Anda di halaman 1dari 14

PANDANGAN BARU DALAM PENANGANAN IRRITABLE BOWEL SYNDROME

HERNOMO KUSUMOBROTO
DIVISI GASTROENTERO-HEPATOLOGI LABORAORIUM SMF PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Dikemukakan pada : SIMPOSIUM PANDANGAN BARU DALAM PENANGANAN GANGGUAN MOTILITAS SALURAN CERNA Surabaya, 14 Agustus 2002

RINGKASAN
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan penyakit yang banyak dijumpai di masyarakat, dan ditandai keluhan khas berupa keluhan nyeri dan rasa tak enak di perut yang disertai gangguan fungsi usus yang dapat berupa perubahan kebiasaan buang air besar (bab) maupun kesulitan dalam bab. IBS merupakan bagian dari kelompok penyakit yang dikenal dengan nama Kelainan Fungsional dari Saluran Gastrointestinal. Meskipun IBS sendiri bukan merupakan penyakit yang dapat mengancam jiwa penderita, tapi pada sebagian besar penderita kelainan ini dapat menimbulkan konsekuensi berupa gangguan yang bersifat khronik dan mempengaruhi aktivitas penderita sehari-hari Prevalensi IBS pada populasi umum di negara Barat bervariasi dari 6 sampai 22%. IBS mengenai 14-24% wanita dan 5-19% pria. Prevalensi pada kelompok kulit putih sama dengan kelompok hitam Amerika, tetapi cenderung lebih rendah pada kelompok Hispanik. Di negara-negara non-Western seperti Jepang, Cina, India, dan Afrika, IBS tampaknya juga biasa ditemukan. Karena tiadanya prosedur diagnosis yang tepat untuk IBS, diagnosis dibuat berdasarkan eksklusi keluhan penderita. Enam 'Manning Criteria' dapat dipakai untuk membantu membuat diagnosis IBS, namun dalam pertemuan di Roma Italia telah dibuat konsesus baru yang merevisi kriteria tersebut (Rome Criteria I and II). Keluhan IBS juga bisa timbul setelah makan makanan tertentu yang sensitif untuk penderita tertentu. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa gangguan psikologik lebih sering ditemukan pada IBS dibanding kelainan saluran cerna yang lain maupun pada orang sehat. Ada beberapa subtipe IBS tergantung keluhan mana yang menonjol : IBS-D (bila diare yang dominan), IBS-C (dengan dominasi konstipasi), dan IBS-A (campuran diare dan konstipasi bergantian). Pengobatan IBS didasarkan pada berat dan macamnya keluhan, juga faktor psikologik penderita. Karena itu pengobatan sangat individualistis, dan dapat mencakup salah satu atau beberapa cara pengobatan berikut ini : perubahan cara hidup, pengobatan farmakologik, dan terapi psikologik. Penderita IBS subtipe konstipasi yang ringan, mungkin bermanfaat dengan diit serat. Pada beberapa penderita, khususnya tipe diare, makanan tertentu dapat memacu timbulnya keluhan, karena itu harus dihindari. Beberapa obat farmakologi dapat dicoba untuk IBS subtipe tertentu, antara lain : antispasmudik, anti-flatulant, opioid anti-diare, serta antagonis 5-HT3 (mis. alosetron dan ondansetron) dapat diberikan pada IBS subtipe diare; untuk subtipe konstipasi dapat diberikan prokinetik, atau tegaserod, suatu agonis parsial terhadap 5-HT4. Antidepresan dan terapi psikologi hanya diberikan bila keluhan sangat berat, dan berhubungan dengan distres psikologi.

PANDANGAN BARU DALAM PENANGANAN IRRITABLE BOWEL SYNDROME


HERNOMO KUSUMOBROTO DIVISI GASTROENTERO-HEPATOLOGI LABORAORIUM SMF PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

PENDAHULUAN Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan penyakit yang banyak dijumpai di masyarakat, dan ditandai keluhan khas berupa keluhan nyeri dan rasa tak enak di perut yang disertai gangguan fungsi usus yang dapat berupa perubahan kebiasaan buang air besar (bab) maupun kesulitan dalam bab. IBS merupakan bagian dari kelompok penyakit yang dikenal dengan nama Kelainan Fungsional dari Saluran Gastrointestinal. Gejala khas dari kelompok ini adalah keluhan gastrointestinal yang bersifat khronik atau kambuh berulang kali, tanpa adanya kelainan anatomi maupun biokimia (Alpers, 2001 ; Camilleri, 2001b ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996). Meskipun IBS sendiri bukan merupakan penyakit yang dapat mengancam jiwa penderita, tapi pada sebagian besar penderita kelainan ini dapat menimbulkan konsekuensi berupa gangguan yang bersifat khronik dan mempengaruhi aktivitas penderita sehari-hari (Hasler, 1995 ; Jones, 2000; Hahn, 1999). IBS terdapat antara 25 dan 55 juta penduduk di Amerika Serikat dan menjadi penyebab pada 2.5 - 3.5 juta penderita ke dokter setiap tahunnya. Sekitar 20 - 40 % penderita yang berkunjung ke gastroenterologist adalah akibat keluhan IBS (Alpers, 2001 ; Hasler, 1995 ; Zurawsky, 1966). Bahkan di Inggris dapat mencapai 40 60 % konsultasi ke gastroenterologist. Keluhan IBS dapat timbul baik pada pria maupun wanita, pada segala macam kelompok usia, dan ras (Jones, 2000 ; Talley, 2001a). Prevalensi IBS pada populasi umum di Negara Barat bervariasi antara 6 - 22%. IBS mengenai 14-24% wanita dan 5-19% pria. Perbandingan wanita/pria = 1.1 2.6. Prevalensinya sama pada penduduk Kulit Putih maupun kulit Hitam Amerika, tetapi tampaknya lebih rendah pada golongan Hispanik. Di negara-negara non-Barat, seperti Jepang, India, dan Afrika, IBS juga tampak biasa ditemukan (Alpers, 2001 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996). Di Indonesia belum ada laporan berapa prevalensi IBS, tetapi dari kumpulan kasus yang ditemukan dalam praktek sehari-hari, IBS tampaknya cukup banyak ditemukan. Dari tabel 3 s.d 8 dapat dilihat jumlah kasus IBS yang ditemukan selama 1 tahun antara 1 Agustus 2000 s.d. 31 Juli 2001 dalam praktek sehari-hari di Surabaya (Hernomo, 2001). Dari 22 kasus yang dapat dikumpulkan, 10 kasus pria dan 12 kasus wanita. Usia berkisar antara 16 85 tahun, dengan rata-rata 44.7 tahun. Pada kelompok pria jumlah kasus tampaknya meningkat dengan bertambahnya usia, sementara pada kelompok wanita

sebaliknya menurun. Subtipe yang menonjol adalah IBS-C (13 kasus), disusul IBS-D (5 kasus) dan IBS-A (4 kasus).

PERANAN SEROTONIN Serotonin (5-hydroxytryptamine = 5-HT) ditemukan dalam sistem syaraf saluran cerna, dan telah diketahui mempunyai kemampuan mengontrol fungsi motor saluran cerna. Sampai saat ini diduga terdapat 4 reseptor utama serotonin, yaitu : 5-HT1, 5-HT2, 5-HT3 dan 5-HT4. Dari keempat reseptor ini, 2 reseptor yang paling banyak menarik perhatian para peneliti adalah reseptor 5-HT3 dan 5-HT4 (tabel 1). Peran 5-HT3 sebenarnya belum seluruhnya diketahui, namun diduga mempengaruhi motilitas kolon dan nyeri viseral dalam usus. Sejumlah antagonis selektif dari 5-HT3 telah dikembangkan, termasuk antara lain : ondansetron, granisetron, tropisetron, renzapride dan zacopride, kemudian juga alosetron dan cilansetron. Sementara substitut benzamide prokinetik (mis. metoclopramide dan cisapride) juga dapat menghambat reseptor 5-HT3 dalam dosis yang tinggi. Efek prokinetik kelompok ini diduga berdasarkan efek agonis pada 5-HT4. Beberapa antagonis 5-HT3 mempunyai aktivitas agonis pada 5-HT4 (mis. renzapride dan zacopride), sedang yang lain tidak (ondansetron dan granisetron). Sebaliknya tropisetron, dalam konsentrasi tinggi mempunyai efek antagonisterhadap 5-HT4. Berdasarkan data farmakologi ini, maka beberapa obat yang mempunyai efek antagonis dan agonis spesifik terhadap reseptor 5-HT, mungkin berguna untuk pengobatan beberapa kelainan saluran cerna seperti : IBS, dispepsia fungsional, nyeri dada non-kardiak, refluks gastroesofagus, dan nausea yang refrakter. Salah satu obat baru Tegaserod yang mempunyai efek agonis parsial terhadap reseptor 5-HT4, ternyata dapat mempercepat transit orosekal (tanpa mempengaruhi pengosongan lambung) dan mempunyai tendensi untuk mempercepat transit kolon. Obat ini terbukti bermanfaat untuk penderita IBS tipe konstipasi karena dapat menghilangkan keluhan konstipasi serta rasa nyeri seta kembung penderita (Camilleri, 2001c ; Talley, 1992b).

PENGOBATAN Pengobatan IBS didasarkan pada beratnya keluhan dan kondisi penderita, juga pengaruh faktor psikososial penderita. Karena itu, pengobatan sangat tergantung pada keluhan penderita, dan dapat menyangkut beberapa cara pengobatan berikut ini, antara lain : perubahan cara hidup penderita, pengobatan farmakologik, dan psikoterapi. Tampaknya tak ada obat yang secara umum cocok untuk penderita IBS. Setiap individu berbeda obatnya satu dengan yang lain, sehingga biasanya dibutuhkan trial and error untuk pengobatan IBS (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996).

Tabel 1. Beberapa obat yang mempunyai efek terhadap serotonin Nama obat
Ondansetron Granisetron Alosetron Cilansetron Tropisetron Renzapride Zacopride Metoclopramide Cisapride Prucalopride Tegaserod

5HT3
+ (agonis) - (antag) ++ (selektif)

5HT4
+ (agonis) - (antag)

++ + +

+ + ++ ++ (penuh) + (selektif parsial)

Catatan : 5HT3 5HT4

mempengaruhi motilitas dan nyeri visceral usus. merangsang kontraksi usus, sensasi kolon, kholinergik, kronotropik, dopaminergik, agonis aldosteron

Efek plasebo Salah satu penyebab sulitnya pengobatan penderita IBS adalah efek plasebo yang cukup besar prosentasenya yaitu rata-rata sekitar 47 % dari 25 penelitian acak dengan kontrol yang tpernah dikumpulkan. Namun bila evaluasi dilakukan lebih lama, efek plasebo ini akan semakin menurun. Salah satu penyebab tingginya efek plasebo ini dikatakan akibat hubungan psikologis yang dekat antara penderita dengan dokter yangmerawat (Hasler, 1995 ; Jones, 2000).

A. Perubahan cara hidup


IBS tipe Diare Modifikasi diit Pada beberapa kasus, beberapa makanan tertentu dapat memacu timbulnya keluhan IBS. Karena itu, harus dihindari. Sebagai contoh : laktosa pada penderita dengan defisiensi laktose, sayuran yang banyak memproduksi gas seperti kacang-kacangan, dan broccoli, makanan berlemak, dan alkohol. Penderita harus diberitahu bahwa meskipun makan di atas dapat memacu keluhan IBS, tetapi bahan ini bukan merupakan satu-satunya penyebab timbulnya keluhan IBS. Untuk menentukan bahan makanan mana yang dapat memacu timbulnya keluhan IBS, penderita harus mulai makan dengan makanan dasar

yang paling sederhana dulu (bland diit), dan secara bertahap mulai menambahkan jenis makanan lain, sambil dicatat keluhan apa saja yang dapat ditimbulkannya (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996).

IBS tipe Konstipasi Fiber therapy Fiber atau serat merupakan bagian dari makanan/sayuran yang tidak dapat dicerna, dan dapat menambah jumlah / volume tinja (bulk) akibat penyerapan air. Ada 2 bentuk bahan serat ini : soluble dan insoluble fiber. Soluble fiber, dapat larut dalam air, misalnya : oat bran, barley, peas, beans, and citrus fruits. Insoluble fiber ditemukan pada wheat bran and beberapa sayuran. Bahan serat ini dapat menambah/mempercepat waktu tansit (transit time) dari kolon dan menurunkan tekanan dalam kolon. Namun peranan diit serat dalam pengobatan IBS sendiri belum dapat diterima dengan baik. Dari salah satu penelitian dapat ditunjukkan bahwa pengaruh diit serat terhadap jumlah tinja setiap harinya, frekuensi defekasi dan keluhan penderita, lebih ditentukan oleh variasi psikometri, seperti ansietas dan depresi, dibanding jumlah bahan penambah jumlah tinja yang diberikan. Dari pengalaman sehari-hari, tampaknya bahan ini masih dapat bermanfaat pada penderita IBS dengan tipe konstipasi ringan (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996). Bahan serat dapat ditambahkan pada diit dengan menambah jumlah sayur atau makanan kaya serat yang lebih banyak dalam makanan sehari-hari atau dengan pemberian fiber supplements (seperti : Metamucil, Citrucel, Ispaghula husk, dan FiberCon) (Jones, 200 ; Zurawsky, 1996).

B. Obat farmakologi
Beberapa obat konvensional untuk IBS termasuk antara lain (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996):

Untuk IBS tipe Diare 1. Anti-spasmodik, seperti hyoscine dan dicyclomine dimasukkan dalam obat anticholinergik. Obat golongan anti-kholinergik ini mempunyai efek menurunkan sensitivitas yang abnormal dari reseptor kholinergik dalam otot polos saluran cerna (muscarinic M2). Perbaikan yang nyata nyeri perut dan perasaan tak enak (urgency) dalam rektum telah dilaporkan dalam beberepa penelitian, dibanding dengan plasebo dalam penelitian jangka pendek. Namun dalam penelitian jangka panjang, tidak ditemukan bukti bahwa anti-kholinergik lebih bermanfaat dibanding plasebo (Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996).

2. Antasida / anti-gas / anti-flatulans (mis. Simethicone). Tidak ditemukan data terbaru yang menyokong pemakaian obat ini untuk mengobati keluhan IBS, walaupun banyak penderita yang melaporkan kegunaan obat ini untuk mengurangi keluhan kembung yang diikuti nyeri perut bagian bawah (Hasler, 1995 ; Zurawsky, 1996). Beberapa penderita yang mengeluh pengeluaran gas yang berlebihan, dapat dicoba dengan kombinasi modifikasi diit (mengurangi makanan yang banyak memproduksi gas) dan peppermint (Hasler, 1995 ; Whorwell, 2000). 3. Anti-diare / agonis reseptor-opioid (mis. loperamide dan diphenoxylate) Loperamide merupakan agonis reseptor mu dari opioid, yang tidak dapat melewati sawar darah-otak. Obat ini dapat memperlambat transit usus kecil maupun besar, meningkatkan frekuensi fase 3 migrasi kompleks motor dari usus kecil, menurunkan aktivitas sekresi usus kecil, dan meningkatkan tonus otot sfingter rektum.. Beberapa penelitian menunjukkan perbaikan dalam diare, rasa urgency rektum, dan nyeri perut pada IBS (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996). 4. Alosetron dan Cilansetron, merupakan antagonis selektif 5-HT3, dapat memperlambat transit dalam kolon, memperbaiki keluhan kolon, dan mengurangi sensasi kolon pada saat distensi. Dalam uji klinik fase III (alosetron) dan fase II (cilansetron), pada penderita IBS tipe diare, keduanya menunjukkan perbaikan dalam keluhan nyeri perut dan perasaan tak enak di perut, juga dalam frekuensi bab, konsistensi tinja, dan rasa urgency (Camilleri, 2001a ; 2001c ; Jones, 1999 ; Talley, 1992b). 5. Smooth muscle relaxants (e.g. mebeverine dan peppermint oil) mempunyai efek relaksasi langsung pada otot polos saluran cerna. Namun, dalam penelitian dengan kontrol plasebo, masih belum dicapai konsensus mengenai efektivitasnya untuk IBS (Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996).

Untuk IBS tipe Konstipasi 1. Prokinetik (mis. Cisapride dan Domperidon). Obat prokinetik merupakan agonis 5HT4 dan antagonis 5HT3. Cisapride telah dilaporkan dapat memperbaiki keluhan penyakit refluks gastroesofagus dan dispepsia yang berhubungan dengan pengosongan lambung yang lambat. Namun efeknya terhadap IBS tipe konstipasi belum dibuktikan (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996). 2. Prucalopride, merupakan agonis penuh 5-HT4, dapat mempercepat transit lambung, usus kecil, dan kolon pada penderita dengan konstipasi fungsional. Dalam uji klinik fase III prucalopride 2 4 mg/day, menghasilkan peningkatan kelompok penderita yang mencapai tujuan yaitu > 3 gerakan usus spontan dalam seminggu (Camilleri, 2001a). 3. Tegaserod, merupakan agonis parsial 5-HT4, dapat mempercepat transit orosekal (tanpa mempengaruhi pengosongan lambung) dan mempunyai tendensi untuk mempercepat transit kolon. Dalam uji klinik fase III, tegaserod 12 mg/hari, menghasilkan peningkatan kelompok IBS tipe konstipasi yang mencapai tujuan utama hilangnya

keluhan penderita. Efek sekunder yang ditemukan termasuk antara lain perbaikan dalam konstipasi, nyeri sepanjang hari, dan rasa kembung (Camilleri, 2001a ; 2001b).

Antibiotika, 78 % penderita dengan IBS menunjukkan overgrowth bakteri dalam usus halusnya. Dengan melakukan eradikasi dengan pemberian antibiotika selama 10 hari (neomycin, ciprofloxacin, flagyl, atau doxycyclin) ternyata sebagian besar keluhan IBS penderita dapat menghilang (Pimentel, 2000). Antidepresan. Tricyclic antidepressants (mis. amitriptyline, imipramine, dan despramine) mapun serotonin reuptake inhibitors (mis. fluoxetine, sertraline, dan paroxetine) merupakan obat yang sering dipakai dalam pengobatan IBS. Meskipun sering digunakan pada penderita IBS, namun efektivitasnya masih diperdebatka. Meskipun antidepresan sering dipakai pada penderita yang disertai depresi, namun efek antidepresi obat ini tampaknya hanya memperbaiki keluhan depresi secara tersendiri. Efek terapi baru tampak setelah pemakaian obat selama 4-6 minggu (Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996).

C. Terapi psikologi
Terapi psikologi seyogyanya hanya diberikan bila keluhannya hebat, dan ada hubungan dengan distres psikologi. Beberapa cara pengobatan yang pernah diberikan dengan hasil yang baik, termasuk antara lain : cognitive-behavioral therapy, biofeedback therapy, relaxation therapy, and hypnotherapy (DiBaise, 2001 ; Zurawsky, 1996). Penelitian dari Heymann-Monnikes et al (Heymann-Monnikes, 2000) menunjukkan dengan jelas bahwa standardized multicomponent behavioral therapy sebagai tambahan pengobatan medik baku dengan bermacam-macam obat termasuk antara lain : antiemetik, prokinetik, antidiare, dan antispasmodik, menghasilkan perbaikan tidak saja dari keluhan saluran cerna, tetapi juga dari segi emosi dan seluruh kualitas hidup penderita (DiBaise, 2001 ; Olden, 2001).

Membuat laporan tentang keluhan dan faktor Cara ini dapat membantu penderita untuk mengenal jenis-jenis makanan, aktivitas, atau stressor yang sebelumnya tidak dianggap sebagai faktor pencetus keluhan penderita. Dengan mengenal faktor-faktor ini, perubahan cara hidup penderita dapat dikerjakan untuk mengurangi keluhan penderita serta kemungkinan kekambuhan penyakitnya (Hasler, 1995 ; Zurawsky, 1996).

PROGNOSIS IBS bukan merupakan penyakit yang dapat mengancam jiwa, namun keluhan penderita dapat demikian beratnya sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penderita IBS sering menunjukkan angka perawatan yang tinggi di rumah sakit, tidak masuk kantor, penurunan kualitas hidup, dan operasi abdomen, dibanding penderita yang sehat dan penderita dengan keluhan saluran cerna yang lain. Dalam populasi umum, penderita dengan dengan keluhan IBS In the general population, people with IBS symptoms missed more than 3 times as many work days than did people without bowel symptoms (Hasler, 1995 ; Jones, 2000 ; Zurawsky, 1996). IBS tidak akan berkembang menjadi kanker. Demikian juga IBS tidak akan berubah menjadi IBD (Crohn's, ulcerative colitis). Keluhan IBS sering timbul pada penderita IBD, namun tidak terdapat bukti bahwa IBS dapat berkembang menjadi IBD (Hasler, 1995 ; Zurawsky, 1996). Keluhan IBS dapat berfluktuasi. Dalam salah satu penelitian, lebih dari 50 % penderita IBS masih merasakan keluhannya 5 tahun setelah diagnosis dibuat (Hasler, 1995 ; Zurawsky, 1996).

DAFTAR PUSTAKA

1. Akehurst, R. and Kaltenthaler, E. 2001. Treatment of irritable bowel syndrome : a review of randomized controlled trial. Gut 48 : 272. 2. Alpers, D.H. 2001. Is irritable bowel syndrome more than just a gastroenterologists problem ? Am. J. Gastroenterol. 96 : 943. 3. Camilleri, M. 2001a. Pharmacologic treatment of IBS: New drugs for the new century. In Challengews and advances in IBS: A CMA diner symposium. DDW, Atlanta, Georgia, USA, May 21. 4. Camilleri, M. 2001b. Review article : tegaserod. Aliment. Pharmacol. Ther. 15 : 277. 5. Camilleri, M. 2001c. Management Gastroenterology 120 : 652. of the irritable bowel syndrome.

6. DiBaise, J.K. 2001. Psychotherapy and functional dyspepsia : Brain-gut interactions. Am. J. Gastroenterol. 96 : 278.

7. Hahn, B.A. ; Yan, S. and Strassels, S. 1999. Impact of irritable bowel syndrome on quality of life and resource use in the United States and United Kingdom. Digestion 60 : 77. 8. Hammer, J. and Talley, N.J. 1999. Diagnostic criteria for the irritable bowel syndrome. Am. J. Med. 107 (5A) : 5S. 9. Hasler, W.L. and Owyang, C. 1995. Irritable bowel syndrome. In Textbook of Gastroenterology, Vol. 2, 2nd ed., ed. By. T. Yamada et al, J.B. Lippincott Co, Philadelphia, p. 1832. 10. Hernomo K, 2001. Irritable bowel syndrome. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Penyakit Dalam XVI, FK Unair RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, 18 19 Agustus. 11. Heymann-Monnikes, I ; Arnold, R. ; Florin, I, et al. 2000. The combination of medical treatment plus muticomponent behavioral therapy is superior to medical treatment alone in the therapy of IBS. Am. J. Gastroenterol. 95 : 981. 12. Jones, J. ; Boorman, J. ; Cann, P. et al. 2000. British Society of Gastroenterology guidelines for the management of the irritable bowel syndrome. Gut 47 (Suppl. II) : ii1. 13. Jones, R.H ; Holtmann, G. ; Rodrigo, L. et al. 1999. Alosetron relives pan an improves bowel function compared with mebeverine in female nonconstipated irritable bowel syndrome patients. Aliment. Phamacol. Ther. 13 : 1419. 14. Manning, A.P. ; Thompson, W.G. ; Heaton, K.W. et al. 1978. Toward a positive diagnosis if irritable bowel sybdrome. BMJ. 2 : 653. 15. Mayer, E.A. 1999. Emerging disease model for functional gastrointesinal disorders. Am.J.Med. 107 (5A) : 12S. 16. Olden, K.W. 2001. Treatment of irritable bowel syndrme: New modalities for a new millenium. Am. J. Gastrenterol. 95 : 863. 17. Pimentel, M. ; Chow, E.J. and Lin, H.C. 2000. Eradication of small intestinal bacterial overgrowth reduces symptoms of irritable bowel syndrome. Am. J. Gastroenterol. 95 : 3503. 18. Talley, NJ. ; Phillips, S.F. ; Melton, L.J. et al. 1990. Diagnostic value of theManning criteria in irritable bowel syndrome. Gut 31 : 77. 19. Talley, N.J. ; OKeefe, E.A. ; Zinsmeister, A.R. et al. 1992a . Prevalence of gastrointestinal symptoms in the elderly : a population based study. Gastroenterology 102 : 895.

20. Talley, N.J. 1992b. Review article : 5-hydroxytryptamine agonistand antagonists in the modulation of gastrointestinal motility and sensation : clinical iplications. Aliment. Pharmacol. Ther. 6 : 273. 21. Thompson, W.G. ; Longstreth, G.F. ; Drossman, D.A. et al. 1999. Functional bowel disorders and functional abdominal pain. Gut 45 : 1143. 22. Whorwell, P.J. 2000. The problem of gas in irritable bowel syndrome. Am. J. Gastroenterol. 95 : 1618. 23. Zurawsky, L. and Lembo, A. 1996. Irritable Bowel Syndrome (IBS), Frequently Asked Questions. Version 3.1.1. http://qurlyjoe.bu.edu/cducibs/ibsfaq.html.

----oo0oo----

Tabel 2 Kriteria Diagnosis IBS Maining Citeria (1978)


Abdominal Pain + 2 or more of : 1. Pain Relieved by Defecation 2. Pain with Altered Frequency 3. Pain with Altered Consistency 4. Abdominal Bloating 5. Feeling of Incomplete Evacuation 6. Mucus in the Stool

Rome I Criteria (1989)


At least 3 months of recurrent symptoms of abdominal pain or discomfort : 1. relieved with defecation, or 2. associated with a change in stool frequency, or 3. associated with a change in stool consistency, and Two or more of the following on at least 25 % of occasions or days : 1. Altered stool frequency 2. Altered stool form 3. Altered stool passage 4. Passage of mucus 5. Bloating or

Rome II Criteria (1999)


12 weeks in 12 months with 2 of abdominal discomfort or pain : 1. Relieved by defecation, and/or 2. Associated with altered frequency and/or 3. Associated with altered consistency Symptoms that support the diagnosis : a. b. c. d. e. abnormal frequency abnormal form abnormal passage mucus bloating, distension

distension

Tabel 3. Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Pada 22 kasus IBS di Surabaya (Hernomo, 2001) Kelompok Umur < 30 tahun 31 60 tahun > 61 tahun Total Pria 1 4 5 10 Wanita 4 7 1 12 Total 5 11 6 22

Tabel 4. Subtipe Irritable Bowel Syndrome

Pada 22 kasus IBS di Surabaya (Hernomo, 2001) Subtipe IBS IBS-C IBS-D IBS-A Total Pria 4 3 3 10 Wanita 9 2 1 12 Total 13 5 4 22

Tabel 5. Keluhan Utama Penderita Pada 22 kasus IBS di Surabaya (Hernomo, 2001) Subtipe IBS IBS-C IBS-D IBS-A Nyeri 8 5 4 Konstipasi 13 0 4 Diare 1 5 4 N 13 5 4

Tabel 6. Lama Keluhan Penderita Pada 22 kasus IBS di Surabaya (Hernomo, 2001)

Subtipe IBS IBS-C IBS-D IBS-A

< 2 tahun 6 1 0

2 5 tahun 6 3 2

> 5 tahun 1 1 2

N 13 5 4

Tabel 7. Hasil Pengobatan Penderita Pada 22 kasus IBS di Surabaya (Hernomo, 2001)

Subtipe IBS IBS-C IBS-D IBS-A

Berhasil 5 2 3

Gagal 4 1 1

Meragukan 4 2 0

N 13 5 4

Tabel 8. Macam-macam Cara Pengobatan Penderita Pada 22 kasus IBS di Surabaya (Hernomo, 2001) Macam Pengobatan 1. IBS-C : Fiber Prokinetik Laksans Tranquilizer Psykhoterapi 2. IBS- D : Spasmolitik Opiat Enzim 3. IBS-A Spasmolitik Opiat Prokinetik Fiber Enzim Antibiotika Jumlah Kasus 11 8 4 1 1 5 4 3 3 3 3 1 1 1 Persentase 84.6 % 61.5 % 30.8 % 7.7 % 7.7 % 100 % 80 % 60 % 75 % 75 % 75 % 25 % 25 % 25 %

Keterangan : IBS-C = IBS Constipation dominant IBS-D = IBS Diarrhea dominant IBS-A = IBS Alternating