Anda di halaman 1dari 2

Peran NGO dalam Rekonstruksi Gempa Jogja di Bidang Pendidikan

Latar Belakang Gempa Jogja yang terjadi 27 Mei 2006 lalu telah menyisakan banyak kisah hingga kini. Dalam tahap rekonstruksi, gempa Jogjakarta telah melibatkan banyak aktor, baik pemerintah, swasta dan civil society. Dalam tahap rekonstruksi ini, korban gempa bumi tidak hanya dapat mengandalkan pemerintah untuk bangkit kembali, tetapi sinergi dari berbagai aktor sangat diperlukan. Untuk mengetahui peranan aktor lain selain pemerintah, dalam riset ini kita akan memfokuskan pada Peran NGO dalam Rekonstruksi Gempa Jogja di Bidang Pendidikan. Bidang pendidikan kita pilih sebagai sebagai aspek yang lebih spesifik karena sektor pendidikan adalah salah satu bagian yang krusial untuk segera dibenahi setelah bencana terjadi. Pendidikan harus segera diperoleh kembali bagi anak-anak korban gempa karena pendidikan yang ditandai dengan kembali ke sekolah adalah salah satu wujud normalisasi sebuah sistem. Harapannya, anak-anak korban gempa tidak akan mengalami trauma yang berkepanjangan setelah mereka melakukan kegiatan yang menjadi rutinitas dalam keseharian. Pentingnya sektor pendidikan tersebut ternyata tidak membuat pemerintah bertindak cekatan, justru gelagat NGO terlihat lebih peduli dibanding pemerintah pada rekonstruksi bidang pendidikan (khususnya dalam pembangunan kembali sekolah-sekolah yang hancur akibat gempa). Setelah gempa terjadi, akibat bantuan dari NGO, sekolah-sekolah di Bantul terlihat lebih baik dari segi fisik bangunan dan fasilitas sekolah. Untuk melihat peranan NGO, dalam riset ini kita juga akan menelusuri besaran dana yang diberikan untuk rekonstruksi sekolah-sekolah, antara perbandingan dana yang dikucurkan pihak pemerintah dan NGO. Dengan penelusuran ini, selain untuk mengetahui pentingnya peran NGO juga untuk

melihat

bentuk

kesiapsiagaan

dan

tanggungjawab

pemerintah

saat

rekonstruksi. Kami mengambil tema di atas mengenai rekontruksi pasca gempa di Jogja berdasarkan pada pertemuan kuliah ke-6 yang membahas mengenai siklus krisis. Dalam siklus krisis meliputi kesiap-siagaan, saat krisis itu terjadi, kemudian adanya tanggap darurat setelah terjadi bencana, proses rehabilitasi rekontruksi, dan tahap pencegahan serta penjinakan. Rekontruksi ini yang masuk dalam siklus manajemen krisis yang merupakan tahap normalisasi terutama dalam tema kami mengenai normalisasi dalam sistem pendidikan. Produk yang Dihasilkan Dalam riset ini, produk akhir yang akan kami hasilkan berupa makalah. Dan kami juga berharap makalah ini pada nantinya dapat dijadikan sebagai referensi ataupun rujukan dalam penanganan bencana, terutama gempa bumi, baik bagi pemerintah, NGO, swasta, maupun masyarakat. Metodologi Dalam penelitian ini, kami menggunakan metodologi kualitatif dengan melakukan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Wawancara ini akan kami lakukan terhadap pihak sekolah swasta (Muhammadiyah) yang memperoleh bantuan dari NGO untuk pembangunan kembali sekolah yang rusak, yayasan selaku pemilik dari sekolah sekaligus pihak yang memfasilitasi bantuan dari NGO ke sekolah, perwakilan dari NGO untuk mengetahui mekanisme penerimaan bantuan serta ke dinas pendidikan untuk mengetahui perbandingan besaran bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Dan untuk menunjang data dari hasil wawancara, kami juga melakukan studi literatur.