Anda di halaman 1dari 156

1

BAB I PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang Masalah Era globalisasi dunia ditandai oleh perkembangan yang semakin cepat di segala bidang kegiatan, begitu pula dalam kegiatan pendidikan. Globalisasi ini sangat mempengaruhi terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia sehingga diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan pendidikan bagi warga negaranya tidak henti-hentinya melakukan berbagai kegiatan dan menyediakan fasilitas pendukungnya termasuk memberlakukannya

Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Seperti yang disampaikan dalam penjelasan umum atas Undang-Undang No. 14 tahun 2005, Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut, pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan. Selanjutnya, Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa (1) Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan; (2) Setiap warga negara wajib mengikuti

pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan UndangUndang; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya 20 % (dua puluh persen) dari anggaran pendapatan dan

belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggeraan pendidikan nasional; dan (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan

menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Salah satu amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sumber daya manusia unggul merupakan persyaratan utama bagi terwujudnya bangsa dan negara yang maju. Berapapun besar sumber daya alam (SDA), modal sarana prasaran yang tersedia, pada akhirnya di tangan SDM yang handal sajalah target pembangunan bangsa dan negara dapat dicapai. Dalam perspektif berpikir seperti ini, suatu bangsa

tak dapat mencapai kemajuan tanpa adanya suatu sistem pendidikan yang baik. Pendidikan adalah modal dasar untuk menciptakan SDM yang unggul. Dunia pendidikan yang utama adalah sekolah. Sekolah

merupakan salah satu lembaga alternatif pelayanan pendidikan. Sekolah sebagai suatu lembaga tentunya memiliki visi, misi, tujuan dan fungsi. Untuk mengemban misi, mewujudkan visi, mencapai tujuan, dan menjalankan fungsinya sekolah memerlukan tenaga profesional, tata kerja organisasi dan sumber-sumber yang mendukung baik finansial maupun non finansial. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki komponen-komponen yang berkaitan satu sama lain serta berkontribusi pada pencapaian tujuan.

Komponen-komponen tersebut adalah siswa, kurikulum, bahan ajar, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan lainnya, lingkungan, sarana, fasilitas, proses pembelajaran dan hasil atau output. Semua komponen tersebut harus berkembang sesuai tuntutan zaman dan perubahan lingkungan yang terjadi di sekitarnya. Untuk berkembang tentunya harus ada proses perubahan. Pengembangan ini hendaknya bertolak dari halhal yang menyebabkan organisasi tersebut tidak dapat berfungsi dengan sebaik yang diharapkan (Gupta & Shingi, 2001). Dalam konsepsi pengembangan kelembagaan tercermin adanya upaya untuk

memperkenalkan perubahan cara mengorganisasikan suatu lembaga, struktur, proses dan sistem lembaga yang bersangkutan sehingga lebih dapat memenuhi misinya. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi pada

lembaga sekolah harus meliputi seluruh komponen yang ada di dalamnya. Perubahan tersebut terjadi dalam struktur, proses, ketenagaan dan sistem suatu lembaga serta proses perubahan itu sendiri, menyangkut bagaimana sekolah sebagai lembaga diorganisasikan sehingga mampu mengemban misinya dengan baik. Dalam proses perubahan tersebut individu organisasi dan lembaga meningkatkan tujuan, kemampuan dan dan

performancenya

sehubungan

dengan

sumber-sumber,

lingkungannya. Perubahan tidak akan berjalan tanpa dukungan dari sumber daya manusia yang merupakan asset yang dapat memberikan kontrbusi lebih dalam pencapaian tujuan organisasi. Guru merupakan salah satu SDM yang berada di sekolah. Kinerja guru di sekolah mempunyai peran penting dalam pencapaian tujuan sekolah. Masalah kinerja menjadi sorotan berbagai pihak, kinerja pemerintah akan dirasakan oleh masyarakat dan kinerja guru akan dirasakan oleh siswa atau orang tua siswa. Berbagai usaha dilakukan untuk mencapai kinerja yang baik. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan sudah disosialisasikan, anggaran pendidikan yang Maka

diamanatkan Undang-Undang 20 % sudah mulai dilaksanakan.

kinerja guru tentunya akan menjadi perhatian semua pihak. Guru harus benar-benar kompeten dibidangnya dan guru juga harus mampu mengabdi secara optimal. Kinerja guru yang optimal dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung Barat terdiri dari 60 sekolah negeri dan 76 sekolah swasta. Salah satu indikator

suatu sekolah dianggap sudah berhasil adalah dengan perolehan nilai Ujian Nasional yang tinggi dan tingkat kelulusan yang maksimal. Sekolah yang perolehan nilai ujian nasionalnya paling tinggi dan tingkat kelulusannya setiap tahun selalu 100 % dianggap sudah berhasil dan akan mendapat kepercayaan masyarakat. Padahal belum tentu

keberhasilan siswa merupakan hasil kinerja guru. Seperti di SMPN 1 Cisarua yang terletak di Jalan Kolonel Masturi 312 Cisarua Kabupaten Bandung Barat, berikut dapat kita lihat hasil rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) dan prosentasi kelulusan dalam empat tahun terakhir. Tabel I.I. Rata-Rata Nilai Ujian Nasional dan Kelulusan No 1 2 3 4 Mata Pelajaran B. Indonesia B Inggris Matematika IPA Rata-rata % Lulusan 2006/2007 2007/2008 2008/2009 2009/2010 7,46 6,46 6,07 6,66 100% 6,90 6,41 6,31 7,07 6,67 100% 6,25 6,39 6,20 6,13 6,24 99% 7,43 7,27 7,46 6,95 7,28 100%

Sumber : Dokumen SMPN 1 Cisarua Pada tabel rata-rata nilai UN dan kelulusan di atas terlihat peningkatan prestasi siswa belum optimal walaupun pada rata-rata nilai UN terakhir ada sedikit peningkatan. Apakah keberhasilan siswa merupakan prestasi kinerja guru? Tentunya perlu ada penelitian untuk membuktikan asumsi tersebut. Keberhasilan prestasi sekolah ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya kepemimpinan kepala sekolah. AlanTucker dalam Syafarudin (2002 : 49) mengemukakan bahwa : kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi atau mendorong seseorang atau sekelompok orang agar

bekerja secara sukarela untuk mencapai tujuan tertentu atau sasaran dalam situasi tertentu. Tabrani Rusyan (2000) mengungkapkan bahwa : kepemimpinan kepala sekolah memberikan motivasi kerja bagi

peningkatan produktivitas kerja guru dan hasil belajar siswa.

Menurut

Mulyasa (2009 : 98) Kepala sekolah sedikitnya mempunyai peran dan fungsi sebagai Edukator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan Motivator (EMASLIM). Kepala sekolah sebagai pimpinan harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (2002 : 10) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter yang khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan professional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai pimpinan dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi. Kepribadian kepala sekolah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil resiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, (7) teladan. Implementasi kemampuan yang harus dimiliki kepala sekolah terwujud dalam pelaksanaan tugas-tugasnya antara lain menyusun perencanaan, mengorganisasikan kegiatan, mengarahkan kegiatan,

mengkoordinasikan kegiatan, melaksanakan pengawasan, melakukan evaluasi terhadap kegiatan, menentukan kebijaksanaan, mengadakan rapat, mengambil keputusan, mengatur pembelajaran dan mengadakan hubungan masyarakat. Selain itu tugas menyelenggarakan administrasi antara lain menyusun perencaan, pengorganisasian, pengarahan

keuangan, penyusunan kurikulum, penanganan kesiswaan, sarana prasarana, kepegawaian, dan lain-lain. Melihat tugas kepala sekolah yang begitu banyak, maka seorang kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajerial. Jika tidak, maka tidak akan dapat mengelola sekolah dan suasana sekolah menjadi tidak kondusif. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru menurut Uben dan Hughes berupa penciptaan iklim sekolah yang dapat memacu atau menghambat efektifitas kerja guru. Sebagai pemimpin suatu instansi pendidikan, kepala sekolah harus menjadi motor penggerak bagi berjalannya proses pendidikan. Kepala sekolah selalu berupaya mencurahkan kemampuannya dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan. Kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam hal ini kepala sekolah adalah memiliki kepribadian yang menjadi teladan bagi bawahannya, kemampuan memotivasi, pengambilan keputusan, komunikasi dan pendelegasian wewenang. Kepemimpinan kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua dipandang sudah dilaksanakan dengan baik. Dugaan tersebut didukung oleh data

jadwal pembinaan/pengarahan dan supervisi yang dilaksanakan secara intensif seperti yang terlihat pada tabel berikut : Tabel 1.2 Kegiatan Pembinaan dan Supervisi Kepala Sekolah No 1. Uraian Kegiatan Rapat dinas pembinaan Guru dan tenaga kependidikan Rapat evaluasi program dan kegiatan KBM Rapat tim pengembang SSN Waktu Keterangan

Setiap bulan sekali 2. Setiap bulan sekali 3. Setiap triwulan 4. Pemerikasaan administrasi Setiap awal guru semester 5. Supervisi kelas Setiap semester 6. Pembinaan siswa melalui Setiap senin upacara awal bulan Sumber : Dokumen SMPN 1 Cisarua

Lihat situasi kondisi

Sudah terjadwal untuk setiap guru

Jika dilihat dari tabel jadwal pembinaan dan pengawasan di atas, kemajuan kinerja guru seharusnya meningkat lebih baik. Untuk

mengetahui hal tersebut tentunya memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Faktor lain yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah motivasi kerja. Seorang guru dapat bekerja secara professional jika pada dirinya terdapat motivasi yang tinggi. Pegawai/guru yang memiliki motivasi yang tinggi biasanya akan melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat dan energik, karena ada motif-motif atau tujuan tertentu yang

melatarbelakangi tindakan tersebut. Motif itulah sebagai faktor pendorong yang memberi kekuatan kepadanya, sehingga ia mau dan rela bekerja keras. Hal itu dibuktikan berdasarkan hasil penelitian McCleland (1961), Edward Murray (1957), Miller dan Gordon W (1967) yang dikutip

Mangkunegara (2005), menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian kinerja/prestasi kerja. Artinya pimpinan, manajer dan pegawai yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan mencapai kinerja yang tinggi, dan sebaliknya mereka yang kinerjanya rendah disebabkan karena motivasi kerjanya rendah. Berkaitan dengan pencapaian prestasi kerja guru SMPN 1 Cisarua, berikut dapat kita lihat tabel prestasi guru dalam empat tahun terakhir: Tabel 1.3 Prestasi Guru dalam Perlombaan Perolehan 1 s/d 3 dlm Tingkat Nasional Provinsi Kota/Kab Nasional Provinsi Kota/Kab Nasional Provinsi Kota/Kab Nasional Kejuaraan 3 th terakhir Jumlah Guru -

No Jenis Lomba 1. Lomba PTK

2.

Lomba karya tulis inovasi Pembelajaran Lomba guru berprestasi

3.

Lomba keberhasilan guru dalam mengajar

Provinsi Kota/Kab 5 Lomba lainnya Nasional Provinsi Kota/Kab Sumber : Dokumen SMPN 1 Cisarua.

Terlihat dari tabel di atas bahwa masih belum ada hasil prestasi kerja guru SMPN 1 Cisarua dalam satu lombapun. Hal ini diduga salah satu faktornya adalah rendahnya motivasi guru baik dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya maupun motivasi berprestasi.

10

Pada sisi lain faktor disiplin dapat pula meningkatkan kinerja guru. Simamora (2006 : 610) menyatakan bahwa : Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan atau prosedur. Disiplin merupakan bentuk pengendalian diri karyawan dan pelaksanaan yang teratur dan menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam suatu organisasi. Keith Davis (2003 : 129) menyatakan disiplin kerja sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman

dipandang erat keterkaitannya dengan kinerja. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Malthis dan Jackson bahwa disiplin kerja berkaitan erat dengan perilaku karyawan dan berpengaruh terhadap kinerja. Kepemimpinan kepala sekolah adalah motivator bagi kepatuhan diri pada disiplin kerja para guru. Walaupun disiplin ini hanya merupakan salah satu bagian dari ciri kinerja guru dan berkaitan dengan prosentasi kehadiran, ketidakpatuhan pada aturan, menurunnya produktivitas kerja dan apatis, tetapi ternyata hal ini membawa dampak yang sangat besar terutama pada sistem pendidikan kita yang masih memerlukan

keberadaan guru secara dominan dalam proses pembelajaran. Pada tahap inilah kepemimpinan kepala sekolah dituntut untuk mampu memimpin atau mengelola sekolah, juga dituntut untuk mampu

menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan kerja (climate-maker) sehingga dapat mencegah timbulnya desintegrasi dan mampu

memberikan dorongan agar semua komponen yang ada di sekolah bersatu mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dalam kasus pada SMPN 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat yang sedang berusaha mencapai status Sekolah Standar Nasional (SSN)

11

masih banyak hal yang harus ditingkatkan, baik dari kinerja guru, kedisiplinan, motivasi kerja, sampai gaya kepemimpinan kepala sekolah. Fakta menunjukkan tingkat kedisiplinan guru di SMPN 1 Cisarua masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari absensi (kehadiran/ketidakhadiran) dari guru. Tabel berikut ini data ketidakhadiran guru SMPN 1Cisarua dalam kurun waktu semester terakhir. Tabel 1.4 Prosentasi Ketidakhadiran Guru No Ket Juli 1 Hari kerja Efektif 2 Jumlah guru 4,6% 5,21% 4,1% tidak hadir Sumber : Sie Kurikulum SMPN 1 Cisarua. Jika kita memperhatikan tabel di atas, ketidakhadiran dalam setiap bulannya hanya di bawah 10 % sekilas tampaknya bukan masalah besar. Tetapi sesungguhnya dalam sistem pendidikan kita saat ini, hal itu dapat membawa pengaruh buruk, siswa jadi terlantar karena gurunya absen. Apalagi kalau ditambah dengan prilaku guru yang hadir di sekolah karena malas atau kurang tanggung jawab kadang tidak hadir di kelas. Proses pembelajaran jadi terhambat sehingga para siswa tidak mendapat ilmu secara optimal. Pada tahap inilah peran kepemimpinan kepala sekolah diperlukan. Kepala sekolah harus bertindak tegas terhadap pelanggaran yang terjadi, agar semua komponen yang ada dalam sekolah memberikan pelayanan yang optimal kepada para siswa. 7,89% 7,92% 5,57% 5,88% 18 Agust 22 Bulan Sept 12 Okt 26 Nop 26 Des 4 Ratarata

12

Sehubungan dengan uraian di atas maka masalah faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru perlu dibuktikan dengan mengadakan penelitian. Oleh karena itu, penulis membuat judul penelitian Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat .

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan paparan di atas, maka dapat diidentifikasi masalahmasalah sebagai berikut : 1. Kepemimpinan kepala sekolah dalam mempengaruhi kinerja guru perlu ditingkatkan. 2. Motivasi guru untuk meningkatkan kemampuan mengajar belum optimal. 3. Motivasi guru untuk berprestasi masih rendah. 4. Komunikasi personal belum terjalin dengan baik. 5. Disiplin kerja guru masih rendah. 6. Kinerja guru masih belum optimal. 7. Program diklat untuk pengembangan kompetensi guru frekuensinya masih kurang. 8. Budaya kerja belum tercipta dengan baik. 9. Konflik organisasi belum teratasi dengan baik. 10. Reward dan punishment belum berjalan efektif. 11. Kompetensi guru belum dikuasai menyeluruh. 12. Kesadaran diri akan tugas masih lemah. 13. Komitmen pencapaian kinerja guru di SMPN 1 Cisarua masih rendah.

13

14. Tingkat kepuasan kerja guru masih rendah. 15. Sarana prasarana yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara maksimal.

1.3 Pembatasan Masalah Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan sangatlah kompleks. Salah satunya adalah masalah manajemen sumber daya manusia. Permasalahan-permasalahan perlu mendapat tanggapan dan solusi. Dalam tesis ini penulis hanya membatasi masalah pada skup kecil yaitu mengenai kinerja guru yang ada di SMP tepatnya di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja guru di SMP diantaranya kompetensi, kompensasi, kepuasan kerja, lingkungan kerja, budaya kerja, kepemimpinan, disiplin dan motivasi kerja. Namun dalam penelitian ini penulis membatasi masalah kinerja guru SMP yang dipengaruhi oleh kepemimpinan, motivasi dan disiplin kerja.

1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana gambaran kepemimpinan kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 2. Bagaimana gambaran motivasi kerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 3. Bagaimana gambaran disiplin kerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

14

4. Bagaimana gambaran kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Barat. 5. Berapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 6. Berapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 7. Berapa besar pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 8. Berapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

1.5 Maksud dan Tujuan Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk mengumpulkan data, mengolah dan menginterpretasikan untuk dijadikan sebagai karya tulis berupa tesis, sebagai syarat memperoleh gelar Megister Manajemen (MM) di STIE Pasundan Bandung. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. Mengetahui gambaran kepemimpinan kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 2. Mengetahui gambaran motivasi kerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 3. Mengetahui gambaran disiplin kerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 4. Mengetahui gambaran kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

15

5. Mengetahui berapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 6. Mengetahui berapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 7. Mengetahui berapa besar pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 8. Mengetahui berapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. di SMP

1.6 Kegunaan Penelitian Peneliti berharap hasil penelitian ini berguna baik secara teoritis maupun praktis. a. Kegunaan Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan

pengembangan keilmuan untuk peneliti selanjutnya, terutama yang berhubungan dengan peningkatan kinerja guru di sekolah.

b. Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi bagi para guru, praktisi pendidikan, dan pengambil kebijakan khususnya kebijakan yang berkenaan dengan upaya meningkatkan kinerja guru di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tinjauan Umum tentang Sumber Daya Manusia Manajemen merupakan proses untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen bisa sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang logis dan sistematis juga sebagai suatu kreativitas pribadi yang disertai suatu keterampilan. Sadili Samsudin dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia (2006 : 18) mengutip pendapat G.R. Terry dalam Principless of Manajemen memberikan pengertian sebagai berikut : Management is a distict process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources Manajemen adalah suatu proses yang khas, yang terdiri dari tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya. Menurut Mary Parker Follet dalam bukunya menyatakan bahwa manajemen adalah seni mencapai sesuatu melalui orang lain (manajement is the art of getting things done thourh the other) Dari definisi manajemen di atas maka dapat diketahui bahwa ada dua istilah yang diberikan para ahli mengenai istilah manajemen yaitu sebagai seni yang merupakan kreativitas pribadi yang disertai suatu keterampilan dan ada pula yang memberikan definisi manajemen sebagai suatu ilmu yang merupakan kumpulan pengetahuan yang logis dan sistematis. Maka suatu organisasi untuk mencapai tujuannya tidak akan

17

terlepas dari aktivitas manajemen. Manajemen menginginkan tujuan organisasi tercapai dengan efisien dan efektif. Adapun fungsi manajemen diantaranya : 1. Perencanaan (Planning) adalah kegiatan menetapkan tujuan organisasi dan memilih cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. 2. Pengorganisasian (Organizing dan Staffing) adalah kegiatan mengkoordinir sumber daya, tugas, dan otoritas diantara anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien dan efektif. 3. Pengarahan (Leading) adalah membuat bagaimana orang-orang tersebut bekerja untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. 4. Pengendalian (Controlling) bertujuan untuk melihat apakah

organisasi berjalan sesuai rencana. Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi : perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Proses ini terdapat dalam fungsi/bidang produksi, pemasaran, keuangan, maupun

kepegawaian. Karena sumber daya manusia mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan perusahaan, maka pengalaman dan hasil penelitian bidang SDM dikumpulkan secara sistematis selanjutnya disebut dengan manajemen sumber daya manusia. Menurut (2008:1) istilah manajemen mempunyai arti Veithzal Rivai kumpulan

sebagai

pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memanage (mengelola) sumber daya manusia. Dengan manajemen maka pemanfaatan sumber

18

daya yang ada dapat lebih optimal guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi oleh manajemen semakin kompleks seiring dengan

perkembangan teknologi di era globalisasi ini. Pada masa kini persoalan manajemen tidak hanya terdapat pada bahan mentah atau bahan baku akan tetapi juga menyangkut prilaku karyawan atau sumber daya manusia. Seperti sumber daya lainnya, sumber daya manusia merupakan masukan (input) yang diolah oleh perusahaan dan menghasilkan keluaran (output). Sumber daya manusia merupakan asset bagi perusahaan yang apabila dimanage akan menghasilkan output kinerja bagi perusahaan yang tentunya akan menguntungkan bagi perusahaan. Sumber daya manusia yang belum mempunyai keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan apabila dilatih, diberikan pengalaman dan diberikan motivasi untuk berkembang maka akan menjadi asset yang sangat menguntungkan bagi perusahaan. Pengelolaan sumber daya manusia inilah yang disebut dengan manajemen sumber daya manusia. Dengan kata lain manajemen sumber daya manusia adalah

mengembangkan pegawai dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran individu maupun organisasi. Sedarmayanti (2007 : 13) mengatakan bahwa: Manajemen

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kebijakan dan praktik menentukan aspek manusia atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen, termasuk merekrut, menyaring, melatih, memberi penghargaan dan penilaian. Menjadi tugas utama manajemen sumber daya manusia yaitu

19

mengelola pegawai se-efisien dan se-efektif mungkin agar diperoleh pegawai yang produktif dan dapat memberikan keuntungan yang maksimal bagi perusahaan. Secara khusus Sedarmayanti (2007 : 13)

mengungkapkan bahwa manajemen sumber daya manusia bertujuan untuk : 1. Memungkinkan organisasi mendapatkan dan mempertahankan pegawai cakap, dapat dipercaya dan memiliki motivasi tinggi seperti yang diperlukan. 2. Meningkatkan dan memperbaiki kapasitas yang melekat pada manusia kontribusi, kemampuan dan kecakapan mereka. 3. Mengembangkan sistem kerja dengan kinerja tinggi yang meliputi prosedur perekrutan dan seleksi yang teliti, sistem kompensasi dan insentif yang tergantung pada kinerja, pengembangan manajemen serta aktifitas pelatihan yang terkait kebutuhan bisnis. 4. Mengembangkan praktek manajemen dengan komitmen tinggi yang menyadari bahwa karyawan adalah pihakterkait dalam organisasi Yang bernilai membantu dan membentuk

pengembangan iklim kerjasama dan kepercayaan bersama. 5. Menciptakan iklim, dimana hubungan yang produktif dan harmonis dapat dipertahankan melalui asosiasi antara manajemen dengan karyawan. 6. Mengembangkan iklim lingkungan dimana kerjasama tim dan fleksibilitas dapat berkembang. 7. Membantu organisasi menyeimbangkan dan mengadaptasikan kebutuhan pihak terkait (pemilik, lembaga atau wakil pemerintah,

20

manajemen, karyawan, pelanggan, pemasok dan masyarakat luas). 8. Memastikan bahwa orang dinilai atau dihargai berdasarkan apa yang mereka lakukan dan mereka capai. 9. Mengelola karyawan yang beragam, memperhitungkan perbedaan individu dan kelompok dalam kebutuhan penempatan, gaya kerja dan aspirasi. 10. Memastikan bahwa kesamaan tersedia untuk semua. 11. Mengadopsi pendekatan etis untuk mengelola karyawan yang didasarkan transportasi. 12. Mempertahankan dan memperbaiki kesejahteraan fisik dan mental karyawan. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas manajemen sumber daya manusia harus malaksanakan beberapa kelompok aktivitas yang semuanya saling berhubungan dan terkait, seperti yang terjadi dalam konteks organisasi meliputi : perencanaan sumber daya manusia, kompensasi dan tunjangan kesehatan, keselamatan dan keamanan, hubungan karyawan dan buruh. Namun di era globalisasi dimana teknologi membuat dunia seolah tanpa batas maka lingkungan eksternal menjadi bagian penting yang harus menjadi pertimbangan bagi semua pimpinan dalam melaksanakan aktivitas sumber daya manusia pada perhatian untuk karyawan, keadilan dan

diantaranya : hukum,politik, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi. Hal ini dikarenakan lingkungan eksternal seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari organisasi itu sendiri.

