Anda di halaman 1dari 3

Supervisi Pendidikan

A. Pengertian Supervisi Pendidikan Supervisi secara etimologi berasal dari kata super dan visi yang mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktivitas, kreativitas, dan kinerja bawahan.1 Menurut Bafadal, supervisi pendidikan merupakan proses pemberian layanan professional kepada guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas pengelolaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien (Bafadal,2008:46). Adapun menurut Sahertian, supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran (Sahertian,2000:19). B. Prinsip Prinsip Supervisi Pendidikan 1. Prinsip Ilmiah Prinsip ilmiah ini terdiri dari beberapa unsur diantaranya, a. Sistematika, artinya prinsip ini dilaksanakan secara teratur, berencana, dan terus menerus (kontinyu) b.Obyektif, artinya data yang didapat pada observasi yang nyata bukan dari hasil tafsiran pribadi c. Instrumen, artinya menggunakan alat bantu yang dapat memberi informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar 2. Prinsip Demokratis Prinsip yang menjunjung tinggi asas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain 3. Prinsip Kooperatif Prinsip yang menjunjung kerjasama sebagai usaha untuk mengembangkan dan menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik 4. Prinsip Konstruktif dan Kreatif

Lihat: http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/konsep-supervisi-pendidikan.html (3 April 2013)

Prinsip untuk membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat menggunakan potensi potensinya.2 C. Teknik Teknik Supervisi Pendidikan 1. Teknik-teknik yang Bersifat Individual a. Perkunjungan kelas (classroom visitation) Ada beberapa jenis perkunjungan kelas yaitu : 1) Perkunjungan tanpa diberitahukan sebelumnya, maksudnya kepala sekolah (supervisor) secara tiba-tiba dating ke kelas sementara guru sedang mengajar. 2) Perkunjungan dengan memberitahukan terlebih dahulu maksudnya kepala sekolah dating ke kelas berdasarkan jadwal yang telah direncanakan dan diberikan pada tiap kelas yang akan dikunjungi. 3) Perkunjungan atas undangan guru, maksudnya guru mengundang kepala sekolah untuk mengunjungi kelasnya, tetapi jarang seklai ada guru yang menghendaki pimpinannya melihat suasana waktu ia melaksanakan tugas mengajar. b. Observasi kelas (classroom observation) 1) Observasi langsung (direct observation) Dengan menggunakan alat observasi, supervisor mencatat absent yang dilihat pada saat guru nsedang mengajar. 2) Observasi tidak langsung (indirect observation) Orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana muridmurid tidak mengetahuinya (biasanya dilakukan dalam

laboratorium untuk pengajaran mikro). c. Percakapan pribadi (individual conference) Percakapan antara seorang supervisor dengan seorang guru. Dalam percakapan ini kedua belah pihak berusaha bertemu untuk

memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru. d. Intervisitasi (intervisitation) Yaitu saling mengunjungi antara guru yang satu kepada guru yang lain yang sedang mengajar

Wasty Soemanto. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: PT Bina Aksara, 1988), 41

e. Menilai diri sendiri ( self evaluation check list) Melihat kemampuan diri sendiri dalam menyajikan bahan pelajaran, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas guru yang bersangkutan 2. Teknik-teknik yang Bersifat Kelompok a. Pertemuan orientasi bagi guru baru b. panitia penyelenggara c. rapat guru d. studi kelompok antar guru e. diskusi sebagai proses kelompok f. tukar menukar pengalaman g. lokakarya h. diskusi panel i. seminar j. symposium k. diskusi mengajar l. perpustakaan jabatan m. bulletin Supervisi n. membaca langsung o. mengikuti kursus p. organisasi jabatan q. labolatorium kurikulum, dan r. perjalanan sekolah untuk staf.3

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia,(Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 52-125