Anda di halaman 1dari 3

LOGIKA Filsafat

By: Galih Dika Pranata

A. LOGIKA Logika merupkan cabang filsafat yang mengkaji prinsip, hukum, dan metode berpikir yang benar, tepat dan lurus. Beberapa ahli juga menempatkan logika sebagai cabang matematika, yang mengkaji seluk-beluk perumusan pernyataan atau persamaan yang benar, khususnya pernyataan yang menggunakan bahasa formal. Bahasa formal yang dimaksudkan ialah bahasa yang merujuk kepada rangkaian symbol matematis seperti yang biasa kita jumpai dalam literatur matematika. Walaupun ssejarah filusuf mengenal bahwa Aristoteles yang pertama kali membeberkan hal-ihwal logika secara komperehensif, tetapi penggunaan istilah logika untuk menyebut cabang filsafat yang mengkaji prinsip, aturan, dan metode berpikir yang benar berasal dari Alexander Aphrodisias sekitar permulaan abad ke-3 M. Hingga saat ini, logika semakin dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena terus berkembang sesuai perkembangan peradaban manusia secara sistematis dan komprehensif. Logika juga memiliki hubungan yang erat dengan bahasa alamiah yang sehari-hari dipakai oleh manusia. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada keselarasan dengan matematika dan bagaimana hubungan matematika dengan kehidupan seharihari. Secara tak sadar maupun sadar, tak dapat dipungkiri bahwa penalaran matematika selalu kita gunakan dalam kehidupan seharihari, teruutama penalaran sederhana. Bahkan penalaran-penalaran matematis juga diterapkan dan terkandung dalam bahasa, seperti berupa kalimat pernyataan.

B. PERNYATAAN Sebagai bentuk penalaran, benar atau salahnya struktur suatu kalimat ditentukan berdasarkan kaidah atau aturan tata bahasa suatu bahasa. Salah satu kalimat umum adalah dalam bentuk pernyataan, pernyataan adalah suatu kalimat yang digunakan untuk membuat suatu klaim atau menyampaikan sesuatu yang bisa benar atau salah. Kalimat pernyataan berbeda dari kalimat pertanyaan dan perintah karena kalimat pertanyaan dan perintah tidak bisa benar sekaligus salah.

Jenis-jenis pernyataan kompleks: 1. Negasi (bukan P) 2. Konjungsi (P dan Q) 3. Disjungsi (P atau Q) 4. Kondisional (jika P maka Q) Jenis-jenis pernyataan kompleks di atas merupakan penerapan dari logika matematika seperti yang telah kita pelajari dan pahami di SMA.

C. PENALARAN Jika kita menelusuri apa itu penalaran, maka yang kita bisa dapatkan adalah penyimpulan yang benar dan penyimpulan yang salah karena penalaran dapat berupa ungkapan verbal dalam bentuk argumentasi-argumentasi. Dalam penalaran, akan terjadi penyimpulan langsung dan penyimpulan tak langsung. Penyimpulan langsung dapat dilakukan memalui indera, seperti hari sedang hujan yang sudah jelas terjadi. Sedangkan penyimpulan tak langsung merupakan penyimpulan yang kita dapatkan setelah mendapatkan informasi lalu diperbandingkan dan disimpulkan. Penyimpulan tak langsung terjadi dari beberapa premis yang ada dan berhubungan (silogisme).

D. ARGUMENTASI Argumen Induktif Argumen Induktif dapat dipahami sebagai hipotesis yang mengandung ketidakpastian. Andi lari dari kamar Jono dengan membawa pistol. Siapa pun yang lari dari kamar Jono dengan membawa pistol pasti membunuh Jono Andi membunuh Jono Dalam argumen induktif di atas, premis-premis belum memiliki bukti sehingga masih dalam kondisi ketidakpastian karena kurangnya informasi terkait. Dapat dikatakan bahwa argumen induktif terjadi dengan pengambilan kesimpulan secara langsung yang menimbulkan resiko, sehingga kita harus meminimalkan resiko kesalahan. Oleh karena itu, kesalahan-kesalahan dalam risiko dan

penarikan kesimpulan pada argumen induktif merupakan kesalahan-kesalahan yang umum yang terjadi.

E. SESAT PIKIR Tak jarang bahwa dalam filsafat terjadi kesesatan dalam berpikir, hal ini umum terjadi karena walaupun secara teorema bisa disahkan tetapi secara pembuktian dikatakan salah. Hal ini terjadi karena hubungan antar premiis yang bersifat asimetris, seperti: Kalau hujan turun, maka tanah basah. Tanah Basah. Jadi Hujan Turun