Anda di halaman 1dari 21

Makalah AL Islam dan Kemuhammadiyahan

BISNIS DALAM ISLAM


Dosen : Achmad Hasan Al Banna, Mrkh.

kelas B-pagi : Nada Nur Faisah Fida Nadiyah Afidah Hesty Maharani 11621042 11621044 116210

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI INFORMATIKA 2012

Makalah AL Islam dan Kemuhammadiyahan

BISNIS DALAM ISLAM


Dosen : Achmad Hasan Al Banna, Mrkh.

kelas B-pagi : Nada Nur Faisah Fida Nadiyah Afidah Hesty Maharani 11621042 11621044 116210

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI INFORMATIKA 2012


i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia dan rahmatNya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini diharapkan dapat memberikan tambahan edukasi tentang Bisnis dalam Islam. Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dosen pembimbing mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan Achmad Hasan Al Banna, Mrkh. 2. Teman teman, narasumber yang dapat dipercaya , serta semua pihak yang ikut membantu dalam pencarian data dan informasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, cetak maupun elektronik, yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Terima kasih atas semuanya. Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat memberi manfaat tersendiri bagi para pembacanya dan juga mampu memberikan sedikit kemajuan bagi Bangsa dan Negara .

Gresik, 16 Juni 2012

Penulis

ii

Daftar Isi
HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI. BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah... 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian.. BAB II : PEMBAHASAN 2.1 Ruang Lingkup dan Prinsip Muamalah... 2.2 Bisnis dalam Islam 2.2.1 Pengertian Bisnis. 2.2.2 Pengertian Bisnis Dalam Islam 2.2.3 Tujuan Bisnis Dalam Islam. 2.2.4 Perbedaan Bisnis Islam dan Non Islam... 2.2.5 Akhlak Bisnis dalam Islam.. BAB III : PENUTUP 3.1 Kesimpulan . 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA 17 17 4 6 8 9 11 3 1 2 2 i ii iii

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seseorang bekerja, salah satu bentuk pekerjaan yang mereka lakukan adalah berbisnis. Bisnis adalah serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau lebih individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan / laba. Atau dengan kata lain bahwa bisnis merupakan sebuah usaha, dimana setiap pengusaha harus siap untung & siap rugi. Bisnis tidak hanya tergantung dengan modal uang. reputasi, keahlian, ilmu, sahabat & kerabat dapat menjadi modal bisnis. Dengan kemajuan teknologi pada zaman sekarang banyak para pebisnis tidak lagi menggunakan konsep berbisnis islami. Dimana para pebisnis menggunakan berbagai cara agar produknya dibeli oleh konsumen dan banyak konsumen yang tidak ada mempermasalahkan dan bisa sertakan untuk memajukan bisnisnya tanpa memperhatikan aturan-aturan dalam islam. Dengan landasan iman, bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dalam pandangan islam dinilai sebagai ibadah yang tidak hanya memperoleh material tetapi juga InsyaAllah akan mendatangkan pahala. Oleh karena itu, didalam makalah ini insya Allah akan membuat anda sekalian menjadi para penerus-penerus pebisnis Islami dan dapat berbisnis sesuai dengan syariat islam.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan dengan latar belakang diatas, maka penulis dapat menguraikan permasalahan sebagai berikut : 1. Ruang lingkup dan prinsip muamalah? 2. Pengertian dan tujuan bisnis? 3. Perbedaan bisnis islam dan non islam? 4. Pengertian akhlak bisnis? 1.3 Tujuan dan Manfaat Pembuatan Makalah Tujuan : Agar pembaca benar-benar mengerti bisnis dalam islam. Agar pembaca memahami tata cara yang benar dalam bisnis dalam islam. Untuk menambah pemahaman pembaca dalam bisnis dalam islam. Manfaat : Diharapkan setelah membaca makalah ini para pembaca akan menerapkan bisnis yang sesuai ajaran islam, tidak hanya mementingkan laba yang didapatkan tanpa memeperhatikan syariat islam.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Ruang Lingkup dan Prinsip Muamalah

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang berkodrat hidup dalam masyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan manusia lain, untuk bersama-sama hidup dalam masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, manusia selalu berhubungan satu sama lain, yang disadari atau tidak, untuk saling memenuhi kebutuhan hidupnya. Pergaulan hidup antar manusia, dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya disebut dengan muamalah (Ahmad Azhar Basyir, 1988: 7). Muamalah adalah tuntunan hidup manusia sebagai makhluk sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat mempunyai dimensi yang sangat luas, di samping dimensi sosial manusia, termasuk aspek politik, budaya, juga aspek ekonomi (bisnis), perkawinan, perwarisan, hukum-hukum publik dan sebagainya (Muslim Nurdin dkk, 1995:121). Muamalah atau aturan-aturan dasar hubungan antar manusia merupakan aspek yang sangat mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Perhatian Islam terhadap muamalah ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Quran maupun hadits yang memuat prinsip-prinsip dasar hubungan sosial antara lain dalam aspek ekonomi, al-Quran menyebutkan : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu (QS. An-Nisa: 29). Dalam ayat lain : Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiayanya dan tidak pula dianiaya (QS. AlBaqarah: 279). 3

Dalam hadits Nabi SAW: Tidak boleh membuat bahaya (kerusakan/ kerugian) pada dirinya dan tidak boleh pula membuat bahaya (kerusakan/ kerugian) pada orang lain (HR. Ibnu Majah). Dari keterangan ayat dan hadits tersebut, maka aspek saling mengutnungkan dan saling meridhoi merupakan ciri atau prinsip utama dalam konsep muamalah (jual-beli bisnis) Islam. Di samping itu, aspek perlindungan terhadap barang yang diperdagangkan dari kemungkinan cacat atau tidak sesuai dengan sifat-sifat yang ditentukan pada saar aqad (transaksi) serta perlindungan terhadap kepentingan konsumen agar tidak dirugikan dan tidak terjadi kekecewaan di kemudian hari amat dipertimbangkan dalam hukum Islam. Sedangkan harga dan keuntungan yang diminta dapat dirumuskan oleh kedua belah pihak dan dasar suka sama suka (an taradhin) dalam transaksi, dan di mana perlu didukung oleh bukti tertulis, persaksian ataupun jaminan (QS. Al-Baqarah: 282). Oleh karenanya, setiap bentuk dan tindakan ekonomi yang di dalamnya mengandung dharar (menyesatkan), gharar (tipuan), haraj (paksaan), dan najsy (menggoyang harga supaya tinggi melampau batas atau standar daya beli), dilarang dalam Islam (AM. Ashal dan Fathi Ahmad Abdul Karim, 1980:199-120). Semua rumusan sistem aturan transaksi dagang dalam Islam selalu dilatar-belakangi oleh pemikiran filosofis atau prinsip-prinsip maslahah dan keadilan (Ibnu Rusyd,tt; 234). 2.2 Bisnis dalam Islam 2.2.1 Pengertian Bisnis Bisnis adalah serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau lebih individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan / laba. Atau dengan kata lain bahwa bisnis merupakan sebuah usaha, dimana setiap pengusaha harus siap untung & siap rugi. bisnis tidak hanya tergantung dengan modal uang. reputasi, keahlian, ilmu, sahabat & kerabat dapat menjadi modal bisnis. Dalam kamus bahasa Indonesia, bisnis adalah usaha dagang, usaha komersial didunia perdagangan dan bidang usaha lainnya. Adapun dalam pandangan Straub dan Attner (1994) mengatakan bahwa bisnis tak lain adalah suatu organisasi yang menjalankan aktifitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. 4

Adapun pengertian lainnya adalah bisnis sebagai suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat (Bussinessis Then Simply A System That Produces Goods And Service To Satisfy The Needs Of Our Society), (Huat, T Chwee,1990). Bisnis merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan (Griffin & Ebert). Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris Business, dari kata dasar Busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan (http://id.wikipedia.org/wiki/Bisnis diakses pada tanggal 27 Maret 2009). Jadi dengan demikian Bisnis adalah sebuah kegiatan yang dilakukan sesorang atau perusahaan dalam mencari sebuah keuntungan bagi dirinya sendiri maupun bagi karyawannya. Ada enam pokok aktifitas yang digarap oleh sebuah entitas bisnis, yaitu: 1. Menciptakan atau memproduksi suatu barang dan jasa 2. Memasarkan produk kepada konsumen 3. Membuat dan mempertanggung jawabkan transaksi keuangan 4. Merekrut, memperkerjakan, melatih, dan mengevaluasi karyawan. 5. Memperoleh dan mengelola dana 6. Memproses informasi

2.2.2

Bisnis dalam Islam 5

Konsep Bisnis Islam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam jual beli sehingga dapat membawa pada pola transaksi jual beli yang sehat dan menyenangkan. Konsep dalam bisnis Islam adalah sebagai berikut: a) Jujur Sifat jujur merupakan sifat Rasulullah SAW yang patut ditiru. Rasulullah SAW dalam berbisnis selalu mengedepankan sifat jujur. Beliau selalu menjelaskan kualitas sebenarnya dari barang yang dijual serta tidak pernah berbuat curang bahkan mempermainkan timbangan. Maka, latihlah kejujuran dalam pola transaksi jual beli karena kejujuran dapat membawa keberuntungan. Sebagaimana penjelasan dalam Hadits yang mana artinya: Dari Abdullah bin Harits. Ia mengadu kepada Hakim bin Hazim ra. Dan beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: penjual dan pembeli dapat melakukan khiyar (memilih) selagi belum berpisah atau sampai keduanya berpisah. Apabila keduanya telah setuju dan jelas maka jual belinya mendapatkan berkah. Dan apabila keduanya saling menekan dan berdusta maka dihapus keberkahan yang ada pada jual belinya (tidak mendapatkan keberkahan) . (HR. Al-Bukhari) b) Amanah Amanah dalam bahasa Indonesia adalah dapat dipercaya. Dalam transaksi jual beli, sifat amanah sangatlah diperlukan karena dengan amanah maka semua akan berjalan dengan lancar. Dengan sifat amanah, para penjual dan pembeli akan memiliki sifat tidak saling mencurigai bahkan tidak khawatir walau barangnya di tangan orang. Memulai bisnis biasanya atas dasar kepercayaan. Oleh karena itu, amanah adalah komponen penting dalam transaksi jual beli. Sebagaimana dalil-dalil yang ada dalam Alquran yaitu: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,.(QS. An-Nisa, 58) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfaal, 27) c) Ramah 6

Banyak orang yang susah untuk berperilaku ramah antar sesama. Sering kali bermuka masam ketika bertemu dengan orang atau bahkan memilah milih untuk berperilaku ramah. Padahal, ramah merupakan sifat terpuji yang dianjurkan oleh agama Islam untuk siapa saja dan kepada siapa saja. Dengan ramah, maka banyak orang yang suka, dengan ramah banyak pula orang yang senang. Karena sifat ramah merupakan bentuk aplikasi dari kerendahan hati seseorang. Murah hati, tidak merasa sombong, mau menghormati dan menyayangi merupakan inti dari sifat ramah. Oleh karena itu, bersikap ramahlah dalam transaksi jual beli karena dapat membuat konsumen senang sehingga betah atau bahkan merasa tentram jika bertransaksi. Sebagaimana keterangan dalam Hadits yang mana artinya: Dari Jabir Bin Abdullah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Allah swt akan mengasihi seseorang yang murah hati ketika menjual, membeli dan meminta. (HR. Al-Bukhari). d) Adil Adil merupakan sifat Allah SWT, dan Rasulullah SAW merupakan contoh sosok manusia yang berlaku adil. Dengan adil, tidak ada yang dirugikan. Bersikap tidak membedabedakan kepada semua konsumen merupakan salah satu bentuk aplikasi dari sifat adil. Oleh karena itu, bagi para penjual semestinya bersikap adil dalam transaksi jual beli karena akan berdampak kepada hasil jualannya. Para konsumen akan merasakan kenyamanan karena merasa tidak ada yang dilebihkan dan dikurangkan. Sebagaimana keterangan dalam Alquran: .dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat . (QS. An-Nisa, 58) e) Sabar Sabar merupakan sikap terakhir ketika sudah berusaha dan bertawakal. Dalam jual beli, sifat sabar sangatlah diperlukan karena dapat membawa keberuntungan. Bagi penjual hendaklah bersabar atas semua sikap pembeli yang selalu menawar dan komplain. Hal ini dilakukan agar si pembeli merasa puas dan senang jika bertransaksi. Begitu pula dengan pembeli, sifat sabar harus ditanamkan jika ingin mendapatkan produk yang memiliki kualitas bagus plus harga murah dan tidak kena tipu. Sebagaimana keterangan dalam Alquran:

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran: 120) (http://zanikhan.multiply.com/journal/item/3392 diakses pada tanggal 30 Maret 2009). 2.2.3 Tujuan Bisnis Islam

Dengan kendali syariah, bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama : a. Target hasil: profit materi dan benefit-non materi Tujuan bisnis tidak harus untuk mencari profit (qimah maddiyah atau nilai materi) tetapi harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) non materi bagi si pelaku bisnis itu sendiri maupun pada lingkungan yang lebih luas, seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya. Di samping untuk mencari qimah maddiyah juga masih ada dua orientasi lainnya, yaitu qimah khuluqiyah dan ruhiyah. Qimah khuluqiyah yaitu nilai-nilai akhlakul karimah menjadi suatu kemestian yang harus muncul dalam kegiatan bisnis, sehingga tercipta hubungan persaudaraan yang Islami baik antara majikan dengan buruh maupun antara penjual dengan pembeli (bukan hanya sekedar hubungan fungsional maupun profesional semata). Sedangkan qimah ruhiyah berarti perbuatan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain, ketika melakukan suatu aktifitas bisnis harus disertai dengan kesadaran hubungannya dengan Allah. Inilah yang dimaksud bahwa setiap perbuatan muslim adalah ibadah. Amal perbuatannya bersifat materi, sedangkan kesabaran akan hubungannya dengan Allah ketika melakukan bisnis dinamakan ruhnya. b. Pertumbuhan Jika profit materi dan benefit non materi telah diraih, diupayakan pertumbuhan atau kenaikan terus menerus setiap tahunnya dari profit dan benefit tersebut. Upaya pertumbuhan ini tentu dalam koridor syariah. Misalnya, dalam meningkatkan jumlah produksi seiring dengan perluasan pasar, peningkatan inovasi sehingga bisa menghasilkan produk baru dan sebagainya. c. Keberlangsungan 8

Pencapaian target hasil dan pertumbuhan terus diupayakan keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama dan dalam menjaga keberlangsungan itu dalam koridor syariah. d. Keberkahan Faktor keberkahan atau upaya menggapai ridho Allah merupakan puncak kebahagiaan hidup manusia muslim. Para pengelola bisnis harus mematok orientasi keberkahan ini menjadi visi bisnisnya, agar senantiasa dalam kegiatan bisnis selalu berada dalam kendali syariah dna diraihnya keridhoan Allah. 2.2.4 Perbedaan Bisnis Islam dan Non Islam Bisnis Islam yang dikendalikan oleh aturan halal dan haram, baik dari cara perolehan maupun pemanfaatan harta, sama sekali berbeda dengan bisnis non Islam. Dengan landasan sekularisme yang bersendikan pada nilai-nilai material, bisnis non Islam tidak memperhatikan aturan halal dan haram dalm setiap perencanaan, pelaksanaan, dan segala usaha yang dilakukan dalam meraih tujuan-tujuan bisnis. Dari asas sekularisme inilah, seluruh bangunan karakter bisnis non Islam diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi dan menafikan nilai ruhiyah serta keterkaitan pelaku bisnis pada aturan yang lahir dan nilai-nilai transendental (aturan halal haram). Kalaupun ada aturan, semata bersifat etik yang tidak ada hubungannya dengan dosa dan pahala. Dengan melihat karakter yang dimiliki, bisnis Islam akan hidup secara ideal dalam sistem dan lingkungan yang Islami pula. Dalam lingkungan yang tidak Islami, sebagaimana yang kini terjadi, disadari atau tidak, sengaja atau tidak, suka atau tidak, pelaku bisnis Islami akan mudah sekali terseret dan sukar berbelit dalam kegiatan yang dilarang agama. Mulai uang pelicin saat perizinan usaha, menyimpang usaha dalam rekening korang yang berbunga hingga iklan yang tidak senonoh dan sebaliknya. Sebaliknya, bisnis non Islam juga tidak akan hidup secara ideal dalam sistem dan lingkungan Islam, kecuali ia mengubah dirinya menjadi bisnis yang memperhatikan nilainilai Islam. Bisnis non Islam dalam linkungan Islam pasti akan berhadapan dengan aturanaturan yang melarang segala kegiatan yang bertentangan dengan syariat. Karenanya, bisnisbisnis maksiat semacam diskotik, panti pijat, perbankan ribawi, prostitusi, judi dan 9

sebagainya pasti tidak akan tumbuh dalam sistem Islam. Tumbuh dan tidaknya jenis kegiatan bisnis akan sangat bergantung pada macam sistem dan lingkungan yang ada. Untuk memperjelas perbedaan antara bisnis Islam dan non Islam, dapat dilihat dalam skema di bawah ini : Islam Aqidah Islam Karakter Bisnis (nilai-nilai ASAS MOTIVASI Non Islami Sekularisme (nilai-nilai material) Dunia Profit,pertumbuhan,keberlangsungan

transendental) Dunia-akhirat Profit & benefit (non materi Qimah), pertumbuhan, keberlangsungan, keberkahan Tinggi, bisnis adalah bagian dari ibadah Maju & ahli dibidangnya, seorang muslim Cakap & ahli dibidangnya, konsekuensi dari kewajiban seorang muslim Terpecaya & bertanggung jawab, tujuan tidak halalkan cara Halal Sesuai kerjanya Halal

ORIENTASI

ETOS KERJA

Tinggi, bisnis adalah kebutuhan duniawi Maju & produktif sekaligus diri Cakap & ahli dibidangnya,

konsekuensi dari kewajiban SIKAP MENTAL konsumtif, konsekuensi aktualisasi

KEAHLIAN

konsekuensi dari motivasi reward & punishment Tergantung kemauan individu

AMANAH MODAL

(pemilik kapital), tujuan menghalalkan segala cara Halal dan haram Sesuai dengan akad kerjanya atau

dengan

akad

sesuai keinginan pemilik modal SUMBER DAYA Halal dan haram Visi dan misi organisasi MANAJEMEN Visi dan misi organisasi ditetapkan STRATEGIK berdasarkan pada kepentingan terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia Jaminan halal bagi setiap masukan proses & keluaran, mengedepankan produktivitas dalam koridor syariah Jaminan halal bagi setiap MANAJEMEN OPERASIONAL material belaka Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran keuangan

SDM

MANAJEMEN 10

Tidak ada jaminan halal bagi setiap

masukan,

proses

dan

keluaran keuangan Pemasaran dalam koridor jaminan halal SDM profesional adalah pengelola & bisnis,

KEUANGAN MANAJEMEN PEMASARAN

amsukan, proses & keluaran keuangan Pemasan menghalalkan cara SDM profesional, SDM adalah faktor produksi, SDM bertanggung jawab

berkepribadian Islam, SDM MANAJEMEN SDM SDM bertanggung jawab pada diri, majikan dan Allah SWT.

pada diri & majikan

2.2.5

Akhlak Bisnis dalam Islam Manusia bekerja bukan hanya untuk meraih sukses di dunia ini namun juga untuk

kesuksesan akhirat. Semua kerja seseorang akan menimbulkan efek yang demikian besar pada dirinya maupun pada lingkungan di mana ia hidup, baik efek positif maupun negatif. Dia harus bertanggung jawab dan harus memikul semua konsekuensi dan transaksi bisnisnya selama di dunia ini pada saatnya nanti di akhirat. Keberhasilan bisnis dalam Islam tidak dilihat dari segi perolehan profit (keuntungan) materi melainkan juga dapat dilihat peroleh dan memberikan manfaat (keuntungan) yang bersifat non materi. Oleh karenanya, bagi setiap pelaku bisnis (pelaku ekonomi) harus memahami hakikat berekonomi dalam Islam. Hakekat

11

Ekonomi Islam adalah merasakan bahwa seluruh aset dan sumber daya yang digunakan dalam melaksanakan aktivitas ekonomi adalah milik Allah. Allah telah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mengelola alam dan segala isinya sesuai dengan kehendak Allah. Dengan kata lain, menjalankan aktivitas ekonomi adalah untuk meningkatkan keimanan dan kehambaan kepada Allah. Keuntungan yang diperoleh dalam bisnis akan dikorbankan kembali pada jalan Allah. Keberhasilan bisnis sangat tergantung pada kualitas moral (akhlak) dari pelaku ekonomi. Artinya, harus ada manusia yang berprilaku (berakhlak) secara profesional (ihsan) dan itqon (tekun) dalam bidang ekonomi, baik dalam posisinya sebagai produsen, konsumen, pengusaha, karyawan (buruh) atau sebagai pejabat pemerintah. Karena itu perekonomian umat Islam baru dapat maju bila pola pikir dan pola lakunya sudah itqon (tekun) dan ihsan (profesional). Ini mungkin salah satu rahasi sabda Nabi SAW : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Bukhori Muslim). Bangunan ekonomi Islam didasarkan pada lima dasar universal, yakni Tauhid (keimanan), Adil (keadilan), Nubuwah (kenabian), Khilafah (pemerintahan) dan Maad (hasil). Kelima dasar ini menjadi dasar inspirasi untuk menyusun teori ekonomi Islam. Namun teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem akan menjadikan ekonomi Islam hanya sebagai kajian ilmu saja tanpa memberikan dampak yang berarti dalam kehidupan ekonomi. Karena itu, dari nilai-nilai universal yang lima tersebut dibangunlah tiga prinsip yang menjadi ciri khas sistem ekonomi Islam, yaitu kepemilikan multi jenis, kebebasan berusaha dan keadilan sosial. Di atas semua nilai dan prinsip tersebut dibangunlah konsep yang yang memayungi ke semuanya itu yaitu konsep akhlak. Akhlak inilah yang menjadi panduan para pelaku bisnis (ekonomi) dalam melakukan aktivitasnya. Penjabaran dari nilai-nilai universal dan implikasinya dalam kegiatan bisnis sehingga membangun prilaku atau akhlak berkeonomi dapat dilihat dalam skema di bawah ini : No 1. Nilai Dasar Tauhid Implikasinya dalam bisnis Pelaku bisnis harus menyadari bahwa pemilik primer langit, bumi dan seisinya adalah Allah. Ia hanya diberi amanah untuk mengelolanya. Pemilik hakiki adalah Allah. Manusia hanya pemilik sekunder (bendahara Allah). Oleh karenanya pelaku bisnis harus mempertanggungjawabkan segala aktivitas bisnisnya. 12

2.

Adil

1. Islam mendefinisikan adil dengan tidak mendholimi dan tidak didholimi. Pelaku bisnis tidak diperbolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam. 2. Pelaku bisnis harus dapat menciptakan keseimbangan dalam transaksi (seperti dalam takaran/timbangan) dan tidak melakukan penindasan (seperti riba, monopoli dan sebagainya) 1. Pelaku bisnis dalam melakukan aktivitasnya harus sefektif (mencapai sasaran yang tepat dan benar) dan efisien (melakukan kegiatan dengan benar), yaitu menggunkaan teknik dan metode strategi yang tidak menyebabkan kemubaziran. 2. Pelaku bisnis tidak mengambil keuntungan untuk diri sendiri (tidak melakukan suap, curang, manipulasi dan menimbun). Kejujuran atas harga yang layak dan kejujuran atas mutu barang (tidak memalsu produk). Pelaku bisnis harus memiliki sifat amanah (tanggung jawab, dapat dipercaya dan kredibilitas) yang tinggi. Dengan sifat ini akan melahirkan masyarakat yang kuat. Karena dilandasi oleh saling percaya antara anggotanya. Tanpa kredibilitas dan tanggung jawab, kehidupan ekonomi dan bisnis akan hancur. Pelaku bisnis dalam melakukan kegiatan bisnisnya harus dengan ilmu, kecerdikan dan pengoptimalan segala potensi akal untuk mencapai tujuan. Jujur, benar, kredibilitas dan tanggung jawab dalam berekonomi dan bisnis tidaklah cukup melainkan harus pula memiliki kepintaran dan cerdik supaya usahanya efektif dan efisien dan agar tidak menjadi korban penipuan. 1. Pelaku bisnis mampu menjadi pemasar-pemasar yang tangguh dan handal/ lihai, karena sifat tabligh ini menurunkan prinsip-prinsip ilmu komunikasi (personal/ massa), pemasaran, penjualan, periklanan, 13

3.

Nubuwah : a. Siddiq (benar dan jujur)

b. Amanah (Tanggungjawab dan dapat dipercaya

c. Fathanah (cerdik, bijaksana dan intelektualitas)

d. Tabligh (komunikasi, terbuka dan pemasaran)

membuat opini masyarakat, open manajemen (iklim terbuka). 2. Pelaku bisnis mampu bersikap inklusivistik (toleran dan menghargai pendapat orang lain) yang lebih baik dan lebih benar serta mampu menghidupkan potensi 4. Khalifah (kepemimpinan) inisiatif yang kreatif dan positif. Dalam hadist Nabi disebutkan : berakhlaklah kalian seperti akhlak Allah. Hadist ini dikaitkan dengan kegiatan bisnis, dapat dipahami bahwa pelaku bisnis dapat meneladani akhlak Allah. Akhlak Allah yang diajarkan kepada kita adalah Asmaul Husna (nama-nama yang baik). Misalnya, jika Allah bersifat al-Waly (Maha Pemelihara), maka implikasi dari sifat ini, pelaku bisnis mampu memiliki akhlak mengelola dan memeilihara sumber daya alam dengan baik supaya bermanfaat bagi generasi kini dan generasi selanjutnya. Implikasi dari sifat Allah al-razaq (Maha Pemberi Rezki) adalah mampu menjamin kebutuhan atau kecukupan hidup (kebutuhan dasar) bagi semua manusia. Implikasi dari sifat al-Fattah (Maha Pembuka) adalah membuat kesempatan kerja, 5. Maad menciptakan iklim bisnis yang sehat dan sebagainya. (bangkit, Maad berarti bangkit atau kembali, karena kita semua akan kembali kepada Allah. Hidup manusia tidak hanya di dunia tetapi terus berlanjut hingga akhirat. Dunia adalah ladang akhirat, artinya dunia adalah wahana bagi manusia untuk bekerja dan berkreatifitas (beramal saleh). Namun akhirat lebih baik daripada dunia. Karena itu Allah melarang kita untuk terkait pada dunia, sebab jika dibandingkan dengan kesenangan akhirat, kesenangan dunia tidak seberapa. Allah menciptakan dunia untuk berjuang. Perjuangan ini akan mendapat imbalan/ ganjaran, baik di dunia maupun di akhirat. Perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, perbuatan jahat akan 14

kembali dan hasil)

dibalas dengan hukuman yang setimpal. Karena itu, Maad diartikan pula hasil atau ganjaran/ imbalan. Implikasi dari nilai ini dalam berekonomi dan bisnis bahwa motivasi pelaku bisnis adalah untuk mendapatkan laba. Laba dunia dan laba akhirat.

15

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Pengertian bisnis secara umum adalah serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau lebih individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan / laba. Atau dengan kata lain bahwa bisnis merupakan sebuah usaha, dimana setiap pengusaha harus siap untung & siap rugi. Bisnis tidak hanya tergantung dengan modal uang. reputasi, keahlian, ilmu, sahabat & kerabat dapat menjadi modal bisnis. Bisnis Islam ialah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram (lihat. QS 2: 188 dan QS 4:29). (Yusanto dan Karebet, 2002, hlm.18) Konsep Bisnis Islam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam jual beli sehingga dapat membawa pada pola transaksi jual beli yang sehat dan menyenangkan. Konsep dalam bisnis Islam adalah Ramah, Adil, Sabar, Amanah, Shidiq (Jujur), Tabligh dan Fathanah. 3.2 Saran Setelah membaca makalah ini kita bisa mengambil manfaat dari makalah ini. Kita sebagai generasi muda calon-calon pebisnis harus menerapkan bisnis yang sesuai dengan ajaran agama islam

16

DAFTAR PUSTAKA
Ayoe. (2009). Bisnis dalam Islam. [online] Tersedia : http://ayoe-x.blogspot.com/2009/02/bisnis-dalam-islam.html [12 Juni 2012] Zanikhan. Bisnis dalam Islam.[online] Tersedia : http://zanikhan.multiply.com/journal/item/3405 [12 Juni 2012] Muhammad Ismail Yusanto & Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas Bisnis Islam, Gema Insani, Cet.I, Jakarta, 2002. Sadeli, M. (2009). Pengantar Bisnis Islam.Makalah mahasiswa IAIN, Palembang.