Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN PENYAKIT BERDASARKAN KEWENANGAN TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

I. PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi hak dasar rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat dan status kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu pemerintah menetapkan Pembangunan Kesehatan dalam Program Pembangunan Nasional. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan tingkat dasar sampai dengan rujukan yang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat. Meskipun pendekatan pelayanan kesehatan sama tetapi fokus penekanan pelayanan berbeda sesuai dengan kemampuan yang ada pada tiap fasilitas pelayanan kesehatan. Agar kesinambungan pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat terwujud, diperlukan sistem rujukan yang berjenjang dan terstruktur, dimana ada kejelasan peran dan fungsinya sesuai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan medis di pemberi pelayanan kesehatan harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan agar tercapai pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Demi Tercapainya penyelenggaraan pelayanan medis yang memenuhi standar tersebut perlu pedoman pengelolaan berdasarkan kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama FK UNPAD, RSUP Hasan Sadikin Bandung dan Organisasi Profesi telah menyusun Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Berdasarkan Kewenangan Tingkat Pelayanan Kesehatan. Buku ini menginformasikan bagaimana pengelolaan penyakit mulai dari pelayanan dasar sampai pelayanan rujukan, perlu tidaknya kasus tersebut dirujuk berdasarkan kewenangan tingkat pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di pemberi pelayanan kesehatan.

1

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

II.

DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. 3. Buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

III. TUJUAN
Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang optimal berdasarkan kewenangan dan kompetensi di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Khusus : - Tersusunnya pedoman pengelolaan penyakit berdasarkan kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan - Dasar pengkajian untuk rencana pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

IV. PENYAKIT DAN PENGELOLAANNYA
Pengelompokan penyakit dan bagaimana pengelolaannya berdasarkan kewenangan di setiap tingkat pelayanan kesehatan terdiri dari : - Penyakit Anak - Penyakit Dalam - Penyakit Kebidanan dan Kandungan - Penyakit Bedah - Penyakit THT-KL - Penyakit Neurologi (Syaraf) - Penyakit Kulit Kelamin - Penyakit Mata - Penyakit Jiwa (Psikiatri) - Penyakit Gigi dan Mulut

2

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT ANAK
No 1 DIAGNOSIS TB Paru PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik PPK 2 Penilaian klinis diagnostik PPD, rontgen thorax) PPK 3

2

Bronko Pneumonia

Penilaian klinis, diagnostik dan terapi (BP ringan) sesuai MTBS

3

Diare

Diagnosis : Diare akut dengan /tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang  Tatalaksana sesuai protocol

 Dehidrasi berat bisa ditangani di Puskesmas DTP 4 Penyakit jantung bawaan (PJB)

dan Diagnostik dan (Tes penanganan TB paru disertai komplikasi (empyema, atelektasis, destroyed lung, hemoptysis, TB milier, Multi Drug Resistance TB (MDR-TB) Rujuk balik untuk th/ OAT  rujuk balik untuk terapi OAT) Penilaian klinis, diagnostik Penegakan diagnostik dan dgn pemeriksaan penunjang terapi BP berat dengan (lab dan rontgen) ancaman gagal nafas sehingga membutuhkan ventilator, empysema dan sepsis. Penatalaksanaan  rujuk balik Bronkhopneumoni Penatalaksanaan diare Diagnosis etiologi dan ringan- sedang yang tidak talaksana diare persisten / dapat direhidrasi per oral, kronis, diare dengan diare berat, diare akut penyakit penyerta seperti dengan dehidrasi berat, HIV, diare yang diare disertai komplikasi membutuhkan seperti sepsis, gangguan pemeriksaan penunjang elektrolit, (membutuhkan kultur feses, dan kultur feses) endoskopi  rujuk balik dan penyuluhan

Deteksi dini PJB, Diagnosis PJB melalui tatalaksana penyakit pemeriksaan penunjang penyerta pada PJB. (EKG, rontgen thorax), penatalaksanaan penyakit penyerta PJB

Diagnosis dan tatalaksana PJB dengan pemeriksaan echocardiography dan kateterisasi jantung Tatalaksana PJB Operatif  TIDAK RUJUK BALIK  Bila tidak dilakukan operatif rujuk balik

5

Cerebal Palsy (CP)

Deteksi dini tumbuh Diagnostik kelaianan kembang (DDTK) perkembangan (Denver, Cat/Clam),

Diagnostik dan skrining CP dgn comorbid (gangguan pendengaran, pengelihatan, RM, 3

kelainan Kongenital ) → Rujuk Rujuk balik ke PKM untuk pemantauan dan PMT 7 ISPA Diagnosis dan tatalaksana ISPA Tidak perlu dirujuk  TIDAK PERLU DIRUJUK  Penegakan diagnosis melalui Hb elektroforesa. splenektomi. IgM.  Rujuk balik untuk transfusi berkala Penegakkan diagnosis. pencegahan dan penanganan komplikasi : hemosiderosis (chelating agent). NS1). dengan pemeriksaan penunjang (IgG . penilaian IQ (URM : fisioterapi. terapi okupasi)  Rujuk balik untuk pemantauan tumbuh kembang dan stimulasi di rumah Tatalaksana kegawatan dan tatalaksana kelainan khusus Diagnosis etiologi (HIV/AIDS. gejala klinik: anemia. hepatosplenomegali) kontrol rutin penderita 9 DF/DHF Skrining tanda serta Penanganan DHF Grade II gejala klinik sampai dengan DSS (DHF Grade III dan IV) Pemeriksaan penunjang Ig M dan Ig G Tatalaksana DF/DHF bila memerlukan perawatan dengan pemeriksaan intensif Rujuk ke PPK 3 darah rutin (Puskesmas DTP) 4 . DHF yang memerlukan perawatan intensif  Rujuk balik paska perawatan 8 Thalassemia Deteksi dini suspek Pemeriksaan penunjang thalassemia (darah rutin) dan pemberian (skrining tanda serta transfusi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 epilepsi) Tatalaksana spastisitas. fisioterapi (klinik tumbuh kembang) 6 Gizi buruk Deteksi Diagnosis dini PMT Rujuk Tatalaksana gizi buruk Penatalaksanaan komplikasi Tatalaksana dan fisioterapi. sindroma malabsorbsi) → Rujuk balik Bila memerlukan pemeriksaan khusus untuk etiologi (HIV/AIDS. terapi bicara. kelainan congenital.

Rujuk untuk diagnosis Rawat inap SN serangan pasti pertama (jika dibutuhkan) rujuk balik untuk melanjutkan pengobatan Jika terjadi SN resisten steroid harus dirujuk Diagnosis lengkap dan tatalaksana SN resisten steroid dengan khemoterapi : siklofosfamid  Rujuk balik untuk penanganan lanjutan. pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnostik→ rujuk balik Tatalaksana kegawatdaruratan Diagnosis Etiologi Diagnosis etiologi Perawatan Bayi baru lahir level III perawatan intensif → stabil → rujuk balik 12 Kejang demam Tatalaksana kejang Kejang demam kompleks demam (sederhana) dan kejang demam status konvulsivus. tatalaksana epileptikus (pemberian serangan kejang akut. Pengobatan dengan status epileptikus refrakter yang memerlukan PICU  Rujuk balik untuk pengobatan jangka panjang Tatalaksana status konsulsivus refrakter/rawat intensif. fenobarbital. kontrol rutin penderita Rujuk jika terjadi status epileptikus refrakter/ memerlukan perawatan intensif ( PICU) Pusat diagnositk epilepsi melalui EEG. perdarahan. Bila perlu perawatan intensif/ status epileptikus refrakter→Rujuk Deteksi kegawatan Tatalaksana (BBLR. perforasi usus) → Rujuk balik 13 Masalah neonates 14 Demam Tifoid Tidak perlu di rujuk di PPK 3 15 Morbili Penegakan diagnosis Tatalaksana komplikasi Tidak perlu di rujuk di PPK 3 5 . MRI. CT Scan. follow up remisi atau relaps 11 Epilepsi Diagnosis berdasarkan Penanganan status gejala klinis. Infeksi/sepsis. kejang neonatus. fenitoin) (pemberian diazepam). Diagnosis etiologi asfiksia) → Rujuk Perawatan Bayi baru lahir level 2 Bila perlu perawatan intensif (Level III) → rujuk PPK 3 Skrining tanda serta gejala klinik Tatalaksana Demam Tifoid Pemeriksaan darah rutin (Puskesmas DTP) Diagnosis Tatalaksana simptopmatis Penatalaksanaan sampai dengan komplikasi ( Tifoid ensefalopati.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 10 Sindroma Nefrotik Diagnosis berdasarkan Penegakan diagnostis pasti gejala klinis dan pemeriksaan urin dipstik. kegawatdaruratan Ikterus neonatorum.

MRI. EEG) 6 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 16 Meningitis Deteksi komplikasi Bila ada komplikasi → Rujuk Deteksi dan tatalaksana Penatalaksanaan kegawatan (Kejang) → kegawatan Rujuk Diagnostic etiologi (Lumbal pungsi ) dan perawatan non intensif Bila perlu perawatan intensif → Rujuk ke PPK 3 Penatalaksanaan komplikasi dan perawatan intensif Penegakan diagnosis etiologi dan komplikasi (CT scan.

TERAPI PENDAHULUAN 3. Tanpa komplikasi. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO → pengelolaan Tanpa komplikasi. TIDAK Terkendali TIDAK TERKENDALI TERKENDALI dengan 1 dengan 1 OHO OHO → pengelolaan  rujuk BERKOMPLIKASI TERKENDALI dg 2 OHO &  rujuk balik TANPA KOMPLIKASI & TERKENDALI dengan Insulin BERKOMPLIKASI & TERKENDALI dg Insulin → dikelola 1 bulan Bila tidak terkendali  rujuk ke PPK 3 DM tipe 2 Hipoglikemi 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TIDAK TERKENDALI dengan 1 OHO  rujuk Tanpa komplikasi. RUJUK SEGERA Terkendali  rujuk balik ke PPK 2 HIPOGLIKEMI (3B) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 7 . NIDDM (4) TERKENDALI dengan Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 1 obat hipoglikemik oral (OHO) Tanpa komplikasi. TERKENDALI dengan 2 OHO  rujuk balik DM Tipe 2 DM Tipe 2 Tanpa komplikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT DALAM No 1 DIAGNOSIS DM Tipe 2 PPK 1 PPK 2 PPK 3 Tanpa komplikasi.

TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Kronik Stabil) DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK   8 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 DM tipe 2 KOMPLIKASI (KAD) AKUT Terkendali → pengelolaan  rujuk balik KOMPLIKASI AKUT (KAD) rujuk (TIDAK TERKENDALI DALAM 48 JAM Terkendali  rujuk balik 1. RUJUK 3 ASHD (Peny PJK Kronik Stabil Jantung Koroner 1. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TERAPI PENDAHULUAN 3. RUJUK DM tipe 2 KOMPLIKASI KRONIS 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK  Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali  rujuk balik Tidak terkendali dalam 2 bulan  rujuk Essential Hypertension (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 2 Hipertensi Esensial Hipertensi esensial Hipertensi Esensial Pengelolaan Hipertensi krisis  rujuk Terkendali → Pengelolaan  rujuk balik Terkendali →Pengelolaan  rujuk balik Tidak terkendali → pengelolaan dan evaluasi Terkendali → Rujuk balik  PJK Kronik Stabil Terkendali → pengelolaan RUJUK BALIK RUJUK KEMBALI SETIAP 3 BULAN Hipertensi Sekunder 1.

TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN Terkendali → pengelolaan dehidrasi ringan DIAGNOSA KLINIS  rujuk balik sedang / berat 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. RUJUK 1. RUJUK jika tidak dengan / tanpa ada fasilitas DTP komplikasi 9 . TEGAKKAN Jantung) DIAGNOSIS KLINIS 2. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2. TERAPI PENDAHULUAN 3.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 ASHD (Sindroma Sindroma Koroner Akut) Akut (SKA) Koroner Terkendali → pengelolaan Stabil/terkendali (evaluasi tiap 3 bulan)  rujuk balik 1. RUJUK ASHD (Gagal 1. RUJUK SEGERA TB Paru (pengobatan ulang /berkomplikasi) TB Paru (MDR/XDR) 5 1. RUJUK Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Diare dengan 1. RUJUK 4 TBP tidak TBP kasus baru berkomplikasi tidak berkomplikasi  rujuk Terkendali → pengelolaan  rujuk balik  rujuk setiap 3 bulan Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis (4) Standar Kompetensi Dokter KKI 2006 TB Paru (pneumotoraks) TB paru pneumotoraks dg Terkendali → pengelolaan  rujuk balik 1. TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS 2.

Rujuk Pneumonia tanpa komplikasi 1.2 dg Jika PPK.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK. Tegakkan diagnosis Dirujuk dengan catatan bila 2.2 dgn fasilitas HD stabil. 2 tidak ada fasilitas HD fasilitas HD 10 .Tegakkan diagnosis 2. Pengelolaan di PPK obat di PPK.Rujuk DSS 1.Tegakkan diagnosis dg komplikasi 2.1 tdk tersedia.2 dgn fasilitas ICU 14 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.2 Fisioterapi Pengelolaan di PPK.2 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 Goiter 1. Tegakkan diagnosis komplikasi 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.Pengelolaan di PPK 1 dgn DTP 12 Demam Dengue Demam Dengue 1.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk 13 Gagal ginjal akut 1.2 10 SLE 1. Pengelolaan di PPK  rujuk balik 1 N 9 Arthritis tanpa 1.2 7 COPD / Asma 1.Rujuk 11 Gastritis 1. rujuk balik Pengelolaan di PPK. 1 1. Tegakkan diagnosis Terkendali → pengelolaan  rujuk balik Terkendali → pengelolaan 8 2.Tegakkan diagnosis bronkiale 2. Tegakkan diagnosis Dirujuk bila ada komplikasi komplikasi 2. Pengelolaan di PPK atau memerlukan 1 fisioterapi Arthritis dengan 1. Rujuk Pengelolaan di PPK.Rujuk GGK terminal 1.

Rujuk Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk 1.Rujuk jika fasilitas Diagnosis tegak. bisa dilakukan di PPK I) Pengelolaan di PPK.Rujuk Pengelolaan di PPK.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 2.2 utk Jika ada komplikasi.2 ( Rujuk balik untuk Tapering off.2 Stabil  rujuk balik 2.Rujuk 16 Anemia berat 1. 2.2 Hepatitis kronis 21 Demam tifoid 1. terapi ARV (ada tim konseling) 20 Hepatitis akut 1.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 Jika PPK.Rujuk atau sesama fasilitas sama PPK.2 tidak ada dengan fasilitas endoskopi fasilitas endoskopi Pengelolaan di PPK.2.Rujuk 1. Stabil  rujuk balik tdk lengkap 1.Tegakkan diagnosis 2.2 Pengelolaan di PPK.Tegakkan diagnosis 2. Diagnosis tegak.VCT 3.Rujuk 17 18 19 Leukemia Perdarahan saluran cerna HIV 1.2.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2 dg 15 Sindroma Nefrotik 1. Stabil  rujuk balik 11 .Tegakkan diagnosis tanpa 2.Pengelolaan di PPK komplikasi 1 dgn DTP Demam tifoid 1.Tegakkan diagnosis dgn komplikasi 2.Tegakkan diagnosis 2.Tegakkan diagnosis 2.Rujuk Pengelolaan di PPK.

1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Hipertensi Dalam Kehamilan : Hipertensi Gestasional Skrining : Test protein urine Therapi oral anti hipertensi dapat diberikan Skrining: Test Protein urine Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Tidak ada tanda-tanda preeklamsi →rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Ringan Penilaian klinis dan diagnosis : Tidak ada tanda-tanda preeklamsi berat rujuk balik ke PPK I untuk oral antihipertensi Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi kehamilan Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Preeklamsi Berat Skrining: Test Protein urine Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang Memerlukan perawatan ICU NICU atau dengan komplikasi HELLP syndrome atau komplikasi lain Eklamsi Pemberian MgSO4 Pemberian antihipertensi Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Tindakan terminasi kehamilan dan rawat bersama dengan bagian lain 2 Perdarahan Trimester 1: Abortus Imminens Skrining Sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian Klinis dan Diagnosis USG baik →kembalikan ke PPK I USG tidak baik → terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Abortus Insipiens Skrining: sarankan untuk pemeriksaan USG ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis : USG baik → Rujuk balik Tidak usah dirujuk ke PPK III 12 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KEBIDANAN DAN KANDUNGAN No.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 USG tidak baik → terminasi Abortus Inkomplitus Skrining : Pemeriksaan awal KU baik → rujuk ke PPK II KU tidak baik →Perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II (boleh dilakukan kuret tumpul di PONED) Abortus Komplitus Skrining: Rujuk ke PPK II untuk pemeriksaan lanjut Mola Hidatidosa Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti tirotoksikosis Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain atau dengan riwayat infertilitas yang memerlukan keahlian subspesialis Penilaian klinis dan diagnosis : Terminasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Skrining : KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → Perbaiki KU → Rujuk PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Laparatomi Operatif Trimester 2: Perdarahan Midtrimester Skrining : Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan atau tindakan → setelah baik Rujuk balik ke PPK I Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain (seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya) Trimester 3: Perdarahan Antepartum Plasenta previa Skrining : KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Skrining : Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan/tindakan terminasi setelah baik → rujuk balik ke PPK I Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain seperti kelainan darah dan penyakit sistemik lainnya ) Solusio Plasenta 13 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 KU baik → rujuk ke PPK II KU buruk → perbaiki KU sambil di rujuk ke PPK II Post Partum: Perdarahan Post Partum Dini: Atonia Uteri Tindakan terminasi Luka jalan lahir Skrining: Resusitasi cairan. pemberian O2 → Rujuk ke PPK II sambil lakukan dekompresi manual Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Penilaian klinis dan diagnosis : Retensio plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Sisa plasenta Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Perdarahan post partum lambat: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis KU baik → Rujuk ke PPK II KU buruk → rujuk sambil resusitasi cairan dan pemberian O2 Penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 14 .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 3 Kelainan Letak Skrining: Rujuk ke PPK II (PONED apabila letak sungsang dan pembukaan lengkap) Penilaian klinis dan diagnosis: Dalam kehamilan : Versi luar apabila berhasil menjadi letak kepala → Rujuk balik ke PPK I Persalinan : terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 4 Kehamilan Multiple Skrining: Rujuk ke PPK II untuk persalinan (pemeriksaan USG) Penilaian klinis dan diagnosis: Persalinan: terminasi Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain 5 Ketuban Pecah Dini Skrining: Rujuk ke PPK II (skrening : sediakan lakmus test) Penilaian klinis dan diagnosis: konservatif atau terminasi 6 Kelainan Janin: IUGR Skrining: Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain dan memerlukan perawatan NICU Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Rujuk ke PPK II IUFD Skrining: Rujuk ke PPK II Prematur Skrining: Rujuk ke PPK II Perawatan konservatif atau terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan Gawat Janin Skrining: Rujuk ke PPK II 7 Persalinan tidak maju/Distosia Skrining: Rujuk ke PPK II (dilakukan vakum di PONED) Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi 15 .

Diagnosis dan penanganan sepsis dan memerlukan tindakan diagnosis lanjut atau perawatan ICU 16 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 8 Panggul Sempit Skrining: Rujuk ke PPK II Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi Penilaian klinis dan diagnosis: Laparotomi eksploratif Penilaian klinis dan diagnosis: Perawatan konservatif atau terminasi kehamilan Penilaian klinis dan diagnosis: Terminasi kehamilan (dokter IPD harus ada di PPK II bila ingin di rawat) Penilaian klinis dan diagnosis 9 Bekas Seksio sesarea Skrining: Rujuk ke PPK II 10 Ruptura Uteri Skrining: Perbaiki KU sambil rujuk ke PPK II Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Diagnosis dan penatalaksanaan kasus dengan komplikasi penyakit lain Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU. Perlu pemeriksaan lanjutan ECHO Memerlukan perawatan ICU/CICU NICU Spesialis lain yang tidak ada di PPK II 11 Penyakit Jantung: Decompensatio Cordis FC I – II Decompensatio Cordis FC III-IV Skrining: Rujuk ke PPK II Skrining: Rujuk ke PPK II 12 Kehamilan dengan Komplikasi lain Skrining: Rujuk ke PPK II 13 Infeksi Skrining: Tanda-tanda infeksi Penilaian klinis dan diagnosis.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT BEDAH No 1 DIAGNOSIS Appendicitis Acute PPK 1 Skrining tanda serta gejala klinik Edukasi Rujuk ke PPK 2 Jika yakin pasien akan ke RS. Diagnostik dan terapi (Haemmorrhoid Gr I dan II) Rujuk ke PPK 2 (Haemorrhoid Gr III dan IV) 3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Therapi pendahuluan Rujuk ke PPK 2 4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi Pendahuluan Rujuk ke PPK 2 Deteksi gejala klinik Therapi Simptomatis Therapi dan tindak lanjutan Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Penegakkan Diagnosis melalui Pemeriksaan Penunjang Therapi Pendahuluan Tindakan operasi Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 Hernioraphy Penanganan oleh Subspesialis Bila telah stabi → rujuk kembali ke PPK 2 PPK 2 Appendectomy PPK 3 Appendectomy laparoskopiDiver Kontrol Luka setelah stabil→ Rujuk balik 2 Hemorhoid interna Haemorroidectomy Kontrol luka Setelah stabil rujuk balik Fistulectomy Setelah stabil rujuk ke PPK 1 5 Cholelithiasis Rujuk ke PPK 2 6 Hernia inguinalis lateralis reponibilis Edukasi 17 . beri therapi pendahuluan (Antibiotik dan analgetik) Penilaian klinis.

Tanda2 keganasan Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Giant Ateroma 10 Struma Nodosa Deteksi gejala dan Pemeriksaan Fisik Edukasi Simptomatik Rujuk Setelah stabil rujuk kembali ke PPK 1 Ekstirpasi dan PA Jaringan 7 8 Fibro Adenoma Mammae (FAM) Lipoma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka 9 Ateroma Ekstirpasi dlm narkose umum Rujuk kembali ke PPK I untuk perawatan luka Penanganan lebih lanjut (eksisi) Penanganan Subspesialistik Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspelialistik Jika terkontrol. rujuk kembali ke PPK 2 18 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Simptomatis Rujuk ke PPK 2 Deteksi dini Simptomatis Rujuk Ke PPK 2 Simptomatis Ekstirpasi dan perawatan luka post eksisi Rujuk ke PPK 2 bila : Multiple Lipoma.

Nasofaringoskopi .Operasi kasus dengan penyulit .Foto Rontgen schuller dan Stenver .Penilaian Klinis .FNAB .Skrining tanda dan gejala klinis .Rujuk ke PPK 3 bila : 1.Nasoendoskopi .Kontrol setelah tindakan 6 bulan Pertama .Biopsi. Karsinoma Laring d.Foto Rontgen ( Schuller dan Stenver ) . Komplikasi intrakranial 2. Otorea menetap setelah terapi Maksimal .Nasofaringoskopi .CT Scan telinga .Skrining tanda dan gejala klinis . FNAB .Skrining tanda dan gejala klinik .Biopsi dengan endoskopi (lokal anestesi) .Pemeriksaan THT-KL . Karsinoma Sinonasal c. Tumor di leher Skrining tanda dan gejala klinis .Menerima rujukan balik dari PPK 3 untuk perbaikan Keadaan Umum .Kultur resistensi 19 .Operasi .Pemeriksaan OtoMikroskopi .Kultur resistensi .Operasi dengan endoskopi . Karsinoma Nasofaring b.Kemoiradiasi .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT THT-KL NO 1 DIAGNOSIS Otitis Media Supuratif Kronik dengan penyulit PPK 1 skrining tanda dan gejala klinik Rujuk ke PPK 2 PPK 2 .Radiotherapi .Penilaian klinis PPK 3 .Kultur resistensi .Terapi sesuai .Tindakan : bedah mikro telinga 2 Tumor Kepala Leher a.Rujuk balik ke PPK 2 untuk perbaikan Keadaan umum 3 Rinosinusitis dengan/tanpa polip disertai .Skrining tanda dan gejala klinis . Komplikasi intratemporal 3.

Nasoendoskopi .Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan tes alergi (Skin Prick Test) .Rontgen sinus ( waters.Pemeriksaan Emisi Otoakustik Ekstraksi benda asing dengan bronkoskopi kaku dan atau bronkoskopi lentur dalam narkose umum .Skrining tanda dan gejala klinis .Pemeriksaan Brain Evoked Respon Audiometri ( BERA ) .Tampon hidung anterior .Pemeriksaan Auditory Steady State Respon .Ligasi Ekstraksi benda asing dengan esofagoskopi kaku dalan narkose umum 5 Epistaksis Skrining tanda dan gejala klinis .Bila perdarahan tetap tidak dapat teratasi → Rujuk ke PPK III .Nasoendoskopi .Skrining tanda dan gejala klinis .Immunoterapi .Tindakan bedah hidung sinus konvensional Skrining tanda dan gejala klinis .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft tissue leher AP dan Lateral .Skrining tanda dan gejala klinis .Foto rontgen soft Tissues leher AP dan lateral .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penyulit Pedoman Tatalaksana lengkap .Skrining tanda dan gejala klinis .Tampon hidung anterior dan posterior .Foto thoraks 6 Benda Asing di esophagus 7 Benda asing di Bronkus .CT Scan Sinus Paranasal .Kultur resistensi .Terapi Wicara 20 .Foto Thoraks 8 Speech delayed (Terlambat bicara) Skrining tanda dan gejala klinis .Nasoendoskopi → mencari sumber Perdarahan .Tindakan bedah sinus endoskopi tingkat lanjut 4 Rhinitis Alergi Skrining tanda dan gejala klinis . Caldwelluck) .

. pemeriksaan darah perifer lengkap. antiplatelet agregasi.Transcranial Doppler. faktor resiko (gula darah. rehabilitasi (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. penanganan factor resiko.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT SYARAF (NEUROLOGI) NO 1 DIAGNOSIS PPK 1 (RAWAT INAP) STROKE Skrining tanda serta Perdarahan gejala klinik Intra Serebral PPK 2 Diagnostik dan penanganan stroke PIS PPK 3 Diagnostik dan penanganan stroke PIS disertai komplikasi inrakranial (TTIK) dan ekstrakanial (emboli paru. rehabilitasi  Setelah lewat fase akut → rujuk balik 2 STROKE INFARK Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi Pemeriksaan penunjang : EKG. anti platelet agregasi. pemeriksaan darah perifer lengkap) Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila disertai tanda-tanda TTIK→ rujuk PPK 3 CT Scan kepala Terapi : antiedem. profil lipid. penanganan factor resiko dan komplikasi Diagnostik dan penanganan stroke infark dengan komplikasi neuroprotektan. Ro-Thorax. respiratory failure) Penanganan sesuai guideline stroke → Rujuk ke PPK 1 Manitol 20% (antiedema). USG karotis. Foto Thorax. antikoagulan atas indikasi.CT-scan kepala atas indikasi. profil lipid. penanganan faktor resiko (sesuai guideline stroke) Pemeriksaan penunjang (EKG. operatif atas indikasi.asam urat) Terapi: manitol 20%.Echocardiografi) 21 .

sputum BTA. fisioterapi (sesuai guideline stroke) Perbaikan→ rujuk balik 3 Meningitis serosa Skrining tanda serta gejala klinik Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. kardiomipati. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 4 Tetanus Skrining tanda serta gejala klinik Therapi dan tindak lanjutan Tetanus grade II : Tindakan lanjutan : tracheostomi Penanganan komplikasi tetanus (kejang tidak teratasi. kimia. pemeriksaan darah rutin. fraktur kompresi) 22 . respiratory failure hebat. elektrolit. pneumonia aspirasi . anti agregasi platelet.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila ada komplikasi (sesuai guideline stroke) akut (intra dan ekstrakranial) atau ada tanda-tanda TTIK → Rujuk ke PPK 2 FISIOTERAPI Setelah lewat fase akut → rujuk balik Bila komplikasi berat dan tidak tertangani → rujuk ke PPK 3 Terapi : manitol 20%. foto thorax Terapi (kortikosteroid. dexamethason. disotonomi. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. antikoagula atas indikasi.

Therapi Simptomatis : untuk demam (parasetamol) Kejang berulang sampai status → rujuk ke PPK 3 Rujuk ke PPK 2 23 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Terapi Pendahuluan : debridement luka. Oksigen. debidrement. foto thorax. metronidazole 3x500mg antibiotic (tetrasiklin 4x500mg)→ Tetanus grade I Tetanus grade II -V → Rujuk ke PPK 2 ATS/HTIG injeksi. TT 0. EEG. CT Scan. TT (bila belum diberikan di PPK 1). EKG. diazepam injeksi. Antiviral (acyclovir) Therapi pemberian obat anti kejang. antiviral. Foto thorax Perbaikan → rujuk balik Terapi : metronidazole 3x500mg (14 hari). EEG. pemeriksaan antigen antibodi spesifik untuk virus Perbaikan→rujuk balik Penanganan kejang : diazepam injeksi Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah.5 cc.000 u. diazepam injeksi) Setelah perbaikan rujuk kembali ke PPK 1 Tetanus grade III-V → rujuk ke PPK 3 5 ENSEFALITIS Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis : LP Penanganan komplikasi pada ensefalitis (status epileptikus). perlu perawatan ruang intensif Pemeriksaan penunjang : LP. tetrasiklin 4x500 mg (10 hari). antipiretik. ATS 10.

MRI Rujuk Ke PPK 2 Terapi : operatif (sesuai indikasi) 8 RADIKULOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. fisioterapi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) dan tirah baring Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah. EMG. foto thorax.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak) Terapi : operatif sesuai indikasi 24 . pemeriksaan darah. myelografi Rujuk ke PPK 2 Terapi : anti nyeri (Na diklofenak) Rujuk ke PPK 3 Rujuk balik bila tidak mau operasi atau penanganan khusus 7 MYELOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra. pemeriksaan darah. MRI (atas indikasi). analgetik. foto vertebra. myelografi Bila terdapat progresivitas → Rujuk Ke PPK 3 Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra. EMG Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 6 MYELORADIKU LOPATI Skrining tanda serta gejala klinik Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto polos vertebra (bila belum dilakukan). bone scanning (bila ada kecurigaan Ca metastasis) Terapi : operatif.

CT Scan kepala dengan kontras Penanganan Subspesialistik (operatif. radioterapi) Penatalaksanaan : dexamethason dan ranitidine injeksi → Rujuk PPK 2 Pemeriksaan penunjang : PA Jika perbaikan. MRI) Penanganan di ruang intensif Bila perbaikan dan kejang terkontrol → Rujuk balik PPK 2 9 STATUS EPILEPTIKUS Diagnosa berdasarkan gejala klinis. muntah. CT scan. tatalaksana serangan kejang akut (pemberian diazepam dan loading dose OAE) segera rujuk PPK 1 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi status epileptikus refrakter/yang memerlukan perawatan intensif (ICU). mencari etiologi. pemberian OAE 10 SOL ( Tumor Intrakranial dan infeksi intrakranial ) Diagnosa berdasarkan gejala klinis Diagnostik dan penanganan lebih lanjut TTIK (gejala berupa penurunan kesadaran.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila tidak ada perbaikan Rujuk ke PPK 1 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Penanganan status epileptikus. nyeri kepala. papiledema) Pemeriksaan penunjang : foto polos tengkorak. rujuk kembali ke PPK 2 Rujuk ke PPK 3 jika memerlukan penegakkan diagnostic dan penanganan subspesialistik 25 . Diagnostik status epileptikus (EEG. kemoterapi.

pemeriksaan darah Penegakan diagnostik dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang : Foto vertebra. dan posisioning Diagnosa dan penanganan Penanganan dan diagnostic EMG bila alat tersedia. → rujuk balik PPK 1 faktor resiko. bila tdk ada perubahan rujuk ke PPK 2 Bila ada red flag  rujuk ke PPK 2 Bila gejala defisit neurologis berat atau terapi simptomatis tidak ada perbaikan →rujuk ke PPK 3 Bila ada gejala dan tanda red flag  rujuk ke PPRK 3 Terapi : simptomatis dan causal.EMG bila alat tersedia. EMG.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 NO 1 DIAGNOSIS (RAWAT JALAN) Sequele Stroke PPK 1 Skrining tanda dan gejala klinis dan faktor resiko PPK 2 Penanganan faktor resiko dan kecacatan (rehabilitasi) - PPK 3 Penanganan preventif Bila ada perbaikan fungsi stroke sekunder. fisioterapi Sesuai guideline stroke Bila deficit neurologis berat → rujuk ke PPK 2 2 Radikulopati Skrining tanda dan gejala klinis Penegakkan Diagnosis dan penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang: foto polos vertebra.MRI bila ada indikasi Simptomatis : anti nyeri (Na diklofenak). USG carpal tunnel. mencari factor resiko EMG 26 . CT myelo sesuai indikasi. operatif sesuai indikasi 3 CTS Skrining tanda dan gejala klinis Penanganan simptomatik analgetik.

mencari factor resiko Diagnosa dan penanganan Parkinson Rujuk ke PPK 2 Obat antiparkinson Pemeriksaan darah untuk mencari faktor resiko Pemeriksaan CT Scan Bila gejala terkontrol → rujuk balik ke PPK 2 Bila gejala tidak teratasi atau efek samping obat → rujuk ke PPK 3 Parkinson sekunder → rujuk ke PPK 3 Bila ada perbaikan rujuk ke PPK 1 5 Nyeri kepala Skrining tanda dan gejala klinis.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 bila ada deficit neurologi → rujuk ke PPK 2 penanganan analgetik deksamethason injeksi fisioterapi terapi medikamentosa operatif bila ada indikasi bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 1 bila nyeri teratasi → rujuk balik PPK 2 bila deficit neurologi berat (atrofi) → rujuk ke PPK 3 4 Parkinson Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. MRI sesuai indikasi 27 . penegakkan diagnose berdasarkan guideline nyeri kepala perdossi Diagnosa dan penanganan nyeri kepala primer Diagnosa dan penanganan nyeri kepala Bila nyeri kepala teratasi → rujuk balik PPK 1 Pemeriksaan CT Scan.

kejang pada epilepsi dan penegakkan diagnosa mencari etiologi berdasarkan bangkitan terapi sesuai guideline epilepsy perdossi Pemeriksaan penunjang : EEG. gigi dll sesuai kausal Bila sudah tertangani → rujuk balik ke PPK 2 Bila teratasi → rujuk balik PPK 1 6 Epilepsi Skrining tanda dan Diagnosa dan penanganan gejala klinis. mencari etiologi Diagnosa dan penanganan 28 . SGOT. SGOT. elektrolit. SGPT Terapi sesuai guideline epilepsy dengan kombinasi obat Diagnosa dan penanganan kejang EEG. SGPT Setelah kejang terkontrol → rujuk balik ke PPK 1 Terapi kombinasi obat lini pertama dan lini kedua sesuai guideline epilepsy Bila kejang tidak terkontrol → rujuk ke 3 Bila kejang terkontrol → rujuk balik Ke PPK 2 7 Vertigo Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. THT. ada nyeri kepala sekunder dan terdapat tanda-tanda bahaya nyeri kepala (red flag) → rujuk ke PPK 2 Nyeri kepala dengan red flag → rujuk ke PPK 3 Penanganan nyeri kepala sekunder. MRI Bila kejang tidak terkontrol dengan 2 jenis obat antiepilepsi lini pertama → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan darah rutin. operatif bila ada indikasi Nyeri kepala sekunder periksa → konsul mata. pemeriksaan darah rutin. elektrolit.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila nyeri kepala tidak terkontrol.

MRI sesuai indikasi Bila ada deficit neurologi dan progresif → Rujuk PPK 2 untuk mencari etiologi dan penanganan konsul THT Terapi simptomatik. fisioterapi bila gejala teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Diagnosa dan penanganan 8 Nyeri (termasuk nyeri punggung bawah) Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan serta mencari etiologi terapi simptomatik Penanganan nyeri : analgetik. MRI sesuai indikasi Bila ada tanda-tanda red flag LBP dan tanda radikuler → rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan foto polos vertebra. fisioterapi Bila nyeri progresif dan belum teratasi dan terdapat tanda red flag → Rujuk ke PPK 3 9 Neuropati/ Polineuropati Skrining tanda dan gejala klinis Diagnosa dan penanganan. fisioterapi EMG. serta mencari etiologi Bila nyeri teratasi → rujuk balik ke PPK 2 Penanganan dan diagnostic terapi siimptomatik. fisioterapi Bila gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 Tindakan operatif sesuai indikasi Terapi simptomatik. mencari factor resiko EMG bila alat tersedia EMG terapi simptomatik dan penanganan factor resiko terapi medikamentosa dan penanganan factor resiko 29 . EMG sesuai indikasi dan bila tersedia alatnya Tindakan operatif sesuai indikasi Analgetik.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 terapi simptomatik pemeriksaan factor resiko. CT Scan kepala bila alat tersedia.

elektrolit. sputum BTA. foto thorax Terapi (kortikosteroid. dexamethason. LP dengan pemeriksaan kultur Terapi sesuai diagnostik. obat anti tuberkulosa) Diagnostik dan penanganan komplikasi meningitis Bila gejala klinis memburuk → Rujuk ke PPK 2 Pemeriksaan penunjang : CT scan bila ada tandatanda TTIK. operatif bila tanda-tanda TTIK akut Perbaikan→rujuk balik PPK 2 Setelah stabil rujuk ke PPK 1 untuk lanjutan OAT bila ada tanda-tanda TTIK atau perburukan klinis → rujuk ke PPK 3 30 . kimia. progresif → Rujuk ke PPK 2 Bila terdapat deficit neurologi atau gejala tidak teratasi → rujuk ke PPK 3 bila gejala teratasi → rujuk balik PPK 2 10 Meningitis (post perawatan) Skrining tanda dan gejala klinis Lanjutkan terapi OAT Diagnostik dan penanganan Pemeriksaan Penunjang : LP.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Bila gejala tidak teratasi. pemeriksaan darah rutin.

Dermatitis Seboroik Terapi topical Terapi sistemik Bila terdapat komplikasi eritroderma  Rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 2 ditambah penanganan komplikasi 5. THT-KL untuk penatalaksanaan faktor pencetus Bila terdapat komplikasi artritis  konsul IPD Bila terdapat komplikasi eritroderma. Psoriasis vulgaris Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal bila luas lesi < 5% Bila tidak responsif atau luas lesi > 5%  rujuk PPK 2 Umum: hindari faktor pencetus Khusus: Terapi topikal Terapi sistemik Konsul ke bagian Gigi dan Mulut. psoriasis pustulosa rujuk PPK 3 Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 4. biologic agents 3. THT-KL untuk penatalaksanaan infeksi fokal Sama dengan PPK 2 6. Dermatitis Numularis Terapi topical Terapi sistemik Sama dengan PPK 1 Konsul ke bagian Gimul.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT KELAMIN No 1 DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3 Vitiligo Terapi topikal untuk tipe lokalisata Bila tidak responsif atau generalisata  rujuk PPK 1 Terapi topical Terapi topikal Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topical Fototerapi 2 Liken Simpleks Kronikus Sama dengan PPK 1 Konsul ke psikiater apabila faktor psikis dinyatakan sebagai penyebab Sama dengan PPK 2 ditambah fototerapi. Tinea Kruris Terapi topikal Sama dengan PPK 2 31 . Skabies Penyuluhan Terapi topikal Terapi sistemik Menghilangkan faktor Sama dengan PPK 1 Sama dengan PPK 1 7.

Dermatitis Kontak Iritan Sama dengan PPK 1 Bila tidak resposif  rujuk PPK 3 Sama dengan PPK 1 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bahan penyebab 32 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 predisposisi Terapi topikal Terapi sistemik Bila luas  rujuk PPK 2 8. Xerosis Cutis Menghindari faktorfaktor yang menambah kekeringan kulit Terapi topikal: pelembab Menyarankan kepada penderita untuk menghindari bahan penyebab Menyarankan penderita untuk menggunakan pelindung seperti sarung tangan jika terpaksa harus kontak dengan bahan penyebab Terapi topikal Terapi sistemik Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Sama dengan PPK 1 10. Terapi sistemik untuk lesi yang luas Keloid Terapi topical Bila tidak responsif  rujuk PPK 2 Terapi topikal Tindakan: injeksi kortikosteroid inralesi Bila tidak responsif  rujuk PPK 3 Terapi topikal Tindakan injeksi kortikosteroid inralesi dapat dikombinasikan dengan bedah beku Eksisi dengan radioterapi Sama dengan PPK 1 9.

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

PENGELOLAAN PENYAKIT MATA

NO
1.

DIAGNOSIS
KONJUNGTIVITIS

PPK 1
EVALUASI  Riwayat trauma/kelilipan, kontak dengan penderita mata merah, riwayat iritasi dan alergi/hipersensitiv itas (udara, debu, obat, makanan dll)  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat, konjungtivabulbi dan tarsal, dan memastikan pada kornea tidak ditemukan kelainan akibat perdagangan konjungtiva.  Konjungtivitas bakteri bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret mukopurulen atau purulen, dapat disertai membrane atau pseudomembran pada konjungtiva tarsalis.  Konjungtivitis virus bila ditemukan konjungtiva hiperemis, secret

PPK 2

PPK 3

 Sama dengan fasilitas  Pemeriksaan kultur primer swab secret konjungtiva  Pemeriksaan komposisi pada agar darah domba, air mata dengan agar tioglikolat, dan uji melakukan pemeriksaan resistensi anti mikroba. Schirmer, BUT dan Ferning, uji anel melalui pungtum lakrimalis untuk menilai ada atau tidaknya sumbatan.  Pemeriksaan dengan slitlamp untuk menilai keadaan konjungtiva bulbi, tarsal, forniks dan kornea.  Melihat gambaran secret (mukoserosa, mukopurulen, purulen).  Melihat gambaran folikel, papil, membrane pada konjungtivitis tarsal superior dan inferior dan konjungtiva forniks  Melihat gambaran injeksi dan nodul pada konjungtivitis bulbi.  Memastikan tidak ditemukan kelainan pada kornea.  Melihat kelainan pada komposisi air mata, obstruksi kelenjar meibom.  Pemeriksaan swab secret dengan penawaran gram bila dicurangi infeksi bakteri, Giemsa bila dicurigai virus 33

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

umumnya mukoserosa dan pembesaran kelenjar limfe preaurikuler.  Konjungtivitis alergi bila mempunyai riwayat alergi atau atopi dan ditemukan keluhan gatal, dan hiperemis konjungtiva.  Curigai Steven Johnson syndrome jika terjadi konjungtivitis pada kedua mata yang timbul seteleh minum atau mendapatkan terapi obatobatan.  Curigai kojungtivitis gonore, terutama pada bayi baru lahir, jika ditemukan konjungtivitas pada dua mata dengan secret purulen yang sangat banyak. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes mata kloramfenikol  Berikan obat tetes (0,5% -1 %)6 kali mata antibiotik sehari atau salep sprektum luas 6 kali mata 3x sehari sehari dan/atau salep selama minimal 3 mata 3 kali setiap bila hari bila dicurigai dicurigai infeksi bakteri infeksi bakteri.  Berikan salep mata  Berikan salep anti antivirus asiklovir 5 kali virus jka sicurigai sehari bila dicurigai infeksi virus infeksi virus.  Berikan tetes mata  Berikan tetes mata anti buatan 6 kali alergi (kromolin glikat)  Berikan tetes antibiotika sesuai hasil gram atau kultur, 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari bila infeksi bakteri  Berikan tetes antivirus sdoksuridin atau asiklovir bila infeksi virus.  Berikan tetes/salep mata antihistamin atau kortikosteroid bila 34

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

sehari bila dan/atau anti inflamasi dicurigai iritasi. bila dicurigai reaksi  Pada steven alergi/hipersensitivitas Jhonson  Berikan tetes /gel syndrome, lubrikan atau air mata diberikan tetes buatan bila ditemukan mata antiinlamasi iritasi (sterioid) dan air  Dicari factor mata predisposisi penyakit buatan/lubrikan yaitu sistemik (diabetes kemudian rujuk ke mellitus, TBC, kondisi fasilitas sekunder imunitas yang rendah, untuk cacingan, kondisi mendapatkan immunocompromised). penanganan lanjut  Keadaan konjungtiva dari bagian diperiksa 3 hari hingga spesialis kulit. sidapatkan perbaikan  Pada Konjungtivitis klinis, Bila tidak ada gonoro, pada bayi perbaikan, memburuk diberikan injeksi atau terjasi kompliksi penilisin procain dalam 1 bulan, dirujuk 50.000 IU/Kg ke dokter mata bb/hari dan konsultan Infeksi dan kloramfenikol Imunologi atau fasilitas tetes mata (0,5% mata tersier. 1,0%) tiap jam.Bila tidak tidak ada perbaikan dan atau terjadi komplikasi pada kornea, segera rujuk ke fasilitas sekunder dan tersier.  Bila tidak ada perbaikan dengan terapi dalam 1 minggu pada konjungtivitis bakteri, 2 minggu pada konjungtivitis virus dan alergi, segera rujuk ke fasilitas sekundrt atau tersier.

ditemukan reaksi alergi atau hipersesitivitas. Bila ditemukan kompliksi pada kornea, penatalaksanaan sesuai dengan penatalaksanaan keratitis/ulkus kornea Pada Steven Jhonson syndrome, berikan terapi anti inflamasi (steroid) tropical dan lubrikan/air mata buatan, disertai terapi dari bagian spesialis kulit. Pada konjungtivitis gonore, diberikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata, injeksi ceftriaxon 1 gr single dose intravena, jika ada ulkus berikan ceftriaxon 1 gr intravena tiap 12 jam selama 3 hari.Bila alergi diberikan ciprofloxacin 500 mg oral 2 kali selama 5 hari. Pada bayi berikan gentamisin/ciprofloxaci n salep mata injeksi ceftriaxon 25-50 mg/kg bb atau cefotaxim 100mg/kg bb interavena atau intramuskular. Berikan tetes/ gel mata lubrikan dan air mata buatan bila ditemukan iritasi Pemeriksaan klinis factor predisposisi local (dry eye, obstruksi duktus nasolakrimalis dll), dilanjutkan pentalaksanaan terhadap kelainan tersebut pemeriksaan laboraturium lengkap darah, urin, feses bila dicurigai predisposisi 35

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

penyakit sistemik.  Berikan terapi oral/parenteral sistemik bila ditemukan factor predisposisi sistemik sesuai hasil konsultsi bagian yang bersangkutan.  Keadaan konjungtiva di periksa tiap 3 hari hingga didapatkan perbaikan klinis dan evaluasi pengobatan terhadap factor predisposisi sistemik dan local  2
EVALUASI KERATITIS DAN ULKUS  Riwayat KORNEA  Riwayat trauma (kelilipan,  Riwayat trauma (kelilipan, benda asing di kornea, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma khusus riwayat trauma tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan atau pengunaan obat tetes pengunaan obat tetes mata tradisional yang mata tradisional yang berasal dari tumbuhberasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai tumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa penggunaan lensa kontak), pemakaian kontak), pemakaian kortikosteroid topical. kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinterbaik menggunakan pinhole. hole.  Tekanan intraocular (TIO)  Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan cara palpasi diukur dengan cara palpasi  Pemeriksaan dengan slit  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk menilai lamp untuk menilai keadaan kornea dan keadaan kornea dan segmen anterior lainnya : segmenn anterior lainnya :  Melihat gambaran  Melihat gambaran secret (serosa, secret (serosa, mukopurulen, mukopurulen, purulen). purulen).  Bentuk ulkus  Bentuk ulkus (pungtata, filament, (pungtata, filament, dendritik, geografik, dendritik, geografik, oval, intersisial,dll) oval, intersisial,dll)  Kedalaman ulkus  Kedalaman ulkus (superficial, dalam, (superficial, dalam, apakah ada apakah ada kecenderuangan untuk kecenderuangan untuk

trauma (kelilipan, benda asing di kornea, khusus riwayat trauma tumbuhtumbuhan atau pengunaan obat tetes mata tradisional yang berasal dari tumbuhtumbuhan dapat dicurigai disebabkan oleh jamur, penggunaan lensa kontak), pemakaian kortikosteroid topical.  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dan koreksi terbaik menggunakan pinhole.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat keadaan kornea

36

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat

2012

perforasi (impending perforasi (impending perforation) dan perforation) dan perforasi. perforasi.  Pemeriksaan kerokan  Hipopion dapat ada korea dengan penawaran atau tidak ada. Gram dan pemeriksaan  Lakukan foto keadan langsung dengan KOH 10% kornea dan segmen anterior lainnya.  Pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan Gram, Giemsa dan pemeriksaan langsung dengan KOH 10%  Pemeriksaan kultur kerokan kornea dengan agar darah domba, tioglikolat dan agar sabouraud dekstrosa.  Bila segmen posterior sulit dinilai, lakukan pemeriksaan ultrasonografi. Bila didapatkan adanya kekeruhan vitreus dan tanda-tanda endoftalmitis, lakukan prosedur endoftalmitis. PENATALAKSANAAN  Berikan tetes. Salep mata kloramfenikol (0,5-1%) enam kali sehari, atau salep mata tetrasiklin 3 kali sehari sekurangkurangnya untuk 3 hari.  Jangan diberikan kombinasi antibiotika dengan obat yang mengandung kortikosteroid  Jang menggunakan obat-obat tradisional.  Segera rujuk ke spesialis mata apabila :  Tajam penglihatan awal buruk atau menurun setelah 3 hari pengobatan  Tampak lesi  Pasien sebaiknya dirawat  Pasien sebaiknya dirawat apabila : apabila:  Lesi ulkus kornea  Lesi ulkus kornea mengancam mengancam penglihatan, penglihatan, mengancam mengancam perforasi. perforasi.  Pasien dianggap  Pasien dianggap kurang patuh utnuk kurang patuh utnuk pemberian obat tiap pemberian obat tiap jam jam  Diperlukan follow up  Diperlukan follow up untuk menilai untuk menilai kebersihan terapi. kebersihan terapi.  Apabila ditemukan  Apabila ditemukan gambaran ulkus kornea gambaran ulkus kornea dendritik, geogradik atau dendritik, geogradik atau stroma, dapat diberikan stroma, dapat diberikan salep mata asiklovir 5 kali salep mata asiklovir 5 kali sehari atau tetes mata sehari atau tetes mata idoksuridin tiap jam. idoksuridin tiap jam.  Bila pada pemeriksaan  Bila pada pemeriksaan kerokan kornea kerokan kornea didapatkan hasil gram didapatkan hasil gram positif atau negative positif atau negative diberikan antibiotika tetes diberikan antibiotika tetes mata golongan mata golongan

37

Rujuk ke spesialis mata konsultan infeksi dan imunologi mata atau klinik mata tersier apabila didapatkan :  Ulkus kornea yang terjadi pada pasien yang hanya mempunyai satu mata  Ulkus kornea pada anak-anak  Adanya 2012         aminoglikosida (gentamisin . Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam. Bila kerokan kornea didapatka hifa jamur (KOH positif). Keadaan Korea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan.dibekasin. berikan tetes mata Natamisin 5 % tiap jam tiga kali sekali. ofloksasin. yang kemudian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. aminoglikosida (gentamisin . Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan.15% dapat dibuat dengan modifikasi sediaan bubuk untuk pemberian intravena). Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan. Keadaan kornea diperiksa tiap hari hingga didapatkan adanya kemajuan pengobatan yang kemusian frekuensi pemberian dapat dikurangi hingga 3-5 minggu. Pemberian analgetik apabila diperlukan. Bila kerokan kornea didapatkan hifa jamur. Tidakan Bedah:  Keratektomi superfinansial tanpa membuat perlukaan 38 . berikan tetes mata amfoterisin B 0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat putih di kornea  Tetap berikan kloramfenikol tetes mata saat merujuk ke spesialis mata di fasilitasi sekunder dan tertier.15% tiap jam (tetes mata amfoterisin B 0. Pemberian analgetik apabila diperlukan. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. ofloksasin. diberikan tetes mata Natamisin 5% tiap jam dan salep mata Natamisin 5 % tiga kali sehari atau bila pasien mampu. yang kemudian frakuensi pemberian dapat dikurangi hingga 2 minggu. tobramisin) dengan konsentrasi yang ditingkatkan (fortified)tiap jam atau golongan quinolone (sprofloksasin. Lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam setelah makan sebagai salah satu factor risiko ulkus kornea.dibekasin. Terapi tambahan yang dapat diberikan adalah tetes mata sikloplegik dan anti –glaukoma apabila didapatkan peningkatan TIO. levofloksasin) tiap 5 menit pada 1 jam pertama dilanjutkan tiap jam.

dengan indikasi : Ulkus korena dengan tissue loss berukuran kecil Perforasi kornea perifer berukuran kecil Flap konjungtiva. terutama pada ulkus kornea jamur. dengan indikasi :  Untuk menegakkan diagnosis. Tidak didapatnya kemajuan terapi setelah 3 hari pengobatan (ulkus kornea bakteri) atau 7 pengobatan (ulkus kornea jamur). terutama jamur Tarsorafi lateral atau medial . dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descem atocele Perforasi kornea di perifer Patch graft dengan flap konjungtiva.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kecenderungan untuk perforasi atau perforasi. dengan indikasi : Mempertahankan 39 . Kedurigaan ulkus kornea jamur.  Menghilangkan materi infeksi. dengan indikasi : Kecenderungan perforasi/descemato cele Perforasi kornea di perifer Keratoplasi tembus. 2012        -  pada membrane Bowman dengan indikasi :  Keratitis virus epitelial  Erosi kornea rekuren Keratektomi superfinansial hingga membran Bowman atau stroma anterior. tetapi tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan langsung KOH 10% atau pewarnaan jamur lainnya. dengan indikasi :  Keratitis terpapar  Keratitis neuroparalitik Tissue adhesive atau graft amnion multilayer.

terutama TIO yang terlalu tinggi untuk kelangsungan  Klasifikasi glaucoma mirip dengan klasifikasi pada fasilitas sekunder.Mempertahankan integritas bola mata.  Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup: gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. yang bersifat progessif lambat. dimana sulit untuk mendapatkan donor kornea 3 GLAUKOMA KRONIS EVALUASI  Pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik dan pin-hole: biasanya tajam penglihatan masih baik.  Pemeriksaan funduskopi – rasio CD (Perbandingan antara lebar cekungan papil terhadap lebar papil N. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat.  Klafisikasi glaucoma berdasarkan pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi) dibagi ke dalam glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut. dengan indikasi : . Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. sedangkan glaucoma sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai penyulit penyakit mata lain baik yang sedang maupun yang pernah diderita serta penyakit sistemik.Mengganti jaringan kornea yang terinfeksi dengan donor kornea. atrifi dan ekskavasi papil N.Pada stadium lanjut didapatkan koreksi tajam penglihtan tidak penuh dengan pupil melebar dan berwarna hitam.  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi dan pin-hole.5) atau lebih. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata dengan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.  Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi : menyempit.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO 28 mm Hg (4.II) sebesar 0. Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 integritas bola mata . disebabkan oleh berbagai factor risiko.  Pemeriksaan sudut bilik mata depan dengan gonioskopi.  Fascia lata graft.6 atau lebih. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.II serta lapang pandang karakteristik.  Pemeriksaan funduskopi : Gambar dan uruaikan papil 40 .  Pemeriksaan dengan biomikroskopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal.5/7. Berdasarkan etiologinya dibagi kedalam glaucoma sekunder. Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer.  Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma kronis)  Glaukoma sudut terbuka primer adalah glaucoma primer yang ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaucoma primer adalah glaucoma yang timbul dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaucoma.

evaluasi papil saraf optic  Glaukoma kronis sudut dan serabut saraf retina tertutup primer dengan alat diagnostic  Glaukoma jenis ini imaging seperti OCT adalah glaucoma (optical coherence primer yang ditandai tomography)dan HRT dengan tertutupnya (Heidelberg retinal trabekulum oleh iris topography). 41 . tonomirip dengan pen dan bila ada dengan glaucoma sudut tonometer non kontak.  Selain sudut bilik mata depan yang tertutup. perifer secara perlahan. setelah trauma tumpul  Bila memungkinkan dan lain-lain. memungkinkan dengan glaucoma angle recess Octopus atau Humphrey. static baik manual maupun glaucoma computer:bila pseudoeksfoliasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kesehatan mata. Glaukoma jenis ini juga merupakan kelanjutan glaucoma akut sudut tertutup primer yang tidak mendapat pengobatan atau setelah mendapat pengobatan yang tidak sempurna atau setelah terapi iridektomi perifer/trabekulektomi (glaucoma residual). Glaukoma tersebut dapat pula berkembang dari bentuk intermiten.  Glaukoma sudut terbuka  Pemeriksaan tekanan sekunder intraocular dengan tonometer Schiotz. glaucoma perimeter kinetic dan kortikosteroid. saraf optik.  Gambaran klinis yang tonometri aplanasi. terbuka primer antara lapang lain adalah glaucoma  Pemeriksaan pandang dengan alat pigmenter.Bentuk primer berkembang pada mereka yang memiliki factor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata depan tergolong sempit. gambaran klinisnya asimptomatis mirip glaucoma sudut terbuka primer.subakut atau merambat (creeping).

 Pemeriksaan sudut bilik mata depan menggunakan teknik Van Herrick dan sebaliknya menggunakan gonioskopi. Pupil dapat terlihat midriasis dan reflex cahaya yang lambat. 2012 PENATALAKSANAAN  Tekanan intra ocular diturunkan dengan 1. Kelainan glaucoma jenis ini bersifat bilateral walaupun tidak selalu simetris pada kedua mata.Bilik mata depan dalam dengan sudut bilik mata depan yang terbuka lebar pada glaucoma sudut terbuka primer.  Pemeriksaan dengan biomiksokopi : Gambaran bola mata tidak berbeda dengan gambaran mata normal. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 1.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen dengan koreksi dan pin-hole.  Pemeriksaan lapang pandang dengan alat perimeter sederhana atau perimeter Goldmann : cacat lapang pandang galukomatosa. GLAUKOMA TERBUKA PRIMER SUDUT 42 . Pada glaucoma sudut terbuka sekunder harus dicari factor penyebab.  Pemeriksaan funduskopi : terlihat atrofi papil glaukomatosa. Tajam penglihatan sentral sering masih baik walaupun penyakit sudah stadium lanjut.  Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometer Schiotz : TIO umumnya lebih dari 21 mm Hg. Bilik mata depan dangkal dan sudut bilik mata depan sempit pada glaucoma sudut tertutup primer.

GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER  Cari faktor penyebab  Medikamentosa Prostaglandin analog (Glaupen. seperti :  Prostaglandin analog (Glaupen. Sampai saat ini belum ada criteria yang memuaskan untuk menetapkan tingkat TIO yang dapat diterapkan aman untuk mempertahankan keadaan lapang pandang bagi semua penderita.0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat obat-obatan secara bertahap berupa : . trabekuloplasti laser selektif  Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/atau dengan Mitomisin C/5Fluorourasil.Timol) 0. tetapi dapat dikombinasikan tergantung dari sasaran TIO. namun dapat pula menggunakan obatobatan jenis terbaru. .Pemilihan obat untuk pengobatan awal didasarkan pada penilaian mata penderita dan status kesehatan umum. a. 43 . penderita tidak patuh. pelayanan tingkat sekunder atau tersier bila TIO tetap diatas 21mmHg. 2012  Medika mentosa . Medikamentosa .KCI 2-3 x 0.Pilokarpin 2% 4 x 1 tetes/hari .  Oleh karena obatobatan dibeirkan untuk jangka lama dan terus menerus. Penerita dirujuk ke dokter spesialis mata. Glauplus.  Upaya pencegahan kebutaan akibat glaucoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaucoma secara aktif di masyarakat. Ada yang menurukan 30% lebih rendah dari TIO awal. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma.5 gr/hari  Obat-obatan prinsipnya dibeirkan secara sendirisendiri. Umumnya TIO diharapkan lebih rendah dari 21 mm Hg. tidak tahan terhadap obat-obatan.Asetazolamind 3-4 x 125 – 250 mg/hari .Prinsip terapi mirip dengan penanganan pada fasilitas sekunder. Xalatan. Xalatan.25% 0. Sangat penting diperhatikan kepatuhan penderita dalam melaksanakan pengobatannya.5% satu sampai 2x sehari bila tidak ada kontraindikasi atau obat-obat baru yang lain (seperti glaupen.25 – 0. non penetrating filtering surgery. Travatan)  Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol.5% 2x 1 tetes/hari (bila tidak ada kontra indikasi) . Azopt)  Alpha 2 agonist adrenergic  Terapi laser beurpa trabekuloplasti argon laser. Azopt).25% . 2. Glauplus.Timolol 0. Travatan) Penghambat karbonik anhidrase topical (Dorzol. Adapula yang menetapkan target pressure dengan perhitungan khusus yang bersifat individual/mata. Bila cacat lapang pandang belum lanjut atau TIO tidak terlalu tinggi maka terapi dapat dicoba pada satu mata lebih dahulu untuk menilai manfaat dan efek samping. dalam stadium lanjut glaucoma dan/atau utnuk menilai progresifitas penyakitnya. baik untuk  Tujuan pengobatan pada penderita yang terbukti menderita glaucoma sudut terbuka primer adalah mencegah berlanjutnya kerusakan papil saraf optic. operasi drainase implant.Terapi medikamentosa bersifat monoterapi dimulai dengan timolol maleat (C.

3 – 4 kali per hari. Bila dengan obat pertama keadaan TIO yang diharapkan belum tercapai tetapi obat tersebut dianggap berespon baik (mencapai nilai efektif farmakologis) dapat ditambahkan obat tetes lainnya. azopt). 1 minggu selanjutnya 4-8 minggu minggu setelah tindakan IP/trabekuloplasti laser. xalatan. Tindakan iridektomi perifer laser atau trabekuloplasti  Pra dan setelah tindakan diberikan alpha 2 agonis  Pemberian anti inflamaasi topical setelah tindakan selama 2-3 hari  Follow up tindakan laser setelah 1 hari.  Tindakan bedah trabekulektomi bila TIO diatas 21 mmHg setelah tindakan iridektomi perifer dan medikamentosa  Tindakan bedah kombinasi trabekulektomi dan katarak bila ada indikasi keduanya. Bila efektivitas yang diharapkan belum tercapai.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penemuan kasus maupun deteksi dini. Pada setiap pemberian obat asetazolamide harus disertakan pemberian obat preparat kalium - 2012 Alpha 2 agonist adrenergic Terapi laser berupa trabekuloplasti argon laser. tetapi bila bila dianggap tidak efektif maka obat pertama diganti dengan obat lain. dorzol. GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Terapi medikamentosa diberikan baik sebelum terapi definitive iridektomi perifer maupun setelahnya.  Bila TIO naik pertimbangan pemberian medikamentosa atau tindakan trabekulektomi. siklodiatermi dan operasi kombinasi katarak dan glaukoma.  Minggu ke 8 lakukan 44 . maka dosis ditingkatkan menjadi 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam. operasi drainase impant. trabekuloplasti laser selektif. lalu penilaian diulang lagi. non penetrating filtering surgery.   3. travatan. Obat ini biasanya dimulai dengan dosis 125 mg. Bila dengan monoterapi atau kombinasi ternyata belum mencapai sasaran beurpa penurunan TIO yang tidak memuaskan atau tetap berlanjutnya kerusakan atau sejak awal tekanan lebih dari 30 mmHg maka dapat diberikan terapi sistematik dengan penghambat karbonik anhidrase. Terapi bedah berupa trabekulektomi tanpa/ atau dengan mitomisin C/5Fluorourasil. glauplus.

 Pasien harus diyakinkan perlunya pemeriksaan kontrol berkala seumur hidup mengenai TIO.Dokter harus merencanakan dan membicarakan saat dan jenis pengobatan dan meyakini bahwa nama obat dan jam pemberiannya ada tertulis di label botol.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat (KCL 0. alasan dan tujuan pengobatan.Humphrey  Lakukan Gonioskopi minimal setiap 3 bulan 45 .HRT : Evaluasi setiap 6.5 gr) 2 -3 x. Tindakan bedah : . Perawatan setelah tindakan trabekulektomi  Berikan kombinasi antibiotic dan anti inflamasi topical serta antibiotic sistemik  Kontrol 1 hari pasca bedah  Kontrol 7-10 hari pasca bedah  Kontrol setiap minggu sampai 1 bulan  Kontrol tiap 4-6 bulan bila keadaan baik Evaluasi dan follow up pasien glaukoma kronis  Perhatikan ada tidaknya progresfitas papil atrofi glaukomatosa  Fundudkopo.Bila dengan pengobatan medikamentosa diatas belum memuaskan sebaiknya penerita dipertimbangkan untk dilakukan terapi bedah (trabekulektomi atau non penetrating filtering surgery) atau dikonfirmasikan untuk kemungkinan tindakan lain ke pelayanan tingkat tersier.25 – 0. 2012 gonioskopi dan cek TIO.  Tambahan pula pasien harus diberitahu dengan kata-kata yang sederhana mengenai mekanisme terjasinya glaukoma.5 gr per hari. Hal ini perlu dalam upaya menjaga kepatuhan penderita dalam berobat. cara berbagai obat bekerja dan efek samping yang mungkin terjadi.OCT.12 bulan.  Perhatikan ada tidaknya pertambahan skotoma/kelainan lapang pandang dengan automatic perimeter setiap 6-12 bulan: Octopus. Instruksi bagi penderita :  Dalam pengobatan glaukoma penting sekali untuk memberikan instruksi pada penderita mengenai waktu dan pemakaian obat termasuk cara menekan daerah kantus internus untuk mencegah absorpsi sistemik obat tetes. b. 0.

kemudian tentukan :  Medikamentosa  Tindakan bedah : .Bedah katarak/ekstraksi lensa.Kartu pengenal tanda penderita glaukoma yang harus dibawa penderita mungkin ada manfaatnya.  Bila dengan penatalaksanaan diatas masih juga menunjukkan kemunduran maka dirujuk ke tingkat tersier untuk dipelajari lebih lanjut.Asetazolamid 2-3 x 2012 46 . GLAUKOMA SUDUT TERBUKA SEKUNDER Cari factor penyebab seperti yang tertulis di atas.Trabekulektomi .Iridektomi perifer .Penting pula pasien dan dokter lain yang merawatnya mengetahui efek samping. . GLAUKOMA KRONIS SUDUT TERTUTUP PRIMER  Tindakan bedah iridektomi perifer pada kedua mata  Medikamentosa obatobat glaucoma untuk menurunkan tekanan intraokular . serta penggunaan obat tetes yang benar/patuh seperti yang diinstruksikan kepadanya.Timolol 0.5 % 2 x sehari. alergi dan kemungkinan keracunan obat glaukoma.  Penderita sebaiknya mengetahui nama dan konsentrasi obat yang sedang digunakan.Pilokarpin 2% 4 x perhari. . 3.  Keluarga langsung perlu diikutsertakan dalam penatalaksanaan penderita 2.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat penilaian papil N.II dan lapang pandang.

5%. Azopt.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non-contact.5%.  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. bila dengan tindakan iridektomi perifer dan obat-obatan tekanan intraocular masih diatas 21 mmHg. aplanasi atau Schiotz  Jika TIO dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. 47 .  Tindakan bedah trabekulektomi. Xalatan.  Pemeriksaan funduskopi dengan oftalmoskop langsung untuk melihat segmen posterior jika katarak masih tidak terlalu  Pemeriksaan visus dengan kartu snellen dengan koreksi terbaik serta mengunakan pin-hole. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk melihat adanya kekeruhan lensa. 2012  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pin-hole. biasanya visus masih lebih baik dari 6/12. Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia pendirita juga biasanya kurang dari 50 tahun.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 250 mg sehari disertai dengan KCI 2-3 x 500mg . Dorzol.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. Travatan.5%. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien.Obat-obat baru seperti : Glaupen.  Derajat katarak ditentukan sebagai berikut : a.  Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.  Dilakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung. 4 KATARAK PADA PENDERITA DEWASA EVALUASI  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole  Pemeriksaandengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior dimana tidak ditemukan kekeruhan kornea dan tampak refleks pupil yang masih baik. tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan. Derajat 1 : Nukleus lunak. setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan tajam penglihatan pasien.  Jika TIO dalalm batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata tropicamide 0. Glauplus.  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz.

dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. Derajat 5 : Nukleus sangat keras. Derajat 4 : Nukleus keras. dimana refleks fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai. tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan. dimana nukleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60. Katarak ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract. c.  Dilakukan pemeriksaan 48 . Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30. 2012 Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah diatas 65 tahun. e. d.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keruh b. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior. Derajat 3 : Nukleus dengan kekerasan medium. nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman.

dapat dilakukan operasi ECCE (Extra capsular cataract extraction)  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersai.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 fundus dengan oftalmoskopi langsung ataupun tidak langsung. tetapi bisa juga berdasarkan anamnesis menggunakan IOL standar (power +20. penyakit lain ataupun alergi. jika visus sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi.00) dikurangi ukuran kacamta yang selama ini digunakan pasien.  Teknik bedah katarak menggunakan teknik manual ECCE atau pun fakoemulsifikasi dengan mempertimbangkan derajat katarak serta tingkat kemampuan ahli bedah  Operasi katarak hanya dilakukan jika visus sudah mengganggu kegiatan sehari-hari pasien dimana pasien berkesempatan melakukann diskusi dengan dokter mengenai alternative lain selain operasi.  Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk opersi. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. dimana pasien dengan virus > 6/12 diberikan kacamata dengan koreksi terbaik. serta perawatan pasca operasi.00  Perhatikan juga rekomendasi tindakan bedah katarak.  Penatalaksanaan bersifat bedah. dimana pasien dipersiapkan untuk implantasi lensa tanam (IOL : Intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.00 dapat diberikan IOL power +14.Misalnya jika pasien menggunakan kacamata S-6.  Operasi katarak dilakukan menggunakan mikroskop operasi dan peralatan bedah mikro.risiko operasi.  Setiap kali melakukan pemeriksaan pre –operasi mencakup hal-hal berikut : Anamnesis riwayat penyakit mata. pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah. pasien dipersiapkan untuk implantsi lensa tanam (I)L: intraocular lens)  Ukuran lensa tanam dihitung berdasarkan data keratometri serta menggunakan biometri Ascan.  Penatalaksanaan bersifat non bedah. 49 .  Pasien mengisi surat izin tindakan medis (informed consent).

keuntungan dan kerugian operasi serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi. penempatan sayatan dan konstruksi luka. jika pasien tersebut direncanakan implantasi lensa tanam. Pemeriksaan fundus dengan dilatasi pupil - -  Dokter spesialis mata yang akan melalukan operasi katarak sebaiknya memperhatikan persiapan preoperasi sebagai berikut : Memeriksa pasien sebelum operasi. Pemeriksaan mata luar (external examination) dengan senter dan lup atau slit lamp bergantung fasilitas.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat - 2012 Visus tanpa koreksi dengan Snellen serta refraksi terbaik. Memberikan infomasi kepada pasien mengenai resiko. Memperoleh surat izin tindakan medis (informed consent) Memastikan bahwa hasil keratometri dan biometri A Scan sesuai dengan mata yang akan dioperasi. Membuat rencana pembedahan (jenis anesthesia. jika pasien tersebut direncanakan untuk implantasi lensa tanam. Pengukuran tekanan intraocular Penilaian fungsi pupil (reflex pupil). Menentukan kekuatan lensa tanam yang sesuai. 50 .

Kualitas hidup pasien belum terganggu dengan gangguan penglihatan yang dialaminya.  Operasi katarak bilateral ( operasi dilakukan pada kedua mata sekaligus secara beruntun) sangat tidak dianjurkan berkaitan dengan risiko pasca operasi (endoftalmitis) yang bisa berdampak kebutaan.Tetapi ada beberapa keadaan khusus yang bisa dijadikan alasan pembenaran dan keputusan tindakan operasi katarak bilateral ini harus dipikirkan sebaik-baiknya.  Operasi tidak boleh dilakukan pada keadaan sebagai berikut : Pasien menolak tindakan operasi Pemberian kacamata ataupun alat bantu penglihatan lainnya masih cukup memuaskan bagi pasien.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 refraksi pasca operasi yang direncanakan serta jadwal pemeriksaan pasca bedah). Pasien tidak dapat menjalani operasi 51 . Melakukan evalusi pre operasi diatas termsuk pemeriksaan laboraturium serta berdiskusi dengan pasien ataupun keluarga pasien yang dianggap lebih mengerti dan dapat bertindak atas nama pasien. Ada dugaan bahwa operasi tidak dapat meningkatkan penglihatan pasien pasca operasi.

Dokter spesialis mata/staf juga menerangkan mengenai tanggung jwab pasien untuk mengikuti petunjuk yang harus dilakukan selama perawatan pasca operasi dan pasien harus segera menghubungi dokter tersebut jika mengalami masalah.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 katarak berkaitan dengan penyakit mata lain ataupun keadaan kesehatan akibat penyakit lainnya. jadwal kunjungan lanjutan (follow up) dan petunjuk dimana harus mendapatkan perawatan darurat jika diperlukan. - -  Dokter spesialis mata yang melakukan operasi ataupun staf dokter tersebut. adanya pembatas kegiatan.  Pemriksaan lanjutan pasca operasi (follow up) : Frekuensi pemerksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat pencapaian visus 52 . pengobatan. menjelaskan dan member instruksi kepada pasien mengenai gejala ataupun tandatanda mengenai kemungkinan terjadinya komplikasi pasca operasi. penggunaan proteksi mata. berkewajiban mendidik. Pasien tidak dapat mengikuti petunjuk pengobatan pasca operasi. Pasien tidak dapat memberikan surat izin tindakan medis yang sah secara hukum karena kurang pengertian ataupun kurang informasi.

edema kornea ataupun tandatanda peradangan. Pada pasien dengan risiko tinggi. seperti pada pasien dengan satu mata. maka pemeriksaan harus dilakukan harus satu hari setelah operasi. peningkatan tekanan intraocular.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 optimal yang diharapkan. glaukoma dan lain-lain. Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah baik keadaan pre-operasi maupun intra operasi serta diduga tidak akan mengalami komplikasi lainnya maka dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (follow up) sebagai berikut:  Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam waktu 48 jam setelah operasi (untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka yang menyebabkan bilik mata dangkal. mengalami komplikasi intra – operasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis.hipotonu s.  Kunjungan kedua : dijadwalwak - - 53 .

anti glaukoma atau edema kornea. Tetapi penggunaan tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien untuk digunakan setiap hari selama minimal 2 minggu pasca operasi. antibiotika oral. Obat-obat yang digunakan pasien pasca operasi bergantng dari keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien (misalnya analgetika. yaitu untuk mendeteksi dan mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada minggu pertama pasca operasi.  Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien dimana bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang diharapkan. dan lain-lain).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak dijumpai masalah pada kunjungan pertama. - 54 .

 Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya. dilakukan tindakan bedah berupa avulsi (pengangkatan)  Penatalaksanaan pada fasilitas tersier bersifat bedah dengan memperhatikan tujuan utama dari pengangkatan dari pterygium. yaitu:  Teknik operasi yang dianjurkan adalah dengan avulse pterygium disertai cangkok konjungtiva (conjunctival limbal graft) Penggunaan Mitomycin C sebaiknya hanya pada untuk penanganan kasus pterygium yang rekuren. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz. PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan bersifat non bedah. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid seperti CXitrol 3 kali sehari selama 5-7 hari. dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid sepertiCXitrol 3 kali selama 5-7 hari.  Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi ataupun mengalami kelainan kornea. yaitu edukasi terhadap pasien untuk mengurangi iritasi dan paparan ultra – violet. penderita diberi penyuluhan untuk mengurahi iritasi maupun paparan terhadap ultra – violet.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 5 PTERYGIUM EVALUASI  Pemeriksaan cukup dengan lup dan lampu senter. diperiksa segmen anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan Snellen  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer Schiotz untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta lainnya (glaukoma).  Pemeriksaan dengan slit lamp.  Pada pterygium derajat 3 dan 4. mengingat komplikasi dari mitomycin C yang cukup berat. perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). perkiraan TIO diperiksa dengan cara palpasi digital (dengan jari tangan). diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium. lalu dikoreksi dengan menggunakan trial frame. Jika pterygium mengalami inflamasi. 2012  Pemeriksaan dengan slit lamp.  Sebagai perbandingan angka kekambuhan pasca pengangkatan pterygium dapat dilihat dari berbagai 55 .  Astigmatisme kornea diperiksa dengan keratometer baik secara manual maupun menggunakan alat autorefrakto-keratometer  Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan cara aplanasi ataupun menggunakan tonometer non kontak. diperiksa segment anterior serta ditentukan derajat pertumbuhan pterygium  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan TIO yang tinggi  Penatalaksanaan bersifatnon bedah pada pterygium derajat 1 dan 2. Pada pterygium derajat 4 yang tidak dapat diukur dengan tonometer Schiotz.  Tajam penglihatan penderita diperiksa dengan kartu Snellen.

 Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. E Chart dan kelompok verbal dengan Snellen chart)  Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.  Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur (kelompok non verbal dengan pemeriksaan fiksasi. dan usia sekolah. usia prasekolah (2-5 thn).  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah. Sedapat mungkin setelah avulse pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterygiumtersebut ditutupi dengan cangkok kongjungtiva yang diambil dari bagian kanjungtiva superior untuk menurunkan angka kekambuhan. simbol chart. usia prasekolah (2-5 thn). Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.6% (Mutlu et al) Graft Graft Sclera Intra-Operative Mitomycin C 5.8% (Helal et al) Amniotic Membrane 10.  Pemeriksaan status refraksi dengan pemeriksaan objektif strek retinoskopi pada pupil lebar untuk kelompok usia >2 thn dan kelompok usia prasekolah. dan usia sekolah. usia prasekolah (2-5 thn). dan usia sekolah.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen  Mengenali gejala dan tanda pada msing-masing kelainan refraksi sesuai dengan umur usia.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn.9% (Mabar et al) Conjuctival Limbal 14.  Pemeriksaan refraksi subjektif pada kelompok usia prasekolah dan kelompok usia sekolah.senter dan slit lamp  Pemeriksaan segmen 56 .9%(Prabhasawat et al) Transplantation 3% (Solomon et al) 6 KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK EVALUASI  Mengenali gejala dan tanda pada masing-masing kelainan refraksi sesuai usia.  Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata. pterygium. Usia biasanya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu usia < 2 thn. 2012 laporan sebagai berikut. TECHNIQUE RECURENCE RATE Bare 61 % (Tan et al) 40% (Figuiredo et al) Conjunctival 18% (Wong et al) 25.  Pemeriksaan segmen anterior dengan lup.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat ataupun mengalami kelainan kornea.

 Mendeteksi adanya faktor-faktor ambliopia. resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi.  Kebutuhan tajam penglihatan sesuai umur  Resiko yang timbul akibat adanya kelainan refraksi  Penatalaksanaan amblipio dan akomodatif esotropia  Koreksi (tindakan)sisa esotropia pada kasus akomodatif esotropia setelah koreksi kaca mata diberikan 7 STRABISMUS EVALUASI  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai  Pemeriksaan dilakukan visus sesuai 57 . dengan sebelumnya dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0. 2012 PENATALAKSANAAN  Koreksi kelainan refraksi pada kelompok usia sekolah bila pada pemeriksaan subjektif virus mencapai 6/6.5% posterior dengan oftalmoskop direk.  Koreksi kelainan refraksi pada semua kelompok umur harus berdasarkan pertimbangan :  Apakah besarnya kelainan refraksi cukup mengganggu aktifitas  Kemampuan akomodasi pasien.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat  Pemeriksaan funduskopi kedua mata dengan oftalmoskopi direk.  Rujuk ke TEC bila dijumpai ambliopia dan/ atau mata juling.  Pemeriksaan kemungkinan ambliopia dan atau mata juling. posterior dengan oftalmoskop direk. Kebutuhan tajam penlihatan sesuai umur.  Rujuk ke fasilitas sekunder bila: Pada kelompok usia sekolah visus dengan koreksi tidak mencapai 6/6 Pada kelompok usia <2tahun dan kelompok usia prasekolah didapatkan tanda dan gejala kelainan refraksi dan kemampuan penglihatan tidak sesuai dengan umur Dijumpai kelainan posisi bola mata (kelainan refraksi + mata juling)  Koresi kelainan refraksi pada semua kelompok harus berdasarkan pertimbangan : besarnya kelainan rekraksi cukup mengganggu aktivitas: kemampuan akomodasi pasien :.

Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. Krimsky.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat keadaan. Maintain (CSM). dinilai keadaan kornea. Bila dicurigai ada simulated divergence excees perlu dilakukan pemeriksaan sudut deviasi setelah oklusi paling sedikit 1 jam pada salah satu mata. keadaan. coveruncover test dan Alternate Cover Test (ACT) 2012                PENATALAKSANAAN  Rujuk ke sekunder fasilitas  Bila terdapat kelainan rekraksi. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. dinilai keadaan kornea. Funduskopi dengan oftalmoskop direk. Demikian pula harus dilakukan pemeriksaan deviasi dengan dan tanpa koreksi kaca mata kalau terdapat kelainan refraksi. bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masingmasing anak. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. iris/pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Penilaian status sensoris 58 . Steady. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Bila penderita adalah bayi. koreksi dengan kaca mata yang sesuai Bila terdapat ambliopia. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. iris pupil dan lensa. Dilakukan funduskopi dengan oftalmoskup direk/indirek untuk melihat segmen posterior Dilakukan penilaian pergerakan bola mata. demikian pula yang dewasa. hanya dapat dilakukan dengan memperlihatkan sesuatu yang berwarna-warni di depan wajah bayi tersebut bila penderita anak yang sudah lebih besar pemeriksaan dilakukan sesuai tingkatan usia dan kemampuan masing-maisng anak. dinilai bagaimana keadaan kornea. pemeriksaan visus secara subyektif belum dapat dilakukan. Bila penderita adalah bayi. pemeriksaan visus secara subyektif dengan cara Central. Pemeriksaan dengan lampu senter dan lup untuk segmen anterior. Alternate Cover Test (ACT) / Prism Cover Test (PCT) Ukur deviasi jauh dan dekat serta dinilai ada tidaknya A&V pattern. Dilakukan penilaian pergerakan bola mata untuk melihat ada tidaknya hambatan pergerakan bola mata. Dilakukan refraksi objektif dengan streak retinoskopy dalam sikloplegi Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan dengan terlebih dahulu koreksi   keadaan. iris pupil termasuk reflek pupil dan lensa. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. Penetuan kedudukan bola mata dengan cara Hirschberg. demikian pula yang dewasa. Bila penderita adalah bayi. demikian pula yang dewasa.

dan tua)  Anamnesis (mata  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata ulkus dikelopak mata dan putih mata.  Identitas : umur (anak. dan penurunan visus). berikan koreksi terbaik. lama dan putih mata. dan penurunan visus). tidak dengan alat Hertel. Bila dengan koreksi kelainan refraksi. 2012         Bila terdapat kelainan refraksi. penglihatan ganda. penurunan visus). Terlihat adanya sama dengan pelayanan benjolan/ulkus di kesehatan sekunder atau palpebrapun primer. rasa nyeri.  Pemeriksaan mata  Pemeriksaan mata dengan/ tanpa slitlamp : dengan/ tanpa slitlamp. penglihatan ganda. dapat dilakukan reses –resek pada mata yang tidakk dominan atau yang visusnya lebih buruk Bila tipe convergence insufficiency dapat dilakukan resek rektus medieus. lakukan terapi ambliopia dengan patching mata yang dominan. dewasa muda. lama gejala. Bila tipe Divergence Excess dapat dilakukan reses rektus lateral pada kedua mata. konjungtiva dengan  Pemeriksaan orbita : permukaan Pengukuran berbenjol-benjol besarnya proptosis pada usia tua. Jenis operasi yang dilakukan disesuaikan dengan diagnosis dan pola deviasi yang ada dan keadaan visus masing-masing mata. lakukan operasi. dan tua) dewasa muda. rasa nyeri. lama gejala.  Pemeriksaan mata tanpa slitlamp : Terlihat adanya benjolan/ulkus di palpebrakonjungtiva dengan  Identitas : umur (anak. 8 TUMOR ORBITA EVALUASI  Identitas : umur (anak. 59 . Bila tipe Basik dan bila visus salah satu mata tidak baik. dewasa muda. tetap ekstropia. penglihatan gejala. dan ganda. Bila dengan pemberian kaca mata tidak ada perbaikan pada deviasinya maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tertier untuk dilakukan penatalaksanaan selanjutnya. dan tua)  Anamnesis (mata menonjol/benjolan atau ulkus dikelopak mata dan putih mata. rasa nyeri.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat kelainan refraksi. Bila ambliopia.

Kuadran lokasi - - - 60 . menunjukkan lebar fisura yang melebar. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. adenokarsinom a kelenjar Meibom. Teraba massa di orbita dengan lokasi tertentu. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. gejala dirasakan lebih dari 1 tahun. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. tidak menyembuh dengan pengobatan antibiotika. antara lain glioma. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan suatu proses inflamasi.pertumb uhan cepat : adenoid kistik karsinoma atau keganasan lain bola mata ke inferior: massa berada di superior – umumnya neurilemmoma atau kista dermoid bola mata terdorong inferotemporal : massa berada di nasal tumor berasal sinus frontal.  Pemeriksaan orbita : Pengukuran adanya proptosis dengan menggunakan alat Hertel atau penggaris di kantus lateral ke ujung kornea. dan umur tua – diagnosis tumor primer orbita ganas. dengan lama gejala lebih dari 1 tahun. phlebolith. pertumbuhan lambat :benign mixed tumor usia muda/tua. dan dapat hemangioma kavernosa bola mata terdorong ke superior : massa berasal dari inferior kebanyakan tumor ganas berasal dari sinus maksila atau jaringan penunjang. dengan lama gejala yang khronisdiagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat permukaan berbenjolbenjol pada usia tua.kar sinoma sel skuamosa.karsino ma sel skuamosa. atau melanoma maligna). dan usia dewasa muda – diagnosis tumor primer orbita jinak. atau pembesaran rongga - 2012 Arah terdorongnya bola mata : bola mata ke nasal bawah: Massa temporal atas (kelenjar lakrimal) usia muda. menunjukkan lebar fisura yang melebar. gejala dirasakan akut (kurang 1 tahun). dengan lama gejala yang khronis-diagnosis tumor ganas epitel adneksa (basalioma. meningioma. Jika gejala diderita oleh semua umur dapat dipikirkan menyembuh dengan pengobatan antibiotika. dapat mukokel atau keganasan dari epitel sinus (karsinoma sel skuamosa) bola mata terdorong aksial : massa berada di konus – umumnya tumor dari saraf optik terutama pada penderita berusia muda. Adanya keluhan rasa nyeri disertai tanda meradang di sekitar massa tumor. atau melanoma maligna). adenokarsinoma kelenjar Meibom.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Foto orbita baku – pada tumor primer orbita jinak diharapkan gambaran perselubungan.

Jika teraba lunak dapat diduga tumor bersifat jinak.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakonjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi/insisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi. penilaian lebih dititik beratkan pada ada tidaknya tumor dan refleks tumor. orbita. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. tempat hambatan menunjukkan lokasi tumor (kuadran lokasi) Pemeriksaan pulsasi : bila posifit tumor dapat berupa neurofibroma atau jika diketahui didahului trauma/hipertensi pada orang tua dapat diferensiasi dengan arteri-vena fistula. Jika tumor dapat diraba. tetapi jika keras kenyal dapat dicurigai tumor bersifat ganas. pada tumor primer orbita ganas dan metastasis/invasi diharapkan gambaran destruksi tulang. CT-scan : pemeriksaan ini cukup untuk mendiagnosis tumor orbita serta membantu untuk 61 . Pemeriksaan USG sukar untuk mendiferensiasika n jenis tumor.  Pemeriksaan penunjang radiologi : Ultrasonografi : pemeriksaan tidak invasif.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat suatu proses inflamasi. 2012 massa berada berlawanan dengan arah terdorongnya bola mata tumor sesuai dengan jaringan/organ yang berada di kuadran tersebut Gangguan gerak bola partial. dinilai kekenyalannya.

berukuran kecil dan diduga jinak. jinak atau ganas dengan menilai batas tumor. Untuk membedakan sifat tumor. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu.Pada tumor epitel yang  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral.  Pada tumor epitel adneksa.  Pemeriksaan patologi anatomi : Benjolan/ulkus dipalpebrakomjungtiva yang meragukan keganasan dapat dilakukan biopsi eksisi untuk spesimen pemeriksaan patologi anatomi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 penentuan penatalaksanaan selanjutnya.  Pada tumor epitel adneksa. kemudian diturunkan secara bertahap. Massa orbita yang mudah teraba dapat dilakukan tindakan biopsi 62 . dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat. - PENATALAKSANAAN  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral. tetapi dengan penanda ganas asam sialat menunjukkan nilai kadar yang berbeda bermakna. seperti prednisone dosis tinggi 12-16 tablet (2mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Pemeriksaan dilanjutkan  Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan ini sangat membantu dalam membedakan sifat ganas tumor.  Pemeriksaan fisik : untuk mencari adanya keganasan atau metastasis.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. Jika tidak berhasil sebaiknya dirujuk untuk ekspolari lanjut. berukuran kecil dan diduga jinak. Jika tidak berhasil sebaiknya penderita dirujuk. Akan tetapi pemeriksaan penanda ganas tidak ada yang spesifik untuk tumor orbita. kemudian diturunkan secara bertahap. Pemeriksaan MRI dan arteriografi pada kasus khusus yang mencurigai fistula atau ingin mengetahui tumor berasal dari saraf optik.

terutama pada tumor orbita. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. Pengobatan tambahan radiasi atau sitostatika dapat diberikan. sebaiknya dirujuk. karsinoma sel skuamosa stadium 1 setelah ektirpasi tumor dapat dilanjutkan dengan pemberian sitostatika local seperti tetes mata mitomycin. 2012 insisi sebagai bahan spesimen pemeriksaan patologi anatomi. Jika memungkinkan dapat dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. eksisi dengan rekonstruksi. Pada tumor yang lanjut dan telah berinvasi ke orbita dilakukan tindakan pembedahan radikal eksenterasi orbita. sebaiknya dirujuk. ataupun sitostatika.  Jika meragukan melakukan tindakan. berukuran kecil dan diduga jinak. Pada tumor yang lebih luas. terutama pada tumor orbita. kemudian diturunkan secara bertahap. ganas ataupun metastasis/invasi sebaiknya langsung dirujuk. dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor. baik jinak. Jika tidak berhasil dapat diberikan sitostatika single agent seperti chlorambucil dengan pengawasan ahli hematologi.  Jika meragukan melakukan tindakan. kecuali bila lokasi di daerah kelenjar lakrimal. baik jinak.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. radiasi. Jika diagnosis meragukan.Jika diagnosis meragukan.Pemerik saan dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi jaringan tumor.  Pada tumor epitel adneksa. seperti prednisone dosis tinggal 12-16 tablet (12mg perKgBB) setiap hari selama dua minggu. Pemeriksaan patologi jaringan tumor 63 . dapat dilakukan ekstripasi dengan meninggalkan jaringan sehat.Pada tumor epitel yang dicurigai ganas dapat dilakukan eksisi dengan memperhatikan jaringan sehat yang ditinggalkan. Pada tumor konjungtiva.  Jika dicurigai tumor jinak dan diagnosis dibuat pseudotumor dapat diberikan pengobatan steroid oral.  Penatalaksanaan selanjutnya dapat dirujuk untuk tindakan pembedahan.

Penatalaksanaan sebelumnya dengan melakukan pemeriksaan penunjang. ganas. dengan kerjasama antar disiplin. baik jinak. eksudat atau kekeruhan  Pemeriksaan mata dasar yang meliputi visus. terutama CTscan untuk mengetahui dengan tepat lokasi tumor. 9 DIABETIK RETINOPATI EVALUASI  Anamnesia semua penderita diabetes mengenai keluhan penglihatan. apakah ada perdarahan. jenis pembedahan sesuai dengan lokasi dan jenis tumor. perdarahan retina. tingkat kekeruhan lensa. Pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan slit lamp untuk melihat apakah ada epiteliopati kornea. kedudukan bola mata.  Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan.  Pada tumor orbita. pergerakan bola mata. flare dan sel di BMD. kekeruhan vitreus. untuk melihat kekeruhan vitreus karena perdarahan atau adanya jaringan fibro-vaskular. Pemeriksaan visus dengan Snelen chart Pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer Schiozt Pemeriksaan refleks cahaya pada pupil baik langsung maupun tak langsung Pemeriksaan funduskopi dengan menggunakan ophhalmoscope direk. Pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan oftalmoskop indirek. pelebaran  Fundus Fluorocence Angiography (FFA). segmen anterior dan segmen posterior. eksudat. neovaskularisasi iris. RAPD. USG. ataupun metastasis/invasi sebaiknya dilakukan tindakan biopsy insisi untuk pemeriksaan patologi. tekanan bola mata. ERG         64 . bila terdapat kekeruhan media dan fundus tidak tembus. dilakukan apabila ada indikasi.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 harus dilakukan. Pemberian terapi tambahan radiasi dan sitostatika dapat diberikan sesuai kebutuhan dan sesuai dengan patogenesa jenis tumor.

penderita dirujuk ke pelayanan kesehatan mata sekunder (SEC) untuk evaluasi lebih lanjut. Apabila diabetes diderita kurang dari 2 tahun.  Pasien dengan diabetic retinopati stadium non proliferative (NPDR) ringan dan sedang. 10 RETINA LEPAS (RETINAL DETACHMENT) EVALUASI  Anamnesia  Melakukan evaluasi  Melakukan tindakan 65 . yaitu dengan adanya pendarahan vitreus dan pertumbuhan jaringan fibrovaskular di vitreus.  Seperti tindakan pada PEC. dapat dilakukan operasi.  Apabila dari anamnesis tidak diketahui lamanya diabetes diderita. adanya retinopati merupakan indikasi untuk rujukan ke tingkat yang lebih tinggi. dengan penjelasan akan prognosis penglihatan dan kemungkinan retinopati bertambah berat setelah operasi.  Seperti tindakan pada SEC.  Pasien dengan NPDR berat.  Apabila ditemukan katarak yang mempersulit evalusi segmen poeterior.  Pasien dengan NPDR berat dengan/tanpa CSME. pertumbuhan jaringan fibrovaskular di retina. vena. pasien dikonsulkan ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol gula darahnya dan apabila dari anamnesis penyakit diabetes diderita sudah lebih dari 2 tahun. Bila ditemukan adanya diabetes mellitus. dilakukan terapi fotokoagulasi laser. persistent mascular edema dan ablasio retina traksi.  Operasi vitrektomi dilakukan apabila terdapat pendarahan vitreus. ada diabetes mellitus atau tidak. dirujuk ke pelayanan kesehatan mata tersier. intra-retinal microvascular anomaly (IRMA) dan neovaskularisasi. pasien dapat dirujuk langsung untuk evaluasi segmen posterior.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat vitreus. pasien dapat dikonsul bilamana keadan keadaan memungkinkan. yaitu apabila ditemukan salah satu dibawah ini:  Pendarahan intra retina 4 kwadran  Pelebaran vena 2 kwadran  Intra retina mikrovaskular abnormalism 1 kwadran  Pasien dengan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR). dievaluasi setiap 3 bulan Kontrol gula darah dilakukan oleh dokter penyakit dalam. 2012 PENATALAKSANAAN  Seleksi pasien.  Apabila funduskopi tersedia dan gambaran fundus dapat dinilai.

Seluruh retina lepas harus dianggap sebagai rhegmatogen. Super Field Volk.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat mengenai lama kejadian. Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan sebagai penunjang. ditambah dengan pemeriksaan fundus untuk evaluasi retina. Jenis operasi (sclera buckling atau vitektomi) tergantung kondisi yang dirtemukan. Pada rhegmatogen akut dan traksional yang tidak mengancam macula. 2012 seperti di SEC dan memutuskan jenis retina lepas. Pemeriksaan. kondisi mata sebelahnya dan mobilitas penderita. operasi dilakukan secepatnya. elektrofisiologi atau ultrasonografi dilakukan bila diperlukan untuk menunjang diagnosis. fibrosis vitreus dengan perlekatan retina dan tanda lain seperti disebutkan sebelumnya. Tipe exudative memerlukan pengobatan sesuai dengan penyakit yang mendasari. Kecurigaan akan retinal detachment memerlukan uji konfrontasi. PENATALAKSANAAN  Rujuk ke PPK 2  Apabila tidak ada kecurigaan tetapi ada keluhan. Pemeriksaan dengan funduskopi langsung – apabila tersedia – memberi gambaran retina lepas atau perdarahan retina. penderita harus diistirahatkan apabila mengancam macula. Semua jenis rhegmatogen yang tidak mengancam macula atau jenis traksional yang melibatkan macula harus dirujuk seceoatnya. sedangkan yang kronik dapat dioperasi dalam waktu 1 minggu. umumnya dalam beberapa hari. hingga tindakan dilakukan. Super Pupil Volk atau Goldmann 3mirror.  Melakukan tindakan sesuai dengan jenis retina lepas. Pemeriksaan fundus sebaiknya dilakukan dengan funduskopi tidak langsung atau dengan condensed wide angle lens (Mainster Ocular. dan jenis viteus tamponade ditentukan oleh keadaan yang ditemukan pre-operative dan durante operasi. Penderita dirujuk TEC untuk penanganan lebih lanjut dengan penjelasan akan faktor dan keberhasilan. Keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari akan memperbaiki retina yang lepas. 66 . seperti pelayanan di PEC. kampimetri. dan faktor resiko seperti disebutkan diatas. Pemeriksaan di SEC sudah dapat menentukan apakah penderita perlu di rujuk atau tidak ke TEC.

Risperidon 0.Skrining .Diagnosis Terapi sesuai penyebab Kondisi agitasi/psikotik : Antipsikotik inj .Terapi pemeliharaan PPK 3 GANGGUAN MENTAL ORGANIK Demensia .Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK III .Haloperidol 0.Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Jika tidak memungkinkan rujuk ke PPK 3 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT JIWA (PSIKIATRI) No.Psikoedukasi keluarga .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Fluoksetin 10mg/hari (po) Anti demensia : .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Skrining .Diagnosis .Penanganan kondisi akut jika memungkinkan . 1.Penanganan kondisi akut jika memungkinkan .Haloperidol (im) 25mg.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Terapi pemeliharaan/ lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.252mg/hari (po) .Sertralin 25mg/hari (po) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Skrining .Skrining .Aripiprazol 515mg/hari (po) Gejala depresi : (pilihan) .Terapi stimulasi/aktivitas .252mg/hari (po) .Terapi perilaku . A DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 SpKJ (-) .Donepezil .Diagnosis Penatalaksanaan Kondisi agresif : Pilihan antipsikotik .Skrining .Diagnosis .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 . bila perlu diulang tiap 1 jam 67 B Delirium .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 SpKJ (+) .Rivastigmin Non farmakologik .

Kondisi akut : rujuk ke PPK II dg .51mg/hari .Skrining .Psikoterapi suportif .Diagnosis Perilaku rujuk ke rujuk ke .Skrining .Skrining .Penanganan kondisi akut .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Edukasi keluarga GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Gangguan .Diagnosis Penatalaksanaan 68 2.Kondisi akut : .Risperidon 0.Skrining .Skrining .Skrining Mental dan . iv) 1-2mg Antipsikotik oral (pilihan) .Lorazepam (im.Reorientasi lingkungan .Skrining .Diagnosis .Kondisi akut : .Haloperidol 2x0.Olanzapin 510mg/hari . jika tidak n rujuk ke ada respon naikkan PPK 3 dosis menjadi 1.Penanganan akibat PPK 2/PPK 3 PPK 2 dg kondisi akut Penatalaksanaan : Penyalahgun SpKJ/PPK 3 jika Antidotum Naloxon aan Opioid memungkinka HCl (intoksikasi) n Naloxone (iv) mulai .52mg/hari Non farmakologik .Jika tidak dg 0.Diagnosis .51mg/hari .4mg/jam (iv) Evaluasi tanda vital Atasi penyulit Intoksikasi berat rawat ICU .6mg sampai 3. A B Gangguan Mental dan Perilaku akibat .2mg Bila ada respon teruskan pemberian 0.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 atau Olanzapin (im) 5mg .8mg evaluasi memungkinka tiap 15’.Lorazepam 0.Skrining .Quetiapin 25150mg/hari Terapi tambahan .

Psikoterapi suportif .Skrining .Metadon .Klonidin Pemberian sedatifhipnotik dan antipsikotik diberikan sesuai indikasi Non farmakologik .Diagnosis .Haloperidol 25mg/kali .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana jika memungkinka n .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kodein Subtitusi non opioid : .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Bufrenorfin + Nalokson .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Terapi subtitusi di PPK 1 yg telah mampu laksana SpKJ/PPK 3 .Skrining .Terapi subtitusi di PPK 2 yg telah mampu laksana Simtomatik sesuai gejala Subtitusi opioid : .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 .Skrining .Rehabilitasi .Diagnosis .Diazepam 3x5mg .Klordiazepoksid 3x25mg Bila kejang : Diazepam 10-30mg 69 C Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (intoksikasi) .Klorpromazin 1mg/kgBB Antihipertensi : Jika TD > 140/100mmHg Gejala ansietas : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Penyalahgun aan Opioid (putus zat) .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Edukasi keluarga .

Setralin 25-50mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .5mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Alprazolam 2x0.Fluoksetin 1020mg .25-0.Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal 70 D Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Amfetamin (putus zat) .Diagnosis .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 E Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Dekstrometo rfan (intoksikasi) .Skrining .Diagnosis .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .53mg Gejala ansietas : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 (parenteral) Cardiac monitoring Propanolol 2080mg/hari .Skrining .Diagnosis .Skrining .Diazepam 3x510mg .Diagnosis Penatalaksanaan Observasi di IGD Rawat inap jika disertai tanda2 psikotik.Klobazam 2x10mg Gejala depresi : .Jika tidak memungkinka n rujuk ke .Haloperidol 3x1.Skrining .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Psikoterapi suportif .55mg . depresi berat atau ide bunuh diri Antipsikotik : .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Skrining .Amitriptilin 2550mg Non farmakologik .Risperidon 2x1.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rehabilitasi .Skrining .Edukasi keluarga .Skrining .

Klorpromazin 25atas petunjuk atas petunjuk antipsikotik inj : 50mg (im) dr.Skrining . GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Skizofrenia. Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penyalahgun aan Alkohol (intoksikasi) .Rujuk ke PPK 2 farmakologik . emergensi : emergensi : Gangguan Klorpromazin Klorpromazin Penatalaksanaa Penatalaksanaan Waham 25-50mg (im) 25-50mg (im) n bila tidak ada bila tidak ada Fase akut hipotensi hipotensi Fase akut atau Lorazepam atau Lorazepam Non farmakologik (im) 1-2mg (im) 1-2mg Non .Penanganan kondisi akut jika memungkinka n .Diagnosis .Skrining .Golongan Benzodiazepin SKIZOFRENIA.Kondisi .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : . GANGGUAN SKIZOTIPAL.Skrining .Haloperidol 25mg/kali .Antidepresan .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Observasi di IGD Penatalaksanaan Terapi simtomatik Rangsang muntah/kuras lambung dg activated charcoal Antipsikotik : .Diagnosis Skizotipal.Seklusi pemeliharaan pemeliharaan .Terapi .Diagnosis .Jika tidak memungkinka n rujuk ke PPK 3 3.Antidepresan .Hospitalisasi .Kondisi .Terapi .Rujuk ke PPK 2 .Skrining .SpKJ selama 3 dr.Skrining .Hospitalisasi .Haloperidol 5mg bulan untuk bulan untuk 25-50mg (im) (im) 71 2.Klorpromazin .Klorpromazin 1mg/kgBB Kontraindikasi : .Skrining .Golongan Benzodiazepin . .Restrain Pilihan antipsikotik /lanjutan setelah /lanjutan setelah injeksi : penanganan dan penanganan dan Pilihan .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PPK 3 Antipsikotik : .Haloperidol 25mg/kali .Skrining Gangguan .SpKJ selama 3 . A .6.Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Diagnosis .Restrain (fiksasi) .Seklusi (isolasi) dg SpKJ/PPK 3 dg SpKJ/PPK 3 .Skrining .

Trifluoperazin 15-50mg/hari .Aripiprazol 9.Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Paliperidon 39mg/hari .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Aripiprazol 10-30mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .Flufenazin 520mg/hari .Olanzapin 10mg (im) .Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas 72 .Risperidon 28mg/hari .75mg (im) .Intervensi perilaku .Klozapin 150600mg/hari .Klozapin 150600mg/hari .Aripiprazol 1030mg/hari .Intervensi .Olanzapin 1030mg/hari .Risperidon 28mg/hari .Haloperidol 5-20mg/hari .75mg (im) .Quetiapin 300800mg/hari .Paliperidon 39mg/hari .Aripiprazol 9.Haloperidol 5mg (im) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Trifluoperazin 1550mg/hari .Psikoterapi suportif .Olanzapin 10mg (im) .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Diazepam 10mg (im/iv) Antipsikotik oral : Generasi 1 .Psikoedukasi keluarga .Olanzapin sublingual Fase stabil : Non farmakologik .Olanzapin 1030mg/hari .Quetiapin 300800mg/hari .Perfenazin 1624mg/hari .Perfenazin 16-24mg/hari .Haloperidol 520mg/hari .Flufenazin 520mg/hari .Klorpromazin 3001000mg/hari Generasi 2 .

distonia.Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Psikoedukasi keluarga .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 perilaku .Risperidon oral solution . parkinsonism) : .Haloperidol dekanoat inj .Flufenazin dekanoat inj .Triheksifenidil 112mg/hari .Turunkan/hentika n obat .Pelatihan ketrampilan social .Terapi okupasi/voka sional .Hentikan obat 73 .Turunkan/he ntikan obat Fase stabilisasi: Non farmakologik .Haloperidol dekanoat inj .Intervensi psikososial .Lorazepam 16mg/hari Sindroma Neuroleptik Malignansi (SNM) : .Risperidon oral solution .Difenhidramin inj 1-2cc (im) .Risperidon long acting inj Penatalaksanaan efek samping neurologis (akatisia.Intervensi perilaku .Risperidon long acting inj Penatalaksanaa n efek samping neurologis (akatisia.Intervensi psikososial Antipsikotik oral Sama dengan di atas Fase stabilisasi: Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Propanolol 1030mg/hari .Rehabilitasi Antipsikotik oral Sama dengan di atas Sediaan antipsikotik lain .Terapi okupasi/vokasiona l .Flufenazin dekanoat inj .Intervensi perilaku . parkinsonism) : .Intervensi psikososial . distonia.Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Pelatihan ketrampilan social .

Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan .SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Difenhidrami n inj 1-2cc (im) .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Rujuk ke PPK 3 .Terapi suportif .Bromokriptin 2.Lorazepam 3x12mg Pasien refrakter : .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 . A GANGGUAN SUASANA PERASAAN Episode .Skrining .Benzodiazepin 12mg (im) B Gangguan Skizoafektif .Divalproat 23x250mg .Divalproat 23x250mg . selama 8 hari .Skrining .Skrining .Terapi kejang listrik (ECT) 3x/minggu .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Fungsi diri baik Indikasi rawat inap : 74 4.SpKJ selama 3 bulan untuk selanjutnya evaluasi ulang ke PPK 2 atau PPK 3 .Skrining .Diagnosis .Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Klozapin 300750mg/hari .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomni a: .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan . diberikan 2-3kali/hari.Diagnosis Penatalaksanaan Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Propanolol 10-30mg/hr .Rujuk ke PPK 2 dg SpKJ/PPK 3 .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Diagnosis Indikasi rawat jalan : .Lithium karbonat 2x400mg Gelisah/insomnia : .Perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tandatanda vital .Diagnosis Penatalaksanaa n Sama dengan di atas Mood stabilizer : .Gejala depresi ringan .Rawat di ICU .Kondisi emergensi : Klorpromazin 25-50mg (im) bila tidak ada hipotensi atau Lorazepam (im) 1-2mg .Lorazepam 16mg/hr .Lorazepam 3x1-2mg .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining depresif . maksimal 30mg/hari .5mg.Skrining .Triheksifenidil 1-12mg/hr .Terapi pemeliharaan /lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk dr.Dantrolen 1mg/kgBB/hari.Kondisi akut/usaha bunuh diri : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .

Maproptilin 25100mg/hari .Agomelatin 2550mg/hari Fase Lanjutan : Terapi dilanjutkan hingga 6-12 bln Dosis diturunkan perlahan 4-12 mg Non farmakologik : .Dukungan keluarga buruk Tindakan .Venlafaksin 75150mg/hari .Fluoksetin 1040mg/hari .Imipramin 2575mg/hari .Psikoterapi suportif .Duloksetin 4060mg/hari .Terapi perilaku kognitif .Terapi interpersonal .Restrain (fiksasi) Farmakologik : Pilihan Antidepresan Fase Akut : .Risiko/usaha bunuh diri .Escitalopram 1020mg/hari .Terapi keluarga 75 .Amitriptilin 2575mg/hari .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan .Hospitalisasi .Gejala depresi berat .Fungsi diri buruk .Seklusi (isolasi) .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Sertralin 2550/hari .

Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Olanzapin 1030mg/hari .Skrining .Natrium divalproat .Asam valproat .Diagnosis .Quetiapin 300800mg/hari .Seklusi (isolasi) .Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 . maksimal 3 hari .Okskarbamazepin .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 B Episode manik .Haloperidol 12x5mg (im) .Karbamazepin .75mg/hr (im).Lithium .Klozapin 150600mg/hari Pilihan Lini 2 : 76 .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) .Diagnosis Fase akut : Tindakan .Aripiprazol 1030mg/hari .Skrining .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Restrain (fiksasi) Agitasi akut Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Diazepam 12x10mg (im) Antipsikotik oral : Pilihan Lini 1 : .Skrining .Skrining .Hospitalisasi .Risperidon 28mg/hari .Aripiprazol 13x9.

Diagnosis Fase akut : Tindakan .Skrining .Hospitalisasi .Seklusi (isolasi) .Aripiprazol 13x9.Haloperidol 12x5mg (im) .Terapi interpersonal .Haloperidol 520mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Aripiprazol .Diazepam 12x10mg (im) Episode Mania Akut Pilihan Lini 1 : .Klorpromazin 12x25-50mg (im) .Terapi perilaku kognitif .Skrining .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Olanzapin 12x10mg/hr (im).Quetiapin .Penanganan kondisi akut (jika memungkinka n) Kondisi tenang/kronis : terapi pemeliharaan . maksimal 3 hari Pilihan Lini 2 .Psikoterapi suportif .Risperidon .Klorpromazin 100300mg/hari Non farmakologik : .Skrining .Terapi keluarga . maksimal 3 hari .Lithium .Psikoedukasi keluarga .Lithium / Divalproat + 77 C Gangguan afektif bipolar .Divalproat .Diagnosis .Skrining .Olanzapin .Restrain (fiksasi) Antipsikotik injeksi : Pilihan Lini 1 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .75mg/hr (im).Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .

Lithium + Divalproat .Quetiapin + SSRI .Lamotrigin .Lithium / Divalproat + Olanzapin .Paliperidon Pilihan Lini 3 : .Divalproat .Haloperidol .Klozapin Tidak direkomendasikan : .Risperidon + Karbamazepin .Karbamazepin .Lithium / Divalproat + Haloperidol .Olanzapin + Karbamazepin Episode Depresi Akut Pilihan Lini 1 : .Gabapentin .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Lithium / Divalproat + SSRI .Lithium / Divalproat + Lamotrigin 78 .Lamotrigin .Quetiapin .Olanzapin + SSRI .Topiramat .Lithium +Divalproat Pilihan Lini 2 : .Klorpromazin .Lithium / Divalproat + Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Lithium .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Risperidon .Terapi Kejang listrik (ECT) .

Terapi okupasi .Lithium + Karbamazepin .Lamotrigin .Lithium / Divalproat / Karbamazepin + SSRI + Lamotrigin Fase Stabilisasi : Non farmakologik .Intervensi psikososial Gangguan Bipolar I Pilihan Lini 1 : .Lithium / Divalproat + Quetiapin .Lithium + Karbamazepin .Psikoterapi suportif .Karbamazepin .Risperidon depo .Lithium / Divalproat + TCA .Lithium + MAOI .Psikoedukasi keluarga .Divalproat .Karbamazepin .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 Pilihan Lini 3 : .Olanzapin .Terapi kejang listrik .Lithium + Divalproat .Lithium .Intervensi perilaku .Aripiprazol Pilihan Lini 2 : .Olanzapin .Quetiapin .Lithium / Divalproat + Olanzapin 79 .Lithium / Divalproat + Venlafaksin .

GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES Gangguan .Terapi kejang listrik .Quetiapin Pilihan Lini 2 : .Terapi okupasi .Topiramat .Divalproat .Fenitoin .Lithium + Divalproat .Penanganan .Lithium + Divalproat + antidepresan .Skrining .Lithium .Gangguan penanganan penanganan .Skrining .Lamotrigin .Lithium + Lamotrigin .Asam lemak omega 3 .Diagnosis .Lithium + Risperidon .Antidepresan monoterapi Non farmakologik .Penanganan 80 .Diagnosis .Intervensi perilaku .Skrining .Antipsikotik atipikal + antidepresan Pilihan Lini 3 : .Psikoterapi suportif .Olanzapin + Fluoksetin Pilihan Lini 3 : Penambahan .Psikoedukasi keluarga .Skrining Panik .Kondisi akut : .Kondisi akut : .Olanzapin .Okskarbazepin Gangguan Bipolar II Episode Depresi Akut : Pilihan Lini 1 : .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Intervensi psikososial 5. A GANGGUAN NEUROTIK.

Rujuk ke PPK 2 .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Terapi lanjutan Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Buspiron 81 .Terapi lanjutan .Penanganan kondisi akut .52 mg/hari .Alprazolam 3x0.Alprazolam 3x0.Skrining .Diagnosis .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Pilihan lain : .Kondisi akut : penanganan emergensi .52 mg/hari .Kondisi .52mg/hari .Penanganan kondisi akut Farmakologik Pilihan gol benzodiazepine .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 kondisi akut panik emergensi tanpa .Skrining .Diagnosis .Rujuk ke PPK 2 .Terapi perilaku kognitif .Skrining .Agorafobia atas petunjuk tanpa SpKJ riwayat gangguan panik emergensi .Lorazepam 2x 0.Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Diazepam 2-3x5 mg/hari Pilihan Antidepresan .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ kondisi akut .52mg/hari .Rujuk ke PPK 2 agorafobia .Skrining .Rujuk ke PPK 2 .Gangguan tenang/kronis panik terapi lanjutan dengan setelah agorafobia penanganan dan .Manajemen ansietas B Gangguan Ansietas Menyeluruh .Lorazepam 2x 0.Kondisi akut : penanganan emergensi .Psikoedukasi .Golongan SSRI Fluoksetin 10-20 mg/hari Sertralin 25-50 mg/hari Non farmakologik .

Kondisi akut : penanganan emergensi .Venlafaxine C Gangguan Obsesif Kompulsif .Sertralin 12.Rujuk ke PPK 2 .Penanganan kondisi akut .Terapi suportif individu .Latihan relaksasi .Kondisi akut : penanganan emergensi .Sertralin 50150mg/hari .550mg/hari .Diagnosis .Klobazam 2x510mg .Klomipramin 25100mg/hari .Lorazepam 12x0.Skrining .Terapi lanjutan .Terapi perilaku kognitif .Diagnosis .Psikoedukasi .Kondisi akut : penanganan emergensi .Fluvoksamin 25100mg/hari 82 D Gangguan Stres Pasca Trauma .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Terapi perilaku kognitif .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi akut : penanganan emergensi .Psikoedukasi .Skrining .Rujuk ke PPK 2 .Psikoedukasi Farmakologik (pilihan) : .Terapi perilaku kognitif Farmakologik Sesuai dengan gejala klinis yang menonjol Gejala cemas : .Fluvoksamin 100200 mg/hari Non farmakologik .Penanganan kondisi akut .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Terapi lanjutan Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2 .Manajemen ansietas Non farmakologik .Fluoksetin 540mg/hari .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Skrining .Skrining .5-1mg Gejala depresi : .Rujuk ke PPK 2 .Psikoterapi berorientasi tilikan .Fluoksetin 2060mg/hari .

Terapi perilaku .Skrining .Maproptilin HCl .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi lanjutan 7.Penanganan kondisi akut . GANGGUAN KEPRIBADIA N DAN PERILAKU MASA DEWASA RETARDASI MENTAL .Diagnosis .Kondisi . .Diagnosis .Diagnosis .Diagnosis .Terapi lanjutan 8.Imipramin 1-2x1025mg Gejala psikotik : .Psikoterapi suportif .Diazepam .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi lanjutan .Imipramin .Kondisi Non farmakologik .Skrining .Klobazam Antidepresan .Alprazolam .Klomipramin .Skrining . SINDROM PERILAKU YANG BERHUBUNG AN DENGAN GANGGUAN FISIOLOGIK DAN FAKTOR FISIK .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Fluoksetin .Kondisi tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Pendidikan tingkah laku intensif 83 .Terapi kognitif perilaku Farmakologik Anticemas .Skrining .Quetiapin 50100mg Non farmakologik .Sertraline Psikoterapi 6.Skrining .Penanganan kondisi akut .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Amitriptilin 2x1025mg .Penanganan kondisi akut .Amitriptilin .Haloperidol 2x15mg .Kondisi akut : rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Risperidon 2x12mg .Lorazepam .510mg .Skrining .Diagnosis .Olanzapin 1-2x2.

Rujuk ke PPK .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ tenang/kronis terapi lanjutan setelah penanganan dan atas petunjuk SpKJ .Terapi okupasi .Anjuran ke Sekolah berkebutuhan khusus .Psikoedukasi keluarga Non farmakologik .Intervensi orang tua keluarga .Skrining Non farmakologik pemusatan .Intervensi Farmakologik 84 .2 mg/kg/hari (2 kali pemberian po) Aripiprazole 0.Skrining .Pelatihan kemandirian .10.Anti depresan .Rujuk ke PPK .Terapi perilaku keluarga .Anti psikotik : Risperidon 0.Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 2/PPK 3 .1-0.Diagnosis .Skrining .Anti psikotik 9.Konseling orang tua .Konseling orang tua .Konseling orang perhatian dan 2/PPK 3 2/PPK 3 tua hiperaktivitas Non .Konseling .Terapi perilaku .Skrining autistik .Skrining .Psikoedukasi keluarga . A Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta . A GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK Gangguan .Psikoedukasi farmakologik keluarga .Intervensi .Rujuk ke PPK .Intervensi keluarga psikososial .Terapi wicara 10.2 mg/kg/hari (1 kali pemberian po) GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA Gangguan .Anti depresan .Psikoedukasi .Anti cemas .Diagnosis Non farmakologik .Pelatihan ketrampilan Farmakologik Bila ditemukan gejala penyerta .

Skrining .Anti depresan (SSRI) Fluoksetin 1x5 mg/hari Non farmakologik .Anti insomnia (Difenhidramin) Non farmakologik .3-1mg/kg BB dalam dosis terbagi .Metilfenidat Dosis 0.Diagnosis Non farmakologik .Konseling orang tua .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Konseling orang tua .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Psikoterapi suportif .Terapi keluarga .Skrining .Diagnosis Non farmakologik .Anti depresan (SSRI) .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Hospitalisasi .Skrining .Konseling orang tua .Skrining .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoedukasi keluarga .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Terapi keluarga Farmakologik .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Konseling orang tua .Konseling orang tua .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 psikososial B Gangguan tempertantr um .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Anti depresan (SSRI) Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Skrining .Skrining .Psikoterapi suportif E Gangguan akibat persaingan antar saudara .Parenting’s skills training C Gangguan depresi .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Konseling perkawinan 85 D Gangguan cemas .Hospitalisasi Farmakologik .

Skrining .Terapi perilaku Non farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Membatasi minum di malam hari .Toilet training .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Toilet training .Parenting’s skills training Non farmakologik .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Terapi keluarga .Psikoedukasi keluarga .Skrining .Konseling orang tua .Parenting.Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga F Gangguan kelekatan reaktif .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Anti depresan (Imipramin) Non farmakologik .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 I Gangguan makan .Diagnosis Non farmakologik .Membatasi minum di malam hari .Konseling orang tua Konsultasi ke Bagian IK.Skrining .Skrining .Skrining .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 J Gangguan gagap .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Konseling orang tua .Psikoedukasi keluarga 86 H Gangguan enkoperesis .Diagnosis Non farmakologik .Konseling perkawinan .Skrining .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Konseling orang tua Farmakologik .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Konseling orang tua .Skrining .Psikoterapi suportif .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Skrining .Psikoedukasi keluarga .Skrining . Anak Non farmakologik .Psikoterapi suportif .Toilet training .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Toilet training .Skrining .Psikoterapi suportif G Gangguan enuresis .s skills training Non farmakologik .

Anti cemas Non farmakologik .Psikoedukasi keluarga .Konseling orang tua .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Rujuk ke PPK 2/PPK 3 .Psikoterapi suportif .Psikoedukasi keluarga 87 .Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 .Diagnosis Non farmakologik .Skrining .Skrining .Konseling orang tua .Psikoterapi suportif .Terapi wicara Farmakologik (jika perlu) .Psikoedukasi keluarga K Gangguan tidur .Konseling orang tua .Skrining .

Kista Radikuler b. Kista Periodontal c. Sarkoidosis) 5 Konservasi .Kelainan sendi temporomandibular .Karies dini.Cedera dentoalveolar . Sealodenitis Bakterial Akut. Sarkoidosis) .karies besar yang tidak dapat dirawat secara konservasi Alvelektomi Apikoektomi a. Sjorgen Sindroma .Bedah Orthognati .Kelainan syaraf kranialis . media.Neoplasma . Abses Dentoalveolar 2 Bedah Dento alveolar 3 4 Infeksi Daerah Diagnosis Oromaksilofas Rujuk ke PPK 2 ial Trauma .Luka abrasi fasial .penyebab fokal infeksi .Kista rongga mulut .Fraktur Mandibula .infeksi : -abses jaringan lunak .Kelainan congenital . Sialorrhoea. parotitis epidemica.Kelainan kelenjar ludah (Xerostomia) - Penatalaksanaan infeksi Fulnus Fasial Fraktur Mandibula Fraktur maksila Kista rongga mulut Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.kelainan pertumbuhan (supernumerary) .Kelainan dan jaringan keras pertumbuhan -untuk keperluan (Impaksi dan perawatan malposisi) orthodontia dan prostodontia . Sealodenitis Bakterial Akut.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 PENGELOLAAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT No 1 TINDAKAN Eksodontia PPK 1 PPK 2 PPK 3 Pencabutan gigi dengan : Pencabutan gigi dengan . . Makulicz Sindroma.Fraktur Maksila kompleks . parotitis epidemica.Kontusio jaringan Orofasial lunak fasial . Sjorgen Sindroma . Sialorrhoea. Makulicz Sindroma.Kelainan kelenjar ludah (Sialolithiasis.arrested caries 88 .

Amelogenesis dan dentinogenesis imperfect 7 Pedodontia 8 Periodontia 9 Penyakit Gigi dan Mulut Gingivitis Hiperplasik gingiva Resesi Gusi Periodontitis . periodontal .Overdenture . muka.Gigi tiruan Intermediat.Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 - profunda .Pembuatan feeding .Herpes Labialis Resesi Gusi Periodontitis Liken Planus Leukoplakia Karsinoma Sel Skuamosa 89 .Ulkus Dekubitalis .Atrisi.Denture Sore mouth (Chronic Athropic Candidiasis) .Obturator untuk imediet. lengkap langit pada bayi imediet.Karies mencapai pulpa non vital . lengkap akrilik) celah langit dewasa .Lingua Geografika / Benign Migratory Glossitis .Implan dental Oral hygiene buruk Caries Ginggivitis Persistensi gigi sulung Akar gigi tertinggal Hiperemi pulpa Pulpitis akut/kronis Persistensi gigi sulung .Kista radikuler 6 Prostodontia .Chemical Burn . mata. telinga.Abses periapikal Dentin hipersensitif akut/kronis Pulpitis reversible . abrasi dan Perubahan warna erosi eksternal/internal .Kelainan jaringan Nekrosis pulpa periodontal .Protesa hidung.Stomatitis Aptosa . plate pada celah intermediet.Ulkus Traumatikus .Abses akut/kronis dento alveolar . lepasan .

Pedoman Standar Pengelolaan Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Barat 2012 90 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful