Anda di halaman 1dari 5

Model Kontemporer Pembangunan Ekonomi Teori Pertumbuhan Baru: Pertumbuhan Endogen Motivasi Pencarian Teori Pertumbuhan yang Baru

Perilaku aliran modal negara-negara berkembang yang aneg (dari negara miskin ke negara kaya) turut memicu konsep teori pertumbuhan endogen (endogenous growth) atau dengan kata lain yang lebih sederhana, teori pertumbuhan baru (new growth theory). Teori pertumbuhan baru ini mencerminkan komponen kunci dari teori pembangunan baru yang muncul. Teori pertumbuyhan baru tersebut memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis pertumbuhan endogen, yaitu pertumbuhan GNI persisten yang ditentukan oleh sistem yang mengatur proses produksi dan bukan oleh kekuatan-kekuatan di luar sistem. Namun mungkin aspek yang paling menarik dari model pertumbuhan endogen adalah bahwa model tersebut membantu menjelaskan keanehan aliran modal internasional yang memperparah ketimpangan antara negara maju dengan negara berkembang. Potensi tingkat pengembalian atas investasi yang tinggi yang ditawarkan oleh negara berkembang yang mempunyai rasio modal-tenaga kerja yang rendah (complementary investments) dalam sumber daya manusia (pendidikan), infrastuktur, atau riset dan pengembangan. Pada gilirannya, negara- negara miskin kurang mendapat manfaat dari luasnya keuntungan sosial yang terkait dalam setiap alternatif pengeluaran modal ini. Tidak seperti model Solow, model teori pertumbuhan baru menganggap perubahan teknologi sebagai sebuah hasil endogen dari investasi publik dan swasta dalam sumber daya manusia dan industri padat-pengetahuan. Model pertumbuhan endogen mendorong peran aktif kebijakan publik dalam merangsang pembangunan ekonomi melalui investasi langsung maupun tidak langsung dalam pembentukan sumber daya manusia dan mendorong investasi swasta asing dalam berbagai industri padatpengetahuan seperti industri perangkat lunak komputer dan telekomunikasi.

Model Romer Model tersebut dimulai dengan mengasumsikan bahwa proses pertumbuhan berasal dari tingkat perusahaan atau industri. Setiap industri berproduksi dengan skala yang konstan, sehingga model tersebut konsisten dengan asumsi persaingan sempurna. Romer mengasumsikan bahwa cadangan modal dalam keseluruhan perekonomian secara positif mempengaruhi output pada tingkat industri, sehingga terdapat kemungkinan skala hasil yang semakin meningkat (increasing return to scale-IRS) pada tingkat perekonomian secara keseluruhan.

Kritik Terhadap Teori Pertumbuhan Baru Kelemahan penting dari teori pertumbuhan baru adalah bahwa teori ini tetap tergantung pada sejumlah teori neoklasik yang sering tidak cocok dengan perekonomian negara berkembang. Lebih lanjut, pertumbuhan ekomomi di negaranegara berkembang sering terhambat oleh inefiesiensi yang timbul karena infrastruktur yang jelek, tidak memadainya struktur kelembagaan, serta pasar modal dan pasar barang yang tidak sempurna. Karena teori pertumbuhan endogen mengabaikan faktorfaktor yang sangat berpengaruh ini, penerapannya dalam studi pembangunan ekonomi menjadi terbatas, terutama ketika melibatkan perbandingan antarnegara. Dalam perkembangan literatur terakhir, muncul tiga teori baru, yaitu : teori pertumbuhan baru (New Growth Theory, NGT), teori geografi ekonomi baru (New Economic Geography, NEG), dan teori perdagangan baru (New Trade Theory, NTT). Teori Pertumbuhan Baru (NGT) Teori pertumbuhan baru pada dasarnya merupakan teori pertumbuhan endogen. Teori ini memberikan kerangka teoritisuntuk menganalisis pertumbuhan endogen karena menganggap pertumbuhan GNP lebih ditentukan oleh sistem proses produksi dan bukan berasal dari luar sistem. Motivasi dasar dari teori NGT adalah menjelaskan perbedaan tingkat pertumbuhan negara dari proporsi yang lebih besar dari pertumbuhan yang diamati. Persamaan teori endogen dapat dituliskan dengan Y=AK. Dalam formulasi ini, A adalah faktor yang mempengaruhi teknologi, K adalah modal fisik dan modal manusia. Perlu diperhatikan bahwa tidak ada hasil yang menurun (diminishing returns) atas capital dalam formula tersebut. Akibatnya kemungkinan yang bisa terjadi adalah investasi dalam modal modal fisik dan manusia dapat menghasilkan penghematan eksternal dan peningkatan produktifitas yang melebihi penghasilan yang cukup untuk menutup diminishing returns. Implikasi dari penekanan terhadap pentingnya tabungan dan investasi pada modal oleh teori NGT adalah tidak ada kekuatan yang menyamakan tingkat pertumbuhan antarnegara, serta tingkat pertumbuhan nasional yang konstan dan tingkat

teknologi. Konsekuensinya, bagi negara yang miskin modal manusia dan fisik sulit untuk menyamai tingkat pendapatan per kapita negara yang kaya capital, walaupun memiliki tingkat tabungan nasional yang sama besar. Teori Geografi Ekonomi Baru (NEG) Teori geografi ekonomi baru ini menekankan pada pentingnya hasil yang meningkat (increasing returns), skala ekonomis, dan persaingan yang tidak sempurna. Ada tiga alasan mengapa para pakar ekonomi mulai menaruh perhatian pada geografi ekonomi dan memasukkan dimensi ruang, yaitu : 1. Lokasi kegiatan ekonomi suatu negara merupakan topik yang penting 2. Garis antara ilmu ekonomi internasional dengan ilmu ekonomi regional menjadi semakin kabur 3. Alasan yang paling penting untuk melihat kembali geografi ekonomi adalah laboratorium intelektual dan empiris yang disediakan Walupun NEG menawarkan wawasan yang menarik mengenai kesenjangan geografis distribusi kegiatan ekonomi, pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan yang berarti. Suatu kajian kritis atas munculnya kembali dimensi geografi dalam ilmu ekonomi menyimpulkan bahwa NEG bukanlah pendekatan yang baru dalam ilmu ekonomi dan geografi, melainkan merupakan penemuan kembali teori lokasi tradisional dan ilmu regional. Teori Perdagangan Baru (NTT) NTT menyatakan bahwa sifat dasar dan karakter transaksi internasional telah sangat berubah dewasa ini di mana aliran barang, jasa, dan asset yang menembus batas wilayah antarnegara tidak begitu dipahami oleh teori-teori perdagangan tradisional. Kritik utama NTT terhadap teori perdagangan yang lama terfokus pada asumsi persaingan sempurna dan pendapatan konstan, menghabiskan waktu terlalu banyak data dan teori daripada berbagai isu yang mempengaruhi ilmu ekonomi dan gagal dalam menelusuri sebab-sebab proteksionis. Para pendukung NTT berpendapat bahwa ukuran pasar ditentukan secara fundamental oleh besar kecilnya angkatan kerja pada suatu negara dan tenaga kerja pada dasarnya tidak mudah pindah lintas negara. Mereka percaya bahwa penentu utama lokasi adalah derajat tingkat pendapatan yang meningkat dari suatu pabrik, suatu substitusi antarproduk yang berbeda, dan ukuran pasar domestik. Dengan berkurangnya hambatan-hambatan secara substansial, diperkirakan bahwa hasil industri yang meningkat akan terkonsentrasi pada pasar besar. Meskipun memiliki daya tarik, NTT juga memiliki beberapa kelemahan. Ada tiga kelemahan utama NTT : 1. NTT menjelaskan perbedaan strukutr produksi melalui perbedaan karakteristik yang mendasari 2. Teori ini tidak menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan dalam sector tertentu cenderung untuk berlokasi saling berdekatan, yang mendorong adanya spesialisasi regional

3. Teori ini menunjukkan perkembangan industry secara bertahap dan bersama-sama di semua negara berkembang. Padahal dalam kenyataannya, industrialisasi sering kali berupa gelombang industrialisasi yang sangat cepat, di mana industry menyebar secara berurutan dari negara satu ke negara lain.

Teori Pembangunan Ekonomi Cincin-O (O-ring theory) dari Kremer Model lain yang inovatif dan berpengaruh pada dekade 1990-an, yang memberikan wawasan penting mengenai jebakan ekuilibrium tingkat-rendah, yaitu karya Michael Kremer. Ia mengatakan bahwa produksi modern mensyaratkan bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan dengan baik dan bersama-sama, agar masing-masing dapat menghasilkan nilai yang tinggi. Fitur kunci dari model cincin-O ini adalah caranya membuat model produksi dengan komplementaritas antar input yang kuat. Misalkan saja proses produksi dipecah-pecah menjadi n tugas. Terdapat banyak cara untuk melaksanakan tugas-tugas ini, yang untuk sederhanya kita tentu memerlukan tingkat keterampilan. Jika tingkat keterampilannya semakin tinggi, maka akan semakin besar kemungkinan tugas tersebut akan diselesaikan dengan sempurna (yang artinya, bagian-bagian yang diciptakan di dalam tugas ini tidak akan gagal berfungsi). Untuk menyederhanakan masalah, asumsikan bahwa kesalahan seorang pekerja sama sekali tidak mempengaruhi pekerja yang lain, atau independen. Salah satu fitur paling penting dari fungsi produksi dalam teori ini adalah apa yang disebut sebagaipencocokan pemilihan positif (positive assortative matching). Hal ini berarti bahwa para pekerja yang mempunyai keterampilan tinggi akan bekerja bersama, dan pekerja yang berketerampilan rendah pun akan bekerja bersama. Ketika menggunakan model ini untuk membandingkan perekonomian, jenis pencocokan seperti ini berarti bahwa produk bernilai tinggi akan terkonsentrasi di negara-negara yang mempunyai keterampilan yang bernilai tinggi. Implikasi Teori Pembangunan Ekonomi Cincin-O (O-ring theory) dari Kremer Perusahaan cenderung untuk mempekerjakan karyawan yang mempunyai keterampilan yang serupa untuk melakukan tugas-tugas mereka. Pekerja yang melakukan tugas yang sama di perusahaan berketerampilan tinggi akan mendapatkan upah yang lebih tinggi daripada rekannya di perusahaan berketerampilan rendah.

Karena kenaikan upah berlangsung dengan tingkat yang semakin tinggi, tingkat upah akan jauh lebih tinggi di negara-negara maju dari pada yang diramalkan menurut ukuran keterampilan yang objektif. Jika pekerja dapat meningkatkan keterampilan mereka dan melakukan investasi seperti itu, dan jika mereka memang berkepentingan untuk melakukannya, mereka akan mempertimbangkan tingkat investasi sumber daya manusia yang dilakukan oleh pekerja lain sebagai komponen dari keputusan mereka mengenai seberapa banyak keterampilan yang harus diperoleh. Dengan kata lain, ketika orang-orang disekitar kita mempunyai keterampilan rata-rata yang lebih tinggi, kita akan mempunyai insentif yang lebih besar untuk memperoleh lebih banyak keterampilan. Seorang dapat terjebak dalam jebakan kualitas produksi yang rendah yang meliputi seluruh perekonomian. Hal ini akan terjadi jika terdapat efek cincin-O antar perusahaan maupun di dalam sebuah perusahaan. Efek cincin-O memperbesar dampak kemandegan (bottleneck) produksi lokal karena kemandegan seperti itu mempunyai efek berganda pada produksi yang lain. Kemandegan juga mengurangi insentif para pekerja untuk berinvestasi dalam meningkatkan keterampilan, dengan menurunkan hasil yang diharapkan dari investasi ini.