Anda di halaman 1dari 16

PRESENTASI KASUS HERNIA INGUINALIS SINISTRA KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RS HUSADA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA

WACANA Nama mahasiswa NIM Dokter pembimbing I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Alamat Tanggal masuk RS Husada : : : : : : : : : : Muji Harto 11-2004-080 Dr. Sutanto Gandakusuma, SpBD Tn. D 42 thn Laki-laki Wiraswasta Buddha Diketahui 5 Mei 2006, Pkl. 11.35 WIB

II. ANAMNESA Autoanamnesa 5 Mei 2006, Pkl. 14.00 WIB Keluhan Utama : Benjolan dikantung buah zakar kiri yang terasa nyeri sejak 3 hari SMRS Husada. Keluhan tambahan : Riwayat penyakit sekarang : Sejak 20 tahun SMRS Husada keluar benjolan di lipat paha kiri yang masih dapat masuk kembali ke rongga perut, benjolan tersebut berukuran 1 cm x 1 cm x 1 cm semakin lama semakin membesar dan benjolan tersebut tidak pernah terjepit. Sejak 4 tahun SMRS Husada benjolan mulai turun ke kantung buah zakar kiri yang dapat masuk kembali ke rongga perut, benjolan tidak nyeri dan tidak pernah terjepit. Benjolan tersebut keluar jika pasien mengedan, berdiri dan batuk, dan benjolan tersebut masuk kembali ke rongga perut jika pasien berbaring. Sejak 3 hari SMRS Husada benjolan di kantung buah zakar kiri terasa nyeri tidak dapat masuk ke rongga perut, terasa nyeri pada kantung buah zakar, demam ( ) mual ( ), muntah ( ). Pasien tidak pernah mengedan saat BAK dan BAB, tidak ada riwayat mengangkat barang yang berat. Terdapat riwayat penyakit paru. Saat pasien dirawat di Rumah Sakit Husada benjolan di kantung buah zakar masuk kembali dan benjolan hanya di lipat paha kiri, nyeri dirasakan pasien berkurang. Riwayat BAK : Lancar, warna kuning jernih Riwayat BAB : Sebelum sakit : Lancar, konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan Riwayat makan : porsi cukup, tiga kali sehari. Riwayat penyakit dahulu : Riwayat menderita sakit maag, kencing manis, darah tinggi, asma, penyakit jantung, batuk-batuk lama, susah BAK disangkal. Riwayat menderita penyakit paru diakui pasien.

III. A. 1. 2. 3. 4. 5.

6. 7. 8. 9. 10.

11.

12.

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum Pasien tampak sakit sedang, dyspneu (-), sianosis (-) Kesadaran Compos mentis; GCS : E = 4, V = 5, M = 6 15 Tanda-tanda Vital Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 82x/mnt Suhu : 36,5 C RR : 20x/mnt Kepala Bentuk normal, rambut berwarna hitam, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak teraba benjolan. Mata Bentuk normal, kedudukan kedua bola mata simetris, palpebra sup et inf tidak oedema, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, kornea jernih, pupil bulat, isokor, diameter kurang lebih 4mm, reflek cahaya +/+. Hidung Bentuk normal, tidak ada deviasi septum nasi, sekret -/-, krepitasi tidak ada. Telinga Bentuk normal, CAE lapang, sekret -/-, serumen -/Mulut Bentuk normal, perioral sianosis (-), bibir tidak kering, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang. Leher Bentuk normal, trakea di tengah, KGB tidak teraba membesar. Thorax Paru : (I) Bentuk normal, tampak simetris dalam statis dan dinamis, retraksi suprasternal (-) (Pa) Stem fremitus kanan kiri sama kuat (Pe) Sonor pada kedua lapang paru (A) Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/Jantung : (I) Ictus cordis tak tampak (Pa) Ictus cordis teraba i.c.s. V midclavicula line sin., tak kuat angkat (Pe) Redup pada ; batas atas : i.c.s. II parasternal line sin. batas kanan : midsternal line batas kiri : i.c.s. V midclavicula line sin. (A) Bunyi jantung I dan II reguler murni, murmur (-), gallop (-) Abdomen (I) Datar, tidak tampak gambaran usus dan vena (Pa) Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, nyeri tekan (-), nyeri ketok CVA kanan & kiri negatif. (Pe) Timpani, meteorismus (-) (A) Bising usus (+), Normal Regio inguinalis kanan lihat di status lokalis. Genitalia eksterna Laki-laki, telah dicircumsisi, tidak tampak tanda-tanda radang, Skrotum Testis kanan dan kiri teraba, nyeri pada perabaan (-).

13. 14. B.

Ekstremitas sup et inf Bentuk normal, deformitas (-), oedema (-), tanda-tanda radang/infeksi (-). Kulit Sawo matang, turgor baik Status Lokalis Regio inguinal kiri skrotalis kiri (I) : Pada posisi berdiri - tanpa mengedan : tidak tampak benjolan, tidak tampak tandatanda radang. - mengedan : Tampak benjolan lonjong berukuran 5 cm x 5 cm x 2 cm di lipat paha yang turun ke skrotum, tidak berwarna merah. Pada posisi berbaring : Tidak tampak benjolan. (Pa) : Saat berdiri mengedan. Teraba benjolan yang berukuran 6cmx4cmx3cm , konsistensi kenyal, permukaan licin, batas atas tidak tegas, nyeri tekan (-). Saat tiduran, benjolan tidak tampak.. Testis teraba, ukuran dan konsistensi normal. (Pe) : Tidak dilakukan (A) : Bising usus (+)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah : - Hb : 14 g/dl - Eritrosit : 4,82 juta/mm3 - Leukosit : 7.700 /mm3 - Trombosit : 266.000 /mm3 - Masa Pdrh : 2 - Masa Pbk : 7 V.

- Ureum - Creatinine - Kalium - Natrium - Chlorida - GDS

: 22 : 1,4 : 4,07 : 145 : 110 : 88

mg/dl mg/dl meq/l meq /l meg/l mg/dl

RESUME Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 42 thn, datang dengan keluhan terdapat benjolan di kantung buah zakar kiri yang nyeri (tidak dapat masuk kembali ke rongga perut) sejak 3 hari SMRS Husada, mual (-), muntah (-), demam (-), riwayat penyakit paru (+). Saat pasien dirawat di Rumah Sakit Husada benjolan di kantung buah zakar masuk kembali dan benjolan hanya di lipat paha kiri, nyeri dirasakan pasien berkurang. Status Lokalis Regio inguinal kiri skrotalis kiri (I) : Pada posisi berdiri - tanpa mengedan : tidak tampak benjolan, tidak tampak tandatanda radang. - mengedan : Tampak benjolan lonjong berukuran 5 cm x 5 cm x 2 cm di lipat paha yang turun ke skrotum, tidak berwarna merah.

(Pa) :

(Pe) : (A) :

Pada posisi berbaring : Tidak tampak benjolan. Saat berdiri mengedan. Teraba benjolan 5cmx5cmx2cm , konsistensi kenyal, dapat didorong masuk kembali dengan jari, permukaan licin,batas tidak tegas, nyeri tekan (-). Saat tiduran, benjolan tidak tampak. Testis teraba, ukuran dan konsistensi normal. Tidak dilakukan Bising usus (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah : - Hb : 14 g/dl - Eritrosit : 4,82 juta/mm3 - Leukosit : 7.700 /mm3 - Trombosit : 266.000 /mm3 - Masa Pdrh : 2 - Masa Pbk : 7 VI. DIAGNOSA KERJA Hernia inguinalis lateralis sinistra. VII. DIAGNOSA BANDING Hernia inguinalis medialis sinistra.

- Ureum - Creatinine - Kalium - Natrium - Chlorida - GDS

: 22 : 1,4 : 4,07 : 145 : 110 : 88

mg/dl mg/dl meq/l meq /l meg/l mg/dl

VIII. PENATALAKSANAAN Pre operasi : Antibiotik, puasa 6 jam Operatif : Herniotomi dan Herniorhapy Post operasi : Antibiotika, analgetika, puasa hingga flatus/bising usus positif Laporan Operasi 6 Mei 2006 Dr. Sutanto SpB Pasien terlentang dengan anestesi spinal. A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya. Insisi kulit abdomen kiri sejajar dengan ligamentum inguinal lapis demi lapis. Kantung hernia dicari dibuka, isi omentum ( vital ). Omentum dikembalikan ke rongga abdomen. Dilakukan Herniotomi. Pasang Mesh Jahit luka operasi lapis demi lapis Diagnosa post op : Hernia Inguinalis lateralis sinistra IX. ANJURAN 1. Diet tinggi serat setelah operasi agar BAB lancar. 3. Usahakan untuk tidak mengangkat benda-benda berat . 4. Obati penyakit paru. XI. PROGNOSA Ad vitam : ad bonam

Ad functionam : ad bonam Ad sanationam : dubia ad bonam

PEMBAHASAN UMUM

HERNIA
ANATOMI DINDING PERUT Lapisan dinding perut dari lapisan paling luar ke dalam. - Lapisan kulit : kutis, subkutis, lemak subkutan dan fasia superfisialis (Fasia Scarpae). - Otot dinding perut : m.Obliqus abdominalis eksternus, m.Obliqus abdominalis internus, dan m.transversus abdominalis. - Peritoneum Fungsi otot dinding perut - Pernafasan - Proses BAK dan BAB dengan meningkatkan tekanan intraabdominal. Perdarahan dinding perut - Kraniodorsal dari cabang Aa.lntercostac VI-XII dan Aa.Epigastrika superior. - Kaudal dari A.circumflexa superfisialis , A Pudenda Eksterna dan A.Epigastrika inferior. DEFINISI Hernia adalah protrusi atau penonjolan isi rongga melalui detek atau bagian lemah (lokus minoris resistensi) dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia meliputi 3 unsur. yakni : 1. Kantong hernia (peritoneum parietalis) 2. Isi (Viskus) 3. Pintu atau leher hernia (Lokus minores resistentiae pada dinding abdomen) KLASIFIKASI - Berdasarkan terjadinya : Hernia bawaan atau kongenital Hernia didapat /atau akuisita - Berdasarkan letaknya : Hernia Diafragmatika Hernia inguinalis Hernia umbilikalis Hernia femoralis Herna obtoratoria - Berdasarkan sifatnya : Hernia reponibilis : isi kantong akan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus. Hernia Ireponibilis : isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga , biasanya karena perlengketan pada peritoneum kantong hernia, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus. Hernia inkaserata : isi hernia terjepit oleh cincin hernia disertai gangguan pasase usus.

Hernia Strangulata : Hernia ireponibel disertai gangguan vaskularisasi. Berdasarkan Penemunya Hernia Richter : Hernia yang isinya hanya sebagian dinding usus. Hernia Littre : Hernia yang isinya divertikulum Meckel Hernia Spigelian : Hernia yang muncul melalui tempat lemah diantara tepi lateral m.Rectus Abdominalis dengan Linea semisirkularis. Lain-lain Henna Epigastrika : Hernia yang keluar melalui defek di linea alba, antara umbilicus dan proc.Xiphoideus. Hernia Skrotalis : Hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum. Hernia Pantaloon : Kombinasi hernia inguinalis lateralis dan medialis pada satu sisi.

HERNIA INGUINALIS
ANATOMIS Batas regio inguinalis - kanalis inguinalis - Kraniolateral : anulus inguinalis internus (bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis m.transversus abdominis) - Medial-bawah diatas tuberkulum pubikum : anulus inguinalis eksternus (bagian terbuka dari aponeurosis m.obliqus eksternus) . - Atap : aponeurosis m.obliqus eksternus - Dasar : lig.inguinalis pouparti Isi kanalis inguinalis : - Pada wanita : lig.Rotundum - Pada pria : spermatic cord Batas Trigonum Hasselbach-dinding posterior inguinal - Dasar : Fasia transversa - Atap : m.obliquus internus - Medial : tepi m.rectus abdominis - Lateral : vasa epigastrika inferior - Bawah : lig.inguinale

ETIOLOGI Pada orang sehat ada 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis 1. Kanalis inguinalis yang berjalan miring. 2. M.obliqus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus saat berkontraksi. 3. Fasia Transversa yang kuat, menutupi trigonum Hasselbach. Namun bila ada faktor predisposisi : 1. Prosesus vaginalis yang terbuka. 2. Peninggian tekanan intra abdomen. Batuk kronik Konstipasi Asites Menangis kuat-kuat Berdiri 3. Kelemahan otot dinding perut (karena usia) Maka dapat menyebabkan HERNIA INGUINALIS DISTRIBUSI - Pada laki-laki Terbanyak pada neonatus (2 mgg pertama) dan usia 12 thn. Dewasa muda (18-30 thn) Usia 50-70 thn, karena otot-otot dinding perut sudah lemah. Pada usia tua ini yang paling banyak terjadi adalah hernia inguinalis medialis. - Pada wanita Terutama pada neonatus dan usia 1-2 thn. Usia tua, lebih banyak jenis hernia femoralis. Hernia inguinalis lateralis pada wanita disebut hernia labialis.

JENIS-JENIS HERNIA INGUINALIS HERNIA INGUINALIS LATERALIS / INDIREK - Lateralis karena penonjolan berada disebelah lateral vasa epigastrika inferior. - Indirek karena tidak langsung keluar ke annulus inguinalis eksternus, melainkan masuk melalui annulus inguinalis internus terlebih dahulu kemudian melalui kanalis inguinalis, baru keluar melalui annulus inguinalis eksternus. - Umumnya tonjolan berbentuk lonjong. Pada bayi dan anak disebabkan karena kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum akibat penurunan testis ke skrotum.

HERNIA INGUINALIS MEDIALIS / DIREK - Medialis karena penonjolan berada di sebelah medial vasa epigastrika inferior. - Direk karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna, lewat kelemahan dinding posterior (trigonum Hasselbach). - Hampir selalu disebabkan faktor peninggian tekanan intra abdomen kronik dan kelemahan dinding trigonum Hasselbach. - Umumnya tonjolan berbentuk bulat, dapat terjadi bilateral. - Jarang mengalami inkarserasi dan strangulasi.

HERNIA FEMORALIS Hernia femoralis umumnya dijumpai pada wanita tua , kejadian pada perempuan 4 kali laki-laki. Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v. femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Kadang kala hernia ini terjadi karena komplikasi operasi hernia sebelumnya. DIAGNOSA Anamnesa - Benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu berdiri, menangis kuat, batuk, bersin atau mengedan dan hilang setelah berbaring - Nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya pada region epigastrium atau paraumbilikal, berupa nyeri visceral karena reggangan pada satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. - Keluhan nyeri disertai mual dan muntah (bila timbul strangulasi karena nekrosis/gangrene atau inkarserata akibat ileus). Pemeriksaan fisik - Inspeksi Mengedan ; Tampak benjolan di region inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah (hernia inguinalis lateralis) Biasanya benjolan menghilang waktu istirahat / berbaring. Pada bayi dan anak-anak, adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak sering gelisah, menangis, perut kembung maka pikirkan kemungkinan hernia strangulata. - Palpasi Konsistensi kenyal Dapat/tidak didorong masuk kembali (reponibel/ireponibel). Pada anak, Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk, kadang cincin hernia Dapat diraba berupa annulus inguinalis eksternus yang melebar. Ada/tidak nyeri tekan. Testis teraba / tidak (DD/ hidrokel) Periksa keadaan cincin hernia : melalui skrotum, jari telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus (pada keadaan normal, jari tidak dapat masuk). Pasien mengejan dan rasakan, apakah ada massa yang

