Anda di halaman 1dari 45

1 BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Pasar modal (Capital market) merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan untuk

mendapatkan dana atau tambahan dana dimana pasar modal merupakan badan yang menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak yang berlebihan (investor) ke pihak yang kekurangan (perusahaan). Investasi dalam bentuk saham di pasar modal merupakan kegiatan menanamkan dana pada bidang usaha tertentu dengan kepemilikan atau pembelian saham dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Saham merupakan salah satu jenis efek yang paling banyak diperdagangkan di pasar modal. Saham dapat didefinisikan sebagai surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan. Harga dasar saham dipergunakan dalam perhitungan indeks harga saham, dimana harga dasar ini akan mengalami perubahan sesuai dengan aksi emiten. Market price (harga pasar) merupakan harga pada pasar riil, dan merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Harga saham dapat dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan pengelolaan perusahaan, dimana kekuatan pasar ditunjukkan dengan terjadinya transaksi perdagangan saham perusahaan di pasar modal. Transaksi yang terjadi didasarkan pada hasil pengamatan para investor terhadap prestasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, maka semakin meningkatnya permintaan akan saham akan meningkatkan harga saham pula. Harga saham merupakan ukuran indeks prestasi perusahaan yaitu seberapa jauh manajemen telah berhasil mengelola perusahaan atas nama pemegang saham.

2 Harga dalam pasar modal merupakan salah satu faktor bagi investor dalam mengambil keputusan, selain faktor kondisi perusahaan, kondisi perekonomian, tingkat suku bunga, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Investor mengharapkan keuntungan dari pergerakan dan menilai harga saham wajar atau tidak. Harga saham yang bersedia dibayar investor mencerminkan arus kas bersih (imbal beli) yang diharapkan setelah memperhitungkan waktu dan resiko investasi, hal ini juga menyangkut perkiraan prestasi perusahaan di masa yang akan datang. Prestasi perusahaan dapat dinilai dari besarnya kinerja perusahaan selama periode tertentu. Kinerja perusahaan bisa diamati melalui analisis terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut secara periodik. Analisis laporan keuangan mengidentifikasikan aspek-aspek laporan keuangan yang relevan dengan keputusan investor. Atribut-atribut akuntansi yang memiliki nilai relevan dapat meningkatkan kemampuan analisis laporan keuangan. Nilai perusahaan tercemin dari harga sahamnya. Dengan demikian, perusahaan akan memberikan laporan tahunan yang dapat memberikan informasi relevan tentang laporan keuangan yang akan berdampak pada harga saham yang diperdagangkan. Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi penting yang digunakan oleh investor dalam menilai kinerja perusahaan. Apabila laporan keuangan mampu menyajikan informasi yang relevan dengan model keputusan yang dipergunakan oleh investor, maka investor dapat menggunakan informasi tersebut untuk membuat keputusan membeli, menahan, atau menjual saham suatu perusahaan. Laporan keuangan yang lengkapnya biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, laporan arus kas, catatan dan laporan lain yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Tujuan laporan keuangan secara umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam rangka membuat keputusankeputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan.

3 Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian serta arus kas. Informasi tersebut beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas. Pada akhir tahun 1987, FASB melalui Statement of Financial Accounting Standards (SFAS) No. 95 mewajibkan perusahaan untuk menerbitkan laporan arus kas. Laporan arus kas menggantikan laporan perubahan posisi keuangan. Laporan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang relevan mengenai penerimaan dan pembayaran kas dari suatu perusahaan selama suatu periode. Kebijakan serupa diberlakukan di Indonesia pada tahun 1995 melalui Standar Akuntansi Keuangan No. 2, dimana laporan arus kas sudah harus disertakan dalam pelaporan keuangan setiap perusahaan sejak periode yang dimulai 1 Januari 1995. Laporan arus kas adalah laporan yang menggambarkan perubahan posisi kas dalam satu periode akuntansi. Perubahan posisi dalam laporan arus kas akan terlihat dari tiga sisi, yaitu arus kas dari kegiatan operasi, kegiatan pendanaan, dan kegiatan investasi. Perusahaan yang sehat sudah pasti mendatangkan keuntungan dari kegiatan operasional, pendanaan, dan investasi. Kegiatan operasi umumnya mendatangkan keuntungan dari laba operasi yang dihasilkannya setiap periode. Di sisi lain pendanaan juga memberikan laba dari penjualan saham. Sedangkan kegiatan investasi adalah kegiatan lain perusahaan di luar bidang bisnisnya dalam hal memutar uang. Dalam hal ini arus kas operasi memegang peranan penting untuk mengarahkan perusahaan pada informasi sesungguhnya mengenai operasi atau usaha perusahaan. Dengan kata lain, arus kas operasi adalah indikator kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar deviden, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar.

4 Aliran kas dari aktivitas operasi dapat menjadi perhatian penting karena dalam jangka panjang untuk kelangsungan hidup perusahaan, suatu bisnis harus menghasilkan aliran kas bersih yang positif dari aktivitas operasi. Jika suatu bisnis memiliki aliran kas negatif dari aktivitas operasi maka tidak akan dapat meningkatkan kas dari sumber lain dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Livnat dan Zarrowin (1990) dalam Ferry dan Wati (2004) dengan model penilaian menunjukkan bahwa unexpected cash inflows or outflows dari operasi dalam perioda tertentu akan memperngaruhi harga saham melalui pengaruhnya pada aliran kas, sehingga diharapkan komponen aliran kas dari operasi mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham. Ali (1994) dalam Ferry dan Wati (2004) dengan menggunakan pendekatan non-linier memberikan dukungan pada hipotesis bahwa aliran kas dari operasi mempunyai kandungan informasi di luar laba akuntansi. Wilson (1986, 1987) dalam Ferry dan Wati (2004) dan Rayburn (1986) dalam Ferry dan Wati (2004) juga melakukan pengujian kandungan informasi aliran kas dan hasilnya menyatakan bahwa terdapat hubungan yang lebih kuat antara kandungan informasi aliran kas dengan harga saham dibandingkan dengan rasio neraca dan laba rugi. Berbeda dengan penelitian-penelitian di atas, Bernard dan Stober (1989) dalam Ferry dan Wati (2004) melakukan pengujian yang hasilnya tidak konsisten dengan pernyataan Wilson (1987) dalam Ferry dan Wati (2004). Penelitian ini membuktikan bahwa operating cash flow tidak mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan harga saham dibanding dengan current accrual. Bernard dan Stober melakukan replikasi penelitian Wilson dengan perbedaan perioda waktu yang lebih panjang. Selain dipengaruhi oleh arus kas operasi, harga saham juga dipengaruhi oleh laba perusahaan. Penelitian Ball dan Brown (1968) dalam Setiati dan Kusuma (2004) yang menguji tentang laba dan harga saham menunjukkan bukti empiris bahwa keduanya mempunyai hubungan positif secara signifikan. Hal ini berarti naik turunnya laba akan mempengaruhi naik turunnya harga saham secara searah. Peneliti lainnya yang menguji kemampuan prediksi laba adalah Finger (1994) dalam Ferry dan Wati (2004). Dengan menggunakan model regresi linier,

5 Finger memberikan kesimpulan pada penelitiannya bahwa laba lebih memberikan isi informasi inkremental dibanding aliran kas. Sejalan dengan Finger, Baridwan dan Parawijati (1998) dalam Ferry dan Wati (2004) melakukan replikasi penelitian Finger dengan modifikasi dan dapat diambil kesimpulan bahwa laba merupakan prediktor yang lebih baik, walaupun aliran kas juga dapat menjadi prediktor yang baik. Besarnya kekuatan hubungan laba akuntansi dan harga saham dalam literatur akuntansi dan keuangan diukur dengan menggunakan koefisien respon laba (earnings response coefficients). Menurut Beaver dkk (1980) dalam Setiati dan Kusuma (2004) dan Kormendi dan Lipe (1987) dalam Setiati dan Kusuma (2004), koefisien respon laba (earnings response coefficients) antar perusahaan relatif tetap. Hal ini dibuktikan oleh Kormendi dan Lipe (1987) dengan menguji pengaruh unexpected earnings terhadap harga saham. Hasil dari pengujian tersebut menunjukkan bahwa reaksi harga saham terhadap laba akuntansi tidak bergejolak secara berlebihan. Namun, Easton dan Zmijewski (1989) dalam Setiati dan Kusuma (2004), Collins dan Kothari (1989) dalam Setiati dan Kusuma (2004) menyatakan bahwa respon pasar terhadap laba akuntansi masing-masing perusahaan dapat bervariasi, baik antar perusahaan maupun antar waktu. Hal ini menunjukkan bahwa koefisien respon laba tidak konstan. Perbedaan koefisien respon laba dipengaruhi oleh karateristik atau nilai perusahaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi koefisien respon laba adalah persistensi laba. Persistensi laba merupakan pengaruh suatu inovasi terhadap laba akuntansi yang diharapkan di masa mendatang (Kormendi dan Lipe, 1987) dalam Setiati dan Kusuma (2004). Definisi persistensi laba menurut Penman (1992) dalam Setiati dan Kusuma (2004) adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasi oleh inovasi laba tahun berjalan (current earnings) sehingga persistensi laba dilihat dari inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham. Pada beberapa penelitian terdahulu dinyatakan bahwa persistensi laba secara positif berhubungan dengan koefisien respon

6 laba (Kormendi dan Lipe, 1987: Easton dan Zmijewski, 1989; Collins dan Kothari, 1989; Lev dan Thiagarajan, 1993; dan Harikumar dan Harter, 1995). Collins dan Kothari (1989) dalam Setiati dan Kusuma (2004) menegaskan bahwa koefisien respon laba lebih tinggi untuk perusahaan yang dipandang oleh pasar mempunyai kesempatan untuk tumbuh. Hasilnya, selain mendukung hipotesis bahwa koefisien respon laba berbeda antar perusahaan dan antar waktu, juga memastikan bahwa persistensi dan pertumbuhan berhubungan positif dengan koefisien respon laba. Bukti ini konsisten dengan adanya faktor persistensi (Collins dan Kothari, 1989) dan kualitas laba (Lev dan Thiagarajan, 1993), maka berita baik atau buruk pada laba tahun berjalan akan memberikan prospek pertumbuhan di masa yang akan datang. Oleh karena itu persistensi laba memberikan prospek pertumbuhan di masa yang akan datang sehingga koefisien respon perusahaan tersebut akan tinggi. Semakin tinggi koefisen respon perusahaan, maka semakin tinggi pula harga sahamnya. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa persistensi laba dapat mempengaruhi harga saham. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan kajian dengan judul Analisis Pengaruh Arus Kas Operasi dan Persistensi Laba Terhadap Harga Saham dengan Persistensi Laba Pada Perusahaan yang Listed di BEJ. 2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut: 1 Apakah arus kas operasi dan persistensi laba berpengaruh terhadap harga saham secara silmutan? 2 Apakah arus kas operasi dan persistensi laba berpengaruh terhadap harga saham secara parsial?

7 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1 Untuk mengetahui pengaruh arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham secara silmutan. 2 Untuk mengetahui pengaruh arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham secara parsial. Manfaat Penelitian Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah: 1 Secara teoritis, diharapkan dapat menjadi sarana bagi penulis untuk melatih diri mengaplikasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan kenyataan yang ada di lapangan dan sebagai informasi bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian yang lebih mendalam tentang masalah yang sama. 2 Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi investor dan calon investor dalam perumusan kebijaksanaan dan pengambilan keputusan investasi saham pada perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1; Telaah Penelitian Terdahulu Ferry dan Wati (2004) meneliti mengenai pengaruh informasi laba aliran kas dan komponen aliran kas terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Indonesia. Model metode analisis yang digunakan adalah model regresi sederhana, yaitu model levels yang dipakai pada penelitian Triyono dan Yogianto (2000). Hasil penelitian ini pada model levels yang pertama menunjukkan laba akuntansi banyak dipakai investor daripada total arus kas dalam menilai kinerja perusahaan pada periode pengamatan. Sedangkan pada model levels yang kedua dengan pemisahan komponen aliran kas menunjukkan aliran kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan berpengaruh positif dan negatif serta signifikan terhadap harga saham. Pada model levels ketiga dengan variabel controls komponen aliran kas, menunjukkan laba akuntansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham pada periode pengamatan serta konsisten dengan model levels pertama. Sedangkan pada komponen aliran kas mempunyai hasil yang konsisten dengan model levels kedua. Ini berarti investor lebih banyak menggunakan laba akuntasi dalan menilai kinerja perusaahan meskipun komponen arus kas juga dapat digunakan dalan menilai kinerja perusahaan. Rohman (2004) meneliti mengenai pengaruh arus kas operasi dan laba akuntansi terhadap tingkat keuntungan dan likuiditas saham emiten di Bursa Efek Jakarta. Tingkat keuntungan saham diproksikan dengan abnormal return dan likuiditas saham diproksikan dengan Trading Volume Activity (TVA). Untuk melihat besarnya korelasi dan pengaruh arus kas operasi dan laba akuntansi terhadap tingkat keuntungan dan likuiditas saham dilakukan dengan menggunakan analisis jalur (path analysis). Sedangkan untuk melihat tingkat signifikansinya, teknik pengujian menggunakan t student untuk observasi berpasangan. Hasil uji hipotesis 1 menunjukkan arus kas operasi berpengaruh negatif terhadap tingkat keuntungan dan berpengaruh positif terhadap

9 likuiditas saham. Sedangkan laba akuntansi berpengaruh positif terhadap tingkat keuntungan dan berpengaruh negatif terhadap likuiditas saham. Arus kas operasi dan laba akuntansi sama-sama tidak signifikan terhadap tingkat keuntungan dan likuiditas saham. Hasil uji hipotesis 2 menunjukkan bahwa rata-rata keuntungan tidak normal (CAAR) sebelum tanggal pengumuman arus kas operasi dan laba akuntansi untuk laporan keuangan lebih besar dibandingkan dengan CAAR setelah tanggal pengumuman, dan hasil uji menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Hasil uji hipotesis 3 menunjukkan bahwa rata-rata likuiditas saham (XTVA) sebelum tanggal pengumuman arus kas operasi dan laba akuntansi untuk laporan keuangan lebih kecil dibandingkan dengan XTVA setelah tanggal pengumuman, dan hasil uji menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Diana dan Kusuma (2004) melakukan penelitian tentang pengaruh faktor kontekstual terhadap kegunaan earnings dan arus kas operasi dalam menjelaskan return saham pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini menggunakan 4 variabel independen, yaitu perubahan earnings operasi, perubahan arus kas operasi, earnings operasi, dan arus kas operasi, serta 3 variabel dummy, yaitu permanent earnings, pertumbuhan earnings dan ukuran perusahaan. Analisis penelitian ini menggunakan model regresi berganda dengan model interaksi yang dibentuk dengan model kuadrat terkecil (OLS). Hasil keseluruhan model-model kontekstual (permanent earnings, pertumbuhan earnings dan ukuran perusahaan) dari hubungan earnings dan arus kas operasi dengan return saham yang menggunakan komponen change sebagai proksi unexpected earnings lebih mendukung pentingnya earnings sebagai suatu variabel penjelas untuk return di luar arus kas operasi dan mengindikasikan bahwa kekuatan penjelas ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan model yang memasukkan pengaruh permanent earnings dan pertumbuhan earnings terhadap earnings coefficient. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang positif atara return saham dengan arus kas operasi periode awal. Dapat dikatakan bahwa hasil-hasil yang berhubungan dengan nilai tambah

10 kandungan informasi arus kas di luar earnings memberikan bukti kuat bahwa arus kas operasi sangat penting dalam menjelaskan return saham tahun berikutnya. Setiati dan Kusuma (2004) menguji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien respon laba (ERC) pada perusahaan bertumbuh dan tidak bertumbuh pada perusahaan manufaktur yang yang terdaftar di BEJ. Penelitian ini menggunakan 6 variabel yang dianggap mempengaruhi koefisien respon laba (ERC), yaitu beta, persistensi laba, prediktibilitas laba, pertumbuhan laba (diproksikan dengan MBV), struktur modal (diproksikan dengan leverage), dan besar perusahaan (size). Alat analisis yang digunakan adalah model regresi berganda, chow test, dan uji t. Hasilnya menunjukkan bahwa pada perusahaan bertumbuh beta, pertumbuhan laba, struktur modal, dan besar perusahaan berpengaruh negatif terhadap ERC, sedangkan persistensi laba dan prediktibilitas laba berpengaruh positif terhadap ERC. Persistensi laba dan struktur modal berpengaruh signifikan terhadap ERC, sedangkan variabel lainnya tidak signifikan terhadap ERC. Pada perusahaan tidak bertumbuh beta dan struktur modal berpengaruh negatif terhadap ERC, sedangkan persistensi laba, prediktibilitas laba, pertumbuhan laba dan besar perusahaan berpengaruh positif terhadap ERC. Beta, persistensi laba, struktur modal, dan besar perusahaan signifikan terhadap ERC, sedangkan prediktibilitas laba dan pertumbuhan laba tidak signifikan. Hasil lain dari penelitian ini adalah bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan bertumbuh memilki koefisien yang berbeda dengan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan tidak bertumbuh.

2.2; Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu Beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu, yaitu: 1 Penelitian ini menggunakan arus kas operasi dan persistensi laba sebagai variabel bebas.

11 2 Pada penelitian ini objek penelitiannya pada seluruh perusahaan yang terdaftar di BEJ, sedangkan pada penelitian-penelitian terdahulu objek penelitiannya pada perusahaan menufaktur yang listed di BEJ. 3 Penelitian ini menggunakan periode penelitian selama 6 tahun, yaitu tahun 2001-2006.

2.3; Tinjauan Teoritis 2.3.1; Pasar Modal Pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi. Saham merupakan bukti pemilikan sebagian dari perusahaan. Obligasi merupakan suatu kontrak yang mengharuskan peminjam untuk membayar kembali pokok pinjaman ditambah dengan bunga dalam kurun waktu tertentu yang disepakati. Menurut Sartono (1998:24), pasar modal adalah tempat terjadinya transaksi asset keuangan jangka panjang (long term financial assets). Jenis surat berharga yang diperjual belikan di pasar modal memiliki masa jatiuh tempo lebih dari satu tahun dalam bentuk obligasi, saham preferen, dan saham biasa. Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana yang efektif untuk mempercepat akumulasi dana bagi pembiayaan pembangunan melalui mekanisme pengumpulan dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tersebut ke sektor-sektor yang produktif. Menurut Sartono (1998:25) sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional, pasar modal memiliki fungsi intermediasi yaitu menjembatani antara pihak yang membutuhkan modal dengan pihak yang kelebihan modal. Pasar modal mempunyai peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai salah satu sumber pembiayaan eksternal bagi dunia usaha. Pasar modal juga mempunyai fungsi sarana alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke peminjam. Alokasi dana yang produktif terjadi jika individu yang mempunyai kelebihan dana dapat meminjamkannya ke individu lain yang lebih

12 produktif yang membutuhkan dana. Sebagai akibatnya peminjan dan pemberi pinjaman akan lebih diuntungkan jika pasar modal ada (Jogiyanto, 1998:11). 2.3.2; Saham Berdasarkan undang-undang perseroan yang berlaku di Indonesia, seperti yang dikutip oleh Sunariyah (1997:61), saham adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) atau yang biasa disebut emiten. Saham menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan tersebut. Terdapat dua jenis saham menurut Jogiyanto (1998:53), yaitu: 1 Saham Preferen Saham preferen merupakan saham yang memiliki sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Seperti halnya saham biasa, klaim pemegang saham preferen dibawah klaim pemegang obligasi. Pemegang saham preferen mempunyai beberapa hak, yaitu hak atas deviden tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika terjadi likuidasi. Saham Biasa Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common stock). Adapun hak dari pemegang saham biasa adalah memilki hak kontrol, hak menerima pembagian keuntungan, dan hak preemptive, yaitu hak untuk mendapatkan persentase keuntungan yang sama jika perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham

2.3.3; Pengertian Harga Pasar Saham Harga dasar suatu saham erat kaitannya dengan harga pasar suatu saham. Nilai nominal saham dapat berbeda dengan harga pasarnya karena pengaruh faktor internal dan eksternal perusahaan. Harga saham adalah sebesar nilai sekarang ( present value) dari aliran kas yang diharapkan akan diterima, yaitu berapa nilai sekarang dari pendapatan yang akan diterima pada masa yang akan datang. Harga pasar merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena harga pasar saham merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung. Jika bursa efek sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya ( closing price). Harga pasar saham ditetntukan oleh permintaan dan penawaran saham bersangkutan di pasar bursa. 2.3.4; Penilaian Harga Saham Penilaian terhadap saham-saham yang akan dipilih mutlak diperlukan untuk mengurangi resiko investasi dan agar memperoleh keuntungan dari investasi saham. Oleh karena itu investor

13 harus mampu melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham, yaitu dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut: 1 Analisis Fundamental Analisis fundamental didasarkan pada suatu anggapan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik dari suatu saham dengan menggunakan data keuangan. Nilai intrinsik inilah yang diestimasi oleh para investor. Nilai intrinsik merupakan suatu fungsi dari variabel-variabel perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu keuntungan yang diharapkan dan suatu resiko yang melekat pada saham tersebut. Analisis fundamental merupakan studi yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan keuangan bisnis dengan maksud untuk lebih memahami sifat dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan. Analisis Teknikal Analisis teknikal merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data atau catatan mengenai pasar itu sendiri untuk berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham tertentu maupun pasar secara keseluruhan. Seperti trend harga pasar, permintaan dan penawaran di pasar modal, serta volume transaksi surat berharga (Sunariyah, 1997:86). Pendekatan ini berfokus pada pergerakan harga-harga saham sehingga keputusan untuk menjual atau membeli saham tergantung pada kesimpulan yang diambil dari pergerakan harga-harga saham tersebut. 1 Menurut Sunariyah (2003:112) ada beberapa penilaian saham yaitu: Nilai nominal (par value) adalah harga saham pertama yang tercantum pada sertifikat badan usaha. Harga saham tersebut merupakan harga yang sudah diotorisasi oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Harga ini tidak berubah-ubah dari yang telah ditetapkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Pada banyak kasus par value lebih kecil dari nilai buku. Apabila saham dijual di pasar modal kelebihan dari nilai nominal dilaporkan sebagai agio atau premium dalam neraca. Nilai buku (book value), nilai saham akan bermacam-macam dari waktu perusahaan didirikan. Nilai saham tersebut berubah karena adanya kenaikan atau penurunan harga saham dan adanya laba ditahan. Jumlah laba ditahan par value saham dan modal selain par value adalah nilai buku. Nilai buku untuk tiap lembar saham dihitung dari pembagian jumlah nilai buku dengan jumlah lembar saham. Nilai dasar (base price), nilai dasar suatu saham sangat berkaitan dengan harga saham yang bersangkutan setelah dilakukan penyesuaian karena corporate action (aksi emiten). Nilai dasar ini merupakan harga perdana saham tersebut. Nilai dasar ini juga digunakan dalam perhintungan indeks harga saham, sehingga akan terus berubah. Nilai pasar (market price) adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Untuk mendapatkan jumlah nilai pasar suatu saham yaitu dengan mengalikan harga pasar dengan jumlah saham yang dikeluarkan. Dengan mengetahui nilai pasar dan nilai intrinsik dapat digunakan untuk mengetahui saham-saham mana yang murah, tepat nilainya, dan yang mahal. Nilai pasar yang lebih kecil dari nilai intrinsiknya menunjukkan bahwa saham tersebut dijual dengan harga murah ( undervalued), karena investor membayar saham tersebut lebih kecil dari harga sebenarnya. Sebaliknya nilai

14 pasar yang lebih besar dari nilai intrinsiknya menunjukkan bahwa saham tersebut dijual dengan harga mahal (overvalued), karena investor membayar saham tersebut lebih besar dari harga sebenarnya. 2.3.5; Faktor-Faktor Penggerak Harga Saham Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya fluktuasi harga saham baik yang bersifat mikro maupun makro (Arifin, 2002:116). Yang dimaksud faktor mikro adalah faktorfaktor yang dampaknya hanya dirasakan pada beberapa jenis saham saja. Sedangkan faktor makro adalah faktor-faktor yang dampaknya dirasakan pada semua saham termasuk juga perekonomian secara menyeluruh. Faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham tersebut antara lain: 1 Kondisi fundamental emiten yang berkaitan lansung dengan kinerja emiten itu sendiri. Semakin baik kinerja emiten maka semakin besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham. 2 Hukum permintaan dan penawaran dimana terjadinya transaksi jual beli saham yang mempengaruhi fluktuasi harga saham. 3 Tingkat suku bunga, yaitu suku bunga yang diberlakukan oleh Bank Indonesia dengan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). 4 Valuta asing yang memiliki efek ganda pada terhadap perubahan harga saham. Bila kurs dollar naik investor akan menjual sahamnya dan menempatkan di bank dalam bentuk dollar yang otomatis akan menurunkan harga saham. 5 Dana asing di bursa. Semakin besar dana asing yang tertanam menandakan kondisi perekonomian tidak lagi negatif sehingga kemampuan emiten untuk menghasilkan laba juga meningkat. 6 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencerminkan kondisi keseluruhan transaksi bursa yang terjadi. IHSG digunakan sebagai tolok ukur kondisi perekonomian dan investasi suatu negara.

15 7 News dan rumors, yaitu semua berita yang beredar di tengah masyarakat yang menyangkut berbagai hal, baik masalah ekonomi, sosial, politik, hukum, maupun keamanan. 2.3.6; Laporan Keuangan Menurut Baridwan (1999:17), laporan keuangan merupakan ringkasan dari transaksitransaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh pemilik perusahaan. Laporan keuangan juga dapat digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain, yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak diluar perusahaan, seperti yang tertuang dalam PSAK No. 1 para. 9 (2004:2), pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang disajikan dalam berbagai cara misalnya sebagai laporan aliran kas atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografi serta pengungkapan pengaruh perubahan harga. Menurut PSAK No. 1 para. 7 (2004:1-3), laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut: 1 2 3 4 5 Neraca Laporan Laba Rugi Laporan Perubahan Modal Laporan Arus Kas Catatan atas laporan keuangan

2.3.7; Laporan Arus Kas Arus kas merupakan suatu proses pergerakan dana tunai masuk dan keluar dari suatu bisnis perusahaan. Arus kas bersih dapat ditentukan dengan melakukan pengukuran perubahan yang terjadi di dalam neraca suatu perusahaan pada masa tertentu. Menurut PSAK No. 2, arus

16 kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Arus masuk kas merupakan transaksi yang mengakibatkan kenaikan kas. Sedangkan arus kas keluar adalah transaksi yang menyebabkan penurunan kas. Arus kas dapat diartikan sebagai perubahan posisi nilai kas sebagai akibat dari adanya transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan. Arus kas juga merupakan indikator yang dimiliki oleh perusahaan untuk mengetahui posisi keuangan yang ada pada perusahaan tersebut. Informasi tentang arus kas sebuah perusahaan bermanfaat bagi para pemakai laporan keuangan sebagi dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan untuk menggunakan arus kas tersebut. Tujuan utama laporan arus kas adalah memberikan informasi yang relavan bagi pengguna laporan keuangan mengenai penerimaan kas dan pengeluaran kas dari suatu unit usaha selama periode tertentu (SFAC No. 95 para. 4). Laporan arus kas bermanfaat secara iternal bagi manajemen dan secara eksternal bagi pemodal dan kreditor. Laporan arus kas berguna bagi manajer dalam mengevaluasi operasi masa lalu, merencanakan aktivitas investasi serta pendanaan di masa depan, menilai likuiditas, menentukan kebijakan deviden, mengevaluasi imbas keputusan-keputusan kebijakan pokok yang menyangkut investasi dan pendanaan, menilai potensi laba, dan menilai kemampuan perusahaan membayar utangnya yang telah jatuh tempo. Laporan arus kas harus membantu investor, kreditor, dan pihak lainnya untuk mengetahui: 1 2 3 4 5 6 Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan arus kas positif dalam periode mendatang. Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya dan untuk membayar deviden. Kebutuhan perusahaan untuk pendanaan eksternal. Penyebab perbedaan antara jumlah net income dan cash flow dan aktivitas operasi. Aspek kas maupun non kas dari investasi perusahaan dan transaksi pendanaan dalam periode tertentu. Penyebab perubahan dalam jumlah kas dan setara kas antara awal dan akhir periode (Simamora, 2003:179) Dalam laporan arus kas, transaksi kas digolongkan ke dalam tiga aktivitas (PSAK No. 2 para. 10 tahun 2004), yaitu: 1 Aktivitas operasi (operating activities) Aktivitas operasi meliputi penerimaan dan pembayaran yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan dalam rangka mendapatkan net income, seperti penerimaan uang dari pelanggan,

17 pembayaran kepada pemasok dalam rangka mendapatkan barang dagangan, pembayaran kepada karyawan untuk biaya gaji dan upah. Aktivitas investasi (investing activities) Aktivitas investasi berhubungan dengan transaksi penerimaan kas dan pembayaran yang berkaitan dengan pemilikan asset jangka panjang yang meliputi: memberi atau menerima pinjaman dari perusahaan lain, investasi, atau penjualan surat berharga dan aktiva tetap. Aktivitas pendanaan (financing activities) Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang berhubungan dengan pengeluaran utang dan saham yang meliputi menerima uang dari kreditor, pembayaran pinjaman, dan menerima kas dari penjualan saham.

2.3.8; Arus Kas Operasi Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lainnya yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan (PSAK No. 2). Aktivitas operasi melibatkan transaksi-transaksi pembelian atau produksi barang dan jasa, serta penjualan maupun distribusi barang dan jasa tersebut ke pelanggan. Aktivitas operasi menyebabkan kenaikan transaksi dan peristiwa yang masuk ke dalam perhitungan laba bersih. Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar deviden dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Arus kas bersih dari aktivitas operasi memperlihatkan jumlah kas bersih yang diterima atau dikeluarkan selama periode waktu tertentu untuk pos-pos yang biasanya muncul di laporan laba rugi. Arus kas operasi dapat dilaporkan menggunakan dua metode, yaitu: 1 Metode Langsung Metode langsung (direct method) mengkonversikan setiap pos pada laba rugi secara langsung ke dasar tunai. Metode langsung melaporkan sumber-sumber kas operasi dan pemakaian kas operasi. Sumber utama kas operasi adalah kas yang diterima dari pelanggan. Pemakaian pokok kas operasi meliputi kas yang dibayarkan kepada pemasok untuk barang dan jasa yang dibeli perusahaan dan kas yang dibayarkan kepada karyawan dalam bentuk gaji dan upah. Perusahaan yang memakai metode langsung, mengurangkan arus kas keluar operasi dari arus kas masuk operasi untuk menentukan kas bersih dari aktivitas operasi.

18 Melalui metode langsung, perusahaan dapat melaporkan arus kas masuk operasi dalam 3 kategori, yaitu: (1) penagihan dari pelanggan, (2) penagihan bunga, dan (3) penerimaan operasional lainnya. Sedangkan arus kas keluar operasi dikelompokkan dalan 4 kategori, yaitu: (1) pembayaran kas kepada pemasok, (2) pembayaran kas kepada karyawan, (3) pembayaran bunga, dan (4) pembayaran operasional lainnya. (Simamora, 2003:183) Keunggulan metode langsung adalah metode ini melaporkan sumber dan pemakaian kas di laporan arus kas. Sedangkan kelemahannya adalah data yang diperlukan mungkin tidak tersedia dengan cepat dan biaya pengumpulan data tersebut biasanya mahal. 2 Metode Tidak Langsung Dalam metode tidak langsung (indirect method), perusahaan menyesuaikan laba bersihnya untuk menghitung arus kas bersih dari aktivitas operasi. Metode tidak langsung bertolak dari dasar akrual laba bersih dan secara tidak langsung menyesuaikan laba bersih untuk pos-pos yang mempengaruhi laba bersih namun tidak melibatkan kas. Pertama-tama laba bersih didaftar dan kemudian dibuat penyesuaian (penambahan atau pengurangan) atas laba bersih tersebut. Kelemahan metode tidak langsung adalah metode ini terfokus pada perbedaan antara laba bersih dan arus kas operasi. Sedangkan keunggulannya adalah metode ini memperlihatkan hubungan antara laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas, datanya mudah dicari, serta biaya pengumpulan datanya lebih murah. 2.3.9; Arus Kas Operasi dan Harga Saham Dalam manajemen keuangan terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menilai investasi. Pada dasarnya, metode penelitian investasi didasarkan dua hal yaitu laba arus akuntansi dan arus kas operasi. Informasi arus kas operasi berguna untuk menilai kinerja perusahaan. Arus kas operasi menjadi penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Suatu bisnis harus menghasilkan aliran kas bersih yang positif dari aktivitas operasi. Jika suatu bisnis memiliki aliran kas negatif dari aktivitas operasi maka tidak akan dapat meningkatkan kas dari sumber lain dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

19 Semakin positif arus kas operasi berarti perusahaan tersebut memiliki dana yang cukup untuk membayarkan deviden kepada para pemegang sahamnya. Hal ini akan menjadi motivasi bagi investor untuk menanamkan dananya pada perusahaan tersebut. Semakin banyak saham perusahaan tersebut dibeli oleh investor, maka harga sahamnya juga akan semakin meningkat. Jadi dapat disimpulkan bahwa arus kas operasi berpengaruh terhadap harga saham. Livnat dan Zarrowin (1990) dalam Ferry dan Wati (2004) dengan model penilaian menunjukkan bahwa unexpected cash inflows or outflows dari operasi dalam perioda tertentu akan memperngaruhi harga saham melalui pengaruhnya pada aliran kas, sehingga diharapkan komponen aliran kas dari operasi mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham. Wilson (1986, 1987) dalam Ferry dan Wati (2004) melakukan pengujian kandungan informasi aliran kas dan hasilnya menyatakan bahwa terdapat hubungan yang lebih kuat antara kandungan informasi aliran kas dengan harga saham dibandingkan dengan rasio neraca dan laba rugi. Berbeda dengan penelitian-penelitian di atas, Bernard dan Stober (1989) dalam Ferry dan Wati (2004) melakukan pengujian yang hasilnya tidak konsisten dengan pernyataan Wilson (1987). Penelitian ini membuktikan bahwa operating cash flow tidak mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan harga saham dibanding dengan current accrual. Bernard dan Stober melakukan replikasi penelitian Wilson dengan perbedaan perioda waktu yang lebih panjang. 2.3.10; Persistensi Laba Persistensi laba merupakan pengaruh suatu inovasi terhadap laba akuntansi yang diharapkan di masa mendatang (Kormendi dan Lipe, 1987, dikutip dari Setiati dan Kusuma, 2004). Definisi persistensi laba menurut Penman (1992) yang dikutip dari Setiati dan Kusuma (2004) adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang yang diiplikasikan oleh inovasi tahun berjalan sehingga persistensi laba dilihat dari inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham. Laba dianggap semakin persisten, jika koefisien variasinya semakin kecil.

20 Persistensi laba merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kekuatan respon harga. Persistensi laba berhubungan positif dengan earnings response coefficients (ERC) (Kormendi dan Lipe, 1987, dikutip dari Diana dan Kusuma, 2004: 76). Artinya semakin permanen perubahan laba dari waktu ke waktu maka semakin tinggi koefisien laba karena kondisi ini menunjukkan bahwa laba yang diperoleh perusahaan meningkat terus. Atau dengan kata lain persistensi laba merupakan cermin kualitas laba yang diperoleh perusahaan karena perusahaan dapat mempertahankan perolehan laba tersebut dari waktu ke bukan hanya karena suatu peristiwa tertentu (Diana dan Kusuma, 2004:76). Dalam laba kemungkinan besar terdapat komponen transtori. Komponen transtori muncul akibat perubahan metode akuntansi, adanya revaluasi, penjualan aktiva, adanya perjanjian hutang yang didasarkan pada laba akuntasi yang dilaporkan, dan faktor-faktor lainnya yang membuat manajer terdorong untuk memanipulasi laba. Persistensi laba berhubungan dengan besarnya unexpected earnings. Sebagai contoh perusahaan jarang sekali bisa mempertahankan perubahan laba yang sangat besar untuk periode berikutnya. Jika perubahan tersebut mencerminkan adanya komponen transtori, maka akan terjadi hubungan negatif antara persistensi laba dengan unexpected earnings. Freeman dan Tse (1992) dalam Diana dan Kusuma (2004) dan Ali (1994) dalam Diana dan Kusuma (2004) memberikan bukti bahwa respon harga sahan terhadap unexpected earnings menurun dengan meningkatnya nilai absolut unexpected earnings. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa besarnya hubungan antara harga saham dengan laba tergantung pada persistensi laba. 2.4; Kerangka Konseptual Berdasarkan tujuan teoritis di atas maka dapat digambarkan kerangka konseptual sebagai berikut:

21 ARUS KAS OPERASI HARGA SAHAM PERSISTENSI LABA

Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian Keterangan : secara silmutan (H1) secara parsial 2.5; Perumusan Hipotesa Dari gambaran latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka dapat diajukan hipotesa sebagai berikut: H1 : Arus kas operasi dan persistensi laba berpengaruh secara silmutan terhadap harga saham. H2 : Arus kas operasi dan persistensi laba berpengaruh secara parsial terhadap harga saham. (H2)

22

BAB III METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif / hubungan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih. Penelitian ini merupakan tingkat yang tertinggi dibandingkan dengan penelitian deskriptif maupun komparatif. Dengan penelitian ini, maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengotrol suatu gejala (Sugiyono, 2003:11). Hubungan antara variabel ada 3 bentuk, yaitu: simetris, kausal, dan interaktif. Hubungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hubungan kausal, yaitu hubungan yang terjadi karena sebab akibat (Sugiyono, 2003:12) Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada perusahaan tang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) melalui fasilitas Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan Internet. Adapun alasan memilih lokasi dan objek penelitian tersebut adalah BEJ merupakan tempat jual beli saham yang terbesar di Indonesia serta tempat informasi secara rutin menerbitkan laporan keuangan melalui fasilitas Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan melalui internet untuk melihat prospektus perusahaan. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sampel survei. Sampel survei adalah suatu prosedur dalam mana hanya sebagian dari populasi saja yang diambil dan dipergunakan untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki dari populasi (Nasir, 1999:325). Survei dalam konteks ini bukan survei lapangan tetapi survei pustaka atau laporan keuangan yang dikeluarkan oleh pihak BEJ.

23

Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi yaitu pengambilan data melalui dokumen-dokumen data sekunder mengenai laporan keuangan dan prospektus perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ untuk periode 2001-2006 dan melalui website www.jsx.co.id. Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu ysang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2003). Populasi juga berarti keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin diteliti. Dalam penelitian ini, populasinya yaitu semua perusahaan di Bursa Efek Jakarta periode 2001-2006. Dari populasi, akan diambil sampel. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan metode purposive sampling, yakni tipe judgement sampling dengan menetapkan beberapa kriteria tertentu dalam pemilihan sampel perusahaan selama periode penelitian. Tujuan dari metode ini adalah untuk mendapatkan sample yang representative sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Adapun kriteria yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1 Perusahaan yang selalu terdaftar di BEJ selama periode penelitian yaitu tahun 2001 sampai dengan 2006. 2 3 Perusahaan menghasilkan laba selama tahun 2000-2006. Perusahaan mengalami peningkatan laba minimal sebanyak 3 kali selama periode penelitian, yaitu tahun 2001-2006.

24 4 Perusahaan menghasilkan arus kas opersi yang bernilai positif selama periode penelitian, yaitu tahun 2001-2006. Berdasarkan data yang ada dalam Indonesian Capital Market Directory tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 terdapat populasi sebanyak 339 perusahaan yang terdaftar di BEJ dan populasi tersebut terbagi atas 12 sektor. Dari populasi yang ada, sampel yang memenuhi kriteria di atas sebanyak 26 perusahaan yang terbagi atas 6 sektor. Tabel 1. Prosedur Pemilihan Sampel Keterangan Jumlah Perusahaan Jumlah perusahaan yang terdaftar di BEJ 31 Desember 339 2006 Kriteria-kriteria: 296 1 Perusahaan yang selalu terdaftar di BEJ dari tahun 2001-2006 108 2 Perusahaan yang menghasilkan laba selama tahun 2000-2006 48 3 Perusahaan mengalami peningkatan laba minimal sebanyak 3 kali selama periode penelitian, yaitu tahun 2001-2006. 26 4 Perusahaan menghasilkan arus kas opersi yang bernilai positif selama periode penelitian, yaitu tahun 2001-2006. Sumber: ICMD dan www.jsx.co.id Jenis dan Sumber Data Jenis Data Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi: 1 Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka (dapat diukur besarnya) dan dihitung secara pasti seperti jumlah dan satuan tertentu. Dalam penelitian ini data kuantitatif berupa laporan keuangan yang terdiri atas laporan rugi-laba, arus kas operasi, dan harga saham (closing price). 2 Data kualitatif, yaitu data yang tidak berupa angka-angka namun berupa keterangan atau uraian (besarnya tidak dapat diukur). Dalam penelitian ini data kualitatif yang dimaksud adalah profil perusahaan yang listed di BEJ selama periode 2001-2006.

25 Sumber Data Data dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder, yaitu data berupa informasi yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Dalam hal ini berupa laporan keuangan tahunan (annual report) dan harga saham (closing price) perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ melalui fasilitas Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2002-2006 dan melalui internet. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel Identifikasi Variabel Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka variabel-variabel yang akan dianalisis dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1 2 3 Harga Saham Arus Kas Operasi Persistensi Laba Klasifikasi Variabel Berdasarkan identifikasi variabel di atas, maka variabel tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1 Variabel Dependen (terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah harga saham. 2 Variabel Independen (bebas) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah arus kas operasi dan persistensi laba. Definisi Operasional Variabel 1 Harga saham diartikan sebagai harga pasar, yaitu harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga penutupan (closing price) rata-rata bulanan. Harga saham diukur dengan satuan rupiah.

26 2 Arus kas operasi adalah selisih bersih antara penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi selama satu tahun buku. Arus kas operasi diukur dengan satuan rupiah. 3 Persitensi laba adalah properti laba yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang. Persistensi laba akan diukur dari slope regresi ataas perbedaan laba saat ini dengan laba sebelumnya (Lipe, 1990).

PROSEDUR ANALISA DATA Untuk memecahkan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan, maka dilakukan analisis sebagai berikut: Menghitung Persistensi Laba Sebelum dilakukan kajian pemecahan masalah dalam penelitian ini, maka terlebih dahulu ditentukan berbagai variabel yang dikaji. Dalam penelitian ini ada variabel yang nilainya harus ditentukan, yaitu persistensi laba. Persistensi laba akan diukur dari slope regresi ataas perbedaan laba saat ini dengan laba sebelumnya (Lipe, 1990). Xit = + Xit-1 + e Keterangan : Xit Xit-1 Pengujian Asumsi Klasik 1 Uji Normalitas Uji normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi data. Uji ini merupakan pengujian yang banyak dilakukan untuk analisis statistik parametrik. Penggunaan uji normalitas karena pada analisis statistik parametrik, asumsi yang harus dimiliki oleh data adalah bahwa data tersebut terdistribusi secara normal. Maksud data terdistribusi secara normal adalah data akan : laba (sebelum extraordinary items) perusahaan i periode t : laba (sebelum extraordinary items) perusahaan i periode t-1 : persistensi laba

27 mengikuti bentuk distribusi normal, dimana data memusat pada nilai rata-rata dan median. Untuk mengetahui bentuk distribusi data bisa menggunakan grafik distribusi dan analisis statistik. Penggunaan grafik distribusi merupakan cara yang paling gampang dan sederhana. Data yang terdistribusi secara normal akan mengikuti pola distribusi normal dimana bentuk grafiknya mengikuti bentuk lonceng. Sedangkan analisis statistik menggunakan analisis keruncingan dan kemencenagan kurva dengan indikator keruncingan dan kemencengan.Uji normalitas juga bisa menggunakan uji Jarque Bera. Jika signifikansi nilai Jarque-Bera lebih kecil dari 2 atau probabilitas yang lebih dari 5%, maka dapat disimpulkan bahwa berdistribusi normal. 2 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas (multicollinearity) ditujukkan menguji ada tidaknya hubungan sempurna atau hampir sempurna diantara variabel bebas pada model regresi. Korelasi yang kuat antar variabel bebas menunjukkan adanya multikolinearitas. Untuk melihat gejala

multikolinearitas, kita dapat melihat dari: a b Nilai R2 tinggi, tetapi variabel independen banyak yang tidak signifikan. Menghitung koefisien korelasi antar variabel independen. Apabila koefisiennya rendah, maka tidak terdapat multikolinieritas. 3 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi (autocorrelation) yaitu ditujukan untuk melihat apakah variabel dependen berkorelasi dengan dirinya sendiri, maksudnya apakah ada hubungan antara nilai variabel dependen baik dengan nilai periode sebelumnya maupun sesudahnya. Pengujian ini dilakukan dengan Durbin Watson dengan berpedoman pada tabel berikut: Tabel 2. Uji Durbin Watson No Nilai d Keputusan 1 D < dL Ada autokorelasi positif 2 dL < d < du Ada autokorelasi positif tetapi lemah 3 du < d < 4 - du Tidak ada autokorelasi 4 4 du < d < 4 - dL Autokorelasi lemah 5 4 - dL < d Autokorelasi serius Sumber: Purbayu Budi Santoso dan Ashari, 2005:241

28 Selain itu dapat juga menggunakan uji Breusch-Godfrey. Bila nilai probability lebih besar dari 5% berarti tidak ada autokorelasi. Jika model mengalami autokorelasi, pebaikan model dapat dilakukan dengan transformasi data baik dengan logaritma maupun laogaritma natural. 4 Uji Heterokedastisitas Heteroskedasatisitas (heteroscedassticity) yaitu pengujian terhadap varians variabel dimana dalam hal ini data harus mengikuti pola heteroskedastisitas bukan homoskedastisitas. Pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat scatter plot. Jika penyebaran residual pada scatter plot tidak membentuk pola tertentu atu menyebar, maka dapat disimpulkan tidak ada gejala homoskedastisitas atau persamaan regresi memenuhi asumsi heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas juga dapat diuji dengan glejser test. Jika variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap nilai residual absolut (sebagai variabel dependen), maka dapat disimpulkan bahwa terjadi heteroskedastisitas. Selain itu bisa menggunakan uji White. Jika nilai probability nya lebih kecil dari 5% dapat disimpulkan bahwa terjadi heterokedasitas. Pengujian Hipotesis 1 Analisis Regresi Untuk menguji hipotesis 1 dan 2 maka digunakan regresi linier berganda, dengan formulasi sebagai berikut: Y = c + b1X + b2Z + e keterangan : Y Z X e c b1 b2 : Harga Saham (HS) : Persistensi Laba (PL) : Arus Kas Operasi (AKO) : Error : Konstanta : Koefisien Regresi Arus Kas Operasi : Koefisien Regresi Persistensi Laba

29 2 Uji Signifikan Uji signifikan yang dilakukan adalah uji F (simultan) dan uji Z (parsial), sebagai berikut: Uji F a Rumusan Hipotesis H0 : b1, b2 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham. Ha : b1, b2 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham. b Tentukan level of signifikan Level of signifikan yang digunakan 5%, maknanya 5% kemungkinan peneliti menolak H 0 yang pada dasarnya benar c Tentukan F hitung (Fh) R2 / (k) Fh = (1- R2) / (n-k-1) keterangan : R2 k n : Koefisien determinasi : jumlah variabel : jumlah sampel (Supranto, 2001:281)

Kriteria

Ha diterima

H0 diterima

Ha diterima

- F/2

F/2

Ho diterima jika - F/2 Fh F/2 Ha diterima jika Fh > F/2 atau Fh < - F/2

30 e Kesimpulan Apabila Ha diterima berarti terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEJ periode 2001-2005. Uji Z a Rumusan Hipotesis H0 : Bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham. Ha : Bi 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham b Tentukan level of signifikan Level of signifikan yang digunakan 5%, maknanya 5% kemungkinan peneliti menolak H 0 yang pada dasarnya benar. c Tentukan Z hitung (Zh) b-B Zh = Sb keterangan : b B Sb d Kriteria : Koefisien regresi : koefisien parsial dan regresi populasi : standar deviasi dari b (Supranto, 2001:189)

Ha diterima

H0 diterima

Ha diterima

- Z/2

Z/2

Ho diterima jika - Z/2 Zh Z/2 atau jika sig Z > 0.05 Ha diterima jika Zh > Z/2 atau Zh < - Z/2 atau jika sig Z 0.05

31 e Kesimpulan Apabila Ha diterima berarti terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEJ periode 2001-2005. 3 Koefisien Determinasi Untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham, dapat digunakan koefisien determinasi dengan rumus sebagai berikut: b1XY + b2ZY R2 = Y Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1 (0 R 2 1), dimana semakin mendekati 1 berarti pengaruh arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham semakin kuat dan sebaliknya semakin mendekati 0 berarti pengaruh arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham semakin lemah. (Supranto, 2001:251)

32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Deskripsi Data Harga Saham Harga saham merupakan harga rata-rata dari penutupan ( closing price) pada akhir setiap akhir tahun yang berlaku di pasar modal. Harga saham pada pasar modal menunjukkan nilai perusahaan, dimana harga saham yang tinggi menunjukkan nilai perusahaan semakin tinggi menurut pandangan investor dan sebaliknya jika mengalami penurunan. Harga saham yang tinggi juga menunjukkan permintaan atas saham tersebut oleh para investor cukup tinggi dan sebaliknya. Penulis menggunakan harga penutupan (closing price) rata-rata bulanan perusahaan sampel periode tahun 2001-2006. Data mengenai harga saham perusahaan sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Sampel di BEJ tahun 2001-2006
N o Nama Perusahaan 2001 2002 802 32 4.871 1.371 38.421 98 363 1.608 625 7.950 808 3.952 742 1.863 12.063 11.683 1.521 7.925 20.196 416 HARGA SAHAM ( Rp ) 2003 975 121 12.419 1.350 41.619 144 318 1.419 658 8.021 908 3.833 831 2.069 11.688 10.992 926 7.854 16.298 577 2004 1.383 618 25.825 1.573 43.638 280 298 1.527 821 8.000 921 5.483 1.229 3.002 20.858 13.660 278 10.475 3.352 1.313 2005 2.458 809 14.008 3.115 52.067 290 310 2.643 976 8.125 896 8.763 1.864 4.631 25.233 2.635 314 17.679 4.075 3.490 2006 5.510 826 21.421 3.819 88.833 283 288 2.810 1.319 11.708 1.436 8.229 1.768 5.171 29.871 3.850 319 26.338 4.704 5.473 894 76 6.046 1.160 15.433 96 336 1.446 608 8.908 806 10.777 623 2.319 8.533 7.367 1.740 6.304 16.079 385 RATARATA 2.004 414 14.098 2.065 46.668 198 319 1.909 835 8.785 963 6.840 1.176 3.176 18.041 8.365 850 12.763 10.784 1.942

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 8 1 4 1 5 1 7 1 6 2 0 1 9

PT. Aneka Tambang Tbk. PT. Bumi ResourceS Tbk. PT. International Nickel Ind. Tbk. PT. Medco Energi Corporation Tbk. PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. PT. Arwana Citramulia Tbk. PT. Astra Graphia Tbk. PT. Astra Otoparts Tbk. PT. Branta Mulia Tbk. PT. Citra Tubindo Tbk. PT. Fast Food Indonesia Tbk. PT. Hanjaya Mandala Samp Tbk. PT. Lion Metal Works Tbk PT. Mandom Indonesia Tbk PT. Merck Tbk PT. Sari Husada Tbk PT. Selamat Sempurna Tbk PT. Semen Gresik (Persero) Tbk PT. Unilever Indonesia Tbk PT. United Tractors Tbk

33
2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 PT. Berlian Laju Tanker Tbk. PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. PT. Matahari Putra Prima Tbk. PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. PT. Gowa Makassar Tourism Develp PT. Jaya Real Property Tbk.
RATA-RATA TAHUNAN 1.273 2.819 488 750 492 452 3.207 675 3.706 576 680 583 405 4.131 538 4.796 474 971 583 1.051 4.381 1.000 6.427 581 806 677 1.848 5.196 883 5.006 743 810 318 2.093 5.474 1.697 7.825 822 948 384 2.000 7.922 1.011 5.097 614 827 506 1.308 5.052

Sumber : Indonesian Capital Market Directory Berdasarkan tabel diatas, terlihat adanya kecenderungan kenaikan rata-rata harga saham perusahaan-perusahaan sampel di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2001-2006. Harga saham mengalami kenaikan secara perlahan-lahan, walaupun kenaikan harga saham yang terjadi sering diikuti beberapa kali penurunan. Beberapa peristiwa yang memicu kenaikan harga saham tersebut adalah peningkatan harga dan volume transaksi di BEJ dan kebijakan perbankan yang menurunkan tingkat suku bunga simpanan. Rata-rata harga saham perusahaan selama tahun 2001-2006 sebesar Rp 5.052. Arus Kas Operasi Arus kas operasi merupakan selisih bersih antara penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi selama satu tahun buku. Arus kas operasi memegang peranan penting untuk mengarahkan perusahaan pada informasi sesungguhnya mengenai operasi atau usaha perusahaan. Dengan kata lain, arus kas operasi adalah indikator kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar deviden, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Dalam penelitian ini penulis tidak melakukan perhitungan arus kas operasi karena data sudah tersedia pada file di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Data mengenai arus kas operasi perusahaan sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

34

Tabel 4. Arus Kas Operasi Perusahaan-Perusahaan Sampel di BEJ tahun 2001-2006


N o Nama Perusahaan 2001 ARUS KAS OPERASI ( Rp 000.000.000) 2002 250,16 372,45 934,66 944,99 67,10 19,25 60,31 4.142,72 177,07 37,64 77,00 1.826,57 12,80 83,66 28,29 151,29 120,60 1.052,06 1.142,91 775,62 331,99 10.864,34 492,71 40,31 8,03 36,20 801,69 2003 481,18 144,90 1.173,40 915,92 58,27 42,85 190,42 2.218,91 129,51 50,96 73,51 2.024,68 11,61 66,93 64,48 316,64 58,28 1.103,70 1.260,85 968,54 201,22 12.852,53 389,06 8,28 8,39 55,81 829,03 2004 768,54 1.058,54 3.573,55 1.226,46 84,62 31,32 32,34 122,95 170,05 32,94 99,24 2.871,55 6,24 83,22 55,40 252,30 49,06 850,73 1.415,87 2.063,08 346,47 16.051,48 501,69 10,29 31,54 70,60 1.062,00 2005 742,34 694,09 2.522,40 1.682,06 98,12 58,62 109,56 189,88 136,74 66,11 96,81 2.058,73 15,65 92,36 38,99 188,99 153,72 1.223,05 1.665,74 1.048,52 920,82 21.102,68 385,37 12,21 3,63 84,07 1.179,71 2006 1.690,32 356,30 412,43 1.517,53 24,65 39,03 135,00 268,30 189,87 220,31 165,96 3.538,69 26,49 90,11 91,42 430,09 74,24 1.594,06 2.174,81 1.721,74 601,88 26.695,19 504,90 40,87 7,03 8,89 1.420,67 441,76 639,68 1.161,43 1.269,32 79,73 14,77 59,31 116,79 221,84 74,28 60,35 496,11 3,40 67,39 39,45 218,03 104,48 808,10 1.122,15 808,37 230,65 7.012,59 347,86 3,47 4,10 8,57 513,80 RATARATA 729,05 544,33 1.629,64 1.259,38 68,75 34,31 97,82 1.176,59 170,85 80,37 95,48 2.136,06 12,70 80,61 53,00 259,56 93,40 1.105,28 1.463,72 1.230,98 438,84 15.763,13 436,93 19,24 10,45 44,02 967,82

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 8 1 4 1 5 1 7 1 6 2 0 1 9 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6

PT. Aneka Tambang Tbk. PT. Bumi ResourceS Tbk. PT. International Nickel Ind. Tbk. PT. Medco Energi Corporation PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. PT. Arwana Citramulia Tbk. PT. Astra Graphia Tbk. PT. Astra Otoparts Tbk. PT. Branta Mulia PT. Citra Tubindo Tbk. PT. Fast Food Indonesia Tbk. PT. Hanjaya Mandala Samp Tbk. PT. Lion Metal Works Tbk PT. Mandom Indonesia Tbk PT. Merck Tbk PT. Sari Husada Tbk PT. Selamat Sempurna Tbk PT. Semen Gresik (Persero) Tbk PT. Unilever Indonesia Tbk PT. United Tractors Tbk PT. Berlian Laju Tanker Tbk. PT. Telekomunikasi Indonesia PT. Matahari Putra Prima Tbk. PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. PT. Gowa Makassar Tourism Develp PT. Jaya Real Property Tbk.
RATA-RATA TAHUNAN

Sumber : www.jsx.co.id

35 Berdasarkan tabel di atas dapat dketahui bahwa rata-rata arus kas operasi parusahaanperusahaan sampel di Bursa Efek Jakarta dari tahun 2001-2006 mengalami peningkatan. Ratarata arus kas operasi tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar Rp 1.420.670.000.000 dan ratarata terendah terjadi pada tahun 2001 sebesar Rp 513.800.000.000. Kenaikan rata-rata arus kas operasi juga diikuti dengan kenaikan rata-rata harga saham. Persistensi Laba Persitensi laba merupakan properti laba yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang. Persistensi laba akan diukur dari slope regresi atas perbedaan laba saat ini dengan laba sebelumnya. Data mengenai persistensi laba perusahaan sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5. Persistensi Laba Perusahaan-Perusahaan Sampel di BEJ tahun 2001-2006
N o Nama Perusahaan 2001 2002 1,934 0,773 0,390 0,944 0,774 0,822 0,469 0,994 0,691 1,154 0,765 0,576 0,993 0,843 1,373 1,246 0,989 0,974 0,908 0,802 0,904 0,808 0,967 PERSISTENSI LABA 2003 0,797 0,866 0,321 0,962 1,037 0,820 2,465 1,229 1,401 0,927 1,028 0,979 0,982 0,951 0,794 0,817 0,875 0,881 0,758 0,883 0,862 0,828 0,922 2004 0,294 0,113 0,335 0,669 0,733 0,867 0,667 0,930 1,560 1,025 0,979 0,858 0,667 0,787 0,906 1,196 0,867 0,740 0,887 0,322 0,637 0,920 0,916 2005 0,963 0,885 1,006 0,941 1,345 0,784 1,026 0,811 0,423 0,300 0,927 0,837 1,150 0,904 0,994 0,647 0,963 0,506 0,996 0,999 0,392 0,828 0,600 2006 0,547 0,614 2,567 2,089 1,188 1,176 0,717 0,990 2,219 0,393 0,666 0,677 0,954 0,937 0,714 0,861 0,925 0,792 0,858 1,180 0,542 0,725 1,951 1,067 0,278 0,783 1,370 0,844 0,634 0,740 0,449 0,409 0,448 1,006 1,067 1,026 1,103 0,900 0,612 1,364 1,067 0,918 0,068 0,307 0,741 2,554 RATARATA 0,934 0,588 0,900 1,163 0,987 0,851 1,014 0,901 1,117 0,708 0,895 0,832 0,962 0,921 0,947 0,897 0,997 0,827 0,888 0,709 0,607 0,808 1,318

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 8 1 4 1 5 1 7 1 6 2 0 1 9 2 1 2 2 2 3

PT. Aneka Tambang Tbk. PT. Bumi ResourceS Tbk. PT. International Nickel Ind. Tbk. PT. Medco Energi Corporation PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. PT. Arwana Citramulia Tbk. PT. Astra Graphia Tbk. PT. Astra Otoparts Tbk. PT. Branta Mulia PT. Citra Tubindo Tbk. PT. Fast Food Indonesia Tbk. PT. Hanjaya Mandala Samp Tbk. PT. Lion Metal Works Tbk PT. Mandom Indonesia Tbk PT. Merck Tbk PT. Sari Husada Tbk PT. Selamat Sempurna Tbk PT. Semen Gresik (Persero) Tbk PT. Unilever Indonesia Tbk PT. United Tractors Tbk PT. Berlian Laju Tanker Tbk. PT. Telekomunikasi Indonesia PT. Matahari Putra Prima Tbk.

36
2 4 2 5 2 6 PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. PT. Gowa Makassar Tourism Develp PT. Jaya Real Property Tbk.
RATA-RATA TAHUNAN 0,797 0,934 1,035 0,751 1,046 1,240 0,647 0,801 0,864 0,796 0,850 0,830 0,902 0,960 0,826 0,685 0,912 0,985 0,684 0,727 0,998 0,948 0,829 0,902 0,920 0,977 0,812 0,783

Sumber : Data diolah Berdasarkan tabel diatas terlihat adanya kecenderungan rata-rata persistensi laba yang berfluktuasi selama tahun 2001-2006. Rata-rata persistensi laba selama tahun 2001-2006 sebesar 0,783. Rata-rata terbesar persistensi laba terbesar berada pada tahun 2006 sebesar 0,902 dan ratarata terendah berada pada tahun 2004 sebesar 0,685. Penurunan rata-rata persistensi laba dari 0,830 menjadi 0,685 diikuti dengan kenaikan rata-rata harga saham dari Rp 4.381 menjadi Rp5.196 dan kenaikan rata-rata arus kas operasi dari Rp 829.030.000.000 menjadi Rp 1.062.000.000.000.

2 a Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Analisis Data

Uji normalitas ditujukan untuk menguji apakah residual data sampel penelitian telah berdistribusi secara normal. Normalitas diuji dengan Jarque-Bera. Jika nilai Jarque-Bera kurang dari 2 atau probilitas yang lebih dari 5%, maka dapat dikatakan bahwa data-data variabel berdistribusi normal. Berikut hasil pengujian normalitas residual: Tabel 6. Hasil uji normalitas data dengan uji Jarque-Bera
Harga Saham Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. 7.580395 7.329092 11.39451 3.465736 1.501982 Arus Kas Operasi 26.02041 25.93239 30.91550 21.94716 1.897958 Persistensi Laba 0.903013 0.882000 2.567000 0.068000 0.389347

37
Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Observations Cross sction 0.167901 2.581954 1.868916 0.392799 156 26 0.084064 2.657003 0.948440 0.622370 156 26 1.781983 8.816893 302.4976 0.000000 156 26

Tampak dari hasil perhitungan uji Jarque-Bera menunjukkan bahwa nilai Jarque-Bera kurang dari 2 yaitu 1, 86 dan probability nya lebih dari 5% yaitu 39%. Berarti dapat disimpulkan data berdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Hasil uji multikolinearitas terlihat dari nilai koefisien korelasi antar variabel independen pada lampiran 4 . Pada lampiran terlihat bahwa nilai F1 dam F2 lebih kecil dari Ftabel (4,74), yaitu 1,067 dan 1,0678. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi adanya multikolinearitas antar variabel. Uji Heterokedastisitas Pengujian heterokedastisitas dilakukan menggunakan uji Glejser. Jika variabel independent berpengaruh (memiliki nilai signifikansi t di bawah 5%) terhadap nilai residual absolut (sebagai variabel dependen), maka dapat disimpulkan terjadi heterokedastisitas. Dari lampiran 5, nilai signifikansi t untuk variabel arus kas operasi (AKO) di atas 5% dan persistensi laba (PL) di bawah 5%, sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan. Untuk itu dilakukan pengujian lagi menggunakan uji White. Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 5% maka data bersifat heterokedasitas. Pada lampiran 5 menunjukkan nilai probilitas 0,226 = 22,6%, jadi dapat disimpulkan bahwa data tidak bersifat heterokedasitas. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin-Watson. Model regresi dikatakan tidak mengalami autokorelasi jika nilai DW terletak diantara du<d<4-du. Pada lampiran 3 menunjukkan nilai Durbin-Watson sebesar 0,11 yang berarti terjadi autokorelasi positif. Untuk itu dilakukan lagi pengujian menggunakan uji Breusch-Godfrey. Jika probablity lebih besar dari 5% berarti

38 tidak ada autokorelasi. Pada lampiran 6 menunjukan nilai probabilty 0,0000 yang berarti masih terjadi autokorelasi positif . Salah satu cara untuk mengilangkan autokorelasi yaitu dengan metode cochrane-oucutt, dimana akan dilakukan regresi ulang dengan menggunakan variabel HS(Harga Saham) 2, AKO(Arus Kas Operasi)2, dan PL(Persistensi Laba)2. Pada lampiran 6 nampak bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 0,68 yang berarti tetap terjadi autokorelasi positif. Hal tersebut disebabkan variabel yang dianalisis biasanya mengandung kecendrungan meningkat dan salah satu kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini adalah perusahaan mengalami peningkatan laba minimal sebanyak 3 kali dalam periode penelitian. b Pengujian Hipotesis Dari hasil analisis regresi menggunakan program Eviews, diperoleh hasil sebagai berikut: Persamaan Regresi Y = 1,1448 + 0,2417 X + 0,1619 Z + e Koefisien regresi c = 1,1448 menunjukkan bahwa jika tidak ada penambahan jumlah pada setiap variabel independen maka harga saham akan bertambah sebesar Rp. 1,1448. Koefisien regresi b1 = 0,2417 menunjukkan setiap penambahan nilai arus kas operasi sebesar 1,00 akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar Rp. 0,2147. Koefisien regresi b 2 = 0,1619 menunjukkan setiap penambahan nilai persistensi laba sebesar 1,00 akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar Rp. 0,1619. Uji F Uji F digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruh simultan dari variabel arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham. Dari hasil perhitungan Eviews, terlihat bahwa nilai Fhit yaitu 7,83 (lampiran 3). Sedangkan nilai Ftabel yaitu 3,06. Dengan demikian nilai Fhit lebih besar dari Ftab (7,83 > 3,06), berarti secara simultan arus kas operasi dan persistensi laba berpengaruh terhadap harga saham Uji Z

39 Uji Z digunakan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara parsial dari variabel arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham. a Arus Kas Operasi Dari hasil perhitungan Eviews, diperoleh nilai Zhit untuk arus kas operasi sebesar 5,27 (lampiran 3) yang berarti lebih besar dari Z tabel sebesar 1,96. Perhitungan Eviews juga menunjukan sig Zhit untuk arus kas operasi sebesar 0,000 (lampiran 3) yang berarti lebih kecil dari 5%, sehingga diputuskan Ha diterima, berarti secara parsial arus kas operasi berpengaruh terhadap harga saham. Dari segi tanda arus kas operasi juga berpengaruh positif terhadap harga saham. Semakin meningkat arus kas operasi suatu perusahaan, maka harga sahamnya juga mengalami peningkatan dan sebaliknya. Informasi arus kas operasi memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan untuk membayar deviden, yang dapat digunakan oleh investor untuk menilai saham yang akan dibeli. Semakin positif (tinggi) arus kas operasi, berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar deviden kepada investor. Hal ini akan menarik minat investor untuk membeli saham perusahaan tersebut, sehingga harga sahamnya juga ikut meningkat b Persistensi Laba Dari hasil perhitungan Eviews, terlihat bahwa nilai Z hit untuk persistensi laba sebesar 0,49 (lampiran 3) yang berarti lebih kecil dari Z tabel sebesar 1,96. Perhitungan Eviews juga menunjukan bahwa nilai sig Zhit untuk persistensi laba sebesar 0,623 (lampiran 3) yang berarti lebih besar dari 5%, sehingga diputuskan Ho diterima, berarti secara parsial persistensi laba tidak berpengaruh terhadap harga saham. Tapi jika dilihat dari tanda, persistensi laba berpengaruh positif terhadap harga saham. Peningkatan dan penurunan persistensi laba tidak mempengaruhi harga saham. Hal ini disebabkan adanya keraguan investor terhadap informasi persistensi laba perusahaan yang dipublikasikan. Investor menganggap ada kemungkinan informasi persistensi laba dipengaruhi

40 oleh manajemen laba (sloan, 1996 dalam Ratmono, 2004), sehingga jarang digunakan untuk menilai harga saham. Koefisien Determinasi Disesuaikan (Adjusted R2) Nilai koefisien determinasi disesuaikan digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh arus kas operasi dan persistensi laba terhadap harga saham. Dari hasil perhitungan Eviews diperoleh nilai koefisien determinasi disesuaikan (Adjusted R2) sebesar 0,081 yang berarti bahwa sebesar 8,1 % variasi dari harga saham disebabkan oleh variasi arus kas operasi dan persistensi laba. Sementara sebesar 91,9% disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar model. Interpretasi Data Dari hasil pengujian terlihat bahwa terdapat pengaruh variabel arus kas operasi dan persistensi laba secara simultan terhadap harga saham, tetapi pengaruhnya tidak kuat (lemah). Hal ini berarti ada faktor-fatkor lain (terutama faktor internal) yang lebih berpengaruh terhadap harga saham, seperti return saham, kebijakan deviden, dan laba akuntansi. Harga saham akan semakin meningkat jika permintaan terhadap saham tersebut semakin tinggi. Salah satu faktor yang memotivasi investor untuk membeli saham sebuah perusahaan adalah dengan melihat keuntungan yang diberikan oleh perusahaan tersebut. Investor mengharapkan memperoleh deviden (keuntungan) yang tinggi dari saham yang dibelinya. Secara parsial arus kas operasi berpengaruh terhadap harga saham. Hasil ini konsisten dengan penelitian Fery dan Wati (2004). Aliran kas dari operasi semakin penting saat ini sebagai alat analisa untuk menentukan kesehatan keuangan perusahaan. Semakin besar arus kas operasi, semakin kuat pula daya tahan perusahaan untuk menahan hantaman perubahan buruk kondisi ekonomi. Manajemen perusahaan maupun investor menyadari bahwa arus kas operasi positif lebih menjamin kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya di masa yang akan datang. Karena ada kemungkinan bahwa suatu perusahaan labanya sangat tinggi tetapi tidak mampu membayar deviden atau mengadakan investasi untuk membeli peralatan baru. Semakin positif arus kas operasi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, berarti perusahaan tersebut

41 memiliki dana (kas) yang cukup untuk melunasi pinjaman, membayar deviden, dan melakukan investasi tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Hal ini akan menjadi daya tarik bagi investor untuk membeli saham perusahaan tersebut karena investor mendapat kepastian memperoleh pembayaran deviden, sehingga harga sahamnya juga dapat meningkat. Sementara itu persistensi laba secara signifikan tidak berpengaruh terhadap harga saham tapi dari segi tanda persistensi laba bernilai positif terhadap harga saham. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Collins dan Kothari (1989) dalam Setiati dan Kusuma (2004) yang menegaskan bahwa koefisien respon laba lebih tinggi untuk perusahaan yang dipandang oleh pasar mempunyai kesempatan untuk tumbuh. Hasilnya, selain mendukung hipotesis bahwa koefisien respon laba berbeda antar perusahaan dan antar waktu, juga memastikan bahwa persistensi dan pertumbuhan berhubungan positif dengan koefisien respon laba. Bukti ini konsisten dengan adanya faktor persistensi (Collins dan Kothari, 1989) dan kualitas laba (Lev dan Thiagarajan, 1993), maka berita baik atau buruk pada laba tahun berjalan akan memberikan prospek pertumbuhan di masa yang akan datang. Oleh karena itu persistensi laba memberikan prospek pertumbuhan di masa yang akan datang sehingga koefisien respon perusahaan tersebut akan tinggi. Semakin tinggi koefisen respon perusahaan, maka semakin tinggi pula harga sahamnya. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa persistensi laba dapat berpengaruh positif terhadap harga saham. Akan tetapi pasar nampaknya masih memiliki sikap underestimate terhadap persistensi laba sehingga cenderung underprice. Hal tersebut mengindikasikan bahwa harga saham belum mampu mencerminkan informasi laba sekarang untuk memprediksi laba mendatang. Investor menganggap bahwa informasi yang terkandung dalam persistensi laba belum mencerminkan keadaan perusahaan yang sebenarnya, karena ada kemungkinan persistensi laba dipengaruhi oleh manajemen. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Ratmono (2004) yang membuktikan bahwa manajemen laba mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap persistensi laba. Sehingga investor jarang menggunakan informasi persistensi laba untuk menilai saham mana

42 yang akan dibeli atau saham mana yang memberi deviden (keuntungan) bagi investor. Informasi tentang persistensi laba tidak terlalu menarik bagi investor karena tidak memberikan kepastian tentang deviden yang akan diterima oleh investor. Investor lebih tertarik pada informasi arus kas operasi karena memberikan gambaran seberapa besar kemampuan perusahaan dalam membayarkan deviden untuk investor.

BAB V KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN PENELITIAN

Kesimpulan Dari hasil penelitian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: a Dari persamaan regresi menunjukan arus kas operasi dan persistensi berpengaruh positif terhadap harga saham, jadi kenaikan arus kas operasi dan persistensi laba mengakibatkan kenaikan harga saham . b Variabel arus kas operasi dan persistensi laba berpengaruh secara simultan terhadap harga saham. Secara parsial, hanya arus kas operasi yang berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan persistensi laba tidak berpengaruh terhadap harga saham. Untuk pengaruh positif

43 arus kas operasi terhadap harga saham, hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Ferry dan Wati (2004). Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari adanya beberapa keterbatasan yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian ini, antara lain: a Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini relatif sedikit, yaitu 26 perusahaan. Hal ini disebabkan beberapa data laporan keuangan perusahaan tidak lengkap dan penelitian ini hanya berfokus pada perusahaan yang memiliki peningkatan laba minimal sebanyak 3 kali selama periode penelitian. b Penelitian ini hanya terfokus pada pengaruh arus kas operasi terhadap harga saham. Sedangkan variabel yang terkait dengan harga saham relatif banyak, diantaranya return saham, laba akuntansi, kebijakan deviden, dan tingkat suku bunga. Sehingga kemungkinan dapat dibuat kesimpulan yang berbeda.

Saran-Saran Guna melengkapi dan memperbaiki penelitian sejenis di masa yang akan datang sehubungan dengan terdapatnya beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, maka penulis mengemukakan beberapa saran yang dapat dipertimbangkan sebagai berikut: a Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah sampel penelitian, tidak hanya terbatas pada perusahaan yang mengalami peningkatan laba minimal sebanyak 3 kali. Periode pengamatan juga perlu diperpanjang agar dapat meningkatkan akurasi hasil penelitian. b Menambah jumlah variabel dalam penelitian ini, tidak hanya menggunakan dua variabel independen. Karena masih banyak variabel-variabel lain diluar variabel yang ada dalam penelitian ini yang dapat mempengaruhi harga saham.

44

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Ali. 2002. Membaca Saham. Cetakan kedua. Penerbit Andi. Yogyakarta. Baridwan, Zaki. 1999. Intermediate Accounting. Edisi 7. BPFE. Yogyakarta. Diana, Shinta Rahma dan Indra Wijaya Kusuma. 2004. Pengaruh Faktor Kontekstual Terhadap Kegunaan Earnings dan Arus Kas Operasi Dalam Menjelaskan Return Saham . Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. vol 7. hal 74-93. Jakarta. Ferry dan Erni Eka Wati. 2004. Pengaruh Informasi Laba Aliran Kas dan Komponen Aliran Kas Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VII. Komisi E. Bali. Ikatan Akuntansi Indonesia. 2004. Standar Akuntasi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta. Institute for Economic and Financial Research. 2002-2006. Indonesian Capital Market Directory. Bursa Efek Jakarta. Jakarta.

45 Jogiyanto, H. M. 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi pertama. BPFE. Yogyakarta. Kamaruddin, Ahmad. 1996. Dasar-Dasar Manajemen Investasi. PT Rineka Cipta. Jakarta. Lipe, R.C. 1990. The Relations Between Stock Return, Accounting Earnings, and Alternative Information. Accounting Review (Januari). hal 49-71. Nasir, Moh. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. Bandung. Ratmono, Dwi. 2004. Persistensi Relatif Earnings, Anomali Pasar Berbasis Earnings, dan Earnings Management. Simposium Nasional Akuntansi VII. hal 370-381. Bali. Riyanto, Bambang. 1995. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi keempat. BPFE. Yogyakarta. Rohman, Abdul. . Pengaruh Arus Kas Operasi dan Laba Akuntansi Terhadap Tingkat Keuntungan dan Likuiditas Saham Emiten di BEJ. Simposium Nasional Akuntansi IV. Komisi A. hal 70-85. Sartono, R. Agus. 1998. Manajemen Keuangan. Edisi 3. BDFE. Yogyakarta. Setiati, Fita dan Indra Wijaya Kusuma. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba Pada Perusahaan Bertumbuh dan Tidak Bertumbuh . Simposium Nasional Akuntansi VII. Komisi D. Bali. Simamora, Henry. 2003. Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis. UUP AMP YKPN. Yogyakarta. Statement Financial Accounting Concept. 2002. FASB. Salemba Empat. Jakarta. Sugiono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. Bandung. Sunariyah. 1997 & 2003. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. UUP AMP YKPN. Yogyakarta. Supranto, J. 2001. Statistik Pasar Modal. PT Rineka Cipta. Jakarta. Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. BPFE. Yogyakarta. Weiss, Donald H. Bagaimana Membaca Laporan Keuangan. Binarupa Aksara. Batam. Winarno, Wing Wahyu. 2009. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews. UPP STIM YKPN. Yogyokarta. www.jsx.co.id.