DRAFT

PEDOMAN
PERENCANAAN SERTIFIKASI TENAGA SANITARIAN

Untuk: Tenaga Sanitarian

PUSAT STANDARDISASI, SERTIFIKASI DAN PENDIDIKAN BERKELANJUTAN SDM KESEHATAN BADAN PPSDM KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI

KATA PENGANTAR
Pelaksanaan Sertifikasi Tenaga Kesehatan merupakan salah satu wujud implementasi dari Permenkes No 161 tahun 2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Sejak terbentuknya Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Salah satu tahapan pembangunan yang tercantum didalam

Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 adalah memantapkan penataan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan meningkatkan kualitas SDM. Untuk menjamin mutu/ kualitas lulusan setiap tenaga kesehatan, termasuk tenaga kesehatan asing yang akan bekerja di Indonesia, Kementerian Kesehatan selaku user berhak mengawal mutu tenaga kesehatan melalui sertifikasi. Sertifikasi adalah sebuah proses pengakuan terhadap kompetensi tenaga kesehatan melalui uji kompetensi. Hal ini sejalan dengan Permenkes No. 161/MENKES/PER/I/2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan yang menyatakan bahwa Setiap Tenaga Kesehatan yang akan menjalankan pekerjaan keprofesiannya wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) . Untuk memperoleh STR yang dimaksud tenaga kesehatan harus melampirkan sertifikat kompetensinya yang didapatkan dari uji kompetensi. Kondisi yang ada saat ini proses sertifikasi bagi tenaga kesehatan Indonesia belum terstandar, sehingga perlu adanya perencanaan tentang jumlah tenaga kesehatan yang belum tersertifikasi, pelaksana sertifikasi, tempat maupun anggaran bagi pelaksanaan sertifikasi tenaga kesehatan di Indonesia. Bertitik tolak terhadap hal tersebut perlu disusun sebuah pedoman perencanaan sertifikasi bagi tenaga kesehatan.

Profesionalisme tenaga sanitarian / ahli kesehatan lingkungan ditunjukkan dan dibuktikan dengan perilaku tenaga sanitarian / ahli kesehatan lingkungan yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standard profesi, bertanggung jawab dan bertanggung gugat serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Untuk menjamin kualitas pelayanan sanitarian tersebut diperlukan sistem regulasi melalui mekanisme uji kompetensi. Dalam era globalisasi tuntutan mutu pelayanan kesehatan

lingkungan juga tidak dapat dielakkan lagi. Karena pada era globalisasi memberi peluang terjadinya persaingan kualitas pelayanan kesehatan oleh berbagai jenis tenaga kesehatan lingkungan dari dalam dan luar negeri. Oleh karena itu sanitarian/ ahli kesehatan lingkungan harus mampu bersaing dengan profesi sanitarian/ ahli kesehatan lingkungan negara lain. Profesi Sanitarian di Indonesia saat ini telah memiliki standard profesi sanitarian / ahli kesehatan lingkungan sebagai pedoman standarisasi bagi profesi sanitarian / ahli kesehatan lingkungan. Standar profesi ini dapat dipakai sebagai acuan untuk menilai bagaimana kemampuan unjuk kerja seorang Sanitarian/Ahli kesehatan lingkungan. Hasil uji akan menjadi bukti seberapa jauh penguasaan teori dan praktek serta pengalaman yang dimiliki oleh seorang Sanitarian sekaligus pengakuan tertulis atas kompetensinya di bidang Kesehatan Lingkungan. Untuk pengakuan kompetensi seorang Sanitarian sebagai indikator tingkat profesionalitasnya, harus dilakukan uji kompetensi. Agar uji kompetensi bisa dilaksanakan maka diperlukan Pedoman Perencanaan Uji Kompetensi Tenaga Sanitarian yang mengatur tentang jumlah tenaga

Sanitarian yang belum tersertifikasi, pelaksanaan sertifikasi, tempat maupun anggaran bagi pelaksanaan sertifikasi tenaga Sanitarian di Indonesia. 1.2. Tujuan

Tujuan pedoman ini adalah: 1. Sebagai acuan dalam perencanaan sertifikasi tenaga Sanitarian

2. Sebagai acuan pelaksanaan sertifikasi bagi Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia
3. Tersedianya pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan uji kompetensi sanitarian/ahli kesehatan lingkungan

1.3.

Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); 3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

6. Peraturan Menteri Kesehatan No.1144 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kesehatan.

Tahun 2010 Kementerian

7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/SK/X/2008 tentang Pedoman Teknis Pembagian Urusan Pemerintahan Biang Kesehatan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 8. Peraturan Menteri Kesehatan 161/MENKES/PER/I/2010 tentang Registrasi Kesehatan.
9. Keputusan Menteri Penertiban Aparatur

Nomor Tenaga
RI

Negara

No.19/Kep/MPAN/II/2000 tentang Jabatan Fungsional Sanitarian dan Angka Kreditnya 10. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 373/ MENKES/SK/ III/ 2007 tentang standar profesi sanitarian

1.4.

