Anda di halaman 1dari 221

LANDASAN TEORI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASING Achmad Tolla Universitas Negeri Makassar 1.

Pendahuluan Sebelum memaparkan beberapa teori belajar bahasa asing/bahasa kedua perlu lebih dahulu dikemukakan pengertian istilah yang digunakan oleh BIPA menamai pengajaran bahasa Indonesia yang dipelajari oleh orang asing. Istilah yang dimaksud adalah Pengajaran Bahasa lndonesia untuk Orang Asing. Nama ini sudah dalam beberapa pertemuan ilmiah, seperti di Bali (2001) dan sekarang ini di Makassar. Nama itu tidak lazim digunakan dalam teori belajar bahasa asing/bahasa kedua. Nama yang lazim adalah "Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing sebagai bentuk analogi dari nama yang digunakan dalam bahasa Inggris, "Teaching English as Foreign Language". Kalau nama yang digunakn oleh BIPA diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, akan menjadi "Teaching Indonesian for the Foreigner Tolk atau "Teaching Indonesian for the Foreigner Speaker". Nama ini tidak menunjukkan status yang jelas bahasa Indonesia, apakah sebagai bahasa asing atau bukan? Tujuan koreksi ini ialah agar (1) status bahasa Indonesia bagi orang asing jelas sebagai bahasa asing, dan (2) teori belajar bahasa asing/bahasa kedua yang telah dikenal secara umum, termasuk yang dibahas di dalam makalah ini, berlaku pula dalam pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Teori belajar babasa yang dibahas secara singkat dalam makalah ini terdiri atas dua bagian: (1) teori belajar bahasa yang diadaptasi dari teori belajar pada umumnya, yaitu: Teori Behaviorisme dan Teori Nativisme ( Teori Interaksionisme Kognitif dan Teori lnteraksionisme Sosial tidak dibahas di sini karena kurang berkontribusi terhadap pengajaran bahasa asing/bahasa kedua), dan (2) teori belajar bahasa kedua/ bahasa asing: Teori Monitor, Teori Pajanan Bahasa, Teori Wacana, Teori Akulturasi, Teori Akomodasi, Teori Variabel Kompetensi, dan Teori Neurofungsional. 2. Teori Belajar bahasa 2.1 Teori Behaviorisme 1

Penulis berpandangan bahwa teori behaviorisme berkontribusi terhadap teori belajar bahasa karena dia merupakan bagian dari teori belajar. Teori ini dikembangkan oleh Skinner, seorang ahli psikologi, alumnus Universitas Havard pada tahun 1931. Dalam dua bukunya masingmasing: The Behavior of Organism (1938) dan Verbal Behevior (1957), Skinner memaparkan dua macam proses belajar yang masing-masing melibatkan tingkah laku yang berbeda yaitu (1) tingkah laku responden (respondent behavior), dan tingkah laku operan (operant behavior). Tingkah laku responden dihasilkan oleh stimulus tertentu. Stimulus ini akan menyebabkan respons terjadi secara otomatis. Proses stimulus-responden dalam membentuk tiagkah laku belajar mengikuti urutan secara sistematis, yaitu stimulus baru digandengkan dengan stimulus yang sudah menghasilkan respons yang selanjutnya akan muncul lagi stimulus baru yang memancing respons, demikian seterusnya. Tingkah laku operan oleh Skinner, dikategorikan sebagai tingkah laku belajar pada umumnya. Tingklah laku operan tidak selamanya terjadi karena adarryra stimulus, tetapi dia lahir dari organisme, misalnya, berbicara, bekerja, bermain, dan berjalan tergolong tingkah laku operan. Proses belajar tingkah laku operan terjadi di bawah kondisi tertentu. Bila respons operan terjadi dan diikuti oleh penguatan, besar kemungkinan akan ada respons susulan sebagai hasil penguatan yang berbentuk ganjaran. Perihal kontribusi teori verbal behavior ini terhadap pemerolehan dan belajar bahasa, Skinner mengemukakan bahwa kita semua yang hidup dalam komunitas verbal adalah sekelompok orang sama-sama mempunyai bahasa dan membentuk bahasa kita sendiri dengan memperkuat/mendorong penggunaan bahasa yang benar dan mematahkan penggunaan yang salah (dalam Yasin" 1991:134). Proses pembentukan bahasa itu" demikian Yasin, pada umumnya dapat dilihat pada anak-anak yang sudah tentu memperoleh/memperlajari bahasa dari bentuk yang sederhana tetapi terus berlangsung sampai dewasa. Butir-butir leksikal yang tetah mereka peroleh/pelajari digunakan secara bertahap, dari paling sederhana hingga dalam sruktur yang kompleks. Kontribusi teori ini dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua iatah memberian pelueng seluas-luasnya kepada pembelajar untuk membiasakan diri mengunakan atau menyimak bahasa target. Jadi, materi pembelajaran bahasa asing yang disajikan dalam bahasa pertama 2

pembelajar, menurut teori ini, tidak akan membantu pembelajar untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa target. 2. 2 Teori Nativisme Teori belajar bahasa yang digagas oleh Chomsky (1975) ini berpijak di atas asumsi adanya bawaan bahasa pada manusia. Berdasarkan pengamatannya yang dilahirkan dengan saksama Chomsky meyakini bahwa bawaan bahasa (language faculty) yang bersifat genetis, suatu komponen di dalam otak manusia merupakan bentuk tertentu dari gramatika yang dapat ditelusuri secara manusiawi. Oleh karena itu, ungkapan "bahasa adalah cermin pikiran" menyiratkan makna yang lebih dalam dan signifikan. Potensi bahasa ini merupakan hasil olahan intelegensi manusia yang tercipta pada setiap individu dengan suatu proses yang terletak jauh di luar jangkauan keinginan atau kesadaran (Chomsky, 1975 dalam yasin, l99l:148). Bawaan bahasa (language faculty) bukanlah materi bahasa yang siap diujarkan, melainkan suatu potensi yang memerlukan pengorganisasian dengan sebuah alat yang disebutnya language acquisition devise (LAD). Alat ini diyakini dimiliki oleh setiap anak normal dan berfungsi hampir sama pada tahap pemerolehan bahasa tingkat permulaan. Alat ini sangat efektif dalam proses pemerolehan tetapi kurang efektif dalam pembelajaran formal. Melalui hipotesis bawaan, Chomsky menjelaskan bahwa pikiran manusia dapat menyerap struktur dunia secara berurutan dari yang khusus ke jenis-jenis tertentu, termasuk unsur-unsur bahasa. Implikasi teori ini dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua ialah adanya keyakinan bahwa manusia (yang normal) dapat memperoleh atau mempelajari bahasa mana pun (hipotesis universal). Adapun hasilnya sangat bergantung kepada banyak faktor, termasuk motivasi, kesempatan, dan kualitas bawaan bahasa secara genetis (intelegensi bahasa). 3. Teori Pemerolehan Bahasa Asing/Bahasa Kedua 3.1 Teori Monitor Teori belajar bahasa asing/bahasa kedua dengan model monitor merupakan jasa besar Krashen yang berkembang dengan cepat hingga saat ini. Ada lima hipotesis dasar dalam teori monitor, yaitu (1) hipotesis pemerolehan--belajar, (2) hipotesis urutan alamiah, (3) hipotesis monitor. (4) hiptesis masukan, dan (5) hipotesis saringan afektif. 3

3.1.1 Hiipotesis Pemerolehan Belajar Krashen (1983) berpendapat bahwa pembelajar bahasa kedua mempunyai dua strategi dalam mengembangkan pengetahuan bahasa kedua, yaitu melalui pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning). Pemerolehan, menurut Krahen (1982:10), adalah proses yang mirip, kalau tidak identik, dengan cara anak mengembangkan kemampuannya dalam bahasa pertama. Pemerolehan bahasa adalah proses yang tidak disadari. Pembelajar bahasa tidak selamanya menyadari unsur-unsur bahasa yang diperoleh tetapi dia menyadari unsur-unsur bahasa yang digunakan dalam komunikasi. Hasil dari pemerolehan bahasa yang berbentuk kompetensi itu pun tidak disadari. Demikian pula halnya, aturan bahasa atau kaidah bahasa yang diperoleh juga tidak disadari. Dengan pengetahuan itu, pembelajar mampu membedakan kalimat yang gramatikal dan yang tidak gramatikal, ucapan yang benar dan ucapan yang salah, kata yang benar dan kata yang salah, dan seterusnya. Namun, pembelajar tidak dapat menjelaskan kaidah yang mana yang dilanggar dan bagaimana menjelaskannya. Proses pemerolehan bahasa dengan cara demikian dapat juga disebut belajar secara implisit belajar secara informal, atau belajar secara alamiah. Cara kedua untuk mengembangkan kompetensi bahasa asing/bahasa kedua ialah dengan belajar (learning). Penggunaan istilah belajar mengacu kepada pengetahuan bahasa kedua yang disadari dalam arti, mengetahui kaidah dengan sadar dan mampu. menjelaskannya. Jadi, istilah belajar berarti mengetahui tentang bahasa" mengetahui kaidah bahasa yang digunakan oleh orang lain. Kedua jenis pengetahuan bahasa kedua yang dimiliki dari jalur yang berbeda itu, tidak hanya berbeda pemerolehannya, tetapi juga internalisasi dan fungsinya berbeda. Demikian pula sistem bahasa kedua yang diperoleh melalui jalur alamiah digunakan untuk memproduksi bahasa yang diujarkan dan berfokus pada makna bukan pada struktur bahasa. Sebaliknya, sistem bahasa yang dipelajari secara formal bertugas secara alamiah. 3.1.2 Hipotesis Urutan Alamiah Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa dan kaidah bahasa diperoleh dalam urutan yang dapat diprediksi (Krashen, 1983:28). Selanjutnya, Krashen mengaskan bahwa tidak setiap pemerolehan sekaligus 4

akan memperoelh struktur alat bahasa dalam urutan yang persis sama. Krashen dalam hipotesis ini menyadari adanya struktur yang lebih cepat diperoleh dan lainnya lebih lambat. Dalam bahasa Inggris misalnya, bentuk penanda jamak (s) seperti pada books, pencils, dan yang semacamnya cenderung lebih awal diperoleh daripada bentuk-bentuk tenses. Untuk anakanak penutur bahasa Indonesia lebih awal menguasai kata-kata vokalis, seperti: mama, papa, ibu, nenek, apa, ada dan semacamnya cenderung lebih awal diperoleh daripada kata-kata: ambil, untuk, tidak, simpan, dan semacamnya. 3.1.3 Hiipotesis Manitor Menurut Krashen (1983), hasil belajar secara sadar hanya dapat digunakan untuk memonitor data bahasa yang diperoleh secara alamiah. Bahkaq menurutBaraja (1990:53), kefasihan berbicara dalam bahasa kedua (Inggris) tidak datang dari (1) pengetahuan formal tentang bahasa kedua (Inggris), (2) aturan-aturan yang kita pelajari di kelas, dan (3) aturan-aturan yang kita pelajari dari buku teks. Monitor tidak selamanya digunakan ketika berbicara atau menulis. Penggunaan monitor dapat berfungsi secara efektif apabila (1) pembelajar mempunyai waktu untuk memikirkan dan menggunakan kaidah bahasa yang telah dipelajari, (2) pembelajar memfokuskan perhatian kepada bentuk. Untuk itra pembelajar harus benar-benar memberi perhatian kepada bagaimana sesuatu dikatakan bukan sekadar memahami apa yang dikatakan, dan (3) pembelajar mengetahui kaidah bahasa target dan mampu menerapkannya dengan tepat ketika menggunakan bahasa target itu (Gass dan Selinker, 1994:145). Dilihat dari sudut ketepatan fungsinya penggunaan monitor dapat dibedakan atas tiga cara. 1) Pembelajar menggunalon monitor secara berlebihan dengan hanya memusatkan perhatian kepada aspek kebahasaan, sedangkan aspek makna atau pesan diabaikan (over user). 2) Pembelajar memfokuskan perhatian kepada makna atau pesan sehingga faktor penggunaan kaidah bahasa dengan tepat tidak dihiraukan (under user). 3) Pembelajar memberi perhatian yang seimbang kepada, baik penggunaan cada bahasa maupun makna atau pesan yang disampaikan (optimal user). 5

3.1.4 Hipotesis Masukan Krashen (1985:2) memberi perhatian khusus terhadap hipotesis masukan dalam teori pemerolehan bahasa kedua dengan alasan bahwa bahasa kedua diperoleh dengan memahami pesan (understanding messages) atau dengan menerima masukan yang dapat dipahami (comprehensible input). Krashen memaknai comprehensible input sebagai proses memahami bahasa yang didengar atau dibaca sedikit di atas kemampuan pempebelajar sebelumnya yang dirumuskan denga i + 1. Kalau masukan mempunyai tingkat kesulitan i + l0 misalnya pembelajar tidak akan mampu memahaminya. Implikasi rumus comprehensible input ialah bahwa kemampuan berbicara atau menulis dengan lancar dalam bahasa kedua sedikit demi sedikit datang sendiri. Kefasihan berbicara menurut Krashen, bukanlah hasil pembelajaran secara langsung, melainkan kemampuan itu dibangun di atas kompetensi melalui pemahaman terhadap masukan. Apabila masukan dipahami, dan masukan itu memadai, secara otomatis kaidah bahasa terintegrasi di dalamnya. 3.1.5 Hipotesis Saringan Afektif Hal yang perlu diketahui ialah bahwa tidak setiap orang yang mempelajari bahasa kedua pasti berhasil. Penyebabnya ialah comprehensible input tidak dapat diterima dengan baik. Dalam konteks ini, menurut Krashen, faktor motiivasi, sikap, kepercayaan diri, dan keinginan sangat penting. Keempat faktor yang disebut terakhir inilah yang diasumsikan sebagai saringan afektif. Apabila saringan ini berbuka lebar, maka input akan masuk dengan leluasa. Sebaliknya, apabila saringan itu sempit atau tertutup, maka input sangat sulit masuk atau mungkin samasekali tidak masuk (?). Dalam teori monitor yang diuraikan di atas, menurut Krashen (1983), terdapat lima faktor yang turut memberi kontribusi terhadap pemerolehan bahasa. 1) Faktor kecerdasan (aptitude) Krashen beralasan bahwa faktor kecerdasan hanya berhubungan dengan jalur belajar. Kecerdasan pembelajar ini dapat menjadi indikator prediksi bagaimana dia menguasai tata bahasa dan menggunakannya sebagai alat monitor. Sebaliknya, faktor sikap (attitude) berhubungan dengan jalur pemerolehan. 6

2) Faktor peran bahasa pertama Krashen menolak anggapan bahwa bahasa pertama (L1)mengganggu pemerolehan bahasa kedua. Bahkan, dia mengatakan bahwa penggunaan L1 merupakan strategi performansi (pembelajar mencari padanan-padanan yang mungkin). Umumnya pembelajar bahasa kedua kembali ke L1-nya apabila dia kurang menguasai kaidah L2. Sebagai gantinya, dia berinisiatif berujar dengan menggunakan pola L1-nya tetapi unsur leksikalnya diambil dari L2. Inilah yang disebut bahasa antara (interlanguage). 3) Faktor kebiasaan (routines) dan pola (patterns) Krashen dan Scarcella (1981) membedakan antara kebiasaan (routines) dan pola (patterns) sebagai keseluruhan ujaran yang telah dipelajari yang muncul kembali (dingat) dan diujarkan, jadi dapat disetarakan dengan kalimat-kalimat ekspresi. Misalnya: kalimat pujian, ucapan selamat, yang dinyatakan dengan struktur dan pilihan kata yang sederhana. Ujaran seperti ini, menurut Ellis (1986) disebut formulaic speech. Krashen menolak pandangan yang memasukkan unsur kebiasaan dan pola sebagai unsur formulaic speech dan berkontribusi terhadap pemerolehan bahasa. Menurut pandangan Krashen, formulaic speech hanyalah membantu pembelajar untuk memperkaya kompetensi bahasanya; pada tahap tertentu, pola itu berkurang dan akhirnya hilang. 4) Perbedaan individu Krashen mengklaim bahwa pemerolehan mengikuti urutan alamiah. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan atau variasi setiap individu dalam proses pemerolehan. Variasi itu terjadi hanya dalam kecepatan dan jumlah masukan yang diperoleh sebagai akibat dari saringan afektif. Selain dalam kecepatan dan jumtah masukan yang dapat bervariasi, juga dalam hal performansi & kefasihan. 5) Faktor usia Usia pembelajar termasuk variabel yang menentulan keberhasilan dalarn proses pemerolehan bahasa kedua. Berbagai hasil pengarnatan menunjukkan bahwa orang berusia muda cenderung lebih cepat menyesuaikan diri dengan penutur asli, walaupun tidak dapat menyamai penutur asli. Sebaliknya orang dewasa tidak dapat melakukannya. 7

Kelebihan orang berusia muda dalam belajar bahasa kedua terletak pada kefasihan,sedangkan orang dewasa lebih cepat menguasai sistem bahasa dalam arti kaidah bahasa. Sebagai catatan, masa pubertas merupakan masamasa suram bagi pembelajar bahasa kedua. Setelah masa pubertas berlalu, saringan afektif berfungsi secara optimal. 3.2 Teori Pajanan Bahasa Hal mendasar yang ditegaskan Bialystok (1990) dalam teorinya itu ialah adanya lima macam kompetensi yang saling mengisi dalam belajar bahasa bahasa kedua, yaitu : (1) input (language eksplouser), (2) other knowledge, (3) explisit linguistic knowledge, (4) linguistic knowledge, dan (5) output. Kelima rnacam pengetahuan ini, menurut Bialystok (1980), merupakan tahapan yang hars dilalui pembelajar. Artinya, jika pembelajar ingin berhasil dengan baih maka dia harus: 1. Memiliki pengalaman bahasa melalui pajanan (language explouser) yang selanjutnya disebut input. 2. Memiliki pengalaman tentang dunia disebut other knowledge. 3. Memperoleh pajanan bahasa secara tidak dasar mengsilkan implicit linguistic knowledge. 4. Memperoleh pembelajaran bahasa secara formal menghasilkan explicit linguistic knowledge. 5. Memiliki kemampuan memberi respon dalam bahasa target dengan dua cara, yaitu: (l) respon spontan, dan (2) respon tidak spontan. Variasi materi pembelajaran bahasa sangat diperlukan jika menginginkan hasil yang optimal dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua. Ini merupakan realisasi teori belajar language expouser, Bialystok. Tujuannya ialah agar pengetahuan pembelajar tidak terkungkung di dalam bingkai babasa, tetapi harus mengenal dunia secara komprehensif. 3) Teori Akulturasi Brown (1980:129) memaknai teori akulturasi sebagai proses adaptasi terhadap budaya baru. Proses adaptasi ini sangat penting dalam pemerolehan bahasa kedua karena dia merupakan salah satu alat ekspresi budaya. Selain alat ekspresi budaya juga sebagai alat komunikasi sosial. Berkenaan dengan itu, Schumann (1978c :34 ) mengajukan premis utama teori akulturasi bahwa pemerolehan bahasa kedua hanyalah salah satu aspek 8

akulturasi dan tingkat akulfirasi seorang pembelajaar dalam target akan menjadi alat kontrol terhadap bahasa target yang telah diperoleh. Akulturasi pemerolehan bahasa kedua juga ditentukan oleh faklor jarak ssioal dan kejiwaan antara pembelajar dan budaya bahasa target. Jauh dekatnya jarak itu, mempengaruhi timbulnya : I) Language shock, yang diakibatkan adanya pengalaman buruk pembelajar dalam menggunakan bahasa target; II) Culture shock, pembelajar merasa salah arah, stres, dan ketaktsan, sebagai akibat dari perbedaan budaya pembelajar dengar, masyarakat bahasa target; dan III) Motivasi, dorongan kuat/lemah yang dimitih pembetajar untuk mempelajari bahasa target. Jadi, dapat disimputkan bahwa makin kuat kemampuan pembelajar mengadaptasi bahasa target, makin besar kemungkinan berhasil mernpelajari bahasa itu. Sebaliknya, language shock dan culture shock menjadi penghambat dalam mempelajari bahasa target. Solusi yang tepat adalah pengajaran bahasa diimbangi dengan studi lintas budaya agar pembelajar dapat menempatkan secara proporsional antara budaya asli dan impor yang terimplisit di dalam bahasa masing-masing. 4) Teori Akomodasi Teori akomodasi ini diturunkan dari basil penelitian Giles ((1982) tentang bahasa dalam masyarakat multibahasawan. Fokus pengamatan Giles ialah bagaimana antarkelompok itu menggunakan bahasa sebagai refleksi sosial dan tingkahpsikologis. Hasil penelitian inilah yang melahirkan teori akomodasi dalam studi Sosioliinguistik. Karena teori ini memiliki kesesuaian yang signifikan dengan teori Eilis (1986) memodifikasi dan merekomendasikan menjadi salah satu bahasa asing/bahasa kedua. Teori ini berasumsi bahwa dalam komunikasi dua arah atau interaksi bersemuka, di satu sisi , pembicara berusaha menyesuaikan diri dengan mitra tuturnya. Penyesuaian adalah modifikasi ujaran agar mudah diterima dan dipahami oleh mitra tutur. Kebiasaan asli menyederhanakan batasanya ketika berbicara dengan penutur asing adalah salah satu bentuk modifikasi. Tujuannya ada dua yaitu: (l) mitra tutur pesan atau tujuann komunikasi yang disampikan, dan dengan demikian terjadi komunikasi dua arah. dan (2) bahasa yang termodifikasi akan menjadi masukan yang dapat dipahami (comprehensible input) bagi mitra tutur. Demikian pula, kalau berbicara dengan anak-anak, orang tua pada umunnya berusaha menyesuaikan 9

sehingga terjadi komunikasi dua arah. Penyesuaian ini disebut konvergensi atau berkonvergensi. Di sisi lain, penutur tidak menyesuaikan bahasanya dengan bahasa mitra tutur. Walaupun, kadang-kadang menyulitkan mitra tutur, namun strategi ini memaksa mitra untuk terus berusaha memahami bahasa penutur. Dampak yang diharapkan adalah motivasi mitra tutur untuk terus meningkatkan penguasaan bahasa target bagi penutur asing, dan bahasa orang dewasa bagi anak-anak. Strategi demikian disebut divergensi atau berdivergensi. lstilah simplifikasi(simplification) dikenal dalam semua aliran atau pendekatan pengajaran bahasa. Strategi penerapannya pun sama atau hampir sama pada semua itu. Yang berbeda mungkin, hanya cara penyajiannya. Dalam pengajaran asing/bahasa kedua simplifikasi atau penyederhanaan materi pembelajaran dan ujaran guru atau tutor sangat diperlukan pada tahap awal. Secara bertahap, simplikasi dapat ditinggalkan apabila pembelajar telah mampu mengikuti pengguaan bahasa target secara normal. Dengan demikian, teori akomodasi cocok diterapkan dalam pengajaran asing/bahasa kedua. 3.5 Teori Wacana Teori ini diturunkan dari teori penggunaan yang berlatarbelakang kompetensi komunikatif yang dikembangkan oleh Hymes (1983). Hymes berpandanganbahwa perkembangan bangsa pembelajar bergantung kepada bagaimana dia menemukan makna bangsa yang potensial ketika berpartisipasi dalam komunikasi. Proses demikian menurut Halliday (1975), sama dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Dalam kajiannya tentang bagaimana seorang anak memperoleh bahasa ibunya, Halliday melihat bahwa perkembangan kaidah bahasa anak tumbuh melalui fungsi interpersonal bahasa yang realisasinya senantiasa berwujud wacana. Melalui komunikasi dengan orang lain,anak berinteraksi dengan dunia luar dan secara tidak sadar dia telah mengembangkan kaidah sruktur bahasa dan penggunaannya. Proses pemerolehan bahasa kedua mirip dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Dalam proses pemerolehan bahasa, pembelajar juga mengembangkan kaidah bahasa dan penggunaan bahasa melalui komunikasi interpersonal. Kondisi ini sesuai asumsi hipotesis urutan alamiah yang mengklaim adanya kemiripan bahasa kedua dengan bahasa pertama. 10

Verifikasi kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama telah dilakukan oleh Flarch (1978c) dengan kesimpulan sebagai berikut : I) Pemerolehan bahasa kedua mengikuti urutan alamiah dalam pengembangan perangkat sintaksis. II) Penutur asli sangat bijaksana ketika berinteraksi dengan penutur asing sebagai upaya merundingkan makna atau pesan. III) Strategi percakapan digunakan untuk merundingkan makna, di samping berfungsi sebagai input yang berpengaruh tertadap kecepatan pemerolehan bahasa kedua dengan berbagai cara: pembejar memperoleh tata bahasa L2 dalam urutan yang sama tetapi hasilnya bergantung kepada frekuensi input yang diterima; pembelajar memperoleh tata bahasa secara umum, kemudian mengalisisnya menjadi bagian-bagran berdasarkan substansinya; pembelajar terbantu (oleh tata bahasa) dalam membangun struktur kalimat dan dari kalimat-kalimat menjadi wacana. Hymes dan Flalliday adalah dua tokoh linguistik yang memberi perhatian besar kepada pengajaran bahasa. Hymes mengembangkan kompetensi komunikatif yang selanjutnya diterapkan di dalam pengajaran bahasa, termasuk bahasa asing/bahasa kedua, lewat pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif mensyaratkan materi pengajaran bahasa disajikan dengan tema-tema yang terpapar di atas wacana agar komponen kebahasaan tidak terpotong-potong. Halliday tertarik mengembangkan program pengajaran bahasa termasuk bahasa asing/bahasa kedua dengan menekankan penerapan fungsi dalam komunikasi. Ada tujuh fungsi bahasa yang diajukan oleh Halliday, yaitu: instrumental, regulatori,representatif interpersonal, personal, heuristik, dan imajinatf. Tidak satu pun fungsi-fungsi bahasa ini yang dinyatakan secara diskrit, tetapi dengan wacana-wacana yang fungsional. 3.6 Teori Variabel Kompetensi Ellis adalah salah seorang penggagas teori variabel kompetensi (aslinya,Variabel Competensi Model). Model atau teori ini didasarkan pada dua hal (1) proses penggunaan bahasa process),dan (2) produksi bahasa (product). Oleh pencetusnya, teori ini dipandang efektif menjadi kerangka acuan pemerolehan bahasa kedua. 11

Istilah proses (process) penggunaan bahasa dipahami dalam dua cara, yaitu: (1) pengetahuan linguistik (kaidah bahasa), dan (2) ke mana pun menerapkan kaidah itu di dalam penggunaan bahasa (procedures). Widdowson (1984) mengidentifftasi pengetahuan kaidah bahasa sebagai competence dan pengetahuan prosedur sebagai kemampuan menggunakan kaidah bahasa dalarn membangun wacana (capacity). Pengetahuan kaidah bahasa berfungsi mengawasi penggunaan kaidah di dalam wacana (communicative competence), dan capacity adalah kemampuan mengembangkan makna di dalam wacana dengan melacak potensi makna di dalam bahasa melalui komunikasi secara terus-menerus. Produksi wacana melalui proses ini umumnya berwujud: (1) wacana yang direncanakan (planned discourse),dan (2) wacana yang tidak direncanakan ( unplanned discourse). Sebagai kesimpulan teori ini, Ellis merekomendasikan bahwa: l) Pengembangan wacana adalah hasil: a. pemerolehan kaidah L2 yang baru melalui partisipasi dalam komunikasi dengan berbagai macam wacana; b. penggiatan kaidah L2 yang sifatnya inisiatif internal (implisit), umumnya menghasilkan wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse). 2) proses adalah suatu kapasitas penggunaan bahasa yang menghasilkan wacana; 3) performansi L2 adalah hasil dari variabel (1) kaidah L2 yang tidak dapat dianalisis yang mengasilkan wacana yang tidak direncanakan dan (2) kaidah L2 yang dapat dianalisis yang menhasilkan wacana yang direncanakan 4) pengetahuan sederhana merupakan variabel kaidah bahasa antara (interlanguage rules). Implikasi teori variabel kompetensi dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah penyeimbangan pembelajaran kaidah bahasa dan penerapannya di dalam penggunaan bahasa. Dengan topik apapun, materi pembelajaran harus disajikan dalarn wacana, baik wacana yang tidak direncanakan unplaned disourse) maupun wacana yang direncanakan planed discourse). 3.7 Teori Neurofungsional Teori ini lebih dikenal dengan nama Lamandella's Neurofuctional Theory. Lamandella (1981) membedakan dua tipe dasar pemerolehan 12

bahasa: (l) primary Language acquisition dan (2) secondary language acquisition. Yang pertama berlaku pada anak usia 2-5 dalam pemerolehan satu atau lebih bahasa sebagai pertamanya Yang kedua terbagi dua bagian, yaitu: (a) belajar secara formal bahasa asing/bahasa kedua, dan (b) pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah setelah anak berusia di atas lima tahun. Kedua macam pemerolehan bahasa itu mempunyai sistem neurofungsional yang berbeda dan masing-masing mempunyai fungsi hirarkis. Lamandella menunjukkan fungsi-fungsi hierarkhis itu sebagai berikut. 1) Hirarkis komunikasi: bertanggungjawab menyimpan bahasa dan simbol-simbol lain melalui komunikasi interpersonal. 2) Hirarkis kognitif: berfungsi mengontrol penggunaan bahasa dan kegiatan pemrosesan informasi kognitif. Pola latihan-latihan praktis dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah bagian dari hierarki kognitif. Implikasi fungsi hierarkis komunikasi dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa akan berjalan secara efektif apabila pembelajar memperoleh banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang lain lebih baik dengan penutur asli, dengan menggunakan bahasa target. Untuk merealisasikan kesempatan itu, ruang kelas atau tempat belajar dikondisikan sebagai tempat pemerolehan bahasa. Adapun hierarkis kognitif berkonsekuensi pada pembelajaran kaidah bahasa secara teratur agar dengan kaidah itu pembelajar dapat mengontrol penggunaan bahasa. Dalam hal ini, teori neurofungsional sejalan dengan teori monitor. 4. Penutup Uraian singkat teori belajar bahasa yang direkomendasikan untuk dijadikan landasan teori pengajaran bahasa lndonesia sebagai bahasa asing ini betullah dapat mewakili semua variabel yang mungkin dijumpai di lapangan. Pakar pengajaran bahasa yang berpengalaman akan sangat bermakna sumbangannya apabila sernpat membaca tulisan ini dan berkesempatan menunjukkan kelemahan-kelemahan yang menjadi tanggung jawab penulis. Ke depan, tantangan pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mungkin suatu waktu menjadi bahasa kedua di negera lain, tidak 13

mudah. Suatu saat pengajaran konvensional tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya jalan karena perangkat teknologi modern akan jauh lebih efektif dengan biaya murah dan mudah diperoleh. Pada waktu itulah akan terjadi modifikasi teori pengajaran, yang apabila tidak diantisipasi sejak dini, kita akan semakin ketinggalanjauh. Mudah-mudahan yangdilakukan ini, walaupun sangat sederhana, paling tidak memberi motivasi untuk berbuat yang lebih baik. BACAAN Baradja M.F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa Malang: Penerbit IKIP Malang. Brown, H. 1980. Principle of Language Learning and Teaching. Englewood Cliff Prentice Hall. Chomsky, Noam. 1975. Reflections and Language. New York: Pantheon Books. Ellis, Rod 1984. Classroom Second Language Development. Oxford: Pergamon. Ellis, Rod. 1986. Understanding Second Language Acquisition Oxford: Oxford University Press. Gass, Susan M dan Selinker. 1994. Second Language Acquisition: An Introduction Course. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Giles, Fl dan J: Birne. 1982. An lntergroup Approach Second Language Acquisition. Jurnal of Multilingual and Multicultural Development, 3,17-40. Hatctt, E. 1978a. Second Language Acquisition. Rowly, Mass: Newbury House. Hymes, Dell. 1983. On Communicative Competence. Philadelpia: University of Pennsylvania Press. Krashen, S.J. 1982. Principles and Practice in Second Language Aquisition. Oxford: Pergamon. Krashern Si. dan T. Tenell. 1983. The Natural Approach: Language Acquisition in Classroom. Oxford: Pergamon. Scarce R., dan C. Higa. 1981. Input, Negotiation and Age Diftences in Second Language Acquisition .Language Learning,3 1, 409-438. 14

Yasin, Anas. 1991. Gramatika Komunikatif: Sebuah Model. Disertasi tidak diterbitkan. Program Pascasarjana IKIP Malang.

MODEL KOMPOTENSI KOMUNIKATIF DI DALAM KELAS


Prof. Dr. Achmad Tolla, M.Pd.

A. PENDAHULUAN Langkah awal yang dipandang paling signifikan bagi pembicaraan kompetensi komnikatif adalah dengan meriviu kembali konsep awal kompetensi komunikatif yang ditemukan dalam berbagai sumber atau pustaka. Salah satu pandangan yang banyak mendapat respon dari kalangan ahli pengajaran bahasa adalah pandangan yang dikemukakan oleh Canale dan Swain (1980). Konsep kompetensi komunikatif dari Canale dan Swain itu bukanlah hasil pemeikiran sesaat, melainkan suatu konsep yang lahir dari suatu pengamatan melalui survei ekstensif tentang kompetensi ini. Salah satu kesimpulan hasil survei itu ialah bahwa kompetensi komunikatif merupakan landasan teoretis pendekatan komunikatif Tujuan yang dikembangkan dalam pengajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif itu adalah untuk mengembangkan kerangka teoretis bagi rancangan dan evaluasi kurukulum berikutnya dalam program L2. 15

Kerangka yang diajukan dan diperbaiki selanjutnya oleh Canale dan Swaim pantas mendapat perhatian karena kerangka kerja tersebut membawa bersama berbagai pandangan kemampuan komunikasi yang kita pertimbangkan dan menempatkan kemampuan linguistik, atau kemampuan tata-bahasa level kalimat, ke dalam perspektif yang tepat dalam konsepsi kemampuan komunikasi yang lebih besar. Empat komponen kemampuan komunikasi yang diidentifikasi dalam kerangka ini adalah kemampuan tata-bahasa (grammar competence), kemampuan sosiolinguistik (sociolinguistic competence), kemampuan wacana (discourse competence), dan kemampuan strategi (strategic competence). Seluruh bagian ini menguraikan mengenai sifat dari tiap-tiap komponen ini dengan contoh-contoh dari pembelajaran dan pengajaran bahasa. Keempat komponen ini menunjukkan kemampuan komunikasi sebagai basis bagi rancangan kurikulum dan praktek ruang kelas. A.PEMBAHASAN 1. Kemampuan Tata Bahasa (Gramatical Competence) Kemampuan tata-bahasa adalah kemampuan linguistik, dalam pengertian terbatas dari istilah tersebut seperti yang digunakan oleh Chomsky dan kebanyakan ahli linguistik lainnya. Kemampuan tata-bahasa merupakan bagian dari penampilan tata-bahasa yang tidak familiar bagi kita, yakni, pembentukan tata-bahasa yang memberi fokus studi L2 selama berabad-abad. Deskripsi tata-bahasa yang telah diikuti adalah berbeda. Tata-bahasa tradisional, yang memberi aturan penggunaan yang tepat bagi bahasa tulisan, memiliki fondasinya dalam kelas kata atau kategori makna yang terbentuk untuk bahasa Yunani dan Latin. Tata-bahasa struktural berfokus pada bahasa 16

lisan dan memberi analisis bentuk-bentuk permukaan yang bisa diobservasi dari pola-pola distribusinya. Tata-bahasa generatif transisional berkaitan dengan hubungan antara penafsiran tata-bahasa terhadap kalimat dan struktur permukaan sebagai cara menemukan kategori universal tata-bahasa dan sifat proses kognitif manusiawi pada umumnya. Meskipun definisi-definisi berbedabeda, tujuan dalam setiap kasus adalah deskripsi tepat mengenai karakteristik formal bahasa pada level kalimat. Tata-bahasa khusus menunjukkan upaya untuk menggambarkan bagaimana elemen-elemen bahasa bergabung secara sistematis. Dalam memutuskan apakah struktur tertentu muncul ataukah tidak atau mungkin didasarkan pada frekuensi kejadian dari struktur ini dalam ujaran dan tulisan dari pembicara asli degan praktek lama dalam penggunaan bahasa. Data dan pertimbangan ini memberi ahli linguistik suatu basis untuk menyatakan suatu aturan. Tidak ada tata-bahasa yang lengkap karena prilaku bahasa bersifat komplek dan dewasa ini menghindari sistematisasi yang memuaskan. Hubungan antara setiap tata-bahasa dengan pembelajaran bahasa masih merupakan masalah. Para pengguna bahasa yang berpengalaman bisa memberi data kepada para ahli linguistik yang dibutuhkannya untuk merumuskan aturanaturan linguistik. Namun para pembicara asli yang sama tidak akan mampu merumuskan aturan-aturan sendirian. Tidak satu pun dari para pembicara asli menggunakan bahasa melalui pembelajaran pertama aturan-aturan tersebut. Kenyataanya, aturan-aturan tersebut sangat kompleks sehingga para ahli linguistik yang merumuskannya tidak bisa mengingat semuanya. Para ahli linguistik berada di antara para pengkritk yang terang-terangan terhadap upayaupaya menerapkan diskripsi linguistik pada pengajaran bahasa kedua. 17

Komentar-komentar yang dibuat oleh Chomsky pada Komprensi Timurlaut tahun 1966 mengenai pemngajaran bahasa asing bersifat legendaris. Saya ingin menjelaskan sejak permulaan bahwa saya berpartisipasi dalam komprensi ini bukan sebagai seorang ahli mengenai tiap aspek pengajaran bahasa, malah sebagai seseorang yang perhatian utamanya adalah dengan struktur bahasa dan sifat proses kognitif. Selanjutnya, sejujurnya saya agak skeptis mengenai signifikansi bagi pengajaran bahasa dengan pandangan dan pemahaman seperti itui seperti yang diperoleh dalam linguistik dan psikologi. Tentu saja, guru bahasa akan tetyap terimpormasikan mengenai kemajuan dan bahasan dalam bidang ini dan upaya-upaya ahli linguistik dan psikologi untuk mendekati masalah pengajaran bahasa dari pandangan berprinsip. Masih sulit dipercaya bahwa linguistik atau pun psikologi mencapai level pemahaman teoretis yang bisa memungkinkannya untuk mendukung teknologi pengajaran bahasa. (Chomsky 1966:43). Kemampuan tata-bahasa adalah penguasaan kode linguistik, kemampuan untuk mengenali karakteristik leksikal, morfologis, sintaksis, dan psikologis pada sebuah bahasa dan memanipulasi karakteristik-karakteristik ini untuk membentuk kata dan kalimat. Kemampuan tata-bahasa tidak terkait dengan giap teori tata-bahasa tunggal, dan tidak mengasumsikan kemampuan untuk mengeksplisitkan aturan-aturan penggunaan. Seseorang menunjukkan kemampuan tata-bahasa dengan menggunakan sebuah aturan, bukan dengan menyatakan sebuah aturan. 2. Kemampuan Sosiolonguistik (Sosiolinguistics Competentence) 18

Kemampuan tata-bahasa merupakan domain penelitian linguistik yang tepat, kemampuan sosiolinguitik merupakan bidang penelitian antar-disiplin yang harus dilakukan dengan aturan-aturan sosial penggunaan bahasa. Kemampuan sosiolinguistik memerlukan pemahaman kandungan sosial di mana bahasa digunakan: peran-peran para peserta, informasi yang mereka miliki bersama, dan fungsi interaksi. Hanya dalam konteks ini bisa dibuat pertimbangan mengenai ketetapan ucapan tertentu dalam istilah-istilah yang diperluas oleh Hymes. Meskipun kita harus merumusklan deskripsi memuaskan tentang kode bahasa, namun kita jauh dari deskripsi yang tepat mengenai aturan-aturan ketetapan sosiolinguistik. Namun pembicara asli mengetahui aturan-aturan ini dan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan berhasil dalam situasi yang berbeda. Salah satu tujuan analisis antar-budaya adalah mengekspisitkan aturanaturan sebuah budaya dan hal ini akan membantu orang-orang non-asli untuk memahami dan menyesuaikan lebih mudah terhadap pola-pola yang mereka tidak kenal. Pertimbangan ketetapan meliputi lebih dari sekedar mengetahui apa yang akan dikatakan dalam suatu situasi dan bagaimana mengatakannya. Pertimbangan ketetapan melibatkan kegiatan mengetahui ketika tetap diam. Atau ketika tampak tidak tampak (incompetent). Wanita dari tiap generasi mungkin ingat saat diperingati oleh ibunya agar tidak berbicara terlalu banyak dalam kelas, tidak pamer kepada anak laki-laki, dan menasehatkan untuk bertindak diam pada suatu kesempatan untuk memberi pria dalam kehidupan mereka suatu perasaaan keunggulan. Kemunculan ketidakmampuan dalam hal ini dianggap tepat. Yakni, sebuah tanda kemampuan sosiolinguistik. Demikian pula, Saville-Troike (1982) mengutip contoh-contoh dari beberapa komunitas 19

bahasa di mana bercakap dengan cara yang canggung dan ragu-ragu adalah tepat apabila seseorang yang bercakap dengan orang-orang dengan kedudukan yang lebih tinggi. Ia selanjutnya menunjukkan bahwa pembicara bahasa kedua mungkin ternasehati dengan baik dalam beberapa hal agar tidak bersuara terlalu mirip pembicara asli karena ketakutan akan tampak menggangu (intrusive) atau sebaliknya, tidak loyal (disloyal) dari perspektif komunitas L1 milik pembicara tersebut. Berlawanan dengan itu, terdapat kemampuan sosialbuadaya tertentu yang dibuktikan oleh pembicara L2 yang mempertahankan secara bijaksana daftar resmi atau gaya berbicara akademik dalam beberapa situasi di mana daftar yang familiar atau tidak resmi mungkin tapat bagi pembicara asli. Pembicara L2 ini menyadari bahwa bahasa yang tepat atau buku sekolah sesuai dengan peran orang asing atau orang luar negeri yang dilekatkan pada mereka oleh pembicara asli dan lebih mungkin memajukan komunikasi yang berhasil. Observasi serupa bisa dilakukan untuk perbedaan-perbedaan dalam dialek. Kejadian taman bermain sekolah yang diceritakan oleh anak perempuan saya yang berumur sepuluh tahun (yakni Julie) merupakan sebuah kasus yang dibahas. Kelasnya sedang mempelajari sebuah teks kesenian bahasa yang menggambarkan penggunaan ungkapan populer (slang) dan memberikan contoh-contoh ungkapan populer Amerika menyenangkan (groovy), naungan (shades), banyak mengetahui (hep-cat), segarkan pikiranku (blow my mind), pria mengagumkan (cool man). Julie merupakan peniru mahir dan suka bermain peran. Selama istirahat, ia menghibur temannya dengan jivin/aktingnya, menggunakan kata-kata yang telah ia pelajari dengan semua mimik dan gerakan tubuh yang tepat. Teman kelasnya yang berkulit hitam 20

bereaksi dengan tegas: Anda semua jangan bertindak seperti itu. Orang Amerika berbicara seperti itu. Anda semua menjadi tetangga kami yang berbicara seperti itu, anda semua ingin mati! Di antara orang dewasa, pesan seperti itu lebih halus. Pelewatan batasbatas sosial atau linguistik bisa bertemu dari sesuatu dari sebuah senyuman sampai penghindaran selanjutnya. Pengguna L2 yang berhasil memiliki pengertian mengenai jarak yang tepat untuk dipertahankan dan cara-cara di mana jarak itu diberi tanda. Pemahaman ini sangat penting pada teori kemampuan sosiolinguistik. 3. Kemampuan Wacana (Discurse Competence) Kemampuan wacana (discourse competence) tidak dilakukan dengan penafsiran kalimat secara terpisah tetapi dengan serangkaian kalimat atau ujaran untuk membentuk makna secara keseluruhan. Seperti halnya kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana merupakan subjek dari penelitian antar-disiplin. Teori dan analisis wacana menggabungkan banyak disiplin misalnya, linguistik, kritik kesusastraan, psikologi, sosiologi, filsafat, antropologi, media cetak dan siaran. Pengenalan tema atau topik dari sebuah paragraf, bab, atau buku, mendapat intisari percakapan telepon, puisi, iklan televisi, memo kantor, resep, atau dokumen hukum memerlukan kemampuan wacana. Tampak dari contohcontoh sebelumnya bahwa pola pengaturan wacana berbeda-beda, tergantung pada sifat teks dan konteks yang tampak. Akan tetapi, pola-pola benar-benar ada dan berperan penting dalam penafsiran dan pernyataan makna, makna global yang selalu lebih besar daripada jumlah kalimat atau ujaran individual 21

yang menyusun sebuah teks. Deskripsi berbagai struktur yang mendasari wacana kadang-kadang disebut sebagai tata-bahasa wacana (discourse grammar) (Morgan 1981). Hubungan yang muncul antara kalimat-kalimat sering tidak eksplisit. Yakni, mungkin tidak ada pernyataan jelas mengenai keterkaitan antara satu dalil dengan dalil lainnya. Berdasarkan pengetahuan umum tentang dunia nyata, serta pengenalan dengan konteks tertentu, pembaca/pendengar menyimpulkan makna. Makna sebuah teks tergantung pada nilai, maksud, tujuan dari pembaca/pendengar, serta nilai, maksud, tujuan dari penulis/pembicara. Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan peran kesimpulan dalam penafsiran wacana: 1. Chico tiba-tiba berbalik dan berlari karena ia melihat polisi datang ke jalan itu. 2. Chico melihat polisi datang ke jalan itu. Tiba-tiba ia berbalik dan berlari. Dalam kalimat contoh (1), hubungan antara kedua proposisi, yakni Chico tiba-tiba berbalik dan berlari dan ia melihat polisi adalah eksplisit. Pengetahuan kita mengenai tata-bahasa dan makna konvensional dari kata karena memungkinkan kita menghubungkan dua bagian kalimat tersebut. Dalam wacana contoh (2), kemampuan tata-bahasa sendiri tidak akan memberi makna. Penafsiran memerlukan kemampuan untuk membuat kesimpulan logis dari situasi. Kita bisa menafsirkan dengan baik wacana untuk memaknai Chico berbalik dan berlari karena ia melihat polisi datang ke jalan itu. Tetapi hal demikian mengharuskan kita membuat asumsi-asumsi tertentu mengenai Chico, polisi, jalan itu, dan lain-lain. Yakni, kita menciptakan skenario dalam 22

kepala kita. Penafsiran kita bisa dengan mudah tidak tidak berlaku oleh faktorfaktor kontekstual yang tidak kita sadari. Untuk ilustrasi, kejadian yang melibatkan Chico dan polisi mungkin disimpulkan sebagai berikut: Chico melihat datang ke jalan itu. Tiba-tiba ia berbalik dan berlari. Bis jalanan kelima baru saja melewatinya dan ia akan terlambat ke sekolah lagi! Tidak ada waktu untuk bertanya mengenai Pedro. Mungkin besok. Keterpaduan/koherensi teks adalah hubungan dari semua kalimat atau ujaran dalam sebuah teks pada proposisi global tunggal. Pembentukan makna global atau topik untuk bagian bacaan, percakapan, buku secara keseluruhan, dan lain-lain merupakan bagian integral dari pernyataan maupun penafsiran dan memungkinkan pemahaman kalimat atau ujaran individual yang termasuk dalam sebuah teks. Hubungan lokal atau kaitan struktural antara kalimatkalimat individual memberi apa yang disebut sebagai kohesi/perpaduan (cohesion), suatu jenis perpaduan tertentu. Beberapa contoh mengenai alat-alat kepaduan resmi yang digunakan untuk menghubungkan bahasa dengan dirinya adalah kata ganti, kata hubung, sinonim, elipsis/tanda pengganti, perbandingan, dan struktur pararel. Identifikasi oleh Halliday dan Hasan (1976) mengenai berbagai alat perpaduan yang digunakan dalam bahasa Inggris dikenal baik, dan mulai memiliki pengaruh pada analisis teks serta pengajaran dan bahan pengujian untuk Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua [English as a second language (ESL)]. Penelitian Kaplan (1966) mengenai retorika perbedaan merupakan sebuah contoh analisis wacana yang diterapkan pada pengaturan paragraf dalam konteks ESL. Diagramnya yang terkenal mengilustrasikan apa yang ia anggap 23

merupakan pola dominan wacana tulisan resmi dalam kelompok bahasa utama. Diagram-diagram ini berupaya menggambarkan bagaimana pola-pola pemikiran dibentuk dalam gaya tulisan resmi. Maksudnya adalah untk menandai perbedaan-perbedaan dalam gaya pengaturan dan untuk membantu pebelajar dalam penafsiran dan pembentukan teks L2. Agar meyakinkan, model-model yang diajukan mungkin mencerminkan bias budaya sama banyaknya dengan poembentukan paragraf dalam bahasa Inggris disajikan sebagai garis lurus di mana pola-pola lain tampak menyimpang. Namun demikian, diagram-diagram ini merupakan upaya penting untuk berhubungan dengan makna di luar struktur level kalimat. POLA-POLA DOMINAN DARI WACANA TULISAN RESMI DALAM KELOMPOK BAHASA UTAMA INGGRIS RUSIA SEMIT TIMUR ROMA

Untuk ringkasnya, kemampuan wacana merupakan kemampuan untuk menafsirkan serangkaian kalimat atau ujaran agar membentuk keseluruhan bermakna dan untuk mencapai teks terpadu yang relevan dengan konteks tertentu. Keberhasilan dalam kedua kasus tersebut tergantung pada pengetahuan bersama oleh penulis/pembicara dan pembaca/pendengar pengetahuan mengenai dunia nyata, pengetahuan mengenai kode linguistik, 24

pengetahuan mengenai struktur wacana, dan pengetahuan mengenai lingkungan sosial. 4. Kemampuan Strategi (Strategies Competence) Tidak ada seseorang sebagai pembicara/pendengar ideal suatu bahasa, seseorang yang mengetahui bahasa secara sempurna dan menggunakannya secara tepat dalam interaksi-interaksi sosial. Tidak satu pun dari kita akan mengetahui semua bahasa Prancis atau Jepang atau Spanyol atau Inggris. Kita membuat penggunaan terbaik mengenai apa yang kita ketahui, konteks yang kita alami, untuk menyalurkan pesan kita. Kemampuan strategi bersifat relatif, apakah dalam bahasa asli ataukah bahasa kedua. Strategi-strategi yang kita gunakan untuk mengimbangi pengetahuan tidak sempurna mengenai aturanaturan atau faktor-faktor pembatas dalam aplikasinya seperti kelelahan, kebingungan, dan ketiadaan perhatian bisa ditandai sebagai kemampuan strategi komponen keempat dari kemampuan komunikasi dalam kerangka Canale. Kemampun strategi adalah analog dengan kebutuhan akan strategi penyalinan (coping) atau bertahan hidup (survival) yang diidentifikasi dalam Savignon (1972b). Apa yang anda lakukan ketika anda tidak berpikir mengenai sebuah kata? Apakah cara-cara dalam mempertahankan saluran komunikasi agar tetap terbuka pada saat anda berhenti sementara untuk mengumpulkan pemikiran-pemikiran anda? Bagaimana anda membiarkan teman anda berbicara ketika anda mengetahui ia tidak memahami kata tertentu? Atau ia berbicara terlalu cepat? Bagaimana anda menyesuaikan diri ketika pesan anda salahdipahami? Para pembicara dewasa mengatasi secara rutin berbagai faktor yang bisa menghasilkan kegagalan komunikasi. Strategi-strategi yang kita gunakan 25

untuk mempertahankan komunikasi meliputi parafrase (pengungkapan dengan kata-kata sendiri), circumlocution (pemakaian kata-kata yang terlalu banyak), pengulangan, keragu-raguan, penghindaran, dan penerkaan, serta pergeseran dalam daftar (register) dan gaya. Dialog-dialog di bawah ini mengilustasikan pentingnya kemampuan strategi. Contoh (1), (2), dan (3) adalah dialog-dialog di mana saya merupakan peserta tidak langsung. Contoh (4a) dan (4b) dikutip dari transkrip sebuah ujian kecakapan bahasa lisan, wawancara lisan Foreign Service Institut (FSI) (Hinofotis, Lowe, dan Clifford 1981). 1. Operator telepon: saya mempunyai kumpulan panggilan dari Sandra. Maukah anda menerima isinya? Catherine: Maaf, ia tidak ada di sini sekarang. Sandra. Maukah anda menerimanya? Catherine: oh ..... ya. 3. Suami dan istri sedang kembali dari perjalanan belanja, dan ketika mereka masuk ke garasi, mereka melewati sekelompok anak-anak tetangga yang sedang bermain di halaman rumput. Memperhatikan satu anak yang ia tidak berbicara dengannya sesaat, si istri bertanya kepada suaminya, saya ingin tahu berapa umur Davie sekarang? Suaminya menjawab, Saya tidak tahu. Saya akan menanyakannya. Suami Davie Suami Davie Suami : (berteriak dari garasi). Berapa umurmu Davie? : baik (fine). : Lima (five)? : baik (fine). : Berapa umurmu? 26 Operator telepon: (menyesuaikan dengan suara anak pada jalur itu). Ini dari

Davie

: Enam.

4. Suasananya adalah toko makanan New York yang ramai. Seorang pengunjung Prancis baru saja memesan sebuah roti lapis (sandwich) keju Swiss. Pelayan : Jenis roti apa yang anda inginkan untuk sandwich anda, gandum putih (white) seluruhnya,atau gandum hitam (rye)? Orang Prancis Pelayan Orang Porancis Pelayan Orang Prancis : (Wh)ye?. : Putih (White)? : (Wh)ye. : Putih (White)? : Gandum putih seluruhnya.

5. Kutipan (a) dan (b) berikut ini berasal dari wawancara FSI. a) Penguji pembicara asli (NSE) : apakah yang dimaksud leher hitam (redneck)? Subyek bukan-asli (NNS) NSE 1 ini? NNS NSE 1 NNS NSE 1 NNS NSE 1 : Tidak. : Baiklah. : Um hm. : Bagaimana, um ... Saya akan coba pertanyaan lain. : baiklah! Saya ingin apakah ... (Ketawa umum). : Oh, (ketawa) baiklah. 27 : um hm. : Apa yang anda katakan? Pernahkah anda mendengar ungkapan

Penguji Pembicara Asli 2 : apakah yang dimaksud ...

NSE 2 NNS NSE2

: Oh, (ketawa) baiklah, ah ... : Maukah anda menjelaskannya kepada saya? : Redneck adalah ... konservatif, ah biasanya anda

mendapatkan ... ah, orang yang tinggal di wilayah Selatan sangat sering. NNS NSE 2 NSE 1 NSE 1 sangat menghina . Itu istilah yang menghina. NNS tape)? NSE 1 NNS NSE 1 NNS NSE 1 NNS : Tidak. : Tidak. : Itu sangat menarik. : Mhm. : Ah. : Oh, oh. Semuanya merah. (Ketawa umum). : Um hm. Ah, apakah itu berhubungan dengan birokrasi (red : Um hm. : Um, dari wilayah pedesaan ... : Khususnya tidak toleran dengan ide-ide yang berbeda ... Mm, mhm. : Jadi anda merujuk kepada seseorang sebagai redneck, dan itu

b) Penguji Pembicara Asli : Apakah redneck itu? Subyek Pembicara Asli : Oh wah, saya mendengar banyak mengenai kata itu. (Ketawa) Um, um, Saya tidak tahu apa artinya. Itu adalah orang yang tidak ... Bagaimana anda menggambarkannnya? ....orang yang bukan

28

seorang pembohong, bagaimanapun kata itu memiliki konotasi negatif. Saya tidak pernah menggunakan kata itu. Dalam contoh-contoh di atas, pembicara asli dan bukan-asli sama-sama menggunakan strategi-strategi untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dalam pengetahuan mereka atau pembatasan-pembatasan dalam penggunaan pengetahuan tersebut dalam keadaan tertentu. Kemampuan untuk berkomunikasi dalam keterbatasan meliputi kemampuan untuk menyesuaikan strategi-strategi komunikasi kita dengan berbagai kondisi antar-pribadi yang berubah dan sering tak diharapkan. Pengungkapan ulang dengan kata-kata sendiri, pengulangan, penekanan, mencari klarifikasi, pemakaian kata-kata yang terlalu banyak, penghindaran (kata, struktur, topik), dan bahkan modifikasi pesan (misalnya, keputusan orang Prancis untuk memesan sandwich keju Swiss atas gandum putih keseluruhan ketimbang gandum hitam!) merupakan strategi-strategi yang kita gunakan untuk memenuhi tuntunan komunikasi yang berkelanjutan. Dalam penggunaan L1 dan L2, penyesuaian ini mengharuskan kitamengambil perspektif peserta lain dalam sebuah transaksi, berempati dengan perpektif orang lain. Chambers Twentieth Century Dictionary mendefinisikan empati sebagai kekuatan masuk ke dalam kepribadian orang lain dan mengalami pengalamannya secara imajinatif (penekanan ditambahkan). Horwitz dan Horwitz (1977:110) menggambarkan relevansi jenis imajinasi ini untuk pembelajaran bahasa: Empati adalah perlu bagi kemampuan komunikasi ... Bila diberikan daftar lengkapdari semua keahlian linguistik dan sosiolinguistik yang tepat, maka seseorang tampa empati tidak 29

akan mampu mendefinisikan dari pespektif bersama (perspektif orang lain dan perspektifnya sendiri) mengenai konteks antar-pribadi tertentu dan jenis bahasa yang diperlukan. Ringkasnya, penggunaan efektif dari strategi penyalinan adalah penting bagi kemampuan komunikasi dalam semua konteks dan membedakan komunikator yang sangat mampu dari orang-orang yang kurang mampu. Kemampuan strategi merupakan komponen penting dalam kerangka deskriptif untuk kemampuan komunikasi. C. KESIMPULAN Tujuan pendekatan komunikasi terhadap pengajaran bahasa adalah untuk mengembangkan kerangka teoretis bagi rancangan dan evaluasi kurikulum berikutnya dalam program L2. Ada empat komponen kemampuan komunikasi yang diidentifikasi dalam kerangka ini, yaitu kemampuan tata-bahasa, kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana, dan kemampuan strategi. Keempat kemampuan tersebut menunjukkan kemampuan komunikasi sebagai basis rancangan kurikulum dan praktek ruang kelas. Sumber Acuan: Savignon, Sandra J. 1983. Communicative Competence: Theory and Practice. London: Addison Wesley Publishing Company inc.

30

RAGAM BAHASA PERS Dr. Achmad Tolla, M.Pd. A. Sifat Ragam Bahasa Pers Ragam bahasa pers atau ragam bahasa jurnalistik memiliki beberapa sifat yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain. Rosihan Anwar (1976) merinci sifat-sifat ragam bahasa pers Indonesia sebagaimana yang dikemukakan kembali berikut ini. 1. Singkat Istilah singkat dalam konteks komunikasi ada dua macam, yaitu (1) waktu dengan acuan detik, menit, jam, dan (2) penggunaan bahasa dengan acuan struktur kalimat dan kosakata. Penggunaan bahasa secara singkat mengacu kepada jumlah kosakata yang digunakan dalam sutu kalimat. Makin banyak kosakata dalam suatu kalimat yang digunakan mendeskripsikan sutu ide, makin rumit kalimat itu dan makin sulit pula dipahami. Perhatikan contoh berikut. 31

Akses kepada lembaga keuangan merupakan isu pokok dan klasik bagi dunia usaha, sementara hal ini merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut pengembangan UKM sendiri (Fajar, 24 April 2004:2). Bandingkan dengan: Akses (keberadaan) lembaga keuangan merupakan isu pokok yang sangat penting karena menyangkut pengembangan unit kegiatan masyarakat (UKM). 2. Padat Bahasa yang padat mengacu kepada penggunaan kalimat secara efektif. Suatu ide dapat dikemukakan dengan kalimat singkat, tetapi pembaca memahami ide itu sama atau hampir sama dengan pemahaman penulisnya. Pemahaman demikian dapat dicapai apabila penggunaan kosakata dan struktur kalimat tidak longgar. Artinya, jika suatu konsep dapat dipahami dengan hanya satu kata atau istilah, tidak perlu diberi keterangan tambahan yang justru akan membuat pembaca menjadi bosan. Demikian pula, jika dengan satu kalimat suatu konsep dapat dipahami, maka kalimat itu tidak perlu diberi kalimat penjelas. Hal yang sama juga sering dijumpai dalam paragraf. Banyak (?) paragraf dalam surat kabar hanya terdiri atas satu kalimat. Kalimat-kalimat yang membangun paragraf itu sesungguhnya hanyalah kalimat penjelas dari kalimat topik pada paragraf sebelumnya. Paragraf demikian lebih baik digabung menajdi satu paragraf yang lebih lengkap. Perhatikan contoh berikut. Meski perlakuan pemain oilar Persik kediri Hamka Riri Hamzah terhadap istrinya, merupakan urusan intern rumah tangga, pihak keluarga Feby berniat mengadukan persoalan ini ke Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Mereka akan meminta kepada PSSI untuk menindak mantan pemain nasional U-20 yang kini membela tim nasional senior Pra Piala Dunia 2006 itu sehubungan dengan perilaku buruk yang ditunjukkan belum lama ini. Hamka masioh sempat bermain memperkuat Persik dalam pertandingan melawan PSSI Semarasng, Minggu (25/4) (Fajar, 27-4-2004:15). Paragraf kedua kutipan di atas masih bagian dari paragraf pertama. Paragraf kedua itu adalah penjelasan atas frase pihak keluarga Feby beniat mengadukan persolan ini ke Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Jadi, kutipan di atas seharusnya: Meski perlakuan pemain pilar Persik kediri Hamka Riri Hamzah terhadap istrinya, merupakan urusan intern rumah tangga, pihak keluarga 32

Feby berniat mengadukan persoalan ini ke Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Mereka akan meminta kepada PSSI untuk menindak mantan pemain nasional U-20 yang kini membela tim nasional senior Pra Piala Dunia 2006 itu sehubungan dengan perilaku buruk yang ditunjukkan belum lama ini. Hamka masih sempat bermain memperkuat Persik dalam pertandingan melawan PSSI Semarasng, Minggu (25/4) (Fajar, 27-4-2004:15). Selain itu, ada beberapa kesalahan pada parafraf tersebu. Kesalahan yang dimaksud menyakut ejaan, penggunaan kata/frase yang tidak diperlukan, dan kaliat yang tidak padu dengan pokok pikiran. Dengan demikian, paragraf itu akan menjadi benar dan komuinikatif jika direvisi seperti berikut ini. Meskipun perlakuan pemain pilar Persik kediri, Hamka Riri Hamzah, terhadap istrinya merupakan urusan intern rumah tangga, namun pihak keluarga Feby berniat mengadukan persoalan ini ke pada Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid. Mereka akan meminta PSSI untuk menindak mantan pemain nasional U-20 yang kini membela tim nasional senior Pra Piala Dunia 2006 itu dengan tegas. 3. Sederhana Istilah atau kata yang masih terasa asing atau belum dikenal secara umum oleh masyarakat hendaknya dipertimbangkan oleh wartawan. Istilah atau kata seperti itu boleh digunakan dengan tujuan mempropagandakan penggunaannya, tetapi perlu ada catatan di dalam kurung tentang arti istilah atau kata itu dan lebih sering digunakan. Selain itu, struktur kalimat juga harus sederhana agar pembaca lebih mudah memahaminya. Perhatikan contoh berikut. Secara fantastis, Wiranto mengandaskan harapan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung pada konvensi partai yang berlambang pohon beringin tersebut. Untuk bisa mengalahkan Akbar yang dikenal licin bak belut, jelas mensyaratkan adanya sebuah tim yang solit dengan kerja efektif (Fajar, 22-4-2004:1). Bandingkan dengan: Secara meyakinkan, Wiranto mematahkan harapan Ketua Partai Golkar pada konvensi partai tersebut. Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras sebuah tim yang kuat dan bekerja secara efektif. 4. Lancar Umumnya, orang yang berbicara dalam bahasa asing atau bahasa kedua dengan fasih biasa diberi julukan berbicara dengan lancar. Julukan ini dianggap kurang tepat diberikan kepada penulis. Penulis biasanya diberi julukan pandai atau terampil menulis. Anggapan ini sudah menjadi 33

pengetahuan umum orang-orang awam. Akan tetapi, orang terpelajar memahmi istilah itu sebagai keterampilan berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Menulis dengan lancar berarti mengemukakan ide, pendapat, konsep atau yang lain secara runtutut, kronologis/antikronologis dengan tidak melompat-lompat. Tulisan yang lancar akan memudahkan pembaca untuk memahami pikiran penulis yang tersurat dan yang tersirat. Sebaiknya, tulisan yang melompat-lompat, pembaca sulit memahaminya dengan baik karena pikiran, ide, atau kosep di dalam tulisan itu tidak utuh kesinambungannya; pemahaman pembaca terpotong-potong. Tulisan seperti itu, jika diujikan, peserta ujian tidak akan mampu menjawab pertanyaan bacaan dengan optimal. Perhatikan contoh berikut ini. Sebelum memilih jadi politisi, H Muh Ramli Taba, dikenal sebagai seorang pengacara dan konsultan hukum. Sekain itu, Ramli, demikian dia biasa disapa, juga dikenal sebagai seorang aktivis yang gigih. Perjanan politiknya dimulai pada tahun 1998 ketika gaung reformasi mengemuka. Dirinya bahkan termasuk satu di antara sekian inisiator terbentuknya Partai Amanat Nasional (PAN) di tingkat SulseL (Fajar, 27-42004:29). Kutipan di atas tergolong tulisan lancar. Namun, pada kutipan itu masih terdapat kesalahan ejaan dan penataan paragraf yang sangat mengganggu. Kutipan itu akan menjadi lebih baik jika direvisi seperti berikut ini. Sebelum memilih jadi politisi, H. Muh. Ramli Taba dikenal sebagai seorang pengacara dan konsultan hukum. Selain itu, Ramli, demikian dia biasa disapa, juga dikenal sebagai seorang aktivis yang gigih. Perjanan politiknya dimulai pada tahun 1998, ketika gaung reformasi mengemuka. Dirinya, bahkan, termasuk satu di antara sekian inisiator terbentuknya Partai Amanat Nasional (PAN) di tingkat Sulawesi Selatan. 5. Jelas Ada beberapa faktor kebahasaan yang biasanya menyebabkan suatu tulisan kurang atau tidak jelas. 1. Paragraf yang tidak memiliki kalimat topik. Paragraf seperti ini kalimat topiknya tersirat di dalam semua kalimat yang membangun paragraf itu. Karya sastra berupa cerpen, novel, atau roman banyak memiliki paragraf yang tidak memiliki kalimat topik. Wartawan diharapkan menghindari paragraf seperti itu. 34

2.

Paragraf yang memiliki kalimat topik, tetapi kalimat topik itu tidak dikembangkan dengan kalimat-kalimat penjelas dan tidak didukung ide yang dikemukakan pada paragraf berikutnya. Perhatikan contoh berikut.

Bupati Jeneponto Rajamilo patut berbangga. Di tengah kesibukannya bertarung memenangkan konvensi calon presiden di Jakarta 20 April nanti, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Akbar Tanjung hadir menjadi saksi pada pesta putri keempat Rajamilo, Zainatunnahar. Dengan 28 pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kabupaten/kota, Golkar Sulsel cukup diperhitungkan di Jakarta. Dalam konvensi suara Beringin di sini terbagi antara Wiranto, Akbar, Surya Palloh, Bahkan Aburizal Bakri (Tribun Timur, 18-4-2004:1). Ketidakjelasan kutipan di atas terletak pada kelemahan penulis dalam menerapkan prinsip pengembangan kalimat topik, penggunaan ejaan, dan kesinambungan ide antarparagraf. Kutipan itu akan menjadi jelas jika ditata seperti berikut ini. Bupati Jeneponto, Rajamilo, patut berbangga. Di tengah kesibukannya bertarung memenangkan konvensi calon presiden di Jakarta, 20 April nanti, dia masih sempat melangsungkan pernikahan putrinya yang keempat, Zainatunnahar. Pada pesta pernikahan ini, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Akbar Tanjung hadir menjadi saksi.. Dalam konvensi itu, ada 28 Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kabupaten/kota Partai Golkar Sulsel cukup diperhitungkan di Jakarta. Dalam konvensi itu, suara beringin akan terbagi kepada Wiranto, Akbar, Surya Palloh, dan Aburizal Bakri. 3. Paragraf yang dibangun di atas kalimat-kalimat yang di dalamnya ada kata bermakna konotasi atau istilah/kata-kata baru yang belum umum penggunaannya. Perhatikan contoh berikut. Rekapitulasi perolehan suara tingkat provinbsi terancam melenceng dari jadwal yang sudah ditetapkan, yakni Sabtu mendatang. Penyebabnya, KPU Sulsel mengakui kesulitan mencari lokasi untuk menggelar rekap (Fajar, 22-4-2004:29). 35

Masyarakat awam kesulitan memahami kutipan di atas. Sumber kesulitan itu adalah penggunaan istilah/kata-kata yang dicetak tebal itu. Kutipan itu dapat disederhanakan sehingga menjadi lebih jelas dengan cara mengganti istilah/kata-kata tersebut. Dengan demikian revisinya seperti berikut. Ringkasan penghitungan perolehan suara tingkat provinbsi terancam berubah dari jadwal yang sudah ditetapkan, yakni Sabtu mendatang. Penyebabnya, KPU Sulsel mengakui kesulitan mencari tempat untuk menggelar kegiatan itu. Hasil revisi ini lebih mudah dan lebih jelas untuk semua pembaca dari tingkat pendidikan apa pun. 6. Lugas Lugas berarti hal yang mengenai pokok-pokok saja. Jika pengertian ini diterapkan ke dalam tulisan, maka suatu tulisan harus mengungkapkan hal-hal yang pokok saja. Prinsip ini sangat penting diperhatikan oleh wartawan dalam melaporkan beritanya. Peranan bahasa sangat besar dalam mengungkapkan berita apa adanya. Pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya bahasa menjadi media utama untuk mengantarkan pembaca pada masalah inti yang dikemukakan oleh penulis. Jika bahasa cukup jelas, maka pembaca akan tiba pada pemahaman yang sama dengan pemahaman penulis sendiri. Contoh berikut sebagai ilustrasi berita yang tidak jelas. Ketika itu, sekitar pukul 09.30 pagi, sebagaimana kebiasaan penduduk, mereka sedang menikmati sarapan pagi sambil mengisap rokok di rumah masing-masing. Tidak pernah terbetik dalam pikiran mereka bahwa pagi itulah yang menjadi pagi kehidupan terakhir bagi mereka. Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyad yang diikuti oleh gulungan tanah di atas perkampungan mereka. Bersamaan dengan itu, di bekas perkampungan itu sudah tidak ada kehidupan lagi. Paragraf di atas merupakan contoh berita yang tidak lugas. Paragraf itu akan menjadi lugas jika direvisi seperti berikut ini. Sekitar pukul 09.30 pagi, ketika penduduk sedang menikmati sarapan pagi, tiba-tiba terdengar ledakan dahsyad yang diikuti oleh gulungan tanah di atas perkampungan mereka. Bersamaan dengan itu, di bekas perkampungan itu sudah tidak ada kehidupan lagi. 7. Menarik Berita yang menarik tergantung pada paling tidak dua hal, yaitu (1) materi berita, dan (2) gaya bahasa berita. Materi berita yang hangat umumnya menarik perhatian pembaca. Bahkan, berita yang kurang hangat pun dapat menjadi menarik perhatian pembaca apabila diungkapkan dengan gaya bahasa 36

yang tepat dan lancar. Gaya bahasa yang dimaksud di sini bukan gaya bahasa seperti dalam karya sastra yang cenderung mengungkapkan penglaman imajinatif penulis, melainkan gaya bahasa populer yang dapat dipahami oleh semua lapisan masyarakat pembaca berita koran atau majalah. Salah satu cara yang efektif untuk menjadikan bahasa jurnalistik menarik ialah dengan denggunakan pola kalimat aktif dan kalimat pasif secara bervariasi. Penggunaan kata-kata bersinonim di dalam kalimat sama pentingnya dengan variasi pola kalimat. Perhatikan contoh berikut. Pendistribusian kursi dilakukan berdasarkan bilangan pembagi pemilih BPP) maupun berdasarkan peringkat sisa suaras. Sekedar diketahui, BPP adalah jumlah total suara sah yang diperoleh seluruh parpol di suatu daerah pemilihan dibagi jatah kursi yang tersedia. PDIP pimpinan Megawati Soekarnoputri untuk sementara meraup kursi terbanyak, yaitu 44 kursi. Partai Golkar pimpinan Akbar Tanjung membayangi dengan 31 kursi. Posisi sementara ketiga diduduki oleh PKB pimpinan Alwi Sihab dengan 24 suara (Fajar, 27-4-2004:1). Kutipan di atas memperlihatkan variasi penggunaan pola kalimat pasif dan aktif yang seimbang. Variasi penggunaan kalimat itu yang menyebabkan beritta tersebut terasa hidup. 8. Dinamis Tidak satu pun ragam bahasa yang memiliki sifat dinamis seperti yang dimiliki ragam bahasa pers. Ragam bahasa pers setiap saat berkembang tanpa dibatasi oleh prinsip-prinsip disiplin ilmu, teknologi, seni, dan sosial. Ragam bahasa pers merupakan perpaduan semua perbedaharaan bahasa yang dimiliki oleh suatu bahasa. Dengan demikian, pers adalah profesi yang tidak pernah berpihak kepada salah satu isme, ideologi, agama, politik, sosial dan sebagainya, tetapi pers menggunakan semua isme itu sebagai lahan untuk memperoleh perbedaharaan bahasa bagi kepentingan pemberitaan. Itulah sebabnya, pers percaya bahwa bahasa adalah jembatan dunia. Sifat dinamis ragam bahasa pers secara langsung telah memberikan sumbangan yang amat besar bagi perkembangan bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia. Bahkan, wadah pemasyarakatan bahasa Indonesia yang paling luas dan efektif adalah ragam bahasa pers. Sejak tahun 1980-an, pemerintah Orde Baru mencanangkan program Koran Masuk Desa. Tujuan utamanya ialah untuk mengentaskan tiga-buta, yaitu buta pengetahuan dasar, buta aksara, dan buta bahasa Indonesia. Sejak itu pula, jumlah penduduk Indonesia yang terjebak dalam kondisi tiga-buta secara berangsur-angsur berkurang dari tahun ke tahun. 37

B. Ciri-ciri Ragam Bahasa Pers Sejalan dengan uraian sifat-sifat ragama bahasa pers yang dikemukakan di atas, ciri-ciri ragam bahasa pers pun tampaknya lebih mementingkan pihak pembaca daripada mempertahankan tradisi sendiri sebagai sebuah profersi. Berikut dikemukakan butir-butir ciri ragam bahasa pers yang juga diilhami oleh Rosihan Anwar (1976). (1) Tingkat kesulitan kata/istilah yang digunakan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan berbahasa pembaca (2) Penggunaan kata-kata kompleks disesuaikan dengan pengetahuan bahasa pembaca (3) Struktur kalimat tidak terlalu kompleks; tidak lebih dari tiga kalimat tunggal yang digabung menjadi satu (4) Penalaran kalimat bersifat kronologis (5) Kalimat taksa (ambigu) dihindari (6) Informasi yang diwadahi kalimat-kalimat itu menarik perhatian pembaca C. Judul Berita (1) Judul bukan kalimat, melinkan proposisi (2) Judul terdiri atas kata, istilah berupa kata kunci yang mencerminkan isi tulisan (3) Judul bukan singkatan atau akronim yang belum lazim (4) Judul memiliki daya pikat yang tinggi sehingga pembaca tertarik. D.. Gejala Kerancuan Kalimat (1) Pernyataan yang tidak mengandung unsur subjek: a. Dengan demikian akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. 38

b. Oleh karena itu disebut sebagai biang kekerasan dan kerusuhan di Poso. Seharusnya: a. Dengan demikian, bantuan itu akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. b. Oleh karena itu, ia disebut sebagai biang kekerasan dan kerusuhan di Poso. (2) Pernyataan yang tidak mengandung unsur predikat: a. Di samping itu pula Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan di mana seluruh lembaga-lembaga pemerintah berkantor. b. Tertinggi di rayon C sedang yang terendah di rayon A. Seharusnya: a. Di samping itu, Jakarta merupakan pusat pemerintahan tempat semua lembaga pemerintah berkantor. b. Prestasi itu tertinggi di rayon C, tetapi terendah di rayon A. (3) Pernyataan berupa anak kalimat pengganti predikat: a. Sehingga keyakinan tersebut cukup kuat untuk tetap mendorongnya berjuang terus. b. Sebab tahap seleksi penerimaan polisi telah rampung. Seharusnya: a. Kita perlu memberi keyakinan hidup sehingga keyakinan tersebut cukup kuat untuk mendorongnya berjuang terus. b. Latihan fisik sudah dapat direncanakan sebab tahap seleksi penerimaan polisi telah rampung. Gejala ini ditandai dengan penggunaan kata hubung pada awal kalimat, seperti: sehingga, sebab, karena, agar, supaya, bila, apabila, 39

meskipun, walaupun. (4) Pernyataan yang hanya berupa keterangan penjelas atau keterangan tambahan: a. Karena kondisi lahannya yang berkadar kapur tinggi sehingga kurang baik untuk pertanian. b. Terutama terkonsentrasi pada muara Sungai Jeneberang. Seharusnya: a. Daerah itu tidak dapat dikembangkan menjadi daerah pertanian karena kondisi lahannya berkadar kapur tinggi. b. Beberapa hari terakhir pengerukan terutama terkonsentrasi pada muara Sungai Jeneberang. (5) Pernyataan yang berupa frase preposisi: a. Bagi seorang wartawan, sebagai pedoman penulisan berita. b. Mengenai jumlah calon anggota DPD yang terindikasi sebagai anggota partai. Seharusnya: a. Kode etik sangat berguna bagi seorang wartawan sebagai pedoman penulisan berita. b. Rapat itu membicarakan mengenai jumlah calon anggota DPD yang terindikasi sebagai anggota partai. (6) Pernyataan yang dimulai dengan kata hubung setara: a. Dan unit-unit kecil tersebut lebih muda untuk dipetikemaskan. b. Atau pada waktu bertutur dengan ragam bahasa formal, tiba-tiba diselipkannya ragam bahasa informal. Seharusnya: a. Unit-unit kecil tersebut lebih mudah dipetikemaskan. 40

b. (Pada) waktu bertutur dengan ragam bahasa formal, tiba-tiba diselipkannya ragam bahasa informal. E. Penerapan Kaidah Ejaan yang Disempurnakan 1) penulisan huruf (1) huruf kapital (2) huruf miring 2) penulisan kata (1) kata dasar (2) kata bentukan (3) kata gabung (4) kata serapan (5) kata asing 3) pemenggalan kata (1) kata dasar (2) kata bentukan 4) penulisan lambang bilangan (1) ukuran (2) takaran (3) timbangan (4) simbol ilmiah 5) penulisan singkatan (1) singkatan (2) akronim 6) penggunaan dan penulisan tanda baca: (1) tanda baca perhentian mutlak (titik, tanda tanya, tanda seru) (2) tanda koma (,) 41

(3) tanda titik dua (:) (4) tanda titik koma (;) (5) tanda petik satu () (6) tanda petik dua () (7) tanda penyingkat () (8) tanda garis miring (/) (9) tanda hubung (-) (10) (11) tanda pisah (--) tanda kurung ( )

Singkatan dan Akronim Singkatan terdiri atas huruf atau deretan huruf yang umumnya diambil dari huruf awal kata. Contoh: 1) Gelar kesarjanaan: Drs. : Drs. Fardilahuddin M.A. : Usman Jafar, M.A. M.Sc. : Kumalasari, M.Sc. Ph.D. : Jamaluddin, M.A., Ph.D. S.H. : Irhanuddin, S.H. M.B.A. : Fajaruddin, M.B.A. M.T. : Sirajuddin, M.T. M.Sn. : Novita, M.Sn. dst. 2) Lembaga pemerintah: MPR, DPR, MA, DPA, dst. 3) Singkatan umum: a.n. u.b. dll. d.a. Jl., Jln. sda. : atas nama (bukan an., An.) : untuk beliau (bukan ub., Ub.) : dan lain-lain : dengan alamat (bukan d/a) : Jalan Cenderawasih 34 (Jln. Cenderawasih No. 34) : sama dengan di atas 42

dst. Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis atau dilafalkan sebagai kata yang wajar. Andal : analisis dampak lingkungan Ampera : Amanat Penderitaan Rakyat Armed : Artileri Medan Bakopda : Badan Koordinasi Pembangunan Daerah Babinkumnas Badan Pembinaan Hukum Nasional

43

PRAGMATIK SEBAGAI ANCANGAN ANALISIS Dr. Achmad Tolla, M. Pd. a. Latar Belakang Sejarah Pragmatik Istilah pragmatik digunakan dalam linguistik sejak tahun 1938 yaitu ketika Charles Morris mengembangkan linguistik semiotik. Charles Morris mengemukakan bahwa dalam semiotik dibedakan tiga cabang kajian yaitu, (1) semantik yang mempelajari hubungan formal antara tanda yang satu dengan yang lain, (2) semantik yang, memperlajari hubungan antara tanda dengan obyek yang ditandai, dan (3) pragmatics yang mempelajari hubungan antara tanda dengan pemakaiannya. Dalam kajian semiotik ini, bahasa juga termasuk dalam sistemtanda. Pengertian semantik yang dikemukakan oleh Charles Morris ini menyarankan cakupan kajian yang luas. Dalam pengertian dengan teori semantik behaviorisme. Dikatakannya bahwa untuk memahami pengertian dan ciri-ciri pragmatik secarra mendalam perlu diketahui bahwa pragmatik mengkaji fenomena-fenomena psikologi, biologi, dan sosiologi bahasa. Dengan demikian, linguistik terapan yang kita kenal sekarang ini yakni psikolinguistik, sosiolinguistik, dan neurolinguistik termasuk dalam kajian pragmatik. Pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Charles Morris ini merupakan dasar bagi pengembangan pragmatik lebih lanjut oleh ahli-ahli ilmu bahasa yang lain (Syafiie, 1989;70).

44

Soemarrmo (1988) menuliskan bahawa pragmatik pada tahun 1930-an merupakan bidang linguistik yang dianaktirikan, terutama oleh para linguis di Amerika. Dengan munculnya karya filsafat oleh Austin (1962), Searle (1969), dan Grice (1967) beberapa linguis sudah mulai mengintegrasikan pragmatik kedalam teori tata bahasa mereka. Perhatian terhadap bidang pragmatik juga dipercepat dengan perkembangan di bidang sosiolinguistik, psikolinguistik, inteligensi artifisal, dan ilmu kognitif pada umumnya. Verhaar (1980) menuliskan pula bahwa pragmatik sebagai salah satu cabang linguistik mulai berkumandang dalam percaturan dunia linguistik Amerika sejak tahun 1970-an. Pada tahun-tahun sebelumnya khususnya tahun 1930-an, linguistik dianggap hanya mencakup fonetik, morfologi, dan era Bloomfield, kajian sintaksis dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan makna di kesampingkan karena dianggapnya terlampau sulit untuk diteliti dan dilibatkan dalam proses analisis. Dengan berkembangnya teori linguistik oleh Chomsky pada tahun 1960-an, sintaksis mulai mendapatkan tempatdi dalam linguistik, linguis yang berlatar belakang filsafat ini menegaskan bahwa sintakksis merupakan bagian linguistik yang sifatnya sentral. Gagasan ini kemudian melahirkaan paradigma di dalam dunia linguistik. Sekalipun linguistik Chomsky sering dianggap relatif lebih maju dibandingkan dengan linguistik era sebelumnya, bagi tokoh ini masalah makna asih diangapnya suit dilibatkan dalam proses analisis (Raharddi;2000;44).

45

Pada awal tahun 1970-an, pragmatik mulai bruandang di belahan bumi Amerika. Para linguis yang bernuansa transformasi generatif seperti Ross dan Lakoss menyatakaan bahwa kajian sintaksiss tidak dapat meemisahkan diri dengan konteksnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan munculnya tokohtokoh tersebut, tertanda runtuhnya dan teori bahasa yang berkembang di masamasa. Maka pada masa inilah sosok pragmatik mulai mendapat tepat di bumi linguistik (Purwo, 1990:10). Lain halnya di belahan bumi Eropah, kegiatan menelaah bahasa dengan mempertimbangkan makna dan situasi (misalnya aliran Praha, aliran Firth) sudah berkembang sejak tahun 1940-an. Aliran Firth tersebut dikenal dengan nama FirthianLinguistics dengan basis di Inggris yang ditopan aliran Praha (Prague School) dengan basis di Chekozlovakia. Aliran Praha ditokoohi oleh Matheus, Trubetzoy, Roman Jakbsoon, Vachek, dan beberapa kawan lainnya. Pada tahun 1960-an, M.A.K. Halliday mengembangkan teori sosial mmengenai bahasa, maka semakin jelaslah bahwa linguistik tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dengan segala latar belakang sosiokultural yang mewadahi dan melatarbelakanginya (Rahadi, 2000:44-45). Firth mengemukakan bahwa kajian bahasa tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan konteks situasi yang meliputi, pelibat (partisipants), tindakan pelibat (baik tindak tutur maupun bukan tindak tutur), ciri-ciri stuasi yang lain yang relevan sepanjang hal itu mempunyai sanggkut paut tertentu dengan hal sedang berlangsung, dan dampak-dampak tindak tutur yang

46

diwujudkan dengan bentuk-bentu perubahan yang ditimbuulkan oleh hal-hal yang dituturkan oleh pelibat dalam situasi (Halliday dan Hasan,1994:11). Perhatian terhadap bidang kajian ini diresmikan pada tahun 1977 dengan timbulnya sebuah majalah Journal of Pragmatics yang menerbitkan karya-karya tulis bernuansa pragmatik. Pada saat itu terbentuk pula suatu organisasi IPRA (International Pragmatics Association) dan konperensi yang membahas soal pragmatik juga mulai timbul. Namun, majalah dan koperensikonperensi itu tidak memberikan gambaran yang jelas tentang bidang kajian yang termasuk penelitian pragmatik (Soemarmo, 1988:160). b. Batasan Pragmatik Istilah pragmatik sebagai bidang kajian di dalam ilmu linguistik diberi batasan yang berbeda-beda oleh para pakar linguistik. Beberapa batasan yang relevan dipaparkan pada bagian ini untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pragmatik. Levinson (1983:9) mendefinisikan pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan konteksnya yang ditatabahasakan atau dikodekan dalam struktur pemakaian bahasa. Verhaar (1996:9) menegaskan bahwa pragmatik mempelajari hal yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antar penutur dan mitra tutur serta sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa yang sifatnya ekstra linguistik.

47

Leech (1983:8) berpendapat bahwa pragmatik adalah studi tentang makna bahasa dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujaran (Speech situations). Morris (dalam Syafiie, 1987:70) memberikan batasan bahwa pragmatik merupakan studi bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda dengan pemakainya. Parker (dalam Wijana, 1996:2) menjelaskan bahwa semantik dan pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan linguistik. Perbedaannya, semantik mempelajari makna secara internal, sedangkan pragmatik mempelajari makna secara eksternal. Adapun yang dimaksud dengan hal itu adalah bagaimana satuan linguistik tertentu digunakan dalam komunikasi yang sebenarnya. Menurutnya pula, studi tata bahasa tidak perlu dikaitkan dengan konteks sedangkan studi pragmatik mutlak dikaitkan dengan konteks. Berdasarkan hal itu studi tata bahasa dapat dianggap sebagai studi yang bebas konteks (konteks independent). Sedangkan studi pemakaian tatabahasa dalam komuniksi yang sebenarnya mutlak dikaitkan dengan konteks yang melatarbelakanginya. Studi bahasa yang demikian ini dapat disebut sebagai studi yang terikat konteks (context dependent). Tidak jauh berbeda dengan batasan yang disampaikan para tokoh di atas, Soemarmo (1988:169) berpendapat bahwa semantik berhubungan dengan makna internal (harfiah), sedangkan pragmatik berhubungan dengan makna konotaatif, (kiasan). Gunarwan(1992:10) mengemukakan bahwa makna dalam semantik ditentukan oleh koteks (co-tex), sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh kontek (contex). Koteks di sini dimaksudkan sebagai 48

lingkungan fisik yang berkaitan dengan tuturan, sedangkan konteks merupakan lingkungan sosial yang berkaitan dengan tuturan. Wijana (1996:11) lebih memperjelas maksud konteks yakni segala latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur. Selanjutnya, Purwo (1990:16) mempertegas batas antara semantikdan pragmatik yang tergambar pada batasan berikut. Pragmatik adalah telah mengenai segala aspek makna yagn tidak tercakuup di dalam teori semantik. Artinya, yang ditelaah dalam pragmatik adalah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Kalimat adalah abstrak (entites) seperti yang didefinisikan dalam teori tata bahasa dan tuturan adalah pengujaraan kalimat pada konteks yang sesungguhnya. Dengan demikin semantik menggeluti makna kata atau klausa, tetapi makna yang bebas konteks (context-independent), sedangkan pragmatik menggeluti makna yang terikat konteks (kontext-independen). Terikat dengan hal di atas, Wijana (1996:3) mempertegas bahwa makna yang dikaji oleh semantik bersifat diadis artinya makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apa makna X itu? Makna yang ditelaah dengan pragmatik berrsifat triadis artinya makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu?. Dari berbagai batasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah bidang ilmu bahasa yagn mengakaji penggunaan bahasa berdasarkan konteks yagn melatarbelakanginya. Konteks yang dimaksud mencakup dua hal, 49

yakni konteks yang bersifat sosial (social) dan konteks yagn bersifat sosietal (societal). Konteks sosial dapat diartikan sebagai konteks yang timbul sebagai akibat dari adanya interaksi antara anggota masyarakat dalam suatu masyarakat sosial dan budaya tertentu. Adapun yang dimaksud dengan konteks sosietal adalah konteeks yang faktor penentuannya adalah kedudukan anggota dalam masyarakat dalam institusi-institusi sosial dan budaya tertentu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menurut pakar ini dasar dari munculnya kontekssosietal adalah adanya kekuasaan (poower), sedangkan dasar dari konteks sosietal adalah adanya solidaritas (solidarity). Selanjutnya, pragmatik mengkaji makna yagn dimakssudkaan penutur dalam menuturkan suatu bahasa tertentu pada sebuah bahasa. Karena yang dikaji didalam pragmatik adalah makna, maka pragmatik dalam banyak hal sejajar dengan semantik juga mengkaji soal makna. Perbedaan antar keduanya adalah bahwa pragmatik mengkaji makna bahasa secara eksternal sedangkan semantik mengkaji makna bahasa secara internal. Makna dikaji dalam pragmatik bersifat terikat konteks sedangkan makna yagn dikaji dalam semantik bersifat bebas konteks. Makna yang dikaji dalam semantik bersifat diadik sedangkan makna dikaji dalam pragmatik bersifat triadik. Pragmatik mengkaji bantuk bahasa untuk memahami maksud penutur sedangkan semantik mengkaji bentuk bahasa untuk memahami makna satuan bahasa terssebut. c. Konteks Situasi Tutur

50

Pada bagian terdahulu telah dipaparkan bahwa pragmatik adalah studi bahasa yang mendasarkan analisanya pada konteks. Konteks yang dimaksud disini adalah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang mendasari atau yang mewadahi sebuah pertuturan. Wijana (1996:10-11) menyatakan bahwa konteks yang demikian itu dapat disebut dengan konteks situasi tutur (speech situational contex). Konteks situasi tutur menurutnya mencakup aspek-aspek sebagai berikut : 1. Penutur lawan penutur 2. Konteks tuturan 3. Tujuan tuturan 4. Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas 5. Tuturansebagai produk tindak verbal Secara singkat kelima aspeek situasi tutur itu dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Penutur dan lawan penutur dapat berarti pembicaraan dan pendengar atau mitra tutur. Konsep ini dapat juga mencakup penulis dan pembaca pada ragam bahasa tulis. 2. Konteks tuturan mencakup aspek tuturan yang relevan baik secara fisik maupun nonfisik. Konteks dapat pula berarti semua latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh penutur dan mitra tutur secara bersamasama. 51

3. Tujuan tuturan berkaitan erat dengan bentuk tuturan seseorang. Hal ini berarti bahwa turan itu terwujud karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tuturan. Olehnya itu secara pragmatik, satu bentuk tuturan dapat memiliki maksud dan tujuan yang bermacam-macam. Demikian pula sebaliknya, satu maksud dan tujuan tuturan yang mendasari perbedaan antara pragmatik yangbeorientasi fungsional dengan tatabahasa yagn berorientasi formal atau structtural. 4. Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas merupakan lahan garapan pragmatik. Karena pragmatik berhubungan dengan tindakan verbal yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam kaitan ini, pragmatik menangani bahasa yang bersifat kongkret karena jelas penutur dan lawan tuturnya, serta watu dan tempat penuturannya. 5. Tuturan sebagai produk tindak verbal. Hal ini berarti bahwa pada dasarnya tuturan yang ada di dalam sebuah penuturan adalah hasil tindak verbal para peserta tutur dengan seegala pertimbangan konteks yang meendasari dan melingkupinya. d. Fenomena Pragmatik Purwo (1990:17) mengatakan bahwa fenomena yang merupakan kajian pragmatik yang telah disepakati hingga kini mencakup empat hal pokok yani, (1) deiksi, (2) praanggapan (Presupposition), (3) tindak tutur (spech act) dan (4) implikatur perrcakapan (conversational implicature). 52

Pragmatik sebagai topik yagn melingkupi diksis, praanggapan, tindaktutur, dan implikatur percakapan, makalazim diberi definisi sebagai telaah mengenai hubungan antara lambang dengan penafsiran. Yang dimaksud dengan lambang di sini adalah satuan ujaran berupasatu kalimat atau lebih yang membawa makna tertentu berdasarkan hasil penafsiran pendengar. Sebuah satuan ujaran dapat dipahami pendengar dengan baik apabila deiksisnya jelas, praanggapannya diketahui, tindak tutur dan implikatur percakapnnya dipahami. Keempat fenomena pragmattik itu dibicarakan di bawah ini. 1. Deiksis. Istilah deiksis berasal dari bahasa Yunani yang arrtinya penunjukan (Idat, 1994:59). Lyons (1977:637) mengatakan bahwa deiksis berkaitan dengan lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalamhubungannya dengan dimensi ruang dan waktu pada saat dituturkan oleh penuttur. Chaer dan Agustina (1995:755) meemberi batasan bahwa deiksis adalah hubungan antara kata yang digunakan di dalam tindak tutur dengan referen kata itu yang tidak tetap atau dapat berubah dan berpindah. Kata-kata yang refennya bisa menjadi tidak tetap ini diseebut kata-kata deiktis. Kata-kata tersebut meliputi kata-kata yang berrkanaan dengan persona, tempat, dan waktu.

53

Sejalan dengan pendapaat di atas, Idat(199:59) menegaskan bahwa fenomena deeiksis merrupakan cara yang palingg jelas untuk mengambarkan hubungan antara bahasa dan konteks di dalam struktur bahasa itu sendiri. Deiksis berdasarkan prototipe adalah penggunaan pronomina demonstratif, pronomina persona, kala, temporal khusus dan lokasi, dan termask ciri-cirri gramatikal yagn terkait langsung di dalam situasi tuturan. Menurutnya pula upaya deiksis dapat berupa, 1) pronmina persona, nam diri, demonstrati, 2) kala (tense), 3) keaspekan (ciri graamatikaal/leksikal waktu). Purwo (1990) menandaskan bahwa deiksis adalah perubahan makna kata-kata atau kalimat karena perubahan konteks. Jadi, kalau salah satu segi makna dari kata-kata atau kalimat berganti kaarena pergantian kontteks, makaa kata atau kalimat itu meempunyai makna deiksis. Sehingga Soemmarrmo (1988:170) menyatakaan bahwa pengaruh konteks itulah yang menyebabkan penyelidikan deiksis diangap bidang kajian pragmatik. Bertolak dari beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa deiksis adalah suatu cara yang dilakukan dalam bertutur untuk mengacu kehakikat makna tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi oleh konteks pembicaraan. Hal ini menyiratkan makna bahwa sebagian kata dalam bahasa tidak dapat ditafsirkn sama sekali apabila konteks penutur tidak diketahui. Kata-kata itu contohnya di sini, di sana, ini, itu, seekarang, kemarin, dan pronominaseeperti saya, kamu, kalian dan sebaginya.

54

Ada kalanya kalimat-kalimat dalam bahasa indonesia tidak dapat dimengerti apabila tidak diketahui siapa yang mengatakan, tentang apa, di mana dan kapan. Misalnya Dia harus mengembalikan buku itu sekarang, sebab saya akan ulangan besok. Apabila tidak diketahui konteksnya, tentu maknanya sangat kabur. Kalimat itu mengandung deiksis ( dia, itu, sekarang, besok ) yang maknanya terganttung pada konteks penuturan. Nababan (1987:40) mengklaasifikasikan deiksis dalam lima bagianyaitu deiksis dengan orang, deiksis tempat, deiksis akttu, deiksis sosial, dan deiksis wacana. Kelima jenis deiksis ittu diuraikan secara jalas dalam Cahyono (1995:218-219) sebagai berikut. a. Deiksis orang; mengacu kepada peran partisipan yang terlibat dalam peristiwa bahasa. Dalam deiksis oorang ini dikenal pronominaa persona atau kata ganti orang yang meliputi, (1) kata ganti orang pertama misalnya saya, kita, dan kami, (2) kata ganti orang kedua misalnhya, kamu, kalian, saudara, dan (3) kata ganti orang ketiga misalnya dia dan mereka. b. Deiksis tempat; mengaccu kepada lokasi tertentu yang berhubungan dengan pertisipan dalam situasi berbahasa, misalnya di sini, di sana, ini, itu. c. Deiksis waktu; mengacu kepada pengungkapan bentuk rentang waktu dipandang dari waktu ujaran tersebut diucapkan misalnya, sekarang, kemarin.

55

d. e.

Deiksis sosial; misalnya mengacu kepada perrubahan-perubahan makna ujaran. Deiksis wacana, mengacu kepaada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan ataau sedang dikembangkan.

2. Praanggapan (Presupposition) Kridalaksana (1982:137) mendefinisikan praanggapan sebagai suatu syarat yang diperlukan bagi benar tidaknya suatu kalimat. Hal ini menyiratkan makna bahwa sebuah tuturan dapat dikatakan mempraanggapkan tuturan yang lain apabila ketidakbenaran tuturan yang dipraanggapkan mengakibatkan kebenaran atau ketidakbenaran tuturan yang mempraangapkan tidak dapat dikatakan.

Sebuah kalimat memperangggapkan dan mengimplikasikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (yang diperanggapkan) mengakibatkan kalimat yang pertama (yang memperanggapkan) tidak dapat dikatakan banar atau salah (Wijana, 1996:37). Untuk jelasnya, kedua pernyataan di atas, dapat diperhatikan sebuah tuturan yang berbunyi Orang kaya di desa itu, sombong sekali. Tuturan ini memperanggapkan adanya seseorang yang sangat kaya. Apabila dalam kenyataannya memang ada seseorangg yang sangat kaya di desa itu, tuturan di atas dapat dinilai benar salahnya. Sebaliknya apabil di desa itu tidak ada seseorang yang sangat kaya, tuturan tersebut tidak dapat ditentukan benar-salahnya. Brown dan Yule (1983:260) membedakan antara praanggapan leksikon dengan praanggapan pragmatis. Menurutnya, praanggapan leksikon sebuah 56

tuturan tidak perlu tunjang oleh konteks tuturan. Sedangkan praanggapan pragmatis membutuhkan konteks untuk memaknakannya secara tepat. Selanjutnya ditegaskan bahwa praanggapan pragmarris ditentukan batasbatasnya berdasarkan anggapan-anggapan pembicaraan mengenai apa yang kemungkinan akan diterima oleh pendengar tanpa penolakan. Menurut Purwo (1993:31) bahwa penggunaan praanggapan oleh pembicara hanyalah ditujukan kepada pendengar yang menurut pembicara pendengar juga memiliki pengalaman dan pengetahuan seperti yang dimiliki pembicara. Jadi, menurutnya praanggapan merrupakan pengetahuan bersama antara pembicara dan pendengar sehingga tidak perlu diutarakan. Pembicaralah yang beranggapan bahwa pendengar memahami apa yang dipraanggapkan dan yang menjadi sumber praanggapan adalah pembicara. 3. Implikatur Percakapan (Conversational Implicature). Di dalam penuturan sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancar berkomunikasi karena mereka memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dibicarakan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa hal yang sedang dipercakapkan itu dapat saling dimengerti. Grice (dalam Wijana, 1996:37) mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur percakapan. Tuturan yang berbunyi Pak guru datang, jangan ribut! tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa pak guru sudah datang. Si penutur bermaksud memperringatkan mitra tutur bahwa Pak Guru yang bersikap keras 57

dan tegas itu akan melakukan sesuatu terhadapnya apabila ia masih terus ribut. Dengan perkataan lain, tuturan itu mengimplikasikan bahwa Pak Guru adalah orang yang keras, tegas, dan sering marah pada siswa yang sedang ribut. Di dalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud yang tidak dituturkan bersifat tidak mutlak. Maksud tuturan harus didasarkan pada konteks situasi tutur yang mewadahi munculnya tuturan tersebut. Sejalan dengan hal di atas, Allan (1986) menegaskan bahwa bertutur adalah kegiatan yang berdimensi sosial. Kegiatan bertutur dapat berlangsung dengan baik apabila para peserta tutur terlibat aktif di dalam proses bertutur tersebut. Apabila terdapt satu atau lebih pihak yang tidak terlibat akttif dalam kegiatan bertutur, dapat dipastikan pertuturan itu tidak dapat berjalan lancar. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa agar proses komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat berjalan lancar, mereka harus dapat saling bekerja sama. Kerja sama yang baik dalam proses bertutur itu dapat dilakukan dengan berprilaku sopan kepada pihak lain. Berprilaku sopan itu dapat dilakukan dengan cara mempertimbangkan muka si mitra tutur di dalam kegiatan bertutur. Rahardi (2000:50) menegaskan bahwa agar pesan (message) dapat sampai dengan baik pada peserta tutur, komunikasi yang terjadi itu perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip berrikut : (1) prinsip kejelasan (clarity), (2) prinsip kepadatan (conciseness), dan (3) prinsip kelangsungan (direstness). Prinsip-prinsip ini secara lengkap dituangkan dalam prinsip kerja sama Grice. Prinsip kerja sama Grice (dalam Levinson, 1983:101-102) meliputi empat maksim yang satu per satu dapat dijelaskan sebagi berikut :

58

a. Maksim kualitas (The maxim of quality) Di dalam percakapan, berusahalah menyatakan sesuatu yang benar. Jangan menyatakan sesuatu yang Anda percaya bahwa hal itu tidak benar. Jangan menyatakan sesuatu yang tidak ada buktinya atau yang buktinya kurang cukup. b. Maksim kuantitas (The maxim of quantity) Berilah keterangan yang secukupnya Janganlah menyatakan sesuatu yang tidak diperlukan. Katakanlah hanya yang berguna atau yang relevan.

c. Maksim relevan (The maxim of relevace) d. Maksim cara (The maxxim of manner) Berbicaralah dengan jelas, khususnya : Jangan mengatakan sesuatu yang tidak jelas; Jangan mengatakan sesuatu yang ambigu; Berbicaralah dengan singkat; Berbicaralaah secara khusus.

4. Tindak Tutur (Speect Act) Istilah teori mengenai tindak tutur pertama-tama dimunculkan oleh Austin, seorang guru besar di Univeristas Harvard pada tahun 1956. Teori yang bersumber dari bahan kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O Urmson pada tahun 1965 dengan judul How to do Thing With Word? Namun, teori tersebut baru terkenal dalam dunia linguistik setelah Searle pada tahun 1969

59

menerbitkan buku dengan judul Speech Act: And Essay in The Philosophy of Language. Searlee (1969:23-244) mengemukakan bahwa secara pragmatis terdapat setidaknya tiga macam lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionarry act), dan tindakperlokusi (perlocutionary act). Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu, dengan kata, frase, dan kallimat sesuai dengan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, tidak dipermasalahkan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan penutur. Jadi tuturan Saya Lapar, hanya semata-mata dimaksudkan untuk memberitahukan mitra tutur bahwa penutur sedang dalam keadaan lapar, tanpa bermaksud meminta makanan. Tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu. Jadi, tuturan, Saya Lapar, yang diucapkan penutur bukan semata-mata dimaksudkan untuk memberitahu mitra tutur bahwa pada saat dituturkan tuturan itu penutur sedang lapar, namun lebh dari itu, dimaksudkan pula untuk meminta makanan. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang mengacu ke efek yang ditimbulkan penutur dengan mengatakan sesuatu kepada mitra tutur. Tuturan Saya Lapar dapat berfungsi sebagai perlukosi jika diucapkan oleh seseorang untuk menumbuhkan pengaruh rasa takut kepada anak-anak kecil. Rasa takut itu munccul karena yang menuturkan tuturan itu pada kesehariannya sering menakut-nakuti anak kecil. Selanjutnya, Searle (1969) mengklasifikasikan tindak tutur ilokasi dalam lima jenis. Kelima jenis tutur itu dapat dijelaskan sebagai berkiut: (1) aserif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturanya pada kebenaran proposisi 60

yang

diungkapkan,

misalnya:

menyatakan,

melaporkan,

menunjukkan,

menyebutkan; (2)

direktif, yaitu tindak tutur yang dilakukan penuturnya

dengan maksud agar si mitra tuturr melakukan tindakan yangg disebutkan di dalam tuturan itu, misalnya; menyuruh, memohon, menuntut, menyarankan, menantang; (3) ekspresif, yaitu tindak tutur yang dilakukan dengan maksud untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penuturr terhadap suatu keadaan, misalnya: berterima kasih, memuji, mengeluh, meminta maaf; (4) komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya: berjanji, bersumpah, mengancam; dan (5) deklaratif, yaitu tindak tutur yang dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal yang baru, misalnya: memutuskan, membatalkan, melarang, mengizinkan, mengankat, dan menghukum. Suatu hal yang perrlu dicatat dari pengklarifikasian tindakk tutur di atass, bahwa ternyata satu tindakan tutur dapat mempunyai lebih dari satu fungsi. Pakar lain ternyata satu tindak tutur dapat mempunyai leebih dari satu fungsi. Pakar lain seperti Blum-Kulka (dalam Gunarwan, 1994:86) justru menyaatakan hal lain seperti sebaliknya, yakni bahwa satu maksud atau satu fungsi bahasa dapat dinyatakan dengan bentuk tuturan yang bermacam-macam. Menyuruh misalnya, dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk tuturan sperti: (1) dengan kalimat bermodus imperatif (Pindahkan kotak ini), (2) dengan kalimat performatiff eksplisit (Saya minta Saudara memindahkan kotak ini!), (3) dengan kalimat performatif berpagar (Saya sebenarnya mau minta Saudara memindahkan kotak ini), (4) dengan pernyataan keharusan (Saudara harus memindahkan kotak ini), (5) dengan pernyataan (Saya ingin saudara memindahkan kotak ini), (6) dengan rumusan saran (Bagaimanaa kalau kotak 61

ini dipindahkan?), (7) dengan persiapan pernyataan (Saudara dapat memindahkan kotak ini?), (8)dengan isyarat kuat (Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan sesak.), (9) dengan isyarat halus (Ruangan ini Kelihatan sesak.). Berangkt dari berbagai macam cara mengungkapkan suruhan pada uraian di atas, dapat digarisbawahi dua hal pokok, yakni adanya (1) tuturan langsung, dan (2) tuturan tidak langsung. Derajat kelangsungan tindak tutur itu dapat diukur berdasarkan besar kecilnya jarak tempuh yang diambil oleh sebuah tuturan. Maksudnya, jarak antara titik ilokusi yang berada dalam benak penutur dengan titik tujuan ilokusi yang berada dalam benak mitra tutur. Semakin jauh jarak tempuhnya, semakin tidak langsunglah tuturan itu. Demikian pula sebaliknya, semakin dekat jarak tempuhnya semakin langsunglah tuturan itu. Selain dari pada itu, derajat kelangsungan tindak tutur dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatiknya. Kerjasama pragmatik yang dimaksudkan di sini adalah kehelasan maksud atau daya ilokusi sebuah tuturan. Semakin tembus pandang maksud sebuah tuturan akan semakin langsunglah maksud tuturan tersebut. Sebaliknya, semakin tidak tembus pandang maksud sebuah tuturan akan semakin tidak langsunglah maksud tuturan itu. Jadi, apabila kejelasan pragmatik itu dikaitkan dengan kesantunan maka dapat disimpulkan bahwa semakin jelas maksud sebuah tuturan akan semakin tidak santunlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin tidak tembus pandang maksud sebuah tuturan akan meenjadi semakin santunlah tuturan ittu. Dengan penggolongan tindak tutur ke dalam bentuk-bentuk tutur akan memungkinkan teridentifikasinya peringkat kesantunan tuturan dalam kegiatan bertutur. 62

e. Teori Kesantunan Berbahasa Gunarwan, (1994:87) menuliskan bahwa ada beberapa pakar yang telah mengkaji masalah kesantunan berbahasa yakni, Lakoff (1972), Brown dan Levinson (1986), dan Leech (1983). Teori mereka itu pada prinsipnya bertolak dari pengamatan yang sama yaitu, bahwa di dalam berkomunikasi yang sebenarnya, penutur tidak selamanya mematuhi prinsip-prinsip kerja sama Grice, yang terdiri atas maksim-maksim. Perbedaannya hanya terletak pada sudut pandang mereka wujud kaidah kesantunan (kaaidah sosial). Lakoff (1972) berpendapaat bahwa ada tiga kaidah yang perrlu dipatuhi agar tuturan dapat terdengar santunan oleh pendengar atau mitra tutur. Ketiga kaaidah kesantunan itu adalah (1) formalitas (formality), (2) ketaktegasan (hesitency), dan (3) persamaan atau kesekawanan (equality or camaradirie). Jika dijabarkan lebih lanjut, yang pertama itu berarti jangan memaksa atau jangan angkuh (aloof), yang kedua berarti buatlah sedemikian rupa sehingga mitra tutur dapat menentukan pilihan (option); dan yang ketiga mengandung makna, bertindaklah seolah-olaah Anda dan mitra tutur sama atau sejajar, dengan kata lain buatlah ia merasa senang. Dengan demikian, menurut Lakoff, sebuah tuturan dapat dikatakan santun apabila tuturan itu bersifat formal, tidak memaksa, dan tidak terkesan angkuh, terdapat pilihan tindakan bagi mitra tutur, dan tuturan tersebut hendaklah maampu membuat mitra tutur merasa sama, bersahabat, merasa gembira, dan sejajar dengan penutur. Fraser (1990) menjelaskan bahwa ujaran yang santun adalah ujaran yang tidak melampaui hak atau tidak mengingkari kewajiban penutur. Hal yang 63

perlu dicatat mengenai definisi kesantunan Frase itu adalah (1) kesantunan itu adalah bagian dari ujaran, bukan ujaran itu sendiri, (2) pendengarlah yang menentukan santun tidaknya sebuah tuturan, (3) kesantunan itu dikaitkan dengan hak dan kewajiban peserta tutur, artinya sebuah tuturan terdengar santun atau tidak, dapat diukur berdasarkan: pertama, apakah penutur tidak melampaui haknya kepada mira tuturnya, dan kedua, apakah penutur memenuhi kewajibaannya kepada mitra tuturnya itu. Selanjutnya, dikatakn bahwa kewajiban pendengar atau mitra tutur adalah menjawab prtanyaan pembicaraan atau penutur. Tindakan tidak menjawab pertanyaan lawan tutur termasuk tindakan tidak santun. Jadi, yang termasuk ke dalam hak dan kewajiban penutur dan mitra tutur itu adalah menyangkut apa yang boleh diujarkan sserta cara menganjurkannya. Lain halnya dengan Brown dan Levinson (1987), yang berdasarkan teori kesantunannyaa pada nosoi muka (face) yaitu muka negatif dan muka positif. Muka negatif menunjuk kepada citra diri setiap orang yng ingin dihargai dengan cara membiarkannya bebas melakukan tindakaan atau bebas dari keharusan mengerjaakan sesuatu. Muka positif merujuk kepada citra diri setiap orang ingin agar hal yang dilakukannya, hal yang dimilikinya atau hal yang merupakan nilai-nilai yang diyakininya diakui orang lain sebagai suatu hal yang baik, yang meenyenangkan, yang patut dihargai, dan sebagainya. Menurutnya, sebuah tindak tutur dapat merupakaan ancaman terhadap muka yang ia ssebut sebagai face-threatening act (FTA). Untuk mengurangi ancaman itulah sehingga di dalaam berkomunikasi tidak selalu harus mematuhi maksim-maksim Grice, tetapi perlu mempertimbangkan penggunaan sopan santun berbahasa. Mengingat ada dua sisi muka yang terancam yakni muka 64

negatif dan muka positif, maka kesantunanpun dibagi menjadi dua yakni untuk menjaga muka negatif, sedangkan kesatuan positif dimaksudkaan untuk menjaga positif (brown dan Levinson, 1987). Di dalam kesantunan Brown dan Levinson (1987) terdapat tiga skala peringkat kesantunan sebuah tuturan. Ketiga kala tersebut ditentukan secara konsektual, sosial, dan kultural yang selengkapnya mencakup skala-skaala berikut. 1. Skala peringkat jarak sosial antara penuturr dan mitra tutur (social distance between speaker and heaver) yang ditentukan oleh paremeter perbedaan umur., jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural. Berdasarkan kenyataan di masyarakat lazim didapatkan bahwa semakin tua umur seseorang, semakin tinggi peringkat kesantunannya dalam bertutur. Sebaliknya, semakin muda umur seseorang cenderung memiliki peringkat kesantunan yang rendah di dalam bertutur. Wanita lazimnya memilki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan pria. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa wanita cenderung lebih banyak bersentuhan dengan sesuatu yang bernilai estetika dalam kesehariannya. Sebaliknya, pria cenderung banyak bersentuhan dengan kerja dan pemakaian logika dalam kesehariannya. Orang yang memiliki jabatan tertentu di dalam masyarakat cenderung memilki peringkat kesantunan lebih tinggi dibanding dengan masyarakat biasa. 2. Skala peringkat perbedaan kekuasaan antara penutur dan mitra tutur (the speaker and hearer relative power) didasarkan pada kedudukan yang tidak sejajar antara penutur dan mitra tutur. Sebagai contoh yang dapat 65

dikemukakan bahwa di dalam kelas, seorang dosen memiliki peringkat kekuasaan lebih tinggi dibanding dengan mahasiswa. 3. Skala peringkat status relatif jenis tindak tutur di dalam kebudayaan yang bersangkutan (the degrr of imposition associated with the required expenditure of goods or services). Hal ini didasarkanatas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur lainnya, artinya ada tindak tutur yang di dilam suatu kebudayaan dianggap tidak terlalu mengancam muka. Berbeda dengan Brown dan Levinson, yang mendasarkan kesantunan pada nosi muka, Leech (dalam Gunarwan, 1994:91) mendasarkan kesantunan berbahasa pada nosi-nosi: (1) biaya (coast) dan keuntungan (benefit), (2) kesetujuan (agreement), (3) pujian (approbation), dan (4) simpati/antipatu. Keempat noosi ini dipakai oleh Leech untuk menyusun prinsip-kesantuna (politeness principle), yang dijabarkan menjadi enam maksim. Keenam maksim itu diterjemahkan oleh Tarigan (1990:82-83) secara berturut-turut sebagai berrikut. 1. Maksim kebijaksanaan Kurangi kerugian orang lain Tambahin keuntungan pada orang lain

2. Maksim kedermawanan Kurangi keuntungan diri sendiri Tanbahi pengorbanan diri sendiri 66

3. Maksim penghargaan Kurangi cacian pada orang lain Tambahi pijian pada orang lain

4. Maksim kesederhanaan Kurangi pujian pada diri sendiri Tambahi cacian pada diri sendiri

5. Maksim permufakatan Kurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan orang lain Tangkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain

6. Maksim simpati Kurangi antipati antara dirri sendiri dengan orang lain Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain.
Blum-Kulka (dalam Gunarwan, 1992:1992:191) mencatat sembilan tipe tuturan imperatif yang dapat digunakan sebagai bertutur diuraikan berikut kesantunan. Kesembilan tuturan tersebut secaa berturut-turutt diuraikan berikut ini.

1.

Modus inperatif

(perintah) artinya kalimat perintah yang dinyatakan

dngan rumusan perintah. Contoh : Bukakan jendela itu! 2. Performatif artinya kalimat perintah dengan rumusan pernyataan. Contoh: Saya minta Saudara membuka jendela itu 67

3.

Performatif berpagar artinya kalimat perintah dengan rumusan pernyataan berpagar. Contoh: Saya mau minta Saudara membuka jendela itu.

4.

Pernyataan keharusan artinya kalimat perintah dengan rumusan pernyataan keharusan. Contoh: Saya ingin jendela itu dibukakan

5.

Pernyataan

keinginan

artinya

kalimat

perintah

dengan

rumusan

pernyataan keingina. Contoh: Saya ingin jendela itu dibukakan. 6. Formula saran artinya kalimat perintah dengan rumusan saran. Contoh: Bagaimana kalau jendela itu saya bukakan? 7. Pernyataan artinya kalimat perintah dengan rumusan pernyataan. Contoh: Saudara dapt membukakan jendela itu? 8. Isyarat kuat artinya kalimat perintah dengan tumusan isyarat yang kuat. Contoh: Dengan jendela itu tertutur, ruangan ini sangat panas. 9. Isyarat halus artinya kalimat perintah dengan menggunakan rumusan isyarat halus. Contoh: Wah, pengat sekali ruangan ini. 68

PENULISAN BUKU AJAR


Dr. Achmad Tolla, M.Pd Klarifikasi

Wujud asli makalah ini (dari halaman 18) ditulis oleh Prof. Dr. Kamaruddin, M.A. untuk memenuhi permintaan Panitia SP4 Jurusan Bahasa Indonesia. Tulisan yang saya siapkan untuk tujuan yang sama berjudul 69

Pengembangan Silabus dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Setelah memperoleh permintaan dari Panitia SP4 Jurusan Bahasa Jerman, makalah ini saya modifikasi seperlunya untuk memenuhi permintaan tersebut. Andaipun saya menulis makalah untuk materi yang sama, paparannya juga akan sama dengan makalah ini karena referensi yang beliau gunakan juga akan saya gunakan. Namun, karena perbedaan gaya bahasa, di sana sini saya melakukan modifikasi dan penyesuaian gaya bahasa sehingga gaya bahasa tulisan ini lebih mencerminkan gaya bahasa saya. A. Pendahuluan Tulisan ini menyajikan informasi praktis mengenai prodesur dan teknik dasar penulisan buku yang disajikan untuk digunakan dalam rangka proses belajar-mengajar atau untuk memenuhi kebutuhan komponen pengaktifan peserta belajar dan penyiapan diri pengajar. Ketersediaan buku sebagai salah satu media pemebelajaran merupakan tuntutan dan keharusan dalam setiap proses belajar mengajar agar kegiatan pembelajaran dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna.
Tulisan ini merupakan ramuan dari beberapa referensi yang ditulis berdasarkan pengalaman beberapa penulisan buku/bahan ajar. Uraian ini meliputi organisasi, kegiatan pendahuluan, analisis kebutuhan, merancang buku, penulisan bab, dan penulisan draft pertama.

B. Prosedur penulisan Naskah

Organisasi
Penulisan buku ajar sering merupakan kegiatan proyek perbukuan. Sebagian kegiatan proyek penulisan itu dilakukan oleh tim penulis. Namun, ada juga penulisan yang dilakukan secara perorangan. Hal ini bergantung kepada sifat dan tujuan penulisan buku tersebut. Kalau penulisan buku itu akan dugunakan secara luas, penulisan oleh sebuah tim penulis akan sangat membantu kegiatan penulisan. Demikian pula, kalau 70

penulis membutuhkan dukungan sumber dan pengalaman yang lebih luas, sebaiknya penulisan dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri atas anggota yang berpengalaman mengajarkan materi yang digarap oleh proyek penulisan bahan ajar itu. Hal yang penting ialah adanya tim reviu yang bertugas memantau dan menilai perkembangan serta hasil kegiatan proyek penulisan. Tim ini akan sangat bermanfaat guna menjaga mutu tulisan serta pengemmbanagn materi selanjutnya. Tim ini juga akan menjadi sumber pengembangan kegiatan penulisan yang berkelanjutan serta berkesinambungan, dan bukan hanya kegiatan sesaat saja.

Kegiatan Pendahuluan
Proyek penulisan buku mengidentifikasi calon peenulis dan calon anggota tim reviu. Beberapa criteria yang mungkin dipertimbangkan ialah: 1. yang bersangkutan menyiapkan waktu yang cukup untuk proyek penulisan. 2. yang bersangkutan berminat dan berrkeinginan terlibat di dalam proyek sehingga diperlukan menanamkan sikap dan hubungan harmonis dalam kelompok penulis. 3. berpengalaman mengerjakan bahan yang akan ditulis. Setelah tim terbentuk, dilakukan serangkaian pertemuan untuk menampung gagasan, ide atau pendapat (diskusi) terutama pada tahap-tahap awal proyek. Pertemuan itu dilakukan untuk: 1. merumuskan dan menjelaskan tujuan buku yang akan ditulis. 2. membahas dan menyetujui pendekatan yang akan digunakan dan tipe serta jenis bahan yang akan dipilih.

71

3. membagi tugas di anntara anggota tim. 4. menetapkan kegiatan yang digunakan untuk setiap bahan sajian. 5. membuat jadwal kegiatan dan menetapkan batas waktu (deadlines) untukl draft dan hal-hal lain yang berkaitan dengan proyek penulisan. Pertemuan-pertemuan berikutnya diselenggarakan untuk: 1. memperbandingkan gagasan-gagasan baru dan hal-hal yang bekerja baik. 2. menampung bahan-bahan yang disumbangkan oleh para anggota penulisan (teks bacaan dan sumber-sumber lain yang dapat digunakan). 3. tukar-menukar gagasan, misalnya; cara menyajikan latihan tertentu dan tugas yang diberikan sehingga efektif. 4. membahas secara mendalam kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Pertemuan-pertemuan ini sangat membantu menciptakan suasana dan praktik kerja tim yang benar di kalangan penulis. Kronologis/arus kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan penulisan bahan adalah analisis kebutuhan, penyusunan silabus, penentuan tujuan khusus, dan penetapan format pelajaran. Analisis kebutuhan dilakukan oleh (para) penulis. Mereka mereviu garis-garis besar pengajaran, melalui masukan (input) dari para pengajar/pernah mengajarkan pelajaran yang akan ditulis, memeriksa kinerja para siswa/mahasiswa, mempertimbangkan skor para siswa/mahasiswa yang mengikuti pelajaran/perkuliahan yang bersangkutan. Silabus perkuliahan yang ada menjadi sumber data yang utama, memberi masukan yang bernilai penting bagi penulis, dan membimbing penulis menentukan hal-hal penting untuk menulisan buku ajar. Silabus memberikan tujuan pembelajaran keterampilan yang diharapkan dicapai oleh pembelajaran/mahasiswa, bahan/isi pengajaran harus dicakup, berbagai tugas

72

dan kegiatan serta tuntutan yang (harus) dilakasanakan dalam setiap kegiatan belajar-mengajar.

. Kerangka Kerja
Pengembangan bahan pengajaran menggunakan kerangka kerja. Hutchinson dan Waters (1987) memebrikan petunjuk berupa delapan ciri pengembangan yang dimaksud. 1. Objectives (tujuan) memberi tahu pembelajaran apa yang harus diselesaikan/dicapai setelah melakukan pelajaran itu. 2. Opener (pembuka) memulai atau membuka pelajaran. Pembuka mungkin berupa pertanyaan yang mendorong pembelajar berpikir dan berbicara atau melakukan sesuatu yang akan dibahas dalam pembelaran itu. Pembuka dapat juga bertindak sebagai motivator bagi pemebelajar untuk menanti input (masukan). 3. Input (masukan) setiap penggal data komunikasi, seperti lagu, iklan, dan kebanyakan wacana pembelajar mengenai input/bacaan yang diberikan (mengidentifikasi ide pokok, merangkum, dan menarik simpulan). 4. Comprehention check (pengcekan pemahaman) mengecek/menilai pemahaman pembelajar mengenai input/bacaan yang diberikan (mengidentifikasi isi pokok, merangkum, dan manarik kesimpulan). 5. Vocabulary (kosakata) kosakata sulit atau yang masih asing/tidak lazim yang ada pada input dibahas. 6. Discussion/reflection (diskusi/refleksi) memebri pembelajaran kesempatan berrpikir, menganalisis, dan/atau menerapkan yang telah dipelajarinya pada situasi yang sama dengan hal yang disajikan.

73

7. Language focus (focus bahasa) kegiatan diberikan untuk memperkuat penguasaan pembelajar terhadap struktur bahasa (tata bahasa) tertentu yang merupakan kunci terhadap tujuan pelajaran (bahan ajar bahasa). 8. Task (tugas) kegiatan puncak yang memberi pembelajar kesempatan mengintegrasikan dan menggunakan gagasan kunci dan keterampilan yang diajarkan dalam pelajaran. Selain kedelapan ciri pengembangan tersebut, dibutuhkan pula penyiapan bahan bacaan tambahan (supplementary reading). Bacaan tambahan adalah bahan bacaan yang berkaitan untuk dibaca oleh pembelajar pada waktu senngang sebagai tugas penguatan dan pengayaan bagi pembelajar. Itulah sebabnya diasumsikan bahwa pemilihan teks input merupakan salah satu aspek yang paling mendasar dalam keseluruhan proses penyiapan dan penulisan bahan ajar. Merancang Buku Penulis buku, yang mungkin juga pengajar materi buku itu, harus mempertimbangkan hal berikut ini. 1. Apakah buku itu merupakan bantuan untuk kuliah? 2. Apakah buku itu merupakan tambahan bahan kuliah yang pokok? 3. Apakah buku itu berisi uraian tentang bagian tersulit dari keseluruhan isi buku? 4. Apakah buku itu merupakan teks yang penuh dengan bahan latihan? 5. Apakah buku itu akan berisi intisari dari buku-buku yang seharusnya dipelajari oleh mahasiswa? Kalau penulis/pengajar sudah memahami secara jelas fungsi buku yang akan ditulis, maka penulis dapat memikirkan isinya secara umum. Penulis, dengan bantuan pengalaman, menentukan bab-bab yang perlu ada. Bab-bab itulah

74

yang memaparkan bahan kuliah yang disajikan. Cara menyusun bab itu dapat dituangkan dalam beberapa tahap. Tahap 1, penulis menetukan dan memilih topik yang akan dibahas dalam bab itu. Pengalaman penulis dan/atau pengajar menjadi masukan tim penulis. Dari bahan-bahan itu dipilihlah bahan yang diperlukan dan menyisihkan bahan yang tidak diperlukan. Tahap 2, penulis menentukan bentuk dan susunan bab secara logis berdasarkan topik-topik yang telah dipilih. Hal ini sangat penting karena bab-bab itu akan membantu pengajar melihat kejelassan sajian. Susunan bab yang baik merupakan syarat yang harus terpenuhi agar tampak keruntutan tema buku yang ditulis. Tahap 3, untuk memantapkan susunan bab yang logis, penulis memerlukan diskusi/masukan dari kolega yang berkeahlian dalam bidang yang sama. Diskusi itu akan menghindarkan penulis dari kesalahan yang mungkin terjadi, tetapi tidak terlihar oleh penulis sendiri. Selain itu, , diskusi itu berguna untuk mengatasi keraguan-keraguan yang mungkin membayangi penulis. Tahap 4, penulis mengumpulkan sebanyak-sebanyaknya bahan yang dibutuhkan untuk meyusun bab itu (teks, grafik, table, gambar, dsb). Tahap 5, penulis membuat daftar isi yang rinci. Hal-hal yang termasuk di dalamnya antara lain: judul bab, judul rincian bab, serta bagian-bagian lainnya. Contoh 1 I. Judul bab A. Judul rincian bab Contoh 2 1. Judul bab 1.1 Judul rincian bab

75

1.Subjudul 2.Subjudul B. Judul rincian bab 1. Subjudul 2. Subjudul 3. Subjudul

1.1.1 Subjudul 1.1.2 Subjudul 1.2 Judul rincian bab 1.2.1 Subjudul 1.2.2 Subjudul 1.2.3 Subjudul

Tahap 6, setelah bab-bab itu tersusun secara pasti, dimulailah menulis kalimatkalimat tesis atau kalimat inti mengenai uraian tiap bagian, judul, subjudul, atau tiap alinea. Kalimat-kalimat tesis atau kalimat inti itu merupakan petunjuk penulisan teks secara lengkap. Penulis sudah dapat menyusun kerangka bab serta alinea-alineanya. Setelah itu, penulis sudah dapat bekerja.

Penulisan Bab
Buku merupakan suatu tulisan yang mendukung tema tertentu. Oleh karena itu, bab-bab buku itu diurutkan sedemikian rupa sehingga menunjukkan keterkaitan yang mendukung tema itu. Untuk mengantar pembaca, penulis senantiasa memulai tulisannya dari pendahuluan. Pendahuluan merupakan pintu masuk perkenalan tema buku, diikuti dengan bab-bab isi, dan seterusnya dengan bab-bab penjelas, diakhiri dengan bab penutup sebagai kesimpulan atau rangkuman tema bab tersebut. Mengenai bab penutup ini, ada versi yang lazim digunakan oleh tia-tiap penulis. Ada penulis yang membuat rangkuman pada setiap akhir bab sebagai penutup bab. Selain itu, ada pula penulis yang menggunakan bab penutup untuk sebuah buku yang ditulisnya.

76

Judul bab dan judul rincian bab menjadi petunjuk tema dan merupakan penuntun bagi penulis untuk mengembangkan tulisan pada bab rincian bagi bab yang bersangkutan. Tema merupakan ungkapan dasar hal yang dibisacarakan. Ungkapan dasar inilah yang dikembangkan bab-bab penjelas. Pengembangan tema tersebut memanfaatkan fungsi-fungsi retoris yang sesuai dengan fungsi dan tujuan pengembangan tema yang bersangkutan. Penulisan bab sebagai keutuhan tema harus didukung oleh penulisan alineaalinea pendukukngnya yang juga mendukung tema-tema bawahan pendukung bab itu. Alinea pembuka bab sebagai pintu masuk bab dan alinea penutup bab sebagai penekanan kembali isi bab dan membantu pembaca mengingat kembali secara jelas tema bab yang bersangkutan.. Antara alinea pembuka bab dan alinea penutup disajikanlah alinea penjelas tema bab tersebut.

Penulisan Draft Pertama Penulisan buku ajar tidak langsung jadi. Kalimat-kalimat tesis yang telah dibuat pada tahap 6 dijadikan dasar penulisan naskah pertama. Kalimatkalimat itu merupakan dasar yang menentukan urutan dan keutuhan naskah. Kalimat-kalimat tesis itu dikembangkan menjadi alinea-alinea yang disusun secara runtut menjadi keutuhan teks. Penulis perlu menulis saja secara terus menerus sebanyak-banyaknya sesuai kebutuhan. Pada tahap ini penulis belum perlu menyunting kalimat-kalimatnya karena hal itu akan mengganggu kelancaran arus ide yang dituangkan dalam tulisan. Penyuntingan dilakukan setelah seluruh tulisan draft pertama selesai. Yang penting diperhatikan ialah penulis menuangkan ide/gagasannya secara lengkap tanpa mengindahkan dahulu bahasa dan perwajahan naskah.

77

Untuk memudahkan pembaca, perlu digunakan cara-cara pengembangan alinea yang sesuai dan tepat sebagai fungsi retoris. Misalnya, untuk buku teks sejarah sering berupa deskripsi, narasi, dan hubungan sebab akibat. Untuk sain, terutama biologi, fungsi retoris yang sering digunakan adalah deskripsi, definisi, klasifikasi, dan hubungn sebab akibat. Untuk humaniora, sering digunakan ilustrasi dan contoh, komparasi, dan kontras sebagai fungsi retoris. Dalam dunia nyata, terdapat 9 tipe wacana ekspositori, yaitu: (1) narasi, (2) deskripsi, (3) definisi, (4) ilustrasi dan contoh, (5) klasifikasi dan difinisi, (6) komparasi dan kontras, (7) analogi, (8) penjelasan proses, dan (9) sebab dan akibat. Tipe-tipe wacana ekspositori itu sering digunakan bersama-sama sesuai dengan kebutuhan. Jadi, tidak ada satu tipe tertentu saja yang digunakan secara monoton. Namun, untuk maksud dan tujuan belajar-mengajar, dilakukalah pengelompokan dan penataan tipe-tipe itu secara sistematis dan logis sesuai dengan kebutuhan bahan ajar. Pengalaman menunjukkan bahwa penuangan hal-hal itu ke dalam alinea tidak akan selalu berhasil. Walaupun begitu, penulis perlu mencobanya berulangulang hingga hasil yang diharapkan dapat dicapai, sebagaimana motto orangorang pintar: Menulislah terus karena mutu akan mengikut dengan sendirinya. Agar pembaca terbantu dalam memahami teks, maka penulis perlu menjelaskan sistematika tulisannya. Pembagian dan penyusunan alinea yang baik akan sangat membantu dan sangat bermanfaat dalam memudahkan pembaca mengikuti dan memahami ide atau gagasan penulis. Penulis juga perlu memberikan tanda-tanda yang memperjelas susunan teks.. Tanda-tanda itu dapat berupa nomor, bentuk huruf yang berbeda (misalnya: huruf miring, huruf tebal). Penulis juga dapat memberi tanda yang memberitahukan bahwa

78

suatu bagian telah berakhir. Dengan demikian, penulis memberitahukan pembaca bahwa pembaca akan beralih ke bagian selanjutnya. Penggunaan alinea peralihan merupakan salah satu cara penanda perlaihan paragraf. Dengan cara itu, pembaca diingatkan kembali susunan bab yang sedang diikuti sehingga pembaca akan memperoleh gambaran menyeluruh terhadap materi tulisan. Apabila bahan tulisan merupakan bahan yang rumit, penulis perlu memberi beberapa conbtoh guna memperjelas idenya. Contoh-contoh yang dimaksud sangat membantu pembaca untuk memahami bahan ajar. Pemahaman yang dimaksud terutama bagi peserta didik dengan cara melengkapi teks dengan pertanyaan-pertanyaa/bahan latihan. Pertanyaan/latihan itu dapat diberikan pada akhir bab atau bagian akhir unit bahan tertentu. Pertanyaan/latihan itu memaksa pembelajar untuk mengulangi bahan ajar yang dipelajarinya. Kalau semua bab sudah selesai ditulis, penulis harus melakukan pemeriksaan kembali terhadap semua yang telah ditulisnya mulai dari awal. Penulis membaca kembali tulisannya dan memeriksa keterkaitan penalaran dan l;ogika, maka penalaran yang logis itu. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap konsistensi penulisan dan teknik pengutipan, cara merujuk referensi dan kecermatan penulisan makna, dan sebagainya. Yang perlu diperiksa dengan cermat ialah pemakaian bahasa karena soal bahasa tekadang kurang dipehatikan ketika sedang memfokuskan perhatian pada ide yang sedang dituangkan ke dalam tulisan. Ini adalah pekerjaan penyuntingan. Penyuntingan ini hendaknya mempertimbangkan pula yang logis antarbagian dan susunan yang saling bertaut. Kalau ditemukan ketidakserasian dilakukan perubahan-perubahan seperlunya. Mungkin juga diperlekan penyisipan bahan di sana sini guna mendukung alur

79

penyusunan kalimat yang memudahkan aliran alur nalar dan alur gagasan yang menyenangkan pembaca untuk memahami dan/atau menikmati tulisan yang dibacanya. Pemeriksaan ulang dapat melibatkan teman seprofesi dalam bidang yang sama. Setelah pemeriksaan ulang itu, mungkin perlu dilakukan penulisan kembali atas daraf itu. Tulisan akhir ini menghasilkan tulisan yang berbentuk manuskrip atau naskah jadi yang siap untuk diketik. Untuk menjadikan manuskrp itu sebagai satu buku, maka dilengkapilah dengan: a. Sampul, sampul memeiliki daya tarik tersendiri sehingga perlu ada ilustrasi. b. Pengantar, yang menyatakan fungsi buku, pembagian bab-bab, dan sasaran buku. c. Daftaf isi yang mencantumkan: bab, judul, dan bagian lainnya dari buku. d. Pendahuluan, yang menyatakan hal-hal yang akan dihadapi oleh pembaca atau pembelajar, petunjuk cara mempelajari, dan apa yang diharapkan oleh penulis. e. Daftar kepustakaan, diperlukan untuk mengetahui sumber informasi. f. Daftar kata/istilah (glosarium) pengutipan yang sulit disusun secara alfabetis. Setelah rangkaian kegiatan perbaikan sudah dilakukan, maka tim reviu dan mitra ahli dapat membuat komentar yang diharapkan dapat berguna bagi penulis untuk penyempurnaan tulisannya.

80

C. Daftar Pustaka
Bagian paling akhir suatu karya ilmiah adalah daftar pustaka. Lampiran dan riwayat hidup tidak termasuk tubuh suatu karya ilmiah. Disarankan agar buku-buku atau sumber tertulis lainnya yang dicantumkan pada daftar pustaka benar-benar relevan dengan bidang ilmu yang ditulis. Agar prinsip etika ilmiah tetap dipertahankan, penulis diharapkan secara objektif menuliskan semua sumber yang memberi inspirasi atau pengetahuan yang dituangkan ke dalam tulisannya. Ada dua istilah yang perlu dipahami, yaitu daftar pustaka dan daftar bacaan atau daftar rujukan. Daftar pustaka adalah daftar buku yang mempunyai hubungan dengan penelitian, walaupun tidak dikutip langsung. Daftar bacaan atau daftar rujukan adalah daftar buku yang dijadikan sumber informasi dalam menulis, baik proposal maupun laporan penelitian. Adapun cara menulis daftar pustaka atau daftar bacaan ada tiga macam sebagaimana diuraikan berikut ini. 1. Menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI), urutannya: nama penulis, tahun, judul, kota tempat penerbitan, penerbit Contoh: Habibi, B. J. 1999. Rekayasa Mesin Pesawat Terbang Modern. 81

Jakarta: Balai Pustaka. 2. Menurut American Psiychological Association (APA), urutannya: nama penulis. (tahun), judul, kota tempat penerbitan, penerbit Contoh: Habibi, B. J. (1999). Rekayasa Mesin Pesawat Terbang Modern. Jakarta: Balai Pustaka. 3. Menurut Modern Language Assiciation (MLA), urutannya: nama penulis, judul, kota tempat penerbitan, penerbit tahun Contoh: Habibi, B. J. Rekayasa Mesin Pesawat Terbang Modern. Jakarta: Balai Pustaka, 1999. Ketiga cara penulisan daftar pustaka yang dikemukakan di atas merupakan hasil kesepakatan para pustakawan di Indonesia. Itulah sebabnya, setiap lembaga atau sublembaga, termasuk lembaga pendidikan atau percetakan secara menasuka memilih dan menggunakan salah satu cara itu. Dalam lingkungan UNM misalnya, setiap fakultas, bahkan setiap dosen menggunakan cara penulisan daftar pustaka dengan tidak sama. Akan tetapi, yang terpenting, mereka menggunakan salah satu dari ketiga cara itu. Ketiga cara penulisan daftar puistaka itu digunakan secara manasuka untuk menulis 82

daftar pustaka yang berasal dari berbagai jenis karya tulis yang di antaranya disebutkan di bawah ini. 1. Acuan yang diambil dari buku. Contoh: Underwood, Mary. 1987. Effective Class Management. London: LongmanLimited. Munandar, Utami.(1999). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta. Wahab, Abdul dan Lestari, Lies Amin. Menulis Karya Ilmiah. Surabaya: Airlangga University Press, 1999. 2. Acuan buku yang berisi artikel (antologi). Contoh: Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang. Letheridge, S. and Cannon, C.R. (Eds). (1987) Bilingual Education: Teaching English as a Second Language. New York: Preager. Aminuddin (Ed.).. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang, 1990. 3. Acuan dari artikel yang dimuat dalam suatu buku. Contoh: Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddi (Ed.), Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra (hlm. 1225). Malang: HISKI Komisariat Malang. 83

Hasan, M.Z. (1990). Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddi (Ed.), Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa Sastra (hlm. 1225). Malang: HISKI Komisariat Malang. Hasan, M.Z. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddi (Ed.), Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra (hlm. 1225). Malang: HISKI Komisariat Malang, 1990. 4. Acuan dari artikel yang dimuat dalam jurnal. Contoh: Hanafi, A. 1990. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi. Forum Penelitian, 1 (I):3347. Hanafi, A. (1990). Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi. Forum Penelitian, 1 (I):3347. Hanafi, A. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi. Forum Penelitian, 1 (I):3347, 1990. 5. Acuan dari artikel yang dimuat di surat kabar atau majalah yang tidak jelas nama penulisnya. Contoh: Fajar. 2004, 29 Februari. Osama Dilaporkan Tertangkap. Halaman 1. Fajar. (2004, 29 Februari). Osama Dilaporkan Tertangkap. Halaman 1. Fajar. Osama Dilaporkan Tertangkap. Halaman 1. 2004, 29 Februari. 6. Acuan dari artikel yang dimuat di surat kabar atau majalah yang ada nama 84

penulisnya Contoh: Yahya, Muas. 2004, 29 Februari. Lahan Tidur untuk Rumah Toko. Fajar, hlm. 30. Yahya, Muas. (2004, 29 Februari). Lahan Tidur untuk Rumah Toko. Fajar, hlm. 30. Yahya, Muas. Lahan Tidur untuk Rumah Toko. Fajar, hlm. 30. 2004, 29 Februari 7. Acuan yang diambil dari publikasi resmi yang diterbitkan oleh penerbit tanpa nama pengarang atau nama lembaga yang menerbitkan. Contoh: Undang-Undang Reoublik Indonesia Nomor 22 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: Diperbanyak oleh PT Armas Duta Jaya. Undang-Undang Reoublik Indonesia Nomor 22 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (1990). Jakarta: Diperbanyak oleh PT Armas Duta Jaya. Undang-Undang Reoublik Indonesia Nomor 22 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Diperbanyak oleh PT Armas Duta Jaya, 1990 8. Acuan yang diambil dari dokumen yang ditulis atas nama lembaga. Contoh: Program Pascasarjan, Universitas Negeri Makassar. 2002. Pedoman Penyusunan Tesis/Disertsi. Makassar: Universitas Negeri Makassar. Program Pascasarjan, Universitas Negeri Makassar. (2002). Pedoman 85

Penyusunan Tesis/Disertsi. Makassar: Universitas Negeri Makassar. Program Pascasarjan, Universitas Negeri Makassar. Pedoman Penyusunan Tesis/Disertsi. Makassar: Universitas Negeri Makassar, 2002. 9. Acuan yang diambil dari terjemahan. Contoh: Underwood, Mary. 1987. Pengelolaan Kelas yang Efektif. Terjemahan oleh Susi Purwoko. 2000. Jakarta: Arcan. Underwood, Mary. 1987. Pengelolaan Kelas yang Efektif. Terjemahan oleh Susi Purwoko. (2000). Jakarta: Arcan. Underwood, Mary. 1987. Pengelolaan Kelas yang Efektif. Terjemahan oleh Susi Purwoko. Jakarta: Arcan, 2000. 10. Acuan yang diambil dari skripsi, tesis, disertasi. Contoh: Amin, Muhammad. 2001. Pengembangan Tes Komunikatif Bahasa Indonesia Siswa Kelas III Sekolah Menengah Umum Negeri di Kota Makassar. Tesis tidak diterbitkan. Program Pascasarjana UNM. Amin, Muhammad. (2001). Pengembangan Tes Komunikatif Bahasa Indonesia Siswa Kelas III Sekolah Menengah Umum Negeri di Kota Makassar. Tesis tidak diterbitkan. Program Pascasarjana UNM. Amin, Muhammad. Pengembangan Tes Komunikatif Bahasa Indonesia Siswa Kelas III Sekolah Menengah Umum Negeri di Kota Makassar. Tesis tidak 86

diterbitkan. Program Pascasarjana UNM. 2001. 11. Acuan yang bersumber dari makalah yang disajikan dalam seminar atau lokakarya. Contoh: Maula, Amiruddin. 2003. Peranan Bahasa Indonesia dalam Pembangunan. Makalah disajikan pada Seminar Bulan Bahasa, Fakultas Bahasa dan Seni UNM, Makassar, 8 Oktober. Maula, Amiruddin. (2003). Peranan Bahasa Indonesia dalam Pembangunan. Makalah disajikan pada Seminar Bulan Bahasa, Fakultas Bahasa dan Seni UNM, Makassar, 8 Oktober. Maula, Amiruddin. Peranan Bahasa Indonesia dalam Pembangunan. Makalah disajikan pada Seminar Bulan Bahasa, Fakultas Bahasa dan Seni UNM, Makassar, 8 Oktober, 2003. 12. Acuan yang diambil dari internet. Informasi dari internet, bagi sebagian orang, dianggapnya sebagai informasi yang paling mutakhir dan cangguh. Alasannya ialah bahwa informasi dari internet belum ada dalam publikasi yang lain. Alasan ini, mungkin benar, tetapi mungkin juga tidak sepenuhnya benar. Penulis sendiri berpendapat bahwa tidak semua informasi dari internet benar-benar baru yang belum pernah ditemukan dalam publikasi lain. Konsep pendidikan berbasis kompetensi misalnya, informasinya berkembang sejak tahun 1970-an di Amerika dan Eropa, dan masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an.

87

Pada awal tahun 2001, konsep ini muncul kembali dan dianggap sebagai konsep baru. Orang pun, termasuk penulis sendiri, ramai-ramai mencari informasi itu di internet. Hasilnya, memang ada informasi yang berhubungan dengan pendidikan berbasis kompetensi, tetapi informasi itu semuanya mengacu kepada literatur yang terbit tahun 1970-an, sedikit tahun 1980-an. Informasi yang sama banyak orang yang telah membacanya pada tahun 1970an atau 1980-an. Ini menunjukkan bahwa informasi dari internet tidak selamanya canggih, seperti yang diasumsikan banyak orang. Akan tetepi, tidak disangkal pula bahwa memang ada informasi ilmiah yang ditemukan di internet dan tidak ditemukan dalam publikasi umum. Informasi demikian itulah yang memaksa kita untuk mencari model penulisan acuan atas informasi itu. Sampai sekarang, belum ada model penulisan acuan yang diambil dari internet. Ada alasan yang berkaitan dengan hal ini. Pertama, informasi yang biasa ditemukan di internet umumnya berupa makalah yang telah disajikan dalam suatu seminar atau kegiatan ilmiah lainnya. Dengan demikian, penulisan acuannya tentu sama dengan makalah yang dibagikan kepada peserta dalam suatu seminar. Kedua, informasi dari internet umumnya dalam bentuk artikel yang telah dipublikasikan dalam majalah atau koran, atau buku sebagai bunga rampai. Jika demikian, maka penulisan acuannya beranalogi pada penulisan artikel dari majalah/koran atau bunga rampai. Jika informasi yang dimaksud tidak termasuk dalam kelompok kedua jenis karya ilmiah itu, maka penulisan acuan informasi yang dianjurkan sebagai berikut.

88

Gabel, Dorothy. 1995. An Introduction to Action Research. Diakses dari internet, Desember 2003. Gabel, Dorothy. (1995). An Introduction to Action Research. Diakses dari internet, Desember 2003.

Bacaan Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Hidalgo, A.C. David Hall, dan George M. Jacobs (Ed.)1995. Getting Started: Material Writers on Material Writing. Singapore: SEAMEO Regional Language Centere.

Pedoman Umum Lomba Karya Tulis Mahasiswa.2004. Jakarta: Dirjen Dikti. Tomlinson, B. (Ed.) 1998. Materials Development in Language Teaching. Canbridge: Cambridge University Press.
Rooijakkers, Ad. 1990. Mengajar dengan Sukses. Petunjuk untuk

Merencanaman dan Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

89

Wahab, Abdull dan Lestari, Lies Amin. 1999. Menulis Karya Ilmiah.

PEDOMAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN


Klarifikasi Pedoman Ejaan yang Disempurnakan yang dikemukakan kembali dalam tulisan ini telah diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto. Formulasi kalimat dan contoh-tontoh yang dinyatakan dalam tulisan ini pun masih asli dari teks asli naskah pertama Pedoman Ejaan yang disempurnakan yang secara remi diterbitkan pada tahun 1975. Keaslian naskah tetap dipertahankan karena 90

buku Pedoman Ejaan yang Disempurnakan termasuk dokumen negara sebagai penjabaran dari Pasal 36 UUD 1945 tentang kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara. A. Pemenggalan Kata 1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut. a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misalnya: au-la sau-da-ra am-boi bukan bukan bukan a-u-la sa-u-da-ra am-bo-i

b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan-huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan sebelum huruf konsonan. Misalnya: ba-pak la-wan mu-ta-khir c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan-huruf konsonan tidak pernah diceraikan. 91 ba-rang de-ngan su-lit ke-nyang

Misalnya: man-di cap-lok makh-luk d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua. Misalnya: in-stru-men in-fra ben-trok ul-tra bang-krut ikh-las som-bong Ap-ril swas-ta bang-sa

2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris. Misalnya: makan-an mem-bantu Catatan: a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal. b. Akhiran i tidak dipenggal. c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut. Misalnya: te-lun-juk ge-li-gi 92 si-nam-bung me-rasa-kan pergi-lah

3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, ib, 1c, dan 1d di atas. Misalnya: bio-grafi, bi-o-gra-fi foto-grafi, fo-to-gra-fi intro-speksi, in-tro-spek-si kilo-gram, ki-lo-gram kilo-meter, ki-lo-me-ter pasc-panen, pas-ca-pa-nen Keterangan: Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus. B. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring a. Huruf Kapital atau Huruf Besar 1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. 2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. 3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan 4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelas kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. 93

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. 6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. 7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. 8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. 9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi. 10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. 11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. 12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. 13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama, gelar, pangkat, dan sapaan. 14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. 15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. 94

b. Huruf Miring 1. tulisan. 2. kata. 3. disesuaikan ejaannya. C. Penulisan Kata a. Kata Dasar Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. B. Kata Turunan 1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. 2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. 3. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. 4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adipati aerodinamika mahasiswa mancanegara 95 Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam

antarkota audiogram awahama bikarbonat biokimia caturtunggal dasawarsa dekameter demoralisasi dwiwarna ekawarna ekstrakurikuler elektriteknik infrastruktur inkonvensional introspeksi kolonialisme kosponsor c. Bentuk Ulang

narapidana nonkolaborasi Pancasila panteisme paripurna poligami pramuniaga prasangka purnawirawan reinkarnasi saptakrida semiprofesional subseksi swadaya telepon transmugrasi tritunggal ultramodern

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. d. Gabungan Kata 1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

96

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan. 3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya: acapkali adakalanya akhirulkalam alhamdulillah astagfirullah bagaimana barangkali beasiswa belasungkawa bilamana bismillah bumiputra daripada darmabakti darmasiswa darmawisata dukacita halalbihalal hulubalang kacamata manakala manasuka mangkubumi matahari orahraga padahal paramasastra peribahasa puspawarna radioaktif saptamarga saputangan saripati sebagaimana sediakala segitiga sekalipun silaturahmi sukacita sukarela 97

kasatmata kepada keratabasa kilometer

sukaria syahbandar titimangsa wasalam

e. Kata Ganti ku, kau-, -mu, dan nya. Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. f. Kata Depan di, ke, dan dari Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. g. Kata si dan sang Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. h. Partikel 1. Partikel lah, -kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. 2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. 3. Partikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. i. Singkatan dan Akronim 1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

98

b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diiukuti dengan titik. c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll. dsb. dst. hlm. sda. Yth. Tetapi: a.n. d.a. u.b. u.p dst. Singkatan yang terdiri atas huruf kapital tidak dititik. Contoh: DPR MPR KPU DPA 99 atas nama dengan alamat untuk beliau untuk perhatian dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya halaman sama dengan atas Yang terhormat

MA FKIP ABRI UUD KUD dst. d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya: Cu TNT cm kVA l kg Rp kuprum trinitrotoleun sentimeter kilovolt-ampere liter kilogram rupiah

2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata dari deret kata yang diperlukan sebagai kata. a. Akronim nama dari yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

100

c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. D. Pemakaian Tanda Baca a. Tanda Titik (.) 1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. 2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya: a. III. Departemen Dalam Negeri A. Direktorat Jenderal Pem-bangunan Masyarakat Desa B. Direktorat Jenderal Agraria 1. ... b. 1. Patokan Umum 1.1 Isi Karangan 1.2 Illustrasi 1.2.1 Gambar tangan 1.2.2 Tabel 1.2.3 Grafik b. Tanda Koma (,) 1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

101

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. 3. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi. 4. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. 5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. 6. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. 7. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. 8. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. 9. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. 10. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. 102

11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. 12. Tanda koma dipakai--untuk menghindari salah baca--di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. 13. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. B. Tanda Titik Koma (;) 1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. 2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. C. Tanda Titik Dua (:) 1a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. 1b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. 2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkatan yang memerlukan pemerian. 3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. 4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jili atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. 103

D. Tanda Hubung (-) 1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. 2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. 3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. 4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagianbagian tanggal. 5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagianbagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata. 6. Tanda hubungan dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan an, dan (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap. 7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaian unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. E. Tanda Pisah () 1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. 2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. 3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti sampai. F. Tanda Elipsis (...) 1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. 104

2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. G. Tanda Tanya (?) 1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. 2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya. H. Tanda Seru (!) Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidak-percayaan, atau pun rasa emosi yang kuat. I. Tanda Kurung ((...)) 1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. 2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. 3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. 4. Tanda kurung mengapit angka atu huruf yang memerinci satu urutan keterangan. J. Tanda Kurung Siku ([...]) 1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. 2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. 105

K. Tanda Petik (...) 1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. 2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. 3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. 4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. 5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. L. Tanda Petik Tunggal (...) 1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. 2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing. M. Tanda Garis Miring 1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. 2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata, dan, atau, atau tiap. N. Tanda Penyingkat atau Apostrof ()

106

PENULISAN KARYA TULIS Dr. Achmad Tolla, M.Pd. A. Rasional Keterampilan menulis memegang peranan kunci dalam dunia pendidikan, mulai dari tingkat sekolah lanjutan sampai di perguruan tinggi. Hal ini perlu dikemukakan karena amat banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan jika diberi tugas oleh dosen untuk menulis karya ilmiah. Berdasarkan keadaan ini dapat diasumsikan bahwa jika mahasiswa mengalami kesulitan menulis karya ilmiah, tentu saja kesulitan itu lebih berat bagi siswa sekolah lanjutan. Dengan demikian, alangkah idealnya jika latihan menulis, termasuk menulis karya ilmiah, mulai diintensifkan di tingkat sekolah lanjutan. Kalau usaha ini dilakukan dengan baik, maka siswa sekolah lanjutan atas diharapakan memiliki keterampilan menulis dan sekaligus mampu menulis karya ilmiah.
107

Berdasarkan pengalaman penulis, wilayah kesulitan para mahasiswa dalam menulis karya ilmiah secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) prosedur penulisan karya ilmiah, (2) pemilihan topik yang menarik, mutakhir, dan berprospek, dan (3) kemampuan memformulasikan ide di dalam kalimat bahasa Indonesia ragam ilmiah dengan tepat. Pada kesempatan ini, penulis akan lebih banyak membahas prosedur penulisan karya ilmiah dengan alasan bahwa guru-guru bidang studi telah memberi pengalaman belajar kepada siswa yang memungkinkan mereka untuk dapat memilih topik-topik yang relevan dengan persyaratan di atas yang dapat dikembangkan menjadi sebuah karya tulis ilmiah. Pengungkapan ide dalam kalimat bahasa Indonesia ragam ilmiah pun penulis yakin guru bidang studi yang bersangkutan juga telah, sedang, dan akan terus melatih siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia secara formal, termasuk ragam bahasa ilmiah. Namun, sebagai bahan renungan, berikut ini dicantumkan tiga kelompok tema atau topik yang diadaptasi dari Pedoman Umum Lomba Karya Tulis Mahasiswa (2002) yang dapat menjadi dasar untuk memilih tema atau topik yang baik.
1. Bidang Ilmu a. Pengembangan kesadaran dan sistem hukum nasional b. Pengembangan menuju masyarakat madani 108

c. Pembinaan keluarga dalam menghadapi perubahan nilai sosial d. Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat e. Pengaruh bahasa terhadap perilaku manusia f. Pemanfaatan dan pembelajaran potensi lingkungan sekitar 2. Bidang Teknologi a. Pendayagunaan potensi biologi dan pertanian b. Pendayagunaan teknologi sepadan c. Pendayagunaan potensi mineral d. Pendayagunaan potensi kelautan e. Keefektifan pembelajaran bahasa melalui internet f. Pendayagunaan potensi informasi teknologi 3. Bidang Seni a. Penerapan seni dalam pemantapan identitas bangsa b. Seni dan pendidikan untuk hidup bersama c. Seni dan pluralisme budaya d. Peranan seni dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat

B. Sistematika Penulisan Karya Ilmiah Yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah rancangan penulisan karya ilmiah untuk menjadi pedoman bagi siswa yang ingin menulis karya ilmiah. Adapun sistematika rancangan yang dimaksud sebagai berikut. 1. Bagian Awal a. Halaman Judul
109

1) Judul seluruhnya ditulis dengan huruf kapital dengan syarat: ekspresif, dikuasai oleh penulis, mencerminkan isi tulisan secara utuh, dan relevan dengan masalah yang diajukan 2) Nama dan nomor induk penulis ditulis dengan jelas 3) Nama sekolah atau lembaga ditulis dengan jelas b. Lembar Pengesahan 1) Lembar pengesahan memuat judul, nama dan nomor induk penulis 2) Lembar pengesahan ditandatangani oleh guru pembimbing dan kepala sekolah lengkap dengan stempel jabatan 3) Lembar pengesahan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan c. Kata Pengantar Penulis d. Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan, misalya: daftar gambar, daftar tabel, dan daftar lampiran 2. Bagian Inti a. Pendahuluan
110

Penulis harus memahami cara penulisan bagian inti ini. Apabila tulisan barulah berupa proposal, maka pendahuluan bukan merupakan bab, melainkan bagian pertama seperti ini: I. Pendahuluan (tanpa titik). Pembutiran yang mengikut pendahuluan ini dapat ditulis dengan dua cara, yaitu: (a) dengan angka Arab: 1.1 dst. (angka satu terakhir tanpa titik); (b) dengan huruf: A. dst. Akan tetapi, apabila tulisan sudah merupakan laporan penelitian atau hasil kajian pustaka atau gabungan keduanya, maka pendahuluan dan bagian inti selanjutnya ditulis sebagai bab: BAB I PENDAHULUAN (tidak boleh menjarakkan huruf) Bagian selanjunya ditulis seperti ini. Bagian atau bab pendahuluan berisi komponen berikut ini. 1) Latar belakang berisi uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang akan dikaji, baik melalui kajian pustaka maupun penelitian lapangan atau gabungan keduanya. Gagasan kreatif yang dimaksud dikuatkan dengan uraian tentang pentingnya gagasan itu dibahas atau diteliti secara mendalam. Agar lebih meyakinkan pembaca, penulis
111

serbaiknya menguraikan kondisi riil gagasan itu dan apa yang diharapkan pada gagasan itu setelah dibahas atau diteliti. 2) Rumusan masalah dinayatakan secara eksplisit dengan memilih salah satu dari tiga model rumusan masalah. Pertama, rumusan masalah yang dinyatakan dengan kalimat tanya. Kedua, rumusan masalah yang dinyatakan dengan deskripsi lengkap mengapa penulis atau peneliti ingin mengkaji topik itu. Ketiga, rumusan masalah yang dinyatakan dengan deskripsi dan diperkuat dengan kalimat tanya. 3) Tujuan dan mantaat Tujuan adalah keinginan yang hendak diwujudkan oleh penulis atau peneliti melalui kajian pustaka atau penelitian atau gabungan keduanya. Hasil dari keinginan itu diharapkan berguna bagi pengemabangan ilmu atau sebagai petunjuk teknis bagi orang yang berkepentingan dalam meningkatkan atau mengembangkan ilmu yang tersebut. b. Telaah Pustaka
112

Istilah yang lazim digunakan adalah telaah pustaka, kajian pustaka, dan kajian teori. Telaah pustaka umumnya berisi hal berikut: 1) Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikaji; 2) Uraian mengenai pendapat yang berkaitan dengan masalah yang dikaji: 3) Uraian mengenai pemecahan masalah atau temuan penelitian yang telah dilakukan oleh orang sebelumnya. c. Metode Penulisan Metode penulisan karya ilmiah, baik penelitian lapangan maupun kajian pustaka harus dilakukan dengan mengikuti prosedur atau metode tertentu. Khusus penelitian lapangan, ada dua metode yang salah satunya atau kedua-duanya digunakan sesuai dengan sifat penelitian. Kedua macam metode itu adalah (1) metode kualitatif, dan (2) metode kuantitatif. Metode kualitatif bersifat deskriptif yang jenisnya antara lain: penelitian kasus, penelitian eksplorasi, penelitian historis, dan penelitian deskriptif yang datadatanya terdri atas informasi verbal. Adapun penelitian kuantitafif sesnantiasa ditandai dengan data angka-angka yang menggambarkan jumlah atau frekuensi tertentu.
113

Komponen metode penulisan terdiri atas (1) sumber data, (2) prosedur pengumpulan data/informasi, (3) pengolahan data/informasi, (4) analisis-sintesis, (5) pengambilan kesimpulan, dan (6) perumusan saran atau rekomendasi. Apabila suatu tulisan barulah berupa rancangan atau proposal, maka sesudah metode penulisan dicantumkan daftar pustaka yang menjadi rujukan penulis. Semua jenis tulisan atau karya ilmiah harus memiliki daftar pustaka, kecuali makalah refleksi budaya murni. Hal ini akan dibicarakan dalam makalah yang lain. d. Bagian Isi/Pembahasan Pada bagian ini dibahas secara rinci dan tuntas (?) hal berikut ini/. 1) Analisis permasalahan yang didasarkan pada data dan/atau informasi dengan tetap bersandar pada teori yang dibahas dalam kajian pustaka untuk untuk menghasilkan alternatif model pemecahan masalah atau gagasan secara kreatif. 2) Perumusan kesimpulan yang harus konsisten dengan analisis masalah pada butir 1). 3) Saran yang disampaikan menggambarkan kemungkinan atau perkiraan pengalihan gagasan atau teknologi. 3. Daftar Pustaka Bagian paling akhir suatu karya ilmiah adalah daftar pustaka. Disarankan agar buku-buku atau sumber tertulis lainnya yang
114

dicantumkan pada daftar pustaka benar-benar relevan dengan bidang ilmu yang ditulis. Agar prinsip etika ilmiah tetap dipertahankan, penulis diharapkan secara objektif menuliskan semua sumber yang memberi inspirasi atau pengetahuan yang dituangkan ke dalam tulisannya. Ada dua istilah yang perlu dipahami, yaitu daftar pustaka dan daftar bacaan atau daftar rujukan. Daftar pustaka adalah daftar buku yang mempunyai hubungan dengan penelitian, walaupun tidak dikutif langsung. Daftar bacaan atau daftar rujukan adalah daftar buku yang dijadikan sumber informasi dalam menulis, baik proposal maupun laporan penelitian. Adapun cara menulis daftar pustaka atau daftar bacaan ada tiga macam sebagaimana diuraikan berikut ini. 1) Menuirut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI), urutannya sbb.: nama penulis, tahun, judul, kota tempat penerbitan, penerbit Contoh:
115

Habibi, B. J. 1999. Rekayasa Mesin Pesawat Terbang Modern. Jakarta: Balai Pustaka. 2) Menurut American Psiychological Association (APA), urutannya sbb.: nama penulis. (tahun), judu, kota tempat penerbitan, penerbit Contoh: Habibi, B. J. (1999). Rekayasa Mesin Pesawat Terbang Modern. Jakarta: Balai Pustaka. 3) Menurut Modern Language Assiciation (MLA), urutannya: nama penulis, judul, kota tempat penerbitan, penerbit tahun. Contoh: Habibi, B. J. Rekayasa Mesin Pesawat Terbang Modern. Jakarta:
Balai Pustaka, 1999.

116

C. Persyaratan Penulisan Ketentuan yang harus diindahkan penulis dalam merancang perwajahan sebagai berikut. 1. Naskah ditulis minimal 20 halaman dan maksimal 35 halaman di luar lampiran. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan kentuan penyelenggara lomba karya ilmiah dapat mempengaruhi penilaian. 2. Bahasa Indonesia yang digunakan adalah bahasa Indonesia baku ragam ilmiah dan dengan ejaan baku pula. Bahasa ragam ilmiah yang diminta harus sederhana, jelas, koheren, kohesif, mengutamakan kata/istilah yang mudah dipahami, dan tidak menggunakan singkatan atau akronim, kecuali singkatan/akronim yang sudah dibakukan di dalam bidang ilmiah yang dikaji. D. Pengetikan 1. Tata Letak a. Karya tulis diketik 1.5 spasi pada kertas berukuran A4 dengan ukuran huruf 12 dan jenis huruf roman time style. b. Batas pengetikan: 1) margin kiri 4 cm 2) margin kanan 3 cm
117

3) batas atas dan bawah masing-masing 3 cm c. Jarak pengetikan bab, subbab, dan rinciannya: 1) Jarak baris bab dan subbab 3 spasi, subbab dan kalimat di bawahnya 2 spasi. 2) Judul bab diketik di tengah-tengah ruang tulis kertas dengan huruf kapital dan dengan jarak 4 cm dari tepi tanpa digarisbawahi. 3) Judul subbab ditulis mulai dari tepi kiri dan huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata-kata tugas, seperti: yang, dan untuk, bagi, guna, tetapi, dengan, dan semacamnya. 4) Judul anak subbab ditulis mulai dari tepi kiri dengan lekuk (indensi) 5 ketukan dan digarisbawahi. Huruf tertama setiap kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata-kata tugas seperti butir 3) di atas. 5) Jika masih ada subjudul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti butir 3) dan 4) di atas dan diakhiri dengan titik; lalu diikuti dengan kalimat penjelasannya. 2. Penulisan Paragraf
118

Ada dua macam gaya menulis paragraf, yaitu (1) gaya lurus (block style), dan (2) gaya lekuk (indented style). Penulisan paragraf baru dengan gaya lurus diketik sejajar dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi (jarak baris dalam paragraf 1.5 spasi). Jadi, dengan cara ini akan tampak batas paragraf sebelumnya dengan paragraf berikutnya. Jika di dalam paragraf ada kutipan langsung, maka penulisannya bergantung pada panjang kutipan itu. Kutipan langsung yang terdiri atas tidak lebih dari 3 baris atau kurang dari 40 kata ditulis sama dengan kalimat lain di dalam paragraf dan diapit oleh tanda petik dua (). Kutipan langsung yang lebih dari 3 baris atau lebih dari 40 kata, diketik dengan jarak 1 spasi dan menjorok ke dalam 3 ketukan tanpa tanda petik. Contoh kutipan langsung di dalam paragraf: Sirait (1985:27) mendefinisiokan proposisi sebagai Proposisi adalah pernyataan yang dapat dibenarkan atau disangkal yang terdiri atas tiga bagian, yaitu S-Vk-P. S adalah yang diberi pembenaran, Vk adalah verba penghubung, dan P adalah pembenaran. Contoh kutipan langsung yang membetuk paragraf sendiri:

119

Banyak ahli yang telah memberi pengertian tentang humor. Dari sekian banyak pengertian itu, dalam tulisan ini hanya dikutip satu definisi yang dikemukakan oleh McDougall (1922) sebagai berikut. Potensi tertawa dan melucu merupakan bawaan dalam sistem mekanisme syaraf dan mempunyai fungsi adaptif. Potensi ini telah muncul sejak awal kehidupan manusia, sebelum proses kognitif yang kompleks terbentuk. Ini berarti humor merupakan fenomena universal yang mempunyai manfaat. 3. Penomoran Halaman Ketentuan penulisan nomor halaman sebagai berikut. a. Nomor halaman bagian awal karya ilmiah yang meliputi: halaman judul, nama/daftar anggota delompok (kalau ada), kata pengantar, daftar isi, daftar tabel/gambar, daftar istilah, dan lasin-lain diketik sebelah kanan bawah dengan angka rumawi-kecil (i, ii, iii, dan seterusnya). b. Nomor halaman bagian inti atau tubuh karya ilmiah sampai pada daftar lampiran ditulis dengan angka arab dan diketik 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas.

120

c. Nomor halaman pertama setiap bab tidak ditulis, tetapi tetap diperhitungkan untuk pemberian halaman lembar berikutnya.

Untuk melengkapi bahasan seluk-beluk penulisan karya ilmiah ini, dipandang perlu menyertakan format penilaian karya tulis ilmiah yang dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002.

Format Penilaian Karya Tulis Ilmiah


Nomor peserta Nama peserta Lembaga/Sekolah No. 1 : : (Kalau berkelompok, tulis semua namanya!) : SMU Negeri 17 Makassar Bobot Skor Skor terbobot

Kriteria Penilaian Format karya ilmiah: a. Tata tulis: ukuran kertas, tipografi, kerapian ketik, perwajahan, jumlah halaman b. Pengungkapan: sistematika tulisan, ketepan dan kejelasan paparan, penggunaan ragam bahasa Kreativitas gagasan: a. Komprehensif dan keunikan b. Struktur gagasan (gagasan muncul didukung oleh argumentasi ilmiah) Topik yang dikemukakan: a. Sifat topik, rumusan judul dan dan kesesuaian dengan topik, aktualitas

2.

15

3.

121

4.

5.

b. Kejelasan uraian permasalahan c. Relevansi topik dengan tema Data dan sumber informasi: a. Relevansi data dan informasi yang diacu dengan uraian tulisan b. Keakuratan dan integritas data dan informasi c. Kemampuan menghubungkan berbagai data dan informasi Pembahasan, simpulan, dan tranfer gagasan: a. Kemampuan menganalisis dan menyintesis serta merumuskan simpulan b. Kemungkinan/prediksi transfer gagasan dan proses adopsi Keterangan: a. Skor terbobot total maksimal 5400 b. Skor setiap bagian adalah 4090 c. Skor terbobot = bobot x skor

15

20

60

Makassar,

Februari 2004 Juri,

Format Penilaian Presentasi Karya Ilmiah


Nomor peserta Nama peserta Lembaga/Sekolah No. Kriteria Penilaian : .. : (Kalau berkelompok, tulis semua namanya!) : SMU Negeri 17 Makassar Bobot Skor Skor terbobot

122

10

Penyajian: a. Sistematika penyajian b. Alat bantu c. Penggunaan bahasa tutur yang baku d. Cara presentasi e. Ketepatan waktu Tanya jawab: a. Kebenaran dan ketepatan jawaban b. Cara menjawab c. Keterbukaan peserta dalam acara tanya-jawab Keterangan: a. Skor terbobo total maksimal b. Skor setiap bagian adalah c. Skor terbobot = bobot x skor 3600 4090 40 25 15

2.

Makassar, Februari 2004 Juri,

..

Hasil akhir sebuah karya ilmiah adalah gabungan nilai karya tulis dengan nilai presentasi.
123

Bacaan
Pedoman Umum Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa. 2002. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti

KATA-KATA FUNGSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA

Dr. Achmad Tolla, M. Pd.

A. Pendahuluan
Secara umum, kelas kata bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi: (1) kata benda (nomina), (2) kata kerja (verba), (3) kata sifat (adjektiva), (4) kata bilangan (numeralia), (5) kata keterangan (adverbia), dan (6) kata tugas (kata fungsional). Kelas kata benda, kata kerja, kata sifat, dankata bilangan, dalam teori semantik, dikenal sebagai kata yang memiliki rujukan atau acuan. Artinya, setiap kata dari kelas kata ini mempunyai wujud atau yang dianggap wujud yang dilambangkan dengan huruf dalam tulisan, dan fonem dalam ujaran.

124

Kelas kata tugas memiliki ciri yang berbeda dengan kelas kata (1)(4). Kelas kata tugas tidak memiliki arti leksikal atau arti kata. Dia hanya memiliki arti gramatikal atau arti tata bahasa. Artinya, kata tugas tidak mempunyai makna lepas, tetapi senantiasa terkait dengan makna kata lain dalam frase, klausa atau kalimat. Kata ke, dari, dan, untuk misalnya, walaupun kata ini sangat produktif dalam kalimat bahasa Indonesia, namun kata-kata itu tidak dapat digunakan secara lepas. Kata-kata itu barulah dapat diperkirakan maknanya jika sekurang-kurangnya mendampingi kata yang memiliki rujukan dalam frase seperti: ke kota, dari sekolah, untuk bekal. Demikianlah sifat umum kata-kata fungsional. B. Klasifikasi Kata Fungsional Berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat, kata tugas (fungsional) dibagi menjadi: (1) kata depan (preposisi), (2) kata hubung (konjungsi), (3) kata seru (interjeksi), (4) artikel , dan (5) partikel (Alwi, 1999: 323). 1. Kata Depan (Preposisi) 1.1 Kata depan monomorfemis Contoh: a. menandai hubungan peruntukan: bagi untuk buat guna 125

b. menandai hubungan asal, arah dari suatu tempat: dari c. menandai hubungan arah menuju suatu tempat: ke d. menandai hubungan tempat berada: di e. menandai hubungan sebab: karena, sebab f. menandai hubungan kesertaan atau cara: dengan g. menandai hubungan pelaku atau dianggap pelaku: oleh h. menandai hubungan tempat atau waktu: pada i. menandai hubungan ikhwal peristiwa: tentang j. menandai hubungan waktu yang bejalan terus: sejak 1.2 Kata depan polimorfemis dengan afiks Contoh: bersama, beserta : menandai kesertaan menjelang menuju menurut sekitar mengenai terhadap bagaikan : menandai waktu sesaat sebelum : menandai hubungan arah : menandai hubungan sumber : menandai hubungan geografis : menandai hubungan sasaran atau objek : menandai hubungan arah : menandai hubungan kemiripan

1.3 Kata depan polimorfemis gabungan kata Contoh: daripada kepada : menandai hubungan perbandingan : menandai hubungan arah objek 126

oleh karena, oleh sebab sampai ke, sampai dengan selain dari

: menandai hubungan penyebab : menandai hubungan batas waktu

: menandai hubungan perkecualian

1.4 Polimorfemis gabungan kata depan dan yang bukan kata depan Contoh: di atas, di bawah, di muka, di belakang : menandai hubungan tempat ke dekat, ke depan, ke dalam, ke luar, ke tengah : menandai hubungan arah dari balik, dari samping, dari dalam, dari luar, dari tengah : menandai hubungan sumber 2. Kata Huhubung (Konjungsi) 2.1 Kata hubung koordinatif Contoh: dan atau tetapi : menandai hubungan penambahan : menandai hubungan pemilihan atau penambahan : nenandai hubungan perlawanan

2.2 Kata hubung subordinatif Kata hubung jenis ini terdiri atas 10 kelompok. 1. Subordinatif waktu : sesudah, setelah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai 2. Subordinsatif syarat : jika, kalau, jikalau, asalkan (asal), bila, manakala 3. Subordinatif pengandaian : andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya 127

4. Subordinatif tujuan :agar, supaya, agar supaya, biar 5. Subornatif konsesif : biarpun, meski(pun), sekalipun, walau(pun), sungguhpun kendati(pun), padahal. 6. Subordinatif kemiripan : seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana. 7. Subordinatif penyebaban : sebab, karena, oleh karena, oleh sebab. 8. Subordinatif pengakibatan : (se)hingga, sampai(-sampai), maka(nya). 9. Subordinatif penjelasan : bahwa 10. Subordinatif cara : dengan, tanpa 2.3 Konjungtor korelatif

Contoh :
Baik..., maupun.

Tidak hanya, tetapi juga


Bukan hanya, malainkan juga.. Demikian sehingga. Sedemikian rupa sehingga. Apa(kah), atau. Entah., entah. Jangankan., pun.. 2.4 Konjungtor kalimat Contoh : a. biarpun demikian/begitu sekalipun demikian/begitu sungguhpun demikian/begitu walapun demikian/begitu meskipun demikian/begitu b. kemudian sesudah itu 128

c. d. e. f. g. h. i. j. k.

setelah itu selanjutnya tambahan pula, lagi pula, selain itu sebaliknya sesungguhnya, bahwasanya malah(an), bahkan (akan) tetapi, namun kecuali itu dengan demikian oleh karena itu, oleh sebab itu sebelum itu

2.5 Konjungtor antarparagraf Contoh : a. adapun akan hal mengenai dalam pada itu b. alkisah arkian sebermula syahdan

3. Interjeksi Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Contoh: a. Benda negatif cih cis bah ih idih c. Bernada kebenaran d. 129 b. Bernada positif aduhai amboi alhamdulillah insya Allah syukur Bernada netral atau campuran

ai lo astagfirullah masyaallah duilah astaga wah 4. Artikel 4.1 Artikel yang mengacu ke makna tunggal Contoh : sang sri : :

ayo hai halo he ya aduh hem

nah ah eh oh

hang : dang :

untuk manusia atau benda unik dengan maksud untuk meniggikan martabat dan sering pula dipakai sebagai gurauan atau sindiran. untuk manusia yang memiliki martabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan untuk laki-laki yang dihormati dan pemakainnya terbatas pada nama tokoh dalam cecrita sastra lama untuk wanita yang dihormati dan pemakaiannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita lama

4.2 Artikel yang mengacu ke makna kelompok: para Artikel yang mengacu ke makna kelompok adalah para. Karena artikel ini mengisyaratkan keunggulan, makna nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk dipakai adalah para guru dan bukan *para gu-guru.

4.3 Artikel yang bermakna netral: si

130

Di samping artikel yang menyatakan makna tunggal dan kelompok, ada pula artikel yang sifatnya netral. Artikel si dapat mengacu ke makna tunggal atau generic, bergantung pada konteks kalimat.

Contoh: tunggal Artikel : kelompok : sang, sri hang, hang : para

netral/general : si 5. Partikel: -kah, -lah, pun, -tah 5.1 Partikel -kah 1. Jika dipakai dalam kalimat deklaratif, -kah mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat introgatif. Contoh: Diakah yang akan datang? (Bandingkan: Dia yang akan datang.) Hari inikah pekerjaan itu harus selesai? (Bandingkan: Hari ini pekerjaan itu harus selesai) 2. Jika dalam kalimat tanya sudah ada kata tanya seperti apa, di mana, dan bagaimana, maka kah bersifat mansuka. Pemakian kah menjadikan kalilmatnya lebih formal dan sedikit lebih halus. Contoh : a. Apa ayahmu sudah dating? b. Apakah ayahmu sudah dating? a. Bagaimana penyelesaian soal ini? 131

b. Bagaimanakah penyelesaian soal ini? a. Ke mana anak-anak itu pergi? b. Ke manakah anak-anak itu pergi? 3. Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya tetapi intonasinya adalah intonasi interogatif, maka kah akan memperjelas bahwa kalimat itu adalah kalimat tanya. Kadang-kadang urutan katanya dibalik. Contoh: a. Dia akan datang nanti malam? b. Akan datangkah dia nanti malam? a. Harus aku yang mulai dahulu? b. Haruskah aku yang mulai dahulu? a. Dia tidak dapat mengurus soal sekecil itu? b. Tidak dapatkah di mngurus soal sekecil itu? 5.2 Partikel lah 1. Dalam kalimat imperatif, -lah dipakai untuk sedikit mengahluskan nada perintahnya. Contoh: Pergilah sekarang, sebelum hujan turun! Bawalah mobil ini ke bengkel besok pagi! Kalau Anda mau, ambillah satu atau dua buah!

2. Dalam kalimat deklaratif, -lah dipakai untuk memberikan ketegasan yang sedikit keras. Contoh: Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah. Ambil berapa sajalah yang kamu perlukan. Cara seperti itu tidaklah pantas. Dialah yang menggugat soal itu. 132

5.3 Partikel pun 1. Pun dipaki untuk mengeraskan arti kata yang diiringinya. Contoh: Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami. Yang tidak perlu pun dibelinya juga. Siapa pun yang tidak setuju pasti akan diawasi.

2. Dengan arti yang sama seperti di atas, pun sering pula dipakai bersama lah. Contoh: Tidak lama kemudian hujan pun turunlah dengan derasnya. Para dedmonstran itu pun berbarislah dengan teratur. Para anggota yang menolak pun mulailah berpikir-pikir lagi.

5.4 Partikel tah Partikel tah dipakai dalam kalimat interogatif, tetapi si penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya-tanay pada diri sendiri tentang hal yang dikemukakannya. Partikel lah banyak dipakai dalam sastra lama, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang. Contoh: Apatah artinya hidup ini tanpa engkau? Siapatah gerangan orangnya yang mau menolongku.

133

SELUK-BELUK KALIMAT EFEKTIF BAHASA INDONESIA DAN PENULISAN DAFTAR PUSTAKA

134

Dr. Achmad Tolla, M.Pd.

A. Latar Belakang
Kalimat merupakan kesatuan ujaran yang menyatakan setiap gagasan, pikiran atau konsep serta perasaan yang dimiliki seseorang. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997:4341). Setiap kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah tersebut meliputi: (1) unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat, (2) aturan-aturan tentang Ejaan yang Disempurnakan, dan (3) cara memilih kata dalam kalimat. Sebuah kalimat menjadi jelas maknanya jika memiliki paling kurang subjek dan predikat dan ditulis sesuai dengan aturan Ejaan yang Disempurnakan, serta kata-kata yang dipergunakan haruslah tepat. Kalimat yang jelas dan benar tidak akan sulit bagi orang lain untuk memahaminya. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Menurut Yunus (1996:115), kalimat efektif adalah kalimat yang mempunyai kemampuan menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca. Bila hal ini tercapai, diharapkan pembaca atau pendengar akan tertarik kepada apa yang disampaikan oleh penulis atau pembicara. Agar kalimat yang disampaikan, baik lisan maupun tulisan dapat memberi informasi kepada pendengar atau pembaca, perlu diperhatikan beberapa hal yang merupakan ciri-ciri kalimat efektif berikut ini.

B. Pembentukan Kalimat Efektif


1. Penekanan dalam Kalimat 135

Yang dimaksud dengan penekanan ialah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan (Finozza, 2001:139). Seorang pembicara biasanya akan memberi penekanan pada bagian kalimat dengan memperlambat ucapan, meniggikan suara, disela oleh jeda, dan diakhiri oleh intonasi selesai. Dalam penulisan huruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda perhentian mutlak (tanda titik, dikemukakanh beberapa kalimat tulisan. 1) Posisi dalam kalimat Untuk memberi penekanan pada bagian tertentu sebuah kalimat, penulis dapat mengemukakan gagasan pokok pada bagian depan kalimat. Cara ini di sebut juga pengutamaan bagian kalimat. Contoh: Pada bulan Desember, kita akan ujian akhir semester. Kita akan ujian akhir semester pada bulan Desember. Ujian akhir semester kita tempuh pada bulan Desember. tanda tanya, dan tanda seru). Berikut cara untuk memberi penekanan dalam

Ketiga kalimat di atas mempunyai pengertian yang sama, tetapi gagasan pokoknya berbeda. 2) Urutan yang logis Yang dimaksud dengan urutan yang logis ialah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal sehat. Sebuah kalimat biasanya mengemukakan suatu kejadian atau peristiwa. Kejadian dalam suatu peristiwa hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan 136

yang logis dapat disusun secara kronologis dengan penataan urutan yang makin lama makin penting sehingga tampak suatu proses. Contoh: Telekomunikasi cepat-vital dimaksudkan untuk keamanan, mobilitas pembagian, dan persatuan. 3) Pengulangan kata Pengulangan kata dalam kalimat diperlukan untuk memberi penegasan pada bagian yang dianggap penting. Hal ini bertujuan agar kalimat menjadi lebih jelas. Contoh: Saudara-saurdara, kita tidak suka dibohongi; kita tidak suka di tipu; dan kita tidak suka dibodohi. Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga dimensi politik, sosial, dan budaya. 3) Pertentangan kata terhadap makna yang ditonjolkan Penekanan pertentangan kata, dilakukan terhadap kalimat majemuk setara. Makna klausa pertama dari kalimat tersebut menjadi terasa lebih tegas karena dipertentangkan dengan makna klausa kedua. Contoh: Rakyat Indonesia tidak menghendaki pemerintah yang bersifat munafik, tetapi pemerintah yang bersifat jujur. menggambarkan

137

Dia dengan mudah memperoleh nilai A pada mata kuliah bahasa Indonesia, padahal, kita mendapatkan nilai B saja sulit.

5) Partikel penekanan
Partikel penekanan adalah kata yang tidak dapat mengalami perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya.

a. Partikel yang Partikel yang ditempatkan di antara subjek dan predikat. Contoh: Partai yang memilih calon presiden (yang) jujur diharapkan memperoleh kemenangan dalam pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 20042009. Bandindingkan dengan: Partai memilih calon presiden jujur diharapkan memperoleh kemenangan dalam pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 20042009. b. Partikel -lah Partikel -lah dapat digunakan untuk menghaluskan nada perintah dan memberikan ketegasan yang sedikit keras. Selain itu, partikel lah dapat diikuti oleh partikel yang ditempatkan antara subjek dan predikat. Contoh: Pergilah sekarang, sebelum hujan turun! Dari ceritamu, jelaslah kamu yang bersalah. Dialah yang membaca buku ini. 138

c. Partikel -kah Partikel kah mengubah kalimat positif menjadi kalimat interogatif. Jika dalam kalimat interogatif sudah ada kata tanya seperti apa, di mana, dan bagaimana, maka kata itu menjadikan kalimat lebih formal dan sedikit lebih halus. Contoh: - Diakah yang akan datang? datang.) - Ke manakah anak-anak pergi? anak pergi.) d. Partikel tah Parikel tah dipakai dalam kalimat interogatif, tetapi penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya Contoh: e. Partikel pun Partikel pun dalam bentuk tulisan dipisahkan dari kata di depannya sebagaimana contoh berikut ini. (1) Pun dipakai untuk mengeraskan arti kata yang diiringinya. Contoh: Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami. Dia pun pergi setelah dimarahi pimpinannya. 139 Apatah artinya hidup ini tanpa engkau? Siapatah gerangan yang mau menolongku? bertanya pada diri sendiri karena keheranan atau kesangsiannya. (Ke mana anak(Dia yang akan

Setelah terjadi kesalahpahaman, dia pun pergi dengan melambaikan tangannya.

(2) Dengan arti yang sama seperti di atas, pun sering pula dipakai bersama dengan -lah untuk menandakan perbuatan atau proses mulai berlaku atau terjadi. Contoh: Para anggota yang menolak pun mulailah berpikir lagi. Anggota yang tidak memilih calon ini pun haruslah menerima keputusan akhir. Perlu diketahui pula bahwa ada beberapa kata yang ditulis serangkai dengan partikel pun. Contoh: adapun, andaipun, bagaimanapun, betapapun, biarpun, begitupun, beginipun, kendatipun, namunpun, sekalipun, sungguhpun, walaupun 6) Penekanan dengan kata keterangan dan kata penghubung Keterangan penekanan yang lazim digunakan adalah kata memang, apalagi, lagipula, bahkan, dan lebih-lebih lagi. Contoh: Kami memang sudah mendengar kabar itu sejak kemarin.

140

Mencari pekerjaan di Makassar tidak semudah yang bayangkan, apalagi kalau tidak mempunyai koneksi. Ayah tiri itu tidak hanya mencintai istrinya, bahkan juga anak tirinya.

7) Penekanan dengan pemindahan unsur Yang dimaksud dengan pemindahan unsur adalah memindahkan unsur lain atau bagian kalimat ke posisi awal kalimat (Chaer, 1988:367). Ada tiga cara pemindahan unsur yang dapat dilakukan untuk penekanan kalimat: (1) Pemindahan predikat a. Jika kalimat menggunakan kata kerja intransitif, maka predikat mendahului subjek kalimat. Contoh: Keluar mereka dari persembunyiannya. Mengintip mereka dari kamarnya.

b. Jika kalimat menggunakan kata kerja transitif, maka predikat dan objek kalimat harus dipindahkan sekaligus. Contoh: Makan nasilah kamu dengan cepat. Minum airlah kamu jika haus.

c. Jika subjek kalimat menunjukkan keadan khusus, maka predikat yang berupa kata sifat terletak di awal kalimat. Contoh: 141

Gemuk orang itu. Kurus orang ini.

d. Jika subjek berupa kata benda ordinat, maka predikat kata benda terletak pada awal kalimat Contoh: Contoh: - Seribu rupiah utangku. - Seratus rupiah sisa uangku. Contoh c, d, dan e tidak produktif dalam komunikasi (2) Pemindahan objek Objek pada kalimat aktif transitif dapat diletakkan pada awal kalimat, jika kalimat di ubah menjadi kalimat pasif. Contoh: Contoh: Tadi pagi beliau tidak mengajar. Tadi malam beliau terlambat tidur. Anjing dilempar dengan batu oleh Iwan. Iwan dilempar dengan batu oleh orang utan. Binatang anjing itu. Binatang gorilla itu.

e. Predikat terdiri atas kata bilangan.

(3) Pemindahan keterangan

8) Penekanan dengan bentuk pasif 142

Yang di maksud dengan penekanan ini adalah penekanan pada objek penderita. Contoh: Komik dibaca adik. Ibu disayang ayah.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada jenis penekanan ini. (1) Jika subjek kalimat aktif adalah kata ganti orang, maka predikat kalimat pasif tidak menggunakan awalan di-; diganti dengan kata ganti. Contoh: Buku itu sudah saya baca. (pasif). Saya sudah membaca buku itu. (aktif).

(2) Jika predikat kalimat aktif berupa frase yang mengatakan bentuk mau, ingin, dan suka, maka kalimat seperti itu tidak dapat dipasifkan. Contoh: Adi mau melamar Ira. Ira mau dilamar Adi. (tidak logis)

2. Kehematan dalam Kalimat


Upaya penghematan dalam kalimat dilakukan dengan menghindari pemakaiaan kata, frase, atau unsur lain yang tidak perlu. Hemat tidak berarti kita harus menghilangkan unsur penting kalimat sehingga menjadi kurang jelas. Hemat di sini berarti tidak memakai kata-kata mubazir, tidak 143

mengulang subjek, dan tidak menjamakkan kata yang memang sudah bermakna jamak. 1) Pemakaian kata mubazir Kenyataan menunjukkan bahwa kadang-kadang seorang penulis biasa tanpa sadar memakai dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama. Pemakaian kata bersinonim tidak mambuat kalimat itu menjadi lebih jelas, tetapi justru kalimat menjadi tidak efektif. Contoh: Agar supaya Anda dapat memperoleh nilai ujian yang memuaskan, Anda harus belajar dengan sebaik-baiknya. (tidak hemat) = Agar Anda memperoleh nilai ujian yang memuaskan, belajarlah dengan baik. (hemat) Agar supaya ia tidak marah, saya lebih baik memberinya hadiah. (tidak hemat) = Supaya ia tidak marah, saya lebih baik memberinya hadiah. (hemat) 2) Pengulangan subjek kalimat Penulis tanpa sadar sering mengulangi subjek dalam suatu kalimat yang sebenarnya tidak diperlukan. Contoh: 144

Para mahasiswa PPs IAIN dapat mengikuti kuliah semester ganjil setelah mereka mengikuti martikulasi. (pengulangan subjek) Para mahasiswa PPs IAIN dapat mengikuti kuliah semester ganjil setelah mengikuti martikulasi. (tanpa pengulangan subjek)

3) Hiponimi Dalam setiap bahasa ada jenis kata yang memiliki makna bawahan kata atau ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung makna umum kelompok kata yang bersangkutan. Contoh: Pemilihan umum tahun ini jatuh pada tanggal 5 bulan April 2004. Ketua KPU dipersilakan maju ke depan untuk menjelaskan cara mencoblos gambar. Bandingkan dengan:

Pemilihan umum tahun ini jatuh pada tanggal 5 April 2004. Ketua KPU dipersilakan ke depan untuk menjelaskan cara mencoblos gambar.

4) Pemajemukan kata yang jamak

145

Penggunaan pasangan kata yang masing-masing bermakna jamak merupakan pemborosan kata. Oleh karena itu, dianjurkan menggunakan salah satu di antaranya. Contoh: Banyak para petani-petani sayur yang telah berhasil dengan baik. Banyak para mahasiswa-mahasiswa berdemonstrasi di depan kantor DPRD Makassar. Bandingkan dengan: Banyak -petani sayur yang telah berhasil dengan baik. Para petani sayur telah berhasil dengan baik. Petani-petani sayur telah berhasil dengan baik. Banyak mahasiswa berkonsentrasi di depan Kantor DPRD Makassar. Para mahasiswa berkonsentrasi di depan Kantor DPRD Makassar. Mahasiswa-mahasiswa berkonsentrasi di depan Kantor DPRD Makassar. 3. Kevariasian dalam Kalimat Menurut Akhadiah (1995:127), seseorang akan dapat menulis dengan baik bila dia juga seorang pembaca yang baik. Akan tetapi, pembaca yang baik tidak berarti dia juga penulis yang baik. Seorang penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan dibaca orang lain. 146

Membaca bertujuan agar pembaca mendapat sesuatu dari bacaannya. Ini berarti bahwa penulis harus berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan dan kebosanan. Penulis harus berusaha membuat pembaca senang terhadap hasil tulisannya. Tulisan yang mempergunakan pola serta bentuk kalimat yang terusmenerus sama akan membuat suasana menjadi kaku dan monoton sehingga akan menimbulkan kebosanan pembaca. Oleh sebab itu, untuk menghindarkan suasana monoton dan rasa bosan, suatu paragraf dalam tulisan memerlukan bentuk pola dan jenis kalimat yang bervariasi. Variasivariasi kalimat ini harus dari keseluruhan tulisan. Tentang variasi kalimat ini dapat terjadi pada beberapa bentuk. 1) Cara memulai Ada beberapa cara memulai kalimat untuk mencapai keefektifan kalimat antara lain dengan variasi pada awal kalimat. Pada umumnya, kalimat dapat dimulai dengan subject, predikat, frase dan kata modalitas. (1) Subjek pada awal kalimat Orang umumnya mengetahui bahwa memulai kalimat dapat dilakukan dengan cara meletakkan subjek pada awal kalimat. Hal ini dapat dilihat pada pola dasar kalimat bahasa Indonesia dengan senantiasa menempatkan subjek pada awal kalimat. Pola ini merupakan pola yang umum kalimat bahasa Indonesia. Contoh: Mahasiswa memerlukan pelayanan yang baik agar cepat selesai. 147

Dosen PPs IAIN melayani mahasiswa dengan sangat bail.

(2) Predikat pada awal kalimat Predikat adalah kata yang menerangkan perbuatan atau sifat dari subjek pelaku (Finoza, 2001:84). Sebuah kalimat dapat diawali dengan predikat. Kalimat seperti ini di sebut kalimat inversi atau kalimat susun balik. Contoh: Digiring kami melalui jalan kecil dan tiba di pondok yang terbuat dari bambu. Direbus telur itu sebelum dimakan.

(3) Kata modal pada awal kalimat Ada cara lain dalam memulai kalimat, yaitu meletakkan kata modal pada awal kalimat. Kata modal tersebut dapat mengubah arti kalimat secara keseluruhan. Kata modal dapat didefinisikan sebagai kata yang menerangkan kata benda, kata kerja, dan kata sifat, seperti: sering, tentu, barangkali, belum, sudah, mungkin, past, mungkin. Penggunaan kata-kata modal akan menyebabkan kalimatkalimat akan berubah nadanya. Kalimat yang tegas menjadi raguragu atau sebaliknya, macam sikap. 148 dan yang keras menjadi lembut ataupun sebaliknya. Penggunaan kata modal dapat menyatakan bermacam-

Contoh: Sering mereka belajar bersama-sama. Tentu keberhasilan usaha seperti ini adalah hasil kerja sama dan kerja keras semua pihak. Barangkali hujan akan turun hari ini. Belum/sudah saya baca berita itu. Ketegangan mungkin yang dapat menyebabkan hasil belajarnya menurun. (4) Frase pada awal kalimat Kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan belum membentuk klausa atau kalimat disebut frase (Finoza, 2001:84). Bentuk-bentuk sintaksis yang tergolong ke dalam kelompok kata demikian, misalnya: dengan demikian, oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, menyadari akan hal itu, secara tidak langsung, untuk maksud yang sama, dan masih banyak bentuk yang lain. Contoh: Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa merupakan alat komunikasi yang amat penting. - Secara tidak langsung, Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 itu memecah-belah persatuan bangsa. 2) Panjang-pendek kalimat Kalimat yang efektif tidak diukur dari sudut panjang-pendeknya kalimat. Akan tetapi, umumnya, kalimat yang panjang selalu rumit dan 149

tidak efektif. Ada upaya yang sering penulis lakukan untuk membuat pembaca agar tertarik membaca tulisannya. Upaya yang dimaksud ialah memvariasikan kalimat pendek dan kalimat panjang dalam satu wacana Contoh: Tiga puluh tahun yang lalu, kami para psikolog, yakin bahwa kasus semacam itu cuma pengecualian, karena kami yakin kepribadian anak sudah terbentuk sejak dini. Setelah tahuntahun pertama kemungkinannya kecil untuk berubah. Namun, kini kami tahu lebih banyak. Sejarah hidup ribuan anak-anak membuktikan bahwa drama perkembangan manusia bisa tibatiba berbalik ke arah yang positif setiap saat. 3) Jenis kalimat Variasi kalimat dapat juga berbentuk penggunaan jenis kalimat tertentu. Jenis kalimat berita misalnya, dianggap lebih netral dan lugas dalam menyampaikan pesan penulis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kalimat tanya dan kalimat perintah diabaikan dalam menyampaikan informasi, jika diperlukan. Contoh: Menghadapi anak-anak nakal, tidak heran kalau orang tua dan gurunya kehilangan harapan. Akan tetapi, apakah betul anak seperti ini pasti suram masa depannya? Belum tentu! Buktinya, banyak anak yang nakal di sekolah menengah, tetapi tumbuh menjadi orang yang sukses. 4) Kalimat aktif dan pasif Penggunaan kalimat aktif atau pasif juga sebagai cara untuk menarik perhatian pembaca dan memberi kejelasan gagasan yang 150

dikemukakan. Kalimat aktif yang dapat diubah menjadi kalimat pasif hanyalah kalimat aktif yang inti predikatnya berupa verba transitif dan mempunyai objek. Contoh: - Panitia Pemilu 2004 Kota Makassar meninjau tempattempat pemungutan suara di setiap kelurahan. (aktif) - Tempat-tempat pemungutan suara di setiap kelurahan ditinjau oleh Panitia Pemilu 2004 Kota Makassar. (pasif) 5) Kalimat langsung dan tidak langsung Penggunaan kalimat kalimat langsung di sela-sela kalimat tidak langsung juga salah satu bentuk variasi kalimat. Kadang-kadang pendapat atau pikiran seseorang yang dituliskan atau diucapkan akan terasa lebih hidup apabila dikutif secara langsung. Selain itu, juga dimaksudkan untuk menunjukkan sikap objektif penulis. Ada dua cara yang lazim digunakan untuk mengutip pendapat atau pikiran orang lain secara langsung. Pertama, kutipan langsung yang tidak lebih dari tiga baris atau kurang dari 40 kata ditempatkan di dalam paragraf dengan hanya mengapitnya dengan tanda petik dua dan diikuti atau diawali keterangan lain. Copntoh: Ateisme adalah sebuah paham yang mengingkari keberadaan Tuhan. Keingkaran mereka tidak hanya ditujukkan oleh perilaku, tetapi terutama 151 dengan nama, tahun, dan halaman buku atau

dengan tertutupnya hati mereka terhadap keberadaan Maha Pencipta. Mereka dikelompokkan orang-orang yang memiliki hati yang sakit sehingga tidak mampu menerima kebenaran. Hati yang demikian digambarkan sebagai Hati yang sakit adalah hati yang mengelak dari penciptaannya semula, yakni mengelak untuk mengetahui Allah, mencinta-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, dan kembali kepada-Nya (Ibnu Kayyim, 1423:103). Kedua, kutipan langsung yang lebih dari tiga baris atau lebih dari 40 kata dipisahkan dari paragraf, diketik dengan spasi rapat, dan tidak diapit dengan tanda petik dua. Contoh: Ateisme adalah sebuah paham yang mengingkari keberadaan Tuhan. Keingkaran mereka tidak hanya ditujukkan oleh perilaku, tetapi terutama dengan tertutupnya hati mereka terhadap keberadaan Maha Pencipta. Mereka dikelompokkan orang-orang yang memiliki hati yang sakit sehingga tidak mampu menerima kebenaran. Hati yang sakit digambarkan oleh Ibnu Kayyim (1423:103 sebagai berikut. Hati yang sakit adalah hati yang mengelak dari penciptaannya semula, yakni untuk mengetahui Allah, mencintai-Nya, rindu bertemu denganNya, kembali kepada-Nya, dan mengutamakan semuanya itu atas segala syahwat. Seandainya seorang hamba mengetahui segala sesuatu, tetapi dua tidak mengetahui Tuhannya, maka seakan-akan dia tidak mengetahui sesuatu. Seandainya dia mendapatkan semua dunia, kenikmatan dan syahwatnya, tetapi tidak memiliki cinta kepada Allah dan rindu kepada-Nya, maka seakan-akan dia tidak mendapatkan kelezatan, kenikmatan dan penyejuk hati sama sekali.

C. Gejala Kerancuan Kalimat


1. Pernyataan yang tidak mengandung unsur subjek 152

c. Dengan demikian akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. d. Oleh karena itu disebut sebagai biang kekerasan dan kerusuhan di Poso. Seharusnya: c. Dengan demikian, bantuan itu akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. d. Oleh karena itu, ia disebut sebagai biang kekerasan dan kerusuhan di Poso. 2. Pernyataan yang tidak mengandung unsur predikat c. Di samping itu pula Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan di mana seluruh lembaga-lembaga pemerintah berkantor. d. Tertinggi di rayon C sedang yang terendah di rayon A. Seharusnya: c. Di samping itu, Jakarta merupakan pusat pemerintahan tempat semua lembaga pemerintah berkantor. d. Prestasi itu tertinggi di rayon C, tetapi terendah di rayon A. 3. Pernyataan berupa anak kalimat pengganti predikat c. Sehingga keyakinan tersebut cukup kuat untuk tetap mendorongnya berjuang terus. d. Sebab tahap seleksi penerimaan polisi telah rampung. Seharusnya: c. Kita perlu memberi keyakinan hidup sehingga keyakinan tersebut cukup kuat untuk mendorongnya berjuang terus. d. Latihan fisik sudah dapat direncanakan sebab tahap seleksi penerimaan polisi telah rampung. Gejala ini ditandai dengan penggunaan kata hubung pada awal kalimat, seperti: 153

sehingga, sebab, karena, agar, supaya, bila, apabila, meskipun, walaupun. 4. Pernyataan yang hanya berupa keterangan penjelas atau keterangan tambahan c. Karena kondisi lahannya yang berkadar kapur tinggi sehingga kurang baik untuk pertanian. d. Terutama terkonsentrasi pada muara Sungai Jeneberang. Seharusnya: c. Daerah itu tidak dapat dikembangkan menjadi daerah pertanian karena kondisi lahannya berkadar kapur tinggi. d. Beberapa hari terakhir pengerukan terutama terkonsentrasi pada muara Sungai Jeneberang. 5. Pernyataan yang berupa frase preposisi: c. Bagi seorang wartawan, sebagai pedoman penulisan berita. d. Mengenai jumlah calon anggota DPD yang terindikasi sebagai anggota partai. Seharusnya: c. Kode etik sangat berguna bagi seorang wartawan sebagai pedoman penulisan berita. d. Rapat itu membicarakan mengenai jumlah calon anggota DPD yang terindikasi sebagai anggota partai. 6. Pernyataan yang dimulai dengan kata hubung setara: c. Dan unit-unit kecil tersebut lebih muda untuk dipetikemaskan. d. Atau pada waktu bertutur dengan ragam bahasa formal, tiba-tiba diselipkannya ragam bahasa informal. Seharusnya: 154

c. Unit-unit kecil tersebut lebih mudah dipetikemaskan. d. (Pada) waktu bertutur dengan ragam bahasa formal, tiba-tiba diselipkannya ragam bahasa informal. DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2002. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Akhaidah, Subarti dkk. 1995. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Chaer, Abdul. 1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pt. Rineka Cipta. Chahyono, Yudi, Bambang. 1995. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Air langga Universitas, Press. Finozza, Lamuddin. 2001. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia. Junus, Husein dan Arifin Banasurn. 1996. Bahasa Indonesia Tinjauan Sejarahnya dan Pemakaian Kalimat yang Baik dan Benar. Surabaya: Usaha Nasional. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. . Jakarta: Balai Pustaka. 155

Sudarno dan Eman A. Rahman. 1998. Terampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pt. Hikmah Syahid Indah.

KETERAMPILAN BERTANYA TRANSKRIP UNTUK PELAJARAN SPG KELAS I


G : Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak pekerjaan yang dilakukan dengan mendorong dan menarik di papan). Kalau kita menimba air di dalam sumur apa yang kita kerjakan terhadap tali timba? Nani (Nani diam, nampak dari wajahnya ia berpikir). G : Apakah kita tarik atau dorong tali timba itu? Nani S : Kita menarik tali timba itu. G : Betul: Bagaimana lokomotif terhadap gerbong kereta api? . Eli (Eli diam, nampaknya berpikir). G : Apakah terdapat peristiwa menarik atau mendorong antara lokomotif dan gerbong kereta api? Eli. S : Oh, yang Pak. Terdapat peristiwa menarik, yaitu lokomotif menarik gerbong kereta api. G : Benar, Eli (sambil mengangguk). Bagaimana dengan kuda terhadap keretanya? Yuli S : Kuda menarik kereta. G : Betul! Sekarang dengarkanlah baik-baik. Bagaimana dengan penjual bakso terhadap kereta baksonya? Warno. S : Penjual bakso mendorong keretanya. G : Baik sekali! Jadi kita telah mengetahui bahwa menarik atau mendorong itu dapat dilakukan oleh manusia, dapat juga oleh benda atau mesin dan dapat pula oleh hewan. Perhatikanlah hal yang berikut ini karena penting: Tarikan atau dorongan disebut gaya (kalimat ini ditulis di papan). Jadi kalau kuda menarik kereta, kita katakan kuda mengadakan gaya pada kereta. Kalau Anda mendorong meja ini ke sudut, apa yang Anda adakan pada meja itu? Wardi. S : Saya mendorong meja itu. 156

G : Memang benar jawabanmu itu. Tetapi karena dorongan disebut gaya, dapatlah Anda menyatakan jawaban Anda tadi dengan susunan lain yang memakai kata gaya? Wardi. S : Saya mengadakan gaya terhadap meja itu. G : Terima kasih Wardi. Itulah jawaban yang bapak nanti-nantikan. Jadi, tiap tarikan atau dorongan yang dilakukan terhadap sesuatu benda berarti kita mengadakan gaya terhadap benda itu. Perhatikan ke mari (guru memegang segumpal plastisin yang agak bulat di tangannya. Kemudian guru mendorongnya dengan jari telunjuk tangan lainnya). Apa yang bapak kerjakan terhadap plastisin ini Ani. S : Bapak mendorongnya dengan jari bapak. G : Benar. Adakah yang dapat mengemukakan jawaban Ani tadi dengan cara lain? Wardi. S : Bapak mengadakan gaya terhadap gumpalan plastisin itu. G : Ya, itu baik (guru mengeluarkan kembali jarinya dari gumpalan plastisin). Perhatikan bentuk plastisin ini. Bagaimana bentuknya sebelum bapak adakan gaya terhadapnya? Eli. S : Bentuknya agak bulat. G : Bagaimana bentuknya setelah bapak adakan gaya terhadapnya? Ani. S : Berlubang. G : Baik (Guru membulatkan kembali plastisin ini, kemudian menariknya). Apa yang bapak kerjakan terhadap plastisin ini? Yuli. S : Bapak mengadakan gaya terhadap plastisin itu dengan cara menariknya. G : Bagus sekali jawaban itu. Bagaimana bentuk plastisin sekarang ini setelah diadakan gaya terhadapnya? Nani. S : Sekarang bentuknya memanjang. G : Adakah perbedaan antara bentuk plastisin sebelum dan sesudah gaya diadakan terhadapnya? Warno. S : Ada. Sebelumnya, bentuknya bulat, sesudahnya berbentuk memanjang. G : Kalau begitu, apa pengaruh gaya terhadap bentuk plastisin? Nani. S : Gaya dapat mengubah bentuk plastisin. G : Baik! Sekarang mari kita lihat pengaruh gaya pada benda lain. (Guru mengambil sebuah karet gelang, dan menariknya dengan jari kedua belah tangannya). Apakah ada gaya yang bekerja pada karet gelang ini? Yuli. S : Ada. Yaitu tarikan jari tangan bapak. G : Bagaimana bentuk karet gelang ini sementara gaya bekerja terhadapnya? Eli. 157

S : Bentuknya telah berubah, yaitu menjadi lebih panjang. G : Benar! (Guru melepaskan tarikan pada karet gelang itu). Masih adakah gaya yang bekerja pada karet gelang ini? Nani. S : Tidak lagi. G : Mengapa? Nani. S : Sebab bapak telah tidak menariknya lagi. G : Bagus! Bagaimana bentuk karet gelang itu sekarang? Wardi. S : Bentuknya telah kembali seperti semula. G : Benar! Siapa dapat menyatakan dengan tepat apa pengaruh gaya terhadap karet itu? Ani. S : Gaya mengubah bentuk karet itu. G : Bagaimana bentuknya bila gaya telah berhenti bekerja atasnya? Warno. S : Bentuknya kembali seperti semula. G : Siapa dapat menggabungkan jawaban Ani dan Warno dalam satu pernyataan saja? Eli. S : Gaya dapat mengubah bentuk karet itu, selama gaya bekerja padanya dan kembali kepada bentuk semula bila gaya berhenti bekerja padanya. G : Tepat sekali! Coba bandingkan perubahan bentuk pada plastisin tadi dengan perubahan bentuk pada karet ini. Adakah persamaannya? Wardi. S : Ada, yaitu sama-sama terjadi perubahan bentuk waktu gaya bekerja terhadapnya. G : Benar! Apa perbedaannya? Diskusikan dengan teman di dekatmu (guru menunggu kira-kira 2 menit kemudian memberi giliran kepada Ani). S : Bedanya ialah bahwa perubahan bentuk plastisin tetap walaupun gaya telah berhenti bekerja atasnya. Pada karet, bentuknya segera kembali kepada bentuk semula, ketika gaya berhenti bekerja atasnya. G : Bandingkan jawaban Wardi dan Ani. Buatlah satu pernyataan umum mengenai apa pengaruh gaya terhadap bentuk benua. Diskusikan dengan teman di sampingmu. (Guru menunggu kira-kira 2 menit) Siapa mau menciba? Yuli. S : Gaya dapat mengubah bentuk benda tetap atau untuk sementara. G : Jawaban ini sudah menuju kepada sasarannya. Perlu penyempurnaan sedikit. Perhatikan bilamana perubahan tetap dan bilamana perubahan sementara terjadi. Siapa mau mencoba? Wardi. 158

S G S G S G

: Gaya dapat merubah bentuk benda. Ada benda yang perubahan bentuknya tetap, walaupun gaya telah berhenti bekerja atasnya; sedangkan ada benda yang segera bentuknya kembali ke bentuk semula, bila gaya telah berhenti bekerja atasnya. : Benar sekali jawaban ini, jangan lupakan karena penting. Sekarang mari kita perhatikan hal lain lagi, yaitu pengaruh gaya atau gerak benda (guru meletakkan satu balok kayu di atas meja). Bergerakkah balok ini? Nani. : Tidak. : (Menarik balok itu dengan karet gelang sampai bergerak). Bergerakkah balok ini sekarang? Warno. : Bergerak. : Mengapa balok itu bergerak? Warno. : Sebab bapak menariknya. : Benar Warno. Siapa dapat mengatakan jawaban Warno ini dengan cara lain dan gunakan kata gaya? Eli!

Lampiran 3

CONTOH LEMBAR OBSERVASI


KETRAMPILAN BERTANYA DASAR Nama Calon Guru: .. . No. 1. 2. 3. Komponen-komponen Ketrampilan Pengungkapan jelas dan singkat Pemberian acuan 159 pertanyaan secara Jurusan/Kelas/Tingkat:

Frekuensi

Komentar

4. 5.

Pemusatan Pemindahan giliran Penyebaran: a. pertanyaan ke seluruh kelas b. pertanyaan ke siswa tertentu c. menyebarkan respon siswa Pemberian waktu berpikir Pemberian tuntunan: a. pengungkapan pertanyaan dengan cara lain. b. mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana. c. mengulangi penjelasanpenjelasan sebelumnya. Hal-hal yang harus dihindari:

6. 7.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Mengulangi pertanyaan sendiri Mengulangi jawaban sendiri Menjawab pertanyaan sendiri Pertanyaan yang memancing jawaban serentak Pertanyaan ganda Menentukan siswa tertentu untuk menjawab Lampiran 4 LEMBAR BALIKAN SISWA

160

Petunjuk :

Pikirkan baik-baik pelajaran yang baru saja kamu terima,

lalu jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda (V) pada jawaban yang menurut kamu paling benar.

1. Apakah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru? ( ) ( )

- terlalu sukar - terlalu mudah - cukup

( ) 2. Apakah kamu merasa memperoleh waktu berpikir ( ) yang cukup sebelum kamu diminta menjawab? ( ) ( )

- selalu - sebagian besar - kadang-kadang - tidak pernah

( ) 3. Apakah kamu merasa bahwa guru tertarik pada ( ) jawaban yang Anda berikan? ( ) ( ) 4. Selama pelajaran apakah kamu pernah memikirkan ( ) ide-ide yang semula belum pernah kamu pikirkan? ( ) 5. Benarkah beberapa siswa diberi kesempatan ( ) berbicara terlalu banyak? ( ) ( ) 161

- tidak - ya - tidak beberapa ya tidak beberapa saja ya

6. Kalau guru bertanya apakah kamu mengerti apa ( ) yang dia maksud? ( ) ( )

- tidak pernah kadang-kadang

- sebagian besar ( ) 7. Jika seorang menjawab salah apakah guru. ( ) ( ) pada siswa lainnya - mencoba mem( ) bantu siswa itu untuk menjawab dengan benar - nampak tidak ( ) senang - ya - tidak ( ) Lampiran 5 CONTOH LEMBAR OBSERVASI KETRAMPILAN BERTANYA LANJUTAN Nama calon guru : . ... 162 Jurusan/kelas/tingkat: 8. Apakah kamu tahu persis tentang tujuan pelajaran itu? ( ) selalu

- menjawabnya - melontarkan

Komponen-komponen Ketrampilan 1. Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan a. Ingatan b. Pemahaman c. Penerapan d. Analisa e. Sintesa f. Evaluasi

Frekuensi

Komentar

2. Urutan Pertanyaan

3. Pertanyaan Pelacak a. Klarifikasi b. Pemberian alasan c. Kesepakatan pandangan d. Ketepatan e. Relevan f. Contoh g. Jawaban kompleks

4. Mendorong terjadinya interaksi antar siswa

163

PENULISAN KARYA ILMIAH Dr. Achmad Tolla, M.Pd.

1.

Pendahuluan

164

Karya ilmiah umumnya berbentuk laporan penelitian, kertas kerja, makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan buku-ajar. Setiap bentuk karya ilmiah ini memiliki format yang relatif berbeda yang harus diikuti oleh setiap penulis. Karya ilmiah juga dibedakan berdasarkan perbedaan sasaran pembaca atau sasaran pendengar. Itulah sebabnya, kita mengenal istilah (1) karya ilmiah populer untuk orang awam, dan (2) karya ilmiah akademik bagi ilmuwan. Perbedaan ini antara lain ditandai oleh penggunaan bahasa dalam hal pilihan kata, gaya bahasa, dan perbedaan topik tulisan. Jika sasaran tulisan adalah kalangan ilmuwan, bahasa yang digunakan adalah bahasa ragam ilmiah yang biasa juga disebut ragam teknis. Dan, bila sasaran tulisan kalangan awam, bahasa yang digunakan bahasa ragam populer. Meskipun terdapat perbedaan format dan bahasa yang digunakan, namun ada ciri kesamaan kedua ragam bahasa itu. Kesamaan itu ditandai oleh orisinalitas, kejelasan masalah yang dibahas, ketajaman analisis dan keruntunan kesimpulan yang dirumuskan oleh penulis. Kejelasan masalah yang dibahas ditentukan oleh (1) kemampuan memahami dan menelaah permasalahan secara kritis, (2) kemampuan memilah unsur-unsur masalah dan penghayatan keterkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain, dan (3) kemampuan mendeskripsikan atau memaparkan dengan bahasa yang jelas, lancar, efektif, dan komunikatif.
165

Untuk kepentingan peristiwa ilmiah iti, karya ilmiah yang akan dibahas adalah makalah yang dipersiapkan untuk dimuat dalam jurnal ilmiah. Komponen makalah yang relevan dibahas adalah bahasa, dan referensi. 2. Makalah ilmiah Dilihat dari penamaan makalah itu, sasarannya adalah kalangan ilmuwan dari ilmu terkait. Ini tidaklah berarti bahwa ilmuwan dari bidang ilmu berbeda atau kalangan awam sekali tertutup kemungkinan untuk membaca makalah tersebut. Terbuka kemungkinan bagi mereka untuk berkembang bila ada keinginan meningkatkan kemampuan pemahaman bahasa teknis yang digunakan. Format Makalah Ilmiah Ada beberapa format makalah ilmiah, tergantung pada pendekatan dan metode yang digunakan dan bidang ilmu yang dikaji. Pendekatan di sini berkaitan dengan persoalan jenis karya ilmiah yang ditulis format, metodologi,

A. Makalah Berdasarkan Penelitian


Kegiatan penelitian berakhir pada penyusunan laporan penelitian. Laporan hasil penelitian merupakan salah satu bentuk pertanggung-jawaban yang umumnya berwujud buku yang tebalnya bervariasi, tergantung pada
166

jumlah variabel yang diuji. Makin banyak variabel yang diamati atau diuji, makin banyak halaman yang diperlukan untuk mendeskripsikan hasil penelitian. Ringkasan dari laporan penelitian inilah yang menjadi makalah ilmiah jenis ini dengan sistematika sebagai berikut. (1) Abstrak Pada bagian ini dikemukakan ikhtis penelitian yang secara jelas dan lengkap menguraikan seluruh isi laporan penelitian. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggris. Panjang abstrak tidak lebih dari du halaman dengan jarak satu spasi. (2) Latar belakang/ rumusan masalah
Pada bagian ini diuraikan latar belakang historis masalah yang diteliti untuk mengetahui apakah masalah baru ataukah sudah pernah diteliti. Jika telah diteliti, kemukakan siapa yang meneliti, tahun berapa, dan apa hasilnya. Kemudian, dirumuskan masalah pokok penelitian secara spesifik dan tajam dalam kalimat tanya. Selanjutnya, peneliti merumuskan tujuan penelitian. Tujuan ini harus spesifik dan berkaitan dengan masalah pokok penelitian, seperti menguji hipotesis, dsb.

(3) Kajian Pustaka Pada bagian ini diuraikan kajian pustaka secara lebih ringkas, padat, dan jelas yang menjadi rujukan peneliti. (4) Metode Penelitian Komponen pokok yang dikemukakan pada bagian ini adalah prosedur penelitian yang ditempuh yang meliputi: desin penelitian (deskriptif,
167

eksperimental, pengembangan, pualitatif), prosedur pengmpulan data, dan analisis data. (5) Temuan-temuan Hal penting yang dikemukakan pada bagian ini adalah (1) jawaban atas pertanyaan dalam rumusan masalah, dan (2) hasil pengujian hipotesis. (6) Diskusi Bagian ini penting karena membandingkan hasil penelitian yang sekarang dengan hasil penelitian-penelitian terdahulu ditempat lain. Bagian ini menguraikan akapah temuan-temuan yang sekarang mendukung atau menguatkan temuan-temuan terdahulu atau malah kebalikan yang terjadi. Agar lebih meyakinkan pembaca, penulis diharapkan merujuk pada referensi yang relevan, yaitu laporan hasil penelitian, kertas kerja yang disajikan dalam simposium/seminar ilmiah, dan jurnal-jurnal ilmiah. Berdasarkan temuan itu, penulisan sebaiknya mengajukan saran untuk menjadi peringatan bagi peneliti berikutnya agar dapat bekerja lebih cermat. (7) Daftar Pustaka Referensi yang dicantumkan hanya yang disebutkan dalam uraian mulai dari perumusan masalah sampai dengan bagian diskusi. Baik
168

dalam uraian maupun dalam daftar referensi, gelar dan jenjang kepangkatan akademik tidak dicantumkan.

B. Makalah Berdasarkan Kajian Pustaka


Kajian pustaka sering pula disebut kajian teoretis. Dikatakan demikian, karena kajian pustaka senantiasa menekankan analisis rasional mengenai teori-teori yang dikemukakan oleh pakar dalam buku-buku yang dikaji. Ini merupakan analisis yang kritis dengan mengajukan argumentasi disertai bukti-bukti mengenai ada/tiada ada konsistensi logis antara temuan dengan teori, baik secara internal maupun secara eksternal,. Bukti-bukti rasional ini ditunjang pula oleh bukti-bukti empiris hasil penelitian pakar lain. Format makalah berdasarkan kajian pustaka ini paling kurang berisikan: (1) pendahuluan, (2) pembatasan isu-isu yang dibahas, (3) pembahasan, (4) solusi yang disarankan (5) kesimpulan, dan (6) referensi. (1) Pendahuluan Bagian ini didahului penyajian latar-belakang historis isu yang dimasalahkan. Isu yang dimaksud mungin sesuatu yang baru, tetapi mungkin pula isu yang sudah dibahas oleh orang lain. Akan tetapi, yang

169

terpenting adalah alasan yang rasional dikumukakan penulis sehingga tertarik membahas isu itu. (2) Pembatasan isu-isu yang dibahas. Bila isu yang akan dibahas merupakan masalah praktis yang belum terselesaikan, penulis hendaklah mengemukakan alasan tentang keperluan pembahasan masalah tersebut. Penulis perlu merumuskan secara tajam situasi yang mendorongnya sehingga tertarik membahas masalah isu itu, .Dari uraian masalah tersebut, akan tampak unsur mana yang telah terpecahkan dan unsur mana yang belum terpecahkan. Apakah pemecahan yang telah ada itu memuaskan atau belum memuaskan? (3) Pembahasan Dalam bagian ini penulis hendaklah melakukan analisis kritis atas apa yang telah dilakukan oleh penulis-penulis terdahulu mengenai isu yang dimasalahkan. Analisis kritis ini difokuskan pada telaah teori, proposisi, metodologi, dan hipotesis-hipotesis yang telah disusun oleh para ahli. Bila yang dibincangkan ialah mengenai masalah praktis yang belum terselesaikan, hendaklah dikemukakan bagian mana dari masalah tersebut belum terselesaikan, apa yang menjadi penyebab dan mengapa masalah praktis itu belum dapat diselesaikan. Kritik-kritik penulis hendaklah difokuskan pada cara-cara yang telah digunakan untuk menyelesaikan masalah praktis tersebut. Apakah ada kelemahan konseptual, kelemahan
170

metodologis atau ada faktor-faktor lain yang lebih dominan dan menentukan. Landasan penulis dalam mengemukakan krititk-kritik, misal dengan mengambil contoh dari orang-orang/negara-negara lain menyelesaikan masalah praktis serupa yang pernah dihadapi. Bila isu itu mengenai kesenjangan teori dan praktek, penulis hendaklah mengemukakan berapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh kesenjangan tersebut. Penulis hendaklah mengemukakan kritik-kritik atas kebijakan dan keputusan mengadopsi suatu teori untuk diimplementasikan. Kritik-kritik itu difokuskan pada dari mana teori-teori tersebut diambil, terlampau umum oleh karena itu tidak jelas, disusun atas dasar sosio-kultural berbeda, pandangan filosofis berbeda, tradisi ilmiah berbeda, dst. Kritik-kritik yang ditujukan pada orang-orang yang mengimplementasikan teori-teori tertentu; seperti: kurang disiapkan, kurang memahami dan menguasai teori-teori tersebut dst. Atau karena tradisi budaya yang bekerja atas perintah atau sesuai dengan yang telah diprogramkan, bila situasi dan kondisi berubah maka terbentur dan mengalami kegagalan. Bila isu itu mengenai konflik antara teori-teori, yang harus dikemukakan oleh penulis ialah posisi tiap teori yang berlawanan itu. Siapa dan berapa besar pendukung tiap teori.

171

Penulis harus melakukan analisis kritis mengenai kekuatan dan kelemahan tiap teori serta mengemukakan teorinya sendiri mengenai masalah pada mana dua teori yang berlawanan itu dibahas. Bila isu itu mengenai konflik teoretis berkenaan dengan perbedaan metodologis, penulis harus membahas karakteristik tiap metodologi, apa kesamaan (jika ada) dan apa perbedaan prinsipil. Selanjutnya dibahas pula apa kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan tiap metodologi yang dimasalahkan. Bila isu itu ialah konflik teoretis berkenaan dengan perebutan bidang kajian ilmiah, penulis harus mengemukakan mengapa terjadi perebutan bidang kajian ilmiah antara dua atau lebih disiplin ilmu. Apakah tuntutan dan pengakuan (claim) tiap disiplin ilmu itu beralasan. Apa kekuatan dan kelemahan yang ditemukan pada tiap tuntutan dan pengakuan dari tiap disiplin ilmu yang dibicarakan. Bila isu itu ialah konflik teoretis berkenaan dengan sesuatu yang fundamental (menyentuh pandangan, landasan filosofis), penulis haruslah membahas karakteristik dan hakekat tiap teori. Untuk ini penulis harus melakukan analisis filosofis tentang landasan mendasar dari tiap teori. Apa kekuatan dan kelemahan yang ditemukan pada tiap landasan fundamental itu. Bila ada dari teori-teori telah atau akan diterapkan di Indonesia, teori mana yang dianjurkan dan mengapa? Atau penulis menolak kedua teori tersebut, mengapa?
172

(iv) Solusi yang disarankan. Berkenaan dengan masalah praktis yang belum terselesaikan, berdasarkan analisis kritis yang telah dilakukan penulis membuat rekomendasi penyelesaian. Rekomendasi ini bersifat teoretis atau konseptual yang mengandung asumsi-asumsi dan dugaan-dugaan yang diuji dalam praktek. Berkenaan dengan kesenjangan teori dan praktek, berdasarkan analisis kritis penulis mungkin merekomendasikan bahwa teori tertentu tidak dapat diadopsi begitu saja, melainkan perlu dilakukan modifikasi dan diadaptasikan dengan situasi dan kondisi sosio-kultural obyektif di lapangan. Kemungkinan lain ialah merekomendasikan perubahan sikap pelaksana, cara mempersepsi sesuatu yang baru, cara berpikir dan cara bertindak atau suatu perubahan etos kerja. Ini berarti merekomendasikan perubahan tradisi dan budaya orang-orang yang akan mengimplementasikan teori-teori tertentu itu. Uraian ini akan lebih baik disertai dengan contoh-contoh yang telah pernah dilakukan oleh orang-orang lain dari negara-negara lain dalam hal mengatasi kesenjangan antara teori dan praktek. Berkenaan dengan konflik antara teori-teori, penulis menetapkan posisinya antara dua atau lebih teori yang berlawanan, atau ia menyusun teori sendiri sebagai tandingan teori-teori yang ada dan telah
173

established.

Selanjutnya

penulis

merekomendasikan

tentang

bagaimana menguji teori baru itu secara empiris, atau ia sendiri melakukan uji empiris berulangkali dan melaporkan hasil-hasil pengujian.

Dari hasil analisis kritis menyangkut isu perbedaan metodologis, penulis mungkin merekomendasikan mengeluarkan kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada dua metodologi tersebut dan merekomendasikan integrasi kekuatan-kekuatan mereka. Dengan mengintegrasikan kekuatankekuatan metodologis tersebut, mungkin melalui beberapa modifikasi, ditemukanlah metodologi baru secara konseptual yang selanjutnya harus diuji dalam praktek. Berkenaan dengan perebutan bidang kajian ilmiah, berdasarkan analisis kritis penulis hendaklah memaparkan saran konseptual untuk menyelesaikan pertikaian bidang kajian. Misal mengenai bintang-laut (sea-urchin) yang dapat berkembang biak melalui potongan-potongan tubuh. Oleh karena itu bintang-laut itu apakah termasuk kajian botani atau zoologi. Contoh lain yaitu psikologi pendidikan apakah merupakan bagian dari psikologi atau bagian dari pedagogik. Ketika penulis menetapkan termasuk bidang kajian disiplin ilmu apa, ia
174

haruslah memberikan argumen-argumen kuat, mengapa ia menyatakan demikian. Pemecahan isu konflik teoretis yang mendasar yaitu yang menyangkut landasan filosofis fundamental, berdasarkan analisis kritis tentang kekuatan dan kelemahan tiap teori serta analisis kritis tentang landasan filosofis tiap teori, penulis hendaklah menguraikan kemungkinankemungkinan kegagalan dan bahaya bila teori-teori tersebut diadopsi begitu saja dan diterapkan di Indonesia. Misal: Teori ekonomi kapitalis lawan teori ekonomi sosialis/marxis, karena pandangan hidup mayoritas rakyat Indonesia berbeda dari pandangan hidup bangsa-bangsa pada mana dua terori tersebut disusun. (v) Kesimpulan Pada bagian ini penulis merangkum temuan-temuan dari analisis rasional dan kritis dan mengemukakan apa yang perlu dilakukan lebih lanjut. (vi) Daftar Referensi Hanya mencantumkan pustaka-pustaka yang digunakan dan diteliti untuk analisis rasional itu. Gelar dan pangkat akademik tidak dicantumkan. Catatan :
175

Makalah (artikel) yang didasarkan pada books-survey atau library research haruslah menampakkan kemampuan analisis kritis atas teori-teori, pendapat-pendapat dari seseorang, bukan, sekali lagi bukan merupakan hasil kompilasi. (3) Makalah berdasarkan refleksi filosofis Refleksi filosofis juga merupakan analisis kritis dan rasional mengenai isu-isu dan keadaan-keadaan yang dimasalahkan, terutama yang mempunyai dampak pada kehidupan manusia. Kemajuan pengetahuan, ilmu, teknologi, seni dsb. dalam kenyataan mempunyai implikasi moral dan mucullah persoalan-persoalan nilai. Mengenai apakah ilmu termasuk teori itu bebas-nilai atau terikat-nilai merupakan isu lama. Karena tidak terdapat kesepakatan muncullah dua kelompok, yaitu kelompok yang berpandangan bebas-nilai dan kelompok yang berpandangan terikatnilai, masing-masing mempunyai argumen-argumen kuat. Refleksi filosofis selain menampakkan kemampuan analisis, kritis dan rasional, juga menampakkan kemampuan menilik sesuatu secara mendalam dan mendasar yang biasa disebut wesen-anschauung dari apa yang dikaji. Apa yang didapat dari penilikan yang demikian itu, dianggap penuh makna. Untuk analisis yang demikian mendalam dan mendasar yang biasa disebut wesen-anschauung dari apa yang dikaji. Apa yang didapat
176

dari penilikan yang demikian itu, dianggap penuh makna. Untuk analisis yang demikian dikembangkan kemampuan intuitif penulis. Oleh karena itu refleksi filosofis itu dianggap memiliki tingkat orisinalitas lebih tinggi. Tidak ada format standar yang harus diikuti, karena masing-masing penulis menyajikan pembahasan dan pemilahan masalah yang dibicarakan tergantung pada bagaimana ia menghayati sesuatu masalah dan pandangan atau aliran filsafat yang dianutnya. Akan tetapi secara umum dapat dikemukakan bahwa format makalah filosofis berisikan tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian pembahasan dan bagian penutup. (i) Bagian pendahuluan Pada bagian ini dikemukakan isu yang dimasalahkan. Perlu dinyatakan apakah isu itu baru, atau isu lama dan sudah sering dibincangkan. Apakah terdapat pendapat-pendapat yang berbeda dan bahkan berlawanan. Apa usaha dari penulis yang sekarang untuk mencari pemecahan dua atau lebih pandangan yang berbeda dan berlawanan itu. Untuk ini penulis hendaklah memilah-milah isu tersebut menjadi unsurunsur yang saling berkaitan. (ii) Pembahasan Pada bagian ini penulis melakukan analisis kritis tiap unsur. Analisis kritis ini tentu memerlukan pengajian upaya-upaya dan hasil - hasil orang
177

terdahulu: bagaimana mereka membincangkan isu/masalah tersebut dan apa pendapat serta kesimpulan mereka. Dalam pembahasan tiap unsur itu, penulis selain mengemukakan Untuk pendapat yang berbeda-beda posisi itu, juga menyatakan posisinya. menyatakan penulis

memgemukakan kritik-kritik pada tiap pendapat atau pandangan atau teori yang dimasalahkan. (iii) Kesimpulan Pada bagian ini penulis, atas dasar analisis kritis pada bagian pembahasan, mengemukakan apa selanjutnya yang perlu dan harus dilakukan. Apa manfaat dari teori-teori yang berbeda dan berlawanan itu bagi pengembangan pengetahuan ilmiah. (b) Metodologi Untuk makalah berdasarkan penelitian empiris, persoalan metodologi ini penting dijelaskan. Metodologi ini tidak hanya mengenai teknik analisis data, tetapi mulai dari desain penelitian, populasi dan teknik penetapan sampel serta unit-unit analisis. Selanjutnya teknik pengumpulan data, instrumen yang digunakan, teknik pengukuran, kesahihan dan keandalan instrumen serta teknik analisis statistik yang digunakan. Untuk makalah berdasarkan hasil kajian pustaka dan refleksi filosofis, ditekankan pada kemampuan analisis kritis dan rasional. Untuk ini
178

pemahaman dan penguasaan bahasa teknis dan formal menjadi amat penting. Selain itu potensi berpikir filosofi, yaitu berpikir yang mendasar dan sistematis perlu dikembangkan. (c) Bahasa Perlu diketahui, meskipun bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah itu berasal dari bahasa resmi sehari-hari, tidaklah berarti bahasa untuk pengomunikasian pengetahuan itu sama dengan bahasa resmi sehari-hari. Bahasa resmi sehari-hari lebih menonjolkan bentuk fonografik, sedangkan bahasa pengetahuan menggunakan bentuk ideografik, bahasa yang menguakkan substansi dari apa yang dibicarakan dan mempunyai arti yang persis, pasti dan konsisten. Sehubungan ini penggunaan lambang-lambang menjadi penting dan suatu keharusan, khususnya untuk menyatakan hubunganhubungan dan persamaan-persamaan atau mengemukakan teoremteorem. Selanjutnya, tiap terma yang digunakan dalam kalimat atau perumusan formula, tidak hanya mempunyai arti tetapi mempunyai fungsi agar keseluruhan kalimat atau formula mempunyai nilai kebenaran fungsional. Carnap mengelompokkan bahasa pengetahuan dalam bahasa kualitatif dan bahasa kuantitatif. Bahasa kualitatif ditandai oleh penggunaan predikat yang diungkapkan dengan
179

kata-kata,

bahasa

kuantitatif

menyatakan hasil pengukuran dan penghitungan, diungkapkan dengan simbol-simbol fungsi dan memiliki nilai-nilai bilangan. Deskripsi obyek pengetahuan dengan bahasa kualitatif melalui penggunaan dua konsepsi pengetahuan, yaitu: konsepsi klasifikatif dan konsepsi komparatif. Deskripsi obyek pengetahuan dengan bahasa kuantitatif, menggunakan konsepsi kuantitatif, menyajikan hasil-hasil pengukuran. Carnap juga menegaskan keperluan mengelompokkan bahasa pengetahuan dalam: (a) terma-terma logis termasuk terma-terma matematik murni; (b) terma-terma observasional; dan (c) terma-terma teoretis yang juga disebut konstruk. Mengenai kalimat-kalimat juga terdapat pengelompokkan yang sama, yaitu: (a) kalimat-kalimat logis yang tidak mengandung terma-terma observasional atau deskriptif; (b) kalimat-kalimat observasional yang tidak mengandung terma-terma teoretis; dan (c) kalimat-kalimat teoretis yang dapat merupakan: (i) mengandung baik terma-terma observasional maupun teoretis; dan (ii) hanya mengandung terma-terma teoretis. Terma-terma teoretis dikenalkan melalui teori-teori yang didasarkan atas dua jenis postulat, yaitu: (a) postulat teoretis, merupakan hukumhukum dari teori dan sepenuhnya mengandung kalimat-kalimat teoretis; dan (b) postulat korespondensi, kalimat-kalimat campuran yang berisikan terma-terma teoretis dan observasional.
180

Penggunaan bahasa Indonesia dalam karya-karya ilmiah memberikan kesan bahwa kita kurang kritis dan cermat berbahasa. Kita tidak yang melakukan analisis kritis dalam hal memilih dan menggunakan termaterma ketika merumuskan pendapat, hukum atau teori. Bahasa banyak Indonesia digunakan belum dapat tidak berbeda dari bahasa sehari-hari yang digunakan sebagai bahasa pengetahuan?

menonjolkan bentuk fonografik. Apakah ini membuktikan bahwa Bahasa Penggunaan terma-terma seperti: data-data, para, bisa, akibat, dampak, terhadap dan kegemaran penggunaan awalan ganda seperti: member, diber, memper, diper membuktikan betapa besar pengaruh sosiologisme dalam penggunaan bahasa. Tentu ada pengecualian, tetapi kaidah pengecualian itu jangan dibuat berlaku umum. Selain itu keengganan menggunakan mengaji, pengaji, pengajian dan malah yang digunakan -meskipun melanggar kaidah imbuhan- ialah mengkaji, pengkaji, pengkajian dan membuat singkatan seperti semiloka pengganti seminar dan lokakarya, Diknas pengganti Pendidikan Nasional dsb. membuktikan betapa besar pengaruh psikologisme. Bahasa pengetahuan haruslah mencerminkan rasionalitas, bukan emosionalitas atau menonjolkan kandungan emotif dan juga bukan karena bahasa itu telah berterima dalam masyarakat atau digunakan oleh orang banyak. Bahasa
181

Pengetahuan itu menyajikan ide, konsepsi yang terkandung dalam informasi dari obyek pengetahuan yang persis, pasti dan konsisten. Bila bahasa yang digunakan mengandung ambiguitas, terjadilah distorsi dalam penafsiran dan pemahaman informasi pengetahuan. Keadaan yang demikian menghambat pengembangan pengetahuan ilmiah. (d) Referensi Referensi yang digunakan dalam karya ilmiah ada beberapa macam, yaitu: naskah asli, naskah yang telah dipublikasikan dalam bentuk artikel, buku dst, pustaka hasil terjemahan, pustaka hasil saduran, bunga rampai, kumpulan sinopsis, kumpulan resensi buku, kapita selecta isu-isu dari ilmuan, filosof, budayawan dsb. Pustaka hasil terjemahan perlu mendapat perhatian, karena sering terjadi distorsi, apalagi bila terjemahan itu tidak langsung dari bahasa yang digunakan dalam pustaka asli. Misal: Pustaka asli ditulis dalam bahasa Jerman, diterjemahkan kedalam bahasa Inggeris dan dari bahasa Inggeris diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Sebagaimana diketahui, banyak terma bahasa Jerman yang memiliki makna padat dan sukar dicarikan ekuivalensi terma dalam bahasa lain. Apa yang sering dilakukan oleh penerjemah ialah mencantumkan terma asli tersebut dan menjelaskan apa yang dimaksud. Selain itu mutu pustaka terjemahan itu ditentukan pula oleh kredibilitas penerjemah, selain menguasai bahasa yang
182

diterjemahkan juga menguasai bidang-bidang ilmu terkait serta memahami secara mendalam pemikiran penulis pustaka. Hasil terjemahan yang dapat diandalkan biasanya sebelum diterbitkan ditelaah dan dikoreksi oleh penulis pustaka asli itu sendiri. Sering terjadi distorsi dalam penyajian konsepsi pengetahuan, karena penulis makalah (pustaka) kurang kritis menggunakan pustaka. Bila pustaka yang ditemukan ialah hasil terjemahan, saduran dsb. penulis hendaklah menguji ketepatan dan kebenaran konsepsi mengenai sesuatu dalam pustaka asli. Bila tidak demikian, terjadilah penyajian konsepsi pengetahuan yang salah-kaprah (misleading). Bila hal yang demikian sering dan terus berlangsung, bukan kemajuan dan perkembangan pengetahuan ilmiah yang terjadi, melainkan degenerasi pengetahuan ilmiah, bukan pencerdasan yang dilakukan melainkan pembodohan. Penggunaan referensi hendaklah secara kritis, bukan hanya mengutip untuk menunjukkan bahwa penulis telah membaca pustaka tertentu tanpa analisis ketepatan apa yang dikutip atau dirujuk dengan masalah yang dibicarakan. Bila yang dirujuk itu ialah ide atau konsepsi tertentu bersumber dari pustaka dalam bahasa Indonesia, perlu diselidiki apakah ide atau konsepsi tersebut orisinal dari penulis yang bersangkutan, atau ide dan kosepsi atau teori yang dirujuk itu telah pernah dikemukakan oleh orang lain. Bila teori tersebut telah pernah dikemukakan oleh orang lain, haruslah ditelaah pustaka asli dan nyatakan apakah uraian yang dibuat dalam pustaka
183

bahasa Indonesia itu menyimpang atau tidak dari uraian dalam pustaka asli. Bila terjadi demikian, penulis makalah haruslah berani mengemukakan kritik-kritik dan menyatakan kekeliruan yang telah dibuat oleh penulis buku dalam bahasa Indonesia itu. Jadi referensi bukan hanya untuk dikutip apalagi dikompilasi, tetapi untuk dianalisis guna menemukan kekeliruankekeliruan yang telah dibuat, dibandingkan dengan teori dari pakar-pakar lain, selanjutnya penulis menetapkan posisi ia berada. Dengan berbuat demikian, penulis

makalah ilmiah telah memberikan kontribusi meluruskan posisi suatu teori yang dibutuhkan bagi pengembangan pengetahuan ilmiah. (3) Orisinalitas Meskipun ada yang mengatakan bahwa orisinalitas murni dalam kegiatan ilmiah sukar ditemukan. Pendapat ini didukung oleh pandangan bahwa kemajuan dan perkembangan pengetahuan ilmiah itu merupakan kelanjutan dari pengetahuan yang sebelumnya telah ada. Apa yang dilakukan dalam pengembangan pengetahuan ilmiah itu dalam kenyataan merupakan modifikasi dari apa yang telah ada, atau suatu teori baru mengandung pula sejumlah unsur teori lama. Perkembangan pengetahuan berlangsung evolusioner. Akan tetapi ada pandangan lain, yaitu teori baru
184

melampaui kemampuan teori lama dalam banyak hal seperti prediksi faktafakta baru, mengubah pandangan lama secara keseluruhan, atau teori baru itu menggantikan teori yang telah established. Contoh-contoh perkembangan pengetahuan illmiah yang demikian antara lain ialah: teori Copernicus menggantikan teori dan keyakinan Ptolomeus, penemuan geometri non-Eucllidus dari Bolyai, Lobachevski dan Riemann kontradiktif dengan geometri Euclidus, teori relativitas Einstein menggantikan teori Newton. Orisinalitas baik sebagai hasil analisis rasional maupun hasil eksperimen dibuktikan oleh temuan-temuan baru yang menghasilkan teoriteori baru. Teori-teori baru ini harus mampu menghadapi ujian eksperimental yang keras:, untuk membuktikan apakah teori-teori tersebut dapat menggantikan teori-teori yang telah ada. Berkenaan dengan analisis rasional dan melakukan eksperimen, kejujuran ilmiah ilmuan menjadi taruhan. Kejujuran ilmiah bertalian dengan kritik-kritik yang ditujukan pada sejumlah teori, apakah tiap teori mendapat perlakuan adil, apakah tidak terjadi manipulasi data atau rekayasa data penelitian, apakah hasil eksperimen yang dilaporkan memang benar-benar dilakukan. Kemampuan menemukan sesuatu yang baru: pendapat, teori, hukum ataupun tesis merupakan sumbangan bagi pengembangan pengetahuan ilmiah. Penemuan sesuatu yang baru itu tidak hanya terbatas pada penelitian empiris melalui penelitian lapangan dan/atau melakukan eksperimen, tetapi juga terbuka
185

kemungkinan melalui kajian pustaka. Hasil-hasil penelitian empiris dan analisis rasional pustaka, bukanlah hanya mengulangi apa yang telah ada dan telah dipublikasikan, atau mengemukakan sesuatu yang telah ada dan telah dipublikasikan, atau mengemukakan sesuatu yang telah diketahui, atau menyajikan hasil analisis statistik sebagai latihan akademik, tetapi hendaklah menghasilkan pendapat atau teori baru. Untuk mencapai apa yang diinginkan itu jelas tidak cukup hanya satu kali melakukan penelitian atau hanya melakukan analisis pustaka yang terbatas. Pengembangan pengetahuan ilmiah merupakan upaya sinambung, menuntut dedikasi dan kesungguhan. (4) Hak Kekayaan Intelektual Kejujuran ilmiah merupakan pilar utama yang menentukan kredibilitas dan reputasi ilmuan, satu dari sejumlah hal dalam proses kegiatan ilmiah ialah penulis dan/atau peneliti mungkin mendapatkan inspirasi untuk menulis dan/atau meneliti tentang sesuatu setelah membaca sejumlah pustaka. Dari telaah pustaka itu penulis dan/atau peneliti berkenalan dengan suatu teori yang menggugahnya melakukan kajian lebih lanjut baik dengan cara analisis tingkat rasionalitas maupun melakukan penelitian empiris. Hasil-hasil analisis tingkat rasionalitas dan penelitian empiris itu dipublikasikan melalui jurnal-jurnal ilmiah atau makalah kerja yang disajikan dalam seminar/simposium ilmiah.
186

Artikel untuk jurnal ilmiah dan perkembangan ilmiah, biasanya mencantumkan hasil penelitian, pendapat dan teori dari ilmuan lain. Ada lima jenis kutipan, yaitu: (a) kutipan langsung penuh; (b) kutipan langsung tak-penuh; (c) kutipan tidak langsung penuh; (d) kutipan tidak langsung tak-penuh; dan (e) pengambilan ide-ide. a. Kutipan langsung penuh ialah kutipan yang diambil dari pustaka asli, pustaka yang ditulis dalam bahasa penulis/ilmuan itu sendiri. Untuk melakukan ini penulis artikel dsb. haruslah menguasai bahasa terkait. Dikatakan penuh, karena yang dikutip ialah keseluruhan kalimat atau paragraf secara utuh. b. Kutipan langsung tak-penuh ialah mengambil sebagian dari kalimat, yaitu terma-terma pokok dari pendapat atau teori ilmuan tertentu. c. Kutipan tidak langsung penuh ialah kutipan yang diambil dari pustaka hasil terjemahan dan saduran, mengutip keseluruhan kalimat atau keseluruhan paragraf secara utuh. d. Kutipan tidak langsung tak-penuh, mengambil sebagian dari kalimat atau paragraf pustaka hasil terjemahan itu. e. Mengambil ide atau konsepsi dari ilmuan lain guna menguatkan pendapat atau teori yang dikemukakan. Mengenai kutipan ini, khususnya kutipan tidak langsung dan pengambilan ide-ide, perlu diteliti pustaka asli. Kita harus diyakinkan
187

bahwa tidak terjadi distorsi dalam terjemahan itu. Bila ide dan konsepsi mengenai sesuatu yang diambil, kita perlu diyakinkan apakah ide dan konsepsi tersebut murni berasal dari penulis pustaka pada mana ide dan konsepsi itu diambil, atau ide dan konsepsi yang sama itu telah pernah dikemukakan oleh ilmuan lain. Untuk ini perlu ditelusuri histori ide dan konsepsi dalam perkembangan pengetahuan ilmiah, menelaah pustaka asli yang ditulis oleh ilmuan ilmiah bersangkutan. Dengan cara ini akan diketahui apakah telah terjadi pengembangan atau malah deviasi dan distorsi yang terjadi. Hal yang terakhir ini mungkin terjadi, karena penulis pustaka pada mana ide dan konsepsi tentang sesuatu itu kita ambil, hanya pernah mendengar ide dan konsepsi bersangkutan tetapi tidak melakukan kajian lebih lanjut secara sungguh-sungguh. Tradisi kegiatan ilmiah berkaitan dengan kutipan ini ialah bahwa kita harus menghormati hak kekayaan intelektual dengan meminta izin tertulis dari penulis bersangkutan dan/atau pemegang copy-right. Meskipun demikian, ada pula pemegang copy-right itu membolehkan kutipan singkat tanpa izin tertulis dengan ketentuan kutipan tersebut untuk dianalisis dan dikritik, sebagai bagian dari kegiatan pengembangan pengetahuan ilmiah. Dalam hal inilah integritas kesarjanaan ilmuan menjadi taruhan. Bila kutipan dalam kenyataan tidak dianalisis dan dikritik dan dicantumkan dalam karya ilmiah, kutipan itu tanpa izin tertulis dari
188

pemegang copy-right, kutipan yang demikian dinyatakan pelanggaran atas hak kekayaan intelektual atau dikatakan suatu bentuk pembajakan. Bila pengambilan ide dan kosepsi tentang sesuatu tanpa menunjukkan referensi pustaka yang dibaca, hal yang demikian dapat digolongkan dalam perbuatan plagiat. 5. Diskusi dan kritik rasional. Suatu karya ilmiah, khususnya artikel yang akan dipublikasikan melalui jurnal ilmiah, tidaklah langsung dimuat seperti apa adanya. Naskah artikel itu ditelaah oleh editor, diedit baik mengenai isi maupun bahasa. Terbuka kemungkinan artikel itu dikembalikan kepada penulis untuk perbaikan berdasarkan komentar komentar editor atau artikel tersebut ditolak oleh editor. Tradisi dalam kegiatan ilmiah, sebelum makalah dikirim ke jurnal, lebih dahulu disampaikan kepada teman-teman sejawat untuk ditelaah oleh mereka. Mereka dimintai untuk memberikan kritik-kritik komentarkomentar dan saran-saran perbaikan. Seringkali saran-saran perbaikan itu menganjurkan penulis untuk menelaah referensi lain yang terlupakan oleh penulis atau penulis belum mengetahui. Sehubungan dengan ini penulis melakukan beberapa perubahan dalam pendapat atau teori yang disusunnya,
189

atau mengubah posisinya. Tentu kritik dan komentar dari teman-teman sejawat itu ialah yang obyektif dan rasional. Selain menyampaikan naskah kepada teman-teman sejawat secara individual, naskah tersebut dapat disajikan dalam kelompok diskusi dari disiplin ilmu terkait. Kelompok ini mengagendakan diskusi periodik. Makalah yang akan didiskusikan disampaikan kepada anggota kelompok dan mereka diberi cukup waktu untuk mengaji makalah tersebut secara sungguhsungguh. Dalam diskusi rasional penulis tentu akan menghadapi kritikkritik dan komentar-komentar tajam. Penulis harus dapat memberikan penjelasan-penjelasan tambahan guna meniadakan salah faham atau keliru interpretasi mengenai sesuatu, mungkin pula penulis mempertahankan pendapat atau teorinya dengan memberikan argumen-argumen atau penjelasan tambahan yang meyakinkan. Menghadapi situasi demikian penulis hendaklah tidak patah semangat atau putus asa, tetapi keadaan tersebut diterima sebagai dorongan demi kemajuan dan perkembangan dalam upaya mencari dan mendapatkan serta kemudian menyumbangkan pengetahuan ilmiah.

6. Kelompok diskusi Perguruan Tinggi, sejak dulu dinyatakan sebagai pusat pengembangan pengetahuan ilmiah. Sehubungan dengan itu di Perguruan
190

Tinggi ada bermacam-macam lembaga penelitian dan kelompok diskusi rasional. Melakukan penelitian-penelitian dan diskusi-diskusi rasional menjadi fungsi utama ilmuan, sedangkan mengajar merupakan fungsi kedua. Bila hal ini tidak mungkin dilakukan karena kondisi-kondisi yang diperlukan belum tersedia, keadaan yang demikian tidaklah mengabaikan keperluan melakukan penelitian dan diskusi rasional serta menerbitkan karya ilmiah. Penelitian itu tidak hanya penelitian lapangan dan melakukan eksperimen, tetapi termasuk pula kajian pustaka. Kelompok diksusi tiap disiplin ilmu perlu diadakan. Kelompok ini tidak hanya melakukan diskusi rasional mengenai hasil-hasil penelitian dan naskahnaskah yang akan diterbitkan, tetapi mungkin pula mendiskusikan usulan-usulan penelitian. Melalui diskusi-diskusi rasional yang dilakukan secara periodik di Perguruan Tinggi, iklim dan kesadaran akan keperluan mendapatkan dan mengembangkan pengetahuan ilmiah akan dihayati. Perlu diketahui tugas utama dosen-dosen dalam melaksanakan fungsi kependidikan mereka bukan hanya menyajikan pengetahuan yang telah ada, tetapi yang lebih penting ialah menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan rasional, mahasiswa menanyakan/memasalahkan teori-teori yang mereka dapat dari dosen-dosen dan dari pustaka-pustaka. Situasi belajar yang demikian, kecuali dosendosen juga kritis ketika menelaah pustaka-pustaka, baik untuk keperluan perkuliahan, melakukan penelitian maupun penulisan karya ilmiah
191

Melalui kelompok diskusi minat dan kemampuan dosen-dosen menulis karya-karya ilmiah dikembangkan dan ditingkatkan. Apalagi syarat yang harus dipenuhi untuk pengusulan dan promosi jenjang kepangkatan ialah karya-karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah., artikel-artikel ilmiah itu haruslah relevan dengan matakuliah yang diajarkan dan/atau disiplin ilmu yang merupakan bidang kepakaran. Dengan publikasi karya ilmiah yang berkaitan dengan matakuliah dan disiplin ilmu, yaitu karya ilmiah yang memuat temuan-temuan baru, baik berupa fakta-fakta baru maupun interpretasi dan teori-teori baru berarti dosen-dosen berperan aktif dalam pengembangan pengetahuan ilmiah.

7. Memulai penulisan karya ilmiah. Telah menjadi pendapat umum, persoalan bagaimana dan dari mana memulai menulis karya ilmiah, merupakan penghambat pertama dan utama. Karena kurang mampu mengatasi hambatan tersebut, minat dan keinginan menulis ditekan dan potensi menulis yang dimiliki tidak dikembangkan. Ada yang mengatakan minat menulis itu muncul karena ada inspirasi. Ada pula yang mengatakan karena keingin-tahuan (curiosity), yang lain mengatakan karena menghadapi masalah dan masalah ini perlu dipecahkan. Tiga hal tersebut tidaklah berdiri sendiri,
192

karena

inspirasi

akan

membangkitkan keingin-tahuan dan kemudian keingin-tahuan akan

mengarahkan pada penemuan masalah yang perlu dipecahkan dengan melakukan penelitian. Hasil-hasil penelitian baik lapangan, eksperimen maupun kajian pustaka dituliskan dan dipublikasikan agar kalangan ilmuan mengetahui apa yang telah dilakukan dan ditemukan dalam kegiatan pengembangan pengetahuan ilmiah. Sehubungan dengan itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum memulai menulis karya ilmiah.

a. Melakukan kajian pustaka: jurnal, periodikal, makalah kerja, majalah, surat kabar dsb untuk menemukan isu-isu dan mungkin ada dari isu-isu tersebut yang menarik dan penting untuk dikaji lebih lanjut. Langkah ini merupakan kajian pendahuluan. b. Mendiskusikan dengan sejawat tentang niat anda untuk melakukan kajian lebih lanjut dan mendapatkan pandangan dari teman sejawat. c. Menetapkan isu tersebut termasuk yang mana: (i) masalah praktis yang belum terselesaikan, (ii) kesenjangan antara teori dan praktek; ataukah merupakan (iii) konflik teoretis. Bila konflik teoretis, termasuk yang mana; (a) apakah perbedaan metodologis, (b) perebutan bidang kajian; atau (c) perbedaan landasan fundamental teori. d. Menetapkan pendekatan: (i)
193

apakah

akan

melakukan

survai

perpustakaan, atau (ii) melakukan penelitian empiris. Bila penelitian

empiris yang dipilih, perlu ditetapkan apakah melakukan penelitian lapangan atau melakukan eksperimen. e. Bila memilih survai pustaka, pustaka yang disurvai tidak hanya publikasi publikasi mutakhir, tetapi juga yang lampau agar diketahui bagaimana perkembangan dan posisi teori yang dimasalahkan. Dalam hal ini penulis/peneliti harus melakukan analisis kritis dan rasional. f. Penelitian dalam bentuk survai-pustaka perlu menyusun proposal penelitian untuk diajukan pada pihak penyandang dana.

g. Bila penelitian lapangan yang dipilih, penulis/peneliti hendaklah melakukan observasi pendahuluan guna mendapatkan informasi pendahuluan tentang kemungkinan melakukan penelitian, untuk mengetahui segala sesuatu yang perlu disiapkan. h. Bila penelitian yang diniatkan itu mungkin dilakukan dan akan mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait, penulis/peneliti menyusun proposal penelitian untuk diajukan kepada penyandang dana. i. Bila penelitian yang harus diniatkan ialah melakukan eksperimen, Bila penulis/peneliti menetapkan tempat eksperimen.

eksperimen di alam terbuka, penulis/peneliti perlu melakukan observasi tempat-tempat yang tepat. Bila eksperimen dilakukan dalam
194

laboratorium, penulis/peneliti harus menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melakukan eksperimen. Penyiapan segala sesuatu ini juga dilakukan untuk eksperimen di alam terbuka. j. Penulis/peneliti menyusun proposal melakukan eksperimen untuk diajukan pada pihak penyandang dana. k. Format dan isi proposal penelitian mengikuti ketentuan-ketentuan pihak penyandang dana. Untuk ini Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di tiap Perguruan Tinggi dapat menyediakan format proposal penelitian tersebut. l. Berdasarkan hasil-hasil penelitian itulah ditulis karya ilmiah untuk disajikan dalam seminar/simposium ilmiah tingkat nasional atau tingkat m. Akan internasional, tetapi, sebelum atau karya dikirim ilmiah ke jurnal ilmiah untuk itu disajikan dalam dipublikasikan. seminar/simposium ilmiah, lebih baik didiskusikan lebih dahulu dalam kelompok diskusi terkait yang ada di tiap Perguruan Tinggi . 8. Penutup Makalah ini ditulis dengan maksud untuk didiskusikan. Ada dua hal yang mendorong penulis menulis makalah ini yaitu: (i) dalam tahun delapan puluhan penulis membaca buku karangan Karl R. Popper, Conjectures and Refutations dan beberapa buku beliau, Thomas S. Kuhn, The Structure of
195

Scientific Revolution, L. Laudan, The Problems of Progress, R. Carnap, An Introduction to the Philosophy of Science , Polanyi, Personal Knowledge, dan I Lakatos, The Methodology of Scientific Research Programmes, dan Mathematics, Science and Epistemology; dan (ii) membaca makalah-makalah yang akan dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi STEI. Berdasarkan penafsiran penulis dari pustaka yang pernah dibaca itu khususnya mengenai pengetahuan ilmiah, penulis ingin mendiskusikan Penulisan Karya Ilmiah. Penulis akui, makalah ini belum dapat disebut ilmiah, karena hanya merupakan pengungkapan kembali bahan-bahan yang dibaca duapuluh tahun yang lalu. Catatan-catatan bacaan dan banyak buku yang pernah penulis miliki telah musnah dimakan rayap. Tetapi karena keinginan kuat untuk menumbuhkan tradisi diskusi rasional, sikap kritis dan obyektif dalam lingkungan masyarakat belajar di Perguruan Tinggi, penulis memberanikan diri menyajikan sesuatu yang jelas tidak sempurna. Banyak kelemahan dan kekeliruan. Kelemahan dan kekeliruan itu karena tulisan ini merupakan hasil pemikiran yang didasarkan dan dipengaruhi oleh bacaanbacaan masa lalu. Oleh karena itu penulis menyarankan agar teman-teman sejawat menelaah buku-buku yang dicantumkan dalam daftar bacaan.

196

Daftar Bacaan Carnap, Rudolf, (1966), An Introduction to the Philosophy of Science , New York: Basic Books Cooper, William S., (1978), Foundations of Logico-Linguistics: A Unified Theory of Information, Language and Logic , Dordrecht: D. Reidel Publishing, Co.

Hempel, Carl G., (1960), Operationism, Observation, and Theoretical Terms, dalam A. Danto & S. Morgenbeser, Philosophy of Science, New York: New American. Kuhn, Thomas S., (1970) The Structure of Scientific Revolutions, Chicago: University of Chicago Press Lakatos, Imre, (1982), The Methodology of Scientific Research Programmes, London : Routledge & Kegan Paul
197

Lakatos, Imre, (1982), Mathematics, Science and Epistemology, London: Routledge & Kegan Paul Laudan, L., (1977), The Problems of Progress: The Growth of Scientific Knowledge, Berkeley: University of California Press. Meredith, Patrick, (1966), Instruments of Communication: An Essay on Scientific Writing, London: Perganon Press. Platts, Mark (ed.), (1980), Reference, Truth and Reality, London: Routledge & Kegan Paul. Polanyi, M. (1972), Personal Knowledge, Chicago: The University of Chicago Press. Polanyi, M. dan H. Frasch, (1975), Meaning, Chicago: The University of Chicago Press. . Popper, Karl R., (1960), The Logic of Scientific Discovery, Oxford: Clarendon Press.

198

Popper, Karl R., (1965), Conjectures and Refutations, Oxford: Clarendon Press. Popper, Karl R. (1979), Objective Knowledge: An Evolutionary Approach, Revised Edition Oxford: Clarendon Press. Russell, Betrand, (1973), Essays in Analysis, London: George Allen & Unwin

KRISIS INTELEKTUAL
199

Salah siapa?
Dr. Achmad Tolla, M. Pd.

Tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tulisan ini lebih cocok digolongkan sebagai refleksi sosiologis yang tampak di depan mata kita setiap saat. Kita prihatin, tetapi bagaimana menghilangkan keprihatinan itu, kita tidak tahu. Semua orang, termasuk kita, pandai berbicara tentang kebenaran, keadilan, kejujuran, tetapi hanya sedikit yang bertindak benar pada dirinya dan pada orang lain; adil pada dirinya dan pada orang lain; serta jujur pada dirinya dan pada orang lain. Karena pembicaan kita akan lebih banyak menggosip orang, baiklah lebih dahulu kita memohon ampun kepada Allah swt. semoga gosip kita dimaafkan oleh-Nya.

A. Kondisi Dekade Ini


1. Krisis Intelektual Fritjof Capra dalam bukunya Titik Balik Peradaban mengatakan bahwa kehidupan manusia saat ini sudah sampai pada keadaan krisis multidimensional, yaitu krisis intelektual, krisis moral, dan krisis spiritual. Kesimpulan umum yang sering dilontarkan orang ialah bahwa
200

krisis intelektual yang melanda Indonesia dekade ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang mekanistis yang cenderung lebih banyak memfungsikan dan memberdayakan unsur intelektual daripada unsur emosional. Krisis intelektual ini terjadi di kalangan ilmuwan dalam berbagai versi, mulai dari versi yang samar sampai pada tingkat paling kasar. Krisi intelektual versi terselubung, misalnya: a. menggunakan ijazah atau sertifikat orang lain untuk memperoleh kesempatan bekerja; b. mengikuti jenjang pendidikan yang tidak setara dengan jenjang pendidikan terakhir yang dimiliki oleh yang bersangkutan untuk memperoleh surat tanda tamat belajar; c. mengikuti jenjang pendidikan gelar yang menyimpang dari program umum dalam sistem pendidikan Indonesia, misalnya: - gelar S1 diperoleh kurang dari enam semester - gelar S2 diperoleh kurang dari dua semester, kadang-kadang kurang dari satu semester - gelar S3 diperoleh kurang dari dua semester
201

Gelar yang diperoleh dalam waktu singkat seperti itu bukanlah gelar akademik yang setara dengan isinya, melainkan hanyalah penambahan gelar. Krisis intelektual yang kasar hingga yang paling kasar terjadi umumnya terjadi dalam lembaga pendidikan kedinasan atau pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen, seperti: STPDN, Akabri, pendidikan jabatan, dsb. yang harus dibayar dengan harga mahal. Krisis intelektual yang terjadi dalam lembaga pendidikan umum formal umumnya berbentuk: a. pemberian kemudahan kepada calon siswa untuk memasuki jenjang pendidikan tertentu dengan pembayaran khusus; b. sistem kekerabatan yang terjadi dalam penerimaan siswa/mahasiswa; c. sistem kekerabatan dalam penerimaan pegawai negeri sipil yang mengabaikan prinsip relevansi keahlian dengan jenis pekerjaan. Banyak kemungkinan yang menjadi penyebab utama krisis intelektual yang dikemukakan di atas. Akan tetapi, kemungkinan yang paling kuat adalah: a. sejak pemberlakuan Kurikulum 1975 hingga Kurikulum 1994, mata pelajaran Budi Pekerti tidak dieksplisitkan sebagai mata pelajaran, bahkan ditiadakan samasekali;
202

b. mata pelajaran agama terpisah dari mata pelajaran yang lain tanpa ada usaha mencari titik temunya, kecuali ada kesadaran pribadi secara individual; c. membanjirnya informasi yang dapat berkontaminasi dengan prinsipprinsip ilmu pengetahuan: objektif, hak umum, tidak terbatas. 2. Dampak Krisis Intelektual Waktu yang tersedia tidak akan cukup untuk membeberkan tumpukan kemerosotan moral yang terjadi di negeri kita sekarang ini. Berikut ini disebutkan beberapa yang paling vatal, yaitu: a. penyalahgunaan wewenang dalam bentuk korupsi; b. penyalahgunaan wewenang dalam bentuk kepentingan kekerabatan; c. berbagai macam kekerasan, dari skala kecil hingga skala nasional; d. penghargaan terhadap nilai-nilai kian memudar; e. agama tidak lagi menjadi alat pengontrol pribadi bagi umat beragama.

B.Bagaimana Selanjutnya?
203

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehoidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Hakikat pendidikan nasional seperti dikemukakan di atas, selanjutnya dimaknai sesuai dengan cita-cita pembangunan bangsa Indonesia, yaitu membangun manusia seutuhnya. Hal ini ditegaskan di dalam Bab I, Pasal 1 sebagai berikut. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyaraksat, bangsa dan negara. Pernyataan tersebut telah tercantum di dalam GBHN sejak tahun 1973 sebagai produk DPR RI hasil pemilihan umum pertama di masa Orde Baru. Secara matematis, dapat dikatakan bahwa kebanyakan pelaku pembangunan sekarang ini adalah hasil didikan berdasarkan cita-cita
204

pendidikan tersebut. Itu berarti, idealnya mereka harus tampil sebagai figur yang di dalam dirinya terintegrasi sembilan kunci keunggulan yang menjadi dambaan masyarakat dan bangsa kita. Namun, kenyataannya mengecewakan. Oleh karena generasi pendahulu dan generasi sekarang belum mampu merealisasikan kesembilan kunci keunggulan itu, mari kita rekomendasikan kepada generasi di bawah kita agar mereka mampu menjadi manusia unggul yang di dalam dirinya terintegrasi secara filosofis dan realistis kesembilan kunci keunggulan yang dimaksud. 1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahasaesa serta taat melaksankan syariat agamanya; 2. Bersikap jujur, tulus, kata dan perbuatan sejalan; 3. Tidak mengenal putus asa, selalu yakin bahwa di depan pasti ada kebaikan; 4. Berbicara dengan baik, sopan, menghindari fitnah; 5. Mampu beradaptasi dengan masyarakat di mana dan kapan saja;

205

6. Memiliki komitmen untuk dirinya, untuk masyarakatnya, dan untuk lingkungannya; 7. Bertanggung jawab kepada Tuhannya, dirinya, masyarakatnya, dan lingkungannya; 8. Menyadari keberadaan dirinya, mengakui keberadaan orang lai, menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, dan mengakui kelebihan dan kekurangan orang lain. 9. Hidup dalam prinsip keseimbangan: - dunia-akhirat - jasmani-rohani - materiil-spiritual - intelektual-emosional Mengapa mereka, dan bahkan kita semua tidak mampu merelalisasikan kunci keunggulan itu? Mari kita mendiskusikan jawaban pertanyaan itu! Hasil dari diskusi kita itulah yang kita harapkan akan menjadi rujukan, paling tidak di dalam lingkungan kita. Kita akan mendidik anak-anak kita menjadi manusia
206

unggul paripurna yang akan membawa negeri ini ke suatu dunia nyata yang makmur di bawah rida Allah swt.

207

PENGEMBANGAN SILABUS PENGAJARAN BAHASA BERBASIS KOMPETENSI

Dr. Achmad Tolla, M. Pd.


A. Pendahuluan Kompetensi, menurut Hall dan Jones (1979:29) adalah pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur (dalam Depdiknas, 2002:1). Kemampuan demikian diharapkan dimiliki oleh lulusan lembaga pendidikan kita agar mereka dapat bersaing dalam memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam pembangaunan, baik secara individu maupuan secara berkelompok. Akan tetapi, kemampuan itu tidak mudah diraih tanpa penanganan yang lebih serius dalam bidang manajemen pendidikan dan implikasinya di dalam proses belajar-mengajar. Pada hakikatnya, implikasi pengajaran bahasa berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem pengujian berbasis kompetensi dasar. Kompetensi dasar adalah hasil penjabaran dari standar kompetensi, yaitu kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh pembelajar dalam mempelajari bidang ilmu yang kelak menjadi keahliannya. Dalam bidang pengajaran bahasa Indonesia, kemampuan minimal dapat dipahami sebagai kompetensi kebahasaan dan keterampilan berbahasa Indonesia yang diharapkan dimiliki oleh setiap lulusan program pendidikan bahasa Indonesia atau jurusan linguistik dan /atau kesastraan Indonesia Pedoman umum pengembangan silabus pengajaran bahasa Indonesia berisi penjelasan secara umum tentang prosedur dan cara mengembangkan kompetensi kebahasan dan keterampilan berbahasa di dalam materi pembelajaran, langkahlangkah untuk menentukan pengalaman belajar pembelajar, alokasi waktu sesuai dengan bobot kredit matakuliah, sumber bahan, dan sumber pustaka yang digunakan, baik sebagai buku pegangan maupun sebagai sumber pengayaan. Pedoman umum itu

208

perlu dilengkapi dengan pedoman khusus yang menjelaskan lebih rinci tentang prosedur dan cara mengembangkan kompetensi dan keterampilan berbahasa menjadi materi pembelajaran dan uraian urutan penyajiannya, langkah-langkah penentuan pengalaman belajar, alokasi waktu, dan sumber bahan yang digunakan. Di tingkat sekolah menengah atas ada delapan bidang studi yang dibuatkan pedoman khusus, yaitu: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Sosial Terpadu, dan Pendidikan Kesenian. Karena bidang studi Bahasa Indonesia di SMA termasuk mata pelajaran yang diujikan secara nasional, maka calon-calon Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia dan/atau Sarjana Sastra (Bahasa Indonesia) harus dipersiapkan dengan membekali mereka pengetahuan tentang kompetensi dasar Bahasa Indonesia yang menjadi target pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Kompetensi dasar yang dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional sekarang ini, sesungguhnya berada dalam bingkai kompetensi versi Bloom (1956). Bloom membagi kompetensi itu ke dalam tiga aspek yang masing-masing memiliki tingkat yang berbeda sebagai berikut: 1) 2) 3) kompetensi kognitif, dengan subkompetensi: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi; kompetensi afektif, dengan subkompetensi: pemberian respon, penilaian, apresiasi, dan internalisasi; kompetensi psikomotorik, dengan subkompetensi: keterampilan gerak awal, semi rutin, dan rutin. Dalam pengajaran bahasa, orang sering menggunakan paradigma Bloom itu menjadi pedoman dalam menyusun materi pembelajaran bahasa dan sastra, termasuk alat penilaiannya. Kompetensi kognitif dijadiakan acuan dalam menyusun materi pembelajaran komponen kebahasaan dan kesastraan dengan berorientasi pengetahuan. Kompetensi afektif dijadikan dasar dalam menyusun materi pembelajaran yang berorientasi sikap bahasa dan sastra. Pengajaran bahasa menempatkan kompetensi afektif pada semua aspek keterampilan berbahasa

209

(menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tetapi yang utama adalah aspek menyimak dan berbicara karena kedua aspek ini dimiliki oleh semua umat manusia, melek huruf atau tidak melek huruf. Pengajaran sastra, selain teori dan sejarah, berada di dalam lingkup kompetensi afektif. Untuk kompetensi psikomotor berada pada tataran keterampilan berbahasa dan aplikasi apresiasi sastra. B. Pengembangan Silabus 1. Pengertian Silabus Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran (Depdiknas, 2004). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum dalam bentuk penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam suatu program pendidikan. Penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ini selanjutnya akan terurai dalam bentuk pokok-pokok bahasan dan urain materi yang akan dipalejarai pembelajar untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar itu. Dalam pedoman umum mekanisme prosedur pengembangan silabus Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan sekolah yang sederajat (2004) dikemukakan bahwa silabus adalah garis besar, ringkasan, ikhtisar, pokok-pokok isi materi pelajaran. Dalam kedudukannya sebagai garis besar materi pelajaran, maka silabus merupakan hasil kegiatan pengembangan desain pembelajaran yang bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran labih lanjut mengenai rencana pembelajaran (RP), pengelolaan kegiatan belajar-mengajar (PKBM), dan pengembangan sistem pengujian. Secara lebih eksplisit dapat dikatakan bahwa penyusunan silabus merupakan bentuk konkret pengembangan kurikulum yang senantiasa berorientasi kepada kebutuhan pembelajaran, dalam arti apa yang akan dipelajari pembelajar dan apa target yang diinginkan untuk dicapai oleh mereka. Bentuk penjabaran kurikulum

210

seperti ini lazim disebut desain instruksional. Kegiatan paling awal dari penyusunan desain intruksional adalah analisis pengetahuan awal calon pembelajar. Pengetahuan awal dapat disetarakan dengan standar kompetensi awal yang dikenal dalam studi pendidikan berbasis kompetensi. Wujud dari pengemabangan kurikulum itu dikenal degan nama silabus yang juga disebut Pola Dasar Kegiatan Belajar-Mengajar (PDKBM) atau Garis-Garis Besar Isi Program Pembelajaran (GBIPP). 2. Prinsip-prinsip Pengembangan Silabus Berikut adalah prinsip yang m,endasari pengembangan silabus. 1) Ilmiah, agar silabus yang dihasilkan valid. 2) Memperhatikan kemjuan dan kebutuhan mahasiswa dari segi: ruang lingkup, kedalaman, tingkat kesulitan, dan urutan penyajian. 3) Sistematis, setiap materi senantiasa berkaitan, yaitu ada prinsip keberlanjutan secara progresif agar tidak terjadi pengulangan materi pada jenjang yang berbeda. 4) Relevansi, materi senantiasa memeprtimbangkan keterkaitan antara pengetahuan dengan dan penerapan pengetahuan itu ke dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari. 5) Konsistensi, ada konsistensi antara kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan pengalaman belajar. 6) Kecukupan, cakupan materi memadai untuk mendukung tercapainya standar kompetensi (Depdiknas, 2004). 3. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Pengembangan silabus dan sistem penilaian berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi sebagai berikut. 3.1 Merumuskan Standar Kompetensi Standar kompetensi adalah kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai pembelajar setelah mengikuti suatu

211

proses belajar-mengajar. Standar kompetensi ini, secara garis besar dibedakan menjadi standar isi (content standard) dan standar penampilan (performance stanrd). Standar kompetensi dalam konteks operasional dapat diartikan sebagai: 1) pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus dicapai pembelajar; 2) kemampuan melakukan sesuatu dan spesifikasi skor atau peringkat dalam pencapaian kompetensi. 3.2 Merumuskan Kompetensi Dasar Kompetensi dasar pada hakikatnya adalah: 1) penjabaran dari standar kompetensi; 2) pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat didemonstrasikan oleh pembelajar; 3) kompetensi dasar yang digunakan sebagai acuan atau dasar untuk menentukan materi pembelajaran; 4) untuk keperluan penilaian, kompetensi dasar dikembangkan menjadi sejumlah indikator untuk menentukan jenis dan bentuk instrumen penilaian. 3.3 Menentukan Indikator Pencapaian Kegiatan Belajar-Mengajar Indikator pencapaian kegiatan belajar-mengajar adalah keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses belajar-mengjar. Indikator pencapaian dapat diukur dengan menggunakan sejumlah pertanyaan sejauh mana menguasaan siswa terhadap materi pembelajaran. 3.4 Menentukan Materi Pembelajaran Ada sejumlah prinsip yang menjadi dasar peretimbangan dalam memilih materi pembelajaran. 1) Materi adalah pokok-pokok bahasan yang harus dipelajari pembelajar sebagai sarana pencapaian kompotensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan alat penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar.

212

2) Urutan materi pembelajaran bersifat prosedural, hierarkis, dan terpadu. 3) Klasifikasi materi meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan (psikomotorik). 4) Jenis materi dapat berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. 5) Jika kompetensi dasar dirumuskan dengan kata kerja, maka materi pembelajaran dirumuskan dengan kata benda atau kata kerja yang dibendakan. Hal pokok yang perlu diperhatikan dalam merumuskan materi adalah: a. jenis materi b. keluasan cakupan/ ruang lingkup materi c. kedalaman materi 3.5 Menentukan Pengalaman Belajar Siswa Pengalaman belajar diperoleh secra bervariasi dari penginderaan dan tindakan sebagai berikut: 1) 10% dari apa yang didengar; 2) 20% dari apa yang dibaca; 3) 30% dari apa yang dilihat; 4) 50% dari apa yang dilihat dan didengar; 5) 70% dari apa yang dikatakan dan dilakukan; 6) 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan. Pengembangan pengalaman belajar dapat dilakukan dengan strategi berikut. a. Pengembangan pemngalaman belajar ranah kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. a) Kompetensi kognitif terjadi secara berjenjang dengan aktivitas: menghafal, memahami, menmgaplikasikan, menganalisis, menyimpuldan menilai. b) Kompetensi afektif meliputi: pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.

213

c) Kompetensi psikomotorik meliputi: gerakan awal, semi rutin, dan rutin melalui gerakan latihan intensif dalam tindak simulasi, menirukan, danmenghafal. b. Pengembangan kecakapan hidup (life skill) a) Jenis kecakapan hidup adalah kecakapan diri yang terdiri atas kesadaran diri (self awarness) dan kecakapan berpikir (thingking skill). b) Strategi pembelajaran kecakapan hidup meliputi: pembelajaran berbasis luas (menyangkut kebutuhan hidup) dan pembelajaran terpadu. c. Pengalaman belajar a) Pengalaman belajar menunjukkan aktivitas belajar yang dilakukan pembelajar untuk mencapai penguasaan standar kompetensi dan kemampuan dasar mengenai materi pembelajaran. b) Pengalaman belajar dapat dipilih sesuai dengan kompetensi pembelajar. c) Tempat, di dalam kelas atau di luar kelas. d) Pendekatan: Mengajar-Belajar (teaching-learning) Menumbuhkan rasa diri tidak tahu mau menjadi tahu Guru sebagai fasilitator dan pelati

e) Bentuk kata kerja yang digunakan sebagai kata kerja operasional antara lain: - mengidentifikasi - mengamati - mempraktekkan - menyimulasikan - menentukan algoritma - mengoperasikan - meragakan - mengaplikasikan - menkaji - mengkonstruksi - menemukan - meneliti - mengaplikasikan

- mendemonstrasikan - membuktikan rumus

214

- menganalisis 3.6 Menentukan Alokasi Waktu

- membandingkan

- menelaah

1) Alokasi waktu pembelajaran suatu kompetensi dasar tertentu diperhitungkan berdasarkan analisis dan/atau pengalaman penggunaan jam pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar di kelas. 2) Kriteri penentuan alokasi waktu yang perlu dipertimbangkan adalah: (a) kedalaman (b) kompleksitas (c) frekuensi penggunaan (d) banyaknya materi (e) pentingnya materi 3.7 Menentukan Sumber Bahan/Alat Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sumber belajar/ alat aebagai berikut: 1) menggunakan bahan rujukan yang relevan dan signifikan sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan; 2) sumber utama: buku teks dan kurikulum, jurnal, hasil penelitian, terbitan berkala, dokumen negara, dan sebagainya; 3) sumber lainnya: referensi/literatur, pakar, buku penunjang. Agar pemilihan sumber bahan/alat dilakukan dengan tepat, guru hendaknya melakukan hal berikuit. (1) Pengadaan dan pemanfaatan sumber belajar dilakukan dengan: a. mengidentifikasi kebutuhan sumber dan sarana belajar ; b. menginventarisasi sumber dan alat pendukungnya (di dalam dan di luar sekolah); c. menyesuaikan antara kebutuhan sumber dan sarana belajar yang tersedia (guru dapat melakukan modifikasi seperlunya). (2) Pemanfaatan sumber dan sarana belajar dengan melakukan kegiatan: a. mengidentifikasi kebutuhan (kebutuhan pembelajar dan guru);

215

b. mengidentifikasi potensi yang tersedia; c. mengelompokkan sumber belajar dalam kelompok: - lingkungan alam sekitar - perpustakaan - media cetak - narasumber - karyawisata - media elektronik - komputer d. menganalisis relevansi antara ketersediaan sumber belajar dan kebutuhan; e. menentukan dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. 3.8 Menentukan Sistem Pengujian. Dikatakan sistem pengujian karena komponen ini mencakupi menetapan (1) jenis kompetensi yang akan dinilai, (2) bentuk instrumen penilaian, dan (3) jumlah butir soal yang diperlukan untuk menguji setiap kompetensi. 1) Jenis kompetensi yang dinilai (1) Kompetensi kognitif terjadi secara berjenjang yang meliputi: menghafal, memahami, menmgaplikasikan, menganalisis, menyimpulkan, dan menilai. (2) Kompetensi afektif meliputi: pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi. (3) Kompetensi psikomotorik meliputi: gerakan awal, gerakan semi rutin, dan gerakan rutin melalui gerakan latihan intensif dalam tindak simulasi, menirukan, menghafal, dan semua performansi verbal lainnya. 3) Bentuk instrumen penilaian

216

Bentuk instrumen yang lazim digunakan dalam sistem penilaian adalah soalsoal. Secara umum, bentuk soal terdiri atas (1) soal uraian (soal esai), dan (2) soal pilihan ganda. Selain itu, dalam pengajaran bahasa dikenal bentuk-bentuk soal khusus, yaitu: soal cloze, soal integratif, soal doskrit, soal pragmatik/soal komunikatif, soal terjemahan, dan soal dikte. Bentuk-bentuk soal yang dikemukakan terakhir ini tidak terdapat pada bidang studi lain. C. Jenis Silabus Apa yang telah, sedang, dan akan diajarkan, baik direncanakan dengan baik maupun tanpa perencanaan pada hakikatnya adalah silabus. Sebuah silabus paling tidak terdiri atas tujuh komponen, yaitu: 1. daftar lengkap mengenai unsur (a) kata/istilah, struktur, topik, dan (b) proses penyelenggaraan pengajaran bertupa metode dan tugas-tugas (strategi); 2. urutan bahan yang akan diajarkan (secara klimak atau menurut kebutuhan); 3. memuat tujuan pengajaran yang eksplisit; 4. merupakan pedoman umum penyelenggaran pengajaran; 5. memuat jadual kegiatan belajar-mengajar; 6. menyatakan acuan pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan; 7. merekomendasikan materi yang relevan. Dalam pengajaran bahasa asing atau bahasa kedua, dikenal sepuluh macam silabus. Setiap macam silabus itu didasarkan pada ciri materi pengajaran yang akan diberikan. Namun, dalam proses belajar-mengajar, tidak mustahil ada hal yang perlu dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Kesepuluh macam silabus itu direkomendasikan oleh Ur (1996) yang dikemukakan kembali berikut ini. 1) Silabus Tata Bahasa Silabus jenis ini menempatkan komponen tata bahasa sebagai inti pengajaran bahasa. Para perancang silabus ini berasumsi bahwa dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua, komponen tata bahasa merupakan dasar penguasaan bahasa. Dari

217

penguasaan tata bahasa, pembelajar dapat mengembangkan keterampilannya dalam aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Penguasaan tata bahasa bagi pembelajar bahasa asing/bahasa kedua umumnya bersifat eksplisit. Hal ini berbeda dengan penutur asli yang memperoleh kompetensi gramtika secara internalisasi. Itulah sebabnya, kompetensi gramatika penutur asli bersifat implisit. Kompetensi implisit ini dapat berubah menjadi eksplisit apabila seseorang sudah mulai belajar bahasa pertamanya dalam konteks pengajaran formal di sekolah atau melalui pembinaan bahasa secara formal. Komponen tata bahasa yang menjadi pokok-pokok bahasan silabus jenis ini adalah komponen sintaksis.dengan pokok-pokok bahasan: frase, struktur frase, klausa, /struktur klausa, kalimat, dan struktur kalimat. Struktur silabus dengan pokok-pokok bahasan demikian mengingatkan kita pada struktur silabus yang dikembangkan dari pendekatan struktur dengan metode audiolingual. Sementara itu, kurikulum yang dikembangkan sekarang adalah kurikulum yang berdasarkan pendekatan komunikatif. Dari pendekatan ini kemudian muncul rekayasa berwawasan kecakapan hidup yang berbasis kompetensi yang berorientasi kepada indikator keterampilan berbahasa, bukan penguasaan kaidah bahasa. Dengan demikian, keberadaan silabus tata bahasa penting diketahui sebagai informasi ilmu, tetapi penerapannya memerlukan adaptasi agar sesuai dengan hakikat pendekatan komunikatif. 2) Silabus Leksikal Silabus jenis ini memuat kata, jenis kata, ungkapan, dan kolokasi kata yang umum atau khusus sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Kebutuhan pembelajar dapat berupa kebutuhan studi lanjut atau berupa kebutuhan komunikasi sehari-hari untuk menjalankan fungsi keterampilan hidupnya. 3) Silabus Leksikal-Gramatikal Silabus jenis ini adalah perpaduan dari silabus gramatikal dan silabus leksikal. Penyajiannya dapat dilakukan secara terpisah dengan mendaftarkan unsur masingmasing di dalam sebuah daftar dengan tidak melalaikan urutan kesulitan pada setiap

218

unsur. Urutan penyajian materi silabus dapat dimulai dari daftar kata, jenis kata, idiom, dan kolokasi kata, atau dimulai dari daftar unsur-unsur gramatika. 4) Silabus Situasional Materi silabus jenis ini adalah data-data bahasa yang digunakan dalam konteks penggunaan bahasa secara riil. Situasi penggunaan bahasa dapat diprediksi berdasarkan pengalaman, baik penyusun silabus dan faktor guru maupun faktor pembelajar. Situasi penggunaan bahasa secara riil misalnya, dapat terjadi di pasar, di rumah, di kantor, di kantor pos, di jalanan, di ruang tunggu rumah sakit, dan sebagainya. 5) Silabus Topik/Tema Silabus jenis ini mirip dengan silabus situasional. Kekhususan silabus ini terletak pada penggunaan topik-topik materi di dalam silabus yang dikembangkan secara operasional dalam proses belajar-mengajar. Jenis keterampilan bahasa atau komponen tata bahasa yang akan diajarkan selalu berada di bawah topik tertentu. Silabus jenis inilah yang dikembangkan di dalam kurikulum 1994 untuk bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia di SLTP dan SMU (sekarang kembali menjadi SMP dan SMA) dimodifikasi menjadi tema-tema. 6) Silabus Nosional Silabus jenis ini dikembangkan oleh Wilkins (1976). Silabus ini mengutamakan kata-kata yang bermakna lebih umum, seperti kata waktu, tempat, warna, manusia, bidang, dan sebagainya. Itulah sebabnya, pengikut Wilkans menyebut silabus ini sebagai silabus semantik. 7) Silabus Fungsional-Nosional Siolabus jenis ini adalah gabungan silabus fungsional yang menekankan fungsi komunikasi bahasa dan silabus nosional yang menekankan makna atau kebermaknaan bahasa. Dengan demikian, materi silabus ini adalah penggunaan bahasa secara fungsional dengan menekankan makna. Setiap kalimat yang dijadikan contoh atau bahan pembelajaran haruslah bermakna, tidak sekedar memenuhi syarat

219

sintaksis yang formal, misalnya, setiap kalimat paling tidak terdiri atas subjek dan predikat atau yang lebih lengkap. 8) Silabus Gabungan Silabus gabungan lebih bersifat eklektif, yaitu materi silabus terdiri atas gabungan berbagai aspek keterampilan bahasa, komponen tata bahasa yang disajikan di bawah topik-topik, tugas-tugas, fungsi dan makna, serta tata bahasa dan kosakata. 9) Silabus Prosedural Materi silabus prosedural ditekankan pada tugas-tugas: peta bacaan, materi eksperimen, dan penulisan cerita. Tugas-tugas ini dikerjakan secara bertahap sesuai dengan prosedur metodologis. Misalnya, untuk tugas eksperimen, telah direncanakan prosedurnya, materinya, pretes dan postesnya, dan jadwal pelaksanaannya. 10) Silabus Proses Silabus jenis ini berbeda dengan silabus-silabus yang telah dibicarakan di atas. Silabus ini materinya tidak diformat sebagaimana silabus yang lain. Sebelum guru memulai kegiatan mengajar, mungkin (?) membuat prediksi materi yang akan diajarkan. Akan tetapi, setelah tiba di kelas, apa yang diprediksi itu berbeda dengan kebutuhan pembelajar. Pembelajar ingin mempelajari bahasa untuk tujuan khusus, misalnya, tujuan jurnalistik, tujuan iklan bisis, dan sebagainya. Menghadapi keadaan demikian, guru dan pembelajar bersama-sama merencanakan dan menyusun program pembelajaran dengan mengidentifikasi semua aspek dan komponen kebahasaan yang dibutuhkan pembelajar untuk menjalankan profesi yang sedang dan/atau akan dilakoni. Penutup Silabus dalam pengajaran bahasa memiliki peranan yang sama dengan metode, bahkan ada yang menyamakannya dengan pendekatan. Pada awal perkembangannya, pendekatan komunikatif misalnya, semula dikembangkan melalui silabus yang oleh Wilkins disebut Silabus Nosional. Selanjutnya, silabus ini berkembang menjadi Silabus Fungsional, kemudian menjadi Silabus Nosional-

220

Fungsional. Ketiga jenis silabus inilah sebagai dasar pengembangan pendekatan komunikatif. Penyempurnaan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi yang sekarang ini sedang diterapkan dalam pengajaran bahasa Indonesia, juga menempatkan silabus sebagai komponen sangat penting. Buktinya, pengembangan silabus jstru disetarakan dengan sistem penilaian. Padahal, dalam pengajaran bahasa, sistem penilaian dikembangkan dengan pendekatan tersendiri, misalnya, pendekatan discrit point, pendekatan integratif, pendekatan objektif, dan pendekatan subjektif. Atas pertimbangan itulah sehingga tulisan ini diupayakan dan diharapkan memberi motivasi kepada para dosen, terutama dosen-dosen muda yang belum memiliki pengalaman yang cukup dalam mengembangkan mata kuliah. Bagi dosen senior, tulisan ini sekedar sebagi penyegaran karena hal yang dikemukakan sudah puluhan tahun menjadi pekerjaan rutin. Bacaan Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian. 2002 dan 2004. Jakarta: Depdiknas. Urr, Penny. 1996. A Course in Language Teaching. Cambridge: Cambridge

221