Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN PENYAKIT BERDASARKAN KEWENANGAN TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

I. PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menetapkan Pembangunan Kesehatan dalam Program Pembangunan Nasional. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan tingkat dasar sampai dengan rujukan yang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Meskipun pendekatan pelayanan kesehatan sama tetapi fokus penekanan pelayanan berbeda sesuai dengan kemampuan yang ada pada tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Agar kesinambungan pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terwujud, diperlukan sistem rujukan yang berjenjang dan terstruktur, dimana ada kejelasan peran dan fungsinya sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan medis di pemberi pelayanan kesehatan harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan agar tercapai pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Demi Tercapainya penyelenggaraan pelayanan medis yang memenuhi standar tersebut perlu pedoman pengelolaan berdasarkan kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama FK UNPAD, RSUP Hasan Sadikin Bandung dan Organisasi Profesi telah menyusun Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan Tingkat Pelayanan Kesehatan. Buku ini menginformasikan bagaimana pengelolaan penyakit mulai dari pelayanan dasar sampai pelayanan rujukan, perlu tidaknya kasus tersebut dirujuk berdasarkan kewenangan tingkat pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di pemberi pelayanan kesehatan.

1

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

II.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. 3. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

III. TUJUAN
Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang optimal berdasarkan kewenangan dan kompetensi di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Khusus : - Tersusunnya pedoman pengelolaan penyakit berdasarkan kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan - Dasar pengkajian untuk rencana pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

IV. PENYAKIT DAN PENGELOLAANNYA
Pengelompokan penyakit dan bagaimana pengelolaannya berdasarkan kewenangan di setiap tingkat pelayanan kesehatan terdiri dari : - Penyakit Anak - Penyakit Dalam - Penyakit Kebidanan dan Kandungan - Penyakit Bedah - Penyakit THT-KL - Penyakit Neurologi (Syaraf) - Penyakit Kulit Kelamin - Penyakit Mata - Penyakit Jiwa (Psikiatri) - Penyakit Gigi dan Mulut

2

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT ANAK
No 1 DIAGNOSIS TB Paru PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik PPK 2 Penilaian klinis diagnostik PPD, rontgen thorax) PPK 3

2

Bronko Pneumonia

Penilaian klinis, diagnostik dan terapi (BP ringan) sesuai MTBS

3

Diare

Diagnosis : Diare akut dengan /tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang  Tatalaksana sesuai protocol

 Dehidrasi berat bisa ditangani di Puskesmas DTP 4 Penyakit jantung bawaan (PJB)

dan Diagnostik dan (Tes penanganan TB paru disertai komplikasi (empyema, atelektasis, destroyed lung, hemoptysis, TB milier, Multi Drug Resistance TB (MDR-TB) Rujuk balik untuk th/ OAT  rujuk balik untuk terapi OAT) Penilaian klinis, diagnostik Penegakan diagnostik dan dgn pemeriksaan penunjang terapi BP berat dengan (lab dan rontgen) ancaman gagal nafas sehingga membutuhkan ventilator, empysema dan sepsis. Penatalaksanaan  rujuk balik Bronkhopneumoni Penatalaksanaan diare Diagnosis etiologi dan ringan- sedang yang tidak talaksana diare persisten / dapat direhidrasi per oral, kronis, diare dengan diare berat, diare akut penyakit penyerta seperti dengan dehidrasi berat, HIV, diare yang diare disertai komplikasi membutuhkan seperti sepsis, gangguan pemeriksaan penunjang elektrolit, (membutuhkan kultur feses, dan kultur feses) endoskopi  rujuk balik dan penyuluhan

Deteksi dini PJB, Diagnosis PJB melalui tatalaksana penyakit pemeriksaan penunjang penyerta pada PJB. (EKG, rontgen thorax), penatalaksanaan penyakit penyerta PJB

Diagnosis dan tatalaksana PJB dengan pemeriksaan echocardiography dan kateterisasi jantung Tatalaksana PJB Operatif  TIDAK RUJUK BALIK  Bila tidak dilakukan operatif rujuk balik

5

Cerebal Palsy (CP)

Deteksi dini tumbuh Diagnostik kelaianan kembang (DDTK) perkembangan (Denver, Cat/Clam),

Diagnostik dan skrining CP dgn comorbid (gangguan pendengaran, pengelihatan, RM, 3

terapi bicara. kelainan congenital.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 epilepsi) Tatalaksana spastisitas. fisioterapi (klinik tumbuh kembang) 6 Gizi buruk Deteksi Diagnosis dini PMT Rujuk Tatalaksana gizi buruk Penatalaksanaan komplikasi Tatalaksana dan fisioterapi. splenektomi. terapi okupasi)  Rujuk balik untuk pemantauan tumbuh kembang dan stimulasi di rumah Tatalaksana kegawatan dan tatalaksana kelainan khusus Diagnosis etiologi (HIV/AIDS. pencegahan dan penanganan komplikasi : hemosiderosis (chelating agent). gejala klinik: anemia. sindroma malabsorbsi) → Rujuk balik Bila memerlukan pemeriksaan khusus untuk etiologi (HIV/AIDS.  Rujuk balik untuk transfusi berkala Penegakkan diagnosis. penilaian IQ (URM : fisioterapi. dengan pemeriksaan penunjang (IgG . hepatosplenomegali) kontrol rutin penderita 9 DF/DHF Skrining tanda serta Penanganan DHF Grade II gejala klinik sampai dengan DSS (DHF Grade III dan IV) Pemeriksaan penunjang Ig M dan Ig G Tatalaksana DF/DHF bila memerlukan perawatan dengan pemeriksaan intensif Rujuk ke PPK 3 darah rutin (Puskesmas DTP) 4 . NS1). DHF yang memerlukan perawatan intensif  Rujuk balik paska perawatan 8 Thalassemia Deteksi dini suspek Pemeriksaan penunjang thalassemia (darah rutin) dan pemberian (skrining tanda serta transfusi. kelainan Kongenital ) → Rujuk Rujuk balik ke PKM untuk pemantauan dan PMT 7 ISPA Diagnosis dan tatalaksana ISPA Tidak perlu dirujuk  TIDAK PERLU DIRUJUK  Penegakan diagnosis melalui Hb elektroforesa. IgM.

Rujuk untuk diagnosis Rawat inap SN serangan pasti pertama (jika dibutuhkan) rujuk balik untuk melanjutkan pengobatan Jika terjadi SN resisten steroid harus dirujuk Diagnosis lengkap dan tatalaksana SN resisten steroid dengan khemoterapi : siklofosfamid  Rujuk balik untuk penanganan lanjutan. Infeksi/sepsis. perdarahan. Pengobatan dengan status epileptikus refrakter yang memerlukan PICU  Rujuk balik untuk pengobatan jangka panjang Tatalaksana status konsulsivus refrakter/rawat intensif. tatalaksana epileptikus (pemberian serangan kejang akut. Bila perlu perawatan intensif/ status epileptikus refrakter→Rujuk Deteksi kegawatan Tatalaksana (BBLR. MRI. perforasi usus) → Rujuk balik 13 Masalah neonates 14 Demam Tifoid Tidak perlu di rujuk di PPK 3 15 Morbili Penegakan diagnosis Tatalaksana komplikasi Tidak perlu di rujuk di PPK 3 5 . kontrol rutin penderita Rujuk jika terjadi status epileptikus refrakter/ memerlukan perawatan intensif ( PICU) Pusat diagnositk epilepsi melalui EEG. fenobarbital.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 10 Sindroma Nefrotik Diagnosis berdasarkan Penegakan diagnostis pasti gejala klinis dan pemeriksaan urin dipstik. kegawatdaruratan Ikterus neonatorum. pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnostik→ rujuk balik Tatalaksana kegawatdaruratan Diagnosis Etiologi Diagnosis etiologi Perawatan Bayi baru lahir level III perawatan intensif → stabil → rujuk balik 12 Kejang demam Tatalaksana kejang Kejang demam kompleks demam (sederhana) dan kejang demam status konvulsivus. CT Scan. Diagnosis etiologi asfiksia) → Rujuk Perawatan Bayi baru lahir level 2 Bila perlu perawatan intensif (Level III) → rujuk PPK 3 Skrining tanda serta gejala klinik Tatalaksana Demam Tifoid Pemeriksaan darah rutin (Puskesmas DTP) Diagnosis Tatalaksana simptopmatis Penatalaksanaan sampai dengan komplikasi ( Tifoid ensefalopati. kejang neonatus. fenitoin) (pemberian diazepam). follow up remisi atau relaps 11 Epilepsi Diagnosis berdasarkan Penanganan status gejala klinis.

MRI. EEG) 6 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 16 Meningitis Deteksi komplikasi Bila ada komplikasi → Rujuk Deteksi dan tatalaksana Penatalaksanaan kegawatan (Kejang) → kegawatan Rujuk Diagnostic etiologi (Lumbal pungsi ) dan perawatan non intensif Bila perlu perawatan intensif → Rujuk ke PPK 3 Penatalaksanaan komplikasi dan perawatan intensif Penegakan diagnosis etiologi dan komplikasi (CT scan.

TIDAK Terkendali TIDAK TERKENDALI TERKENDALI dengan 1 dengan 1 OHO OHO → pengelolaan  rujuk BERKOMPLIKASI TERKENDALI dg 2 OHO &  rujuk balik TANPA KOMPLIKASI & TERKENDALI dengan Insulin BERKOMPLIKASI & TERKENDALI dg Insulin → dikelola 1 bulan Bila tidak terkendali  rujuk ke PPK 3 DM tipe 2 Hipoglikemi 1. TERKENDALI dengan 2 OHO  rujuk balik DM Tipe 2 DM Tipe 2 Tanpa komplikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT DALAM No 1 DIAGNOSIS DM Tipe 2 PPK 1 PPK 2 PPK 3 Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO → pengelolaan Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO  rujuk Tanpa komplikasi. Tanpa komplikasi. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. NIDDM (4) TERKENDALI dengan Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 1 obat hipoglikemik oral (OHO) Tanpa komplikasi. RUJUK SEGERA Terkendali  rujuk balik ke PPK 2 HIPOGLIKEMI (3B) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 7 . TERAPI PENDAHULUAN 3.

TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK  Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali  rujuk balik Tidak terkendali dalam 2 bulan  rujuk Essential Hypertension (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 2 Hipertensi Esensial Hipertensi esensial Hipertensi Esensial Pengelolaan Hipertensi krisis  rujuk Terkendali → Pengelolaan  rujuk balik Terkendali →Pengelolaan  rujuk balik Tidak terkendali → pengelolaan dan evaluasi Terkendali → Rujuk balik  PJK Kronik Stabil Terkendali → pengelolaan RUJUK BALIK RUJUK KEMBALI SETIAP 3 BULAN Hipertensi Sekunder 1. RUJUK   8 . TEGAKKAN Kronik Stabil) DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK 3 ASHD (Peny PJK Kronik Stabil Jantung Koroner 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 DM tipe 2 KOMPLIKASI (KAD) AKUT Terkendali → pengelolaan  rujuk balik KOMPLIKASI AKUT (KAD) rujuk (TIDAK TERKENDALI DALAM 48 JAM Terkendali  rujuk balik 1. RUJUK DM tipe 2 KOMPLIKASI KRONIS 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2.

TEGAKKAN Jantung) DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Terkendali → pengelolaan dehidrasi ringan DIAGNOSA KLINIS  rujuk balik sedang / berat 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK ASHD (Gagal 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 4 TBP tidak TBP kasus baru berkomplikasi tidak berkomplikasi  rujuk Terkendali → pengelolaan  rujuk balik  rujuk setiap 3 bulan Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 TB Paru (pneumotoraks) TB paru pneumotoraks dg Terkendali → pengelolaan  rujuk balik 1. TERAPI PENDAHULUAN 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 ASHD (Sindroma Sindroma Koroner Akut) Akut (SKA) Koroner Terkendali → pengelolaan Stabil/terkendali (evaluasi tiap 3 bulan)  rujuk balik 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK jika tidak dengan / tanpa ada fasilitas DTP komplikasi 9 . TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK SEGERA TB Paru (pengobatan ulang /berkomplikasi) TB Paru (MDR/XDR) 5 1. RUJUK Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Diare dengan 1. RUJUK 1.

Tegakkan diagnosis Dirujuk bila ada komplikasi komplikasi 2. Tegakkan diagnosis Dirujuk dengan catatan bila 2. Tegakkan diagnosis komplikasi 2.2 dg Jika PPK.Rujuk 13 Gagal ginjal akut 1.Rujuk 11 Gastritis 1.Pengelolaan di PPK 1 dgn DTP 12 Demam Dengue Demam Dengue 1. Pengelolaan di PPK  rujuk balik 1 N 9 Arthritis tanpa 1. 2 tidak ada fasilitas HD fasilitas HD 10 . Rujuk Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2. Pengelolaan di PPK obat di PPK.2 Pengelolaan di PPK. Pengelolaan di PPK atau memerlukan 1 fisioterapi Arthritis dengan 1.Tegakkan diagnosis bronkiale 2.2 7 COPD / Asma 1.Rujuk Pengelolaan di PPK. rujuk balik Pengelolaan di PPK.2 dgn fasilitas HD stabil.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.Rujuk DSS 1. 1 1.Tegakkan diagnosis 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 Goiter 1. Tegakkan diagnosis Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan 8 2.2 10 SLE 1.Tegakkan diagnosis dg komplikasi 2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk GGK terminal 1.2 Fisioterapi Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.1 tdk tersedia.Rujuk Pneumonia tanpa komplikasi 1.2 dgn fasilitas ICU 14 Pengelolaan di PPK.