PENGERTIAN

Beberapa pengertian yang ada dalam pedoman ini, sebagai berikut :
1. Sanitarian adalah seseorang yang telah lulus dari institusi pendidikan Kesehatan Lingkungan yang diakui oleh Pemerintah di dalam maupun di luar negeri dan memiliki kompetensi, memenuhi kualifikasi untuk di register, sertifikasi dan atau secara syah mendapat lisensi untuk menjalankan izin kerja sanitarian. 2. Sertifikasi adalah proses pengakuan terhadap kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) tenaga kesehatan melalui uji kompetensi. (difinisi tersendiri)

2. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

3. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. 4. Uji Kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi. 5. Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi seseorang tenaga kesehatan untuk dapat menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesinya di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi. 6. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap tenaga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesinya. 7. Surat Tanda Registrasi, selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga kesehatan yang diregistrasi setelah memiliki sertifikat kompetensi. 8. Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, selanjutnya disingkat MTKI adalah lembaga yang berfungsi untuk menjamin mutu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan. 9. Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi, selanjutnya disingkat MTKP adalah lembaga yang melaksanakan uji kompetensi di daerah dalam rangka proses registrasi. 10. Menteri adalah menteri yang lingkup tanggung jawabnya di bidang kesehatan. tugas dan

11. Kepala Badan adalah Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan.

BAB II POKOK-POKOK DAN STRATEGI PERENCANAAN SERTIFIKASI TENAGA SANITARIAN
2.1. POKOK-POKOK PEDOMAN SERTIFIKASI TENAGA SANITARIAN PERENCANAAN

Memperhatikan dasar-dasar hukum, perubahan regulasi dalam proses sertifikasi tenaga kesehatan serta adanya lembaga pelaksana sertifikasi tenaga kesehatan ( MTKI dan MTKP ) maka fungsi pedoman perencanaan sertifikasi menjadi sangat penting bagi perencanaan sertifikasi tenaga Sanitarian, pelaksana sertifikasi dan bagi Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia dalam menjalankan tugasnya. Secara garis besar pedoman perencanaan sertifikasi tenaga Sanitarian meliputi : 1. Perencanaan Tenaga lakukan sertifikasi. Sanitarian yang akan di

Perencanaan Tenaga Sanitarian pada kelompok ini ditujukan pada jumlah tenaga Sanitarian yang akan disertifikasi dan penguji uji kompetensi serta tenaga pengelola sertifikasi. 2. Perencanaan Penggunaan Standar Kompetensi. Perencanaan penggunaan standar kompetensi dimaksudkan untuk menentukan standar kompetensi yang akan digunakan dalam uji kompetensi tenaga Sanitarian dan pengembangannya. 3. Perencanaan Metode Sertifikasi. Perencanaan metode sertifikasi dimaksudkan untuk menentukan metode dan materi uji yang akan digunakan dalam uji kompetensi tenaga Sanitarian 4. Perencanaan sarana prasarana, sistem informasi dan sistem manajemen mutu sertifikasi. Dimaksudkan untuk mengatur kebutuhan sarana dan prasarana serta system informasi dan system manajemen mutu sertifikasi tenaga Sanitarian 5. Perencanaan anggaran/ dalam sertifikasi. biaya yang dibutuhkan

Perencanaan anggaran diimaksudkan untuk mengatur kebutuhan biaya yang dibutuhkan mulai dari persiapan , pelaksanaan dan evaluasi sertikasi tenaga Sanitarian, Pelaksanaan sertifikasi melibatkan berbagai fihak terkait baik di pusat maupun daerah. Secara garis besar perencanaan perlu dilakukan di : 1. Perencanaan di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia baik di Pusat maupun di daerah. 2. Perencanaan di Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP). 3. Perencanaan di Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI).

2.2. STRATEGI PERENCANAAN SERTIFIKASI TENAGA SANITARIAN Dalam pedoman perencanaan sertifikasi tenaga Sanitarian perlu memperhatikan : 1. Rencana kebutuhan tenaga Sanitarian yang akan di sertifikasi, disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan baik kebutuhan local, nasional maupun global sekarang dan yang akan datang. 2. Pelaksanaan sertifikasi tenaga Sanitarian diselenggarakan secara merata, serasi, seimbang dan selaras oleh pemerintah, masyarakat dan dunia usaha baik ditingkat pusat maupun tingkat daerah. Pelaksanaan sertifikasi tenaga kesehatan oleh pemerintah diselenggarakan melalui pendelegasian wewenang yang proporsional dari lembaga pelaksana sertifikasi pusat kepada lembaga pelaksana sertifikasi di daerah. 3. Penyusunan perencanaan sertifikasi berdasarkan kepada upaya memantapkan penataan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui peningkatan kualitas SDM yang tercantum didalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 – 2014.

BAB III PENDEKATAN PERENCANAAN SERTIFIKASI TENAGA SANITARIAN
Upaya peningkatan mutu Sanitarian harus terus menerus dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai cara. Salah satunya Sanitarian dengan melalui uji uji kompetensi dapat sendiri agar sangat uji kompetensi Kualitas tergantung kompetensi. Penjaminan mutu menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk menghasilkan lembaga uji kompetensi bagi sanitarian yang mandiri, kuat, terpercaya dan berwibawa. Oleh karena itu, lembaga ini harus secara terus-menerus dan berkesinambungan melakukan kajian, telaahan dan evaluasi untuk mencapai kinerja unggul. Lembaga uji kompetensi yang mandiri, kuat, dan berwibawa mutlak diperlukan dalam melaksanakan proses pengujian dan sertifikasi untuk memberikan pencitraan positif kepada masyarakat dan kalangan dunia usaha/industri, sehingga lulusan institusi kesehatan lingkungan selain memiliki daya saing, juga peluang untuk mampu bekerja mandiri dan profesional atau diterima di pasar kerja lebih besar. Adapun hal-hal yang terkait dalam perencanaan kompetensi, sebagai berikut: A. Standar Kompetensi Standar kompetensi Sanitarian merupakan standar bagian dari uji benar-benar kompetensi yang terwujud.

pelaksanaan

lembaga

melakukan

profesi Sanitarian , digunakan sebagai acuan

dalam membuat dan mengembangkan materi uji dalam pelaksanakan uji kompetensi., standar kompetensi berlaku secara Nasional & internasional atau didasarkan atas peraturan perundangan yang berlaku. Menginventarisasi data tentang Peserta, sarana / prasarana, biaya, Penguji untuk pelaksanaan sertifikasi yang menggambarkan kondisi saat ini sebagai dasar dalam perencanaan sertifikasi. Menyusun perencanaan sertifikasi yang meliputi semua komponen yang perlu disiapkan dalam sertifikasi.

BAB IV LANGKAH – LANGKAH PERENCANAAN SERTIFIKASI TENAGA SANITARIAN
4. 1 KONDISI SAAT INI 4.1.1. Gambaran Lingkungan Indonesia Himpunan Ahli Kesehatan

adalah organisasi profesi sebagai wadah pemersatu dan pembina profesional kesehatan lingkungan yang secara khas beragam dan berjenjang dari latar belakang pendidikan, lapangan kerja, posisi, peran dan jalur peminatan menjadi satu kesatuan jejaring fungsional dengan keahlian kesehatan lingkungan. memiliki tujuan meningkatkan daya dan hasil guna para anggotanya dalam mengabdikan keprofesionalannya serta meningkatkan dan mengembangkan kesehatan lingkungan agar lebih berdaya bagi peningkatan profesi dan pembangunan kesehatan lingkungan untuk kesejahteraan. dibentuk dan didirikan pada tanggal 12 April 1980, dengan sadar dan keinginan luhur yang didasari oleh ilmu, ketrampilan dan sikap yang dimiliki untuk mewujudkan tujuan tersebut, sebagai pengembangan dan perubahan organisasi Ikatan Kontrolir Kesehatan Indonesia (IKKI) yang didirikan pada tanggal 5 September 1955. Saat ini baru ada 20 Pengurus Daerah sebagai organisasi profesi, para anggotanya dilandasi oleh kemampuan dan ketrampilan di bidang ilmu dan seni kesehatan lingkungan dalam upaya mengembangkan budaya perilaku hidup sehat dan pengelolaan lingkungan yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera sesuai dengan harkat dan martabat manusia. keanggotaannya bersifat stelsel aktif dengan berbagai latar belakang jenis dan jenjang pendidikan kesehatan lingkungan dan yang terkait, yang menjalankan profesinya

di bidang kesehatan lingkungan dan atau peduli terhadap pengelolaan lingkungan baik di lingkungan pemerintah maupun non pemerintah. dii lingkungan pemerintah/sektor kesehatan, anggotanya yg berminat menjadi tenaga fungsional dikembangkan sesuai kompetensinya sebagai tenaga fungsional dengan sebutan Sanitarian, terdiri dari Sanitarian Trampil (pelaksana), Sanitarian Ahli (Pelaksana Lanjut, Pengelola, Penyidik) dan Sanitarian Spesialist (Pendidik, Peneliti, Penyidik lanjut)

Struktur Organisasi teridi dari Ketua Umum dan bidang – bidang sebagai berikut : Susunan Pengurus Pusat HAKLI periode 2011 – 2015 adalah sbb; Dewan Pertimbangan Ketua : Drs. Sulistiono, SKM, M.Sc [ Kapusdiklat aparatur ] Sekretaris : Sugiharto, M.Sc Anggota 1. Ahmad Djohari, SKM, MM 2. Mudjiharto, SKM, MM 3. Dede Anwar Musadat, SKM, M.Kes 4. Drs Zulkarnain Kasim SKM,MBA 5. Drs Abdurahman MPH 6. Raizeki, SKM MM 7. DR. Margani, Dipl. SE. M.Sc 8. Imran Muchtar, MBA Ketua Umum : DR. Wisnu Hidayat, M.Kes Ketua I : Subardan Rochmat, M.Si, Dipl. EST Ketua II : Hari Purwanto, SKM, M.Kes

SekJend : Kusrini Wulandari SKM.,MKes Wakil SekJend : Syamsul Ariffin, SKM, M. Epid

Bendahara : Siti Kusumawati SKM.,MIS Wakil Bendahara : Catur Puspawati ST, MKM

Departemen Pengembangan Profesi dan Organisasi Ketua : Soedjono Soenhaji SKM., Dipl Est : Tugiyo SKM.,MSi

Sekretaris Anggota :

1. Indariwati SKM.,MM 2. Moch Ichsan Sujarno, SKM, M.Epid 3. Eko Budi Yunihasto SKM, M.Kes 4. Wakhyono Budianto, SKM, M.Si Departemen pengembangan Kemitraan, Hukum, Humas Ketua : Drs Mukhlis Adenan MSc : Sidin Haryanto, SKM, M.Kes

Sekretaris Anggota :

1. Dirman Siswoyo, SKM, MM 2. Nurbaety Yuliana SKM.,MKes 3. DR. Bambang Setiaji SKM.,MKes 4. Zaenal Nampira, SKM, M.Kes Departemen Kewirausahaan dan Pemberdayaan Masyarakat Ketua : Bambang Lukisworo, SKM : Sugito, SKM, MM

Sekretaris Anggota :

1. Sujono, SKM, M.SPH

2. Abie Wiwoho MSc 3. Ir Sofwan 4. Sri Eko Ananingsih SKM 5. Deshy Prihatiwi Mutiara 1. Majelis Kolegium Kesehatan Lingkungan [ MKKL ] Ketua : DR. Hening Darpito, SKM, Dipl.SE Sekretaris : Sri Endah Suwarni, SKM, WQM Anggota : 1. Kuat Prabowo,SKM, M.Kes 2. Murtjahyo, SKM, M.Kes 3. DR. Ida Bagus Indra Goutama, SKM, M.Si 4. DR. Alih Germas, SKM, MARS 2. Majelis Kehormatan Etika Profesi Kesehatan Lingkungan [ MKEPKL ] Ketua : DR. Riris Nainggolan, SKM, M.Kes : Purwani, SKM, M.Ed, MQIH

Sekretaris Anggota :

1. DR. Hadi Siswanto, MPH 2. DR. Bambang Hartono., SKM,MPH 3. Chaerudin Hasyim .,SKM,MSi 4. Fitri Handayani, SKM, MSc.PH 5. Nurul Qomariah, SKM, M.Psi 3. Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Ketua : Soemini AR MSc

-

Sekretaris Anggota

: Lisa Triyanti SKM.,MKes :

1. Budi Pramono, SKM, M.Kes 2. Beben Syaeful Bachri SKM.,MKM 3. Ir Mohamad Nasir, M.Kes 4. Heru Wicaksono, SKM, M.Kes 5. Sri Ani, SKM, MKM 6. Sukowidodo, SKM, MPH 4.1.2. Gambaran Sertifikasi Profesi. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan ( HAKLI ) telah melaksanakan uji kompetensi Sanitarian di 2 [ dua ] Provinsi yaitu di Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta dan telah melaksanakan uji coba uji kompetensi Sanitarian di 2 [ dua ] Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Selatan . 4.1.3. Jumlah lingkungan/pengajar dan Jenis Tenaga. Kesehatan

Menguraikan jumlah tenaga kesehatan yang ada saat ini, baik yang telah disertifikasi maupun yang perlu dilakukan sertifikasi pada masa yang akan datang. (secara global).
D1 / SPPH D III D IV SI Kesling S1 Tekling = = = = = 150 150 15 30 60 -

S2 Ilmu Lingk = S2 Kesmas S2 dik Lingk = =

S3 dik Lingk S3 Kesmas

= =

5 8

Maksudnya di atas jumlah tenaga pengajar? Tenaga kesmas bukan sanitarian?

4.1.4. Institusi Pendidikan.
Institusi penyelenggara pendidikan tenaga Kesehatan Lingkungan sebanyak 22 institusi dibawah Politeknik Kementerian Kesehatan 20 buah, milik PemDa 1 buah dan Muhamadiyah 1 buah dengan nama Jurusan Kesehatan Lingkungan dan berada di 21 Provinsi rencana akan dibuka di provinsi Kalimantan Timur [ Samarinda ]

4.2

ANALISIS SITUASI 4.2.1. Isu Strategis.
Dewasa ini perubahan kualitas kesehatan lingkungan terjadi dengan cepat. Degradasi kondisi lingkungan sebagai dampak negatif dari kemajuan pembangunan telah merubah kualitas kesehatan lingkungan dan sekaligus juga menjadi pemicu muncul dan meluasnya berbagai masalah kesehatan dan penyakit yang berbasis lingkungan. Dengan berbagai masalah kesehatan lingkungan yang ada maka untuk mendukung terwujudnya tujuan pembangunan kesehatan, profesi sanitarian harus mampu membuktikan profesionalismenya. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang terkait dengan ilmu kesehatan lingkungan, Sanitarian juga harus siap menjawab semua permasalahan kesehatan lingkungan secara profesional. Gerbong profesi Sanitarian akan ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya apabila Sanitarian tidak berusaha secara berkesinambungan memelihara dan meningkatkan kualitas profesinya untuk menjawab dan menyelesaikan tantangan di bidang kesehatan lingkungan secara profesional. Profesionalisme tenaga sanitarian / ahli kesehatan lingkungan ditunjukkan dan dibuktikan dengan perilaku tenaga sanitarian / ahli kesehatan lingkungan yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standard profesi, bertanggung jawab dan bertanggung gugat serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam era globalisasi tuntutan mutu pelayanan kesehatan lingkungan tidak dapat dielakkan lagi. Karena pada era globalisasi memberi peluang terjadinya persaingan kualitas pelayanan kesehatan oleh berbagai jenis tenaga kesehatan lingkungan dari dalam dan luar negeri. Oleh karena itu sanitarian/ ahli kesehatan lingkungan harus mampu bersaing dengan profesi sanitarian/ ahli kesehatan lingkungan negara lain.

4.2.2 Kekuatan, Tantangan.

Kelemahan,

Kesempatan

dan

Profesi Sanitarian di Indonesia saat ini telah memiliki standard profesi sanitarian / ahli kesehatan lingkungan sebagai pedoman standarisasi bagi profesi sanitarian / ahli kesehatan lingkungan. Standar profesi ini dapat dipakai sebagai acuan untuk menilai bagaimana kemampuan unjuk kerja seorang Sanitarian/Ahli kesehatan lingkungan. Hasil uji akan menjadi bukti seberapa jauh penguasaan teori dan praktek serta pengalaman yang dimiliki oleh seorang Sanitarian sekaligus pengakuan tetulis atas kompetensinya di bidang Kesehatan Lingkungan. Kelemahan belum memiliki STR [ masih akan disempurnakan ] Peluang sudah ada MTKI dan MTKP Tantangan perlu pembenahan organisasi HAKLI, belum senua provinsi memiliki pengurus daerah Hakli, penataan keanggotaan dll

enguraikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan profesi (untuk setiap komponen sertifikasi) yang berkaitan dengan proses sertifikasi. Menganalisis sejauh mana kesiapan profesi dari data – data tersebut untuk perencanaan sertifikasi. 4.3 PERENCANAAN SERTIFIKASI 4.3.1. Standar Profesi dan Standar Kompetensi.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 373/ MENKES/SK/ III/ 2007 tentang standar profesi sanitarian maka telah tersusun Standar Kompetensi Sanitarian sbb : KOMPETENSI AHLI MADYA KESEHATAN LINGKUNGAN Sanitarian

Kompetensi Ahli Madya Kesehatan Lingkungan Sanitarian berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 373/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Sanitarian, yaitu sebagai berikut :

Uraian Kompetensi No. 1. 2. 3. 4. Kode KL.01.001.01 KL.01.002.01 KL.01.003.01 KL.01.004.01 Judul Unit Kompetensi Melakukan pemeriksaan kualitas fisik air dan limbah cair. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia air dan limbah cair. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi air dan limbah cair. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik udara/kebisingan, getaran, kelembaban, kecepatan angin, dan radiasi. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia udara. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi udara. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik tanah dan limbah padat. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia tanah dan limbah padat. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitilogi tanah dan limbah padat. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik makanan dan minuman. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia makanan dan minuman. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi makanan dan minuman. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi sampel usap alat makanan dan minuman serta usap rektum. Melakukan survei vektor dan binatang pengganggu.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

KL.01.005.01 KL.01.006.01 KL.01.007.01 KL.01.008.01 KL.01.009.01 KL.01.010.01 KL.01.011.01 KL.01.012.01 KL.01.013.01

14.

KL.01.014.01

15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27.

KL.01.015.01 KL.01.016.01 KL.01.017.01 KL.01.018.01 KL.01.019.01 KL.01.020.01 KL.01.021.01 KL.01.022.01 KL.01.023.01 KL.01.024.01

Melakukan pengukuran kuantitas air dan limbah cair. Mengidentifikasi makro dan mikro bentos di badan air. Melakukan analisis dampak kesehatan lingkungan. Melakukan pemeriksaan sampel toksikan dan biomonitoring. Mengelola program hygiene industri, kesehatan, dan keselamatan kerja. Merancang, mengoperasikan peralatan pengolahan sampah. Mengoperasikan alat pengeboran. Melakukan pendugaan air tanah. Melakukan pengeboran air tanah untuk pembangunan sarana air tanah. Mengkalibrasi dan memelihara peralatan pengujian. Mengoperasikan alat-alat aplikasi pengendalian vektor. Mengoperasikan alat-alat pengambilan sampel udara. Melakukan kegiatan penyuluhan dan pelatihan.

No. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35.

Kode KL.01.025.01 KL.01.026.01 KL.01.027.01 KL.01.028.01 KL.01.029.01 KL.01.030.01 KL.01.031.01 KL.01.032.01

Judul Unit Kompetensi Melakukan pengelolaan sanitasi linen. Melakukan pengelolaan limbah padat sesuai dengan jenisnya. Melakukan pengendalian vektor dan binatang pengganggu. Melakukan pengelolaan pembuangan tinja. Monitoring pengelolaan limbah berbahaya dan beracun. Melakukan surveillans kesehatan lingkungan. Berwirausaha di bidang pelayanan kesehatan lingkungan. Melakukan pemberdayaan masyarakat dalam bidang

kesehatan lingkungan. 36. 37. 38. 39. KL.01.033.01 KL.01.034.01 KL.01.035.01 Menilai kondisi kesehatan perumahan. Menerapkan prinsip-prinsip sanitasi pengelolaan makanan. Menerapkan HACCP dalam pengelolaan makanan. Mengawasi sanitasi tempat pembuatan, penjualan, penyimpanan, pengangkutan, dan penggunaan pestisida. Mengawasi sanitasi tempat-tempat umum. Melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan. Merancang teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Melakukan intervensi administratif sesuai hasil analisis sampel air, tanah, udara, limbah makanan, minuman, vektor, dan binatang pengganggu. Melakukan intervensi teknis sesuai hasil analisis sampel air, tanah, udara, limbah, vektor, dan binatang pengganggu. Melakukan intervensi sosial sesuai hasil analisis sampel air, tanah, udara, limbah makanan dan minuman, vektor, dan binatang pengganggu. Mengelola klinik sanitasi.

40. 41. 42. 43.

KL.01.036.01 KL.01.037.01 KL.01.038.01

44.

-

45.

KL.01.039.01

46.

-

- : tidak termasuk kurikulum pendidikan Diploma III, tetapi masuk ke dalam kurikulum pendidikan Diploma IV. Berdasarkan 46 Kompetensi tersebut dipilih materi uji dari Kompetensi Kritis sebanyak 5 bidang ilmu yaitu :

1. Penyehatan Udara 2. Penyehatan Air 3. Penyehatan Tanah 4. Penyehatan Makanan dan Minuman

5. Pengendalian Vektor dan binatang Pengganggu

4.3.2. Jumlah Peserta Sertifikasi.
Target sertifikasi 2011 – 2014 jumlah tenaga Sanitarian sebanyak 20.451

-

Data Tenaga Sanitarian dan persebarannya
Provinsi Pengda 2800 537 851 190 398 736 368 455 68 89 1359 1757 1892 355 2.348 258 498 281 454 273 RS 77 108 88 28 39 55 23 56 10 8 25 137 138 12 154 6 55 17 29 39 Puskesmas 489 263 201 142 212 365 206 221 54 60 111 826 762 151 797 121 231 164 271 144 Lain-lain 2.234 166 562 20 147 316 139 178 4 21 1.223 794 992 192 1.397 131 212 100 154 90

NAD Sumatra Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep Babel Kep Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

186 617 198 663 248 1120 534 268 65 186 76 134 189 20.451

16 69 9 28 47 13 44 75 8 5 4 6 35

89 145 146 285 176 394 355 171 43 119 50 111 134

81 403 43 350 25 713 135 22 14 62 22 17 20

Data Tenaga Sanitarian Yang sudah dan belum Uji Kompetensi Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampug Kep Babel Jumlah 2800 537 851 190 398 736 568 455 68 Sdh Uji 100 Blm Uji 2.800 537 851 190 398 636 568 455 68 Exit exam 78 58 58 40 37+26 76 -

Kep Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

89 1359 1757 1892 355 2.348 258 498 281 454 273 186 365 198 663 248 1120 534 268 65 186 76 134 189 20.451

96 1200 1.296

89 1359 1757 1892 259 1.148 258 498 281 454 273 186 365 198 663 248 1120 534 268 65 186 76 134 189 19.155

76 62 65 113 110 80 70 58 60 53 74 45 81 60 40 1.420

4.3.2. Jumlah Peserta Sertifikasi. Rencana Sertifikasi Tenaga Sanitarian tahun 2011 2014 No 1 Jenis Tenaga Exit Exam D III D IV 2 3 Lain - lain Portofolio
Jumlah

2011

2012

2013

2014

1420 500 1500
3420

1460 150 500 1500
3610

1500 250 500 1500
3750

1500 250 500 1500
3750

4.3.3. Penguji Kompetensi Tenaga sanitarian
Penetapan asesor uji kompetensi;

a. Mengidentifikasi asesor yang ada baik jumlah, kualifikasi, dan kompetensi yang dimilikinya;

Jumlah Asessor = 54 orang belum merata di semua propinsi b. Membuat surat tugas untuk asesor yang ditunjuk dalam peiaksanaan uji kompetensi. 4.3.4. Tempat Uji Kompetensi.
Penetapan tempat uji kompetensi; Tempat uji kompetensi yang akan ditetapkan harus memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut: a. b. lokasi; sarana dan prasarana/fasilitas yang dimiliki;

Uji kompetensi sanitarian dalam penyelenggaraannya akan menggunakan fasilitas dan sarana yang ada di Institusi Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Depkes yang memadai, Balai

Latihan Kesehatan Lingkungan , dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan.

c. ketentuan lain yang ditetapkan dalam pedoman.
Uji kompetensi dilakukan di institusi pendidikan tenaga kesehatan yang terakreditasi oleh lembaga yang berwenang,dan atau tempat lain yang ditunjuk oleh MTKP dan ditetapkan oleh MTKI. Masa berlaku penetapan sebagai TUK adalah 3 tahun, yang berikutnya dapat ditetapkan kembali sesuai aturan yang berlaku. Masa berlaku dapat dicabut bila tidak sesuai dengan kondisi awal penilaian. Jumlah Institusi Jurusan Kesehatan

Lingkungan sebanyak 22 buah tersebar di seluruh Indonesia.

4.3.5. Pedoman, Juknis dan sistem dokumentasi Menguraikan perencanaan pengembangan pedoman, juknis dan sistem dokumentasi yang akan digunakan dalam sertifikasi setiap profesi. (Menguraikan perencanaan penyusunan, pengembangan, revisi, sosialisasi, implementasi dan monitoring implementasi pedoman, juknis dan sistem sertifikasi) 4.3.6. Metode dan Materi Uji Kompetensi a. Metode Uji Kompetensi
Metode yang digunakan dalam uji kompetensi ada beberapa bentuk yang dapat dipilih, yaitu : 1. Uji Tulis Uji Exit Exam ditujukan bagi lulusan tenaga Sanitarian yang baru. Soal Uji Tulis bentuk Multiple Choice Questions (MCQ) ,berdasarkan Blue Print Kompetensi Sanitarian. 2. Uji lisan Ditujukan bagi tenaga Sanitarian yang melakukan sertifikasi ulang Bentuk ujian dengan memberikan pertanyaan secara lisan kepada peserta uji dengan menggunakan panduan. 3. Uji praktik Ditujukan bagi tenaga Sanitarian yang melakukan sertifikasi ulang. Bentuk uji praktik meliputi: demonstrasi; simulasi dengan menggunakan alat bantu atau media; observasi . 4. Portofolio

Ditujukan bagi tenaga Sanitarian yang melakukan sertifikasi ulang Bentuk dokumen portofolio berupa: ijazah, sertifikat, rekomendasi, dan pengalaman kerja (log book/catatan kerja), diperuntukkan untuk peserta uji yang sudah bekerja sesuai ketentuan yang berlaku. E. Materi Uji Kompetensi Materi uji kompetensi disusun mengacu kepada standar kompetensi yang tercantum dalam standar profesi Sanitarian Materi Uji Kompetensi dikembangkan dan disusun oleh divisi standarisasi MTKI berkoordinasi dengan Dirjen DIKTI Kementerian Pendidikan Nasional dan LPUK serta Tim Adhock di MTKI yang berasal dari HAKLI . (Usulan untuk materi uji kompetensi disiapkan oleh tim penguji HAKLI serta dari institusi pendidikan yang di koordinir oleh divisi profesi MTKI. Materi uji kompetensi yang terstandar dan berlaku di seluruh Indonesia, ditetapkan dan divalidasi oleh divisi standarisasi MTKI sesuai dengan blueprint Standar Kompetensi Sanitarian. Tata cara penyusunan materi uji kompetensi mengacu pada pedoman penyusunan materi uji kompetensi dan petunjuk teknis uji kompetensi yang telah disusun oleh HAKLI dan ditetapkan oleh MTKI. Materi uji kompetensi harus dijaga kerahasiannya, dikaji ulang, diperbaharui dan dikembangkan secara berkala atau sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya materi uji kompetensi yang sudah terstandar disimpan, didokumentasikan, dan dijaga kerahasiaannya. Pada saat pelaksanaan uji kompetensi, soal-soal yang diberikan akan diambil secara random dari seluruh soal yang ada di bank soal dan didistribusikan oleh MTKI.

4.3.7. Lembaga/ Pelaksana Sertifikasi
- Pengelola lembaga pelaksana uji kompetensi

Gambar 1 Lembaga Pelaksanaan Uji Kompetensi

BADAN PPSDM/ PUSTANSERDIK MTKI/MTKP (2) TEMPAT UJI KOMPETENSI (5) PANITIA UJI KOMPETENSI (6) (1) SANITARIAN (3)

Kolegium Sanitarian

(4)

PUK TUK

= =

Panitia Uji Kompetensi berkedudukan di TUK dan dibentuk oleh pimpinan TUK. Tempat Uji Kompetensi Peserta Uji Kompetensi
■ ■ , .

SANITARIAN =
> . \ \ ' ■

- Peserta uji kompetensi berasal dari Lulusan Insitusi Pendidikan Kesehatan Lingkungan baik yang baru lulus atau sudah bekerja. - PUK terdiri dari Tim Pengawas dan Tim Pelaksana - Tim Pengawas terdiri dari Badan PPSDM/Pustanserdik, MTKI/MTKPdan Organisasi Profesi (HAKLI) Pusat/Propinsi - Tim Pelaksana terdiri dari para individu yang professional (Asesor) Keterangan Alur: (1) (2) (3) Peserta (sanitarian/asesi) mendaftar ke TUK TUK mengirimkan daftar peserta uji kompetensi ke MTKI / MTKP. MTKI / MTKP mengirimkan bahan Uji Kompetensi ke TUK.

(4) (5) (6) (7)

TUK menyerahkan hasil uji kompetensi ke MTKI / MTKP. MTKI / MTKP mengirimkan sertifikat kompetensi ke TUK. TUK mendistribusikan sertifikat kompetensi ke peserta uji kompetensi yang lulus. MTKI / MTKP melaporkan pelaksanaan ujikompetensi kepada Pustanserdik

1.MTKP/MTKI a. b. c. MTKI / MTKP melakukan pengawasan (surveilan) terhadapTUK MTKI / MTKP meminta laporan berkala setiap 3 bulan tentang pelaksanaan uji kompetensi oleh TUK. Laporan TUK mencakup data peserta uji kompetensi, masalah-masalah dalam pelaksanaan uji kompetensi serta usulan perbaikan.

2. Tim Pengawas a. b. c. Tim Pengawas melakukan pengawasan terhadap MTKI / MTKP. Tim Pengawas meminta laporan dari MTKI / MTKP setiap 6 bulan tentang pelaksanaan uji kompetensi. Laporan MTKI / MTKP mencakup data TUK, peserta uji kompetensi, lulusan, dan masalah - masalah dalam pelaksanaan uji kompetensi serta usulan perbaikan.

4.3.8. Sistem Informasi dan Pelaporan Menguraikan perencanaan system informasi dan pelaporan dalam sertifikasi pada setiap lembaga / instansi yang melaksanakan dan terkait sertifikasi untuk setiap profesi. 4.3.9. Penatalaksanaan Dokumen Sertifikasi 1. Sistem dokumentasi a. Mutu dokumen (kualitas dan keabsahan dokumen)
TUK harus menerapkan dan memelihara Standar Prosedur Operasi(SOP)/sistem mutu yang sesuai dengan lingkup kegiatan

Dokumentasi SOP/sistem mutu harus dikomunikasikan, dimengerti, tersedia, dan diterapkan oleh semua SDM TUK Peran dan tanggung jawab manajemen teknis dan manajemen mutu ditetapkan dalam panduan mutu/SOP

b. Jenis dokumen yang disiapkan antara lain untuk akreditasi dan verifikasi, pelaksanaan uji, dan pelaporan penyelenggaraan c. Mekanisme dokumentasi (proses dokumentasi, administrasi: bahan, alat, sarana prasarana lain di tempat uji)

2. Pengendalian Dokumen
a. TUK mengendalikan semua dokumen yang terkait dengan kegiatan ujian b. c. d. e. Dokumen SOP/sistem mutu Dokumen yang diterbitkan harus ditinjau dan disetujui oleh personil yang berwenang sebelum diterbitkan, Dokumen dikaji ulang secara berkala,, Waktu penyimpanan dokumen harus ditetapkan

3. Audit internal
Audit Internal dan kaji ulang manajemen a. TUK harus secara periodik melaksanakan audit internal untuk memverifikasi kesesuaian pengoperasian kegiatan b. Temuan audit ditindaklanjuti dengan tindakan perbaikan c. Program audit internal mencakup semua unsur sistem mutu/SOP, d. Audit harus dilaksanakan oleh SDM yang terlatih dan ditetapkan oleh MTKP e. Bidang kegiatan f. yang diaudit, temuan audit dan tindakan perbaikan yang dilakukan harus direkam/didokumentasikan Kaji ulang manajemen TUK harus dilakukan secara periodik sesuai jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan, g. Temuan kaji ulang manajemen dan tindakan yang dilakukan harus direkam/didokumentasikan

Menguraikan perencanaan penatalaksanaan dokumen sertifikasi (sertifikat, blanko-blanko, dsb). Perencanaan meliputi dari format blanko sertifikat, penggandaan, pendistribusian, jumlah yang dibutuhkan sesuai kebutuhan jumlah peserta uji kompetensi sesuai dengan sistem sertifikasi, masa berlaku dan sistem pemutakhiran sertifikat. 4.3.10. Anggaran
Biaya uji kompetensi dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi (APBD), atau peran serta masyarakat. Besarnya biaya uji kompetensi akan dirumuskan sesuai dengan kebutuhan. Penetapan dan Penyiapan rencana biaya uji kompetensi;

Penetapan biaya uji kompetensi berdasarkan pada kebutuhan pembiayaan untuk komponen - komponen berikut: a. Penyusunan soal uji kompetensi teori dan praktik; b. Pengiriman soal uji kompetensi;

c. Operasional TUK; d. Honor dan transport asesor; e. Transport panitia; f. Komponen lain yang diperlukan.

BAB V TINDAK LANJUT Upaya peningkatan mutu Sanitarian harus terus menerus dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui uji kompetensi agar kompetensi Sanitarian benar-benar dapat terwujud. Kualitas pelaksanaan uji kompetensi sendiri sangat tergantung dengan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Sanitarian. Penjaminan mutu menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk menghasilkan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Sanitarian yang mandiri, kuat, terpercaya dan berwibawa. Oleh karena itu, lembaga ini harus secara terus-menerus dan berkesinambungan melakukan kajian, telaahan dan evaluasi untuk mencapai kinerja unggul. Berdirinya Lembaga Sertifikasi Kompetensi Sanitarian yang mandiri, kuat, dan berwibawa mutlak diperlukan dalam melaksanakan proses pengujian dan sertifikasi untuk memberikan pencitraan positif kepada masyarakat dan kalangan dunia usaha/industri, sehingga lulusan institusi kesehatan lingkungan selain memiliki daya saing, juga peluang untuk mampu bekerja mandiri dan profesional atau diterima di pasar kerja lebih besar.

BAB VI PENUTUP
Pedoman Uji Kompetensi Sanitarian ini diharapkan dapat memberikan acuan kepada MTKP serta pihak-pihak terkait lainnya dalam pelaksanaan Uji Kompetensi terhadap tenaga Sanitarian. Pedoman pelaksanaan uji kompetensi ini merupakan pedoman yang bersifat umum. Untuk pengaturan lebih rinci dalam bentuk petunjuk teknis akan disusun oleh Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan.

CONTOH LAMPIRAN

NO
1

KOMPONEN
Standar Kompetensi : Kualifikasi Cluster Unit

TARGET 2011
Sesuai standar 6 46 3420

2012
Sesuai standar 6 46 3610

2013
Evaluasi

2014

Penyempurna

2 3

Jumlah peserta sertifikasi Penguji kompetensi / asesor Jumlah Penyebaran

3750

3750

54 7 provinsi Tulis

60 10 provinsi Tulis Praktek

70 12 provinsi Tulis Praktek Portofolio

80 15 provinsi Tulis Praktek Portofolio

4

Metode Uji Kompetensi

Portofolio 5 6 Materi Uji Kompetensi Tempat Uji Kompetensi 7 Jumlah Lokasi 6 22 prov Bank soal

Portofolio

22 prov

22 prov

25 prov

Pedoman yg digunakan dlm UJK

8

8

8

NO

KOMPONEN 2011 2012 8

TARGET 2013 8 8 2014

1 2

Juknis yg digunakan dlm UJK Sistem Dokumentasi (SOP,

6

Formulir, dsb) 3 4 Jumlah Sertifikat Kompetensi Anggaran Total Sumber Unit Cost 3420 1 200.000 684 jt 3610 2 200.000 722 jt 3750 3 200.000 750 jt 3750 4 200.000 750 jt

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful