakan bedah hidung sinus konvensional Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Tampon hidung anterior .Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Ligasi Ekstraksi benda asing dengan esofagoskopi kaku dalan narkose umum 5 Epistaksis Skrining tanda dan gejala klinis .Kultur resistensi .Pemeriksaan Emisi Otoakustik Ekstraksi benda asing dengan bronkoskopi kaku dan atau bronkoskopi lentur dalam narkose umum .Nasoendoskopi → mencari sumber Perdarahan .CT Scan Sinus Paranasal . Caldwelluck) .Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi .Pemeriksaan tes alergi (Skin Prick Test) .Foto thoraks 6 Benda Asing di esophagus 7 Benda asing di Bronkus .Bila perdarahan tetap tidak dapat teratasi → Rujuk ke PPK III .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft tissue leher AP dan Lateral .Foto rontgen soft Tissues leher AP dan lateral .Terapi Wicara 20 .Immunoterapi .Tindakan bedah sinus endoskopi tingkat lanjut 4 Rhinitis Alergi Skrining tanda dan gejala klinis .Tampon hidung anterior dan posterior .Skrining tanda dan gejala klinis .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI) NO 1 DIAGNOSIS PPK 1 (RAWAT INAP) STROKE Skrining tanda serta Perdarahan gejala klinik Intra Serebral PPK 2 Diagnostik dan penanganan stroke PIS PPK 3 Diagnostik dan penanganan stroke PIS disertai komplikasi inrakranial (TTIK) dan ekstrakanial (emboli paru. Foto Thorax. anti platelet agregasi. profil lipid. penanganan factor resiko dan komplikasi Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi neuroprotektan. rehabilitasi (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. profil lipid. antikoagulan atas indikasi. USG karotis. operatif atas indikasi.Echocardiografi) 21 . rehabilitasi  Setelah lewat fase akut → rujuk balik 2 STROKE INFARK Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi Pemeriksaan penunjang : EKG. . pemeriksaan darah perifer lengkap. pemeriksaan darah perifer lengkap) Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila disertai tanda-tanda TTIK→ rujuk PPK 3 CT Scan kepala Terapi : antiedem. faktor resiko (gula darah.CT-scan kepala atas indikasi. respiratory failure) Penanganan sesuai guideline stroke → Rujuk ke PPK 1 Manitol 20% (antiedema). penanganan factor resiko. antiplatelet agregasi.asam urat) Terapi: manitol 20%. penanganan faktor resiko (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG.Transcranial Doppler. Ro-Thorax.

obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. dexamethason. respiratory failure hebat. pneumonia aspirasi . fraktur kompresi) 22 . sputum BTA. kardiomipati. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. disotonomi. antikoagula atas indikasi. kimia. elektrolit. fisioterapi (sesuai guideline stroke) Perbaikan→ rujuk balik 3 Meningitis serosa Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila ada komplikasi (sesuai guideline stroke) akut (intra dan ekstrakranial) atau ada tanda-tanda TTIK → Rujuk ke PPK 2 FISIOTERAPI Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila komplikasi berat dan tidak tertangani → rujuk ke PPK 3 Terapi : manitol 20%. foto thorax Terapi (kortikosteroid. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 4 Tetanus Skrining tanda serta gejala klinik Therapi dan tindak lanjutan Tetanus grade II : Tindakan lanjutan : tracheostomi Penanganan komplikasi tetanus (kejang tidak teratasi. anti agregasi platelet. pemeriksaan darah rutin.

diazepam injeksi. pemeriksaan antigen antibodi spesifik untuk virus Perbaikan→rujuk balik Penanganan kejang : diazepam injeksi Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. TT (bila belum diberikan di PPK 1). debidrement. Oksigen. perlu perawatan ruang intensif Pemeriksaan penunjang : LP. EKG.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Terapi Pendahuluan : debridement luka.5 cc. Antiviral (acyclovir) Therapi pemberian obat anti kejang. ATS 10. Foto thorax Perbaikan → rujuk balik Terapi : metronidazole 3x500mg (14 hari). antipiretik. EEG.000 u. TT 0. antiviral. tetrasiklin 4x500 mg (10 hari). CT Scan. diazepam injeksi) Setelah perbaikan rujuk kembali ke PPK 1 Tetanus grade III-V → rujuk ke PPK 3 5 ENSEFALITIS Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis : LP Penanganan komplikasi pada ensefalitis (status epileptikus). Therapi Simptomatis : untuk demam (parasetamol) Kejang berulang sampai status → rujuk ke PPK 3 Rujuk ke PPK 2 23 . EEG. foto thorax. metronidazole 3x500mg antibiotic (tetrasiklin 4x500mg)→ Tetanus grade I Tetanus grade II -V → Rujuk ke PPK 2 ATS/HTIG injeksi.

fisioterapi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) dan tirah baring Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. foto thorax. MRI (atas indikasi). bone scanning (bila ada kecurigaan Ca metastasis) Terapi : operatif. pemeriksaan darah.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) Terapi : operatif sesuai indikasi 24 . myelografi Bila terdapat progresivitas → Rujuk Ke PPK 3 Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra. analgetik. EMG. pemeriksaan darah. MRI Rujuk Ke PPK 2 Terapi : operatif (sesuai indikasi) 8 RADIKULOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. foto vertebra. EMG Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 MYELORADIKU LOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra (bila belum dilakukan). myelografi Rujuk ke PPK 2 Terapi : anti nyeri (Na diklofenak) Rujuk ke PPK 3 Rujuk balik bila tidak mau operasi atau penanganan khusus 7 MYELOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra.

MRI) Penanganan di ruang intensif Bila perbaikan dan kejang terkontrol → Rujuk balik PPK 2 9 STATUS EPILEPTIKUS Diagnosa berdasarkan gejala klinis. nyeri kepala. muntah. rujuk kembali ke PPK 2 Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspesialistik 25 . kemoterapi. Diagnostik status epileptikus (EEG. pemberian OAE 10 SOL ( Tumor Intrakranial dan infeksi intrakranial ) Diagnosa berdasarkan gejala klinis Diagnostik dan penanganan lebih lanjut TTIK (gejala berupa penurunan kesadaran.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila tidak ada perbaikan Rujuk ke PPK 1 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Penanganan status epileptikus. radioterapi) Penatalaksanaan : dexamethason dan ranitidine injeksi → Rujuk PPK 2 Pemeriksaan penunjang : PA Jika perbaikan. CT scan. tatalaksana serangan kejang akut (pemberian diazepam dan loading dose OAE) segera rujuk PPK 1 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi status epileptikus refrakter/yang memerlukan perawatan intensif (ICU). papiledema) Pemeriksaan penunjang : foto polos tengkorak. mencari etiologi. CT Scan kepala dengan kontras Penanganan Subspesialistik (operatif.

MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak). dan posisioning Diagnosa dan penanganan Penanganan dan diagnostic EMG bila alat tersedia. fisioterapi Sesuai guideline stroke Bila deficit neurologis berat → rujuk ke PPK 2 2 Radikulopati Skrining tanda dan gejala klinis Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. mencari factor resiko EMG 26 . operatif sesuai indikasi 3 CTS Skrining tanda dan gejala klinis Penanganan simptomatik analgetik. USG carpal tunnel. EMG. → rujuk balik PPK 1 faktor resiko.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 NO 1 DIAGNOSIS (RAWAT JALAN) Sequele Stroke PPK 1 Skrining tanda dan gejala klinis dan faktor resiko PPK 2 Penanganan faktor resiko dan kecacatan (rehabilitasi) - PPK 3 Penanganan preventif Bila ada perbaikan fungsi stroke sekunder. CT myelo sesuai indikasi. pemeriksaan darah Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. bila tdk ada perubahan rujuk ke PPK 2 Bila ada red flag  rujuk ke PPK 2 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Bila ada gejala dan tanda red flag  rujuk ke PPRK 3 Terapi : simptomatis dan causal.EMG bila alat tersedia.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 bila ada deficit neurologi → rujuk ke PPK 2 penanganan analgetik deksamethason injeksi fisioterapi terapi medikamentosa operatif bila ada indikasi bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 1 bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 2 bila deficit neurologi berat (atrofi) → rujuk ke PPK 3 4 Parkinson Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. MRI sesuai indikasi 27 . mencari factor resiko Diagnosa dan penanganan Parkinson Rujuk ke PPK 2 Obat antiparkinson Pemeriksaan darah untuk mencari faktor resiko Pemeriksaan CT Scan Bila gejala terkontrol → rujuk balik ke PPK 2 Bila gejala tidak teratasi atau efek samping obat → rujuk ke PPK 3 Parkinson sekunder → rujuk ke PPK 3 Bila ada perbaikan rujuk ke PPK 1 5 Nyeri kepala Skrining tanda dan gejala klinis. penegakkan diagnose berdasarkan guideline nyeri kepala perdossi Diagnosa dan penanganan nyeri kepala primer Diagnosa dan penanganan nyeri kepala Bila nyeri kepala teratasi → rujuk balik PPK 1 Pemeriksaan CT Scan.

gigi dll sesuai kausal Bila sudah tertangani → rujuk balik ke PPK 2 Bila teratasi → rujuk balik PPK 1 6 Epilepsi Skrining tanda dan Diagnosa dan penanganan gejala klinis. THT. elektrolit.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila nyeri kepala tidak terkontrol. pemeriksaan darah rutin. kejang pada epilepsi dan penegakkan diagnosa mencari etiologi berdasarkan bangkitan terapi sesuai guideline epilepsy perdossi Pemeriksaan penunjang : EEG. SGPT Terapi sesuai guideline epilepsy dengan kombinasi obat Diagnosa dan penanganan kejang EEG. SGOT. SGPT Setelah kejang terkontrol → rujuk balik ke PPK 1 Terapi kombinasi obat lini pertama dan lini kedua sesuai guideline epilepsy Bila kejang tidak terkontrol → rujuk ke 3 Bila kejang terkontrol → rujuk balik Ke PPK 2 7 Vertigo Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. operatif bila ada indikasi Nyeri kepala sekunder periksa → konsul mata. SGOT. elektrolit. mencari etiologi Diagnosa dan penanganan 28 . ada nyeri kepala sekunder dan terdapat tanda-tanda bahaya nyeri kepala (red flag) → rujuk ke PPK 2 Nyeri kepala dengan red flag → rujuk ke PPK 3 Penanganan nyeri kepala sekunder. MRI Bila kejang tidak terkontrol dengan 2 jenis obat antiepilepsi lini pertama → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan darah rutin.

MRI sesuai indikasi Bila ada tanda-tanda red flag LBP dan tanda radikuler → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan foto polos vertebra. mencari factor resiko EMG bila alat tersedia EMG terapi simptomatik dan penanganan factor resiko terapi medikamentosa dan penanganan factor resiko 29 . fisioterapi Bila gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 Tindakan operatif sesuai indikasi Terapi simptomatik. MRI sesuai indikasi Bila ada deficit neurologi dan progresif → Rujuk PPK 2 untuk mencari etiologi dan penanganan konsul THT Terapi simptomatik. fisioterapi bila gejala teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Diagnosa dan penanganan 8 Nyeri (termasuk nyeri punggung bawah) Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan serta mencari etiologi terapi simptomatik Penanganan nyeri : analgetik. serta mencari etiologi Bila nyeri teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Penanganan dan diagnostic terapi siimptomatik. EMG sesuai indikasi dan bila tersedia alatnya Tindakan operatif sesuai indikasi Analgetik.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 terapi simptomatik pemeriksaan factor resiko. fisioterapi EMG. CT Scan kepala bila alat tersedia. fisioterapi Bila nyeri progresif dan belum teratasi dan terdapat tanda red flag → Rujuk ke PPK 3 9 Neuropati/ Polineuropati Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila gejala tidak teratasi. pemeriksaan darah rutin. progresif → Rujuk ke PPK 2 Bila terdapat deficit neurologi atau gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 bila gejala teratasi → rujuk balik PPK 2 10 Meningitis (post perawatan) Skrining tanda dan gejala klinis Lanjutkan terapi OAT Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. kimia. dexamethason. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Bila gejala klinis memburuk → Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. foto thorax Terapi (kortikosteroid. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 30 . elektrolit. sputum BTA.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN No 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Vitiligo Terapi topikal untuk tipe lokalisata Bila tidak responsif atau generalisata  rujuk PPK 1 Terapi topical Terapi topikal Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topical Fototerapi 2 Liken Simpleks Kronikus Sama dengan PPK 1 Konsul ke psikiater apabila faktor psikis dinyatakan sebagai penyebab Sama dengan PPK 2 ditambah fototerapi. Dermatitis Numularis Terapi topical Terapi sistemik Sama dengan PPK 1 Konsul ke bagian Gimul. THT-KL untuk penatalaksanaan infeksi fokal Sama dengan PPK 2 6. psoriasis pustulosa rujuk PPK 3 Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 4. Psoriasis vulgaris Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal bila luas lesi < 5% Bila tidak responsif atau luas lesi > 5%  rujuk PPK 2 Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal Terapi sistemik Konsul ke bagian Gigi dan Mulut. Skabies Penyuluhan Terapi topikal Terapi sistemik Menghilangkan faktor Sama dengan PPK 1 Sama dengan PPK 1 7. THT-KL untuk penatalaksanaan faktor pencetus Bila terdapat komplikasi artritis  konsul IPD Bila terdapat komplikasi eritroderma. Tinea Kruris Terapi topikal Sama dengan PPK 2 31 . Dermatitis Seboroik Terapi topical Terapi sistemik Bila terdapat komplikasi eritroderma  Rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 2 ditambah penanganan komplikasi 5. biologic agents 3.

Dermatitis Kontak Iritan Sama dengan PPK 1 Bila tidak resposif  rujuk PPK 3 Sama dengan PPK 1 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bahan penyebab 32 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 predisposisi Terapi topikal Terapi sistemik Bila luas  rujuk PPK 2 8. Terapi sistemik untuk lesi yang luas Keloid Terapi topical Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Terapi topikal Tindakan: injeksi kortikosteroid inralesi Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topikal Tindakan injeksi kortikosteroid inralesi dapat dikombinasikan dengan bedah beku Eksisi dengan radioterapi Sama dengan PPK 1 9. Xerosis Cutis Menghindari faktorfaktor yang menambah kekeringan kulit Terapi topikal: pelembab Menyarankan kepada penderita untuk menghindari bahan penyebab Menyarankan penderita untuk menggunakan pelindung seperti sarung tangan jika terpaksa harus kontak dengan bahan penyebab Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 1 10.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT MATA

NO
1.

DIAGNOSIS
KONJUNGTIVITIS

PPK 1
EVALUASI  Riwayat trauma/kelilipan, kontak dengan penderita mata merah, riwayat iritasi dan alergi/hipersensitiv itas (udara, debu, obat, makanan dll)  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat, konjungtivabulbi dan tarsal, dan memastikan pada kornea tidak ditemukan kelainan akibat perdagangan konjungtiva.  Konjungtivitas bakteri bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret mukopurulen atau purulen, dapat disertai membrane atau pseudomembran pada konjungtiva tarsalis.  Konjungtivitis virus bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret

PPK 2

PPK 3

 Sama dengan fasilitas  Pemeriksaan kultur primer swab secret konjungtiva  Pemeriksaan komposisi pada agar darah domba, air mata dengan agar tioglikolat, dan uji melakukan pemeriksaan resistensi anti mikroba. Schirmer, BUT dan Ferning, uji anel melalui pungtum lakrimalis untuk menilai ada atau tidaknya sumbatan.  Pemeriksaan dengan slitlamp untuk menilai keadaan konjungtiva bulbi, tarsal, forniks dan kornea.  Melihat gambaran secret (mukoserosa, mukopurulen, purulen).  Melihat gambaran folikel, papil, membrane pada konjungtivitis tarsal superior dan inferior dan konjungtiva forniks  Melihat gambaran injeksi dan nodul pada konjungtivitis bulbi.  Memastikan tidak ditemukan kelainan pada kornea.  Melihat kelainan pada komposisi air mata, obstruksi kelenjar meibom.  Pemeriksaan swab secret dengan penawaran gram bila dicurangi infeksi bakteri, Giemsa bila dicurigai virus 33

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

umumnya mukoserosa dan pembesaran kelenjar limfe preaurikuler.  Konjungtivitis alergi bila mempunyai riwayat alergi atau atopi dan ditemukan keluhan gatal, dan hiperemis konjungtiva.  Curigai Steven Johnson syndrome jika terjadi konjungtivitis pada kedua mata yang timbul seteleh minum atau mendapatkan terapi obatobatan.  Curigai kojungtivitis gonore, terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitas pada dua mata dengan secret purulen yang sangat banyak. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes mata kloramfenikol  Berikan obat tetes (0,5% -1 %)6 kali mata antibiotik sehari atau salep sprektum luas 6 kali mata 3x sehari sehari dan/atau salep selama minimal 3 mata 3 kali setiap bila hari bila dicurigai dicurigai infeksi bakteri infeksi bakteri.  Berikan salep mata  Berikan salep anti antivirus asiklovir 5 kali virus jka sicurigai sehari bila dicurigai infeksi virus infeksi virus.  Berikan tetes mata  Berikan tetes mata anti buatan 6 kali alergi (kromolin glikat)  Berikan tetes antibiotika sesuai hasil gram atau kultur, 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari bila infeksi bakteri  Berikan tetes antivirus sdoksuridin atau asiklovir bila infeksi virus.  Berikan tetes/salep mata antihistamin atau kortikosteroid bila 34

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

sehari bila dan/atau anti inflamasi dicurigai iritasi. bila dicurigai reaksi  Pada steven alergi/hipersensitivitas Jhonson  Berikan tetes /gel syndrome, lubrikan atau air mata diberikan tetes buatan bila ditemukan mata antiinlamasi iritasi (sterioid) dan air  Dicari factor mata predisposisi penyakit buatan/lubrikan yaitu sistemik (diabetes kemudian rujuk ke mellitus, TBC, kondisi fasilitas sekunder imunitas yang rendah, untuk cacingan, kondisi mendapatkan immunocompromised). penanganan lanjut  Keadaan konjungtiva dari bagian diperiksa 3 hari hingga spesialis kulit. sidapatkan perbaikan  Pada Konjungtivitis klinis, Bila tidak ada gonoro, pada bayi perbaikan, memburuk diberikan injeksi atau terjasi kompliksi penilisin procain dalam 1 bulan, dirujuk 50.000 IU/Kg ke dokter mata bb/hari dan konsultan Infeksi dan kloramfenikol Imunologi atau fasilitas tetes mata (0,5% mata tersier. 1,0%) tiap jam.Bila tidak tidak ada perbaikan dan atau terjadi komplikasi pada kornea, segera rujuk ke fasilitas sekunder dan tersier.  Bila tidak ada perbaikan dengan terapi dalam 1 minggu pada konjungtivitis bakteri, 2 minggu pada konjungtivitis virus dan alergi, segera rujuk ke fasilitas sekundrt atau tersier.

ditemukan reaksi alergi atau hipersesitivitas. Bila ditemukan kompliksi pada kornea, penatalaksanaan sesuai dengan penatalaksanaan keratitis/ulkus kornea Pada Steven Jhonson syndrome, berikan terapi anti inflamasi (steroid) tropical dan lubrikan/air mata buatan, disertai terapi dari bagian spesialis kulit. Pada konjungtivitis gonore, diberikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata, injeksi ceftriaxon 1 gr single dose intravena, jika ada ulkus berikan ceftriaxon 1 gr intravena tiap 12 jam selama 3 hari.Bila alergi diberikan ciprofloxacin 500 mg oral 2 kali selama 5 hari. Pada bayi berikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata injeksi ceftriaxon 25-50 mg/kg bb atau cefotaxim 100mg/kg bb interavena atau intramuskular. Berikan tetes/ gel mata lubrikan dan air mata buatan bila ditemukan iritasi Pemeriksaan klinis factor predisposisi local (dry eye, obstruksi duktus nasolakrimalis dll), dilanjutkan pentalaksanaan terhadap kelainan tersebut pemeriksaan laboraturium lengkap darah, urin, feses bila dicurigai predisposisi 35

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

penyakit sistemik.  Berikan terapi oral/parenteral sistemik bila ditemukan factor predisposisi sistemik sesuai hasil konsultsi bagian yang bersangkutan.  Keadaan konjungtiva di periksa tiap 3 hari hingga didapatkan perbaikan klinis dan evaluasi pengobatan terhadap factor predisposisi sistemik dan local  2
EVALUASI KERATITIS DAN ULKUS  Riwayat KORNEA  Riwayat trauma (kelilipan,  Riwayat trauma (kelilipan, benda asing di kornea, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma khusus riwayat trauma tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan atau pengunaan obat tetes pengunaan obat tetes mata tradisional yang mata tradisional yang berasal dari tumbuhberasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai tumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa penggunaan lensa kontak), pemakaian kontak), pemakaian kortikosteroid topical. kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinterbaik menggunakan pinhole. hole.  Tekanan intraocular (TIO)  Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan cara palpasi diukur dengan cara palpasi  Pemeriksaan dengan slit  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk menilai lamp untuk menilai keadaan kornea dan keadaan kornea dan segmen anterior lainnya : segmenn anterior lainnya :  Melihat gambaran  Melihat gambaran secret (serosa, secret (serosa, mukopurulen, mukopurulen, purulen). purulen).  Bentuk ulkus  Bentuk ulkus (pungtata, filament, (pungtata, filament, dendritik, geografik, dendritik, geografik, oval, intersisial,dll) oval, intersisial,dll)  Kedalaman ulkus  Kedalaman ulkus (superficial, dalam, (superficial, dalam, apakah ada apakah ada kecenderuangan untuk kecenderuangan untuk

trauma (kelilipan, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma tumbuhtumbuhan atau pengunaan obat tetes mata tradisional yang berasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa kontak), pemakaian kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat keadaan kornea

36

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

perforasi (impending perforasi (impending perforation) dan perforation) dan perforasi. perforasi.  Pemeriksaan kerokan  Hipopion dapat ada korea dengan penawaran atau tidak ada. Gram dan pemeriksaan  Lakukan foto keadan langsung dengan KOH 10% kornea dan segmen anterior lainnya.  Pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan Gram, Giemsa dan pemeriksaan langsung dengan KOH 10%  Pemeriksaan kultur kerokan kornea dengan agar darah domba, tioglikolat dan agar sabouraud dekstrosa.  Bila segmen posterior sulit dinilai, lakukan pemeriksaan ultrasonografi. Bila didapatkan adanya kekeruhan vitreus dan tanda-tanda endoftalmitis, lakukan prosedur endoftalmitis. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes. Salep mata kloramfenikol (0,5-1%) enam kali sehari, atau salep mata tetrasiklin 3 kali sehari sekurangkurangnya untuk 3 hari.  Jangan diberikan kombinasi antibiotika dengan obat yang mengandung kortikosteroid  Jang menggunakan obat-obat tradisional.  Segera rujuk ke spesialis mata apabila :  Tajam penglihatan awal buruk atau menurun setelah 3 hari pengobatan  Tampak lesi  Pasien sebaiknya dirawat  Pasien sebaiknya dirawat apabila : apabila:  Lesi ulkus kornea  Lesi ulkus kornea mengancam mengancam penglihatan, penglihatan, mengancam mengancam perforasi. perforasi.  Pasien dianggap  Pasien dianggap kurang patuh utnuk kurang patuh utnuk pemberian obat tiap pemberian obat tiap jam jam  Diperlukan follow up  Diperlukan follow up untuk menilai untuk menilai kebersihan terapi. kebersihan terapi.  Apabila ditemukan  Apabila ditemukan gambaran ulkus kornea gambaran ulkus kornea dendritik, geogradik atau dendritik, geogradik atau stroma, dapat diberikan stroma, dapat diberikan salep mata asiklovir 5 kali salep mata asiklovir 5 kali sehari atau tetes mata sehari atau tetes mata idoksuridin tiap jam. idoksuridin tiap jam.  Bila pada pemeriksaan  Bila pada pemeriksaan kerokan kornea kerokan kornea didapatkan hasil gram didapatkan hasil gram positif atau negative positif atau negative diberikan antibiotika tetes diberikan antibiotika tetes mata golongan mata golongan

37

Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. berikan tetes mata amfoterisin B 0. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin.15% dapat dibuat dengan modifikasi sediaan bubuk untuk pemberian intravena).15% tiap jam (tetes mata amfoterisin B 0. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Pemberian analgetik apabila diperlukan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat putih di kornea  Tetap berikan kloramfenikol tetes mata saat merujuk ke spesialis mata di fasilitasi sekunder dan tertier. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. diberikan tetes mata Natamisin 5% tiap jam dan salep mata Natamisin 5 % tiga kali sehari atau bila pasien mampu. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Keadaan Korea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. Bila kerokan kornea didapatkan hifa jamur. Tidakan Bedah:  Keratektomi superfinansial tanpa membuat perlukaan 38 . aminoglikosida (gentamisin .dibekasin. ofloksasin. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Rujuk ke spesialis mata konsultan infeksi dan imunologi mata atau klinik mata tersier apabila didapatkan :  Ulkus kornea yang terjadi pada pasien yang hanya mempunyai satu mata  Ulkus kornea pada anak-anak  Adanya 2012         aminoglikosida (gentamisin . Pemberian analgetik apabila diperlukan. Bila kerokan kornea didapatka hifa jamur (KOH positif). Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. yang kemudian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu.dibekasin. ofloksasin. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. berikan tetes mata Natamisin 5 % tiap jam tiga kali sekali. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan yang kemusian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO.

dengan indikasi : Ulkus korena dengan tissue loss berukuran kecil Perforasi kornea perifer berukuran kecil Flap konjungtiva. 2012        -  pada membrane Bowman dengan indikasi :  Keratitis virus epitelial  Erosi kornea rekuren Keratektomi superfinansial hingga membran Bowman atau stroma anterior. dengan indikasi : Mempertahankan 39 . dengan indikasi :  Keratitis terpapar  Keratitis neuroparalitik Tissue adhesive atau graft amnion multilayer. tetapi tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan langsung KOH 10% atau pewarnaan jamur lainnya. Tidak didapatnya kemajuan terapi setelah 3 hari pengobatan (ulkus kornea bakteri) atau 7 pengobatan (ulkus kornea jamur). terutama pada ulkus kornea jamur. terutama jamur Tarsorafi lateral atau medial . Kedurigaan ulkus kornea jamur. dengan indikasi :  Untuk menegakkan diagnosis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kecenderungan untuk perforasi atau perforasi.  Menghilangkan materi infeksi. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descem atocele Perforasi kornea di perifer Patch graft dengan flap konjungtiva. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descemato cele Perforasi kornea di perifer Keratoplasi tembus.

 Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma kronis)  Glaukoma sudut terbuka primer adalah glaucoma primer yang ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan dengan gonioskopi. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata dengan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.  Pemeriksaan funduskopi : Gambar dan uruaikan papil 40 . Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.  Klafisikasi glaucoma berdasarkan pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi) dibagi ke dalam glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup.II) sebesar 0. Berdasarkan etiologinya dibagi kedalam glaucoma sekunder. yang bersifat progessif lambat.  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi dan pin-hole. dengan indikasi : . atrifi dan ekskavasi papil N. disebabkan oleh berbagai factor risiko.  Fascia lata graft. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 integritas bola mata .II serta lapang pandang karakteristik.Pada stadium lanjut didapatkan koreksi tajam penglihtan tidak penuh dengan pupil melebar dan berwarna hitam.Mempertahankan integritas bola mata.Mengganti jaringan kornea yang terinfeksi dengan donor kornea.  Pemeriksaan funduskopi – rasio CD (Perbandingan antara lebar cekungan papil terhadap lebar papil N.  Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi : menyempit. dimana sulit untuk mendapatkan donor kornea 3 GLAUKOMA KRONIS EVALUASI  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik dan pin-hole: biasanya tajam penglihatan masih baik. Glaucoma primer adalah glaucoma yang timbul dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaucoma.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO 28 mm Hg (4. Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer. terutama TIO yang terlalu tinggi untuk kelangsungan  Klasifikasi glaucoma mirip dengan klasifikasi pada fasilitas sekunder.6 atau lebih.5/7. sedangkan glaucoma sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai penyulit penyakit mata lain baik yang sedang maupun yang pernah diderita serta penyakit sistemik.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup: gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.5) atau lebih.  Pemeriksaan dengan biomikroskopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.

evaluasi papil saraf optic  Glaukoma kronis sudut dan serabut saraf retina tertutup primer dengan alat diagnostic  Glaukoma jenis ini imaging seperti OCT adalah glaucoma (optical coherence primer yang ditandai tomography)dan HRT dengan tertutupnya (Heidelberg retinal trabekulum oleh iris topography).Bentuk primer berkembang pada mereka yang memiliki factor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata depan tergolong sempit. gambaran klinisnya asimptomatis mirip glaucoma sudut terbuka primer. memungkinkan dengan glaucoma angle recess Octopus atau Humphrey. Glaukoma jenis ini juga merupakan kelanjutan glaucoma akut sudut tertutup primer yang tidak mendapat pengobatan atau setelah mendapat pengobatan yang tidak sempurna atau setelah terapi iridektomi perifer/trabekulektomi (glaucoma residual). terbuka primer antara lapang lain adalah glaucoma  Pemeriksaan pandang dengan alat pigmenter.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kesehatan mata. 41 . perifer secara perlahan. saraf optik.  Gambaran klinis yang tonometri aplanasi.  Glaukoma sudut terbuka  Pemeriksaan tekanan sekunder intraocular dengan tonometer Schiotz. setelah trauma tumpul  Bila memungkinkan dan lain-lain. Glaukoma tersebut dapat pula berkembang dari bentuk intermiten.subakut atau merambat (creeping).  Selain sudut bilik mata depan yang tertutup. glaucoma perimeter kinetic dan kortikosteroid. tonomirip dengan pen dan bila ada dengan glaucoma sudut tonometer non kontak. static baik manual maupun glaucoma computer:bila pseudoeksfoliasi.

 Pemeriksaan funduskopi : terlihat atrofi papil glaukomatosa. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata. 2012 PENATALAKSANAAN  Tekanan intra ocular diturunkan dengan 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen dengan koreksi dan pin-hole.  Pemeriksaan lapang pandang dengan alat perimeter sederhana atau perimeter Goldmann : cacat lapang pandang galukomatosa.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO umumnya lebih dari 21 mm Hg.  Pemeriksaan dengan biomiksokopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 1. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan menggunakan teknik Van Herrick dan sebaliknya menggunakan gonioskopi. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 42 .Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata depan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.

Medikamentosa .Asetazolamind 3-4 x 125 – 250 mg/hari . Adapula yang menetapkan target pressure dengan perhitungan khusus yang bersifat individual/mata. Ada yang menurukan 30% lebih rendah dari TIO awal. . Travatan) Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol.0. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER  Cari faktor penyebab  Medikamentosa Prostaglandin analog (Glaupen. Sangat penting diperhatikan kepatuhan penderita dalam melaksanakan pengobatannya. 2.  Upaya pencegahan kebutaan akibat glaucoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaucoma secara aktif di masyarakat.Timolol 0. a. Glauplus.25% 0. seperti :  Prostaglandin analog (Glaupen. pelayanan tingkat sekunder atau tersier bila TIO tetap diatas 21mmHg.Terapi medikamentosa bersifat monoterapi dimulai dengan timolol maleat (C. Glauplus. 43 . Azopt). Bila cacat lapang pandang belum lanjut atau TIO tidak terlalu tinggi maka terapi dapat dicoba pada satu mata lebih dahulu untuk menilai manfaat dan efek samping. tidak tahan terhadap obat-obatan. Azopt)  Alpha 2 agonist adrenergic  Terapi laser beurpa trabekuloplasti argon laser.5 gr/hari  Obat-obatan prinsipnya dibeirkan secara sendirisendiri. penderita tidak patuh. operasi drainase implant.Pilokarpin 2% 4 x 1 tetes/hari . 2012  Medika mentosa .Pemilihan obat untuk pengobatan awal didasarkan pada penilaian mata penderita dan status kesehatan umum.5% 2x 1 tetes/hari (bila tidak ada kontra indikasi) . baik untuk  Tujuan pengobatan pada penderita yang terbukti menderita glaucoma sudut terbuka primer adalah mencegah berlanjutnya kerusakan papil saraf optic. Travatan)  Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. Umumnya TIO diharapkan lebih rendah dari 21 mm Hg. non penetrating filtering surgery. dalam stadium lanjut glaucoma dan/atau utnuk menilai progresifitas penyakitnya. tetapi dapat dikombinasikan tergantung dari sasaran TIO.25% .Prinsip terapi mirip dengan penanganan pada fasilitas sekunder.25 – 0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat obat-obatan secara bertahap berupa : . Xalatan.KCI 2-3 x 0. Sampai saat ini belum ada criteria yang memuaskan untuk menetapkan tingkat TIO yang dapat diterapkan aman untuk mempertahankan keadaan lapang pandang bagi semua penderita. namun dapat pula menggunakan obatobatan jenis terbaru.5% satu sampai 2x sehari bila tidak ada kontraindikasi atau obat-obat baru yang lain (seperti glaupen. Xalatan. Penerita dirujuk ke dokter spesialis mata.Timol) 0.  Oleh karena obatobatan dibeirkan untuk jangka lama dan terus menerus. trabekuloplasti laser selektif  Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/atau dengan Mitomisin C/5Fluorourasil.

