Anda di halaman 1dari 146

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN I

Pengampu: Kartika Hendra Titisari, SE., M Si., Akt.

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT karena buku ini dapat selesai disusun dengan lancar. Adapun buku Akuntansi Keuangan Lanjutan ini disusun dengan tujuan agar dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mahasiswa jurusan akuntansi tentang masalah akuntansi yang bersifat khusus, yang tidak dibahas dalam pengantar akuntansi dan akuntansi keuangan menengah. Oleh karena itu matakuliah akuntansi keuangan lanjutan merupakan matakuliah yang diberikan setelah mahasiswa memperoleh pemahaman dari matakuliah pengantar akuntansi dan akuntansi menengah sehingga sangat cocok untuk mahasiswa tingkat atas. Bobot matakuliah akuntansi keuangan lanjutan adalah sebanyak 3 SKS (3x 50 menit) dengan 14 kali tatap muka dalam satu semester. Tujuan mempelajari Akuntansi Keuangan Lanjutan adalah agar mahasiswa mampu menerapkan teori dan teknis akuntansi untuk masalah akuntansi khusus tersebut sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi yang mengacu pada penciptaan mahasiswa yang siap menghadapi dunia kerja maupun menciptakan pekerjaan. Akuntansi khusus antara lain mempelajari akuntansi pendirian dan pembubaran Firma, hubungan kantor Pusat dan Cabang, akuntansi penjualan cicilan dan konsinyasi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dorongan dalam bentuk apapun sehingga dapat tersusun buku ini dengan lancar. Namun demikian buku ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga pintu penulis sangat terbuka bagi semua pembaca yang memberikan kritik, saran atau masukan yang dapat memperbaiki buku ini di masa datang.

Penulis

DAFTAR ISI
Judul ..................................................................................................................................1 Kata Pengantar ............................................................................................................................2 Daftar Isi .............................................................................................................................3 BAB 1 PERUSAHAAN PERSEKUTUAN Pendahuluan Topik 1. Tinjauan Umum Perusahaan Persekutuan A. Pengertian Persekutuan dan Unsur Pokok Persekutuan........................................ B. Ketentuan di dalam Perjanjian Persekutuan................................... ....................... C. Penggolongan Persekutuan ................................... ................................................... D. Karakteristik Utama Persekutuan. .......................................................................... E. Alasan Pemilihan Persekutuan atau Bentuk Badan F. Usaha lainnya.................................. ............................................................................ G. Akuntansi dalam Persekutuan.................................................................................. Latihan Soal Topik 2: Pembentukan Persekutuan 1. Pembentukan Persekutuan Baru 2. Setoran Modal Berupa Kas a. Metode Bonus b. Metode Goodwill 3. Setoran Modal Berupa Non - Kas a. Metode Bonus b. Metode Goodwill Latihan Soal Rangkuman Tes Formatif BAB 2: PEMBAGIAN LABA ATAU RUGI PERSEKUTUAN Topik 1: Macam-macam Metode Pembagian Laba Pendahuluan Pengertian metode pembagian laba. 1. Laba dibagi sama, 2. Laba dibagi dengan rasio tertentu, 3. Laba dibagi dengan rasio modal, 4. Laba dibagi dengan modal mula-mula, 5. Laba dibagi dengan modal awal periode, 6. Laba dibagi dengan modal akhir periode 7. Laba dibagi dengan modal rata-rata, Topik 2: Metode Pembagian Laba Dengan Perhitugan Khusus. 1. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal 2. Laba dibagi dengan memperhitungkan Gaji dan/ atau Bonus, 3. Laba dibagi dengan memperhitungkan Bunga modal, Gaji dan/ atau Bonus, 4. Penghitungan Perubahan Metode Pembagian Laba 5. Jurnal Pembagian Laba Soal Latihan ............................................................................................................. Rangkuman ................................................................................................................ Tes Formatif ...............................................................................................................

BAB 3: PERUBAHAN PEMILIKAN PERSEKUTUAN Topik 1: Perubahan Persekutuan Melalui Pembelian Hak Sekutu A. Pengertian Perubahan vs Pembubaran Persekutuan B. Masuknya Sekutu Baru Melalui Pembelian Hak Sekutu Lama Topik 2: Perubahan Persekutuan Dengan Pembelian Hak Sekutu Lama Metode Bonus Atau Goodwill A. Perbandingan Metode Goodwill Dengan Metode Bonus. B. Masuknya Sekutu Baru Dengan Cara Menyetor Modal Soal Latihan ........................................................................................................... Rangkuman ........................................................................................................... Tes Formatif ........................................................................................................... BAB 4: LIKUIDASI PERSEKUTUAN SECARA SEDERHANA Topik 1. Likuidasi Sederhana Dengan Kondisi Sekutu Secara Pribadi Masih Mampu. 1. Semua Sekutu Modalnya Bersaldo Positif 2. Ada Sekutu yang Modalnya Bersaldo Negatif tetapi Masih dapat ditutup dengan Hutang Perusahaan kepada Sekutu Yang Bersangkutan 3. Ada Sekutu yang Modalnya Bersaldo Negatif tetapi tidak dapat ditutup dengan Hutang Piutang Perusahaan kepada Sekutu. Soal Latihan ........................................................................................................... Rangkuman ........................................................................................................... Tes Formatif ........................................................................................................... BAB 5: LIKUIDASI PERSEKUTUAN SECARA BERANGSUR Topik 1. Tinjauan Umum Likuidasi Secara Bertahap/ Berangsur a) Pengertian Likuidasi b) Tujuan likuidasi c) Asumsi dasar: Solvensi vs Insolvensi Persekutuan d) Prosedur Perhitungan Pembagian Kas Topik 2. Program Pembagian Kas di dalam Likuidasi Bertahap/ Berangsur Program Pembagian Kas Soal Latihan ........................................................................................................... Rangkuman ........................................................................................................... Tes Formatif ........................................................................................................... BAB 6: AKUNTANSI UNTUK PUSAT, AGEN DAN CABANG BAB 7: AKUNTANSI PENJUALAN ANGSURAN DAN KONSINYASI

Mempelajari matakuliah akuntansi keuangan lanjutan sama halnya dengan memplajari matakuliah akuntansi lainnya, tidak hanya dengan menghapal teori dan rumusnya tetapi harus bisa memahami dan selanjutnya dapat menerapkan penghitungan maupun pembuatan jurnal dan laporan untuk setiap kasus berbeda. Pada bab 1 buku ini akan dibahas kedalam dua bagian (topik) yaitu: 1. Mengenai persekutuan dimulai dari seluk beluk persekutuan seperti pengertian, karakteristik, sampai dengan isi perjanjian pembentukan persekutuan (75 menit). 2. Penghitungan dan pengakuan modalsampai dengan pembuatan jurnal pada pendirian persekutuan. (75 menit). Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tujuan dari pempelajaran bab 1 dalam buku ini adalah: 1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang persekutuan. 2. Mahasiswa dapat menyebutkan isi perjanjian persekutuan. 3. Mahasiswa dapat menyebutkan karakteristik persekutuan. 4. Mahasiswa dapat membedakan jenis-jenis persekutuan. 5. Mahasiswa mampu memahami aturan penjurnalan dalam persekutuan dan mampu melakukan penjurnalan. 6. Mahasiswa mampu membedakan antara penghitungan dengan metode bonus maupun metode goodwill dan mampu menyajikan jurnal maupun laporan keuangan yang diperlukan.

A. Pengertian Persekutuan dan Unsur Pokok Persekutuan a. Pengertian Persekutuan Secara umum Persekutuan dapat didefinisikan sebagai suatu gabungan atau asosiasi dari dua individu atau lebih untuk memiliki dan menyelenggarakan suatu usaha secara bersama dengan tujuan untuk memperoleh laba. b. Unsur Pokok Persekutuan yaitu : 1. Gabungan atau asosiasi para sekutu. Sebagai suatu asosiasi dari beberapa sekutu ( individu ) maka persekutuan tidak dapat dipisahkan dengan kesepakatan atau perjanjian, yaitu perjanjian untuk mendirikan, memiliki, dan mengelola persekutuan. 2. Pemilikan dan pengelolaan bersama. Didalam Persekutuan harus selalu dituntut adanya kebersamaan, yaitu : a. Persekutuan dimiliki bersama. b. Persekutuan dikelola bersama. c. Kalau ada risiko ditanggung bersama. d. Kalau memperoleh laba dibagi bersama. 3. Tujuan untuk memperoleh laba. Laba dibagi secara adil menurut rasio atau metode pembagian laba yang telah disepakati. B. Ketentuan di dalam Perjanjian Persekutuan Perjanjian persekutuan akan berisi ketentuan-ketentuan yang disepakati oleh para sekutu mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan persekutuan sampai pembubarannya. Isi perjanjian antara lain : 1. Ketentuan mengenai persekutuan. 2. Ketentuan mengenai sekutu. 3. Ketentuan yang berhubungan dengan modal persekutuan. 4. Ketentuan mengenai pembagian laba.

5. Ketentuan yang berhubungan dengan pembubaran persekutuan. 6. Ketentuan mengenai pertanggungan ( asuransi ) terhadap masing-masing sekutu. Isi perjanjian persekutuan akan dipakai sebagai : Dasar pencatatan setoran modal. Dasar perhitungan modal. Dasar pembagian laba. Dasar pencatatan transaksi-transaksi persekutuan yang menyangkut modal. Dasar pembagian aktiva dalam likuidasi. Dari uraian diatas terlihat bahwa perjanjian mempunyai peranan yang sangat penting dalam persekutuan mulai dari pendirian hingga pembubarannya. C. Penggolongan Persekutuan Persekutuan dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : 1. Persekutuan Firma ( Fa ), adalah : Persekutuan yang didirikan atau diadakan untuk menjalankan perusahaan dengan menggunkan nama bersama di mana semua sekutu bertanggung jawab penuh dan biasanya ikut aktif mengelola perusahaan. 2. Persekutuan Komanditer ( cv ), adalah : Suatu bentuk perjanjian kerja sama untuk berusaha di mana salah satu atau lebih dari anggotanya bertanggung jawab terbatas. a. Sekutu Aktif, adalah : Sekutu yang ikut aktif mengelola perusahaan dan bertanggung jawab penuh dengan seluruh harta pribadinya. b. Sekutu Pasif (Silent Partner), adalah : Sekutu yang hanya menyetor modal saja tanpa ikut mengelola perusahaan. 3. Joint Stock Company, adalah : Persekutuan yang struktur modalnya terbagi atas saham-saham yang dapat dipindah-tangankan. Besarnya saham masing-masing sekutu didalam Joint Stock Company tidak menunjukkan besarnya tanggung jawab sekutu yang bersangkutan melainkan hanya menunjukkan besarnya pemilikan. D. Karakteristik Utama Persekutuan Karakteristik utama adalah merupakan sifat utama atau ciri khas persekutuan yang meliputi: 1. Mutual Agency Masing-masing sekutu merupakan agen ( wakil, perantara, perpanjangan tangan ) dari persekutuan.

2. Limited Life Umur persekutuan adalah terbatas. Hal-hal yang mebatasi umur persekutuan antara lain perjanjian persekutuan, ketentuan hukum serta putusan pengadilan. Sewaktu-waiktu persekutuan dapat bubar karena masuknya sekutu baru, pengunduran sekutu dan sebagainya. 3. Unlimited Liability Tanggung jawab masing-masing sekutu ( kecuali sekutu pasif ) tidak terbatas pada modal yang telah disetor saja. 4. Ownership of an Interset in a Partnership Kekayaan yang telah disetor ke dalam persekutuan sudah bukan lagi milik sekutu penyetor, melainkan milik semua sekutu. 5. Participation on Partnership Profit Masing-masing sekutu mempunyai hak di dalam pembagian laba atau rugi persekutuan. 6. Right to Dispose of a Partnership Interest Masing-masing sekutu mempunyai hak untuk menjual atau memindahkan haknya atas modal dan hak atas laba kepada orang lain, baik kepada anggota sekutu maupun bukan. 7. Mutual Liabiliy Semua sekutu bertanggung jawab terhadap utang persekutuan. Jadi utang persekutuan adalah juga utang seluruh sekutu E. Alasan Pemilihan Persekutuan Atau Bentuk Badan Usaha Lainnya Pertimbangan untuk memilih bentuk badan usaha berupa persekutuan atau bukan adalah berdasarkan kelemahan dan kelebihan persekutuan dibandingkan bentuk badan usaha lainnya seperti perseroan terbatas dan lain-lain. Oleh karena itu perlu dibahas mengenai kelebihan dan kelemahan persekutuan. Kelebihan Bentuk Usaha Persekutuan: 1. Bentuk persekutuan seperti firma lebih mudah dalam pendiriannya. 2. Bentuk persekutuan seperti firma juga lebih mudah dalam pembubarannya misalkan akan berubah menjadi bentuk perseroan terbatas. 3. Bentuk persekutuan juga mempunyai menentukan bentuk usahanya. kebebebasan dan keluwesan dalam

4. Kebebasan masing-masing sekutu dalam pengambilan keputusan. 5. Persekutuan hanya wajib melaporkan pajaknya tetapi bukan pembayar pajaknya karena yang membayar pajak adalah para sekutu yang memperoleh laba persekutuan. Pajaknya berupa pajak penghasilan.

Kelemahan Bentuk Usaha Persekutuan: 1. Tanggung jawab pribadi sekutu akan hutang perusahaan. 2. Kelangsungan hidup perusahaan biasanya terbatas karena ikut ditetukan oleh perjanjian dalam pendirian persekutuan. 3. Kesulitan dalam memindahtangankan kepentingan pemilik. F. Akuntansi Dalam Persekutuan Pada persekutuan laba atau rugi selalu dibagi di antara para sekutu sesuai dengan metode pembagian laba yang telah disepakati. Pembagian laba adalah pemindahan saldo laba ( rugi ) persekutuan ke rekening modal masing-masing sekutu. Mengenai modal sekutu pada dasarnya merupakan keseluruhan dari hak para sekutu terhadap persekutuan. Pada umumnya hubungan ekonomis antara persekutuan dan para sekutu ditampung di dalam tiga rekening, yaitu : 1. Rekening Modal Rekening modal menunjukkan besarnya hak modal sekutu yang bersangkutan. Modal masing-masing sekutu berasal dari setoran modal mula-mula. Selanjutnya akan bertambah dengan setoran tambahan modal dan pembagian laba serta berkurang dengan pengambilan modal dam pembgian rugi. Rekening modal akan didebit apabila berkurang dan dikredit apabila bertambah. Aktiva- Kas Aktiva Non Kas Modal Sekutu A Modal Sekutu B Modal Sekutu C 2. Rekening prive Rekening prive juga diselenggarakan untuk tiap-tiap sekutu. Rekening akan didebit apabila terjadi pengambilan harta persekutuan untuk sekutu. Sedangkan Rekening akan dikredit dengan bagian laba ( apabila tidak langsung ditutup ke rekening modal ). Modal Prive Rp. XXXX Rp XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX

Pada akhir periode saldo rekening prive ini akan dipindah ke rekening modal sekutu yang bersangkutan yaitu : Ke sisi debit, apabila rekening prive bersaldo debit. Ke sisi kredit apabila rekening prive bersaldo kredit. Jadi setelah tutup buku saldo rekening prive selalu nol. 3. Rekening Utang Kepada Sekutu Rekening ini akan di debit apabila utang kepada sekutu berkurang dan di kredit

apabila utang kepada sekutu bertambah. Dalam hal persekutuan dilikuidasi maka saldo rekening ini ikut dipertimbangkan di dalam menghitung bagian kas sekutu yang bersangkutan. Di dalam neraca saldo disajikan pada kelompok pasiva, yaitu utang. Kas Utang sekutu B 4. Rekening Piutang Kepada Sekutu Rekening ini didebit apabila piutang kepada sekutu bertambah dan dikredit apabila piutang kepada sekutu berkurang. Dalam hal persekutuan dilikuidasi yaitu mengurangi hak sekutu yang bersangkutan. Didalam neraca saldo rekening disajikan dalam kelompok aktiva, yaitu piutang. Piutang Kas Piutang kepada pihak ketiga: Piutang dagang Penjualan Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX Rp. XXXX

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1) Apa yang dimaksud dengan Persekutuan dalam arti luas maupun dalam arti sempit ? 2) Apa saja yang menjadi ketentuan dalam perjanjian pendirian persekutuan? 3) Sebutkan jenis persekutuan ! 4) Apa yang dimaksud dengan silent partner? 5) Sebutkan karakteristik utama dari persekutuan!

10

A.

Pembentukan Persekutuan Baru yang samasekali baru

Yaitu merupakan pembentukan persekutuan berdasarkan kesepatan dua orang sekutu atau lebih.

Masing-masing sekutu menyetor modal untuk mendirikan perusahaan baru yang akan dimiliki bersama. Setoran modal tersebut dapat berupa kas, aktiva nonkas atau bahkan aktiva tidak berujud seperti kemampuan lebih yang dimiliki oleh seorang sekutu diatas kemampuan sekutu yang lain. Bila aktiva berupa non-kas maka penilaian besarnya modal harus dengan persetujuan maisng-maisng sekutu agar mendapatkan nilai yang wajar dan memenuhi prinsip keadilan sehingga biasanya digunakan nilai pasarnya yang wajar. Penurunan nilai aktiva juga harus ditetapkan secara bersama. Bila terdapat kemampuan lebih dari sekutu maka perlakuan terhadap kemampuan lebih yang dimiliki sekutu ada 2 metode pengakuan modal yaitu: 1. Metode Goodwill 2. Metode Bonus 1. Setoran Modal berupa Kas Tuan Tedjo & Tuan Bagus sepakat mendirikan usaha persekutuan firma dengan nama MBAGUSI . Sebagai setoran awal masing-masing sekutu menyetorkan sbb : Tedjo : Rp 240.000.000 Bagus : Rp 200.000.000 Bagaimana pengakuan setoran modal awal pendirian persekutuan tersebut dengan menggunakan metode bonus dan metode goodwill? Buatlah juga jurnal yang diperlukan! * Jurnal untuk Setoran Modal Kas Modal Tedjo Rp. 240.000.000 Rp. 240.000.000

Bila dalam pendirian persekutuan tidak ada ketentuan proporsi pengakuan modal di 11

dalam perjanjian, maka proporsi pengakuan modal dengan metode bonus besarnya dibagi rata. a. Pengakuan Modal dengan Metode Bonus

Keterangan Setoran Modal (1) Metode bonus (2) Besarnya bonus (12) Tedjo Bagus Jumlah 240.000.000 200.000.000 440.000.000 220.000.000 220.000.000 440.000.000 20.000.000 ( 20.000.000 ) -

* Jurnal untuk mencatat besarnya bonus Modal Tedjo Modal Bagus Rp. 20.000.000 Rp. 20.000.000 Neraca FA. MBAGUSI Aktiva Kas Jumlah Pasiva 440.000.000 Modal Tedjo Modal Bagus 440.000.000 Jumlah b. Pengakuan Modal dengan Metode Goodwill Keterangan Setoran Modal Metode Goodwill (2) Besarnya Goodwill (1) Tedjo Bagus Jumlah 240.000.000 200.000.000 440.000.000 240.000.000 240.000.000 480.000.000 (21) 40.000.000 40.000.000 220.000.000 220.000.000 440.000.000

Jurnal untuk mencatat besarnya goodwill Goodwill Modal Bagus Rp. 40.000.000 Rp. 40.000.000

12

Neraca FA. MBAGUSI Aktiva Kas Goodwill Jumlah 2. 440.000.000 480.000.000 Pasiva Modal Tedjo Jumlah 240.000.000 240.000.000 480.000.000 40.000.000 Modal Bagus

Penyetoran Modal berupa Aktiva Non-Kas

Bapak Boni & Alvin mendirikan usaha dengan nama PT. RAJASA. Masing-masing menyetorkan modal berupa: Boni Alvin : Kas : Gedung : Tanah Truk Kas Modal Boni Gedung Tanah Truk Modal Alvin Rp 100.000.000 : Rp 25.000.000 : Rp 60.000.000 : Rp 75.000.000 100.000.000 100.000.000 25.000.000 60.000.000 75.000.000 160.000.000

Jurnal untuk mencatat Penyetoran modal Boni & Alvin :

a. Pengakuan Modal dengan Metode Bonus Keterangan Setoran Modal (1) Metode bonus (2) Besarnya bonus (12) Boni Alvin 100.000.000 160.000.000 260.000.000 130.000.000 130.000.000 260.000.000 ( 30.000.000 ) 30.000.000 -

Jurnal untuk mencatat besarnya bonus: Modal Alvin Modal Boni Rp. 30.000.000 Rp. 30.000.000

13

Neraca FA. RAJASA Aktiva Kas Jumlah Pasiva 260.000.000 Modal Boni Modal Alvin 260.000.000 Jumlah b. Pengakuan Modal dengan Metode Goodwill Keterangan Setoran modal (1) Metode godwill (2) Besarnya goodwill (21) Boni Alvin 100.000.000 160.000.000 260.000.000 Goodwill Modal Boni 160.000.000 160.000.000 320.000.000 60.000.000 60.000.000 130.000.000 130.000.000 260.000.000

Jurnal untuk mancatat besarnya goodwill Rp. 60.000.000 Rp. 60.000.000

B. Mengubah Pemilikan Perusahaan Perseorangan Yang Sudah Ada Pada dasarnya ada dua metode yang digunakan, yaitu metode pembukuan lama (berdasarkan pembukuan dari perusahaan sebelumnya) dan metode pembukuan baru. Penilaian Aktiva Bersih yang Disetor Penentuan Modal masing-masing Sekutu Pembukuan atau akuntansinya disesuaikan dengan metode pembukuan yang digunakan.

14

SKEMA PERUBAHAN PERUSAHAAN PERORANGAN MENJADI PERSEKUTUAN

Andi pemilik Firma GAYA GAUL sebagai badan usaha ingin mendirikan persekutuan dg Bintoro

Bintoro sebagai perseorangan ingin mendirikan persekutuan

Cecep sebagai perseorangan ingin mendirikan persekutuan

Penilaian Aktiva Bersih yang disetor berdasar nilai pasarnya. Bila nilai pasar > nilai buku. Melihat kemungkinan perlu pengakuan gooodwill

Modal Bintoro yang untuk mendirikan persekutuan

Modal diakui sebesar nominal setoran mula-mula

Modal diakui sebesar nominal setoran mulamula

Pemilihan metode pencatatan akuntansinya

Pendirian Persekutuan FUNKY dengan anggota persekutuan Andy, Bintoro dan Cecep

15

Contoh Soal Pendirian Persekutuan Yang Sudah Ada: Pada awal tahun 1999 Tuan Omar Bakri dan Tuan Farhan sepakat mendirikan Persekutuan AGASS JAYA MOTOR. Tuan Omar Bakri sudah mempunyai perusahaan perseorangan yang bergerak di bidang servis dan perawatan kendaraan bermotor dan akan menggunakan aktiva bersih perusahaan perseorangan tersebut sebagai setoran modal. Tuan Farhan akan menyetor modal berupa kas sebesar Rp 250.000.00,00 untuk mendirikan persekutuan baru bersama tuan Omar yang bernama AGASS JAYA MOTOR. Neraca perusahaan perseorangan Tuan Omar Bakri pada saat itu adalah : Perusahaan Dagang AGASS Neraca Per 1 Januari 1999 AKTIVA Kas Piutang dagang Persediaan brg dagang Tanah Gedung 25.000.000 10.000.000 Akumulasi penyusutan 15.000.000 Mebel & peralatan Total Aktiva PASIVA Utang Bank Modal, Omar Bakri Total Pasiva 55.000.000 80.000.000 + 135.000.000 15.000.000 7.000.000 + 135.000.000 25.000.000 30.000.000 35.000.000 28.000.000

Akumulasi penyusutan 8.000.000 -

Dalam hubungannya dengan setoran Omar penyesuaian sebagai berikut :

Bakri tersebut telah disepakati adanya

1. Cadangan kerugian piutang diakui sbesar 10 % dari saldo piutang dagang. 16

2. Persediaan dinilai berdasarkan nilai pasarnya yaitu Rp 40.000.000 3. Diakuinya adanya goodwill sebesar Rp 10.000.000 4. Nilai tanah disepakati sebesar Rp 40.000.000 5. Dialuinya adanya utang biaya sebesar Rp 4.000.000 Pengakuan Modal Pendirian Persekutuan Apabila Menggunakan Buku Lama: Persediaan : Nilai pasar.................. .....Rp 40.000.000 Nilai buku..........................Rp 35.000.000 Kenaikan nilai persediaan..................................Rp 5.000.000 Tanah : Nilai pasar.........................Rp 40.000.000 Nilai buku...........................Rp 28.000.000 Kenaikan nilai tanah...............................................Rp 12.000.000 Pengakuan goodwill...............................................Rp 10.000.000 + Jumlah penambahan modal karena penilaian.......Rp 27.000.000 * Kerugian piutang = 10 % x Rp 30.000.000 * Utang biaya = Rp 3.000.000 = Rp 4.000.000 + 7.000.000 -

Jumlah pengurangan modal karena penilaian......Rp

Kenaikan modal Omar Bakri karena penilaian.....Rp 20.000.000 a. Untuk menyesuaikan saldo-saldo per pembukuan lama, yaitu : Persediaan ...................................Rp 5.000.000 Tanah...........................................Rp 12.000.000 Goodwill......................................Rp 10.000.000 Cadangan kerugian piutang...........................Rp 3.000.000 Utang biaya...................................................Rp 4.000.000 Modal, Omar Bakri........................ ..............Rp 20.000.000 b. Mencatat setoran Tuan Farhan : Kas..............................................Rp 250.000.000 Modal, Farhan............................................Rp 250.000.000

17

Dalam metode pembukuan lama, neraca dari persekutuan baru yang mereka dirikan merupakan gabungan antara nilai aktiva perusahaan lama + penyesuaian + setoran modal sekutu baru, yaitu sebagai berikut: Perusahaan Dagang AGASS JAYA MOTOR Neraca Per 1 Januari 1999 AKTIVA Kas Piutang dagang Cad. Kerugian Piutang Persediaan brg dagang Tanah Gedung Akumulasi penyusutan Mebel & peralatan Akumulasi penyusutan Goodwill Total Aktiva PASIVA Utang Bank Utang biaya Modal, Farhan Modal, Omar Bakri Total Pasiva 55.000.000 4.000.000 250.000.000 100.000.000 + 409.000.000 25.000.000 15.000.000 15.000.000 8.000.000 7.000.000 10.000.000 + 409.000.000 10.000.000 30.000.000 3.000.000 27.000.000 40.000.000 40.000.000 275.000.000

18

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1. Apa yang dimaksud denganOwnership of an Interest in a Partnership? 2. Apa yang dimaksud dengan Right to Dispose of Partnership Interest? 3. Sebutkan cara pembentukan persekutuan ! 4. Apa perbedaan pembentukan persekutuan antara metode goodwill dengan metode bonus? 5. Tiga Tiga orang yaitu Doni, Endah (keduanya bekas foto model) dan Ferdy 1991 mendirikan persekutuan yang usahanya berupa foto studio bernama MODEL . Mereka menyetorkan modal, masing-masing: Doni Rp. 12.500.000 dan kursi dengan nilai buku Rp. 3.000.000 dan nilai pasar Rp. 5000.000. Endah Rp. 15.000.000 dan peralatan foto dengan nilai buku Rp. 2500.000 dan nilai pasarnya Rp. 4500.000. Ferdy Rp. 2000.000 dan Ruko dengan nilai buku Rp 20.000.000 namun nilai pasarnya Rp. 23.000.000. Berapakah besarnya setoran modal yang diakui bila persekutuan yang akan didirikan menggunakan metode bonus? Buatlah laporan pengakuan setoran dan jurnal untuk setiap transaksi yang berkaitan dengan setoran modal tersebut dan neracanya setelah ada pemberian bonus! 6. Tiga orang yaitu Andi, Beni, dan Cindy pada tahun 1991 mendirikan persekutuan yang usahanya berupa caf bernama MOGE . Mereka menyetorkan modal sebesar: Andi Rp. 10.500.000 dan kursi dengan nilai buku Rp. 3000.000 dan nilai pasar Rp. 4000.000. Beni Rp. 13.000.000 dan peralatan dapur dengan nilai buku Rp. 2500.000 dan nilai pasarnya Rp. 4500.000. Cindy Rp. 1000.000 dan tanah dan bangunan dengan nilai buku Rp 19.000.000 namun nilai pasarnya Rp. 21.000.000. Berapakah besarnya setoran modal yang diakui bila persekutuan yang akan didirikan menggunakan metode goodwill? Buatlah laporan pengakuan setoran, jurnal untuk setiap transaksi yang berkaitan dengan setoran modal tersebut dan neracanya setelah ada pengakuan goodwill! 7. Perhatikan neraca dari perusahaan dagang di bawah ini!

19

Perusahaan dagang ASTAGANAGA Neraca Per 1 Januari 2000 AKTIVA 1. Kas 2. Piutang Dagang 3. Persediaan Brg. Dagangan. 4. Tanah 5. Gedung 6. Akumulasi Penyusutan. 7. Peralatan dan Mebel 8. Akumulasi penyusutan Rp. 20.000.000 Rp. 12.000.000 Total Aktiva PASIVA 1. Hutang Bank 2. Modal, Tn Burhan Total Pasiva Rp. 75.000.000 Rp. 88.000.000 Rp. 163.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 163.000.000 Rp. 40.000.000 Rp. 15.000.000 Rp. 30.000.000 Rp. 25.000.000 Rp. 30.000.000 Rp. 35.000.000 Rp. 35.000.000

Pada tahun 1996 Tuan Burhan dan Tuan Teddy sepakat untuk mendirikan persekutuan, sedangkan Tuan Burhan sebelumnya telah memiliki perusahaan perorangan dengan neraca seperti diatas dan Tuan Teddy akan menyetorkan modal berupa kas sebesar Rp. 170.000.0000. Bila kemudian terdapat beberapa hal untuk penyesuaian berikut: 1. Cadangan kerugian piutang perlu diakui sebesar 10% dari saldo piutang dagang. 2. Persediaan dinilai dari nilai pasarnya sebesar Rp. 50 juta, 3. Diakui adanya goodwill yang timbul dari usaha yang dijalankan selama ini sebsar Rp. 15 juta. 4. Nilai tanah dinilai kembali seharga Rp. 45 juta. Diakui adanya hutang gaji sebesar Rp 7 juta. Buatlah system pencatatan secara lengkap untuk mendirikan persekutuan RUKUN dengan metode pembukuan lama (berdasarkan neraca perusahaan ASTAGANAGA milik Tuan Burhan).

20

Pengakuan setoran modal dengan metode bonus maka penghitungannya = total modal sekutu dibagi banyaknya sekutu. Besarnya bonus = sebelum memperoleh bonus dikurangi setelah memperoleh bonus. Pengakuan setoran modal dengan metode goodwill maka penghitungannya modal masing-masing sekutu dinaikkan sebesar setoran modal tertinggi sehingga besarnya goodwill = setelah pengakuan goodwill dikurangi modal masing-masing sebelumnya. Pembentukan persekutuan dimana salah satu sekutunya sudah mempunyai perusahaan sebelumnya: o Pencatatan akuntansinya dengan metode pembukuan lama maka harus melakukan penyesuaian terhadap penilaian kembali aktiva non-kasnya, kemudian langsung menambahkan dalam neracanya.

Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan ! 1) Berikut ini yang bukan merupakan prinsip pemilikan dan pengelolaan bersama,adalah: A. Pemilikan bersama dari persekutuan B. Bila ada resiko ditanggung bersama C. Bila memperoleh laba dibagi bersama D. Silent Partner tidak memperoleh laba, hanya gaji saja. 2) Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ketentuan yang diatur di dalam perjanjian persekutuan adalah: A. Ketentuan mengenai Sekutu B. Ketentuan mengenai Pembagian Hutang. C. Ketentuan mengenai Pembagian Laba D. Ketentuan mengenai Permodalan 3) Karakteristik persekutuan adalah umurnya terbatas, hal ini disebut juga: A. Unlimited Liability B. Mutual Liability C. Limited Life D. Mutual Agency

21

4) Karakteristik persekutuan yang menyebutkan Participation on Partnership Profit, artinya adalah: A. Masing-masing sekutu mempunyai hak di dalam pembagian laba atau rugi persekutuan. B. Kekayaan yang disetor ke dalam sekutu sudah bukan lagi milik sekutu penyetor. C. Tanggung jawab masing-masing sekutu tidak terbatas, kecuali sekutu pasif sebatas modal saja. D. Masing-masing sekutu berpartisipasi sebagai agen (wakil). 5) Karakteristik persekutuan yang menyebutkan Mutual Liability, artinya adalah: A. Masing-masing sekutu mempunyai hak di dalam pembagian laba atau rugi persekutuan. B. Kekayaan yang disetor ke dalam sekutu sudah bukan lagi milik sekutu penyetor. C. Tanggungjawab terhadap utang persekutuan adalah pada sekutu-sekutunya. D. Tanggung jawab masing-masing sekutu tidak terbatas, kecuali sekutu pasif sebatas modal saja. 6) Yang menyebabkan modal persekutuan dicatat disisi kredit adalah: A. Penambahan Piutang B. Penambahan modal dan pembagian laba C. Transaksi Prive D. Penambahan hutang 7) Berikut ini pernyataan yang benar mengenai cara mendirikan persekutuan dengan mengubah pemilikan perusahaan perseorangan yang sudah ada: A. Pengakuan Aktiva Bersih yang disetor. B. Pembukuan Hutang masing-masing sekutu C. Penentuan modal masing-masing sekutu D. Penilaian Modal masing-masing sekutu 8) Yang menyebabkan rekening Prive di dalam persekutuan dicatat disisi debet adalah, kecuali: A. Penerimaan laba persekutuan B. Pembayaran gaji sebagai pembagian laba

22

C. Pembayaran bonus sebagai pembagian laba D. Bagian rugi yang harus ditanggung sekutu 9) Apabila Avin dan Huges mendirikan persekutuan Gono-Gini dengan perbandingan modal 1: 3 dengan total modal Rp. 600 juta apabila kemudian masuk sekutu baru Reza yang menyetor modal Rp. 240 juta maka besarnya modal bila diakui dengan metode bonus adalah sebesar: A. Rp. 240 juta B. Rp. 300 juta C. Rp. 270 juta D. Rp. 280 juta 10) Apabila Avin, Huges dan Reza yang mendirikan persekutuan Gono-Gini tersebut diatas modalnya diakui dengan metode goodwill atas masuknya Reza sebagai sekutu baru maka besarnya goodwill Reza adalah: A. Rp. 50 juta B. Rp. 60 juta C. Rp. 40 juta D. Rp. 55 juta

23

Karakteristik utama yang kelima dari persekutuan adalah participation in partnership profit maka laba rugi persekutuan harus dibagi kepada para sekutu secara adil, artinya adil dalam pembagian laba kepada masing-masing sekutu disesuaikan dengan kontribusinya baik berupa waktu, modal dan kemampuan pribadi dalam menghasilkan laba. Di samping itu adil juga berarti tidak ada perbedaan yang mencolok dari besarnya masing-masing bagian rugi-laba yang diberikan kepada sekutu. Oleh karena itu diperlukan metode penghitungan untuk pembagian laba-rugi yang disepakati bersama. Selanjutnya metode-metode yang dapat digunakan akan dibahas ke dalam dua bagian atau topik, yaitu: 1. Macam-macam Metode Pembagian Laba 2. Metode Pembagian Laba dengan Penghitungan Khusus Tujuan yang ingin didapat dari pembelajaran dari materi ini adalah: 1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami prinsip pembagian laba-rugi persekutuan dan latar belakangnya. 2. Mahasiswa dapat menyebutkan dan memahami 3 metode yang dapat digunakan dalam pembagian laba-rugi persekutuan. 3. Mahasiswa dapat menghitung, menjurnal serta menyusun laporan pembagian laba dengan masing-masing metode yang ada.

24

A. Pengertian Metode Pembagian Laba Metode pembagian laba adalah metoda atau cara yang digunakan untuk dasar penghitungan pembagian laba. Ada berbagai macam Metode Pembagian Laba yang digunakan: 1. Laba dibagi sama. 2. Laba dibagi dengan rasio tertentu. 3. Laba dibagi menurut perbandingan modal. 4. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal dan sisanya dapat dibagi menurut metode 1,2, atau 3. 5. Laba dibagi dengan memperhitungkan gaji dan atau bonus dan sisanya dibagi menurut metode 1,2 atau 3. 6. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal serta gaji dan atau bonus dan sisanya dibagi menurut metode 1,2 atau 3. 1. Laba Dibagi Sama Masing-masing sekutu selalu mendapatkan bagian laba yang sama. Misalnya : A = Rp 51.000.000 B = Rp 54.000.000 C = Rp 45.000.000 Jumlah Rp 150.000.000 Maka dengan metode pembagian laba yang dibagi rata masing-masing sekutu mendapatkan laba Rp 50.000.000 ( 150.000.000 / 3 ). 2. Laba Dibagi Dengan Rasio Tertentu

25

Misalnya : Sekutu A = Rp 51.000.000 Sekutu B = Rp 54.000.000 Sekutu C = Rp 45.000.000 Rp 150.000.000 Laba atau rugi persekutuan dibagi dengan rasio 3 : 4 : 3, dengan laba Rp 5.000.000 Maka : Sekutu A = 30 % x Rp 5.000.000 = Rp 1.500.000 Sekutu B = 40 % x Rp 5.000.000 = Rp 2.000.000 Sekutu C = 30 % x Rp 5.000.000 = Rp 1.500.000 3. Laba Dibagi Dengan Rasio Modal yang jenisnya antara lain: a. Modal Mula-mula adalah modal masing-masing sekutu pada saat persekutuan berdiri. Modal Awal Periode adalah saldo modal pada awal periode yang bersangkutan. Pada umumnya saldo modal masing-masing sekutu setiap periodenya mengalami perubahan karena berbagai macam sebab, seperti : a) Setoran modal. b) Penarikan modal. c) Pemindahan saldo rekening prive. d) Bagian laba. e) Pembebanan bagian rugi. b. Modal Akhir Periode adalah saldo rekening Modal pada akhir periode sebelum pemindahan saldo rekening prive dan pembagian laba atau rugi. Pada umumnya saldo modal akhir ini setiap periodenya juga mengalami perubahan. c. Modal Rata-rata adalah modal rata-rata masing-masing sekutu selama satu periode. d. Dalam menghitung besarnya modal rata-rata ini ada 2 faktor yang diperhitungkan, yaitu saldo modal dan jangka waktu, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

Modal rata-rata = ( modal x waktu )

26

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1. Perhatikan rekapitulasi saldo modal sekutu D, O dan I di bawah ini untuk menjawab soal no. 1 sampai dengan 4! Sekutu Sekutu D Periode 1/1-1999 1/5-1999 1/9-1999 Sekutu O 1/1-1999 1/7-1999 Sekutu I 1/1-1999 1/4-1999 1/8-1999 Saldo Modal Rp. 64.000.000 Rp. 70.000.000 Rp. 75.000.000 Rp. 64.000.000 Rp. 74.000.000 Rp. 60.000.000 Rp. 70.000.000 Rp. 80.000.000

Laba yang dibagi pada akhir tahun 1999 adalah sebesar Rp 25.000.000 2. Berdasarkan tabel di atas hitunglah berdasarkan saldo modal awal! 3. Berdasarkan tabel di atas hitunglah berdasarkan saldo modal akhir! pembagian pembagian rugi-laba persekutuan DOI rugi-laba persekutuan DOI

4. Bila ada tambahan informasi sebagai berikut: Bunga modal 10%, Gaji perbulan D, O, I masing-masing Rp. 600.000, Rp. 600.000, dan Rp. 750.000, Bonus 5% untuk D karena prestasi kerjanya. Pembagian laba perusahaan pada akhir tahun 1999 meningkat menjadi Rp. 50.000.000, maka: Hitunglah pembagian laba mereka setelah bunga modal, gaji dan bonus mereka dengan metode rasio modal rata-rata. Buatlah laporan perubahan modal bila diketahui prive D, O, I masing-masing Rp. 5.000.000, Rp. 6.500.000, dan Rp. 6.500.000. 5. Buatlah jurnal dari semua transaksi akuntansi dari soal no. 3 dan laporan perubahan modalnya!

27

Langkah pengerjaan soal 3 latihan 1: Hitung rasio modal rata-ratanya dengan melihat periodenya Hitung bunga modal masing-masing = prosentase x Jml modal rata-ratanya. Hitung gaji disetahunkan untuk masing-masing sekutu. Buatlah daftar perhitungan pembagian laba yang disusun mulai dari bunga modal, gaji sampai pada bonus, kemudian ketiganya dijumlahkan. Laba perusahaan total dikurangi jumlah tersebut kemudian sisanya dibagi sebesar rasio modal rata-ratanya.

28

Dalam metode ini, semua faktor yang menentukan besarnya andil masing-masing sekutu di dalam menghasilkan laba atau rugi. Perubahan metode pembagian laba ini harus disetujui oleh para sekutu. Metode pembagiannya adalah sebagai berikut : 1. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal 2. Laba dibagi dengan memperhitungkan Gaji dan/ atau Bonus 3. Laba dibagi dengan memperhitungkan Bunga modal, Gaji dan/ atau Bonus 4. Penghitungan Perubahan Metode Pembagian Laba 5. Jurnal Pembagian Laba 1. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal Dalam metode ini, bunga modal dan sisanya dibagi menurut metode laba dibagi rata, rasio tertentu, atau rasio modal. Bunga dapat dihitung berdasarkan rasio modal sebagai berikut: Persediaan 1. Modal mula-mula Aktiva tetap 2. Modal awal periode 3. Modal akhir periode 4. Modal rata-rata 5. Kelebihan modal diatas jumlah tertentu. Besarnya bagian laba masing-masing sekutu adalah sama dengan bunga modal ditambah bagian sisanya. Apabila setelah diperhitungkan bunga tersebut menjadi minus, yang berarti rugi, maka besarnya bagian laba masing-masing sekutu adalah sama dengan bunga modal dikurangi dengan bagian sisa rugi. Bunga modal ini hanya sebagai alat pembagian laba saja, sehingga tidak mempengaruhi besarnya laba 2 Laba dibagi dengan memperhitungkan Gaji dan/ atau Bonus Di dalam metode ini laba yang ada dikurangi gaji dan atau bonus terlebih dahulu baru kemudian sisanya dibagi menurut laba dibagi rata, rasio tertentu atau metode rasio modal.

29

sehingga sisa tersebut dapat positif maupun negatif. Bila negatif berarti mengalami rugi riil meskipun sebenarnya ada laba namun setelah dikurangi gaji dan bonus menjadi rugi karena gaji dan bonusnya terlalu besar. Gaji biasanya dihitung dalam satuan waktu satu tahun (disetahunkan) sedangkan bonus dihitung dengan prestasi atau berdasarkan setoran modalnya. 3. Laba dibagi dengan memperhitungkan Bunga Modal, Gaji dan/ atau Bonus Dalam metode ini pertama-tama laba dikurangi bunga modal, gaji dan bonus (gabungan metode 1 dan 2) kemudian sisanya dibagi menurut metode laba dibagi rata, rasio tertentu atau metode rasio modal. Dalam metode ini, semua faktor yang menentukan besarnya andil masing-masing sekutu di dalam menghasilkan laba atau rugi. Perubahan metode pembagian laba ini harus disetujui oleh para sekutu. Contoh Soal: Firma ABC didirikan oleh Tn A, Tn B dan Tn C pada awal Pebruari 2000. Pada saat pendirian rekening modal masing-masing anggota tampak pada neraca awal sebagai berikut: Firma ABC Neraca awal 01 Pebruari 2000 Kas Piutang dagang Aktiva lancar lain-lain Aktiva tetap Jumlah 17.000.000 Hutang dagang 8.000.000 Hutang lain-lain 5.000.000 Modal Tn A 22.000.000 Modal Tn B Modal Tn C 52.000.000 Jumlah 6.000.000 1.000.000 20.000.000 10.000.000 15.000.000 52.000.000

Setelah didirikan, mutasi modal masing-masing anggota adalah sebagai berikut : a. Tanggal 01 April 2000 , Tn B menyetorkan kekayaan kepada Firma sebesar Rp 4.000.000,00 b. Tanggal 03 Mei 2000, Tn A mengambil modalnya untuk keperluan pribadi sebesar Rp 5.000.000,00 c. Tanggal 01 Juli 2000 Tn C menyetorkan kekayaannya kepada Firma sebesar Rp 3.000.000,00. Sedangkan Tn B mengambil modal sebesar Rp 3.000.000,00 d. Tanggal 05 nopember 2000 Tn A menyetorkan uang sebear Rp 6.000.000,00 sedangkan Tn C mengambil modal sebesar Rp 4.000.000,00 Setelah menjalankan usahanya , Firma ABC pada akhir tahun 2000 memperoleh laba sebesar Rp 75.000.000,00 Sedangkan daftar gaji dan bonus sebagai berikut :

30

Nama Anggota Tn A Tn B Tn C

Gaji/Bln 400.000 350.000 500.000

Bonus 6,4% dari laba 1.800.000 3.650.000

Dan bunga modal rata-rata untuk masing-masing anggota sebesar 9 %. Buatlah jurnal pembagian laba/rugi jika didasarkan atas : a. Laba rugi dibagi sama b. Laba rugi berdasarkan perbandngan 1:2:3 c. Laba rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal awal d. Laba rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal akhir e. Laba rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal rata-rata f. Laba rugi dibagi sama setelah dikurangi gaji dan bonus g. Laba rugi dibagi sama setelah dikurangi bunga modal rata - rata Bahasan : a. Laba rugi dibagi sama Hak atas laba masing-masing anggota : 75.000.000 : 3 = 25.000.000 Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C Anggota A B C Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C 75.000.000 12.500.000 25.000.000 37.500.000 75.000.000 25.000.000 25.000.000 25.000.000 Hak atas laba 1/6 X 75.000.000 = 12.500.000 2/6 X 75.000.000 = 25.000.000 3/6 X 75.000.000 = 37.500.000

b. Laba rugi dibagi berdasarkan perbandingan 1:2:3

31

c. Laba rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal awal Anggota A B C So. Mo. awal 20.000.000 10.000.000 15.000.000 Rasio L/R 20/45 10/45 15/45 Hak atas laba 20/45 X 75.000.000=33.333.333,3 10/45 X 75.000.000=16.666.666,7 15/45 X 75.000.000=25.000.000

Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C Mencari modal akhir masing-masing anggota: Modal A Tgl 1/2 3/5 5 / 11 Keterangan Debet Set. Mo.awal Prive Set. uang Modal B Tgl 1/2 2/3 1/7 Keterangan Debet Set. Mo.awal Set. Kekayaan Pengambilan 3.000.000 Modal C Tgl 1/2 1/7 5 / 11 Keterangan Debet Set. Mo.awal Set. Kekayaan Pengambilan 4.000.000 Mutasi Kredit 15.000.000 3.000.000 15.000.000 18.000.000 14.000.000 Saldo Mutasi Kredit 10.000.000 4.000.000 10.000.000 14.000.000 11.000.000 Saldo 5.000.000 6.000.000 Mutasi Kredit 20.000.000 20.000.000 15.000.000 21.000.000 Saldo 75.000.000 33.333.333,3 16.666.666,7 25.000.000

d. Laba rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal akhir

32

Anggota A B C

So. Mo. akhir 21.000.000 11.000.000 14.000.000

Rasio L/R 21/ 46 11 / 46 14 / 46

Hak atas laba 21/46 X 75.000.000=34.239.130,43 21/46 X 75.000.000=17.934.782,55 14/46 X 75.000.000=22.826.086,95 75.000.000 34.239.130,43 17.934.782,55 22.826.086,95 Modal A

Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C

e. Laba rugi dibagi sesuai dengan perbandingan modal rata-rata : Masa mo. ditanamkan 1/23/5 3 /5 5 / 11 5 / 11 31 / 12 Modal rata rataJlh bulan Mo. Yg ditanamkan 20.000.000 15.000.000 21.000.000 Jlh mo. Dlm jk waktu penanaman 60.000.000 90.000.000 42.000.000 192.000.000 17.454.540

3 6 2 11 bulan

Modal B Masa mo. Ditanamkan 1/22/4 2/41/7 1 / 7 31 / 12 Modal rata- rata Modal C Jlh bulan Mo. Yg ditanamkan 10.000.000 14.000.000 11.000.000 Jlh mo. Dlm jk waktu penanaman 20.000.000 42.000.000 66.000.000 128.000.000 11.636.360

2 3 6 11 bulan

33

Masa mo. Ditanamkan

Jlh bulan

Mo. Yg ditanamkan 15.000.000 18.000.000 14.000.000

Jlh mo. Dlm jk waktu penanaman 75.000.000 72.000.000 28.000.000 175.000.000 15.909.090

1/21/7 1 / 7 5 / 11 5 / 11 31 / 12 Modal rata- rata Anggota A B C Mo.rata-rata 17.454.540 11.636.360 15.909.000

5 4 2 11 bulan

Hak atas laba 7.454.540/44.999.990 X 75.000.000 =12.424.236,08 11.636.360/44.999.990 X 75.000.000=19.393.937,63 15.909.000/44.999.990 X 75.000.000=26.515.005,83 75.000.000 12.424.236,08 19.393.937,63 26.515.005,83 A B 3.850.000 1.800.000 5.650.000 17.000.000 C 5.500.000 3.650.000 9.150.000 17.000.000 Jumlah 13.750.000 10.250.000 24.000.000 51.000.000

Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C

f. Laba rugi dibagi sama setelah dikurangi gaji dan bonus Gaji (11 bulan) Bonus 4.800.000 Jumlah Sisa laba 9.200.000 17.000.000 4.400.000

Sisa laba : 75.000.000 24.000.000 = 51.000.000 Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C 75.000.000 26.200.000 22.650.000 26.150.000

34

g. Laba rugi dibagi sama setelah dikurangi bunga modal rata-rata A Bunga mo. ratarata(9%) Sisa laba Total 1.570.900 23.650.066,67 25.220.966,67 B 1.047.200 23.650.066,67 24.697.266,67 C 1.431.800 23.650.066,67 25.081.866,67 Jumlah 4.049.800 70950200 75.000.000

Sisa laba : 75.000.000 4.049.800 = 70.950.000 Jurnal pembagian laba rugi : Laba rugi Modal A Modal B Modal C 75.000.000 25.220.966,67 24.697.266,67 25.081.866,67

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pembagian laba atau rugi persekutuan! 2. Apa yang kita lakukan terkait dengan besarnya kerugian apabila persekutuan menderita kerugian? 3. Sebutkan metode-metode yang dapat dipergunakan untuk pembagian laba tanpa memperhitungkan bunga modal dan gaji! 4. Apabila masing-masing sekutu kontribusi modalnya ke persekutuan besarnya sama maka metode apa yang tepat digunakan untuk pembagian laba? 5. Sebutkan macam-macam dasar rasio modal yang digunakan untuk membagi laba! 6. Apa perbedaan antara modal mula-mula dengan modal awal, jelaskan! Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 7. Apa kelebihan dan kelemahan metode modal rata-rata dalam rasio pembagian laba? 8. Apabila pembagian laba persekutuan memperhitungkan bunga modal maka apa saja tahapan yang harus dilakukan dalam menghitung laba masing-masing sekutu? 9. Apabila pembagian laba persekutuan memperhitungkan bunga modal dan gaji maka apa saja tahapan yang harus dilakukan dalam menghitung laba masing-masing sekutu?.

35

RANGKUMAN 1. Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal Dalam metode ini, bunga modal dan sisanya dibagi menurut metode laba dibagi rata, rasio tertentu, atau rasio modal. Besarnya bagian laba masing-masing sekutu adalah sama dengan bunga modal ditambah bagian sisanya. 2. Laba dibagi dengan memperhitungkan Gaji dan/ atau Bonus Di dalam metode ini laba yang ada dikurangi gaji dan atau bonus terlebih dahulu baru kemudian sisanya dibagi menurut laba dibagi rata, rasio tertentu atau metode rasio modal. 3. Laba dibagi dengan memperhitungkan Bunga Modal, Gaji dan/ atau Bonus Dalam metode ini pertama-tama laba dikurangi bunga modal, gaji dan bonus (gabungan metode 1 dan 2) kemudian sisanya dibagi menurut metode laba dibagi rata, rasio tertentu atau metode rasio modal.

36

Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang ada! 1) Pernyataan yang benar mengenai pembagian laba pada persekutuan: A. Masing-masing sekutu mempunyai hak di dalam pembagian laba atau rugi persekutuan. B. Kekayaan yang disetor ke dalam sekutu sudah bukan lagi milik sekutu penyetor sehingga laba harus ditanamkan ke persekutuan lagi. C. Tanggung jawab masing-masing sekutu tidak terbatas, kecuali sekutu pasif sebatas modal saja sehingga yang berhak mendapat laba hanya sekutu aktif. D. Masing-masing sekutu berpartisipasi sebagai agen (wakil) sehingga bagian laba masing-masing harus sama.

Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang ada! 1) Pernyataan yang benar mengenai pembagian laba pada persekutuan: A. Masing-masing sekutu mempunyai hak di dalam pembagian laba atau rugi persekutuan. B. Kekayaan yang disetor ke dalam sekutu sudah bukan lagi milik sekutu penyetor sehingga laba harus ditanamkan ke persekutuan lagi. C. Tanggung jawab masing-masing sekutu tidak terbatas, kecuali sekutu pasif sebatas modal saja sehingga yang berhak mendapat laba hanya sekutu aktif. D. Masing-masing sekutu berpartisipasi sebagai agen (wakil) sehingga bagian laba masing-masing harus sama. 6) Faktor yang tidak mempengaruhi saldo modal adalah: A. Setoran modal B. Prive C. Bagian laba atau rugi D. Piutang

37

7)

Kelemahan menggunakan rasio modal awal dalam pembagian laba adalah:

A. Belum memperhitungkan transaksi lain kecuali modal. B. Mendorong orang untuk menyetor modal di awal lebih besar kemudian menariknya lagi pada pertengahan periode. C. Rasio modal awal kurang adil untuk sekutu yang antusias pada pendirian persekutuan. D. Rasio modal awal kurang adil dalam pembagian resiko rugi para sekutunya. 8) Kelemahan menggunakan rasio modal akhir sama dengan kelemhan modal awal dalam pembagian laba karena:

A. Modal awal sama dengan modal mula-mula B. Karena modal akhir dirata-rata sama dengan modal awal. C. Modal akhir juga merupakan modal awal periode berikutnya. D. Modal awal dan akhir harus sama besarnya. 9) Sekutu Amir menyetor modal Rp.196.500.000 dalam masa 1/5/2005 sampai dengan 1/8/2005 dari total modal Rp. 200.000.000 sedangkan total laba yang dibagikan akhir tahun Rp. 45.000.000 maka bagian laba Amir adalah:

A. Rp. 11.053.125 B. Rp. 12.337.500 C. Rp. 11.075.000 D. Rp. 13.187.500 10) Sekutu Rafli menyetor modal periode 1/1/2005 Rp. 60.000.000 dari total modal sekutu Rp. 200.000.000 sedangkan total laba yang dibagikan akhir tahun Rp. 20.000.000, bunga modal 8% dan gaji Rp. 750.000/ bulan maka bagian laba Rafli bila menggunakan adalah: A. Rp. 3.560.000 B. Rp. 3.500.000 C. Rp. 2.500.000 D. Rp. 3.400.000 --ooOOOoo--

38

Seperti telah kita ketahui bahwa karakteristik persekutuan adalah umur yang terbatas (limited life). Oleh karena itu sesuai karakteristik tersebut maka persekutuan sebagai asosiasi awal yang didirikan dengan tujuan tertentu, kegiatannya dapat berakhir disebabkan oleh beberapa hal, yaitu antara lain: 1. Bubar karena sesuai dengan perjanjian persekutuan, misal: jangka waktu persekutuan telah habis, tujuan persekutuan telah tercapai, masuknya sekutu baru, pengunduran diri sekutu (disertai penjualan hak sekutu yang bersangkutan kepada sekutu baru), dan persekutuan dilikuidasi. 2. Bubar karena berdasarkan UU yang berlaku sehingga secara otomatis persekutuan bubar, misal: sekutu meninggal dunia, persekutuan dilikuidasi sesuai KUHD pasal 47. 3. Bubar karena putusan pengadilan, misal perselisihan antar sekutu maupun sekutu dengan pihak luar, perusahaan mengalami pailit dan lain-lain. Modul ini akan membahas mengenai perubahan kepemilikan persekutuan dikarenakan pembelian sebagian hak sekutu lama oleh sekutu baru dan perubahan persekutuan dengan masuknya sekutu baru yang dapat dinilai goodwill dan bonusnya. Dengan mempelajari modul ini dengan baik dan benar, diharapkan Anda dapat : 1. Mengerti dan memahami perubahan persekutuan 2. Mengetahui hal-hal yang mempengaruhi berubahnya persekutuan. 3. Mampu menghitung, menjurnal dan membuat laporan perubahan modal setelah pembelian hak sekutu lama oleh sekutu baru. 4. Mampu menghitung, menjurnal dan membuat laporan perubahan modal setelah pembelian hak sekutu lama oleh sekutu baru

39

A. Masuknya Sekutu Baru Melalui Pembelian Hak Sekutu Lama Seseorang dapat menjadi anggota baru dalam persekutuan dengan jalan membeli hak sekutu lama. Hal ini ssesuai dengan karakteristik persekutuan yaitu Right to Dispose of a Partnership Interest yang artinya masing-masing sekutu mempunyai hak untuk menjual atau memindahkan haknya atas modal dan hak atas laba kepada orang lain, baik kepada anggota sekutu maupun bukan. Dalam pembelian hak sekutu lama terdapat lima kasus yang mungkin terjadi, yaitu: 1. Membeli sebagian hak seorang sekutu 2. Membeli seluruh hak seorang sekutu. 3. Membeli sebagian hak beberapa orang sekutu. 4. Membeli seluruh hak beberapa orang sekutu. 5. Membeli sebagian hak seluruh anggota sekutu. a. Harga jual-beli = Nilai buku b. Harga jual-beli > Nilai buku c. Harga jual-beli < Nilai buku Menggunakan pendekatan: - metode goodwill negatif - metode bonus

40

Contoh Soal: 1. Perhatikan tabel berikut ini! Proses masukya sekutu T Laba dan proporsi pembagian rugi-laba Persekutuan PQRS & modal

Laba yang dibagi = P. 80.000.000 Q. 100.000.000 R. 140.000.000 S. 120.000.000 Dari tabel tersebut maka bagaimana jurnal dan laporan komposisi perubahan modal serta laba-ruginya? Jawaban di bawah ini: 1. Jurnal untuk pencatatan masuknya modal T Modal Q Modal T Keterangan P Q R S 40.000.000 40.000.000 T 40 Total 440 440 beli 40 % hak sekutu Q seharga 55.000.000 Rp. 80.000.000 proporsi 15 : 25 : 30 : 30

B. Komposisi perubahan modal (dalam jutaan)

Sebelum masuknya T 80 100 120 140 Masuknya T Setelah T masuk 80 (40) 60 -

120 140 40

C. Komposisi perubahan laba (dalam jutaan) Keterangan Sebelum masuknya T Masuknya T Setelah T masuk P(15) Q(25) R(30) S (30) T Total 12 12 20 (8) 12 24 24 24 24 8 8 80 80

2. Terkait dengan soal 1, apabila masuknya sekutu T dengan cara membeli seluruh hak sekutu Q seharga Rp 110.000.000 maka bagaimana jurnal dan laporan perubahan komposisi modal serta laba-ruginya?

41

Jawaban: Jurnal untuk pencatatan masuknya modal T Modal Q Modal T Keterangan 100.000.000 100.000.000 Komposisi perubahan modal P Q 100 (100) R S T 100 Total 440 440

Sebelum masuknya T 80 Masuknya T Jumlah Keterangan 80

120 140 -

120 140 100

Komposisi perubahan laba P(15) Q(25) R(30) S (30) Sebelum masuknya T Masuknya T Setelah T masuk 12 12 20 (20) 0 24 24 24 24 T 20 20 Total 80 80

3. Terkait dengan soal 1, apabila masuknya sekutu T dengan cara membeli seluruh hak sekutu Q dan R seharga Rp. 245.000.000 maka bagaimana jurnal dan laporan perubahan komposisi modal serta laba-ruginya? Jurnal untuk pencatatan masuknya modal T dengan membeli 50% dari modal sekutu P dan Q adalah sebagai berikurt: Modal P Modal Q Modal T Keterangan Sebelum masuknya T Masuknya T Jumlah 40.000.000 50.000.000 90.000.000 Komposisi perubahan modal P 80 Q R S T 90 Total 440 440 100 120 140 -

(40) (50) 40 50

120 140 90

42

Komposisi perubahan laba Keterangan Sebelum masuknya T Masuknya T Setelah T masuk *50% **50% P(15) 12 (6)* 6 Q(25) 20 (10)** 10 R(30) S (30) 24 24 24 24 T 16 16 Total 80 80

x 12.000.000 = 6.000.000 x 20.000.000 = 10.000.000

Jurnal untuk pencatatan masuknya modal T dengan membeli 100% modal dari sekutu Q dan R adalah sebagai berikut: Modal Q Modal R Modal T Keterangan 100.000.000 120.000.000 220.000.000 Komposisi perubahan modal P Q 100 0 R 120 0 S 140 T 220 Total 440 440

Sebelum masuknya T 80 Masuknya T Jumlah 80

(100) (120)

140 220

Komposisi perubahan laba Keterangan Sebelum masuknya T Masuknya T Setelah T masuk P(15) Q(25) R(30) S (30) 12 12 20 (20) 0 24 (24) 0 24 24 T 44 44 Total 80 80

43

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1. Persekutuan NIKU merupakan perusahaan merk dagang sepatu yang sedang berkembang pesat. Sekutu baru (E) hendak bergabung ke dalam NIKU dengan jalan membeli seluruh hak sekutu U seharga 165.000.000 dengan rasio pembagian laba-rugi persekutuan NIKU sebesar 20 : 25 : 25: 30. Keterangan Rasio Modal Laba dibagi N 20 I 25 K 25 100.000.000 U 30

80.000.000 120.000.000 120.000.000 140.000.000

Terkait dengan informasi di atas maka: a) Buatlah laporan perubahan komposisi modal & laba-ruginya ! b) Buatlah jurnal yang terkait dengan transaksi di atas! 2. Persekutuan DOKU merupakan perusahaan merk dagang sepatu yang sedang berkembang pesat. Sekutu baru (Y) dan hendak bergabung ke dalam DOKU dengan jalan membeli seluruh hak sekutu U seharga 168.000.000 dengan rasio pembagian laba-rugi persekutuan NIKU sebesar 20 : 25 : 25: 30. Keterangan Rasio Modal Laba dibagi D 20 O 25 K 25 100.000.000 U 30

80.000.000 120.000.000 120.000.000 150.000.000

Terkait dengan informasi di atas maka: a. Buatlah laporan perubahan komposisi modal & laba-ruginya ! b. Buatlah jurnal yang terkait dengan transaksi di atas! c. Bila ada sekutu N yang hanya membeli 50% dari hak sekutu O (seharga 75.000.000) untuk bergabung dengan DOKU maka buatlah juga laporan perubahan komposisi modal dan laba-ruginya! 3. Apabila DOKU memerlukan tambahan modal yang cukup besar (sekutu tidak mampu lagi menambah setoran modalnya) sehingga mereka masing-masing menjual sebagian haknya (25% dari seluruh hak persekutuan) kepada sekutu baru (Y) seharga Rp. 130.000.000 maka terkait dengan informasi dan transaksi diatas: a. Buatlah laporan perubahan komposisi modal & rugi labanya dengan

44

pengakuan goodwill ! b. Buatlah jurnal yang terkait dengan transaksi di atas! 4. Romeo dan mempunyai saldo masing-masing Rp. 145.000.000 dan Juliet membagi modal sama rata pada tahun 1995. Pada awal tahun 1996 sepakat menerima Harry dengan modal yang harus disetor Rp. 175.000.000. Bila bonus dari sekutu lama juga akan diperoleh sebesar Rp. 8.000.000, maka hitunglah : c. Penilaian setoran modal berdasarkan metode goodwill sekutu lama ! d. Penilaian setoran modal berdasarkan metode goodwill sekutu baru ! e. Penilaian setoran modal berdasarkan metode bonus sekutu lama ! f. Penilaian setoran modal berdasarkan metode bonus sekutu baru !

A. Perbandingan Metode Goodwill Dengan Metode Bonus Di dalam perubahan pemilikan persekutuan melalui pembelian sebagian hak dari seluruh anggota persekutuan maka pemahaman terhadap penggunaan metode bonus dan penggunaan metode goodwill harus kita dapatkan terlebih dahulu. a). Modal masing-masing sekutu. Secara absolut jumlah modal sekutu di dalam metode goodwill dan metode bonus berbeda, akan tetapi secara prosentase sama karena dipengaruhi oleh hal-hal berikut ini: 1. Pembagian laba. Bila pembagian laba memperhatikan modal masing-masing seklutu maka metode bonus dan goodwill akan berbeda namun bila pembagian laba tidak memperhatikan modal masing-masing sekutu maka kedua metode tersebut akan sama. 2. Pembagian aktiva di dalam likuidasi Besarnya bagian kas masing-masing sekutu sangat tergantung pada saldo

45

modal masing-masing sekutu dan rasio pembagian rugi-laba. Mengenai saldo modal akan tergantung pada 3 hal, yaitu: Saldo modal sesaat setelah masuknya sekutu baru. Transaksi modal setelah masuknya sekutu baru. Rasio pembagian rugi-laba. Apabila setelah masuknya sekutu baru tidak terjadi transaksi modal dan pembagian laba atau rugi dilakukan tanpa memperhatikan jumlah modal maka metode bonus dan goodwill akan menghasilkan pembagian kas yang sama. b). Rasio Pembagian Rugi-Laba Apabila laba-rugi dibagi dengan rasio tertentu maka metode bonus dan goodwill akan menghasilkan rasio yang sama. Oleh karena itu penggunaan metode bonus dan goodwill akan menghasilkan pembagian laba (rugi) yang sama. B. Masuknya Sekutu Baru Dengan Cara Menyetor Modal Cara lain untuk menjadi anggota baru dalam persekutuan adalah dengan jalan menyetorkan modal. Besarnya setoran modal persekutuan tidak selalu sama dengan besarnya setoran sekutu baru karena hal ini dipengaruhi oleh: Keadaan persekutuan sebelum masuknya sekutu baru Setoran modal sekutu baru. Berdasarkan kasus yang mungkin terjadi terhadap masuknya sekutu baru melalui penyetoran modal ternyata dapat dikelompokkan menjadi enam, yaitu sebagai berikut: 1. Tanpa membentuk bonus maupun goodwill. 2. Bonus untuk sekutu lama 3. Bonus untuk sekutu baru. 4. Goodwill untuk sekutu lama 5. Goodwill untuk sekutu baru. 6. Goodwill untuk sekutu lama dan sekutu baru.

46

Kelompok

Modal Sekutu Lama Tetap Berubah Bertambah Berkurang

Modal Sekutu Baru (MSB) dan jumlah Setoran Modal (JSM)

Tanpa bonus dan goodwill Membentuk bonus Untuk sekutu lama Untuk sekutu baru Membentuk goodwill 1. Untuk sekutu lama 2. Untuk sekutu baru 3. Untuk sekutu lama dan baru

MSB = JSM MSB JSM MSB < JSM MSB > JSM

Bertambah Tetap Bertambah

MSB = JSM MSB >JSM MSB >JSM

Contoh soal: Perhatikan data pada tabel di bawah ini! persekutuan PQRS & modal Proses masukya sekutu S beli 40 % hak seluruh sekutu PQRS seharga 120.000.000 Laba dan proporsi pembagian rugi-laba

P.80.000.000 Q.100.000.000 R.140.000.000 S.120.000.000

Laba yang dibagi = Rp. 120.000.000 proporsi 10 : 20 : 30 : 40

Hitungkah besarnya goodwill negatif dan pengaruhnya terhadap persekutuan yang baru! Penghitungan besarnya goodwill negatif atau badwill: NP = 100 % x 120.000.000 = 300.000.000 40 % Nilai Buku Goodwill negatif 440.000.000) (140.000.000)

47

Perhitungan dengan metode goodwill P. 10 % x 140.000.000 = 14.000.000 Q, 20 % x 140.000.000 = 28.000.000 R. 30 % x 140.000.000 = 42.000.000 S. 40 % x 140.000.000 = 56.000.000 + 140.000.000 Jurnal untuk mencatat goodwill yang dihilangkan : Modal P Modal Q Modal R Modal S Penghitungan modal P. 10% x 120.000.000 = 12.000.000 Q. 20% x 120.000.000 = 24.000.000 R. 30% x 120.000.000 = 36.000.000 S. 40% x 120.000.000 = 48.000.000 * jurnal untuk pencatatan masuknya modal T Modal P Modal Q Modal R Modal S Modal T 12.000.000 24.000.000 36.000.000 48.000.000 120.000.000 Komposisi perubahan modal Keterangan Sebelum masuknya T Goodwill Masuknya T Jumlah P 80 Q 100 R 120 S 140 T 120 120 Total 440 ( 140 ) 300 14.000.000 28.000.000 42.000.000 56.000.000 Goodwill 140.000.000

( 14 ) ( 28 ) ( 42 ) ( 56 ) ( 12 ) ( 24 ) ( 36 ) ( 48 ) 54 48 42 36

48

Komposisi perubahan laba Keterangan Sebelum masuknya T Masuknya T Setelah T masuk Persekutuan ABCD dan modal A. 80.000.000 B. B.100.000.000 C. 140.000.000 D. 120.000.000 + 440.000.000 Tentukan komposisi perubahan modal & laba dengan metode goodwill. Jawab: NP = 100 % x 190.000.000 = 475.000.00 40 % Nilai buku = Goodwill = 440.000.000 35.000.000 P 12 7,2 Q 24 14,4 R 36 21,6 S 48 28,8 T 48 Total 120 120

( 4,8 ) ( 9,6 ) ( 14,4 ) ( 19,2 ) 48

2. Jika terdapat informasi berikut ini: Proses masukya sekutu E beli 40 % hak seluruh sekutu ABCD seharga 190.000.000 Laba dan proporsi pembagian rugi-laba Laba yang dibagi = Rp. 0.000.000 proporsi 10 : 15 : 40 : 35

Pembagian goodwill bagi sekutu: 1. A. 10 % x 35.000.000 = 3.500.000 2. B. 15 % x 35.000.000 = 5.250.000 3. C. 40 % x 35.000.000 = 14.000.000 4. D. 35 % x 35.000.000 = 12.250.000

49

Jurnal untuk mencatat goodwill yang diterima : Goodwill Modal A Modal B Modal C Modal D 35.000.000 3.500.000 5.250.000 14.000.000 12.250.000 Komposisi perubahan modal Keterangan Sebelum E masuk Goodwill Masuknya E Setelah E masuk A 80 3,5 64,5 B 100 5,25 76,75 C 140 14 78 D 120 12,25 65,75 E 190 Total 440 35 475

( 9 ) ( 28,5 ) ( 76 ) ( 66,5 ) 190

Komposisi perubahan laba Keterangan Sebelum E masuk Masuknya E Setelah E masuk A 18 10,8 B 27 16,2 C 72 42,2 D 63 37,8 E 72 Total 180 180

( 7,2 ) ( 10,9 ) ( 28,8 ) ( 25,2 ) 72

2) Contoh Soal: Masuknya Sekutu Baru dengan Jalan Menyetor modal Tommy dan Sandy mempunyai saldo masing-masing Rp. 110.000.000 dan membagi modal sama rata pada tahun 1998. Pada awal tahun 1999 sepakat menerima Primus dengan modal yang harus disetor Rp. 150.000.000. Bila bonus dari sekutu lama juga akan diperoleh sebesar Rp. 5.000.000, maka hitunglah 1. Penilaian setoran modal berdasarkan metode goodwill sekutu lama ! 2. Penilaian setoran modal berdasarkan metode goodwill sekutu baru ! 3. Penilaian setoran modal berdasarkan metode bonus sekutu lama ! 4. Penilaian setoran modal berdasarkan metode bonus sekutu baru !

50

Jawab: 1) Penilaian berdasarkan goodwill untuk sekutu lama Data berikut ini dalam juta : Sekutu Sebelum Penilaian penilaian ulang Tommy Sandy Primus Jumlah 110 110 220 40 40 80 ulang Setelah penilaian ulang 150 150 300 150 150 Investasi baru Modal setelah transfer 150 150 150 450

2) Penilaian berdasarkan goodwill untuk sekutu baru Data berikut ini dalam juta : Sekutu Sebelum Investasi penilaian ulang Tommy Sandy Primus Jumlah 110 110 220 163,33* 163,33 baru Modal setelah transfer 110 110 163,33 383,33

Ket : *) (Rp 150.000.000- Rp. 110.000.000)/3 + Rp. 150.000.000 = Rp 163.333.333 3) Sistem penilaian berdasarkan bonus untuk sekutu lama Data berikut ini dalam juta : Sekutu Sebelum Investasi penilaian ulang Tommy Sandy Primus Jumlah 110 110 220 13,33* 13,33 123,33 149,99 baru Modal setelah transfer 123,33 123,33 123,33 369,99

Ket : *) (Rp. 150.000.000 - Rp. 110.000.000)/ 3 = 40.000/3 =13.333,33

51

4) Sistem penilaian berdasarkan bonus untuk sekutu baru Bila bonus didapat dari sekutu lama untuk sekutu baru maka juga akan diperoleh bonus sebesar Rp. 5.000.000 untuk sekutu baru dimana merupakan transfer dari masing-masing sekutu lama sebesar Rp. 2.500.000 maka perhitungannya bonus adalah sebagai berikut: Data berikut ini dalam juta : Sekutu Sebelum Investasi penilaian ulang Tommy Sandy Primus Jumlah 110 110 220 (2,5)* (2,5) 155 150 baru Modal setelah transfer 107,5* 107,5 155 370

Ket *) Rp. 5.000.000/2 = Rp. 2.500.000 **) Rp. 110.000.000 Rp. 2.500.000

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1). 2). 3). 4). 5). 6). 7). 8). 9). Apabila persekutuan bubar apakah berarti bubarnya perusahaan ? Jelaskan!. Sebutkan 3 penyebab utama bubarnya persekutuan !. Apa saja yang termasuk dalam faktor bubarnya persekutuan karena sesuai dengan perjanjian persekutuan ?. Sebutkan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan persekutuan bubar karena putusan pengadilan!. Apa perbedaan antara perubahan persekutuan dengan perbubaran persekutuan!. Sebutkan 4 cara perubahaan persekutuan dengan masuknya sekutu Baru!. Sebutkan 5 macam cara pembelian hak sekutu lama oleh sekutu baru!. Apa saja kemungkinan yang terjadi dalam transaksi jual beli sebagian dari Hak-hak seruluh anggota sekutu!. Metode apa saja yang dapat digunakan apabila Harga jual-Beli < Nilai Buku!. menjadi 6, sebutkan 6 pengelompokan tersebut !.

10). Apabila masuknya sekutu baru dengan cara menyetor modal maka dapat dikelompok

52

Dalam pembelian hak sekutu lama terdapat lima kasus yang mungkin terjadi, yaitu: 1. Membeli sebagian hak seorang sekutu 2. Membeli seluruh hak seorang sekutu. 3. Membeli sebagian hak beberapa orang sekutu. 4. Membeli seluruh hak beberapa orang sekutu. 5. Membeli sebagian hak seluruh anggota sekutu. a. Harga jual-beli = Nilai buku b. Harga jual-beli > Nilai buku c. Harga jual-beli < Nilai buku Menggunakan pendekatan: - metode goodwill negatif - metode bonus Modal Sekutu Baru (MSB) dan jumlah Setoran Modal (JSM)

Kelompok

Modal Sekutu Lama Tetap Berubah Bertambah Berkurang

Tanpa bonus dan goodwill Membentuk bonus Untuk sekutu lama Untuk sekutu baru Membentuk goodwill 1. Untuk sekutu lama 2. Untuk sekutu baru 3. Untuk sekutu lama dan baru

MSB = JSM MSB JSM MSB < JSM MSB > JSM

Bertambah Tetap Bertambah

MSB = JSM MSB >JSM MSB >JSM

53

Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1) Bubarnya persekutuan diikuti dengan bubarnya perusahaan disebut: A. Akuisisi B. Likuidasi C. Merger D. Konsolidasi 2) Di bawah ini tidak dapat dikategorikan sebagai disolusi (bubarnya persekutuan tidak diikuti bubarnya perusahaan induk) adalah:

A. Merger B. Privatisasi C. Aliansi D. Akuisisi 3) Berikut ini yang bukan merupakan penyebab bubarnya persekutuan, yaitu: A. Persekutuan bubar karena masuknya sekutu baru B. Persekutuan bubar karena dilikudasi C. Persekutuan bubar karena mengalami kerugian D. Persekutuan bubar karena jangka waktu persekutuan habis. 4) Penyebab bubarnya persekutuan yang termasuk dalam kategori bubarnya karena berdasarkan Undang-Undang adalah:

A. Sekutu meninggal dunia. B. Pengunduran diri sekutu secara resmi. C. Persekutuan dirubah menjadi PT. D. Tujuan Persekutuan yang tertuang dalam perjanjian telah tercapai. 5) Seseorang dapat menjadi sekutu baru dari persekutuan yang telah berdiri dengan cara:

A. Mendaftar dan membuat perjanjian B. Membeli hak sekutu lama baik seorang, sebagian dari beberapa sekutu atau sebagian dari seluruh sekutu. C. Menyetor modal mula-mula. D. Memberi pinjaman kredit kepada persekutuan.

54

6)

Harga transaksi atas pembelian hak sekutu lama oleh sekutu baru akan dicatat sebagai berikut:

A. Harga transaksi sebesar harga perolehan B. Harga transaksi sebesar harga pasar C. Harga transaksi sebesar harga terendah (Low Cost). D. Harga transaksi sebesar harga buku 7) Berikut ini pernyataan yang benar adalah: A. Jual beli hak sekutu cukup disetujui oleh sekutu-sekutu yang dibeli haknya. B. Aturan main pembelian hak sekutu lama oleh sekutu baru sudah diatur dalam perjanjian. C. Sangat memungkinkan sekutu baru membeli 100% dari hak-hak seluruh sekutu. D. Pada saat sekutu baru membeli hak sekutu lama telah dihitung dahulu ruginya yang mengurangi modal. 8) Bila diketahui Persekutuan MNOX membagi laba atau rugi dengan rasio 20: 35: 25:20, sedangkan saldo modal persekutuan tersebut pada akhir tahun 2000 adalah sebagai berikut: Modal M, Rp. 60.000.000 Modal N, Rp. 105.000.000 Modal O, Rp. 75.000.000 Modal X, Rp. 60.000.000 Sekutu I masuk kedalam persekutuan MNOX dengan jalan membeli 50% hak N dan O baik atas modal maupun hak rugi laba sebesar Rp. 100.000.000 maka komposisi modal setelah masuknya I sebagai anggota sekutu adalah: A. M= Rp. 60 juta, I = 90 juta , N= 52,5 juta, O =37,5 juta dan X = 60 juta. B. M= Rp. 50 juta, I = 90 juta , N= 52,5 juta, O =37,5 juta dan X = 60 juta. C. M= Rp. 60 juta, I = 90 juta , N= 50,5 juta, O =35,5 juta dan X = 50 juta. D. M= Rp. 60 juta, I = 80 juta , N= 52,5 juta, O =35,5 juta dan X = 60 juta. 9) Terkait data no.8 maka apabila I membeli hak sekutu 25% hak sekutu M, N dan O maka struktur modalnya setelah masuknya I seabgai sekutu baru adalah :

A. M= Rp. 50 juta, I = 90 juta , N= 52,5 juta, O =37,5 juta dan X = 60 juta. B. M= Rp. 45 juta, I = 90 juta , N= 52,5 juta, O =37,5 juta dan X = 60 juta. C. M= Rp. 60 juta, I = 90 juta , N= 50,5 juta, O =35,5 juta dan X = 50 juta. D. M= Rp. 60 juta, I = 80 juta , N= 52,5 juta, O =35,5 juta dan X = 60 juta.

55

10) Terkait data no.8 maka apabila I membeli hak sekutu 30% hak seluruh sekutu maka struktur modalnya setelah masuknya sekutu I adalah sebagai berikut : A. M= Rp. 50 juta, I = 90 juta , N= 52,5 juta, O =37,5 juta dan X = 60 juta. B. M= Rp. 45 juta, I = 90 juta , N= 52,5 juta, O =37,5 juta dan X = 60 juta. C. M= Rp. 60 juta, I = 90 juta , N= 50,5 juta, O =35,5 juta dan X = 50 juta. D. M= Rp. 60 juta, I = 80 juta , N= 52,5 juta, O =35,5 juta dan X = 60 juta.

56

Likuidasi yaitu proses penjualan aktiva non-kas dari persekutuan karena perusahaan persekutuan sudah tidak memungkinkan untuk melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya dan operasional perusahaan juga sudah tidak menguntungkan sehingga terjadi pengunduran diri semua sekutu dan pembubaran perusahaan persekutuan. Perbedaan Likuidasi dengan Perubahan Persekutuan: Likuidasi terjadi apabila semua sekutu mengundurkan diri dan persekutuan dibubarkan, serta aktiva non-kasnya dijual. Perubahan persekutuan terjadi apabila: i. Sekutu berkurang, hal ini terjadi bila seorang sekutu atau beberapa sekutu mengundurkan diri. ii. Sekutu bertambah, hal ini terjadi apabila ada seorang sekutu atau beberapa sekutu yang masuk ke dalam persekutuan. Proses Likuidasi ada 4 (Empat) tahapan, yaitu: 1. Tahap menghitung dan membagi laba atau rugi persekutuan sampai saat likuidasi (berupa ratio pembagian laba). Pembagian laba dilakukan sesuai dengan metode pembagian laba. Tahap ini hanya diperlukan apabila likuidasi tidak dilakukan pada awal atau akhir periode. 2. Menguangkan (menjual) semua aktiva selain kas. Tahap yang kedua ini disebut Realisasi. Apabila nilai realisasi aktiva non-kasnya lebih kecil dibanding nilai bukunya maka kerugian harus ditanggung semua sekutu dengan mengurangkan modalnya. Sebaliknya bila nilai realisasi aktiva non-kasnya lebih besar dibanding nilai bukunya maka keuntungkan akan menambah modal semua sekutu sesuai ratio pembagian labanya. Rugi-laba tersebut diakui sebagai rugi laba realisasi. 3. Melunasi semua hutang persekutuan

57

Setelah penjualan aktiva non-kas (realisasi) maka hasilnya akan menambah kas, kemudian kas ini sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata harus digunakan terlebih dahulu untuk: a. Melunasi hutang kepada pihak ketiga (bukan sekutu) Hutang pihak ketiga harus diprioritaskan untuk dilunasi terutama hutang pihak ketiga yang jumlahnya besar terlebih dahulu. b. Melunasi hutang sekutu Setelah semua utang kepada pihak ketiga dilunasi maka menyusul pelunasan hutang sekutu yang biasanya bila hanya hutang pada seorang sekutu maka dilakukan bersama-sama dengan pengembalian modal pada likuidasi sederhana. Apabila hutang lebih dari satu sekutu maka dilakukan pelunasan dengan prioritas sekutu yang modalnya lebih besar. Apabila terbukti modalnya tidak cukup untuk melunasi hutang maka sekutu yang bersangkutan harus membayar hutang dengan harta pribadi. 4. Membagi sisa kas yang masih ada kepada para sekutu Sisa kas dibagikan setelah hutang kepada pihak ketiga dan sekutu dilunasi. Tujuan pembagian sisa kas ini adalah: i. Untuk mengembalikan modal kepada para sekutu sebagai wujud pembagian hak kepada sekutu. Pengembalian modal ini sebesar modal bersih (modal setelah dikurangi laba-rugi realisasi dan hutang) masing-masing sekutu.

ii. Untuk melindungi kepentingan sekutu dikarenakan tanggung jawab sekutu tidak terbatas maka apabila kas memungkinkan biasanya pembayaran utang kepada sekutu dilakukan bersama-sama dengan pengembalian modal kepada sekutu. Menurut cara pembagian kasnya, likuidasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Likuidasi Sekaligus/ Sederhana , yaitu likuidasi yang pembagian kasnya dilakukan serentak karena realisasi non-aktivanya sekaligus. 2. Likuidasi Bertahap/ Berangsur, yaitu likuidasi yang dilakukan sesuai tersedianya kas walaupun realisasinya belum tuntas. Sasaran dan tujuan mahasiswa mempelajari likuidasi sederhana adalah: 1. Mahasiswa mengerti dan memahami pengertian likuidasi. 2. Mahasiswa dapat membedakan antara likuidasi dengan perubahan persekutuan. 3. Mahasiswa dapat menyebutkan proses likuidasi. 4. Mahasiswa dapat membedakan antara likuidasi sederhana dengan likuidasi berangsur. 5. Mahasiswa dapat memahami per kasus likuidasi sederhana baik kondisi sekutu yang mampu maupun sekutu dalam keadaan tidak mampu. 6. Mahasiswa mampu menghitung dan membuat laporan likuidasi sederhana dalam beberapa kasus.

7. Mahasiswa mampu membuat jurnal untuk berbagai kasus likuidasi sederhana.

58

Pengertian Likuidasi Sederhana (Simple Liquidation) Likuidasi sekaligus/ sederhana sering disebut sebagai likuidasi serentak karena pembagian kasnya dilakukan serentak untuk semua sekutunya. Disamping itu sering disebut juga sebagai likuidasi tunggal karena realisasi non aktivanya hanya sekali saja dan menyeluruh. Pembagian kas dilakukan hanya seklai saja yaitu setelah semua aktiva non-kasnya terjual dan hutang kepada pihak ketiga maupun kepada sekutu telah dilunasi. Asumsi dasar: Solvensi vs Insolvensi Persekutuan Likuidasi akan terjadi pada persekutuan yang solven dan tidak solven (insolven). Persekutuan dianggap tidak solven apabila aktiva tercatat tidak memadai untuk melunasi kewajiban persekutuan yang ada. Hal ini merupakan pendekatan entirtas terhadap masalah insolvensi. Dari segi hokum insolvensi persekutuan dilihat dari sisi agregat/ kumpulan yaitu persekutuan yang dinyatakan tidak solven jika harta masing-masing sekutu ditambah harta persekutuan tidak mencukupi untuk melunasi kewajiban persekutuan. Terdapat 5 kemungkinan yang akan terjadi di dalam likuidasi sederhana/ sekaligus, yaitu: a. b. c. d. e. Semua sekutu modalnya bersaldo positif. Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif tetapi dapat ditutup dengan utang kepada sekutu yang bersangkutan. Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif namun tidak dapat ditutup dengan utang-piutang sekutu yang bersangkutan. Kondisi Khusus: Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif namun sekutu yang harus menyetor modal secara pribadi dalam keadaan tidak mampu. Kondisi Khusus: Kas yang ada tidak cukup untuk melunasi Utang kepada pihak ketiga.

59

Pada topik 1 akan dibahas likuidasi sederhana dengan 3 kemungkinan diatas dimana semua sekutu dalam keadaan mampu, kemudian pada topik kedua dibahas mengenai likuidasi sederhana dalam keadaan khusus yaitu sekutu dalam keadaan tidak mampu dan realisasi yang terlalu kecil sehingga kas tidak cukup melunasi hutang kepada pihak ketiga. 1) Saldo Semua Sekutu Setelah Realisasi Bernilai Positif. Di dalam kasus normal biasanya nilai realisasi lebih kecil daripada nilai bukunya namun kerugian akibat realisasi tidak begitu besar sehingga saldo masing-masing sekutu setelah realisasi bernilai positif semua. Langkah-langkah: a. Realisasi nilai aktiva non-kas. b. Membagi kerugian realisasi sesuai dengan proporsi rugi-labanya. c. Pelunasan utang dagang kepada pihak ketiga. d. Pelunasan hutang sekutu dan pembagian kas sekaligus Contoh soal likuidasi 4. 1: Firma GHI NERACA Per 31 Desember 2000 Kas Piutang Persediaan Aktiva Tetap 10.000.000 Hutang dagang 30.000.000 Hutang bank 30.000.000 Hutang kepada A 40.000.000 Modal G Modal H Modal I Jumlah aktiva 110.000.000 Jumlah hutang dan modal 15.000.000 25.000.000 10.000.000 20.000.000 15.000.000 25.000.000 110.000.000

G, H dan I bersepakat membagi laba rugi dengan perbandingan 30 % : 20 % : 50 %. Karena adanya ketidakcocokan , mereka bersepakat untuk melikuidasi Firmanya setelah tanggal 01 Januari 2001. Aktiva-aktiva non kas direalisasikan dengan rincian sebagai berikut : 1 . Persediaan berhasil dijual denganharga Rp 40.000.000,00 Aktiva tetap berhasil dijual dengan harga Rp 30.000.000,00 Piutang dagang dapat ditagih sebesar Rp 25.000.000,00

60

2 . -

Piutang dagang hanya dapat ditagih sebesar Rp 15.000.000,00 Aktiva tetap dijual dengan harga Rp 25.000.000,00 Persediaan laku dijual sebesar Rp 8.000.000,00 Anggota yang defisit mampu membayar

3 Idem Nomor 2. Tapi anggota yang defisit tidak mampu membayar. . Diminta : 1. Buatlah laporan likuidasi Firma 2. Buatlah jurnal-jurnal yang diperlukan Bahasan :

61

62

Jurnal realisasi : Kas Modal G Modal H Modal I Piutang dagang Persediaan Aktiva tetap Jurnal pelunasan hutang : Hutang dagang Hutang bank Hutang pada A Kas Jurnal pembagian kas : Modal G Modal H Modal I Kas 18.500.000 14.000.000 22.500.000 55.000.000 15.000.000 25.000.000 10.000.000 50.000.000 95.000.000 1.500.000 1.000.000 2.500.000 30.000.000 30.000.000 40.000.000

2) Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif akan tetapi dapat ditutup dengan utang kepada sekutu yang bersangkutan Rugi realisasi yang cukup besar dapat menyebabkan saldo milik sekutu bernilai negatif (defisit) sesudah realisasi. Apabila persekutuan memiliki hutang kepada salah seorang sekutu tersebut, maka defisit sekutu tersebut dapat ditutup dengan hutang persekutuan kepada sekutu. Langkah-langkah: 1. Realisasi nilai aktiva non-kas. 2. Membagi kerugian realisasi sesuai dengan proporsi rugi-labanya. 3. Pelunasan utang dagang kepada pihak ketiga. 4. Penutupan defisit dengan pembayaran sebagian hutang sekutu. 5. Pelunasan hutang sekutu. 6. Pembagian kas. Contoh : ..............Meneruskan informasi pada contoh soal 4.1 63

64

Jurnal realisasi : Kas Modal G Modal H Modal I Piutang dagang Persediaan Aktiva tetap 48.000.000 15.600.000 10.400.000 26.000.000 30.000.000 30.000.000 40.000.000

Jurnal pelunasan hutang : Hutang dagang Hutang bank Hutang pada A Kas 15.000.000 25.000.000 10.000.000 50.000.000

Jurnal setoran dari anggota yang defisit : Kas Modal I Jurnal pembagian kas : Modal G Modal H Kas 4.400.000 4.600.000 9.000.000 1.000.000 1.000.000

3) Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif akan tetapi tidak dapat ditutup dengan utang kepada sekutu yang bersangkutan Rugi realisasi yang cukup besar dapat menyebabkan saldo milik sekutu bernilai negatif (defisit) sesudah realisasi. Apabila defisit lebih besar daripada hutang persekutuan kepada salah seorang sekutu tersebut, maka defisit sekutu tersebut dapat ditutup dengan sebagian hutang namun akhirnya harus ditutup sekutu yang defisit tersebut dengan setoran kas. Langkah-langkah: 1. Realisasi nilai aktiva non-kas. 2. Membagi kerugian realisasi sesuai dengan proporsi rugi-labanya 3. Pelunasan utang dagang kepada pihak ketiga

65

4. Penutupan defisit dengan pembayaran sebagian hutang sekutu. 5. Pembagian kas dari selisih antara modal bersih dengan penutupan defisit yang dibebankan kepada masing-masing sekutu sesuai prosentase yang telah dikurangi prosentase sekutu tidak mampu.

66

Jurnal realisasi : Kas Modal G Modal H Modal I Piutang dagang Persediaan Aktiva tetap Jurnal pelunasan hutang : Hutang dagang Hutang bank Hutang pada A Kas Jurnal pembebanan anggita yang defisit : Modal G Modal H Modal I Jurnal pembagian kas : Modal G Modal H Kas 3.800.000 4.200.000 8.000.000 600.000 400.000 1.000.000 15.000.000 25.000.000 10.000.000 50.000.000 48.000.000 15.600.000 10.400.000 26.000.000 30.000.000 30.000.000 40.000.000

67

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1. Apa pengertian dari likuidasi? 2. Apa arti asumsi dasar solvensi dan insolvensi? Jelaskan 3. Sebutkan 4 tahap dalam proses likuidasi! 4. Apa yang dimaksud dengan realisasi?. 5. Sebutkan 2 macam likuidasi dan jelaskan masing-masing jenis likuidasi tersebut berdasarkan pembagian kasnya!. 6. Didalam likuidasi sekaligus/ sederhana terdapat 5 kemungkinan kondisi modal bersih masing- masih sekutu sebutkan!. 7. Apa yang harus dilakukan oleh para sekutu Apabila ada sekutu yang bersaldo negatif namun sekutu masih dalam kondisi mampu? 8. Jelaskan perbedaan antara sekutu yang dalam kondisi mampu dengan sekutu dalam kondisi tidak mampu! 9. Sebutkan 2 kasus yang dapat menunjukkan bahwa sekutu dianggap dalam kondisi tidak mampu! 10. Apabila sekutu yang harus menyetor modal secara pribadi dalam keadaan tidak mampu maka apa yang harus dilakukan sekukan sekutu lainya? 11. Bagaimana likuidasi dilakukan apabila kas yang ada tidak cukup untuk melunasi utang kepada ketiga ? 12. Proses apa saja yang harus dilalui sebelum melakukan penghitungan modal bersih dalam kondisi sekutu yang tidak mampu!. 13. Menutup modal bersih persekutuan, hutang pihak ketiga, hutang sekutu yang tidak dapat ditutup dengan kas maka harus ditutup dengan harta pribadi sekutunya. Hal ini termasuk karakteristik apa dalam persekutuan?

68

Likuidasi yaitu proses penjualan aktiva non-kas dari persekutuan karena perusahaan persekutuan sudah tidak memungkinkan untuk melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya dan operasional perusahaan sehingga harus dibubarkan. Menurut cara pembagian kasnya, likuidasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Likuidasi Sekaligus/ Sederhana , yaitu likuidasi yang pembagian kasnya dilakukan serentak karena realisasi non-aktivanya sekaligus. a. Semua sekutu modalnya bersaldo positif. b. Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif tetapi dapat ditutup dengan utang kepada sekutu yang bersangkutan. c. Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif namun tidak dapat ditutup dengan utang-piutang sekutu yang bersangkutan. d. Kondisi Khusus: Sekutu Secara Pribadi tidak mampu 2. Likuidasi Bertahap/ Berangsur, yaitu likuidasi yang dilakukan sesuai tersedianya kas walaupun realisasinya masih bertahap/ belum tuntas. 3. Likuidasi Sederhana dengan kondisi khusus ada 2 kondisi yaitu: a. Sekutu Yang harus Menutup Modal Negatif Dengan Asset Pribadi dalam Kondisi tidak Mampu (Insolven) maka defisit sekutu tersebut dapat ditutup dengan modal sekutu lainnya yang masih mampu. b. Kas Yang Ada Tidak Mampu Untuk Melunasi Hutang kepada pihak ketiga, maka hutang kepada pihak ketiga dapat ditutup dengan setoran kas sekutu yang mampu atau ditutup dengan hutang persekutuan kepada salah satu sekutu.

69

70

71

72

Likuidasi seperti telah dijelaskan sebelumnya merupakan proses pembubaran persekutuan ditandai penjualan aktiva non-kas dari persekutuan karena perusahaan persekutuan sudah tidak memungkinkan untuk melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya dan operasional perusahaan juga sudah tidak menguntungkan sehingga terjadi pengunduran diri semua sekutu dan pembubaran perusahaan persekutuan. Di dalam penjualan aktiva non-kas ini dalam kenyataannya tidak mudah karena banyak pihak persekutuan maupun pihak pembeli tidak mau rugi sehingga harus setiap aktiva yang akan dijual diperhitungkan dengan akurat dan teliti. Dengan demikian membutuhkan waktu lama sehingga likuidasi untuk sementara bisa dilakukan dengan aktiva non-kas yang telah diketahui harganya secara pasti, kemudian baru menyusul realisasi aktiva non-kas yang lain pada periode berikutnya. Oleh karena itu likuidasi dilakukan secara bertahap/ berangsur dalam kurun waktu berbulan-bulan bahkan sampai satu tahun. Ada dua metode pembagian kas yang digunakan : 1. Pembagian kas tanpa program kas 2. Pembagian kas dengan program kas Dengan membaca bab ini Diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran materi ini, yaitu: 1. Membuka wawasan dan pemahaman mahasiswa tentang pengertian likuidasi bertahap 2. Membuka wawasan dan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya likuidasi ber.tahap 3. Mahasiswa dapat membedakan antara likuidasi sederhana dengan likuidasi bertahap. 4. Mahasiswa mampu menyebutkan kembali urutan-urutan proses likuidasi bertahap baik urutan perhitungan kas maupun program pembagian kasnya. 5. Mahasiswa mampu melakukan praktek penghitungan kas dan program pembagian kas sampai dengan penjurnalannya.

73

A. Pengertian Likuidasi Likuidasi yaitu proses penjualan aktiva non-kas dari persekutuan karena perusahaan persekutuan sudah tidak memungkinkan untuk melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya dan operasional perusahaan juga sudah tidak menguntungkan B. Tujuan likuidasi Mengkonversi aktiva perusahaan menjadi uang tunai dengan kerugian minimum dari realisasi aktiva. Untuk menyelesaikan kewajiban yang sah dari persekutuan. Untuk membagikan uang tunai dan tunai dan aktiva lain yang tidak dapat dicairkan kepada masing-masing sekutu dengan cara yang adil.

Tujuan fungsi akuntansi yang terkait dengan likuidasi adalah untuk menyajikan informasi yang memadai agar aktiva dapat dibagikan secara adil kepada kreditor dan sekutu dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian terjadi pergeseran dari pengukuran rugi laba periodic menjadi penentuan realisasi keuntungan dan kerugian. C. Asumsi dasar: Solvensi vs Insolvensi Persekutuan Likuidasi akan terjadi pada persekutuan yang solven dan tidak solven (insolven). Persekutuan dianggap tidak solven apabila aktiva tercatat tidak memadai untuk melunasi kewajiban persekutuan yang ada. Hal ini merupakan pendekatan entirtas terhadap masalah insolvensi. Dari segi hokum insolvensi persekutuan dilihat dari sisi agregat/ kumpulan yaitu persekutuan yang dinyatakan tidak solven jika harta masing-masing sekutu ditambah harta persekutuan tidak mencukupi untuk melunasi kewajiban persekutuan. D. Pengertian likuidasi Berangsur Yaitu likuidasi yang nilai realisasi non-kasnya diketahui secara bertahap sehingga realisasinya juga dilakukan secara berangsur. Proses realisasi kadang memakan waktu lama karena memerlukan prediksi dan proyeksi yang akurat untuk harga realisasi. Oleh karena itu pembagian kas dapat dilakukan sebelum selesainya realisasi. Setelah 74

semua hutang kepada pihak ketiga berarti ada sisa kas lagi yang dapat dibagi dan menjadi hak sekutu. Kemudian untuk menentukan besarnya pembagian kas ada dua cara, yaitu: 1. membuat perhitungan pembagian 2. membuat program pembagian kas. Perhitungan pembagian kas Prosedur yang harus dilakukan dalam perhitungan pembagian kas: a. Mencatat realisasi aktiva non kas yang berhasil dijual b. Membebankan laba atau rugi akibat realisasi aktiva non kas kepada modal masing-masing anggota c. Melunasi hutang-hutang dengan menggunakan kas yang ada d. Apabila ada sebagian aktiva non kas yang belum berhasil dijual, maka dianggap suatu kerugian dan membebankan kerugian tersebut kepada para anggota e. Apabila ada biaya likuidasi yang timbul , biaya tersebut dibebankan kepada para anggota sesuai dengan perbandingan pembagian laba rugi f. Membagikan kas yang ada sebagai pengembalian modal kepada anggotaanggota yang mempunyai rekening modal bersaldo kredit ( tidak defisit ). Contoh : Fa. ABCD Neraca per 31 Desember 2000 Kas Piutang Persediaan Aktiva tetap 80.000.000 Hutang dagang 20.000.000 Hutang pada Tn A 200.000.000 Hutang pada Tn B 700.000.000 Modal A ( 30 % ) Modal B ( 20 % ) Modal C ( 25 % ) Modal D ( 25 % ) 1.000.000.000 a. Januari 2001 Piutang berhasil ditagih sebesar Rp 17.500.0000,00 Aktiva tetap yang harga pokoknya Rp 250.000.000,00 berhasil dijual seharga Rp 300.000.000,00 75 25.000.000 75.000.000 50.000.000 200.000.000 175.000.000 215.000.000 260.000.000 1.000.000.000

Likuidasi Firma dilakukan secara berangsur yang terdiri dari tahapan sebagai berikut:

b. Maret 2001 Persediaan yang harga pokoknya Rp 180.000.000,00 laku dijual seharga Rp 225.000.000,00 Sisa persediaan yang belum tertagih dihapuskan Piutang yang belum ditagih dihapuskan Sisa aktiva tetap laku dijual seharga Rp 400.000.000,00

c. Mei 2001 Bahasan : Realisasi tahap I Realisasi piutang Realisasi aktiva tetap Kas hasil realisasi Dibagikan kepada anggota : A = 30 % X 50.000.000 = 15.000.000 B = 20 % X 50.000.000 = 10.000.000 C = 25 % X 50.000.000 = 12.500.000 D = 25 % X 50.000.000 =12.500.000 Jurnal realisasi tahap I : Kas Piutang dagang Aktiva tetap Modal A Modal B Modal C Modal D Pelunasan hutang hutang Firma Hutang dagang Hutang pada A Hutang pada B Kas 25.000.000 75.000.000 50.000.000 150.000.000 317.500.000 17.500.000 250.000.000 15.000.000 10.000.000 12.500.000 12.500.000 17.500.000 300.000.000 317.500.000

Laba realisasi aktiva tetap : ( 300.000.000 250.000.000 ) = 50.000.000

76

Aktiva non kas yang belum terjual dianggap sebagai kerugian : Aktiva non kas Yang terealisasi Yang belum terealisasi Modal A (30%) Saldo 1 jan Laba realisasi I Rugia aktiva non kas belum realisasi Saldo 31 Jan. 200.000.000 15.000.000 215.000.000 (195.750.000) 19.250.000 920.000.000 267.500.000 652.500.000 Modal B (20%) 175.000.000 10.000.000 185.000.000 (130.500.000) 54.500.000 Modal C (25%) 215.000.000 12.500.000 227.500.000 (163.125.000) 64.375.000 Modal D (25%) 260.000.000 12.500.000 272.500.000 (163.125.000) 109.375.000

Membagikan kas yang ada : Modal A Modal B Modal C Modal D Kas Realisasi tahap II Realisasi persediaan Harga pokok persediaan Laba realisasi Jurnal realisasi tahap II: Kas Persediaan Modal A Modal B Modal C Modal D 225.000.000 180.000.000 13.500.000 9.000.000 11.250.000 11.250.000 225.000.000 180.000.000 45.000.000 19.250.000 54.500.000 64.375.000 109.375.000 247.500.000

77

Aktiva non kas yang belum terjual dianggap sebagai kerugian : Aktiva non kas Yang terealisasi Yang belum terealisasi Modal A (30%) Saldo 1 jan Pembagian tahap I Bagian laba realisasi Tahap I Tahap II Rugi aktiva non kas belum realisasi Saldo 31 Maret 209.250.000 (141.750.000) 67.500.000 139.500.000 (94.500.000) 45.000.000 174.375.000 (118.125.000) 56.250.000 174.375..000 (118.125.000) 56.250.000 200.000.000 (19.250.000) 180.750.000 15.000.000 13.500.000 652.500.000 180.000.000 472.500.000 Modal B (20%) 175.000.000 (54.500.000) 120.500.000 10.000.000 9.000.000 Modal C (25%) 215.000.000 (64.375.000) 150.625.000 12.500.000 11.250.000 Modal D (25%) 260.000.000 (109.375.000) 150.625.000 12.500.000 11.250.000

Membagikan kas yang ada : Modal A Modal B Modal C Modal D Kas Realisasi tahap III Piutang yang belum tertagih Persediaan yang belum terjual Dihapuskan Realisasi aktiva tetap Harga pokok Aktiva tetap Rugi realisasi 400.000.000 450.000.000 50.000.000 2.500.000 20.000.000 22.500.000 67.500.000 45.000.000 56.250.000 56.250.000 225.000.000

78

Total kerugian : 22.500.000 + 50.000.000 = 72.500.000 Jurnal realisasi tahap III : Kas Modal A Modal B Modal C Modal D Piutang dagang Persediaan Aktiva tetap Modal A (30%) Saldo 1 jan Pembagian th 1 Pembagian th. II Bagian laba realisasi Tahap I Tahap II Tahap III Saldo 31 Mei 200.000.000 (19.250.000) (67.500.000) 113250.000 15.000.000 13.500.000 (21.750.000) 120.000.000 400.000.000 21.750.000 14.500.000 18.125.000 18.125.000 2.500.000 20.000.000 450.000.000 Modal B (20%) 175.000.000 (54.500.000) (45.000.000) 75.500.000 10.000.000 9.000.000 (14.500.000) 80.000.000 Modal C (25%) 215.000.000 (64.375.000) (56.250.000) 94.375.000 12.500.000 11.250.000 (18.125.000) 100.000.000 Modal D (25%) 260.000.000 (109.375.000 ) (56.250.000) 94.375.000 12.500.000 11.250.000 (18.125.000) 100.000.000

Membagikan kas yang ada : Modal A Modal B Modal C Modal D Kas 120.000.000 80.000.000 100.000.000 100.000.000 400.000.000

79

Proses realisasi kadang memakan waktu lama karena memerlukan prediksi dan proyeksi yang akurat untuk harga realisasi. Oleh karena itu pembagian kas dapat dilakukan sebelum selesainya realisasi. Setelah semua hutang kepada pihak ketiga berarti ada sisa kas lagi yang dapat dibagi dan menjadi hak sekutu. Kemudian di dalam likuidasi berangsur setelah melakukan penghitungan pembagian kas kemudian membuat program pembagian kas. I. Program Pembagian Kas Prosedur penyusunan rencana (program) pembagian kas adalah sebagai berikut: 1. Menghitung saldo modal bersih masing-masing sekutu. Besarnya saldo modal bersih masing-masing sekutu sama dengan: Saldo awal rekening modal Ditambah: - Hutang kepada sekutu Jumlah Dikurangi: Saldo debit rekening prive Saldo piutang kepada sekutu xxxx xxxx + xxxx Modal Bersih xxxx 2. Menghitung kemampuan masing-masing sekutu untuk menanggung rugi persekutuan, besarnya rugi maksimal sebesar modal bersih dikalikan prosentase rasio pembagian laba sekutu yang bersangkutan. 3. Menyusun urutan (ranking) kemampuan masing-masing sekutu di dalam menanggung rugi dan menghitung selisih antar ranking tersebut. 4. Menyusun urutan prioritas pembagian kas dan besarnya bagian kas untuk masing-masing sekutu: xxxx + xxxx xxxx

a.

Prioritas pertama, yaitu sekutu yang berada di ranking Satu. Besarnya bagian kas prioritas pertama = rasio rugi-laba X selisih antara ranking 1 dengan ranking 2.

b.

Prioritas kedua, yaitu sekutu yang berada di ranking satu dan dua. Besarnya bagian kas prioritas kedua = rasio rugi-laba X selisih antara ranking 2 dengan ranking 3.

c.

Prioritas terakhir, yaitu semua sekutu yang berada di ranking 1 sampai ranking terakhir. Besarnya bagian kas prioritas terakhir = rasio rugi-laba X kemampuan ranking terakhir.

Contoh : Soal sama dengan di pembagian kas tanpa program kas. Bahasan : Menghitung kemampuan untuk menanggung rugi maksimum (KMRM) masing-masing anggota firma Keterangan Saldo modal Piutang kepada Fa. Jumlah investasi Dibagi: rasio laba/rugi KMRM 916.666.666,7 1.125.000.000 860.000.000 1.040.000.000 Modal A 200.000.000 75.000.000 275.000.000 30% Modal B 175.000.000 50.000.000 225.000.000 20% 215.000.000 25% 260.000.000 25% Modal C 215.000.000 Modal D 260.000.000

Menyusun urutan prioritas pembayaran kas kepada anggota Nama anggota A B C D KMRM 916.666.666,7 1.125.000.000 860.000.000 1.040.000.000 Urutan Prioritas 3 1 4 2

Jurnal realisasi tahap I : Kas Piutang dagang Aktiva tetap Modal A Modal B Modal C Modal D Pelunasan hutang hutang Firma Hutang dagang Hutang pada A Hutang pada B Kas Prioritas I : Modal B Kas Prioritas II : Modal B Modal D Kas Prioritas III : Modal A Modal B Modal D Kas Prioritas IV untuk semua anggota : Modal A Modal B Modal C Modal D Kas 39.750.000 26.500.000 33.125.000 33.125.000 132.500.000 17.000.000 11.333.333,33 14.166.666,68 42.500.000 24.666.666,66 30.833.333,33 55.500.000 17.000.000 17.000.000 25.000.000 75.000.000 50.000.000 150.000.000 317.500.000 17.500.000 250.000.000 15.000.000 10.000.000 12.500.000 12.500.000

Jurrnal realisasi tahap II: Kas Persediaan Modal A Modal B Modal C Modal D 225.000.000 180.000.000 13.500.000 9.000.000 11.250.000 11.250.000

Prioritas pembayaran telah selesai kas yang ada untuk semua anggota : Modal A Modal B Modal C Modal D Kas Jurnal realisasi tahap III : Kas Modal A Modal B Modal C Modal D Piutang dagang Persediaan Aktiva tetap Kas yang ada untuk semua anggota : Modal A Modal B Modal C Modal D Kas 82.500.000 55.000.000 131.250.000 131.250.000 400.000.000 400.000.000 21.750.000 14.500.000 18.125.000 18.125.000 2.500.000 20.000.000 450.000.000 67.500.000 45.000.000 56.250.000 56.250.000 225.000.000

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1). Apa yang dimaksud dengan likuidasi berangsur? 2). Apa tujuan dari likuidasi berangsur?. 3). Jelaskan perbedaan antara asumsi dasar solvensi dan insolvensi persekutuan!. 4). 5). 6). 7). 8). 9). Proses apa saja yang harus dilalui sebelum melakukan pembagian Kas !. Sebutkan 2 cara pembagian Kas di dalam likuidasi berangsur !. Bagaimana tahapan dan prosedur perhitungan Pembagian Kas ?. Apa pengertian rugi potensial yang maksimal dalam prosedur perhitungan Pembagian Kas? Apa saja isi dari program pembagian Kas ?. Bagaimana penyusunan prioritas pada program pembagian Kas dilakukan ?.

10). Apa yang harus dilakukan dalam pembagian Kas apabila modal bersh sekutu defisit ?.

Likuidasi Berangsur yaitu likuidasi yang nilai realisasi non-kasnya diketahui secara bertahap sehingga realisasinya juga dilakukan secara berangsur. Proses realisasi kadang memakan waktu lama karena memerlukan prediksi dan proyeksi yang akurat untuk harga realisasi. Oleh karena itu pembagian kas dapat dilakukan sebelum selesainya realisasi. Di dalam likuidasi berangsur terdapat dua peristiwa penting, yaitu: 1. Membuat perhitungan pembagian kas 2. Membuat program pembagian kas.

1) Hal-hal berikut ini merupakan alasan dilakukannya likuidasi berangsur, kecuali: A. Reliasasi total aktiva non-kasnya yang akan terjadi dinilai terlampau kecil. B. Realisasi harus diperhitungan secara tepat (akurat) sehingga memakan waktu lama. C. Mencari keuntungan realisasi. D. Menghindari kerugian yang terlampau besar. 2) Berikut ini yang bukan merupakan tujuan dari likuidasi berangsur adalah: A. Untuk menyelesaikan kewajiban yang sah dari persekutuan. B. Untuk memperoleh modal bersih yang menguntungkan bagi sekutu-sekutunya. C. Untuk mengkonversi aktiva perusahaan menjadi uang tunai dengan kerugian minimum dari realisasi aktiva yang diperhitungkan secara akurat. D. Untuk membagikan uang tunai dan non-tunai serta aktiva lain yang tidak dapat dicairkan kepada masing-masing sekutu dengan cara yang adil. 3) Untuk menentukan besarnya bagian kas masing-maisng sekutu di dalam likuidasi berangsur dapat dihitung dengan 2 cara, yaitu: A. Perhitungan pembagian kas dan program pembagian kas B. Perhitungan pembagian tanggungan hutang dan program pembagian modal. C. Perhitungan pembagian modal dan program pembagian kas D. Perhitungan pembagian laba dan program pembagian modal 4) Berikut ini merupakan tahap perhitungan pembagian kas di dalam likuidasi berangsur, kecuali: A. Menghitung saldo modal bersih masing-masing sekutu setelah pelunasan hutang pada pihak ketiga. B. Menghitung rugi potensial yang maksimal dan membagi rugi potensial C. Menghitung saldo modal bersih masing-masing sekutu setelah diperhitungkan rugi potensial. D. Menyusun ranking (urutan) kemampuan masing-masing sekutu di dalam menanggung rugi dan menghitung selisih antar ranking tersebut.

BAB 6

AKUNTANSI UNTUK PUSAT, AGEN, DAN CABANG


Tujuan Pembelajaran : 1. Memahami pengertian Agen dan Cabang serta hubungannya dengan Kantor Pusat 2. Mengerti prosedur akuntansi untuk mencatat transaksi pengiriman kekayaan antar cabang 3. Membuat rekonsiliasi antara Kantor Pusat dan Cabang 4. Menyusun Laporan Keuangan Gabungan antara Kantor Pusat dengan Cabangnya Pembahasan dalam bab ini meliputi : 1. Akuntansi untuk pusat dan agen Metode laba dicatat terpisah Metode laba dicatat secara tidak terpisah Pengiriman uang antar cabang Pengiriman barang antar cabang Pengiriman barang ke cabang di nota diatas harga pokok Barang yang di nota di atas harga pokok, belum semuanya habis terjual pada akhir periode

2. Akuntansi untuk pusat dan cabang

3. Pengiriman kekayaan antar cabang 4. Rekonsiliasi antar pusat dan cabang 5. Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan antara pusat dan cabang

Pengertian Agen dan Cabang Agen : merupakan tempat penjualan produk milik pusat dan tidak perlu dipisahkan pengelolaan manajemen maupun pencatatan akuntansinya. Semua kebijakan dan catatan akuntansi dikelola langsung oleh pusat, sedangkan agen tugasnya hanya mencari pembeli. pengelolaan manajemen serta pencatatn akuntansinya perlu diadakan pemisahan dan dalam melaksanakan kebijakan yang ditentukan oleh pusat , cabang mempunyai kebbasan untuk melaksanakannya. Sebagai pertanggungjawaban , cabang diwajibkan membuat laporan keuangan setiap periode tertentu yang dilaporkan pada pusat.

Cabang:

Akuntansi untuk Pusat dan Agen Pengawasan dana yang diberikan kepada suatu agen, hampir sama pelaksanaannya dengan sistem pengisian kas kecil yang biasanya menggunakan sistem dana bersaldo tetap. Persediaan barang di agen hanya berupa sampel dan jika ada pesanan di kirim langsung ke kantor pusat untuk dimintakan persetujuan. Metode pencatatan : 1. Laba atau rugi dicatat secara terpisah 2. Laba atau rugi dicatat secara tidak terpisah Contoh : PT. ASHARY Malang membuka agen penjualan di Solo. Berikut adalah transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2003 antara kantor pusat dan agen. 02 Januari Pengiriman sample kepada agen senilai Rp 5.000.000,00 10 Januari Pengiriman uang tunai untuk modal kerja Rp 1.000.000,00 15 Januari Penjualan melalui agen Rp 30.000.000,00 dan harga pokoknya Rp 20.000.000,00 25 Januari Agen mengeluarkan biaya promosi Rp 500.000,00 ; biaya penyimpana Rp 100.000,00 dan biaya lain lain Rp 300.000,00

31 Januari Biaya gaji dan komisi Rp 3.000.000,00 Diminta : Catatlah transaksi-transaksi di atas

Bahasan :
02 Jan. Persd. Sample agen Solo 5.000.000 Persd. Sample agen Solo 5.000.000 Pengrm. Brg kepada agen Solo 5.000.000 10 Jan. Modal kerja agen Solo Kas 15 Jan. Piutang dagang Penjualan agen Solo HPP agen Solo Persd. Barang 25 Jan. By. Promosi agen Solo By. Penyimp. Agen Solo By. Lain-lain agen Solo Kas 31 Jan. 1.000.000 1.000.000 30.000.000 30.000.000 20.000.000 20.000.000 500.000 100.000 300.000 900.000 By. Promosi By. Penyimp. By. Lain-lain Kas By. Gaji dan komisi Kas 500.000 100.000 300.000 900.000 3.000.000 3.000.000 Pengrm. Brg kepada agen Solo 5.000.000 Modal kerja agen Solo Kas Piutang dagang Penjualan agen Solo 1.000.000 1.000.000 30.000.000 30.000.000

By. Gaji dan komisi agen Solo 3.000.000 Kas Jr. Penutup : Penjualan agen Solo By. Promosi agen Solo By. Penyimp. Agen Solo By. Lain-lain agen Solo HPP agen Solo Laba agen Solo Laba agen Solo Laba / Rugi 30.000.000 500.000 100.000 300.000 20.000.000 6.100.000 6.100.000 6.100.000 3.000.000

By. Gaji dan komisi agen Solo 3.000.000

Akuntansi untuk Pusat dan Cabang Otonomi cabang : 1. Menyelenggarakan pembukuan 2. Dapat membeli sendiri barang dagangan dari pihak ketiga ntuk memenuhi permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh kantor pusat 3. Melakukan aktivitas penjualan Sistem : 1. Setralisasi : diperlakukan sama dengan agen 2. Desentralisasi : dianggap sebagai unit usaha yang berdiri sendiri Hubungan antara kantor pusat dan cabang akan tampak pada rekening timbal balik ( Reciprocal Account ), yaitu rekening buku besar yang diselenggarakan oleh masingmasing pihak. Penggunaan rekening timbal balik sebagai berikut : 1. Di kantor pusat terdapat rekening R/K Kantor Cabang Debit untuk mencatat : a. Pengiriman uang atau barang dropping) ke kantor cabang b. Pembebanan biaya kepada kantor cabang c. Pengakuan laba dari operasi kantor cabang Kredit untuk mencatat : a. Penerimaan uang dari kantor cabang b. Penerimaan kiriman barang atau pengembalian barang dari kantor cabang c. Pengakuan rugi dari operasi kantor cabang 2. Di kantor cabang terdapat rekening R/K Kantor Pusat Debit untuk mencatat : a. Pengiriman atau setoran uang kepada kantor pusat b. Pengembalian atau pengiriman barang ke kantor pusat c. Rugi operasi cabang pada saat penutupan pusat Kredit untuk mencatat : a. Penerimaan kiriman uang dari kantor pusat b. Penerimaan dropping barang dari kantor pusat c. Laba operasi cabang pada saat peutupan untuk dilaporkan kepada antor pusat untuk dilaporkan kepada kantor

Contoh : Untuk memperluas daerah pemasarannya PT ASHARY membuka kantor cabang pada awal bulan September. Berikut transaksi yang teradi selama bulan September : 01 September 05 September 15 September 20 September Modal kerja untuk kantor caban Rp20.000.000,00 Dropping barang dagangan seni Rp10.000.000,00 Kantor cabnag membeli alat perlengkapan kantor Rp 300.000,00 Penjualan oleh kantor cabang : - Tunai - Kredit 24 September 27 September Rp 3.000.000,00 Rp 4.000.000,00

Penerimaan piutang Rp 2.000.000,00 Biaya biaya oleh kantor cabang : - Biaya penjualan - Biaya promosi - Gaji karyawan Rp 250.000,00 Rp 300.000,00 Rp 1.000.000,00

- Biaya telepon dan listrik Rp 500.000,00 29 September Biaya biaya operasi yang dibebankan oleh kantor pusat : - Biaya angkut dan pengiriman - Biaya asuransi - Biaya bank 30 September Diminta : Catatlah transaksi di atas pada pembukuan kantor pusat dan kantor cabang. Bahasan : Rp 100.00000 Rp 800.00000 Rp100.000,00

Persediaan barang yang ada di cabang senilai Rp 4.000.000,00

Tanggal 01 Sept. 05 Sept. 15 Sept. 20 Sept. Kas

Kantor Pusat R/K- Kantor cabang 20.000.000 20.0000.000 10.000.000 R/K-Kantor cabang Kas

Kantor Cabang 20.000.000 20.000.000 10.000.000 10.000.000 300.000 300.000 3.000.000 4.000.000 7.000.000 2.000.000 2.000.000 250.000 300.000 1.000.000 500.000 2.050.000 100.000 800.000 100.000 1.000.000 R/K- Kantor pusat Penrm. Brg dr pusat R/K-Kantor pusat Alat perlengk. Kantor Kas Kas Piutang dagang Penjualan

Pengirm. Brg ke cabang 10.000.000

24 Sept. 27 Sept.

Kas Piutang dagang Biaya penjualan Biaya promosi Gaji karyawan Biaya telepon & listrik Kas

29 Sept.

R/K-Kantor cabang Biaya angkut Biaya asuransi Pendapatan bunga

1.000.000 100.000 800.000 100.000

Biaya angkut Biaya asuransi Biaya bunga R/K-Kantor pusat

30 Sept.

Penyesuaian & Tutup buku: 1. Mencatat persd. Brg di gudang Persediaan brg dagangan 4.000.000 R/L 2. Menutup rek. Penj. Ke R/L Penjualan R/L 4.000.000 7.000.000 7.000.000

3.

Pemindahan rek. By ke R/L

R/L Rugi Pengrm. Brg dr pusat By. Penjualan By. Promosi Gaji kary.

11.000.000 2.050.000 10.000.000 250.000 300.000 1.000.000 500.000 100.000 800.000 100.000 2.050.000 2.050.000

By. Telepon & listrik By. Angkut By. Asuransi By. Bunga R/K-Kantor pusat 4. Pemindahan So. Rugi cabang ke pusat Pengakuan rugi cabang oleh pusat R/L cabang R/K_Kantor pusat 6. 2.050.000 2.050.000 R/L R/L

5.

Pemindahan R/L cabang ke pusat R/L R/L cabang 2.050.000

2.050.000

Pengiriman kekayaan selain barang dagangan ke kantor cabang Kantor pusat Aktiva tetap Kantor cabang xx Aktiva tetap Inv tetap Kantor cabang AT/Shm./Srt berharga xx xx xx Untuk Investasi Jangka panjang AT/Shm/Surat berharga Inv. Tetap dari kantor pusat xx xx Aktiva tetap Aktiva tetap Kantor pusat Kantor Cabang xx xx

Pengiriman Kekayaan Antar Cabang Perkembangan kantor pusat memungkinkan ntuk mempunyai kantor cabang lebih dari satu, sehingga tidak tertutup kemungkinan aka terjadi transaksi antara cabang yang satu dengan cabang lainnya.

Bentuk transaksi : Pengiriman uang (transfer uang) antar cabang Pegiriman barang antar cabang Pengiriman barang ke cabang di nota di atas arga pokoknya

Pengiriman Uang antar Cabang Pencatatan dilakukan oleh masing-masing pihak yaitu cabang penerima akan mengkredit R/K-Kantor pusat dan cabang pengirim akan mendebit R/K-Kantor pusat. Sedangkan untuk kantor pusat sendiri akan engkredit R/K-Kantor cabang pengirim dan mendebit R/K-Kantor cabang penerima. Contoh: Perusahaan Asharymepunyai kantor pusat di Malang dan membuka cabnag di dua kota, yaitu cabang Surabaya dan cabang Solo. Kantor pusat Malang memerintahkan kantor cabang Surabaya untuk mengirimkan uang sejumlah Rp 5.000.000,00 kepada kantor cabang Solo untuk memperluas pemasarannya. Cb. Pengirim R/K-Kantor pusat 5.000.000 Kas 5.000.000 Cb. Penerima Kas 5.000.000 R/K-Kt pusat 5.000.000 Kantor Pusat R/K-Kt. cb. Solo 5.000.000 R/K-Kt.cb. Sby 5.000.000

Pengiriman Barang antar Cabang Perlakuan ongkos angkut : 1. Ongkos angkut barang dari cabang pengirim ke cabang penerima, terlebih dahulu di bayar oleh cabang engirim dan nantinya akan diperhitungkan sebagai beban kantor pusat. 2. Cabnag penerima akan dibebani ongkos angkus sebesar ongkos angkut apabila barang tersebut langsung dikirim dari kantor pusat, bukan sebesar ongkos angkut dari cabang pengirim. 3. Apabila teradi selisih ongkos angkut antar abang pengirimm ke cabang penerima dengan ongkos angkut dari kantor pusat langsung ke cabang penerima dibebankan ke kantor pusat dan dicatat dalam rekening Selisih Ongkos Angkut Barang Antar Cabang. Contoh : Kator pusat Malang mengirimkan barang dagangannya ke kantor cabangnya di Surabaya dengan harga pokok Rp 1.000.000,00 dan ongkos kirimnya sebesar Rp 50.000,00. Kantor pusat meerintahkan kepada kantor cabang Surabaya untuk mengirimkan barang ke kantor cabang Solo untuk mmenuhi permintaan yang endadak senilai Rp 1.000.000,00. Kantor cabang Surabaya engeluarkan ongkos kirim Rp 75.000,00. Jika kantor pusat mengirim langsung ongkos kirim sebesar Rp 60.000,00. 9

Bahasan :

10

Perlakuan selisih ongkos angkut dalam laporan keuangan : 1. Kantor pusat : diperlakukan sebagai engurang R/L cabang yang menerima barang yang terakhir 2. Gabungan : diperlakukan sebagai biaya penjualan atau biaya administrasi dan umum. Pengiriman Barang ke Cabang di Nota di atas Harga Pokoknya Tujuan : untuk menutup sebagian ongkos pegurusan dan ongkos pengawasan serta menutup biaya-biaya administrasi yang menyangkut hubungan antara kantor pusat dan kantor cabang. Selisih yang ada antara harga pokokmenurut pusat denganharga nota untuk cabang, dicatat ke dalam rekening Cadangan Kenaikan Harga Cabang pada buku kantor pusat. Contoh : Kantor pusat mengirimkan barang dagangan kepada kantor cabang dicatat sebesar 20 % di atas harga pokoknya. Harga pokok barang Rp 5.000.000,00. Diakhir peride dilaporkan barang habis terjual dengan harga Rp .000.000,00 Bahasan :
Keterangan 1. Penjualan ke kt. Cabang R/K-Kt.Cb. Kantor Pusat 6.000.000 5.000.000 1.000.000 R/L R/K-Kt.pusat 3.000.000 3.000.000 Pengrm.brg ke cb. Cad. Kenaikan hrg brg cabang 2. Penjualan oleh cabang Laba : Rp 3.000.000,00 3. Penyesuaian Penjualan HPP Yg dilprkan 9.000.000 5.000.000 Cad.kenikan hrg brg cabang R/L-Kt.cabang 1.000.000 1.000.000 3.000.000 R/K-Kt. Cabang 3.000.000 R/LKt. Cabang 3.000.000 Kantor Cabang Penr.brg dr pst 6.000.000 R/k-Kt.pusat 6.000.000

Laba sbnnya 4.000.000 Kekurangan lb 1.000.000 4. Menutup R/L cabang ke R/L

R/L-Kt cabang R/L

4.000.000 4.000.000

11

Jika Akhir Periode belum Terjual Seluruhnya Perlu dilakukan penyesuaian rekening Cadangan Kenaikan Harga Barang cabang ; Harga Pokok ; dan Laba yang Dilaporka oleh Cabang. Contoh : Idem contoh diatas tapi di akhir periode yang terjual sebesar Rp 3.000.000,00 dengan mendapatkan laba Rp 500.000,00. Bahasan : Harga pokok brg yang terjual sebenarnya : (100/120) X Rp 3.000.000,00 = Rp 2.500.000,00 Laba sebenarnya : (Rp 3.000.000,00 + Rp 500.000,00) Rp 2.500.000,00 = Rp 1.000.000,00 Kenaikan harga barang yang telah terjual : Rp 3.000.000,00 Rp 2.500.000,00 = Rp 500.000,00
Keterangan 1. 2. laporan laba di akhir periode Rp 500.000,00 Penyesuaian terhadap rekening Cadangan kenaikan harga barang cabang dan laba cabang Menutup rekening R/L cabang yang sebenarnya ke rekening rugi laba R/L cabang R/L-Cabang R/L Cabang R/L 1.000.000 1.000.000 Kantor pusat R/K-Kantor Cabang 500.000 500.000 500.000 R/L Kantor Cabang 500.000 R/L-kantor pusat 500.000

Cad.kenikn harga brg cabang 500.000

3.

Rekonsiliasi Antara Kantor Pusat dan Cabang Tujuan rekonsiliasi : untuk mencocokkan catatan transaksi antara dua pihak yang memiliki hubungan bisnis yang rutin. Agar rekening R/K Kantor pusat pada buku cabang dan R/K Kantor Cabang pada buku pusat menunjukkan saldo yang sama besarnya. Jurnal koreksi harus dibuat untuk membenarka pembukuan milik masing-masing pihak. Jurnal penyesuaian dan rekonsiliasi dibuat sebelum disusun laporan keuangan gabungan. Contoh : PT ASHARY Malang empunyai cabang perusahaan di kota Solo. Pada saat akan disusun Laporan Keuangan gabungan antara kantor pusat dan cabangnya, terjadi ketidaksamaan saldo antara rekening R/K Kantor Pusat di buku cabang dan rekening R/K Kantor Cabang dibuku pusat. Data keuangan dan transaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

12

1. Saldo rekening R/K-Pusat sebesar Rp 432.000.000,00 sedangkan saldo R/Kcabang sejumlah Rp 450.000.0000 masing-masing per tanggal 31 Desember 2000. 2. Kantor cabang mengirimkan cek dengan no. 270698 pada tanggal 30 Desember 2000 sebesar Rp 15.000.000,00 dan cek ini baru diterima pada tanggal 5 Januari 2001. 3. Kantor pusat mengirimkan barang dagangan kepada cabang pada tanggal 25 Desember 2000. Harga pokok barang dagangan tersebut adalah Rp 25.000.000,00 dan harga transfer ke cabang sebesar Rp 30.000.000,00. Barang dagangan ini baru diterima oleh cabang pada tanggal 10 januari 2001. 4. Biaya iklan sejumlah Rp 10.000.000,00 yang dibebankan kepada cabang oleh pusat keliru dicatat leh cabang sebesar Rp 8.000.000,00 5. Seorang langganan kantor pusat telah eluasi hutangnya melalui kantor cabang sebesar Rp 20.000.000,00 dan pelunasan ini ternyata belum diberitahukan kepada kantor pusat. Bahasan : Jurnal penyesuaian dan rekonsiliasi : 1. Kas (dalam perjalanan) R/K Kantor cabang 3. Barang dari pusat (dalam perjalanan R/K Kantor pusat 3. Biaya Iklan R/K Kantor pusat 4. R/K Kator cabang Piutang dagang Dan cabang akan mencatat : Kas R/K Kantor pusat 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 2.000.000 2.000.000 30.000.000 30.000.000 15.000.000 15.000.000

13

PT ASHARY REKONSILIASI KANTOR PUSAT DAN CABANG PER 31 DESEMBER 2000


No. 1 2 3 4 5 Keterangan So. 31 Desember 2000 JP. No. 1 JP. No. 2 JP. No. 3 JP. No. 4 455.000.000 30.000.000 2.000.000 20.000.000 455.000.000 R/K - Pusat (Buku Cabang) 423.000.000 R/K Cabang (Buku Pusat) 450.000.000 (15.000.000)

Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan antara Pusat dan Cabang Pada akhir periode akuntansi, kantor pusat dan kantor cabang wajib menyusun Laporan Keuangan (neraca dan rugi laba) dari operasinya selama satu periode. Masing-masing akan membuat Laporan Keuangan secara individual dan kemudian kantor pusat wajib embuat Laporan Keuagan gabungan. Dalam menyusun Laporan Keuangan gabungan, semua transaksi antara pusat dan cabang dibatalkan dan kekayaan serta hutang cabang dan pusat dijadikan satu. Langkah langkah penyusunan neraca gabungan : a. Mengeliminasi saldo rekening R/K Kantor pusat dengan R/K Kantor cabang dan saldo rekening hutang dengan piutang antara kantor pusat dan cabang yang ada pada neraca individual kantor pusat maupun kantor cabang b. Menggabungkan saldo rekening-rekening aktiva dan rekeningrekening yang ada dalam neraca individual kantor pusat dan cabangnya. Langkah-langkah penyusunan Rugi Laba gabungan : a. Mengeliminasi saldo rekening pengiriman barang dari pusat dengan rekeningrekening pendapatan dan biaya yang terjadi antara pusat dancabang b. Menggabngkan saldo rekening-rekening pendapatan dan laba di luar usaha, rekening-rekening biaya dan rugi di luar usaha yang terdapat dala laporan rugi laba individual kantor pusat dan cabang.

14

Contoh : Berikut adalah neraca dan rugi laba milik kantor pusat dancabangnya pada akhir tahun 2000. Kantor Pusat Neraca 31 Desember 2000 Kas Piutang Persediaan R/K Cabang Aktiva tetap Aktiva lain-lain Total Aktiva 16.200.000 Hutang dagang 9.720.000 Hutang lainlain 6.000.000 Modal saham 15.800.000 Laba yang 80.000.000 ditahan 13.080.000 140.800.000 Total pasiva Kantor Pusat Laporan Rugi Laba 31 Desember 2000 Penjualan Harga pokok penjualan : Persediaan awal Pembelian Barang tersedia untuk dijual Pengiriman barang ke cabang Persediaan akhir Harga pokok penjualan Laba kotor operasi Biaya-biaya operasi: Biaya administrasi Biaya penjualan Biaya operasi lain-lain Total biaya operasi Laba bersih operasi 2.000.000 3.000.000 1.600.000 6.600.000 20.600.000 6.000.000 13.500.000 19.500.000 (1.500.000) (6.000.000) 12.000.000 27.200.000 39.200.000 5.200.000 15.000.000 100.000.000 20.600.000

140.800.000

15

Kantor Cabang Neraca 31 Desember 2000 Kas Piutang Persediaan Aktiva tetap Total Aktiva 9.200.000 Hutang dagang 4.500.000 Hutang gaji 600.000 R/K - pusat 3.120.000 17.420.000 Total pasiva Kantor Cabang Laporan Rugi Laba 31 Desember 2000 Penjualan Harga pokok penjualan : Persediaan awal Penerimaan barang dari pusat Pembelian Barang tersedia untuk dijual Persediaan akhir Harga pokok penjualan Laba kotor operasi Biaya-biaya operasi: Biaya gaji Biaya administrasi Biaya penjualan Biaya penyusutan Total biaya operasi Laba bersih operasi 300.000 220.000 380.000 400.000 1.300.000 6.400.000 0 1.500.000 10.400.000 11.900.000 (600.000) 11.300.000 7.700.000 19.000.000 17.420.000 920.000 700.000 15.800.000

16

Kertas Kerja Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan adalah sebagai berikut:

17

Kertas Kerja Penyusunan Rugi Laba Gabungan Kantor Pusat dan Kantor Cabang 31 Desember 2000

18

Jurnal eliminasi : R/K Pusat R/K Cabang Pengiriman barang ke cabang Penerimaan barang dari pusat Laporan Keuangan Gabungan : Kantor Pusat dan Kantor Cabang Neraca 31 Desember 2000 Kas Piutang Persediaan Aktiva tetap Aktiva lain-lain Total Aktiva 11.800.000 Hutang dagang 14.220.000 Hutang lain-lain 20.200.000 Hutang gaji 83.120.000 Modal saham 13.080.000 Laba yang ditahan 142.420.000 Total pasiva 6.120.000 15.000.000 700.000 100.000.000 20.600.000 142.420.000 1.500.000 1.500.000 15.800.000 15.800.000

19

Kantor Pusat dan Kantor Cabang Laporan Rugi Laba 31 Desember 2000 Penjualan Harga pokok penjualan : Persediaan awal Pembelian Barang tersedia untuk dijual Persediaan akhir Harga pokok penjualan Laba kotor operasi Biaya-biaya operasi: Biaya administrasi Biaya penjualan Biaya penyusutan Biaya gaji Biaya operasi lain-lain Total biaya operasi Laba bersih operasi 2.300.000 3.220.000 380.000 400.000 1.600.000 7.900.000 27.000.000 6.000.000 23.900.000 31.400.000 (6.600.000) 23.300.000 34.900.000 58.200.000

20

Soal : 1. Perusahaan minuman AQUARIES yang berkantor pusat di Jakarta mempunyai cabang di kota Semarang dan Surabaya. Berikut ini adalah transaksi yang terjadi diantara kantor pusat dengan cabang selama satu bulan : a. Tanggal 2 Januari engirim sejulah uang tunai kepada cabang Semarang untuk pegisian dana sejulah Rp 4.500.000,00 sedangkan untuk cabang Surabaya sebesar Rp 5.000.000,00 b. Tanggal 15 anuari pegirima aktiva tetap untuk eralata kantor cabang Searang yang sudah harus diganti seharga Rp 750.00000 c. Tanggal 16 Januari pengiriman barang ke cabang Surabaya sebesar Rp 4.000.000,00 d. Tanggal 22 Januari sebagian uang dikirimkan ke cabang Semarang yaitu sejumlah Rp 2.000.00000 dikirimkan ke cabang Surabaya atas perintah kantor pusat. e. Tanggal 26 Januari cabang Semarang menyetorkan sejumlah uang Rp 1.000.000,00 ke kantor pusat. f. Tanggal 28 Januari pengiriman barang ke cabang Semarang di nota 20 % di atas harga pokoknya. Harga pokok barang tersebut adalah Rp 2.000.000,0

g. Tanggal 31 Januari cabang Semarang menerima kiriman barang dari cabang Surabaya sebesar Rp 500.000,00 atas perintah kantor pusat. Ongkos angkut dari Surabaya ke Semarang adalah Rp 50.000,00 sedangkan bila dikirim dari pusat Rp 25.000,00 Berdasarkan transaksi-transaksi di atas : a. Buatlah jurnal pada buku kantor pusat b. Jurnal pada buku kantor cabang Semarang c. Jurnal pada buku kantor cabang Surabaya 2. PT. ABC yang mempunyai kantor pusat di kota Z mempunyai sebuah cabang di kota X. Cabang X diberi kebebasann untuk dapat membeli barang daganagn dari pihak luar. Dibawah ini adalah beberapa rekening neraca saldo pada tanggal 31 Desember 2000 antara kantor pusat dan kantor cabang. Rekening Penjual Pengiriman barang ke cabang Pembelian Persediaan awal Penerimaan barang dari pusat Biaya operasi Laba di luar usaha Informasi lain yang ada adalah : 280.000 44.000 Kantor pusat 1.200.000 160.000 700.000 400.000 110.000 300.00 192.000 120.000 Kantor cabang 600.000

21

Persediaan per 31 Desember 2000 adalah : Di kantor pusat Rp 400.000,0 Di kantor cabang Rp 200.00000 ( 10 % dari luar perusahaan)

Berdasarkan inforasi di atas, buatlah : a. Kertas kerja penyusunan laporan rugi laba gabungan dengan disertai penyesuaian dan eliminasinya b. Laporan rugi laba gabungan antara pusat dan cabang 3. Berikut ini neraca milik kantor pusat dan cabang cabangnya untuk periode yang berakhir 31 Desember 2000 : Rekening Kas Persediaan Aktiva lancar lain-lain Aktiva tetap R/K-Cabang A R/K Cabang B R/K-cabang C Hutang R/K-Pusat Modal saham Laba ditahan 4.000.000 1.122.000 Pusat 420.000 900.000 451.000 2.000.000 400.000 920.000 500.000 469.000 526.000 400.000 159.000 920.000 413.000 500.000 Cabang A 60.000 600.000 266.000 Cabang B 440.000 239.000 400.000 Cabang C 80.000 300.000 533.000

Berdasarkan data rekening-rekening neraca kantor pusat dan cabang-cabangnya di atas, buatlah : a. Kertas kerja penyusunan neraca gabungan b. Jurnal eliminasi yang ada c. Neraca gabungan kantor pusat dan cabang-cabangnya

22

BAB 7

AKUNTANSI PENJUALAN ANGSURAN DAN KONSINYASI

TOPIK 1

Akuntansi Penjualan Angsuran


Dalam dunia perdagangan, banyak terdapat perusahaan perusahaan negeri maupun swasta yang menjual produk produknya secara cicilan/angsuran. Misalnya perumnas yang menjual rumah rumah kepada masyarakat. Dealer menjual kendaraan kendaraan bermotor atau mobil secara kredit. 1.1 Pengertian Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian bahwa sebagian harta atau seluruh harga barang yang dijual akan dibayar secara bertahap (berangsur angsur) oleh si pembeli dengan tenggang waktu tertentu. Karena sifat pembayaran secara berangsur angsur, ada kemungkinan si penjual akan menanggung resiko. Resiko tersebut, misalnya si pembeli tidak melunasi sisa angsurannya. Untuk melindungi kepentingan si penjual atas kemungkinan resiko tersebut, maka jual beli secara angsuran sering berdasarkan atas perjanjian. Perjanjian tersebut antara lain : 1. Kontrak perjanjian bersayarat Menurut perjanjian ini, hak milik atas barang ditahan sementara oleh si penjual sampai seluruh angsuran dilunasi. 2. Hak milik jaminan dengan hipotik Menurut perjanjian ini, hak milik atas barang dapat diserakan kepada si pembeli. Tetapi bagian yang belum dilunasi, harus digadaikan atau dihipotikkan.

23

3.

Hak milik diserahkan kepada pihak ketiga. Dalam hal ini, hak milik atas barang untuk sementara diserahkan kepeda pihak ketiga tau suatu lembaga jaminan. Barang tersebut akan disimpan sampai seluruh angsurannya lunas. Setelah pembayarannya lunas, maka lembaga jaminan yang akan menyerahkan hak mili atas barang tersebut kepada si pembeli.

Dalam perjanjian jual beli secara angsuran, apabila pembeli tidak dapat melanjutkan angsuranya, maka barang tersebut akan diambil kembali oleh si penjual. Dalam hal ini, si penjual harus memperhatikan resiko ekmungkinan kerugian. Misalnya, nilai sisa barang lebih rendah dari nilai yang diperhitungkan saat kontrak jual beli ditandatangani. Oleh kerena itu , dalam jail beli secara angsuran, si penjual harus memperhatikan factor factor berikut ini : 1. Pembayaran uang muka ( down payment ) harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi sebagai turunnya nilai barang sebagai periode angsuran. 2. Jarak antar angsuran dengan angsuran berikutnya tidak terlalu lama. 3. Jumlah angsuran harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi akibat penurunan niali barang selama jangka waktu tiap tiap angsuran. 1.2 Pencatatan Transaksi Penjualan Angsuran

Pencatatan transaksi dalam penjualan angsuran ada dua jenis, yaitu pencatatan transaksi penjualan angsuran aktiva tetap bergerak dan pencatatan transaksi penjualan angsuran aktiva bergerak. 1.2.1 Transaksi penjualan angsuran aktiva tidak bergerak Dalam penjualan angsuran untuk barang tidak bergerak biasanya pada saat kontrak jual beli ditandatangani, akan diikuti dengan pembayaran pertama (uang muka). Sedangkan barang yang dijual tersebut, dijadikan jaminan hipotek bagi sisa harga jual yang belum dilunasi. Sebagai ilustrasi, di bawah ini ada contoh mengenai jual beli secara angsuran: Perusahaan real estate pada tanggal 1 Agustus 2000 menjual rumah kepada Tuan Tejo dengan harga Rp 75.000.000,00. Harga pokok rumah seharga Rp 45.000.000,00. Pada saat penjualan, perusahaan real estatemenerima pembayaran pertama sebesar Rp 15.000.000,00. Sisanya sebesar Rp 60.000.000,00 disetujui akan dihipotikkan.Sisa tersebut akan dilunasi dalam 20 kali angsuran tengah tahunan @ Rp 3.000.000,00 ditambah bunga 12% setahun. Bunga dihitung dari sisa angsuran yang belum dibayar. Komisi dan biaya penjualan lainnya yang dikeluarkan sebesar Rp 2.250.000,00 telah dibayar. Diminta : Membuat jurnal sampai dengan akhir tahun 2001. A. Laba diakui pada saat penjualan angsuran 1. Pada tanggal 1 Agustus 2000 dijual rumah seharga Rp 75.000.000,00 dengnan harga pokok sebesar Rp 45.000.000,00. Jurnal :

24

Piutang dagang Rumah

Rp 75.000.000,00 Rp 45.000.000,00 Rp 30.000.000,00

Laba kotor penjualan rumah 2.

Penerimaan uang muka sebesar Rp 15.000.000,00, sisanya hipotik (tanggal 1 Agustus 2000). Jurnal : Kas Piutang hipotik Rp 15.000.000,00 RP 60.000.000,00 Rp 75.000.000,00 Piutang dagang

3.

Pembayaran komisi dari biaya penjualan lainnya Rp 2.250.000,00 (tanggal 1 Agustus). Jurnal : Beban penjualan Kas Rp 2.250.000,00 Rp 2.250.000,00

4.

Jurnal penyesuaian (31 Desember) untuk bunga berjalan selama 5 bulan (tanggal 1 Agustus sampai 31 Desember). Jurnal : Bunga yang masih harus diterima Rp 3.000.000,00 Pendapatan bunga Rp 3.000.000,00. Rp. 30.000.000 Rp. 3.000.000 Rp. 2.250.000 Rp. 30.750.000 Rp. 3.000.000 Rp. 3.000.000

5/12 x 12% x Rp 60.000.000,00 = Rp 3.000.000,00

5.

Jurnal penutup (31 Desember) Laba kotor penjualan rumah Pendapatan bunga Beban penjualan Ikhtisar laba rugi

6.

Jurnal pembalik (tanggal 1Januari 2001) Pendapatan bunga Bunga yang masih harus diterima

7.

Tanggal 1 Februari, penerima angsuran dan bunga 6 bulan Angsuran Rp. 60.000.000 : 20 = Rp. 3.000.000 Bunga 6/12 x 12% x 60.000.000 = Rp. 3.600.000 Jurnal :

25

Kas

Rp. 6.600.000 Piutang hipotik Pendapatan bunga Rp. 3.000.000 Rp. 3.600.000

8.

Tanggal 1 Agustus, penerimaan angsuran dan bunga selama 6 bulan Angsuran Rp. 3.000.000 Bunga 6 bulan : 6/12x 12%x Rp. 57.000.000 = Rp. 3.420.000 Jurnal : Kas Rp. 6.420.000 Piutang hipotik Rp. 3.000.000 Pendapatan bunga Rp. 3.420.000

9. Jurnal penyesuaian bunga berjalan (31 Desember) selama lima bulan, yaitu 1 Agustus sampai 31 Desember 2/12 x 12% x Rp. 54.000.000 = Rp. 2.700.000 Jurnal : Bunga yang masih harus diterima Pendaptan bunga 10. Jurnal penutup (31 Desember) Jurnal : Pendapatan bunga Ikhtisar laba rugi B. 1. Laba diakui sesuai penerimaan Pada tanggal 1 Agustus 2000 dijual rumah seharga Rp 75.000.000,00 dengan harga pokok sebesar Rp 45.000.000,00. Jurnal : Piutang dagang Rumah Laba kotor penjualan rumah 2. Rp 75.000.000,00 Rp 45.000.000,00 Rp 30.000.000,00 Rp. 9.720.000 Rp. 9.720.000 Rp. 2.700.000 Rp. 2.700.000

Penerimaan uang muka sebesar Rp 15.000.000,00, sisanya hipotik (tanggal 1 Agustus 2000). Jurnal : Kas Piutang hipotik Rp 15.000.000,00 RP 60.000.000,00 Rp 75.000.000,00 Piutang dagang

26

3.

Pembayaran komisi dari biaya penjualan lainnya Rp 2.250.000,00 (tanggal 1 Agustus). Jurnal : Beban penjualan Kas Rp 2.250.000,00 Rp 2.250.000,00

4.

Jurnal penyesuaian (31 Desember) untuk bunga berjalan selama 5 bulan (tanggal 1 Agustus sampai 31 Desember). 5/12 x 12% x Rp 60.000.000,00 = Rp 3.000.000,00 Jurnal : Bunga yang masih harus diterima Rp 3.000.000,00 Pendapatan bunga Rp 3.000.000,00.

5.

Realisasi laba kotor (31 Desember) Rp. 30.000.000 x 100% = 40% Rp. 75.000.000 40% x Rp. 15.000.000 = Rp. 6.000.000 Jurnal : Laba kotor belum direalisasai Rp. 6.000.000 Rp. 6.000.000 Rp. 6.000.000 Rp. 3.000.000 Rp. 2.250.000 Rp. 6.750.000 Rp. 3.000.000 Rp. 3.000.000 Laba kotor yang direalisasi

6.

Jurnal penutup (31 Desember) Laba kotor direalisasi Pendapatan bunga Beban penjualan Ikhtisar laba rugi

7.

Jurnal pembalik (tanggal 1Januari 2001) Pendapatan bunga Bunga yang masih harus diterima

8.

Tanggal 1 Februari, penerima angsuran dan bunga 6 bulan Angsuran Rp. 60.000.000 : 20 = Rp. 3.000.000 Bunga 6/12 x 12% x 60.000.000 = Rp. 3.600.000 Jurnal : Kas Rp. 6.600.000 Piutang hipotik Pendapatan bunga Rp. 3.000.000 Rp. 3.600.000

27

9.

Tanggal 1 Agustus, penerimaan angsuran dan bunga selama 6 bulan Angsuran Rp. 3.000.000 6 Bunga 6 bulan : ----- x 12%x Rp. 57.000.000 = Rp. 3.420.000 12 Jurnal : Kas Rp. 6.420.000 Piutang hipotik Rp. 3.000.000 Pendapatan bunga Rp. 3.420.000

10. Jurnal penyesuaian bunga berjalan (31 Desember) selama lima bulan, yaitu 1 Agustus sampai 31 Desember 2 --- x 12% x Rp. 54.000.000 = Rp. 2.700.000 12 Jurnal : Bunga yang masih harus diterima Pendaptan bunga 11. Realisasi laba kotor Rp. 30.000.000 x 100% = 40% Rp. 75.000.000 Jurnal : 40% x Rp. 6.000.000 = Rp. 2.400.000 Laba kotor belum direalisasai 12. Jurnal penutup (31 Desember) Jurnal : Laba kotor direalisasi Pendapatan bunga Beban penjualan Ikhtisar laba rugi Rp. 2.400.000 Rp. 9.720.000 Rp. 2.250.000 Rp. 9.870.000 Rp. 2.400.000 Rp. 2.400.000 Laba kotor yang direalisasi Rp. 2.700.000 Rp. 2.700.000

28

1.2.2

Transaksi penjualan angsuran aktiva bergerak Prosedur yang digunakan untuk mencatat penjualan barang bergerak secara angsuran sama dengan prosedur untuk penjualan barang yang tak bergerak secara angsuran. Akan tetapi prosedur tersebut harus dibedakan antara penjualan barang bergerak biasa (baik secara tunai maupun kredit) dengan penjualan barang bergerak secara angsuran. Berikut ini adalah suatu contoh pencatatan penjualan angsuran barang bergerak :

Contoh 1:
1. Penjualan angsuran Rp. 9.000.000 dengan persentase laba kotor 40%. Jurnal : Piutang penjualan angsuran Penjualan angsuran 2. Jurnal : Kas 3. Rp. 4.800.000 Piutang penjualan angsuran Rp. 4.800.000 Rp. 9.000.000 Rp. 9.000.000

Diterima dari penagihan angsuran Rp. 4.800.000

Penyesuaian untuk pencatatan harga pokok penjualan angsuran 60% x Rp. 9.000.000 = Rp. 5.400.000 Jurnal : Harga pokok penjualan angsuran Rp. 5.400.000 Pengiriman barang penjualan angsuran Rp. 5.400.000

4.

Jurnal penutup penjualan angsuran dan pencatatan laba kotor Penjualan angsuran Rp. 9.000.000 Rp. 5.400.000 Rp. 3.600.000 Harga pokok penjualan angsuran Laba kotor yan belum direalisasi

5.

Pencatatan laba kotor yang direalisasi dari hasil penagihan piutang angsuran 40% x Rp. 4.800.000 = Rp. 1.920.000 Laba kotor yang belum direalisasi Laba kotor yang direalisasi Rp. 1.920.000 Rp. 1.920.000

6.

Jurnal penutup pengiriman barang penjualan angsuran Pengiriman barang penjualan angsuran Rp. 5.400.000 Persediaan Rp. 5.400.000 Rp. 1.920.000 Rp. 1.920.000

7.

Jurnal penutup laba kotor yang direalisasi ke ikhtisar laba rugi Laba kotor yang direalisasi Ikhtisar laba rugi

29

Contoh 2 :
PT. AGUNGNERACA Per 31 Januari 2000(dalam ribuan rupiah) Kas Piutang regurler Piutang penjualan angsuran Th 1999 Rp. 300.000.000 Th 1998 Rp. 80.000.000 + Persediaan barang dagangan Aktiva tetap Rp. 1.175.000 Akum. Penys. Rp. 380.000Jumlah aktiva Rp. 2.500.000 Jumlah pasiva Rp. 380.000.000 Rp. 600.000.000 Rp. 795.000 Rp. 625.000 Rp. 100.000 Utang dagang Utang lain lain Laba kotor belum direalisasi Th 1999 Rp. 90.000 Th 1998 Rp. 20.000 + Modal sendiri Rp. 1.500.000 Laba ditahan Rp. 140.000+ Rp. 1.640.000 Rp. 2.500.000 Rp. 110.000 Rp. 650.000 Rp. 100.000

Transaksi dan Jurnal yang telah dibuat : 1. Penjualan : Tunai Kredit Angsuran Jurnal : Kas Piutang dagang Piutang penjualan angsuran Penjualan Penjualan angsuran 2. Jurnal : Pembelian Utang dagang Rp. 2.500.000.000 Rp. 2.500.000.000 Rp. 1.000.000.000 Rp. 850.000.000 Rp. 1.850.000.000 Rp. 600.000.000 Rp. 600.000.000 Rp. 1.000.000.000 Rp. 850.000.000 Rp. 600.000.000

Pembeklian secara kredit barang dagangan sebesar Rp. 2.500.000

30

3.

Penerimaan kas berasal dari Piutang dagang Penjualan angsuran : Tahun 1998 Tahun 1999 Tahun 2000 Total Jurnal : Kas Rp. 1.360.000.000 Piutang dagang Piutang penjualan th 1998 Piutang penjualan th 1999 Piutang penjualan th 2000 Rp. 800.000.000 Rp. 60.000.000 Rp. 200.000.000 Rp. 300.000.000 Rp. 60.000.000 Rp. 200.000.000 Rp. 300.000.000 + Rp. 560.000.000 + Rp. 1.360.000.000 Rp. 800.000.000

4.

Pengeluaran kas selama tahun 2000 untuk pembayaran : Utang dagang Pemotongan pembelian Beban usaha Rp. 2.550.000.000 (Rp. 100.000.000) Rp. 2.450.000.000 Rp. 405.000.000 + Total pengeluaran kas Rp. 2.885.000.000 Jurnal : Utang dagang Beban usaha Kas Potongan pembelian Rp. 2.550.000.000 Rp. 405.000.000 Rp. 2.885.000.000 Rp. 100.000.000

5.

Penyusutan aktiva tetap Rp. 95.000.000 Jurnal : Beban penyusutan aktiva tetap Rp. 95.000.000 Rp. 95.000.000 Akumulasi penyusutan aktiva tetap

31

6.

Tanggal 31 Desember 2000 a. Pencatatan harga pokok penjualan angsuran tahun 2000 (laba kotor 35%sehingga harga pokoknya 65%) = 65% x Rp. 600.000.000 = Rp. 390.000.000 Jurnal : Harga pokok penjualan angsuran Penjualan angsuran b. kotor. Rp. 390.000.000 Rp. 390.000.000

Menutup penjualan angsuran, harga pokok penjualan, dan mencatat laba Jurnal : Penjualan angsuran Rp. 600.000.000 Rp. 390.000.000 Harga pokok penjualan angsuran

Laba kotor penjualan angsuran belum direalisasi Rp. 210.000.000 c. Pencatatan laba kotor penjualan angsuran yang direalisasi : Tahun 2000 = 35% x Rp. 300.000.000 = Rp. 105.000.000 Tahun 1999 = 30% x Rp. 200.000.000 = Rp. 60.000.000 Tahun 1998 = 25% x Rp. 60.000.000 = Rp. 15.000.000 Jurnal : Laba kotor penjualan angsuran belum direalisasi Laba kotor penjualan angsuran direalisasi 180.000.000 d. Rp. 180.000.000 Rp.

Menutup persediaan awal, pembelian, pemotongan pembelian, dan pengiriman penjualan angsuran. Jurnal : Ikhtisar laba rugi Pengiriman barang penjualan angsuran Rp. Potongan pembelian Persediaan barang dagangan Pembelian Rp. 2.610.000.000 390.000.000 Rp. 100.000.000 Rp. 600.000.000 Rp. 2.500.000.000

e.

Menutup persediaan akhir (31 Desember 2000) Misalnya persediaan akhir yang ada sebesar Rp. 1.210.000.000 Jurnal : Persediaan barang dagangan Ikhtisar laba rugi Rp. 1.210.000.000 Rp. 1.210.000.000

32

f.

Menutup penjualan reguler Jurnal : Penjualan Rp. 1.850.000.000 Rp. 1.850.000.000 Ikhtisar laba rugi

g.

Menutup laba kotor penjualan angsuran yang direalisasi tahun 2000 dan tahun sebelumnya. Jurnal : Laba kotor penjualan angsuran direalisasi Ikhtisar laba rugi Rp. 180.000.000 Rp. 180.000.000 Rp. 500.000.000 Rp. 405.000.000

h.

Menutup beban beban Ikhtisar laba rugi Beban usaha

Beban penyusutan aktiva tetap Rp. 95.000.000 i. Memindahkan ikhtisar laba rugi ke laba ditahan. Jurnal : Ikhtisar laba rugi Laba ditahan Rp. 130.000.000 Rp. 130.000.000

Dari transaksi transaksi tersebut, dapat disusun laporan keuangan tahun 2000 sebagai berikut :

33

PT AGUNGLaporan Laba Rugi Periode 31 Desember 2000(dalam ribuan rupiah) Keterangan Penjualan angsuran (Rp) 600.0000 600.000 2.500.000 2.400.000 + 3.000.000 (1.210.000) (390.000) 210.000 (105.000) 105.000 Realisasi laba kotor penjualan Akhir tahun 1999 dan 1998 Beban usaha Laba bersih sebelum pajak (1.400.000) 450.000 450.000 (1.790.000) 660.000 (105.000) 555.000 75.000 + 630.000 500.000 130.000 Penjualan tunai & kredit (Rp) 1.850.000 Jumlah (Rp) 2.450.000

Penjualan Persediaan awal Pembelian Pembelian bersih Persediaan untuk dijual Persediaan akhir Harga pokok penjualan Laba kotor penjualan Laba kotor penjualan angsuran belum direalisir Potongan pembelian ( 100.000)

PT. AGUNGNERACA Per 31 Desember 2000(dalam ribuan rupiah) Kas Piutang dagang Piutang angsuran Th 2000 Rp. 300.000 Th 1999 Rp. 100.000 Th 1998 Rp. 20.000 + Persediaan barang dagangan Aktiva tetap Rp. 1.175.000 Akum. Penys. Rp. 475.000Rp. 700.000 Modal sendiri Rp. 1.500.000 Laba ditahan Rp. 240.000+ Rp. 1.770.000 Rp. 420.000 Rp. 1.210.000 Rp. 130.000 Rp. 150.000 Utang dagang Utang lain lain Laba kotor belum direalisasi Th 2000 Rp. 105.000 Th 1999 Rp. 90.000 Th 1998 Rp. 20.000 + Rp 215.000 Realisasi laba kotor Rp 75.000 Rp. 140.000 Rp. 600.000 Rp. 100.000

Jumlah aktiva

Rp. 2.610.000

Jumlah pasiva

Rp. 2.610.000

34

PT. AGUNGLaporan Perubahan Laba Ditahan 31 Desember 2000(dalam ribuan rupiah) Laba yang ditahan 1 Januari 2000 Laba bersih Laba yang ditahan 31 Desember 2002 1.3 1. 2. Rp. 140.000 Rp. 130.000 + Rp. 270.000

Cara Pengakuan Laba Kantor Pada Penjualan Angsuran Laba kotor dianggap terjadi pada periode penjualan Laba kotor dianggap terjadi sesuai dengan periode diterimanya angsuran menurut cara ini, ada tiga pilihan yang harus ditempuh, yaitu : a. Penerimaan angsuran angsuran pertama tama digunakan untuk menutup harga pokok barang yang dijual. Jika harga pokok barang yang dijual sudah tutup, maka penerimaan angsuran angsuran berikutnya dianggap sebagai laba. Penerimaan angsuran angsuran pertama tama dianggap sebagai penerima laba kotor. Jika seluruh laba kotor menurut kontrak penjualan sudah terpenuhi, maka penerimaan angsuran angsuran berikutnya dianggap sebagai pembayaran harga pokok dari barang yang dijual. Penerimaan angsuran angsuran dianggap sebagain sebagai pembayaran harga pokok dari barang yang dijual. Sedangkan sebagian lagi dianggap sebagai realisasi laba kotor.

Ada dua cara untuk menetapkan laba kotor pada penjualan angsuran, yaitu :

b.

c.

1.4

Pembatalan Penjualan Angsuran

Dalam penjualan angsuran , tidak jarang seorang pembeli menghentikan pembayaran sisa angsuran. Oleh karena itu perusahaan akan menarik kembali hipotiknya sebesar sisa yang belum dilunasi untuk memiliki kembali barang tersebut. Dengan demikian kontrak jual beli secara angsuran dianggap dibatalkan atau dihentikan. Jurnal yang dibuat mengenai pemilikan kembali rumah yang telah dijual, pencatatannya tergantung dari metode penetapan laba kotor penjualan. Factor factor yang harus diperhatikan dalam pembatalan kotrak dan pembalian barang yang dijual adalah : 1. 2. 3. 4. Pembayaran yang telah diterima Harga taksiran barang yang dijual pada saat pengembalian barang tersebut. Sisa penjualan yang belum dilunasi Saat pengakuan laba, laba dicatat pada saat kontrak penjualan atau laba dicatat sebanding dengan penerimaan angsuran.

35

Sedangkan perhitungan perhitungan yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam pencatatan penjualan secara angsuran adalah : 1. 2. 3. 4. Menghapus piutang yang belum dilunasi Meghapus saldo laba kotor yang belum direalisasi. Mencatat penerimaan kembali barang yang dijual. Mencatat pengembalian uang kas apabila penjual harus mengembalikan sebagian dari angsuran atau pembayaran yang telah diterima.

Misalnya dalam contoh dimuka, tuan Tego selaku pembeli tidak dapat membayar angsurannya pada tanggal 1 Februari 2002. Perusahaan real estate akan mengambil kembali rumah yang bersangkutan dan mengembalikan piutang hipotik yang belum dibayar. Taksiran nilai pasar rumah Rp. 42.750.000, maka perusahaan real estate akan membuat jurnal sebagai berikut : A. Metode laba kotor (dicatat pada saat penjualan) Rumah Rugi kepemilikan kembali rumah Piutang hipotik B. Rumah Laba kotor belum direalisasi Piutang hipotik Laba pemilikan kembali rumah Perhitungan : A. Laba dicatat pada saat penjualan Jumlah yang diterima Harga pokok rumah Taksiran nilai pasar Rugi penurunan nilai rumah Laba bersih Laba sebelum pemilikan kembali yang diakui Rugi akibat pemilikan kembali B. Laba dicatat sesuai dengan penerimaan Jumlah yang sudah diterima Rugi penurunan nilai rumah Laba bersih Rp. 21.000.000 (Rp. 2.250.000) Rp. 18.750.000 Rp. 45.000.000 Rp. 42.750.000 (Rp. 2.250.000) Rp. 18.750.000) (Rp. 30.000.000) (Rp. 11.250.000) Rp. 21.000.000 Rp. 42.750.000 Rp. 11.250.000 Rp. 54.000.000 Rp. 42.750.000 Rp. 21.600.000 Rp. 54.000.000 Rp. 10.350.000

Metode laba kotor (dicatat sesuai dengan penerimaan)

36

Laba sebelum pemilikan kembali yang sudah direalisasi = Rp. 6.000.000 + Rp. 2.400.000 Laba pemilikan kembali (Rp. 8.400.000) Rp. 10.350.000

Dalam contoh diatas, pembeli tidak dapat melunasi sisa angsurannya pada tanggal 1 Februari 2002. Oleh karena itu, bunga hipotik sebesar Rp. 2.750.000 tidak jadi diterima dan harus dianggap sebagai kerugian. Bunga hipotik diperoleh dari perhitungan sebagai berikut : 15 --- x 12% x Rp. 54.000.000 = Rp. 2.700.000 12 Yaitu bunga yang masih diterima pada akhir tahun 2001. 1.5 Tukar Tambah Pada Penjualan Angsuran Perusahaan menjual barang barangnya secara angsuran, kadang kadang bersedia
menerima barang barang bekas pakai. Barang barang bekas tersebut sebagai bagian dari harga barang barang baru yang akan dijualnya dengan agsuran. Jadi, barang barang baru yang dijual dengan angsuran, akaan ditukarkan dengan barang barang bekas dan sisa dari harga dari barang barang baru tersebut diterima dalam beberapa angsuran. Dalam tukar tambah ini, biasanya penjual akan memberikan penilaian atas barang bekas yang diterimanya sebagai uang muka. Dalam hal ini, harus dibedakan antara harga menurut tukar tambah dengan nilai barang bekas sebagai taksiran harga pokoknya. Selisih antara dua nilai tersebut dicatat sebagai cadangan selisih harga pertukaran

Contoh :
Suatu barang yang harga pokoknya Rp. 3.375.000 dijual secara angsuran dengan harga Rp. 5.000.000. Dalam penjualan ini, diterima barang bekas yang dihargai Rp. 1.500.000. Agar barang bekas tersebut laku dijual, maka harus diperbaiki. Taksiran biaya perbaikan barang bekas sebesar Rp. 100.000. Setelah diperbaiki, diharapkan dapat dijual dengan harga Rp. 1.375.000. Penjual mengharapkan akan memperoleh laba kotor dari penjualan kembali barang bekas 20%. Penyelesaian : Nilai tukar dan kelebihan niali tukar dihitung sebagai berikut : Harga barang bekas saat pertukaran Harga pokok berang bekas : Harga setelah diperbaiki Biaya perbaikan Taksiran laba kotor : 20% x Rp. 1.375.000 Rp. 275.000 + (Rp. 375.000) Nilai barang bekas saat penukaran Cadangan selisih harga pertukaran (Rp. 1.000.000) Rp. 500.000 Rp. 100.000 Rp. 1.375.000 Rp. 1.500.000

37

Jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi pertukaran tersebut adalah : Barang bekas Cadangan selisih harga pertukaran Piutang penjualan angsuran Penjualan harga angsuran Harga pokok penjualan angsuran Barang bekas Rp. 3.375.000 Rp. 3.375.000 Rp. 1.000.000 Rp. 500.000 Rp. 3.500.000 Rp. 5.000.000

Persetase laba kotor penjualan angsuran dihitung sebagai berikut : Rp. 3.375.000 Harga pokok barang baru = -------------------------------------- x 100% = 75% (Rp. 5.000.000 Rp. 500.000) Persentase laba kotor penjualan angsuran = 100% - 75% = 25% 1.6 Perhitungan Bunga Pada Penjualan Angsuran Dalam penjualan angsuran, biasanya diperhitungkan bunga yang dibayar bersama sama dengan angsuran pokok. Bunga ini dapat dihitung dengan empat metode, antara lain : 1. Long end interest Long end interest adalah bunga dihitung dari saldo piutang sebagai pinjaman pokok oleh si pembeli. 2. Short end interest Short end interest adalah bunga dihitung dari tiap angsuran masing masing sejak tanggal penjualan sampai tanggal pembayaran. 3. Pembayaran periodic yang sama besarnya Dalam setiap pembayaran, terdiri dari bunga yang dihitung dari saldo pokok pinjaman dan sebagian dari pokok yang terutang. 4. Contoh : Pada tanggal 30 Juni 2001 dijual peralatan secara angsuran dengan harga Rp. 8.000.000. Pembayaran uang muka sebesar Rp. 2.000.000. Sisanya dibayar 6 kali angsuran bulanan dengan tingkat bunga 12% setahun. Pembayaran secara periodic dan bunga dihitung dari pokok pinjaman

38

Penyelesaia : Berikut ini adalah ilustrasi dari keempat cara pembayaran dan pencatatan atas bunga seperti di atas : Harga jual Rp 8.000.000,00 Uang muka Rp 2.000.000,00 Piutang angsuran Rp 6.000.000,00 Angsuran (diangsur 6 kali angsuran) Rp. 1.000.000 1.6.1 Long end interest Berikut ini adalah contoh tabel penjualan secara angsuran : (dalam rupiah)
Tanggal Bunga 1% per bulan 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 210.000 Pembayaran pokok angsuran 2.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 8.000.000 Jumlahpembayaran(pokok + bunga) 2.000.000 1.060.000 1.050.000 1.040.000 1.030.000 1.020.000 1.010.000 8.210.000 Saldo pokok pinjaman 8.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 -

2001 Juni 30 Juni 30 Juli 31 Agust 31 Sept 30 Okt 31 Nov 30 Des 31

Penjelasan tabel : (perhitungan bunga 1% per bulan) 1. 2. Juli Bunga : 1/12 x 12% x Rp. 6.000.000 = Rp. 60.000 Agustus Bunga : 1/12 x 12% x Rp. 5.000.000 = Rp. 50.000, dan seterusnya Jurnal yang dibuat oleh penjual : 1. Tanggal 30 Juni 2001 a. b. Piutang angsuran Penjualan angsuran Kas Piutang angsuran Rp. 2.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 8.000.000

39

2.

Tanggal 31 Juli 2001 Kas Piutang angsuran Pendapatan bunga Rp. 1.060.000 Rp. 1.000.000 Rp. Rp. 1.050.000 Piutang angsuran Pendapatan bunga Rp. 1.000.000 Rp. 50.000 60.000

3.

Tanggal 31 Agustus Kas

Jurnal yang dibuat oleh pembeli : 1. Tanggal 30 Juni 2001 a. b. 2. Peralatan Utang angsuran Utang angsuran Kas Tanggal 31 Juli 2001 Utang angsuran Beban bunga Kas 3. Tanggal 31 Agustus 2001 Utang angsuran Beban bunga Kas Rp. 1.000.000 Rp. 50.000 Rp. 1.050.000 Rp. 1.000.000 Rp. 60.000 Rp. 1.060.000 Rp. 8.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 2.000.000

Pos jurnal untuk bulan bulan berikutnya sama dengan diatas, hanya besar bunga dan pembayaran pokok dan bunga berbeda. 1.6.2 Short end interest Berikut ini adalah contoh tabel penjualan secara angsuran : (dalam rupiah)

40

Tanggal

Bunga 1% per bulan 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 210.000

Pembayaran pokok angsuran 2.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 8.000.000 -

Jumlahpembayaran(pokok + bunga)

Saldo pokok pinjaman 8.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 -

2001 Juni 30 Juni 30 Juli 31 Agust 31 Sept 30 Okt 31 Nov 30 Des 31

2.000.000 1.010.000 1.020.000 1.030.000 1.040.000 1.050.000 1.060.000 8.210.000

Penjelasan tabel : Bunga dihitung tiap angsuran sejak penjualan : 1. Juli (1 bulan) 1 Bunga : ---- x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 10.000 12 2. Agustus (2 bulan) 2 Bunga : ---- x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 20.000, dan seterusnya 12 Jurnal yang dibuat oleh penjual adalah : 1. Tanggal 31 Juli 2001 bunga yang masih ahrus diperhitungakan selama 6 bulan 6 Bunga ------- x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 60.000 12 Jurnal : Piutang bunga angsuran Pendapatan bunga 2. Jurnal : Rp. 60.000 Rp. 60.000

Tanggal 31 Juli 2001 peneriman angsuran

41

Kas Piutang angsuran

Rp. 1.010.000 Rp. 1.000.000 Rp. 10.000 Piutang bunga angsuran

3.

Tanggal 31 Agustus 2001 bunga yang masih harus diperhitungkan selama 5 bulan 5 Bunga ------- x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 50.000 12 Jurnal : Piutang bunga angsuran Pendapatan bunga Rp. 50.000 Rp. 50.000 Rp. 1.020.000 Piutang angsuran Piutang bunga angsuran Rp. 1.000.000 Rp. 20.000

4.

Tanggal 31 Agustus 2001 Kas

Jurnal yang dibuat oleh pembeli adalah : 1. Tanggal 31 Juli 2001 bunga yang masih ahrus diperhitungakan selama 6 bulan 6 Bunga ------- x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 60.000 12 Jurnal : Beban bunga Utang bunga angsuran 2. Jurnal : Utang angsuran Kas 3. Rp. 1.000.000 Rp. 1.010.000 Utang bunga angsuran Rp. 10.000 Tanggal 31 Agustus 2001 bunga yang masih harus diperhitungkan selama 5 bulan 5 Bunga ------- x 12% x Rp. 1.000.000 = Rp. 50.000 12 Rp. 60.000 Rp. 60.000

Tanggal 31 Juli 2001 peneriman angsuran

42

Jurnal : Beban bunga Utang bunga angsuran 4. Tanggal 31 Agustus 2001 Utang angsuran Kas Dan seterusnya. 1.6.3 Pembayaran periodik yang sama besarnya Pembayaran periodic yang sama besar, maksudnya adalah jumlah angsuran sama besarnya. Jumlah angsuran tersebut terdiri dari bunga pokok. Jumlah itu disebut ANUITAS. Contoh : Misal untuk soal diatas, apabila pembayaran angsuran sama besar, yaitu sebesar Rp. 6.000.000, maka besar anuitas adalah : A = Rp. 6.000.000 x 0,172548368 = Rp. 1.035.290,208 = Rp. 1.035.000 (dibulatkan ke bawah) (dalam rupiah)
Tanggal Bunga 1% per bulan 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 210.000 Pembayaran pokok angsuran 2.000.000 975.000 985.000 995.000 1.005.000 1.015.000 1.025.000 Jumlahpembayaran(pokok + bunga) 2.000.000 1.035.000 1.035.000 1.035.000 1.035.000 1.035.000 1.035.000 8.210.000 Saldo pokok pinjaman 8.000.000 6.000.000 5.025.000 4.040.000 3.045.000 2.040.000 1.025.000 -

Rp. 50.000 Rp. 50.000 Rp. 1.000.000 Rp. 1.020.000

Utang bunga angsuran Rp. 20.000

2001 Juni 30 Juni 30 Juli 31 Agust 31 Sept 30 Okt 31 Nov 30 Des 31

Jurnal yang dibuat oleh penjual adalah

43

Tanggal 31 Juli 2001 Kas Rp. 1.035.000 Pendapatan bunga Piutang angsuran Dan seterusnya Jurnal yang dibuat oleh pembeli adalah : Tanggal 31 Juli 2001 Utang angsuran Beban bunga Kas Dan seterusnya 1.6.4 Pembayaran secara periodik bunga dihitung dari pokok pinjaman Bunga tiap bulan 1/12 x 12% x Rp. 6.000.000 = Rp. 60.000 Tabel pembayaran secara periodiknya adalah sebagai berikut : (dalam rupiah)
Tanggal Bunga 1% per bulan 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 360.000 Pembayaran pokok angsuran 2.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 8.000.000 Jumlahpembayaran(pokok + bunga) 2.000.000 1.060.000 1.060.000 1.060.000 1.060.000 1.060.000 1.060.000 8.360.000 Saldo pokok pinjaman 8.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 -

Rp. 60.000 Rp. 975.000

Rp. 975.000 Rp. 60.000 Rp. 1.035.000

2001 Juni 30 Juni 30 Juli 31 Agust 31 Sept 30 Okt 31 Nov 30 Des 31

44

RANGKUMAN

1.

Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian bahwa sebagian harta atau seluruh harga barang yang dijual akan dibayar secara bertahap (berangsur angsur) oleh si pembeli dengan tenggang waktu tertentu. Pencatatan transaksi dalam penjualan angsuran ada 2, yaitu : a. b. Transaksi penjualan angsuran aktiva tidak bergerak Transaksi penjualan angsuran aktiva bergerak. Laba kotor dianggap terjadi pada periode penjualan. Laba kotor dianggap terjadi sesuai dengan periode diterimanya angsuran.

2.

3.

Cara pengakuan laba kotor dalam penjualan angsuran ada 2, yaitu a. b.

4.

Faktor factor yang harus diperhatikan dalam pembatalan kontrak dan pengembilan barang yang dijual adalah : a. b. c. d. Pembayaran yang telah diterima Harga taksiran barang yang dijual pada saat pengembalian barang tersebut. Sisa peminjaman yang belum dilunasi Saat pengakuan laba, laba dicatat pada kontrak penjualan atau laba dicatat sebanding dengan penerimaan angsuran.

5. 6.

Tukar tambah pada penjualan angsuran adalah pembeli menyerahkan barang bekas untuk pembayaran barang yang dibelinya dan sisanya diangsur. Metode perhitungan bunga pada penjualan angsuran ada 4, yaitu : a. b. c. d. Long end interest Short end interest Pembayaran periodic yang sama besarnya Pembayaran secara periodic dan bunga dihitung adari pokok penjualan

45

Soal soal Latihan 1. PT. Galaxy menjual real estate dengan harga Rp. 50.000.000. Uang muka yang diterima Rp. 10.000.000. Sisanya diangsur 40 kali angsuran bulanan. Harga pokok rumah Rp. 40.000.000. Apabila laba kotor diakui saat terjadinya kotrak penjualan muka, jumlah laba kotor yang dipindahkan ke perkiraan ikhtisar laba rugi adalah : a. b. c. 2. Rp. 2.000.000 Rp. 4.000.000 Rp. 6.000.000 d. Rp. 8.000.000 e. Rp. 10.000.000

PT. Agung Sedayu menetapkan laba kotor atas penjualan angsuran 30% dari harga jual dan diakui sebanding dengan penerimaan angsuran. Dalam suatu periode terjadi penjualan sebesar Rp. 600.000.000. Sedangkan angsuran yang diterimam Rp. 250.000.000, maka laba kotor yang dapat direalisasikan adalah : a. b. c. Rp. 75.000.000 Rp. 105.000.000 Rp. 115.000.000 d. Rp. 135.000.000 e. Rp. 180.000.000

3.

Sebuah perusahaan menjual kendaraan bermotor dengan harga Rp. 12.000.000. Harga pokok Rp. 8.000.000. Uang muka Rp. 2.000.000. Sisanya diangsur dalam 20 kali angsuran bulanan. Apabila laba kotor diatas penjualan angsuran diakui sebanding dengan penerimaan angsuran, maka jurnal untuk mencatat penjualan angsuran tersebut diatas adalah : a. Kas Piutang angsuran Penjualan angsuran b. Kas Piutang angsuran Penjualan angsuran Laba kotor belum direalisasi c. Kas Piutang angsuran Penjualan angsuran Harga pokok penjualan angsuran Sediaan d. Piutang Penjualan Rp. 10.000.000 Rp. 12.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 12.000.000 Rp. 12.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 12.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 4.000.000 Rp. 2.000.000

46

Kas Piutang penjualan Piutang e. Kas Piutang Penjualan angsuran 4.

Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 12.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 12.000.000

Sebuah perusahaan menetapkan laba kotor atas penjualan angsuran 35% dari harga jual dan diakui sebanding dengan penerimaan angsuran. Total penjualan dalam suatu periode berjumlah Rp. 2.450.000. Total penerimaan angsuran Rp. 600.000. Jurnal penyesuaian untuk mencatat laba kotor yang dapat direalisasikan adalah a. b. c. d. e. Laba kotor yang belum direalisai Laba kotor yang direalisasi Laba kotor yang direalisasi Laba kotor yang direalisasikan Laba kotor yang direalisasi Ikhtisar laba rugi Laba kotor yang direalisasi Ikhtisar laba rugi Laba kotor yang belum direalisasikan Laba kotor yang belum direalisasikan Rp. 210.000 Rp. 210.000 Rp. 210.000 Rp. 210.000 Rp. 390.000 Rp. 210.000 Rp. 390.000 Rp. 390.000 Rp. 390.000 Rp. 210.000

5.

Sebuah perusahaan real estate menjual sebuah rumah secara angsuran dengan harga Rp. 300.000.000. Laba kotor yang diharapkan dari penjualan angsuran 40% dari harga jual. Harga pokok rumah adalah : a. b. c. Rp. 120.000.000 Rp. 140.000.000 Rp. 160.000.000 1 Januari 20002 piutang tahun 2001 2002 Rp. 30.000.000 Rp. 8.000.000 31 Desember 2002 Rp. 10.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 30.000.000 d. Rp. 180.000.000 e. Rp. 200.000.000

6.

Data piutang penjualan angsuran pada sebuah penjualan adalah sebagai berikut :

47

Penjualan kotor penjualan angsuran tahun

2002 2001 2000

Rp. 21.000.000 Rp. 9.000.000 Rp. 2.000.000

Jumlah laba kotor yang direalisasi dalam tahun 2002 berjumlah : a. b. c. 7. Rp. 10.500.000 Rp. 17.500.000 Rp. 18.000.000 d. Rp. 26.000.000 e. Rp. 32.000.000

Toko elektronik menjual TV secara angsuran dengan harga Rp. 3.000.000. Harga pokok TV sebesar Rp. 2.000.000. Uang muka Rp. 750.000, sisanya diangsur dalam 9 kali angsuran bulanan. Atas jumlah angsuran yang terutang dibebani bunga 12% setahun, dibayar bersama dengan angsuran. Jumlah yang diterima pada angsuran ke dua adalah : a. b. c. Rp. 272.500 Rp. 270.000 Rp. 267.500 d. Rp. 265.000 e. Rp. 267.000

8.

Pada tanggal l1 Oktober 2002 dijual sepeda motor dengan harga Rp. 18.500.000. Uang muka Rp. 6.500.000. Sisanya diangsur setiap dua bulan selama satu tahun dengan tingkat bunga 12% dengan metode menggunakan shiort end interest. Bunga pada angsuran ke tiga adalah : a. b. c. Rp. 24.000 Rp. 16.000 Rp. 12.000 d. Rp. 8.000 e. Rp. 4.000

9.

Pada tanggal 1 Maret 2000 dijual rumah secara angsuran kepada Andalas dengan harga Rp. 100.000.000. Uang muka Rp. 2.000.000. Sisanya diangsur 6 bulan. Bunga atas sisa pinjaman 12% setahun. Harga pokok rumah Rp. 60.000.000. Setelah pembayaran angsuran ke 4, pembeli tidak melanjutkan angsurannya. Rumah tersebut dikembalikan dengan taksiran harga pada saat itu Rp. 55.000.000. Laba atas penjualan rumah diakhiri sebanding dengan penerimaan angsuran. Laba rugi diatas pemilikan kembali rumah tersebut adalah : a. b. c. Rp. 8.600.000 rugi Rp. 10.600.000 laba Rp. 22.200.000 laba d. Rp. 22.200.000 rugi e. Rp. 26.200.000 laba

10. Pada tanggal 1 Oktober 2002 PT. Suzuki Motor menjual sebuah mobil secara angsuran dengan harga jual Rp. 300.000.000. Harga pokok Rp. 240.000.000. Dalampenjualan tersebut diterima sebuah mobil bekas denganharga yang disetujui Rp. 80.000.000. Agar mobil bekas itu laku dijual, maka harus diperbaiki terlebih dahulu dengan biaya perbaikan Rp. 10.000.000. Setelah diperbaiki diperkirakan dapat laku dijual Rp. 75.000.000. Laba normal atas penjualan mobil bekas 20%

48

dari harga jual. Dalam tukar tambah ini PT. Suzuki Motor akan memperoleh atau menderita a. b. c. Essai 1. Perusahaan real estate Griya Indah menjual 100 unit rumah secara angsuran dengan harga jual Rp. 180.000.000 per unit. Harga pokok rumah per unit Rp. 150.000.000. Pembayaran pertama sebesar Rp. 30.000.000 per unit. Pembayaran dilakukan pada saat kontrak ditandatangai yaitu per 1 Nopember 2000. Sedangkan sisanya digadaikan dan diangsur setiap triwulan selama 5 tahun. Angsuran tersebut ditambah dengan bunga 15% per tahun. Bunga dihitung dari sisa pokok pinjaman. Dari data tersebut, buatlah jurnal yang diperlukan untuk tahun 2000 dan tahun 2001 dengan asumsi laba diakui sebanding dengan penerimaan angsuran. Sebuah perusahaan real estate menjual rumah secara angsuran dengan harga jual Rp. 300.000.000. Harga pokok rumah Rp. 240.000.000 per unit. Pada tanggal 1 Maret 2001 terjual sebuah rumah dengan pembayaran uang muka Rp. 60.000.000. Saat itu juga, sisanya diangsur setiap catur wulan selama 5 tahun dengan bunga 15%. Setelah angsuran yang kelima (Desember 2002), pembeli memberitahukan bahwa ia tidak mampu lagi melanjutkan pembayaran angsuran. Rumah tersebut kemudian ditarik kembali dengan memberikan potongan kepada pembeli sebesar 5% dari jumlah angsuran yang sudah disetor. Pada saat itu, rumah ditaksir mempunyai nilai sebesar Rp. 200.000.000. Laba diakui sebanding dengan penarikan angsuran : Diminta : a. b. c. 3. Membuat jurnal 1 Maret 2001 Membuat jurnal penerimaan angsuran sampai dengan angsuran ke empat Membuat jurnal penarikan kembali dan perhitungannya. Laba Rp. 30.000.000 Rugi Rp. 30.000.000 Laba Rp. 15.000.000 d. Rugi Rp. 40.000.000 e. Laba Rp. 40.000.000

2.

Pada tanggal 30 April 2000 tuan Adi Membeli sebuah minibus secara angsuran dengan harga Rp. 72.000.000. Tuan Adi membayar uang muka Rp. 32.000.000. Edangkan sisanya dibayar dalam 10 bulan angsuran. Angsuran pertama dibayar pada akhir Mei 2000. Diminta : a. Dengan asumsi tuan Adi membayar angsuran bulanan sebesar Rp. 4.000.000. angsuran ini ditambah dengan bunga 12% setahun dari saldo utang yang belum dibayar. Susunlah daftar pembayaran bunga dan pokok selama 10 tahun (long end interest). b. Dengan asumsi tuan A membayar angsuran bulanan sebesar Rp. 4.000.000. Angsuran ini ditambah bunga dari tiap angsuran untuk waktu lamanya

49

utang. Susunlah daftar pembayaran bunga dan pokok yang terutang (short end interest). c. Dengan asumsi tuan Adi membayar anuitas tiap bulan yang sama besarnya, yaitu Rp. 4.110.800. Berdasarkan suku bunga 6% setahun susunlah daftar pembayaran anuitas selama 10 bulan. 4. PT. Sumber Motor menjual mobil secara angsuran. Pada tanggal 1 Februari 1999 sebuah mobil dengan harga jual Rp. 250.000.000. Harga pokok mobil tersebut Rp. 200.000.000. Dalam transakasi tersebut diterima sebuah mobil bekas dengan harga pertukaran Rp.60.000.000. Agar mobil tersebut dapat terjual cepat, harus diadakan perbaikan. Biaya perbaikan yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 900.000. Laba normal yang diharapkan dari harga jual mobil bekas sebesar 20%. Transaksi harga jual mobil bekas Rp. 92.500.000. Sisa piutang akan diangsur 19 kali angsuran dua bulanan dengan bunga 12% setahun. Dengan asumsi laba dicatat sebanding dengan penerimaan angsuran, kalian diminta untuk : a. b. c. 5. Membuat jurnal 1 Februari 1999 Membuat jurnal penerimaan angsuran selama tahun 1999 Membuat jurnal penyesuaian dan penutupan 31 Desember 1999

Pada tanaggal 5 Januari 2000 dijual sebuah rumah dengan harga Rp. 50.000.000. Harga pokok rumah tersebut Rp. 35.000.000. Pada saat kontrak jual beli ditandatangani, diterima uang muka Rp. 10.000.000. Sisanya ditandatangai oleh hipotik 12% setahun. Hipotik tersebut harus diangsur selama 5 tahun setiap semester, yaitu setiap tanggal 1 Mei dan 1 Nopember. Biaya biaya yang telah dibayar waktu penjualan Rp. 1.000.000 Diminta : a. b. Laba dicatat saat penjualan Laba dicatat sebanding dengan penerimaan angsuran

6.

PT. Sinar Jaya menjual barang dagangan, baik secara kredit maupun secara tunai. Data akhir tahun 2002 PT. Sinar Jaya sebagai berikut : Persediaan barang dagangan Piutang dagang Piutang angsuran 2001 Utang dagang Laba yang ditangguhkan a. b. Rp. 4.000.000 Rp. 30.000.000 Rp. 16.000.000 Rp. 25.000.000 Rp. 4.000.000

Dalam tahun 2002 terdapat transaksi sebagai berikut : Pembelian barang dagangan secara tunai Rp. 15.000.000, dan secara kredit Rp. 25.000.000. Penjualan barang dengan secara tunai Rp. 10.000.000, secara kredit Rp. 30.000.000. Harga pokok barang dagangan Rp. 22.500.000

50

c.

Penerimaan kas dari : Piutang dagang Piutang angsuran 2001 Piutang angsuran 2002 Rp. 40.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 20.000.000 Rp. 15.000.000 Rp. 350.000

d.

Pengeluaran kas : Utang dagang Beban beban

e. Diminta : a. b. 7.

Persediaan barang dagangan 31 Desember 2002 Rp. 6.500.000 Jurnal yang diperlukan tahun 2002 (jurnal umum, jurnal penyesuaian, dan jurnal penutup) Menyusun laporan laba rugi tahun 2002

PT. Extra adalah sebuah perusahaan dagang. Perusahaan Extra menjual barang dagangannya secara angsuran. Selama 3 tahun terakhir, yaitu tahun 2000, 2001, dan 2002 perusahaan menghendaki laba kotor sebesar 20% untuk tahun 2000, 25% untuk tahun 2001, dan 30% untuk tahun 2002. Pada akhir tahun 2001 buku besar piutang penjualan angsuran menunjukkan saldo : Penjualan tahun 2000 Penjualan tahun 2001 Penjualan tahun 2002 Penerimaan piutang angsuran : Tahun 2000 Tahun 2001 Tahun 2002 a. b. Rp. 300.000.000 Rp. 250.000.000 Rp. 100.000.000 Rp. 400.000.000 Rp. 150.000.000 Rp. 600.000.000

Darai data tersebut di atas hitunglah : Laba kotor yang direalisasi akhir tahun 2002 Laba kotor yangbelum direalisasi pada tahun 2002 apabila laba kotor penjualan angsuran dihitung sebanding dengan penerimaan angsuran.

8.

Berikut ini adalah neraca PT. Agung pada akhir tahun 2000 beserta tranasksinya pada tahun 2001 : Transaksi 20001 : a. Pembelian tunai Kredit Rp. 24.750.000 Rp. 56.450.000

51

b.

Penjualan tunai Kredit Angsuran

Rp. 29.750.000 Rp. 69.250.000 Rp. 2.750.000

c.

Penerimaan kas Penjualan angsuran tahun 2001 Rp. 1.500.000 Penjualan angsuran tahun 2002 Rp. Penjualan angsuran tahun 1999 Rp. Penjualan kredit 600.000 400.000 Rp. 67.500.000 Rp. 56.900.000 Rp. 9.250.000 Rp. 875.000

d.

Pengeluaran kas untuk : Pembayaran utang dagang Beban penjualan PPN dan utang PPN Beban administrasi dan umum Rp. 7.850.000

e. f. g.

Beban penyusutan gedung tahun 2001 Rp. 50.000 Persediaan barang dagangan 31 Desember 2001 Rp. 1.475.000 Laba kotor yang diharapkan : Penjualan angsuran tahun 2001 = 4% Penjualan angsuran tahun 2000 = 30 % Penjualan angsuran tahun 1999 = 25%

h. PPN 25% dari laba sebelum pajak.


PT. AGUNGNERACA Per 31 Desember 2000(dalam ribuan rupiah) Kas Piutang dagang Piutang angsuran 2000 Piutang angsura 1999 Persediaan barang dagangan Aktiva tetap : Gedung Tanah Aktiva lain lain Rp.750.000 500.000 200.000 125.000 3.765.000 Modal saham Rp.750.000 Laba ditahan Rp. 425.000+ Akum. Penys. Rp. 250.00020.000 675.000 800.000 500.000 945.000 Utang dagang Utang wesel Utang PPN Laba kotor belum direalisasi Penjualan angsuran : Th 2000 Rp. 240.000 Th 1999 Rp. 125.000 + 1.175.000 3.765.000 365.000 850.000 1.300.000 75.000

Diminta : a. Buatlah jurnal atas transaksi - transaksi tersebut diatas.

52

TOPIK 2

Akuntansi Penjualan Konsinyasi


Penyerahan barang oleh pemilik kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjual, tetapi hak atas barang tersebut tetap berada di tangan pemilik sampai barang tersebut dijual oleh agen penjual. Konsinyor (Consignor) Pihak yang memiliki barang. Konsinyi (Consignee) Pihak yang mengusahakan penjualan barang. Alasan Konsinyor 1. Memungkinkan produsen memperoleh daerah pemasaran yang lebih luas, terutama : barang baru, barang mahal, harga berfluktuasi 2. Memperoleh spesialis penjualan 3. Harga jual eceran dapat dikendalikan

Alasan Konsinyi 1. Terlepas dari resiko kegagalan penjualan barang 2. Resiko kerusakan fisik dan fluktuasi harga dapat dihindari 3. Kebutuhan modal kerja berkurang Kontrak Kerja (Hak & Kewajiban Konsinyi) Hak Konsinyi : 1. Berhak memperoleh penggantian biaya dan imbalan penjualan 2. Berhak menawarkan garansi atas barang tersebut Kewajiban Konsinyi : 1. Harus melindungi barang konsinyasi 2. Harus menjual barang konsinyasi 3. Harus memisahkan secara fisik barang konsinyasi dengan barang dagangan lainnya 4. Mengirimkan laporan berkala mengenai kemajuan penjualan barang konsinyasi

53

Akuntansi Konsinyasi 1. Transaksi konsinyasi harus diikthisarkan terpisah dan laba atas masing-masing konsinyasi harus dihitung terpisah dari laba penjualan reguler 2. Transaksi konsinyasi harus disatukan dengan transaksi lain Akuntansi untuk Konsinyasi yang telah selesai : Pihak Konsinyi (PT.Z) :
Transaksi 06/06/X0 : Pengiriman 10 unit brg dengan harga pokok Rp. 50.000/unit. 06/06/X0: Biaya angkut ke konsinyi Rp. 60.000 06/06 s/d 20/07/X0 : Biaya Angkut konsinyi ke konsumen Rp. 25.000 Kons.Masuk-PT.X Rp.25 Kas 25 06/06 s/d 20/07/X0 : Penjualan 10 unit barang @ Rp. 85.000 dengan komisi 20% Kas Rp. 850 Rp. Kas Penjualan PT. X 20/07/X0 : Komisi penjualan (20% dari Rp. 850.000) 20/07/X0 : Pengiriman uang hasil penjualan ke konsinyor Kons.Masuk-X Rp.170 Kom.Penj.Kons.Rp.170 Kons.Masuk-X Rp.655 Kas Rp.655 PT. X Kas Rp. 655 Rp. 655 Rp.850 Rp. 850 Rp. 680 PT. X Kas Rp.25 Rp. 25 Laba Terpisah Memo : diterimanya 10 unit barang Laba Disatukan Memo : diterimanya 10 unit barang

Kons. Masuk-X Rp.850

Pembelian Rp. 680

54

Pihak Konsinyor (PT. X) :


Transaksi 06/06/X0 : Pengiriman 10 unit brg dengan harga pokok Rp. 50.000/unit. Laba Terpisah Kons.Kel-PT.Z Rp.500 Peng.kons. Rp.500 Laba Disatukan Memo : dikirimkan 10 unit barang dng HJ Rp. 85, kom. 20% 06/06/X0: Biaya angkut ke konsinyi Rp. 60.000 06/06 s/d 20/07/X0 : Biaya Angkut konsinyi ke konsumen Rp. 25.000 06/06 s/d 20/07/X0 : Penjualan 10 unit barang @ Rp. 85.000 dengan komisi 20% 20/07/X0 : Komisi penjualan (20% dari Rp. 850.000) 20/07/X0 : Pengiriman uang hasil penjualan ke konsinyor Kas Rp.655 Kas Komisi Penjualan Kons.Kel-PT.Z Rp. 95 Laba Kons. Rp. 95 Rp. 655 Rp. 170 Rp. 850 Kons.Kel-PT.Z Rp. 60 Bi. Angkut Rp. 60

Kons.Kel.-PT.ZRp.195 Kons.Kel-PT.Z Rp. 850

PengangkutanRp. 25

55

Akuntansi untuk Konsinyasi yang tidak selesai : Pihak Konsinyi (PT.Z) :


Transaksi 06/06/X0 : Pengiriman 10 unit brg dengan harga pokok Rp. 50.000/unit. 06/06/X0: Biaya angkut ke konsinyi Rp. 60.000 06/06 s/d 30/06/X0 : Biaya Angkut konsinyi ke konsumen Rp. 25.000 06/06 s/d 30/06/X0 : Penjualan 6 unit barang @ Rp. 85.000 dengan komisi 20% Kons.Masuk-PT.X Rp.25 Kas Kas Rp. 25 Rp. 510 PT. X Kas Kas Penjualan PT. X 30/06/X0 : Komisi penjualan (20% dari Rp. 510.000) 30/06/X0 : Pengiriman uang hasil penjualan ke konsinyor Kons.Masuk-X Rp.102 Kom.Penj.Kons.Rp.102 Kons.Masuk-X Rp.383 Kas Rp.383 PT. X Kas Rp. 383 Rp. 383 Rp.25 Rp. 25 Rp.510 Rp. 510 Rp. 408 Laba Terpisah Memo : diterimanya 10 unit barang Laba Disatukan Memo : diterimanya 10 unit barang

Kons. Masuk-X Rp.510

Pembelian Rp. 408

56

Pihak Konsinyor (PT. X) :


Transaksi 06/06/X0 : Pengiriman 10 unit brg dengan harga pokok Rp. 50.000/unit. Laba Terpisah Kons.Kel-PT.Z Rp.500 Peng.kons. Rp.500 Laba Disatukan Memo : dikirimkan 10 unit barang dng HJ Rp. 85, kom. 20% 06/06/X0: Biaya angkut ke konsinyi Rp. 60.000 06/06 s/d 30/06/X0 : Biaya Angkut konsinyi ke konsumen Rp. 25.000 06/06 s/d 30/06/X0 : Penjualan 6 unit barang @ Rp. 85.000 dengan komisi 20% 30/06/X0 : Komisi penjualan (20% dari Rp. 510.000) 30/06/X0 : Pengiriman konsinyor uang hasil penjualan ke Kas Rp.383 Kas Komisi Brg. Kons. Kons.Kel-PT.Z Rp. 57 Laba Kons. Rp. 57 Penjualan Brg.Kons. L/R Bi. Angkut Rp. 383 Rp. 102 Rp. 10 Rp. 510 Rp. 224 Rp.200 Rp. 24 Kons.Kel-PT.Z Rp. 60 Bi. Angkut Rp. 60

Kons.Kel.-PT.ZRp.127 Kons.Kel-PT.Z Rp. 510

PengangkutanRp. 15

Perhitungan Pembebanan Biaya :


Total Biaya Konsinyor : HPP Konsinyasi Angkutan ke konsinyi Biaya Konsinyi : Biaya angkut Komisi Total : Rp. 25.000 Rp. 102.000 Rp. 687.000 Rp. 15.000 Rp. 102.000 Rp. 453.000 Rp. 234.000 Rp. 10.000 Rp. 500.000 Rp. 60.000 Rp. 300.000 Rp. 36.000 Rp. 200.000 Rp. 24.000 Bi. 6 Unit Bi. 4 Unit

57

Perkiraan Rekening Konsinyasi Keluar PT. Z : 06/06 Pengiriman 06/06 Pengangkutan 30/06 Bi. angkut Rp. 25 Komisi 30/06 Laba 01/07 Saldo HPP 4 unit Rp.102 Rp. 127.000 Rp. 57.000 Rp. 744.000 Rp. 234.000 Rp. 744.000 Rp. 500.000 Rp. 60.000 30/06 penjualan 6 unit 30/06 HPP 4unit Rp.200 Angkutan Rp. 24 Bi.Angkut Rp. 10 Rp. 234.000 Rp. 510.000

58