Anda di halaman 1dari 19

Berdasarkan kasus tersebut, terapi yang direkomendasikan oleh dokter meliputi pemberian O2, infus RL, Ranitidin Inj,

Tramadol inj, Aspilet, CPG (plavix), ISDN, Furosemid inj, Spironolakton, Ramipril, simvastatin dan arixtra (Pondafarinux sodium). Sedangkan menurut kelompok kami, terapi rekomendasi yang disarankan adalah meliputi, pemberian O2, Infuse dextrose 5%, Ranitidin inj, Aspilet, Arixtra, Rampiril, tramadol dan simvastatin. Terdapat beberapa penggantian obat yang dilakukan, antara lain adalaha: penggantian infuse RL dengan infuse dextrose 5%, hal ini karena jika pasien menerima infus RL, maka pasien dikhawatirkan akan mengalami asidosis, selain itu, pasien menderita hipertensi, sehingga jika dilakukan penambahan infuse RL yang mengandung natrium,, maka dikhawatirkan hipertensi dari pasien akan semakin parah sehingga dilakukan penggantian dengan infus dextrose 5%. Tramadol inj diganti dengan diazepam, hal tersebut berdasarkan pada algoritma terapi infark miokard yang meyebutkan penggunaan diazepam pada kasus AMI. Penghapusan penggunaan CPG (plavix), hal ini karena plavix memiliki kontraindikasi dengan antikoagulan, selain itu juga pada terapi dokter terdapat dua natiplatelet dan satu antikoagulan hal tersebut dikhawatirkan akan menyebaban bleeding sehingga pada kasus ini plavix tidak digunakan, dan digunakan kombinasi antikoagulan (Arixtra) dan atiplatelet (Aspirin). Furosemid dan spironolakton tidak digunakan dalam terapi rekomendasi yang kita berikan, hal ini karena pasien tidak ada udem dan juga pasien memiliki riwayat sakit ketika melakukan buang air kecil, sehingga dikhawatirkan jika pasien diberikan dua obat diuretik, maka pasien akan tidak nyaman saat buang air kecil, karena dengan pemberian diuretik pasien akan lebih sering melakukan buang air kecil. 1. Oksigen (O2)

Indikasi Menurut standar keperawatan ICU Depkes RI tahun 2005 : Pasien hipoksia, oksigenasi kurang padahal paru normal, oksigenasi cukup padahal paru tidak normal, oksigenasi cukup dan paru normal sedangkan sirkulasi tidak normal,

pasien yang membutuhkan oksigen konsentrasi tinggi, pasien dengan tekanan darah parsial karbondioksida (PaCO2) rendah. Alasan digunakan karena pada saat MRS pasien mengeluh sesak nafas sehingga dibutuhkan terapi oksigen. Hubungan Umur dengan Obat Tidak ada hubungan karena umur tergolong dewasa. Hubungan pengobatan dengan data klinik dan laboratorium Pasien mengeluh sesak nafas pada awal masuk Rumah Sakit sehingga diberikan oksigen sebagai pengobatan pertama. Hubungan pengobatan dengan riwayat pasien, penyakit, dan riwayat pengobatan Pada saat MRS pasien mengalami gejala sesak nafas sehingga diperlukan oksigen untuk menanggulangi atau mengobatinya. Interaksi obat-obat, obat-makanan dan obat-jamu Tidak ada interaksi dengan obat yang digunakan untuk terapi. Dosis obat Dewasa = 2-4 l/menit. Pada terapi ini pasien diberikan dosis oksigen sebesar 3 l/menit sehingga aman digunakan. Efek samping Toksisitas oksigen tergantung pada tekanan parsial terinspirasi (fungsi konsentrasi dan tekanan barometrik) dan durasi paparan, durasi aman berkurang dengan meningkatkan tekanan. Di bawah tekanan sampai 2 atmosfer absolut, toksisitas paru terjadi sebelum toksisitas SSP, tekanan yang lebih tinggi, berlaku sebaliknya. Gejala-gejala toksisitas pulmonal termasuk penurunan yang vital, kapasitas batuk dan kesulitan substernal Toksisitas SSP

Symptomsof termasuk mual, perubahan suasana hati, pusing, berkedut, kejang dan ketidaksadaran (Sweetman, 2009). Aturan pemakaian Obat diberikan pada saat pasien mengalami sesak nafas. Lama penggunaan untuk terapi Obat / oksigen ini dapat digunakan sampai pasien tidak mengalami sesak nafas. Dalam kasus ini digunakan hingga hari ke-2. Harga obat Generik. 2. Ranitidin 8 mg inj IV Dosis Pemberian secara IV dewasa adalah 2-4 mg/kg/jam, dosis maximal 200 mg/hari (Lacy, 2009). Hubungan Umur Pasien dengan Obat Ranitidine aman di berikan pada pasien geriatric tetapi sebaiknya durasi pemberiannya dikurangi yaitu dengan dosis IV/ IM 50 mg tiap 18-24 jam atau satu kali sehari mengingat fungsi organ pasien sudah mengalami penurunan (McEvoy, 2004) Hubungan Pengobatan dengan Data Klinik dan Laboratorium Tidak ada hubungan antara pengobatan pada pasien dengan data klinik dan laboratorium. Hubungan Pengobatan dengan Riwayat Pasien, Penyakit, dan Riwayat Pengobatan Tidak ada hubungan antara pengobatan dengan riwayat pasien, penyakit, dan riwayat pengobatan.

Hubungan dengan Obat Lain, Makanan, dan Jamu Ranitidin digunakan untuk mengurangi sekresi asam lamung akibat penggunaan Dexamethasone. Aturan Pemakaian Obat Dewasa PO 150 mg im/iv/iv intermitten 50 mg % ; 6-8 jam. Lama Penggunaan Obat untuk Terapi Disesuaikan dengan kondisi pasien, diberikan sampai kondisi pasien membaik. Indikasi Obat Pengobatan dan pemeliharaan ulkus duodenum, pengobatan kondisi hipersekresi patologis, pencegahan pendarahan GI bagian atas, pengobatan stress ulcer dan kerusakan lambung akibat penggunaan NSAID jangka lama (Tatro, 2003). Efek Samping Obat Aritmia, bradikardia, insomnia, eritema multiforme, trombocitopenia,sakit kepala, reaksi hipersensitifitas (Tatro, 2003). Interaksi Obat-obat, obat-makanan, dan obat-jamu Berinteraksi dengan diazepam yaitu mengubah efek dari ranitidine dan penurunan absorbsi diazepam (Tatro, 2003). Harga Obat (Generik/Brandname) Ranitidine termasuk generik. 3. DIAZEPAM Dosis Dosis 2,5 mg bila kejang, sebagai muscle relaxant pada anak dengan rute IV 0,04-0,3mg/kg/dosis tiap 2-4 jam maksimum hingga 0,6 mg/kg dalam 8 jam jika diperlukan (DIH ; 436 : 2009) Hubungan umur pasien dan obat

Tidak ada Hubungan pengobatan dengan data klinik Pasien menderita infark miokard dan hipertensi, maka pasien diberikan diazepam sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit yang diderita pasien sehingga pasien menerima pengobatan diazepam sebagai obat penenang. Sehingga pasien diharapkan lebih rileks dan tenang, hal tersebut akan mengurangi kekambuhan terjadinya serangan infark miokard pada pasien. Hubungan pengobatan dengan riwayat pasien, penyakit dan riwayat pengobatan Tidak ada hubungan Interaksi obat-obat, obat-makanan, dan obat-jamu - simetidin : meningkatkan efek diazepam; dengan digoksin : meningkatkan konsentrasi serum digoksin; - omeprazole : meningkatkan efek diazepam; - theofilin : efek sedative antagonis (Tatro, 2003). Namun, pasien tidak mendapatkan terapi obat-obat tersebut, sehingga tidak terjadi reaksi. Aturan pemakaian obat Diazepam dipakai secara IV sebanyak 2,5 mg. Lama pengobatan untuk terapi Obat ini digunakan selama 1 hari, bila pasien mengalami sesak nafas. Indikasi obat Diazepam digunakan sebagai anti cemas, sedative hipnotik, anti kejang, status epileptikus, spasme otot, sebagai penenang dan spasma otot (Tatro, 2003). Mekanisme

Potensiasi aksi GABA yaitu menghambat neurotransmitter, meningkatkan inhibisisi neuron,menyebabkan depresi SSP sehingga mengurangi sesak nafas pada pasien (Tatro,2003). Efek samping obat mengantuk, kebingungan, ataksia, pusing, lesu, lelah, apatis, gangguan memori, disorientasi, amnesia anterograde, kegelisahan, sakit kepala, bicara cadel, kehilangan suara, pingsan, koma, euforia, iritabilitas, retardasi psikomotor, reaksi paradoksal (misalnya, kemarahan, insomnia, kejang otot). Pada SSP ataksia, vertigo, efek amnesia Pada GI konstipasi, anoreksia ( McEvoy, 2004). Harga Obat Obat ini merupakan obat Generik. 4. Aspilet Mekanisme aksi Menghambat sintesis prostaglandin, menghasilkan efek analgesia, antiinflamasi dan penghambatan agregasi platelet, mengurangi demam. Indikasi Pengobatan ringan sampai sedang sakit, demam, kondisi peradangan; pengurangan risiko kematian atau MI pada pasien dengan infark atau angina pektoris tidak stabil atau serangan iskemia berulang atau stroke pada pria yang memiliki iskemia otak yang disebabkan oleh emboli platelet. Hubungan Umur dengan Obat Tidak ada hubungan karena umur tergolong dewasa. Hubungan pengobatan dengan data klinik dan laboratorium

Pasien mengeluh sesak nafas pada awal masuk Rumah Sakit sehingga diberikan oksigen sebagai pengobatan pertama. Hubungan pengobatan dengan riwayat pasien, penyakit, dan riwayat pengobatan Tidak ada hubungan. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap salisilat atau NSAID, hemofilia, perdarahan ulser atau hemoragik. Dosis PO 160 sampai 325 mg/hari, karena pada kasus ini aspirin digunakan sebagai antiplatelet, jadi dosis yang digunakan yaitu 80 mg/hari Interaksi Alkohol: Dapat meningkatkan risiko ulserasi GI dan memperpanjang waktu perdarahan. Antasida dan kortikosteroid: Dapat menurunkan kadar aspirin. Antikoagulan, oral dan heparin: Dapat meningkatkan risiko perdarahan. Probenesid, sulfinpyrazone: Dapat menurunkan efek uricosuric. Sulfonilurea, insulin: Aspirin (> 2 g / hari) dapat menurunkan glukosa. Efek samping EENT: Pusing; tinnitus. GI: Mual, dispepsia, nyeri ulu hati, perdarahan. HEMA: Peningkatan perdarahan, anemia, konsentrasi besi menurun. LAIN: Reaksi hipersensitivitas mungkin termasuk urtikaria, gatal-gatal, ruam, angioedema dan shock anafilaktik. Lama penggunaan obat Digunakan setiap hari. Harga obat Brandname : dengan nama generik aspirin.

5. Ramipril Mekanisme aksi Menghambat angiotensin I-converting enzyme, sehingga mencegah konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat. Dapat menurunan BP dan tidak langsung (dengan menghambat aldosteron) menurunan retensi natrium dan cairan dan peningkatan diuresis. Indikasi Pengobatan hipertensi, karena pasien yang stabil yang telah menunjukkan tanda-tanda klinis dari CHF dalam beberapa hari pertama setelah mengalami MI akut. Mengurangi risiko pengembangan peristiwa kardiovaskular utama dalam pasien 55 tahun karena riwayat penyakit arteri koroner, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, atau diabetes yang disertai dengan faktor risiko kardiovaskular lainnya (misalnya, hipertensi, kolesterol total tinggi, HDL rendah, merokok, mikroalbuminuria ), mengurangi risiko MI, stroke, atau kematian akibat kardiovaskuler. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap ACE inhibitor Dosis Route / Dosis Hipertensi DEWASA: PO Dosis awal: 2,5 mg sekali sehari pada awalnya. Dosis pemeliharaan: 2.5 sampai 20 mg / hari sebagai dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi. Interaksi

Allopurinol: resiko yang lebih besar dari hipersensitivitas mungkin dengan penggunaan bersama. Antasida: bioavailabilitas Ramipril mungkin akan menurun. Pisahkan administrasi kali oleh 1 sampai 2 jam. Capsaicin: Semoga memperburuk batuk. Digoxin: tingkat digoxin Peningkatan. Indometasin: Dapat mengurangi efek hipotensi, terutama di low-renin atau volume tergantung pasien hipertensi. Lithium: Dapat menyebabkan tingkat lithium meningkat dan gejala keracunan lithium. Diuretik loop: Pengaruh diuretik loop mungkin akan menurun. Fenotiazin: efek hipotensi ditingkatkan. Suplemen kalium, diuretik hemat kalium: Dapat menyebabkan peningkatan kadar serum kalium. Efek samping Adverse Reaksi CV: Hipotensi. SSP: Sakit kepala, pusing, kelelahan. Derm: Ruam; pruritis. GI: Mual, muntah. HEMA: Penurunan Hgb atau Hct, leukopenia, eosinofilia, proteinuria. META: Hiperkalemia. RESP: edema angioneurotic dengan dyspnea, asma, bronkospasme, infeksi saluran pernapasan atas; batuk. LAIN: asthenia, demam, hipersensitivitas, sindrom seperti flu, reaksi anaphylactoid. 6. Simvastatin Simvastatin adalah agen penurun lipid yang berasal dari sintetis derivate dari fermentasi Aspergillus terreus. Setelah konsumsi oral, simvastatin, akan menginaktifkan lakton, dihidrolisis menjadi bentuk hydroxyacid. Simvastatin merupakan inhibitor dari 3-hydroxy-3 methylglutaryl-koenzim A (HMG-CoA) reduktase. Enzim ini mengkatalisis konversi HMG-CoA menjadi mevalonate, yang merupakan lamgkah awal untuk menghambat biosintesis kolesterol. Simvastatin adalah asam butanoic, 2,2-dimethyl-,1,2,3,7,8,8a-hexahydro-3,7-dimethyl-8-[2 hydroxy-6-oxo-2H-pyran-2-yl)-ethyl]-1-naphthalenyl [1,3,7,8(2S*,4S*),-8a]]. Indikasi (tetrahydro-4ester, [1S

Mengurangi total kolesterol tinggi (total-C), low-density lipoprotein kolesterol (LDL-C), apolipoprotein B (Apo B), dan trigliserida (TG), dan meningkatkan high-density lipoprotein kolesterol (HDL-C) pada pasien dengan hiperlipidemia primer (Fredrickson tipe IIa, heterozigot familial dan nonfamilial) atau campuran dislipidemia (Fredrickson tipe IIb). Mengurangi tinggi TG pada pasien dengan hipertrigliseridemia (Fredrickson tipe IV hiperlipidemia). Mengurangi primer tinggi TG dan VLDL-C III pada pasien dysbetalipoproteinemia familial homozigot. Dosis Dewasa: PO 5 sampai 40 mg / hari di malam hari. Dosis yang digunakan pada terapi kasus Ny. Sfn adalah 40 mg/ hari di malam hari. Lama penggunaan obat dalam terapi adalah digunakan pada hari ke-2. Mekanisme aksi obat Simvastatin adalah prodrug dan di hidrolisis menjadi bentuk aktifnya yaitu hydroxyacid, asam simvastatin, setelah di administrasi. Simvastatin adalah inhibitor spesifik dari 3-hydroxy-3 methylglutaryl-koenzim A (HMG-CoA) reduktase, enzim yang mengkatalisis konversi HMG CoA untuk mevalonate, yang merupakan langkah awal untuk membatasi /menghambat jalur biosintesis kolesterol. Selain itu, simvastatin mengurangi VLDL dan TG dan meningkatkan HDL-C. Alasan Pemilihan Obat Simvastatin pada kasus Ny. Sfn digunakan dalam terapi sebagai obat antikolesterol. Pemilihan obat simvastatin sebagai obat antikolesterol karena adanya kadar HDL dan LDl yang tidak normal pada pasien tersebut, hal ini untuk menghindari terjadinya artheroskerosis. Pada pasien disfungsi hati: Gunakan obat dengan hati-hati pada pasien yang mengkonsumsi sejumlah besar alkohol atau yang memiliki riwayat penyakit hati. (Fredrickson Tipe hiperlipidemia).

Mengurangi total C dan LDL-C pada pasien dengan hiperkolesterolemia

Interaksi Obat Inhibitor Kuat CYP3A4, siklosporin, atau danazol Interaksi Simvastatin dengan Inhibitor Kuat CYP3A4: Simvastatin, seperti inhibitor lain beberapa HMG-CoA reduktase, adalah substrat CYP3A4. Simvastatin dimetabolisme oleh CYP3A4 tetapi tidak memiliki aktivitas penghambatan CYP3A4; oleh karena itu tidak diharapkan mempengaruhi konsentrasi plasma obat lain yang dimetabolisme oleh CYP3A4. Peningkatan kadar plasma dari HMG-CoA akan beresiko meningkatkan aktivitas inhibisi reduktase dari miopati dan rhabdomyolysis, terutama dengan simvastatin dosis tinggi. Penggunaan bersamaan dengan obat yang memiliki efek penghambatan kuat pada CYP3A4 merupakan kontraindikasi dari simvastatin. Jika pengobatan dengan itraconazole, ketoconazole, posaconazole, eritromisin, klaritromisin atau telithromycin tidak dapat dihindari, terapi dengan simvastatin harus ditangguhkan selama pengobatan. Meskipun tidak dipelajari secara klinis, vorikonazol telah terbukti dapat menghambat metabolisme lovastatin in vitro (Mikrosom hati manusia). Oleh karena itu, vorikonazol kemungkinan akan meningkatkan konsentrasi plasma simvastatin. Disarankan bahwa dosis penyesuaian simvastatin dipertimbangkan selama penggunaan bersamaan antara vorikonazol dan simvastatin untuk mengurangi risiko miopati, termasuk rhabdomyolysis. Siklosporin atau Danazol: Risiko miopati, termasuk rhabdomyolysis meningkat dengan seiring administrasi cyclosporine atau danazol. Oleh karena itu, seiring dengan penggunaannya obat ini merupakan kontraindikasi dengan simvastatin. Amiodarone, Ranolazine, atau Calcium Channel Blockers Risiko miopati, termasuk rhabdomyolysis, meningkat seiring dengan pemberian amiodaron, Ranolazine, atau calcium channel blockers seperti verapamil, diltiazem, atau amlodipine.
Niacin

Kasus miopati / rhabdomyolysis telah diamati pada pengguanaan simvastatin yang dipakai bersamaan dengan niacin ( 1 g / hari).
Digoxin

Dalam suatu studi, administrasi seiring digoxin dengan simvastatin menghasilkan sedikit elevasi digoxin dalam konsentrasi plasma. Pasien yang mengkonsumsi digoxin harus dipantau, tepat ketika penggunaan simvastatin dimulai. Antikoagulan (kumarin) Penggunan simvastatin bersamaan dengan antikoagulan (kumarin) akan meningkatkan resiko pendarahan yang mungkin terjadi. Colchicine Kasus miopati, termasuk rhabdomyolysis, telah dilaporkan pada pemakaian simvastatin yang dipakai bersamaan dengan colchicine. Efek Samping SSP: Sakit kepala, asthenia, paresthesia, neuropati perifer. EENT: Disfungsi saraf kranial tertentu (termasuk perubahan rasa, gangguan gerakan luar mata, paresis wajah), perkembangan katarak. GI: Mual, muntah, diare, sakit perut, sembelit, perut kembung, dispepsia, pankreatitis. Hepatic: Hepatitis, penyakit kuning, perubahan lemak di hati, sirosis, nekrosis hati fulminan, hepatoma, transaminase serum meningkat. PERNAPASAN: infeksi saluran pernapasan atas. LAINNYA: Miopati, rhabdomyolysis; kelelahan. Sindrom hipersensitivitas jelas telah dilaporkan jarang yang sudah termasuk 1 atau lebih dari fitur berikut: anafilaksis, angioedema, lupus eritematosa-seperti sindrom, polymyalgia rheumatica, vaskulitis, purpura, trombositopenia, leukopenia, anemia hemolitik, antibodi antinuclear positif, sedimentasi kenaikan tarif eritrosit , arthritis, arthralgia, urtikaria, asthenia, photosensitivity, demam, menggigil, kemerahan, malaise, dyspnea, nekrolisis epidermal toksik, eritema multiformis, termasuk sindrom Stevens-Johnson.

Hubungan umur pasien dan obat/dengan data klinik dan lab/ riwayat penyakit, penyakit, riwayat pengobatan Berdasarkan pada data laboratorium, pada hari ke-2 didapatkan kadar HDL pasien menurun dan kadar kolesterol total pasien meningkat, sehingga dibutuhkan pemberian obat antikolesterol yaitu simvastatin, hal tersebut untuk mencegah terjadiny arterosklerosis. Kontraindikasi penyakit hati aktif atau peningkatan persisten yang tidak dapat dijelaskan dari nilai fungsi hati, kehamilan, menyusui. Harga obat Generik (Tatro, 2003 dan Anonim, 2012)

7. ISDN Kelas: antiangina Mekanisme Aksi Relaksasi otot polos vena dan arteri. Indikasi pengobatan dan pencegahan angina pectoris. Indikasi pada terapi kasus ini adalah digunakan untuk mengobati hipertensi pasien. Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap nitrat, anemia berat, closed-angle glaucoma, hipotensi ortostatik, trauma kepala atau perdarahan otak. Terapi nitrat harus dihindari pada pasien dengan tekanan darah sistolik <90 mmHg atau pasien yang dicurigai menderita infark ventrikel kanan (infark inferior pada EKG,

JVP meningkat, paru bersih dan hipotensi). Nitrat juga harus dihindari pada pasien yang menggunakan phosphodiesterase-5 inhibitor sildenafil dalam 24 jam sebelumnya karena dapat memicu efek hipotensi nitrat. Route / Dosis angina pektoris DEWASA: SL (tablet sublingual) 2,5 sampai 5 mg, PO (tablet kunyah) 5 mg, PO (tablet oral) 5 sampai 40 mg q 6 jam, PO (tablet rilis berkelanjutan) 40 sampai 80 mg q 8 sampai 12 jam. Profilaksis akut DEWASA: PO (tablet sublingual atau kunyah) 5 sampai 10 mg q 2 sampai 3 jam. Interaksi Obat Alkohol: menyebabkan hipotensi berat dan kolaps kardiovaskuler. Aspirin: Peningkatan konsentrasi dan efek dari nitrat. Dihydroergotamine: Peningkatan tekanan darah sistolik dan efek antianginal menurun. Adverse effect CV: Takikardia, palpitasi, hipotensi, sinkop; aritmia. SSP: Sakit kepala, ketakutan, kelemahan, vertigo, pusing, agitasi, insomnia. Derm: vasodilatasi kutaneus dengan pembilasan. EENT: Penglihatan kabur. GI: Mual, muntah, diare, dispepsia. GU: Disuria, frekuensi kencing, impotensi. HEMA: methemoglobinemia, anemia hemolitik. RESP: Bronchitis; pneumonia. LAINNYA: arthralgia, keringat, pucat, keringat dingin, edema. Kewaspadaan (Precautions) Kehamilan: Kategori C. Laktasi: Tak Tentu. Anak-anak: Keamanan dan kemanjuran disarankan. Pasien risiko khusus: Gunakan dengan hati-hati pada

pasien dengan MI akut atau CHF. Angina: Dapat memperburuk angina yang disebabkan oleh kardiomiopati hipertrofik. Hipotensi ortostatik: Dapat terjadi bahkan dengan dosis kecil, alkohol menonjolkan reaksi ini. Toleransi: Toleransi terhadap efek vaskular dan antianginal dapat berkembang. Overdosis: TANDA & GEJALA Hipotensi, takikardia, flushing, diaforesis, sakit kepala, vertigo, jantung berdebar, gangguan penglihatan, mual, muntah, kebingungan, dyspnea. (Tatro, 2003)

8. Infus Dekstrosa 5% Komposisi glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%). Setiap 100 mL dari Injeksi Dekstrosa 5% USP, mengandung dekstrosa monohidrat 5 g dalam air untuk injeksi. Nilai kalori 170 kkal / L. Osmolaritas adalah 252 mOsmol / L (calc.), yang sedikit hipotonik. Indikasi Sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml). Terapi parenteral untuk memenuhi kebutuhan air dan kalori karbohidrat pada pasien yang mengalami dehidrasi dan untuk pasien hypernaremia. Kontraindikasi: Hiperglikemia. Adverse Reaction Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis. Dosis: 10 tpm

Mekanisme Meningkatkan kadar glukosa dalam darah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan kalori. Konsentrasi dektrose akan menurun apabila terjadi penurunan jumlah protein dan nitrogen dalam tubuh, dan juga dapat memicu pembentukan glikogen. Dextrose merupakan senyawa monosakarida yang sangat cepat diserap. Metabolismenya akan menghasilkan CO2, air, dan sumber energy. 9. Arixtra (Pondafarinux Sodium) Indikasi dan Penggunaan ARIXTRA merupakan antikoagulan diindikasikan untuk: Profilaksis deep vein thrombosis (DVT) pada pasien yang menjalani operasi pinggul, patah tulang (termasuk profilaksis diperpanjang), operasi penggantian pinggul, operasi penggantian lutut, atau operasi perut. Pengobatan emboli paru DVT atau akut (PE) bila diberikan bersamaan dengan warfarin. Pada kasus ini penggunaan arixtra dimaksudkan untuk antikoagulan yang dikombinasikan dengan antiplatelet, untuk mengatasi arterosklerosis. Dosis dan Administrasi Profilaksis trombosis vena dalam: ARIXTRA 2,5 mg subkutan sekali sehari setelah hemostasis telah ditetapkan. Dosis awal harus diberikan tidak lebih awal dari 6 sampai 8 jam setelah pembedahan dan dilanjutkan selama 5 sampai 9 hari. Pengobatan deep vein thrombosis dan emboli paru: ARIXTRA 5 mg (berat badan <50 kg), 7,5 mg (50 sampai 100 kg), atau 10 mg (> 100 kg) subkutan sekali sehari. Pengobatan harus terus selama setidaknya 5 hari sampai INR 2 sampai 3 dicapai dengan natrium warfarin. Jangan digunakan sebagai injeksi intramuskular. Untuk penggunaan subkutan, jangan mencampur dengan suntikan atau infus. Dosis tunggal, jarum suntik yang mengandung 2,5 mg, 5 mg, 7,5 mg, atau 10 mg fondaparinux. Interaksi Obat

Dalam studi klinis terhadap ARIXTRA, seiring penggunaan antikoagulan oral (warfarin), inhibitor platelet (asam asetilsalisilat), NSAID (piroksikam), dan digoksin tidak secara natrium signifikan mempengaruhi Selain itu, farmakokinetik ARIXTRA / farmakodinamik fondaparinux. tidak

mempengaruhi farmakodinamika warfarin, asam asetilsalisilat, piroksikam, dan digoksin, maupun farmakokinetik digoksin pada steady state. Agen yang dapat meningkatkan risiko perdarahan harus dihentikan sebelum memulai terapi dengan ARIXTRA kecuali agen ini sangat penting. Jika co-administrasi yang diperlukan, memantau pasien dengan cermat untuk perdarahan. Dalam sebuah penelitian in vitro di mikrosom hati manusia, penghambatan CYP2A6 hidroksilasi kumarin oleh fondaparinux (200 mikromolar yaitu, 350 mg / L) adalah 17 menjadi 28%. Penghambatan isozim lainnya dievaluasi (CYPs 1A2, 2C9, 2C19, 2D6, 3A4, dan 3E1) adalah 0 sampai 16%. Karena fondaparinux tidak nyata menghambat CYP450s (CYP1A2, CYP2A6, CYP2C9, CYP2C19, CYP2D6, CYP2E1, atau CYP3A4) in vitro, fondaparinux natrium tidak diharapkan untuk secara signifikan berinteraksi dengan obat lain in vivo dengan menghambat metabolisme dimediasi oleh isozim. Karena natrium fondaparinux tidak mengikat signifikan terhadap protein plasma selain ATIII, tidak ada interaksi obat dengan pengikatan protein perpindahan diharapkan. Mekanisme Aksi Aktivitas antitrombotik natrium fondaparinux adalah hasil dari antithrombin III (ATIII)- yang dimediasi penghambatan selektif Faktor Xa. Dengan selektif mengikat ATIII, natrium fondaparinux potentiates (sekitar 300 kali) netralisasi bawaan Faktor Xa oleh ATIII. Netralisasi interupsi Faktor Xa kaskade pembekuan darah dan dengan demikian menghambat pembentukan trombin dan pengembangan trombus. Natrium fondaparinux tidak menonaktifkan trombin (diaktifkan Faktor II) dan tidak memiliki efek yang dikenal pada fungsi trombosit. Pada dosis yang dianjurkan, natrium fondaparinux tidak mempengaruhi aktivitas fibrinolitik atau waktu perdarahan.

Kontraindikasi Penurunan fungsi ginjal (bersihan kreatinin <30 mL / menit) pada profilaksis atau pengobatan tromboemboli vena. pendarahan aktif. Trombositopenia dengan uji in vitro positif untuk antiplatelet antibodi dengan adanya natrium fondaparinux. Berat badan <50 kg (profilaksis tromboemboli vena). Efek samping Efek samping yang paling umum yang terkait dengan penggunaan ARIXTRA adalah pendarahan komplikasi. Iritasi lokal (injeksi perdarahan, ruam, dan pruritus) dapat terjadi setelah injeksi subkutan. Anemia, insomnia, peningkatan drainase luka, hipokalemia, pusing, hipotensi, kebingungan erupsi, bulosa, hematoma, pasca-operasi perdarahan, dan purpura dapat terjadi. (Smith, 2012)

DAPUS Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio. Smith G. K., 2012, Arixtra (fondaparinux sodium) injection, solution, U.S. National Library of Medicine, 8600 Rockville Pike, Bethesda, MD 20894 National Institutes of Health, Health & Human Services.

Tatro D.S. 2003. A to Z Drug Facts. San Francisco: Facts and Comparisons.