Anda di halaman 1dari 136

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

BAB I PENGERTIAN PERJANJIAN KREDIT

2013

1.

Pengertian Perjanjian Kredit

Menurut Pasal 1233 BW, suatu perikatan dapat lahir dari suatu persetujuan (perjanjian) atau dari undang-undang. Perikatan oleh Buku III BW diartikan sebagai : suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi hak pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu. Perikatan mempunyai arti yang lebih luas dari pada perjanjian, perikatan merupakan suatu pengertian abstrak, sedangkan suatu perjanjian adalah suatu peristiwa hukum yang kongkrit 1. Arti Perjanjian menurut Pasal 1313 BW adalah : Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Perjanjian yang telah disetujui tersebut akan menimbulkan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak (Twee Zijdig) dari perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, dan kedua belah pihak tersebut dalam istilah hukum sehari-hari disebut : Kreditor, yaitu pihak yang memiliki hak, dan Debitor sebagai pihak yang mempunyai kewajiban.

Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, Cetakan XXVI, 1994, hal 122.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Kredit berasal dari kata Credere (Romawi) dan Vertrouwen (Belanda), dalam bahasa Inggris adalah Trust of Confidence yang artinya adalah percaya. Kepercayaan menjadi unsur yang sangat penting dalam pergaulan hidup manusia pada umumnya, terliebih lagi pada hubungan hukum dalam bentuk perjanjian kredit. Dalam dunia perkreditan baik dalam bentuk kredit uang atau barang, dalam konteks ini kepercayaan yang diberikan Kreditor (baik lembaga Bank maupun lembaga non-Bank) hanya diberikan kepada orang-orang (Debitor) yang dapat dipercaya2. Penilaian kepercayaan tersebut secara umum dapat dilihat dari kemampuan dari Debitor untuk mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya, dengan jumlah yang sesuai beserta bunganya (bagi hasil), dan menggunakan uang pinjaman tersebut sesuai dengan tujuan. Jika Debitor tiak mampu memenuhi ketentuan tersebut maka Debitor tidak akan dipercaya lagi untuk memperoleh pinjaman (kredit). Pengertian kredit menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan : Kredit ialah penyediaan uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung, Cetakan II, 2004, hal 92.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Dari pengertian diatas dapat diambil beberapa unsur-unsur penting di dalam pengertian Perjanjian Kredit, yaitu : a. Adanya subyek hukum yang terdiri dari para pihak (2 orang atau lebih) yang berposisi sebagai Kreditur (yang memberikan kredit) dan Debitur (yang menerima kredit) Jika mengacu pada Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan pihak Kreditor sebagai pemberi kredit merupakan lembaga Bank (Badan Usaha), baik dalam bentuk Bank Konvensional (Bank Umum), maupun Bank yang berdasarkan prinsip syariah, serta Bank Perkreditian Rakyat. Sedangkan pihak Debitor adalah nasabah dari Bank bersangkutan yang telah memperoleh kredit. Namun jika mengacu pada konsep hubungan hukum pinjam meminjam, maka para pihaknya dapat berbentuk individu-individu, maupun berbentuk badan usaha yang memiliki posisi yang sama baik sebagai Kreditor (yang memberi pinjaman) dan Debitor (yang mendapat pinjaman). b. Obyek hukumnya berupa uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan yang menjadi obyek dari perjanjian kredit adalah uang sebagai alat pembayaran yang sah yang harus dikembalikan oleh Debitur, atau dalam bentuk tagihan yang didasarkan pada hak tagih (vorderingsrecht). c. Berdasarkan kesepakatan pinjam-meminjam

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Perjanjian pinjam-meminjam menurut Pasal 1754 BW sebagai acuan dari perjanjian kredit adalah : perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habis karena pemakaian dengan syarat bahwa pihak yang

belakangan ini akan mengembalikan jumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula. Pinjam-meminjam menurut BW tersebut mengandung pengertian yang luas, yaitu meliputi perjanjian pinjammeminjam benda atau barang yang habis dipakai dan pinjam uang. Berdasarkan perjanjian pinjam-meminjam uang maka si peminjam uang (Debitor) dikemudian hari harus mengembalikan uang tersebut. d. Dalam bentuk Utang Utang menurut ketentuan Pasal angka 6 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang adalah : Kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik dalam mata uang Indonesia atau mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontijen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor . e. Dalam jangka waktu tertentu Yaitu adanya periode waktu tertentu yang ditetapkan dan disepakati oleh para pihak dalam perjanjian kredit untuk melakukan pelunasan hutangnya

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

atau periode waktu untuk melakukan pembayaran kredit (cicilan) utang kepada kreditur. f. Mengenal sistem bunga/bagi hasil Suatu mekanisme jasa keuntungan dalam sistem perbankan konvensional (umum) atau bagi hasil dalam sistem perbankan syariah.

2.

Kategori Perjanjian Kredit Dalam lingkup hukum perjanjian dikenal 2 (dua) kategori perjanjian, yaitu :

a.

Perjanjian Bernama (Benoemde Overeenkomst)

Yaitu perjanjian yang namanya / titelnya diatur di dalam BW, khususnya Buku III title V XVIII. Adapun macam-macamnya adalah : Perjanjian Jual Beli (Pasal 1457 1540 BW) Perjanjian Tukar Menukar (Pasal 1541 1546 BW) Perjanjian Sewa Menyewa (Pasal 1547 1600 BW) Perjanjian Melakukan Pekerjaan (Pasal 1601 1617 BW) Perjanjian Persekutuan (Pasal 1618 1652 BW) Perjanjian Perkumpulan (Pasal 1653 1665 BW) Perjanjian Hibah (Pasal 1666 1693 BW) Perjanjian Penitipan Barang (Pasal 1694 1739 BW) Perjanjian Pinjam Pakai (Pasal 1740 1753 BW) Perjanjian Pinjam Meminjam (Pasal 1754 1769 BW) Perjanjian Bungan Tetap / Bunga Abadi (Pasal 1770 1773 BW)

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Perjanjian Untung Untungan (Pasal 1774 1791 BW) Perjanjian Pemberian Kuasa (Pasal 1792 1819 BW)

2013

Perjanjian Penanggungan Utang (Pasal 1820 1850 BW) Perjanjian Perdamaian (Pasal 1851 Pasal 1864 BW)

b.

Perjanjian tak Bernama (Onbenoemde Overeenkomst) Yaitu perjanjian yang namanya tidak diatur dalam Buku III BW, dimana nama dan bentuknya selain dari ketentuan yang diatur dalam title V XVIII BW, namun eksistensi perjanjian dan tak keberadaanya bernama diakui di masyarakat. dari

Keberadaan

merupakan

tuntutan

perkembangan zaman dan biasanya diatur dalam peraturan perundangundangan sendiri, seperti : Perjanjian Kredit. Pasal 1319 BW: Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan nama tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan umum yang termuat di dalam BW.

Dilihat dari 2 kategori perjanjian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Perjanjian Kredit masuk pada ketegori Perjanjian tak Bernama atau

Onbenoemde Overeenkomst. Dalam mengartikan sifat dari Perjanjian Kredit secara teoritis terdapat 2 (dua) paham yang mencoba menggolongkan keberadaan dari Perjanjian Kredit tersebut, yaitu :

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


a. Pendapat para doktriner

2013

Menyatakan bahwa Perjanjian Kredit bersifat Obligatoir Overeenkomst(en), yaitu: Obligatoir berasal dari kata Obligatio yang artinya kewajiban. Perjanjian Kredit bersifat Obligatoir Overeenkomst mengandung

pengertian bahwa perjanjian kredit menimbulkan adanya hak dan kewajiban secara timbal balik, tetapi belum menyentuh kepemilikan barang bergerak (hak kebendaan) dan penyerahannya secara nyata. Mengenai hak kebendaan, selama belum ada levering (penyerahan secara fisik dari orang yang memegang kekuasaan secara fisik atas barang kepada orang lain), maka benda tetap menjadi milik si pemilik barang. Jika timbul wanprestasi, maka timbul persoonlijk recht yaitu hak untuk menuntut satu sama lain (misalnya : nasabah menunggak, maka bank bisa menuntut bayaran angsuran kepada nasabah). Jika nasabah dituntut padahal belum menerima dana, maka dapat diselesaikan melalui lembaga Exceptio Non Adempleti Contractus

(menangkis / menolak karena bank belum melaksanakan kewajiban). b. Pendapat lain

Menyatakan bahwa Perjanjian Kredit bersifat Riil, yaitu : Perjanjian Kredit bersifat Riil mengandung pengertian bahwa perjanjian kredit tidak mempunyai arti jika tidak ada penyerahan sejumlah dana kepada pihak debitur.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Jadi, perjanjian kredit hanya merupakan perjanjian permulaan yang tidak ada artinya jika tidak disertai dengan levering (penyerahan barang).

Dari

dua

pendapat

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa

Perjanjian

Kredit

merupakan perjanjian yang bersifat obligatoir overeenkomst dengan dasar argumentasi yuridis bahwa dalam pasal 1233 BW disebutkan perjanjian melahirkan perikatan, sehingga obligatoir / kewajiban sudah menimbulkan perjanjian yang mengikat para pihaknya untuk memenuhi hak dan kewajiban. Adanya hak dan kewajiban diantara para pihak tersebut menimbulkan persoonlijk recht, jika ada salah satu pihak yang tidak memenuhi kewajiban, maka salah satu pihak tersebut dapat mengajukan tuntutan.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB II ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK3

2013

1.

Ruang Lingkup Asas Kebebasan Berkontrak Dalam BW Berlakunya asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian Indonesia

antara lain dapat disimpulkan dari beberapa pasal, yaitu : a. Pasal 1329 BW, Menentukan bahwa setiap orang cakap untuk membuat perjanjian, kecuali jika ia ditentukan tidak cakap oleh undang-undang; b. Pasal 1332 BW, Dapat disimpulkan bahwa asalkan menyangkut barangbarang yang bernilai ekonomis, maka setiap orang bebas untuk

memperjanjikannya; c. Pasal 1320 ayat (4) BW jo 1337 BW , Dapat disimpulkan bahwa asalkan bukan mengenai kausa yang dilarang oleh undang-undang atau bertentangan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum, maka setiap orang bebas untuk memperjanjikannya; d. Pasal 1330 BW, Menyimpulkan bahwa ketentuan peraturan perundangundangan tidak memberikan larangan kepada seseorang untuk membuat perjanjian dalam bentuk tertentu yang dikehendakinya, seperti : dalam bentuk lisan maupun tertulis (baik dibawah tangan maupun akta otentik).

Disimpulkan dari bukunya Sutan Remy Sjahdaeni, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993, hal. 45-49.
3

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Ketentuan yang ada adalah bahwa untuk perjanjian tertentu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan, misalnya dalam akta otentik. Sebagaimana diketahui bahwa hukum perjanjian di Indonesia yang diatur dalam Buku III BW mengandung ketentuan yang memaksa (dwingend, mandatory) dan yang opsional (aanvullend, optional) sifatnya. Untuk

ketentuan-ketentuan memaksa para pihak tidak mungkin menyimpanginya dengan membuat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang lain dalam perjanjian yang mereka buat. Namun dalam ketentuan undang-undang yang bersifat opsional para pihak bebas untuk menyimpanginya dengan

mengadakan sendiri syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan lain sesuai dengan kehendak para pihak. Maksud dari adanya ketentuan yang opsional tersebut adalah hanya untuk memberikan aturan yang berlaku bagi perjanjian yang dibuat oleh para pihak bila memang para pihak belum mengatur atau tidak mengatur secara tersendiri, agar tidak terjadi kekosongan pengaturan mengenai hal atau materi yang dimaksud. Namun apabila masih adanya kekosongan aturan, maka adalah kewajiban hakim untuk mengisi kekosongan itu dengan memberikan aturan yang diciptakannya untuk menjadi acuan yang mengikat para pihak dalam menyelesaikan permasalahan. Dari apa yang telah dijelaskan di atas, maka asas kebebasan berkontrak menurut hukum perjanjian Indonesia meliputi ruang lingkup sebagai berikut: (1) Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian; 10

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


(2)

2013

Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian;

(3)

Kebebasan untuk menentukan atau memilih causa dari perjanjian yang akan diabutnya;

(4) (5) (6)

Kebebasan untuk menentukan objek perjanjian; Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian; Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undangundang yang bersifat opsional (aanvullend, optional).

2.

Batasan-Batasan Asas Kebebasan Berkontrak Yang Di Atur Dalam BW Beberapa ketentuan dalam BW melihat asas kebebasan berkontrak tidak

bekerja secara bebas mutlak, karena ada beberapa pembatasan yang diberikan oleh pasal-pasal di dalam BW yang membuat asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang tidak tak terbatas, yaitu: a. Pasal 1320 ayat (1) menentukan bahwa perjanjian atau kontrak tidak sah apabila dibuat tanpa adanya konsensus atau sepakat dari para pihak yang membuatnya. Ketentuan tersebut memberikan petunjuk bahwa hukum perjanjian dikuasai oleh asas konsensualisme. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa kebebasan suatu pihak untuk menentukan suatu isi perjanjian dibatasi oleh sepakat pihak lain, dengan kata lain asas kebebasan berkontrak dibatasi oleh asas konsensualisme.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

11

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


b.

2013

Pasal 1320 ayat (2) dapat pula disimpulkan bahwa kebebasan orang untuk membuat perjanjian dibatasi oleh kecakapannya untuk membuat perjanjian. Bagi seseorang yang menurut ketentuan undang-undang tidak cakap untuk membuat perjanjian sama sekali tidak mempunyai kebebasan untuk membuat perjanjian. Menurut Pasal 1330, orang yang belum dewasa atau orang yang dibawah pengampuan tidak mempunyai kecakapan untuk membuat perjanjian.

c.

Pasal 1320 ayat (4) jo 1337 menentukan bahwa para pihak tidak bebas untuk membuat perjanjian yang menyangkut causa yang dilarang oleh undang-undang atau bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan ketertiban umum. Perjanjian yang dibuat untuk causa yang dilarang oleh undang-undang atau bertentangan dengan kesusilaan atau

bertentangan dengan ketertiban umum adalah tidak sah. d. Pasal 1332 memberikan arah mengenai kebebasan para pihak untuk membuat perjanjian sepanjang yang menyangkut obyek perjanjian. Menurut Pasal 1332 tersebut adalah tidak bebas untuk memperjanjikan setiap barang apapun, sehingga menurut pasal tersebut hanya barang-barang yang mempunyai nilai ekonomis saja yang dapat dijadikan obyek perjanjian. e. Pasal 1338 ayat (3) menentukan tentang berlakunya asas iktikad baik dalam melaksanakan perjanjian. Berlakunya asas iktikad baik ini bukan saja mempunyai daya kerja pada waktu perjanjian dilaksanakan, tetapi juga sudah mulai bekerja pada waktu perjanjian itu dibuat. Artinya bahwa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 12

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

perjanjian yang dibuat dengan berlandaskan iktikad buruk (misalnya penipuan), maka perjanjian itu tidak sah. Dengan demikian asas iktikad baik mengandung pengertian bahwa kebebasan suatu pihak dalam membuat perjanjian tidak dapat diwujudkan sekehendaknya (sesuka hatinya) tetapi dibatasi oleh iktikad baiknya.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

13

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB III PRINSIP-PRINSIP PENYALURAN KREDIT

2013

Bank sebagai kreditor sebelum menyetujui permohonan calon nasabah debitor untuk mendapatkan fasilitas kredit, pihak bank akan menganalisis calon nasabah debitor untuk menentukan kemauan dan kemampuan calon nasabah debitor tersebut untuk membayar kembali fasilitas kredit yang akan

dinikmatinya. Dengan kata lain, bank dengan analisisnya itu menetukan kadar creditworthiness dari calon nasabah debitor4. Ada dua fundamental dari analisis kredit modern, yaitu : Pertama, penelitian terhadap sifat bisnis nasabah debitor dalam kaitannya dengan sektor industri yang bersangkutan. Tujuannya adalah : a. Untuk mengetahui comparative market position dari perusahaan

nasabah debitor ; b. c. Tekanan-tekanan yang datang dari persaingan ; Struktur resiko dan imbalan yang dapat diharapkan dari sektor industri yang bersangkutan ; d. The barriers to entry yaitu hambatan-hambatan untuk dapat masuk sektor dan pasar industri ; e. Tingkat perubahan teknologi yang mungkin terjadi5.

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993, hal 176 5 Ibid.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

14

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Kedua, adalah analisis terhadap cash flow perusahaan,

2013
yaitu untuk

mengetahui gerakan-gerakan dari uang tunai perusahaan dilihat dari segi sumber-sumber dan segi pengunaan-penggunaannya berdasarkan data

keuangan perusahaan yang lalu. Sekali sumber-sumber dan penggunaanpenggunaan uang tunai tersebut telah diketahui, maka perkiraan mengenai sumber-sumber dan penggunaan-penggunaan uang tunai yang akan datang akan dapat diperkirakan dengan baik 6. Secara tradisional (yang berlaku pada umumnya) analisis bank terhadap calon nasabah debitor dilakukan terhadap aspek-aspek yang dikenal dalam dunia perbankan sebagai the five of credit atau 5 C, yaitu : Character (Watak), Capital (Modal), Capacity (Kemampuan), Collateral (Jaminan), dan Condition of Economy (Kondisi Ekonomi). Character dan Collateral menentukan hal yang menyangkut pertanyaan : Will he pay ? yaitu menyangkut penilaian mengenai kemauan / iktikad nasabah debitor untuk membayar kembali kreditnya. Sedangkan Capital, Capacity dan Condition of Economy menentukan hal yang menyangkut pertanyaan : Can he pay ? yaitu menyangkut kemampuan nasabah debitor untuk membayar kembali kreditnya7. Prinsip-prinsip diatas juga diakomodasi dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yaitu : Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan
6 7

prinsip

syariah,

Bank

Umum

wajib

mempunyai

keyakinan

Ibid. Ibid. hal 177

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

15

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

berdasarkan analisis yang mendalam atas iktikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitor untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan. Penjelasan dari Pasal 8 tersebut adalah : Kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang diberikan oleh bank mengandung resiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang sehat. Untuk mengurangi resiko tersebut jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitor untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang sesama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari nasabah debitor.

Adapun prinsip-prinsip yang terdapat pada the five of credit atau 5C, adalah sebagai berikut : a. Character (Watak) dalam analisis kredit dijadikan dasar pertimbangan untuk

Character

mengetahui resiko. Penilaian terhadap character dilakukan dengan cara melakukan penyelidikan atau mencari informasi terhadap kepribadian, 16

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

moralitas, dan kejujuran dari seorang calon nasabah debitor. Jika informasi mengenai character tersebut hasilnya tidak baik, maka pertimbangan untuk menerima permohonan kredit akan semakin sulit untuk diterima oleh pihak kreditor. b. Capital (Modal)

Calon nasabah debitor yang akan mengajukan permohonan kredit setidaknya harus memiliki modal untuk menjadi dasar pertimbangan kemampuan debitor dalam mengembalikan kredit nantinya. Modal tidak saja diartikan dalam bentuk ketersediaan uang tunai, namun dapat juga dalam bentuk aset-aset maupun hak-hak tagih dari calon nasabah debitor. c. Capacity (Kemampuan)

Capacity merupakan sebuah ukuran kemampuan bagi calon nasabah debitor untuk dapat membayar / mengembalikan kredit. Ukuran kemampuan dapat dilihat dari beberapa faktor yang relevan, diantaranya seperti : pendapatan / income, jaminan, aset, dan sebagainya. d. Collateral (Jaminan)

Jaminan digunakan sebagai cara untuk mengikat harta kekayaan milik calon nasabah debitor guna menjamin kepastian pelunasan hutang jika kemudian hari debitor tidak mampu untuk melunasinya, dengan cara mencairkan jaminan tersebut, baik melalui pelelangan, jual-beli, maupun diambil alih oleh kreditor. Penjaminan dapat dilakukan melalui lembaga-lembaga jaminan yang ada,

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

17

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

seperti : Gadai, Hipotik, Hak Tanggungan, Fidusia, Borgtoch, maupun Bank Garansi.

e.

Condition of Economy (Kondisi Ekonomi)

Adalah situasi ekonomi pada waktu dan jangka waktu tertentu dimana kredit itu diberikan oleh kreditor kepada debitor, dalam hal ini apakah kondisi ekonomi pada kurun waktu pemohon kredit kredit dapat mempengaruhi usaha dan pendapatan melunasi hutangnya. Bermacam-macam kondisi

untuk

perekonomian negara maupun dunia diluar pengetahuan kreditor dan debitor biasanya sangat sulit untuk diprediksi, terlebih lagi dalam era globalisasi ekonomi saat ini dimana tiap-tiap negara saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Kondisi ekonomi negara/dunia yang buruk sudah pasti akan mempengaruhi dunia perekonomian khususnya dunia usaha, yang nantinya akan mengakibatkan terganggunya pendapatan, sehingga secara langsung maupun tidak langsung juga akan mempengaruhi tingkat kemampuan debitor untuk membayar hutangnya dan melunasi kreditnya. Sebagai contoh adalah kasus krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998 sebelum era reformasi. Disamping prinsip-prinsip diatas ada juga beberapa prinsip-prinsip secara teoritis berkembang dan dijadikan acuan untuk menilai kemampuan debitor dalam memperoleh kredit, yaitu : a. Prinsip Kepercayaan 18

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Timbul dari pihak kreditur, pihak kreditur percaya bahwa dana (kredit) yang akan diberikan akan bermanfaat bagi pihak debitur, dan percaya bahwa debitur dapat mengembalikan dana (kredit) yang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

b.

Prinsip Kehati-hatian

Timbul dari pihak kreditur, bahwa pihak kreditur harus dengan tepat menganalisis dan mempertimbangkan semua faktor yang relevan terhadap kredit yang akan diberikan kepada pihak debitur. Faktor relevan yang dimaksud adalah nilai jaminan, bentuk jaminan, dan status jaminan. c. Prinsip Sinkronisasi antara jumlah pinjaman dan income

Harus ada sinkronisasi antara jumlah pinjaman dan income (pendapatan) dari debitur. d. Prinsip Kesamaan Valuta

Bila dilakukan pinjam-meminjam dengan menggunakan mata uang dollar, maka pengembaliannya harus dengan mata uang dollar juga. Pengembalian

tergantung pada fluktuasi valuta asing / mata uang asing e. Prinsip Perbandingan yang Wajar antara nilai Pinjaman dengan Modal Harus ada perbandingan yang wajar (rasional) antara nilai pinjaman dan modal f. Prinsip Perbandingan yang wajar antara nilai Pinjaman dengan Asset Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 19

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Harus ada perbandingan yang seimbang antara pinjaman yang diminta dengan asset yang dimiliki. Untuk peminjaman modal, yang perlu diperhatikan : Asset dari calon peminjam (aktifa maupun pasiva) Kepemilikan asset (Misalnya : jika mempunyai asset US$ 100 juta, maka pinjaman modal yang diminta maximal US$ 60 juta). Asset merupakan jaminan bagi kreditur. Sehingga bila debitur tidak melunasi pinjamannya, maka asset dapat dilelang untuk membayar hutang debitur dan untuk biaya pelelangan. g. Prinsip 5 P Party (para pihak) : debitur harus merupakan pihak yang sangat dipercaya oleh kreditur Purpose (tujuan) : tujuan penggunaan dana harus dengan alasan atau tujuan yang jelas, praktis dan ekonomis, jangan sampai terjadi penyalahgunaan tujuan Payment (kemampuan membayar) : kemampuan membayar

kembali dari pihak debitur harus baik Profitability (perolehan laba) : usaha yang dilakukan harus

profitable / menghasilkan laba Protection (Perlindungan) : jika debitur tidak dapat membayar, maka kreditur dapat melakukan : Pelelangan jaminan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

20

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


-

2013

Gugatan berdasarkan pasal 1131 BW (Pasal 1131 BW tersebut biasanya termuat sebagai sanksi bagi pihak debitur dalam klausula perjanjian untuk perlindungan pihak kreditur).

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

21

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB IV BENTUK & FUNGSI PERJANJIAN KREDIT

2013

1.

Bentuk Perjanjian Kredit

Menurut ketentuan hukum yang terdapat pada Pasal 1320 BW bahwa perjanjian kredit itu dapat dibuat dalam bentuk lisan maupun tertulis, namun dalam membuat perjanjian kredit harus dilakukan dalam bentuk tertulis, hal ini memiliki beberapa alasan, yaitu : a. Kompleksnya perumusan terhadap hak dan kewajiban dari para pihak, dimana rumusan hak dan kewajiban tersebut harus didokumentasikan secara tertulis agar para pihak dapat melihat dan mengkoreksi secara jelas dan nyata akan apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajibannya. b. Perjanjian yang dibuat secara lisan sangat sulit untuk dijadikan sebagai alat bukti dalam pembuktian jika dikemudian hari menimbulkan sengketa diantara para pihak, sehingga esensi dari perjanjian yang harus dibuat secara tertulis adalah sebagai alat bukti bagi para pihak yang membuatnya. c. Keberadaan Instruksi Presidium Kabinet Nomor : 15/EK/IN/10/1966 tanggal 10 Oktober 1966, dimana ditegaskan dilarang untuk melakukan pemberian kredit tanpa adanya perjanjian kredit yang jelas antara Bank dan Debitur atau antara Bank Sentral dan Bank-Bank lainnya. Surat Bank Indonesia yang ditujukan kepada segenap Bank Devisa Nomor :

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

22

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

03/1093/UPK/KPD tanggal 29 Desember 1970, khususnya butir 4 yang berbunyi :untuk pemberian kredit harus dibuat surat perjanjian kredit. Dengan keputusan-keputusan tersebut diatas, maka pemberian kredit oleh Bank kepada debiturnya menjadi pasti bahwa: 1. 2. Perjanjian diberi nama Perjanjian Kredit; Perjanjian kredit harus dibuat secara tertulis.

Dalam praktek ada 2 (dua) bentuk perjanjian kredit, yaitu8 : a. Perjanjian kredit yang dibuat dibawah tangan, yaitu yang

dinamakan akta dibawah tangan. Artinya perjanjian yang dibuat dan disiapkan sendiri oleh kreditor yang kemudian ditawarkan kepada debitor untuk disepakati. Untuk efektifitas dan efisiensi biasanya kreditor sudah menyiapkan formulir perjanjian dalam bentuk standard form yang isi, syaratsyarat dan ketentuannya sudah disiapkan terlebih dahulu secara lengkap. b. Perjanjian kredit yang dibuat oleh dan dihadapan Notaris yang dinamakan akta otentik atau akta notariil. Yang menyiapkan dan membuat perjanjian ini adalah seorang Notaris, namun dalam praktek semua syarat dan ketentuan perjanjian kredit disiapkan oleh Bank kemudian diberikan kepada Notari untuk dirumuskan dalam akta notariil.

Menurut Prof. R. Subekti. SH, akta diartikan sebagai surat atau tulisan yang sengaja dibuat dan ditanda tangani, memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi
8

Sutarno. Op.Cit. hal 100

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

23

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

dasar dari pada suatu hak untuk dijadikan alat bukti. Dengan demikian unsur yang penting untuk suatu akta adalah: Adanya kesengajaan; Dibuat untuk dijadikan alat bukti tentang suatu

peristiwa yang ditandatangani.

Akta dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu : a. Akta Otentik

Menurut Pasal 1868 BW akta otentik adalah akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang yang dibuat oleh atau dihadapan pegawai yang berkuasa (pegawai umum) untuk itu, ditempat dimana akta dibuatnya. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa disebut akta otentik apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Akta yang dibuat oleh atau akta yang dibuat dihadapan pegawai umum, yang ditunjuk oleh undang-undang; Bentuk akta yang ditentukan undang-undang dan cara membuatnya akta harus menurut ketentuan yang ditetapkan oleh undangundang; tersebut. Dapat disimpulkan bahwa akta otentik itu adalah: Di tempat di mana pejabat berwenang membuat akta

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

24

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


1.

2013

Bentuk akta ditentukan undang-undang. Contoh : Akta Jual Beli Tanah yang dibuat PPAT, Akta Kelahiran, Akta Perkawinan, Anggaran Dasar Perseroan Terbatas, Keputusan Hakim, dan sebagainya;

2.

Dibuat oleh pejabat umum seperti Notaris, PPAT, Pejabat Catatan Sipil, Pejabar KUA, Ketua Pengadilan, Hakim Pengadilan, dan sebagainya;

3.

Kekuatan pembuktian akta otentik sempurna, artinya akta otentik itu dianggap sah dan benar tanpa perlu pembuktian atau menyelidiki

keabsahan tanda tangan pihak-pihak tersebut; 4. akta otentik mempunyai kekauatan formal, artinya akta otentik

membuktikan kebenaran dari pada yang dilihat, didengar, dan dilakukan para pihak tersebut. Jadi dapat menjamin kebenaran identitas para pihak, tanda tangan para pihak, tempat akta dibuat, dan para pihak menjamin keterangan yang diuraikan dalam akta; 5. Akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian materiil, artinya akta otentik isinya mempunyai kepastian sebagai alat bukti yang sah diantara para pihak, para ahli waris, dan orang-orang yang memperoleh hak dari akta tersebut. Dengan diajukannya akta otentik, hakim terikat dan tidak diperkenankan meminta alat bukti tambahan, kecuali ada pembuktian sebaliknya yang menyanggah isi akta tersebut; 6. Apabila akat otentik diajukan sebagai alat bukti di depan hakim, kemudian pihak lawan membantah akta otentik tersebut, maka pihak pembantah yang harus membuktikan bantahannya. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 25

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


b. Akta Dibawah Tangan

2013

Menurut Pasal 1874 BW yang dimaksud akta dibawah tangan adalah surat atau tulisan yang dibuat oleh para pihak tidak melalui perantaraan pejabat yang berwenang (pejabat umum). Jadi semata-mata dibuat antara para pihak yang berkepentingan. Sehingga akta dibawah tangan dapat dibuat oleh siapa saja, bentuknya bebas, terserah bagi para pihak yang membuat dan tempat membuatnya dimana saja diperbolehkan. Yang terpenting bagi akta dibawah tangan itu terletak pada tanda tangan para pihak, hal ini sesuai ketentuan Pasal 1876 BW yang menyebutkan : Barang siapa yang terhadapnya dimajukan suatu tulisan (akta) di bawah tangan, diwajibkan secara tegas mengakui atau memungkiri tanda tangannya. Kalau tanda tangan sudah diakui, maka akta dibawah tangan berlaku sebagai bukti sempurna seperti akta otentik bagi para pihak yang membuatnya. Sebaliknya jika tanda tangan itu dipungkiri oleh para pihak yang telah membubuhkan tanda tangan itu harus berusaha mencari alat-alat bukti lain yang membenarkan bahwa tanda tangan tadi dibubuhkan oleh pihak yang memungkiri. Selama tanda tangan terhadap akta dibawah tangan masih dipersengketakan kebenarannya, maka tidak

mempunyai manfaat yang diperoleh para pihak yang mengajukan akta dibawah tangan sebagai alat bukti. Dapat disimpulkan bahwa akta dibawah tangan itu adalah: 1. Bentuk akta dibawah tangan bebas, artinya para pihak yang membuat akta dibawah tangan tersebut bebas untuk menentukan bentuknya; Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 26

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


2.

2013

Akta dibawah tangan dibuat sendiri oleh para pihak yang membuat akta tersebut;

3.

Akta dibawah tangan mempunyai kekuatan hukum pembuktian seperti halnya akta otentik jika tanda tangan yang ada dalam akta dibawah tangan tersebut diakui oleh para pihak yang membuatnya;

4.

Akta dibawah tangan baru mempunyai kekuatan materiil jika tanda tangannya itu diakui oleh yang menandatagani akta tersebut;

5.

Untuk pembuktian di depan hakim, jika salah satu pihak mengajukan bukti akta dibawah tangan dan akta tersebut dibantah oleh pihak lawannya, maka pihak yang mengajukan akta tersebut yang mencari bukti tambahan (misalnya: saksi-saksi) untuk membuktikan bahwa akta dibawah tangan yang diajukan sebagai alat bukti tersebut benar-benar ditandatangani oleh pihak yang membantah.

2.

Fungsi Perjanjian Kredit

Perjanjian kredit yang telah ditandatangani oleh para pihak, baik yang berbentuk akta dibawah tangan atau dalam bentuk akta otentik mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Perjanjian kredit sebagai alat bukti bagi kreditur dan debitur yang membuktikan adanya hak dan kewajiban timbal balik antara Bank sebagai kreditur dan debitur, hak debitur adalah menerima pinjaman dan

menggunakan sesuai tujuannya dan kewajiban debitur mengembalikan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 27

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

hutang tersebut baik pokok maupun bunganya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Hak kreditur untuk mendapatkan pembayaran bunga dan kewajiban kreditur adalah meminjamkan sejumlah uang kepada debitur, dan kreditur berhak menerima pembayaran kembali pokok dan bunga; b. Perjanjian kredit dapat digunakan sebagai alat atau sarana pemantauan atau pengawasan kredit yang sudah diberikan, karena perjanjian kredit berisi syarat dan ketentuan dalam pemberian kredit dan pengembalian kredit. Untuk mencairkan kredit dan penggunaan kredit dapat dipantau dari ketentuan perjanjian kredit; c. Perjanjian kredit merupakan perjanjian pokok yang menjadi dasar dari perjanjian ikutannya yaitu perjanjian jaminan. Pemberian kredit pada umumnya diikat dengan perjanjian jaminan atas barang bergerak maupun tidak bergerak milik debitur atau pihak ketiga; d. Perjanjian kredit hanya sebagai alat bukti biasa yang membuktikan adanya hutang debitur, artinya perjanjian kredit tidak mempunyai kekuatan eksekutorial atau tidak memberikan kekuasaan langsung kepada Bank atau kreditur untuk mengeksekusi barang jaminan apabila debitur tidak mampu melunasi hutangnya (wanprestasi).

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

28

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB V PERJANJIAN JAMINAN

2013

1. Arti Pentingnya Lembaga Jaminan Didalam aktifitas perekonomian & perdagangan dibutuhkan adanya ketersediaan uang (modal) yang dapat diperoleh dengan cepat dalam rangka untuk melakukan transaksi-transaksi perdagangan,

pengembangan usaha, penambahan modal, investasi, dan sebagainya. Oleh sebab itu salah satu instrumen untuk memperoleh modal (dalam bentuk uang tunai) dengan cepat adalah dengan kebijakan penyaluran kredit di masyarakat. Pihak pemberi kredit (Kreditor) dalam memberikan kredit ke penerima kredit (Debitor) harus mensyaratkan adanya jaminan bagi pemberian kredit tersebut demi keamanan modal dan kepastian hukum, sehingga keamanan modal dan kepastian hukum menjadi arti penting keberadaan lembaga jaminan di masyarakat. Jaminan kredit adalah segala sesuatu yang mempunyai nilai mudah untuk diuangkan yang diikat dengan janji sebagai jaminan untuk pembayaran dari hutang debitur berdasarkan perjanjian kredit yang dibuat kreditur dan debitur. Kredit yang diberikan selalu diamankan dengan jaminan kredit dengan tujuan untuk menghindarkan adanya resiko debitur tidak mampu melunasi hutangnya. Apabila debitur karena suatu sebab tidak

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

29

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

mampu melunasi hutangnya, maka kreditur dengan bebas dapat menjual dan menutup hutang dari hasil penjualan jaminan tersebut.9

Jadi fungsi jaminan adalah memberikan hak dan kekuasaan kepada kreditur untuk mendapatkan pelunasan dari hasil penjualan barang-barang jaminan tersebut bila debitur tidak melunasi hutangnya pada waktu yang telah ditentukan. Di masyarakat kredit yang didukung dengan jaminan disebut

dengan istilah Secured Loans, sedangkan kredit yang tidak didukung dengan jaminan di masyarakat dikenal dengan istilah Unsecured Loans.10 Menurut Prof. R. Subekti. SH, jaminan yang baik atau ideal adalah jaminanjaminan yang memenuhi persyaratan11: 1. Yang dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang memerlukan; 2. Yang tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan (meneruskan) usahanya; 3. Yang memberikan kepastian kepada si pemberi kredit (kreditur) dalam arti bahwa barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi, bila perlu dapat mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima kredit (debitur).

Sutarno. Op. Cit. hal 142 Ibid. 11 R. Subekti. Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia , Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996.
10

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

30

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

2. Sifat Perjanjian Jaminan Perjanjian accesoir, yaitu Jaminan merupakan perjanjian pelengkap yang sifatnya dikaitkan dengan

perjanjian tambahan yang senantiasa

perjanjian pokok. Tujuan Perjanjian Jaminan: Melengkapi Perjanjian Pokok dan untuk menjamin kepastian debitur dalam melunasi hutangnya kepada kreditur.

Kedudukan perjanjian jaminan yang dikonstruksikan sebagai perjanjian accessoir (perjanjian tambahan) itu menjamin kuatnya perjanjian jaminan tersebut bagi keamanan pemberian kredit oleh kreditur, karena kedudukan perjanjian jamian yang bersifat accessoir tersebut memiliki beberapa akibatakibat hukum, yaitu: Perjanjian Accessoir tergantung pada Perjanjian Pokok

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

31

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


2013

Hapusnya Perjanjian Accessoir tergantung pada Perjanjian Pokok Jika Perjanjian Pokok batal, maka Perjanjian Accessoir juga ikut batal Perjanjian Accessoir ikut beralih dengan beralihnya Perjanjian Pokok Jika Perutangan Pokok beralih karena ; Cessi, Subrogasi, maka Perjanjian Accessoir beralih juga tanpa adanya penyerahan khusus

3. Penggolongan Dari Lembaga-Lembaga Jaminan Ada beberapa penggolongan dari lembaga-lembaga jaminan yang dikenal di dalam tata hukum Indonesia, berikut ini akan dijelaskan penggolongan dari lembaga-lembaga jaminan tersebut. a. Menurut Cara Terjadinya

Menurut cara terjadinya jaminan itu terbagi 2 (dua) yaitu: Jaminan yang lahir karena Undang-Undang dan Jamian yang lahir karena Perjanjian. Jaminan yang lahir karena Undang-Undang Adalah jaminan yang adanya ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan tanpa adanya perjanjian daripara pihak. Contohnya : Hak Privilegi, Hak Retensi. Jaminan yang lahir karena Perjanjian Yaitu adalah jaminan yang timbul karena sebelumnya sudah diperjanjikan dulu oleh para pihak. Contohnya : Hipotik, Gadai, Credietverband, Fidusia, Borgtoch, Perjanjian Garansi, Perutangan Tanggung-menanggung

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

32

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


b. Menurut Penggolongannya

2013

Menurut penggolongannya jaminan terbagi 2 (dua), yaitu: Jaminan Umum dan Jaminan Khusus. Jaminan Umum: Jaminan diberikan bagi kepentingan semua kreditur, dan menyangkut semua harta kekayaan debitur Hasil penjualan jaminan dibagi-bagi secara Ponds-Ponds Gelijk (dibagi seimbang dengan besar kecilnya piutang masing-masing) Jaminan umum timbulnya dari Undang-Undang

Jaminan Khusus: Diberikan secara khusus untuk para kreditur yang sebelumnya telah memperjanjikan dengan debitur terlebih dahulu Dapat berupa jaminan yang bersifat kebendaan, yaitu hanya bendabenda tertentu yang dapat digunakan sebagai jaminan Dapat berupa jaminan yang bersifat perorangan, yaitu adanya orangorang tertentu yang sanggup memenuhi / membayar prestasi manakal debitur wanprestasi

c.

Menurut Sifatnya

Menurut sifatnya jaminan terbagi 2 (dua), yaitu: Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

33

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Jaminan Kebendaan:

2013

Hak kebendaan memberikan kekuasaan yang langsung terhadap bendanya

Tujuannya bermaksud untuk memberikan Hak Verhaal (hak untuk meminta pemenuhan piutang) kepada kreditur terhadap hasil penjualan benda-benda tertentu dari debitur untuk pemenuhan piutangnya

Ciri khasnya adalah dapat dipertahankan (dimintakan pemenuhan) terhadap siapapun juga, yaitu terhadap mereka yang memperoleh hak, baik berdasarkan hak yang umum maupun yang khusus, juga terhadap para kreditur dan pihak lawannya

Hak kebendaan selalu mengikuti bendanya (droit de suite / zaaksgevolg), dalam arti bahwa yang mengikuti bendanya itu tidak hanya haknya tetapi juga kewenangan untuk menjual bendanya dan hak eksekusi

Dikenal Azas Prioritas, yaitu bahwa hak kebendaan yang lebih dulu terjadi lebih diutamakan dari pada hak kebandaan yang terjadi kemudian

Yang tergolong jaminan bersifat kebendaan adalah : Hipotik Credietverband Gadai Fidusia

Jaminan Perorangan:

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

34

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Hak perorangan menimbulkan

2013
hubungan langsung

antara perorangan yang satu dengan yang lainnya Jaminan yang bersifat perorangan memberikan Hak Verhaal kepada kreditur, terhadap benda keseluruhan dari debitur untuk memperoleh pemenuhan dari piutangnya Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur seumumnya Dikenal Azas Persamaan (Pasal 1131 & 1132 BW), yaitu bahwa tidak membedakan mana piutang yang lebih dulu terjadi dan piutang yang terjadi kemudian, semuanya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta kekayaan debitur Borgtoch Perutangan Tanggung-menanggung Perjanjian Garansi Yang tergolong jaminan bersifat perorangan adalah:

d.

Menurut Obyeknya

Menurut obyeknya jaminan terbagi 2 (dua), yaitu : Jaminan Benda Bergerak dan Jaminan Benda Tidak Bergerak. Didalam sistem Hukum Perdata pembedaan benda bergerak dan tidak bergerak mempunyai hubungan penting dalam hal: Penyerahan, Daluwarsa (Verjaring), Kedudukan Berkuasa (Bezit), dan Lembaga Jaminan. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 35

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Jaminan Benda Bergerak:

2013

Penyerahannya dapat dilakukan dengan penyerahan nyata / penyerahan secara simbolis.

Tidak mengenal daluwarsa Kedudukan Berkuasanya berlaku azas sebagaimana tercantum dalam Pasal 1977 BW (Bezit atas benda bergerak berlaku sebagai alas hak yang sempurna)

Bentuk lembaga jaminannya adalah: Gadai, Fiducia, Hipotek

Jaminan Benda Tidak Bergerak: Penyerahannya dilakukan secara yuridis yang bermasuk

memperalihkan hak tersebut yang dibuat dengan akte otentik dan didaftarkan. Mengenal daluwarsa Untuk kedudukan berkuasanya tidak berlaku azas yang tercantum pada Pasal 1977 BW. Bentuk Credietverband. lembaga jaminannya adalah: Hak Tanggungan,

e.

Menurut Kewenangan Menguasainya,

Menurut kewenangan menguasainya jaminan terbagi 2 (dua), yaitu: Jaminan yang menguasai bendanya dan Jaminan yang tanpa menguasai bendanya. Jaminan yang menguasai bendanya: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 36

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Obyek jaminannya dikuasai oleh kreditur

2013

Memiliki Hak Preferensi (hak didahulukan) dalam pemenuhan piutang Memiliki Hak Droit de Suite (hak yang senantiasa mengikuit bendanya) Contohnya : Gadai, Hak Retensi

Jaminan yang tanpa menguasai bendanya: Obyek jaminannya dikuasai dan dapat dimanfaatkan / dinikmati oleh debitur Tidak memiliki Hak Droit de Suite (hak yang senantiasa mengikuit bendanya) Contohnya : Hipotik, Fidusia

4.

Hak-Hak Jaminan Yang Lain

Selain penggolongan lembaga jaminan ; Gadai, Hipotek, Fiducia, dan Hak Tanggungan, dalam tata hukum Indonesia juga dikenal hak-hak yang bersifat memberikan jaminan. Hak-hak tersebut ada yang timbul dari Undang-Undang (contoh ; Hak Privilegi dan Hak Retensi) dan ada yang diperjanjikan terlebih dahulu (Garansi, Perutangan Tanggung-menanggung, dan Cessi sebagai jaminan) a. Hak Privilegi

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

37

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Adalah suatu hak yang diberikan Undang-Undang kepada kreditur yang satu diatas kreditur yang lainnya semata-mata berdasarkan sifat piutangnya (1134 ayat (1) BW)

Hak Privilegi bukan merupakan jaminan yang bersifat kebendaan dan perorangan, tetapi merupakan hak untuk lebih didahulukan pelunasan / pembayaran piutang terhadap benda si debitur. dalam

Hak Privilegi dibedakan menjadi dua, yaitu : Privilegi Umum, yaitu yang tertuju terhadap seluruh benda debitur & terdiri atas 7 macam hak yang ditentukan secara berurutan (Pasal 1149 BW) Privilegi Khusus, yaitu yang tertuju terhadap benda-benda khusus debitur & terdiri atas 9 macam hak tapi tidak ditentukan urutannya (Pasal 1139 BW)

b.

Hak Retentie Adalah hak untuk menahan sesuatu benda sampai suatu piutang yang bertalian dengan benda itu dilunasi Pengaturan dasar hukum Hak Retentie tersebar didalam beberapa pasal di BW, yaitu : Pasal 567, 575, 576, 579, 834, 715, 725, 1159, 1756, 1616, 1729, 1812. Sifat Hak Retentie tidak dapat dibagi-bagi, dimana jika sebagian saja dari hutang itu telah dibayar, maka tidak berarti pula harus

mengembalikan sebagian dari barang yang ditahan. Hutang secara Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 38

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

keseluruhan harus dibayar terlebih dahulu, baru kemudian barang yang ditahan dikembalikan. Hak Retentie hanya mengandung hak untuk menolak terhadap tuntutan untuk penyerahan barang, tidak mempunyai hak untuk tidak

didahulukan

(voorang)

pemenuhannya

terhadap

barangnya,

mempunyai hak pemenuhan terhadap hasil eksekusi dari barangnya yang ditahan (kewenangannya tidak mengandung hak untuk eksekusi) Hak Retentie hanya tertuju pada barang dan tidak pada hak-hak, jika barang tersebut terlepas dari kekuasaan pemegang hak retentie

(retentor) maka berakhirlah hak retenti itu c. Cessie Adalah penyerahan piutang atas nama yang dilakukan dengan cara membuatkan akte otentik atau akta dibawah tangan, kemudian dilakukan pemberitahuan mengenai adanya penyerahan itu oleh juru sita kepada debitur dari piutang tersebut Cessie harus dilakukan berdasarkan alas hak tertentu yaitu karena adanya perjanjian jual beli, tukar menukar, dan penghadiahan. d. Perutangan Tanggung Menanggung / Tanggung Renteng Pada Perutangan Tanggung Renteng dimana ada beberapa debitur yang wajib membayar untuk seluruh prestasi kreditur merasa terjamin pemenuhan piutangnya

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

39

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Perutangan tanggung renteng timbul karena diperjanjikan atau karena ketentuan undang-undang.

Yang dimaksud tanggung renteng yang bersifat memberi jaminan ialah tanggung renteng yang pasif, yaitu dalam perutangan tersebut terdapat beberapa orang debitur yang wajib berprestasi.

Kebalikannya

adalah

tanggung

renteng

aktif,

dimana

dalam

perutangan tersebut terdapat beberapa kreditur yang berhak atas prestasi e. Perjanjian Garansi Merupakan perjanjian dimana pihak pertama berjanji kepada pihak kedua untuk menanggung bahwa pihak ketiga akan berbuat sesuatu (1316 BW), ini yang dinamakan menanggung atau menjamin pihak ketiga. Contoh dari perjanjian yang menimbulkan garansi adalah dalam hukum wesel (108 KUHD), dan dapat ditemui dalam perjanjian

pengangkutan (455 KUHD)

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

40

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB VI KREDITUR & HAK EKSEKUSI

2013

1.

Pengertian & Macam-Macam Kreditur

Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undangundang yang dapat ditagih dimuka pengadilan (Pasal 1 angka (2) UndangUndang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) Dari definisi kreditur diatas dapat dianalisis unsur-unsur utamanya, yaitu: a. b. c. Orang yang mempunyai piutang Piutang terjadi karena perjanjian atau undang-undang Dapat ditagih dimuka pengadilan

Dilihat dari macam-macamnya kreditur terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu: a. Kreditur Konkuren

Menurut ketentuan undang-undang para kreditur mempunyai hak penuntutan pemenuhan utang terhadap seluruh harta kekayaan debitur, baik yang berwujud benda bergerak maupun benda tidak bergerak, dan juga baik benda yang telah ada maupun yang masih akan ada (Pasal 1131 BW). Jika hasil penjualan benda-benda tersebut ternyata tidak mencukupi bagi pembayaran piutang para kreditur, maka hasil tersebut dibagi-bagi antara para kreditur seimbang dengan besarnya piutang masing-masing/ponds-ponds gelijk (Pasal Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 41

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

1132 BW). Hak pemenuhan dari para kreditur yang seperti itu adalah sama sederajat satu dengan yang lainnya, tidak ada yang lebih diutamakan. Kreditur mempunyai hak bersama-sama terhadap seluruh harta kekayaan debitur, dan seluruh harta kekayaan tersebut berlaku sebagai jaminan bagi seluruh perutangan debitur, sehingga menjadi jaminan bagi semua kreditur. Krediturkreditur yang mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat untuk memperoleh pemenuhan piutangnya terhadap harta kekayaan debitur disebut Kreditur Konkuren. Sedangka seluruh harta kekayaan debitur yang dipakai sebagai jaminan bagi semua kreditur tersebut merupakan jaminan umum. Jaminan umum yang demikian keberadaanya diberikan oleh undang-undang, sehingga keberadaanya tidak karena diperjanjikan.

Asas persamaan hak dari para kreditur itu tidak mengenal kedudukan yang diutamakan atau preferensi (voorrang), tidak ada yang didahulukan satu dengan yang lainnya, juga tidak mengenal hak yang lebih tua dan hak yang lebih muda (asas prioriteit), hak yang lebih dulu terjadi sama saja

kedudukannya dengan hak yang terjadi kemudian. Hak dari kreditur atas benda-benda dari debitur di sini merupakan hak yang bersifat perorangan (persoonlijk).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kreditur konkuren itu memiliki ciri-ciri, yaitu: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 42

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Mempunyai kedudukan yang lebih rendah/dikalahkan dengan para kreditur preferen

Hanya mempunyai hak yang bersifat hak perorangan (personlijk) yang mempunyai tingkat yang sama satu dengan yang lainnya

Tidak

mempunyai

kedudukan

untuk

didahulukan

(voorrang)

pemenuhannya, baik karena adanya lebih dulu ataupun karena dapat ditagih lebih dulu (opeisbaar) Jaminannya bersifat umum karena tidak ada perjanjian jaminan

sebelumnya, sehingga obyek jaminan berupa semua harta kekayaan debitur Yang dijadikan jaminan adalah seluruh harta kekayaan debitur

b.

Kreditur Preferen

Kreditur preferen pemenuhan piutangnya didahulukan (voorrang) dari pada piutang-piutang lainnya. Menurut ketentuan undang-undang ditentukan bahwa para kreditur pemegang hipotik, gadai, privelegi mempunyai kedudukan yang lebih tinggi (diutamakan) dari piutang-piutang lainnya (Pasal 1133 BW). Kreditur preferen pemenuhan piutangnya harus diutamakan dari pada kreditur yang lain, terhadap hasil penjualan dari benda yang dipakai sebagai jaminan. Kreditur preferen memiliki hak bersifat zakelijk (kebendaan) yang mengenal asas prioriteit.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kreditur preferen itu: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 43

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Pemenuhan piutangnya didahulukan (voorrang) dari pada piutangpiutang lainnya karena mempunyai hak preferensi (hak didahulukan)

Dalam ketentuan UU ditentukan bahwa kreditur pemegang

Hipotik,

Gadai, Hak Tanggungan, Fidusia, dan Privilegi mempunyai kedudukan yang lebih tinggi (diutamakan) dari piutang-piutang lainnya Jaminannya bersifat khusus, karena sebelumnya ada perjanjian jaminan, sehingga obyek jaminan jelas seperti yang tercantum dalam perjanjian jaminan. Yang dijadikan jaminan tergantung dari pilihan lembaga jaminan yang diperjanjikan oleh para pihak sebelumnya, seperti: Gadai, Borgtoch, Fidusia, Hipotik, dan Hak Tanggungan

Hak untuk didahulukan dalam pemenuhan itu timbul karena 2 (dua) jalan, Pertama, karena memang sengaja diperjanjikan lebih dulu bahwa piutangpiutang kreditur itu akan didahulukan pemenuhannya dari pada piutangpiutang lainnya. Kedua, kemungkinan untuk pemenuhan yang didahulukan itu timbul karena memang telah ditentukan oleh undang-undang.

Hak untuk didahulukan dalam pemenuhan piutang timbul karena 2 hal, yaitu: Pertama : Karena dari awal memang sengaja diperjanjikan lebih dulu bahwa piutang-piutang kreditur itu akan didahulukan pemenuhannya dari pada piutang-piutang yang lain Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 44

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Kedua

2013

: Kemungkinan untuk pemenuhan yang didahulukan itu timbul karena memang telah ditentukan oleh UU

Untuk lebih jelas perbedaan antara Kreditur Konkuren dengan Kreditur Preferen dapat dilihat dari tabel berikut ini:

2. a.

Arti Pentingnya Hak Eksekusi Pada Lembaga Jaminan Eksekusi Hukum eksekusi adalah hukum yang mengatur tentang pelaksanaan hak-

hak kreditur dalam perutangan yang tertuju terhadap harta kekayaan debitur, manakala perutangan itu tidak dipenuhi secara sukarela oleh debitur. Dalam hubungan perutangan yang sudah dapat ditagih (opiesbaar) jika debitur tidak dapat memenuhi prestasi secara sukarela, kreditur mempunyai hak untuk Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 45

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

menuntut pemenuhan piutangnya (hak verhaal ; hak eksekusi) terhadap harta kekayaan tertentu debitur yang dipakai sebagai jaminan. Hak pemenuhan dari kreditur itu dilakukan dengan cara penjualan / mencairkan benda-benda jaminan dari debitur dimana hasilnya untuk

pemenuhan hutang debitur. Penjualan dari benda-benda tersebut dapat terjadi melalui penjualan dimuka umum karena adanya janji / beding lebih dulu (parate executie) terhadap benda-benda tertentu yang dijadikan jaminan. Untuk melaksanakan akan pemenuhan haknya melalui eksekusi, kreditur harus mempunyai alas hak untuk melakukan eksekusi melalui pensitaan eksekutorial (executorial beslag) yang timbul karena berdasarkan putusan hakim yang dibuat dalam bentuk Titel Eksekutorial (yang sebelumnya harus tercantum irahirah : Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa) atau grosse akta notaris yang sengaja dibuat dalam bentuk eksekutorial.

b.

Parate Eksekusi Sebagai pengecualian eksekusi dapat juga dilakukan tanpa mempunyai titel

eksekutorial, yaitu dengan cara parate eksekusi (eksekusi langsung). Dengan adanya janji untuk menjual atas kekuasaan sendiri dapat melaksanakan haknya secara langsung tanpa melalui adanya putusan hakim atau grosse akta notaris. Dapat disimpulkan bahwa hak parate eksekusi menguntungkan karena: Tidak membutuhkan titek eksekutorial dalam melaksanakan

haknya / eksekusi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 46

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Dapat melaksanakan eksekusi sendiri secara langsung (mandiri) tanpa perduli adanya kepailitan dari debitur

c.

Kepailitan Jika pensitaan pada eksekusi dan parate eksekusi tertuju pada harta

kekayaan tertentu dari debitur dan untuk kepentingan kreditur tertentu, maka pada kepailitan pensitaan tertuju pada harta kekayaan debitur seluruhnya untuk kepentingan para kreditur bersama. Kepailitan adalah sita umum atas nama semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagai mana diatur dalam undang-undang kepailitan (Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang).

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

47

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB VII

2013

KLAUSULA-KLAUSULA YANG ADA DALAM PERJANJIAN KREDIT & JAMINAN

1.

Klausula Yang Umum Ada Dalam Perjanjian Kredit & Jaminan

Klausula-klausula yang ada dalam Perjanjian Kredit & Jaminan dimaksudkan untuk perlindungan hukum bagi para pihak. Beberapa klausula yg lazim ada dalam Perjanjian Kredit & Jaminan, yaitu:

a.

Janji yang membatasi kewenangan pemberi jaminan (kreditur) untuk tidak menyewakan obyek jaminan Dalam hukum gadai, penyewa gadai berfungsi sebagai

inbezitstelling (kreditur atau yang menguasai barang gadai) tidak boleh memanfaatkan barang gadai Pihak debitur membatasi pihak kreditur dalam menggunakan barang gadai yang menyebabkan nilai barang menjadi menurun Jika kreditur menyewakan barang gadai, harus ada ijin tertulis dari debitur Pada jaminan fidusia (fiduciaire eigendoms) dimana barang jaminan tetap dibawa oleh debitur, kreditur juga dapat melarang debitur untuk menyewakan barang gadai

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

48

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


b.

2013

Janji yang membatasi kewenangan pemberi jaminan (debitur) untuk mengubah bentuk atau susunan obyek jaminan kecuali ada ijin tertulis dari pemegang jaminan (kreditur) Jika jaminan berupa rumah, berdasarkan UU No 1 Thn 1996 (tentang jaminan tanah dan benda-benda diatasnya), maka rumah tersebut tidak boleh disewakan, dijual atau di renovasi yang

mengakibatkan terjadinya perubahan struktur pada rumah tersebut Jika rumah dibangun ulang oleh debitur dengan pelaksanaan oleh pihak ketiga, maka harus ada ijin tertulis dari kreditur. Jika tidak ada ijin tertulis, maka perjanjian dinyatakan vernietigbaar (dapat dibatalkan) c. Janji yang memberikan kewenangan pada pemegang jaminan (kreditur) untuk mengelola obyek jaminan Tetap harus diatur karena kreditur hanya memegang obyek jaminan, bukan pemilik. Dalam kasus gadai tanah dalam hukum adat, pembeli gadai tanah (kreditur) dapat mengelola tanah yang digadaikan dalam waktu tertentu. Jika penjual gadai (debitur) menggadaikan tanahnya sebesar Rp. 50 juta, maka pembeli gadai (kreditur) tidak perlu membayar gadai tersebut jika tanah gadai yang dikelolanya memberikan hasil lebih dari Rp. 50 juta. d. Janji yang memberikan kewenangan pada pemegang jaminan (kreditur) untuk menyelamatkan obyek jaminan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

49

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


dll

2013

Misal : menyelamatkan obyek jaminan dari bencana alam, kebakaran,

Pemegang obyek jaminan (kreditur) dapat meminta uang kepada pihak debitur dalam melindungi obyek jaminan yang dapat menurunkan nilai dari obyek jaminan

e.

Janji bahwa pemegang jaminan yang pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaannya sendiri (eigenmacht) Contoh : A menjaminkan rumahnya (senilai Rp. 500 juta) untuk jumlah kredit yang lebih kecil (senilai Rp. 100 juta). Jika A masih kekurangan modal, maka A dapat mencari kreditur lain dengan obyek jaminan yang sama. Dalam perjanjian tersebut biasanya kreditur pertama dapat menjual obyek jaminan jika ternyata A bermasalah untuk membayar kembali kreditnya. Sehingga kreditur pertama kemudian dapat

menyelesaikan urusan hutang dengan kreditur yang lain. Kreditur pertama mempunyai hak istimewa (hak previlege) untuk menjual obyek jaminan. f. Janji yang diberikan kepada pemegang hak jaminan pertama bahwa obyek jaminan tidak akan dibersihkan dari hak jaminan.

Rp.100 jt
B 500jt

A meminjam uang dari B sebesar Rp. 100 juta dengan menjaminkan obyek senilai Rp. 500 juta. Karena dana

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

50

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

masih kurang, A meminjam uang dari C dengan obyek jaminan yang sama.

g.

Janji bahwa pemberi jaminan tidak akan melepaskan haknya atas obyek jaminan tanpa adanya persetujuan tertulis dari kreditur. Dalam hal ini adalah pemberi jaminan tidak boleh melakukan pelepasan hak (baik karena jual beli, pewarisan, dll) tanpa sebelumnya diketahui dan disetujui oleh kreditur dan mendapat ijin dari kreditur.

h.

Janji bahwa pemberi jaminan akan mengosongkan obyek jaminan pada waktu eksekusi. Pada kalusula ini apabila debitur cidera janji dan obyek jaminan akan dieksekusi untuk pelunasan utang debitur tersebut kepada kreditur, maka debitur yang menguasai obyek jaminan secara sukarela dan setiap saat harus dapat mengosongkan benda yang menjadi obyek jaminan.

Penerapan klausula-klausula tersebut diatas dalam praktek penerapannya tidak bersifat kumulatif, tetapi lebih bersifat individualistis, yaitu dengan melihat beberapa ketentuan berikut, yaitu: lembaga jaminan yang dipakai dalam perjanjian kredit. hubungan hukumnya.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

51

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

2.

Klausula-Klausula Dalam Perjanjian Kredit Yang Memberatkan Nasabah Debitur

Dari penelitian yang dilakukan oleh Sutan Remy Sjahdaeni terhadap formulirformulir perjanjian kredit ditemui beberapa klausul di dalam perjanjianperjanjian tersebut yang memberatkan nasabah debitur, yaitu: a. Kewenangan Bank untuk sewaktu-waktu tanpa alasan apapun dan tanpa pemberitahuan sebelumnya secara sepihak

menghentikan izin tarik kredit. Ada dijumpai dalam perjanjian kredit bahwa Bank secara sepihak menolak penarikan kredit dengan atau tanpa diikuti tindakan menghentikan

perjanjian kredit sebelum jangka waktu berakhir, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada nasabah debitur. Klausul demikian memperlihatkan Bank selaku kreditur berada dalam posisi yang kuat. Pencantuman klausula tersebut dan pelaksanaannya oleh Bank dapat saja digugat oleh nasabah debitur. b. Bank berwenang secara sepihak menentukan harga jual dari barang agunan dalam hal penjualan barang agunan karena kredit nasabah debitur macet. Idealnya sesuai dengan asas kepatutan dan iktikad baik Bank tidak menentukan sendiri harga jual atas barang-barang agunan dalam rangka Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 52

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

penyelesaian kredit macet nasabah debitur. Seharusnya penafsiran harga dilakukan oleh suatu appraisal company yang independen dan telah mempunyai reputasi baik. Disamping itu juga undang-undang telah

menentukan cara untuk menjual barang-barang agunan berdasarkan bentuk pengikatan jaminannya.

c.

Kewajiban nasabah debitur untuk tunduk kepada segala petunjuk dan peraturan Bank yang telah ada dan yang masih ada akan ditetapkan kemudian oleh Bank. Klausula ini bertentangan dengan aturan dasar yang harus diperhatikan bagi mengikatnya syarat-syarat suatu perjanjian baku. Dan perjanjian yang mengandung klausula ini tidak sah berdasarkan Pasal 1320 ayat (2) BW dan Pasal 1333 BW.

d.

Keharusan nasabah debitur untuk tunduk kepada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan umum hubungan rekening koran dari bank yang bersangkutan namun tanpa sebelumnya nasabah debitur diberi kesempatan untuk mengetahui dan memahami syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan umum hubungan rekening koran tersebut. Pada umumnya Bank memberikan kredit dalam bentuk rekening koran, artinya bahwa untuk pemberian kredit itu Bank membuka suatu rekening koran bagi nasabah debitur, rekening koran tersebut dinamakan rekening pinjaman. Dengan dibukanya rekening pinjaman tersebut maka penarikan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

53

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

kredit dilakukan oleh nasabah debitur dengan cara menerbitkan cek atau giro bilyet atas beban rekening pinjaman tersebut. Karena rekening pinjaman adalah rekening koran seperti yang telah dijelaskan, hanya saja rekening koran untuk kredit dan bukan untuk giro, maka terhadap rekening pinjaman diinginkan oleh Bank berlaku pula syarat-syarat dan ketentuanketentuan dari perjanjian rekening koran yang berlaku bagi Bank yang bersangkutan. Untuk keperluan itu maka perlu diperjanjikan di dalam perjanjian kredit bahwa syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan perjanjian rekening koran yang berlaku di Bank tersebut berlaku pula bagi rekening pinjaman nasabah debitur. Atau dengan kata lain bahwa syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan perjanjian rekening koran yang berlaku pada Bank itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian kredit tersebut. e. Kuasa nasabah debitur yang tidak dapat dicabut kembali kepada Bank untuk dapat melakukan segala tindakan yang dipandang perlu oleh Bank. Pasal 1796 BW menentukan bahwa pemberian kuasa yang dirumuskan dalam kata-kata umum, hanya meliputi perbuatan-perbuatan pengurusan. Perumusan klausul tersebut di atas sangat umum, oleh karena itu sesuai dengan ketentuan Pasal 1796 BW pemberian kuasa tersebut hanya terbatas pada tindakan-tindakan pengurusan saja. Karena perumusan klausul

tersebut bukan saja sangat umum tetapi juga tidak menyebutkan dalam bidang apa Bank itu diberi kuasa, maka tidak jelas kuasa tersebut mengenai Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 54

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

perbuatan-perbuatan pengurusan mengenai hal atau dalam bidang apa. Bilamana yang dikehendaki oleh Bank agar Bank dapat melakukan tindakan apapun dalam segala bidang (yang oleh Pasal 1796 BW dibatasi hanya untuk melakukan tindakan-tindakan pengurusan saja), antara lain bidang

kepengurusan (manajemen), keuangan, dan harta tetap nasabah debitur, maka Bank akan menjadi terlalu jauh mencampuri urusan nasabah debitur. f. Kuasa nasabah debitur kepada Bank untuk mewakili dan

melaksanakan hak-hak nasabah debitur dalam setiap Rapat Umum Pemegang Saham. Dalam salah satu perjanjian kredit autau Bank pemerintah dijumpai klausul yang isinya merupakan pemberian kuasa dengan hak substitusi yang tidak dapat dicabut kembali oleh nasabah debitur kepada Bank untuk mewakili, dan oleh karena itu untuk dan atas nama nasabah debitur dapat melakukan segala hal yang dianggap perlu dalam melaksanakan hak-hak nasabah debitur sebagai pemegang saham dalam setiap rapat umum pemegang saham dan perusahaan nasabah debitur. g. Pencantuman klausula-klausula eksemsi yang membebaskan

Bank dari tuntutan ganti kerugian oleh nasabah debitur atas terjadinya kerugian yang diderita olehnya sebagai akibat tindakan Bank. Klausul ini tidak dapat serta merta mengikat nasabah debitur sekalipun nasabah debitur telah menandatangani perjanjian kredit. Asas kepatutan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 55

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

dalam BW menghendaki agar hakim tetap mempertimbangkan masalahnya secara kasus perkasus. Dengan kata lain pencantuman klausul tersebut bila harus dihadapkan asas kepatutan dan pasal-pasal lain dari BW misalnya Pasal 1267 dan Pasal 1365, tidak mempunyai arti. h. Pencantuman nasabah debitur Klausul untuk eksemsi dapat mengenai tidak adanya hak atas

menyatakan

keberatan

pembebanan Bank terhadap rekening. Sekalipun pembukuan Bank merupakan bukti yang kuat untuk menentukan jumlah-jumlah yang dipertikaikan (dipermasalahkan), tetapi mengingat pembukuan Bank bukan merupakan bukti otentik, maka apabila nasabah debitur berkeberatan mengenai jumlah-jumlah dari pembukuan tersebut hendaknya nasabah debitur harus tetap mempunyai peluang untuk dapat membuktikan kebenaran sebaliknya. Dari maksud Pasal 1881 BW maka pembukuan Bank itu tidak memberikan pembuktian untuk keuntungan Bank sebagai pembuat pembukuan tersebut. Demikian pula jika mengambil jiwa dan tujuan dari Pasal 1872 dan Pasal 1875 BW. Hak nasabah debitur untuk dapat membuktikan kebenaran sebaliknya dari catatan-catatan pembukuan Bank adalah karena memang sudah sering terjadi kesalahan dalam pembukuan Bank, juga sudah sering diketahui mengenai terjadinya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh petugas Bank yang merugikan nasabah debitur.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

56

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


i.

2013

Pembuktian kelalaian nasabah debitur secara sepihak oleh pihak Bank semata Asas hukum pembuktian sebagaimana menurut BW dan Hukum Acara Perdat menghendaki agar pihak yang dirugikan karena terjadinya kelalaian oleh pihak lainnya membuktikan tentang telah dilakukannya kelalaian oleh pihak lain tersebut. Dengan demikan bila Bank merasa bahwa nasabah debitur memang telah lalai dan sebagai akibat kelalaian tersebut Bank dirugikan, maka Bank harus membuktikan kelalaian tersebut. Ketentuan ini bersifat memaksa (dwingend) dan apabila disimpangi dengan

memperjanjikannya dalam perjanjian kredit, maka klausul tersebut batal demi hukum. j. Penetapan dan perhitungan bunga Bank secara merugikan

nasabah debitur Sampai saat ini penghasilan utama dari Bank-Bank adalah berasal dari kredit. Penetapan besarnya bunga kredit oleh Bank haruslah dilakukan sedemikian rupa sehingga lebih tinggi dari biaya dana rata-rata yang harus dibayarkan oleh Bank kepada para nasabah dananya. Selisih antara bunga kredit dan rata-rata biaya dana (giro, deposito, dan tabungan), atau yang dikenal dengan istilah spread atau margin, harus pula cukup untuk dapat menutup overhead cost dari Bank yang bersangkutan di samping masih harus mampu menghasilkan laba untuk yang bersangkutan. k. Denda keterlambatan merupakan bunga terselubung 57

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Mahkamah Agung dalam putusannya No.2027 K/Pdt./1984 tanggal 23 April 1986 telah memutuskan bahwa denda (penalty) yang telah diperjanjikan oleh para pihak atas keterlambatan pembayaran pokok peinjaman

hakikatnya merupakan suatu bunga terselubung, maka berdasarkan asas keadilan hal tersebut tidak dapat dibenarkan, karena itu tuntutan tentang pembayaran denda tersebut harus ditolak. l. Perhitungan bunga berganda menurut praktek perbankan

bertentangan dengan Pasal 1251 BW Sudah menjadi kebiasaan dalam praktik perbankan di Indonesia untuk membebankan bunga berganda atau bunga majemuk atau bunga berbunga, yang tidak lain adalah bunga yang dibebankan terhadap bunga yang tertunggak (dalam istilah disebut compound interest). Yang diterapkan oleh Bank adalah membebankan bunga tunggakan terhadap bunga yang tertunggak selama sebulan. Dengan kata lain apabila nasabah debitur tidak membayar bunga dan pada perhitungan bunga bulanan berikutnya tunggakan bunga itu belum juga dibayar, maka terhadap bunga yang belum dibayar itu (yang tertunggak) ditambahkan kedalam jumlah pinjaman pokok, dan terhadapnya dikenai juga bunga. Apabila bunga tertunggak (yang telah menjadi pinjaman pokok) yang telah berbunga itu belum juga dibayar pada perhitungan bunga bulan berikutnya lagi, maka bunga yang telah berbunga itu dibebankan lagi bunga, begitu seterusnya. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 58

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


m.

2013

Pengabaian Pasal 1266 BW dan 1267 BW berkenaan dengan klausul Events of Default Ada yang mendalihkan bahwa klausul mengenai syarat-syarat batal atau events of default bertentangan dengan Pasal 1266 dan 1267 BW, karena menurut pasal-pasal tersebut pembatal perjanjian kredit dalam halnya terjadinya syarat batal (events of default) harus dimintakan kepada hakim dan tidak dapat dilakukan secara sepihak. Pencantuman klausul events of default merupakan salah satu klausul yang sangat penting bagi

perlindungan Bank. Demikian pentingnya, seandainya klausul tersebut tidak ada di dalam perjanjian kredit atau seandainya klausul itu di dalam perjanjian kredit pelaksanaan pembatalan perjanjian hanya dapat dilakukan berdasarkan putusan hakim di pengadilan yang melalui proses litigasi yang panjang dan lama, maka Bank akan sangat enggan untuk bersedia memberikan kredit tersebut. Surat Edaran Mahkamah Agung No.3/1963 perihal Gagasan Menganggap Burgerlijk Wetboek Tidak Sebagai Undang-Undang yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia, menentukan bahwa pasal-pasal dalam BW (termasuk Pasal 1266 dan Pasal 1267) tidak lagi merupakan ketentuan undang-undang yang mengikat. Surat Edaran tersebut memberikan keleluasaan hakim untuk mengesampingkan pasal-pasal dari BW apabila tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Sehingga penerapan syarat batal (events of default) dalam Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 59

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

perjanjian kredit dapat diterima oleh pengadilan dengan mengesampingkan Pasal 1266 dan Pasal 1267 BW oleh hakim berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung tersebut. Namun ketentuan hukum Surat Edaran tersebut untuk dapat

mengesampingkan peraturan perundang-undangan sangat diragukan. Asas hukum menyatakan bahwa suatu peraturan perundang-undangan hanya dapat dikesampingkan oleh suatu peraturan perundang-undangan lainnya yang sederajat atau sama tinggi tingakatannya, sedangkan Surat Edaran tersebut jelas berkedudukan lebih rendah dari BW, dengan demikian Surat Edaran Mahkamah Agung tersebut tidak berkekuatan hukum untuk dapat memberikan kewenangan kepada hakim untuk menyimpangkan

keberlakukan Pasal 1266 dan Pasal 1267 BW. n. Kewajiban pelunasan bunga terlebih dahulu adalah sesuai

dengan Pasal 1397 BW, tetapi sangat memberatkan nasabah Bila seoran nasabah debitur mengalami kredit macet dan ia bermaksud mengangsur kreditnya itu, maka selalu Bank akan memperhitungkan angsurannya itu terlebih dahulu untuk melunasi bunga yang tertunggak dan bukan untuk mengangsur pokoknya. Hal ini menimbulkan keadaan di mana setelah sekian lama nasabah debitur mengangsur pinjaman itu dapat terjadi bahwa pokoknya tetap tidak terangsur sedikit pun dan sementara itu mungkin bunganya tetap tertunggak. Keadaan yang demikian ini tidak mengherankan dapat terjadi karena angsuran tersebut oleh Bank dipakai Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 60

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

untuk melunasi bunganya terlebih dahulu dan sementara itu bunga tersebut berkembang sebagai akibat bunga terhadap pinjaman pokok ditambah bunga terhadap bunga yang masih tertunggak terus bertambah sebagai hasil dari perhitungan bunga berganda.

Praktek perbankan tersebut dirasakan sangat kejam oleh mereka yang mengalami kemacetan kredit, dan mempertanyakan apakah praktek

sedemikian itu dibenarkan menurut hukum. Untuk perjanjian pinjaman uang berlaku ketentuan Pasal 1397 BW. Menurut hemat beberapa pakar hukum ketentuan Pasal 1397 BW sekalipun merupakan ketentuan undang-undang tetapi dirasakan tidak sesuai dengan rasa keadilan dan kepatutan yang berlaku di masyarakat.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

61

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB VIII

2013

TINDAKAN HUKUM PENYELAMATAN & PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH

Setiap Bank dalam menjalankan operasionalnya menginginkan dan berusaha keras agar kualitas kreditnya dalam keadaan sehat, dalam arti produktif dan collectable. Namun dalam kenyataannya kredit yang diberikan kepada debitur selalu ada resiko berupa kredit yang tidak dikembalikan tepat pada waktunya, atau yang dinamakan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). Dalam praktek perkreditan Bank tidak bisa menghindari dari adanya kredit bermasalah, Bank hanya berusaha menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan. Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor : 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 memberikan penggolongan mengenai kualitas kredit, yaitu: a. Lancar Kredit digolongkan lancar jika pembayaran tepat waktu, perkembangan rekening baik, dan tidak ada tunggakan serta sesuai dengan perjanjian kredit yang dibuat. b. Dalam Perhatian Khusus Kredit digolongkan dalam perhatian khusus jika terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga sampai dengan 90 hari (3 bulan). Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 62

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


c. Kurang Lancar

2013

Kredit digolongkan kurang lancar jika terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari sampai dengan 180 hari (6 bulan) d. Diragukan Kredit digolongkan diragukan jika terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari sampai dengan 270 hari (9 bulan) e. Macet Kredit digolongkan macet jika terdapat tunggakan pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari (9 bulan) lebih.

Kredit yang masuk dalam golongan Lancar dan Dalam Perhatian Khusus dinilai sebagai kredit yang Performing Loan (kredit lancar), sedangkan kredit yang masuk golongan Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet dinilai sebagai kredit Non Performing Loan (kredit macet). Untuk menentukan suatu kualitas kredit masuk dalam golongan lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet dapat dinilai dari 3 (tiga) aspek, yaitu: a. b. c. Prospek usaha Kondisi keuangan dengan penekanan arus kas Kemampuan membayar

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

63

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Tiga aspek penilaian tersebut merupakan satu kesatuan untuk menilai kualitas kredit, tidak secara parsial (terpisah), misalnya hanya dari kemampuan membayar saja, meskipun kemampuan membayar lancar tetapi kalau prospek usaha tidak ada maka kredit tersebut dapat dinilai Non Performing Loan. Untuk menghindarkan kredit bermasalah, Bank sebenarnya sudah melakukan

pengamanan preventif dengan melakukan analisa yang mendalam terhadap usaha dan penghasilan serta kemampuan debitur. Analisa dari apsek hukum juga dilakukan, misalnya: a. b. c. d. e. f. Legalitas debitur; Legalitas usaha debitur; Kewenangan orang bertindak mewakili perusahaan; Keabsahan hukum dari barang yang dijadikan agunan; Penjaminan/Borgtoch; Mekanisme pemantauan dan pengawasan secara terus menerus.

Adanya kredit macet akan menjadi beban Bank karena kredit macet menjadi salah satu faktor dan indikator penentu kinerja sebuah Bank, oleh karena itu adanya kredit bermasalah terlebih lagi dalam golongan macet menuntut adanya penyelesaian, yaitu: a. Penyelesaian yang cepat, tepat, dan akurat dan segera mengambil tindakan hukum jika sudah tidak ada jalan lain peneyelsaian melalui restrukturisasi. Untuk menjaga agar kredit yang telah diberikan kepada para Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 64

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


debitur memiliki kualitas performing loan, maka

2013
harus dilakukan

pemantauan dan pengawasan untuk mengetahui secara dini bila terjadi deviasi (penyimpangan) dan langkah-langkah memperbaikinya. b. Dilakukan penilaian ulang (review) secara periodik agar dapat diketahui sedini mungkin baik actual loan problem, maupun potensial problem, sehingga Bank dapat mengambil langkah-langkah pengamanannya (action program). c. Dilakukan penyelamatan dan penyelesaian segera, bila kredit

menunjukan bermasalah (non performing loan).

Untuk menyelesaikan kredit bermasalah (non performing loan) ada dua strategi yang dapat ditempuh, yaitu: 1. Penyelamatan Kredit Penyelematan adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui perundingan kembali antara kreditur dan debitur dengan memperingan syaratsyarat pengembalian kredit sehingga dengan demikian diharapkan debitur memiliki kemampuan kembali untuk menyelesaikan kredit tersebut. Jadi tahap penyelamatan kredit ini belum memanfaatkan lembaga hukum karena debitur masih kooperatif dan prospek usaha masih dapat dilaksanakan dengan baik (feasible). Penyelesaian kredit melalui tahap penyelamatan kredit ini

dinamakan penyelesaian melalui restrukturisasi kredit. Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan Bank dalam usaha perkreditan agar debitur dapat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 65

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

memenuhi kewajibannya. Langkah restrukturisasi ini diperlukan syarat paling utama yaitu adanya kemauan dan iktikad baik dan kooperatif dari debitur serta bersedia mengikuti syarat-syarat yang ditentukan Bank, karena dalam

restrukturisasi lebih banyak melakukan negosiasi dan solusi yang ditawarkan Bank untuk menentukan syarat dan ketentuan restrukturisasi. Dalam hal pelaksanaan restrukturisasi, Bank Indonesia mengeluarkan petunjuk dan pedoman tentang tata cara penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit bermasalah dengan surat Direksi Bank Indonesia Nomor: 31/150/KEP/DIR tanggal 12 November 1998. Adapun tujuan restrukturisasi adalah: 1. Untuk menghindarkan kerugian bagi Bank karena Bank harus menjaga kualitas kredit yang telah diberikan; 2. Untuk membantu memperingan kewajiban debitur sehingga keringan ini debitur mempunyai kemampuan untuk melanjutkan kembali usahanya dan melaksanakan pembayaran kewajiban kreditnya; 3. Dengan restrukturisasi maka penyelesaian kredit melalui lembagalembaga hukum dapat dihindarkan karena penyelesaian melalui lembaga hukum dalam prakteknya memerlukan waktu yang lama, biaya, dan tenaga yang banyak. Kebijakan yang dapat digunakan untuk melakukan restrukturisasi kredit bermasalah menurut keputusan Direksi Bank Indonesia tersebut diatas antara lain melalui : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 66

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. Penurunan Suku Bunga Kredit Pengurangan Tunggakan Bunga Kredit Pengurangan Tunggakan Pokok Kredit Perpanjangan Jangka Waktu Kredit Penambahan Fasilitas Kredit Pengambilalihan Agunan/Aset Debitur Jaminan Kredit Dibeli oleh Bank

2013

Konversi Kredit Menjadi Modal Sementara dan Pemilikan Saham Alih Manajemen Pengambilalihan Pengelolaan Proyek Novasi (Pembaharuan Hutang) Subrogasi Cessie Debitur Menjual Sendiri Barang Jaminan Bank Menjual Barang-Barang Jaminan Dibawah Tangan Berdasarkan Surat Kuasa

p. q.

Penghapusan Piutang Cegah Tangkal (CEKAL) Debitur Macet

2.

Penyelesaian Kredit

Penyelesaian kredit adalah langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui lembaga hukum seperti Pengadilan atau Direktorat Jenderal Piutang dan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 67

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Lelalng Negara atau badan lainnya. Hal ini dilakukan karena langkah penyelamatan sudah tidak mungkin dilakukan. Tujuan penyelesaian kredit melalui lembaga hukum ini adalah untuk menjual atau mengeksekusi benda jaminan.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

68

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB IX GADAI

2013

1.

Pengertian & Unsur-Unsur Gadai Kata Gadai dalam undang-undang digunakan dalam 2 (dua) arti, yaitu:

Pertama, untuk menunjuk kepada bendanya (benda gadai, vide Pasal 1152 BW). Kedua, tertuju kepada haknya (hak gadai, seperti pada Pasal 1150 BW). Menurut Pasal 1150 BW, rumusan definisi gadai adalah : Suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang atau orang lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana yang harus didahulukan. Dari definisi diatas, maka dapat diuraikan unsur-unsur pokok yang terdapat dalam gadai, yaitu: a. b. Gadai adalah jaminan untuk pelunasan utang Gadai memberikan hak didahulukan atau hak preferent pelunasan utang kepada kreditur tertentu terhadap kreditur lainnya c. Obyek gadai adalah barang-barang bergerak

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

69

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


d.

2013

Barang bergerak yang menjadi objek gadai tersebut diserahkan kepada kreditur (dalam kekuasaan kreditur)

2.

Sifat-Sifat Gadai

Jaminan gadai yang diatur dalam Buku II titel 20 BW mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a. Jaminan gadai mempunyai sifat accessoir (perjanjian tambahan)

Artinya jaminan gadai bukan hak yang berdiri sendiri tetapi keberadaannya bergantung pada perjanjian pokok, yaitu perjanjian kredit/perjanjian utangpiutang. b. Jaminan gadai memberikan hak preferent

Kreditur sebagai penerima gadai mempunyai hak yang didahulukan (hak preferent) terhadap kreditur lainnya, artinya bila debitur cidera janji atau lalai maka kreditur penerima gadai mempunyai hak untuk menjual jaminan gadai tersebut, dan hasil penjualannya digunakan untuk melunasi hutang debitur. c. Hak gadai sebagai hak kebendaan

Dalam Pasal 1152 ayat (3) BW mengatakan bahwa kalau barang-barang gadai berpindah atau hilang atau dicuri dari pemegang gadai, maka pemegang gadai berhak menuntutnya kembali. Dalam hal ini berarti bahwa pemegang gadai mempunyai Droit de Suite, yaitu hak gadai mengikuti bendanya di tangan siapapun benda gadai berada. d. Jaminan gadai mempunyai hak eksekutorial 70

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


e.

2013

Pemegang gadai (kreditur) atas kekuasaan sendiri (eigen machtige verkoop) mempunyai hak untuk menjual benda yang digadaikan untuk pelunasan utang si debitur apabila debitur cidera janji. Penjualan harus dilakukan dimuka umum dengan cara pelelangan, dan bila hasil penjualan sudah mencukupi untuk membayar utang namun masih terdapat kelebihan maka kelebihan tersebut wajib dikembalikan kepada debitur.

f.

Hak gadai tidak dapat dibagi-bagi

Hak gadai tidak menindih bagian-bagian dari benda gadai/benda jaminan berdasarkan perimbangan hutangnya, tetapi menindih seluruh utang dan setiap bagian dari utang menindih semua benda gadai/setiap bagian dari benda jaminan sebagai suatu keseluruhan. Artinya dengan dilunasinya sebagian utang maka tidak menghapus sebagian hak gadai, melainkan hak gadai tetap melekat untuk seluruh bendanya. g. Benda gadai dalam kekuasaan debitur

Benda yang digadaikan harus berada diluar atau ditarik dari kekuasaan debitur/pemberi gadai, yang disebut dengan Inbezzitstelling, dengan kata lain benda yang digadaikan tersebut harus berada dalam kekuasaan si kreditur sebagai penerima gadai. h. Hak gadai berisi hak untuk melunasi utang dari hasil penjualan benda gadai Sifat ini sesuai sifat jaminan pada umumnya yaitu hak yang bersifat memberikan jaminan untuk pelunasan utang apabila debitur cidera janji Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 71

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

dengan mengambil pelunasan dari hasil penjualan benda jaminan, bukan hak memiliki benda yang dijaminkan. Segala janji yang memberikan hak kepada kreditur untuk memiliki benda gadai adalah batal demi hukum. 3. Obyek Gadai

Dari ketentuan Pasal 1150 BW dan Pasal 1152 BW menyimpulkan bahwa benda gadai dapat berupa benda bergerak bertubuh maupun benda bergerak tidak bertubuh yang wujudnya adalah hak.

4.

Para Pihak Dalam Gadai

Dari perumusan Pasal 1150 BW diketahui bahwa para pihak yang terlibat dalam perjanjian gadai ada 2 (dua), yaitu : a. Pihak yang memberikan jaminan gadai yang disebut sebagai Pemberi Gadai atau Debitur. b. Pihak yang menerima hak gadai atau yang menerima jaminan gadai atau Penerima Gadai atau Kreditur. Karena umumnya jaminan gadai itu dipegang oleh kreditur maka ia disebut juga kreditur penerima gadai, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa atas persetujuan para pihak (kreditur dan debitur) benda gadai dipegang pihak ketiga (Pasal 1152 ayat (1) BW), kalau barang gadai dipegang oleh pihak ketiga maka pihak ketiga tersebut disebut sebagai Pihak Ketiga Pemegang Gadai.

5.

Kewajiban pemegang gadai 72

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Pemegang gadai, baik kreditur maupun pihak ketiga berkewajiban untuk merawat benda gadai yang ada di dalam tangannya. Ia bertanggung jawab atas kehilangan atau kemerosotan benda gadai kalau hal itu terjadi karena kesalahan/kelalaian kreditur/pihak ketiga. Sebagai imbalan terhadap kewajiban tersebut ia berhak untuk memperhitungkan ongkos terhadap pemilik benda.

6.

Hapusnya gadai

Hak gadai dapat hapus karena beberapa hal, yaitu: a. Dengan hapusnya perikatan pokok yang dijamin dengan gadai. Ini sesuai dengan sifat accessoir pada gadai, yang mana nasibnya bergantung pada perikatan pokoknya. Perikatan pokoknya hapus karena : Pelunasan, Kompensasi, Novasi, dan Penghapusan Hutang. b. gadai. Tetapi pemegang gadai/kreditur masih mempunyai hak untuk menuntutnya kembali, dan kalau berhasil maka undang-undang mengganggap perjanjian gadai itu tidak pernah putus (Pasal 1152 ayat (3) BW) c. d. e. Dengan hapusnya/musnahnya benda jaminan Dengan dilepasnya benda gadai secara sukarela Dengan percampuran, yaitu dalam hal [emegang gadai menjadi pemilik barang gadai tersebut. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 73 Dengan terlepasnya benda jaminan dari kekuasaan pemegang

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


f.

2013

Kalau ada penyalahgunaan benda gadai oleh pemegang gadai (Pasal 1159 BW).

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

74

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB X HIPOTIK

2013

1.

Pengertian & Unsur-Unsur Hipotik

Menurut sistematika dalam Burgerlijk Wetboek (BW) / Kitab Undang Undang Hukum Perdata (KUHPer), ketentuan-ketentuan tengan Hipotik termasuk bagian hukum benda yang diatur dalam Buku II BW, dari Pasal 1162 hingga Pasal 1232. Pengertian Hipotik sendiri menurut Pasal 1162 BW adalah : Suatu hak kebendaan atas barang-barang tidak bergerak, untuk mengambil penggantian dari padanya bagi pelunasan suatu perikatan. Dari perumusan Pasal 1162 BW diatas menurut perumusan para sarjana bahwa rumusan pengertian tentang Hipotik diatas kurang lengkap, sehingga

perumusannya disempurnakan sebagai berikut12 : Hipotik adalah hak kebendaan atas benda tetap tertentu milik orang lain yang secara khusus diperikatkan, untuk memberikan kepada suatu tagihan, hak untuk didahulukan di dalam mengambil pelunasan atas hasil eksekusi barang tersebut.

Dari pengertian diatas dapat kita tarik beberapa unsur-unsur / karakteristik utama dari Hipotik, yaitu : a. Hak Kebendaan
12

J. Satrio. Op.Cit. hal 186

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

75

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


b. c. d. e. Benda Tetap Tertentu Milik Orang Lain Secara Khusus Diperikatkan Suatu Tagihan Hak Untuk Didahulukan Dalam Mengambil Pelunasan

2013

2.

Karakteristik Yuridis Hipotik

Berikut ini akan dijelaskan beberapa karakteristik yuridis yang melekat pada hipotik. a. Hipotik sebagai hak kebendaan13

Pasal 1163 BW : Ayat (1) : Hak tersebut pada hakekatnya tak dapat dibagi-bagi dan terletak di semua benda tidak bergerak yang diikatkan dalam

atas

keseluruhannya, diatas masing-masing dari benda-benda tersebut, dan diatas tiap bagian dari padanya. Ayat (2) : Benda-benda itu tetap dibebani dengan hak tersebut, didalam

tangannya siapa pun ia berpindah. Dari Pasal 1163 BW diatas secara tegas mengatakan bahwa hak hipotik merupakan hak kebendaan. Salah satu ciri pokok dari hak kebendaan adalah adanya sifat droit de suite, yaitu bahwa hak tersebut mengikuti bendanya (yaitu benda yang dibebani hipotik), tidak peduli ditangan siapa benda itu berada (Pasal 1163 ayat (2) jo Pasal 1198 BW). Dari ketentuan diatas dijelaskan bahwa perjanjian hipotik merupakan perjanjian yang ditutup antara kreditur
13

Ibid. 186

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

76

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

pemegang hipotik dengan debitur pemberi hipotik. Sebenarnya berdasarkan asas hukum perjanjian, semua hak dan kewajiban yang muncul dari suatu perjanjian hanyalah hak dan kewajiban yang relatif saja, yaitu hak tersebut hanya dapat ditujukan dan mengikat para pihak saja (vide Pasal 1315 jo Pasal 1340 ayat (1) BW). Pada hak kebendaan justru hak tersebut mengikuti bendanya kedalam tangan siapapun ia berpindah, dengan akibat bahwa hak kreditur pemegang hipotik dapat juga ditujukan kepada pihak ketiga, yaitu siapa saja, dalam tangan siapa ia temukan bendanya. Maksud pemberian sifat hak kebendaan kepada hak hipotik akan tampak lebih jelas bahwa benda hipotik masih tetap ada dalam tangan pemberi hipotik dan pemberi hipotik masih tetap mempunyai kewenangan untuk mengambil tindakan pemilikan (beschikking) atasnya. Dengan pemberian sifat hak kebendaan pada hak hipotik, maka beralihnya hak milik atas benda jaminan hipotik tidak

mempengaruhi hak (jaminan) yang dipunyai pemegang hipotik. Pemberian sifat hak kebendaan oleh undang-undang kepada hak hipotik memberikan

pengamanan dan kedudukan yang kuat kepada kreditor penerima hipotik. Pemberian sifat hak kebendaan (khususnya sifat droit de suite)

mempersangkakan bahwa pemberi hak hipotik sebagai pemilik benda jaminan tidak kehilangan kewenangannya (kewenangan beheer dan beschikking) atas benda hipotik, dan dengan demikian sepanjang hutang / kredit yang dijamin dengan hipotik berjalan, benda jaminan pada asasnya masih dapat diperalihkan ataupun dibebani lagi oleh pemiliknya (pemberi hipotik). Walaupun demikian Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 77

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

kedudukan kreditur pemegang hipotik tidak banyak berpengaruh, karena kalau pemberi hipotik menjual atau dengan cara lain memindahtangankan benda hipotik, maka berdasarkan sifat hak kebendaan yang mengatakan bahwa hak kebendaan yang lebih tua mempunyai kedudukan yang lebih tinggi, kedudukan pemegang hipotik yang pertama tetap kuat (Pasal 315 KUHD).

b.

Objeknya atas benda tetap tertentu

Perbedaan mendasar dari hipotik sebelum dan sesudah berlakunya UndangUndang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan adalah terletak pada obyek apa-apa saja yang dapat dibebankan hak hipotik. Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 obyek hipotik adalah benda tetap yang juga meliputi tanah dan berdasarkan asas accessie (yaitu segala sesuatu yang bersatu atau dipersatukan dengan tanah). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, khususnya pada bagian memutuskan, yaitu : Buku II BW sepanjang yang mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya telah dicabut, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hipotik yang masih berlaku pada saat mulai berlakunya undang-undang ini . Hal tersebut berarti bahwa semua ketentuan yang ada diluar apa yang disebutkan dalam bagian memutuskan tersebut diatas (termasuk juga tentang hipotik) masih tetap berlaku.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

78

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Sesudah berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, maka Undang Undang Pokok Agraria mempunyai lembaga hak jaminan atas tanah (termasuk juga segala sesuatu yang berkaitan dengan tanah) tersendiri dan tidak lagi memakai lembaga jaminan hipotik. Sementara yang menjadi objek hipotik saat ini adalah : Kapal-kapal yang volumenya lebih dari 20 m3 (meter kubik) (Pasal 314 KUHD) Pesawat Udara dan Helikopter (Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan)

c.

Hak Hipotik Didahulukan14

Pasal 1133 BW menyebutkan bahwa hipotik, gadai, dan hak privelege merupakan hak yang didahulukan, bahkan pada asasnya lebih didahulukan (lebih tinggi) dari pada hak privelege (Pasal 1134 ayat (2) BW), kecuali undangundang menentukan lain. hak untuk didahulukan artinya adalah hak untuk didahulukan di dalam mengambil pelunasan tagihannya atas hasil eksekusi barang tertentu yang secara dengan khusus dihipotikkan. Pemegang akan hipotik ia

didahulukan

dibanding

kreditur-kreditur

lain,

tetapi

didahulukan hanya untuk mengambil pelunasan dari hasil penjualan barang tertentu yang dihipotikkan saja. Khusus dalam kaitannya dengan hipotik atas kapal, Pasal 316a ayat (3) KUHD menetapkan : bahwa piutang-piutang yang diistimewakan didahulukan dari pada hipotik. Adapun yang dimaksud dengan
14

Ibid. hal 211

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

79

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

piutang yang diistimewakan adalah piutang-piutang yang disebutkan dalam Pasal 316 BW.

d.

Pemasangan Hipotik Dapat Lebih Dari Sekali15

Atas benda jaminan hipotik dapat dipasang jaminan hipotik lebih dari 1 (satu) kali. Sesuai dengan ketentuan Pasal 315 KUHD, yaitu : tingkatan di antara segala hipotik satu sama lain ditantukan oleh hari pembukuannya. Hipotikhipotik yang dibukukan pada hari yang sama mempunyai tingkat yang sama tinggi. Dalam peristiwa ada pemasangan hipotik lebih dari satu kali, maka hipotik yang didaftarkan lebih awal (sesuai dengan ciri dari hak kebendaan) lahir lebih dahulu dan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari yang timbul kemudian, dan disebut hipotik peringkat pertama atau disingkat hipotik pertama, dan hipotik yang dipasang setelahnya secara berurutan menjadi hipotik yang kedua, dan seterusnya. Disamping itu jaminan hipotik yang kedua bisa diberikan baik kepada kreditur yang sama maupun kreditur yang lain.

e.

Hipotik Tidak Dapat Dibagi-Bagi16

Arti dari hipotik tidak dapat dibagi-bagi adalah, bahwa setiap bagian dari benda jaminan dapat dijual untuk diambil hasilnya sebagai pelunasan seluruh tagihan dan setiap rupiah dari tagihan menindih setiap bagian benda jaminan

15 16

Ibid. hal 213 Ibid. hal 212

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

80

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

maupun seluruh benda jaminan sebagai satu kesatuan (hak tagihan tidak menindih menurut perimbangan pada bagian-bagian benda jaminan). Contoh : Debitur mempunyai hutang sebesar Rp. 10 Juta dengan jaminan hipotik atas Kapal senilai Rp 20 Juta. Kalau debitur mencicil hutangnya sehingga tinggal Rp 5 Juta, belum berarti bahwa debitur berhak menuntut pembebasan jaminan kapal. Sebab tagihan kreditur tidak menindih menurut perimbangan pada bagian-bagian benda jaminan, malahan sebaliknya setiap rupiah tagihan kreditur menindih setiap bagian benda jaminan.

Hal itu membawa konsekwensi bahwa dalam hipotik pada prinsipnya tidak dikenak roya partiil, dalam arti pemberi hipotik tidak dapat menuntut roya sebagian dari keseluruhan jaminan hipotik kalau ia melunasi sebagian hutangnya, walaupun benda jaminannya sendiri bisa dibagi-bagi (deel-baar). Secara sukarela memang kreditur boleh membebaskan sebagian dari benda jaminan, asal benda tersebut merupakan benda yang berdiri sendiri, artinya bukan merupakan bagian yang tidak terbagi dari satu benda tertentu.

f.

Hipotik Atas Barang Yang Sudah Ada17

Pasal 1175 BW : hipotik hanya dapat diletakan atas benda-benda yang sudah ada. Hipotik atas benda-benda yang baru akan ada di kemudian hari adalah batal. Dengan mengingat pada ketentuan Pasal 314 ayat (3) KUHD jo Pasal 3
17

Ibid. hal 204

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

81

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

S.1933 : 48, maka kapal-kapal yang sedang dalam pembangunan termasuk dalam kelompok sudah ada. Ketentuan yang demikian merupakan

penjabaran lebih lanjut dari asas spesialitas, yang menghendaki adanya suatu pencatatan mengenai benda jaminan, sehingga pihak ketiga tahu betul benda mana saja yang telah dibebani hak hipotik, dan ini merupakan mekanisme perlindungan terhadap pihak ketiga.

g.

Hipotik Harus Didaftarkan

Dengan berlakunya prinsip publisitas maka hipotik harus didaftarkan. Dalam Pasal 1179 BW, Pasal 1180 BW, dan Pasal 1181 BW, jo Pasal 315 KUHD disebutkan bahwa hipotik lahir pada saat pendaftaran didalam register umum yang disediakan untuk itu. Dengan demikian karena hipotik lahir pada saat pendaftarannya, maka saat yang dipakai untuk menentukan hak hipotik mana yang lebih dahulu adalah saat pendaftarannya. Untuk pada Pesawat Udara / Helikopter, sesuai dengan Pasal 9 Undang Undang Nomor 15 Tahun 1992, maka harus didaftarkan ke pemerintah (departemen perhubungan). Dengan

dimilikinya tanda pendaftaran, maka hipotik dapat dikenakan (Pasal 12 ayat (1), serta pengenaan hipotik sebagaimana dimaksud Pasal 12 ayat (1) tersebut harus didaftarkan ke Menteri Perhubungan (Pasal 12 ayat (2). Untuk kapal, apabila sudah didaftar ke Pejabat Pendaftar dan Pencatat Balik Nama (PPPBN), Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 82

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

maka kapal dapat dibebabni hipotik (Pasal 49 Undang-Undang Pelayaran). Obyek kapal yang bisa didaftarkan adalah dengan ukuran sekurang-kurangnya 20 m3 (meter kubik) atau dinilai sama dengan itu (Pasal 314 KUHD).

3.

Lahirnya Hipotik

Perjanjian pembebanan (pemberian) Hipotik terjadi melalui proses, yaitu melalui 3 fase18 : a. FASE I : Perjanjian Kredit Dengan Kalusula Janji Untuk Memberi Hipotik Perjanjian ini bersifat konsensual obligatoir (pactum de contrahendo). Pemberi kredit bersama-sama dengan calon penerima kredit membuat perjanjian kredit,dibawah tangan atau dalam bentuk akta notaris. Perjanjian kredit ini disertai dengan janji untuk menyerahkan barang / benda yang dikenakan hak hipotik. Perjanjian ini merupakan perjanjian pokok dan perjanjian kredit tersebut merupakan perjanjian pendahuluan (voor-

overeenkomst) dari penyerahan kredit. Perjanjian Kredit dengan jaminan hipotik kapal
KREDITU R DEBITUR Ada Perjanjian Pokok (Perjanjian Kredit) + Ada Perjanjian Jaminan (Dalam Bentuk Hipotik)

b.

FASE II : Perjanjian Pembebanan / Pemberian Hipotik

Perjanjian pemberian hipotik adalah awal dari perjanjian kebendaan yang selesai dengan dilakukannya pendaftaran hipotik. Pada saat hipotik didaftarkan
18

Mariam Darus Badrulzaman, Op.Cit. hal 284. lihat juga J. Satrio, Op.Cit, hal 214-217.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

83

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

lahirlah hak kebendaan dari hipotik pendaftaran, sehingga hipotik sebagai hak kebendaan terjadi. Sepanjang pendaftaran belum dilakukan, maka karakter perjanjian pemberian hipotik sebagai perjanjian kebendaan belum sempurna karena belum final. Adapun perjanjian pembebanan hipotik tersebut adalah bersifat accessoir. Untuk setiap Akta Hipotik diterbitkan suatu grosse Akta Hipotik yang diberikan kepada penerima hipotik. Dalam hal grosse Akta Hipotik hilang dapat diterbitkan grosse akta pengganti dengan berdasarkan penetapan pengadilan. Janji dalam pemberian hipotik dilakukan melalui kuasa, maka bentuk surat kuasa itu harus dengan akta otentik.

Isi Akta Hipotik pada umumnya adalah sebagai berikut (Pasal 1186 BW) : a. Nama Para Pihak (Kreditor dan Debitor), dan tempat tinggal yang telah dipilih oleh kreditor untuk wilayah kantor pegawai penyimpanannya b. Jumlah Kredit c. tujuan Penggunaan Kredit d. Bunga Kredit e. Jangka Waktu Kredit f. Penyebutan pejabat oleh siapa atau dihadapan siapa akta yang dimaksud telah dibuat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 84

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


g. Janji-Janji Hipotik

2013

Kreditor & Debitor

Memasang hipotik

Pejabat Pendaftar

Mengeluarkan Akta Pembebanan Hipotik

c.

FASE III : Pendaftaran Hipotik

Dalam Pasal 1179 BW, Pasal 1180 BW, dan Pasal 1181 BW, jo Pasal 315 KUHD disebutkan bahwa hipotik lahir pada saat pendaftaran didalam register umum yang disediakan untuk itu. Dengan demikian karena hipotik lahir pada saat pendaftarannya, maka saat yang dipakai untuk menentukan hak hipotik mana yang lebih dahulu adalah saat pendaftarannya.

4.

Berakhirnya Hipotik

Hipotik berakhir karena : a. Pembayaran Penawaran pembayaran yang diikuti dengan consognatie Novasi (pembaruan hutang) Percampuran hutang Pembebasan hutang 85 Hapusnya perikatan pokok yang disebabkan karena :

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


b. c. d. e. f. g. umum h. Karena adanya penetapan

2013

Musnahnya benda atau hak yang dihipotikan Berakhirnya hak pemberi hipotik (1169 BW) Berakhirnya jangka waktu pemberian hipotik Terpenuhinya syarat batal dalam akta hipotik Karena pencabutan hak Benda jaminan dicabut haknya demi kepentingan

tingkatan-tingkatan

kedudukan kreditur oleh hakim (rangregeling)

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

86

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB XI

2013

JAMINAN PERORANGAN / PENANGGUNGAN (BORGTOCHT / GUARANTEE)

Jaminan Perorangan / Penanggungan / Borgtocht / Guarantee secara khusus diatur dalam Pasal 1820 hingga Pasal 1850 BW. 1. Definisi & Tujuan Penanggungan :

Penanggungan adalah suatu perjanjian dimana pihak ke-3, guna kepentingan debitur, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan debitur jika debitur tidak memenuhinya (1820 BW). Dari definisi di atas dapat diuraikan unsur-unsur pokok Penanggungan, yaitu : a. b. c. Penanggungan merupakan suatu perjanjian ; Adanya pihak ke-3 ; Guna kepentingan debitur, pihak ke-3 tersebut mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si debitur ; d. Jika debitur tidak memenuhinya.

Tujuan dan isi dari penanggungan adalah memberikan jaminan untuk dipenuhinya perutangan dalam perjanjian pokok. Adanya penanggungan itu dikaitkan dengan perjanjian pokok, mengabdi pada perjanjian pokok, sehingga perjanjian penanggungan itu bersidat accesoir. 2. Beberapa Alasan Penanggungan Digunakan Sebagai Lemabaga Jaminan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 87

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


a.

2013

Si penanggung (Borg) mempunyai persamaan kepentingan ekonomi di dalam usaha dari si peminjam (ada hubungan kepentingan antara penjamin dengan di peminjam)

b.

Bentuk penanggungan dalam praktek banyak berbentuk Bank Garansi, dimana yang bertindak sebagai penanggung adalah Bank

c.

Belakangan

ini

lembaga-lembaga

pemerintah

lazim

mensyaratkan

adanya penanggungan untuk kepentingan pengusaha-pengusaha kecil (Institutional Borgtoch)

3.

Karakteristik Yuridis Perjanjian Penanggungan

Berikut ini akan dijelaskan beberapa karakteristik yuridis dari Perjanjian Penanggungan : a. Jaminan Penanggungan Bersifat Perorangan

Perjanjian Penanggungan tergolong pada jaminan yang bersifat perorangan, yaitu adanya pihak ke-3 (badan hukum) yang menjamin memenuhi perutangan manakala debitur wanprestasi. Pada jaminan yang bersifat perorangan pemenuhan prestasi hanya dapat dipertahankan terhadap orang-orang

tertentu, yaitu si debitur atau penanggungnya. b. Bentuk Perjanjian Penanggungan

Mengenai bentuknya, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan adalah bersifat bebas, tidak terikat dalam bentuk tertentu, dalam artian dapat dilakukan secara lisan, tertulis, maupun dituangkan dalam akta. Namun demi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 88

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

kepentingan pembuktian, dalam praktek lazim terjadi bahwa bentuk perjanjian penanggungan dibuat dalam bentuk tertulis, baik dalam bentuk model-model tertentu dari Bank maupun akta notaris. Perjanjian penanggungan yang dibuat dalam akta mempunyai 2 fungsi utama, yaitu: Sebagai alat pembuktian tentang adanya penanggungan tersebut oleh penanggung; Memuat ketentuan-ketentuan ataupun janji yang mengatur

perjanjian penanggungan tersebut. c. Perjanjian Penanggungan Bersifat Accesoir

Adanya perjanjian penanggungan sangat dikaitkan dengan perjanjian pokok, dan mengabdi pada perjanjian pokok, sehingga : 1. 2. ; 3. Penanggung berhak mengajukan tangkisan (eksepsi) yang bersangkutan dengan perutangan pokok ; 4. Beban pembuktian yang tertuju pada si berhutang dalam batas-batas tertentu mengikat juga si penanggung ; 5. Penanggungan akan hapus dengan hapusnya perutangan pokok. kedudukannya sebagai perjanjian Accesoir, maka perjanjian Tidak ada penanggungan tanpa adanya perutangan pokok yang sah ; Besarnya penanggungan tidak akan melebihi besarnya perutangan pokok

Dalam

penanggungan memperoleh akibat-akibat hukum, yaitu : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 89

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


1. 2. 3. 4.

2013

Adanya perjanjian penanggungan tergantung pada perjanjian pokok ; Jika perjanjian pokok batal, maka perjanjian penanggungan ikut batal ; Jika perjanjian pokok hapus, maka perajanjian penanggungan ikut hapus ; Dengan diperalihkannya piutang pada perjanjian pokok, maka semua perjanjian-perjanjian accesior (accessoria) yang melekat pada piutang tersebut akan ikut beralih. Accessoria-accessoria yang ikut berlaih itu adalah : Piutang-piutang istimewa (privelegi), hipotik, gadai, dll ; Jika peralihan piutang itu terjadi karena adanya cessi dan

subrogasi, maka accessoria-accessoria itu ikut beralih tanpa adanya penyerahan khusus untuk itu. Sebagai pengecualian dari sifat accessoir penanggungan ialah bahwa orang

dapat mengadakan perjanjian penanggungan dan akan tetap sah sekalipun perjanjian pokoknya dibatalkan, sebagai akibat dari eksepsi yang hanya menyangkut diri pribadi debitur. Jadi dapat diadakan perjanjian penanggungan terhadap perjanjian pokok yang dapat dimintakan pembatalan (vernietigbaar). Misalnya : perjanjian yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa adalah vernietigbaar, sedangkan perjanjian penanggungannya tetap sah. d. Perjanjian Penanggungan Bersifat Subsidair

Sifat subsidair dari perjanjian penanggungan dapat dilihat menurut ketentuan Pasal 1820 BW, yaitu : Penanggung mengikatkan diri untuk memenuhi perutangan debitur, manakala si debitur tidak dapat memenuhinya . 90

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penanggung hanya terikat secara subsidair manakala debitur tidak memenuhi perikatannya, dan pada tingkat yang terakhir hanya debitur yang berkewajiban atas pemenuhan hutang tersebut. Hal demikian terbukti dari adanya hak regres dari si penanggung kepada debitur, setelah penanggung memenuhi prestasi. 4. Timbulnya Penanggungan

Ada beberapa bentuk kemungkinan terjadinya penanggungan, yaitu : a. Sebagai akibat adanya perjanjian pokok yang menyebutkan secara khusus adanya penanggungan tersebut, dengan cara kreditur ataupun debitur dapat menunjuk seseorang / badan hukum untuk menjadi

penanggung, atau kreditur dapat menunjuk seorang penanggung untuk memenuhi perutangan debitur tanpa persetujuan dan tanpa sepengetahuan debitur. b. Penanggungan dapat terjadi karena penetapan undang-undang, karena mewajibkan seseorang penanggung untuk memenuhi kewajiban-kewajiban tertentu, seperti : keadaan tidak hadir, hak pakai hasil, dan perwarisan. c. Penanggung juga dapat timbul karena adanya keputusan hakim atau ketetapan (beschiking) yang memutuskan perlu adanya penanggungan yang menanggung dipenuhinya perutangan. Si debitur yang diwajibkan tersebut harus mengajukan seorang penanggung yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Harus mempunyai kecakapan bertindak untuk mengikatkan diri ; 91

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Cukup mampu secara ekonomis untuk dapat memenuhi perutangan yang bersangkutan. Kemampuan ini harus ditinjau secara khusus menurut keadaannya di mana hakim bebas menentukan pernilaiannya ;

5.

Harus berdiam di wilayah Indonesia. Luasnya Penanggungan

Luasnya penanggungan dapat dilihat dari beberapa ketentuan berikut ini : a. Si penanggung dapat menanggung pembayaran seluruh perutangan pokok yang dibuat oleh debitur dan kreditur ; b. Si penanggung dapat juga menanggung sebagian saja dari perutangan pokok, atau dengan syarat-syarat yang ringan dari pada yang berlaku pada perutangan pokok ; c. Penanggung tidak dapat mengikatkan diri melebihi perutangan pokok atau dengan syarat yang lebih berat dari perutangan si berhutang ; d. Jika penanggungan diadakan melebihi atau dengan syarat-syarat yang lebih berat dari perutangan pokok, maka penanggungan itu tidak sama sekali batal melainkan hanya sah untuk apa yang diliputi oleh perutangan pokok (Pasal 1822 BW), sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam

penanggungan berlaku azas bahwa orang hanya memberikan tidak melebihi apa yang menjadi haknya ; e. Pada umumnya penanggungan diadakan untuk menanggung dipenuhinya pembayaran sejumlah uang, jika penanggungan itu diberikan untuk menaggung suatu prestasi tertentu yang tidak berwujud pembayaran Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 92

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

sejumlah uang, maka dengan memperhatikan ketentuan undang-undang, prestasi tersebut harus dapat diperhitungkan dengan jumlah uang ; f. Adakalanya penanggungan itu tidak terbatas hanya pelaksanaan

perjanjian pokok saja, melainkan

termasuk semua akibat hutangnya,

bahkan terhitung semua biaya-biaya gugatan yang diajukan terhadap si berhutang utama. Penanggung demikian disebut penanggung tak terbatas atau Onbeperkte Borgtocht (Pasal 1825 BW).

6.

Penanggungan Yang Dilakukan Lebih Dari Seorang Penanggung

Menurut ketentuan undang-undang dimungkinkan bahwa orang/bank dapat menjadi penanggung dari si penanggung. Jadi disini penanggung bukan menanggung agar debitur memenuhi kewajibannya melainkan menanggung agar si penanggung itu memenuhi kewajibannya. Penanggung disini diberikan untuk kepentingan kreditur. Adapun macam-macam penanggungan yang dilakukan lebih dari seorang penanggung adalah: a. Penanggung Utama (Hoofdborg) Penanggung Belakang

(Achterborg; Sub Borg; Sub Guarantor) Jika Penanggung Belakang (Achterborg) ini telah membayar seluruh hutang, maka ia mempunyai hak penuntutan kembali pembayaran (hak regres) terhadap si penanggung utama dan tidak mempunyai hak regres terhadap si debitur. Sebaliknya jika si penanggung utama telah membayar seluruh hutang Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 93

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

debitur ia tidak mempunyai hak regres terhadap penanggung belakang melainkan hanya hak regres kepada debitur b. Penanggung Pertama Penanggung Kedua

Dimungkinkan juga ada dua orang penanggung sama-sama mengikatkan diri selaku penanggung dari suatu hutang. Jadi disini terdapat Penanggung Pertama dan Penanggung Kedua, dengan pengertian bahwa kreditur terlebih dahulu harus meminta pemenuhan ini dari Penanggung dapat Pertama, baru jika dari

Penanggung

Pertama

tidak

memenuhi

pembayaran

kembali

piutangnya maka kreditur baru dapat menuntut pembayaran dari Penanggung Kedua. Jika Penanggung Pertama telah membayar seluruh hutang maka ia tidak mempunyai hak untuk meminta pemenuhan dari Penanggung Kedua,

melainkan langsung dapat meminta pemenuhan/hak verhaal langsung kepada si berhutang (debitur). c. Penanggung Solider

Dalam perjanjian penanggungan dapat terjadi kemungkinan bahwa seorang penanggung mengikatkan diri untuk suatu hutang bersama-sama dengan si berhutang (debitur) secara tanggung-menanggung, penanggungan jenis ini disebut dengan istilah Penanggung Solider (Hoofdelijke Borg). Dalam keadaan demikian kreditur dapat menuntut pemenuhan piutangnya baik kepada Penanggung Solider maupun kepada debitur masing-masing untuk seluruh hutang.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

94

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


7.

2013

Hubungan Dan Akibat-Akibat Hukum Antara Penanggung Dan Kreditur Serta Penanggung Dan Debitur

a.

Hubungan Dan Akibat-Akibat Hukum Antara Penanggung Dan Kreditur

Dalam melaksanakan kewajibannya oleh undang-undang si penanggung diberikan hak-hak tertentu yang sifatnya memberikan perlindungan bagi si penanggung. Hak-hak tersebut adalah : 1) Hak untuk menuntut terlebih dahulu (Voorrecht van Uitwinning) Dalam hal si debitur lalai memenuhi prestasi, si penanggung baru wajib membayar hutang kepada kreditur setelah menuntut agar harta benda si debitur lebih dahulu disita dan dilelang/dijual untuk melunasi hutangnya (Pasal 1831 BW). Jadi si penanggung baru wajib bertindak sebagai Borg jika barang-barang debitur telah disita dan dijual lebih dahulu, namun tidak mencukupi untuk membayar hutang. 2) Hak untuk membagi hutang (Voorrecht van Schuldsplitsing) Jika dalam perjanjian penanggungan terdapat beberapa orang yang

mengikatkan diri sebagai penanggung untuk suatu hutang dan untuk seorang debitur yang sama, maka masing-masing penanggung terikat untuk seluruh hutang (Pasal 1836 BW). Namun ketentuan undang-undang

memberikan hak bagi masing-masing penanggung ini untuk membagi hutangnya, yaitu pada waktu digugat untuk pemenuhan hutang dapat

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

95

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

menuntut agar si kreditur terlebih dahulu membagi-bagi piutangnya untuk bagian-bagian dari para penanggung (Pasal 1837 BW). 3) Hak untuk mengajukan tangkisan gugatan (Pasal 1849 & Pasal 1850 BW) Hak untuk mengajukan tangkisan dari si penanggung lahir dari perjanjian penanggungan, Disamping itu sehingga juga merupakan karena hak sifat dari penanggung dari sendiri.

lahir

accessoir

perjanjian

penanggungan. Si penanggung juga dapa mengajukan tangkisan-tangkisan yang dipakai oleh debitur terhadap kreditur yang lahir dari perjanjian pokok. Tangkisan yang lahir dari perjanjian penanggungan misalnya : jika perjanjian terjadi karena kesesatan, jika perjanjian dibuat dengan syarat atau dibuat dengan ketentuan waktu. Penanggung pada azasnya dapat mengajukan semua tangkisan yang bertalian dengan hutang tersebut, namun menurut undang-undang

penanggung tidak dapat mengajukan tangkisan yang terkait mengenai keadaan pribadi si debitur, yang pada umumnya terkait dengan ketidak mampuan si debitur, misalnya : tangkisan karena keadaan sursence dari debitur, tangkisan karena mendapat terme degrace, atau tangkisan karena keadaan overmacht dari debitur. Hak dari penanggung untuk mengajukan tangkisan itu pada azasnya adalah merupakan hak dari si penanggung sendiri, sehingga ia bebas untuk menggunakan tangkisan itu atau bahkan melepaskan hak atas tangkisan tersebut. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 96

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


4)

2013

Hak untuk diberhentikan dari penanggungan karena terhalang melakukan subrogasi akibat kesalahan debitur Si penanggung berhak untuk diberhentikan dari penanggungan jika karena perbuatan si kreditur si penanggung menjadi terhalang atau tidak dapat lagi bertindak terhadap hak-haknya dan hak-hak utama dari kreditur (Pasal 1848 BW). Hak demikian itu timbul sebagai akibat adanya ketentuan bahwa penanggung yang telah membayar, karena hukum (van Rechtswege) akan menggantikan semua hak-hak kreditur terhadap deditur. Jika ini tidak terlaksana karena kesalahan kreditur, maka akibatnya penanggung akan diberhentikan sebagai penanggung dan perjanjian penanggungannya akan gugur.

b.

Hubungan Dan Akibat-Akibat Hukum Antara Penanggung Dan Debitur

Dari ketentuan undang-undang dapat dsimpulkan bahwa penanggung yang telah membayar itu mempunyai dua macam hak menuntut kembali kepad si berhutang (debitur), yaitu : Pertama, si penanggung mempunyai hak menuntut kembali yang merupakan haknya sendiri terhadap debitur (Eigen Verhaalsrecht) (Pasal 1839 BW) atau yang dikenal sebagai Hak Regres. Kedua, si penanggung yang telah membayar itu karena hukum (Van Rechtwege) bertindak menggantikan kedudukan kreditur mengenai hak-haknya terhadap si debitur, dan menggantikan hak-hak kreditur karena subrogasi (Pasal 1840 BW).

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

97

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Dari dua macam hak menuntut diatas terdapat perbedaan mengenai akibat hukumnya, yaitu : Pada hak regres yang merupakan hak sendiri dari si penanggung , disini si penanggung mempunyai hak untuk menuntut kembali tidak hanya mengenai hutang yang telah dibayarnya melainkan juga berhak menuntut penggantian kerugian yang timbul karena akibat penjualan ataupun uitwinning terhadap barang si penanggung. Hak menuntut penggantian kerugian demikian tidak ada pada

penanggung yang menggantikan kedudukan kreditur, sebaliknya pada si penanggung yang menggantikan hak-hak kreditur karena subrogasi

memperoleh hak-hak kreditur terhadap si berhutang termasuk jaminanjaminan accessoria-accessoria yang melekat pada hak kreditur yang digantikannya. Misalnya jika hutang pokok itu dijamin dengan hipotik, maka sipenanggung juga memperoleh hak hipotik yang melekat pada hutang tersebut. Ada beberapa ketentuan tentang Hak Regres, yaitu: Jika penanggung telah membayar hutang debitur ia dapat menuntut kembali pembayaran (hak regres) tersebut dari si debitur, baik penanggungan itu terjadi dengan pengetahuan ataupun tanpa pengetahuan debitur; undang; Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 98 Hak regres tersebut timbul karena diberikan oleh undang-

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Hak regres tetap ada sekalipun tidak tercantum secara khusus dalam akta penanggungan ataupun surat-surat tanda bukti yang lainnya;

Hak regres timbul setelah penanggung membayar hutang debitur, baik pembayaran itu terjadi secara sukarela maupun atas dasar keputusan hakim yang memutuskan/menghukum penanggung untuk

membayar hutang tersebut; Hak regres dilakukan baik mengenai hutang pokok, bunga, maupun biaya-biaya yang timbul. Si penanggung juga berhak menuntut penggantian kerugian (yang berupa biaya, kerugian, dan bunga) jika ada alasan untuk itu (Pasal 1839 ayat (4) BW); Hak menuntut penggantian kerugian yang timbul dari hak regres meliputi pembayaran yang berupa : 1. 2. Pembayaran ongkos perkara Pembayaran bunga, yaitu bunga terhadap hutang pokok yang telah dibayar oleh penanggung 3. Pembayaran kerugian yang diderita akibat pemenuhan perutangan dalam penanggungan. Sementara hak-hak yang ikut beralih karena adanya subrogasi adalah hak-hak jaminan yang diadakan untuk menjamin dipenuhinya perutangan pokok, yaitu : 1. 2. Hak hipotik yang diberikan kepada kreditur sebagai jaminan; Hak gadai sebagai jaminan hutang yang diberikan kepada si penanggung; 99

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


3.

2013

Hak privelegi, ialah piutang yang didahulukan pemenuhannya sesuai dengan sifat piutangnya.

8.

Janji-Janji Dalam Penanggungan ketentuan-ketentuan ataupun janji-janji yang biasa

Adapun

diadakan/dicantumkan dalam akta penanggungan adalah : a. Janji agar penanggung melepaskan haknya untuk menuntut penjualan harta benda debitur terlebih dahulu; b. Janji agar penanggung melepaskan haknya untuk membagi-bagi hutang (Voorrecht van Schuldsplitsing); c. Janji agar penanggung melepaskan haknya untuk diberhentikan dari penanggungan, jika karena perbuatan kreditur mengakibatkan tidak dapat lagi menggantikan hak-haknya dan hak-hak utama dari kreditur ( Afstand van Bernoep, Pasal 1848 BW).

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

100

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB XII HAK TANGGUNGAN

2013

Diatur dalam Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (UUHT). Sebelum berlakunya Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 (Undang Undang Hak Tanggungan) dasar hukum yang digunakan untuk melakukan pengikatan jaminan atas tanah berikut benda-benda yang berkaitan dengan tanah menggunakan ketentuan Hipotik (Buku II Bab XXI Pasal 1162-1232 BW) dan Credietverband (Staatblaad 1908-542 sebagaimana telah diubah dengan Staatblaad 1937-190). Keberadaan Hipotik dan Credietverband masih tetap berlaku sebagai dasar hukum untuk mengisi kekosongan hukum dibidang pembebanan tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah sebagai jaminan kredit. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 51 dan Pasal 57 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Undang Undang Pokok Agraria / UU PA) Pasal 51 : Hak Tanggungan yang dapat dibebankan pada tanah dengan Hak Milik, Hak Guna Bangunan, dan Hak Guna Tanah diatur dengan undang-undang. Pasal 57 : Selama undang-undang mengenai Hak Tanggungan tersebut dalam Pasal 51 belum terbentuk, maka yang berlaku adalah ketentuan mengenai Hipotik tersebut dalam Buku II Bab XXI Pasal 1162-1232 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 101

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

BW dan Credietverband yang diatur dalam Staatblaad 1908-542 sebagaimana telah diubah dengan Staatblaad 1937-190.

Kebutuhan akan undang-undang yang mengatur tentang Hak Tanggungan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Pasal 51 UUPA baru bisa terwujud setelah 36 tahun kemudian, dengan berlakunya Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 yang diundangkan pada tanggal 9 April 1996, yang memiliki beberapa tujuan pokok, yaitu19 : a. Mengganti ketentuan Hipotik dan Credietverband dalam hal yang berkaitan dengan tanah, sementara yang berkaitan dengan pesawat udara / helikopter dan kapal laut masih menggunakan ketentuan Hipotik. b. Hipotik dan Credietverband merupakan produk hukum kolonial yang pelaksanaannya tidak sesuai dengan asas hukum tanah nasional, sehingga dengan berlakunya Hak Tanggungan telah mewujudkan unifikasi hukum tanah nasional c. Asas-asas dan ketentuan pokok dalam Hipotik masih dipergunakan dalam ketentuan Hak Tanggungan, dan hanya saja di dalam ketentuan Hak dan

Tanggungan

asas-asas

ketentuan

pokok

disempurnakan

disesuaikan dengan ketentuan hukum tanah nasional dan perkembangan perkreditan dan kemajuan ekonomi d. Hipotik dan Credietverband dalam pelaksanaannya banyak menimbulkan perbedaan penafsiran yang menimbulkan ketidakpastian hukum, sehingga
19

Sutarno, Op. Cit. hal 152-153.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

102

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

keberadaan undang Undang Hak Tanggungan menyelesaikan ketidakpastian dan perbedaan penafsiran tersebut. Beberapa perbedaan penafsiran

tersebut dapat dilihat pada permasalahan berikut ini, yaitu : Sejak kapan pemegang jaminan (kreditor) mempunyai hak

preferen, apakah sejak dibuat akta hipotik ? -

hipotik atau sejak pendaftaran akta

Dimana dicantumkan titel eksekutorial, apakah di dalam akta Hipotik atau di sertifikat Hipotik ?

Pelaksanaan eksekusi apakah langsung melalui kantor lelang atau fiat pengadilan ?

e.

Undang Undang Hak Tanggungan memperluas objek Hak Tanggungan sesuai dengan kebutuhan perkreditan dan perkembangan ekonomi,

misalnya : tanah dengan status Hak Pakai, tanah yang buktinya masih berupa girik dan petuk dapat dibebani Hak Tanggungan f. Undang Undang Hak Tanggungan diharapkan dapat memenuhi

kebutuhan pembangunan nasional khususnya dalam dalam bidang ekonomi yang membutuhkan pendanaan yang besar dan cepat, sehingga

membutuhkan keberadaan lembaga jaminan yang kuat dan mampu memberikan kepastian hukum bagi para pihak.

Definisi & Unsur-Unsur Hak Tanggungan Pasal 1 ayat (1) UU No 4 Thn 1996 : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 103

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Hak Tanggungan adalah jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah seperti dalam UUPA, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap krediturkreditur lain.

Dari pengertian tersebut dapat diuraikan unsur-unsur dari Hak Tanggungan, yaitu20 : a. b. Hak Tanggungan adalah hak jaminan untuk pelunasan hutang Objek Hak Tanggungan adalah hak atas tanah sesuai yang diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) c. Hak Tanggungan dapat dibebankan atas tanahnya (hak atas tanah) saja, tetapi dapat pula dibebankan berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu d. e. Utang yang dijamin harus suatu hutang tertentu Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.

1.
20

Asas-Asas Hak Tanggungan21

Remy Sjahdaeni, Hak Tanggungan, Asas-Asas, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan, Penerbit Alumni, Bandung, 1999,. hal 11. 21 Dikutip dan Disimpulkan secara langsung dari buku : Remy Sjahdaeni, Hak Tanggungan, AsasAsas, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan , Penerbit Alumni, Bandung, 1999,. hal 15-47. dan buku : Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung, 2004, hal 154-162.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

104

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Hak Tanggungan sebagai hak jaminan sebagaimana diatur memiliki beberapa asas-asas yang membedakannya dengan lembaga jaminan yang lain, yaitu : a. Hak Tanggungan memberikan Hak Preferent (droit de

preference) atau kedudukan yang diutamakan kepada Kreditor tertentu terhadap Kreditor yang lain (Pasal 1 ayat (1) UUHT)

Dari definisi Pasal 1 ayat (1) dapat diketahui bahwa : Hak Tanggungan memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Kreditor tertentu yang dimaksud yang memperoleh atau yang menjadi pemegang Hak Tanggungan tersebut. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor

tertentu terhadap kreditor-kreditor yang lain menurut angka 4 Penjelasan Umum UUHT adalah : Bahwa jika debitor cidera janji, kreditor pemegang Hak Tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak mendahulu dari pada kreditor-kreditor yang lain. Kedudukan diutamakan tersebut sudah barang tentu tidak mengurangi preferensi piutang-piutang negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Juga hal tersebut dapat diketahui dari ketentuan Pasal 20 ayat (1) UUHT: Apabila kreditor cidera janji, maka berdasarkan: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 105

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

a. Hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, atau ; b. Titel eksekutorial yang terdapat dalam sertipikat Hak Tanggungan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) Objek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahului dari pada kreditor-kreditor yang lain. b. Hak Tanggungan tidak dapat dibagi-bagi (Pasal 2 UUHT)

Pasal 2 ayat (1) : Hak Tanggungan mempunyai sifat tidak dapat dibagi-bagi, kecuali jika diperjanjikan dalam akta pemberian hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Maksud dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) diatas ialah, Hak Tanggungan membebani secara utuh obyek Hak Tanggungan dan setiap bagian dari padanya. Pelunasan sebagian dari hutang yang dijamin tidak berarti

terbebasnya sebagian objek Hak Tanggungan dari beban Hak Tanggungan, melainkan Hak Tanggungan itu tetap membebani seluruh obyek Hak

Tanggungan untuk sisa hutang yang belum dilunasi. Menurut Pasal 2 ayat (1) jo ayat (2) UUHT, sifat tidak dapat dibagi-bagi dapat disimpangi oleh para pihak apabila para pihak menginginkan dan

memperjanjikannya dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan, dengan syarat :

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

106

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


(2) tanah. (3)

2013

Hak Tanggungan itu dibebankan kepada beberapa hak atas

Pelunasan hutang yang dijamin dilakukan dengan cara angsuran yang besarnya sama dengan nilai masing-masing hak atas tanah yang merupakan bagian dari objek Hak Tanggungan, yang akan

dibebeaskan dari Hak Tanggungan tersebut, sehingga kemudian Hak Tanggungan itu hanya membebani sisa objek Hak Tanggungan untuk menjamin sisa hutang yang belum dilunasi. Penyimpangan/pengecualian dari ketentuan tersebut adalah untuk menampung kebutuhan perkembangan dunia perkreditan, antara lain untuk mengakomodasi keperluan pendanaan pembangunan komplek perumahan yang semula

menggunakan kredit untuk pembangunan seluruh komplek dan kemudian akan dijual kepada pemakai satu-persatu, sedangkan untuk membayarnya pemakai akhir ini juga menggunakan kredit dengan jaminan rumah bersangkutan. c. Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan pada hak atas tanah yang telah ada. Pasal 8 ayat (2) UUHT menentukan bahwa kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan (yaitu memberikan Hak Tanggungan) harus ada pada pemberi Hak Tanggungan pada saat pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan. Dalam ketentuan ini Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan pada hak atas tanah yang telah dimiliki oleh pemegang Hak Tanggungan, oleh karena itu hak Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 107

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

atas tanah yang baru akan dipunyai oleh seseorang dikemudian hari tidak sapat dijaminkan dengan Hak Tanggungan bagi pelunasan suatu hutang. Begitu juga tidaklah mungkin untuk membebankan Hak Tanggungan pada suatu hak atas tanah yang baru akan ada dikemudian hari. d. Hak Tanggungan dapat dibebankan selain atas tanahnya juga berikut benda-benda yang berkaitan dengan tanah tersebut. Berdasarkan Pasal 4 ayat (4) UUHT, Hak Tanggungan dapat dibebankan bukan saja pada hak atas tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan, tetapi juga benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yaitu : bangunan, tanaman, dan hasil karya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut. Benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang dapat dibebani dengan Hak Tanggungan itu bukan saja terbatas kepada benda-benda yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yang bersangkutan (Pasal 4 ayat (4) UUHT), tetapi juga yang bukan dimiliki oleh pemegang hak atas tanah tersebut (Pasal 4 ayat (5) UUHT). e. Hak Tanggungan dapat dibebankan juga atas benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang baru akan ada dikemudian hari. Meskipun Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan atas tanah yang telah ada, sepanjang Hak Tanggungan itu dibebankan pula atas benda-benda yang berkaitan dengan tanah, ternyata Pasal 4 ayat (4) UUHT memungkinkan Hak Tanggungan dapat dibebankan pula atas benda-benda yang berkaitan dengan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

108

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

tanah tersebut sekalipun benda-benda tersebut belum ada, tetapi baru akan ada dikemudian hari. Dalam pengertian yang baru akan ada ialah benda-benda yang pada saat Hak Tanggungan dibebankan belum ada sebagai bagian dari tanah (hak atas tanah) yang dibebani Hak Tanggungan tersebut. Misalnya karena benda-benda tersebut baru ditanam (untuk tanaman) atau baru dibangun (untuk bangunan dan hasil karya) kemudian setelah Hak Tanggungan itu dibebankan atas tanah (hak atas tanah) tersebut. f. Perjanjian Hak Tanggungan adalah perjanjian Accessoir

Perjanjian Hak Tanggungan bukan merupakan perjanjian yang berdiri sendiri, keberadaannya dikarenakan adanya perjanjian pokok / perjanjian induk. Perjanjian pokok bagi perjanjian Hak Tanggungan adalah perjanjian hutang piutang / perjanjian kredit yang menimbulkan hutang yang dijamin. Hal ini dijelaskan pada butir 8 Penjelasan Umum UUHT, yaitu : Oleh karena Hak Tanggungan menurut sifatnya merupakan ikutan atau accessoir pada suatu piutang tertentu, yang didasarkan pada suatu perjanjian hutang piutang atau perjanjian lain, maka kelahiran dan keberadaannya ditentukan oleh adanya piutang yang dijamin pelunasannya Bahwa perjanjian Hak Tanggungan adalah suatu perjanjian accessoir adalah berdasarkan Pasal 10 ayat (1) dan Pasal 18 ayat (1) huruf a UUHT, yaitu :

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

109

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Pasal 10 ayat (1) UUHT menentukan bahwa perjanjian untuk memberikan Hak Tanggungan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang-piutang yang bersangkutan

Pasal 18 ayat (1) huruf a menentukan Hak Tanggungan hapus karena hapusnya hutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan

g.

Hak Tanggungan Dapat Dijadikan Jaminan Untuk Utang Yang Baru akan Ada

Menurut ketentuan Pasal 3 ayat (3) UUHT, Hak Tanggungan dapat dijadikan untuk: 1. 2. Utang yang telah ada Utang yang baru akan ada, tetapi telah diperjanjikan sebelumnya dengan jumlah tertentu 3. Utang yang baru akan ada tetapi telah diperjanjikan sebelumnya dengan jumlah yang pada saat permohonan eksekusi hak tanggungan diajukan ditentukan berdasarkan perjanjian utang piutang atau perjanjian lain yang menimbulkan hubungan utang piutang yang

bersangkutan. Dengan demikian utang yang dijamin dengan hak tanggungan dapat berupa utang yang sudah ada maupun yang belum ada, yaitu yang baru akan ada dikemudian hari, tetapi harus sudah diperjanjikan sebelumnya. Dijadikannya hak tanggungan untuk menjamin utang yang baru akan ada dikemudian hari adalah untuk menampung kebutuhan dunia perbankan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 110

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

berkenaan dengan timbulnya utang dari nasabah Bank sebagai akibat dilakukannya pencairan atas suatu garansi Bank. Juga untuk menampung timbulnya utang sebagai akibat pembebanan bunga atas pinjaman pokok dan pembebanan ongkos-ongkos lain yang jumlahnya baru dapat ditentukan kemudian. h. Hak Tanggungan Dapat Menjamin Lebih Dari Satu Utang

Pasal 3 ayat (2) UUHT menentukan: Hak tanggungan dapat diberikan untuk suatu utang yang berasal dari satu hubungan hukum atau untuk satu utang atau lebih yang berasal dari beberapa hubungan hukum Dari ketentuan pasal diatas memungkinkan pemberian satu hak tanggungan untuk: 1. Beberapa kreditor yang memberikan utang kepada satu debitor berdasarkan satu perjanjian utang piutang 2. Beberapa kreditor yang memberikan utang kepada satu debitor berdasarkan beberapa perjanjian utang-piutang bilateral antara masing-masing kreditor dengan debitor yang bersangkutan. Penjaminan dengan hanya berupa satu hak tanggungan bagi beberapa kreditor berdasarkan beberapa perjanjian kredit bilateral antara debitor yang sama dengan masing-masing kreditor itu, hanya mungkin dilakukan apabila

sebelumnya telah disepakati oleh semua kreditor.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

111

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


i.

2013

Hak Tanggungan Mengikuti Objeknya Dalam Tangan Siapapun Objek Tanggungan Itu Berada

Pasal 7 UUHT menetapkan asas bahwa hak tanggungan tetap mengikuti objeknya dalam tangan siapapun objek tersebut berada. Dengan demikian hak tanggungan tidak akan berakhir sekalipun objek hak tanggungan ini beralih kepada pihak lain oleh karena sebab apapun juga. Berdasarkan asas ini pemegang hak tanggungan akan selalu dapat melaksanakan haknya dalam tangan siapapun obyek tanggungan itu berpindah. Ketentuan ini merupakan penjelasan dari asas yang disebut Droit de Siute atau Zaakgevolg. j. Di Atas Hak Tanggungan Tidak Dapat Diletakan Sita Oleh Pengadilan Sudah seharusnya menurut hukum terhadap hak tanggungan tidak dapat diletakan sita. Alasannya adalah karena tujuan dari (diperkenalkannya) hak jaminan pada umumnya dan khususnya hak tanggungan itu sendiri. Tujuan hak tanggungan adalah untuk memberikan jaminan yang kuat bagi kreditor yang menjadi pemegang hak tanggungan itu untuk didahulukan dari kreditor-kreditor lain. Bila terhadap hak tanggungan itu dimungkinkan sita oleh pengadilan, maka hal tersebut akan meniadakan kedudukan yang diutamakan dari kreditor pemegang hak tanggungan. Hal tersebut sebelumnya sudah sejalan dengan yurisprudensi, yaitu dalam Putusan Mahkamah Agung No.394K/Pdt/1984 tanggal 31 Mei 1985, yang

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

112

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

berpendirian bahwa barang-barang yang sudah dijadikan jaminan utang tidak dapat dikenakan sita jaminan. k. Hak Tanggungan Menganut Asas Spesialitas

Asas spesialitas menghendaki bahwa hak tanggungan hanya dapat dibebankan atas tanah yang ditentukan secara spesifik. Dianutnya asas spesialitas ini dapat disimpulkan dari ketentusn Pasal 8 dan Pasal 11 ayat (1) huruf e UUHT. Pasal 8 UUHT menentukan bahwa pemberi hak tanggungan harus mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak

tanggungan yang bersangkutan (Pasal 8 ayat (1) UUHT) dan kewenangan itu harus ada pada saat pendaftaran hak tanggungan dilakukan (Pasal 8 ayat (2) UUHT), ketentuan tersebut hanya mungkin terpenuhi apabila objek hak tanggungan telah ada dan jelas. Selanjutnya Pasal 11 ayat (1) huruf e menetukan bahwa di dalam akta pemberian hak tanggungan wajib dicantumkan uraian yang jelas mengenai objek hak tanggungan, tidaklah mungkin untuk memberikan uraian yang jelas sebagaimana yang dimaksud itu apabila objek hak tanggungan belum ada dan belum diketahui ciri-cirinya. Kata-kata uraian yang jelas mengenai objek hak tanggungan dalam Pasal 11 ayat (1) huruf e menunjukan bahwa objek hak tanggungan harus secara spesifik dapat ditunjukkan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan. l. Hak Tanggungan Menganut Asas Publisitas

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

113

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Terhadap hak tanggungan berlaku asas publisitas atau asas keterbukaan, hal ditentukan dalam Pasal 13 UUHT, yang menentukan bahwa pemberian hak tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan. Pendaftaran pemberian hak tanggungan merupakan syarat mutlak untuk lahirnya hak tanggungan tersebut dan mengikatnya hak tanggungan terhadap pihak ketiga (Penjelasan Pasal 13 ayat (1) UUHT) Tujuan publisitas pencatatan hak tanggungan adalah untuk memberikan informasi kepada pihak ketiga dapat mengetahui tentang adanya pembebanan hak tanggungan atas suatu hak atas tanah. m. Hak Tanggungan Dapat Diberikan Dengan Disertai Janji-Janji Tertentu Menurut Pasal 11 ayat (2) UUHT, hak tanggungan dapat diberikan dengan disertai janji-janji tertentu. Janji-janji tersebut dicantumkan dalam Akta

Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan. Adapun contoh-contoh dari janji-janji tersebut dapat dilihat dalam Pasal 11 ayat (2) UUHT. Janji-janji yang disebutkan dalam pasal tersebut bersifat fakultatif dan tidak limitatif. Bersifat fakultatif karena janji-janji itu boleh mencantumkan atau tidak dicantumkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Bersifat limitatif karena dapat pula diperjanjikan janji-janji lain selain dari janji-janji yang telah disebutkan dalam Pasal 11 ayat (2) UUHT. n. Objek Hak Tanggungan Tidak Boleh Diperjanjikan Untuk Dimiliki Sendiri Oleh Pemegang Hak Tanggungan Bila Debitur Cidera Janji Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 114

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Menurut Pasal 12 UUHT janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang hak tanggungan untuk memiliki objek hak tanggungan apabila debitor cidera janji batal demi hukum. Larangan pencantuman janji yang demikian

dimaksudkan untuk melindungi debitur agar dalam kedudukan yang lemah dalam menghadapi kreditor (Bank) karena dalam keadaan sangat

membutuhkan utang (kredit) terpaksa menerima janji dengan persyaratan yang berat dan merugikan baginya. o. Pelaksanaan Eksekusi Hak Tanggungan Mudah Dan Pasti

Menurut Pasal 6 UUHT apabila debitor cidera janji pemegang hak tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek hak tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Pasal tersebut memberikan hak bagi pemegang hak tanggungan untuk melakukan parate eksekusi, artinya pemegang hak

tanggungan tidak perlu bukan saja memperoleh persetujuan dari pemberi hak tanggungan, tetapi juga tidak perlu meminta penetapan dari pengadilan setempat apabila akan melakukan eksekusi atas hak tanggungan yang menjadi jaminan utang debitor dalam hal debitor cidera janji, pemegang hak

tanggungan dapat langsung datang dan meminta kepada Kepala Kantor Lelang untuk melakukan pelelangan atas objek hak tanggungan yang bersangkutan. Hak Parate Eksekusi (eksekusi langsung) dalam hak tanggungan diberikan oleh Pasal 6 UUHT dapat dilakukan dengan atau tanpa diperjanjikan terlebih dahulu, hak tersebut demi hukum dipunyai oleh pemegang hak tanggungan. Sertifikat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 115

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Hak Tanggungan yang merupakan tanda bukti adanya hak tanggungan yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan dan yang memuat irah-irah dengan katakata Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa , mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti Grosse Acte sepanjang mengenai hak atas tanah (Pasal 14 ayat (1), (2), dan (3). Dengan demikian untuk melakukan eksekusi terhadap hak tanggungan yang telah dibebankan atas tanah dapat dilakukan tanpa harus melalui proses gugatmenggugat (proses litigasi/pengadilan) apabila debitor cidera janji.

2.

Pemberi Dan Pemegang Hak Tanggungan

Pasal 8 UUHT menentukan bahwa pemberi hak tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak tanggungan yang

bersangkutan. Dengan demikian karena objek hak tanggungan adalah Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah Negara. Sejalan dengan pasal tersebut yang dapat menjadi pemberi hak tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum yang dapat mempunyai Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah Negara. Menurut Pasal 9 UUHT, pemegang hak tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang, dengan demikian yang dapat menjadi pemegang hak tanggungan adalah siapapun juga Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 116

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

yang berwenang melakukan perbuatan perdata untuk memberikan utang, yaitu baik itu orang perseorangan warga negara Indonesia maupun orang asing. 3. Obyek Hak Tanggungan

Yang menjadi obyek hak tanggungan adalah (Pasal 4 UUHT): a. Hak-hak atas tanah: Hak Milik Hak Guna Usaha Hak Guna Bangunan Hak Pakai atas Tanah Negara Hak Pakai atas Tanah Hak Milik

b. Benda-benda yang berkaitan dengan tanah: Bangunan, (Rumah Susun yang berdiri diatas tanah Hak Milik, HGB, Hak Pakai atas Tanah Negara), Tanaman, dan Hasil Karya. 4. Beralihnya Hak Tanggungan

Ada beberapa sebab terjadinya peralihan pada Hak Tanggungan (Pasal 16 UUHT), yaitu: a. b. c. d. e. Peralihan karena hukum Peralihan karena Cessie dan Subrogasi Peralihan karena Akuisisi, Merger, dan Konsolidasi Peralihan karena sebab penjualan penyertaan dalam kredit sindikasi Peralihan hak tanggungan sebagai akibat penggantian debitur karena novasi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 117

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


f.

2013

Peralihan hak tanggungan karena penggantian debitur bukan karena perjanjian novasi tetapi dengan pembuatan perjanjian pengambilalihan utang yang tidak mengakhiri perjanjian utang-piutang semula

g.

Peralihan

hak

tanggungan

karena

peralihan

utang

debitur

yang

meninggal dunia kepada ahli warisnya Pendaftaran beralihnya hak tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan mencatatnya pada buku tanah hak tanggungan dan buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek hak tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat-sertifikat hak tanggungan dan sertifikat-sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan (Pasal 16 ayat (3) UUHT). 5. UUHT) Tahap-tahapnya : 1. 2. Perjanjian utang-piutang/perjanjian kredit Perjanjian pemberian Hak Tanggungan dibuat akta pemberian hak tanggungan oleh PPAT. 3. 6. Pendaftaran Hak Tanggungan oleh kantor pertanahan Dicatat dalam buku tanah Hak Tanggungan lahir pada hari pencatatan dalam buku tanah Sertifikat hak tanggungan diserahkan kepada pemegang saham Hapusnya Hak Tanggungan (Pasal 18 UUHT) Proses Terjadinya Hak Tanggungan (Pasal 10-14

Hak Tanggungan hapus karena: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 118

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


a. b. c. Hapusnya utang yang dijamin Dilepaskan oleh pemegang Hak Tanggungan

2013

Pembersihan berdasarkan penetapan peringkat oleh ketua Pengadilan Negeri

d.

Hapusnya Hak atas Tanah (tanah dijadikan fasilitas umum dapat ganti rugi oleh pemerintah)

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

119

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan BAB XIII FIDUSIA

2013

Undang-undang yang mengatur pemberian kredit dengan jaminan benda bergerak melalui Gadai yang diatur buku II Pasal 1150 1160 BW, apabila mencari pinjaman atau kredit akan terbentur pada syarat In Bezit Stelling, yaitu salah satu syarat yang mengharuskan bahwa benda bergerak yang menjadi jaminan harus ditarik/berada dalam kekuasaan pemegang gadai/pemberi kredit (kreditor). Syarat In Bezit Stelling dirasakan sangat berat oleh pemohon kredit dengan jaminan benda bergerak, karena benda yang dijaminkan tersebut justeru sangat diperlukan untuk menjalankan usaha atau kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan demikian dan untuk menyesuaikan

perkembangan dan kebutuhan masyarakat serta untuk menghindari ketentuan Pasal 1152 BW (yang mengharuskan barang jaminan ditarik dari kekuasaan pemiliknya) maka yurisprudensi memungkinkan adanya lembaga jaminan fidusia, yaitu pada Keputusan Mahkamah Agung No. 372K/Sip/1970 tanggal 1 September 1970 yang memutuskan bahwa fiducia hanya berlaku untuk benda bergerak saja. Jaminan dengan menggunakan lembaga fidusia yang

dipindahkan atau diserahkan adalah hak atas benda (hak kepemilikan) sebagai jaminan atas dasar kepercayaan, sedangkan bendanya sendiri masih tetap dalam kekuasaan debitur/pemilik barang, sehingga masih dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan usaha si debitur/pemilik barang. Melihat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 120

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

kebutuhan yang cukup besar bagi lalu lintas perkreditan nasional serta untuk memenuhi aspek perlindungan dan kepastian hukum bagi para pihak, maka pemerintah mengeluarkan regulasi terkait dengan pengaturan fidusia, yaitu melalui Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, dasar hukum pengaturan fidusia diatur oleh yurisprudensi dan beberapa peraturan

perundang-undangan, yaitu: 1. 2. Arrest Hoogerechtshop tanggal 18 Agustus 1932 T, 136 No. 311 Keputusan Pengadilan Tinggi Surabaya tanggal 22 Maret 1951 Nomor 158/150 PDT 3. Keputusan Mahkamah Agung No. 372K/Sip/1970 tanggal 1 September 1970 4. Dalam perkembangannya Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman, yang menentukan bahwa rumahrumah yang dibangun diatas tanah yang dimiliki oleh pihak lain dapat dibebani jaminan fidusia 5. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun mengatur mengenai hak milik atas satuan rumah susun yang dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani fidusia jika tanah hak pakai atas tanah negara

1.

Definisi & Unsur-Unsur Fidusia 121

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda

2013
atas dasar

kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda (Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999).

Dari definisi diatas, maka unsur atau elemen pokok dari fidusia adalah: a. b. c. Pengalihan hak kepemilikan suatu benda Atas dasar kepercayaan Benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam

penguasaan pemilik benda

Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur yang lain. Dari pengertian tersebut maka unsur atau elemen pokok dari jaminan fidusia, yaitu: a. b. Jaminan fidusia adalah agunan (jaminan) untuk pelunasan utang Utang yang dijamin jumlahnya tertentu 122

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


c.

2013

Obyek jaminan fidusia adalah benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan yang penguasaan benda jaminan tersebut masih dalam kekuasaan pemberi fidusia

d.

Jaminan fidusia memberikan hak preferent atau hak diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur lain

e.

Hak milik atas benda jaminan berpindah kepada kreditur atas dasar kepercayaan tetapi benda tersebut masih dalam penguasaan pemilik benda.

2.

Sifat-Sifat Jaminan Fidusia

Jaminan fidusia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 mempunyai hak-hak berikut ini: a. Jaminan Fidusia Mempunyai Sifat Accessoir

Artinya adalah bahwa jaminan fidusia bukan hak yang berdiri sendiri tetapi lahirnya, eberadaannya, atau hapusnya tergantung pada perjanjian pokok. Sifat accessoir dari jaminan fidusia ini dapat dilihat pada: Pasal 4 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999, bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yangmenimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi prestasi. Pasal 25 juga menegaskan bahwa jaminan fidusia hapus karena hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia. Jaminan fidusia yang bersifat ikutan atau accessoir ini menimbulkan konskwensi dalam hal piutang yang dijamin dengan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 123

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

jaminan fidusia beralih kepada kreditur lain maka jaminan fidusia yang menjaminnya demi hukum ikut beralih kepada kreditur baru. Pencatatan peralihan hak jaminan fidusia didasarkan pada akta beralihnya piutang yang dijamin, misalnya akta cessie dalam bentuk akta dibawah tangan atau akta otentik. Terjadinya peralihan piutang perlu didaftarkan oleh kreditur baru kepada Kantor Pendaftar Fidusia dan juga diberitahukan kepada debitur. b. Jaminan Fidusia Mempunyai Sifat Droit De Suite

Prinsip Droit De Suite dalam hal ini terkait dengan hak mutlak atas kebendaan, dimana penerima jaminan fidusia/kreditur mempunyai hak mengikuti benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dalam tangan siapa pun benda itu berada. Namun sifat ini dikecualikan untuk obyek jaminan fidusia yang berbentuk benda persediaan (inventory). Obyek jaminan fidusia yang berbentuk benda persediaan dalam dunia perdagangan dapat dijual setiap saat karena benda persediaan tersebut merupakan barang-barang dari hasil produksi industri yang memang untuk diperdagangkan. c. Jaminan Fidusia Memberikan Hak Preferent

Kreditur sebagai penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan (preferent) terhadap kreditur lainnya, artinya jika debitur wanprestasi maka penerima fidusia/kreditur mempunyai hak untuk menjual atau mengeksekusi benda jaminan fidusia dan kreditur mendapat hak untuk didahulukan untuk mendapat pelunasan utang dari hasil eksekusi benda jaminan fidusia tersebut.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

124

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


d.

2013

Jaminan Fidusia Untuk Menjamin Utang Yang Telah Ada Atau Akan Ada

Utang yang dijamin pelunasannya dengan fidusia harus memenuhi syarat sesuai Pasal 7 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999, yaitu: 1. Utang yang telah ada, artinya besarnya utang yang ditentukan dalam perjanjian kredit. 2. Utang yang akan timbul dikemudian hari yang telah diperjanjikan dalam jumlah tertentu, misalnya utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka

pelaksanaan Bank Garansi. 3. Utang yang pada saat eksekusi dapat ditentukan jumlahnya berdasarkan perjanjian kredit yang menimbulkan kewajiban memenuhi suatu prestasi. e. Jaminan Fidusia Dapat Menjamin Lebih Dari Satu Utang

Pasal 8 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 menegaskan bahwa jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu penerima fidusia atau kepada kuasa atau wakil dari penerima fidusia tersebut. Dari ketentuan pasal tersebut maka benda jaminan fidusia dapat dijaminkan oleh debitur kepada beberapa kreditur. Dari penjelasan pasal tersebut yang dimaksud lebih dari satu penerima fidusia atau lebih sari satu kreditur hanya berlaku dalam rangka pembiayaan kredit secara konsorsium atau sindikasi, artinya seorang kreditur secara bersamaFakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 125

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

sama dengan kreditur lain memberikan kredit kepada seorang debitur dalam satu perjanjian kredit. Jaminan fidusia yang diberikan debitur digunakan untuk menjamin kepada semua kreditur itu secara bersama. Antara kreditur satu dengan kreditur lainnya mempunyai kedudukan yang sama atas jaminan fidusia, tidak ada kreditur yang memiliki peringkat yang lebih tinggi dibanding kreditur lainnya. Dari ketentuan Pasal 8 tersebut tidak berlaku ketentuan tentang adanya peringkat jaminan fidusia dengan peringkat pertama, kedua, dan seterusnya, hal ini mengacu pada Pasal 17 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999, yaitu pemberi fidusia/debitur dilarang melakukan fidusia ulang terhadap benda yang menjadi obyek jaminan fidusia yang sudah terdaftar. f. Jaminan Fidusia Mempunyai Kekuatan Eksekutorial

Kreditur sebagai penerima fidusia mempunyai hak untuk mengeksekusi benda jaminan bila debitur cidera janji. Hak untuk mengajukan eksekusi tersebut berdasarkan Pasal 15 ayat (3) Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 yang menegaskan bahwa apabila debitur cidera janji, kreditur sebagai penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi obyek jaminan fidusia atas kekuasaan sendiri. Hak ditegaskan dalam Pasal 15 ayat (1) & (2) yang intinya merupakan perwujudan dari Sertifikat Jaminan Fidusia yang mempunyai sifat eksekutorial, ditandai dengan dicantumkannya kata-kata Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang memiliki kedudukan sama dengan putusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 126

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap, sehingga hal tersebut tidak perlu lagi meminta fiat dari pengadilan. Hak kreditur untuk menjual sendiri benda jaminan dinamakan Parate Eksekusi. g. Jaminan Fidusia Mempunyai Sifat Spesialitas Dan Publisitas

Sifat spesialitas adalah uraian yang jelas dan rinci mengenai obyek jamina fidusia. Benda yang menjadi obyek jaminan fidusia harus diuraikan secara jelas dan rinci dengan cara mengindentifikasi benda jaminan tersebut, dijelaskan mengenai surat bukti kepemilikannya dalam Akta Jaminan Fidusia. Sifat publisitas adalah berupa pendaftaran Akta Jaminan Fidusia yang merupakan akta pembebanan benda yang dibebani jaminan fidusia. Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia dilakukan di Kantor Pendaftaran Fidusia tempat dimana pemberi fidusia/debitur berkedudukan. Untuk benda-benda yang dibebani fidusia tetapi berada diluar wilayah Negara Republik Indonesia tetap

didaftarkan di kantor pendaftaran fidusia di Indonesia dimana pemberi fidusia/debitur berkedudukan. Dengan dilaksanakannya pendaftaran benda yang dibebani jaminan fidusia, maka masyarakat dapat mengetahui bahwa suatu benda telah dibebani jaminan fidusia, serta memberikan jaminan kepastian pada kreditur lainnya mengenai benda yang telah dibebani jaminan fidusia. Hal ini tercantum pada Pasal 11 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 yang menegaskan bahwa benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan. h. Jaminan Fidusia Berisi Hak Untuk Melunasi Utang 127

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Pada umumnya sifat ini ada dalam setiap hak jaminan yang menjamin pelunasan utang. Sifat ini sesuai dengan fungsi setiap jaminan yang memberikan hak dan kekuasaan kepada kreditur untuk mendapatkan

pelunasan dari hasil penjualan jaminan tersebut bila debitur cidera janji, namun benda jaminan bukan untuk dimiliki oleh kreditur. Seandainya debitur setuju mencantumkan janji bahwa benda yang menjadi obyek fidusia akan menjadi milik kreditur jika debitur cidera janji, maka oleh undang-undang janji semacam itu batal demi hukum. Batal demi hukum artinya sejak semula dianggap tidak pernah ada sehingga tidak perlu dilaksanakan (Pasal 33 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999)

i.

Jaminan fidusia Meliputi Hasil Benda Yang Meliputi Hasil Obyek Jaminan Fidusia Dan Klaim Asuransi

Dalam ketentuan sifat ini obyek jaminan fidusia menjadi lebih luas bukan hanya benda-benda saja tetapi meliputi hasil dari pemanfaatan atau pengelolaan dari benda yang menjadi obyek jaminan fidusia, trmasuk klaim asuransi jika benda yangmenjadi obyek jaminan tersebut di asuransikan (Pasal 10 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999) j. Obyek Jaminan Fidusia Berupa Benda-Benda Bergerak

Berwujud Dan Tidak Berwujud Dan Benda Tidak Bergerak Yang

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

128

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Tidak Dapat Dibebani Dengan Hak Tanggungan Serta Benda-Benda Yang Diperoleh Kemudian Hari Yang dimaksud obyek jaminan fidusia adalah benda-benda apa yang dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani jaminan fidusia, yaitu: 1. a. b. Benda Bergerak Berwujud, contohnya: Kenderaan bermotor, seperti: Mobil, Sepeda Motor. Mesin-mesin pabrik yang tidak melekat pada tanah/bangunan pabrik c. d. e. f. g. h. Alat-alat inventaris kantor Perhiasan Persedian barang atau inventory, stock barang Kapal laut yang berukuran dibawah 20 m3 Peralatan/perkakas rumah tangga, seperti: TV, Radio, AC, Mebel Alat-alat Penyedot Air pertanian, seperti: Traktor Pembajak Sawah, Mesin

2. a. b. c. d. e.

Benda Bergerak Tidak Berwujud, contohnya: Wesel Sertifikat Deposito Saham Obligasi Konosemen 129

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan


f.

2013

Piutang yang diperoleh pada saat jaminan diberikan atau yang diperoleh kemudian

g. 3.

Deposito Berjangka Hasil dari benda yang menjadi obyek jaminan, baik benda bergerak

berwujud atau benda bergerak tidak berwujud atau hasil dari benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan. 4. Klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia diasuransikan. 5. Benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan, yaitu hak milik satuan rumah susun diatas tanah hak pakai atas tanah negara (Undang Undang Nomor 16 Tahun 1985) dan bangunan rumah yang dibangun diatas tanah orang lain sesuai Pasal 15 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. 6. Benda-benda termasuk piutang yang telah ada pada saat jaminan diberikan maupun piutang yang diperoleh kemudian hari.

3.

Tahap-Tahap Pembebanan Fidusia

Yang dimaksud tahap-tahap pembebanan fidusia adaah rangkaian perbuatan hukum dari dibuatnya perjanjian pokok yangberupa perjanjian kredit atau perjanjian utang, pembuatan akta jaminan fidusia sampai dilakukan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

130

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

pendaftaran di Kantor Pendaftaran Fidusia dengan mendapat Sertifikat Jaminan Fidusia. Rangkaian perbuatan hukum dalam proses pendaftaran jaminan fidusia akan dijelaskan dalam tabel berikut ini:

TAHAP PERTAMA (Tahap Pembuatan Perjanjian Pokok, Yaitu Perjanjian Kredit Atau Perjanjian Lainnya Dan Perjanjian Ikutan Atau Accesoir, Yaitu Perjanjian Jaminan Fidusia) Dalam tahap pertama akan dibuat terlebih dahulu perjanjian pokoknya, yang berupa perjanjian kredit atau perjanjian utang, kemudian disepakati adanya jaminan dalam bentuk jaminan fidusia yang dibuat dalam perjanjian ikutan atau accessoir yang merupakan ikutan dari perjanjian pokok. Pasal 4 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999 menegaskan jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

131

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

TAHAP KEDUA (Tahap Pembuatan Akta Jaminan Fidusia) Tahap kedua berupa pembebanan benda dengan jaminan fidusia yang ditandai dengan pembuatan akta jaminan fidusia yang ditandatangani kreditur sebagai penerima fidusia dan debitur sebagai pemberi fidusia. Bentuk akta jaminan fidusia adalah akta otentik yang dibuat oleh dan dihadapan Notaris, dengan harus memuat sekurang-kurangnya: a. b. c. Identitas pemberi dan penerima fidusia Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia Uraian jaminan fidusia d. Nilai penjaminan, yaitu penetapanjumlah utang mengenai benda yang menjadi obyek

yang dijamin dengan jaminan fidusia yang tercantum dalam akta jaminan fidusia yang ditetapkan oleh kreditur dengan memperhitungkan jumlah utang pokok, bunga, denda, dan biaya lainnya e. Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia TAHAP KETIGA (Tahap Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia Di Kantor Pendaftaran Fidusia) Pada tahap ketiga ini ditandai dengan pendaftaran akta jaminan fidusia di Kantor Pendaftaran Fidusia di tempat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya kedudukan 132

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

pemberi fidusia/debitur. Hal ini sesuai dengan Pasal 11 jo 12 Undang Undang Nomor 42 Tahun 1999. Dalam melakukan pendaftaran memuat: a. b. Identitas pemberi dan penerima fidusia Tanggal, nomor akta jaminan fidusia, nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia c. d. Data perjanjian pokok yang di jamin fidusia Uraian jaminan fidusia e. f. Nilai penjaminan Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia mengenai benda yang menjadi obyek melampirkan pernyataan pendaftaran yang

Jaminan fidusia dinyatakan lahir pada tanggal dicatatkannya jaminan fidusia dalam Buku Daftar Fidusia. Setelah kantor pendaftaran fidusia menerima permohonan pendaftaran fidusia, maka akan memuat jaminan fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Hari dan tanggal lahirnya jaminan fidusia ini sangat penting karena menandai atau membuktikan lahirnya hak preferent atau hak didahulukan bagi kreditur sebagai penerima fidusia, sehingga kreditur yang menerima fidusia memiliki kedudukan yang diutamakan atas jaminan fidusia.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

133

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

4.

Hapusnya Jaminan Fidusia

Ada beberapa hal yang mengakibatkan hapusnya jaminan fidusia, yaitu: a. Hapusnya utang yang dijaminkan dengan fidusia Kondisi ini sesuai dengan sifat perjanjian fidusia sebagai perjanjian ikutan atau accessoir. Hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia dapat terjadi dengan: pelunasan utang; penawaran novasi/pembaruan utang; b. kompensasi/perjumpaan utang; pencampuran utang; pembebasan utang. Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia/kreditur Pelepasan hak atas jaminan fidusia tersebut terjadi karena adanya penggantian jaminan sehingga jaminan lama dihapuskan. Hapusnya jaminan fidusia karena dilepaskan oleh kreditur dapat dilakukan dengan pembayaran tunai yang diikuti dengan

keterangan/pernyataan tertulis dari kreditur kepada pemberi fidusia/debitur.

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

134

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

Keterangan tertulis tersebut diperlukan sebagai bukti untuk melakukan roya jaminan fidusia di kantor pendaftaran fidusia, agar beban jaminan fidusia pada benda tersebut menjadi bebas kembali. c. Musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan fidusia Hal ini dapat diakibatkan karena: kebakaran, pencurian, kehilangan, namun musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan fidusia tidak mengakibatkan utang yang ada menjadi hangus pula. Debitur tetap mempunyai kewajiban untuk melunasi utangnya sesuai dengan perjanjian pokok yang telah disepakati. 5. Ketentuan Pidana Dalam Fidusia

Guna kepentingan kreditur sebagai penerima fidusia maka undangundang fidusia ini mengatur tentang pemberian sanksi, yaitu: a. Bagi setiap orang atau debitur yang merugikan kreditur. Tindakan debitur yang mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan benda yang menjadi objek jaminan fidusia dikualifikasikan sebagai perbuatan atau tindak pidana. Sanksi pidana perbuatan mengalihkan, menggadaikan, atau

menyewakan di pidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan di denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). b. Bagi setiap orang dengan sengaja memalsukan, mengubah,

menghilangkan atau dengan cara apapun memberikan keterangan secara menyesatkan yang jika hal tersebut diatas diketahui oleh salah satu pihak (kreditur atau debitur) juga dikualifikasikan sebagai tindak pidana, dengan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya 135

Bahan Ajar Perjanjian Kredit dan Jaminan

2013

sanksi pidana berupa pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) yahun dan denda paling sedikit Rp. 10.000.000,(sepuluh jta rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya

136