Anda di halaman 1dari 88

PEMANFAATAN SIG DALAM PEMETAAN PENYEBARAN

POTENSI HUTAN BERBASIS IHMB DI IUPHHK-HA


PT. RATAH TIMBER, KALIMANTAN TIMUR

PUTRI RAHAYU N.

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

PEMANFAATAN SIG DALAM PEMETAAN PENYEBARAN


POTENSI HUTAN BERBASIS IHMB DI IUPHHK-HA
PT. RATAH TIMBER, KALIMANTAN TIMUR

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

PUTRI RAHAYU N.

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

RINGKASAN
PUTRI RAHAYU N. E14054122. 2010. Pemanfaatan SIG dalam Pemetaan
Penyebaran Potensi Hutan Berbasis IHMB di IUPHHK-HA PT. Ratah Timber,
Kalimantan Timur. Skripsi. Manajemen Hutan, Institut Pertanian Bogor. Dibimbing
oleh Dra. NINING PUSPANINGSIH, MSi.
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) merupakan inventarisasi
hutan berkala sepuluh tahunan untuk menyusun rencana kerja usaha pemanfaatan
hasil hutan sepuluh tahunan, yang wajib dilakukan oleh para pemegang Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA) dan Hutan
Tanaman (IUPHHK-HT) berdasarkan PP No. 6 Tahun 2007. PT. Ratah Timber
sebagai salah satu pemegang IUPHHK-HA diwajibkan melaksanakan IHMB untuk
menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Sepuluh Tahunan.
Pelaksanaan IHMB dengan konsep sampling mengakibatkan pengukuran
hanya dilakukan pada sebagian kecil dari total luas areal yang disurvei. Melalui
interpolasi spasial pada SIG, potensi volume pohon pada petak-petak (compartments)
yang tidak terwakili oleh plot contoh secara praktis dapat diestimasi sehingga akan
diperoleh gambaran distribusi spasial potensi pohon hasil IHMB keseluruhan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi sediaan tegakan hutan;
(2) membuat peta distribusi spasial potensi volume pohon dan peta profil pohon
dengan Sistem Informasi Geografis (SIG); dan (3) menganalisis potensi hutan di
IUPHHK-HA PT. Ratah Timber, Kalimantan Timur.
Hasil pengolahan data tabular IHMB menunjukkan sediaan tegakan di areal
PT. Ratah Timber sebanyak > 60 % termasuk kelompok jenis Kayu Meranti (KM)
pada semua tingkat pertumbuhan pohon (tiang, pohon kecil dan pohon besar).
Kerapatan pohon terbesar dimiliki oleh tingkat tiang yaitu 206 tiang/ha, sedangkan
volume terbesar diperoleh dari pohon besar yaitu 146,73 m/ha dan kualitas tegakan
hutan keseluruhan tergolong baik berdasarkan kualitas pohonnya.
Distribusi spasial data IHMB menunjukkan areal PT. Ratah Timber memiliki
luasan atau petak terbanyak pada kelas potensi terendah. Peta distribusi spasial pohon
besar menunjukkan jumlah petak terbanyak terdapat pada kelas kerapatan dan
volume 0 - 24 N/ha dan 0 - 146,6 m/ha. Hasil analisis potensi dan overlay distribusi
spasial pohon diameter 50 cm jenis komersial memperlihatkan kondisi struktur
tegakan normal, meskipun kondisi potensinya tidak begitu tinggi yaitu sebanyak 79,8
% areal PT. Ratah Timber hanya memiliki kerapatan 0 - 28 pohon/ha dengan volume
0 - 279,6 m/ha.
Kata Kunci: IHMB, PT. Ratah Timber, potensi, interpolasi spasial.

SUMMARY
PUTRI RAHAYU N. E14054122. 2010. Utilization of GIS Mapping Forest
Dissemination Based on IHMB in IUPHHK-HA PT. Ratah Timber, East Kalimantan.
Essay. Forest Management, Bogor Agricultural University. Under Supervision of
Dra. NINING PUSPANINGSIH, MSi.
Comprehensive Periodic Forest Inventory (IHMB) is a ten-year periodic forest
inventory for establishing business plan of forest utilization, which had to be done by
Business Utilization Timber Forest Product in Natural Forest (IUPHHK-HA) and
Plantation Forest (IUPHHK-HT) permit holders based on Government Regulation
No. 6 of 2007. PT. Ratah Timber as a business license holder of Business Utilization
Timber Forest Product in Natural Forest (IUPHHK-HA) requires preceding IHMB
for establishing Ten-Years Natural Forest Business Plan for Timber Forest Product
Utilization.
IHMB with sampling concept reducing data measurement area to small certain
surveyed area. Spatial distribution of timber potential from overall IHMB area, which
in some compartment is not represented, may be estimated using spatial interpolation
using GIS from data that obtained in survey plots.
This research intend to estimate forest standing stock, establishing map of
timber volume and tree profile, and analyzing forest timber potential in PT. Ratah
Timber, East Kalimantan.
IHMB tabular data processing shows that more that 60% of standing stock in
PT. Ratah Timber belongs to Kayu Meranti (KM) class in all trees growing class
(pole, small trees and large trees). Largest tree density is available at pole class by
206 poles/ha, meanwhile largest volume is available at large tree class by 146,73
m3/ha and overall standing quality is considered good based on its tree quality.
IHMB spatial data distribution shows that PT. Ratah Timber has the largest
area or compartments in lowest class potential. Spatial distribution map for large trees
inform that largest compartment aggregated at 0-24 N/ha and 0-146.6 m3/ha in
density and volume distribution classes. Potential analysis and tree spatial distribution
overlay for 50 cm up commercial tree diameter shows normal standing structure
condition, in spite of its potential condition was not too high, about 79,8% of PT.
Ratah Timber area only having 0-28 trees/ha tree density with 0-279,6 m3/ha standing
volume.
Keywords: IHMB, PT. Ratah Timber, potential, spatial interpolation.

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pemanfaatan SIG dalam
Pemetaan Penyebaran Potensi Hutan Berbasis IHMB di IUPHHK-HA PT. Ratah
Timber, Kalimantan Timur adalah benar-benar hasil karya Saya sendiri dengan
bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi
ini.

Bogor, Januari 2011

Putri Rahayu N.
NRP E14054122

Judul Skripsi : Pemanfaatan SIG dalam Pemetaan Potensi Hutan Berbasis


IHMB di IUPHHK PT. Ratah Timber, Kalimantan Timur
Nama

: Putri Rahayu N.

NIM

: E14054122

Menyetujui:
Pembimbing Skripsi

Dra. Nining Puspaningsih, MSi


NIP. 19630612 199003 2 014

Mengetahui:
Ketua Departemen Manajemen Hutan

Dr. Ir. Didik Suhardjito, MS


NIP.19530401 199403 1 001

Tanggal :

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul
Pemanfaatan SIG dalam Pemetaan Penyebaran Potensi Hutan Berbasis
IHMB di IUPHHK-HA PT. Ratah Timber, Kalimantan Timber dibawah
bimbingan Dra. Nining Puspaningsih, M.Si.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini
berisi gambaran mengenai pemanfaatan SIG dalam pemetaan potensi hasil
pelaksanaan IHMB.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh
karena itu penulis mengharapkan saran, kritik, dan masukan demi perbaikan.
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan informasi
yang berguna bagi semua pihak yang memerlukan.

Bogor, Januari 2011

Penulis

UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
1.

Dra. Nining Puspaningsih, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi, atas


segala bimbingan pengarahan, motivasi, kesabaran, dan waktu yang telah
diberikan dalam penyusunan skripsi ini.

2.

Bapak Wahyul, Bapak Kurnia, Kak Adit, dan seluruh karyawan PT. Ratah
Timber.

3.

Edwine Setia P, S.Hut, Bapak Uus Saepul M., M. Fatah Noor selaku
asisten dan staf Bagian Perencanaan Kehutanan atas segala kesabaran,
bantuan dan pengarahan yang telah diberikan kepada penulis.

4.

Dr. Ir. M. Buce Saleh, MS dan Prof. Dr. I Nengah Surati Jaya, M.Agr
selaku dosen Lab. Remote Sensing dan GIS atas segala bantuan dan
dukungannya.

5.

Bapak, Ibu dan adik-adikku atas segenap doa dan kasih sayangnya.

6.

Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS, Ir. Andi Sukendro, MSi, dan Eva
Rachmawati, S.Hut, Msi selaku dosen penguji wakil dari Departemen
Hasil Hutan, Departemen Silvikultur dan Departemen Konservasi dan
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, atas kebijaksanaan dan sarannya dalam
perbaikan skripsi ini.

7.

Ir. Ahmad Hadjib selaku dosen komisi pendidikan atas pengarahan dan
kesabarannya sehingga penulisan penelitian ini dapat berjalan dengan
lancar.

8.

Seluruh dosen dan staf Departemen Manajemen Hutan, Fakultas


Kehutanan IPB.

9.

Sahabat-sahabat terdekat (Diah Baki Rany, Pipit Amelia, Mamah Dian,


Ratih Noi, Hangga Prihatmaja, Pipeh Bainnaura, Aya Eka P., Galih bejo,
Poche Salman, Trias Eventi, Icha Syarif, Dian Udin Nurhadiatin,
Chika, Nurindah Ade, Ratih Solichia, Wulan, dan

10.

Ahsana

Khaeruzaman)

Muhammad Tigana Umamit atas bantuan dan semangatnya.

11.

Sahabat seperjuangan PKL dan penelitian (Hefrina Sitanggang, Mei


Arista, Paskha Panjaitan dan Rivan Lestarian)

12.

Teman-teman FAHUTAN IPB 42 (terutama manajemen hutan), 41 dan 40


up dan R atas kebersamaan dan pemberian supportnya kepada penulis.

13.

Teman-teman B27 (adiz, ira, risty) dan silvi atas doa dan dukungannya

12.

Semua pihak yang telah membantu kelancaran penulisan ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 14 November 1987 di
Depok sebagai anak pertama dari tiga bersaudara pasangan
Bapak Rasmani dan Ibu Jamilah. Tahun 2005 lulus dari
SMA Negeri 5 Bogor, penulis diterima di Institut Pertanian
Bogor

melalui

jalur

SPMB

(Saringan

Penerimaan

Mahasiswa Baru) dan tahun 2006 penulis diterima di


Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan.
Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di sejumlah organisasi
kemahasiswaan yakni sebagai staf Departemen Media Informasi dan Komunikasi
Forest Management Student Club (FMSC) tahun 2007-2008, staf Divisi
Kesekretariatan International Forest Student Association (IFSA) tahun 20072008.Penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan kegiatan kemahasiswaan di
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Penulis melakukan kegiatan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutam
(PPEH) di Cilacap dan Baturraden, Jawa Tengah pada tahun 2007, Praktek
Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW)
Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 2008, dan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT.
Ratah Timber, Kalimantan Timur pada tahun 2009.
Dalam rangka menyelesaikan pendidikan dan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor,
penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul Pemanfaatan
SIG dalam Pemetaan Penyebaran Potensi Hutan Berbasis IHMB di IUPHHK-HA
PT. Ratah Timber, Kalimantan Timur di bawah bimbingan Dra. Nining
Puspaningsih, MSi.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI..................................................................................................... i
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vi
BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1

Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2

Tujuan................................................................................................ 3

1.3

Manfaat.............................................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 4


2.1

Potensi Hutan..................................................................................... 4

2.2

Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB)............................ 4

2.3

Sistem Informasi Geografis (SIG)..................................................... 5

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 8


3.1

Tempat dan Waktu ............................................................................ 8

3.2

Bahan dan Alat ................................................................................. 8

3.3

Metode Penelitian.............................................................................. 9
3.3.1

Persiapan .................................................................................... 10

3.3.2

Perencanaan Lapangan............................................................... 10

3.3.3

Pengambilan Data ...................................................................... 12

3.3.4 Pengolahan Data ........................................................................ 13


3.3.5

Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) ............................... 14

BAB IV KEADAAN UMUM WILAYAH ..................................................... 16


4.1

Letak dan Luas IUPHHK-HA PT. Ratah Timber ............................. 16

4.2

Geologi dan Tanah ............................................................................ 17

4.3

Iklim dan Hidrologi ........................................................................... 18

4.4

4.3.1

Tipe Iklim................................................................................... 18

4.3.2

Suhu dan Kelembaban Udara..................................................... 19

4.3.3

Hidrologi .................................................................................... 19

Kondisi Hutan.................................................................................... 20
4.4.1

Topografi Lapangan................................................................... 20

ii

4.4.2

Kondisi Penutupan Lahan .......................................................... 21

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ......................... ............................... 23


5.1

Kondisi Sediaan Tegakan Hutan ....................................................... 23


5.1.1

Komposisi Jenis Sediaan Tegakan Hutan .................................. 23

5.1.2 Penyebaran Ukuran Diameter .................................................... 24


5.1.3

Volume Tegakan Hutan ............................................................. 25

5.1.4 Kualitas Tegakan Pada Tingkat Pohon ...................................... 27


5.1.5
5.2

Keadaan Permudaan Alam/Tumbuhan Bawah .......................... 30

Distribusi Spasial Potensi Tegakan dan Profil Pohon ....................... 30


5.2.1

Distribusi Spasial Pohon Diameter 10 cm - 20 cm


(Tiang)........................................................................................ 31

5.2.2 Distribusi Spasial Potensi Pohon Diameter 20 cm - 35


cm (Pohon Kecil) ....................................................................... 31
5.2.3

Distribusi Spasial Pohon Diameter 35 cm up (Pohon


Besar) ........................................................................................ 36

5.2.4
5.3

Peta Profil Pohon ....................................................................... 41

Analisis Potensi Hutan ...................................................................... 41

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 45


6.1

Kesimpulan........................................................................................ 45

6.2

Saran .................................................................................................. 45

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 46

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1.

Jumlah plot yang perlu dibuat untuk kelas luasan efektif tertentu ............. 11

2.

Luas areal IUPHHK PT. Ratah Timber berdasarkan peta


kawasan hutan dan perairan provnisi Kalimantan Timur........................... 17

3.

Luas areal IUPHHK PT.Ratah Timber berdasarkan jenis tanah ................ 17

4.

Formasi geologi di areal IUPHHK PT. Ratah Timber ............................... 18

5.

Data curah hujan bulanan dan hari hujan bulanan rata-rata ....................... 18

6.

Data suhu udara dan kelembaban udara bulanan rata-rata ......................... 19

7.

Debit sungai dan kandungan sedimen dari beberapa titik sungai


di areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber ................................................. 20

8.

Prediksi laju erosi dan sedimentasi dari masing-masing sub


DAS di areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber ........................................ 20

9.

Kondisi topografi areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber ........................ 21

10. Penutupan lahan areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber pada
setiap fungsi hutan...................................................................................... 22
11. Komposisi

jumlah

sediaan

tegakan

per

hektar

(N/ha)

berdasarkan kelompok jenis ...................................................................... 24


12. Sebaran jumlah sediaan pohon per hektar (N/ha) berdasarkan
kelas diameter (cm) .................................................................................... 25
13. Sediaan volume tegakan hutan per hektar (m/ha) berdasarkan
kelompok jenis pohon................................................................................. 25
14. Sediaan volume tegakan hutan per hektar (m/ha) per kelas
diameter ...................................................................................................... 27
15. Komposisi kualitas tegakan tingkat tiang................................................... 27
16. Komposisi kualitas tegakan tingkat pohon kecil ....................................... 28
17. Komposisi pohon besar berdasarkan kualitas batang ................................. 29
18. Komposisi pohon besar berdasarkan ketergunaan batang (log) ................. 29
19. Komposisi keberadaan pancang ................................................................. 30
20. Sebaran kerapatan pohon diameter 10 cm - 20 cm (tiang)......................... 31

iv

21. Sebaran kelas kerapatan pohon diameter 20 cm - 35 cm (pohon


kecil) jenis komersial ................................................................................ 33
22. Sebaran kelas kerapatan pohon diameter 20 cm - 35 cm (pohon
kecil) semua jenis ....................................................................................... 33
23. Sebaran kelas kerapatan pohon diameter 35 cm up semua jenis ............... 36
24. Sebaran kelas volume pohon diameter 35 cm up (m/ha) semua
jenis ............................................................................................................ 39
25. Sebaran kelas volume pohon diameter 50 cm jenis komersial ............... 39
26. Sebaran spasial hasil overlay kerapatan dan volume pohon
diameter 50 cm jenis komersial .............................................................. 44

DAFTAR GAMBAR
No.

Halaman

1.

Peta lokasi penelitian.................................................................................. 8

2.

Bagan alir tahapan penelitian ..................................................................... 9

3.

Disain plot contoh dengan 4 sub-plot (I IV)............................................ 10

4.

Sebaran jumlah sediaan pohon per hektar (N/ha) berdasarkan


kelas diameter............................................................................................. 24

5.

Volume tegakan hutan per hektar (m/ha) berdasarkan kelas


diameter ...................................................................................................... 26

6.

Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 10 cm 20 cm ..................... 32

7.

Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 20 - 35 cm jenis


komersial .................................................................................................... 34

8.

Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 20 - 35 cm semua


jenis............................................................................................................. 35

9.

Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 35 cm up semua


jenis............................................................................................................. 37

10. Distribusi spasial volume pohon (m/ha) diameter 35 cm up


semua jenis ................................................................................................. 38
11. Distribusi spasial volume pohon diameter 50 cm up jenis
komersial .................................................................................................... 40
12. Profil pohon pada tipe-tipe hutan sekunder................................................ 41
13. Potensi volume per hektar (m3/ha) berdasarkan kelas diameter
(cm) dalam kelompok pemanfaatan kayu (dapat-tidak dapat) ................... 42
14. Distribusi spasial hasil overlay kerapatan dan volume pohon
diameter 50 cm jenis komersial................................................................ 43

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1.

Contoh daftar isian data pancang ............................................................... 49

2.

Contoh daftar isian data tiang..................................................................... 50

3.

Contoh daftar isian data pohon kecil .......................................................... 51

4.

Contoh daftar isian data pohon besar ......................................................... 52

5.

Rekap data IHMB PT. Ratah Timber ......................................................... 53

6.

Daftar istilah ............................................................................................... 71

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inventarisasi sumberdaya hutan merupakan cara untuk mengetahui dan
memperoleh data dan informasi tentang sumberdaya, potensi kekayaan alam hutan
serta lingkungannya secara lengkap. Melalui kegiatan inventarisasi dapat diperoleh
pula gambaran tentang keadaan hutan meliputi keragaman jenis, potensi, tempat
tumbuh, aksesibilitas, sosial ekonomi masyarakat serta kemungkinan tindakan
pengelolaan hutan.
Pelaksanaan inventarisasi hutan yang selama ini dilakukan oleh para
pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam
(IUPHHK-HA) dan Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) yaitu Inventarisasi Tegakan
Sebelum Penebangan (ITSP) yang dilakukan 2 tahun sebelum kegiatan penebangan
dan Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT) yang dilakukan 1 atau 2 tahun sesudah
penebangan. Kedua jenis inventarisasi tegakan ini memang dilaksanakan setiap
tahun kerja perusahaan, namun diterapkan hanya untuk petak atau blok yang akan
dan yang sudah ditebang saja. Ini berarti, meskipun diterapkan untuk setiap tahun
kerja berjalan, bukanlah merupakan kontrol yang berkala tahunan atas petak atau
blok yang sama, melainkan kontrol berkala dalam periode rotasi yang digunakan.
Apabila rotasi tegakan adalah 35 tahun, setiap petak hutan akan berulang
diinventarisasi atau terkontrol (termonitor dan terevaluasi) selama 35 tahun sekali.
Periode waktu selama itu (35 tahun) untuk kepentingan monitoring dan evaluasi
tegakan hutan relatif terlalu lama.
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) adalah inventarisasi hutan
berkala sepuluh tahunan, yang wajib dilakukan oleh para pemegang IUPHHK-HA
dan IUPHHK-HT berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang
Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan
Hutan. Pemanfaatan hasil pelaksanaan IHMB dapat digunakan antara lain untuk
penyesuaian Jatah Penebangan Tahunan (JPT) Rencana Kerja Usaha (RKU) yang
telah disusun, penataan areal atau blok Rencana Kerja Tahunan (RKT), manajemen
standing stock, bahan pemantauan dan evaluasi kelestarian tegakan, serta sebagai

dasar penyusunan perencanaan pemanfaatan hutan produksi sesuai prinsip


kelestarian.
Pengolahan data hasil IHMB dapat dilakukan secara tabular dan spasial.
Dari hasil pengolahan secara tabular diperoleh data sediaan, potensi dan kerapatan
tegakan, sedangkan pengolahan secara spasial dapat memberikan gambaran sebaran
atau distribusi dari sediaan dan potensi tegakannya. Proses pengolahan data secara
spasial dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Aronoff (1989) dalam Prahasta (2002) menyatakan Sistem Informasi
Geografis (SIG) adalah suatu sistem yang mampu melakukan berbagai proses
yang dapat mengubah data menjadi suatu informasi yang siap digunakan untuk
mengambil suatu keputusan. Secara garis besarnya, SIG dibagi menjadi empat
sub-sistem, yaitu (a) sub-sistem pemasukan data (data input), (b) sub-sistem
pengelolaan data (data management) yang mencakup perbaikan (editing),
pembaharuan data (updating), pemanggilan (retrieval) dan atau penyimpanan
kembali (storage), (c) sub-sistem manipulasi dan analisis data, serta (d) subsistem keluaran (output).
Pelaksanaan

IHMB

dengan

konsep

sampling

mengakibatkan

pengukuran hanya dilakukan pada sebagian (kecil) dari total luas areal yang akan
disurvei. Melalui interpolasi spasial pada SIG, potensi volume pohon pada petakpetak (compartments) yang tidak terwakili oleh plot contoh secara praktis dapat
diestimasi sehingga akan diperoleh gambaran distribusi spasial potensi volume
pohon hasil IHMB keseluruhan. Selain itu, SIG memberikan manfaat yaitu
mampu menyimpan data hasil IHMB secara terorganisir dalam bentuk basis data
spasial dan tabular dengan ketelitian yang tinggi, serta mampu mengolah struktur
vertikal tegakan (profil) dan konfigurasi lahan yang diperlukan dalam IHMB.
PT. Ratah Timber (RTC) sebagai salah satu pemegang izin usaha
pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam di Kalimantan Timur, melakukan
kegiatan IHMB yang mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P.34/Menhut-II/2007 tentang Pedoman Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala
(IHMB) pada Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Produksi.
Penelitian mengenai pemanfaatan SIG dalam pemetaan penyebaran potensi hasil

IHMB PT. Ratah Timber, diperlukan untuk mendapat gambaran potensi tegakan
di areal efektif keseluruhan.
1.2 Tujuan
1.

Mengetahui kondisi sediaan tegakan hutan di IUPHHK-HA PT. Ratah


Timber, Kalimantan Timur

2.

Membuat peta distribusi spasial potensi volume pohon dan peta profil pohon
dengan Sistem Informasi Geografis (SIG).

3.

Melakukan analisis potensi hutan di IUPHHK-HA PT. Ratah Timber,


Kalimantan Timur.

1.3 Manfaat
Pembuatan peta distribusi spasial potensi hutan diharapkan mampu digunakan
untuk kepentingan perencanaan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL)
dalam penyusunan RKUPHHK (Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu) di IUPHHK-HA PT. Ratah Timber Kalimantan Timur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Potensi Hutan
Potensi hutan adalah jumlah pohon jenis niagawi tiap hektar menurut kelas
diameter pada suatu lokasi hutan tertentu yang dihitung berdasarkan rata-rata
jumlah pohon pada suatu tegakan hutan alam. Jenis niagawi adalah jenis-jenis
pohon yang laku untuk diperdagangkan (Dephut, 2002).
Prodan (1965) menyatakan bahwa volume pohon berdiri dapat diperoleh
melalui:
1. Pengukuran seksi.
2. Angka bentuk.
3. Persamaan regresi yang menggunakan tinggi pohon, diameter setinggi dada
dan tinggi tertentu.
4. Persamaan regresi dengan faktor angka bentuk batang rata-rata atau merupakan
suatu fungsi dari diameter dan tinggi pohon.
5. Persamaan regresi yang menggunakan diameter setinggi dada.
6. Pendugaan empiris.
2.2

Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB)


Sediaan tegakan hutan (standing stock) adalah kondisi tegakan hutan yang

ada pada saat dilaksanakan inventarisasi hutan, yang dinyatakan dalam komposisi
jenis, penyebaran ukuran diameter dan dugaan tinggi pohon penyusun tegakan,
luas areal, volume tegakan hutan, keadaan permudaan alam/tumbuhan bawah
serta bentang lahan dari areal yang diinventarisasi. Inventarisasi Hutan
Menyeluruh

Berkala

yang

selanjutnya

disebut

IHMB

adalah

kegiatan

pengumpulan data dan informasi tentang kondisi sediaan tegakan hutan (timber
standing stock), yang dilaksanakan secara berkala 1 (satu) kali dalam 10 (sepuluh)
tahun pada seluruh petak didalam kawasan hutan produksi setiap wilayah unit
pengelolaan/unit manajemen (Dephut, 2007).
Warsito (2008) menyatakan bahwa IHMB diberlakukan pada setiap
Perusahaan Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (PPHPH) namun dilaksanakan

untuk kepentingan penyusunan Rencana Kerja Pengusahaan Hutan (RKPH) yang


berlaku selama jangka waktu pengusahaan 20 tahun (masa berlakunya HPH bagi
perusahaan yang bersangkutan). Menyeluruh memiliki pengertian setiap petak
kerja di seluruh areal harus disurvei (cruising) atau dirisalah dengan metode
sampling. Sedangkan berkala yaitu harus dilakukan secara periodik setiap sekian
tahun sekali yang dianggap optimal (5 tahun sekali).
2.3 Sistem Informasi Geografis (SIG)
ESRI (1990) dalam Prahasta (2002) menyatakan bahwa, SIG adalah
kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data
geografi dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh,
menyimpan, mengupdate, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan semua
bentuk informasi yang bereferensi geografi.
SIG dapat didefinisikan sebagai perangkat lunak untuk penyimpanan,
pemanggilan kembali, transformasi dan displai data keruangan permukaan bumi
yang terdiri dari:
1. Spasial, yaitu data yang berkaitan dengan koordinat geografis (lintang, bujur
dan ketinggian).
2. Atribut, yaitu data yang tidak berkaitan dengan posisi geografis.
3. Hubungan antara data spasial, atribut dan waktu.
Jaya (2002) menyebutkan pada bidang kehutanan, SIG sangat diperlukan
guna mendukung pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah keruangan
(spasial) mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan sampai dengan pengawasan.
SIG sangat membantu memecahkan permasalahan yang menyangkut luasan
(polygon), batas (line atau Arc) dan lokasi (point). Data spasial (peta) yang umum
digunakan di bidang kehutanan antara lain adalah:

Peta Rencana Tata Ruang,

Peta Tata Guna Hutan,

Peta Rupa Bumi (kontur),

Peta Jaringan Jalan,

Peta Jaringan Sungai,

Peta Tata Batas,

Peta Batas Unit Pengelolaan Hutan,

Peta Batas Administrasi Kehutanan,

Peta Tanah,

Peta Iklim,

Peta Geologi,

Peta Vegetasi (turunan dari foto udara atau citra satelit),

Peta Potensi Sumberdaya Hutan (volume kayu, jenis, kelas umur dan
seterusnya).
Konsep IHMB adalah konsep sampling dimana pengukuran dilakukan

hanya pada sebagian (kecil) dari total area yang akan disurvei. Kegiatan sensus
dengan mengunjungi setiap unit contoh populasi untuk melakukan pengukuran
tinggi, diameter dan atau konsentrasi suatu kondisi hutan tertentu merupakan hal
yang sangat sulit, mahal, membutuhkan waktu yang lama serta tidak praktis.
Sebagai gantinya adalah dengan menggunakan data dari lokasi-lokasi titik-titik
sample input dari data yang telah diukur secara tersebar areal kerja. Dalam
ilmu, analisis spasial, selanjutnya kondisi titik-titik lainnya yang terletak di antara
titik-titik

sampel

tersebut

diestimasi

menggunakan

metode

interpolasi

permukaan (surface interpolation).


Interpolasi spasial adalah suatu tehnik untuk menghitung nilai antara
diantara dua atau lebih titik yang secara spasial berdekatan. Metode interpolasi
permukaan umumnya dilakukan dengan 2 metode: IDW dan spline.
1.

Metode IDW
Metode Inverse Distance Weighted (IDW) interpolator ini mengasumsikan
bahwa masing-masing input point mempunyai pengaruh lokal, dimana
pengaruh lokalnya akan berkurang dengan bertambahnya jarak.

2.

Metode Spline
Metode atau interpolator spline adalah metode dengan tujuan umum untuk
meminimumkan lekukan-lekukan (patahan) permukaan yang melewati titiktitik input. Metode ini sangat cocok untuk permukaan yang topografinya
bergelombang seperti permukaan air tanah, ketinggian dan atau konsentrasi
polusi yang perubahan spasialnya sangat halus. Ini sangat tidak cocok untuk

ada perubahan yang besar dalam suatu permukaan untuk jarak yang pendek,
karena hasilnya akan dapat melampaui nilai estimasi (Jaya, 2008).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Lokasi penelitian yaitu di wilayah PT Ratah Timber Kabupaten Kutai Barat,
Provinsi Kalimantan Timur (Gambar 1). Kegiatan untuk pengolahan data dimulai
pada bulan Mei 2009 sampai bulan September 2009. Pengolahan data dilakukan di
Laboratorium Remote Sensing dan GIS, Departemen Manajemen Hutan Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Gambar 1 Peta lokasi penelitian.


3.2

Bahan dan Alat


Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data

primer yaitu data hasil pengukuran pohon yang diperoleh dengan melakukan
pengukuran langsung di lapangan meliputi pengukuran terhadap diameter setinggi
dada (Dbh), diameter tajuk (Dt), tinggi total pohon (Tt), tinggi bebas cabang
(Tbc), koordinat titik pusar plot, slope (kemiringan lereng), dan jarak lapang serta
sudut arah (azimuth) dari suatu pohon terhadap titik pusat plot.

Data sekunder yaitu antara lain data mengenai keadaan umum lokasi
penelitian, data IHMB PT. Ratah Timber, dan Peta areal IUPHHK-HA.
Alat yang digunakan antara lain GPS (Global Positioning System),
Kompas, Clinometer, tali tambang sepanjang 25 meter, 10 meter, dan 2,85 meter,
Phi band (pita diameter), kamera dijital, seperangkat komputer dengan
kelengkapan Microsoft Office (Word dan Excel) dan ArcView GIS 3.2.,
kalkulator dan tally sheet.
3.3 Metode Penelitian
Tahapan dalam Pemanfaatan SIG dalam Pemetaan Penyebaran Potensi
Hutan Berbasis IHMB di IUPHHK-HA PT. Ratah Timber Kalimantan Timur antara
lain yaitu persiapan, perencanaan lapangan, pengambilan data, pengolahan data,
dan analisis SIG (Gambar 2).

PERSIAPAN

PERENCANAAN
LAPANGAN

ANALISIS SIG

PENGAMBILAN DATA
Koordinat
Jarak lapang dan sudut arah (azimuth
Parameter tegakan

PENGOLAHAN DATA
- Volume
- Koordinat

Peta sebaran potensi


Peta profil pohon

SELESAI

Gambar 2 Bagan alir tahapan penelitian.

10

3.3.1

Persiapan
Pada tahap ini, dilakukan studi pustaka tentang

penelitian

ini

dan

kegiatan IHMB. Selain itu dilakukan pula pengumpulan data sekunder mengenai
IUPHHK-HA PT. Ratah Timber Kalimantan Timur.
3.3.2

Perencanaan Lapangan
Perencanaan lapangan plot contoh (sampling unit) dilakukan berdasarkan

peta areal kerja efektif IUPHHK-HA PT. Ratah Timber. Bentuk plot contoh untuk
inventarisasi pohon pada hutan alam berbentuk empat persegi panjang (rectangular
plot) berukuran 0,25 ha dengan ukuran lebar 20 m dan panjang 125 m. Di dalam
plot tersebut dibuat empat buah sub-plot, yaitu sub-plot pancang berbentuk
lingkaran dengan jari-jari 2,82 m, sub-plot tiang berbentuk bujur sangkar berukuran
10 m x 10 m, sub-plot pohon kecil berbentuk bujur sangkar berukuran 20 m x 20 m
dan sub-plot pohon besar berbentuk empat persegi panjang berukuran 20 m x
125 m (Gambar 3).

Gambar 3 Disain plot contoh dengan 4 sub-plot (I-IV).

11

Plot contoh diletakkan dan dipilih pada jalur ukur terpilih secara sistematik
dengan jarak antar jalur telah ditetapkan sebesar 1.000 m (1 km). Penentuan
jumlah plot contoh minimal IHMB di PT. Ratah Timber didasarkan pada
ketentuan Permenhut No. 34 Tahun 2007, seperti yang terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Jumlah plot yang perlu dibuat untuk kelas luasan efektif tertentu
Luas Efektif
IUPHHK
(ha)

Perkiraan
JL

Jumlah
Plot contoh

Lw
2

JP

IS

(m)

(m /plot)

(m)

(%)

(plot)

< 10.000

200

1000

500.000

500

0.50

10.000 - < 20.000

300

1000

500.000

500

0.50

20.000 - < 30.000

400

1000

625.000

625

0.40

30.000 - < 40.000

500

1000

700.000

700

0.36

40.000 - < 50.000

600

1000

750.000

750

0.33

50.000 - < 60.000

650

1000

846.154

850

0.30

60.000 - < 70.000

750

1000

866.667

870

0.29

70.000 - < 80.000

850

1000

882.353

880

0.28

80.000 - < 90.000

950

1000

894.737

895

0.28

90.000 - < 100.000

1000

1000

1.000.000

1.000

0.28

100.000

1200

1000

1.250.000

1.250

0.20

Keterangan: Luas yang diwakili oleh satu plot (Lw), jarak antar plot dalam jalur (JP), dan intensitas
sampling (IS) pada tabel ini dihitung berdasarkan luas dari nilai tengah kisaran.

IUPHHK-HA PT. Ratah Timber memiliki areal efektif seluas 64.457 ha


yang terdiri dari hutan primer (virgin forest) seluas 3.449 ha dan hutan bekas
tebangan seluas 61.008 ha. Berdasarkan Tabel 1, jumlah plot contoh PT. Ratah
Timber diperkirakan minimal sebanyak 750 buah plot dan direncanakan 754 plot
contoh terealisasikan di lapangan. Sedangkan dalam penghitungan jarak antar plot
menggunakan rumus sebagai berikut:
Jarak antar Plot (JP) =

Luas Efektif IUPHHK (m2)


Jumlah plot contoh (n)

= 644.570.000 m2
754

1
1000

= 854,87 meter

1000

12

Untuk mempermudah pengukuran di lapangan dalam mengukur jarak plot,


perhitungan jarak antar plot dari angka 854,87 meter dibulatkan menjadi 855
meter.
3.3.3

Pengambilan Data

3.3.3.1 Pengukuran koordinat titik ikat


Titik ikat yang ditentukan berupa bentuk-bentuk fisik permanen seperti
simpang sungai, simpang jalan, jembatan atau landmark lainnya. Titik ini
dimaksudkan untuk menentukan lokasi awal plot contoh dengan mengukur jarak
dan sudut arah (azimuth) dari titik ikat. Pengukuran koordinat titik ikat dapat
diukur dengan GPS atau menggunakan koordinat peta yang ada.
3.3.3.2 Pengukuran jarak dan sudut arah (azimuth)
Setiap pohon yang terdapat pada plot contoh berukuran 20 m x 20 m,
diukur jarak dan sudut azimuthnya dari pusat plot contoh untuk penggambaran
profil pohon.
3.3.3.3 Pengukuran parameter tegakan
Pengukuran parameter tegakan dilakukan dari tingkat pancang, tiang, pohon
kecil (diameter 20-35 cm) hingga pohon besar (diameter 35 cm) sesuai dengan
luasan atau sub-plot yang telah ditentukan sebelumnya.
1).

Pengukuran tingkat pancang


Pada tingkat pancang, hanya dihitung jumlah keberadaannya (ada atau tidak

ada) di sub-plot lingkaran dengan jari-jari 2,82 m sesuai dengan daftar isian
pancang (Lampiran 1).
2).

Pengukuran tingkat tiang


Pengukuran tingkat tiang dilakukan didalam sub-plot 10

10 m

meliputi semua pohon hidup yang berdiameter mulai dari 10 cm hingga kurang
dari 20 cm dan dicatat di daftar isian tiang (Lampiran 2). Pengukuran diameter
dilakukan dengan menggunakan pita diameter (phi band) dalam 2 digit dengan
pembulatan terdekat.

13

3).

Pengukuran tingkat pohon kecil


Pengukuran tingkat pohon kecil dilakukan di dalam sub-plot 20 m x 20 m

pada semua pohon hidup dengan diameter mulai dari 20 cm sampai dengan 35
cm.
Data yang dikumpulkan antara lain keterangan nomor plot dan nomor jalur,
nama jenis dan kelompok jenis pohon, diameter setinggi dada atau diatas banir,
diameter tajuk terhadap empat arah mata angin, koordinat pohon atau posisi x dan
y pohon terhadap titik pusat plot 20 m x 20 m, tinggi pohon meliputi tinggi total
(Tt) dan tinggi bebas cabang (Tbc), dan kualitas pohon yang ditentukan
berdasarkan kualitas tajuk dan cacat pada batang. Semua data tersebut dicatat di
daftar isian pohon kecil (Lampiran 3).
4). Pengukuran tingkat pohon besar
Pengukuran tingkat pohon besar dilakukan di dalam sub-plot 20 m x 125 m,
pada pohon hidup dengan diameter pohon diatas 35 cm. Pendataan tingkat pohon
besar dicatat di daftar isian pohon besar (Lampiran 4). Data yang harus
dikumpulkan antara lain keterangan nomor plot dan nomor jalur, nama jenis dan
kelompok jenis pohon, diameter setinggi dada atau diatas banir, dan kualitas log
berdasarkan kelurusan dan kerusakan batang.
3.3.4

Pengolahan Data

3.3.4.1 Perhitungan volume pohon


Pada`penelitian ini volume pohon dihitung dengan menggunakan Tabel
Volume Lokal hasil penyusunan alat bantu IHMB berupa Tabel Volume, yaitu:
1. Dipterocarpaceae

: V = 0,000199 D2,43

2. Rimba Campuran

: V = 0,000199 D2,41

dimana :
V : Volume kayu bebas cabang dengan kulit (m3)
D : Diameter seringgi dada (cm)
3.3.4.2 Perhitungan volume pohon per plot
Perhitungan volume dilakukan pada semua tingkat pertumbuhan pohon
dari tingkat tiang, pohon kecil hingga pohon besar. Volume pohon per plot

14

merupakan jumlah volume semua pohon di satu plot yang dinyatakan dalam bentuk
per hektar (m3/ha). Untuk perhitungan volume per hektar didapat dari perhitungan
volume pohon yang dibagi oleh luasan plot dalam satuan hektar. Volume ini terbagi
berdasarkan kelas diameter pohon dan kelompok jenis menurut SK Menhut
No.163/Kpts-II/2003 tentang Pengelompokkan Jenis Kayu sebagai Dasar
Pengenaan Iuran Kehutanan. Untuk memudahkan perhitungan volume pohon per
plot berdasarkan kelas diameter pohon dan kelompok jenis, dapat menggunakan
Pivot Table.
3.3.4.3 Perhitungan koordinat pohon
Koordinat pohon berdiameter 20 cm hingga kurang dari 35 cm dalam satu
plot contoh, diperlukan dalam penggambaran peta profil pohon untuk menunjukkan
tingkat suksesi dari suatu tegakan hutan. Koordinat pohon dapat diketahui
berdasarkan data jarak lapang dan sudut arah pohon dari titik pusat plot contoh
yang telah ditentukan. Koordinat titik pusat plot contoh diketahui dari penggunaan
GPS atau koordinat suatu titik ikat pada peta yang sudah ada.
Penentuan koordinat pohon dengan diketahui jarak lapang dan sudut
azimuthnya dapat dihitung dengan rumus sederhana sebagai berikut:
dx = d cos
dy = d sin
Jika diketahui koordinat X1,Y1 maka koordinat X2,Y2:
X2 = X1 + dx
Y2 = Y1 + dy
dimana :
: sudut azimuth
d : jarak lapang (m)
3.3.5 Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG)
Analisis SIG yang dilakukan pada pembuatan peta penyebaran potensi yaitu
analisis permukaan (surface analysis) dengan keluaran dari analisis berupa peta
volume pohon, peta garis volume pohon, peta sebaran potensi tegakan areal
IUPHHK-HA dan peta profil pohon.

15

3.3.5.1

Peta volume pohon per plot

Pembuatan peta volume pohon per plot dilakukan dengan menggunakan


analisis pembuatan tema (theme) dari peta koordinat plot yang sudah mempunyai
atribut volume.
3.3.5.2

Peta garis volume pohon

Peta garis volume pohon dapat dibuat berdasarkan peta volume pohon per
plot yang telah dibuat sebelumnya menggunakan interpolasi spasial dengan metode
IDW (Inverse Distance Weighted).
3.3.5.3

Peta sebaran potensi tegakan areal IUPHHK-HA

Pembuatan peta sebaran potensi tegakan dilakukan dengan data inputnya


yaitu peta garis potensi. Dari peta garis potensi, dilakukan analisis TIN
(Triangulated Irregular Network) untuk kemudian dikonversi menjadi grid dan
diklasifikasi berdasarkan kelas potensi.
3.3.5.4 Peta profil pohon
Peta profil pohon dapat dibuat dari data koordinat titik pusat plot dan koordinat
pohon dari titik pusat plot dengan diketahui pula jari-jari tajuk pohon, tinggi dan
kelerengan (slope). Dengan bantuan script avenue pada ArcView GIS maka peta
profil pohon dapat digambarkan.

BAB IV
KEADAAN UMUM WILAYAH
4.1. Letak dan Luas IUPHHK-HA PT. Ratah Timber
Areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber terletak di kelompok hutan Sungai
Ratah, Kabupaten Dati II Kutai, Provinsi Dati I Kalimntan Timur. Secara geografis
terletak pada 114 55 - 115 30 Bujur Timur dan 0 2 LS - 0 15 LU. Menurut
pembagian wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), areal kerja termasuk ke
dalam Kelompok Hutan Sungai Ratah, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan
(BKPH) Mamahak Besar, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Mahakam Hulu, Dinas
Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan menurut pembagian wilayah
administratif pemerintahan termasuk dalam Kecamatan Long Hubung, Kabupaten
Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.
Batas-batas areal kerja tersebut adalah:
1.

Sebelah Utara

: KBNK, Areal Perkebunan KSU Dayakaltim Abadi dan


IUPHHK PT. INHUTANI I (eks. IUPHHK PT.
Mulawarman Bhakti)

2.

Sebelah Timur

: KBNK dan eks. IUPHHK PT. Haciendawood Nusantara


Industries

3.

Sebelah Selatan

: Hutan Lindung Batu Buring Ayok (eks. IUPHHK PT.


Budi Dharma Bhakti Djayaraya)

4.

Sebelah Barat

: Hutan Lindung Batu Buring Ayok (eks. areal kerja PT.


Gata Rota)

Luas areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber mengalami beberapa


perubahan dimulai sejak diterbitkan SK IUPHHK tahun 1970, dengan dasar sebagai
berikut:
a.

SK HPH Tahun 1970

: 125.000 ha

b.

Hutan Lindung (dikeluarkan)

: (10.000) ha

c.

Persetujuan Penggabungan Areal Eks IUPHHK PT. BDBD

: 12.000 ha

d.

Ijin Perpanjangan IUPHHK sementara (Tahun 1993)

: 127.000 ha

e.

SK Tata Batas Temu Gelang Tahun 1998

: 126.753 ha

f.

SK IUPHHK pembaharuan Tahun 2000

: 97.690 ha

17

Hasil Peta Paduserasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi


(RTRWP) dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Kalimantan Timur yaitu
Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Timur skala 1 :
125.000, areal IUPHHK terdiri dari Hutan Produksi tetap (HP) dan Hutan Produksi
Terbatas (HPT). Rincian luas areal IUPHHK PT. Ratah Timber berdasarkan fungsi
hutan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Luas areal IUPHHK PT. Ratah Timber berdasarkan peta kawasan hutan
dan perairan provinsi Kalimantan Timur
No
1
2

Fungsi Hutan
Hutan Produksi Terbatas
Hutan Produksi Tetap
Jumlah

Jumlah
ha

29.620
68.070

30.32
69.68

97.690

100

Sumber : PT. Ratah Timber, 2008

4.2. Geologi dan Tanah


Berdasarkan Peta Tanah Tinjau Kalimantan Skala 1 : 250.000 tahun 1976,
areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber memiliki tiga jenis tanah, yaitu podsolik
merah kuning, latosol dan aluvial. Luas masing-masing jenis tanah menurut Badan
Pertanahan Nasional unit Kalimantan Timur secara rinci disajikan pada Tabel 3
berikut.
Tabel 3 Luas areal IUPHHK PT. Ratah Timber berdasarkan jenis tanah
No
1
2
3

Jenis Tanah

Jumlah
ha

Podsolik Merah Kuning

81.527

83

Latosol

13.904

14

Aluvial

2.259

97.690

100

Jumlah
Sumber : PT. Ratah Timber, 2008

Tanah podsolik merah kuning terbentuk di atas wilayah berlereng datar,


landai dan agak curam. Tanah latosol terbentuk di atas formasi Batu Ayau,
sedangkan tanah aluvial terbentuk dari endapan aluvial yang terdapat pada
kelerengan datar yaitu terdapat di sekitar tepi Sungai Mahakam.

18

Formasi geologi yang terdapat di areal IUPHHK PT. Ratah Timber sebagian
besar adalah formasi Ujoh Bilang, yaitu mencakup areal seluas 79.589 ha atau 81,0
%. Formasi geologi lainnya adalah formasi Batu Pasir Lenmuring, formasi Batu
Ayau dan Endapan Aluvial (Tabel 4).
Tabel 4.

Formasi geologi di areal IUPHHK PT. Ratah Timber

Simbol

Formasi Geologi

Tou

Jumlah
ha

Formasi Ujoh Bilang

79.589

81

Toi

Formasi Batu Pasir Lenmuring

1.938

Tea

Formasi Batu Ayau

13.904

14

Qa

Endapan Aluvial

2.259

97.690

100

Jumlah
Sumber :

PT. Ratah Timber, 2008

4.3 Iklim dan Hidrologi


4.3.1 Tipe Iklim
Tipe iklim di areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber menurut sistem
klasifikasi Schmidt and Fergusson, termasuk iklim sangat basah atau tipe A dengan
jumlah bulan basah adalah 12 bulan (nilai Q = 0 %). Sedangkan menurut Cabang
Dinas Pertanian Kecamatan Long Iram (Tahun 1999), tahun 1999 curah hujan ratarata bulanan adalah 312 mm dan jumlah hari hujan bulanan rata-rata 10 hari, data
selengkapnya disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Data curah hujan bulanan dan hari hujan bulanan rata-rata
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah
Rata - rata

Curah Hujan (mm)


399
147
348
372
310
159
170
80
404
407
552
400
3748
312

Hari Hujan
11
4
6
11
9
8
9
5
17
12
17
14
123
10

Sumber : PT. Ratah Timber, 2008

19

4.3.2. Suhu dan Kelembaban Udara


Gambaran secara lengkap mengenai suhu dan kelembaban udara di areal
IUPHHK PT. Ratah Timber disajikan pada Tabel 6. Bentuk presipitasi yang terjadi
sepanjang dua puluh tahun terakhir berupa embun dan hujan air. Selama musim
penghujan, embun turun disertai kabut yang cukup pekat kira-kira sampai jam 8.00
pagi.
Tabel 6 Data suhu udara dan kelembaban udara bulanan rata-rata
No

Bulan

Suhu Udara (C)

Kelembaban Udara (%)

Januari

26,4

84,6

Februari

26,5

84,3

Maret

26,9

82,5

April

26,7

84,2

Mei

26,5

85,5

Juni

26,5

86,4

Juli

25,8

85,8

Agustus

26,1

85,1

September

26,4

84,1

10

Oktober

26,7

85,5

11

November

26,6

85,7

12

Desember

26,4

85,9

26,4

85,1

Rata-rata
Sumber : PT. Ratah Timber, 2008

4.3.3. Hidrologi
Areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber berada di dalam satu Daerah Aliran
Sungai (DAS) dengan beberapa sub DAS, yaitu: sub DAS Mahakam Ulu, sub DAS
Ratah, sub DAS Hubung, sub DAS Long Gelawang, sub DAS Benturak, sub DAS
Nyerubung, sub DAS Pari dan sub DAS Jerumai.
Hasil studi Semdal diperoleh data debit sungai dan kandungan sedimen dari
beberapa titik sungai-sungai di areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber yang
disajikan pada Tabel 7. Sedangkan prediksi laju erosi dan sedimentasi pada masingmasing sub DAS disajikan pada Tabel 8.

20

Tabel 7

Debit sungai dan kandungan sedimen dari beberapa titik sungai di areal
kerja IUPHHK PT. Ratah Timber

No

Stasiun Pengamatan

Debit

Sedimen

(m/detik)

(ton/thn)

S. Mahakam

*)

S. Benturak

1.290

0,89

S. Benturak Ilir

5.435

11,27

S. Nyerubung Hilir

19.210

19,82

S. Ratah Hulu

26.540

17,20

S. Ratah Hilir

30.784

319,17

S. Pari

7.184

5,28

*) Tidak diperoleh data


Sumber : PT. Ratah Timber, 2008

Tabel 8 Prediksi laju erosi dan sedimentasi dari masing-masing sub DAS di areal
kerja IUPHHK PT. Ratah Timber
No

Sub DAS

Luas
2

Laju Erosi

Laju Sedimentasi

(m )

Ton/ha/thn

Ton/thn

(ton/thn)

Hubung

116,23

10,30

119.73

15.564

Long Beliwan

91,45

29,13

226.39

34.631

Benturak

84,00

19,06

160.13

22.417

Nyerubungan

123,25

21,37

263.43

31.611

Pari

215,14

14,79

381.21

35.002

Jerumai

107,86

8,83

95.285

12.387

Sumber : PT. Ratah Timber, 2008

4.4. Kondisi Hutan


4.4.1. Topografi Lapangan
Hasil analisis kelas lereng berdasarkan Peta Garis Bentuk dari Potret Udara
Skala 1 : 25.000 menunjukkan bahwa sebagian besar areal kerja ( 68,50 %)
tergolong datar hingga landai. Di samping itu juga terdapat areal dengan kelerengan
> 40 % (sangat curam) seluas 705 ha. Kondisi topografi areal kerja selengkapnya
disajikan pada Tabel 9.

21

Tabel 9 Kondisi topografi areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber


Klasifikasi Kelas Lereng

Jumlah
ha

43.893

43,91

B : 9 - 15 % Landai

24.020

24,59

C : 16 - 25 % Agak Curam

16.569

16,96

D : 26 - 40 % Curam

8.512

8,71

705

0,72

4.992

5,11

97.690

100

A :0 - 8%

E : > 40 %

Datar

Sangat Curam

Tidak ada data


Jumlah
Sumber :

PT. Ratah Timber, 2008

4.4.2. Kondisi Penutupan Lahan


Hasil pengukuran planimetris terhadap peta penutupan lahan yang diperoleh
dari hasil analisis antara peta interpretasi foto udara yang dikoreksi dengan data
hasil penafsiran Citra Landsat skala 1 : 100.000 (mosaik dari liputan Mei 2006,
April 2005, Juni 2005 yang dikoreksi Baplanhut sesuai surat No. S.564/VII/Pusin1/2006) dan realisasi tebangan sampai dengan 2005 menunjukkan bahwa areal
IUPHHK PT. Ratah Timber seluas 97.690 ha terdiri dari areal hutan primer seluas
10.007 ha (10,24 %), bekas tebangan 78.072 ha (79,92 %) dan non hutan seluas
9.611 ha (9,84 %).
Hutan primer yang tersisa seluruhnya adalah hutan prenges/kerangas yang
tidak produktif yang mana sampai saat ini tidak dapat dieksploitasi, sehingga dalam
penataan dialokasikan untuk areal lindung, yang secara fisik memiliki topografi
yang bervariasi dari agak curam sampai dengan curam.
Kondisi hutan di areal kerja PT. Ratah Timber masih tergolong potensial
untuk mendukung tercapainya kelestarian hutan pada periode rotasi berikutnya,
sebab hasil analisis menunjukkan bahwa areal berhutan efektif seluas 64.457 ha
yang dapat diproyeksikan untuk mendukung kelestarian hutan.
Hasil analisa terhadap Peta Penafsiran Citra Landsat liputan tahun 2006
skala 1 : 100.000 dan interpretasi foto udara tahun 1995 skala 1 : 50.000 serta
realisasi tebangan RKT selengkapnya disajikan pada Tabel 10.

22

Tabel 10 Penutupan lahan areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber pada setiap
fungsi hutan
Penutupan Lahan

Jumlah

Kawasan Budidaya Kehutanan


HP

HPT

ha

A. Hutan Primer

5.657

4.350

10.007

10,24

B. Hutan Bekas Tebangan

53.066

25.006

78.072

79,92

C. Non Hutan
Jumlah

9.347

264

9.611

9,84

68.070

29.620

97.690

100

Sumber: PT. Ratah Timber, 2008

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) merupakan kegiatan
pengumpulan data dan informasi tentang kondisi sediaan tegakan hutan (timber
standing stock) pada seluruh petak di dalam kawasan hutan produksi setiap
wilayah unit pengelolaan. Pelaksanaan IHMB di IUPHHK-HA PT. Ratah Timber
sepenuhnya mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.34/MenhutII/2007 tentang Pedoman Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) pada
Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Produksi.
5.1

Kondisi Sediaan Tegakan Hutan


Sediaan tegakan hutan yang diinventarisasi dalam pelaksanaan kegiatan

IHMB, mencakup semua tingkat pertumbuhan pohon (pohon kecil dan pohon
besar) dan tingkat permudaan (pancang dan tiang). Dalam pendataan tingkat
pancang, data yang diambil hanya keberadaan pancang (ada atau tidak ada).
Kondisi sediaan tegakan hutan dinyatakan dalam komposisi jenis, penyebaran
ukuran diameter, volume tegakan hutan dan keadaan permudaan alam/tumbuhan
bawah.
5.1.1 Komposisi Jenis Sediaan Tegakan Hutan
Hasil kegiatan IHMB seperti tercantum pada Tabel 11, diketahui sediaan
tegakan areal PT. Ratah Timber didominasi (> 60 %) kelompok jenis kayu
meranti (KM) pada semua tingkat pertumbuhan pohon, baik tingkat tiang
(diameter 10 cm - < 20 cm), pohon kecil (diameter 20 cm - < 35 cm) ataupun
pohon besar (diameter 35 cm).
Kelompok jenis kayu meranti (KM) tingkat tiang memiliki jumlah
kerapatan terbanyak dibandingkan kelompok jenis kayu lainnya yaitu sebanyak
144 tiang/ha (70,1 %), diikuti oleh jenis rimba campuran (RC) sebanyak 41
tiang/ha (19,7 %), kayu indah (KI) sebanyak 11 tiang/ha (5,2 %) dan kayu
dilindungi (KL) sebanyak 10 tiang/ha (5 %).

24

Tabel 11 Komposisi jumlah sediaan tegakan per hektar (N/ha) berdasarkan


kelompok jenis
Kelompok jenis
Kayu meranti (KM)
Rimba campuran (RC)
Kayu indah (KI)
Kayu dilindungi (KL)
Jumlah

Tiang
N/ha
144
41
11
10
206

%
70,1
19,7
5,2
5,0
100

Tingkat pertumbuhan
Pohon Kecil
N/ha
%
47
64,5
18
24,8
4
5,6
4
5,1
73
100

Pohon Besar
N/ha
%
22
63,8
8
23,5
2
6,8
2
5,9
33,8
100

Urutan jumlah pohon terbesar hingga terkecil pada tingkat pohon kecil dan
pohon besar sama seperti pada tingkat tiang yaitu KM, RC, KI dan KL. Pohon
kecil (diameter 20-35 cm) terdiri dari 47 pohon/ha KM, 18 pohon/ha RC, 4 pohon
/ha KI dan 4 pohon/ha KL. Sedangkan pohon besar (diameter 35 cm) terdiri dari
22 pohon/ha KM, 8 pohon/ha RC, 2 pohon/ha KI dan 2 pohon/ha.
5.1.2

Penyebaran Ukuran Diameter


Sebaran jumlah sediaan tegakan berdasarkan kelas diameter didasarkan

pada selang kelas diameter dari tiang (diameter 10 cm - 20 cm), pohon kecil
(diameter 20 cm - 35 cm) hingga pohon besar (diameter 35 cm). Gambaran
histogram sebaran jumlah pohon per hektar berdasarkan kelas diameter disajikan
pada Gambar 4.

Gambar 4 Sebaran jumlah sediaan pohon per hektar (N/ha) berdasarkan kelas
diameter.

25

Gambar 4 menunjukkan kelas diameter 10 - 20 cm (tiang) memiliki


jumlah sediaan terbanyak dibandingkan jumlah sediaan kelas diameter lainnya
dengan jumlah sebanyak 205,83 pohon/ha. Adapun rincian jumlah sediaan pohon
berdasarkan kelas diameter disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran jumlah sediaan pohon per hektar (N/ha) berdasarkan kelas
diameter (cm)
Kelas Diameter
(cm)
10 - 20
20 - 30
30 - 35
35 - 40
40 - 50
50 up
Jumlah

5.1.3

Tiang
205,83
205,83

Jumlah Pohon (N/ha)


Pohon kecil
49,53
23,93
73,46

Pohon besar
6,51
9,91
17,38
33,80

Volume Tegakan Hutan


Perhitungan volume tegakan hutan di areal PT. Ratah Timber

menggunakan alat bantu IHMB berupa tabel volume lokal dengan diketahui
diameter pohonnya terlebih dahulu. Volume tegakan hutan dikelompokkan
berdasarkan kelompok jenis pohon dan kelas diameternya.
Hasil perhitungan volume tegakan berdasarkan kelompok jenis pohon
pada Tabel 13 menunjukkan bahwa volume tegakan terbesar pada masing-masing
tingkat pohon diperoleh dari jenis kayu meranti (KM) dengan persentase rata-rata
> 65 %.
Tabel 13 Sediaan volume tegakan hutan per hektar (m/ha) berdasarkan
kelompok jenis pohon
Kelompok Jenis
Kayu meranti (KM)
Rimba campuran (RC)
Kayu indah (KI)
Kayu dilindungi (KL)
Jumlah

Tiang
m/ha
%
21,55
70,56
6,00
19,65
1,38
4,52
1,61
5,27
30,54
100

Pohon kecil
m/ha
%
29,49
66,49
10,57
23,83
2,00
4,51
2,29
5,16
44,35
100

Pohon besar
m/ha
%
100,62
68,57
25,82
17,60
10,43
7,11
9,86
6,72
146,73
100

Pohon berdiameter 10 - 20 cm (tiang) terdiri dari 21,55 m3/ha (70,56 %)


kayu meranti (KM), diikuti oleh jenis rimba campuran (RC) dengan volume
sebesar 6 m3/ha (19,65 %), kayu indah (KI) sebesar 1,38 m3/ha (4,52 %) dan kayu

26

dilindungi (KL) sebesar 1,61 m3/ha (5,27 %). Sedangkan untuk pohon
berdiameter 20 - 35 cm (pohon kecil), volume pohon keseluruhan sebesar 44,35
m3/ha dengan jumlah volume pohon terbanyak diperoleh dari jenis KM yaitu
29,49 m3/ha (66,49 %) dan volume pohon terkecil diperoleh dari jenis KI sebesar
2 m3/ha (4,51 %).
Volume terbesar diperoleh dari tingkat pohon besar (diameter 35 cm)
yaitu sebanyak 146, 73 m3/ha yang terdiri dari 100,62 m3/ha (68,57 %) KM, 25,82
m3/ha (17,6 %) RC, 10,43 m3/ha (7,11 %) KI dan 9,86 m3/ha (6,72 %) KL. Hal ini
berbanding terbalik dengan kerapatan pohon, dimana tingkat pohon besar
memiliki jumlah terkecil dibandingkan tingkat pertumbuhan pohon lainnya.
Adapun sebaran volume berdasarkan kelas diameter, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 5 dan Tabel 14, jumlah terbesar didapat dari kelas
diameter 50 cm yaitu sebanyak 118,69 m3/ha. Sedangkan volume terkecil
terdapat pada kelas diameter tiang (10 - 20 cm) dengan volume sebanyak 30,54
m3/ha. Pada areal penelitian, meskipun jumlah sediaan tingkat tiang lebih besar
dibandingkan tingkat pohon besar, volume pohon besar (terutama diameter > 50
cm) lebih besar dibandingkan volume tiang. Hal ini dikarenakan pada pohon
diameter > 50 cm terdapat pohon diameter > 100 cm yang mempengaruhi nilai
volume.

Gambar 5 Volume tegakan hutan per hektar (m/ha) berdasarkan kelas diameter.

27

Tabel 14 Sediaan volume tegakan hutan per hektar (m/ha) per kelas diameter
Volume per hektar (m/ha)
Kelas Diameter (cm)
10 - 20
20 - 30
30 - 35
35 - 40
40 - 50
50 up
Jumlah

Tiang

Pohon kecil

Pohon besar

30,54
30,54

23,61
20,74
44,35

8,24
19,81
118,69
136,74

5.1.4 Kualitas Tegakan Pada Tingkat Pohon


Pendataan kualitas tegakan pada tingkat pohon juga harus dilakukan selain
pengukuran dimensi tegakan. Kualitas tegakan tingkat tiang dinilai berdasarkan
kualitas tajuk pohon yang mempengaruhi pertumbuhan tiang kedepannya.
Kualitas tajuk pohon merupakan suatu keadaan yang menjelaskan tingkat
kerusakan tajuk dari suatu pohon dan menggambarkan pertumbuhan tegakan.
Komposisi kualitas tegakan tingkat tiang disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15 Komposisi kualitas tegakan tingkat tiang
Kualitas Tajuk Pohon
1 = Tajuk bebas dari tumbuhan pemanjat, sehat, kerusakan < 20 %
2 = Kerusakan tajuk 20 50 %, atau sebagian tajuk ditutupi rotan,
tumbuhan pemanjat lain atau berdesakan dengan tajuk pohon
lain
3 = Kerusakan tajuk > 50 %, atau sebagian besar tajuk ditutupi
rotan atau tumbuhan pemanjat lain
Jumlah

Jumlah (N/ha)
142,44
60,21

%
69,20
29,25

3,18

1,55

205,84

100

Dari Tabel 15 diketahui sebanyak 69,2 % tingkat tiang memiliki kualitas


tajuk yang bebas dari tumbuhan pemanjat, sehat dan kerusakan dibawah 20 %,
sedangkan kualitas tajuk yang tergolong sedang sebesar 29,25 % dan yang
tergolong jelek hanya sebesar 1,55 %.
Kualitas batang (log) suatu pohon menentukan dapat atau tidaknya log
tersebut dimanfaatkan. Kualitas tegakan tingkat pohon kecil (20 - 35 cm)
ditentukan berdasarkan kualitas tajuk dan cacat pada batang. Gambaran mengenai
kualitas pohon kecil di areal PT. Ratah Timber disajikan dalam Tabel 16.

28

Tabel 16 memperlihatkan sebagian besar pohon kecil memiliki kualitas


tajuk pohon yang baik yaitu sebesar 62,86 %. Sedangkan pada kriteria cacat
batang sebanyak 58,84 % pohon kecil termasuk sehat.
Tabel 16 Komposisi kualitas tegakan tingkat pohon kecil
Kualitas Pohon
A. Kualitas Tajuk Pohon
1 = Tajuk bebas dari tumbuhan pemanjat, sehat, kerusakan < 20 %
2 = Kerusakan tajuk 20 50 %, atau sebagian tajuk ditutupi rotan,
tumbuhan pemanjat lain atau berdesakan dengan tajuk pohon
lain
3 = Kerusakan tajuk > 50 %, atau sebagian besar tajuk ditutupi
rotan atau tumbuhan pemanjat lain
Jumlah
A. Cacat Batang
1 = Batang sehat, tidak ada cabang mati, bengkok, retak atau
kerusakan kulit lainnya juga tidak berlubang
2 = Batang memiliki kerusakan pada kulit tetapi dapat pulih
kembali dan masih dapat dimanfaatkan
3 = Batang terbakar hingga gubal, growong, banyak mata buaya
dan tidak dapat dimanfaatkan
Jumlah

N/ha

46,19

62,86

26,46

36,01

0,83

1,13

73,47

100

43,24

58,84

29,28

39,85

0,96

1,31

73,47

100

Penentuan kualitas log untuk tingkat pohon besar dengan diameter 35


cm didasarkan pada seluruh batang bebas cabang yang dapat dimanfaatkan untuk
keperluan industri. Kualitas log dinilai berdasarkan kelurusan dan kerusakan
batang sebagaimana tercantum dalam Tabel 17.
Tabel 17 menjelaskan terdapat 70 % pohon besar yang tergolong lurus, 29,
5 % melengkung dan 0,5 % bengkok. Sedangkan berdasarkan kerusakan batang,
sebanyak 65,4 % tidak ada kerusakan/cacat, 32,5 % cacat kecil dan 2,1 %
memiliki cacat besar.
Kategori kualitas batang pada Tabel 17 menghasilkan 12 kombinasi
kategori kualitas log yang dapat dikelompokkan berdasarkan ketergunaannya,
yaitu log yang dapat dimanfaatkan dan log yang tidak dapat dimanfaatkan (Tabel
18).

29

Tabel 17 Komposisi pohon besar berdasarkan kualitas batang


Kualitas batang
Kode
A. Kelurusan Batang
Lurus
1
Melengkung

Bengkok

Terpilin
4
Jumlah
B. Kerusakan Batang
5
Tidak ada

Cacat kecil

Cacat besar

Keterangan

N/ha

Batang yang tidak melengkung, bengkok dan


terpilin.
Lebar lengkungan terdalam dari sumbu garis
lurus antara ujung dan pangkal batang lebih
dari setengah diameter ujung.
Lebar antara sumbu garis batang lurus dengan
sumbu garis batang yang bengkok lebih dari
setengah diameter ujung.
Serat kayu terpilin dari pangkal hingga ujung.

23,66

70

9,97

29,5

0,16

0,5

0
33,79

0
100

Batang sehat, tidak ada cabang mati,


bengkak, retak atau kerusakan kulit lainnya
juga tidak berlubang.
Batang memiliki kerusakan kecil atau besar
pada kulit tetapi dapat pulih kembali dan
masih dapat dimanfaatkan.
Batang terbakar hingga gubal, growong,
banyak mata buaya dan tidak dapat
dimanfaatkan

22,11

65,4

10,99

32,5

0,69

2,1

33,79

100

Jumlah

Tabel 18 Komposisi pohon besar berdasarkan ketergunaan batang (log)


Ketergunaan log
A. Dapat dimanfaatkan
15 = Lurus dan sehat
16 = Lurus dan cacat kecil
25 = Melengkung dan sehat
26 = Melengkung dan cacat kecil
35 = Bengkok dan sehat
36 = Bengkok dan cacat kecil
Jumlah (A)
B. Tidak dapat dimanfaatkan
17 = Lurus dan cacat besar
27 = Melengkung dan cacat besar
37 = Bengkok dan cacat besar
45 = Terpilin dan sehat
46 = Terpilin dan cacat kecil
47 = Terpilin dan cacat besar
Jumlah (B)
Jumlah keseluruhan (A + B)

N/ha

20,72
2,49
1,31
8,42
0,08
0,08
33,10

61,30
7,36
3,88
24,93
0,25
0,24
97,96

0,45
0,24
0,69
33,79

1,33
0,71

2,04
100

Tabel 18 menunjukkan PT. Ratah Timber memiliki tingkat kualitas yang


baik dari segi ketergunaan log (batang) dengan 97,96 % pohon berdiameter 35

30

cm termasuk pohon yang dapat dimanfaatkan dengan jumlah terbesar merupakan


jenis batang yang lurus dan tidak memiliki cacat/sehat sebanyak 61,30 %, dan
sebanyak 24,93 % batang melengkung dan memiliki cacat kecil. Sedangkan
persentase pohon yang tidak dapat dimanfaatkan hanya sebesar 2,04 % dari
persentase sediaan pohon besar keseluruhan.
5.1.5 Keadaan Permudaan Alam/Tumbuhan Bawah
Pendataan tingkat pancang pada kegiatan IHMB dilakukan untuk
mengetahui keadaan permudaan alam yang penting untuk menjaga kestabilan dan
keberlanjutan tegakan hutan. Pada tingkat pancang hanya diambil informasi
keberadaannya (ada/tidak) di sub-plot lingkaran berukuran 2,82 m. Jumlah absolut
permudaan tingkat pancang tidak dibutuhkan mengingat bahwa dinamika
mortalitasnya masih tinggi (Dephut, 2007) .
Tabel 19 Komposisi keberadaan pancang
Pancang
Ada
Tidak ada
Jumlah

Jumlah plot
562
192
754

%
74,5
25,5
100

Keberadaan pancang (Tabel 19) di areal IUPHHK-HA PT. Ratah Timber


sangat besar yaitu terdapat pada 74,5 % plot keseluruhan sedangkan plot yang
tidak terdapat pancang hanya sebesar 25,5 %. Hal ini berarti, keadaan permudaan
alam/tumbuhan yang ada masih sangat baik.
5.2

Distribusi Spasial Tegakan Hutan dan Profil Pohon


Pemanfaatan SIG dalam pengolahan spasial hasil IHMB membantu dalam

memahami data hasil pengukuran yang masih berbentuk data tabular. Pembuatan
sebaran (distribusi) spasial potensi hutan secara praktis dapat dilakukan
menggunakan interpolasi spasial dengan metode spline atau IDW pada SIG,
sehingga potensi yang ada pada petak yang tidak terwakili oleh plot contoh dapat
diketahui Adapun pembuatan profil pohon dilakukan untuk memberi gambaran
tentang site di kawasan yang bersangkutan sesuai tipe hutannya.

31

5.2.1

Distribusi Spasial Pohon Diameter 10 cm - 20 cm (Tiang)


Distribusi spasial tingkat tiang menggambarkan sebaran jumlah tiang per

hektar dengan menggunakan interpolasi SIG hasil IHMB. Gambaran distribusi


spasial kerapatan pohon per hektar diameter 10 cm - 20 cm disajikan pada
Gambar 6 dan Tabel 20.
Kelas kerapatan hasil interpolasi spasial ditunjukkan oleh gradasi warna
(tone), dimana semakin tinggi kelas maka semakin gelap tone. Berdasarkan
Gambar 6 dan Tabel 20, dapat dilihat bahwa kelas kerapatan yang memiliki petak
terbanyak terdapat pada tone yang paling muda yaitu kelas 0 - 127 N/ha. Kelas
tersebut terdapat di 350 petak dan luasannya mencapai 28.956,84 ha. Kelas
kerapatan 127 - 253 N/ha, yang menempati urutan kedua terbanyak, terdapat di
230 petak dengan luas 20.582,23 ha. Sedangkan luas kerapatan 633 - 759 N/ha
menempati urutan terendah dengan luasan sebesar 1.180,75 ha dari 13 petak.
Tabel 20 Sebaran kerapatan pohon diameter 10 cm - 20 cm (tiang)
No.

Kelas Kerapatan (N/ha)

1
2
3
4
5
6

0 - 127
127 - 253
253 - 380
380 - 506
506 - 633
633 - 759
Jumlah

Jumlah
Petak
350
230
149
81
34
13
857

Luas (ha)
28.956,84
20.582,23
13.516,70
7.603,01
2.739,63
1.180,75
74.579,17

5.2.2 Distribusi Spasial Pohon Diameter 20 cm 35 cm (Pohon Kecil)


Pohon kecil (diameter 20 cm - 35 cm) merupakan potensi tegakan yang
diharapkan akan menjadi sediaan tegakan pada periode daur berikutnya. Dengan
tersedianya sediaan tingkat pohon kecil yang cukup, maka pengelolaan hutan
lestari akan tercapai dalam pengusahaan areal IUPHHK-HA PT. Ratah Timber.
Pengolahan data spasial pada pohon kecil yang dilakukan adalah kerapatan
pohon (N/ha) yang sebelumnya dikelompokkan menjadi 2 yaitu, jenis komersial
dan semua jenis. Jenis komersial dipilih sesuai dengan lampiran SK. Menhut No.
163/Kpts-II/2003 Tentang Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan
Iuran Kehutanan, antara lain kelompok jenis kayu meranti/kelompok komersial

32

Gambar 6 Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 10 cm - 20 cm.

33

satu, kelompok jenis kayu rimba campuran/kelompok komersial dua, dan


kelompok jenis kayu indah.
Distribusi spasial kerapatan pohon kecil untuk jenis komersial
digambarkan pada Gambar 7 dan Tabel 21, sedangkan untuk seluruh jenis
digambarkan pada Gambar 8 dan Tabel 22. Gambar 7 memperlihatkan kelas
kerapatan pohon kecil jenis komersial terendah (0 - 43 N/ha) memiliki luasan
yang besar yaitu 26.488,52 ha, dibandingkan kelas kerapatan tertinggi (213 - 256
N/ha) yang hanya memiliki luas sebesar 821,11 ha.
Tabel 21 Sebaran kelas kerapatan pohon diameter 20 cm - 35 cm (pohon kecil)
jenis komersial
No.

Kelas Kerapatan (N/ha)

1
2
3
4
5
6

0 43
43 85
85 128
128 171
171 213
213 256
Jumlah

Jumlah
Petak
322
250
175
70
30
10
857

Luas (ha)
26.488,52
22.473,04
15.883,36
6.454,29
2.458,87
821,11
74.579,20

Sama seperti pohon kecil jenis komersial, hasil distribusi spasial pada
pohon kecil semua jenis juga menunjukkan jumlah petak terbanyak hanya
memiliki nilai kerapatan berkisar 0 - 46 pohon/ha yang diikuti oleh kelas
kerapatan 46 - 93 ha. Selain itu pola distribusi kerapatan kelas diameter 10 cm 20 cm (tiang) dan 20 cm - 35 cm (pohon kecil) memiliki pola yang sama yaitu
kelas kerapatan tertinggi (tone gelap) terdapat di daerah barat areal efektif PT.
Ratah Timber dan kelas kerapatan sedang terdapat di daerah tengah.
Tabel 22 Sebaran kelas kerapatan pohon diameter 20 cm - 35 cm (pohon kecil)
semua jenis
No.

Kelas Kerapatan (N/ha)

1
2
3
4
5
6

0 - 46
46 - 93
93 - 139
139 - 185
185 - 232
232 - 278
Jumlah

Jumlah
Petak
329
266
164
62
28
9
857

Luas (ha)
27.035,36
23.984,86
14.892,64
5.762,79
2.103,55
799,99
74.579,19

34

Gambar 7 Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 20 - 35 cm jenis komersial.

Gambar 8 Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 20 - 35 cm semua jenis.


35

36

5.2.3

Distribusi Spasial Pohon Diameter 35 cm up (Pohon Besar)


Interpolasi spasial pada pohon diameter 35 cm up dilakukan untuk

mengetahui distribusi/sebaran dari kerapatan pohon, dan volumenya dari semua


jenis. Sedangkan untuk jenis komersial, interpolasi spasial dilakukan pada kelas
diameter 50 cm. Hal ini untuk mengetahui sebaran kerapatan dan volume kelas
diameter 50 cm yang terdapat di areal Hutan Produksi Terbatas (HPT) sesuai
sistem silvikultur TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia).
Distribusi spasial pohon besar semua jenis untuk kerapatan pohon
digambarkan pada Gambar 9 dan Tabel 23, sedangkan volume disajikan pada
Gambar 10 dan Tabel 24.
Tabel 23 Sebaran kelas kerapatan pohon diameter 35 cm up semua jenis
No.

Kelas Kerapatan (N/ha)

1
2
3
4
5
6

0 - 24
24 - 48
48 - 73
73 - 97
97 - 121
121 - 145
Jumlah

Jumlah
Petak
450
208
76
66
20
37
857

Luas (ha)
39.782,09
18.698,38
6.515,41
6.037,83
1.507,24
2.038,23
74.579,19

Gambar 9 menunjukkan kelas kerapatan tertinggi terdapat di daerah timur


areal IUPHHK-HA PT. Ratah Timber dengan jumlah petak sedikit. Sedangkan
petak terbanyak merupakan kelas kerapatan 0 - 24 N/ha dengan luasan mencapai
39.782,09 ha (Tabel 23).
Hasil pengolahan spasial volume pohon besar (Gambar 10 dan Tabel 24)
menunjukkan volume pohon terbanyak yaitu kelas volume terendah (0 - 146,6
m3/ha) dengan luas 50.779,54 ha dan terdapat di 587 petak. Sedangkan luasan
terkecil dimiliki oleh kelas potensi 733,1 - 879,7 m3/ha yaitu 100 hektar atau
hanya dijumpai di 1 petak.

37

Gambar 9 Distribusi spasial kerapatan pohon diameter 35 cm up semua jenis.

38

Gambar 10 Distribusi spasial volume pohon (m/ha) diameter 35 cm up semua jenis.

39

Tabel 24 Sebaran kelas volume pohon diameter 35 cm up (m3/ha) semua jenis


No.

Kelas Volume (m3/ha)

1
2
3
4
5
6

0 - 146,6
146,6 - 293,2
293,2 - 439,9
439,9 - 586,5
586,5 - 733,1
733,1 - 879,7
Jumlah

Jumlah
Petak
587
143
113
10
3
1
857

Luas (ha)
50.779,54
12.461,20
10.031,34
907,13
300
100
74.579,19

Gambaran distribusi volume secara spasial untuk kelas diameter 50 cm


(HPT) sama seperti pada pohon besar. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 11 dan
Tabel 25, dimana petak dengan tone paling muda mendominasi yaitu sebanyak
587 petak dari 857 petak keseluruhan.

Tabel 25 Sebaran kelas volume pohon diameter 50 cm jenis komersial


No.

Kelas Volume (m3/ha)

1
2
3
4
5
6

0 - 139,8
139,8 - 279,6
279,6 - 419,4
419,4 - 559,2
559,2 699
699 - 838,8
Jumlah

Jumlah
Petak
603
151
92
7
3
1
857

Luas (ha)
52.074,10
13.322,35
8.175,61
607,13
299,99
100
74.579,20

PT. Ratah Timber memiliki potensi yang tidak terlalu banyak, hal ini
dilihat dari segi kerapatan pohon ataupun volumenya, sehingga dalam pengelolaan
hutannya memerlukan perencanaan yang baik agar kesinambungan perusahaan
tetap terjaga.

40

Gambar 11 Distribusi spasial volume pohon diameter 50 cm up jenis komersial.

41

5.2.4 Peta Profil Pohon


Struktur vertikal tegakan digunakan untuk memberi gambaran tentang site
di kawasan areal yang diinventarisasi. Struktur vertikal ini dapat digambarkan
melalui pembuatan peta profil pohon dengan data yang diperlukan yaitu kordinat
pusat pohon, jari-jari tajuk pohon dan kelerengan. Pada areal PT. Ratah Timber
sebagian besar arealnya merupakan hutan sekunder atau hutan bekas
tebangan/LOA (Logged Over Area) dan berdasarkan hasil pengukuran di
lapangan, diperoleh struktur tegakannya seperti pada Gambar 12 berikut.

a. HSJ

b. HSS

c. HSR

Gambar 12 Profil pohon pada tipe-tipe hutan sekunder


Menurut kerapatan tegakannya, hutan sekunder terbagi atas hutan
sekunder jarang (HSJ), hutan sekunder sedang (HSS), dan hutan sekunder rapat
(HSR). Dari Gambar 10 dapat diketahui bahwa hutan sekunder memiliki jenis
yang heterogen atau bermacam-macam dan kerapatan tegakan dari ketiga jenis
hutan sekunder tersebut tidak berbeda jauh. Sedangkan untuk jari-jari tajuknya,
hutan sekunder rapat memiliki diameter yang bervariasi dari kecil hingga besar
dibandingkan kedua jenis hutan sekunder lainnya.
5.3 Analisis Potensi Hutan
Kondisi potensi hutan atau kayu keseluruhan menggambarkan kondisi
potensi yang berasal dari data gabungan semua tingkat pertumbuhan berdasarkan
kelas diameter. Setiap kelas diameter dibagi menjadi kelompok-kelompok
berdasarkan kelompok jenis dan kelompok pemanfaatan. Potensi hutan
berdasarkan kelompok jenis disajikan pada Gambar 4 (kerapatan pohon) dan
Gambar 5 (volume pohon).

42

Kedua histogram tersebut memperlihatkan kerapatan pohon (N/ha)


berbentuk J terbalik yaitu semakin sedikit mengikuti pertambahan kelas
diameter yang berbanding lurus dengan volumenya. Sehingga dapat dikatakan
kondisi struktur tegakan yang dikelola oleh PT. Ratah Timber termasuk normal.
Jenis kayu meranti yang dominan di areal IUPHHK-HA PT. Ratah Timber
didukung oleh jumlah volume dari pohon/kayu yang dapat dimanfaatkan. Hal ini
dapat dilihat pada Gambar 13 yang menggambarkan keadaan potensi volume
pohon sebagian besar termasuk jenis kayu yang dapat dimanfaatkan berdasarkan
kategori ketergunaan log (Tabel 18).

Gambar 13 Potensi volume per hektar (m3/ha) berdasarkan kelas diameter (cm)
dalam kelompok pemanfaatan kayu (dapat-tidak dapat).
PT. Ratah Timber meskipun memiliki struktur tegakan normal dan
didominasi oleh kelompok jenis komersial satu bernilai jual tinggi (KM), potensi
tegakan yang ada di arealnya tidak begitu tinggi. Hal ini terlihat dari hasil overlay
distribusi spasial kerapatan dan volume pohon diameter 50 cm jenis komersial
(Gambar 14).

43

Gambar 14 Distribusi spasial hasil overlay kerapatan dan volume pohon diameter 50 cm jenis komersial.

44

Tabel 26 Sebaran spasial hasil overlay kerapatan dan volume pohon diameter
50 cm jenis komersial
Kelas
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Volume
(m/ha)
0 - 279,6
0 - 279,6
0 - 279,6
279,6 - 559,2
279,6 - 559,2
279,6 - 559,2
559,2 - 838,8
559,2 - 838,8
559,2 - 838,8
Jumlah

Kerapatan
(N/ha)
0 - 28
28 - 57
57 - 85
0 - 28
28 - 57
57 - 85
0 - 28
28 - 57
57 - 85

Petak
664
21
69
35
62
2
4
857

Luas
(ha)
59.491,34
1.929,24
3.975,83
3.144,93
5.530,72
107,14
400
74.579,18

%
79,8
2,6
5,3
4,2
7,4
0,1
0,5
100

Distribusi spasial hasil overlay Gambar 14 menunjukkan PT. Ratah


Timber sebanyak 79,8 % termasuk kelas 1 (V = 0 - 279,6 m/ha; N = 0 - 28
pohon/ha) dengan luas 59.491,34 ha dari 664 petak. Sedangkan kelas volume
tertinggi (559,2 m/ha) dengan kerapatan sedang (28 - 57 pohon/ha) hanya
terdapat di 4 petak (400 ha).
Kegiatan perencanaan pengelolaan hutan yang harus dilakukan PT. Ratah
Timber harus lebih matang dan dapat mempertimbangkan hasil distribusi spasial
yang telah dilakukan sebelumnya.

Dengan asumsi besarnya riap pertumbuhan

di areal PT. Ratah Timber sebesar 1 cm/thn, maka untuk potensi tingkat tiang dan
pohon kecil pada daur selanjutnya diharapkan dapat menunjang kegiatan
pengelolaan hutan secara lestari.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1
1.

Kesimpulan
IUPHHK-HA PT. Ratah Timber memiliki komposisi sediaan tegakan, baik
kerapatan pohon ataupun volume pohon, yang didominasi oleh kelompok
kayu meranti (KM) dan diikuti oleh kelompok rimba campuran (RC), kayu
indah (KI) dan kayu dilindungi (KL). Tingkat tiang memiliki nilai
kerapatan yang tinggi dengan volume mencapai 30,54 m/ha. Sedangkan
pohon kecil memiliki volume sebanyak 44,35 m/ha dan pohon besar
memiliki volume sebanyak 146,73 m/ha. Kualitas tegakan hutan
tergolong baik berdasarkan kualitas pohonnya dengan persentase
ketergunaan log sebanyak 97,96 dapat dimanfaatkan.

2.

Distribusi potensi spasial keseluruhan menunjukkan areal PT. Ratah


Timber memiliki luasan terbesar atau petak terbanyak pada kelas potensi
terendah. Peta distribusi potensi pohon besar menunjukkan kerapatan dan
volume terbanyak terdapat pada kelas 0 - 24 N/ha dan 0 - 146,6 m/ha.
Dari pemetaan struktur vertikal tegakan hutan sekunder, dapat dilihat
bahwa jenis pohonnya merupakan heterogen dan kerapatan tegakan dari
ketiga jenis hutan sekunder tersebut tidak berbeda jauh

3.

Hasil analisis potensi dan overlay distribusi spasial pohon diameter 50


cm jenis komersial memperlihatkan kondisi struktur tegakan normal,
meskipun kondisi potensinya tidak begitu tinggi yaitu sebanyak 79,8 %
areal PT. Ratah Timber hanya memiliki kerapatan 0 - 28 pohon/ha dengan
volume 0 - 279,6 m/ha.

6.2

Saran
Perencanaan yang matang dalam penyusunan Rencana Kerja Usaha

Pengusahaan Hasil Hutan (RKUPHHK) hasil IHMB sangat dibutuhkan agar


ketersediaan tegakan di areal PT. Ratah Timber tetap terjaga untuk kelestarian
pengusahaan hutannya.

DAFTAR PUSTAKA
[Dephut] Departemen Kehutanan. 2002. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
8171/Kpts-II/2002 tentang Kriteria Potensi Hutan Alam pada Hutan
Produksi yang Dapat Diberikan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
(IUPHHK) pada Hutan Alam. Jakarta: Dephut.
[Dephut] Departemen Kehutanan. 2007a. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun
2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan,
serta Pemanfaatan Hutan. Jakarta: Dephut.
[Dephut] Departemen Kehutanan. 2007b. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P.34/Menhut-II/2007 tentang Pedoman Inventarisasi Hutan Menyeluruh
Berkala (IHMB) pada Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan
Produksi. Jakarta: Dephut.
Hirjianto K. 2003. Estimasi Potensi Volume Kayu dari Hutan Rakyat dengan
Pendekatan Foto Udara dan Peranannya Terhadap Pendapatan Petani
[skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Istitut Pertanian Bogor.
Jaya INS. 2002. Aplikasi SIG untuk Kehutanan. Bogor: Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Jaya INS. 2008. Basis Data IHMB Berbasis Sistem Informasi Geografis (Modul
Teori). Didalam: Pelatihan Perencanaan Pengelolaan Tegakan Hutan
Berbasis IHMB, 28 Juli - 3 Agustus 2008. Bogor: Fakultas Kehutanan
IPB.
Jaya INS. 2008. Perencanaan Bagan Sampling Inventarisasi Hutan Menyeluruh
Berkala (IHMB) Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Hutan
Alam (Modul Teori). Didalam: Pelatihan Perencanaan Pengelolaan
Tegakan Hutan Berbasis IHMB, 28 Juli - 3 Agustus 2008. Bogor: Fakultas
Kehutanan IPB.
Prabowo DA, Nugroho T, Palapa dan Ardiansyah H. 2005. Modul Pengenalan
GIS, GPS & Remote sensing. Dept. GIS. Jakarta: FWI.
Prahasta E. 2002. Sistem Informasi Geografis Tutorial ArcView. Bandung:
Informatika Bandung.
Prodan M. 1965. Forest Biometrics. Oxford: Pergamon Press. Translated into
English by S. H. Gardiner.

47

[PT RT] PT. Ratah Timber. 2008. Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu Hutan Alam (RKUPHHK-HA) 20 Tahunan PT. Ratah Timber
Kalimantan Timur. Jakarta.
Sobari O. 2001. Identifikasi Kelas Potensi Hutan Alam di HPH PT. Sari Buana
Dumai Propinsi Riau Menggunakan Citra Satelit Landsat ETM+ [skripsi].
Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Spurr SH. 1951. Forest Inventory. New York: The Ronald Press Company.
Warsito SP. 2008. Kelestarian Tegakan Hutan dalam PHPL: Antara Falsafah dan
Kasus Kinerja Sistem Kelestarian Pengusahaan Hutan Produksi. Didalam:
Pelatihan Perencanaan Pengelolaan Tegakan Hutan Berbasis IHMB, 28
Juli - 3 Agustus 2008. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.
Widjojo S. 1993. Pengantar
BAKOSURTANAL.

Sistem

Informasi

Geografis.

Cibinong:

LAMPIRAN

49

Lampiran 1. Contoh daftar isian data pancang


DATA PANCANG (H 1,5 m ~ < 10 cm)
Daftar Isian 1
(Plot lingkaran r = 2,82 m)
Surveyor

Regu

No. Plot

No. ID Plot

No

Nama Jenis

Kelompok Jenis

Jumlah

50

Lampiran 2. Contoh daftar isian data tiang


DATA TIANG ( < 10 cm - < 20 cm)
Daftar Isian 2
(Plot 10 m x 10 m)
Surveyor

Regu

No. Plot

No. ID Plot

No

Nama Jenis

Kelompok Jenis

Dbh (cm)

Kualitas Tajuk
*)

Ket *) Kualitas tajuk : 1 = sehat, kerusakan < 20 %, 2 = kerusakan 20 50 % (sebagian


tajuk tertutup rotan/pemanjat), 3 = kerusakan > 50 % ( > 50 % tajuk tertutup rotan
pemanjat)

51

Lampiran 3. Contoh daftar isian data pohon kecil


DATA POHON KECIL ( 20 cm 35 cm)
Daftar Isian 3
(Plot 20 m x 20 m)
Surveyor

Regu

No. Plot

No. ID Plot

Slope dari titik pusat plot (20 m x 20 m) :


Slope
No

Nama
Jenis

: SU . % ST . % SS . % & SB . %
Kelompok
Jenis

Dbh
(cm)

Tbc
(m)

Tt
(m)

Kualitas
Tajuk *)

Cacat
Batang **)

JX

JY

(m)

(m)

Lebar Tajuk
u

Ket *) Kualitas tajuk sama dengan ket. Daftar Isian 2.


**) Cacat batang : 1 = batang sehat, tidak ada cabang mati, bengkok, retak atau
kerusakan lainnya, juga tidak berlubang, 2 = cacat kecil, batang memiliki kerusakan
pada kulit tetapi dapat pulih kembali dan masih dapat dimanfaatkan, 3 = batang
terbakar hingga gubal, growing, banyak mata buaya dan tidak dapat dimanfaatkan.

52

Lampiran 4. Contoh daftar isian data pohon besar


DATA POHON BESAR ( 35 cm)
Daftar Isian 4
(Plot 20 m x 125 m)
Surveyor

Regu

No. Plot

No. ID Plot

Slope dari titik pusat plot (20 m x 20 m) :


Slope
No

: SU . % ST . % SS . % & SB . %

Nama Jenis

Kelompok Jenis

Dbh

Tbc

Kelurusan

Kerusakan

(cm)

(m)

Batang *)

Batang **)

Ket *) Kelurusan batang: 1 = batang tidak melengkung/terpilin, 2 = lebar


kelengkungan terdalam dari sumbu garis lurus antara pangkal dan ujungnya lebih kecil
dari diameter ujung, 3 = lebar lengkungan lebih besar dari diameter ujung.
**) Kerusakan batang : 1 = batang sehat, tidak ada cabang yang mati, 2 = ada
kerusakan kecil atau besar, tetapi dapat pulih kembali, 3 = batang terbakar hingga
gubal, growing, banyak mata buaya dan tidak dapat dimanfaatkan.

53

Lampiran 5. Rekap data IHMB PT. Ratah Timber


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42

IDPLOT
1003014
1003015
1003019
1003020
1003021
1003022
1003023
1003024
1003025
1003026
1003027
1004015
1004016
1004018
1004019
1004020
1004021
1004022
1004023
1004024
1004025
1004026
1004027
1004028
1005014
1005015
1005016
1005017
1005018
1005019
1005020
1005021
1005022
1005023
1005024
1005025
1005026
1005027
1006013
1006014
1006015
1006016

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
700
400
100
600
300
400
300
400
300
100
0
600
600
500
500
500
400
400
0
300
0
200
100
0
600
700
600
700
700
700
800
300
600
500
300
400
200
0
500
500
700
900

20-35
225
200
150
200
75
125
100
175
75
50
75
175
225
175
175
175
100
100
50
75
150
50
100
50
225
225
225
250
150
225
175
100
125
150
150
75
100
75
175
200
300
250

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

124
72
52
96
76
92
92
108
124
144
36
72
104
124
108
88
132
56
48
28
76
36
72
52
104
84
76
120
88
124
72
104
60
84
60
100
96
80
84
92
112
76

112
48
52
72
52
72
80
60
104
96
20
60
84
108
80
68
100
40
36
20
52
8
56
28
88
80
60
88
68
92
52
68
52
64
44
76
60
52
64
72
96
64

76
28
16
36
24
52
20
20
36
44
16
40
44
64
32
36
52
24
8
4
20
4
20
12
52
60
28
56
48
48
28
16
28
44
24
32
36
32
40
28
48
52

10-20

20-35

35up

40up

50up

123,96
80,55
5,36
120,35
26,46
67,07
66,84
48,69
57,06
15,88
0
97,01
96,84
81,38
74,99
64,63
62,63
61,61
0
27,50
0
41,79
15,88
0
78,85
89,51
97,96
123,00
113,71
107,39
109,60
52,20
75,36
69,84
66,02
59,60
21,90
0
72,50
73,46
114,61
144,49

139,86
102,29
90,98
134,89
26,42
75,97
29,77
105,88
44,26
34,32
55,71
70,19
131,05
120,75
124,18
111,25
49,78
53,20
27,15
56,23
85,63
24,85
61,37
31,93
138,95
147,52
119,42
138,40
95,95
143,04
108,07
40,61
75,71
94,57
79,83
66,30
51,27
40,48
93,32
101,98
174,20
151,17

554,66
232,12
137,79
349,18
356,00
510,79
367,41
232,13
420,92
488,28
164,59
340,11
454,81
499,02
320,27
290,06
435,57
274,28
114,01
145,14
217,20
65,04
249,87
145,10
393,66
379,73
237,42
449,67
363,58
396,98
265,91
328,43
224,63
291,98
188,65
410,18
458,80
308,46
269,39
243,19
429,34
290,82

539,47
200,66
137,79
317,00
326,70
485,68
352,01
169,92
395,52
426,75
143,66
326,33
429,17
478,83
283,26
265,95
394,69
255,34
98,58
135,86
185,39
29,68
230,23
117,16
372,00
373,88
216,16
408,83
336,18
356,82
240,51
282,19
215,00
266,61
168,35
383,20
413,42
273,19
243,69
216,13
407,66
274,33

463,06
162,92
55,48
242,91
272,73
448,26
223,80
93,39
246,74
307,13
133,97
281,47
354,93
392,57
177,43
200,38
290,04
224,91
43,22
109,09
118,88
19,50
166,98
90,65
304,52
336,49
156,41
339,81
298,12
256,67
187,46
167,97
164,36
226,71
122,89
288,34
364,83
231,61
190,17
133,72
319,59
251,86

54

Lampiran 5. (Lanjutan 1)
No.
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86

IDPLOT
1006017
1006018
1006019
1006020
1006021
1006022
1006023
1006024
1006025
1006026
1006027
1007011
1007013
1007014
1007015
1007016
1007017
1007018
1007019
1007020
1007021
1007022
1007023
1007024
1007025
1007026
1007027
1008011
1008012
1008013
1008014
1008015
1008016
1008017
1008018
1008019
1008020
1008021
1008022
1008023
1008024
1008025
1008026
1008027

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
800
600
700
900
500
700
300
400
200
100
100
100
700
700
800
800
800
600
500
700
500
600
600
600
400
200
0
0
100
0
100
0
0
100
200
200
0
100
0
100
0
100
0
100

20-35
250
250
275
250
150
225
125
225
100
0
75
50
350
275
375
275
225
250
225
250
250
200
200
225
75
75
75
50
50
50
25
50
50
50
50
50
50
50
25
50
25
50
50
50

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

88
116
108
120
100
120
120
132
124
48
112
12
136
72
124
116
108
68
104
72
112
100
108
60
120
24
56
12
8
16
16
12
8
16
16
16
12
12
12
8
8
12
36
28

76
108
80
88
84
84
100
116
80
40
64
8
112
64
100
100
80
48
76
56
108
92
96
52
60
20
36
8
4
12
12
8
8
16
12
12
8
8
4
8
8
12
24
24

56
64
44
36
68
60
56
72
20
32
32
4
60
32
60
64
52
36
44
24
96
64
56
32
36
4
20
4
0
8
8
0
4
12
12
8
0
4
0
4
4
8
16
20

10-20

20-35

35up

40up

50up

128,20
109,60
124,85
146,97
57,76
121,58
45,17
66,89
16,06
24,02
18,38
8,34
119,91
96,81
120,58
135,09
127,38
100,41
88,10
110,46
70,09
81,10
97,69
69,55
48,92
10,71
0
0
7,94
0
10,13
0
0
10,13
31,97
23,22
0
22,34
0
22,34
0
21,09
0
8,34

162,08
145,45
162,47
144,26
82,63
145,86
76,30
144,52
49,32
0
48,28
32,07
230,74
178,80
228,68
167,36
128,78
157,53
140,00
165,70
143,65
118,60
124,30
153,98
44,34
46,45
39,89
33,02
27,58
26,18
14,96
30,47
33,35
30,73
37,28
28,31
31,71
25,70
21,10
32,12
12,79
32,07
20,53
29,69

376,37
429,05
382,68
370,32
509,54
450,77
443,84
544,59
369,33
304,52
386,68
25,55
465,57
280,27
528,21
455,86
368,27
262,84
326,58
175,08
637,32
477,72
414,64
211,41
285,79
63,12
194,67
26,10
13,69
35,13
52,37
22,86
22,10
55,37
50,80
43,27
23,20
23,67
17,34
18,18
20,98
29,95
167,82
116,15

360,92
418,83
345,95
330,50
490,31
405,52
418,12
524,61
314,83
294,84
327,32
21,07
433,93
268,99
498,60
435,28
330,93
239,01
290,56
154,11
632,17
467,08
398,56
199,71
215,85
57,97
170,25
21,29
9,21
30,63
48,18
17,71
22,10
55,37
46,30
38,46
17,71
18,23
7,42
18,18
20,98
29,95
153,98
111,65

327,29
328,82
271,51
229,29
456,64
358,20
325,73
423,65
190,24
276,13
260,16
12,33
332,85
197,18
427,35
370,08
276,82
218,77
235,44
89,05
603,35
403,76
315,25
157,80
168,33
28,01
137,36
13,00
0
21,67
39,45
0
11,91
45,94
46,30
30,17
0
12,45
0
9,90
12,45
21,67
138,02
105,87

55

Lampiran 5. (Lanjutan 2)
No.
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130

IDPLOT
1009011
1009012
1009013
1009014
1009015
1009016
1009017
1009018
1009019
1009020
1009021
1009022
1009023
1009024
1009025
1009026
1009027
1009028
1010011
1010012
1010013
1010014
1010015
1010016
1010017
1010018
1010019
1010020
1010021
1010022
1010023
1010024
1010025
1010026
1010027
1010028
1011010
1011011
1011012
1011013
1011014
1011015
1011016
1011017

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
100
100
0
100
100
0
100
200
100
100
200
400
100
100
0
400
100
100
0
100
0
100
0
0
400
0
300
0
300
300
0
200
0
200
0
200
200
0
100
100
100
0
100
300

20-35
50
25
50
50
50
50
50
25
75
50
75
75
75
100
25
100
25
0
50
50
50
75
50
50
0
25
75
75
100
125
150
25
50
0
100
75
75
50
50
25
50
50
50
25

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

12
12
12
16
16
12
20
8
12
20
16
16
40
28
8
48
32
28
8
16
16
12
16
12
20
28
32
28
16
12
32
56
36
64
44
56
28
16
12
8
16
16
16
16

8
12
12
12
12
8
16
4
12
16
16
12
32
24
8
32
28
24
4
12
12
8
16
12
16
16
24
24
16
4
32
56
24
48
32
44
20
12
8
8
12
4
12
8

8
8
8
4
8
4
4
0
8
8
8
8
24
8
4
16
12
8
0
8
4
4
8
4
8
12
20
16
8
4
24
52
20
32
28
4
12
4
0
4
8
0
8
8

10-20
22,34
14,35
0
10,13
24,02
0
22,34
24,22
10,13
13,59
13,46
37,02
14,35
13,59
0
33,40
13,59
8,34
0
25,48
0
13,59
0
0
50,92
0
36,49
0
27,05
27,64
0
27,18
0
13,46
0
14,37
11,87
0
13,59
18,38
16,78
0
8,34
43,87

20-35
26,18
21,10
25,43
34,15
40,41
30,97
34,29
14,01
57,57
32,07
54,46
34,72
27,95
43,67
11,64
52,61
19,33
0
19,28
29,69
31,18
40,72
34,25
33,35
0
12,41
38,54
46,04
48,05
51,51
99,37
12,41
19,21
0
42,91
31,43
30,44
42,54
31,74
16,35
32,97
23,42
24,90
11,64

35up

40up

50up

36,98
35,48
36,58
30,83
37,58
23,48
43,19
11,70
51,24
49,28
52,13
50,02
273,87
81,66
21,64
125,09
72,81
66,96
12,49
37,10
34,14
24,66
38,18
27,60
48,56
67,16
141,37
121,02
50,56
26,60
140,82
347,19
194,84
190,63
141,52
104,05
73,45
34,03
21,14
18,18
40,64
19,97
40,53
40,98

32,19
35,48
36,58
24,98
32,47
18,66
38,04
6,88
51,24
44,49
52,13
44,17
263,62
76,51
21,64
106,47
68,32
62,17
7,68
32,00
29,95
19,22
38,18
27,60
43,77
53,66
132,39
116,20
50,56
16,67
140,82
347,19
179,70
170,96
126,07
88,92
62,78
28,54
15,29
18,18
35,53
6,13
35,74
30,94

32,19
27,20
27,85
10,70
24,19
10,38
17,35
0
42,96
27,00
33,73
33,98
251,17
40,49
12,90
79,52
42,86
28,05
0
21,81
14,15
13,00
21,08
9,90
27,81
45,99
126,17
101,69
30,94
16,67
125,47
339,52
173,48
137,56
120,29
16,67
49,16
10,38
0
9,90
28,53
0
27,89
30,94

56

Lampiran 5. (Lanjutan 3)
No.
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174

IDPLOT
1011018
1011019
1011020
1011021
1011022
1011023
1011024
1011025
1011026
1011027
1011028
1011029
1012011
1012012
1012013
1012014
1012015
1012016
1012017
1012018
1012019
1012020
1012021
1012022
1012023
1012024
1012025
1012026
1012027
1012028
1012029
1013012
1013013
1013014
1013015
1013016
1013017
1013018
1013019
1013020
1013021
1013022
1013023
1013024

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
200
100
300
0
200
0
100
0
200
100
200
100
0
100
0
0
0
0
0
0
0
100
0
0
0
0
0
100
0
0
200
0
0
0
0
0
0
0
100
0
0
0
0
100

20-35
75
150
25
75
50
100
0
0
0
100
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
150
25
50
0
0
25
0
25
0
0
0
25
0
0
0
25
0

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

32
24
32
12
8
28
48
36
60
48
40
16
16
16
4
16
32
16
24
16
12
4
0
24
0
0
0
16
24
16
56
12
8
20
12
4
8
12
20
0
32
20
0
4

28
20
32
8
8
24
28
28
52
40
32
16
16
12
0
16
32
16
24
16
12
4
0
20
0
0
0
8
20
12
48
12
4
20
12
4
8
4
16
0
32
16
0
4

20
20
28
4
8
12
4
16
36
28
16
4
16
4
0
16
24
16
16
8
8
4
0
20
0
0
0
8
12
12
32
8
4
20
8
4
8
0
16
0
32
8
0
4

10-20
36,69
5,36
48,75
0
19,46
0
13,59
0
20,03
13,59
21,93
5,12
0
26,36
0
0
0
0
0
0
14,27
0
0
0
0
0
0
16,59
0
0
38,69
0
0
0
0
0
0
0
18,25
0
0
0
0
12,18

20-35

35up

40up

50up

44,15
84,41
12,41
27,90
20,45
63,67
0
0
0
56,89
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
119,76
14,63
32,79
0
0
11,11
0
9,45
0
0
0
20,85
0
0
0
11,11
0

125,16
127,26
133,47
26,83
55,79
64,10
78,77
93,55
220,79
149,52
90,25
32,08
72,21
30,39
5,02
130,08
162,02
88,15
83,63
70,19
50,98
130,97
0
0
0
0
0
52,11
98,52
90,67
307,06
47,49
20,85
101,41
46,90
22,71
23,81
20,61
112,51
0
366,55
78,03
0
16,68

120,97
122,76
133,47
22,64
55,79
58,60
55,64
84,87
209,79
140,85
81,87
32,08
72,21
24,60
0
130,08
162,02
88,15
83,63
70,19
50,98
125,84
0
0
0
0
0
42,03
93,49
86,16
297,21
47,49
14,70
101,41
46,90
22,71
23,81
9,12
107,80
0
366,55
72,24
0
16,68

108,53
122,76
125,19
12,45
55,79
34,89
13,49
61,11
183,11
122,62
53,31
9,90
72,21
12,50
0
130,08
146,09
88,15
68,44
51,07
43,73
125,84
0
0
0
0
0
42,03
77,29
86,16
266,09
37,28
14,70
101,41
39,49
22,71
23,81
0
107,80
0
366,55
52,14
0
16,68

57

Lampiran 5. (Lanjutan 4)
No.
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218

IDPLOT
1013025
1013026
1013027
1013028
1013029
1014014
1014015
1014016
1014017
1014018
1014019
1014020
1014021
1014022
1014023
1014024
1014025
1014026
1014027
1014028
1014029
1015015
1015016
1015017
1015018
1015019
1015020
1015021
1015022
1015023
1015024
1015025
1015026
1015027
1015028
1016015
1016016
1016017
1016018
1016019
1016020
1016021
1016022
1016023

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
0
0
0
0
300
0
0
0
100
0
0
0
0
0
200
0
0
100
100
0
0
0
400
100
100
100
200
0
0
0
100
100
0
0
100
200
200
200
300
0
100
200
300
200

20-35
0
0
0
0
0
0
25
0
25
0
25
0
50
0
75
25
25
25
0
0
25
0
0
25
25
0
0
0
0
0
25
0
25
50
0
200
50
150
150
75
75
100
50
50

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

16
8
44
0
8
28
16
8
24
20
12
16
28
28
4
20
20
12
24
28
12
24
4
60
32
16
8
24
8
32
32
32
52
36
24
36
40
108
64
52
52
104
56
88

16
8
32
0
8
24
16
4
24
16
8
12
24
28
4
20
20
8
24
16
8
16
4
56
28
12
8
20
8
28
32
28
48
36
24
32
24
88
60
48
44
84
56
64

16
4
16
0
4
16
0
4
16
16
8
12
16
20
4
20
16
4
12
8
8
16
4
40
20
8
4
12
4
28
16
24
24
20
16
8
12
56
48
36
28
48
48
44

10-20
0
0
0
0
52,41
0
0
0
20,00
0
0
0
0
0
25,16
0
0
6,04
14,27
0
0
0
29,29
7,47
5,35
12,16
38,52
0
0
0
7,60
6,04
0
0
16,59
29,11
30,86
29,11
49,50
0
17,25
31,95
44,49
16,62

20-35

35up

40up

50up

0
0
0
0
0
0
14,63
0
19,38
0
25,16
0
40,12
0
49,61
22,35
22,92
12,93
0
0
25,67
0
0
14,63
16,18
0
0
0
0
0
11,84
0
17,06
15,60
0
107,98
20,13
88,31
92,11
49,30
63,92
52,57
30,72
36,95

228,94
32,74
99,28
0
24,25
99,77
31,17
15,92
140,01
77,90
36,03
64,17
196,34
208,49
38,89
159,27
79,98
85,29
109,94
178,00
35,12
78,63
10,70
250,85
90,80
41,95
22,32
102,91
22,40
221,74
105,38
181,83
146,65
144,82
127,53
77,89
79,15
328,34
264,52
292,36
313,98
343,25
456,91
445,69

228,94
32,74
83,39
0
24,25
95,26
31,17
11,72
140,01
72,73
30,90
59,20
190,77
208,49
38,89
159,27
79,98
79,38
109,94
163,90
29,44
67,94
10,70
245,83
85,62
36,56
22,32
98,00
22,40
217,03
105,38
176,14
141,52
144,82
127,53
72,32
57,06
301,08
258,95
287,86
303,72
317,26
456,91
415,60

228,94
24,29
50,09
0
14,52
77,30
0
11,72
120,38
72,73
30,90
59,20
171,68
195,32
38,89
159,27
72,96
72,49
80,09
147,49
29,44
67,94
10,70
214,92
66,91
28,46
12,43
80,75
16,58
217,03
78,05
165,61
95,79
109,68
109,48
24,25
35,86
239,47
230,95
264,02
276,20
243,38
438,79
376,45

58

Lampiran 5. (Lanjutan 5)
No.
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240
241
242
243
244
245
246
247
248
249
250
251
252
253
254
255
256
257
258
259
260
261
262

IDPLOT
1016024
1016025
1016026
1016027
1016028
1017016
1017017
1017018
1017019
1017020
1017021
1017022
1017023
1017024
1017025
1017026
1017027
1018017
1018018
1018019
1018020
1018021
1018022
1018023
1018024
1018025
1018026
1018027
1019017
1019018
1019019
1019020
1019021
1019022
1019023
1019024
1019025
1019026
1019027
1020018
1020019
1020020
1020021
1020022

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
300
600
300
100
400
300
200
200
300
100
400
200
300
300
300
500
500
300
300
100
100
200
300
100
300
500
200
300
100
200
200
0
300
100
400
0
300
200
100
100
200
100
0
200

20-35
25
125
275
100
125
100
75
25
50
75
125
75
75
75
50
25
25
100
100
50
100
50
25
100
75
75
50
125
50
100
75
25
25
75
100
100
175
50
175
75
75
25
100
100

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

48
84
28
80
52
92
72
76
144
116
80
76
100
88
100
68
72
16
52
76
84
96
76
68
76
96
72
44
20
40
24
76
60
68
104
56
76
64
108
32
24
72
68
88

40
60
24
72
32
76
68
64
128
104
72
52
84
64
88
68
60
12
52
68
72
84
68
48
76
88
60
32
12
36
8
68
52
52
88
48
60
44
92
20
12
60
48
68

16
36
8
48
12
36
36
28
84
60
52
36
52
40
44
52
24
8
36
52
52
48
44
28
48
48
36
16
12
28
4
52
32
28
52
36
44
36
52
20
8
28
32
52

10-20
48,27
54,32
72,33
24,36
64,53
73,42
27,71
22,71
56,34
9,65
62,66
32,59
67,46
55,65
45,04
76,29
95,98
35,88
35,88
18,06
23,79
40,94
43,52
27,98
54,23
68,78
24,19
57,03
18,25
44,08
35,48
0
59,73
15,79
49,17
0
37,54
25,72
17,41
16,59
41,53
24,36
0
42,42

20-35

35up

40up

50up

20,85
84,63
199,56
65,76
73,25
78,83
47,40
25,75
49,20
71,45
60,09
28,68
37,25
54,15
26,58
11,82
7,94
65,25
74,99
15,61
74,73
38,74
20,75
63,28
34,70
46,06
32,56
71,74
25,32
68,36
38,52
22,35
14,10
45,45
67,88
48,33
109,48
26,98
95,68
54,28
66,59
18,90
53,77
76,63

123,03
328,34
69,33
372,44
101,55
289,44
362,21
217,22
673,50
557,46
373,55
291,99
480,85
319,66
434,16
404,08
283,53
88,91
282,10
479,84
403,86
440,76
326,95
294,99
496,22
456,43
293,93
138,00
71,24
159,07
42,13
490,80
247,81
377,97
464,54
252,51
350,50
353,57
577,14
100,02
85,47
330,34
389,58
345,09

112,06
298,12
64,66
361,75
75,78
269,93
357,70
202,49
653,68
540,83
363,61
262,33
460,91
286,83
419,97
404,08
267,69
82,88
282,10
469,14
388,93
423,35
317,55
268,44
496,22
447,56
277,71
122,12
59,96
153,50
19,24
479,84
236,67
356,05
443,32
243,74
329,70
326,82
554,88
84,10
68,76
316,66
361,15
320,77

64,47
245,89
34,67
312,65
37,62
185,11
290,78
124,61
567,54
450,61
322,18
229,84
402,88
239,24
331,80
367,77
195,31
74,06
249,49
433,48
347,33
346,86
271,11
232,13
437,79
368,47
226,28
95,40
59,96
137,92
11,20
451,56
197,67
308,46
369,59
218,41
295,46
312,52
472,83
84,10
60,66
252,38
325,32
283,88

59

Lampiran 5. (Lanjutan 6)
No.
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273
274
275
276
277
278
279
280
281
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306

IDPLOT
1020023
1020024
1020025
1020026
1020027
1021019
1021020
1021021
1021022
1021023
1021024
1021025
1021026
1021027
1021028
1022019
1022020
1022021
1022022
1022023
1022024
1022025
1022026
1022027
1022028
1022029
1022030
1023020
1023021
1023022
1023023
1023024
1023025
1023026
1023027
1023028
1023029
1023030
1023031
1023032
1024020
1024021
1024022
1024023

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
200
0
0
0
300
100
100
0
200
200
300
300
0
100
400
200
0
200
100
200
100
100
200
200
100
200
300
500
200
200
0
200
300
200
200
100
100
400
300
100
300
300
0
200

20-35
25
75
0
175
25
75
75
100
25
50
25
25
25
150
50
75
150
50
25
75
50
25
75
25
125
100
0
75
100
25
75
25
75
75
0
50
100
0
50
50
75
100
25
100

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

88
108
80
100
64
28
40
32
40
68
76
72
60
52
56
32
52
44
52
92
52
40
32
64
56
32
36
60
40
40
36
32
52
32
40
48
64
32
20
32
20
24
32
36

68
76
64
68
48
24
20
16
40
64
68
44
44
36
40
24
44
40
44
76
28
40
24
56
36
28
32
52
32
32
32
32
44
32
36
44
44
24
20
32
20
24
24
24

32
48
28
40
24
16
8
4
32
48
40
36
32
20
28
8
40
32
40
60
8
32
12
32
32
24
32
40
28
20
20
20
32
32
28
24
24
24
20
24
16
24
12
24

10-20
37,25
0
0
0
20,82
16,59
11,50
0
36,75
35,48
47,18
38,35
0
16,59
39,64
38,01
0
32,81
12,18
16,50
12,84
10,24
48,64
18,76
7,98
15,49
40,85
76,25
26,23
33,20
0
20,01
52,07
40,38
21,23
10,86
12,84
59,92
38,38
15,79
40,65
29,21
0
25,22

20-35

35up

40up

50up

7,27
41,16
0
133,50
22,35
61,99
54,28
60,13
0
31,51
14,21
11,47
7,27
104,95
21,82
32,61
83,45
39,37
23,45
44,45
22,55
21,28
72,66
9,72
74,05
60,80
0
49,71
70,03
11,47
45,31
15,93
62,97
62,52
0
34,37
37,45
0
47,48
33,74
54,23
89,10
20,24
53,49

337,87
385,14
238,35
361,86
307,84
130,77
113,77
56,71
274,02
449,23
312,60
235,25
172,89
191,45
144,57
76,00
292,31
228,64
349,18
769,74
190,90
406,71
155,08
320,39
323,37
217,89
313,49
304,89
303,80
170,20
314,12
277,21
276,03
327,02
235,41
290,95
202,48
215,19
133,92
308,89
288,94
378,50
116,20
197,56

310,34
343,12
219,36
318,94
285,99
125,20
85,57
37,55
274,02
444,56
302,45
199,78
151,08
170,98
124,42
66,62
281,13
224,14
338,48
746,54
158,34
406,71
144,33
311,37
297,45
213,38
308,47
295,15
293,37
160,16
309,09
277,21
264,77
327,02
229,84
286,03
177,31
204,33
133,92
308,89
288,94
378,50
105,25
180,99

238,10
287,06
151,87
263,85
238,50
108,24
59,32
11,72
257,82
410,40
246,80
183,34
129,00
138,96
99,83
33,20
273,72
209,09
331,06
714,72
114,88
390,20
117,62
268,27
290,68
205,07
308,47
271,20
283,00
136,06
285,44
254,02
244,29
327,02
215,22
239,87
135,15
204,33
133,92
294,37
281,53
378,50
81,76
180,99

60

Lampiran 5. (Lanjutan 7)
No.
307
308
309
310
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320
321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
334
335
336
337
338
339
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
350

IDPLOT
1024024
1024025
1024026
1024027
1024028
1024029
1024030
1024031
1024032
1024033
1024034
1025020
1025021
1025022
1025023
1025024
1025025
1025026
1025027
1025028
1025029
1025030
1025031
1025032
1025033
1025034
1025035
1025036
1026020
1026021
1026022
1026023
1026024
1026025
1026026
1026027
1026028
1026029
1026030
1026031
1026032
1026033
1026034
1026035

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
300
100
100
300
0
200
0
100
0
200
200
300
400
300
200
300
500
300
400
200
300
400
0
0
0
200
500
200
0
200
300
400
400
400
300
600
100
0
100
0
100
100
100
300

20-35
25
50
125
75
50
100
25
75
50
25
100
125
225
125
75
150
150
75
125
0
125
100
75
0
25
0
50
75
75
125
100
125
150
125
125
75
50
0
50
25
50
100
25
75

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

32
48
76
48
44
36
28
32
60
16
40
32
36
44
36
32
76
44
44
32
36
48
28
44
28
0
56
20
52
32
32
52
48
76
48
28
12
36
56
68
24
48
28
44

32
40
68
28
32
32
28
32
56
8
40
32
32
44
36
28
72
44
44
28
32
48
24
44
20
0
48
16
40
24
28
48
40
76
48
28
8
32
36
60
20
48
24
32

20
24
56
12
28
32
28
28
44
8
36
32
28
36
32
24
72
44
40
24
28
32
8
44
16
0
40
12
32
24
20
44
36
68
44
28
0
32
32
56
16
44
24
28

10-20
54,25
18,25
20,00
28,80
0
28,52
0
16,59
0
49,63
12,54
42,16
50,51
42,99
18,45
39,59
47,21
22,14
37,02
23,01
41,42
47,25
0
0
0
14,56
80,53
34,97
0
23,00
25,69
50,64
35,95
41,08
37,59
55,70
25,84
0
6,97
0
6,50
20,91
7,47
31,05

20-35

35up

40up

50up

22,35
21,53
72,70
69,31
40,31
55,51
19,23
78,89
35,81
9,72
85,10
71,56
167,60
94,91
50,26
102,70
111,54
67,45
109,87
0
76,54
57,73
53,19
0
15,32
0
31,20
25,67
41,40
76,36
75,71
97,77
111,65
83,71
100,52
43,94
26,24
0
34,60
25,16
18,74
67,65
25,75
64,96

155,65
223,50
644,09
102,83
398,00
303,62
217,69
400,86
518,29
92,74
423,59
199,02
443,24
531,58
507,09
446,53
1261,51
820,87
765,47
282,05
234,79
318,57
87,58
467,65
183,79
0
592,83
153,32
254,67
164,67
132,10
663,97
559,10
939,63
798,51
512,17
19,24
182,63
331,21
572,24
164,93
629,09
178,70
353,04

155,65
213,97
634,02
75,72
382,76
298,60
217,69
400,86
512,14
83,72
423,59
199,02
438,73
531,58
507,09
442,02
1255,60
820,87
765,47
277,54
230,31
318,57
82,01
467,65
173,13
0
582,75
148,45
240,33
154,62
125,95
658,29
548,50
939,63
798,51
512,17
13,67
177,29
305,67
561,35
160,74
629,09
173,46
338,46

132,45
180,74
608,85
44,84
374,37
298,60
217,69
391,28
484,09
83,72
413,22
199,02
430,29
514,15
500,09
431,81
1255,60
820,87
755,42
268,96
219,78
286,79
53,22
467,65
166,11
0
568,48
141,03
223,79
154,62
110,54
651,77
539,54
920,62
791,74
512,17
0
177,29
296,10
552,38
153,97
622,07
173,46
331,69

61

Lampiran 5. (Lanjutan 8)
No.
351
352
353
354
355
356
357
358
359
360
361
362
363
364
365
366
367
368
369
370
371
372
373
374
375
376
377
378
379
380
381
382
383
384
385
386
387
388
389
390
391
392
393
394

IDPLOT
1026036
1026037
1027020
1027021
1027022
1027023
1027024
1027025
1027026
1027027
1027028
1027029
1027030
1027031
1027032
1027033
1027034
1027035
1027036
1027037
1028021
1028022
1028023
1028024
1028025
1028026
1028027
1028028
1028029
1028030
1028031
1028032
1028033
1028034
1028035
1028036
1028037
1028038
1029021
1029022
1029023
1029024
1029025
1029026

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
100
200
300
300
300
300
600
300
500
500
400
400
400
500
100
300
0
300
600
400
300
500
400
600
600
400
400
300
500
400
500
400
700
400
600
500
500
400
300
400
400
400
500
400

20-35
25
75
50
50
50
50
175
175
150
200
150
100
125
100
0
125
50
125
150
150
50
125
175
150
100
200
125
175
225
125
175
175
150
125
125
150
150
100
75
175
200
200
275
150

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

24
36
8
12
8
8
28
20
28
24
28
16
20
20
0
36
0
12
16
16
8
32
32
28
16
40
32
16
20
28
28
32
28
24
32
16
20
24
8
32
20
28
76
28

24
24
8
8
8
8
24
16
20
16
24
16
20
16
0
20
0
12
12
12
8
24
24
24
4
28
24
12
20
28
28
32
28
24
24
12
12
20
8
24
16
24
64
20

16
16
8
8
8
8
12
4
20
12
16
8
16
16
0
16
0
8
0
8
8
16
12
16
0
20
16
8
16
28
28
32
28
24
20
4
4
8
8
12
8
20
36
12

10-20

20-35

35up

40up

50up

7,47
11,65
43,93
41,26
39,47
54,40
62,17
39,92
76,61
69,50
38,95
64,95
54,04
49,78
8,34
29,44
0
47,47
92,32
55,81
48,17
55,59
50,05
79,15
102,09
63,40
74,23
43,96
79,75
64,25
78,77
52,80
110,66
64,13
97,43
62,38
71,08
65,16
37,26
67,62
60,09
52,05
82,19
60,74

9,72
58,04
20,34
17,22
19,36
18,26
97,76
112,46
92,05
113,59
93,88
53,48
86,27
57,18
0
83,31
26,48
85,49
101,89
104,82
21,51
72,80
108,86
98,64
62,02
112,81
89,82
109,74
118,01
81,03
105,62
103,26
99,19
69,98
70,93
101,54
102,59
65,86
35,64
108,30
132,00
118,96
164,92
93,53

218,36
196,73
28,84
32,19
28,20
49,53
82,45
41,38
105,05
74,98
92,50
95,19
87,63
166,78
0
104,20
0
39,89
26,78
49,09
36,66
90,66
91,05
78,55
24,20
106,19
94,15
40,86
87,74
118,74
146,70
299,80
130,65
229,24
109,09
33,96
66,98
82,68
25,82
82,05
52,33
106,27
301,76
71,44

218,36
180,46
28,84
27,04
28,20
49,53
77,34
35,88
93,71
64,31
87,01
95,19
87,63
162,28
0
83,90
0
39,89
21,96
43,60
36,66
79,32
79,71
72,70
7,01
89,70
83,84
36,04
87,74
118,74
146,70
299,80
130,65
229,24
98,10
28,47
56,67
77,19
25,82
70,70
46,84
100,77
285,94
61,13

203,50
164,12
28,84
27,04
28,20
49,53
51,03
11,77
93,71
57,30
71,26
78,17
81,41
162,28
0
78,12
0
30,20
0
33,91
36,66
62,62
56,40
56,95
0
74,85
70,33
29,82
80,74
118,74
146,70
299,80
130,65
229,24
89,36
11,77
39,97
53,77
25,82
45,72
29,82
93,77
228,79
45,66

62

Lampiran 5. (Lanjutan 9)
No.
395
396
397
398
399
400
401
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411
412
413
414
415
416
417
418
419
420
421
422
423
424
425
426
427
428
429
430
431
432
433
434
435
436
437
438

IDPLOT
1029027
1029028
1029029
1029030
1029031
1029032
1029033
1029034
1029035
1029036
1029037
1029038
1030021
1030022
1030023
1030024
1030025
1030026
1030027
1030028
1030029
1030030
1030031
1030032
1030033
1030034
1030035
1030036
1030037
1030038
1030039
1031021
1031022
1031023
1031024
1031025
1031026
1031027
1031028
1031029
1031030
1031031
1031032
1031033

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
500
200
300
300
400
400
400
400
400
600
400
500
600
600
400
300
500
400
400
300
500
400
400
400
300
500
500
500
400
400
400
200
400
400
300
200
100
100
0
0
400
100
100
200

20-35
175
175
150
75
100
150
150
150
0
150
150
150
125
175
150
125
200
175
175
150
175
125
125
100
100
150
150
150
150
150
125
100
125
100
75
25
100
100
100
0
100
75
100
125

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

28
24
16
24
12
16
12
16
0
24
20
20
32
24
28
20
24
40
36
44
12
16
20
20
8
16
16
20
16
20
28
24
16
16
16
12
4
8
24
4
20
20
28
16

20
16
8
12
8
12
4
16
0
20
20
16
28
16
20
16
20
32
28
24
4
12
12
8
4
8
8
12
8
16
24
20
8
12
12
12
4
8
20
4
20
20
24
12

12
12
4
0
0
8
0
12
0
12
12
12
28
4
12
12
12
16
20
20
0
0
8
0
0
0
0
4
4
8
16
20
8
12
12
12
4
8
20
4
20
20
24
12

10-20

20-35

35up

40up

50up

76,61
26,48
33,47
37,92
52,71
61,39
71,84
71,87
56,57
94,32
55,81
76,24
98,97
100,56
65,40
61,71
87,30
51,16
74,74
47,47
85,72
54,27
46,26
69,18
40,54
76,38
95,95
73,95
59,60
40,54
37,16
34,48
66,55
61,39
23,83
20,47
15,88
11,51
0
0
50,81
14,48
22,34
46,57

108,80
108,24
82,04
42,87
56,94
85,93
96,49
100,34
0
108,78
110,21
87,08
60,80
114,73
91,09
85,47
122,34
111,96
120,19
104,56
104,78
76,44
81,06
67,01
66,98
98,55
95,86
100,69
90,75
96,39
72,94
50,25
57,39
54,03
55,95
7,22
28,86
45,00
41,04
0
55,74
54,43
43,89
83,33

71,08
62,76
30,14
37,45
20,53
39,60
17,67
56,87
0
60,37
68,80
68,36
143,11
47,91
90,97
64,86
63,18
99,55
109,80
121,95
17,31
27,73
56,73
27,91
13,22
25,55
24,21
43,67
30,70
59,62
111,57
103,62
39,23
53,86
62,47
64,47
26,29
34,13
98,40
11,77
91,90
66,61
113,72
79,85

59,73
52,45
20,51
21,96
15,74
34,79
7,01
56,87
0
54,88
68,80
63,55
137,62
37,25
79,63
59,01
57,69
88,88
98,46
94,44
7,01
22,92
47,14
12,78
8,74
15,24
13,23
33,36
20,39
54,13
106,08
99,43
30,24
49,36
57,97
64,47
26,29
34,13
94,21
11,77
91,90
66,61
109,53
75,35

43,04
46,23
11,77
0
0
26,05
0
48,77
0
39,14
52,89
53,86
137,62
11,77
64,80
48,82
42,84
55,61
83,62
84,75
0
0
40,64
0
0
0
0
16,67
10,70
37,94
88,55
99,43
30,24
49,36
57,97
64,47
26,29
34,13
94,21
11,77
91,90
66,61
109,53
75,35

63

Lampiran 5. (Lanjutan 10)


No.
439
440
441
442
443
444
445
446
447
448
449
450
451
452
453
454
455
456
457
458
459
460
461
462
463
464
465
466
467
468
469
470
471
472
473
474
475
476
477
478
479
480
481
482

IDPLOT
1031034
1031035
1031036
1031037
1031038
1031039
1031040
1032021
1032022
1032023
1032024
1032025
1032026
1032027
1032028
1032029
1032030
1032031
1032032
1032033
1032034
1032035
1032036
1032037
1032038
1032039
1032040
1033021
1033022
1033023
1033024
1033025
1033026
1033027
1033028
1033029
1033030
1033031
1033032
1033033
1033034
1033035
1033036
1033037

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
300
0
200
300
400
400
400
300
300
300
400
500
300
300
200
0
300
600
400
200
300
400
400
200
300
300
400
400
100
300
600
400
500
300
400
200
200
200
300
400
200
300
300
300

20-35
100
75
75
100
125
125
125
100
125
50
125
75
125
50
150
75
300
75
150
125
125
100
25
100
125
125
200
150
50
125
100
100
125
75
0
75
100
100
100
75
175
150
100
125

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

20
8
16
16
20
16
24
12
8
12
20
20
24
28
8
8
36
44
12
16
12
16
8
16
12
16
16
16
16
16
24
16
4
40
0
12
12
28
24
16
20
20
20
4

16
8
16
16
12
16
16
12
8
12
20
20
16
28
4
4
32
40
12
12
8
16
8
16
12
12
16
16
12
16
24
16
4
40
0
8
8
20
20
12
16
20
20
4

16
8
16
16
12
12
12
12
8
12
20
20
16
28
4
4
32
20
12
12
8
16
8
16
8
8
12
16
12
16
12
16
4
40
0
8
8
8
20
12
16
20
20
4

10-20
40,54
0
41,79
49,60
77,84
56,41
74,60
64,61
51,34
51,26
70,59
44,78
46,94
47,47
32,60
0
31,84
75,58
72,95
38,22
52,20
67,68
61,66
36,69
41,21
53,47
46,33
64,25
25,48
55,34
90,20
56,37
63,37
36,04
58,98
35,44
28,01
19,45
60,99
66,88
30,69
42,82
43,67
58,57

20-35

35up

40up

50up

65,28
34,37
45,69
53,99
61,14
57,50
54,71
68,74
62,59
38,37
66,85
51,99
38,82
15,89
84,98
33,34
160,88
30,84
77,75
50,64
51,05
55,85
22,72
45,88
69,74
64,30
114,70
77,35
15,77
76,95
53,77
67,84
63,95
22,98
0
50,54
65,79
41,59
59,56
54,27
110,11
65,11
54,41
59,75

81,02
29,12
128,71
98,80
60,66
59,00
63,44
51,60
24,27
41,24
100,25
88,45
96,79
192,73
49,14
28,74
248,37
147,60
74,43
84,21
84,49
103,23
30,14
72,77
36,38
43,55
61,25
98,27
53,86
55,94
94,11
110,97
35,60
303,99
0
37,33
26,07
66,66
94,89
50,37
81,99
136,58
136,58
22,59

76,52
29,12
128,71
98,80
50,31
59,00
54,10
51,60
24,27
41,24
100,25
88,45
87,79
192,73
44,64
24,24
243,87
143,10
74,43
79,71
80,00
103,23
30,14
72,77
36,38
39,05
61,25
98,27
49,36
55,94
94,11
110,97
35,60
303,99
0
33,15
21,58
57,97
90,70
45,88
77,80
136,58
136,58
22,59

76,52
29,12
128,71
98,80
50,31
50,91
48,32
51,60
24,27
41,24
100,25
88,45
87,79
192,73
44,64
24,24
243,87
102,27
74,43
79,71
80,00
103,23
30,14
72,77
30,16
31,38
52,97
98,27
49,36
55,94
70,70
110,97
35,60
303,99
0
33,15
21,58
33,28
90,70
45,88
77,80
136,58
136,58
22,59

64

Lampiran 5. (Lanjutan 11)


No.
483
484
485
486
487
488
489
490
491
492
493
494
495
496
497
498
499
500
501
502
503
504
505
506
507
508
509
510
511
512
513
514
515
516
517
518
519
520
521
522
523
524
525
526

IDPLOT
1033038
1033039
1034021
1034022
1034023
1034024
1034025
1034026
1034027
1034028
1034029
1034030
1034031
1034032
1034033
1034034
1034035
1034036
1034037
1034038
1035021
1035022
1035023
1035024
1035025
1035026
1035027
1035028
1035029
1035030
1035031
1035032
1035033
1035034
1035035
1035036
1035037
1036021
1036022
1036023
1036024
1036025
1036026
1036027

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
300
200
200
0
300
300
500
600
300
300
300
400
500
200
300
200
200
100
300
200
600
800
500
0
100
0
200
0
0
200
0
100
0
100
200
300
100
600
400
400
400
300
100
0

20-35
100
150
175
0
200
100
100
25
100
75
50
75
175
100
75
150
100
100
175
75
125
150
200
100
0
50
75
50
25
150
50
100
0
75
50
50
25
125
175
150
150
50
0
25

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

16
0
16
0
16
20
20
12
16
12
8
8
16
12
12
16
20
28
12
16
48
32
40
24
24
44
36
40
32
60
72
52
0
36
28
96
40
44
44
36
28
48
40
28

16
0
16
0
12
20
16
8
12
0
0
4
12
8
8
12
20
28
12
12
40
28
32
16
16
24
32
32
28
44
48
36
0
28
16
64
24
40
40
24
24
40
28
24

8
0
16
0
12
20
16
8
12
0
0
4
12
8
8
12
20
28
12
4
16
8
12
16
12
16
16
20
16
28
16
16
0
12
12
44
4
12
8
8
8
12
16
8

10-20

20-35

35up

40up

50up

50,94
31,22
39,13
0
44,24
63,35
62,52
57,71
56,75
41,73
41,38
67,21
80,88
47,83
61,42
39,13
40,81
14,35
58,20
35,32
98,04
114,34
71,84
0
25,48
0
49,51
0
0
31,96
0
24,02
0
12,13
33,04
48,48
6,44
71,09
60,07
58,44
69,33
27,23
21,09
0

45,74
89,39
92,98
0
92,04
52,12
59,89
19,33
35,10
45,87
40,42
52,84
88,52
56,34
45,68
79,59
45,82
45,91
73,77
37,43
75,21
95,50
127,16
36,74
0
26,93
39,89
24,60
24,37
76,01
19,21
42,24
0
24,32
22,18
19,65
12,41
79,85
104,14
93,98
105,58
40,26
0
18,06

48,96
0
63,70
0
65,39
136,49
70,61
42,75
58,30
14,14
8,98
15,42
51,47
36,66
34,65
57,42
99,07
188,56
52,64
43,03
117,13
66,01
95,39
90,86
94,34
129,18
98,27
134,67
100,99
166,33
168,04
114,71
0
113,80
72,06
282,68
72,15
111,87
105,71
75,42
62,01
111,97
89,12
89,43

48,96
0
63,70
0
60,90
136,49
66,11
38,56
53,81
0
0
11,23
46,97
32,16
30,16
53,23
99,07
188,56
52,64
37,88
106,92
60,51
85,79
80,87
84,66
104,40
93,77
125,06
96,51
147,74
141,06
94,72
0
104,51
58,87
244,13
54,18
106,76
100,21
60,61
57,53
101,66
75,25
83,94

31,43
0
63,70
0
60,90
136,49
66,11
38,56
53,81
0
0
11,23
46,97
32,16
30,16
53,23
99,07
188,56
52,64
24,24
57,93
26,06
46,25
80,87
78,52
84,79
64,36
101,17
72,55
116,16
72,66
53,97
0
78,00
52,36
204,21
12,45
55,42
36,36
30,37
26,36
47,68
53,82
53,02

65

Lampiran 5. (Lanjutan 12)


No.
527
528
529
530
531
532
533
534
535
536
537
538
539
540
541
542
543
544
545
546
547
548
549
550
551
552
553
554
555
556
557
558
559
560
561
562
563
564
565
566
567
568
569
570

IDPLOT
1036028
1036029
1036030
1036031
1036032
1036033
1036034
1036035
1036036
1037021
1037022
1037023
1037024
1037025
1037026
1037027
1037028
1037029
1037030
1037031
1037032
1037033
1037034
1037035
1038022
1038023
1038024
1038025
1038026
1038027
1038028
1038029
1038030
1038031
1038032
1038033
1038034
1039022
1039023
1039024
1039025
1039026
1039027
1039028

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
0
100
0
100
300
100
400
0
0
500
600
200
300
400
200
300
0
0
100
200
200
0
300
300
700
700
500
400
100
0
300
0
400
300
300
200
0
600
400
500
400
200
300
200

20-35
0
0
75
175
100
100
75
100
0
150
175
125
100
75
150
50
0
0
100
50
75
25
50
25
150
225
175
100
50
0
50
0
50
125
225
25
0
125
150
125
125
75
125
100

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

12
24
40
80
40
40
20
52
72
48
36
32
28
36
40
24
24
16
48
56
44
80
28
64
40
36
44
40
48
28
52
12
48
60
28
20
8
24
28
28
32
40
24
20

12
12
36
72
36
28
4
44
48
36
36
24
28
28
40
12
24
0
48
48
36
52
24
44
36
36
40
36
40
20
44
4
24
52
24
12
0
24
24
20
32
32
24
20

0
8
16
44
28
8
4
36
36
12
12
4
8
16
28
4
12
0
32
28
24
32
8
16
16
12
16
12
20
4
32
4
12
24
12
4
0
12
12
8
16
8
8
8

10-20

20-35

35up

40up

50up

0
24,02
0
7,94
49,88
13,59
64,20
0
0
64,68
89,49
38,22
45,31
66,83
22,69
57,96
0
0
6,44
25,12
31,13
0
30,48
34,05
104,17
90,71
80,40
63,36
18,38
0
33,16
0
58,89
49,12
48,84
22,27
0
106,70
58,56
71,87
63,69
37,87
47,47
39,13

0
0
43,57
109,15
56,17
94,25
32,44
41,46
0
97,03
111,62
81,09
54,42
58,83
109,38
17,76
0
0
51,90
16,93
39,71
19,54
25,84
19,33
92,51
147,30
109,30
61,63
29,06
0
24,77
0
29,46
89,20
115,95
14,01
0
78,54
101,75
80,70
71,14
29,73
86,78
61,53

23,06
48,03
107,72
330,56
194,26
85,58
33,95
170,34
186,20
110,14
99,09
63,92
61,06
124,40
155,15
42,05
85,59
19,01
191,64
164,36
187,71
359,48
79,01
175,45
120,90
80,07
106,09
97,09
181,50
62,33
192,75
31,56
109,98
147,59
123,35
37,47
9,31
62,43
72,79
60,20
83,13
76,89
59,99
57,41

23,06
33,29
102,93
322,18
188,41
72,10
15,35
160,30
154,67
94,00
99,09
52,96
61,06
113,86
155,15
27,89
85,59
0
191,64
154,68
178,39
326,47
74,19
152,00
115,79
80,07
100,60
91,60
171,89
52,11
183,77
22,26
81,65
138,61
118,86
28,49
0
62,43
67,69
49,53
83,13
66,97
59,99
57,41

0
25,87
60,79
266,56
173,07
32,77
15,35
143,04
133,24
44,71
50,31
12,33
20,60
91,49
133,17
10,70
63,04
0
158,87
114,34
155,60
285,49
41,23
93,67
72,24
39,77
52,81
44,19
135,84
24,24
161,07
22,26
60,77
87,26
96,76
11,39
0
39,84
45,85
26,06
54,73
21,12
28,31
30,72

66

Lampiran 5. (Lanjutan 13)


No.
571
572
573
574
575
576
577
578
579
580
581
582
583
584
585
586
587
588
589
590
591
592
593
594
595
596
597
598
599
600
601
602
603
604
605
606
607
608
609
610
611
612
613
614

IDPLOT
1039029
1039030
1039031
1039032
1039033
1040022
1040023
1040024
1040025
1040026
1040027
1040028
1040029
1040030
1040031
1040032
1041022
1041023
1041024
1041025
1041026
1041027
1041028
1041029
1041030
1041031
1041032
1041033
1042023
1042024
1042025
1042026
1042027
1042028
1042029
1042030
1042031
1042032
1042033
1042034
1043023
1043024
1043025
1043026

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
300
0
100
300
0
0
400
300
300
300
400
400
400
100
400
200
0
0
100
0
0
0
0
100
100
100
0
0
100
300
0
0
0
0
0
0
100
100
0
100
0
0
0
100

20-35
150
0
125
75
0
0
125
175
150
125
125
150
175
25
50
100
0
25
0
25
0
25
25
0
0
0
25
0
0
0
0
0
0
0
25
25
50
0
0
0
50
0
25
25

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

20
60
56
40
0
0
32
28
24
28
40
28
16
36
52
48
24
52
28
56
24
16
40
36
48
48
4
8
24
32
0
16
0
20
8
28
20
28
24
64
36
32
40
20

16
48
52
20
0
0
24
24
24
24
32
24
12
28
44
36
20
44
24
52
24
16
40
28
48
44
4
8
20
24
0
16
0
16
8
28
20
24
24
52
28
28
36
16

8
24
24
8
0
0
4
16
16
4
12
8
0
12
16
20
12
16
16
44
20
12
16
16
28
40
4
8
16
16
0
12
0
12
4
20
12
16
20
24
12
16
20
4

10-20
46,83
0
25,48
59,27
0
0
59,43
50,64
34,38
42,99
52,42
63,71
45,89
15,88
66,92
46,57
0
0
22,34
0
0
0
0
25,58
22,04
18,09
0
0
9,21
48,62
0
0
0
0
0
0
8,10
17,30
0
7,52
0
0
0
7,84

20-35

35up

40up

50up

94,79
0
70,23
60,16
0
0
81,20
99,87
93,08
67,43
90,93
118,00
85,00
7,22
34,83
72,76
0
22,61
0
24,42
0
22,27
19,02
0
0
0
20,93
0
0
0
0
0
0
0
9,82
14,51
26,23
0
0
0
19,98
0
26,95
22,06

45,16
192,92
152,19
68,45
0
0
61,24
89,30
88,56
53,67
97,26
62,97
28,80
73,67
124,16
118,53
78,57
165,79
168,32
257,57
93,69
65,28
119,90
97,25
234,03
210,53
20,24
32,36
182,43
100,23
0
80,59
0
127,33
22,01
115,97
60,44
143,06
112,34
216,59
158,51
220,28
140,35
75,07

39,67
177,14
148,00
44,58
0
0
50,93
83,81
88,56
48,85
87,67
57,48
23,69
64,39
113,61
104,05
73,76
154,97
163,66
253,38
93,69
65,28
119,90
86,87
234,03
204,56
20,24
32,36
178,24
90,20
0
80,59
0
121,29
22,01
115,97
60,44
138,21
112,34
203,18
147,85
215,64
135,85
70,29

23,28
129,75
94,30
21,81
0
0
11,23
67,22
72,91
11,91
49,48
27,80
0
34,65
60,88
74,34
59,12
98,69
145,23
237,03
87,91
57,85
78,04
64,37
191,87
197,27
20,24
32,36
169,95
71,93
0
72,91
0
114,61
15,36
101,60
45,70
122,57
105,34
149,47
118,21
194,82
107,81
46,22

67

Lampiran 5. (Lanjutan 14)


No.
615
616
617
618
619
620
621
622
623
624
625
626
627
628
629
630
631
632
633
634
635
636
637
638
639
640
641
642
643
644
645
646
647
648
649
650
651
652
653
654
655
656
657
658

IDPLOT
1043027
1043028
1043029
1043030
1043031
1043032
1043033
1043034
1043035
1044023
1044024
1044025
1044026
1044027
1044028
1044029
1044030
1044031
1044032
1044033
1044034
1044035
1044036
1045022
1045023
1045024
1045025
1045026
1045027
1045028
1045029
1045030
1045031
1045032
1045033
1045034
1045035
1045036
1046022
1046023
1046024
1046025
1046026
1046027

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
0
0
0
0
0
100
100
200
0
100
0
0
100
100
0
100
0
200
0
0
0
0
0
100
0
200
100
0
0
0
0
100
0
100
0
0
200
100
0
200
0
100
0
100

20-35
0
25
0
25
25
0
25
25
0
0
0
0
25
25
0
25
75
0
0
0
0
25
0
25
0
25
25
0
0
50
0
25
0
100
25
25
0
0
0
50
0
0
75
75

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

12
12
4
36
36
12
24
32
24
20
40
0
12
24
20
36
32
40
32
28
44
20
0
16
16
20
32
8
8
36
4
16
24
56
12
16
56
24
44
28
32
36
12
24

12
12
4
32
24
4
24
28
20
20
36
0
12
24
16
28
20
36
24
24
32
8
0
12
16
20
32
8
8
32
0
12
12
32
8
12
44
24
40
20
32
32
12
24

12
12
4
20
16
4
16
16
16
12
28
0
12
16
12
24
16
24
16
8
24
4
0
8
16
20
28
0
4
20
0
8
12
20
4
12
32
20
24
12
16
24
8
4

10-20
0
0
0
0
0
17,56
11,31
34,79
0
13,59
0
0
7,01
21,16
0
6,87
0
35,93
0
0
0
0
0
5,36
0
29,19
8,34
0
0
0
0
20,87
0
22,24
0
0
17,69
6,90
0
20,31
0
20,87
0
26,80

20-35
0
7,75
0
18,06
10,35
0
7,22
17,50
0
0
0
0
9,52
8,74
0
9,00
68,04
0
0
0
0
10,13
0
8,12
0
15,23
12,41
0
0
29,41
0
22,61
0
41,26
25,64
14,13
0
0
0
24,84
0
0
61,39
52,19

35up

40up

50up

134,53
112,66
12,16
132,71
155,22
97,96
83,97
125,51
118,36
107,29
212,50
0
75,87
99,31
110,84
181,14
134,18
312,96
133,79
135,93
127,41
37,34
0
40,67
185,23
81,86
155,36
13,90
23,27
116,65
4,79
54,35
103,40
197,34
41,04
65,61
335,53
169,53
149,12
85,43
87,25
170,79
41,23
94,12

134,53
112,66
12,16
127,22
140,16
88,00
83,97
119,91
113,68
107,29
206,89
0
75,87
99,31
105,34
169,87
118,81
308,20
124,12
131,71
113,54
21,41
0
36,49
185,23
81,86
155,36
13,90
23,27
112,16
0
49,67
87,79
167,55
36,74
60,39
320,11
169,53
144,02
79,93
87,25
165,49
41,23
94,12

134,53
112,66
12,16
101,11
123,10
88,00
66,63
96,11
104,84
91,05
190,17
0
75,87
86,93
97,06
159,68
108,62
285,24
107,64
102,32
97,80
12,90
0
28,20
185,23
81,86
145,17
0
16,67
87,71
0
43,57
87,79
142,38
26,80
60,39
299,06
163,58
117,51
63,28
56,34
151,51
33,81
50,91

68

Lampiran 5. (Lanjutan 15)


No.
659
660
661
662
663
664
665
666
667
668
669
670
671
672
673
674
675
676
677
678
679
680
681
682
683
684
685
686
687
688
689
690
691
692
693
694
695
696
697
698
699
700
701
702

IDPLOT
1046028
1046029
1046030
1046031
1046032
1046033
1046034
1046035
1046036
1047016
1047017
1047021
1047022
1047023
1047024
1047025
1047026
1047027
1047028
1047029
1047030
1047031
1047032
1047033
1047034
1047035
1047036
1048016
1048017
1048018
1048019
1048020
1048021
1048022
1048023
1048024
1048025
1048026
1048027
1048028
1048029
1048030
1048031
1048032

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
0
0
0
0
0
0
0
0
0
100
100
100
100
0
200
0
400
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
100
100
100
100
100
100
100
100
200
200
0
300
100
100
0
0
0

20-35
75
50
0
0
25
50
50
25
0
0
0
0
25
0
75
25
100
25
25
25
25
25
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
25
0
25
75
75
0
100
25
25
50
0
25

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

24
40
40
56
28
24
20
8
28
4
4
4
12
4
12
12
20
8
4
4
4
8
4
4
4
4
8
4
4
4
4
8
12
4
8
20
16
0
16
0
4
4
4
8

24
32
20
48
28
24
20
8
24
0
0
0
12
4
12
4
16
8
4
4
4
8
4
4
0
0
8
4
0
4
4
4
8
0
8
16
16
0
12
0
0
4
0
4

16
24
16
16
20
16
16
8
8
0
0
0
8
4
4
4
4
4
4
0
4
4
4
4
0
0
4
0
0
0
0
4
4
0
4
12
16
0
8
0
0
0
0
0

10-20
0
0
0
0
0
0
0
0
0
12,13
16,78
12,13
7,94
0
23,64
0
64,78
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
12,13
12,13
15,88
14,35
22,34
6,44
16,78
18,38
20,78
36,99
0
42,35
25,48
17,86
0
0
0

20-35
34,25
19,69
8,09
0
13,39
31,03
21,60
19,69
0
0
0
0
9,10
0
33,15
6,80
65,59
12,21
19,24
11,93
8,93
11,30
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
12,79
0
9,52
30,60
48,95
0
67,89
16,35
22,61
31,81
0
19,33

35up

40up

50up

104,41
85,57
259,36
178,71
81,91
101,96
80,02
46,54
77,78
5,49
5,49
5,85
32,15
12,45
34,45
20,69
41,95
21,46
20,47
8,66
11,70
65,91
39,71
112,31
4,50
4,82
18,93
8,28
5,85
8,28
7,68
16,41
27,29
5,85
22,64
73,89
117,59
0
37,99
0
5,74
7,59
4,79
12,77

104,41
79,96
238,73
157,20
81,91
96,85
80,02
46,54
72,34
0
0
0
32,15
12,45
34,45
10,38
37,14
21,46
20,47
8,66
11,70
65,91
39,71
112,31
0
0
18,93
8,28
0
8,28
7,68
11,91
21,85
0
22,64
69,10
117,59
0
32,84
0
0
7,59
0
8,28

86,68
63,07
238,73
82,46
67,36
81,50
71,71
46,54
43,17
0
0
0
23,87
12,45
19,32
10,38
17,35
13,17
20,47
0
11,70
55,31
39,71
112,31
0
0
12,33
0
0
0
0
11,91
13,57
0
12,45
62,10
117,59
0
26,23
0
0
0
0
0

69

Lampiran 5. (Lanjutan 16)


No.
703
704
705
706
707
708
709
710
711
712
713
714
715
716
717
718
719
720
721
722
723
724
725
726
727
728
729
730
731
732
733
734
735
736
737
738
739
740
741
742
743
744
745
746

IDPLOT
1048033
1048034
1048035
1048036
1049016
1049017
1049018
1049019
1049020
1049021
1049022
1049023
1049024
1049025
1049026
1049027
1049028
1049029
1049030
1049031
1049032
1049033
1049034
1050018
1050019
1050020
1050021
1050022
1050023
1050024
1050025
1050026
1050027
1050028
1050029
1050030
1050031
1051022
1051023
1051024
1051025
1051026
1051027
1051028

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
200
0
0
0
100
100
100
100
100
100
100
200
100
0
300
100
0
0
0
0
0
0
0
100
100
100
100
100
0
100
300
100
500
0
0
0
100
100
0
100
0
400
300
0

20-35
50
0
25
0
0
0
0
0
0
0
0
25
50
75
125
0
0
0
50
0
25
0
0
0
0
0
0
0
0
50
100
25
125
0
0
25
25
0
25
25
75
75
0
25

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

24
16
20
4
8
8
4
4
4
4
4
4
4
12
32
16
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
8
4
16
12
20
4
0
0
8
4
8
4
20
20
16
8

24
12
16
4
4
8
4
0
4
0
0
4
4
12
32
8
0
4
4
4
4
4
4
0
4
0
4
0
8
4
12
4
20
4
0
0
8
0
8
4
12
16
16
8

16
12
12
4
0
4
4
0
0
0
0
4
0
12
28
0
0
0
4
4
0
0
0
0
0
0
0
0
4
0
8
4
16
0
0
0
4
0
4
4
8
12
12
4

10-20
37,43
0
0
0
18,38
15,88
25,48
22,34
12,13
12,13
10,13
33,04
22,34
0
48,14
8,34
0
0
0
0
0
0
0
12,13
16,78
12,13
8,34
12,13
0
14,35
28,19
25,48
60,16
0
0
0
8,34
14,35
0
14,35
0
58,98
28,39
0

20-35
27,46
0
18,55
0
0
0
0
0
0
0
0
14,01
39,15
55,39
66,90
0
0
0
40,71
0
25,09
0
0
0
0
0
0
0
0
31,74
60,48
16,35
91,68
0
0
13,65
7,64
0
12,41
14,01
46,54
52,79
0
10,13

35up

40up

50up

74,05
59,65
53,51
18,62
11,27
26,30
10,70
5,49
8,28
5,85
5,85
14,09
8,28
152,42
123,07
22,86
5,11
6,13
22,59
31,92
6,32
6,80
9,43
5,85
8,28
5,85
7,42
5,85
20,88
8,28
40,01
36,62
94,04
7,84
0
0
44,87
5,85
21,30
15,36
48,55
63,97
62,34
24,55

74,05
54,83
48,72
18,62
5,78
26,30
10,70
0
8,28
0
0
14,09
8,28
152,42
123,07
13,88
0
6,13
22,59
31,92
6,32
6,80
9,43
0
8,28
0
7,42
0
20,88
8,28
35,22
25,96
94,04
7,84
0
0
44,87
0
21,30
15,36
38,57
59,49
62,34
24,55

57,39
54,83
42,11
18,62
0
18,62
10,70
0
0
0
0
14,09
0
152,42
114,79
0
0
0
22,59
31,92
0
0
0
0
0
0
0
0
11,91
0
28,99
25,96
83,85
0
0
0
38,65
0
12,33
15,36
31,97
53,26
53,13
18,05

70

Lampiran 5. (Lanjutan 17)


No.
747
748
749
750
751
752
753
754

IDPLOT
1051029
1051030
1051031
1052024
1052025
1052026
1053026
1053027

Kerapatan pohon (N/ha)


10-20
100
0
100
100
0
100
200
100

20-35
0
25
0
0
50
0
25
0

Volume (m/ha)

35up

40up

50up

4
4
4
4
8
4
0
4

0
4
4
4
4
4
0
4

0
4
0
4
4
0
0
0

10-20
12,13
0
14,35
12,13
0
11,51
32,37
16,78

20-35
0
14,01
0
0
29,46
0
12,41
0

35up
5,49
16,67
5,78
12,90
26,27
6,22
0
7,68

40up

50up

0
16,67
5,78
12,90
21,79
6,22
0
7,68

0
16,67
0
12,90
21,79
0
0
0

71

Lampiran 6. Daftar istilah


BKPH

: Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan

CDK

: Cabang Dinas Kehutanan

DAS

: Daerah Aliran Sungai

Dbh

: Diameter setinggi dada

Dephut

: Departemen Kehutanan

Dt

: Diameter tajuk

GPS

: Global Positioning System

HA

: Hutan Alam

HP

: Hutan Produksi tetap

HPH

: Hak Pengusahaan Hutan (sekarang IUPHHK)

HPT

: Hutan Produksi Terbatas

HSJ

: Hutan Sekunder Jarang

HSR

: Hutan Sekunder Rapat

HSS

: Hutan Sekunder Sedang

HT

: Hutan Tanaman

IDW

: Inverse Distance Weighted

IHMB

: Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala

IS

: Intensitas Sampling

ITSP

: Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan

ITT

: Inventarisasi Tegakan Tinggal

IUPHHK-HA/HT

: Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam/Hutan


Tanaman

JP

: Jarak antar plot dalam jalur

JPT

: Jatah Penebangan Tahunan

KBNK

: Kawasan Budidaya Non Kehutanan

KI

: Kayu Indah

KL

: Kayu dilindungi

KM

: Kayu Meranti

KPH

: Kawasan Pemangkuan Hutan

LOA

: Logged Over Area

Lw

: Luas yang diwakili oleh satu plot

PHPL

: Pengelolaan Hutan Produksi Lestari

PPHPH

: Perusahaan Pemegang Hak Pengusahaan Hutan

72

RC

: Rimba Campuran

RKPH

: Rencana Kerja Pengusahaan Hutan

RKT

: Rencana Kerja Tahunan

RKU

: Rencana Kerja Usaha

RKUPHHK-HA/HT

: Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan


Alam/Hutan Tanaman)

RTC

: Ratah Timber Company

RTRWP

: Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

SK

: Surat Keputusan

SIG

: Sistem Informasi Geografis (GIS : Geographic Information System)

Tbc

: Tinggi bebas cabang

TGHK

: Tata Guna Hasil Kesepakatan

TIN

: Triangulated Irregular Network

Tt

: Tinggi total