Anda di halaman 1dari 94

Pengobatan Hepatitis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hati (liver) merupakan organ terbesar kedua setelah kulit. Fungsinya amat vital bagi berlangsungnya kehidupan manusia, karena hati merupakan tempat metabolism utama dalam tubuh. Oleh karena fungsinya yang begitu penting, hati perlu dijaga agar tidak mengalami kerusakan yang akhirnya bisa mengancam hidup. Gangguan fungsi hati seringkali dihubungkan dengan beberapa penyakit hati tertentu salah satunya adalah penyakit hepatitis. Hepatitis merupakan peradangan pada hati. Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus merupakan penyebab dari hepatitis akut dan kronik. Zat yang dapat melindungi hati dan mengobati hati dari serangan virus disebut zat antihepatitis, yang dapat ditemui dalam berbagai zat di dalam tanaman. Mengingat perkembangan penyakit hepatitis ini meningkat secara signifikan pada daerah tropis khususnya di Indonesia dan masih kurangnya informasi yang beredar di kalangan masyarakat tentang pengobatan hepatitis, maka penulis bermaksud mengumpulkan informasi mengenai tanaman-tanaman obat yang dapat digunakan sebagai antihepatitis sehingga masyarakat bisa lebih mengetahui tentang obat herbal, hingga akhirnya perkembangan obat herbal dapat dilakukan dengan lebih baik. Melalui makalah ini, penulis ingin memberikan informasi mengenai berbagai tanaman obat yang dapat digunakan sebagai antihepatitis, sehingga nantinya informasi ini dapat membantu masyarakat dalam menjaga, melindungi hati serta dapat mengobati penyakit hepatitis.

1.2 Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar kami sebagai calon farmasis dapat mengetahui lebih jauh mengenai tanaman obat yang dapat digunakan sebagai antihepatitis, sehingga obat herbal dapat lebih dikembangkan dalam dunia pengobatan khususnya di Indonesia.

1.3 Metode Penulisan Makalah ini disusun berdasarkan referensi dari beberapa buku dan berbagai situs di internet. Data mengenai sumber acuan yang kami pergunakan dicantumkan dengan lengkap pada daftar pustaka di halaman terakhir dari makalah ini. 1.4 Sistematika Penulisan

I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Tujuan Penulisan I.3 Metode Penulisan I.4 Sistematika Penulisan

II. PEMBAHASAN II.1. Hati dan Hepatitis II.1.1 Deskripsi Hati dan Hepatitis II.1.2 Klasifikasi Penyakit Hepatitis II.1.3 Diagnosis

II.2 Pengobatan Konvensional Hepatitis II.2.1 Lamivudin II.2.2 Ribavirin dengan Interferon

II.3 Tanaman Obat sebagai Antihipertensi II.3.1 Licorice (Glycyrrhiza radix)

II.3.2 Cordyceps (Cordyceps chinensis) II.3.3 Meniran (Phylanthus herba) II.3.4 Rimpang Temulawak (Curcumae rhizoma) II.3.5 Sambiloto (Andrographidis herba) II.3.6 Milk Thistle (Silybi marie fructus) II.3.7 Paeonia sp. (Paeonia radix) II.3.8 Ganoderma Lucidum II.3.9 Salvia Miltiorriza II.3.10 Bangle (Zingiber purpureum) II.3.11 Bupleurum sp. II.3.12 Malphigiae coecigarae II.3.13 Dandelion (Taraxacum officinale ) II.3.14 Enclipta alba II.3.15 Rimpang Kunyit (Curcuma Domesticae Rhizoma) II.3.16 Chicory ( Cichorium intybus) II.3.17 Mistletoe (Viscus album) II.3.18 Carthamus tinctorius

III. PENUTUP Daftar Pustaka

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Hati dan Hepatitis

2.1.1. Deskripsi Hati dan Hepatitis Hati merupakan organ intestinal paling besar dalam tubuh manusia. Beratnya rata-rata 1,2 1,8 kg atau kira-kira 2,5% berat badan orang dewasa. Di dalamnya terjadi pengaturan metabolism tubuh dengan fungsi

yang sangat kompleks dan juga proses-proses penting lainnya bagi kehidupan, seperti penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolism kolesterol dan detoksifikasi racun atau obat yang masuk ke dalam tubuh. Gangguan fungsi hati seringkali dihubungkan dengan beberapa penyakit hati tertentu. Beberapa pendapat membedakan penyakit hati menjadi penyakit hati akut atau kronis. Dikatakan akut apabila kelainan-kelainan yang terjadi berlangsung sampai dengan 6 bulan, sedangkan penyakit hati kronis berarti gangguan yang terjadi sudah berlangsung lebih dari 6 bulan. Ada satu bentuk penyakit hati akut yang fatal, yakni kegagalan hati fulminan yang berarti perkembangan mulai dari timbulnya penyakit hati hingga kegagalan hati yang berakibat kematian (fatal) terjadi dalam waktu kurang dari 4 minggu. Beberapa penyebab penyakit hati antara lain : 1. Infeksi virus hepatitis, dapat ditularkan melalui selaput mukosa, hubungan seksual atau darah (parenteral). 2. 3. Zat-zat toksik, seperti alkohol atau obat-obat tertentu. Genetik atau keturunan, seperti hemokromatosis.

4. Gangguan imunologis, seperti hepatitis autoimun, yang ditimbulkan karena adanya perlawanan sistem pertahanan tubuh terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Pada hepatitis autoimun, terjadi perlawanan terhadap selsel hati yang berakibat timbulnya peradangan kronis. 5. Kanker, seperti hepatoseluler karsinoma, dapat disebabkan oleh senyawa karsinogenik antara lain aflatoksin, polivinil klorida (bahan pembuat plastik), virus, dan lain-lain. Hepatitis B dan C maupun sirosis hati juga dapat berkembang menjadi kanker hati.

2.1.2. Klasifikasi penyakit hati Penyakit hati dibedakan menjadi berbagai jenis, beberapa macam penyakit hati yang sering ditemukan yaitu hepatitis, sirosis hati, kanker hati, pelemakan hati, kolestasis dan penyakit kuning, hemokromatosis, dan abses hati.

Istilah hepatitis dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati. Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obatobatan, termasuk obat tradisional. Virus merupakan penyebab dari hepatitis akut dan kronik. Virus hepatitis terdiri dari beberapa jenis : hepatitis A, B, C, D, E, dan F. Hati merupakan bagian utama replikasi dan kerusakan sel. Semua virus hepatitis menyebabkan infeksi akut; oleh karena itu, virus yang menyebabkan hepatitis A dan E biasanya dapat hilang dari tubuh sekitar 6 bulan dan tidak menyebabkan infeksi persisten. Sedangkan hepatitis B, C, D dapat menyebabkan infeksi kronik, sirosis, dan meningkatkan resiko kanker hati. Gejala klasik pada hepatitis akut untuk beberapa minggu seperti kulit kuning, urine gelap, kelelahan yang ekstrim, mual, muntah, sakit perut, dan penurunan nafsu makan. Beberapa pasien tanpa gejala atau gejalanya seperti penyakit flu. Pasien dengan hepatitis B atau C kronik, biasanya mengalami kelelahan diantara keluhan mereka. Tabel berikut ini memperlihatkan perbandingan virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Ada 5 bentuk virus hepatitis : A,B,C,D dan E.

Hepatitis A Termasuk klasifikasi virus dengan transmisi secara enterik. Tidak memiliki selubung dan tahan terhadap cairan empedu. Virus ini ditemukan dalam tinja. Berbentuk kubus simetrik dengan diameter 27-28 nm, untai tunggal (single stranded), molekul RNA linier : 7,5 kb; termasuk picornavirus,

subklasifikasi hepatovirus. Menginfeksi dan bereplikasi pada primate nonmanusia dan galur sel manusia. Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Penderita hepatitis A akan menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak akan berlanjut menjadi kronik. Masa inkubasi 15 50 hari, dengan rata-rat 30 hari. Tersebar di seluruh dunia dengan endemisitas yang tinggi terdapat di negara-negara berkembang. Hepatitis A ditransmisikan terutama melalui jalur feses-oral. Penularan terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita hepatitis A, misalnya makan buah-buahan atau sayur yang tidak dikelola / dimasak sempurna, makan kerang setengah matang, minum es batu yang prosesnya terkontaminasi. Faktor risiko lain meliputi : tempat penitipan / perawatan bayi atau balita, institusi untuk developmentally disadvantage, bepergian ke negara berkembang, perilaku seks oral-anal, pemakaian jarum bersama IDU (injecting drug user). Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A yang memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama. Hepatitis A dapat dicegah dengan globulin gamma (memberikan perlindungan dalam waktu pendek) atau vaksinasi untuk perlindungan dalam waktu yang lama. Hepatitis A dapat didiagnosa dengan tes imunoglobulin antibodi virus hepatitis A (HAV-AB-M). Untuk kekebalan yang lebih panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali.

Hepatitis B Manifestasi infeksi hepatitis B adalah peradangan kronik pada hati. Virus hepatitis B termasuk yang paling sering ditemui. Distribusinya tersebar di seluruh dunia, dengan prevalensi karier di USA <1%, sedangkan di Asia 515%. Masa inkubasi berkisar 15-80 hari, dengan rata-rata 60-90 hari. Viremia berlangsung selama beberapa minggu sampai bulanan setelah infeksi akut. Sebagian penderita hepatitis B akan sembuh sempurna dan mempunyai kekebalan seumur hidup, tapi sebagian lagi gagal memperoleh kekebalan. Sebanyak 1-5% penderita dewasa, 90% neonates dan 50% bayi akan berkembang menjadi hepatitis kronik dan viremia yang persisten. Orang tersebut akan terus-menerus membawa virus hepatitis B dan bisa menjadi

sumber penularan. Penularannya melalui darah atau transmisi seksual. Dapat terjadi lewat jarum suntik, pisau, tato, tindik, akupuntur atau penggunaan sikat gigi bersama yang terkontaminasi, transfusi darah, penderita hemodialisis dan gigitan manusia. Hepatitis B sangat berisiko bagi pecandu narkotika dan orang yang mempunyai banyak pasangan seksual. Gejala hepatitis B adalah lemah, lesu, sakit otot, mual dan muntah, kadangkadang timbul gejala flu, faringitis, batuk, fotofobia, kurang nafsu makan, mata dan kulit kuning yang didahului dengan urin berwarna gelap. Gatalgatal di kulit, biasanya ringan dan sementara. Jarang ditemukan demam. Untuk mencegah penularan hepatitis B adalah dengan imunisasi hepatitis B terhadap bayi yang baru lahir, menghindari hubungan badan dengan orang yang terinfeksi, hindari penyalahgunaan obat dan pemakaian bersama jarum suntik. Menghindari pemakaian bersama sikat gigi atau alat cukur, dan memastikan alat steril bila ingin bertato, melubangi telinga, atau tusuk jarum. HBV di diagnosa menggunakan basis serologi (analisis darah), yang dapat mendeteksi antigen Hepatitis B (HBsAg) pada semua pasien yang terinfeksi HBV. Antigen ini diproduksi selama replikasi virus. Tes seperti reaksi rantai polimerase (PCR) dapat juga mendeteksi material genetik HBV. Hepatitis C Hepatitis C adalah penyakit infeksi yang bisa tidak terdeteksi pada seseorang selama puluhan tahun dan perlahan-lahan tapi pasti merusak organ hati. Penyakit ini sekarang muncul sebagai salah satu masalah pemeliharaan kesehatan utama di Amerika Serikat, baik dari segi moralitas, maupun dari segi finansial. Hepatitis C penyebarannya terutama melalui darah. Pada sedikit kasus, penyebaran melalui kontak seksual dan kelahiran. Biasanya penderita hepatitis C tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit ini, karena memang tidak ada gejala-gejala khusus. Beberapa orang berpikir bahwa mereka hanya terserang flu. Gejala yang biasa dirasakan antara lain demam, rasa lelah, muntah, sakit kepala, sakit perut atau hilangnya selera makan. Tidak ada vaksin untuk hepatitis C, hanya satu cara untuk mencegah hepatitis C yaitu dengan menggunakan jarum dan pisau steril dapat mengurangi penyebaran virus Hepatitis C. Menghindari sex tanpa pelindung, dapat meminimalkan resiko terinfeksi HCV. Hepatitis C biasanya didiagnosa

melalui enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), yang dapat mendeteksi adanya antibodi sampai dua bagian HCV. Meskipun sedikit, kesalahan reaksi positif dapat terjadi. Untuk melihat kebenaran reaksi positif, melakukan pengujian imunoblot rekombinan (RIBA).

Hepatitis D Virus hepatitis D (HDV) atau virus delta adalah virus yang unik, yakni virus RNA yang tidak lengkap, memerlukan keberadaan virus hepatitis B untuk ekspresi dan patogenisitasnya, tetapi tidak untuk replikasinya. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau sangat progresif. Penggunaan jarum suntikan IV dalam pengguna obat pada hepatitis B mempunyai resiko terbesar terinfeksi hepatitis D. Seseorang yang terinfeksi HBV dan hepatitis D lebih mudah terkena sirosis atau kanker hati daripada pasien yang hanya terinfeksi HBV. Sama seperti Hepatitis C, Hepatitis D juga dapat didiagnosa menggunakan ELISA.

Hepatitis E Hepatitis E sedikit terjadi di Amerika Serikat dan umumnya terjadi di daerah tropis dan subtropis, seperti asia selatan dan afrika utara. Penyakit ini ditransmisikan melalui jalur feses-oral. Tidak ada vaksin untuk Hepatitis E, hanya satu cara untuk mencegah penyakit yaitu mengurangi penyebaran virus. Gejala mirip hepatitis A, demam, pegal linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit ini akan sembuh sendiri (self-limited) dalam beberapa minggu sampai bulan, kecuali bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Untuk mendiagnosa hepatitis E, dapat dilakukan tes darah untuk mendeteksi tingkat elevasi antibodi spesifik pada Hepatitis E.

Hepatitis F Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah. Hepatitis G

Gejala serupa dengan hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan / atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan atau hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah dan jarum suntik.

2.1.3. Diagnosis Diagnosis penyakit hati ini sesuai riwayat pasien, pengkajian fisik, tes laboratorium, radiologis dan biopsi. Riwayat pasien harus mengenai pengkajian tentang tanda dan gejala serta faktor resiko seperti penggunaan alkohol, resiko virus hepatitis dan obesitas. Umumnya ketika hati mengalami abnormalitas, tes fungsi hati (LFT) atau panel hati dapat dilakukan. Istilah panel mengarah kepada tes kimia rutin seperti ALT, GPT, AST, GOT, ALP, GGT, LDH, bilirubin, albumin dan protein total. Tes lainnya meliputi CBC dengan platelet dan PT. 2.2. Pengobatan Konvensional Hepatitis 2.2.1. Lamivudin

Indikasi : Hepatitis B kronik. Dosis : Dewasa, anak > 12 tahun : 100 mg 1 x sehari. Anak usia 2 11 tahun : 3 mg/kg 1 x sehari (maksimum 100 mg/hari).

Efek samping : Diare, nyeri perut, ruam, malaise, lelah, demam, anemia, neutropenia, trombositopenia, neuropati, jarang pankreatitis. Interaksi obat : Trimetroprim dapat meningkatkan kadar lamivudin dalam plasma Perhatian : Pankreatitis, kerusakan ginjal berat, penderita sirosis berat, hamil dan laktasi. Penatalaksanaan : Tes untuk HBeAg dan anti HBe di akhir pengobatan selama satu tahun dan kemudian setiap 3 -6 bulan.

Durasi pengobatan optimal untuk hepatitis B belum diketahui, tetapi pengobatan dapat dihentikan setelah 1 tahun jika ditemukan adanya serokonversi HBeAg. Pengobatan lebih lanjut 3 6 bulan setelah ada serokonversi HBeAg untuk mengurangi kemungkinan kambuh. Monitoring fungsi hati selama paling sedikit 4 bulan setelah penghentian terapi dengan Lamivudin.

2.2.2. Indikasi :

Ribavirin dengan Interferon

Hepatitis C kronik pada pasien penyakit hati >18 tahun yang mengalami kegagalan dengan monoterapi menggunakan Interferon -2a atau -2b. Ribavirin dengan Peginterferon -2a atau -2b

Untuk hepatitis C kronik pada pasien > 18 tahun yang mengalami relaps setelah mendapat terapi dengan Interferon . Kontraindikasi : Wanita hamil dan suami dari wanita hamil, pasangan yang berencana memiliki anak kandung, mempunyai reaksi alergi terhadap Ribavirin, penyakit jantung berat 6 bulan yang lalu, hemoglobinopati, hepatitis autoimun, sirosis hati yang tidak terkompensasi, penyakit tiroid, adanya penyakit atau riwayat kondisi psikiatrik berat, terutama depresi, keinginan atau ada upaya bunuh diri. Perhatian : Wanita subur dan pria harus menggunakan kontrasepsi efektif selama terapi 6 bulan sesudahnya, tes hamil harus dilakukan tiap 6 bulan selama terapi. Lakukan tes darah lengkap secara berkala sejak awal terapi. Riwayat penyakit paru atau diabetes mellitus yang cenderung ketoasidosis, gangguan pembekuan darah atau mielosupresi berat. Tes daya visual dianjurkan sebelum terapi pada pasien diabetes mellitus atau hipertensi. Efek Samping :

Hemolisis, anemia, neutropenia, mulut kering, hiperhidrosis, asthenia, lemah, demam, sakit kepala, gejala menyerupai flu, kekakuan, berat badan menurun, gangguan saluran cerna, artralgia, mialgia, insomnia, somnolen, batuk, dispnea, faringitis, alopesia, depresi. Interaksi Obat : Zidovudine, Stavudine. Dosis : Ribavirin dengan Interferon -2b Interferon -2b : 3 x 106 unit SK 3 kali seminggu dan Ribavirin per hari berdasarkan berat badan. < 75 kg, Ribavirin 400 mg pagi dan 600 mg sore hari > 75 kg, Ribavirin 600 mg pagi dan sore hari 2.3. Tanaman yang Berpotensi untuk Mengobati Hepatitis 2.3.1. Licorice (Glycyrrhiza radix)

Gambar 1. Tanaman dan simplisia licorice Taksonomi : Kerajaan Divisi Kelas Ordo : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Fabales

Famili Subfamili Bangsa Genus Spesies

: Fabaceae : Faboideae : Galegeae : Glycyrrhiza : Glycyrrhiza glabra

Simplisia : Akar atau Radix (Radix Glycyrrhizae atau Liquiritiae Radix) yang merupakan akar dan rhizome kering Sinonim : Liquiritae ofcinalis

Nama Lain Akar manis, liquorice, madhuyashti, sweet root, sweetwood, yashtimadhu, adimaduram, asloosoos, aslussos, athimaduram, athimaduramu, athimathuram, bekh-e-mahak, bois doux, cha emthet, estamee, gancao, glycyrrhiza, herbe aux tanneurs, hsi-pan-ya-kan-tsao, irk al hiel, irk al hilou, irksos, jakyakgamcho-tang, jashtimadhu, jethimadh, jethimadha, kanpo, kanzo, kan-ts'ao, kumcho, lakritzenwurzel, licorice root, liquiritiae radix, liquorice root, madhuyashtirasayama, mulathee, muleti, mulhatti, neekhiyu, Persian licorice, racine de reglisse, racinedouce, reglisse, reglisseofficinalis, rhizomaglycyrrhizae, Russian licorice, Russian liquorice, RussischesSssholz, si-pei, sinkiang licorice, Spanish licorice, Spanish liquorice, SpanischesSssholz, Sssholzwurzel, sweet root, sweetwood, ud al sus, velmi, walmee, welmii, xi-bei, yashti, yashtimadhukam, yashtomadhu.

Kandungan Kimia Konstituen utama adalah triterpen saponin. Glycyrrhizin (glycyrrhizic acid, glycyrrhizinic acid) adalah komponen utama (2-9%); proporsi atau perbandingan komponen minor lainnya bervariasi tergantung dari spesies dan lokasi geografis. Glycyrrhizin terbentuk sebagai campuran garam potassium dan kalsium. Glycyrrhizin adalah komponen aktif dari Radix Glycyrrhizae dan bertanggung jawab pada rasa manisnya, di mana 50 kali lebih manis daripada sukrosa. Konstituen flavonoidnya meliputi liquiritigenin dan isoliquiritigenin.

Gambar 2. Struktur kimia beberapa senyawa dalam Glycyrrhiza radix

Efek Farmakologis Penggunaan secara tradisional dan tercantum dalam Farmakope: Sebagai penghilang rasa sakit (demulsen) pada terapi radang tenggorokan, dan sebagai ekspektoran pada batuk Sebagai profilaksis dan terapi pada ulser lambung dan duodenal, dan dyspepsia Sebagai agen antiinflamasi pada reaksi alergi, reumatik, dan arthritis Pencegahan toksisitas hati Kekurangan adrenokortikoid

Penggunaan secara tradisional, tetapi tidak didukung data eksperimen : Sebagai laksatif, kontrasepsi, antihistamin, antivirus

Terapi karies gigi, batu ginjal, penyakit jantung, epilepsi, apendisitis, tetanus, difteri, hemmoroid Hasil eksperimen: Aktivitas penghilang rasa sakit, antitusif, dan ekspektoran dari glycyrrhizin. Aktivitas antiulser dari Radix Glycyrrhizae (uji klinis) karena kandungan glycyrrhizin dan aglikonnya (glycyrrhetic acid, enoxolone)

Aktivitas spasmolitik karena konstituen flavonoidnya, yaitu liquiritigenin dan isoliquiritigenin Glycyrrhizin mengurangi aksi toksik dari CCl4 dan galactosamine yang menginduksi sitotoksisitas dari kultur hepatosittikus, melalui aktivitas antioksidannya. Glycyrrhizin menghambat pelepasan histamine dari sel mast tikus dan mencegah sitotoksisitas CCl4 (yang menginduksi lesi pada hati). Radix Glycyrrhizae sebagai anti hepatoksisitas. Glycyrrhizin melindungi hati melalui efek stabilisasi membran. Efek antiinflamasi dan anti alergi seperti kortikosteroid karena adanya kandungan glycyrrhizin and glycyrrhetic acid (enoxolone) Secara in vitro, dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Mycobacterium tuberculosis, Aspergillus spp., Staphylococcus aureus, Mycobacterium smegmatis, dan Candida albicans Untuk Hepatitis C

Uji in vitro Menurut jurnal berjudul Liquiritigenin, a flavonoid aglycone from licorice, has a choleretic effect and the ability to induce hepatic transporters and phase-II enzymes tahun 2009 bahwa Liquiritigenin (LQ), komponen aktif licorice, memiliki efek efek koleretik dan kemampuan untuk menginduksi pengangkut dan enzim fase-II di hati, yang mungkin berhubungan dengan efek hepatoprotektor terhadap galactosamine / LPS. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan pemahaman aksi LQ dan penggunaan terapi untuk penyakit hati. Uji Preklinis dan Uji Klinis Uji preklinis : Menurut jurnal berjudul Antiviral effects of Glycyrrhiza species tahun 2008, percobaan kontrol acak menegaskan bahwa senyawa glycyrrhizin dan turunannya yang berasal dari Glycyrrhiza glabra mengurangi kerusakan hepatoseluler pada hepatitis B kronis dan C. Pada hepatitis C-diinduksi sirosis resiko karsinoma hepatoseluler berkurang.

Menurut jurnal berjudul Glycyrrhizin enhances interleukin-10 production by liver dendritic cells in mice with hepatitis bahwa Glycyrrhizin (GL) diketahui memiliki berbagai modulasi imun dan respon biologis, serta digunakan pada pasien dengan hepatitis untuk mengurangi aktivitas peradangan hati, namun, mekanisme yang mendasari aktivitas anti-inflamasi dari GL kurang dipahami.

Uji Klinis : Menurut jurnal berjudul Glycyrrhizin withdrawal followed by human lymphoblastoid interferon in the treatment of chronic hepatitis B tahun 1991 bahwa dari tujuh belas pasien dengan hepatitis B kronis diobati dengan pemberian glycyrrhizin selama 4 minggu, diikuti dengan pengobatan interferon lymphoblastoid manusia selama 4 minggu, selama 6 bulan menunjukkan pengobatan yang efektif untuk pasien hepatitis B kronis. Menurut jurnal berjudul Treatment of chronic hepatitis B. Part 2: Effect of glycyrrhizic acid on the course of illness bahwa pemberian secara intravena (12 bulan) asam glycyrrhizinic dalam bentuk Remefa S pada pasien dengan hepatitis kronis B virus, mampu menunjukkan efek positif pada evolusi penyakit. Atas dasar hasil yang diperoleh disimpulkan 30-40% tingkat keberhasilan. Menurut laporan English Language Journal of Tradisional Chinese Medicine tahun 1982, 80 orang penderita Hepatitis B kronis yang diberi Glycyrrhizin selama 3 bulan ternyata sembuh 75%. Hanya sedikit HbsAg dan HbeAg yang positif. Studi ini mengatakan bahwa serokonversi dapat dicapai 50% dalam waktu 3 bulan. Kemudian laporan tahun 1991 pada 304 pasien Hepatitis B kronis yang diterapi 2-3 bulan maka 63% HbsAg dan HbeAg menjadi negatif. Studi ini mengatakan bahwa serokonversi dapat dicapai 50 % dalam 3 bulan terapi. Menurut jurnal berjudul Effectiveness of interferon, glycyrrhizin combination therapy in patients with chronic hepatitis C tahun 1994 bahwa SNMC (stronger Neominophagen C) yang mengandung komponen aktif glycyrrhizin (saponin yang diekstraksi dari licorice) berguna dalam memperbaiki fungsi hati. Menurut jurnal berjudul The long term efficacy of glycyrrhizin in chronic hepatitis C patients bahwa pemberian jangka panjang SNMC (Stronger Neo-

Minophagen C) ,yang merupakan sediaan berisi glycyrrhizin 0,2%, sistein 0,1%, dan glisin2%, dalam pengobatan hepatitis C kronis efektif dalam mencegah karsinogenesis hati. Menurut jurnal berjudul Glycyrrhizin as a potential treatment for chronic hepatitis C bahwa glycyrrhizin memicu penurunan yang signifikan dari serum aminotransferase dan perbaikan histologi hati dibandingkan dengan placebo.

Dosis Tidak ada acuan yang pasti. Umumnya rata-rata dosis per hari 5-15 gram material tanaman kasar yang setara sampai 200-800 mg glycyrrhizin. Dosis pada berbagai sediaan dihitung menurut acuan tersebut. Radix Glycyrrhizae tidak boleh digunakan lebih dari 4-6 minggu tanpa anjuran dokter.

Efek Samping Tidak ada efek samping apabila digunakan sesuai dengan dosis yang direkomendasikan dan periode terapinya. Penggunaan jangka panjang (> 6minggu) dengan dosis berlebihan (> 50g/hari) dapat menginduksi terjadinya pseudoaldoteronisasi, yang meliputi deplesi potassium, retensi sodium, edema, hipertensi, dan peningkatan berat badan. Pada beberapa kasus, mioglobinuria dan miopati dapat terjadi.

Kontraindikasi Radix Glycyrrhizae dikontraindikasikan pada pasien hipertensi, hipokalemia, kelainan ginjal kronik, kelainan cholestatic atau sirosis hati, dan kehamilan.

Peringatan : Pemakaian berkepanjangan menggunakan dosis berlebihan (>50g/hari) dalam waktu lebih dari 6 minggu dapat meningkatkan akumulasi air, mengakibatkan pembengkakan pada tangan dan kaki. Ekskresi sodium

berkurang dan ekskresi potassium meningkat. Tekanan darah dapat meningkat. Tidak menunjukkan efek mutagenic secara in vitro dan efek teratogenik pada hewan. Keamanan dari sediaan Radix Glycyrrhizae pada kehamilan dan masa laktasi belum ditetapkan. Sebagai pencegahan sebaiknya tidak menggunakan obat ini selama kehamilan dan menyusui, kecuali disarankan oleh dokter. Keamanan dan penggunaan pada anak-anak belum ditetapkan.

Interaksi Obat Karena mengakibatkan peningkatan kehilangan potassium, Radix Glycyrrhizae tidak digunakan berkepanjangan dengan thiazide dan loop diuretic atau glikosida jantung. Karena mengurangi ekskresi sodium dan air, efektivitas dari obat yang digunakan pada terapi hipertensi dapat berkurang. Radix Glycyrrhizae tidak diberikan bersamaan dengan spironolakton atau amilorida.

Sediaan dan Dosis Material tanaman, ekstrak kering, dan ekstrak cair. Simpan pada wadah tertutup dan terlindung dari cahaya dan kelembaban.

2.3.2. Cordyceps chinensis

Gambar 3. Cordyceps sinensis Taksonomi Kingdom Filum Subfilum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Simplisia : Fungus : Ascomycota : Ascomycotina : Pyrenomycetes : Clavicipitales : Clavicipitaceae : Cordyceps : Cordyceps sinensis : Bagian badan buah Cordyceps sinensis

Sinonim : Caterpillar fungus, Chongcao, Dong chong xia cao, Sphaeria sinensis, Tochukaso, Vegetable Caterpillar, and Yertsa gonbu.

Deskripsi Tanaman

Cordyceps adalah jamur berwarna hitam khas, berbentuk seperti pisau. Jamur ini merupakan parasit, tumbuh pada dan mendapatkan nutrisi dari beberapa spesies ulat, meskipun terutama terdapat pada ngengat Hepialus armoricanus, yang hidup enam inchi di bawah tanah (Chen and Jin, 1992; Yin dan Tang, 1995). Pada akhir musim gugur, senyawa kimia pada kulit ulat berinteraksi dengan spora jamur dan melepaskan miselia jamur. Mulai dari awal musim panas tahun selanjutnya, kutu dari jamur telah membunuh ulat dan badan buah dapat terlihat menonjol dari kepala ulat. Wujud liar ini dipanen, sedangkan miselium utama, yang dikenal sebagai Paecilomyces hepialid Chen, dikultivasi secara aseptic (Yue et al., 1995).

Gambar 4. Jamur atau badan buah dari Cordyceps sinensis tumbuh dari ulat yang terinfeksi.

Habitat Dalam habitat aslinya, Cordyceps sinensis adalah jamur kecil yang hidup parasit pada satu spesies tertentu ulat pada ketinggian tinggi dari dataran tinggi Qing-Hai Tibet. Tersebar di pegunungan tinggi Himalaya di Tibet, Nepal, dan India.

Gambar 5. Peta persebaran C.sinensis

Kandungan Kimia Data dari Guo, 1986; Huang et al., 1991; Tao,1995; Xia et al., 1985; Xu, 1992; Yue et al., 1995; Zhu dan Xinjingsheng, 1993. 1. Protein, peptida, semua asam amino esensial, dan poliamin. Sebagai tambahan pada semua asam amino esensial, Cordyceps mengandung dipeptida siklik yang tidak umum meliputi siklo(Gly-Pro), siklo-(Leu-Pro), siklo-(Val-Pro), siklo-(Ala-Leu), siklo(Ala-Val), dan siklo-(Thr-Leu). Sejumlah kecil poliamin, mencakup 1.3-diaminopropana, kadaverin, spermidin, spermin, dan putresin juga teridentifikasi keberadaannya. 2. Sakarida dan turunan gula (misal d-manitol) telah diidentifikasi dan aktivitas farmakologisnya telah dilaporkan. Suatu grup oligosakarida dan polisakarida (Cs-1) yang diisolasi dari Cordyceps menstimulasi fungsi makrofag, dan memicu

transformasi limfosit. Suatu bioaktif polisakarida yang terikat protein 23-kd telah diketahui mengandung manosa dan galaktosa dalam rasio 3 : 5, dan juga protein. 3. Sterol, meliputi ergosterol, 3-ergosterol, ergosterol peroksida, -sitosterol, daucosterol, dan campasterol 4. Sebelas senyawa nukleosida telah ditemukan pada Cordyceps. Nukleosida utama dalam C. sinensis mencakup adenin, urasil, uridin, guanosin, timidin, dan deoksiuridin. 5. Asam lemak dan asam organik lain, 28 asam lemak jenuh dan tidak jenuh dan turunannya telah diisolasi dari C. sinensis. Senyawa polar dari ekstrak alam Cordyceps dan Cs-4 mencakup banyak senyawa hidrokarbon, alkohol, dan aldehid. 6. Vitamin, mencakup vitamin B1, B2, B12, E dan K

7. Inorganik, meliputi K, Na, Ca, Mg, Fe, Cu, Mn, Zn, Pi, Se, Al, Si, Ni, Sr, Ti, Cr, Ga, V, dan Zr.

Yang memiliki aktivitas farmakologi: adenosin, asam alkenoat, Cordycepin, ergosterol,Galaktomannin, asam linoleat, asam oleat, d-manitol, nukleosida, polisakarida, sterol, triptofan. Adenosin Cordycepin Ergosterol

D-manitol Asam linoleat

Triptofan

Gambar 6. Struktur kimia beberapa senyawa dalam Cordyceps sinensis

Efek Farmakologi Cordyceps menghambat fibrogenesis hati karena kerusakan hati, memperlambat perkembangan dari sirosis, dan mengembalikan fungsi hati. Mekanisme yang mungkin terjadi melibatkan penghambatan dari TGF- (Transforming Growth Factor beta), sehingga mengatur penurunan PDGF (Platelet-Derived Growth Factor) dan menurunkan deposisi prokolagen I dan III.

Efek lainnya: meningkatkan sistem imun, meningkatkan kejantanan, memperbaiki penglihatan, anti-tumor, antikanker, antivirus, penurun kolesterol, antioksidan, meningkatkan stamina (Holliday and Cleaver, 2004).

Uji Preklinis dan Uji klinis Uji Preklinis Efek ekstrak Cordyceps sinensis pada keadaan energi dari hati mencit diperiksa menggunakan uji in vivo spektroskopi 31P NMR. Setelah diberikan ekstrak air (0,2 atau 0,4 g/kg) secara oral selama 7 hari, perbandingan dari ATP dengan foafat inorganik meningkat di dalam hati secara signifikan ratarata 45%-55%, jika dibandingkan dengan kelompok kontrol plasebo. Oleh karena itu, bioenergi dapat meningkat dan menghasilkan penurunan konsumsi energi pada mencit.

Uji Klinis Pada pengobatan tradisional bangsa China (TCM), Cordyceps digunakan untuk mendukung dan meningkatkan fungsi hati. Studi terhadap manusia mengindikasikan bahwa Cordyceps dapat menstimulasi sistem imun dan meningkatkan level serum gamma globulin pada pasien hepatitis B. Meskipun penelitian telah memberikan bukti yang agak lemah tentang Cordyceps sebagai pengobatan untuk hepatitis B kronis, namun hasilnya menjanjikan. Untuk sistem hepatik (hepatitis kronik dan kondisi penyakit yang berhubungan): Hepatitis-B, dengan tes turbiditas timol kembali ke kondisi normal pada 1/3 dari pasien MeningkatkanSGPT lebih dari setengah sembuh hingga kadar normal. Serum albumin meningkat Uji klinis dengan plasebo terkontrol menguji efek terapi Cs-4 pada pasien usia tua dengan gejala kelelahan dan gejala yang berhubungan dengan penuaan. Dibandingkan dengan tidak adanya perbaikan gejala pada pasien

yang diberikan placebo, sebagian besar pasien yang diterapi dengan Cs-4 dilaporkan mengalami perbaikan klinis.

Toksisitas Secara umum, Cordyceps dilaporkan merupakan herbal tradisional China yang sangat aman. Bahkan, banyak peneliti melaporkan bahwa oral LD50 dan produk fermentasi miselialnya tidak ditemukan. Tidak ditemukan kematian pada mencit setelah 7 hari atau lebih yang diberikan Cordyceps. Dosis Pemberian kapsul Cordyceps sinensis untuk hepatitis asimtomatik akut, dosis: 2-4 tahun: 0,25 g/hari 2-4 tahun: 0,5 g/hari 10-15 tahun: 1,25 g/hari Lebih dari 16 tahun: 1,5 g/hari

Efek samping: relatif aman Peringatan dan Kontraindikasi Kehamilan dan menyusui: informasi yang menunjukkan penggunaan selama kehamilan dan menyusui tidak mencukupi sehingga sebaiknya hindari pemakaian demi keamanan. Penyakit autoimun seperti multiple sclerosis, lupus, arthritis rheumatoid. Cordyceps dapat menyebabkan sistem imun lebih aktif dan dapat meningkatkan gejala penyakit autoimun.

Interaksi Obat Siklofosfamid, prednisolon: karena menurunkan aktivitas sistem imun (imunosupresan)

Penggunaan secara tradisional Pembuatan tonik dengan menambahkan obat-obatan herbal ke dalam wadah yang berisi sehelai kain, yang kemudian dijaga dalam tempat sejuk untuk 23 bulan. Terdapat 2 resep, yaitu Cordyceps, dugme (dug med, Fritillaria cirrhosa, Liliaceae) umbi, akar dari tanaman yang belum, diidentifikasi dan sebuah fragmen dari shara (sha rwa, deers antler, Cervus albirostris, white-lipped deer, or C. elaphus macneilli, a red deer) Cordyceps, dugme umbi, dan dretserma (dre tsher ma, Lycium barbarum, Solanaceae; yang dikenal dengan goji atau wolf berries) Sediaan Cordyceps yang dijual di Farmasi kota Yunnan, China. Cordyceps Sinensis - Kapsul Herbal Cordyceps Fruit Body Cord-Immune, 300mg, 60 caps 2.3.3. Meniran (Phylanthus herba)

Gambar 7. Tanaman meniran Taksonomi Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies Simplisia : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) :Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Phyllanthus : Phyllanthus niruri L. : Seluruh tumbuhan, segar atau dikeringkan.

Deskripsi Batang : Berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50 cm. Daun : Mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong. Bunga : Terdapat pada ketiak daun menghadap kearah bawah. Syarat Tumbuh : Meniran tumbuhan berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di Hutan-hutan, ladang-ladang, Kebun-kebun maupun pekarangan

halaman rumah, pada umumnya tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Meniran tumbuh subur ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

Kandungan kimia Mengandung phyllantin, hypophyllantin, nirantin, nirtetrali, nirurin, nirurinetin, norsecurinine, phyllantenol, phyllantheol, phyllnirurin, phylltetrin, quercetin, quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutin, kaempferol-4, rhamnopynoside), alkaloid, triterpenoid, asam lemak (asam ricinoleat, asam linoleat, asam linolenat), vitamin C, kalium, damar, tanin, geraniin, triacontanal, dan triacontanol.

Efek Farmakologi Ekstrak tumbuhan ini terbukti memberikan efek terhadap virus hepatitis B, seperti yang dilaporkan Venkateswaran, dkk. dari India (1987). Mereka melaporkan ekstrak semua bagian tumbuhan Meniran dapat menghambat aktivitas enzim DNA polymerase (DNAp) dari virus hepatitis B dan virus hepatitis woodchuck secara in vitro. Pada percobaan klinik pendahuluan yang dilakukan oleh Thyagarajan, dkk. (1988) terhadap 37 penderita hepatitis B, ternyata 22 orang dari mereka menunjukkan kesembuhan. Pengamatan klinik pun menunjukkan bahwa tumbuhan ini sedikit sekali atau tidak memberi efek toksik. Baru-baru ini Wagner, dkk. bekerja sama dengan industri farmasi dan suatu rumah sakit di Munchen Jerman telah melakukan penelitian secara menyeluruh terhadap tumbuhan ini dan berhasil mendapatkan hak paten. Sedangkan di Indonesia meniran tumbuh secara liar di tempat terbuka, pada tanah gembur yang mengandung pasir, di ladang, di tepi sungai, dan di pantai. Akan tetapi, upaya budidaya belum dilakukan secara khusus, padahal banyak industri obat tradisional yang menggunakannya sebagai bahan ramuan pada produk jamu.

Mekanisme aksi:

Meniran berfungsi sebagai agen hepatoprotektor. Di India sudah lazim herba meniran dipakai sebagai obat hati. Sekelompok tikus diinjeksi karbon tetraklorida, zat penginduksi hepatotoksik. Ternyata tikus yang diberi air rebusan meniran mengalami perbaikan organ hati. Salah satu senyawa yang hingga sekarang menjadi masalah kesehatan bagi penduduk di berbagai negara beriklim tropis adalah aflatoksin. Sebuah penelitian tentang efek aflatoksin membuktikan, ekstrak meniran dapat menghambat kerusakan sel hati dibanding hati tikus percobaan yang tidak diberi meniran. Meniran mengandung senyawa antihepatotoksik seperti filantin, hipofilantin, triakontanal dan trikontanol. Senyawa mana yang berperan dominan belum diketahui. Sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Phyllanthus bekerja sebagai pelindung hati dengan cara menyabotase DNA polimerasi, enzim yang diperlukan virus hepatitis B untuk bereplikasi. Dalam sebuah penelitian di India, 59% pasien yang menderita infeksi hepatitis B menunjukkan kadar HBV infection yang makin kecil setelah mengkonsumsi meniran selama 30 hari. Hasil uji klinis di RS soetomo membuktikan meniran berkhasiat mengatasi hepatitis B. pasien hepatitis kronis diberi sebuah kapsul meniran 3 kali sehari selama sebulan. Ekstrak meniran dapat memodulasi sistem imun lewat proliferasi dan aktivasi limfosit T dan B. Sekresi TNF- dan IFN- meningkat. Efek akhirnya indikasi kesembuhan hepatitis. Hasil riset Haowie dalam Journal Laboratory Clinic Medicine menyebutkan: meniran terbukti menghambat kinerja polimerisasi DNA oleh virus hepatitis B dan mengikat antigen virus itu. Ada atau tidaknya kuman hepatitis B kronis ditunjukkan dengan nilai HbsAg. Positif berarti penderia memang benar terjangkit hepatitis B. konsumsi meniran secara teratur selama beberapa tahun ternyata berhasil mengubah angka HbsAg menjadi negatif. Meniran mendorong perbaikan sel-sel hati dengan cara meningkatkan jumlah enzim yang berperan dalam antioksidan. Sebuah percobaan in vivo dilakukan untuk melihat pengaruh meniran terhadap perbaikan hati tikus yang sudah rusak oleh karbon tetraklorida. Zat asing ini berhasil meningkatkan kadar glutamat-piruvat transaminase (GPT), alanin fosfatase (ALP), dan lipid peroksida pada hati hewan percobaan. Kadar antioksidan menurun ditandai dengan berkurangnya superoksida dismutase (SOD). Pemberian ekstrak meniran mendorong mekanisme perbaikan sel-sel hati dan meningkatkan jumlah enzim yang berperan dalam antioksidan.

Thyagarajan (1988) telah berhasil mengisolasi tiga senyawa aktif dari genus Phyllanthus yaitu P. amarus yang mempunyai aktivitas menghambat perkembang biakan virus hepatitis B, meningkatkan sistem imun dan melindungi hati. Tjandrawinata et al., 2005 melaporkan bawa ekstrak P. niruri dapat meningkatkan aktivitas dan fungsi komponen sistem imun baik imunitas humoral maupun selular. Contoh penelitian terhadap meniran yaitu: Efek Meniran (Phyllanthus niruri Linn) terhadap Kadar AST dan ALT Mencit Balb/C yang Diinduksi Asetaminofen. Latar belakang: Meniran (Phyllanthus niruri) memiliki potensi sebagai hepatoprotektor karena mengandung phyllanthin dan hipophyllanthin. Zat tersebut diketahui memiliki fungsi sebagai antioksidan, meningkatkan viabilitas hepatosit, menurunkan peroksidasi lipid, dan meningkatkan glutation. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ada tidaknya perbedaan kadar AST dan ALT antara mencit yang diberi Phyllanthus niruri dengan yang tidak paska induksi asetaminofen dosis toksik. Metode: Desain penelitian ini adalah randomized postest control group design dengan menggunakan mecit Balb/C sebagai sampel. Dua puluh empat mencit yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan aklimatisasi selama seminggu kemudian mencit dilakukan randomisasi dan dikelompokkan menjadi 4 kelompok sama banyak, yaitu kelompok kontrol, kelompok yang diberi asetaminofen saja, kelompok yang diberi asetaminofen dan Phyllanthus niruri dosis 0,39 mg, dan kelompok yang diberi asetaminofen dan Phyllanthus niruri dosis 3,9 mg. Ekstrak Phyllanthus niruri diberikan peroral selama 7 hari. Setelah perlakuan darah mencit diambil untuk diperiksa kadar AST dan ALT. Data dideskripsikan dalam bentuk tabel dan gambar. Uji statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil : Dari uji Kruskal-Wallis, nilai p untuk kadar AST adalah 0,168 dan nilai p untuk kadar ALT adalah 0,726. Keduanya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kadar AST dan ALT di antara 4 kelompok mencit. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan kadar AST dan ALT pada mencit Balb/C paska induksi asetaminofen yang diberi Phyllanthus niruri dengan yang tidak diberi Phyllanthus niruri.

Dosis Herba segar 30 - 60 gram atau 15-30 g yang kering direbus. Minum sehari sekali. (Saran 3x 2 kapsul per hari, minum banyak air)

Efek samping Hingga saat ini, belum ada laporan tentang efek samping yang berbahaya dari penggunaan maniran. Selain itu ekstrak meniran tidak menimbulkan kerusakan sel hati secara permanen serta dapat dikategorikan relatif tidak berbahaya.

Kontraindikasi Ibu hamil dan menyusui, hal ini untuk menghindari klaim-klaim yang tidak jelas penyebabnya.

Penggunaan secara tradisional Sakit Kuning Bahan Utama: 16 gr Tanaman Meniran (akar, Batang, daun), Bahan Tambahan: 2 gelas Air Susu. Cara membuat: Tanaman meniran dicuci lalu ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air susu sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas. Cara menggunakan: disaring dan diminum sekaligus; dilakukan setiap hari. Bahan Utama: 7 batang tanaman meniran (akar, Batang dan bunga), Bahan Tambahan: 7 buah Bunga cengkeh kering, 5 cm rimpang umbi temulawak, 1 potong kayu manis, Cara Membuat: Seluruh bahan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, Cara menggunakan: disaring dan diminum 2 kali sehari.

2.3.4.

Rimpang Temulawak (Curcumae Rhizoma)

Gambar 8. Tanaman dan Rimpang Temulawak Taksonomi Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies Simplisia dikeringkan) Deskripsi : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Zingiberales : Zingiberaceae :Curcuma :Curcuma xanthorrhiza ROXB. :Curcumae rhizome (potongan rimpang yang telah

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Temulawak berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya temulawak berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, selain tanaman ini terdapat Asia Tenggara dapat ditemui pula di China, Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Nama daerah di Jawa yaitu temulawak, di Sunda disebut koneng gede, sedangkan di Madura disebut temu labak. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai ketinggian 2meter di atas permukaan laut dan berhabitat di hutan tropis. Temulawak merupakan tanaman terna, berbatang semu. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur. Daun berbentuk bulat memanjang, warna hijau, sisi ibu tulang daun merah keunguan. Bunga majemuk, keluar dari rimpang, kelopak berwarna putih, mahkota berbentuk tabung, helaian bunga berwarna putih bagian ujung merah tua. Kandungan kimia Kandungan utama kurkuminoid (1-2%), yaitu: kurkumin dan monodesmetoksikurkumin (tidak kurang dari 1,0% dihitung sebagai kurkumin), bisdesmetoksikukumin ditemukan dalam jumlah sangat kecil, bahkan tidak terdeteksi. Kandungan lain adalah golongan seskuiterpen 312% (tidak kurang dari 5,0%), terutama: ar-kukumen, xanthorhizol, kurkumen, zingiberen, dan germakron.

Gambar 9. Struktur kimia beberapa senyawa dalam rimpang temulawak Efek Farmakologi Temulawak telah digunakan secara turun-temurun di Indonesia untuk pengobatan kelainan hati. Selain dapat merangsang sekresi empedu dan meningkatkan kemampuan detoksifikasi hati, kandungan kurkumin dalam temulawak berkhasiat sebagai antioksidan. Dalam penelitian pada hewan percobaan, kunyit terlihat menghambat kerusakan hati dari aflatoksin dan racun hati lainnya. Kandungan kurkumin ini juga memilki aktivitas secara nyata dapat menurunkan peningkatan kadar transaminase dalam serum karena pengaruh zat-zat racun hati (zat hepatotoksik), sehingga kerusakan sel-sel hati oleh zat-zat racun tersebut dapat dihindarkan. Kurkumin juga diketahui memiliki efek yang kuat sebagai pencegah kanker dan mempunyai daya antioksidan yang kuat. Serta temulawak dikenal mempunyai khasiat sebagai obat penguat (tonik), dan sebagai obat penambah darah untuk orang yang menderita kekurangan darah atau anemia

Uji Klinis dan Preklinis Uji preklinis Ekstrak etanolik terstandar dari rimpang temulawak (500mg/kg) selama 7 hari memperlihatkan efek hepatoprotektif pada tikus yang diinduksi

dengan etanol. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan fungsi hati seperti kadar ALT, AST, dan kandungan protein. Efek tersebut juga didukung dari pengamatan histopatologi. Xantorrhizol yang diisolasi dari temulawak pada dosis 200mg/kg bb sehari-hari selama 4 hari sebelum diinduksi dengan sisplatin (45mg/kg, ip) pada mencit secara nyata dapat menghambat kerusakan hati. Mekanisme hepatoprotektok tersebut diduga melalui regulasi faktor transkripsi aktivitas DNA-binding, NF-kB, da AP-1. Pada penelitan lain uji aktivitas hepatoprotektor lainnya dari tanaman ini menggunakan hewan percobaan yang diinduksi hepatotoksis dengan parasetamol dosis tinggi (2500 mg/Kg BB). Dosis ekstrak rimpang temulawak yang digunakan adalah dosis rendah 50 mg/Kg BB dan dosis tinggi (250 dan 1000 mg/Kg BB). Disimpulkan bahwa ekstrak rimpang curcumae rhizoma dosis rendah tidak menunjukkan aktivitas hepatoprotektor tetapi pada dosis tinggi dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT.

Penggunaan secara tradisional Bahan: 10 gram rimpang temulawak 10 gram kunyit 10 gram daun sambiloto kering 10 gram rimpang temu mangga 10 gram ciplukan kering (seluruh bagian tanaman) 10 gram meniran (seluruh bagian tanaman) Cara Membuat: Setelah dicuci bersih, rimpang temulawak, kunyit, temu putih, dan temu mangga diparut halus. Parutan tersebut dicampur dengan ciplukan, meniran, dan daun sambiloto, lalu direbus dengan 2 gelas air putih sampai tersisa sekitar 1,5 gelas. Setelah disaring, ramuan diminum 3 kali sehari masing-masing 1/2 gelas. Untuk mengurangi rasa pahit, tambahkan 1 sendok makan madu.

Keamanan Ekstrak etanolik terstandar temulawak mengandung xanthorrhizol 0,1238mg/kg pada dosis 5g/kg bb per oral tidak memberikan tanda-tanda toksisitas pada mencit.

2.3.5.

Herba Sambiloto (Andrographidis Herba)

Gambar 10. Tanaman dan Herba sambiloto

Taksonomi Kerajaan Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Lamiales : Acanthaceae : Andrographis : Andrographis paniculata

Simplisia :andrographidis herba (herba sambiloto) berupa herba yang telah dikeringkan. Deskripsi Tanaman berupa herba, tinggi dapat mencapai 1m. Batang bersegi empat. Daun tunggal berbentuk lanset dengan pangkal runcing atau agak meruncing. Bunga berbentuk malai dengan cabang tandan, kelopak 5 lembar berlekatan. Herba sambiloto memiliki rasa sangat pahit. Kandungan kimia Kandungan kimia utama herba sambiloto, antara lain senyawa diterpenoid lakton seperti: andrografolida, deoksiandrografolida, neoandrografolida, 14epiandrografolida, 14-deoksi-12-metoksi-andrografolida, 12-epi-14-deoksi12-metoksi-andrografolida, 14-deoksi-1-hidroksi-andrografolida, 14-deoksi12-hidroksi-andrografolida, 14-deoksi-11-hidroksi-andrografolida, andrografisida, neoandrografisida, andropanosida, andrograpanin, dan bisandrografolida A, B, C, dan D. Selain itu juga mengandung flavonoid.

Andrografolida didehidroandrografolida

14-deoksi-11,12-

Gambar 11. Struktur kimia beberapa senyawa dalam herba sambiloto Efek Farmakologi Efek hepatoprotektor dari sambiloto telah diteliti pada hewan coba yang diinduksi dengan karbontetrakorida, parasetamol, dan galaktosamin. Senyawa ini dapat mengakibatkan kerusakan hati secara in vitro maupun in vivo. Selain ekstrak, senyawa hasil isolasi berupa andrografolida dapat melindungi kerusakan hati akibat pemberian senyawa hepatotoksik. Mekanisme kerja belum jelas, namun pemberian ekstrak sambiloto dan senyawa isolatnya dapat menurunkan peradangan hati diduga melalui peningkatan produksi senyawa antioksidan endogen dan glutation. Senyawa aktif yang bertanggung jawab terhadap aktivitas hepatoprotektor yang diinduksi oleh etanol adalah androfrafolida dan protein arabinogalaktan. Uji Klinis dan Preklinis Uji Preklinis Teratogenesitas, maupun efek gangguan fertilitas belum diketahui. Pada uji Ames terhadap Salmonella typhimurium TA98 dan TAmix tidak menimbulkan efek mutagenik.

Uji toksisitas akut ekstrak terstandar sambiloto pemberian 5000 mg/kg bb tidak memberikan efek toksik selama 14hari. Adapun efek yang tidak diinginkan, pada dosis besar dapat menyebabkan rasa tidak enak pada pencernaan dan kehilangan nafsu makan. Rasa pahit dari andrografolidanya dapat menyebabkan muntah. Uji Klinis Setelah pemberian secara oral ekstrak metanolik daun sambiloto 1g/kg bb, terjadi peningkatan konsentrasi andrografolida dan deoksididehidroandrografolida pada plasma 30menit sampai 3jam setelah pemberian. Konsentrasi maksimum andrografolida dan deoksididehidroandrografolida dalam plasma masing-masing 1,42 0,09 g/ml dan 1,31 0,04 g/ml. Empat belas hari setelah pemberian ekstrak metanolik 1g/kg bb, kemudian diinduksi dengan CCl4 dapat menjaga aktivitas antioksidan dalam eritrosit.

Penggunaan secara tradisional Herba kering sebanyak 10 - 20 g direbus atau herba kering digiling halus menjadi bubuk lalu diseduh, minum atau 3 - 4 kali sehari, 4 - 6 tablet. Untuk pengobatan kanker, digunakan cairan infus, injeksi, atau tablet. Untuk pemakaian luar, herba segar direbus lalu airnya digunakan untuk cuci atau digiling halus dan dibubuhkan ke tempat yang sakit, seperti digigit ular berbisa, gatal-gatal, atau bisul. Keamanan Kandungan senyawa aktif sambiloto terbukti aman. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan LD50 sambiloto mencapai 27,5 g/kg bb. Pada pengujian toksisitas lainnya, pemberian ekstrak kering sambiloto sampai 100 mg/kg selama 60hari tidak memberikan efek toksik pada organ reproduksi.

Interaksi obat Pemberian sambiloto mungkin dapat menyebabkan perlambatan eliminasi teofilin. Oleh karena itu, bagi pasien yang menggunakan obat yang dimetabolisme CYP1A2, seperti kafein dan teofilin, harus

mempertimbangkan kemungkinan interaksi yang menyebabkan kegagalan terapi atau peningkatan toksisitas obat konvesional. Dosis Dalam bentuk serbuk dosis 1,5-3,0 g sehari tiga kali atau sediaan lain yang setara. 2.3.6. Milk Thistle (Silybi marie fructus)

Gambar 12. Tanaman dan Fructus silybi marie Taksonomi Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Asterales : Asteraceae

Upafamili : Lactucoideae Bangsa Genus : Cardueae : Silybum

Spesies

: Silybum marianum (L) Gaertn

Simplisia : Silybi marie fructus (berupa buah masak yang telah dikeringkan)

Deskripsi Tanaman berupa tanaman tinggi sampai 5m, berbatang tegak, bercabang dan beralur tetapi tidak berduri. Tanaman ini memiliki akar besar. Daun hijau, yang melekat pada batang tanpa tangkai daun atas memiliki basis memeluk. Bunga dari milk thistle berwarna merah-ungu, dengan biji kecil berwarna hitam berkilap berbeludru.

Kandungan Kimia Buah silybi mengandung 15-30% minyak dan 20-30% protein. Kandungan utama dari tanaman ini adalah flavonoid. Flavonoid yang merupakan senyawa aktif utama adalah silimarin, terdiri dari empat isomer, yaitu: silibin, isosilibin, silidianin, dan silikristin. Oleh karenba itu, orang sering menyebut tanaman ini dengan silimarin.

Gambar 13. Struktur kimia beberapa senyawa dalam Fructus silybi marie

Mekanisme Aksi Sylimarin, sebuah kompleks flavonoid yang dapat diekstrak dari biji milk thistle, terdiri dari tiga isomer. sylimarin adalah secara khas diekstrak dengan etanol 95%, menghasilkan cairan kuning terang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan menggunakan produk milk thistle, legalon (madeus, jerman), yang dipreparasi dengan ekstraksi menggunakan etil asetat. Sebuah standar ekstrak milk thistle mengandung sylimarin 70%, campuran dari flavonolignans silydianin dan silychristin, dan silibinin (konstituen yang paling aktif, menurut uji in vitro). Konstituen lain, termasuk dehydrosilybin, desoxysilydianin, dan silybinomer, juga telah diisolasi. Aktivitas antioksidan, atau antagonisme radikal bebas, telah dikutip sebagai mekanisme kemungkinan aksi milk thistle. Efek menyarankan lain meliputi peningkatan sintesis protein, penurunan aktivitas tumor-promotor, stabil respon imunologi, perlindungan terhadap kerusakan radiasi selular, dan perubahan dan peningkatan membran stabilititas selular. Kualitas hepatoprotektif dari milk thistle telah dikaitkan dengan sifat antioksidan. Flavonoid hadir dalam milk thistle, seperti sylimarin dan silybin, telah ditunjukkan untuk bertindak sebagai antioksidan. Orang yang terinfeksi virus hepatitis B atau C (HBV dan HCV) lebih mungkin mengalami masalah hati waktu memakai obat antiretroviral (ARV). Milk thistle dapat membantu mencegah kerusakan pada hati tersebut.

Efek Farmakologi Laporan tentangaktivitas dari tanaman ini lebih banyak pada senyawa silimarin. Silimarin memilki aktivitas antitoksik dan meningkatkan regenerasi jaringan hati. Aktivitas ini melalui stabilitas membrane dan aktivitas antioksidan. Efek peningkatan regenerasi jaringan hati melalui stimulasi biosintesis protein. Pemberian sediaan mengandung silimarin tidak hanya memberikan efek proteksi, tetapi juga efek kuratif dengan meregenasi selsel yang telah rusak. Farmakokinetik: Bioavailabilitas silibinin pada pemberian oral, konstituen milk thistle, berkisar dari 23% sampai 47% dan terlihat lebih tinggi ketika pemberian kapsul soft-gel. Sekitar 10% silibinin didistribusi dalam plasma. Waktu paruh silibinin dan silymarin dilaporkan kurang lebih 4 jam. Kurang

dari 3% dalam bentuk bebas atau silibinin dalam bentuk terkonjugasi di dalam urin.

Uji Klinis dan Preklinis Uji Preklinis Pemberian silimarin pada tikus dapat mencegah kerusakan hati, akibat pemberian toksin seperti: karbon tetraklorida, galaktosamin, tioasetamid, dan praseodimium. Selain itu, silimarin juga dapat mencegah kerusakan hati, karena toksisitas obat-obatan. Uji Klinis Telah dilakukan uji klinik dengan kontrol, tersamar ganda, pada 60 pasien yang menerima obat-obatan psikotropika diberi silimarin dosis 800mg sehari selama 90hari. Pada kelompok penerima silimarin terlihat perbaikan fungsi hati dan penurunan kerusakan hati karena peroksidasi lipid. Hal ini terlihat dari penurunan kadar malondialdehid (MDA) sebagai parameter oksidasi asam lemak tidak jenuh. Hasil ini juga didukung oleh penelitian lain bahwa pemberian silimarin pada 19 pasien pengguna psikotropika selama 6bulan memperlihatkan efek perbaikan. Sirosis:. produk milk thistle yang populer di Eropa dan negara-negara bersatu untuk pengelolaan berbagai jenis penyakit hati, termasuk hepatitis, sirosis, batu empedu, penyakit kuning, dan kerusakan hati yang disebabkan racun. Beberapa acak, double-blind, uji coba terkontrol plasebo telah dilakukan di Eropa untuk mengevaluasi dampak milk thistle pada sirosis alkohol dan tidak mengandung alkohol. Studi telah memeriksa kedua hasil jangka pendek dan jangka panjang, termasuk kematian. Secara keseluruhan, penelitian ini telah dilaporkan milk thistle dapat menurunkan kadar serum transaminase, meningkatkan histologi hati, dan meningkatkan kelangsungan hidup. Namun, kelemahan nethodological dalam desain penelitian dan interpretasi batas pelaporan dan penerapan klinis. Faktor pemicu (misalnya konsumsi alkohol) tidak terkontrol dengan baik, dan inklusi kriteria (misalnya kriteria diagnostik untuk penyakit hati) belum didefinisikan dengan baik. Peninjauan sistematis berkualitas tinggi dan meta-analisis disiapkan untuk badan untuk penelitian kesehatan dan kualitas (AHRQ) menyimpulkan bahwa kemanjuran klinis penyakit milk thistle untuk pengobatan hati belum jelas ditetapkan. Meskipun bukti yang ada tidak menunjukkan manfaat milk

thistle, kebanyakan efek ukuran kecil atau tidak signifikan secara statistik ketika data yang dikumpulkan. uji coba terkontrol ketat menggunakan hasil serologi, histologis, dan kelangsungan hidup yang diperlukan sebelum rekomendasi yang kuat dapat dibuat. Hepatitis kronis (virus dan alkohol): beberapa percobaan telah menguji milk thistle sebagai pengobatan untuk hepatitis kronis karena virus atau alkohol. Kebanyakan penelitian telah menghasilkan hasil yang signifikan secara statistik menunjukkan bahwa milk thistle meningkatkan nilai transaminase, bilirubin, dan PT, dengan konsisten hasil positif untuk hepatitis virus. Hepatitis virus akut: beberapa penelitian yang berkualitas rendah telah menguji penggunaan milk thistle untuk hepatitis virus akut. Hasil serologis yang menguntungkan telah dilaporkan, tetapi karena kelemahan metodologis, hasil ini tidak konklusif. Tidak ada cukup bukti untuk merekomendasikan untuk milk thistle untuk pengobatan hepatitis virus akut. Kerusakan hati dari obat atau racun: milk thistle telah digunakan sebagai agen hepatoprotektor terhadap obat dan toksin termasuk kerusakan hati. Sejumlah penelitian telah melaporkan peningkatan kadar transaminase serum (membaik AST, ALT, dan jumlah trombosit), histologi, dan gejala (pruritus, mual) pada pasien dengan kerusakan hati toksin atau obatdiinduksi setelah pengobatan dengan oral milk thistle. Meskipun hasil ini menjanjikan, mereka dikacaukan oleh kelemahan dalam desain penelitian dan pelaporan.

Keamanan Data mengenai interaksi obat, aktivitas karsinogenesis, mutagenesis, teratogenik, pada kehamilan dan menyusui belum tersedia. Oleh karena itu, tidak dianjurkan pemberiannya pada masa kehamilan dan menyusui. Hati-hati pada mereka yang alergi terhadap tanaman ini.

Dosis Milk thistle kapsul, tincture, dan bubuk standar mengandung 70% sampai 80% silymarin. Untuk sirosis, 280-420 mg silymarin (Legalon) telah diambil setiap hari dalam dua atau tiga Dosis terbagi. Sampai dengan 450 mg sehari

dibagi dalam tiga dosis telah dipelajari selama 2 tahun, meskipun silymarin tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup atau kursus klinis pada pecandu alkohol dengan sirosis hati. Untuk hepatitis kronis, simplisia 12-15gram, atau setara dengan 60-480 mg silipide (1dB 1016) setiap hari, setara dengan silybin, atau silymarin (Legalon), 420 mg setiap hari dalam tiga dosis terbagi. Silipide adalah kompleks silybin dan fosfatidilkolin dirancang untuk meningkatkan penyerapan silymarin secara oral, dengan menunjukkan bioavailabilitas yang lebih besar. Untuk hepatitis virus akut, 420 mg silymarin yang dikonsumsi setiap hari dalam tiga dosis terbagi. Namun, khasiat dari dosis ini tidak jelas. Untuk obat/racun-hepatotoksisitas diinduksi, 280-420 mg silymarin (legalon) telah diambil secara oral setiap hari dalam tiga Dosis terbagi. Sampai dengan 800 mg/hari telah dipelajari selama 90 hari, namun perbaikan tidak signifikan dalam transaminase diamati baik dalam milk thistle dan tidak ada kelompok obat. Hal ini tidak jelas apakah penelitian ini cukup kuat untuk mendeteksi perbedaan antara kelompok, dan hasilnya mungkin tidak relevan secara klinis.

Efek Samping Pada percobaan kilinik dan tradisional, penggunaan oral milk thistle umumnya telah dilaporkan toleransi terhadap dosis yang dianjurkan sampai 6 tahun. Beberapa studi melaporkan sedikit gejala pencernaan, meliputi mual, heartburn, diare, epigastric pain, ketidaknyamanan perut, dispepsia, flatulence, dan hilang nafsu makan. Urtikaria, eksim, dan sakit kepala juga pernah dilaporkan. Reaksi hipersensitivitas dan anafilaksis bersama dengan milk thistle dilaporkan menyebabkan kasus saluran pencernaan.

2.3.7.

Paeonia sp. (Paeonia radix)

Gambar 14. Tanaman dan Radix paeonia Taksonomi Kerajaan Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Simplisia : Plantae : Angiospermae : Eudicots : Saxifragales : Paeoniaceae : Paeonia L. : Paeonia radix

Deskripsi tanaman Spesies Paeonia telah menjadi obat yang berguna dan bunga hias yang menarik untuk lebih dari 3.000 tahun di China dan setidaknya 500 di Eropa. Terdapat empat spesies tanaman ini yang berasal dari famili Ranunculaceae yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina, yakni: Paeonia suffruticosa (pohon peoni), Paeonia lactiflora (peoni cina), Paeonia veitchii (peoni cina), dan Paeonia obovata (peoni cina). Selama ribuan tahun, akar peoni telah digunakan untuk mengobati luka, infeksi jamur, sakit, dan kondisi spasmodik dalam pengobatan tradisional Cina. Beberapa kali, akar peoni telah menjadi perhatian dalam pengembangan penelitian, terutama di Jepang dan Cina. Serta memiliki sejarah panjang dalam penggunaanya di Eropa, terutama untuk kondisi spasmodik. Ketiga spesies peoni cina ini mencapai ketinggian hingga sembilan meter (sedangkan pohon peoni dapat lebih besar). Tanaman ini memiliki bentuk berselang-seling, berbentuk elips, daun yang tumbuh di batang halus membawa dua atau lebih bunga. Bunga-bunga besar peoni cina dapat memiliki berbagai warna dan umumnya memiliki diameter 4-6cm. Akar dari semua jenis peoni berbentuk besar, lurus, dan tegas dengan kulit akar mudah dikupas yang melepaskan serbuk ketika dipisahkan dari akarnya. Kandungan kimia Terdapat tiga pengobatan yang digunakan dari tanaman peoni dalam pengobatan tradisional Cina. Akar P. lactiflora, P. veitchiidan dan P.obovata dengan kulit melekat dikenal sebagai chi shao, atau disebut peoni merah. Sedangkan akar tanpa kulit dari ketiga tanaman yang sama memberikan bai shao (peoni putih), meskipun dalam pengobatan yang paling sering digunakan berasal dari P. Lactiflora. Penunjukan warna ini tidak mengacu pada bunga tanaman tersebut (yang paling sering merah muda, merah, ungu, atau putih), tetapi berdasarkan dengan warna akar setelah dilakukan processing. Putih peoni, merah peoni, dan pohon peoni mengandung glikosida (terutama paeoniflorin) , flavonoid, proanthocyanidin, tanin, terpenoid, triterpenoid, dan polisakarida kompleks yang semua kandungan ini dapat berkontribusi pada efek obat. Paeoniflorin telah menjadi perhatian dalam penelitian yang paling utama.

Gambar 15. Struktur kimia senyawa dalam Paeonia radix Mekanisme aksi Mekanisme aksi yang tepat pada konstituen peoni belum ditentukan secara utuh. Paeoniflorin, monoterpenoid, dan konstituen lain dalam putih dan merah peoni telah terbukti sebagai spasmolitik. Hal ini terjadi dengan mengganggu sebagian pelepasan asetilkolin ke persimpangan neuromuskular yang berhubungan dengan jaringan otot usus halus. Ada banyak sinergi aktivitas antara putih atau merah peoni dengan licorice (Glycyrrhiza uralensis, yang dapat diganti G. Glabra), dikenal sebagai formula shakuyaku-kanzo-to yang telah digunakan di Jepang dan Cina. Satu studi menemukan bahwa pada hewan coba yang diberikan ekstrak peoni dapat mengganggu pelepasan asetilkolin ke persimpangan neuromuskular, hal ini juga terjadi saat pemberian ekstrak licorice yang memiliki aktivitas

yang sama. Pada uji in vitro ditemukan konsentrasi paeoniflorin dan glycyrrhizin (glikosida aktif utama dalam licorice) yang bila diberikan secara individual aktivitasnya menjadi terlalu rendah dalam menghambat kontraksi otot, tetapi sangat aktif bila diterapkan secara bersamaan. Aktivitas lain yang dimiliki oleh ekstrak peoni dan konstituennya dalam studi praklinis meliputi: (1) peningkatan daya ingat, (2) aktivitas antioksidan, (3) hepatoprotektor, (4) efek anti aterosklerosis yang berkaitan dengan penghambatan peroksidasi lipid, (5) penghambatan sekresi asam klorida, (6) aktivitas anti-epilepsi; (7) merangsang aktivitas penekan nafsu makan dan meningkatkan metabolisme; (8) memiliki sifat antimutagenik; (9) perlindungan pada endothelium dari efek negatif dari hiperlipidemia; (10) penghambatan agregasi trombosit, dan (11) antikoagulasi dan fibrinolisis. Kompleks olisakarida dari peoni memberi efek imunomodulasi secara in vitro. Efek Farmakologi (Uji preklinis dan uji klinis) Pengaruh klinis terhadap otot Efektivitas peoni putih untuk menghilangkan kram otot, terutama jika dikombinasikan dengan licorice pada formula shakuyaku-kanzo-to, didukung oleh beberapa uji klinis. Dalam percobaan double-blind, dengan kontrol plasebo yang melibatkan 101 pasien dengan kejang otot disebabkan sirosis hati. Diberikan ekstrak kering dari formula shakuyaku-kanzo-to secara signifikan unggul dibandingkan dengan plasebo dalam mengurangi gejala selama periode dua minggu. Dosis yang diberikan dalam penelitian ini adalah 2,5 g untuk tiga kali sehari sebelum makan. Dosis ini cukup tinggi untuk mendorong tanda-tanda pseudoaldosteronisme (yakni edema dan peningkatan berat badan) dari lima pasien (9%) menerima formula shakuyaku-kanzo-to, karena tingginya asupan licorice. Percobaan lainnya yang tidak menggunakan kontrol menunjukkan bahwa fomula shakuyaku-kanzo-to dapat membantu meringankan kram otot pada penderita diabetes mellitus, pasien yang menjalani dialisis, para pecandu alkohol, dan pada orang dengan penyakit serebrovaskular. Kesehatan wanita Baik peoni putih dan merah biasanya digunakan untuk masalah kesehatan perempuan di berbagai pengobatan tradisional Cina. Terdapat bukti dari uji klinis pendahuluan mendukung penggunaannya dalam dismenorea dan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Pengobatan tradisional Cina dengan

formula Toki-shakuyaku-san yang mengandung peoni putih, rimpang dari tanaman Atractylode lancea (atractylodes merah), rimpang tanaman Alisma Plantago-aquatica (dikenal sebagai alisma; pisang air), Poria cocos (hoelen) Sclerotium, rimpang tanaman Cnidium monnieri (Cnidium), dan akar tanaman Angelica dahurica (angelica china), telah dilaporkan dapat mengurangi rasa sakit pada pasien dengan dismenorea primer dalam uji klinis double blind. Shakuyaku-kanzo-to dapat mengobati dismenore sebasar 60% pada wanita penderita uterine fibroid dalam percobaan terbuka. Shakuyaku-kanzo-to juga dapat membantu meningkatkan kesuburan pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dalam penelitian lainnya. Pada banyak penelitian lainnya tanaman ini terbukti memiliki peran yang tepat dan tingkat kemanjuran pada peoni putih dengan pemberian tunggal atau dalam bentuk formula kombinasi untuk mengatasi masalah kesehatan ini dan masalah kesehatan perempuan lainnya, terutama disfungsi luteal dan gejala menopause.

Virus hepatitis kronik Kedua macam peoni merah dan putih secara tradisional digunakan di Asia untuk mengobati pasien dengan virus hepatitis kronis. Dalam satu percobaan kecil, secara uji klinis terbuka dengan menggunakan peoni merah (dosis tidak dapat ditentukan tetapi dikatakan "berat") selama periode tiga bulan, berdasarkan 77% pasien dengan sirosis atau hepatitis aktif kronis terjadi perbaikan dari histologi hatinya yakni dengan mengulangi hasil biopsi. Serangkaian kasus juga melaporkan kemanjuran dari pendekatan ini. Sampai lebih banyak penelitian lanjutan dilakukan untuk menentukan efektivitas dari peoni merah atau putih untuk hepatitis kronis, maka agen ini harus dikombinasikan dengan kandungan lainnya,agar diperoleh terapi yang lebih pasti. Penyakit kardiovaskular Terdapat bukti-bukti yang menunjukkan pohon peoni, merah peoni, dan putih peoni bermanfaat pada pasien dengan aterosklerosis dan/atau hipertensi. Berbagai ekstrak dan konstituen dari obat-obatan herbal ini telah menunjukkan sifat antiplatelet dan anti aterosklerotik. Satu percobaan terbuka menemukan ekstrak Paeonia obovata dapat menurunkan agregasi trombosit pada manusia. Kombinasi antara Chinese angelica dan peoni

dalam percobaan terkontrol ditemukan dapat membantu wanita hamil dan menurunkan hipertensi. Pada percobaan klinis terbuka lainnya menunjukkan pohon peoni dapat mengurangi tekanan darah pada manusia. Tetapi mekanisme yang tepat dari peoni dalam pengobatannya aterosklerosis dan hipertensi masih belum diketahui. Pengobatan lainnya Diperoleh bukti praklinis menunjukkan peoni yang mungkin dapat membantu pasien dengan demensia, penyakit Alzheimer, penyakit menular, epilepsi, ulkus peptikum, obesitas, dan kanker. Namun, tidak ada uji klinis atau laporan yang ditemukan membahas penggunaan peoni untuk kondisi ini. Tetapi terdapat satu artikel yang menyarankan melakukan sebuah penelitian terbuka yang dilakukan di Jepang menunjukkan manfaat dari Toki-shakuyaku-san pada pasien penyakit Alzheimer, tetapi secara spesifik uji coba ini tidak bisa ditemukan. Interaksi obat Peoni telah terbukti mengurangi disfungsi seksual pada pria. Hal ini dilaporkan, disebabkan oleh neuroleptik yang diinduksi hiperprolaktinemia. Wanita dengan dismenorea dan/atau amenorea menggunakan obat neuroleptik seperti risperidone dengan formula shakuyaku-kanzo-to menurut laporan dapat memberikan manfaat. Berdasarkan laporan tidak diterbitkan, menyarankan berkurangnya kemanjuran dari obat neuroleptik bila dikombinasikan dengan peoni. Toki-shakuyaku-san telah dilaporkan efektif dalam mengurangi gejala menopause serta sindrom frozen sholder pada beberapa wanita yang diobati dengan gonadotropin atau pelepas hormon superagonis seperti leuprolid (Lupron ). Tetapi tingkat estrogen yang tidak terpengaruh oleh formula ini. Tidak diketahui apakah formula ini akan membantu pria dalam pengobatan kanker prostat. Toki-shakuyaku-san telah menunjukkan efek aditif dalam meningkatkan angka kehamilan pada wanita infertil yang diobati dengan klomifen. Ketika klomifen diberikan secara tunggal dalam percobaan yang tidak terkontrol, dari 21% relawan terbukti menjadi hamil dibandingkan dengan 34% yang mengkonsumsi klomifen dengan formula Toki-skakuyakusan. Tidak ada tanda efek aditif yang merugikan.

Efek antikoagulan dan antiplatelet dari peoni menyarankan mungkin menambah potensiasi obat antikoagulan seperti warfarin dan obat antiplatelet seperti aspirin. Tidak ada laporan telah yang diterbitkan muncul mengkonfirmasi kemungkinan ini, tapi peringatan ini perlu dicermati. Dalam percobaan terbuka pada pasien kanker yang menderita nyeri otot karena paclitaxel (Taxol ) dan terapi karboplatin, dengan menambahkan formula shakuyaku-kanzo-to sebagai terapi tambahan dapat menghilangkan rasa sakit pada 7 dari 10 pasien. Dalam percobaan pada binatang, pemberian oral formula shakuyaku-kanzo-to dapat mengurangi diare karena pemberian cisplatin secara intravena. Penelitian lebih lanjut diperlukan mengenai pengaruh peoni dan formula yang berisi peoni pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Akhirnya, peoni tidak dapat dikombinasikan dengan antibiotik. Flora usus bertanggung jawab untuk membelah aglycones glikosida dari peoni dan dengan demikian mengaktifkan konstituen peoni. Kerusakan flora usus akibat antibiotik dapat mengganggu proses ini, sehingga secara teoritis terjadi penurunan kemanjuran peoni. Uji klinis akan diperlukan untuk menentukan pentingnya kemungkinan interaksi ini. Efek samping dan toksisitas Pada dosis yang ditunjukkan di bawah ini, tanaman peoni tidak memberikan dengan efek samping selain pada gangguan lambung pada individu yang rentan. Di sisi lain, shakuyaku-kanzo-to, dapat menyebabkan pseudoaldosteronism dengan gejala hipertensi, edema, dan kenaikan berat badan. Hal ini disebabkan oleh licorice yang juga terkandung dalam formula dan tidak terkait dengan peoni. Keamanan penggunaan peoni dalam kehamilan dan ibu menyusui belum diketahui. Namun, seperti disebutkan di atas, telah digunakan tanpa efek samping yang jelas dalam satu penelitian terbuka yang diperlakukan pada wanita hamil dan menurunkan hipertensi. Sampai studi keselamatan lebih lanjut dilakukan, perhatian harus diberikan selama kehamilan. Dosis Peoni umumnya tersedia sebagai ramuan mentah kering atau ekstrak air kering, baik dalam bentuk kapsul atau sebagai bubuk. Dosis umumnya dari peoni putih dalah 1,5-4 gram untuk tiga kali sehari. Dosis umum peoni merah dan pohon peoni adalah 1-3 gram tiga kali sehari. Sedangkan dosis

umum untuk formula shakuyaku-kanzo-to dan toki-shakuyaku-san adalah 2,5 gram tiga kali sehari.

2.3.8.

Ganoderma Lucidum

Gambar 16. Jamur dan spora Ganoderma Lucidum Taksonomi Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Fungi : Basidiomycota : Basidiomycetes : Polyporales : Ganodermataceae : Ganoderma : Ganoderma lucidum P. Karst

Deskripsi

Ganoderma lucidum adalah anggota dari keluarga jamur yang secara alami tumbuh di pohon-pohon tumbang. Tanaman berbentuk seperti ginjal dengan pori-pori. Permukaan atas berwarna merah mengkilap dan gelap. Ketika masih muda tanaman memiliki tepi kuning dan putih dan permukaan atas relatif mulus.Begitu matang, permukaan atas seluruh cokelat kemerahan dan lebih bergigi. Ganoderma lucidum terdiri dari miselium dan tubuh buah yang berfungsi untuk memasok nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, sedangkan tubuh buah berbentuk paying. Baik miselium maupun tubuh buah keduanya dapat dimakan dan bermanfaat sebagai tanaman obat untuk mencegah dan memperbaiki penyakit. Jamur ini terdistribusi di seluruh zona beriklim sedang belahan bumi utara. Dari pantai Pasifik Amerika Serikat dan Kanada, melalui iklim Eropa ke pantai Pasifik Asia dan Jepang. Juga di pegunungan Afrika Tengah 1500 m diatas permukaan laut. Kandungan Kimia Mengandung berbagai komponen bioaktif alami, polisakarida, ganoderic acid, ergosterol, protein, asam lemak tak jenuh, vitamin dan mineral.

Mekanisme Aksi Kandungan utama jamur ganoderma yang memiliki aktivitas sebagai anti hepatitis B adalah Ganoderic acid. Pengujian pada tikus memberikan kesimpulan sebanyak 8 mcg/ml ganoderic acid menghambat replikasi vitus hepatitis B dalam waktu delapan hari. Mekanisme antivirus belum pasti diketahui, namun mungkin berkaitan dengan penghambatan sekresi HBsAg dan HBeAg dari sel-sel HepG2215. HBsAg dan HBeAg merupakan protein structural dari virion virus Hepatitis B (HBV Virion). Mekanisme lain yang mungkin berkaitan adalah adanya kemampuan proteksi dari kerusakan hati (hepatoprotektor).

Efek Farmakologi Ganoderma lucidum telah dilaporkan memiliki beberapa efek farmakologi termasuk imunomodulator, anti tumor, radio protetktif, analgesic,

hepatoprotektif, anti diabetes, antioksidan. Tabel 1 menjelaskan berbagai efek farmakologi dari tanaman Ganoderma lucidum.

Uji Klinis dan Uji Preklinis Uji Preklinis Suatu uji preklinik untuk menguji efek anti hepatitis B serta hepatoprotektor ganodermic acid dilakukan terhadap 50 tikus. Hewan coba dibagi dalam lima kelompok dimana masing-masing berisi 10 ekor. Setiap hewan coba kecuali dari kelompok control diberikan 0.2ml BCG yg mengandung 5.10 6 bakteri secara intravena pada hari pertama. Kelompok control positif diberikan cyclosporine 20 mg/kg BB mencit selama sembilan hari. Sedangkan kelompok lainnya diberikan 10 mg serta 30 mg/kg BB mencit ganodermic

acid. Pengamatan dilakukan pada hari ke 10 untuk dihitung aktivitas ALT dan AST nya. Hasilnya bisa dilihat pada table 3.

Uji Klinis Fraksi polisakarida dan triterpen diisolasi dari Ganoderma lucidum menunjukan adanya efek pada hati dalam pengujian pada hewan coba. Studi yang dilakukan secara double-blind, randomized dan multi center bertujuan untuk mengevaluasi keamanan serta efikasi dari ekstrak G. lucidum pada pasien hepatitis B kronis. Sebanyak sembilan puluh pasien dengan hepatitis B kronis, hepatitis B viral DNA positif dan peningkatan level aminotransferasi dimasukan dalam studi prospektif ini. Pasien secara random kepada 60 pasien diberikan Ganopoly (brand untuk ekstrak G.lucidum) dan placebo kepada 30 pasien lainnya selama 12 minggu. Efek terapi diinvestigasi dari kadar serum AST dan HBeAg. Hasilnya pada kelompok yang menerima Ganopoly terdapat penurunan antigen HB serta HBV BNA yang signifikan (P<0.05). Responden yang memiliki level AST < 100 U/Lsebanyak 41%, sedangkan yang memiliki level ALT > 100 U/L sebanyak 65%. Dari studi ini

dapat disimpulkan bahwa Ganopoly dapat ditoleransi dengan baik serta memiliki aktifitas yang baik dalam melawan virus hepatitis. 2.3.9. Salvia Miltiorriza

Gambar 17. Tanaman dan simplisia Salvia radix

Taksonomi Kingdom Divisi Class Ordo Famili Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Lamiales : Lamiaceae : Salvia Miltiorriza

Deskripsi Salvia milthiorrhiza sudah dikenal baik dalam pengobatan tradisional Cina, berasal dari keluarga Labiatae dan biasa digunakan diberbagai belahan dunia untuk mengobati penyakit.

Kandungan Kimia

Senyawa yang banyak terkandung didalamnya yaitu tanshinone I, tanshinone II, miltirone dan asam salvianolic serta beberapa kandungan lain. Ekstrak tanaman biasa diambil dari bagian akar yang memiliki efek farmakologi.

Efek Farmakologi Tanshinone I, tanshinone IIA dan cryptotanshinone merupakan senyawa bioaktif paling banyak dan memiliki beberapa efek farmakologi diantaranya sebagai antibakteri, antioksidan, antitumor aktifitas, angina pectoris dan infark miokardial. Danshen juga digunakan untuk penanganan penyakit kardiovaskular dan cerebrovaskular. Tanshinones yang berasal dari danshen dilaporkan juga mempunyai efek antiplatelet, cardio protective, antiinflamasi, hepatoprotektor, serta dapat mencegah proliferasi sel kanker.

Mekanisme Aksi Mekanisme aksi anti hepatitis tidak terlalu jelas, tetapi sangat poten sebagai anti-HIV inhibitor. Farmakope Cina menrekomendasikan dosis yang digunakan yaitu 9-15 gram sehari. Terkadang dosis lebih besar diperlukan yaitu lebih dari 20 gram sehari dalam penanganan penyakit inflamasi termasuk mengatasi viral hepatitis. Ekstrak S. miltiorrhiza (ekstrak dalam etil asetat dan ekstrak dalam air) berpotensi memiliki aktifitas sebagai antiviral yang dapat dikembangkan menjadi anti-enterovirus.

2.3.10.

Bangle

Gambar 18. Rimpang Bangle

Taksonomi Kingdom Subkingdom : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies Sinonim : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Zingiberales : Zingiberaceae (suku jahe-jahean) : Zingiber : Z. cassumunar : Zingiber purpureum Roxb

Deskripsi Bangle tumbuh di daerah Asia tropika, dari India sampai Indonesia. Di Jawa dibudidayakan atau di tanam di pekarangan pada tempat-tempat yang cukup mendapat sinar matahari, mulai dari dataran rendah sampai 1.300 m dpi. Pada tanah yang tergenang atau becek, pertumbuhannya akan terganggu dan rimpang cepat membusuk. Herba semusim, tumbuh tegak, tinggi 1-1,5 m, membentuk rumpun yang agak padat, berbatang semu, terdiri dari pelepah daun yang dipinggir ujungnya berambut sikat. Daun tunggal, letak berseling. Helaian daun lonjong, tipis, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi rata, berambut halus, jarang, pertulangan menyirip, panjang 23-35 cm, lebar 20-40 mm, warnanya hijau. Bunganya bunga majemuk, bentuk tandan, keluar di ujung batang, panjang gagang sampai 20 cm. Bagian yang mengandung bunga bentuknya bulat telur atau seperti gelendong, panjangnya 6-10 cm, lebar 4-5 cm. Daun kelopak tersusun seperti sisik tebal, kelopak bentuk tabung, ujung bergerigi tiga, warna merah menyala. Bibir bunga bentuknya bundar memanjang, warnanya putih atau pucat. Bangle mempunyai rimpang yang menjalar dan

berdaging, bentuknya hampir bundar sampai jorong atau tidak beraturan, tebal 2-5 mm. Permukaan luar tidak rata, berkerut, kadang-kadang dengan parut daun, warnanya coklat muda kekuningan, bila dibelah berwarna kuning muda sampai kuning kecoklatan. Rasanya tidak enak, pedas dan pahit. Bangle digolongkan sebagai rempah-rempah yang memiliki khasiat obat. Panenan dilakukan setelah tanaman berumur satu tahun. Perbanyakan dengan stek rimpang.

Kandungan Kimia Sebanyak enam puluh komponen teridentifikasi dari minyak daun bangle sementara 32 diantaranya juga teridentifikasi di rimpang. Komponen utama dari minyak daun adalah sabinene (14.99%), -pinene (14.32%), caryophyllene oxide (13.85%) and caryophyllene (9.47%). Sementara itu pada minyak dari rimpang terdapat triquinacene 1,4-bis (methoxy) (26.47%), (Z)-ocimene (21.97%) and terpinen-4-ol (18.45%).

Tabel 4. Menunjukan komposisi yang terdapat pada bangle.

. Efek Farmakologi Bangle memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Beberapa studi juga menunjukan adanya efek analgesik, efek antihistamin serya relaksan otot polos. Minyak dari rhizome biasa dipakai sebagai repelant. Efek lainnya adalah sebagai antihelmintik serta hepatoprotektor. (refer to chemical cons).

Mekanisme Aksi Belum diketahui adanya mekanisme spesifik sebagai anti hepatitis B. Namun efek ini mungkin bisa didukung dengan adanya efek hepatoprotektor. Bangle secara luas sudah diketahui memiliki efek hepatoprotektor. Efek hepatoprotektor ini muncul karena adanya efek antioksidan yang cukup tinggi dari bangle. Pemberian ekstrak bangle bisa menekan kerusakan lesi hepatic yang ditunjukan dengan rendahnya level SGOT dan SGPT.

Uji Preklinis Uji dilakukan pada lima kelompok tikus jantan untuk mengevaluasi efikasi bangle sebagai hepatoprotektor. Kelompok pertama diberikan fraksi etil asetat rhizome bangle (30 mg/kg BB). Kelompok kedua diberikan jus kering bangle (30 mg/kg BB). Kelompok ketiga diberikan kurkuminoid (30 mg/kg BB). Kelompok keempat sebagai control negatif diberikan 5% larutan tween 80 (10 ml/kgBB). Sebagai induktor kerusakan hati, diberikan larutan karbon tetraklorida (0,1 ml/kgBB) setelah tujuh hari perlakuan. Kerusakan hati dianalisis dengan melihat kadar enzim SGPT dan SGOT. Hasil yang diperoleh bahwa baik fraksi etil astetat maupun jus kering bangle keduanya dapat menurunkan infiltrasi sel radang serta jumlah sel yang mengalami nekrosis secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol negative (P < 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bangle memiliki efek hepatoprotektif.

2.3.11.

Bupleurum sp.

Gambar 19. Tanaman dan simplisia dari Bupleurum fructus Taksonomi Divisi Kelas Bangsa Famili Marga Jenis :Magnoliophyta :Magnoliopsida :Apiales :Apiaceae :Bupleurum :Bupleurum rotundifolium

Deskripsi Bupleurum merupakan famili Apiaceae, yang terdiri dari tanaman dill dan fennel. Oleh karena itu, tidak seperti karakteristik daun lacey dari dill dan fennel, bupleurum mempunyai daun lanceolate (berbentuk tombak)

Kandungan Kimia Mengandung triterpen saponin yaitu saikosaponin tidak kurang dari 1,5% berdasarkan data bliteratur. Dua polisakarida biologi aktif, bupleuran 2IIb dan 2IIc juga terdapat dalam akar.

Efek Farmakologi Daun ini digunakan pada pengobatan tradisional China dan formulasi herbal sho-saiko-to (yang mengandung bupleurum) dapat mengobati hepatitis B kronik. Setelah 12 minggu pengobatan bupleurum, AST dan ALT menurun secara signifikan pada pasien Hepatitis B kronik. Bukti klinis menganjurkan bahwa sho-saiko-to dapat menjadi hepatoprotektif pada hepatoselular karsinoma.

Mekanisme Aksi Akarnya dipercaya merupakan bagian yang paling aktif karena terdapat saponin triterpene (saikosaponins a, b, d, e, f, dan h, berhubungan dengan senyawa , saikogenins a-g), polisakarida, poliasetilen. Pada studi hewan, bupleurum menunjukkan efek hepatoprotektif pada degenerasi lemak hati dan nekrosis sel, yang menunjukkan penurunan enzim transaminase dan perubahan patologis. Efek lebih banyak terdapat pada Bupleurum falcatum dan Bupleurum kaoi daripada Bupleurum chinense. Bupleurum merupakan komposisi utama pada formula sho-saiko-to dengan konstituen aktif yaitu saikosaponins. Komposisi lain seperti jujube, jahe dan licorice. Sho-saiko-to sering digunakan di asia untuk mengobati penyakit hati. Studi in vitro mengindikasi bahwa sho-saiko-to mengatur respon imun selular dan humoral spesifik untuk antigen HBV. Ekstrak bupleurum telah ditemukan dapat merangsang proliferasi limfosit B pada tikus.

Uji Preklinis Saponin dari bupleurum diberikan secara oral pada tikus dengan dosis 500mg/kg selama 3 hari dapat mencegah kerusakan hati akibat induksi CCl4. Mekanisme ini hamper sama dengan mekanisme aksi hepatitis.

2.3.12.

Malphigiae coecigarae

Gambar 20. Tanaman Malpighia coccigera Taksonomi Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Polygalales : Malpighiaceae : Malpighia : Malpighia coccigera L. : Malphigiae coccigerae Folium (daun kelingkit taiwan)

Nama Simplisia dan akar. Nama Lain

: Nama Daerah: Daun selaput, daun serut. Nama Asing Mirten.

Deskripsi Pertama kali ditemukan oleh Marcello Malpighi, seorang ahli ilmu pengetahuan berkebangsaan Itali (16281693). Tanaman yang berasal dari Hindia Barat ini tumbuh subur di segala jenis tanah, terutama di tanah Hat. Kelingkit Taiwan sering ditemukan sebagai tanaman pagar atau tanaman hias sampai ketinggian 800 m dpl. Perdu dengan tinggi 0,52,5 m ini mempunyai ranting lurus yang menjulur, penuh dengan daun sehingga tampak rimbun. Daun tunggal, letaknya berhadapan, bentuknya oval dengan pangkal membulat, bagian tepi terdapat bagian-bagian yang bergigi menyerupai duri, panjang 12 cm, tebal seperti kulit, permukaan mengilap, warnanya hijau tua. Bunga di ketiak, warnanya putih atau ros pucat. Buah keras (12 buah), besarnya sekitar 1 cm, bertangkai, warnanya merah, dan berbiji. Perbanyakan dengan stek batang. Efek Farmakologi Menghilangkan panas, bengkak, dan dahak. Menghentikan muntah akibat lambung panas, Janin dalam kandungan bergerak terus karena ibu terlalu panas, Gelisah, sukar tidur (insomnia), Lidah kaku dan sukar bicara, Rematik Hepatitis

Penggunaan secara tradisional Hepatitis akut dan kronis: Cuci daun kelingkit taiwan yang masih segar (dua genggam), lalu rebus dengan tiga gelas air bersih sampai tersisa separuhnya. Setelah dingin, saring dan minum sehari tiga kali, masingmasing setengah gelas. Dosis 30-60 gram daun serut/mirten segar + 60 gram pegagan + 30 gram meniran. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.

2.3.13.

Dandelion (Taraxacum officinale )

Gambar 21. Tanaman Dandelion (Taraxacum officinale ) Taksonomi Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies Deskripsi Taraxacum officinale merupakan tanaman semak berumpun, berbatang semu atau tidak berbatang, akar tunggang, kuning kecoklatan. Daunnya tunggal, duduk daun membentuk roset akar, lonjong, tepi berlekuk, pangkal : Tumbuhan : Tumbuhan berbiji tertutup : Magnoliopsida : Asterales : Asteraceae : Taraxacum : T. officinale

berpelepah, putih, pertulangan menyirip, hijau. Bunga berbentuk majemuk, berumpun, bertangkai, berbulu jarang, berlubang, beralur dan berpelindung, tersusun seperti sisik, bentuk bongkol, mahkota bentuk cakram, pangkal rambut lebat, hijau muda. Buah berbentuk tabung putih. Biji berupa padi, pipih memanjang, berusuk berambut halus seperti beludru kuning (Syamsuhidayat and Johny, 1991). Kandungan kimia Taraxacum officinale mengandung polisakarida dalam jumlah banyak utamanya fruktosa dan inulin, dalam jumlah sedikit pektin, peptin, resin dan musilago, dan berbagai flavonoid. Tiga jenis glikosida flovonoid yaitu luteolin 7-glukosida dan luteolin 7-diglukosida disolasi dari daun dan bunga daun Jombang (Cordatos, 1992). Tanaman Taraxacum officinale juga mengandung asam kafeat, asam kicorat, pollinastanol, taraksasterol, tarakserol, taraxacin dan taraxacerin, flavosanthin, lutein 5,6-epoksida, isorhamnetin 3,7diglukosida, ixerin D, deepoksineosanthin, 11-beta,13-dihidrolaktusin. Mekanisme aksi Efektif pada pengobatan diuretik karena adanya garam natrium yang tinggi sehingga dapat menggantikan natrium yang hilang selama terjadinya diuretik. Dan juga karena adanya efek koleretik banyak direkomendasikan pada gangguan liver. Meningkatkan induksi kolesterol metabolisme pada darah. Efek Farmakologi Taraxacum officinale memiliki berbagai macam kegunaan antara lain sebagai antitumor, antineoplastik (Koo et al., 2004 ; Sigstedt et al., 2008), antiinflamasi (Jeon et. al., 2007), cholague (Vogel, 1977), imunostimulan (Luo, 1993), anti diabetes (Petlevski et al., 2001), antidiuretik (Clare, 2009). Selain itu juga diperoleh aktivitas prebiotik, antiinflamasi, angiogenesia, efek hipoglikemi, imunitas, pada penggunaaan untuk diuretika, detoxifikasi, gangguan gastro intestinal, antibiotika, hepatitis B Interaksi Obat Dikarenakan tingginya mineral yang berada dalam kandungan maka disarankan idak bersamaan dengan ciprofloxacin harus di beri jeda waktu 2 jam Efek Samping

Karena efek dari koleretik dan kolegogue makan ridak boleh diberikan dengan ganguan lambung karena akan merangsang asam langbung yang berlebih. Dan juga efek alergi karena getah yang dihasilkan pada bebrapa orang. Dosis Gangguan liver 3-5 gram di buat dalam larutan 5-10ml akar Diuretik 4-10 gram dalam 250ml Enclipta alba

2.3.14.

Gambar 22. Tanaman Enclipta alba Taksonomi Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies Nama lain : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Asterale : Asteraceae : Eclipta : Eclipta alba Hassk. : Urang aring, goman, kremak janten

Deskripsi Habitus Batang : Herba, tinggi 10-80 cm, : Tunggal, bulat telur, berseling berhadapan, ujung

Daun Bulat : bercabang, berambut putih, ungu. runcing, pangkal meruncing, tepi bergerigi, panjang 2-3,5 cm, lebar 5-10 mm, pertulangan menyirip, permukaan berambut, hijau. Bunga : Majemuk, bentuk bongkol, diameter 4 rnm.di ketiak daun dan di ujung batang, tangkai panjang 4 cm, silindris, keiopak bentuk corong, ujung bertoreh enam, hijau, mahkota terdiri dari lima daun mahkota, kepala benang sari kuning, putik putih, kuning. Buah Biji Akar : Bulat telur, diameter 1 mm, hitam. : Bentuk jarum, panjang 2 mm, hitam. : Tunggang, putih.

Kandungan Kimia Tanaman ini mengandung Ecliptine, Terthienylmethanol, 2(Buta-1,3-diynyl) -5-(but-3-en-1-ynyl) thiophene, 2-(Buta-1,3 diynyl)5-(4chloro3hydroxybut -1-ynyl) thiophene, 5-(3-Buten-1-ynyl)-2,2-bithienyl-5-methyl acetate wedelolakton dan dimetilwedelolakton. Daun Eclipta alba mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan tanin.

Efek Farmakologi Memiliki aktivitas hepatoprotektif, antimikroba, antiinflamasi, analgesika, imunomodulator, antivirus dan CNS aktifitas.

Mekanisme Aksi

Kandungan coumestan pada wedelolakton dan dimetilwedelolakton bertanggung jawab pada hepatoprotektif pada kerusakan ginjal.

Uji Preklinis Berdasarkan penelitian, dengan judul: Evaluasi Efek Ekstrak Daun Eclipta alba L. Hassk (Asteraceae) terhadap Hati Tikus Betina . Abstrak. Telah dievaluasi efek perlindungan hati ekstrak etanol daun urangaring (Eclipta alba L. Hassk, Compositae) pada tikus betina galur Wistar terhadap kerusakan yang disebabkan oleh karbon tetraklorida. Ekstrak dengan dosis 1 g/kg bobot badan dapat mengurangi peningkatan aktivitas enzim transaminase secara bermakna (P < 0,05) yang diamati 96 jam dan 144 jam setelah pemberian secara oral karbon tetraklorida 2 ml/kg bobot badan. Uji Farmakologi. Untuk mengamati efek perlindungan hati ekstrak daun Eclipta alba, hewan percobaan diberi ekstrak uji secara oral selama seminggu setelah itu diberi karbon tetraklorida dengan dosis 2 ml/kg bb tikus secara oral. Efek perlindungan hati diamati dengan pengukuran enzim transaminase dengan menggunakan serum darah hewan percobaan pada 96 dan 144 jam setelah pemberian karbon tetraklorida. Percobaan ini menggunakan ekstrak Eclipta alba dosis 500 dan 1000 mg/kg bb tikus dan kelompok kontrol diberi air suling 1 ml/100 gram bb. Pada dosis 1000 mg/kg bb ekstrak daun Eclipta alba mengurangi secara bermakna (P<0,05) aktivitas enzim transaminase 96 dan 144 jam setelah pemberian karbon tetraklorida secara oral. Studi tentang hepatoprotektif pada eclipta alba yang lainnya adalah pada ekstrak etanol 50% dari eclipta alba terhadap kerusakan sel hati yang diinduksi parasetamol pada tikus dengan dosis 100 mg dan 250 mg / 100g ekstrak E.alba, bila diberikan pada dosis 100mg/100g dan 250 mg/100g, mengurangi tingkat SGPT secara dosis tergantung. Pada dosis 250 mg/100g, nilai-nilai SGPT turun ke normal. Dalam penelitian histopatologi, E.alba (100mg/100g) 75% kelompok perlakuan mengungkapkan dengan sedikit peradangan. Pada 25% sisanya ditemukan menjadi normal. Pada dosis 250 mg/100g, anisonucleosis diamati di hati 30% sedangkan sel berinti tersebar di seluruh bagian hati. Peradangan Portal diamati di hati 20% dan 50% hati normal.

Dosis : Hepatoprotektif 25-250 mg

2.3.15.

Curcuma Domesticae Rhizoma (Rimpang Kunyit)

Gambar 24. Tanaman dan rimpang Curcuma Domestica Deskripsi Tanaman berupa semak tinggi 70 cm, batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang, berwarna hijau kekuningan. Daun tunggal berbentuk lanset memanjang, warna hijau pucat, helai daun berjumlah 3-8, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm, pertulangan menyirip. Bunga majemuk berambut, bersisik, memiliki tangkai 16-40 cm, panjang mahkota 3 cm, lebar 1 cm, berwarna kuning, kelopak silindris, bercangap 3, tipis dan berwarna ungu. Akar serabut berwarna coklat Taksonomi Kingdom : Plantae

Divisio Sub Divisi Class Ordo Family Genus Spesies Kandungan kimia

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Monocotyledonae (biji berkeping satu) : Zingiberales : Zingiberaceaae : Curcuma : Curcuma domestica Val

Kandungan utama dalam rimpang kunyit adalah kurkuminoida : berupa campuran kurkumin, desmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin. Selain itu simplisia rimpang kunyit juga mengandung minyak atsiri (sekitar 3-5%): berupa seskuiterpen keton (sekitar 60%) seperti arturmeron, zingiberen, atlanton, felandren, eugenol, borneol. Kandungan lainnya adalah polisakarida seperti glikan, ukanon A-D

Mekanisme Kurkuminoid yang terkandung di dalam kunyit mempunyai sifat anti hepatotoksik yang sinergik dan terbukti sangat bermanfaat untuk penyakit hati. Hal ini disebabkan karena kedua senyawa tersebut mempunyai sifat menghambat peroksidase lipit di sel membran, melindungi sel Kuffer, dan merangsang RNA untuk meningkatkan kapasitas sintesis dari sel hati

Efek Farmakologi Efek Hepatoprotektor rimpang kunyit telah terbukti secara in vitro dan in vivo pada hewan coba yang diinduksi dengan berbagai senyawa, seperti karbontetraklorida (CCl4), aflatoksin B-1, parasetamol, besi dan siklofosfamid.

Uji Praklinis

Berdasarkan penlitian dengan judul : Pengaruh Air Perasan Kunyit terhadap Kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT), Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT), dan Bilirubin Studi Eksperimental pada Tikus yang Diinduksi Parasetamol. (Edijanti Goenarwo et al) Pendahuluan: Konsumsi parasetamol dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati yang ditandai dengan peningkatan kadar SGOT, SGPT, dan bilirubin total serum. Kunyit (Curc uma domestica Val.) telah digunakan untuk mengatasi kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air perasan kunyit terhadap kadar SGOT, SGPT, dan bilirubin total serum pada tikus putih galur wistar yang diinduksi parasetamol. Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah pre - posttest randomized control group design menggunakan hewan uji tikus sebanyak 24 ekor yang dibagi dalam 4 kelompok: Kelompok I (kelompok kontrol yang diberi aquades kemudian diberi parasetamol); Kelompok II, III, dan IV (kelompok perlakuan yang diberi air perasan kunyit dengan konsentrasi berturut-turut 50%, 75%, dan 100% selama 7 hari kemudian diberi parasetamol). Data kadar SGOT, SGPT, dan total bilirubin serum yang diperoleh diolah secara statistik menggunakan uji One Way Anova, kemudian dilakukan uji Tukey untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Hasil Penelitian: Selisih rata-rata kadar SGOT pre dan post test pada 4 kelompok berturut-turut adalah 38,66 (U/l); -12,33 (U/l); -15,5 (U/l); dan -39,83 (U/l). Selisih rata-rata kadar SGPT berturut-turut adalah 78,83 (U/l); -12,84 (U/l); -20,5 (U/l); dan -72,17 (U/l). Selisih rata-rata kadar bilirubin total serum berturut-turut adalah 1,00 (mg/dl); -0,25 (mg/dl); -0,46 (mg/dl); dan -0,90 (mg/dl). Perlakuan pemberian perasan kunyit menyebabkan kadar SGOT, SGPT dan bilirubin total serum pada tiap kelompok berbeda secara signifikan (p=0,000). Pemberian perasan kunyit dengan konsentrasi yang berbeda-beda menunjukkan perbedaan yang bermakna antara tiap kelompok, kecuali pada kelompok II dan III tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Kesimpulan: Air perasan kunyit dapat mencegah kenaikan kadar SGOT, kadar SGPT, dan kadar Bilirubin Total Serum tikus putih yang diinduksi parasetamol dosis tinggi, (Sains Medika, 1 (1) : 16-23).

Dosis

Dalam bentuk serbuk dosis 1,5 3,0 g sehari tiga kali atau sedian lain yang setara. Kurkumin, kandungan utama rimpang kunyit pada dosis 30 mg/kg per hari selama 10 hari memberikan efek hepatoprotektor. Kurkumin pada konsentrasi rendah (5x10-510-3M) melindungi kerusakan hepatosit tikus yang diinduksi parasetamol dengan menghambat peroksida lipid, tetapi tidak terhadap dehidrogenase laktat dan glutation.

Keamanan Penggunaan rimpang kunyit ini memiliki kontraindikasi yakni kerusakan saluran empedu. Pada kasus batu empedu, harus digunakan setelah berkonsultasi dengan dokter. Hipersensitifitas terhadap obat, penggunaan pada masa hamil, menyusui, dan anak-anak belum diketahui secara pasti. Tidak diketahui toksisitas oral kurkumin. Pada tikus menyebabkan perubahan pada hati dan berat paru-paru, dan menurunkan jumlah sel darah merah dan sel darah putih. 2.3.16. Chicory ( Cichorium intybus)

Gambar 25. Tanaman dan semen Chicory

Taksonomi Kingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Plantae (Tumbuhan) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Asterales : Asteraceae : Cichorium : Cichorium intybus L.

Mekanisme aksi Mekanisme hepatoprotektif yang tepat dari chicory tidak sepenuhnya dipahami.Senyawa aktif dalam chicory adalah inulin, lakton sisquiterpene, vitamin, mineral, lemak, maninitol, dan lateks. Akar ekstrak kalus dan biji chicory, khususnya senyawa AB-IV, memiliki efek pelindung hati, yaitu menurunkan AST, ALT, ALP, dan protein total. Pada hewan, konsumsi biji chicory mengarah ke normalisasi jaringan hati, memiliki efek sebanding dengan Silybum marianum.

Bukti ilmiah efektivitas Biji tanaman chicory adalah salah satu bahan utama Jigrine, sebuah produk komersial dari India yang digunakan untuk mengobati penyakit hati. Penelitian awal menunjukkan chicory dapat memberikan manfaat beberapa pasien yang menderita hepatitis kronis, bagaimanapun, kekuatan bukti ini belum jelas.

Dosis : Dosis hepatoprotektif : 10-50 mg

Efek samping Chicory tampaknya secara umum ditoleransi dengan baik, tapi penggunaan chicory dapat menyebabkan ruam kulit dan dermatitis kontak . Kehilangan berat badan, kehilangan nafsu makan, dan encephalomyelitis myalgic (kronis, penyakit peradangan multisystemic yang terutama mempengaruhi sistem saraf) juga telah dikaitkan dengan penggunaan chicory.

2.3.17.

Viscus album (Mistletoe)

Gambar 26. Tanaman Mistletoe

Taksonomi Kerajaan Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Santalales : Viscaceae : Viscum : Viscum album

Kandungan kimia Glikoprotein Protein Polisakarida Alkaloid : Mistletoe lektin I (galaktosida-spesifik lesitin),II dan III : viscotoksin : galakturonat, arabinogalaktan,

Mekanisme Aksi

Mistletoe lesitin merupakan sitotoksik glikoprotein yang memiliki BM sekitar 10.000. Mistletoe lesitin menyebabkan sell mengalami aglutinasi dan menghambat sintesis protein pada level ribosom. Lektin juga dikenal sebagai viscumin atau aglutin adalah molekul rantai ganda. Rantai A menghambat sintesis protein sedangkan rantai B mengaktivasi makrofag dan melepaskan limpokin dari limposit. Kedua rantai tersebut juga menghambat allergen meningkatkan pengeluaran histamine dari leukosit dan collagen meningkatkan pengeluaran serotonin dari platelets. Viscotoksin adalah 46-asam amino peptide yang merusak sel membran. Viscotoksin hanya terdapat pada Vicus album. Sedangkan polisakarida memiliki efek antineoplastik dan alkaloid merupakan senyawa nitrogen yang berperan sebagai sitotoksik

Efek Farmakologi Stimulasi antibodi (immunostimulant)

In vitro : agglutinin V.album, galaktosida spesifik lectin, meningkatkan apoptosis pada manusia dan limposit dan monosit (Hostanska K, Hajto T, Weber K, et al) dan menstimulasi proliferasi sel hepatopoetik progenitor dari sukarelawan sehat (Vehmeyer K, Hajto T, Hostanska K, et al). Ekstrak Mistletoe meningkatkan proliferasi cel darah pada peripheral. Proliferasi yang kuat terlihat pada mistletoe pohon apel (Fischer S,et al). CD4 sel T yang terpapar ekstrak mistletoe memperlihatkan peningkatan yang signifikan pada kecepatan, waktu pergerakan, dan jarak migrasi. (Nikolai G,et al dan Schiltze J, et al)

Keamanan Reaksi alergi dapat terjadi pada orang yang memiliki sensitifitas terhadap pengobatan herbal. Dilaporkan reaksi alergi karena mistletoe. Kasus alergi rhinitis dilaporkan pada seorang yang mengkonsumsi teh mistletoe. Potensial senyawa toksik : Lectin, viscotoxin, semua bagian tumbuhan mengandung senyawa yang toksik.

Akut toksik : Komisi E German melaporkan efek samping panas dingin, demam, sakit kepala, angina dan hipotensi.(Blumenthal M,1998) Tidak diizinkan penggunaan mistletoe pada anak-anak, wanita hamil dan menyusui. Pada ibu hamil dipercaya akan terjadi akan merangsang kontraksi uterus (Brinker FJ,1997) 2.3.18. Carthamus tinctorius

Gambar 27. Tanaman dan simplisia Carthamus tinctorius

Taksonomi Genus Spesies Nama Indonesia : Carthamus : Carthamus tinctorius : Kembang Pulu (safflower)

Simplisia : Dua bagian dari safflower yang terutama digunakan, yakni bunga itu sendiri dan biji safflower.

Kandungan Kimia : Ada dua jenis minyak safflower yang sesuai dengan jenis varietas safflower: varietas safflower yang tinggi dalam asam lemak tak jenuh tunggal (oleat)

dan yang tinggi dalam asam lemak tak jenuh ganda (linoleat). Saat ini, varietas benih yang menghasilkan minyak yang tinggi dalam asam oleat dan sangat rendah asam lemak jenuh mendominasi di pasar Amerika Serikat. Oleat minyak safflower tinggi lebih rendah dalam jenuh dan lebih tinggi dalam monounsaturates dari minyak zaitun. Beberapa studi klinis telah menunjukkan bahwa suplementasi minyak safflower dapat membantu pada pasien dengan fibrosis kistik, ataksia Friedreich, dan neurotoksisitas lithium. Namun, studi lebih lanjut diperlukan sebelum kesimpulan bisa ditarik. Zat aktif yang terkandung adalah Carthamin,carthamone, neo-carthamin, nona cosine, zat warna saflawer,safflomin A, dipalmitin, adenoside, beta-sitosterol, dan polisakarida.

Efek Farmakologis Meningkatkan sirkulasi darah, menghilangkan bekuan darah, peluruh haid, pencahar, dan stimulan. Wanita hamil tidak dibolehkan mengkonsumsi ramuan ini.

Dosis Minyak safflower telah digunakan dalam berbagai dosis dalam uji klinis, dan tidak ada dosis efektif terbukti. Namun, Liposyn adalah mungkin aman bila digunakan hingga 10 hari untuk mencegah kekurangan asam lemak esensial. Ketika diberikan kepada pasien yang menjalani operasi, emulsi minyak safflower 10-20% sebagai 30-50% dari total asupan kalori yang ditemukan aman sebagai komponen utama nutrisi parenteral dewasa untuk sampai 42 hari, termasuk pasien bypass cardiopulmonary, dan pada anakanak sampai dua minggu. Untuk tekanan darah tinggi, 1-6 gram minyak safflower setiap hari selama delapan minggu telah digunakan, karena memiliki 23 gram setiap hari asam linoleat atau asam oleat (konstituen dari minyak biji safflower) selama empat minggu. Sebagai anti-koagulan (pengencer darah), 60 mililiter harian minyak safflower selama dua minggu telah digunakan. Untuk aterosklerosis (peroksidasi lipid), 15 gram minyak safflower harian telah digunakan pada wanita menopause. Dosis yang lebih tinggi dari minyak safflower (102-132 miligram per kilogram) sehari-hari telah dipelajari selama enam minggu untuk cystic fibrosis.

Etil ester dari minyak safflower dan asam linoleat juga telah diminum. Aplikasi topikal Lanjutan dari minyak safflower (asam linoleat 60-70%) selama minimal 21 hari telah digunakan untuk kekurangan asam lemak.

DAFTAR PUSTAKA

Van Rossum T. G. J., Vulto, R. A. De Man, Brouwer, Schalm. 2001. Glycyrrhizin as a potential treatment for chronic hepatitis C. Woo Kim Young, Hee Eun Kang. 2008. Liquiritigenin, a flavonoid aglycone from licorice, has a choleretic effect and the ability to induce hepatic transporters and phase-II enzymes. College of Pharmacy and Research Institute of Pharmaceutical Sciences, Seoul National University, Seoul, Korea; College of Medicine, Hanyang University, Seoul, Korea. Arase Yasuji, Kenji Ikeda. 1991. The Long Term Efficacy of Glycyrrhizin in Chronic Hepatitis C Patients. Willey Online library, Volume 79. Pundir Rakesh, Gyanendra Singh, Anubhav Anand Pandey, Shubhini A. Saraf. 2009. Demand of Herbal Hepatoprotective Formulations in lucknow-a survey. The Pharma ResearchVol: 01 23. Yuan Sheng Wang dan Ming Shi Shiao. 2000. Pharmacological Functions of Chinese Medicinal Fungus Cordyceps sinensis and Related Species. Journal of Food and Drug Analysis, Vol. 8, No. 4, 2000, Pages 248-257. Sharma Subrat. Trade of Cordyceps sinensis from high altitudes of the Indian Himalaya: Conservation and biotechnological priorities. G.B. Pant Institute of Himalayan Environment and Development,Kosi-Katarmal, India Anonim. 2010. Trubus Info Kit Herbal Indonesia Berkhasiat Vol. 08. Depok: Trubus.

Thyagarajan, S.P., S. Subramanian, T. Thirunalasundari, P.S. Venkateswaran and B.S. Blumberg, 1988. Effect of Phyllanthus amarus on chrinic carriers of hepatitis B virus. The Lancet. p. 764-766. Tjandrawinata, R.R., S. Maat dan D. Noviarny, 2005. Effect of stan-dardized Phyllanthus niruri extract on changes in immunologic parameters: correlation between pre-clinical and clinical studies. Medika XXXI (6). p. 367371. Sumardi, Majiid dan Noor W. Efek Meniran (Phyllanthus niruri Linn) Terhadap Kadar AST dan ALT Mencit Balb/C yang Diinduksi Asetaminofen . Semarang: FK-Undip. Wijayakusuma, Hembing. 2008. Tumpas Hepatitis dengan Ramuan Herbal. Jakarta: Pustaka Bunda. Munim Abdul, Hanani Endang. 2011. Fitoterapi Dasar. Depok: Dian Rakyat. http://www.anaturalhealingcenter.com/documents/Thorne/monos/Peony %20mono.pdf. Diakses pada tanggal 28 April 2012. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=152. Diakses pada tanggal 28 April 2012. http://ideresepmasakan.com/resep-ramuan-herbal-temulawak-untukhepatitis.html. Diakses pada tanggal 28 April 2012. Zhou,X., Juan, L., Yizhou, Y., Jingya, Z., Xiaofen, S. dan Kexuan, T. 2007. Ganodermataceae: Natural products and their related pharmacological functions. The American Journal of Chinese Medicine, vol 35, No. 4: 559 574) http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=68. Diakses pada tanggal29 April 2012. Chun Hu and David D. Kitts, 2003, Antioxidant, Prooxidant, and Cytotoxic Activities of Solvent-Fractionated Dandelion (Taraxacum officinale) Flower Extracts in Vitro. J. Agric. Food Chem., 51 (1), pp 301310 Clare B.A., Conroy R.S., Spelman K. 2009. The diuretic effect in human subjects of an extract of Taraxacum officinale Folium over a single day. J Altern Complement Med. Aug;15(8):929-34.

Cordatos E. 1992,Taraxacum officinale. In: Murray M, Pizzorno J, eds. A Textbook of Natural Medicine. Seattle: Bastyr University Press Hudec J., Burdov M., Kobida L., Komora L., Macho V., Kogan G., Turianica I., Kochanov R., Lozek O., Habn M., Chlebo P.,2007, Antioxidant capacity changes and phenolic profile of Echinacea purpurea, nettle (Urtica dioica L.), and dandelion (Taraxacum officinale) after application of polyamine and phenolic biosynthesis regulators. J Agric Food Chem. Jul 11;55(14):5689-96. Jeon H.J., Kang H.J., Jung H.J., Kang Y.S., Lim C.J., Kim Y.M., Park E.H., 2008. Anti-inflammatory activity of Taraxacum officinale. J Ethnopharmacol. Jan 4;115(1):82-8. Epub Sep 15. Kim H.M., Shin H.Y., Lim K.H., Ryu S.T., Shin T.Y., Chae H.J., Kim H.R., Lyu Y.S., An N.H., Lim K.S., 2000. Taraxacum officinale inhibits tumor necrosis factor-alpha production from rat astrocytes. Immunopharmacol Immunotoxicol. Aug;22(3):519-30 Luo Z.H.1993.The use of Chinese traditional medicines to improve impaired immune functions in scald mice.Zhonghua Zheng Xing Shao Shang Wai Ke Za Zhi Jan;9(1):56-8, 80. Sigstedt S.C., Hooten C.J., Callewaert M.C., Jenkins A.R., Romero A.E., Pullin M.J., Kornienko A., Lowrey T.K., Slambrouck S.V., Steelant W.F., 2008. Evaluation of aqueous extracts of Taraxacum officinale on growth and invasion of breast and prostate cancer cells. Int J Oncol. May;32(5):1085-90. Taylor and Francis, 1999, Harborne,Phytochemical Dictionary Second Edition, Chapter42 Vogel G. 1977.Natural substances with effects on the liver. In: Wagner H, Wolff P, eds. New Natural Products and Plant Drugs with Pharmacological, Biological or Therapeutic Activity. Heidelberg: Springer-Verlag http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/kunyit.pdf. Diakses pada 29 April 2012. Wahyuni, A. Hardjono, dan Paskalina Hariyantiwasi Yamrewav Wahyuni, Jurusan Teknik Kimia, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta, Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses. 2004, ISSN : 1411 4216 http://www.bi.itb.ac.id/herbarium/index.php? c=herbs&view=detail&spid=225240. Diakses pada tanggal 29 April 2012.

Sekilas Tentang Tanaman Urang-aring, http://ditjenbun.deptan.go.id/. Gupta,SK. Pharmacology and Therapeutics in the new millennium. 2001. India W.Hembing. Ramuan Herbal Penurun Kolesterol, Pustaka Bunda. 2008. Jakarta. hal 61 Margaret E., Loeper, MS. Mistletoe (Viscum album L.). The Longwood Herbal Task Force and The Center for Holistic Pediatric Education and Research,1999.

Untuk mengetahui khasiat temulawak, telah dilakukan beberapa cara pengujian, baik secara in vitro, pengujian terhadap binatang dan uji klinis terhadap manusia. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, yang paling banyak adalah uji terhadap binatang percobaan, sedangkan uji terhadap manusia masih tergolong jarang. Efek analgesik Yamazaki (1987, 1988a) melaporkan bahwa ekstrak metanol temulawak yang diberikan secara oral pada tikus percobaan, dinyatakan dapat menekan rasa sakit yang diakibatkan oleh pemberian asam asetat. Selanjutnya, Yamazaki (1988b) dan Ozaki (1990) membuktikan bahwa germakron adalah zat aktif dalam temulawak yang berfungsi menekan rasa sakit tersebut. Efek anthelmintik Pemberian infus temulawak, temu hitam dan kombinasi dari keduanya dalam urea molasses block dapat menurunkan jumlah telur per gram tinja pada domba yang diinfeksi cacing Haemonchus contortus (Bendryman dkk. 1996). Efek antibakteri/antijamur Dilaporkan bahwa ekstrak eter temulawak secara in vitro dapat menghambat pertumbuhan jamur Microsporum gypseum, Microsporum canis, dan Trichophytol violaceum (Oehadian dkk. 1985). Minyak atsiri Curcuma xanthorrhiza juga menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans, sementara kurkuminoid Curcuma xanthorrhiza mempunyai daya hambat yang lemah (Oei 1986a). Efek antidiabetik Penelitian Yasni dkk. (1991) melaporkan bahwa temulawak dapat memperbaiki gejala diabetes pada tikus, seperti : growth retardation, hyperphagia, polydipsia, tingginya glukose dan

trigliserida dalam serum, dan mengurangi terbentuknya linoleat dari arakhidonat dalam fosfolipid hati. Temulawak khusus-nya merubah jumlah dan komposisi fecal bile acids. Efek antihepatotoksik Pemberian seduhan rimpang temulawak sebesar 400, 800 mg/kg selama 6 hari serta 200, 400 dan 800 mg/kg pada mencit selama 14 hari, mampu menurunkan aktivitas GPT-serum dosis hepatotoksik parasetamol maupun mempersempit luas daerah nekrosis parasetamol secara nyata. Daya antihepatotoksik tergantung pada besarnya dosis maupun jangka waktu pemberiannya (Donatus dan Suzana 1987). Efek antiinflamasi Oei (1986b) melaporkan bahwa minyak atsiri dari Curcuma xanthorrhiza secara in vitro memiliki daya antiinflamasi yang lemah. Sementara Ozaki (1990) melaporkan bahwa efek antiinflamasi tersebut disebabkan oleh adanya germakron. Selanjutnya, Claeson dkk. (1993) berhasil mengisolasi tiga jenis senyawa non fenolik diarylheptanoid dari ekstrak rimpang temulawak, yaitu : trans-trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-4-on (alnuston); trans1,7-difenil-1hepten-5-ol, dan trans,trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-5-ol. Ketiga senyawa tersebut dinyatakan mempunyai efek antiinflamasi yang nyata terhadap tikus percobaan. Efek antioksidan Jitoe dkk. (1992) mengukur efek antioksidan dari sembilan jenis rimpang temu-temuan dengan metode Thiosianat dan metode Thiobarbituric Acid (TBA) dalam sistem air-alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak temulawak ternyata lebih besar dibandingkan dengan aktivitas tiga jenis kurkuminoid yang diperkirakan terdapat dalam temulawak. Jadi, diduga ada zat lain selain ketiga kurkuminoid tersebut yang mempunyai efek antioksidan. Selanjutnya, Masuda dkk. (1992) berhasil mengisolasi analog kurkumin baru dari rimpang temulawak, yaitu: 1-(4-hidroksi-3,5-dimetoksifenil)-7-(4 hidroksi-3-metoksifenil)-(1E. 6E.)-1,6-heptadien-3,4-dion. Senyawa tersebut ternyata menun-jukkan efek antioksidan melawan oto-oksidasi asam linoleat dalam sistem air-alkohol. Efek antitumor Itokawa dkk.(1985) berhasil mengisolasi empat senyawa sesquiterpenoid bisabolan dari rimpang temulawak, yaitu -kurkumen, ar-turmeron, -atlanton dan xanthorrizol. Sebagian besar dari zat tersebut merupakan senyawa antitumor melawan sarcoma 180 ascites pada tikus percobaan. Efektivitas antitumor dari senyawa tersebut adalah: (+++) untuk -kurkumen, (++) untuk ar-turmeron, dan (++) untuk xanthorrizol. Sementara itu, Yasni (1993b) melaporkan bahwa pemberian temulawak dapat mengaktifkan sel T dan sel B yang berfungsi sebagai media dalam sistem kekebalan pada tikus percobaan. Ahn dkk. (1995) melaporkan bahwa ar-turmeron yang terkandung dalam temulawak dapat mem perpanjang hidup tikus yang terinfeksi dengan sel kanker S-180. Komponen tersebut menunjukkan aktifitas sitotoksik yang sinergis dengan sesquifelandren yang diisolasi dari

tanaman yang sama sebesar 10 kali lipat terhadap sel L1210. Disamping itu, kurkumin bersifat memperkuat obat-obat sitotoksik lainnya seperti siklofosfamida, MeCCNU, aurapten, adriamisin, dan vinkristin. Efek penekan syaraf pusat Penelitian Yamazaki dkk. (1987, 1988a) menyatakan bahwa ekstrak rimpang temu lawak ternyata mempunyai efek memperpanjang masa tidur yang diakibatkan oleh pento barbital. Selanjutnya dibuktikan bahwa (R )-(-)-xantorizol adalah zat aktif yang menyebab-kan efek tersebut dengan cara menghambat aktifitas sitokrom P 450. Selain xantorizol, ternyata germakron yang terkandung dalam ekstrak temulawak juga mempunyai efek mem perpanjang masa tidur (Yamazaki 1988b). Pemberian germakron 200 mg/kg secara oral pada tikus percobaan dinyatakan dapat menekan hiperaktifitas yang disebabkan oleh metamfe-tamin (3 mg /kg i.p). Lebih lanjut dinyatakan bahwa pemberian 750 mg/kg germakron secara oral pada tikus percobaan tidak menunjukkan adanya toksisitas letal (Yamazaki 1988b). Efek diuretika Penelitian Wahjoedi (1985) menyatakan bahwa rebusan temulawak pada dosis ekuivalen 1x dan 10x dosis lazim orang pada tikus putih mempunyai efek diuretik kurang lebih setengah dari potensi HCT (Hidroklorotiazid) 1,6 mg/kg. Efek hipolipidemik Penggunaan temulawak sebagai minuman pada ternak kelinci betina menunjukkan bahwa tidak terdapat lemak tubuh pada karkas dan jaringan lemak di sekitar organ reproduksi (Soenaryo 1985). Adapun penelitian Yasni dkk. (1993a) melaporkan bahwa temulawak menurunkan konsentrasi triglise rida dan fosfolipid serum, kolesterol hati, dan meningkatkan kolesterol HDL serum dan apolipoprotein A-1, pada tikus yang diberi diet bebas koles-terol. Adapun pada tikus dengan diet tinggi kolesterol, temulawak tidak menekan tingginya kolesterol serum walaupun menurunkan kolesterol hati. Dalam penelitian tersebut dilaporkan bahwa kurkuminoid yang berasal dari temulawak ternyata tidak mempunyai efek yang nyata terhadap lemak serum dan lemak hati, maka disimpulkan bahwa temulawak mengandung zat aktif selain kurkuminoid yang dapat merubah metabolisme lemak dan lipoprotein. Selanjutnya Yasni dkk. (1994) membuktikan bahwa -kurkumen adalah salah satu zat aktif yang mempunyai efek menurunkan trigliserida pada tikus percobaan dengan cara menekan sintesis asam lemak. Sementara itu, Suksamrarn dkk. (1994) melaporkan bahwa dua senyawa fenolik diarilheptanoid yang diisolasi dari rimpang temulawak, yaitu : 5-hidroksi-7-(4-hidroksifenil)-1-fenil-(1E)-1hepten dan 7-(3, 4-dihidroksifenil)-5-hidroksi-1-fenil-(1E)-1-hepten, secara nyata menunjukkan efek hipolipidemik dengan cara menghambat sekresi trigliserida hati pada tikus percobaan. Uji coba kemanjuran temulawak dilakukan oleh Santosa dkk. (1995). terhadap 33 orang pasien penderita hepatitis khronis. Selama 12 minggu, setiap pasien menerima 3 kali sehari satu kapsul yang mengandung kurkumin dan minyak menguap. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa data serologi (GOT, GPT, GGT, AP) dari 68-77% pasien menunjukkan tendensi penurunan ke nilai

normal dan bilirubin serum total dari 48% pasien juga menurun. Keluhan nausea/vomitus yang diderita pasien dilaporkan menghilang. Gejala pada saluran pencernakan dirasakan hilang oleh 43% pasien sedangkan sisanya masih mera sakan gejala tersebut, termasuk 70% pasien yang merasakan kehilangan nafsu makannya. Efek hipotermik Pemberian infus temulawak menunjukkan penurunan suhu pada tubuh mencit perco baan (Pudji astuti 1988). Penelitian Yamazaki dkk. (1987, 1988a) menunjukkan bahwa ekstrak metanol rimpang temulawak mempunyai efek penurunan suhu pada rektal tikus percobaan. Selanjutnya dibuktikan bahwa germakron diidentifikasi sebagai zat aktif dalam rimpang temulawak yang menyebabkan efek hipotermik tersebut (Yamazaki 1988b). Efek insektisida Pandji dkk. (1993) meneliti efek insektisida empat jenis rimpang dari spesies Zingiberaceae yaitu: Curcuma xanthorrhiza, C. zedoaria, Kaempferia galanga dan K. pandurata. Tujuh belas komponen terbesar termasuk flavonoid, sesquiterpenoid, dan derivat asam sinamat berhasil diisolasi dan didentifikasi menggunakan NMR dan Mass spektra. Semua komponen diuji toksisitasnya terhadap larva Spodoptera littoralis. Secara contact residue bioassay, nampak bahwa xantorizol dan furanodienon merupakan senyawa sesquiterpenoid yang paling aktif menunjukkan toksisitas melawan larva yang baru lahir, tetapi efek toksisitas tersebut tidak nyata jika diberikan bersama makanan. Selanjutnya dilaporkan bahwa ekstrak Curcuma xanthorrhiza mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar III (Wibowo dkk. 1995). Efek lain-lain Hasil wawancara dengan 100 orang responden wanita petani menunjukkan bahwa penggunaan temulawak dapat memperbaiki kerja sistem hormonal yang mengontrol metabolisme khususnya karbo hidrat dan asam susu, memperbaiki fisiologi organ tubuh, dan meningkatkan kesuburan (Soenaryo 1985). Komponen yang terkandung dalam temulawak dinyatakan mempunyai sifat koleretik (Oei 1986a; Siegers et al 1997). Temulawak dilaporkan mempunyai efek mengurangi pengeluaran tinja pada tikus percobaan (Wahyoedi 1980). Ekstrak temulawak tidak menunjukkan efek toksik. Untuk mematikan Libistes reticulatus diperlukan ekstrak Curcuma xanthorrhiza dengan dosis besar (Rahayu dkk. 1992). Pemberian infus temulawak dinyatakan dapat meningkatkan kontraksi uterus tikus putih (Damayanti dkk. 1995), dapat meningkatkan tonus kontraksi otot polos trachea marmut (Damayanti dkk. 1996), dapat meningkatkan frekuensi kontraksi jantung kura-kura (Damayanti dkk. 1997), dan dapat meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus tikus (Halimah dkk. 1997) Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membuktikan khasiat kurkumin yaitu salah satu zat aktif yang terkandung dalam temulawak, tetapi pembahasannya akan kami sajikan pada kesempatan lain.

Paten Prestasi Oei Ban Liang dari Indonesia bersama dengan PT Daria Varia Laboratoria perlu kita banggakan. Mereka telah berhasil mempatenkan bahan anti-inflamasi berisi kombinasi zat aktif yang berhasil diisolasi dari Curcuma sp. di Eropa dengan No.: 440885. Sementara itu, di Jepang, Yamazaki dkk. telah mempatenkan germakron yaitu zat aktif yang terkandung dalam temulawak, sebagai penekan sistem syaraf pusat di Jepang dengan nomor: 89139527. Sediaan tersebut berupa granul yang mengandung germakron dan manitol dengan bahan pengikat hidroksipropilselulose 10% dalam etanol. Pada tahun 1995, Imaisumi dari Suntory Ltd. Jepang telah mempatenkan makanan yang mengandung -kurkumen yaitu zat aktif yang berasal dari rimpang temulawak dengan nomor paten 07 20, 149, 628. Dinyatakan bahwa makanan tersebut dapat meningkatkan metabolisme lemak, dan secara in vivo dapat menurunkan trigliserida pada hati dan serum tikus. Adapun Tanaka dkk. dari perusahaan Shiseido di Jepang, baru-baru ini yaitu tahun 1997, berhasil mempatenkan kosmetik untuk kulit dengan nomor 09 20, 635. Kosmetik yang mengandung ekstrak temulawak tersebut dinyatakan efektif sebagai pembentuk melanin atau penghambat tirosinase. Temulawak Untuk Kesehatan dan Cara Menggunakannya <<>> Temulawak, temulawak adalah tanaman yang biasa tumbuh di daerah tropis seperti negeri kita ini, nama latin temulawak adalah Curcuma xanthorhiza. Temulawak termasuk tanaman obat dalam kategori jahe, dan kalau dilihat sepintas hampir mirip dengan tanaman kunyit. Sejak jaman nenek muyang kita dahulu sudah mengenal manfaat temulawak, mereka biasa menggunakan tumbuhan temulawak ini sebagai obat tradisional sakit kuning, diare, sakit maag, perut kembung, dll. Untuk mendapatkan temulawak tentu tidak sulit, di pasar banyak orang yang menjualnya. Berikut adalah manfaat temulawak bagi kesehatan : 1. Memelihara kesehatan fungsi hati. Manfaat temulawak dapat digunakan untuk memelihara kesehatan fungsi hati karena kandungan kalagoganya.Dimana,kalagoganya ini berfungsi untuk produksi empedu dalam hati dan merangsang pengosongan kandung empedu. Temulawak juga dapat mengurangi kerja enzim glutamate oksaloasetat transaminase (GOT) serta menurunkan kerja enzim glutamate piruvat transaminase (GPT) baik, secara pra klinik in vitro dan in vivo maupun secara klinik. Hasil uji klinik menunjukkan bahwa dosis yang digunakan untuk memperoleh manfaat menurunkan kadar SGOT dan SGPT adalah 15-30 mg kurkumin. 2. Memperbaiki fungsi pencernaan. Secara pra klinik ditemukan bahwa serbuk rimpang dapat meningkatkan aktivitas dalam cairan lambung sehingga membantu metabolisme dan mengurangi kontraksi usus halus.

Cara pemakaian: ambil 2 gram rimpang kering atau 8 gram temulawak segar. Panasi rimpang dengan air suhu 90 derajat selama 15 menit. Disaring, minum 2-3 kali sehari di antara waktu makan. 3. Menambah nafsu makan. Secara pra kilinik dan klinik ditemukan bahwa rimpang temulawak dapat meningkatkan / memperbaiki nafsu makan. Manfaat ini berkaitan dengan efek minyak atsirinya yang bersifat karminativum. Cara Pemakaian : ambil 25 gr temulawak, 10 gr asam jawa dan gula merah secukupnya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, saring dan diminum. 4. Mengurangi nyeri dan radang sendi. Pada temulawak terdapat kandungan Kurkumin yang berfungsi sebagai antiradang yang setara dengan 100 mg fenilbutazon yang dapat mengurangi nyeri dan radang sendi.Cara kerjanya yaitu melalui penghambatan migrasi sel-sel leukosit ke daerah radang atau melalui penghambatan pembentukan serta transportasi mediator radang yaitu prostagladin. Dari hasil uji klinik menunjukkan adanya perbaikan pada penderita radang sendi. Cara pemakaian : ambil 25 gr temulawak berikut 20 gr jahe merah direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, saring dan airnya diminum. 5. Menurunkan lemak darah. Hasil uji praklinik dan klinik menunjukkan bahwa ekstrak temulawak dan fraksi kurkuminoidnya dapat menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida dan meningkatkan kadar HDL kolesterol. Komponen yang diduga berperan dalam menurunkan lemak darah adalah kurkuminoid. Cara pemakaian : ambil 25-50 gram temulawak kering. Dididihkan pada 200 ml air, hingga tersisa 100 ml. Air rebusan disaring dan diminum pagi dan sore. 6. Mengahmbat penggumpalan darah. Kurkumin dari temulawak dapat membantu menghambat penggumpalan darah dengan cara menghambat pembentukan tromboksan B-2, suatu senyawa yang berperan dalam proses penggumpalan darah. Cara pemakaian : ekstrak kering temulawak direbus, minum 3x sehari. Setiap minum 250 - 600 mg. 7. Sebagai antioksidan dan membantu pemeliharaan kesehatan.

Kurkumin pada temulawak berguna sebagai antioksidan karena mampu menangkap radikalradikal bebas oksigen seperti anion superoksid, dan radikal hidroksil sehingga membantu memelihara kesehatan. Cara pemakaian : Gunakan ekstrak kering temulawak direbus , minum 3 kali sehari, tiap kali lebih kurang 250 -500 mg. 8. Untuk mengobati jerawat. Cuci rimpang temulawak sebesar 1 jari, lalu potong-potong seperlunya. Selanjutnya rebus dalam 4 gelas minum air bersih sampai tersisa separuhnya. Setelah dingin, saring dan tambahkan madu kedalam air saringannya seperlunya, lalu diminum. Pengobatan dilakukan sehari 2 kali, setiap kali cukup 1 gelas. 9. Melancarkan ASI. Khasiat dan manfaat temulawak untuk pelancar ASI bisa mencoba membuat ramuan sebagai berikut, Cuci 20g rimpang segar temulawak, lalu parut. Hasil parutannya peras dan saing, lalu ditim sampai mendidih. Setelah dingin, tambahkan 2 sendok makam madu sambil diaduk rata, lalu diminum. Lakukan pagi dan sore dengan takaran yang sama banyak. 10. Menyembuhkan nyeri haid. Sediakan 10 iris rimpang temulawak, asam kawak, sebesar telur burung puyuh dan gula enau sebesar 3 jari. Rebus bahan-bahan tersebut dalam 2 gelas air sampai tersisa separuhnya. Setelah dingin, minum ramuan tersebut. Lakukan setiap hari selama 1 minggu sebelum haid.

Uji toksisitas Ekstrak terpurifikasi Rimpang Temulawak Bebas Minyak Atsiri


Penggunaan ekstrak terpurifikasi rimpang temulawak (C. xanthorrhiza Roxb.) bebas minyak atsiri (ECBA) secara berulang dan dalam jangka waktu yang lama dapat memungkinkan timbulnya efek samping yang tidak diharapkan. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui gejala toksik, spektrum efek toksik, kekerabatan antara dosis dan spektrum efek toksik, serta reversibilitas efek toksik apabila ECBA diberikan dalam jangka waktu 90 hari pada tikus jantan dan betina galur Wistar terutama tinjauan pada fungsi hepar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang mengikuti rancangan lengkap pola dua arah. Sediaan uji diberikan dalam bentuk suspensi secara oral sekali sehari selama 90 hari pada 80 ekor hewan uji yang terbagi menjadi 4 kelompok. Kelompok I diberi CMC-Na 0,5% sebagai kontrol. Kelompok II,III dan IV diberi suspensi ECBA dosis 15 mg/200 g BB, 120 mg/200 g BB dan 960 mg/200 g BB. Setelah 90 hari, lima ekor hewan uji dikorbankan, dan diambil organ hepar untuk analisis histopatologi. Hewan uji yang tersisa tetap dipelihara hingga hari ke-105 untuk uji reversibilitas. Selama masa perlakuan dan masa reversibilitas dilakukan pengamatan gejala toksik, perkembangan berat badan, asupan makanan, asupan minuman, pemeriksaan bilirubin total dan SGPT serta pengamatan histopatologis hepar. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan statistik ANAVA dua arah taraf kepercayaan 95%. Analisis kualitatifnya dibandingkan dengan kontrol.

Pemberian ketiga peringkat dosis secara berulang ternyata tidak menimbulkan gejala toksik dan tidak mempengaruhi kondisi hepar secara bermakna. hasil juga menunjukkan dengan tidak adanya kekerabatan antara dosis dan spektrum efek toksikserta adanya reversibilitas efek toksik pada kimia darah (SGPT dan bilirubin total)
Teh Celup Curcuma adalah teh alami yang terbuat dari rimpang temulawak ( Curcuma xanthoriza rhizoma) pilihan. Di padukan dengan daun teh pilihan ( Camellia sinensis) dan di olah secara higienis sehingga memberikan cita rasa khas dan menyuguhkan manfaat temulawak. Di antara manfaat yang bisa anda temukan dari temulawak adalah membantu menjaga kesehatan hati, menyehatkan lambung, membantu mengatasi kelelahan setelah beraktivitas. Komposisi : Temulawak ( Curcuma Xanthoriza rhizoma) Daun teh ( Camelia sinensis) Aturan Pakai : Di minum 2x sehari pagi dan sore hari Teh Celup Curcuma Cara Menyajikan : Masukkan 1 kantong teh celup curcuma ke dalam gelas atau cangkir Tuangkan air mendidih ke dalamnya Diamkan beberapa saat sampai di peroleh warna, kepekatan dan aroma yang mantap Aduk perlahan lalu angkat kantong teh celup curcuma dengan sendok Tambahkan gula sesuai selera Kesegaran rasa dan manfaat teh celup curcuma siap di nikmati