Anda di halaman 1dari 2

PERCOBAAN PEREAKSI TOLLENS Pada percobaan pertama dilakukan untuk membedakan aldehida dan keton, yakni

reaksi dengan reagent tollens. Untuk membuat reagen tollens, larutan AgNO ditambah dengan beberapa tetes NaOH, hasilnya larutan menjadi keruh dan ada endapan cokelat. Reaksinya adalah: AgNO3 + NaOH AgOH + NaNO3 Kemudian ditambahkan beberapa tetes NH4OH sampai sebagian endapan larut. Setelah ditambah NH4OH, endapan AgOH sebagian dibuat larut (tidak dilarutkan semua), menghasilkan larutan tak berwarna dan sedikit ada endapan coklat. Reaksinya adalah: AgOH + NH4OH Ag2O + NH3 + 2 H2O Larutan yang dihasilkan tersebut adalah reagen tollens berupa ion perak beramoniak yang digunakan untuk membedakan aldehid dan keton. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh hasil bahwa asetaldehida jika dicampurkan dengan pereaksi tollens akan terbentuk endapan cermin perak. Sedangkan pada aseton jika dicampurkan dengan pereaksi tollens tidak akan terbentuk endapan. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa aldehid akan teroksidasi dengan penambahan reagensia tollens menghasilkan endapan cermin perak dan membentuk asam karboksilat. CH3CHO + 2Ag(NH3)2OH CH3COONH4 + 2Ag + 3NH3 + H2O

Hasil percobaan menunjukkan bahwa aldehid lebih mudah bereaksi daripada keton dengan reagen yang sama. Hal ini karena gugus karbonil pada aldehid terletak pada ujung rantai, berbeda dengan keton yang gugus karbonilnya terletak di tengah, sehingga gugus karbonil pada aldehid kurang terlindungi daripada keton. Itulah yang menyebabkan aldehid lebih dapat bereaksi dengan reagen tollens, sedangkan keton tidak.
PERCOBAAN PEREAKSI FEHLING Pada reaksi dengan fehling, diperoleh hasil bahwa asetaldehid jika dicampurkan dengan larutan fehling (campuran fehling A dan fehling B) dan diletakkan di penangas air akan terjadi perubahan warna dari biru menjadi dan hijau keruh, terbentuk endapan merah bata. Sedangkan pada aseton jika dicampurkan dengan larutan fehling dan diletakkan di penangas tidak akan terbentuk endapan (warna larutan biru). Hal ini sesuai teori bahwa aldehid mudah teroksidasi.

Hal ini dikarenakan reagen fehling mengandung ion Cu2+ yang bersifat oksidator lemah, ion tersebut dapat mengoksidasi gugus aldehid saja tetapi tidak dapat mengoksidasi gugus keton seperti halnya reagen tollens. Hasil dari reaksi asetaldehida dengan pereaksi fehling adalah endapan merah bata, endapan tersebut berasal dari Cu2O seperti reaksi berikut:

CH3CHO + 2Cu2+ + NaOH + H2O


PEREAKSI SCHIFF

CH3COONa + Cu2O + 4H+

Dalam percobaan reaksi adisi pada pereaksi Schiff untuk memenentukan adanya gugus aldehid. Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh reaksi antara asetaldehida dan pereaksi schiff diperoleh larutan berwarna pink keunguan. Sedangkan saat aseton direaksikan dengan pereaksi schiff, diperoleh larutan tidak berwarna. Menurut teori, aldehid akan menghasilkan warna ungu bila direaksikan dengan pereaksi schiff, warna ungu yang dihasilkan menunjukkan adanya gugus aldehid. Sedangkan gugus keton menunjukkan warna merah saat dilakukan pemanasan, tetapi dalam percobaan yang dilakukan tidak ada pemanasan, sehingga aseton saat ditambah pereaksi schiff tidak menghasilkan warna merah (tidak berwarna). REAKSI DENGAN NaOH Pada reaksi ini aldehida diuji dengan NaOH, berdasarkan hasil percobaan diperoleh warna larutan kuning dengan bau yang menyengat. Dalam reaksi ini menggunakan NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH yang akan berikatan dengan rantai aldehid dan akan membentuk aldoaldehid. Pemanasan dilakukan bertujuan untuk membuka ikatan karbon dengan hydrogen dan menggantikannya dengan gugus OH. CH3COH + NaOH