Anda di halaman 1dari 14

Komunitas Epistemik

(Islamic Political Forum)


Pendahuluan
Komunitas sering dipahami sebagai sekelompok mayarakat dengan jumlah yang relatif kecil, saling berinteraksi secara insentif, dan saling mengenal satu sama lain yang menempati suatu wilayah untuk tempat tinggal untuk hidup bersama. Dengan melihat definisi dari komunitas di atas, sering kali komunitas terbentuk dalam berbagai hal. Tidak jarang kita sering melihat komunitas yang didasarkan pada kesamaan merk kendaraan bermotor, hobi, daerah, ideologi, dan lainlain. Komunitas-komunitas ini kemudian hidup dengan interaksi secara insentif dalam upayanya memenuhi collective good yang diharapkannya. Inilah yang menjadikan komunitas sering dianggap mengalami deteritorialisasi, dimana sering kali kita melihat adanya komunitas yang lahir bukan hanya berdasar pada suatu kesamaan tempat tinggal. Namun berdasar suatu kesamaan sentimen atas sebuah interest yang ada. Membicarakan perjalanan komunitas dalam kondisi perpolitikan di Indonesia, tentunya kita telah mengetahui terdapat sejarah panjang didalamnya. Dalam masa orde baru kala itu, komunitas-komunitas berbasis ideologi yang ada telah dikendalikan oleh pemerintah dengan adanya asas tunggal. Selain itu, sering kali juga komunitas yang tidak sesuai dengan kehendak pemerintah diberantas hangus dengan tuduhan subversif. Ketika melihat komunitas kemasyarakatan yang ada di daerahdaerah, wacana RT, Desa, Dusun, dan lain-lain dibangun atas dasar penyeragaman seperti yang diharapkan rezim yang berkuasa kala itu yakni orde baru. Sehingga kemudian komunitas tidak hanya dipandang sebagai sebuah entitas kemasyarakatan saja. Namun komunitas dapat juga dipahami sebagai sebuah alat politik sebuah rezim dalam melanggengkan kuasanya. Namun euphoria demokratisasi yang melanda Indonesia pasca 1998 telah merubah berbagai sistem yang sebelumnya diatur oleh pemerintah. Sebagaimana kita tahu, keruntuhan orde baru kemudian disusul oleh massifnya pertumbuhan dan kelahiran organisasi, partai politik, gerakan, dan komunitas yang sebelumnya malu untuk unjuk gigi.

Komunitas lahir dalam bentuk formal institusi juga dalam bentuk informal institusi. Komunitas yang bersifat formal lahir karena adanya intervensi negara, yang mencoba masuk keranah civil society. Sedangkan bentuk komunitas yang informal merupakan komunitas yang lahir sendiri tanpa intervensi pihak negara, seperti berbagai komunitas yang lahir di masyarakat, komunitas hobi misalnya, dan komunitas-komunitas yang lahir didalam universitas. Komunitas informal lahir karena adanya dorongan untuk mengembangkan wacana atau sudut pandang-sudut pangang baru tentang sebuah diskursus atau bahkan ideologi. Seperti komunitas yang akan kami teliti nantinya. Yang mendasarkan pada perkembangan dan pemikiran suatu keilmuan. Dalam tugas mata kuliah pemerintahan komunitas ini, kami akan mengangkat kasus mengenai komunitas epistemis. Komunitas epistemis sering kali dipahami sebagai sebuah komunitas yang berdiri atas dasar keilmuan. Dimana disini kami akan mengangkat komunitas Islamic Political Forum atau sering disingkat sebagai IPF. Komunitas Islam menjadi menarik diangkat dikarenakan Islam sebagaimana kita tahu memiliki banyak sekali pandangan yang sering kali berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Merujuk pada sistem yang dianut orde baru, sebagai sebuah komunitas yang lahir di level universitas, bukan tidak mungkin komunitas mahasiswa ini akan sangat diawasi, bahkan diberantas jika pergerakannya dianggap meresahkan rezim yang berkuasa. Namun komunitas ini lahir setelah reformasi, dimana Indonesia saat ini telah dianggap berdemokrasi.

Pembahasan
Siapakah yang tidak mengenal Karl Marx dengan teori strukturalnya. Atau Auguste Comte, si bapak yang dikenal sebagai penemu istilah-istilah sosiologi. Seorang mahasiswa, apalagi mahasiswa Fisipol, pasti akan langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab ya, saya kenal. Lalu bagaimana dengan Ibnu Taimiyyah, apakah mahasiswa (yang muslim) mengenalnya. Atau mungkin dengan Hasan AlBana atau Taqiyuddin An-Nabhani. Pasti nama-nama tersebut bisa jadi terasa sangat asing sekali di telinga teman-teman mahasiswa. Itulah sekelumit bukti problematika yang melanda di dalam dunia Islam saat ini, yaitu problem rusaknya ilmu Islam. Ilmu telah ter-Baratkan, sehingga menghilangkan adab dan akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin dalam segala bidang di dalam masyarakat Islam yang tidak sesuai dengan Islam. Berangkat dari sebuah keresahan bersama tentang ilmu pengetahuan kontemporer yang menjadi pedoman dalam pengajaran di universitas yang dinilai semakin jauh dari nilai-nilai keislaman itulah, sekelompok mahasiswa berinisiatif untuk membentuk sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang dakwah ilmu pengetahuan. Komunitas tersebut tak lain adalah bernama Islamic Political Forum (IPF). Islamic Political Forum merupakan Kelompok Studi Fakultas yang bergerak dalam Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer dengan menjalin sinergisitas intelektual muda muslim yang berusaha untuk melawan imperialisme epistemologi ilmu pengetahuan yang melanda umat Islam. Sesuai ketentuan yang ditetapkan, komunitas IPF ini lahir pada tanggal 26 Juni 2007. Hal ini dikarenakan IPF sendiri lahir akibat alkulturasi antara Ulil Albab Centre (UAC) dan salah satu lembaga kajian dakwah yang diampu oleh Jamaah Muslim Fisipol (JMF). Sehingga gabungan dari keduanya melahirkan apa yang disebut sebagai Islamic Political Forum. UAC dan Lembaga Kajian JMF sendiri memang sudah sering sharing bersama karena keduanya bergerak pada bidang yang sama, yakni dakwah Islam. Yang membedakan antara keduanya adalah cakupannya, di mana UAC merupakan komunitas keilmuan berbasis Islam yang beranggotakan

mahasiswa Ilmu Pemerintahan, sedangkan Lembaga Kajian JMF lebih luas cakupannya. Dalam sejarahnya, Randi Muchariman (Ilmu Pemeritahan 2005) selaku ketua UAC, bertemu dengan Fadli (Hubungan Internasional 2005), yang merupakan pimpinan kajian JMF. Pertemuan mereka berlangsung di Mushola ketika ide penggabungan ini terjadi. Saat itu mereka berdiskusi mengenai masalah keislaman atau lebih tepatnya berdiskusi mengenai mimpi mereka, yaitu tentang sekolah pemimpin dunia, yang pada akhirnya mencetuskan IPF ini. Dan, kemudian IPF ini fokus pada salah satu strategi dakwahnya yakni melalui Sekolah Pemikiran Islam (SPI). Yang kemudian sekolah pemikiran Islam ini pada nantinya akan menjadi ajang kaderisasi anggotan IPF. IPF sendiri juga telah memiliki Visi, Misi yang menjadi platform atas pencapaian tujuan dan harapan IPF. Visi yang dijalankan IPF adalah menyampaikan pemahaman tentang integralitas Islam dan politik dalam entitas Fisipol UGM. Sedangkan misi dari IPF sendiri adalah menyampaikan ideology system (secara praksis) politik Islam sebagai sebuah sistem yang komprehensif, integral yang sarat dengan keadilan. Selain itu juga menyampaikan dan meluruskan pemahaman tentang sejarah melalui komparasi sejarah dunia Islam (sebagai sebuah pijakan dan perspektif dalam melihat realitas), baik dalam cakupan global maupun nusantara. Selain visi dan misi tersebut IPF juga memilki strategi 1 demi memenuhi visi dan misinya. Strateginya antara lain: 1. pembentukan komunitas creative minority melalui pengembangan kepribadian dan kecakapan hubungan antar manusia yang akan berperan melalui proses kuliah dan dinamika pergaulan teman sebaya. 2. menyususn image building atau pencitraan dan opini public terkait visi misi Sekolah Politik Islam (SPI) melalui media komunikasi massa. 3. interaksi dan simbiosis mutualis dengan alies alies yang ada di fisipol UGM secara teratur (maupun di luar fisipol UGM) 4. melakukan dialog dengan komunitas atau organ mahasiswa lainnya.

Buku tim penyelenggara tim IPF lengkap, hal 3.

Dilihat dari struktur organisasinya, komunitas ini kami anggap telah memiliki tujuan yang jelas akan perjalanannya di masa depan. Struktur Organisasi tersebut meliputi Direktur, Dewan Direksi, Sekretaris.2 Dalam organisasi IPF, Direktur adalah ketua dan penanggungjawab bagi berjalannya IPF. Direktur disini juga menjadi pemimpin dalam Dewan Direksi. Sedangkan Dewan Direksi berisi sejumlah orang yang bertanggungjawab atas keberlangsungan dan penjagaan tujuan dan misi IPF. Dewan Direksi juga bertanggungjawab dalam mengatur pelaksanaan kegiatan serta menjamin kualitas dan kuantitas anggota IPF. Sedangkan Sekretaris adalah seorang atau sejumlah orang yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan kegiatan kesekretariatan di IPF. Dalam upaya pencapaian visi misi, IPF sendiri memiliki 8 satuan kerja yang dianggap mampu untuk mendorong. Setiap satuan kegiatan, memiliki tim fasilitatornya yang diangkat oleh Dewan Direksi. Satuan kerja tersebut meliputi3: 1. SPI (Sekolah Politik Islam) SPI bertujuan untuk merekrut mahasiswa baru sehingga menjadi anggota penuh IPF. SPI memberikan kesadaran, penanaman, dan ruang bagi mahasiswa baru untuk berkiprah dalam gerakan pemikiran Islam di kampus. SPI diikuti pula oleh peserta yang diundang dari mahasiswa baru fakultas Humaniora di UGM. SPI memberikan perkenalan terhadap pesertanya terkait materi Epistemologi Islam, Ideologi, kesadaran Sejarah, serta materi lainnya yang bertujuan untuk menanamkan komitmen dan kesadaran yang berbuah kesediaan berpartisipasi dalam gerakan keilmuan IPF. SPI disusun berdasar atas basis filosofis andragogi dan ekosferis. SPI menempati posisi yang sangat vital dalam pengembangan IPF karena terkait proses regenerasi dan pengembangan SDM baik bagi peserta maupun tim penyelenggara. 2. KPS (Kursus Pengelolaan SPI) Karakteristik KPS merupakan kursus yang bertujuan untuk memberikan keterampilan, keahlian dan pengetahuan dasar untuk mengelola SPI. Peserta KPS adalah peserta SPI. Dimana KPS bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anggota IPF tentang ke-IPF-an yang meliputi ide, visi-misi dan strategi. 3. Aqidah Islam

Hal-hal mengenai struktur organisasi yang dimiliki IPF ini bisa dilihat juga dalam Pedoman Penyelenggaraan IPF. 3 Disarikan dari Parameter Renstra IPF 2008

Aqidah Islam adalah satuan kegiatan yang diikuti oleh anggota IPF. Satuan kegiatan ini berfungsi untuk memberikan jaminan pemahaman peserta IPF terhadap Aqidah Islam. Bentuk satuan kegiatan ini fleksibel karena berorientasi kepada penjaminan pemahaman. Maka bentuk satuan kegiatan ini bisa jadi teritegrasi dengan kegiatan lainnya, misalkan SPI atau kegiatan pribadi anggota IPF yang memenuhi standar yang disusun oleh Tim Aqidah Islam, atau kegiatan yang direkomendasikan oleh Tim. 4. Epistemologi Islam Satuan kegiatan ini dilakukan melalui kajian klasikal dan penugasan untuk membaca buku dan membuat tulisan serta studi kasus di lapangan. Dengan satuan kegiatan ini, anggota IPF memiliki kerangka yang jelas dan tegas terkait posisi ilmu dan peradaban. Satuan kegiatan ini memberikan kemandirian dan pisau analisa yang lebih mendalam bagi anggota dalam memahami realitas. Satuan kegiatan ini diorientasikan untuk anggota tapi tidak menutup partisipasi dari mahasiswa yang bukan anggota. Keputusan tentang hal tersebut diberikan kepada Tim Epistemologi Islam. 5. Ideologi Ideologi bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang barat dan peradabannya. Ideologi akan sangat bersesuaian dengan proses kuliah yang dilaksanakan. Ideologi memberikan wawasan dan lebih berorientasi pada penguasaan sejarah dan teori-teorinya, perkembangan dan penyebarannya serta dampaknya bagi dunia dewasa ini. Satuan kegiatan ini dilakukan melalui kajian klasikan dan penugasan untuk membaca buku dan membuat tulisan serta studi kasus di lapangan. Karena satuan kegiatan ini dilaksanakan pada semester ganjil yang bersamaan dengan SPI, dan Epistemologi, maka koordinasi yang intesif perlu dilakukan untuk membangun keoptimalan pencapaian tujuan dan proses. Satuan kegiatan ini lebih bersifat terbuka dan melibatkan pula mahasiswa secara luas. Interaksi dengan mahasiswa dalam segi pemikiran ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik dan informasi yang lebih terbuka. 6. Sejarah Sejarah merupakan kegiatan pengkajian dan penelitian untuk dipublikasikan dalam sebuah diskusi yang dibuka untuk umum. Sejarah ini meliputi kajian tentang sejarah peradaban, konteks lokal Indonesia, serta tokoh dan pemikirannya. Dari

satuan kegiatan sejarah ini diharapkan akan memunculkan kesadaran sejarah terutama bagi Tim dan Asisten, keterampilan dan keahlian dalam menyusun Renstra serta kemampuan untuk melakukan studi komparasi tentang sejarah. 7. Eksternal Satuan kerja Eksternal merupakan kegiatan yang berorientasi pada publikasi dan penyebaran ide IPF kepada publik. Satuan kegiatan eksternal ini akan sangat fleksibel dan bergantung kepada kompetensi Tim Fasilitator serta kondisi yang ada. Eksternal berfokus kepada proses berlatih dan memahami lingkungan yang dilakukan oleh anggota IPF. Satuan kerja Eksternal diharapkan bisa menumbuhkan etos, kemandirian, kecakapan dan keberanian anggota IPF dalam komunikasi, mengelola konflik, mengelola jaringan serta SDM. Eksternal merupakan satuan kegiatan yang ditujukan untuk publik tapi berorientasi pada pembelajaran anggota. 8. Jaringan Tim Jaringan adalah anggota IPF yang sudah ada di semester tujuh. Tim Jaringan terdiri dari anggota penuh. Satuan kegiatan ini mulai terprogramkan pada periode Juli 2010 - Januari 2011. Satuan kegiatan ini melanjutkan jaringan yang sudah dibentuk oleh anggota pelopor. Satuan kegiatan ini berorientasi penuh dan fokus kepada pembentukan, pengelolaan dan pengembangan jaringan dan jejaring yang akan dan telah dibentuk oleh IPF. Satuan kegiatan ini merupakan penopang eksistensi IPF untuk terus memberdayakan dan menggunakan manfaat dan kemudahan dari berjejaring.

Melihat IPF Lebih Dalam Jika dilihat dari segi sistem keorganisasiannya, IPF memiliki sistem yang berbeda dari sistem organisasi atau komunitas lainnya. Mereka juga tidak memiliki AD-ART yang baku juga. Dalam IPF, pola tim bersifat mandiri, alias setiap individu bergerak sendiri-sendiri. Hal ini terjadi karena sebelumnya, dalam IPF telah ditentukan tugas yang jelas dengan pembagian yang jelas pula. Jadi di sini, pengurus dituntut untuk memiliki kreativitas pribadi. Secara garis besar, kepengurusan dibagi menjadi tiga, yakni bagian tim, bagian jaringan, dan bagian media . Bagian tim berisi pengurus inti IPF, mulai dari ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara. Untuk bagian jaringan, melibatkan mahasiswa fakultas di luar fisipol. Mahasiswa yang

bersangkutan tentu saja sudah dikaderisasi. Lalu untuk bagian media, mereka hanya menggunakan orang-orang dalam IPF. Bagian ini bertugas untuk membuat bulletin, yang diberi nama The Answer. Selain itu, bagian media juga bertugas mengumpulkan wacana. Wacana tersebut nantinya akan menjadi bahan diskusi pada pertemuan rutin. Berikut ini kami sajikan bagan struktur organisasi dari IPF untuk memperjelas system keorganisasiannya. PENYELENGGARA ISLAMIC POLITICAL FORUM Sekolah Politik Islam4

TIM PUSTAKA koordinator tim Wiwik (HI 05) ANGGOTA Hendra (Sstr 06) Rangga (Kom 05) Isna (Sslg 06) Danang (AN 05) Sudi (IP 06) Dodi (AN 06)

TIM FASILITATOR DIREKTUR IPF/ koordinator tim fasilitator Randi Muchariman (IP 05) ANGGOTA Fadly (HI 05) Wahyu (Sslg 06) Rifai (IP 05) Aziz (Sstr 06) Adi (HI 05) Bela N (IP 05) Indri (Sslg 05) Yunik (AN 06)

TIM MEDIA Koordinator tim Wibi (HI 06) ANGGOTA Sururi (HI 05) Restu (HI 06)

MANAJER IPF Sudi (IP 06) TIM FASILITAS & ADMIN KEU Wiwit (IP 06 ) Yoshi (IP 06) Ratna (IP 06)
KETERANGAN5 = HUBUNGAN KERJA YANG OTONOM : bekerja secara otonom , namun secara erat berada di bawah ti fasilitator untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan SPI dan tim fasilitator = HUBUNGAN KERJA YANG SEMI OTONOM bekerja secara mandiri dan melakukan koordinasi dengan tim fasilitator dan menjalankan tugasnya berdsarkan garis garis yang telah ditentukan oleh tim fasilitator . serta berhak ikut serta dalam beberapa pertemuan tim fasilitator sesuai permintaan atau tidak berdsar permintaan tim fasilitator
4 5

Buku tim penyelenggara tim IPF lengkap, hal. 1 Ibid, hal. 1

( permintaan tim otonom) dengan memberikan satu atau maksimal 2 orang utusannya (atau sesuai kebutuhan). Dan mempunyai hak suara dan bicara dalam pertemuan tersebut. = HUBUNGAN KERJA FUNGSIONAL bekerja sebagaimana fungsi yang diemban. Dalam hal ini adalah sebagai manajer yang melakukan manejerial terhadap keputusan dan segala yang telah dihasilkan oleh 4 tim IPF. Dalam hal ini, manajer tidak mempunyai wewenang dalam kepemimpinan di dalam IPF.

Berbicara mengenai suksesi, sejauh ini pola suksesi yang ada juga tidak ditentukan oleh waktu. Mereka berargumen bahwa organisasi keilmuan berbeda dengan organisasi yang lainnya. Lalu, bagaimana suksesi yang terjadi di IPF? Saat ini, IPF sudah melakukan suksesi satu kali. Pada awalnya, suksesi kepemimpinan disebabkan karena ketua IPF sudah lulus kuliah. Lalu, muncullah kesadaran para pengurusnya untuk bermusyawarah membicarakan pergantian pemimpin. Tapi pada dasarnya, di IPF tidak ada batas waktu. Mekanisme pergantian ketua yang terjadi pada waktu itu juga dilakukan asal tunjuk saja karena dalam musyawarah yang datang hanya beberapa saja. Namun yang pasti, pada dasarnya setiap pengurus yang ditunjuk menjadi ketua (direktur) memang berkualitas dalam memimpin. Sebagai sebuah komunitas yang lahir di lingkungan Fisipol UGM, kedepannya IPF diharapkan akan berjalan lebih profesional, di mana pengaturan organisasi dirumuskan dan dibakukan. Suksesi kepemimpinan juga akan diperjelas dalam upaya menjaga regenerasi anggotanya. Untuk masalah formalitas atau legalitasnya, IPF juga masih mengupayakan untuk menjadi BO/BSO. Formalitas ini nantinya juga akan berpengaruh pada pendanaan karena setiap BO/BSO per tahun mendapatkan lima juta. Untuk sementara itu, saat ini masalah pendanaan dilakukan secara sukarela anggotanya. Hal inilah yang menjadikan sedikit rancu, dikarenakan dalam pedoman penyelenggaraan IPF sendiri disebutkan bahwa IPF mendapatkan dana dari anggota, usaha halal, dan donatur yang diharapkan tidak mengganggu ke independenan IPF Untuk anggota sendiri, kami juga menemukan bahwa di IPF, anggotanya tidak bisa dibaca secara jelas. Hal ini juga dikarenakan IPF sendiri acara rutinnya merupakan diskusi, yang bisa diikuti siapa saja, asalkan Islam. Dan terlebih lagi sifat keanggotaannya yang tidak terikat, membuat jumlah anggotanya sulit ditebak. Namun yang pasti Medan dakwah IPF adalah kampus. Sehingga semua elemen yang dianggap mampu berkontribusi, baik mahasiswa, dosen, peneliti adalah subyek yang menjadi pihak yang menjadi fokus dari IPF. Mengajak mahasiswa, dosen, peneliti untuk berdakwah berarti menyeru mereka untuk menyetujui dan meyakini Islam sebagai dien, worldview dan solusi yang kemudian ditujukan dalam kontribusi mereka

dalam aktifitasnya. Dengan ini, IPF tidak bergerak dalam lapangan politik praktis, pemberdayaan masyarakat atau menjadi pengikut wacana kontemporer yang dikonstruksi oleh peradaban Barat dan segala kekuasaan dan tipu dayanya. Dalam upayanya meluaskan jaringan dan memperlebar lembaga dakwahnya, selain menggunakan Sekolah Pemikiran Islam dalam kaderisasinya, IPF juga menggunakan pendekatan personal dalam rekrutmennya. Pendekatan personal ini salah satunya bisa dibaca melalui kegiatan UAC, yang merupakan kepanjangan tangan IPF. Dalam UAC, kami dapat melihat adanya sebuah kelompok yang sangat mengutamakan kebersamaan. Contohnya adalah dengan self-organizing, yang mana hal tersebut akan menimbulkan responsibility antar anggotanya. Dalam UAC, anggotanya akan diberikan sebuah ruang untuk berekspresi tentang keislamannya dalam memandang sesuatu. Suasana pertemanan juga dimunculkan untuk mengakrabkan antar anggota. Lalu, setelah mengekspresikan pikirannya, barulah gagasan-gagasan mengenai islamic world view dimasukkan oleh para pengampu UAC. IPF kemudian juga membuat link, ataupun jaringan dengan komunitaskomunitas sejenis, baik di lingkungan intra-kampus, hingga di luar kampus. Di lingkungan UGM, IPF menjalin hubungan kerjasama dengan ILF (Islamic Law Forum) dari fakultas Hukum, IPLLF dari fakultas Psikologi, SEF dari Ekonommi, dan Humanika dari FIB. Selain intra-kampus, IPF juga menjalin kerjasama dengan komunitas Nuun di Universitas Indonesia. Komunitas-komunitas ini memiliki faham yang sama seperti IPF. Sama-sama resah dengan ilmu pengetahuan kontemporer. Mereka juga masih aktif dalam komunikasi dan diskusi. Jika disinggung mengenai hubungannya dengan HTI maupun IPI, IPF memandang bahwa keduanya merupakan alies yang memiliki pemikiran yang hampir sama. Mereka juga menolak apabila dianggap sebagai underbow salah satu organisasi di atas. Mereka bersedia utuk diteliti lebih lanjut karena memang mereka yakin berdiri secara indepeden. Secara individu para anggota IPF merupakan anggota organisasi-organisasi Islam juga yang ada di lingkungan kampus. Itu dibuktikan sendiri oleh direktur IPF dalam surat elektroniknya bahwa anggota IPF adalah sekumpulan mahasiswa yang telah aktif dalam organisasi lainnya, berikut petikan isi dari surat elektronik yang saya maksudkan mereka yang aktif di Muhammadiyah, Tarbiyah, HTI, dan lainnya yang tidak termasuk ketiganya. Bahwa saat ini IPF adalah sebuah komunitas yang tidak berlandaskan pada satu mahzab saja namun berlandaskan Islam. Walau ada

keberagaman dalam tubuh IPF namun IPF tetap akan bersifat independen. Keindependen-an IPF tersebut telah dicantumkan didalam pedoman penyelenggaraan IPF. Islamic Political Forum Sebagai Komunitas Epistemis Sebagai sebuah komunitas epistemis, ide dasar dari pembentukan IPF sendiri adalah Islamisasi ilmu dan peradaban, membangun peradaban Islam dimulai dari ilmu. Dan IPF merupakan sinergisitas gerakan umat Islam sebagai bentuk optimalisasi kekuatan. Ide ini didasari atas Islamic Worldview yang sesuai Tauhid. Bila dilihat berdasar relasinya dengan kajian keilmuan yang menjadi fokus IPF. Komunitas yang ada dalam IPF sendiri kami anggap bersifat complementary dan accommodation dengan keberadaan universitas. Dimana secara complementary, komunitas ini berupaya melengkapi kajian-kajian keilmuan yang sering kali diajarkan dalam sesi perkuliahan dengan sudut pandang Islam. Hal ini didasarkan pada salah satu tujuan IPF yakni berupaya merubah sudut pandang keilmuan menjadi dewesternisasi. Sedangkan dari relasi accommodation, IPF sendiri berdiri dalam menjembatani ketertarikan mahasiswa terhadap bidang keilmuan bila dipandang dari sudut pengetahuan Islam. Sebagai sebuah komunitas, ciri-ciri yang ada dalam IPF telah mencangkup apa yang disebut sebagai ruang hidup (lokalitas), social relationship, dan community sentiment. Dilihat dari ruang hidupnya, IPF sendiri berada dalam ruang lingkup Fisipol UGM. Dimana secara luas IPF berupaya melebarkan lokalitasnya pada lingkungan universitas. Melihat relationship yang melingkupinya, IPF sendiri berupaya mengikatkan anggotanya melalui dakwah-dakwah secara intensif demi tercapainya visi dan misi yang diemban IPF. Sedangkan melihat community sentiment yang dibangun IPF sendiri didasarkan pada kesamaan minat pada dakwah islam yang memfokuskan pada upaya dewesternisasi kajia keilmuan kontemporer kala ini. Sedangkan dilihat dari aksi kolektifnya, sejauh ini kami menanggap IPF sebagai komunitas asosiasional, dimana komunitas IPF ini adalah sebuah komunitas yang bersifat informal, namun memiliki prosedur dalam merumuskan kepentingannya. Dalam komunitas IPF, interaksi yang dibangun sebagai sebuah komunitas adalah melalui diskusi secara rutin mengenai kajian-kajian Islam kontemporer. Walaupun bernama Islamic Political Forum, bukan berarti komunitas ini hanya

membahas masalah politik saja. Mereka juga sering membahas isu-isu yang sedang hangat dibicarakan. Komunitas ini kemudian menggunakan perspektif Islam dalam memandang atau mensikapi sesuatu yang sedang didiskusikan. Agar mencapai tujuan mereka, yakni mengembalikan ilmu pengetahuan yang sesuai aqidah, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengembalikan adab. Dalam pertemuan rutin tersebut dipastikan juga terdapat transfer tentang ilmu keagamaan dasar seperti aqidah dan tauhid juga konsep ilmu pengetahuan menurut Islam (Islamic world view). Sebagai komunitas yang berlandaskan keilmuan utamanya Islam, IPF sendirinya juga berupaya untuk saling membangun hubungan dengan berbagai kalangan demi mengembangkan keilmuan yang hadir dalam tubuh IPF itu sendiri. Itu seperti yang tertuang dalam surat elektronik direktur IPF, bahwa saat ini IPF juga berjejaring dengan berbagai organisasi soshum FISIPOL, fakultas Budaya UI. Dengan berjejaring diharapakan mampu memperkaya ilmu yang ada di dalam IPF.

Kesimpulan Komunitas epistemic yang kami coba dalami adalah sebuah komunitas yang hadir karena adanya keresahan akan ilmu-ilmu islam yang tidak banyak hadir didalam kampus. Awal pembentukkannya, IPF meresahkan ketidaktahuan mahasiswa akan ilmu-ilmu Islam juga pemikir-pemikir islam, padahal ilmuwan juga ilmu itu tidak hanya dating dari wilayah barat (eropa utamanya) namun juga dari timur. Diharapkan dengan kehadiran IPF, ilmu-ilmu barat dapat diperbandingkan dengan ilmu-ilmu islam. IPF adalah bentuk dari komunitas yang lahir atas dasar kebutuhan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan keilmuan yang berlandaskan Islam. Lahir sebagai komunitas informal tanpa intervensi dari pihak luar, negara. Namun banyak memberikan kontribusi lahirnya pandangan-pandangan baru akan wacana keilmuan yang berkembang dikalangan akademisi kampus. IPF lebih bersifat independent dan saat ini masih merupakan komunitas yang belum menjadi sebuah badan atau organisasi resmi fakultas. Walau belum bersifat resmi IPF telah banyak melakukan kegiatan untuk mengembangkan keilmuwan yang bersifat Islam. Demi mengembangkan islamisasi keilmuan tersebut maka IPF mencoba mengembangkan jaringannya untuk lebih memperkokoh dan perkembangan keilmuan yang ada di dalam IPF. Jaringan yang coba mereka kembangkan luas sampai pada kalangan luar universitas, yaitu UI. Didalam universitas, mereka juga berjejaring dengan fakultas-fakultas lain, seperti fakultas hokum, fakultas psikologi, fakultas ekonomi dan fakultas ilmu budaya. Yang berjejaring didalam IPF tidak menutup kemungkinan dari berbagai organisasi-organisasi lain, namun tetap berlandaskan Islam, mengingat para anggota yang beragam.

Sumber, Daftar Pustaka, dan Referensi Wawancara dengan beberapa pengurus, anggota IPF Pedoman Penyelenggaraan IPF, 2008 Parameter Renstra IPF, 2008 Buku Tim Penyelenggaraan IPF AAGN Ari Dwipayana, Relasi Komunitas, disampaikan dalam salah satu slide Mata Kuliah Pemerintahan Komunitas, 13 Oktober 2009 AAGN Ari Dwipayana, Perspektif, Proses Pembentukan, dan Strukturisasi Komunitas, disampaikan dalam salah satu slide Mata Kuliah Pemerintahan Komunitas, 29 September 2009 Gretchen Helmke dan Steven Levitsky, Informal Institutions and Comparative Politics: A Research Agenda, Working Paper #307, September 2003. Diunduh dari http://kellogg.nd.edu/publications/workingpapers/WPS/307.pdf, pada hari Minggu, 08 November 2009, pukul 17:56.