Anda di halaman 1dari 3

Hati adalah kelenjar terbesar dalam tubuh, berat rata-rata sekitar 1.

500 gram atau 2% berat badan orang dewasa normal. Hati sangat penting untuk mempertahankan hidup dan bereran dalam hampir setia fungsi metabolik tubuh, dan terutama bertanggung jawab atas lebih dari 500 aktivitas berbeda. Fungsi utama hati adalah membentuk dan mengekskresi empedu. Garam empedu penting untuk pencernaan dan absorpsi lemak dalam usus halus, sebagian besar garam empedu akan direabsorpsi di ileum, mengalami resirkulasi ke hati, serta kembali dikonyugasi dan disekresi. Bilirubin (pigmen empedu) adalah hasil akhir metabolism dan secara fisiologistidak penting, namun merupakan petunjuk adanya penyakit hati dan saluran empedu yang penting karena bilirubin cenderung mewarnai jaringan dan cairan yang kontak dengannya. Perubahan patologi penyakit hati secara luas dapat dibagi dalam tiga jenis, yakni peradangan, fibrosis, dan neoplasma. Salah satu contoh dari peradangan adalah hepatitis. (Sylvia et al, Patofisiologi Volume 1 Edisi 6, 2012) Hepatitis adalah istilah umum yang berarti radang hati. Hepatitis berasal dari kata hepa yang berarti kaitan dengan hati, sementara itis yang berarti radang. Radang hati (hepatitis) mempunyai beberapa penyebab, termasuk racun dan zat kimia seperti alkohol berlebihan, penyakit yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat dalam tubuh yang biasa disebut sebagai penyakit autoimun, serta mikroorganisme termasuk virus. HAV, HBV, dan HCV menyerang sel hati atau hepatosit yang menjadi tempat yang bersahabat bagi virus untuk berkembang biak. Sebagai reaksi terhadap infeksi, sistem kekebalan tubuh memberikan perlawanan dan menyebabkan peradangan hati (hepatitis). Bila hepatitisnya akut (yang dapat terjadi dengan HAV dan HBV) atau menjadi kronis (yang dapat terjadi dengan HBV dan HCV) maka dapat bekembang menjadi jaringan parut di hati, sebuah kondisi yang disebut fibrosis. Lambat laun, semakin banyak jaringan hati diganti dengan jaringan parut seperti bekas luka, yang dapat menghalangi aliran darah yang normal melalui hati dan sangat mempengaruhi bentuk dan kemampuannya untuk berfungsi semestinya. Ini disebut sebagai sirosis. Bila hati rusak berat, mengakibatkan bendungan di limpa dan kerongkongan bagian bawah akibat tekanan di organ yang tinggi. Dampak dari kondisi ini disebut sebagai hipertensi portal termasuk pendarahan saluran cerna atas dan cairan dalam perut (acites). Kerusakan pada hati juga dapat mengurangi pembuatan cairan empedu yang dibutuhkan untuk pencernaan yang baik dan mengurangi kemampuan hati untuk menyimpan dan menguraikan bahan nutrisi yang dibutuhkan untuk hidup. Dampak lain dari hati yang rusak temasuk ketidakmampuan untuk menyaring racun dari aliran darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan bahkan koma. Ada lima virus yang diketahui mempengaruhi hati dan menyebabkan hepatitis: HAV, HBV, HCV, virus hepatis delta (HDV, yang hanya menyebabkan masalah pada orang yang terinfeksi HBV), dan virus hepatitis E (HEV). Tidak ada virus hepatitis F. Virus hepatitis G (HGV) pada awal diperkirakan dapat menyebabkan kerusakan pada hati, tetapi ternyata diketahui sebagai virus yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan virus ini sekarang diberi nama baru sebagai virus GB-C atau GBV-C. (Chris W. Green. Seri Buku Kecil Hepatitis Virus dan HIV. 2005) Virus Hepatitis B (HBV) merupakan virus DNA berselubung ganda berukuran 42 nm yang memiliki lapisan permukaan dan bagian inti. Penanda serologis khas yang dipakai untuk identifikasi HBV adalah antigen permukaan (HBsAg) yang positif kira-kira 2 minggu sebelum timbulnya gejala klinis, dan biasanya menghilang pada masa konvalesen dini tetapi dapat pula bertahan selama 4 sampai 6 bulan. Cara utama penularan HBV adalah melalui parenteral dan menembus membran mukosa, terutama melalui hubungan seksual. Masa inkubasi rata-rata

sekitar 60 hingga 90 hari. HBsAg telah ditemukan pada hamper semua cairan tubuh orang yang terinfeksi darah, semen, saliva, air mata, asites, air susu ibu, urine, dan bahkan feses. (Sylvia et al, Patofisiologi Volume 1 Edisi 6, 2012) Virus Hepatitis B (HBV) masuk ke dalam tubuh secara parenteral. Dari peredaran darah partikel Dane masuk ke dalam hati dan terjadi proses replikasi virus. Selanjutnya sel-sel hati akan memproduksi dan mensekresi partikel Dane utuh, partikel HBsAg berbentuk bulat dan tubuler, dan HBeAg yang tidak ikut membentuk partikel virus. HBV merangsang respons imun tubuh, yang pertama kali dirangsang adalah respons imun non spesifik (innate immune response) karena dapat terangsang dalam waktu pendek, dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Proses eliminasi non spesifik ini terjadi tanpa restriksi HLA, yanitu dengan memanfaatkan selsel Natural Killer dan Natural Killer-T. Untuk proses eradikasi HBV lebih lanjut diperlukan respons imun spesifik, yakni dengan mengaktivasi sel limfosit-T dan limfosit B. Aktifasi sel T CD8+ terjadi setelah kontak reseptor sel T tersebut dengan kompleks peptide HBV-MHC kelas I yang ada pada permukaan dinding sel hati dan pada permukaan dindingAntigen Presenting Cell (APC) dan dibantu rangsangan sel T CD4+ yang sebelumnya sudah mengalami kontak dengan kompleks eptida HBV-MHC kelas II pada dinding APC. Peptida HBV yang ditampilkan pada permukaan dinding sel hati menjadi antigen sasaran respons imun adalah eptida kapsid HBcAg atau HBeAg. Sel T CD8+ selanjutnya akan mengeliminasi virus yang ada di dalam sel hati yang terinfeksi. Proses eliminasi tersebut bisa terjadi dalam bentuk nekrosis sel hati yang akan menyebabkan meningkatnya ALT atau mekanisme sitolitik. Disamping itu, dapat juga terjadi eliminasi virus intrasel tanpa kerusakan sel hati yang terinfeksi melalui aktivitas Interferon gamma dan Tissue Necrotic Factor (TNF) alfa yang dihasilkan oleh sel T CD8+ (mekanisme nonsitolitik). Bila proses eliminasi virus berlangsung efisien maka infeksi HBV dapat diakhiri, sedangkan bila proses tersebut kurang efisien maka terjadi infeksi HBV menetap. Proses eliminasi HBV oleh respons imun yang tidak efisien dapat disebabkan oleh factor virus ataupun faktor pejamu. Faktor virus antara lain terjadinya imunotoleransi terhadap HBV, hambatan terhadap CTL yang berfungsi melakukan lisis sel-sel terinfeksi, terjadinya mutan HBV yang tidak memproduksi HBeAg, serta integrasi genom HBV dalam genom sel hati. Faktor pejamu antara lain faktor genetik, kurangnya roduksi IFN, adanya antibody terhadap antigen nukleokapsid, kelainan fungsi limfosit, respons antidiotipe, serta faktor kelamin atau hormonal. (Aru W. Sudoyo et al, Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. 2009)