Anda di halaman 1dari 40

FISIKA STATISTIK disusun untuk memenuhi tugas remidi fisika statistik

dosen pengampu: Joko Siswanto, S.Pd., M.Pd.

Anggota Kelompok: 1. Annisa Ida Mushofa (09330048) 2. Novia Devi Charisma (09330070) 3. Rianda Herlan Sapta Aji (09330074) 4. Roesyah (09330075)

PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP PGRI SEMARANG 2013

TEORI DAN APLIKASI TEORI STATISTIK

Mengenai persamaan kajian dari Termodinamika dan Fisika Statistika yakni Termodinamika adalah contoh cabang ilmu fisika yang menerapkan pandangan makroskopik seperti suhu, volume dan tekanan, yang menggambarkan fisik, sistem termodinamika. Sedangkan berkenaan dengan kajian fisika statistik ini sama merupakan cabang dari kajian fisika yang sebetulnya hubungan antara termodinamika dan fisika statistik sangatlah erat di antara keduanya. Pada dasarnya kajian antara termodinamika dan fisika statistik adalah sama kedudukanya di dalam ilmu fisika. Kedudukan termodinamika dan fisika statistik ibarat pemahaman yang kontinu tentang suatu cabang ilmu pengetahuan dimana terdapat hubungan kekerabatan yang sangat dekat sebab pokok bahasan dari fisika statistik tidak lain adalah termodinamika lanjut. Berkenaan dengan pemahaman kajian perbedaan termodinamika dan fisika statistik dimana untuk pemahaman secara mikroskopik suatu sistem meliputi beberapa ciri khas seperti adanya pengandaian bahwa sistem terdiri atas sejumlah molekul, dan kuantitas-kuantitas yang diperinci tidak dapat diukur secara makroskopis. Contoh penerapan pandangan mikroskopik untuk cabang ilmu fisika yaitu dalam fisika statistik itu sendiri. Bila kedua pandangan itu diterapkan pada sistem yang sama maka keduanya harus meghasilkan kesimpulan yang sama. Ruang lingkup fisika statistik meliputi dua bagian besar, yaitu teori kinetik dan mekanika statistik. Berdasarkan pada teori peluang dan hukum mekanika, teori kinetik mampu menggambarkan sistem dalam keadaan tak seimbang, seperti: proses efusi, viskositas, konduktivitas termal, dan difusi. Disini, molekul suatu gas ideal tidak dianggap bebas sempurna tetapi ada antar aksi ketika bertumbukan dengan molekul lain atau dengan dinding. Bentuk antar aksi yang terbatas ini diacukan sebagai antar aksi lemah atau kuasi bebas. Ruang lingkup ini tidak membahas partikel berantaraksi kuat Tidak seperti pada teori kinetik, mekanika statistik tidak membahas perincian mekanis gerak molekular, tetapi berurusan dengan segi energi molekul. Mekanika statistik sangat mengandalkan teori peluang untuk menentukan keadaan seimbang sistem. Berbicara termodinamika dan fisika statistik ini akan di jembatani oleh Termodinamika Statistik dimana

metode termodinamika statistik dikembangkan pertama kali beberapa tahun terakhir oleh Boltzmann di Jerman dan Gibbs di Amerika Serikat. Dengan ditemukannya teori kuantum, Bose, Einstein, Fermi, dan Dirac memperkenalkan beberapa modifikasi ide asli Boltzmann dan telah berhasil dalam menjelaskan beberapa aspek yang tidak dipenuhi oleh statistik Boltzmann. Pendekatan statistik memiliki hubungan dekat dengan termodinamika dan teori kinetik. Untuk sistem partikel di mana energi partikel bisa ditentukan, kita bisa menurunkan dengan statistik mengenai persamaan keadaan dari suatu bahan dan persamaan energi bahan tersebut. Termodinamika statistik memberikan sebuah penafsiran tambahan tentang konsep dari entropi. Dasar pokok bahasan fisika statistik khususnya kajian mekanika statistik yaitu merupakan kajian tentang jenis partikel tertentu dapat dibedakan antara satu dengan yang lain. Dalam statistika kuantum secara garis besar digunakan untuk menentukan probabilitas partikel dari sebuah group yang memiliki energi partikel yang similar/ sama. Suatu sistem kuantum memiliki diskritisasi energi. Dengan kata lain dapat dibedakan antara tingkat energinya dan keadaan energinya. Tingkat energi (energy level) dalam kajian ilmu fisika bisa disebut dengan keadaan energi, tetapi tingkat energi bersifat umum sedangkan keadaan energi lebih bersifat khusus pemahamannya. Tingkat energi merupakan sebuah nilai yang dihasilkan dari hubungan antara energi sebuah partikel dan panjang gelombangnya. Dengan mengetahui tingkat energi suatu atom, maka akan diketahui karakteristik dari atom tersebut. Adapun cara teori statistik yang di gunakan yaitu untuk menentukan probabiltas partikel dilakukan : a. b. c. d. Melihat semua keadaan-keadaan yang mungkin, Menentukan besarnya probilitas atau peluan keadaan yang mungkin, Partikel dibedakan, Penyisihan prisip Paulli semisal untuk integer fermion spin . Statistika kuantum adalah paradigma statistik bagi partikel atau sistem partikel yang perilaku penyusunnya harus digambarkan oleh mekanika kuantum, alih-alih mekanika klasik karena ukuran mikroskopiknya. Sebagaimana di dalam statistika klasik (statistika Maxwell-Boltzmann), pusat permasalahannya adalah mencari fungsi distribusi yang tepat untuk berbagai temperatur (melukiskan energi
3

kinetik rerata sistem gas). Meskipun demikian, mengingat fungsi distribusi di dalam mekanika statistik klasik menggambarkan jumlah partikel di dalam unsur ruang fase pada jangkau posisi dan momentum tertentu, di dalam statistika kuantum fungsi distribusi memberikan jumlah partikel di dalam grup tingkattingkat energi. Cacahan partikel yang menghuni setiap tingkat energi individual dapat satu atau dapat berlebih, tergantung pada derajat kemerosotan energi serta sifat simetri fungsi gelombang terkait dengan pertukaran partikel. Untuk fungsi gelombang antisimetrik, hanya ada sebuah partikel yang dapat menghuni sebuah keadaan, sedangkan untuk fungsi gelombang simetrik, sejumlah partikel dapat menghuni sebuah keadaan (pada saat yang sama). Berdasarkan batasan ini, terdapat dua distribusi kuantum terpisah, yaitu distribusi Fermi-Dirac untuk sistem yang digambarkan oleh fungsi gelombang antisimetrik dan distribusi BoseEinstein untuk sistem yang digambarkan oleh fungsi gelombang simetrik. Adapun dalam pembahasan ini, akan menguraikan lebih lanjut teori dan aplikasi teori statistik Bose-Einstein. A. Statistik Bose-Einstein 1.1 Sifat Dasar Boson Sifat sistem sub atomic yang tidak dapat dibedakan dapat dipahami dari konsep gelombang sistem. Panjang gelombang de Broglie sistem-sistem tersebut memenuhi dengan m massa sistem dan laju sistem.

Karena m untuk sistem sub atomic sangat kecil maka panjang gelombang cukup besar. Panjang gelombang yang besar menyebabkan fungsi gelombang dua sistem yang berdekatan menjadi tumpang tindih.Kalau dua fungsi gelombang tumpang tindih maka kita tidak dapat lagi membedakan dua sistem yang memiliki fungsi-fungsi gelombang tersebut. Kondisi sebaliknya dijumpai pada sistem klasik seperti molekulmolekul gas.massa sistem sangat besar sehingga sangat kecil. Akibatnya

tidak terjadi tumpang tindih fungsi gelombang sistem-sistem tersebut, sehingga secara prinsip sistem-sistem tersebut dapat dibedakan. Pada suhu yang sangat tinggi sistem sub atomic dapat berperilaku seperti sistem klasik. Pada suhu yang sangat tinggikecepatan sistem sangat besar sehingga panjang gelombangnya sangat kecil.Akibatnya, tumpang
4

tindih gelombang sistem-sistem menjadi hilang dan sistem menjadi terbedakan. Sistem kuantum yang akan kita bahas ada dua macam yaitu boson dan fermion.Boson adalah sistem yang memiliki spin kelipatan bulat dari . Sistem ini tidak memenuhi prinsip eksklusi Pauli sehingga satu tingkat energi dapat ditempati oleh sistem dalam jumlah berapa pun. Sebaliknya, fermion memiliki spin yang merupakan kelipatan ganjil dari . Sistem ini

memenuhi prinsip eksklusi Pauli. Tidak ada dua sistem atau lebih yang memiliki keadaan yang sama. 1.2 Konfigurasi Boson Statistik untuk menurunkan boson dinamakan statistik BoseEinstein.Untuk menentukan fungsi distribusi Bose-Einstein, kita terlebih dahulu harus menentukan konfigurasi dengan probabilitas paling

besar.Konfigurasi ini memiliki probabilitas yang jauh lebih besar daripada konfigurasi-konfigurasi lainnya sehingga hampir seluruh waktu sistem boson membentuk konfigurasi tersebut. Sifat rata-rata assembli dapat dianggap sama dengan sifat pada konfigurasi maksimum tersebut.Kita tetap membagi tingkat energi sistem-sistem dalam assembli atas M kelompok sebagai berikut : Kelompok-1 memiliki jumlah keadaan Kelompok-2 memiliki jumlah keadaan Kelompok-s memiliki jumlah keadaan Kelompok-M memiliki jumlah keadaan dan eneri rata-rata dan energi rata-rata dan energi rata-rata dan energi rata-rata

Kita akan menentukan berapa cara penyusunan yang dapat dilakukan jika : Terdapat Terdapat Terdapat Terdapat sistem di kelompok-1 sistem di kelompok-2 sistem dikelompok-s sistem di kelompok-M

Jika ditinjau kelompok-1 di mana terdapat

keadaan dan

sistem. Mari kita analogikan satu keadaan sebagai sebuah kursi dan satu sistem dianalogikan sebagai sebuah benda yang akan diletakkan dikursi tersebut. Satu kursi dapat saja kosong atau menampung benda dalam jumlah beberapa saja. Untuk menghitung jumlah penyusun benda, dapat

dilakukannya sebagai berikut :

Gambar 1.1Penyusunan benda dan kursi analog dengan penyusunan boson dalam tingkat-tingkat energi.Untuk merepresentasikan sistem boson, bagian paling bawah harus selalu kursi. Dari gambar 1.1, apa pun cara penyusunan yang dilakukan, yang berada di ujung bawah selalu kursi karena benda harus disangga oleh kursi (sistem harus menempati tingkat energi). Oleh karena itu, jika jumlah total kursi adalah maka jumlah total kursi dapat dipertukarkan dengan harga

karena salah satu kursi harus tetap di ujung bawah. Bersama dengan sistem banyak , maka jumlah total benda yang dipertukarkan dengan tetap Akibatnya,

memenuhi sifat boson adalah (

jumlah cara penyusunan yang dapat dilakukan adalah

.Karena

sistem boson tidak dapat dibedakan satu degan lainnya, maka pertukaran sesame sistem dan sesame kursi tidak menghasilkan penyusunan yang berbeda. Jumlah penyusunan sebanyak ! Secara emplisit

memperhitungkan jumlah pertukaran antara sistem dan antar kursi. Jumlah pertukaran antar sistem adalah dan pertukaran jumlah antar kursi adalah boson di

Oleh karena itu, jumlah penyusunan yang berbeda untuk dalam keadaan hanyalah

Hal yang sama berlaku untuk kelompok-2 yang mengandung keadaan dengan populasi sistem. Jumlah cara penyusunan yang berada

sistem-sistem, ke dalam keadaan-keadaan tersebut adalah

Terakhir hingga kelompok energi ke-M, jumlah cara penyusunan yang berbeda untuk sistem dalam keadaan adalah

Akhirnya jumlah total cara penyusunan yang berbeda secara bersamaan sistem dalam sistem di dalam keadaan adalah keadaan, sistem di dalam .,

Harus juga diperhitungkan jumlah cara membawa N sistem dari luar untuk didistribusikan ke dalam tingkat-tingkat energi di atas. Jumlah cara pengambilan N sistem adalah N! cara. Karena sistem tidak dapat dibedakan maka jumlah tersebut harus dibagi dengan N!,sehingga jumlah total cara membawa N sistem ke dalam tingkat-tingkat energi di dalam assembli adalah

N!/N!=1.Akhirnya, kita dapatkan jumlah penyusunan sistem-sistem dalam assembli boson adala

1.3 Konfigurasi Maksimum Selanjutnya kita akan menentukan konfigurasi dengan peluang kemunculan paling besar. Ambil logaritma ruas iri dan kanan persamaan (1.5) [ ]

Kemudian kita gunakan pendekatan Stirling untuk melakukan penyederhanaan sebagai berikut :

Dengan pendekatan tersebut maka persamaan (1.6) menjadi : [ ]

Jumlah total sistem serta energi total assembli memenuhi

Untuk assembli yang terisolasi sehingga tidak ada pertukaran sistem maupun energi antara assembli dan lingkungan.Jumlah sistem maupun energi assembli constant. Pembatasan ini dapat dinyatakan dalam bentuk diferensial berikut ini :

Konfigurasi dengan probabilitas maksimum diperoleh dengan memaksimumkan ln W. Dengan memperhatikan konstrain pada persamaan (1.8) dan (1.9) maka konfigurasi dengan probabilitas maksimum memenuhi (1.10) Selanjutnya dengan mengambil diferensial persamaan (1.7) diperoleh [

] Hitung suku per suku yang terkandung dalam persamaan (1.11) i)

[ [ ii) iii) ]

iv) [ ]

Persamaan (1.11) selanjutnya menjadi [ ] [ ]

Karena

dan

maka

sehingga

persamaan (1.12) dapat disederhanakan lebih lanjut menjadi

Subtitusikan persamaan (1.8), (1.9), dan (1.13) ke dalam persamaan (1.10) diperoleh

Atau

Kesamaan di atas harus berlaku untuk semua variasi ika bagian di dalam kurung selalu nol, yaitu [ ]

. Ini dijamin

10

Dan akhirnya ungkapan untuk jumlah populasi pada tiap-tiap tingkat energi sebagai berikut

Ternyata untuk assembli boson, parameter

juga berbentuk

Dengan demikian, bentuk lengkap fungsi Bose-Einstein untuk assembli boson adalah

1.4 Parameter

untuk foton dan fonon

Parameter

pada persamaan (1.16).ada satu kekhususan untuk

assemble foton (kuantisasi gelombng elektromagnetik) dan fonon (kuantitasi getaran atom dalam Kristal) dan ini berimplikasi pada nilai parameter Dalam suatu kotak, foton bias diserap atau diciptakan oleh atom-atom yang berada pada dinding kotak. Akibatnya, jumlah foton dalam satu assembli tidak harus tetap. Jumlah foton bias bertambah, jika atom-atom di dinding memancarkan foton dan bias berkurang jika atom-atom di dinding menyerap foton. Untuk sistem semacam ini pembatasan bahwa jumlah total sistem dalam assembli konstan sebenarnya tidak berlaku. Pada penurunan fungsi distribusi Bose-Einstein kita telah mengamsusikan bahwa jumlah sistem dalam assembli selalu tetap, yaitu . Konstrain ini dimasukkan dalam

persamaan dengan memperkenalkan faktor pengali Langrange . Oleh karena itu, agar konstrain ini tidak diberlakukan untuk assembli dengan jumlah

11

sistem tidak tetap, seperti foton dan fonon maka nilai

harus diambil nol.

Dengan nilai ini maka fungsi distribusi untuk sistem semacam ini menjadi

2.1 Radiasi Benda Hitam Teori tentang radiasi benda hitam menandai awal lahirnya mekanika kuantum dan fisika modern.Benda hitam merupakan penyerap sekaligus pemancar kalor terbaik.Benda hitam dapat dianalogikan sebagai kotak yang berisi gas foton.Jumlah foton dalam kotak tidak selalu konstan.Ada kalanya foton diserap oleh atom-atom yang berada di dinding kotak dan sebaliknya atom-atom di dinding kotak dapat memancarkan fotonn ke dalam ruang kotak. Karena jumlah foton yang tidak konstan ini maka faktor Bose-Einstein untuk gas foton adalah

Yang diperoleh dengan menggunakan Foton adalah kuantum gelombang elektromagnetik.Ekstensi foton direspresentasikan oleh keberadaan gelombang berdiri dalam kotak. Karena gelombang elektromagnetik memiliki dua kemungkinan arah osilasi (polarisasi) yang saling bebas, maka kerapatan keadaan foton dalam kotak merupakan dua kali kerapatan gelombang stasioner, yaitu :

Dengan demikian, jumlah foton dengan panjang gelombang antara adalah

sampai

12

Karena energi satu foton adalah memiliki panjang gelombang antara sampai

maka energy foton yang adalah

2.1.1

Hukum Pergeseran Wien Gambar 1.2 adalah plot E( suhu. Tampak bahwa E( sebagai fungsi pada berbagai

mula-mula naik, kemudian turun setelah . Kita dapat dab menyamakan

mencapai nilai maksimum pada panjang gelombang menentukan dengan | dengan mendiferensial E( terhadap

Gambar 1.2Spektrum radiasi benda hitam pada berbagai suhu

13

Berdasarkan persamaan (1.20) maka

Untuk memudahkan diferensial persamaan (1.22) persamaan diatas kita misal ( . Dengan pemisalan tersebut maka dapat ditulis )

Agar terpenuhi ( )

maka pada persamaan 1.24 harus memenuhi

Jika didiferensiasi secara seksama akan dapat hubungan berikut

Nilai x pada persamaan (1.26)dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Jika menggunakan instruksi Wolfram Research, maka solusi untuk x yang memenuhipersamaan 91.26) adalah 0,194197. Dengan demikian, memenuhi hubungan

14

Atau

dengan menggunakan nilai konstanta k=1,38x x , dan maka kita peroleh

h= 6,625

Gambar 1.3 Spektrum energi radiasi matahari berdasarkan hasil pengukurandan prediksi dengan persamaan radiasi matahari (gari).

15

Gambar 1.4 Warna bintang menunjukan suhu bintang. Semakain menuju kewarna biru suhu bintang semakin tinggi. Sebaliknya suhu bintang semakin rendah apabila menuju ke warna merah. Persamaan (1.28) tidak lain daripada ungkapan hukum pergeseran Wien. Hukum ini menjelaskan hubungan antara suhu benda dengan gelombang dan intensitas maksimum yang dipancarkan benda tersebut.Makin tinggi suhu benda maka makin pendek gelombang yang dipancarkan benda tersebut, atau warna benda bergeser kea rah biru.Ketika pandai besi memanaskan logam maka warna logam berubah secara terus menerus dari semula merah, kuning, hijau dan selanjutnya ke birubiruan.Ini akibat suhu benda yang semakin tinggi.Hukum pergeseran Wien telah dipakai untuk memperkirakan suhu benda berdasarkan spectrum elektromagnetik yang dipancarkan.Energi yang dipancarkan benda diukur pada berbagai panjang gelombang.Kemudian intensitas tersebut diplot terhadap panjang gelombang sehingga diperoleh selanjutnya diterapkan pada hukum pegeseran Wien guna memprediksi suhu benda.Pada astronom memperkirakan suhu bintang-bntang, berdasarkan spectrum energy yang dipancarkan oleh bintang-bintang tersebut.

16

2.1.2

Persamaan Stefan-Boltzmann Sebuah benda hitam memancarkan gelombang,

elektromagnetik pada semua jangkauan frekuansi dari nol sampai tak berhingga.Hanya intensitas gelombang yang dipancarkan berbedabeda.Ketika panjang gelombang menuju nol, intensitas yang dipancarkan menuju nol. Juga ketika panjang gelombang menuju tak berhingga, intensitas yang dipancarkan juga menuju tak berhingga. Intensitas gelombang yang dipancarkan mencapai maksimum pada saat .

Energy total yang dipancarkan oleh benda hitam diperoleh dengan mengintegralkan persamaan (1.20) dari panjang gelombang nol sampai tak berhingga, yaitu

Untuk menyelesaikan persamaan integral (1.29) misalkan . Dengan pemisalan tersebut maka diperoleh ungkapanungkapan berikut ini :

Syarat batas yang berlaku bagi y. saat saat menjadi

maka y=~ dan

maka y=0. Dengan demikian, dalam variable y integral (1.29)

17

) (

Persamaan (1.30) merupakan kerapatan energy foton di dalam kotak. Hubungan antara kerapatan energy yang diradiasi dengan energy foton dalam kotak adalah ( )

Persamaan (1.31) sangat mirip dengan persamaan Stefan-Boltzman. Jadi pada persamaan (1.31) kita dapat menyamakan ( )

Dengan menggunakan instruksi matematika sederhana kita dapatkan

Selanjutnya dengan memasukkan nilai konstanta-konstanta lain kita dapatkan nilai konstanta Stefan-boltzman.

18

2.1.3

Cosmic Microwave Background (CMB) Salah satu gejala penting sebagai hasil peristiwa Big bang adalah keberadaan radiasi yang bersifat isotropic (sama ke segala arah) di alam semesta dalam panjang gelombang mikro. Gejala ini selanjutnya dikenal dengan icosmic microwave background (CMB). Radiasi ini benar-benar isotropic.Penyimpangan dari sifat isotropic hanya sekitar seper seribu.Dua astronom muda, Arno Penzias dan Robert Wilson yang pertama kali mengidentifikasi gejala ini tahun 1965 dengan menggunakan antene horn yang dikalibrasi dengan teliti.Dengan anggapan bahwa alam semesta berupa benda hitam sempurna dan setelah dilakukan pengukuran yang teliti intensitas radiasi gelombang mikro ini pada berbagai panjang gelombang yang mungkin, selanjutnya hasil pengukuran di-fit dengan persamaan radiasi benda hitam (1.4) disimpulkan bahwa suhu rata-rata alam semesta sekarang adalah 2,725 K.

Gambar 1.5CMB dengan persamaan radiasi benda hitam

19

Gambar 1.6Variasi suhu alam semesta berdasarkan posisi Ada sekitar variasi suhu pada arah yang berbeda seperti ditunjukkan dalam gambar diatas. Bagian berwarna merah sedikit lebih panas dan bagian berarna biru sedikit lebih dingin dengan penyimpangan 0,0002 derajat. 2.2 Kapasitas kalor Kristal Dalam Kristal-kristal atom bervibrasi.Jika diselesaikan dengan mekanika kuantum maka energy vibrasi atom-atom dalam Kristal terkuantisasi. Kuantisasi getaran atom tersebut disebut fonon. Energy fonon dengan bilangan kuantum n adalah . Karena jumlah

fonon tidak konstan maka fungsi distribusi untuk fonon diperoleh dengan mengambil . Fungsi distribusi tersebut persis sama dengan fungsi

distribusi untuk foton. Karena frekuensi fonon umumnya merupakan fungsi bilangan gelombang, , maka secara umum energy toal yang dimiliki fonon dalam Kristal dapat ditulis
[ ]

20

Jika fonon memiliki sejumlah polarisasi dan polarisasi kep memiliki frekuensi maka energy total fonon setelah

memperhitungkan polarisasi tersebut adalah

] dilakukan engan asumsi bahwa adalah

Penjumlahan terhadap integer. Tetapi jika

adalah variable kontinu maka penjumahan terhadap

dapat diganti dengan integral dengan melakukan transformasi berikut ini

Tetapi karena integral terhadap transformasi

merupakan fungsi

maka kita dapat mengubah dengan melakukan

menjadi integral terhadap

Akhirnya kita dapat menulis menulis ulang persamaan (1.34) menjadi

Dari definisi energy dalam persamaan (1.37) maka kita dapat menentukan kapasitas panas yang didefinisikan sebagai berikut

21

Untuk menyederhanakan persamaan (1.38) mari kita lihat suku diferensial dalam persamaan tersebut. Untuk mempermudah kita misalkan . Dengan pemisalan tersebut maka

[ { [ [

] }

] ]

Dengan demikian, kapasitas kalor dapat ditulis { [ [ [ [ ] ] ] ] }

2.2.1 Model Einstein Untuk mencari kapasitas kalor Kristal, Einstein mengusulkan model bahwa semua fonon berisolasi dengan frekuensi karakteristik yang sama, dengan asumsi ini maka dapat ditulis

Di mana

merupakanfungsi data dirac. Dengan model ini kita

dapatkan kapasitas kalor Kristal untuk satu macam polarisasi saja sebesar [ [ ] [ [ ] ] ]

22

[ [ ]

Untuk Kristal 3 dimensi, terdapat tiga arah polarisasi fonon yang mungkin (arah sumbu x, y, dan z).dengan menganggap bahwa ke tiga polarisasi tersebut memberikan sumbangan energy yang sama besar maka kapasitas kalor total menjadi tiga kali dari yang tampak dalam persamaan (1.41), yaitu menjadi * ( * + + ) dan T ] .dalam

Tinjau kasus-kasus khusus, yaitu ketika T kondisi T * maka exp [ ]

sehingga exp [

+ akibatnya * ( Perhatikan * + +) suku pembilang danpenyebut pada persamaan

(1.43).jika T * [ + ]

maka suku penyebut

dan suku pembilang

sehingga kita dapat mengaproksimasi

Dengan aproksmasi ini maka persamaan (1.42) dapat ditulis menjadi * ( * + + )

23

Dengan

bilangan Avogadro, n jumlah mold an R=

konstanta

gas umum. Hasil ini persis sama dengan teori klasik dari dulong-petit bahwa kapasitas kalor persatuan mol semua padatan adalah konstan, yaitu 3R. Gambar 1.7 adalah perbandingan hasil pengamatan kapasitas kalor intan (symbol) dan prediksi dengan model Einstein. Terdapat kesesuaian yang baik antara prediksi model tersebut dengan pengamatan, khususnya nilai kapasitas kalor yang menuju nol jika suhu menuju nol dan nilai kapasitas kalor menuju konstanta dulong-petit pada suhu tinggi.

Gambar 1.7Kapasitas panas intan yang diperoleh dari pengamatan (simbol) dan prediksi menggunakan model kapasitas panas Einstein. Model Einstein dapat menjelaskan dengan baik kebergantugan kapasitas panas terhadap suhu. Sesuai dengan pengamatan experiment bahwa pada suhu menuju nol kapasitas panas menuju nol dan pada suhu tinggi kapasitas panas menuju nilai yang diramalkan Dulong-petit.Akan tetapi, masih ada sedikit penyimpangan antara data eksperimen dengan ramalan Einstein.Pada suhu yang menuju nol, hasil eksperimen memperlihatkan bahwa kapasitas panas berubah sebagai fungsi kubik

24

9pangkat tiga) dari suhu, bukan seperti pada persamaan (1.42).oleh karena itu perlu penyempurnaan pada model Einstein untuk mendapatkan hasil yang persis sama dengan eksperimen. 2.2.2 Model Debeye Salah satu masalah yang muncul dalam model Einstein adalah asumsi bahwa semua fonon bervibrasi dengan frekuensi yang sama. Tidak ada justifikasi untuk asumsi ini.Asumsi ini digunakan semata-mata karena kemudahan mendapatkan solusi.Oleh karena itu hasil yang lebih tepat diharapkan muncul jika dianggap frekuensi fonon tidak seragam.Asumsi ini digunakan oleh Debeye untuk membangun teori kapasitas panas yang lebih teliti. Namun, sebelum masuk ke teori Debeye kita akan terlebih dahulu membahas kerapatan keadaan untuk kisi dalam usaha mencari ekspresi yang tepat untuk Frekuensi getaran kisi dalam Kristal secara umum tidak konstan, tetapi bergantung pada bilangan gelombang. Persamaan yang menyatakan kebergantungan frekuensi dengan bilangan gelombang dinamakan persamaan dispersi, . Dari persamaan dispersi tersebut dapat

diturunkan persamaan kerapatan keadaan sebagai berikut

Kebergantungan

terhadap

kadang sangat kompleks. Sebagai

contoh, untuk Kristal satu dimensi, kita peroleh persamaan dispersi [ ] , dengan m massa atom, C konstanta pegas getaran

kisi, dan a jarak antar atom dalam kisi (periodisitas). Namuun, jika sangat kecil, atau panjang gelombang yang besat ( dapatkan sebuah persamaan aproksimasi , jika

25

Dengan

disebut kecepatan grup. Dalam membangun model

kapasitas panas, Deybe mengambil asumsi sebagai berikut : i. Frekuensi getaran kisi memenuhi persamaan dispersi yang boleh dimiliki fonon dalam .

ii. Ada sebuah frekuensi maksimum,

kristal sehingga tidak ada fonon yang dimiliki frekuensi di atas Dari persamaan dispersi (1.46) kita dapatkan bahwa untuk , dan

sehingga kerapatan keaadaan pada persamaan . Akhirnya jika gabung dengan asumsi

(1.45) menjadi

kedua tentan adanya frekuensi maksimum getaran fonon diperoleh ungkapan umum untuk kerapatan keadaan sebagai berikut :

Gambar 1.8Kurva kerapatan keadaan sebagai fungsi pada model Einstein dan Debeye

26

Perbedaan kurva kerapatan keadaan sebagai fungsi pada model Einstein dan Deybe diperlihatkan pada gambar 1.8. Berapa nilai model Debye? Untuk menentukan pada

kita kembali pada defenisi bahwa

adalah jumlah keadaan per satuan frekuensi. Karena frekuensi maksimum fonon adalah maka integral dari frekuensi 0 sampai

memberikan jumlah total keadaan yang dimiliki fonon, dan itu sama dengan jumlah atom, N . Jadi,

Yang memberikan ungkapan untuk frekuensi maksimum

Untuk kemudahan mari kita didefenisikan suhu Debye, berdasarkan hubungan ini

Dengan definisi di atas didapatkan

Kita asumsikan bahwa kapasitar kalor kisi yang dihasilkan oleh tiap polarisasi fonon sama besarnya. Karena terdapat tiga polarisasi

27

getaran yang mungkinan maka penjumlahan terhadap indeks

dalam

persamaan (1.39) mengahasilakan tiga kali nilai per polarisasi. Akibatnya, tanda sumasi dapat diganti dengan tiga dan kita peroleh kapasitas panas yang disumbangkan oleh semua polarisasi menjadi,

Untuk menyelesaikan integral pada persamaan (1.51) kita misalkan . Dengan permisalan tersebut maka

Selanjutnya, syarat batas untuk x ditentukan sebagai berikut. Jika maka dan jika maka .

Dengan demikian, bentuk integral untuk kapasitas panas menjadi

28

Berdasarkan definisi atau

pada persamaan (1.50) maka dapat ditulis . Subtitusikan hubungan

ini ke dalam persamaan (1.52) maka diperoleh ungkapan kapasitas kalor dalam bentuk yang lebih sederhana sebagai berikut

Selanjutnya integral tidak bergantung lagi pada T dan hasil integral adalah sebuah bilangan. Jika menggunakan program Mathematic, maka diperoleh hasil integral pada persamaan (1.53) adalah

Dengan demikian, untuk T ( )

diperoleh

Dengan

Persamaan

(1.56)

sangat

sesuai

dengan

hasil

eksperimen.Sebaliknya, untuk (1.52) dapat diaproksmasi diaproksimasi sehingga

maka penyebut pada persamaan dan pada pembilang dapat

29

Yang juga persis sama dengan ramalan Dulong-Petit.

Gambar 1.9 Kapasitas kalor argon padat diukur pada suhu jauh di bawah suhu Debeye. Garis adalah hasil perhitungan menggunakan teori Debeye (kittel, hal 125) Gambar diatas adalah hasil pengukuran kapasitas panas argon padat (titik-titik) beserta kurva yang diperoleh menggunakan model Deybe. Tampakbahwa ramalan Deybe tentang kebergantungan kapasitas kalor pada pangkat tiga suhu sangat sesuai dengan hasil pengamatan. Teori Deybe dan Einstein hanya berbeda pada suhu rendah. Pada suhu agak tinggi, kedua teori tersebut memprediksi hasil yang sangat mirip dan pada suhu yang sangat tinggi ke dua teori memberikan prediksi yang sama persis sama dengan hukum Dulong-Petit.

30

2.3 Kondensasi Bose-Einstein

Gambar 1.10Salah satu hasil pengukuran yang membuktikan fenomena kondensasi Bose-Einstein. Kita kembali melihat bentuk fungsi distribusi Bose-Einstein. Jumlah sistem yang menempati keadaan dengan energi adalah pada suhu T

Tampak jelas dari ungkapan di atas bahwa pada suhu yang sangat rendah sistem-sistem akan terkonsentrasi di keadaan-keadaan dengan energi sangat rendah. Jika T maka jumlah sistem yang menempati

tingkat energi paling rendah, tingkat energi kedua, ketiga, dan seterusnya makin dominan. Jumlah sistem yang menempati keadaan-keadaan dengan nilai energi tinggi makin dapat diabaikan. Hampir semua sistem akan berada pada tingkat energi terendah jika suhu didinginkan hingga dalam orde . Gambar diatas memperlihatkan evolusi populasi boson pada

tingkat energi terendah (bagian tengah kurva). Pada suhu T<<Tc hampir semua boson berada pada tingkat energi paling rendah.

31

Namun, ada fenomena yang menarik di sini. Ternyata untuk boson, keadaan dengan energi terendah dapat ditempati oleh sistem dalam jumlah yang sangat besar pada suhu yang jauh lebih tinggi dari kata lain, boson tidak perlu menunggu suhu serendah Dengan untuk

mendapatkan sistemdalam jumlah yang sangat besar pada tingkat energi terendah. Pada beberapa material, seperti helium, jumlah sistem yang sangat besar pada tingkat energi terendah dapat diamati pada suhu setinggi 3K. Jadi terjadi semacam kondensasi boson pada suhu yang jauh lebih tinggi dari prediksi klasik. Fenomena ini dikenal dengan kondensai BoseEinstein. 2.3.1 Kebergantungan Potensial Kimia Pada Suhu Mari kita tengok kembali fungsi distribusi Bose-Einstein. Untuk mudahnya kita gunakan skala energi sehingga tingkat terendah memiliki energi Populasi keadaan dengan tingkat energi sembarang

diberikan oleh persamaan (1.53). Jumlah populasi yang menempati tingkat energi terendah ( adalah

( Pada suhu T

hampir semua sistem menempati keadaan dengan

energi terendah. Dengan demikian, jumlah populasi pada tingkat ini memiliki orde kira-kira sama dengan jumlah total sistem, atau

Karena nilai N sangat besar (dalam orde penyebut pada 1/[ 1/[ Nilai [

maka ketika T

] harus menuju nol. Jika tidak maka

] tidak akan menghasilkan nilai N yang snagat besar. ] akan menuju nol hanya jika menuju satu. . Jadi

Dari sifat fungsi eksponensial bahwa

[ ] mendekati 1 jika x

32

disimpulan bahwa pada T aproksimasi ( )

akan berlaku

maka dapat dilakukan

Jadi dapat diaproksimasikan sebagai berikut ini

Atau

Hubungan pada persamaan (1.57) menyatakan bahwa pada suhu T menuju 0 maka berharga negatif dan merupakan fungsi linear dari suhu. maka .

Sebagai ilustrasi, pada T=1 K dan N=

Ini adalah nilai yang sangat kecil. Bahkan nilai ini jauh lebih kecil daipada jarak antar dua tingkat energi terdekat dalam assembli atom helium di alam kubus dengan sisi 1 cm. Kebergantungan menyebabkan peristiwa kondensasi Bose-Einstein. Agar lebih memahami fenomena kondensasi Bose-Einstein, perhatikan sistem-sistem yang berada dalam kubus dengan sisi L. Tingkattingkat energi yang dimiliki assembli memenuhi ( ) ( ) , pada suhu itulah yang

Tingkat energi terendah bersesuaian dengan yaitu ( ) Salah satu tingkat energi berikutnya bersesuaian dengan yaitu,

33

( ) Selisih tingkat energi terendah dan tingkat energi berikutnya adalah ( ) Jika assembli tersebut adalah atom helium dalam kubus dengan sisi 1 cm makan .

Apabila kita prediksi populasi sistem pada tingkat energi eksitasi pertama dan tingkat energi terendah dengan menggunakan statistik Maxwell-Boltzman adalah

Pada suhu T = 1 mK maka


( )

Hasil diatas berarti bahwa pada suhu 1 mk, tingkat energi terendah dan eksitansi pertama memiliki populasi yang hampir sama. Namun, dengan statistik Bose-Einstein didapatkan hasil yang sangat berbeda. Dnegan asumsi N= dan suhu T= 1 mK maka kita peroleh

Jumlah populasi yang menempati tingkat energi eksitasi pertama (tepat di atas tingkat energi paling rendah) adalah

Karena maka

maka

. Lebih lanjut, mengingat | |

. Dengan demikian

34

Dengan demikian, fraksi sistem pada tingkat energi eksitasi pertama adalah

Tampak bahwa fraksi sistem pada tingkat energi eksitasi pertama amat kecil. Ini berarti bahwa sebagian besar sistem berada pada tingkat energi terendah. 2.3.2 Suhu Kondensasi Einstein Kerapatan keadaan kuantum untuk sistem dengan spin nol dapat ditulis dengan ( )

Pada suhu T menuju 0 sebagian sistem menempati tingkat energi terendah dengan jumlah yang sangat signifikan. Jumlah total sistem dalam assembli dapat ditulis

Dengan dan

adalah jumlah sistem pada tingkat energi terendah dan jumlah total sistem yang menempati

tingkat-tingkat energi lainnya.

35

Dengan mengambil skala energi tingkat energi terendah dapat ditulis

maka jumlah sistem pada

Jumlah sistem yang menempati semua tingkat energi lainnya adalah ( )

Misalkan E/kT=x. Dengan demikian ( )

Selanjutnya integralnya dapat ditulis

Akhirnya didapatkan ( ) (1.62) Dengan dinamakan konsentrasi kuantum. sebagai suhu

Kita definisikan suku kondensasi Bose-Einstein,

ketika jumlah sistem pada keadaan terkesitasi persis sama dengan jumlah total sistem. Jadi pada T= terpenuhi . Dengan menggunakan
36

persamaan (1.62) didapatkan bahwa pada suhu kondensasi Bose-Einstein terpenuhi ( Yang memberikan ( ) )

Gambar 1.11Fraksi superfluida (sistem yang menempati keadaan dasar) dan fluida normal (sistem yang menempati keadaan eksitasi) dalam assembli boson sebagai fungsi suhu ketika suhu berada di bawah suhu kondensasi Bose-Einstein. Pada sembarang suhu yang mendekati nol derajat, fraksi jumlah sistem pada keadaan tereksitasi adalah ( )

Berarti pula bahwa fraksi jumlah sistem pada keadaan paling rendah adalah

37

Gambar 1.11 adalah fraksi boson yang mempunyai keadaan energi terendah dan boson yang menempati keadaan terkesitasi sebagai

fungsi suhu. Boson yang terkodensasi membentuk fase yang dinamakan superfluida dan boson yang menempati keadaan tereksitasi dinamakan fluida normal. Superfluida hanya dijumpai ketika suhu . lebih rendah dari

38

CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN 1. Perlihatkan menggunakan definisi entropi bahwa Penyelesaian : Entropi, secara mikroskopik didefinisikan sebagai !

Variasi kecil, menggunakan variasi ( )

Karena itu, derivative terhadap energi dalam hubungan

Memberikan

Dengan menggunakan batasan

dan

Maka

39

Dan

Sedangkan

Yang berarti pada volume tetap

Dengan demikian

Atau

40