Anda di halaman 1dari 10

E Government di Pemerintahan

06 SPM/KELOMPOK 1

Andreas Christian Beitro Dripper Indra Kurniawan Benny Wijaya M Khemal Hafiz

1401090436 1401086350 1401084925 1401092315 1301030865

ABSTRAK Perkembangan E Government pada pemerintahan merurupakan keharusan karena memiliki banyak manfaat yang bisa diaplikasikan, tetapi didalam pelaksanaannya terdapat faktor faktor yang mempengaruhi dalam penerapan E Government baik dari segi internal atau eksternal organisasi. Beberapa faktor, factor tersebut diantaranya adalah infrastruktur teknologi informasi, kemampuan skill pegawai, keamanan instrafstuktur IT, internal organisasi dan sosial budaya organisasi. Faktor ini berpengaruh pada tingkat keberhasilan implementasi E Government. Penelitian ini berfokus pada faktor faktor yang mempengaruhi ketika melakukan proses implementasi E Government di Lembaga Administrasi Negara. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah analisa faktor faktor yang mempengaruhi implementasi E Government yang sedang berjalan di Lembaga Administrasi Negara. Kata kunci : E- Government, Faktor penghambat

BAB 1 Latar Belakang

Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan salah teknologi yang berkembang dengan sangat pesat. Pesatnya perkembangan TIK akan membuka peluang dan tantangan untuk menciptakan (to create), mengakses (to access), mengolah (to process), dan memanfaatkan (to utilize) informasi secara tepat dan akurat. Informasi merupakan suatu komoditi yang sangat berharga di era globalisasi untuk dikuasai dalam rangka meningkatkan daya saing suatu organisasi (termasuk Pemda) secara berkelanjutan. E-government adalah salah satu bukti transformasi area kehidupan dalam sector publik yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi informasi. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah seiring dengan semakin bertambahnya penetrasi internet, sebagai bagian dari TIK, sekarang sangat mungkin meninggalkan prosedur lama yang terkesan kaku dan harus berbasis tatap muka. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia telah berinisiatif membuat kebijakan untuk memanfaatkan TIK untuk membangun Electronic Government for Good Governance yang terintegrasi mulai dari tingkat pemerintahan daerah hingga ke pusat. Tujuannya adalah agar infrastruktur TIK yang akan dibangun dapat dimanfaatkan secara bersama untuk berkoordinasi oleh seluruh instansi, baik di pusat maupun di daerah. Kebijakan pemerintah tersebut antara lain dituangkan dalam bentuk Inpres No.3 Tahun 2003 dan Keputusan Menteri Komunikasi Dan Informasi tentang Pengembangan e-Gov yang merupakan wujud keinginan pemerintah dalam upaya mendorong bangsa Indonesia menuju masyarakat yang berbasis pengetahuan (Knowledge-based Society). Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan e-Gov Indonesia antara lain berisikan panduan yang sudah disosialisasikan, seperti: 1. Panduan pembangunan infrastruktur portal pemerintah 2. Panduan manajemen sistem dokumen elektronik 3. Panduan penyusunan rencana induk pengembangan e-Gov lembaga 4. Panduan penyelenggaraan situs web pemerintah daerah

5. Panduan tentang pendidikan dan pelatihan SDM e-Gov Dari berbagai panduan tersebut, kebutuhan akan tersedianya informasi sekurang-kurangnya akan memiliki sifat-sifat sebagai berikut: cakupannya luas, mudah digunakan, terkini, aman, serta murah. E-Government pada dasarnya memberikan layanan informasi kepada sesama insitusi pemerintah (Government to Government G2G), kepada dunis bisnis (Government to Business G2B) dan kepada masyarakat (Government to Citizen G2C), dengan tujuan sbb:

1. Mampu memberikan informasi lengkap mengenai lembaga atau daerah untuk kemajuan ekonomi dan pembangunan daerah, dan peningkatan kinerja proses pelayanan (peningkatan efektivitas dan produktivitas). 2. Mampu mengoptimalkan penggunaan sumberdaya (resources) seperti waktu, tenaga, budget,dan fasilitas lainnya (peningkatan efisiensi).

Dengan menyusun kerangka e-Gov yang sistematis, akan diperoleh manfaatnya yang antara lain: (1) menurunkan biaya administrasi; (2) meningkatkan kemampuan response terhadap berbagai permintaan dan pertanyaan tentang pelayanan publik baik dari sisi kecepatan maupun akurasi; (3) dapat menyediakan akses pelayanan untuk semua departemen atau LPND pada semua tingkatan; (4) memberikan asistensi kepada ekonomi lokal maupun secara nasional; (5) sebagai sarana untuk menyalurkan umpan balik secara bebas, tanpa perlu rasa takut. Berbagai manfaat tersebut pada akhirnya diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan kepemerintahan secara umum. Definisi tentang e-government telah banyak dikembangkan baik oleh kalangan praktisi maupun akademisi sehingga definisi yang ada mengandung perspektif yang berbeda-beda. The World Bank Group (2001) mendefinisikan E-government sebagai penggunaan teknologi informasi oleh instansi pemerintah (sepertiWide Area Networks (WAN), internet, Mobile computing) yang dapat digunakan untuk membangun hubungan dengan masyarakat, dunia usaha, dan instansi pemerintah lainnya. Sedangkan definisi lain mengatakan bahwa e-government adalah penggunaan teknologi informasi untuk membuka pemerintah dan informasi pemerintah untuk

memungkinkan dinas-dinas pemerintah untuk berbagi informasi demi kemanfaatan publik, untuk memungkinkan terjadinya transaksi secara online dan untuk mendorong pelaksanaan demokrasi. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang di bahas dalam paper ini meliputi 1. . 2. 3. .. 4. .. 5. ..
6. ......

Tujuan Dan Manfaat Tujuan yang ingin diperoleh dari penulisan paper ini adalah : 1. 2. ..

Manfaat yang ingin diiperloleh dari penulisan paper ini adalah : 1. ..

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN E- GOVERNMENT Berdasarkan perkembangan e-Gov diberbagai negara, khususnya Malaysia dan di Indonesia, maka dapat diperoleh suatu lesson learned dari good practices

dan bad practices yang masing-masing negara alami. Apabila lesson learned dipadukan dengan teori yang ada, maka dapat diusulkan suatu metodologi (langkahlangkah) pengembangan e-Gov yang bisa dijadikan panduan untuk lingkungan Pemda di Indonesia. Menurut Center for Democracy and Technology dan InfoDev, proses implementasi eGovernment terbagi menjadi 3 (tiga) tahapan yang tidak tergantung antara yang satu dengan yang lainnya. Tahapan tersebut harus dilakukan secara berurutan dan masingmasing tahapan harus menjelaskan tujuan dari e-Government. Adapun ketiga tahapan tersebut antara lain, yaitu: 1. Publish, yaitu tahapan yang menggunakan teknologi informasi untuk meluaskan akses untuk informasi pemerintah, misalnya dengan cara pembuatan situs informasi di setiap lembaga, penyiapan sumber daya manusia, sosialisasi situs informasi baik untuk internal maupun untuk publik, serta penyiapan sarana akses yang mudah. Hal ini sepadan dengan teori Agarwal, yaitu tahapan tingkat 1 dari pengembangan e-Gov. 2. Interact, yaitu meluaskan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan, misalnya dengan cara pembuatan situs yang interaktif dengan publik, serta adanya antar muka yang terhubung dengan lembaga lain. Hal ini sepadan dengan tingkat 2 dan 3 dari perkembangan e-Gov. 3. Transact, yaitu menyediakan layanan pemerintah secara online, misalnya dengan cara pembuatan situs transaksi pelayanan publik, serta interoperabilitas aplikasi maupun data dengan lembaga lain. Hal ini sepadan dengan tingkat 4 dan 5 dari perkembangan e-Gov. Agar ketiga tahapan tersebut bisa terlaksana dengan baik, maka harus ada jaminan komitmen yang tinggi dari pimpinan Pemda, dalam hal bisa gubernur, bupati, atau walikota. Disamping itu, pelaksanaan e- Government harus mempertimbangkan beberapa kondisi yaitu prioritas layanan elektronik yang diberikan, kondisi infrastruktur yang dimiliki, kondisi kegiatan layanan saat ini, dan kondisi anggaran dan sumber daya manusia yang dimiliki. Untuk itu, dalam pengembangan e-Gov,

5. KENDALA YANG DIHADAPI Selain adanya usulan-usulan untuk kemajuan dan pengembangan e-Government di Indonesia, e- Government juga menghadapi berbagai macam kendala antara lain: - rendahnya kesadaran (awareness) dalam mengambil keputusan telematika - langkanya SDM yang berkualitas - minimnya infrastruktur telekomunikasi - tariff internet yang masih mahalnya serta kurang memadai - penetrasi PC yang masih rendah Semua kendala diatas perlu diperhatikan dalam mengembangkan dan menerapkan eGovernment. Namun kendala diatas tidak mutlak untuk dijadikan alasan karena terlepas dari semua kendala di atas yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan fasilitas yang ada untuk melakukan tahapan pelaksanaan e- Government untuk meningkatkan kinerja pemerintah dalam melayani masyarakat. Bila diperhatikan kinerja e-Government (e-Gov) di Indonesia selama kurun waktu 5 tahun terakhir, maka dapat dilihat bahwa hingga saat ini komunikasi yang terjadi antara pemerintah dan masyarakat masih satu arah. Hal ini berarti peran eGovernment belum dirasakan oleh masyarakat karena belum maksimalnya masyarakat dalam mengakses informasi yang ada.

Konsep e gov (indrajid)

Government to Citizes, tipe ini merupakan aplikasi e-government yang paling umum, yaitu dimana pemerintah membangun dan menerapkan berbagai portofolio teknologi informasi dengan tujuan utama untuk memperbaiki hubungan interaksi dengan masyarakat (rakyat). Dengan kata lain, tujuan utama dari dibangunnya aplikasi egovernment tipe ini adalah untuk mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya melalui kanal-kanal akses yang beragam agar masyarakat dapat dengan mudah menjangkau pemerintahnya untuk pemenuhan

berbagai kebutuhan pelayanan sehari- hari. 2. Government to Business, salah satu tugas utama dari sebuah pemerintahan adalah membentuk sebuah lingkungan bisnis yang kondusif agar roda perekonomian sebuah Negara dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dalam melakukan aktivitas sehari-harinya, entity bisnis semacam perusahaan swasta membutuhkan banyak sekali data dan informasi yang dimiliki oleh pemerintah. Disamping itu, yang bersangkutan juga harus berinteraksi dengan berbagai lembaga kenegaraan karena berkaitan dengan hak dan kewajiban organisasinya sebagai sebuah entity berorientasi profit. Diperlukannya relasi yang baik antara pemerintah dengan kalangan bisnis tidak saja bertujuan untuk memperlancar para praktisi bisnis dalam menjalankan roda perusahaannya, namun lebih jauh lagi banyak hal yang
14

Indrajit. 2006. Electronic Government : Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital. Hal.41

dapat menguntungkan pemerintah jika terjadi relasi interaksi yang baik dan efektif dengan industry swasta.3. Government to Governments, di era globalisasi ini terlihat jelas adanya kebutuhan bagi Negara-negara untuk saling berkomunikasi secara lebih intens dari hari ke hari. Kebutuhan untuk berinteraksi antar satu pemerintah dengan pemerintah setiap harinya tidak hanya berkisar pada hal-hal yang berbau diplomasi semata, namun lebih jauh lagi untuk memperlancar kerjasama antar Negara dan kerjasama antar entity-entiti Negara (masyarakat, industry, perusahaan, dan lain-lain) dalam melakukan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi perdagangan, proses-proses politik, mekanisme hubungan sosial dan budaya, dan lain sebagainya. 4. Government to Employees, aplikasi e-government juga diperuntukkan untuk meringankan kinerja dan kesejahteraan para pegawai negeri atau karyawan pemerintahan yang bekerja di sejumlah institusi sebagai pelayan masyarakat.

Washtenaw country dalam Indrajit membagi berbagai inisiatif egovernment yang ada menjadi tiga tahapan besar, yaitu18 : 1. E-Information, konsep ini terkait dengan obyektif bagaimana agar seluruh stakeholder pemerintah, terutama yang berhubungan dengan pelayanan masyarakat di satu sisi dapat menyediakan dan di sisi lain mengakses informasi secara cepat dan tepat melaui berbagai kanal akses. Program pembangunan aplikasi e-government dalam tahap ini biasanya dimulai dengan membangun website yang berisi informasi mengenai berbagai hal yang di butuhkan oleh masyarakat, yang seyogyanya merupakan tugas pemerintah untuk menyediakannya. Dengan adanya website ini diharapkan masyarakat dapat secara mandiri mencari data dan informasi yang dibutuhkannya, sekaligus memungkinkan terjadinya komunikasi yang
18

Indrajit. 2005. Loc. Cit. Hal. 56

interaktif antara mereka dengan pihak pemerintah yang membangun website tersebut. 2. E-Commerce, di mana konsep pelayanan yang ada tidak hanya berhenti pada pertukaran informasi antara masyarakat dan pemerintahnya, tetapi lebih jauh sudah melibatkan sejumlah proses transaksi pertukaran barang dan/atau jasa. Masyarakat yang selama ini perlu mendatangi kantor-kantor pemerintahan secara fisik untuk berbagai proses perijinan dan berbagai pembayaran, seperti : membuat KTP, SIM, dan penyetoran pajak bumi dan bangunan. 3. E-Democracy, dimana terjadi suatu lingkungan yang kondusif bagi pemerintah,wakil rakyat, partai politik, dan konstituennya untuk saling berkomunikasi, berkolaborasi, dan berkooperasi melalui sejumlah proses interaksi melalui media internet. Dalam kaitan ini masyarakat dapat menyampaikan penilaian dan pandangannya

terhadap kinerja pemerintah dan menyampaikan pendapatnya secara bebas kepada para wakil rakyat secara online dengan menggunakan fasilitas semacam email, mailing list, discussion/forum, chatting, dan polling. Ketiga fase ini perlu dijalankan prosesnya satu per satu secara sekuensial karena memang satu fase merupakan landasan bagi pengembangan fase berikutnya. Dengan kata lain dikatakan bahwa sulit untuk menjalankan fase kedua jika fase pertama tidak dibangun terlebih dahulu. Fase terberat tentu saja fase ketiga, dimana dibutuhkan tidak hanya infrastruktur teknologi informasi yang kuat, tetapi dibutuhkan juga perubahan kultur yang besar di masyarakat (suprastruktur).