Anda di halaman 1dari 9

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Cedera kepala adalah kondisi yang umum secara neurologi dan bedah saraf dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di kalangan usia produktif khususnya di negara berkembang. Hal ini diakibatkan karena mobilitas yang tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan masih rendah disamping penanganan pertama yang belum benar, rujukan yang terlambat. Kasus terbanyak cedera kepala adalah kecelakaan mobil dan motor. Di Amerika Serikat pada tahun 1990 dilaporkan kejadian cedera kepala 200/100.000 penduduk pertahun. Pada penderita dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3% - 5% yang memerlukan tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat secara konservatif.1,2

1.2 TUJUAN Makalah yang berjudul Epidural Hematoma ini dibuat untuk membahas etiologi, gejala klinis, diagnosis, serta prognosis dari penyakit ini. Dengan itu dapat lebih baik untuk menangani penyakit ini dengan tepat.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural. Fraktur tulang kepala dapat merobek pembuluh darah, terutama arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di permukaan dalam os temporale. Perdarahan yang terjadi menimbulkan epidural hematoma. Desakan oleh hematom akan melepaskan duramater lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar.1,3

2.2 ETIOLOGI

Pada keadaan yang normal, sebenarnya tidak ada ruang epidural pada kranium. Dura melekat pada kranium. Perdarahan biasanya terjadi dengan fraktur tengkorak bagian temporal parietal yang mana terjadi laserasi pada arteri atau vena meningea media. Pada kasus yang jarang, pembuluh darah ini dapat robek tanpa adanya fraktur. Keadaan ini mengakibatkan terpisahnya perlekatan antara dura dengan kranium dan menimbulkan ruang epidural. Perdarahan yang berlanjut akan memaksa dura untuk terpisah lebih lanjut, dan menyebabkan hematoma menjadi massa yang mengisi ruang. Oleh karena arteri meningea media terlibat, terjadi perdarahan yang tidak terkontrol, maka akan mengakibatkan terjadinya akumulasi yang cepat dari darah pada ruang epidural, dengan peningkatan tekanan intra kranial (TIK) yang cepat, herniasi dari unkus dan kompresi batang otak.1,4,5,6

2.3 GEJALA KLINIS Pada anamnesa didapatkan riwayat cedera kepala dengan penurunan kesadaran. Pada kurang lebih 50 persen kasus kesadaran pasien membaik dan adanya lucid interval diikuti adanya penurunan kesadaran secara perlahan sebagaimana peningkatan TIK. Pada kasus lainnya, lucid interval tidak dijumpai, dan penurunan kesadaran berlangsung diikuti oleh detoriasi progresif. Epidural hematoma terkadang terdapat pada fossa posterior yang pada beberapa kasus dapat terjadi sudden death sebagai akibat kompresi dari pusat kardiorespiratori pada medulla. Pasien yang tidak mengalami lucid interval dan mereka yang terlibat pada kecelakaan mobil pada kecepatan tinggi biasanya akan mempunyai prognosis yang lebih buruk.1 Gejala neurologik yang terpenting adalah pupil mata anisokor, yaitu pupil ipsilateral melebar. Pada perjalanannya, pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya yang pada permulaan masih positif akan menjadi negatif. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan bradikardia. Pada tahap akhir kesadaran akan menurun sampai koma yang dalam, pupil kontralaterak juga akan mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi, yang merupakan tanda kematian.3

Tanda Diagnostik Klinik Epidural Hematoma :7 1. Lucid interval (+) 2. Kesadaran makin menurun 3. Late hemiparese kontralateral lesi 4. Pupil anisokor 5. Babinsky (+) kontralateral lesi 6. Fraktur daerah temporal Gejala dan Tanda Klinis Epidural Hematoma di Fossa Posterior :7 1. Lucid interval tidak jelas 2. Fraktir kranii oksipital 3. Kehilangan kesadaran cepat

4. Gangguan serebellum, batang otak, dan pernafasan 5. Pupil isokor

2.4 DIAGNOSIS Diagnosis epidural hematoma didasarkan gejala klinis serta pemeriksaan penunjang seperti foto Rontgen kepala dan CT scan kepala. Adanya garis fraktur yang menyokong diagnosis epidural hematoma bila sisi fraktur terletak ipsilateral dengan pupil yang melebar garis fraktur juga dapat menunjukkan lokasi hematoma.3

Epidural hematoma di daerah temporal kiri. (diambil dari kepustakaan 8)

Computed tomografi (CT) scan otak akan memberikan gambaran hiperdens (perdarahan) di tulang tengkorak dan dura, umumnya di daerah temporal dan tampak bikonveks.7

Area hiperdens berbentuk bikonveks didaerah parietalis kanan. (diambil dari kepustakaan 8)

2.5 DIAGNOSIS BANDING 1. Subdural Hematoma Perdarahan yang terjadi diantara duramater dan arachnoid, akibat robeknya vena jembatan. Gejala klinisnya adalah : sakit kepala kesadaran menurun + / -

Pada pemeriksaan CT scan otak didapati gambaran hiperdens (perdarahan) diantara duramater dan arakhnoid, umumnya robekan dari bridging vein dan tampak seperti bulan sabit.7 2. Subarakhnoid hematoma Gejala klinisnya yaitu : kaku kuduk nyeri kepala

bisa didapati gangguan kesadaran

Pada pemeriksaan CT scan otak didapati perdarahan (hiperdens) di ruang subarakhnoid.

2.6 PENATALAKSANAAN Penatalaksaan epidural hematoma dapat dilakukan segera dengan cara trepanasi dengan tujuan melakukan evakuasi hematoma dan menghentikan perdarahan.3 2.7 PROGNOSIS Prognosis epidural hematoma biasanya baik. Mortalitas pasien dengan epidural hematoma yang telah dievakuasi mulai dari 16% - 32%. Seperti trauma hematoma intrakranial yang lain, biasanya mortalitas sejalan dengan umur dari pasien. Resiko terjadinya epilepsi post trauma pada pasien epidural hematoma diperkirakan sekitar 2%.9

BAB 3 KESIMPULAN

Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural. Fraktur tulang kepala dapat merobek pembuluh darah, terutama arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di permukaan dalam os temporale. Tanda Diagnostik Klinik Epidural Hematoma :7 1. Lucid interval (+) 2. Kesadaran makin menurun 3. Late hemiparese kontralateral lesi 4. Pupil anisokor 5. Babinsky (+) kontralateral lesi 6. Fraktur daerah temporal Diagnosis epidural hematoma didasarkan gejala klinis serta pemeriksaan penunjang seperti foto Rontgen kepala dan CT scan kepala. Prognosis epidural hematoma biasanya baik. Mortalitas pasien dengan epidural hematoma yang telah dievakuasi mulai dari 16% - 32%.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gilroy J. Basic Neurology. USA: McGraw-Hill, 2000. p. 553-5 2. Japardi I. Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. Bagian Bedah Fakultas Kedokteran USU. [serial online] 2004. [cited 20 Mei 2008]. Didapat dari : http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi61.pdf 3. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC, 2003. p. 818-9 4. Waxman SG. Correlative Neuroanatomy. USA: Lange Medical Books, 2000. p. 183-5 5. Duus P. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Jakarta: EGC, 1994. p. 329-30 6. Agamanolis DP. Traumatic Brain Injury and Increased Intracranial Pressure. Northeastern Ohio Universities College of Medicine. [serial online] 2003. [cited 20 Mei 2008]. Didapat dari : http://www.neuropathologyweb.org/chapter4/chapter4aSubduralepidural.html

7. PERDOSSI. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal. Jakarta: PERDOSSI Bagian Neurologi FKUI/RSCM, 2006. p. 9-11 8. Ekayuda I. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta: Gaya Baru, 2006. p. 359-65, 38287 9. Evans RW. Neurology and Trauma. Philadelphia: W.B. Saunders Company, 1996. p. 144-5
makalah Anda kelihatannya singkat, padat dan menarik hingga krnnya mengundang minat saya utk bertanya (tanya krn tak-tau ) sbb: 1.Pd baris ke2 diEtiologi tertulis biasanya epidural hematoma (EP) terjadi dgn fraktur tengkorak dibagian temporal parietal.Apakah biasanya juga diikuti dgn fraktur dibasis cranii ?. 2.Pd kebanyakan kasus talk and die syndrome (kasus EP pd http:// archieve.kaskus.us/thread/4027063) yaitu tepat setelah cedera terjadi, seseorang akan kehilangan kesadarannya, lalu sadar kembali (disebut lucid-interval), dan setelah beberapa waktu lalu meninggal (atau koma lagi). Kalau penyebab saat meninggalnya adalah jelas krn a.l faktor TIK yg meningkat ; tapi apa penyebab utamanya kenapa saat terjadi cedera maka ia sudah kehilangan kesadarannya(atau koma yg ke-1) ?. 3. Untuk kasus EP dimana terjadi sudden death (lht Gejala Klinis baris ke-7) ingin saya tanyakan tempat/lokasi fraktur2 lainnya dikepala (bila dari luar tak terlihat adanya luka dikepala) selain yg Anda telah sebutkan diFossa posterir. Sambil menunggu jawabannya, sementara sekian dahulu,...salam. princesswday balas princesswday menulis on Dec 28, '11 maaf, hanya ingin menanggapi pertanyaan dari bombic.

Menurut salah seorang pakar Sp. BS, yg kebetulan dosen saya. Penurunan kesadaran yang ke-1 diakibatkan karena cedera kepala yang dialami, yg mengakibatkan terguncangnya otak dan terputusnya hubungan kimiawi (neurotransmiter, dll) shingga trjadi penurunan kesadaran. Lamanya pun beragam, bisa 1 jam sudah dasar, bisa juga 3 jam kemudian baru sadar kembali. Tergantung berat ringannya cedera. Sedangkan penurunan kesadaran yg ke-2 disebabkan karena perdarahan itu sendiri. Volume perdarahan telah cukup untuk mengakibatkan turunnya kesadaran (arteri meningea media).

Sedangkan fraktur basis cranii, hal tersebut mungkin saja terjadi bersamaan dengan epidural hematom, tergantung berat ringannya cedera kepala. Biasanya pd fraktur basis cranii trdapat gejala Raccon`s eyes (brill haematoma), otorrhea, rhinorrhea, batlle sign. Tergantung fossa mana yang terkena.

hanya itu yang saya tau, maaf jika jawabnya tidak memuaskan.