travatan. xalatan. Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/ atau dengan mitomisin C/5Fluorourasil. trabekuloplasti laser selektif. Obat ini biasanya dimulai dengan dosis 125 mg. operasi drainase impant. Pada setiap pemberian obat asetazolamide harus disertakan pemberian obat preparat kalium - 2012 Alpha 2 agonist adrenergic Terapi laser berupa trabekuloplasti argon laser.  Minggu ke 8 lakukan 44 .  Bila TIO naik pertimbangan pemberian medikamentosa atau tindakan trabekulektomi.  Tindakan bedah trabekulektomi bila TIO diatas 21 mmHg setelah tindakan iridektomi perifer dan medikamentosa  Tindakan bedah kombinasi trabekulektomi dan katarak bila ada indikasi keduanya. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Terapi medikamentosa diberikan baik sebelum terapi definitive iridektomi perifer maupun setelahnya. lalu penilaian diulang lagi. azopt). Tindakan iridektomi perifer laser atau trabekuloplasti  Pra dan setelah tindakan diberikan alpha 2 agonis  Pemberian anti inflamaasi topical setelah tindakan selama 2-3 hari  Follow up tindakan laser setelah 1 hari. non penetrating filtering surgery. Bila dengan obat pertama keadaan TIO yang diharapkan belum tercapai tetapi obat tersebut dianggap berespon baik (mencapai nilai efektif farmakologis) dapat ditambahkan obat tetes lainnya. Bila dengan monoterapi atau kombinasi ternyata belum mencapai sasaran beurpa penurunan TIO yang tidak memuaskan atau tetap berlanjutnya kerusakan atau sejak awal tekanan lebih dari 30 mmHg maka dapat diberikan terapi sistematik dengan penghambat karbonik anhidrase. 3 – 4 kali per hari. maka dosis ditingkatkan menjadi 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam.   3. Bila efektivitas yang diharapkan belum tercapai. 1 minggu selanjutnya 4-8 minggu minggu setelah tindakan IP/trabekuloplasti laser. tetapi bila bila dianggap tidak efektif maka obat pertama diganti dengan obat lain. glauplus. dorzol.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penemuan kasus maupun deteksi dini. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma.

5 gr per hari. Perawatan setelah tindakan trabekulektomi  Berikan kombinasi antibiotic dan anti inflamasi topical serta antibiotic sistemik  Kontrol 1 hari pasca bedah  Kontrol 7-10 hari pasca bedah  Kontrol setiap minggu sampai 1 bulan  Kontrol tiap 4-6 bulan bila keadaan baik Evaluasi dan follow up pasien glaukoma kronis  Perhatikan ada tidaknya progresfitas papil atrofi glaukomatosa  Fundudkopo.12 bulan.Humphrey  Lakukan Gonioskopi minimal setiap 3 bulan 45 .  Tambahan pula pasien harus diberitahu dengan kata-kata yang sederhana mengenai mekanisme terjasinya glaukoma. Tindakan bedah : . Instruksi bagi penderita :  Dalam pengobatan glaukoma penting sekali untuk memberikan instruksi pada penderita mengenai waktu dan pemakaian obat termasuk cara menekan daerah kantus internus untuk mencegah absorpsi sistemik obat tetes. b.25 – 0.Bila dengan pengobatan medikamentosa diatas belum memuaskan sebaiknya penerita dipertimbangkan untk dilakukan terapi bedah (trabekulektomi atau non penetrating filtering surgery) atau dikonfirmasikan untuk kemungkinan tindakan lain ke pelayanan tingkat tersier.OCT. Hal ini perlu dalam upaya menjaga kepatuhan penderita dalam berobat.  Pasien harus diyakinkan perlunya pemeriksaan kontrol berkala seumur hidup mengenai TIO. alasan dan tujuan pengobatan.5 gr) 2 -3 x.HRT : Evaluasi setiap 6.Dokter harus merencanakan dan membicarakan saat dan jenis pengobatan dan meyakini bahwa nama obat dan jam pemberiannya ada tertulis di label botol. 0. cara berbagai obat bekerja dan efek samping yang mungkin terjadi.  Perhatikan ada tidaknya pertambahan skotoma/kelainan lapang pandang dengan automatic perimeter setiap 6-12 bulan: Octopus.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat (KCL 0. 2012 gonioskopi dan cek TIO.

 Penderita sebaiknya mengetahui nama dan konsentrasi obat yang sedang digunakan. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER Cari factor penyebab seperti yang tertulis di atas. alergi dan kemungkinan keracunan obat glaukoma.Asetazolamid 2-3 x 2012 46 .Bedah katarak/ekstraksi lensa.Pilokarpin 2% 4 x perhari.  Bila dengan penatalaksanaan diatas masih juga menunjukkan kemunduran maka dirujuk ke tingkat tersier untuk dipelajari lebih lanjut.Kartu pengenal tanda penderita glaukoma yang harus dibawa penderita mungkin ada manfaatnya. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Tindakan bedah iridektomi perifer pada kedua mata  Medikamentosa obatobat glaucoma untuk menurunkan tekanan intraokular .Timolol 0. 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penilaian papil N.Iridektomi perifer . serta penggunaan obat tetes yang benar/patuh seperti yang diinstruksikan kepadanya. .  Keluarga langsung perlu diikutsertakan dalam penatalaksanaan penderita 2. kemudian tentukan :  Medikamentosa  Tindakan bedah : . .Trabekulektomi .II dan lapang pandang.Penting pula pasien dan dokter lain yang merawatnya mengetahui efek samping.5 % 2 x sehari.

 Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.  Pemeriksaan funduskopi dengan oftalmoskop langsung untuk melihat segmen posterior jika katarak masih tidak terlalu  Pemeriksaan visus dengan kartu snellen dengan koreksi terbaik serta mengunakan pin-hole. Travatan. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat adanya kekeruhan lensa.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 250 mg sehari disertai dengan KCI 2-3 x 500mg .  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.  Derajat katarak ditentukan sebagai berikut : a. Glauplus.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non-contact.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien.  Tindakan bedah trabekulektomi. 4 KATARAK PADA PENDERITA DEWASA EVALUASI  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole  Pemeriksaandengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior dimana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak refleks pupil yang masih baik. tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan. 47 .5%.  Dilakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien. bila dengan tindakan iridektomi perifer dan obat-obatan tekanan intraocular masih diatas 21 mmHg.Obat-obat baru seperti : Glaupen.  Jika TIO dalalm batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. 2012  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pin-hole. biasanya visus masih lebih baik dari 6/12. aplanasi atau Schiotz  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. Xalatan.5%. Derajat 1 : Nukleus lunak. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia pendirita juga biasanya kurang dari 50 tahun.5%. Azopt. Dorzol.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.

dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60. dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah diatas 65 tahun. visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. Derajat 5 : Nukleus sangat keras. c. e. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior. dimana refleks fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai. nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keruh b. tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan. Katarak ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract. Derajat 3 : Nukleus dengan kekerasan medium. 2012 Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan.  Dilakukan pemeriksaan 48 . d. Derajat 4 : Nukleus keras.

jika visus sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi.risiko operasi. serta perawatan pasca operasi.  Teknik bedah katarak menggunakan teknik manual ECCE atau pun fakoemulsifikasi dengan mempertimbangkan derajat katarak serta tingkat kemampuan ahli bedah  Operasi katarak hanya dilakukan jika visus sudah mengganggu kegiatan sehari-hari pasien dimana pasien berkesempatan melakukann diskusi dengan dokter mengenai alternative lain selain operasi. dapat dilakukan operasi ECCE (Extra capsular cataract extraction)  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro. penyakit lain ataupun alergi.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersai. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. pasien dipersiapkan untuk implantsi lensa tanam (I)L: intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.  Penatalaksanaan bersifat bedah.  Penatalaksanaan bersifat non bedah.Misalnya jika pasien menggunakan kacamata S-6.  Pasien mengisi surat izin tindakan medis (informed consent).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 fundus dengan oftalmoskopi langsung ataupun tidak langsung. 49 .  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.  Setiap kali melakukan pemeriksaan pre –operasi mencakup hal-hal berikut : Anamnesis riwayat penyakit mata.00) dikurangi ukuran kacamta yang selama ini digunakan pasien.00  Perhatikan juga rekomendasi tindakan bedah katarak. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersi.00 dapat diberikan IOL power +14. dimana pasien dipersiapkan untuk implantasi lensa tanam (IOL : Intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan. pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. tetapi bisa juga berdasarkan anamnesis menggunakan IOL standar (power +20.

keuntungan dan kerugian operasi serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi. 50 . jika pasien tersebut direncanakan implantasi lensa tanam. Menentukan kekuatan lensa tanam yang sesuai. penempatan sayatan dan konstruksi luka. Pemeriksaan mata luar (external examination) dengan senter dan lup atau slit lamp bergantung fasilitas. Membuat rencana pembedahan (jenis anesthesia. Pemeriksaan fundus dengan dilatasi pupil - -  Dokter spesialis mata yang akan melalukan operasi katarak sebaiknya memperhatikan persiapan preoperasi sebagai berikut : Memeriksa pasien sebelum operasi. Memperoleh surat izin tindakan medis (informed consent) Memastikan bahwa hasil keratometri dan biometri A Scan sesuai dengan mata yang akan dioperasi. jika pasien tersebut direncanakan untuk implantasi lensa tanam.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat - 2012 Visus tanpa koreksi dengan Snellen serta refraksi terbaik. Pengukuran tekanan intraocular Penilaian fungsi pupil (reflex pupil). Memberikan infomasi kepada pasien mengenai resiko.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 refraksi pasca operasi yang direncanakan serta jadwal pemeriksaan pasca bedah).  Operasi katarak bilateral ( operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara beruntun) sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak kebutaan. Kualitas hidup pasien belum terganggu dengan gangguan penglihatan yang dialaminya. Pasien tidak dapat menjalani operasi 51 . Ada dugaan bahwa operasi tidak dapat meningkatkan penglihatan pasien pasca operasi. Melakukan evalusi pre operasi diatas termsuk pemeriksaan laboraturium serta berdiskusi dengan pasien ataupun keluarga pasien yang dianggap lebih mengerti dan dapat bertindak atas nama pasien.Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya.  Operasi tidak boleh dilakukan pada keadaan sebagai berikut : Pasien menolak tindakan operasi Pemberian kacamata ataupun alat bantu penglihatan lainnya masih cukup memuaskan bagi pasien.

jadwal kunjungan lanjutan (follow up) dan petunjuk dimana harus mendapatkan perawatan darurat jika diperlukan. Pasien tidak dapat memberikan surat izin tindakan medis yang sah secara hukum karena kurang pengertian ataupun kurang informasi. Dokter spesialis mata/staf juga menerangkan mengenai tanggung jwab pasien untuk mengikuti petunjuk yang harus dilakukan selama perawatan pasca operasi dan pasien harus segera menghubungi dokter tersebut jika mengalami masalah. adanya pembatas kegiatan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 katarak berkaitan dengan penyakit mata lain ataupun keadaan kesehatan akibat penyakit lainnya. - -  Dokter spesialis mata yang melakukan operasi ataupun staf dokter tersebut. Pasien tidak dapat mengikuti petunjuk pengobatan pasca operasi.  Pemriksaan lanjutan pasca operasi (follow up) : Frekuensi pemerksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat pencapaian visus 52 . menjelaskan dan member instruksi kepada pasien mengenai gejala ataupun tandatanda mengenai kemungkinan terjadinya komplikasi pasca operasi. berkewajiban mendidik. penggunaan proteksi mata. pengobatan.

 Kunjungan kedua : dijadwalwak - - 53 .hipotonu s. seperti pada pasien dengan satu mata. peningkatan tekanan intraocular. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre-operasi maupun intra operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:  Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam waktu 48 jam setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang menyebabkan bilik mata dangkal. Pada pasien dengan risiko tinggi. edema kornea ataupun tandatanda peradangan. mengalami komplikasi intra – operasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 optimal yang diharapkan. glaukoma dan lain-lain. maka pemeriksaan harus dilakukan harus satu hari setelah operasi.

antibiotika oral. Obat-obat yang digunakan pasien pasca operasi bergantng dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien (misalnya analgetika.  Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien dimana bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang diharapkan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan pertama. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 2 minggu pasca operasi. - 54 . dan lain-lain). anti glaukoma atau edema kornea. yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu pertama pasca operasi.

 Pada pterygium derajat 3 dan 4. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. yaitu:  Teknik operasi yang dianjurkan adalah dengan avulse pterygium disertai cangkok konjungtiva (conjunctival limbal graft) Penggunaan Mitomycin C sebaiknya hanya pada untuk penanganan kasus pterygium yang rekuren. mengingat komplikasi dari mitomycin C yang cukup berat. yaitu edukasi terhadap pasien untuk mengurangi iritasi dan paparan ultra – violet. diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan Snellen  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya (glaukoma).  Sebagai perbandingan angka kekambuhan pasca pengangkatan pterygium dapat dilihat dari berbagai 55 .  Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi.  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. dilakukan tindakan bedah berupa avulsi (pengangkatan)  Penatalaksanaan pada fasilitas tersier bersifat bedah dengan memperhatikan tujuan utama dari pengangkatan dari pterygium. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi ataupun mengalami kelainan kornea. Jika pterygium mengalami inflamasi. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium. penderita diberi penyuluhan untuk mengurahi iritasi maupun paparan terhadap ultra – violet.  Pemeriksaan dengan slit lamp. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz.  Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual maupun menggunakan alat autorefrakto-keratometer  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan cara aplanasi ataupun menggunakan tonometer non kontak.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya. 2012  Pemeriksaan dengan slit lamp. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi  Penatalaksanaan bersifatnon bedah pada pterygium derajat 1 dan 2. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 5 PTERYGIUM EVALUASI  Pemeriksaan cukup dengan lup dan lampu senter. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid sepertiCXitrol 3 kali selama 5-7 hari. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid seperti CXitrol 3 kali sehari selama 5-7 hari.

senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia. 2012 laporan sebagai berikut. simbol chart.9%(Prabhasawat et al) Transplantation 3% (Solomon et al) 6 KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK EVALUASI  Mengenali gejala dan tanda pada masing-masing kelainan refraksi sesuai usia. dan usia sekolah. Sedapat mungkin setelah avulse pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterygiumtersebut ditutupi dengan cangkok kongjungtiva yang diambil dari bagian kanjungtiva superior untuk menurunkan angka kekambuhan.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. dan usia sekolah. pterygium.6% (Mutlu et al) Graft Graft Sclera Intra-Operative Mitomycin C 5.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur (kelompok non verbal dengan pemeriksaan fiksasi. E Chart dan kelompok verbal dengan Snellen chart)  Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen 56 . usia prasekolah (2-5 thn). Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat ataupun mengalami kelainan kornea.8% (Helal et al) Amniotic Membrane 10. dan usia sekolah.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah. TECHNIQUE RECURENCE RATE Bare 61 % (Tan et al) 40% (Figuiredo et al) Conjunctival 18% (Wong et al) 25.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup.9% (Mabar et al) Conjuctival Limbal 14.

 Pemeriksaan kemungkinan ambliopia dan atau mata juling.  Kebutuhan tajam penglihatan sesuai umur  Resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi  Penatalaksanaan amblipio dan akomodatif esotropia  Koreksi (tindakan)sisa esotropia pada kasus akomodatif esotropia setelah koreksi kaca mata diberikan 7 STRABISMUS EVALUASI  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai 57 . posterior dengan oftalmoskop direk. resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi.  Rujuk ke TEC bila dijumpai ambliopia dan/ atau mata juling. Kebutuhan tajam penlihatan sesuai umur.5% posterior dengan oftalmoskop direk.  Koreksi kelainan refraksi pada semua kelompok umur harus berdasarkan pertimbangan :  Apakah besarnya kelainan refraksi cukup mengganggu aktifitas  Kemampuan akomodasi pasien.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan funduskopi kedua mata dengan oftalmoskopi direk. 2012 PENATALAKSANAAN  Koreksi kelainan refraksi pada kelompok usia sekolah bila pada pemeriksaan subjektif virus mencapai 6/6.  Mendeteksi adanya faktor-faktor ambliopia. dengan sebelumnya dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0.  Rujuk ke fasilitas sekunder bila: Pada kelompok usia sekolah visus dengan koreksi tidak mencapai 6/6 Pada kelompok usia <2tahun dan kelompok usia prasekolah didapatkan tanda dan gejala kelainan refraksi dan kemampuan penglihatan tidak sesuai dengan umur Dijumpai kelainan posisi bola mata (kelainan refraksi + mata juling)  Koresi kelainan refraksi pada semua kelompok harus berdasarkan pertimbangan : besarnya kelainan rekraksi cukup mengganggu aktivitas: kemampuan akomodasi pasien :.

Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. dinilai keadaan kornea. Krimsky. Maintain (CSM). iris/pupil termasuk reflek pupil dan lensa. pemeriksaan visus secara subyektif dengan cara Central. Dilakukan penilaian pergerakan bola mata untuk melihat ada tidaknya hambatan pergerakan bola mata. keadaan. dinilai bagaimana keadaan kornea. Demikian pula harus dilakukan pemeriksaan deviasi dengan dan tanpa koreksi kaca mata kalau terdapat kelainan refraksi. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan dengan terlebih dahulu koreksi   keadaan. demikian pula yang dewasa. coveruncover test dan Alternate Cover Test (ACT) 2012                PENATALAKSANAAN  Rujuk ke sekunder fasilitas  Bila terdapat kelainan rekraksi. Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keadaan. demikian pula yang dewasa. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. Bila penderita adalah bayi. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. iris pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Bila penderita adalah bayi. koreksi dengan kaca mata yang sesuai Bila terdapat ambliopia. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masing-maisng anak. iris pupil dan lensa. Funduskopi dengan oftalmoskop direk. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. demikian pula yang dewasa. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. Penilaian status sensoris 58 . dinilai keadaan kornea. Bila penderita adalah bayi. Alternate Cover Test (ACT) / Prism Cover Test (PCT) Ukur deviasi jauh dan dekat serta dinilai ada tidaknya A&V pattern. Steady. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Bila dicurigai ada simulated divergence excees perlu dilakukan pemeriksaan sudut deviasi setelah oklusi paling sedikit 1 jam pada salah satu mata. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata.

8 TUMOR ORBITA EVALUASI  Identitas : umur (anak. dan ganda.  Pemeriksaan mata tanpa slitlamp : Terlihat adanya benjolan/ulkus di palpebrakonjungtiva dengan  Identitas : umur (anak. Jenis operasi yang dilakukan disesuaikan dengan diagnosis dan pola deviasi yang ada dan keadaan visus masing-masing mata. dan tua)  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata dan putih mata. dan penurunan visus). dan penurunan visus). dan tua)  Anamnesis (mata  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata ulkus dikelopak mata dan putih mata. lama gejala. Bila tipe Basik dan bila visus salah satu mata tidak baik.  Identitas : umur (anak. dewasa muda. penurunan visus). Bila dengan pemberian kaca mata tidak ada perbaikan pada deviasinya maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tertier untuk dilakukan penatalaksanaan selanjutnya. Bila ambliopia. berikan koreksi terbaik. 2012         Bila terdapat kelainan refraksi. rasa nyeri. rasa nyeri. konjungtiva dengan  Pemeriksaan orbita : permukaan Pengukuran berbenjol-benjol besarnya proptosis pada usia tua. lama dan putih mata.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kelainan refraksi. Bila tipe Divergence Excess dapat dilakukan reses rektus lateral pada kedua mata.  Pemeriksaan mata  Pemeriksaan mata dengan/ tanpa slitlamp : dengan/ tanpa slitlamp. dan tua) dewasa muda. penglihatan ganda. 59 . Terlihat adanya sama dengan pelayanan benjolan/ulkus di kesehatan sekunder atau palpebrapun primer. dewasa muda. Bila dengan koreksi kelainan refraksi. tidak dengan alat Hertel. penglihatan gejala. tetap ekstropia. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan. penglihatan ganda. lama gejala. lakukan operasi. rasa nyeri. dapat dilakukan reses –resek pada mata yang tidakk dominan atau yang visusnya lebih buruk Bila tipe convergence insufficiency dapat dilakukan resek rektus medieus.

Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat permukaan berbenjolbenjol pada usia tua. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan suatu proses inflamasi. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. phlebolith. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. menunjukkan lebar fisura yang melebar.  Pemeriksaan orbita : Pengukuran adanya proptosis dengan menggunakan alat Hertel atau penggaris di kantus lateral ke ujung kornea. atau pembesaran rongga - 2012 Arah terdorongnya bola mata : bola mata ke nasal bawah: Massa temporal atas (kelenjar lakrimal) usia muda.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Foto orbita baku – pada tumor primer orbita jinak diharapkan gambaran perselubungan.kar sinoma sel skuamosa. Kuadran lokasi - - - 60 . adenokarsinom a kelenjar Meibom. dapat mukokel atau keganasan dari epitel sinus (karsinoma sel skuamosa) bola mata terdorong aksial : massa berada di konus – umumnya tumor dari saraf optik terutama pada penderita berusia muda. atau melanoma maligna). adenokarsinoma kelenjar Meibom. meningioma.karsino ma sel skuamosa. antara lain glioma. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). menunjukkan lebar fisura yang melebar. pertumbuhan lambat :benign mixed tumor usia muda/tua. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. dan dapat hemangioma kavernosa bola mata terdorong ke superior : massa berasal dari inferior kebanyakan tumor ganas berasal dari sinus maksila atau jaringan penunjang. dengan lama gejala yang khronis-diagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan menyembuh dengan pengobatan antibiotika. dengan lama gejala lebih dari 1 tahun.pertumb uhan cepat : adenoid kistik karsinoma atau keganasan lain bola mata ke inferior: massa berada di superior – umumnya neurilemmoma atau kista dermoid bola mata terdorong inferotemporal : massa berada di nasal tumor berasal sinus frontal. dengan lama gejala yang khronisdiagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. tidak menyembuh dengan pengobatan antibiotika. gejala dirasakan lebih dari 1 tahun. atau melanoma maligna).

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat suatu proses inflamasi. Jika teraba lunak dapat diduga tumor bersifat jinak. 2012 massa berada berlawanan dengan arah terdorongnya bola mata tumor sesuai dengan jaringan/organ yang berada di kuadran tersebut Gangguan gerak bola partial. tempat hambatan menunjukkan lokasi tumor (kuadran lokasi) Pemeriksaan pulsasi : bila posifit tumor dapat berupa neurofibroma atau jika diketahui didahului trauma/hipertensi pada orang tua dapat diferensiasi dengan arteri-vena fistula.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakonjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi/insisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. dinilai kekenyalannya. CT-scan : pemeriksaan ini cukup untuk mendiagnosis tumor orbita serta membantu untuk 61 . pada tumor primer orbita ganas dan metastasis/invasi diharapkan gambaran destruksi tulang. tetapi jika keras kenyal dapat dicurigai tumor bersifat ganas. Pemeriksaan USG sukar untuk mendiferensiasika n jenis tumor.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Ultrasonografi : pemeriksaan tidak invasif. penilaian lebih dititik beratkan pada ada tidaknya tumor dan refleks tumor. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Jika tumor dapat diraba. orbita.

Jika tidak berhasil sebaiknya dirujuk untuk ekspolari lanjut. seperti prednisone dosis tinggi 12-16 tablet (2mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Pemeriksaan dilanjutkan  Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan ini sangat membantu dalam membedakan sifat ganas tumor. Pemeriksaan MRI dan arteriografi pada kasus khusus yang mencurigai fistula atau ingin mengetahui tumor berasal dari saraf optik. berukuran kecil dan diduga jinak.  Pada tumor epitel adneksa. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Akan tetapi pemeriksaan penanda ganas tidak ada yang spesifik untuk tumor orbita. Untuk membedakan sifat tumor.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. kemudian diturunkan secara bertahap. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi 62 .Pada tumor epitel yang  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral.  Pemeriksaan fisik : untuk mencari adanya keganasan atau metastasis.  Pada tumor epitel adneksa. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penentuan penatalaksanaan selanjutnya. - PENATALAKSANAAN  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. jinak atau ganas dengan menilai batas tumor.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakomjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. tetapi dengan penanda ganas asam sialat menunjukkan nilai kadar yang berbeda bermakna. kemudian diturunkan secara bertahap. berukuran kecil dan diduga jinak. Jika tidak berhasil sebaiknya penderita dirujuk.

Pemeriksaan patologi jaringan tumor 63 . sebaiknya dirujuk. ataupun sitostatika. baik jinak. sebaiknya dirujuk. eksisi dengan rekonstruksi. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk.Pemerik saan dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor.  Pada tumor epitel adneksa.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. berukuran kecil dan diduga jinak. Jika diagnosis meragukan.  Jika meragukan melakukan tindakan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. kemudian diturunkan secara bertahap. Pada tumor konjungtiva. 2012 insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. baik jinak. kecuali bila lokasi di daerah kelenjar lakrimal. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.Jika diagnosis meragukan. Pada tumor yang lebih luas. terutama pada tumor orbita. Pada tumor yang lanjut dan telah berinvasi ke orbita dilakukan tindakan pembedahan radikal eksenterasi orbita.  Penatalaksanaan selanjutnya dapat dirujuk untuk tindakan pembedahan. terutama pada tumor orbita. radiasi. Jika memungkinkan dapat dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.  Jika meragukan melakukan tindakan. Jika tidak berhasil dapat diberikan sitostatika single agent seperti chlorambucil dengan pengawasan ahli hematologi. dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. Pengobatan tambahan radiasi atau sitostatika dapat diberikan.  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. karsinoma sel skuamosa stadium 1 setelah ektirpasi tumor dapat dilanjutkan dengan pemberian sitostatika local seperti tetes mata mitomycin.

pelebaran  Fundus Fluorocence Angiography (FFA). perdarahan retina. Pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan oftalmoskop indirek. USG. kedudukan bola mata. 9 DIABETIK RETINOPATI EVALUASI  Anamnesia semua penderita diabetes mengenai keluhan penglihatan. tingkat kekeruhan lensa. eksudat. untuk melihat kekeruhan vitreus karena perdarahan atau adanya jaringan fibro-vaskular. apakah ada perdarahan. neovaskularisasi iris. Pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan slit lamp untuk melihat apakah ada epiteliopati kornea. ganas. ataupun metastasis/invasi sebaiknya dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. Pemberian terapi tambahan radiasi dan sitostatika dapat diberikan sesuai kebutuhan dan sesuai dengan patogenesa jenis tumor. RAPD.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 harus dilakukan. tekanan bola mata. bila terdapat kekeruhan media dan fundus tidak tembus. Penatalaksanaan sebelumnya dengan melakukan pemeriksaan penunjang. jenis pembedahan sesuai dengan lokasi dan jenis tumor. baik jinak. ERG         64 . terutama CTscan untuk mengetahui dengan tepat lokasi tumor. kekeruhan vitreus. dengan kerjasama antar disiplin. pergerakan bola mata.  Pada tumor orbita. eksudat atau kekeruhan  Pemeriksaan mata dasar yang meliputi visus.  Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan. dilakukan apabila ada indikasi. segmen anterior dan segmen posterior. flare dan sel di BMD. Pemeriksaan visus dengan Snelen chart Pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer Schiozt Pemeriksaan refleks cahaya pada pupil baik langsung maupun tak langsung Pemeriksaan funduskopi dengan menggunakan ophhalmoscope direk.

2012 PENATALAKSANAAN  Seleksi pasien.  Pasien dengan diabetic retinopati stadium non proliferative (NPDR) ringan dan sedang. Bila ditemukan adanya diabetes mellitus. 10 RETINA LEPAS (RETINAL DETACHMENT) EVALUASI  Anamnesia  Melakukan evaluasi  Melakukan tindakan 65 . vena. penderita dirujuk ke pelayanan kesehatan mata sekunder (SEC) untuk evaluasi lebih lanjut. Apabila diabetes diderita kurang dari 2 tahun. yaitu apabila ditemukan salah satu dibawah ini:  Pendarahan intra retina 4 kwadran  Pelebaran vena 2 kwadran  Intra retina mikrovaskular abnormalism 1 kwadran  Pasien dengan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR). pertumbuhan jaringan fibrovaskular di retina. intra-retinal microvascular anomaly (IRMA) dan neovaskularisasi.  Seperti tindakan pada PEC.  Apabila ditemukan katarak yang mempersulit evalusi segmen poeterior. adanya retinopati merupakan indikasi untuk rujukan ke tingkat yang lebih tinggi. pasien dikonsulkan ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol gula darahnya dan apabila dari anamnesis penyakit diabetes diderita sudah lebih dari 2 tahun. pasien dapat dirujuk langsung untuk evaluasi segmen posterior.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat vitreus. dirujuk ke pelayanan kesehatan mata tersier. persistent mascular edema dan ablasio retina traksi. pasien dapat dikonsul bilamana keadan keadaan memungkinkan. dapat dilakukan operasi. dilakukan terapi fotokoagulasi laser.  Seperti tindakan pada SEC.  Pasien dengan NPDR berat.  Operasi vitrektomi dilakukan apabila terdapat pendarahan vitreus.  Pasien dengan NPDR berat dengan/tanpa CSME.  Apabila dari anamnesis tidak diketahui lamanya diabetes diderita. dievaluasi setiap 3 bulan Kontrol gula darah dilakukan oleh dokter penyakit dalam. dengan penjelasan akan prognosis penglihatan dan kemungkinan retinopati bertambah berat setelah operasi. ada diabetes mellitus atau tidak. yaitu dengan adanya pendarahan vitreus dan pertumbuhan jaringan fibrovaskular di vitreus.  Apabila funduskopi tersedia dan gambaran fundus dapat dinilai.

kondisi mata sebelahnya dan mobilitas penderita. 2012 seperti di SEC dan memutuskan jenis retina lepas. dan faktor resiko seperti disebutkan diatas. Super Field Volk. ditambah dengan pemeriksaan fundus untuk evaluasi retina. operasi dilakukan secepatnya. Super Pupil Volk atau Goldmann 3mirror.  Melakukan tindakan sesuai dengan jenis retina lepas. penderita harus diistirahatkan apabila mengancam macula. Penderita dirujuk TEC untuk penanganan lebih lanjut dengan penjelasan akan faktor dan keberhasilan. fibrosis vitreus dengan perlekatan retina dan tanda lain seperti disebutkan sebelumnya. Pada rhegmatogen akut dan traksional yang tidak mengancam macula. Tipe exudative memerlukan pengobatan sesuai dengan penyakit yang mendasari. Pemeriksaan fundus sebaiknya dilakukan dengan funduskopi tidak langsung atau dengan condensed wide angle lens (Mainster Ocular. dan jenis viteus tamponade ditentukan oleh keadaan yang ditemukan pre-operative dan durante operasi. Kecurigaan akan retinal detachment memerlukan uji konfrontasi. Seluruh retina lepas harus dianggap sebagai rhegmatogen. Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan sebagai penunjang. elektrofisiologi atau ultrasonografi dilakukan bila diperlukan untuk menunjang diagnosis. Pemeriksaan. PENATALAKSANAAN  Rujuk ke PPK 2  Apabila tidak ada kecurigaan tetapi ada keluhan. kampimetri.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat mengenai lama kejadian. Semua jenis rhegmatogen yang tidak mengancam macula atau jenis traksional yang melibatkan macula harus dirujuk seceoatnya. seperti pelayanan di PEC. umumnya dalam beberapa hari. 66 . sedangkan yang kronik dapat dioperasi dalam waktu 1 minggu. Keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari akan memperbaiki retina yang lepas. hingga tindakan dilakukan. Pemeriksaan dengan funduskopi langsung – apabila tersedia – memberi gambaran retina lepas atau perdarahan retina. Pemeriksaan di SEC sudah dapat menentukan apakah penderita perlu di rujuk atau tidak ke TEC. Jenis operasi (sclera buckling atau vitektomi) tergantung kondisi yang dirtemukan.

SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 . bila perlu diulang tiap 1 jam 67 B Delirium .Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan . A DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 SpKJ (-) .Aripiprazol 515mg/hari (po) Gejala depresi : (pilihan) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI) No.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .252mg/hari (po) .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Haloperidol 0.Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Donepezil .Skrining .Fluoksetin 10mg/hari (po) Anti demensia : .Psikoedukasi keluarga .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK 3 .Haloperidol (im) 25mg.Terapi stimulasi/aktivitas .Terapi perilaku .Skrining .Skrining .Skrining .Diagnosis Terapi sesuai penyebab Kondisi agitasi/psikotik : Antipsikotik inj .Diagnosis Penatalaksanaan Kondisi agresif : Pilihan antipsikotik .Sertralin 25mg/hari (po) .Skrining .Risperidon 0.Skrining . 1.Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .252mg/hari (po) .Terapi pemeliharaan PPK 3 GANGGUAN MENTAL ORGANIK Demensia .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK III .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 SpKJ (+) .Diagnosis .Diagnosis .Rivastigmin Non farmakologik .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .

Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK II dg .Olanzapin 510mg/hari .Skrining . jika tidak n rujuk ke ada respon naikkan PPK 3 dosis menjadi 1.Quetiapin 25150mg/hari Terapi tambahan .51mg/hari . A B Gangguan Mental dan Perilaku akibat .Lorazepam 0.Skrining .Diagnosis Penatalaksanaan 68 2.Diagnosis .8mg evaluasi memungkinka tiap 15’.6mg sampai 3.Psikoterapi suportif .Reorientasi lingkungan .Skrining .Diagnosis .Lorazepam (im.Risperidon 0.Penanganan kondisi akut .52mg/hari Non farmakologik .Skrining .Edukasi keluarga GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Gangguan .2mg Bila ada respon teruskan pemberian 0. iv) 1-2mg Antipsikotik oral (pilihan) .51mg/hari .Haloperidol 2x0.Jika tidak dg 0.Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 atau Olanzapin (im) 5mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .4mg/jam (iv) Evaluasi tanda vital Atasi penyulit Intoksikasi berat rawat ICU .Penanganan akibat PPK 2/PPK 3 PPK 2 dg kondisi akut Penatalaksanaan : Penyalahgun SpKJ/PPK 3 jika Antidotum Naloxon aan Opioid memungkinka HCl (intoksikasi) n Naloxone (iv) mulai .Skrining .Kondisi akut : .Kondisi akut : .Diagnosis Perilaku rujuk ke rujuk ke .Skrining Mental dan .

Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Klorpromazin 1mg/kgBB Antihipertensi : Jika TD > 140/100mmHg Gejala ansietas : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Penyalahgun aan Opioid (putus zat) .Kodein Subtitusi non opioid : .Klonidin Pemberian sedatifhipnotik dan antipsikotik diberikan sesuai indikasi Non farmakologik .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis .Skrining .Diagnosis .Haloperidol 25mg/kali .Skrining .Metadon .Diazepam 3x5mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Bufrenorfin + Nalokson .Psikoterapi suportif .Klordiazepoksid 3x25mg Bila kejang : Diazepam 10-30mg 69 C Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (intoksikasi) .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Terapi subtitusi di PPK 1 yg telah mampu laksana SpKJ/PPK 3 .Edukasi keluarga .Skrining .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana Simtomatik sesuai gejala Subtitusi opioid : .Skrining .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana jika memungkinka n .Rehabilitasi .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .

Skrining .Skrining .Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .5mg .55mg .Fluoksetin 1020mg .Diagnosis Penatalaksanaan Observasi di IGD Rawat inap jika disertai tanda2 psikotik.Psikoterapi suportif . depresi berat atau ide bunuh diri Antipsikotik : .Skrining .Diazepam 3x510mg .25-0.Jika tidak memungkinka n rujuk ke .Alprazolam 2x0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 (parenteral) Cardiac monitoring Propanolol 2080mg/hari .Diagnosis .Klobazam 2x10mg Gejala depresi : .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Edukasi keluarga .Diagnosis .Skrining .Skrining .Risperidon 2x1.Amitriptilin 2550mg Non farmakologik .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal 70 D Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (putus zat) .Skrining .Rehabilitasi .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .53mg Gejala ansietas : .Haloperidol 3x1.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 E Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Dekstrometo rfan (intoksikasi) .Setralin 25-50mg .Skrining .

Restrain Pilihan antipsikotik /lanjutan setelah /lanjutan setelah injeksi : penanganan dan penanganan dan Pilihan .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Restrain (fiksasi) .Skrining .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .SpKJ selama 3 .Hospitalisasi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PPK 3 Antipsikotik : .Haloperidol 5mg bulan untuk bulan untuk 25-50mg (im) (im) 71 2.Skrining .Diagnosis .Seklusi (isolasi) dg SpKJ/PPK 3 dg SpKJ/PPK 3 .Kondisi .SpKJ selama 3 dr.Rujuk ke PPK 2 .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Skrining .Diagnosis .Haloperidol 25mg/kali .Skrining .Hospitalisasi .Seklusi pemeliharaan pemeliharaan .Antidepresan .Golongan Benzodiazepin . A .Terapi . GANGGUAN SKIZOTIPAL.Skrining Gangguan .Diagnosis .Haloperidol 25mg/kali .Klorpromazin 25atas petunjuk atas petunjuk antipsikotik inj : 50mg (im) dr.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Alkohol (intoksikasi) .6.Terapi .Rujuk ke PPK 2 farmakologik . .Antidepresan .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : . GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Skizofrenia.Kondisi .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n . emergensi : emergensi : Gangguan Klorpromazin Klorpromazin Penatalaksanaa Penatalaksanaan Waham 25-50mg (im) 25-50mg (im) n bila tidak ada bila tidak ada Fase akut hipotensi hipotensi Fase akut atau Lorazepam atau Lorazepam Non farmakologik (im) 1-2mg (im) 1-2mg Non .Golongan Benzodiazepin SKIZOFRENIA.Diagnosis Skizotipal.Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 3.Skrining .Klorpromazin .

Olanzapin 10mg (im) .Psikoterapi suportif .Aripiprazol 9.Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Klozapin 150600mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Haloperidol 520mg/hari .Quetiapin 300800mg/hari .Intervensi perilaku .Flufenazin 520mg/hari .Trifluoperazin 15-50mg/hari .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas 72 .Intervensi .Perfenazin 16-24mg/hari .Aripiprazol 9.Perfenazin 1624mg/hari .Paliperidon 39mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Psikoedukasi keluarga .Olanzapin 1030mg/hari .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Klozapin 150600mg/hari .Haloperidol 5-20mg/hari .Haloperidol 5mg (im) .Quetiapin 300800mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Aripiprazol 1030mg/hari .Olanzapin 1030mg/hari .Paliperidon 39mg/hari .Trifluoperazin 1550mg/hari .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Olanzapin 10mg (im) .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Risperidon 28mg/hari .Aripiprazol 10-30mg/hari .75mg (im) .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .75mg (im) .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .

Hentikan obat 73 .Psikoterapi suportif .Risperidon oral solution .Haloperidol dekanoat inj . parkinsonism) : .Difenhidramin inj 1-2cc (im) . parkinsonism) : .Flufenazin dekanoat inj .Flufenazin dekanoat inj .Risperidon long acting inj Penatalaksanaa n efek samping neurologis (akatisia.Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain . distonia.Propanolol 1030mg/hari .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas Fase stabilisasi: Non farmakologik .Turunkan/hentika n obat .Psikoterapi suportif .Terapi okupasi/vokasiona l .Psikoedukasi keluarga .Risperidon oral solution .Intervensi psikososial .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Lorazepam 16mg/hari Sindroma Neuroleptik Malignansi (SNM) : .Pelatihan ketrampilan social .Intervensi perilaku .Turunkan/he ntikan obat Fase stabilisasi: Non farmakologik .Triheksifenidil 112mg/hari .Psikoedukasi keluarga .Intervensi perilaku .Terapi okupasi/voka sional .Haloperidol dekanoat inj .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 perilaku .Pelatihan ketrampilan social . distonia.Risperidon long acting inj Penatalaksanaan efek samping neurologis (akatisia.Intervensi psikososial .

Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Diagnosis .Diagnosis Penatalaksanaa n Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Propanolol 10-30mg/hr .Skrining . selama 8 hari .Benzodiazepin 12mg (im) B Gangguan Skizoafektif . maksimal 30mg/hari .Divalproat 23x250mg .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Skrining .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Difenhidrami n inj 1-2cc (im) .Skrining .Skrining .Perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tandatanda vital .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomni a: .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.5mg.Dantrolen 1mg/kgBB/hari.Diagnosis Penatalaksanaan Sama dengan di atas Mood stabilizer : . diberikan 2-3kali/hari.Lorazepam 16mg/hr .Terapi suportif .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Skrining .Fungsi diri baik Indikasi rawat inap : 74 4.Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Divalproat 23x250mg .Klozapin 300750mg/hari . A GANGGUAN SUASANA PERASAAN Episode .Diagnosis Indikasi rawat jalan : .Lorazepam 3x1-2mg .Gejala depresi ringan .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Rujuk ke PPK 3 .Triheksifenidil 1-12mg/hr .Rawat di ICU .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Lorazepam 3x12mg Pasien refrakter : .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomnia : .Bromokriptin 2.Terapi kejang listrik (ECT) 3x/minggu .Skrining depresif .

Agomelatin 2550mg/hari Fase Lanjutan : Terapi dilanjutkan hingga 6-12 bln Dosis diturunkan perlahan 4-12 mg Non farmakologik : .Psikoterapi suportif .Restrain (fiksasi) Farmakologik : Pilihan Antidepresan Fase Akut : .Duloksetin 4060mg/hari .Maproptilin 25100mg/hari .Risiko/usaha bunuh diri .Escitalopram 1020mg/hari .Gejala depresi berat .Amitriptilin 2575mg/hari .Fungsi diri buruk .Venlafaksin 75150mg/hari .Sertralin 2550/hari .Fluoksetin 1040mg/hari .Hospitalisasi .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Seklusi (isolasi) .Terapi interpersonal .Imipramin 2575mg/hari .Terapi keluarga 75 .Terapi perilaku kognitif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Dukungan keluarga buruk Tindakan .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 B Episode manik .Psikoedukasi keluarga . maksimal 3 hari .Diagnosis .75mg/hr (im).Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Aripiprazol 1030mg/hari .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Hospitalisasi .Haloperidol 12x5mg (im) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Okskarbamazepin .Skrining .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Karbamazepin .Seklusi (isolasi) .Quetiapin 300800mg/hari .Diazepam 12x10mg (im) Antipsikotik oral : Pilihan Lini 1 : .Aripiprazol 13x9.Asam valproat .Risperidon 28mg/hari .Skrining .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Natrium divalproat .Lithium .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Restrain (fiksasi) Agitasi akut Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Olanzapin 1030mg/hari .Klozapin 150600mg/hari Pilihan Lini 2 : 76 .

Lithium .Diagnosis .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Haloperidol 12x5mg (im) .Divalproat .75mg/hr (im).Quetiapin .Olanzapin .Klorpromazin 100300mg/hari Non farmakologik : .Terapi interpersonal .Haloperidol 520mg/hari .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diazepam 12x10mg (im) Episode Mania Akut Pilihan Lini 1 : .Hospitalisasi .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Restrain (fiksasi) Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 . maksimal 3 hari .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Aripiprazol 13x9.Lithium / Divalproat + 77 C Gangguan afektif bipolar .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Terapi keluarga .Risperidon .Terapi perilaku kognitif .Aripiprazol .Seklusi (isolasi) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Olanzapin 12x10mg/hr (im).

Lithium / Divalproat + SSRI .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Risperidon .Lithium / Divalproat + Olanzapin .Klozapin Tidak direkomendasikan : .Lithium / Divalproat + Lamotrigin 78 .Lithium .Lithium / Divalproat + Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Risperidon + Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Haloperidol .Lithium + Divalproat .Klorpromazin .Olanzapin + SSRI .Divalproat .Gabapentin .Lamotrigin .Paliperidon Pilihan Lini 3 : .Topiramat .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Haloperidol .Lamotrigin .Olanzapin + Karbamazepin Episode Depresi Akut Pilihan Lini 1 : .Quetiapin .Terapi Kejang listrik (ECT) .Lithium +Divalproat Pilihan Lini 2 : .Quetiapin + SSRI .

Risperidon depo .Lamotrigin .Lithium / Divalproat + Olanzapin 79 .Psikoterapi suportif .Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Terapi kejang listrik .Terapi okupasi .Intervensi psikososial Gangguan Bipolar I Pilihan Lini 1 : .Lithium + Karbamazepin .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Pilihan Lini 3 : .Lithium .Divalproat .Psikoedukasi keluarga .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Intervensi perilaku .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Venlafaksin .Lithium / Divalproat / Karbamazepin + SSRI + Lamotrigin Fase Stabilisasi : Non farmakologik .Lithium + Karbamazepin .Olanzapin .Lithium + MAOI .Lithium + Divalproat .Quetiapin .Olanzapin .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + TCA .

Lithium + Divalproat + antidepresan .Fenitoin .Diagnosis .Lithium + Lamotrigin .Asam lemak omega 3 .Lamotrigin .Quetiapin Pilihan Lini 2 : .Topiramat .Olanzapin .Gangguan penanganan penanganan .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Intervensi psikososial 5.Skrining .Diagnosis .Skrining .Antipsikotik atipikal + antidepresan Pilihan Lini 3 : .Terapi okupasi . GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES Gangguan .Lithium .Penanganan .Terapi kejang listrik .Antidepresan monoterapi Non farmakologik .Kondisi akut : .Intervensi perilaku .Okskarbazepin Gangguan Bipolar II Episode Depresi Akut : Pilihan Lini 1 : .Lithium + Risperidon .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining . A GANGGUAN NEUROTIK.Kondisi akut : .Divalproat .Penanganan 80 .Olanzapin + Fluoksetin Pilihan Lini 3 : Penambahan .Skrining Panik .Lithium + Divalproat .

Kondisi akut : penanganan emergensi .Alprazolam 3x0.Terapi lanjutan .Rujuk ke PPK 2 .Rujuk ke PPK 2 agorafobia .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kondisi akut panik emergensi tanpa .Lorazepam 2x 0.Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .52 mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Terapi perilaku kognitif .Rujuk ke PPK 2 .Psikoedukasi .Penanganan kondisi akut Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Non farmakologik .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Gangguan tenang/kronis panik terapi lanjutan dengan setelah agorafobia penanganan dan .52mg/hari .Skrining .Skrining .Buspiron 81 .Terapi lanjutan Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Manajemen ansietas B Gangguan Ansietas Menyeluruh .Diagnosis .Kondisi akut : penanganan emergensi .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Pilihan lain : .52 mg/hari .Alprazolam 3x0.Kondisi .Diagnosis .Agorafobia atas petunjuk tanpa SpKJ riwayat gangguan panik emergensi .52mg/hari .Penanganan kondisi akut .Lorazepam 2x 0.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ kondisi akut .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .

Skrining .Psikoedukasi Farmakologik (pilihan) : .Diagnosis .Sertralin 12.Terapi suportif individu .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi akut : penanganan emergensi .Terapi perilaku kognitif Farmakologik Sesuai dengan gejala klinis yang menonjol Gejala cemas : .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Latihan relaksasi .550mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Skrining .Terapi perilaku kognitif .Fluoksetin 2060mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Terapi perilaku kognitif .Venlafaxine C Gangguan Obsesif Kompulsif .Psikoedukasi .Fluvoksamin 25100mg/hari 82 D Gangguan Stres Pasca Trauma .Rujuk ke PPK 2 .Lorazepam 12x0.Skrining .Terapi lanjutan Non farmakologik .Fluvoksamin 100200 mg/hari Non farmakologik .Manajemen ansietas Non farmakologik .Sertralin 50150mg/hari .Skrining .Psikoterapi berorientasi tilikan .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Terapi lanjutan .Kondisi akut : penanganan emergensi .Kondisi akut : penanganan emergensi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Penanganan kondisi akut .5-1mg Gejala depresi : .Klobazam 2x510mg .Diagnosis .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Klomipramin 25100mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Skrining .Kondisi akut : penanganan emergensi .Psikoedukasi .Penanganan kondisi akut .Fluoksetin 540mg/hari .

510mg .Maproptilin HCl .Skrining .Pendidikan tingkah laku intensif 83 .Penanganan kondisi akut .Alprazolam .Risperidon 2x12mg .Klomipramin .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi lanjutan 8.Psikoterapi suportif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Imipramin .Penanganan kondisi akut .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . .Amitriptilin 2x1025mg .Penanganan kondisi akut .Skrining .Terapi lanjutan 7.Terapi perilaku .Klobazam Antidepresan .Skrining .Imipramin 1-2x1025mg Gejala psikotik : .Haloperidol 2x15mg .Diagnosis .Kondisi Non farmakologik .Diazepam .Sertraline Psikoterapi 6.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Fluoksetin . SINDROM PERILAKU YANG BERHUBUNG AN DENGAN GANGGUAN FISIOLOGIK DAN FAKTOR FISIK .Skrining .Amitriptilin .Olanzapin 1-2x2.Diagnosis .Skrining .Kondisi . GANGGUAN KEPRIBADIA N DAN PERILAKU MASA DEWASA RETARDASI MENTAL .Skrining .Diagnosis .Terapi lanjutan .Terapi kognitif perilaku Farmakologik Anticemas .Diagnosis .Skrining .Lorazepam .Quetiapin 50100mg Non farmakologik .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Diagnosis .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .

Terapi wicara 10.Anti cemas .Anjuran ke Sekolah berkebutuhan khusus .Terapi perilaku keluarga . A GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK Gangguan .Pelatihan kemandirian .Konseling orang perhatian dan 2/PPK 3 2/PPK 3 tua hiperaktivitas Non .Psikoedukasi farmakologik keluarga .Anti psikotik : Risperidon 0.Terapi okupasi .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 2/PPK 3 .Skrining .Intervensi Farmakologik 84 .1-0.Psikoedukasi keluarga Non farmakologik .Psikoedukasi .Konseling orang tua .10.Anti depresan .Skrining .Anti psikotik 9.Skrining . A Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Skrining .Anti depresan .Diagnosis .Intervensi keluarga psikososial .Skrining autistik .Pelatihan ketrampilan Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .2 mg/kg/hari (1 kali pemberian po) GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA Gangguan .Rujuk ke PPK .Konseling .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Intervensi orang tua keluarga .Intervensi .Psikoedukasi keluarga .Terapi perilaku .Rujuk ke PPK .Skrining Non farmakologik pemusatan .2 mg/kg/hari (2 kali pemberian po) Aripiprazole 0.Konseling orang tua .

Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Hospitalisasi .3-1mg/kg BB dalam dosis terbagi .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti depresan (SSRI) Fluoksetin 1x5 mg/hari Non farmakologik .Anti depresan (SSRI) Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Skrining .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Metilfenidat Dosis 0.Psikoterapi suportif E Gangguan akibat persaingan antar saudara .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Anti insomnia (Difenhidramin) Non farmakologik .Skrining .Parenting’s skills training C Gangguan depresi .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua .Terapi keluarga Farmakologik .Konseling orang tua .Skrining .Hospitalisasi Farmakologik .Konseling orang tua .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 psikososial B Gangguan tempertantr um .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Konseling perkawinan 85 D Gangguan cemas .Skrining .Anti depresan (SSRI) .Skrining .Terapi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .

Konseling orang tua .s skills training Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Skrining .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua Farmakologik .Parenting.Toilet training .Diagnosis Non farmakologik .Konseling perkawinan .Anti depresan (Imipramin) Non farmakologik .Membatasi minum di malam hari .Skrining .Membatasi minum di malam hari .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga 86 H Gangguan enkoperesis .Toilet training .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Skrining .Skrining .Toilet training .Terapi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Konseling orang tua .Skrining .Parenting’s skills training Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 . Anak Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 I Gangguan makan .Diagnosis Non farmakologik .Psikoterapi suportif G Gangguan enuresis .Terapi perilaku Non farmakologik .Toilet training .Skrining .Psikoedukasi keluarga F Gangguan kelekatan reaktif .Skrining .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua Konsultasi ke Bagian IK.Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 J Gangguan gagap .Skrining .

Skrining .Psikoedukasi keluarga 87 .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti cemas Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Terapi wicara Farmakologik (jika perlu) .Diagnosis Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga K Gangguan tidur .Konseling orang tua .

Kelainan kelenjar ludah (Xerostomia) - Penatalaksanaan infeksi Fulnus Fasial Fraktur Mandibula Fraktur maksila Kista rongga mulut Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis. Sialorrhoea. Abses Dentoalveolar 2 Bedah Dento alveolar 3 4 Infeksi Daerah Diagnosis Oromaksilofas Rujuk ke PPK 2 ial Trauma . Sjorgen Sindroma .Luka abrasi fasial . Sialorrhoea.Fraktur Maksila kompleks .Cedera dentoalveolar .Fraktur Mandibula .Kista rongga mulut . Sjorgen Sindroma .Kelainan syaraf kranialis . media.Kontusio jaringan Orofasial lunak fasial . Sealodenitis Bakterial Akut.kelainan pertumbuhan (supernumerary) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT No 1 TINDAKAN Eksodontia PPK 1 PPK 2 PPK 3 Pencabutan gigi dengan : Pencabutan gigi dengan .Kelainan congenital . Sarkoidosis) . Kista Radikuler b.penyebab fokal infeksi .karies besar yang tidak dapat dirawat secara konservasi Alvelektomi Apikoektomi a.Neoplasma . parotitis epidemica.Karies dini.infeksi : -abses jaringan lunak . Kista Periodontal c. . Makulicz Sindroma. parotitis epidemica.arrested caries 88 .Kelainan dan jaringan keras pertumbuhan -untuk keperluan (Impaksi dan perawatan malposisi) orthodontia dan prostodontia .Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.Bedah Orthognati . Sealodenitis Bakterial Akut. Makulicz Sindroma.Kelainan sendi temporomandibular . Sarkoidosis) 5 Konservasi .

plate pada celah intermediet.Ulkus Dekubitalis . lengkap langit pada bayi imediet.Amelogenesis dan dentinogenesis imperfect 7 Pedodontia 8 Periodontia 9 Penyakit Gigi dan Mulut Gingivitis Hiperplasik gingiva Resesi Gusi Periodontitis .Atrisi. telinga.Kelainan jaringan Nekrosis pulpa periodontal .Abses akut/kronis dento alveolar . lengkap akrilik) celah langit dewasa . muka.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 - profunda .Obturator untuk imediet.Abses periapikal Dentin hipersensitif akut/kronis Pulpitis reversible .Overdenture . periodontal . lepasan . mata.Denture Sore mouth (Chronic Athropic Candidiasis) .Ulkus Traumatikus .Gigi tiruan Intermediat.Chemical Burn .Implan dental Oral hygiene buruk Caries Ginggivitis Persistensi gigi sulung Akar gigi tertinggal Hiperemi pulpa Pulpitis akut/kronis Persistensi gigi sulung . abrasi dan Perubahan warna erosi eksternal/internal .Karies mencapai pulpa non vital .Protesa hidung.Lingua Geografika / Benign Migratory Glossitis .Kista radikuler 6 Prostodontia .Stomatitis Aptosa .Herpes Labialis Resesi Gusi Periodontitis Liken Planus Leukoplakia Karsinoma Sel Skuamosa 89 .Pembuatan feeding .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 90 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful