Anda di halaman 1dari 4

LEGAL OPINI LAM&PK FHUA

Kritik terhadap Peraturan Rektor No: 53.a/XIII/A/UNAND-2011 Tentang Tata Tertib Kehidupan Kemahasiswaan di Kampus

12 Januari 2011 Universitas Andalas telah menjadi pimpinan yang diktator, dimana Senat Universitas Andalas telah menetapkan Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/ UNAND-2011 tentang Tata Tertib Kehidupan Kemahasiswaan di Kampus. Peraturan Rektor tersebut mendapat banyak kritikan dan protes dari mahasiswa Universitas Andalas karena terdapat pasal-pasal yang mengekang kebebasan mahasiswa untuk berpendapat dan berekspresi sehingga menimbulkan aksi demonstrasi dan mimbar bebas terkait ditetapkannya peraturan yang tidak berpihak pada mahasiswa dan tidak demokratis. Telah Berikut pasal-pasal yang mengekang kebebasan berpendapat dan berekspresi : Pasal 7 butir 11 yang berbunyi : melakukan kegiatan baik secara individu maupun kelompok dalam kampus tanpa izin tertulis dari pimpinan baik pada tingkat jurusan/prodi atau bagian fakultas, maupun universitas. Pasal 7 butiran 12 yang berbunyi : melakukan unjuk rasa, atau demokrasi serta mengeluarkan pendapat didepan umum didalam kampus untuk mengeluarkan pikiran, dengan lisan atau tulisan tanpa pemberitahuan secara tertulis ke unversitas, fakultas, jurusan dan atau bagian terlebih dahulu. Tindakan Senat Universitas Andalas dengan mengeluarkan Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/UNAND2011 tentang Tata Tertib Kehidupan Kemahasiswaan di Kampus perlu dikritisi karena telah menabrak beberapa ketentuan perundang-undangan dan bertentangan dengan Konstitusi Negara Republik Indonesia sendiri yang telah dengan tegas memberikan jaminan terhadap penyampaian pendapat di depan umum dan berekspresi : 1. Pelanggaran UU No. 9/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum: Pasal 5, yang berbunyi : Warga negara yang menyampaikan pendapat di muka umum berhak untuk : a.mengeluarkan pikiran secara bebas; Pasal 7, yang berbunyi : Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum oleh warga negara, aparatur pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : a. melindungi hak asasi manusia;

2. Pelanggaran UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 4, yang berbunyi : Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun. Pasal 23 ayat 2,yang berbunyi : Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.
Page 1 of 4

LEGAL OPINI LAM&PK FHUA

Pasal 24 ayat 1,yang berbunyi : Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai. Pasal 25 ayat 1, yang berbunyi :Setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, termasuk hak untuk mogok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 71 ayat 1, yang berbunyi :Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia. 3. Pasal 18 UU No. 12 Tahun 2005 Tentang Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik
hak orang untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan pihak lain dan hak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat

4. pasal 28 E Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: ayat 2 : setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nurani. Ayat 3 : setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Berdasarkan UU kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, UU HAM,Kontitusi Negara Republik Indonesia, dan Ratifikasi Kovenan Sipol diatas, sangat jelas bahwa setiap warga negara bebas mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat didepan umum baik lisan maupun tulisan. kesemuanya dijamin oleh UUD untuk menyampaikan, bebas dari perlakuan diskriminatif, dan mendapatkan rasa aman. Selain itu kesemua hak diatas juga berlaku bagi setiap warga negara Indonesia dan merupakan Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dikurangi (non derogable rights) dalam keadaan apapun. Dengan demikian, seharusnya rektor memberikan perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan hak asasi manusia, termasuk didalamnya adalah menyampaikan pendapat didepan umum Indonesia. MELANGGAR KETENTUAN UU NO. 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI SERTA TEORI PERUNDANGUNDANGAN. Dalam pembuatan aturan termasuk Peraturan Rektor, harus taat kepada asas peraturan perundangundangan yang tercantum dalam pasal 5 UU No 12 Tahun 20011 meliputi kejelasan tujuan; kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; kesesuaian antara jenis dan materi muatan; dapat dilaksanakan; kedayagunaan dan kehasilgunaan; kejelasan rumusan; dan keterbukaan. Selain itu materi muatan peraturan juga harus mengacu kepada Pasal 6 UU No. 12 Tahun 2011 meliputi pengayoman; kemanusiaan; kebangsaan; kekeluargaan; kenusantaraan; bhinneka tunggal ika; keadilan; kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/Unand-2011 yang dikeluarkan oleh Rektor universitas andalas jelas sekali tidak mengacu kepada ketentuan pasal 5 meliputi kejelasan tujuan; kesesuaian antara jenis dan materi muatan; dapat dilaksanakan; kedayagunaan. Selain itu yang dijabarkan dalam UU No 12 Tahun 2011, karena tidak mencerminkan demokrasi karena universitas adalah lembaga pendidkan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pendidikan
Page 2 of 4

LEGAL OPINI LAM&PK FHUA

serta tidak mencerminkan rasa keadialn. Hal ini terlihat dalam Peraturan Rektor berbunyi Larangan Kegiatan unjuk rasa, atau demokrasi serta mengeluarkan pendapat didepan umum didalam kampus untuk mengeluarkan pikiran, dengan lisan atau tulisan tanpa pemberitahuan secara tertulis. Selain itu pembuatan Peraturan Rektor tersebut juga tidak didasarkan kepada prinsip-prinsip demokrasi, karena Peraturan Rektor ini hanya mementingkan pihak-pihak tertentu yang tak mau dikritik dan takut aktifitas yang dilakukan dia lakukan yang tidak sesuai dengan aturan yang ada ditentang oleh mahasiswa. Selain itu, peraturan rektor ini melanggar prinsip-prinsip demokrasi.Bernhard Sutor berpendapat bahwa demokrasi memiliki tanda-tanda empiris yaitu jaminan terhadap hak-hak untuk mengeluarkan pendapat, memperoleh informasi bebas,kebebasan pers,berserikat dan berkoalisi,berkumpul dan berdemontrasi,mendirikan partai-partai,bereposisi,lalu pemilihan yang bebas,sama dan rahasia.Diperkuat dengan pendapat Frans Magnis Suseno bahwa prinsip eksistensial dari demokrasi salah satunya kebebasan.Kebebasan dari segala bentuk kekangan dan kekuasaan sewenang-wenang baik di bidang agama, maupun dibidang pemikiran serta di bidang politik.Selanjutnya menurut Magnis Suseno,kebebasan adalah tanda dan ungkapan martabat manusia. Maka kebebasan adalah mahkota martabat kita sebagai manusia( etika dasar). Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/Unand-2011 terdapat beberapa pasal tidak sinkron dan tidak jelas(pasal karet) maksud dan tujuan. Pada pasal 11 menyatakan bahwa (1) setiap mahasiswa berhak menyampaiakn pendapat didalam kampus baik tulisan maupun lisan; (2) pewnyampaikan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 tidak boleh menggangu kegiatan perguruan tinggi dan kegiatan lainnya yang ada ditingkat universitas,fakultas,jurusandan bagian; (3) penyampaian pendapat diluar kampus, disamping berpedoman pada aturan tata tertiban yang berlaku di universitas andalas, juga tunduk pada peraturan perundangundangan yang berlaku; dalam pasal 7 angka 12 menyampaikan pendapat dilarang dan pada pasal 11 diperbolehkan disini terlihat bahwa pasal-pasal yang ada tidak sinkron dan bagaimana bisa penyampaian pendapat diluar kampus tuduk tata tertib kampus dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena antara tata tertib universitas sama peraturan perundang-undangan saya bertentangan dan tidak serasi. Pada pasal 17 bahwa kententuan sanksi tidak diatur secara tegas dan jelas, dimana tidak diatur kegiatan/perbuatan yang dilarang bagi mahasiswa yang akan dijatuhi sanksi.

SIKAP DAN REKOMENDASI Menyikapi Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/Unand-2011 tentang Tata Tertib Kehidupan Kemahasiswaan Dikampus, perlu disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Peraturan Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/Unand-2011 cacat secara hukum, tidak dapat diakui keberadaannya dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena bertentangan dengan UUD 1945, UU No. 39 Tahun 1999, UU No. 12 Tahun 2005, UU No. 32 Tahun 2004, UU No. 12 Tahun 2011 dan UU No. 9 Tahun 1998. Dengan demikian secara Peraturan Rektor Nomor

Page 3 of 4

LEGAL OPINI LAM&PK FHUA

2.

3.

53.a/XIII/A/Unand-2011 tentang Tata Tertib Kehidupan Kemahasiswaan Dikampus tegas harus ditolak. Tindakan Rektor Universitas Andalas mengeluarkan Peraturan Rektor Nomor 53.a/XIII/A/Unand2011 dapat dikualifikasikan sebagai tindakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), karena urusan penyampaian pendapat merupakan urusan personal yang tidak boleh dilarang oleh siapa pun sehingga Rektor Universitas Andalas tidak berwenang mengurus urusan hak demokrasi setiap warga negara indonesia termasuk melarang kegiatan penyampaian pendapat dalam bentuk apapun. Para anggota Senat harus melakukan tindakan/kebijakan untuk mencabut pasal-pasal yang bermasalah karena telah mengambil alih hak setiap mahasiswa dalam bentuk pelarangan aktivitas penyampaian pendapat, melakukan kegiatan dan berekspresi.

Page 4 of 4