Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi dan sekaligus merupakan investasi sumber daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM). Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi semua pihak untuk memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatan demi

kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam UU No. 23 tahun 1992 dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan mewujudkan tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan kesehatan masyarakat yang optimal melalui pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dan tujuan nasional (Damanik, 2011). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Wawan dan Dewi, 2010). Ibu adalah orang perempuan yang telah melahirkan

seseorang; sebutan untuk wanita yang sudah bersuami; panggilan yg takzim kepada wanita yang sudah atau belum bersuami (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Upaya

untuk

mendukung

perilaku

masyarakat

agar

mendukung peningkatan derajat kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Di bidang kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana harus dipraktikkan perilaku meminta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, menimbang balita setiap bulan, mengimunisasi lengkap bayi, menjadi akseptor keluarga keberhasilan pembinaan PHBS, praktik PHBS yang diukur adalah yang dijumpai di tatanan rumah tangga (Kemenkes, 2011). Ibu hamil dan melahirkan merupakan kelompok paling rentan yang memerlukan pelayanan maksimal dari petugas kesehatan. Salah satu bentuk pelayanan yang harus diberikan kepada ibu melahirkan adalah pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (DepKes RI, 2007). Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memperihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 208/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 26/1000 kelahiran hidup (Susenas, 2010). Penyebab utama kematian ibu yang langsung adalah perdarahan 28%, eklamsia 24%, dan infeksi 11%. Penyebab tidak

langsung adalah anemi 51%, terlalu muda usia untuk hamil (< 20 tahun) 10,3 %, terlalu tua usia untuk hamil (< 35 tahun) 11,0%, terlalu banyak anak (> 3 orang) 19,3%, terlalu dekat jaraknya (< 24 bulan) 15% (Depkes RI, 2009). Di Nusa Tenggara Barat, Angka Kematian Ibu (AKI) telah mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 AKI sebesar 121 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2010 AKI sebesar 113 per 100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2011 AKI sebesar 89 per kelahiran hidup (Dikes Provinsi NTB, 2011). Dari data yang didapatkan di Dinas Kesehatan Kota Mataram menunjukkan bahwa pada tahun 2012 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah 96,70%. Puskesmas Dasan Agung cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan jumlahnya 56 (100%) Tiga kelurahan yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Dasan Agung cakupan persalinan oleh tenaga kesehatannya pada kelurahan Dasan Agung berjumlah 24 (100%), Dasan Agung Baru berjumlah 16 (100%) dan Gomong berjumlah 14 (100%) (Dikes Kota Mataram, 2012). Rendahnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dapat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan. Menurut teori Health beliefe model yang dikembangkan oleh Rosenstock (1950) dalam

Notoatmodjo (2007), kemungkinan individu untuk mengambil tindakan tepat untuk perilaku sehat/sakit dipengaruhi oleh : (1) keyakinan

tentang kerentanan individu terhadap keadaan sakit; (2) keyakinan tentang keseriusan atau keganasan penyakit; (3) keyakinan tentang manfaat; dan (4) isyarat atau petunjuk aksi (Cuest), (Notoatmodjo, 2007). Teori Health Belief Model didasarkan atas 3 faktor esensial yaitu: (1) kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suaatu penyakit atau memperkecil risiko kesehatan; (2) adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku; dan (3) perilaku itu sendiri yang dipengaruhi oleh karakteristik individu, interaksi yang berkaitan dengan informasi kesehatan, dan pengalaman yang merubah perilaku (Notoatmodjo, 2007). Komplikasi dan kematian ibu serta neonatal sering terjadi pada masa sekitar masa persalinan. Oleh sebab itu intervensi ditekankan pada kegiatan pertolongan persalinan yang aman yaitu oleh tenaga kesehatan (Depkes RI, 2009). Menurut Supartini, (2008) diharapkan setiap ibu hamil memanfaatkan petugas kesehatan seperti dokter, bidan dan perawat dalam pertolongan persalinan. Dengan memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan, ibu akan mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prinsip bebas kuman dan prosedur standar pelayanan. Jika ditemui adanya komplikasi dalam persalinan, ibu akan mendapatkan pertolongan yang tepat (Supartini, 2008). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengetahuan ibu tentang penerapan PHBS pada

persalinan

ditolong

oleh

tenaga

kesehatan

di

wilayah

kerja

Puskesmas Dasan Agung. B. Rumusan Masalah Bagaimanakah pengetahuan ibu tentang penerapan PHBS pada pertolongan persalinan oleh tenaga kesahatan di wilayah kerja Puskesmas Dasan Agung ? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui pengetahuan ibu tentang penerapan PHBS pada pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dasan Agung. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang persalinan. b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang pemilihan penolong persalinan. c. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang penolong persalinan. d. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang faktor yang

mempengaruhi ibu dalam pemilihan penolong persalinan. e. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang tempat persalinan yang aman. f. Mengidentifikasi persalinan. g. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentantang tanda-tanda pengetahuan ibu tentang tanda-tanda

bahaya persalinan. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan Memberikan gambaran tentang pengetahuan ibu tentang

penerapan PHBS pada Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Dasan Agung sebagai

bahan masukan untuk intervensi atau penyuluhan bagi ibu-ibu oleh pemberi layanan kesehatan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat terutama dalam bidang kesehatan Ibu dan Anak (KIA). 2. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai tambahan informasi, kepustakaan serta dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya. 3. Bagi Profesi Memberi informasi baru kepada rekan seprofesi serta pihak-pihak terkait sehingga dapat disusun komunikasi, informasi dan edukasi tentang penerapan PHBS pada pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Dasan Agung dengan peningkatan komunitas. 4. Bagi Peneliti Dapat memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian sehingga mampu menerapkan metodologi penelitian dalam kondisi nyata di masyarakat. mutu kesehatan dalam bidang keperawatan