Anda di halaman 1dari 55

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah kematian ibu dan bayi di Indonesia yang masih tinggi merupakan focus utama pemecahan masalah kesehatan di Indonesia. Menurut survey Demografi Kesehatan Indonesia pada tahun 1997 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 334 per 100 000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi adalah 52 per 1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Neonatal adalah 25 per 1000 kelahiran hidup (Standar Pelayanan Kebidanan, DepKes RI, 2001 dan Saifuddin, 2002). Selanjutnya angka kematian tersebut mengalami penurunan yang lambat menjadi sebanyak 307 / 100.000 KH untuk AKI dan AKB sebanyak 35 / 1000 KH ( SDKI 2002 / 2003 ). Penyebab secara langsung tingginya AKI adalah perdarahan post partum, infeksi, dan preeklamsi/eklamsia. Dari 5.600.000 wanita hamil di Indonesia, sejumlah 27 % akan mengalami komplikasi atau masalah yang bisa berakibat fatal (Survey Demografi dan kesehatan, 1997). Kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau membawa resiko bagi ibu. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15 % dari seluruh wanita yang hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwanya. Sebagian besar penyebab tersebut dapat dicegah melalui pemberian asuhan kehamilan yang berkualitas. Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetric untuk optimalisasi luuaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantaurutin selama kehamilan. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan sebaikbaiknya, perlu mengetahui gejala-gejala dini penyebab serta permasalahan dalam kehamilan. Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses serta asuhan keperawatan yang ditujukan untuk meningkatkan, mencegah, mengatasi, dan memulihkan kesehatan pada ibu hamil. Kita juga mengetahui bahwa peran perawat yang paling utama adalah melakukan promosi dan pencegahan terjadinya gangguan kesehatan

Antenatal Care

|1

baik pada janin maupun ibu hamil, sehingga dalam hal ini ibu hamilt perlu diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna meningkatkan kualitas kesehatannya.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan Antenatal Care (ACN)? 2. Apa Tujuan Antenatal Care (ACN)? 3. Kapan Kunjungan Antenatal Care (ACN) dilakukan? 4. Bagaiman Penatalaksanaan Antenatal Care (CAN)? 5. Apa saja Gejala dan tanda bahaya selama kehamilan? 6. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada ibu hamil (Antenatal Care)?

C. Tujuan a. Tujuan umum Adapun tujuan umum penyusunan makalah ini adalah mendukung kegiatan pembelajaran keparawatan System Reproduksi I khususnya tentang asuhan keperawatan paa ibu hamil (antenatal care) serta melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. b. Tujuan khusus Untuk mengetahui dan memahami tentang pengertian Antenatal (ACN) Untuk mengetahui dan memahami tujuan Antenatal Care (ACN) Care

Antenatal Care

|2

Untuk mengetahui dan memahami tentang kunjungan Antenatal (ACN)

Care

Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan Antenatal Care (CAN) Untuk mengetahui dan memahami gejala dan tanda bahaya selama kehamilan

Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan yang diberikan pada ibu hamil (Antenatal Care)

D. Manfaat Mendapatkan pengetahuan tentang System Reproduksi I khususnya tentang asuhan keperawatan pada ibu hamil (antenatal care). sehingga nantinya dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dalam praktik keperawatan.

Antenatal Care

|3

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Asuhan antenatal adalah suatu program terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medic pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. Asuhan antenatal adalah pengawasan terhadap kehamilan untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan umum ibu, menegakkan secara dini penuyakit yang menyertai kehamilan, menegakkan secara dini komplikasi kehamilan, dan menetapkan resiko kehamilan (resiko tinggi, resiko meragukan, resiko rendah). Asuhan antenatal juga untuk mempersiapkan persalinan menuju kelahiran bayi yang baik (weel born baby) dan kesehatan ibu yang baik (well health mother), mempersiapkan pemeliharaan bayi dan laktasi, memfasilitasi pulihnya kesehatan ibu yang optimal pada saat akhir kala nifas. ( gawat darurat obstetri ginekologi dan obstetric - ginekologi social untuk profesi, 2004) Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetric untuk optimalisasi luuaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantaurutin selama kehamilan (Prawirohardjo, sarwono 2008:279) ANC adalah pemeriksaan/pengawasan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasi kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan memberikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. B. Tujuan Menurut buku Maternal dan Neonatal, (Saifudin Abdul Bari, 2002:67), tujuan Ante Natal Care (ANC) adalah:

Antenatal Care

|4

1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. 2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi. 3. Mengenali secara diri adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. 4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. 5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif. 6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal Enam alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu: 1. Mengembangkan rasa saling percaya anatara klien dan petugas kesehatan. 2. Mengupayakan dikandungnya. 3. Memporeleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilanya. 4. Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan resiko tinggi. 5. Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga kualitas kehamilan dan kualitas bayi. 6. Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan membahayakan kesehatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. C. Kunjungan Ante Natal Care (ANC) Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan Ante Natal Care (ANC) sesuai standar yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang

Antenatal Care

|5

fasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik diposyandu, pondok bersalin desa, kunjungan rumah dengan ibu hamil tidak memberikan pelayanan Ante Natal Care (ANC) sesuai dengan standar dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil (Depkes RI, 2001:31). Selama melakukan kunjugan untuk asuhan antenatal, para ibu akan mendapatkan serangkaian pelayanan yang terkait dengan upaya memastikan ada atau tidaknya kehamilan dan penelusuran berbagai kemungkinan adanya penyulit atau gangguan kesehatan selama kehamilan yang mungkin dapat mengganggu kuliatas dan luaran kehamilan. Identifikasi kehamilan diperoleh melalui pengenalan perubahan anatomic dan fisologis kehamilan seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Bila diperlukan, dapat dilakukan uji hormonal kehamilan dengan menggunakan metode yang tersedia. Bila kehamilan termasuk resiko tinggi perhatian dan jadual kunjungan harus lebih ketat. Namun, bila kehamilan normal jadual asuhan cukup empat kali (K1, K2, K3 dan K4). Kunjungan ibu hamil Kl Kunjungan baru ibu hamil adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, Pemeriksaan lab., Antopo metri, penilaian resiko kehamilan, KIE. Kunjungan II/ Kunjungan ulang ( 28 32 pekan ) Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar selama satu periode kehamilan berlangsung. Anamnesis, USG, Penilaian resiko kehamilan, Nasehat perawatan payudara & Senam hamil), TT I Kunjungan III ( 34 pekan)

Anamnesis, pemeriksaan ulang lab. TT II

Antenatal Care

|6

K4 (Kunjungan 4) Anamnesis , perawatan payudara & persiapan persalinan kecuali jika ditemukan

kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif. K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih untuk mendapatkan pelayanan Ante Natal Care (ANC) sesuai standar yang ditetapkan dengan syarat: 1. Satu kali dalam trimester pertama (sebelum 14 minggu). 2. Satu kali dalam trimester kedua (antara minggu 14-28) 3. Dua kali dalam trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan setelah minggu ke 36). 4. Pemeriksaan khusus bila terdapat keluhan-keluhan tertentu Dari satu kunjungan kekunjungan berikutnya sebaiknya dilakukan pencatatan: Keluhan yang dirasakan ibu hamil Hasil pemeriksaan setiap kunjungan Umum Tekanan darah Respirasi Nadi Temperature suhu

Abdomen Tinggi fundus uuteri Letak janin setelaha 34 minggu

Antenatal Care

|7

Presentasi janin Denyut jantung janin

Pemeriksaan tambahan Proteinuria Glukosuria Keton

D. Penatalaksanaan Ante Natal Care (ANC) Pelayanan Ante Natal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan Ante Natal Care (ANC), selengkapnya mencakup banyak hal yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik baik umum dan kebidanan, pemeriksaan laboratorium atas indikasi serta intervensi dasar dan khusus sesuai dengan resiko yang ada. Namun dalam penerapan operasionalnya dikenal standar minimal 7T untuk pelayanan Ante Natal Care (ANC) yang terdiri atas: (Timbang) berat badan Ukuran berat badan dalam kg tanpa sepatu dan memakai pakaian yang seringanringannya. Berat badan kurang dari 45 kg pada trimester III dinyatakan ibu kurus kemungkinan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.

(Ukur (tekanan) darah

Antenatal Care

|8

Untuk mengetahui setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda-tanda serta gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya. Ukur (tinggi) fundus uteri Pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan; serta bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. Pemberian imunisasai (Tetanus Toksoid) TT lengkap untuk mencegah tetanus neonatorum. Tabel 1 Jadwal Pemberian Imunisasi TT Interval (selang waktu minimal) Pada kunjungan antenatal pertama 4 minggu setelah TT 1 1-6 bulan setelah TT 2 1 tahun setelah TT 3 1 tahun setelah TT 4 % Perlindungan 80 95 95 99

Antigen TT 1 TT 2 TT 3 TT 4 TT 5

Lama perlindungan 3 tahun 5 tahun 10 tahun 25tahun/ seumur

Keterangan : apabila dalam waktu tiga (3) tahun WUS tersebut melahirkan maka bayi yang dilahirkan akan terlindungi dari tetanus neonatorum
Antenatal Care |9

1. Pemberian (tablet besi) minimnal 90 tablet selama kehamilan 2. (Tes) terhadap penyakit menular seksual Melakukan pemantauan terhadap adanya PMS agar perkembangan janin berlangsung normal. 1. (Temu) wicara dalam rangka pensiapan rujukan. Memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya tentang tanda-tanda resiko kehamilan. (Depkes RI, 2001:23) E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Ante Natal Care (ANC) 1. Pengetahuan Ketidak mengertian ibu dan keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan berdampak pada ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan. 2. Ekonomi Tingkat ekonomi akan berpengaruh terhadap kesehatan, tingkat ekonomi rendah keluarga rendah tidak mampu untuk menyediakan dana bagi pemeriksaan kehamilan, masalah yang timbul pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah ibu hamil kekurangan energi dan protein (KEK) hal ini disebabkan tidak mampunya keluarga untuk menyediakan kebutuhan energi dan protein yang dibutuhkan ibu selama kehamilan. 3. Sosial Budaya Keadaan lingkungan keluarga yang tidak mendukung akan mempengaruhi ibu dalam memeriksakan kehamilannya. Perilaku keluarga yang tidak mengijinkan seorang wanita meninggalkan rumah untuk memeriksakan kehamilannya merupakan

Antenatal Care

| 10

budaya yang menghambat keteraturan kunjungan ibu hamil memeriksakan kehamilannya.

4. Geografis Letak geografis sangat menentukan terhadap pelayanan kesehatan, ditempat yang terpencil ibu hamil sulit memeriksakan kehamilannya, hal ini karena transpontasi yang sulit menjangkau sampai tempat terpencil (Depkes RI, 2001:57). F. Gejala Dan Tanda Bahaya Selama Kehamilan Pada umumnya 80 90 % kehamilan akan berlangsung normal dan hanya 10 12 % kehamilan yang disertai dengan penyulit akan berkembang menjadi kehamilan patologis. Kehamilan patologis sendiri tidak terjadi secara mendadak karena kehamilann dan efeknya terhadap organ tubuh berlangsung secara bertahap dan berangsur angsur. Deteksi dini gejala dan tanda bahaya selama kehamilan merupakan upaya terbaik untuk mencegah terjadinya gangguan yang serius terhadap kehamilan ataupun keselamatan ibu hamil. Factor predisposisi dan adanya penyakit penyerta sebaiknya juga dikenali sejak awal sehingga dapat dilakukan berbagai upaya maksimal untuk mencegah gangguan yang berat baik terhadap kehamilan dan keselamatan ibu maupun bayi yang dikandungnya. Perdarahan Perdarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan di bawah 20 minggu, umumnya disebabkan oleh keguguran. Sekitar 10 12 % kehamilan akan berakhir dengan keguguran yang pada umumnya (60 80 %) disebabkan oleh kelaianan kromosom yang ditemui pada spermatozoa atau pun ovum. Penyebab yang sama dan menimbulkan gejala perdarahan pada kehamilan muda dan ukuran pembesaran uterus yang diatas normal, pada umumnya disebakan oleh mola hidatidosa. Perdarahan pada kehamilan muda dengan uji kehamilan yang tidak jelas, pembesaran uterus yang tidak sesuai (lebih kecil) dari usia kehamilan, dan adanya masa di adneksa biasanya disebabkan oleh kehamilan ektopik.
Antenatal Care | 11

Perdarahan pada kehamilan lanjut atau diatas 20 minggu pada umumnya disebabkan oleh plasenta previa. Perdarahan yang terjadi sangat terkait dengan luas plasenta dan kondisi segmen bawah rahim yang menjadi tempat implementasi plasenta tersebut. Pada plasenta yang tpis dan menutupi sebagian jalan lahir, maka umumnya terjadi perdarahan bercak berulang dan apabila segmen bawah lahir mulai terbentuk di sertai dengan sedikit penurunan bagian terbawah janin, maka perdarahan mulai meningkat hingga tingkatan yang dapat membahayakan keselamatan ibu. Plasenta yang tebal yang menutupi seluruh jalan lahir dapat menimbulkan perdarahan hebat tanpa didahului oleh perdarahan bercak atau berulang sebelumnya. Plasenta previa menjadi penyebab dari 25% kasus perdarahan ante partum. Bila mendekati saat persalinan, perdarahan dapat disebabkan oleh solusio plasenta (40%) atau vasa previa(5%) dari keseluruhan kasus perdarahan antepartum. Preeklampsi Pada umumnya ibu hamil dengan usia kehamilan 20 minggu disertai dengan peningkatan tekanan darah diatas normal sering diasosiaikan dengan preeclampsia. Data atau informasi awal terkait dengan tekanan darah sebelum hamil akan sangat membantu petugas kesehatan untuk membedakan hipertensi kronis(yang sudah ada sebelumnya)dengan preeclampsia. Gejala dan tanda lain dari preeclampsia adalah sbb: Hiperrefleksia (iritabilitas susunan saraf pusat) Sakit kepala atau sefalgia (frontal atau oksipital)yang tidak membaik dengan pengobatan umum Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur, skotomata, silau atau berkunang kunang Nyeri epigastrik Oliguria (luaran kurang dari 500ml/24 jam) Tekanan darah sistolik 20-30 mmHg dan sistolik 10-20 mmHg diatas normal

Antenatal Care

| 12

Poteinuria (di atas positif 3) Edema menyeluruh

Nyeri Hebat di Daerah Abdominopelvikum Bila hal tersebut di atas terjadi pada kehamilan trimester ke II atau ke III dan disertai dengan riwayat dan tanda tanda di bawah ini, maka diagnosisnya mengarah pada solusio plasenta, baik dari jenis yang disertai perdarahan (revealed) maupun tersembunyi (concealed): Trauma abdomen Preeclampsia Tinggi pundus uteri lebih besar dari usia kehamilan Bagian bagian janin sulit diraba Uterus tegang dan nyeri Janin mati dalam rahim

Gejala dan Tanda Lain yang Harus Diwaspadai Beberapa gejala dan tanda lain yang terkait dengan gangguan serius selama kehamilan adalah sebagai berikut: Muntah yang berlebihan yang berlangsung selama kehamilan Disuria Menggil atau demam Ketuban pecah dini atau sebelum waktunya Uterus lebih besar atau lebih kecil dari usia kehamilan yang sesungguhnya

Antenatal Care

| 13

G. Edukasi Kesehatan bagi Ibu Hamil Tidak semua ibu hamil dan keluarganya mendapat pendidikan dan konseling kesehatan yang memadai tentang kesehatan reproduksi, terutama tentang kehamilan dan upaya agar menjaga kehamilan agar tetap sehat dan berkualitas. Kunjungan entenatal member kesempatan bagi petugas kesehatan untuk memberikan informasi kesehatan esensial bagi ibu hamil dan keluarganya termasuk rencana persalinan (dimana, penolong, dana, pendamping, dan sebagainya) dan cara merawat bayi. Beberapa informasi penting tersebut itu adalah sebagai berikut. 1) Nutrisi yang adekuat Kalori Jumlah kalori yang diperlukan bagi ibu hamil untuk setiap harinya adalah 2500 kalori. Pengetahuan tentang berbagaia jenis makanan yang dapat di berikan kecukupan kalori tersebut sebaiknya dapat dijelaskan secara rinci dan bahasa yang dimengerti oleh para ibu hamil dan keluarganya. Jumlah kalori yang berlebih dapat menyebabkan obesitas dan hal ini merupakan factor predisposisi untuk terjadinya preeclampsia. Jumlah pertambahan berat badan sebaiknya tidak melebihi 10-12 kg selama hamil.

Protein Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85 gram perhari. Sumber protein tersebut dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan (kacangkacangan) atau hewani (ikan, ayam, keju, susu, telur). Devisiensi protein dapat menyebabkan kelahiran premature, anemia, dan edema.
Antenatal Care | 14

Kalsium Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram perhari. Kalsium dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, terutama bagi pengembangan otot dan rangka. Sumber kalsium yang mudah diperoleh adalah susu, keju, yogurt, dan kalsium karbonat. Defisiensi kalsium dapat menyebabkan riketsia pada bayi atau osteomalasia pada ibu.

Zat besi Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil memerlukan kecukupan oksigenasi jaringan yang diperoleh dari pengikatan dan pengantaran oksigen melalui hemoglobin didalam sel-sel darah merah. Untuk menjaga konsentrasi hemoglobin yang normal, diperlukan asupan zat besi bagi ibu hamil dengan jumlah 30 mg perhari terutama setelah trimester kedua. Bila tidak ditemukan anemia pemberian besi perminggu cukup adekuat. Zat besi yang diberikan dapat berupa ferrous gluconate, ferrous fumurate, atau ferrous sulphate. Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi.

Asam folat Selain zat besi, sel-sel darah merah juga memerlukan asam folat bagi pematangan sel. Jumlah asam folat yang dibutuhkan oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram perhari. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik pada ibu hamil.

Antenatal Care

| 15

2) Perawatan payudara Perawatan perlu dipersiapkan sejak sebelum bayi lahir sehingga dapat segera berfungsi dengan baik pada saat diperlukan. Pemgurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka duktus dan sinus laktiferus, sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan benar karena pengurutan yang salah dapat menimbulkan kontraksi pada rahim sehingga terjadi kondisi seperti pada uji kesejahteraan janin menggunakan uterotonika. Basuhan lembut setiap hari pada areola dan putting susu akan dapat mengurangi retak dan lecet pada area tersebut. Untuk sekresi yang mongering pada putting susu, lakukan pembersihan dengan menggunakan campuran gliserin dan alcohol. Karena payudara menegang, snesitif, dan menjadi lebih berat, maka sebaiknya gunakan penopang payudara yang sesuai (brassiere).

3) Perawatan gigi Paling tidak diberikan dua kali pemeriksaan gigi selama kehamilan, yaitu pada trimester pertama dan ketiga. Penjadwalan untuk trimester pertama terkait dengan hiperemis dan ptialisme (produksi liur yang berlebiha). Sehingga kebersihan rongga mulut harus selalu terjaga. Sementara itu, pada trimester ketiga, terkait dengan adanya kebutuhan kalsium untuk pertumbuhan janin sehingga perlu diketahui apakah terdapat pengaruh yang merugikan pada gigi ibu hamil. Dianjurkan untuk selalu menyikat gigi setelah makan karena ibu hamil sangat rentang terhadap terjadinya carries dan gingivitis

4) Kebersihan tubuh dan pakaian Kebersihan tubuh harus terjaga selama kehamilan. Perubahan anatomi pada perut, area genetalia atau lipat paha, dan payudara menyebabkan lipatan-lipatan kulit menjadi lebih lembab dan mudah terinfestasi oleh mikroorganisme. Sebaiknya gunakan pancuran atau gayung pada saat mandi, tidak dianjurkan berendam
Antenatal Care | 16

dalam bathub dan melakukan vaginal douche. Gunakan pakaian yang longgar, bersih dan nyaman dan hindarkan sepatu bertongkat tinggi (high heels) dan alas kaki yang keras (tidak elastic) serta korset penahan perut. Melakukan gerak tubuh ringan, misalnya berjalan kaki, terutama pada pagi hari. Jangan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat dan hindarkan kerja fisik yang dapat menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Beristirahat cukup, minimal 8jam pada malam hari dan 2jam di siang hari. Ibu tidk dianjurkan untuk melakukan kebiasaan merokok selama hamil karena dapat menimbulkan fesospasme yang berakibat anoksia janin, berat badan lahir rendah (BBRR), prematuritas, kelalainan congenital, dan solusio plasenta.

Antenatal Care

| 17

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL (ANTENATAL CARE)

A. Pengkajian pada ibu hamil Trimester I, II, III, meliputi: Identifikasi dan riwayat kesehatan

Data umum pribadi Nama Usia Alamat Pekerjaan ibu/suami Lama menikah Kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan

Keluhan saat ini Jenis dan sifat yang dirasaka ibu Lamanya mengalami ganggua tersebut

Riwayat kehamilan persaliana Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) Usia kehamilan dan taksiran persalinan ( Rumus Naegele: Tanggal HPHT ditambah 7 dan dikurang 3)

Riwayat kehamilan dan persalinan

Antenatal Care

| 18

Asuhan antenatal, persalinan, dan nifas kehamilan sebelumnya Cara persalinan Jumlah dan jenis kelamin anak hidup Berat badan lahir Cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan Informasi dan saat persalinan atau keguguran terakhir

Riwayat kehamilan saat ini Identifikasi kehamilan Identifikasi penyulit (preeklamsia atau hipertensi dalam kehamilan) Penyakit lain yang diderita Gerakan bayi dalam kandunga

Riwayat penyakit dalam keluarga Diabetes militus, hipertensi atau hamil kembar Kelainan bawaan

Riwayat penyakit ibu Penyakit yang pernah diderita DM, DHK, infeksi saluran kemih Penyakit jantung Infeksi virus berbahaya Alaergi obat atau makanan tertentu Pernah mendapat transfuse darah dan indikasi tindakan tersebut
Antenatal Care | 19

Inkompatibilitas resus Paparan sinar X/ rontgen.

Riwayat penyakit yang memerlukan tindakan pembedahan Dilatase dan kuretase Reparasi vagina Seksio sesarea Serviks inkompeten Operasai non-ginekologi

Riwayat mengikuti program keluarga berencana (KB) Riwayat imunisasi Riwayat menyusui

Pemeriksaan Keadaan umum Tanda Vital Pemeriksaan jantung dan paru Pemeriksaan payudara Kelainan otot dan rangka serta neurologic

Pemeriksaan abdomen Inspeksi Bentuk dan ukuran abdomen


Antenatal Care | 20

Palpasi -

Parut bekas operasi Tanda-tanda kehamilan Gerakan janin Varises atau pelebaran vena Hernia Edema

Tinggi fundus Punggung bayi Presentasi Sejauh mana bagian terbawah bayi masuk pintu atas panggul

Auskultasi 10 minggu dengan Doppler 20 minggu dengan fetoskop pinard

Laboratorium

Inspekulo vagina untuk identifikasi vaginitis pada trimester I/III

Pemeriksaan Analisa urin rutin Analisa tinja rutin Hb, MCV

Antenatal Care

| 21

Golongan darah Hitung jenis sel darah Gula darah Antigen hepatitis B Virus Antibody Rubela HIV/VDRL

Ultrasonografirutin pada kehamilan 18-22 minggu untuk identifikasi kelainan janin.

Pemeriksaan Darah Pemeriksaan darah bertujuan untuk mengetahui kesehatan ibu hamil secara umum. Pemeriksaan darah juga dapat dlakukan dengan pemeriksaan AFP (alpha fetoprotein). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan gangguan saluran saraf tulang belakang dan untuk mendeteksi otak janin. Kadar AFP yang rendah menunjukkan adanya down syndrome pada janin. Biasanya pemeriksaan AFP dilakukan pada kehamilan pada usia kehamilan sekitar 15 20 minggu.

Uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks) Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya parasit seperti TORCH di dalam tubuh ibu hamil. Infeksi TORCH biasanya menyebabkan bayiterlahir dengan kondisi cacat atau mengalami kematian. Pemeriksaan TORCH dilakukan dengan menganalisis kadar imunoglobulinG (Ig G) dan Imunoglobulin M(IgM) dalam serum ibu hamil.

Alfa Fetoprotein (AFP) Tes ini hanya pada ibu hamil dengan cara mengambil contoh darah untuk diperiksa. Tes dilaksanakan pada minggu ke-16 hingga 18 kehamilan. Kadar
Antenatal Care | 22

Maternal-serum alfa-fetoprotein (MSAFP) yang tinggi menunjukkan adanya cacat pada batang saraf seperti spina bifida (perubahan bentuk atau terbelahnya ujung batang saraf) atau anencephali (tidak terdapatnya semua atau sebagian batang otak). Kecuali itu, kadar MSAFP yang tinggi berisiko terhadap kelahiran prematur atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah. Sampel Chorion Villus (CVS) Tes ini jarang dilakukan oleh para dokter karena dikhawatirkan berisiko menyebabkan abortus spontan. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kemungkinan kerusakan pada kromosom. Serta untuk mendiagnosa penyakit keturunan. Tes CVS ini mampu mendeteksi adanya kelainan pada janin seperti Tay-Sachs, anemia sel sikel, fibrosis berkista, thalasemia, dan sindroma Down.

Ultrasonografi (USG) Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan struktural pada janin, seperti; bibir sumbing atau anggota tubuh yang tidak berkembang. Sayangnya USG tidak bisa mendeteksi kecacatan yang disebabkan oleh faktor genetik. Biasanya USG dilakukan pada minggu ke-12 kehamilan. Pada pemeriksaan lebih lanjut USG digunakan untuk melihat posisi plasenta dan jumlah cairan amnion, sehingga bisa diketahui lebih jauh cacat yang diderita janin. Kelainan jantung, paru-paru, otak, kepala, tulang belakang, ginjal dan kandung kemih, sistem pencernaan, adalah hal-hal yang bisa diketahui lewat USG.

Amiosentesis

Antenatal Care

| 23

Pemeriksaan ini biasanya dianjurkan bila calon ibu berusia di atas 35 tahun. Karena hamil di usia ini memiliki risiko cukup tinggi. Terutama untuk menentukan apakah janin menderita sindroma Down atau tidak. Amniosentesis dilakukan dengan cara mengambil cairan amnion melalui dinding perut ibu. Cairan amnion yang mengandung sel-sel janin, bahanbahan kimia, dan mikroorganisme, mampu memberikan informasi tentang susunan genetik, kondisi janin, serta tingkat kematangannya. Tes ini dilakukan pada minggu ke-16 dan 18 kehamilan. Sel-sel dari cairan amnion ini kemudian dibiakkan di laboratorium. Umumnya memerlukan waktu sekitar 24 sampai 35 hari untuk mengetahui dengan jelas dan tuntas hasil biakan tersebut. Sampel darah janin atau cordosentesis Sampel darah janin yang diambil dari tali pusar. Langkah ini diambil jika cacat yang disebabkan kromosom telah terdeteksi oleh pemeriksaan USG. Biasanya dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu. Tes ini bisa mendeteksi kelainan kromosom, kelainan metabolis, kelainan gen tunggal, infeksi seperti toksoplasmosis atau rubela, juga kelainan pada darah (rhesus), serta problem plasenta semisal kekurangan oksigen. Fetoskopi Meski keuntungan tes ini bisa menemukan kemungkinan mengobati atau memperbaiki kelainan yang terdapat pada janin. Namun tes ini jarang digunakan karena risiko tindakan fetoskopi cukup tinggi. Sekitar 3 persen sampai 5 persen kemungkinan kehilangan janin. Dilakukan dengan menggunakan alat mirip teleskop kecil, lengkap dengan lampu dan lensalensa.

Antenatal Care

| 24

Dimasukkan melalui irisan kecil pada perut dan rahim ke dalam kantung amnion. Alat-alat ini mampu memotret janin. Tentu saja sebelumnya perut si ibu hamil diolesi antiseptik dan diberi anestesi lokal. Biopsi kulit janin Pemeriksaan ini jarang dilakukan di Indonesia. Biopsi kulit janin (FSB) dilakukan untuk mendeteksi kecacatan serius pada genetika kulit yang berasal dari keluarga, seperti epidermolysis bullosa lethalis (EBL). Kondisi ini menunjukkan lapisan kulit yang tidak merekat dengan pas satu sama lainnya sehingga menyebabkan panas yang sangat parah. Biasanya tes ini dilakukan setelah melewati usia kehamilan 15-22 minggu. B. Diagnose Keperawatan Trimester 1 a. Gangguan Nutrisi berhubungan dengan morning sickness, nausea, vomiting b. Perubahan pola seksual berhubungan dengan rasa kurang nyaman pada awal kehamilan, rasa takut bahwa bersenggama dapt mencederai janin c. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan respon keluarga terhadap diagnosis kehamilan Trimester 2 a. b. Resiko tinggi terhadap gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perepsi perubahan biofisik, respon, orang lain. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan pergeseran diafragma karena pembesaran uterus. c. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kemajuan alamiah dari kehamilan.

Antenatal Care

| 25

d.

Resiko tinggi cidera terhadap janin yang berhubungan dengan masalah kesehatan ibu, pemajanan pada teratogen / agen infeksi.

e.

Resiko tinggi terhadap dekompensasi curah jantung yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan sirkulasi, perubahan pre load (penurunan aliran balik vena), hipertrofi ventrikel.

f.

Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan perubahan mekanisme regulator, retensi natrium / air.

g.

Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan pada mekanika tubuh, efek efek hormon, ketidakseimbangan elektrolit.

h.

Resiko tinggi terhadap koping individual berhubungan dengan krisis situasi dan maturasi, kerentanan pribadi, persepsi tidak realistis.

i.

Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan konflik mengenai perubahan hasrat seksual dan harapan, takut akan cedera fisik

Trimester 3 a. Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik pengaruh hormonal b. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kesalahan interpretasi informasi c. hargadiri rendah berhubungan dengan kemampuan untuk menyelesaikan tugas kehamilan / kelahiran anak d. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan hipertensi, infeksi, penggunaan/ penyalahgunaan zat, perubahan sistem imun, profil darah abnormal, hipoksia jaringan, ketuban pecah dini. e. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran uterus, peningkatan tekanan abdomen, fluktuasi aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerolus
Antenatal Care | 26

f. Perubahan pola seksual berhubungan dengan perubahan hasrat seksual, ketidaknyamanan, atau merasa takut g. Resiko tinggi dekompisasi curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume cairan/ perubahan aliran balik vena, perubahan permeabilitas kapiler h. Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada tingkat aktifitas, stres, psikologi, ketidakmampuan untuk mempertahankan kenyamanan. i. Risiko tinggi cedera janin berhubungan dengan masalah kesehatan ibu, pemajanan pada teratogen/ agen infeksi j. Resiko tinggi koping individu/ keluarga tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi/ maturasi, kerentanan pribadi, persepsi tidak realistis, metoda koping yang tidak adekuat, sistem pendukung yang tidak ada/ tidak adekuat C. Perencanaan Keperawatan Trimester 1 Diagnose: Gangguan Nutrisi berhubungan dengan morning sickness, nausea, vomiting Tujuan: nutrisi terpenuhi Criteria Hasil: Melaporkan peningkatan nafsu makan Mempertahankan masukan adekuat Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi

Intervensi: 1. Berikan makan dalam keadaan hangat R: Makanan hangat dapat meningkatkan nafsu makan 2. Berikan klien makan dalam porsi kecil tapi sering R: Meningkatkan intake makanan 3. Berikan informasi yang akurat tentang pentingnya nutrisi
Antenatal Care | 27

R: Pengetahuan yang adekuat dapat meningkatkan kepatuhan klien terhadap intervensi 4. Motivasi klien untuk menghabiskan makanannya R: Dukungan dari orang lain akan membuat klien merasa dihargai 5. Timbang berat badan setiap hari R: Mengetahui perkembangan kondisi klien 6. Pertahankan kebersihan mulut yang baik sebelum dan sesudah makan R: Meningkatkan kesejahteraan klien sehingga nafsu makan meningkat 7. Hindarkan klien dari rangsangan yang membuat klien mual dan muntah R: Mencegah kekurangan nutrisi lebih parah 8. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian multivitamin penambah nafsu makan R: Meningkatkan nafsu makan Diagnose: Perubahan pola seksual berhubungan dengan rasa kurang nyaman pada awal kehamilan, rasa takut bahwa bersenggama dapt mencederai janin Tujuan: pengetahuan klien meningkat dan kebutuhan terpenuhi Kriteria Hasil : Klien mampu mendiskusikan masalah seksual. Klien mampu mengungkapkan pemahaman tentang alasan yang mungkin untuk diubah. Klien mampu mengidentifikasi alternatif yang dapat diterima untuk memenuhi kebutuhan individu. Klien mampu mengungkapkan kepuasan bersama atau konseling bila dibutuhkan.

Intervensi : 1. Diskusikan dampak kehamilan terhadap pola koitus seksual yang normal. R : Kepuasan seksual yang optimal untuk klien pranatal terjadi pada trimester kedua karena vasokongesti pelvis / perineal meningkatkan kenikmatan orgasme. Pria
Antenatal Care | 28

dapat mengalami berbagai perasaan saat berespon terhadap peningkatan hasrat pasangannya dan menjadi bingung karena penurunan atau peningkatan hasrat seksualnya sendiri dalam memberi rspon terhadap perubahan bentuk tubuh pasangannya. 2. Tinjau ulang apa yang dirasakan dan didiskusikan kemungkinan pilihan dalam peningkatan kontak fisik melalui berpelukan dan bercumbu daripada melakukan koitus secara aktual. R : Rasa takut mencederai janin pada saat koitus adalah hal yang umum. Meyakinkan dan memperhatikan bahwa hal tersebut normal dapat membantu menghilangkan ansietas. Pilihan lain akan diterima dengan baik bila keduanya dipuaskan. 3. Tinjau ulang perubahan posisi yang mungkin dilakukan dalam aktivitas seksual. R : Membantu pasangan untuk mempertimbangkan / membuat pilihan. 4. Waspadai adanya indikasi kemungkinan kesulitan seksual atau perilaku yang tidak sesuai dari pria. R : Disini tampak frekuensi penyimpangan menjadei lebih tinggi (misalnya perkosaan, inses, kejahatan kekerasan, dan perselingkuhan ekstramarital) bila pasangan sedang hamil. 5. Rujuk pada perawat klinis spesialis / konseling sesuai indikasi. R : Mungkin perlu bantuan tambahan untuk mengatasi masalah dasar, yang dapat berkembang selama kehamilan atau mungkin sudah ada sebelumnya. Diagnose: Perubahan proses keluarga berhubungan dengan respon keluarga terhadap diagnosis kehamilan Tujuan: pasien atau keluarga menunjukkan pengetahuan tentang kehamilan Criteria Hasil: kekhawatiran keluarga berkurang Intervensi:
Antenatal Care | 29

a. Jelaskan setiap prosedur yang akan dilakukan Rasional : untuk meminimalkan kekhawatiran yang tidak perlu b. Bantu keluarga merencanakan masa depan Rasional : untuk meningkatkan kemandirian ibu c. Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada Rasional : untuk mencegah bertambahnya rasa khawatiran keluarga Trimester 2 Diagnose: Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan pergeseran diafragma karena pembesaran uterus. Tujuan: pola nafas kembali normal Kriteria Hasil : Klien melaporkan penurunan frekuensi atau beratnya keluhan. Klien mendemonstrasikan perilaku yang mengoptimalkan fungsi pernafasan.

Intervensi : 1. Kaji status pernafasan (misal : sesak nafas pada pengerahan tenaga, kelelahan). R : Menentukan luas atau beratnya masalah, yang terjadi pada kira kira 60% klien pranatal. Meskipun kapasitas vital meningkat, fungsi pernafasan diubah saat kemampuan diafragma untuk turun pada inspirasi berkurang oleh pembesaran uterus. 2. Dapatkan riwayat dan pantau masalah medis yang terjadi atau ada sebelumnya (misalnya alergi, einitis, asma, masalah sinus,tuberkulosis).

Antenatal Care

| 30

R : Masalah lain dapat terus mengubnah pola pernafasan dan menurunkan oksigenasi jaringan ibu atau janin. 3. Kaji kadar hemoglobin dan hematokrit. Tekankan pentingnya masukan vitamin atau fero sulfat pranatal setiap hari (kecuali pada klien dengan anemia sel sabit). R : Peningkatan kadar plasma pada gestasi minggu ke 24 32 mengencerkan kadar Hb, mengakibatkan kemungkinan anemia dan menurunkan kapasitas pembawa oksigen. (Catatan : zat besi dapat dikontraindikasikan untuk anemia sel sabit). 4. Berikan informasi tentang rasional untuk kesulitan pernafasan dan program aktivitas / latihan yang realistis. Anjurkan sering istirahat, tambah waktu untuk melakukan aktivitas tertentu, dan latihan ringan,seperti berjalan. R : Menurunkan kemungkinan gejala gejala pernafasan yang disebabkan oleh kelebihan. 5. Tinjau ulang tindakan yang dapat dilakukan klien untuk mengurangi masalah, misalnya : postur yang baik, menghindari yang buruk, makan sedikit tetapi sering dengan menggunakan posisi semi fowler untuk duduk atau tidur bila gejala berat. R : Postur yang baik dan makan sedikit tetapi sering membantu memaksimalkan penurunan diafragmatik, meningkatkan ketersediaan ruang untuk ekspansi paru. Merokok menurunkan persediaan oksigen untuk pertukaran ibu janin. Pengubahan posisi tegak dapat meningkatkan ekspansi paryu sesuai penurunan uterus gravid. Diagnose: Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kemajuan alamiah dari kehamilan berhubungan dengan terus membutuhkan informasi sesuai perubahan trimester kedua yang dialami. Tujuan: pengetahuan klien meningkat dan paham tentang proses kehamilan Kriteria Hasil :

Antenatal Care

| 31

Klien mampu mengungkapkan atau mendemonstrasikan perilaku perawatan diri yang meningkatkan kesejahteraan. Klien mampu bertanggung jawab terhadap perawatan kesehatannya sendiri. Klien mampu mengenali dan melakukan tindakan untuk meminimalkan dan mencegah faktor resiko.

Klien mampu mengidentifikasi tanda tanda bahaya / mencari perawatan medis dengan tepat.

Intervensi : 1. Tinjau ulang perubahan yang diharapkan selama trimester kedua. R : Pertanyaan timbul sesuai perubahan baru yang terjadi, tanpa memperhatikan apakah perubahan diharapkan atau tidak. 2. Lakukan / lanjutkan program penyuluhan sesuai pedeoman pada MK : trimester pertama, DK : Akurang pengetahuan (kebutuhan belajar). R : Pengulangan menguatkan penyuluhan dan bila klien belum melihat sebelumnya, informasi bermanfaat pada saat ini. 3. Berikan informasi tentang kebutuhan terhadap fero sulfat dan asam folat R : Fero sulfat asam folat membantu mempertahankan kadar Hb normal. Defisiensi asam folat memperberat anemia megaloblastik, kemungkinan abrupsi plasenta, aborsi dan malformasi janin (catatan : klien dengan anemia sel sabit memerlukan peningkatan asam folat selama dan setelah episode krisis). 4. Identifikasi kemungkinan resiko kesehatan individu (misalnya aborsi spontan, hipoksia yang berhubungan dengan asma atau tuberkulosis, penyakit jantung, hipertensi akibat kehamilan (HAK), kelainan ginjal, anemia, diabetes melitus gestasional (DMG),

Antenatal Care

| 32

penyakit hubungan seksual (PHS). Tinjau ulang tanda tanda bahaya dan tindakan yang tepat. R : Membantu mengingatkan / informasi untuk klien tentang potensial situasi resiko tinggi yang memerlukan pemantauan lebih ketat dan intervensi. 5. Diskusikan adanya obat obatan yang mungkin diperlukan untuk mengontrol atau mengatasi masalah medis. R : Membantu dalam memilih tindakan karena kebutuhan harus ditekankan kepada kemungkinan efek berbahaya pada janin. 6. Diskusikan kebutuhan terhadap pemeriksaan laboratorium khusus screaning dan pemantauan ketat sesuai indikasi. R : Kunjungan pra natal yang lebih sering mungkin diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu. Pemantauan Hb dan Ht dengan menggunakan elektroforesis mendeteksi anemia khusus dan membantu dalam menentukan penyebab. Skrining untuk DMG pada gestasi minggu ke 24 -26 atau pada gestasi minggu ke 8,dan ke 32 pada klien resiko tinggi dapat mendeteksi terjadinya hiperglikemia, dapat memerlukan tindakan dengan insulin dan / atau diet menurut American Diabetes Association.

Diagnose: Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan konflik mengenai perubahan hasrat seksual dan harapan, takut akan cedera. Tujuan: pengetahuan klien meningkat dan kebutuhan terpenuhi Kriteria Hasil : Klien mampu mendiskusikan masalah seksual. Klien mampu mengungkapkan pemahaman tentang alasan yang mungkin untuk diubah.
Antenatal Care | 33

Klien mampu mengidentifikasi alternatif yang dapat diterima untuk memenuhi kebutuhan individu.

Klien mampu mengungkapkan kepuasan bersama atau konseling bila dibutuhkan.

Intervensi : 1. Diskusikan dampak kehamilan terhadap pola koitus seksual yang normal. R : Kepuasan seksual yang optimal untuk klien pranatal terjadi pada trimester kedua karena vasokongesti pelvis / perineal meningkatkan kenikmatan orgasme. Pria dapat mengalami berbagai perasaan saat berespon terhadap peningkatan hasrat pasangannya dan menjadi bingung karena penurunan atau peningkatan hasrat seksualnya sendiri dalam memberi rspon terhadap perubahan bentuk tubuh pasangannya. 2. Tinjau ulang apa yang dirasakan dan didiskusikan kemungkinan pilihan dalam peningkatan kontak fisik melalui berpelukan dan bercumbu daripada melakukan koitus secara aktual. R : Rasa takut mencederai janin pada saat koitus adalah hal yang umum. Meyakinkan dan memperhatikan bahwa hal tersebut normal dapat membantu menghilangkan ansietas. Pilihan lain akan diterima dengan baik bila keduanya dipuaskan.

3. Tinjau ulang perubahan posisi yang mungkin dilakukan dalam aktivitas seksual. R : Membantu pasangan untuk mempertimbangkan / membuat pilihan. 4. Waspadai adanya indikasi kemungkinan kesulitan seksual atau perilaku yang tidak sesuai dari pria.

Antenatal Care

| 34

R : Disini tampak frekuensi penyimpangan menjadei lebih tinggi (misalnya perkosaan, inses, kejahatan kekerasan, dan perselingkuhan ekstramarital) bila pasangan sedang hamil. 5. Rujuk pada perawat klinis spesialis / konseling sesuai indikasi. R : Mungkin perlu bantuan tambahan untuk mengatasi masalah dasar, yang dapat berkembang selama kehamilan atau mungkin sudah ada sebelumnya. Diagnose: gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan persepsi perubahan biofisik,respon orang lain. Tujuan: HDR tidak terjadi Kriteria Hasil : Klien mampumengungkapkan penerimaan / adaptasi bertyahap untuk mengubah konsep diri / cityra tubuh. Klien mampu mendemonstrasikan citra tubuh positif dengan mempertahankan kepuasan penampilan keseluruhan, berpakaian dengan pakaian yang tepat dan sepatu berhak rendah. Intervensi : 1. Tinjau ulang / kaji sikap terhadap kehamilan perubahan bentuk tubuh, dsb. R : Pada trimester kedua perubahan bentuk tubuh telah tampak. Respon negatif dapat terjadi pada klien / pasangan yang memiliki konsep diri yang rapuh, didasarkan pada penampilan fisik. Efek efek yang tampak lainnya dari hormon hormon pranatal seperti kloasma, striae gravidarum, telangiektasis (spider vaskular), eritema palmar, jerawat, dan hirsutisme dapat memperberat perubahan emosi klien. Perubahan ini dapat mempengaruhi bagaimana menghadapi perubahan yang terjadi.

Antenatal Care

| 35

2. Diskusikan perubahan aspek fisiologis dan responb klien terhadap perubahan. Berikan informasi tentang kenormalan perubahan. R : Individu bereaksi secara berbeda terhadap perubahan yang terjadi. Informasi dapat membantu klien memahami / menerimja apa yang terjadi. 3. Anjurkan gaya dan sumber sumber yang tersedia dari pakaian saat hamil. R : Situasi individu menandakan kebutuhan akan pakaian yang akan menungkatkan penampilan klien untuk kerja dan melakukan aktivita yang menyenangkan. 4. Diskusikan metode perawatan kulit dan berhias (untuk meminimalkan /

menyembunyikan area kulit yang menjadi gelap), menggunakan kaos kaki penyokong, pemeliharaan postur dan program latihan sedang. R : Belajar dan ikut untuk melihat dan merasa lebih baik mungkin membantu untuk mempertahankan perasaan positif tentang diri. Aturan latihan perinatal yang bukan latihan ketahanan cenderung memperpendek persalinan, meningkatkan kemungkinan kelahiran vaginal spontan, dan menurunkan kebutuhan terhadap argumentasi oksitosin. 5. Rujuk pada sumber sumber lain seperti konseling dan / atau kelas kelas pendidikan kelahuiran anak dan menjadi orang tua. R : Mungkin membantu dalam memberikan dukungan tambahan selama periode perubahan ini; mengidentifikasi mode model peran. Diagnose: Resiko tinggi terhadap dekompensasi curah jantung yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan sirkulasi, perubahan pre load (penurunan aliran balik vena), hipertrofi ventrikel. Tujuan: dekompisasi curah jantung tidak terjadi Kriteria Hasil
Antenatal Care | 36

Klien tetap normotensif selama perjalanan pranatal. Klien mampu bebas dari edema patologis dan tanda tanda HAK. Klien mengidentifikasi cara cara untuk mengontrol dan menurunkan masalah kardiovaskuler.

Intervensi : 1. Tinjau ulang proses fisiologis dan perubahan normal dan abnormal, tanda tanda, dan gejala gejala (Rujuk pada MK ; Kondisi jantung). R : Selama trimester kedua, hipertrofi ventrikel jantung menjamin peningkatan curah jantung, yang memuncak pada gestasi minggu ke 25 27 untuk memenuhi oksigen dan kebutuhan nutrien ibu / janin. Noramlnya, sistem kardivaskular mengkompensasi peningkatan curah jantung dengan dilatasi penbuluh darah, yang menurunkan tahanan curah jantung. Ini menurunkan pembacaan tekanan sistolik kira kira 8 mmHg saat tekanan diastolik menurun kira kira 12 mmHg. Peningkatan cairan, stres dan / atau masalah jantung sebelumnya, dapat membahayakan sistem. 2. Perhatikan riwayat yang ada sebelumnya / potensial masalah jantung / ginjal / diabetik. R : Klien ini menghadapi resiko paling tinggi terhadap masalah jantung selama trimester kedua, bila curah jantung memuncak. 3. Ukur tekanan darah (TD) dan nadi. Laporkan jika peningkatan sistolik lebih dari 30 mmHg dan diastolik lebih dari 15 mmHg. R : Peningkatan TD dapat menunjukkan HAK, khususnya pada klien dengan penyakit jantung / ginjal, diabetes, atau adanya kehamilan multiple atau mola hidatidosa. 4. Auskultasi bunnyi jantung; catat adanya murmur.

Antenatal Care

| 37

R : Murmur sistolik sering ringan dan mungkin diciptakan oleh peningkatan volume, penurunan viskositas darah, perubahan posisi jantungt, atau torsio pembuluh darah besar. Namun murmur dapat menandakan terjadinya kerusakan. 5. Kaji adanya edema pergelangan kaki dan varises kaki, vulva, dan rektum. Bedakan antara edema fisiologis dan yang potensial berbahaya.(Rujuk pada MK: hipertensi akibat kehamilan, DK: kekurangan volume cairan (kehilangan aktif)). R : Edema dependen dari ekstremitas bawah (edema fisiologis0 sering terjadi karena status vena akibat vasodilatasi dari aktivitas progesteron, hirediter, retensi kelebihan cairan, dan tekanan pada pembuluh darah pelvis. Ini meningkatkan resiko pembentukan trombus vena. Edema wajah dan / atau ektremitas atas dapat menandakan HAK. 6. Anjurkan klien untuk menghindari menyilangkan kaki, duduk, dan berdiri dalam waktu lam; pasang kaos kaki penyokong sebelum bangun pada pagi hari ; menggunakan pakaian yang longgar, tidak ketat, meninggikan kaki, panggul dan vulva vertikel ke dinding tiga kali sehari selama 20 menit; dan membalikkan telapak kaki ke atas dalam posisi dorsofleksi bila duduk atau berdiri selama periode lama. R : Meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan resiko terjadinya edema, varises atau trombosis vena. 7. Kaki dorsofleksi untuk tes terhadap tanda Humans. Bila ada, rujuk pada dokter. R : Tanda Humans positif dapat menunjukkan tromboflebitis. 8. Kaji adanya kelemahan. Anjurkan klien untuk menhindari perubahan posisi dengan cepat. R : Perubahan posisi cepat dapat mengakibatkan pusing saat darah terkumpul di ekstremitas bawah, menurunkan volume sirkulasi. Trimester 3
Antenatal Care | 38

Diagnose: Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik pengaruh hormonal Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, klien merasa nyaman.

Kriteria hasil: -

melakukan

aktivitas

perawatan

diri

dengan

tepat

untuk

mengurangi

ketidaknyamanan. melaporkan ketidaknyamanan dapat diminimalkan/ dikontrol mencari pertolongan medis dengan tepat

Intervensi 1. kaji secara terus-menerus ketidaknyamanan klien dan metoda untuk mengatasinya R : data dasar terbaru untuk merencanakan perawatan
2.

kaji satatus pernapasan klien R: penurunan kapasitas pernapasan saat uterus menekan diafragma, mengakibatkan dispnea

3. perhatikan adanya keluhan ketegangan pada punggung dan perubahan cara jalan. Anjurkan penggunaan sepatu hak rendah, latihan pelvicrock, girdle maternitas, penggunaan kompres panas, sentuhan terapeutik atau stimulasi saraf elektrikal transkutan dengan tepat R: lordosis dan regangan otot disebabkan oleh pengaruh hormon (relaksin, progesteron) pada sambungan pelvis dan perpindahan pusat gravitasi sesuai

Antenatal Care

| 39

dengan perbesaranuterus. Intervensi multipel biasanya membantu untuk menghilangkan ketidaknyamanan. 4. perhatikan adanya kram pada kaki. Anjurkan klien untuk meluruskan kaki dan mengangkat telapak kaki bagian dalam keposisi dorsofleksi, menurunkan masukan susu, sering mengganti posisi, dan menghindari berdiri/ duduk lama R : menurunkan ketidaknyamanan berkenaan dengan perubahan kadar kalsium/ ketidakseimbangan kalsium-fosfor atau karena tekanan dari pembesaran uterus pada saraf yang mensuplai ekstremitas bawah 5. kaji adanya/ frekuensi kontraksi braxton Hick. Berikan informasi mengenai fisiologi aktifitas uterus R: kontraksi ini dapat menciptakan ketidaknyamanan pada multigrafida pada trimester kedua. Primigrafida biasanya tidak mengalami ketidaknyamanan ini sampai trimester akhir 6. perhatikan keluhan aktifitas BAK dan tekanan pada kandung kemih R: pembesaran uterus trimester ketiga menurunkan kapasitas kandung kemih, mengakibatkan sering berkemih 7. kaji adanya konstipasi dan hemoroid R: peningkatan pemindahan posisi uterus memperberat masalah eliminasi 8. kaji adanya pirosis (nyeri ulu hati). Tinjau pembatasan diet R: masalah sering terjadi pada trimester kedua dan dapat berlanjut, khususnya bila diet tidak dimodifikasi. 9. perhatikan adanya leukorea dan pruritus. Anjurkan klien untuk sering mandi, menggunakan celana dalam katun, pakaian longgar dan menghindari duduk untuk waktu yang lama
Antenatal Care | 40

R: saat kadar estrogen tinggi, sekresi kelenjar servikal menghasilkan media asam yang mendorong proliferasi organisme. 10. berikan suplemen kalsium dengan tepat. Anjurkan penggunaan jel aluminium hidroksida sesuai kebutuhan R: penambahan produk susu bila intoleransi dapat menjadi masalah. Jeli dapat menurunkan kadar fosfor dan memperbaiki ketidak seimbangan kalsium-fosfor Diagnose: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kesalahan interpretasi informasi Tujuan: Setelah mendapatkan asuhan keperawatan, klien mampu menambah pengetahuannya tentang perubahan fisik/ psikologis, persalinan atau kelahiran. Criteria hasil: mendiskusikan perubahan fisik/ psikologis berkenaan dengan persalinan/ kelahiran mengidentifikasi sumber-sumber yang tepat untuk mendapatkan informasi tentang perawatan bayi mengungkapkan kesiapan untuk persalinan/ kelahiran dan bayi

Intervensi: 1. berikan informasi tentang perubahan fisik/ fisiologis normal berkenaan dengan trimester ketiga R: pemahaman kenormalan perubahan ini dapat menurunkan kecemasan dan membantu meningkatkan penyesuaian aktifitas perawatan diri 2. berikan informasi tertulis/ verbal tentang tanda-tanda awitan persalinan R: membantu klien untuk mengenali awitan persalinan, untuk menjamin tiba dirumah sakit tepat waktu, dan menangani persalinan/ kelahiran
Antenatal Care | 41

3. berikan informasi verbal/ tertulis tentang perawtan bayi dan pemberian makan R: membantu menyiapkan pengambilan peran baru, memrlukan barang-barang tertentu untuk perabot, pakaian, dan suplai. 4. anjurkan keikutsertaan dalam kelas kelahiran anak dan melakukan orientasi rumah sakit atau rumah bersalin R: menurunkan ansietas berkenaan dengan ketidak tahuan; meningkatkan mekanisme koping untuk persalinan/ kelahiran. Diagnose: hargadiri rendah berhubungan dengan kemampuan untuk

menyelesaikan tugas kehamilan / kelahiran anak Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan klien dapat meningkatkan harga dirinya. Criteria hasil: -

mendiskusikan reaksi-reaksi terhadap perubahan citra tubuh dan impian-impian mencari model peran positif dalam persiapan untuk menjadi orangtua mengungkapkan perasaan percaya diri mengenal peran baru.

Intervensi: 1. perhatikan isyarat verbal dan nonverbal klien/ pasangan saat diskusi tentang masalahmasalah perubahan tubuh dan harapan peran. R: Krisis trimester akhir ini dapat mengakibatkan klien merasa cemas, ambivalen, dan depresi akan tubuhnya dan efek-efek kehamilan pada kemampuan/ aktifitasnya. 2. diskusikan sifat atau frekuensi mimpi-mimpi R: mimpi dan fantasi berhubungan dengan pengalaman melahirkan, kemungkinan abnormalitas bayi baru lahir, perubahan peran yang berat
Antenatal Care | 42

3. evaluasi adaptasi fisiologis klien/ pasangan terhadap kehamilan R: tugas normal pada trimester ketiga berfokus pada persiapan menjadi ibu/ ayah. 4. berikan informasi kepada pasangan mengenai kenormalan introspeksi, perubahan alam perasaan, dan rasa takut. R: memikirkan diri terus-menerus dapat membingungkan, tetapi hal ini

memungkinkan klien untuk menilai, beradaptasi, dan meningkatkan kekuatan dari dalam diri yang diperlukan untuk melahirkan anak, menjadi orang tua, dan perubahan peran. Mimpi/ rasa takut terhadap persalinan adalah normal. 5. berikan/ tinjau ulang informasi tentang perubahan fisik normal pada trimester ketiga R: pendidikan/ komunikasi tentang bagaimana perubahan tubuh normal dapat mempengaruhi secara positif sikap dan persepsi yang memudahkan pemahaman dan apresiasi terhadap kehamilan pada kedua anggota pasangan Diagnose: Resiko tinggi cedera berhubungan dengan hipertensi, infeksi,

penggunaan/ penyalahgunaan zat, perubahan sistem imun, profil darah abnormal, hipoksia jaringan, ketuban pecah dini. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, pasien diharapkan tidak mengalami cedera. Criteria hasil: mengungkapkan pemahaman tentang faktor-faktor risiko individu yang potensial bebas dari komplikasi

Intervensi: 1. periksa/ evaluasi faktor-faktor risiko yang ada sebelumnya/ baru, nadi, dan bunyi jantung. Periksa tanda-tanda hipertensi akibat kehamilan

Antenatal Care

| 43

R: situasi potensial risiko tinggi sering menjadi masalah dan memerlukan intervensi segera, bila kebutuhan sirkulasi dan metabolik paling besar. 2. dapatkan kultur vagina. Kaji terhadap infeksi dan penyakit hubungan seksual R: infeksi vagina yang tidak dapat diobati, menciptakan ketidaknyamanan berat pada klien, dan risiko terhadap janin. 3. dapatkan Hb dan Ht pada gestasi minggu ke 28. pastikan klien mentaati asupan zat besi dan vitamin pranatal setiap hari. R: mendeteksi anemia dengan hipoksemia/ anoksia potensial pada klien dan janin 4. berikan informasi tentang tanda-tanda awitan persalinan ; tinjau ulang riwayat KPD/ persalinan paterm R: riwayat positif meningkatkan kemungkinan masalah serupa pada kehamilan berikutnya 5. tentukan penggunaan alkohol/ obat-obatan lain R: penggunaan/ penyalahgunaan zat membuat klien berisiko terhadap persalinan prematur dan janin sulit dilahirkan 6. kaji terhadap perdarahan vagina dan tanda-tanda koagulasi intra vaskulardiseminata. R: adanya kedaruratan obstetrik, dengan reduksi pada volume cairan dan penurunan kapasitas vaskular diseminata Diagnose: gangguan eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran uterus, peningkatan tekanan abdomen, fluktuasi aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerolus Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, klien mengerti tentang perubahan pola eliminasi urin.
Antenatal Care | 44

Criteria hasil: mengungkapkan pemahaman tentang kondisi mengidentifikasi cara-cara untuk mencegah stasis urinarius dan atau edema jaringan

Intervensi: 1. berikan informasi tentang perubahan perkemihan sehubungan dengan trimester ketiga R: membantu klien memahami alasan fisiologis dari frekuensi berkemih dan nokturia. Pembesaran uterus trimester ketiga 2. anjukan klien untuk melakukan posisi miring saat tidur. Perhatikan keluhan-keluhan nokturia. R: meningkatkan perfusi ginjal 3. anjurkan klien untuk menghindari posisi tegak dalam waktu yang lama R: posisi ini memungkinkan terjadinya sindrom vena kava dan menurunkan aliran vena 4. berikan informasi mengenai perlunya masukan cairan 6-8 gelas/ hari, penurunan masukan 2-3 jam sebelum beristirahat, dan penggunaan garam, makanan, dan produk mengandung natrium dalam jumlah sedang R: mempertahankan tingkat cairan dan perfusi ginjal adekuat, yang mengurangi natrium diet untuk mempertahankan status isotonik
5.

berikan informasi mengenai bahaya menggunakan diuretik dan penghilangan natrium dari diet R: kehilangan/ pembatasan natrium dapat sangat menekan regulator renin-angiotensinaldosteron dari kadar cairan, mengakibatkan dehidrasi/ hipovolemia berat

Antenatal Care

| 45

6. tes urin midstream untuk memeriksa albumin R: dapat mengidentifikasi spasme glomerulus atau penurunan perfusi ginjal berkenaan dengan hipertensi akibat kehamilan Diagnose: Perubahan pola seksual berhubungan dengan perubahan hasrat seksual, ketidaknyamanan, atau merasa takut Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat memahami perubahan pola seksualitas. Criteria hasil: mendiskusikan masalah yang berhubungan dengan isu-isu seksual pada trimester ketiga mengekspresikan kepuasan bersama dengan dengan hubungan seksual

Intervensi: 1. mulai pengkajian seksual, cari perubahan pada trimester pertama dan kedua R: penurunan minat pada aktivitas/ koitus seksual sering terjadi pada trimester ketiga, karena perubahan/ ketidaknyamanan fisiologis 2. kaji persepsi pasangan terhadap hubungan seksual R: kemampuan pasangan untuk mengidentifikasikan/ mengungkapkan/ menerima perubahanseksual pada trimester pertama dapat mempengaruhi hubungan dan kemampuan mereka untuk mendukung satu sama lain secara emosional 3. anjurkan pasangan untuk berdiskusi, tentang perasaan dan masalah yang berhubungan dengan dengan perubahan pola seksual. Berikan informasi tentang kenormalan perubahan.

Antenatal Care

| 46

R: komunakasi antar pasangan adalah penting untuk pemecahan masalah yang konstruksif. 4. berikan informasi tentang metoda-metoda alternatif untuk mencapai kepuasan seksual dalam pemenuhan kebutuhan keintiman/ kedekatan R: kebutuhan seksual dapat dipenuhi melalui masturbasi, kemesraan, membelai, dan sebagainya bila secara bersamaan diinginkan atau dapat diterima. 5. anjurkan pilihan posisi untuk koitus selain dari posisi pria diatas R: pembesaran abdomen klien memerlukan perubahan posisi untuk kenyamanan dan keamanan
6.

diskusikan pentingnya tidak meniup udara ke dalam vagina R: kematian ibu karena embolisme udara telah dijumpai

7. anjurkan klien/ pasangan untuk mengungkapkan rasa takut yang dapat menurunkan hasrat untuk koitus R: kesalahan pengertian dan rasa takut bahwa koitus dapat mengakibatkan cedera janin, infeksi, dan timbulnya persalinan dapat juga mempengaruhi hasrat seksual. 8. instruksikan klien untuk mendiskusikan keamanan koitus dalam minggu ke 6-ke 8 akhir dengnan pemberiperawatannya. R: instruksi khusus mungkin ditemukan bila terdapat riwayat komplikasi atau bila komplikasi diantisipasi Diagnose: Resiko tinggi dekompisasi curah jantung berhubungan dengan peningkatan volume cairan/ perubahan aliran balik vena, perubahan permeabilitas kapiler

Antenatal Care

| 47

Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan klien mampu mengontrol volume cairan. Criteria hasil: tekanan darah normal, bebas edema patologis mengidentifikasi adanya tanda-tanda abnormal yang memerlukan evaluasi alnjut.

Intervensi: 1. tinjau ulang perubahan fisiologis normal. Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medis atau intervensi R: retensi kelebihan cairan dan permulaan respons stres renin-angiotensin II-aldosteron dapat menyebabkan cairan meninggalkan kardiovaskuler, mengakibatkan dehidrasi yang secara negatif mempengaruhi curah jantung 2. pantau frekuensi nadi jantung R: saat frekuensi jantung istirahat meningkat secara normal sebanyak 15 pdm untuk memudahkan sirkulasi tambahan volume cairan 3. catat tanda-tanda hipertensi akibat kehamilan: edema umum, albuminuria 2+, dan hipertensi dengan peningkatan sistolik lebih besar dari 30 mm Hg atau sistolik lebih besar dari 30 mm Hg atau diastolik > dari 15 mm Hg R: membedakan antara edema fisiologis normal dan potensial 4. anjurkan perubahan posisi yang sering R: posisi supine/rekumben dan posisi tegak lama sangat menurunkan aliran balik vena dan curah jantung pada trimester tiga, secara negatif mempengaruhi aliran pada uterus dan ginjal. Posisi sim/ semifowler miring mengoptimalkan perfusi plasenta/ ginjal

Antenatal Care

| 48

Diagnose: Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada tingkat aktifitas, stres, psikologi, ketidakmampuan untuk mempertahankan kenyamanan. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien tidak mengalami gangguan pola tidur. Criteria hasil: -

melaporkan perbaikan tidur/istirahat melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan perasaan segar

Intervensi: 1. tinjau ulang kebutuhan perubahan tidur normal berkenaan dengan kehamilan. Tentukan pola tidur saat ini R: membantu mengidentifikasi kebutuhan untuk menetapkan pola tidur yang berbeda 2. evaluasi tingkat kelelahan R: peningkatan retensi cairan, penambzahan berat badan, dan pertumbuhan janin, semua memperberat perasaan lelah, khususnya pada multipara. 3. kaji terhadap kejadian insomnia dan respons klien terhadap penurunan tidur. Anjurkan alat bantu untuk tidur, seperti teknik relaksasi, membaca, mandi air hangat,dan penurunan aktifitas sebelum istirahat R: ansietas yang berlebihan, kegembiraan, ketidaknyamanan fisik, nokturia, dan aktifitas janin dapat mempersulit tidur 4. perhatikan keuslitan bernafas karena posisi. Anjurkan tidur pada posisi semi fowler

Antenatal Care

| 49

R: pada posisi rekumben, pembesaran uterusserta organ abdomen menekan diafragma, sehingga membatasi ekspansi paru. Penggunaan posisi semifowler memugnkinkan diafragma menurun, membantu mengembangkanekspansi paru optimal 5. dapatkan sel darah merah (SDM) dan kadar Hb R: anemia dan penurunan kadar Hb/SDM, mengakibatkan penurunan oksigenasi jaringan serta mempengaruhi perasaan letih berlebihan 6. rujuk klien untuk konseling bila kekurangan tidur/kelelahan mempengaruhi aktifitas kehidupan sehari-hari R: mungkin perlu bagi klien menghadapi perubahan siklus tidur-terjaga, mengidentifikasi prioritas yang tepat dan memodifikasi komitmen Diagnose: Risiko tinggi cedera janin berhubungan dengan masalah kesehatan ibu, pemajanan pada teratogen/ agen infeksi Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan dapat menjaga kesehatan ibu dan janin dan dapat menghindari resiko cedera. Criteria hasil: mengidentifikasi faktor-faktor risiko individu mengubah gaya hidup/ perilaku yang menurunkan resiko

Intervensi: 1. lanjutkan pengkajian berkelanjutan tentang nutrisi ibu R: perubahan pada nutrisi ibu dapat menurunkan cadangan zat besi pada janin, membatasi cadangan lemak, memperlambat perkembangan neurologis pada neonatus/ anak, dan menurunkan cadangan protein untuk pertumbuhan otak, sehingga menurunkan lingkar kepala pada keturunan
Antenatal Care | 50

2. hindari penggunaan tembakau R: dapat menghambat penebalan berat badan ibu, menurunkan pertumbuhan intra uterus/ plasenta, dan mengakibatkan skor apgar rendah saat kelahiran
3.

berikan informasi tentang resiko terapi obat R: pada trimester ketiga, sulfonamid meningkatkan risiko hiperbilirubinemia dengan mempengaruhi ikatan albumin-bilirubin. Tetrasiklin menyebabkan pewarnaan pada pelapisan desisua gigi dan menghambat pertumbuhan tulang pada bayi prematur. Streptomisin mengakibatkan kerusakan pada saraf pendengaran serta kemungkinan kehilangan kehilangan pendengaran

4. pantau profil biofisik janin R: tentukan kesejahteraan uteroplasenta/ janin dan klien berisiko terkena sepsis Diagnose: Resiko tinggi koping individu/ keluarga tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi/ maturasi, kerentanan pribadi, persepsi tidak realistis, metoda koping yang tidak adekuat, sistem pendukung yang tidak ada/ tidak adekuat Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan klien mendapatkan kopign individu yang efektif. Criteria hasil: mendiskusikan reaksi emosional pada trimester tiga menyiapkan kelahiran bayi, sesuai dengan keyakinan budaya melalui pendidikan/ keahlian mengidentifikasi model peran yang tepat menggambarkan karakteristik kepribadian tentang janin

Antenatal Care

| 51

Intervensi: 1. kaji persiapan persalinan, kelahiran, dan kedatangan bayi baru lahir R: keterlibatan pada kelas kelahiran bayi dan keahlian tentang peralatan dan bahan dalam perawatan dapat menunjukkan kesiapan secara psikologis. Kurangnya persiapan dapat didasarkan pada keyakinan budaya, atau dapat menandkan masalah keuangan atau psikologis 2. tentukan persepsi klien/ pasangan terhadap janin sebagai kesatuan yang terpisah R: persepsi ini menandakan pelengkapan tugas-tugas psikologis dari kehamilan
3.

tentukan bagaimana manusia mengetahui kehamilan saat persalinan dan kelahiran mendekat R: seorang dengan tingkat ketergantungan yang tinggi dapat mengalami kesulitan memenuhi peningkatan kebutuhan ketergantunagnm klien sehingga dapat menciptakan konflik. Selain itu, koping negatif dimanifestasikan sebagai akibat kurangnya persiapan persalinan dan atau pada bayi baru lahir.

4. perhatikan kehilangan dari kehamilan sebelumnya, faktor-faktor genetik, atau riwayat lahir mati, dan diskusikan makna kejadian tersebut kepada pasien/klien R: pasangan risiko tinggi mungkin lebih memilih untuk tidak membuat persiapan dengan baik sebagai cara perlindungan bagi mereka sendiri dari kemungkinan kehilangn/ cedera apabila janin tidak hidup 5. evaluasi sistem pendukung yang tesedia pada klien/ pasangan. R: ketersediaan keluarga dan teman dapat membantu klien/ pasangan untuk mengatasi tugas-tugas yang datang karena persalinan dan kelahiran.

Antenatal Care

| 52

Antenatal Care

| 53

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ANC adalah pemeriksaan/pengawasan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasi kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan memberikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. Tujuan Ante Natal Care (ANC) adalah: Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi. Mengenali secara diri adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal B. Saran Diharapakan bagi mahasiswa calon perawat agar meningkatkan pengetahuan tentang reproduksi I khususnya tentang asuhan keperawatan antenatal agar nantinya dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dalam praktik keperawatan.

Antenatal Care

| 54

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Doenges, Marilynn dan Moorhouse, Mary . 2001 . Rencana Perawatan Maternal / Bayi Pedoman untuk Perencanaan Perawatan Klien . Jakarta : EGC Mansjoer, Arif dkk . 2000 . Kapita Selekta kedokteran Jilid I Edisi Ketiga . Jakarta : Media Aesculapius Saifudin, Abdul dan Rochimhadi Trijatmo . 2007 . Ilmu Kandungan . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo Nenk. 2010. Antenatal Care. http://www.lenterabiru.com/tag/anc-antenatal-care

Antenatal Care

| 55