21

2.1.2 Kepemimpinan Konsep tentang kepemimpinan dalam dunia pendidikan tidak bisa terlepas dari konsep kepemimpinan secara umum. Konsep kepemimpinan secara umum sering dipersamakan dengan manajemen, padahal dua hal tersebut memiliki perbedaan yang cukup berarti. Dalam buku kepemimpinan karangan Miftah Toha (2006 : 5) mengartikan bahwa : Kepemimpinan adalah aktivitas untuk

mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi. Pengertian di atas didukung oleh pendapat Stephen P. Robbins dalam buku Manajement, Seven edition yang dialih bahasa oleh T. Hermaya (2005 : 128) memberikan arti kepemimpinan sebagai berikut : Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kelompok menuju

tercapainya sasaran. Sedangkan menurut AlanTucker dalam Syafarudin (2002 : 49) mengemukakan bahwa : kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi atau mendorong seseorang atau sekelompok orang agar bekerja secara sukarela untuk mencapai tujuan tertentu atau sasaran dalam situasi tertentu. Hal ini memberikan suatu perspektif bahwa seorang manajer dapat berperilaku sebagai seorang pemimpin, asalkan dia mampu mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Tetapi seorang pemimpin belum tentu harus menyandang jabatan manajer. Menurut Andrew J. Dubrin dalam Buku The Complete Ideals Guides to Leadership 2nd Edition yang dialih bahasa oleh Tri Wibowo BS

22

(2006 : 4) arti kepemimpinan yang sesungguhnya dapat dijelaskan dengan banyak cara. Berikut ini adalah beberapa definisinya : 1. Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi banyak orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan. 2. Kepemimpinan adalah cara mempengaruhi orang dengan petunjuk atau perintah 3. Kepemimpinan adalah tindakan yang menyebabkan orang lain bertindak atau merespon dan menimbulkan perubahan positif. 4. Kepemimpinan adalah kekuatan dinamis penting yang memotivasi dan mengkoordinasikan organisasi dalam rangka mencapai tujuan. 5. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan rasa percaya diri dan dukungan diantara bawahan agar tujuan organisasional tercapai. Kepemimpinan sebenarnya dapat berlangsung dimana saja, karena kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai maksud tertentu.

Berdasarkan definisi kepemimpinan yang berbeda terkandung kesamaan arti yang bersifat umum. Seorang pemimpin merupakan orang yang memberikan inspirasi, membujuk, mempengaruhi dan memotivasi orang lain. Untuk

membedakan pemimpin dari non-pemimpin dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan teori perilaku. Menurut Stephen P Robbins dalam buku Management, Seven Edition yang dialih bahasa oleh T. Hermaya (2005 : 129) menyatakan bahwa : Teori prilaku adalah teori-teori kepemimpinan yang mengenali perilaku yang membedakan pemimpin yang efektif dari yang tidak efektif. Teori perilaku ini tidak hanya memberikan jawaban yang lebih pasti tentang sifat kepemimpinan, tetapi juga mempunyai implikasi nyata yang cukup berbeda dari pendekatan ciri.

23

Selanjutnya

Stephen

Robbins

dalam

buku

yang

sama

mengemukakan bahwa terdapat enam ciri yang berkaitan dengan kepemimpinan yaitu : 1. Dorongan. Pemimpin menunjukkan tingkat usaha yang tinggi. 2. Kehendak untuk memimpin. Pemimpin mempunyai kehendak yang kuat untuk mempengaruhi dan memimpin orang lain. 3. Kejujuran dan integritas. Pemimpin membangun hubungan saling mempercayai antara mereka sendiri dan pengikutnya dengan menjadi jujur dan tidak menipu. 4. Kepercayaan diri. Para pengikut melihat pemimpinnya tidak ragu akan dirinya. 5. Kecerdasan. Pemimpin haruslah cukup cerdas untuk mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan banyak informasi, dan mereka perlu mampu untuk menciptakan visi, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang tepat. 6. Pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan. Pemimpin yang efektif mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi tentang perusahaan, industry dan hal-hal teknis. Menurut Thoha dalam buku Kepemimpinan dalam Manajemen (2006 : 31) terdapat beberapa teori kepemimpinan diantaranya : 1. Teori Sifat (Trait Theory) Ada empat sifat yang berpengaruh terhadap keberhasilan

kepemimpinan, yaitu : kecerdasan, kedewasaan dan kekuasaan hubungan sosial, motivasi diri dan dorongan berprestasi, sikapsikap hubungan kemanusiaan. 2. Teori Kelompok Teori ini beranggapan bahwa kelompok bisa mencapai tujuantujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif diantara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. 3. Teori Situasional Teori ini mengemukakan bahwa kepemimpinan dipengaruhi situasisituasi yang ada di sekitarnya.

24

4. Teori Jalan Kecil Tujuan Teori ini menggunakan kerangka teori motivasi. Mereka

beranggapan bahwa perilaku pemimpin akan bisa menjadi faktor motivasi terhadap bawahan, jika perilaku itu dapat memuaskan. 5. Teori Social Learning Merupakan suatu teori yang dapat memberikan suatu model yang menjamin kelangsungan, interaksi timbale balik antara pemimpin lingkungan dan perilakunya sendiri. Penjelasan teori kepemimpinan ini melahirkan suatu tinjauan bahwa untuk memimpin seseorang harus memiliki gaya kepemimpinan. Menurut Robbins dalam buku Management Seven Edition yang dialih bahasa oleh T Hermaya (2005 : 130) ada beberapa gaya atau Style kepemimpinan pemimpin diantaranya : 1. Pada Periode Pertama Gaya Otokratis : Pemimpin yang cenderung memusatkan wewenang, mendiktekan metode kerja, membuat keputusan unilateral, dan membatasi partisipasi karyawan. Gaya Demokratis : Pemimpin yang cenderung melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan, mendelegasikan yang banyak mempengaruhi perilaku keberhasilan seorang

dalam

mempengaruhi

pengikut-pengikutnya,

wewenang, mendorong partisipasi dalam memutuskan metode dan sasaran kerja dan menggunakan umpan balik sebagai peluang untuk melatih karyawan.

25

Gaya Laissez-Faire : Pemimpin yang umumnya memberikan kelompok kebebasan penuh untuk membuat keputusan dan menyelesaikan pekerjaan dengan cara apa saja yang dianggap sesuai.

2. Pendapat para Ahli Gaya Kepemimpinan Kontinum Terdapat dua bidang pengaruh yang eksterm antara pengaruh pemimpin dan kebebasan bawahan. Gaya Managerial Grid Dimana manajer berhubungan dengan dua hal yaitu produksi dan orang-orang. Tiga Dimensi dari Reddin Merupakan gaya penyempurnaan dari manajerial grid dengan menambahkan efektivitas dalam modelnya. Empat Sistem Manajemen dari Likert Dimana pemimpin dapat berhasil jika bergaya participative management, yaitu jika berorientasi pada bawahan dan mendasarkan pada komunikasi. Berdasarkan beberapa pembahasan tentang teori kepemimpinan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk mau bekerja sama agar mau melakukan tindakan dan perbuatan dalam mencapai tujuan bersama.

26

2.1.3. Kepemimpinan Kepala Sekolah Sejalan dengan uraian kepemimpinan di atas kepemimpinan dalam organisasi sekolah secara umum sama. Kepala Sekolah adalah pemimpin sekaligus manajer yang harus mengatur, memberi perintah sekaligus mengayomi bawahannya yaitu para guru dan menyelesaikan masalahmasalah yang timbul. Wahjosumidjo (2002 : 83) mengartikan bahwa : Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Sementara Rahman dkk (2006 : 106) mengungkapkan bahwa Kepala sekolah adalah seorang guru (Jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan structural (kepala sekolah) di sekolah. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah adalah seorang guru yang mempunyai kemampuan untuk memimpin dan memanaj segala sumber daya yang ada pada suatu

sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama. Berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah A. Tabrani Rusyan (2000) menyatakan bahwa : Kepemimpinan kepala sekolah memberikan motivasi kerja bagi peningkatan produktivitas kerja guru dan hasil belajar siswa. Kepemimpinan kepala sekolah harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, karena tanggung jawab kepala sekolah sangat penting dan menentukan tinggi rendahnya hasil belajar para siswa, juga produktivitas dan semangat kerja guru tergantung kepala sekolah dalam arti sampai sejauh mana kepala sekolah mampu menciptakan kegairahan kerja dan sejauh mana kepala

27

sekolah mampu mendorong bawahannya untuk bekerja sesuai dengan kebijaksanaan dan program yang telah digariskan sehingga produktivitas kerja guru tinggi dan hasil belajar siswa meningkat. Sebenarnya dalam mencapai tujuan bersama, pemimpin dan anggotanya mempunyai ketergantungan satu dengan yang lainnya. Setiap anggota organisasi mempunyai hak untuk memberikan sumbangan demi tercapainya tujuan organisasi. Oleh sebab itu, perlu adanya kebersamaan. Rasa kebersamaan dan rasa memiliki pada diri setiap anggota mampu menimbulkan suasana organisasi yang baik. Menurut Supriadi dalam bukunya (editor) Sejarah Pendidikan Teknik dan Kejuruan di Indonesia (2002 : 268). Ada tujuh indikator keberhasilan seorang kepala sekolah, yaitu : 1. Kepala Sekolah sebagai Manajer. 2. Kepala Sekolah sebagai Pemimpin 3. Kepala Sekolah sebagai Wirausaha 4. Kepala Sekolah sebagai Pencipta Iklim Kerja 5. Kepala Sekolah sebagai Pendidik 6. Kepala Sekolah sebagai Administrator 7. Kepala Sekolah sebagai Penyelia Supriadi juga mengatakan bahwa kepemimpinan adalah

kepribadian dan integritas serta kemampuan untuk meyakinkan dan mengarahkan orang lain, untuk mencapai tujuan sesuai dengan sasaran. Hal tersebut di atas meliputi kepribadian, kemampuan memotivasi, pengambilan keputusan, komunikasi dan pendelegasian wewenang. Sedangkan menurut Mulyasa (2009 : 90) : Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan

28

sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Pendapat tersebut di atas mengandung arti bahwa kepala sekolah dituntut untuk mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif untuk meningkatkan mutu sekolah. Kepemimpinan khususnya di lembaga pendidikan memiliki ukuran atau standar pekerjaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah selaku pimpinan tertinggi. Menurut Mulyasa (2009 : 98) disampaikan bahwa seorang kepala sekolah harus melakukan perannya sebagai pimpinan dengan menjalankan fungsi : a. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik) b. Kepala sekolah sebagai manajer c. Kepala sekolah sebagai administrator d. Kepala sekolah sebagai supervisor e. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) f. Kepala sekolah sebagai inovator g. Kepala sekolah sebagai motivator Kepala sekolah yang mampu menjalankan fungsi-fungsi di atas dengan baik dapat dikatakan kepala sekolah memiliki kemampuan memimpin yang baik. Jadi, dengan demikian jelas bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin agar berhasil harus menjalankan sekurang-kurangya tujuh fungsi di atas selain juga memiliki kriteria lain seperti latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Kepala sekolah selain mampu untuk memimpin, mengelola sekolah juga dituntut mampu menciptakan suasana

29

yang kondusif di lingkungan kerja sehingga dapat memotivasi guru dalam bekerja dan dapat mencegah timbulnya disintegrasi atau perpecahan dalam organisasi.

2.1.4 Motivasi Kerja Motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Sikap dan nilai tersebut merupakan suatu yang invisible yang memberikan kekuatan untuk mendorong individu bertingkah laku dalam mencapai tujuan. Veithzal (2005 : 455 ). Beliau juga mengemukakan : Dua hal yang dianggap sebagai dorongan individu yaitu arah prilaku (kerja untuk mencapai tujuan) dan kekuatan prilaku (seberapa kuat usaha individu dalam bekerja). Beberapa ahli mengemukakan teori motivasi diantaranya :

a. Teori Kebutuhan dari Maslow (Hierarchy of Need Theory) Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila kebutuhan pegawai tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puas. Menurut Abraham Maslow mengemukakan bahwa hirarki kebutuhan manusia adalah :

30

1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs) yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan, minum, udara, perumahan dan lainnya. Dalam organisasi kebutuhan-kebutuhan ini dapat berupa uang, hiburan, program pension, lingkungan kerja yang nyaman. 2. Kebutuhan keselamatan dan keamanan (safety and security need) yaitu kebutuhan keamanan dari ancaman yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dalam melakukan pekerjaan. Dalam

organisasi kebutuhan ini dapat berupa keamanan kerja, senioritas, program pemberhentian kerja, uang pesangon. 3. Kebutuhan rasa memiliki (social need) yaitu kebutuhan akan teman, cinta dan memiliki. Sosial need di dalam organisasi dapat berupa keompok kerja (team work) baik secara formal maupun informal. 4. Kebutuhan akan harga diri (esteem need or status needs) yaitu kebutuhan akan penghargaan diri, pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungan. Dalam organisasi kebutuhan ini dapat berupa reputasi diri, gelar dsb. 5. Kebutuhan akan perwujudan diri (self actualization) adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunaka kecakapan, kemampuan, keterampilan dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan atau luar biasa yang sulit dicapai orang lain. Selanjutnya, Abraham Maslow berpendapat bahwa orang dewasa (pegawa bawahan) secara normal harus terpenuhi minimal

31

85% kebutuhan fisiologi, 70% kebutuhan rasa aman, 50% kebutuhan sosial, 40% kebutuhan penghargaan, dan 15% kebutuhan aktualisasi diri, keluarga, dan bisa menjadi penyebab terjadinya konflik kerja. Dengan demikian, jika kebutuhan pegawai tidak terpenuhi, pemimpin akan mengalami kesulitan dalam memotivasi pegawai.

b. Teori Motivasi Dua Faktor dari Herzberg (the two Factors Theory) Frederick Herzberg, Bernard Mausner dan Barbara

Snyderman mengadakan studi tentang motivasi kerja karyawan industri. Berdasarkan studi tersebut, Herzberg dan kawan-kawan merumuskan teori motivasi yang disebut dengan Teori Dua Faktor. Teori ini dikenal juga dengan teori Motivator Hygienes. Tim peneliti ini mengadakan penelitian terhadap 203 akuntan dan insinyur. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dan interviu. Atas dasar hasil penelitiannya, Herzberg memisahkan dua kategori pekerjaan, yaitu : 1. Faktor Motivasional Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya instrinsik yang berarti bersumber dalam diri seseorang. 2. Faktor Hygiene Yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan prilaku seseorang dalam

kehidupannya.

32

Herzberg berpendapat bahwa baik faktor motivasional yang bersifat intrinsik maupun faktor pemeliharaan yang bersifat ekstrinsik dapat mempengaruhi seseorang dalam bekerja. Termasuk faktor motivasional yang bersifat intrinsik adalah prestasi yang dicapai, pengakuan, dunia kerja, tanggung jawab dan kemajuan. Termasuk ke dalam faktor pemeliharaan yang bersifat ekstrinsik adalah hubungan interpersonal antara atasan dan bawahan, teknik supervisi, kebijakan administratif, kondisi kerja, dan kehidupan pribadi. Kedua faktor tersebut berpengaruh besar terhadap motivasi seseorang. Meskipun demikian bukanlah sesuatu yang mutlak dapat dikuantifikasi, karena motivasi berhubungan dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Masalah yang dihadapi oleh guru berbeda denga apa yang dihadapi oleh karyawan perusahaan. Guru, di samping menghadapi permasalahan dalam berhubungan dengan siswa, juga dalam berhubungan dengan kepala sekolah dan pejabat di atasnya. Proses belajar mengajar dalam organisasi sekolah mempunyai masalah tersendiri. Guru sekolah lanjutan pada umumnya berinteraksi dengan banyak siswa setiap hari pada situasi yang hampir sama dan terkadang bersifat pribadi, lebih-lebih guru borongan atau selfcontained classroom. Pada umumnya guru relatif jarang berinteraksi dengan

supervisor atau pengawas. Pelaksanaan supervisi di sekolah pun berbeda dengan di perusahaan. Postulat teori dua factor, bahwa ada seperangkat factor (motivator) yang menghasilkan kepuasan, dan ada

33

seperangkat lain (hygienes) menghasilkan ketidakpuasan. Dua hal ini tidaklah berlawanan, melainkan merupakan dua dimensi yang berbeda di dalam organisasi.

c. Theory X and Theory Y dari Douglas Mc Gregor Douglas Mc Gregor mengajukan dua pandangan yang

berbeda tentang manusia; negatif dengan tanda label X dan positif dengan tanda label Y. setelah melakukan penyelidikan tentang perjanjian seorang manajer dan karyawan, Mc Gregor merumuskan asumsi-asumsi dan perilaku manusia dalam organisasi sebagai berikut: Teori X (negatif) merumuskan asumsi sebagai berikut : Karyawan sebenarnya tidak suka bekerja dan jika ada kesempatan dia akan menghindari atau bermalas-malasan dalam bekerja. Semenjak karyawan tidak suka atau tidak menyukai pekerjaannya, mereka harus diatur dan dikontrol bahkan mungkin ditakut-takuti untuk menerima sangsi hukum jika tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Karyawan akan menghindari tanggung jawabnya dan mencari tujuan formal sebisa mungkin. Kebanyakan karyawan menempatkan keamanan di atas factor lainnya yang berhubugan erat dengan pekerjaan dan akan

menggambarkannya dengan sedikit ambisi. Teori Y (positif) memiliki asumsi asumsi sebagai berikut :

34

Karyawan dapat memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang lumrah dan alamiah baik tempat bermain atau beristirahat, dalam artian berdiskusi atau sekedar teman bicara. Manusia akan melatih tujuan pribadi dan pengontrolan diri sendiri jika mereka melakukan komitmen yang sangat objektif. Kemampuan untuk melakukan keputusan yang cerdas dan inovatif adalah tersebar secara meluas di berbagai kalangan tidak hanya melulu dari kalangan top manajement atau dewan direksi. Jadi, teori Mc Gregor ini lebih memihak kepada asumsiasumsi Y yang positif dari perilaku sumber daya manusia dalam organisasi. Boleh jadi, ide-ide secara partisipasi dalam mengambil keputusan, dan tanggung jawab atau grup relasi sebagaipendekatan untuk memotivasi karyawan dalam kepuasan kerjanya. Semua manajer haruslah menggunakan kedua jenis motivasi tersebut. Masalah utama dari teori ini adalah proporsi penggunaannya, dan juga kapan kita akan menggunakannya. Para pimpinan yang lebih percaya bahwa ketakutan akan mengakibatkan seseorang segera bertindak, mereka akan lebih banyak menggunakan motivasi teori X (negatif). Sebaliknya jika pimpinan percaya kesenangan akan menjadi dorongan bekerja, ia akan banyak menggunakan motivasi yang positif. Walaupun demikian tidak ada seorang pimpinan pun yang sama sekali tidak pernah menggunakan motivasi negatif. Penggunaan masingmasing jenis motivasi ini, dengan segala bentuknya haruslah mempertimbangkan situasi dan orangnya, sebab pada hakekatnya setiap individu adalah berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

35

Suatu dorongan yang mungkin efektif bagi seseorang, mungkin tidak efektif bagi orang lain. Seseorang dengan disindir saja mungkin sudah tahu apa yang dimaksudkan, tetapi bagi orang lain mungkin perlu ditegur secara langsung sehingga baru tahu apa yang dimaksudkan oleh rekan kerjanya, atau pimpinannya.

d. Teory ERG (Existence, Relatedness, Growth) dari Aldefer Teori ERG merupakan refleksi dai tiga dasar kebutuhan, yaitu: 1. Existence needs, kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari eksistensi pegawai, seperti makan, minum, pakaian, bernafas, gaji, keamanan kondisi kerja, fringe benefits. 2. Relatedness needs, kebutuhan interpersonal, yaitu kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan kerja. 3. Growth needs, kebutuhan untuk mengembangkan dan

meningkatkan pribadi. Hal ini berhubugan dengan kemampuan dan kecakapan pegawai. e. Teori Insting Teori motviasi insting timbulnya berdasarkan teori evaluasi Charles Darwin. Beliau berpendapat bahwa tindakan yang intelligent merupakan refleksi dari instingtif yang diwariskan. Oleh karena itu, tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya dan dikontrol oleh pikiran.

f. Teori Drive

36

Konsep Drive menjadi konsep yang tersohor dalam bidang motivasi sampai tahun1918. Woodworth menggunakan konsep

tersebut sebagai energy yang mendorong organisasi untuk melakukan suatu tindakan. Kata Drive dijelaskan sebagai aspek motivasi dari tubuh yang tidak seimbang misalnya, kekurangan makanan

mengakibatkan berjuang untuk memuaskan kebutuhannya agar kembali menjadi seimbang. Motivasi didefinisikan sebagai suatu dorongan yang membangkitkan untuk keluar dari ketidakseimbagan atau tekanan. Clark L. Hull berpendapat bahwa belajar terjadi sebagai akibat dari reinforcement. Beliau berasumsi bahwa semua hadiah (reward) pada akhirnya didasarkan atas reduksi dan drive keseimbangan (home static drive). Teori Hull dirumuskan secara sistematik yang merupakan hubungan antara drive dan habit strength. Kekuatan motivasi = Fungsi (drive x habit) Habit strenght adalah hasil factor-faktor reinforcement sebelumnya. Drive adalah jumlah keseluruhan ketidakseimbangan fisiologi atau (physiological imbalance) uang disebabkan oleh kehilangan atau kekurangan kebutuhan komoditas untuk kelangsungan hidup.

Berdasarkan perumusan teori Hull tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi seorang pegawai sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam dirinya (drive) dan faktor kebiasaan (habit) pengalaman kerja sebelumnya.

37

g. Teori Lapangan Teori lapangan merupakan konsep dari Kurt Lewin. Teori ini merupakan pendekatan kognitif untuk mempelajari perilaku dan motivasi. Teori lapangan lebih memfokuskan pada insting dan habit. Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari lapangan pada momen waktu. Kurt Lewin juga percaya pada pendapat ahli psikologi Gestalt yang mengemukakan bahwa perilaku ini merupakan fungsi dari seorang pegawai dengan lingkungannya.

2.1.5 Disiplin Kerja Simamora dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi III (2006 : 610) menyatakan bahwa : Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan atau prosedur. Disiplin merupakan bentuk pengendalian diri karyawan dan pelaksanaan yang teratur dan menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam suatu organisasi. Menurut Alma (2003 : 186) mengatakan bahwa : Disiplin dapat diartikan sebagai suatu sikap patuh, tingkah laku, dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan perusahaan baik lisan maupun tertulis. Singodimejo dalam Sutrisno (2009 : 85) mengatakan bahwa disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan mentaati norma-norma peraturan yang berlaku di sekitarnya. Sementara Sinungan (2003 ; 135) mendefinisikan disiplin sebagai : Sikap kejiwaan dari seseorang atau sekelompok orang yang senantiasa berkehendak untuk mengikuti/mematuhi segala aturan/keputusan yang telah ditetapkan.

38

Senada dengan pendapat di atas, Fathoni (2006 : 172) mengartikan disiplin sebagai : Kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan organisasi dan norma-norma sosial yang berlaku. Selanjutnya Fathoni menjelaskan bahwa : Kedisiplinan diartikan bilamana karyawan selalu datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, mematuhi semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah sikap dan perbuatan guru dalam mentaati semua pedoman dan peraturan yang telah ditentukan untuk tercapainya tujuan organisasi. Disiplin berkaitan erat dengan perilaku karyawan dan berpengaruh terhadap kinerja. Menurut Siagian dalam Sutrisno (2009 : 86), bentuk disiplin yang baik akan tercermin pada suasana di lingkungan organisasi sekolah, yaitu: 1. Tingginya rasa kepedulian guru terhadap pencapaian visi dan misi sekolah. 2. Tingginya semangat, gairah kerja dan inisiatif para guru dalam mengajar. 3. Besarnya rasa tanggung jawab guru untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. 4. Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solideritas yang tinggi di kalangan guru. 5. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

39

Suatu asumsi bahwa pemimpin mempunyai pengaruh langsung pada sikap kebiasaan yang dilakukan karyawan. Kebiasaan itu dampak dari keteladanan yang dicontohkan oleh pimpinan. Oleh karena itu, jika mengharapkan karyawan memiliki tingkat disiplin yang baik, maka pemimpin harus memberikan kepemimpinan yang baik pula. Menurut Singodimedjo dalam Sutrisno (2009 : 89), faktor yang mempengaruhi disiplin guru adalah : 1. Besar kecilnya pemberian kompensasi. 2. Ada tidaknya keteladanan kepala sekolah. 3. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan. 4. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan. 5. Ada tidaknya pengawasan pimpinan. 6. Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan. 7. Diciptakan disiplin. 8. Pengembangan struktur organisasi yang sehat. 9. Adanya suatu program yang lengkap atau baik untuk memelihara semangat dan disiplin guru. Disiplin merupakan fungsi operatif dari Manajemen Sumber Daya Manusia yang terpenting, karena semakin baik disiplin karyawan semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin yang baik, sulit bagi organisasi mencapai hasil yang optimal. Pada umumnya apabila orang memikirkan tentang disiplin, yang terbayang adalah berupa hukuman berat, padahal hukuman hanya sebagian dari seluruh persoalan disiplin. Dengan disiplin kerja yang baik diharapkan akan terwujud kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya

40

lingkungan yang tertib, berdaya guna dan berhasil guna melalui seperangkat peraturan yang jelas dan tepat. Umumnya disiplin ini dapat dilihat dari indikator seperti : guru datang ke tempat kerja tepat waktu ; berpakaian rapih, sopan, memperhatikan etika cara berpakaian

sebagaimana mestinya seorang pegawai; guru mempergunakan alat-alat dan perlengkapan sesuai ketentuan, mereka bekerja penuh semangat dan bekerja sesuai dengan aturan yang ditetapkan lembaga. Kebiasaankebiasaan di atas akan terwujud kalau para pegawainya mempunyai disiplin yang baik. Penanaman disiplin ini tentunya perlu diterapkan oleh seorang pemimpin terhadap bawahannya untuk menciptakan kualitas kerja yang baik. Penerapan disiplin kerja di lingkungan kerja, memang awalnya akan dirasakan berat oleh para pegawai, tetapi apabila terus menerus diberlakukan akan menjadi kebiasaan, dan disiplin tidak akan menjadi beban berat bagi para pegawai. Disiplin ini perlu diterapkan di lingkungan kerja, karena seperti telah disinggung di atas bahwa disiplin tidak lahir begitu saja, tetapi perlu adanya pembinaan-pembinaan dalam

menegakkan disiplin kerja ini. Hal di atas sejalan dengan pendapat Moenir yang dikutif Dahyana (2001 : 11), bahwa kondisi disiplin kerja pegawai tidak langsung tercipta begitu saja, melainkan harus ada kemauan dan usaha semua pihak terutama pihak pimpinan untuk menumbuhkan disiplin kerja. Sehubungan dengan itu, bagaimana mewujudkan disiplin kerja yang baik dalam organisasi.

41

Dalam memberikan kedisiplinan kepada bawahan seorang pemimpin mempunyai gaya yang berbeda-beda tergantung kepada kemampuan dan keilmuan yang dimiliki oleh pimpinan. Selanjutnya Maryoto (2001: 98) mengatakan bahwa : Pimpinan dalam pembinaan disiplin terhadap bawahan harus memperhatikan : pengawasan yang berkelanjutan, mengetahui organisasi yang dipimpinnya, instruksi harus jelas dan tegas tidak membingungkan bawahan. Menurut prosedur kerja yang sederhana dan mudah dipahami, membuat kegiatan yang dapat menyibukkan anak buah. Disamping itu untuk membina selanjutnya telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, disebutkan ada tiga tingkatan dan jenis hukuman disiplin pada pegawai negeri sipil. Hukuman disiplin terdiri dari : (1) (2) (3) Hukuman disiplin ringan Hukuman disiplin sedang, dan Hukuman disiplin berat.

2.1.6 Kinerja Pengertian kinerja atau prestasi kerja pegawai menurut beberapa ahli memiliki pengertian yang sama namun para ahli lain mengatakan berbeda. Armstrong dan Baron dalam Wibowo (2007 : 2) menyampaikan bahwa : Kinerja (performance) adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi. Menurut Siswanto Bejo (2005 : 195) prestasi kerja adalah : Hasil kerja yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

42

Pada umumnya prestasi kerja seorang tenaga kerja antara lain dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman, kesanggupan tenaga kerja yang bersangkutan. Sedangkan menurut Mangkunegara (2002 : 67), kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Mathis dan Jackson (2002 : 78) menyatakan bahwa unsur yang membentuk kinerja pegawai antara lain : kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tempat kerja, dan sikap kooperatif. Sementara Gomez (2001 : 142) mengemukakan unsur yang berkaitan dengan kinerja terdiri dari : 1. Quantity of work, yakni jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikan pada periode tertentu. 2. Quality of work, yaitu kualitas pekerjaan yang dicapai berdasarkan syarat yang ditentukan. 3. Job knowledge, yakni pemahaman pegawai pada prosedur kerjadan informasi teknis tentang pekerjaan. 4. Creativeness, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi dan dapat diandalkan dalam pekerjaan. 5. 6. Cooperation, yaitu kerjasama dengan rekan kerja dan atasan. Dependability, yakni kemampuan menyelesaikan pekerjaan tanpa tergantung kepada orang lain. 7. 8. Inisiative, yakni kemampuan melahirkan ide-ide dalam pekerjaan. Personal qualities, yaitu kemampuan dalam berbagai bidang pekerjaan.

43

Dari berbagai pengertian kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja/ prestasi kerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta tepat waktu. Wujud kinerja dapat dilihat dari tingkat prestasi kerja yang berupa hasil kerja, kemampuan dan penerimaan atas kejelasan delegasi tugas serta minat seorang pekerja.

2.1.7 Kinerja Guru Rachman Natawijaya (2006 : 22) secara khusus mendefinisikan kinerja guru sebagai seperangkat perilaku nyata yang ditunjukkan guru pada waktu dia memberikan pembelajaran kepada siswa. Kinerja guru bila mengacu pada pengertian Mangkunegara bahwa tugas yang dihadapi oleh seorang guru meliputi : membuat program pengajaran, memilih metode dan media yang sesuai untuk penyampaian, melakukan evaluasi, dan melakukan tindak lanjut dengan pengayaan dan remedial. Menurut Undang- Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa : Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Selanjutnya pada Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa : Professional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

44

Guru

merupakan

ujung

tombak

pelaksana

pendidikan.

Keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya merupakan cerminan dari kinerja guru, dan hal tersebut terlihat dari aktualisasi kompetensi guru dalam merealisasikan tugas profesinya. Sehubungan dengan kinerjanya maka guru ada yang memiliki kinerja baik dan ada juga yang memiliki kinerja kurang baik. Guru yang memiliki kinerja yang baik disebut guru yang profesional (Supriadi, 1998 : 98). Tugas profesional guru menurut pasal 2 Undang-Undang No. 14 tahun 2005 meliputi : a) Melaksanakan pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. b) Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara

berkelanjutan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. c) Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan hukum dan kode etik guru serta nilai-nilai agama dan etika dan dapat memelihara, memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

2.1.8 Pengukuran Kinerja Guru Kemampuan (ability), keterampilan (skill), dan motivasi (motivation) akan memberikan kontribusi positif terhadap kualitas kinerja personil apabila disertai dengan upaya (effort) yang dilakukan untuk

mewujudkannya. Upaya yang dilakukan suatu organisasi akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas kinerja organisasi sehingga

mendukung pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

45

Guna mencapai kinerja yang tinggi terdapat kriteria kinerja, meliputi: 1. Kemampuan intelektual berupa kualitas untuk berfikir logis, praktis dan menganalisis sesuai dengan konsep serta kemampuan dan mengungkapkan dirinya secara jelas. 2. Ketegasan, merupakan kemampuan untuk menganalisa

kemungkinan dan memiliki komitmen terhadap pilihan yang pasti secara tepat dan singkat. 3. Semangat (antusiasme), berupa kapasitas untuk bekerja secara aktif dan takkenal lelah. 4. Berorientasi pada hasil, merupakan keinginan intrinsik dan memiliki komitmen untuk mencapai suatu hasil dan menyelesaikan

pekerjaannya. 5. Kedewasaan sikap dan perilaku yang pantas, merupakan

kemampuan dalam melakukan pengendalian emosi dan disiplin diri yang tinggi. Didalam pelaksanaannya kinerja guru atau tenaga kependidikan dapat diukur dengan menggunakan lima aspek yang dapat dijadikan dimensi pengukuran yag disampaikan oleh Mitchell dikutip Mulyasa (2009 ; 138) yaitu : 1. Quality of Work (kualitas kerja) 2. Promtness (ketepatan waktu) 3. Initiative (inisiatif) 4. Capability (kemampuan) 5. Communication (komunikasi

46

2.1.10 Hasil Penelitian Sebelumnya

No Nama dan Judul Penelitian 1. Sutopo Slamet, Pasca Unsud, (Tesis, 2007), Analisis Kepemimpinan, Kecerdasan Emosi, Kedisiplinan dan Kompetensi terhadap Kinerja Guru SMPN 8 Purworejo Rijanto, Pasca Unsud (tesis 2008), Pengaruh Komitmen, Motivasi Kerja dan Infrastruktur terhadap Kinerja Petugas Sistem Informasi Manajemen Puskesmas

Hasil Penelitian Kepemimpinan, kecerdasan emosi, kedisiplinan, dan kompetensi secara bersama mempunyai pengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja guru sebesar 86,7 % Variabel Motivasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja SIM Pus. Hal ini dibuktikan bahwa nilai t hitung variabel tsb lebih besardari t tabel ( 4,085 > 2,03) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Variabel yang paling dominan adalah motivasi dengan nilai terbesar ( = 0,620) diantara variabel lainnya. Terdapat pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja pegawai memberikan kontribusi sebesar 45,3 %

2.

3.

4.

5.

Fylan Ulga, Pasca Airlangga (tesis, 2005), Pengaruh Faktor Kepuasan yang berupa Kompensasi dan Disiplin Kerja terhadap Peningkatan Kinerja Pegawai PT Telkom Kantor Cabang Telekomunikasi Dede Hasan Kurniadi, Pasca UPI Bandung (tesis, 2002), Kemampuan Manajerial dalam Memotivasi dan Mendisiplinkan Karyawan Dikaitkan dengan Produktivitas Kerjanya di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Romlah, Pascasarjana STIE Pasundan Bandung (tesis, 2010), Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kompetensi dan Motivasi terhadap Kinerja Guru SMPN 1 Margahayu Kabupaten Bandung

Terdapat pengaruh kemampuan manajerial terhadap produktivitas kerja sebesar 22,70 % dan mendisiplinkan karyawan sebesar 37,40 %

Kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi dan motivasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja guru sebesar 79,4 %.

47

2.2

Kerangka Berfikir

2.2.1 Kinerja Guru Guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Dikatakan demikian karena guru merupakan individu yang berhadapan langsung dengan para siswanya. Tinggi rendahnya prestasi siswa berkaitan erat dengan kinerja guru yang sehari-hari mendampingi siswanya. Oleh karena itu guru yang memiliki kinerja yang baik merupakan guru yang diharapkan oleh lembaga maupun siswanya untuk terus melakukan tugasnya dengan baik. Menurut (Hickhmen : 1990) bahwa tinggi rendahnya kinerja pada dasarnya dapat diukur dengan menggunakan : 1. Kualitas 2. Kemampuan 3. Inisiatif 4. Komunikasi 5. Ketepatan waktu Menurut Undang- Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa : Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Keenam tugas utama guru tersebut di atas dapat dijadikan dimensi pengukuran kinerja guru professional.

48

Kinerja guru tidak dapat terwujud dengan sendirinya namun timbul diakibatkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara faktorfaktor tersebut adalah :

2.2.2 Kepemimpinan Kepala Sekolah Kepala sekolah merupakan orang yang memiliki kemampuan propesional yang bekerja berdasarkan pola kinerja propesional yang disepakati bersama untuk memberi kemudahan dan mendukung

keberhasilan pembelajaran. (Mulyasa, 2006 : 37) Keberhasilan pembelajaran berkaitan erat dengan kinerja guru yang menjalankan tugasnya. Untuk mewujudkan kinerja guru yang optimal diperlukan kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis dan

propesional. Dengan demikian terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah sangat berpengaruh terhadap kinerja guru. Jadi, atas dasar itu diduga terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru. Artinya makin baik kepemimpinan kepala sekolah makin baik pula kinerja seorang guru. Demkian pula sebaliknya makin buruk kepemipinan kepala sekolah makin rendah kinerja seorang guru. Menurut Mulyasa (2009 : 90) bahwa dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah sedikitnya harus berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator (EMASLIM). Keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dapat diukur dengan menggunakan dimensi keenam fungsi tersebut.

2.2.2.1 Kepala Sekolah sebagai Edukator atau Pendidik Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah

49

harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan propesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasihat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik seperti team teaching, moving class, dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. Sebagai edukator, kepala sekolah harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. Dalam hal ini faktor kepala pengalaman sekolah, akan terutama sangat dalam mempengaruhi terbentuknya

propesionalisme

pemahaman tenaga kependidikan terhadap pelaksanakan tugasnya. Pengalaman semasa menjadi guru, menjadi wakil kepala sekolah, atau menjadi anggota organisasi kemasyarakatan sangat mempengaruhi kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan pekerjannya, demikian halnya pelatihan dan penataran yang pernah diikutinya. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor

0296/U/1996, merupakan landasan penilaian kinerja kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai educator harus memiliki kemampuan untuk membimbing guru, membimbing tenaga kependidikan nonguru,

membimbing peserta didik, mengembangkan tenaga kependidikan, mengikuti perkembangan iptek, dan memberi contoh mengajar.

2.2.2.2 Kepala Sekolah sebagai Manajer Manajemen merencanakan, pada hakekatnya merupakan suatu proses dan

mengorganisasikan,

melaksanakan,

memimpin

50

mengendalikan usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikatakan suatu proses, karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimilikinya mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberi

kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.

2.2.2.3 Kepala Sekolah sebagai Administrator Kapala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi kearsipan, dan mengelola administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu menjabarkan kemampuan di atas dalam tugas-tugas operasional.

51

Dalam melaksanakan tugas-tugas operasional, kepala sekolah sebagai administrator, khususnya dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas sekolah, dapat dianalisis berdasarkan beberapa pendekatan, baik pendekatan sifat, pendekatan perilaku, maupun pendekatan

situasional. Dalam hal ini kepala sekolah harus mampu bertindak situasional, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Meskipun demikian pada hakekatnya kepala sekolah harus lebih mengutamakan tugas (task oriented), agar tugas-tugas yang diberikan kepada setiap tenaga kependidikan bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Di samping berorientasi terhadap tugas, kepala sekolah juga harus menjaga hubungan kemanusiaan dengan para stafnya, agar setiap tenaga kependidikan dapat melaksanakan tugas dengan baik, tetapi mereka tetap merasa senang dalam melakukan tugasnya. Dengan demikian, efektivitas kerja kepala sekolah bergantung pada tingkat pembauran antara gaya kepemimpinan dengan tingkat menyenangkan dalam situasi tertentu ketika para tenaga kependidikan melakukan tugas-tugas yang

diembankan kepadanya.

2.2.2.4 Kepala Sekolah sebagai Supervisor Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.

52

Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah; agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif. Kepala sekolah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan menyusun dan melaksanakan program supervise pendidikan, dan memanfaatkan hasilnya. Hasil supervisi bermanfaat untuk

meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan pengembangan sekolah. Pada prinsipnya setiap tenaga kependidikan atau guru harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan tugasnya. Jika jumlah guru cukup banyak, maka kepala sekolah dapat meminta bantuan wakilnya atau guru seniornya untuk membantu melaksanakan supervisi. Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh (1) meningkatnya kesadaran guru untuk meningkatkan kinerjanya (2) meningkatnya keterampilan guru dalam melaksanakan tugasnya. Kepala sekolah juga harus berupaya menjadikan sekolah sebagai sarana belajar yang lebih efektif

2.2.2.5 Kepala Sekolah sebagai Leader Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan,

membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (2002 : 110) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar,

53

pengalaman

dan

pengetahuan

professional,

serta

pengetahuan

administrasi dan pengawasan. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga

kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi. Kepribadian kepala sekolah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil resiko dan keputusan (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, (7) teladan. Pengetahuan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikan akan tercermin dalam kemampuan (1) memahami kondisi tenaga kependidikan (guru dan nonguru), (2) memahami kondisi dan karakteristik peserta didik, (3) menyusun program pengembangan tenaga kependidikan, (4)

menerima masukan, saran dan kritikan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kepemimpinannya.

2.2.2.6 Kepala Sekolah sebagai Inovator Dalam rangka melaksanakan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan yang baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan model pembelajaran yang inovatif.

54

Kepala sekolah sebagai inovator akan tercermin cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integrative, rasional, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adaptable dan fleksibel. Kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari,

menemukan dan melaksanakan pembaharuan di sekolah. Gagasan baru tersebut misalnya moving class, program akselerasi dan lain-lain.

2.2.2.7 Kepala Sekolah sebagai Motivator Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektivitas dan penyediaan sebagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar (PSB).

2.2.2. Motivasi Kerja Faktor yang tidak kalah pentingnya yang mempengaruhi kinerja guru adalah motivasi. Vroom dikutif Mulyasa (2006 : 136) menyampaikan bahwa : Performance = F (ability x motivasi) Menurut model ini kinerja seseorang merupakan fungsi perkalian antara kemampuan dan motivasi. Hubungan ini mengandung arti bahwa jika seseorang rendah pada salah satu komponen maka performancenya akan rendah pula. Dengan demikian jika motivasi rendah akan mengakibatkan kinerja yang rendah pula, namun sebaliknya jika motivasi tinggi akan meningkatkan kinerja yang tinggi pula.

55

Herzberg berpendapat bahwa ada faktor motivasional yang bersifat intrinsik dan faktor pemeiharaan yang bersifat ekstrinsik yang

mempengaruhi seseorang dalam bekerja. Termasuk faktor motivasional adalah prestasi yang dicapai, pengakuan, dunia kerja, tanggung jawab dan kemajuan. Termasuk ke dalam faktor pemeliharaan adalah hubungan interpersonal antara atasan dan bawahan, teknik supervisi, kebijakan administratif, kondisi kerja, dan kehidupan pribadi. Baik faktor motivasional maupun faktor pemeliharaan berpengaruh besar terhadap motivasi seseorang. Meskipun demikian bukanlah sesuatu yang mutlak dapat dikuantifikasi, karena motivasi berhubungan dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Masalah yang dihadapi oleh guru berbeda denga apa yang dihadapi oleh karyawan perusahaan. Guru, di samping menghadapi permasalahan dalam berhubungan dengan siswa, juga dalam

berhubungan dengan kepala sekolah dan pejabat di atasnya. Proses belajar mengajar dalam organisasi sekolah mempunyai masalah

tersendiri. Guru sekolah lanjutan pada umumnya berinteraksi dengan banyak siswa setiap hari pada situasi yang hampir sama dan terkadang bersifat pribadi, lebih-lebih guru borongan atau self-contained classroom. Dari uraian di atas maka faktor motivasional yang bersifat instrinsik dan faktor pemeliharaan yang bersifat ekstrinsik mempunyai pengaruh besar terhadap motivasi seseorang dan dapat dijadikan dimensi strandar pengukuran motivasi kerja guru.

56

2.2.3 Disiplin Kerja Kedisiplinan kerja pegawai dalam suatu organisasi dapat dilihat dari sikap pegawainya. Sikap dan tingkah laku pegawai berpatokan pada kepatuhan dalam melaksanakan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Mematuhi peraturan berarti memberi dukungan positif pada organisasi dalam melaksanakan program-program yang telah ditetapkan, sehingga akan lebih memudahkan tercapainya tujuan organisasi. Pegawai yang tertib dan disiplin, mentaati norma-norma dan peraturan yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas. Sebaliknya apabila pegawai atau karyawan dalam suatu organisasi tidak disiplin, maka akan sulit sekali melaksanakan program-programnya, sulit meningkatkan produktivitas dan sulit merealisasikan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Fathoni (2006 : 172) mengatakan bahwa kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan

perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Uraian di atas mengandung arti bahwa disiplin kerja adalah sikap dan perbuatan karyawan/guru dalam mentaati semua pedoman dan peraturan yang telah ditentukan untuk tercapainya tujuan organisasi. Disiplin berkaitan erat dengan perilaku karyawan dan berpengaruh terhadap kinerja. Selanjutnya Fathoni menyatakan bahwa : Kedisiplinan diartikan bilamana karyawan selalu datang dan pulang tepat waktu, mengerjakan semua pekerjaan dengan baik, mematuhi semua peraturan perusahaan

57

(organisasi) dan norma-norma sosial yang berlaku. Pernyataan diatas mengandung arti bahwa indikator keberhasilan pelaksanaan disiplin pegawai pada suatu organisasi terlihat dari tingkat ketepatan waktu, tingkat kesadaran dalam bekerja dan tingkat kepatuhan kepada peraturan. Berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi, maka salah satu faktor yang sangat menentukan adalah terciptanya disiplin kerja para pegawainya dengan asumsi bahwa dalam suasana disiplinlah organisasi akan dapat melaksanakan programprogram kerjanya untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dimensi

pengukuran disiplin kerja pada penelitian ini mengacu pada teori Fathoni yang menggunakan tiga kriteria pengukuran disiplin yaitu tingkat ketepatan waktu, tingkat kesadaran dalam bekerja dan tingkat kepatuhan kepada peraturan.

2.2.4 Keterkaitan Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Kepemimpinan adalah kemampuan dan keterampilan

mengarahkan yang merupakan faktor penting untuk efektivitas kinerja pemimpin, seperti yang diungkapkan oleh Veithzal Rivai bahwa : Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya untuk berfikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi. Dalam rangka melaksanakan peran dan fungsi sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif juga memberikan

58

kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan sekolah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan dukungan dan mempunyai hubungan yang baik terhadap bawahannya untuk senantiasa meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan uraian di atas maka terdapat keterkaitan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru. Artinya makin baik kepemimpinan kepala sekolah maka makin baik pula kinerja seorang guru. Demikian pula sebaliknya makin buruk kepemimpinan kepala sekolah maka makin rendah kinerja seorang guru.

2.2.5 Keterkaitan Motivasi Kerja dan Kinerja Berdasarkan hasil penelitian Mc. Clelland, Edward Murray, Miller dan Gordon W. yang dikutif Mangkunegara (2005 : 104), menyimpulkan ada hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan

pencapaian kinerja/prestasi kerja. Artinya pimpinan, manajer, dan pegawai mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan mencapai prestasi yang tinggi, dan sebaliknya mereka yang kinerjanya rendah dikarenakan motivasi kerjanya rendah. Pegawai dapat bekerja secara propesional karena pada dirinya terdapat motivasi yang tinggi. Pegawai yang memiliki motivasi yang tinggi biasanya akan melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat dan energik karena ada motif-motif dan tujuan tertentu yang melatarbelakangi tindakan tersebut. Motif itulah sebagai faktor pendorong yang member kekuatan kepadanya, sehingga ia mau dan rela bekerja keras.

59

Pernyataan di atas didukung pernyataan Nawawi : Pekerja yang berprestasi tinggi menyukai informasi sebagai umpan balik, karena selalu terdorong untuk memperbaiki dan meningkatkan kegiatannya dalam bekarja. Dengan demikian peluangnya untuk meningkatkan prestasi kerja akan lebih besar. (Nawawi 2005 : 355). Dari uraian di atas maka terdapat keterkaitan antara motivasi kerja dengan kinerja guru. Artinya makin tinggi motivasi kerja seorang guru maka makin tinggi pula hasil kinerja guru tersebut dan sebaliknya guru yang kinerjanya rendah disebabkan motivasi kerjanya rendah.

2.2.6 Keterkaitan Disiplin Kerja dan Kinerja Di dalam seluruh aspek kehidupan, dimanapun kita berada, dibutuhkan peraturan dan tata tertib yang mengatur dan membatasi setiap gerak dan perilaku. Peraturan-peraturan tersebut tidak ada artinya jika tidak ada komitmen dan sangsi bagi pelanggarnya. Disiplin di lingkungan kerja sangat dibutuhkan, karena akan menghambat pencapaian tujuan organisasi tersebut. Oleh karena itu, pegawai dengan disiplin kerja yang baik, berarti akan dicapai pula suatu keuntungan yang berguna baik bagi perusahaan maupun pegawai itu sendiri. Selain itu, perusahaan harus mengusahakan agar peraturan itu bersifat jelas, mudah dimengerti, adil bagi seluruh karyawan dan pimpinan. Menurut Simamora (2006 : 610) menyatakan bahwa : Disipli n adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan atau prosedur. Disiplin merupakan bentuk

60

pengendalian diri karyawan dan pelaksanaan yang teratur serta menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam suatu organisasi. Keith Davis (2003 : 129) menyatakan disiplin kerja sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman

dipandang erat keterkaitannya dengan kinerja. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Malthis dan Jackson bahwa disiplin kerja berkaitan erat dengan perilaku karyawan dan berpengaruh terhadap kinerja. Berdasarkan uraian di atas maka terdapat keterkaitan antara disiplin kerja dengan kinerja guru. Artinya makin tinggi disiplin kerja seorang guru maka makin tinggi pula hasil kinerja guru tersebut. Demikian pula sebaliknya makin rendah disiplin kerja seorang guru maka makin rendah pula kinerja guru tersebut.

2.2.7 Keterkaitan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja dengan Kinerja. Keberhasilan sekolah dalam menghasilkan lulusan yang dapat bersaing dengan sekolah-sekolah unggul lainnya, merupakan salah satu tujuan sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut memerlukan sumber daya manusia dengan kinerja yang berkualitas. Terwujudnya kinerja yang berkualitas sangat ditentukan oleh manajemen yang baik dan benar. Pengelola manajemen sekolah dimotori oleh kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan agar dapat bekerja secara optimal. Tabrani Rusyan (2000) mengungkapkan bahwa :

61

Kepemimpinan peningkatan

kepala

sekolah kerja

memberikan guru dan

motivasi hasil

kerja

bagi siswa. dapat

produktivitas kepala

belajar

Kepemimpinan

sekolah

harus

benar-benar

dipertanggungjawabkan, karena tanggung jawab kepala sekolah sangat penting dan menentukan tinggi rendahnya hasil belajar para siswa, juga produktivitas dan semangat kerja guru tergantung kepala sekolah dalam arti sampai sejauh mana kepala sekolah mampu menciptakan kegairahan kerja dan sejauh mana kepala sekolah mampu mendorong bawahannya untuk bekerja sesuai dengan kebijaksanaan dan program yang telah digariskan sehingga produktivitas kerja guru tinggi dan hasil belajar siswa meningkat. Pada bagian lain berdasarkan hasil penelitian Mc. Clelland, Edward Murray, Miller dan Gordon W. yang dikutif Mangkunegara (2005 : 104), menyimpulkan ada hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian kinerja/prestasi kerja. Artinya pimpinan, manajer, dan pegawai mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan mencapai prestasi yang tinggi, dan sebaliknya mereka yang kinerjanya rendah dikarenakan motivasi kerjanya rendah. Guru yang telah memiliki motivasi instrinsik dan ekstrinsik akan lebih berprestasi apabila ditambah dengan disiplin kerja yang baik. Keith Davis (2003 : 129) menyatakan disiplin kerja sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman dipandang erat keterkaitannya dengan kinerja. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Malthis dan Jackson bahwa disiplin kerja berkaitan erat dengan perilaku karyawan dan berpengaruh terhadap kinerja. Kinerja guru dapat

62

dilihat dari keberhasilan guru dalam menjalankan tugas utamanya. Menurut Undang- Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa : Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dari uraian kerangka berfikir di atas dijelaskan bahwa

kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja diduga berpengaruh pada peningkatan kinerja guru yang dapat digambarkan dalam model kerangka pemikiran sebagai berikut :

Kepemimpinan kepala sekolah (X1) 1. Kepala sekolah sbg edukator 2. Kepala sekolah sbg manajer 3. Kepala sekolah sbg administrator 4. Kepala sekolah sbg supervisor 5. Kepala sekolah sbg leader 6. Kepala sekolah sbg inovator 7. Kepala sekolah sbg motivator (Mulyasa, 2009 : 90)
Motivasi kerja (X2) 1. Faktor motivasional 2. Faktor pemeliharaan (Teori dua faktor Herzberg dalam Gibson 1997)

A. Tabrani R

Kinerja Guru :
Daniel Goleman dalam Martinis Yamin

Disiplin kerja (X3)


1. Ketepatan waktu 2. Kesadaran dalam bekerja 3. Kepatuhan pada peraturan (Fathoni, 2006 : 172)
Malthis dan Jackson

Mendidik Mengajar Membimbing Mengarahkan Melatih - Menilai - Mengevaluasi (UU Guru dan Dosen)

Gambar 2.1 Model Kerangka Pemikiran

63

2.3 Hipotesis Penelitian Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini, maka dapat diajukan hipotesis berikut : 1. Terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap

kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 2. Terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 3. Terapat pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. 4. Terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

64

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian diselenggarakan di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama tiga bulan dengan rincian waktu sebagai berikut : Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian Bulan Jan11 Peb11

No Kegiatan Des 10 1. Persiapan penyusunan v proposal 2. Penyusunan proposal v penelitian dan bimbingan 3. Seminar Usulan Penelitian, penyempurnaan materi penelitian dan bimbingan 4. Penyusunan bab I III, penyusunan instrumen penelitian dan bimbingan 5. Pengumpulan data 6. Pengolahan data dan penyusunan bab IV V dan bimbingan 7. Pelaporan hasil penelitian dan ujian siding

Mart11

v v

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian Menurut Istijanto (2005 : 109), polpulasi merupakan jumlah keseluruhan semua anggota yang diteliti. Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat yang berjumlah 63 orang termasuk Kepala Sekolah dan guru tidak tetap (GTT).

65

Mempertimbangkan jumlah populasi di bawah seratus orang maka penelitian ini menggunakan seluruh populasi sebagai responden, artinya teknik sampling yang diambil adalah teknik sensus.

3.3 Desain Penelitian Menurut Supranto (2001 : 237) desain penelitian pada dasarnya untuk menentukan metode apa saja yang akan dipergunakan dalam penelitian. Sedangkan Fred N. Kerlingger (2004 : 483) mengungkapkan bahwa desain penelitian atau rancang bangun penelitian adalah rencana dan struktur (model/paradigma) penyelidikan yang disusun sedemikian rupa untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian. Penelitian yang dilakukan penulis menggunakan metode analisis deskriptif, yaitu penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah adalah untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan current status dari subyek yang diteliti dan menggunakan metode kuantitatif untuk mencari pengaruh antar variabel yang diteliti. Pemilihan metode ini didasarkan pada keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran mengenai kepemimpinan kepala sekolah,

motivasi kerja, disiplin kerja dan kinerja guru SMPN 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat, serta pengaruhnya baik langsung maupun tidak langsung dari variabel-variabel penelitian yang ditetapkan sebagai berikut : 1. Kepemimpinan kepala sekolah berfungsi sebagai variabel bebas (independent variable) yang selanjutnya diberi notasi .

66

2. Motivasi kerja berfungsi sebagai

variabel bebas (independent .

variable) yang selanjutnya diberi notasi 3. Disiplin kerja berfungsi sebagai

variabel bebas (independent

variable) yang selanjutnya diberi notasi 4. Kinerja guru berfungsi sebagai variabel terikat (dependent

variable) yang selanjutnya diberi notasi Y Dengan menggunakan metode deskriptif diharapkan akan

diperoleh data yang hasilnya akan diolah dan dianalisis serta akhirnya ditarik sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang dibuat akan berlaku bagi seluruh populasi yang menjadi obyek penelitian. Menurut ketentuan dalam Panduan Penyusunan Skripsi dan Tesis bagi Mahasiswa S1 dan S2 di Lingkungan STIE Pasundan (2005 : 31) bahwa dalam penelitian seharusnya ditentukan atau dinyatakan taraf kepercayaan (confindence level) pada pengujian yang dilakukan. Oleh karena itu, peneliti menetapkan dalam penelitian ini menggunakan taraf signifikansi adalah 95 %. = 0,05 (5%). Artinya tingkat kepercayaan pengujiannya

3.4 Variabel dan Definisi Operasional Untuk memperjelas dalam pengumpulan data dan pengujian hipotesis perlu dikemukakan batasan-batasan konsep variabel, dimansi (subvariabel) dan indikator-indikatornya. Hal ini untuk memudahkan jenis data primer dan / atau sekunder, sifat data kualitatif dan / atau kuantitatif dan skala ukurannya nominal/ordinal/ratio, yang dapat dinyatakan sebagai berikut :

67

Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian


Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Konsep Teoritis Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program - program yang dilaksanakan secara terencana dan terarah. (Mulyasa, 2009 : 90) Dimensi 1. Kepala sekolah sebagai educator Indikator Variabel 1. Memberikan pembinaan kepada guru 2. Memberikan pembinaan kepada siswa 3. Membuat visi dan misi 4. Pemberdayaan guru pada pelaksanaan program 5. Melakukan pengawasan program 6. Melakukan evaluasi program 7. Pengadministrasian pelaksanaan program 8. Pendokumentasian hasil pelaksanaan program 9. Membuat program supervisi 10. Melaksanakan supervisi 11. Memberikan keteladanan kepada guru 12. Memberi keputusan yang tepat 6. Kepala sekolah sebagai innovator 13. Memberikan gagasan baru dalam kegiatan pembelajaran 14. Memberikan penghar gaan dan sangsi kepada guru 15. Menciptakan suasana kerja yang kondusif Skala

Ordinal

2. Kepala sekolah sebagai manajer

3. Kepala sekolah sebagai administrator

4. Kepala sekolah sebagai supervisor

5. Kepala sekolah sebagai leader

7. Kepala sekolah sebagai motivator

68

Motivasi kerja (X2)

Suatu proses yang mulai dilakukan oleh seseorang karena adanya kebutuhan psikologis dan fisiologis sehingga menggerakkan perilaku atau dorongan untuk mencapai tujuan. (Teori dua faktor, Herzberh dalam Gibson, 1997)

1. Faktor motivasional

1. Kesempatan untuk Ordinal berprestasi 2. Pengakuan dari teman sejawat 3. Merasa bangga dengan pekerjaan sebagai guru 4. Tanggung jawab atas pekerjaannya 5. Pekerjaan itu sendiri 6. Kesempatan untuk meningkatkan karir 1. Gaji atau honor yang diterima 2. Kondisi kerja yang menyenangkan 3. Kebijakan pimpinan sekolah 4. Hubungan antar pribadi 1. Tepat waktu 2. Efisien 1. 2. 3. 4. 5. Tingkat kehadiran Paham tugas Tanggung Jawab Pelaksanaan tugas Kerjasama Ordinal

2. Faktor pemeliharaan

Disiplin Kerja (X3)

Sikap 1. Ketepatan Waktu kesadaran dan kesediaan seseorang men2. Kesadaran dalam taati semua bekerja peraturan perusahaan (organisasi) dan norma-norma 3. Kepatuhan pada sosial yang Peraturan berlaku(Fathoni, 2006 : 172) Pendidik professional dengan tugas utama mendidik mengajar, mem bimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidik an anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidik an dasar dan pendidikan menengah. (UU Guru dan Dosen, 2005:2) 1. Mendidik 2. Mengajar

1. Taat pada aturan 2. Sangsi

Kinerja Guru (Y)

1. Mendidik ahlak Siswa 2. Membuat perencanaan pembelajaran 3. Melaksanakan pembelajaran

Ordinal

3. Membimbing

4. Membimbing seluruh siswa 5. Membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar

4. Mengarahkan

6. Mengarahkan siswa dalam belajar 7. Melatih kemampuan siswa 8. Menilai hasil kerja siswa 9. Melaksanakan evaluasi pembelajaran

5. Melatih

6. Menilai

7. Mengevaluasi

69

3.5 Instrumen Penelitian Metode pengumpulan data yag digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, yaitu teknik pengumpulan dan analisis data berupa opini dari subyek yang diteliti melalui kuesioner, wawancara dan observasi. Kuesioner dimaksudkan untuk mencari data primer tentang kepemimpinan, disiplin, motivasi dan kinerja guru. Wawancara dengan pimpinan dan karyawan di lingkungan obyek penelitian dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang tidak diperoleh oleh data hasil kuesioner sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati secara spesifik perilaku dari variabel yang sedang diteliti. Observasi juga dilakukan dalam upaya mendapatkan data-data umum lainnya tentang organisasi yang diteliti.

3.6 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kuesioner, wawancara dan observasi. Kuesioner dimaksudkan untuk menjaring data tentang kepemimpinan, disiplin, motivasi dan kinerja guru. Sementara wawancara dimaksudkan untuk menjaring data keempat variabel penelitian yang tidak dapat dijaring dengan teknik kuesioner. Kelengkapan data juga ditunjang oleh observasi. Dalam penyusunan instrumen digunakan dari model Rensis Likert yakni dengan option Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Cukup Setuju (CS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Masing-masing option diberikan bobot mulai dari 5 untuk sangat setuju hingga bobot 1 untuk

70

option sangat tidak setuju. Nur Indriantoro (2002 : 99) mengkatagorikan sifat data tersebut ke dalam skala interval. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan skala likert (ordinal) dengan metode rating yang dijumlahkan.

3.7 Uji Validitas dan Reliabilitas Kuntadi (2002 : 57) berpendapat agar hasil penelitian valid dan reliabel, butir-butir pertanyaan dalam kuesioner perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. 3.7.1 Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah instrument yang digunakan sudah tepat mengukur apa yang seharusnya diukur atau belum, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi validitas suatu test, maka alat test tersebut akan semakin tepatmengenai sasaran. Nilai validitas pada dasarnya adalah nilai korelasi. Oleh karena itu, untuk menguji validitas dilakukan dengan teknik korelasi item total yang merupakan dasar dari korelasi pearson. Adapun rumus korelasi pearson adalah : ( * Keterangan : r = korelasi validitas item yang dicari x = skor yang diperoleh subyek dari seluruh item y = skor total yang diperoleh subyek dari seluruh item ( ) +* )( ) ( )

71

x = jumlah skor dalam distribusi x y = jumlah skor dalam distribusi y = jumlah kuadrat skor dalam distribusi x = jumlah kuadrat skor dalam distribusi y N = jumlah responden Menurut Sugiono, bila korelasi tiap faktor ( ) tersebut positif dan

besarnya > 0,3 maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat (valid), demikian pula sebaliknya, jika < 0,3 maka dikatakan tidak valid.

3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah tingkat kepercayaan terhadap hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi merupakan pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur terpercaya (reliable). Untuk uji reliabilitas digunakan metode belah dua ( Split Half Method) dari Spearman Brown. Metode belah dua ini dilakukan dengan cara membagi instrument menjadi dua belahan, bisa ganjil-genap dan bisa pula belahan pertama dan kedua dengan rumus :

=
Keterangan ; = reliabilitas internal seluruh instrument = korelasi product moment antara belahan kesatu dan kedua kemudian dikorelasikan dengan rumus yang sama seperti uji validitas. ( * ( ) +* )( ) ( )

72

Jika

> 7, maka instrument tersebut dikatakan reliabel. Demikian bila < 7 maka dikatakan tidak reliabel

sebaliknya, jika

3.8 Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Teknik analisis deskriptip digunakan untuk mendeskripsikan variabel kepemimpinan kepala sekolah ( ), motivasi kerja ( ), disiplin kerja ( ),

dan kinerja guru (Y) dengan cara menghitung rata-rata masing-masing variabel penelitian. Tabel 3.3 Kriteria Penafsiran Kondisi Variabel Penelitian Rata-Rata Skor 4,2 5,0 3,4 4,1 2,6 3,3 1,8 2,5 1,0 1,7 Penafsiran Sangat baik Baik Cukup Baik Kurang baik Sangat kurang baik

3.9 Teknik Analisis Jalur (Jalur Path)

Y
r

Gambar 3.1 Diagram Jalur

73

Keterangan : = Kepemimpinan kepala sekolah = Motivasi kerja = Disiplin kerja Y = Kinerja guru r r r = korelasi = korelasi = korelasi dan dan dan

= koefisien jalur yang menggambarkan besarnya pengaruh langsung terhadap Y

= koefisien jalur yang menggambarkan besarnya pengaruh langsung terhadap Y = koefisien jalur yang menggambarkan besarnya pengaruh langsung terhadap Y = koefisien jalur yang menggambarkan besarnya pengaruh langsung terhadap Y = variabel lain yang tidak diukur tetapi mempengaruhi Y Gambar di atas adalah diagram variabel yang mencerminkan hubungan antar variabel dan pengaruh variabel X terhadap variabel Y, gambar di atas menunjukkan bahwa antara serta , dengan Y, dengan Y, ,

dengan Y merupakan hubungan kausal, sementara hubungan merupakan hubungan korelasional.

Persamaan struktur yang dibentuk adalah : Y=

74

3.10 Pengujian Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut : H1 :

Terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru SMPN 1 Cisarua. Pengaruh Hi : terhadap Y 0 : kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap

kinerja guru SMPN 1 Cisarua Pengaruh Hi : terhadap Y 0 : motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja guru

SMPN 1 Cisarua Pengaruh Hi : terhadap Y 0 : disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja guru

SMPN 1 Cisarua Pengujian hipotesis tidak dilakukan secara statistik dengan uji F dan uji t karena penelitian yang dilakukan melibatkan seluruh anggota populasi atau bersifat sensus. Hipotesis yang diajukan dijawab dari hasil perhitungan koefisien jalur yang diperoleh. Jika hasil perhitungan koefisien jalur dari kepemimpinan kepala sekolah ke kinerja guru, motivasi kerja ke kinerja guru dan disiplin kerja ke kinerja guru tidak sama dengan nol, maka hipotesis yang diajukan semuanya diterima, dan sebalikya.

75

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum SMPN 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat berdiri mulai tahun 1961. Pertama beroperasi menginduk ke SMP Negeri 1 Cimahi dan menggunakan lokal Sekolah Dasar Garuda. Pada tahun 1964 menjadi sekolah mandiri dan lepas dari SMP Negeri 1 Cimahi. Selama kurun waktu kurang lebih 49 tahun telah terjadi pergantian pimpinan sebanyak 13 kepala sekolah. Setiap pimpinan yang menjabat di SMPN 1 Cisarua umumnya mempunyai komitmen untuk memajukan sekolah diberbagai sector. Hasilnya terlihat pada

perkembangan fisik maupun non-fisik. Disektor fisik misalnya sarana ruang belajar yang pada awalnya kegiatan operasional sekolah ini hanya memiliki 6 lokal, kini telah menjadi 29 ruang belajar ditambah sarana fisik lainnya seperti ruang keterampilan, ruang komputer, laboratorium fisika dan biologi, ruang perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang TU dan ruang guru yang representatif serta sarana-sarana lainnya. Di sektor nonfisik juga mengalami peningkatan baik dari segi prestasi akademis maupun non-akademis yang berhasil diraih oleh siswa-siswi terbaik alumni SMP Negeri Cisarua dari masa ke masa. SMP Negeri Cisarua yang terletak di jalan Kolonel Masturi no. 312 Kabupaten Bandung Barat ini berdiri di atas tanah seluas 11.043 m. Letak sekolah sangat strategis berada di pinggir jalan kabupaten dan

76

dilalui kendaraan umum dari arah Cisarua-Cimahi maupun CisaruaPadalarang. SMP Negeri 1 Cisarua mulai tahun 2004 telah berpredikat sebagai Sekolah Potensial dan sejak tahun 2008 telah berubah menjadi Rintisan Sekolah Berstandar Nasional (RSSN). Dengan predikat tersebut pihak sekolah terus mengadakan penataan di berbagai sektor yaitu untuk memenuhi 8 Standar Nasional Pendidikan (Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana, Standar Proses, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Evaluasi). Jika 8 standar di atas telah terpenuhi maka SMP Negeri 1 Cisarua selanjutnya menjadi sekolah berstandar nasional (SSN). SMP Negeri 1 Cisarua pada tahun pelajaran 2010 / 2011 memiliki 29 rombongan belajar dengan jumlah siswa sebanyak 989 orang, jumlah tenaga pengajar sebanyak 63 orang dan staf tata usaha 19 orang. Sejak tahun 1964 sampai dengan saat ini yang telah ditugaskan menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua sudah 13 orang. Daftar nama kepala sekolah sejak didirikan sampai dengan sekarang sebagai berikut : No. 1 2 3 4 Periode Tahun 1964 1968 1968 1971 1971 1977 1977 1983 Nama Kepala Sekolah Saleh Maruf, BA Mohamad Wasid, SH Maulana Ismail, BA H. Ajab Riatna

77

5 6 7 8 9 10 11 12 13

1983 1987 1987 1988 1988 1988 1988 1990 1990 1993 1993 1996 1996 2000 2000 2003 2003 sekarang

H. A. Subandar Drs. H. Didi S. Hasbiadi Endang Dahlan, BA Drs. Ubes Sumantri Oman Jaskim Drs. Toto Suhartoyo Drs. H. Yaya Masria Drs. H. Nandang Sukmana Drs. H. Dudi Susbandi KM.

SMP Negeri 1 Cisarua memiliki visi, misi, tujuan sekolah dan profil sekolah sebagai berikut : a. Visi Terampil, Berprestasi, Berwawasan IPTEK, Unggul dalam Seni Budaya Dilandasi Iman dan Taqwa Indikator : 1. Terwujudnya peningkatan prestasi akademis dari tahun ke tahun 2. Terwujudnya sistem pembelajaran yang inovatif, efektif dan efisien 3. Terwujudnya tingkat kedisiplinan warga sekolah 4. Terwujudnya lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan religious 5. Terampil menggunakan media IPTEK 6. Terwujudnya prestasi siswa dalam bidang seni sebagai program unggulan

78

7. Terciptanya kesempatan warga sekolah untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki

b. Misi 1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara optimal 2. Mewujudkan penyelenggaraan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan berwawasan ke depan 3. Menerapkan tata tertib sekolah secara optimal 4. Mewujudkan suasana lingkungan sekolah yang berwawasan Wiyata Mandala 5. Mengoptimalkan kegiatan pembelajaran komputer dan internet 6. Mewujudkan kemampuan seni yang tangguh dan kompetitif 7. Mewujudkan peningkatan kualitas SDM seluruh warga sekolah Tujuan Sekolah 1. Menghasilkan peningkatan rata-rata skor GSA + 1,00 2. Menghasilkan peningkatan SKBM seluruh mata pelajaran sampai dengan 85% 3. Menghasilkan perangkat kurikulum yang lengkap, muktahir dan berwawasan ke depan 4. Mencapai profesionalisme guru dalam pembelajaran CTL 5. Menghasilkan warga sekolah yang berdisiplin tinggi 6. Mencapai suasana lingkungan sekolah yang aman dan nyaman 7. Menghasilkan warga sekolah yang taat beribadah 8. Seluruh warga sekolah dapat menggunakan komputer dan internet sebagai sumber belajar

79

9. Menghasilkan tim kesenian yang mampu tampil pada kegiatan setingkat kabupaten 10. Memiliki tim olah raga yang siap menjadi juara tingkat kabupaten 11. Pencapaian standar pendidik dan tenaga kependidikan meliputi : semua guru berkualifikasi S1, telah mengikuti PTBK, semua mengajar sesuai bidangnya, dll 12. Menghasilkan lulusan yang mampu berkompetensi dijenjang pendidikan yang lebih tinggi.

4.1.2 Profil Sekolah 1. 2. Nama Sekolah Alamat : Jalan Desa Kecamatan Kabupaten Provinsi No. Telepon 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Kepala Sekolah NSS Jenjang Akreditasi Kategori Sekolah Tahun Didirikan Tahun Operasional : : : : : : : : : : : : Jl. Kolonel Masturi no 312 Kertawangi Cisarua Bandung Barat Jawa Barat 022- 2700003 Drs. H. Dudi Susbandi KM 201020802005 A RSSN 1961 1961 : SMP Negeri 1 Cisarua

80

10. Kepemilikan Tanah Luas Tanah 11. Status Bangunan Surat Izin Bangunan Luas Seluruh Bangunan

: : : : :

Hak guna pakai tidak terbatas 6000 m2 Milik Pemerintah

3.405 m2

Tabel 4.1 Jumlah Siswa SMP Negeri 1 Cisarua 3 Tahun Terakhir


Tahun Pelajaran 2008/ 2009 2009/ 2010 2010/ 2011 Jumlah Pendaftar 415 500 435 Kelas VII Jumlah Siswa Rombel 387 9 324 315 9 9 Kelas VIII Jumlah Siswa Rombel 459 9 376 310 9 9 Kelas IX Jumlah Siswa Rombel 436 9 445 364 9 9 Jumlah Kelas VII+VIII+IX Siswa Rombel 1282 27 1145 989 27 27

Sumber Tata Usaha SMPN 1 Cisarua 2010/2011

4.1.3 Profil Responden Tabel 4.2 Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki 15 Perempuan 48 Jumlah 63 Sumber : Tata Usaha SMPN 1 Cisarua 2010/2011 No 1. 2. Prosentase 23.8 76.2 100.0

Dari data pada tabel 4.2 terlihat bahwa guru-guru di SMPN 1 Cisarua lebih banyak didominasi oleh guru perempuan (76.2%)

81

Tabel 4.3 Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Tingkat Pendidikan Jumlah Prosentase 1. SMA 3 4.80 2. D1 2 3,20 3 D3 10 15.90 4 PGSLP 2 3.20 5 S1 46 73.00 JUMLAH 63 100.00 Sumber : Tata Usaha SMPN 1 Cisarua 2010/2011 Dari data tabel 4.3 terlihat bahwa guru yang memiliki tingkat pendidikan S1 berjumlah 46 orang (73.00%) artinya lebih banyak

dibandingkan dengan yang berpendidikan yang lainnya. Tabel 4.4 Jumlah Responden Berdasarkan Masa Kerja No 1. 2. 3. 4. 5. Masa Kerja < 5 Tahun 6 10 Tahun 11 15 Tahun 16 20 Tahun > 20 Tahun Jumlah Jumlah 6 3 4 15 35 63 Prosentase 9.52 4.76 6.35 23.81 55.56 100.00

Sumber : Tata Usaha SMPN 1 Cisarua 2010/2011 Dari tabel 4.4 terlihat bahwa komposisi masa kerja guru SMPN 1 Cisarua sebanyak 35 orang atau 55,56 % memiliki masa kerja lebih dari 20 tahun. Tabel 4.5 Jumlah Responden Berdasarkan Usia No Usia Jumlah 1. 25 29 Tahun 6 2. 30 - 35 Tahun 3 3. 36 - 40 Tahun 2 4. > 40 Tahun 52 Jumlah 63 Sumber : Tata Usaha SMPN 1 Cisarua 2010/2011

Prosentase 9.52 4.76 3.17 82.54 100.00

82

Dari tabel 4.5 terlihat bahwa jumlah responden yang paling banyak berusia lebih dari 40 tahun. Tabel 4.6 Jumlah Responden Berdasarkan Pangkat dan Golongan Pangkat/Golongan Jumlah Pembina TK 1 / IVb 0 Pembina / IVa 57 Penata TK I / IIId 0 Penata / IIIc 0 Penata Muda TK I / IIIb 3 Penata Muda / IIIa 3 Jumlah 63 Sumber : Tata Usaha SMPN 1 Cisarua 2010/2011 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Prosentase 0 90.5 0 0 4.8 4.8 100.0

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa pangkat/golongan responden terbanyak adalah Pembina/IVa yaitu sebanyak 57 orang (90.5%).

4.2 Uji Istrumen Penelitian Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa kuesioner yang terdiri dari variabel kepemimpinan kepala sekolah sebanyak 18 item, motivasi kerja 15 item, disiplin kerja 15 item dan kinerja guru 20 item pernyataan.

4.2.1 Uji Validitas Pengujian tingkat validitas tiap item dipergunakan analisis item, artinya mengkorelasikan skor tiap item dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor item. Menurut Sugiyono (2005) bahwa item yang mempunyai korelasi positif dengan skor total korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula.

83

Persyaratan minimum agar dapat dianggap valid apabila r = 0,3 sehingga apabila korelasi antar item dengan skor total kurang dari 0,3 maka item dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid. Adapun hasil uji coba mengenai tingkat validitas butir pernyataan disajikan dalam tabel berikut : Tabel 4.7 Hasil Uji Validitas Item Variabel Kepemimpinan Kepala sekolah (X1) No Item Tingkat Validitas Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

X1 _1 0.680 X1 _2 0.452 X1 _3 0.471 X1 _4 0.661 X1 _5 0.672 X1 _6 0.630 X1 _7 0.623 X1 _8 0.557 X1 _9 0.599 X1 _10 0.620 X1 _11 0.576 X1 _12 0.512 X1 _13 0.422 X1 _14 0.439 X1 _15 0.460 X1 _16 0.437 X1 _17 0.487 X1 _18 0.503 Sumber : Lampiran uji validitas reliabilitas

Dari data di atas, variabel kepemimpinan kepala sekolah berada di atas 0,3 maka semua item valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah sebagai data penelitian.

84

Tabel 4.8 Hasil Uji Validitas Item Variabel Motivasi Kerja (X2) No Item Tingkat Validitas X2 _1 0.606 X2 _2 0.583 X2 _3 0.672 X2 _4 0.653 X2 _5 0.716 X2 _6 0.718 X2 _7 0.625 X2 _8 0.607 X2 _9 0.442 X2 _10 0.711 X2 _11 0.729 X2 _12 0.659 X2 _13 0.688 X2 _14 0.549 X2 _15 0.630 Sumber : Lampiran uji validitas reliabilitas Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Dari data di atas, variabel motivasi kerja berada di atas 0,3. maka semua item valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah sebagai data penelitian. Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas Item Variabel Disiplin Kerja (X3) No Item X3 _1 X3 _2 X3 _3 X3 _4 X3 _5 X3 _6 X3 _7 X3 _8 X3 _9 X3_10 X3 _11 X3 _12 Tingkat Validitas 0.746 0.764 0.788 0.802 0.686 0.819 0.791 0.826 0.831 0.809 0.863 0.876 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

85

No Item Tingkat Validitas X3 _13 0.810 X3 _14 0.818 X3 _15 0.836 Sumber : Lampiran uji validitas reliabilitas

Keterangan Valid Valid Valid

Dari data di atas, variabel disiplin kerja berada di atas 0,3, maka semua item valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah sebagai data penelitian. Tabel 4.10 Hasil Uji Validitas Item Variabel Kinerja Guru (Y) No Item Tingkat Validitas Y _1 0.654 Y _2 0.650 Y _3 0.675 Y _4 0.684 Y _5 0.560 Y _6 0.550 Y _7 0.713 Y _8 0.652 Y _9 0.707 Y_10 0.695 Y _11 0.698 Y _12 0.714 Y _13 0.695 Y _14 0.667 Y _15 0.465 Y _16 0.487 Y _17 0.597 Y _18 0.470 Y _19 0.496 Y _20 0.403 Sumber : Lampiran uji validitas reliabilitas Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Dari data di atas, variabel kinerja guru berada di atas 0,3, maka semua item valid. Untuk itu kuesioner yang digunakan layak untuk diolah sebagai data penelitian. Berdasarkan tabel 4.7 sampai dengan tabel 4.10 diperoleh informasi mengenai tingkat validitas, bahwa seluruh item dinyatakan valid

86

dan digunakan untuk penelitian. Hasil pengujian secara lengkap dapat dilihat pada lampiran rekapitulasi tingkat validitas item pernyataan instrument penelitian disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4. 11 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Item Pernyataan Instrumen

Kuesioner Variabel Jml Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Motivasi Kerja (X2) Disiplin Kerja (X3) Kinerja Guru (Y) Jumlah 15 15 20 68 18

Valid % 100%

Tidak Jml 0

Valid % 0% Jml 18

Total % 100%

100% 100% 100% 100%

0 0 0 0

0% 0% 0% 0%

15 15 20 68

100% 100% 100% 100%

Sumber : Lampiran uji validitas reliabilitas Berdasarkan data tabel di atas, ternyata seluruh item pernyataan merupakan item yang terpilih dan dapat digunakan sebagai alat pengumpul data (kuesioner).

4.2.2 Uji Reliabilitas Dari pengujian reliabilitas teknik split half dengan koefisien internal Spearman Brown nampak bahwa masing-masing instrumen pengukuran adalah reliabel sesuai dengan yang direkomendasikan Sugiyono (2004 : 178) yang menyatakan bahwa batas minimum reliabilitas yang dapat diterima adalah koefisien positif. Reliabilitas untuk kuesioner masing-masing variabel disajikan pada tabel di bawah ini :

87

Tabel 4.12 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Motivasi Kerja (X2) Disiplin Kerja (X3) Kinerja Guru (Y) Sumber : Lampiran uji validitas reliabilitas Reliabilitas 0,954 0,935 0,986 0,949 Kriteria Reliabilitas Tinggi Reliabilitas Tinggi Reliabilitas Tinggi Reliabilitas Tinggi

Dari data di atas variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1) adalah 0,954 dengan kriteria reliabilitas tinggi, variabel motivasi kerja (X2) adalah 0,935 dengan kriteria reliabilitas tinggi, variabel disiplin kerja (X3) adalah 0,986 dengan kriteria reliabilitas tinggi, dan variabel kinerja guru (Y) adalah 0,949 dengan kriteria reliabilitas tinggi.

4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.3.1 Deskripsi

Jawaban

Responden

Mengenai

Kepemimpinan

Kepala Sekolah di SMPN 1 Cisarua

Bagian ini akan menguraikan bagaimana gambaran mengenai kepemimpinan kepala sekolah di SMPN 1 Cisarua. Gambaran mengenai hal tersebut dapat dilihat dari tanggapan responden sebagai berikut :

88

Tabel 4.13 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan pembinaan kepada guru melalui rapat Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 19 95 30.16 Setuju 4 29 116 46.03 Kurang Setuju 3 15 45 23.81 Tidak Setuju 2 0 0 0.00 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 256 100.00 Rata-Rata Skor 4,06 Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Kepala sekolah melakukan pembinaan kepada guru melalui rapat, yakni sebanyak 30.16% menyatakan sangat setuju, 46.03% menyatakan setuju, dan 23.81% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata skor sebesat 4.06 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melakukan pembinaan kepada guru melalui rapat, berada pada kategori baik.

Tabel 4.14 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan pembinaan kepada guru melalui pembinaan perorangan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 6 4 24 3 16 2 9 1 8 63 Skor 30 96 48 18 8 200 3.17 Prosentase 9.52 38.10 25.40 14.29 12.70 100.00

89

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melakukan pembinaan kepada guru melalui pembinaan perorangan, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 38.10% menyatakan setuju, 25.40% menyatakan kurang setuju, 14.29% menyatakan tidak setuju, 12.70% sangat tidak setuju, dengan rata-rata dengan rata-rata skor sebesat 3,17 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melakukan pembinaan kepada guru melalui pembinaan perorangan, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.15 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melaksanakan pembinaan kepada siswa melalui upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 17 4 30 3 13 2 3 1 0 63 Skor 85 120 39 6 0 250 3.97 Prosentase 26.98 47.62 20.63 4.76 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melaksanakan pembinaan kepada siswa melalui upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin, yakni sebanyak 26.98% menyatakan sangat setuju, 47.62% menyatakan setuju, dan 20.63% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 3.97 . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melaksanakan pembinaan kepada siswa

90

melalui upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin, berada pada kategori baik. Tabel 4.16 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah membuat perencanaan visi dan misi secara matang Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 12 60 19.05 Setuju 4 34 136 53.97 Kurang Setuju 3 17 51 26.98 Tidak Setuju 2 0 0 0.00 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 247 100.00 Rata-Rata Skor 3.92

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah membuat perencanaan visi dan misi secara matang, yakni sebanyak 19.05% menyatakan sangat setuju, 53.97% menyatakan setuju, dan 26.98% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 3.92. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah membuat perencanaan visi dan misi secara matang, berada pada kategori baik. Tabel 4.17 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah memberdayakan guru sebagai tim kerja dalam pelaksanaan program kegiatan Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 14 70 22.22 Setuju 4 26 104 41.27 Kurang Setuju 3 17 51 26.98 Tidak Setuju 2 6 12 9.52 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 237 100.00 Rata-Rata Skor 3.76

91

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberdayakan guru sebagai tim kerja dalam pelaksanaan program kegiatan, yakni sebanyak 22.22% menyatakan sangat setuju, 41.27% menyatakan setuju, 26.98%

menyatakan kurang setuju, dan 9.52% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata sebesar 3.76. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah memberdayakan guru sebagai tim kerja dalam pelaksanaan program kegiatan, berada pada kategori baik.

Tabel 4.18 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program kegiatan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 20 4 26 3 17 2 0 1 0 63 Skor 100 104 51 0 0 255 4.05 Prosentase 31.75 41.27 26.98 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah senantiasa melakukan

pengawasan terhadap pelaksanaan program kegiatan, yakni sebanyak 31.75% menyatakan sangat setuju, 41.27% menyatakan setuju, 26.98% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 4.05.

92

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah senantiasa melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program kegiatan, berada pada kategori baik

Tabel 4.19 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan evaluasi setelah pelaksanaan program kegiatan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 17 4 26 3 20 2 0 1 0 63 Skor 85 104 60 0 0 249 3.95 Prosentase 26.98 41.27 31.75 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melakukan evalusi setelah pelaksanaan program kegiatan, yakni sebanyak 26.98% menyatakan sangat setuju, 41.27% menyatakan setuju, 31.75% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 3.95. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melakukan evaluasi setelah pelaksanaan program kegiatan, berada pada kategori baik.

93

Tabel 4.20 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan solusi perbaikan untuk program berikutnya Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 24 120 38.10 Setuju 4 22 88 34.92 Kurang Setuju 3 17 51 26.98 Tidak Setuju 2 0 0 0.00 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 259 100.00 Rata-Rata Skor 4.11 Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melakukan solusi perbaikan untuk program berikutnya, yakni sebanyak % menyatakan sangat setuju, % menyatakan setuju, % menyatakan kurang setuju, % menyatakan tidak setuju, % sangat tidak setuju, dengan rata-rata . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melakukan solusi perbaikan untuk program berikutnya, berada pada kategori baik. Tabel 4.21 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan pengadministrasian pelaksanaan program kegiatan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 18 4 28 3 17 2 0 1 0 63 Skor 90 112 51 0 0 253 4.02 Prosentase 28.57 44.44 26.98 0.00 0.00 100.00

94

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melakukan pengadministrasian pelaksanaan program kegiatan, yakni sebanyak 28.57% menyatakan sangat setuju, 44.44% menyatakan setuju, 26.98% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 4.02. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melakukan pengadministrasian pelaksanaan program kegiatan, berada pada kategori baik Tabel 4.22 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melakukan pendokumentasian hasil pelaksanaan program kegiatan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 18 4 27 3 18 2 0 1 0 63 Skor 90 108 54 0 0 252 4.00 Prosentase 28.57 42.86 28.57 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melakukan pendokumentasian hasil pelaksanaan program kegiatan, yakni sebanyak 28.57% menyatakan sangat setuju, 42.86% menyatakan setuju, 28.57% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 4.00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melakukan pendokumentasian hasil

pelaksanaan program kegiatan, berada pada kategori baik.

95

Tabel 4.23 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah membuat program supervise Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 16 4 32 3 15 2 0 1 0 63 Skor 80 128 45 0 0 253 4.02 Prosentase 25.40 50.79 23.81 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah membuat program supervisi, yakni sebanyak 25.40% menyatakan sangat setuju, 50.79% menyatakan setuju, 23.81% menyatakan kurang setuju, % sangat tidak setuju, dengan ratarata 4.02. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah membuat program supervisi, berada pada kategori baik. Tabel 4.24 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah melaksanakan supervisi kepada guru yang mengajar di kelas Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 14 4 32 3 17 2 0 1 0 63 Skor 70 128 51 0 0 249 3.95 Prosentase 22.22 50.79 26.98 0.00 0.00 100.00

96

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah melaksanakan supervisi kepada guru yang mengajar di kelas, yakni sebanyak 22.22% menyatakan sangat setuju, 50.79% menyatakan setuju, 26.98% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 3.95. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah melaksanakan supervisi kepada guru yang mengajar di kelas, berada pada kategori baik. Tabel 4.25 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah dapat memberi contoh keteladanan kepada guru Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 22 4 25 3 16 2 0 1 0 63 Skor 110 100 48 0 0 258 4.10 Prosentase 34.92 39.68 25.40 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah dapat memberi contoh keteladanan kepada guru, yakni sebanyak 34.92% menyatakan sangat setuju, 39.68% menyatakan setuju, 25.40% menyatakan kurang setuju,, dengan rata-rata 4.10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah dapat memberi contoh keteladanan kepada guru, berada pada kategori baik

97

Tabel 4.26 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah mampu mengambil keputusan yang tepat Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 20 4 23 3 20 2 0 1 0 63 Skor 100 92 60 0 0 252 4.00 Prosentase 31.75 36.51 31.75 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah mampu mengambil keputusan yang tepat, yakni sebanyak 31.75% menyatakan sangat setuju, 36.51% menyatakan setuju, 31.75% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 4.00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai kepala sekolah mampu mengambil keputusan yang tepat, berada pada kategori baik

Tabel 4.27 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah memberikan gagasan-gagasan baru dalam proses pembelajaran Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 19 4 26 3 18 2 0 1 0 63 Skor 95 104 54 0 0 253 4.02 Prosentase 30.16 41.27 28.57 0.00 0.00 100.00

98

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberikan gagasan-gagasan baru dalam proses pembelajaran, yakni sebanyak 30.16% menyatakan sangat setuju, 41.27% menyatakan setuju, 28.57% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 4.02. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberikan gagasan-gagasan baru dalam proses pembelajaran, berada pada kategori bai Tabel 4.28 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 14 28 21 0 0 63 Skor 70 112 63 0 0 245 3.89 Prosentase 22.22 44.44 33.33 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi, yakni sebanyak 22.22% menyatakan sangat setuju, 44.44% menyatakan setuju, 33.33% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 3.89. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi, berada pada kategori cukup baik.

99

Tabel 4.29 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah memberikan sangsi kepada guru yang melanggar disiplin Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 14 70 22.22 Setuju 4 31 124 49.21 Kurang Setuju 3 18 54 28.57 Tidak Setuju 2 0 0 0.00 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 248 100.00 Rata-Rata Skor 3.94 Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberikan sangsi kepada guru yang melanggar disiplin, yakni sebanyak 22.22% menyatakan sangat setuju, 49.21% menyatakan setuju, 28.57% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 3.94. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : kepala sekolah memberikan sangsi kepada guru yang melanggar disiplin, berada pada kategori baik.

Tabel 4.30 Pendapat responden mengenai : Kepala sekolah menciptakan hubungan yang harmonis dengan guru Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 18 4 29 3 16 2 0 1 0 63 Skor 90 116 48 0 0 254 4.03 Prosentase 28.57 46.03 25.40 0.00 0.00 100.00

100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : harmonis dengan guru, kepala sekolah menciptakan hubungan yang yakni sebanyak 28.57% menyatakan sangat

setuju, 46.03% menyatakan setuju, 25.40% menyatakan kurang setuju, dengan rata-rata 4.03 .

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : kepala sekolah menciptakan hubungan yang harmonis

dengan guru, berada pada kategori baik

4.3.2 Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Motivasi Kerja di SMPN 1 Cisarua

Bagian ini akan menguraikan bagaimana gambaran mengenai motivasi kerja guru di SMPN 1 Cisarua. Gambaran mengenai hal tersebut dapat dilihat dari tanggapan responden sebagai berikut :

Tabel 4.31 Pendapat responden mengenai : Saya diberi kesempatan untuk berprestasi Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 5 4 17 3 25 2 14 1 2 63 Skor 25 68 75 28 2 198 3.14 Prosentase 7.94 26.98 39.68 22.22 3.17 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya diberi kesempatan untuk berprestasi, yakni

101

sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 26.98% menyatakan setuju, 39.68% menyatakan kurang setuju, 22.22% menyatakan tidak setuju, 3.17% sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.14. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya diberi kesempatan untuk berprestasi, berada pada

kategori cukup baik

Tabel 4.32 Pendapat responden mengenai : Teman sejawat memberi pengakuan terhadap prestasi kerja saya Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 4 17 30 10 2 63 Skor 20 68 90 20 2 200 3.17 Prosentase 6.35 26.98 47.62 15.87 3.17 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : teman sejawat memberi pengakuan terhadap

prestasi kerja saya, yakni sebanyak 6.35% menyatakan sangat setuju, 26.98% menyatakan setuju, 47.62% menyatakan kurang setuju,

15.87% menyatakan tidak setuju, 3.17% sangat tidak setuju, dengan ratarata 3.17. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : teman sejawat memberi pengakuan terhadap prestasi kerja saya, berada pada kategori cukup baik.

102

Tabel 4.33 Pendapat responden mengenai : Saya merasa bangga dengan pekerjaan saya sebagai guru Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 5 25 7.94 Setuju 4 13 52 20.63 Kurang Setuju 3 38 114 60.32 Tidak Setuju 2 7 14 11.11 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 205 100.00 Rata-Rata Skor 3.25 Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : sebagai guru, saya merasa bangga dengan pekerjaan saya 7.94% menyatakan sangat setuju,

yakni sebanyak

20.63% menyatakan setuju, 60.32% menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.25. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya merasa bangga dengan pekerjaan saya sebagai guru, berada pada kategori cukup baik

Tabel 4.34 Pendapat responden mengenai : Saya berusaha untuk bertanggung jawab atas pekerjaan saya sebagai guru Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 6 14 37 6 0 63 Skor 30 56 111 12 0 209 3.32 Prosentase 9.52 22.22 58.73 9.52 0.00 100.00

103

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya selalu berusaha untuk bertanggung jawab atas pekerjaan saya sebagai guru, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 22.22% menyatakan setuju, 58.73% menyatakan kurang setuju, 9.52% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.32. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya selalu berusaha untuk bertanggung jawab atas

pekerjaan saya sebagai guru, berada pada kategori cukup baik Tabel 4.35 Pendapat responden mengenai : Saya merasa pekerjaan yang saya jalani sesuai dengan minat dan bakat saya Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 5 17 33 8 0 63 Skor 25 68 99 16 0 208 3.30 Prosentase 7.94 26.98 52.38 12.70 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya merasa pekerjaan yang saya jalani sesuai dengan minat dan bakat saya, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 26.98% menyatakan setuju, 52.38% menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.30. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya merasa pekerjaan yang saya jalani sesuai dengan minat dan bakat saya, berada pada kategori cukup baik

104

Tabel 4.36 Pendapat responden mengenai : Saya merasa pekerjaan saya sebagai guru adalah Pekerjaan yang menantang Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 3 15 4.76 Setuju 4 19 76 30.16 Kurang Setuju 3 32 96 50.79 Tidak Setuju 2 9 18 14.29 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 205 100.00 Rata-Rata Skor 3.25 Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya merasa pekerjaan saya sebagai guru adalah pekerjaan yang menantang, yakni sebanyak 4.76% menyatakan sangat setuju, 30.16% menyatakan setuju, 50.79% menyatakan kurang setuju, 14.29% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.25. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya merasa pekerjaan saya sebagai guru adalah pekerjaan yang menantang, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.37 Pendapat responden mengenai : Saya diberi kesempatan untuk meningkatkan karier Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 6 4 19 3 25 2 8 1 5 63 Skor 30 76 75 16 5 202 3.21 Prosentase 9.52 30.16 39.68 12.70 7.94 100.00

105

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya diberi kesempatan untuk meningkatkan 30.16% 12.70%

karier, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, menyatakan setuju, 39.68% menyatakan kurang setuju,

menyatakan tidak setuju, 7.94% sangat tidak setuju, rata-rata 3.21. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya diberi kesempatan untuk meningkatkan karier, berada pada kategori cukup baik Tabel 4.38 Pendapat responden mengenai : Gaji atau honor yang saya terima telah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 9 45 14.29 Setuju 4 17 68 26.98 Kurang Setuju 3 27 81 42.86 Tidak Setuju 2 7 14 11.11 Sangat Tidak Setuju 1 3 3 4.76 Jumlah 63 211 100.00 Rata-Rata Skor 3.35

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : gaji atau honor yang saya terima telah sesuai

dengan tugas dan tanggung jawab, yakni sebanyak 14.29% menyatakan sangat setuju, 26.98% menyatakan setuju, 42.86% menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, 4.76% sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.35. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : gaji atau honor yang saya terima telah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab, berada pada kategori cukup baik.

106

Tabel 4.39 Pendapat responden mengenai : Gaji atau honor yang saya terima telah memenuhi kebutuhan saya Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 5 25 7.94 Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Berdasarkan tabel di 24 9.52 120 63.49 14 11.11 5 7.94 188 100.00 2.98 atas, dapat dideskripsikan pernyataan 4 3 2 1 6 40 7 5 63

responden mengenai : gaji atau honor yang saya terima telah memenuhi kebutuhan saya, yakni sebanyak 7.94 % menyatakan sangat setuju,

9.52% menyatakan setuju, 63.49% menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, 7.94% sangat tidak setuju, dengan rata-rata 2.98. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : gaji atau honor yang saya terima telah memenuhi kebutuhan saya, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.40 Pendapat responden mengenai : Sekolah menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 6 20 26 6 5 63 Skor 30 80 78 12 5 205 3.25 Prosentase 9.52 31.75 41.27 9.52 7.94 100.00

107

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : menyenangkan, sekolah menciptakan kondisi kerja yang

yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju,

31.75% menyatakan setuju, 41.27% menyatakan kurang setuju, 9.52% menyatakan tidak setuju, 7.94% sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.25. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : sekolah menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan,

berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.41 Pendapat responden mengenai : Kebijakan yang diambil manajemen sekolah membuat saya nyaman dalam bekerja Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 6 18 27 7 5 63 Skor 30 72 81 14 5 202 3.21 Prosentase 9.52 28.57 42.86 11.11 7.94 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : kebijakan yang diambil manajemen sekolah yakni sebanyak 9.52% setuju, 42.86%

membuat saya nyaman dalam bekerja, menyatakan sangat setuju, 28.57%

menyatakan

menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, 7.94% sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.21.

108

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : kebijakan yang diambil manajemen sekolah membuat saya nyaman dalam bekerja, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.42 Pendapat responden mengenai : Jika mengalami kesulitan di dalam pekerjaan saya lebih senang membicarakan dengan pimpinan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 9 14 30 7 3 63 Skor 45 56 90 14 3 208 3.30 Prosentase 14.29 22.22 47.62 11.11 4.76 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : jika mengalami kesulitan di dalam pekerjaan saya lebih senang membicarakan dengan pimpinan, yakni sebanyak 14.29% menyatakan sangat setuju, 22.22% menyatakan setuju, 47.62%

menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, 4.76% sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.30. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : jika mengalami kesulitan di dalam pekerjaan saya lebih

senang membicarakan dengan pimpinan, berada pada kategori cukup baik.

109

Tabel 4.43 Pendapat responden mengenai : Saya berhubungan baik dengan pimpinan/kepala sekolah Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 7 35 11.11 Setuju 4 18 72 28.57 Kurang Setuju 3 30 90 47.62 Tidak Setuju 2 8 16 12.70 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 213 100.00 Rata-Rata Skor 3.38 Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya berhubungan baik dengan pimpinan/kepala sekolah, yakni sebanyak 11.11% menyatakan sangat setuju, 28.57% 12.70%

menyatakan setuju, 47.62% menyatakan kurang setuju, menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.38.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya berhubungan baik dengan pimpinan/kepala sekolah,

berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.44 Pendapat responden mengenai : Saya berhubungan baik dengan teman sejawat Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 10 12 33 8 0 63 Skor 50 48 99 16 0 213 3.38 Prosentase 15.87 19.05 52.38 12.70 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya berhubungan baik dengan teman sejawat,

110

yakni sebanyak 15.87% menyatakan sangat setuju, 19.05% menyatakan setuju, 52.38% menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak

setuju, dengan rata-rata 3.38. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya berhubungan baik dengan teman sejawat, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.45 Pendapat responden mengenai : Saya berhubungan baik dengan siswa Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 9 4 15 3 31 2 8 1 0 63 Skor 45 60 93 16 0 214 3.40 Prosentase 14.29 23.81 49.21 12.70 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya berhubungan baik dengan siswa, yakni

sebanyak 14.29% menyatakan sangat setuju, 23.81% menyatakan setuju, 49.21% menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak setuju, % sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.40. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya berhubungan baik dengan siswa, berada pada kategori baik.

4.3.3 Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Disiplin Kerja Guru di SMPN 1 Cisarua

111

Tabel 4.46 Pendapat responden mengenai : Saya datang dan pulang tepat waktu sesuai jadwal yang telah dibuat Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 6 30 9.52 Setuju 4 18 72 28.57 Kurang Setuju 3 28 84 44.44 Tidak Setuju 2 11 22 17.46 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 208 100.00 Rata-Rata Skor 3.30

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya datang dan pulang tepat waktu sesuai jadwal yang telah dibuat, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 28.57% menyatakan setuju, 44.44% menyatakan kurang setuju, .

17.46% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya datang dan pulang tepat waktu sesuai jadwal yang telah dibuat, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.47 Pendapat responden mengenai : Begitu bel masuk berbunyi saya langsung masuk ruangan kelas sesuai dengan jam mengajar Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 7 15 25 16 0 63 Skor 35 60 75 32 0 202 3.21 Prosentase 11.11 23.81 39.68 25.40 0.00 100.00

112

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : begitu bel masuk berbunyi saya langsung masuk ruangan kelas sesuai dengan jam mengajar, menyatakan sangat setuju, 23.81% yakni sebanyak 11.11% setuju, 39.68%

menyatakan

menyatakan kurang setuju, 25.40% menyatakan tidak setuju, dengan ratarata 3.21. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : begitu bel masuk berbunyi saya langsung masuk ruangan kelas sesuai dengan jam mengajar, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.48 Pendapat responden mengenai : Saya menggunakan jam mengajar seefisien mungkin Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 6 30 9.52 Setuju 4 20 80 31.75 Kurang Setuju 3 20 60 31.75 Tidak Setuju 2 17 34 26.98 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 204 100.00 Rata-Rata Skor 3.24

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : mungkin, saya menggunakan jam mengajar seefisien

yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 31.75% setuju, 31.75% menyatakan kurang setuju, 26.98%

menyatakan

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.24. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya menggunakan jam mengajar seefisien mungkin, berada pada kategori cukup baik

113

Tabel 4.49 Pendapat responden mengenai : Saya menggunakan jam istirahat seefisien mungkin Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 4 4 23 3 26 2 10 1 0 63 Skor 20 92 78 20 0 210 3.33 Prosentase 6.35 36.51 41.27 15.87 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : mungkin, saya menggunakan jam istirahat seefisien

yakni sebanyak 6.35% menyatakan sangat setuju, 36.51% setuju, 41.27% menyatakan kurang setuju, 15.87%

menyatakan

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.33. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya menggunakan jam istirahat seefisien mungkin, berada pada kategori cukup baik Tabel 4.50 Pendapat responden mengenai : Saya mengikuti upacara bendera setiap senin pagi Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 4 15 30 12 2 63 Skor 20 60 90 24 2 196 3.11 Prosentase 6.35 23.81 47.62 19.05 3.17 100.00

114

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya mengikuti upacara bendera setiap hari senin pagi, yakni sebanyak 6.35% menyatakan sangat setuju, 23.81% setuju, 47.62% menyatakan kurang setuju, 19.05%

menyatakan

menyatakan tidak setuju, 3.11.

3.17% sangat tidak setuju, dengan rata-rata

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya mengikuti upacara bendera setiap hari senin pagi,

berada pada kategori cukup baik Tabel 4.51 Pendapat responden mengenai : Saya hadir di kelas sesuai jam mengajar yang telah terjadwal Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 4 23 25 11 0 63 Skor 20 92 75 22 0 209 3.32 Prosentase 6.35 36.51 39.68 17.46 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya hadir di kelas sesuai jam mengajar yang telah terjadwal, yakni sebanyak 6.35% menyatakan sangat setuju,

36.51% menyatakan setuju, 39.68% menyatakan kurang setuju, 17.46% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.32. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya hadir di kelas sesuai jam mengajar yang telah terjadwal, berada pada kategori cukup baik.

115

Tabel 4.52 Pendapat responden mengenai : Saya hadir pada rapat pembinaan/pengarahan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 3 23 22 15 0 63 Skor 15 92 66 30 0 203 3.22 Prosentase 4.76 36.51 34.92 23.81 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya hadir pada rapat pembinaan/pengarahan, yakni sebanyak 4.76% menyatakan sangat setuju, 36.51% menyatakan setuju, 34.92% menyatakan kurang setuju, setuju, dengan rata-rata 3.22. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya hadir pada rapat pembinaan/pengarahan, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.53 Pendapat responden mengenai : Saya bekerja sesuai dengan fungsi dan tugasnya Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 2 21 26 14 0 63 Skor 10 84 78 28 0 200 3.17 Prosentase 3.17 33.33 41.27 22.22 0.00 100.00 23.81% menyatakan tidak

116

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya bekerja sesuai dengan fungsi dan tugasnya, yakni sebanyak 3.17% menyatakan sangat setuju, 33.33% menyatakan setuju, 41.27% menyatakan kurang setuju, 22.22% menyatakan tidak setuju, % sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.17. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya bekerja sesuai dengan fungsi dan tugasnya, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.54 Pendapat responden mengenai : Saya memahami mekanisme kerja yang ditetapkan oleh sekolah Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 2 19 29 13 0 63 Skor 10 76 87 26 0 199 3.16 Prosentase 3.17 30.16 46.03 20.63 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya memahami mekanisme kerja yang ditetapkan oleh sekolah, yakni sebanyak 3.17% menyatakan sangat setuju, 30.16% menyatakan setuju, 46.03% menyatakan kurang setuju, 20.63%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.16. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya memahami mekanisme kerja yang ditetapkan oleh

sekolah, berada pada kategori cukup baik.

117

Tabel 4.55 Pendapat responden mengenai : Saya bertanggung jawab terhadap semua tugas yang diberikan kepada saya Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 2 18 30 13 0 63 Skor 10 72 90 26 0 198 3.14 Prosentase 3.17 28.57 47.62 20.63 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya bertanggung jawab terhadap semua tugas yang diberikan kepada saya, yakni sebanyak 3.17% menyatakan sangat setuju, 28.57% menyatakan setuju, 47.62% menyatakan kurang setuju, 20.63% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.14. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya bertanggung jawab terhadap semua tugas yang

diberikan kepada saya, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.56 Pendapat responden mengenai : Saya melaksanakan tugas yang diberikan kepala sekolah dengan baik Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 3 20 25 15 0 63 Skor 15 80 75 30 0 200 3.17 Prosentase 4.76 31.75 39.68 23.81 0.00 100.00

118

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya senantiasa melaksanakan tugas yang yakni sebanyak 4.76% setuju, 39.68% dengan

diberikan kepala sekolah dengan baik, menyatakan sangat setuju, 31.75%

menyatakan

menyatakan kurang setuju, 23.81% menyatakan tidak setuju, rata-rata 3.17.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya senantiasa melaksanakan tugas yang diberikan kepala sekolah dengan baik, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.57 Pendapat responden mengenai : Saya bisa bekerja sama dengan seluruh teman sejawat Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 1 5 1.59 Setuju 4 23 92 36.51 Kurang Setuju 3 19 57 30.16 Tidak Setuju 2 20 40 31.75 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 194 100.00 Rata-Rata Skor 3.08

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya bisa bekerja sama dengan seluruh teman sejawat, yakni sebanyak 1.59% menyatakan sangat setuju, 36.51% setuju, 30.16% menyatakan kurang setuju, 31.75%

menyatakan

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.08. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya bisa bekerja sama dengan seluruh teman sejawat,

berada pada kategori cukup baik.

119

Tabel 4.58 Pendapat responden mengenai : Saya mentaati peraturan-peraturan sekolah Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 1 5 1.59 Setuju 4 19 76 30.16 Kurang Setuju 3 26 78 41.27 Tidak Setuju 2 17 34 26.98 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 193 100.00 Rata-Rata Skor 3.06

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya mentaati peraturan-peraturan sekolah, yakni sebanyak 1.59% menyatakan sangat setuju, 30.16% menyatakan setuju, 41.27% menyatakan kurang setuju, 26.98% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.06. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya mentaati peraturan-peraturan sekolah, berada pada

kategori cukup baik Tabel 4.59 Pendapat responden mengenai : Sangsi atas pelanggaran terhadap setiap peraturan telah disosialisasikan kepada para guru Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 1 5 1.59 Setuju 4 21 84 33.33 Kurang Setuju 3 25 75 39.68 Tidak Setuju 2 16 32 25.40 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 196 100.00 Rata-Rata Skor 3.11

120

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : sangsi atas pelanggaran terhadap setiap

peraturan telah disosialisasikan kepada para guru, yakni sebanyak 1.59% menyatakan sangat setuju, 33.33% menyatakan setuju, 39.68%

menyatakan kurang setuju, 25.40% menyatakan tidak setuju, dengan ratarata 3.11. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : sangsi atas pelanggaran terhadap setiap peraturan telah

disosialisasikan kepada para guru, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.60 Pendapat responden mengenai : Pemberian sangsi telah sesuai dengan tingkat pelanggaran Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 1 23 21 18 0 63 Skor 5 92 63 36 0 196 3.11 Prosentase 1.59 36.51 33.33 28.57 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : pemberian sangsi telah sesuai dengan tingkat

pelanggaran, yakni sebanyak 1.59% menyatakan sangat setuju, 36.51% menyatakan setuju, 33.33% menyatakan kurang setuju, 28.57%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.11. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : pemberian sangsi telah sesuai dengan tingkat pelanggaran, berada pada kategori cukup baik.

121

4.3.4 Deskripsi Jawaban Responden Mengenai Kinerja Guru di SMPN 1 Cisarua Tabel 4.61 Pendapat responden mengenai : Sebelum pelajaran dimulai saya mengajak siswa untuk berdoa bersama Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 5 25 7.94 Setuju 4 15 60 23.81 Kurang Setuju 3 33 99 52.38 Tidak Setuju 2 10 20 15.87 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 204 100.00 Rata-Rata Skor 3.24

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : sebelum pelajaran dimulai saya mengajak siswa untuk berdoa bersama, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat

setuju, 23.81% menyatakan setuju, 52.38% menyatakan kurang setuju, 15.87% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.24. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : sebelum pelajaran dimulai saya mengajak siswa untuk berdoa bersama, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.62 Pendapat responden mengenai : Saya mengarahkan siswa untuk memiliki sikap jujur dan terbuka pada orang lain Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 6 30 9.52 Setuju 4 13 52 20.63 Kurang Setuju 3 34 102 53.97 Tidak Setuju 2 10 20 15.87 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 204 100.00 Rata-Rata Skor 3.24

122

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya mengarahkan siswa untuk memiliki sikap

jujur dan terbuka pada orang lain, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 20.63% menyatakan setuju, 53.97% menyatakan kurang setuju, 15.87% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.24. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya mengarahkan siswa untuk memiliki sikap jujur dan

terbuka pada orang lain, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.63 Pendapat responden mengenai : Dalam proses KBM saya sering menyelipkan pendidikan kedisiplinan Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 5 4 15 3 33 2 10 1 0 63 Skor 25 60 99 20 0 204 3.24 Prosentase 7.94 23.81 52.38 15.87 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : dalam proses KBM saya sering menyelipkan

kedisiplinan, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 23.81% menyatakan setuju, 52.38% menyatakan kurang setuju, 15.87%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.24. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : dalam proses KBM saya sering menyelipkan kedisiplinan,

berada pada kategori cukup baik.

123

Tabel 4.64 Pendapat responden mengenai : Saya menyiapkan perencanaan pembelajaran sebelum saya mengajar berupa program tahunan/semesteran, silabus, RPP dll. Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 6 30 9.52 Setuju 4 16 64 25.40 Kurang Setuju 3 33 99 52.38 Tidak Setuju 2 8 16 12.70 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 209 100.00 Rata-Rata Skor 3.32

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya menyiapkan perencanaan pembelajaran sebelum saya mengajar berupa program tahunan/semesteran, silabus, RPP dll, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 25.40% menyatakan setuju, 52.38% menyatakan kurang setuju, 12.70%

menyatakan tidak setuju, % sangat tidak setuju, dengan rata-rata 3.32. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya menyiapkan perencanaan pembelajaran sebelum saya mengajar berupa program tahunan/semesteran, silabus, RPP dll, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.65 Pendapat responden mengenai : Saya mengorganisasi materi agar sesuai dengan silabus Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 9 45 14.29 Setuju 4 13 52 20.63 Kurang Setuju 3 34 102 53.97 Tidak Setuju 2 7 14 11.11 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 213 100.00 Rata-Rata Skor 3.38

124

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya mengorganisasi materi agar sesuai dengan silabus, yakni sebanyak 14.29% menyatakan sangat setuju, 20.63% menyatakan setuju, 53.97% menyatakan kurang setuju, 11.11%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.38. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya mengorganisasi materi agar sesuai dengan silabus, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.66 Pendapat responden mengenai : Pada pelaksanaan KBM saya selalu berpedoman pada silabus dan RPP yang telah dibuat Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 10 4 14 3 31 2 8 1 0 63 Skor 50 56 93 16 0 215 3.41 Prosentase 15.87 22.22 49.21 12.70 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Pada pelaksanaan KBM saya selalu berpedoman pada silabus dan RPP yang telah dibuat, yakni sebanyak 15.87% menyatakan sangat setuju, 22.22% menyatakan setuju, 49.21% dengan

menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak setuju, rata-rata 3.41.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Pada pelaksanaan KBM saya selalu berpedoman pada

silabus dan RPP yang telah dibuat, berada pada kategori baik.

125

Tabel 4.67 Pendapat responden mengenai : Saya menguasai materi pelajaran yang menjadi garapan saya Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 5 4 20 3 25 2 13 1 0 63 Skor 25 80 75 26 0 206 3.27 Prosentase 7.94 31.75 39.68 20.63 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya senatiasa menguasai materi pelajaran yang menjadi garapan saya, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 31.75% menyatakan setuju, 39.68% menyatakan kurang setuju, 20.63% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.27. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya senatiasa menguasai materi pelajaran yang menjadi garapan saya, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.68 Pendapat responden mengenai : Saya mendisain model pembelajaran sebelum mengajar Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 5 4 18 3 31 2 9 1 0 63 Skor 25 72 93 18 0 208 3.30 Prosentase 7.94 28.57 49.21 14.29 0.00 100.00

126

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya mendisain model pembelajaran sebelum mengajar, yakni sebanyak menyatakan setuju, 7.94% menyatakan sangat setuju, 28.57% menyatakan kurang setuju, 14.29%

49.21%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.30. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya mendisain model pembelajaran sebelum mengajar,

berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.69 Pendapat responden mengenai : Saya berusaha menggunakan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 5 25 7.94 Setuju 4 16 64 25.40 Kurang Setuju 3 34 102 53.97 Tidak Setuju 2 8 16 12.70 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 207 100.00 Rata-Rata Skor 3.29

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya berusaha menggunakan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 25.40% menyatakan setuju, 53.97% menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.29. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya berusaha menggunakan metode dan media

127

pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.70 Pendapat responden mengenai : Saya membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 5 25 7.94 Setuju 4 18 72 28.57 Kurang Setuju 3 30 90 47.62 Tidak Setuju 2 10 20 15.87 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 207 100.00 Rata-Rata Skor 3.29

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 28.57% menyatakan setuju, 47.62% menyatakan kurang setuju, 15.87%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.29. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.71 Pendapat responden mengenai : Saya menyediakan waktu tersendiri untuk membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 6 30 9.52 Setuju 4 15 60 23.81 Kurang Setuju 3 35 105 55.56 Tidak Setuju 2 7 14 11.11 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 209 100.00 Rata-Rata Skor 3.32

128

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya menyediakan waktu tersendiri untuk membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 23.81% menyatakan setuju, 55.56% menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.32. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya menyediakan waktu tersendiri untuk membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.72 Pendapat responden mengenai : Saya mengarahkan siswa agar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 6 4 16 3 34 2 7 1 0 63 Skor 30 64 102 14 0 210 3.33 Prosentase 9.52 25.40 53.97 11.11 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya mengarahkan siswa agar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, yakni sebanyak 9.52% menyatakan sangat setuju, 25.40% menyatakan setuju, 53.97% menyatakan kurang setuju, 11.11% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.33.

129

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya mengarahkan siswa agar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.73 Pendapat responden mengenai : Saya memberikan arahan-arahan dalam belajar tentang tata tertib sekolah Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat 5 4 3 2 1 Frekuensi 8 13 33 9 0 63 Skor 40 52 99 18 0 209 3.32 Prosentase 12.70 20.63 52.38 14.29 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya memberikan arahan-arahan dalam belajar tentang tata tertib sekolah, yakni sebanyak 12.70% menyatakan sangat setuju, 20.63% menyatakan setuju, 52.38% menyatakan kurang setuju, 14.29% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.32. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya memberikan arahan-arahan dalam belajar tentang tata tertib sekolah, berada pada kategori cukup baik.

130

Tabel 4.74 Pendapat responden mengenai : Saya memberikan latihan soal yang sesuai dengan materi yang telah diajarkan Pendapat Derajat Frekuensi Skor Prosentase Sangat Setuju 5 5 25 7.94 Setuju 4 17 68 26.98 Kurang Setuju 3 29 87 46.03 Tidak Setuju 2 12 24 19.05 Sangat Tidak Setuju 1 0 0 0.00 Jumlah 63 204 100.00 Rata-Rata Skor 3.24

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya memberikan latihan soal yang sesuai dengan materi yang telah diajarkan, yakni sebanyak 7.94% menyatakan sangat setuju, 26.98% menyatakan setuju, 46.03% menyatakan kurang setuju, 19.05% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.24. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya memberikan latihan soal yang sesuai dengan materi yang telah diajarkan, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.75 Pendapat responden mengenai : Saya memberikan pekerjaan rumah untuk melatih kemampuan siswa Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 4 4 15 3 36 2 8 1 0 63 Skor 20 60 108 16 0 204 3.24 Prosentase 6.35 23.81 57.14 12.70 0.00 100.00

131

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya memberikan pekerjaan rumah untuk melatih kemampuan siswa, yakni sebanyak 6.35% menyatakan sangat setuju, 23.81% menyatakan setuju, 57.14% menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya memberikan pekerjaan rumah untuk melatih kemampuan siswa, berada pada kategori cukup baik.

Tabel 4.76 Pendapat responden mengenai : Saya melakukan penilaian pekerjaan siswa secara obyektif Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 7 4 16 3 32 2 8 1 0 63 Skor 35 64 96 16 0 211 3.35 Prosentase 11.11 25.40 50.79 12.70 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : saya melakukan penilaian pekerjaan siswa secara obyektif, yakni sebanyak 11.11% menyatakan sangat setuju, 25.40% menyatakan setuju, 50.79% menyatakan kurang setuju, 12.70%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.35. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : saya melakukan penilaian pekerjaan siswa secara obyektif, berada pada kategori cukup baik.

132

Tabel 4.77 Pendapat responden mengenai : Saya mengisi buku nilai sesuai hasil kerja siswa Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 12 4 8 3 38 2 5 1 0 63 Skor 60 32 114 10 0 216 3.43 Prosentase 19.05 12.70 60.32 7.94 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya selalu mengisi buku nilai sesuai hasil kerja siswa, yakni sebanyak 19.05% menyatakan sangat setuju, 12.70% menyatakan setuju, 60.32% menyatakan kurang setuju, 7.94%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.43. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya selalu mengisi buku nilai sesuai hasil kerja siswa, berada pada kategori baik. Tabel 4.78 Pendapat responden mengenai : Saya melakukan evaluasi baik formatif maupun sumatif Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 7 4 17 3 32 2 7 1 0 63 Skor 35 68 96 14 0 213 3.38 Prosentase 11.11 26.98 50.79 11.11 0.00 100.00

133

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya melakukan evaluasi baik foraif maupun sumatif, yakni sebanyak 11.11% menyatakan sangat setuju, 26.98% menyatakan setuju, 50.79% menyatakan kurang setuju, 11.11%

menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.38. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya melakukan evaluasi baik foraif maupun sumatif, berada pada kategori cukup baik. Tabel 4.79 Pendapat responden mengenai : Saya melaksanakan remedial bagi siswa yang nilainya dibawah KKM Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 11 4 10 3 34 2 8 1 0 63 Skor 55 40 102 16 0 213 3.38 Prosentase 17.46 15.87 53.97 12.70 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya selalu melaksanakan remedial bagi siswa yang nilainya dibawah KKM, yakni sebanyak 17.46% menyatakan sangat setuju, 15.87% menyatakan setuju, 53.97% menyatakan kurang setuju, 12.70% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.38. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya selalu melaksanakan remedial bagi siswa yang nilainya dibawah KKM, berada pada kategori cukup baik.

134

Tabel 4.80 Pendapat responden mengenai : Saya memberikan pengayaan kepada siswa yang melampaui KKM Pendapat Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Jumlah Rata-Rata Skor Derajat Frekuensi 5 9 4 14 3 29 2 11 1 0 63 Skor 45 56 87 22 0 210 3.33 Prosentase 14.29 22.22 46.03 17.46 0.00 100.00

Berdasarkan tabel di atas, dapat dideskripsikan pernyataan responden mengenai : Saya selalu memberikan pengayaan kepada siswa yang melampaui KKM, yakni sebanyak 14.29% menyatakan sangat setuju, 22.22% menyatakan setuju, 46.03% menyatakan kurang setuju, 17.46% menyatakan tidak setuju, dengan rata-rata 3.33. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pernyataan responden mengenai : Saya selalu memberikan pengayaan kepada siswa yang melampaui KKM, berada pada kategori cukup baik. 4.3.5 Statistik Deskriptif Sesuai dengan pendapat responden di atas, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor masing-masing variabel sebagai berikut : Tabel 4.81 Rata-Rata Skor Variabel Variabel N Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Motivasi Kerja (X2) Disiplin Kerja (X3) Kinerja Guru (Y) 63 63 63 63

Rata - Rata 3,94 3,26 3,18 3.31

135

Tabel rata-rata skor variabel tersebut menunjukkan skor rata-rata variabel kepemimpinan kepala sekolah lebih tinggi dibandingkan tiga variabel lainnya. Juga terlihat bahwa skor rata-rata untuk variabel disiplin kerja lebih kecil dibandingkan tiga variabel lainnya. Guna memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai makna hasil perhitungan statistik deskriptif di atas, selanjutnya dibandingkan dengan tabel kriteria penafsiran kondisi variabel penelitian pada masingmasing variabel yang diteliti. Model yang dipakai mengadaptasi model tentang pengontrolan kualitas (Supranto : 2000) sebagai berikut : Tabel 4.82 Kriteria Penafsiran Kondisi Variabel Penelitian Rata-Rata Skor 4,2 5,0 3,4 4,1 2,6 3,3 1,8 2,5 1,0 1,7 Penafsiran Sangat baik Baik Cukup Baik Kurang baik Sangat kurang baik

Sesuai dengan kriteria di atas, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.83 Kriteria Ketercapaian Skor Tiap Variabel Rata-rata Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Motivasi Kerja (X2) Disiplin Kerja (X3) Kinerja Guru (Y) Sumber : Hasil pengolahan data 3.94 3.26 3.18 3.31 Baik Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Kriteria

136

4.3.6 Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru

4.3.6.1 Hubungan Antar Variabel Untuk mengungkap pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru dilakukan pengujian hipotesis menggunakan analisis jalur. Variabel penelitian kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja, disiplin kerja dan kinerja guru diukur melalui indikator yang dijabarkan dalam kuesioner penelitian. Data variabel penelitian yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner memiliki skala ukur ordinal. Untuk memenuhi syarat data dalam perhitungan analisis jalur sekurang-kurangnya mempunyai skala

pengukuran interval terhadap data yang diperoleh dari kuisioner terlebih dahulu ditransformasikan menjadi skala interval menggunakan Method of Successive Interval (MSI). Hasil data interval dapat dilihat pada lampiran. Menggunakan data dengan skala ukur interval yang diperoleh dari kuesioner penelitian selanjutnya diperoleh skor untuk setiap variabel yang digunakan dalam analisis data. Skor untuk masing-masing variabel merupakan total skor item. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru. Dalam penelitian ini variabel kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja sebagai variabel sebab (eksogenus variabel) dan kinerja guru sebagai variabel akibat (endogenus variabel). Langkah awal dalam perhitungan adalah mengetahui besaran korelasi

137

antar variabel. Hasil perhitungan korelasi antar variabel yang diteliti dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.84 Korelasi Antara Variabel
Kepemimpinan kepala sekolah (X1) 1
**

Kepemimpinan kepala sekolah (X1) Motivasi kerja (X2) Disiplin kerja (X3) Kinerja guru (Y)

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Pearson Correlation Sig. (2-tailed)

Motivasi kerja (X2) ** .723 .000 1 .505 .000 .766 .000


** **

Disiplin kerja (X3) ** .438 .000 .505 .000 1 .564 .000


** **

Kinerja guru (Y) ** .828 .000 .766 .000 .564 .000 1


** **

.723 .000 .438 .000 .828 .000


** **

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). a. Listwise N=63

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2011

4.3.6.2 Analisis Jalur Koefisien jalur diperoleh berdasarkan korelasi antar variabel. Dengan melalui perhitungan SPSS diperoleh koefisien jalur kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru sebagai berikut : Tabel 4.85 Hasil Koefisien Jalur X terhadap Y
Model Unstandardized Coefficients B Std. Error 1.479 3.710 .116 .120 .074 Standardized Coefficients Beta .546 .278 .184

t .399 5.982 2.920 2.518

(Constant)

Sig. .692 .000 .005 .015

Kepemimpinan kepala .695 sekolah (X1) Motivasi kerja (X2) .351 Disiplin kerja (X3) .186 a. Dependent Variable: Kinerja guru (Y)

Diperoleh koefisien jalur dari kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru (PYX1) sebesar 0,546, koefisien jalur dari motivasi

138

kerja terhadap kinerja guru (PYX2) sebesar 0,278, dan koefisien jalur dari disiplin kerja terhadap kinerja guru (PYX3) sebesar 0,184. Besar pengaruh secara bersama-sama kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru diperoleh dari hasil perkalian koefisien jalur dengan matriks korelasi antara variabel sebab dengan variabel akibat. Adapun hasil perhitungan pengaruh secara bersama-sama variabel kepemimpinan kepala sekolah, motivasi dan disiplin terhadap kinerja guru dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4.86 Hasil Koefisien Determinasi (Pengaruh Total) X terhadap Y Model R
dimension0

R Square
a

Adjusted R Square
.757

Std. Error of the Estimate


5.60296

.877

.769

a. Predictors: (Constant), Disiplin Kerja (X3), Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1), Motivasi Kerja (X2)

Diperoleh pengaruh secara bersama-sama variabel kepemimpinan kepala sekolah, motivasi dan disiplin terhadap kinerja guru sebesar 0,769. Selain pengaruh variabel kepemimpinan kepala sekolah,motivasi dan disiplin terhadap kinerja guru, terdapat probabilitas munculnya pengaruh variabel lain (residu). Maka untuk menghitung besarnya koefisien pengaruh variabel dimaksud digunakan formula sebagai berikut : = = 0,481

Besar koefisien jalur untuk faktor lain yang tidak masuk dalam spesifikasi adalah 0,481 Persamaan koefisien jalur yang terbentuk dinyatakan sebagai berikut : Y= 0,546 X1 + 0,278 X2 + 0,184 X3 + 0,481

139

Persamaan tersebut dapat digambarkan dalam model struktural sebagai berikut :

= 0,481 Y

Gambar 4.1 Model Struktural Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah , Motivasi dan Disiplin terhadap Kinerja Guru

Dari gambar 4.1. di atas, dapat diformulasikan hasil pengujian melalui tabel sebagai berikut : Tabel 4.87 Hasil Perhitungan Jalur Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Motivasi Kerja (X2) Disiplin Kerja (X3)
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Koefisien Jalur 0,546 0,278 0,184

140

Hasil pengolahan data untuk membuktikan pengaruh langsung dan tidak langsung variabel disajikan dalam tabel berikut : Tabel 4.88 Pengaruh X1, X2 dan X3 Langsung dan Tidak langsung terhadap Y
Variabel X1 X2 X3 Koefisien Jalur 0,546 0,278 0,184 Pengaruh Langsung 29.8% 7,7% 3,4% Total Pengaruh (R ) Pengaruh faktor lain ()
2

Pengaruh tidak langsung (melalui) X1 X2 X3 4,4% 11% 11,0% 4,4% 2,6% 2,6%

Total

45.2% 21.3% 10.4% 76,9% 23,1%

4.3.6.3 Hasil Uji Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru Setelah pengujian koefisien jalur dari Kepemimpinan kepala sekolah ke kinerja guru diperoleh ada pengaruh Kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru selanjutnya dapat diketahui besarnya pengaruh secara langsung dan tidak dari Kepemimpinan kepala sekolah terhadap Kinerja guru . Pengaruh langsung X1 terhadap Y = . = 0,546 x 0,546 = 0,298 (29,8%)

Pengaruh tidak langsung X1 terhadap Y melalui X2 = . rx1.x2 . Pyx2 = 0,546 x 0,723 x 0,278 = 0,110 (11%)

Pengaruh tidak langsung X1 terhadap Y melalui X3 = (4,4%) . rx1.x3 . = 0,546 x 0,438 x 0,184 = 0,044

141

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh pengaruh langsung Kepemimpinan kepala sekolah terhadap Kinerja sebesar 29,8%. Besarnya pengaruh tidak langsung Kepemimpinan kepala sekolah terhadap Kinerja guru karena ada keterkaitan (hubungannya) dengan Motivasi kerja memberikan penambahan pengaruh sebesar 11,0% dan pengaruh tidak langsung Kepemimpinan kepala sekolah terhadap Kinerja guru karena ada keterkaitan (hubungannya) dengan Disiplin kerja memberikan penambahan pengaruh sebesar 4,4% Total Pengaruh (Pengaruh langsung dan tidak langsung)

Kepemimpinan kepala sekolah terhadap Kinerja diperoleh sebesar 29,8% + 11,0% + 4,4% = 45,2%.

4.3.6.4 Hasil Uji Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Setelah pengujian koefisien jalur dari Motivasi kerja ke Kinerja guru diperoleh ada pengaruh Motivasi kerja terhadap Kinerja guru selanjutnya dapat diketahui besarnya pengaruh secara langsung dan tidak dari Motivasi kerja terhadap Kinerja guru . Pengaruh langsung X2 terhadap Y = . = 0,278 x 0,278 = 0,077 (7,7%)

Pengaruh tidak langsung X2 terhadap Y melalui X1 = . rx1.x2. Pyx1 = 0,278 x 0,723 x 0,546 = 0,11 (11%)

Pengaruh tidak langsung X2 terhadap Y melalui X3 = . rx2.x3 . = 0,278 x 0,505 x 0,184 = 0,026 (2,6%)

142

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh pengaruh langsung Motivasi kerja terhadap Kinerja sebesar 7,7%. Besarnya perhitungan diperoleh pengaruh tidak langsung Motivasi kerja terhadap Kinerja guru karena ada keterkaitan (hubungannya) dengan Kepemimpinan kepala sekolah memberikan penambahan pengaruh sebesar 11,0% dan

pengaruh tidak langsung variabel Motivasi kerja terhadap Kinerja guru karena ada keterkaitan (hubungannya) dengan Disiplin kerja memberikan penambahan pengaruh sebesar 2,6%. Total Pengaruh (Pengaruh langsung dan tidak langsung) Motivasi kerja terhadap Kinerja diperoleh sebesar 7,7% + 11,0% + 2,6% = 21,3%.

4.3.6.5 Hasil Uji Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru Setelah pengujian koefisien jalur dari Disiplin kerja ke Kinerja guru secara statistik bermakna selanjutnya dapat diketahui besarnya pengaruh secara langsung dan tidak dari Disiplin kerja terhadap Kinerja guru . Pengaruh langsung X2 terhadap Y = . = 0,184 x 0,184 = 0,034 (3,4%)

Pengaruh tidak langsung X3 terhadap Y melalui X1 = . rx1.x3. = 0,184 x 0,438 x 0,546 = 0,044 (4,4%)

Pengaruh tidak langsung X3 terhadap Y melalui X2 = . rx2.x3 . = 0,184x 0,505 x 0,278= 0,026 (2,6%)

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh pengaruh langsung variabel Disiplin kerja terhadap Kinerja sebesar 3,4%. Besar perhitungan di atas diperoleh pengaruh tidak langsung Disiplin kerja terhadap Kinerja guru

143

karena ada keterkaitan (hubungannya) dengan Kepemimpinan kepala sekolah memberikan penambahan pengaruh sebesar 4,4% dan pengaruh tidak langsung Disiplin kerja terhadap Kinerja guru karena ada keterkaitan (hubungannya) dengan Motivasi kerja memberikan penambahan

pengaruh sebesar 2,6%

4.3.6.6 Hasil uji Pengaruh Bersama-sama Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru

Hasil pengaruh langsung dan tidak langsung yang diperoleh dapat dirangkum dalam tabel berikut : Tabel 4.89 Besarnya Koefisien Jalur Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru Koefisien Jalur Kepemimpinan kepala sekolah Motivasi kerja Disiplin kerja Total Hasil yang diperoleh memperlihatkan terdapat Pengaruh langsung Pengaruh tidak langsung 15.4% 13.5% 7,0% Total Pengaruh

0,546 0,278 0,184

29.8% 7,7% 3,4%

45.2% 21.3% 10.4% 76.9% pengaruh

kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat sebesar 45,2%, pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat sebesar 21,3% dan pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru

144

SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat sebesar 10,4%. Jadi terlihat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat paling besar diantara ketiga variabel yang diteliti dan diikuti dengan pengaruh motivasi kerja dan disiplin kerja. Secara total pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat diperoleh sebesar 76,9%, sedangkan sisanya sebesar 23,1% dipengaruhi oleh faktor lain.

4.3.7 Pembahasan 4.3.7.1 Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Berdasarkan tanggapan hasil responden tentang kepemimpinan kepala sekolah (X1), diperoleh skor rata-rata sebesar 3,94 (tabel 4.81) sesuai dengan kriteria penafsiran (tabel 4.82) yang dikemukakan Sugiyono (2004 : 66) berada diantara hubungan 3,4 4,1 maka

gambaran kepemimpinan kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua termasuk kategori baik. Hal ini berarti pola kepemimpinan kepala sekolah yang ditampilkan sudah baik dan pemahaman terhadap tugas dan peranannya sebagai seorang pemimpin cukup memadai. Tanpa adanya pemahaman tentang kepemimpinan maka tujuan yang diharapkan sulit dicapai. Peran dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah sebagai seorang pemimpin seperti yang dijelaskan oleh Mulyasa (2009 : 98) diantaranya

145

sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator. 4.3.7.2 Motivasi Kerja (X2) Berdasarkan tanggapan hasil responden tentang motivasi kerja (X2), diperoleh skor rata-rata sebesar 3,26 (tabel 4.81) sesuai dengan kriteria penafsiran (tabel 4.82) yang dikemukakan Sugiyono (2004 : 66) berada diantara hubungan 2,6 3,3 maka gambaran motivasi kerja termasuk kategori cukup baik. Hal ini berarti motivasi kerja guru SMP Negeri 1 Cisarua belum optimal. Masih harus diupayakan langkah untuk meningkatkan baik motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsiknya. 4.3.7.3 Disiplin Kerja (X3) Berdasarkan tanggapan hasil responden tentang disiplin kerja (X3), diperoleh skor rata-rata sebesar 3,18 (tabel 4.81) sesuai dengan kriteria penafsiran (tabel 4.82) yang dikemukakan Sugiyono (2004 : 66) berada diantara hubungan 2,6 3,3 maka gambaran disiplin kerja termasuk kategori cukup baik. Hal ini berarti disiplin kerja guru SMP Negeri 1 Cisarua belum optimal. Masih harus diupayakan langkah untuk meningkatkan disiplin kerja menyangkut ketepatan waktu, kesadaran dalam bekerja dan kepatuhan pada peraturan yang berlaku.

146

4.3.7.4 Kinerja Guru (Y) Berdasarkan tanggapan hasil responden tentang kinerja guru (Y), diperoleh skor rata-rata sebesar 3,31 (tabel 4.81) sesuai dengan kriteria penafsiran (tabel 4.82) yang dikemukakan Sugiyono (2004 : 66) berada diantara hubungan 2,6 3,3 maka gambaran kinerja guru termasuk kategori cukup baik. Tenaga pendidik atau guru merupakan tulang punggng sekolah dalam menjalankan proses kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tinggi rendahnya prestasi siswa tidak terlepas dari kinerja gurunya. Kinerja guru dapat diukur dari cara guru tersebut mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan

,mengevaluasi siswa. Selain itu kinerja gurupun diakibatkan oleh faktor lain diantaranya kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja. Guru hendaknya selalu berusaha mencari cara untuk meningkatkan prestasi siswa. Guru dapat meningkatkan wawasan pengetahuannya dengan membaca beberapa buku pegangan. Untuk meningkatkan kinerjanya, guru harus selalu berusaha tepat waktu, menggunakan metode dan strategi pembelajaran dengan tepat, mengikuti pelatihan dan sebagainya sehingga dapat meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran

4.3.7.5 Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru Sesuai dengan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan, diperoleh besarnya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah

147

(X1) terhadap kinerja guru (Y) secara langsung sebesar 0,298 atau 29,8% sedangkan pengaruh tidak langsung melalui motivasi kerja (X2) sebesar atau 0,11 atau 11 % serta melalui disiplin kerja (X3) sebesar 0,044 atau 4,4%. Dengan demikian total pengaruhnya sebesar 0,452 atau 45,2% termasuk cukup signifikan. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru sebesar 45,2%, pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru sebesar 21,3% dan pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat sebesar 10,4%. Jadi terlihat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat paling besar diantara ketiga variabel yang diteliti dan diikuti dengan pengaruh motivasi kerja dan disiplin kerja. Hal ini dikarenakan Kepala SMPN 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat mampu berfungsi sebagai Educator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator dan Motivator (EMASLIM) dengan cukup

baik. Menurut Mulyasa (2009 : 90) bahwa kepala sekolah berperan utama dalam menggerakan organisasi sekolah. Kepala sekolah dapat

menjalankan tugasnya dengan cukup baik akan berpengaruh terhadap kinerja guru. Kepala sekolah yang mampu melaksanakan peran dan fungsinya sebagai EMASLIM akan meningkatkan kinerja guru dan dapat juga meningkatkan mutu pendidikan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.

148

4.3.7.6 Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru Sesuai dengan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan, diperoleh besarnya pengaruh motivasi kerja (X2) terhadap kinerja guru (Y) secara langsung sebesar 0,077 atau 7,7% sedangkan pengaruh tidak langsung melalui disiplin kerja (X3) sebesar 0,026 atau 2,6% serta melalui kepemimpinan kepala sekolah (X1) sebesar 0,110 atau 11%. Dengan demikian total pengaruhnya sebesar 0,026 atau termasuk cukup tinggi Motivasi kerja cukup berpengaruh terhadap kinerja guru, 2,6%

sebagaimana pendapat Gordon W. yang dikutif Mangkunegara (2005 : 104) menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian kinerja. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai motivator dapat melakukan penerapan kebijakan dan

pengambilan keputusan yang dapat memacu motivasi kerja para guru.

4.3.7.7 Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru Sesuai dengan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan, diperoleh besarnya pengaruh Disiplin kerja (X3) terhadap kinerja guru (Y) secara langsung sebesar 0,034 atau 3,4 % sedangkan pengaruh tidak langsung melalui kepemimpinan kepala sekolah (X 1) sebesar 0,044 atau 4,4% serta melalui motivasi kerja (X2) sebesar 0,026 atau 2,6%. Dengan demikian total pengaruhnya sebesar 0,104 10,4% termasuk cukup tinggi. Disiplin di lingkungan kerja sangat diperlukan karena akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Pegawai dengan atau

149

disiplin kerja yang baik akan menguntungkan perusahaan dan pegawai itu sendiri. Tingkat kedisiplinan seorang pegawai dapat diukur dari ketepatan waktu dalam melaksanakan pekerjaan, kesadaran dalam bekerja serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.

4.3.7.8 Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru Hasil penelitian yang berkaitan dengan pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru secara bersama-sama memperlihatkan bahwa : 1. Pengaruh total kepemimpinan kepala sekolah (X1) terhadap kinerja guru (Y) sebesar 45,2 %. 2. Pengaruh total motivasi kerja (X2) terhadap kinerja guru (Y) sebesar 21,3 %. 3. Pengaruh total disiplin kerja (X3) terhadap kinerja guru (Y) sebesar 10,4 %. 4. Pengaruh total kepemimpinan kepala sekolah (X1), motivasi kerja (X2) dan disiplin kerja (X3) terhadap kinerja guru sebesar 76,9 %. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja guru tidak dapat berjalan sendiri-sendiri namun harus selalu bersinergi dalam pelaksanaannya sehingga memberikan kontribusi yang tinggi.

150

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan dan

pembahasannya mengenai pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat, penulis memperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Kepemimpinan kepala sekolah yang meliputi kepala sekolah sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator sesuai dengan hasil pengolahan data termasuk dalam kategori baik. 2. Motivasi kerja yang meliputi motivasi intrinsik dan ekstrinsik sesuai dengan hasil pengolahan data termasuk kategori cukup baik. 3. Disiplin kerja yang meliputi ketepatan waktu, kesadaran dalam bekerja dan kepatuhan pada peraturan sesuai dengan hasil pengolahan data termasuk kategori cukup baik. 4. Kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua yang meliputi mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi sesuai dengan pengolahan data berada pada kategori cukup baik. 5. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru secara langsung maupun tidak langsung termasuk besar

151

6. Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru secara langsung maupun tidak langsung cukup besar. 7. Pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru secara langsung maupun tidak langsung cukup besar. 8. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru sangat besar.

5.2 Saran Dengan mengetahui adanya pengaruh yang positif antara

kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja guru baik secara bersama-sama maupun secara parsial serta mengetahui karakteristik yang memberi pengaruh paling besar terhadap kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua, maka : 1. Kepemimpinan kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat berada pada kategori baik. Sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas lulusan, maka untuk meningkatkan kinerja guru kepemimpinan kepala sekolah harus lebih efektif. Untuk itu kepala sekolah perlu mengikuti workshop manajemen serta lebih terbuka pada saran dan kritik yang sifatnya membangun. 2. Berdasarkan pengolahan data, motivasi kerja guru SMP Negeri 1 Cisarua termasuk pada kategori cukup baik. Motivasi kerja guru perlu ditingkatkan terutama motivasi eksternal. Hal ini dapat dilakukan oleh kepala sekolah dengan cara peningkatan

kesejahteraan guru, menjalin hubungan interpersonal yang lebih harmonis dan peningkatan lingkungan kerja yang aman dan

152

nyaman sehingga para guru dapat meraih prestasi kerja yang lebih baik pada waktu mendatang. 3. Berdasarkan pengolahan data, disiplin kerja guru SMP Negeri 1 Cisarua termasuk pada kategori cukup baik. Sejalan dengan tuntutan masyarakat terhadap peningkatan kualitas sekolah, perlu ditingkatkan kedisiplinan kerja guru dengan pembinaan dan pengawasan yang lebih intensif. 4. Kinerja guru SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat berada pada kategori cukup baik. Perlu diperhatikan hal-hal yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja guru. Untuk peningkatan kinerja guru kepala sekolah harus dapat menentukan strategi yang efektif dan apabila terjadi penurunan kualitas kinerja dapat mengidentifikasi penyebabnya. 5. Kepemimpinan kepala sekolah di SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat pada umumnya sudah baik. Agar lebih baik lagi perlu mengoptimalkan manajemen dan supervisi terhadap kinerja guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Hal ini dapat meningkatkan kinerja guru dan mutu pendidikan. 6. Untuk meningkatkan motivasi kerja guru sebaiknya kepala sekolah memberikan kebijakan yang dapat memotivasi guru agar

melakukan kinerja terbaik, seperti memberikan apresiasi terhadap guru berprestasi dan memberikan kesempatan kepada guru seluasluasnya untuk lebih mengembangkan potensi yang ia miliki. 7. Untuk meningkatkan disiplin kerja guru sebaiknya kepala sekolah meningkatkan sistem pembinaan dan pengawasan. Sistem

153

pembinaan yang dilaksanakan hendaknya bervariasi misalnya dengan menggunakan metode ESQ. Sistem pengawasan dapat ditingkatkan dengan menggunakan kemajuan sistem informasi untuk memantau kehadiran guru di sekolah maupun di kelas.

154

DAFTAR PUSTAKA

Ambar Teguh Sulistiani Rosidah, (2009), Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Graha Ilmu. A Tabrani R, (2000), Upaya Meningkatkan Budaya Kinerja Guru, Cianjur: CV Dinamika Karya. Arikunto Suharsimi, (1997), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT Rineka Cipta. Danim, Sudarwan, (2004), Motivasi Kelompok, Jakarta: Rineka Cipta. Kepemimpinan & Efektivitas

Davis, Keith dan John W. Newstrom, (1995), Perilaku dalam Organisasi, (Terjemahan Agus Darma), Jakarta: Erlangga. Depdiknas Direktorat Pembinaan SMP, (2006), Pembakuan Bangunan dan Perabot SMP, Jakarta: Direktorat Pembinaan SMP. E. Mulyasa, (2009), Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. E. Mulyasa, (2007), Menjadi Guru Profesional, Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Fathoni Abdurrahmat, (2006), Organisasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : PT Rineka Cipta. Gomez Meija, D.B. Balkin dan R.L. Cardy, (2001) Manajing Human Resources, USA: Prentice Hall. Husen, Umar, (2004), Riset Sumber Daya Manusia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Istijanto, (2005), Riset Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : STIE YPKN Kerlinger, Fred. N. ( 2004), Asas-Asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Luthan, Fred, (2006), Organization Behavior (Prilaku Organisasi), Yogyakarta: ANDI. Mangkunegara, Anwar Prabu, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia, Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Miftah Toha, (2003), Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta: PT Raja Grapindo.

155

Nawawi, Hadari, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Peraturan Pemerintah RI, 2005, Standar Nasional Pendidikan, Jakarta : CV Eko Jaya. Rahman at all, (2006), Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan, Jatinangor: Alqaprint. Rivai, Veithzal, (2004), Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Robbin Stephen P, (2001), Organizational Behavior, New Jersey: Prentice Hall International. Sedarmayanti, (2009), Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja, Bandung: CV Mandar Maju. Sidik Priadana, (2005), Panduan Penyusunan Skripsi dan Tesis, Bandung: STIE Pasundan. Siagian, Sondang P. (2002), Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Jakarta: Rineka Jaya. Siswanto, Bedjo, (2005), Manajemen Tenaga Kerja, Bandung: Sinar Baru. Sugiyono, (2001), Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alfabeta. Sujana, (2005), Metode Statistika, bandung : CV Tarsito. Sujana, (2003), Teknik Analisis Regresi dan Korelasi, Bandung: CV Tarsito Sukardi, (2007), Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Bumi Aksara. Supranto J. (2000), Statistik Teori dan Aplikasi, Bandung : PT Gelora Aksara. Timple, Dale A, (2000), Seri Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Yulk Garry, (2005), Kepemimpinan dalam Organisasi, Jakarta: PT Yudeks. Wahjosumijo, (2002), Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Wibowo, (2007), Manajemen Kinerja, Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.

156

Winardi, J. (2001), Pemotivasian dalam Manajemen, Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.

Jurnal : UUD Republik Indonesia 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 edisi 2009, Sistem Pendidikan Nasional, Bandung, Depdiknas, Citra Umbara. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 edisi 2009, Tentang Guru dan Dosen, Bandung, Depdiknas, Citra Umbara. Hernowo Narmodo, 2005, Pengaruh Motivasi dan Disiplin Terhadap Kinerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah, http.etd.eprins, ums.ac.id/6864/. Rizal Aminudin, 2008, Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pendidikan Semarang, http//etd.eprins,ums.ac.id/6816/.