Anda di halaman 1dari 4

Terapi Diet Antropometri BB = 44 kg TB = 152 cm BBI (Perkeni) = (TB)2 x 21 = (1,52)2 x 21 = 48,5 kg (BB Normal) Kebutuhan Kalori : Energi Basal

al : 25kal x 44kg = 1100 kkal = 110 kkal + = 1210 kkal Koreksi stress : 30%x1100 = 330 kkal + = 1540 kkal Koreksi Umur : 5%x1100 = 55 kkal +

Koreksi Aktivitas : 10% x 1100

= 1485 kkal

Lemak : 20% x 1485 = 297 kkal/ 9 = 33 gr Protein : 20% x 1485 = 297 kkal/4 = 74,25 gr Karbohidrat : 60% x 1485 = 891 kkal/ 4 = 222,7 gr Pola Makan 5 x (3 makan utama dan 2 snack) : Kebutuhan Energi : Sarapan Snack pagi : 20% x 1485 kkal = 297 kkal : 10% x 1485kkal = 148,5 kkal

Makan siang : 30% x 1485 kkal = : 445,5 kkal Snack sore : 10% x 1485kkal = 148,5 kkal

Makan Malam : 20% x 1485kkal = 297 kkal Snack malam : 10% x 1485kkal = 148,5 kkal

Total KH = 223 gr = 223 / 15 = 14,8 serving 15 serving

Pembagian Carbing : Sarapan Snack pagi : 20% x 223 gr = 44,6 : 15 = 2,97 3 serving : 10% x 223 gr = 22,3 : 15 = 1,48 1 serving : 10% x 223 gr = 22,3 : 15 = 1,48 1 serving

Makan siang : 30% x 223 gr = : 15 = 4,46 4 serving Snack sore Makan Malam : 20% x 223 gr = 44,6 : 15 = 2,97 3 serving Snack malam : 10% x 223 gr = 22,3 : 15 = 1,48 1 serving

EDUKASI PASIEN DIABETES MELITUS

Program pengobatan diabetes harus diawali dengan penyuluhan baik secara individu maupun kelompok guna menegakkan pengertian bahwa sejak seseorang terdeteksi dalam stadium diabetes yang paling awal yaitu toleransi glukosa terganggu atau TGT, harus mulai mengubah pola hidup untuk menjalani program pengobatan efektif berkelanjutan. Penyuluhan dilakukan secara individu yaitu melalui konseling. Telah diketahui bahwa konseling dapat mengatasi ketidakpatuhan diabetisi. Edukasi yang baik dan tepat akan menggugah kesadaran penderita untuk mau mengubah dan menjalankan diet yang dianjurkan, sehingga kadar glukosa darah terkendali dengan baik dan mencegah timbulnya komplikasi. Nicolucci et al (1996) melaporkan bahwa diabetisi yang tidak mendapatkan edukasi memiliki risiko 4 kali lebih tinggi terkena komplikasi dibandingkan yang mendapatkan edukasi. Pengelolaan mandiri diabetes secara optimal membutuhkan partisipasi aktif pasien dalam merubah perilaku yang tidak sehat. Tim kesehatan harus mendampingi pasien dalam perubahan perilaku tersebut, yang berlangsung seumur hidup. Keberhasilan dalam mencapai perubahan perilaku, membutuhkan edukasi, pengembangan keterampilan (skill) dan motivasi yang berkenaan dengan : 1. Makan makanan sehat 2. Kegiatan jasmani secara teratur 3. Menggunakan obat diabetes secara aman, teratur dan pada waktu-waktu yang spesifik 4. Melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan memanfaatkan berbagai informasi yang ada 5. Mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan

Penyuluhan kesehatan secara individu merupakan program pengobatan yang sangat fundamental bagi setiap penderita diabetes untuk dapat memahami penyakitnya. Untuk upaya pencegahan primer, materi yang disampaikan saat konseling ditekankan pada faktor penyebab timbulnya DM dan usaha mengurangi faktor risiko, tujuan utama menjalankan diet, perencanaan makan, serta komplikasi DM (Waspadji, 2007). Materi penyuluhan lainnya harus lengkap meliputi berbagai aspek diabetes mulai dari : a. Etiologi b. Factor pemicu c. Patofisiologi d. Gejala penyakit awal, sudah lanjut, maupun dalam kondisi terancam kegawatan e. Diet f. Olahraga

g. Kebersihan tubuh h. Obat tablet maupun suntikan insulin Dibutuhkan strategi yang efektif bagi seorang ahli gizi pada waktu memberikan penyuluhan kesehatan bagi penderita diabetes, mengingat keterbatasan waktu, adanya perbedaan antara penderita yang satu dengan yang lain dalam hal tingkat pendidikan, kebiasaan hidup, dan kepribadian. Penyuluhan singkat dapat dilakukan setiap penderita bertemu di kamar pasien, disesuaikan dengan keterbatasan waktu dan kebutuhan penderita masing-masing. Senam diabetes Merupakan senam aerobic low impact dan rithmis gerakan menyenangkan tidak membosankan dan dapat diikuti semua kelompok umur sehingga menarik antusiasme kelompok dalam klub-klub diabetes. Pada saat latihan jasmani ringan, pemakaian asam lemak bebas dan glukosa tidak tergantung insulin, apabila olahraga ditingkatkan menjadi berintensitas sedang maka insulin akan menurun dan adrenalin meningkat. Bila latihan jasmani dalam intensitas yang lebih berat maka non adrenalin akan meningkat dan menghambat sekresi insulin dan bersamaan dengan itu terjadi peningkatan glucagon. Manfaat olahraga : - Mengontrol gula darah, terutama pada DM tipe II yang mengikuti olahrga teratur maka monitor gula darah HbA1C mengalami perbaikan.

- Menghambat dan memperbaiki factor resiko penyakit kardiovaskuler yang banyak terjadi pada penderita DM, olahraga dapat membantu profil lemak darah - Menurunkan berat badan, pengaturan olahraga secara optimal dan diet DM pada penderita kegemukan (obesitas) dapat menurunkan berat badan. - Memperbaiki gejala-gejala muscoskeletal otot, tulang, sendi yaitu dengan gejala-gejala neuropati perifer dan osteoatritis, sepeti kesemutan, gatal-gatal, linu-linu - Memberikan keuntungan psikologis, olahraga yang teratur juga dapat memprbaiki tingkat kesegran jasmani karena memperbaiki sistem kardiovaskuler, respirasi, pengontrolan gula darah sehingga penderita merasa fit. - Mencegah terjadinya DM yang dini terutama bagi orang-orang dengan riwayat keluarga DMTD dan diabetes kehamilan atau predicable test.