Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN Sehat menurut WHO adalah suatu keadaaan sejahtera fisik, mental, dan sosial serta bukan hanya

tidak ada penyakit atau kelemahan. Definisi ini menggambarkan perhatian terhadap individu terhadap manusia utuh yang berfungsi secara fisik, psikologis, dan sosial. Proses mental menentukan hubungan orang dengan lingkungan fi8sik dan sosial mereka, sikap mereka mengenai kehidupan dan interaksi mereka dengan orang lain. Untuk mencapai kesehatan optimal berbagai cara ditempuh mulai dari preventif sampai upaya promosi kesehatan. Begitupula disaat seseorang terkena penyakit atau jatuh sakit, maka akan diupayakan bagaimana cara mengatasi penyakit tersebut. Salah satu alternatif yang digunakan masyarakat pada masa lalu maupun masa sekarang yaitu dengan mencoba metoda ruqyah. Ada persepsi di kalangan masyarakat awam bahwa terapi ruqyah adalah terapi untuk gangguan atau kesurupan jin atau hal-hal yang bersifat gaib. Kesalahan persepsi tersebut boleh jadi karena sering diadakan ruqyah masal untuk mengusir jin yang ada di dalam diri manusia. Biasanya sebelum diadakan ruqyah masal, peruqyah memberi penjelasan-penjelasan tentang ruqyah yang hanya terbatas untuk mengusir jin. Jarang para peruqyah menjelaskan lebih luas penggunaan metode ruqyah tersebut untuk penyembuhan fisik dan psikis. Palingpaling peruqyah hanya menjelaskan masalah ruqyah syariyyah dan ruqyah syirkiyyah dan kurang pembahasan secara ilmiah.

Analisis Situasi Terapi alternatif yang kami kunjungi adalah BRC (Bekam Ruqyah Center) yang beralamatkan di Jln Anggrek Kab. Sumedang. BRC ini berdiri sejak september 2011, dikelola oleh 4 orang therapis, dan 1 orang administrasi. Para therapis sebelumya mendapatkan pelatihan selama 3 bulan sebelum mereka melaksanakan praktek langsung ke pasien. Menurut pengelola BRC, ada 249 pasien yang mendapatkan pelayanan ruqyah. Pasien yang di ruqyah berhubungan dengan kasus konflik keluarga, gangguan jin, dan masalah kejiwaan maupun fisik. Adapun langkah pelaksanaanya sebagai berikut, bagi pasien yang perempuan di therapi oleh therapis perempuan, laki-laki di therapi oleh therapis laki-laki, pasien dianjurkan untuk berwudhu. Pengobatan dilakukan selama kurang lebih 15 menit, sebelum therapi ruqyah dilakukan, therapis memotret mata pasien kemudian hasil dari potretan tadi akan dilihat melalui komputer untuk melihat permasalahan yang ada di tubuh pasien misal kurang tidur, dalam keadaan stress/tekanan tidak, dan melihat apakah sudah banyak/tidak toksik yang ada dalam tubuh. Metode ini dikenal juga dengan sebutan iridology yaitu mendeteksi penyakit melalui mata. Kemudian pasien dianjurkan untuk melakukan totok oksigen yang bertujuan untuk memperlancar aliran oksigen ke otak. Setelah itu baru pelaksanaan therapi ruqyah dilakukan, dimana therapis akan membacakan ayatayat suci Al-Quran di telinga pasien. Di BRC therapi ruqyah yang mereka lakukan lebih menekankan kepada pasiennya untuk selalu yakin bahwa penyakit itu akan disembuhkan oleh Tuhan, bukan karena faktor lain. Maka dari itu, setelah dilakukan tindakan therapi ruqyah pasien dianjurkan untuk meruqyah dirinya sendiri atau ruqyah mandiri. Pembahasan Dari sisi etomologi, ruqyah berarti permohonan perlindungan, atau ayatayat, dzikir-dzikir dan doa-doa yang dibacakan kepada orang yang sakit.2 Sedangkan menurut terminologi syariat, ruqyah berarti bacaanbacaan untuk pengobatan yang syari (berdasarkan nash-nash yang pasti dan shahih yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah) sesuai dengan ketentuanketentuan serta tata cara yang telah disepakati oleh ulama. Ruqyah dinamakan juga dengan Azaaim (bentuk plural dari Aziimah, yang dikenal dalam bahasa Indonesia dengan azimat-azimat). Jenis-Jenis Ruqyah Ruqyah, terdiri atas 2 macam: 1. Ruqyah Syariyyah Ruqyah yang bebas dari unsur syirik Yaitu: dengan membacakan kepada si sakit sebagian ayat-ayat Al-Quran atau dimohonkan perlindungan untuknya dengan Asma' dan sifat Allah. Rasulullah bersabda: "Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku, tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik." (H.R Muslim)

2. Ruqyah Syirkiyyah Ruqyah yang tidak lepas dari unsur syirik Yaitu: terdapat permohonan pertolongan kepada selain Allah, yaitu dengan berdo'a kepada selain Allah, meminta pertolongan dan berlindung kepadanya misalnya: meruqyah dengan nama-nama jin meruqyah dengan nama-nama malaikat meruqyah dengan nama-nama para nabi meruqyah dengan nama-nama orang-orang shalih Tata cara ruqyah yang benar adalah sebagai berikut: 1. Keyakinan bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah Subhanahu wa Taala semata, bukan dari selainNya. 2. Ruqyah harus dengan Al Quran, hadits atau dengan nama dan sifat Allah, dengan bahasa Arab atau bahasa yang dapat difahami. 3. Mengikhlaskan niat dan menghadapkan diri kepada Allah saat membaca dan berdoa. 4. Membaca surat Al Fatihah dan meniup anggota tubuh yang sakit. Demikian juga dengan membaca surat Al Falaq, An Naas, Al Ikhlash, Al Kafirun. 5. Menghayati makna yang terkandung dalam bacaan Al Quran dan doa yang sedang dibaca. 6. Orang yang meruqyah hendaknya memperengarkan bacaan ruqyahnya, baik yang berupa ayat-ayat Al Quran atau doa-doa dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Supaya penderita belajar dan merasa tenang bahwa ruqyah yang dibacakan sesuai dengan syariat. 7. Meniup pada tubuh orang yang sakit di tengahtengah pembacaan ruqyah. Masalah ini, menurut Syaikh Al Utsaimin mengandung kelonggaran. Caranya, dengan tiupan yang lembut tanpa keluar air ludah. Aisyah -radhiallahu anha- pernah ditanya tentang tiupan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam meruqyah. Ia menjawab:Seperti tiupan orang yang makan kismis, tidak ada air ludahnya (yang keluar). (H.R Muslim 14/182). 8. Jika meniupkan ke dalam media berisi air atau selainnya, tidak masalah. Media terbaik untuk ditiup adalah minyak zaitun atau air hujan. 9. Mengusap orang yang sakit dengan tangan kanan. Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallhu anha- ia berkata:Rasulullah tatkala dihadapkan pada seseorang yang mengeluh kesakitan, Beliau mengusapnya dengan tangan kanan.(H.R Muslim, Syarah An Nawawi (14/180) 10. Bagi orang yang meruqyah diri sendiri, letakkan tangan di bagian yang dikeluhkan sambil membaca { } tiga kali, kemudian membaca: Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari setiap kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti.35 Berkaitan dengan fenomena di atas, maka terapi ruqyah terhadap gangguan jin perlu dilakukan. Ali bin Muhammad bin Mahdi al Qarni dan Syek Abdul Aziz

bin Abdullah bin Baaz secara garis besar menjelaskan proses terapi ruqyah terhadap gangguan jin sebagai berikut: 1. Pada Tahap Persiapan a. Bagi terapis : 1) Mempunyai akidah yang bersih dan murni dan direalisasikannya dalam ucapan dan perbuatan. 2) Ia yakin bahwa firman Allah mempunyai pengaruh yang dahsyat untuk mengusir jin dan setan atas izin Allah SWT. 3) Mengetahui seluk beluk tentang jin. 4) Mengetahui pintu-pintu atau peluang-peluang masuknya jin. 5) Mengetahui perbuatan-perbuatan haram yang menyebabkan masuknya setan. 6)Biasa berdzikir kepada Allah SWT. 7) Beniat ikhlash ketika mengobati. 8) Sebelum mengobati hendaknya ia dan pasien berwudlu terlebih dahulu. 9)Memohon bantuan kepada Allah SWT dalam mengusir jin. 10)Menjauhkan tempat pengobatan dari lagu-lagu, musik, gambar-gambar yang menjurus pada maksiyat, situasi yang menjurus maksiyat, anjing di rumah, dsb. b.. Bagi Pasien. 1) Si pasien dan keluarga diberi pengetahuan dan nasihat-nasihat tentang aqidah Islam yang benar dan murni sehingga hatinya terlepas dari ketergantungan selain Allah SWT. 2) Dijelaskan pada pasien perbedaan pengobatan ruqyah dengan pengobatan ahli sihir dan dukun, serta dijelaskan pada pasien bahwa Al Quran mengandung obat dan rahmat bagi orang yang beriman. 3) Jika pasien memakai azimat hendaknya dibuang dan dibakar. 4) Jika pasien tersebut seorang wanita, hendaknya tertutup auratnya, disertai seorang mahram, dan orang lain selain mahramnya dilarang masuk ke tempat pengobatan. 2. Pada tahap pengobatan Pada tahap ini terapis membaca Surat atau ayat-ayat yang dapat mengusir jin, misalnya: Al Fatihah, Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas, ayat Kursi, tiga ayat terakhir dari Surat Al Baqarah, dsb. 3. Pasca Pengobatan. a. Si pasien hendaknya menjaga shalat berjamaah. b. Si pasien senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. c. Si pasien beberapa hari atau minggu setelah pengobatan kembali lagi pada terapis untuk dibacakan ayat-ayat Al Quran kembali. d. Si pasien hendaknya selalu membaca basmalah setiap saat dan kesempatan. e. Si pasien aktif mendengarkan bacaan Al Quran atau membacanya sendiri (Ali, 1999: 80-86). BACAAN RUQYAH DARI AL-QURAN Secara umum semua ayat al-Quran dapat digunakan untuk meruqyah. Begitu juga doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Namun ada ayat-ayat yang

sering dipakai dalam meruqyah. Yaitu: (1). Al-Fatihah, (2). Al-Baqarah 1-5, (3). Al-Baqarah 102-103, (4). Al-Baqarah 163-164, (5). Al-Baqarah 255- 257, (6). AlBaqarah 285- 286, (7). Ali Imran 1-10, (8). Ali Imran 18-20, (9). Ali Imran 26-27, (10). An-Nisa 56, (11). Al-Maidah 72-76, (12). Al-Araf 54-56, (13). Al-Araf 117-122, (14). Yunus 79-82, (15). Thaha 65-70, (16). Al-Mukminun 115-118, (17). As-Sajadah 12-14, (18). Ash-Shaffat 1-10, (19). Ad-Dukhkhan 43-56, (20).Qaf 16-35, (21). Ar-Rahman 33-35, (22). Al-Waqiah 41-56, (23). Al-Hasyr 21- 24, (24). Al-Jin 1-28, (25). Al-Kafirun 1-6, (26). Al-Ikhlas, (27). Al-Falaq, (28). An-Nas. (Jon Pamil: 2005:4) Telaah Kritis Perawatan kesehatan merupakan suatu pranata sosial yang melibatkan interaksi antara sejumlah orang, sedikitnya pasien dan penyembuh. Pada sistem perawatan kesehatan transkultural biasanya ada berdampingan dengan kesadaran, yang terbatas oleh praktisi di kedua sistem yakni sistem perawatan kesehatan asli dan sistem perawatan kesehatan professional. Sistem perawatan kesehatan asil mengacu pada metode perawatan kesehatan rakyat tradisional, seperti pengobatan rakyat dan terapi di rumah lainnya, sedangkan sistem perawatan kesehatan profesional mengacu pada sistem terstruktur yang dipertahankan oleh individu yang telah mengikuti program studi formal. Keberadaan sistem perawatan kesehatan asli ini jauh lebih tua dibandingkan dengan sistem perawatan profesional itu sendiri. Beberapa profesional memandang sistem perawatan kesehatan asli ini tidak ilmiah, primitif, bahkan erat kaitannya dengan perdukunan. Namun, menurut Leininger perawatan kesehatan sebaiknya merupakan gabungan antara kedua sistem tersebut. Seorang profesional dipandang perlu untuk menggabungkan kedua sistem tersebut agar dapat memberikan keuntungan bagi klien sebab setiap budaya memiliki proses, teknik, dan praktik kesehatan, perawatan, dan penyembuhan yang dipandang sebagai hal yang penting bagi manusia. Andrews dan Boyle, menggambarkan tiga pandangan keyakinan kesehatan yaitu magis-religius, ilmiah, dan holistic. Dalam pandangan keyakinan kesehatan magis-religius , sehat dan sakit dikontrol oleh kekuatan supernatural. Klien dapat meyakini bahwa sakit merupakan akibat dari perilaku buruk atau menentang kehendak Tuhan. Kesembuhan juga dipandang bergantung pada kehendak Tuhan. Sedangan ditinjau dari konsep sebab sakit konsep ini disebut dengan konsep personalistik yang menganggap bahwa penyakit disebabkan oleh intervensi dari suatu agen yang aktif, yang dapat berupa mahluk supranatural (mahluk gaib atau dewa), mahluk yang bukan manusia (seperti hantu, roh leluhur, atau roh jahat), maupun mahluk manusia (tukang sihir atau tukang tenung). Hal-hal yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa keyakinan agama dan spiritual adalah bagian integral dari keyakinan budaya seseorang dan dapat mempengaruhi keyakinan klien mengenai penyebab penyakit, praktik penyembuhan, pilihan tabib atau pemberi perawatan kesehatan. Keyakinan spiritual dan agama dapat menjadi sumber kekuatan dan kenyamanan bagi klien yang menderita penyakit atau krisis atau menjelang ajal.Keyakinan-keyakinan

seperti ini memang tidak didukung oleh bukti empiris, namun klien yang meyakini bahwa hal-hal semacam ini dapat menyebabkan penyakit, pada kenyataannya dapat menjadi sakit sebagai akibatnya Saat ini terdapat banyak minat dan penyelidikan mengenai efektivitas metode penyembuhan rakyat. Praktik penyembuhan ini dianggap sebagai terapi komplementer atau alternatif terhadap pengobatan barat atau ilmiah. Di Indonesia sendiri salah satu terapi alternatif yang erat kaitannya dengan keyakinan spiritual atau agama seseorang adalah ruqyah. Terapi ruqyah dengan membaca ayat-ayat atau doa dari Al Quran dan As Sunnah telah banyak dipraktekkan dalam penyembuhan penyakit fisik. Di Indonesia misalnya dilakukan oleh Ustadz Haryono dengan membaca Al Fatihah dan ayat-ayat maupun doa dari Al Quran dan As Sunnah. Kurang lebih sembilan juta pasien pernah ditanganinya (Damarhuda, 2005: 1-2, 52). Berdasarkan berbagai kesaksian, banyak dari pasiennya mengalami kemajuan dalam kesehatannya maupun memperoleh kesembuhan. Demikian juga beberapa Pondok Pesantren, Yayasan Islam, Kyai, Ustadz, dan banyak orang Islam secara individu maupun kelompok telah mempraktekkan ruqyah untuk penyakit fisik. Secara medis terapi ruqyah dalam arti membacakan ayat-ayat atau doa-doa dari Al Quran maupun As Sunnah mempunyai pengaruh dalam penyembuhan fisik. Sebanding dengan terapi ruqyah, terapi doa telah diteliti keefektifannya dalam penyembuhan fisik. Dr. Dossey, dokter lulusan Universitas di Texas, menjelaskan bahwa setelah ia mengumpulkan beberapa penelitian tentang terapi doa, dia menjelaskan bahwa ternyata doa dapat mengendalikan sel-sel kanker, selsel pemacu, sel-sel darah merah, enzim, bakteri, jamur, dan sebagainya (T. Hemaya, 1997: 171-172). Senada dengan Dr. Dossey, William G. Braud, direktur riset di Institute of Transpersonal Psychology di Palo Alto, melaporkan bahwa manusia mampu mempengaruhi secara mental dan dari jarak jauh, berbagai sasaran biologis misalnya bakteri, koloni ragi, motile algae (semacam tumbuhan), tanaman, protozoa, larva, woodlice (semacam kutu kayu), semut, anak ayam, tikus, kucing, anjing, juga preparat sel (sel darah, neuron, sel kanker) dan kegiatan enzim. Pada sasaran manusia, misalnya mempengaruhi gerakan mata, gerakan motorik, kegiatan elektrodermal, kegiatan pletismografik, pernafasan, dan irama otak (Saputra, 2003: 306). Hal ini menunjukkan bahwa doa atau kegiatan pikiran manusia dapat mempengaruhi makhluk, termasuk kesehatannya. Selanjutnya Dr. Dadang Hawari menyatakan bahwa suatu studi terhadap 393 pasien jantung di San Fransisco menunjukkan bahwa kelompok pasien yang terapinya ditambah dengan terapi doa sedikit sekali yang mengalami komplikasi, sedang yang tidak menggunakan terapi doa banyak menimbulkan komplikasi dari penyakit jantungnya (Hawari, 1997: 8). Berikutnya dr. H. Tb. Erwin Kusuma Sp Kj, seorang spesialis kedokteran jiwa di klinik Prorevital, menyatakan bahwa air yang telah diberi doa akan berubah struktur molekunya dan dapat digunakan sebagai obat (Intisari, 2002: 61-64). Senada dengan pendapat dr. H. Tb.Erwin di atas, sebuah penelitiandi Jepang yang dilakukan oleh Dr. Emoto menunjukkan bahwa struktur molekul air akan berubah bila diberi kata-kata atau suara. Ia kemudian menjelaskan bahwa tubuh manusia kurang-lebih 70 persennya adalah air, maka

akan ada perubahan bila diberi kata-kata, suara, atau doa (Bambang, 2006: 14-19). Perubahan struktur air di dalam tubuh ini mempengaruhi tingkat kesehatannya. Beberapa penelitian tentang efek doa terhadap kesehatan di atas, secara tidak langsung, membuktikan bahwa terapi ruqyah, doa dari Al Quran dan As Sunnah, mempengaruhi terhadap penyembuhan sakit fisik. Terapi Ruqyah untuk Gangguan Jiwa Terapi ruqyah untuk gangguan jiwa ini telah dipraktekkan di beberapa pesantren di Indonesia. Misalnya di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (Praja, 1995: 61-63), Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqien Yogyakarta, Pondok Pesantren Al Ghafur Situbondo (Rendra, 2000: 219), Pondok Pesantren Al Islamy, Kulon Progo, Yogyakarta (Setyanto, 2005: 55-58), dan di beberapa Pondok Pesantren maupun Yayasan Islam lainnya. Secara medis metode ruqyah dalam arti membacakan ayat-ayat atau doa-doa yang terdapat di dalam Al Quran maupun As Sunnah, sudah dapat diterima keefektifannya dalam terapi gangguan jiwa. Beberapa penerapan terapi doa, senada dengan ruqyah (doa dari Al Quran dan As Sunnah) yang dilakukan pada terapi gangguan jiwa di berbagai tempat telah membantu penyembuhan para penderita gangguan jiwa. Misalnya Dr. Dossey , dokter lulusan Universitas di Texas, menjelaskan bahwa hasil penelitian di Universitas Redland, California menunjukkan bahwa doa mempunyai pengaruh terhadap penyembuhan gangguan jiwa (T. Hemaya, 1997: 171-172). Selanjutnya hasil penelitian Snyderman (1996) menyatakan bahwa terapi medik saja tanpa disertai dengan agama (berdoa dan berzikir) tidaklah lengkap, sebaliknya terapi agama saja tanpa disertai dengan terapi medik tidaklah efektif (Hawari, 2002: 24). Suatu organisasi yang bernama Pastoral and Humanization Service telah memberikan pelayanan kesehatan jiwa agama ke rumah-rumah sakit dalam bentuk rawatan rohani pada penderita yang selama ini hanya menerima rawatan medik psikiatrik saja. Ternyata metode integrasi ini membawa hasil yang lebih baik, yaitu gejala-gejala gangguan jiwa lebih cepat teratasi dan lamanya perawatan di rumah sakit jiwa (long stay hospitalization) dapat diperpendek (Hawari, 2002: 50). Berdasarkan beberapa penelitian tentang pengaruh doa terhadap penyembuhan gangguan jiwa di atas, secara tidak langsung membuktikan bahwa terapi ruqyah, dengan menggunakan doa dari Al Quran dan As Sunnah, mempunyai pengaruh terhadap penyembuhan gangguan kejiwaan. Terapi Ruqyah untuk Gangguan Jin Gangguan Jin merupakan fenomena penyakit yang khas, meskipun biasanya mempunyai gejala yang hampir sama dengan penyakit fisik dan psikis. Biasanya baru diketahui setelah berbagai macam pengobatan fisik dan psikis gagal mengatasinya. Misalnya pasien sudah diobati dengan berbagai obat fisik, tetapi tidak ada pengaruhnya dan sakitnya tetap tidak berkurang. Demikian juga pasien sudah diberi berbagai obat psikis, misalnya obat penenang, tetapi pasien tetap tidak bisa tidur dan tetap agresif maupun menutup diri dalam jangka waktu lama. Tetapi kadang-kadang cepat diketahui oleh orang yang berpengalaman dalam meruqyah gangguan jin, karena ada tanda-tanda khusus yang tampak

(misalnya pandangan mata maupun pancaran energinya yang dapat dirasakan). Tetapi yang paling jelas adalah reaksi si pasien setelah dibacakan ayat-ayat Al Quran maupun doa-doa dari Al Quran dan As Sunnah. Biasanya ada reaksi geliatan tubuh, mimik takut atau marah, teriakan-teriakan, dan sebagainya. Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa terapi ruqyah saat ini tidak hanya digunakan untuk terapi gangguan jin sebagaimana difahami orang, tetapi dapat juga digunakan untuk penyembuhan sakit fisik maupun psikis. Secara medis terapi ruqyah dapat diterima keefektifannya dalam penyembuhan fisik maupun psikis.

Kesimpulan Terapi ruqyah merupakan salah satu terapi yang digunakan Rasulullah SAW dari beberap terapi yang lain dalam mengobati penyakit. Terapi ruqyah tidak hanya digunakan untuk mengusir jin, tetapi juga untuk terapi penyakit fisik dan psikis. Secara medis terapi ruqyah sudah diakui keefektifannya untuk mengobati penyakit fisik maupun psikis. Terapi ruqyah yang digunakan untuk mengusir jin keefektifannya tergantung pada keadaan terapis, pasien, dan lingkungan dalam proses terapi. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Abu Umar Basyir Al-Maidani (trans.). Metode Pengobatan Nabi SAW. Jakarta: Griya Ilmu, 2005. 2. Bambang Trim dan Deny Riana (ed.). The True Power of Water Hikmah Air dalam Olahjiwa. Bandung: MQ Publishing, 2006. 3. Bishri, Hasan. 53 Penjelasan Lengkap tentang Ruqyah Terapi Gangguan Sihir dan Jin Sesuai Syariat Islam. Jakarta: Ghaib Pustaka, 2005. 4. Damarhuda dan Imawan Mashuri. Zikir Penyembuhan ala Ustadz Haryono. Malang: Pustaka Zikir, 2005. 5. Hawari, Dadang. Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis . Jakarta: PT Dana Bhakti Primayasa, 1997. 6. _______________. Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi . Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2002. 7. Hosen Arjaz Jamad dan Wasmukan (trans.). Doa-doa Penangkal Setan. Surabaya: Risalah Gusti, 1999. 8. Praja, Juhaya S. Model Tasawuf menurut Syariah Penerapannya dalam Perawatan Korban Narkotika dan Berbagai Penyakit Rohani. Tasikmalaya : Penerbit PT Latifah Press Institut Agama Islam Latifah Mubarakiyah (IAILM) Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, 1995. 9. Rendra K(ed.). Metodologi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. 10. S. Agil Husin Munawar dan Abd. Rahman Umar (trans.). Sistem Kedokteran Nabi Kesehatan dan Pengobatan menurut Petunjuk Nabi Muhammad SAW. Semarang: Penerbit Dina Utama Semarang, 1994. 11. Saputra, Arvin (trans.). Healing Beyond the Body Penyembuhan dan Penyegaran Tubuh serta Jiwa. Batam: Interaksara, 2003. 12. Setyanto, Arif Tri. Pengaruh Dzikir terhadap Reaksi Fustrasi pada Pengguna Napza (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Islamy, Kulon Progo, Yogyakarta). Skripsi pada Jurusan Ushuluddin FAI-UMS tidak diterbitkan, 2005