Rujuk 17 18 19 Leukemia Perdarahan saluran cerna HIV 1.2 ( Rujuk balik untuk Tapering off.Rujuk Pengelolaan di PPK. terapi ARV (ada tim konseling) 20 Hepatitis akut 1. Diagnosis tegak. Stabil  rujuk balik 11 .Tegakkan diagnosis 2.2. bisa dilakukan di PPK I) Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis tanpa 2.2 Stabil  rujuk balik 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.Rujuk atau sesama fasilitas sama PPK.Tegakkan diagnosis dgn komplikasi 2. Stabil  rujuk balik tdk lengkap 1.Pengelolaan di PPK komplikasi 1 dgn DTP Demam tifoid 1.2 Hepatitis kronis 21 Demam tifoid 1.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.Rujuk jika fasilitas Diagnosis tegak.Rujuk 16 Anemia berat 1.2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.2 Jika PPK.Rujuk 1.Rujuk 1.Rujuk Pengelolaan di PPK.2 utk Jika ada komplikasi.2 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 dg 15 Sindroma Nefrotik 1. 2.Tegakkan diagnosis 2.VCT 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 2.2 tidak ada dengan fasilitas endoskopi fasilitas endoskopi Pengelolaan di PPK.

1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Hipertensi Dalam Kehamilan : Hipertensi Gestasional Skrining : Test protein urine Therapi oral anti hipertensi dapat diberikan Skrining: Test Protein urine Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Tidak ada tanda-tanda preeklamsi →rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Ringan Penilaian klinis dan diagnosis : Tidak ada tanda-tanda preeklamsi berat rujuk balik ke PPK I untuk oral antihipertensi Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi kehamilan Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Berat Skrining: Test Protein urine Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang Memerlukan perawatan ICU NICU atau dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Eklamsi Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Tindakan terminasi kehamilan dan rawat bersama dengan bagian lain 2 Perdarahan Trimester 1: Abortus Imminens Skrining Sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian Klinis dan Diagnosis USG baik →kembalikan ke PPK I USG tidak baik → terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Abortus Insipiens Skrining: sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis : USG baik → Rujuk balik Tidak usah dirujuk ke PPK III 12 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN No.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 USG tidak baik → terminasi Abortus Inkomplitus Skrining : Pemeriksaan awal KU baik → rujuk ke PPK II KU tidak baik →Perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II (boleh dilakukan kuret tumpul di PONED) Abortus Komplitus Skrining: Rujuk ke PPK II untuk pemeriksaan lanjut Mola Hidatidosa Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti tirotoksikosis Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain atau dengan riwayat infertilitas yang memerlukan keahlian subspesialis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Skrining : KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → Perbaiki KU → Rujuk PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Laparatomi Operatif Trimester 2: Perdarahan Midtrimester Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan atau tindakan → setelah baik Rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain (seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya) Trimester 3: Perdarahan Antepartum Plasenta previa Skrining : KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Skrining : Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi setelah baik → rujuk balik ke PPK I Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya ) Solusio Plasenta 13 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II Post Partum: Perdarahan Post Partum Dini: Atonia Uteri Tindakan terminasi Luka jalan lahir Skrining: Resusitasi cairan. pemberian O2 → Rujuk ke PPK II sambil lakukan dekompresi manual Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Penilaian klinis dan diagnosis : Retensio plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Sisa plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Perdarahan post partum lambat: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 14 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 3 Kelainan Letak Skrining: Rujuk ke PPK II (PONED apabila letak sungsang dan pembukaan lengkap) Penilaian klinis dan diagnosis: Dalam kehamilan : Versi luar apabila berhasil menjadi letak kepala → Rujuk balik ke PPK I Persalinan : terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 4 Kehamilan Multiple Skrining: Rujuk ke PPK II untuk persalinan (pemeriksaan USG) Penilaian klinis dan diagnosis: Persalinan: terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 5 Ketuban Pecah Dini Skrining: Rujuk ke PPK II (skrening : sediakan lakmus test) Penilaian klinis dan diagnosis: konservatif atau terminasi 6 Kelainan Janin: IUGR Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Rujuk ke PPK II IUFD Skrining: Rujuk ke PPK II Prematur Skrining: Rujuk ke PPK II Perawatan konservatif atau terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Gawat Janin Skrining: Rujuk ke PPK II 7 Persalinan tidak maju/Distosia Skrining: Rujuk ke PPK II (dilakukan vakum di PONED) Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi 15 .

Perlu pemeriksaan lanjutan ECHO Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU Spesialis lain yang tidak ada di PPK II 11 Penyakit Jantung: Decompensatio Cordis FC I – II Decompensatio Cordis FC III-IV Skrining: Rujuk ke PPK II Skrining: Rujuk ke PPK II 12 Kehamilan dengan Komplikasi lain Skrining: Rujuk ke PPK II 13 Infeksi Skrining: Tanda-tanda infeksi Penilaian klinis dan diagnosis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 8 Panggul Sempit Skrining: Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Laparotomi eksploratif Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan konservatif atau terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan (dokter IPD harus ada di PPK II bila ingin di rawat) Penilaian klinis dan diagnosis 9 Bekas Seksio sesarea Skrining: Rujuk ke PPK II 10 Ruptura Uteri Skrining: Perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU. Diagnosis dan penanganan sepsis dan memerlukan tindakan diagnosis lanjut atau perawatan ICU 16 .

Diagnostik dan terapi (Haemmorrhoid Gr I dan II) Rujuk ke PPK 2 (Haemorrhoid Gr III dan IV) 3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Therapi pendahuluan Rujuk ke PPK 2 4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi Pendahuluan Rujuk ke PPK 2 Deteksi gejala klinik Therapi Simptomatis Therapi dan tindak lanjutan Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Penegakkan Diagnosis melalui Pemeriksaan Penunjang Therapi Pendahuluan Tindakan operasi Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 Hernioraphy Penanganan oleh Subspesialis Bila telah stabi → rujuk kembali ke PPK 2 PPK 2 Appendectomy PPK 3 Appendectomy laparoskopiDiver Kontrol Luka setelah stabil→ Rujuk balik 2 Hemorhoid interna Haemorroidectomy Kontrol luka Setelah stabil rujuk balik Fistulectomy Setelah stabil rujuk ke PPK 1 5 Cholelithiasis Rujuk ke PPK 2 6 Hernia inguinalis lateralis reponibilis Edukasi 17 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH No 1 DIAGNOSIS Appendicitis Acute PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik Edukasi Rujuk ke PPK 2 Jika yakin pasien akan ke RS. beri therapi pendahuluan (Antibiotik dan analgetik) Penilaian klinis.

rujuk kembali ke PPK 2 18 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Simptomatis Rujuk ke PPK 2 Deteksi dini Simptomatis Rujuk Ke PPK 2 Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Multiple Lipoma. Tanda2 keganasan Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Giant Ateroma 10 Struma Nodosa Deteksi gejala dan Pemeriksaan Fisik Edukasi Simptomatik Rujuk Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Ekstirpasi dan PA Jaringan 7 8 Fibro Adenoma Mammae (FAM) Lipoma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka 9 Ateroma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka Penanganan lebih lanjut (eksisi) Penanganan Subspesialistik Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspelialistik Jika terkontrol.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL NO 1 DIAGNOSIS Otitis Media Supuratif Kronik dengan penyulit PPK 1 skrining tanda dan gejala klinik Rujuk ke PPK 2 PPK 2 .Tindakan : bedah mikro telinga 2 Tumor Kepala Leher a. Komplikasi intrakranial 2.Rujuk balik ke PPK 2 untuk perbaikan Keadaan umum 3 Rinosinusitis dengan/tanpa polip disertai .Terapi sesuai .Foto Rontgen ( Schuller dan Stenver ) . Tumor di leher Skrining tanda dan gejala klinis .Kultur resistensi .Foto Rontgen schuller dan Stenver .Rujuk ke PPK 3 bila : 1.Pemeriksaan OtoMikroskopi .Kontrol setelah tindakan 6 bulan Pertama .Pemeriksaan THT-KL .Biopsi.Skrining tanda dan gejala klinis .Penilaian klinis PPK 3 .Operasi kasus dengan penyulit .Operasi dengan endoskopi .Skrining tanda dan gejala klinik .Operasi . Karsinoma Laring d.Skrining tanda dan gejala klinis .Nasofaringoskopi .Kultur resistensi . Komplikasi intratemporal 3.Kemoiradiasi .Nasoendoskopi . FNAB . Otorea menetap setelah terapi Maksimal . Karsinoma Nasofaring b.Penilaian Klinis .CT Scan telinga .Radiotherapi . Karsinoma Sinonasal c.Biopsi dengan endoskopi (lokal anestesi) .FNAB .Skrining tanda dan gejala klinis .Kultur resistensi 19 .Nasofaringoskopi .Menerima rujukan balik dari PPK 3 untuk perbaikan Keadaan Umum .

Terapi Wicara 20 .Foto rontgen soft tissue leher AP dan Lateral .Foto rontgen soft Tissues leher AP dan lateral .Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Emisi Otoakustik Ekstraksi benda asing dengan bronkoskopi kaku dan atau bronkoskopi lentur dalam narkose umum . Caldwelluck) .Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Brain Evoked Respon Audiometri ( BERA ) .Bila perdarahan tetap tidak dapat teratasi → Rujuk ke PPK III .Immunoterapi .Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi .Tampon hidung anterior dan posterior .Skrining tanda dan gejala klinis .Ligasi Ekstraksi benda asing dengan esofagoskopi kaku dalan narkose umum 5 Epistaksis Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi .Rontgen sinus ( waters.Foto thoraks 6 Benda Asing di esophagus 7 Benda asing di Bronkus .Tampon hidung anterior .Skrining tanda dan gejala klinis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penyulit Pedoman Tatalaksana lengkap .Pemeriksaan Auditory Steady State Respon .Kultur resistensi .Pemeriksaan tes alergi (Skin Prick Test) .CT Scan Sinus Paranasal .Tindakan bedah hidung sinus konvensional Skrining tanda dan gejala klinis .Foto Thoraks 8 Speech delayed (Terlambat bicara) Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi → mencari sumber Perdarahan .Tindakan bedah sinus endoskopi tingkat lanjut 4 Rhinitis Alergi Skrining tanda dan gejala klinis .

antikoagulan atas indikasi. operatif atas indikasi. Ro-Thorax. antiplatelet agregasi. penanganan factor resiko dan komplikasi Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi neuroprotektan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI) NO 1 DIAGNOSIS PPK 1 (RAWAT INAP) STROKE Skrining tanda serta Perdarahan gejala klinik Intra Serebral PPK 2 Diagnostik dan penanganan stroke PIS PPK 3 Diagnostik dan penanganan stroke PIS disertai komplikasi inrakranial (TTIK) dan ekstrakanial (emboli paru.asam urat) Terapi: manitol 20%. pemeriksaan darah perifer lengkap. anti platelet agregasi. profil lipid. respiratory failure) Penanganan sesuai guideline stroke → Rujuk ke PPK 1 Manitol 20% (antiedema). rehabilitasi (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG.CT-scan kepala atas indikasi. rehabilitasi  Setelah lewat fase akut → rujuk balik 2 STROKE INFARK Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi Pemeriksaan penunjang : EKG.Echocardiografi) 21 . USG karotis. penanganan faktor resiko (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. .Transcranial Doppler. Foto Thorax. penanganan factor resiko. faktor resiko (gula darah. pemeriksaan darah perifer lengkap) Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila disertai tanda-tanda TTIK→ rujuk PPK 3 CT Scan kepala Terapi : antiedem. profil lipid.

kimia. kardiomipati. anti agregasi platelet. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. pemeriksaan darah rutin. disotonomi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila ada komplikasi (sesuai guideline stroke) akut (intra dan ekstrakranial) atau ada tanda-tanda TTIK → Rujuk ke PPK 2 FISIOTERAPI Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila komplikasi berat dan tidak tertangani → rujuk ke PPK 3 Terapi : manitol 20%. dexamethason. elektrolit. pneumonia aspirasi . LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. fraktur kompresi) 22 . respiratory failure hebat. foto thorax Terapi (kortikosteroid. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 4 Tetanus Skrining tanda serta gejala klinik Therapi dan tindak lanjutan Tetanus grade II : Tindakan lanjutan : tracheostomi Penanganan komplikasi tetanus (kejang tidak teratasi. antikoagula atas indikasi. sputum BTA. fisioterapi (sesuai guideline stroke) Perbaikan→ rujuk balik 3 Meningitis serosa Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP.

pemeriksaan antigen antibodi spesifik untuk virus Perbaikan→rujuk balik Penanganan kejang : diazepam injeksi Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. foto thorax. Oksigen. perlu perawatan ruang intensif Pemeriksaan penunjang : LP. tetrasiklin 4x500 mg (10 hari). TT (bila belum diberikan di PPK 1). debidrement. TT 0. ATS 10. Therapi Simptomatis : untuk demam (parasetamol) Kejang berulang sampai status → rujuk ke PPK 3 Rujuk ke PPK 2 23 . EEG.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Terapi Pendahuluan : debridement luka. EEG. diazepam injeksi) Setelah perbaikan rujuk kembali ke PPK 1 Tetanus grade III-V → rujuk ke PPK 3 5 ENSEFALITIS Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis : LP Penanganan komplikasi pada ensefalitis (status epileptikus). Foto thorax Perbaikan → rujuk balik Terapi : metronidazole 3x500mg (14 hari). Antiviral (acyclovir) Therapi pemberian obat anti kejang. CT Scan. antiviral. metronidazole 3x500mg antibiotic (tetrasiklin 4x500mg)→ Tetanus grade I Tetanus grade II -V → Rujuk ke PPK 2 ATS/HTIG injeksi. diazepam injeksi.5 cc. antipiretik. EKG.000 u.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 MYELORADIKU LOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra (bila belum dilakukan). MRI Rujuk Ke PPK 2 Terapi : operatif (sesuai indikasi) 8 RADIKULOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. myelografi Bila terdapat progresivitas → Rujuk Ke PPK 3 Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra. foto thorax. MRI (atas indikasi).MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) Terapi : operatif sesuai indikasi 24 . EMG. fisioterapi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) dan tirah baring Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. foto vertebra. analgetik. EMG Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. pemeriksaan darah. pemeriksaan darah. bone scanning (bila ada kecurigaan Ca metastasis) Terapi : operatif. myelografi Rujuk ke PPK 2 Terapi : anti nyeri (Na diklofenak) Rujuk ke PPK 3 Rujuk balik bila tidak mau operasi atau penanganan khusus 7 MYELOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra.

pemberian OAE 10 SOL ( Tumor Intrakranial dan infeksi intrakranial ) Diagnosa berdasarkan gejala klinis Diagnostik dan penanganan lebih lanjut TTIK (gejala berupa penurunan kesadaran. radioterapi) Penatalaksanaan : dexamethason dan ranitidine injeksi → Rujuk PPK 2 Pemeriksaan penunjang : PA Jika perbaikan. CT scan. MRI) Penanganan di ruang intensif Bila perbaikan dan kejang terkontrol → Rujuk balik PPK 2 9 STATUS EPILEPTIKUS Diagnosa berdasarkan gejala klinis. rujuk kembali ke PPK 2 Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspesialistik 25 . kemoterapi. Diagnostik status epileptikus (EEG. CT Scan kepala dengan kontras Penanganan Subspesialistik (operatif. tatalaksana serangan kejang akut (pemberian diazepam dan loading dose OAE) segera rujuk PPK 1 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi status epileptikus refrakter/yang memerlukan perawatan intensif (ICU). nyeri kepala. mencari etiologi. muntah. papiledema) Pemeriksaan penunjang : foto polos tengkorak.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila tidak ada perbaikan Rujuk ke PPK 1 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Penanganan status epileptikus.

→ rujuk balik PPK 1 faktor resiko.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 NO 1 DIAGNOSIS (RAWAT JALAN) Sequele Stroke PPK 1 Skrining tanda dan gejala klinis dan faktor resiko PPK 2 Penanganan faktor resiko dan kecacatan (rehabilitasi) - PPK 3 Penanganan preventif Bila ada perbaikan fungsi stroke sekunder. EMG. bila tdk ada perubahan rujuk ke PPK 2 Bila ada red flag  rujuk ke PPK 2 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Bila ada gejala dan tanda red flag  rujuk ke PPRK 3 Terapi : simptomatis dan causal. operatif sesuai indikasi 3 CTS Skrining tanda dan gejala klinis Penanganan simptomatik analgetik. mencari factor resiko EMG 26 . pemeriksaan darah Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. dan posisioning Diagnosa dan penanganan Penanganan dan diagnostic EMG bila alat tersedia.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak). fisioterapi Sesuai guideline stroke Bila deficit neurologis berat → rujuk ke PPK 2 2 Radikulopati Skrining tanda dan gejala klinis Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. USG carpal tunnel. CT myelo sesuai indikasi.EMG bila alat tersedia.

penegakkan diagnose berdasarkan guideline nyeri kepala perdossi Diagnosa dan penanganan nyeri kepala primer Diagnosa dan penanganan nyeri kepala Bila nyeri kepala teratasi → rujuk balik PPK 1 Pemeriksaan CT Scan. MRI sesuai indikasi 27 . mencari factor resiko Diagnosa dan penanganan Parkinson Rujuk ke PPK 2 Obat antiparkinson Pemeriksaan darah untuk mencari faktor resiko Pemeriksaan CT Scan Bila gejala terkontrol → rujuk balik ke PPK 2 Bila gejala tidak teratasi atau efek samping obat → rujuk ke PPK 3 Parkinson sekunder → rujuk ke PPK 3 Bila ada perbaikan rujuk ke PPK 1 5 Nyeri kepala Skrining tanda dan gejala klinis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 bila ada deficit neurologi → rujuk ke PPK 2 penanganan analgetik deksamethason injeksi fisioterapi terapi medikamentosa operatif bila ada indikasi bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 1 bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 2 bila deficit neurologi berat (atrofi) → rujuk ke PPK 3 4 Parkinson Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan.

ada nyeri kepala sekunder dan terdapat tanda-tanda bahaya nyeri kepala (red flag) → rujuk ke PPK 2 Nyeri kepala dengan red flag → rujuk ke PPK 3 Penanganan nyeri kepala sekunder. mencari etiologi Diagnosa dan penanganan 28 . pemeriksaan darah rutin. operatif bila ada indikasi Nyeri kepala sekunder periksa → konsul mata. gigi dll sesuai kausal Bila sudah tertangani → rujuk balik ke PPK 2 Bila teratasi → rujuk balik PPK 1 6 Epilepsi Skrining tanda dan Diagnosa dan penanganan gejala klinis. elektrolit. SGPT Terapi sesuai guideline epilepsy dengan kombinasi obat Diagnosa dan penanganan kejang EEG. kejang pada epilepsi dan penegakkan diagnosa mencari etiologi berdasarkan bangkitan terapi sesuai guideline epilepsy perdossi Pemeriksaan penunjang : EEG. MRI Bila kejang tidak terkontrol dengan 2 jenis obat antiepilepsi lini pertama → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan darah rutin.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila nyeri kepala tidak terkontrol. SGOT. THT. elektrolit. SGPT Setelah kejang terkontrol → rujuk balik ke PPK 1 Terapi kombinasi obat lini pertama dan lini kedua sesuai guideline epilepsy Bila kejang tidak terkontrol → rujuk ke 3 Bila kejang terkontrol → rujuk balik Ke PPK 2 7 Vertigo Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. SGOT.

mencari factor resiko EMG bila alat tersedia EMG terapi simptomatik dan penanganan factor resiko terapi medikamentosa dan penanganan factor resiko 29 . CT Scan kepala bila alat tersedia. fisioterapi EMG. MRI sesuai indikasi Bila ada deficit neurologi dan progresif → Rujuk PPK 2 untuk mencari etiologi dan penanganan konsul THT Terapi simptomatik. fisioterapi Bila gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 Tindakan operatif sesuai indikasi Terapi simptomatik. MRI sesuai indikasi Bila ada tanda-tanda red flag LBP dan tanda radikuler → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan foto polos vertebra.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 terapi simptomatik pemeriksaan factor resiko. EMG sesuai indikasi dan bila tersedia alatnya Tindakan operatif sesuai indikasi Analgetik. serta mencari etiologi Bila nyeri teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Penanganan dan diagnostic terapi siimptomatik. fisioterapi bila gejala teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Diagnosa dan penanganan 8 Nyeri (termasuk nyeri punggung bawah) Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan serta mencari etiologi terapi simptomatik Penanganan nyeri : analgetik. fisioterapi Bila nyeri progresif dan belum teratasi dan terdapat tanda red flag → Rujuk ke PPK 3 9 Neuropati/ Polineuropati Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan.

foto thorax Terapi (kortikosteroid. elektrolit. sputum BTA. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 30 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila gejala tidak teratasi. pemeriksaan darah rutin. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Bila gejala klinis memburuk → Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. dexamethason. kimia. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. progresif → Rujuk ke PPK 2 Bila terdapat deficit neurologi atau gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 bila gejala teratasi → rujuk balik PPK 2 10 Meningitis (post perawatan) Skrining tanda dan gejala klinis Lanjutkan terapi OAT Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP.

Dermatitis Numularis Terapi topical Terapi sistemik Sama dengan PPK 1 Konsul ke bagian Gimul. Dermatitis Seboroik Terapi topical Terapi sistemik Bila terdapat komplikasi eritroderma  Rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 2 ditambah penanganan komplikasi 5. Skabies Penyuluhan Terapi topikal Terapi sistemik Menghilangkan faktor Sama dengan PPK 1 Sama dengan PPK 1 7. psoriasis pustulosa rujuk PPK 3 Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 4. Tinea Kruris Terapi topikal Sama dengan PPK 2 31 . biologic agents 3. THT-KL untuk penatalaksanaan infeksi fokal Sama dengan PPK 2 6.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN No 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Vitiligo Terapi topikal untuk tipe lokalisata Bila tidak responsif atau generalisata  rujuk PPK 1 Terapi topical Terapi topikal Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topical Fototerapi 2 Liken Simpleks Kronikus Sama dengan PPK 1 Konsul ke psikiater apabila faktor psikis dinyatakan sebagai penyebab Sama dengan PPK 2 ditambah fototerapi. THT-KL untuk penatalaksanaan faktor pencetus Bila terdapat komplikasi artritis  konsul IPD Bila terdapat komplikasi eritroderma. Psoriasis vulgaris Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal bila luas lesi < 5% Bila tidak responsif atau luas lesi > 5%  rujuk PPK 2 Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal Terapi sistemik Konsul ke bagian Gigi dan Mulut.

Dermatitis Kontak Iritan Sama dengan PPK 1 Bila tidak resposif  rujuk PPK 3 Sama dengan PPK 1 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bahan penyebab 32 . Xerosis Cutis Menghindari faktorfaktor yang menambah kekeringan kulit Terapi topikal: pelembab Menyarankan kepada penderita untuk menghindari bahan penyebab Menyarankan penderita untuk menggunakan pelindung seperti sarung tangan jika terpaksa harus kontak dengan bahan penyebab Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 1 10.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 predisposisi Terapi topikal Terapi sistemik Bila luas  rujuk PPK 2 8. Terapi sistemik untuk lesi yang luas Keloid Terapi topical Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Terapi topikal Tindakan: injeksi kortikosteroid inralesi Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topikal Tindakan injeksi kortikosteroid inralesi dapat dikombinasikan dengan bedah beku Eksisi dengan radioterapi Sama dengan PPK 1 9.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT MATA

NO
1.

DIAGNOSIS
KONJUNGTIVITIS

PPK 1
EVALUASI  Riwayat trauma/kelilipan, kontak dengan penderita mata merah, riwayat iritasi dan alergi/hipersensitiv itas (udara, debu, obat, makanan dll)  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat, konjungtivabulbi dan tarsal, dan memastikan pada kornea tidak ditemukan kelainan akibat perdagangan konjungtiva.  Konjungtivitas bakteri bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret mukopurulen atau purulen, dapat disertai membrane atau pseudomembran pada konjungtiva tarsalis.  Konjungtivitis virus bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret

PPK 2

PPK 3

 Sama dengan fasilitas  Pemeriksaan kultur primer swab secret konjungtiva  Pemeriksaan komposisi pada agar darah domba, air mata dengan agar tioglikolat, dan uji melakukan pemeriksaan resistensi anti mikroba. Schirmer, BUT dan Ferning, uji anel melalui pungtum lakrimalis untuk menilai ada atau tidaknya sumbatan.  Pemeriksaan dengan slitlamp untuk menilai keadaan konjungtiva bulbi, tarsal, forniks dan kornea.  Melihat gambaran secret (mukoserosa, mukopurulen, purulen).  Melihat gambaran folikel, papil, membrane pada konjungtivitis tarsal superior dan inferior dan konjungtiva forniks  Melihat gambaran injeksi dan nodul pada konjungtivitis bulbi.  Memastikan tidak ditemukan kelainan pada kornea.  Melihat kelainan pada komposisi air mata, obstruksi kelenjar meibom.  Pemeriksaan swab secret dengan penawaran gram bila dicurangi infeksi bakteri, Giemsa bila dicurigai virus 33

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

umumnya mukoserosa dan pembesaran kelenjar limfe preaurikuler.  Konjungtivitis alergi bila mempunyai riwayat alergi atau atopi dan ditemukan keluhan gatal, dan hiperemis konjungtiva.  Curigai Steven Johnson syndrome jika terjadi konjungtivitis pada kedua mata yang timbul seteleh minum atau mendapatkan terapi obatobatan.  Curigai kojungtivitis gonore, terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitas pada dua mata dengan secret purulen yang sangat banyak. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes mata kloramfenikol  Berikan obat tetes (0,5% -1 %)6 kali mata antibiotik sehari atau salep sprektum luas 6 kali mata 3x sehari sehari dan/atau salep selama minimal 3 mata 3 kali setiap bila hari bila dicurigai dicurigai infeksi bakteri infeksi bakteri.  Berikan salep mata  Berikan salep anti antivirus asiklovir 5 kali virus jka sicurigai sehari bila dicurigai infeksi virus infeksi virus.  Berikan tetes mata  Berikan tetes mata anti buatan 6 kali alergi (kromolin glikat)  Berikan tetes antibiotika sesuai hasil gram atau kultur, 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari bila infeksi bakteri  Berikan tetes antivirus sdoksuridin atau asiklovir bila infeksi virus.  Berikan tetes/salep mata antihistamin atau kortikosteroid bila 34

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

sehari bila dan/atau anti inflamasi dicurigai iritasi. bila dicurigai reaksi  Pada steven alergi/hipersensitivitas Jhonson  Berikan tetes /gel syndrome, lubrikan atau air mata diberikan tetes buatan bila ditemukan mata antiinlamasi iritasi (sterioid) dan air  Dicari factor mata predisposisi penyakit buatan/lubrikan yaitu sistemik (diabetes kemudian rujuk ke mellitus, TBC, kondisi fasilitas sekunder imunitas yang rendah, untuk cacingan, kondisi mendapatkan immunocompromised). penanganan lanjut  Keadaan konjungtiva dari bagian diperiksa 3 hari hingga spesialis kulit. sidapatkan perbaikan  Pada Konjungtivitis klinis, Bila tidak ada gonoro, pada bayi perbaikan, memburuk diberikan injeksi atau terjasi kompliksi penilisin procain dalam 1 bulan, dirujuk 50.000 IU/Kg ke dokter mata bb/hari dan konsultan Infeksi dan kloramfenikol Imunologi atau fasilitas tetes mata (0,5% mata tersier. 1,0%) tiap jam.Bila tidak tidak ada perbaikan dan atau terjadi komplikasi pada kornea, segera rujuk ke fasilitas sekunder dan tersier.  Bila tidak ada perbaikan dengan terapi dalam 1 minggu pada konjungtivitis bakteri, 2 minggu pada konjungtivitis virus dan alergi, segera rujuk ke fasilitas sekundrt atau tersier.

ditemukan reaksi alergi atau hipersesitivitas. Bila ditemukan kompliksi pada kornea, penatalaksanaan sesuai dengan penatalaksanaan keratitis/ulkus kornea Pada Steven Jhonson syndrome, berikan terapi anti inflamasi (steroid) tropical dan lubrikan/air mata buatan, disertai terapi dari bagian spesialis kulit. Pada konjungtivitis gonore, diberikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata, injeksi ceftriaxon 1 gr single dose intravena, jika ada ulkus berikan ceftriaxon 1 gr intravena tiap 12 jam selama 3 hari.Bila alergi diberikan ciprofloxacin 500 mg oral 2 kali selama 5 hari. Pada bayi berikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata injeksi ceftriaxon 25-50 mg/kg bb atau cefotaxim 100mg/kg bb interavena atau intramuskular. Berikan tetes/ gel mata lubrikan dan air mata buatan bila ditemukan iritasi Pemeriksaan klinis factor predisposisi local (dry eye, obstruksi duktus nasolakrimalis dll), dilanjutkan pentalaksanaan terhadap kelainan tersebut pemeriksaan laboraturium lengkap darah, urin, feses bila dicurigai predisposisi 35

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

penyakit sistemik.  Berikan terapi oral/parenteral sistemik bila ditemukan factor predisposisi sistemik sesuai hasil konsultsi bagian yang bersangkutan.  Keadaan konjungtiva di periksa tiap 3 hari hingga didapatkan perbaikan klinis dan evaluasi pengobatan terhadap factor predisposisi sistemik dan local  2
EVALUASI KERATITIS DAN ULKUS  Riwayat KORNEA  Riwayat trauma (kelilipan,  Riwayat trauma (kelilipan, benda asing di kornea, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma khusus riwayat trauma tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan atau pengunaan obat tetes pengunaan obat tetes mata tradisional yang mata tradisional yang berasal dari tumbuhberasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai tumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa penggunaan lensa kontak), pemakaian kontak), pemakaian kortikosteroid topical. kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinterbaik menggunakan pinhole. hole.  Tekanan intraocular (TIO)  Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan cara palpasi diukur dengan cara palpasi  Pemeriksaan dengan slit  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk menilai lamp untuk menilai keadaan kornea dan keadaan kornea dan segmen anterior lainnya : segmenn anterior lainnya :  Melihat gambaran  Melihat gambaran secret (serosa, secret (serosa, mukopurulen, mukopurulen, purulen). purulen).  Bentuk ulkus  Bentuk ulkus (pungtata, filament, (pungtata, filament, dendritik, geografik, dendritik, geografik, oval, intersisial,dll) oval, intersisial,dll)  Kedalaman ulkus  Kedalaman ulkus (superficial, dalam, (superficial, dalam, apakah ada apakah ada kecenderuangan untuk kecenderuangan untuk

trauma (kelilipan, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma tumbuhtumbuhan atau pengunaan obat tetes mata tradisional yang berasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa kontak), pemakaian kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat keadaan kornea

36

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

perforasi (impending perforasi (impending perforation) dan perforation) dan perforasi. perforasi.  Pemeriksaan kerokan  Hipopion dapat ada korea dengan penawaran atau tidak ada. Gram dan pemeriksaan  Lakukan foto keadan langsung dengan KOH 10% kornea dan segmen anterior lainnya.  Pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan Gram, Giemsa dan pemeriksaan langsung dengan KOH 10%  Pemeriksaan kultur kerokan kornea dengan agar darah domba, tioglikolat dan agar sabouraud dekstrosa.  Bila segmen posterior sulit dinilai, lakukan pemeriksaan ultrasonografi. Bila didapatkan adanya kekeruhan vitreus dan tanda-tanda endoftalmitis, lakukan prosedur endoftalmitis. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes. Salep mata kloramfenikol (0,5-1%) enam kali sehari, atau salep mata tetrasiklin 3 kali sehari sekurangkurangnya untuk 3 hari.  Jangan diberikan kombinasi antibiotika dengan obat yang mengandung kortikosteroid  Jang menggunakan obat-obat tradisional.  Segera rujuk ke spesialis mata apabila :  Tajam penglihatan awal buruk atau menurun setelah 3 hari pengobatan  Tampak lesi  Pasien sebaiknya dirawat  Pasien sebaiknya dirawat apabila : apabila:  Lesi ulkus kornea  Lesi ulkus kornea mengancam mengancam penglihatan, penglihatan, mengancam mengancam perforasi. perforasi.  Pasien dianggap  Pasien dianggap kurang patuh utnuk kurang patuh utnuk pemberian obat tiap pemberian obat tiap jam jam  Diperlukan follow up  Diperlukan follow up untuk menilai untuk menilai kebersihan terapi. kebersihan terapi.  Apabila ditemukan  Apabila ditemukan gambaran ulkus kornea gambaran ulkus kornea dendritik, geogradik atau dendritik, geogradik atau stroma, dapat diberikan stroma, dapat diberikan salep mata asiklovir 5 kali salep mata asiklovir 5 kali sehari atau tetes mata sehari atau tetes mata idoksuridin tiap jam. idoksuridin tiap jam.  Bila pada pemeriksaan  Bila pada pemeriksaan kerokan kornea kerokan kornea didapatkan hasil gram didapatkan hasil gram positif atau negative positif atau negative diberikan antibiotika tetes diberikan antibiotika tetes mata golongan mata golongan

37

Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. berikan tetes mata amfoterisin B 0. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. Tidakan Bedah:  Keratektomi superfinansial tanpa membuat perlukaan 38 . ofloksasin. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. yang kemudian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. Rujuk ke spesialis mata konsultan infeksi dan imunologi mata atau klinik mata tersier apabila didapatkan :  Ulkus kornea yang terjadi pada pasien yang hanya mempunyai satu mata  Ulkus kornea pada anak-anak  Adanya 2012         aminoglikosida (gentamisin . Pemberian analgetik apabila diperlukan. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu.dibekasin. Keadaan Korea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Bila kerokan kornea didapatkan hifa jamur.15% tiap jam (tetes mata amfoterisin B 0. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. diberikan tetes mata Natamisin 5% tiap jam dan salep mata Natamisin 5 % tiga kali sehari atau bila pasien mampu. aminoglikosida (gentamisin . Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. berikan tetes mata Natamisin 5 % tiap jam tiga kali sekali. Bila kerokan kornea didapatka hifa jamur (KOH positif).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat putih di kornea  Tetap berikan kloramfenikol tetes mata saat merujuk ke spesialis mata di fasilitasi sekunder dan tertier. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin.15% dapat dibuat dengan modifikasi sediaan bubuk untuk pemberian intravena). Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO.dibekasin. ofloksasin. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan yang kemusian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. Pemberian analgetik apabila diperlukan.

dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descem atocele Perforasi kornea di perifer Patch graft dengan flap konjungtiva. dengan indikasi :  Keratitis terpapar  Keratitis neuroparalitik Tissue adhesive atau graft amnion multilayer. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descemato cele Perforasi kornea di perifer Keratoplasi tembus. Kedurigaan ulkus kornea jamur.  Menghilangkan materi infeksi. dengan indikasi : Mempertahankan 39 . Tidak didapatnya kemajuan terapi setelah 3 hari pengobatan (ulkus kornea bakteri) atau 7 pengobatan (ulkus kornea jamur). 2012        -  pada membrane Bowman dengan indikasi :  Keratitis virus epitelial  Erosi kornea rekuren Keratektomi superfinansial hingga membran Bowman atau stroma anterior. dengan indikasi :  Untuk menegakkan diagnosis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kecenderungan untuk perforasi atau perforasi. terutama pada ulkus kornea jamur. terutama jamur Tarsorafi lateral atau medial . dengan indikasi : Ulkus korena dengan tissue loss berukuran kecil Perforasi kornea perifer berukuran kecil Flap konjungtiva. tetapi tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan langsung KOH 10% atau pewarnaan jamur lainnya.

5) atau lebih.  Pemeriksaan funduskopi : Gambar dan uruaikan papil 40 .5/7. dimana sulit untuk mendapatkan donor kornea 3 GLAUKOMA KRONIS EVALUASI  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik dan pin-hole: biasanya tajam penglihatan masih baik.  Pemeriksaan dengan biomikroskopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.  Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi : menyempit. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. sedangkan glaucoma sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai penyulit penyakit mata lain baik yang sedang maupun yang pernah diderita serta penyakit sistemik.II serta lapang pandang karakteristik. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.6 atau lebih.Mempertahankan integritas bola mata.II) sebesar 0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 integritas bola mata .  Fascia lata graft.Pada stadium lanjut didapatkan koreksi tajam penglihtan tidak penuh dengan pupil melebar dan berwarna hitam. yang bersifat progessif lambat.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO 28 mm Hg (4. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup: gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi dan pin-hole. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.  Pemeriksaan funduskopi – rasio CD (Perbandingan antara lebar cekungan papil terhadap lebar papil N. Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer.  Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma kronis)  Glaukoma sudut terbuka primer adalah glaucoma primer yang ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka. disebabkan oleh berbagai factor risiko. dengan indikasi : .Mengganti jaringan kornea yang terinfeksi dengan donor kornea. Glaucoma primer adalah glaucoma yang timbul dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaucoma. terutama TIO yang terlalu tinggi untuk kelangsungan  Klasifikasi glaucoma mirip dengan klasifikasi pada fasilitas sekunder.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan dengan gonioskopi.  Klafisikasi glaucoma berdasarkan pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi) dibagi ke dalam glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup. atrifi dan ekskavasi papil N. Berdasarkan etiologinya dibagi kedalam glaucoma sekunder. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata dengan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.

41 .subakut atau merambat (creeping).Bentuk primer berkembang pada mereka yang memiliki factor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata depan tergolong sempit. static baik manual maupun glaucoma computer:bila pseudoeksfoliasi. Glaukoma jenis ini juga merupakan kelanjutan glaucoma akut sudut tertutup primer yang tidak mendapat pengobatan atau setelah mendapat pengobatan yang tidak sempurna atau setelah terapi iridektomi perifer/trabekulektomi (glaucoma residual).  Selain sudut bilik mata depan yang tertutup. perifer secara perlahan. saraf optik. gambaran klinisnya asimptomatis mirip glaucoma sudut terbuka primer. glaucoma perimeter kinetic dan kortikosteroid. terbuka primer antara lapang lain adalah glaucoma  Pemeriksaan pandang dengan alat pigmenter. tonomirip dengan pen dan bila ada dengan glaucoma sudut tonometer non kontak. setelah trauma tumpul  Bila memungkinkan dan lain-lain.  Gambaran klinis yang tonometri aplanasi.  Glaukoma sudut terbuka  Pemeriksaan tekanan sekunder intraocular dengan tonometer Schiotz. evaluasi papil saraf optic  Glaukoma kronis sudut dan serabut saraf retina tertutup primer dengan alat diagnostic  Glaukoma jenis ini imaging seperti OCT adalah glaucoma (optical coherence primer yang ditandai tomography)dan HRT dengan tertutupnya (Heidelberg retinal trabekulum oleh iris topography). Glaukoma tersebut dapat pula berkembang dari bentuk intermiten. memungkinkan dengan glaucoma angle recess Octopus atau Humphrey.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kesehatan mata.

GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 42 . Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen dengan koreksi dan pin-hole. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 1.  Pemeriksaan dengan biomiksokopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata depan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer. 2012 PENATALAKSANAAN  Tekanan intra ocular diturunkan dengan 1.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan menggunakan teknik Van Herrick dan sebaliknya menggunakan gonioskopi.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO umumnya lebih dari 21 mm Hg.  Pemeriksaan funduskopi : terlihat atrofi papil glaukomatosa. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.  Pemeriksaan lapang pandang dengan alat perimeter sederhana atau perimeter Goldmann : cacat lapang pandang galukomatosa.

tetapi dapat dikombinasikan tergantung dari sasaran TIO. Sampai saat ini belum ada criteria yang memuaskan untuk menetapkan tingkat TIO yang dapat diterapkan aman untuk mempertahankan keadaan lapang pandang bagi semua penderita. Medikamentosa .25% 0.Pemilihan obat untuk pengobatan awal didasarkan pada penilaian mata penderita dan status kesehatan umum. Bila cacat lapang pandang belum lanjut atau TIO tidak terlalu tinggi maka terapi dapat dicoba pada satu mata lebih dahulu untuk menilai manfaat dan efek samping. dalam stadium lanjut glaucoma dan/atau utnuk menilai progresifitas penyakitnya. 43 . Glauplus. tidak tahan terhadap obat-obatan.5% satu sampai 2x sehari bila tidak ada kontraindikasi atau obat-obat baru yang lain (seperti glaupen. GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER  Cari faktor penyebab  Medikamentosa Prostaglandin analog (Glaupen.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat obat-obatan secara bertahap berupa : . . Glauplus.Timol) 0. baik untuk  Tujuan pengobatan pada penderita yang terbukti menderita glaucoma sudut terbuka primer adalah mencegah berlanjutnya kerusakan papil saraf optic.Asetazolamind 3-4 x 125 – 250 mg/hari . Umumnya TIO diharapkan lebih rendah dari 21 mm Hg. trabekuloplasti laser selektif  Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/atau dengan Mitomisin C/5Fluorourasil. Travatan)  Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. Xalatan. seperti :  Prostaglandin analog (Glaupen.5% 2x 1 tetes/hari (bila tidak ada kontra indikasi) .KCI 2-3 x 0. 2. pelayanan tingkat sekunder atau tersier bila TIO tetap diatas 21mmHg.0. namun dapat pula menggunakan obatobatan jenis terbaru. 2012  Medika mentosa . non penetrating filtering surgery.Terapi medikamentosa bersifat monoterapi dimulai dengan timolol maleat (C. Penerita dirujuk ke dokter spesialis mata.25 – 0. Azopt). Xalatan.Timolol 0.Prinsip terapi mirip dengan penanganan pada fasilitas sekunder.  Oleh karena obatobatan dibeirkan untuk jangka lama dan terus menerus.5 gr/hari  Obat-obatan prinsipnya dibeirkan secara sendirisendiri.25% . Sangat penting diperhatikan kepatuhan penderita dalam melaksanakan pengobatannya. Travatan) Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. a. penderita tidak patuh. Adapula yang menetapkan target pressure dengan perhitungan khusus yang bersifat individual/mata.Pilokarpin 2% 4 x 1 tetes/hari . Ada yang menurukan 30% lebih rendah dari TIO awal.  Upaya pencegahan kebutaan akibat glaucoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaucoma secara aktif di masyarakat. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. Azopt)  Alpha 2 agonist adrenergic  Terapi laser beurpa trabekuloplasti argon laser. operasi drainase implant.

3 – 4 kali per hari. Bila dengan obat pertama keadaan TIO yang diharapkan belum tercapai tetapi obat tersebut dianggap berespon baik (mencapai nilai efektif farmakologis) dapat ditambahkan obat tetes lainnya.  Tindakan bedah trabekulektomi bila TIO diatas 21 mmHg setelah tindakan iridektomi perifer dan medikamentosa  Tindakan bedah kombinasi trabekulektomi dan katarak bila ada indikasi keduanya. azopt). siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma. travatan. lalu penilaian diulang lagi.  Minggu ke 8 lakukan 44 . xalatan. operasi drainase impant. 1 minggu selanjutnya 4-8 minggu minggu setelah tindakan IP/trabekuloplasti laser. Tindakan iridektomi perifer laser atau trabekuloplasti  Pra dan setelah tindakan diberikan alpha 2 agonis  Pemberian anti inflamaasi topical setelah tindakan selama 2-3 hari  Follow up tindakan laser setelah 1 hari. trabekuloplasti laser selektif. dorzol.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penemuan kasus maupun deteksi dini. Pada setiap pemberian obat asetazolamide harus disertakan pemberian obat preparat kalium - 2012 Alpha 2 agonist adrenergic Terapi laser berupa trabekuloplasti argon laser. maka dosis ditingkatkan menjadi 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam. non penetrating filtering surgery. Bila dengan monoterapi atau kombinasi ternyata belum mencapai sasaran beurpa penurunan TIO yang tidak memuaskan atau tetap berlanjutnya kerusakan atau sejak awal tekanan lebih dari 30 mmHg maka dapat diberikan terapi sistematik dengan penghambat karbonik anhidrase.  Bila TIO naik pertimbangan pemberian medikamentosa atau tindakan trabekulektomi. tetapi bila bila dianggap tidak efektif maka obat pertama diganti dengan obat lain.   3. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Terapi medikamentosa diberikan baik sebelum terapi definitive iridektomi perifer maupun setelahnya. Obat ini biasanya dimulai dengan dosis 125 mg. glauplus. Bila efektivitas yang diharapkan belum tercapai. Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/ atau dengan mitomisin C/5Fluorourasil.

Perawatan setelah tindakan trabekulektomi  Berikan kombinasi antibiotic dan anti inflamasi topical serta antibiotic sistemik  Kontrol 1 hari pasca bedah  Kontrol 7-10 hari pasca bedah  Kontrol setiap minggu sampai 1 bulan  Kontrol tiap 4-6 bulan bila keadaan baik Evaluasi dan follow up pasien glaukoma kronis  Perhatikan ada tidaknya progresfitas papil atrofi glaukomatosa  Fundudkopo. 2012 gonioskopi dan cek TIO. Instruksi bagi penderita :  Dalam pengobatan glaukoma penting sekali untuk memberikan instruksi pada penderita mengenai waktu dan pemakaian obat termasuk cara menekan daerah kantus internus untuk mencegah absorpsi sistemik obat tetes. Tindakan bedah : .Humphrey  Lakukan Gonioskopi minimal setiap 3 bulan 45 .  Perhatikan ada tidaknya pertambahan skotoma/kelainan lapang pandang dengan automatic perimeter setiap 6-12 bulan: Octopus. 0. alasan dan tujuan pengobatan.  Tambahan pula pasien harus diberitahu dengan kata-kata yang sederhana mengenai mekanisme terjasinya glaukoma.Dokter harus merencanakan dan membicarakan saat dan jenis pengobatan dan meyakini bahwa nama obat dan jam pemberiannya ada tertulis di label botol.  Pasien harus diyakinkan perlunya pemeriksaan kontrol berkala seumur hidup mengenai TIO.OCT.12 bulan.Bila dengan pengobatan medikamentosa diatas belum memuaskan sebaiknya penerita dipertimbangkan untk dilakukan terapi bedah (trabekulektomi atau non penetrating filtering surgery) atau dikonfirmasikan untuk kemungkinan tindakan lain ke pelayanan tingkat tersier.HRT : Evaluasi setiap 6. b.25 – 0.5 gr per hari.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat (KCL 0. Hal ini perlu dalam upaya menjaga kepatuhan penderita dalam berobat. cara berbagai obat bekerja dan efek samping yang mungkin terjadi.5 gr) 2 -3 x.

.Iridektomi perifer . alergi dan kemungkinan keracunan obat glaukoma.Penting pula pasien dan dokter lain yang merawatnya mengetahui efek samping.5 % 2 x sehari.Asetazolamid 2-3 x 2012 46 . GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Tindakan bedah iridektomi perifer pada kedua mata  Medikamentosa obatobat glaucoma untuk menurunkan tekanan intraokular . GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER Cari factor penyebab seperti yang tertulis di atas.  Keluarga langsung perlu diikutsertakan dalam penatalaksanaan penderita 2.Bedah katarak/ekstraksi lensa. .  Penderita sebaiknya mengetahui nama dan konsentrasi obat yang sedang digunakan.Pilokarpin 2% 4 x perhari. serta penggunaan obat tetes yang benar/patuh seperti yang diinstruksikan kepadanya. kemudian tentukan :  Medikamentosa  Tindakan bedah : .II dan lapang pandang. 3.Timolol 0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penilaian papil N.  Bila dengan penatalaksanaan diatas masih juga menunjukkan kemunduran maka dirujuk ke tingkat tersier untuk dipelajari lebih lanjut.Trabekulektomi .Kartu pengenal tanda penderita glaukoma yang harus dibawa penderita mungkin ada manfaatnya.

4 KATARAK PADA PENDERITA DEWASA EVALUASI  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole  Pemeriksaandengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior dimana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak refleks pupil yang masih baik.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat adanya kekeruhan lensa. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia pendirita juga biasanya kurang dari 50 tahun.5%. 47 . 2012  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pin-hole.  Derajat katarak ditentukan sebagai berikut : a.  Jika TIO dalalm batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.  Tindakan bedah trabekulektomi. Dorzol.  Dilakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 250 mg sehari disertai dengan KCI 2-3 x 500mg .  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non-contact. tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien.Obat-obat baru seperti : Glaupen. aplanasi atau Schiotz  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.  Pemeriksaan funduskopi dengan oftalmoskop langsung untuk melihat segmen posterior jika katarak masih tidak terlalu  Pemeriksaan visus dengan kartu snellen dengan koreksi terbaik serta mengunakan pin-hole. Azopt. Travatan. biasanya visus masih lebih baik dari 6/12. Glauplus.  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz. bila dengan tindakan iridektomi perifer dan obat-obatan tekanan intraocular masih diatas 21 mmHg.5%.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien.5%. Xalatan. Derajat 1 : Nukleus lunak.

2012 Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan. Katarak ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract. Derajat 3 : Nukleus dengan kekerasan medium. dimana refleks fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior. Derajat 4 : Nukleus keras. c. dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Derajat 5 : Nukleus sangat keras. visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan.  Dilakukan pemeriksaan 48 . d. nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah diatas 65 tahun.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keruh b. dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60. e. Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30.

penyakit lain ataupun alergi.  Teknik bedah katarak menggunakan teknik manual ECCE atau pun fakoemulsifikasi dengan mempertimbangkan derajat katarak serta tingkat kemampuan ahli bedah  Operasi katarak hanya dilakukan jika visus sudah mengganggu kegiatan sehari-hari pasien dimana pasien berkesempatan melakukann diskusi dengan dokter mengenai alternative lain selain operasi. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik.00 dapat diberikan IOL power +14. pasien dipersiapkan untuk implantsi lensa tanam (I)L: intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan. tetapi bisa juga berdasarkan anamnesis menggunakan IOL standar (power +20.  Penatalaksanaan bersifat non bedah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 fundus dengan oftalmoskopi langsung ataupun tidak langsung.Misalnya jika pasien menggunakan kacamata S-6. 49 . dimana pasien dipersiapkan untuk implantasi lensa tanam (IOL : Intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.  Setiap kali melakukan pemeriksaan pre –operasi mencakup hal-hal berikut : Anamnesis riwayat penyakit mata. serta perawatan pasca operasi. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah. dapat dilakukan operasi ECCE (Extra capsular cataract extraction)  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.00) dikurangi ukuran kacamta yang selama ini digunakan pasien. pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersai.  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.  Penatalaksanaan bersifat bedah.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersi. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik.risiko operasi.  Pasien mengisi surat izin tindakan medis (informed consent). jika visus sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi.00  Perhatikan juga rekomendasi tindakan bedah katarak.

Pemeriksaan fundus dengan dilatasi pupil - -  Dokter spesialis mata yang akan melalukan operasi katarak sebaiknya memperhatikan persiapan preoperasi sebagai berikut : Memeriksa pasien sebelum operasi. jika pasien tersebut direncanakan implantasi lensa tanam. Membuat rencana pembedahan (jenis anesthesia.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat - 2012 Visus tanpa koreksi dengan Snellen serta refraksi terbaik. penempatan sayatan dan konstruksi luka. 50 . keuntungan dan kerugian operasi serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi. Pengukuran tekanan intraocular Penilaian fungsi pupil (reflex pupil). jika pasien tersebut direncanakan untuk implantasi lensa tanam. Memberikan infomasi kepada pasien mengenai resiko. Memperoleh surat izin tindakan medis (informed consent) Memastikan bahwa hasil keratometri dan biometri A Scan sesuai dengan mata yang akan dioperasi. Pemeriksaan mata luar (external examination) dengan senter dan lup atau slit lamp bergantung fasilitas. Menentukan kekuatan lensa tanam yang sesuai.

 Operasi tidak boleh dilakukan pada keadaan sebagai berikut : Pasien menolak tindakan operasi Pemberian kacamata ataupun alat bantu penglihatan lainnya masih cukup memuaskan bagi pasien.Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya. Melakukan evalusi pre operasi diatas termsuk pemeriksaan laboraturium serta berdiskusi dengan pasien ataupun keluarga pasien yang dianggap lebih mengerti dan dapat bertindak atas nama pasien. Kualitas hidup pasien belum terganggu dengan gangguan penglihatan yang dialaminya. Ada dugaan bahwa operasi tidak dapat meningkatkan penglihatan pasien pasca operasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 refraksi pasca operasi yang direncanakan serta jadwal pemeriksaan pasca bedah).  Operasi katarak bilateral ( operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara beruntun) sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak kebutaan. Pasien tidak dapat menjalani operasi 51 .

Pasien tidak dapat memberikan surat izin tindakan medis yang sah secara hukum karena kurang pengertian ataupun kurang informasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 katarak berkaitan dengan penyakit mata lain ataupun keadaan kesehatan akibat penyakit lainnya. penggunaan proteksi mata. - -  Dokter spesialis mata yang melakukan operasi ataupun staf dokter tersebut. menjelaskan dan member instruksi kepada pasien mengenai gejala ataupun tandatanda mengenai kemungkinan terjadinya komplikasi pasca operasi. Dokter spesialis mata/staf juga menerangkan mengenai tanggung jwab pasien untuk mengikuti petunjuk yang harus dilakukan selama perawatan pasca operasi dan pasien harus segera menghubungi dokter tersebut jika mengalami masalah. adanya pembatas kegiatan. Pasien tidak dapat mengikuti petunjuk pengobatan pasca operasi.  Pemriksaan lanjutan pasca operasi (follow up) : Frekuensi pemerksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat pencapaian visus 52 . berkewajiban mendidik. pengobatan. jadwal kunjungan lanjutan (follow up) dan petunjuk dimana harus mendapatkan perawatan darurat jika diperlukan.

Pada pasien dengan risiko tinggi. mengalami komplikasi intra – operasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis. peningkatan tekanan intraocular.  Kunjungan kedua : dijadwalwak - - 53 . maka pemeriksaan harus dilakukan harus satu hari setelah operasi. glaukoma dan lain-lain. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre-operasi maupun intra operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:  Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam waktu 48 jam setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang menyebabkan bilik mata dangkal.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 optimal yang diharapkan. seperti pada pasien dengan satu mata.hipotonu s. edema kornea ataupun tandatanda peradangan.

antibiotika oral. yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu pertama pasca operasi. - 54 .  Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien dimana bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang diharapkan.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan pertama. Obat-obat yang digunakan pasien pasca operasi bergantng dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien (misalnya analgetika. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 2 minggu pasca operasi. dan lain-lain). anti glaukoma atau edema kornea.

perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. dilakukan tindakan bedah berupa avulsi (pengangkatan)  Penatalaksanaan pada fasilitas tersier bersifat bedah dengan memperhatikan tujuan utama dari pengangkatan dari pterygium. dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid sepertiCXitrol 3 kali selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi  Penatalaksanaan bersifatnon bedah pada pterygium derajat 1 dan 2. yaitu edukasi terhadap pasien untuk mengurangi iritasi dan paparan ultra – violet.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya. mengingat komplikasi dari mitomycin C yang cukup berat. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid seperti CXitrol 3 kali sehari selama 5-7 hari.  Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual maupun menggunakan alat autorefrakto-keratometer  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan cara aplanasi ataupun menggunakan tonometer non kontak. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. yaitu:  Teknik operasi yang dianjurkan adalah dengan avulse pterygium disertai cangkok konjungtiva (conjunctival limbal graft) Penggunaan Mitomycin C sebaiknya hanya pada untuk penanganan kasus pterygium yang rekuren.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 5 PTERYGIUM EVALUASI  Pemeriksaan cukup dengan lup dan lampu senter. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium.  Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi. Jika pterygium mengalami inflamasi.  Sebagai perbandingan angka kekambuhan pasca pengangkatan pterygium dapat dilihat dari berbagai 55 . 2012  Pemeriksaan dengan slit lamp.  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. penderita diberi penyuluhan untuk mengurahi iritasi maupun paparan terhadap ultra – violet. diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan Snellen  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya (glaukoma).  Pada pterygium derajat 3 dan 4. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi ataupun mengalami kelainan kornea.  Pemeriksaan dengan slit lamp.

E Chart dan kelompok verbal dengan Snellen chart)  Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah. 2012 laporan sebagai berikut. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. simbol chart.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah.9% (Mabar et al) Conjuctival Limbal 14.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen 56 .  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. Sedapat mungkin setelah avulse pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterygiumtersebut ditutupi dengan cangkok kongjungtiva yang diambil dari bagian kanjungtiva superior untuk menurunkan angka kekambuhan. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah.  Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur (kelompok non verbal dengan pemeriksaan fiksasi. dan usia sekolah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat ataupun mengalami kelainan kornea.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. TECHNIQUE RECURENCE RATE Bare 61 % (Tan et al) 40% (Figuiredo et al) Conjunctival 18% (Wong et al) 25. pterygium. dan usia sekolah. usia prasekolah (2-5 thn).8% (Helal et al) Amniotic Membrane 10.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.6% (Mutlu et al) Graft Graft Sclera Intra-Operative Mitomycin C 5. usia prasekolah (2-5 thn). Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.9%(Prabhasawat et al) Transplantation 3% (Solomon et al) 6 KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK EVALUASI  Mengenali gejala dan tanda pada masing-masing kelainan refraksi sesuai usia.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia. dan usia sekolah.

 Pemeriksaan kemungkinan ambliopia dan atau mata juling.  Mendeteksi adanya faktor-faktor ambliopia.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan funduskopi kedua mata dengan oftalmoskopi direk. resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi. Kebutuhan tajam penlihatan sesuai umur.  Rujuk ke TEC bila dijumpai ambliopia dan/ atau mata juling. dengan sebelumnya dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0. posterior dengan oftalmoskop direk.5% posterior dengan oftalmoskop direk.  Rujuk ke fasilitas sekunder bila: Pada kelompok usia sekolah visus dengan koreksi tidak mencapai 6/6 Pada kelompok usia <2tahun dan kelompok usia prasekolah didapatkan tanda dan gejala kelainan refraksi dan kemampuan penglihatan tidak sesuai dengan umur Dijumpai kelainan posisi bola mata (kelainan refraksi + mata juling)  Koresi kelainan refraksi pada semua kelompok harus berdasarkan pertimbangan : besarnya kelainan rekraksi cukup mengganggu aktivitas: kemampuan akomodasi pasien :. 2012 PENATALAKSANAAN  Koreksi kelainan refraksi pada kelompok usia sekolah bila pada pemeriksaan subjektif virus mencapai 6/6.  Kebutuhan tajam penglihatan sesuai umur  Resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi  Penatalaksanaan amblipio dan akomodatif esotropia  Koreksi (tindakan)sisa esotropia pada kasus akomodatif esotropia setelah koreksi kaca mata diberikan 7 STRABISMUS EVALUASI  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai 57 .  Koreksi kelainan refraksi pada semua kelompok umur harus berdasarkan pertimbangan :  Apakah besarnya kelainan refraksi cukup mengganggu aktifitas  Kemampuan akomodasi pasien.

pemeriksaan visus secara subyektif dengan cara Central. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. dinilai keadaan kornea. demikian pula yang dewasa. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. keadaan. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Steady. Bila penderita adalah bayi. Dilakukan penilaian pergerakan bola mata untuk melihat ada tidaknya hambatan pergerakan bola mata. Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior. bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. dinilai keadaan kornea. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masing-maisng anak. iris pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. Alternate Cover Test (ACT) / Prism Cover Test (PCT) Ukur deviasi jauh dan dekat serta dinilai ada tidaknya A&V pattern. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan dengan terlebih dahulu koreksi   keadaan. Krimsky. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. demikian pula yang dewasa. demikian pula yang dewasa. iris pupil dan lensa. dinilai bagaimana keadaan kornea. iris/pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Maintain (CSM).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keadaan. koreksi dengan kaca mata yang sesuai Bila terdapat ambliopia. Penilaian status sensoris 58 . Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. coveruncover test dan Alternate Cover Test (ACT) 2012                PENATALAKSANAAN  Rujuk ke sekunder fasilitas  Bila terdapat kelainan rekraksi. Funduskopi dengan oftalmoskop direk. Bila penderita adalah bayi. Demikian pula harus dilakukan pemeriksaan deviasi dengan dan tanpa koreksi kaca mata kalau terdapat kelainan refraksi. Bila dicurigai ada simulated divergence excees perlu dilakukan pemeriksaan sudut deviasi setelah oklusi paling sedikit 1 jam pada salah satu mata. Bila penderita adalah bayi.

penglihatan ganda. Jenis operasi yang dilakukan disesuaikan dengan diagnosis dan pola deviasi yang ada dan keadaan visus masing-masing mata. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan.  Pemeriksaan mata  Pemeriksaan mata dengan/ tanpa slitlamp : dengan/ tanpa slitlamp.  Pemeriksaan mata tanpa slitlamp : Terlihat adanya benjolan/ulkus di palpebrakonjungtiva dengan  Identitas : umur (anak. lama gejala.  Identitas : umur (anak. dan penurunan visus). dan tua)  Anamnesis (mata  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata ulkus dikelopak mata dan putih mata. berikan koreksi terbaik. tetap ekstropia. Bila tipe Divergence Excess dapat dilakukan reses rektus lateral pada kedua mata. penglihatan gejala. Bila dengan koreksi kelainan refraksi. dan tua) dewasa muda. penurunan visus). Bila tipe Basik dan bila visus salah satu mata tidak baik. penglihatan ganda. lakukan operasi. lama dan putih mata. dan penurunan visus). dewasa muda. 2012         Bila terdapat kelainan refraksi. konjungtiva dengan  Pemeriksaan orbita : permukaan Pengukuran berbenjol-benjol besarnya proptosis pada usia tua. rasa nyeri. rasa nyeri. 8 TUMOR ORBITA EVALUASI  Identitas : umur (anak. rasa nyeri. dewasa muda.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kelainan refraksi. Bila ambliopia. Bila dengan pemberian kaca mata tidak ada perbaikan pada deviasinya maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tertier untuk dilakukan penatalaksanaan selanjutnya. Terlihat adanya sama dengan pelayanan benjolan/ulkus di kesehatan sekunder atau palpebrapun primer. 59 . dan tua)  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata dan putih mata. lama gejala. dapat dilakukan reses –resek pada mata yang tidakk dominan atau yang visusnya lebih buruk Bila tipe convergence insufficiency dapat dilakukan resek rektus medieus. tidak dengan alat Hertel. dan ganda.

 Pemeriksaan penunjang radiologi : Foto orbita baku – pada tumor primer orbita jinak diharapkan gambaran perselubungan.  Pemeriksaan orbita : Pengukuran adanya proptosis dengan menggunakan alat Hertel atau penggaris di kantus lateral ke ujung kornea. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan suatu proses inflamasi.karsino ma sel skuamosa. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. dengan lama gejala yang khronisdiagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. meningioma. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). pertumbuhan lambat :benign mixed tumor usia muda/tua. atau melanoma maligna). tidak menyembuh dengan pengobatan antibiotika. atau pembesaran rongga - 2012 Arah terdorongnya bola mata : bola mata ke nasal bawah: Massa temporal atas (kelenjar lakrimal) usia muda. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. dapat mukokel atau keganasan dari epitel sinus (karsinoma sel skuamosa) bola mata terdorong aksial : massa berada di konus – umumnya tumor dari saraf optik terutama pada penderita berusia muda. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. dan dapat hemangioma kavernosa bola mata terdorong ke superior : massa berasal dari inferior kebanyakan tumor ganas berasal dari sinus maksila atau jaringan penunjang. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. menunjukkan lebar fisura yang melebar.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat permukaan berbenjolbenjol pada usia tua. dengan lama gejala yang khronis-diagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. antara lain glioma. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun).pertumb uhan cepat : adenoid kistik karsinoma atau keganasan lain bola mata ke inferior: massa berada di superior – umumnya neurilemmoma atau kista dermoid bola mata terdorong inferotemporal : massa berada di nasal tumor berasal sinus frontal. dengan lama gejala lebih dari 1 tahun. adenokarsinom a kelenjar Meibom. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. gejala dirasakan lebih dari 1 tahun. adenokarsinoma kelenjar Meibom. menunjukkan lebar fisura yang melebar. phlebolith. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan menyembuh dengan pengobatan antibiotika.kar sinoma sel skuamosa. atau melanoma maligna). Kuadran lokasi - - - 60 .

Pemeriksaan USG sukar untuk mendiferensiasika n jenis tumor. tempat hambatan menunjukkan lokasi tumor (kuadran lokasi) Pemeriksaan pulsasi : bila posifit tumor dapat berupa neurofibroma atau jika diketahui didahului trauma/hipertensi pada orang tua dapat diferensiasi dengan arteri-vena fistula. orbita. dinilai kekenyalannya. tetapi jika keras kenyal dapat dicurigai tumor bersifat ganas.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakonjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi/insisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. CT-scan : pemeriksaan ini cukup untuk mendiagnosis tumor orbita serta membantu untuk 61 . Jika teraba lunak dapat diduga tumor bersifat jinak. 2012 massa berada berlawanan dengan arah terdorongnya bola mata tumor sesuai dengan jaringan/organ yang berada di kuadran tersebut Gangguan gerak bola partial. pada tumor primer orbita ganas dan metastasis/invasi diharapkan gambaran destruksi tulang.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Ultrasonografi : pemeriksaan tidak invasif. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. penilaian lebih dititik beratkan pada ada tidaknya tumor dan refleks tumor. Jika tumor dapat diraba.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat suatu proses inflamasi.

Pemeriksaan dilanjutkan  Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan ini sangat membantu dalam membedakan sifat ganas tumor.  Pada tumor epitel adneksa. kemudian diturunkan secara bertahap. kemudian diturunkan secara bertahap.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakomjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi.Pada tumor epitel yang  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. berukuran kecil dan diduga jinak. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.  Pemeriksaan fisik : untuk mencari adanya keganasan atau metastasis. Akan tetapi pemeriksaan penanda ganas tidak ada yang spesifik untuk tumor orbita. Untuk membedakan sifat tumor. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi 62 .  Pada tumor epitel adneksa. seperti prednisone dosis tinggi 12-16 tablet (2mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Jika tidak berhasil sebaiknya penderita dirujuk.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. jinak atau ganas dengan menilai batas tumor.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penentuan penatalaksanaan selanjutnya. Pemeriksaan MRI dan arteriografi pada kasus khusus yang mencurigai fistula atau ingin mengetahui tumor berasal dari saraf optik. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. berukuran kecil dan diduga jinak. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. tetapi dengan penanda ganas asam sialat menunjukkan nilai kadar yang berbeda bermakna. Jika tidak berhasil sebaiknya dirujuk untuk ekspolari lanjut. - PENATALAKSANAAN  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral.

Jika tidak berhasil dapat diberikan sitostatika single agent seperti chlorambucil dengan pengawasan ahli hematologi. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. Jika memungkinkan dapat dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi.  Jika meragukan melakukan tindakan. dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. Pada tumor yang lanjut dan telah berinvasi ke orbita dilakukan tindakan pembedahan radikal eksenterasi orbita. Pemeriksaan patologi jaringan tumor 63 .  Jika meragukan melakukan tindakan. Pada tumor konjungtiva. 2012 insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Pengobatan tambahan radiasi atau sitostatika dapat diberikan. eksisi dengan rekonstruksi. kecuali bila lokasi di daerah kelenjar lakrimal.  Penatalaksanaan selanjutnya dapat dirujuk untuk tindakan pembedahan.Jika diagnosis meragukan. baik jinak. terutama pada tumor orbita. Jika diagnosis meragukan. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. karsinoma sel skuamosa stadium 1 setelah ektirpasi tumor dapat dilanjutkan dengan pemberian sitostatika local seperti tetes mata mitomycin. radiasi.  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. berukuran kecil dan diduga jinak. terutama pada tumor orbita. sebaiknya dirujuk. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. sebaiknya dirujuk.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. ataupun sitostatika.Pemerik saan dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor.  Pada tumor epitel adneksa.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. baik jinak. kemudian diturunkan secara bertahap. Pada tumor yang lebih luas. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk.

untuk melihat kekeruhan vitreus karena perdarahan atau adanya jaringan fibro-vaskular.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 harus dilakukan. flare dan sel di BMD.  Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan. apakah ada perdarahan. eksudat. eksudat atau kekeruhan  Pemeriksaan mata dasar yang meliputi visus. tekanan bola mata. Pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan oftalmoskop indirek. kekeruhan vitreus. Pemberian terapi tambahan radiasi dan sitostatika dapat diberikan sesuai kebutuhan dan sesuai dengan patogenesa jenis tumor. jenis pembedahan sesuai dengan lokasi dan jenis tumor. Pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan slit lamp untuk melihat apakah ada epiteliopati kornea. dengan kerjasama antar disiplin. bila terdapat kekeruhan media dan fundus tidak tembus. ataupun metastasis/invasi sebaiknya dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. perdarahan retina. Penatalaksanaan sebelumnya dengan melakukan pemeriksaan penunjang. dilakukan apabila ada indikasi. 9 DIABETIK RETINOPATI EVALUASI  Anamnesia semua penderita diabetes mengenai keluhan penglihatan.  Pada tumor orbita. Pemeriksaan visus dengan Snelen chart Pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer Schiozt Pemeriksaan refleks cahaya pada pupil baik langsung maupun tak langsung Pemeriksaan funduskopi dengan menggunakan ophhalmoscope direk. pergerakan bola mata. baik jinak. pelebaran  Fundus Fluorocence Angiography (FFA). ganas. neovaskularisasi iris. kedudukan bola mata. segmen anterior dan segmen posterior. terutama CTscan untuk mengetahui dengan tepat lokasi tumor. tingkat kekeruhan lensa. ERG         64 . RAPD. USG.

 Pasien dengan diabetic retinopati stadium non proliferative (NPDR) ringan dan sedang. dilakukan terapi fotokoagulasi laser.  Pasien dengan NPDR berat. dapat dilakukan operasi. pasien dapat dirujuk langsung untuk evaluasi segmen posterior. pasien dapat dikonsul bilamana keadan keadaan memungkinkan.  Seperti tindakan pada PEC. pasien dikonsulkan ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol gula darahnya dan apabila dari anamnesis penyakit diabetes diderita sudah lebih dari 2 tahun. penderita dirujuk ke pelayanan kesehatan mata sekunder (SEC) untuk evaluasi lebih lanjut.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat vitreus. intra-retinal microvascular anomaly (IRMA) dan neovaskularisasi. Bila ditemukan adanya diabetes mellitus. yaitu dengan adanya pendarahan vitreus dan pertumbuhan jaringan fibrovaskular di vitreus.  Apabila dari anamnesis tidak diketahui lamanya diabetes diderita.  Apabila funduskopi tersedia dan gambaran fundus dapat dinilai. Apabila diabetes diderita kurang dari 2 tahun. ada diabetes mellitus atau tidak. dievaluasi setiap 3 bulan Kontrol gula darah dilakukan oleh dokter penyakit dalam. pertumbuhan jaringan fibrovaskular di retina.  Operasi vitrektomi dilakukan apabila terdapat pendarahan vitreus.  Apabila ditemukan katarak yang mempersulit evalusi segmen poeterior. dengan penjelasan akan prognosis penglihatan dan kemungkinan retinopati bertambah berat setelah operasi. vena.  Pasien dengan NPDR berat dengan/tanpa CSME. dirujuk ke pelayanan kesehatan mata tersier. yaitu apabila ditemukan salah satu dibawah ini:  Pendarahan intra retina 4 kwadran  Pelebaran vena 2 kwadran  Intra retina mikrovaskular abnormalism 1 kwadran  Pasien dengan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR). 10 RETINA LEPAS (RETINAL DETACHMENT) EVALUASI  Anamnesia  Melakukan evaluasi  Melakukan tindakan 65 . adanya retinopati merupakan indikasi untuk rujukan ke tingkat yang lebih tinggi.  Seperti tindakan pada SEC. 2012 PENATALAKSANAAN  Seleksi pasien. persistent mascular edema dan ablasio retina traksi.

Tipe exudative memerlukan pengobatan sesuai dengan penyakit yang mendasari. umumnya dalam beberapa hari. Pemeriksaan di SEC sudah dapat menentukan apakah penderita perlu di rujuk atau tidak ke TEC. Pemeriksaan. operasi dilakukan secepatnya. ditambah dengan pemeriksaan fundus untuk evaluasi retina. seperti pelayanan di PEC. hingga tindakan dilakukan. Kecurigaan akan retinal detachment memerlukan uji konfrontasi. Pemeriksaan fundus sebaiknya dilakukan dengan funduskopi tidak langsung atau dengan condensed wide angle lens (Mainster Ocular. Pemeriksaan dengan funduskopi langsung – apabila tersedia – memberi gambaran retina lepas atau perdarahan retina.  Melakukan tindakan sesuai dengan jenis retina lepas. 2012 seperti di SEC dan memutuskan jenis retina lepas. Penderita dirujuk TEC untuk penanganan lebih lanjut dengan penjelasan akan faktor dan keberhasilan. Pada rhegmatogen akut dan traksional yang tidak mengancam macula. dan jenis viteus tamponade ditentukan oleh keadaan yang ditemukan pre-operative dan durante operasi. Semua jenis rhegmatogen yang tidak mengancam macula atau jenis traksional yang melibatkan macula harus dirujuk seceoatnya. fibrosis vitreus dengan perlekatan retina dan tanda lain seperti disebutkan sebelumnya. Super Pupil Volk atau Goldmann 3mirror. PENATALAKSANAAN  Rujuk ke PPK 2  Apabila tidak ada kecurigaan tetapi ada keluhan. kondisi mata sebelahnya dan mobilitas penderita. kampimetri. elektrofisiologi atau ultrasonografi dilakukan bila diperlukan untuk menunjang diagnosis. Seluruh retina lepas harus dianggap sebagai rhegmatogen. Keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari akan memperbaiki retina yang lepas. Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan sebagai penunjang. Jenis operasi (sclera buckling atau vitektomi) tergantung kondisi yang dirtemukan. sedangkan yang kronik dapat dioperasi dalam waktu 1 minggu. dan faktor resiko seperti disebutkan diatas.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat mengenai lama kejadian. penderita harus diistirahatkan apabila mengancam macula. 66 . Super Field Volk.

Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Terapi stimulasi/aktivitas . A DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 SpKJ (-) .Skrining . bila perlu diulang tiap 1 jam 67 B Delirium .Sertralin 25mg/hari (po) .Fluoksetin 10mg/hari (po) Anti demensia : .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Aripiprazol 515mg/hari (po) Gejala depresi : (pilihan) .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Skrining .Diagnosis .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI) No.Donepezil .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . 1.Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK III .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis .Diagnosis Terapi sesuai penyebab Kondisi agitasi/psikotik : Antipsikotik inj .Skrining .Haloperidol 0.Skrining .252mg/hari (po) .Terapi pemeliharaan PPK 3 GANGGUAN MENTAL ORGANIK Demensia .252mg/hari (po) .Skrining .Rivastigmin Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK 3 .Skrining .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 SpKJ (+) .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Haloperidol (im) 25mg.Diagnosis Penatalaksanaan Kondisi agresif : Pilihan antipsikotik .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Risperidon 0.Terapi perilaku .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .

6mg sampai 3.Psikoterapi suportif .Haloperidol 2x0. A B Gangguan Mental dan Perilaku akibat .Skrining .Penanganan kondisi akut . iv) 1-2mg Antipsikotik oral (pilihan) .Diagnosis .52mg/hari Non farmakologik .Diagnosis .Olanzapin 510mg/hari .Skrining .Skrining .8mg evaluasi memungkinka tiap 15’.Reorientasi lingkungan .51mg/hari .Jika tidak dg 0.Skrining .Edukasi keluarga GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Gangguan .Skrining .Risperidon 0.4mg/jam (iv) Evaluasi tanda vital Atasi penyulit Intoksikasi berat rawat ICU .51mg/hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 atau Olanzapin (im) 5mg .Lorazepam (im.Penanganan akibat PPK 2/PPK 3 PPK 2 dg kondisi akut Penatalaksanaan : Penyalahgun SpKJ/PPK 3 jika Antidotum Naloxon aan Opioid memungkinka HCl (intoksikasi) n Naloxone (iv) mulai .Diagnosis Penatalaksanaan 68 2.Kondisi akut : .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis Perilaku rujuk ke rujuk ke .Kondisi akut : .Quetiapin 25150mg/hari Terapi tambahan .Skrining . jika tidak n rujuk ke ada respon naikkan PPK 3 dosis menjadi 1.Kondisi akut : rujuk ke PPK II dg .2mg Bila ada respon teruskan pemberian 0.Lorazepam 0.Skrining Mental dan .

Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Psikoterapi suportif .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Skrining .Skrining .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi subtitusi di PPK 1 yg telah mampu laksana SpKJ/PPK 3 .Klonidin Pemberian sedatifhipnotik dan antipsikotik diberikan sesuai indikasi Non farmakologik .Klordiazepoksid 3x25mg Bila kejang : Diazepam 10-30mg 69 C Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (intoksikasi) .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana Simtomatik sesuai gejala Subtitusi opioid : .Bufrenorfin + Nalokson .Diazepam 3x5mg .Diagnosis .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana jika memungkinka n .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Penyalahgun aan Opioid (putus zat) .Haloperidol 25mg/kali .Klorpromazin 1mg/kgBB Antihipertensi : Jika TD > 140/100mmHg Gejala ansietas : .Edukasi keluarga .Metadon .Rehabilitasi .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kodein Subtitusi non opioid : .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Skrining .

Alprazolam 2x0.Rehabilitasi .Diagnosis .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Skrining .Diagnosis .Skrining .Skrining .25-0.55mg .Skrining .Skrining .Haloperidol 3x1.Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 E Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Dekstrometo rfan (intoksikasi) .Klobazam 2x10mg Gejala depresi : .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Psikoterapi suportif .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diazepam 3x510mg .Jika tidak memungkinka n rujuk ke .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Risperidon 2x1.Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Fluoksetin 1020mg .Diagnosis Penatalaksanaan Observasi di IGD Rawat inap jika disertai tanda2 psikotik.5mg .Setralin 25-50mg .Amitriptilin 2550mg Non farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 (parenteral) Cardiac monitoring Propanolol 2080mg/hari .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal 70 D Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (putus zat) .Edukasi keluarga .Skrining .Skrining . depresi berat atau ide bunuh diri Antipsikotik : .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .53mg Gejala ansietas : .Diagnosis .

emergensi : emergensi : Gangguan Klorpromazin Klorpromazin Penatalaksanaa Penatalaksanaan Waham 25-50mg (im) 25-50mg (im) n bila tidak ada bila tidak ada Fase akut hipotensi hipotensi Fase akut atau Lorazepam atau Lorazepam Non farmakologik (im) 1-2mg (im) 1-2mg Non .Haloperidol 25mg/kali .Skrining .Rujuk ke PPK 2 farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PPK 3 Antipsikotik : .Terapi .Hospitalisasi .Skrining Gangguan .Kondisi .Kondisi .Restrain (fiksasi) .Seklusi (isolasi) dg SpKJ/PPK 3 dg SpKJ/PPK 3 . GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Skizofrenia.Diagnosis .SpKJ selama 3 dr. GANGGUAN SKIZOTIPAL.Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Golongan Benzodiazepin SKIZOFRENIA.Restrain Pilihan antipsikotik /lanjutan setelah /lanjutan setelah injeksi : penanganan dan penanganan dan Pilihan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .SpKJ selama 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : . Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Alkohol (intoksikasi) .Golongan Benzodiazepin .Haloperidol 5mg bulan untuk bulan untuk 25-50mg (im) (im) 71 2.Terapi .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Antidepresan .Klorpromazin .Antidepresan .Haloperidol 25mg/kali .Rujuk ke PPK 2 .Skrining .Skrining .Diagnosis . .Skrining .Diagnosis .Klorpromazin 25atas petunjuk atas petunjuk antipsikotik inj : 50mg (im) dr.Skrining .Skrining .Diagnosis Skizotipal.Hospitalisasi .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 3.6.Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . A .Seklusi pemeliharaan pemeliharaan .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .

Haloperidol 5-20mg/hari .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Haloperidol 520mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Paliperidon 39mg/hari .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Perfenazin 16-24mg/hari .Haloperidol 5mg (im) .75mg (im) .Perfenazin 1624mg/hari .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas 72 .Klozapin 150600mg/hari .Trifluoperazin 15-50mg/hari .Aripiprazol 9.Aripiprazol 1030mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Quetiapin 300800mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .75mg (im) .Klozapin 150600mg/hari .Psikoedukasi keluarga .Quetiapin 300800mg/hari .Intervensi .Intervensi perilaku .Olanzapin 1030mg/hari .Aripiprazol 9.Aripiprazol 10-30mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .Risperidon 28mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Paliperidon 39mg/hari .Trifluoperazin 1550mg/hari .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Olanzapin 1030mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .

Intervensi perilaku .Intervensi psikososial .Pelatihan ketrampilan social .Risperidon long acting inj Penatalaksanaa n efek samping neurologis (akatisia.Terapi okupasi/vokasiona l .Lorazepam 16mg/hari Sindroma Neuroleptik Malignansi (SNM) : . distonia.Flufenazin dekanoat inj .Difenhidramin inj 1-2cc (im) .Propanolol 1030mg/hari . parkinsonism) : .Turunkan/hentika n obat .Psikoterapi suportif .Risperidon long acting inj Penatalaksanaan efek samping neurologis (akatisia.Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Turunkan/he ntikan obat Fase stabilisasi: Non farmakologik .Haloperidol dekanoat inj .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas Fase stabilisasi: Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Intervensi perilaku .Risperidon oral solution . parkinsonism) : . distonia.Terapi okupasi/voka sional .Hentikan obat 73 .Psikoterapi suportif .Haloperidol dekanoat inj .Psikoedukasi keluarga .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 perilaku .Flufenazin dekanoat inj .Risperidon oral solution .Triheksifenidil 112mg/hari .Intervensi psikososial .Pelatihan ketrampilan social .

Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomni a: .Skrining depresif .Propanolol 10-30mg/hr .Divalproat 23x250mg .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tandatanda vital .Lorazepam 3x12mg Pasien refrakter : .Terapi suportif .Skrining .Lorazepam 3x1-2mg .Terapi kejang listrik (ECT) 3x/minggu .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 . selama 8 hari .Rujuk ke PPK 3 .Skrining .Skrining .Lorazepam 16mg/hr .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Klozapin 300750mg/hari .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Diagnosis Penatalaksanaa n Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Diagnosis .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Dantrolen 1mg/kgBB/hari.Bromokriptin 2.5mg.Diagnosis Indikasi rawat jalan : . diberikan 2-3kali/hari.Fungsi diri baik Indikasi rawat inap : 74 4.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 . A GANGGUAN SUASANA PERASAAN Episode .Divalproat 23x250mg .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Skrining .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Difenhidrami n inj 1-2cc (im) .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomnia : .Skrining . maksimal 30mg/hari .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Rawat di ICU .Diagnosis Penatalaksanaan Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Triheksifenidil 1-12mg/hr .Benzodiazepin 12mg (im) B Gangguan Skizoafektif .Gejala depresi ringan .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.

Imipramin 2575mg/hari .Restrain (fiksasi) Farmakologik : Pilihan Antidepresan Fase Akut : .Psikoterapi suportif .Amitriptilin 2575mg/hari .Fungsi diri buruk .Seklusi (isolasi) .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Fluoksetin 1040mg/hari .Venlafaksin 75150mg/hari .Hospitalisasi .Agomelatin 2550mg/hari Fase Lanjutan : Terapi dilanjutkan hingga 6-12 bln Dosis diturunkan perlahan 4-12 mg Non farmakologik : .Terapi keluarga 75 .Escitalopram 1020mg/hari .Gejala depresi berat .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Duloksetin 4060mg/hari .Dukungan keluarga buruk Tindakan .Maproptilin 25100mg/hari .Terapi interpersonal .Terapi perilaku kognitif .Sertralin 2550/hari .Risiko/usaha bunuh diri .

Skrining .Okskarbamazepin .Aripiprazol 1030mg/hari .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Restrain (fiksasi) Agitasi akut Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Olanzapin 1030mg/hari .Skrining .Diazepam 12x10mg (im) Antipsikotik oral : Pilihan Lini 1 : .75mg/hr (im).Karbamazepin .Seklusi (isolasi) .Aripiprazol 13x9.Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Diagnosis .Asam valproat .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Lithium .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 B Episode manik .Quetiapin 300800mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Hospitalisasi .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Natrium divalproat .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) . maksimal 3 hari .Haloperidol 12x5mg (im) .Klozapin 150600mg/hari Pilihan Lini 2 : 76 .

Klorpromazin 100300mg/hari Non farmakologik : .Psikoedukasi keluarga .Divalproat . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Psikoterapi suportif .Skrining .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Aripiprazol 13x9.Skrining .Diagnosis .Lithium .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Haloperidol 12x5mg (im) .Skrining .Skrining .Aripiprazol .Seklusi (isolasi) .Haloperidol 520mg/hari .Risperidon .Hospitalisasi . maksimal 3 hari .Quetiapin .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi perilaku kognitif .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Restrain (fiksasi) Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Diazepam 12x10mg (im) Episode Mania Akut Pilihan Lini 1 : .Terapi interpersonal .75mg/hr (im).Olanzapin .Terapi keluarga .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Lithium / Divalproat + 77 C Gangguan afektif bipolar .

Lithium / Divalproat + SSRI .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Lithium / Divalproat + Olanzapin .Paliperidon Pilihan Lini 3 : .Divalproat .Olanzapin + SSRI .Lithium / Divalproat + Haloperidol .Quetiapin .Lithium .Olanzapin + Karbamazepin Episode Depresi Akut Pilihan Lini 1 : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Risperidon .Klozapin Tidak direkomendasikan : .Risperidon + Karbamazepin .Lamotrigin .Lamotrigin .Terapi Kejang listrik (ECT) .Klorpromazin .Lithium / Divalproat + Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Lithium +Divalproat Pilihan Lini 2 : .Haloperidol .Lithium + Divalproat .Topiramat .Gabapentin .Quetiapin + SSRI .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Lamotrigin 78 .

Intervensi psikososial Gangguan Bipolar I Pilihan Lini 1 : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Pilihan Lini 3 : .Olanzapin .Lamotrigin .Lithium + Karbamazepin .Lithium + MAOI .Lithium + Karbamazepin .Karbamazepin .Quetiapin .Lithium / Divalproat / Karbamazepin + SSRI + Lamotrigin Fase Stabilisasi : Non farmakologik .Lithium + Divalproat .Olanzapin .Terapi kejang listrik .Lithium / Divalproat + Olanzapin 79 .Risperidon depo .Lithium / Divalproat + TCA .Lithium / Divalproat + Venlafaksin .Intervensi perilaku .Terapi okupasi .Psikoterapi suportif .Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Lithium .Psikoedukasi keluarga .Divalproat .

Penanganan .Antipsikotik atipikal + antidepresan Pilihan Lini 3 : .Terapi okupasi .Diagnosis .Intervensi psikososial 5.Lamotrigin .Diagnosis .Kondisi akut : .Asam lemak omega 3 .Antidepresan monoterapi Non farmakologik .Penanganan 80 . A GANGGUAN NEUROTIK.Skrining Panik .Skrining .Psikoterapi suportif . GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES Gangguan .Quetiapin Pilihan Lini 2 : .Skrining .Terapi kejang listrik .Lithium .Olanzapin .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Lithium + Risperidon .Olanzapin + Fluoksetin Pilihan Lini 3 : Penambahan .Kondisi akut : .Intervensi perilaku .Divalproat .Fenitoin .Lithium + Divalproat .Okskarbazepin Gangguan Bipolar II Episode Depresi Akut : Pilihan Lini 1 : .Topiramat .Skrining .Gangguan penanganan penanganan .Psikoedukasi keluarga .Lithium + Lamotrigin .Lithium + Divalproat + antidepresan .

Gangguan tenang/kronis panik terapi lanjutan dengan setelah agorafobia penanganan dan .Kondisi .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Buspiron 81 .Diagnosis .Skrining .52mg/hari .Alprazolam 3x0.52mg/hari .Alprazolam 3x0.Rujuk ke PPK 2 .Skrining .Lorazepam 2x 0.Terapi lanjutan .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Manajemen ansietas B Gangguan Ansietas Menyeluruh .52 mg/hari .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Pilihan lain : .Rujuk ke PPK 2 agorafobia .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Non farmakologik .52 mg/hari .Skrining .Kondisi akut : penanganan emergensi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kondisi akut panik emergensi tanpa .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi akut : penanganan emergensi .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Agorafobia atas petunjuk tanpa SpKJ riwayat gangguan panik emergensi .Terapi perilaku kognitif .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Rujuk ke PPK 2 .Psikoedukasi .Diagnosis .Penanganan kondisi akut Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Penanganan kondisi akut .Lorazepam 2x 0.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ kondisi akut .Terapi lanjutan Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Skrining .

Skrining .Venlafaxine C Gangguan Obsesif Kompulsif .Diagnosis .Klobazam 2x510mg .Terapi lanjutan .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi akut : penanganan emergensi .Diagnosis .Kondisi akut : penanganan emergensi .5-1mg Gejala depresi : .Psikoedukasi .Terapi perilaku kognitif .Terapi lanjutan Non farmakologik .550mg/hari .Sertralin 12.Skrining .Skrining .Sertralin 50150mg/hari .Kondisi akut : penanganan emergensi .Fluoksetin 2060mg/hari .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Fluvoksamin 100200 mg/hari Non farmakologik .Latihan relaksasi .Penanganan kondisi akut .Psikoedukasi Farmakologik (pilihan) : .Psikoterapi berorientasi tilikan .Manajemen ansietas Non farmakologik .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Terapi perilaku kognitif .Fluvoksamin 25100mg/hari 82 D Gangguan Stres Pasca Trauma .Terapi suportif individu .Fluoksetin 540mg/hari .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2 .Rujuk ke PPK 2 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Psikoedukasi .Terapi perilaku kognitif Farmakologik Sesuai dengan gejala klinis yang menonjol Gejala cemas : .Klomipramin 25100mg/hari .Lorazepam 12x0.Penanganan kondisi akut .Kondisi akut : penanganan emergensi .

Terapi lanjutan 7.Terapi lanjutan .Diazepam .Diagnosis . .Amitriptilin .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .510mg .Skrining .Amitriptilin 2x1025mg .Penanganan kondisi akut .Terapi kognitif perilaku Farmakologik Anticemas .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis .Skrining .Lorazepam .Terapi lanjutan 8.Maproptilin HCl .Risperidon 2x12mg .Kondisi Non farmakologik .Kondisi .Haloperidol 2x15mg .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Klobazam Antidepresan .Penanganan kondisi akut .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Olanzapin 1-2x2.Diagnosis .Skrining .Psikoterapi suportif .Klomipramin .Quetiapin 50100mg Non farmakologik .Skrining .Pendidikan tingkah laku intensif 83 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Terapi perilaku .Imipramin 1-2x1025mg Gejala psikotik : .Sertraline Psikoterapi 6.Diagnosis .Alprazolam .Imipramin .Skrining .Diagnosis . GANGGUAN KEPRIBADIA N DAN PERILAKU MASA DEWASA RETARDASI MENTAL .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . SINDROM PERILAKU YANG BERHUBUNG AN DENGAN GANGGUAN FISIOLOGIK DAN FAKTOR FISIK .Psikoedukasi keluarga .Fluoksetin .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Penanganan kondisi akut .

1-0.Skrining .2 mg/kg/hari (1 kali pemberian po) GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA Gangguan .10. A Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Rujuk ke PPK .Skrining .Skrining Non farmakologik pemusatan .Skrining .Rujuk ke PPK .Diagnosis Non farmakologik .Diagnosis .Anti cemas .Terapi perilaku keluarga .Intervensi Farmakologik 84 .Psikoedukasi keluarga .Anjuran ke Sekolah berkebutuhan khusus .Terapi okupasi .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Pelatihan ketrampilan Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .Psikoedukasi farmakologik keluarga .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Konseling orang tua .Terapi wicara 10.Anti depresan .Intervensi .Intervensi keluarga psikososial .Skrining .Psikoedukasi keluarga Non farmakologik .Pelatihan kemandirian . A GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK Gangguan .2 mg/kg/hari (2 kali pemberian po) Aripiprazole 0.Anti psikotik 9.Rujuk ke PPK .Konseling orang perhatian dan 2/PPK 3 2/PPK 3 tua hiperaktivitas Non .Anti psikotik : Risperidon 0.Psikoedukasi .Terapi perilaku .Skrining autistik .Anti depresan .Konseling .Intervensi orang tua keluarga .

Terapi keluarga Farmakologik .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Konseling perkawinan 85 D Gangguan cemas .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Hospitalisasi Farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Non farmakologik .Skrining .Hospitalisasi .Skrining .Anti depresan (SSRI) Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Metilfenidat Dosis 0.Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 psikososial B Gangguan tempertantr um .Anti depresan (SSRI) Fluoksetin 1x5 mg/hari Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Anti insomnia (Difenhidramin) Non farmakologik .3-1mg/kg BB dalam dosis terbagi .Parenting’s skills training C Gangguan depresi .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Skrining .Anti depresan (SSRI) .Psikoterapi suportif E Gangguan akibat persaingan antar saudara .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Terapi keluarga .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Konseling orang tua .

Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Anti depresan (Imipramin) Non farmakologik .Terapi perilaku Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Toilet training .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi keluarga .Parenting.Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 J Gangguan gagap .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 I Gangguan makan .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling perkawinan .Skrining .Konseling orang tua .Toilet training .Skrining .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Skrining .s skills training Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua Farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Membatasi minum di malam hari .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga 86 H Gangguan enkoperesis .Parenting’s skills training Non farmakologik .Konseling orang tua Konsultasi ke Bagian IK.Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga F Gangguan kelekatan reaktif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Toilet training . Anak Non farmakologik .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Konseling orang tua .Toilet training .Membatasi minum di malam hari .Psikoterapi suportif G Gangguan enuresis .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Skrining .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .

Diagnosis Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Psikoterapi suportif .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga 87 .Psikoedukasi keluarga K Gangguan tidur .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Skrining .Terapi wicara Farmakologik (jika perlu) .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti cemas Non farmakologik .Skrining .Skrining .

Fraktur Mandibula .infeksi : -abses jaringan lunak . parotitis epidemica. Sarkoidosis) 5 Konservasi .Kelainan sendi temporomandibular .Luka abrasi fasial .Kelainan syaraf kranialis .Kontusio jaringan Orofasial lunak fasial . Sealodenitis Bakterial Akut.Bedah Orthognati . media. Kista Periodontal c.Fraktur Maksila kompleks .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT No 1 TINDAKAN Eksodontia PPK 1 PPK 2 PPK 3 Pencabutan gigi dengan : Pencabutan gigi dengan . parotitis epidemica. Sialorrhoea.kelainan pertumbuhan (supernumerary) .Kelainan congenital . Makulicz Sindroma. Kista Radikuler b.Kelainan kelenjar ludah (Xerostomia) - Penatalaksanaan infeksi Fulnus Fasial Fraktur Mandibula Fraktur maksila Kista rongga mulut Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis. Makulicz Sindroma.Cedera dentoalveolar . Sarkoidosis) .Kista rongga mulut .karies besar yang tidak dapat dirawat secara konservasi Alvelektomi Apikoektomi a.Karies dini.Neoplasma . Abses Dentoalveolar 2 Bedah Dento alveolar 3 4 Infeksi Daerah Diagnosis Oromaksilofas Rujuk ke PPK 2 ial Trauma . . Sjorgen Sindroma . Sjorgen Sindroma .Kelainan dan jaringan keras pertumbuhan -untuk keperluan (Impaksi dan perawatan malposisi) orthodontia dan prostodontia .Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.penyebab fokal infeksi . Sialorrhoea. Sealodenitis Bakterial Akut.arrested caries 88 .

Karies mencapai pulpa non vital . muka. lengkap akrilik) celah langit dewasa .Amelogenesis dan dentinogenesis imperfect 7 Pedodontia 8 Periodontia 9 Penyakit Gigi dan Mulut Gingivitis Hiperplasik gingiva Resesi Gusi Periodontitis . periodontal .Ulkus Traumatikus . mata.Protesa hidung. abrasi dan Perubahan warna erosi eksternal/internal .Abses akut/kronis dento alveolar .Implan dental Oral hygiene buruk Caries Ginggivitis Persistensi gigi sulung Akar gigi tertinggal Hiperemi pulpa Pulpitis akut/kronis Persistensi gigi sulung .Chemical Burn .Abses periapikal Dentin hipersensitif akut/kronis Pulpitis reversible . plate pada celah intermediet.Herpes Labialis Resesi Gusi Periodontitis Liken Planus Leukoplakia Karsinoma Sel Skuamosa 89 . lengkap langit pada bayi imediet. lepasan .Atrisi.Stomatitis Aptosa . telinga.Overdenture .Obturator untuk imediet.Kista radikuler 6 Prostodontia .Gigi tiruan Intermediat.Lingua Geografika / Benign Migratory Glossitis .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 - profunda .Kelainan jaringan Nekrosis pulpa periodontal .Denture Sore mouth (Chronic Athropic Candidiasis) .Pembuatan feeding .Ulkus Dekubitalis .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 90 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful