Anda di halaman 1dari 8

LI 1. Memahami dan menjelaskan asam basa 1.

1 Pengertian Pengertian atau istilah asam basa masing-masing berasal dari dua bahasa yang berbeda. Di dalam reaksi-reaksi kimia, kondisi asam basa mutlak diperlukan untuk mendukung terjadinya sebuah reaksi kimia. Pengertian asam berasal dari Latin yakni kata acidus yang artinya asam atau masam. Sedangkan basa berasal dari bahasa Arab, yakni kata alqili yang berarti abu dari tanaman. Konsep teori asam basa Menyangkut definisi secara lebih terperinci mengenai asam basa, terdapat perbedaan pendapat oleh para ahli kimia, berikut ini disajikan beberapa macam teori asam basa yang cukup dikenal dan disajikan secara lebih lengkap: 1. Teori Boyle mengenai asam Boyle mendefinisikan beberapa hal terkait pengertian asam, beberapa diantaranya adalah asam merupakan zat yang mempunyai kemampuan daya larut yang tinggi, memiliki kemampuan merubah warna tertentu pada tanaman serta dapat mengendapkan larutan belerang dalam alkali. Definis asam yang disajikan masih sangat sederhana, hanya didasarkan pada hal-hal fisik kemampuan yang dihasilkan oleh senyawa asam tersebut. Boyle hanya mengungkapkan mengenai teori asam, sementara basa belum ada. Teori Roult mengenai basa Teori basa diungkapkan oleh roult yang menyebutkan bahwa basa merupakan setiap zat yang bisa bereaksi dengan asam dan akan membentuk garam. Teori Liebig mengenai asam Teori Liebig (1838) menyebutkan definis asam yaitu senyawa yang mengandung unsur H (hidrogen) yang dapat digantikan oleh logam, dan selanjutnya akan menghasilkan senyawa garam. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada reaksi senyawa asam klorida (HCl) yang bereaksi dengan logam natrium untuk selanjutnya menghasilkan garam (NaCl). Teori asam basa menurut Arhenius mengenai Svante Arhenius (1887) yang merupakan seorang ilmuan kimia yang bergerak di bidang tekanan listrik menyebutkan konsep mengenai asam basa secara lebih utuh dan lengkap. Svante Arhenius sendiri adalah seorang ilmuan berkebangsaan Swedia. Berikut ini konsep teori asam basa yang disebutkan Arhenius: Teori asam menurut Arhenius yakni, asam merupakan senyawa yang mengandung ion H saat berada di dalam air. Senyawa ini akan terionisasi di dalam air dan menghasilkan ion H+. sementara basa merupakan senyawa yang mengandung ion OH- saat berada di dalam air dan akan terionisasi menghasilkan ion OH-. Inilah konsep teori asam basa yang dinyatakan oleh Arhenius yang saat ini banyak digunakan orang untuk menjadi panduan dalam berbagai aktivitas di laboratorium kimia. Contoh reaksi: Senyawa HCl di dalam air akan terurai menjadi ion H+ dan Cl- HCl > H+ + Cl-

2.

3.

4.

5.

(senyawa asam) Senyawa NaOH di dalam air akan terurai menjadi ion Na+ dan OH- NaOH > Na+ + OHTeori asam basa menurut Bronsted dan Lowry (1923) Bronsted dan Lowry merupakan ilmuan yang masing-masing berkebangsaan Denmark dan Inggris. Konsep teori asam basa menurut Bronsted dan Lowry adalah, asam merupakan zat yang mampu melepaskan (menjadi donor) proton atau H+ sementara untuk basa adalah zat yang dapat menjadi penerima (akseptor) dari proton atau H+ tersebut, baik satu atau lebih jumlah proton. Contoh reaksi: HCl + H2O > H3O+ + Cl- Asam HCl berpasangan dengan basa konjugasi Cl- dan basa H2O berpasangan dengan asam H3O+ Teori asam basa menurut Lewis Teori asam basa menurut Lewis didasarkan pada konsep donor atau akseptor pasangan-pasangan elektron. Asam menurut Lewis adalah setiap zat atau senyawa yang menerima pasangan-pasangan elektron untuk kemudian membentuk sebuah ikatan kovalen koordinasi. Sedangkan pengertian basa menuru Lewis adalah setiap senyawa yang mempunyai pasangan-pasangan elektron yang dapat disumbangkan ke zat lainnya dalam pembentukan sebuah ikatan koordinasi. Aplikasi contoh konsep asam basa menurut Lewis tersebut dapat kita lihat pada bentuk ikatan senyawa koordinasi yang terdapat pada senyawa kompleks. Ikatan yang dihasilkan antara atom pusat sebuah senyawa kompleks terhadap ligan yang mengelilinya merupakan contoh aplikasi dari konsep tersebut dimana atom pusat bertindak sebagai asam lewis sedangkan ligan yang merupakan basa lemah bertindak sebagai basa lewis.

1.2 Klasifikasi Tabel beberapa contoh asam

Berdasarkan asalnya, asam dikelompokkan dalam 2 golongan, yaitu asam organik dan asam anorganik. Asam organik umumnya bersifat asam lemah, korosif, dan banyak terdapat di alam. Asam anorganik umumnya bersifat asam kuat dan korosif. Karena sifat-sifatnya itulah, maka asam-asam anorganik banyak digunakan di berbagai kebutuhan manusia.

Tabel beberapa contoh Basa

Perbedaan Sifat Asam dan Basa

1.3 Sumber *Sumber asam - Jeruk - Anggur - Apel - Tomat LI 2. Memahami dan menjelaskan pH 2.1 Pengertian pH berasal dari singkatan potential of Hydrogen. pH merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan keasaman atau kebasaan suatu zat. Nilai pH bervariasi dari 1 hingga 14. Sebuah larutan yang netral memiliki pH = 7, larutan asam memiliki pH kurang dari 7, dan larutan basa memiliki pH lebih dari 7. 2.2 Cara menentukan pH Derajat keasaman (pH) suatu larutan dapat ditentukan menggunakan indikator universal, indikator stick, larutan indiaktor, dan pH meter. a. Indikator Universal. Indikator universal merupakan campuran dari bermacammacam indikator yang dapat menunjukkan pH suatu larutan dari perubahan warnanya. Indikator universal ada dua macam yaitu indikator yang berupa kertas dan larutan.

b. Indikator Kertas (Indikator Stick) Indikator kertas berupa kertas serap dan tiap kotak kemasan indikator jenis ini dilengkapi dengan peta warna. Penggunaannya sangat sederhana, sehelai indikator dicelupkan ke dalam larutan yang akan diukur pH-nya. Kemudian dibandingkan dengan peta warna yang tersedia. c. Larutan Indikator Salah satu contoh indikator universal jenis larutan adalah larutan metil jingga (Metil Orange = MO). Pada pH kurang dari 6 larutan ini berwarna jingga, sedangkan pada pH lebih dari 7 warnanya menjadi kuning. Contoh indikator cair lainnya adalah indikator fenolftalin (Phenolphtalein = pp). pH di bawah 8, fenolftalin tidak berwarna, dan akan berwarna merah anggur apabila pH larutan di atas 10. d. pH Meter Pengujian sifat larutan asam basa dapat juga menggunakan pH meter. Penggunaan alat ini dengan cara dicelupkan pada larutan yang akan diuji, pada pH meter akan muncul angka skala yang menunjukkan pH larutan. 2.3 Manfaat pengukuran pH Dapat mengetahui pH berbagai substansi dalam tubuh Cairan getah lambung pH 1,0 2,0 Urine pH 4,8 7,5 Saliva (air liur) pH 6,5 6,9 Darah pH 7,35 7,45 Dapat lebih mudah untuk menunjang teori terapi Dapat menyesuaikan kadar enzim untuk terapi suatu penyakit pada organ tertentu, contoh: Enzim A memiliki sifat spesifik akan rusak pada pH tertentu, maka harus disesuaikan dengan pH organ yang akan diterapi Dapat mengetahui segala kemungkinan dari gangguan keseimbangan asam-basa jika memakan makanan yang asam seperti jeruk limo, cuka, orange juice, dll. Menentukan derajat keasaman dari suatu larutan Menyatakan konsentrasi ion hidrogen Menentukan suatu kondisi asidosis atau alkalosis Mengatur mekanisme ion-ion di cairan ekstraselular LI 3. Memahami dan menjelaskan keseimbangan asam basa 3.1 Pengertian Keseimbangan asam basa adalah suat keadaan dimana konsentrasi ion hydrogen yang diproduksi setara dengan konsentrasi ion hydrogen yang dikeluarkan oleh sel. Pada proses kehidupan keseimbangan asam pada tingkat molecular umumnya berhubungan dengan asam lemah dan basa lemah, begitu pula pada tingkat konsentrasi ion H+ atau ion OH- yang sangat rendah.

3.2 Mekanisme gangguan Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion hydrogen. Walaupun produksi akan terus menghasilkan ion hydrogen dalam jumlah sangat banyak, ternyata konsentrasi ion hydrogen dipertahankan pada kadar rendah 40 + 5 nM atau pH 7,4. Pengaturan keseimbangan asam basa diselenggarakan melalui koordinasi dari 3 sistem: 1. Sistem buffer Menetralisir kelebihan ion hydrogen, bersifat temporer dan tidak melakukan eliminasi. Fungsi utama system buffer adalah mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organic pada cairan ekstraseluler. Sebagai buffer, system ini memiliki keterbatasan yaitu: Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang disebabkan karena peningkatan CO2. System ini hanya berfungsi bila system respirasi dan pusat pengendali system pernafasan bekerja normal Kemampuan menyelenggarakan system buffer tergantung pada tersedianya ion bikarbonat. Ada 4 sistem bufer: 1. Bufer bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2. Bufer protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel 3. Bufer hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat 4. Bufer fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan buffer kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. Proses eliminasi dilakukan oleh paru dan ginjal. Mekanisme paru dan ginjal dalam menunjang kinerja system buffer adalah dengan mengatur sekresi, ekskresi, dan absorpsi ion hydrogen dan bikarbonat serta membentuk buffer tambahan (fosfat, ammonia). Untuk jangka panjang, kelebihan asam atau basa dikeluarkan melalui ginjal dan paru sedangkan untuk jangka pendek, tubuh dilindungi dari perubahan pH dengan system buffer. Mekanisme buffer tersebut bertujuan untuk mempertahankan pH darah antara 7,35- 7,45.

2. Sistem Paru

Peranan sistem respirasi dalam keseimbangan asam basa adalah mempertahankan agar Pco2 selalu konstan walaupun terdapat perubahan kadar CO2 akibat proses metabolism tubuh. Keseimbangan asam basa respirasi bergantung pada keseimbanagn produksi dan ekskresi CO2. Jumlah CO2 yang berada di dalam darah tergantung pada laju metabolism sedangkan proses ekskresi CO2 tergantung pada fungsi paru. Kelainan ventilasi dan perfusi pada dasarnya akan mengakibatkan ketidakseimbanagn rasio ventilasi perfusi sehingga akan terjadi ketidakseimbangan, ini akhirnya menyebabkan hipoksia maupun retensi CO2 sehingga terjadi gangguan keseimbangan asam basa. 3. Sistem Ginjal Untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, ginjal harus mengeluarkan anion asam non volatile dan mengganti HCO3-. Ginjal mengatur keseimbangan asam basa dengan sekresi dan reabsorpsi ion hidrogen dan ion bikarbonat. Pada mekanisme pemgaturan oleh ginjal ini berperan 3 sistem buffer asam karbonat, buffer fosfat dan pembentukan ammonia. Ion hydrogen, CO2, dan NH3 diekskresi ke dalam lumen tubulus dengan bantuan energi yang dihasilkan oleh mekanisme pompa natrium di basolateral tubulus. Pada proses tersebut, asam karbonat dan natrium dilepas kembali ke sirkulasi untuk dapat berfungsi kembali. Tubulus proksimal adalah tempat utama reabsorpsi bikarbonat dan pengeluaran asam. Ion hidrogen sangat reaktif dan mudah bergabung dengan ion bermuatan negative pada konsentrasi yang sangat rendah. Pada kadar yang sangat rendahpun, ion hydrogen mempunyai efek yang besar pada system biologi. Ion hydrogen berinteraksi dengan berbagai molekul biologis sehingga dapat mempengaruhi struktur protein, fungsi enzim dan ekstabilitas membrane. Ion hydrogen sangat penting pada fungsi normal tubuh misalnya sebagai pompa proton mitokondria pada proses fosforilasi oksidatif yang menghasilkan ATP. Produksi ion hidrogen sangat banyak karena dihasilkan terus menerus di dalam tubuh. Perolehan dan pengeluaran ion hydrogen sangat bervariasi tergantung diet, aktivitas dan status kesehatan. Ion hydrogen di dalam tubuh berasal dari makanan, minuman, dan proses metabolism tubuh. Di dalam tubuh ion hidrogen terbentuk sebagai hasil metabolism karbohidrat, protein dan lemak, glikolisis anaerobik atau ketogenesis. LI 4. Memahami dan menjelaskan asidosis metabolic 4.1 Pengertian Asidosis metabolik adalah kondisi dimana keseimbangan asambasa tubuh terganggu karena adanya peningkatan produksi asam atau berkurangnya produksi bikarbonat. Kondisi ini akhirnya menyebabkan asidemia atau keasaman darah, dimana pH arteri turun hingga di bawah 7,35. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyebabkan koma dan bahkan kematian. 4.2 Etiologi Asidosis metabolik disebabkan oleh peningkatan produksi asam atau mengkonsumsi makanan atau zat yang dapat dikonversi menjadi asam.

Kondisi ini juga disebabkan oleh hilangnya bikarbonat seperti dalam kasus diare dan asidosis tubulus ginjal. Faktor lain, akumulasi asam laktat merupakan alasan lain di balik asidosis metabolik. Akumulasi asam laktat terjadi karena tidak tersedianya cukup oksigen untuk melakukan metabolisme karbohidrat, seperti dalam kasus gagal jantung dan syok. Malaria juga bertanggung jawab pada munculnya kondisi ini kerena menghancurkan sel darah merah dan dengan demikian mengurangi tingkat oksigen dalam tubuh. Kondisi ini pada gilirannya mengakibatkan akumulasi asam laktat yang dikenal sebagai asidosis laktik. Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan asidosis. Penggunaan lemak, alih-alih karbohidrat, untuk menciptakan energi seperti dalam kasus diabetes mellitus, dapat mengakibatkan produksi asam berlebihan. Asidosis metabolik bisa terjadi pula saat ginjal gagal mengeluarkan asam melalui urine yang merupakan gejala dari gagal ginjal. 4.3 Pemeriksaan penunjang Langkah-langkah untuk menilai gas darah: 1. Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia, dengan dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika meningkat klien mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik atau alkalosis respiratorik; ingatlah bahwa kompensasi ginjal dan pernafasan jarang memulihkan pH kembali normal, sehingga jika ditemukan pH yang normal meskipun ada perubahan dalam PaCO2 dan HCO3 mungkin ada gangguan campuran 2. Perhatikan variable pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan primer bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PaCO2 normal, meningkat atau menurun; HCO3 normal, meningkat atau menurun; pada gangguan asam basa sederhana, PaCO2 dan HCO3 selalu berubah dalam arah yang sama; penyimpangan dari HCO3 dan PaCO2 dalam arah yang berlawanan menunjukkan adanya gangguan asam basa campuran . 3. Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi (hal ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai bergerak yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan . 4. uat penafsiran tahap akhir gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa campuran # entang nilai normal pH : 7, 35-7, 45 PCO2 : 35-45 mmHg PO2 : 80-100 mmHg HCO3 : 22-26 mEq/L

TCO2 BE saturasi O2

: 23-27 mmol/L : 0 2 mEq/L : 95 % atau lebih

4.4 Penatalaksanaan Indikasi koreksi asidosis metabolik perlu diketahui dengan baik agar koreksi dapat dilakukan dengan tepat tanpa menimbulkan hal-hal yang membahayakan pasien.

Langkah Pertama adalah menetapkan berat ringannya gangguan asidosis. Gangguan disebut letal bila pH darah < 7 atau kadar ion H > 100 nmol/L. Gangguan yang perlu diperhatikan bila pH darah 7,1-7,3 atau kadar ion H antara 50-80 nmol/L Langkah Kedua adalah menetapkan anion-gap atau bila perlu aniongap urin untuk mengetahui dugaan etiologi asidosis metabolik. Dengan bantuan tanda klinik lain kita dengan mudah menetapkan etiologi. Langkah Ketiga, bila dicurigai kemungkinan asidosis laktat, hitung rasio delta anion-gap dengan delta HCO3 (delta anion gap : anion gap pada pasien diperiksa dikurangi dengan median anion gap normal, delta delta HCO3: kadar HCO3 normal dikurangi dengan kadar HCO3 pasien). Bila rasio >1, asidosis disebabkan oleh asidosis laktat. Langkah ketiga ini menetapkan sampai sejauh mana koreksi dapat dilakukan. Prosedur koreksi a. Secara umum koreksi dilakukan hingga tercapai pH 7.2 atau kadar ion HCO3 12mEq/L b. Pada keadaan khusus: - Pada penurunan fungsi ginjal, koreksi dapat dilakukan secara penuh hingga mencapai kadar ion HCO3 20-22 mEq/L. Pada ketoasidosis diabetik atau asidosis laktat tipe A, koreksi dilakukan bila kadar ion HCO3 dalam darah kurang atau sama dengan 5 mEq/L, terdapat hiperkalemia berat, setelah koreksi insulin pada diabetes mellitus, koreksi oksigen pada asidosis belum terkendali. Koreksi dilakukan sampai kadar ion HCO3 10 mEq/L - Pada asidosis metabolik yang terjadi bersamaan dengan asidosis respiratorik dan tidak menggunakan ventilator, koreksi harus dilakukan secara hati-hati atas pertimbangan depresi pernapasan. Koreksi dilakukan dengan pemberian Na-Bikarbonat yang secukupnya untuk menaikkan HC menjadi 15 mEq/L dan pH kira-kira sampai 7.20 dalam jangka waktu 12 jam. Larutan Ringer Laktat IV biasanya merupakan cairan pilihan untuk memperbaiki keadaan asidosis metabolik dengan selisih anion normal serta kekurangan volume ECF yang sering menyertai ini. Natrium laktat dimetabolisme secara perlahan dalam tubuh menjadi NaHCO3, dan memperbaiki keadaan asidosis secara perlahan.