menyentuh jari tangan. Bila massa teraba menyentuh ujung jari makak hernia inguinalis lateralis. Bila massa menyentuh sisi jari maka hernia inguinalis medialis. - Perkusi Tidak dilakukan. - Auskultasi Bising usus (+), bila isi hernia = usus. PENATALAKSANAAN - Konservatif Tindakan reposisi dan pemakaian penyangga untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi dengan cara bimanual : tangan kiri pegang isi hernia, inembentuk corong. Tangan kanan mendorong ke arah cincin hernia dengan tekanan lambat narnun menetap sarnpai terjadi reposisi. Pada anak, reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es di atas hernia.Bila 6 jam gagal maka lakukan herniotomi ! Pada bayi atau usia lanjut dengan hernia congenital atau indirek. reposisi dilakukan sesegera mungkin karena insiden terhadap inkarserata dan strangulasi cukup tinggi. Bila hernia inkarserata tanpa gejala sistemik maka lakukan reposisi postural bila berhasil lakukan operasi elektif 2 - 3 hari ( saat udem jaringan hilang dan KU baik). - Operatif Segera bila terjadi inkarseata atau strangulasi. Prinsip dasar : Herniotomi dan Hernioplasty Herniotomi Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong hernia dibuka, isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Hernioplasty Memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dindig belakang kanalis inguinalis. Hernioplasty lebih penting artinya daiam mencegah terjadinya residif dibanding Herniotomi. Hernioplasty tidak dilakukan pada anak-anak, karena annulus inguinalis internusnya masih cukup elastis dan dinding belakang kanalis inguinalis masih cukup kuat ! Metode Bassini adalah dengan memperkecil annulus inguinalis internus dengan jahitan, memperkuat fascia transversa dan menjahit conjoint tendon ke lig. Pouparti. Metode Mc Vay dengan cara menjahit fascia transversa, m. transverses abdorninis internus ke lig. Cooper, biasanya dilakukan pada hernia femoralis. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang, perlu pemakaian bahan sintesis seperti Prolene Mesh, Mersilene, atau Marleks untuk menutup defek.

10

Tehnik operasi hernioraphy sebenarnya dibagi menjadi 4 group berdasarkan pendekatannya: 1. Open anterior repair. Grup ini termasuk Bassini, Mc Vay yaitu dengan membuka aponeurosis m. obliq eksternal dan membebaskan spermaticcord. Setelah fascia tranversalis dibuka dapat ditemukan kanalis inguinalis. Kemudiankantung hernia diligasi dan dasar dari kanal direkonstruksi kembali. Pada tehnik ini presentasi recurrence rate sangat tinggi 10-14 %. 2. Open posterior repair. Yang termasuk kedalam grup ini adalah iliopubictrac repair dan Nyhus technique. Perbedaan yang mendasar dengan open anterior repair adalah rekonstruksi dilakuakn dari dalam. Cara ini biasanya dilakukan pada kasus dengan multiple recurrences. 3. Tension-free repair with mesh. Lichtenstein and Rutkow techniques. Pada mulanya sama dengan open anterior repair, namun ditambah dengan menggunakan prosthetic nonabsorbable mesh. Keberhasilan dengan tehnik ini dengan recurrence rate kurang dari 1%. 4. Laparoscopic procedures. Tehnik terbaru ini mulai terkenal mulai beberapa tahun yang lalu. Tehnik yang terbaru adalah dengan total extraperitoneal approach. Berikut ini adalah sekilas tentang laparoscopic hernia repair Laparoscopic Hernia Repair

Pertinent anatomy in a thin male with a left indirect inguinal hernia

11

Dissection starts with opening the peritoneum lateral to the medial umbilical fold in order to identify Cooper's ligament

Cooper's ligament has been exposed from the pubic tubercle down to the femoral vessels and the vas deferens

12

The ileopubic tract lateral to the internal ring is exposed. It is critical to avoid dissection or stapling posterior to this line in order to avoid injury to cutaneous nerves.

The dissection is complete. The indirect sac is left in place.

An 8 by 12 cm. GoreTex dual-mesh patch is now inserted. I use this material because it is resistant to adhesions, and can be placed without need for reperitonealization.

13

The mesh has been stapled from the pubic tubercle along Cooper's ligament down to the femoral vessels. It is now being stretched across laterally and stapled to the ileopubic tract.

The patch is then flipped up anteriorly, covering the hernia defect(s). It is stapled to the abdominal wall circumferentially. This completes the repair. This is the repair first devised by Fred Toy and Roy Smoot, and has been studied by a multi-center group in more than 500 patients. Recurrence rate over several years is 4%. KOMPLIKASI - Bergantung dari isi hernia. - Hernia dapat terjepit oleh cincin maka akan terjadi hernia inkarserata atau strangulasi yang akhirnya menyebabkan obstruksi usus. Isi hernia dapat

14

nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguineus. Dapat perforasi dan menyebabkan abses local, fistel, peritonitis. Komplikasi yang dapat terjadi post op adalah cedera n.ilioingunalis, n.iliofemoralis , v femoralis dan duktus deferens. Komplikasi dini berupa hematom, luka infeksi, bendungan v. femoralis. Komplikasi jangka panjang berupa atrofi tetis karena lesi a. spermatika atau bendungan pleksus pampiniformisdan yang paling penting adalah terjadinya residif. Daftar Pustaka

1) Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta : 1997 2) Way, Lawrence, Doherty, Gerard M, Current Surgical diagnosis and treatment, eleventh edition, Mc Graw Hill, Boston 2003. 3) Sabiston, David C. Essential of Surgery, first edition, EGC, Jakarta ; 1994. 4) American Family Physician Surgical Options in the Management of Groin Hernias available from : http://www.aafp.org/afp/990101ap/contents.html. ( last update : January 1,1999) 5) Mark Pleatman, MD Laparoscopic Hernia repair available from cd rom Operation Techique

PEMBAHASAN KHUSUS Pada kasus ini, diagnosa kerja pre operatif adalah Hernia inguinalis lateralis sinistra, sesuai dengan teori : Benjolan timbul terutama saat pasien berjalan dan mengangkat benda berat, hilang bila pasien berbaring. Ada faktor predisposisi, yakni kelemahan dinding perut akibat faktor usia (42 thn). Umumnya benjolan berbentuk bulat agak lonjong berjalan dari lateral atas ke medial bawah dengan batas tidak tegas (pada hernia inguinalis medialis umumnya benjolan berbentuk bulat, berbatas tegas). Tidak ditemukannya demam, dan tanda-tanda infeksi pada skrotum menyingkirkan dengan dd Orchitis Sinistra. Pada dasarnya cukup sulit untuk membedakan hernia medialis-lateralis dan femoralis. Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan dengan operasi. Namun maupun hernia medialis-lateralis atau femoralis, terapi yang harus dilakukan adalah operasi, mengingat komplikasinya yang akan membahayakan pasien tersebut. Setelah dilakukan herniotomi dan hernioraphy, diagnosa post operatif adalah Hernia inguinalis lateralis sinistra, sesuai dengan teori. Selain dilakukan herniotomi. pada pasien ini dilakukan juga hernioraphy, sesuai dengan teori : Pada orang tua, dinding posterior abdomen lemah. sehingga bila hanya dilakukan herniotomi saja, maka kemungkinan terjadi hernia residif post

15

op besar. Sehingga. annulus inguinalis internus perlu diperkecil dan dinding belakang kanalis inguinalis perlu diperkuat dengan hernioplasty. Pada pasien ini dipakai juga bahan sintesis yakni Prolene Mesh untuk menutup defek Prognosa pada pasien ini baik, karena telah dilakukan herniotomi dan hernioplasty yang mencegah hernia residif.

16

Anda mungkin juga menyukai