Anda di halaman 1dari 3

TUGAS MATA KULIAH REVIEW LITERATUR LOKASI DAN POLA RUANG

Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, MT

REVIEW MATERI TEORI LOKASI INDUSTRI (Teori Weber dan Teori Losch) (Materi 4 : Teori Lokasi Industri (Teori Weber dan Teori Losch)

Disusun oleh : Utari Ardiyanti NIM. 21040111130082

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

Alferd weber seorang ahli ekonomi Jerman menulis buku berjudul Uber der Standort der Industrien pada tahun 1990. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1929 oleh C.J. Friedrich dengan judul Alferd Webers Theory of Location of Industries. Weber menganalisis lokasi kegiatan industri. Weber berdasarkan teorinya bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Dalam perumusan modelnya, Weber bertitik tolak pada asumsi : 1. Unit telaahan adalah suatu wilayah yang terisolasi, iklim yang homogen, konsumen terkonsentrasi pada beberapa pusat, dan kondisi pasar adalah persaingan sempurna. 2. Beberapa sumber daya alam seperti air, pasir, dan batu bata tersedia di mana-mana (equitous) dalam jumlah yang memadai 3. Material lainnya seperti bahan bakar mineral dan tambang tersedia secara sporadic dan hanya terjangkau pada beberapa tempat terbatas. 4. Tenaga kerja tidak ubiquitous (tidak menyebar secara merata) tetapi berkelompok pada beberapa lokasi dengan mobilitas yang terbatas. Berdasarkan asumsi tersebut ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri yaitu biaya transportasi dan upah tenaga kerja merupakan faktor regional yang bersifat umum dan faktor deaglomerasi yang brsifat lokal dan khusus. Menurut weber biaya transportasi merupakan faktor pertama dalam menentukan lokasi sedangkan faktor lainnya merupakan faktor yang dapat memodifikasi lokasi. Jadi, titik terendah biaya transportasi adalah titik yang menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi. Biaya transportasi dipengaruhi oleh berat lokasional. Berat lokasional adalah berat total semua barang berupa input yang harus diangkut ke tempat produksi untuk menghasilkan satu satuan output ditambah berat output yang akan dibawa ke pasar. Berat total itu terdiri dari satu satuan produk akhir ditambah semua berat input yang harus diangkut ke lokasi pabrik seperti bahan mentah, bahan setengah jadi, bahan penolong dan lain-lain yang diperlukan untuk menghasilkan satu satuan output. Ada kemungkinan sumber berbagai bahan baku dan pasar berada pada arah yang berbeda. Dalam hal ini, lokasi biaya transportasi termurah adalah pada pertemuan dari berbagai arah tersebut. Weber memberi konsep yang dikenal sebagai segitiga lokasi atau location triangle. T = lokasi optimum M dan M = sumber bahan baku P = Pasar X,Y,Z = Bobot input dan output A,b,c = Jarak lokasi input dan output

August Losch merupakan orang pertama yang mengembangkan teori lokasi dengan segi permintaan sebagai variabel utama. Teori Losch bertujuan untuk menemukan pola industri, sehingga diketemukan keseimbangan spasial antar teori lokasi. Ia berpendapat bahwa dalam lokasi industri yang tampak tak teratur dapat diketemukan pola keberaturan. Oleh karena itu Kosch merupakan pendahulu dalam mengatur kegiatan ekonomi secara spasial dan pelopor dalam teori ekonomi regional modern. Teori losch berasumsikan suatu daerah yang homogin dengan distribusi sumner bahan mentah dan sarana angkutan yang merata serta selera konsumen yang sama. Kegiatan ekonomi yang terdapat didaerah tersebut merupakan pertanian berskla kecil yang pada dasarnya ditunjukkan bagi pemenuhan kebutuhan petani masing-masing. Perdagangan baru terjadi bila terdapat kelebihan produksi. Untuk mencapai keseimbangan, ekonomi ruang Losch harus memenuhi syarat berikut ini : 1. Setiap lokasi industry harus menjamin keuntungan maksimum bagi penjual maupun pembeli. 2. Terdapat cukup banyak usaha pertanian denga pembayaran cukup merata, sehingga seluruh permintaan yang ada dapat dilayani. 3. Terdapat free entry dan tak ada petani yang memperoleh super normal profit sehingga tak ada rangsangan bagi petani dari luar untuk masuk dan menjual baarang yang sama di daerah tersebut. 4. Daerah penawaran adalah sedemikian sehingga memungkinkan petani yang ada untuk mencapai besar optimum dan 5. Konsumen bersifat indifferent terhadap penjual manapun dan satu-satunya pertimbangan untuk membeli asalah harga yang rendah. Gejala daerah pasar yang terbentuk disebabkan oleh harga yang semakin tinggi yang mengakibatkan pembeli makin tidak dapat menjangkaunya dan berpaling ke penjual lain yang menawarkan harga lebih murah. Dengan demikian batas daerah pasar satu dengan pasar lain lebih berkesinambungan.

Sumber : Tarigan, Robinson. 2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta : Bumi Aksara Djojodipuro Marsudi. 1992. Teori Lokasi. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia