Anda di halaman 1dari 24

BAB I PERMINTAAN DAN PENAWARAN 1.

Permintaan Agregrat Permintaan Agergrat (Aggregrate demand, AD) adalah jumlah barang dan jasa akhir (finala goods and services) yang dihasilkan di dalam perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga. Kurva permintaan agregrat (Aggregate demand curve) adalah kurva yang mengggambarkan hubungan antara jumlah output agregrat yang diminta dengan tingkat harga dengan asumsi hal-hal lain tetap. Kurva permintan agregrat tersebut memiliki slope negative yang menunjukan bahwa antara jumlah output yang diminta dengan tingkat harga hubungannya adalah negative. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi permintaan agregrat di dalam suatau perekonomian adalah : Pendapatan disposable atau pengeluaran komsumsi Tingkat bunga Kepercayaan dunia bisnis Jumlah uang beradar riil Pengeluaran pemerintah Pajak Pendapatan luar negeri Harga luar negeri Nilai tukar riil 2. Penawaran Agregrat Penawaran Agregrat (Aggregate Supply, AS) adalah jumlah seluruh barang akhir dan jasajasa di dalam perekonomian yang dijual atau ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan pada berbagai tingkat harga. Penawaran Agregrat pada dasarnya merupakan nilai total dari seluruh barang akhir dan jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian. Penawaran Agregrat di dalam suatu perekonomian dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut Besarnya angkatan kerja Besarnya stok capital Keadaan atau tingkat teknologi Tingkat pengguran ilmiah Harga factor-faktor produksi

BAB II INFLASI 1. Pengertian Dasar Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Inflasi dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun. 2. Penyabab Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan (demand full inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang. 3. Penggolongan Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. 4. Mengukur inflasi Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI). Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu. Indeks harga barang-barang modal Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

5. Dampak Pekerja dengan gaji tetap sangat dirugikan dengan adanya Inflasi. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. 6. Peran bank sentral Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.
3

BAB III KEBIJAKSANAAN MONETER Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, "margin requirement", kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain. 1. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Jalur Biaya Modal (The Cost Of Capital Channel) Jalur Kekayaan (Wealth Channel) Jalur Harga Relatif (Portfolio) Jalur Harga Langsung 2. Tenggang Waktu (LAG) Efek dari Kebijaksanaan Moneter Kebijakan Moneter yang Sifatnya counter Cyclical

3. Kebijaksanaan Moneter dengan Keadaan Ketidakpastian a. Keadaan Adanya Kepastian

b. Ketidak Pastian (sektor riil & moneter)

c. Ketidak Pastian Sektor Riil dan Moneter

4. Crowding Out Apabila penambahan pengeluaran pemerintah apakah yang dibiayai dengan penarikan pajak atau dengan pengeluaran obligasi tidak dapat mendorong kegiatan ekonomi/efeknya terhadap kegiatan ekonomi nol a. Pendapat Ekonomi Klasik/LM Vertikal

b. Kasus Keynes/Efek Ekspektasi

c. Kasus Knight/IS Horizontal

d. Kasus Ultrarasional /Subtitusi Langsung

e. Kasus Friedman/Efek Permintaan dan Selanjutnya

f. Kasus Blinder dan Solow/Adanya Fungsi Kekayaan

5. Jalur Pengaruh Kebijakan Moneter

BAB IV PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA KEYNESIAN DAN MONETARIST Beberapa perbedaan penting antara Keynes dan Monetarist antara lain tentang peranan sektor swasta, kebijakan moneter dan fiskal, inflasi, tingkat bunga, jumlah uang beredar, indikator dalam kebijakan moneter serta model ekonometri. Meskipun demikian dalam perkembangannya perbedaan ini telah menyempit, bahkan dalam beberapa hal telah terdapat titik temu. Titik temu ini misalnya keduanya telah mengakui pentingnya jumlah uang beredar dan kebijakan moneter serta teori portofolio dalam transmisi kebijakan moneter. Pada tahun 70-an terjadi debat hangat antara Kubu Keynesian dengan kubu monetaris tentang gejala-gejala dan masalah-masalah ekonomi berikut kebijaksanaan yang seyogyanya diambil untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Walau pendapat mereka sering bertentangan, di mana dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi kubu Keynesian lebih menyukai kebijaksanaan fiskal yang bersifat ekspansif, sedang kubu monetaris lebih menyukai kebijaksanaan moneter yang kontraktif-konservatif, tetapi di antara keduanya mempunyai persamaan, yaitu sama-sama melihat perekonomian dari sisi permintaan. Berbeda dengan kedua aliran yang disebut di atas, aliran sisi penawaran percaya bahwa yang harus diberi perhatian utama bukan segi permintaan seperti yang dilakukan kubu Keynesian maupun monetaris,melainkan sisi penawaran. Perubahan dalam titik pandang ini terjadi karena masalah ekonomi yang dihadapi tahun 80-an berbeda dengan yang dihadapi pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa Keynes.b Seperti pernah diuraikan sebelumnya, pada masa Keynes perekonomian relatif kurang berkembang, ditandai oleh keadaan di mana sering terjadi resesi bahkan juga depresi, dan harga-harga cenderung menurun. Pada tahun 80-an perekomian juga mengalami kelesuan dengan tingkat pertumbuhan sangat rendah, akan tetapi angka inflasi tinggi karena meningkatnya harga-harga didorong oleh naiknya harga-harga minyak sewaktu negara-negara OPEC melancarkan politik embargo minyak mereka. Motto kerja aliran sisi penawaran sangat berbeda dengan kubu Keynesian yang lebih suka melakukan fine-tunning. Bagi pakar-pakar aliran sisi penawaran, adalah lebih baik meningkatkan pendapatan nasional lewat pemanfaatan sumber daya penuh daripada mencoba menekan atau meredakan fluktuasi ekonomi. Kesempatan kerja penuh sangat besar artinya bagi pemikirpemikir aliran sisi penawaran. Walau misalnya dalam jangka pendek laju pertumbuhan kesempatan kerja hanya naik sedikit, tetapi dampak jangka panjangnya sangat besar karena dampak tersebut bekerja secara kumulatif. Adapun kunci utama untuk mencapai tingkat kesempatan kerja penuh ialah dengan memberi insentif pada para pelaku ekonomi agar mau lebih rajin bekerja dan berproduksi. Begitu juga dalam usaha mengatasi inflasi dan pengangguran, jalur yang ditempuh oleh aliran sisi penawaran bukan melalui pengeluaran pemerintah sebagaimana dianjurkan kubu Keynesian, tetapi justru sebaliknya yaitu melalui program penurunan pajak. Alasan yang dikemukakan mereka, turunnya pajak akan menambah gairah investasi, yang akan mendorong
8

peningkatan dalam produksi. Dengan meningkatnya produksi maka masalah pengangguran dapat diatasi, dan sekaligus inflasi dapat diredakan. Perbedaan lain dengan kubu Keynesian ialah dari jangka analisis. Kalau kubu Keynesian menggunakan analisis jangka pendek, maka tekanan utama aliran penawaran adalah kebijaksanaan perturnbuhan jangka panjang, yang dilakukan dengan mempromosikan kesempatan kerja penuh dan perubahan teknologi. Dalam hal ini kubu sisi penawaran mirip dengan kubu monetaris, yang sama-sama cenderung menggunakan analisis jangka panjang. Persamaan lainnya dengan kubu monetaris adalah dalam penggunaan kebijaksanaan ekonomi, di mana kedua kubu sama-sama tidak menyukai kebijaksanaan yang bersifat ekspansif, baik dalam kebijaksanaan fiskal maupun moneter. Terakihir, kedua kubu sama-sama kembali melirik ke teori-teori klasik yang sama sekali ditinggalkan oleh Keynes dan para pendukungnya. Menurut Lipsety dan Steiner (1981) ajaran yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir aliran sisi penawaran ini sama dengan yang dianjurkan oleh Adam Smith dengan teori klasiknya, hanya dalam versi yang lebih modern. Persamaan pandangan sisi penawaran dengan ajaran klasik antara lain: (1) dalam menjelaskan inflasi maupun deflasi keduanya sama-sama menekankan pembahasan dari sisi produksi, atau sisi penawaran ; (2) dalam mengontrol inflasi mereka menggunakan pendekatan yang sama, yaitu dengan mendorong kurva penawaran agregat ke kanan, dimana dengan cara ini produksi (output) akan meningkat, dan pada saat yang sama harga-harga dapat ditekan ke bawah ; dan (3) dalam memperbaiki perekonomian lebih suka mendorong sisi penawaran ke kanan, bukan mengutakatik sisi permintaan agregat seperti yang dilakukan kubu Keynesian.

BAB V KEBIJAKSANAAN FISKAL Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat mempengaruhi variabel-variabel berikut: Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi Pola persebaran sumber daya Distribusi pendapatan a. Indikator Kebijakan Fiskal Indikator yang biasa dipakai untuk kebijakan fiskal adalah budget deficit. Namun indikator ini sering menyesatkan, dikarenakan sifatnya yang endogen. Untuk mengatasi kelemahan ini lalu dipakai indikator full employment deficit, yakni defisit anggaran belanja yang harus ditanggung pemerintah apabila hendak mencapai keadaan ekonomi pada kesempatan kerja penuh. b. Pembiayaan Defisit Dalam jangka pendek, pembiayaan defisit dengan pinjaman dari Bank Sentral tidak dapat menaikkan output. Di dalam jangka panjang hanyalah akan menaikkan harga. Demikian juga pembayaran defisit dengan penjualan obligasi dalam jangka panjang cenderung menaikkan harga. Built-in stabilizer adalah mekanisme otomatis yang mengembalikan/ mengurangi defisit ke arah seimbang. c. Aggaran Pendapatan dan Belanja Indonesia Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, atau disingkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31 Desember). APBN, Perubahan APBN, dan Pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang. Tahapan penyusunan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban APBN Penyusunan APBN. Pelaksanaan APBN Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN Struktur APBN Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini adalah: Pendapatan Negara dan Hibah
10

Pendapatan Negara dan Hibah terdiri atas: 1. Penerimaan Dalam Negeri, terdiri atas: Penerimaan Perpajakan, terdiri atas Pajak Dalam Negeri Pajak Perdagangan Internasional Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), terdiri atas: Penerimaan SDA (Migas dan Non Migas) Bagian Laba BUMN PNBP lainnya Hibah Hibah mempunyai pengertian bantuan yang berasal dari swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan pemerintah luar negeri Belanja Negara Belanja terdiri atas dua jenis: 1. Belanja Pemerintah Pusat 2. Belanja Daerah, Belanja Daerah meliputi: Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus. Pembiayaan Pembiayaan meliputi: 1. Pembiayaan Dalam Negeri, 2. Pembiayaan Luar Negeri, meliputi: Penarikan Pinjaman Luar Negeri, Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, Asumsi APBN Dalam penyusunan APBN, pemerintah menggunakan 7 indikator perekonomian makro, yaitu: 1. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah 2. Pertumbuhan ekonomi tahunan (%) 3. Inflasi (%) 4. Nilai tukar rupiah per USD 5. Suku bunga SBI 3 bulan (%) 6. Harga minyak indonesia (USD/barel) 7. Produksi minyak Indonesia (barel/hari) Fungsi APBN
11

Fungsi otorisasi Fungsi perencanaan Fungsi pengawasan Fungsi alokasi Fungsi distribusi Fungsi stabilisasi

Prinsip penyusunan APBN Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu: 1. Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran. 2. Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara. 3. Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan penuntutan denda. Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah: 1. Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan. 2. Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan 3. Semaksimah mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan memperhatikan kemampuan atau potensi nasional. Azas penyusunan APBN APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas: Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri. Penghematan atau peningkatan efesiensi dan produktivitas Penajaman prioritas pembangunan Menitik beratkan pada azas-azas dan undang-undang Negara

12

BAB VI TEORI PORTFOLIO 1. Keputusan Investasi Melibatkan Ketidakpastian (uncertainty) Fokus pada expected return Estimasi tingkat pengembalian di masa datang diperlukan untuk mempertimbangkan dan mengelola resiko Tujuannya adalah mengurangi resiko tanpa mempengaruhi tingkat pengembalian Dicapai dengan membangun sebuah portfolio investasi Diversifikasi adalah kunci Melibatkan Ketidakpastian (uncertainty) Fokus pada expected return Estimasi tingkat pengembalian di masa datang diperlukan untuk mempertimbangkan dan mengelola resiko Tujuannya adalah mengurangi resiko tanpa mempengaruhi tingkat pengembalian Dicapai dengan membangun sebuah portfolio investasi Diversifikasi adalah kunci 2. Dealing dengan Ketidakpastian Resiko atas tidak diperolehnya tingkat pengembalian seperti yang diharapkan. Investor harus mempertimbangkan distribusi probabilitas dan tidak hanya tingkat pengembalian tunggal. Distribusi probabilitas dibentuk dari memperhitungkan semua kemungkinan hasil (outcomes) berikut dengan tingkat probabilitas kemungkinannya. Distribusi probabilitas dapat bersifat discrete atau continuous distribution 3. Menghitung Expected Return Rata-rata tertimbang dari semua kemungkinan return, dimana bobot yang digunakan merupakan probabilitas kejadian dari masing-masing return. Disebut sebagai ex ante return. m E ( R) Ri pri
i 1

dimana E ( R ) expectied return dari sebuah sekuritas Ri pri m tingkat pengembali an kejadian i probabilit as tingkat pengembali an kejadian i jumlah tin gkat pengembali an yang mungkin te rjadi

13

4. Ilustrasi : Misalkan suatu sekuritas memiliki 3 kemungkinan tingkat pengembalian yaitu:

5. Menghitung Resiko Variance dan Standard deviation () digunakan untuk mengkuantifikasi dan mengukur resiko suatu sekuritas. Mengukur sebaran (spread) pada distribusi probabilitas Variance dari returns: = [ Ri - E(R)] pri Standard deviation dari returns =( ) 1 / 2 Yang relevan adalah ex ante dibanding ex post 6. Asumsi Dasar Teori Portfolio Investor ingin memaksimalkan return investasinya untuk setiap level dari resiko. Dengan kata lain juga ingin meminimalkan resikonya untuk setiap level dari return. Suatu portfolio mencakup keseluruhan asset dan liabilities yang dimiliki investor. Investor adalah risk averse.Artinya jika diberikan pilihan dua asset (investasi) dengan return yang sama, maka si investor akan memilih asset (investasi) dengan resiko lebih rendah. Terdapat suatu hubungan positif antara expected return (ER) dan expected risk (E). Dikenal dengan sebutan high risk, high return. 7. Expected Return dari Portfolio Didefinisikan sebagai weighted average dari return seluruh asset yang ada dalam portfolio tersebut, dimana weight (bobot) yang digunakan untuk masing-masing asset return adalan proporsi dari portfolio yang diinvestasikan dalam asset tersebut.
E Rp

w E R
i i i 1

Contoh: Suatu portfolio terdiri dari 3 buah asset: A, B dan C masing-masing dengan proporsi 30 % , 60 % dan 10 % . Hitunglah expected return dari portfolio tersebut jika retun dari A, B danC masing-masing adalah 10 % , 8 % dan 12 %. Jawab: E(Rp) = 0.3 (10) + 0.6 (8) + 0.1 (12)

= 3 + 4.8 + 1.2 = 9 %
14

8. Resiko Portfolio Resiko portfolio bukanlah penjumlahan sederhana dari resiko sekuritas-sekuritas yang membangun portfolio itu Tekankan pada resiko keseluruhan dari portfolio bukan resiko dari sekuritas-sekuritas secara individu. Suatu sekuritas disebut berisiko hanya jika sekuritas tersebut menambah resiko total dari portfolio Diukur oleh variance dan standard deviation dari return portfolio

2 p

n wi i 1

i2

Resiko portfolio bukanlah rata-rata tertimbang resiko individual dari sekuritas-sekuritas dalam portfolio tersebut. Resiko portfolio dapat dikurangi lewat diversifikasi (insurance principle)

9. Diversifikasi Naive diversification adalah pemilihan dari komponen-komponen portfolio secara acak tanpa melakukan suatu analisis sekuritas yang serius. Ketika size dari portfolio meningkat, total resiko portfolio rata-rata menurun. Marjinal penurunan total resiko ini makin kecil ketika jumlah sekuritas yang ditambahkan lebih banyak. Setelah suatu titik tertentu, total resiko portfolio tidak dapat dikurangi lagi.

10. Diversifikasi Markowitz Diversifikasi non-random Pengukuran dan manajemen portfolio aktif. Menginvestigasi hubungan antar sekuritas sebelum membangun portfolio Mengambil manfaat dari expected return dan resiko individual sekuritas dan bagaimana return sekuritas bergerak bersama 11. Mengukur Resiko Portfolio memperhitungkan 3 factor: Variance (risk) dari masing-masing sekuritas Covariance antara masing-masing pasangan sekuritas Bobot masing-masing sekuritas dalamportfolio

15

Tujuan: memilih bobot untuk menentukan kombinasi variance minimum untuk suatu tingkat pengembalian yang diharapkan Yang diperlukan untuk mengukur resiko portfolio: Resiko individual setiap sekuritas tertimbang Dihitung dari variance tertimbang menggunakan proporsi dari nilai dana setiap sekuritas. wi2 i2 Untuk sekuritas i: Comovements tertimbang antar returns Covariances dari return adalah tertimbang menggunakan proporsi dana masingmasing sekuritas Untuk sekuritas i, j: 2wi w j x ij ij adalah: ij i j

12. Correlation Coefficient Ukuran statistik dari asosiasi ij = correlation coefficient antara sekuritas i dan j ij = +1.0 = perfect positive correlation ij = -1.0 = perfect negative (inverse) correlation ij = 0.0 = zero correlation 13. Variance Portfolio dengan 2 Asset total risk of dari portfolio dipengaruhi oleh variance masing-masing komponen asset pembentuknya dari dari relationships antar komponen tersebut. 14. Penghitungan Resiko Portfolio Makin kecil korelasi antar sekuritas, makin baik Jumlah Covariance yang dipakai bertambah lebih banyak dengan pertambahan jumlah sekuritas n(n-1)/2 untuk n sekuritas Ketika jumlah sekuritas bertambah: Peranan covariance relationships makin bertambah Peranan Resiko individual masing-masing sekuritas berkurang Estimasi korelasi sekuritas dalam jumlah besar dalam prakteknya adalah menyulitkan. Disarankan untuk menggunakan suatu model index.

16

BAB VII TEORI INFESTASI a. Pengertian Investasi Investasi merupakan komponen pengeluaran agregat kedua sesudah konsumsi. Investasi bersumber dari dana masyarakat yang ditabung melalui lembaga-lembaga keuangan , untuk kemudian disalurkan kepada perusahaan-perusahaan. Investasi ditanamkan oleh perusahaanperusahaan dalam usaha memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Menurut Sadono Sukorno, Investasi adalah pembelanjaan atau pengeluaran para penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. b. Faktor-Faktor Yang Menentukan Jumlah Investasi Inovasi dan teknologi Tingkat perekonomian Ramalan di masa depan Tingkat keuntungan perusahaan Situasi politik suatu negara c. Teori Investasi Dari Keynes Keynes tidak yakin bahwa jumlah investasi yang dilakukan para pengusaha sepenuhnya ditentukan oleh tingkat suku bunga. Namun Keynes tetap mengaku bahwa tingkat bunga memegang peranan penting yang cukup menentukan di dalampertimbangan para pengusaha untuk melakukan investasi. Tetapi di samping faktor itu terdapat beberapa faktor lainnya yakni seperti: Keadaan ekonomi pada masa kini Ramalan perkembangan di masa depan Luasnya perkembangan teknologi yang berlaku d. Teori Investasi Akselerator Teori akselerator merupakan teori investasi yang didasarkan kepada hubungan yang kaku antara jumlah barang modal dengan jumlah pendapatan nasional yang dapat diciptakannya. Pandangan utama dari teori akselerasi dapat dinyatakan dalam dua rumusan yaitu: terdapat hubungan yang proporsional di antara jumlah barang modal yang tersedia dengan tingkat produksi nasional yang dapat diwujudkannya dan kebutuhan untuk meningkatkan produksi di masa depan memerlukan investasi yang beberapa kali dari peningkatan produksi yang perlu dilakukan. Selanjutnya rasio atau perbandingan di antara nilai stok modal yang diperlukan dengan produksi nasional yang diwujudkan dinamakan koefisien akselerasi. Pertambahan nilai barang modal dalam satu periode tertentu dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
17

DKt = It- Dt Pertambahan nilai barang modal dalam satu periode tertentu dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut: DKt = It- Dt Dimana DKt adalah pertambahan nilai barang modal pada tahun t It adalah nilai investasi pada tahun t Dt adalah nilai barang modal yang didepresiasikan pada tahun t. Hubungan di antara stok modal dan produksi nasional yang dapat diciptakandapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan: Kt = WYpt Ypt menggambarkan nilai maksimum dari nilai pendapatan nasional yang dapat diciptakan oleh barang modal yang bernilai Kt e. Teori Dana Internal Menurut teori ini, stok kapital yang diinginkan dan juga investasi bergantung pada tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan. Pembiayaan investasi perusahaan bisa berasal dari berbagai sumber seperti: Laba yang tidak dibagikan Pengeluaran depresiasi Pinjaman dan obligasi Penjualan saham Menurut teori ini penurunan pajak pendapatan perusahaan dapat menyebabkan peningkatan dalam stok dan investasi yang diinginkan perusahaan. f. Teori Investasi Neo-Klasik Teori investasi ini tidak menggunakan pemidalan yang rigid atau kaku. Untuk memaksimumkan keuntungannya perusahaan akan menggunakan suatu faktor produksi sehingga pada suatu tingkat di mana nilai produksi marginalnya sama dengan biaya yang dibelanjakan untuk memperoleh suatu unit faktor produksi tersebut. Apabila hukum ini diaplikasikan kepada tenaga kerja, berarti nilai produksi seorang tenaga kerja adalah sama dengan upah tenaga kerja tersebut. Apabila hukum tersebut diaplikasikan kepada modal keadaan yang akan memaksimumkan keuntungan modal adalah hasil penjualan produksi marginal dari modal adalah sama dengan memperoleh suatu unit tambahan modal. Dalam persamaan syarat ini dituliskan sebagai berikut: MPK = UC Dimana MPK adalah nilai produksi marginal yang diciptakan oleh seunit modal dan UC adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh modal tersebut.
18

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelanjaan perusahaan untuk mempengaruhi modal untuk melakukan investasi Suku bunga Dalam analisis neo klasik yang lebih dipentingkan adalah suku bunga riil bukan suku bunga nominal.Suku bunga riil adalah suku bunga nomonal yang dikurangi laju inflasi. Apabila berlaku inflasi suku bunga riil akan rendah. Ketika inflasi harga barang yangdijual perusahaan meningkat dan barang modalnya juga meningkat. Nilai suku bunga riil dapat dihitung dengan rumus: Rs = rn- pe Di mana Rs adalah suku bunga riil, rn suku bunga nominal, dan pe adalah tingakat inflasi. Depresiasi Pendapatan nasional Perbedaan di antara stok modal yang tersedia denganstok modal yang diperlukan. Kebijakan pemerintah. g. Teori Q Dari Tobin Selain memandang investasi dengan pendekatan neo-kalsik, para ekonom melihat adanya hubungan antara fluktuasi dalam investasi dan fluktuasi dalam pasar saham.Harga saham cenderung tinggi ketika perusahaan memiliki banyak kesempatan untuk berinvestasi, mengingat hal terebut berarti akan meningkatkan pendapatan para pemegang saham. Dengan demikian harga saham mencerminkan insentif untuk beinvestasi . Demikianlah pendapat James Tobin yang lebih dikenal dengan Tobins q.

19

BAB VIII EKONOMI SISI PENAWARAN (SUPLY SIDE ECONOMICS) Ekonomi sisi penawaran menitikberatkan pada analisis efek kebijakan pemerintah terhadap output. Ide ini sangat berbeda dengan ekonomi sisi permintaan. Penurunan pajak dapat menaikkan output. Alasannya penurunan pajak penghasilan akan mendorong orang untuk bekerja lebih giat. Demikian juga penurunan pajak perseroan, akan menambah keuntungan perusahaan yang kemudian dapat menambah investasi, kenaikan investasi akan menaikkan output. a. Aliran Sisi Penawaran (Supply Siders) Pada tahun 1971-1973 perekonomian Amerika Serikat mengalami boom karena kebijaksanaan fiskal dan moneter yang ekspansif pada periode-periode sebelumnya, sesuai ajaran Keynesian. Akibat perekonomian yang memanas, pada tahun 1973 harga-harga pangan dan bahan baku mulai naik, dan kebetulan pada tahun itu juga terjadi guncangan harga minyak akibat politik embargo yang dilakukan oleh negara-negara penghasil minyak (OPEC) yang menghantam perekonomian Amerika Serikat. Semua ini menyebabkan terjadinya goncangan pada sisi penawaran. Perekonomian mulai lesu, produksi berkurang, pengangguran semakin tinggi, dan pada saat yang bersamaan inflasi juga meninggi diiringi oleh naiknya harga-harga secara umum. Menghadapi gejala-gejala seperti disebutkan di atas para ahli ekonomi agak tersentak, sebab belum pernah menghadapi persoalan seperti ini sebelumnya. Karena gejala-gejala seperti yang diuraikan di atas agak baru, para ahli ekonomi waktu itu kurang tahu mengenai apa yang mesti diperbuat. Tingginya inflasi nampaknya menghendaki pembatasan kebijaksanaan fiskal dan moneter yang ekspansif. Tetapi goncangan penawaran telah menyebabkan berkurangnya produksi nasional, dengan demikian juga sulit untuk membatasi kebijaksanaan-kebijaksanaan fiskal dan moneter tersebut. Pada tahun-tahun sebelumnya kebijaksanaan moneter yang restriktif cukup ampuh dalam memerangi inflasi. Bahkan pada akhir tahun 1974, pada saat resesi mulai jalan, pemerintah Amerika Serikat masih mempertimbangkan suatu program peningkatan tingkat pajak untuk memerangi inflasi. Tetapi yang betul-betul dilaksanakan tahun 1975 adalah kebijaksanaan fiskal yang ekspansif. Sebagaimana dampaknya, perekonomian bergerak cepat (terjadi recovery) dan tingkat pengangguran dapat ditekan. Sementara pemerintah masih berusaha mengontrol laju pertumbuhan uang untuk menekan inflasi, tahun 1981-1982 terjadi resesi. Di ukur dari tingkat pengangguran yang diakibatkannya, resesi ini dinilai yang terburuk sejak depresi besar-besaran tahun 30-an. Pada akhir tahun 1982 akhirnya pemerintah mengabaikan rencana pembatasan uang sesuai anjuran kubu monetaris, melainkan membiarkan jumlah uang beredar tumbuh cukup tinggi untuk memerangi resesi

20

b. Program Penurunan Pajak Dan Anggaran Berimbang Kebijaksanaan yang dilancarkan negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC telah menggoncang perekonomian Amerika Serikat dua kali. Goncangan pertama terjadi pada tahun 1973/1974. Pada goncangan pertama ini harga-harga minyak naik sampai empat kali lipat dalam sekejap. Akibatnya perekonomian di negara-negara Industri mengalami resesi yang sangat parah, terburuk sesudah depresi besar-besaran tahun 30-an. Goncangan kedua terjadi tahun 1979/1980, juga oleh kenaikan harga-harga minyak. Akibat dari goncangan di sisi penawaran tersebut harga-harga jadi naik, dan inflasi melambung. Kedua goncangan tersebut membuat orang takut pada goncangan yang terjadi pada sisi penawaran, yang didorong oleh kenaikan biaya-biaya. Jika kurva penawaran bergeser ke kiri, output berkurang dan pada saat yang bersamaan harga-harga melambung. Sekarang apa kebijaksanaan dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mendorong kurva penawaran ke sebelah kanan dalam upaya mempromosikan peningkatan output nasional sekaligus membuka kesempatan kerja serta menekan laju inflasi tersebut? Cara yang dianjurkan untuk ditempuh cukup banyak, antara lain: (1) mendorong masayarakat untuk lebih rajin menabung ; (2) menurunkan tingkat pajak; (3) mendorong masyarakat untuk lebih berani mengambil resiko dalam berusaha ; (4) mendorong mobilisasi angkatan kerja, dan (5) mendorong masyarakat untuk lebih banyak bekerja di sektor riil. Langkah pertama yang mendorong masyarakat untuk lebih rajin menabung, kalau diperhatikan sangat berbeda dengan pandangan kubu Keynesian. Kubu Keynesian menganggap kegiatan menabung hanya baik untuk segolongan orang, tetapi jika hal ini dilakukan oleh semua orang, akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian nasional atau masyarakat secara keseluruhan (paradox of thrift). Kubu sisi penawaran justru melihat aktivitas menabung dari sisi positifnya, di mana dengan semakin besarnya tabungan masyarakat maka akan terkumpul dana untuk kegiatan investasi, dan selanjutnya hal ini akan mendorong peningkatan dalam produksi dan sekaligus peningkatan dalam pendapatan nasional serta pembukaan lapangan kerja baru. Kedua, dengan menurunkan tingkat pajak, maka produksi akan meningkat sebab orang akan terdorong untuk bekerja lebih rajin. Pendapat ini betul-betul "asli" dari pemikir-pemikir aliran sisi penawaran. Bagaimanapun, pendapat ini sedikit kontroversil, dan karenanya perlu akan dibahas lebih detil kemudian. Ketiga, yaitu mendorong masyarakat untuk lebih berani mengambil resiko, juga perlu dilakukan dengan menurjnkan tingkat pajak dibarengi dengan langkah-langkah deregulasi dibidang perekonomian. Dengan cara begini maka pengusaha-pengusaha akan lebih terdorong untuk melakukan investasi dan menggali inovasi serta temuan-temuan baru untuk meningkatkan produksi. Keempat, yaitu mendorong mobilitas angkatan kerja, dilakukan dengan menghentikan program-program bantuan sosial dari pemerintah, misalnya dengan mengurangi bantuan pangan (foods tamps) atau bantuan daerah-daerah miskin dan sejenisnya. Dengan dikuranginya programprogram bantuan sosial ini orang akan terpaksa mencari di lapangan atau daerah lain yang lebih
21

menjanjikan masa depan yang lebih baik. Langkah ini oleh sebagian orang dinilai terlalu "dingin" dan kurang berperikemanusiaan, tetapi pakar-pakar aliran sisi penawaran yakin hasilnya dijamin lebih efektif dalam usaha mengatasi kemiskinan. Dasar asumsinya ialah, jika golongangolongan miskin tertentu tetap dibantu, mereka akan menjadi manja, mentalnya menjadi lembek, tidak mandiri, tidak mau berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik dan di masa datang akan selalu tergantung pada bantuan pemerintah. Langkah yang terlalu dingin seperti ini tentu akan menimbulkan debat hangat di berbagai kalangan, baik di kalangan ekonomi maupun politisi (apalagi politikus) jika dianjurkan di Indonesia, terutama dengan hangat-hangatnya program Inpres Desa Miskin dalam upaya mengentaskan kemiskinan dari bumi Indonesia saat ini. Kelima, mendorong masyarakat untuk lebih banyak bekerja di sektor riil, yaitu mengarahkan masyarakat untuk lebih banyak bekerja di sektor-sektor atau bidang usaha yang betul-betul tampak hasilnya dalam peningkatan output nasional. Perluasan lapangan pekerjaan di bidangbidang sosial seperti hukum, sosial, antropologi, keguruan dan bahkan ekonomi ,serta akuntansi tidak begitu dianjurkan, sebab hasil pekerjaan mereka tidak begitu nampak dalam upaya meningkatkan produksi atau output nasional. Pandangan yang disebut terakhir agaknya relevan untuk masyarakat Indonesia saat ini, di mana sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang ada lebih banyak menghasilkan manusia yang hanya ahli dalam "bercakap-cakap", tetapi tidak begitu nampak produksi nyatanya. Jenis sarjana yang lebih dibutuhkan Indonesia di masa sekarang dan masa depan adalah para insinyur, sarjana politeknik, bukan lulusan hukum, IKIP, ekonomi, sosial, politik dan sejenisnya yang lulusannya sudah jauh melampaui jumlah yang diperlukan atau diminta pasar kerja. Dari berbagai langkah yang disebut di atas, langkah yang paling disukai dan sering diidentikkan dengan ajaran sisi penawaran ialah langkah kedua, yaitu lewat program pemotongan pajak. Pakar-pakar aliran sisi penawaran percaya bahwa pemotongan pajak tidak akan menyebabkan berkurangnya produksi nasional, tetapi justru akan meningkatkannya. Bahkan lebih jauh mereka menjamin bahwa pemotongan pajak ini sendiri tidak akan mengurangi penerimaan pemerintah dalam total pajak yang dikumpulkan. Preposisi yang diajukan oleh ahli-ahli ekonomi sisi penawaran ini jelas agak bersifat kontroversil. Pendapat umum waktu itu ialah, bahwa tingkat pajak yang lebih rendah berarti penerimaan pemerintah yang lebih rendah pula. Tetapi menurut ahli sisi penawaran tidak demikian. Pengurangan beban pajak dapat meningkatkan penerimaan pemerintah karena adanya dampak insentif terhadap partisipasi kerja yang lebih tinggi. Misalkan pada awalnya pemerintah menetapkan pajak sebesar 25 persen dari tambahan pendapatan. Jika orang menerima upah 10 dolar AS per jam, maka yang jikantonginya hanya 7,5 dolar, dan yang 2,5 dolar lari ke tangan pemungut pajak, yaitu pemerintah.

22

BAB IX PASAR VALUTA ASING 1. Arti Valuta Asing Forex (Foreign Exchange) atau Valuta Asing adalah pasar mata uang yang merupakan pasar derifatif terbesar di dunia. Perdagangan ini diawali pada tahun 1971 berdasarkan perjanjian Bretton Woods yang menetapkan perubahan nilai mata uang suatu negara dari kurs tetap menjadi kurs mengambang yang nilainya ditentukan oleh pasar. pelaku pasar valuta asing / forex Bank Sentral setiap Negara Bank Komersial Bank Devisa Lembaga Investasi Institusi Keuangan Non Bank Eksportir dan Importir 2. Fungsi Pasar Valuta Asing sarana untuk mempertemukan pihak-pihak yang membutuhkan valas dan pihak-pihak yang menyediakan sarana untuk mengetahui dan mengikuti perkembangan kurs berbagai valas sarana bagi pemerintah untuk memantau jenis dan jumlah valas Manfaat Pasar Valuta Asing dapat meningkatkan volume transaksi jual beli atau pembayaran di luar negeri mempermudah masyarakat utnuk mendapatkan alat pembayaran di luar negeri bagi masyarakat yang mempunyai valas tidak harus membelanjakan di luar negeri tetapi bisa di dalam negeri Dalam bursa valas dikenal dua macam kurs yaitu kurs jual dan kurs beli. Di Indonesia kurs resmi ditentukan oleh B I dengan nama kurs konvensi atau nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah. Kelebihan Pasar Valuta Asing sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang keadaan dan kurs valas membantu masyarakat dalam penyediaan mata uang asing memudahkan melakukan traksaksi dengan pihak asing mengurangi resiko valas Kelemahan Pasar Valuta Asing Mata uang asing bebas diperjualbelikan siapa saja sehingga dapat terjadi spekilasi yang merugikan Negara.

23

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Tauflk (ed.), Agama, Etos Kerja dan Perkembangan ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1979 Azis, Iwan J, Perkembangan ilmu ekonomi melalui lahirnya beberapa teori dan peranan pendekatan kuantitatif . Makalah disampaikan pada Kongres ISEI ke-10 di Bali, 7 9 September 1987, Bannock, Graham, R.E.Baxter, dan Ray Rees, The Penguin Dictionary of Economics, Harmondsworth, England: Penguin Book Ltd, 1997.

24